RANGKUMAN MATERI KULIAH METODOLOGI PENELITIAN POSITIF DESAIN PENELITIAN DAN DESAIN EKSPERIMEN

OLEH KELOMPOK 2 DITYA PERMATASARI ITA YUNI KARTIKA YUSTINA HIOLA

PROGRAM MAGISTER AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS BRAWIJAYA 2012

DESAIN PENELITIAN Setelah mengidentifikasi variabel dalam suatu situasi masalah dan mengembangkan kerangka teoritis. analisis dan interpretasi data. para peneliti perlu mengambil keputusan terkait dengan asumsi-asumsi filosofis yang mendasari penelitian mereka. Desain tersebut melibatkan rancangan keputusan seperti apa yang seharusnya digunakan untuk meneliti topic tertentu. langkah berikut adalah mendesain penelitian sehingga data yang diperlukan dapat dikumpulkan dan dianalisis untuk sampai pada solusi. Misalnya dalam penelitian. dan metode-metode spesifik yang akan mereka gunakan dalam pengumpulan. prosedur-prosedur penelitian. PROSES PENELITIAN Desain penelitian atau rancangan penelitian menurut John Creswell adalah rencana dan prosedur penelitian yang meliputi dari asumsi-asumsi luas hingga metode-metode rinci dalam pengumpulan dan analisis data. .

Analisis Studi Kasus Studi mungkin bersifat eksploratif atau deskriptif atau dilakukan untuk menguji hipotesis. Sifat studi bergantung pada tahap peningkatan pengetahuan mengenai topic yang diteliti Studi Eksploratif Studi eksploratif (exploratory study) dilakukan jika tidak banyak yang diketahui mengenai situasi yang dihadapi atau tidak ada informasi yang tersedia mengenai bagaimana masalah atau isu penelitian yang mirip diselesaikan di masa lalu. . studi eksploratif dilakukan dalam bidang tersebut.DESAIN PENELITIAN TUJUAN STUDI : Eksploratif. Studi kasus merupakan penyelidikan studi yang dilakukan dalam situasi organisasi lain yang mirip. Pengujuan Hipotesis (Analitis Dan Prediktif). Deskriptif. Intinya. yang juga merupakan metode pemecahan masalah atau untuk memahami fenomena yang diminati dan menghasilkan pengetahuan lebih lanjut.

atau menentukan perbedaan antar kelompok atau kebebasan dua atau lebih factor dalam suatu situasi. tidak sering dilakukan dalam organisasi karena penemuan jenis masalah yang sama dalam konteks perbandingan dengan yang lainnya adalah sulit. Studi Deskriptif Studi deskriptif (descriptive study) dilakukan untuk mengetahui dan menjadi mampu untuk menjelaskan karakteristik variable yang diteliti dalam suatu situasi. .Sejumlah studi kualitatif (yang dikumpulkan melalui kuesioner dan sebagainya) dimana data diperoleh melalui pengamatan atau wawancara. orientasi industry dan lainnya. Cukup sering studi deskriptif dilakukan dalam organisasi untuk mempelajari dan menjelaskan karakteristik sebuah kelompok karyawan. Studi kasus sebagai sebuah teknik pemecahan masalah. karena keengganan perusahaan untuk menyingkapkan permasalahan mereka. Studi deskriptif juga dilakukan untuk memahami karakteristik organisasi yang mengikuti praktek umum tertentu. Hal tersebut juga berguna dalam memahami fenomena tertentu. (3) Memberikan gagasan untuk penyelidikan dan penelitian lebih lanjut. Pengujian Hipotesis Studi yang termasuk dalam pengujian hipotesis biasanya menjelaskan sifat hubungan tertentu. adalah eksploratif dalam sifatnya. (2) Memikirkan secara sistematis mengenai berbagai aspek dalam situasi tertentu. tetapi diperlukan lebih banyak informasi untuk menyusun kerangka teoritis yang kukuh. dan/atau (4) Membuat keputusan tertentu yang sederhana. organisasi. studi kasus yang bersifat kualitatif adalah berguna adalah berguna dalam menerapkan solusi pada masalah terkini berdasarkan pengalaman pemecahan masalah di masa lalu. Analisis Studi Kasus Studi kasus meliputi analisis kontekstual dan mendalam terhadap hal yang berkaitan dengan situasi serupa dalam organisasi lain. Studi deskriptif yang menampilkan data dalam bentuk yang bermakna dapat membantu untuk (1) Memahami karakteristik sebuah kelompok dalam situasi tertentu. Namun. Studi eksploratif juga dilakukan ketika sejumlah fakta diketahui. Dalam pengujian hipotesis peneliti bergerak melampaui deskripsi variable dalam suatu situasi ke pemahaman terhadap hubungan antar factor yang diteliti. dan menghasilkan teori lebih lanjut untuk pengujian empiris. Tujuan studi deskriptif adalah memberikan kepada peneliti sebuah riwayat atau untuk menggambarkan aspek-aspek yang relevan dengan fenomena perhatian dari perspektif seseorang.

JENIS INVESTIGASI : Kausal Versus Korelasional Manajer harus menentukan apakah yang diperlukan adalah studi kausal (causal study) atau korelasi (correlation) untuk menemukan jawaban atas persoalan yang dihadapi. Jika peneliti berminat untuk menemukan variable penting yang berkaitan dengan masalah. dan menganalisisnya untuk menghasilkan temuan. Dalam studi yang dilakukan untuk menentukan sebab-akibat. Peningkatan ukutan sampel. intervensi peneliti dalam fungsi rutin system adalah minimal jika dibandingkan dengan yang disebabkan selama studi kausal. Tetapi. yang harus dilakukan adalah menyusun kerangka teoritis. peneliti dengan sengaja mengubah variable tertentu dalam . Yang pertama dilakukan adalah menentukan hubungan sebab akibat yang definitive. banyak metode pengumpulan data. pengembangan alat ukur yang canggih akan menambah biaya penelitian meskipun hal tersebut berkontribusi besar bagi keterujian. Studi dimana peneliti ingin menemukan penyebab dari satu atau lebih masalah disebut studi kausal (causal study). maka studi korelasional dipilih. Meskipun ada sejumlah gangguan pada arus kerja normal dalam system saat peneliti mewawancarai karyawan dan menyebarkan kuesioner ditempat kerja. peneliti mencoba untuk memanipulasi variable tertentu untuk mempelajari akibat manipulasi tersebut pada variable terikat yang diteliti. Dengan kata lain.Tinjauan Tujuan Studi Keketatan metodologi meningkat saat kita bergerak secara progresif dari studi eksploratif ke studi pengujian hipotesis. Misalnya. jika seorang peneliti ingin mempelajari factor yang mempengaruhi efektivitas pelatihan (studi korelasional). mengumpulkan data relevan. Studi korelasional dilakukan dalam lingkungan alami organisasi dengan intervensi minimum oleh peneliti dan arus kerja yang normal. dan dengan itu biaya penelitian juga meningkat. studi tersebut disebut studi korelasi (correlational study) TINGKAT INTERVENSI PENELITI TERHADAP STUDI Tingkat intervensi peneliti terhadap arus kerja normal di tempat kerja mempunyai keterkaitan langsung dengan apakah studi yang dilakukan adalah kausal atau korelasional. keakuratan. jika yang diinginkan manajer adalah sekedar identifikasi factor-faktor penting yang berkaitan dengan masalah. ketepatan dan kemampuan untuk generalisasi.

konteks dan mengintervensi peristiwa sejauh peristiwa tersebut terjadi secara normal dalam organisasi. maka unit analisisnya adalah pada tingkat kelompok. Jika misalnya pertanyaan berfokus pada bagaimana meningkatkan tingkat motivasi karyawan secara umum. dimana semua factor asing dikontrol dengan ketat. . Kebudayaan Unit analisis merujuk pada tingkat kesatuan data yang dikumpulkan selama tahap analisis data selanjutnya. maka beberapa kelompok dua orang dikenal sebagai pasangan (dyads) akan menjadi unita analisis. kita akan menjumlahkan data individu kedalam data kelompok untuk melihat perbedaan diantara keenam kelompok (groups). Studi tersebut dianggap sebagai eksperimen lab (lab experiment). UNIT ANALISIS : Individual. dimana karyawan berfungsi secara normal disebut eksperimen lapangan (field experiment) Eksperimen yang dilakukan untuk menentukan hubungan sebab-akibat yang melampaui kemungkinan dari setidaknya keraguan memerlukan pembuatan sebuah lingkungan yang artificial dan teratur. Kita mungkin mengumpulkan data relevan dari semua orang yang terbagi atas enam kelompok. Studi korelasional yang dilakukan dalam organisasi disebut studi lapangan. Pasangan. Jika peneliti berminat mempelajari interaksi dua orang. Kelompok. Studi korelasi selalu dilakukan dalam situasi tidak diatur sedangkan kebanyakan studi kausal yang ketat dilaksanakan dalam situasi lab yang diatur. Subjek yang sama dipilih untuk merespon stimuli tertentu yang dimanipulasi. Bila kita membandingkan departemen yang berbeda dalam organisasi. Dalam hal ini unit analisis adalah individu (individual). maka kita memperhatikan individu karyawan organisasi dan harus menemukan apa yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan motivasi mereka. Jika pernyataan berkaitan dengan efektivitas kelompok. maka analisis data akan dilakukan pada tingkat departeme (departemen sebagai unit analisis). dimana pekerjaan berproses secara normal (dalam situasi tidak diatur) atau dalam keadaan artificial dan diatur. SITUASI STUDI : Diatur dan Tidak Diatur Penelitian organisasi dapat dilakukan dalam lingkungan yang alami. Studi yang dilakukan untuk menentukan hubungan sebab-akibat menggunakan lingkungan alami yang sama. Organisasi.

TINJAUAN UNSUR-UNSUR DESAIN PENELITIAN Peneliti akan menentukan keputusan yang tepat untuk dibuat dalam desain studi berdasarkan definisi masalah. tujuan penelitian. Studi Longitudinal Dalam sejumlah kasus. dalam rangka menjawab pertanyaan penelitian. mungkin selama periode harian. jika data variable terikat dikumpulkan pada dua atau lebih batas waktu untuk menjawab pertanyaan penelitian.Adalah perlu untuk memutuskan tentang unit analisis. dan bahkan variable yang termasuk dalam kerangka mungkin terkadang ditentukan oleh tingkat dimana data dijumlahkan untuk analisis. Kadang karena waktu dan biaya. Studi semacam itu disebut studi one-shot atau cross-sectional. peneliti mungkin ingin mempelajari orang atau fenomena pada lebih dari satu batas waktu dalam rangka menjawab pertanyaan penelitian. tingkat keketatan yang diinginkan dan pertimbangan biaya. disebut studi longitudinal. seorang peneliti mungkin terbatas untuk menyelesaikan kurang dari desain penelitian ideal . ukuran sampel. HORIZON WAKTU : Studi Cross-Sectional Versus Longitudinal Studi Cross-Sectional Sebuah studi dapat dilakukan dengan data yang hanya sekali dikumpulkan. atau bulanan. bahkan saat kita merumuskan pertanyaan penelitian karena metode pengumpulan data. Karena data yang dikumpulkan dalam dua batas waktu berbeda (membujur/longitudinal) melintas suatu periode waktu. mingguan. Misalnya peneliti mungkin ingin mempelajari perilaku karyawan sebelum dan sesudah pergantian manajemen puncak. Studi semacam itu.

Eksperimen Lab 2. yaitu . dimana peneliti menginginkan variabel yang diukur itu mengalami kesamaan sesuai dengan keinginan peneliti dengan menambahkan faktor lain ke dalam variabel atau membuang faktor lain yang tidak diinginkan oleh peneliti. Manipulasi Untuk menguji pengaru kausal dari variabel bebas tehadap variabel terikat diperlukan manipulasi tertentu. Desain Eksperimen terbagi atas dua kategori yaitu 1. Kontrol dan manipulasi paling baik dilakukan dalam situasi buatan (laboratorium). dan memiliki ciri khas tersendiri terutama dengan adanya kelompok kontrol. Manipulasi secara sederhana berarti bahwa kita membuat tingkat yang berbeda pada variabel bebas untuk menilai dampak pada variabel terikat. Menurut Arikunto (2006) eksperimen adalah suatu cara untuk untuk mencari hubungan sebab akibat (hubungan kausal) antara dua faktor yang sengaja ditimbulkan oleh peneliti dengan mengeliminasi atau mengurangi faktor-faktor lain yang menganggu. Mengontrol Variabel Pengganggu yang Mencemari Ada dua cara untuk mengontrol variabel penggangu yang mencemari.DESAIN EKSPERIMEN Metode eksperimen merupakan bagian dari metode kuantitatif. dimana pengaruh kausal dapat diuji. Eksperimen Lapagan Eksperimen Lab Eksperimen Lab adalah eksperimen yang dilakukan dalam lingkungan buatan atau diatur. penelitian-penelitian dapat menggunakan desain eksperimen karena variabel-variabel yang dipilih dan variabel-variabel lain yang dapat mempengaruhi proses eksperimen itu dapat dikontrol secara ketat. Dalam bidang sains. Kontrol dan Manipulasi Kontrol Kontrol atau pengendalian.

Randomisasi Cara lain untuk mengontrol variabel penggangg atau pencemar adalah menempatkan 60 anggota secara acak (yaitu tanpa penentuan sebelumnya) ke dalam empat kelompok. . maka di tiap kelompok akan ditempatkan 5 wanita. perlakuan tetap bisa dimanipulasi. Memadankan Kelompok Salah satu cara untuk megontrol variabel pengganggu atauyang mencemari adalah dengan memadankan atau menjodohkan berbagai kelompok dengan memilih karateristik yang mengacaukan dan secara sengaja mnyebarkanke semua kelompok. meskipun mustahil untuk mengontrol semua variabel pengganggu karena anggota tidak dapat ditempatkan dalam kelompok secara acak atau cocok. Secara singkat. dan karena itu gagal dalam memadankan beberapa faktor penting di seluruh kelompok ketika mengadakan eksperimen.1. kita mungkin kita mampu menemukan suatu kecocokan untuk semua variabel tersebut. kita berharap bahwa prose randomisasi akan mendistribusikan ketidaksamaan antarkelompok berdasarkan distribusi normal. 2. namun kepada satu atau lebih kelompok diberi perlakuan tertentu. Selain itu. karena kita mungkin tidak mengetahui semua faktor yang mungkin dapat mencemari hubungan sebab-akibat dalam situasi yang dihadapi. Contoh: Jika ada 20 wanita diantara 60 anggota. Tetapi. dalam eksperimen lapangan. Dengan demikian. Eksperimen Lapangan Eksperimen lapangan adalah eksperimen yang dilakukan dalam lingkungan alami dimana pekerjaan dilakukan sehari-hari. sehingga pengaruh gender disebarkan dalam keempat kelompok. Dengan demikian. pemadanan mungkin kurang efektif dibandingkan dengan randomisasi. dalam randomisasi proses mana orang ditarik (yaitu setiap orang mempunyai peluang yang diketahui dan sama untuk ditarik) dan penempatan mereka dalam kelompok mana pun (tiap orang bisa ditempatkan ke dalam kelompok manapun secara acak. sedangkan dalam kasus terakhir. karena semua faktor pencemar akan disebarkan ke seluruh kelompok. randomisasi akan menyelesaikan masalah tersebut. bahkan jika kita mengetahui variabel yang mengacaukan. Manfaat Randomisasi Perbedaan antar pemadanan dan randomisasi adalah bahwa dalam kasus pertama individu secara sengaja dan sadar disesuaikan untuk mengontrol perbedaan antar anggota kelompok.

maturasi. ped pengujian. Validitas Eksternal Validitas eksternal mengacu pada tingkat generalisasi dari hasil sebuah studi kausal pada situasi. instrumentasi. kausalitas sama sekali tidak disimpulkan. Pengaruh Maturasi variabel lain yang tidak bisa dikontrol. dan sejarah peristiwa tersebut akan mengacaukan hubungan sebab akibat antara kedua variabel.Validitas Internal vs Validitas Eksternal Validitas Internal Validitas internal mengacu pada keyakinan kita terhadap hubungan sebab dan akibat. atau peristiwa lain. Pencemaran tersebut disebut pengaruh maturasi ( maturation effect). seleksi. sedangkan dalam studi dengan validitas internal rendah. orang. Pengaruh Pengujian Pengujian ini untuk menguji atas pengaruh sebuah perlakuan. statistik regresi. Dalam eksperimen lab dimana hubungan sebab dan akibat dibuktikan. Eksperimen lapangan mempunyai validitas eksternal yang lebih tinggi (yaitu. Pengaruh maturasi merupakan sebuah fungsi dari proses –biologis dan psikologis-yang berlaku dalam responden sebagai hasil dari perjalanan waktu. Pengaruh Sejarah Peristiwa atau faktor tertentu yang berdampak pada hubungan variabel bebasdan variabel terikat mungkin muncul tanpa diduga sementara eksperimen dilakukan. hasilnya lebih dapat digeneralisasi pada situasi organisasi lainnya) namun mempunyai validitas internal lebih rendah (yaitu kita tidak bisa yakin mengenai sampai tingkat apa variabel X sendiriian menyebabkan variabel Y). dalam penelitian denga validitas internal tinggi. subjek diberi apa yang disebut prates(pratest-misalnya sebuah kuesioner singkat untuk mengungkapkan perasaan . Menurut Kidder dan Judd (1986). serta mortalitas. kita relatif lebih bisa membuktikan bahwa hubungan adalah kausal (yaitu bahwa vaiabel X menyebabkan variabel Y). validitas internal bisa dikatakan tinggi. Eksperimen lab berlaku kebalikannya. Terdapat tujuh ancaman utama pada validitas internal adalah pengarug sejarah.

maka menjadi sangat jelas mengapa kita tidak dapat menarik kesimpulan mengenai hubungan kausal dan studi kasus yang menguraikan peristiwa yang terjadi selama rentang waktutertentu. disebut pascatest(posttest). Yaitu. Pengaruh Bias Seleksi Ancaman pada validitas internal juga bisa berasal dari seleksi subjek yang tidak tepat atau tidak cocok untuk kelompok eksperimen dan kontrol. bahkan dalam eksperimen lab yang dikontrol dengan ketat. hal tersebut mungkin mempengaruhi respons mereka dalam pascates. yang akan berdampak merugikan terhadap validitas internal. atau keduanya. kemudian perlakuan diberikan. . Pengaruh Mortalitas Faktor pengacau lain pada hubungan sebab-akibat adalah mortalitas atau pengurangan anggota dalam kelompok eksperimen. saat eksperimen berlangsung. Pengaruh Regresi Statistik Pengaruh regresi statistik muncul jika anggota yang terpilih untuk kelompok eksperimen mempunyai skor awal yang ekstrem pada variabel terikat. Pengaruh Instrumentasi Hal tersebut bisa muncul karena perubahan dalam instrumentasi pengukuran antara prates dan pascates. dan setelah itu test kedua. Kecuali studi esperimen yang di desain dengan baik. Perbedaan antara skor prates dan pascatest kemudian dihubungkan dengan perlakuan. VALIDITAS INTERNAL DALAM STUDI KASUS Bila ada beberapa ancaman terhadap validitas internal. adalah tidak mungkin untuk mengatakan faktor mana yang menyebabkan faktor lain. pertama-tama dilakukan pengukuran variabel terikat (pratest). ketika responden diberi prates. diadakan.kontrol.dan sikap mereka). yang secara acak menempatkan anggota pada kelompok eksperimen dan kontrol dan berhasil memanipulasi perlakuan menunjukkan kemungkinan hubungan kausal. dan bukan karena perbedaan dampak perlakuan pada akhirnya. Tetapi.

kita bisa melakukan prates. Tetapi. kemungkinan menghadapi lebih banyak faktor pengganggu meningkat. regresi statistik. maturasi. 1. Jadi. dan mortalitas. instrumentasi. Hanya jika eksperimen dilakukan selama periode cukup lama. Diantaranya: pengaruh sejarah. dan moralitas. Desain Eksperimen Semu Desain eksperimen semacam ini adalah yang terlemah diantara semua desain. Prates dan Pascates Desain Kelompok Eksperimen Pada suatu kelompok eksperimen ( tanpa kelompok kontrol). dan kemudian mengadakan pascates untuk mengukur pengaruh perlakuan.FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI VALIDITAS EKSTERNAL Pengaruh perlakuan tidak akan sama di lapangan. dan validitas eksternal berkurang. seleksi subjek dan interaksinya dengan perlakuannya juga akan merupakan suatu ancaman bagi validitas eksternal. Karena itu. kondisi eksperimen lab sedekat dan secock mungkin dengan situasi dunia nyata. memberi perlakuan. desain tersebut disebut sebagai desain eksperimen semu ( quasi-exsperimental design) 2. Karena tidak ada perbandingan antarkelompok. dan hal tersebut tidak mengukur hubungan sebab-akibat yang sebenarnya. Yaitu. Eksperimen yang berlangsung satu atau dua jam biasanya tidak menemui kendala dalam hal tersebut. Ancaman terhadap validitas eksternal bisa diatasi dengan menciptakan kondisi eksperimen sedekat mungkin dengan situasi di mana hasil eksperimen akan digeneralisasikan. Namun. semakin kecil kemungkinan menghadapi pengaruh sejarah. perhatikan bahwa pengaruh pengujian dan instrumentasi dapat . katakanlah beberapa bulan. seleksi. TINJAUAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI VALIDITAS INTERNAL DAN EKSTERNAL Untuk faktor-faktor yang mempengaruhi validitas internal. terdapat tujuh faktor. pengujian. sedapat mungkin. pengaruh perlakuan dapat digeneralisasikan pada situasi lain yang mirip dengan situasi di mana eksperimen lapangan dilakukan. Validitas eksternal yang maksimal bisa diperoleh dengan memastikan bahwa. adalah mungkin untuk mengurangi bias tersebut dengan meningkatkan kecanggihan desain eksperimen. atau pun catatan mengenai status variabel terikat sebelum perlakuan eksperimen dan bagaimana hal tersebut berubah setelah perlakuan. JENIS DESAIN EKSPERIMEN DAN VALIDITAS INTERNAL Semakin singkat rentang waktu eksperimen. maturasi.

Pra dan Pasca Desain Kelompok Eksperimen dan kontrol Kedua kelompok –eksperimen dan kontrol_sama-sama mengalami prates dan pascates. Desain Eksperimen Murni Desain eksperimen yang meliputi perlakuan. Dalam eksperimen yang berlangsung beberapa minggu. kelompok kontrol. Satu kelompok eksperimen dan satu kelompok kontrol bisa diberi prates dan pascates. . atau mengukur dampak kemajuan teknologi terhadap efektivitas. Mengukur perbedaan antara skor prates dan pascates kedua kelompok akan menunjukkan pengaruh netto dari perlakuan. dan kedua kelompok telah diacak: dengan demikian kita bisa berharap bahwa pengaruh sejarah. Kelompok Eksperimen dan Kontrol Hanya dengan Pascates Sejumlah desain eksperimen direncanakan dengan kelompok eksperimen dan kontrol. maturasi. Melalui proses randomisasi.pengujian. Desain ini dikenal sebagai desain empat kelompok solomon (solomon four-group design). Desain Empat Kelompok Solomon Untuk memperoleh validitas internal yang lebih tinggi dalam desain eksperimen. skor pascates kelompok eksperimen dan kontrol. Dua kelompok lain hanya akan diberi pascates. dan instrumentasi telah dikontrol. yang pertama diberi perlakuan. kita pun mengontrol pengaruh bias seleksi dan regresi statistik. mortalitas bisa menjadi masalah dalam desain ini. dan merekam informasi sebelum dan sesudah kelompok eksperimen diberi perlakuan. pengaruh sejarah dan maturasi juga mungkin mengacaukan hasil. disebut sebagai desain eksperimen ex post facto (ex post facto experimental designs). Jika eksperimen dilakukan selama suatu waktu. mungkin merupakan yang paling komprehensif dan desain dengan paling sedikit memiliki masalah validitas internal. seperti dalam kasus menilai dampak pelatihan pada pengembangan keterampilan. beberapa subjek dalam kelompok eksperimen mungkin keluar. disarankan untuk merencanakan dua kelompok eksperimen dan dua kelompok kontrol untuk eksperimen. dan yang terakhir tidak. 3. sebelum eksperimen selesei. Pengaruh perlakuan dipelajari dengan menilai perbedaan hasil – yaitu. 4. Kedua kelompok diberi prates dan pascates. Namun.mencemari validitas internal.

7. Desain Empat Kelompok Solomon dan Ancaman Terhadap Validitas Internal Jenis Desain Eksperimen Ancaman Utama pada Validitas Internal Prates dan pascates dengan hanya Pengujian. studi buta dilakukan untuk menghindari bias yang mungkin timbul. Karena tidak ada gangguan perlakuan dalam hal apapun. Antara peneliti maupun subjek tidak mengetahui yang sebenarnya. studi tersebut disebut studi buta berganda (double-blind studies). Jika. Di sini. sejarah. tidak ada manipulasi variabel bebas dalam situasi lab atau lapangan. Studi Buta Berganda Jika ketelitian dan ketaatan ekstrem diperlukan dalam desain eksperimen seperti dalam kasus penemuan obat baru yang dapat berdampak pada kehidupan manusia. namun subjek yang telah diberi stimulus dan mereka yang tidak diberi. Simulasi dapat dianggap sebagai eksperimen yang dilakukan dalam situasi yang diciptakan secara khusus yang sangat dekat mewakili lingkungan alami dimana Mortalitas . dipelajari. studi eksperimen ini merupakan yang paling tidak bias. Desain Ex Post Facto Hubungan sebab-akibat terkadang dibuktikan melalui apa yang disebut desain ex post facto.5. maturasi satu kelompok eksperimen Pascates dengan hanya kelompok eksperimen satu Maturasi dan satu kelompok kontrol Prates dan pascates dengan satu Mortalitas kelompok kontrol Desain empat kelompok Solomon 6. SIMULASI Alternatif eksperimen lab dan lapangan yang saat ini dipergunakan dalam penelitian bisnis adalah simulasi.

sejauh likungan diciptakan secara artifisal tetapi tidak jauh berbeda dari realitas. . Simulasi berada diantara eksperimen lab dan lapangan.kegiatan biasanya berlangsung.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful