P. 1
tesis

tesis

4.62

|Views: 3,953|Likes:
Published by u_endang

More info:

Published by: u_endang on Feb 06, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX or read online from Scribd
See more
See less

01/08/2013

Orang-orang di negeri ini, yang beruntung bisa mengenyam pendidikan, pastilah mengetahui bagaimana kurikulum pendidikan sekolah

-sekolah kita. Dalam dasawarsa (sepuluh tahun) terakhir, banyak perubahan baru, atau bahkan hal baru, terutama pasca Reformasi. Sejak saya lulus SD (2001), kemudian lulus SMP (2004), sampai akhirnya lulus SMA (2007) dan sekarang jadi mahasiswa di UGM, saya sudah banyak mengalami berbagai macam kurikulum dan berarti saya adalah pelaku dan ‘produk’ dari semua itu. Ada yang namanya kurikulum tahun 1994, KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi), KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan), serta untuk metode pembelajarannya, ada SCL (Student Center Learning), dan segera katanya akan ada STARS (Student, Teacher, Aestetic, Rulers Sharing). Semua punya tujuan sama: agar kualitas pendidikan di Indonesia meningkat, baik aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Yah, yang saya tegaskan di sini adalah: saya bukan guru, bukan pula dosen, yang tahu secara langsung positif/negatifnya kurikulum yang berubah-ubah itu. Yang bisa saya rasakan adalah metode pembelajarannya. Hari-hari baru kuliah saya di UGM banyak hal yang menarik. Betapa sejak awal upacara penerimaan mahasiswa baru, di universitas, di fakultas, kami diterangkan banyak hal tentang metode pembelajaran yang ada di UGM saat ini. Bahkan sampai hari-hari awal kuliah (perkenalan dosen, bahkan jam kosong), dosen-dosen kembali menerangkan metode-metode pembelajaran itu. Intinya hanya satu: agar siswa/mahasiswa aktif dalam KBM; mahasiswa aktif mencari tahu ilmu pengetahuan; dan dosen hanya sebagai pembimbing. Untuk saat ini, mungkin itu masih berupa mimpi-mimpi. Ironis sekali, dosen menjelaskan ini itu ini itu, ealah, yo caranya saja masih dosen oriented. Dosen ngomong panjang lebar tentang SCL tad, tapi mahasiswa cuma didiamkan saja, suruh mendengarkan thok, dan jelas, mahasiswa terkantuk-kantuk! Sampai saat ini pun, saya masih kuliah dengan metode yang tidak jauh berbeda dengan SMA, hanya saja fasilitasnya lebih lengkap. Mungkin memang SDM pengajarnya yang masih kurang siap. Untuk materi, alhamdulillah sudah cukup lengkap, namun cara penyampaiannya itu lho, masih sama saja. Yah, tapi untuk pengajar yang masih muda, beberapa sudah cukup baik dalam mengajarnya. Lumayan lah. Belum lagi masalah kurikulum pelajar sekolah yang digonta-ganti namanya (padahal isinya juga sama saja!). Justru malah membingungkan siswanya sendiri. Alah, paling hanya akalakalan pejabat disana untuk jadi proyek-proyek! dan ujung-ujungnya adalah uang proyek!

Sekolah bertaraf Internasional?

Ini lebih membingungkan lagi. Mungkin terjebak istilah-istilah ‘keren’. Saya sekolah di SMA 1 Jogja, yang mana angkatan saya adalah angkatan pertama kelas bertaraf Internasional. Bahkan sampai mendapat sertifikasi IGCSE dari Cambridge. Yah, sungguh peningkatan yang sangat baik. Tapi itupun perlu dievaluasi kembali, apakah tujuan dari bertaraf internasional tadi? sekedar mengejar kurikulum? mengejar standar fasilitas? atau hanya mencari sertifikat? Perlu diketahui, bahwa angkatan pertama tersebut, yang kini di luar negeri, hanya 7-9 orang, dari sekitar 30-an siswa kelas Internasional. Yang lain, akhirnya sekolah di lokal-lokal juga, tetap jadi mahasiswa lokal. Kenapa harus pakai kurikulum pendidikan bangsa lain (dalam hal ini Inggris/Amerika)? itulah yang perlu dipertanyakan. Padahal kurikulum nasional saja sudah cukup lengkap dan baik. Ini namanya juga penjajahan! Bagaimana nasib bangsa Indonesia, bahkan pendidikannya pun dijajah? Pendidikan ala barat sedikit-sedikit akan masuk ke otak pelajar bangsa ini! Apa kata dunia? Dan anehnya, malah banyak sekolah-sekolah, yang meniru, dan dengan bangga menyatakan sekolah/kelas Internasional. Padahal guru-gurunya pun masih tidak bisa berbahasa Inggris! Masih untung kalau itu hanya kelas khusus, coba kalau satu sekolah mau ‘distandardkan’?

Sekolah berbasis teknologi informasi?
Ini sebenarnya juga sebuah ‘istilah keren’ untuk menarik siswa saja. Apa sih artinya sekolah berbasis Teknologi Informasi (IT)? Coba dipikir bagaimana cara mengajarnya? pakai komputer? atau istilahnya, e-learning? Banyak sekolah katanya akan segera menuju era pembelajaran e-learning. Siswa bahkan akhirnya tidak perlu ke sekolah, karena materi pembelajaran bisa diakses di Internet. Hanya ada kelas virtual. Siswa bisa belajar dari rumahnya masing-masing. Tentunya kita menyambut baik teknologi yang bisa membuat hidup lebih praktis. Tapi, apakah itu yang namanya pendidikan? Saya kira itu sangat tidak baik dan saya katakan: berbahaya! Pendidikan di sekolah tidak hanya proses transfer ilmu dari guru ke murid saja. Ada nilai-nilai lebih di sekolah, yaitu pendidikan afektif dan psikomotorik siswa. Di sekolahlah siswa dibentuk menjadi manusia, bukan robot! Berinteraksi dengan temantemannya langsung, berorganisasi dan bersosialisasi, berhubungan dengan orang-orang yang lebih tua dan lebih muda, dsb. Teknologi (komputer, dsb) memang bisa sangat membantu proses transfer ilmu, tapi tidak selamanya itu BENAR. Adakalanya kita masih butuh papan tulis dan kapur! (Whiteboard kali ya?)

Teknologi informasi, komputerisasi, dsb, itu hanyalah sarana bantu pendidikan nomor dua, bukan yang utama. Lebih baik yang dikomputerisasi adalah administrasi/manajemen persekolahannya. Itu pun SDMnya harus benar-benar disiapkan secara matang.

Akhirnya
Hati-hati dengan istilah-istilah keren itu tadi! Tanyakan! Agar kita tidak terjebak dan dipermainkan oleh orang-orang yang sok keren itu tadi! Ujung-ujungnya, hanya uang yang akan masuk ke kantong mereka!

Metode active learning digunakan dengan tujuan agar siswa dapat mempelajari setiap topic secara aktif. Dalam hal ini guru diarahkan menjadi fasilitator. Metode ini akan didukung oleh sistem belajar moving class yaitu suatu sistem dimana ruang kelas dibagi menurut sentra-sentra aktivitas yang dapat digunakan oleh siswa secara bergiliran sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan. Kelebihan dari system moving class ini adalah anak dapat belajar lebih bervariasi, memberikan anak untuk bereksplorasi dengan percobaan aktivitas yang dilakukan Dalam proses pembelajaran dikenal beberapa istilah yang memiliki kemiripan makna, sehingga seringkali orang merasa bingung untuk membedakannya. Istilah-istilah tersebut adalah: (1) pendekatan pembelajaran, (2) strategi pembelajaran, (3) metode pembelajaran; (4) teknik pembelajaran; (5) taktik pembelajaran; dan (6) model pembelajaran. Berikut ini akan dipaparkan istilah-istilah tersebut, dengan harapan dapat memberikan kejelasaan tentang penggunaan istilah tersebut. Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach). Dari pendekatan pembelajaran yang telah ditetapkan selanjutnya diturunkan ke dalam strategi pembelajaran. Newman dan Logan (Abin Syamsuddin Makmun, 2003) mengemukakan empat unsur strategi dari setiap usaha, yaitu :
1. Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil (out put) dan sasaran (target) yang harus dicapai, dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat yang memerlukannya. 2. Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic way) yang paling efektif untuk mencapai sasaran.

3. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah (steps) yang akan dtempuh sejak titik awal sampai dengan sasaran. 4. Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur (criteria) dan patokan ukuran (standard) untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan (achievement) usaha.

Jika kita terapkan dalam konteks pembelajaran, keempat unsur tersebut adalah:
1. Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi tujuan pembelajaran yakni perubahan profil perilaku dan pribadi peserta didik. 2. Mempertimbangkan dan memilih sistem pendekatan pembelajaran yang dipandang paling efektif. 3. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah atau prosedur, metode dan teknik pembelajaran. 4. Menetapkan norma-norma dan batas minimum ukuran keberhasilan atau kriteria dan ukuran baku keberhasilan.

Sementara itu, Kemp (Wina Senjaya, 2008) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Selanjutnya, dengan mengutip pemikiran J. R David, Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran. Dilihat dari strateginya, pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian pula, yaitu: (1) exposition-discovery learning dan (2) group-individual learning (Rowntree dalam Wina Senjaya, 2008). Ditinjau dari cara penyajian dan cara pengolahannya, strategi pembelajaran dapat dibedakan antara strategi pembelajaran induktif dan strategi pembelajaran deduktif. Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. Dengan kata lain, strategi merupakan “a plan of operation achieving something” sedangkan metode adalah “a way in achieving something” (Wina Senjaya (2008). Jadi, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya: (1) ceramah; (2) demonstrasi; (3) diskusi; (4) simulasi; (5) laboratorium; (6) pengalaman lapangan; (7) brainstorming; (8) debat, (9) simposium, dan sebagainya. Selanjutnya metode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan gaya pembelajaran. Dengan demikian, teknik pembelajaran dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan

seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas. Demikian pula, dengan penggunaan metode diskusi, perlu digunakan teknik yang berbeda pada kelas yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong pasif. Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama. Sementara taktik pembelajaran merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual. Misalkan, terdapat dua orang sama-sama menggunakan metode ceramah, tetapi mungkin akan sangat berbeda dalam taktik yang digunakannya. Dalam penyajiannya, yang satu cenderung banyak diselingi dengan humor karena memang dia memiliki sense of humor yang tinggi, sementara yang satunya lagi kurang memiliki sense of humor, tetapi lebih banyak menggunakan alat bantu elektronik karena dia memang sangat menguasai bidang itu. Dalam gaya pembelajaran akan tampak keunikan atau kekhasan dari masing-masing guru, sesuai dengan kemampuan, pengalaman dan tipe kepribadian dari guru yang bersangkutan. Dalam taktik ini, pembelajaran akan menjadi sebuah ilmu sekalkigus juga seni (kiat) Apabila antara pendekatan, strategi, metode, teknik dan bahkan taktik pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran. Jadi, model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran. Berkenaan dengan model pembelajaran, Bruce Joyce dan Marsha Weil (Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990) mengetengahkan 4 (empat) kelompok model pembelajaran, yaitu: (1) model interaksi sosial; (2) model pengolahan informasi; (3) model personal-humanistik; dan (4) model modifikasi tingkah laku. Kendati demikian, seringkali penggunaan istilah model pembelajaran tersebut diidentikkan dengan strategi pembelajaran. Untuk lebih jelasnya, posisi hierarkis dari masing-masing istilah tersebut, kiranya dapat divisualisasikan sebagai berikut

Metode pembelajaran yang akan dilaksanakan tidak hanya bertumpu

pada kuliah mimbar namun lebih memprioritaskan: Model kuliah di lapangan Studi kasus Peragaan Bertemu tokoh Pemutaran film Permainan, dll
1. PENGERTIAN STRATEGI, METODE DAN TEKNIK BELAJAR MENGAJAR Strategi belajar-mengajar adalah cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan materi pelajaran dalam lingkungan pengajaran tertentu, yang meliputi sifat, lingkup dan urutan kegiatan yang dapat memberikan pengalaman belajar kepada siswa (Gerlach dan Ely). Strategi belajar-mengajar tidak hanya terbatas pada prosedur kegiatan, melainkan juga termasuk di dalamnya materi atau paket pengajarannya (Dick dan Carey). Strategi belajar-mengajar terdiri atas semua komponen materi pengajaran dan prosedur yang akan digunakan untuk membantu siswa mencapai tujuan pengajaran tertentu dengan kata lain strategi belajar-mengajar juga merupakan pemilihan jenis latihan tertentu yang cocok dengan tujuan yang akan dicapai (Gropper). Tiap tingkah laku yang harus dipelajari perlu dipraktekkan. Karena setiap materi dan tujuan pengajaran berbeda satu sama lain, makajenis kegiatan yang harus dipraktekkan oleh siswa memerlukan persyaratan yang berbeda pula. Menurut Gropper sesuai dengan Ely bahwa perlu adanya kaitan antara strategi belajar mengajar dengan tujuan pengajaran, agar diperoleh langkah-langkah kegiatan belajar-mengajar yang efektif dan efisien. Ia mengatakan bahwa strategi belajar-mengajar ialah suatu rencana untuk pencapaian tujuan. Strategi belajar-mengajar terdiri dari metode dan teknik (prosedur) yang akan menjamin siswa betul-betul akan mencapai tujuan, strategi lebih luas daripada metode atau teknik pengajaran. Metode, adalah cara, yang di dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai suatu tujuan. Hal ini berlaku baik bagi guru (metode mengajar) maupun bagi siswa (metode belajar). Makin baik metode yang dipakai, makin efektif pula pencapaian tujuan (Winamo Surakhmad) Kadang-kadang metode juga dibedakan dengan teknik. Metode bersifat prosedural, sedangkan teknik lebih bersifat implementatif. Maksudnya merupakan pelaksanaan apa yang sesungguhnya terjadi (dilakukan guru) untuk mencapai tujuan. Contoh: Guru A dengan guru B sama-sama menggunakan metode ceramah. Keduanya telah mengetahui bagaimana prosedur pelaksanaan metode ceramah yang efektif, tetapi hasilnya guru A berbeda dengan guru B karena teknik pelaksanaannya yang berbeda. Jadi tiap guru mungakui mempunyai teknik yang berbeda dalam melaksanakan metode yang sama. Dapat disimpulkan bahwa strategi terdiri dan metode dan teknik atau prosedur yang menjamin siswa mencapai tujuan. Strategi lebih luas dari metode atau teknik pengajaran. Metode atau teknik pengajaran merupakan bagian dari strategi pengajaran. Untuk lebih memperjelas perbedaan tersebut, ikutilah contoh berikut: Dalam suatu Satuan Acara Perkuliahan (SAP) untuk mata kuliah Metode-metode mengajar bagi para mahasiswa program Akta IV, terdapat suatu rumusan tujuan khusus pengajaran sebagai benikut: “Para mahasiswa calon guru diharapkan dapat mengidentifikasi minimal empat jenis (bentuk) diskusi sebagai metode mengajar”. Strategi yang dipilih untuk mencapai tujuan pengajaran tersebut misalnya: 1. Mahasiswa diminta mengemukakan empat bentuk diskusi yang pernah dilihatnya, secara kelompok. 2. Mahasiswa diminta membaca dua buah buku tentang jenis-jenis diskusi dari Winamo Surakhmad dan Raka Joni. 3. Mahasiswa diminta mendemonstrasikan cara-cara berdiskusi sesuai dengan jenis yang dipelajari, sedangkan kelompok yang lain mengamati sambil mencatat kekurangan-kekurangannya untuk didiskusikan setelah demonstrasi itu selesai.

4. Mahasiswa diharapkan mencatat hasil diskusi kelas. Dari contoh tersebut dapat kita lihat bahwa teknik pengajaran adalah kegiatan no 3 dan 4, yaitu dengan menggunakan metode demonstrasi dan diskusi. Sedangkan seluruh kegiatan tersebut di atas merupakan strategi yang disusun guru untuk mencapai tujuan pengajaran. Dalam mengatur strategi, guru dapat memilih berbagai metode seperti ceramah, tanya jawab, diskusi, demonstrasi dan sebagainya. Sedangkan berbagai media seperti film, kaset video, kaset audio, gambar dan lain-lain dapat digunakan sebagai bagian dan teknik teknik yang dipilih.
KLASIFIKASI STRATEGI BELAJAR-MENGAJAR Klasifikasi strategi belajar-mengajar, berdasarkan bentuk dan pendekatan: 1. Expository dan Discovery/Inquiry : “Exposition” (ekspositorik) yang berarti guru hanya memberikan informasi yang berupa teori, generalisasi, hukum atau dalil beserta bukti bukti yang mendukung. Siswa hanya menerima saja informasi yang diberikan oleh guru. Pengajaran telah diolah oleh guru sehingga siap disampaikan kepada siswa, dan siswa diharapkan belajar dari informasi yang diterimanya itu, disebut ekspositorik. Hampir tidak ada unsur discovery (penemuan). Dalam suatu pengajaran, pada umumnya guru menggunakan dua kutub strategi serta metode mengajar yang lebih dari dua macam, bahkan menggunakan metode campuran. Suatu saat guru dapat menggunakan strategi ekspositorik dengan metode ekspositorik juga. Begitu pula dengan discovery/inquiry. Sehingga suatu ketika ekspositorik - discovery/inquiry dapat berfungsi sebagai strategi belajar-mengajar, tetapi suatu ketika juga berfungsi sebagai metode belajar-mengajar. Guru dapat memilih metode ceramah, ia hanya akan menyampaikan pesan berturut-turut sampai pada pemecahan masalah/eksperimen bila guru ingin banyak melibatkan siswa secara aktif. Strategi mana yang lebih dominan digunakan oleh guru tampak pada contoh berikut: Pada Taman kanak-kanak, guru menjelaskan kepada anak-anak, aturan untuk menyeberang jalan dengan menggunakan gambar untuk menunjukkan aturan : Berdiri pada jalur penyeberangan, menanti lampu lintas sesuai dengan urutan wama, dan sebagainya. Dalam contoh tersebut, guru menggunakan strategi ekspositorik. Ia merigemukakan aturan umum dan mengharap anak-anak akan mengikuti/mentaati aturan tersebut. Dengan menunjukkan sebuah media film yang berjudul “Pengamanan jalan menuju sekolah guru ingin membantu siswa untuk merencanakan jalan yang terbaik dan sekolah ke rumah masing-masing dan menetapkan peraturan untuk perjalanan yang aman dari dan ke sekolah. Dengan film sebagai media tersebut, akan merupakan strategi ekspositori bila direncanakan untuk menjelaskan kepada siswa tentang apa yang harus mereka perbuat, mereka diharapkan menerima dan melaksanakan informasi/penjelasan tersebut. Akan tetapi strategi itu dapat menjadi discovery atau inquiry bila guru menyuruh anak-anak kecil itu merencanakan sendiri jalan dari rumah masing masing. Strategi ini akan menyebabkan anak berpikir untuk dapat menemukan jalan yang dianggap terbaik bagi dirinya masing-masing. Tugas tersebut memungkinkan siswa mengajukan pertanyaan pertanyaan sebelum mereka sampai pada penemuan-penemuan yang dianggapnya terbaik. Mungkin mereka perlu menguji cobakan penemuannya, kemungkinan mencari jalan lain kalau dianggap kurang baik. Dan contoh sederhana tersebut dapat kita lihat bahwa suatu strategi yang diterapkan guru, tidak selalu mutlak ekspositorik atau discovery. Guru dapat mengkombinasikan berbagai metode yang dianggapnya paling efektif untuk mencapai suatu tujuan tertentu. 2. Discovery dan Inquiry : Discovery (penemuan) sering dipertukarkan pemakaiannya dengan inquiry (penyelidikan). Discovery (penemuan) adalah proses mental dimana siswa mengasimilasikan suatu konsep atau suatu prinsip. Proses mental misalnya; mengamati, menjelaskan, mengelompokkan, membuat kesimpulan dan sebagainya. Sedangkan konsep, misalnya; bundar, segi tiga, demokrasi, energi dan sebagai. Prinsip misalnya “Setiap logam bila dipanaskan memuai”

Inquiry, merupakan perluasan dari discovery (discovery yang digunakan lebih mendalam) Artinya, inquiry mengandung proses mental yang lebih tinggi tingkatannya. Misalnya; merumuskan problema, merancang eksperi men, melaksanakan eksperimen, melaksanakan eksperimen, mengumpulkan data, menganalisis data, membuat kesimpulan, dan sebagainya. Selanjutnya Sund mengatakan bahwa penggunaan discovery dalam batas-batas tertentu adalah baik untuk kelas-kelas rendah, sedangkan inquiry adalah baik untuk siswa-siswa di kelas yang lebih tinggi. DR. J. Richard Suchman mencoba mengalihkan kegiatan belajar-mengajar dari situasi yang didominasi. guru ke situasi yang melibatkan siswa dalam proses mental melalui tukar pendapat yang berwujud diskusi, seminar dan sebagainya. Salah satu bentuknya disebut Guided Discovery Lesson, (pelajaran dengan penemuan terpimpin) yang langkah-langkahnya sebagai berikut:

1. Adanya problema yang akan dipecahkan, yang dinyatakan dengan pernyataan atau pertanyaan 2. Jelas tingkat/kelasnya (dinyatakan dengan jelas tingkat siswa yang akan diberi pelajaran, misalnya SMP kelas III) 3. Konsep atau prinsip yang harus ditemukan siswa melalui keglatan tersebut perlu ditulis dengan jelas. 4. Alat/bahan perlu disediakan sesuai dengan kebutuhan siswa dalam melaksanakan kegiatan 5. Diskusi sebagai pengarahan sebelum siswa melaksanakan kegiatan. 6. Kegiatan metode penemuan oleh siswa berupa penyelidikan/percobaan untuk menemukan konsep-konsep atau prinsip-prinsip yang telah ditetapkan 7. Proses berpikir kritis perlu dijelaskan untuk menunjukkan adanya mental operasional siswa, yang diharapkan dalam kegiatan. 8. Perlu dikembangkan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat terbuka, yang mengarah pada kegiatan yang dilakukan siswa. 9. Ada catatan guru yang meliputi penjelasan tentang hal-hal yang sulit dan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil terutama kalau penyelidikan mengalami kegagalan atau tak berjalan Sebagaimana mestinya.
Sedangkan langkah-langkah inquiry menurut dia meliputi:

1. 2. 3. 4. 5.

Menemukan masalah Pengumpulan data untuk memperoleh kejelasan Pengumpulan data untuk mengadakan percobaan Perumusan keterangan yang diperoleh Analisis proses inquiry.

3. Pendekatan konsep : Terlebih dahulu harus kita ingat bahwa istilah “concept” (konsep) mempunyai beberapa arti. Namun dalam hal ini kita khususkan pada pembahasan yang berkaitan dengan kegiatan belajar-mengajar. Suatu saat seseorang dapat belajar mengenal kesimpulan benda-benda dengan jalan membedakannya satu sama lain. Jalan lain yang dapat ditempuh adalah memasukkan suatu benda ke dalam suatu kelompok tertentu dan mengemukakan beberapa contoh dan kelompok itu yang dinyatakan sebagai jenis kelompok tersebut. Jalan yang kedua inilah yang memungkinkan seseorang mengenal suatu benda atau peristiwa sebagai suatu anggota kelompok tertentu, akibat dan suatu hasil belajar yang dinamakan “konsep”.
Kita harus memperhatikan pengertian yang paling mendasar dari istilah “konsep”, yang ditunjukkan melalui tingkah laku individu dalam mengemukakan sifat-sifat suatu obyek seperti : bundar, merah, halus, rangkap, atau obyek-obyek yang kita kenal seperti rambut, kucing, pohon dan rumah. Semuanya itu menunjukkan pada suatu konsep yang nyata (concrete concept). Gagne mengatakan bahwa selain konsep konkret yang bisa kita pelajari melalui pengamatan, mungkin juga ditunjukkan melalui definisi/batasan, karena merupakan sesuatu yang abstrak. Misalnya iklim, massa, bahasa atau konsep matematis. Bila seseorang telah mengenal suatu konsep, maka konsep yang telah diperoleh tersebut dapat digunakan untuk mengorganisasikan gejala-gejala yang ada di dalam kehidupan. Proses

menghubung-hubungkan dan mengorganisasikan konsep yang satu dengan yang lain dilakukan melalui kemampuan kognitif 4. Pendekatan Cara Belajar Stswa Aktif (CBSA) Pendekatan ini sebenamya telah ada sejak dulu, ialah bahwa di dalam kelas mesti terdapat kegiatan belajar yang mengaktifkan siswa (melibatkan siswa secara aktif). Hanya saja kadar (tingkat) keterlibatan siswa itulah yang berbeda. Kalau dahulu guru lebih banyak menjejalkan fakta, informasi atau konsep kepada siswa, akan tetapi saat ini dikembangkan suatu keterampilan untuk memproses perolehan siswa. Kegiatan belajar-mengajar tidak lagi berpusat pada siswa (student centered). Siswa pada hakekatnya memiliki potensi atau kemampuan yang belum terbentuk secara jelas, maka kewajiban gurulah untuk merangsang agar mereka mampu menampilkan potensi itu, betapapun sederhananya. Para guru dapat menumbuhkan keterampilan-keterampilan pada iswa sesuai dengan taraf perkembangannya, sehingga mereka memperoleh konsep. Dengan mengembangkan keterampilan keterampilan memproses perolehan, siswa akan mampu menemukan dan mengembangkan sendin fakta dan kosep serta mengembangkan sikap dan nilai yang dituntut. Proses belajar-mengajar seperti inilah yang dapat menciptakan siswa belajar aktif. Hakekat dad CBSA adalah proses keterlibatan intelektual-emosional siswa dalam kegiatan belajar mengajar yang memungkinkan terjadinya: ○ Proses asimilasi/pengalaman kognitif, yaitu: yang memungkinkan terbentuknya pengetahuan ○ Proses perbuatan/pengalaman langsung, yaitu: yang memungkinkan terbentuknya keterampilan ○ Proses penghayatan dan internalisasi nilai, yaitu: yang memungkinkan terbentuknya nilai dan sikap Walaupun demikian, hakekat CBSA tidak saja terletak pada tingkat keterlibatan intelektual-emosional, tetapi terutama juga terletak pada diri siswa yang memiliki potensi, tendensi atau kemungkinan kemungkinan yang menyebabkan siswa itu selalu aktif dan dinamis. Oleh sebab itu guru diharapkan mempunyai kemampuan profesional sehingga ia dapat menganalisis situasi instruksional kemudian mampu merencanakan sistem pengajaran yang efektif dan efisien. Dalam menerapkan konsep CBSA, hakekat CBSA perlu dijabarkani menjadi bagian-bagian kecil yang dapat kita sebut sebagai prinsip-pninsip CBSA sebagai suatu tingkah laku konkret yang dapat diamati. Dengan demikian dapat kita lihat tingkah laku siswa yang muncul dalam suatu kegiatan belajar mengajar karena memang sengaja dirancang untuk itu. Prinsip-prinsip CBSA: Dan uraian di atas kita ketahui bahwa prinsip CBSA adalah tingkah laku belajar yang mendasarkan pada kegiatan-kegiatan yang nampak, yang menggambarkan tingkat keterlibatan siswa dalam proses belajarmengajar baik intelektual-emosional maupun fisik, Prinsip-Prinsip CBSA yang nampak pada 4 dimensi sebagai berikut: a. Dimensi subjek didik : ○ Keberanian mewujudkan minat, keinginan, pendapat serta dorongan-dorongan yang ada pada siswa dalam proses belajar-mengajar. Keberanian tersebut terwujud karena memang direnca nakan oleh guru, misalnya dengan format mengajar melalui diskusi kelompok, dimana siswa tanpa ragu-ragu mengeluarkani pendapat. ○ Keberanian untuk mencari kesempatan untuk berpartisipasi dalam persiapan maupun tindak lanjut dan suatu proses belajar-mengajar maupun tindak lanjut dan suatu proses belajar mengajar. Hal mi terwujud bila guru bersikap demokratis. ○ Kreatifitas siswa dalam menyelesaikan kegiatan belajar sehingga dapat mencapai suatu keberhasilan tertentu yang memang dirancang olch guru. ○ Kreatifitas siswa dalam menyelesaikan kegiatan belajar sehingga dapat mencapai suatu keberhasilan tertentu, yang memang dirancang oleh guru.

Peranan bebas dalam mengerjakan sesuatu tanpa merasa ada tekanan dan siapapun termasuk guru. b. Dimensi Guru ○ Adanya usaha dan guru untuk mendorong siswa dalam meningkatka kegairahan serta partisipasi siswa secara aktif dalam proses belajar-mengajar. ○ Kemampuan guru dalam menjalankan peranannya sebagai inovator dan motivator. ○ Sikap demokratis yang ada pada guru dalam proses belajar-mengajar. ○ Pemberian kesempatan kepada siswa untuk belajar sesuai dengan cara, mama serta tingkat kemampuan masing-masing. ○ Kemampuan untuk menggunakan berbagai jenis strategi belajar-mengajar serta penggunaan multi media. Kemampuan mi akan menimbulkan lingkuñgan belajar yang merangsang siswa untuk mencapai tujuan. c. Dimensi Program ○ Tujuan instruksional, konsep serta materi pelajaran yang memenuhi kebutuhan, minat serta kemampuan siswa; merupakan suatu hal yang sangat penting diperhatikan guru. ○ Program yang memungkinkan terjadinya pengembangan konsep mau pun aktivitas siswa dalam proses belajar-mengajar. ○ Program yang fleksibel (luwes); disesuaikan dengan situasi dan kondisi. d. Dimensi situasi belajar-mengajar ○ Situasi belajar yang menjelmakan komunikasi yang baik, hangat, bersahabat, antara guru-siswa maupun antara siswa sendiri dalam proses belajar-mengajar. ○ Adanya suasana gembira dan bergairah pada siswa dalam proses belajar-mengajar. Rambu-rambu CBSA : Yang dimaksud dengan rambu-rambu CBSA adalah perwujudan prinsip-prinsip CBSA yang dapat diukur dan rentangan yang paling rendah sampai pada rentangan yang paling tinggi, yang berguna untuk menentukan tingkat CBSA dan suatu proses belajar-mengajar. Rambu-rambu tersebut dapat dilihat dari beberapa dimensi. Rambu-rambu tersebut dapat digunakan sebagai ukuran untuk menentukan apakah suatu proses belajar-mengajar memiliki kadar CBSA yang tinggi atau rendah. Jadi bukan menentukan ada atau tidak adanya kadar CBSA dalam proses belajar-mengajar. Bagaimanapun lemahnya seorang guru, namun kadar CBSA itu pasti ada, walaupun rendah. a. Berdasarkan pengelompokan siswa : Strategi belajar-mengajar yang dipilih oleh guru hams disesuaikan dengan tujuan pengajaran serta materi tertentu. Ada materi yang sesuai untuk proses belajar secara individual, akan tetapi ada pula yang lebih tepat untuk proses belajar secara kelompok. Ditinjau dari segi waktu, keterampilan, alat atau media serta perhatian guru, pengajaran yang berorientasi pada kelompok kadang-kadang lebih efektif.

b. Berdasarkan kecepatan nzasing-rnasing siswa :
Pada saat-saat tertentu siswa dapat diberi kebebasan untuk memilih materi pelajaran dengan media pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan mereka masing-masing. Strategi ini memungkinkan siswa untuk belajar lebih cepat bagi mereka yang mampu, sedangkan bagi mereka yang kurang, akan belajar sesuai dengan batas kemampuannya. Contoh untuk strategi belajar-mengajar berdasarkan kecepatan siswa adalah pengajaran modul.

c. Pengelompokan berdasarkan kemampuan :

Pengelompokan yang homogin han didasarkan pada kemampuan siswa. Bila pada pelaksanaan pengajaran untuk pencapaian tujuan tertentu, siswa harus dijadikan satukelompok maka hal mi mudah dilaksanakan. Siswa akan mengembangkan potensinya secara optimal bila berada disekeliling teman yang hampir sama tingkat perkembangan intelektualnya.

d. Pengelompokkan berdasarkan persamaan minat :
Pada suatu guru perlu memberi kesempatan kepada siswa untuk berkelompok berdasarkan kesamaan minat. Pengelompokan ini biasanya terbentuk atas kesamaan minat dan berorientasi pada suatu tugas atau permasalahan yang akan dikerjakan.

e. Berdasarkan domein-domein tujuan :

Strategi belajar-mengajar berdasarkan domein/kawasan/ranah tujuan, dapat dikelompokkan sebagai berikut: Menurut Benjamin S. Bloom CS, ada tiga domein ialah: 1) Domein kognitif, yang menitik beratkan aspek cipta. 2) Domein afektif, aspek sikap. 3) Dornein psikomotor, untuk aspek gerak.

Gagne mengklasifikasi lima macam kemampuan ialah: 1) Keterampilan intelektual. 2) Strategi kognitif. 3) Informasi verbal. 4) Keterampilan motorik. 5) Sikap dan nilai. Di samping pengelompokan (klasifikasi) tersebut di atas, masih ada pengelompokkan yang lebih komprehensif dalam arti meninjau beberapa faktor sekaligus seperti, wawasan tentang manusia dan dunianya, tujuan serta lingkungan belajar. Pendapat ini dikemukakan oleh Bruce Joyce dan Marsha Well dengan mengemukakan rumpun model-model mengajar sebagai berikut : a. Rumpun model interaksi sosial b. Rumpun model pengelola informasi Rumpun model personal-humanistik c. Rumpun model modifikasi tingkah laku. T. Raka Joni mengemukakan suatu kerangka acuan yang dapat digunakan untuk memahami strategi belajar-mengajar, sebagai berikut:

1. Pengaturan guru-siswa : ○ Dari segi pengaturan guru dapat dibedakan antara : Pengajaran yang diberikan oleh seorang guru atau oleh tim ○ Hubungan guru-siswa, dapat dibedakan : Hubungan guru-siswa melalui tatap muka secara langsung ataukah melalui media cetak maupun media audio visual. ○ Dari segi siswa, dibedakan antara : Pengajaran klasikal (kelompok besar) dan kelompok kecil (antara 5 - 7 orang) atau pengajaran Individual (perorangan).
2. Struktur peristiwa belajar-mengajar :

Struktur peristiwa belajar, dapat bersifat tertutup dalam arti segala sesuatunya telah ditentukan secara ketat, misalnya guru tidak boleh menyimpang dari persiapan mengajar yang telah direncanakan. Akan tetapi dapat terjadi sebaliknya, bahwa tujuan khusus pengajaran, materi serta prosedur yang ditempuh ditentukan selama pelajaran berlangsung. Struktur yang disebut terakhir ini memberi kesempatan kepada siswa untuk ikut berperan dalam menentukan apa yang akan dipelajari dan bagaimana langkah langkah yang akan ditempuh.
3. Peranan guru-siswa dalam mengolah pesan :

Tiap peristiwa belajar-mengajar bertujuan untuk mencapai suatu tujuan tertentu, ingin menyampaikan pesan, informasi, pengetahuan dan keterampilan tertentu kepada siswa. Pesan tersebut dapat diolah sendiri secara tuntas oleh guru sebelum disampaikan kepada siswa, namun dapat juga siswa sendid yang diharapkan kepada siswa, namun dapat juga siswa sendid yang diharapkan mengolah dengan bantuan sedikit atau banyak dan guru. Pengajaran yang disampaikan dalam keadaan siap untuk ditedma siswa, disebut strategi ekspositorik, sedangkan yang masih harus diolah oleh siswa dinamakan heudstik atau hipotetik. Dan strategi heuristik dapat dibedakan menjadi dua jenis ialah penemuan

(discovery) dan penyelidikan (inquiry), yang keduanya telah diterangkan pada awal bab ini.
4. Proses pengolahan pesan :

Dalam peristiwa belajar-mengajar, dapat terjadi bahwa proses pengolahan pesan bertolak dari contoh-contoh konkret atau peristiwa-peristiwa khusus kemudian diambil suatu kesimpulan (generalisasi atau pnnsip-pnnsip yang bersifat umum). Strategi belajar-mengajar yang dimulai dari hal-hal yang khusus menuju ke umum tersebut, dinamakan strategi yang bersifat induktif.
Pemilihan strategi belajar-mengajar Titik tolak untuk penentuan strategi belajar-mengajar tersebut adalah perumusan tujuan pengajaran secara jelas. Agar siswa dapat melaksanakan kegiatan belajar-mengajar secara optimal, selanjutnya guru harus memikirkan pertanyaan berikut : “Strategi manakah yang paling efektif dan efisien untuk membantu tiap siswa dalam pencapaian tujuan yang telah dirumuskan?” Pertanyaan ini sangat sederhana namun sukar untuk dijawab, karena tiap siswa mempunyai kemampuan yang berbeda. Tetapi strategi memang harus dipilih untuk membantu siswa mencapai tujuan secara efektif dan produktif. Langkah yang harus ditempuh adalah sebagai berikut; Pertama menentukan tujuan dalam arti merumuskan tujuan dengan jelas sehingga dapat diketahui apa yang diharapkan dapat dilakukan siswa, dalam kondisi yang bagaimana serta seberapa tingkat keberhasilan yang diharapkan. Pertanyaan inipun tidak mudah dijawab, sebab selain setiap siswa berbeda, juga tiap guru pun mempunyai kemampuan dan kwalifikasi yang berbeda pula. Disamping itu tujuan yang bersifat afektif seperti sikap dan perasaan, lebih sukar untuk diuraikan (dijabarkan) dan diukur. Tujuan yang bersifat kognitif biasanya lebih mudah. Strategi yang dipilih guru untuk aspek ini didasarkan pada perhitungan bahwa strategi tersebut akan dapat membentuk sebagaimana besar siswa untuk mencapai hasil yang optimal. Namun guru tidak boleh berhenti sampai disitu, dengan kemajuan teknologi, guru dapat mengatasi perbedaan kemampuan siswa melalui berbagai jenis media instruksional. Misalnya, sekelompok siswa belajar melalui modul atau kaset audio, sementara guru membimbing kelompok lain yang dianggap masih lemah. Kriteria Pemilihan Strategi Belajar-mengajar, menurut Gerlach dan Ely adalah: 1. Efisiensi : Seorang guru biologi akan mengajar insekta (serangga). Tujuan pengajarannya berbunyi : Diberikan lima belas jenis gambar binatang, yang belum diberi nama, siswa dapat menunjukkan delapan jenis binatang yang termasuk jenis serangga. Untuk mencapai tujuan tersebut, strategi yang paling efisien ialah menunjukkan gambar jenis-jenis serangga itu dan diberi nama, kemudian siswa diminta memperhatikan ciri-cirinya. Selanjutnya para siswa diminta mempelajari di rumah untuk dihafal cirinya, sehingga waktu diadakan tes mereka dapat menjawab dengan betul. Dengan kata lain mereka dianggap telah mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan Strategi ekspository tersebut memang merupakan strategi yang efisien untuk pencapaian tujuan yang bersifat hafalan. Untuk mencapai tujuan tersebut dengan strategi inquiry mungkin oleh suatu konsep, bukan hanya sekedar menghafal. Strategi ini lebih tepat. Guru dapat menunjukkan berbagai jenis binatang, dengan sketsa atau slide kemudian siswa diminta membedakan manakah yang termasuk serangga; ciri-cirinya, bentuk dan susunan tubuhnya, dan sebagainya. Guru menjawab pertanyaan siswa dengan jawaban pelajari lebih jauh. Mereka dapat mencari data tersebut dari buku-buku di perpustakaan atau melihat kembali gambar (sketsa) yang ditunjukkan guru kemudian mencocokkannya. Dengan menunjuk beberapa gambar, guru memberi pertanyaan tentang beberapa spesies tertentu yang akhirnya siswa dapat membedakan mana yang termasuk serangga dan mana yang bukan serangga. Kegiatan ini sampai pada perolehan konsep tentang serangga. Metode terakhir ini memang membawa siswa pada suatu pengertian yang sama dengan yang dicapai melalui ekspository, tetapi pencapaiannya jauh lebih lama. Namun inquiry membawa siswa

untuk mempelajari konsep atau pnnsip yang berguna untuk mengembangkan kemampuan menyelidiki.

2. Efektifitas :
Strategi yang paling efisien tidak selalu merupakan strategi yang efektif. Jadi efisiensi akan merupakan pemborosan bila tujuan akhir tidak tercapai. Bila tujuan tercapai, masih harus dipertanyakan seberapa jauh efektifitasnya. Suatu cara untuk mengukur efektifitas ialah dengan jalan menentukan transferbilitas (kemampuan memindahkan) prinsip-prinsip yang dipelajari. Kalau tujuan dapat dicapai dalam waktu yang lebih singkat dengan suatu strategi tertentu dari pada strategi yang lain, maka strategi itu efisien. Kalau kemampuan mentransfer informasi atau skill yang dipelajari lebih besar dicapai melalui suatu strategi tertentu dibandingkan strategi yang lain, maka strategi tersebut lebih efektif untuk pencapaian tujuan.

3. Kriteria lain :
Pertimbangan lain yang cukup penting dalam penentuan strategi maupun metode adalah tingkat keterlibatan siswa. (Ely. P. 186). Strategi inquiry biasanya memberikan tantangan yang lebih intensif dalam hal keterlibatan siswa. Sedangkan pada strategi ekspository siswa cenderung lebih pasif. Biasanya guru tidak secara murni menggunakan ekspository maupun discovery, melainkan campuran. Guru yang kreatif akan melihat tujuan yang akan dicapai dan kemampuan yang dimiliki siswa, kemudian memilih strategi yang lain efektif dan efisien untuk mencapainya. 2. METODE-METODE MENGAJAR SECARA PERORANGAN Perlu diketahui bahwa tidak ada satu metode pun yang dianggap paling baik diantara metode-metode yang lain. Tiap metode mempunyai karakteristik tertentu dengan segala kelebihan dan kelemahan masing masing. Suatu metode mungkin baik untuk suatu tujuan tertentu, pokok bahasan maupun situasi dan kondisi tertentu, tetapi mungkin tidak tepat untuk situasi yang lain. Demikian pula suatu metode yang dianggap baik untuk suatu pokok bahasan yang disampaikan oleh guru tertentu, kadang-kadang belum tentu berhasil dibawakan oleh guru lain. Adakalanya seorang guru perlu menggunakan beberapa metode dalam menyampaikan suatu pokok babasan tertentu. Dengan variasi beberapa metode, penyajian pengajaran menjadi lebih hidup. Misalnya pada awal pengajaran, guru memberikan suatu uraian dengan metode ceramah, kemudian menggunakan contoh-contoh melalui peragaan dan diakhiri dengan diskusi atau tanya-jawab. Di sini bukan hanya guru yang aktif berbicara, melainkan siswa pun terdorong untuk berpartisipasi. Seorang guru yang pandai berpidato dengan segala humor dan variasinya, mungkin tidak mengalami kesulitan dalam berbicara, ia dapat memukau siswa dan awal sampai akhir pengajaran. Akan tetapi bagi seorang guru bicara, uraiannya akan terasa kering, untuk itu ia dapat mengatasi dengan uraian sedikit saja, diselingi tanya jawab, pemberian tugas, kerja kelompok atau diskusi sehingga kelemahan dalam berbicara dapat ditutup dengan metoda lain. Winarno Surakhmad dalam bukunya “Pengantar interaksi belajar mengajar” menggolongkan metode metode itu menjadi dua golongan ialah: Metode interaksi secara individual dan secara kelompok. Namun perlu diketahui bahwa kiasifikasi tersebut tetap fleksibeL METODE CERAMAH Ceramah adalah penuturan atau penerangan secara lisan oleh guru terhadap kelas. Alat interaksi yang terutama dalam hal ini adalah “berbicara". Dalam ceramahnya kemungkinan guru menyelipkan pertanyaan pertanyaan, akan tetapi kegiatan belajar siswa terutama mendengarkan dengan teliti dan mencatat pokok pokok penting, yang dikemukakan oleh guru; bukan menjawab pertanyaan-pertanyaan siswa. Dalam lingkungan pendidikan modern, ceramah sebagai metode mengajar telah menjadi salah satu persoalan yang cukup sering diperdebatkan. Sebagian orang menolak sama sekali dengan alasan bahwa cara sebagi metode mengajar kurang efisien dan bertentangan dengan cara manusia belajar. Sebaliknya,

sebagian yang mempertahankan berdalih, bahwa ceramah lebih banyak dipakai sejak dulu dan dalam setiap pertemuan di kelas guru tidak mungkin meninggalkan ceramah walaupun hanya sekedar sebagai kata pengantar pelajaran atau merupakan uraian singkat di tengah pelajaran. Kalau kita teliti lebih lanjut, sebenarnya alasan-alasan tersebut di atas tidaklah sama sekali salah, tatapi juga tidak sama sekali benar. Hal yang sebenarnya adalah bahwa dalam situasi-situasi tertentu, metode ceramah merupakan metode yang paling baik, tetapi dalam situasi lain mungkin sangat tidak efisien. Guru yang bijaksana senantiasa menyadari kondisi-kondisi yang berhubungan situasi pengajaran yang dihadapinya, sehingga ia dapat menetapkan bilamanakah metode ceramah sewajamya digunakan, dan bilakah sebaiknya dipakai metode lain. Tidak jarang guru menunjukkan kelernahannya, karena ia hanya mengenal satu atau dua macam metode saja dan karenanya ia selalu saja menggunakan metode ceramah untuk segala macam situasi. Kelemahan ini juga merupakan salah satu sebab mengapa metode ceramab dikritik orang, dan sering dirangkaikan dengan sifat verbalistis (kata-kata tetapi tidak mengerti artinya). Situasi di bawah ini sesuai untuk penggunaan metode ceramah: a. Kalau guru akan menyampaikan fakta atau pendapat dimana

tidak terdapat bahan bacaan yang merangkum fakta yang dimaksud. Sebagai contob: di suatu kelas SMP, guru mengajarkan Sejarah terbentuknya candi Borobudur. Di perpustakaan sekolah tidak tersedia bukti yang menggambarkan sejarah candi tersebut. Maka tepatlah bila guru memberikan penjelasan dengan metode ceramah. sekitar 75 orang atau lebih), maka metode ceramah Iebih efisien dari pada metode lain seperti diskusi, demonstrasi atau eksperimen. Sebab dengan diskusi, guru harus mengatur slswa berkelompok dengan mengubah susunan kursi, sudah tentu dibutuhkan kelas yang besar. Juga guru akan mengalami kesulitan dalam mengawasi kelompok-kelompok yang berjumlah besar. Demikian pula untuk penyelenggaraan demonstrasi atau eksperimen untuk jumlah besar, selain alat-alat yang tidak mencukupi, pengelolaan pengajaran juga mengalami kesulitan.

b. Jika guru akan menyampaikan pengajaran kepada sejumlah siswa yang besar (misalnya

c. Kalau guru adalah pembicara yang bersemangat sehingga dapat memberi motivasi kepada

siswa untuk mengerjakan suatu pekerjaan. Dalam keadaan tertentu, sebuah pembicaraan yang bersemangat akan mcnggerakkan hati siswa untuk menimbulkan tekad baru. Misalnya ceramah tentang sejarah perjuangan bangsa Indonesia.
d. Jika guru akan menyimpulkan pokok-pokok penting yang telah diajarkan, sehingga

memungkinkan siswa untuk melihat lebih jelas hubungan antara pokok yang satu dengan lainnya. Misalnya, setelah guru selesai mengajarkan sejarah perjuangan bangsa, kepada para siswa ia memberi tugas untuk menjawab beberapa pertanyaan yang dikerjakan dirumah. Kemudian pada pelajaran berikutnya, guru membicarakan bersama tugas yang telah dikerjakan siswa, dan guru menyimpulkan garis besar sejarah tersebut. e. Kalau guru akan memperkenalkan pokok bahasan baru. Dalam sebuah kelas, siswa telah sampai pada bagian tata bahasa yang membicarakan tata kata. Untuk itu guru akan menjelaskan perbedaan antara fonetik dan fonemik dengan berbagai contoh.
Kelebihan dan kelemahan metode ceramah : Kelebihan : a. Guru menguasai arah pembicaraan seluruh kelas : Kalau kelas sedang berdiskusi, sangatlah mungkin

bahwa seorang siswa mengajukan pendapat yang berbeda dengan anggota kelompok yang lain, hal ini dapat mempengaruhi

suasana dan diskusi jadi berkepanjangan bahkan sering menyimpang dari pokok bahasan. Tetapi pada metode ceramah hanya guru yang berbicara, maka ia dapat menentukan sendiri arah pembicaraan.
b. Organisasi kelas sederhana :

Dengan ceramah, persiapan satu-satunya bagi guru adalah buku catatannya. Pada seluruh jam pelajaran ia berbicara sambil berdiri atau kadang-kadang duduk. Cara ini paling sederhana dalam hal pengaturan kelas, jika dibandingkan dengan metode demonstrasi dimana guru harus mengatur alat-alat. Atau dibandingkan dengan kerja kelompok, dimana guru harus membagi kelas ke dalam beberapa kelompok, ia harus merubah posisi kelas.
Kelemahan : a. Guru tak dapat mengetahui sampai dimana siswa telah mengerti pembicaraannya. Kadang-kadang guru beranggapan bahwa kalau para siswa duduk diam mendengarkan atau sambil menganggukanggukkan kepalanya, berarti mereka telah mengerti apa yang diterangkan guru. Padahal anggapan tersebut sering meleset, walaupun siswa memperlihatkan reaksi seolah-olah mengerti, akan tetapi guru tidak mengetahui sejauh mana penguasaan siswa terhadap pelajaran itu. Oleh karena itu segera setelah ia berceramah, harus diadakan evaluasi, misalnya dengan tanya jawab atau tes.

b. Kata-kata yang diucapkan guru, ditafsirkan lain oleh siswa. Dapat terjadi bahwa siswa memberikan
pengertian yang berlainan dengan apa yang dimaksud oleh guru. Kiranya perlu kita sadari bahwa tidak ada arti yang mutlak untuk setiap kata tertentu. Kata-kata yang diucapkan hanyalah bunyi yang disetujui penggunaannya dalam suatu masyarakat untuk mewakili suatu pengertian. Misalnya: kata modul, bagi siswa SLTP Terbuka dan mahaiswa UT diartikan sebagai salah satu bentuk bahan belajar yang berwujud buku materi pokok. Sedangkan bagi para astronout, modul diartikan sebagai salah satu komponen dari pesawat luar angkasa. Itulah sebabnya maka setiap anak harus membentuk perbendaharaan bahasanya berdasarkan pengalaman hidupnya sehari-hari. Selama ada persamaan pendapat antara pembicara dengan pendengar, maksud pembicaraan akan dimengerti oleh pendengar. Kalau guru menggunakan kata-kata abstrak seperti “keadilan”, “kepribadian”, “kesusilaan”, mungkin bagi setiap siswa tidak sama pengertiannya, atau sangat kabur mengartikan kata-kata itu. Lebih-lebih lagi bila kata-kata itu dirangkaikan dalam kalimat, akan semakin banyak kemungkinan salah tafsir dari pembicaraan guru. Itulah sebabnya mengapa sering terjadi siswa sama sekali tidak memperoleh pengertian apapun dari pembicaraan guru. Oleh karena itu bila guru ingin menjelaskan sesuatu yang kiranya masih asing bagi siswa, guru dapat menyertakan peragaan dalam caramahnya. Peragaan tersebut dapat berbentuk benda yang sesungguhnya, model-model dari benda, menggambarkan dengan bagan atau diagram di papan tulis. Mempersiapkan bahan ceramah yang efektif Langkah-langkah di bawah ini dapat dipakai sebagai petunjuk untuk mempertinggi hasil metode ceramah: a. Tujuan pembicaraan (ceramah) harus dirumuskan dengan jelas.

b. Setelah menetapkan tujuan, harus diteliti apakah metode ceramah merupakan metode yang sudah

tepat digunakan untuk mencapai tujuan tersebut. Sering terjadi setelah melihat tujuan dan metode ternyata untuk keperluan ini lebih tepat digunakan metode lain. Menyusun ceramah dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut: ○ bahan ceramah dapat dimengerti dengan jelas, maksudnya setiap pengertian dapat menghubungkan pembicaraan dengan pendengar dengan tepat. ○ Dapat menangkap perhatian siswa ○ Memperlihatkan kepada pendengar bahwa bahan yang mereka peroleb berguna bagi kehidupan mereka.

c. Menanamkan pengertian yang jelas. Hal inmi dapat dilaksanakan dengan berbagai jalan. Salah satu
diantaranya adalah : guru memulai pembicaraan dengan suatu ikhtisar/ringkasan tentang pokok-

pokok yang akan diuraikan. Kemudian menyusul bagian dari pokok bahasan yang merupakan inti, dan akhimya disimpulkan kembali pokok-pokok yang penting dari pembicaraan itu. Jalan lain yang dapat ditempuh misalnya, untuk setiap ungkapan sulit, terlebih dahulu dikemukakan contoh-contoh. Atau guru terlebih dahulu mengemukakan suatu cerita singkat bersifat ilustratif, sehingga dapat menggambarkan dengan jelas apa yang dimaksud.

melihat bahwa apa yang di pelajari berguna bagi kehidupan. Sebuah teknik yang sering dapat menguasai perhatian siswa pada awal ceramah sampai selesai adalah dengan menghadapkan siswa pada pertanyaan. Dengan pertanyaan itu mereka diajak berpikir dan seterusnya mengikuti pembicaraan guru. METODE TANYA-JAWAB

d. Menangkap perhatian siswa dengan menunjukkan penggunaannya. Siswa akan tertarik bila mereka

Dalam menggunakan metode mengajar, tidak hanya guru saja yang senantiasa berbicara seperti halnya dengan metode ceramah, melainkan mencakup pertanyaan-pertanyaan dan penyumbangan ide-ide dari pihak siswa. Cara pengajaran yang seperti ini dapat dibedakan dalam dua jenis ialah: (1) metode tanyajawab, dan (2) metode diskusi. Perbedaan pokok diantara metode tanya-jawab dengan metode diskusi terletak pada: 1. Corak pertanyaan yang diajukan guru. 2. Sifat pengambilan bagian yang diharapkan dari pihak siswa. Pada hakekatnya metode tanya jawab berusaha menanyakan apakah siswa telah mengetahui fakta-fakta tertentu yang sudah diajarkan, dalam hal lain guru juga bermaksud ingin mengetahui tingkat-tingkat proses pemikiran siswa. Melalui metode tanya-jawab guru ingin mencari jawaban yang tepat dan faktuaL Sebaliknya dengan metode diskusi, guru mengemukakan pertanyaan-pertanyaan yang agak berbeda sifatnya. Di sini

Dari penjelasan tersebut kita ketahui bahwa metode tanya jawab mempunyai hubungan dengan metode apakah yang sedang dipakai guru metode ini sering sukar dibedakan, tujuan dan teknik masing-masing cukup mempunyai perbedaan yang besar sehingga dalam uraian ini seyogianya dibedakan. Metode tanya-jawab digunakan dengan maksud :

guru merangsang siswa untuk menggunakan fakta-fakta yang telah dipelajari untuk memecahkan suatu persoalan. Pertanyaan seperti ini biasanya tidak mempunyai jawaban yang tepat dan tunggal, melainkan lebih dari sebuah jawaban.

a. Melanjutkan (meninjau) pelajaran yang lalu b. Menyelingi pembicaraan untuk mendapatkan kerjasama siswa

c. Memimpin pengamatan dan pemikiran siswa. Kelebihan dan kelemahan metode tanya-jawab :
Kelebihan : a. Kelas lebih aktif karena siswa tidak sekedar mendengarkan saja b. Memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya sehingga

Kelemahannya :

guru mengetahui hal-hal yang belum dimengerti oleh para siswa c. Guru dapat mengetahui sampai di mana penangkapan siswa terhadap segala sesuatu yang diterangkan. a. Dengan tanya jawab kadang-kadang pernbicaraan menyimpang dari pokok persoalan bila dalarn mengajukan pertanyaan, siswa rnenyinggung hal-hal lain walaupun masih ada hubungannya dengan pokok yang dibicarakan. Dalarn hal ini sering tidak terkendalikan sehingga membuat persoalan baru. b. Mernbutuhkan waktu lebih banyak.

METODE DISKUSI Metode diskusi adalah cara penyampaian bahan pelajaran dimana guru memberi kesempatan kepada

siswa untuk mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun berbagai alternatif pemecahan masalah. Dalam kehidupan modern ini banyak sekali masalah yang dihadapi oleh manusia; sedemikian kompleksnya masalah tersebut, sehingga tak mungkin hanya dipecahkan dengan satu jawaban saja, melainkan harus menggunakan segala pengetahuan yang kita miliki untuk mencari pemecahan yang terbaik. Ada kemungkinan terdapat lebih dari satu jawaban yang benar sehingga kita harus menemukan jawaban yang paling tepat diantara sekian banyak jawaban tersebut. Kecakapan untuk rnemecahkan masalah tersebut dapat dipelajari. Untuk itu siswa harus dilatih sejak kecil. Persoalan yang kompleks sering kita jumpai dalam kehidupan bermasyarakat karenanya dibutuhkan pemecahan atas dasar kerjasama. Dalarn hal ini diskusi merupakan jalan yang banyak membeni kemungkinan pemecahan terbaik. Selain membeni kesempatan untuk mengembangkan keterampilan memecahkan masalah, juga dalam kehidupan yang demokratis, kita diajak untuk hidup bermusyawarah, mencari keputusan keputusan atas dasar persetujuan bersama. Bagi anak-anak, latihan untuk peranan kepemimpinan serta peranan peserta dalam kehidupan di masyarakat. Penggunaan metode diskusi : Seperti telah disinggung di atas bahwa metode tanya-jawab dengan diskusi saling mencakup tetapi berbeda. Ada pertanyaan yang mengandung unsur diskusi, tetapi ada yang tidak. Dengan diskusi guru berusaha mengajak siswa untuk memecahkan masalah. Untuk pemecahan suatu masalah diperlukan pendapat-pendapat berdasarkan pengetahuan yang ada, dengan sendirinya kemungkinan terdapat banyak jawaban yang benar. Pertanyaan-pertanyaan yang baik untuk metode diskusi: a. Menguji kemungkinan jawaban yang dapat dipertahankan lebih dari sebuah. b. Tidak menanyakan “manakah jawaban yang benar” tetapi lebih menekankan kepada “mempertimbangkan dan membandingkan”. Misalnya : Manakah kiranya yang paling baik, pemecahan mana yang mungkin lebih berhasil, manakah yang akan lebth membenikan manfaat. c. Menarik minat siswa dan sesuai dengan taraf kemampuannya. Peranan guru atau pemimpin diskusi: Pimpinan diskusi dapat dipegang oleh guru sendiri, tetapi dapat juga diserahkan kepada siswa bila guru ingin memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar memimpin. Kecakapan memirnpin diskusi memang harus dilatih, bila kita menginginkan keberhasilan suatu diskusi. Seseorang yang belum berpengalaman dalam suatu diskusi dapat kebingungan, apabila terjadi pembicaraan yang jauh menyimpang dari pokok persoalan. Dapat pula terjadi, seseorang yang senang berbicara akan menguasai seluruh pembicaraan sehingga tidak memberi kesempatan kepada yang lain untuk mengemukakan pendapat. Demikian pula bila diantara para peserta diskusi saling bertentangan pendapat, bagi pemimpin yang belum terampil, tidak dapat mencarikan jalan tengah sehingga diskusi berakhir tanpa adanya kesimpulan yang jelas. Bila siswa belum pernah mengenal tata cara diskusi, mereka akan berbicara secara serempak atau spontan menanggapi bila ada suatu pendapat yang menarik, juga sering beberapa siswa belum memahami persoalan, sehingga memberikan komentar yang menyimpang dan berkepanjangan. Akibatnya suasana jadi menjemukan dan tidak dapat dilihat kemajuan-kemajuan yang telah dicapai. Pemimpin diskusi yang baik, akan sanggup dengan cepat mengambil tindakan-tindakan menghadapi ketimpangan-ketimpangan tersebut di atas. Untuk itulah para siswa perlu dilatih untuk memperoleh keterampilan memimpin yang pada hakekatnya dapat dipelajari. Prof. Dr. Winarno Surakhmad dalam bukunya “Pengantar Interaksi belajar-rnengajar” mengemukakan tiga peranan ‘pemimpin diskusi ialah sebagai: a) Pengatur lalu lintas b) dinding penangkis c) penunjuk jalan.

Pemimpin sebagai pengatur lalu lintas : Sebagai seorang pemimpin ia berhak: ○ Menunjukkan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka ○ Menjaga agan tidak semua anggota berbicara serempak ○ Mencegah dikuasainya pembicaraan oleh orang-orang tertentu yang gemar berbicara ○ Membuka kesempatan bagi para anggota yang pemalu atau pendiam untuk menyumbangkan ideide mereka. ○ Mengatur sedemikian rupa sehingga setiap pembicaraan dapat ditangkap dengan jelas oleti pendengar. Dari peran tersebut, dapat kita lihat bahwa pemimpin akan belajar memahami sifat-sifat peserta. Ia akan belajar bagaimana mendorong anggota yang pendiam untuk ikut serta, dan bagaimana mencegah anggota yang senang berbicara dan membuka kesempatan bagi anggota lain secara merata. Di sini pemimpin harus dapat mengatur pembicaraan dengan bijaksana sehingga tidak menimbulkan rasa tertekan, marah atau rendah diri. Pemimpin sebagai dinding penangkis : Dalam:peran ini diibaratkan seseorang pemain tenis yang berlatih memukul bola ke dinding, selalu memantul kembali. Demikian pula pemimpin diskusi senantiasa menerima pertanyaan-pertanyaan dan para peserta dan dipantulkan kembali ke dalam kelompok. Dia sendiri tidak selalu menjawab langsung setiap pertanyaan yang penting. Bila sudah memperoleh jawaban maka jawaban tersebut dilontarkan kembali kepada para peserta untuk memintakan pendapat mereka. Pada suatu saat mungkin diskusi mengalami jalan buntu, maka pada kesempatan ini pemimpin atau guru dapat bertindak sebagai penasehat dan memberi jawaban sehingga soal-soal pokok yang sedang didiskusikan dapat di lanjutkan. Pemimpin sebagai penujuk jalan : Dalam suatu diskusi sering terjadi para siswa tidak menyadari struktur pokok diskusi mereka, atau tidak memahami pokok masalah yang didiskusikan sehingga mudah timbul pertanyaan-pertanyaan yang menyimpang dari garis pembicaraan. Mereka kehilangan pegangan dan tidak melihat hasil-hasil yang dicapai. Atau tidak disadari bahwa telah tiba saatnya untuk menarik kesimpulan dan menetapkan langkah-langkah. Kewajiban pemimpin diskusilah untuk memahami dengan seksama struktur diskusi yang baik sehingga ia dapat menunjukkan jalan lurus bila tenjadi penyimpangan. Dengan demikian pemimpin mempunyai kewajiban menuntun anggota dalam menentukan langkah-langkah pemecahan masalah. Langkah-langkah yang perlu dipahami dan dipakai sebagai pedoman menuntun diskusi kelas adalah: ○ Apakah masalah yang dihadapi? Pemimpin perlu mengetahui dengan jelas permasalahan yang dihadapi. Bila penlu ditulis di papan tulis sebelum diskusi dimulai sehingga peserta senantiasa melihat tujuan diskusi dimulai sehingga peserta senantiasa melihat tujuan diskusi. ○ Soal-soal penting mana yang terdapat dalam masalah itu? Kalau dalam diskusi terdapat pandangan yang berbeda, ada baiknya pandangan-pandangan tersebut ditulis pula. Faedahnya, siswa dapat melihat kekurangan-kekurangannya dan mencoba memperbaiki sebelum diskusi dilanjutkan. Dapat terjadi seluruh peserta tidak mengetahui dengan pasti faktor tertentu yang dapat dipakai untuk memecahkan masalah. Faktor serupa ini terpaksa dicari dari sumber-sumber lain atau dari nara sumber yang mengetahui. ○ Kemungkinan-kemungkinan jawaban yang bagaimana yang dapat dirumuskan oleh kelas terhadap suatu masalah? Selama diskusi pemimpin atau guru kelas meihat adanya sejumlah jawaban yang dianggap menupakan jawaban yang setepat-tepatnya. ○ Hal manakah yang telah diterima oleh suara terbanyak sebagai persetujuan? ○ Tindakan apakah yang sudah direncanakan? Siapakah yang melaksanakan dan bilamana?

Kebaikan dan kelemahan metode diskusi : Kebaikan : a. Siswa belajar bermusyawarah b. Siswa mendapat kesempatan untuk menguji tingkat pengetabuan masing-masing. c. Belajar menghargai pendapat orang lain. d. Mengembangkan cara berpikir dan sikap ilmiah. Kekurangan/kelemahan : a. Pendapat serta pertanyaan siswa dapat menyimpang dari pokok persoalan. b. Kesulitan dalam menyimpulkan sering menyebabkan tidak ada penyelesaian. c. Membutuhkan waktu cukup banyak. METODE KERJA KELOMPOK Kerja kelompok dapat diartikan sebagai suatu kegiatan belajar-mengajar dimana siswa dalam suatu kelas dipandang sebagai suatu kelompok atau dibagi atas kelompok-kelompok kecil untuk mencapai suatu tujuan pengajaran tertentu. Sebagai metode mengajar, kerja kelompok dapat dipakai untuk mencapai barmacam macam tujuan pengajaran. Pelaksanaannya tergantung pada beberapa fäktor misalnya tujuan khusus yang akan dicapai, umur, kemampuan siswa, serta fasilitas pengajaran di dalam keIas. Penggunaan metode kerja kelompok : a. Pengelompokan untuk mengatasi kekurangan alat-alat pelajaran : Dalam sebuah kelas, guru akan mengajarkan Sejarah Mesir kuno; Ia tidak mempunyai bahan bacaan yang cukup untuk tiap siswa. Maka untuk memberi kesempatan yang sebesar-besamya kepada siswa, kelas dibagi atas beberapa kelompok. Tiap kelompok diberi sebuah buku untuk dibaca dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang telab disediakan guru.

b. Pengelompokan atas dasar perbedaan kemampuan belajar :

Di suatu kelas, guru dihadapkan pada persoalan bagai mana melaksanakan tugas sebaik-baiknya terhadap kelas yang sifatnya heterogen, yakin berbeda-beda dalam kemampuan belajar. Pada waktu pelajaran matematika, Ia menemukan bahwa ada lima orang siswa tidak sanggup memecahkan soal seperti teman-teman lainnya. Guru menyadari bahwa ia tidak mungkin rnengajar kelas dengan menyamaratakan seluruh siswa, karena ada perbedaan dalam kesanggupan belajar. Maka ia membagi para siswa dalam beberapa kelompok dengan anggota yang mempunyai kemampuan setaraf kemudian diberi tugas sesuai dengan kemampuan mereka. Sekali-kali ia meninjau secara bergilir untuk melihat kelompok mana yang membutuhkan pertolongan atau perhatian sepenuhnya.

c. Pengelompokan atas dasar perbedaan minat belajar :
Pada suatu saat para siswa perlu mendapat kesempatan untuk memilih suatu pokok bahasan yang sesuai dengan minatnya. Untuk keperluan ini guru memberikan suatu pokok bahasan yang terdiri dari beberapa sub-pokok bahasan. Siswa yang berminat sama dapat berkumpul pada suatu kelompok untuk mempelajari sub-pokok bahasan yang dimaksud.

d. Pengelompokan untuk memperbesar partisipasi tiap siswa :
Di suatu kelas, guru sedang mengajarkan kesusastraan. Ia memilih suatu masalah tentang lahirnya sastra baru. Dikemukakanlah masalah-masalah khusus, satu diantaranya ialah mengapa ada pendapat yang mengatakan bahwa kesadaran kebangsaanlah yang menjadi perbedaan hakiki antara kesusastraan Melayu dengan kesusastraan Indonesia. Guru tidak mempunyai waktu yang berlebihan, akan tetapi ia mengingjnkan setiap siswa berpartisipasi secara penuh. Untuk setiap masalah diperlukan pendapat atau diskusi. Maka dipecahkan kesatuan kelas itu menjadi kelompokkelompok yang lebih kecil dengan tugas membahas permasalahan tersebut dalam waktu yang sangat terbatas. Selesai pembahasan kelompok, setiap kelompok rnengemukakan pendapat yang dianggap pendapat kelompok tersebut. Cara mengajar ini dimaksudkan untuk merangsang tiap siswa agar ikut serta dalam setiap masalab secara intensif. Tak ada seorangpun diantara mereka

yang merasa mendapat tugas lebih berat dari pada yang lain. Pengelompokkan sementara dan pendek semacam ini disebut juga rapat kilat.

e. Pengelompokan untuk pembagian pekerjaan :
Pengelompokkan ini didasarkan pada luasnya masalah, serta membutuhkan waktu untuk mem peroleh berbagal informasi yang dapat menunjang pemecahan persoalan. Untuk keperluan ini pokok persoalan harus diuraikan dahulu menjadi beberapa aspek yang akan dibagikan kepada tiap kelompok (tiap kelompok menyelesaikan satu aspek persoalan). Siswa harus mengumpulkan data, baik dari lingkungan sekitar maupun melalui bahan kepustakaan. Oleh karena itu proyek ini tidak mungkin diselesaikan dalam waktu dekat seperti halnya rapat kilat, melainkan kemungkinan membutuhkan waktu beberapa minggu. Jadi pengelompokkan disini bertujuan membagi pekerjaan yang mempunyai cakupan agak luas. Kerja kelonipok ini membutuhkan waktu yang panjang. Pengelompokan untuk belajar bekerja sama secara efisien menuju ke suatu tujuan : Langkah pertama adalah menjelaskan tujuan dari tugas yang harus dikerjakan siswa, kemudian membagi siswa menurut jenis dan sifat tugas, mengawasi jalannya kerja kelompok, dan menyimpulkan kemajuan kelompok. Di sini jelas walaupun siswa bekerja dalam kelompok masingmasing dan melaksanakan bagiannya sendiri-sendiri, namun mereka harus memusatkan perhatian pada tujuan yang akan dicapai, dan menjaga agar jangan sampai keluar dan persoalan pokok. Lain halnya dengan pengelompokkan untuk pembagian pekerjaan seperti tersebut di atas, tugas kelompok di sini tidak penlu diselesaikan dalam jangka waktu panjang, guru dapat memilih persoalan yang dapat didlskusikan di kelas. Kelebihan dan kelemahan kerja kelompok : Kelebihan : a. Dapat memupuk nasa kenjasama. b. Suatu tugas yang luas dapat segera diselesaikan. c. Adanya persaingan yang sebat. Kelemahan : a. Adanya sifat-sifat pribadi yang ingin menonjolkan diri atau sebaliknya yang lemah merasa rendah diri dan selalu tergantung kepada orang lain. b. Bila kecakapan tiap anggota tidak seimbang, akan rnenghambat kelancaran tugas, atau didominasi oleh seseorang. METODE DEMONSTRASI DAN EKSPERIMEN Antara metode demonstrasi dan eksperimen sebenarnya berbeda, akan tetapi dalam praktek sering dipergunakan silih berganti atau saling melengkapi. Metode demonstrasi merupakan suatu metode mengajar di mana seorang guru, orang luar atau manusia sumber yang sengaja diminta atau siswa menunjukkan kepada kelas suatu benda aslinya, tiruan (wakil dari benda asli) atau suatu proses, misalnya bagaimana cara membuat peta timbul, bagaimana cara menggunakan kamera dengan hasil yang baik, dan sebagainya. Sedangkan metode eksperimen ialah suatu metode mengajar di mana guru bersama siswa mencoba mengerjakan sesuatu serta mengamati proses dari hasil percobaan itu. Misalnya, karena ingin memperoleh jawaban tentang kebenaran sesuatu, mencari cara-cara yang lebih baik, mengetahui elemen/unsur-unsur apakah yang ada pada suatu benda, ingin mengetahui apakah yang akan terjadi, dan sebagainya. Dari kedua batasan tersebut dapat diketahui bahwa sebuah eksperimen dapat juga dijadikan demonstrasi. Misalnya guru dengan beberapa orang siswa mengadakan eksperimen mengenai pengaruh tekanan udara terhadap sebuab kaleng minyak tanah yang kosong, yang sudab dipanasi lebib dulu, kemudian ditutup rapat-rapat dan segera disiram air dingin. Para siswa melihat peristiwa itu sebagai demonstrasi. Dalarn hal ini eksperimen dapat dirangkaikan dengan demonstrasi. Metode ini sering juga disebut metode ilmiah, sebab metode inilah yang dipakai untuk menguji hipotesis.

f.

Penggunaan metode demontrasi dan eksperimen adalah : a. Untuk menjawab pertanyaan “Bagaimana cara mengatur sesuatu” b. Untuk menjawab pertanyaan “Bagaimana membuatnya" c. Untuk menjawab pertanyaan “Bagaimana bekerjanya” d. Untuk menjawab pertanyaan “Bagaimana mengerjakannya” e. Untuk menjawab pertanyaan “Cara manakah yang lebih baik” f. Untuk menjawab pertanyaan “Terdiri dari apa” g. Untuk mengetahui “kebenaran dari sesuatu” Kelebihan dan kelemahan metode demonstrasi : Kelebihan: ○ Perhatian siswa dapat dipusatkan, dan pokok bahasan yang dianggap penting oleh guru dapat diartikan seperlunya. ○ Siswa ikut serta aktif bila dernonstrasi sekaligus dilanjutkan dengan eksperimen. ○ Dapat mengurangi kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi sekiranya siswa hendak mencoba menpelajari suatu proses dari buku bacaan. ○ Beberapa persoalan yang belum dirnengerti ditanyakan langsung saat proses itu ditunjukkan sehingga terjawab dengan jelas. Kelemahan: ○ Demontrasi menjadi tidak efektif bila tidak semua siswa dapat ikut serta, misalnya alat terlalu kecil sedangkan jumlah siswa besar. ○ Bila tidak dilanjutkan dengan eksperimen ada kernungkinan siswa. menjadi lupa, dan pelajaran tidak akan berarti karena tidak menjadikan pengalaman bagi siswa. Kelebihan dan kelemahan metode eksperimen : Kelebihan: ○ Siswa aktif mengalami sendiri. ○ Siswa dapat membuktikan teori-teori yang pernah diterirna. ○ Mendapatkan kesempatan melakukan langkah-langkah berpikir iImiah. Kelemahan: ○ Akan kurang berhasil apabila alat-alat yang tersedia tidak mencukupi kebutuhan siswa. ○ Kemungkinan tidak membawa hasil yang diharapkan bila siswa belum cukup pengalarnan. ○ Kadang-kadang ada eksperimen yang memerlukan waktu panjang sehingga tidak praktis dilaksanakan di sekolah, lebih merugikan lagi bila untuk dapat melanjutkan pelajaran menunggu basil eksperimen tersebut. METODE SOSIODRAMA DAN BERMAIN PERANAN Metode sosiodrama dan bermain peranan merupakan dua buah metode mengajar yang mengandung pengertian yang dapat dikatakan bersama dan karenanya dalam pelaksanaan sering disilih gantikan. Istilah sosiodrama berasal dari kata sosio = sosial dan drama. Kata drama adalah suatu kejadian atau peristiwa dalarn kehidupan manusia yang mengandung konflik kejiwaan, pergolakan, clash atau benturan antara dua orang atau lebih. Sedangkan bermain peranan berarti memegang fungsi sebagai orang yang dimainkannya, misalnya berperan sebagai Lurah, penjudi, nenek tua renta dan sebagainya. Kedua metode tersebut biasanya disingkat menjadi metode “sosiodrama” yang merupakan metode mengajar dengan cara mempertunjukkan kepada siswa tentang masalah-masalah hubungan sosial, untuk mencapai tujuan pengajaran tertentu. Masalah hubungan sosial tersebut didramatisasikan oleh siswa dibawah pimpinan guru, Melalui metode ini guru ingin mengajarkan cara-cara bertingkah laku dalam hubungan antara sesama manusia. Cara yang paling baik untuk memahami nilai sosiodrama

adalah Mengalami sendiri sosiodrama, mengikuti penuturan terjadinya sosiodrama dan mengikuti langkah-langkah guru pada saat memimpin sosiodrama. Guru memberi kesempatan kepada para pendengar (siswa lain) untuk memberikan pendapat atau mencari pemecahan dengan cara-cara lain, kemudian diambil kesimpulan. Dalam diskusi kemungkinan terjadi diskusi yang seru karena adanya perbedaan pendapat. Timbul pertanyaan, apakah dalam keadaan yang sebenamya mereka juga berani berkata demikian? Sampai dimanakah manusia dapat mengambil kesimpulan atau keputusan yang sama apabila dalam situasi yang menekan. Permainan peranan ini menimbulkan sejumlah masalah yang perlu dicamkan oleh para siswa. Perasaan mereka dapat diperkuat oleh pengalaman yang realistis itu. Bila metode inl dikendalikan dengan cekatan oleh guru, banyak manfaat yang dapat dipetik, sebagai metode cara ini : (1) Dapat mempertinggi perhatian siswa melalui adegan-adegan, hal mana tidak selalu terjadi dalam metode ceramah atau diskusi. (2) Siswa tidak saja mengerti persoalan sosial psikologis, tetapi mereka juga ikut merasakan perasaan dan pikiran orang lain bila berhubungan dengan sesama manusia, seperti halnya penonton film atau sandiwara, yang ikut hanyut dalam suasana film seperti, ikut menangis pada adegan sedih, rasa marah, emosi, gembira dan lain sebagainya. (3) Siswa dapat menempatkan diri pada tempat orang lain dan memperdalam pengertian mereka tentang orang lain. Sebaliknya betapapun besar nilai metode ini ditangan yang kurang bijaksana akan menjadi nihil. Pada umumnya karena guru sendiri tidak paham akan tujuan yang dicapai, atau guru memilih metode ini walaupun sebenarnya kurang tepat untuk tujuan tertentu. Dapat terjadi guru tidak menyadari pentingnya langkah langkah dalam metode ini. Kelebi/tan dan kelemahan sosiodrama : Kelebihan: ○ Mengembangkan kreativitas siswa (dengan peran yang dimainkan siswa dapat berfantasi) ○ Memupuk kerjasama antara siswa. ○ Menumbuhkan bakat siswa dalam seni drama. ○ Siswa lebih memperhatikan pelajaran karena menghayati sendiri. ○ Memupuk keberanian berpendapat di depan kelas. ○ Melatih siswa untuk menganalisa masalah dan mengambil kesimpulan dalarn waktu singkat. Kelemahan: ○ Adanya kurang kesungguhan para pemain menyebabkan tujuan tak tercapai. ○ Pendengar (siswa yang tak berperan) sening mentertawakan tingkah laku pemain sehingga merusak suasana. METODE PEMBERIAN TUGAS BELAJAR DAN RESITASI Metode ini mengandung tiga unsur ialah: ○ Pemberian tugas. ○ Belajar. ○ Resitasi. Tugas, merupakan suatu pekerjaan yang harus diselesaikan. Pemberian tugas sebagai suatu metode mengajar merupakan suatu pemberian pekerjaan oleh guru kepada siswa untuk mencapai tujuan pengajaran tertentu. Dengan pemberian tugas tersebut siswa belajar, mengerjakan tugas. Dalam melaksanakan kegiatan belajar, siswa diharapkan memperoleh suatu hasil ialah perubahan tingkah laku tertentu sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Tahap terakhir dan pemberian tugas ini adalah resitasi yang berarti melaporkan atau menyajikan kembali tugas yang telah dikerjakan atau dipelajari. Jadi metode pembenian tugas belajar dan resitasi atau biasanya disingkat metode resitasi merupakan suatu metode mengajar dimana guru membenkan suatu tugas, kemudian siswa harus mempertanggung jawabkan hasil tugas tersebut. Resitasi sering disamakan dengan "home work" (pekerjaan rumah),

padahal sebenarnya berbeda. Pekerjaan rumah (PR) mempunyai pengertian yang lebih khusus, ialah tugas-tugas yang diberikan oleh guru, dikerjakan siswa di rumah. Sedangkan resitasi, tugas yang dibenikan oleh guru tidak sekedar dilaksanakan di rumah, melainkan dapat dikerjakan di perpustakaan, laboratonium, atau ditempat-tempat lain yang ada hubungannya dengan tugas/pelajaran yang diberikan. Jadi resitasi lebih luas daripada home-work. Akan tetapi keduanya mempunyai kesamaan ialah: ○ Mempunyai unsur tugas. ○ Dikerjakan oleh siswa dan dilaporkan hasilnya. ○ Mempunyai unsur didaktis pedagogis. Tujuan pemberian tugas : Menurut pandangan tradisional, pemberian tugas dilakukan oleh guru karena pelajaran tidak sempat diberikan di kelas. Untuk menyelesaikan rencana pengajaran yang telah ditetapkan, maka siswa diberi tugas untuk mempelajari dengan diberi soal-soal yang harus dikerjakan di rumah. Kadang-kadang juga bermaksud agar anak-anak tidak banyak bermain. Sedangkan menurut pandangan tugas diberikan dengan pandangan bahwa kurikulum itu merupakan segala aktivitas yang dilaksanakan oleh sekolah, baik kegiatan kurikulum itu merupakan segala aktivitas yang dilaksanakan oleh sekolah, baik kegiatan kurikuler, maupun ekstra kurikuler. Penggunaan metode resitasi : Pemberian tugas belajar dan resitasi dikatakan wajar bila bertujuan: ○ Memperdalam pengertian siswa terhadap pelajaran yang telah diterima. ○ Melatih siswa ke arah belajar mandiri. ○ Siswa dapat membagi waktu secara teratur. ○ Agar siswa dapat memanfaatkan waktu terluang untuk menyelesaikan tugas. ○ Melatih siswa untuk menemukan sendiri cara-cara yang tepat untuk menyelesaikan tugas. ○ Memperkaya pengalaman-pengalaman di sekolah melalui kegiatan-kegiatan di luar kelas. Kelebihan dan kelemahan : Kelebihan : ○ Memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar lebih banyak. ○ Memupuk rasa tanggung jawab. ○ Memperkuat motivasi belajar. ○ Menjalin hubungan antara sekolah dengan keluarga. ○ Mengembangkan keberanian berinisiatif. Kelemahan : ○ Memerlukan pengawasan yang ketat, baik oleh guru maupun orang tua. ○ Sukar menetapkan apakah tugas dikerjakan oleh siswa sendiri atau atas bantuan orang lain. ○ Banyak kecenderungan untuk saling mencontoh dengan teman-teman. ○ Agak sulit diselesaikan oleh siswa yang tinggal bersama keluarga yang kurang teratur. ○ Dapat menimbulkan frustasi bila gagal menyelesaikan tugas. METODE DRILL (LATIHAN) Drill merupakan suatu cara mengajar dengan memberikan latihan-latihan terhadap apa yang telah dipelajari siswa sehingga memperoleh suatu keterampilan tertentu. Kata latihan mengandung arti bahwa sesuatu itu selalu diulang-ulang, akan tetapi bagaimanapun juga antara situasi belajar yang pertama dengan situasi belajar yang realistis, ia akan berusaha melatih keterampilannya. Bila situasi belajar itu diubah-ubah kondisinya sehingga menuntut respons yang berubah, maka keterampilan akan lebih disempurnakan. Ada keterampilan yang dapat disempurnakan dalam jangka waktu yang pendek dan ada yang

membutuhkan waktu cukup lama. Perlu diperhatikan latihan itu tidak diberikan begitu saja kepada siswa tanpa pengertian, jadi latihan itu didahului dengan pengertian dasar. Drill wajar digunakan untuk : ○ Kecakapan motoris, misalnya : menggunakan alat-alat (musik, olahraga, menari, pertukangan dan sebagainya). ○ Kecakapan mental, misalnya: Menghafal, menjumlah, menggalikan, membagi dan sebagainya. Hal-hal yang perlu diperhatikan : ○ Tujuan harus dijelaskan kepada siswa sehingga selesai latihan mereka diharapkan dapat mengerjakan dengan tepat sesuai apa yang diharapkan. ○ Tentukan dengan jelas kebiasaan yang dilatihkan sehingga siswa mengetahui apa yang harus dikerjakan. ○ Lama latthan harus disesuaikan dengan kemampuan siswa. ○ Selingilah latihan agar tidak membosankan. ○ Perhatikan kesalahan-kesalahan umum yang dilakukan siswa untuk perbaikan secara kiasikal sedangkan kesalahan perorangan dibetulkan secara perorangan pula. Kelebihan dan kelemahan : Kelebihan : ○ Pengertian siswa lebih luas melalui latihan berulang-ulang. ○ Siswa siap menggunakan keterampilannya karena sudah dibiasakan. Kelemahan : ○ Siswa cenderung belajar secara mekanis. ○ Dapat rnenyebabkan kebosanan. ○ Mematikan kreasi siswa. ○ Menimbulkan verbalisme (tahu kata-kata tetapi tak tahu arti). METODE KARYAWISATA Dengan metode karyawisata, guru mengajak siswa ke suatu tempat (objek) tertentu untuk mempelajari sesuatu dalam rangka suatu pelajaran di sekolah. Berbeda dengan darmawisata, di sini para siswa sekedar pergi ke suatu tempat untuk rekreasi. Metode karyawisata berguna bagi siswa untuk membantu mereka memahami kehidupan ril dalam lingkungan beserta segala masalahnya . Misalnya, siswa diajak ke museum, kantor, percetakan, bank, pengadilan, atau ke suatu tempat yang mengandung nilai sejarah/kebudayaan tertentu. Langkah-langkah pelaksanaan : a. Persiapan : Merencanakan tujuan karyawisata. Untuk menetapkan tujuan ini ditunjuk suatu panitia dibawah bimbingan guru, untuk mengadakan survei ke obyek yang dituju. Dalam kunjungan pendahuluan ini sudah harus diperoleh data tentang objek antara lain tentang lokasi, aspek-aspek yang dipelajari, jalan yang ditempuh, penginapan, makan dan biaya transportasi, bila objek yang dituju jauh.

b. Perencanaan : ○ Hasil kunjungan pendahuluan (survei) dibicarakan bersama dalam rangka menyusun ○ ○

perencanaan yang meliputi: tujuan karyawisata, pembagian objek sesuai dengan tujuan,jenis objek sesuai dengan tujuan, jenis objek serta jumlah siswa. Dibentuk panitia secara lengkap, termasuk ketua tiap kelompok/seksi. Menentukan metode mengumpulkan data, mungkin berwujud wawancara, pengamatan langsung, dokumentasi.

○ ○ ○

Penyusunan acara selama karyawisata berlangsung. Kepada para siswa harus ditanamkan disiplin dalam mentaati jadwal yang telah direncanakan sehingga pelaksanaan berjalan lancar sesuai dengan rencana. Mengurus perizinan. Menentukan biaya, penginapan, konsumsi serta peralatan yang diperlukan.

c. Pelaksanaan :

Siswa melaksanakan tugas sesuai dengan pembagian yang telah ditetapkan dalam rencana kunjungan, sedangkan guru mengawasi, membimbing, bila perlu menegur sekiranya ada siswa yang kurang mentaati tata tertib sesuai acara.

d. Pembuatan laporan :
Hasil yang diperoleh dan kegiatan karyawisata ditulis dalam bentuk laporan yang formatnya telah disepakati bersama. METODE PEMECAHAN MASALAH (PROBLEM SOLVING) Metode pemecahan masalah merupakan suatu metode pengajaran yang mendorong siswa untuk mencari dan memecahkan persoalan-persoalan. Adakalanya manusia memecahkan masalah secara instinktif (naluriah) maupun dengan kebiasaan, yang mana pemecahan tersebut biasanya dilakukan oleh binatang. Pemecahan secara instinktif merupakan bentuk tingkah laku yang tidak dipelajari, seringkali berfaedah dalam situasi yang luarbiasa. Misalnya seseorang yang dalam keadaan terjepit karena bahaya yang datangnya tak disangka, maka secara spontan mungkin ia melompati pagar atau selokan dan berhasil, yang seandainya dalam keadaan biasa hal itu tak mungkin dilakukan. Dalam situasi yang problematis, baik manusia maupun binatang, dapat menggunakan cara "coba-coba, salah", mencoba lagi (trial and error) untuk memecahkan masalahnya. Akan tetapi taraf problem solving pada manusia lebih tinggi karena manusia sanggup memecahkan masalah dengan rasio (akal), disamping memiliki bahasa. Oleh karena itu manusia dapat memperluas pemecahan masalahnya di luar situasi konkret. Dalam menghadapi masalah yang lebih pelik, manusia dapat menggunakan cara ilmiah. Cara ilmiah untuk memecahkan masalah pada umumnya mengikuti langkah-langkah sebagai berikut : a. Memahami masalah; Masalah yang dihadapi harus dirumuskan, dibatasi dengan teliti. Bila tidak, usahanya akan sia-sia. b. Mengumpulkan data; Kalau masalah sudah jelas, dapat dikumpulkan data/informasi/keteranganketerangan yang diperlukan. c. Merumuskan hipotesis (jawaban sementara, yang mungkin memberi penyelesaian); dan keterangan keterangan yang diperoleh, mungkin timbul suatu kemungkinan yang memberi harapan yang akan membawa pada pemecahan masalah. d. Menilai hipotesis; Dengan jalan berpikir dapat diperkirakan akibat-akibat suatu hipotesis. Kalau ternyata bahwa hipotesis ini tidak akan memberi basil baik, maka dimulai lagi dengan langkah kedua. e. Mengadakan eksperimen/menguji hipotesis; Bila suatu hipotesis memberi harapan baik, maka diuji melalui eksperimen. Kalau berhasil, berarti masalah ini dipecahkan. Tetapi kalau tidak berhasil, harus kembali lagi dari langkah-langkah kedua atau ketiga. f. Menyimpulkan; Laporan tentang keseluruhan prosedur pernecahan masalah yang diakhiri dengan kesimpulan. Di sini kernungkinan dapat dicetuskan suatu prinsip atau hukum. Kesanggupan memecahkan masalah harus diajarkan kepada para siswa, sebab pemecahan masalah secara ilmiah (scientific method) berguna bagi mereka untuk memecahkan masalah yang sulit. Metode ini selain dapat digunakan untuk mernecahkan masalah dalam berbagai bidang studi, juga dapat digunakan untuk pemecahan yang berkaitan dengan kebutuhan siswa dalam kehidupan sehari-hari. Kelebihan dan kelemahan :

Kelebihan : ○ Mengajak siswa berpikir secara rasional. ○ Siswa aktif. ○ Mengembangkan rasa tanggung jawab. Kelernahan : ○ Memakan waktu lama. ○ Kebulatan bahan kadang-kadang sukar dicapai 3. METODE-METODE MENGAJAR SECARA KELOMPOK Metode-metode mengajar yang digunakan untuk kelompok yang jumlahnya besar, sedemikian besar jumlahnya sehingga dibutuhkan teknik tersendiri untuk mengatasinya, sebab kelompok itu dipandang sebagai massa dengan segala sifat yang menjadi ciri-ciri massa. Walaupun tidak selalu bahwa guru itu menghadapi kelompok besar, namun kiranya perlu mengetahui beberapa diantaranya, karena mungkin suatu saat ia membutuhkan. Metode-metode ini lebih banyak diterapkan untuk orang dewasa. SEMINAR Seminar merupakan suatu pembahasan masalah secara ilmiah, walaupun topik yang dibahas adalah masalah sehari-hari. Dalam membahas masalah, tujuannya adalah mencari suatu pemecahan, oleh karena itu suatu seminar selalu diakhiri dengan kesimpulan atau keputusan-keputusan yang merupakan hasil pendapat bersama, yang kadang-kadang diikuti dengan resolusi atau rekomendasi. Pembahasan dalam seminar berpangkal pada makalah atau kertas kerja yang telah disusun sebelumnya oleh beberapa orang pembicara sesuai dengan pokok-pokok bahasan yang diminta oleh sesuatu panitia penyelenggara. Pokok-pokok bahasan yang diminta oleh suatu penitia penyelenggara. Pokok bahasan yang telah ditentukan, akan dibahas secara teoritis dan dibagi menjadi beberapa subpokok bahasan bila masalahnya sangat luas. Pada awal seminar, dapat dibuka dengan suatu pandangan umum oleh orang berwenang (yang ditunjuk panitia) sehingga tujuan seminar terarah. Kemudian hadirin (massa) dibagi menjadi beberapa kelompok untuk membahas permasalahan lebih lanjut. Tiap kelompok dapat diserahi tugas membahas suatu sub pokok bahasan untuk dibahas dalam kelompok yang biasanya juga disebut seksi/komisi, di bawah pimpinan seorang ketua komisi (kelompok). Dari hasil-hasil kelompok, disusun suatu perumusan yang merupakan suatu kesimpulan yang dirumuskan oleh suatu tim perumus yang ditunjuk. Pembahasan dalam seminar memakan waktu yang lebih lama karena sifatnya yang ilmiah. Apabila para pembicara tidak dapat mengendalikan diri biasanya waktu banyak dipergunakan untuk pembahasan yang kurang penting. Oleh karena itu dibutuhkan pimpinan kelompok yang menguasai persoalan sehingga penyimpangan dari pokok persoalan dapat dicegah. Penyimpangan ini dapat diatasi bila setiap kali ketua sidang menyimpulkan hasil pembicaraan sehingga apa yang akan dibicarakan selanjutnya sudah terarah. PENGGUNAAN SEMINAR

○ ○ ○ ○ ○ ○ ○

Seminar akan efektif bila: Tersedia waktu yang cukup untuk membahas persoalan. Problema sudah dirumuskan dengan jelas. Para peserta dapat diajak berfikir logis. Problema memerlukan pemecahan yang sistematis. Problema akan dipecahkan secara menyeluruh. Pimpmnan sidang cukup terampil dalam mcnggunakan metode ini. Kelompok tidak terlalu besar sehingga memungkinkan setiap peserta mengambil bagian dalam berpendapat. Kelebihan dan kelemahan :

Kelebihan : Membangkitkan pemikiran yang logis. Mendorong pada analisa menyeluruh. Prosedurnya dapat diterapkan untuk berbagai jenis problema. Membangkitkan tingkat konsentrasi yang tinggi pada diri peserta. Meningkatkan keterampilan dalam mengenal problema. Kelemahan : ○ Membutuhkan banyak waktu. ○ Memerlukan pimpinan yang terampil. ○ Sulit dipakai bila kelompok terlalu besar. ○ Mengharuskan setiap anggota kelornpok untuk mempelajari terlebih dahulu. ○ Mungkin perlu dilanjutkan pada diskusi yang lain. SIMPOSIUM

○ ○ ○ ○ ○

Simposium adalah serangkaian pidato pendek di depan pengunjung dengan seorang pemimpin. Simposium menampilkan beberapa orang pembicara dan mereka mengemukakan aspek-aspek pandangan yang berbeda dan topik yang sama. Dapat juga terjadi, suatu topik persoalan dibagi atas beberapa aspek, kemudian setiap aspek disoroti tersendiri secara khusus, tidak perlu dari berbagai sudut pandangan. Pembicara dalam simposium terdiri dari pembicara (pembahas utama) dan penyanggah (pemrasaran banding), dibawah pimpinan seorang moderator. Pendengar diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan atau pendapat setelah pembahas utama dan penyanggah selesai berbicara. Moderator hanya mengkoordinasikan jalannya pembicaraan dan meneruskan pertanyaan-pertanyaan, sanggahan atau pandangan umum dari peserta. Hasil simposium dapat disebar luaskan, terutama dari pembahas utama dan penyanggah, sedangkan pandangan-pandangan umum yang dianggap perlu saja. PENGGUNAAN SIMPOSIUM

○ ○ ○ ○

Simposium dapat digunakan : Untuk mengemukakan aspek-aspek yang berbeda dari suatu topik tertentu. Jika kelompok peserta besar. Kalau kelompok membutuhkan keterampilan yang ringkas. Jika ada pembicara yang memenuhi syarat (ahli dalam bidang yang disoroti). Kelebihan dan Kelemahan :

Kelebihan : Dapat dipakai pada kelompok besar maupun kecil. Dapat mengemukakan informnasi banyak dalam waktu singkat. Pergantian pembicara menambah variasi dan sorotan dari berbagai segi akan menjadi sidang lebih menarik. ○ Dapat direncanakan jauh sebelumnya. Kelemahan : ○ Kurang spontanitas dan kneatifitas karena pembahas maupun penyanggah sudah ditentukan. ○ Kurang interaksi kelompok. ○ Menekankan pokok pembicaraan. ○ Agak terasa formal. ○ Kepribadian pembicara dapat menekankan materi. ○ Sulit mengadakan kontnol waktu. ○ Secara umum membatasi pendapat pembicara.

○ ○ ○

○ ○

Membutuhkan perencanaan sebelumnya dengan hati-hati untuk menjamin jangkauan yang tepat. Cenderung dipakai secara berlebihan. FORUM Yang dimaksud dengan forum adalah suatu gelanggang terbuka, dimana seseorang mendapat kesempatan berbicara tentang masalah apapun. Pembicara dapat datang dari kelompok massa, dan segera setelah selesai pembicaraannya ia harus kembali ke tempat semula. Jadi dalam forum tidak ada anggota tertentu yang duduk terpisah dari pendengar, tetapi ditekankan pada pemberian kesempatan bagi setiap orang untuk mengemukakan pikiran dan perasaan di depan khalayak. Dalam forum tidak akan diambil keputusan, melainkan sekedar meransang pendengar untuk mengemukan pemikiran baru, dimana sangat diperlukan pandangan berbagai orang. Seseorang yang maju kedepan seolah-olah memberi kesan bahwa ia adalah seorang dan sekian banyak orang yang sama-sama mencari suatu penyelesaian. Pada akhimya pimpinan forum harus mengemukakan ikhtisar pembicaraan dan sering diikuti suatu seruan kepada massa. PENGGUNAAN FORUM

Forum digunakan sebagai suatu metode pengajaran kelompok : ○ Untuk memberi kesempatan interaksi kelompok. ○ Pada saat diperlukan kombinasi antara maksud penyajian dengan reaksi kelompok. ○ Jika diinginkan pandangan/tanggapan dari pengunjung. ○ Kalau kelompok itu sangat besar. Kelebian dan Kelemahan : Kelebihan : Menambah pandangan dengan reaksi pengunjung. Dapat dipakai terutama pada kelompok yang besar. Dapat dipakai untuk menyajikan keterampilan yang banyak dalam waktu singkat. Pergantian pembicara menambah vaniasi. Reaksi pengunjung mendorong pengunjung untuk mendengarkan dengan lebih banyak perhatian. Kelemahan : ○ Membutuhkan banyak waktu. ○ Pribadi masing-masing pembicara dapat memaksakan pada mateni yang kurang tepat. ○ Tanggapan dari kelompok tertunda. ○ Sulit mengendalikan waktu. ○ Periode forum mudah terulur.. PANEL

○ ○ ○ ○ ○

Panel merupakan salah satu bentuk diskusi yang sudah direncanakan tentang suatu topik di depan para pengunjung. Diskusi panel dibawakan oleb 3 - 6 orang yang dianggap ahli yang dipimpin oleh seorang moderator. Para panelis berdiskusi sedemikian rupa, sehingga para pengunjung dapat mengikuti pembicaraan mereka. Pengunjung hanya berfungsi sebagai pendengar, oleh karena itu pengunjung yang begitu besar jumlahnya dianggap sebagai kelompok yang diajar oleh suatu regu guru. Tetapi panel tidak boleh hanya sekedar merupakan pengajaran informatif, melainkan harus dapat merangsang cara berpikir massa dengan memberikan berbagai perspektif. Pelaksanaan panel dimulai dari perkenalan para panelis oleh moderator, kemudian disampaikan persoalan umum kepada para panelis tersebut, untuk didiskusikan. Mereka seharusnya adalah orang-

orang yang pandai berbicara dengan lancar dan menarik. Moderator juga memegang penanan dalam diskusi ini, sebagai pengatur jalannya pembicaraan dengan sekali-kali menyimpulkan apa yang dikemukakan oleh para panelis. Perbedaan pendapat tidak menjadi persoalan, karena pada diskusi panel tidak perlu dicapai suatu kesatuan pendapat atau keputusan. Bahkan perbedaan pendapat itulah yang diharapkan dapat memberikan stimulus bagi pendengar untuk dapat berpikir lebih jauh. Pendengar tidak hanya akan menelan pesan yang sudah jadi, melainkan dapat mengikuti proses pemikiran para panelis jalannya diskusi. Setelah diskusi selesai, pendengar dapat membentuk kelompok-kelompok untuk mendiskusikannya lebih lanjut. Akan tetapi selama diskusi panel, pendengar tidak diberi kesempatan untuk mengemukakan pandangan. PENGGUNAAN PANEL

○ ○ ○ ○ ○ ○

Anda dapat menggunakan panel kalau : Ingin mengemukakan pandapat yang berbeda-beda. Ingin memberi stimulus para pendengar akan adanya suatu persoalan yang perlu dipecahkan. Ada panelis yang memenuhi syarat. Pembicaraan terlalu luas untuk didiskusikan dalam kelompok itu. Ingin mengajak pendengar melihat “ke dalam” tetapi tidak menginginkan tanggapan secara verbal. Ada moderator yang cakap, yang dapat menguasai segala aspek dan persoalan yang dibicarakan. Kelebihan dan Kelernahan :

Kelemahan : Membangkitkan pikiran. Mengemukakan pandangan yang berbeda-beda. Mendorong ke analisis lebih lanjut. Memanfaatkan para ahli untuk berpendapat dan proses pemikirannya dapat membelajarkan orang lain. Kelebihan : ○ Mudah tersesat bila moderator tidak terampil. ○ Memungkinkan panelis berbicara terlalu banyak. ○ Tidak memberi kesempatan peserta untuk berbicara. ○ Cenderung menjadi serial pidato pendek. ○ Membutuhkan persiapan yang cukup masak. MUSYAWARAH KERJA

○ ○ ○ ○

Musyawarah kerja atau rapat kerja (raker) merupakan suatu pertemuan yang hanya dihadin oleh sekelompok massa tertentu yang bergerak dalam bidang kerja sejenis. Dengan massa yang lebih terbatas, raker dilaksanakan untuk saling bertukar pengalaman atau pengetahuan dalam bidang kerja masing-masing, untuk mengevaluasi program-program kerja yang telah dilaksanakan atau untuk mengadakan pembaharuan dalam bidang kerja tersebut. Permasalahan yang akan dibahas, dipersiapkan jauh sebelumnya dengan menginventarisasi masalah dari lapangan kemudian diklasifikasikan ke dalam aspek-aspek tertentu yang akan dibahas dalam pertemuan tersebut. Bila perlu pada permulaan raker didahului dengan ceramah sebagai pengarahan dari seorang nara sumber, di samping ada beberapa nara sumber lain yang sewaktu-waktu dapat memberikan bantuan bila mengalami kesulitan. Peserta dibagi atas beberapa kelompok, yang masingmasing dipimpin oleh seorang ketua kelompok. Hasil akhir sidang kelompok disampaikan pada sidang pleno (lengkap) untuk mendapatkan tinjauan umum secara menyeluruh, untuk pada akhimya diambil satu keputusan. Biasanya raker dilaksanakan selama beberapa hari (lima hari sampai seminggu), oleh karena itu di tengah-tengah raker dapat disisipi acara karyawisata, pameran, demonstrasi, diskusi panel, dan sebagainya. PENGGUNAAN RAPAT KERJA

○ ○

Rapat kerja digunakan untuk tiga hal pokok ialah : Kalau dirasa ada kebutuhan untuk saling bertukar pengalaman. Timbul kebutuhan untuk mengevaluasi program kerja yang telah ada untuk mengembangkan sesuatu yang baru. Kelebihan dan kelemahan :

Kelebihan : Persoalan yang dihadapi dapat dipecahkan bersama. Menambah pengalaman dan hasil kerja orang lain. Mendapatkan perkembangan-perkembangan baru di bidang kerja. Evaluasi program akan menjadi umpan balik untuk penyempurnaan kerja. Kelemahan : ○ Rapat kerja memakan waktu lama sehingga seseorang harus meninggalkan pekerjaan cukup lama. ○ Kalau bidang yang dibahas selalu luas, sering tidak tuntas. ○ Membutuhkan persiapan sistematis untuk tiap bidang kerja yang akan dievaluasi. ○ Kadang-kadang tidak semua masalah yang diinventarisasi dapat masuk ke panitia jauh sebelumnya. Dengan mengenal berbagai jenis metode mengajar secara kelompok seperti tersebut di atas, pada suatu saat guru dapat melihat salah satu diantaranya bila ia akan menghadapi kelompok belajar yang merupakan massa. Tidak tertutup kemungkinan bahwa guru tidak hanya akan mengajar di dalam kelas saja, melainkan pada suatu waktu diminta untuk berinteraksi dengan kelompok yang lebih besar.

○ ○ ○ ○

Meskipun saya telah diajari mengarang sejak kelas 1 SD, kemudian diperdalam lagi di SMP dan SMA, namun mengarang tetap saja merupakan pekerjaan yang sulit bagi saya. Entahlah mengapa begitu, padahal mengarang hanyalah memindahkan gagasan-gagasan kita ke dalam sebuah susunan kalimat-kalimat. Dan begitulah bagi kebanyakan orang, mengarang adalah momok yang menakutkan, dan pekerjan yang membosankan. Saya lalu bertanya, apakah saya yang salah atau metodenya yang salah ?. Saya baru suka menulis sejak saya menjadi Pengurus Harian JMMI. Saat itu, saya mengenal internet, dan sering menuliskan reportase tentang kegiatan JMMI di milis FSLDK atau ke PR 4 ITS lewat email. Lalu, seperti kebanyakan anak muda lain yang suka membaca cerpennya Helvi Tiana Rosa, sayapun mulai mengagumi tulisan-tulisannya, dan cara ia menulis, yang bisa mengalir begitu saja dengan runtut. Cara ia menaruh titik, koma, jeda, sangatlah sempurna. Dan sejak saat itu saya mulai belajar dari tulisan-tulisannya. Saya juga mulai menuliskan gagasangagasan saya ke dalam kalimat-kalimat secara rutin, dan terus terang saya mulai merasa sangat menikmatinya. Mengapa dulu mengarang begitu sulit dan sekarang begitu menyenangkan ? Dulu bagi saya pelajaran mengarang sangatlah menyusahkan. Kita hanya diajari membuat kerangka karangan, inti paragraf, Menerangkan Diterangkan, Subjek Predikat Obyek, Eksposisi Narasi Argumentasi dll, yang membuat setiap kita menuliskan kata, selalu saja dibatasi oleh kaidah-kaidah yang menyulitkan. Namun, sekarang kaidah-kaidah itu tidaklah begitu saya fikirkan, karena yang penting, adalah bagaimana tulisan saya bisa dinikmati orang lain. Karena saya melihat para penulis seperti Hamka menulis secara mengalir begitu saja. Malahan, Emha Ainun Najib mempunyai gaya karangan bebas, yang malahan menjadikannya enak untuk dinikmati. Dari cerita mengarang yang saya ungkapkan panjang lebar tadi, sebenarnya saya hanya ingin mengatakan bahwa seringkali dalam mempelajari sesuatu, kita hanya di sibukkan dengan mempelajari kaidahnya, dan bukannya mempelajari inti persoalannya. Pada pelajaran

mengarang, kita malahan sering di ajarkan tentang induk kalimat dan anak kalimat, daripada mengambil pena dan kertas dan memulai belajar mengarang. Pada pelajaran Bahasa Inggris, kta hanya diajarkan tenses yang justru membuat banyak orang merasa bosan, dan bukannya diajarkan bagaimana mulai berbicara dan menulis dalam bahasa Inggris. Dulu ketika saya belajar membaca Al Qur’an, pada tingkat terentu, saya diminta untuk menghafalkan tajwid. Idghom mutajanisain, mutamatstilain, Idhar Syafawi dan lain-lain yang menjadikan saya kesulitan untuk belajar tajwid. Akan tetapi ketika saya menyimak kaset muratal, sambil membuka Al quran, maka sedikit demi sedikit, saya mulai bisa membaca dengan tajwid, meskipun saya tidak begitu mengenal nama tajwid yang saya baca. Barangkali ini pulalah yang menjadikan ustadz As’ad Humam membuat metode Iqra’ untuk belajar mebaca Al Qur’an. Dan metode Iqra’ menekankan cara membaca a, ba, ta, na, ni, nu tanpa si santri tahu dulu nama-nama hurufnya seperti alif, ba’, ta’, dan nun. Dan Iqra’ ternyata paling banyak dinikmati. Akhirnya pula saya mulai berkesimpulan, bahwa belajar sambil praktik itu lebih efektif, lebih mudah, dan lebih menyenangkan. Belajar sambil melakukan itu akan terasa lebih bisa dinikmati. Saya bisa memahami, mengapa ditangan A Agym, banyak orang mulai tersedot untuk belajar Islam, ternyata AAgym membangun metode belajar dengan mengamalkan. Sedikit memang yang diajarkan, namun penekanan pada sisi pengamalan begitu besar. Seseorang akhirnya berfikir bahwa belajar Islam itu mudah dan menyenangkan. Dizaman Nabi, ada riwayat bahwa ketika turun ayat jilbab, maka orang Madinah ramai-ramai mengenakannya, hingga yang belum mempunyai rame-rame menyobak korden hanya untuk menutupi rambut dan dadanya. Demikian pula saat perintah pelarangan khamar turun, maka orang mulai rame-rame memecahkan gentong-gentong khamr mereka. Simpel dan menyenangkan.
KUMON adalah sistem belajar yang memberikan program belajar secara perseorangan sesuai dengan kemampuan masing-masing, yang memungkinkan anak menggali potensi dirinya dan mengembangkan kemampuannya secara maksimal. Melalui pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris, KUMON tidak hanya membentuk kemampuan akademik saja, akan tetapi juga membentuk karakter yang positif dan "life-skills" (ketrampilan hidup) yang akan berguna bagi masa depan anak. KUMON dapat diikuti oleh anak prasekolah, siswa SD, siswa SMP dan siswa SMA, dengan segala tingkat kemampuan. Sistem belajar KUMON didukung oleh materi bahan pelajaran yang tersusun secara sistematis dan 'step by step' sehingga tanpa terasa pelajaran anak dapat maju ke bagian yang lebih tinggi. Kumon dikembangkan pertama kali di tahun 1954 oleh seorang guru Matematika SMA Jepang, Toru Kumon, yang awalnya ingin membantu pelajaran Matematika anaknya. Kini Kumon telah menyebar di 45 negara di dunia dengan jumlah siswa lebih dari 4.13 juta anak

Metode belajar aktif atau sekarang lumrah disebut sebagai metode PAKEM (pembelajaran kreatif, aktif dan menyenangkan) saat ini mulai dirasakan pentingnya dikalangan praktisi pendidik. Dikarenakan metode ini agaknya menjadi jawaban bagi suasana kelas yang kaku, membosankan, menakutkan, menjadi beban dan tidak membuat betah dan tidak menumbuhkan perasaan senang belajar bagi anak didik. Alih-alih membuat anak mau menjadi pembelajar sepanjang hayat yang terjadi malah kelas dan sekolah menjadi momok yang menakutkan bagi siswa. Dulu saya pernah mendengar sebuah lelucon mengenai metode belajar aktif di sekolah dasar. Saya tidak ingat detailnya tetapi yang saya ingat dengan baik adalah dalam metode belajar aktif yang terjadi adalah guru bermalas-malasan, sedangkan yang aktif justru muridnya. Murid diminta untuk mencatat, menyalin dan dibebani banyak sekali pekerjaan rumah. Dengan demikian ada kesalahan dalam menerjemahkan pendekatan pembelajaran. Tidak mungkin tercapai nuansa PAKEM apabila siswa dalam hal ini malah terbebani sedangkan guru juga tidak tentu arah dalam melaksanakan dan merencanakan pembelajaran dikelas. Cara belajar siswa aktif adalah merupakan tantangan selanjutnya bagi para pendidik. Sebab ruh dari KTSP yang diberlakukan sekarang ini adalah pembelajaran aktif. Dalam pembelajaran aktif baik guru dan siswa sama-sama menjadi mengambil peran yang penting. Guru sebagai pihak yang; • • • • merencanakan dan mendesain tahap skenario pembelajaran yang akan dilaksanakan di dalam kelas. membuat strategi pembelajaran apa yang ingin dipakai (strategi yang umum dipakai adalah belajar dengan bekerja sama) membayangkan interaksi apa yang mungkin akan terjadi antara guru dan siswa selama pembelajaran berlangsung. Mencari keunikan siswa, dalam hal ini berusaha mencari sisi cerdas dan modalitas belajar siswa dengan demikian sisi kuat dan sisi lemah siswa menjadi perhatian yang setara dan seimbang Menilai siswa dengan cara yang tranparan dan adil dan harus merupakan penilaian kinerja serta proses dalam bentuk kognitif, afektif, dan skill (biasa disebut psikomotorik) Melakukan macam-macam penilaian misalnya tes tertulis, performa (penampilan saat presentasi, debat dll) dan penugasan atau proyek Membuat portfolio pekerjaan siswa. menggunakan kemampuan bertanya dan berpikir melakukan riset sederhana mempelajari ide-ide serta konsep-konsep baru dan menantang. memecahkan masalah (problem solving), belajar mengatur waktu dengan baik, melakukan kegiatan pembelajaran secara sendiri atau berkelompok (belajar menerima pendapat orang lain, siswa belajar menjadi team player)

• • • • • • • • •

Siswa menjadi pihak yang;

• • •

mengaplikasikan hasil pembelajaran lewat tindakan atau action. Melakukan interaksi sosial (melakukan wawancara, survey, terjun ke lapangan, mendengarkan guest speaker) Banyak kegiatan yang dilakukan dengan berkelompok.

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Qs. Al-Alaq : 1-5) KabarIndonesia - TIDAK dapat dimungkiri bahwasanya menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim di mana dan kapan pun berada. Dengan menuntut ilmu, manusia dapat memahami segala hakikat, dan ilmu tidak diragukan lagi merupakan pintu gerbang peradaban. Pemahaman dan kemampuan mengaplikasikan ilmu telah membawa manusia mengalami perubahan dalam roda zaman yang senantiasa berputar menampilkan kemajuan. Dengan ilmu, manusia dapat pula menghancurkan kehidupan dan peradaban manakala ilmu mengalami distorsi dalam aplikasi amalnya. Untuk dapat mendapatkan ilmu ini kita harus melakukan proses belajar agar tidak dikatakan sebagai orang yang menyianyiakan ilmu. Seseorang pernah berkata kepada Abu Hurairah ra, “Aku ingin belajar, tapi aku takut menyia-nyiakan ilmu.” Abu Hurairah menjawab, “Cukuplah engkau dikatakan menyianyiakan ilmu jika tidak mau belajar.” Merujuk pada firman Allah SWT dalam surat Al-Alaq ayat 1-5 terdapat hal penting sebagai rujukan kita dalam belajar menuntut ilmu. Pertama, menuntut ilmu menempatkan Allah Swt sebagai awal dan akhir tujuan setiap aktivitas belajar. Mengikhlaskan niat hanya untuk Allah SWT merupakan keharusan yang mesti menjadi dasar berpijak kita. Dalam mempelajari ilmu, kita tetap dituntut berpikir kritis dengan menelaah ilmu-ilmu yang bermanfaat dan meninggalkan ilmu yang tidak memberikan kemanfaatan apapun. Kenyataan empiris yang sering terjadi bahwasanya ilmu dipelajari tanpa pertimbangan baik dan buruk, sehingga dalam penerapannya justru menyebabkan kehancuran. Dengan meneguhkan niat dan mengakhiri langkah hanya tertujukan kepada Allah SWT kita akan tetap memperhatikam batas-batas normatif yang telah digariskan Allah Swt. Kedua, belajar harus dilakukan secara bertahap. Terciptanya manusia merupakan suatu proses yang berkelanjutan hingga menjadi manusia dalam wujudnya yang sempurna. Hal ini memberikan arahan kepada kita untuk belajar secara teratur dan berkesinambungan. Tanpa proses bertahap, kita akan memiliki pemahaman parsial dan apa yang dipelajari tidak memberikan kontribusi apapun dalam setiap amal kita.

Ketiga, dibutuhkan proses pengulangan dalam belajar. Dalam surat Al-Alaq, kata “bacalah” tertulis tidak hanya sekali. Dengan sendirinya diharuskan melakukan pengulangan dalam belajar sehingga kita memperoleh pemahaman yang baik dan apa yang kita pelajari terekam kuat dalam diri kita. Belajar yang dilakukan secara instan bisa jadi hanya mendapatkan kelelahan tanpa mendalami benar apa yang dipelajari. Keempat, melakukan aktivitas membaca dan menulis. Kegemaran untuk membaca dan mempelajari banyak hal akan menyebabkan kita memiliki wawasan dan pengetahuan lebih luas. Membaca secara teratur hendaknya dilanjutkan dengan kebiasaan menulis. Kemampuan untuk menyikapi fenomena kehidupan dan menuangkan ide, gagasan, pendapat, pemikiran dan wacana dalam bentuk tulisan setidaknya mampu mengasah pikiran dan pemahaman kita agar lebih berkembang dan bermanfaat bagi orang lain. Pemikiran dan gagasan tertulis tersebut tetap dalam tuntunan Al-Qur’an dan SunnaturRasul, sehingga dengan sendirinya melakukan dakwah bil-qalam bagi tegaknya ajaran Islam di muka bumi.

TIDAK sedikit para siswa kecewa, ketika hasil ulangan hariannya jelek. Padahal ia telah belajar semalam suntuk. Feno-mena ini, perlu memperoleh penanganan segera oleh para guru. Guru perlu memberi tahu cara belajar yang efektif, di samping dalam proses pembelajaran yang dilakukannya menerapkan model pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, dan menyenangkan. Banyak cara belajar yang efektif. Namun, apabila kita melihat cara belajar para santri yang sedang menimba ilmu di pesantren, kita akan menemukan metode belajar yang unik. Mereka selalu menghormati kitab yang dibacanya dan guru yang mengajarkannya. Salah satunya termuat dalam “ta’alimul muta’allim” karya seorang ulama’ besar yang bernama Syaikh Az–Zarnuji. Kitab tersebut merupakan kitab wajib para santri di pesantren-pesantren, agar ilmu yang diperolehnya dapat bermanfaat dan memberi keberkahan dalam hidupnya. Menurut Syaikh Az–Zarnuji, seorang siswa dapat menerima materi pembelajaran yang diberikan guru dengan baik apabila menerapkan metode “dzakain (pintar), hirshin (opén), isthibarin (menerima atau nrimo, sabar), bulghotin (memiliki fasilitas), irsyadi ustadzi (dapat petunjuknya guru), thuli zamani (harus lama waktunya)” yang dapat disingkat sebagai metode “PONDOK”. Pintar (Dzaka’) = Tidak Mengulang Kesalahan yang Sama Seorang siswa dapat menerima pelajaran apabila ia pintar dalam mengingat apa yang diberikan oleh guru (Bahasa Jawa : titen). Artinya siswa perlu mengingat hal-hal yang diberikan oleh guru dengan baik, termasuk kesalahan-kesalahan yang ada sehingga tidak mengulang kesalahan yang sama dua kali. Sebagai ilustrasi apabila seseorang menemukan tempat persembunyian kepi-ting (Bahasa Jawa : leng yuyu), orang tersebut memasukkan salah satu jarinya dalam lubang tersebut, maka jari tersebut akan digigit oleh kepiting tersebut. Namun, orang tersebut mengulanginya terhadap jari yang lain, sehingga semua jari yang dimilikinya digigit oleh kepiting itu. Tindakan yang dilakukan itu menunjukkan kebodohannya, karena mengulang kesalahan dua kali

bahkan lebih. Hal ini sering terjadi dalam pembelajaran matematika/lainnya. Misalnya siswa disuruh menentukan nilai x yang memenuhi persamaan 2x = 4. Siswa tersebut dapat menentukan x yang memenuhinya yaitu 2, langkah yang ditempuh adalah 2x = 4 x = 4 – 2 = 2. Tampak sekilas benar, namun hal ini salah. Setelah diingatkan oleh guru, cara penyelesaian yang benar adalah 2x = 4 x = = 2. Apabila siswa disuruh menentukan nilai x yang memenuhi 3x = 12, dengan cara x = 12 – 3 = 9, tentu siswa tersebut melakukan kesalahan yang sama dua kali artinya siswa tidak niteni terhadap yang disampaikan guru. Oleh karena itu, guru perlu memberikan penekanan terhadap kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan siswa, sehingga siswa dapat belajar dari pengalaman para siswa terdahulu. Pengalaman (orang yang sukses) adalah guru yang terbaik. Opén (Hirshin) = Rajin Penuh Semangat Opén (hirshin) meliputi rajin dan penuh semangat dalam mencatat dan mengerjakan tugas. Selama proses pembelajaran berlangsung, seorang siswa hendaknya mencatat materi yang telah disampaikan oleh guru, termasuk hal-hal yang menjadi penekanan. Dalam hal ini, guru perlu memberikan kiat mencatat yang baik dan efektif untuk dapat dipelajari kembali sesuai dengan karakteristik mata pelajaran yang diampu. Mata pelajaran yang besifat hafalan, guru dapat memberi contoh cara membuat rangkuman di rumah dengan memanfaatkan selembar kertas ukuran folio dibagi 4 bagian yang sama sehingga menjadi 8 halaman. Setiap halaman berisi rangkuman yang dibuat oleh siswa dengan bahasa yang mudah dipahaminya. Mata pelajaran yang bersifat hitungan, guru dapat memberi contoh cara membuat buku saku yang berisi rumus, contoh dan hal-hal yang dianggap perlu. Dengan cara demikian, siswa akan lebih mudah mengingat kembali materi yang ada lebih cepat. Hal ini akan terasa manfaatnya apabila dalam suatu waktu diadakan ulangan blok, dengan dua mata pelajaran atau lebih. Oleh karena itu, agar lebih efektif, guru perlu menugaskan untuk membuat rangkuman/buku saku yang secara periodik diadakan penilaian sebagai salah satu komponen penilaian portofolionya. Setelah proses pembelajaran berlangsung, guru memberikan soal/tugas yang harus dikerjakan siswa. Para siswa harus mengerjakan soal/tugas yang ada dengan baik, apabila ada kesulitan hendaknya siswa langsung bertanya kepada guru/teman lainnya. Dalam kesempatan ini, guru perlu membimbing siswa yang mengalami kesulitan. Guru dapat menerapkan sistem siswa yang lebih pandai menjadi tutor bagi siswa yang lain (model tutor teman sebaya). Nrimo (Isthibarin) = Menerima dengan Sabar Apabila siswa telah pintar (dzaka’) dan opén (hirshin) terhadap materi pembelajaran yang ada, namun hasil yang diperoleh belum maksimal, maka seorang siswa harus menerimanya dengan lapang dada (sabar) dengan terus mengevaluasi terhadap kegiatan yang telah dilakukan. Tidak jarang, kita menjumpai seorang siswa patah semangat, ketika hasil ulangannya belum sesuai harapan, meski sudah belajar sekuat tenaga. Para siswa perlu dimotivasi bahwa mengubah kebiasaan yang lebih baik untuk sukses membutuhkan kesabaran dan keuletan. Untuk dapat meningkatkan hasil belajar diperlukan program nyata dan terencana melalui jadwal. Jadwal itu hendaknya berisi kegiatan yang dilakukan setiap hari termasuk waktu untuk mempelajari materi pelajaran yang telah diterima di pagi harinya maupun mata pelajaran yang akan dipelajari esok harinya. Program yang terjadwal itu harus dilaksanakan secara disiplin. Di sini peran guru, untuk selalu memotivasi para siswa untuk belajar lebih giat sangat diperlukan. Seorang guru hendak-nya mempunyai sistem penilaian yang berkesinambungan,

sehingga dapat diketahui perkembangan prestasi peserta didiknya. Memiliki Fasilitas (Bulghotin) Untuk menunjang keberhasilan siswa dalam belajar diperlukan fasilitas pendukung (buku dan lainnya) dan untuk mewujudkannya diperlukan dana. Untuk dapat mewujudkannya, siswa diminta memperbanyak relasi dengan kakak kelasnya, sehingga sebagian fasilitas yang diperlukan dapat terpenuhi tanpa harus mengeluarkan biaya. Di samping itu, siswa dapat dilatih dengan gerakan menabung sebagian uang jajan yang diberikan orang tuanya, sehingga sewaktu-waktu membutuhkan buku/lainnya dapat menggunakan tabungan itu. Seorang guru hendaknya memanfaatkan sumber belajar yang ada dan mudah di jangkau oleh siswa. Misalnya, dengan memanfaatkan perpustakaan atau buku digital via internet (buku standar yang telah dibeli hak ciptanya oleh negara). Para siswa didorong untuk mengakses internet terhadap buku-buku berkualitas dan memperbanyaknya sesuai dengan kebutuhannya, sehingga dapat meminimalkan pengelua-ran yang ada. Oleh guru itu, diperlukan kreativitas guru, untuk dapat memanfaatkan buku-buku yang murah, berkualitas dan terjangkau. Dapat Petunjuk Guru (Irsyadi Ustadzi) Dalam Bahasa Jawa, oleh petunjuking guru (Irsyadi Ustadzi) mengandung makna seorang siswa harus selalu memperhatikan penjelasan guru, menghormati guru, dan melaksanakan apa yang diperintahkannya dengan ikhlas. Hal ini sangat penting, sebab sering kali oleh karena seorang guru mempunyai keterbatasan dalam hal tinggi badan/suara, seorang siswa meremehkannya, sehingga siswa itu pasti tidak dapat menyerap materi yang disampaikan. Kalaupun dapat ia serap, tetapi keberkahan (kebermaknaan) dalam menempuh kehidupan di masyarakat kelak tidak ia dapatkan. Oleh karena itu, para siswa hendaknya dididik tentang pentingnya keberkahan ilmu melalui sikap positif terhadap guru yang mengajarnya dan buku yang dipelajarinya. Namun demikian, seorang guru hendaknya juga meningkatkan keprofesionalannya dalam pembelajarannya, baik penguasaan terhadap materi yang diajarkannya maupun metode pembelajarannya. Guru hendaknya menampilkan sosok seorang yang dapat di ”gugu lan ditiru”. Harus Lama Waktunya (Thuli Zamani) Kesuksesan seseorang memerlukan beberapa tahap/rangkaian pencapaian. Tidak mungkin kesuksesan dapat dicapai secara tiba-tiba. Kesuksesan dapat dicapai melalui planning (perencanaan) yang matang. Untuk mewujudkan rencana yang ada, diperlukan waktu yang cukup. Seorang anak yang baru lahir tidak mungkin langsung bisa jalan, ia memerlukan beberapa tahap dan waktu yang cukup untuk bisa berjalan. Begitu pula, seorang siswa untuk dapat me-nguasai materi pelajaran dengan baik, membutuhkan waktu yang cukup untuk belajar. Kalau seorang siswa yang belum terbiasa belajar dengan baik, ia memerlukan waktu yang lebih panjang dari pada siswa yang sudah terbiasa belajar. Kalau satu kali membaca belum paham/hafal, maka harus diulang lagi. Kalau belum paham/hafal juga, maka perlu diulang lagi, demikian seterusnya. Hal ini juga berlaku terhadap mata pelajaran yang bersifat hitung-an. Kalau satu kali mencoba mengerjakan soal belum dapat menyelesaikannya, maka perlu dicoba lagi dengan memperhatikan konsep yang ada dan contoh penerapannya. Dengan menerapkan metode belajar ala ”PONDOK” di atas diharapkan siswa dapat memperoleh hasil yang optimal dan penuh berkah, sehingga dapat menjadi generasi yang selalu mengenang dan menghormati guru yang mengajarnya. Itulah harapan seorang guru tanpa tanda jasa

Masih ingat ketika kita masih di bangku sekolah? bagaimana bapak, ibu guru kita mengajar kita? pasti ada yang lucu ada yang galak. Ada yang menerangkan dengan jelas ada yang muter-muter. Namun adakah dari guru kita itu yang komunikatif dalam mengajarkan pelajarannya? Itu menurut aku kekurangan dari para guru kita. pembelajaran itu hanya searah yaitu dari guru ke siswa saja. Tak ada yang komunikatif dan dua arah. Suatu contoh aku melihat sebuah film tentang kehidupan sekolah di luar negeri. Sangat mengasikan. Di situ ibu guru mengajar sangat komunikatif. Selalu di lemparkan pertanyaan terlebih dahulu. Sehingga suasana belajar itu menyenangkan karena siswa merasa di libatkan. Bahkan ketika ada pekerjaan rumah, kemudian ada salah satu siswa tidak mengerjakan, guru itu tanya kepada siswa lainya. Guru itu bilang sama siswa lainya ” sisca apakah pantas nona monic ini keluar dari kelas karena tidak mengerjakan PR dan boleh masuk lagi setelah dia siap? ” ucap guru itu pada sisca. Sisca menjawab namun agak takut juga karena bagaimanapun monic temanya juga, tapi dia harus berkata benar. Sisca menjawab “pantas, dan boleh masuk lagi setelah siap.” Guru tadi berkata lagi anda sudah mendengar nona monic. Dan pelajaran di lanjutkan lagi. Dari gambaran tadi guru tidak otoriter. Dia selalu menggambung musyawarah dengan komunikatif terhadap siswanya. Andaikata sisca tadi menjawab tidak pantas keluar dia harus memberi alsan juga, kenapa tidak boleh keluar. Bagaimana jika metode seperti ini di terapkan di indonesia, siapkah para guru. Atau memang guru tidak mau di bantah, dan selalu benar sendiri? Berubahlah untuk kemajuan. Terimakasih bapak-ibu guru.

Bismilahirrahmanirrahiim Al Quran itu adalah kumpulan peraturan2 ALLAH untuk manusia. Al Quran itu di turunkan kepada Nabi Muhammad swa selama 23 tahun, sedikit demi sedikit sesuai keperluan Nabi berdakwah. Al Quran itu adalah peraturan2 ALLAH yang lengkap, sempurna dari kitab2 Taurat dan Injil. Al Quran itu adalah mudah dimengerti karena untuk semua orang dengan tingkat kecerdasan yang berbeda beda. Hanya ada beberapa ayat ALLAH saja dimana

ulama2 berbeda pendapat memahaminya. Tapi pada umumnya ayat2 ALLAH mudah,jelas dan terang mana yang halal mana yang haram dll. Tidak ada keraguan padanya. Berbagi ilmu dan pengalaman; Menurut pengalaman saya dalam mempelajari Al Quran bertahun tahun dan sampai sekarang masih terus belajar memahami peraturan2 ALLAH itu. Saya ingin membagi pengalaman saya ini kepada pemuda2 dan pemudi2 yang benar2 ingin mengetahui DIIN ALLAH itu. Syariat Islam yang benar yang harus kita imani 100%.

Metode yang terbaik, efektif dan efisien adalah dengan cara mengklarifikasi setiap ayat2 ALLAH kedalam bermacam hal; misalnya seperti dibawah ini. . Kumpulankan ayat2 ALLAH dalam suatu buku tentang; 1.Semua sifat2 ALLAH. 2.AL QURAN. 3.Semua Kebesaran ALLAH....Kejadian alam. 4.Kejadian manusia, sifat2 manusia, tujuan hidup manusia dll 5.Ekonomi,technologi dan science 6.Bersyukur. Rezeki, 7.Larangan2, makanan yang haram , halal dll 8.Perintah2 ALLAH yang wajib dikerjakan. 9. Warisan,wanita, anak2, orang tua, orang miskin,kaya dll. 10. Qualifikasi masyuk syurga, neraka. Berapa macam tingkat syurga. 11. Ayat2 ALLAH waktu peperangan, dan waktu damai. 12.Peringatan dan kabar gembira 13.Doa2 14.Hukuman ALLAH, atau azab di dunia, di kubur dan di akhirat. 15.Kemerdekaan beragama, hak azazi manusia, demokrasi, 16.Ayat2 tentang kematian

17.Tauhid, Shalat,puasa,haji, zakat, taqwa, tawakal dll 18. Pedoman bersahabat dgn non islam 19.Pedoman bergaul antara sekte2 islam dll Makin detail anda mengklarifikasi ayat2 ALLAH makin enak dibaca, mudah dipahami, dan mudah di afalkan. Kalau ada keinginan mempalajari bhs Arab baik sekali, tapi kalau tidak ada keinginan jangan dipaksakan, tidak efisen, karena terjermahan2 Al Quran sudah banyak di pasaran baik dalam bhs Indonesia maupun dlm bahasa Inggeris, dll. yang di terjemahan oleh para ahli2 bahasa dan ahli2 agama. Walau ada perdedaan satu sama lain, tapi tidak siknifikan. Kalau kita belajar bhs Arab akan habis waktu 5-10 tahun belum tentu bisa seperti ahli2 bhs yang profesional. Tafsiran2 Al Quran pun sudah banyak,bacalah tafsiran2 dari bermacam macam mashab agar kita bisa membanding bandingkan mana yang terbaik dari semuanya. Dalam satu bulan, dua jam sehari, ada akan mendapat petunjuk dari ALLAH yang sangat berarti bagi kehidupan anda berikutnya. Kenapa demikian saya katakan,karena dengan metode seperti ini, pemahaman ajaran islam saya jauh lebih baik dari sebelumnya.. Alhamdulillah ALLAH memberikan hidayah kepada saya hadiah yang sangat berharga, saya bersyukur dan gembira menemukan ajaran islam yang benar. Al Quran adalah buku petunjuk saya, buku pedoman hidup saya dalam sehari hari. Al Quran adalah sumber inspirasi saya, Al Quran adalah sumber ilmu saya, Al Quran adalah teman saya dalam berbicara atau berdialog dengan ALLAH pencipta manusia.

Bagi pemuda2 dan Pemudi2 yang ingin mencoba metode yang efekstif dan efisien ini insya ALLAH ALLAH akan berikan kemudahan2 kepada anda semua insya ALLAH.

Yaa ALLAH yaa Tuhan kami, berikanlah kepada kami ilmuMu yang seluas luasnya, berikan kepada kami rezeki yang sebanyak banyaknya dan sembuhkan kami dari segala sakit penyakit yaa ALLAH yaa Tuhan kami Yang Maha Berkusa di langit dan di bumi, kepada siapa lagi kami bermohon yaa ALLAH yaa Tuhan kami kalau bukanlah kepada Mu yaa ALLAH yaa Rabbi.amin Bagi pemuda2 dan pemudi2 yang ingin mempunyai ilmu yang luas dan rezeki yang banyak serta kesehatan yang prima,janganlah lupa berdoa kepada ALLAH seperti diatas ini setiap shalat. Kenapa? 1. Ilmu adalah sangat penting sekali,tanpa ilmu kita tidak bisa bertemu dengan ALLAH dan tidak bisa sukses hidup di dunia ini, seperti orang2 tinggal dihutan2 saja. 2. Rezeki atau hadiah dari ALLAH adalah sangat penting untuk memakmurkan keluarga,masarakat dan agama islam, dan untuk mempertahankan agama ALLAH. Sebab kemiskinan adalah kufur, hukuman dari ALLAH,karena ALLAH tidak percaya dan sayang kepadanya. 3. Kesehatan adalah sangat penting sekali dalam bekerja untuk ALLAH,bagaimana kita bisa bekerja untuk memakmurkan bumi ALLAH ini kalau tubuh tidak sehat,maka mintaklah kepada ALLAH terhindar dari segala sakit penyakit lahir dan bathin. Siapa2 yang tidak bermohon kepada ALLAH artinya orang2 itu adalah sombong, karena dia tidak memerlukan pertolongan dari ALLAH untuk meraih ilmu,rezeki dan kesehatan dari ALLAH. Bukankan semua milik ALLAH,maka mintaklah kepada Nya.

Berkerjalah sungguh2 kemudian ALLAH akan kabulkan insya ALLAH. Semoga ada manfaatnya bagi pemuda2 dan pemudi2 yang benar2 ingin mengetahui peraturan2 ALLAH untuk pedoman hidup kita

Siswa di kelas lima sedang belajar mengenai konsep mesin yang sederhana, mereka belajar konsep kekuatan, gerak dan bekerja mengaanalisa sebuah mesin yang sederhana. Dari mesin yang rumit mereka memepelajari kaidah mesin yang paling prinsip. Siswa mengoleksi, mengatur, menghadirkan kembali data-data menggunakan program excel. Saat merancang mesin sederhana mereka berperan sebagai perancang sekaligus mempegunakan prinsip perencanaan, perakitan, uji coba sebelum mesin sederhana buatan mereka diluncurkan didepan teman-teman kelas mereka. Apabila ada pertanyaan mengenai ‘metode apa yang paling efektif untuk mengajar?’ jawabannya bergantung pada tujuan pembelajaran, isi pembelajaran, dan guru yang akan menggunakannya. Tapi ada jawaban lain yang lebih baik dari itu semua yaitu ’siswa mengajarkan siswa lainnya’ dikutip dari Wilbert J. McKeachie, pengarang buku Teaching tips: Strategies, research and theory for college and university teachers, Houghton-Mifflin (1998) Illustrasi diatas serta kutipan dari buku merupakan gambaran dari dua metode mengenai pembelajaran yang pertama adalah ilustrasi dari pembelajaran dengan berbasis proyek sedangkan yang kedua adalah gambaran yang sederhana dan singkat mengenai pembelajaran aktif. Pembelajaran berbasis proyek dan pembelajaran aktif,kedua-duanya saling berkaitan. Pembelajaran aktif merupakan ruh dari pembelajaran berbasis proyek. Istilah yang sekarang ada dan memiliki esensi yang sama dengan belajar aktif adalah PAKEM atau pembelajaran aktif, efektif, dan menyenangkan. Istilah ini ada dalam kerangkan peningkatan mutu pendidikan manajemen berbasis sekolah (MBS). PAKEM adalah dua pilar dari empat pilar MBS. Dua pilar lainnya adalah manajemen yang transparan, dan keterlibatan masyarakat pendidikan. Sedangkan pembelajaran berbasis proyek adalah proyek perseorangan atau grup dan dilaksanakan dalam jangka waktu tertentu, menghasilkan sebuah produk, yang hasilnya kemudian akan ditampilkan atau dipresentasikan. Saat pengerjaan kelas menggunakan berbagai macam bahan-bahan, dengan pendekatan belajar aktif atau berpusat pada siswa Menggunakan: kontruktivis, problem solving, inquiry, riset, integrated studies, pengetahuan dan ketrampilan, evaluasi, refleksi, dll Dua metode diatas mempertimbangkan aspek a. Gaya belajar siswa b. Taksonomi pembelajaran c. Kecerdasan majemuk VAK Visual Auditory Mencari gambar mesin sederhana dari Koran atau majalah dan film Mendengar dan melihat penjelasan dari pekerja konstruksi

yang menjelaskan bagaimana mereka menggunakan mesin sederhana saat bekerja. Kinesthetic Membuat mesin sederhana yang terbuat dari tanah liat. Otak kanan Otak kiri Mengikuti langkah demi langkah petunjuk membuat mesin dan Otak sederhana. kiri Otak kanan Berdiskusi mengenai peran mesin sederhana dalam kehidupan kita sehari-hari Kecerdasan Logis matematis Membuat mesin sederhana dari mesin yang rumit majemuk Membuat karangan atau pidato menjelaskan mengenai bahasa pentingnya mesin sederhana dalam kehidupan . Membuat presentasi menunjukkan perbedaan penggunaan Spasial mesin sederhana. Musikal Membuat lagu tentang mesin sederhana. Tubuh dan Menggunakan benda-benda sederhana untuk menciptakan kinestetis mesin sederhana. Bekerja dengan kelompok membuat video tentang mesin Antar pribadi sederhana untuk siswa TK. Dalam pribadi Membuat buku catatan harian mengenai pembelajaran. alam Menemukan contoh dari mesin sederhana yang ada di alam,

Dalam dunia pendidikan kita sering membaca, membuat bahkan mempraktekkan berbagai macam Metode pembelajaran; yang karena seringnya berubah-ubah membuat pelaku pendidikan; dalam hal ini guru/pengajar menjadi jenuh. Dengan dalih update (pembaharuan, penyempurnaan, atau istilah-istilah lain yang sebenarnya sama), metode pembelajaran sering menjadi hal yang merepotkan guru daripada membantu proses pembelajaran. Sebuah perubahan yang berotasi seperti mode atau tren; yang kadang dianggap baru atau modern tapi sebenarnya produk lama atau jiplakan metode lama. Baru tapi lama, kalau boleh penulis memilih istilah; atau lebih ekstrim lagi metode pembelajaran kadaluwarsa yang dibungkus dengan wadah /pembungkus (kurikulum?) baru. Akhir-akhir ini memang ada tren metode pembelajaran, khususnya pembelajaran bahasa, yang dianggap baru atau modern; kata seorang rekan metode Quantum Teaching, yang tidak membosankan. Dan metode buatan orang yang bingung dan resah itu dianggap modern oleh beberapa rekan yang gila Barat; dan sebenarnya dia resah dan bingung juga.Sebuah metode yang konon menggunakan musik, permainan dan pemanfaatan media audio-visual; seperti pemutaran film. Menurut beberapa praktisi pendidikan yang resah itu, dengan bermain,

memyanyi dan bergoyang ria akan membuat siswa tidak jenuh dan bosan; dan penulis belum melihat praktek pembelajaran yang katanya hebat itu aplikasikan di sekolah kita tercinta ini. Mungkin ada yang sudah mempraktekan dan hasilnya bagus; nilai ujian yang didapat 10 semua; dan itu dianggap proses pembelajarannya sukses. Sukses dunia, mungkin; puas dunia mungkin; tapi kesuksesan dunia itu relatif. Di dunia ini, satu menit yang lalu mungkin kita tertawa, sekarang sedih, tapi satu menit yang akan datang kita tidak tahu. Metode Alternatif Dalam Qur’an, ada sebuah metode pembelajaran yang dilakukan oleh Khidlir A.S sebagai guru dan Musa A.S sebagai murid (surat Al Kahfi, silahkan buka terjemahan dan tafsirnya), begitu pula metode pembelajaran yang dilakukan oleh Allah dengan Adam A.S di surat Al Baqoroh; dan banyak ayat-ayat dalam Qur’an yang mengungkap tuntas tentang metode pembelajaran. Menjadikan musik dan permainan yang membuat hati mati dan lalai; serta pemutaran film yang jelasjelas membuka pintu zina mata dan telinga justru merusak kemampuan konsentrasi peserta didik dalam belajar, terlepas tidak bolehnya kita menggunakan metode tersebut secara syar’i. Lalu apakah kita harus menjejali peserta, yang memang resah karena kurangnya amal agama itu denagn beban pentransferan ilmu yang tidak manusiawi (kata mereka yang senang memperturutkan syahwat)? Dalam fikih Islam, kita sah-sah saja menggunakan canda atau permainan yang sehat; tidak dusta, tidak merendahkan orang lain, tidak menggunakan kata-kata jorok atau niatnya hanya biar ditertawakan. Begitupun permaian yang digunakan; tidak membiuka ikhtilat, merendahkan oranglain, dan bukan permainaan seperti permainan orang-orang tidak beragama seperti dadu, kasino, dll. Sebenarnya, keberhasilan sebuah pembelajarn itu tergantung pada faktor guru; bagaimana ia memotivasi peserta didik, dan faktor peserta didik; bagaimana membangkitkan motivasi belajarnya. Penulis, dalam kesempatan ini, tidak akan membahas bagaimana guru membangkitkan motivasi peserta didik dan bagaimana membimbing peserta didik dalam membangkitkan motivasi belajarnya. Penulis hanya kan cerita sedikit

tentang jama’ah dari Utsmani University, India dan Heiderabat University, Pakistan; yang terdiri dari para professor di bidang sains, teknik, kedokteran tapi hafidz Qur’an. Ketika mereka berkunjung ke salah satu kos-kosan teman kami di Solo dan dengar musik nasyid Raihan/Snada?, mereka berkata ”musik haram; tilawah qur’an yes”. Saya mengamati mereka; siang da’wah malam tilawah Quran dan Tahajud; mereka tidak stress atau jenuh, bahkan mereka orang-orang yang cerdas; bahkan ada yang gealr pendididkanmya sampai tujuh. Allohu akbar; Allah Mha tahu denag hamba-Nya. Lalu kenapa kita tidak bangga dengan metode Quir’an, tapi malah bangga dengan metode orang resah (Quantum Teaching, dan apa lagi; penulis kurang tahu)? Jawabnya adalah karena kita resah, bingung; karena kurang amal dan mengkaji ayat-ayat Qur’an. Wallohu ’alam.

Metode Belajar Mengajar Di Indonesia 1.1. Latar Belakang Beberapa guru banyak menghadapi kendala dalam pememilihan metode pembelajaran yang cocok dan sesuai demi keberhasilan dalam proses belajar mengajar, seperti diungkapkan seorang guru salah satu satuan pendidikan tingkat menengah. Metode pembelajaran yang dilakukan adalah : v Mentranfer atau menyampaikan semua materi Menyampaikan semua materi yang ada, adapun bahan ajar yang digunakan bisa berupa modul, hand out dsb. Kegiatan yang dilakukan guru adalah dengan menerangkan kemudian guru memberi kesempatan kepada para siswa untuk menanyakan bagian – bagian yang dirasa kurang jelas. v Merangkum

Memberikan tugas merangkum atau meringkas semua bahan atau materi yang sudah diberikan untuk dikumpulkan sebagai tugas individu. Tujuan dari merangkum ini adalah supaya siswa belajar kembali dan mengulang dirumah semua materi yang sudah disampaikan di sekolah. 1.2. Perumusan masalah Bertolak dari permasalahan di atas, maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan yakni: 1. Metode pembelajaran yang cocok untuk diterapkan di Indonesia 2. Apakah ada pengaruh yang kuat antara metode pembelajaran yang digunakan dengan keberhasilan proses kegiatan pembelajaran 1.3. Evaluasi perumusan masalah Dengan melihat metode pembelajaran yang diterapkan guru tersebut, bisa dilihat bahwa metode pembelajaran yang dilakukan masih sangat konvensional. Dalam metode tersebut terlihat sekali sangat berorientasi pada guru atau teacher centerred, dimana guru lebih aktif memberikan materi, sementara siswa lebih banyak diam dan mencatat. Kebanyakan hasil dari belajar ini sangat membosankan, siswa banyak yang mengantuk dan sedikit materi pelajaran yang dapat diserap oleh para siswa. Metode pembelejaran yang ada tersebut sudah saatnya dirubah. Adapun metode pembelajaran yang sebaiknya diterapkan adalah : v Metode pembelajaran Teacher Centerred harus dirubah menjadi Student Centerred. Dalam metode pembelajaran ini semua aktivitas lebih berorientasi pada siswa sedangkan guru sebagai pembimbing dan pengarah dalam aktivitas pembelajaran. v Metode CBSA ( Cara Belajar Siswa Aktif ) harus mulai diterapkan

Dalam metode pembelajaran ini para siswa diberi kesempatan untuk mengungkapakan pendapat, dalam metode ini terjalin komunikasi 2 (dua) arah. v Mengadakan evaluasi Mengadakan pretes, memberikan ujian – ujian dari materi – materi yang sudah diberikan, untuk mengetahui sejauh mana siswa memahami materi yang sudah diberikan. Evaluasi bisa dilakukan setelah tiga atau empat kali pertemuan. Evaluasi ini dilakukan supaya para sisiwa terbiasa belajar secara rutin dan menghilangka kebiasan belajar secara wayangan atau semalam suntuk hanya pada saat ujian akan diadakan. v Mengadakan latihan-latihan Memberikan latihan- latihan dan pengerjaan soal – soal, memberikan pertanyaan – pertanyan tutorial sebagai bahan latihan siswa. v Menggunakan metode belajar diskusi atau kooperatif Selain memberikan tugas individu, para siswa juga diberikan tugas kelompok, memberikan suatu bahan atau materi untuk diselesaikan secara kelompok. Tujuan dari metode ini adalah untuk membentuk sifat kerjasama antar siswa dan mengurangi sifat individual. v Mengulangi materi pelajaran Dalam pertemuan terakhir sangat perlu seorang guru mengulas materi secara global dan mengulangi materi yang dirasa sulit dan kurang dipahami oleh para siswa. Materi yanh kurang jelas bagi siswa dapat diketahui dari hasil – hasil evaluasi yang diadakan. Pengulangan materi sangat diperlukan supaya para siswa lebih siap dalam mengahadapi ujian. v Pendidikan mental, spiritual

Selain semua metode tersebut juga harus diimbangi dengan pembinaan sikap jujur dalam setiap menghadapi ujian dan menanamkan sikap dan rasa percaya diri, percaya akan kemampuan diri sendiri, sehingga kebiasan mencotek akan berkurang dengan sendirinya. Dalam setiap kegiatan pembelajaran keberadaan kurikulum sangat penting sekali, kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi, bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Metode pembelajaran yang baik hendaknya mempu memadukan antara kurikulum tradisional dan kurikulum modern. Kurikulum tradisional diartikan sebagai sejumlah materi pengetahuan dan kebudayaan hasil masa lalu yang harus dikusasi murid untuk mencapai suatu tingkat tertentu, yang dinyatakan dengan ketentuan naik kelas atau pemberian ijazah pada murid tersebut. Ciri – ciri dari kurikulum ini adalah : · Aktivitas kelas berlangsug statis, kaku, intelektualis dan verbalistis · Subject ceterred curriculum yakni mata pelajaran diberikan secara terpisah– pisah, · Teacher centerred yakni kegiatan utama dalam proses belajar mengajar di kelas diselenggarakan oleh guru. · Book centered yakni semua kegiatan proses pembelajaran berpusat pada materi yang terdapat dalam buku. · Subject matter yakni kegiatan belajar ditekankan pada proses menghafal atau mengingat materi pengetahuan. Kurikulum modern diartikan sebagai semua kegiatan yang berpengaruh pada pembetukan pribadi murid, baik berlangsung di dalam maupun di luar kelas atau sekolah. Ciri – ciri dari kurikulum modern adalah : · Kegiatan kelas bersifat dinamis,

· Child centered, kegiatan belajar mengajar di kelas lebih mengutamakan kreativitas dan inisiatif murid. · Community centered, bertujuan memajukan kehidupan bermasyarakat · Batas – batas mata pelajaran ditiadakan atau integreted curriculum atau sekurang – kurangnya diperkecil dengan mengelompokkan beberapa mata pelajaram yang saling berhubungan (correlated curriculum). · Proses belajar mengajar berlangsung praktis dan fungsional Untuk mewujudkan proses belajar mengajar yang baik diperlukan usaha mengintegrasikan kedua kurikulum tersebut dalam kehidupan lembaga pendidikan formal di Indonesia agar sesuai dengan kebutuhan dan dinamika masyarakat. Metode pembelajaran yang efektif dan efisien dapat terwujud apabila didukung dengan alat – alat pendidikan yang memadahi. Alat– alat pendidikan adalah suatu tindakan atau perbuatan atau situasi atau benda yang dengan sengaja diadakan untuk mencapai suatu tujuan di dalam pendidikan. Jadi alat– alat pendidikan tidak hanya terbatas pada benda – benda yang konkrit saja, tetapi dapat juga berupa nasehat, tuntunan, contoh, hukuman, ancaman dan sebagainya. 1.4. Kesimpulan Berdasarkan pembahasan diatas maka dapat disimpulakn metode pembelajaran yang sesuai adalah menggunakan metode CBSA yakni Cara belajar siswa aktif, dimana kegiatan pembelajaran berorientasi pada siswa (student centered). Kegiatan pembelajara tidak hanya sebatas mentransfer ilmu, untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan proses pembelajaran perlu sering diadakan evaluasi hasil belajar dengan mengadakan berbagai latihan. Penilaian terhadap hasil proses pembelajaran dapat diambil dari hasil kerja individu atau kelompok. Keberhasilan metode pembelajaran itu sendiri sangat didukung dengan adanya

kurikulum yang memadahi, kurikulum yang diterapkan hendaknya mampu mengintegrasikan kurikulunm tradisional dan kurikulum modern. Penerapan metode pembelajaran yang efisien dan efektif sangat berpengaruh terhadap hasil proses pembelajaran baik secara individu maupun secara kelompok dan pembentukan manusia Indonesia seutuhnya. Di dalam proses pembelajaran melibatkan beberapa aspek yang sangat mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan proses pembelajaran yakni : 1. Sarana prasarana pendidikan Yakni semua fasilitas yang diperlukan dalam mendukung proses pembelajaran, yang berhubungan langsung maupun tidak langsung dalam proses pendidikan, diantaranya fasilitas laboratorium, ketersediaan jaringan internet, perpustakaan, dan sebagainya. Untuk mencapai hasil UNAS yang maksimal dalam proses pembelajaran harus didukung fasilitas yang memadai. Dalam hal ini peran pemerintah sangat dibutuhkan dalam pemerataan subsidi pendidikan, karena bagaimanakah sebuah sekolah bisa mencapai hasil UNAS yang standard apabila proses pembelajaran yang ada tidak standard dikarenakan fasilitas yang tidak memadai. 2. Guru Setiap guru harus memahami fungsinya, memahami pengetahuan dan pemahamannya tentang kompetensi guru yang mendasari pola kegiatannya dalam menunaikan profesi guru. Kompetensi guru tersebut yakni kompetensi pribadi, profesi dan kemasyarakatan, yang berkenaan dengan kemampuan dasar teknis edukatif dan administratif. Para ahli pendidik mempunyai kewajiban melakukan pendampingan bagi siswa dalam proses pembelajaran. Mengajar tidak hanya sekedar menyampaikan materi, tetapi mengajak siswa terlibat secara aktif sehingga siswa bisa memahami dan mendalami materi yang disampaikan tidak hanya menghafal, sehingga saat UNAS lupa. Seorang guru yang professional harus memahami benar kemampuan anak didiknya sehingga materi yang disampaikan dapat diserap sesuai kemampuan siswa, mengajak siswa berfikir dan berusaha

memperoleh umpan balik dari siswa. Menurut Hilgard dalam teori belajarnya mengungkapkan belajar adalah proses perubahan melalui kegiatan atau prosedur latihan baik latihan di dalam laboratorium maupun dalam lingkungan alamiah. Proses pembelajaran tidak selalu dilakukan di ruang kelas, tetapi bisa lebih variatif yang tentunya disesuaikan dengan mata pelajaran, sebagai contoh pelajaran biologi sering dilakukan praktek di laboratorium, pelajaran sejarah bisa dilakukan dengan mengunjungi museummuseum, dan sebagainya. Metode pembelajaran yang ada saat ini cenderung kaku, para guru menganggap dirinya tahu segalanya dan siswa adalah anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Guru hampir tidak pernah mengajak para siswanya untuk berkomunikasi, mengutarakan pendapatnya. Guru selalu menjejali para siswa dengan banyak materi dan tugas yang tidak mereka pahami. Sebagai hasilnya para siswa merasa bosan, tidak suka sekolah, lebih sering membolos dan tidak ada satu materipun dari sekolah yang meresap di otak siswa. Belajar dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja. Hal yang paling penting diperhatikan dalam belajar adalah menciptakan suasana belajar yang menyenangkan kemudian cara penyampaian materi yang menyenangkan. 3. Siswa atau Murid Murid adalah anak yang sedang tumbuh dan berkembang, baik secara fisik maupun psikologis dalam rangka mencapai tujuan pendidikannya melalui berbagai lembaga pendidikan diantaranya sekolah. Keberhasilan dalam proses pembelajaran sendiri sangat tergantung dari pribadi masing-masing siswa. Meskipun semua fasilitas sudah memadai dan dididik oleh guru profesional, apabila siswanya sendiri pasif dan tidak ada keinginan untuk maju, maka proses pembelajaran tidak akan mencapai hasil yang maksimal. Untuk itu pendekatan individu secara emosional sangat diperlukan untuk keberhasilan proses pembelajaran. Pendekatan emosional dibutuhkan untuk mengetahui permasalahan-permasalahan para siswa yang dapat menghambat proses pembelajaran dan guru bisa membantu

para siswa untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Teori Gestalt menganggap bahwa insight adalah inti dari pembentukan tingkah laku. Insight juga dipengaruhi atau bergantung kepada pengalaman masa lalu dan persoalan-persoalan yang dihadapi. Factor insight sangat mempengaruhi siswa dalam proses pembelajaran. 4. Orang tua Orang tua adalah wali murid yang juga menjadi pendamping siswa di luar sekolah. Peranan orang tua sangat penting dalam mendukung keberhasilan proses pembelajaran. Pendampingan dan bimbingan orang tua bagi anak-anak sangat diperlukan, pengawasan anak dalam belajar di rumah dan pengawasan dalam pergaulan di masyarakat. Menurut aliran behavioristik, dalam proses pembelajaran mementingkan pengaruh lingkungan. Rangsangan yang diperoleh dari lingkungan keluarga dan masyarakat sangat mempengaruhi proses pembelajaran siswa. 5. Kurikulum Berbasis Kompetensi Yakni kurikulum yang mengkondisikan setiap peserta didik agar memiliki pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai–nilai yang diwujudkan dalam kebiasan berfikir dan bertindak sehinga proses penyampaiannya harus bersifat kontekstual dengan memeperitmbangkan factor kemampuan, lingkungan, sumber daya, norma integrasi dan aplikasi berbagai kecakapan kinerja. Sekolah yang baik mampu mengkombinasikan kurikulum tradisional yang bersifat statis dengan kurikulum modern yang bersifat dinamis. Dari pembahasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa metode pembelajaran yang baik harus memperhatikan beberapa aspek yakni: 1. Fasilitas yang memadai untuk mendukung proses pembelajaran. 2. Guru yang profesional yang mampu membe 3. Faktor insight dari siswa tersebut, yakni motivasi, kemauan dan kemampuan siswa dalam belajar.

4. Orang tua sebagai wali dan pendidik di luar sekolah 5. Kurikulum yang memenuhi standard, yakni kurikulum yang sesuai dengan jenjang pendidikan , efektif dan efisien. Menurut penulis perlu ditinjau ulang cara penilaian UNAS. Masing-masing sekolah mempunyai kualitas dan kuantitas berbeda, maka ketentuan penilain sebaiknya diserahkan oleh masing-masing daerah, dengan adanya pengawasan dari pusat. Penilaian UNAS berdasarkan ketentuan dari pemerintah pusat dapat dilakukan apabila masing-masing sekolah sudah mempunyai standard proses pembelajaran yang sama, baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Dengan demikian perolehan nilai dalam UNAS boleh dijadikan barometer keberhasilan proses pembelajaran, dimana masing-masing sekolah bersaing secara sportif. Kenali musuh dan diri sendiri, maka Anda bisa bertempur ratusan kali tanpa terancam kalah. Kalau tidak mengenal musuh atau diri sendiri, Anda pasti kalah dalam setiap pertempuran. Begitulah sepenggal nasihat dalam The Art of War-nya Sun Tzu, ahli strategi dari Tiongkok ratusan tahun lalu. Prinsip-prinsip dalam buku itu sekarang banyak diadopsi untuk meraih sukses di kehidupan modern. Tapi, apa hubungannya dengan dunia pendidikan? Mari kita lihat nasihat Sun Tzu tersebut dengan perspektif berbeda. Pertama, "kenalilah musuh" dalam arti "tantangan" atau "kendala" yang harus dihadapi. Dalam proses pembelajaran, seorang guru selalu dihadapkan pada kenyataan bahwa potensi dan karakter siswa tidak sama. Bahkan, karakter kelas yang satu berbeda dengan kelas lain. Tantangan lainnya adalah sifat materi pelajaran itu sendiri. Untuk bisa tersampaikan dengan baik, ada materi yang cukup dihafal, ada yang perlu pemahaman, ada yang perlu kemampuan menghitung, ada yang perlu menggunakan "rasa". Atau, penggabungan antara hafalan,

pemahaman, dan kemampuan hitung. Padahal, tidak semua siswa punya kemampuan sama dalam semua kategori di atas. Kedua, kenali diri sendiri. Kita lihat kemampuan guru dalam menerapkan metode pembelajaran yang tepat. Ibarat senjata, harus dipilih senjata mana yang paling cocok untuk menghadapi situasi berbeda. Ketiga, "pertempuran" adalah kondisi ketika guru berada di tengah siswa. Yakni, saat melaksanakan proses pembelajaran. Metode yang digunakan, karakteristik siswa atau kelas yang dihadapi, serta integritas seorang guru saling berkaitan. Pada akhirnya, itulah yang akan menentukan keberhasilan proses pembelajaran. Keempat, "tanpa terancam kalah" kita lihat sebagai kemenangan seorang pendidik. Yaitu, mengantarkan siswa mencapai prestasi optimal. Hasilnya dapat dilihat ketika mereka terjun di tengah masyarakat atau dunia nyata. Seorang guru dituntut selalu inovatif dan kreatif dalam menghadapi tantangan dunia pendidikan modern. Banyak metode pembelajaran inovatif dan kreatif yang bisa digunakan sesuai jenis materi, karakteristik siswa, dan fasilitas yang dimiliki guru atau sekolah. Secara umum, pendidikan modern lebih mengutamakan pendekatan pada hal-hal berikut: (1) Real world learning, menyesuaikan pada dunia nyata dan kebutuhan kemampuan mutakhir, misalnya penggunaan IT; (2) Mengutamakan pengalaman nyata dan berpikir pada tingkat tinggi; (3) Berpusat pada siswa sehingga siswa aktif, kritis, dan kreatif; (4) Memberikan pengetahuan yang lebih dekat dengan kehidupan nyata; (5) Siswa lebih banyak praktik daripada menghafal; (6) Learning bukan teaching, education bukan instruction; (7) Mengutamakan pembentukan manusia seutuhnya; (8) Kemampuan memecahkan masalah; (9) Siswa yang acting, guru cukup mengarahkan; (10) Hasil belajar terukur. Satu hal yang juga menentukan keberhasilan pendidikan adalah integritas moral seorang guru. Dulu guru diartikan bisa digugu dan ditiru. Artinya, bisa diteladani. Tujuan utama pendidikan adalah menciptakan manusia seutuhnya. Tujuan besar itu tak mungkin tercapai jika seorang guru tidak menguasai bidang studinya dengan baik, tidak menguasai metode pembelajaran yang tepat, inovatif, dan kreatif, serta tidak mampu menciptakan dirinya sebagai teladan? Sudahkah kita memenuhi kriteria itu

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->