EVALUASI NILAI GIZI PROTEIN DENGAN PARAMETER PER DAN

NPR SECARA IN VIVO PADA TIKUS PERCOBAAN

Oleh :
Golongan P2; Kelompok 1
Nurul Agustina Chandradewi

F24090042

Mila Kharisma

F24090043

Jian Septian

F24090046

Ayu Cahyaning Wulan

F24090130

Didiet Rayadi

F24061503

Dosen

: Ir. Sutrisno Koeswara, M.Si

Asisten Praktikum

: Dede Saputra, S.Pi, M.Si
Umi Kulsum, S.TP

DEPARTEMEN ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012

1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Protein adalah senyawa organik kompleks berbobot molekul tinggi yang
merupakan polimer dari monomer-monomer asam amino yang dihubungkan satu
sama lain dengan ikatan peptida. Molekul protein mengandung karbon, hidrogen,
oksigen, nitrogen, dan kadang kala sulfur serta fosfor. Protein yang terkandung
dalam

bahan

pangan

setelah

dikonsumsi

akan

mengalami

pencernaan

(pemecahan/hidrolisis) oleh enzim-enzim protease menjadi unit-unit penyusunnya
(Muchtadi 1993). Kekurangan Protein dapat menyebabkan penyakit kwashiorkor
dan jika terjadi kekurangan yang terus-menerus akan menyebabkan marasmus
hingga berakibat kematian.
Metode yang

digunakan dalam teknik evaluasi nilai gizi protein kali ini

adalah metode invivo yang dilakukan di dalam tubuh makhluk hidup, berupa
hewan percobaan atau manusia (Palupi dan Prangdimurti 2008). Metode in vivo
merupakan metode evaluasi nilai biologis pangan yang sensitif dan dapat
memberikan informasi yang akurat mengenai manfaat dan keamanan pangan
karena dilakukan dengan menggunakan organisme hidup secara utuh. Prinsip dari
metode ini adalah melakukan pemberian makan pada hewan atau manusia untuk
melihat manfaat suatu bahan pangan terhadap tubuh (Zakaria 2007).
Hampir sebagian besar makhluk hidup tersusun oleh protein. Manfaat yang
dimiliki protein cukup bervariasi. Fungsi biologis yang bervariasi dari protein
dapat dikategorikan sebagai berikut: katalis enzim, protein struktural, protein
kontraktil (myosin, actilin, tubulin), hormon (insulin, hormon pertumbuhan),
protein

transfer

(serum

albumin,

transferin,

hemoglobin),

antibodi

(immunoglobulin), protein simpan (albumin telur, protein biji), dan protein
perlindungan (toxin dan allergen) (Fennema 1996). Namun, fungsi yang banyak
ini tidak akan bermanfaat secara optimal jika tidak dapat dicerna maupun diserap
dengan baik. Meski kandungannya sama, protein dari berbagai sumber cenderung
memiliki bioavaibilitas yang berbeda. Hal ini dipengaruhi oleh mutu protein dari
sumber tersebut.
Ada beberapa cara yang digunakan untuk mengetahui mutu dari protein
yang berasal dari sumber tertentu. Pertumbuhan adalah salah satu indikator dari

pemanfaatan protein secara optimal. Kecepatan pertumbuhan suatu binatang
percobaan dalam kondisi tertentu dapat dipakai sebagai ukuran untuk kualitas
suatu protein makanan (Nia 1985). PER dan NPR adalah contoh metode yang
dapat digunakan untuk mengetahui mutu protein terkait dengan pertumbuhan
yang ditunjukkan dari hewan percobaan.
Kedelai merupakan komoditi yang sangat penting karena mengandung
protein dan lemak yang tinggi (Liang 1999). Analisis untuk mengetahui pengaruh
protein ransum adalah melalui penentuan nilai NPR (Net Protein Ratio), PER
(Protein Efficiency Ratio), Biological Value (BV), Net Protein Utilization (NPU),
Protein Retention Efficiency (PRE), Relative Protein Value (RPV), Chemical
score, dan Protein score. Protein efisien rasio merupakan hasil bagi antara
kenaikan berat badan dengan jumlah protein yang dikonsumsi. Kelemahan dari
perhitungan PER adalah seluruh protein yang dimakan diasumsikan dipakai untuk
pertumbuhan dan tidak ada yang digunakan untuk mempertahankan jaringan yang
sudah ada (maintenance) (Nia 1985). Oleh karena itu muncul metode baru untuk
menutupi kelemahan dari PER, yaitu Net Protein Ratio (NPR). Nilai NPR
memberikan informasi kemampuan protein dalam membantu memelihara
(maintenance) dan pertumbuhan (Fennema 1996). Penentuan NPR hampir mirip
dengan penentuan PER, hanya saja pada NPR diperlukan adanya data mengenai
kelompok tikus yang diberi makanan tanpa protein/ non-protein. Pengujian ini
memerlukan adanya protein referensi sebagai standar peembandingann yaitu
kasein.
1.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian
protein ransum terhadap nilai gizi protein dengan perhitungan nilai PER (Protein
Efisiensi Ratio) dan NPR (Net Protein ratio). Serta menghitung nilai TD, BV, dan
NPU dalam pemberian ransum tikus menggunakan data sekunder.

2. METODOLOGI

2.1 Alat
Peralatan yang digunakan dalam praktikum ini terdiri dari kandang
pemeliharaan, neraca analitik, plastik, saringan teh.
2.2 Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah tepung kasein,
tepung tempe, minyak nabati, selulosa (Carboxy Metil Cellulose) sebagai
sumber serat, air, vitamin, campuran mineral dan maizena sebagai sumber
karbohidrat (pati). Air minum tikus adalah air putih dan sebagai perlakuan
digunakan air secang.
2.3 Prosedur
Praktikum ini menggunakan sampel tikus yang telah diberi berbagai
Bahan-bahan
Protein (sampel)
Minyak nabati
Campuran garam (mineral)
Campuran vitamin
Serat
Air
Karbohidrat (pati)

Jumlah (%)
A = 1.60 x 100% N
8 – (A x % ekstrak eter)
100
5 – (A x % kadar abu)
100
1
1 – (A x % kadar serat kasar)
100
5 – (A x % kadar air)
100
Dibuat 100%

macam perlakuan ransum.
Tabel 1. Komposisi ransum

a. Persiapan Ransum
Melakukan perhitungan ransum
Serat, kasein / tepung tempe, pati, minyak, air, dan mineral ditimbang
Campurkan dengan diaduk-aduk (pencampuran pati dilakukan terakhir)
Timbang 12 g campuran
Masukkan ke dalam kantong plastik kecil
b. Pemberian Ransum
Disiapkan 6 ekor tikus jenis Wistar untuk setiap kelompok ransum

Ditimbang berat badan awal setiap tikus

Setiap tikus dalam tiap kelompok diberi ransum (ad libitum) yang sama sesuai
dengan perlakuan selama 10 hari (sebelumnya telah dilakukan masa adaptasi)

Diamati pertambahan berat tikus dan sisa ransum setiap hari selama 10 hari

Ditimbang berat akhir tikus

Dihitung kenaikan berat badan tikus
Dihitung nilai PER dan NPR
c. Pengelompokan Tikus
Tikus yang digunakan pada percobaan ini adalah tikus berusia
21-28 hari. Tikus tersebut dikelompokkan dalam 4 kelompok tikus dan
tiap kelompok terdiri dari enam tikus. Dalam percobaan ini, perbedaan
berat antar kelompok tikus tidak boleh lebih dari 10 gram dan perbedaan
berat dalam satu kelompok tidak boleh lebih dari 5 gram. Adapun
pengelompokan tikus pada percobaan kali ini adalah sebagai berikut :

Tabel 2. Perlakuan ransum dan minum pada kelompok tikus
Kelompok Standar
Sumber Protein : Kasein
Minum
: Air bening
Kelompok SOY
Sumber Protein : Tepung tempe
Minum
: Air bening

Kelompok Non Protein
Sumber Protein : Minum
: Air bening
Kelompok SPL
Sumber Protein : kasein
Minum
: Secang

3. DATA HASIL PERCOBAAN
Berikut data hasil perhitungan PER dan NPU beberapa tikus yang diberi
perlakuan dalam konsumsi ransum berupa kasein, protein tempe, non protein, dan
ransum standar dengan minuman secang. Data konsumsi ransum tikus percobaan
dapat dilihat pada Tabel 11, Tabel 12, Tabel 13, dan Tabel 14 (lampiran).
Tabel 3.Tikus 1
Perlakuan

ΔBB
(gram)

Konsumsi
protein
(gram)

PER
(10 hari)

Protein tempe

12

10.6653

1.1251

Protein standar

30

11.1182

2.6983

Protein
standar+secang

19

11.4296

1.6624

Non protein

-5

0.0000

-

Perlakuan

ΔBB
(gram)

Konsumsi
protein
(gram)

PER
(10 hari)

Protein tempe

15.5

11.0506

1.4026

Protein standar

24

11.9167

2.0140

Protein
standar+secang

22

11.5318

1.9078

Non protein

-12

0.0000

-

PER
Sampel
Terkoreksi

NPR

1.0425

0.6563

2.5000

2.2486

1.5402

1.2249

-

-

-

PER kasein
terkoreksi

PER
Sampel
Terkoreksi

NPR

1.7411

0.3167

2.5000

1.0070

2.3682

0.8672

-

-

PER kasein
terkoreksi

0.9265

Tabel 4.Tikus 2

Tabel 5.Tikus 3

1.2413

-

Perlakuan

ΔBB
(gram)

Konsumsi
protein
(gram)

PER
(10 hari)

Protein tempe

22

10.5801

2.0794

Protein standar

35

12.0446

2.9059

Protein
standar+secang

22

11.6223

1.8929

Non protein

-7

0.0000

Perlakuan

ΔBB
(gram)

Konsumsi
protein
(gram)

PER
(10 hari)

Protein tempe

20.5

12.4007

1.6531

Protein standar

23

10.9972

2.0914

Protein
standar+secang

14

10.8506

1.2903

Non protein

-11.5

0.0000

-

Perlakuan

ΔBB
(gram)

Konsumsi
protein
(gram)

PER
(10 hari)

Protein tempe

19

10.7787

1.7627

Protein standar

27

11.8581

2.2769

Protein
standar+secang

16

10.9198

1.4652

Non protein

-10

0.0000

-

Perlakuan

ΔBB
(gram)

Konsumsi
protein
(gram)

PER
(10 hari)

Protein tempe

33.5

11.6723

2.8700

Protein standar

17

10.9173

1.5572

PER
Sampel
Terkoreksi

NPR

1.7889

1.4178

2.5000

2.3247

1.6285

1.2906

-

-

-

PER kasein
terkoreksi

PER
Sampel
Terkoreksi

NPR

1.9761

0.7258

2.5000

1.0457

1.5423

0.2304

-

-

-

PER kasein
terkoreksi

PER
Sampel
Terkoreksi

NPR

1.9354

0.8350

2.5000

1.4336

1.6088

0.5495

-

-

-

PER kasein
terkoreksi

PER
Sampel
Terkoreksi

NPR

4.6078

2.0133

2.5000

0.6412

PER kasein
terkoreksi

0.8603

Tabel 6.Tikus 4

1.1953

Tabel 7.Tikus 5

1.0980

Tabel 8.Tikus 6

1.6055

Protein
standar+secang

17

11.1018

1.5313

Non protein

-10

0.0000

-

-

2.4585

0.6305

-

-

Contoh perhitungan (Tikus 5 Protein tempe) :
PER (10 hari) =
PER (10 hari) =
= 1,7627
PER kasein terkoreksi =

PER kasein terkoreksi =
= 1,0980
PER sampel terkoreksi

=

x 2,5
x 2,5

=
= 1,9354
NPR

=
= 0,8350
Tabel 9. Rata-Rata Perubahan BB dan Rata-Rata nilai NPR & PER
Perlakuan
Protein tempe
Protein standar
Protein standar+secang
Non protein

Rata-Rata
NPR

Rata-Rata
PER

0,9941
1,4501
0,7988
0,0000

2,1820
1,1545
1,8577
0,0000

Rata-Rata
Perubahan
BB
20,4167
26,0000
18,3333
-9,2500

Gambar 1. Grafik Rata-Rata Nilai NPR dan PER

Tabel 10. Data sekunder perhitungan nilai DC (TD), BV, dan NPU.

Kasein

Tikus

Sampel

Non protein

Intake N

Urin

Feses

Urin

Feses

Urin

Feses

1

0.3031

0.0896

0.2104

0.2894

0.0106

0.0327

2.3120

2

0.2219

0.1219

0.2396

0.3000

0.0539

0.0327

2.2400

3

0.2604

0.0573

0.2719

0.3173

0.0394

0.0211

2.2512

4

0.2969

0.0677

0.2031

0.3144

0.0106

0.0173

2.3072

5

0.4573

0.0705

0.1795

0.2711

0.0205

0.0423

2.3168

6

0.1500

0.0427

0.2604

0.1711

0.0394

0.0106

2.2496

7

0.1073

0.0354

0.3604

0.2423

0.0211

0.0106

2.1424

BV (%)

TD (%)

NPU (%)

Rata-rata BV (%)

Rata-rata TD (%)

Kasein

Sampel

Kasein

Sampel

Kasein

Sampel

Kasein

Sampel

Kasein

100.47

90.28

97.54

88.90

84.89

80.26

91.69

89.06

97.99

92.19

90.59

96.02

88.07

88.52

79.78

90.02

88.11

98.39

86.84

88.57

76.51

87.31

90.42

97.82

87.12

85.41

78.78

80.91
95.01

92.39
89.42

98.78
98.57

90.12
92.87

79.93
93.66

83.26
83.04

Sampe
l
89.01

Rata-rata NPU
(%)
Kasein

Sampel

87.97

79.28

95.93

82.24

98.84

89.19

94.82

73.35

4. PEMBAHASAN
Uji biologis merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk
menilai kualitas protein dari perlakuan yang diberikan. Uji biologis dilakukan
dengan melibatkan penggunaan hewan percobaan (tikus) dan juga menggunakan
manusia (Winarno 2002). Pada percobaan ini, uji biologis dilakukan pada tikus
putih (Rattus norvegicus). Evaluasi kualitas protein dapat dilakukan dengan
berbagai metode, antara lain dengan penghitungan PER (Protein Efficiency
Ratio), NPR (Net Protein Ratio), NPU (Net Protein Utilization), dan BV
(Biological Value). PER merupakan pengukuran yang biasanya melibatkan
penggunaan tikus jantan yang berumur 20-23 hari. Masa percobaan berlangsung
selama 28 hari, dengan pengukuran berat badan dan makanan yang dikonsumsi
per harinya.
Kecepatan pertumbuhan tikus percobaan tersebut dipakai sebagai ukuran
pengujian mutu protein yang dikonsumsi. NPR dikembangkan untuk menjawab
kelemahan yang terdapat pada metode PER. Perbedaan kedua metode tersebut
terletak pada penambahan grup non-protein pada NPR, serta masa perlakuan yang
hanya 10 hari. Dengan penambahan grup non-protein, dapat diperkirakan jumlah
protein yang juga digunakan untuk pemeliharaan jaringan, selain untuk
pertumbuhan yang selama ini diacu metode PER. Net Protein Utilization (NPU)
dinyatakan dalam satuan persen nitrogen yang dikonsumsi oleh tikus percobaan.
Metode ini didasarkan pada keseimbangan nitrogen, yaitu keseimbangan antara
nitrogen yang masuk ke dalam badan dan nitrogen yang keluar dari badan
(Winarno 2002). Nitrogen dapat hilang melalui feses, urin, kulit, dan rambut. Oleh
karena itu, pada metode NPU dilakukan pengukuran terhadap kadar protein pada
feses dan urin hewan percobaan. Menurut Winarno (2002), BV atau yang dikenal
dengan nilai biologis merupakan harga atau jumlah fraksi nitrogen yang masuk ke
dalam tubuh yang kemudian dapat ditahan oleh tubuh dan dimanfaatkan dalam
proses pertumbuhan, atau untuk menjaga supaya tubuh tetap dalam keadaan
normal.
Tikus percobaan yang digunakan adalah tikus putih (Rattus norvegicus)
jantan berumur sekitar tiga minggu, memiliki berat badan 49-62 gram, berjumlah

24 ekor tikus. Tikus terlebih dahulu menjalani masa adaptasi selama 3 hari
sebelum memasuki tahap perlakuan. Pada masa adaptasi ini, tikus diberi ransum
standar yaitu tepung kasein secara ad libitum. Masa adaptasi bertujuan untuk
menyesuaikan dengan lingkungan baru atau lingkungan laboratorium, mengamati
apakah tikus terus digunakan atau tidak dalam percobaan misalnya tidak sakit dan
berprilaku normal dan menyeragamkan kondisi tikus sebelum diberi perlakuan
Puspaningrum (2003). Selama masa adaptasi semua tikus diperlakukan sama,
diberi makan ransum standar dan air. Ransum yang diberikan pada tikus dalam
bentuk bubuk, berjumlah 12 gram/ekor/hari. Pemberian ransum dalam jumlah 20
gram/ekor/hari sudah mencukupi kebutuhan konsumsi ransum tikus perhari untuk
berat badan diatas 250 gram dan untuk menentukan jumlah ransum riil yang
dikonsumsi setiap harinya Puspaningrum (2003). Ransum dan minum yang
diberikan pada tikus setiap hari pada waktu yang sama yaitu pukul 10.00 WIB.
Hal ini bertujuan untuk mengurangi variabilitas tikus. Ransum sisa ditimbang
setiap hari untuk mengetahui konsumsi riil setiap hari. Penimbangan berat badan
tikus dilakukan setiap dua hari yang bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan
dan kesehatan tikus percobaan. Pembersihan kandang dilakukan setiap kondisi
kandang kelihatan basah.
Pada akhir masa adaptasi tikus putih dikelompok ke dalam empat
kelompok tikus sebagai perlakuan terdiri dari: (1) kelompok standar (STD) yaitu
diberi ransum dengan sumber protein tepung kasein; (2) kelompok perlakuan
protein (SOY) yaitu diberi ransum dengan sumber protein tepung tempe; (3)
kelompok non protein (NON) yaitu tidak diberi ransum dengan sumber protein;
dan (4) kelompok perlakuan antioksidan (SPL) yaitu diberi ransum dengan
sumber protein tepung kasein dan minuman ekstrak kayu secang. Masing-masing
kelompok tikus terdiri dari enam ekor sehingga jumlah tikus yang digunakan
dalam percobaan ini sebanyak 24 ekor. Pemberian ransum sesuai kelompok tikus
ini dilakukan selama 13 hari.
Selama masa percobaan, tikus mengalami perubahan berat badan yang
berbeda-beda. Pertumbuhan tikus dipengaruhi oleh asupan zat gizi yang diterima
selama percobaan. Zat makanan seperti karbohidrat, protein, dan lemak di dalam
tubuh akan dioksidasi menjadi energi. Semakin banyak energi yang dihasilkan,
maka semakin banyak pula energi yang tidak terpakai. Energi yang tidak terpakai

akan disimpan dalam tubuh berupa timbunan lemak sebagai cadangan energi.
Pada kelompok nonprotein tikus terlihat mengalami penurunan yang cukup nyata.
Hal ini wajar terjadi mengingat peran protein yang sangat besar terhadap
pertumbuhan. Menurut Muchtadi (1989), kegunaan utama protein bagi tubuh
adalah sebagai zat pembangun tubuh, zat pengatur dalam tubuh, mengganti bagian
tubuh yang rusak, serta mempertahankan tubuh dari serangan mikroba penyebab
penyakit. Hasil pengamatan juga menunjukkan bahwa kelompok tikus yang tidak
diberi protein mengalami aktivitas bergerak yang sedikit dibandingkan kelompok
lain. Hal ini dikarenakan tikus tidak memiliki energi yang cukup untuk bergerak,
seperti yang dinyatakan oleh Du Higginbotham dan White (2000) bahwa
penurunan konsumsi protein (kasein) dari 10% menjadi 2% dalam diet tikus akan
menurunkan berat badan, air tubuh, berat karkas, dan energi tubuh. Hal ini diduga
terjadi akibat terganggunya neurotransmitter dan transport elektron, hingga
akhirnya menurunkan kelincahan dan nafsu makan tikus. Pada kelompok
nonprotein, nilai pertambahan bobot badannya terus menurun setiap harinya.
Uji biologis tikus percobaan dilakukan untuk menilai kualitas protein dari
perlakuan yang diberikan. Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh nilai NPR
rata-rata tertinggi diperoleh kelompok tikus STD yaitu sebesar 1,4501, diikuti
oleh kelompok tikus SOY (0,9941), kelompok tikus SPL (0,7988), dan kelompok
tikus NON (0,000). Nilai NPR yang tertinggi pada kelompok STD
mengindikasikan bahwa protein yang terdapat dalam tepung kasein mampu
berperan untuk pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan pada tikus secara optimal
karena memiliki kualitas protein yang cukup baik. Penelitian yang dilakukan oleh
Handayani (2005) membuktikan bahwa semakin tinggi pemberian ekstrak
antioksidan pada tikus percobaan dapat menyebabkan pembentukan protein yang
semakin tinggi pula. Kandungan antioksidan dipercaya mampu melindungi
protein dan DNA sebagai unit pembentuk protein dari kerusakan. Apabila
dikorelasikan dengan data percobaan, dapat disimpulkan bahwa kandungan
antioksidan pada tempe serta ekstrak kayu secang tidak mempengaruhi
peningkatan nilai NPR secara signifikan.
Metode lain yang dapat digunakan untuk menilai kualitas protein adalah
metode keseimbangan nitrogen, yang diukur berdasarkan jumlah N yang
dikonsumsi, jumlah N yang diserap, dan jumlah N yang ditahan. Berdasarkan

analisis kadar nitrogen dari ransum yang dikonsumsi (N intake), urin, dan feses,
maka dapat dihitung Biological Value (BV), daya cerna sejati (TD), dan Net
Protein Utilization (NPU). Menurut Almatsier (2001), nilai biologis suatu produk
menunjukkan jumlah nitrogen produk yang ditahan tubuh dan dapat digunakan
untuk pertumbuhan serta pemeliharaan tubuh yang berasal dari jumlah nitrogen
produk yang diabsorbsi. Makanan yang memiliki nilai biologis 70% atau lebih
mampu memberi pertumbuhan bila dikonsumsi dalam jumlah yang cukup dan
konsumsi energi mencukupi. Hasil pengolahan data sekunder menunjukkan
bahwa nilai biologis (BV), daya cerna sejati (TD), dan net protein utilization
(NPU) kelompok kasein masing-masing sebesar 89,77%, 97,99%, dan 87,97%,
sedangkan kelompok sampel masing-masing sebesar 89,06%, 89,01%, dan
79,28%. Nilai biologis yang di atas 70% menandakan bahwa ransum yang
diberikan mengandung asam amino yang terdapat dalam jumlah tinggi sesuai
dengan yang dibutuhkan oleh tubuh, sehingga protein yang diabsorbsi tubuh
mampu ditahan dalam tubuh dan digunakan untuk pertumbuhan (Almatsier 2002).

5. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh nilai NPR rata-rata tertinggi
diperoleh kelompok tikus STD, diikuti oleh kelompok tikus SOY, kelompok tikus
SPL ,dan kelompok tikus NON. Hasil pengolahan data sekunder menunjukkan
bahwa nilai biologis (BV), daya cerna sejati (TD), dan net protein utilization
(NPU) kelompok kasein masing-masing sebesar 89,77%, 97,99%, dan 87,97%,
sedangkan kelompok sampel masing-masing sebesar 89,06%, 89,01%, dan
79,28%. Nilai biologis yang di atas 70% menandakan bahwa ransum yang
diberikan mengandung asam amino yang terdapat dalam jumlah tinggi sesuai
dengan yang dibutuhkan oleh tubuh, sehingga protein yang diabsorbsi tubuh
mampu ditahan dalam tubuh dan digunakan untuk pertumbuhan.

6. DAFTAR PUSTAKA
Almatsier, S. 2002. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Du F, DA Higginbotham dan BD White. 2000. Food Intake, Energy Balance and
Serum Leptin Concentrations in Rats Fed Low Protein Diets. American
Society for Nutritional Sciences. 514-521.
Fennema OR. 1996. Food Chemistry 3rd edition. New York : Marcel Dekker, Inc.
Handayani CA. 2005. Pembuatan Tepung Kedelai Kaya Isoflavon Melalui
Ekstraksi Asetonitril dan Hidrolisis

Bromelin Serta Evaluasi Nilai Gizi

Proteinnya secara Biologis. Tesis. Bogor: Sekolah Pascasarjana Institut
Pertanian Bogor.
Liang, JH. 1999. Flourescence due to interactions of oxidizing soybean oil and
soy proteins. J. Food Chem .,66: 103-108.
Muchtadi D , M Astawan, dan NS Palupi. 1993. Metabolisme Zat Gizi. Sumber,
Fungsi dan Kebutuhan bagi Manusia. Jakarta: Pustaka Sinar. Harapan.
Nia OK. 1985. Cara Menentukan Kualitas Protein Suatu Bahan Makanan. Cermin
Dunia Kedokteran (37) pp. 62-64.
Palupi NS dan E Prangdimurti. 2008.Modul Teknik Evaluasi Nilai Biologis
Vitamin dan Mineral. ITP-IPB, Bogor.
Puspaningrum R. 2003. Pengaruh Ekstrak Kayu Secang Terhadap Proliferasi Sel
Limfosit Limpa Tikusdan Sel Kanker K-562 Secara In Vitro. Skripsi. Bogor:
Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Winarno FG. 2002. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Zakaria FR, Mellasanti MA, Sanjaja, Pramudya SM, Richards L.1997. Aktivitas
Proliferasi Limfosit Darah Tepi Konsumen Makanan Jajanan di Bogor, Jawa
Barat. Bul Tek dan Ind Pangan VIII(2) pp. 57-65.

LAMPIRAN
Tabel 11. Data tikus percobaan ransum standar
Hari ke
12/0
13/0
14/0
15/1
16//2
17/3
18/4
19/5
20/6
21/7
22/8
23/9
24/10
Hari ke
0
0
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Tikus 1
KM (g)

MA (g)
15
12
12
12
15
15
12
12
12
12
12
12
12

MS (g)

MA (g)
15
12
12
12
15
15
12
12
12
12
12
12
12

MS (g)

10.4200
7.0042
9.9441
14.0136
11.4792
12.0000
8.5044
10.4200
12.0000
12.0000
9.3191
11.5015
Tikus 4
KM (g)

5.0810
2.0267
2.2740
1.7972
4.0230
0.0000
3.4500
2.0267
0.3900
0.8556
0.9400
0.4053

6.9190
9.9733
9.8600
13.2028
10.9770
12.0000
8.5500
9.9733
11.6100
11.1444
11.0600
11.5947

1.5800
4.9958
2.0559
0.9864
3.5208
0.0000
3.4956
1.5800
0.0000
0.0000
2.6809
0.4985

BB (g)
50
63
62
69
74
75
82
82
80
86
90
92
BB (g)
51
62
62
66
70
72
75
77
59
80
83
85

KP (g)
1.0420
0.7004
0.9944
1.4014
1.1479
1.2000
0.8504
1.0420
1.2000
1.2000
0.9319
1.1502
KP (g)
0.6919
0.9973
0.9860
1.3203
1.0977
1.2000
0.8550
0.9973
1.1610
1.1144
1.1060
1.1595

Tikus 2
KM (g)

MA (g)
15
12
12
12
15
15
12
12
12
12
12
12
12

MS (g)

MA (g)
15
12
12
12
15
15
12
12
12
12
12
12
12

MS (g)

8.1538
9.7664
11.1062
14.9373
15.0000
11.7012
8.7421
9.7664
11.9830
12.0000
11.9684
11.9645
Tikus 5
KM (g)

2.446
0.0431
1.7623
0.0000
0.0000
0.1593
1.4200
0.4710
0.0000
0.0000
0.0000
1.7772

9.5540
11.9569
10.9800
12.0000
15.0000
11.8407
10.5800
11.9569
12.0000
12.0000
12.0000
10.2228

Keterangan :
MA :berat ransum awal
MS :berat ransum sisa
KM :berat ransum yang dikonsumsi
BB :berat badan tikus
KP :jumlah protein yang dikonsumsi (kadar protein ransum 10%)
Tabel 12. Data tikus percobaan ransum protein tempe

3.8462
2.2336
0.8938
0.0627
0.0000
0.2988
4.2579
2.2336
0.0170
0.0000
0.0316
0.0355

BB (g)
49
62
65
70
74
77
80
83
82
80
86
89
BB (g)
51
66
63
68
73
76
78
81
63
86
88
90

KP (g)
0.8154
0.9766
1.1106
1.4937
1.5000
1.1701
0.8742
0.9766
1.1983
1.2000
1.1968
1.1964
KP (g)
0.9554
1.1957
1.0980
1.2000
1.5000
1.1841
1.0580
1.1957
1.2000
1.2000
1.2000
1.0223

Tikus 3
KM (g)

MA (g)
15
12
12
12
15
15
12
12
12
12
12
12
12

MS (g)

MA (g)
15
12
12
12
15
15
12
12
12
12
12
12
12

MS (g)

8.2298
11.4051
11.9270
15.0000
13.6440
11.8847
8.7000
11.4051
11.9481
12.0000
11.9479
11.9889
Tikus 6
KM (g)

0.7047
0.0189
0.4815
0.1129
0.0000
0.0000
1.1700
0.1814
0.5100
0.7011
2.1200
0.0723

11.2953
11.9811
11.7700
11.8871
15.0000
12.0000
10.8300
11.9811
11.4900
11.2989
9.8800
11.9277

3.7702
0.5949
0.0730
0.0000
1.3560
0.1153
3.3000
0.5949
0.0519
0.0000
0.0521
0.0111

BB (g)
50
56
54
64
68
71
75
78
76
84
86
89
BB (g)
49
60
63
65
68
70
73
73
64
76
80
80

KP (g)
0.8230
1.1405
1.1927
1.5000
1.3644
1.1885
0.8700
1.1405
1.1948
1.2000
1.1948
1.1989
KP (g)
1.1295
1.1981
1.1770
1.1887
1.5000
1.2000
1.0830
1.1981
1.1490
1.1299
0.0988
1.1928

Hari ke

Tikus 1

Tikus 2

Tikus 3

0
0
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Hari ke
0
0
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

MA (g)
15
12
12
12

MS (g)

KM (g)

0.1710
0.0000
3.5906

11.8290
12.0000
8.4094

15
15
12
12
12
12
12
12
12

2.7802
2.4963
0.1761
3.4715
0.7207
0.8063
1.8543
1.5900
1.9428

MA (g)
15
12
12
12
15
15
12
12
12
12
12
12
12

MS (g)

12.2198
12.5037
11.8239
8.5285
11.2793
11.1937
10.1457
10.4100
10.0572
Tikus 4
KM (g)

0.2163
0.0800
1.3545
0.3986
0.0161
0.0000
0.0000
0.1466
0.0000
0.0477
0.0000
0.0296

11.7837
11.9200
10.6455
14.6014
14.9839
12.0000
12.0000
11.8534
12.0000
11.9523
12.0000
11.9705

BB (g)
53

MS (g)

KM (g)

65
63

1.1829
1.2000
0.8491

MA (g)
15
12
12
12

2.2713
0.0000
2.5048

10.7287
12.0000
9.4952

67
67
67
72
70
72
73
75
75

1.2220
1.2504
1.1824
0.8528
1.1279
1.1194
1.0146
1.0410
1.0057

15
15
12
12
12
12
12
12
12

3.0906
2.8210
1.0466
0.2033
0.2131
0.4195
0.3083
2.3500
2.2789

BB (g)
54

KP (g)

MA (g)
15
12
12
12
15
15
12
12
12
12
12
12
12

MS (g)

11.9094
12.1790
10.9534
11.5400
11.7869
11.5805
11.6917
9.6500
9.7211
Tikus 5
KM (g)

0.7259
3.0100
3.3529
2.1064
2.6380
0.7305
2.2967
0.0165
1.7520
1.3349
1.9700
2.3155

11.2741
8.9900
8.6471
12.8936
12.3620
11.2695
9.7033
11.9835
10.2480
10.6651
10.0300
9.6845

MS (g)

Tikus 2
KM (g)

66
58
71
72
72
73
72
74
75
78
78.5

KP (g)

1.1784
1.1920
1.0646
1.4601
1.4984
1.2000
1.2000
1.1854
1.2000
1.1952
1.2000
1.1970

BB (g)
53

MS (g)

KM (g)

62
62

1.0729
1.2000
0.9495

MA (g)
15
12
12
12

8.1516
7.2700
4.4713

3.8484
4.7300
7.5287

63
65
67
69
71
73
74
76
77.5

1.1909
1.2179
1.0953
1.1540
1.1787
1.1580
1.1692
0.9650
0.9721

15
15
12
12
12
12
12
12
12

4.2198
3.9320
2.2403
2.7334
0.68000
0.5817
2.2760
1.6800
0.1023

BB (g)
54

KP (g)

MA (g)
15
12
12
12
15
15
12
12
12
12
12
12
12

MS (g)

10.7802
11.0680
9.7597
11.9835
11.3200
11.4183
9.7240
10.3200
11.8977
Tikus 6
KM (g)

0.6013
1.2500
2.6202
2.2290
1.0098
0.8483
0.2149
0.0756
0.1277
0.3900
0.8789

11.3987
10.7500
12.3798
12.7710
10.9902
11.1517
11.7851
11.9244
11.8723
11.6100
11.1211

64
57
70
73
75
78
80
83
86
90
90.5

1.1399
1.0750
1.2380
1.2771
1.0990
1.1520
1.1785
1.1924
1.1872
1.1610
1.1121

MS (g)

Tikus 3
KM (g)

BB (g)

KP (g)

64
63
68
70
71
74
74
78
79
81
82

KP (g)

1.1274
0.8990
0.8647
1.2894
1.2362
1.1270
0.9703
1.1984
1.0248
1.0665
1.0030
0.9984

BB (g)
54

KP (g)

62
60

0.3848
0.4730
0.7529

64
66
68
72
73
76
78
81
82

1.0780
1.1068
0.9760
1.1984
1.1320
1.1418
0.9724
1.0320
1.1898

BB (g)
52

KP (g)

Keterangan :
MA :berat ransum awal
MS :berat ransum sisa
KM :berat ransum yang dikonsumsi
BB :berat badan tikus
KP :jumlah protein yang dikonsumsi (kadar protein ransum 10%)
Tabel 13. Data tikus percobaan ransum non protein
Hari ke
MA (g)

MS (g)

Tikus 1
KM (g)

BB (g)

KP (g)

MA (g)

BB (g)

KP (g)

MA (g)

0
0
0
1
2

12
12
12
12
12

4.9831
0.2900
3.9817
0.8200

7.0169
11.7100
8.0183
11.1800

3
4
5
6
7
8
9
10
Hari ke

12
12
12
12
12
12
12
12

2.1358
3.9627
3.9579
4.0605
2.6809
3.1791
3.2185
0.3233

MA (g)
12
12
12
12
12
12
12
12
12
12
12
12
12

MS (g)

9.8642
8.0373
8.0421
7.9395
9.3191
8.8209
8.7815
11.6767
Tikus 4
KM (g)

6.8607
1.4800
2.8637
1.7733
2.0008
2.5306
2.4245
1.2895
1.0956
1.6561
0.1871
2.9027

5.1393
10.5200
9.1363
10.2267
9.9992
9.4694
9.5755
10.7105
10.9044
10.3439
11.8129
9.0973

0
0
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

62
70
75
73

0.7017
1.1710
0.8018
1.1180

12
12
12
12
12

5.4170
3.7900
2.7833
1.1624

6.5830
8.2100
9.2167
10.8376

68
71
70
68
66
65
66
70

0.9864
0.8037
0.8042
0.7940
0.9319
0.8821
0.8782
1.1677

12
12
12
12
12
12
12
12

2.5659
2.5395
0.7338
0.8007
0.0316
2.8142
0.8700
4.0144

BB (g)
56

KP (g)

MA (g)
12
12
12
12
12
12
12
12
12
12
12
12
12

MS (g)

9.4341
9.4605
11.2662
11.1993
11.9684
9.1858
11.1300
7.9856
Tikus 5
KM (g)

1.8481
3.5100
2.4423
1.6529
2.0378
4.5033
3.6554
2.0121
0.4710
0.0000
2.4245
0.1221

10.1519
8.4900
9.5577
10.3471
9.9622
7.4967
8.3446
9.9879
11.5290
12.0000
9.5755
11.8779

MS (g)

Tikus 2
KM (g)

67
68
67
64
65
65
61
59
58
64
56.5

0.5139
1.0520
0.9136
1.0227
0.9999
0.9469
0.9576
1.0710
1.0904
1.0344
1.1813
0.9097

56
63
66
61

0.6583
0.8210
0.9217
1.0838

12
12
12
12
12

3.6714
0.1000
0.5055
1.1116

8.3286
11.9000
11.4945
10.8884

61
61
60
59
57
56
56
54

0.9434
0.9460
1.1266
1.1199
1.1968
0.9186
1.1130
0.7986

12
12
12
12
12
12
12
12

1.7784
0.4135
0.1871
0.2964
0.0521
0.1096
4.0600
3.1815

BB (g)
58

KP (g)

MA (g)
12
12
12
12
12
12
12
12
12
12
12
12
12

MS (g)

10.2216
11.5865
11.8129
11.7036
11.9479
11.8904
7.9400
8.8185
Tikus 6
KM (g)

2.5467
0.0400
0.3794
0.0314
0.0000
0.0000
0.3921
0.8532
0.1814
0.6695
0.0000
2.1534

9.4533
11.9600
11.6206
11.9686
12.0000
12.0000
11.6079
11.1468
11.8186
11.3305
12.0000
9.8466

MS (g)

Tikus 3
KM (g)

68
70
68
67
66
65
63
63
63
63
60

1.0152
0.8490
0.9558
1.0347
0.9962
0.7497
0.8345
0.9988
1.1529
1.2000
0.9576
1.1878

61
68
70
69

0.8329
1.1900
1.1494
1.0888

66
69
68
66
66
66
64
63

1.0222
1.1586
1.1813
1.1704
1.1948
1.1890
0.7940
0.8818

BB (g)
57

KP (g)

68
67
68
67
66
65
63
64
62
63
57

0.9453
1.1960
1.1621
1.1969
1.2000
1.2000
1.1608
1.1147
1.1819
1.1330
1.2000
0.9847

Keterangan :
MA :berat ransum awal
MS :berat ransum sisa
KM :berat ransum yang dikonsumsi
BB :berat badan tikus
KP :jumlah protein yang dikonsumsi (kadar protein ransum 10%)
Tabel 14. Data tikus percobaan ransum standar+secang
Hari ke
0

MA (g)
12

MS (g)

Tikus 1
KM (g)

BB (g)
55

KP (g)

MA (g)
12

BB (g)
55

KP (g)

MA (g)
12

BB (g)
55

KP (g)

0
0
1
2
3

12
12
12
12
12

4.4566
2.8500
2.3054
0.6568
0.0255

7.5434
9.1500
9.6946
11.3432
11.9745

4
5
6
7
8
9
10
Hari ke

12
12
12
12
12
12
12

0.1251
0.0000
1.8543
0.0000
0.7207
0.0020
0.0141

MA (g)
12
12
12
12
12
12
12
12
12
12
12
12
12

MS (g)

11.8749
12.0000
10.1457
12.0000
11.2793
11.9980
11.9859
Tikus 4
KM (g)

1.3358
2.6600
3.4875
1.9427
1.4833
4.3351
0.0499
0.0477
0.0080
0.1466
0.0000
0.0000

10.6642
9.3400
8.5125
10.0573
10.5167
7.6649
11.9501
11.9523
12.0000
11.8534
12.0000
12.0000

0
0
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

65
68
71
73

0.7543
0.9150
0.9695
1.1343
1.1974

12
12
12
12
12

1.6630
0.0000
0.4089
0.0000
1.7554

10.3370
12.0000
11.5911
12.000
10.2446

75
74
73
80
83
85
87

1.1875
1.2000
1.0146
1.2000
1.1279
1.1998
1.1986

12
12
12
12
12
12
12

0.0000
1.9478
0.3083
0.0170
0.2131
0.0000
0.0153

BB (g)
55

KP (g)

MA (g)
12
12
12
12
12
12
12
12
12
12
12
12
12

MS (g)

12.0000
10.0522
11.6917
11.9830
11.7869
11.9826
11.9847
Tikus 5
KM (g)

3.8461
4.1900
1.9798
2.2478
2.3217
0.0000
0.0000
1.3349
0.0714
2.8169
0.0000
0.0118

8.1539
7.8100
10.0202
9.7522
9.6783
12.0000
12.0000
10.6651
11.9286
9.1831
11.9830
11.9882

68
71
71
72
75
74
75
74
80
83
85

1.0664
0.9340
0.8512
1.0057
1.0517
0.7665
1.1950
1.1952
1.2000
1.1853
1.2000
1.2000

Keterangan :
MA :berat ransum awal
MS :berat ransum sisa
KM :berat ransum yang dikonsumsi
BB :berat badan tikus
KP :jumlah protein yang dikonsumsi (kadar protein ransum 10%)

67
68
72
74

1.0337
1.2000
1.1591
1.2000
1.0245

12
12
12
12
12

3.7416
1.3300
0.0291
0.4658
0.4970

9.2584
10.6700
11.9709
11.5342
11.5030

76
78
79
82
83
85
90

1.2000
1.0052
1.1692
1.1983
1.1787
1.1983
1.1985

12
12
12
12
12
12
12

0.1262
3.0000
2.2760
0.0519
0.0165
0.0000
0.3672

BB (g)
56

KP (g)

MA (g)
12
12
12
12
12
12
12
12
12
12
12
12
12

MS (g)

11.8738
9.0000
9.7240
12.0000
11.9835
12.0000
11.6328
Tikus 6
KM (g)

4.0216
6.2100
0
0.0335
1.6029
0.0000
4.5400
0.1277
0.6893
0.2149
0.0000
1.7726

7.9784
5.7900
12.0000
11.9665
10.3971
12.0000
7.4600
11.8723
11.3107
11.7851
12.0000
10.2274

64
75
75
77
79
84
80
78
88
90
91

0.8154
0.7810
1.0020
0.9752
0.9678
1.2000
1.2000
1.0665
1.1929
0.9183
1.1983
1.1988

62
63
68
69

0.9258
1.0670
1.1971
1.1534
1.1503

74
71
79
76
79
84
85

1.1874
0.9000
1.2724
1.2000
1.1984
1.2000
1.1633

BB (g)
55

KP (g)

64
70
70
71
73
74
79
79
83
84
87

0.7978
0.5790
1.2000
1.1966
1.0397
1.2000
0.7460
1.1872
1.1311
1.1785
1.2000
1.0227

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful