P. 1
Workshop BLUD UMKM Jepara Des 2012

Workshop BLUD UMKM Jepara Des 2012

|Views: 19|Likes:
Published by statistikbisnis

More info:

Published by: statistikbisnis on Dec 21, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPTX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/10/2013

pdf

text

original

Implementasi dan Strategi Pengembangan BLUD Dalam Program Penguatan Modal UMKM

Oleh Drs. Sumaryo, MM (Direktur BLUD UKPDB P2KSM Kabupaten Purworejo)
Disampaikan dalam Workshop Penguatan Modal UMKM di Kabupaten Jepara tanggal 20 Desember 2012

LATAR BELAKANG

Amanat Pancasila dan UUD 1945: Negara
mempunyai tanggung jawab untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan memajukan kesejahteraan umum dalam rangka mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Diwujudkan dengan pelaksanaan pembangunan nasional melalui Program “Pemberdayaan Masyarakat” dan “Pemberdayaan UMKM”
 

=> UU No. 20 Tahun 2008 tentang UMKM => UU No. 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial

PERMASALAHAN UMUM DALAM PEMBANGUNAN NASIONAL / DAERAH

 

Kemiskinan => Maret 2012: 15,34 % (4,97 juta dari 32,38 juta penduduk Jawa Tengah); => Data 2010 di Jepara tercatat 10,18 % Pengangguran / terbatasnya lapangan kerja => Data 2012: 5,88 % se Jawa Tengah; => Data 2010 di Jepara tercatat 4,56 % Rendahnya kualitas SDM => 2009 berpendidikan SD 36 % dan SLTP 19,6 % Rendahnya pendapatan dan kemampuan daya beli masyarakat terkait dengan kemiskinannya Terbatasnya pemilikan asset produksi khususnya permodalan dan akses ke lembaga keuangan Terbatasnya akses pemasaran hasil produksi dan rendahnya nilai tukar komoditas yang dihasilkan

TANTANGAN DALAM PEMBANGUNAN NASIONAL / DAERAH
1.

Terkait upaya peningkatan kesejahteraan rakyat melalui pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkeadilan:
  

Penciptaan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan dan mengurangi kemiskinan. Pembangunan tata kelola yang baik untuk dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi pengeluaran pemerintah. Peningkatan sinergi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah

2.

Terkait dengan penciptaan pertumbuhan ekonomi, penanggulangan kemiskinan dan ketenagakerjaan :
       

belum berkembangnya iklim usaha yang kondusif di daerah, sehingga belum mampu menarik investasi dan belum meluasnya budaya usaha di masyarakat; masih kurang efektifnya penyelenggaraan bantuan dan jaminan sosial; masih kurangnya tingkat pemenuhan beberapa kebutuhan dasar; belum optimalnya pemenuhan hak dasar terutama bagi masyarakat miskin dan termarjinalkan; masih banyaknya rumah tangga yang meskipun sudah meningkat kesejahteraannya, namun masih berada pada kelompok hampir miskin, sehingga rentan terhadap gejolak ekonomi dan sosial; masalah kemiskinan dan tingkat kemiskinan yang berbeda antara Jawa/Bali dengan daerah lainnya; masih kurang optimalnya pelibatan masyarakat terutama masyarakat miskin dalam pelaksanaan program-program penanggulangan kemiskinan; masih terbatasnya kesempatan kerja baru dan selalu bertambahnya angkatan kerja baru yang tidak terserap pasar kerja, sehingga tingkat pengangguran terbuka cenderung meningkat.

Upaya pemberdayaan masyarakat

menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat berkembang.

Setiap manusia pasti memiliki potensi yang dapat dikembangkan. Tidak ada anggota masyarakat yang sama sekali tanpa daya

memperkuat potensi ekonomi atau daya yang dimiliki masyarakat.

Upaya yang pokok adalah peningkatan taraf pendidikan, derajat kesehatan, serta akses ke sumber-sumber kemajuan ekonomi seperti permodalan, teknologi, informasi, lapangan kerja dan pasar

pemberdayaan melalui pengembangan ekonomi kerakyatan, berarti pula:
  

upaya melindungi rakyat dan mencegah terjadinya persaingan yang tidak seimbang, mencegah eksploitasi golongan ekonomi yang kuat terhadap yang lemah, menciptakan kebersamaan dan kemitraan antara yang sudah maju dengan yang belum berkembang.

PROGRAM-PROGRAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
Ada 3 Kluster / Kelompok Program meliputi:  Bantuan dan Perlindungan Sosial  Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri dan Terpadu  Program Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) => KUR => akan berjalan efektif dan berhasil dengan baik apabila peran pendamping dimaksimalkan sebagai fasilitator, motivator, komunikator dan dinamisator kegiatan pemberdayaan masyarakat

Pemberdayaan UMKM

Perlu diselenggarakan secara menyeluruh, optimal, dan berkesinambungan melalui:  pengembangan iklim yang kondusif,  pemberian kesempatan berusaha,  dukungan, perlindungan, dan pengembangan usaha seluas-luasnya, Tujuannya untuk meningkatkan kedudukan, peran, dan potensi UMKM dalam:  mewujudkan pertumbuhan ekonomi,  pemerataan dan peningkatan pendapatan rakyat,  penciptaan lapangan kerja,  pengentasan kemiskinan;

Pemberdayaan UMKM

Prinsip:
1.

2. 3.

4. 5.

penumbuhan kemandirian, kebersamaan, dan kewirausahaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah untuk berkarya dengan prakarsa sendiri; perwujudan kebijakan publik yang transparan, akuntabel, dan berkeadilan; pengembangan usaha berbasis potensi daerah dan berorientasi pasar sesuai dengan kompetensi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah; peningkatan daya saing Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah; penyelenggaraan perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian secara terpadu.

Upaya:
1.
2. 3. 4.

Penumbuhan Iklim Usaha, Pengembangan usaha, Pembiayaan dan penjaminan, Kemitraan;

Penguatan Modal UMKM

Pasal 21 (1) UU No. 20 Tahun 2008 ttg UMKM:
Pemerintah dan Pemerintah Daerah menyediakan pembiayaan bagi Usaha Mikro dan Kecil

Pasal 12 UU No. 11 Tahun 2009 ttg Kesejahteraan Sosial: Pemberdayaan sosial dilakukan dalam bentuk antara
lain:
    

diagnosis dan pemberian motivasi; pelatihan keterampilan; pendampingan; pemberian stimulan modal, peralatan usaha, dan tempat usaha; peningkatan akses pemasaran hasil usaha;

DPPKAD +/- 3,03% SETDA UKM +/- 12,12%

+/- 9,1 %

LEMBAGA PENGELOLA DANA BERGULIR BANK
CATATAN : •DATA PENGELOLAAN DANA BERGULIR PROVINSI DAN KAB/KOTA SE INDONESIA •PERSENTASE PENGELOLA TIDAK MENGGAMBARKAN 1 DAERAH TETAPI BERDASARKAN DATA SAMPLE •SUMBER DATA DIOLAH DJKD, 2012

KOPERASI +/- 27,3 %

+/- 3,03 %

LEMBAGA LAIN +/- 18,2 %

SKPD TERKAIT +/- 109,1%

BLUD DPPKAD +/- 0 % KOPERASI +/- 33,3 % +/- 9,1 %

BPR +/- 6,1 %

LEMBAGA PENYALUR DANA BERGULIR

DINAS +/-27,27%

CATATAN : •DATA PENGELOLAAN DANA BERGULIR PROVINSI DAN KAB/KOTA SE INDONESIA •PERSENTASE LEMBAGA PENYALUR TIDAK MENGGAMBARKAN 1 DAERAH TETAPI BERDASARKAN DATA SAMPLE •SUMBER DATA DIOLAH DJKD, 2012

LEMBAGA BANK LAIN

+/- 63,63 %
+/- 33,3 %

ALTERNATIF PENGELOLA DANA BERGULIR
PPKD PERSPEKTIF PENYERTAAN MODAL PPK BLUD

BUMD
Dana bergulir sesuai penjelasan Psl 118 ayat (3) PP 58/2005  Investasi Jangka Panjang Non Permanen. Psl 7 ayt (2) hrf j kewenangan mengelola/ menatausahakan investasi adalah Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD) selaku Bendahara Umum Daerah (BUD); Investasi  dana bergulir dianggarkan dlm APBD pada akun pembiayaan yang penyusunan RKA dimaksud hanya melekat pada fungsi dan wewenang PPKD selaku BUD Sesuai Bultek SAP 07 tentang Akuntansi Dana Bergulir pada Bab I Huruf B, dana bergulir dapat dikelola oleh Institusi diluar Satuan Kerja Pemerintah Daerah seperti “BUMD” dibidang pembiayaan. BUMD hanya merupakan “alat untuk menyalurkan”, karena dana tetap dikuasai dan/atau dimiliki serta dikendalikan oleh Pemerintah Daerah, dalam hal ini PPKD selaku penanggungjawab. Pengertian dikuasai bermakna: Pemerintah Daerah mempunyai hak kepemilikan atau penguasaan atas dana bergulir, Pengendalian : Pemda (SKPD terkait) membina, monitoring, pengawasan atau kegiatan lain dalam rangka perberdayaan dana bergulir dan melaporkannya

KOPERASI
Pasal 3 PP 33/1998 ttg Modal Penyertaan pada Koperasi  Untuk memperkuat struktur permodalan, koperasi dapat memupuk modal melalui modal penyertaan yang berasal dari: (1) Pemerintah; (2) Anggota masyarakat; (3) Badan usaha; (4) Badan-badan lainnya. Persyaratan utk menerapkan PPK-BLUD adalah SKPD atau Unit Kerja pada SKPD yang berfungsi selaku PA atau KPA;

Jika dana bergulir akan dikelola dengan menerapkan PPKBLUD, maka UPTD pengelola dana bergulir tersebut semestinya berada dibawah SKPKD yang berfungsi selaku PA. Untuk itu, jika dana bergulir akan dikelola dengan menerapkan PPK-BLUD, pengelola keuangan harus dalam bentuk Dinas/Badan Pengelola Keuangan.

MENGAPA PILIH BLUD ?
 BLUD Beroperasi sebagai unit kerja KN/L untuk

tujuan pemberian layanan umum berdasarkan kewenangan yang didelegasikan oleh instansi induknya
 Kekayaan BLUD tidak dipisahkan.  BLUD menyelenggarakan kegiatannya tanpa

mengutamakan pencarian keuntungan.
 Status hukumnya tidak terpisah dari KN/L

sebagai instansi induk.
 BLUD mengelola penyelenggaraan layanan

umum sejalan dengan konsep bisnis yang sehat. 13

MENGAPA PILIH BLUD ?
(lanjutan)

Dikelola secara otonom dengan prinsip efisiensi dan produktivitas ala korporasi.  Pendapatan yang diterima BLUD dapat digunakan langsung untuk operasional  Dapat menerima hibah dan melakukan kerja sama dengan pihak lain.  Kelembagaan bisa struktural maupun non struktural  Pejabat & pegawai BLUD dapat terdiri dari PNS &Non PNS (tenaga profesional). 14  Dapat dibentuk Dewan Pengawas.

PENGUATAN MODAL UMKM MELALUI BLUD PENGELOLA DANA BERGULIR DASAR HUKUM:
 

  

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, Bab XII tentang Pengelolaan Keuangan BLU diatur dalam pasal 68 dan 69. Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan BLU, Pasal 4 mengatur tentang pembentukan BLU / BLUD harus memenuhi persyaratan substantif, teknis dan administratif. Persyaratan substantif terpenuhi apabila instansi pemerintah menyelenggarakan layanan umum salah satunya Pengelolaan dana khusus dalam rangka meningkatkan ekonomi dan/atau pelayanan kepada masyarakat Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 61 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Keuangan BLUD, Peraturan Menteri Keuangan Nomor 99/PMK.05/2008 tentang Pengelolaan Dana Bergulir,

Penguatan Modal UMKM melalui BLUD

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 99/PMK.05/2008 tentang Pengelolaan Dana Bergulir:  Pasal 2 : Dana Bergulir bertujuan untuk membantu perkuatan modal usaha guna pengembangan koperasi, usaha mikro, kecil, menengah dan usaha lainnya dalam upaya penanggulangan kemiskinan, pengangguran dan pengembangan ekonomi nasional.  Pasal 4: Pengelola Dana Bergulir dilakukan oleh Satker yang menerapkan Pengelolaan Keuangan BLU (Satker BLU).  Pasal 24 (2): Apabila tidak membentuk Satker BLU, maka Dana Bergulir yang diterima harus disetor ke Rekening KUN secepatnya sesuai ketentuan perundang-undangan dan Satker tersebut tidak dapat mengelola Dana Bergulir

Pengertian BLUD dan PPK-BLUD
(Permendagri No. 61 Tahun 2007)

Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) adalah Satuan Kerja Perangkat Daerah atau Unit Kerja pada Satuan Kerja Perangkat Daerah di lingkungan pemerintah daerah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan, dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas. Pola Pengelolaan Keuangan (PPK) BLUD adalah pola pengelolaan keuangan yang memberikan fleksibilitas berupa keleluasaan untuk menerapkan praktek-praktek bisnis yang sehat untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa, sepagai pengecualian dari ketentuan pengelolaan keuangan daerah pada umumnya.

Persyaratan penerapan PPK-BLUD
 

PERSYARATAN SUBSTANTIF: TUPOKSInya bersifat operasional pelayanan umum yg menghasilkan barang / jasa publik, antara lain berhubungan dengan:

PERSYARATAN ADMINISTRATIF:
Surat pernyataan kesanggupan meningkatkan kinerja pelayanan & keuangan Pola tata kerja Rencana strategi bisnis Standar Pelayanan Minimal Laporan keuangan pokok dan proyeksi laporan keuangan Laporan audit terakhir atau pernyataan bersedia diaudit secara independen

Penyediaan barang dan jasa layanan umum Pengelolaan wilayah / kawasan tertentu Pengelolaan dana bergulir untuk Penguatan Modal UMKM


 

 

PERSYARATAN TEKNIS: Kinerja pelayanan umum layak untuk ditingkatkan dan, kinerja keuangan yang sehat

Proses / Prosedur Penerapan PPK-BLUD

SKPD / Unit Kerja SKPD mengajukan permohonan kepada kepala daerah melalui sekretaris daerah / kepala SKPD, dilampiri dokumen persyaratan administratif Kepala daerah membentuk tim penilai untuk meneliti dan menilai usulan penerapan, peningkatan, penurunan, dan pencabutan status PPK-BLUD Tim penilai bertugas meneliti dan menilai usulan penerapan, peningkatan, penurunan, dan pencabutan status PPK-BLUD Hasil penilaian oleh tim penilai disampaikan kepada kepala daerah sebagai bahan pertimbangan penetapan penerapan, peningkatan, penurunan, dan pencabutan status PPK-BLUD Penerapan, peningkatan, penurunan, dan pencabutan status PPK-BLUD ditetapkan dengan keputusan kepala daerah, dan disampaikan kepada pimpinan DPRD paling lambat 1 bulan setelah tanggal penetapan. Penetapan persetujuan/penolakan penerapan atau peningkatan, status PPK-BLUD, paling lambat 3 (tiga) bulan sejak usulan diterima kepala daerah secara lengkap, bila dalam waktu 3 bulan tidak menetapkan keputusan, usulan dianggap disetujui. Penetapan persetujuan penerapan PPK-BLUD, dapat berupa pemberian status BLUD penuh atau status BLUD bertahap.

TERIMA KASIH

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->