P. 1
Aktivitas FUngsional Rekreasi Pada Penderita Asma

Aktivitas FUngsional Rekreasi Pada Penderita Asma

|Views: 89|Likes:
Published by Dhita Prianthara

More info:

Published by: Dhita Prianthara on Dec 21, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/18/2013

pdf

text

original

Aktivitas FUngsional Rekreasi Pada Penderita Asma

A. PENGERTIAN Asthma berasal dari Bahasa Yunani, yang artinya Terengah = Bernafas Pendek. Asthma juga merupakan penyakit Obstruktif paru yang sering terjadi pada usia muda yang khas dari penyakit ini adalah serangan terjadi secara tiba-tiba, kadang-kadang beberapa hari ataupun beberapa minggu tergantung penyebabnya menurut The American Society (1962), menyatakan; Asthma Bronhide ialah suatu penyakit yang ditandai oleh peningkatan respon saluran nafas terhadap ransang. dengan Manivestasi penyempitan saluran nafas yang derajatnya berubah-ubah dan dapat sembuh secara cepat atau dengan pengobatan. Suatu serangan disebabkan karena sensifititas dari otot poIos saluran nafas terhadap beberapa bagian ransangan. Awalnya, bisa terjadi secara perlahan-lahan atau mendadak dan kadang serangan dapat berlangsung selama beberapa hari atau beberapa minggu yang keadaan ini disebut Status Asthmaticus. Asthma juga merupakan penyebab utama penyakit Kronik pada anak-anak sebelum pubertas, sekitar 2 (dua) kali lebih banyak dan memiliki perbandingan yang sama antara Laki-laki dan perempuan. Pada umumnya pasien yang menderita Asthma adalah terjadinya kesulitan dari respirasi khususnya ekspirasi. B. PERUBAHAN PATOLOGI Pada waktu serangan:

1. Bronkospasme 2. Edema Mukosa 3. Sekresi kental membentuk gumpalan dalam bronhioli medium / kecil. Bila suatu serangan ringan meredah, dada kembali normal bila muku yang kental di ekspektorasikan (dikeluarkan). Setelah Suatu serangan berat 1. Kolaps Absorpsi. 2. Serangan yang berulang-ulang dan berlarut-larut. 3. Hipertropi selaput lendir. 4. Penebalan semua lapisan bronchi kecil. Asthma yang berlangsung lama dan sangat parah dapat menyebabkan Empisema. Innamasi lapisan mukus pada Tracheobrochial dan Hypersekresi Mukosa, dimana biasanya bergetah dan ada obstruksi karena adanya peningkatan jumlah dan ukuran sel-sel goblek. a. Penyebab Ada beberapa penyebab terjadinya Asthma yaitu: 1. Perangsangan Primer (Inadcer), yaitu rangsangan yang secara primer dengan atau tanpa faktor predisposisi dapat menimbulkan gejala Asthma atau selanjutnya menginduksi terjadinya Hyperaktivitas Bronkchus sebelumnya yang termasuk disini adalah:       Debu : Penderita Asthma akan terjadi serangan apabila terkena debu ataupun alergi terhadap debu. Serbuk: seperti tepung dan bedak. Bulu Binatang : seperti kucing, burung dan lain-lain lnfeksi Virus. Bahan kimia tertentu seperti cat Makanan: seperti udang, telur, kepiting dan lain-lain.

2. Perangsangan Sekunder (Trigger) yaitu perangasangan yang secara sekunder dapat mencetus gejala Asthma setelah adanya Hyperaktivitas Bronkchus sebelumnya yang termasuk disini adalah: - Tumbuh-tumbuhan : seperti tumbuhan atau bunga-bunga yang mengeluarkan bau-bau yang merangsang. - Cuaca: seperti cuaca dingin atau panas. - Obat-obatan : seperti yang umumnya obat-obatan anti histamin, akan merangsang timbulnya serangan Asthma. - Latihan jasmani: seperti lari, renang - lnfeksi bakteri. - Jamur 3. Beberapa penyebab yang diduga oleh karena: - Laki-aki lebih banyak terserang dari pada wanita kurang dari 40 tahun. - Faktor Herediter dari orang tua yang menderita Ashtma jantung (Asthma cardiale) - Sanitasi lingkungan b. Gejala Ada beberapa terjadinya Asthma yaitu: - Mungkin timbul tanda -tanda atau peringatan misal menjadi tegangnya otot dada. - Wheezing yang terdengar, expirasi sukar - inspirasi tidak sukar.

- Dispnoe. - Kecepatan perangsangan bertambah. - Penurunan vital kapasity. - Kegunaan berlebihan dari assesoris Muscle - Batuk yang melelahkan dan tidak produktif kelelahan setelah kronik. - Seringkali penderitanya kurus. - Postur kurang baik, shoulder bundar, kepala condong kedepan hypertropy otot-otot assesoris. c. Komplikasi Serangan Asthma sering menyertai infeksi virus pernafasan atau infeksi bakteri dan dapat menjadi berat serta dapat juga disertai dengan demam apabila terdapat pada anak-anak. Dan bahkan akan kalau tidak segera ditangani maka akan berlanjut menjadi Bronchitis Kronis; Empysema; Cord Pulmunal; Atelektasis. PROBLEM/HAMBATAN AKTIVITAS KEGIATAN SEHARI-HARI Seseorang yang menderita penyakit ini tidak dapat meIakukan kegiatannya sehari -hari dengan optimal, ini dikarenakan dia baru membatasi setiap gerakannya Jangan sampai dia mengalami kelelahan yang dapat mengakibatkan kambuhnya penyakit serta dia harus menjaga dirinya dari segala macam bau-bau yang merangsang terhadap kambuhnya penyakit tersebut serta dia harus siap dan bugar dengan perubahan cuaca di sekitarnya. 1. Debu : Penderita Asthma akan terjadi serangan apabila terkena debu ataupun elergi terhaddp debu, - Serbuk seperti tepung dan bedak. - Bulu binatang : seperti kucing, burung dan lain — lain

- Infeksi Virus. - Bahan kimia tertentu seperti cat - Makanan: seperti udang, telur, kepiting dan lain — lain 2. Perangsangan Sekunder ( Trigger ) yaitu perangsangan yang secara sekunder dapat mencetus gejala Asthama setelah adanya Hiperaktivitas Bronchus sebelumnya yang termasuk disini adalah: - Tumbuh — tumbuhan : seperti tumbuhan atau bunga — bunga yang mengeluarkan bau — bau yang merangsang - Obat — obatan : seperti yang umumnya obat — obatan anti histamin, akan merangsang timbulnya serangan asthma. - Latihan jasmani: seperti Iari, renang - lnfeksi bakteri - Jamur 3. Beberapa penyebab yang diduga oleh karena: - Laki-aki lebih banyak terserang dari pada wanita kurang dari 40 tahun. - Faktor Herediter dari orang tua yang menderita Ashtma jantung (Asthma cardiale) - Sanitasi lingkungan D. PEMERIKSAAN FISIK a. lnspeksi lnspeksi terbagi atas 2 ( dua) bagian yaitu:

- lnspeksi Dinamis Dilakukan perubahan posisi kepada pasien secara berulang-ulang dari posisi berdiri ke duduk dan selanjutnya berbaring yang akan membuat pasien mendadak batuk dan sesak nafas bertambah dan disertai dengan bunyi, ini dilakukan 2 (dua) sampai 3 (tiga) kali dalam inspeksi dinamis juga akan didapatkan bahwa gerakan pasien dalam ekspirasi akan lebih sulit dilakukan dibandingkan saat inspirasi. - lnspeksi Statis Otot leher kelihatannya tegang terutama otot Stermocleudo Mastoideus dan Scaleni, bahu simetris pada saat protraksi shoulder, cuping hidung bergerak-gerak karena kesulitan saat respirasi, nafas pendek dan seakan tercekik karena terjadi obstruksi jalan nafas, pasien nampak berkeringat, bentuk thorax tidak normal, torjadi barrel chest (dada burung) hal ini karena otototot expirasi mengalami peningkatan tonus, dan ujung jari biru (Sianosis) karena sirkulasi darah ke distal terganggu. b. Palpasi: ROM, MT - Posisi Trachea dapat diraba dengan jari telunjuk dengan menekan ke samping pada bagian medial dari M. Sternocleidomastoideus rasakan cartilago trachea bandingkan antara yang kiri dan yang kanan pada penderita asthma normal. Kelenjar linfe ini bertujuan untuk mengetahui adanya radang atau infeksi atau malignensi, pada penderita asthma tidak didapatkan posisi apex normal, dapat diraba dengan satu jari di bawah mammac. - Tonus otot meningkat khususnya pada leher, spasme dan nyeri tekan dapat diketahui dengan mempalpasi otot sternocleidomastoideus dan M. Scaleni. - Tonus otot expirasi menurun terutama otot intercostalis internus yang dapat di palpasi pada intercosta. E. AUSKULTASI

Pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan dengan menggunakan pendengaran, baik dengan menggunakan stetoskop ataupun langsung pada saat pasien inspirasi dan expirasi. Pada pemeriksaan ini terdengar bunyi Wheezing karena obstruksi (penyempitan) jalan nafas atau dapat didengar bunyi ronchi yang menandakan adanya peningkatan sputum. F. TUJUAN AKS Agar Pasien lebih bebas melakukan kegiatan tanpa di baying-bayangi oleh penyakit yang di derita, serta pasien tidak perlu membatasi samua aktifitasnya. G. AKTIFITAS YANG DIBERIKAN Aktifitas yang akan diberikan pada pasien Asthma yaitu melakukan olah raga dengan teratur, pola makan yang baik, Breathing exercise ( Latihan pernafasan diafragma, latihan pernafasan perut, latihan pernafasan dengan spirometer, berenang, meniup balon, lilin, suling dan Harmonika. H. PELAKSANAAN PEMBERIAN AKTIFITAS Pelaksanaan dari pada aktifitas di atas yaitu: 1. Melakukan olahraga teratur, misalnya olah raga jalan santai ini dilakukan kira-kira selama 1 jam. 2. Makanan yang baik, yaitu makanan yang tidak mengandung bahan-bahan yang dapat merangsang timbulnya penyakit tersebut. 3. Breathing Exercise (salah satunya adalah latihan pernafasan diafragma) Posisi pasien tidur terIentang dengan sebuah bantal di kepala dan dibawah lutut kepala pasien dimiringkan sedikit. Posisi Fisioterapi: Fisioterapi meletakkan satu tangan pada diafragma. Teknik Aplikasinya: Pasien disuruh menghirup udara melalui hidung kembungkan perutnya kemudian tahan, selanjutnya pasien disuruh mengeluarkan nafas melalui mulut secara pelan-

pelan dan sampai dengan akhir expirasi pasien, Fisioterapi memberikan penekanan. ini dilakukan 5 -10 kali pengulangan. 4. Berenang. ini dilakukan pada saat suhu air tidak terlalu dingin atau terlalu panas dan dilakukan selama ± 1 jam. 5. Meniup balon, liin, suling dan harmonika, ini dilakukan tiap ± 15 menit 6. Latihan pernafasan dengan Spirometer. Cara: Pasien duduk di kursi dengan rileks, pasien diminta menghirup udara sebanyak banyaknya. Kemudian, meniupkan secara cepat dan kuat ke Spirometer sebagai motivasi di usahakan agar pasien sedapat mungkin mengubah alat petunjuk angka terakhir yang di tunjukkan. I. KEAMANAN YANG HARUS DIPERHATIKAN PADA PASIEN Adapun beberapa usaha yang dapat ditempuh untuk mencegah serangan Asthma, diantaranya. - Menghindari semua faktor yang bisa menyebabkan serangan asthma - Menghindari ruangan, tempat tidur atau tempat yang sedang dibersihkan, kalau terpaksa usahakan menggunakan masker. - Tidak memelihara binatang, seperti : kucing, anjing, burung dan sebagainya. - Hindari tempat yang lembab dan pengap - Hindari asap dan bau yang merangsang misalnya dari rokok, parfum, obat nyamuk dan lainlain. J. EVALUASI HASIL Sesaat

Melihat dan menilai pola pernafasan, postur, sputum setelah melakukan latihan apakah terjadi perubahan atau tidak. Berkala Setelah dilakukan beberapa kali terapi diharapkan problematik Fisioterapi berkurang atau hilang sama sekali. K. PEMBERIAN ALAT BANTU SESUAI JENIS PENYAKIT 1. Spirometer yaitu untuk mengatur kapasitas paru. 2. IPPB (Intermintaan Presue Purseli Breathing) diberikan pada kondisi yang kronik, yang berfungsi untuk melancarkan pernafasan, melonggarkan jalan nafas dan melancarkan sekresi. L. SARAN-SARAN - Sebaiknya penderita berusaha untuk menghindari, faktor-faktor yang dapat menimbulkan kambuhnya suatu penyakit ( Faktor Elergen). - Sebaiknya penderita mengatur pola makanan dan olahraga yang akan dilakukan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->