P. 1
Pengeboran sumur bor dengan CTM 10000

Pengeboran sumur bor dengan CTM 10000

|Views: 377|Likes:
laporan proses pembuatan sumur bor
laporan proses pembuatan sumur bor

More info:

Categories:Types, Research
Published by: Lukas Andrianus Nugroho on Dec 22, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/09/2014

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Air merupakan sumber kehidupan bagi setiap makhluk yang hidup dibumi, mulai dari manusia, tumbuhan maupun hewan membutuhkan air. Sebagai manusia tentu memerlukan air yang bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Tapi sedak hanya sekedar air namun air yang bersih dan sehat merupakan hal terpenting bagi manusia, sebab jika manusia menggunakan air yang kotor dan tercemar akan berakibat pada kesehatannya, dampak yang ditimbulkan bermacam-macam mulai dari gatal-gatal pada kulit bahkan sampai diare. Itu sebabnya banyak anak di daerah tandus yang mengalami masalah pada pencernaannya, karena mereka mengkonsumsi air seadanya dan untuk mendapatkan air yang bersih sangat susah. Indonesia sebagai Negara berkembang menghadapi banyak masalah kesehatan sebagai Negara yang memasuki era industrialisasi bangsa Indonesia mengalami berbagai transisi epidemiologi, demografi dan lingkungan, transisi yang dapat dilihat dengan adanya masalah yang berkaitan erat dengan "tradisional hazard" akibat belum terpenuhinya sanitasi dasar khususnya penyediaan air bersih (Tempo, Maret 2001). Air adalah kekayaan alam yang dikaruniakan Allah SWT sebagai sarana hidup dan kehidupan yang amat penting dan menyangkut hajat hidup manusia, hewan, maupun tumbuhan. Kehidupan di alam ini berkepentingan kepada air. Adanya kenyataan bahwa bumi yang kita huni ini dua pertiga adalah laut, lebih memperkuat lagi kedudukan dan kepentingan air bagi seluruh makhluk dan lingkungan dimana ia berada.(Hefni E, 2003). Masalah penyediaan air bersih ini menjadi salah satu prioritas dalam perbaikan derajat kesehatan masyarakat. Mengingat keberadaan air sangat vital dibutuhkan oleh makhluk hidup. Kehidupan di muka bumi ini hanya dapat berlangsung dengan keberadaan air. Seiring meningkatnya kepadatan penduduk dan pesatnya pembangunan, maka kebutuhan air pun semakin meningkat. Sehingga dituntut tersedianya air yang sehat yang meliputi pengawasan dan penetapan kualitas air untuk berbagai kebutuhan dan kehidupan manusia yang bertujuan untuk menjamin tercapainya air minum maupun air bersih yang memenuhi syarat kesehatan bagi seluruh lapisan masyarakat.

Banyak penduduk yang terpaksa memanfaatkan air yang kurang bagus kualitasnya. Tentu saja hal ini akan berakibat kurang baik bagi kesehatan masyarakat pada jangka pendek, kualitas yang kurang baik dapat mengakibatkan muntaber, diare, kolera, tipus, atau disentri. Hal ini dapat terjadi pada keadaan sanitasi lingkungan yang kurang baik. Bila air tanah dan air permukaan tercemari oleh kotoran, secara otomatis kuman kuman tersebar ke sumber air yang dipakai untuk keperluan rumah tangga. Dalam jangka panjang, air yang berkualitas kurang dapat mengakibatkan penyakit keropos tulang, korosi gigi, anemia, dan kerusakan ginjal. Hal ini terjadi karena terdapatnya logam logam yang berat yang banyak bersifat toksik (racun) dan pengendapan pada ginjal (Kusnaedi, 2002). Salah satu upaya perlindungan air adalah dibangunnya sarana air bersih baik secara individual maupun berupa bantuan proyek dari pemerintah yang bertujuan untuk menyediakan air yang sehat bagi masyarakat. Salah satunya yang paling umum digunakan adalah sumur gali (Hlida, 2004). http://blogjoeharno.blogspot.com/2008/05/kualitas-airsumur-gali-sgl.html

B. Tujuan 1. Mahasiswa mampu memahami berbagai macam upaya penyediaan air bersih yang merupakan salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh Ahli Kesehatan Lingkungan. 2. Mahasiswa mengetahui cara pembuatan sumur gali sebagai salah satu upaya penyediaan air bersih. 3. Mahasiswa dapat terampil mengoperasikan alat bor untuk membuat sumur gali.

C. Manfaat 1. Sebagai bahan informasi bagi pihak instansi terkait maupun masyarakat dalam upaya penyediaan air bersih yang memenuhi syarat kesehatan. 2. Untuk memberi informasi dan pengetahuan bagi masyarakat dan juga aparat pemerintahan setempat mengenai pentingnya penyediaan air bersih. 3. Mampu menyediakan kebutuhan air bersih bagi masyarakat.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Lapisan Tanah Tanah mempunyai partikel penyusunnya berupa pasir, debu, dan liat. Di dalam tanah terdapat mineral, unsur hara, air, udara, dan banyak mikroorganisme yang hidup didalam tanah. Tanah mempunyai tingkatan kedalaman yang disebut dengan horizon. Setiap

tingkatan tersebut berbeda-beda yang terkandung didalamnya. Banyak keanekaragaman mikroorganisme dan hewan tanah baik yang bersifat merugikan maupun yang menguntungkan ( Subagyo1970) Tanah adalah material yang tidak padat yang terletak di permukaan bumi, sebagai media untuk menumbuhkan tanaman (SSSA, Glossary of Soil Science Term). Tanah sebagai tubuh alam mempunyai berbagai macam fungsi utama, diantaranya pertama

sebagai media tumbuhan tanaman yang menyediakan hara dan air. Kedua sebagai gudang unsur-unsur hara makro dan mikro serta mengatur penyediaan bagi tanaman. Ketiga sebagai tempat tunjangan mekanik akar tanaman Huruf kapital O, A, E, B, C, R merupakan simbol-simbol untuk horizon utama dan lapisan utama tanah. Huruf-huruf kapital ini merupakan simbol dasar, yang dapat diberi tambahan karakter-karakter lain untuk melengkapi penamaan horizon dan lapisan. Horizon O adalah lapisan yang didominasi oleh bahan organik. Sebagian jenuh air dalam periode yang lama, atau suatu ketika pernah jenuh air, tetapi sekarang telah didrainase, sebagian yang lain tidak pernah mengalami jenuh air. Sebagian besar horizon O tersusun dari serasah segar yang belum terdekomposisi atau sebagian telah terdekomposisi yang telah tertimbun di permukaan. Serasah seperti ini dapat berada di atas permukaan tanah mineral atau tanah organik. Keterangan : A : Horizon Organik O : Horizon pencampuran bahan organic terhumifikasi dengan bahan mineral E : Horizon pencucian (eluviasi) B : Horizon penumpukan (iluviasi) C : Bahan induk

D : Batuan induk Tiap jenis tanah dan tipe tanah memiliki ciri yang khas dipandang dari sifat – sifat fisis maupun kimianya. Pada teori ini tanah memiliki horizon – horizon sebagai akibat berlangsungnya evolusi genetis didalam tanah. Profil tanah ialah penampang vertical tanah dimulai dari permukaan tanah sampai lapisan bahan induk dibawah tanah. Solum tanah adalah penampang tanah dimulai dari horizon A hingga horizon B. terdapatnya horizon – horizon pada tanah – tanah yang memiliki perkembangan genetis menyugestikan bahwa beberapa proses tertentu umumnya terdapat dalam perkembangan pembentukan profil tanah (Nurhajati Hakim). Horizon A adalah horizon mineral yang terbentuk pada permukaan tanah atau di bawah suatu horizon O. Horizon ini memperlihatkan kehilangan seluruh atau sebagian besar struktur batuan asli dan menunjukkan salah satu atau kedua sifat berikut yaitu akumulasi bahan organik terhumifikasi yang bercampur sangat intensif dengan fraksi mineral, dan tidak di dominasi oleh sifat-sifat yang merupakan karakteristik horizon E atau B. sifat-sifat yang merupakan akibat dari pengolahan tanah, pengembalaan ternak atau jenis-jenis gangguan lain yang serupa. Horizon E adalah horizon mineral yang kenampakan utamanya adalah kehilangan liat silikat, besi, alumunium atau beberapa kombinasi meninggalkan suatu konsentrasi partikel-partikel senyawa-senyawa tersebut,

pasir dan debu. Horizon ini

memperlihatkan lenyapnya seluruh atau sebagian terbesar dari struktur batuan aslinya. Horizon E dibedakan dari horizon B di bawahnya dalam sequm tanah sama , oleh warna dengan value lebih tinggi atau chrome lebih rendah , atau kedunya, oleh tekstur yang lebih kasar atau oleh suatu kombinasi dari sifat-sifat tersebut. Horizon B dalah horizon-horison yang terbentuk di bawah suatu horizon A, E atau O. horizon-horison ini didominasi oleh lenyapnya seluruh atau sebagian terbesar sari

struktur batuan aslinya, dan memperlihatkan satu atau lebih sifat-sifat seperti : Konsentrasi atau penimbunan secara aluvial dari liat silikat, senyawa besi, senyawa alumunium, humus, senya wa karbonat, gispsum, atau silika, secara mandiri atau dalam kombinasi. Tandatanda atau gejala adanya pemindahan atau penambahan senyawa karbonat. Konsentrasi oksidan-oksidan secar residu. Penyelaputan sesquioksida yang mengakibatkan horizon

terlihat jelas menpunyai value warna lebih rendah, chrome lebih tinggi atau hue lebih merah tanpa proses iluviasi semyawa besi yang terlihat jelas. Horizon C adalah horison atau lapisan, tidak termasuk batuan dasar yang lebih keras dan tersementasi kuat, yang dipengaruhi sedikit oleh proses pedogenik, serta tidak memiliki sifat –sifat horizon O, A, E, atau B. sebagian terbesar merupakan lapisan-lapisan mineral. Bahan lapisan C mungkin dapat serupa atau tidak serupa dengan gahan dari mana solum diperkirakan telah terbentuk. Suatu horizon C mungkin saja telah mengalami perubahan, walaupun tidak terdapat tanda-tanda adanya proses pedogenesis. Horizon R adalah batuan dasar tersementasi kuat sampai mengeras.granit, basaly, kuarsit, batugamping, dan batupasir adalah contoh batuan dasra yang diberi symbol dengan huruf R. lapisan R cukup kompak jika lembab sehingga cukup sulit di gali dengan sekop walaupun lapisan tersebut dapat pecah berkeping-keping Sifat morfologi tanah adalah sifat–sifat tanah yang dapat diamati dan dipelajari di lapang. Sebagian dari sifat morfologi tanah merupakan sifat fisik dari tanah tersebut. Batas–Batas Horison Batas satu horison dengan horison lainnya dalam suatu profil tanah dapat terlihat jelas atau baur. Pada pengamatan lapang ketajaman peralihan horison ini dapat dibedakan beberapa tingkatan, yaitu dikatakan a. nyata (bila lebar peralihan kurang dari 2,5 cm), b. jelas (lebar peralihan 2,5 – 6,5 cm ), c. berangsur (lebar peralihan 6,5 – 1,25 cm) dan d. baur (lebar peralihan > 12,5 cm). Disamping topografi dari batas horison tersebut dapat rata, berombak, tidak teratur atau terputus Umumnya hampir semua profil – profil tanah telah memiliki dua atau lebih horizon utama. Sifat – sifat horizon itu diterangkan seperti berikut : Horizon – horizon organik tanah – tanah mineral: 1. 2. 3. Terbentuk diatas tanah mineral. Didominasi oleh bahan organik yang segar atau sebagian telah dilapuki. Mengandung lebih dari 30% bahan organik jika fraksi mineral mengandung lebih dari 50% liat atau lebih dari 20% bahan organik jika fraksi mineral tidak mengandung liat. Horizon – horizon mineral:

1.

Horizon – horizon dimana bahan organik dikumulasikan atau berbentuk dekat permukaan tanah. Horizon – horizon yang kehilangan liat, besi, atau alumunium dengan hasil resultannya berupa kuarsa atas mineral – mineral resisten yang lain. Horizon – horizon ini didominasi oleh (1) atau (2) diatas, tetapi dapat pula berupa transisi kehorison B atau C dibawahnya.

2.

3.

Horizon yang memiliki satu atau lebih sifat: 1. Merupakan horizon illuvial, dalam mana terakumulasi liat silikat, besi, alumunium, atau humus secara sendiri – sendiri atau kombinasinya. 2. Konsentrasi sisa dari sosquioksidasi atau liat – liat silikat yang terbentuk dengan keluarnya dari horizon ini garam – garam karbonat atau garam – garam terlarut lainnya. 3. Mantel mineral – mineral sosquioksida telah cukup memberikan warna gelap, dibandingkan dengan warna horizon dibawah maupun diatasnya. 4. Alterasi dari bahan – bahan asalnya yang berupa struktur batuan misalnya, sehingga akibat alterasi itu terbentuklah liat – liat silikat, pembebasan oksida – oksida atau keduanya. Adakalanya terjadi penumpukan liat atau oksida besi pada horizon B. jika pada horizon B itu terdapat banyak partikel – partikel liet, maka yang disebut tanah menunjukkan liat illuvial. Tanah spodosol ( podsol ) umumnya memiliki horizon B yang menunjukkan horizon itu banyak mengandung besi. Jka humus dan besi bersama terakumulasi pada tanah spodosol disebut horizon B ( Hardjawigono, 2003 ).

B. Air Tanah Lebih dari 98% dari semua air di atas bumi tersembunyi di bawah permukaan dalam pori-pori batuan dan bahan-bahan butiran. Dua persen sisanya terdapat di danau, sungai dan reservoir. 96% disebut air tanah dan digambarkan sebagai air yang terdapat pada bahan yang jenuh di bawah muka air tanah. Dua persen sisanya adalah lengas tanah pada daerah tidak jenuh di atas muka air tanah (Seyhan, 1977: 254). Menurut Sosrodarsono (1976: 93) yang dimaksud dengan air tanah adalah air yang bergerak dalam tanah yang terdapat di dalam ruang-ruang antara butir-butir tanah dan di dalam retak-retak dari batuan. Sedangkan menurut Kodoatie (1996: 7), yang dimaksud air

tanah ialah sejumlah air di bawah permukaan bumi yang dapat dikumpulkan dengan sumursumur, terowongan atau sistem drainase, juga dapat disebut aliran secara alami yang mengalir ke permukaan tanah melalui pancaran atau rembesan. Herlambang (1996: 5) menyatakan bahwa lapisan yang mudah dilalui oleh air tanah yang bergerak di dalam tanah dan bergabung membentuk lapisan tanah yang disebut akuifer. Lapisan yang mudah dilalui oleh air tanah disebut lapisan permeabel, seperti lapisan pasir atau kerikil, sedangkan lapisan yang sulit dilalui air tanah disebut lapisan impermeabel, seperti lapisan lempung. Menurut Hermawan (1984: 187), untuk menguraikan terjadinya air tanah, diperlukan peninjauan mengenai bagaimana dan di mana air tanah tersebut berada. Dengan anggapan bahwa kondisi hidrologi menyediakan air pada zona bawah tanah maka lapisan-lapisan bawah tanah akan melakukan distribusi dan memengaruhi gerak air tanah, sehingga peranan geologi terhadap hidrologi air tanah tidak dapat diabaikan. Air tanah adalah semua air yang terdapat di bawah permukaan tanah pada zona jenuh air. Air tanah ke zona tak jenuh dan kemudian meresap makin dalam jenuh air dan menjadi fase dalam daur hidrologi, atmosfer ke bumi dan kembali ke atmosfer pedalaman, akan menimbulkan terjadi proses pencurahan lapisan-lapisan bawah tanah akan melakukan air tanah, sehingga peranan geologi terhadap hidrologi terbentuk dari air hujan dan air permukaan yang meresap hingga mencapai zona air tanah. Dalam kamus hidrologi, air tanah adalah salah satu yaitu suatu peristiwa yang selalu berulang dari atmosfer. Penguapan dari darat proses pengembunan membentuk hujan, dan proses penyerapan ke dalam tanah, dan menguap kembali. Dari daur hidrologi dapat dipahami bahwa air tanah berinteraksi dengan air permukaan serta komponen lain, seperti bentuk topografi, jenis batuan penutup, penggunaan lahan, vegetasi penutup, serta manusia yang berada di permukaan. Air tanah dan air permukaan saling berkaitan dan berinteraksi. Setiap aksi (pemompaan, pencemaran, dan lain-lain) terhadap air tanah akan memberikan reaksi terhadap air permukaan, demikian sebaliknya. Air Artesis merupakan suatu tingkatan batu halus ( batu kapur/ batu pasir) yang menyerap air dari sebuah aliran air yang terletak diantara batu kedap air/ tanah liat yang mengakibatkan tekanan tinggi sehingga air melawan gravitasi dan mengalir ke atas terus

menerus tanpa dibantu pompa apapun, untuk itu sumur > 80 m belum tentu mencapai titik Artesis dikarenakan setiap kondisi aquifer yang berbeda-beda. Lapisan tanah kaitannya dengan kemampuan menyimpan dan meloloskan air dibedakan atas empat lapisan yaitu : 1. Aquifer, adalah lapisan yag dapat menyipan dan mengalirkan air dalam jumlah besar. Lapisan batuan ini bersifat permeable seperti kerikil, pasir dll2. 2. Aquiclude, adalah lapisan yang dapat menyimpan air tetapi tidak dapat mengalirkan air dalam jumlah besar, seperti lempung, tuff halus dan silt. 3. Aquifuge, adalah lapisan yang tidak dapat menyimpan dan mengalirkan air, contohnya batuan granit dan batuan yang kompak. 4. Aquifard, adalah lapisan atau ormasi batuan yang dapat menyimpan air tetapi hanya dapat melooskan air dalam jumlah yang terbatas. Sifat-sifat fisik air tanah adalah sifat air yang dipergunakan harus bebas dari segala macam kotoran yang dapat terdeteksi oleh indra penglihatan, indra pembau dan indra perasa. Karakteristik fisik meliputi warna, bau, rasa, kekentalan, kekeruhan dan temperatur. Selain air sungai dan air hujan, air tanah juga mempunyai peranan yang sangat penting terutama dalam menjaga keseimbangan dan ketersediaan bahan baku air untuk kepentingan rumah tangga (domestik) maupun untuk kepentingan industri. Dibeberapa daerah, ketergantungan pasokan air bersih dan air tanah telah mencapai ± 70%.

C. Sumur Bor Air sumur bor adalah merupakan alternatif jika air PAM belum ada, maupun bertujuan menghemat penggunaan air PAM. Pemilihan lokasi sumur bor yaitu tidak berdekatan dengan septic tank, karena dapat tercemar oleh bakteri e-coli. Kedalaman sumur bor biasanya diatas 15 meter karena lebih aman dari pencemaran bakteri dan kontaminasi lainnya. Sistem pemboran ada 2 yaitu : 1. Sistem Pemboran secara manual Yaitu dengan cara menggunakan tenaga manusia minimal 4 pekerja yang bertugas melakukan pemboran. Dengan cara ini pekerja lebih berat dan relative lebih lama. 2. Sistem Pemboran menggunakan mesin bensin Yaitu dengan 2 buah mesin yang gear box ratio yang juga sebagai penghantar putaran mesin ke pipa bor yang telah diberi mata bor di ujungnya.

Pemboran sumur dilakukan dengan mengkombinasikan putaran dan tekanan pada mata bor. Pada pemboran konvensional, seluruh pipa bor diputar dari atas permukaan oleh alat yang disebut turntable. Turntable ini diputar oleh mesin diesel, baik secara elektrik ataupun transmisi mekanikal. Dengan berputar, roda gerigi di mata bor akan menggali bebatuan. Daya dorong mata bor diperoleh dari berat pipa bor. Semakin dalam sumur dibor, semakin banyak pipa bor yang dipakai dan disambung satu persatu. Selama pemboran lumpur dipompakan dari pompa lumpur masuk melalui dalam pipa bor ke bawah menuju mata bor. Nosel di mata bor akan menginjeksikan lumpur tadi keluar dengan kecepatan tinggi yang akan membantu menggali bebatuan. Kemudian lumpur naik kembali ke permukaan lewat annulus, yaitu celah antara lubang sumur dan pipa bor, membawa cutting hasil pemboran. Lumpur umumnya campuran dari tanah liat (clay), biasanya bentonite, dan air yang digunakan untuk membawa cutting ke atas permukaan. Lumpur berfungsi sebagai lubrikasi dan medium pendingin untuk pipa pemboran dan mata bor. Lumpur merupakan komponen penting dalam pengendalian sumur (well-control), karena tekanan hidrostatisnya dipakai untuk mencegah fluida formasi masuk ke dalam sumur. Lumpur juga digunakan untuk membentuk lapisan solid sepanjang dinding sumur (filter-cake) yang berguna untuk mengontrol fluida yang hilang ke dalam formasi (fluid-loss). Sumur gali adalah satu konstruksi sumur yang paling umum dan meluas dipergunakan untuk mengambil air tanah bagi masyarakat kecil dan rumah- rumah perorangan sebagai air minum dengan kedalaman 7-10 meter dari permukaan tanah. Sumur gali menyediakan air yang berasal dari lapisan tanah yang relatif dekat dari permukaan tanah, oleh karena itu dengan mudah terkena kontaminasi melalui rembesan. Keadaan konstruksi dan cara pengambilan air sumur pun dapat merupakan sumber kontaminasi, misalnya sumur dengan konstruksi terbuka dan pengambilan air dengan timba. Sumur dianggap mempunyai tingkat perlindungan sanitasi yang baik, bila tidak terdapat kontak langsung antara manusia dengan air di dalam sumur. Sumur gali ada yang memakai dinding sumur dan ada yang tidak memiliki dinding sumur. Syarat konstruksi pada sumur gali meliputi dinding sumur, bibir sumur, lantai sumur, serta jarak dengan sumber pencemar (Gabriel, 2001).

Sumur bor adalah jenis sumur dengan cara pengeboran lapisan air tanah yang lebih dalam ataupun lapisan tanah yang jauh dari tanah permukaan dapat dicapai sehingga sedikit dipengaruhi kontaminasi. Umumnya air ini bebas dari pengotoran mikrobiologi dan secara langsung dapat dipergunakan sebagai air minum. Air tanah ini dapat diambil dengan pompa tangan maupun pompa mesin (Depkes RI, 1985). Agar sumur terhindar dari pencemaran maka harus diperhatikan adalah jarak sumur dengan jamban, lubang galian untuk air limbah (cesspool, seepage pit), dan sumber-sumber pengotoran lainnya. Jarak tersebut tergantung pada keadaan serta kemiringan tanah. Lokasi sumur pada daerah yang bebas banjir sehingga tidak ada genangan air. Jarak sumur minimal 15 meter dan lebih tinggi dari sumber pencemaran (Gabriel, 2001). Sumur Bor yang dalam (deep well drilling) memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan penggunaan Filter Air untuk memproses air baku yang tidak memenuhi syarat air bersih menjadi air bersih. Penggunaan Filter air memerlukan perawatan dan pemeliharaan yang cukup merepotkan serta membutuhkan biaya perawatan yang cukup tinggi. Dengan menggunakan sumur bor dalam (deep well drilling) masalah tersebut bisa diatasi karena kecenderungan kondisi tanah yang memiliki kandungan air yang jelek/ tidak memenuhi syarat air bersih tersebut biasanya berkisar di kedalaman 12 m sampai dengan 40 meter. Khusus untuk dilokasi yang memiliki kadar Garam yang tinggi, semisal di daerah pesisir pantai, kedalaman pengeboran bisa mencapai diatas 100 meter untuk memperoleh air bersih. hanya saja kualitas dari air di kedalam ini memiliki kontur warna tersendiri dan juga suhu diatas suhu air biasa . Akan tetapi kualitas air ini layak untuk digunakan sebagai air bersih untuk mandi, cuci dan kegiatan komersial lainnya. Kebutuhan akan air bersih per orang tiap harinya diperkirakan sekitar 50 liter per orang setiap hari.

D. CTM 10000 CTM 10000 adalah salah satu alat drilling yang digunakan dalam penyediaan sarana air bersih masyarakat. Alat ini mampu mengebor tanah hingga kedalaman 100 m. Alat ini menggunakan Sistem Hidrolik atau menggunakan alat tekanan dalam pengoperasiannya. Ciri – ciri CTM 10000: 1. Menggunakan sistem hidrolik pada pengoperasiannya, sehingga pengoperasian menggunakan handel.

2. Menggunakan bensin sebagai bahan bakarnya. 3. Menggunakan oli dan aki. Dalam pengoperasiannya dibantu oleh mesin pompa air yang akan dihubungkan dengan selang hisap yang terdapat pada swiheal head, sehingga tanah yang di akan dibor lunak, sehingga pengeboranpun mudah untuk dilaksanakan. Bagian – bagian pada CTM 10000 4. Swiheal Head Berfungsi sebagai tempat memasangkan stang bor, selang hisap dan selang hantar. Dari swiheal head ini tampak jelas bahwa CTM 10000 ini menggunakan sistem hidrolik dalam pengoperasian. Jika swiheal head ditegakkan 900, maka stang bor akan menuju kearah tanah kemudian handel pemutar stang bor pada swiheal head di operasikan, sehingga pengeboran dapat dilaksanakan. 5. Handel/ Tuas Handel 1, berfungsi sebagai pengatur menaikkan/ menurunkan swiheal head. Handel 2, berfungsi sebagai pengatur menaikkan/ menurunkan stang bor yang telah terpasang pada swiheal head. Handel 3, berfungsi sebagai pengatur arah putar mata bor pada stang bor yang telah terpasang pada swiheal head. 6. Tripot Tripot berfungsi sebagai penegak dari CTM 10000 agar berdiri tegak dan kokoh dalam keadaan swiheal head yang seimbang dengan kemiringan swihel head 90 o. CTM 10000 memiliki tiga buah tripot. Satu buah tripot pada bagian depan CTM 10000, dan dua buah tripot pada bagian belakang CTM 10000. Cara menentukan kemiringan swiheal head telah 90o adalah menggunakan alat water pass atau menggunakan alat sederhanan menggunakan tali dan batu. Tali yang diikatkan pada bagian swiheal head yang mengarah keatas, dan pada ujung tali diikatkan batu. Dengan bantuan gaya gravitasi dapat dilihat kemiringan swiheal head telah 90o. 7. Pengunci Swiheal Head Berfungsi agar swiheal head tidak turun saat pengeboran berlangsung. Terdapat pada bagian sisi kiri dan kanan swiheal head. 8. Pengait Stang Bor

Berfungsi sebagai penguat dudukan stang bor ketika stang bor ditambah dalam pengeboran. Hal ini dilakukan agar kedalaman pengeboran tanah bisa bertambah hingga titik air tanah yang diperlukan dapat ditemukan.

BAB III PELAKSANAAN

A. Alat dan Bahan Alat Bahan CTM 10000 Selang penghantar air 2” Selang penghisap air 3” Mesin penghisap dan penyembur air 5 PK Mata bor (rock core bit) 4” Ember Waterpass Stang bor 1,5 m Cetok Pacul Gergaji peralon Kunci Trimo Akumulator Saringan slang penghisap Klem pengikat selang (karet ban bekas) Air Bensin PVC 4” Isorplas Penutup PVC 4” Vaselin 1 set 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 4 buah 1 buah 10 buah 2 buah 1 buah 1 buah 2 buah 1 buah 1 buah 4 buah

5 liter 3 lonjor 2 buah 1 buah

B. Cara Kerja 1. Mempersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. 2. Menentukan titik yang akan dibuat sumur bor. 3. Memindahkan CTM 10000 pada posisi yang tepat untuk mengebor pada titik yang telah ditentukan dan memastikan posisinya datar dengan menggunakan waterpass dan mengatur ketinggian tripot. 4. Membuat lubang pada tanah dengan ukuran 50 cm x 50 cm x 50 cm untuk tempat menampung air yang dikeluarkan dari alat bor. 5. Merangkai selang hantar dan selang hisap pada pompa air.

6. Menyalakan mesin CTM 10000 kemudian menegakkan posisi swivel head hingga tegak lurus dengan menghidupkan (“ON”) mesin untuk pengatur putaran pipa bor dan pengatur naik turunnya mesin pemutar pemboran. dan pengaturan penyangga mesin pemutar pipa bor. 7. Merangkai mata bor pada swivel head. 8. Menyalakan mesin pompa air. 9. Mulai mengatur tuas pada CTM 10000 untuk mulai mengebor. 10. Menambah stang bor jika kedalaman tanah belum mencapai sumber air. a. Matikan mesin penghisap dan penyemburan air b. Jepit pipa pemboran dengan klem yang tersedia c. Tekan panel pemutar balik pipa pemboran, agar pipa pemboran terlepas dari swivel head. d. Sambung pipa pemboran. Denga cara menekan panel pemboran agar sambungannya lebih rapat. e. Lanjutkan proses pemboran seperti di atas sehingga mencapai air tanah yang diinginkan. 11. Jika sudah mencapai sumber air selanjutnya mengambil dan melepas stang bor dari dalam tanah. 12. Sambil menunggu selesai mengebor, membuat casing dari PVC 4“. a. Sediakan pipa PVC 4 meter dengan diameter 4“ b. Menggergaji pinggirnya dengan jarak 5 cm/ gergaji. 13. Setelah selesai mengebor, memasang casing pada tanah yang sudah dibor. 14. Mengeluarkan pasir yang masih ada pada casing yang dibor. 15. Menutup casing dengan penutup PVC 4”. 16. Pembuatan sumur bor selesai.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Kondisi Lokasi Pembuatan sumur bor dilakukan di Ngabangan, Godean. Berkisar 100 meter dari Pasar Godean. Pada titik yang akan dilakukan pengeboran terletak di dekat halaman rumah yang terdapat berbagai tanaman hias. Kondisi lingkungan sekitar relatif bersih dan masih banyak pepohonan dan terletak tidak jauh dari jalan raya. Di lokasi pengeboran dibuat lubang 50 cm x 50 cm x 50 cm karena tidak ada kolam atau lubang yang telah ada. Terdapat beberapa rumah di dekat lokasi pengeboran.

B. Hasil Hari/ tanggal Waktu Lokasi Kedalaman Kondisi tanah : Sabtu/ 15 Desember 2012 : 09.00 WIB-14.45WIB : Ngabangan, Sidoluhur, Godean, Sleman : 15 m : relatif halus dan tidak banyak bebatuan di bagian dalam tanah.

C. Pembahasan Pembuatan sumur bor perlu memperhatikan kondisi lapisan tanah yang akan dibor. Selain itu juga memperhatikan sumber air yang ada, sebab pengeboran juga membutuhkan air untuk proses mengebor untuk mempermudah mata bor menembus lapisan tanah dan membantu mengikis tanah agar mudah ditembus oleh mata bor. Pembuatan sumur bor dapat dilakukan dengan beberapa alat bor, dua diantaranya yaitu dengan cara jetting dan menggunakan CTM 10000. Pada prinsip kerjanya kedua cara ini sama, hanya saja yang membedakan selama mengebor, jetting menggunakan tenaga manusia untuk mengebor, sedangkan CTM 10000 menggunakan tenaga mesin untuk mengebor. Penyediaan air bersih salah satunya dapat dilakukan dengan cara pembuatan sumur bor untuk mendapatkan sumber air. Pada praktik ini dilakukan di Ngabangan, Sidoluhur, Godean, Sleman.

Sebelum membuat sumur bor perlu untuk menentukan titik yang akan dibor yang juga perlu memperhatikan estetika juga, selain itu posisi CTM 10000 juga perlu diperhatikan dalam menentukan titik yang akan dibor karena jika terlalu dekat dengan tembok, CTM 10000 tidak bisa mengebor. Selanjutnya, membuat lubang dan jalan air. Prinsip pengeboran sumur menggunakan air untuk membantu dan mempermudah mata bor untuk menembus lapusan tanah. Karena menggunakan air, maka tentunya perlu dibuat jalan air agar tidak membuat tanah sekitar menjadi becek, serta lubang yang dibuat dihubungkan dengan jalan air untuk menampung air. Selanjutnya mulai untuk merangkai kelengkapan CTM 10000 yaitu memasang tripot, memberi vaselin pada gear dan rantai, dan memasang akumulator. Dalam mengebor menggunakan CTM 10000 mesin harus lurus dan tidak miring, dengan demikian perlu mengatur ketinggian ketiga tripot yang menyangga mesin. Waterpass digunakan untuk melihat posisi mesin sudah lurus atau masih miring. Ketika CTM 10000 sudah siap, maka mulai merangkan selang hisap dan selang hantar pada pompa air. Pada ujung selang hisap dilengkapi dengan filter untuk menyaring partikel-partikel yang kasar yang mungkin bisa terhisap. Selanjutnya, memasang selang hantar pada pompa air dan pada ujung yang lain dipasang pada swivel head CTM 10000. Selang hisap diletakkan pada lubang yang sudah dibuat tadi dan pada lubang tersebut diisi dengan air. Setelah semua alat terangkai dan terpasang semua, maka mulai untuk menghidupkan CTM 10000, pada alat bor ini menggunakan sistem hidrolik maka terdapat tida tuas yang digunakan untuk mengoperasikan alat tersebut, adapun tuas-tuas tersebut berfungsi untuk menegakkan swivel head, untuk menaikkan atau menurunkan mata bor dan stang bor, dan yang terakhir untuk mengatur arah putaran bor (ke kanan atau ke kiri). Langkah pertama setelah mesin dihidupkan yaitu menegakkan swivel head hingga tegak lurus dengan menggunakan tuas yang ada. Dalam mengoperasikan tuas harus dilakukan perlahan-lahan untuk menjaga agar mesin tidak terangkat. Setelah tegak barulah memasang mata bor terlebih dahulu. Ketika mata bor telah terpasang baru kemudian menyalakan pompa air, selanjutnya menurunkan mata bor ke dalam tanah secara perlahan dengan menekan tuas untuk menurunkan bor. Selama mengebor harus senantiasa konsentrasi agar tidak terjadi kendala yang mengakibatkan terhambatnya proses pengeboran. Untuk mengebor hingga kedalaman 16,5

meter diperlukan satu buah mata bor dan 10 buah stang bor yang masing-masing memiliki panjamng 1,5 meter. Dengan demikian, perlu dilakukan penyambungan setiap kali mata bor atau stang bor sudah masuk ke tanah cukup dalam. Perlu diperhatikan selama penyambungan hendak dilakukan secara hati-hati sebab jika tidak tidak hati-hati dapat mengakibatkan CTM 10000 melonjak dan bergeser, dan mungkin parahnya lagi dapat mengakibatkan sambungan stang bor yang sudah ada di dalam tanah dapat terlepas sehingga dapat menghambat proses pengeboran dan juga jika tidak dapat terambil dapat menjadi sumber pencemaran air tanah sebab stang bor bisa berkarat di dalam tanah. Pengeboran yang dilakukan di daerah Godean ini relatif lancar dan tidak mengalami banyak kendala yang berarti, sebab dari struktur lapisan tanah yang dibor pun tidak banyak lapisan batuan sehingga pengeboran berjalan relatif mudah dan cepat untuk mendapatkan air. Sebenarnya pada kedalaman sekitar enam meter sudah mendapatkan sumber air, tetapi dengan pertimbangan pada kedalaman enam meter merupakan sumber air tanah dangkal dan dimungkinkan persediaan airnya tidak terlalu banyak. Oleh sebab itu, maka pengeboran dilakukan hingga kedalaman kurang lebih 15 meter untuk mencapai air tanah dalam. Setelah proses pengeboran selesai, barulah mulai untuk mengeluarkan stang bor dari dalam tanah, untuk mengeluarkan stang bor juga dilakukan dengan perlahan-lahan. Setelah semua mata bor dan stang bor dikeluarkan selanjutnya yaitu memasang casing agar memudahkan jalan air untuk dikonsumsi dan juga agar air tidak bercampur dengan dinding tanah. Casing yang digunakan yaitu PVC 4” sepanjang kurang lebih 16 meter yang dimasukkan ke dalam lubang tanah yang sudah dibor tadi, kemudian mengisi koral dan pasir untuk mengencangkan posisi casing agar tidak bergerak-gerak. Supaya hasil dari pembuatan sumur bor, dilakukan penyemprotan dengan air ke dalam casing untuk mengeluarkan pasir yang masih ada di dalam casing, penyemprotan dilakukan kurang lebih selama 0,5-1 jam hingga pasir keluar sedikit atau tidak ada. Setelah itu sumur bor ditutup dan ditunggu selama 1 minggu dengan tujuan mengendapkan lumpur sisa pengeboran sehingga air sumur menjadi jernih. Dengan demikian, air sumur bor dapat digunakan dan dapat untuk dikonsumsi.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan Sumber air yang dibor hingga kedalaman 15 meter. Selama mengebor perlu untuk memperhatikan kecepatan turunnya mata bor. Air dari sumur bor baru dapat dikonsumsi setelah dilakukan penyemprotan selama satu minggu.

B. Saran Hendaknya selama melakukan pengeboran dilakukan dengan serius dpenuh konsentrasi agar selama pengeboran tidak terjadi berbagai macam kendala yang dapat menghambat proses pengeboran.

DAFTAR PUSTAKA

Gabriel. J. F. 2001. Fisika Lingkungan. Jakarta: Penerbit Hipokrates. Hefni. 2003. Basis Pengolahan Sumber Daya Alam Lingkungan Perairan. Yogyakarta: Kanisius. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/33658/4/Chapter%20II.pdf Diakses pada tanggal 18 Desember 2012 http://www.kelair.bppt.go.id/Sitpa/Laporan/airber.html Diakses pada tanggal 18 Desember 2012 Kusnaedi. 2002. Mengelola Air Untuk Air Minum. Jakarta: Rineka Cipta. Robert J.Kodoatie. 1996. Pengantar Hidrogeologi. Yogyakarta: Andi. Seyhan, Ersin. 1977. Dasar-dasar Hidrologi. Editor Soenardi Prawirohatmojo. Yogyakarta: UGM Press. Sosrodarsono. 1976. Hidrologi untuk Pengairan. Jakarta: Pradya Paramita. Subagyo. 1970. Dasar-Dasar Ilmu Tanah, Ilmu Tanah Umum. Jakarta: P.T.Soeroengan. Tri Wulandari Suwandi. Laporan Drilling. http://www.scribd.com/doc/75078911/LaporanDrilling. Diakses pada tanggal 18 Desember 2012.

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat-Nya, sehingga mata kuliah PAPLC-B1 dengan judul “PENYEDIAAN AIR BERSIH DENGAN PENGEBORAN SISTEM CTM 10.000 DI DESA NGABANGAN, GODEAN, SLEMAN, YOGYAKARTA” ini dapat selesai tepat waktu. Terwujudnya Laporan tidak lepas dari bantuan berbagai pihak maka kami mengucapkan terimakasih kepada : 1. 2. Tuntas Bagyono SKM, M.Kes selaku ketua jurusan kesehatan lingkungan H.Purwanto,S.ST, M.Si dan Haryono, SKM, M.Kes selaku Dosen Pembimbing Mata Kuliah PALPLC-A. Ibnu Rois, SST selaku instruktur mata kulaih PAPLC-A. 3. Ayah dan ibu tercinta yang selalu memberi motivasi dan bantuan baik secara moril maupun spiritual. 4. Semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan laporan ini. Kami sadar bahwa Laporan ini belum sempurna, masih banyak terdapat berbagai kekurangan di sana – sini, masih membutuhkan bantuan yang dapat menyempurnakan makalah ini, untuk itu kami sangat mengharap kritik saran yang membangun. Demikian yang dapat kami tulis, kami berharap laporan ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa Poltekkes Kemenkes Yogyakarta pada umumnya dan bagi mahasiswa Jurusan Kesehatan Lingkungan.

Yogyakarta, Desember 2012

Penyusun

LAPORAN PRAKTIKUM MATA KULIAH PENYEHATAN AIR DAN PENGOLAHAN LIMBAH CAIR-A

PENGEBORAN SISTEM CTM 10.000 DI DESA NGABANGAN, GODEAN SLEMAN, YOGYAKARTA
Disusun untuk memenuhi tugas praktik mata kuliah Penyehatan Air Dan Pengolahan Limbah Cair-A

Disusun oleh :
1. Fajar Dian Wasisti 2. Faradella Nofitasari 3. Farah Debby Pangestika 4. Galih Pandu Nuswantoro 5. Ginanjar Atmaja 6. Lukas Andrianus Nugroho 7. Maya Oktavia 8. Novita Dwi Kurnia S 9. Prita Wahyuni 10. Ratna Ariandini P07133111048 P07133111049 P07133111050 P07133111053 P07133111054 P07133111059 P07133111062 P07133111069 P07133111071 P07133111072

NONREGULER A POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN YOGYAKARTA JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN 2012

DOKUMENTASI KEGIATAN

Gambar 1. Proses Pengeboran dengan CTM 10000

Gambar 2. Menyipat Datar Menggunakan Waterpass

Gambar 3. Proses Penyambungan Stang Bor

Gambar 4. Proses Pemasangan Casing

Gambar 5. Kegiatan Mengeluarkan Pasir dari Casing

Gambar 6. Pembuatan Casing

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->