P. 1
Fasilitas Ppn Dan PPnBM

Fasilitas Ppn Dan PPnBM

|Views: 734|Likes:
Published by Bayu Caroko

More info:

Categories:Types, Business/Law
Published by: Bayu Caroko on Dec 22, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF or read online from Scribd
See more
See less

12/16/2015

pdf

FASILITAS DI BIDANG PPN/PPn BM

Pengertian Fasilitas PPN

Di Indonesia, dikenal 4 (empat) fasilitas PPN yaitu : Fasilitas PPN Tidak Dikenakan, PPN Dibebaskan, PPN Tidak Dipungut dan PPN 0% (Nol Persen). Makna keempat fasilitas tersebut adalah sama-sama tidak dibebani PPN. Namun, ada beberapa perbedaan mendasar diantara keempat fasilitas tersebut. Dalam Pajak Pertambahan Nilai (PPN) terdapat 2 fasilitas yang diberikan oleh pemerintah, yakni PPN terutang dibebaskan dan PPN terutang tidak dipungut. Fasilitas PPN terutang dibebaskan yakni PPN yang terutang atas penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak dibebaskan pemungutannya. Artinya, Konsumen tidak perlu membayar PPN yang terutang itu lagi dan bagi Penjualnya (PKP) tidak perlu memungut PPN terutangnya. untuk fasilitas PPN terutang dibebaskan, Pajak yang telah dibayarkan atas perolehan bahan untuk membuat BKP yang dijual (atau Pajak Masukannya) tidak bisa dikreditkan oleh si PKP penjual BKP tersebut. Fasilitas PPN terutang tidak dipungut hakikatnya juga sama, yakni PPN yang terutang dalam penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak tidak perlu dipungut oleh penjual karena ada fasilitas tersebut. Dalam hal ini konsumen juga tidak lagi perlu membayar PPN yang terutang tersebut. fasilitas PPN terutang tidak dipungut, Pajak yang telah dibayar (Pajak Masukan untuk perolehan BKP yang dijual tersebut dapat dikreditkan. Contoh soaL PPN terutang dibebaskan: Pak Ahmad adalah seorang penjual suatu Barang Kena Pajak, misalkan buku. anggap saja atas satu buku tersebut, Pak Ahmad memerlukan biaya sebesar Rp 50.000,dari harga tersebut, Pak Ahmad mengharapkan laba 20% HPP. misalkan atas perolehan bahan2 tersebut Pak Ahmad telah membayar Pajak Masukannya sebesar Rp 5000,karena pajak masukan atas fasilitas PPN ini tidak bisa dikreditkan, maka biasanya Penjual atau pengusaha akan memasukkanya sebagai biaya dan menjadi bagian dari harga poko penjualan. so,, perhitungannya adalah sebagai berikut:

biaya : Rp 50.000, PM : Rp 5000 harga poko penjualan :Rp 55.000 laba diharapkan (20%): Rp 11.000 PPN terutang : Rp 6600 (dibebaskan harga yang dibayar oleh konsumen Rp 66.000 PPN terutang tidak dipungut untuk fasilitas PPN terutang tidak dipungut, karena PM bisa dikreditkan, Pak Ahmad atau pengusaha biasanya tidak akan memasukkannya sebagai biaya ke harga poko penjualan karena juga tidak rugi jika tidak dimasukkan. so,,, perhitungannya sebagai berikut. harga pokok penjualan : Rp 50.000,laba (20%) : Rp 10.000 PPN terutang : RP 6.000 (tidak dipungut) harga yang akan dibayar oleh konsumen : Rp 60.000 Dengan begitu, harga barang yang diberikan fasilitas PPN terutang tidak dipungut lebih murah jika dibanding dengan fasilitas PPN terutang dibebaskan. Dasar hukum pembebasan PPN adalah Pasal 16B Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2000 (selanjutnya disebut UU PPN). Pasal 16B ini memberikan wewenang kepada Pemerintah untuk memberikan fasilitas berupa PPN tidak dipungut atau PPN dibebaskan untuk : a) b) c) d) kegiatan di kawasan tertentu atau tempat tertentu di dalam Daerah Pabean. penyerahan Barang Kena Pajak tertentu atau penyerahan Jasa Kena Pajak tertentu. impor Barang Kena Pajak tertentu. pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud tertentu dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean. e) pemanfaatan Jasa Kena Pajak tertentu dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean.

Untuk melaksanakan mandat UU PPN ini Pemerintah telah mengeluarkan dua jenis Peraturan

Pemerintah yang mengatur fasilitas pembebasan PPN yaitu :  Pembebasan PPN atas impor dan/atau penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak tertentu yang diatur dengan Peraturan Pemerintah Nomor 146 Tahun 2000 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2003.  Pembebasan PPN atas impor dan/atau penyerahan Barang Kena pajak tertentu yang bersifat strategis yang diatur oleh Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2001sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 2007.

TUJUAN FASILITAS 1. mendorong ekspor yang merupakan prioritas nasional di Tempat Penimbunan Berikat, atau untuk mengembangkan wilayah dalam Daerah Pabean yang dibentuk khusus untuk maksud tersebut. 2. menampung kemungkinan perjanjian dengan negara lain dalam bidang perdagangan dan investasi, konvensi internasional yang telah diratifikasi, serta kelaziman internasional lainnya. 3. mendorong peningkatan kesehatan masyarakat melalui pengadaan vaksin yang diperlukan dalam rangka Program Imunisasi Nasional. 4. menjamin tersedianya peralatan Tentara Nasional Indonesia/Kepolisian Republik Indonesia (TNI/POLRI) yang memadai untuk melindungi wilayah Republik Indonesia dari ancaman eksternal maupun internal. 5. menjamin tersedianya data batas dan foto udara wilayah Republik Indonesia yang dilakukan oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) untuk mendukung pertahanan nasional. 6. meningkatkan pendidikan dan kecerdasan bangsa dengan membantu tersedianya buku pelajaran umum, kitab suci, dan buku pelajaran agama dengan harga yang relatif terjangkau masyarakat. 7. mendorong pembangunan tempat ibadah. 8. menjamin tersedianya perumahan yang harganya terjangkau oleh masyarakat lapisan bawah, yaitu rumah sederhana, rumah sangat sederhana, dan rumah susun sederhana. 9. mendorong pengembangan armada nasional di bidang angkutan darat, air, dan udara. 10. mendorong pembangunan nasional dengan membantu tersedianya barang yang bersifat strategis, seperti bahan baku kerajinan perak. 11. menjamin terlaksananya proyek pemerintah yang dibiayai dengan hibah dan/atau dana pinjaman luar negeri. 12. mengakomodasi kelaziman internasional dalam importasi Barang Kena Pajak tertentu yang dibebaskan dari pungutan Bea Masuk. 13. membantu tersedianya Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak yang diperlukan dalam rangka penanganan bencana alam yang ditetapkan sebagai bencana alam nasional.

14. menjamin tersedianya air bersih dan listrik yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat; dan/atau. 15. menjamin tersedianya angkutan umum di udara untuk mendorong kelancaran perpindahan arus barang dan orang di daerah tertentu yang tidak tersedia sarana transportasi lainnya yang memadai, yang perbandingan antara volume barang dan orang yang harus dipindahkan dengan sarana transportasi yang tersedia sangat tinggi.

Penyerahan BKP atau JKP ke Kawasan Berikat yang tidak memperoleh fasilitas adalah: 1. Penyerahan BKP bukan untuk diolah dari DPIL ke PDKB Contoh : PT Sri Rejeki adalah perusahaan industri sepatu yang berkedudukan di Kawasan berikat membeli meubel dari PT Jepara, sebuah PKP industri meubel di DPIL. Karena meubel tidak termasuk BKP untuk diolah lebih lanjut maka atas penyerahan tersebut terutang PPn tanpa fasilitas. 2. Penyerahan JKP dari DPIL ke PDKB Contoh : Kantor Akuntan Publik “ Anggito dan Rekan “ memberikan jasa akuntansi kepada PT Sri Minggat di kawasan berikat, atas penyerahan jasa tersebut dikenakan PPN tanpa fasilitas.

FASILITAS PPN Barang kena pajak Barang Kena Pajak Tertentu Yang Dibebaskan BKP Tertentu yang atas impor dan atau penyerahannya dibebaskan dari pengenaan PPN: 1. Senjata, amunisi, alat angkutan di air, alat angkutan di bawah air, alat angkutan di udara, kendaraan lapis baja, kendaraan angkutan khusus lainnya, dan komponen atau bahan yang diperlukan dalam pembuatan senjata dan amunisi oleh PT. PINDAD, untuk keperluan TNI dan POLRI yang belum dibuat di dalam negeri. 2. Vaksin Polio dalam rangka pelaksanaan Program PIN 3. Buku-buku pelajaran umum, kitab suci dan buku-buku pelajaran agama. 4. Kapal laut, kapal angkutan sungai, kapal angkutan danau dan kapal angkutan penyeberangan, kapal pandu, kapal tunda, kapal penangkap ikan, kapal tongkang dan suku cadang serta alat keselamatan pelayaran atau alat keselamatan manusia yang diimpor dan atau diserahkan dan digunakan oleh Perusahaan Pelayaran Niaga Nasional atau perusahaan penangkapan ikan nasional.

5. Pesawat udara dan suku cadang serta alat keselamatan penerbangan atau alat keselamatan manusia, peralatan untuk perbaikan atau pemeliharaan yang diimpor dan atau diserahkan dan digunakan oleh Perusahaan Angkutan Niaga Nasional. 6. Kereta api dan suku cadang serta peralatan untuk perbaikan atau pemeliharaan serta prasarana yang diimpor dan atau diserahkan dan digunakan oleh PT. Kereta Api Indonesia. 7. Peralatan yang digunakan untuk penyediaan data batas dan photo udara wilayah Negara Republik Indonesia yang dilakukan oleh Tentara Nasional Indonesia. 8. Rumah Sederhana, rumah sangat sederhana, rumah susun sederhana, pondok boro,asrama mahasiswa, dan pelajar serta perumahan lainnya, yang batasannya ditetapkan oleh Menteri Keuangan setelah mendengar Pertimbangan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah

Jasa kena pajak Jasa Kena Pajak Tertentu Yang Dibebaskan JKP Tertentu yang atas penyerahannya dibebaskan dari pengenaan PPN: Jasa yang diterima oleh Perusahaan Niaga Nasional atau perusahaan penangkapan ikan nasional yang meliputi : jasa persewaan kapal, jasa kepelabuhan yang meliputi jasa tandu, jasa tambat, dan jasa labuh, dan jasa perawatan atau reparasi (docking) kapal. Jasa yang diterima oleh Perusahaan Angkutan Udara Niaga Nasional yang meliputi : jasa persewaan pesawat udara dan jasa perawatan atau reparas pesawat udara. Jasa perawatan atau reparasi kereta api yang diterima oleh PT.Kereta Api Indonesia. Jasa yang diserahkan oleh oleh kontraktor untuk pemborongan bangunan rumah sederhana, rumah sangat sederhana, rumah susun sederhana, pondok boro, asrama mahasiswa dan pelajar serta perumahan lainnya dan pembangunan tempat yang sematamata untuk keperluan ibadah. Jasa persewaan rumah susun sederhana, rumah sederhana, dan rumah sangat sederhana. Jasa yang diserahkan oleh Tentara Nasional Indonesia dalam rangka tersedianya data batas dan photo udara wilayah Negara Republik Indonesia.

Barang Strategis BKP Strategis yang atas impor dan atau penyerahannya dibebaskan dari pengenaan PPN:

a. Barang modal berupa mesin dan peralatan pabrik yang diperlukan secara langsung dalam proses menghasilkan BKP, baik dalam keadaan terpasang maupun terlepas tidak termasuk suku cadang. b. Makanan ternak, unggas, dan ikan, dan atau bahan baku untuk pembuatan makanan ternak, unggas, dan ikan. c. Bibit dan atau benih dari barang pertanian, perkebunan kehutanan, peternakan, penangkaran atau perikanan. d. Bahan baku perak dalam bentuk butiran (granule) dan atau perak dalam bentuk batangan. e. Bahan baku berupa kertas uang dan logam uang yang dipergunakan oleh Bank Indonesia dan atau Perum Peruri pembuatan uang kertas rupiah dan uang logam rupiah. BKP Strategis yang atas penyerahannya dibebaskan dari pengenaan PPN: a. Barang hasil pertanian yang dipetik langsung, diambil langsung atau disadap langsung dari sumbernya termasuk hasil pemrosesannya yang dilakukan dengan cara tertentu yang diserahkan oleh petani atau kelompok petani. b. Air bersih yang dialirkan melaui pipa atau dialirkan dengan cara lain baik oleh Perusahaan Air Minum milik Pemerintah maupun Swasta. c. Listrik, kecuali perumahan dengan daya di atas 6600 watt.

Fasilitas di Karimun dan Bintan PPN dan PPn BM Tidak Dipungut atas : 1. Impor BKP. 2. Pemanfaatan BKP tdk berwujud/JKP dari luar Daerah Pabean, sepanjang utk menghasilkan BKP ekspor. 3. Perolehan Dalam Negeri BKP maupun JKP. oleh Pengusaha yang melakukan kegiatan konstruksi dan kegiatan operasi pembangunan dalam rangka pengembangan Kawasan Karimun dan Bintan Impor Barang Yang Tidak Dipungut PPN: Sepanjang dibebaskan dari pungutan Bea Masuk, PPN dan PPn BM yang terutang tidak dipungut atas impor barang berikut ini:  barang perwakilan negara asing beserta para pejabatnya yang bertugas di Indonesia berdasarkan azas timbal balik.  barang untuk keperluan badan internasional yang diakui dan terdaftar pada Pemerintah Indonesia beserta pejabatnya yang bertugas di Indonesia dan tidak memegang paspor Indonesia.

 barang kiriman hadiah untuk keperluan ibadah umum, amal, sosial, atau kebudayaan.  barang untuk keperluan museum, kebun binatang, dan tempat lain semacam itu yang terbuka untuk umum.  barang untuk keperluan khusus kaum tunanetra dan penyandang cacat lainnya.  peti atau kemasan lain yang berisi jenazah atau abu jenazah.  barang pindahan Tenaga Kerja Indonesia yang bekerja di luar negeri, mahasiswa yang belajar di luar negeri, Pegawai Negeri Sipil, anggota Tentara Nasional Indonesia, atau anggota Kepolisian Republik Indonesia yang bertugas di luar negeri sekurang-kurangnya selama 1 (satu) tahun, sepanjang barang tersebut tidak untuk diperdagangkan dan mendapat rekomendasi dari Perwakilan Republik Indonesia setempat.  barang pribadi penumpang, awak sarana pengangkut, pelintas batas, dan barang kiriman sampai batas jumlah tertentu sesuai dengan ketentuan perundang-undangan Pabean.  barang yang diimpor oleh Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah yang ditujukan untuk kepentingan umum.  perlengkapan militer termasuk suku cadang yang diperuntukkan bagi keperluan pertahanan dan keamanan negara.

Proyek Pemerintah dengan Dana Hibah/Pinjaman Luar Negeri : 1. Fasilitas PPN/PPn BM Tidak Dipungut Atas : Impor BKP Pemanfaatan JKP dari luar daerah pabean Pemanfaatan BKP tidak berwujud dari luar daerah pabean Penyerahan BKP/JKP Kontraktor Utama : adalah kontraktor, konsultan, dan pemasok yang berdasarkan kontrak melaksanakan proyek pemerintah yang dibiayai dengan hibah atau pinjaman luar negeri, termasuk tenaga ahli dan tenaga pelatih yang dibiayai dengan hibah Luar Negeri. yang dilakukan oleh Kontraktor Utama sehubungan dengan proyek pemerintah yang seluruh dananya berasal dari hibah atau pinjaman luar negeri:  Apabila proyek pemerintah tersebut hanya sebagian saja yang dananya berasal dari hibah atau pinjaman luar negeri, maka Fasilitas PPN/PPn BM Tidak dipungut hanya atas bagian yang dananya berasal dari hibah atau pinjaman luar negeri (atas pembayaran yang dananya bukan berasal dari hibah/pinjaman luar negeri harus tetap dipungut PPN/PPn BM).

Atas penyerahan BKP/JKP oleh kontraktor utama kepada pemerintah tetap harus diterbitkan Faktur Pajak Standar dengan dibubuhi cap "PPN/PPn BM Tidak Dipungut Eks Peraturan Pemerintah Nomor 42 TAHUN 1995 . Atas perolehan BKP/JKP dari dalam Daerah Pabean oleh Kontraktor Utama untuk pelaksanaan proyek pemerintah yang dananya berasal dari hibah atau pinjaman luar negeri tetap harus dipungut PPN/PPn BM oleh PKP Pemasoknya. Pajak Masukan yang dibayar oleh Kontraktor Utama tersebut dapat dikreditkan.

Fungsi Kawasan kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas mempunyai fungsi sebagai tempat untuk mengembangkan usaha-usaha di bidang perdagangan, jasa, industri, pertambangan dan energi, transportasi,maritim dan perikanan, pos dan telekomunikasi, perbankan, asuransi, periwisata dan bidang-bidang lainnya.Fungsi kawasan meliputi: 1. Kegiatan manufaktur rancang bangun, perekayasaan, penyortiran, pemeriksaan awal, pemeriksaan akhir, pengepakan, dan pengepakan ulang atas barang dan bahan baku dari dalam dan luar negeri, pelayanan perbaikan atau rekondisi permesinan, dan peningkatan mutu. 2. Penyediaan dan pengembangan prasarana dan sarana air dansumber air, prasaran dan sarana perhubungan termasuk pelabuhanlaut dan bandar udara, bangunan dan jaringan listrik, pos dantelekomunikasi, serta prasarana dan sarana lainnya.

Fasilitas Pembebasan  Pemasukan dan pengeluaran barang ke dan dari KawasanPerdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas melalui pelabuhan dan bandar udara yang ditunjuk dan berada di bawah pengawasan pabean diberikan pembebasan bea masuk, PPN, PPnBM ,danCukai. Pemasukan dan pengeluaran barang ke dan dari KawasanPerdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas ke daerah pabeandiberlakukan tata laksana kepabeanan di bidang ekspor dan impor dan ketentuan di bidang cukai. Pemasukan barang konsumsi dari luar daerah pabean untuk kebutuhan penduduk di Kawasan Perdagangan Bebas danPelabuhan Bebas diberikan pembebasan bea masuk, PPN, PPnBM,dan Cukai.Jumlah dan jenis barang yang diberikan fasilitasditetapkan oleh Badan Pengusahaan.

Kawasan Perdagangan Bebas dan PelabuhanBebas Sampai dengan tahun 2008, telah ditetapkan 4 perdagangan bebas dan pelabuhan bebas diIndonesia, yaitu:

   

Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Bintan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Karimun

Hal-hal yang diatur oleh ketentuan di atas adalah sebagai berikut: 1. Sejak tanggal 1 April 2009 Pengusaha di Kawasan Bebas tidak perlu dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak dan Pengusaha Kena Pajak yang telah dikukuhkan sebelum tanggal 1 April 2009 akan dicabut pengukuhannya secara bertahap. 2. Fasilitas Perpajakan di Kawasan Bebas adalah sebagai berikut: Penyerahan Barang Kena Pajak dan Jasa Kena Pajak di dalam Kawasan Bebas dan dari Kawasan Bebas ke Kawasan Bebas lainnya, dibebaskan dari pengenaan PPN atau PPN dan PPnBM. Pernasukan Barang Kena Pajak berwujud dari luar Daerah Pabean ke Kawasan Bebas dibebaskan dari pengenaan PPN atau PPN dan PPnBM serta tidak dipungut Pajak Penghasilan Pasal 22. Pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud dan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean di Kawasan Bebas dibebaskan dari pengenaan PPN. Pemasukan barang Kena Pajak dari Tempat Lain Dalam Daerah Pabean atau dari Tempat Penimbunan berikat ke Kawasan Bebas yang melalui pelabuhan atau bandar udara yang ditunjuk tidak dipungut PPN atau PPN dan PPnBM. Penyerahan Jasa Kena Pajak dan/atau Barang Kena Pajak tidak berwujud dari Tempat Lain Dalam Daerah Pabean ke Kawasan Bebas tidak dipungut PPN. Pengeluaran Barang Kena Pajak dari Kawasan Bebas ke Tempat Penimbunan Berikat dalam hal barang merupakan barang asal luar Daerah Pabean, dibebaskan dari pengenaan PPN dan tidak dipungut Pajak Penghasilan Pasal 22. 3. Fasilitas PPN atau PPN dan PPnBM tidak dipungut atas penyerahan Barang Kena Pajak dari Tempat Lain Dalam Daerah Pabean ke Kawasan Bebas, dapat diberikan apabila Barang Kena Pajak tersebut telah benar-benar masuk ke Kawasan Bebas, yang dibuktikan dengan Pemberitahuan Pabean FTZ-03 yang telah di-endorse oleh petugas Direktorat Jenderal Pajak yang ditempatkan di Kantor Pabean di Kawasan Bebas. 4. Fasilitas PPN tidak dipungut sebagaimana tersebut dalam angka 2 huruf e di atas, tidak perlu melalui endorsement dari pejabat pegawai Direktorat Jenderal Pajak. 5. Untuk mendapatkan fasilitas PPN tidak dipungut, prosedur administrasi yang wajib dilakukan oleh

Pengusaha Kena Pajak yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak dari Tempat Lain Dalam Daerah Pabean ke Kawasan Bebas, antara lain:  wajib menerbitkan Faktur Pajak Standar yang dicap “PPN TIDAK DIPUNGUT BERDASARKAN PP NOMOR 2 TAHUN 2009″.  wajib menerbitkan Faktur Pajak Standar paling lama pada saat pengiriman Barang Kena Pajak ke Kawasan Bebas.  mendapatkan Pemberitahuan Pabean FTZ-03 yang telah di-endorse dengan catatan “DAPAT DIBERIKAN FASILITAS PPN TIDAK DIPUNGUT’ atas pemasukan Barang Kena Pajak ke Kawasan Bebas. 6. Tata cara pemberian endorsement Pemberitahuan Pabean FTZ-03 diatur dalam lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 45/PMK.03/2009 tentang tentang Tata Cara Pengawasan,Pengadministrasian, Pembayaran, serta Pelunasan Pajak Pertambahan Nilai danlatau Pajak Penjualan Atas Barang Mewah atas Pengeluaran danlatau Penyerahan Barang Kena Pajak dadatau Jasa Kena Pajak dari Kawasan Bebas ke Tempat Lain Dalam Daerah Pabean dan Pemasukan dan/atau Penyerahan Barmg Kena Pajak danlatau Jasa Kena Pajak dari Tempat Lain Dalam Daerah Pabean ke Kawasan Bebas. 7. Perlakuan perpajakan atas penyerahan Barang Kena Pajak dan Jasa Kena Pajak dari Kawasan Bebas ke Tempat Lain Dalam Daerah Pabean sebagai berikut:  Pengeluaran Barang Kena Pajak dari Kawasan Bebas ke Tempat Lain Dalam Daerah Pabean wajib dilunasi PPN.  Dalam ha1 Barang Kena Pajak yang dikeluarkan dari Kawasan Bebas ke Tempat Lain Dalam Daerah Pabean adalah Barang Kena Pajak yang tergolong mewah, disamping dikenakan PPN juga dikenakan PPnBM.  Dalam hal Barang Kena Pajak yang dikeluarkan dari Kawasan Bebas berasal dari luar Daerah Pabean atau mengandung bahan baku yang diimpor, disamping dikenakan PPN atau PPN dan PPnBM, juga dipungut Pajak Penghasilan Pasal 22 impor.  Penyerahan Barang Kena Pajak tidak berwujud dan Jasa Kena Pajak dari Kawasan Bebas ke Tempat Lain Dalam Daerah Pabean atau ke Tempat Penimbunan Berikat dikenakan PPN. 8. Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas, yang selanjutnya disebut sebagai Kawasan Bebas, adalah suatu kawasan yang berada dalam wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terpisah dari Daerah Pabean sehingga bebas dari pengenaan bea masuk, Pajak Pertambahan Nilai, Pajak Penjualan atas Barang Mewah, dan cukai.

9. Pada saat Peraturan Menteri Keuangan ini mulai berlaku: 1. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 583/KMK.03/2003 tentang Pelaksanaan Perlakuan Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah Di Kawasan Berikat (Bonded Zone) Daerah Industri Pulau Batam. 2. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 393/KMK.03/2004 tentang Perlakuan Pajak Pertambahan Nilai, Pajak Penjualan atas Barang Mewah dan Bea Masuk di Kawasan Berikat (Bonded Zone) Daerah Industri Pulau Batam. 3. Peraturan Menteri Keuangan 16/PMK.03/2005 tentang PerIakuan Pajak Pertambahan Nilai, Pajak Penjualan atas Barang Mewah dan Bea Masuk, di Kawasan Berikat (Bonded Zone, Daerah Industri Pulau Batam. 4. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 61/~MK.03/2005 tentang Perlakuan Perpajakan dan Kepabeanan. Dalam Rangka Proyek Pengembangan Pulau Bintan dan Pulau Karimun sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 02/PMK.011/2009.

PPN Ditanggung Pemerintah. 1. Peraturan menteri keuangan Nomor 22/PMK.011/2011 tanggal 7 februari 2011 menetapkan bahwa ppn di tanggung pemerintah atas impor barang untuk kegiatan usaha hulu eksplorasi minyak dan gas bumi serta kegiatan usaha eksplorasi panas bumi, dengan syarat : a) Barang tersebut belum dapat di produksi di dalam negeri b) Barang tersebut sudah di produksi di dalam negeri namun belum memenuhi spesifikasi yang di butuhkan; atau c) Barang tersebut sudah di produksi didalam negeri namun jumlahnya belum mencukupi kebutuhan industri. 2. Peraturan menteri keuangan Nomor 26/PMK.011/2011 tanggal 24 februari 2011 menetpkan bahwa PPN yang terutang atas penyerahan minyak goreng sawit kemasan sederhana di dalam negeri oleh pengusaha kena pajak di tanggung pemerintah. Adapun yang dimaksud dengan minyak goreng sawit kemasan sederhana adalah minyak goreng sawit curah yang dikemas dengan merek MINYAK KITA, di produksi oleh produsen yang di daftarkan di kementrian perdagangan dengan model desain dan spesifikasi kemasan yang ditetapkan oleh menteri perdagangan.

Daftar Pustaka

-PajakOnline.Com -Google.com -Buku Perpajakan Indonesia Edisi 2 oleh: Mulyo Agung

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->