Cerita pendek ( cerpen ) merupakan sebuah bentuk karya sastra berupa prosa naratif yang bersifat fiktif.

Cerpen memiliki isi yang relatif pendek dan padat. Tidak seperti karya sastra berbentuk prosa lainnya yang cenderung panjang (noel), cerpen ini memiliki isi yang dapat selesai dibaca dalam sekali duduk, artinya, isi dan jalan ceritanya yang sinfkat. Isinya tidak lebih dari 10.000 kata. Ciri-ciri Cerita Pendek Sebagai sebuah karya sastra berbentuk prosa naratif, cerita oendek tentu saja memiliki unsur instrinsik yang sama dengan karya sastra lainnya. Namun, di samping unsur untrinsik tersebut, cerpen memiliki ciri-ciri khusus yang berbeda dengan karya sastra bentuk prosa naratif lainnya. Adapun yang menjadi ciri khusus cerpen, diantaranya sebagai berikut .  Isinya cenderung kurang kompleks  Fokus cerita terpusat pada satu kejadian  Hanya menggunakansatu alus cerita yang rapat  Tokoh dalam cerpen sangat terbatas dan diulas secara sekilas  Setting yang digunakan biasanya tunggal  Tempo waktunya relatip pendek  Menampilkan konflik yyang tidak menimbulkan perubahan nasib pada tokohnya Cara Membuat Cerita Pendek Setiap pembuatan karya sastra yang berbentuk prosa tentu tak akan pernah terlepas dari yang namanya unsur intrinsik. Baik itu membuat novel atau pun membuat cerpen. Nah, pada bahasan ini penulis akan menyajikan bahasan tentang cara atau lanakah membuat cerpen. Cerita cerpen bisa dalam bebagi jenis, namun langkah pembuatanya memiliki pola dasar yang hampir sama, yakni menampilkan suatu keadaan yang harus dihadapi tokoh atau pelaku, kemudian perlahan-lah muncul sebuah masalah atau konflik yang pada akhirnya akan mencapai puncaknya, setelah itu konflik akan mulai mereda dan masalahpun bisa diselesaikan prlaku. Berikut ini adalah beberapa hal yang harus dipahami dan diperhatikan ketika anda hendak membuat sebuah cerpen. 1. Tema. Setiap tulisan agar dibuat tentu harus memiliki arti atau pesan yang tersirat agar hasilnya bisa dinikmati. Untuk itu, anda memerlukan sebuah tema yang berfungsi sebagai tali penghubung antar awal cerita dan akhir cerita. Apapun yang ingin anda tulis, usahakan selalu berkaitan dengan tema ini. 2. Tempo Waktu. Tempo waktu penceritaan dalam sebuah cerpen sangatlah pendek, yakni hanya dalam hitungan hari atau bahkan dalam hitungan jam. Tempo yang singkat ini biasanya berupa gambaran tentanga suatu kejadian yang dialamu=i atau terjadi dalam kehidupan tokoh utama. Usahakan agara tema yang Anda angkat tadi bisa dimunculkan dalam kejadiana yang dialami si tokoh. 3. Setting. Ingat setting dalam cerpen ini bersifat tunggal, jadi anda harus pintar dalam memilih setting. Usahakan agar setting yang dipilih cukup familliar dengan calon 1

Baca ulang. bahkan mengalami dan mengatas masalahnya sendiri.pembaca agar mereka pun bisa merasakan suasana cerita melalui setting yang anda pilih tadi. Jika dua hal ini anda abaikan. Penokohan.  Menciptakan krisi yang berfungsi sebagai kesempatan terakhir bagi protagonis untuk memecahkan masalahnya  Menyelesaikan ketegangan dengan membuat protagonis lolos dari lubang jarum melalui kreativitas keberanian intelijensia. mati-matian. Alur. Tentu saja sudut pandang orang ketiga akan lebih leluasa mengeksplorasi si tokok dan bagaimana penokohan berlangsung. orang vs alam. bukan mustahil cerita yang menarik sekalipun akan kehilangan maknanya karena pembaca sudah lebih dahulu terpengaruh format penulisan yang tidak rapi. 1 sampai 2 tokoh rasanya sudah sangat cukup. atau sebagai narator terpisah yang menyajikan pengalaman dan pengamatan dari beberapa karakter (orang ketiga yang mahatau). sebaiknya anda membaca terlebih dahulu. akan menetukan jalan cerita. 5. sehingga efektivitas cerita tetap terjaga. 2 . orang vs masyarakat. membuatnya antagonis untuk melayani mereka yng protagonis makan harus ada pertentangan yang fair  Menetapkan karakter terpercaya dan pengaturan. Titik pertama orang pandang akan mengacu pada karakter sentral sebagai „aku‟ bukan „dia‟ atau „dia‟  Pengembangan dan kekuatan dari sudut pandang narasi. untuk menciptakan cerita dimana pembaca akan peduli  Membangun ketegangan cerita pendek dengan memiliki tokoh protagonis yang die hard. Munculkan alur yang baik.  Buat protagonis atau karakter utama ini harus menjadi yang paling berkembang dan biasannya karakter paling simpatik dalam cerita  Buat masalah atau konflik atau sudut kerja bagi protagonis. Sebelum mempublikasikan cerpen yang anda buat. Langkah langkahnya antara lain :  Pilih titik narasi sudut pandang cerita pendek. atau sebagai narator terpisah yang menyajikan pengalaman dan pengamatan ( orang ketiga yang terbatas ). Anda dapat menulis kisah sebagai dalam salah satu karakter ( orang pertama ). atau orang vs tuhan atau nasib. dengan deskripsi yang jelas dan dialog. Konflik dari cerita pendek harus mengambil salah satu ari lima bentuk dasar: orang vs orang. Hal ini biasanya disebut sebagai klimaks cerita  Memperpanjang fase resolusi. Alur ini akan sangat menentukan menarik tidaknya sebuah cerita. namun akan kehilangan greget dalam proses pencarian jati diri. Tokoh dalam cerita pendek sangatlah terbatas dan itu pun hanya dibahas sekilas. orang vs dirinya sendiri. 4. atau atribut positif lainnya. di awal paragraf cerpen anda agar pembaca merasa tertarik dan penasaran untuk mengetahui kelanjutan cerpen yang anda buat. 6. Perhatikan penggunaan tanda baca dan tata bahasa yang anda pakai. jadi jangan terlalu banyak menyertakan tokoh dalam cerpen. jika nada sukam dengan merefleksikan tindakan dan cerita dan signifikansinya dengan karakter atau masyarakat. Jika anda memilih orang vs orang.

Apa gunanya penulis mencoba membuat konflik untuk pembaca? 3. 2. Kesesuain fakta di dalamnya.Cara menulis analisis kritis dari cerita pendek Sebuah analisis lritis perlu pada cerita pendek dan menunjukkan bahwa yang “tersembunyi” pesan yang menyebalkan dari penulis dapat diterjemahkan dan menentukan apakah itu jelas disampaikan. Putuskan apa makna dari cerita yang dibaca. Hal ini baik merangsang keingintahuan para siswa sekolah agar bisa mengasah cerita versi sendiri. Cerita pendek umumnya bertujuan untuk membangkitkan tanggapan emosional tunggal dalam pembaca. Menganalisis unsur-unsur sastrawi 3 . Karakter yang masuk akal dan sejenisnya. Nah langkahnya : 1.

Waktu itulah sebuah tangan menepuk pundakku. dan lelah yang sudah tidak aku pedulikan lagi. Dan baunya bukan main harum. Mengumpulkan tenaga. mengerahkan jiwa-raga untuk mengakhiri habis-habisan benturan yang sudah berlangsung ratusan tahun ini. Semerbak sehingga medan pertempuran yang anyir oleh bau darah itu berubah jadi kamar hotel berbintang sembilan yang sensual.” ”Kenapa? Apa yang bisa aku lakukan. Imanku sudah runtuh mendengar sapa yang menyengatkan listrik ribuan voltase itu.” 4 .MENJELANG pertempuran terakhir yang menentukan. komandan termenung seperti membaca apa yang akan terjadi. aku datang membawa pesan untukmu. Abang punya waktu sebentar aku ganggu?” ”Pesan apa?” ”Jangan memandang ke depan hanya sebatas pandang. Hidup atau mati itu soal nanti. Bila subuh pecah dan matahari menyerakkan bara di langit timur.” ”Kalau Abang hanya melihat yang ada di depan Abang. Aku tak berani menoleh. aku hanya manusia biasa yang sudah bertahun-tahun tidak sempat tidur. kami harus menyerbu. bersiap. rasa sakit. ”Bang. ”Bang. memang begitu. Kawan-kawanku ada yang berbaring tidur untuk menikmati mimpinya yang mungkin tidak akan pernah lagi kembali. Paling banter Abang hanya akan kepingin menaiki tiang itu untuk mengibarkan bendera. Setan datang dengan wajah yang gemilang. kami semua. para prajurit.” ”Betul. Roda sejarah ini tidak boleh berhenti.” suaranya mendesah membasahi telinga. Di depan nyala api. sisasisa peluru. Abang hanya akan melihat sebuah tiang bendera. Di pangkuanku senjata. Aku duduk di batang pohon kelapa yang mati disambar geledek. Lebih cantik dari semua bintang layar kaca atau bidadari di kelir wayang yang pernah aku tonton. Senyumnya menghancurkan seluruh duka yang bersembunyi di balik tulang dan uraturatku yang sudah patah dan rengat. Ada yang menulis surat buat keluarganya meskipun dia tahu semua itu tidak akan pernah sampai.

Itu tidak perlu terjadi. Tembak semuanya itu. Karena itu. Kehidupan ini bukan milik rakyat. Enam puluh lima tahun lagi.” ”Kenapa?” ”Enam puluh tahun lagi dari sekarang. dan para cerdik pandai yang nenjadi selebriti karena teori-teori kemanusiaannya yang luar biasa cerdas. Jalan layang melilit kota. Tambah sakit lagi tidak akan berarti apa-apa.” ”Itu bodoh. Tapi tidak apa. Abang akan menyesali apa yang sudah Abang lakukan. kesenian. Buanglah senjata yang tidak akan sempat meletus itu. dan agama. Aku sudah biasa sakit.”Paling banter Abang hanya akan menikmati bendera itu mengibas-ngibas ditiup oleh angin yang bertiup membawa asap knalpot. tetapi tak pernah berpihak kepada kemanusiaan. Abang harus terus hidup untuk mengalami apa yang akan terjadi. karena langit sudah dihancurkan oleh dosa-dosa pembangunan. bersihkan musuh-musuh dalam selimut yang sudah membuat enam puluh lima tahun merdeka itu lebih neraka dari apa yang ada sekarang. tidak! Abang tak perlu meletakkan senjata. pohon-pohon itu akan ditebangi jadi jalan dan mall. itu melanggar janji seorang prajurit.” ”Tidak apa. Kecuali kalau Abang terima ini!” Setan mengulurkan sebuah cek. Di jalanan tidak ada lagi ruang bagi pejalan kaki dan sepeda. tetapi di samping dan di belakang. tidak ada lagi yang akan sempat melihat pagi dan senja merah. dan debu-debu kotor yang penuh penyakit. pertempuran yang tidak seimbang ini akan memusnahkan kami semua. Termasuk menipu. Uang adalah dewa yang paling tinggi yang ingin dimiliki oleh semua orang dengan segala macam cara. Demi merdeka jiwa-raga harus rela dikorbankan. Aku diminta menyampaikan ini kepada Abang. semua direbut oleh kendaraan mewah punya para konglomerat. Karena itulah gunanya senjata itu diberikan. Terutama di dalam diri Abang sendiri. Untuk apa berjuang kalau hanya untuk mati?” ”Untuk merdeka.” ”Abang sudah tertipu! Lihatlah ke depan. Sebentar lagi ini akan berakhir. sampah pabrik. ketua-ketua partai. menindas. Tetap saja angkat senjata Abang dan kemudian tembakkan. juga mempergunakan ideologi. terimalah ini. Pencakar-pencakar langit akan menancap di setiap jengkal tanah di seluruh tubuh kota. Begitu rona merah menebarkan api di langit. Tapi jangan menembak ke arah depan. ”Berapa saja angka yang Abang taruh di atasnya. tapi para pemimpin. ilmu pengetahuan.” ”Aku harus meletakkan senjata? Tidak!” ”O tidak. cek ini akan bunyi tetapi dengan satu syarat. kalau Abang merdeka. karena senjata-senjata kuman sudah terlebih dahulu akan mematuk nyawa Abang.” 5 . membunuh. Karena musuh yang sebenarnya bukan di depan. Dalam waktu sekejap Abang akan sakit.

Senjata itu terlepas dari tanganku. Belum pernah aku menikmati kenikmatan yang begitu panjang dan seakanakan tidak akan pernah berakhir. apalagi ia datang menyerahkan diri kepadaku tanpa syarat. Tetapi. Aku melambung dilalap kenikmatan yang belum pernah kualami. Bangun. tembak. sehingga aku tepercik oleh darah yang menetes dari lubang peluru di dahinya. mereka menyerbu sebelum kita sadar. Lalu mencium dengan mulutnya menempel seperti bekicot. lalu langsung roboh.” ”Tapi. tiba-tiba sebuah tangan menepuk pundakku. Lupa pada gambar yang sudah ditempelkan setan di benakku tentang kebobrokan 65 tahun yang akan datang. aku tidak bisa bilang tidak. karena aku akan kecewa dan sedih. Mereka itu musuh dalam selimut. Apa aku harus menolak apa yang dikejar oleh semua orang dengan mengorbankan jiwa-raga dan kehormatannya. Aku gugup tapi berdiri. Lupa pada cek yang ada di kantung. ”Menembak ke dalam diriku sendiri?” ”Ke samping dan ke belakang juga.” ”Bukan. Di depanku. aku angkat senjata. Wajahnya begitu dekat. Aku kelenger. katanya. Apa yang lebih berharga lebih dari rasa bahagia. jangan tidur. itu bunuh diri. karena setan sudah memilih. Aku hanyut dan menyerah. sehingga aku menempelkan telingaku untuk mendengar. berkenan? Mohon jangan menolak. Ia membuka mulutnya tetapi begitu lemah. Sekitarku sudah menjadi lautan mayat. Semua temanku sudah tertembak mati. Dia langsung menjatuhkan diri ke pelukanku. Tinggal aku sendiri yang luput karena sudah bermimpi atau memang aku disisihkan supaya katut menang. Ketika aku terbangun.” Aku terkejut.” ”Bukan.” Setan tidak menunggu jawabanku. Pagutan tangannya adalah lengan-lengan gurita yang mengurung dan membelit sukma sehingga aku ringsek total. sementara cek yang diselusupkan ke kantung bajuku seperti tangan nakal yang merogoh liar kegairahanku. Aku terpanggang di dalam api setan. sahabat karibku berlumuran darah. ”Bagaimana. Itu pembersihan rohani!” ”Itu berarti aku akan membunuh teman-teman seperjuanganku sendiri. sehingga dalam ketegangan yang tak tertahan. aku terperanjat. Aku ingin berada di puncak kebahagiaan itu selama-lamanya. Ciuman lengket itu membuat tubuhku meleleh.Aku tercengang. Tapi mana 6 .

aku sakit! Tiba-tiba sebuah tangan menepuk pundakku. hajar habis semua kebiadaban itu. sehingga aku benar-benar merasa sebagai orang yang bebas dan merdeka. ludahi. Hutan dan gunung gundul. narkoba.” Aku terkejut. Kesedihanku berubah jadi kegembiraan. Terima kasih Tuhan! Tapi. petualang-petualang politik dan para elite yang melihat kehidupan dari balik teori-teori akademisnya yang abstrak. Musim hujan tidak karuan. Aku malu. Jantungku yang robek dijahitnya kembali. akan tetap menjadi budak yang tidak punya masa depan. banjir. flu babi. kata setan. longsor tetapi hutan terbakar. Kalimat-kalimat itu seperti ujung jarum yang menembus kuping dan masuk langsung ke hulu hatiku. 7 . Aku terlempar ke 65 tahun yang akan datang di tahun 2010. Bencana alam menghantam. sementara aku memejamkan mata.senjataku. Sedang hulu hatiku yang tertutup dibukanya lebar-lebar agar udara yang segar berembus masuk mencuci pikiranku yang sumpek. Tiba-tiba. Setan tertawa ngakak. disintegrasi. ”Apa? Coba ulangi!” Taksu mengucapkan sekali lagi. Taksu. Tanganku kosong. senjata entah di mana. Gagah dan bergelora dikibas-kibaskan angin. Kalian. mereka yang pernah menderaku selama 27 tahun itu akan terus menyandera diri dan jiwaku. tapi suaraku ditelan kebekuan kalah. di atas sana aku lihat bendera sang saka berkibar di puncak tiang. Kemerdekaan hanya buat orang kaya dan yang berkuasa. Aku berteriak histeris. tanganku kaku. Aku ingin menjadi orang yang merdeka. Negeriku sudah merdeka. aku terperanjat. Sungai kering dan laut terpolusi. kemiskinan. Betul tidak. korupsi. Aku angkat tanganku. gunung meletus. berdiri di depanku dan berbisik. Bukan kalian yang akan menulis sejarah tapi para konglomerat. gontokgontokan agama. Rakyat kelaparan sementara para pejabat sibuk bertengkar saling menyalahkan dan menghasut dialah yang paling tepat memimpin. anakku. Kupandang Taksu seperti melihat terowongan gelap. Aku jadi muak! Benci! Marah! Sumpek! Aku sumpahi. ketika memandang di sekitar. Hujan. Demam berdarah. sumur bumi muncrat menenggelamkan kota dalam kubangan lumpur. Karenanya aku buang semua kebencian itu. Rakyat bebas. Aku menadahkan muka ke atas menjerit minta pertolongan. tapi tidak bisa. Aku berontak. Ketika kubuka mata. ”Kalau kubiarkan dan pelihara terus kekesalan dan kebencian kepada para penindas. aku luka. 220 juta kawula. Keos! Lalu aku dengar setan tertawa. Aku meledak. betul tidak apa yang aku aku katakan. Tidak ada gunanya kemerdekaan.

” 8 . wah. marah. Entah dari mana perasaan yang indah itu begitu saja merasukiku. dan mulia. dengki. salah satu kawanku di FB. wah! Hebat!” ”Yang hebat Nelson Mandela!” ”Tidak! Teman kamu dan kamu juga hebat! Hanya orang-orang yang hebat mengerti maknamakna yang hebat. dia berhenti. ”Kamu hebat sekali.Begitu Taksu selesai bicara. Segar. dan siap untuk ditempuh sekali lagi. hebat sekali dia!” ”Itu kutipan dari ucapan Nelson Mandela. daripada membantah aku memejamkan mata kembali. Luar biasa! Aku tatap anakku dengan kagum. Buat aku sih biasabiasa saja. ”Berarti Bapak juga hebat dong sebab memuji kalimat itu setinggi langit. Indonesia di usia 65 sudah inflasi kata-kata mutiara. ”Mengerti apa?” ”Apa sejatinya makna kemerdekaan. Kuno! Kata-kata mutiara bisa dibuat seratus biji dalam satu menit. dan berangasan!” Taksu ketawa mengejek. tak terbatas. Aku seperti dilahirkan lagi. tetapi tindakan selalu lebih konkret dari kata-kata yang hanya akan menenggelamkan Bapak ke dalam mimpi siang! Good-bye!” Sebaliknya. Sekecil apa pun. Itu pemahaman kemerdekaan yang luar biasa. dan penuh dengan harapan. Taksu! Sejak kapan kamu berpikir mulia begitu?” Taksu membuka HP. ”Sekarang aku mengerti. Itu pemaknaan yang baru terhadap kemerdekaan yang membuat horison menjadi berbeda. Luas.” ”Waduh. Seperti aku harapkan. ”Itu pesan Facebook dari Yulie Panthi.” gumanku ketika istriku lewat mau ke dapur. dewasa. tetapi bukan itu yang kita perlukan. bersemangat. dan lapang dada. lega. kubuka mata seperti orang baru sadar dari pingsan. yang sangat perlu direnungkan oleh seluruh bangsa Indonesia sekarang yang hatinya penuh benci. Nelson Mandela sudah meniupkan angin baru yang membuat aku bebas. Kita memerlukan tindakan.” ”Pemimpin Afrika Selatan itu?” ”Betul!” ”Wah.

mulia. istriku. si Taksu yang masih mentah 9 . Orang kecil. Tetapi nyatanya Nelson Mandela sudah membuktikan itu. iyalah Pak. Karenanya aku buang semua kebencian itu. itu sih wayang. adil. akan terus menyandera diri dan jiwaku. Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia.” ”Memang dari dulu begitu kan? Masak baru tahu? Makanya Bung Karno dan Bung Hatta memproklamirkan kemerdekaan kita. ”Melupakan? Masak?” ”Ya! Kelihatannya tidak mungkin. rakyat jelata. bahkan sepele.” Dewi.” ”Dan apa sejatinya makna kebebasan?!” ”Apa?” ”Melupakan!” Istriku terkejut. dan sangat agung pikirannya kan. Bu?” ”Ya. Anak kita. Hal-hal mengenai pemindahan kekuasan dan lain-lain akan diselenggarakan dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. sehingga ketika dibebaskan dia masih sehat jasmani dan rohani sehingga mampu memimpin sebagai presiden pertama Afrika Selatan!” Lalu kuulangi Mandela seperti yang aku dengar dari Taksu. Tetapi karena dia membuka makna-makna di dalam kehidupan. ”Kalau kubiarkan dan pelihara terus kekesalan dan kebencian kepada para penindas. Bukan hanya karena dia berdiri paling depan kalau kita berperang. Aku ingin menjadi orang yang merdeka. mereka yang pernah menderaku selama 27 tahun itu. buruk. Bu. sehingga aku benar-benar merasa sebagai orang yang bebas dan merdeka. seperti kita juga harus meneladani apa yang ditemukan oleh orang-orang besar itu. ”Jadi Bapak setuju pada Mandela?” ”Lho bukan hanya aku yang sudah tua bangka ini. orang besar memang pikirannya juga harus besar!” ”Lho. ”Hebat. padahal usianya sudah uzur. meskipun memang pantas dibenci!” Istriku termenung. Tidak seperti kita sekarang di Indonesia ini yang sibuk membenci orang lain. Karena itulah kita sebut dia pemimpin. bukan orang besar saja. Bukan hanya kita yang sudah bangkotan karena kebanyakan makan garam ini saja. manggut-manggut. Tak mungkin orang besar dari Afrika Selatan itu mampu bertahan disekap puluhan tahun di penjara. dan khususnya kemerdekaan itu. sehingga kita bisa melihat apa sebenarnya inti baik.”Apa?” ”Bebas.

Justru dia yang tadi membacakan pikiran agung Nelson Mandela itu kepadaku. dan waras!” Dewi menganguk-angguk. wajib. Aku bergegas masuk. Kita harus menjadi manusia yang merdeka. Tak cukup kepada beberapa tetangga. Tapi kalau di hati sudah rusuh dan kotor. Tak ada yang lebih indah dari seteguk teh panas manis di ujung puasa. Perasaanku jadi tenang setelah mendapat siraman kebenaran dari Mandela. bebas. hampir semua. setelah diberi penjelasan. tahu. 10 . tetapi rohani.” ”Lho. terdengar suara azan dan beduk tanda buka puasa. Aku pujikan usaha berpikir positif. sepakat menganggap Nelson Mandela sudah memasok rumusan penting untuk membuka citra baru tentang apa itu merdeka. Ya nggak?” ”Jadi Bapak sekarang pengikut Nelson Mandela?” ”Bukan. yang konkret dan arif-bijaksana itu. Tepat sekali. Yang menyenangkan. Ketika membuka pintu. Hanya kata-kata. sehat. suamimu ini tidak akan sambat lagi. tetapi cukup bisa mengubah perasaanku. Masak aku mesti makan semuanya itu sekali lagi sekarang sesudah 12 jam tidak makan dan minum? Mana pecel lelenya?” Istriku cepat datang. keplok tangan. Perubahan itu tidak dimulai dari penampakan jasmani. Aku tularkan konsep kemerdekaan yang membebaskan perasaan itu kepada semua orang. Kalau di dalam sini sudah bener. ini bukan kultus individu. apa saja.itu. plong sekarang oleh kebenaran yang diulurkan Mandela. Pikiranku seperti dicuci bersih. dan ikan asin lagi. dan mesti kita laksanakan. Tetapi pikirannya tentang kemerdekaan dan kebebasan itu sangat agung. Kutumpahkan ucapan Nelson Mandela itu. Begitu hebatnya arti kata-kata. Sore hari baru aku pulang. Bapak kalau lagi senang suka melebih-lebihkan begitu. lengkap dengan kecap manisku. Tempe. yang baik dan sudah adil juga jadi salah. juga setuju. Nikmat. lalu nyruput teh manis panas yang sudah dihidangkan istriku. Hal-hal yang baik tidak ada gunanya kalau tidak disosialisasikan! Ini ibadah!” Aku bergegas keluar. Umpama Ibu hanyamasak tempe-tahu atau ikan asin tok seperti biasanya. Batu pun rasanya sekarang enak!” ”Ah. Dia juga manusia biasa. semuanya akan jalan. harus. Perutku langsung gemeletuk minta diisi. Tapi ketika membuka tutup meja makan aku terkejut. kusamper warung dekat rumah. kalau mau mengubah keadaan baik di Indonesia maupun di batin kita sendiri. bukan. aku serius! Ini penting sekali. sehingga aku seperti mendapat pencerahan. Nelson Mandela tidak usah dipuja-puja. Itu dia kehebatan seni. perlu. ”Sekarang aku ke tetangga dulu dan menyebarkan virus kemerdekaan dan kebebasan Nelson Mandela ini. ”Kok hanya tempe-tahu dan ikan asin tok? Beribu-ribu kali aku sudah makan tempe-tahu dan ikan asin.

dan lapang. Bapak bilang. merdeka. Kita belikan dia motor baru. Tempe-tahu dan ikan asin tiap hari. ya sudah. Tempe-tahu dan ikan asin juga enak kalau batu saja enak!” Kontan kulupakan pecel lele. kalau aku sudah bilang begitu. kalau hati sudah plong. tapi setelah itu Bapak bilang …” ”Pecel lele!” ”Tidak! Setelah minta pecel lele. ”Besok pagi kita kabulkan permintaan Taksu yang sudah dua tahun kita tunda. karena khawatir dia ketularan budaya kemewahan. karena kesal dicurigai mau nagih hutang-nagih hutang melulu. takut akan aku tagih! 11 . Peluh berleleran dari kepalaku.” ”Tidak bisa!” ”Lho. Daripada aku tekanan batin sampai malas keluar rumah ketemu tetangga. bersih. ”Aku bilang begitu?” ”Ya. karena memang sudah lama betul belum dikembalikan. Istriku takjub seperti tak percaya. Dengan garang aku lahap tempe-tahu dan ikan asin itu dengan nikmat. Pak. seperti ada hantu. kenapa tidak? Tiga bulan lalu mestinya sudah mereka kembalikan!” ”Itu dia. ”Ya. apa pun jadi baik. Lalu aku berbisik mesra untuk membuktikan kenikmatanku. bukan tempe-tahu dan ikan asin! Pecel lele!” ”Ya Bapak memang minta pecel lele. ”Bener nikmat?” Nikmat sekali.”Kenapa Pak?” ”Kenapa tempe-tahu dan ikan asin lagi. kembali pada Nelson Mandela. Mana pecel lelenya? Aku kan sudah minta sekali ini pecel lele? Aku kan minta pecel lele?” ”Ya!” ”Mana?” ”Tapi?” ”Jangan tetapi! Pecel lele! Mana? Aku kan minta pecel lele. Nggak ada masalah. Batu pun jadi enak!” Aku tertegun. Ibu tarik semua uang kita yang dipinjam oleh tetangga-tetangga. Tempe-tahu dan ikan asin itu aku andaikan dalam hati ikan reca-reca. Bapak bilang begitu!” Aku terhenyak. setiap aku keluar mau bersilaturahmi mereka langsung mencelup masuk. memang harus begitu.

ya sudah. sekarang aku sudah bisa tenang lagi seperti kata Nelson Mandela. Jadi. Batu-batu itu mengganjal kerongkonganku sehingga aku tercekik. alangkah beratnya hidup sesudah merdeka!” *** 12 . ya Tuhan. alangkah beratnya memperjuangkan kemerdekaa. Tapi seberat-beratnya berjuang merebut kemerdekaan. ”Ya Tuhan. Supaya bisa bebas dari tekanan batin dan merdeka lagi. hutanghutangnya dilupakan saja semua.Sudah berapa hari ini aku jadi segan keluar rumah. tadi aku datangi mereka dan bilang pada semuanya.” Aku langsung berhenti makan. Tempe-tahu dan ikan asin itu terasa sekeras batu.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful