KELOMPOK: IV

KETUA ANGGOTA : WAHYUNISA : MARIANUM SITI JUBAIDAH RINA PUSPITA SARI M. RIZKI ATHAR FAKHRIZUL IKRAM :XII IPA 1

KELAS

MADRASAH ALIYAH NEGERI 2 TANJUNG PURA 2010-2011

Maksud dan tujuan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas bidang studi Al-Qur’an Hadist tahun ajaran 2011-2012. Adapun judul makalah ini. Dengan selesainya makalah ini semoga dapat berguna bagi para pembaca sekalian. “Nama-nama Al-Qur’an”. sehingga kritik yang positif tersebut dapat memberikan kelengkapan isi makalah ini. Segala puji bagi Allah yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik. . kritik dan saran sangat diharapkan dari pembaca sekalian. Kemudian sholawat beriringkan salam kepada Rasulullah SAW. Dalam menyelesaikan makalah ini kami banyak mengalami kesulitan dan hambatan.KATA PENGANTAR Dengan nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. makalah ini belum sempurna disebabkan masih sedikitnya ilmu yang dimiliki oleh karena itu. Amin Ya Rabbal ‘Alamiin…. akan tetapi berkat kesabaran serta bimbingan dari guru pembimbing sehingga akhirnya semua kesulitan dan hambatan itu dapat diatasi dengan baik.. serta kepada keluarga dan para sahabat – sahabatnya.

pada suatu masa tertentu. Contoh mengenai ijma’ antara lain ialah menjadikan sunnah sebagai salah satu sumber islam. Sedangkan dalam tatanan ilmu yang lebih luas lagi. dengan diam (sukut). dan melalui qiyas kasus-kasus yang timbul dapat dipecahkan melalui deduksi analogy. Ijma’ Sukuti. ijma’ ini harus berdasarkan Al-Qur’an dan sunnah dan tidak boleh didasarkan pada yang lainnya. Para ulama berbeda pendapat mengenai jumlah mujtahid yang setuju atau sepakat dengan ijma’. yaitu: 1. yaitu apabila sebagian mujtahid yang memutuskan hukum itu tidak semuanya menyatakan setuju baik dengan lisan maupun tulisan melainkan mereka hanya diam. Sementara itu kesepakatan orang – orang yang bukan mujtahid sekalipun mereka alim atau pun kesepakatan orang – orang yang semasa dengan Nabi tidaklah dissebut dengan ijma’. Sedangkan menurut istilah yang dimaksud dengan ijma’ adalah kesamaan pendapat para mujtahid umat Nabi Muhammad saw. dengan ucapan (qauli). Tidak sah ijma’ jika salah seorang ulama dari mereka yang hidup pada masa itu menyalahinya. 2. Macam – Macam Ijma’ Dilihat dari sikap para mujtahid dalam mengemukakan pendapatnya. ijma. Semua mujtahiod atau bahkan semua umat islam sepakat (ijma’) menetapkan sunnah sebagai slah satu sumber hokum islam. yaitu apabila semua mujtahid menyatakan persetujuannya atas hukum yang mereka putuskan. Dengan ijma’ pemikiran para ahli hukum dapat diaplikasikan dalam proses penetapan hukum suatu kasus.IJMA’ Pengertian Ijma’ Ijma’ berarti sepakat. yaitu kesepakatan para mujtahid dalam mengamalkan sesuatu. Namun pendapat jumhur. 3. dengan lisan maupun tulisan. Ijma’ Sharih. Jumhur ulama berpendapat bahwa ijma’ yang dapat dijadikan landasan hukum adalah ijma’ sharih sedangkan ijma’ sukuti tidak. dengan perbuatan (fi’li). setuju atau sependapat. ijma’ dibagi dalam beberapa macam: . Kesepakatan ulama dapat terjadi dengan tiga cara: 1. 2. Contoh lain ialah tentang pembukuan Al-Qur’an yang dilakukan pada zaman khalifah Abu Bakar Siddiq. itu disyaratkan setuju paham mujtahid ulama yang ada pada saat itu. ijma’ terbagi dua. yaitu apabila tidak ada diantara para mujtahid yang membantah terhadap pendapat satu atau dua mujtahid lain dalam suatu masalah. Selain itu. Setelah beliau wafat. yaitu kesepakatan yang berdasarkan pendapat yang dikeluarkan para mujtahid yang diakui sah pada suatu masalah.

An-Nisa’ ayat 59. 5. karena nash baik yang berupa Al-Qur’an dan Sunnah sudah tidak turun lagi atau sudah berhenti. yaitu kesepakatan 4 khalifah (Abu Bakar. Dan Ulil Amri (pemegang kekuasaaan) di antara kamu” Menurut sebagian ulama bahwa yang dimaksu dengan ulil amri fiddunya yaitu penguasa. Sebab – Sebab dilakukan Ijma’ Diantara sebab – sebab dilakukannya ijma’ adalah: 1. Ali) dalam suatu masalah. Utsman. yaitu kesepaktan ulama – ulama Madinah dalam suatu masalah. Sedang ulama – ulama hanafi dapat menerima ijma’ sebagai dasar hukum baik ijma’ Qath’iy maupun zhanny. 7. Apabila mujtahid telah sepakat terhadap suatu ketetapan hukum suatu peristiwa atau masalah. Sebagian ulama lain menafsirkannya dengan ulama. maka mereka wajib ditaati oleh umat. Ijma’ Ummah. Ijma’ Khalifah yang 4. Ijma’ ini menempati tingkat ketiga sebagai hukum syar’I. “ wahai orang – orang yang beriman. yaitu kesepakatan ulama – ulama kufah dalam suatu masalah. yaitu kesepakatan pendapat dari ahli bait(keluarga Rassul). Ijma’ Shahaby. Dalil penetapan ijma’ sebagai sumber hukum islam ini antara lain: QS. yaitu setelah Al-Qur’an dan Sunnah. Golongan Syai’ah memandang bahwa ijma’ ini sebagai hujjah yang harus di amalkan. yaitu kesepakatan antara Abu Bakar dan Umar bin Khattab dalam suatu maslaah tertentu. sementara didalam nash Alquran dan Sunnah tidak ditemukan hukumnya. pada dasarnya ijma’ bias dijadikan alternative untuk menentukan hukum suatu peristiwa yang didalam Al-Qur’an dan Sunnah tidak ada atau kurang lengkap. dan ulil amri fiddin yaitu mujtahid. karenanya pada hakikatnya hukum ini adalah hukum umat yang dibicarakan oleh mujtahid. . Ijma’ Ahli Khufah. Hukum yang disepakati itu adalah hasil kesepakatan umat islam. taatilah Allah dan Taatilah Rasullah(Muhammad). 3. 4. Umar. Ijma’ Ahli Madinah. 2. Dari pemahaman seperti ini. karena adanya persoalan – persoalan yang harus dicarikan status hukumnya. yaitu kesepakatan seluruh mujtahid dalam suatu masalah pada suatu masa tertentu. Sedangkan ulama – ulama Syafi’iyah hanya memeagang ijma’ Qath’iy dalam menetapkan hukum. Kedudukan Ijma’ sebagai Sumber Hukum Kebanyakan ulama menetapkan bahwa ijma’ dapat dijadikan hujjah dan sumberhukum islam dalam menetapkan sesuatu hukum dengan nilai kehujjahan bersifat zhanny. yaitu kesepakatan semua ulama dalam suatu masalah.1. 2. Ijma’ Ahli Bait. Ijma’ Syaikhani. 6.

  Penetapan tanggal 1 Ramadhan atau tanggal 1 Syawal harus disepakati para ulama di negerinya masing – masing berdasarkan ru’yatul hilal. yakni mengiyaskan sesuatu dengan sesuatu yang hukumnya telah ada. QIYAS Pengertian Qiyas Qiyas menurut bahasa berarti mengukur. 4.3. diantara para mujtahid belum timbul perpecahan dan kalaulah ada perselisihan pendapat masih mudah untuk di persatukan. Ide pengumpulan Al-Qur’an ini berasal dari Umar bin Khaththab. sedangkan ijma harus dilakuan bersama oleh para mujtahid. Nenek mendapatkan warisan 1/6 dari cucunya jika tidak terhijab. Berbeda dengan ijma’. Contoh – Contoh Ijma’  dikumpulkan dan di bukukannya nash Al-Qur’an sejak masa pemerintahan Abu Bakar adalah bentuk kesepakatan dari para ulama zaman sahabat. Ketetapan hukum ini berdasarkan ijma’ para sahabat dan tidak ada yang membantahnya. qiyas bias dilakukan oleh individu. Ini disamamkan dengan hukum khamr(arak). Ini disamakan dengan harta orang dewasa. Contoh . Macam – Macam Qiyas 1. yaitu wajib dizakati. namun sifatnya lebih tinggi dari sifat hukum yang telah ada. Menurut imam Syafi’I keduanya memiliki kesamaan. memperbandingkan atau mempersamakan sesuatu dengan lainnya karenakan adanya persamaan. Diantara contoh qiyas adalah setiap minuman yang memabukkan adalah haram. yaitu haram. tapi kemudian Abu Bakar kemudian mengumpulkan para ulama saat itu. karena pada masa itu jumlah mujtahid tidak terlalu banyak dan karenanya mereka mudah di koordinir untuk melakukan kesepakatan dalam menentukan status suatu hukum persoalan permasalahan yang timbul pada saat itu. karena hal ini tidak di perintahkan oleh Rasullah saw. Persamaan kedua jenis ini adalah sifatnya memabukkan. Sedang menurut istilah qiyas adalah menetapkan hukum sesuatu yang belum ada ketentuan hukmnya dalam nash. sehingga terjadi perdebatan . Tetapi akhirnya para ulama menyepakati untuk mengumpulakan dan membukukan Al-Qur’an. yaitu bahwa kedua jenis harta (harta anak – anak dan harta orang dewasa) tersebut dapat tumbuh dan berkembang. Qiyas Aulawi. Selain itu juga dapat memberikan pertolongan kepada fakir miskin. Contoh lain adalah harta anak – anak wajib dikeluarkan zakatnya.

Karena keduanya sama – sama bias tumbuh dan berkembang. ayahku adalah seorang yang sangat tua. “hai Raullah. kemudian harus di tentukan salah satunya dalam rangka penetapan hukum padanya. Kamu adalah seperti mereka itu. bila saya mengerjakan haji untuk dia. bahwa qiyas itu merupakan hujjah syar’Iyyah terhadap hukum akal. Dalam sebuah riwayat pernah ada seorang sahabat yang bernama Jariyyah Khusya’miyah bertanya kepada Rasul. atau barang yang bias di perjualkan. Qiyas Dilalah. Qiyas ini menduduki tingkat keempat kehujjahan syar’I. sebab dalam suatu peristiwa bila tidak terdapat hukumnya yang berdasarkan nash maka peristiwa itu di samakan dengan perisrtiwa lain yang mempunyai kesamaan dan telah ada ketetapan hukumnya dalam nash. antara lain: Firman Allah: Artinya: “ maka ambillah kejadian itu untuk menjadi pelajaran. Allah mendatangkan hukuman dari arah yang tidak pernah mereka sangka – sangka. seperti kesamaan kewajiban zakat untuk harta anak yatim dan harta orang dewasa. Qiyas Syibh. 4. Sebab – Sebab dilakukan Qiyas’ Diantara sebab – sebab dilakukannya ijma’ adalah: . ke asal mana illat di tunjukkan . di qiyaskan kepadanya memakinya saja sudah haram. yaitu illat qiyas suatu hukum sama. yakni terjadinya keraguan dalam mengiyaskan. Seperti pada kasus hamba yang di bunuh. 3. dirinya di qiyaskan kepada seorang manusia sebagai anak cucu nabi Adam as. Mereka mendasarkan pendapatnya kepada.keharaman hukum memukul kedua orang tua. Dia sudah tidak sanggup untuk menunaikan haji. Illat keduanya sama – sama menghilangkan. Mereka mendasarkan hukumnya dengan nash. Perbuatan mu sama dengan perbuatan mereka. Kedudukan Qiyas dalam Hukum Islam Menurut para ulama kenamaan. 2. Kemudian Allah berfirman : “Ambillah pelajaran oleh mu wahai orang – orang yang mempunyai pandangan. apakah ada manfaat untuknya?” rasul menjawab “bagaimana pendapatmu jika ayahmu mempunya utang dan kamu yang membayar utang itu?” jariyah menjawqab “iya” kemudian Rasul bersabda “utang kepada Allah itu lebih berhak dibayarkan. wahai orang – orang yang mempunyai pandangan” (QS. Qiyas Musawi. seperti hal nya kasus kesamaan keharaman hukum membakar harta anak dengan membakar hartanya.Al-Hasyr :2) Setelah Allah menjelaskan tentang peristiwa yang terjadi pada orang – orang kafir dari Bani Nadhar dan menjelaskan duduknya persoalan apa – apa yang berada di sekelilingnya itu. yakni menetapkan hukum karena ada persamaan dilalat al-hukm (penunjukan hukumnya).” Artinya qiyaskanlah dirimu dengan mereka.

bahkan sering menyatukan praktik keagamaan masyarakat pribumi dengan ajaran Islam (lihat: Idrus H. Kemampuan para wali dalam mengadopsi dan menyesuaikan dengan adat dan praktik lokal yang bukan Islam. Umat Islam Indoensia berusaha melakukan domestikasi (penjinakan) tradisi hukum yang berasal dari ajaran Islam dan mempraktikannya dengan cara mengintergasikan hukum itu dalam korpus (lingkungan kumpulan) hukum Indonesia yang lebih luas (Kelompok realis-kontekstual). bukan menentang masyarakat dalam berdakwah. Sufi telah menjadi bagian integral (tak terpisahkan) dari praktik keagamaan masyarakat serta spiritualitas Islam. Dengan demikian Islam datang ke Indonesia dengan kondisi masyarakat yang sangat beragam (plural) dalam hal tradisi dan nilai-nilai keagamaan. Hukum Islam di Indonesia Islam datang ke Indonesia jauh sebelum pengaruh Barat datang. Dalam proses Islamisasi pada saat itu Ppara wali menerapkan konsep mewarnai. sementara didalam nash Alquran dan Sunnah tidak ditemukan hukumnya. Para walisongo lah yang menjadi pelaku utama gerakan dakwah dan memperoleh banyak pengikut. Pekalongan. The Religion of Java. Kitab Asrar Walisongo. Islam disebarkan secara damai ke berbagai daerah dan kepulauan yang praktik agama Budha/Hindu dan tradisi animisme maupun dinamisme masih menjadi kepercayaan yang dominan. New Haven: Yale University Press. (Lihat Clifford Geertz.A. karena adanya persoalan – persoalan yang harus dicarikan status hukumnya. Karena masyarakat Indonesia yang sangat beragam.Bahagia. ada yang mengatakan abad ke-11 ada pula yang berpendapat abad ke-13. 1968). karena nash baik yang berupa Al-Qur’an dan Sunnah sudah tidak turun lagi atau sudah berhenti.1. Masyarakat pribumi mengenal agama Islam di awal sejarah melalui tradisi heterodoksi (menyimpang dari kepercayaan resmi). Dengan memanfaatkan Sinkretisme (penyesuaian/keseimbangan) antara dua aliran. karena adanya kesamaan antara peristiwa yang belum ada hukumnya dengan peristiwa yangtelah ada nashnya. 2. 3. . maka pendekatan sufisme menjadi pilihan yang tepat bagi para pendakwah Islam di masa-masa awal melalui para wali.. CV. Hukum Islam Indonesia terbentuk dari hasil usaha untuk memasukkan ajaran hukum Islam ke dalam situasi yang berbeda dari situasi dan kondisi tempat asal hukum Islam lahir. 1999). serta praktik ibadah dan cara pandang mereka sangat cocok dengan gerakan massa rakyat. Pola seperti itu mendapat respon positif dari masyarakat. Dalam berdakwah para wali itu tidak menolak nilai-nilai agama yang sudah dianut oleh masyarakat pada waktu itu. maka terciptalah berbagai elemen dari bebagai tradisi menjadi sebuah bentuk baru. Islam dan budaya lokal. Tetapi masyarakat nusantara pada saat itu telah memiliki warisan dari agama Budha dan Hindu yang sangat kuat. Berkat perjuangan merekalah gerakan penyebaran Islam di Nusantara memperoleh hasil yang sangat mengagumkan bagi perkembangan karakter Islam di Indonesia.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful