P. 1
Studi Kasus Kontrol

Studi Kasus Kontrol

|Views: 847|Likes:
Published by patmasari04

More info:

Published by: patmasari04 on Dec 24, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/19/2014

pdf

text

original

RINGKASAN EPIDEMIOLOGI – B Bab IX tentang “Studi Kasus Kontrol”

Disusun Oleh: 1. Aprillia Fitri N.c 2. Ardian Arif R. 3. Ayu Damayanti 4. Banny Suryani 5. Fara Ferbiyan S. 6. Fitri Maryani 7. Ika Arguslita S. 8. Irfan Palgunadi W. 9. Mei Fitriyana. 10. Neo Husein Niddal 11. Riezka Danastri P. 12. Rizqa Najib 13. Yuli Patmasari ( P07133111084 ) ( P07133111085 ) ( P07133111087 ) ( P07133111089 ) (P07133111095) (P07133111097) ( P07133111103 ) ( P07133111107 ) ( P07133111107 ) (P07133111108) ( P07133111111 ) ( P07133111113) ( P07133111121 )

NON REGULER B KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN

STUDI KASUS KONTROL

Studi kasus kontrol adalah rancangan studi epidemiologi yang mempelajari hubungan antara paparan (faktor penelitian) dan penyakit, dengan cara membandingkan kelompok kasus dan kelompok kontrol berdasarkan status paparannya. Ciri-ciri studi kasus kontrol adalah pemilihan subyek berdasarkan status penyakit, untuk kemudian dilakukan pengamatan apakah subyek mempunyai riwayat terpapar faktor penelitian atau tidak. Subyek yang didiagnosis menderita penyakit disebut kasus, berupa insidensi (kasus baru) yang muncul dari suatu populasi. Sedangkan subyek yang tidak menderita penyakit disebut kontrol, yang dicuplik secara acak dari populasi yang berbeda dengan populasi asal kasus.

A. Prospektif dan Retrospektif
Secara tradisional, studi kasus kontrol disebut juga studi retrospektif (Kleinbaum et al., 1982; Mausner and Kramer, 1985; Sackett., 1991). Alasan mereka menyebut retrospektif adalah arah pengusutan (direction of inquiry) rancangan tersebut bergerak dari akibat (yaitu penyakit) ke sebab (yaitu paparan) dan subyek yang dipilih berdasarkan telah mempunyai kesudahan (outcome) tertentu, lalu dilihat kebelakang (backward) tentang riwayat status paparan penelitian yang dialami subyek. Demikian juga studi kohor akan selalu prospektif, sebab arahnya selalu bergerak maju (forward) dari sebab (yaitu paparan) ke akibat (yaitu penyakit). Tetapi menurut Hennekens dan Buring berpendapat lain, menurut mereka rancangan studi kohor dapat bersifat retrospektif maupun prospektif, tergantung kapan peneliti membuat klasifikasi status paparan subyek untuk dipilih sebagai kohor. Apabila klasifikasi status paparan telah dibuat pada saat penelitian dimulai, maka studi kohor bersifat retrospektif. Sebaliknya, apabila klasifikasi status paparan sedang atau akan dilakukan pada waktu yang akan dating, maka studi kohor bersifat prospektif.

Studi kasus kontrol retrospektif

E+

D+

E-

E+

D+

E-

Lampau

Kini

Studi Kasus Kontrol Prospektif

E+

E+ D+

EE+

EED-

E-

E-

Lampau

Kini

Akan datang

Keterangan: E+ ED+ D= terpapar faktor penelitian = tak terpapar faktor penelitian = mengalami penyakit = tak mengalami penyakit

Gambar 9.1 Skema rancangan studi kasus kontrol. Tujuan dari penggunaan istilah retrospektif prospektif yaitu (1) Menekankan

pentingnya melihat pluralisme kebenaran, sebab ilmu pengetahuan bukan meruapakan suatu hal yang dogmatik dan monopolistik dan (2) Membantu pembaca agar tidak terkejut ketika menjumpai istilah studi kohor retrospektif dan atau studi kasus kontrol prospektif dalam buku dan jurnal epidemiologi.

B. Kelebihan
Alasan utama kenapa studi kasus kontrol amat popular, hal ini dikarenakan sifatnya yang relative murah dan mudah dilakukan ketimbang rancangan studi analitik lainnya. Kedua, cocok untuk meneliti penyakit dengan periode laten yang panjang. Peneliti tidak perlu mengikuti perkembangan penyakit pada subyek selama bertahuntahun, melainkan cukup mengidentifikasi subyek yang telah mengalami penyakit, lalu mencatat riwayat paparan mereka. Ketiga, karena subyek penelitian dipilih berdasarkan status penyakit, maka peneliti memiliki keleluasaan menentukan rasio ukuran sampel kasus dan kontrol yang optimal, sehingga rancangan ini tepat sekali untuk meneliti penyakit langka. Keempat, dapat meneliti pengaruh sejumlah paparan terhadap sebuah penyakit.

C. Kelemahan
Kelemahan pertama studi kasus kontrol adalah alur metodologi inferensi kasual yang bertentangan dengan logika eksperimen klasik. Yang dilakukan studi kasus kontrol adalah melihat akibatnya dulu baru menyelidiki apa penyebabnya. Hanya persoalannya,

karena pemilihan subyek berdasarkan status penyakit dilakukan tatkala paparan telah (atau tengah) berlangsung, maka studi kasus control rawan terhadap berbgai bias, baik bias seleksi maupun bias informasi. Kedua, secara umum studi kontrol tidak efisien untuk mempelajari paparanpaparan yang langka. Paparan yang langka bisa diteliti dengan rancangan ini, asal beda resiko (RD) antara populasi yang berpenyakit dan tak berpenyakit cukup tinggi. Untuk itu dibutuhkan ukuran sampel yang sangat besar. Ketiga, karena subyek dipilih berdasarkan status penyakit, maka dengan studi kasus kontrol pada umumnya peneliti tidak dapat menghitung laju insidensi (yaitu kecepatan kejadian penyakit) baik pada populasi yang terpapar maupun tidak terpapar. Itulah sebabnya untuk menghitung risiko relative digunakan ukuran rasio odds (OR). Keempat, pada bebrapa situasi tidak mudah untuk memastikan hubungan temporal antara paparan dan penyakit. Kelima, kelompok kasus dan kelompok kontrol dipilih dari dua populasi yang terpisah, sehingga sulit dipastikan apakah kasus dan kontrol pada populasi studi benarbenar setara dalam hal faktor-faktor luar dan sumber-sumber distori lainnya.

D. MEMILIH KASUS
Tiga hal pokok yang perlu diperhatikan dalam memilih kasus, yaitu : 1. Kriteria diagnosis Kriteria diagnosis dan definisi operasional kasus harus dibuat sejelas-jelasnya, agar tidak menimbulkan bias pengukuran (bias misklasifikasi). 2. Populasi sumber kasus Populasi sumber kasus dapat berasal dari rumah sakit (hospital-based), populasi/ masyarakat/ komunitas (population-based). Keuntungan memilih kasus dari rumah sakit yang melayani populasi sasaran adalah : (1) Lebih praktis dan murah; (2) Pasien yang dirawat di rumah sakit umumnya lebih menyadari berbagai faktor yang dialaminya; dan (3) Lebih kooperatif. Kerugiannya, mudah terjadi bias yang berkaitan dengan preferensi dan penggunaan rumah sakit, misalnya (1) Bias sentripetal, adalah bias dalam seleksi subjek (yaitu kasus), disebabkan

pemilihan pasien terhadap fasilitas pelayanan medik dipengaruhi oleh reputasi fasilitas pelayanan medik itu; dan (2) Bias akses diagnostik, adalah bias dalam seleksi subjek (yaitu kasus), disebabkan pemilihan pasien terhadap fasilitas pelayanan medik dipengaruhi oleh kemmpuan aksesnya terhadap fasilitas pelayanan medik itu, baik dalam arti geografik, waktu, maupun kemampuan ekonomi. Keuntungan memilih kasus dari populasi adalah : (1) Menghindarkan faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan subjek untuk menggunakan fasilitas pelayanan medik tertentu; (2) Dapat memberikan gambaran karakter populasi asal kasus secara langsung. Sebaliknya, kekurangannya adalah membutuhkan biaya dan logistik yang lebih besar daripada dari rumah sakit. Dalam praktik memilih kasus dari populasi jarang dilakukan. 3. Jenis data penyakit Hal pokok ketiga yang perlu diperhatikan adalah jenis data penyakit. Terlepas dari sumber kasus, kasus itu sendiri dapat merupakan insidensi (kasus baru) atau prevalensi (semua kasus yang ada pada suatu saat). Secara umum pada studi kasus-kotrol dianjurkan untuk menggunakan data insidensi daripada data prevalensi.

E. MEMILIH KONTROL
Tiga hal pokok yang perlu dipertimbangkan dalam memilih kontrol : (1) Karakter populasi sumber kasus; (2) Keserupaan antara kontrol dan kasua; (3) Pertimbangan praktis dan ekonomis. Kontrol yang terpilih tidak perlu mencerminkn populasi semua individu yang tak terkena penyakit yang diteliti. Yang penting, kontrol harus dipilih dari populasi individuindividu yang memiliki karakteristik serupa dengan populasi asal kasus, tetapi tidak ber penyakit yang diteliti. Ada sejumlah sumber populasi untuk memilih kontrol, yaitu : (1) rumah sakit; (2) populasi umum; (3) tetangga; (4) teman; dan kerabat keluarga. Masing-masing memiliki keuntungan dan kerugiannya. Keuntungan memilih kontrol dari pasien rumah sakit adalah : (1) Mudah dan murah; (2) Karena dirawat di rumah sakit, pada umumnya mereka lebih menyadari berbagai paparan faktor dan peristiwa yang pernah dialami daripada individu

sehat; (3) Kooperatif. Kerugian memilih kontrol dari pasien rumah sakit adalah, pertama, mereka adalah orang sakit (dengan penyakit lain). Kerugian kedua, bias akan terjadi jika kontrol mengidap penyakit yang mempunyai hubunagn dengan paparan penelitian, dan penyakit itu berhubungan dengan penyakit yang sedang diteliti, sehingga penafsiran pengaruh pada studi kasus kontrol akan lebih kecil daripada yang sesungguhnya. Alternatif sumber kontrol adalah populasi. Kontrol yang berasal dari populasi umum memiliki beberapa keuntungan : (1) Perbandingan dapat dilakukan dengan lebih baik; (2) Kontrol yang dipilih merupakan individu pembanding yang memang sehat. Kerugiannya adalah : (1) Mencari dan mewawancarai kontrol biasanya memerlukan banyak waktu dan biaya; (2) Individu yang sehat biasanya kurang perhatian tentang paparan yang pernah dialami, sehingga mengurangi okurasi informasi yang diberikan; (3) Motivasi yang rendah untuk berprtisipasi dalam penelitian dapat memberikan ancaman serius validitas, jika terdapat perbedaan prevalensi paparan antara yang mau dan tidak mau mengikuti penelitian. Sumber kontrol yang ketiga adalah tetangga, teman, dan kerabat keluarga. Keuntungan menggunakan sumber kontrol ini adalah : (1) Merupakan individu yang sehat dan kooperatif; (2) Tetangga, teman, dan kerabat keluarga mempunyai lingkungan hidup yang sana dan terbatas, memiliki faktor-faktor sosio ekonomi, etnik, gaya hidup, paparan lingkungan fisik yang sama dengan kasus, sehingga faktor-faktor itu merupakan faktor perancu dalam penaksiran hubungan paparan dan penyakit, maka memilih kontrol yang sedemikian itu merupakan metode pengontrolan faktor perancu, yang disebut pencocokan. Tetapi harus dihindari, jangan sampai paparan penelitian merupakn bagian dari faktor-faktor lingkungan tersebut, sebab jika ini terjadi maka penaksiran hubungan paparan dan penyakit akan menjadi lebih kecil dari yang sebenarnya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->