BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Masalah Dalam abad XX ini kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi semakin pesat, karena muncul berbagai penemuan yang sangat bermanfaat bagi manusia. Khususnya di bidang kedokteran telah banyak penemuan obat-obatan, alatalat mekanik, serta cara-cara perlindungan terhadap penyakit.1 Hampir semua aspek kehidupan manusia tersentuh oleh teknologi, harus disadari bahwa teknologi telah membawa banyak manfaat untuk umat manusia.2 Di antara sekian banyak penemuan-penemuan teknologi tersebut, tidak kalah pesatnya perkembangan teknologi di bidang medis. Dengan perkembangan teknologi di bidang kedokteran ini, bukan tidak mustahil akan mengundang masalah pelik dan rumit. Melalui pengetahuan dan teknologi kedokteran yang sangat maju tersebut, diagnose mengenai suatu penyakit dapat lebih sempurna untuk dilakukan. Pengobatan penyakit pun dapat berlangsung secara lebih efektif. Dengan peralatan kedokteran yang modern itu,rasa sakit seorang penderita dapat diperingan. Hidup seorang pasien pun dapat diperpanjang untuk sesuatu jangka waktu tertentu, dengan memasang sebuah “ respirator “. Bahkan perhitungan saat kematian penderita penyakit tertentu, dapat dilakukan secara lebih tepat.

Ali Ghufron Mukti dan Adi Heru Sutomo, Abortus, Bayi Tabung, Euthanasia, Transplantasi Ginjal, Dan Operasi Kelamin dalam tinjauan Medis, hukum, dan Agama Islam, cet, ke.1 (Yogyakarta: Aditya Media,1993), hlm.28.
2

1

Thomas A Shannon, Pengantar Bioetika, terj, K. Bartens, (Jakarta: Gramedia, 1995), hlm. 7

1

2

Menyinggung masalah kematian, menurut cara terjadinya, maka ilmu pengetahuan membedakannya ke dalam tiga jenis kematian, yaitu: 1. Orthothanasia, yaitu kematian yang terjadi karena proses alamiah. 2. Dysthanasia, yaitu suatu kematian yang terjadi secara tidak wajar. 3. Euthanasia, yaitu suatu kematian yang terjadi dengan pertolongan atau tidak dengan pertolongan dokter.3 Yang menjadi persoalan ialah jenis kematian yang ketiga, yaitu kematian dalam kategori euthanasia atau biasa disebut juga mercy killing. Euthanasia biasa didefinisikan sebagai a good death atau mati dengan tenang. Hal ini dapat terjadi karena dengan pertolongan dokter atas permintaan dari pasien ataupun keluarganya, karena penderitaan yang sangat hebat dan tiada akhir, atau tindakan membiarkan saja oleh dokter kepada pasien yang sedang sakit tanpa menentu tersebut, tanpa memberikan pertolongan pengobatan seperlunya. Memberikan hak kepada individu untuk mendapatkan pertolongan dalam pengakhiran hidupnya, bagi banyak negara masih menjadi perdebatan yang sengit. Sampai sekarang ini, kaidah non hukum yang manapun (agama, moral, kesopanan), menentukan: membantu orang lain mengakhiri hidupnya, meskipun atas permintaan yang bersangkutan dengan nyata dan dengan sungguh-sungguh adalah perbuatan yuang tidak baik.4 Pada dasarnya masalah euthanasia ini timbul dari adanya suatu dilema, apakah seorang dokter mempunyai hak untuk mengakhiri hidup seorang pasien atas
Djoko Prakoso dan Djaman Andi nirwanto, Euthanasia hak asasi manusia dan hukum pidana, cet. ke-1 (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1984), hlm. 9-10
4 3

Wila Chandrawila Supriadi, Hukum Kedokteran (Bandung: Mandar Maju, 2001), hlm.106

3

permintaan pasien itu sendiri atau dari keluarganya, dengan dalih untuk menghilangkan atau mengakhiri penderitaan yang berkepanjangan, tanpa dokter itu sendiri menghadapi konsekuensi hukum. Dalam hal ini dokter tersebut menghadapi konflik bathin, dimana sebagai manusia biasa sang dokter tidak sampai hati menolak permintaan dari pasien dan keluarganya itu. Apalagi keadaan si pasien yang sekarat berbulan-bulan dan dokter tahu bahwa pengobatan yang diberikan itu maka dokter telah melanggar hukum, disamping itu juga telah pula melanggar sumpah dokter yang telah diucapkannya sebelum menjalankan profesi sebagai seorang dokter. Dalam memecahkan masalah ini, ada cara yang cukup unik yaitu bila keadaan antara hidup dan mati (maribundity), maka proses dan usaha medis jika tiada berpotensi lagi, penyembuhan harus dihentikan. Dengan perkataan lain, bahwa dalam keadaan demikian maka pembunuhan karena kasihan/karena terpaksa yang diijinkan oleh dokter diperbolehkan. Dalam hubungan itu, bahkan ada dokter yang berpendapat bahwa dokter itu boleh mengeluarkan atau mencabut alat yang diperjuangkan untuk memperpanjang hidup dari seorang pasien yang dalam keadaan expiration of the soul, yaitu apabila proses kematian sudah mulai nampak.5 Menurut dr. Kartono Muhammad (Wakil Ketua Ikatan Dokter Indonesia), seperti dikutip Akh Fauzi Aseri. Ia mengatakan seseorang dianggap mati apabila batang otak yang menggerakkan jantung dan paru-paru tidak berfungsi lagi. Tegasnya, batang otak merupakan pedoman untuk mengetahui masih hidup atau matinya seseorang yang sudah tidak sadar. Dari sini mesin-mesin pembantu seperti

5

Djoko Prakoso dan Djaman Andi Nirwanto, Euthanasia, hlm. 59

Problematika Hukum Islam Kontemporer. Pada umumnya. Hafiz Anshary AZ.8 Akh.103. Kematian secara alamiah. Kematian dapat terjadi baik dikehendaki. apakah itu pengakhiran hidup dengan bunuh diri (zelfmoord) atau minta “dibunuh” (diakhiri hidupnya – selanjutnya euthanasia). dapat selalu diterima sebagai sesuatu hal yang wajar. adalah pelanggaran terhadap hak asasi manusia. Hukum Kedokteran. Pada mati tidak secara alamiah. sebab manusia pada saatnya akan mati. dan kematian selalu membawa kesedihan. bahkan dibunuh oleh orang lain.). 8 .66 7 6 Wila Chanrawila Supriadi. dan Hukum Islam. hlm. hlm. (ed. karena uzur. demikianlah pendapat dari sebagian besar masyarakat Indonesia. semua menurut sebagian besar masyarakat Indonesia adalah takdir. kelahiran selalu membawa kebahagiaan. hlm.6 Lahir dan mati adalah takdir. (Jakarta: Pustaka Firdaus. Yanggo dan HA. sehingga penolakan atas pengakuan terhadap hak atas mati. "Euthanasia Suatu Tinjauan dari Segi Kedokteran. Fauzi Aseri. tetapi mati tidak secara alamiah adalah mati yang tidak diharapkan. akan ada hubungannya dengan hak seseorang untuk mati secara tidak alamiah (selanjutnya “hak untuk mati”) dari seseorang. hak yang mengalir dari “hak untuk menentukan diri sendiri” (the right of selfdetermination –TROS). penyakit. Hukum Pidana. maupun tidak dikehendaki. adalah hak asasi manusia.102 Ibid.7 Banyak orang berpendapat bahwa hak untuk mati." dalam Chuzaimah T. 2002). bunuh diri. kecelakaan.4 pemacu jantung dapat dicabut tanpa dituduh melakukan euthanasia terhadap penderita.. dan tidak ada seorangpun yang dapat menghindari/menentukan mengenai kelahiran dan kematian.

baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain. maka perbuatan ini bisa dimasukan sebagai jarimah pembunuhan. Allah berfirman dalam al-Qur'an: 0 ‫ل تقتلوا أنفسكم ان ال كان بكم رحيما‬ ‫ول تقتلوا النفس التى حرم ال ال بالحق ذالكم وصاكم به‬ 0 ‫تعقلون‬ ‫لعلكم‬ ‫من قتل نفسا بغير نفس أو فساد في الرض فكانما قتل‬ 0 ‫الناس جميعا‬ ‫وهو الذي أحياكم ثم يميتكم ثم يحييكم ان النسان لكفور‬ 9 10 11 12 9 An-Nisa (4): 29 Al-An'am. Jadi perbuatan-perbuatan yang mengarah kepada tindakan untuk menghentikan hidup seseorang itu merupakan perbuatan yang bertentangan dengan kehendakNYA. Karena pembunuhan adalah peniadaan atau perampasan nyawa seseorang oleh orang lain yang mengakibatkan tidak berfungsinya seluruh anggota badan disebabkan ketiadaan roh sebagai unsur utama menggerakan tubuh. Dalam Islam masalah kematian manusia merupakan hak prerogatif Allah SWT. termasuk di dalamnya euthanasia.5 Euthanasia dapat dikategorikan sebagai perbuatan yang menyangkut kepada suatu tindakan untuk penghentian kehidupan seseorang. Allah SWT melarang perbuatan yang mengarah kepada kematian dalam bentuk apapun.(6): 151 Al-Maidah (5): 32 Al-Hajj (22): 66 10 11 12 . karena tindakan pembunuhan secara euthanasia ini merupakan pembunuhan tanpa hak. walaupun dengan kerelaan dan atas permintaan orang itu sendiri.

13 Jika dibandingkan dengan ketiga faktor di atas maka terjadinya tindakan euthanasia tidak ada satupun karena alasan bil haq. Jadi tindakan euthanasia merupakan tindakan pembunuhan dengan unsur kesengajaan dan direncanakan. XI:43. kerelaan korban untuk dibunuh bukan suatu penyebab kebolehan pembunuhan. karena kerelaan korban itu bukan merupakan unsur jarimah pembunuhan.6 Syekh Ahmad Mustafa al-Maragi menjelaskan bahwa pembunuhan (mengakhiri hidup) seseorang bisa dilakukan apabila disebabkan oleh salah satu dari tiga sebab: 1. 3. Tindakan euthanasia dilakukan dengan pertimbangan yang matang dan dengan adanya unsur perencanaan. Tafsir al-Maragi. Riwayat Ibnu Masud. Ahmad Mustafa al-Maragi. sebagai suatu sikap menentang jamaah Islam. yang diketahui oleh empat orang saksi (dengan mata kepala sendiri). keluarga sebagai pihak pemberi izin dan sisakit sebagai korban euthanasia. 13 . Orang yang keluar dari agama Islam. Karena pembunuhan oleh seseorang secara zalim. Janda (yang pernah bersuami) secara nyata berbuat zina. (Mesir: Musthafa al-Baby al-Halaby. Dalam unsur euthanasia terdapat tiga hal yaitu dokter sebagai pelaku euthanasia. 1971). sekalipun ada prinsip lain bahwa korban atau keluarganya berhak memaafkan sanksi qisas atau diyat atau keduanya. 2. Jadi dalam masalah euthanasia ini merupakan tindakan pembunuhan yang disengaja dan direncanakan Di dalam hukum Islam. walaupun ada unsur kerelaan dari pasien.

Pokok Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka dapat dirumuskan pokok masalah sebagai berikut: Apakah euthanasia merupakan tindak pidana dalam tinjauan Fiqh Jinayah? C. Adapun kegunaan yang diharapkan dari penyusunan karya ilmiah ini adalah : terhadap masalah . Tujuan dan Kegunaan Sesuai dengan pokok masalah di atas. Pada dasarnya Allah memberikan hukuman qisas bagi pembunuhan. tetapi pihak keluarga diberikan hak atas tuntutan tindak pidana baik itu pembunuhan maupun pelukaan berupa hukuman diyat atau dimaafkan secara mutlak. penyusunan skripsi ini bertujuan untuk: Menjelaskan bagaimana pandangan Fiqh Jinayah euthanasia. yang merupakan hak Tuhan. etika. Untuk itu penyusun berusaha meneliti masalah Euthanasia ini dalam Prespektif Fiqh Jinayah. agama. dalam menentukan hukumnya. B. Karena hal ini sangat berguna untuk kelangsungan hidup pihak keluarga korban maupun pihak pelaku kejahatannya.7 Allah melarang adanya pembunuhan baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Permasalahan Euthanasia ini sampai sekarang masih menimbulkan pro dan kontra baik pada pandangan hukum. budaya dan lain-lain pada umumnya dan juga pada pandangan Islam dalam Fiqh Jinayah (Hukum Pidana Islam) khususnya.

(Yogyakarta: Media Pressindo. yaitu atas permintaan pasien itu sendiri tanpa adanya campur tangan dari pihak lain. buku ini menjelaskan bahwa Euthanasia atau kematian baik adalah demi kepentingan pasien semata-mata bukan untuk kenyamanan orangorang yang sehari-hari berada di sekelilingnya. Euthanasia harus berlangsung atas dasar suka rela. karya Petrus Yoyo Karyadi.8 Skripsi ini diharapkan dapat menjadi sumbangan pemikiran di dalam menambah khasanah pengetahuan tentang hukum Islam khususnya yang berkaitan dengan permasalahan euthanasia dalam prespektif Fiqh Jinayah. diantaranya: dalam buku Euthanasia dalam Prespektif Hak Asasi Manusia. Ada beberapa buku yang telah membahas tentang masalah euthanasia. D.ke-1. psikologi. Telaah Pustaka Kajian tentang Euthanasia dalam prespektif medis. cet. Euthanasia Dalam Prespektif Hak Asasi Manusia. diantaranya mengemukakan tentang apakah tindakan euthanasia merupakan hak asasi manusia?. psikolog. karya F. ahli hukum. hukum. Buku ini meninjau dan menyoroti permasalahan euthanasia dari segi HAM. ahli medis. ∗ Dalam buku Mengapa Euthanasia ?: Kemajuan Medis dan Konsekuensi Yuridis. Jika dokter melakukan tindakan euthanasia secara non alami maka dokter bisa dituntut pasal 344 Petrus Yoyo Karyadi. Dan juga menjelaskan bahwa dalam hak asasi manusia terdapat hak untuk hidup dan hak untuk mati. 2001)  . Dan dari segi yuridis dalam masalah euthanasia ini. seperti ulama.Tengker. etika dan ham banyak dibicarakan oleh banyak praktisi.

"Sanksi Hukum Terhadap Pelaku Euthanasia yang dipaksa menurut KUHP dan Hukum Islam". dan pasal 354 karena menolong orang bunuh diri. karya Anna Iffah Akmala. ∗ Dalam Skripsi yang berjudul "Sanksi Hukum Terhadap Pelaku Euthanasia yang dipaksa menurut KUHP dan Hukum Islam". ∗ Dalam buku Euthanasia Hak Asasi Manusia Dan Hukum Pidana. yang merupakan pandangan Etika situasi terhadap Euthanasia yang meliputi manusia dalam sudut pandang Etika Situasi. Skripsi Strata Satu Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga (1999)  . Tengker. karya Djoko Prakoso dan Djaman Andi Nirwanto. ∗ Dalam skripsi yang berjudul "Euthanasia dalam Prespektif Etika Situasi". bagaimana kedudukan Euthanasia dalam KUHP dan juga bagaimana prospeknya di masa depan dalam KUHP. (Jakarta: Ghalia Indah. t. Dalam karya tulis tersebut menekankan cara dilakukannya euthanasia yang ada unsur paksaannya dan sanksi hukum terhadap pelaku euthanasia yang dipakai. buku ini menjelaskan kedudukan Euthanasia dengan Hak Asasi Manusia. Mengapa Euthanasia? Kemampuan Medis dan Konsekuensi Yuridis. Euthanasia Hak Asasi Manusia Dan Hukum Pidana. kehidupan dan  F. bagi yang pro menganggap selain punya hak untuk hidup manusia juga mempunyai hak untuk mati. 1984) Imawan Mukhlas Abadi. yang merupakan study analisis komparatif terhadap KUHP dan hukum Islam tentang pelaku euthanasia yang dipaksa .9 karena bersalah menghilangkan nyawa orang atas permintaan.t) Djoko Prakoso dan Djaman Andi NIrwanto. sebagian yang kontra menganggap hak untuk hidup sebagai dasarnya. yang memuat tentang Hak untuk Mati seseorang dan kaitannya dengan hukuman mati. hubungannya dengan HAM. (Bandung:  Nova. Dan hal ini juga dilihat dari prespektif hukum pidana. hasil karya Imawan Mukhlas Abadi.

yang mana tindakan euthanasia yang terdapat suatu unsur tindakan pembunuhan. yang dilakukan secara suka rela atas permintaan sendiri dikarenakan sakit. Skripsi Strata Satu Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga (2002). dan penelitian-penelitian di atas merupakan bentuk-bentuk macam penelitian dalam segi medis ditinjau dari berbagai aspek. Kerangka Teoretik Euthanasia merupakan istilah untuk pertolongan medis agar kesakitan atau penderitaan yang dialami seseorang yang akan meninggal dunia diperingan. Konsekwensi Yuridis dan kajian Etika.  . dalam prespektif Fiqh Jinayah. Sedangkan penelitian-penelitian sebelumnya adalah penelitian yang meninjau dari segi Hukum Pidana Positif. Juga terdapat perkembangan euthanasia di berbagai negara dan ethanasia dalam tinjauan berbagai agama. "Euthanasia Dalam Prespektif Etika Situasi". ∗ Di sekian penelitian yang ada yang membahas euthanasia ini semuanya mengacu pada permasalahan medis sebagai objek penelitian dasarnya. Komparasi Hukum Islam dengan Hukum Pidana Positif dalam masalah euthanasia yang dipaksa. Juga Anna Iffah Akmala.10 kematian yang manusiawi serta pandaangan Etika Situasi terhadap Euthanasia. HAM. Yang membedakan antara penelitian yang peneliti lakukan dengan penelitian sebelumnya adalah dalam penelitian ini peneliti meneliti permasalahan euthanasia dalam prespektif Fiqh Jinayah. E. sebagaimana tindakan pembunuhan pada umumnya. Dalam Skripsi ini akan dibahas apakah tindakan euthanasia ini termasuk pembunuhan dan dapat dikenai sanksi.

dkk. hlm. Definisi euthanasia aktif ialah sengaja diambil tindakan yang berakibat kematian. demi kepentingan pasien dan atau keluarganya.2:978. 16 .15 Euthanasia pada garis besarnya ada dua. Euthanasia. atas atau tanpa permintaan dan atau keluarga sendiri.132.16 Dalam euthanasia aktif.14 Menurut Petrus Yoyo Karyadi. euthanasia adalah dengan sengaja dokter atau bawahannya yang bertanggungjawab kepadanya atau tenaga ahli lainnya melakukan suatu tindakan medis tertentu untuk mengakhiri hidup pasien atau mempercepat proses kematian pasien atau tidak melakukan tindakan medis untuk memperpanjang hidup pasien yang menderita suatu penyakit yang menurut ilmu kedokteran sulit untuk disembuhkan kembali. sedang euthanasia pasif ialah membiarkan perawatan yang dapat memperpanjang kehidupannya. Tanggung Jawab Hukum Seorang Dokter dalam Menangani Pasien (Jakarta: Ikhtiar Baru. seperti dosis besar obat tidur atau suntikan racun. Tindakan yang diambil. yakni euthanasia aktif dan euthanasia pasif. hlm. Sedangkan euthanasia pasif berusaha untuk memecahkan masalah-masalah moral mengenai perawatan pasien yang tidak ada harapan lagi atau yang sudah mendekati ajalnya Ensiklopedi Indonesia (Jakarta: Ikhtiar Baru-Van Hoeve.28 Abdul Jamali. Artikel Euthanasia. sukarela atau tidak sukarela. dimaksudkan untuk mengakhiri kehidupan pasien. 15 14 Petrus Yoyo Karyadi. Vol.11 berarti mempercepat kematian seseorang yang ada dalam kesakitan dan penderitaan hebat menjelang kematiannya. 1987). 1990). kematian merupakan tujuan tindakan seseorang.

18 Euthanasia aktif adalah proses kematian diringankan dengan memperpendek kehidupan secara terarah dan langsung. Berdasarkan akibatnya.12 dengan menghentikan segala terapi. yaitu euthanasia aktif langsung terjadi bila dokter atau tenaga kesehatan lainnya melakukan suatu tindakan medis untuk meringankan penderitaan pasien sedemikian rupa sehingga secara logis dapat diperhitungkan bahwa hidup pasien diperpendek atau diakhiri. euthanasia aktif kemudian dibagi menjadi dua golongan. Dalam euthanasia aktif ini masih perlu dibedakan. Euthanasia. melakukan tindakan medik untuk meringankan penderitaan pasien dengan mengetahui adanya risiko bahwa tindakan medik ini dapat mengakibatkan diperpendek/ diakhiri hidup pasiennya. PT. apakah pasien menginginkannya. atau tidak berada dalam keadaan di mana keinginannya dapat diketahui. hlm. K Bartens. pengantar bio etika. terj. sehingga bisa berlangsung penyelesaian secara alamiah.31 . sedangkan euthanasia pasif 17 Thomas A Shanon. Gramedia Pustaka Utama.17 Euthanasia aktif terjadi bila dokter atau tenaga kesehatan lainnya secara sengaja melakukan suatu tindakan untuk memperpendek hidup pasien atau untuk mengakhiri hidup pasien tersebut. tidak menginginkannya. 69-71. Euthanasia aktif tidak langsung terjadi bila dokter atau tenaga kesehatan lainnya tanpa maksud untuk memperpendek hidup pasiennya. 1995). Menurut Yusuf Qardawi yang dimaksud euthanasia aktif (taisir maut al-faal) ialah tindakan memudahkan kematian si sakit. (Jakarta. karena kasih sayang yang dilakukan oleh dokter dengan mempergunakan instrumen (alat). 18 Petrus Yoyo Karyadi. hlm.

bahwa euthanasia khususnya euthanasia aktif. diantaranya adalah masalah-masalah hukum yang berhubungan dengan kepidanaan. tetepi ia hanya dibiarkan tanpa diberi pengobatan untuk memperpanjang hayatnya.13 (taisir maut al-munfa'il) tidak dipergunakan alat-alat atau langkah-langkah aktif untuk mengakhiri kehidupan si sakit. yang dibebankan kepada pelaku euthansia yaitu dokter sebagai pihak pengeksekusi euthanasia. hlm. II:749Djoko Prakoso dan Djaman Andi Nirwanto. Euthanasia. (Jakarta: Gema Insani Press.20 Hukum Islam atau Fiqh Islam. yaitu pasien sebagai yang di euthanasia. telah mengatur perikehidupan manusia secara menyeluruh mencakup segala macam aspeknya. dokter sebagai pelaku (pengeksekusi) euthanasia. pengakuan dan isyarat-isyarat. Dalam hal ini permintaan pasien harus mendapat perhatian yang tegas agar tidak disalahgunakan. surat-surat. 20 . dan keluarga sebagi pihak penyetuju tindakan euthanasia. harus dibuktikan dengan adanya saksi atau pun oleh alat-alat bukti lainnya.71-72 750. 1995). itu merupakan suatu perbuatan jarimah pembunuhan karena sudah memenuhi unsur-unsur jinayah yakni: 19 Yusuf Qardawi. maka dalam menentukan benar tidaknya permintaan yang tegas dan sungguh-sungguh. seperti macam-macam perbuatan pidana dengan ancaman pidana disebut al-jinayah. alat-alat bukti lainnya yaitu: kesaksian-kesaksian.19 Dalam masalah euthanasia ini tidak terlepas dari beberapa pihak. Sebagaimana yang telah dipaparkan di atas. Dan yang diteliti dalam masalah euthansia ini adalah euthanasia aktif secara langsung yang dilakukan atas permintaan pasien. Fatwa-Fatwa Kontemporer.

yaitu pembunuhan sengaja. sehingga mereka dapat dituntut atas kejahatan yang mereka lakukan. dan serupa kekeliruan (ma jara majr al-khata'). 2.Syar’i) 2. Sebagian Hanafiyah mengklasifikasikanya menjadi empat (ruba'i). 1992). Kaidah Fiqh Jinayah (Asas-asas Hukum Pidana Islam). atTasyri' al-Jina'I al-Islami Muqaranah bi al-Qanun al-Wad'I. 3. hlm.3. yaitu: pembunuhan sengaja. Pelaku kejahatan adalah orang yang dapat menerima khithab atau dapat memahami taklif. Fiqh Jinayah (upaya menanggulangi kejahatan dalam Islam). terjadi perbedaan pendapat di antara para ulama dalam mengklasifikasikan bentuk-bentuk pembunuhan. ke-1. kekeliruan. (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Unsur ini dikenal dengan istilah “unsur moral” (ar-Rukn al-Adabi)21 Dalam konteks di atas jelas bahwa pelaku euthanasia aktif bisa dikenai sanksi pembunuhan sengaja. Lihat juga Abd al-Qadir 'Awdah. (Bayrut: Muassasat ar-Risalat. Jumhur mengklasifikasikannya menjadi tiga (sulasi). cet. II: 7-9. Unsur ini dikenal dengan istilah “unsur formal” (ar-Rukn asy. artinya pelaku kejahatan tadi adalah mukallaf. 4. Berkenaan dengan ini. 22 Jaih Mubarok dan Enceng Arif Faizal. (Bandung: Pustaka Bani Quraisy. semi sengaja (syibh al-'amd) dan kekeliruan. Pembunuhan adakalanya terjadi karena disengaja oleh pelaku dan adakalanya tidak disengaja. dan pembunuhan secara tidak langsung (qatl bi attasabbub).22 A. Adanya unsur perbuatan yang membentuk jinayah. yaitu: pembunuhan sengaja. Adanya nash yang melarang perbuatan-perbuaatan tertentu yang disertai ancaman hukuman atas perbuatan di atas. Djazuli. 1997). 21 . semi sengaja. Unsur ini dikenal dengan istilah “unsur material” (ar-Rukn al-Maddi) 3. 2004). maka perlu diberikan klasifikasinya agar mudah menempatkan/ memposisikan suatu tindak pidana pembunuhan menurut kadar ukurannya. semi sengaja. ke-2. hlm. baik berupa melakukaan perbuatan yang dilarang atau meninggalkan perbuatan yang diharuskan.9. cet.14 1. kekeliruan. Sebagian Hanafiyah mengklasifikasikannya menjadi lima (khumasi). Perbedaan pengklasifikasian tersebut adalah: 1. serupa kekeliruan. Ulama Malikiyah mengklasifikasikan bentuk-bentuk pembunuhan menjadi dua yaitu: pembunuhan sengaja (qatl al-'amd) dan kekeliruan (qatl al khata'). Berbicara tentang pembunuhan.

tetapi karena kelalaiannya. cet ke-1 desember 2000. pembunuhan sengaja (qatl al-'amd). 2000).23 4. cet.24 Rahmat Hakim. pelaku sama sekali tidak bermaksud melakukan suatu aktivitas tertentu. Djajuli. hlm. Perbuatan itu sendiri sengaja dilakukan dalam objek yang dimaksud. 3. hlm.17. Fiqh JInayat (upaya menaggulangi Kejahatan Dalam Islam. CV Pustaka Setia.15 Untuk mengetahui arti dari jenis-jenis pembunuhan ini maka perlu diperjelas artinya yaitu sebagai berikut: 1. 5. ke-2. Walaupun disengaja. Jadi. perbuatan tersebut tidak ditujukan terhadap korban. (Jakarrta: PT Raja Grafindo Persada. pembunuhan secara tidak langsung (qatl bi at-tasabbub). Lihat juga A. pembunuhan serupa kekeliruan (ma jara majr al-khata'). Jadi matinya korban sama sekali tidak diniati. 2. akan tetapi di luar kesadarannya menyebabkan kematian orang lain. yaitu perbuatan penganiayaan terhadap seseorang tidak dengan maksud untuk membunuhnya tetapi mengakibatkan kematian. (Bandung. . namun sama sekali tidak menhendaki kematian si korban. yaitu kesalahan dalam berbuat sesuatu yang mengakibatkan matinya seseorang. pembunuhan karena kesalahan (qatl al-khata'). 1997). Hukum Pidana Islam (Fiqih Jinayah). yaitu suatu perbuatan penganiayaan terhadap seseorang dengan maksud untuk menghilangkan nyawanya. pada akhirnya menyebabkan kematian orang lain. 123 24 23 Jaih Mubarok. hal 117. matinya korban merupakan bagian yang dikehendaki si pembunuh. pembunuhan semi sengaja (qatl syibh al-'amd). kaidah fiqh jinayah. pelaku membuat sarana yang pada awalnya tidak dimaksudkan untuk mencelakakan orang lain.

Oleh Abu Sa’id al-Falahi dan Aunur Rafiq Shaleh Tamhid. Halal dan Haram dalam Islam. 1994). karena telah ada unsur perbuatannya dan unsur tujuannya yaitu agar orang tersebut mati. ataupun selnya. lebih-lebih terhadap jiwa manusia. Haji Masagung.26 Manusia dituntut untuk memelihara jiwanya (hifz an-nafs). dan masalah ini biasanya timbul oleh alasan bahwa pasien sudah tidak tahan lagi menanggung derita yang berkepanjangan atau tidak ingin meninggalkan beban ekonomi atau tidak punya harapan untuk sembuh. 26 .161. Tetapi dalam hal ini yang perlu dipertanyakan apakah unsur kerelaan atas si terbunuh termasuk ke dalam unsur pembunuhan disengaja. Syaikh Muhammad Yusuf al-Qardawi mengatakan. (Jakarta: Robbani Press. anggota tubuhnya..16 Dari jenis-jenis pembunuhan di atas. Karena itu ia tidak boleh mengabaikannya.ke-1. Apabila euthanasia aktif itu didukung oleh kerelaan si pasien maka yang demikian disebut tindakan bunuh diri dengan meminjam tangan atau melalui orang lain. Masalah euthanasia merupakan masalah yang sangat sulit. terj. Islam sangat memperhatikan keselamatan hidup dan kehidupan manusia25. hlm. karena dia tidak menciptakan dirinya (jiwanya). hlm. cet. bahwa kehidupan seseorang bukanlah miliknya sendiri. 379. Yusuf Qardawi. berarti hal ini termasuk dalam pembunuhan disengaja. Karena memelihara nyawa manusia merupakan salah-satu tujuan utama dari lima tujuan 25 Masjfuk Zuhdi. Masail Fiqhiyah (Jakarta: CV. Dirinya hanyalah titipan yang dititipkan Allah. 2000). apalagi memusuhinya atau memisahkannya dari kehidupan. bila melihat kepada maknanya euthanasia yaitu suatu perbuatan penghilangan nyawa seseorang atas permintaan orang itu sendiri.

Maka euthanasia ini merupakan perbuatan yang terlarang. Dan sanksi pembunuhan ini adalah hukum Qisas sesuai dengan kadar dan jenis pembunuhannya Perbuatan euthanasia sama dengan bunuh diri yang dilakukan dengan meminjam tangan orang lain.69. hlm. bahwa penyakit yang diderita pasien tidak dapat disembuhkan lagi dan diberikan jalan pintas yaitu dengan jalan medis juga. biasanya upaya untuk mengurangi beban pasien dalam penderitaannya melalui suntikan dengan bahan pelemah fungsi syaraf dalam dosis tertentu (neurasthenia). tetapi ia adalah anugerah Allah Swt. seseorang sama sekali tidak berwenang dan tidak boleh melenyapkannya tanpa kehendak dan aturan Allah sendiri. dan hal ini dilarang oleh Allah dengan ancaman neraka jahannam. Jiwa meskipun merupakan hak asasi manusia. walaupun terdapat unsur kerelaan dari pihak siterbunuh maka perbuatan tersebut termasuk perbuatan jarimah. Fuzi Aseri. Oleh karenanya.17 syariat yang diturunkan oleh Allah Swt. . Memutuskan hukum dalam masalah euthanasia ini bukan merupakan hal yang mudah. 27 Akh. Namun karena masalah euthanasia ini berhubungan masalah pembunuhan. Euthanasia…. dalam al-Qur'an tidak ada ayat yang menyinggung terhadap masalah euthanasia ini secara khusus.27 F. Hipotesis Euthanasia adalah istilah dalam dunia medis yang merupakan keputusan dokter terhadap keadaan penyakit yang dialami pasien. dan hal ini dianggap sebagai perbuatan yang menentang takdir Tuhan.

Dalam rangka pengumpulan data. G.Teknik pengumpulan data Untuk mendapatkan data dalam penyusunan skripsi ini. ialah pendekatan normatif. 4.Pendekatan Pendekatan yang digunakan dalam penyusunan skripsi ini. yaitu Allah SWT.Jenis penelitian Jenis penelitian yang digunakan ialah kepustakaan (literatur) 2. yang mana euthanasia yang terdapat dalam dunia medis diteliti dengan prespektif fiqh jinayah (Hukum Pidana Islam). dan dalam penyelesaiannya dibantu dengan pendapat-pendapat para ahli dan para mujtahid 3. yaitu meneliti permasalahan euthanasia sebagai suatu permasalahan baru. sesuai dengan perkembangan zaman yang disesuaikan dengan keadaan sekarang. Metode Penelitian 1.Sifat penelitian Penelitian ini bersifat eksploratif. Artinya dalam pembahasannya melakukan pendekatan terhadap permasalahan yang dititikberatkan pada aspek-aspek hukum. yaitu penyusun . dalam hukum Islam lebih khusus dalam Fiqh Jinayah (Hukum Pidana Islam). penyusun menggunakan teknik dokumentasi. Penyusun menelusuri bahan penelitian yang ada hubungannya dengan permasalahan yang diteliti. ialah menggunakan penelitian kepustakaan (library research).18 Sebab masalah kehidupan dan kematian seseorang itu berasal dari pencipta-Nya.

telaah pustaka. tinjauan umum dan masalah sekitar euthanasia. penulis membuat sistematika pembahasan yang terdiri dari bab-bab yang saling berhubungan dan saling menunjang yang satu dengan yang lainnya secara logis. metode penelitian dan sistematika pembahasan. sebab-sebab yang memungkinkan .19 melakukan observasi terhadap sumber-sumber data yang berupa dokumen baik primer ataupun sekunder. Pada bab pertama. kemudian dikumpulkan dan diolah sedemikian rupa sehingga menghasilkan data yang diperlukan. bab ini membicarakan mengenani pengertian euthanasia serta permasalahannya yang sangat erat hubungannya dengan euthanasia. jenis euthanasia yang termasuk kedalam perbuatan jarimah. kerangka teori. dimulai dengan pendahuluan yang menjelaskan latar belakang permasalahan yang akan dicari jawabannya. hipotesis. 5. yakni tentang macam-macam euthanasia. H. serta pelaku tindakan euthanasia dan juga sanksi hukum apa yang harus diterapkan bagi perbuatan euthanasia ini. Analisis Data Data yang terkumpul dianalisis secara kualitatif dengan cara berfikir deduktif. Setelah bab pertama merupakaan pendahuluan ialah bab kedua. kemudian ditentukan. tujuan dan kegunaan penelitian. Sistematika Pembahasan Agar tidak terjadi tumpang tindih dan untuk konsistensi pemikiran. Deduktif artinya meneliti dan menganalisa macam-macam bentuk euthanasia.

Sedangkan saran-saran diajukan pula. Setelah diuraikan secara panjang lebar dan terperinci pada bab-bab sebelumnya. Bab kelima. pada bab yang terakhir ini. demi perbaikan dan kesempurnaan dari pengaturan masalaah euthanasia yang telah ada serta pandangan untuk masa-masa yang akan datang. BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG EUTHANASIA A. jarimah Qisas-diyat. langkah selanjutnya adalah mengambil suatu kesimpulan dari apa yang telah menjadi pokok pembahasan dalam karya ilmiah ini. Maksudnya adalah mengakhiri hidup dengan . dan juga beberapa tinjauan baik dari segi Medis. HAM dan Hukum Pidana Positif (KUHP). yaitu eu dan thanatos. Kata eu berarti baik.20 dilakukannya euthanasia. tujuan Fiqh Jinayah serta aspek kemanusiaan dalam Fiqh Jinayah. memuat tentang kesimpulan dan saran-saran. dan thanatos berarti mati. Pada bab keempat berisi tentang Praktek Euthanasia Dalam Prespektif Fiqh Jinayah yang meliputi Euthanasia aktif sebagai jarimah. Pengertian Euthanasia Istilah euthanasia berasal dari bahasa Yunani. sebagai acuan dalam meninjau permasalahan pidana khususnya dalam masalah euthanasia. Pada bab ketiga berisi tentang Prinsip-prinsip Fiqh Jinayah terhadap Euthanasia yang meliputi pengertian Hukum Pidana Islam. Serta sanksi hukum bagi pelaku euthanasia.

agama. buku ke-4. hlm. Hukum Pidana. Sejumlah pakar dari berbagai disiplin ilmu telah mencoba membahas euthanasia dari berbagai sudut pandang. 29 J. sosial dan yuridis masih mengundang berbagai ketidakpuasan. Chr Purwa Widyana.29 Akh. 1974). Dalam arti yang demikian itu euthanasia tidaklah bertentangan dengan panggilan manusia untuk mempertahankan dan memperkembangkan hidupnya.21 cara yang mudah tanpa rasa sakit. Bagi yang setuju menganggap euthanasia merupakan pilihan yang sangat manusiawi. hlm. Hak untuk mati ini secara diam-diam telah dilakukan yang tak kunjung habis diperdebatkan.28 Jadi euthanasia berarti mempermudah kematian (hak untuk mati). sementara yang tidak setuju menganggapnya sangat bertentangan dengan nilai-nilai moral. 2002). Fauzi Aseri. "Euthanasia" beberapa soal moral berhubungan dengan quintum. Yanggo dan Hafiz Anshary AZ.25 28 . etika dan agama. (Jakarta: Pustaka Firdaus. etika. dan Hukum Islam. Euthanasia atau hak mati bagi pasien sudah ratusan tahun dipertanyakan. Secara etimologis euthanasia berarti kematian dengan baik tanpa penderitaan. sehingga tidak menjadi persoalan dari segi kesusilaan. Artinya dari segi kesusilaan dapat dipertanggungjawabkan bila orang yang bersangkutan menghendakinya. sulit dijawab secara tepat dan objektif. namun demikian pandangan medis. namun untuk mengurangi atau meringankan penderitaan orang yang sedang menghadapi kematiannya. a good death. (Antropologi Teologis II. Euthanasia Suatu Tinjauan dari Segi Kedokteran. (ed. atau enjoy death (mati dengan tenang). Oleh karena itu euthanasia sering disebut juga dengan mercy killing. 64.). dalam Chuzaimah T. Problematika Hukum Islam Kontemporer. maka dari itu dalam mengadakan euthanasia arti sebenarnya bukan untuk menyebabkan kematian.

euthanasia lebih menunjukkan perbuatan yang membunuh karena belas kasihan. sehingga banyak masalah yang ditimbulkan dari euthanasia ini. euthanasia dapat diterangkan sebagai pembunuhan yang sistematis karena kehidupannya merupakan suatu kesengsaraan dan penderitaan. Carm. hlm. Dewasa ini orang tidak lagi memakai arti asli. Secara etimologis di zaman kuno berarti kematian tenang tanpa penderitaan yang hebat. (Yogyakarta: Media Presindo. 1989). bahkan kadang-kadang disertai bahaya mengakhiri kehidupan sebelum waktunya. 2001). 31 30 . cet. Akhirnya kata ini dipakai dalam arti yang lebih sempit sehingga makna dan artinya adalah mematikan karena belas kasihan. Agar persoalan euthanasia ini dapat dibahas dengan sewajarnya sebaiknya arti kata-katanya diuraikan dengan lebih seksama lagi.22 Akan tetapi dalam perkembangan istilah selanjutnya. melainkan lebih terarah pada campur tangan ilmu kedokteran yang meringankan orang sakit atau orang yang berada pada sakarotul maut. (Malang: Analekta Keuskupan Malang. Euthanasia dalam prespektif hak asasi manusia. maka menurut pengertian umum sekarang ini. hlm. Euthanasia Beberapa Soal Etis Akhir Hidup Menurut Gereja Katolik.30 Sejak abad ke-19. ke-1.26-27. Masalah tersebut semakin kompleks karena definisi dari kematian itu sendiri telah menjadi kabur. terminologi euthanasia dipakai untuk menyatakan penghindaran rasa sakit dan peringanan pada umumnya bagi yang sedang menghadapi kematian dengan pertolongan dokter. yaitu:31 1. Pemakaian terminologi euthanasia ini mencakup tiga kategori. Inilah konsep dasar dari euthanasia yang kini maknanya berkembang menjadi kematian atas dasar pilihan rasional seseorang. Pemakaian secara sempit Piet Go O. 5-6 Petrus Yoyo Karyadi.

. 32 Ibid. melainkan sebagai tindakan untuk menghilangkan penderitaan pasien.23 Secara sempit euthanasia dipakai untuk tindakan menghindari rasa sakit dari penderitaan dalam menghadapi kematian. Menurut hasil seminar aborsi dan euthanasia ditinjau dari segi medis.27. hlm. euthanasia diartikan: 1). Dilakukan khusus untuk kepentingan pasien itu sendiri atas permintaan atau tanpa permintaan pasien. 3. euthanasia berarti memendekkan hidup yang tidak lagi dianggap sebagai side effect. 2). Dengan sengaja melakukan sesuatu untuk mengakhiri hidup seorang pasien. Pemakaian paling luas Dalam pemakaian yang paling luas ini. Pemakaian secara luas Secara luas. terminologi euthanasia dipakai untuk perawatan yang menghindarkan rasa sakit dalam penderitaan dengan resiko efek hidup diperpendek. tetapi pada hemat penulis apapun istilahnya ketiga cara tersebut adalah tindakan euthanasia. . Beberapa pengertian tentang terminologi euthanasia:32 a. Dengan sengaja tidak melakukan sesuatu (palaten) untuk memperpanjang hidup pasien 3). 2. hukum dan psikologi. Beberapa ahli membedakan ketiga cara tersebut.

diringankan penderitaan sisakit dengan memberinya obat penenang. 3).24 b. Mengakhiri hidup. 4). Berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu 2). seperti cara pelaksanaanya. atau tidak memperpanjang hidup pasien. Dari beberapa kategori tersebut. hlm. Atas atau tanpa permintaan pasien atau keluarganya. kata euthanasia dipergunakan dalam tiga arti:33 1). Menurut kode etik kedokteran indonesia. 3). untuk yang beriman dengan nama Allah dibibir. 2). Etika profesional dan Hukum Pertanggungjawaban Pidana Dokter. Oemar Seno Adji. Ketika hidup berakhir.1991).176 33 . dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur euthanasia adalah sebagai berikut: 1). Demi kepentingan pasien dan keluarganya. Mengakhiri penderitaan dan hidup seorang sakit dengan sengaja atas permintaan pasien sendiri dan keluarganya. (Jakarta: Erlangga. B. Berpindahnya ke alam baka dengan tenang dan aman tanpa penderitaan. dari mana datang permintaan. sadar tidaknya pasien dan lain-lain. Macam-macam Euthanasia Euthanasia bisa ditinjau dari berbagai sudut. Pasien menderita suatu penyakit yang sulit untuk disembuhkan kembali. mempercepat kematian. 3).

hlm. 1992). Biasanya dilakukan dengan penggunaan obat-obatan yang bekerja cepat dan mematikan.25 Secara garis besar euthanasia dikelompokan dalam dua kelompok. b. mencabut oksigen atau alat bantu kehidupan lainnya. hlm. yaitu cara pengakhiran kehidupan melalui tindakan medis yang diperhitungkan akan langsung mengakhiri hidup pasien. Misalnya dengan memberi tablet sianida atau suntikan zat yang segera mematikan. yang menunjukkan bahwa tindakan medis yang dilakukan tidak akan langsung mengakhiri hidup pasien.66- 67. Euthanasia aktif langsung. 2.31. 35 . Euthanasia aktif terbagi menjadi dua golongan:35 a. 4. Kartono Mohamad. Teknologi Kedokteran dan Tantangannya terhadap Bioetika (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.1997). Misalnya. 34 Amri Amir. yaitu euthanasia aktif dan euthanasia pasif Di bawah ini dikemukakan beberapa jenis euthanasia: 1. Euthanasia aktif Euthanasia aktif adalah perbuatan yang dilakukan secara aktif oleh dokter untuk mengakhiri hidup seorang (pasien) yang dilakukan secara medis. tetapi diketahui bahwa risiko tindakan tersebut dapat mengakhiri hidup pasien. Bunga Rampai Hukum Kesehatan (Jakarta: Widya Medika. euthanasia aktif euthanasia pasif euthanasia volunter euthanasia involunter34 1. Euthanasia aktif tidak langsung. 3.

euthanasia juga mempunyai macam yang lain. bahwa pasien mungkin mati dengan lebih cepat. diantaranya Frans magnis suseno dan Yezzi seperti dikutip Petrus Yoyo Karyadi. mereka menambahkan macam-macam euthanasia selain euthanasia secara garis besarnya. Kedalamnya termasuk semua usaha perawatan agar yang bersangkutan dapat mati dengan "baik". hal ini diungkapkan oleh beberapa tokoh. 4. . Euthanasia murni. Dalam hal ini dianggap famili pasien yang bertanggung jawab atas penghentian bantuan pengobatan. yaitu usaha untuk memperingan kematian dengan efek samping. Euthanasia tidak langsung. Perbuatan ini sulit dibedakan dengan perbuatan kriminal. 2. Selain kategori empat macam euthanasia di atas. yaitu: 1.26 2. yaitu usaha untuk memperingan kematian seseorang tanpa memperpendek kehidupannya. sehingga pasien diperkirakan akan meninggal setelah tindakan pertolongan dihentikan. Euthanasia involunter Euthanasia involunter adalah jenis euthanasia yang dilakukan pada pasien dalam keadaan tidak sadar yang tidak mungkin untuk menyampaikan keinginannya. Euthanasia volunter Euthanasia jenis ini adalah Penghentian tindakan pengobatan atau mempercepat kematian atas permintaan sendiri. Euthanasia pasif Euthanasia pasif adalah perbuatan menghentikan atau mencabut segala tindakan atau pengobatan yang perlu untuk mempertahankan hidup manusia. 3.

tetapi yang tidak begitu bermanfaat lagi. Adakalanya hal itu tidak harus dibuktikan dengan pernyataan tertulis dari pasien atau bahkan bertentangan dengan pasien. euthanasia dibedakan antara yang aktif dan yang pasif.30. 4. hlm. Misalnya tidak memberikan shock terapi dan tidak menyambung pernafasan dengan ventilator sesudah pasien manula penderita jantung kronis yang mendapat serangan 36 Petrus Yoyo Karyadi. Euthanasia. Euthanasia nonvoluntary.36 3. Dalam literatur.27 Di sini ke dalamnya termasuk pemberian segala macam obat narkotik.37 C. 37 . hlm. yaitu mempercepat kematian sesuai dengan keinginan pasien yang disampaikan oleh atau melalui pihak ketiga (misalnya keluarga). yaitu mempercepat kematian atas persetujuan atau permintaan pasien. misalnya dengan mengakhiri pemberian nafas buatan melalui respirator atau mencabut ventilator dalam arti penghentian pemberian pernafasan artifisial.67-68 Ibid. Keadaan-keadaan yang Memungkinkan Dilakukannya Euthanasia Euthanasia mempunyai arti yang berdekatan dengan “membiarkan datangnya kematian” (letting die). Euthanasia sukarela. bahkan akan menambah beban penderitaan (not initiating life support treatment). atau atas keputusan pemerintah. hipnotik dan analgetika yang mungkin "de fakto" dapat memperpendek kehidupan walaupun hal itu tidak disengaja. Euthanasia aktif diartikan melakukan suatu tindakan tertentu sehingga pasien meninggal.. Sedang euthanasia pasif diartikan sebagai tidak dimulainya melakukan tindakan untuk memperpanjang hidupnya.

dan kalau alat tersebut dicabut kemungkinan besar ia akan segera mati. Guwandi. Persoalan yang kemudian timbul adalah sampai berapa lama orang itu bertahan dengan alat bantu tersebut. tetapi bila otak sudah tidak berfungsi. maka seseorang yang oleh karena suatu hal mengalami henti nafas mendadak (respiratory arrest) atau henti jantung (cardiac arrest). yakni sel-sel tubuh saja yang masih menunjukkan tanda kehidupan. Secara medis sekarang diketahui jika rekaman otak masih menunjukkan fungsi yang baik. hlm. masih ada kemungkinan ditolong dengan menggunakan alat tersebut. yang menunjukkan bahwa otak sudah tidak berfungsi lagi.38 Seperti telah disebutkan pada awal tulisan ini.28 jantung untuk kesekian kalinya dan sudah tidak sadarkan diri untuk waktu yang agak lama. maka ada harapan orang tersebut akan siuman kembali. dengan kata lain dia hanya hidup secara vegetatif. 38 J. yang jelas kehidupannya tergantung kepada alat. (Jakarta: FK UI. kemajuan dalam bidang ilmu dan tekhnologi kedokteran telah menambah beberapa konsep fundamental tentang mati. maka hampir tidak mungkin dia hidup tanpa bantuan alat tersebut. Dengan demikian sekarang dikenal istilah mati otak (brain death). artinya pasien belum meninggal. 2000). maka dengan ditemukannya alat bantu pernafasan (respirator) dan alat pacu jantung (pace maker). 40 . Kalau dahulu mati didefinisikan sebagai berhentinya denyut jantung dan pernafasan. Kumpulan Kasus Bioethics & biolaw. berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun tanpa di ketahui kapan akan berakhir. Keadaan semacam ini berlangsung berhari-hari.

Tidak ada pemecahan rasional lain yang dapat memperbaiki situasi. Baik penderitaan ini maupun keinginan untuk mengakhiri kehidupan berlangsung tiada henti-hentinya. Pengadilan Negeri Rotterdam mempunyai kriteria bahwa seorang dokter tidak dihukum dalam melakukan euthanasia. apakah dokter mempunyai hak untuk melakukan hal itu tanpa ia dikenai sanksi hukum?.39 Di Negara Belanda. H. yang menjadi persoalan adalah: pertama. Akan lebih rumit lagi apabila permintaan pasien (keluarganya) adalah dengan alasan sosial ekonomi (biaya) sehingga keluarga memaksa untuk membawa pulang pasien. Aborsi dan Euthanasia ditinjau dari segi medis. Siswo Sudarmo. 1990). (Yogyakarta: FKMPY. pada yang terakhir ini jelas yang harus mencabut segala alat bantu adalah dokter (dokter yang bertanggungjawab).R. tepatnya di daerah Rotterdam. 4. Harus ada penderitaan fisik atau psikis yang tidak terpikulkan dan dahsyat dialami pasien. 3. Kedua. seorang dokter tidak di hukum dalam melakukan euthanasia.3-4 39 . sampai hatikah seorang dokter dengan sengaja melepas alat bantu yang nota bene akan mengakhiri kehidupan seseorang?. Pasien memahami betul situasinya sendiri maupun kemungkinankemungkinan alternatif yang tersedia dan mampu menimbang-nimbang antara pelbagai kemungkinan yang ada dan sesungguhnya telah pula melakukan pilihannya. "Euthanasia.29 Dalam keadaan seperti ini tidak jarang keluarga pasien meminta dokter untuk segera mengakhiri penderitaan pasien dengan cara melepas semua alat bantu. sebagai berikut: 1. Bagaimana sikap seorang dokter?" Makalah pada seminar sehari. hukum dan psikologis. hlm. 2.

the Right of man" hal mana pada prinsipnya dapat dirumuskan sebagai "hak-hak yang dimiliki manusia menurut kodratnya. mengarahkan perbuatan manusia dan mengatur masyarakat. Sebagai basis dari pemikiran manusia. buku. t. 8. yang tak dapat dipisahkan dari hakekatnya dan karena itu bersifat suci". Euthanasia dan Hak Asasi Manusia (HAM) Hak asasi mausia (HAM) mungkin merupakan kata yang telah ditulis dalam ratusan ribu halaman kertas. hak asasi dapat F. Tengker. Hak-hak asasi manusia sebagaimana dikenal dewasa ini dengan nama antara lain "human rights. Pada keputusan untuk memberikan bantuan.t). (Bandung: Nova. 6. Pada keputusan untuk memberikan bantuan harus selalu melibatkan seorang dokter. jurnalis. Dengan kematian ini tidak ada orang lain yang dirugikan atau menderita tanpa alasan. politikus. demikian pula pada bantuan itu perlu diperhatikan kecermatan dan ketelitian yang semaksimal mungkin sesuai dengan kepatutan yang berlaku (misalnya dengan mengikutsertakan dalam perembukan beberapa teman sejawat dan ahli-ahli lainnya. lawyer dan sebagainya. 95. hlm. artikel atau surat kabar dan siaran televisi maupun radio. 7. yang akan mengeluarkan resep mengenai obat atau bahan yang akan dipakai. Ia seolah-olah menjadi "trademark" peradaban modern saat ini. Jadi. Mengapa euthanasia? Kemampuan medis & konsekuensi Yuridis.30 5. Keputusan untuk memberikan bantuan tidak diambil oleh satu orang saja.40 D. 40 . juga menarik perhatian sejumlah besar ahli.

4.41 Sebagai contoh bahwa Nabi Musa berusaha menyelamatkan umatnya dari penindasan Fir'aun. dari kedua dokumen tersebut terdapat semboyan. berbuat adil. (Solo: CV. banyak mengajarkan tentang toleransi. diantaranya Declarations des Droits de'l Homme et du Citoyen (1789) di Perancis dan The Four Freedoms of F.31 dikatakan sebagai hak dasar yang dimiliki oleh pribadi manusia sebagai anugerah Tuhan yang dibawa sejak lahir. al-Qur'an. menerapkan kasih sayang. 5. Hak-hak Asasi manusia secara umum mencakup hak pribadi. dan lain sebagainya. sosial dan kebudayaan. Islam mengajarkan belas kasihan sebagai suatu nilai kemanusiaan yang pokok dan satu dari kebajikan yang fundamental bagi orang yang mengaku dirinya muslim. hlm. Liberte (kemerdekaan). Egalite (kesamarataan). tidak boleh memaksa. Ramadhani. Fraternite (kerukunan atau persaudaraan). politik. bijaksana. 129. Euthanasia Cara Mati Terhormat Orang modern. perlakuan yang sama dalam hukum. 1990). Dari pemahaman yang demikian maka sebenarnya perjuangan untuk membela hak-hak kemanusiaan tersebut mungkin seumur umat manusia itu sendiri. 41 . Freedom of Speech (kebebasan mengutarakan pendapat). serta untuk mendapatkan perlakuan tata cara peradilan dan perlindungan hukum. 3. yaitu: 1. Dalam hak-hak asasi manusia. Freedom of Religion (kebeasan beragama). Hak asasi itu tidak dapat dipisahkan dari eksistensi pribadi manusia itu sendiri. terdapat bermacam dokumen.D. Roosevelt (1941) di Amerika Serikat. 2. Nabi Muhammad dengan mu'jizatnya. Imron Halimi.

terutama dalam hak kemerdekaan atas diri sendiri. Freedom from Want (kebeasan dari kekurangan). 137 . Hak kemerdekaan atas diri sendiri. memang telah diakui oleh dunia yaitu dengan dimasukannya dan diakuinya Universal Declaration of Human Right oleh perserikatan bangsa-bangsa tanggal 10 desember 1948. karena tidak dicantumkan secara tegas dalam suatu deklarasi dunia. Euthanasia Hak Asasi Manusia dan Hukum Pidana. Sedangkan mengenai "hak untuk mati". maka masih merupakan perdebatan dan pembicaraan di kalangan ahli berbagai 42 Djoko Prakoso dan Djaman Andi Nirwanto.43 Mengenai hak untuk hidup.32-33. 1984). Freedom from Fear (kebebasan dari ketakutan). Euthanasia. Dan dalam hak untuk hidup ini juga tercakup pula adanya "hak untuk mati" atau the right to die. Hak kemerdekaan berkumpul. b. e. hlm. Hak kemerdekaan pikiran. maka akan terlintas dalam benak pikiran bahwa "hak untuk hidup" atau the right to life.32 6. Hak kemerdekaan beragama. d. Hak menyatakan kebebasan dari rasa takut. (Jakarta: Ghalia Indah. c. adalah termasuk didalamnya. dan 7. dapat disimpulkan bahwa hak asasi manusia mencakup: a.42 Dari kedua dokumen tersebut. hlm. "The right to die" ini berkaitan dengan munculnya "revolusi biomedis" dan tentunya berkaitan pula dengan masalah euthanasia. 43 Petrus Yoyo Karyadi. Menyinggung masalah hak-hak asasi manusia.

Kendatipun telah diakui dalam berbagai undang-undang. namun masih harus diakui pula bahwa "hak untuk mati" itu tidak bersifat mutlak. Ibid. melainkan 44 Imron Halimi. seperti diperagakan dalam "peradilan semu" dalam rangka Konperensi Hukum Se-Dunia di Manila.45 Penderita suatu penyakit yang sudah demikian tersebut diakui dan diperbolehkan menggunakan "hak untuk mati"-nya.. dan bahkan di Negara-negara bagian ada yang mengaturnya secara jelas dalam berbagai undang-undang. Dengan demikian maka penderita suatu penyakit yang tak menentu nasibnya tersebut akan segera mati dengan tenang. Euthanasia. dengan jalan meminta pada dokter untuk menghentikan pengobatan yang selama ini diberikan kepadanya.33 bidang dunia. maka perbuatan dokter yang telah memebantu untuk melaksanakan permintaan seorang pasien atau dari keluarganya seperti diuraikan di atas memounyai kekebalan terhadap "criminal liability" maupun terhadap "civil liability". 141 Ibid. 42 45 46 . hlm. misalnya bagi penderita suatu penyakit yang sudah tidak dapat diharapkan lagi penyembuhannya dan pengobatan yang diberikan sudah tidak berpotensi lagi.46 Dari uraian di atas kiranya dapat disimpulkan bahwa masalah hak-hak asasi manusia itu bukanlah semata-mata merupakan persoalan yuridis semata. Dan lagi Negara yang telah mengakui adanya "hak untk mati". Jadi masih terbatas dalam suatu keadaan tertentu.44 Di Negara-negara maju seperti Amerika Serikat masalah "hak untuk mati" sudah diakui. ataupun dengan jalan meminta agar diberikan obat penenang dengan dosis yang tinggi. hlm.

Bunga Rampai Hukum Kesehatan. hlm. (Jakarta: Widya Medika. 1997). Perubahan pengertian ini berkaitan dengan adanya alat-alat resusitasi. dalam perawatan intensif (di rumah sakit yang mempunyai fasilitas dan ahlinya) jantung yang sudah berhenti dapat dipacu untuk bekerja kembali dan paru-paru dapat dipompa agar kembali kembang kempis. Berhentinya darah mengalir Konsep ini bertolak dari kriteria mati berupa berhentinya jantung. cet. organ yang memompa darah mengalir keseluruh tubuh. moral yang ada di suatu masyarakat tertentu. berbagai alat atau mesinmesin penopang hidup dan kemajuan dalam perawatan intensif. Konsep tentang Mati Untuk dapat memahami lebih jauh timbulnya masalah euthanasia. Kini keadaan sudah berubah. Oleh sebab itu masalah "hak untuk mati" yang dihadapkan sebagai suatu kasus hukum. ke-1. apabila jantung dan paru-paru sudah tidak bekerja lagi. apa yang dimaksud dengan "mati"?. Dari hal ini dinyatakan bahwa mati 47 Amri Amir. etis. Penting bagi para dokter untuk memperjelas arti mati. orang sudah dinyatakan mati dan tidak perlu diberi pertolongan lagi.34 bersangkut paut dengan masalah nilai-nilai etis. maka perlu difahami tentang konsep mati yang dianut dari dulu hingga kini.47Bila demikian. maka pemecahannya haruslah disesuaikan dengan masalah moral.68 . Euthanasia dalam Ilmu Kedokteran 1. maka dari itu perlu dijelaskan arti "mati". Dahulu. kondisi dan kebiasaan yang ada dalam suatu negara E. Pada umumnya dikenal beberapa konsep tentang mati: a.

hlm. hlm. Gramedia Pustaka Utama. Shanon.50 c. Tidak ada tanda-tanda terjadinya pernafasan spontan. Pengantar Bioetika. hlm. jika dua unsur ini dipisahkan.51 Dasar untuk menetapkan bahwa otak tidak berfungsi lagi adalah:52 1). Kematian berarti terputusnya kesatuan tubuh dan jiwa. tidak ada refleks. dan situasi ini diteguhkan oleh elektroensefalogram (EEG). sehingga tersusunlah makhluk yang unik yang disebut manusia. 48 Ibid. Pemisahan tubuh dan jiwa Manusia sebagai kesatuan tubuh dan jiwa atau kesatuan materi dan bentuk. maka bila tidak terjadi lagi pernafasan dan peredaran darah. pencatat gerakan jantung dari gelombang listrik.11 52 51 .35 adalah berhentinya fungsi jantung dan paru-paru. Terj.48 Karena nafas dan darah bahan yang menandakan kehidupan. Pasien tidak berfungsi lagi bereaksi (unreceptive and unresponsive) terhadap stimulus (sentuhan. termasuk stimulus yang sangat menyakitkan. 1995). K. (Jakarta: PT.. itu berarti bahwa kematian sudah menjadi kenyataan. paling sedikit selama satu jam.. Kematian berlangsung.69 Thomas A.49 b. Kematian otak Kriteria ini adalah: tidak sanggup menerima rangsangan dari luar dan tidak ada reaksi atau rangsangan. Kartono Mohamad. Teknologi Kedokteran dan Tantangannya Terhadap Bioetika. Dan juga erat kaitannya dengan Electrokardiogram. tidak ada gerak sepontan atau pernafasan. (Jakarta: PT.58. Bartens. rangsangan) dari luar.1992) hlm. dan kedua jenis ini terdapat pada alat oscillograf (alat catat getaran gelombang). Gramedia Pustaka Utama. 50 49 Ibid.58-59 Electroencephalogram (EEG) adalah: pencatatan terhadap keaktivan otak. 2). Jiwa atau bentuk menjiwai tubuh atau materi.

cortex dan neo cortex) berarti kematian manusia. dua buah kata bagi sebagian negara adalah kata-kata yang mewah. yaitu agar 53 Amri Amir. sehingga keputusannya diambil melalui pertimbangan yang jelas. Dalam hal ini penghormatan atas hak pasien untuk penentuan nasib sendiri masih memerlukan pertimbangan dari seorang dokter terhadap pengobatannya. 1997). hlm. Kematian seluruh otak (batang otak. (Jakarta: Widya Medika. karena tanpa organ ini bagi manusia tidak mungkin mempertahankan integrasi biologisnya dan karena itu juga integrasi sosialnya. sebab masih banyak negara yang tidak atau belum mengatur hal-hal yang berkaitan dengan hak pasien itu. Tidak ada refleks. maka hak utama dari pasien tentunya adalah hak untuk mendapatkan pemeliharaan kesehatan (the right to health care). Bunga Rampai Hukum Kesehatan. Berbicara tentang "hak pasien" yang dihubungkan dengan pemeliharaan kesehatan. dan Elektroensefalogram (EEG)-nya datar. Hak untuk mendapatkan pemeliharaan kesehatan yang memenuhi kriteria tertentu. Pasien harus diberi kesempatan yang luas untuk memutuskan nasibnya tanpa adanya tekanan dari pihak manapun setelah diberi informasi yang cukup.71. Hak-Hak Pasien Berkembangnya etika pelayanan kesehatan sebagai suatu bidang khusus dan pencarian pelbagai hak melalui pengadilan telah membantu untuk menetapkan banyak hak dalam konteks pelayanan kesehatan.53 "hak pasien". 2. Di antaranya adalah penghormatan atas hak pasien.36 3). .

12.147-148. ia tetap tinggal korban paternalisme. . 1995). setelah dokter memberikan informasi. Hukum Kedokteran. maka hak untuk menentukan diri sendiri diformulasikan dengan apa yang dikenal dengan persetujuan atas dasar informasi (informed consent).37 pasien mendapatkan upaya kesehatan. pasien mempunyai hak-hak lainnya. tidak dapat menguasai situasi.18. Pengantar Bioetika (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Bartens . Thomas A. ia tidak bisa memilih. Hak atas informasi Agaknya hak yang paling penting adalah hak atas informasi. dan jika pasien tidak mempunyai kemungkinan itu. Adalah hak asasi pasien untuk menerima atau menolak tindakan medik yang ditawarkan oleh dokter. Shanon. tidak bisa membuat rencana.56 54 Wila Chandrawila Supriadi. hlm. sebagai misal antara lain hak untuk mendapatkan informasi tentang penyakitnya. (Bandung: CV. 56 55 Wila Chandrawila Supriadi. sarana kesehatan dan bantuan dari tenaga kesehatan. Hukum Kedokteran. hak untuk mendapatkan pendapat kedua. Kemungkinan untuk memperoleh informasi merupakan syarat untuk menjalankan otonomi. Mandar Maju 2001). Hak atas persetujuan Hak untuk enentukan diri sendiri (the right of self determination) juga terproses sejalan dengan perkembangan dari hak asasi manusia. yang memenuhi standar pelayanan kesehatan yang optimal. Dihubungkan dengan tindakan medik. Terj K. Jika seseorang tidak tahu. hlm.54 Dalam pelaksanaan untuk mendapatkan pemeliharaan kesehatan. Agar lebih jelas dapat diuraikan hak-hak pasien yaitu sebagai berikut:55 a. hlm.

57 Ibid. Penolakan seperti ini sebagai perwujudan otonomi pasien dalam hak menentukan dirinya. dan dokumen tentang identitas pasien.. Jika konfidensialitas tidak dapat dijamin. maka tidak bisa dihindarkan konsekuensi bahwa ia mempunyai hak juga untuk menolak pengobatan. hlm. 20. tetapi atas inisiatif pasien. hal ini sebagai dasr bagi relasi antara dokter dan pasien. pengobatan.57 f. Hak atas privacy Konfidensialitas dan perlindungan informasi yang diperoleh tenaga medis dalam hubungan dengan pasiennya adalah sangat penting. Kerjasama ini bukan atas inisiatif dokter yang pertama. Dokter pertama akan memberikan seluruh hasil pekerjaannya kepada dokter kedua. Catatan medis di rumah sakit Rekam medik adalah berkas yang berisi catatan.38 c. . Hak atas pendapat kedua Yang dimaksud dengan pendapat kedua ialah adanya kerjasama antara dokter pertama dengan dokter kedua. tindakandan pelayanan lain kepada pasien pada sarana pelayanan kesehatan. d. maka orang akan enggan mencari bantuan medis. Kebutuhan pasien atas catatan medis sebagai dasar pengetahuan untuk melaksanakan hak otonominya. pemeriksaan. Hak untuk menolak pengobatan Jika seseorang mempunyai hak untuk memberi persetujuan dengan suatu pengobatan_atas dasar informasi yang diberikan sebelumnya.

karena ini berarti membohongi diri sendiri dan pasiennya…….39 3. bahkan sebagai seorang yang berpengetahuan ia harus menunjukannya dengan perbuatan. menyingkirkan penyakit. dokter tidak dapat berharap ia akan dapat menyembuhkan setiap pasiennya. Ada batas ketika penyembuhan tidakberdaya lagi. Hal tersebut diinsyafi oleh para dokter diseluruh dunia. Para dokter. Dengan demikian. maka setiap dokter perlu menghayati etika kedokteran . Petrus Yoyo Karyadi. hlm. Dokter harus mengenali dan menerima kedatangan saatsaat maut bagi pasiennya. dan tidak mengobati kasus-kasus yang tidak memerlukan pengobatan. Euthanasia.58 Di antara sumpah Hippocrates adalah sebagai berikut:59 Ilmu kedokteran adalah upaya untuk menaggulangi penderitaan si sakit. 83-84. 79. Saya tidak akan memberikan obat yang mematikan kepada siapapun meskipun dimintanya. Pandangan Kode Etik Kedokteran Tugas profesional dokter begitu mulia dalam pengabdiannya kepada sesama manusia dan tanggung jawab dokter makin tambah berat akibat kemajuan-kemajuan yang dicapai oleh ilmu kedokteran. Kalau dalam prakteknya disertai oleh norma-norma etik dan moral. yaitu jangan berusaha untuk menyembuhkannya. hlm. umumnya semua pejabat dalam bidang kesehatan. atau menganjurkan kepada mereka untuk tujuan itu. Manusia pada akhirnya akan mati. Dari pandanag Hippocrates tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa dokter tidak lagi mengobati penyakit-penyakit yang sebenarnya tidak perlu diobati atau 58 Djoko Prakoso. Pada umumnya kode etik tersebut didasarkan pada sumpah Hippocrates. harus memenuhi segala syarat keahlian dan pengertian tentang susila jabatan. sehingga kemulyaan profesi dokter tersebut tetap terjaga dengan baik. Keahlian dibidang ilmu dan teknik baru dapat memberi manfaat yang sebesarbesarnya. 59 . Dan pastinya di setiap Negara mempunyai kode etik kedokteran sendiri-sendiri. Euthanasia.

Dengan sendirinya dokter harus mempertahankan dan memelihara kehidupan manusia.40 tidak membohongi pasien yang sebenarnya sudah tidak memerlukan obat. yang selalu mengandung resiko. Apabila pengobatan atau perawatan sudah tidak ada gunanya.). 1980). Disamping itu dokter tidak harus terus berupaya mengobati penyakit-penyakit yang tidak dapat disembuhkan kembali. diuraikan bahwa segala perbuatan terhadap si sakit bertujuan memelihara kesehatan dan kebahagiaannya. meskipun hal itu kadang-kadang akan terpaksa melakukan tindakan medik lain misalnya operasi yang membahayakan. Dan berarti hippocrates tidak akan memberikan obat yang memetikan sekalipun pasien telah memeintanya. kemampuan berfikir dan mengumpulkan Ratna Suprapti Samil (ed. Naluri terkuat dari makhluk hidup termasuk manusia adalah mempertahankan hidupnya. Hippocrates tetap menolak tindakan euthanasia aktif.35. Salah satu pasal dari Kode Etik Kedokteran Indonesia yang relevan dengan masalah euthanasia. 60 . (Jakarta: Metro Kencana."60 Dalam penjelasan pasal 9 di atas. adalah pasal 9 yang berbunyi: "Seorang dokter harus senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi hidup makhluk insani. Kode Etik Kedokteran Indonesia. Untuk itu manusia diberi akal. maka dokterpun sudah tidak berkompeten lagi untuk melakukan medikasi terhadap pasiennya. Tindakan ini diambil setelah diperhitungkan masak-masak bahwa tidak ada jalan lain untuk menyelamatkan jiwa si sakit selain pembedahan. Misalnya dengan memberikan resep tetentu atau dengan memberikan medikasi lainnya. Dalam situasi apapun keadaan pasien. hlm.

hlm. walaupun menurut ilmu kedokteran dan pengalamannya pasien tidak mungkin sembuh. berarti ia juga menerima euthanasia dalam bentuk pasif. Euthanasia. Asalkan jangan mengadaada melakukan tindakan medik (yang sebetulnya tindakan medik itu sudah tidak diperlukan lagi). berarti doktert dilarang mengakhiri hidup pasien (euthanasia). Akan tetapi. 62 . Bila dirasakan penyakit pasien sudah tidak dapat disembuhkan kembali. dan juga tidak perlu berusaha keras untuk mempertahankan kehidupannya. Medical ethics must be pro life. misalnya mencari keuntungan sebesar-besarnya di atas penderitaan orang lain.62 61 Petrus Yoyo Karyadi. Tidak perlu mengakhiri hidupnya. perawatan (pengobatan) seperlunya masih tetap dilakukan. Hal ini. jelas bahwa Kode etik kedokteran Indonesia melarang tindakan euthanasia aktif. maka lebih baik dokter membiarkan pasien meninggal dengan sendirinya. apalagi dengan motif-motif tertentu. dokter tidak boleh bertindak sebagai Tuhan (don’t play god). Dengan demikian. not life judgers). bukan orang yang menentukan kehidupan itu sendiri (life savers.41 pengalamannya.61 Sebetulnya kode etik kedokteran Indonesia sudah lama berorientasi pada pandangan-pandangan Hippocrates yang telah lama menerima euthanasia pasif. Dokter adalah orang yang menyelamatkan atau memelihara kehidupan. not pro death. Dengan kata lain. Ia harus berusaha memelihara dan mempertahankan hidup makhluk insani.86 Ibid. karena kematiannya sudah tidak dapat dihindarkan lagi. Begitu juga dengan kode etik kedokteran Indonesia. Jadi. membangun dan mengembangkan ilmu untuk menghindarkan diri dari bahaya maut adalah merupakan tugas dokter.

Pasien yang benar-benar menderita atas penyakitnya.42 Adalah tugas ilmu kedokteran untuk memebantu meringankan penderitaan pasien. tetapi satu-satunya pasal yang lebih mengena yaitu pasal 344. yang dapat dijumpai dalam Bab XIX. atau bahkan berusaha menyembuhkan penyakit selama masih dimungkinkan. Euthanasia dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) Di Indonesia dilihat dari perundang-undangan dewasa ini. R. sudah menjadi tugas dokter untuk ikut membantu meringankan penderitaanya. adalah apa yang terdapat di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Indonesia. buku II. buku II. walaupun kadang-kadang dari tindakan peringanan tersebut dapat mengakibatkan hidup pasien diperpendek secara perlahan-lahan (euthanasia tidak langsung). 5. 1996). hlm. khususnya pasal-pasal yang membicarakan masalah kejahatan nterhadap nyawa manusia. Euthanasia. Soesilo. maka harus dicari pengaturan atau pasal yang sekurang-kurangnya sedikit mendekati unsur-unsur euthanasia itu. hlm.243 64 . yaitu:64 63 Imron Halimi. Tetapi bagaimanapun karena masalah euthanasia menyangkut soal keamanan dan keselamatan nyawa manusia. (Bogor: Politeia. dari pasal 338 sampai pasal 350 KUHP.149-150. pada Bab XIX.63 Dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) pasal yang menyinggung masalah euthanasia ini secara pasti tidak ada. Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) serta komentar-komentarnya lengkap pasal demi pasal. memang belum ada pengaturan (dalam bentuk undang-undang) yang khusus dan lengkap tentang euthanasia. Maka satusatunya yang dapat dipakai sebagai landasan hukum.

Petrus Yoyo Karyadi. Dalam pasal di atas. karena unsur inilah yang akan menentukan apakah orang yang melakukannya dapat dipidana berdasar pasal 344 KUHP atau tidak. 344 KUHP 65 Ibid. Euthanasia. maka dalam menentukan benar tidaknya seseorang telah melakukan pembunuhan karena kasihan ini. Agar unsur ini tidak disalahgunakan. yang disebutkan dengan nyata dan dengan sungguh-sungguh. euthanasia dapat diuraikan sebagai berikut:67 a.54-71 66 67 . kalimat “permintaan sendiri yang dinyatakan dengan kesungguhan hati” harus disebutkan dengan nyata dan sungguh-sungguh (ernstig).66 Masalah euthanasia ini merupakan masalah yang kompleks dari segi sifatnya. Euthanasia aktif terbagi dalam tiga kelompok. yaitu: 1) Euthanasia aktif atas permintaan pasien Pasal. Ditinjau dari segi yuridis. jika tidak maka orang itu dikenakan pembunuhan biasa.71. dan unsur sungguh (ernstig). maka agar lebih mudah untuk difahami perlu diterangkan dan dibagi secara lebih terperinci. unsur permintaan yang tegas (unitdrukkelijk). hlm. harus dapat dibuktikan baik dengan adanya saksi atau pun oleh alat-alat bukti lainnya. hlm. dihukum penjara selama-lamanya dua belas tahun.43 Barang siapa menghilangkan jiwa orang lain atas permintaan orang itu sendiri. Djoko Prakoso.65 dan haruslah mendapatkan perhatian. Euthanasia. Euthanasia aktif Euthanasia aktif terjadi apabila dokter atau tenaga medis lainnya secara sengaja melakukan suatu tindakan untuk mengakhiri atau memeperpendek (mengakhiri) hidup pasien.

Euthanasia tidak langsung atas permintaan pasien Pasal. yaitu: . Seperti halnya dengan euthanasia aktif. Untuk dapat memudahkan euthanasia pasif ini juga dibedakan menjadi tiga. Euthanasia tidak langsung tanpa permintaan pasien Pasal. 340. 338. euthanasia tidak langsung terbagi kedalam tiga kelompok. Euthanasia tidak langsung tanpa sikap pasien Pasal. 344.44 2) Euthanasia aktif tanpa permintaan pasien Pasal. walaupun dengan mengetahui adanya resiko bahwa dari tindakan medik tersebut dapat mengakibatkan hidup sipasien diperpendek. KUHP 4) Euthanasia tidak langsung Euthanasia tidak langsung terjadi apabila dokter atau tenaga medis lainnya tanpa maksud mengakhiri hidup pasien melakukan tindakan medis untyuk meringankan penderitaan pasien. yaitu: a). 359 b). Euthanasia pasif Euthanasia pasif terjadi terrjadi apabila dokter atau tenaga medis lainnya secara sengaja tidak memberikan bantuan medik terhadap pasien yang dapat memperpanjang hidupnya. 340 KUHP 3) Euthanasia aktif tanpa sikap dari pasien Pasal. 359 c). 359 b. 304. 340.

Pasal." Pasal. 338 KUHP: "Barang siapa dengan sengaja menghilangkan jiwa orang lain.500. 304 jo 306 (2) Maka agar dapat mengetahui hukuman atas tindakan tersebut perlu disebutkan pasal-pasalnya. 304 KUHP: Barangsiapa dengan sengaja menyebabkan atau membuarkan orang dalam kesengsaraan. pasal-pasal tersebut adalah:68 Pasal. 306 KUHP: "Kalau salah satu perbuatan ini menyebabkan orang mati. dengan hukumkan penjara selama-lamanya lima belas tahun. dihukum. 304 jo 306 (2) 3)." 68 R. Soesilo. hlm. 4. dihukum penjara selama-lamanya dua tahun delapan bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp. 344 KUHP: "Barangsiapa menghilangkan jiwa orang lain atas permintaan orang itu sendiri. Euthanasia pasif tanpa permintaan pasien Pasal.45 1). sitersalah itu dihukum penjara selam-lamanya sembilan tahun. KItab undang-undang. perawatan atau pemeliharaan pada orang itu karena hukum yang berlaku atasnya atau karena menurut operjanjian. karena makar mati. yang disebutkannya denagn nyata dan dengan sungguh-sungguh.223-248 . dihukum penjara selama-lamanya dua belas tahun. Euthanasia pasif tanpa sikap pasien Pasal. sedang ia wajib memberi kehidupan." Pasal. Euthanasia pasif atas permintaan pasien Tidak dihukum 2).

warna kulit dan ideologi.46 Pasal. maka hal ini dianggap sebagai suatu kejahatan yang besar oleh negara. Oleh sebab itu setiap perbuatan apapun motif dan macamnya sepanjang perbuatan tersebut mengancam keamanan dan keselamatan nyawa manusia." Kalau diperhatikan bunyi pasal-pasal mengenai kejahatan terhadap nyawa manusia dalam KUHP tersebut. Demikian halnya terhadap masalah euthanasia ini. maka dapatlah kita dimengerti betapa sebenarnya pembentuk undang-undang pada saat itu (zaman Hindia Belanda) telah menganggap bahwa nyawa manusia sebagai miliknya yang paling berharga. 359 KUHP: "Barangsiapa karena salahnya menyebabkan matinya orang dihukum penjara selama-lamanya lima tahun atau kurungan selama-lamanya satu tahun. . Adalah suatu kenyataan sampai sekarang bahwa tanpa membedakan agama. tentang keamanan dan keselamatan nyawa manusia Indonesia dijamin oleh undang-undang. ras.

2004) hlm. (Bandung: Pustaka Bani Quraisy. Islam tidak sekedar mengajarkan ajaran moral saja.1. al-bughat (pemberontakan). diantaranya dari aturanaturan yang berkenaan dengan jarimah az-zina (perzinaan). al-hirabah (perampokan). Baik dalam alQur'an maupun as-Sunah terdapat sanksi-sanksi yang mengikat yang harus ditegakan di dunia. dan al-qatl (pembunuhan). syurb al-khamr (minum-minuman keras). Kata al-Jinayat memiliki makna sempit dan makna luas. 69 . as-sariqah (pencurian). Kaidah Fiqh Jinayah (asas-asas hukum pidana Islam). ad-dima atau Jaih Mubarok dan Enceng Arif Faizal. Pengertian Fiqh Jinayah Salah satu kesempurnaan syariat Islam adalah adanya aturan-aturan yang berkenaan dengan hukum publik. Makna sempit al-Jinayat sejajar dengan makna al-qisas.69 Istilah yang umum bagi aturan tersebut adalah al-jinayat yang sering kali diartikan dengan Hukum Pidana Islam.47 BAB III PRINSIP-PRINSIP FIQH JINAYAH A. Hal ini terlihat. al-qisas dan al-jarah. al-qadžaf (tuduhan zina). addima. aljarah (penganiayaan atau pelukaan). Aturan-aturan tersebut dikelompokan oleh para ulama dalam bab fiqh dengan nama al-hudud. melainkan juga menyediakan aturan-aturan yang bersifat imperatif. bukan sekedar ancaman di akhirat. ar-riddah (keluar dari Islam atau murtad).

keturunan. Jinayah. jiwa. Selain itu. Kedua istilah ini secara etimologis mempunyai arti dan arah yang sama.4. 2001) hlm. (Beirut: Muassasat al-Risalat. akal. harta. at-Tasyri' al-Jina'i al-Islami Muqaranah bi al-Qanun al-Wadh'i. pada dasarnya kata jinayah artinya perbuatan dosa. dan agama. II:. kedua istilah tersebut harus diperhatikan dan difahami agar penggunaannya tidak keliru. akal. dan harta benda. Walaupun demikian.48 al-jarah. Perbuatan yang diharamkan adalah tindakan yang dilarang atau dicegah oleh syara' (Hukum Islam). Dengan demikian. istilah yang satu menjadi muradif (sinonim) bagi istilah lainnya atau keduanya bermakna tunggal. perbuatan salah atau jahat. yaitu setiap perbuatan yang dilarang. baik berkenaan dengan tubuh. Sedangkan makna aljinayat secara luas sejajar dengan al-jarimat. Pertama adalah istilah jinayah itu sendiri dan kedua adalah jarimah. Apabila dilakukan perbuatan tersebut mempunyai konsekuensi membahayakan agama. jiwa.12 . 71 70 Rahmat Hakim. kehormatan. Jinayah adalah semua perbuatan yang diharamkan. ada dua istilah penting yang terlebih dahulu harus dipahami. maupun dengan hal-hal lainnya seperti kehormatan. Pustaka Setia. 1992). kedua istilah berbeda dalam penerapan kesehariannya.71 Abdul Qadir Audah dalam kitabnya at-Tasyri' al-Jina'i al-Islami menjelaskan arti kata jinayah sebagai berikut: Abd al-Qadir 'Awdah.70 Dalam mempelajari Fiqh Jinayah. Hukum Pidana Islam (fiqh jinayah). (Bandung: CV. yaitu setiap perbuatan yang dilarang (haram) berkenaan dengan penganiayaan terhadap tubuh dan penghilangan jiwa manusia.

2000). atau dosa. 74 73 Rahmat Hakim. atau perbuatan yang berkaitan dengan politik dan sebagainya. Jadi pengertian jarimah secara harfiyah sama halnya dengan pengertian jinayah.74 Adapun dalam pemakaiannya kata jinayah lebih mempunyai arti lebih umum (luas). (Jakarta: Darul Falah. jelek. Semua itu disebut dengan istilah jarimah yang kemudian dirangkaikan dengan satuan sifat perbuatan tadi.15 . atau sifat dari perbuatan dosa tersebut. 358. perkosaan. pembahasan fiqh yang memuat masalah-masalah kejahatan. Misalnya.49 ‫الجناية لغة اسم لما يجنيه المرء من شر ما اكتسب واصطلحا‬ ‫اسم لفعل محرم شرعا سواء وقع الفعل على نفس او مال او غير‬ 72 ‫ذالك‬ Kata jarimah mengandung arti perbuatan buruk. Adapun pengertian jarimah segala tindakan yang diharamkan syari'at. pencurian. pelanggaran yang 72 Abd Qadir Audah. Seperti jarimah pencurian. pembunuhan. atau ta'zir (sanksi disiplin) kepada pelakunya. jarimah perkosaan dan lain-lain. at-Tasyri'. terj. hlm. al-Ahkam as Sultaniyah (Prinsip-prinsip Penyelenggaraan Negara Islam. hlm.73 Jarimah bisa dipakai sebagai perbuatan dosa –bentuk. II: 4 Imam al-Mawardi. macam. Fadhli Bakri. Oleh karena itu. yaitu ditujukan bagi sesuatu yang ada sangkut pautnya dengan kejahatan manusia dan tidak ditujukan bagi satuan perbuatan dosa tertentu. jarimah pembunuhan. Hukum. Allah ta'ala mencegah terjadinya tindak kriminal dengan menjatuhkan hudud (hukum syar'i).

Pertama. dan hukuman yang diancamkan kepada pelaku tersebut disebut Fiqh jinayah bukan Fiqh jarimah. Unsur material adalah adanya perbuatan pidana. mencuri. unsur material (ar-rukn al-madi). hakim tidak mempunyai kewenangan untuk mempertinggi atau memperendah hukuman bila si pelaku telah terbukti melakukan jarimah tersebut. ada tiga unsur seseorang dianggap telah melakukan perbuatan jarimah. Unsur formal adalah adanya nas yang melarang perbuatan-perbuatan tertentu disertai dengan ancaman hukuman atas perbuatanperbuatan tersebut. menuduh zina. apabila korban atau wali korban memaafkan pelaku. Pada jarimah qisas. 110-111. jarimah hudud yaitu jarimah yang hukumannya telah ditetapkan baik bentuk maupun jumlahnya oleh syara'. jarimah qisas yaitu jarimah yang hukumannya telah ditetapkan oleh syara'. Abd Qadir Audah. yaitu unsur formal (ar-rukn asy-syar'i). minum-minuman keras. hlm.76 Dilihat dari sanksi yang telah ditetapkan atau tidak oleh syara'.50 dikerjakan manusia. Perbuatan yang 75 Ibid. namun ada perbedaan dengan jarimah hudud dalam hal pengampunan. hukuman bisa berpindah kepada ad-diyat (denda) atau bahkan bebas dari hukuman. dan unsur moral (ar-rukn al-adabi). Jarimah yang termasuk jarimah hudud adalah jarimah zina. keluar dari Islam dan memberontak. at-Tasyri'. baik melakukan perbuatan yang dilarang atau meninggalkan perbuatan yang diperintahkan. Ia menjadi hak Tuhan. merampok. 76 . Unsur moral adalah orang yang melakukan perbuatan pidana tersebut terkena taklif atau orang yang telah mukallaf.75 Secara umum. Kedua. jarimah dapat dibedakan menjadi tiga.

1968). Djazuli.161. Ulama Malikiyah membaginya menjadi dua.51 termasuk dalam jarimah qisas adalah pembunuhan dan pelukaan. Adapun maksud yang Para ulama berbeda pendapat dalam membagi jarimah qisas.77 Ketiga. (Jakarta: Bulan Bintang. at-Tasyri'. 1997). Sebagian Hanafiyah lainnya membaginya menjadi lima dengan menambahkan pembunuhan secara tidak langsung. dengan menambahkan pembunuhan serupa kekeliruan. sedang menurut istilah berarti peraturan larangan yang perbuatan-perbutan pidananya dan ancaman hukumannya tidak secara tegas-tegas disebutkan dalam al-Qur'an. yaitu: pembunuhan sengaja dan kekeliruan. melainkan diberikan kepada negara kewenangannya untuk menetapkannya sesuai dengan tuntutan kemaslahatan.79 B. Raja Grafindo Persada. lihat. seumpama (al-Mumasilah). dan kekeliruan. Qisas Kata qisas kadang-kadang dalam hadis disebut dengan kata qawad. Jumhur membaginya menjadi tiga dengan menambahkan pembunuhan semi sengaja. II: 7-9. Sebagian Hanafiyah membaginya menjadi empat. (upaya menanggulangi kejahatan dalam Islam). Para fuqaha mengartikan ta'zir dengan hukuman yang tidak ditemukan dalam alQur'an dan al-Hadis yang berkaitan dengan kejahatan yang melanggar hak Allah dan hak hamba yang berfungsi untuk memberi pelajaran kepada si terhukum dan mencegahnya supaya tidak mengulangi kejahatan serupa. yaitu pelukaan sengaja dan kekeliruan. Anwar Harjono. hlm. hlm. Ta'zir berasal dari 'azzara. semi sengaja. Hukum Islam keluasan dan keadilannya. Fiqh jinayah.159 A. jarimah ta'zir78 yaitu jarimah yang hukumannya tidak ditetapkan baik bentuk maupun jumlahnya oleh syara'. Jarimah Qisas-Diyat 1. yaitu pembunuhan sengaja. Pembunuhan terbagi kepada tiga. yang menurut bahasa berarti mencela. 79 78 77 . Lihat abd alqadir 'awdah. Sedangkan pelukaan terbagi menjadi dua. Maksudnya adalah semisal.(Jakarta: PT. tetapi diserahkan sepenuhnya kepada kebijaksanaan hakim/penguasa.

125 81 82 .52 dikehendaki syara' adalah kesamaan akibat yang ditimpakan kepada pelaku tindak pidana yang melakukan pembunuhan atau penganiayaan terhadap korban. Dia dibunuh kalau dia membunuh dan dilukai kalau dia melukai atau menghilangkan anggota badan orang lain.125. yaitu pembunuhan sengaja dan penganiayaan sengaja.80 Qisas diakui keberadaannya dalam al-Qur'an. ‫و لكم فى القصاص حياة يا اولى اللباب‬ Qisas adalah hukuman pokok bagi perbuatan pidana dengan objek sasaran jiwa atau anggota badan yang dilakukan dengan sengaja. seperti membunuh. kecuali ada kerelaan dari kedua pihak. Hukum pidana Islam. menghilangkan anggota badan dengan sengaja. hlm. Al-Baqarah (2): 179 Rahmat Hakim. Hukum Pidana Islam. Oleh karena itu. Dalam ungkapan lain adalah pelaku akan menerima balasan sesuai dengan perbuatan yang dia lakukan. melukai. Abdul Qadir Audah mendefinisikan qisas sebagai keseimbangan atau pembalasan terhadap si pelaku tindak pidana dengan sesuatu yang seimbang dari apa yang telah diperbuatnya. Ulama 80 Rahmat Hakim. Hukuman ini disepakati oleh para ulama. demikian pula akal memandang bahwa disyariatkannya qisas adalah demi keadilan dan kemaslahatan. hlm. bentuk jarimah ini ada dua. Bahkan ulama Hanafiyah berpendapat bahwa pelaku pembunuhan sengaja harus diqisas (tidak boleh diganti dengan harta). Hal ini ditegaskan dalam al-Qur'an:81 .82 Sanksi pokok dalam pembunuhan sengaja yang telah di-naskan dalam alQuran dan al-Hadis adalah qisas. as-Sunnah.

II:173 Abu Dawud. 1988). Bab Man Qatala fi 'immiya baina qaumain (Beirut: Dar al-Fikr. 1991) VI:261 Ibid. hadis nomor. Syarat-syarat bagi pembunuh Syarat-syarat bagi pembunuh ada tiga yaitu: 1). maka tidaklah qisas apabila pelakunya adalah anak kecil atau orang gila.296 Wahbah az-Zuhaili. karena perbuatannya tidak dikenai taklif.83 Ulama berbeda pendapat tentang sanksi bagi pembunuhan sengaja yang berupa kaffarah. (Semarang: Maktabah Ahmad bin Said bin Nabhan. Pembunuh adalah orang mukallaf (balig dan berakal).).t. Sunan Abi Dawud. 2). menurut jumhur ulama bahwa kaffarah dalam pembunuhan sengaja tidak wajib karena kaffarah adalah ketentuan syariah untuk beribadah. riwayat sufyan dari amr dan tawus 87 86 . al fiqh. VI: 297 84 85 Abu Ishaq Ibrahim ibn Ali ibn Yusuf al-Fairuz Abadi asy-Syairazi. hlm.86 Begitu juga dengan orang yang tidur/ayan. t. karena mereka tidak punya niat/maksud yang sah. dalam al-Hadis disebutkan:87 83 Wahbah az-Zuhaili. kitab ad-Diyah. 4539.84 Ada beberapa syarat yang diperlukan untuk dapat dilaksanakannya qisas yaitu:85 a. (Beirut: Dar al-Fikr. Sedangkan pembunuhan sengaja adalah neraka jahannam.. Pembunuh menyengaja perbuatannya. IV: 183.53 Syafi'iyyah menambahkan bahwa disamping qisas pelaku pembunuhan juga wajib membayar kaffarah. pasti al-Quran menjelaskan secara detail. seandainya bagi pelaku pembunuhan sengaja wajib membayar kaffarah. al-Muhazzab. Di dalam al-Quran sendiri tidak mewajibkan kaffarah. Al-fiqh al-Islam wa Adillatuh. maka tempatnya juga terbatas yaitu hanya pada pembunuhan karena kesalahan.

t. tidak diqisas ayah/ibu. (riwayat at-Tirmidzi dan ibn Majah). riwayat jabir ibn Abdullah. Korban bukan anak/cucu pembunuh (tidak ada hubungan bapak dan anak). Korban adalah orang yang dilindungi darahnya. 89 88 . murtad. Kitab at-Tijaroh. Syarat-syarat bagi yang terbunuh/korban Syarat-syarat bagi yang terbunuh (korban) ada tiga.). pezina muhsan. jika orang muslim atau zimmi membunuh mereka. hadis nomor 1191. maka hukum qisas tidak berlaku. 2). II: 769. t.t.t. Bulug al-Maram. Adapun yang dipandang tidak dilindungi darahnya adalah kafir harbi.54 ‫من قتل عمدا فهو قود‬ 3).). hadis nomor: 2291. maka menurut Hanafiyah tidak diqisas. (Beirut: Dar Ihya al-Kitab al-Arabiyah. Kitab al-Jinayah. b. hlm. Sunan Ibn Majah. yaitu: 1). statemen ini dikemukakan oleh jumhur (selain Ibn Majah. kakek/nenek yang membunuh anak/cucunya sampai derajat kebawah berdasarkan pada hadis: 88 ‫أنت ومالك لابيك‬ 89 ‫ل يقاد الوالد بالولد‬ 3). tetapi menurut jumhur tetap diqisas walaupun dipaksa. Bab ma li ar rajul min ma li waladih. Korban sama derajatnya dengan membunuh dalam Islam dan kemerdekaannya. artinya jika membunuhnya karena terpaksa. Pembunuh mempunyai kebebasan bukan dipaksa.245. Al-Hafiz Ibnu Hajar al-'Asqalani. penganut zindiq dan pemberontak. (Bandung: Maktabah Dahlan.

91 92 93 . Kaidah fiqh jinayah. Dengan ketentuan ini maka tidak diqisas seorang Islam yang membunuh orang kafir. Al-Baqarah. Adapun hadis nabi yang menyatakan bahwa "muslim tidak diqisas karena membunuh kafir". ayat di atas menunjukkan bahwa dalam qisas tidak harus ada kesetaraan. Al-Maidah (5): 45 Jaih Mubarok.55 Hanafiyah). Kaidah Fiqh jinayah. kafir yang dimaksud adalah kafir harbi. kalimat jiwa dibalas dengan jiwa" menunjukan bahwa dasar qisas itu adalah hilangnya jiwa atau nyawa sehingga tidak ada perbedaan antara orang merdeka dengan hamba atau muslim dengan kafir. Allah berfirman: 91 ‫يا أيها الذين أمنوا كتب عليكم القصاص في القتلى‬ 92 ‫و كتبنا عليهم فيها ان النفس بالنفس‬ Menurut Hanafiyah. Hlm. orang merdeka yang membunuh budak. hlm165.90 Ulama Hanafiyah tidak mensyaratkan persamaan dalam kemerdekaan dan agamanya. tapi cukup persamaan dalam kemanusiaannya. bukan kafir zimmi atau musta'min. mereka berargumen dengan keumuman ayat qisas yang tidak mendiskriminasikan antara satu dengan yang lainnya. 167. sebagaimana terlihat dalam hadis berikut: 90 Jaih Mubarok.93 Hal ini dikuatkan oleh sebuah hadis yang menyatakan bahwa Nabi pernah melaksanakan qisas terhadap muslim yang membunuh Yahudi. Sebab.(2): 178.

Misalnya. 1986). al-Qisas wa al-Hayat: Dirasah Muqaranah bain asy-Syari'ah al-Islamiyah wa al-Qanun al-Wad'i. Ayat tersebut menjelaskan bahwa orang yang harus diqisas adalah pembunuhnya. dan "wanita dengan wanita". 95 Jaih mubarok. Kalimat "orang merdeka dengan orang merdeka". "hamba dengan hamba". 167-168. kaidah fiqh jinayah. h. meskipun kedudukannya lebih rendah. Sunan ad-Daruqutni. Wali korban beserta kabilahnya meminta balasannya tidak sekedar wanita yang membunuh tetapi ditambah dengan laki-laki merdeka. 93-94. (Bayrut: Alam al-Kutb. dan wanita dengan wanita". hlm. Pada masa jahiliyah. sedangkan pembunuhnya (dari kabilah lain) adalah seorang wanita. III: 135. tidak menunjukkan adanya kafaah. (Dar al-Nahdah al-Arabi. Kitab alHudud wa ad-Diyyat wa Gairuh. 1982). korban yang terbunuh dari suatu kabilah adalah laki-laki merdeka.95 Ali bin 'Amr Abu al-Husayn al-Daruqutni al-Bagdadi. hanya sekedar mencontohkan pelaku dan korbannya dengan tidak menafikan kebalikannya. Permintaan ini seringkali menimbulkan konflik (bahkan sampai terjadi peperangan) antar kabilah jika tidak dipenuhi.56 ‫أن النبي صلي ال عليه وسلم أقاد مسلما قتل يهوديا وقال‬ 94 ‫الرمادي أقاد مسلما بذمي وقال أنا أحق من وفي بذمته‬ Sedangkan ayat yang dijadikan landasan oleh jumhur yang menyatakan bahwa "orang merdeka dengan orang merdeka".Lihat Muhammad 'abd al-Hamid Abu Zayd. "hamba dengan hamba". 94 . Sebab ayat tersebut dimaksudkan untuk menjawab kebiasaan jahiliyah yang menerapkan qisas secara berlebihan. wali korban dari suatu kabilah (terutama kabilah yang kuat) meminta balasan yang lebih dari seharusnya.

maka tidak wajib diqisas. Bab fi as-Sariyyah. pelakunya wajib dikenai qishas karena keduanya berakibat sama. at-Tasyri'. jika tidak langsung. Sunan Abi Dawud. 97 96 Abddul Qadir Audah. Syarat-syarat bagi perbuatannya Hanafiyah mensyaratkan. wali korban yang berhak untuk mengqisas haruslah orang yang diketahui identitasnya. baik pembunuhan itu langsung atau karena sebab.57 Adapun berkenaan dengan laki-laki muslim dengan perempuan muslim. para fuqaha sepakat bahwa di antara mereka tidak ada perbedaan. Kedudukan mereka setara dalam hal qisas. karena tujuan dari diwajibkanya qisas adalah pengokohan dari pemenuhan Abu Dawud. . Syarat-syarat bagi wali korban Menurut Hanafiyah. Sedangkan jumhur tidak mensyaratkan itu. III: 80. untuk dapat dikenakan qishas. Hal ini didasarkan atas keumuman ayat yang menyatakan bahwa "jiwa dibalas denga jiwa" dan sabda Nabi saw berikut: 96 ‫المسلمون تتكافأ دماؤهم‬ c. Kitab aj-Jihad. II: 132. Tidak ada perbedaan antara tua dengan muda atau sehat dengan sakit. maka hanya dikenai membayar diyat.97 d. jika tidak. riwayat Kutaibah bin Sa'id dari ibn Ishaq dan Yahya bin Sa'id. tindak pidana pembunuhan yang dimaksud harus tindak pidana langsung bukan bukan karena sebab tertentu.

Berbeda dengan pendapat ulama malikiyah yang menyatakan bahwa orang yang hadir atau membantu walaupun tidak melakukan secara langsung. seperti pengintai atau penjaga pintu.58 hak. yaitu ada enam hal: 1) Keberadaan pembunuh sebagai orang tua korban Menurut para Fuqaha Mazhab. tetap dikenai qisas jika terlibat dalam kesepakatan kejahatan itu. hal ini selama tidak ada maksud membunuh yang dapat dibuktikan dengan qat'i. tetapi ternyata tidak semua yang menyepakati ikut hadir dalam pembunuhan. maka orang tua korban juga harus diqisas. keberadaan pembunuh sebagai orang tua si terbunuh menghalangi dilaksanakannya qisas. apabila ada kesepakatan untuk melakukan pembunuhan. tetapi Ulama Malikiyah memberi batasan. Ini menurut jumhur fuqaha kecuali Hanafiyah. 3) Ketidakadilan membunuh sesuai dengan yang telah disepakati. Sedangkan pembunuhan dari orang yang tidak diketahui identitasnya akan mengalami kesulitan dalam pelaksanaanya. 2) Perbedaan derajat antara pelaku dan korban pembunuhan dalam keIslaman dan kemerdekaannya. maka menurut jumhur ulama orang yang tidak melakukan langsung itu hanya dita'zir. Adapun hubungan suami isteri tidak menjadi halangan dilakukannya qisas. Dan tiga syarat lagi menurut Hanafiyah yaitu: . Ini terjadi karena adanya kemungkinan masuknya unsur syubhat sehingga qisas tidak bisa dilaksanakan. bantuan. dan tidak melakukan secara langsung. atau ia hanya memberikan semangat. Jika ternyata ada maksud membunuh. Berpijak pada keterangan tentang syarat-syarat qishas ada beberapa hal yang menghalangi dilaksanakannya qisas.

Logika dari statement ini adalah: jika wali korban memaafkan secara mutlak (tidak menuntut diyat). tetapi wali korban mempunyai dua pilihan. Para ulama madzhab sepakat bahwa sanksi yang wajib bagi pelaku pembunuhan sengaja adalah qisas. Sesuai dengan ayat: ‫يا أيها الذين أمنوا كتب عليكم القصاص في القتلى الحر بالحر و‬ 99 ‫العبد بالعبد‬ 100 ‫من قتل عمدا فهو قود‬ Kedua dalil ini dengan tegas menyatakan bahwa hukum qisas bagi pembunuh adalah tertentu/pasti. 178 Abu Dawud. (2). yaitu: jika mereka 98 Wahbah az-Zuhaili. Hanabilah berpendapat bahwa hukuman bagi pelaku pembunuhan sengaja tidak hanya qisas. IV: 183 99 100 . kecuali jika dimaafkan oleh wali korban. tetapi pembunuh dengan kesadarannya. Sunan. hendaknya membayar diyat sebagai kompensasi pemberian maafnya wali. maka tidak ada kewajiban bagi pelaku untuk membayar diyat. Tetapi tidak berarti wali terbatas dalam menentukan sikapnya. Al-Baqarah. al-Fiqh. VI: 274-275. Mereka boleh mengqisas/memaafkannya secara mutlak atau memaafkan dari qisas dengan membebani diyat sebagai penggantinya.59 4) Pembunuhan itu terjadi secara tidak langsung (karena satu sebab tertentu) 5) Wali korban majhul (tidak diketahui identitasnya) 6) Pembunuhannya terjadi di Dar al-kuffar98 Qisas wajib dikenakan setiap pembunuh.

Seandainya Allah mewajibkan qisas saja. 1981). X: 67 . Kemudian dari redaksi ayat tersebut berarti Allah mewajibkan al-Itba' karena adanya pemberian maaf dari wali. Dan jika ternyata wali korban memaafkan secara mutlak. Karena dalam kaidah dasar syara' yang telah disepakati disebutkan bahwa pelaksanaan sanksi hudud. qisas. alih bahasa H. Dasar hukum yang digunakan adalah hadis rasulullah SAW: 101 ‫من قتل له قتيل فهو بخير النظرين اما ان يؤدي و اما ان يقاد‬ Dan firman Allah swt dalam al-Qur'an: 102 ‫فمن عفي له من أخيه شيئ فاتباع بالمعروف واداء اليه باحسان‬ Dari ayat ini dapat dipahami. jika wali korban mengampuni. wajib bagi pelaku membayar diyat. Hal ini karena mereka berpendapat bahwa diyat adalah salah satu dari kerusakan jiwa.103 Abu Abdullah Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim ibn al-Mughirah ibn Bardizbah al-Ja'fi al-Bukhari. Artinya. bahkan pengganti dari qisas. namun keabsahan keluarga korban untuk melaksanakan ada dibawah wewenang hakim. 1997). Tuntutan hukuman qisas merupakan hak para wali (keluarga korban). Kitab ad-Diyah. Artinya tuntutannya ini harus melalui pengadilan. VIII: 38.A Ali (Bandung: PT. jika terjadi pembunuhan hendaklah pelakunya diselidiki. (Beirut: Dar al-Fikr. 102 103 101 Al-Baqarah (2) : 178 Sayid Sabiq. tentu Allah tidak mewajibkan diyat apabila ada ampunan atau maaf wali secara mutlak. maka dilaksanakanlah hukum qisas tetapi jika menginginkan diyat maka wajiblah membayar diyat tanpa menunggu keridlaan pembunuh.60 menghendaki qisas. pelaku tetap berkewajiban membayar diyat. al-Maarif. Sahih al-Bukhari. maupun ta'zir merupakan hak hakim. fikih sunnah.

maka menurut Abu Hanifah. ia tidak dapat mengqisas. semua asabah bin nafsi dengan prioritas. suami atupun isteri. keluarga yang dekat didahulukan dari pada keluarga yang jauh. maka dikhususkan kepada asabah seperti dalam perwalian pernikahan. at-Tasyri'.61 Selanjutnya apabila pelaksanaan qisas akan dilakukan oleh para wali sendiri (bukan oleh hakim dan algojonya). Perempuan itu merupakan ahli waris terbunuh. yaitu perempuan boleh bertindak sebagai pelaksana qisas dengan tiga persyaratan: a. b. Derajat atau kekuatan ahli waris perempuan tadi lebih kuat dibanding para asib. Perempuan tidak boleh mengqisas karena qisas itu menghilangkan fitnah.104 Sedangkan menurut ulama Malikiyah yang berhak mengqisas adalah keluarga dari pihak ayah yang laki-laki. misalnya anak perempuan kandung bersama dengan adanya paman. seperti anak dan saudara kandung. Hanabilah dan qaul rajihnya asy-Syafi'i yang berhak mengqisas adalah setiap ahli waris yang berhak mewarisi harta si korban baik zawil furud maupun asabah. Tetapi jika anak perempuan kandung bersama adanya ayah. laki-laki maupun perempuan. itu dapat melaksanakan qishas. 104 Abd Qadir Audah. sehingga bibi dari pihak ayah /ibu tidak boleh. Tetapi Malikiyah memberikan kelonggaran. II: 140 .

105 Jika yang mengqisas masih kecil/gila maka ditunggu sampai kesempurnaannya dan diserahkan kepada hakim. Dengan demikian tidak ada alasan bagi para wali menuntut diyat dari harta peninggalan si pembunuh yang kini telah menjadi milik para ahli warisnya. 105 Ibid.62 c. VI: 280. 141. tidak usah menunggu sampai baligh/sadarnya demi kemaslahatan pelaksanaan qisas itu sendiri.106 Hukuman qisas menjadi gugur dengan sebab-sebab sebagai berikut: a. hlm. Pada saat itu diwajibkan ialah membayar diyat yang diambilkan dari harta peninggalannya. maka dikecualikan saudara perempuan (tidak dapat mengqisas) karena adanya ibu. maka gugurlah qisas atasnya. sebab hak dari mereka (para wali) adalah jiwa. 106 . lalu diberikan kepada wali si terbunuh. Matinya pelaku kejahatan Kalau orang yang akan menjalani qisas telah mati terlebih dahulu. Wahbah az-Zuhaili. sedangkan hal tersebut telah tiada. Pendapat ini menurut Imam Ahmad serta salah satu pendapat Imam Syafii. b.. Sedangkan menurut Imam Malik dan Hanafiyah tidak wajib diyat. Adanya ampunan dari seluruh atau sebagian wali korban dengan syarat pemberi maaf itu sudah balig dan tamyiz. Dan menurut Malikiyah. Perempuan itu dalam derajatnya mempunyai laki-laki yang asabah. karena jiwa pelakulah yang menjadi sasarannya. al-Fiqh.

VI: 294. Perbedaan tersebut adalah sebagai berikut: Menurut Hanafiyah: ‫يسقط القصاص برضا المجني عليه‬ Gugurnya qisas disebabkan karena adanya kerelaan atau izin korban yang dapat dipersamakan dengan pemaafan.171 Abd al-Qadir awdah.110 Pendapat Malikiyah yang rajih dan sebagian Syafi'iyah: ‫ل يسقط القصاص برضا المجني عليه‬ Perbedaannya dengan al-Afwu (pengampunan) adalah kalau sulh itu pengguguran qisas dengan ganti rugi (kompensasi). al-Tasyri'.63 c. Telah terjadi sulh (rekonsiliasi) antara pembunuh dan wali korban.260. hlm. Hlm. Adanya penuntutan qisas. 108 107 Abdul Qadir Audah. kerelaan itu menjadi syubhat yang dapat menggugurkan hudud. al-Fiqh. at-Tasyri'. lihat Wahbah az-Zuhaili. Kaidah fiqh jinayah. hukuman berpindah kepada diyat.109 Dalam hal adanya kerelaan/izin korban.107 d. al-Fiqh. seperti kasus euthanasia. Akan tetapi mereka berbeda pendapat tentang posisi kerelaan tersebut dengan pemaafan korban atau wali korban yang dapat menggugurkan qisas atau diyat (bila dimaafkan secara mutlak). pada dasarnya para fuqaha sepakat bahwa adanya kerelaan korban untuk dibunuh tidak membolehkan seseorang melakukan pembunuhan. I: 777-778 dan lihat Wahbah az-Zuhaili. Oleh karena itu. Jaih mubaraok. Adanya kerelaan/ izin korban. I: 440-441. Selain itu. 109 110 . sedangkan al-Afwu terkadang pengampunan qisas secara mutlak.108 e.

pencederaan badan.112 2.64 Kerelaan korban tidak dapat dipersamakan dengan pemaafan karena kerelaan itu ada sebelum terjadi jarimah pembunuhan.111 Pendapat Malikiyah yang arjah (lebih kuat) dan sebagian Syafi'iyah: ‫يسقط عقوبتى القصاص والدية برضا المجني عليه‬ Kerelaan korban dapat dipersamakan dengan pemaafan baik dari hukum asli (qisas) maupun penggantinya (diyat). Ibid. Sedangkan definisi menurut syar'i ialah wajibnya membayar sejumlah harta benda yang telah ditentukan syariat karena pembunuhan jiwa atau karena pencederaan badan. Diyat Diyat113 adalah: 111 Ibid. Pembunuhan terhadap jiwa. 113 . sedangkan pemaafan ada setelah terjadi jarimah. dan 2. diyat artinya membayar tebusan dengan sejumlah harta benda karena perbuatan: 1. pembunuhan tersebut tetap merupakan pembunuhan sengaja yang harus dihukum dengan qisas. Oleh karena itu. 112 Menurut bahasa. Pemaafan dari korban itu lebih utama dari pada keluarga sebab pemaafan itu menjadi hak bagi korban.

pakaian. dan lain sebagainya. Menurut kesepakatan ulama. uang. II:261 An-Nisa (5): 92 115 . perak. Pada mulanya pembayaran diyat menggunakan unta tetapi jika sulit didapatkan maka pembayarannya dapat menggunakan barang lainnya. yang wajib adalah seratus ekor unta bagi pemilik unta. Adapun dalil disyariatkannya diyat adalah firman Allah SWT: ‫ومن قتل مؤمنا خطأ فتحرير رقبة مؤمنة و دية مسلمة الى اهله‬ 115 ‫ال ان يصد قوا‬ Walaupun ayat ini dalam konteks pembunuhan bersalah namun para ulama sepakat akan wajibkan diyat dalam pembunuhan sengaja apabila qisas gugur karena suatu sebab. Dua ratus ekor sapi bagi pemilik sapi. yang kadar nilainya disesuaikan dengan unta. seperti emas. at-Tasyri'. dua ratus ekor domba bagi 114 Abd Qadir 'Audah.65 ‫العقوبة البدلية الولى لعقوبة القصاص فإذا امتناع القصاص‬ ‫لسبب من اسباب المتناع او لسباب السقوط وجبت مالم يعف‬ 114 ‫الجانى عنها أيضا‬ Dengan definisi ini berarti diyat dikhususkan sebagai pengganti jiwa atau yang semakna dengannya. artinya pembayaran diyat itu terjadi karena berkenaan dengan kejahatan terhadap jiwa/nyawa seseorang.

66 pemilik domba. (Bandung: Maktabah Dahlan. dibebankan kepada pelaku pembunuhan sengaja apabila waliyuddam menerimanya dan kepada bapak yang membunuh anaknya. X: 93 Wahbah az-Zuhaili. Nabi bersabda:119 116 Sayyid Sabiq. hadis no. 40 ekor khilfah (unta yang sedang mengandung) Adapun diyat mukhafafah itu dibebankan kepada pelaku pembunuhan kesalahan. yang empat puluh di antaranya sedang mengandung. 30 ekor hiqqah (unta berumur 4 tahun) b. Sebagaimana Nabi SAW pernah bersabda:118 ‫ال وإن قتيل الخطأ شبه العمد بالسوط و العصا و الحجر مائة من‬ ‫البل فيها اربعون شنية الى بازل عمها كلهن خلفة‬ Jadi seratus ekor unta itu bila diperinci adalah: a. yaitu diyat mugalazah dan diyat mukhafafah. "Kitab al-Jinayat". HR. 1994).117 Jumlah diyat mugalazah adalah seratus ekor unta. Adapun diyat mugalazah menurut jumhur dibebankan kepada pelaku pembunuhan sengaja dan menyerupai sengaja. fikih sunnah. III: 248. t. 118 . 117 An-Nasa'i.2. dua belas ribu dirham untuk pemilik perak. Sunan an-Nasa'i. "Bab ad-Diyat". VIII: 36 diriwayatkan dari Qasim bin Rabi'ah.t). VI. seribu dinar untuk pemilik emas. 119 Muhammad ibn Ismail ibn Shalah al-Amir al-Kahlani al-Shan'ani. dan dua ratus stel pakaian untuk pemilik pakaian.116 Diyat ada dua macam. Subul as-Salam Syarah Bulug al-Maram. (Mesir: al-Bab al-Halabi. al-Fiqh. 30 ekor jad'ah (unta berumur 5 tahun) c. ad-Daruqutni dari Ibn Mas'ud. 304. hal ini berdasarkan riwayat Ibn Mas'ud. Sedangkan menurut Malikiyah.

Sedangkan diyat pembunuhan syibhu amd adalah diyat mugalazah yang pembebanannya tidak hanya pada pelaku. Pembunuhan itu terjadi di bulan haram.VII: 305-306 .120 Jadi diyat pembunuhan sengaja adalah diyat mugalazah yang dikhususkan pembayarannya oleh pelaku pembunuhan. 20 ekor ibnu ma'khad (unta jantan berumur 2 tahun) c. Hanya 120 Wahbah az-Zuhaili.67 ‫دية الخطأ اخماس عشرون حقة وعشرون جذعة وعشرون بنات‬ ‫مخاض وعشرون بنات لبون وعشرون بني لبون‬ Jadi ketentuannya adalah sebagai berikut: a. tetapi juga pada 'aqilah (wali/keluarga pembunuh). Menurut Hanafiyah. Pembunuhan itu terjadi di tanah haram Mekkah b. Muharram dan Rajab c. zul Hijjah. 20 hiqqah. 20 jad'ah Selanjutnya ulama Syafi'iyyah dan Hanabilah berpendapat bahwa pembunuhan tersalah dapat dikenai diyat mugalazah apabila: a. dan dibayar secara berangsur-angsur selama tiga tahun. dan dibayarkan secara kontan. zul Qa'dah. pembayaran diyatnya secara berangsur-angsur selama tiga tahun. dan e. al-Fiqh. maupun kesalahan. Pembunuhan itu terhadap mahram seperti: ibu dan saudara perempuan. baik pembunuhan sengaja. 20 ekor binti labun (unta betina berumur 3 tahun) d. tidak sengaja. 20 ekor bintu ma'khad (unta betina berumur 2 tahun) b.

Sedangkan jumhur ulama berpendapat bahwa diyat pembunuhan sengaja harus dibayar kontan dengan hartanya karena diyat merupakan pengganti qisas. II. jika qisas dilakukan sekaligus maka diyat penggantinya juga harus secara kontan dan pemberian tempo pembayaran merupakan suatu keringanan.: 297 123 . Hal ini berdasarkan firman Allah swt: 122 ‫كل امرئ بما كسب رهين‬ Adapun jika pembunuhan disengaja itu dilakukan oleh anak kecil atau orang gila. Muhammad ibn Ahmad ibn Muhammad ibn Ahmad Ibn Rusyd al-Qurtuby. VI: 307. 'Aqilah tidak menanggungnya karena setiap manusia dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya dan tidak dapat dibebankan kepada orang lain. Malik dan Syafi'i menyatakan diyatnya anak kecil adalah setengah kecuali pemerintah membebankan pada aqilahnya. Mereka menjelaskan bahwa sengaja atau kesalahannya anak kecil itu sama dengan argumant ada orang gila menerkam seorang laki-laki dengan pisau kemudian memukulnya. Bidayah alMujtahid wa Nihayah al-Muqtasid.68 bagi 'amid (pembunuh sengaja) lebih diperberat dengan kewajiban membayar diyat mughaladzah dengan hartanya sendiri.123 121 Wahbah az-Zuhaili.121 Para ulama sepakat bahwa diyat pembunuhan sengaja dibebankan pada para pembunuh dengan hartanya sendiri. (Indonesia: Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyyah. padahal 'amid pantas dan harus diperberat dengan bukti diwajibkannya 'amid membayar diyat dengan hartanya sendiri bukan dari 'aqilah. 122 At-Tur (52): 21.. t. Karena keringanan (pemberian tempo) itu hanya berlaku bagi 'aqilah. al-Fiqh.t).

(Bandung: asy Syaamil. karena tidak ada baginya taklif secara syara'. Hanya saja ia dibebankan diyat dari hartanya sendiri dan 'aqilah tidak menanggung jika ia (pada saat berbuat jahat) sudah mumayyiz. Melainkan di sana ada tujuan tertentu yang luas. Kelima kebutuhan hidup yang primer ini (daruriyyat) 124 Asy-Syairazi. Menggagas Hukum Pidana Islam.130- 125 131 . akan terjadi kekacauan dan dan ketidaktertiban di mana-mana. Tetapi baik ia sudah mumayyiz atau belum ia tidak dapat di qisas. Topo Santoso. Apabila kebutuhan-kebutuhan ini tidak terjamin.Tujuan Fiqh Jinayah Pembuat hukum tidak menyusun ketentuan-ketentuan hukum dari syariah tanpa tujuan apa-apa. mutlak perlu mengetahui apa tujuan dari ketentuan itu. II:173-174. Para ahli hukum Islam mengklasifikasi tujuan-tujuan dari fiqh jinayah yang merupakan tujuan-tujuan yang luas dari syariah sebagai berikut:125 Tujuan pertama Menjamin keamanan dari kebutuhan-kebutuhan hidup. 2001). jika belum mumayyiz maka dianggap kesalahan (khata') secara pasti. Ini merupakan hal-hal di mana kehidupan manusia sangat tergantung sehingga tidak dapat dipisahkan. al-Muhazzab.124 C. Dengan demikian untuk memahami pentingnya suatu ketentuan.69 Menurut Syafiiyah bahwa yang jelas perbuatan anak kecil itu dianggap sengaja apabila ia telah mumayyiz. hlm.

Tujuan ketiga . d. Ini mencakup hal-hal yang penting bagi ketentuan itu dari berbagai fasilitas untuk penduduk dan memudahkan kerja keras dan beban tanggungjawab mereka.70 dalam keputusan hukum Islam disebut dengan istilah al-Maqasid asy-Syari'ah alKhamsah (tujuan-tujuan syariah). Hifz al-Mãl (memelihara harta). Syariat telah menetapkan pemenuhan. kemajuan dan perlindungan tiap-tiap kebutuhan itu dan menegaskan ketentuan-ketentuan yang yang berkaitan dengannya sebagai ketentuan yang esensial. b. Hifz al-'Aqli (memelihara akal pikiran). yaitu: a. c. Tujuan kedua Tujuan berikutnya adalah menjamin keperluan-keperluan hidup (keperluan sekunder) atau disebut hajiyyat. Ketiadaan fasilitas-fasilitas tersebut mungkin tidak menyebabkan kekacauan dan ketidak tertiban. Hifz ad-Dĩn (memelihara agama). Dengan kata lain. e. keperluan-keperluan ini terdiri dari hal-hal yang menyingkirkan kesulitan-kesulitan dari masyarakat dan membuat hidup mudah bagi mereka. Hifz an-Nafsi (memelihara jiwa). akan tetapi dapat menambah kesulitan-kesulitan bagi masyarakat. Hifz al-Nasli (memelihara keturunan).

terdapat sanksi-sanksi yang mengikat yang harus ditegakan di dunia. Padahal apa yang dibayangkan tersebut hanya merupakan salah satu bagian saja dari hukum pidana Islam. yaitu menjadikan hal-hal yang dapat menghiasi kehidupan sosial dan menjadikan manusia mampu berbuat dan urusan-urusan hidup secara lebih baik (keperluan sekunder) atau tahsinat. Aspek Kemanusiaan dalam Fiqh Jinayah Salah satu kesempurnaan syari'at Islam adalah adanya aturan-aturan yang berkenaan dengan hukum publik. Islam tidak sekedar mengajarkan ajaran moral saja. Sering kali bayangan tersebut terhenti di situ. Ketiadaan perbaikan-perbaikan ini tidak membawa kekacauan dan anarki sebagaimana dalam ketiadaan kebutuhan-kebutuhan hidup. melainkan juga menyediakan aturan-aturan yang bersifat imperatif. Baik dalam alQur'an maupun dalam as-Sunnah. yang langsung terbayang di benak kebanyakan orang adalah potong tangan.71 Tujuan ketiga dari perundang-undangan Islam adalah membuat perbaikanperbaikan. juga tidak mencakup apa-apa yang perlu untuk menghilangkan kesulitankesulitan dan membuat hidup mudah. sehingga kesan bahwa hukum pidana Islam bersifat kejam dan bertentangan dengan hak asasi manusia. Itupun baru dapat ditegakkan setelah seluruh unsur-unsur . D. Ketika mendengar kata "Hukum Pidana Islam" (fiqh Jinayah). bukan sekedar ancaman di akhirat. dilempar batu sampai meninggal (dirajam). atau dibunuh (diqisas). dipukul dengan menggunakan kayu (dijilid). Istilah yang umum bagi aturan-aturan tersebut adalah al-Jinayat yang sering kali diartikan dengan Hukum Pidana Islam.

Bila kejahatan ini terus dibiarkan. yang semuanya merupakan maqasid asy-Syar'i. Karena itu Allah memperingatkan dalam al-Qur'an:126 126 Al-Baqarah (2): 179 . Inilah yang disebut hududullah (batas-batas hukum Allah). bahkan sangat kejam. akal dan agama. merupakan pelanggaran terhadap hak Allah. Mana pri kemanusiaan yang dipunyai manusia?. merupakan pelanggaran terhadap hak hamba. keturunan. Hukum Pidana Islam (fiqh jinayat) ini mengatur setiap perbuatan manusia yang dilarang yang berkenaan dengan tubuh. karena ambruknya wibawa dan penegakan hukum. Dan jika semuanya tidak terpenuhi maka ulil amri sebagai penguasa negara berhak memberikan hukuman atas pertimbangan kemaslahatan umat berupa hukuman ta'zir. Allah swt telah menetapkan hukum yang terdiri tiga tingkatan yaitu: qisas (balasan setimpal). jiwa maupun dengan hal-hal lainnya seperti kehormatan. eksistensi kehidupan manusia akan terancam. atau permintaan maaf).72 jarimahnya (tindak pidananya) terpenuhi. keturunan dan ketenteraman umum. Kejahatan-kejahatan yang oleh syariat telah ditetapkan jenis hukumannya. Yakni hal-hal yang berkaitan dengan kehormatan agama. Lihatlah. harta. Inilah yang mengandung konsekuensi hukum qisas. Untuk menyelesaikan problem ini. Sepintas. hukum qisas nampak kejam. nyawa manusia jadi sangat murah. denda-damai (diyat). Memang ia hukuman yang kejam. Selebihnya terdapat asas-asas serta konsepkonsep lainnya yang luput dari perhatian. Sedangkan kejahatan yang berkaitan dengan kehormatan jiwa manusia.

2 127 . Qisas pembalasan yang hak. primitif. yaitu dengan qisas. Sebagai contoh kasus Tomy Suharto sebagai terpidana pembunuhan atas hakim agung Syafiuddin Kartasasmita. (Jakarta: Khairul Bayan.73 ‫و لكم فى القصاص حياة يا اولى اللباب‬ Kekejaman memang harus dihentikan dengan hukuman yang setimpal agar bisa menjerakan. jelas tidak sepadan. Karenanya. Alhasil putusan hakim itu belum memenuhi rasa keadilan yang mereka tuntut. Dengan qisas. hlm. Dan tanggapan kedua isterinya sebagai ahli waris korban (waliyuddam) sangat kecewa karena putusan itu tidak sesuai dengan harapan. sumber pemikiran Islam. barbar. karena korban atau ahli warisnya (bila korban meninggal) berhak membalas dengan perlakuan setimpal. Anak-anakpun kehilangan sosok sang ayah yang biasa membimbing mereka sehari-hari. Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat hanya mengganjar Tomy dengan hukuman penjara 15 tahun. Mereka telah kehilangan suami sekaligus pemimpin rumah tangga dan pencari nafkah bagi keluarganya. Apalagi jika dibandingkan dengan penderitaan yang mereka alami sepeninggal sang suami. atau ketinggalan zaman. Padahal penyakit sosial yang bernama pembunuhan hanya efektif dicegah dengan obat yang disediakan oleh yang menciptakan nyawa manusia. 2003). menjadi benci terhadap hukum Islam lalu memilih hukum lain (KUHP).127 Abdurrahman Madjrie dan Fauzan Al-Anshari. maka pelaku sebelum berbuat jahat akan pikir-pikir dahulu. jenis hukuman dinilai tidak manusiawi. orang-orang yang telah menjadi korban penyesatan opini semacam ini. Bagi sebagian orang.

untuk membasmi kejahatan di muka bumi dan kemaksiatan lainnya yang sering dilakukan oleh para penjahat. jika Tomy meminta maaf. untuk menjaga keamanan dan keselamatan jiwa dan kehidupan manusia di dunia. hlm. Minimal dapat mencegah merebaknya kejahatan dan kerusakan di muka bumi..74 Namun kedua isterinya hanya pasrah karena tidak bisa berbuat apa-apa selain trerpaksa menerima keputusan tersebut. yaitu:128 1. 128 Ibid.91-92 . Maka dapat ditarik kesimpulan dari keutamaan Hukum Pidana Islam ini sebagi hikmah yang harus disyukuri. Dari kasus ini dapat dibandingkan bahwa ternyata KUHP kurang sesuai dengan tindakan yang diperbuat. dan keluarga memaafkan maka ia akan terbebas dari hukum qisas dan berganti kepada diyat sebagai ganti rugi atas tuntutan keluarga. 4. Untuk menegakkan hukum Allah sebagai bukti ketaatan kaum muslimin kepada hukum Allah. 3. Bila hal ini diselesaikan denga hukum Islam maka yang akan terjadi. tidak ada rasa keadilan atas tindakan yang dilakukan dan juga bagi keluarga korban tidak punya hak apa-apa untuk menuntut hak mereka. 2. untuk memberikan pelajaran dan peringatan yang keras bagi orangorang yang ada niatan berbuat kejahatan agar tidak meneruskan keinginannya. Di sinilah aspek keadilan dan kemanusiaan dalam hukum Islam. Mengingat keduanya tidak berhak dan tidak bisa keputusan Hakim tersebut.

segala upaya diusahakan untuk memberi pelayanan kesehatan agar dapat memperhatikan kehidupan seorang manusia. BAB IV PRAKTEK EUTHANASIA DALAM PRESPEKTIF FIQH JINAYAH A. Oleh karenanya setiap orang diharuskan untuk menjalani segala perbuatan yang dapat membahayakan dirinya atau orang lain. Sebagaimana pernah terjadi pada era kehidupan Rasulullah dan pemerintahan khalifah penggantinya. Artinya.75 5. sebagai mekanisme pengamanan bagi semua warga negara yang tinggal di negeri yang memberlakukan hukum Allah sebagai konstitusinya. Atau dengan kata lain manusia . Euthanasia Aktif sebagai Jarimah Masalah menjaga kesehatan dalam Islam sangat diperhatikan. Terlebih-lebih menjaga atau memelihara jiwa atau an-nafs.

maka apabila telah datang kematiannya tidak seorangpun yang dapat mengundurkan atau memajukan walau sesaatpun.76 tidak dibolehkan untuk menghilangkan jiwanya atau jiwa orang lain. Sebagai mana firman Allah: ‫و لكل أمة أجل فاذا جاء أجلهم ل يستأخرون ساعة و ل‬ 131 ‫يستقدمون‬ 132 ‫و لن يؤخر ال نفسا اذا جاء أجلها و ال خبير بما تعملون‬ 129 Al-Hijr (15): 23 An-Najm (53): 44. Masalah kematian setiap manusia itu sudah ditentukan batasannya oleh Allah swt. Al-A'raf (7): 34 Al-Munafiqun (63): 11 130 131 132 . Dalam hubungan ini euthanasia. Di antara firman Allah menyinggung hal jiwa atau nafs adalah sebagai berikut: 129 ‫و انا لنحن نحي و نميت و نحن الوارثون‬ 130 ‫و انه هو امات و احي‬ Begitu besarnya penghargaan Islam terhadap jiwa. khususnya euthanasia aktif dapat dikategorikan sebagai perbuatan untuk menghilangkan jiwa atau penghentian kehidupan manusia. Sebab masalah hidup dan mati itu merupakan urusan Allah SWT. sehingga segala perbuatan yang mengarah kepada tindakan untuk menghilangkan jiwa manusia akan diancam dengan hukuman qisas-diyat atau ta'zir. dan oleh karenanya pula hal tersebut merupakan perbuatan yang bertentangan dengan kehendak Allah swt.

116 133 . dengan tujuan Imron Halimi.1990) hlm. memasang infus. tindakan dokter itu tidak berarti melangkahi hak Allah atau takdirnya.77 Dapat difahami dari ayat di atas bahwa urusan mati sepenuhnya merupakan hak Allah swt. Sehingga kalau sampai terjadi seseorang lain yang mengusahakan kematian untuk orang lain. EEG dan lain-lain). itu tidak berarti menghalangi hak Allah sebagai penentu kematian manusia ?. Berbicara masalah euthanasia (qatl ar-rahmah atau taisir al-maut). Dan bila ada terjadi seseorang berusaha untuk dirinya sendiri untuk mendapatkan kematian. respirator. sebab tindakan medis itu manifestasi dari ikhtiar untuk menolong pasien. Kemudian apakah dokter dalam memberikan tindakan medis (misal. Euthanasia cara mati terhormat orang moderen (Solo: cv. Ramadhani.133 Akibat dari pesatnya perkembangan teknologi kedokteran modern akan dapat memberikan fasilitas dan pelayanan yang lebih baik bagi usaha perpanjangan umur pasien yang menderita sakit parah. seorang dokter berkewajiban untuk mengobati. ini bisa dikategorikan sebagai pembunuhan. Ini mengandung arti bahwa dokter atau tim medis telah dapat menunda beberapa saat waktu kematiannya. maka perbuatan demikian bisa dikategorikan sebagai bunuh diri dengan meminjam tangan orang lain. baik dengan obat-obatan atau memberikan nasihat. karena kasih sayang. Dan memang seharusnya begitu. Betapapun sudah diduga umur si pasien tidak lama lagi. meringankan penderitaan pasien dengan segala kemampuannya. yang definisinya menurut Qardawi ialah tindakan memudahkan kematian seseorang dengan sengaja tanpa merasakan sakit. Dalam konteks di atas.

Dalam hal ini tentunya diperlukan beberapa tahapan untuk menjawabnya. yakni sebagai berikut: 1.136 Namun demikian apakah bisa begitu saja tindakan euthanasia aktif itu digolongkan sebagai jarimah pembunuhan?.135 Dalam Islam euthanasia aktif itu secara eksplisit dan tegas belum pernah ditemukan hukumnya. fatwa-fatwa kontemporer.78 meringankan penderitaan si sakit.751 136 . cet. maka hal ini bisa diklasifikasikan kedalam jarimah pembunuhan.ke-2. Unsur material atau rukun maddi Yusuf Qardawi. Ibid. alih bahasa: As'ad yasin. 135 134 Ibid. Unsur formal atau unsur syar'i Yang dimaksud dengan unsur formal atau unsur syar'i adalah adanya ketentuan syara' atau nash yang menyatakan bahwa perbuatan yang dilakukan yang oleh hukum dinyatakan sebagai sesuatu yang dapat dihukum atau adanya nash (ayat) yang mengancam hukuman terhadap perbuatan yang dimaksud. Dalam fiqh Islam suatu perbuatan barulah dikatakan sebagai jarimah apabila perbuatan tersebut telah memenuhi unsur-unsur jarimah. Akan tetapi karena euthanasia aktif merupakan tindakan untuk mempercepat kematian seseorang. II:749. yakni: a.. 1996).134 Khususnya lagi euthanasia aktif (taisir al-maut al-fa'al) yang definisinya ialah tindakan memudahkan kematian si sakit karena kasih sayang yang dilakukan dokter dengan menggunakan instrumen (alat). (Jakarta: Gema Insani Press. b. hlm.

ke-2 (Jakarta: PT. c. ke-1. dan sanggup menerima isi beban tersebut. Raja Grafindo Persada. (Bandung: Pustaka Setia.2000). Oleh karena itu pembuat jarimah (tindak pidana.lihat juga A. hlm. cet. 1997). mengerti isi beban. delik) haruslah orang yang dapat memahami hukum. cet.79 Yang dimaksud dengan unsur material adalah adanya perilaku yang membentuk jarimah. Unsur moril atau Rukun Adaby Unsur ini juga disebut dengan al-mas'uliyyah al-jinayyah atau pertanggungjawaban pidana. yakni adanya nas yang jelas-jelas melarang pembunuhan baik 137 Rahmat Hakim. Maksudnya adalah pembuat jarimah atau pembuat tindak pidana atau delik haruslah orang yang dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya. . Hukum pidana Islam (fiqh jinayah). Sehingga euthanasia aktif dilihat dari aspek definisinya sudah memenuhi unsur jarimah pertama. hlm. fiqh jinayah (upaya menanggulangi kejahatan dalam Islam).52-53. ialah unsur formil (ar-rukn asysyar'i). Jika telah memenuhi tentunya ada kesinkronan antara aspekaspek terjadinya euthanasia aktif dengan unsur-unsur jarimah.3.137 2. Orang yang diasumsikan memiliki kriteria tersebut adalah arangorang yang mukallaf sebab hanya merekalah yang terkena khitab (panggilan) pembebanan (taklif). djajuli. Bahwa euthanasia aktif itu merupakan tindakan pembunuhan. baik berupa perbuatan ataupun tidak berbuat atau adanya perbuatan yang bersifat melawan hukum. Adapun aspek-aspek terjadinya euthanasia aktif ialah sebagai berikut: a. Tindakan euthanasia aktif itu apakah telah memenuhi unsur-unsur jarimah ataukah tidak?.

Dalam hukum Pidana Islam (fiqh jinayah). pasien. yaitu dokter atau tim medis lainnya.80 diri sendiri ataupun orang lain. Adanya pelaku euthanasia aktif yang dapat dimintai pertanggungjawaban pidana. Dalam aspek ini juga telah memenuhi unsur jarimah kedua yakni unsur materill (ar-rukn almaddi). tindak pidana pembunuhan ini (al-qatl) disebut juga al-jinayah 'ala al-insaniyyah (kejahatan terhadap jiwa 138 An-Nisa (4): 29 Al-An'am. c. yakni unsur moril (ar-rukn adabi) Jadi jelas dalam konteks tersebut dapat disimpulkan bahwa euthanasia aktif itu merupakan jarimah pembunuhan. Adanya tindakan atau perbuatan yang mendukung terjadinya euthanasia aktif. Dari aspek inipun telah memenuhi unsur jarimah ketiga. Seperti tercantum dalam beberapa ayat al-Qur'an sebagai berikut: 0 ‫ل تقتلوا أنفسكم ان ال كان بكم رحيما‬ ‫ول تقتلوا النفس التى حرم ال ال بالحق ذالكم وصاكم به‬ 0 ‫تعقلون‬ ‫لعلكم‬ 138 139 b. yakni biasanya dengan mencabut selang respirator atau melalui suntikan dengan bahan pelemah saraf dalam dosis tertentu (neurasthenia).(6): 151 139 . dan keluarga pasien. dan sebagainya.

Terjadinya tindakan euthanasia aktif sangat dipengaruhi oleh alasan atau pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:142 Jaih Mubaraok dan Enceng Arif Faizal. Para ulama berbeda pendapat dalam mengklasifikasikan bentuk-bentuk pembunuhan. 2004) hlm. yaitu pembunuhan sengaja. II: 7-9. semi sengaja. (Beirut: Muassasat ar-Risalat. Hal ini sesuai dengan definisinya. 2) Jumhur mengklasifikasikannya menjadi tiga (sulasi).81 manusia).141 atau sengaja melakukan perbuatan yang dilarang dan memang akibat perbuatan itu dikehendaki pula. yaitu: pembunuhan sengaja. Hukum Pidana. Dari macam jarimah pembunuhan di atas. semi sengaja. tindakan euthanasia aktif bisa digolongkan kedalam pembunuhan sengaja. yaitu: pembunuhan sengaja. 4) Sebagian Hanafiyah mengklasifikasikannya menjadi lima (khumasi). suatu perbuatan penganiayaan terhadap seseorang dengan maksud untuk menghilangkan nyawanya. Djazuli.121 Akh. at-Tasyri' al-Jina'i al-Islami Muqaranah bi al-Wad'i. 3) Sebagian Hanafiyah mengklasifikasikannya menjadi empat (ruba'i). kekeliruan.hlm. dan Hukum Islam. Fauzi Aseri. dalam Chuzaimah T Yanggo dan Hafidz Anshary. Fiqh Jinayah. 1992). Perbedaan tersebut adalah:140 1) Ulama Malikiyah mengklasifikasikan bentuk-bentuk pembunuhan menjadi dua yaitu: pembunuhan sengaja (qatl al-'amd) dan kekeliruan (qatl alkhata'). dan pembunuhan secara tidak langsung (al-qatl bi al-tasabbub). semi sengaja (syibh al-'amd) dan kekeliruan. dan serupa kekeliruan (ma jara majr al-khata'). kekeliruan dan serupa kekeliruan. yakni. Problematika Hukum Islam 142 . 141 140 A. lihat juga Abd Qadir 'Audah. Euthanasia Suatu Tinjauan dari Segi Kedokteran. Kaidah fiqh jinayah (asas-asas hukum pidana Islam) (Bandung: Pustaka Bani Quraisy.9.

hlm. maka ia meminta dokter untuk melakukan euthanasia. Atau pasien sudah tahu bahwa ajalnya sudah di ambang pintu. baik karena terlalu lama. Oleh karena penyakit yang dideritanya sangat (accut).71. maka supaya matinya tidak merasa sakit. (Jakarta: PT. ke-3. sementara harapan untuk sembuh tidak ada lagi. namun bila ingin mempelajari dan memahami arti euthanasia secara mendalam. . paling tidak. dia meminta jalan yang lebih "nyaman". yang meminta kepada dokter karena merasa tidak tahan lagi menderita sakit. Bisa juga euthanasia terjadi karena permintaan keluarga yang tidak sanggup lagi memikul biaya pengobatan. Apabila jika pasien tampaknya tidak tahan menanggung sakitnya. Euthanasia hakikinya adalah membunuh yang dilakukan Kontemporer.82 a) Dari pihak pasien. c) "Kemungkinan lain" bisa terjadi. Cet. b) Dari pihak keluarga/wali. yang merasa kasihan atas penderitaan pasien. Pertimbangan lain bisa juga karena pasien tidak ingin meninggalkan beban ekonomi yang terlalu berat bagi keluarga. dan telah lama dialami. Sanksi Hukum bagi Pelaku Euthanasia Dalam ajaran agama Islam tidak terdapat ajaran yang mutlak mengenai euthanasia. yaitu melalaui euthanasia. Pustaka Firdaus. 2002). bahwa pihak keluarga (tertentu) bekerjasama dengan dokter untuk mempercepat kematian pasien. harapan sembuh terlalu jauh. ataupun karena amat ganasnya jenis penyakit yang menyerangnya. karena menginginkan harta/milik pasien dan faktor amoral lainnya. B. maka akan jelas hukumnya dengan berdasarkan al-Qur'an sebagai salah satu sumber hukum Islam. akibat biaya pengobatan yang mahal.

Euthanasia merupakan salah satu bentuk pembunuhan dan termasuk dalam kategori jinayat. karena pada dasarnya menghilangkan nyawa seseorang merupakan perbuatan dosa besar sebagai mana tercantum dalam al-Qur'an: ‫و من يقتل مؤمنا متعمدا فجزاؤه جهنم خالدا فيها و غضب ال‬ 144 ‫عليه و لعنه و اعدله عذابا عظيما‬ َ Secara umum hukum Islam diamalkan untuk menciptakan kemaslahatan hidup dan kehidupan manusia. jiwa. Islam ditetapkan aturan yang ketat yaitu Qisas (pembunuhan). jinayat adalah setiap perbuatan yang diharamkan dan tercela yang dilarang oleh Tuhan. Dalam terminologi fiqh. X:11 .A Ali (Bandung: PT.143 Allah melarang melakukan pembunuhan. 143 Sayid Sabiq. khusus yang berkaitan dengan hukum pidana. alih bahasa H. perbuatan itu bisa merugikan agama. akal. al-Maarif. maka Allah memberikan ancaman bagi mereka yang meremehkannya. had dan diyat. fikih sunnah. sehingga aturan diberikan secara rinci. . keturunan dan harta. 144 An-Nisa (4): 93. 1997). Tindakan merusak ataupun menghilangkan jiwa orang lain maupun jiwa diri sendiri adalah perbuatan melawan hukum Allah.83 dalam rumah sakit oleh dokter ahli pada penderita karena penyakit tertentu seperti kanker atau kecelakaan yang merusak tubuhnya hingga berdasarkan ilmu dan teknologi kedokteran tidak mungkin sembuh. Agar manusia tidak memandang murah terhadap jiwa manusia.

84

Syaikh Muhammad Yusuf al-Qardawi, sebagaimana dikutip oleh Akh. Fauzi Aseri mengaِ takan, bahwa kehidupan manusia bukan menjadi hak milik pribadi, a sebab dia tidak dapat menciptakan dirinya (jiwanya), organ tubuhnya, ataupun selselnya. Diri manusia pada hakekatnya adalah barang ciptaan yang diberikan Allah, oleh karenanya ia tidak boleh diabaikan, apalagi dilepaskan dari kehidupannya.145 Jadi jelaslah bahwa Islam tidak membenarkan seseorang yang sakit berkeinginan mempercepat kematiannya, baik dengan bunuh diri maupun dengan minta dibunuh. Bahkan berdo'a meminta dimatikanpun tidak diperbolehkan. Tetapi Allah menyuruh umatnya bila dalam keadaan sakit agar disamping berusaha juga berdoa agar diberi kesembuhan, sebagaimana firman Allah swt:
146

‫واذ مرضت فهو يشفين‬

Ahmad Mustafa al-Maragi menjelaskan, bahwa pembunuhan (mengakhiri hidup) seseorang bisa dilakukan apabila disebabkan oleh salah satu dari tiga sebab:147 1. Karena pembunuhan oleh seseorang secara zalim. 2. Janda yang pernah bersuami) secara nyata berbuat zina, yang diketahui oleh empat orang saksi. 3. Orang yang keluar dari agama Islam, sebagai suatu sikap menentang jama'ah Islam.

145

Akh. Fauzi Aseri, Euthanasia. hlm.73. As-Syu'ara' (26): 80

146

147

Ahmad Mustafa al-Maragi, Tafsir al-Maragi, (Mesir: Mustafa al-Baby al-Halaby, 1971).

XI: 43.

85

Jika dibandingkan dengan alasan-alasan yang mendorong terjadinya euthanasia seperti disebutkan terdahulu, maka tidak ada satupun yang berkaitan dengan alasan bilhaq di atas. Maka agar dapat ditentukan sanksi hukumnya dalam masalah euthanasia ini, perlu diperjelas secara terperinci karena masalah euthanasia ini merupakan masalah yang kompleks, baik dari segi sebabnya maupun pelaku terjadinya euthanasia. Karena euthanasia ini merupakan jenis pembunuhan maka kiranya perlu dijelaskan sanksi-sanksinya. Sebelum menginjak kepada sanksi-sanksi pelaku euthanasia perlu disebutkan terlebih dahulu sanksi-sanksi dalam pembunuhan. Dalam pembunuhan, ada beberapa jenis sanksi, yaitu; hukuman pokok, hukuman pengganti dan hukuman tambahan. Hukuman pokok pembunuhan adalah qisas. Bila dimaafkan oleh keluarga korban, maka hukuman penggantinya adalah diyat. Akhirnya jika sanksi qisas atau diyat dimaafkan, maka hukuman penggantinya adalah ta'zir. Menurut sebagian ulama, yakni Imam Syafi'i, ta'zir tadi ditambah kaffarah. Hukuman tambahan sehubungan dengan ini adalah pencabutan atas hak waris dan hak wasiat harta dari orang yang dibunuh, terutama jika antara pembunuh dengan yang dibunuh mempunyai hubungan kekeluargaan.148 Dokter sebagai seorang anggota masyarakat, penuh aktif, berinteraksi dan memelihara masyarakat. Tugas dokter tidak hanya melakukan pengobatan penyakit dan mencegah timbulnya penyakit. Tetapi juga sebagai seorang manusia dokter juga dituntut untuk tolong-menolong dalam hal kebaikan apapun bentuknya.149
148

A. Djazuli, Fiqh Jinayat, hlm, 135-136

Kode Etik kedokteran Islam, terj. Sudibyo Soepardi, cet.ke-4, (Jakarta: CV. Akademika Pressindo, 2001), hlm. 41.

149

86

Dalam masalah euthanasia ini, jika melihat kembali kepada fungsi dokter sebagai penolong untuk mengobati, menolong dan membantu pasien dari penyakitnya supaya sembuh, apakah secara batin dia tega melakukan euthanasia terhadap pasiennya. Pasti dia mempunyai tekanan batin dan juga menghadapi konsekuensi hukum. Dalam hal ini, jika dokter melakukan euthanasia berarti dokter telah melakukan pembunuhan, karena pembunuhan berarti menghilangkan nyawa seseorang, sepeti dikatakan oleh Wahbah az-Zuhaili:150 "Pembunuhan adalah suatu perbuatan mematikan; atau perbuatan seseorang yang dapat menghilangkan nyawa; artinya pembunuhan itu dapat menghancurkan bangunan kemanusiaan."

Allah telah memberikan hukuman terhadap pelaku pembunuhan dengan qisas. Hal ini tercantum dalam al-Qur'an:
151

‫يا أيها الذين آمنوا كتب عليكم القصاص في القتلى‬
152

‫و كتبنا عليهم فيها أن النفس بالنفس‬

Jadi berdasarkan ayat di atas dokter sebagai pelaku pembunuhan harus dihukum qisas, hal ini sebagai konsekuensi pertama yang dihadapi oleh dokter sebagai pihak pembunuh. Pada dasarnya Allah melarang pembunuhan apapun
Wahbah az-Zuhaili, al-Fiqh al-Islam wa adillatuh, cet ke-3 (Damaskus: Dar al-Fikr, 1989), VI: 217.
151 150

Al-Baqarah (2): 178. Al-Maidah (5): 45.

152

tuntutan itu bisa berupa qisas (sebagai balasan). dan persetujuan dari pihak keluarga. Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa perintah korban dapat menggugurkan qisas terhadap pelaku. atau keluarga sebagai wali ad-dam telah merelakan bahkan menganjurkannya. Dalam hal ini si pasien sebagai pemilik jiwa telah merelakan atau memberi izin kepada dokter. Dalam hal ini Mahmud Syaltut memberikan pembahasan yang ringkasnya bahwa para ahli fiqh berbeda pendapat mengenai suatu kejahatan atau seseorang yang disuruh sendiri oleh si korban dengan disetujui walinya. apakah pelaku (dokter) terkena hukuman atau tidak dalam kasus euthanasia yang mana si korban sebagai pemilik jiwa. hlm. Hal ini tergantung tuntutan apa yang akan dilakukan pihak keluarga atau ahli warisnya. Masalah yang timbul adalah. Fauzi Aseri. tetapi Allah juga memberikan hak kepada keluarga si terbunuh dengan tuntutan. sebagai unsur utama kehidupan manusia. hukuman berpindah kepada diyat.153 Menurut Hanafiyah: ‫يسقط القصاص برضا المجني عليه‬ Gugurnya qisas disebabkan oleh adanya kerelaan atau izin korban yang dapat dipersamakan dengan pemaafan. Euthanasia. . Dalam hal ini dokter mempunyai suatu dispensasi dari pihak pasien (si terbunuh) berupa (kerelaan atau izin). diyat (bila pembunuh dimaafkan) dan bisa juga dimaafkan secara mutlak. dan Allah memberikan hukuman berupa qisas yang merupakan hak Allah atas manusia.87 jenisnya. Oleh karena itu. karena Allah sebagai sang khaliq menyuruh umatnya agar senantiasa memelihara jiwa.74. 153 Akh.

Bulug al-Maram. A. kerelaan itu menjadi syubhat yang dapat menggugurkan hudud. (Jakarta: Bulan Bintang. Hanafi. ke-5. 260. Pemaafan dari korban itu lebih utama dari pada keluarga sebab pemaafan itu menjadi hak bagi korban. At-Tasyri.155 Pendapat ini didasarkan pada qaidah fiqhiyyah. t. al-tasyri' al-Jina'i al-Islami Muqaranah bi al-Qanun al-wad'i (Beirut: Muassasat ar-Risalat. hlm. hlm. hlm. walaupun Abu Abdul al-Qadir Audah. karena adanya pemberian izin. Abu yusuf dan Muhammad mereka sama-sama memberikan sanksinya berupa diyat. 158 hlm. dan pemberian izin itu menimbulkan syubhat (kesamaran). 1993).1992) I: 440-441 155 154 Ibid. (Bandung: Maktabah Dahlan.88 Selain itu. Asas-asas Hukum Pidana Islam.. semuanya tidak ada yang menetapkan sanksi hukum atas kerelaan atau izin ini dengan sanksi qisas (hukuman asli). meskipun tidak berarti menghapuskan hukuman ta'zir. Hadis nomer.158 Dari pendapat-pendapat di atas. yakni: 156 ‫ادرؤوا الحدود بالشبهات‬ Pendapat Malikiyah yang arjah (lebih kuat) dan sebagian Syafi'iyah: ‫يسقط عقوبتى القصاص و الدية برضا المجني عليه‬ Kerelaan korban dapat dipersamakan dengan pemaafan baik dari hukuman asli (qisas) maupun penggantinya (diyat). Kitab al-Hudud Bab az-Zina.154 Pendapat ini juga didukung oleh Abu Hanifah. Karena si pasien telah memaafkan dari sanksi dan rela untuk dibunuh itu sama dengan memberi maaf. 441-442 A ِ l-Hafid Ibnu Hajar al-Asqalani. cet.157 Menurut ulama Syafi'iyah dan Imam Ahmad dalam kasus euthanasia ini tidak ada sanksi qisas dan diyat.t).441-442. HR Baihaqi dari Ali RA 157 156 Abd Qadir 'Audah. 191 . 1247.

Jadi dari hal ini dokter terbebas dari hukuman qisas (sebagai hukuman asli) juga diyat (sebagai hukuman pengganti). tetapi dalam hal ini apakah dokter sebagai orang lain bagi pasien dan keluarga yang sudah melaksanakan euthanasia atas permintaan pasien dan persetujuan keluarga sehingga mendapat hukuman diyat. yaitu berupa seratus ekor unta yang empat puluh diantaranya sedang bunting. Sedangkan jumlah yang harus dikeluarkan dari ketentuan diyat sendiri tidak sedikit. Diyat ada dua macam yaitu diyat mugalazah dan diyat mukhafafah. namun pihak korban atau ahli warisnya diberi hak tuntutan. jika melihat hal di atas berarti dokter yang mengeuthanasia mendapat hukuman berupa diyat mughaladzhah karena telah dimaafkan oleh pihak keluarga. Menurut Malikiyah pada pembunuhan disengaja dikenakan diyat mugalazah apabila waliyuddam menerimanya. Karena fungsi diyat adalah untuk kemaslahatan keluarga si pasien (si terbunuh). Pada dasarnya hukuman qisas tidak dapat diganti dengan hukuman yang dibuat oleh manusia. Dan jumlah dari pembayaran diyat mugalazah adalah seratus ekor unta yang empat puluh di antaranya sedang bunting. Otomatis dokter tidak akan mau jika harus membayar diyat. . Dari hal ini. mau menerima hukuman tersebut. Dan pihak keluarga atau ahli warisnya juga telah memaafkan secara mutlak maka tidak ada hukuman diyat baginya. Sedangkan tindakan dokter telah disetujui pihak keluarga pasien. jika dia sudah tahu akan konsekuensinya. atau harta (uang atau barang ) yang senilai dengannya. karena berarti dokter sebagai pihak yang membantu malah mendapatkan kerugian.89 Hanifah (beserta pengikutnya) Abu Yusuf dan Muhammad menetapkan hukum atas adanya unsur kerelaan ini dengan diyat (hukuman pengganti).

sanksi ta'zir dapat dijatuhkan terhadap pembunuh. sebab jarimah qisas merupakan hak adami hak perseorangan. Apabila korban atau keluarganya memaafkan diyat ini. maka sanksi qisas tidak dapat dilaksanakan karena tidak memenuhi syarat. hukum Islam memberikan kedudukan kepada keluarga korban secara bijaksana untuk turut ambil bagian di dalam menentukan kebijaksanaan hukuman terhadap pelaku pembunuhan dengan memberikan kesempatan kepada pelakunya apakah harus diqisas atau diyat. Oleh karena itu. hukuman qisaspun menjadi gugur digantikan dengan hukuman diyat.160 Singkatnya. Allah berfirman dalam al-Qur'an: ‫فمن عفي له من أخيه شيئ فاتباع بالمعروف و اداء اليه‬ 159 ‫باحسان‬ Adanya hukuman pengganti pada jarimah qisas ini disebabkan adanya pemaafan dari sikorban atau wali atau ahli warisnya. Hal itu dimungkinkan. kalau sikorban (masih hidup) atau ahli waris (jika korban mati) memaafkan pembuat jarimah. hlm126 160 . karena korban (si pasien) atau walinya mempunyai hak untuk membebaskan pembunuh dari sanksi hukuman 159 Al-Baqarah (2): 178 Rahmat Hakim. Keterlibatan keluarga pihak korban. Hukum Pidana Islam. dapat dihapus dan sebagai penggantinya hakim akan menjatuhkan hukuman ta'zir.90 oleh karena itu hak Allah yang berupa qisas dapat diganti dengan hukuman diyat yang merupakan hak manusia. atau juga memberi maaf secara mutlak. Dalam tindak pidana pembunuhan. ini sangat berarti bagi pelaku tindak pidana maupun bagi keluarga si korban.

.91 qisas dan diyat. Maka ta'zir itulah sebagai sanksi hak masyarakat. Fiqh Jinayah. 162. Djazuli. melainkan juga hak jamaah. Dan ta'zir itu tergantung kepada kemaslahatan:161 ‫التعزير يدور مع المصلحة‬ Adanya kaidah ini merupakan wujud dinamisasi hukum pidana Islam dalam menjawab bentuk-bentuk kejahatan baru yang belum ada aturannya sehingga setiap bentuk kejahatan baru yang dianggap telah merusak ketenangan dan ketertiban umum dapat dituntut dan dihukum. hlm. Hukuman ta'zir yang diberikan kepada pembunuh sengaja yang dimaafkan dari qisas dan diyat adalah aturan yang baik dan membawa kemaslahatan. Karena pembunuhan itu tidak hanya berurusan dengan hak perseorangan. 161 A. maka izin tersebut merupakan pemaafan yang didahulukan. baik kedua-duanya atau diganti dengan sanksi lain. Dengan melihat bahwa izin (persetujuan) dapat menghapuskan hukuman.

92 EUTHANASIA DALAM PRESPEKTIF FIQH JINAYAH .

OMAN FATHUROHMAN SW. Ali bin 'Amr Abu al-Husyain al-.t. Ag DRS.93 SKRIPSI DIAJUKAN KEPADA FAKULTAS SYARI’AH UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA UNTUK MEMENUHI SEBAGIAN SYARAT-SYARAT MEMPEROLEH GELAR SARJANA STRATA SATU DALAM ILMU HUKUM ISLAM OLEH: MUKHLISIN 9937 3425 PEMBIMBING DRS. Beirut: Dar al-Ma'rifah. H Hadis Abu Dawud. 8 jilid. 3 jilid. 1996. SLAMET KHILMI JURUSAN JINAYAH SIYASAH FAKULTAS SYARI’AH UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA 2004 DAFTAR PUSTAKA Al-Qur'an Al-Qur'an Karim. 1404. . t. Bandung: Maktabah Dahlan. Beirut: Dar al-Fikr. 4 jilid. Bukhari. 1981. Sunan al-Daruqutni. M. Ibnu Hajar al-Asqalani. Daruquthni. Abu Abdullah Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim ibn al-Mughirah ibn Bardizbah al-Ja'fi al-. Damaskus: Dar Ibn Katsir. Sahih al-Bukhari. Sunan Abi Dawud. Bulug al-Maram. Beirut: Dar al-Fikr. 1988.

t. Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtasid. Jakarta: PT. Jakarta: Bulan Bintang. 8 jilid. Abdul Qadir. 1994. Hukum Pidana Syari'at Islam menurut ajaran ahlus sunnah. t. Qisas pembalasan yang hak. Raja Grafindo Persada. Jakarta: Darul Falah. Asas-asas Hukum Pidana Islam. . Mesir: Mustafa al-Baby alHalaby. Charis. Muhammad ibn Ismail ibn Salah al-Amir al-Kahlani al-. 2000. alih bahasa: Fadhli Bahri. 1971. 1971. Anwar Harjono. Indonesia: Dar Ihya alKutub al-Arabiyyah. Jaih mubarok.94 Ibnu Majah. 1968. Fiqh Jinayah (upaya menaggulangi kejahatan dalam Islam). Madjrie. Tafsir al-Maraghi. Bandung: Maktabah Dahlan. dan Enceng Arif Faizal. Beirut: Dar Ihya al-Kitab al-Arabiyah.t. 1997. Kaidah Fiqh Jinayah (Asas-asas Hukum Pidana Islam). 1992. Zubir A. Sunan an-Nasai'. San'ani. (Prinsip-prinsip penyelenggaraan Negara Islam). Jakarta: Khairul Bayan. 1997. t. Masail Fiqhiyah. 1994. Mawardi. Musthafa al-.. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Ibnu Rusyd. Abdurrahman dan Fauzan al-Anshari. Maraghi. Imam al-. Fiqh dan Usul Fiqih Audah. 2003. Etika Rekayasa menurut konsep Islam. 2 jilid. Hukum Islam (keluasan dan keadilannya). 2 jilid. Masjfuk Zuhdi. Mesir: al-Bab al-Halabi wa al-Audah. al-Tasyri' al-Jina'i al-Islami Muqaranah bi al-Qanun al-Wad'i. A. t. Djazuli. Haliman. 1993. Ahmad Hanafi. 30 jilid. Nasai'. Bandung: Pustaka Bani Quraisy. Jakarta: Bulan Bintang. Muhammad ibn Ahmad ibn Muhammad ibn Muhammad al-Qurtuby. Jakarta: Bulan Bintang. al-Ahkam as-Sultaniyah. 2 jilid. Abd ar-Rahman Ahmad ibn Suaib ibn Ali ibn Bahr an-. Jakarta: CV Haji Masagung. 2004. Subul as-Salam Syarah Bulug al-Maram. Sunan Ibn Majah.t. Beirut: Muassasat ar-Risalat.

Abu Sa’id al-Falahi dan Aunur Rafiq Shaleh Tamhid. dalam tinjauan medis. 8 jilid. Pustaka Firdaus. Yogyakarta: Aditya media. Tanggung jawab Hukum Seorang Dokter dalam menangani Pasien. 1991. dan A. Ali Ghufron dan Adi Heru Sutomo. 2001. Menggagas Hukum Pidana Islam. alih bahasa A. hukum kedokteran.t. Jakarta: Ikhtiar Baru. t. Djoko Prakoso. Sayyid Sabiq. Yanggo. Beirut: Dar al-Fikr. Jakarta: Robbani Press. Jakarta: Erlangga. Halal dan Haram dalam Islam. Wila Chandrawila. Supriadi. Adji. Rahmat Hakim. Rahmat Hakim.. Fikih Sunnah. Abi Ishaq Ibrahim ibn Ali ibn Yusuf al-Fairuz Abadi asy-. Oleh Drs. Syairazi. 1990. Yusuf al-. al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh. Oemar Seno. .t. 1991. dkk. alih bahasa As'ad Yasin. 2001. 1984. 1997. Buku lain-lain Abdul Jamali. Jakarta: PT. transplantasi ginjal. Jakarta: Ghalia Indonesia. 2000. Qardhawi. Ali. …. Bandung: Mandar Maju.95 Mukti. Profesi Dokter. Chuzaimah T. Euthanasia Hak Asasi Manusia dan Hukum Pidana. dan Djaman Andhi Nirwanto. Zuhaili. Topo Santoso. Bandung: Asy-Syamil Press. Hukum Pidana Islam (Fiqh Jinayah). Surabaya: Maktabah Ahmad bin Said bin Nabhan. Jakarta: Gema Insani Press. Mengapa Euthanasia? Kemampuan Medis & Konsekuensi Yuridis. Amri Amir. Bandung: Nova. Bunga Rampai Hukum Kesehatan. Hafiz Anshary AZ. Wahbah az-. dan operasi kelamin. hukum. Jakarta: Widya Medika. Abortus. F. Euthanasia.1993. dan agama Islam. Bandung: Pustaka Setia. 2002. bayi tabung. Fatwa-fatwa kontemporer. Bandung: PT. 1997. t. Etika Profesional dan Hukum Pertanggungjawaban Pidana Dokter. Problematika Hukum Islam Kontemporer edisi ke-4 edisi revisi. 2000. 1996. al-Ma'arif. Hukum Pidana Islam (Fiqh Jinayah). terj. al-Muhazzab.Tengker. 2000. Bandung: Pustaka Setia.

alih bahasa. Siswo. 1988. Kode Etik Kedokteran Islam (Islamic code of medical ethics). Jakarta: Gramedia. Kitab undang-undang hukum pidana ( KUHP) serta komentarnya lengkap pasal demi pasal. Kartono Mohamad. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. H. 2001.2 : 978. 1992. . Jakarta: Metro Kencana. Sudarmo. Solo: CV. hukum dan psikologis. Samil. Vol. Sudibyo Soepardi. 2000. Teknologi Modern Dan Tantangannya Terhadap Bioetika. Chr Purwa. Ramadhani. "Euthanasia" beberapa soal moral berhubungan dengan quantum. Ratna Suprapti. Jakarta: Pustaka Antara. Ali Akbar. Ensiklopedi Indonesia (Jakarta: Ikhtiar Baru-Van Hoeve. 1989. Malang: Analekta Keuskupan Malang. Etika Kedokteran Dalam Islam.96 R. 2001.Pengantar Bioetika. 1980. 1990. 1996. Jakarta: Akademika Pressindo. Artikel Euthanasia Guwandi J. Carm. Yogyakarta: FKMPY. Euthanasia dalam Prespektif Hak Asasi Manusia.R. Kode Etik Kedokteran Indonesia. Petrus Yoyo. Kumpulan Kasus Bioethics & Biolaw. Euthanasia cara mati terhormat orang modern. J. K Bartens. 1995. Karyadi. Imron Halimi. Euthanasia Beberapa Soal Etis Akhir Hidup Menurut Gereja Katolik. Antropologi Teologis II. ed. Widyana. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 1987). Aborsi dan Euthanasia ditinjau dari segi medis. Thomas A. Shannon. 1990. Piet Go O. Bogor: Politeia. Soesilo. Euthanasia Bagaimana Sikap Seorang Dokter. 1974. Yogyakarta: Media Pressindo. Makalah pada seminar sehari.

Setelah membaca. mengoreksi dan menyarankan perbaikan seperlunya. Wassalamu’alaikum Wr. Untuk itu kami ucapkan terima kasih. Bersama ini kami ajukan skripsi tersebut untuk diterima selayaknya dan mengharap agar segera dimunaqosyahkan. Wb. Wb.97 Drs. maka menurut kami skripsi saudara: Nama NIM : Mukhlisin : 9937 3425 Judul : “Euthanasia Dalam Prespektif Fiqh Jinayah” Sudah dapat diajukan untuk memenuhi sebagian dari syarat memperoleh gelar sarjana strata satu dalam Jinayah Siyasah Fakultas Syari’ah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Oman Fathurohman SW. Yogyakarta. M Ag Dosen Fakultas Syari’ah UIN Sunan Kalijaga NOTA DINAS Hal : Skripsi Saudara Mukhlisin Kepada Yth : Dekan fakultas Syari’ah UIN Sunan Kalijaga Di Yogyakarta Assalamu’alaikum Wr. 3 Rajab 1425 H 19 Agustus 2004 Pembimbing I .

Oman Fathurohman SW. Wb. Bersama ini kami ajukan skripsi tersebut untuk diterima selayaknya dan mengharap agar segera dimunaqosyahkan. Slamet Khilmi Dosen Fakultas Syari’ah UIN Sunan Kalijaga NOTA DINAS Hal : Skripsi Saudara Mukhlisin Kepada Yth : Dekan Fakultas Syari’ah UIN Sunan kalijaga Di Yogyakarta Assalamu’alaikum Wr. mengoreksi dan menyarankan perbaikan seperlunya. maka menurut kami skripsi saudara: Nama NIM : Mukhlisin : 9937 3425 Judul : “Euthanasia Dalam Perspektif Fiqh Jinayah” Sudah dapat diajukan untuk memenuhi sebagian dari syarat memperoleh gelar sarjana strata satu dalam Jinayah Siyasah Fakultas Syari’ah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.Ag NIP: 150 222 295 Drs. Slamet Khilmi NIP: 150 252 260 . Yogyakarta. Wassalamu’alaikum Wr. 3 Rajab 1425 H 19 Agustus 2004 Pembimbing II Drs. Wb. Setelah membaca. M.98 Drs. Untuk itu kami ucapkan terima kasih.

MA NIP: 150 182 698 Ketua Sidang Drs. Yogyakarta. Slamet Khilmi Penguji II Drs. MA NIP: 150 228 207 Penguji I Drs. Fuad Zein. MAg NIP: 150 222 295 NIP: 150 252 260 Sekretaris Sidang Fatma Amilia NIP: 150 277 618 Pembimbing II Drs. H. MAg NIP: 150 222 295 SISTEM TRANSLITERASI ARAB-LATIN . H. 10 Sya'ban 1425 H 25 September 2004 Dekan Fakultas Syari’ah Drs. Oman Fathurohman SW. H. MA NIP: 150 228 207 Pembimbing I Drs. Oman Fathurohman SW. Malik Madany.99 PENGESAHAN Skripsi berjudul “Euthanasia Dalam Prespektif Fiqh Jinayah” yang disusun oleh MUKHLISIN NIM: 9937 3425 Telah dimunaqosyahkan di depan sidang munaqosyah pada tanggal 25 September 2004/10 Sya'ban 1425 H dan dinyatakan telah dapat diterima sebagai salah satu syarat guna memperoleh gelar sarjana dalam Ilmu Hukum Islam. Fuad Zein.

100 Transliterasi kata-kata Arab yang dipakai dalam penyusunan skripsi ini berpedoman pada Surat Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor: 158/1987 dan 0543b/U/1987 Konsonan Tunggal Huruf Arab Nama ‫ا‬ ‫ب‬ ‫ت‬ ‫ث‬ ‫ج‬ ‫ح‬ ‫خ‬ ‫د‬ ‫ذ‬ ‫ر‬ ‫ز‬ ‫س‬ ‫ش‬ ‫ص‬ ‫ض‬ ‫ط‬ ‫ظ‬ ‫ع‬ ‫غ‬ ‫ف‬ ‫ق‬ ‫ك‬ ‫ل‬ ‫م‬ ‫ن‬ ‫و‬ ‫هـ‬ ‫ء‬ ‫ي‬ Alif bâ’ tâ’ s|â’ jim ha khâ’ dâl zal râ’ zai sin syin Sâd dâd tâ’ dad ‘ain gain fâ’ qâf kâf lâm mim nûn waû hâ’ hamzah yâ’ Huruf Latin N a m a tidak dilambangkan be te es (dengan titik di atas) je ha (dengan titik di bawah) ka dan ha de zet (dengan titik di atas) er zet es es dan ye es (dengan titik di bawah) de (dengan titik di bawah) te (dengan titik di bawah) zet (dengan titik di bawah) koma terbalik di atas ge ef qi ka `el `em `en w ha apostrof ye tidak dilambangkan b t S j h kh d Z r z s sy S d t Z ‘ g f q k l m n w h ` y .

Bila diikuti dengan kata sandang ‘al’ serta bacaan kedua itu terpisah. maka ditulis dengan h. ‫كرامة الولياء‬ karâmah al-aûliyâ` ditulis Bila ta’ marbutah hidup atau dengan harakat. 1. Vokal Pendek _َ _ _ ‫فعل‬ ___ fathah kasrah ditulis ditulis ditulis a fa’ala i . seperti salat.101 I. fathah. ‫زكاة الفطر‬ zakâh al-fitri ditulis III. Konsonan Rangkap Karena Syaddah ditulis rangkap ‫متعددة‬ ّ ‫عدة‬ ّ ditulis ditulis muta`addidah `iddah II. 2. kecuali bila dikehendaki lafal aslinya). kasrah dan dammah ditulis t atau h. zakat dan sebagainya. Ta’ marbutah di akhir kata Bila dimatikan ditulis h ‫حكمة‬ ‫علة‬ ditulis ditulis hikmah `illah (Ketentuan ini tidak diperlukan bagi kata-kata Arab yang sudah terserap dalam bahasa Indonesia.

Vokal Pendek yang berurutan dalam satu kata dipisahkan dengan apostrof ‫أأنتم‬ ‫أعدت‬ ‫لئن شكرتم‬ ditulis ditulis ditulis A’antum u’iddat la’in syakartum .102 ‫ذكر‬ __ُ _ ‫يذهب‬ dammah ditulis ditulis ditulis zukira u yazhabu Vokal Panjang 1 2 3 4 fathah + alif ‫جاهلية‬ fathah + yâ’ mati ‫تنسى‬ kasrah + yâ’ mati ‫كـريم‬ dammah + waû mati ‫فروض‬ ditulis ditulis ditulis ditulis ditulis ditulis ditulis ditulis â jâhiliyyah â tansâ i karîm û furûd Vokal Rangkap 1 2 fathah + yâ’ mati ‫بينكم‬ fathah + waû mati ‫قول‬ ditulis ditulis ditulis ditulis ai bainakum aû qaûl IV.

‫السمآء‬ ‫الشمس‬ ditulis ditulis as-Samâ` asy-Syams VI. Penulisan kata-kata dalam rangkaian kalimat Ditulis menurut penulisannya. dengan menghilangkan huruf l (el) nya. 1. ditulis ditulis al-Qur`ân al-Qiyâs Bila diikuti huruf Syamsiyyah ditulis dengan menggunakan huruf Syamsiyyah yang mengikutinya. sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Kata Sandang Alif + Lam Bila diikuti huruf Qomariyyah ditulis dengan menggunakan huruf “l”. ‫ذوي الفروض‬ ‫أهل السنة‬ ditulis ditulis zawi al-furûd ahl as-sunnah LAMPIRAN I NO 1 HLM FOOTNOTE BAB BAB I 6 10 Janganlah kamu membunuh dirimu. ‫القرآن‬ ‫القياس‬ 2. .103 V.

atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi. Adapun menurut istilah adalah nama bagi suatu perbuatan yang diharamkan syara'. Barang siapa menghukum bunuh terhadap orang yang telah membunuhnya maka baginya dua pilihan yang baik. menurut ar-Ramady diqawad muslim karena membunuh dzimmi. BAB III Jinayah menurut bahasa merupakan nama bagi suatu perbuatan jelek seseorang. ada kalanya ia meminta diat dan ada kalanya ia menghukum qisas. Dan Kami telah tetapkan kepada mereka di dalamnya (at-Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa. demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami(nya). orang merdeka dengan orang merdeka. Rasulullah Muhammad SAW mengqisas seorang muslim karena ia membunuh orang yahudi. hamba dengan hamba. bukan karena orang itu (membunuh) orang lain. Barang siapa yang membunuh seorang manusia. maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. baik perbuatan tersebut mengenai jiwa. Dan Dialah (Allah) yang telah menghidupkan kamu. Tidak diqawad (hukum qissas) bapak (karena membunuh) anak. 5 50 4 6 7 8 9 10 11 12 13 14 53 54 55 56 13 19 20 21 23 24 57 58 60 26 28 31 15 32 16 61 33 . Dan dalam qisas itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu.104 2 11 3 12 4 13 Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar. harta benda. hai orang-orang yang berakal. maka baginya hukum qawad (qisas). Kamu dan hartamu milik (kepunyaan) bapakmu. Barang siapa yang membunuh dengan sengaja. Dan Rasul bersabda Aku lebih berhak memutuskan terhadap orang (muslim) dan terhadap dzimi dalam hal ini. Orang-orang Islam terpelihara darahnya. Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar. kemudian mematikan kamu. Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu qisas berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh. kemudian menghidupkan kamu. maupun selain jiwa dan harta benda. Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu qisas berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh.

hai orang-orang yang berakal. Hukuman pertama sebagai pengganti hukum qisas. kekal ia didalamnya dan Allah murka kepadanya. Dan dalam qisas itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan. Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Diat kesalahan adalah lima bagian. 20 banat makhadz. Dan barangsiapa yang membunuh seorang mu'min dengan sengaja. 40 syaniyah sampai tahunnya sempurna dan khalifah. Dan bahwasanya Dialah yang mematikan dan mengidupkan. Maka barang siapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik. dengan cambuk. maka apabila memperoleh pemaafan maka menjadi pembayaran diat. 24 25 26 77 1 2 78 3 27 4 28 85 14 BAB IV Dan sesungguhnya benar-benar Kami-lah yang menghidupkan dan mematikan dan Kami (pulalah) yang mewarisi. dan mengutukinya serta menyediakannya azab yang besar baginya. Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. maka apabila telah datang ajalnya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya. serupa sengaja. Dalam pembunuhan tersalah. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya. dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diyat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik pula. tongkat dan batu. maka balasannya ialah jahannam. . 20 jadz'ah. diatnya adalah seratus ekor unta yang di dalamnya. dan 20 bani labun. 20 hiqqah. baik karena sebab-sebab yang menghalangi hukum qisas ataupun sebab-sebab yang telah ditetapkan.105 17 18 66 34 46 19 47 20 67 50 21 22 23 68 70 51 54 58 Barang siapa yang membunuh maka ia dihadapkan kepada dua pilihan adakalanya dimaafkan dan adakalanya diqawad. 20 banat labun.

106 29 30 31 32 33 34 35 90 92 88 87 16 19 20 23 24 28 31 36 37 93 96 33 39 Dan apabila aku sakit Dialah yang menyembuhkan aku. Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu qisas berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh. Janganlah kamu membunuh dirimu (saudaramu). dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diyat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik pula. Hindari (penjatuhan) hukuman had (karena) adanya kesamaran (syubhat). Ta'zir berputar karena kemaslahatannya. Sesungguhnya Allah Penyayang kepadamu. kemudian mematikan kamu. LAMPIRAN II BIOGRAFI ULAMA Abd Qadir 'Audah . Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar. Dan Dialah (Allah) yang telah menghidupkan kamu. Maka barang siapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik. kemudian menghidupkan kamu. Dan telah Kami tetapkan didalamnya (at-Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa. Tidak diqawad (qisas) ayah (karena membunuh) anak.

lahir di Bukhara pada tanggal 13 Syawal 194 H/ 810 M. beliau mendapat gelar profesor dalam jurusan Ilmu Hukum Islam pada Universitas Fuad I. terus dilanjutkan lagi di Universitas al-Azhar Cairo. Mesir. dan sebagai mahasiswa terbaik. dengan mendapatkan predikat Cumlaude. Lalu bermukim di Madinah dan menyusun kitab at-Tarik al-Kabir. dengan fasih dan sempurna tajwidnya pada usia 10 tahun. kemudian beliau melanjutkan lagi ke Ma'had al-Buhus wad Dirasat al-Arabiyah al-Aliyah. Ahmad bin Hanbal. . pada saat yang sama juga mengambil bidang study al-Qur'an dan as-Sunnah. dilahirkan pada tahun 1926 di desa Sifit Turab. dan selesai pada tahun 1960 pada Fakultas Ushuluddin al-Azhar Mesir dan dilanjutkan pada program Doktoral dengan Disertasi berjudul Fiqhuz Zakat. dipelopori oleh kolonel Gamal Abdul Nasher. Yusuf kecil sudah bisa hafal al-Qur'an 30 juz. Beliau sebagai penganjur ijtihad yang mengajarkan kembali kepada al-Qur'an dan as-Sunnah. Diantara hasil karyanya ialah kitab at-Tasyri' al-Jina'I alIslami. beliau turut mengambil bagian dalam memutuskan revolusi Mesir yang berhasil gemilang pada tahun 1952. Ali bin al-Madani dan Ibnu Ruhuwaih. Karyanya yang terkenal adalah kitab Fiqh Sunnah. Pada masa mudanya beliau telah hafal 70. al-Ibadat fi al-Islam.000 hadis beserta sanadnya. Pada tahun 1950 an M. Al-Bukhari Beliau nama lengkapnya Abu Abdullah Muhammad bin Ismail ibn Ibrahim alMughirah binj Bardzibaz al-Ja'far al-Bukhari. Beberapa karyanya telah dipublikasikan diantaranya: al-Halal wa al-Haram fi al-Islam. Guru-guru beliau adalah: Ibrahim al-Bukhari.107 Beliau adalah seorang ulama terkenal alumnus Fakultas Hukum Universitas al-Azhar Cairo pada tahun 1930. As-Sayid Sabiq Beliau adalah seorang ulama terkenaldari Universitas al-Azhar Cairo. Yusuf al-Qardawi Beliau nama lengkapnya ialah Yusuf Abdullah al-Qardawi. Banyak menulis berbagai kitab baik mengenai masalah agama ataupun politik. beliau dilahirkan tahun 1365 H. beliau juga seorang tokoh ulama dalam gerakan Ikhwanul Muslimin dan sebagai Hakim yang disegani rakyat. alIman wa al-Hayat. Yusuf melanjutkan ke Ma'had Tanta. Dan wafat pada tahun 256 H. Beliau meninggal ditiang gantungan sebagai akibat fitnahan dari lawan politiknya pada tanggal 8 desember 1954. Muskilat al-Fakr wa kaifa alajaha al-Islam dan Fatwa-Fatwa kontemporer. sampai mendaptkan Diploma tinggi di bidang bahasa dan sastra. Setelah menamatkan sekolah Dasar. setelah tamat pada tahun 1953. karyanya yang paling terkenal adalah kitab hadis shahih al-Bukhari. Kemudian beliau pergi ke Hijaz untuk menuntut ilmu kepada para fuqaha dan muhaddisin. Bidang study yang diambilnya adalah bidang study Agama Fakultas Ushuluddin.

19 Mei 1981 . Wisma Gasenwa Gaten CC : Maktubillah Muhammad : PNS. 2.Manggis 64. 5.108 LAMPIRAN III CURRICULUM VITAE 1. 3. Nama Jenis Kelamin Agama Alamat Asal Alamat di Yogyakarta Nama Ayah Pekerjaan Nama Ibu : Mukhlisin : Laki-laki : Islam : Suru Sunda 02/III Karang Pucung Cilacap 53255 : Jl. 7. 8. : Supriyatni Tempat Tanggal Lahir : Cilacap. 9. 4. 6.

MA El-Bayan Majenang.109 10. Cilacap. 6. MTs El-Bayan Bendasari Majenang. : Ibu Rumah Tangga SD Islam al-Hidayah. Pekerjaan Riwayat Pendidikan : 1. 2. 5. Madrasah Muallimin Al-Hikmah Bumiayu. 3. MA NIP: 150 182 698 . Malik Madany. masuk pada tahun 1996. lulus tahun 1992. lulus tahun 1995. lulus tahun 1999. 4. masuk tahun 1994. MA Al-Hikmah 1 Bumiayu. MA Muhammadiyah Majenang. masuk tahun 1992. H. masuk tahun 1986. 10 Sya'ban 1425 H 25 September 2004 Dekan Fakultas Syari’ah Drs. masuk tahun 1999. IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. ketiganya pada tahun yang sama (tahun 1995 sampai 1996) dan tidak lulus. Skripsi berjudul “Euthanasia Dalam Prespektif Fiqh Jinayah” yang disusun oleh MUKHLISIN NIM: 9937 3425 Telah dimunaqosyahkan di depan sidang munaqosyah pada tanggal 25 September 2004/10 Sya'ban 1425 H dan dinyatakan telah dapat diterima sebagai salah satu syarat guna memperoleh gelar sarjana dalam Ilmu Hukum Islam. MAN Cigaru Majenang. Yogyakarta. sampai tahun 1994.

H. MA NIP: 150 228 207 Pembimbing I Drs. Slamet Khilmi Penguji II Drs. Fuad Zein. MA NIP: 150 228 207 Penguji I Drs. MAg NIP: 150 222 295 MOTO "Tuhan berikan manusia berupa raga. dengan raga manusia dapat bergerak tetapi Tuhan juga memberi kita jiwa. rasa. Oman Fathurohman SW. MAg NIP: 150 222 295 NIP: 150 252 260 Sekretaris Sidang Fatma Amilia NIP: 150 277 618 Pembimbing II Drs. maka Tuhan juga memberi kita fikiran agar bisa melindungi diri. Oman Fathurohman SW." "Carilah sesuatu yang baik dari apa yang engkau alami disekitarmu" "Tuangkanlah apa yang ada dihati dan difikiran dengan tanganmu lewat penamu supaya orang bisa menimba dari apa yang kamu bisa. dia terlena oleh buaian duniawi. dengan jiwa manusia lebih berarti bahwa dia seorang manusia.110 Ketua Sidang Dr. baik harta. kuasa." "Dunia itu hampa tanpa ilmu. Fuad Zein. tetapi kadang manusia lupa. kadang manusia ingin lebih dari apa yang ada padanya. percuma apa yang ada didunia jika ilmu tak menghiasinya." . H.

Oleh karena itu. yang bagi penyusun merupakan beban yang sangat berat. karena menguras banyak tenaga dan pikiran.‫اشرف النبياء والمرسلين محمد وعلى اله واصحابه اجمعين‬ :‫أمابعد‬ ّ Selesainya penyusunan skripsi ini.111 KATA PENGANTAR ‫بسم ال الرحمن الرحيم‬ . و أشهد أن محمدا عبده‬ ‫و رسوله المبعوث رحمة للعالمين. sebuah hal yang sangat wajar apabila penyusun mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuannya kepada penyusun sehingga penyusun dapat menyelesaikan penulisan . memberikan kebahagiaan yang tak ternilai bagi penyusun.‫الحمد ل رب العالمين. وبه نستعين على أمور الدنيا و الدين‬ ّ ‫أشهد أن ل إله إل ال الملك الحق المبين. و الصلة والسلم على‬ ّ ّ .

segala kritik maupun saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan dan akan kami terima dengan kerendahan hati guna memperbaiki tugas kami selanjutnya . Sahabat-sahabatku. sebagai Dekan Fakultas Syari’ah. Mas Arifin. Drs. Oman Fathurohman SW. Penyusun menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan dan masih banyak kekurangan. 2. Slamet Khilmi. penyusun hanya dapat membalas dengan doa. Untuk lebih rincinya penyusun mengucapkan banyak terima kasih kepada: 1. Iwan dan teman-temanku yang lain yang tidak dapat disebutkan satu-persatu atas bantuannya dan dukungannya. Atas dukungannya baik do'a. Afiyah Solikhakh. atas waktunya untuk membimbing dan memberi dorongan. moril. Drs. Eggi. 4. (Bapa) Maktubillah Muhammad dan (Ibu) Supriyatni. atas waktu dan bimbingan. Malik Madany. A.112 skripsi ini. H. Imam. Drs. baik tekhnis maupun isi serta arahan-arahan dalam penyusunan skripsi ini. M. 6. selaku Dosen Pembimbing II. sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. 3. maupun materiil. Dan Adikkku.Ag selaku Dosen Pembimbing I. sehingga skripsi ini selesai. semoga perbuatan baik tersebut diterima Allah SWT dan mendapat balasan yang berlipat ganda. Kedua Oarang Tua. Kamilatu Syifa. Oleh karena itu. Sayarif Hidayat. Bapak. Bapak. MA. Semua pihak yang tidak dapat disebut satu persatu atas bantuannya dan dukungannya. Bapak. 5.

Yogyakarta. Hidup seorang pasien pun dapat diperpanjang untuk sesuatu jangka waktu tertentu. diagnose mengenai penyakit dapat lebih sempurna dilakukan. 2. Secara umum euthanasia dibedakan menjadi dua. maka dapat dilakukan dua cara: 1. yaitu perbuatan yang membiarkan pasien meninggal. yaitu euthanasia aktif dan euthanasia pasif. misalnya menghentikan pemberian infus. Euthanasia pasif. dengan dukungan keluarga. memutuskan untuk mengakhiri kehidupannya dengan jalan euthanasia. Euthanasia. . tidak kalah pesatnya perkembangan teknologi di bidang medis. Dari hal inilah kemudian banyak pasien yang karena penyakitnya yang akut.113 Harapan kami adalah semoga skripsi ini dapat menambah wawasan keilmuan dan bermanfaat bagi kita semua. dan sebagainya. Di antara sekian banyaknya penemuan-penemuan teknologi tersebut. khususnya bagi penyusun dan pembaca pada umumnya. yaitu tindakan terapi dengan harapan dapat mempercepat kematian pasien. Pengobatan penyakit pun dapat berlangsung secara lebih efektif. terutama euthanasia aktif merupakan suatu tindakan pembunuhan walaupun atas dasar persetujuan si terbunuh. rasa sakit seorang penderita dapat diperingan. bahkan perhitungan saat kematian seorang pasien dapat dilakukan secara lebih tepat. membawanya pulang. baik karena sakit yang sangat akut dan menderita atau biaya yang amat terbatas. karena makna pembunuhan itu adalah menghilangkan nyawa seseorang yang dapat menghancurkan bangunan hidup manusia. Dengan peralatan kedokteran yang modern itu. menghentikan perawatan/pengobatan. Amin. Euthanasia aktif. Jika pertimbangan kemampuan untuk memperoleh layanan medis yang lebih baik tidak memungkinkan lagi. 17 Jumadil Akhir 1425 H 4 Agustus 2004 Penyusun Mukhlisin NIM: 9937 3425 ABSTRAK Dengan pesatnya penemuan-penemuan teknologi modern. Biasanya dilakukan penghentian terapi yang memperpanjang hidupnya. menunda operasi. artinya membawa pasien pulang ke rumah. menjadikan terjadinya perubahan-perubahan yang sangat cepat di dalam kehidupan sosial budaya manusia. Dengan perkembangan teknologi di bidang kedokteran.

114

membiarkan pasien dalam perawatan seadanya, tanpa ada maksud melalaikannya, apalagi menghendaki kematiannya. Euthanasia adalah sebagai bentuk pembunuhan yang disengaja, apapun bentuknya pembunuhan, Allah melarang melakukannya, dan Allah mengingatkannya dengan bentuk ancaman dalam al-Qur'an yaitu berupa neraka jahannam. Dalam al-Qur'an tidak ada satupun ayat yang jelas yang menyinggung masalah euthanasia ini. Dalam fiqh jinayah euthanasia termasuk ke dalam jenis pembunuhan, yaitu telah memenuhi unsur maddi, syar'i dan adabi. Dan euthanasia ini merupakan jenis pembunuhan sengaja, maka sanksi atas tindakan euthanasia ini, adalah qisas. Dokter mendapatkan sanksi berupa qisas, tetapi tindakan dokter dilakukan atas izin dari pasien dan atas persetujuan dari keluarga pasien. Maka dokter tidak dihukum qisas, karena salah satu yang menyebabkan gugurnya hukum qisas adalah adanya kerelaan atau izin dari siterbunuh. Dan juga unsur kerelaan dalam pembunuhan merupakan syubhat yang dapat menggugurkan hukuman. Tetapi mengingat masalah euthanasia ini tidak hanya berimbas bagi orang perseorangan melainkan juga bagi masyarakat sekitar maka kemudian hakim atau ulul amri berhak memberikan hukuman berupa ta'zir.

115

BAB V PENUTUP

A.

KESIMPULAN Setelah menguraikan dan menjelaskan dalam bab-bab sebelumnya mengenai "Euthanasia dalam Prespektif Fiqh Jinayah", dapat diambil kesimpulan bahwa: 1. Dalam pandangan Fiqh Jinayah, euthanasia termasuk

kedalam bentuk pembunuhan, walaupun atas permintaan si terbunuh, karena dalam masalah euthanasia ini terdapat unsur penghilangan nyawa, sedangkan makna pembunuhan tersebut adalah: "Perbuatan perampasan atau peniadaan nyawa seseorang oleh orang lain yang mengakibatkan tidak berfungsinya seluruh anggota badan disebabkan ketiadaan roh sebagai unsur utama untuk menggerakan tubuh". Dan tindakan atas euthanasia tetap dilarang, tetapi sanksi hukumnyanya adalah ta'zir, karena perbuatan euthanasia terdapat unsur syubhat yang dapat menghilangkan hukuman asli (qisas) dan juga hukuman pengganti (diyat) karena terdapat persetujuan keluarga, sedangkan fungsi diyat

116

tersebut untuk ganti rugi atas tindakan yang telah dilakukan pelaku untuk kelangsungan hidup pihak wali atau ahli waris terbunuh.

B.

SARAN-SARAN Setelah menguraikan dan menjelaskan serta menyimpulkan tentang skripsi yang berjudul tentang "Euthanasia dalam Prespektif Fiqh Jinayah", maka dapat diberi saran-saran, antara lain: 1. Jika pertimbangan kemampuan untuk memperoleh layanan medis yang lebih baik tidak memungkinkan lagi, baik karena sakit yang sangat akut dan menderita atau biaya yang amat terbatas, maka dapat dilakukan dua cara: 1) menghentikan perawatan/pengobatan, artinya membawa pasien ke rumah; 2) membiarkan pasien dalam perawatan seadanya, tanpa ada maksud melalaikannya, apalagi menghendaki kematiannya. 2. Umat Islam diharapkan tetap berpegang teguh pada kepercayaannya yang memandang segala musibah (termasuk menderita sakit) sebagai ketentuan yang datang dari Allah. Hal itu hendaknya dihadapi dengan penuh kesabaran dan tawakal. 3. Perlu kiranya dalam Fiqh Jinayah diberikan kompilasi dan kodifikasi hukum Islam atas persoalan-persoalan jinayah (pidana) kontemporer, agar masyarakat lebih tahu akan sikap yang akan dilakukan dan sebagai bahan pendidikan bagi masyarakat muslim yang mempelajarinya khususnya.

117 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful