P. 1
euthanasia dalam perspektif fiqih jinayah

euthanasia dalam perspektif fiqih jinayah

5.0

|Views: 530|Likes:
Published by Husni Bertahlil
euthanasia dalam perspektif fiqih jinayah
euthanasia dalam perspektif fiqih jinayah

More info:

Published by: Husni Bertahlil on Dec 25, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/01/2014

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Masalah Dalam abad XX ini kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi semakin pesat, karena muncul berbagai penemuan yang sangat bermanfaat bagi manusia. Khususnya di bidang kedokteran telah banyak penemuan obat-obatan, alatalat mekanik, serta cara-cara perlindungan terhadap penyakit.1 Hampir semua aspek kehidupan manusia tersentuh oleh teknologi, harus disadari bahwa teknologi telah membawa banyak manfaat untuk umat manusia.2 Di antara sekian banyak penemuan-penemuan teknologi tersebut, tidak kalah pesatnya perkembangan teknologi di bidang medis. Dengan perkembangan teknologi di bidang kedokteran ini, bukan tidak mustahil akan mengundang masalah pelik dan rumit. Melalui pengetahuan dan teknologi kedokteran yang sangat maju tersebut, diagnose mengenai suatu penyakit dapat lebih sempurna untuk dilakukan. Pengobatan penyakit pun dapat berlangsung secara lebih efektif. Dengan peralatan kedokteran yang modern itu,rasa sakit seorang penderita dapat diperingan. Hidup seorang pasien pun dapat diperpanjang untuk sesuatu jangka waktu tertentu, dengan memasang sebuah “ respirator “. Bahkan perhitungan saat kematian penderita penyakit tertentu, dapat dilakukan secara lebih tepat.

Ali Ghufron Mukti dan Adi Heru Sutomo, Abortus, Bayi Tabung, Euthanasia, Transplantasi Ginjal, Dan Operasi Kelamin dalam tinjauan Medis, hukum, dan Agama Islam, cet, ke.1 (Yogyakarta: Aditya Media,1993), hlm.28.
2

1

Thomas A Shannon, Pengantar Bioetika, terj, K. Bartens, (Jakarta: Gramedia, 1995), hlm. 7

1

2

Menyinggung masalah kematian, menurut cara terjadinya, maka ilmu pengetahuan membedakannya ke dalam tiga jenis kematian, yaitu: 1. Orthothanasia, yaitu kematian yang terjadi karena proses alamiah. 2. Dysthanasia, yaitu suatu kematian yang terjadi secara tidak wajar. 3. Euthanasia, yaitu suatu kematian yang terjadi dengan pertolongan atau tidak dengan pertolongan dokter.3 Yang menjadi persoalan ialah jenis kematian yang ketiga, yaitu kematian dalam kategori euthanasia atau biasa disebut juga mercy killing. Euthanasia biasa didefinisikan sebagai a good death atau mati dengan tenang. Hal ini dapat terjadi karena dengan pertolongan dokter atas permintaan dari pasien ataupun keluarganya, karena penderitaan yang sangat hebat dan tiada akhir, atau tindakan membiarkan saja oleh dokter kepada pasien yang sedang sakit tanpa menentu tersebut, tanpa memberikan pertolongan pengobatan seperlunya. Memberikan hak kepada individu untuk mendapatkan pertolongan dalam pengakhiran hidupnya, bagi banyak negara masih menjadi perdebatan yang sengit. Sampai sekarang ini, kaidah non hukum yang manapun (agama, moral, kesopanan), menentukan: membantu orang lain mengakhiri hidupnya, meskipun atas permintaan yang bersangkutan dengan nyata dan dengan sungguh-sungguh adalah perbuatan yuang tidak baik.4 Pada dasarnya masalah euthanasia ini timbul dari adanya suatu dilema, apakah seorang dokter mempunyai hak untuk mengakhiri hidup seorang pasien atas
Djoko Prakoso dan Djaman Andi nirwanto, Euthanasia hak asasi manusia dan hukum pidana, cet. ke-1 (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1984), hlm. 9-10
4 3

Wila Chandrawila Supriadi, Hukum Kedokteran (Bandung: Mandar Maju, 2001), hlm.106

3

permintaan pasien itu sendiri atau dari keluarganya, dengan dalih untuk menghilangkan atau mengakhiri penderitaan yang berkepanjangan, tanpa dokter itu sendiri menghadapi konsekuensi hukum. Dalam hal ini dokter tersebut menghadapi konflik bathin, dimana sebagai manusia biasa sang dokter tidak sampai hati menolak permintaan dari pasien dan keluarganya itu. Apalagi keadaan si pasien yang sekarat berbulan-bulan dan dokter tahu bahwa pengobatan yang diberikan itu maka dokter telah melanggar hukum, disamping itu juga telah pula melanggar sumpah dokter yang telah diucapkannya sebelum menjalankan profesi sebagai seorang dokter. Dalam memecahkan masalah ini, ada cara yang cukup unik yaitu bila keadaan antara hidup dan mati (maribundity), maka proses dan usaha medis jika tiada berpotensi lagi, penyembuhan harus dihentikan. Dengan perkataan lain, bahwa dalam keadaan demikian maka pembunuhan karena kasihan/karena terpaksa yang diijinkan oleh dokter diperbolehkan. Dalam hubungan itu, bahkan ada dokter yang berpendapat bahwa dokter itu boleh mengeluarkan atau mencabut alat yang diperjuangkan untuk memperpanjang hidup dari seorang pasien yang dalam keadaan expiration of the soul, yaitu apabila proses kematian sudah mulai nampak.5 Menurut dr. Kartono Muhammad (Wakil Ketua Ikatan Dokter Indonesia), seperti dikutip Akh Fauzi Aseri. Ia mengatakan seseorang dianggap mati apabila batang otak yang menggerakkan jantung dan paru-paru tidak berfungsi lagi. Tegasnya, batang otak merupakan pedoman untuk mengetahui masih hidup atau matinya seseorang yang sudah tidak sadar. Dari sini mesin-mesin pembantu seperti

5

Djoko Prakoso dan Djaman Andi Nirwanto, Euthanasia, hlm. 59

6 Lahir dan mati adalah takdir. (ed. 8 .8 Akh. hak yang mengalir dari “hak untuk menentukan diri sendiri” (the right of selfdetermination –TROS). dan kematian selalu membawa kesedihan.). akan ada hubungannya dengan hak seseorang untuk mati secara tidak alamiah (selanjutnya “hak untuk mati”) dari seseorang. hlm. Problematika Hukum Islam Kontemporer.4 pemacu jantung dapat dicabut tanpa dituduh melakukan euthanasia terhadap penderita. bunuh diri. dapat selalu diterima sebagai sesuatu hal yang wajar.7 Banyak orang berpendapat bahwa hak untuk mati. sebab manusia pada saatnya akan mati. Pada mati tidak secara alamiah. hlm. dan tidak ada seorangpun yang dapat menghindari/menentukan mengenai kelahiran dan kematian.66 7 6 Wila Chanrawila Supriadi. Kematian dapat terjadi baik dikehendaki. maupun tidak dikehendaki. Hukum Pidana. kecelakaan. Hafiz Anshary AZ.103. Hukum Kedokteran. tetapi mati tidak secara alamiah adalah mati yang tidak diharapkan. sehingga penolakan atas pengakuan terhadap hak atas mati.102 Ibid. semua menurut sebagian besar masyarakat Indonesia adalah takdir. 2002). bahkan dibunuh oleh orang lain. kelahiran selalu membawa kebahagiaan. apakah itu pengakhiran hidup dengan bunuh diri (zelfmoord) atau minta “dibunuh” (diakhiri hidupnya – selanjutnya euthanasia).. "Euthanasia Suatu Tinjauan dari Segi Kedokteran. Fauzi Aseri." dalam Chuzaimah T. (Jakarta: Pustaka Firdaus. dan Hukum Islam. penyakit. karena uzur. Yanggo dan HA. Kematian secara alamiah. adalah hak asasi manusia. adalah pelanggaran terhadap hak asasi manusia. hlm. demikianlah pendapat dari sebagian besar masyarakat Indonesia. Pada umumnya.

Dalam Islam masalah kematian manusia merupakan hak prerogatif Allah SWT. Karena pembunuhan adalah peniadaan atau perampasan nyawa seseorang oleh orang lain yang mengakibatkan tidak berfungsinya seluruh anggota badan disebabkan ketiadaan roh sebagai unsur utama menggerakan tubuh. Allah berfirman dalam al-Qur'an: 0 ‫ل تقتلوا أنفسكم ان ال كان بكم رحيما‬ ‫ول تقتلوا النفس التى حرم ال ال بالحق ذالكم وصاكم به‬ 0 ‫تعقلون‬ ‫لعلكم‬ ‫من قتل نفسا بغير نفس أو فساد في الرض فكانما قتل‬ 0 ‫الناس جميعا‬ ‫وهو الذي أحياكم ثم يميتكم ثم يحييكم ان النسان لكفور‬ 9 10 11 12 9 An-Nisa (4): 29 Al-An'am.5 Euthanasia dapat dikategorikan sebagai perbuatan yang menyangkut kepada suatu tindakan untuk penghentian kehidupan seseorang. baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain. Allah SWT melarang perbuatan yang mengarah kepada kematian dalam bentuk apapun. termasuk di dalamnya euthanasia. walaupun dengan kerelaan dan atas permintaan orang itu sendiri. maka perbuatan ini bisa dimasukan sebagai jarimah pembunuhan. karena tindakan pembunuhan secara euthanasia ini merupakan pembunuhan tanpa hak. Jadi perbuatan-perbuatan yang mengarah kepada tindakan untuk menghentikan hidup seseorang itu merupakan perbuatan yang bertentangan dengan kehendakNYA.(6): 151 Al-Maidah (5): 32 Al-Hajj (22): 66 10 11 12 .

Riwayat Ibnu Masud. sekalipun ada prinsip lain bahwa korban atau keluarganya berhak memaafkan sanksi qisas atau diyat atau keduanya. (Mesir: Musthafa al-Baby al-Halaby. karena kerelaan korban itu bukan merupakan unsur jarimah pembunuhan. 3. walaupun ada unsur kerelaan dari pasien. 2. XI:43. sebagai suatu sikap menentang jamaah Islam. Ahmad Mustafa al-Maragi.6 Syekh Ahmad Mustafa al-Maragi menjelaskan bahwa pembunuhan (mengakhiri hidup) seseorang bisa dilakukan apabila disebabkan oleh salah satu dari tiga sebab: 1. Jadi tindakan euthanasia merupakan tindakan pembunuhan dengan unsur kesengajaan dan direncanakan.13 Jika dibandingkan dengan ketiga faktor di atas maka terjadinya tindakan euthanasia tidak ada satupun karena alasan bil haq. Tafsir al-Maragi. Orang yang keluar dari agama Islam. 1971). yang diketahui oleh empat orang saksi (dengan mata kepala sendiri). keluarga sebagai pihak pemberi izin dan sisakit sebagai korban euthanasia. Jadi dalam masalah euthanasia ini merupakan tindakan pembunuhan yang disengaja dan direncanakan Di dalam hukum Islam. Janda (yang pernah bersuami) secara nyata berbuat zina. Tindakan euthanasia dilakukan dengan pertimbangan yang matang dan dengan adanya unsur perencanaan. kerelaan korban untuk dibunuh bukan suatu penyebab kebolehan pembunuhan. Dalam unsur euthanasia terdapat tiga hal yaitu dokter sebagai pelaku euthanasia. Karena pembunuhan oleh seseorang secara zalim. 13 .

Tujuan dan Kegunaan Sesuai dengan pokok masalah di atas. dalam menentukan hukumnya. Karena hal ini sangat berguna untuk kelangsungan hidup pihak keluarga korban maupun pihak pelaku kejahatannya. Permasalahan Euthanasia ini sampai sekarang masih menimbulkan pro dan kontra baik pada pandangan hukum. yang merupakan hak Tuhan. agama. budaya dan lain-lain pada umumnya dan juga pada pandangan Islam dalam Fiqh Jinayah (Hukum Pidana Islam) khususnya.7 Allah melarang adanya pembunuhan baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. penyusunan skripsi ini bertujuan untuk: Menjelaskan bagaimana pandangan Fiqh Jinayah euthanasia. Adapun kegunaan yang diharapkan dari penyusunan karya ilmiah ini adalah : terhadap masalah . Pokok Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka dapat dirumuskan pokok masalah sebagai berikut: Apakah euthanasia merupakan tindak pidana dalam tinjauan Fiqh Jinayah? C. Pada dasarnya Allah memberikan hukuman qisas bagi pembunuhan. B. tetapi pihak keluarga diberikan hak atas tuntutan tindak pidana baik itu pembunuhan maupun pelukaan berupa hukuman diyat atau dimaafkan secara mutlak. Untuk itu penyusun berusaha meneliti masalah Euthanasia ini dalam Prespektif Fiqh Jinayah. etika.

ahli hukum. Buku ini meninjau dan menyoroti permasalahan euthanasia dari segi HAM. karya Petrus Yoyo Karyadi. ahli medis. Euthanasia harus berlangsung atas dasar suka rela. yaitu atas permintaan pasien itu sendiri tanpa adanya campur tangan dari pihak lain. etika dan ham banyak dibicarakan oleh banyak praktisi. diantaranya: dalam buku Euthanasia dalam Prespektif Hak Asasi Manusia. Jika dokter melakukan tindakan euthanasia secara non alami maka dokter bisa dituntut pasal 344 Petrus Yoyo Karyadi. karya F. Dan dari segi yuridis dalam masalah euthanasia ini. Dan juga menjelaskan bahwa dalam hak asasi manusia terdapat hak untuk hidup dan hak untuk mati. psikolog. seperti ulama. buku ini menjelaskan bahwa Euthanasia atau kematian baik adalah demi kepentingan pasien semata-mata bukan untuk kenyamanan orangorang yang sehari-hari berada di sekelilingnya. 2001)  . hukum.ke-1. ∗ Dalam buku Mengapa Euthanasia ?: Kemajuan Medis dan Konsekuensi Yuridis. Telaah Pustaka Kajian tentang Euthanasia dalam prespektif medis. D.Tengker. Euthanasia Dalam Prespektif Hak Asasi Manusia. psikologi. cet.8 Skripsi ini diharapkan dapat menjadi sumbangan pemikiran di dalam menambah khasanah pengetahuan tentang hukum Islam khususnya yang berkaitan dengan permasalahan euthanasia dalam prespektif Fiqh Jinayah. Ada beberapa buku yang telah membahas tentang masalah euthanasia. diantaranya mengemukakan tentang apakah tindakan euthanasia merupakan hak asasi manusia?. (Yogyakarta: Media Pressindo.

sebagian yang kontra menganggap hak untuk hidup sebagai dasarnya. karya Djoko Prakoso dan Djaman Andi Nirwanto. hubungannya dengan HAM. ∗ Dalam skripsi yang berjudul "Euthanasia dalam Prespektif Etika Situasi". dan pasal 354 karena menolong orang bunuh diri.9 karena bersalah menghilangkan nyawa orang atas permintaan. (Bandung:  Nova. Tengker. 1984) Imawan Mukhlas Abadi. yang merupakan pandangan Etika situasi terhadap Euthanasia yang meliputi manusia dalam sudut pandang Etika Situasi. Dan hal ini juga dilihat dari prespektif hukum pidana. hasil karya Imawan Mukhlas Abadi.t) Djoko Prakoso dan Djaman Andi NIrwanto. yang memuat tentang Hak untuk Mati seseorang dan kaitannya dengan hukuman mati. ∗ Dalam Skripsi yang berjudul "Sanksi Hukum Terhadap Pelaku Euthanasia yang dipaksa menurut KUHP dan Hukum Islam". bagaimana kedudukan Euthanasia dalam KUHP dan juga bagaimana prospeknya di masa depan dalam KUHP. bagi yang pro menganggap selain punya hak untuk hidup manusia juga mempunyai hak untuk mati. (Jakarta: Ghalia Indah. buku ini menjelaskan kedudukan Euthanasia dengan Hak Asasi Manusia. t. Euthanasia Hak Asasi Manusia Dan Hukum Pidana. karya Anna Iffah Akmala. Skripsi Strata Satu Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga (1999)  . kehidupan dan  F. Dalam karya tulis tersebut menekankan cara dilakukannya euthanasia yang ada unsur paksaannya dan sanksi hukum terhadap pelaku euthanasia yang dipakai. Mengapa Euthanasia? Kemampuan Medis dan Konsekuensi Yuridis. ∗ Dalam buku Euthanasia Hak Asasi Manusia Dan Hukum Pidana. yang merupakan study analisis komparatif terhadap KUHP dan hukum Islam tentang pelaku euthanasia yang dipaksa . "Sanksi Hukum Terhadap Pelaku Euthanasia yang dipaksa menurut KUHP dan Hukum Islam".

Juga Anna Iffah Akmala. Kerangka Teoretik Euthanasia merupakan istilah untuk pertolongan medis agar kesakitan atau penderitaan yang dialami seseorang yang akan meninggal dunia diperingan. yang mana tindakan euthanasia yang terdapat suatu unsur tindakan pembunuhan. Komparasi Hukum Islam dengan Hukum Pidana Positif dalam masalah euthanasia yang dipaksa. yang dilakukan secara suka rela atas permintaan sendiri dikarenakan sakit. Yang membedakan antara penelitian yang peneliti lakukan dengan penelitian sebelumnya adalah dalam penelitian ini peneliti meneliti permasalahan euthanasia dalam prespektif Fiqh Jinayah. "Euthanasia Dalam Prespektif Etika Situasi". Sedangkan penelitian-penelitian sebelumnya adalah penelitian yang meninjau dari segi Hukum Pidana Positif. ∗ Di sekian penelitian yang ada yang membahas euthanasia ini semuanya mengacu pada permasalahan medis sebagai objek penelitian dasarnya. Skripsi Strata Satu Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga (2002). dalam prespektif Fiqh Jinayah. Dalam Skripsi ini akan dibahas apakah tindakan euthanasia ini termasuk pembunuhan dan dapat dikenai sanksi.  . E. Juga terdapat perkembangan euthanasia di berbagai negara dan ethanasia dalam tinjauan berbagai agama. sebagaimana tindakan pembunuhan pada umumnya. HAM. Konsekwensi Yuridis dan kajian Etika.10 kematian yang manusiawi serta pandaangan Etika Situasi terhadap Euthanasia. dan penelitian-penelitian di atas merupakan bentuk-bentuk macam penelitian dalam segi medis ditinjau dari berbagai aspek.

132. Tindakan yang diambil. seperti dosis besar obat tidur atau suntikan racun. Tanggung Jawab Hukum Seorang Dokter dalam Menangani Pasien (Jakarta: Ikhtiar Baru. Definisi euthanasia aktif ialah sengaja diambil tindakan yang berakibat kematian. yakni euthanasia aktif dan euthanasia pasif. 15 14 Petrus Yoyo Karyadi. Sedangkan euthanasia pasif berusaha untuk memecahkan masalah-masalah moral mengenai perawatan pasien yang tidak ada harapan lagi atau yang sudah mendekati ajalnya Ensiklopedi Indonesia (Jakarta: Ikhtiar Baru-Van Hoeve.15 Euthanasia pada garis besarnya ada dua. sukarela atau tidak sukarela.2:978. 1990).16 Dalam euthanasia aktif. 1987). hlm. 16 . Vol. dimaksudkan untuk mengakhiri kehidupan pasien. sedang euthanasia pasif ialah membiarkan perawatan yang dapat memperpanjang kehidupannya.28 Abdul Jamali. demi kepentingan pasien dan atau keluarganya. Euthanasia. kematian merupakan tujuan tindakan seseorang. dkk. euthanasia adalah dengan sengaja dokter atau bawahannya yang bertanggungjawab kepadanya atau tenaga ahli lainnya melakukan suatu tindakan medis tertentu untuk mengakhiri hidup pasien atau mempercepat proses kematian pasien atau tidak melakukan tindakan medis untuk memperpanjang hidup pasien yang menderita suatu penyakit yang menurut ilmu kedokteran sulit untuk disembuhkan kembali. Artikel Euthanasia.11 berarti mempercepat kematian seseorang yang ada dalam kesakitan dan penderitaan hebat menjelang kematiannya. hlm.14 Menurut Petrus Yoyo Karyadi. atas atau tanpa permintaan dan atau keluarga sendiri.

sedangkan euthanasia pasif 17 Thomas A Shanon.31 .18 Euthanasia aktif adalah proses kematian diringankan dengan memperpendek kehidupan secara terarah dan langsung. sehingga bisa berlangsung penyelesaian secara alamiah. terj. PT. Menurut Yusuf Qardawi yang dimaksud euthanasia aktif (taisir maut al-faal) ialah tindakan memudahkan kematian si sakit. Gramedia Pustaka Utama. pengantar bio etika. 1995). Euthanasia aktif tidak langsung terjadi bila dokter atau tenaga kesehatan lainnya tanpa maksud untuk memperpendek hidup pasiennya.17 Euthanasia aktif terjadi bila dokter atau tenaga kesehatan lainnya secara sengaja melakukan suatu tindakan untuk memperpendek hidup pasien atau untuk mengakhiri hidup pasien tersebut.12 dengan menghentikan segala terapi. tidak menginginkannya. yaitu euthanasia aktif langsung terjadi bila dokter atau tenaga kesehatan lainnya melakukan suatu tindakan medis untuk meringankan penderitaan pasien sedemikian rupa sehingga secara logis dapat diperhitungkan bahwa hidup pasien diperpendek atau diakhiri. atau tidak berada dalam keadaan di mana keinginannya dapat diketahui. Berdasarkan akibatnya. euthanasia aktif kemudian dibagi menjadi dua golongan. K Bartens. (Jakarta. 18 Petrus Yoyo Karyadi. Dalam euthanasia aktif ini masih perlu dibedakan. karena kasih sayang yang dilakukan oleh dokter dengan mempergunakan instrumen (alat). hlm. hlm. apakah pasien menginginkannya. melakukan tindakan medik untuk meringankan penderitaan pasien dengan mengetahui adanya risiko bahwa tindakan medik ini dapat mengakibatkan diperpendek/ diakhiri hidup pasiennya. Euthanasia. 69-71.

13 (taisir maut al-munfa'il) tidak dipergunakan alat-alat atau langkah-langkah aktif untuk mengakhiri kehidupan si sakit. diantaranya adalah masalah-masalah hukum yang berhubungan dengan kepidanaan. 1995). pengakuan dan isyarat-isyarat. telah mengatur perikehidupan manusia secara menyeluruh mencakup segala macam aspeknya. harus dibuktikan dengan adanya saksi atau pun oleh alat-alat bukti lainnya. (Jakarta: Gema Insani Press. yaitu pasien sebagai yang di euthanasia. yang dibebankan kepada pelaku euthansia yaitu dokter sebagai pihak pengeksekusi euthanasia. alat-alat bukti lainnya yaitu: kesaksian-kesaksian. tetepi ia hanya dibiarkan tanpa diberi pengobatan untuk memperpanjang hayatnya. surat-surat. dokter sebagai pelaku (pengeksekusi) euthanasia. Fatwa-Fatwa Kontemporer. hlm.20 Hukum Islam atau Fiqh Islam. Dan yang diteliti dalam masalah euthansia ini adalah euthanasia aktif secara langsung yang dilakukan atas permintaan pasien. bahwa euthanasia khususnya euthanasia aktif. II:749Djoko Prakoso dan Djaman Andi Nirwanto.71-72 750. seperti macam-macam perbuatan pidana dengan ancaman pidana disebut al-jinayah. 20 . itu merupakan suatu perbuatan jarimah pembunuhan karena sudah memenuhi unsur-unsur jinayah yakni: 19 Yusuf Qardawi. Sebagaimana yang telah dipaparkan di atas.19 Dalam masalah euthanasia ini tidak terlepas dari beberapa pihak. dan keluarga sebagi pihak penyetuju tindakan euthanasia. Euthanasia. maka dalam menentukan benar tidaknya permintaan yang tegas dan sungguh-sungguh. Dalam hal ini permintaan pasien harus mendapat perhatian yang tegas agar tidak disalahgunakan.

Kaidah Fiqh Jinayah (Asas-asas Hukum Pidana Islam). maka perlu diberikan klasifikasinya agar mudah menempatkan/ memposisikan suatu tindak pidana pembunuhan menurut kadar ukurannya. Jumhur mengklasifikasikannya menjadi tiga (sulasi). hlm. Unsur ini dikenal dengan istilah “unsur moral” (ar-Rukn al-Adabi)21 Dalam konteks di atas jelas bahwa pelaku euthanasia aktif bisa dikenai sanksi pembunuhan sengaja. 1992). baik berupa melakukaan perbuatan yang dilarang atau meninggalkan perbuatan yang diharuskan. 4. 1997). cet. dan serupa kekeliruan (ma jara majr al-khata').Syar’i) 2.3. Fiqh Jinayah (upaya menanggulangi kejahatan dalam Islam). Adanya nash yang melarang perbuatan-perbuaatan tertentu yang disertai ancaman hukuman atas perbuatan di atas. Sebagian Hanafiyah mengklasifikasikannya menjadi lima (khumasi). Unsur ini dikenal dengan istilah “unsur formal” (ar-Rukn asy. artinya pelaku kejahatan tadi adalah mukallaf.14 1. Berkenaan dengan ini. (Bayrut: Muassasat ar-Risalat. dan pembunuhan secara tidak langsung (qatl bi attasabbub). Berbicara tentang pembunuhan. Pelaku kejahatan adalah orang yang dapat menerima khithab atau dapat memahami taklif. 2004). kekeliruan. hlm. 3.9. serupa kekeliruan. Lihat juga Abd al-Qadir 'Awdah. Djazuli. Pembunuhan adakalanya terjadi karena disengaja oleh pelaku dan adakalanya tidak disengaja. yaitu pembunuhan sengaja. kekeliruan. Ulama Malikiyah mengklasifikasikan bentuk-bentuk pembunuhan menjadi dua yaitu: pembunuhan sengaja (qatl al-'amd) dan kekeliruan (qatl al khata'). semi sengaja. 22 Jaih Mubarok dan Enceng Arif Faizal. (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. terjadi perbedaan pendapat di antara para ulama dalam mengklasifikasikan bentuk-bentuk pembunuhan. yaitu: pembunuhan sengaja. ke-2. 21 . Adanya unsur perbuatan yang membentuk jinayah. 2. semi sengaja (syibh al-'amd) dan kekeliruan. semi sengaja. ke-1. cet. (Bandung: Pustaka Bani Quraisy. Perbedaan pengklasifikasian tersebut adalah: 1. yaitu: pembunuhan sengaja. II: 7-9.22 A. Unsur ini dikenal dengan istilah “unsur material” (ar-Rukn al-Maddi) 3. sehingga mereka dapat dituntut atas kejahatan yang mereka lakukan. Sebagian Hanafiyah mengklasifikasikanya menjadi empat (ruba'i). atTasyri' al-Jina'I al-Islami Muqaranah bi al-Qanun al-Wad'I.

(Jakarrta: PT Raja Grafindo Persada. Lihat juga A. pembunuhan karena kesalahan (qatl al-khata'). hlm. 2. pembunuhan serupa kekeliruan (ma jara majr al-khata').17. pembunuhan semi sengaja (qatl syibh al-'amd). namun sama sekali tidak menhendaki kematian si korban. akan tetapi di luar kesadarannya menyebabkan kematian orang lain. pelaku sama sekali tidak bermaksud melakukan suatu aktivitas tertentu. hlm.15 Untuk mengetahui arti dari jenis-jenis pembunuhan ini maka perlu diperjelas artinya yaitu sebagai berikut: 1. Jadi matinya korban sama sekali tidak diniati. hal 117. 1997). yaitu perbuatan penganiayaan terhadap seseorang tidak dengan maksud untuk membunuhnya tetapi mengakibatkan kematian. cet ke-1 desember 2000. kaidah fiqh jinayah. 123 24 23 Jaih Mubarok. tetapi karena kelalaiannya. Jadi. . 5. pembunuhan sengaja (qatl al-'amd). matinya korban merupakan bagian yang dikehendaki si pembunuh. Walaupun disengaja. Perbuatan itu sendiri sengaja dilakukan dalam objek yang dimaksud. Djajuli. pelaku membuat sarana yang pada awalnya tidak dimaksudkan untuk mencelakakan orang lain. perbuatan tersebut tidak ditujukan terhadap korban. Fiqh JInayat (upaya menaggulangi Kejahatan Dalam Islam. (Bandung.24 Rahmat Hakim. yaitu kesalahan dalam berbuat sesuatu yang mengakibatkan matinya seseorang. cet. yaitu suatu perbuatan penganiayaan terhadap seseorang dengan maksud untuk menghilangkan nyawanya. ke-2. CV Pustaka Setia. Hukum Pidana Islam (Fiqih Jinayah). 2000). pada akhirnya menyebabkan kematian orang lain.23 4. 3. pembunuhan secara tidak langsung (qatl bi at-tasabbub).

161. Islam sangat memperhatikan keselamatan hidup dan kehidupan manusia25. Tetapi dalam hal ini yang perlu dipertanyakan apakah unsur kerelaan atas si terbunuh termasuk ke dalam unsur pembunuhan disengaja.16 Dari jenis-jenis pembunuhan di atas. bahwa kehidupan seseorang bukanlah miliknya sendiri.. lebih-lebih terhadap jiwa manusia. Syaikh Muhammad Yusuf al-Qardawi mengatakan. ataupun selnya. Karena itu ia tidak boleh mengabaikannya. Masail Fiqhiyah (Jakarta: CV. 379. Masalah euthanasia merupakan masalah yang sangat sulit. karena telah ada unsur perbuatannya dan unsur tujuannya yaitu agar orang tersebut mati. Apabila euthanasia aktif itu didukung oleh kerelaan si pasien maka yang demikian disebut tindakan bunuh diri dengan meminjam tangan atau melalui orang lain. 1994). berarti hal ini termasuk dalam pembunuhan disengaja. Halal dan Haram dalam Islam. 2000). (Jakarta: Robbani Press. cet. apalagi memusuhinya atau memisahkannya dari kehidupan. terj. Haji Masagung. Yusuf Qardawi. karena dia tidak menciptakan dirinya (jiwanya). Oleh Abu Sa’id al-Falahi dan Aunur Rafiq Shaleh Tamhid. anggota tubuhnya. hlm.ke-1. dan masalah ini biasanya timbul oleh alasan bahwa pasien sudah tidak tahan lagi menanggung derita yang berkepanjangan atau tidak ingin meninggalkan beban ekonomi atau tidak punya harapan untuk sembuh. hlm.26 Manusia dituntut untuk memelihara jiwanya (hifz an-nafs). Dirinya hanyalah titipan yang dititipkan Allah. Karena memelihara nyawa manusia merupakan salah-satu tujuan utama dari lima tujuan 25 Masjfuk Zuhdi. bila melihat kepada maknanya euthanasia yaitu suatu perbuatan penghilangan nyawa seseorang atas permintaan orang itu sendiri. 26 .

dan hal ini dianggap sebagai perbuatan yang menentang takdir Tuhan. biasanya upaya untuk mengurangi beban pasien dalam penderitaannya melalui suntikan dengan bahan pelemah fungsi syaraf dalam dosis tertentu (neurasthenia). Namun karena masalah euthanasia ini berhubungan masalah pembunuhan. walaupun terdapat unsur kerelaan dari pihak siterbunuh maka perbuatan tersebut termasuk perbuatan jarimah. Hipotesis Euthanasia adalah istilah dalam dunia medis yang merupakan keputusan dokter terhadap keadaan penyakit yang dialami pasien. Oleh karenanya. bahwa penyakit yang diderita pasien tidak dapat disembuhkan lagi dan diberikan jalan pintas yaitu dengan jalan medis juga. 27 Akh. dan hal ini dilarang oleh Allah dengan ancaman neraka jahannam. Dan sanksi pembunuhan ini adalah hukum Qisas sesuai dengan kadar dan jenis pembunuhannya Perbuatan euthanasia sama dengan bunuh diri yang dilakukan dengan meminjam tangan orang lain. dalam al-Qur'an tidak ada ayat yang menyinggung terhadap masalah euthanasia ini secara khusus. tetapi ia adalah anugerah Allah Swt.69. . Fuzi Aseri. Jiwa meskipun merupakan hak asasi manusia. Memutuskan hukum dalam masalah euthanasia ini bukan merupakan hal yang mudah.17 syariat yang diturunkan oleh Allah Swt. Maka euthanasia ini merupakan perbuatan yang terlarang.27 F. Euthanasia…. seseorang sama sekali tidak berwenang dan tidak boleh melenyapkannya tanpa kehendak dan aturan Allah sendiri. hlm.

yaitu penyusun . sesuai dengan perkembangan zaman yang disesuaikan dengan keadaan sekarang. Penyusun menelusuri bahan penelitian yang ada hubungannya dengan permasalahan yang diteliti. G.Pendekatan Pendekatan yang digunakan dalam penyusunan skripsi ini.18 Sebab masalah kehidupan dan kematian seseorang itu berasal dari pencipta-Nya. penyusun menggunakan teknik dokumentasi.Jenis penelitian Jenis penelitian yang digunakan ialah kepustakaan (literatur) 2. ialah menggunakan penelitian kepustakaan (library research). yang mana euthanasia yang terdapat dalam dunia medis diteliti dengan prespektif fiqh jinayah (Hukum Pidana Islam). Dalam rangka pengumpulan data. ialah pendekatan normatif. yaitu meneliti permasalahan euthanasia sebagai suatu permasalahan baru. Metode Penelitian 1. yaitu Allah SWT. dalam hukum Islam lebih khusus dalam Fiqh Jinayah (Hukum Pidana Islam). 4. dan dalam penyelesaiannya dibantu dengan pendapat-pendapat para ahli dan para mujtahid 3.Teknik pengumpulan data Untuk mendapatkan data dalam penyusunan skripsi ini.Sifat penelitian Penelitian ini bersifat eksploratif. Artinya dalam pembahasannya melakukan pendekatan terhadap permasalahan yang dititikberatkan pada aspek-aspek hukum.

kemudian dikumpulkan dan diolah sedemikian rupa sehingga menghasilkan data yang diperlukan. penulis membuat sistematika pembahasan yang terdiri dari bab-bab yang saling berhubungan dan saling menunjang yang satu dengan yang lainnya secara logis. kemudian ditentukan. Deduktif artinya meneliti dan menganalisa macam-macam bentuk euthanasia. serta pelaku tindakan euthanasia dan juga sanksi hukum apa yang harus diterapkan bagi perbuatan euthanasia ini. yakni tentang macam-macam euthanasia. kerangka teori. tinjauan umum dan masalah sekitar euthanasia. telaah pustaka. Analisis Data Data yang terkumpul dianalisis secara kualitatif dengan cara berfikir deduktif. Setelah bab pertama merupakaan pendahuluan ialah bab kedua. jenis euthanasia yang termasuk kedalam perbuatan jarimah. metode penelitian dan sistematika pembahasan. H.19 melakukan observasi terhadap sumber-sumber data yang berupa dokumen baik primer ataupun sekunder. Sistematika Pembahasan Agar tidak terjadi tumpang tindih dan untuk konsistensi pemikiran. Pada bab pertama. bab ini membicarakan mengenani pengertian euthanasia serta permasalahannya yang sangat erat hubungannya dengan euthanasia. sebab-sebab yang memungkinkan . dimulai dengan pendahuluan yang menjelaskan latar belakang permasalahan yang akan dicari jawabannya. tujuan dan kegunaan penelitian. hipotesis. 5.

dan juga beberapa tinjauan baik dari segi Medis. demi perbaikan dan kesempurnaan dari pengaturan masalaah euthanasia yang telah ada serta pandangan untuk masa-masa yang akan datang. tujuan Fiqh Jinayah serta aspek kemanusiaan dalam Fiqh Jinayah. sebagai acuan dalam meninjau permasalahan pidana khususnya dalam masalah euthanasia. langkah selanjutnya adalah mengambil suatu kesimpulan dari apa yang telah menjadi pokok pembahasan dalam karya ilmiah ini. memuat tentang kesimpulan dan saran-saran. Setelah diuraikan secara panjang lebar dan terperinci pada bab-bab sebelumnya. dan thanatos berarti mati. Serta sanksi hukum bagi pelaku euthanasia. Kata eu berarti baik. Bab kelima.20 dilakukannya euthanasia. Pada bab ketiga berisi tentang Prinsip-prinsip Fiqh Jinayah terhadap Euthanasia yang meliputi pengertian Hukum Pidana Islam. Maksudnya adalah mengakhiri hidup dengan . jarimah Qisas-diyat. Sedangkan saran-saran diajukan pula. pada bab yang terakhir ini. BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG EUTHANASIA A. Pengertian Euthanasia Istilah euthanasia berasal dari bahasa Yunani. HAM dan Hukum Pidana Positif (KUHP). Pada bab keempat berisi tentang Praktek Euthanasia Dalam Prespektif Fiqh Jinayah yang meliputi Euthanasia aktif sebagai jarimah. yaitu eu dan thanatos.

buku ke-4. Artinya dari segi kesusilaan dapat dipertanggungjawabkan bila orang yang bersangkutan menghendakinya. dalam Chuzaimah T. sementara yang tidak setuju menganggapnya sangat bertentangan dengan nilai-nilai moral. Bagi yang setuju menganggap euthanasia merupakan pilihan yang sangat manusiawi. a good death. sulit dijawab secara tepat dan objektif. 64. Dalam arti yang demikian itu euthanasia tidaklah bertentangan dengan panggilan manusia untuk mempertahankan dan memperkembangkan hidupnya. Fauzi Aseri.28 Jadi euthanasia berarti mempermudah kematian (hak untuk mati). Oleh karena itu euthanasia sering disebut juga dengan mercy killing. Hak untuk mati ini secara diam-diam telah dilakukan yang tak kunjung habis diperdebatkan. agama. namun untuk mengurangi atau meringankan penderitaan orang yang sedang menghadapi kematiannya. Euthanasia Suatu Tinjauan dari Segi Kedokteran. (Antropologi Teologis II. Hukum Pidana.). sehingga tidak menjadi persoalan dari segi kesusilaan. sosial dan yuridis masih mengundang berbagai ketidakpuasan. hlm. Problematika Hukum Islam Kontemporer. hlm. namun demikian pandangan medis. 1974). (Jakarta: Pustaka Firdaus. dan Hukum Islam. Secara etimologis euthanasia berarti kematian dengan baik tanpa penderitaan. etika dan agama. Sejumlah pakar dari berbagai disiplin ilmu telah mencoba membahas euthanasia dari berbagai sudut pandang. Euthanasia atau hak mati bagi pasien sudah ratusan tahun dipertanyakan. 29 J. 2002).29 Akh. "Euthanasia" beberapa soal moral berhubungan dengan quintum.25 28 . maka dari itu dalam mengadakan euthanasia arti sebenarnya bukan untuk menyebabkan kematian. etika.21 cara yang mudah tanpa rasa sakit. Chr Purwa Widyana. atau enjoy death (mati dengan tenang). Yanggo dan Hafiz Anshary AZ. (ed.

(Malang: Analekta Keuskupan Malang. hlm. Euthanasia dalam prespektif hak asasi manusia. 31 30 . Euthanasia Beberapa Soal Etis Akhir Hidup Menurut Gereja Katolik. Pemakaian secara sempit Piet Go O. euthanasia dapat diterangkan sebagai pembunuhan yang sistematis karena kehidupannya merupakan suatu kesengsaraan dan penderitaan. Masalah tersebut semakin kompleks karena definisi dari kematian itu sendiri telah menjadi kabur. yaitu:31 1. cet. Dewasa ini orang tidak lagi memakai arti asli. melainkan lebih terarah pada campur tangan ilmu kedokteran yang meringankan orang sakit atau orang yang berada pada sakarotul maut. Secara etimologis di zaman kuno berarti kematian tenang tanpa penderitaan yang hebat. 2001). Agar persoalan euthanasia ini dapat dibahas dengan sewajarnya sebaiknya arti kata-katanya diuraikan dengan lebih seksama lagi. ke-1. terminologi euthanasia dipakai untuk menyatakan penghindaran rasa sakit dan peringanan pada umumnya bagi yang sedang menghadapi kematian dengan pertolongan dokter. Inilah konsep dasar dari euthanasia yang kini maknanya berkembang menjadi kematian atas dasar pilihan rasional seseorang. Akhirnya kata ini dipakai dalam arti yang lebih sempit sehingga makna dan artinya adalah mematikan karena belas kasihan. 1989). Pemakaian terminologi euthanasia ini mencakup tiga kategori. bahkan kadang-kadang disertai bahaya mengakhiri kehidupan sebelum waktunya.22 Akan tetapi dalam perkembangan istilah selanjutnya. 5-6 Petrus Yoyo Karyadi. maka menurut pengertian umum sekarang ini.30 Sejak abad ke-19. hlm. euthanasia lebih menunjukkan perbuatan yang membunuh karena belas kasihan. sehingga banyak masalah yang ditimbulkan dari euthanasia ini. Carm.26-27. (Yogyakarta: Media Presindo.

27. Dilakukan khusus untuk kepentingan pasien itu sendiri atas permintaan atau tanpa permintaan pasien. hukum dan psikologi.23 Secara sempit euthanasia dipakai untuk tindakan menghindari rasa sakit dari penderitaan dalam menghadapi kematian. Dengan sengaja melakukan sesuatu untuk mengakhiri hidup seorang pasien. Pemakaian paling luas Dalam pemakaian yang paling luas ini. Beberapa pengertian tentang terminologi euthanasia:32 a. Dengan sengaja tidak melakukan sesuatu (palaten) untuk memperpanjang hidup pasien 3). 32 Ibid. euthanasia berarti memendekkan hidup yang tidak lagi dianggap sebagai side effect. terminologi euthanasia dipakai untuk perawatan yang menghindarkan rasa sakit dalam penderitaan dengan resiko efek hidup diperpendek. 2). hlm. euthanasia diartikan: 1). tetapi pada hemat penulis apapun istilahnya ketiga cara tersebut adalah tindakan euthanasia. 3. Menurut hasil seminar aborsi dan euthanasia ditinjau dari segi medis. 2.. Pemakaian secara luas Secara luas. melainkan sebagai tindakan untuk menghilangkan penderitaan pasien. Beberapa ahli membedakan ketiga cara tersebut. .

diringankan penderitaan sisakit dengan memberinya obat penenang. Oemar Seno Adji. dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur euthanasia adalah sebagai berikut: 1). (Jakarta: Erlangga.24 b. hlm. 3).176 33 . Menurut kode etik kedokteran indonesia. Berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu 2). Mengakhiri hidup. Macam-macam Euthanasia Euthanasia bisa ditinjau dari berbagai sudut. Pasien menderita suatu penyakit yang sulit untuk disembuhkan kembali. dari mana datang permintaan. Etika profesional dan Hukum Pertanggungjawaban Pidana Dokter. Dari beberapa kategori tersebut. 2). sadar tidaknya pasien dan lain-lain. Demi kepentingan pasien dan keluarganya. 3). mempercepat kematian. 3). Ketika hidup berakhir. 4). Mengakhiri penderitaan dan hidup seorang sakit dengan sengaja atas permintaan pasien sendiri dan keluarganya. untuk yang beriman dengan nama Allah dibibir. Berpindahnya ke alam baka dengan tenang dan aman tanpa penderitaan. atau tidak memperpanjang hidup pasien. B. Atas atau tanpa permintaan pasien atau keluarganya. kata euthanasia dipergunakan dalam tiga arti:33 1). seperti cara pelaksanaanya.1991).

2. 4. Euthanasia aktif Euthanasia aktif adalah perbuatan yang dilakukan secara aktif oleh dokter untuk mengakhiri hidup seorang (pasien) yang dilakukan secara medis. Teknologi Kedokteran dan Tantangannya terhadap Bioetika (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Biasanya dilakukan dengan penggunaan obat-obatan yang bekerja cepat dan mematikan. tetapi diketahui bahwa risiko tindakan tersebut dapat mengakhiri hidup pasien. yaitu euthanasia aktif dan euthanasia pasif Di bawah ini dikemukakan beberapa jenis euthanasia: 1. hlm.31. 1992). Bunga Rampai Hukum Kesehatan (Jakarta: Widya Medika. yaitu cara pengakhiran kehidupan melalui tindakan medis yang diperhitungkan akan langsung mengakhiri hidup pasien.1997). Misalnya dengan memberi tablet sianida atau suntikan zat yang segera mematikan.66- 67. Misalnya. yang menunjukkan bahwa tindakan medis yang dilakukan tidak akan langsung mengakhiri hidup pasien. Euthanasia aktif terbagi menjadi dua golongan:35 a. euthanasia aktif euthanasia pasif euthanasia volunter euthanasia involunter34 1. hlm.25 Secara garis besar euthanasia dikelompokan dalam dua kelompok. b. Kartono Mohamad. 35 . Euthanasia aktif langsung. 3. Euthanasia aktif tidak langsung. mencabut oksigen atau alat bantu kehidupan lainnya. 34 Amri Amir.

euthanasia juga mempunyai macam yang lain. yaitu usaha untuk memperingan kematian dengan efek samping. Kedalamnya termasuk semua usaha perawatan agar yang bersangkutan dapat mati dengan "baik". Euthanasia tidak langsung. Euthanasia murni. sehingga pasien diperkirakan akan meninggal setelah tindakan pertolongan dihentikan. . hal ini diungkapkan oleh beberapa tokoh. 4. yaitu usaha untuk memperingan kematian seseorang tanpa memperpendek kehidupannya. Euthanasia volunter Euthanasia jenis ini adalah Penghentian tindakan pengobatan atau mempercepat kematian atas permintaan sendiri. Selain kategori empat macam euthanasia di atas. Euthanasia involunter Euthanasia involunter adalah jenis euthanasia yang dilakukan pada pasien dalam keadaan tidak sadar yang tidak mungkin untuk menyampaikan keinginannya. bahwa pasien mungkin mati dengan lebih cepat. Perbuatan ini sulit dibedakan dengan perbuatan kriminal.26 2. 3. mereka menambahkan macam-macam euthanasia selain euthanasia secara garis besarnya. 2. diantaranya Frans magnis suseno dan Yezzi seperti dikutip Petrus Yoyo Karyadi. Dalam hal ini dianggap famili pasien yang bertanggung jawab atas penghentian bantuan pengobatan. yaitu: 1. Euthanasia pasif Euthanasia pasif adalah perbuatan menghentikan atau mencabut segala tindakan atau pengobatan yang perlu untuk mempertahankan hidup manusia.

4.67-68 Ibid.27 Di sini ke dalamnya termasuk pemberian segala macam obat narkotik. hlm. Euthanasia.30. atau atas keputusan pemerintah. Euthanasia aktif diartikan melakukan suatu tindakan tertentu sehingga pasien meninggal. yaitu mempercepat kematian sesuai dengan keinginan pasien yang disampaikan oleh atau melalui pihak ketiga (misalnya keluarga). Euthanasia nonvoluntary. hipnotik dan analgetika yang mungkin "de fakto" dapat memperpendek kehidupan walaupun hal itu tidak disengaja. yaitu mempercepat kematian atas persetujuan atau permintaan pasien.36 3. misalnya dengan mengakhiri pemberian nafas buatan melalui respirator atau mencabut ventilator dalam arti penghentian pemberian pernafasan artifisial. bahkan akan menambah beban penderitaan (not initiating life support treatment).37 C. Sedang euthanasia pasif diartikan sebagai tidak dimulainya melakukan tindakan untuk memperpanjang hidupnya. Misalnya tidak memberikan shock terapi dan tidak menyambung pernafasan dengan ventilator sesudah pasien manula penderita jantung kronis yang mendapat serangan 36 Petrus Yoyo Karyadi. tetapi yang tidak begitu bermanfaat lagi. Keadaan-keadaan yang Memungkinkan Dilakukannya Euthanasia Euthanasia mempunyai arti yang berdekatan dengan “membiarkan datangnya kematian” (letting die).. hlm. euthanasia dibedakan antara yang aktif dan yang pasif. 37 . Euthanasia sukarela. Dalam literatur. Adakalanya hal itu tidak harus dibuktikan dengan pernyataan tertulis dari pasien atau bahkan bertentangan dengan pasien.

maka dengan ditemukannya alat bantu pernafasan (respirator) dan alat pacu jantung (pace maker). dan kalau alat tersebut dicabut kemungkinan besar ia akan segera mati. Dengan demikian sekarang dikenal istilah mati otak (brain death). artinya pasien belum meninggal. Keadaan semacam ini berlangsung berhari-hari. yang menunjukkan bahwa otak sudah tidak berfungsi lagi. yakni sel-sel tubuh saja yang masih menunjukkan tanda kehidupan. maka hampir tidak mungkin dia hidup tanpa bantuan alat tersebut. tetapi bila otak sudah tidak berfungsi. 38 J. Secara medis sekarang diketahui jika rekaman otak masih menunjukkan fungsi yang baik. masih ada kemungkinan ditolong dengan menggunakan alat tersebut. Guwandi.28 jantung untuk kesekian kalinya dan sudah tidak sadarkan diri untuk waktu yang agak lama. maka seseorang yang oleh karena suatu hal mengalami henti nafas mendadak (respiratory arrest) atau henti jantung (cardiac arrest).38 Seperti telah disebutkan pada awal tulisan ini. hlm. kemajuan dalam bidang ilmu dan tekhnologi kedokteran telah menambah beberapa konsep fundamental tentang mati. yang jelas kehidupannya tergantung kepada alat. maka ada harapan orang tersebut akan siuman kembali. Persoalan yang kemudian timbul adalah sampai berapa lama orang itu bertahan dengan alat bantu tersebut. berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun tanpa di ketahui kapan akan berakhir. (Jakarta: FK UI. dengan kata lain dia hanya hidup secara vegetatif. Kalau dahulu mati didefinisikan sebagai berhentinya denyut jantung dan pernafasan. Kumpulan Kasus Bioethics & biolaw. 40 . 2000).

Aborsi dan Euthanasia ditinjau dari segi medis. apakah dokter mempunyai hak untuk melakukan hal itu tanpa ia dikenai sanksi hukum?. "Euthanasia. 4. seorang dokter tidak di hukum dalam melakukan euthanasia. hukum dan psikologis.39 Di Negara Belanda. hlm. 2. pada yang terakhir ini jelas yang harus mencabut segala alat bantu adalah dokter (dokter yang bertanggungjawab).R. Pasien memahami betul situasinya sendiri maupun kemungkinankemungkinan alternatif yang tersedia dan mampu menimbang-nimbang antara pelbagai kemungkinan yang ada dan sesungguhnya telah pula melakukan pilihannya. Siswo Sudarmo. yang menjadi persoalan adalah: pertama. H. tepatnya di daerah Rotterdam. sebagai berikut: 1.3-4 39 .29 Dalam keadaan seperti ini tidak jarang keluarga pasien meminta dokter untuk segera mengakhiri penderitaan pasien dengan cara melepas semua alat bantu. Harus ada penderitaan fisik atau psikis yang tidak terpikulkan dan dahsyat dialami pasien. Pengadilan Negeri Rotterdam mempunyai kriteria bahwa seorang dokter tidak dihukum dalam melakukan euthanasia. Baik penderitaan ini maupun keinginan untuk mengakhiri kehidupan berlangsung tiada henti-hentinya. 3. Kedua. Akan lebih rumit lagi apabila permintaan pasien (keluarganya) adalah dengan alasan sosial ekonomi (biaya) sehingga keluarga memaksa untuk membawa pulang pasien. 1990). sampai hatikah seorang dokter dengan sengaja melepas alat bantu yang nota bene akan mengakhiri kehidupan seseorang?. Tidak ada pemecahan rasional lain yang dapat memperbaiki situasi. Bagaimana sikap seorang dokter?" Makalah pada seminar sehari. (Yogyakarta: FKMPY.

Jadi. 95. Mengapa euthanasia? Kemampuan medis & konsekuensi Yuridis. buku. hlm. Ia seolah-olah menjadi "trademark" peradaban modern saat ini. yang tak dapat dipisahkan dari hakekatnya dan karena itu bersifat suci". jurnalis. politikus. Keputusan untuk memberikan bantuan tidak diambil oleh satu orang saja. 6. Sebagai basis dari pemikiran manusia. mengarahkan perbuatan manusia dan mengatur masyarakat. demikian pula pada bantuan itu perlu diperhatikan kecermatan dan ketelitian yang semaksimal mungkin sesuai dengan kepatutan yang berlaku (misalnya dengan mengikutsertakan dalam perembukan beberapa teman sejawat dan ahli-ahli lainnya. lawyer dan sebagainya. yang akan mengeluarkan resep mengenai obat atau bahan yang akan dipakai. Pada keputusan untuk memberikan bantuan harus selalu melibatkan seorang dokter. 40 . (Bandung: Nova. Euthanasia dan Hak Asasi Manusia (HAM) Hak asasi mausia (HAM) mungkin merupakan kata yang telah ditulis dalam ratusan ribu halaman kertas. Dengan kematian ini tidak ada orang lain yang dirugikan atau menderita tanpa alasan. hak asasi dapat F. Tengker. 8. Hak-hak asasi manusia sebagaimana dikenal dewasa ini dengan nama antara lain "human rights. the Right of man" hal mana pada prinsipnya dapat dirumuskan sebagai "hak-hak yang dimiliki manusia menurut kodratnya. juga menarik perhatian sejumlah besar ahli. 7.40 D.t).30 5. artikel atau surat kabar dan siaran televisi maupun radio. Pada keputusan untuk memberikan bantuan. t.

diantaranya Declarations des Droits de'l Homme et du Citoyen (1789) di Perancis dan The Four Freedoms of F. Dari pemahaman yang demikian maka sebenarnya perjuangan untuk membela hak-hak kemanusiaan tersebut mungkin seumur umat manusia itu sendiri. Hak-hak Asasi manusia secara umum mencakup hak pribadi. 4. Hak asasi itu tidak dapat dipisahkan dari eksistensi pribadi manusia itu sendiri. 1990). 5. dan lain sebagainya. hlm. 41 . Islam mengajarkan belas kasihan sebagai suatu nilai kemanusiaan yang pokok dan satu dari kebajikan yang fundamental bagi orang yang mengaku dirinya muslim. Roosevelt (1941) di Amerika Serikat. Freedom of Religion (kebeasan beragama). serta untuk mendapatkan perlakuan tata cara peradilan dan perlindungan hukum. perlakuan yang sama dalam hukum. berbuat adil.D. bijaksana. menerapkan kasih sayang. politik. sosial dan kebudayaan.31 dikatakan sebagai hak dasar yang dimiliki oleh pribadi manusia sebagai anugerah Tuhan yang dibawa sejak lahir. banyak mengajarkan tentang toleransi. Nabi Muhammad dengan mu'jizatnya. Imron Halimi. Egalite (kesamarataan). terdapat bermacam dokumen. Dalam hak-hak asasi manusia. Euthanasia Cara Mati Terhormat Orang modern. 2. Freedom of Speech (kebebasan mengutarakan pendapat). Liberte (kemerdekaan). 3. al-Qur'an. Fraternite (kerukunan atau persaudaraan). (Solo: CV. 129.41 Sebagai contoh bahwa Nabi Musa berusaha menyelamatkan umatnya dari penindasan Fir'aun. dari kedua dokumen tersebut terdapat semboyan. yaitu: 1. Ramadhani. tidak boleh memaksa.

Hak kemerdekaan pikiran.42 Dari kedua dokumen tersebut. 43 Petrus Yoyo Karyadi. Freedom from Fear (kebebasan dari ketakutan). memang telah diakui oleh dunia yaitu dengan dimasukannya dan diakuinya Universal Declaration of Human Right oleh perserikatan bangsa-bangsa tanggal 10 desember 1948. "The right to die" ini berkaitan dengan munculnya "revolusi biomedis" dan tentunya berkaitan pula dengan masalah euthanasia. hlm. Hak kemerdekaan beragama.32-33. hlm. c. karena tidak dicantumkan secara tegas dalam suatu deklarasi dunia. (Jakarta: Ghalia Indah. Sedangkan mengenai "hak untuk mati". e. 1984). dapat disimpulkan bahwa hak asasi manusia mencakup: a. Dan dalam hak untuk hidup ini juga tercakup pula adanya "hak untuk mati" atau the right to die. d.32 6. Menyinggung masalah hak-hak asasi manusia. 137 .43 Mengenai hak untuk hidup. b. dan 7. Hak kemerdekaan atas diri sendiri. adalah termasuk didalamnya. Euthanasia. Hak menyatakan kebebasan dari rasa takut. Euthanasia Hak Asasi Manusia dan Hukum Pidana. terutama dalam hak kemerdekaan atas diri sendiri. Hak kemerdekaan berkumpul. maka masih merupakan perdebatan dan pembicaraan di kalangan ahli berbagai 42 Djoko Prakoso dan Djaman Andi Nirwanto. maka akan terlintas dalam benak pikiran bahwa "hak untuk hidup" atau the right to life. Freedom from Want (kebeasan dari kekurangan).

45 Penderita suatu penyakit yang sudah demikian tersebut diakui dan diperbolehkan menggunakan "hak untuk mati"-nya. Jadi masih terbatas dalam suatu keadaan tertentu. namun masih harus diakui pula bahwa "hak untuk mati" itu tidak bersifat mutlak. Kendatipun telah diakui dalam berbagai undang-undang.46 Dari uraian di atas kiranya dapat disimpulkan bahwa masalah hak-hak asasi manusia itu bukanlah semata-mata merupakan persoalan yuridis semata. misalnya bagi penderita suatu penyakit yang sudah tidak dapat diharapkan lagi penyembuhannya dan pengobatan yang diberikan sudah tidak berpotensi lagi. Euthanasia.. hlm. Dengan demikian maka penderita suatu penyakit yang tak menentu nasibnya tersebut akan segera mati dengan tenang. melainkan 44 Imron Halimi.44 Di Negara-negara maju seperti Amerika Serikat masalah "hak untuk mati" sudah diakui. 42 45 46 .33 bidang dunia. dengan jalan meminta pada dokter untuk menghentikan pengobatan yang selama ini diberikan kepadanya. Ibid. 141 Ibid. seperti diperagakan dalam "peradilan semu" dalam rangka Konperensi Hukum Se-Dunia di Manila. maka perbuatan dokter yang telah memebantu untuk melaksanakan permintaan seorang pasien atau dari keluarganya seperti diuraikan di atas memounyai kekebalan terhadap "criminal liability" maupun terhadap "civil liability". dan bahkan di Negara-negara bagian ada yang mengaturnya secara jelas dalam berbagai undang-undang. Dan lagi Negara yang telah mengakui adanya "hak untk mati". ataupun dengan jalan meminta agar diberikan obat penenang dengan dosis yang tinggi. hlm.

34 bersangkut paut dengan masalah nilai-nilai etis. dalam perawatan intensif (di rumah sakit yang mempunyai fasilitas dan ahlinya) jantung yang sudah berhenti dapat dipacu untuk bekerja kembali dan paru-paru dapat dipompa agar kembali kembang kempis. apabila jantung dan paru-paru sudah tidak bekerja lagi. maka dari itu perlu dijelaskan arti "mati". hlm. moral yang ada di suatu masyarakat tertentu. berbagai alat atau mesinmesin penopang hidup dan kemajuan dalam perawatan intensif. Konsep tentang Mati Untuk dapat memahami lebih jauh timbulnya masalah euthanasia. Dari hal ini dinyatakan bahwa mati 47 Amri Amir. maka pemecahannya haruslah disesuaikan dengan masalah moral. Bunga Rampai Hukum Kesehatan. apa yang dimaksud dengan "mati"?. etis. Oleh sebab itu masalah "hak untuk mati" yang dihadapkan sebagai suatu kasus hukum. Euthanasia dalam Ilmu Kedokteran 1. kondisi dan kebiasaan yang ada dalam suatu negara E. ke-1. maka perlu difahami tentang konsep mati yang dianut dari dulu hingga kini.47Bila demikian. Perubahan pengertian ini berkaitan dengan adanya alat-alat resusitasi. cet. Kini keadaan sudah berubah. Dahulu.68 . Berhentinya darah mengalir Konsep ini bertolak dari kriteria mati berupa berhentinya jantung. orang sudah dinyatakan mati dan tidak perlu diberi pertolongan lagi. Penting bagi para dokter untuk memperjelas arti mati. organ yang memompa darah mengalir keseluruh tubuh. Pada umumnya dikenal beberapa konsep tentang mati: a. (Jakarta: Widya Medika. 1997).

Pasien tidak berfungsi lagi bereaksi (unreceptive and unresponsive) terhadap stimulus (sentuhan.69 Thomas A. tidak ada gerak sepontan atau pernafasan. (Jakarta: PT.1992) hlm. Kematian otak Kriteria ini adalah: tidak sanggup menerima rangsangan dari luar dan tidak ada reaksi atau rangsangan. Jiwa atau bentuk menjiwai tubuh atau materi. dan kedua jenis ini terdapat pada alat oscillograf (alat catat getaran gelombang).58. pencatat gerakan jantung dari gelombang listrik. termasuk stimulus yang sangat menyakitkan. Kartono Mohamad. paling sedikit selama satu jam. itu berarti bahwa kematian sudah menjadi kenyataan. Bartens. 50 49 Ibid. K. Gramedia Pustaka Utama. Dan juga erat kaitannya dengan Electrokardiogram. Shanon.. Pemisahan tubuh dan jiwa Manusia sebagai kesatuan tubuh dan jiwa atau kesatuan materi dan bentuk. hlm. tidak ada refleks. 1995). hlm.58-59 Electroencephalogram (EEG) adalah: pencatatan terhadap keaktivan otak. dan situasi ini diteguhkan oleh elektroensefalogram (EEG). sehingga tersusunlah makhluk yang unik yang disebut manusia. hlm. Tidak ada tanda-tanda terjadinya pernafasan spontan. 48 Ibid. Kematian berarti terputusnya kesatuan tubuh dan jiwa.51 Dasar untuk menetapkan bahwa otak tidak berfungsi lagi adalah:52 1).11 52 51 . rangsangan) dari luar. (Jakarta: PT.49 b. Gramedia Pustaka Utama.48 Karena nafas dan darah bahan yang menandakan kehidupan.50 c. maka bila tidak terjadi lagi pernafasan dan peredaran darah.35 adalah berhentinya fungsi jantung dan paru-paru. jika dua unsur ini dipisahkan. Kematian berlangsung.. 2). Pengantar Bioetika. Teknologi Kedokteran dan Tantangannya Terhadap Bioetika. Terj.

Dalam hal ini penghormatan atas hak pasien untuk penentuan nasib sendiri masih memerlukan pertimbangan dari seorang dokter terhadap pengobatannya. Berbicara tentang "hak pasien" yang dihubungkan dengan pemeliharaan kesehatan.53 "hak pasien". Kematian seluruh otak (batang otak. . dua buah kata bagi sebagian negara adalah kata-kata yang mewah. Pasien harus diberi kesempatan yang luas untuk memutuskan nasibnya tanpa adanya tekanan dari pihak manapun setelah diberi informasi yang cukup. Di antaranya adalah penghormatan atas hak pasien. Hak untuk mendapatkan pemeliharaan kesehatan yang memenuhi kriteria tertentu.36 3). hlm. yaitu agar 53 Amri Amir. dan Elektroensefalogram (EEG)-nya datar. Hak-Hak Pasien Berkembangnya etika pelayanan kesehatan sebagai suatu bidang khusus dan pencarian pelbagai hak melalui pengadilan telah membantu untuk menetapkan banyak hak dalam konteks pelayanan kesehatan. sebab masih banyak negara yang tidak atau belum mengatur hal-hal yang berkaitan dengan hak pasien itu. 1997). Tidak ada refleks. Bunga Rampai Hukum Kesehatan. 2. karena tanpa organ ini bagi manusia tidak mungkin mempertahankan integrasi biologisnya dan karena itu juga integrasi sosialnya.71. (Jakarta: Widya Medika. maka hak utama dari pasien tentunya adalah hak untuk mendapatkan pemeliharaan kesehatan (the right to health care). sehingga keputusannya diambil melalui pertimbangan yang jelas. cortex dan neo cortex) berarti kematian manusia.

Jika seseorang tidak tahu.147-148.37 pasien mendapatkan upaya kesehatan. Agar lebih jelas dapat diuraikan hak-hak pasien yaitu sebagai berikut:55 a. Mandar Maju 2001). sarana kesehatan dan bantuan dari tenaga kesehatan. Bartens . tidak bisa membuat rencana. maka hak untuk menentukan diri sendiri diformulasikan dengan apa yang dikenal dengan persetujuan atas dasar informasi (informed consent). ia tidak bisa memilih. Shanon. Hukum Kedokteran.56 54 Wila Chandrawila Supriadi.12. 1995). Dihubungkan dengan tindakan medik. Adalah hak asasi pasien untuk menerima atau menolak tindakan medik yang ditawarkan oleh dokter. dan jika pasien tidak mempunyai kemungkinan itu. tidak dapat menguasai situasi. setelah dokter memberikan informasi. hlm. . yang memenuhi standar pelayanan kesehatan yang optimal.18. Hak atas persetujuan Hak untuk enentukan diri sendiri (the right of self determination) juga terproses sejalan dengan perkembangan dari hak asasi manusia. pasien mempunyai hak-hak lainnya. Thomas A. Hak atas informasi Agaknya hak yang paling penting adalah hak atas informasi. hak untuk mendapatkan pendapat kedua. sebagai misal antara lain hak untuk mendapatkan informasi tentang penyakitnya. (Bandung: CV. hlm. Hukum Kedokteran. hlm. ia tetap tinggal korban paternalisme. Terj K. Pengantar Bioetika (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 56 55 Wila Chandrawila Supriadi.54 Dalam pelaksanaan untuk mendapatkan pemeliharaan kesehatan. Kemungkinan untuk memperoleh informasi merupakan syarat untuk menjalankan otonomi.

dan dokumen tentang identitas pasien.57 f. maka tidak bisa dihindarkan konsekuensi bahwa ia mempunyai hak juga untuk menolak pengobatan. maka orang akan enggan mencari bantuan medis. d. Dokter pertama akan memberikan seluruh hasil pekerjaannya kepada dokter kedua. . hal ini sebagai dasr bagi relasi antara dokter dan pasien. Hak atas pendapat kedua Yang dimaksud dengan pendapat kedua ialah adanya kerjasama antara dokter pertama dengan dokter kedua. 20. Hak untuk menolak pengobatan Jika seseorang mempunyai hak untuk memberi persetujuan dengan suatu pengobatan_atas dasar informasi yang diberikan sebelumnya. hlm. tindakandan pelayanan lain kepada pasien pada sarana pelayanan kesehatan. tetapi atas inisiatif pasien. Jika konfidensialitas tidak dapat dijamin. pengobatan.38 c. Kerjasama ini bukan atas inisiatif dokter yang pertama. Penolakan seperti ini sebagai perwujudan otonomi pasien dalam hak menentukan dirinya. pemeriksaan.. 57 Ibid. Kebutuhan pasien atas catatan medis sebagai dasar pengetahuan untuk melaksanakan hak otonominya. Catatan medis di rumah sakit Rekam medik adalah berkas yang berisi catatan. Hak atas privacy Konfidensialitas dan perlindungan informasi yang diperoleh tenaga medis dalam hubungan dengan pasiennya adalah sangat penting.

yaitu jangan berusaha untuk menyembuhkannya. hlm. maka setiap dokter perlu menghayati etika kedokteran . 79. Petrus Yoyo Karyadi. Ada batas ketika penyembuhan tidakberdaya lagi. karena ini berarti membohongi diri sendiri dan pasiennya……. Para dokter. Dari pandanag Hippocrates tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa dokter tidak lagi mengobati penyakit-penyakit yang sebenarnya tidak perlu diobati atau 58 Djoko Prakoso. menyingkirkan penyakit. Dengan demikian. Dokter harus mengenali dan menerima kedatangan saatsaat maut bagi pasiennya. dan tidak mengobati kasus-kasus yang tidak memerlukan pengobatan. atau menganjurkan kepada mereka untuk tujuan itu. sehingga kemulyaan profesi dokter tersebut tetap terjaga dengan baik. harus memenuhi segala syarat keahlian dan pengertian tentang susila jabatan. umumnya semua pejabat dalam bidang kesehatan.39 3. Pandangan Kode Etik Kedokteran Tugas profesional dokter begitu mulia dalam pengabdiannya kepada sesama manusia dan tanggung jawab dokter makin tambah berat akibat kemajuan-kemajuan yang dicapai oleh ilmu kedokteran. Euthanasia. Euthanasia. 59 .58 Di antara sumpah Hippocrates adalah sebagai berikut:59 Ilmu kedokteran adalah upaya untuk menaggulangi penderitaan si sakit. Pada umumnya kode etik tersebut didasarkan pada sumpah Hippocrates. Manusia pada akhirnya akan mati. Hal tersebut diinsyafi oleh para dokter diseluruh dunia. dokter tidak dapat berharap ia akan dapat menyembuhkan setiap pasiennya. bahkan sebagai seorang yang berpengetahuan ia harus menunjukannya dengan perbuatan. Kalau dalam prakteknya disertai oleh norma-norma etik dan moral. hlm. Dan pastinya di setiap Negara mempunyai kode etik kedokteran sendiri-sendiri. Keahlian dibidang ilmu dan teknik baru dapat memberi manfaat yang sebesarbesarnya. Saya tidak akan memberikan obat yang mematikan kepada siapapun meskipun dimintanya. 83-84.

meskipun hal itu kadang-kadang akan terpaksa melakukan tindakan medik lain misalnya operasi yang membahayakan.).35. 1980). kemampuan berfikir dan mengumpulkan Ratna Suprapti Samil (ed. Kode Etik Kedokteran Indonesia. diuraikan bahwa segala perbuatan terhadap si sakit bertujuan memelihara kesehatan dan kebahagiaannya.40 tidak membohongi pasien yang sebenarnya sudah tidak memerlukan obat. Hippocrates tetap menolak tindakan euthanasia aktif. Disamping itu dokter tidak harus terus berupaya mengobati penyakit-penyakit yang tidak dapat disembuhkan kembali. yang selalu mengandung resiko. Tindakan ini diambil setelah diperhitungkan masak-masak bahwa tidak ada jalan lain untuk menyelamatkan jiwa si sakit selain pembedahan. Apabila pengobatan atau perawatan sudah tidak ada gunanya. hlm. maka dokterpun sudah tidak berkompeten lagi untuk melakukan medikasi terhadap pasiennya. Salah satu pasal dari Kode Etik Kedokteran Indonesia yang relevan dengan masalah euthanasia. Dan berarti hippocrates tidak akan memberikan obat yang memetikan sekalipun pasien telah memeintanya. 60 . (Jakarta: Metro Kencana. adalah pasal 9 yang berbunyi: "Seorang dokter harus senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi hidup makhluk insani. Dalam situasi apapun keadaan pasien. Misalnya dengan memberikan resep tetentu atau dengan memberikan medikasi lainnya."60 Dalam penjelasan pasal 9 di atas. Naluri terkuat dari makhluk hidup termasuk manusia adalah mempertahankan hidupnya. Dengan sendirinya dokter harus mempertahankan dan memelihara kehidupan manusia. Untuk itu manusia diberi akal.

Dokter adalah orang yang menyelamatkan atau memelihara kehidupan. bukan orang yang menentukan kehidupan itu sendiri (life savers. Bila dirasakan penyakit pasien sudah tidak dapat disembuhkan kembali. Jadi. Hal ini. jelas bahwa Kode etik kedokteran Indonesia melarang tindakan euthanasia aktif. Dengan demikian. not life judgers). perawatan (pengobatan) seperlunya masih tetap dilakukan. berarti doktert dilarang mengakhiri hidup pasien (euthanasia).61 Sebetulnya kode etik kedokteran Indonesia sudah lama berorientasi pada pandangan-pandangan Hippocrates yang telah lama menerima euthanasia pasif. Tidak perlu mengakhiri hidupnya. dokter tidak boleh bertindak sebagai Tuhan (don’t play god). not pro death. misalnya mencari keuntungan sebesar-besarnya di atas penderitaan orang lain. Medical ethics must be pro life. hlm. 62 . Dengan kata lain. dan juga tidak perlu berusaha keras untuk mempertahankan kehidupannya. Ia harus berusaha memelihara dan mempertahankan hidup makhluk insani. apalagi dengan motif-motif tertentu.86 Ibid.62 61 Petrus Yoyo Karyadi. Akan tetapi. Euthanasia. walaupun menurut ilmu kedokteran dan pengalamannya pasien tidak mungkin sembuh. Begitu juga dengan kode etik kedokteran Indonesia. berarti ia juga menerima euthanasia dalam bentuk pasif. maka lebih baik dokter membiarkan pasien meninggal dengan sendirinya. membangun dan mengembangkan ilmu untuk menghindarkan diri dari bahaya maut adalah merupakan tugas dokter. karena kematiannya sudah tidak dapat dihindarkan lagi.41 pengalamannya. Asalkan jangan mengadaada melakukan tindakan medik (yang sebetulnya tindakan medik itu sudah tidak diperlukan lagi).

Pasien yang benar-benar menderita atas penyakitnya. atau bahkan berusaha menyembuhkan penyakit selama masih dimungkinkan. adalah apa yang terdapat di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Indonesia. tetapi satu-satunya pasal yang lebih mengena yaitu pasal 344.42 Adalah tugas ilmu kedokteran untuk memebantu meringankan penderitaan pasien.63 Dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) pasal yang menyinggung masalah euthanasia ini secara pasti tidak ada. 1996). R. Tetapi bagaimanapun karena masalah euthanasia menyangkut soal keamanan dan keselamatan nyawa manusia. memang belum ada pengaturan (dalam bentuk undang-undang) yang khusus dan lengkap tentang euthanasia. Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) serta komentar-komentarnya lengkap pasal demi pasal.243 64 . khususnya pasal-pasal yang membicarakan masalah kejahatan nterhadap nyawa manusia. 5. dari pasal 338 sampai pasal 350 KUHP. walaupun kadang-kadang dari tindakan peringanan tersebut dapat mengakibatkan hidup pasien diperpendek secara perlahan-lahan (euthanasia tidak langsung). yaitu:64 63 Imron Halimi. maka harus dicari pengaturan atau pasal yang sekurang-kurangnya sedikit mendekati unsur-unsur euthanasia itu. buku II. Maka satusatunya yang dapat dipakai sebagai landasan hukum. (Bogor: Politeia. hlm. Euthanasia. Euthanasia dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) Di Indonesia dilihat dari perundang-undangan dewasa ini. Soesilo. pada Bab XIX. hlm.149-150. buku II. yang dapat dijumpai dalam Bab XIX. sudah menjadi tugas dokter untuk ikut membantu meringankan penderitaanya.

dan unsur sungguh (ernstig). jika tidak maka orang itu dikenakan pembunuhan biasa. Euthanasia. harus dapat dibuktikan baik dengan adanya saksi atau pun oleh alat-alat bukti lainnya. unsur permintaan yang tegas (unitdrukkelijk).71. Petrus Yoyo Karyadi.65 dan haruslah mendapatkan perhatian. 344 KUHP 65 Ibid. hlm. yang disebutkan dengan nyata dan dengan sungguh-sungguh. yaitu: 1) Euthanasia aktif atas permintaan pasien Pasal.43 Barang siapa menghilangkan jiwa orang lain atas permintaan orang itu sendiri. euthanasia dapat diuraikan sebagai berikut:67 a.54-71 66 67 . Euthanasia aktif terbagi dalam tiga kelompok. Djoko Prakoso. Euthanasia. Euthanasia aktif Euthanasia aktif terjadi apabila dokter atau tenaga medis lainnya secara sengaja melakukan suatu tindakan untuk mengakhiri atau memeperpendek (mengakhiri) hidup pasien. kalimat “permintaan sendiri yang dinyatakan dengan kesungguhan hati” harus disebutkan dengan nyata dan sungguh-sungguh (ernstig). dihukum penjara selama-lamanya dua belas tahun. maka agar lebih mudah untuk difahami perlu diterangkan dan dibagi secara lebih terperinci. karena unsur inilah yang akan menentukan apakah orang yang melakukannya dapat dipidana berdasar pasal 344 KUHP atau tidak. Dalam pasal di atas.66 Masalah euthanasia ini merupakan masalah yang kompleks dari segi sifatnya. Agar unsur ini tidak disalahgunakan. Ditinjau dari segi yuridis. hlm. maka dalam menentukan benar tidaknya seseorang telah melakukan pembunuhan karena kasihan ini.

340. KUHP 4) Euthanasia tidak langsung Euthanasia tidak langsung terjadi apabila dokter atau tenaga medis lainnya tanpa maksud mengakhiri hidup pasien melakukan tindakan medis untyuk meringankan penderitaan pasien. Euthanasia pasif Euthanasia pasif terjadi terrjadi apabila dokter atau tenaga medis lainnya secara sengaja tidak memberikan bantuan medik terhadap pasien yang dapat memperpanjang hidupnya.44 2) Euthanasia aktif tanpa permintaan pasien Pasal. walaupun dengan mengetahui adanya resiko bahwa dari tindakan medik tersebut dapat mengakibatkan hidup sipasien diperpendek. euthanasia tidak langsung terbagi kedalam tiga kelompok. Euthanasia tidak langsung tanpa permintaan pasien Pasal. 304. 340 KUHP 3) Euthanasia aktif tanpa sikap dari pasien Pasal. 340. Euthanasia tidak langsung atas permintaan pasien Pasal. 359 c). 344. 338. yaitu: a). 359 b). yaitu: . Untuk dapat memudahkan euthanasia pasif ini juga dibedakan menjadi tiga. Seperti halnya dengan euthanasia aktif. Euthanasia tidak langsung tanpa sikap pasien Pasal. 359 b.

" 68 R. perawatan atau pemeliharaan pada orang itu karena hukum yang berlaku atasnya atau karena menurut operjanjian.45 1)." Pasal. 338 KUHP: "Barang siapa dengan sengaja menghilangkan jiwa orang lain. yang disebutkannya denagn nyata dan dengan sungguh-sungguh.223-248 . Soesilo. 306 KUHP: "Kalau salah satu perbuatan ini menyebabkan orang mati. sedang ia wajib memberi kehidupan. pasal-pasal tersebut adalah:68 Pasal. Euthanasia pasif tanpa permintaan pasien Pasal.500. Pasal. karena makar mati. 4. Euthanasia pasif atas permintaan pasien Tidak dihukum 2). dihukum penjara selama-lamanya dua belas tahun." Pasal. hlm. sitersalah itu dihukum penjara selam-lamanya sembilan tahun. 344 KUHP: "Barangsiapa menghilangkan jiwa orang lain atas permintaan orang itu sendiri. dihukum. 304 jo 306 (2) 3). KItab undang-undang. 304 jo 306 (2) Maka agar dapat mengetahui hukuman atas tindakan tersebut perlu disebutkan pasal-pasalnya. dihukum penjara selama-lamanya dua tahun delapan bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp. dengan hukumkan penjara selama-lamanya lima belas tahun. Euthanasia pasif tanpa sikap pasien Pasal. 304 KUHP: Barangsiapa dengan sengaja menyebabkan atau membuarkan orang dalam kesengsaraan.

warna kulit dan ideologi. . tentang keamanan dan keselamatan nyawa manusia Indonesia dijamin oleh undang-undang." Kalau diperhatikan bunyi pasal-pasal mengenai kejahatan terhadap nyawa manusia dalam KUHP tersebut. maka dapatlah kita dimengerti betapa sebenarnya pembentuk undang-undang pada saat itu (zaman Hindia Belanda) telah menganggap bahwa nyawa manusia sebagai miliknya yang paling berharga.46 Pasal. Adalah suatu kenyataan sampai sekarang bahwa tanpa membedakan agama. Demikian halnya terhadap masalah euthanasia ini. Oleh sebab itu setiap perbuatan apapun motif dan macamnya sepanjang perbuatan tersebut mengancam keamanan dan keselamatan nyawa manusia. ras. 359 KUHP: "Barangsiapa karena salahnya menyebabkan matinya orang dihukum penjara selama-lamanya lima tahun atau kurungan selama-lamanya satu tahun. maka hal ini dianggap sebagai suatu kejahatan yang besar oleh negara.

al-qisas dan al-jarah. Hal ini terlihat. Kaidah Fiqh Jinayah (asas-asas hukum pidana Islam). melainkan juga menyediakan aturan-aturan yang bersifat imperatif. al-bughat (pemberontakan). Aturan-aturan tersebut dikelompokan oleh para ulama dalam bab fiqh dengan nama al-hudud. aljarah (penganiayaan atau pelukaan). as-sariqah (pencurian). bukan sekedar ancaman di akhirat. 2004) hlm.69 Istilah yang umum bagi aturan tersebut adalah al-jinayat yang sering kali diartikan dengan Hukum Pidana Islam. (Bandung: Pustaka Bani Quraisy. 69 .47 BAB III PRINSIP-PRINSIP FIQH JINAYAH A. syurb al-khamr (minum-minuman keras). dan al-qatl (pembunuhan). diantaranya dari aturanaturan yang berkenaan dengan jarimah az-zina (perzinaan). Pengertian Fiqh Jinayah Salah satu kesempurnaan syariat Islam adalah adanya aturan-aturan yang berkenaan dengan hukum publik. Baik dalam alQur'an maupun as-Sunah terdapat sanksi-sanksi yang mengikat yang harus ditegakan di dunia. al-hirabah (perampokan). Makna sempit al-Jinayat sejajar dengan makna al-qisas. Islam tidak sekedar mengajarkan ajaran moral saja. Kata al-Jinayat memiliki makna sempit dan makna luas. ad-dima atau Jaih Mubarok dan Enceng Arif Faizal. addima. ar-riddah (keluar dari Islam atau murtad).1. al-qadžaf (tuduhan zina).

jiwa.48 al-jarah. Walaupun demikian. baik berkenaan dengan tubuh. Jinayah adalah semua perbuatan yang diharamkan. perbuatan salah atau jahat. Jinayah. maupun dengan hal-hal lainnya seperti kehormatan. akal.4. dan agama. jiwa.71 Abdul Qadir Audah dalam kitabnya at-Tasyri' al-Jina'i al-Islami menjelaskan arti kata jinayah sebagai berikut: Abd al-Qadir 'Awdah. harta. keturunan. Perbuatan yang diharamkan adalah tindakan yang dilarang atau dicegah oleh syara' (Hukum Islam). Kedua istilah ini secara etimologis mempunyai arti dan arah yang sama. kedua istilah berbeda dalam penerapan kesehariannya. Hukum Pidana Islam (fiqh jinayah). II:. 1992). 2001) hlm. (Beirut: Muassasat al-Risalat. yaitu setiap perbuatan yang dilarang. pada dasarnya kata jinayah artinya perbuatan dosa. at-Tasyri' al-Jina'i al-Islami Muqaranah bi al-Qanun al-Wadh'i. Dengan demikian. Sedangkan makna aljinayat secara luas sejajar dengan al-jarimat. ada dua istilah penting yang terlebih dahulu harus dipahami. Apabila dilakukan perbuatan tersebut mempunyai konsekuensi membahayakan agama. dan harta benda. 71 70 Rahmat Hakim.12 .70 Dalam mempelajari Fiqh Jinayah. akal. (Bandung: CV. kedua istilah tersebut harus diperhatikan dan difahami agar penggunaannya tidak keliru. Pustaka Setia. kehormatan. Pertama adalah istilah jinayah itu sendiri dan kedua adalah jarimah. istilah yang satu menjadi muradif (sinonim) bagi istilah lainnya atau keduanya bermakna tunggal. yaitu setiap perbuatan yang dilarang (haram) berkenaan dengan penganiayaan terhadap tubuh dan penghilangan jiwa manusia. Selain itu.

pembahasan fiqh yang memuat masalah-masalah kejahatan. 74 73 Rahmat Hakim. Seperti jarimah pencurian. Fadhli Bakri. Hukum. yaitu ditujukan bagi sesuatu yang ada sangkut pautnya dengan kejahatan manusia dan tidak ditujukan bagi satuan perbuatan dosa tertentu. atau dosa. (Jakarta: Darul Falah. hlm. Misalnya. pelanggaran yang 72 Abd Qadir Audah. Semua itu disebut dengan istilah jarimah yang kemudian dirangkaikan dengan satuan sifat perbuatan tadi. 358. Adapun pengertian jarimah segala tindakan yang diharamkan syari'at.73 Jarimah bisa dipakai sebagai perbuatan dosa –bentuk. perkosaan.15 . pembunuhan. atau perbuatan yang berkaitan dengan politik dan sebagainya. atau sifat dari perbuatan dosa tersebut. jarimah pembunuhan. atau ta'zir (sanksi disiplin) kepada pelakunya. al-Ahkam as Sultaniyah (Prinsip-prinsip Penyelenggaraan Negara Islam.49 ‫الجناية لغة اسم لما يجنيه المرء من شر ما اكتسب واصطلحا‬ ‫اسم لفعل محرم شرعا سواء وقع الفعل على نفس او مال او غير‬ 72 ‫ذالك‬ Kata jarimah mengandung arti perbuatan buruk. pencurian. II: 4 Imam al-Mawardi. hlm. macam.74 Adapun dalam pemakaiannya kata jinayah lebih mempunyai arti lebih umum (luas). jarimah perkosaan dan lain-lain. jelek. 2000). terj. Oleh karena itu. at-Tasyri'. Jadi pengertian jarimah secara harfiyah sama halnya dengan pengertian jinayah. Allah ta'ala mencegah terjadinya tindak kriminal dengan menjatuhkan hudud (hukum syar'i).

jarimah dapat dibedakan menjadi tiga. hlm. Perbuatan yang 75 Ibid. Pertama. hakim tidak mempunyai kewenangan untuk mempertinggi atau memperendah hukuman bila si pelaku telah terbukti melakukan jarimah tersebut. minum-minuman keras. jarimah qisas yaitu jarimah yang hukumannya telah ditetapkan oleh syara'. Pada jarimah qisas. Kedua. 110-111. 76 .50 dikerjakan manusia. keluar dari Islam dan memberontak. Unsur moral adalah orang yang melakukan perbuatan pidana tersebut terkena taklif atau orang yang telah mukallaf. menuduh zina. mencuri. Unsur material adalah adanya perbuatan pidana. merampok. dan hukuman yang diancamkan kepada pelaku tersebut disebut Fiqh jinayah bukan Fiqh jarimah. ada tiga unsur seseorang dianggap telah melakukan perbuatan jarimah. baik melakukan perbuatan yang dilarang atau meninggalkan perbuatan yang diperintahkan. Jarimah yang termasuk jarimah hudud adalah jarimah zina. jarimah hudud yaitu jarimah yang hukumannya telah ditetapkan baik bentuk maupun jumlahnya oleh syara'. dan unsur moral (ar-rukn al-adabi). hukuman bisa berpindah kepada ad-diyat (denda) atau bahkan bebas dari hukuman.75 Secara umum.76 Dilihat dari sanksi yang telah ditetapkan atau tidak oleh syara'. Ia menjadi hak Tuhan. unsur material (ar-rukn al-madi). yaitu unsur formal (ar-rukn asy-syar'i). Unsur formal adalah adanya nas yang melarang perbuatan-perbuatan tertentu disertai dengan ancaman hukuman atas perbuatanperbuatan tersebut. Abd Qadir Audah. apabila korban atau wali korban memaafkan pelaku. namun ada perbedaan dengan jarimah hudud dalam hal pengampunan. at-Tasyri'.

Adapun maksud yang Para ulama berbeda pendapat dalam membagi jarimah qisas. semi sengaja. melainkan diberikan kepada negara kewenangannya untuk menetapkannya sesuai dengan tuntutan kemaslahatan. 1968). Anwar Harjono. lihat. hlm.51 termasuk dalam jarimah qisas adalah pembunuhan dan pelukaan.161.159 A.(Jakarta: PT. Sebagian Hanafiyah membaginya menjadi empat. Maksudnya adalah semisal. at-Tasyri'. Hukum Islam keluasan dan keadilannya. Ta'zir berasal dari 'azzara. Ulama Malikiyah membaginya menjadi dua.77 Ketiga. yaitu pelukaan sengaja dan kekeliruan. Sebagian Hanafiyah lainnya membaginya menjadi lima dengan menambahkan pembunuhan secara tidak langsung. II: 7-9. yang menurut bahasa berarti mencela. (upaya menanggulangi kejahatan dalam Islam). yaitu pembunuhan sengaja. 1997). dan kekeliruan. Pembunuhan terbagi kepada tiga. Para fuqaha mengartikan ta'zir dengan hukuman yang tidak ditemukan dalam alQur'an dan al-Hadis yang berkaitan dengan kejahatan yang melanggar hak Allah dan hak hamba yang berfungsi untuk memberi pelajaran kepada si terhukum dan mencegahnya supaya tidak mengulangi kejahatan serupa. seumpama (al-Mumasilah). Qisas Kata qisas kadang-kadang dalam hadis disebut dengan kata qawad. sedang menurut istilah berarti peraturan larangan yang perbuatan-perbutan pidananya dan ancaman hukumannya tidak secara tegas-tegas disebutkan dalam al-Qur'an. 79 78 77 . tetapi diserahkan sepenuhnya kepada kebijaksanaan hakim/penguasa. hlm. Sedangkan pelukaan terbagi menjadi dua. Djazuli. Jumhur membaginya menjadi tiga dengan menambahkan pembunuhan semi sengaja. (Jakarta: Bulan Bintang. yaitu: pembunuhan sengaja dan kekeliruan.79 B. dengan menambahkan pembunuhan serupa kekeliruan. Jarimah Qisas-Diyat 1. Raja Grafindo Persada. Fiqh jinayah. Lihat abd alqadir 'awdah. jarimah ta'zir78 yaitu jarimah yang hukumannya tidak ditetapkan baik bentuk maupun jumlahnya oleh syara'.

as-Sunnah. bentuk jarimah ini ada dua. Dia dibunuh kalau dia membunuh dan dilukai kalau dia melukai atau menghilangkan anggota badan orang lain. Abdul Qadir Audah mendefinisikan qisas sebagai keseimbangan atau pembalasan terhadap si pelaku tindak pidana dengan sesuatu yang seimbang dari apa yang telah diperbuatnya. Al-Baqarah (2): 179 Rahmat Hakim. seperti membunuh.80 Qisas diakui keberadaannya dalam al-Qur'an. hlm. Hal ini ditegaskan dalam al-Qur'an:81 . Dalam ungkapan lain adalah pelaku akan menerima balasan sesuai dengan perbuatan yang dia lakukan. menghilangkan anggota badan dengan sengaja. Bahkan ulama Hanafiyah berpendapat bahwa pelaku pembunuhan sengaja harus diqisas (tidak boleh diganti dengan harta).125. ‫و لكم فى القصاص حياة يا اولى اللباب‬ Qisas adalah hukuman pokok bagi perbuatan pidana dengan objek sasaran jiwa atau anggota badan yang dilakukan dengan sengaja.52 dikehendaki syara' adalah kesamaan akibat yang ditimpakan kepada pelaku tindak pidana yang melakukan pembunuhan atau penganiayaan terhadap korban. kecuali ada kerelaan dari kedua pihak. Hukuman ini disepakati oleh para ulama. Hukum pidana Islam.82 Sanksi pokok dalam pembunuhan sengaja yang telah di-naskan dalam alQuran dan al-Hadis adalah qisas. hlm. Ulama 80 Rahmat Hakim. Hukum Pidana Islam. 125 81 82 . yaitu pembunuhan sengaja dan penganiayaan sengaja. melukai. Oleh karena itu. demikian pula akal memandang bahwa disyariatkannya qisas adalah demi keadilan dan kemaslahatan.

(Beirut: Dar al-Fikr. riwayat sufyan dari amr dan tawus 87 86 . dalam al-Hadis disebutkan:87 83 Wahbah az-Zuhaili. al fiqh. 4539. maka tidaklah qisas apabila pelakunya adalah anak kecil atau orang gila.53 Syafi'iyyah menambahkan bahwa disamping qisas pelaku pembunuhan juga wajib membayar kaffarah. Al-fiqh al-Islam wa Adillatuh. al-Muhazzab. kitab ad-Diyah. (Semarang: Maktabah Ahmad bin Said bin Nabhan. Sunan Abi Dawud. hlm. karena mereka tidak punya niat/maksud yang sah. seandainya bagi pelaku pembunuhan sengaja wajib membayar kaffarah. 2). Bab Man Qatala fi 'immiya baina qaumain (Beirut: Dar al-Fikr.296 Wahbah az-Zuhaili. maka tempatnya juga terbatas yaitu hanya pada pembunuhan karena kesalahan.). hadis nomor. 1991) VI:261 Ibid.. t. Pembunuh menyengaja perbuatannya. Syarat-syarat bagi pembunuh Syarat-syarat bagi pembunuh ada tiga yaitu: 1). Di dalam al-Quran sendiri tidak mewajibkan kaffarah.t. Sedangkan pembunuhan sengaja adalah neraka jahannam.84 Ada beberapa syarat yang diperlukan untuk dapat dilaksanakannya qisas yaitu:85 a. pasti al-Quran menjelaskan secara detail.83 Ulama berbeda pendapat tentang sanksi bagi pembunuhan sengaja yang berupa kaffarah.86 Begitu juga dengan orang yang tidur/ayan. karena perbuatannya tidak dikenai taklif. VI: 297 84 85 Abu Ishaq Ibrahim ibn Ali ibn Yusuf al-Fairuz Abadi asy-Syairazi. Pembunuh adalah orang mukallaf (balig dan berakal). II:173 Abu Dawud. menurut jumhur ulama bahwa kaffarah dalam pembunuhan sengaja tidak wajib karena kaffarah adalah ketentuan syariah untuk beribadah. IV: 183. 1988).

245. 89 88 . (Beirut: Dar Ihya al-Kitab al-Arabiyah. (riwayat at-Tirmidzi dan ibn Majah). tetapi menurut jumhur tetap diqisas walaupun dipaksa. II: 769. maka menurut Hanafiyah tidak diqisas. Syarat-syarat bagi yang terbunuh/korban Syarat-syarat bagi yang terbunuh (korban) ada tiga. Pembunuh mempunyai kebebasan bukan dipaksa. statemen ini dikemukakan oleh jumhur (selain Ibn Majah.t.54 ‫من قتل عمدا فهو قود‬ 3). Sunan Ibn Majah. Korban bukan anak/cucu pembunuh (tidak ada hubungan bapak dan anak). Kitab al-Jinayah.). murtad. jika orang muslim atau zimmi membunuh mereka. hadis nomor: 2291.). Korban adalah orang yang dilindungi darahnya. tidak diqisas ayah/ibu. t. penganut zindiq dan pemberontak.t. riwayat jabir ibn Abdullah. artinya jika membunuhnya karena terpaksa. Bulug al-Maram. pezina muhsan. Kitab at-Tijaroh. hlm. yaitu: 1). hadis nomor 1191. Al-Hafiz Ibnu Hajar al-'Asqalani. kakek/nenek yang membunuh anak/cucunya sampai derajat kebawah berdasarkan pada hadis: 88 ‫أنت ومالك لابيك‬ 89 ‫ل يقاد الوالد بالولد‬ 3). Korban sama derajatnya dengan membunuh dalam Islam dan kemerdekaannya. t. maka hukum qisas tidak berlaku. b. Bab ma li ar rajul min ma li waladih. Adapun yang dipandang tidak dilindungi darahnya adalah kafir harbi. (Bandung: Maktabah Dahlan. 2).

kalimat jiwa dibalas dengan jiwa" menunjukan bahwa dasar qisas itu adalah hilangnya jiwa atau nyawa sehingga tidak ada perbedaan antara orang merdeka dengan hamba atau muslim dengan kafir. tapi cukup persamaan dalam kemanusiaannya. bukan kafir zimmi atau musta'min. 167.55 Hanafiyah).93 Hal ini dikuatkan oleh sebuah hadis yang menyatakan bahwa Nabi pernah melaksanakan qisas terhadap muslim yang membunuh Yahudi. Dengan ketentuan ini maka tidak diqisas seorang Islam yang membunuh orang kafir. Al-Maidah (5): 45 Jaih Mubarok. ayat di atas menunjukkan bahwa dalam qisas tidak harus ada kesetaraan. Al-Baqarah. hlm165. Allah berfirman: 91 ‫يا أيها الذين أمنوا كتب عليكم القصاص في القتلى‬ 92 ‫و كتبنا عليهم فيها ان النفس بالنفس‬ Menurut Hanafiyah. Hlm. sebagaimana terlihat dalam hadis berikut: 90 Jaih Mubarok.(2): 178. Adapun hadis nabi yang menyatakan bahwa "muslim tidak diqisas karena membunuh kafir". orang merdeka yang membunuh budak. 91 92 93 . mereka berargumen dengan keumuman ayat qisas yang tidak mendiskriminasikan antara satu dengan yang lainnya. Kaidah Fiqh jinayah. Kaidah fiqh jinayah.90 Ulama Hanafiyah tidak mensyaratkan persamaan dalam kemerdekaan dan agamanya. kafir yang dimaksud adalah kafir harbi. Sebab.

kaidah fiqh jinayah. wali korban dari suatu kabilah (terutama kabilah yang kuat) meminta balasan yang lebih dari seharusnya. 167-168. Pada masa jahiliyah. Misalnya.56 ‫أن النبي صلي ال عليه وسلم أقاد مسلما قتل يهوديا وقال‬ 94 ‫الرمادي أقاد مسلما بذمي وقال أنا أحق من وفي بذمته‬ Sedangkan ayat yang dijadikan landasan oleh jumhur yang menyatakan bahwa "orang merdeka dengan orang merdeka". dan "wanita dengan wanita". korban yang terbunuh dari suatu kabilah adalah laki-laki merdeka. Ayat tersebut menjelaskan bahwa orang yang harus diqisas adalah pembunuhnya. dan wanita dengan wanita". (Dar al-Nahdah al-Arabi.95 Ali bin 'Amr Abu al-Husayn al-Daruqutni al-Bagdadi. "hamba dengan hamba". sedangkan pembunuhnya (dari kabilah lain) adalah seorang wanita. al-Qisas wa al-Hayat: Dirasah Muqaranah bain asy-Syari'ah al-Islamiyah wa al-Qanun al-Wad'i. Wali korban beserta kabilahnya meminta balasannya tidak sekedar wanita yang membunuh tetapi ditambah dengan laki-laki merdeka. meskipun kedudukannya lebih rendah. h. 95 Jaih mubarok. 93-94.Lihat Muhammad 'abd al-Hamid Abu Zayd. hlm. Sebab ayat tersebut dimaksudkan untuk menjawab kebiasaan jahiliyah yang menerapkan qisas secara berlebihan. Kitab alHudud wa ad-Diyyat wa Gairuh. (Bayrut: Alam al-Kutb. tidak menunjukkan adanya kafaah. hanya sekedar mencontohkan pelaku dan korbannya dengan tidak menafikan kebalikannya. III: 135. Permintaan ini seringkali menimbulkan konflik (bahkan sampai terjadi peperangan) antar kabilah jika tidak dipenuhi. Kalimat "orang merdeka dengan orang merdeka". 1982). Sunan ad-Daruqutni. "hamba dengan hamba". 94 . 1986).

jika tidak. jika tidak langsung.57 Adapun berkenaan dengan laki-laki muslim dengan perempuan muslim. Syarat-syarat bagi wali korban Menurut Hanafiyah. III: 80. untuk dapat dikenakan qishas. Syarat-syarat bagi perbuatannya Hanafiyah mensyaratkan. Sunan Abi Dawud. wali korban yang berhak untuk mengqisas haruslah orang yang diketahui identitasnya. at-Tasyri'. Bab fi as-Sariyyah. II: 132. baik pembunuhan itu langsung atau karena sebab. Kedudukan mereka setara dalam hal qisas. Sedangkan jumhur tidak mensyaratkan itu. maka hanya dikenai membayar diyat. para fuqaha sepakat bahwa di antara mereka tidak ada perbedaan. Hal ini didasarkan atas keumuman ayat yang menyatakan bahwa "jiwa dibalas denga jiwa" dan sabda Nabi saw berikut: 96 ‫المسلمون تتكافأ دماؤهم‬ c. Tidak ada perbedaan antara tua dengan muda atau sehat dengan sakit. pelakunya wajib dikenai qishas karena keduanya berakibat sama. maka tidak wajib diqisas. riwayat Kutaibah bin Sa'id dari ibn Ishaq dan Yahya bin Sa'id. karena tujuan dari diwajibkanya qisas adalah pengokohan dari pemenuhan Abu Dawud. . 97 96 Abddul Qadir Audah.97 d. tindak pidana pembunuhan yang dimaksud harus tindak pidana langsung bukan bukan karena sebab tertentu. Kitab aj-Jihad.

maka orang tua korban juga harus diqisas. 2) Perbedaan derajat antara pelaku dan korban pembunuhan dalam keIslaman dan kemerdekaannya. Sedangkan pembunuhan dari orang yang tidak diketahui identitasnya akan mengalami kesulitan dalam pelaksanaanya. Ini terjadi karena adanya kemungkinan masuknya unsur syubhat sehingga qisas tidak bisa dilaksanakan. dan tidak melakukan secara langsung. hal ini selama tidak ada maksud membunuh yang dapat dibuktikan dengan qat'i. seperti pengintai atau penjaga pintu. maka menurut jumhur ulama orang yang tidak melakukan langsung itu hanya dita'zir. Berpijak pada keterangan tentang syarat-syarat qishas ada beberapa hal yang menghalangi dilaksanakannya qisas. Jika ternyata ada maksud membunuh. tetapi ternyata tidak semua yang menyepakati ikut hadir dalam pembunuhan.58 hak. tetapi Ulama Malikiyah memberi batasan. yaitu ada enam hal: 1) Keberadaan pembunuh sebagai orang tua korban Menurut para Fuqaha Mazhab. Berbeda dengan pendapat ulama malikiyah yang menyatakan bahwa orang yang hadir atau membantu walaupun tidak melakukan secara langsung. bantuan. 3) Ketidakadilan membunuh sesuai dengan yang telah disepakati. atau ia hanya memberikan semangat. tetap dikenai qisas jika terlibat dalam kesepakatan kejahatan itu. Ini menurut jumhur fuqaha kecuali Hanafiyah. apabila ada kesepakatan untuk melakukan pembunuhan. keberadaan pembunuh sebagai orang tua si terbunuh menghalangi dilaksanakannya qisas. Dan tiga syarat lagi menurut Hanafiyah yaitu: . Adapun hubungan suami isteri tidak menjadi halangan dilakukannya qisas.

Mereka boleh mengqisas/memaafkannya secara mutlak atau memaafkan dari qisas dengan membebani diyat sebagai penggantinya. yaitu: jika mereka 98 Wahbah az-Zuhaili. (2). Sunan. Para ulama madzhab sepakat bahwa sanksi yang wajib bagi pelaku pembunuhan sengaja adalah qisas.59 4) Pembunuhan itu terjadi secara tidak langsung (karena satu sebab tertentu) 5) Wali korban majhul (tidak diketahui identitasnya) 6) Pembunuhannya terjadi di Dar al-kuffar98 Qisas wajib dikenakan setiap pembunuh. Tetapi tidak berarti wali terbatas dalam menentukan sikapnya. VI: 274-275. maka tidak ada kewajiban bagi pelaku untuk membayar diyat. Logika dari statement ini adalah: jika wali korban memaafkan secara mutlak (tidak menuntut diyat). IV: 183 99 100 . kecuali jika dimaafkan oleh wali korban. 178 Abu Dawud. tetapi pembunuh dengan kesadarannya. al-Fiqh. Al-Baqarah. Sesuai dengan ayat: ‫يا أيها الذين أمنوا كتب عليكم القصاص في القتلى الحر بالحر و‬ 99 ‫العبد بالعبد‬ 100 ‫من قتل عمدا فهو قود‬ Kedua dalil ini dengan tegas menyatakan bahwa hukum qisas bagi pembunuh adalah tertentu/pasti. tetapi wali korban mempunyai dua pilihan. Hanabilah berpendapat bahwa hukuman bagi pelaku pembunuhan sengaja tidak hanya qisas. hendaknya membayar diyat sebagai kompensasi pemberian maafnya wali.

Sahih al-Bukhari. Artinya. Artinya tuntutannya ini harus melalui pengadilan. X: 67 . Seandainya Allah mewajibkan qisas saja. Kemudian dari redaksi ayat tersebut berarti Allah mewajibkan al-Itba' karena adanya pemberian maaf dari wali. Karena dalam kaidah dasar syara' yang telah disepakati disebutkan bahwa pelaksanaan sanksi hudud. pelaku tetap berkewajiban membayar diyat. Dan jika ternyata wali korban memaafkan secara mutlak. (Beirut: Dar al-Fikr. 1981).60 menghendaki qisas. VIII: 38. bahkan pengganti dari qisas. Kitab ad-Diyah. alih bahasa H.103 Abu Abdullah Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim ibn al-Mughirah ibn Bardizbah al-Ja'fi al-Bukhari. tentu Allah tidak mewajibkan diyat apabila ada ampunan atau maaf wali secara mutlak. Dasar hukum yang digunakan adalah hadis rasulullah SAW: 101 ‫من قتل له قتيل فهو بخير النظرين اما ان يؤدي و اما ان يقاد‬ Dan firman Allah swt dalam al-Qur'an: 102 ‫فمن عفي له من أخيه شيئ فاتباع بالمعروف واداء اليه باحسان‬ Dari ayat ini dapat dipahami. jika wali korban mengampuni. fikih sunnah. Hal ini karena mereka berpendapat bahwa diyat adalah salah satu dari kerusakan jiwa. al-Maarif. jika terjadi pembunuhan hendaklah pelakunya diselidiki. 1997). namun keabsahan keluarga korban untuk melaksanakan ada dibawah wewenang hakim. wajib bagi pelaku membayar diyat. maupun ta'zir merupakan hak hakim. Tuntutan hukuman qisas merupakan hak para wali (keluarga korban). maka dilaksanakanlah hukum qisas tetapi jika menginginkan diyat maka wajiblah membayar diyat tanpa menunggu keridlaan pembunuh. qisas. 102 103 101 Al-Baqarah (2) : 178 Sayid Sabiq.A Ali (Bandung: PT.

laki-laki maupun perempuan. suami atupun isteri. seperti anak dan saudara kandung. 104 Abd Qadir Audah. Derajat atau kekuatan ahli waris perempuan tadi lebih kuat dibanding para asib. maka menurut Abu Hanifah. yaitu perempuan boleh bertindak sebagai pelaksana qisas dengan tiga persyaratan: a. Perempuan itu merupakan ahli waris terbunuh. semua asabah bin nafsi dengan prioritas. Tetapi jika anak perempuan kandung bersama adanya ayah. itu dapat melaksanakan qishas. II: 140 .104 Sedangkan menurut ulama Malikiyah yang berhak mengqisas adalah keluarga dari pihak ayah yang laki-laki. b. misalnya anak perempuan kandung bersama dengan adanya paman. sehingga bibi dari pihak ayah /ibu tidak boleh.61 Selanjutnya apabila pelaksanaan qisas akan dilakukan oleh para wali sendiri (bukan oleh hakim dan algojonya). Tetapi Malikiyah memberikan kelonggaran. at-Tasyri'. ia tidak dapat mengqisas. maka dikhususkan kepada asabah seperti dalam perwalian pernikahan. Hanabilah dan qaul rajihnya asy-Syafi'i yang berhak mengqisas adalah setiap ahli waris yang berhak mewarisi harta si korban baik zawil furud maupun asabah. keluarga yang dekat didahulukan dari pada keluarga yang jauh. Perempuan tidak boleh mengqisas karena qisas itu menghilangkan fitnah.

sedangkan hal tersebut telah tiada. b. karena jiwa pelakulah yang menjadi sasarannya. Dan menurut Malikiyah. Pendapat ini menurut Imam Ahmad serta salah satu pendapat Imam Syafii. Adanya ampunan dari seluruh atau sebagian wali korban dengan syarat pemberi maaf itu sudah balig dan tamyiz. maka gugurlah qisas atasnya.106 Hukuman qisas menjadi gugur dengan sebab-sebab sebagai berikut: a.. sebab hak dari mereka (para wali) adalah jiwa. maka dikecualikan saudara perempuan (tidak dapat mengqisas) karena adanya ibu.62 c. hlm. 141. Wahbah az-Zuhaili. 106 . Perempuan itu dalam derajatnya mempunyai laki-laki yang asabah. Matinya pelaku kejahatan Kalau orang yang akan menjalani qisas telah mati terlebih dahulu. tidak usah menunggu sampai baligh/sadarnya demi kemaslahatan pelaksanaan qisas itu sendiri. Pada saat itu diwajibkan ialah membayar diyat yang diambilkan dari harta peninggalannya. 105 Ibid. lalu diberikan kepada wali si terbunuh. al-Fiqh. Sedangkan menurut Imam Malik dan Hanafiyah tidak wajib diyat. Dengan demikian tidak ada alasan bagi para wali menuntut diyat dari harta peninggalan si pembunuh yang kini telah menjadi milik para ahli warisnya.105 Jika yang mengqisas masih kecil/gila maka ditunggu sampai kesempurnaannya dan diserahkan kepada hakim. VI: 280.

Perbedaan tersebut adalah sebagai berikut: Menurut Hanafiyah: ‫يسقط القصاص برضا المجني عليه‬ Gugurnya qisas disebabkan karena adanya kerelaan atau izin korban yang dapat dipersamakan dengan pemaafan. Adanya kerelaan/ izin korban. I: 440-441.108 e. Kaidah fiqh jinayah. pada dasarnya para fuqaha sepakat bahwa adanya kerelaan korban untuk dibunuh tidak membolehkan seseorang melakukan pembunuhan. al-Fiqh. Adanya penuntutan qisas. VI: 294. seperti kasus euthanasia.110 Pendapat Malikiyah yang rajih dan sebagian Syafi'iyah: ‫ل يسقط القصاص برضا المجني عليه‬ Perbedaannya dengan al-Afwu (pengampunan) adalah kalau sulh itu pengguguran qisas dengan ganti rugi (kompensasi). Telah terjadi sulh (rekonsiliasi) antara pembunuh dan wali korban. al-Fiqh. at-Tasyri'. Hlm.63 c. al-Tasyri'. Oleh karena itu.260. 109 110 . sedangkan al-Afwu terkadang pengampunan qisas secara mutlak.107 d. Akan tetapi mereka berbeda pendapat tentang posisi kerelaan tersebut dengan pemaafan korban atau wali korban yang dapat menggugurkan qisas atau diyat (bila dimaafkan secara mutlak). Jaih mubaraok. hlm. kerelaan itu menjadi syubhat yang dapat menggugurkan hudud. Selain itu. I: 777-778 dan lihat Wahbah az-Zuhaili. hukuman berpindah kepada diyat.171 Abd al-Qadir awdah. lihat Wahbah az-Zuhaili.109 Dalam hal adanya kerelaan/izin korban. 108 107 Abdul Qadir Audah.

Ibid. diyat artinya membayar tebusan dengan sejumlah harta benda karena perbuatan: 1.111 Pendapat Malikiyah yang arjah (lebih kuat) dan sebagian Syafi'iyah: ‫يسقط عقوبتى القصاص والدية برضا المجني عليه‬ Kerelaan korban dapat dipersamakan dengan pemaafan baik dari hukum asli (qisas) maupun penggantinya (diyat). dan 2. Pemaafan dari korban itu lebih utama dari pada keluarga sebab pemaafan itu menjadi hak bagi korban. pencederaan badan. Diyat Diyat113 adalah: 111 Ibid. 112 Menurut bahasa. Pembunuhan terhadap jiwa.112 2.64 Kerelaan korban tidak dapat dipersamakan dengan pemaafan karena kerelaan itu ada sebelum terjadi jarimah pembunuhan. Oleh karena itu. pembunuhan tersebut tetap merupakan pembunuhan sengaja yang harus dihukum dengan qisas. 113 . sedangkan pemaafan ada setelah terjadi jarimah. Sedangkan definisi menurut syar'i ialah wajibnya membayar sejumlah harta benda yang telah ditentukan syariat karena pembunuhan jiwa atau karena pencederaan badan.

dan lain sebagainya. yang wajib adalah seratus ekor unta bagi pemilik unta. Adapun dalil disyariatkannya diyat adalah firman Allah SWT: ‫ومن قتل مؤمنا خطأ فتحرير رقبة مؤمنة و دية مسلمة الى اهله‬ 115 ‫ال ان يصد قوا‬ Walaupun ayat ini dalam konteks pembunuhan bersalah namun para ulama sepakat akan wajibkan diyat dalam pembunuhan sengaja apabila qisas gugur karena suatu sebab. at-Tasyri'. Dua ratus ekor sapi bagi pemilik sapi. uang. seperti emas.65 ‫العقوبة البدلية الولى لعقوبة القصاص فإذا امتناع القصاص‬ ‫لسبب من اسباب المتناع او لسباب السقوط وجبت مالم يعف‬ 114 ‫الجانى عنها أيضا‬ Dengan definisi ini berarti diyat dikhususkan sebagai pengganti jiwa atau yang semakna dengannya. pakaian. Menurut kesepakatan ulama. yang kadar nilainya disesuaikan dengan unta. Pada mulanya pembayaran diyat menggunakan unta tetapi jika sulit didapatkan maka pembayarannya dapat menggunakan barang lainnya. perak. dua ratus ekor domba bagi 114 Abd Qadir 'Audah. artinya pembayaran diyat itu terjadi karena berkenaan dengan kejahatan terhadap jiwa/nyawa seseorang. II:261 An-Nisa (5): 92 115 .

"Kitab al-Jinayat".t). Sebagaimana Nabi SAW pernah bersabda:118 ‫ال وإن قتيل الخطأ شبه العمد بالسوط و العصا و الحجر مائة من‬ ‫البل فيها اربعون شنية الى بازل عمها كلهن خلفة‬ Jadi seratus ekor unta itu bila diperinci adalah: a. Nabi bersabda:119 116 Sayyid Sabiq. 118 . 119 Muhammad ibn Ismail ibn Shalah al-Amir al-Kahlani al-Shan'ani. X: 93 Wahbah az-Zuhaili. fikih sunnah. 40 ekor khilfah (unta yang sedang mengandung) Adapun diyat mukhafafah itu dibebankan kepada pelaku pembunuhan kesalahan. 117 An-Nasa'i. (Mesir: al-Bab al-Halabi. dan dua ratus stel pakaian untuk pemilik pakaian. dua belas ribu dirham untuk pemilik perak. "Bab ad-Diyat". Adapun diyat mugalazah menurut jumhur dibebankan kepada pelaku pembunuhan sengaja dan menyerupai sengaja.66 pemilik domba. 304. seribu dinar untuk pemilik emas. yang empat puluh di antaranya sedang mengandung. VIII: 36 diriwayatkan dari Qasim bin Rabi'ah. HR. Sedangkan menurut Malikiyah. Subul as-Salam Syarah Bulug al-Maram. t. yaitu diyat mugalazah dan diyat mukhafafah.2. VI. hadis no. Sunan an-Nasa'i.116 Diyat ada dua macam.117 Jumlah diyat mugalazah adalah seratus ekor unta. dibebankan kepada pelaku pembunuhan sengaja apabila waliyuddam menerimanya dan kepada bapak yang membunuh anaknya. 30 ekor jad'ah (unta berumur 5 tahun) c. (Bandung: Maktabah Dahlan. al-Fiqh. 1994). III: 248. hal ini berdasarkan riwayat Ibn Mas'ud. ad-Daruqutni dari Ibn Mas'ud. 30 ekor hiqqah (unta berumur 4 tahun) b.

VII: 305-306 . baik pembunuhan sengaja. 20 jad'ah Selanjutnya ulama Syafi'iyyah dan Hanabilah berpendapat bahwa pembunuhan tersalah dapat dikenai diyat mugalazah apabila: a. Muharram dan Rajab c. Pembunuhan itu terjadi di tanah haram Mekkah b. Pembunuhan itu terhadap mahram seperti: ibu dan saudara perempuan. 20 ekor binti labun (unta betina berumur 3 tahun) d. Pembunuhan itu terjadi di bulan haram. dan e. 20 ekor ibnu ma'khad (unta jantan berumur 2 tahun) c. zul Qa'dah.120 Jadi diyat pembunuhan sengaja adalah diyat mugalazah yang dikhususkan pembayarannya oleh pelaku pembunuhan. al-Fiqh. tidak sengaja. Hanya 120 Wahbah az-Zuhaili. pembayaran diyatnya secara berangsur-angsur selama tiga tahun. dan dibayarkan secara kontan. 20 ekor bintu ma'khad (unta betina berumur 2 tahun) b. 20 hiqqah. Sedangkan diyat pembunuhan syibhu amd adalah diyat mugalazah yang pembebanannya tidak hanya pada pelaku. dan dibayar secara berangsur-angsur selama tiga tahun. zul Hijjah. Menurut Hanafiyah. tetapi juga pada 'aqilah (wali/keluarga pembunuh). maupun kesalahan.67 ‫دية الخطأ اخماس عشرون حقة وعشرون جذعة وعشرون بنات‬ ‫مخاض وعشرون بنات لبون وعشرون بني لبون‬ Jadi ketentuannya adalah sebagai berikut: a.

'Aqilah tidak menanggungnya karena setiap manusia dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya dan tidak dapat dibebankan kepada orang lain. jika qisas dilakukan sekaligus maka diyat penggantinya juga harus secara kontan dan pemberian tempo pembayaran merupakan suatu keringanan. Bidayah alMujtahid wa Nihayah al-Muqtasid. Karena keringanan (pemberian tempo) itu hanya berlaku bagi 'aqilah. t.123 121 Wahbah az-Zuhaili.t). VI: 307. Mereka menjelaskan bahwa sengaja atau kesalahannya anak kecil itu sama dengan argumant ada orang gila menerkam seorang laki-laki dengan pisau kemudian memukulnya.. al-Fiqh. Malik dan Syafi'i menyatakan diyatnya anak kecil adalah setengah kecuali pemerintah membebankan pada aqilahnya. (Indonesia: Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyyah. 122 At-Tur (52): 21. II. padahal 'amid pantas dan harus diperberat dengan bukti diwajibkannya 'amid membayar diyat dengan hartanya sendiri bukan dari 'aqilah.121 Para ulama sepakat bahwa diyat pembunuhan sengaja dibebankan pada para pembunuh dengan hartanya sendiri. Muhammad ibn Ahmad ibn Muhammad ibn Ahmad Ibn Rusyd al-Qurtuby. Hal ini berdasarkan firman Allah swt: 122 ‫كل امرئ بما كسب رهين‬ Adapun jika pembunuhan disengaja itu dilakukan oleh anak kecil atau orang gila.68 bagi 'amid (pembunuh sengaja) lebih diperberat dengan kewajiban membayar diyat mughaladzah dengan hartanya sendiri. Sedangkan jumhur ulama berpendapat bahwa diyat pembunuhan sengaja harus dibayar kontan dengan hartanya karena diyat merupakan pengganti qisas.: 297 123 .

akan terjadi kekacauan dan dan ketidaktertiban di mana-mana. Ini merupakan hal-hal di mana kehidupan manusia sangat tergantung sehingga tidak dapat dipisahkan. karena tidak ada baginya taklif secara syara'. (Bandung: asy Syaamil. Para ahli hukum Islam mengklasifikasi tujuan-tujuan dari fiqh jinayah yang merupakan tujuan-tujuan yang luas dari syariah sebagai berikut:125 Tujuan pertama Menjamin keamanan dari kebutuhan-kebutuhan hidup. 2001). Apabila kebutuhan-kebutuhan ini tidak terjamin. jika belum mumayyiz maka dianggap kesalahan (khata') secara pasti. Dengan demikian untuk memahami pentingnya suatu ketentuan. Hanya saja ia dibebankan diyat dari hartanya sendiri dan 'aqilah tidak menanggung jika ia (pada saat berbuat jahat) sudah mumayyiz. mutlak perlu mengetahui apa tujuan dari ketentuan itu.Tujuan Fiqh Jinayah Pembuat hukum tidak menyusun ketentuan-ketentuan hukum dari syariah tanpa tujuan apa-apa. Topo Santoso. II:173-174. Menggagas Hukum Pidana Islam. al-Muhazzab. hlm.130- 125 131 .69 Menurut Syafiiyah bahwa yang jelas perbuatan anak kecil itu dianggap sengaja apabila ia telah mumayyiz. Kelima kebutuhan hidup yang primer ini (daruriyyat) 124 Asy-Syairazi. Tetapi baik ia sudah mumayyiz atau belum ia tidak dapat di qisas.124 C. Melainkan di sana ada tujuan tertentu yang luas.

Hifz al-Nasli (memelihara keturunan). Hifz ad-Dĩn (memelihara agama). Dengan kata lain. Hifz al-'Aqli (memelihara akal pikiran). c. b. keperluan-keperluan ini terdiri dari hal-hal yang menyingkirkan kesulitan-kesulitan dari masyarakat dan membuat hidup mudah bagi mereka. kemajuan dan perlindungan tiap-tiap kebutuhan itu dan menegaskan ketentuan-ketentuan yang yang berkaitan dengannya sebagai ketentuan yang esensial. d. Syariat telah menetapkan pemenuhan. Hifz an-Nafsi (memelihara jiwa). yaitu: a.70 dalam keputusan hukum Islam disebut dengan istilah al-Maqasid asy-Syari'ah alKhamsah (tujuan-tujuan syariah). Tujuan ketiga . akan tetapi dapat menambah kesulitan-kesulitan bagi masyarakat. Ketiadaan fasilitas-fasilitas tersebut mungkin tidak menyebabkan kekacauan dan ketidak tertiban. Ini mencakup hal-hal yang penting bagi ketentuan itu dari berbagai fasilitas untuk penduduk dan memudahkan kerja keras dan beban tanggungjawab mereka. Tujuan kedua Tujuan berikutnya adalah menjamin keperluan-keperluan hidup (keperluan sekunder) atau disebut hajiyyat. e. Hifz al-Mãl (memelihara harta).

Baik dalam alQur'an maupun dalam as-Sunnah. Istilah yang umum bagi aturan-aturan tersebut adalah al-Jinayat yang sering kali diartikan dengan Hukum Pidana Islam. dipukul dengan menggunakan kayu (dijilid). Aspek Kemanusiaan dalam Fiqh Jinayah Salah satu kesempurnaan syari'at Islam adalah adanya aturan-aturan yang berkenaan dengan hukum publik. Ketiadaan perbaikan-perbaikan ini tidak membawa kekacauan dan anarki sebagaimana dalam ketiadaan kebutuhan-kebutuhan hidup. dilempar batu sampai meninggal (dirajam). bukan sekedar ancaman di akhirat. atau dibunuh (diqisas). Sering kali bayangan tersebut terhenti di situ. juga tidak mencakup apa-apa yang perlu untuk menghilangkan kesulitankesulitan dan membuat hidup mudah. Islam tidak sekedar mengajarkan ajaran moral saja. Ketika mendengar kata "Hukum Pidana Islam" (fiqh Jinayah). D. yang langsung terbayang di benak kebanyakan orang adalah potong tangan. yaitu menjadikan hal-hal yang dapat menghiasi kehidupan sosial dan menjadikan manusia mampu berbuat dan urusan-urusan hidup secara lebih baik (keperluan sekunder) atau tahsinat. melainkan juga menyediakan aturan-aturan yang bersifat imperatif. Padahal apa yang dibayangkan tersebut hanya merupakan salah satu bagian saja dari hukum pidana Islam. terdapat sanksi-sanksi yang mengikat yang harus ditegakan di dunia. sehingga kesan bahwa hukum pidana Islam bersifat kejam dan bertentangan dengan hak asasi manusia. Itupun baru dapat ditegakkan setelah seluruh unsur-unsur .71 Tujuan ketiga dari perundang-undangan Islam adalah membuat perbaikanperbaikan.

Memang ia hukuman yang kejam. Inilah yang mengandung konsekuensi hukum qisas. yang semuanya merupakan maqasid asy-Syar'i. Sepintas. Selebihnya terdapat asas-asas serta konsepkonsep lainnya yang luput dari perhatian. harta. akal dan agama.72 jarimahnya (tindak pidananya) terpenuhi. Mana pri kemanusiaan yang dipunyai manusia?. Allah swt telah menetapkan hukum yang terdiri tiga tingkatan yaitu: qisas (balasan setimpal). keturunan. jiwa maupun dengan hal-hal lainnya seperti kehormatan. eksistensi kehidupan manusia akan terancam. Hukum Pidana Islam (fiqh jinayat) ini mengatur setiap perbuatan manusia yang dilarang yang berkenaan dengan tubuh. Inilah yang disebut hududullah (batas-batas hukum Allah). Yakni hal-hal yang berkaitan dengan kehormatan agama. nyawa manusia jadi sangat murah. Lihatlah. bahkan sangat kejam. Untuk menyelesaikan problem ini. merupakan pelanggaran terhadap hak hamba. Sedangkan kejahatan yang berkaitan dengan kehormatan jiwa manusia. atau permintaan maaf). Bila kejahatan ini terus dibiarkan. merupakan pelanggaran terhadap hak Allah. karena ambruknya wibawa dan penegakan hukum. Kejahatan-kejahatan yang oleh syariat telah ditetapkan jenis hukumannya. hukum qisas nampak kejam. Karena itu Allah memperingatkan dalam al-Qur'an:126 126 Al-Baqarah (2): 179 . Dan jika semuanya tidak terpenuhi maka ulil amri sebagai penguasa negara berhak memberikan hukuman atas pertimbangan kemaslahatan umat berupa hukuman ta'zir. denda-damai (diyat). keturunan dan ketenteraman umum.

2003). Apalagi jika dibandingkan dengan penderitaan yang mereka alami sepeninggal sang suami.73 ‫و لكم فى القصاص حياة يا اولى اللباب‬ Kekejaman memang harus dihentikan dengan hukuman yang setimpal agar bisa menjerakan. menjadi benci terhadap hukum Islam lalu memilih hukum lain (KUHP). Qisas pembalasan yang hak.127 Abdurrahman Madjrie dan Fauzan Al-Anshari. orang-orang yang telah menjadi korban penyesatan opini semacam ini. (Jakarta: Khairul Bayan. karena korban atau ahli warisnya (bila korban meninggal) berhak membalas dengan perlakuan setimpal. barbar. sumber pemikiran Islam. Sebagai contoh kasus Tomy Suharto sebagai terpidana pembunuhan atas hakim agung Syafiuddin Kartasasmita. atau ketinggalan zaman. Dengan qisas. jelas tidak sepadan. Alhasil putusan hakim itu belum memenuhi rasa keadilan yang mereka tuntut. Karenanya.2 127 . Bagi sebagian orang. Padahal penyakit sosial yang bernama pembunuhan hanya efektif dicegah dengan obat yang disediakan oleh yang menciptakan nyawa manusia. Anak-anakpun kehilangan sosok sang ayah yang biasa membimbing mereka sehari-hari. Dan tanggapan kedua isterinya sebagai ahli waris korban (waliyuddam) sangat kecewa karena putusan itu tidak sesuai dengan harapan. yaitu dengan qisas. jenis hukuman dinilai tidak manusiawi. maka pelaku sebelum berbuat jahat akan pikir-pikir dahulu. Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat hanya mengganjar Tomy dengan hukuman penjara 15 tahun. Mereka telah kehilangan suami sekaligus pemimpin rumah tangga dan pencari nafkah bagi keluarganya. primitif. hlm.

Mengingat keduanya tidak berhak dan tidak bisa keputusan Hakim tersebut. 4. Untuk menegakkan hukum Allah sebagai bukti ketaatan kaum muslimin kepada hukum Allah. untuk membasmi kejahatan di muka bumi dan kemaksiatan lainnya yang sering dilakukan oleh para penjahat. yaitu:128 1. untuk menjaga keamanan dan keselamatan jiwa dan kehidupan manusia di dunia. 3. 2.74 Namun kedua isterinya hanya pasrah karena tidak bisa berbuat apa-apa selain trerpaksa menerima keputusan tersebut. 128 Ibid. hlm. jika Tomy meminta maaf. untuk memberikan pelajaran dan peringatan yang keras bagi orangorang yang ada niatan berbuat kejahatan agar tidak meneruskan keinginannya. Minimal dapat mencegah merebaknya kejahatan dan kerusakan di muka bumi.91-92 . Di sinilah aspek keadilan dan kemanusiaan dalam hukum Islam. Dari kasus ini dapat dibandingkan bahwa ternyata KUHP kurang sesuai dengan tindakan yang diperbuat. Maka dapat ditarik kesimpulan dari keutamaan Hukum Pidana Islam ini sebagi hikmah yang harus disyukuri. Bila hal ini diselesaikan denga hukum Islam maka yang akan terjadi. dan keluarga memaafkan maka ia akan terbebas dari hukum qisas dan berganti kepada diyat sebagai ganti rugi atas tuntutan keluarga.. tidak ada rasa keadilan atas tindakan yang dilakukan dan juga bagi keluarga korban tidak punya hak apa-apa untuk menuntut hak mereka.

segala upaya diusahakan untuk memberi pelayanan kesehatan agar dapat memperhatikan kehidupan seorang manusia. Oleh karenanya setiap orang diharuskan untuk menjalani segala perbuatan yang dapat membahayakan dirinya atau orang lain. Artinya. Atau dengan kata lain manusia . Terlebih-lebih menjaga atau memelihara jiwa atau an-nafs. sebagai mekanisme pengamanan bagi semua warga negara yang tinggal di negeri yang memberlakukan hukum Allah sebagai konstitusinya. Sebagaimana pernah terjadi pada era kehidupan Rasulullah dan pemerintahan khalifah penggantinya. Euthanasia Aktif sebagai Jarimah Masalah menjaga kesehatan dalam Islam sangat diperhatikan. BAB IV PRAKTEK EUTHANASIA DALAM PRESPEKTIF FIQH JINAYAH A.75 5.

dan oleh karenanya pula hal tersebut merupakan perbuatan yang bertentangan dengan kehendak Allah swt. khususnya euthanasia aktif dapat dikategorikan sebagai perbuatan untuk menghilangkan jiwa atau penghentian kehidupan manusia. Masalah kematian setiap manusia itu sudah ditentukan batasannya oleh Allah swt. Di antara firman Allah menyinggung hal jiwa atau nafs adalah sebagai berikut: 129 ‫و انا لنحن نحي و نميت و نحن الوارثون‬ 130 ‫و انه هو امات و احي‬ Begitu besarnya penghargaan Islam terhadap jiwa. Sebab masalah hidup dan mati itu merupakan urusan Allah SWT. sehingga segala perbuatan yang mengarah kepada tindakan untuk menghilangkan jiwa manusia akan diancam dengan hukuman qisas-diyat atau ta'zir.76 tidak dibolehkan untuk menghilangkan jiwanya atau jiwa orang lain. Al-A'raf (7): 34 Al-Munafiqun (63): 11 130 131 132 . maka apabila telah datang kematiannya tidak seorangpun yang dapat mengundurkan atau memajukan walau sesaatpun. Dalam hubungan ini euthanasia. Sebagai mana firman Allah: ‫و لكل أمة أجل فاذا جاء أجلهم ل يستأخرون ساعة و ل‬ 131 ‫يستقدمون‬ 132 ‫و لن يؤخر ال نفسا اذا جاء أجلها و ال خبير بما تعملون‬ 129 Al-Hijr (15): 23 An-Najm (53): 44.

Dan bila ada terjadi seseorang berusaha untuk dirinya sendiri untuk mendapatkan kematian.77 Dapat difahami dari ayat di atas bahwa urusan mati sepenuhnya merupakan hak Allah swt.133 Akibat dari pesatnya perkembangan teknologi kedokteran modern akan dapat memberikan fasilitas dan pelayanan yang lebih baik bagi usaha perpanjangan umur pasien yang menderita sakit parah.116 133 . Ramadhani. Kemudian apakah dokter dalam memberikan tindakan medis (misal. karena kasih sayang. Berbicara masalah euthanasia (qatl ar-rahmah atau taisir al-maut). respirator. ini bisa dikategorikan sebagai pembunuhan. dengan tujuan Imron Halimi. Dan memang seharusnya begitu. Euthanasia cara mati terhormat orang moderen (Solo: cv. seorang dokter berkewajiban untuk mengobati. Betapapun sudah diduga umur si pasien tidak lama lagi. memasang infus. maka perbuatan demikian bisa dikategorikan sebagai bunuh diri dengan meminjam tangan orang lain. tindakan dokter itu tidak berarti melangkahi hak Allah atau takdirnya. yang definisinya menurut Qardawi ialah tindakan memudahkan kematian seseorang dengan sengaja tanpa merasakan sakit.1990) hlm. sebab tindakan medis itu manifestasi dari ikhtiar untuk menolong pasien. EEG dan lain-lain). itu tidak berarti menghalangi hak Allah sebagai penentu kematian manusia ?. baik dengan obat-obatan atau memberikan nasihat. Ini mengandung arti bahwa dokter atau tim medis telah dapat menunda beberapa saat waktu kematiannya. meringankan penderitaan pasien dengan segala kemampuannya. Dalam konteks di atas. Sehingga kalau sampai terjadi seseorang lain yang mengusahakan kematian untuk orang lain.

alih bahasa: As'ad yasin. 135 134 Ibid. maka hal ini bisa diklasifikasikan kedalam jarimah pembunuhan. 1996). Ibid.. b. Dalam hal ini tentunya diperlukan beberapa tahapan untuk menjawabnya. cet.135 Dalam Islam euthanasia aktif itu secara eksplisit dan tegas belum pernah ditemukan hukumnya. fatwa-fatwa kontemporer.134 Khususnya lagi euthanasia aktif (taisir al-maut al-fa'al) yang definisinya ialah tindakan memudahkan kematian si sakit karena kasih sayang yang dilakukan dokter dengan menggunakan instrumen (alat).136 Namun demikian apakah bisa begitu saja tindakan euthanasia aktif itu digolongkan sebagai jarimah pembunuhan?. Akan tetapi karena euthanasia aktif merupakan tindakan untuk mempercepat kematian seseorang. yakni sebagai berikut: 1. (Jakarta: Gema Insani Press.ke-2. yakni: a.78 meringankan penderitaan si sakit. hlm. Unsur material atau rukun maddi Yusuf Qardawi. II:749.751 136 . Unsur formal atau unsur syar'i Yang dimaksud dengan unsur formal atau unsur syar'i adalah adanya ketentuan syara' atau nash yang menyatakan bahwa perbuatan yang dilakukan yang oleh hukum dinyatakan sebagai sesuatu yang dapat dihukum atau adanya nash (ayat) yang mengancam hukuman terhadap perbuatan yang dimaksud. Dalam fiqh Islam suatu perbuatan barulah dikatakan sebagai jarimah apabila perbuatan tersebut telah memenuhi unsur-unsur jarimah.

dan sanggup menerima isi beban tersebut. cet. djajuli. cet. Sehingga euthanasia aktif dilihat dari aspek definisinya sudah memenuhi unsur jarimah pertama. Unsur moril atau Rukun Adaby Unsur ini juga disebut dengan al-mas'uliyyah al-jinayyah atau pertanggungjawaban pidana. ialah unsur formil (ar-rukn asysyar'i). Hukum pidana Islam (fiqh jinayah). (Bandung: Pustaka Setia. baik berupa perbuatan ataupun tidak berbuat atau adanya perbuatan yang bersifat melawan hukum. fiqh jinayah (upaya menanggulangi kejahatan dalam Islam). ke-1.79 Yang dimaksud dengan unsur material adalah adanya perilaku yang membentuk jarimah. hlm. .lihat juga A. yakni adanya nas yang jelas-jelas melarang pembunuhan baik 137 Rahmat Hakim.52-53. ke-2 (Jakarta: PT. Adapun aspek-aspek terjadinya euthanasia aktif ialah sebagai berikut: a. c.137 2. Maksudnya adalah pembuat jarimah atau pembuat tindak pidana atau delik haruslah orang yang dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya.3. Raja Grafindo Persada. mengerti isi beban. Orang yang diasumsikan memiliki kriteria tersebut adalah arangorang yang mukallaf sebab hanya merekalah yang terkena khitab (panggilan) pembebanan (taklif). Bahwa euthanasia aktif itu merupakan tindakan pembunuhan. Oleh karena itu pembuat jarimah (tindak pidana. hlm. 1997).2000). Jika telah memenuhi tentunya ada kesinkronan antara aspekaspek terjadinya euthanasia aktif dengan unsur-unsur jarimah. Tindakan euthanasia aktif itu apakah telah memenuhi unsur-unsur jarimah ataukah tidak?. delik) haruslah orang yang dapat memahami hukum.

Dari aspek inipun telah memenuhi unsur jarimah ketiga. tindak pidana pembunuhan ini (al-qatl) disebut juga al-jinayah 'ala al-insaniyyah (kejahatan terhadap jiwa 138 An-Nisa (4): 29 Al-An'am.(6): 151 139 . pasien. yaitu dokter atau tim medis lainnya. dan sebagainya. dan keluarga pasien. Dalam aspek ini juga telah memenuhi unsur jarimah kedua yakni unsur materill (ar-rukn almaddi). yakni unsur moril (ar-rukn adabi) Jadi jelas dalam konteks tersebut dapat disimpulkan bahwa euthanasia aktif itu merupakan jarimah pembunuhan. c. Seperti tercantum dalam beberapa ayat al-Qur'an sebagai berikut: 0 ‫ل تقتلوا أنفسكم ان ال كان بكم رحيما‬ ‫ول تقتلوا النفس التى حرم ال ال بالحق ذالكم وصاكم به‬ 0 ‫تعقلون‬ ‫لعلكم‬ 138 139 b.80 diri sendiri ataupun orang lain. Adanya pelaku euthanasia aktif yang dapat dimintai pertanggungjawaban pidana. Dalam hukum Pidana Islam (fiqh jinayah). yakni biasanya dengan mencabut selang respirator atau melalui suntikan dengan bahan pelemah saraf dalam dosis tertentu (neurasthenia). Adanya tindakan atau perbuatan yang mendukung terjadinya euthanasia aktif.

yaitu: pembunuhan sengaja. dan pembunuhan secara tidak langsung (al-qatl bi al-tasabbub). kekeliruan dan serupa kekeliruan. 1992). (Beirut: Muassasat ar-Risalat.hlm. semi sengaja.141 atau sengaja melakukan perbuatan yang dilarang dan memang akibat perbuatan itu dikehendaki pula. Problematika Hukum Islam 142 . Perbedaan tersebut adalah:140 1) Ulama Malikiyah mengklasifikasikan bentuk-bentuk pembunuhan menjadi dua yaitu: pembunuhan sengaja (qatl al-'amd) dan kekeliruan (qatl alkhata'). 3) Sebagian Hanafiyah mengklasifikasikannya menjadi empat (ruba'i). Fiqh Jinayah. Kaidah fiqh jinayah (asas-asas hukum pidana Islam) (Bandung: Pustaka Bani Quraisy. 141 140 A.9. semi sengaja. Dari macam jarimah pembunuhan di atas. at-Tasyri' al-Jina'i al-Islami Muqaranah bi al-Wad'i. semi sengaja (syibh al-'amd) dan kekeliruan. Fauzi Aseri. yakni. Hal ini sesuai dengan definisinya. Terjadinya tindakan euthanasia aktif sangat dipengaruhi oleh alasan atau pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:142 Jaih Mubaraok dan Enceng Arif Faizal. Hukum Pidana. dalam Chuzaimah T Yanggo dan Hafidz Anshary. suatu perbuatan penganiayaan terhadap seseorang dengan maksud untuk menghilangkan nyawanya.81 manusia). 4) Sebagian Hanafiyah mengklasifikasikannya menjadi lima (khumasi). 2004) hlm. dan Hukum Islam.121 Akh. Para ulama berbeda pendapat dalam mengklasifikasikan bentuk-bentuk pembunuhan. 2) Jumhur mengklasifikasikannya menjadi tiga (sulasi). tindakan euthanasia aktif bisa digolongkan kedalam pembunuhan sengaja. Euthanasia Suatu Tinjauan dari Segi Kedokteran. lihat juga Abd Qadir 'Audah. yaitu: pembunuhan sengaja. yaitu pembunuhan sengaja. Djazuli. kekeliruan. dan serupa kekeliruan (ma jara majr al-khata'). II: 7-9.

b) Dari pihak keluarga/wali. dan telah lama dialami. . akibat biaya pengobatan yang mahal. Atau pasien sudah tahu bahwa ajalnya sudah di ambang pintu. Euthanasia hakikinya adalah membunuh yang dilakukan Kontemporer. maka supaya matinya tidak merasa sakit. namun bila ingin mempelajari dan memahami arti euthanasia secara mendalam. Sanksi Hukum bagi Pelaku Euthanasia Dalam ajaran agama Islam tidak terdapat ajaran yang mutlak mengenai euthanasia. B. bahwa pihak keluarga (tertentu) bekerjasama dengan dokter untuk mempercepat kematian pasien. Pustaka Firdaus. Oleh karena penyakit yang dideritanya sangat (accut). yaitu melalaui euthanasia.82 a) Dari pihak pasien. ke-3. yang merasa kasihan atas penderitaan pasien. maka akan jelas hukumnya dengan berdasarkan al-Qur'an sebagai salah satu sumber hukum Islam. Bisa juga euthanasia terjadi karena permintaan keluarga yang tidak sanggup lagi memikul biaya pengobatan. baik karena terlalu lama.71. sementara harapan untuk sembuh tidak ada lagi. (Jakarta: PT. maka ia meminta dokter untuk melakukan euthanasia. yang meminta kepada dokter karena merasa tidak tahan lagi menderita sakit. Cet. c) "Kemungkinan lain" bisa terjadi. Apabila jika pasien tampaknya tidak tahan menanggung sakitnya. hlm. paling tidak. 2002). ataupun karena amat ganasnya jenis penyakit yang menyerangnya. dia meminta jalan yang lebih "nyaman". karena menginginkan harta/milik pasien dan faktor amoral lainnya. Pertimbangan lain bisa juga karena pasien tidak ingin meninggalkan beban ekonomi yang terlalu berat bagi keluarga. harapan sembuh terlalu jauh.

alih bahasa H. keturunan dan harta. maka Allah memberikan ancaman bagi mereka yang meremehkannya. al-Maarif. had dan diyat. karena pada dasarnya menghilangkan nyawa seseorang merupakan perbuatan dosa besar sebagai mana tercantum dalam al-Qur'an: ‫و من يقتل مؤمنا متعمدا فجزاؤه جهنم خالدا فيها و غضب ال‬ 144 ‫عليه و لعنه و اعدله عذابا عظيما‬ َ Secara umum hukum Islam diamalkan untuk menciptakan kemaslahatan hidup dan kehidupan manusia.A Ali (Bandung: PT. 143 Sayid Sabiq. Islam ditetapkan aturan yang ketat yaitu Qisas (pembunuhan). khusus yang berkaitan dengan hukum pidana.83 dalam rumah sakit oleh dokter ahli pada penderita karena penyakit tertentu seperti kanker atau kecelakaan yang merusak tubuhnya hingga berdasarkan ilmu dan teknologi kedokteran tidak mungkin sembuh. . sehingga aturan diberikan secara rinci. perbuatan itu bisa merugikan agama. Euthanasia merupakan salah satu bentuk pembunuhan dan termasuk dalam kategori jinayat. 144 An-Nisa (4): 93. Tindakan merusak ataupun menghilangkan jiwa orang lain maupun jiwa diri sendiri adalah perbuatan melawan hukum Allah. X:11 . fikih sunnah. Dalam terminologi fiqh. jinayat adalah setiap perbuatan yang diharamkan dan tercela yang dilarang oleh Tuhan. Agar manusia tidak memandang murah terhadap jiwa manusia. akal.143 Allah melarang melakukan pembunuhan. jiwa. 1997).

84

Syaikh Muhammad Yusuf al-Qardawi, sebagaimana dikutip oleh Akh. Fauzi Aseri mengaِ takan, bahwa kehidupan manusia bukan menjadi hak milik pribadi, a sebab dia tidak dapat menciptakan dirinya (jiwanya), organ tubuhnya, ataupun selselnya. Diri manusia pada hakekatnya adalah barang ciptaan yang diberikan Allah, oleh karenanya ia tidak boleh diabaikan, apalagi dilepaskan dari kehidupannya.145 Jadi jelaslah bahwa Islam tidak membenarkan seseorang yang sakit berkeinginan mempercepat kematiannya, baik dengan bunuh diri maupun dengan minta dibunuh. Bahkan berdo'a meminta dimatikanpun tidak diperbolehkan. Tetapi Allah menyuruh umatnya bila dalam keadaan sakit agar disamping berusaha juga berdoa agar diberi kesembuhan, sebagaimana firman Allah swt:
146

‫واذ مرضت فهو يشفين‬

Ahmad Mustafa al-Maragi menjelaskan, bahwa pembunuhan (mengakhiri hidup) seseorang bisa dilakukan apabila disebabkan oleh salah satu dari tiga sebab:147 1. Karena pembunuhan oleh seseorang secara zalim. 2. Janda yang pernah bersuami) secara nyata berbuat zina, yang diketahui oleh empat orang saksi. 3. Orang yang keluar dari agama Islam, sebagai suatu sikap menentang jama'ah Islam.

145

Akh. Fauzi Aseri, Euthanasia. hlm.73. As-Syu'ara' (26): 80

146

147

Ahmad Mustafa al-Maragi, Tafsir al-Maragi, (Mesir: Mustafa al-Baby al-Halaby, 1971).

XI: 43.

85

Jika dibandingkan dengan alasan-alasan yang mendorong terjadinya euthanasia seperti disebutkan terdahulu, maka tidak ada satupun yang berkaitan dengan alasan bilhaq di atas. Maka agar dapat ditentukan sanksi hukumnya dalam masalah euthanasia ini, perlu diperjelas secara terperinci karena masalah euthanasia ini merupakan masalah yang kompleks, baik dari segi sebabnya maupun pelaku terjadinya euthanasia. Karena euthanasia ini merupakan jenis pembunuhan maka kiranya perlu dijelaskan sanksi-sanksinya. Sebelum menginjak kepada sanksi-sanksi pelaku euthanasia perlu disebutkan terlebih dahulu sanksi-sanksi dalam pembunuhan. Dalam pembunuhan, ada beberapa jenis sanksi, yaitu; hukuman pokok, hukuman pengganti dan hukuman tambahan. Hukuman pokok pembunuhan adalah qisas. Bila dimaafkan oleh keluarga korban, maka hukuman penggantinya adalah diyat. Akhirnya jika sanksi qisas atau diyat dimaafkan, maka hukuman penggantinya adalah ta'zir. Menurut sebagian ulama, yakni Imam Syafi'i, ta'zir tadi ditambah kaffarah. Hukuman tambahan sehubungan dengan ini adalah pencabutan atas hak waris dan hak wasiat harta dari orang yang dibunuh, terutama jika antara pembunuh dengan yang dibunuh mempunyai hubungan kekeluargaan.148 Dokter sebagai seorang anggota masyarakat, penuh aktif, berinteraksi dan memelihara masyarakat. Tugas dokter tidak hanya melakukan pengobatan penyakit dan mencegah timbulnya penyakit. Tetapi juga sebagai seorang manusia dokter juga dituntut untuk tolong-menolong dalam hal kebaikan apapun bentuknya.149
148

A. Djazuli, Fiqh Jinayat, hlm, 135-136

Kode Etik kedokteran Islam, terj. Sudibyo Soepardi, cet.ke-4, (Jakarta: CV. Akademika Pressindo, 2001), hlm. 41.

149

86

Dalam masalah euthanasia ini, jika melihat kembali kepada fungsi dokter sebagai penolong untuk mengobati, menolong dan membantu pasien dari penyakitnya supaya sembuh, apakah secara batin dia tega melakukan euthanasia terhadap pasiennya. Pasti dia mempunyai tekanan batin dan juga menghadapi konsekuensi hukum. Dalam hal ini, jika dokter melakukan euthanasia berarti dokter telah melakukan pembunuhan, karena pembunuhan berarti menghilangkan nyawa seseorang, sepeti dikatakan oleh Wahbah az-Zuhaili:150 "Pembunuhan adalah suatu perbuatan mematikan; atau perbuatan seseorang yang dapat menghilangkan nyawa; artinya pembunuhan itu dapat menghancurkan bangunan kemanusiaan."

Allah telah memberikan hukuman terhadap pelaku pembunuhan dengan qisas. Hal ini tercantum dalam al-Qur'an:
151

‫يا أيها الذين آمنوا كتب عليكم القصاص في القتلى‬
152

‫و كتبنا عليهم فيها أن النفس بالنفس‬

Jadi berdasarkan ayat di atas dokter sebagai pelaku pembunuhan harus dihukum qisas, hal ini sebagai konsekuensi pertama yang dihadapi oleh dokter sebagai pihak pembunuh. Pada dasarnya Allah melarang pembunuhan apapun
Wahbah az-Zuhaili, al-Fiqh al-Islam wa adillatuh, cet ke-3 (Damaskus: Dar al-Fikr, 1989), VI: 217.
151 150

Al-Baqarah (2): 178. Al-Maidah (5): 45.

152

hukuman berpindah kepada diyat. 153 Akh. Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa perintah korban dapat menggugurkan qisas terhadap pelaku. Dalam hal ini Mahmud Syaltut memberikan pembahasan yang ringkasnya bahwa para ahli fiqh berbeda pendapat mengenai suatu kejahatan atau seseorang yang disuruh sendiri oleh si korban dengan disetujui walinya. diyat (bila pembunuh dimaafkan) dan bisa juga dimaafkan secara mutlak. tetapi Allah juga memberikan hak kepada keluarga si terbunuh dengan tuntutan. apakah pelaku (dokter) terkena hukuman atau tidak dalam kasus euthanasia yang mana si korban sebagai pemilik jiwa.153 Menurut Hanafiyah: ‫يسقط القصاص برضا المجني عليه‬ Gugurnya qisas disebabkan oleh adanya kerelaan atau izin korban yang dapat dipersamakan dengan pemaafan. hlm. . dan persetujuan dari pihak keluarga. Dalam hal ini si pasien sebagai pemilik jiwa telah merelakan atau memberi izin kepada dokter. sebagai unsur utama kehidupan manusia.74. Oleh karena itu. dan Allah memberikan hukuman berupa qisas yang merupakan hak Allah atas manusia. Fauzi Aseri. atau keluarga sebagai wali ad-dam telah merelakan bahkan menganjurkannya. Hal ini tergantung tuntutan apa yang akan dilakukan pihak keluarga atau ahli warisnya. tuntutan itu bisa berupa qisas (sebagai balasan). Masalah yang timbul adalah.87 jenisnya. Dalam hal ini dokter mempunyai suatu dispensasi dari pihak pasien (si terbunuh) berupa (kerelaan atau izin). Euthanasia. karena Allah sebagai sang khaliq menyuruh umatnya agar senantiasa memelihara jiwa.

1992) I: 440-441 155 154 Ibid.t). 441-442 A ِ l-Hafid Ibnu Hajar al-Asqalani. Asas-asas Hukum Pidana Islam. (Bandung: Maktabah Dahlan. Bulug al-Maram.157 Menurut ulama Syafi'iyah dan Imam Ahmad dalam kasus euthanasia ini tidak ada sanksi qisas dan diyat. Karena si pasien telah memaafkan dari sanksi dan rela untuk dibunuh itu sama dengan memberi maaf.158 Dari pendapat-pendapat di atas. hlm. Abu yusuf dan Muhammad mereka sama-sama memberikan sanksinya berupa diyat. kerelaan itu menjadi syubhat yang dapat menggugurkan hudud.. walaupun Abu Abdul al-Qadir Audah. hlm. 191 .88 Selain itu. HR Baihaqi dari Ali RA 157 156 Abd Qadir 'Audah. Kitab al-Hudud Bab az-Zina. dan pemberian izin itu menimbulkan syubhat (kesamaran). At-Tasyri. 1993). yakni: 156 ‫ادرؤوا الحدود بالشبهات‬ Pendapat Malikiyah yang arjah (lebih kuat) dan sebagian Syafi'iyah: ‫يسقط عقوبتى القصاص و الدية برضا المجني عليه‬ Kerelaan korban dapat dipersamakan dengan pemaafan baik dari hukuman asli (qisas) maupun penggantinya (diyat).154 Pendapat ini juga didukung oleh Abu Hanifah. A.155 Pendapat ini didasarkan pada qaidah fiqhiyyah. t. ke-5. 158 hlm. semuanya tidak ada yang menetapkan sanksi hukum atas kerelaan atau izin ini dengan sanksi qisas (hukuman asli). (Jakarta: Bulan Bintang. hlm.441-442. karena adanya pemberian izin. 1247. Hanafi. meskipun tidak berarti menghapuskan hukuman ta'zir. Pemaafan dari korban itu lebih utama dari pada keluarga sebab pemaafan itu menjadi hak bagi korban. 260. cet. al-tasyri' al-Jina'i al-Islami Muqaranah bi al-Qanun al-wad'i (Beirut: Muassasat ar-Risalat. Hadis nomer.

. jika melihat hal di atas berarti dokter yang mengeuthanasia mendapat hukuman berupa diyat mughaladzhah karena telah dimaafkan oleh pihak keluarga. Dan jumlah dari pembayaran diyat mugalazah adalah seratus ekor unta yang empat puluh di antaranya sedang bunting. atau harta (uang atau barang ) yang senilai dengannya. tetapi dalam hal ini apakah dokter sebagai orang lain bagi pasien dan keluarga yang sudah melaksanakan euthanasia atas permintaan pasien dan persetujuan keluarga sehingga mendapat hukuman diyat. Menurut Malikiyah pada pembunuhan disengaja dikenakan diyat mugalazah apabila waliyuddam menerimanya. karena berarti dokter sebagai pihak yang membantu malah mendapatkan kerugian. namun pihak korban atau ahli warisnya diberi hak tuntutan. Diyat ada dua macam yaitu diyat mugalazah dan diyat mukhafafah. Karena fungsi diyat adalah untuk kemaslahatan keluarga si pasien (si terbunuh). mau menerima hukuman tersebut. jika dia sudah tahu akan konsekuensinya. Otomatis dokter tidak akan mau jika harus membayar diyat. Dan pihak keluarga atau ahli warisnya juga telah memaafkan secara mutlak maka tidak ada hukuman diyat baginya. Sedangkan tindakan dokter telah disetujui pihak keluarga pasien. Jadi dari hal ini dokter terbebas dari hukuman qisas (sebagai hukuman asli) juga diyat (sebagai hukuman pengganti). yaitu berupa seratus ekor unta yang empat puluh diantaranya sedang bunting. Sedangkan jumlah yang harus dikeluarkan dari ketentuan diyat sendiri tidak sedikit. Pada dasarnya hukuman qisas tidak dapat diganti dengan hukuman yang dibuat oleh manusia.89 Hanifah (beserta pengikutnya) Abu Yusuf dan Muhammad menetapkan hukum atas adanya unsur kerelaan ini dengan diyat (hukuman pengganti). Dari hal ini.

Hukum Pidana Islam. hukuman qisaspun menjadi gugur digantikan dengan hukuman diyat. karena korban (si pasien) atau walinya mempunyai hak untuk membebaskan pembunuh dari sanksi hukuman 159 Al-Baqarah (2): 178 Rahmat Hakim. ini sangat berarti bagi pelaku tindak pidana maupun bagi keluarga si korban. maka sanksi qisas tidak dapat dilaksanakan karena tidak memenuhi syarat. hukum Islam memberikan kedudukan kepada keluarga korban secara bijaksana untuk turut ambil bagian di dalam menentukan kebijaksanaan hukuman terhadap pelaku pembunuhan dengan memberikan kesempatan kepada pelakunya apakah harus diqisas atau diyat. sebab jarimah qisas merupakan hak adami hak perseorangan. kalau sikorban (masih hidup) atau ahli waris (jika korban mati) memaafkan pembuat jarimah. sanksi ta'zir dapat dijatuhkan terhadap pembunuh.160 Singkatnya. dapat dihapus dan sebagai penggantinya hakim akan menjatuhkan hukuman ta'zir.90 oleh karena itu hak Allah yang berupa qisas dapat diganti dengan hukuman diyat yang merupakan hak manusia. Dalam tindak pidana pembunuhan. Hal itu dimungkinkan. Allah berfirman dalam al-Qur'an: ‫فمن عفي له من أخيه شيئ فاتباع بالمعروف و اداء اليه‬ 159 ‫باحسان‬ Adanya hukuman pengganti pada jarimah qisas ini disebabkan adanya pemaafan dari sikorban atau wali atau ahli warisnya. Apabila korban atau keluarganya memaafkan diyat ini. hlm126 160 . atau juga memberi maaf secara mutlak. Keterlibatan keluarga pihak korban. Oleh karena itu.

Dengan melihat bahwa izin (persetujuan) dapat menghapuskan hukuman. . melainkan juga hak jamaah. hlm. Fiqh Jinayah. baik kedua-duanya atau diganti dengan sanksi lain. Maka ta'zir itulah sebagai sanksi hak masyarakat. Djazuli. Karena pembunuhan itu tidak hanya berurusan dengan hak perseorangan. Dan ta'zir itu tergantung kepada kemaslahatan:161 ‫التعزير يدور مع المصلحة‬ Adanya kaidah ini merupakan wujud dinamisasi hukum pidana Islam dalam menjawab bentuk-bentuk kejahatan baru yang belum ada aturannya sehingga setiap bentuk kejahatan baru yang dianggap telah merusak ketenangan dan ketertiban umum dapat dituntut dan dihukum. maka izin tersebut merupakan pemaafan yang didahulukan. Hukuman ta'zir yang diberikan kepada pembunuh sengaja yang dimaafkan dari qisas dan diyat adalah aturan yang baik dan membawa kemaslahatan.91 qisas dan diyat. 161 A. 162.

92 EUTHANASIA DALAM PRESPEKTIF FIQH JINAYAH .

Daruquthni. 8 jilid. 1988.t. 4 jilid. Ali bin 'Amr Abu al-Husyain al-. Ag DRS. Beirut: Dar al-Fikr. Bulug al-Maram. t. Sunan al-Daruqutni. 1996. 1404. Damaskus: Dar Ibn Katsir. H Hadis Abu Dawud. Beirut: Dar al-Fikr. Ibnu Hajar al-Asqalani.93 SKRIPSI DIAJUKAN KEPADA FAKULTAS SYARI’AH UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA UNTUK MEMENUHI SEBAGIAN SYARAT-SYARAT MEMPEROLEH GELAR SARJANA STRATA SATU DALAM ILMU HUKUM ISLAM OLEH: MUKHLISIN 9937 3425 PEMBIMBING DRS. Sahih al-Bukhari. Bandung: Maktabah Dahlan. SLAMET KHILMI JURUSAN JINAYAH SIYASAH FAKULTAS SYARI’AH UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA 2004 DAFTAR PUSTAKA Al-Qur'an Al-Qur'an Karim. . Beirut: Dar al-Ma'rifah. OMAN FATHUROHMAN SW. M. 1981. Abu Abdullah Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim ibn al-Mughirah ibn Bardizbah al-Ja'fi al-. Bukhari. Sunan Abi Dawud. 3 jilid.

t. t. Masail Fiqhiyah. Qisas pembalasan yang hak. Anwar Harjono. (Prinsip-prinsip penyelenggaraan Negara Islam). 2000. Bandung: Pustaka Bani Quraisy. Jakarta: Bulan Bintang. Hukum Pidana Syari'at Islam menurut ajaran ahlus sunnah. Abdurrahman dan Fauzan al-Anshari. 2 jilid. Muhammad ibn Ahmad ibn Muhammad ibn Muhammad al-Qurtuby. Jakarta: PT. Beirut: Dar Ihya al-Kitab al-Arabiyah. Jaih mubarok. Ibnu Rusyd. A. Masjfuk Zuhdi. Hukum Islam (keluasan dan keadilannya). Kaidah Fiqh Jinayah (Asas-asas Hukum Pidana Islam). Fiqh dan Usul Fiqih Audah. Imam al-. 30 jilid.t. Beirut: Muassasat ar-Risalat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Indonesia: Dar Ihya alKutub al-Arabiyyah. Fiqh Jinayah (upaya menaggulangi kejahatan dalam Islam). 1994. 2003. Maraghi. Haliman. Charis. Jakarta: Bulan Bintang. 1994. Musthafa al-. Zubir A.t. Asas-asas Hukum Pidana Islam. Mawardi. Mesir: Mustafa al-Baby alHalaby. Abdul Qadir. 2 jilid. 1971. 8 jilid.t. Djazuli. Jakarta: Khairul Bayan. Bandung: Maktabah Dahlan. al-Ahkam as-Sultaniyah. Subul as-Salam Syarah Bulug al-Maram. Etika Rekayasa menurut konsep Islam. 1992. 1971. alih bahasa: Fadhli Bahri. Muhammad ibn Ismail ibn Salah al-Amir al-Kahlani al-. dan Enceng Arif Faizal. 1997. Mesir: al-Bab al-Halabi wa al-Audah. Jakarta: Bulan Bintang. Madjrie. Tafsir al-Maraghi. Nasai'. Jakarta: CV Haji Masagung. 1993. . 1968. t. 2004. al-Tasyri' al-Jina'i al-Islami Muqaranah bi al-Qanun al-Wad'i. Abd ar-Rahman Ahmad ibn Suaib ibn Ali ibn Bahr an-. 1997. Jakarta: Darul Falah. 2 jilid. Ahmad Hanafi.94 Ibnu Majah. Sunan Ibn Majah. Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtasid. Sunan an-Nasai'. Raja Grafindo Persada.. San'ani.

Bandung: Pustaka Setia. dkk. Buku lain-lain Abdul Jamali. …. Jakarta: PT. 8 jilid.95 Mukti. 1996.t. 1991. Hukum Pidana Islam (Fiqh Jinayah). Bunga Rampai Hukum Kesehatan. Qardhawi. dan Djaman Andhi Nirwanto. . 1990. Beirut: Dar al-Fikr. 1984. Adji. Etika Profesional dan Hukum Pertanggungjawaban Pidana Dokter. 2000. Sayyid Sabiq. dan agama Islam. Profesi Dokter. Djoko Prakoso. 2000. Fatwa-fatwa kontemporer. Zuhaili. 2000. dan operasi kelamin. Fikih Sunnah. Bandung: Mandar Maju. Yanggo. Hukum Pidana Islam (Fiqh Jinayah). Supriadi. Ali. Yusuf al-. Bandung: Pustaka Setia.t. transplantasi ginjal. Euthanasia. Jakarta: Ghalia Indonesia. al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh. Euthanasia Hak Asasi Manusia dan Hukum Pidana. al-Muhazzab.Tengker. Rahmat Hakim. Pustaka Firdaus. bayi tabung. Jakarta: Widya Medika.1993. Oemar Seno. Problematika Hukum Islam Kontemporer edisi ke-4 edisi revisi. F. 1997. Halal dan Haram dalam Islam. Wahbah az-. Bandung: Nova. 2002. t. hukum kedokteran. Mengapa Euthanasia? Kemampuan Medis & Konsekuensi Yuridis. Jakarta: Robbani Press. al-Ma'arif. Yogyakarta: Aditya media. Bandung: PT. t. 2001. Ali Ghufron dan Adi Heru Sutomo. dalam tinjauan medis. 1991. Abu Sa’id al-Falahi dan Aunur Rafiq Shaleh Tamhid. Hafiz Anshary AZ. alih bahasa As'ad Yasin. Wila Chandrawila. 2001. Tanggung jawab Hukum Seorang Dokter dalam menangani Pasien. Abortus.. Menggagas Hukum Pidana Islam. Amri Amir. 1997. Rahmat Hakim. Topo Santoso. Jakarta: Gema Insani Press. Surabaya: Maktabah Ahmad bin Said bin Nabhan. Jakarta: Ikhtiar Baru. Jakarta: Erlangga. Oleh Drs. hukum. Abi Ishaq Ibrahim ibn Ali ibn Yusuf al-Fairuz Abadi asy-. alih bahasa A. dan A. Syairazi. terj. Chuzaimah T. Bandung: Asy-Syamil Press.

Jakarta: Gramedia. Kumpulan Kasus Bioethics & Biolaw. Yogyakarta: Media Pressindo. Jakarta: Akademika Pressindo. Jakarta: Pustaka Antara.R. Vol. Malang: Analekta Keuskupan Malang. "Euthanasia" beberapa soal moral berhubungan dengan quantum. 1996. Ramadhani.Pengantar Bioetika. Kode Etik Kedokteran Islam (Islamic code of medical ethics). Etika Kedokteran Dalam Islam. Carm. Thomas A. alih bahasa. Imron Halimi. Petrus Yoyo. hukum dan psikologis. Euthanasia Beberapa Soal Etis Akhir Hidup Menurut Gereja Katolik. J. Solo: CV. Soesilo. 1990. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Chr Purwa. Euthanasia Bagaimana Sikap Seorang Dokter. Teknologi Modern Dan Tantangannya Terhadap Bioetika. Euthanasia cara mati terhormat orang modern.2 : 978. Karyadi. H. 1987). Artikel Euthanasia Guwandi J. Ali Akbar. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Piet Go O. K Bartens. ed. Euthanasia dalam Prespektif Hak Asasi Manusia. Shannon. Antropologi Teologis II. 1988. 1974. 1980. 1995. . 2001. 1989. Kartono Mohamad. Widyana. Ratna Suprapti. Kode Etik Kedokteran Indonesia. Sudibyo Soepardi.96 R. Sudarmo. 2001. Kitab undang-undang hukum pidana ( KUHP) serta komentarnya lengkap pasal demi pasal. Jakarta: Metro Kencana. Ensiklopedi Indonesia (Jakarta: Ikhtiar Baru-Van Hoeve. 2000. Aborsi dan Euthanasia ditinjau dari segi medis. Yogyakarta: FKMPY. 1990. Bogor: Politeia. Makalah pada seminar sehari. 1992. Samil. Siswo.

mengoreksi dan menyarankan perbaikan seperlunya.97 Drs. Wassalamu’alaikum Wr. M Ag Dosen Fakultas Syari’ah UIN Sunan Kalijaga NOTA DINAS Hal : Skripsi Saudara Mukhlisin Kepada Yth : Dekan fakultas Syari’ah UIN Sunan Kalijaga Di Yogyakarta Assalamu’alaikum Wr. Bersama ini kami ajukan skripsi tersebut untuk diterima selayaknya dan mengharap agar segera dimunaqosyahkan. Oman Fathurohman SW. Setelah membaca. Wb. Untuk itu kami ucapkan terima kasih. 3 Rajab 1425 H 19 Agustus 2004 Pembimbing I . Wb. Yogyakarta. maka menurut kami skripsi saudara: Nama NIM : Mukhlisin : 9937 3425 Judul : “Euthanasia Dalam Prespektif Fiqh Jinayah” Sudah dapat diajukan untuk memenuhi sebagian dari syarat memperoleh gelar sarjana strata satu dalam Jinayah Siyasah Fakultas Syari’ah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Wb. Oman Fathurohman SW. mengoreksi dan menyarankan perbaikan seperlunya. Slamet Khilmi Dosen Fakultas Syari’ah UIN Sunan Kalijaga NOTA DINAS Hal : Skripsi Saudara Mukhlisin Kepada Yth : Dekan Fakultas Syari’ah UIN Sunan kalijaga Di Yogyakarta Assalamu’alaikum Wr. Bersama ini kami ajukan skripsi tersebut untuk diterima selayaknya dan mengharap agar segera dimunaqosyahkan. M. Untuk itu kami ucapkan terima kasih. Wb.98 Drs.Ag NIP: 150 222 295 Drs. Setelah membaca. Yogyakarta. Slamet Khilmi NIP: 150 252 260 . maka menurut kami skripsi saudara: Nama NIM : Mukhlisin : 9937 3425 Judul : “Euthanasia Dalam Perspektif Fiqh Jinayah” Sudah dapat diajukan untuk memenuhi sebagian dari syarat memperoleh gelar sarjana strata satu dalam Jinayah Siyasah Fakultas Syari’ah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. 3 Rajab 1425 H 19 Agustus 2004 Pembimbing II Drs. Wassalamu’alaikum Wr.

99 PENGESAHAN Skripsi berjudul “Euthanasia Dalam Prespektif Fiqh Jinayah” yang disusun oleh MUKHLISIN NIM: 9937 3425 Telah dimunaqosyahkan di depan sidang munaqosyah pada tanggal 25 September 2004/10 Sya'ban 1425 H dan dinyatakan telah dapat diterima sebagai salah satu syarat guna memperoleh gelar sarjana dalam Ilmu Hukum Islam. MA NIP: 150 228 207 Pembimbing I Drs. MA NIP: 150 182 698 Ketua Sidang Drs. Fuad Zein. H. MAg NIP: 150 222 295 SISTEM TRANSLITERASI ARAB-LATIN . Yogyakarta. H. Malik Madany. Oman Fathurohman SW. H. Fuad Zein. MAg NIP: 150 222 295 NIP: 150 252 260 Sekretaris Sidang Fatma Amilia NIP: 150 277 618 Pembimbing II Drs. 10 Sya'ban 1425 H 25 September 2004 Dekan Fakultas Syari’ah Drs. MA NIP: 150 228 207 Penguji I Drs. Slamet Khilmi Penguji II Drs. Oman Fathurohman SW.

100 Transliterasi kata-kata Arab yang dipakai dalam penyusunan skripsi ini berpedoman pada Surat Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor: 158/1987 dan 0543b/U/1987 Konsonan Tunggal Huruf Arab Nama ‫ا‬ ‫ب‬ ‫ت‬ ‫ث‬ ‫ج‬ ‫ح‬ ‫خ‬ ‫د‬ ‫ذ‬ ‫ر‬ ‫ز‬ ‫س‬ ‫ش‬ ‫ص‬ ‫ض‬ ‫ط‬ ‫ظ‬ ‫ع‬ ‫غ‬ ‫ف‬ ‫ق‬ ‫ك‬ ‫ل‬ ‫م‬ ‫ن‬ ‫و‬ ‫هـ‬ ‫ء‬ ‫ي‬ Alif bâ’ tâ’ s|â’ jim ha khâ’ dâl zal râ’ zai sin syin Sâd dâd tâ’ dad ‘ain gain fâ’ qâf kâf lâm mim nûn waû hâ’ hamzah yâ’ Huruf Latin N a m a tidak dilambangkan be te es (dengan titik di atas) je ha (dengan titik di bawah) ka dan ha de zet (dengan titik di atas) er zet es es dan ye es (dengan titik di bawah) de (dengan titik di bawah) te (dengan titik di bawah) zet (dengan titik di bawah) koma terbalik di atas ge ef qi ka `el `em `en w ha apostrof ye tidak dilambangkan b t S j h kh d Z r z s sy S d t Z ‘ g f q k l m n w h ` y .

‫زكاة الفطر‬ zakâh al-fitri ditulis III. Ta’ marbutah di akhir kata Bila dimatikan ditulis h ‫حكمة‬ ‫علة‬ ditulis ditulis hikmah `illah (Ketentuan ini tidak diperlukan bagi kata-kata Arab yang sudah terserap dalam bahasa Indonesia. 1. Konsonan Rangkap Karena Syaddah ditulis rangkap ‫متعددة‬ ّ ‫عدة‬ ّ ditulis ditulis muta`addidah `iddah II. seperti salat. zakat dan sebagainya. kasrah dan dammah ditulis t atau h. Vokal Pendek _َ _ _ ‫فعل‬ ___ fathah kasrah ditulis ditulis ditulis a fa’ala i . maka ditulis dengan h. ‫كرامة الولياء‬ karâmah al-aûliyâ` ditulis Bila ta’ marbutah hidup atau dengan harakat. kecuali bila dikehendaki lafal aslinya). Bila diikuti dengan kata sandang ‘al’ serta bacaan kedua itu terpisah. fathah.101 I. 2.

Vokal Pendek yang berurutan dalam satu kata dipisahkan dengan apostrof ‫أأنتم‬ ‫أعدت‬ ‫لئن شكرتم‬ ditulis ditulis ditulis A’antum u’iddat la’in syakartum .102 ‫ذكر‬ __ُ _ ‫يذهب‬ dammah ditulis ditulis ditulis zukira u yazhabu Vokal Panjang 1 2 3 4 fathah + alif ‫جاهلية‬ fathah + yâ’ mati ‫تنسى‬ kasrah + yâ’ mati ‫كـريم‬ dammah + waû mati ‫فروض‬ ditulis ditulis ditulis ditulis ditulis ditulis ditulis ditulis â jâhiliyyah â tansâ i karîm û furûd Vokal Rangkap 1 2 fathah + yâ’ mati ‫بينكم‬ fathah + waû mati ‫قول‬ ditulis ditulis ditulis ditulis ai bainakum aû qaûl IV.

1.103 V. Penulisan kata-kata dalam rangkaian kalimat Ditulis menurut penulisannya. dengan menghilangkan huruf l (el) nya. sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. ‫السمآء‬ ‫الشمس‬ ditulis ditulis as-Samâ` asy-Syams VI. ‫ذوي الفروض‬ ‫أهل السنة‬ ditulis ditulis zawi al-furûd ahl as-sunnah LAMPIRAN I NO 1 HLM FOOTNOTE BAB BAB I 6 10 Janganlah kamu membunuh dirimu. . Kata Sandang Alif + Lam Bila diikuti huruf Qomariyyah ditulis dengan menggunakan huruf “l”. ditulis ditulis al-Qur`ân al-Qiyâs Bila diikuti huruf Syamsiyyah ditulis dengan menggunakan huruf Syamsiyyah yang mengikutinya. ‫القرآن‬ ‫القياس‬ 2.

hai orang-orang yang berakal. Dan Dialah (Allah) yang telah menghidupkan kamu. Tidak diqawad (hukum qissas) bapak (karena membunuh) anak. atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi. Rasulullah Muhammad SAW mengqisas seorang muslim karena ia membunuh orang yahudi. menurut ar-Ramady diqawad muslim karena membunuh dzimmi. baik perbuatan tersebut mengenai jiwa. kemudian mematikan kamu. 5 50 4 6 7 8 9 10 11 12 13 14 53 54 55 56 13 19 20 21 23 24 57 58 60 26 28 31 15 32 16 61 33 . bukan karena orang itu (membunuh) orang lain. hamba dengan hamba. Barang siapa menghukum bunuh terhadap orang yang telah membunuhnya maka baginya dua pilihan yang baik. Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar. Barang siapa yang membunuh dengan sengaja. demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami(nya).104 2 11 3 12 4 13 Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar. Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu qisas berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh. maka baginya hukum qawad (qisas). Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu qisas berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh. harta benda. maupun selain jiwa dan harta benda. kemudian menghidupkan kamu. BAB III Jinayah menurut bahasa merupakan nama bagi suatu perbuatan jelek seseorang. Orang-orang Islam terpelihara darahnya. Barang siapa yang membunuh seorang manusia. ada kalanya ia meminta diat dan ada kalanya ia menghukum qisas. Dan dalam qisas itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu. Adapun menurut istilah adalah nama bagi suatu perbuatan yang diharamkan syara'. maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan Rasul bersabda Aku lebih berhak memutuskan terhadap orang (muslim) dan terhadap dzimi dalam hal ini. Dan Kami telah tetapkan kepada mereka di dalamnya (at-Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa. orang merdeka dengan orang merdeka. Kamu dan hartamu milik (kepunyaan) bapakmu.

Dan bahwasanya Dialah yang mematikan dan mengidupkan. 40 syaniyah sampai tahunnya sempurna dan khalifah. 20 hiqqah. dan 20 bani labun. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan. hai orang-orang yang berakal. maka apabila memperoleh pemaafan maka menjadi pembayaran diat. Diat kesalahan adalah lima bagian. 20 banat labun. maka apabila telah datang ajalnya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya. maka balasannya ialah jahannam. Maka barang siapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik. dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diyat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik pula. 20 jadz'ah. diatnya adalah seratus ekor unta yang di dalamnya. Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. kekal ia didalamnya dan Allah murka kepadanya. Hukuman pertama sebagai pengganti hukum qisas.105 17 18 66 34 46 19 47 20 67 50 21 22 23 68 70 51 54 58 Barang siapa yang membunuh maka ia dihadapkan kepada dua pilihan adakalanya dimaafkan dan adakalanya diqawad. serupa sengaja. Tiap-tiap umat mempunyai ajal. 24 25 26 77 1 2 78 3 27 4 28 85 14 BAB IV Dan sesungguhnya benar-benar Kami-lah yang menghidupkan dan mematikan dan Kami (pulalah) yang mewarisi. 20 banat makhadz. Dalam pembunuhan tersalah. tongkat dan batu. Dan dalam qisas itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu. dengan cambuk. . baik karena sebab-sebab yang menghalangi hukum qisas ataupun sebab-sebab yang telah ditetapkan. Dan barangsiapa yang membunuh seorang mu'min dengan sengaja. dan mengutukinya serta menyediakannya azab yang besar baginya.

Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar. LAMPIRAN II BIOGRAFI ULAMA Abd Qadir 'Audah . Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu qisas berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh. Dan telah Kami tetapkan didalamnya (at-Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa. Ta'zir berputar karena kemaslahatannya. dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diyat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik pula. Sesungguhnya Allah Penyayang kepadamu. kemudian menghidupkan kamu. Maka barang siapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik. Janganlah kamu membunuh dirimu (saudaramu). Hindari (penjatuhan) hukuman had (karena) adanya kesamaran (syubhat). Tidak diqawad (qisas) ayah (karena membunuh) anak. Dan Dialah (Allah) yang telah menghidupkan kamu.106 29 30 31 32 33 34 35 90 92 88 87 16 19 20 23 24 28 31 36 37 93 96 33 39 Dan apabila aku sakit Dialah yang menyembuhkan aku. kemudian mematikan kamu.

Pada masa mudanya beliau telah hafal 70. Pada tahun 1950 an M. Beliau sebagai penganjur ijtihad yang mengajarkan kembali kepada al-Qur'an dan as-Sunnah. alIman wa al-Hayat. Ahmad bin Hanbal. Karyanya yang terkenal adalah kitab Fiqh Sunnah. Yusuf al-Qardawi Beliau nama lengkapnya ialah Yusuf Abdullah al-Qardawi. beliau juga seorang tokoh ulama dalam gerakan Ikhwanul Muslimin dan sebagai Hakim yang disegani rakyat. dilahirkan pada tahun 1926 di desa Sifit Turab. dan sebagai mahasiswa terbaik. lahir di Bukhara pada tanggal 13 Syawal 194 H/ 810 M. Beliau meninggal ditiang gantungan sebagai akibat fitnahan dari lawan politiknya pada tanggal 8 desember 1954. beliau mendapat gelar profesor dalam jurusan Ilmu Hukum Islam pada Universitas Fuad I. Banyak menulis berbagai kitab baik mengenai masalah agama ataupun politik. Yusuf kecil sudah bisa hafal al-Qur'an 30 juz. Diantara hasil karyanya ialah kitab at-Tasyri' al-Jina'I alIslami. Yusuf melanjutkan ke Ma'had Tanta. Lalu bermukim di Madinah dan menyusun kitab at-Tarik al-Kabir. terus dilanjutkan lagi di Universitas al-Azhar Cairo. karyanya yang paling terkenal adalah kitab hadis shahih al-Bukhari. Beberapa karyanya telah dipublikasikan diantaranya: al-Halal wa al-Haram fi al-Islam. Muskilat al-Fakr wa kaifa alajaha al-Islam dan Fatwa-Fatwa kontemporer.107 Beliau adalah seorang ulama terkenal alumnus Fakultas Hukum Universitas al-Azhar Cairo pada tahun 1930. Dan wafat pada tahun 256 H. dipelopori oleh kolonel Gamal Abdul Nasher. Al-Bukhari Beliau nama lengkapnya Abu Abdullah Muhammad bin Ismail ibn Ibrahim alMughirah binj Bardzibaz al-Ja'far al-Bukhari. beliau turut mengambil bagian dalam memutuskan revolusi Mesir yang berhasil gemilang pada tahun 1952.000 hadis beserta sanadnya. setelah tamat pada tahun 1953. Guru-guru beliau adalah: Ibrahim al-Bukhari. al-Ibadat fi al-Islam. sampai mendaptkan Diploma tinggi di bidang bahasa dan sastra. Kemudian beliau pergi ke Hijaz untuk menuntut ilmu kepada para fuqaha dan muhaddisin. pada saat yang sama juga mengambil bidang study al-Qur'an dan as-Sunnah. As-Sayid Sabiq Beliau adalah seorang ulama terkenaldari Universitas al-Azhar Cairo. kemudian beliau melanjutkan lagi ke Ma'had al-Buhus wad Dirasat al-Arabiyah al-Aliyah. Ali bin al-Madani dan Ibnu Ruhuwaih. dan selesai pada tahun 1960 pada Fakultas Ushuluddin al-Azhar Mesir dan dilanjutkan pada program Doktoral dengan Disertasi berjudul Fiqhuz Zakat. dengan fasih dan sempurna tajwidnya pada usia 10 tahun. Mesir. . Bidang study yang diambilnya adalah bidang study Agama Fakultas Ushuluddin. Setelah menamatkan sekolah Dasar. dengan mendapatkan predikat Cumlaude. beliau dilahirkan tahun 1365 H.

19 Mei 1981 .108 LAMPIRAN III CURRICULUM VITAE 1. 8. 7. 4. 9. Wisma Gasenwa Gaten CC : Maktubillah Muhammad : PNS. : Supriyatni Tempat Tanggal Lahir : Cilacap. 5.Manggis 64. 2. Nama Jenis Kelamin Agama Alamat Asal Alamat di Yogyakarta Nama Ayah Pekerjaan Nama Ibu : Mukhlisin : Laki-laki : Islam : Suru Sunda 02/III Karang Pucung Cilacap 53255 : Jl. 3. 6.

6. H. lulus tahun 1999. Yogyakarta. MA Al-Hikmah 1 Bumiayu. MTs El-Bayan Bendasari Majenang. Malik Madany. ketiganya pada tahun yang sama (tahun 1995 sampai 1996) dan tidak lulus. MA El-Bayan Majenang. MA NIP: 150 182 698 .109 10. 3. Pekerjaan Riwayat Pendidikan : 1. 5. 2. 4. lulus tahun 1995. sampai tahun 1994. masuk tahun 1986. : Ibu Rumah Tangga SD Islam al-Hidayah. MAN Cigaru Majenang. masuk pada tahun 1996. masuk tahun 1992. lulus tahun 1992. Madrasah Muallimin Al-Hikmah Bumiayu. Cilacap. masuk tahun 1999. MA Muhammadiyah Majenang. 10 Sya'ban 1425 H 25 September 2004 Dekan Fakultas Syari’ah Drs. Skripsi berjudul “Euthanasia Dalam Prespektif Fiqh Jinayah” yang disusun oleh MUKHLISIN NIM: 9937 3425 Telah dimunaqosyahkan di depan sidang munaqosyah pada tanggal 25 September 2004/10 Sya'ban 1425 H dan dinyatakan telah dapat diterima sebagai salah satu syarat guna memperoleh gelar sarjana dalam Ilmu Hukum Islam. IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. masuk tahun 1994.

dia terlena oleh buaian duniawi." "Carilah sesuatu yang baik dari apa yang engkau alami disekitarmu" "Tuangkanlah apa yang ada dihati dan difikiran dengan tanganmu lewat penamu supaya orang bisa menimba dari apa yang kamu bisa. dengan raga manusia dapat bergerak tetapi Tuhan juga memberi kita jiwa. H. maka Tuhan juga memberi kita fikiran agar bisa melindungi diri. Fuad Zein.110 Ketua Sidang Dr. MA NIP: 150 228 207 Pembimbing I Drs. Oman Fathurohman SW." "Dunia itu hampa tanpa ilmu. H. Fuad Zein. kuasa. kadang manusia ingin lebih dari apa yang ada padanya. Oman Fathurohman SW. rasa. tetapi kadang manusia lupa. Slamet Khilmi Penguji II Drs. dengan jiwa manusia lebih berarti bahwa dia seorang manusia. percuma apa yang ada didunia jika ilmu tak menghiasinya. MAg NIP: 150 222 295 NIP: 150 252 260 Sekretaris Sidang Fatma Amilia NIP: 150 277 618 Pembimbing II Drs." . baik harta. MAg NIP: 150 222 295 MOTO "Tuhan berikan manusia berupa raga. MA NIP: 150 228 207 Penguji I Drs.

Oleh karena itu. وبه نستعين على أمور الدنيا و الدين‬ ّ ‫أشهد أن ل إله إل ال الملك الحق المبين.‫اشرف النبياء والمرسلين محمد وعلى اله واصحابه اجمعين‬ :‫أمابعد‬ ّ Selesainya penyusunan skripsi ini. yang bagi penyusun merupakan beban yang sangat berat.‫الحمد ل رب العالمين.111 KATA PENGANTAR ‫بسم ال الرحمن الرحيم‬ . memberikan kebahagiaan yang tak ternilai bagi penyusun. و الصلة والسلم على‬ ّ ّ . و أشهد أن محمدا عبده‬ ‫و رسوله المبعوث رحمة للعالمين. karena menguras banyak tenaga dan pikiran. sebuah hal yang sangat wajar apabila penyusun mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuannya kepada penyusun sehingga penyusun dapat menyelesaikan penulisan .

5. 3. 2. Mas Arifin. Imam. Bapak.112 skripsi ini. Dan Adikkku. selaku Dosen Pembimbing II. (Bapa) Maktubillah Muhammad dan (Ibu) Supriyatni. Untuk lebih rincinya penyusun mengucapkan banyak terima kasih kepada: 1. Drs. Sahabat-sahabatku. sebagai Dekan Fakultas Syari’ah. MA. penyusun hanya dapat membalas dengan doa. 4. maupun materiil. sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. Semua pihak yang tidak dapat disebut satu persatu atas bantuannya dan dukungannya. atas waktu dan bimbingan.Ag selaku Dosen Pembimbing I. Atas dukungannya baik do'a. segala kritik maupun saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan dan akan kami terima dengan kerendahan hati guna memperbaiki tugas kami selanjutnya . Afiyah Solikhakh. Slamet Khilmi. Oman Fathurohman SW. Eggi. semoga perbuatan baik tersebut diterima Allah SWT dan mendapat balasan yang berlipat ganda. M. sehingga skripsi ini selesai. Bapak. Kamilatu Syifa. Drs. Sayarif Hidayat. Bapak. Kedua Oarang Tua. Drs. H. Oleh karena itu. 6. atas waktunya untuk membimbing dan memberi dorongan. moril. A. Penyusun menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan dan masih banyak kekurangan. Malik Madany. Iwan dan teman-temanku yang lain yang tidak dapat disebutkan satu-persatu atas bantuannya dan dukungannya. baik tekhnis maupun isi serta arahan-arahan dalam penyusunan skripsi ini.

dengan dukungan keluarga. artinya membawa pasien pulang ke rumah. Hidup seorang pasien pun dapat diperpanjang untuk sesuatu jangka waktu tertentu. karena makna pembunuhan itu adalah menghilangkan nyawa seseorang yang dapat menghancurkan bangunan hidup manusia. yaitu euthanasia aktif dan euthanasia pasif. bahkan perhitungan saat kematian seorang pasien dapat dilakukan secara lebih tepat. Dengan perkembangan teknologi di bidang kedokteran. dan sebagainya. Pengobatan penyakit pun dapat berlangsung secara lebih efektif. tidak kalah pesatnya perkembangan teknologi di bidang medis. maka dapat dilakukan dua cara: 1. rasa sakit seorang penderita dapat diperingan. Secara umum euthanasia dibedakan menjadi dua. Euthanasia. 17 Jumadil Akhir 1425 H 4 Agustus 2004 Penyusun Mukhlisin NIM: 9937 3425 ABSTRAK Dengan pesatnya penemuan-penemuan teknologi modern. Jika pertimbangan kemampuan untuk memperoleh layanan medis yang lebih baik tidak memungkinkan lagi. Dengan peralatan kedokteran yang modern itu. . Biasanya dilakukan penghentian terapi yang memperpanjang hidupnya. Yogyakarta. yaitu tindakan terapi dengan harapan dapat mempercepat kematian pasien. membawanya pulang. yaitu perbuatan yang membiarkan pasien meninggal. terutama euthanasia aktif merupakan suatu tindakan pembunuhan walaupun atas dasar persetujuan si terbunuh. memutuskan untuk mengakhiri kehidupannya dengan jalan euthanasia. diagnose mengenai penyakit dapat lebih sempurna dilakukan. misalnya menghentikan pemberian infus. menunda operasi. menjadikan terjadinya perubahan-perubahan yang sangat cepat di dalam kehidupan sosial budaya manusia. menghentikan perawatan/pengobatan. Euthanasia aktif. Amin.113 Harapan kami adalah semoga skripsi ini dapat menambah wawasan keilmuan dan bermanfaat bagi kita semua. baik karena sakit yang sangat akut dan menderita atau biaya yang amat terbatas. Di antara sekian banyaknya penemuan-penemuan teknologi tersebut. Euthanasia pasif. 2. Dari hal inilah kemudian banyak pasien yang karena penyakitnya yang akut. khususnya bagi penyusun dan pembaca pada umumnya.

114

membiarkan pasien dalam perawatan seadanya, tanpa ada maksud melalaikannya, apalagi menghendaki kematiannya. Euthanasia adalah sebagai bentuk pembunuhan yang disengaja, apapun bentuknya pembunuhan, Allah melarang melakukannya, dan Allah mengingatkannya dengan bentuk ancaman dalam al-Qur'an yaitu berupa neraka jahannam. Dalam al-Qur'an tidak ada satupun ayat yang jelas yang menyinggung masalah euthanasia ini. Dalam fiqh jinayah euthanasia termasuk ke dalam jenis pembunuhan, yaitu telah memenuhi unsur maddi, syar'i dan adabi. Dan euthanasia ini merupakan jenis pembunuhan sengaja, maka sanksi atas tindakan euthanasia ini, adalah qisas. Dokter mendapatkan sanksi berupa qisas, tetapi tindakan dokter dilakukan atas izin dari pasien dan atas persetujuan dari keluarga pasien. Maka dokter tidak dihukum qisas, karena salah satu yang menyebabkan gugurnya hukum qisas adalah adanya kerelaan atau izin dari siterbunuh. Dan juga unsur kerelaan dalam pembunuhan merupakan syubhat yang dapat menggugurkan hukuman. Tetapi mengingat masalah euthanasia ini tidak hanya berimbas bagi orang perseorangan melainkan juga bagi masyarakat sekitar maka kemudian hakim atau ulul amri berhak memberikan hukuman berupa ta'zir.

115

BAB V PENUTUP

A.

KESIMPULAN Setelah menguraikan dan menjelaskan dalam bab-bab sebelumnya mengenai "Euthanasia dalam Prespektif Fiqh Jinayah", dapat diambil kesimpulan bahwa: 1. Dalam pandangan Fiqh Jinayah, euthanasia termasuk

kedalam bentuk pembunuhan, walaupun atas permintaan si terbunuh, karena dalam masalah euthanasia ini terdapat unsur penghilangan nyawa, sedangkan makna pembunuhan tersebut adalah: "Perbuatan perampasan atau peniadaan nyawa seseorang oleh orang lain yang mengakibatkan tidak berfungsinya seluruh anggota badan disebabkan ketiadaan roh sebagai unsur utama untuk menggerakan tubuh". Dan tindakan atas euthanasia tetap dilarang, tetapi sanksi hukumnyanya adalah ta'zir, karena perbuatan euthanasia terdapat unsur syubhat yang dapat menghilangkan hukuman asli (qisas) dan juga hukuman pengganti (diyat) karena terdapat persetujuan keluarga, sedangkan fungsi diyat

116

tersebut untuk ganti rugi atas tindakan yang telah dilakukan pelaku untuk kelangsungan hidup pihak wali atau ahli waris terbunuh.

B.

SARAN-SARAN Setelah menguraikan dan menjelaskan serta menyimpulkan tentang skripsi yang berjudul tentang "Euthanasia dalam Prespektif Fiqh Jinayah", maka dapat diberi saran-saran, antara lain: 1. Jika pertimbangan kemampuan untuk memperoleh layanan medis yang lebih baik tidak memungkinkan lagi, baik karena sakit yang sangat akut dan menderita atau biaya yang amat terbatas, maka dapat dilakukan dua cara: 1) menghentikan perawatan/pengobatan, artinya membawa pasien ke rumah; 2) membiarkan pasien dalam perawatan seadanya, tanpa ada maksud melalaikannya, apalagi menghendaki kematiannya. 2. Umat Islam diharapkan tetap berpegang teguh pada kepercayaannya yang memandang segala musibah (termasuk menderita sakit) sebagai ketentuan yang datang dari Allah. Hal itu hendaknya dihadapi dengan penuh kesabaran dan tawakal. 3. Perlu kiranya dalam Fiqh Jinayah diberikan kompilasi dan kodifikasi hukum Islam atas persoalan-persoalan jinayah (pidana) kontemporer, agar masyarakat lebih tahu akan sikap yang akan dilakukan dan sebagai bahan pendidikan bagi masyarakat muslim yang mempelajarinya khususnya.

117 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->