BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Masalah Dalam abad XX ini kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi semakin pesat, karena muncul berbagai penemuan yang sangat bermanfaat bagi manusia. Khususnya di bidang kedokteran telah banyak penemuan obat-obatan, alatalat mekanik, serta cara-cara perlindungan terhadap penyakit.1 Hampir semua aspek kehidupan manusia tersentuh oleh teknologi, harus disadari bahwa teknologi telah membawa banyak manfaat untuk umat manusia.2 Di antara sekian banyak penemuan-penemuan teknologi tersebut, tidak kalah pesatnya perkembangan teknologi di bidang medis. Dengan perkembangan teknologi di bidang kedokteran ini, bukan tidak mustahil akan mengundang masalah pelik dan rumit. Melalui pengetahuan dan teknologi kedokteran yang sangat maju tersebut, diagnose mengenai suatu penyakit dapat lebih sempurna untuk dilakukan. Pengobatan penyakit pun dapat berlangsung secara lebih efektif. Dengan peralatan kedokteran yang modern itu,rasa sakit seorang penderita dapat diperingan. Hidup seorang pasien pun dapat diperpanjang untuk sesuatu jangka waktu tertentu, dengan memasang sebuah “ respirator “. Bahkan perhitungan saat kematian penderita penyakit tertentu, dapat dilakukan secara lebih tepat.

Ali Ghufron Mukti dan Adi Heru Sutomo, Abortus, Bayi Tabung, Euthanasia, Transplantasi Ginjal, Dan Operasi Kelamin dalam tinjauan Medis, hukum, dan Agama Islam, cet, ke.1 (Yogyakarta: Aditya Media,1993), hlm.28.
2

1

Thomas A Shannon, Pengantar Bioetika, terj, K. Bartens, (Jakarta: Gramedia, 1995), hlm. 7

1

2

Menyinggung masalah kematian, menurut cara terjadinya, maka ilmu pengetahuan membedakannya ke dalam tiga jenis kematian, yaitu: 1. Orthothanasia, yaitu kematian yang terjadi karena proses alamiah. 2. Dysthanasia, yaitu suatu kematian yang terjadi secara tidak wajar. 3. Euthanasia, yaitu suatu kematian yang terjadi dengan pertolongan atau tidak dengan pertolongan dokter.3 Yang menjadi persoalan ialah jenis kematian yang ketiga, yaitu kematian dalam kategori euthanasia atau biasa disebut juga mercy killing. Euthanasia biasa didefinisikan sebagai a good death atau mati dengan tenang. Hal ini dapat terjadi karena dengan pertolongan dokter atas permintaan dari pasien ataupun keluarganya, karena penderitaan yang sangat hebat dan tiada akhir, atau tindakan membiarkan saja oleh dokter kepada pasien yang sedang sakit tanpa menentu tersebut, tanpa memberikan pertolongan pengobatan seperlunya. Memberikan hak kepada individu untuk mendapatkan pertolongan dalam pengakhiran hidupnya, bagi banyak negara masih menjadi perdebatan yang sengit. Sampai sekarang ini, kaidah non hukum yang manapun (agama, moral, kesopanan), menentukan: membantu orang lain mengakhiri hidupnya, meskipun atas permintaan yang bersangkutan dengan nyata dan dengan sungguh-sungguh adalah perbuatan yuang tidak baik.4 Pada dasarnya masalah euthanasia ini timbul dari adanya suatu dilema, apakah seorang dokter mempunyai hak untuk mengakhiri hidup seorang pasien atas
Djoko Prakoso dan Djaman Andi nirwanto, Euthanasia hak asasi manusia dan hukum pidana, cet. ke-1 (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1984), hlm. 9-10
4 3

Wila Chandrawila Supriadi, Hukum Kedokteran (Bandung: Mandar Maju, 2001), hlm.106

3

permintaan pasien itu sendiri atau dari keluarganya, dengan dalih untuk menghilangkan atau mengakhiri penderitaan yang berkepanjangan, tanpa dokter itu sendiri menghadapi konsekuensi hukum. Dalam hal ini dokter tersebut menghadapi konflik bathin, dimana sebagai manusia biasa sang dokter tidak sampai hati menolak permintaan dari pasien dan keluarganya itu. Apalagi keadaan si pasien yang sekarat berbulan-bulan dan dokter tahu bahwa pengobatan yang diberikan itu maka dokter telah melanggar hukum, disamping itu juga telah pula melanggar sumpah dokter yang telah diucapkannya sebelum menjalankan profesi sebagai seorang dokter. Dalam memecahkan masalah ini, ada cara yang cukup unik yaitu bila keadaan antara hidup dan mati (maribundity), maka proses dan usaha medis jika tiada berpotensi lagi, penyembuhan harus dihentikan. Dengan perkataan lain, bahwa dalam keadaan demikian maka pembunuhan karena kasihan/karena terpaksa yang diijinkan oleh dokter diperbolehkan. Dalam hubungan itu, bahkan ada dokter yang berpendapat bahwa dokter itu boleh mengeluarkan atau mencabut alat yang diperjuangkan untuk memperpanjang hidup dari seorang pasien yang dalam keadaan expiration of the soul, yaitu apabila proses kematian sudah mulai nampak.5 Menurut dr. Kartono Muhammad (Wakil Ketua Ikatan Dokter Indonesia), seperti dikutip Akh Fauzi Aseri. Ia mengatakan seseorang dianggap mati apabila batang otak yang menggerakkan jantung dan paru-paru tidak berfungsi lagi. Tegasnya, batang otak merupakan pedoman untuk mengetahui masih hidup atau matinya seseorang yang sudah tidak sadar. Dari sini mesin-mesin pembantu seperti

5

Djoko Prakoso dan Djaman Andi Nirwanto, Euthanasia, hlm. 59

hlm. Yanggo dan HA. (Jakarta: Pustaka Firdaus. karena uzur. Kematian secara alamiah. Pada umumnya. hak yang mengalir dari “hak untuk menentukan diri sendiri” (the right of selfdetermination –TROS).." dalam Chuzaimah T. Pada mati tidak secara alamiah. kelahiran selalu membawa kebahagiaan. "Euthanasia Suatu Tinjauan dari Segi Kedokteran.8 Akh. Hukum Kedokteran.4 pemacu jantung dapat dicabut tanpa dituduh melakukan euthanasia terhadap penderita. demikianlah pendapat dari sebagian besar masyarakat Indonesia. bahkan dibunuh oleh orang lain.102 Ibid. 2002). kecelakaan.). maupun tidak dikehendaki.7 Banyak orang berpendapat bahwa hak untuk mati. Kematian dapat terjadi baik dikehendaki.66 7 6 Wila Chanrawila Supriadi. penyakit. Hafiz Anshary AZ. tetapi mati tidak secara alamiah adalah mati yang tidak diharapkan. (ed. bunuh diri. dan kematian selalu membawa kesedihan. hlm. Problematika Hukum Islam Kontemporer. dapat selalu diterima sebagai sesuatu hal yang wajar. sehingga penolakan atas pengakuan terhadap hak atas mati. akan ada hubungannya dengan hak seseorang untuk mati secara tidak alamiah (selanjutnya “hak untuk mati”) dari seseorang. apakah itu pengakhiran hidup dengan bunuh diri (zelfmoord) atau minta “dibunuh” (diakhiri hidupnya – selanjutnya euthanasia). dan Hukum Islam. sebab manusia pada saatnya akan mati. adalah pelanggaran terhadap hak asasi manusia. semua menurut sebagian besar masyarakat Indonesia adalah takdir. Hukum Pidana. adalah hak asasi manusia.6 Lahir dan mati adalah takdir. hlm.103. 8 . Fauzi Aseri. dan tidak ada seorangpun yang dapat menghindari/menentukan mengenai kelahiran dan kematian.

baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain. Jadi perbuatan-perbuatan yang mengarah kepada tindakan untuk menghentikan hidup seseorang itu merupakan perbuatan yang bertentangan dengan kehendakNYA. termasuk di dalamnya euthanasia. karena tindakan pembunuhan secara euthanasia ini merupakan pembunuhan tanpa hak. walaupun dengan kerelaan dan atas permintaan orang itu sendiri.(6): 151 Al-Maidah (5): 32 Al-Hajj (22): 66 10 11 12 . Karena pembunuhan adalah peniadaan atau perampasan nyawa seseorang oleh orang lain yang mengakibatkan tidak berfungsinya seluruh anggota badan disebabkan ketiadaan roh sebagai unsur utama menggerakan tubuh. Allah berfirman dalam al-Qur'an: 0 ‫ل تقتلوا أنفسكم ان ال كان بكم رحيما‬ ‫ول تقتلوا النفس التى حرم ال ال بالحق ذالكم وصاكم به‬ 0 ‫تعقلون‬ ‫لعلكم‬ ‫من قتل نفسا بغير نفس أو فساد في الرض فكانما قتل‬ 0 ‫الناس جميعا‬ ‫وهو الذي أحياكم ثم يميتكم ثم يحييكم ان النسان لكفور‬ 9 10 11 12 9 An-Nisa (4): 29 Al-An'am.5 Euthanasia dapat dikategorikan sebagai perbuatan yang menyangkut kepada suatu tindakan untuk penghentian kehidupan seseorang. Dalam Islam masalah kematian manusia merupakan hak prerogatif Allah SWT. maka perbuatan ini bisa dimasukan sebagai jarimah pembunuhan. Allah SWT melarang perbuatan yang mengarah kepada kematian dalam bentuk apapun.

13 . yang diketahui oleh empat orang saksi (dengan mata kepala sendiri). keluarga sebagai pihak pemberi izin dan sisakit sebagai korban euthanasia. karena kerelaan korban itu bukan merupakan unsur jarimah pembunuhan. kerelaan korban untuk dibunuh bukan suatu penyebab kebolehan pembunuhan. Jadi dalam masalah euthanasia ini merupakan tindakan pembunuhan yang disengaja dan direncanakan Di dalam hukum Islam.13 Jika dibandingkan dengan ketiga faktor di atas maka terjadinya tindakan euthanasia tidak ada satupun karena alasan bil haq. Riwayat Ibnu Masud. 1971). Dalam unsur euthanasia terdapat tiga hal yaitu dokter sebagai pelaku euthanasia. Tindakan euthanasia dilakukan dengan pertimbangan yang matang dan dengan adanya unsur perencanaan. sekalipun ada prinsip lain bahwa korban atau keluarganya berhak memaafkan sanksi qisas atau diyat atau keduanya. Orang yang keluar dari agama Islam.6 Syekh Ahmad Mustafa al-Maragi menjelaskan bahwa pembunuhan (mengakhiri hidup) seseorang bisa dilakukan apabila disebabkan oleh salah satu dari tiga sebab: 1. Ahmad Mustafa al-Maragi. 3. Karena pembunuhan oleh seseorang secara zalim. walaupun ada unsur kerelaan dari pasien. XI:43. 2. Jadi tindakan euthanasia merupakan tindakan pembunuhan dengan unsur kesengajaan dan direncanakan. (Mesir: Musthafa al-Baby al-Halaby. sebagai suatu sikap menentang jamaah Islam. Janda (yang pernah bersuami) secara nyata berbuat zina. Tafsir al-Maragi.

tetapi pihak keluarga diberikan hak atas tuntutan tindak pidana baik itu pembunuhan maupun pelukaan berupa hukuman diyat atau dimaafkan secara mutlak. penyusunan skripsi ini bertujuan untuk: Menjelaskan bagaimana pandangan Fiqh Jinayah euthanasia. Permasalahan Euthanasia ini sampai sekarang masih menimbulkan pro dan kontra baik pada pandangan hukum. etika.7 Allah melarang adanya pembunuhan baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Karena hal ini sangat berguna untuk kelangsungan hidup pihak keluarga korban maupun pihak pelaku kejahatannya. Tujuan dan Kegunaan Sesuai dengan pokok masalah di atas. Untuk itu penyusun berusaha meneliti masalah Euthanasia ini dalam Prespektif Fiqh Jinayah. budaya dan lain-lain pada umumnya dan juga pada pandangan Islam dalam Fiqh Jinayah (Hukum Pidana Islam) khususnya. yang merupakan hak Tuhan. agama. Pada dasarnya Allah memberikan hukuman qisas bagi pembunuhan. Adapun kegunaan yang diharapkan dari penyusunan karya ilmiah ini adalah : terhadap masalah . dalam menentukan hukumnya. Pokok Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka dapat dirumuskan pokok masalah sebagai berikut: Apakah euthanasia merupakan tindak pidana dalam tinjauan Fiqh Jinayah? C. B.

2001)  . ahli medis. karya Petrus Yoyo Karyadi. hukum. diantaranya mengemukakan tentang apakah tindakan euthanasia merupakan hak asasi manusia?.Tengker. psikologi. etika dan ham banyak dibicarakan oleh banyak praktisi. ∗ Dalam buku Mengapa Euthanasia ?: Kemajuan Medis dan Konsekuensi Yuridis.8 Skripsi ini diharapkan dapat menjadi sumbangan pemikiran di dalam menambah khasanah pengetahuan tentang hukum Islam khususnya yang berkaitan dengan permasalahan euthanasia dalam prespektif Fiqh Jinayah. Ada beberapa buku yang telah membahas tentang masalah euthanasia. Dan juga menjelaskan bahwa dalam hak asasi manusia terdapat hak untuk hidup dan hak untuk mati. cet. (Yogyakarta: Media Pressindo. Jika dokter melakukan tindakan euthanasia secara non alami maka dokter bisa dituntut pasal 344 Petrus Yoyo Karyadi. psikolog. diantaranya: dalam buku Euthanasia dalam Prespektif Hak Asasi Manusia. Euthanasia Dalam Prespektif Hak Asasi Manusia.ke-1. Dan dari segi yuridis dalam masalah euthanasia ini. buku ini menjelaskan bahwa Euthanasia atau kematian baik adalah demi kepentingan pasien semata-mata bukan untuk kenyamanan orangorang yang sehari-hari berada di sekelilingnya. Euthanasia harus berlangsung atas dasar suka rela. Buku ini meninjau dan menyoroti permasalahan euthanasia dari segi HAM. ahli hukum. yaitu atas permintaan pasien itu sendiri tanpa adanya campur tangan dari pihak lain. Telaah Pustaka Kajian tentang Euthanasia dalam prespektif medis. D. seperti ulama. karya F.

9 karena bersalah menghilangkan nyawa orang atas permintaan. yang merupakan study analisis komparatif terhadap KUHP dan hukum Islam tentang pelaku euthanasia yang dipaksa . Dan hal ini juga dilihat dari prespektif hukum pidana. dan pasal 354 karena menolong orang bunuh diri. Tengker. Dalam karya tulis tersebut menekankan cara dilakukannya euthanasia yang ada unsur paksaannya dan sanksi hukum terhadap pelaku euthanasia yang dipakai. karya Anna Iffah Akmala. Mengapa Euthanasia? Kemampuan Medis dan Konsekuensi Yuridis. ∗ Dalam buku Euthanasia Hak Asasi Manusia Dan Hukum Pidana. bagaimana kedudukan Euthanasia dalam KUHP dan juga bagaimana prospeknya di masa depan dalam KUHP. ∗ Dalam Skripsi yang berjudul "Sanksi Hukum Terhadap Pelaku Euthanasia yang dipaksa menurut KUHP dan Hukum Islam". sebagian yang kontra menganggap hak untuk hidup sebagai dasarnya. yang memuat tentang Hak untuk Mati seseorang dan kaitannya dengan hukuman mati. hasil karya Imawan Mukhlas Abadi. hubungannya dengan HAM. (Bandung:  Nova. "Sanksi Hukum Terhadap Pelaku Euthanasia yang dipaksa menurut KUHP dan Hukum Islam". karya Djoko Prakoso dan Djaman Andi Nirwanto.t) Djoko Prakoso dan Djaman Andi NIrwanto. 1984) Imawan Mukhlas Abadi. yang merupakan pandangan Etika situasi terhadap Euthanasia yang meliputi manusia dalam sudut pandang Etika Situasi. ∗ Dalam skripsi yang berjudul "Euthanasia dalam Prespektif Etika Situasi". Skripsi Strata Satu Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga (1999)  . bagi yang pro menganggap selain punya hak untuk hidup manusia juga mempunyai hak untuk mati. t. buku ini menjelaskan kedudukan Euthanasia dengan Hak Asasi Manusia. (Jakarta: Ghalia Indah. Euthanasia Hak Asasi Manusia Dan Hukum Pidana. kehidupan dan  F.

Juga terdapat perkembangan euthanasia di berbagai negara dan ethanasia dalam tinjauan berbagai agama. Kerangka Teoretik Euthanasia merupakan istilah untuk pertolongan medis agar kesakitan atau penderitaan yang dialami seseorang yang akan meninggal dunia diperingan. ∗ Di sekian penelitian yang ada yang membahas euthanasia ini semuanya mengacu pada permasalahan medis sebagai objek penelitian dasarnya. Skripsi Strata Satu Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga (2002).  .10 kematian yang manusiawi serta pandaangan Etika Situasi terhadap Euthanasia. yang mana tindakan euthanasia yang terdapat suatu unsur tindakan pembunuhan. yang dilakukan secara suka rela atas permintaan sendiri dikarenakan sakit. Yang membedakan antara penelitian yang peneliti lakukan dengan penelitian sebelumnya adalah dalam penelitian ini peneliti meneliti permasalahan euthanasia dalam prespektif Fiqh Jinayah. E. Konsekwensi Yuridis dan kajian Etika. Sedangkan penelitian-penelitian sebelumnya adalah penelitian yang meninjau dari segi Hukum Pidana Positif. Komparasi Hukum Islam dengan Hukum Pidana Positif dalam masalah euthanasia yang dipaksa. Juga Anna Iffah Akmala. sebagaimana tindakan pembunuhan pada umumnya. dan penelitian-penelitian di atas merupakan bentuk-bentuk macam penelitian dalam segi medis ditinjau dari berbagai aspek. HAM. dalam prespektif Fiqh Jinayah. "Euthanasia Dalam Prespektif Etika Situasi". Dalam Skripsi ini akan dibahas apakah tindakan euthanasia ini termasuk pembunuhan dan dapat dikenai sanksi.

Vol. dimaksudkan untuk mengakhiri kehidupan pasien. Euthanasia. hlm. dkk.16 Dalam euthanasia aktif. kematian merupakan tujuan tindakan seseorang. Tanggung Jawab Hukum Seorang Dokter dalam Menangani Pasien (Jakarta: Ikhtiar Baru. Sedangkan euthanasia pasif berusaha untuk memecahkan masalah-masalah moral mengenai perawatan pasien yang tidak ada harapan lagi atau yang sudah mendekati ajalnya Ensiklopedi Indonesia (Jakarta: Ikhtiar Baru-Van Hoeve. demi kepentingan pasien dan atau keluarganya. euthanasia adalah dengan sengaja dokter atau bawahannya yang bertanggungjawab kepadanya atau tenaga ahli lainnya melakukan suatu tindakan medis tertentu untuk mengakhiri hidup pasien atau mempercepat proses kematian pasien atau tidak melakukan tindakan medis untuk memperpanjang hidup pasien yang menderita suatu penyakit yang menurut ilmu kedokteran sulit untuk disembuhkan kembali.11 berarti mempercepat kematian seseorang yang ada dalam kesakitan dan penderitaan hebat menjelang kematiannya. Definisi euthanasia aktif ialah sengaja diambil tindakan yang berakibat kematian. 16 .14 Menurut Petrus Yoyo Karyadi. Artikel Euthanasia.2:978. sukarela atau tidak sukarela. 1990). 15 14 Petrus Yoyo Karyadi. seperti dosis besar obat tidur atau suntikan racun. hlm.15 Euthanasia pada garis besarnya ada dua. yakni euthanasia aktif dan euthanasia pasif.28 Abdul Jamali. sedang euthanasia pasif ialah membiarkan perawatan yang dapat memperpanjang kehidupannya. Tindakan yang diambil. atas atau tanpa permintaan dan atau keluarga sendiri. 1987).132.

18 Petrus Yoyo Karyadi. hlm. Dalam euthanasia aktif ini masih perlu dibedakan. yaitu euthanasia aktif langsung terjadi bila dokter atau tenaga kesehatan lainnya melakukan suatu tindakan medis untuk meringankan penderitaan pasien sedemikian rupa sehingga secara logis dapat diperhitungkan bahwa hidup pasien diperpendek atau diakhiri. karena kasih sayang yang dilakukan oleh dokter dengan mempergunakan instrumen (alat). Gramedia Pustaka Utama. K Bartens. apakah pasien menginginkannya. 69-71. Euthanasia.31 . PT.12 dengan menghentikan segala terapi.18 Euthanasia aktif adalah proses kematian diringankan dengan memperpendek kehidupan secara terarah dan langsung. Menurut Yusuf Qardawi yang dimaksud euthanasia aktif (taisir maut al-faal) ialah tindakan memudahkan kematian si sakit. euthanasia aktif kemudian dibagi menjadi dua golongan. terj. sehingga bisa berlangsung penyelesaian secara alamiah. (Jakarta. tidak menginginkannya. Euthanasia aktif tidak langsung terjadi bila dokter atau tenaga kesehatan lainnya tanpa maksud untuk memperpendek hidup pasiennya. 1995). pengantar bio etika. Berdasarkan akibatnya.17 Euthanasia aktif terjadi bila dokter atau tenaga kesehatan lainnya secara sengaja melakukan suatu tindakan untuk memperpendek hidup pasien atau untuk mengakhiri hidup pasien tersebut. atau tidak berada dalam keadaan di mana keinginannya dapat diketahui. hlm. sedangkan euthanasia pasif 17 Thomas A Shanon. melakukan tindakan medik untuk meringankan penderitaan pasien dengan mengetahui adanya risiko bahwa tindakan medik ini dapat mengakibatkan diperpendek/ diakhiri hidup pasiennya.

surat-surat. Dalam hal ini permintaan pasien harus mendapat perhatian yang tegas agar tidak disalahgunakan. hlm. (Jakarta: Gema Insani Press.13 (taisir maut al-munfa'il) tidak dipergunakan alat-alat atau langkah-langkah aktif untuk mengakhiri kehidupan si sakit. alat-alat bukti lainnya yaitu: kesaksian-kesaksian. pengakuan dan isyarat-isyarat. Euthanasia. II:749Djoko Prakoso dan Djaman Andi Nirwanto. telah mengatur perikehidupan manusia secara menyeluruh mencakup segala macam aspeknya. harus dibuktikan dengan adanya saksi atau pun oleh alat-alat bukti lainnya. 1995). yang dibebankan kepada pelaku euthansia yaitu dokter sebagai pihak pengeksekusi euthanasia. dan keluarga sebagi pihak penyetuju tindakan euthanasia. maka dalam menentukan benar tidaknya permintaan yang tegas dan sungguh-sungguh. bahwa euthanasia khususnya euthanasia aktif.20 Hukum Islam atau Fiqh Islam. dokter sebagai pelaku (pengeksekusi) euthanasia.71-72 750. seperti macam-macam perbuatan pidana dengan ancaman pidana disebut al-jinayah. tetepi ia hanya dibiarkan tanpa diberi pengobatan untuk memperpanjang hayatnya. itu merupakan suatu perbuatan jarimah pembunuhan karena sudah memenuhi unsur-unsur jinayah yakni: 19 Yusuf Qardawi. yaitu pasien sebagai yang di euthanasia. Dan yang diteliti dalam masalah euthansia ini adalah euthanasia aktif secara langsung yang dilakukan atas permintaan pasien.19 Dalam masalah euthanasia ini tidak terlepas dari beberapa pihak. Fatwa-Fatwa Kontemporer. diantaranya adalah masalah-masalah hukum yang berhubungan dengan kepidanaan. 20 . Sebagaimana yang telah dipaparkan di atas.

14 1.Syar’i) 2. hlm. II: 7-9. Berbicara tentang pembunuhan. 2004). Jumhur mengklasifikasikannya menjadi tiga (sulasi). 2. yaitu pembunuhan sengaja. sehingga mereka dapat dituntut atas kejahatan yang mereka lakukan. 1997). hlm.3. 22 Jaih Mubarok dan Enceng Arif Faizal. 3. semi sengaja (syibh al-'amd) dan kekeliruan. Berkenaan dengan ini. Djazuli. Sebagian Hanafiyah mengklasifikasikanya menjadi empat (ruba'i). cet. terjadi perbedaan pendapat di antara para ulama dalam mengklasifikasikan bentuk-bentuk pembunuhan. ke-2. Pelaku kejahatan adalah orang yang dapat menerima khithab atau dapat memahami taklif. Unsur ini dikenal dengan istilah “unsur moral” (ar-Rukn al-Adabi)21 Dalam konteks di atas jelas bahwa pelaku euthanasia aktif bisa dikenai sanksi pembunuhan sengaja. Lihat juga Abd al-Qadir 'Awdah. cet. dan serupa kekeliruan (ma jara majr al-khata'). Ulama Malikiyah mengklasifikasikan bentuk-bentuk pembunuhan menjadi dua yaitu: pembunuhan sengaja (qatl al-'amd) dan kekeliruan (qatl al khata'). Adanya unsur perbuatan yang membentuk jinayah. semi sengaja. maka perlu diberikan klasifikasinya agar mudah menempatkan/ memposisikan suatu tindak pidana pembunuhan menurut kadar ukurannya. Kaidah Fiqh Jinayah (Asas-asas Hukum Pidana Islam). dan pembunuhan secara tidak langsung (qatl bi attasabbub).22 A. atTasyri' al-Jina'I al-Islami Muqaranah bi al-Qanun al-Wad'I. semi sengaja. kekeliruan. yaitu: pembunuhan sengaja. artinya pelaku kejahatan tadi adalah mukallaf.9. Unsur ini dikenal dengan istilah “unsur formal” (ar-Rukn asy. 4. baik berupa melakukaan perbuatan yang dilarang atau meninggalkan perbuatan yang diharuskan. kekeliruan. (Bandung: Pustaka Bani Quraisy. Unsur ini dikenal dengan istilah “unsur material” (ar-Rukn al-Maddi) 3. 21 . Pembunuhan adakalanya terjadi karena disengaja oleh pelaku dan adakalanya tidak disengaja. serupa kekeliruan. 1992). Sebagian Hanafiyah mengklasifikasikannya menjadi lima (khumasi). (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. yaitu: pembunuhan sengaja. Perbedaan pengklasifikasian tersebut adalah: 1. Adanya nash yang melarang perbuatan-perbuaatan tertentu yang disertai ancaman hukuman atas perbuatan di atas. (Bayrut: Muassasat ar-Risalat. ke-1. Fiqh Jinayah (upaya menanggulangi kejahatan dalam Islam).

Jadi. 2. hal 117.24 Rahmat Hakim. pembunuhan sengaja (qatl al-'amd). tetapi karena kelalaiannya. Hukum Pidana Islam (Fiqih Jinayah). pembunuhan semi sengaja (qatl syibh al-'amd). perbuatan tersebut tidak ditujukan terhadap korban. Lihat juga A. namun sama sekali tidak menhendaki kematian si korban. Perbuatan itu sendiri sengaja dilakukan dalam objek yang dimaksud. cet. Walaupun disengaja. matinya korban merupakan bagian yang dikehendaki si pembunuh. pembunuhan karena kesalahan (qatl al-khata'). Jadi matinya korban sama sekali tidak diniati. cet ke-1 desember 2000. (Jakarrta: PT Raja Grafindo Persada. 3. yaitu perbuatan penganiayaan terhadap seseorang tidak dengan maksud untuk membunuhnya tetapi mengakibatkan kematian. 5.15 Untuk mengetahui arti dari jenis-jenis pembunuhan ini maka perlu diperjelas artinya yaitu sebagai berikut: 1. (Bandung. ke-2. yaitu suatu perbuatan penganiayaan terhadap seseorang dengan maksud untuk menghilangkan nyawanya. pembunuhan serupa kekeliruan (ma jara majr al-khata'). 123 24 23 Jaih Mubarok. akan tetapi di luar kesadarannya menyebabkan kematian orang lain. 2000).17. Djajuli. 1997). hlm. yaitu kesalahan dalam berbuat sesuatu yang mengakibatkan matinya seseorang. Fiqh JInayat (upaya menaggulangi Kejahatan Dalam Islam. pelaku membuat sarana yang pada awalnya tidak dimaksudkan untuk mencelakakan orang lain. pelaku sama sekali tidak bermaksud melakukan suatu aktivitas tertentu. kaidah fiqh jinayah. CV Pustaka Setia. . pada akhirnya menyebabkan kematian orang lain. hlm.23 4. pembunuhan secara tidak langsung (qatl bi at-tasabbub).

Apabila euthanasia aktif itu didukung oleh kerelaan si pasien maka yang demikian disebut tindakan bunuh diri dengan meminjam tangan atau melalui orang lain. Tetapi dalam hal ini yang perlu dipertanyakan apakah unsur kerelaan atas si terbunuh termasuk ke dalam unsur pembunuhan disengaja. anggota tubuhnya. Islam sangat memperhatikan keselamatan hidup dan kehidupan manusia25. cet. Oleh Abu Sa’id al-Falahi dan Aunur Rafiq Shaleh Tamhid. bila melihat kepada maknanya euthanasia yaitu suatu perbuatan penghilangan nyawa seseorang atas permintaan orang itu sendiri. bahwa kehidupan seseorang bukanlah miliknya sendiri. ataupun selnya. karena dia tidak menciptakan dirinya (jiwanya). 26 . Karena memelihara nyawa manusia merupakan salah-satu tujuan utama dari lima tujuan 25 Masjfuk Zuhdi.26 Manusia dituntut untuk memelihara jiwanya (hifz an-nafs).16 Dari jenis-jenis pembunuhan di atas. Masail Fiqhiyah (Jakarta: CV. 1994). hlm. Halal dan Haram dalam Islam.. Syaikh Muhammad Yusuf al-Qardawi mengatakan. Haji Masagung.161. Masalah euthanasia merupakan masalah yang sangat sulit. dan masalah ini biasanya timbul oleh alasan bahwa pasien sudah tidak tahan lagi menanggung derita yang berkepanjangan atau tidak ingin meninggalkan beban ekonomi atau tidak punya harapan untuk sembuh. Dirinya hanyalah titipan yang dititipkan Allah. terj. hlm. karena telah ada unsur perbuatannya dan unsur tujuannya yaitu agar orang tersebut mati.ke-1. (Jakarta: Robbani Press. apalagi memusuhinya atau memisahkannya dari kehidupan. berarti hal ini termasuk dalam pembunuhan disengaja. lebih-lebih terhadap jiwa manusia. Karena itu ia tidak boleh mengabaikannya. 2000). Yusuf Qardawi. 379.

dalam al-Qur'an tidak ada ayat yang menyinggung terhadap masalah euthanasia ini secara khusus. . biasanya upaya untuk mengurangi beban pasien dalam penderitaannya melalui suntikan dengan bahan pelemah fungsi syaraf dalam dosis tertentu (neurasthenia). Euthanasia…. Dan sanksi pembunuhan ini adalah hukum Qisas sesuai dengan kadar dan jenis pembunuhannya Perbuatan euthanasia sama dengan bunuh diri yang dilakukan dengan meminjam tangan orang lain. Oleh karenanya. dan hal ini dilarang oleh Allah dengan ancaman neraka jahannam. Memutuskan hukum dalam masalah euthanasia ini bukan merupakan hal yang mudah. seseorang sama sekali tidak berwenang dan tidak boleh melenyapkannya tanpa kehendak dan aturan Allah sendiri. bahwa penyakit yang diderita pasien tidak dapat disembuhkan lagi dan diberikan jalan pintas yaitu dengan jalan medis juga. walaupun terdapat unsur kerelaan dari pihak siterbunuh maka perbuatan tersebut termasuk perbuatan jarimah.69. dan hal ini dianggap sebagai perbuatan yang menentang takdir Tuhan. tetapi ia adalah anugerah Allah Swt. Fuzi Aseri. 27 Akh.17 syariat yang diturunkan oleh Allah Swt. hlm. Hipotesis Euthanasia adalah istilah dalam dunia medis yang merupakan keputusan dokter terhadap keadaan penyakit yang dialami pasien.27 F. Maka euthanasia ini merupakan perbuatan yang terlarang. Namun karena masalah euthanasia ini berhubungan masalah pembunuhan. Jiwa meskipun merupakan hak asasi manusia.

ialah pendekatan normatif. yaitu penyusun . Artinya dalam pembahasannya melakukan pendekatan terhadap permasalahan yang dititikberatkan pada aspek-aspek hukum. 4.Teknik pengumpulan data Untuk mendapatkan data dalam penyusunan skripsi ini. Dalam rangka pengumpulan data. dan dalam penyelesaiannya dibantu dengan pendapat-pendapat para ahli dan para mujtahid 3. sesuai dengan perkembangan zaman yang disesuaikan dengan keadaan sekarang. ialah menggunakan penelitian kepustakaan (library research). yaitu meneliti permasalahan euthanasia sebagai suatu permasalahan baru.Jenis penelitian Jenis penelitian yang digunakan ialah kepustakaan (literatur) 2. dalam hukum Islam lebih khusus dalam Fiqh Jinayah (Hukum Pidana Islam).Pendekatan Pendekatan yang digunakan dalam penyusunan skripsi ini. yang mana euthanasia yang terdapat dalam dunia medis diteliti dengan prespektif fiqh jinayah (Hukum Pidana Islam). Metode Penelitian 1. yaitu Allah SWT.Sifat penelitian Penelitian ini bersifat eksploratif. G. penyusun menggunakan teknik dokumentasi. Penyusun menelusuri bahan penelitian yang ada hubungannya dengan permasalahan yang diteliti.18 Sebab masalah kehidupan dan kematian seseorang itu berasal dari pencipta-Nya.

serta pelaku tindakan euthanasia dan juga sanksi hukum apa yang harus diterapkan bagi perbuatan euthanasia ini. 5. penulis membuat sistematika pembahasan yang terdiri dari bab-bab yang saling berhubungan dan saling menunjang yang satu dengan yang lainnya secara logis. sebab-sebab yang memungkinkan . Pada bab pertama. hipotesis.19 melakukan observasi terhadap sumber-sumber data yang berupa dokumen baik primer ataupun sekunder. Analisis Data Data yang terkumpul dianalisis secara kualitatif dengan cara berfikir deduktif. dimulai dengan pendahuluan yang menjelaskan latar belakang permasalahan yang akan dicari jawabannya. metode penelitian dan sistematika pembahasan. Deduktif artinya meneliti dan menganalisa macam-macam bentuk euthanasia. H. Sistematika Pembahasan Agar tidak terjadi tumpang tindih dan untuk konsistensi pemikiran. Setelah bab pertama merupakaan pendahuluan ialah bab kedua. kerangka teori. tujuan dan kegunaan penelitian. jenis euthanasia yang termasuk kedalam perbuatan jarimah. tinjauan umum dan masalah sekitar euthanasia. telaah pustaka. yakni tentang macam-macam euthanasia. kemudian ditentukan. bab ini membicarakan mengenani pengertian euthanasia serta permasalahannya yang sangat erat hubungannya dengan euthanasia. kemudian dikumpulkan dan diolah sedemikian rupa sehingga menghasilkan data yang diperlukan.

yaitu eu dan thanatos. Setelah diuraikan secara panjang lebar dan terperinci pada bab-bab sebelumnya. Sedangkan saran-saran diajukan pula. langkah selanjutnya adalah mengambil suatu kesimpulan dari apa yang telah menjadi pokok pembahasan dalam karya ilmiah ini. Pada bab keempat berisi tentang Praktek Euthanasia Dalam Prespektif Fiqh Jinayah yang meliputi Euthanasia aktif sebagai jarimah. Serta sanksi hukum bagi pelaku euthanasia. Bab kelima.20 dilakukannya euthanasia. dan thanatos berarti mati. Pada bab ketiga berisi tentang Prinsip-prinsip Fiqh Jinayah terhadap Euthanasia yang meliputi pengertian Hukum Pidana Islam. pada bab yang terakhir ini. BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG EUTHANASIA A. Maksudnya adalah mengakhiri hidup dengan . jarimah Qisas-diyat. Pengertian Euthanasia Istilah euthanasia berasal dari bahasa Yunani. Kata eu berarti baik. memuat tentang kesimpulan dan saran-saran. demi perbaikan dan kesempurnaan dari pengaturan masalaah euthanasia yang telah ada serta pandangan untuk masa-masa yang akan datang. dan juga beberapa tinjauan baik dari segi Medis. HAM dan Hukum Pidana Positif (KUHP). tujuan Fiqh Jinayah serta aspek kemanusiaan dalam Fiqh Jinayah. sebagai acuan dalam meninjau permasalahan pidana khususnya dalam masalah euthanasia.

). namun demikian pandangan medis. 64. 29 J. Secara etimologis euthanasia berarti kematian dengan baik tanpa penderitaan. Problematika Hukum Islam Kontemporer. Euthanasia atau hak mati bagi pasien sudah ratusan tahun dipertanyakan. sehingga tidak menjadi persoalan dari segi kesusilaan.29 Akh. Hak untuk mati ini secara diam-diam telah dilakukan yang tak kunjung habis diperdebatkan. Euthanasia Suatu Tinjauan dari Segi Kedokteran. (Antropologi Teologis II. Fauzi Aseri. buku ke-4. sulit dijawab secara tepat dan objektif. atau enjoy death (mati dengan tenang). Chr Purwa Widyana. Sejumlah pakar dari berbagai disiplin ilmu telah mencoba membahas euthanasia dari berbagai sudut pandang. etika. dan Hukum Islam. hlm. sosial dan yuridis masih mengundang berbagai ketidakpuasan. 2002). "Euthanasia" beberapa soal moral berhubungan dengan quintum. sementara yang tidak setuju menganggapnya sangat bertentangan dengan nilai-nilai moral. (ed.21 cara yang mudah tanpa rasa sakit. Dalam arti yang demikian itu euthanasia tidaklah bertentangan dengan panggilan manusia untuk mempertahankan dan memperkembangkan hidupnya. Oleh karena itu euthanasia sering disebut juga dengan mercy killing.28 Jadi euthanasia berarti mempermudah kematian (hak untuk mati). hlm. namun untuk mengurangi atau meringankan penderitaan orang yang sedang menghadapi kematiannya. Hukum Pidana. Bagi yang setuju menganggap euthanasia merupakan pilihan yang sangat manusiawi. agama. Artinya dari segi kesusilaan dapat dipertanggungjawabkan bila orang yang bersangkutan menghendakinya. a good death. etika dan agama. dalam Chuzaimah T. (Jakarta: Pustaka Firdaus. maka dari itu dalam mengadakan euthanasia arti sebenarnya bukan untuk menyebabkan kematian. 1974). Yanggo dan Hafiz Anshary AZ.25 28 .

euthanasia lebih menunjukkan perbuatan yang membunuh karena belas kasihan. bahkan kadang-kadang disertai bahaya mengakhiri kehidupan sebelum waktunya. Pemakaian secara sempit Piet Go O. ke-1. Carm. (Yogyakarta: Media Presindo.30 Sejak abad ke-19. Akhirnya kata ini dipakai dalam arti yang lebih sempit sehingga makna dan artinya adalah mematikan karena belas kasihan. Agar persoalan euthanasia ini dapat dibahas dengan sewajarnya sebaiknya arti kata-katanya diuraikan dengan lebih seksama lagi. euthanasia dapat diterangkan sebagai pembunuhan yang sistematis karena kehidupannya merupakan suatu kesengsaraan dan penderitaan. Secara etimologis di zaman kuno berarti kematian tenang tanpa penderitaan yang hebat. 31 30 . Inilah konsep dasar dari euthanasia yang kini maknanya berkembang menjadi kematian atas dasar pilihan rasional seseorang.22 Akan tetapi dalam perkembangan istilah selanjutnya. terminologi euthanasia dipakai untuk menyatakan penghindaran rasa sakit dan peringanan pada umumnya bagi yang sedang menghadapi kematian dengan pertolongan dokter. 5-6 Petrus Yoyo Karyadi. melainkan lebih terarah pada campur tangan ilmu kedokteran yang meringankan orang sakit atau orang yang berada pada sakarotul maut. Euthanasia dalam prespektif hak asasi manusia. hlm. Masalah tersebut semakin kompleks karena definisi dari kematian itu sendiri telah menjadi kabur. (Malang: Analekta Keuskupan Malang. Pemakaian terminologi euthanasia ini mencakup tiga kategori. Euthanasia Beberapa Soal Etis Akhir Hidup Menurut Gereja Katolik. hlm. cet.26-27. sehingga banyak masalah yang ditimbulkan dari euthanasia ini. yaitu:31 1. 2001). maka menurut pengertian umum sekarang ini. Dewasa ini orang tidak lagi memakai arti asli. 1989).

hlm.27. 32 Ibid. euthanasia diartikan: 1). Dilakukan khusus untuk kepentingan pasien itu sendiri atas permintaan atau tanpa permintaan pasien. 2).23 Secara sempit euthanasia dipakai untuk tindakan menghindari rasa sakit dari penderitaan dalam menghadapi kematian. terminologi euthanasia dipakai untuk perawatan yang menghindarkan rasa sakit dalam penderitaan dengan resiko efek hidup diperpendek. . tetapi pada hemat penulis apapun istilahnya ketiga cara tersebut adalah tindakan euthanasia. Dengan sengaja melakukan sesuatu untuk mengakhiri hidup seorang pasien. euthanasia berarti memendekkan hidup yang tidak lagi dianggap sebagai side effect. melainkan sebagai tindakan untuk menghilangkan penderitaan pasien. Beberapa ahli membedakan ketiga cara tersebut. Pemakaian secara luas Secara luas. Pemakaian paling luas Dalam pemakaian yang paling luas ini. Beberapa pengertian tentang terminologi euthanasia:32 a. Dengan sengaja tidak melakukan sesuatu (palaten) untuk memperpanjang hidup pasien 3). hukum dan psikologi.. 3. Menurut hasil seminar aborsi dan euthanasia ditinjau dari segi medis. 2.

Ketika hidup berakhir. Atas atau tanpa permintaan pasien atau keluarganya. atau tidak memperpanjang hidup pasien. 3).176 33 . 2). dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur euthanasia adalah sebagai berikut: 1). 4). mempercepat kematian. untuk yang beriman dengan nama Allah dibibir. Macam-macam Euthanasia Euthanasia bisa ditinjau dari berbagai sudut. Berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu 2). Berpindahnya ke alam baka dengan tenang dan aman tanpa penderitaan. Mengakhiri penderitaan dan hidup seorang sakit dengan sengaja atas permintaan pasien sendiri dan keluarganya.24 b. Pasien menderita suatu penyakit yang sulit untuk disembuhkan kembali. (Jakarta: Erlangga. Dari beberapa kategori tersebut. sadar tidaknya pasien dan lain-lain. Etika profesional dan Hukum Pertanggungjawaban Pidana Dokter. Menurut kode etik kedokteran indonesia. B. seperti cara pelaksanaanya. 3).1991). dari mana datang permintaan. Mengakhiri hidup. Demi kepentingan pasien dan keluarganya. Oemar Seno Adji. diringankan penderitaan sisakit dengan memberinya obat penenang. hlm. kata euthanasia dipergunakan dalam tiga arti:33 1). 3).

66- 67. Biasanya dilakukan dengan penggunaan obat-obatan yang bekerja cepat dan mematikan. 35 . 2. Euthanasia aktif langsung. hlm. yaitu euthanasia aktif dan euthanasia pasif Di bawah ini dikemukakan beberapa jenis euthanasia: 1. hlm. euthanasia aktif euthanasia pasif euthanasia volunter euthanasia involunter34 1. tetapi diketahui bahwa risiko tindakan tersebut dapat mengakhiri hidup pasien. 1992). Misalnya.31. Teknologi Kedokteran dan Tantangannya terhadap Bioetika (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Misalnya dengan memberi tablet sianida atau suntikan zat yang segera mematikan. 34 Amri Amir.1997). mencabut oksigen atau alat bantu kehidupan lainnya. Euthanasia aktif Euthanasia aktif adalah perbuatan yang dilakukan secara aktif oleh dokter untuk mengakhiri hidup seorang (pasien) yang dilakukan secara medis. b. yang menunjukkan bahwa tindakan medis yang dilakukan tidak akan langsung mengakhiri hidup pasien. 3. yaitu cara pengakhiran kehidupan melalui tindakan medis yang diperhitungkan akan langsung mengakhiri hidup pasien. Euthanasia aktif tidak langsung. Bunga Rampai Hukum Kesehatan (Jakarta: Widya Medika. 4.25 Secara garis besar euthanasia dikelompokan dalam dua kelompok. Euthanasia aktif terbagi menjadi dua golongan:35 a. Kartono Mohamad.

Euthanasia tidak langsung. Dalam hal ini dianggap famili pasien yang bertanggung jawab atas penghentian bantuan pengobatan. hal ini diungkapkan oleh beberapa tokoh. bahwa pasien mungkin mati dengan lebih cepat.26 2. diantaranya Frans magnis suseno dan Yezzi seperti dikutip Petrus Yoyo Karyadi. Euthanasia murni. mereka menambahkan macam-macam euthanasia selain euthanasia secara garis besarnya. yaitu usaha untuk memperingan kematian dengan efek samping. Perbuatan ini sulit dibedakan dengan perbuatan kriminal. 3. sehingga pasien diperkirakan akan meninggal setelah tindakan pertolongan dihentikan. euthanasia juga mempunyai macam yang lain. 2. Euthanasia pasif Euthanasia pasif adalah perbuatan menghentikan atau mencabut segala tindakan atau pengobatan yang perlu untuk mempertahankan hidup manusia. . Kedalamnya termasuk semua usaha perawatan agar yang bersangkutan dapat mati dengan "baik". Euthanasia involunter Euthanasia involunter adalah jenis euthanasia yang dilakukan pada pasien dalam keadaan tidak sadar yang tidak mungkin untuk menyampaikan keinginannya. yaitu usaha untuk memperingan kematian seseorang tanpa memperpendek kehidupannya. Selain kategori empat macam euthanasia di atas. Euthanasia volunter Euthanasia jenis ini adalah Penghentian tindakan pengobatan atau mempercepat kematian atas permintaan sendiri. 4. yaitu: 1.

hipnotik dan analgetika yang mungkin "de fakto" dapat memperpendek kehidupan walaupun hal itu tidak disengaja. 4. hlm. 37 .. yaitu mempercepat kematian atas persetujuan atau permintaan pasien.27 Di sini ke dalamnya termasuk pemberian segala macam obat narkotik. Euthanasia aktif diartikan melakukan suatu tindakan tertentu sehingga pasien meninggal. atau atas keputusan pemerintah. euthanasia dibedakan antara yang aktif dan yang pasif. Dalam literatur. hlm.30. Euthanasia nonvoluntary. bahkan akan menambah beban penderitaan (not initiating life support treatment). Euthanasia sukarela. Sedang euthanasia pasif diartikan sebagai tidak dimulainya melakukan tindakan untuk memperpanjang hidupnya. yaitu mempercepat kematian sesuai dengan keinginan pasien yang disampaikan oleh atau melalui pihak ketiga (misalnya keluarga). misalnya dengan mengakhiri pemberian nafas buatan melalui respirator atau mencabut ventilator dalam arti penghentian pemberian pernafasan artifisial.36 3. Misalnya tidak memberikan shock terapi dan tidak menyambung pernafasan dengan ventilator sesudah pasien manula penderita jantung kronis yang mendapat serangan 36 Petrus Yoyo Karyadi. tetapi yang tidak begitu bermanfaat lagi. Keadaan-keadaan yang Memungkinkan Dilakukannya Euthanasia Euthanasia mempunyai arti yang berdekatan dengan “membiarkan datangnya kematian” (letting die).67-68 Ibid.37 C. Adakalanya hal itu tidak harus dibuktikan dengan pernyataan tertulis dari pasien atau bahkan bertentangan dengan pasien. Euthanasia.

(Jakarta: FK UI. hlm. maka dengan ditemukannya alat bantu pernafasan (respirator) dan alat pacu jantung (pace maker).38 Seperti telah disebutkan pada awal tulisan ini. masih ada kemungkinan ditolong dengan menggunakan alat tersebut. artinya pasien belum meninggal. Dengan demikian sekarang dikenal istilah mati otak (brain death). Guwandi.28 jantung untuk kesekian kalinya dan sudah tidak sadarkan diri untuk waktu yang agak lama. maka ada harapan orang tersebut akan siuman kembali. Persoalan yang kemudian timbul adalah sampai berapa lama orang itu bertahan dengan alat bantu tersebut. dengan kata lain dia hanya hidup secara vegetatif. 2000). Kalau dahulu mati didefinisikan sebagai berhentinya denyut jantung dan pernafasan. tetapi bila otak sudah tidak berfungsi. maka seseorang yang oleh karena suatu hal mengalami henti nafas mendadak (respiratory arrest) atau henti jantung (cardiac arrest). 40 . Kumpulan Kasus Bioethics & biolaw. yang jelas kehidupannya tergantung kepada alat. yang menunjukkan bahwa otak sudah tidak berfungsi lagi. maka hampir tidak mungkin dia hidup tanpa bantuan alat tersebut. yakni sel-sel tubuh saja yang masih menunjukkan tanda kehidupan. Secara medis sekarang diketahui jika rekaman otak masih menunjukkan fungsi yang baik. Keadaan semacam ini berlangsung berhari-hari. kemajuan dalam bidang ilmu dan tekhnologi kedokteran telah menambah beberapa konsep fundamental tentang mati. 38 J. berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun tanpa di ketahui kapan akan berakhir. dan kalau alat tersebut dicabut kemungkinan besar ia akan segera mati.

Aborsi dan Euthanasia ditinjau dari segi medis.3-4 39 . Tidak ada pemecahan rasional lain yang dapat memperbaiki situasi. 2. Siswo Sudarmo. sampai hatikah seorang dokter dengan sengaja melepas alat bantu yang nota bene akan mengakhiri kehidupan seseorang?. tepatnya di daerah Rotterdam.29 Dalam keadaan seperti ini tidak jarang keluarga pasien meminta dokter untuk segera mengakhiri penderitaan pasien dengan cara melepas semua alat bantu. seorang dokter tidak di hukum dalam melakukan euthanasia. Bagaimana sikap seorang dokter?" Makalah pada seminar sehari. yang menjadi persoalan adalah: pertama. Harus ada penderitaan fisik atau psikis yang tidak terpikulkan dan dahsyat dialami pasien. (Yogyakarta: FKMPY. Kedua. 3. 1990). 4.R. Pasien memahami betul situasinya sendiri maupun kemungkinankemungkinan alternatif yang tersedia dan mampu menimbang-nimbang antara pelbagai kemungkinan yang ada dan sesungguhnya telah pula melakukan pilihannya. hukum dan psikologis. sebagai berikut: 1. Akan lebih rumit lagi apabila permintaan pasien (keluarganya) adalah dengan alasan sosial ekonomi (biaya) sehingga keluarga memaksa untuk membawa pulang pasien. Pengadilan Negeri Rotterdam mempunyai kriteria bahwa seorang dokter tidak dihukum dalam melakukan euthanasia. H. pada yang terakhir ini jelas yang harus mencabut segala alat bantu adalah dokter (dokter yang bertanggungjawab). Baik penderitaan ini maupun keinginan untuk mengakhiri kehidupan berlangsung tiada henti-hentinya. hlm. apakah dokter mempunyai hak untuk melakukan hal itu tanpa ia dikenai sanksi hukum?. "Euthanasia.39 Di Negara Belanda.

artikel atau surat kabar dan siaran televisi maupun radio. Pada keputusan untuk memberikan bantuan. yang akan mengeluarkan resep mengenai obat atau bahan yang akan dipakai. 8. Euthanasia dan Hak Asasi Manusia (HAM) Hak asasi mausia (HAM) mungkin merupakan kata yang telah ditulis dalam ratusan ribu halaman kertas. politikus. (Bandung: Nova. Hak-hak asasi manusia sebagaimana dikenal dewasa ini dengan nama antara lain "human rights. lawyer dan sebagainya. demikian pula pada bantuan itu perlu diperhatikan kecermatan dan ketelitian yang semaksimal mungkin sesuai dengan kepatutan yang berlaku (misalnya dengan mengikutsertakan dalam perembukan beberapa teman sejawat dan ahli-ahli lainnya. buku.30 5. Jadi. the Right of man" hal mana pada prinsipnya dapat dirumuskan sebagai "hak-hak yang dimiliki manusia menurut kodratnya. Ia seolah-olah menjadi "trademark" peradaban modern saat ini. yang tak dapat dipisahkan dari hakekatnya dan karena itu bersifat suci". 7. 95. Pada keputusan untuk memberikan bantuan harus selalu melibatkan seorang dokter. jurnalis. 6. hlm. juga menarik perhatian sejumlah besar ahli. Dengan kematian ini tidak ada orang lain yang dirugikan atau menderita tanpa alasan.40 D. Keputusan untuk memberikan bantuan tidak diambil oleh satu orang saja. Mengapa euthanasia? Kemampuan medis & konsekuensi Yuridis. t. Tengker. hak asasi dapat F. Sebagai basis dari pemikiran manusia. 40 .t). mengarahkan perbuatan manusia dan mengatur masyarakat.

hlm. Imron Halimi.D. terdapat bermacam dokumen. Euthanasia Cara Mati Terhormat Orang modern. 41 . (Solo: CV. 1990). dari kedua dokumen tersebut terdapat semboyan.41 Sebagai contoh bahwa Nabi Musa berusaha menyelamatkan umatnya dari penindasan Fir'aun. 129. menerapkan kasih sayang. tidak boleh memaksa. diantaranya Declarations des Droits de'l Homme et du Citoyen (1789) di Perancis dan The Four Freedoms of F. Freedom of Religion (kebeasan beragama). Fraternite (kerukunan atau persaudaraan). 5. 2. 4. Egalite (kesamarataan).31 dikatakan sebagai hak dasar yang dimiliki oleh pribadi manusia sebagai anugerah Tuhan yang dibawa sejak lahir. yaitu: 1. Roosevelt (1941) di Amerika Serikat. Ramadhani. 3. Dalam hak-hak asasi manusia. politik. Nabi Muhammad dengan mu'jizatnya. Hak-hak Asasi manusia secara umum mencakup hak pribadi. Islam mengajarkan belas kasihan sebagai suatu nilai kemanusiaan yang pokok dan satu dari kebajikan yang fundamental bagi orang yang mengaku dirinya muslim. serta untuk mendapatkan perlakuan tata cara peradilan dan perlindungan hukum. dan lain sebagainya. perlakuan yang sama dalam hukum. Freedom of Speech (kebebasan mengutarakan pendapat). Dari pemahaman yang demikian maka sebenarnya perjuangan untuk membela hak-hak kemanusiaan tersebut mungkin seumur umat manusia itu sendiri. berbuat adil. al-Qur'an. Liberte (kemerdekaan). sosial dan kebudayaan. banyak mengajarkan tentang toleransi. Hak asasi itu tidak dapat dipisahkan dari eksistensi pribadi manusia itu sendiri. bijaksana.

dapat disimpulkan bahwa hak asasi manusia mencakup: a. Freedom from Want (kebeasan dari kekurangan).43 Mengenai hak untuk hidup. maka masih merupakan perdebatan dan pembicaraan di kalangan ahli berbagai 42 Djoko Prakoso dan Djaman Andi Nirwanto. maka akan terlintas dalam benak pikiran bahwa "hak untuk hidup" atau the right to life. Euthanasia Hak Asasi Manusia dan Hukum Pidana. Hak kemerdekaan beragama. "The right to die" ini berkaitan dengan munculnya "revolusi biomedis" dan tentunya berkaitan pula dengan masalah euthanasia. Hak kemerdekaan atas diri sendiri. memang telah diakui oleh dunia yaitu dengan dimasukannya dan diakuinya Universal Declaration of Human Right oleh perserikatan bangsa-bangsa tanggal 10 desember 1948. b. Dan dalam hak untuk hidup ini juga tercakup pula adanya "hak untuk mati" atau the right to die.32 6. d. karena tidak dicantumkan secara tegas dalam suatu deklarasi dunia. e.32-33. Hak kemerdekaan berkumpul. Hak kemerdekaan pikiran. 137 . hlm. dan 7. adalah termasuk didalamnya. Menyinggung masalah hak-hak asasi manusia. terutama dalam hak kemerdekaan atas diri sendiri.42 Dari kedua dokumen tersebut. Freedom from Fear (kebebasan dari ketakutan). (Jakarta: Ghalia Indah. Hak menyatakan kebebasan dari rasa takut. 1984). 43 Petrus Yoyo Karyadi. hlm. Euthanasia. Sedangkan mengenai "hak untuk mati". c.

Jadi masih terbatas dalam suatu keadaan tertentu.44 Di Negara-negara maju seperti Amerika Serikat masalah "hak untuk mati" sudah diakui. 42 45 46 . Euthanasia. misalnya bagi penderita suatu penyakit yang sudah tidak dapat diharapkan lagi penyembuhannya dan pengobatan yang diberikan sudah tidak berpotensi lagi. seperti diperagakan dalam "peradilan semu" dalam rangka Konperensi Hukum Se-Dunia di Manila. Ibid.33 bidang dunia. 141 Ibid.. hlm. hlm. Dan lagi Negara yang telah mengakui adanya "hak untk mati". maka perbuatan dokter yang telah memebantu untuk melaksanakan permintaan seorang pasien atau dari keluarganya seperti diuraikan di atas memounyai kekebalan terhadap "criminal liability" maupun terhadap "civil liability". melainkan 44 Imron Halimi. dengan jalan meminta pada dokter untuk menghentikan pengobatan yang selama ini diberikan kepadanya. Dengan demikian maka penderita suatu penyakit yang tak menentu nasibnya tersebut akan segera mati dengan tenang. Kendatipun telah diakui dalam berbagai undang-undang.45 Penderita suatu penyakit yang sudah demikian tersebut diakui dan diperbolehkan menggunakan "hak untuk mati"-nya.46 Dari uraian di atas kiranya dapat disimpulkan bahwa masalah hak-hak asasi manusia itu bukanlah semata-mata merupakan persoalan yuridis semata. ataupun dengan jalan meminta agar diberikan obat penenang dengan dosis yang tinggi. dan bahkan di Negara-negara bagian ada yang mengaturnya secara jelas dalam berbagai undang-undang. namun masih harus diakui pula bahwa "hak untuk mati" itu tidak bersifat mutlak.

Bunga Rampai Hukum Kesehatan.68 . apabila jantung dan paru-paru sudah tidak bekerja lagi. hlm. cet. berbagai alat atau mesinmesin penopang hidup dan kemajuan dalam perawatan intensif. maka perlu difahami tentang konsep mati yang dianut dari dulu hingga kini.47Bila demikian. orang sudah dinyatakan mati dan tidak perlu diberi pertolongan lagi. Penting bagi para dokter untuk memperjelas arti mati. etis. organ yang memompa darah mengalir keseluruh tubuh. moral yang ada di suatu masyarakat tertentu. Dari hal ini dinyatakan bahwa mati 47 Amri Amir. maka pemecahannya haruslah disesuaikan dengan masalah moral. kondisi dan kebiasaan yang ada dalam suatu negara E. ke-1. Pada umumnya dikenal beberapa konsep tentang mati: a. Konsep tentang Mati Untuk dapat memahami lebih jauh timbulnya masalah euthanasia. maka dari itu perlu dijelaskan arti "mati". apa yang dimaksud dengan "mati"?. (Jakarta: Widya Medika. dalam perawatan intensif (di rumah sakit yang mempunyai fasilitas dan ahlinya) jantung yang sudah berhenti dapat dipacu untuk bekerja kembali dan paru-paru dapat dipompa agar kembali kembang kempis. 1997). Euthanasia dalam Ilmu Kedokteran 1. Kini keadaan sudah berubah. Oleh sebab itu masalah "hak untuk mati" yang dihadapkan sebagai suatu kasus hukum. Berhentinya darah mengalir Konsep ini bertolak dari kriteria mati berupa berhentinya jantung.34 bersangkut paut dengan masalah nilai-nilai etis. Perubahan pengertian ini berkaitan dengan adanya alat-alat resusitasi. Dahulu.

Bartens. 2).69 Thomas A. K. termasuk stimulus yang sangat menyakitkan. Kematian berlangsung. (Jakarta: PT. Kartono Mohamad. hlm. Shanon. maka bila tidak terjadi lagi pernafasan dan peredaran darah. Teknologi Kedokteran dan Tantangannya Terhadap Bioetika. sehingga tersusunlah makhluk yang unik yang disebut manusia. pencatat gerakan jantung dari gelombang listrik. Pengantar Bioetika. Pasien tidak berfungsi lagi bereaksi (unreceptive and unresponsive) terhadap stimulus (sentuhan. Pemisahan tubuh dan jiwa Manusia sebagai kesatuan tubuh dan jiwa atau kesatuan materi dan bentuk. Gramedia Pustaka Utama.58-59 Electroencephalogram (EEG) adalah: pencatatan terhadap keaktivan otak.58. Kematian berarti terputusnya kesatuan tubuh dan jiwa. paling sedikit selama satu jam. (Jakarta: PT. Terj. 1995). itu berarti bahwa kematian sudah menjadi kenyataan. hlm. Jiwa atau bentuk menjiwai tubuh atau materi. dan situasi ini diteguhkan oleh elektroensefalogram (EEG).11 52 51 . Dan juga erat kaitannya dengan Electrokardiogram.. rangsangan) dari luar. jika dua unsur ini dipisahkan.35 adalah berhentinya fungsi jantung dan paru-paru.1992) hlm. Gramedia Pustaka Utama. tidak ada refleks.49 b. Kematian otak Kriteria ini adalah: tidak sanggup menerima rangsangan dari luar dan tidak ada reaksi atau rangsangan. 50 49 Ibid.48 Karena nafas dan darah bahan yang menandakan kehidupan. hlm. 48 Ibid. tidak ada gerak sepontan atau pernafasan.51 Dasar untuk menetapkan bahwa otak tidak berfungsi lagi adalah:52 1).. dan kedua jenis ini terdapat pada alat oscillograf (alat catat getaran gelombang).50 c. Tidak ada tanda-tanda terjadinya pernafasan spontan.

cortex dan neo cortex) berarti kematian manusia. hlm. 2. Dalam hal ini penghormatan atas hak pasien untuk penentuan nasib sendiri masih memerlukan pertimbangan dari seorang dokter terhadap pengobatannya. Bunga Rampai Hukum Kesehatan. sehingga keputusannya diambil melalui pertimbangan yang jelas. Di antaranya adalah penghormatan atas hak pasien. maka hak utama dari pasien tentunya adalah hak untuk mendapatkan pemeliharaan kesehatan (the right to health care). dua buah kata bagi sebagian negara adalah kata-kata yang mewah. yaitu agar 53 Amri Amir. Tidak ada refleks. 1997). Berbicara tentang "hak pasien" yang dihubungkan dengan pemeliharaan kesehatan.36 3). sebab masih banyak negara yang tidak atau belum mengatur hal-hal yang berkaitan dengan hak pasien itu. . karena tanpa organ ini bagi manusia tidak mungkin mempertahankan integrasi biologisnya dan karena itu juga integrasi sosialnya. Hak-Hak Pasien Berkembangnya etika pelayanan kesehatan sebagai suatu bidang khusus dan pencarian pelbagai hak melalui pengadilan telah membantu untuk menetapkan banyak hak dalam konteks pelayanan kesehatan.71. dan Elektroensefalogram (EEG)-nya datar. Kematian seluruh otak (batang otak. Hak untuk mendapatkan pemeliharaan kesehatan yang memenuhi kriteria tertentu. (Jakarta: Widya Medika.53 "hak pasien". Pasien harus diberi kesempatan yang luas untuk memutuskan nasibnya tanpa adanya tekanan dari pihak manapun setelah diberi informasi yang cukup.

setelah dokter memberikan informasi. ia tidak bisa memilih. hlm. Pengantar Bioetika (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 56 55 Wila Chandrawila Supriadi. Jika seseorang tidak tahu. Hak atas persetujuan Hak untuk enentukan diri sendiri (the right of self determination) juga terproses sejalan dengan perkembangan dari hak asasi manusia. Mandar Maju 2001). Hukum Kedokteran. ia tetap tinggal korban paternalisme. Agar lebih jelas dapat diuraikan hak-hak pasien yaitu sebagai berikut:55 a. tidak dapat menguasai situasi. pasien mempunyai hak-hak lainnya. Hukum Kedokteran.147-148. dan jika pasien tidak mempunyai kemungkinan itu. hlm.54 Dalam pelaksanaan untuk mendapatkan pemeliharaan kesehatan.18. Shanon. .12. Dihubungkan dengan tindakan medik. yang memenuhi standar pelayanan kesehatan yang optimal. sebagai misal antara lain hak untuk mendapatkan informasi tentang penyakitnya. tidak bisa membuat rencana.37 pasien mendapatkan upaya kesehatan. Bartens . hlm. Thomas A.56 54 Wila Chandrawila Supriadi. Terj K. Hak atas informasi Agaknya hak yang paling penting adalah hak atas informasi. (Bandung: CV. 1995). hak untuk mendapatkan pendapat kedua. sarana kesehatan dan bantuan dari tenaga kesehatan. Kemungkinan untuk memperoleh informasi merupakan syarat untuk menjalankan otonomi. maka hak untuk menentukan diri sendiri diformulasikan dengan apa yang dikenal dengan persetujuan atas dasar informasi (informed consent). Adalah hak asasi pasien untuk menerima atau menolak tindakan medik yang ditawarkan oleh dokter.

57 Ibid. Penolakan seperti ini sebagai perwujudan otonomi pasien dalam hak menentukan dirinya. Kerjasama ini bukan atas inisiatif dokter yang pertama. d. tetapi atas inisiatif pasien. Hak atas privacy Konfidensialitas dan perlindungan informasi yang diperoleh tenaga medis dalam hubungan dengan pasiennya adalah sangat penting.57 f. tindakandan pelayanan lain kepada pasien pada sarana pelayanan kesehatan. pemeriksaan. . Kebutuhan pasien atas catatan medis sebagai dasar pengetahuan untuk melaksanakan hak otonominya. Hak atas pendapat kedua Yang dimaksud dengan pendapat kedua ialah adanya kerjasama antara dokter pertama dengan dokter kedua. hal ini sebagai dasr bagi relasi antara dokter dan pasien. maka tidak bisa dihindarkan konsekuensi bahwa ia mempunyai hak juga untuk menolak pengobatan. Catatan medis di rumah sakit Rekam medik adalah berkas yang berisi catatan. dan dokumen tentang identitas pasien. Jika konfidensialitas tidak dapat dijamin.38 c.. Hak untuk menolak pengobatan Jika seseorang mempunyai hak untuk memberi persetujuan dengan suatu pengobatan_atas dasar informasi yang diberikan sebelumnya. 20. pengobatan. Dokter pertama akan memberikan seluruh hasil pekerjaannya kepada dokter kedua. maka orang akan enggan mencari bantuan medis. hlm.

harus memenuhi segala syarat keahlian dan pengertian tentang susila jabatan. Pada umumnya kode etik tersebut didasarkan pada sumpah Hippocrates. umumnya semua pejabat dalam bidang kesehatan.39 3. Keahlian dibidang ilmu dan teknik baru dapat memberi manfaat yang sebesarbesarnya. 59 . Euthanasia. dokter tidak dapat berharap ia akan dapat menyembuhkan setiap pasiennya. Manusia pada akhirnya akan mati.58 Di antara sumpah Hippocrates adalah sebagai berikut:59 Ilmu kedokteran adalah upaya untuk menaggulangi penderitaan si sakit. 79. maka setiap dokter perlu menghayati etika kedokteran . Hal tersebut diinsyafi oleh para dokter diseluruh dunia. Ada batas ketika penyembuhan tidakberdaya lagi. bahkan sebagai seorang yang berpengetahuan ia harus menunjukannya dengan perbuatan. Dokter harus mengenali dan menerima kedatangan saatsaat maut bagi pasiennya. Petrus Yoyo Karyadi. atau menganjurkan kepada mereka untuk tujuan itu. 83-84. Saya tidak akan memberikan obat yang mematikan kepada siapapun meskipun dimintanya. Para dokter. karena ini berarti membohongi diri sendiri dan pasiennya……. dan tidak mengobati kasus-kasus yang tidak memerlukan pengobatan. menyingkirkan penyakit. Euthanasia. Pandangan Kode Etik Kedokteran Tugas profesional dokter begitu mulia dalam pengabdiannya kepada sesama manusia dan tanggung jawab dokter makin tambah berat akibat kemajuan-kemajuan yang dicapai oleh ilmu kedokteran. yaitu jangan berusaha untuk menyembuhkannya. Dan pastinya di setiap Negara mempunyai kode etik kedokteran sendiri-sendiri. hlm. Dengan demikian. Dari pandanag Hippocrates tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa dokter tidak lagi mengobati penyakit-penyakit yang sebenarnya tidak perlu diobati atau 58 Djoko Prakoso. Kalau dalam prakteknya disertai oleh norma-norma etik dan moral. hlm. sehingga kemulyaan profesi dokter tersebut tetap terjaga dengan baik.

adalah pasal 9 yang berbunyi: "Seorang dokter harus senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi hidup makhluk insani. Dengan sendirinya dokter harus mempertahankan dan memelihara kehidupan manusia. diuraikan bahwa segala perbuatan terhadap si sakit bertujuan memelihara kesehatan dan kebahagiaannya. kemampuan berfikir dan mengumpulkan Ratna Suprapti Samil (ed. Tindakan ini diambil setelah diperhitungkan masak-masak bahwa tidak ada jalan lain untuk menyelamatkan jiwa si sakit selain pembedahan."60 Dalam penjelasan pasal 9 di atas. Salah satu pasal dari Kode Etik Kedokteran Indonesia yang relevan dengan masalah euthanasia. Disamping itu dokter tidak harus terus berupaya mengobati penyakit-penyakit yang tidak dapat disembuhkan kembali. Apabila pengobatan atau perawatan sudah tidak ada gunanya. Naluri terkuat dari makhluk hidup termasuk manusia adalah mempertahankan hidupnya. Hippocrates tetap menolak tindakan euthanasia aktif. hlm. yang selalu mengandung resiko. (Jakarta: Metro Kencana. Dan berarti hippocrates tidak akan memberikan obat yang memetikan sekalipun pasien telah memeintanya.35. Dalam situasi apapun keadaan pasien. Untuk itu manusia diberi akal. Misalnya dengan memberikan resep tetentu atau dengan memberikan medikasi lainnya. Kode Etik Kedokteran Indonesia. meskipun hal itu kadang-kadang akan terpaksa melakukan tindakan medik lain misalnya operasi yang membahayakan.). 60 .40 tidak membohongi pasien yang sebenarnya sudah tidak memerlukan obat. maka dokterpun sudah tidak berkompeten lagi untuk melakukan medikasi terhadap pasiennya. 1980).

Akan tetapi.41 pengalamannya. Tidak perlu mengakhiri hidupnya. Dengan kata lain. dokter tidak boleh bertindak sebagai Tuhan (don’t play god). Jadi. Euthanasia. Begitu juga dengan kode etik kedokteran Indonesia. membangun dan mengembangkan ilmu untuk menghindarkan diri dari bahaya maut adalah merupakan tugas dokter. berarti ia juga menerima euthanasia dalam bentuk pasif. berarti doktert dilarang mengakhiri hidup pasien (euthanasia). maka lebih baik dokter membiarkan pasien meninggal dengan sendirinya. not life judgers). Dengan demikian. 62 . walaupun menurut ilmu kedokteran dan pengalamannya pasien tidak mungkin sembuh. Hal ini. bukan orang yang menentukan kehidupan itu sendiri (life savers.61 Sebetulnya kode etik kedokteran Indonesia sudah lama berorientasi pada pandangan-pandangan Hippocrates yang telah lama menerima euthanasia pasif. karena kematiannya sudah tidak dapat dihindarkan lagi. Bila dirasakan penyakit pasien sudah tidak dapat disembuhkan kembali.62 61 Petrus Yoyo Karyadi. misalnya mencari keuntungan sebesar-besarnya di atas penderitaan orang lain. hlm.86 Ibid. Dokter adalah orang yang menyelamatkan atau memelihara kehidupan. apalagi dengan motif-motif tertentu. Medical ethics must be pro life. Ia harus berusaha memelihara dan mempertahankan hidup makhluk insani. perawatan (pengobatan) seperlunya masih tetap dilakukan. jelas bahwa Kode etik kedokteran Indonesia melarang tindakan euthanasia aktif. not pro death. dan juga tidak perlu berusaha keras untuk mempertahankan kehidupannya. Asalkan jangan mengadaada melakukan tindakan medik (yang sebetulnya tindakan medik itu sudah tidak diperlukan lagi).

149-150. 5. sudah menjadi tugas dokter untuk ikut membantu meringankan penderitaanya. yaitu:64 63 Imron Halimi. dari pasal 338 sampai pasal 350 KUHP. khususnya pasal-pasal yang membicarakan masalah kejahatan nterhadap nyawa manusia. atau bahkan berusaha menyembuhkan penyakit selama masih dimungkinkan. (Bogor: Politeia.63 Dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) pasal yang menyinggung masalah euthanasia ini secara pasti tidak ada. Soesilo. walaupun kadang-kadang dari tindakan peringanan tersebut dapat mengakibatkan hidup pasien diperpendek secara perlahan-lahan (euthanasia tidak langsung). Euthanasia. maka harus dicari pengaturan atau pasal yang sekurang-kurangnya sedikit mendekati unsur-unsur euthanasia itu. yang dapat dijumpai dalam Bab XIX. R. buku II. Tetapi bagaimanapun karena masalah euthanasia menyangkut soal keamanan dan keselamatan nyawa manusia. Pasien yang benar-benar menderita atas penyakitnya.42 Adalah tugas ilmu kedokteran untuk memebantu meringankan penderitaan pasien. adalah apa yang terdapat di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Indonesia. pada Bab XIX. hlm. hlm. tetapi satu-satunya pasal yang lebih mengena yaitu pasal 344. Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) serta komentar-komentarnya lengkap pasal demi pasal. Euthanasia dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) Di Indonesia dilihat dari perundang-undangan dewasa ini.243 64 . Maka satusatunya yang dapat dipakai sebagai landasan hukum. 1996). buku II. memang belum ada pengaturan (dalam bentuk undang-undang) yang khusus dan lengkap tentang euthanasia.

Euthanasia aktif terbagi dalam tiga kelompok. karena unsur inilah yang akan menentukan apakah orang yang melakukannya dapat dipidana berdasar pasal 344 KUHP atau tidak. Euthanasia. Djoko Prakoso. euthanasia dapat diuraikan sebagai berikut:67 a. Agar unsur ini tidak disalahgunakan.65 dan haruslah mendapatkan perhatian. yang disebutkan dengan nyata dan dengan sungguh-sungguh.66 Masalah euthanasia ini merupakan masalah yang kompleks dari segi sifatnya.71. dan unsur sungguh (ernstig). maka dalam menentukan benar tidaknya seseorang telah melakukan pembunuhan karena kasihan ini. Petrus Yoyo Karyadi. 344 KUHP 65 Ibid. yaitu: 1) Euthanasia aktif atas permintaan pasien Pasal. Euthanasia.54-71 66 67 . hlm. dihukum penjara selama-lamanya dua belas tahun. harus dapat dibuktikan baik dengan adanya saksi atau pun oleh alat-alat bukti lainnya. Euthanasia aktif Euthanasia aktif terjadi apabila dokter atau tenaga medis lainnya secara sengaja melakukan suatu tindakan untuk mengakhiri atau memeperpendek (mengakhiri) hidup pasien.43 Barang siapa menghilangkan jiwa orang lain atas permintaan orang itu sendiri. Ditinjau dari segi yuridis. jika tidak maka orang itu dikenakan pembunuhan biasa. Dalam pasal di atas. hlm. unsur permintaan yang tegas (unitdrukkelijk). kalimat “permintaan sendiri yang dinyatakan dengan kesungguhan hati” harus disebutkan dengan nyata dan sungguh-sungguh (ernstig). maka agar lebih mudah untuk difahami perlu diterangkan dan dibagi secara lebih terperinci.

KUHP 4) Euthanasia tidak langsung Euthanasia tidak langsung terjadi apabila dokter atau tenaga medis lainnya tanpa maksud mengakhiri hidup pasien melakukan tindakan medis untyuk meringankan penderitaan pasien. 340 KUHP 3) Euthanasia aktif tanpa sikap dari pasien Pasal. 359 c). Euthanasia tidak langsung atas permintaan pasien Pasal.44 2) Euthanasia aktif tanpa permintaan pasien Pasal. 344. Euthanasia pasif Euthanasia pasif terjadi terrjadi apabila dokter atau tenaga medis lainnya secara sengaja tidak memberikan bantuan medik terhadap pasien yang dapat memperpanjang hidupnya. yaitu: . 359 b. yaitu: a). Seperti halnya dengan euthanasia aktif. euthanasia tidak langsung terbagi kedalam tiga kelompok. 338. Untuk dapat memudahkan euthanasia pasif ini juga dibedakan menjadi tiga. 340. Euthanasia tidak langsung tanpa sikap pasien Pasal. 359 b). 340. 304. Euthanasia tidak langsung tanpa permintaan pasien Pasal. walaupun dengan mengetahui adanya resiko bahwa dari tindakan medik tersebut dapat mengakibatkan hidup sipasien diperpendek.

yang disebutkannya denagn nyata dan dengan sungguh-sungguh. pasal-pasal tersebut adalah:68 Pasal.45 1). dengan hukumkan penjara selama-lamanya lima belas tahun. 306 KUHP: "Kalau salah satu perbuatan ini menyebabkan orang mati. Pasal. Soesilo. dihukum penjara selama-lamanya dua belas tahun. 304 KUHP: Barangsiapa dengan sengaja menyebabkan atau membuarkan orang dalam kesengsaraan. 304 jo 306 (2) Maka agar dapat mengetahui hukuman atas tindakan tersebut perlu disebutkan pasal-pasalnya. 344 KUHP: "Barangsiapa menghilangkan jiwa orang lain atas permintaan orang itu sendiri.223-248 ." 68 R. Euthanasia pasif tanpa sikap pasien Pasal. dihukum. hlm. sedang ia wajib memberi kehidupan.500. dihukum penjara selama-lamanya dua tahun delapan bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp. Euthanasia pasif atas permintaan pasien Tidak dihukum 2). 338 KUHP: "Barang siapa dengan sengaja menghilangkan jiwa orang lain. 304 jo 306 (2) 3). Euthanasia pasif tanpa permintaan pasien Pasal. 4. perawatan atau pemeliharaan pada orang itu karena hukum yang berlaku atasnya atau karena menurut operjanjian. sitersalah itu dihukum penjara selam-lamanya sembilan tahun." Pasal." Pasal. karena makar mati. KItab undang-undang.

maka dapatlah kita dimengerti betapa sebenarnya pembentuk undang-undang pada saat itu (zaman Hindia Belanda) telah menganggap bahwa nyawa manusia sebagai miliknya yang paling berharga. warna kulit dan ideologi. . Oleh sebab itu setiap perbuatan apapun motif dan macamnya sepanjang perbuatan tersebut mengancam keamanan dan keselamatan nyawa manusia. maka hal ini dianggap sebagai suatu kejahatan yang besar oleh negara. 359 KUHP: "Barangsiapa karena salahnya menyebabkan matinya orang dihukum penjara selama-lamanya lima tahun atau kurungan selama-lamanya satu tahun. ras." Kalau diperhatikan bunyi pasal-pasal mengenai kejahatan terhadap nyawa manusia dalam KUHP tersebut. Demikian halnya terhadap masalah euthanasia ini. Adalah suatu kenyataan sampai sekarang bahwa tanpa membedakan agama.46 Pasal. tentang keamanan dan keselamatan nyawa manusia Indonesia dijamin oleh undang-undang.

Kaidah Fiqh Jinayah (asas-asas hukum pidana Islam). al-hirabah (perampokan). al-bughat (pemberontakan). al-qadžaf (tuduhan zina). Pengertian Fiqh Jinayah Salah satu kesempurnaan syariat Islam adalah adanya aturan-aturan yang berkenaan dengan hukum publik. Islam tidak sekedar mengajarkan ajaran moral saja. 2004) hlm. Baik dalam alQur'an maupun as-Sunah terdapat sanksi-sanksi yang mengikat yang harus ditegakan di dunia. dan al-qatl (pembunuhan).47 BAB III PRINSIP-PRINSIP FIQH JINAYAH A. melainkan juga menyediakan aturan-aturan yang bersifat imperatif. ar-riddah (keluar dari Islam atau murtad). ad-dima atau Jaih Mubarok dan Enceng Arif Faizal. bukan sekedar ancaman di akhirat.69 Istilah yang umum bagi aturan tersebut adalah al-jinayat yang sering kali diartikan dengan Hukum Pidana Islam. Kata al-Jinayat memiliki makna sempit dan makna luas.1. 69 . syurb al-khamr (minum-minuman keras). as-sariqah (pencurian). aljarah (penganiayaan atau pelukaan). Aturan-aturan tersebut dikelompokan oleh para ulama dalam bab fiqh dengan nama al-hudud. diantaranya dari aturanaturan yang berkenaan dengan jarimah az-zina (perzinaan). Makna sempit al-Jinayat sejajar dengan makna al-qisas. (Bandung: Pustaka Bani Quraisy. addima. Hal ini terlihat. al-qisas dan al-jarah.

4. dan agama. Pertama adalah istilah jinayah itu sendiri dan kedua adalah jarimah. yaitu setiap perbuatan yang dilarang (haram) berkenaan dengan penganiayaan terhadap tubuh dan penghilangan jiwa manusia. Selain itu. jiwa. (Bandung: CV. dan harta benda. Perbuatan yang diharamkan adalah tindakan yang dilarang atau dicegah oleh syara' (Hukum Islam). Dengan demikian. istilah yang satu menjadi muradif (sinonim) bagi istilah lainnya atau keduanya bermakna tunggal. kedua istilah berbeda dalam penerapan kesehariannya. Sedangkan makna aljinayat secara luas sejajar dengan al-jarimat. 71 70 Rahmat Hakim. 1992). baik berkenaan dengan tubuh. Hukum Pidana Islam (fiqh jinayah). akal. jiwa. Pustaka Setia.48 al-jarah. 2001) hlm. Jinayah adalah semua perbuatan yang diharamkan. Jinayah. (Beirut: Muassasat al-Risalat.70 Dalam mempelajari Fiqh Jinayah. pada dasarnya kata jinayah artinya perbuatan dosa.12 . kedua istilah tersebut harus diperhatikan dan difahami agar penggunaannya tidak keliru.71 Abdul Qadir Audah dalam kitabnya at-Tasyri' al-Jina'i al-Islami menjelaskan arti kata jinayah sebagai berikut: Abd al-Qadir 'Awdah. Kedua istilah ini secara etimologis mempunyai arti dan arah yang sama. akal. ada dua istilah penting yang terlebih dahulu harus dipahami. keturunan. Apabila dilakukan perbuatan tersebut mempunyai konsekuensi membahayakan agama. maupun dengan hal-hal lainnya seperti kehormatan. harta. at-Tasyri' al-Jina'i al-Islami Muqaranah bi al-Qanun al-Wadh'i. perbuatan salah atau jahat. kehormatan. yaitu setiap perbuatan yang dilarang. II:. Walaupun demikian.

Fadhli Bakri. (Jakarta: Darul Falah. jarimah perkosaan dan lain-lain. pencurian. jelek. 358. 2000). macam. atau ta'zir (sanksi disiplin) kepada pelakunya. Adapun pengertian jarimah segala tindakan yang diharamkan syari'at. Allah ta'ala mencegah terjadinya tindak kriminal dengan menjatuhkan hudud (hukum syar'i). Semua itu disebut dengan istilah jarimah yang kemudian dirangkaikan dengan satuan sifat perbuatan tadi. at-Tasyri'. terj. atau dosa. pelanggaran yang 72 Abd Qadir Audah. 74 73 Rahmat Hakim. pembunuhan. al-Ahkam as Sultaniyah (Prinsip-prinsip Penyelenggaraan Negara Islam. Jadi pengertian jarimah secara harfiyah sama halnya dengan pengertian jinayah. Oleh karena itu.49 ‫الجناية لغة اسم لما يجنيه المرء من شر ما اكتسب واصطلحا‬ ‫اسم لفعل محرم شرعا سواء وقع الفعل على نفس او مال او غير‬ 72 ‫ذالك‬ Kata jarimah mengandung arti perbuatan buruk. pembahasan fiqh yang memuat masalah-masalah kejahatan. yaitu ditujukan bagi sesuatu yang ada sangkut pautnya dengan kejahatan manusia dan tidak ditujukan bagi satuan perbuatan dosa tertentu. atau perbuatan yang berkaitan dengan politik dan sebagainya. II: 4 Imam al-Mawardi. jarimah pembunuhan. Seperti jarimah pencurian.15 .74 Adapun dalam pemakaiannya kata jinayah lebih mempunyai arti lebih umum (luas). atau sifat dari perbuatan dosa tersebut. Misalnya. hlm. hlm. Hukum. perkosaan.73 Jarimah bisa dipakai sebagai perbuatan dosa –bentuk.

jarimah qisas yaitu jarimah yang hukumannya telah ditetapkan oleh syara'. Unsur material adalah adanya perbuatan pidana. Abd Qadir Audah. Kedua. namun ada perbedaan dengan jarimah hudud dalam hal pengampunan. hlm. baik melakukan perbuatan yang dilarang atau meninggalkan perbuatan yang diperintahkan. Unsur moral adalah orang yang melakukan perbuatan pidana tersebut terkena taklif atau orang yang telah mukallaf. dan hukuman yang diancamkan kepada pelaku tersebut disebut Fiqh jinayah bukan Fiqh jarimah.75 Secara umum. Perbuatan yang 75 Ibid. menuduh zina. keluar dari Islam dan memberontak. ada tiga unsur seseorang dianggap telah melakukan perbuatan jarimah. jarimah dapat dibedakan menjadi tiga. minum-minuman keras. hukuman bisa berpindah kepada ad-diyat (denda) atau bahkan bebas dari hukuman. Pertama.50 dikerjakan manusia.76 Dilihat dari sanksi yang telah ditetapkan atau tidak oleh syara'. Pada jarimah qisas. 76 . apabila korban atau wali korban memaafkan pelaku. 110-111. dan unsur moral (ar-rukn al-adabi). Ia menjadi hak Tuhan. unsur material (ar-rukn al-madi). Unsur formal adalah adanya nas yang melarang perbuatan-perbuatan tertentu disertai dengan ancaman hukuman atas perbuatanperbuatan tersebut. at-Tasyri'. hakim tidak mempunyai kewenangan untuk mempertinggi atau memperendah hukuman bila si pelaku telah terbukti melakukan jarimah tersebut. Jarimah yang termasuk jarimah hudud adalah jarimah zina. yaitu unsur formal (ar-rukn asy-syar'i). jarimah hudud yaitu jarimah yang hukumannya telah ditetapkan baik bentuk maupun jumlahnya oleh syara'. merampok. mencuri.

(upaya menanggulangi kejahatan dalam Islam). Djazuli. Ulama Malikiyah membaginya menjadi dua. jarimah ta'zir78 yaitu jarimah yang hukumannya tidak ditetapkan baik bentuk maupun jumlahnya oleh syara'.159 A. Adapun maksud yang Para ulama berbeda pendapat dalam membagi jarimah qisas. Fiqh jinayah. dengan menambahkan pembunuhan serupa kekeliruan. Sebagian Hanafiyah membaginya menjadi empat. Pembunuhan terbagi kepada tiga. hlm. Ta'zir berasal dari 'azzara. seumpama (al-Mumasilah). (Jakarta: Bulan Bintang. semi sengaja. lihat. Maksudnya adalah semisal. 1968). Hukum Islam keluasan dan keadilannya. tetapi diserahkan sepenuhnya kepada kebijaksanaan hakim/penguasa. 1997). Jarimah Qisas-Diyat 1. Qisas Kata qisas kadang-kadang dalam hadis disebut dengan kata qawad. yang menurut bahasa berarti mencela.77 Ketiga. Anwar Harjono.(Jakarta: PT. yaitu: pembunuhan sengaja dan kekeliruan. Raja Grafindo Persada. at-Tasyri'. yaitu pembunuhan sengaja. Sedangkan pelukaan terbagi menjadi dua. Sebagian Hanafiyah lainnya membaginya menjadi lima dengan menambahkan pembunuhan secara tidak langsung. yaitu pelukaan sengaja dan kekeliruan. Lihat abd alqadir 'awdah. sedang menurut istilah berarti peraturan larangan yang perbuatan-perbutan pidananya dan ancaman hukumannya tidak secara tegas-tegas disebutkan dalam al-Qur'an.161. II: 7-9. Jumhur membaginya menjadi tiga dengan menambahkan pembunuhan semi sengaja.79 B.51 termasuk dalam jarimah qisas adalah pembunuhan dan pelukaan. dan kekeliruan. Para fuqaha mengartikan ta'zir dengan hukuman yang tidak ditemukan dalam alQur'an dan al-Hadis yang berkaitan dengan kejahatan yang melanggar hak Allah dan hak hamba yang berfungsi untuk memberi pelajaran kepada si terhukum dan mencegahnya supaya tidak mengulangi kejahatan serupa. 79 78 77 . melainkan diberikan kepada negara kewenangannya untuk menetapkannya sesuai dengan tuntutan kemaslahatan. hlm.

menghilangkan anggota badan dengan sengaja.80 Qisas diakui keberadaannya dalam al-Qur'an.52 dikehendaki syara' adalah kesamaan akibat yang ditimpakan kepada pelaku tindak pidana yang melakukan pembunuhan atau penganiayaan terhadap korban. Al-Baqarah (2): 179 Rahmat Hakim. 125 81 82 . kecuali ada kerelaan dari kedua pihak. bentuk jarimah ini ada dua. Ulama 80 Rahmat Hakim. Hukum Pidana Islam. hlm. Hal ini ditegaskan dalam al-Qur'an:81 .82 Sanksi pokok dalam pembunuhan sengaja yang telah di-naskan dalam alQuran dan al-Hadis adalah qisas. Oleh karena itu. demikian pula akal memandang bahwa disyariatkannya qisas adalah demi keadilan dan kemaslahatan. Dalam ungkapan lain adalah pelaku akan menerima balasan sesuai dengan perbuatan yang dia lakukan. hlm. ‫و لكم فى القصاص حياة يا اولى اللباب‬ Qisas adalah hukuman pokok bagi perbuatan pidana dengan objek sasaran jiwa atau anggota badan yang dilakukan dengan sengaja. Hukuman ini disepakati oleh para ulama. yaitu pembunuhan sengaja dan penganiayaan sengaja. as-Sunnah. Abdul Qadir Audah mendefinisikan qisas sebagai keseimbangan atau pembalasan terhadap si pelaku tindak pidana dengan sesuatu yang seimbang dari apa yang telah diperbuatnya. Bahkan ulama Hanafiyah berpendapat bahwa pelaku pembunuhan sengaja harus diqisas (tidak boleh diganti dengan harta). seperti membunuh. Hukum pidana Islam. Dia dibunuh kalau dia membunuh dan dilukai kalau dia melukai atau menghilangkan anggota badan orang lain. melukai.125.

pasti al-Quran menjelaskan secara detail. karena mereka tidak punya niat/maksud yang sah. Syarat-syarat bagi pembunuh Syarat-syarat bagi pembunuh ada tiga yaitu: 1). Di dalam al-Quran sendiri tidak mewajibkan kaffarah. seandainya bagi pelaku pembunuhan sengaja wajib membayar kaffarah. hlm. maka tempatnya juga terbatas yaitu hanya pada pembunuhan karena kesalahan.). dalam al-Hadis disebutkan:87 83 Wahbah az-Zuhaili.86 Begitu juga dengan orang yang tidur/ayan. 1988). karena perbuatannya tidak dikenai taklif.. 2).t. riwayat sufyan dari amr dan tawus 87 86 . VI: 297 84 85 Abu Ishaq Ibrahim ibn Ali ibn Yusuf al-Fairuz Abadi asy-Syairazi.296 Wahbah az-Zuhaili. al fiqh. kitab ad-Diyah. IV: 183. 1991) VI:261 Ibid. 4539. Al-fiqh al-Islam wa Adillatuh. Sunan Abi Dawud. (Beirut: Dar al-Fikr. Bab Man Qatala fi 'immiya baina qaumain (Beirut: Dar al-Fikr. menurut jumhur ulama bahwa kaffarah dalam pembunuhan sengaja tidak wajib karena kaffarah adalah ketentuan syariah untuk beribadah.84 Ada beberapa syarat yang diperlukan untuk dapat dilaksanakannya qisas yaitu:85 a. t. al-Muhazzab. Pembunuh menyengaja perbuatannya.83 Ulama berbeda pendapat tentang sanksi bagi pembunuhan sengaja yang berupa kaffarah. hadis nomor. Sedangkan pembunuhan sengaja adalah neraka jahannam. maka tidaklah qisas apabila pelakunya adalah anak kecil atau orang gila. Pembunuh adalah orang mukallaf (balig dan berakal).53 Syafi'iyyah menambahkan bahwa disamping qisas pelaku pembunuhan juga wajib membayar kaffarah. (Semarang: Maktabah Ahmad bin Said bin Nabhan. II:173 Abu Dawud.

Kitab at-Tijaroh. penganut zindiq dan pemberontak. maka menurut Hanafiyah tidak diqisas. (Beirut: Dar Ihya al-Kitab al-Arabiyah. Korban sama derajatnya dengan membunuh dalam Islam dan kemerdekaannya.245.54 ‫من قتل عمدا فهو قود‬ 3).). kakek/nenek yang membunuh anak/cucunya sampai derajat kebawah berdasarkan pada hadis: 88 ‫أنت ومالك لابيك‬ 89 ‫ل يقاد الوالد بالولد‬ 3). 89 88 . Kitab al-Jinayah. (riwayat at-Tirmidzi dan ibn Majah). Syarat-syarat bagi yang terbunuh/korban Syarat-syarat bagi yang terbunuh (korban) ada tiga.t. II: 769. statemen ini dikemukakan oleh jumhur (selain Ibn Majah. yaitu: 1). Bulug al-Maram. (Bandung: Maktabah Dahlan. b. murtad. Korban bukan anak/cucu pembunuh (tidak ada hubungan bapak dan anak). jika orang muslim atau zimmi membunuh mereka. tidak diqisas ayah/ibu. Adapun yang dipandang tidak dilindungi darahnya adalah kafir harbi. pezina muhsan.). artinya jika membunuhnya karena terpaksa. hadis nomor 1191. 2). t. maka hukum qisas tidak berlaku. hadis nomor: 2291.t. tetapi menurut jumhur tetap diqisas walaupun dipaksa. Bab ma li ar rajul min ma li waladih. Korban adalah orang yang dilindungi darahnya. hlm. Pembunuh mempunyai kebebasan bukan dipaksa. riwayat jabir ibn Abdullah. t. Al-Hafiz Ibnu Hajar al-'Asqalani. Sunan Ibn Majah.

tapi cukup persamaan dalam kemanusiaannya. sebagaimana terlihat dalam hadis berikut: 90 Jaih Mubarok. Kaidah Fiqh jinayah. hlm165. ayat di atas menunjukkan bahwa dalam qisas tidak harus ada kesetaraan.93 Hal ini dikuatkan oleh sebuah hadis yang menyatakan bahwa Nabi pernah melaksanakan qisas terhadap muslim yang membunuh Yahudi. 91 92 93 . mereka berargumen dengan keumuman ayat qisas yang tidak mendiskriminasikan antara satu dengan yang lainnya. Adapun hadis nabi yang menyatakan bahwa "muslim tidak diqisas karena membunuh kafir".(2): 178. Kaidah fiqh jinayah. bukan kafir zimmi atau musta'min. 167. kalimat jiwa dibalas dengan jiwa" menunjukan bahwa dasar qisas itu adalah hilangnya jiwa atau nyawa sehingga tidak ada perbedaan antara orang merdeka dengan hamba atau muslim dengan kafir. Allah berfirman: 91 ‫يا أيها الذين أمنوا كتب عليكم القصاص في القتلى‬ 92 ‫و كتبنا عليهم فيها ان النفس بالنفس‬ Menurut Hanafiyah. Al-Maidah (5): 45 Jaih Mubarok.55 Hanafiyah). Sebab. Dengan ketentuan ini maka tidak diqisas seorang Islam yang membunuh orang kafir. Al-Baqarah. orang merdeka yang membunuh budak.90 Ulama Hanafiyah tidak mensyaratkan persamaan dalam kemerdekaan dan agamanya. kafir yang dimaksud adalah kafir harbi. Hlm.

al-Qisas wa al-Hayat: Dirasah Muqaranah bain asy-Syari'ah al-Islamiyah wa al-Qanun al-Wad'i. sedangkan pembunuhnya (dari kabilah lain) adalah seorang wanita. kaidah fiqh jinayah. 1986). dan wanita dengan wanita". "hamba dengan hamba". hanya sekedar mencontohkan pelaku dan korbannya dengan tidak menafikan kebalikannya. dan "wanita dengan wanita". wali korban dari suatu kabilah (terutama kabilah yang kuat) meminta balasan yang lebih dari seharusnya. 93-94. 1982). Kitab alHudud wa ad-Diyyat wa Gairuh. hlm. Kalimat "orang merdeka dengan orang merdeka". tidak menunjukkan adanya kafaah. III: 135. 167-168. meskipun kedudukannya lebih rendah. Pada masa jahiliyah. h.56 ‫أن النبي صلي ال عليه وسلم أقاد مسلما قتل يهوديا وقال‬ 94 ‫الرمادي أقاد مسلما بذمي وقال أنا أحق من وفي بذمته‬ Sedangkan ayat yang dijadikan landasan oleh jumhur yang menyatakan bahwa "orang merdeka dengan orang merdeka". 94 .Lihat Muhammad 'abd al-Hamid Abu Zayd. korban yang terbunuh dari suatu kabilah adalah laki-laki merdeka. 95 Jaih mubarok. Misalnya. Permintaan ini seringkali menimbulkan konflik (bahkan sampai terjadi peperangan) antar kabilah jika tidak dipenuhi. Wali korban beserta kabilahnya meminta balasannya tidak sekedar wanita yang membunuh tetapi ditambah dengan laki-laki merdeka. Sebab ayat tersebut dimaksudkan untuk menjawab kebiasaan jahiliyah yang menerapkan qisas secara berlebihan. "hamba dengan hamba". Sunan ad-Daruqutni.95 Ali bin 'Amr Abu al-Husayn al-Daruqutni al-Bagdadi. (Bayrut: Alam al-Kutb. Ayat tersebut menjelaskan bahwa orang yang harus diqisas adalah pembunuhnya. (Dar al-Nahdah al-Arabi.

jika tidak langsung. Sedangkan jumhur tidak mensyaratkan itu. Hal ini didasarkan atas keumuman ayat yang menyatakan bahwa "jiwa dibalas denga jiwa" dan sabda Nabi saw berikut: 96 ‫المسلمون تتكافأ دماؤهم‬ c. Sunan Abi Dawud. karena tujuan dari diwajibkanya qisas adalah pengokohan dari pemenuhan Abu Dawud. maka hanya dikenai membayar diyat. 97 96 Abddul Qadir Audah. Tidak ada perbedaan antara tua dengan muda atau sehat dengan sakit. riwayat Kutaibah bin Sa'id dari ibn Ishaq dan Yahya bin Sa'id. Kitab aj-Jihad. Kedudukan mereka setara dalam hal qisas. Syarat-syarat bagi wali korban Menurut Hanafiyah. Bab fi as-Sariyyah. maka tidak wajib diqisas. jika tidak. . II: 132. baik pembunuhan itu langsung atau karena sebab. wali korban yang berhak untuk mengqisas haruslah orang yang diketahui identitasnya. Syarat-syarat bagi perbuatannya Hanafiyah mensyaratkan.57 Adapun berkenaan dengan laki-laki muslim dengan perempuan muslim. untuk dapat dikenakan qishas. at-Tasyri'. III: 80.97 d. para fuqaha sepakat bahwa di antara mereka tidak ada perbedaan. pelakunya wajib dikenai qishas karena keduanya berakibat sama. tindak pidana pembunuhan yang dimaksud harus tindak pidana langsung bukan bukan karena sebab tertentu.

bantuan. Berbeda dengan pendapat ulama malikiyah yang menyatakan bahwa orang yang hadir atau membantu walaupun tidak melakukan secara langsung. maka menurut jumhur ulama orang yang tidak melakukan langsung itu hanya dita'zir. yaitu ada enam hal: 1) Keberadaan pembunuh sebagai orang tua korban Menurut para Fuqaha Mazhab. atau ia hanya memberikan semangat.58 hak. Ini terjadi karena adanya kemungkinan masuknya unsur syubhat sehingga qisas tidak bisa dilaksanakan. tetap dikenai qisas jika terlibat dalam kesepakatan kejahatan itu. hal ini selama tidak ada maksud membunuh yang dapat dibuktikan dengan qat'i. maka orang tua korban juga harus diqisas. Sedangkan pembunuhan dari orang yang tidak diketahui identitasnya akan mengalami kesulitan dalam pelaksanaanya. seperti pengintai atau penjaga pintu. 3) Ketidakadilan membunuh sesuai dengan yang telah disepakati. Adapun hubungan suami isteri tidak menjadi halangan dilakukannya qisas. Jika ternyata ada maksud membunuh. tetapi Ulama Malikiyah memberi batasan. tetapi ternyata tidak semua yang menyepakati ikut hadir dalam pembunuhan. keberadaan pembunuh sebagai orang tua si terbunuh menghalangi dilaksanakannya qisas. Ini menurut jumhur fuqaha kecuali Hanafiyah. 2) Perbedaan derajat antara pelaku dan korban pembunuhan dalam keIslaman dan kemerdekaannya. Berpijak pada keterangan tentang syarat-syarat qishas ada beberapa hal yang menghalangi dilaksanakannya qisas. apabila ada kesepakatan untuk melakukan pembunuhan. Dan tiga syarat lagi menurut Hanafiyah yaitu: . dan tidak melakukan secara langsung.

yaitu: jika mereka 98 Wahbah az-Zuhaili.59 4) Pembunuhan itu terjadi secara tidak langsung (karena satu sebab tertentu) 5) Wali korban majhul (tidak diketahui identitasnya) 6) Pembunuhannya terjadi di Dar al-kuffar98 Qisas wajib dikenakan setiap pembunuh. 178 Abu Dawud. Mereka boleh mengqisas/memaafkannya secara mutlak atau memaafkan dari qisas dengan membebani diyat sebagai penggantinya. hendaknya membayar diyat sebagai kompensasi pemberian maafnya wali. tetapi wali korban mempunyai dua pilihan. Tetapi tidak berarti wali terbatas dalam menentukan sikapnya. Hanabilah berpendapat bahwa hukuman bagi pelaku pembunuhan sengaja tidak hanya qisas. IV: 183 99 100 . kecuali jika dimaafkan oleh wali korban. Para ulama madzhab sepakat bahwa sanksi yang wajib bagi pelaku pembunuhan sengaja adalah qisas. tetapi pembunuh dengan kesadarannya. Logika dari statement ini adalah: jika wali korban memaafkan secara mutlak (tidak menuntut diyat). Al-Baqarah. maka tidak ada kewajiban bagi pelaku untuk membayar diyat. Sunan. VI: 274-275. al-Fiqh. (2). Sesuai dengan ayat: ‫يا أيها الذين أمنوا كتب عليكم القصاص في القتلى الحر بالحر و‬ 99 ‫العبد بالعبد‬ 100 ‫من قتل عمدا فهو قود‬ Kedua dalil ini dengan tegas menyatakan bahwa hukum qisas bagi pembunuh adalah tertentu/pasti.

wajib bagi pelaku membayar diyat. Artinya tuntutannya ini harus melalui pengadilan. alih bahasa H. X: 67 . (Beirut: Dar al-Fikr. 1997). VIII: 38. namun keabsahan keluarga korban untuk melaksanakan ada dibawah wewenang hakim. Seandainya Allah mewajibkan qisas saja. fikih sunnah. tentu Allah tidak mewajibkan diyat apabila ada ampunan atau maaf wali secara mutlak. Karena dalam kaidah dasar syara' yang telah disepakati disebutkan bahwa pelaksanaan sanksi hudud. 102 103 101 Al-Baqarah (2) : 178 Sayid Sabiq. Kemudian dari redaksi ayat tersebut berarti Allah mewajibkan al-Itba' karena adanya pemberian maaf dari wali.103 Abu Abdullah Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim ibn al-Mughirah ibn Bardizbah al-Ja'fi al-Bukhari. jika wali korban mengampuni. Kitab ad-Diyah. Dan jika ternyata wali korban memaafkan secara mutlak. pelaku tetap berkewajiban membayar diyat.A Ali (Bandung: PT. Sahih al-Bukhari. Dasar hukum yang digunakan adalah hadis rasulullah SAW: 101 ‫من قتل له قتيل فهو بخير النظرين اما ان يؤدي و اما ان يقاد‬ Dan firman Allah swt dalam al-Qur'an: 102 ‫فمن عفي له من أخيه شيئ فاتباع بالمعروف واداء اليه باحسان‬ Dari ayat ini dapat dipahami. 1981). jika terjadi pembunuhan hendaklah pelakunya diselidiki. al-Maarif. bahkan pengganti dari qisas. Artinya. Hal ini karena mereka berpendapat bahwa diyat adalah salah satu dari kerusakan jiwa. qisas.60 menghendaki qisas. Tuntutan hukuman qisas merupakan hak para wali (keluarga korban). maupun ta'zir merupakan hak hakim. maka dilaksanakanlah hukum qisas tetapi jika menginginkan diyat maka wajiblah membayar diyat tanpa menunggu keridlaan pembunuh.

sehingga bibi dari pihak ayah /ibu tidak boleh. suami atupun isteri. yaitu perempuan boleh bertindak sebagai pelaksana qisas dengan tiga persyaratan: a. Tetapi jika anak perempuan kandung bersama adanya ayah. misalnya anak perempuan kandung bersama dengan adanya paman. II: 140 . maka dikhususkan kepada asabah seperti dalam perwalian pernikahan. Derajat atau kekuatan ahli waris perempuan tadi lebih kuat dibanding para asib. Hanabilah dan qaul rajihnya asy-Syafi'i yang berhak mengqisas adalah setiap ahli waris yang berhak mewarisi harta si korban baik zawil furud maupun asabah. Perempuan itu merupakan ahli waris terbunuh. maka menurut Abu Hanifah. Perempuan tidak boleh mengqisas karena qisas itu menghilangkan fitnah.104 Sedangkan menurut ulama Malikiyah yang berhak mengqisas adalah keluarga dari pihak ayah yang laki-laki.61 Selanjutnya apabila pelaksanaan qisas akan dilakukan oleh para wali sendiri (bukan oleh hakim dan algojonya). ia tidak dapat mengqisas. 104 Abd Qadir Audah. laki-laki maupun perempuan. keluarga yang dekat didahulukan dari pada keluarga yang jauh. at-Tasyri'. itu dapat melaksanakan qishas. seperti anak dan saudara kandung. semua asabah bin nafsi dengan prioritas. b. Tetapi Malikiyah memberikan kelonggaran.

141. al-Fiqh. Pendapat ini menurut Imam Ahmad serta salah satu pendapat Imam Syafii. lalu diberikan kepada wali si terbunuh. Matinya pelaku kejahatan Kalau orang yang akan menjalani qisas telah mati terlebih dahulu. sebab hak dari mereka (para wali) adalah jiwa.62 c. Pada saat itu diwajibkan ialah membayar diyat yang diambilkan dari harta peninggalannya. maka gugurlah qisas atasnya.105 Jika yang mengqisas masih kecil/gila maka ditunggu sampai kesempurnaannya dan diserahkan kepada hakim. hlm. 105 Ibid. maka dikecualikan saudara perempuan (tidak dapat mengqisas) karena adanya ibu. Dan menurut Malikiyah. 106 . Dengan demikian tidak ada alasan bagi para wali menuntut diyat dari harta peninggalan si pembunuh yang kini telah menjadi milik para ahli warisnya. tidak usah menunggu sampai baligh/sadarnya demi kemaslahatan pelaksanaan qisas itu sendiri.106 Hukuman qisas menjadi gugur dengan sebab-sebab sebagai berikut: a. Sedangkan menurut Imam Malik dan Hanafiyah tidak wajib diyat. sedangkan hal tersebut telah tiada. VI: 280. karena jiwa pelakulah yang menjadi sasarannya. Perempuan itu dalam derajatnya mempunyai laki-laki yang asabah. Wahbah az-Zuhaili.. b. Adanya ampunan dari seluruh atau sebagian wali korban dengan syarat pemberi maaf itu sudah balig dan tamyiz.

109 Dalam hal adanya kerelaan/izin korban. Kaidah fiqh jinayah. 109 110 . VI: 294.110 Pendapat Malikiyah yang rajih dan sebagian Syafi'iyah: ‫ل يسقط القصاص برضا المجني عليه‬ Perbedaannya dengan al-Afwu (pengampunan) adalah kalau sulh itu pengguguran qisas dengan ganti rugi (kompensasi). 108 107 Abdul Qadir Audah. al-Tasyri'. lihat Wahbah az-Zuhaili. hlm. Jaih mubaraok.171 Abd al-Qadir awdah.107 d. al-Fiqh. I: 777-778 dan lihat Wahbah az-Zuhaili. Hlm. hukuman berpindah kepada diyat. kerelaan itu menjadi syubhat yang dapat menggugurkan hudud. Oleh karena itu. Adanya kerelaan/ izin korban. Selain itu.108 e. seperti kasus euthanasia. at-Tasyri'. Adanya penuntutan qisas. Akan tetapi mereka berbeda pendapat tentang posisi kerelaan tersebut dengan pemaafan korban atau wali korban yang dapat menggugurkan qisas atau diyat (bila dimaafkan secara mutlak). Telah terjadi sulh (rekonsiliasi) antara pembunuh dan wali korban.260. pada dasarnya para fuqaha sepakat bahwa adanya kerelaan korban untuk dibunuh tidak membolehkan seseorang melakukan pembunuhan. sedangkan al-Afwu terkadang pengampunan qisas secara mutlak.63 c. Perbedaan tersebut adalah sebagai berikut: Menurut Hanafiyah: ‫يسقط القصاص برضا المجني عليه‬ Gugurnya qisas disebabkan karena adanya kerelaan atau izin korban yang dapat dipersamakan dengan pemaafan. I: 440-441. al-Fiqh.

diyat artinya membayar tebusan dengan sejumlah harta benda karena perbuatan: 1.64 Kerelaan korban tidak dapat dipersamakan dengan pemaafan karena kerelaan itu ada sebelum terjadi jarimah pembunuhan. pencederaan badan. pembunuhan tersebut tetap merupakan pembunuhan sengaja yang harus dihukum dengan qisas. Pembunuhan terhadap jiwa.112 2. Pemaafan dari korban itu lebih utama dari pada keluarga sebab pemaafan itu menjadi hak bagi korban. dan 2.111 Pendapat Malikiyah yang arjah (lebih kuat) dan sebagian Syafi'iyah: ‫يسقط عقوبتى القصاص والدية برضا المجني عليه‬ Kerelaan korban dapat dipersamakan dengan pemaafan baik dari hukum asli (qisas) maupun penggantinya (diyat). Oleh karena itu. 112 Menurut bahasa. Ibid. sedangkan pemaafan ada setelah terjadi jarimah. 113 . Diyat Diyat113 adalah: 111 Ibid. Sedangkan definisi menurut syar'i ialah wajibnya membayar sejumlah harta benda yang telah ditentukan syariat karena pembunuhan jiwa atau karena pencederaan badan.

pakaian. at-Tasyri'. uang. dua ratus ekor domba bagi 114 Abd Qadir 'Audah. II:261 An-Nisa (5): 92 115 . Adapun dalil disyariatkannya diyat adalah firman Allah SWT: ‫ومن قتل مؤمنا خطأ فتحرير رقبة مؤمنة و دية مسلمة الى اهله‬ 115 ‫ال ان يصد قوا‬ Walaupun ayat ini dalam konteks pembunuhan bersalah namun para ulama sepakat akan wajibkan diyat dalam pembunuhan sengaja apabila qisas gugur karena suatu sebab. perak. artinya pembayaran diyat itu terjadi karena berkenaan dengan kejahatan terhadap jiwa/nyawa seseorang. Menurut kesepakatan ulama. dan lain sebagainya. yang kadar nilainya disesuaikan dengan unta. yang wajib adalah seratus ekor unta bagi pemilik unta. Dua ratus ekor sapi bagi pemilik sapi.65 ‫العقوبة البدلية الولى لعقوبة القصاص فإذا امتناع القصاص‬ ‫لسبب من اسباب المتناع او لسباب السقوط وجبت مالم يعف‬ 114 ‫الجانى عنها أيضا‬ Dengan definisi ini berarti diyat dikhususkan sebagai pengganti jiwa atau yang semakna dengannya. seperti emas. Pada mulanya pembayaran diyat menggunakan unta tetapi jika sulit didapatkan maka pembayarannya dapat menggunakan barang lainnya.

yaitu diyat mugalazah dan diyat mukhafafah. fikih sunnah. Adapun diyat mugalazah menurut jumhur dibebankan kepada pelaku pembunuhan sengaja dan menyerupai sengaja. "Bab ad-Diyat". Sebagaimana Nabi SAW pernah bersabda:118 ‫ال وإن قتيل الخطأ شبه العمد بالسوط و العصا و الحجر مائة من‬ ‫البل فيها اربعون شنية الى بازل عمها كلهن خلفة‬ Jadi seratus ekor unta itu bila diperinci adalah: a. X: 93 Wahbah az-Zuhaili. 40 ekor khilfah (unta yang sedang mengandung) Adapun diyat mukhafafah itu dibebankan kepada pelaku pembunuhan kesalahan. Sunan an-Nasa'i. t. dibebankan kepada pelaku pembunuhan sengaja apabila waliyuddam menerimanya dan kepada bapak yang membunuh anaknya. (Bandung: Maktabah Dahlan. seribu dinar untuk pemilik emas. Nabi bersabda:119 116 Sayyid Sabiq.116 Diyat ada dua macam. dua belas ribu dirham untuk pemilik perak. 304. HR.117 Jumlah diyat mugalazah adalah seratus ekor unta.t). dan dua ratus stel pakaian untuk pemilik pakaian. 1994). hal ini berdasarkan riwayat Ibn Mas'ud.2. VI. (Mesir: al-Bab al-Halabi. 119 Muhammad ibn Ismail ibn Shalah al-Amir al-Kahlani al-Shan'ani. Subul as-Salam Syarah Bulug al-Maram. al-Fiqh. 118 . 117 An-Nasa'i.66 pemilik domba. Sedangkan menurut Malikiyah. yang empat puluh di antaranya sedang mengandung. 30 ekor hiqqah (unta berumur 4 tahun) b. 30 ekor jad'ah (unta berumur 5 tahun) c. ad-Daruqutni dari Ibn Mas'ud. "Kitab al-Jinayat". hadis no. III: 248. VIII: 36 diriwayatkan dari Qasim bin Rabi'ah.

Pembunuhan itu terhadap mahram seperti: ibu dan saudara perempuan. Pembunuhan itu terjadi di bulan haram. Menurut Hanafiyah. maupun kesalahan. baik pembunuhan sengaja. Sedangkan diyat pembunuhan syibhu amd adalah diyat mugalazah yang pembebanannya tidak hanya pada pelaku. al-Fiqh. Hanya 120 Wahbah az-Zuhaili.67 ‫دية الخطأ اخماس عشرون حقة وعشرون جذعة وعشرون بنات‬ ‫مخاض وعشرون بنات لبون وعشرون بني لبون‬ Jadi ketentuannya adalah sebagai berikut: a. 20 ekor binti labun (unta betina berumur 3 tahun) d. dan dibayar secara berangsur-angsur selama tiga tahun.120 Jadi diyat pembunuhan sengaja adalah diyat mugalazah yang dikhususkan pembayarannya oleh pelaku pembunuhan. dan e. Pembunuhan itu terjadi di tanah haram Mekkah b. zul Qa'dah. tidak sengaja. tetapi juga pada 'aqilah (wali/keluarga pembunuh).VII: 305-306 . 20 ekor ibnu ma'khad (unta jantan berumur 2 tahun) c. Muharram dan Rajab c. 20 jad'ah Selanjutnya ulama Syafi'iyyah dan Hanabilah berpendapat bahwa pembunuhan tersalah dapat dikenai diyat mugalazah apabila: a. dan dibayarkan secara kontan. 20 ekor bintu ma'khad (unta betina berumur 2 tahun) b. zul Hijjah. 20 hiqqah. pembayaran diyatnya secara berangsur-angsur selama tiga tahun.

Mereka menjelaskan bahwa sengaja atau kesalahannya anak kecil itu sama dengan argumant ada orang gila menerkam seorang laki-laki dengan pisau kemudian memukulnya.123 121 Wahbah az-Zuhaili. padahal 'amid pantas dan harus diperberat dengan bukti diwajibkannya 'amid membayar diyat dengan hartanya sendiri bukan dari 'aqilah. Hal ini berdasarkan firman Allah swt: 122 ‫كل امرئ بما كسب رهين‬ Adapun jika pembunuhan disengaja itu dilakukan oleh anak kecil atau orang gila. VI: 307.121 Para ulama sepakat bahwa diyat pembunuhan sengaja dibebankan pada para pembunuh dengan hartanya sendiri. Muhammad ibn Ahmad ibn Muhammad ibn Ahmad Ibn Rusyd al-Qurtuby. t. Malik dan Syafi'i menyatakan diyatnya anak kecil adalah setengah kecuali pemerintah membebankan pada aqilahnya. 'Aqilah tidak menanggungnya karena setiap manusia dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya dan tidak dapat dibebankan kepada orang lain.68 bagi 'amid (pembunuh sengaja) lebih diperberat dengan kewajiban membayar diyat mughaladzah dengan hartanya sendiri. jika qisas dilakukan sekaligus maka diyat penggantinya juga harus secara kontan dan pemberian tempo pembayaran merupakan suatu keringanan.: 297 123 .t). 122 At-Tur (52): 21. Bidayah alMujtahid wa Nihayah al-Muqtasid. (Indonesia: Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyyah. II.. al-Fiqh. Karena keringanan (pemberian tempo) itu hanya berlaku bagi 'aqilah. Sedangkan jumhur ulama berpendapat bahwa diyat pembunuhan sengaja harus dibayar kontan dengan hartanya karena diyat merupakan pengganti qisas.

Topo Santoso. Kelima kebutuhan hidup yang primer ini (daruriyyat) 124 Asy-Syairazi. II:173-174. 2001). al-Muhazzab. hlm. Hanya saja ia dibebankan diyat dari hartanya sendiri dan 'aqilah tidak menanggung jika ia (pada saat berbuat jahat) sudah mumayyiz. jika belum mumayyiz maka dianggap kesalahan (khata') secara pasti. karena tidak ada baginya taklif secara syara'. Apabila kebutuhan-kebutuhan ini tidak terjamin.69 Menurut Syafiiyah bahwa yang jelas perbuatan anak kecil itu dianggap sengaja apabila ia telah mumayyiz.130- 125 131 . (Bandung: asy Syaamil. Melainkan di sana ada tujuan tertentu yang luas.Tujuan Fiqh Jinayah Pembuat hukum tidak menyusun ketentuan-ketentuan hukum dari syariah tanpa tujuan apa-apa.124 C. Tetapi baik ia sudah mumayyiz atau belum ia tidak dapat di qisas. Menggagas Hukum Pidana Islam. akan terjadi kekacauan dan dan ketidaktertiban di mana-mana. Para ahli hukum Islam mengklasifikasi tujuan-tujuan dari fiqh jinayah yang merupakan tujuan-tujuan yang luas dari syariah sebagai berikut:125 Tujuan pertama Menjamin keamanan dari kebutuhan-kebutuhan hidup. mutlak perlu mengetahui apa tujuan dari ketentuan itu. Dengan demikian untuk memahami pentingnya suatu ketentuan. Ini merupakan hal-hal di mana kehidupan manusia sangat tergantung sehingga tidak dapat dipisahkan.

Hifz ad-Dĩn (memelihara agama). Hifz an-Nafsi (memelihara jiwa). akan tetapi dapat menambah kesulitan-kesulitan bagi masyarakat. Syariat telah menetapkan pemenuhan. kemajuan dan perlindungan tiap-tiap kebutuhan itu dan menegaskan ketentuan-ketentuan yang yang berkaitan dengannya sebagai ketentuan yang esensial. e. yaitu: a. b. d. Hifz al-Mãl (memelihara harta). Tujuan ketiga . Dengan kata lain. Ketiadaan fasilitas-fasilitas tersebut mungkin tidak menyebabkan kekacauan dan ketidak tertiban. Ini mencakup hal-hal yang penting bagi ketentuan itu dari berbagai fasilitas untuk penduduk dan memudahkan kerja keras dan beban tanggungjawab mereka. keperluan-keperluan ini terdiri dari hal-hal yang menyingkirkan kesulitan-kesulitan dari masyarakat dan membuat hidup mudah bagi mereka. c. Hifz al-'Aqli (memelihara akal pikiran).70 dalam keputusan hukum Islam disebut dengan istilah al-Maqasid asy-Syari'ah alKhamsah (tujuan-tujuan syariah). Tujuan kedua Tujuan berikutnya adalah menjamin keperluan-keperluan hidup (keperluan sekunder) atau disebut hajiyyat. Hifz al-Nasli (memelihara keturunan).

atau dibunuh (diqisas). Itupun baru dapat ditegakkan setelah seluruh unsur-unsur . Ketika mendengar kata "Hukum Pidana Islam" (fiqh Jinayah). juga tidak mencakup apa-apa yang perlu untuk menghilangkan kesulitankesulitan dan membuat hidup mudah. Sering kali bayangan tersebut terhenti di situ. D. sehingga kesan bahwa hukum pidana Islam bersifat kejam dan bertentangan dengan hak asasi manusia. Istilah yang umum bagi aturan-aturan tersebut adalah al-Jinayat yang sering kali diartikan dengan Hukum Pidana Islam. yang langsung terbayang di benak kebanyakan orang adalah potong tangan. Ketiadaan perbaikan-perbaikan ini tidak membawa kekacauan dan anarki sebagaimana dalam ketiadaan kebutuhan-kebutuhan hidup.71 Tujuan ketiga dari perundang-undangan Islam adalah membuat perbaikanperbaikan. Islam tidak sekedar mengajarkan ajaran moral saja. Padahal apa yang dibayangkan tersebut hanya merupakan salah satu bagian saja dari hukum pidana Islam. dipukul dengan menggunakan kayu (dijilid). Baik dalam alQur'an maupun dalam as-Sunnah. bukan sekedar ancaman di akhirat. Aspek Kemanusiaan dalam Fiqh Jinayah Salah satu kesempurnaan syari'at Islam adalah adanya aturan-aturan yang berkenaan dengan hukum publik. melainkan juga menyediakan aturan-aturan yang bersifat imperatif. yaitu menjadikan hal-hal yang dapat menghiasi kehidupan sosial dan menjadikan manusia mampu berbuat dan urusan-urusan hidup secara lebih baik (keperluan sekunder) atau tahsinat. dilempar batu sampai meninggal (dirajam). terdapat sanksi-sanksi yang mengikat yang harus ditegakan di dunia.

akal dan agama. Inilah yang mengandung konsekuensi hukum qisas. Allah swt telah menetapkan hukum yang terdiri tiga tingkatan yaitu: qisas (balasan setimpal). karena ambruknya wibawa dan penegakan hukum. keturunan dan ketenteraman umum. Untuk menyelesaikan problem ini. Sedangkan kejahatan yang berkaitan dengan kehormatan jiwa manusia. keturunan. merupakan pelanggaran terhadap hak hamba. Mana pri kemanusiaan yang dipunyai manusia?. Bila kejahatan ini terus dibiarkan. bahkan sangat kejam. yang semuanya merupakan maqasid asy-Syar'i. Yakni hal-hal yang berkaitan dengan kehormatan agama. nyawa manusia jadi sangat murah. eksistensi kehidupan manusia akan terancam. Dan jika semuanya tidak terpenuhi maka ulil amri sebagai penguasa negara berhak memberikan hukuman atas pertimbangan kemaslahatan umat berupa hukuman ta'zir. Kejahatan-kejahatan yang oleh syariat telah ditetapkan jenis hukumannya. hukum qisas nampak kejam.72 jarimahnya (tindak pidananya) terpenuhi. Selebihnya terdapat asas-asas serta konsepkonsep lainnya yang luput dari perhatian. Karena itu Allah memperingatkan dalam al-Qur'an:126 126 Al-Baqarah (2): 179 . Memang ia hukuman yang kejam. jiwa maupun dengan hal-hal lainnya seperti kehormatan. Hukum Pidana Islam (fiqh jinayat) ini mengatur setiap perbuatan manusia yang dilarang yang berkenaan dengan tubuh. denda-damai (diyat). Lihatlah. Sepintas. merupakan pelanggaran terhadap hak Allah. Inilah yang disebut hududullah (batas-batas hukum Allah). atau permintaan maaf). harta.

Dan tanggapan kedua isterinya sebagai ahli waris korban (waliyuddam) sangat kecewa karena putusan itu tidak sesuai dengan harapan. Padahal penyakit sosial yang bernama pembunuhan hanya efektif dicegah dengan obat yang disediakan oleh yang menciptakan nyawa manusia. Sebagai contoh kasus Tomy Suharto sebagai terpidana pembunuhan atas hakim agung Syafiuddin Kartasasmita. hlm.73 ‫و لكم فى القصاص حياة يا اولى اللباب‬ Kekejaman memang harus dihentikan dengan hukuman yang setimpal agar bisa menjerakan. Anak-anakpun kehilangan sosok sang ayah yang biasa membimbing mereka sehari-hari. Mereka telah kehilangan suami sekaligus pemimpin rumah tangga dan pencari nafkah bagi keluarganya.2 127 . Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat hanya mengganjar Tomy dengan hukuman penjara 15 tahun. karena korban atau ahli warisnya (bila korban meninggal) berhak membalas dengan perlakuan setimpal. menjadi benci terhadap hukum Islam lalu memilih hukum lain (KUHP). Dengan qisas. (Jakarta: Khairul Bayan. sumber pemikiran Islam. atau ketinggalan zaman. orang-orang yang telah menjadi korban penyesatan opini semacam ini. Qisas pembalasan yang hak. maka pelaku sebelum berbuat jahat akan pikir-pikir dahulu. yaitu dengan qisas. jelas tidak sepadan. Apalagi jika dibandingkan dengan penderitaan yang mereka alami sepeninggal sang suami. jenis hukuman dinilai tidak manusiawi. Alhasil putusan hakim itu belum memenuhi rasa keadilan yang mereka tuntut. Karenanya. primitif. Bagi sebagian orang.127 Abdurrahman Madjrie dan Fauzan Al-Anshari. 2003). barbar.

untuk membasmi kejahatan di muka bumi dan kemaksiatan lainnya yang sering dilakukan oleh para penjahat. 128 Ibid. Mengingat keduanya tidak berhak dan tidak bisa keputusan Hakim tersebut. Maka dapat ditarik kesimpulan dari keutamaan Hukum Pidana Islam ini sebagi hikmah yang harus disyukuri. 4. Untuk menegakkan hukum Allah sebagai bukti ketaatan kaum muslimin kepada hukum Allah. hlm. 3. untuk menjaga keamanan dan keselamatan jiwa dan kehidupan manusia di dunia. yaitu:128 1. jika Tomy meminta maaf. Dari kasus ini dapat dibandingkan bahwa ternyata KUHP kurang sesuai dengan tindakan yang diperbuat. Minimal dapat mencegah merebaknya kejahatan dan kerusakan di muka bumi.91-92 . tidak ada rasa keadilan atas tindakan yang dilakukan dan juga bagi keluarga korban tidak punya hak apa-apa untuk menuntut hak mereka. 2.74 Namun kedua isterinya hanya pasrah karena tidak bisa berbuat apa-apa selain trerpaksa menerima keputusan tersebut. dan keluarga memaafkan maka ia akan terbebas dari hukum qisas dan berganti kepada diyat sebagai ganti rugi atas tuntutan keluarga. untuk memberikan pelajaran dan peringatan yang keras bagi orangorang yang ada niatan berbuat kejahatan agar tidak meneruskan keinginannya. Bila hal ini diselesaikan denga hukum Islam maka yang akan terjadi.. Di sinilah aspek keadilan dan kemanusiaan dalam hukum Islam.

Euthanasia Aktif sebagai Jarimah Masalah menjaga kesehatan dalam Islam sangat diperhatikan. BAB IV PRAKTEK EUTHANASIA DALAM PRESPEKTIF FIQH JINAYAH A. Terlebih-lebih menjaga atau memelihara jiwa atau an-nafs. Oleh karenanya setiap orang diharuskan untuk menjalani segala perbuatan yang dapat membahayakan dirinya atau orang lain.75 5. sebagai mekanisme pengamanan bagi semua warga negara yang tinggal di negeri yang memberlakukan hukum Allah sebagai konstitusinya. Sebagaimana pernah terjadi pada era kehidupan Rasulullah dan pemerintahan khalifah penggantinya. Atau dengan kata lain manusia . segala upaya diusahakan untuk memberi pelayanan kesehatan agar dapat memperhatikan kehidupan seorang manusia. Artinya.

maka apabila telah datang kematiannya tidak seorangpun yang dapat mengundurkan atau memajukan walau sesaatpun. Di antara firman Allah menyinggung hal jiwa atau nafs adalah sebagai berikut: 129 ‫و انا لنحن نحي و نميت و نحن الوارثون‬ 130 ‫و انه هو امات و احي‬ Begitu besarnya penghargaan Islam terhadap jiwa. Sebagai mana firman Allah: ‫و لكل أمة أجل فاذا جاء أجلهم ل يستأخرون ساعة و ل‬ 131 ‫يستقدمون‬ 132 ‫و لن يؤخر ال نفسا اذا جاء أجلها و ال خبير بما تعملون‬ 129 Al-Hijr (15): 23 An-Najm (53): 44. sehingga segala perbuatan yang mengarah kepada tindakan untuk menghilangkan jiwa manusia akan diancam dengan hukuman qisas-diyat atau ta'zir. Masalah kematian setiap manusia itu sudah ditentukan batasannya oleh Allah swt. Sebab masalah hidup dan mati itu merupakan urusan Allah SWT. Dalam hubungan ini euthanasia. Al-A'raf (7): 34 Al-Munafiqun (63): 11 130 131 132 .76 tidak dibolehkan untuk menghilangkan jiwanya atau jiwa orang lain. khususnya euthanasia aktif dapat dikategorikan sebagai perbuatan untuk menghilangkan jiwa atau penghentian kehidupan manusia. dan oleh karenanya pula hal tersebut merupakan perbuatan yang bertentangan dengan kehendak Allah swt.

baik dengan obat-obatan atau memberikan nasihat. tindakan dokter itu tidak berarti melangkahi hak Allah atau takdirnya.77 Dapat difahami dari ayat di atas bahwa urusan mati sepenuhnya merupakan hak Allah swt. meringankan penderitaan pasien dengan segala kemampuannya. Berbicara masalah euthanasia (qatl ar-rahmah atau taisir al-maut). Kemudian apakah dokter dalam memberikan tindakan medis (misal. ini bisa dikategorikan sebagai pembunuhan.133 Akibat dari pesatnya perkembangan teknologi kedokteran modern akan dapat memberikan fasilitas dan pelayanan yang lebih baik bagi usaha perpanjangan umur pasien yang menderita sakit parah. Dalam konteks di atas. Ramadhani. respirator. Dan bila ada terjadi seseorang berusaha untuk dirinya sendiri untuk mendapatkan kematian. karena kasih sayang. sebab tindakan medis itu manifestasi dari ikhtiar untuk menolong pasien. seorang dokter berkewajiban untuk mengobati.1990) hlm.116 133 . Ini mengandung arti bahwa dokter atau tim medis telah dapat menunda beberapa saat waktu kematiannya. Euthanasia cara mati terhormat orang moderen (Solo: cv. Betapapun sudah diduga umur si pasien tidak lama lagi. EEG dan lain-lain). dengan tujuan Imron Halimi. yang definisinya menurut Qardawi ialah tindakan memudahkan kematian seseorang dengan sengaja tanpa merasakan sakit. itu tidak berarti menghalangi hak Allah sebagai penentu kematian manusia ?. memasang infus. maka perbuatan demikian bisa dikategorikan sebagai bunuh diri dengan meminjam tangan orang lain. Dan memang seharusnya begitu. Sehingga kalau sampai terjadi seseorang lain yang mengusahakan kematian untuk orang lain.

Unsur material atau rukun maddi Yusuf Qardawi. Dalam fiqh Islam suatu perbuatan barulah dikatakan sebagai jarimah apabila perbuatan tersebut telah memenuhi unsur-unsur jarimah. Akan tetapi karena euthanasia aktif merupakan tindakan untuk mempercepat kematian seseorang. fatwa-fatwa kontemporer. cet.ke-2.134 Khususnya lagi euthanasia aktif (taisir al-maut al-fa'al) yang definisinya ialah tindakan memudahkan kematian si sakit karena kasih sayang yang dilakukan dokter dengan menggunakan instrumen (alat). (Jakarta: Gema Insani Press. Unsur formal atau unsur syar'i Yang dimaksud dengan unsur formal atau unsur syar'i adalah adanya ketentuan syara' atau nash yang menyatakan bahwa perbuatan yang dilakukan yang oleh hukum dinyatakan sebagai sesuatu yang dapat dihukum atau adanya nash (ayat) yang mengancam hukuman terhadap perbuatan yang dimaksud.135 Dalam Islam euthanasia aktif itu secara eksplisit dan tegas belum pernah ditemukan hukumnya. yakni: a. Dalam hal ini tentunya diperlukan beberapa tahapan untuk menjawabnya. hlm. Ibid. II:749. 1996).78 meringankan penderitaan si sakit. alih bahasa: As'ad yasin.751 136 .. 135 134 Ibid. yakni sebagai berikut: 1. b. maka hal ini bisa diklasifikasikan kedalam jarimah pembunuhan.136 Namun demikian apakah bisa begitu saja tindakan euthanasia aktif itu digolongkan sebagai jarimah pembunuhan?.

yakni adanya nas yang jelas-jelas melarang pembunuhan baik 137 Rahmat Hakim. (Bandung: Pustaka Setia. hlm. dan sanggup menerima isi beban tersebut. Tindakan euthanasia aktif itu apakah telah memenuhi unsur-unsur jarimah ataukah tidak?. hlm. Maksudnya adalah pembuat jarimah atau pembuat tindak pidana atau delik haruslah orang yang dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya. Unsur moril atau Rukun Adaby Unsur ini juga disebut dengan al-mas'uliyyah al-jinayyah atau pertanggungjawaban pidana. ke-2 (Jakarta: PT. cet. . c.lihat juga A.52-53.2000). 1997). Hukum pidana Islam (fiqh jinayah). ke-1. Oleh karena itu pembuat jarimah (tindak pidana. mengerti isi beban. baik berupa perbuatan ataupun tidak berbuat atau adanya perbuatan yang bersifat melawan hukum.3. Orang yang diasumsikan memiliki kriteria tersebut adalah arangorang yang mukallaf sebab hanya merekalah yang terkena khitab (panggilan) pembebanan (taklif).137 2.79 Yang dimaksud dengan unsur material adalah adanya perilaku yang membentuk jarimah. fiqh jinayah (upaya menanggulangi kejahatan dalam Islam). djajuli. Sehingga euthanasia aktif dilihat dari aspek definisinya sudah memenuhi unsur jarimah pertama. Bahwa euthanasia aktif itu merupakan tindakan pembunuhan. Raja Grafindo Persada. delik) haruslah orang yang dapat memahami hukum. Adapun aspek-aspek terjadinya euthanasia aktif ialah sebagai berikut: a. cet. ialah unsur formil (ar-rukn asysyar'i). Jika telah memenuhi tentunya ada kesinkronan antara aspekaspek terjadinya euthanasia aktif dengan unsur-unsur jarimah.

pasien. yakni unsur moril (ar-rukn adabi) Jadi jelas dalam konteks tersebut dapat disimpulkan bahwa euthanasia aktif itu merupakan jarimah pembunuhan. yakni biasanya dengan mencabut selang respirator atau melalui suntikan dengan bahan pelemah saraf dalam dosis tertentu (neurasthenia). dan sebagainya. Dalam aspek ini juga telah memenuhi unsur jarimah kedua yakni unsur materill (ar-rukn almaddi).(6): 151 139 . tindak pidana pembunuhan ini (al-qatl) disebut juga al-jinayah 'ala al-insaniyyah (kejahatan terhadap jiwa 138 An-Nisa (4): 29 Al-An'am. Seperti tercantum dalam beberapa ayat al-Qur'an sebagai berikut: 0 ‫ل تقتلوا أنفسكم ان ال كان بكم رحيما‬ ‫ول تقتلوا النفس التى حرم ال ال بالحق ذالكم وصاكم به‬ 0 ‫تعقلون‬ ‫لعلكم‬ 138 139 b. c. Dari aspek inipun telah memenuhi unsur jarimah ketiga. Adanya pelaku euthanasia aktif yang dapat dimintai pertanggungjawaban pidana.80 diri sendiri ataupun orang lain. Adanya tindakan atau perbuatan yang mendukung terjadinya euthanasia aktif. Dalam hukum Pidana Islam (fiqh jinayah). dan keluarga pasien. yaitu dokter atau tim medis lainnya.

1992). Fiqh Jinayah. Hal ini sesuai dengan definisinya. 2004) hlm. yaitu: pembunuhan sengaja. at-Tasyri' al-Jina'i al-Islami Muqaranah bi al-Wad'i. 141 140 A. semi sengaja. semi sengaja (syibh al-'amd) dan kekeliruan. kekeliruan dan serupa kekeliruan. 2) Jumhur mengklasifikasikannya menjadi tiga (sulasi). yaitu: pembunuhan sengaja. Perbedaan tersebut adalah:140 1) Ulama Malikiyah mengklasifikasikan bentuk-bentuk pembunuhan menjadi dua yaitu: pembunuhan sengaja (qatl al-'amd) dan kekeliruan (qatl alkhata'). Terjadinya tindakan euthanasia aktif sangat dipengaruhi oleh alasan atau pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:142 Jaih Mubaraok dan Enceng Arif Faizal. 4) Sebagian Hanafiyah mengklasifikasikannya menjadi lima (khumasi). Dari macam jarimah pembunuhan di atas. Para ulama berbeda pendapat dalam mengklasifikasikan bentuk-bentuk pembunuhan. dan pembunuhan secara tidak langsung (al-qatl bi al-tasabbub).81 manusia). Problematika Hukum Islam 142 . Hukum Pidana. tindakan euthanasia aktif bisa digolongkan kedalam pembunuhan sengaja. kekeliruan. Fauzi Aseri. suatu perbuatan penganiayaan terhadap seseorang dengan maksud untuk menghilangkan nyawanya.121 Akh.9. (Beirut: Muassasat ar-Risalat. Euthanasia Suatu Tinjauan dari Segi Kedokteran. II: 7-9. Djazuli.141 atau sengaja melakukan perbuatan yang dilarang dan memang akibat perbuatan itu dikehendaki pula. semi sengaja. Kaidah fiqh jinayah (asas-asas hukum pidana Islam) (Bandung: Pustaka Bani Quraisy. dalam Chuzaimah T Yanggo dan Hafidz Anshary. yakni. 3) Sebagian Hanafiyah mengklasifikasikannya menjadi empat (ruba'i). yaitu pembunuhan sengaja. lihat juga Abd Qadir 'Audah. dan serupa kekeliruan (ma jara majr al-khata'). dan Hukum Islam.hlm.

bahwa pihak keluarga (tertentu) bekerjasama dengan dokter untuk mempercepat kematian pasien. b) Dari pihak keluarga/wali. yang meminta kepada dokter karena merasa tidak tahan lagi menderita sakit. maka supaya matinya tidak merasa sakit. Sanksi Hukum bagi Pelaku Euthanasia Dalam ajaran agama Islam tidak terdapat ajaran yang mutlak mengenai euthanasia. maka akan jelas hukumnya dengan berdasarkan al-Qur'an sebagai salah satu sumber hukum Islam. Atau pasien sudah tahu bahwa ajalnya sudah di ambang pintu. (Jakarta: PT. Cet. Pertimbangan lain bisa juga karena pasien tidak ingin meninggalkan beban ekonomi yang terlalu berat bagi keluarga. dia meminta jalan yang lebih "nyaman". ke-3. ataupun karena amat ganasnya jenis penyakit yang menyerangnya. sementara harapan untuk sembuh tidak ada lagi. namun bila ingin mempelajari dan memahami arti euthanasia secara mendalam. Apabila jika pasien tampaknya tidak tahan menanggung sakitnya. 2002). . Euthanasia hakikinya adalah membunuh yang dilakukan Kontemporer. yang merasa kasihan atas penderitaan pasien. Pustaka Firdaus.82 a) Dari pihak pasien. Oleh karena penyakit yang dideritanya sangat (accut). karena menginginkan harta/milik pasien dan faktor amoral lainnya. maka ia meminta dokter untuk melakukan euthanasia. Bisa juga euthanasia terjadi karena permintaan keluarga yang tidak sanggup lagi memikul biaya pengobatan. akibat biaya pengobatan yang mahal. B. hlm. harapan sembuh terlalu jauh. dan telah lama dialami. baik karena terlalu lama. c) "Kemungkinan lain" bisa terjadi. paling tidak.71. yaitu melalaui euthanasia.

maka Allah memberikan ancaman bagi mereka yang meremehkannya. Euthanasia merupakan salah satu bentuk pembunuhan dan termasuk dalam kategori jinayat. X:11 . Dalam terminologi fiqh. karena pada dasarnya menghilangkan nyawa seseorang merupakan perbuatan dosa besar sebagai mana tercantum dalam al-Qur'an: ‫و من يقتل مؤمنا متعمدا فجزاؤه جهنم خالدا فيها و غضب ال‬ 144 ‫عليه و لعنه و اعدله عذابا عظيما‬ َ Secara umum hukum Islam diamalkan untuk menciptakan kemaslahatan hidup dan kehidupan manusia. sehingga aturan diberikan secara rinci. Islam ditetapkan aturan yang ketat yaitu Qisas (pembunuhan).A Ali (Bandung: PT. akal. fikih sunnah. Tindakan merusak ataupun menghilangkan jiwa orang lain maupun jiwa diri sendiri adalah perbuatan melawan hukum Allah. perbuatan itu bisa merugikan agama. 144 An-Nisa (4): 93. jiwa. keturunan dan harta. al-Maarif. . jinayat adalah setiap perbuatan yang diharamkan dan tercela yang dilarang oleh Tuhan. 143 Sayid Sabiq. had dan diyat.83 dalam rumah sakit oleh dokter ahli pada penderita karena penyakit tertentu seperti kanker atau kecelakaan yang merusak tubuhnya hingga berdasarkan ilmu dan teknologi kedokteran tidak mungkin sembuh.143 Allah melarang melakukan pembunuhan. 1997). alih bahasa H. Agar manusia tidak memandang murah terhadap jiwa manusia. khusus yang berkaitan dengan hukum pidana.

84

Syaikh Muhammad Yusuf al-Qardawi, sebagaimana dikutip oleh Akh. Fauzi Aseri mengaِ takan, bahwa kehidupan manusia bukan menjadi hak milik pribadi, a sebab dia tidak dapat menciptakan dirinya (jiwanya), organ tubuhnya, ataupun selselnya. Diri manusia pada hakekatnya adalah barang ciptaan yang diberikan Allah, oleh karenanya ia tidak boleh diabaikan, apalagi dilepaskan dari kehidupannya.145 Jadi jelaslah bahwa Islam tidak membenarkan seseorang yang sakit berkeinginan mempercepat kematiannya, baik dengan bunuh diri maupun dengan minta dibunuh. Bahkan berdo'a meminta dimatikanpun tidak diperbolehkan. Tetapi Allah menyuruh umatnya bila dalam keadaan sakit agar disamping berusaha juga berdoa agar diberi kesembuhan, sebagaimana firman Allah swt:
146

‫واذ مرضت فهو يشفين‬

Ahmad Mustafa al-Maragi menjelaskan, bahwa pembunuhan (mengakhiri hidup) seseorang bisa dilakukan apabila disebabkan oleh salah satu dari tiga sebab:147 1. Karena pembunuhan oleh seseorang secara zalim. 2. Janda yang pernah bersuami) secara nyata berbuat zina, yang diketahui oleh empat orang saksi. 3. Orang yang keluar dari agama Islam, sebagai suatu sikap menentang jama'ah Islam.

145

Akh. Fauzi Aseri, Euthanasia. hlm.73. As-Syu'ara' (26): 80

146

147

Ahmad Mustafa al-Maragi, Tafsir al-Maragi, (Mesir: Mustafa al-Baby al-Halaby, 1971).

XI: 43.

85

Jika dibandingkan dengan alasan-alasan yang mendorong terjadinya euthanasia seperti disebutkan terdahulu, maka tidak ada satupun yang berkaitan dengan alasan bilhaq di atas. Maka agar dapat ditentukan sanksi hukumnya dalam masalah euthanasia ini, perlu diperjelas secara terperinci karena masalah euthanasia ini merupakan masalah yang kompleks, baik dari segi sebabnya maupun pelaku terjadinya euthanasia. Karena euthanasia ini merupakan jenis pembunuhan maka kiranya perlu dijelaskan sanksi-sanksinya. Sebelum menginjak kepada sanksi-sanksi pelaku euthanasia perlu disebutkan terlebih dahulu sanksi-sanksi dalam pembunuhan. Dalam pembunuhan, ada beberapa jenis sanksi, yaitu; hukuman pokok, hukuman pengganti dan hukuman tambahan. Hukuman pokok pembunuhan adalah qisas. Bila dimaafkan oleh keluarga korban, maka hukuman penggantinya adalah diyat. Akhirnya jika sanksi qisas atau diyat dimaafkan, maka hukuman penggantinya adalah ta'zir. Menurut sebagian ulama, yakni Imam Syafi'i, ta'zir tadi ditambah kaffarah. Hukuman tambahan sehubungan dengan ini adalah pencabutan atas hak waris dan hak wasiat harta dari orang yang dibunuh, terutama jika antara pembunuh dengan yang dibunuh mempunyai hubungan kekeluargaan.148 Dokter sebagai seorang anggota masyarakat, penuh aktif, berinteraksi dan memelihara masyarakat. Tugas dokter tidak hanya melakukan pengobatan penyakit dan mencegah timbulnya penyakit. Tetapi juga sebagai seorang manusia dokter juga dituntut untuk tolong-menolong dalam hal kebaikan apapun bentuknya.149
148

A. Djazuli, Fiqh Jinayat, hlm, 135-136

Kode Etik kedokteran Islam, terj. Sudibyo Soepardi, cet.ke-4, (Jakarta: CV. Akademika Pressindo, 2001), hlm. 41.

149

86

Dalam masalah euthanasia ini, jika melihat kembali kepada fungsi dokter sebagai penolong untuk mengobati, menolong dan membantu pasien dari penyakitnya supaya sembuh, apakah secara batin dia tega melakukan euthanasia terhadap pasiennya. Pasti dia mempunyai tekanan batin dan juga menghadapi konsekuensi hukum. Dalam hal ini, jika dokter melakukan euthanasia berarti dokter telah melakukan pembunuhan, karena pembunuhan berarti menghilangkan nyawa seseorang, sepeti dikatakan oleh Wahbah az-Zuhaili:150 "Pembunuhan adalah suatu perbuatan mematikan; atau perbuatan seseorang yang dapat menghilangkan nyawa; artinya pembunuhan itu dapat menghancurkan bangunan kemanusiaan."

Allah telah memberikan hukuman terhadap pelaku pembunuhan dengan qisas. Hal ini tercantum dalam al-Qur'an:
151

‫يا أيها الذين آمنوا كتب عليكم القصاص في القتلى‬
152

‫و كتبنا عليهم فيها أن النفس بالنفس‬

Jadi berdasarkan ayat di atas dokter sebagai pelaku pembunuhan harus dihukum qisas, hal ini sebagai konsekuensi pertama yang dihadapi oleh dokter sebagai pihak pembunuh. Pada dasarnya Allah melarang pembunuhan apapun
Wahbah az-Zuhaili, al-Fiqh al-Islam wa adillatuh, cet ke-3 (Damaskus: Dar al-Fikr, 1989), VI: 217.
151 150

Al-Baqarah (2): 178. Al-Maidah (5): 45.

152

. tuntutan itu bisa berupa qisas (sebagai balasan). Dalam hal ini Mahmud Syaltut memberikan pembahasan yang ringkasnya bahwa para ahli fiqh berbeda pendapat mengenai suatu kejahatan atau seseorang yang disuruh sendiri oleh si korban dengan disetujui walinya. 153 Akh. Masalah yang timbul adalah. tetapi Allah juga memberikan hak kepada keluarga si terbunuh dengan tuntutan. Euthanasia. sebagai unsur utama kehidupan manusia. Fauzi Aseri.87 jenisnya. hukuman berpindah kepada diyat. dan persetujuan dari pihak keluarga. Dalam hal ini dokter mempunyai suatu dispensasi dari pihak pasien (si terbunuh) berupa (kerelaan atau izin). apakah pelaku (dokter) terkena hukuman atau tidak dalam kasus euthanasia yang mana si korban sebagai pemilik jiwa. dan Allah memberikan hukuman berupa qisas yang merupakan hak Allah atas manusia. diyat (bila pembunuh dimaafkan) dan bisa juga dimaafkan secara mutlak. Oleh karena itu. Dalam hal ini si pasien sebagai pemilik jiwa telah merelakan atau memberi izin kepada dokter. Hal ini tergantung tuntutan apa yang akan dilakukan pihak keluarga atau ahli warisnya. Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa perintah korban dapat menggugurkan qisas terhadap pelaku.74.153 Menurut Hanafiyah: ‫يسقط القصاص برضا المجني عليه‬ Gugurnya qisas disebabkan oleh adanya kerelaan atau izin korban yang dapat dipersamakan dengan pemaafan. atau keluarga sebagai wali ad-dam telah merelakan bahkan menganjurkannya. hlm. karena Allah sebagai sang khaliq menyuruh umatnya agar senantiasa memelihara jiwa.

At-Tasyri. (Bandung: Maktabah Dahlan. A. ke-5. Pemaafan dari korban itu lebih utama dari pada keluarga sebab pemaafan itu menjadi hak bagi korban. meskipun tidak berarti menghapuskan hukuman ta'zir. karena adanya pemberian izin.1992) I: 440-441 155 154 Ibid. cet. 260. 1247.441-442. semuanya tidak ada yang menetapkan sanksi hukum atas kerelaan atau izin ini dengan sanksi qisas (hukuman asli). walaupun Abu Abdul al-Qadir Audah.158 Dari pendapat-pendapat di atas. al-tasyri' al-Jina'i al-Islami Muqaranah bi al-Qanun al-wad'i (Beirut: Muassasat ar-Risalat. t.t). 158 hlm. 191 . hlm. kerelaan itu menjadi syubhat yang dapat menggugurkan hudud. 1993).. 441-442 A ِ l-Hafid Ibnu Hajar al-Asqalani. Bulug al-Maram.88 Selain itu.157 Menurut ulama Syafi'iyah dan Imam Ahmad dalam kasus euthanasia ini tidak ada sanksi qisas dan diyat. yakni: 156 ‫ادرؤوا الحدود بالشبهات‬ Pendapat Malikiyah yang arjah (lebih kuat) dan sebagian Syafi'iyah: ‫يسقط عقوبتى القصاص و الدية برضا المجني عليه‬ Kerelaan korban dapat dipersamakan dengan pemaafan baik dari hukuman asli (qisas) maupun penggantinya (diyat). Asas-asas Hukum Pidana Islam.155 Pendapat ini didasarkan pada qaidah fiqhiyyah. Hanafi. hlm. dan pemberian izin itu menimbulkan syubhat (kesamaran). (Jakarta: Bulan Bintang. Hadis nomer. Kitab al-Hudud Bab az-Zina. HR Baihaqi dari Ali RA 157 156 Abd Qadir 'Audah. hlm. Abu yusuf dan Muhammad mereka sama-sama memberikan sanksinya berupa diyat.154 Pendapat ini juga didukung oleh Abu Hanifah. Karena si pasien telah memaafkan dari sanksi dan rela untuk dibunuh itu sama dengan memberi maaf.

jika melihat hal di atas berarti dokter yang mengeuthanasia mendapat hukuman berupa diyat mughaladzhah karena telah dimaafkan oleh pihak keluarga. Dari hal ini. mau menerima hukuman tersebut. jika dia sudah tahu akan konsekuensinya. atau harta (uang atau barang ) yang senilai dengannya. . Dan jumlah dari pembayaran diyat mugalazah adalah seratus ekor unta yang empat puluh di antaranya sedang bunting. Dan pihak keluarga atau ahli warisnya juga telah memaafkan secara mutlak maka tidak ada hukuman diyat baginya. Pada dasarnya hukuman qisas tidak dapat diganti dengan hukuman yang dibuat oleh manusia. Karena fungsi diyat adalah untuk kemaslahatan keluarga si pasien (si terbunuh). karena berarti dokter sebagai pihak yang membantu malah mendapatkan kerugian. yaitu berupa seratus ekor unta yang empat puluh diantaranya sedang bunting. Menurut Malikiyah pada pembunuhan disengaja dikenakan diyat mugalazah apabila waliyuddam menerimanya. namun pihak korban atau ahli warisnya diberi hak tuntutan. tetapi dalam hal ini apakah dokter sebagai orang lain bagi pasien dan keluarga yang sudah melaksanakan euthanasia atas permintaan pasien dan persetujuan keluarga sehingga mendapat hukuman diyat. Sedangkan jumlah yang harus dikeluarkan dari ketentuan diyat sendiri tidak sedikit. Diyat ada dua macam yaitu diyat mugalazah dan diyat mukhafafah.89 Hanifah (beserta pengikutnya) Abu Yusuf dan Muhammad menetapkan hukum atas adanya unsur kerelaan ini dengan diyat (hukuman pengganti). Jadi dari hal ini dokter terbebas dari hukuman qisas (sebagai hukuman asli) juga diyat (sebagai hukuman pengganti). Sedangkan tindakan dokter telah disetujui pihak keluarga pasien. Otomatis dokter tidak akan mau jika harus membayar diyat.

Apabila korban atau keluarganya memaafkan diyat ini. sanksi ta'zir dapat dijatuhkan terhadap pembunuh. sebab jarimah qisas merupakan hak adami hak perseorangan. hukum Islam memberikan kedudukan kepada keluarga korban secara bijaksana untuk turut ambil bagian di dalam menentukan kebijaksanaan hukuman terhadap pelaku pembunuhan dengan memberikan kesempatan kepada pelakunya apakah harus diqisas atau diyat. Hal itu dimungkinkan. ini sangat berarti bagi pelaku tindak pidana maupun bagi keluarga si korban. Hukum Pidana Islam. hukuman qisaspun menjadi gugur digantikan dengan hukuman diyat.160 Singkatnya. atau juga memberi maaf secara mutlak. Allah berfirman dalam al-Qur'an: ‫فمن عفي له من أخيه شيئ فاتباع بالمعروف و اداء اليه‬ 159 ‫باحسان‬ Adanya hukuman pengganti pada jarimah qisas ini disebabkan adanya pemaafan dari sikorban atau wali atau ahli warisnya. maka sanksi qisas tidak dapat dilaksanakan karena tidak memenuhi syarat. Oleh karena itu. hlm126 160 . kalau sikorban (masih hidup) atau ahli waris (jika korban mati) memaafkan pembuat jarimah.90 oleh karena itu hak Allah yang berupa qisas dapat diganti dengan hukuman diyat yang merupakan hak manusia. karena korban (si pasien) atau walinya mempunyai hak untuk membebaskan pembunuh dari sanksi hukuman 159 Al-Baqarah (2): 178 Rahmat Hakim. dapat dihapus dan sebagai penggantinya hakim akan menjatuhkan hukuman ta'zir. Dalam tindak pidana pembunuhan. Keterlibatan keluarga pihak korban.

. Fiqh Jinayah.91 qisas dan diyat. baik kedua-duanya atau diganti dengan sanksi lain. 162. Dengan melihat bahwa izin (persetujuan) dapat menghapuskan hukuman. Dan ta'zir itu tergantung kepada kemaslahatan:161 ‫التعزير يدور مع المصلحة‬ Adanya kaidah ini merupakan wujud dinamisasi hukum pidana Islam dalam menjawab bentuk-bentuk kejahatan baru yang belum ada aturannya sehingga setiap bentuk kejahatan baru yang dianggap telah merusak ketenangan dan ketertiban umum dapat dituntut dan dihukum. Djazuli. hlm. maka izin tersebut merupakan pemaafan yang didahulukan. Maka ta'zir itulah sebagai sanksi hak masyarakat. Hukuman ta'zir yang diberikan kepada pembunuh sengaja yang dimaafkan dari qisas dan diyat adalah aturan yang baik dan membawa kemaslahatan. Karena pembunuhan itu tidak hanya berurusan dengan hak perseorangan. melainkan juga hak jamaah. 161 A.

92 EUTHANASIA DALAM PRESPEKTIF FIQH JINAYAH .

1404.93 SKRIPSI DIAJUKAN KEPADA FAKULTAS SYARI’AH UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA UNTUK MEMENUHI SEBAGIAN SYARAT-SYARAT MEMPEROLEH GELAR SARJANA STRATA SATU DALAM ILMU HUKUM ISLAM OLEH: MUKHLISIN 9937 3425 PEMBIMBING DRS. H Hadis Abu Dawud. Beirut: Dar al-Fikr. OMAN FATHUROHMAN SW. Abu Abdullah Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim ibn al-Mughirah ibn Bardizbah al-Ja'fi al-. t. Bulug al-Maram. 3 jilid. Bukhari. Beirut: Dar al-Ma'rifah. Sunan al-Daruqutni. SLAMET KHILMI JURUSAN JINAYAH SIYASAH FAKULTAS SYARI’AH UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA 2004 DAFTAR PUSTAKA Al-Qur'an Al-Qur'an Karim. 8 jilid. Ag DRS. Ibnu Hajar al-Asqalani. M. 1981. . Sahih al-Bukhari. 4 jilid. Sunan Abi Dawud. Bandung: Maktabah Dahlan. 1996. 1988. Daruquthni. Beirut: Dar al-Fikr. Damaskus: Dar Ibn Katsir.t. Ali bin 'Amr Abu al-Husyain al-.

94 Ibnu Majah. Mawardi. 1971. 1994. Mesir: al-Bab al-Halabi wa al-Audah. Subul as-Salam Syarah Bulug al-Maram. Jakarta: Khairul Bayan. t. Raja Grafindo Persada. Hukum Pidana Syari'at Islam menurut ajaran ahlus sunnah. Masail Fiqhiyah. Masjfuk Zuhdi. t. al-Tasyri' al-Jina'i al-Islami Muqaranah bi al-Qanun al-Wad'i. Jakarta: Bulan Bintang. dan Enceng Arif Faizal. Beirut: Muassasat ar-Risalat. Sunan an-Nasai'. t. 2 jilid. Jakarta: Bulan Bintang. Tafsir al-Maraghi. Fiqh dan Usul Fiqih Audah. Djazuli. Jakarta: Bulan Bintang. San'ani. alih bahasa: Fadhli Bahri. 2000. . Bandung: Maktabah Dahlan. Jaih mubarok.t. Muhammad ibn Ahmad ibn Muhammad ibn Muhammad al-Qurtuby. Maraghi.t. Abd ar-Rahman Ahmad ibn Suaib ibn Ali ibn Bahr an-. Musthafa al-. 30 jilid. Bandung: Pustaka Bani Quraisy. Abdurrahman dan Fauzan al-Anshari. Imam al-. Muhammad ibn Ismail ibn Salah al-Amir al-Kahlani al-.. Jakarta: PT. Qisas pembalasan yang hak. Asas-asas Hukum Pidana Islam.t. Madjrie. Charis. Abdul Qadir. 1992. 8 jilid. al-Ahkam as-Sultaniyah. Indonesia: Dar Ihya alKutub al-Arabiyyah. Nasai'. 2 jilid. Sunan Ibn Majah. Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtasid. 1968. 1971. 1997. Ahmad Hanafi. (Prinsip-prinsip penyelenggaraan Negara Islam). Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2003. Mesir: Mustafa al-Baby alHalaby. Fiqh Jinayah (upaya menaggulangi kejahatan dalam Islam). Jakarta: Darul Falah. 2 jilid. Hukum Islam (keluasan dan keadilannya). Jakarta: CV Haji Masagung. A. Kaidah Fiqh Jinayah (Asas-asas Hukum Pidana Islam). 1997. Anwar Harjono. Haliman. Ibnu Rusyd. Zubir A. 1993. 2004. 1994. Beirut: Dar Ihya al-Kitab al-Arabiyah. Etika Rekayasa menurut konsep Islam.

2000. Halal dan Haram dalam Islam. Oleh Drs. Mengapa Euthanasia? Kemampuan Medis & Konsekuensi Yuridis. Jakarta: Erlangga. . Bunga Rampai Hukum Kesehatan. dan A. Bandung: Pustaka Setia. Buku lain-lain Abdul Jamali. Chuzaimah T. Wahbah az-. Jakarta: Gema Insani Press. t. Profesi Dokter. Jakarta: PT. Oemar Seno. Surabaya: Maktabah Ahmad bin Said bin Nabhan.1993. Hafiz Anshary AZ. Syairazi. Pustaka Firdaus. Beirut: Dar al-Fikr. Problematika Hukum Islam Kontemporer edisi ke-4 edisi revisi. Zuhaili. 8 jilid. F. dalam tinjauan medis. Bandung: Nova. al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh. Fikih Sunnah. terj. bayi tabung. Supriadi. Menggagas Hukum Pidana Islam. 1997. hukum kedokteran. Adji. dan agama Islam. …. 2002. dkk. Hukum Pidana Islam (Fiqh Jinayah). Djoko Prakoso. hukum. Ali. Bandung: PT. Jakarta: Ghalia Indonesia. alih bahasa A. Jakarta: Robbani Press.95 Mukti. Ali Ghufron dan Adi Heru Sutomo. Yusuf al-. Abu Sa’id al-Falahi dan Aunur Rafiq Shaleh Tamhid. dan operasi kelamin. Fatwa-fatwa kontemporer. 2000. Yanggo. Sayyid Sabiq.t. 1990.. dan Djaman Andhi Nirwanto. Topo Santoso. Etika Profesional dan Hukum Pertanggungjawaban Pidana Dokter. Abortus. 1996. 1984. al-Ma'arif.Tengker.t. Bandung: Pustaka Setia. 2001. Qardhawi. 2000. Rahmat Hakim. Hukum Pidana Islam (Fiqh Jinayah). al-Muhazzab. 1991. transplantasi ginjal. 1991. Jakarta: Ikhtiar Baru. Tanggung jawab Hukum Seorang Dokter dalam menangani Pasien. 2001. alih bahasa As'ad Yasin. Euthanasia. 1997. Rahmat Hakim. Bandung: Mandar Maju. Abi Ishaq Ibrahim ibn Ali ibn Yusuf al-Fairuz Abadi asy-. Bandung: Asy-Syamil Press. Jakarta: Widya Medika. Amri Amir. t. Yogyakarta: Aditya media. Euthanasia Hak Asasi Manusia dan Hukum Pidana. Wila Chandrawila.

Pengantar Bioetika. Euthanasia dalam Prespektif Hak Asasi Manusia. Sudarmo. Carm. Samil. Jakarta: Metro Kencana. Piet Go O. 1995. Bogor: Politeia. Thomas A. Ensiklopedi Indonesia (Jakarta: Ikhtiar Baru-Van Hoeve. Yogyakarta: FKMPY. 1980. Euthanasia Bagaimana Sikap Seorang Dokter.96 R. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. ed. 2001. Chr Purwa. . 1987). Karyadi. 1988. Jakarta: Pustaka Antara. Vol. Kitab undang-undang hukum pidana ( KUHP) serta komentarnya lengkap pasal demi pasal.2 : 978. Artikel Euthanasia Guwandi J. 1990. 2001. 1992. Shannon. 1974. Yogyakarta: Media Pressindo. 1989. Antropologi Teologis II. Ali Akbar. Jakarta: Akademika Pressindo. Imron Halimi. Soesilo. Kumpulan Kasus Bioethics & Biolaw.R. Etika Kedokteran Dalam Islam. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2000. Kode Etik Kedokteran Islam (Islamic code of medical ethics). "Euthanasia" beberapa soal moral berhubungan dengan quantum. Jakarta: Gramedia. J. Malang: Analekta Keuskupan Malang. alih bahasa. Makalah pada seminar sehari. Siswo. K Bartens. Aborsi dan Euthanasia ditinjau dari segi medis. Ratna Suprapti. Sudibyo Soepardi. Euthanasia cara mati terhormat orang modern. 1996. Kode Etik Kedokteran Indonesia. Euthanasia Beberapa Soal Etis Akhir Hidup Menurut Gereja Katolik. H. Widyana. Kartono Mohamad. Ramadhani. Teknologi Modern Dan Tantangannya Terhadap Bioetika. Petrus Yoyo. Solo: CV. 1990. hukum dan psikologis.

Yogyakarta. Oman Fathurohman SW. Setelah membaca. Wb. Bersama ini kami ajukan skripsi tersebut untuk diterima selayaknya dan mengharap agar segera dimunaqosyahkan. M Ag Dosen Fakultas Syari’ah UIN Sunan Kalijaga NOTA DINAS Hal : Skripsi Saudara Mukhlisin Kepada Yth : Dekan fakultas Syari’ah UIN Sunan Kalijaga Di Yogyakarta Assalamu’alaikum Wr. mengoreksi dan menyarankan perbaikan seperlunya. Wassalamu’alaikum Wr. maka menurut kami skripsi saudara: Nama NIM : Mukhlisin : 9937 3425 Judul : “Euthanasia Dalam Prespektif Fiqh Jinayah” Sudah dapat diajukan untuk memenuhi sebagian dari syarat memperoleh gelar sarjana strata satu dalam Jinayah Siyasah Fakultas Syari’ah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.97 Drs. 3 Rajab 1425 H 19 Agustus 2004 Pembimbing I . Untuk itu kami ucapkan terima kasih. Wb.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb. Untuk itu kami ucapkan terima kasih. Slamet Khilmi Dosen Fakultas Syari’ah UIN Sunan Kalijaga NOTA DINAS Hal : Skripsi Saudara Mukhlisin Kepada Yth : Dekan Fakultas Syari’ah UIN Sunan kalijaga Di Yogyakarta Assalamu’alaikum Wr. Bersama ini kami ajukan skripsi tersebut untuk diterima selayaknya dan mengharap agar segera dimunaqosyahkan. Slamet Khilmi NIP: 150 252 260 . mengoreksi dan menyarankan perbaikan seperlunya. Setelah membaca.98 Drs. Oman Fathurohman SW. Wb. 3 Rajab 1425 H 19 Agustus 2004 Pembimbing II Drs. M. Yogyakarta.Ag NIP: 150 222 295 Drs. maka menurut kami skripsi saudara: Nama NIM : Mukhlisin : 9937 3425 Judul : “Euthanasia Dalam Perspektif Fiqh Jinayah” Sudah dapat diajukan untuk memenuhi sebagian dari syarat memperoleh gelar sarjana strata satu dalam Jinayah Siyasah Fakultas Syari’ah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

MA NIP: 150 228 207 Pembimbing I Drs. 10 Sya'ban 1425 H 25 September 2004 Dekan Fakultas Syari’ah Drs. MA NIP: 150 182 698 Ketua Sidang Drs. Malik Madany. Fuad Zein. Slamet Khilmi Penguji II Drs. Fuad Zein. Oman Fathurohman SW. H. MAg NIP: 150 222 295 SISTEM TRANSLITERASI ARAB-LATIN . Yogyakarta.99 PENGESAHAN Skripsi berjudul “Euthanasia Dalam Prespektif Fiqh Jinayah” yang disusun oleh MUKHLISIN NIM: 9937 3425 Telah dimunaqosyahkan di depan sidang munaqosyah pada tanggal 25 September 2004/10 Sya'ban 1425 H dan dinyatakan telah dapat diterima sebagai salah satu syarat guna memperoleh gelar sarjana dalam Ilmu Hukum Islam. MAg NIP: 150 222 295 NIP: 150 252 260 Sekretaris Sidang Fatma Amilia NIP: 150 277 618 Pembimbing II Drs. H. H. MA NIP: 150 228 207 Penguji I Drs. Oman Fathurohman SW.

100 Transliterasi kata-kata Arab yang dipakai dalam penyusunan skripsi ini berpedoman pada Surat Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor: 158/1987 dan 0543b/U/1987 Konsonan Tunggal Huruf Arab Nama ‫ا‬ ‫ب‬ ‫ت‬ ‫ث‬ ‫ج‬ ‫ح‬ ‫خ‬ ‫د‬ ‫ذ‬ ‫ر‬ ‫ز‬ ‫س‬ ‫ش‬ ‫ص‬ ‫ض‬ ‫ط‬ ‫ظ‬ ‫ع‬ ‫غ‬ ‫ف‬ ‫ق‬ ‫ك‬ ‫ل‬ ‫م‬ ‫ن‬ ‫و‬ ‫هـ‬ ‫ء‬ ‫ي‬ Alif bâ’ tâ’ s|â’ jim ha khâ’ dâl zal râ’ zai sin syin Sâd dâd tâ’ dad ‘ain gain fâ’ qâf kâf lâm mim nûn waû hâ’ hamzah yâ’ Huruf Latin N a m a tidak dilambangkan be te es (dengan titik di atas) je ha (dengan titik di bawah) ka dan ha de zet (dengan titik di atas) er zet es es dan ye es (dengan titik di bawah) de (dengan titik di bawah) te (dengan titik di bawah) zet (dengan titik di bawah) koma terbalik di atas ge ef qi ka `el `em `en w ha apostrof ye tidak dilambangkan b t S j h kh d Z r z s sy S d t Z ‘ g f q k l m n w h ` y .

fathah. maka ditulis dengan h. 2. Vokal Pendek _َ _ _ ‫فعل‬ ___ fathah kasrah ditulis ditulis ditulis a fa’ala i . zakat dan sebagainya. kecuali bila dikehendaki lafal aslinya). seperti salat. Bila diikuti dengan kata sandang ‘al’ serta bacaan kedua itu terpisah.101 I. Konsonan Rangkap Karena Syaddah ditulis rangkap ‫متعددة‬ ّ ‫عدة‬ ّ ditulis ditulis muta`addidah `iddah II. ‫كرامة الولياء‬ karâmah al-aûliyâ` ditulis Bila ta’ marbutah hidup atau dengan harakat. kasrah dan dammah ditulis t atau h. 1. ‫زكاة الفطر‬ zakâh al-fitri ditulis III. Ta’ marbutah di akhir kata Bila dimatikan ditulis h ‫حكمة‬ ‫علة‬ ditulis ditulis hikmah `illah (Ketentuan ini tidak diperlukan bagi kata-kata Arab yang sudah terserap dalam bahasa Indonesia.

102 ‫ذكر‬ __ُ _ ‫يذهب‬ dammah ditulis ditulis ditulis zukira u yazhabu Vokal Panjang 1 2 3 4 fathah + alif ‫جاهلية‬ fathah + yâ’ mati ‫تنسى‬ kasrah + yâ’ mati ‫كـريم‬ dammah + waû mati ‫فروض‬ ditulis ditulis ditulis ditulis ditulis ditulis ditulis ditulis â jâhiliyyah â tansâ i karîm û furûd Vokal Rangkap 1 2 fathah + yâ’ mati ‫بينكم‬ fathah + waû mati ‫قول‬ ditulis ditulis ditulis ditulis ai bainakum aû qaûl IV. Vokal Pendek yang berurutan dalam satu kata dipisahkan dengan apostrof ‫أأنتم‬ ‫أعدت‬ ‫لئن شكرتم‬ ditulis ditulis ditulis A’antum u’iddat la’in syakartum .

‫ذوي الفروض‬ ‫أهل السنة‬ ditulis ditulis zawi al-furûd ahl as-sunnah LAMPIRAN I NO 1 HLM FOOTNOTE BAB BAB I 6 10 Janganlah kamu membunuh dirimu. sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Kata Sandang Alif + Lam Bila diikuti huruf Qomariyyah ditulis dengan menggunakan huruf “l”. ditulis ditulis al-Qur`ân al-Qiyâs Bila diikuti huruf Syamsiyyah ditulis dengan menggunakan huruf Syamsiyyah yang mengikutinya. ‫القرآن‬ ‫القياس‬ 2. . Penulisan kata-kata dalam rangkaian kalimat Ditulis menurut penulisannya. 1. ‫السمآء‬ ‫الشمس‬ ditulis ditulis as-Samâ` asy-Syams VI.103 V. dengan menghilangkan huruf l (el) nya.

hamba dengan hamba. Dan Rasul bersabda Aku lebih berhak memutuskan terhadap orang (muslim) dan terhadap dzimi dalam hal ini. demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami(nya). kemudian menghidupkan kamu. menurut ar-Ramady diqawad muslim karena membunuh dzimmi. Barang siapa yang membunuh seorang manusia. Kamu dan hartamu milik (kepunyaan) bapakmu. Adapun menurut istilah adalah nama bagi suatu perbuatan yang diharamkan syara'. harta benda. atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi. 5 50 4 6 7 8 9 10 11 12 13 14 53 54 55 56 13 19 20 21 23 24 57 58 60 26 28 31 15 32 16 61 33 . Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu qisas berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh. Barang siapa menghukum bunuh terhadap orang yang telah membunuhnya maka baginya dua pilihan yang baik. maupun selain jiwa dan harta benda. Dan Kami telah tetapkan kepada mereka di dalamnya (at-Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa. hai orang-orang yang berakal. ada kalanya ia meminta diat dan ada kalanya ia menghukum qisas. maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. orang merdeka dengan orang merdeka. Barang siapa yang membunuh dengan sengaja. Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar. Tidak diqawad (hukum qissas) bapak (karena membunuh) anak. BAB III Jinayah menurut bahasa merupakan nama bagi suatu perbuatan jelek seseorang. kemudian mematikan kamu. Dan Dialah (Allah) yang telah menghidupkan kamu. Dan dalam qisas itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu. maka baginya hukum qawad (qisas). baik perbuatan tersebut mengenai jiwa. Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu qisas berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh. Orang-orang Islam terpelihara darahnya. Rasulullah Muhammad SAW mengqisas seorang muslim karena ia membunuh orang yahudi. bukan karena orang itu (membunuh) orang lain.104 2 11 3 12 4 13 Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar.

40 syaniyah sampai tahunnya sempurna dan khalifah. . hai orang-orang yang berakal. dan mengutukinya serta menyediakannya azab yang besar baginya. Maka barang siapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik. 20 hiqqah. Tiap-tiap umat mempunyai ajal. maka balasannya ialah jahannam. serupa sengaja. Dalam pembunuhan tersalah. Dan dalam qisas itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan. dengan cambuk. diatnya adalah seratus ekor unta yang di dalamnya. 20 banat labun. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya. kekal ia didalamnya dan Allah murka kepadanya. baik karena sebab-sebab yang menghalangi hukum qisas ataupun sebab-sebab yang telah ditetapkan. 24 25 26 77 1 2 78 3 27 4 28 85 14 BAB IV Dan sesungguhnya benar-benar Kami-lah yang menghidupkan dan mematikan dan Kami (pulalah) yang mewarisi. Dan bahwasanya Dialah yang mematikan dan mengidupkan. tongkat dan batu. dan 20 bani labun.105 17 18 66 34 46 19 47 20 67 50 21 22 23 68 70 51 54 58 Barang siapa yang membunuh maka ia dihadapkan kepada dua pilihan adakalanya dimaafkan dan adakalanya diqawad. Hukuman pertama sebagai pengganti hukum qisas. dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diyat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik pula. Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Diat kesalahan adalah lima bagian. 20 banat makhadz. maka apabila memperoleh pemaafan maka menjadi pembayaran diat. maka apabila telah datang ajalnya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya. 20 jadz'ah. Dan barangsiapa yang membunuh seorang mu'min dengan sengaja.

Sesungguhnya Allah Penyayang kepadamu. Ta'zir berputar karena kemaslahatannya. kemudian mematikan kamu. dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diyat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik pula. Dan Dialah (Allah) yang telah menghidupkan kamu. Hindari (penjatuhan) hukuman had (karena) adanya kesamaran (syubhat). Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu qisas berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh. Dan telah Kami tetapkan didalamnya (at-Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa.106 29 30 31 32 33 34 35 90 92 88 87 16 19 20 23 24 28 31 36 37 93 96 33 39 Dan apabila aku sakit Dialah yang menyembuhkan aku. Maka barang siapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik. Janganlah kamu membunuh dirimu (saudaramu). LAMPIRAN II BIOGRAFI ULAMA Abd Qadir 'Audah . kemudian menghidupkan kamu. Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar. Tidak diqawad (qisas) ayah (karena membunuh) anak.

alIman wa al-Hayat. pada saat yang sama juga mengambil bidang study al-Qur'an dan as-Sunnah. dan selesai pada tahun 1960 pada Fakultas Ushuluddin al-Azhar Mesir dan dilanjutkan pada program Doktoral dengan Disertasi berjudul Fiqhuz Zakat. dengan mendapatkan predikat Cumlaude. dipelopori oleh kolonel Gamal Abdul Nasher. beliau juga seorang tokoh ulama dalam gerakan Ikhwanul Muslimin dan sebagai Hakim yang disegani rakyat. . karyanya yang paling terkenal adalah kitab hadis shahih al-Bukhari. setelah tamat pada tahun 1953. Yusuf al-Qardawi Beliau nama lengkapnya ialah Yusuf Abdullah al-Qardawi. terus dilanjutkan lagi di Universitas al-Azhar Cairo. Pada tahun 1950 an M. dan sebagai mahasiswa terbaik. Muskilat al-Fakr wa kaifa alajaha al-Islam dan Fatwa-Fatwa kontemporer. dilahirkan pada tahun 1926 di desa Sifit Turab. dengan fasih dan sempurna tajwidnya pada usia 10 tahun. Yusuf melanjutkan ke Ma'had Tanta. Diantara hasil karyanya ialah kitab at-Tasyri' al-Jina'I alIslami. beliau dilahirkan tahun 1365 H. Setelah menamatkan sekolah Dasar. Al-Bukhari Beliau nama lengkapnya Abu Abdullah Muhammad bin Ismail ibn Ibrahim alMughirah binj Bardzibaz al-Ja'far al-Bukhari. kemudian beliau melanjutkan lagi ke Ma'had al-Buhus wad Dirasat al-Arabiyah al-Aliyah. Ali bin al-Madani dan Ibnu Ruhuwaih. Bidang study yang diambilnya adalah bidang study Agama Fakultas Ushuluddin. Guru-guru beliau adalah: Ibrahim al-Bukhari. Beliau sebagai penganjur ijtihad yang mengajarkan kembali kepada al-Qur'an dan as-Sunnah. Kemudian beliau pergi ke Hijaz untuk menuntut ilmu kepada para fuqaha dan muhaddisin. lahir di Bukhara pada tanggal 13 Syawal 194 H/ 810 M. Yusuf kecil sudah bisa hafal al-Qur'an 30 juz. Beliau meninggal ditiang gantungan sebagai akibat fitnahan dari lawan politiknya pada tanggal 8 desember 1954. Karyanya yang terkenal adalah kitab Fiqh Sunnah. Ahmad bin Hanbal. al-Ibadat fi al-Islam. Lalu bermukim di Madinah dan menyusun kitab at-Tarik al-Kabir. Banyak menulis berbagai kitab baik mengenai masalah agama ataupun politik. As-Sayid Sabiq Beliau adalah seorang ulama terkenaldari Universitas al-Azhar Cairo. Dan wafat pada tahun 256 H.107 Beliau adalah seorang ulama terkenal alumnus Fakultas Hukum Universitas al-Azhar Cairo pada tahun 1930. Beberapa karyanya telah dipublikasikan diantaranya: al-Halal wa al-Haram fi al-Islam. Pada masa mudanya beliau telah hafal 70.000 hadis beserta sanadnya. sampai mendaptkan Diploma tinggi di bidang bahasa dan sastra. Mesir. beliau mendapat gelar profesor dalam jurusan Ilmu Hukum Islam pada Universitas Fuad I. beliau turut mengambil bagian dalam memutuskan revolusi Mesir yang berhasil gemilang pada tahun 1952.

4. 5. 2. 8.Manggis 64. 9. 7. 3. : Supriyatni Tempat Tanggal Lahir : Cilacap. 6. Wisma Gasenwa Gaten CC : Maktubillah Muhammad : PNS.108 LAMPIRAN III CURRICULUM VITAE 1. 19 Mei 1981 . Nama Jenis Kelamin Agama Alamat Asal Alamat di Yogyakarta Nama Ayah Pekerjaan Nama Ibu : Mukhlisin : Laki-laki : Islam : Suru Sunda 02/III Karang Pucung Cilacap 53255 : Jl.

Pekerjaan Riwayat Pendidikan : 1. 5. masuk pada tahun 1996. masuk tahun 1999. MAN Cigaru Majenang. masuk tahun 1986. MA Al-Hikmah 1 Bumiayu. : Ibu Rumah Tangga SD Islam al-Hidayah. Malik Madany. 4. Madrasah Muallimin Al-Hikmah Bumiayu. sampai tahun 1994. 2. lulus tahun 1995. lulus tahun 1992. masuk tahun 1994. 3. MTs El-Bayan Bendasari Majenang. 10 Sya'ban 1425 H 25 September 2004 Dekan Fakultas Syari’ah Drs. lulus tahun 1999. MA Muhammadiyah Majenang. Cilacap. H.109 10. ketiganya pada tahun yang sama (tahun 1995 sampai 1996) dan tidak lulus. Skripsi berjudul “Euthanasia Dalam Prespektif Fiqh Jinayah” yang disusun oleh MUKHLISIN NIM: 9937 3425 Telah dimunaqosyahkan di depan sidang munaqosyah pada tanggal 25 September 2004/10 Sya'ban 1425 H dan dinyatakan telah dapat diterima sebagai salah satu syarat guna memperoleh gelar sarjana dalam Ilmu Hukum Islam. IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Yogyakarta. MA NIP: 150 182 698 . masuk tahun 1992. 6. MA El-Bayan Majenang.

dengan jiwa manusia lebih berarti bahwa dia seorang manusia. kadang manusia ingin lebih dari apa yang ada padanya. Oman Fathurohman SW. MA NIP: 150 228 207 Pembimbing I Drs. MA NIP: 150 228 207 Penguji I Drs." ." "Carilah sesuatu yang baik dari apa yang engkau alami disekitarmu" "Tuangkanlah apa yang ada dihati dan difikiran dengan tanganmu lewat penamu supaya orang bisa menimba dari apa yang kamu bisa. Fuad Zein. maka Tuhan juga memberi kita fikiran agar bisa melindungi diri.110 Ketua Sidang Dr. percuma apa yang ada didunia jika ilmu tak menghiasinya. MAg NIP: 150 222 295 MOTO "Tuhan berikan manusia berupa raga. Oman Fathurohman SW. Slamet Khilmi Penguji II Drs." "Dunia itu hampa tanpa ilmu. MAg NIP: 150 222 295 NIP: 150 252 260 Sekretaris Sidang Fatma Amilia NIP: 150 277 618 Pembimbing II Drs. Fuad Zein. dia terlena oleh buaian duniawi. dengan raga manusia dapat bergerak tetapi Tuhan juga memberi kita jiwa. tetapi kadang manusia lupa. kuasa. H. H. baik harta. rasa.

yang bagi penyusun merupakan beban yang sangat berat. karena menguras banyak tenaga dan pikiran.‫الحمد ل رب العالمين. memberikan kebahagiaan yang tak ternilai bagi penyusun. وبه نستعين على أمور الدنيا و الدين‬ ّ ‫أشهد أن ل إله إل ال الملك الحق المبين.‫اشرف النبياء والمرسلين محمد وعلى اله واصحابه اجمعين‬ :‫أمابعد‬ ّ Selesainya penyusunan skripsi ini. Oleh karena itu.111 KATA PENGANTAR ‫بسم ال الرحمن الرحيم‬ . و الصلة والسلم على‬ ّ ّ . و أشهد أن محمدا عبده‬ ‫و رسوله المبعوث رحمة للعالمين. sebuah hal yang sangat wajar apabila penyusun mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuannya kepada penyusun sehingga penyusun dapat menyelesaikan penulisan .

penyusun hanya dapat membalas dengan doa. sehingga skripsi ini selesai. Eggi. sebagai Dekan Fakultas Syari’ah. Bapak. Kamilatu Syifa.Ag selaku Dosen Pembimbing I. Afiyah Solikhakh. 3. Oman Fathurohman SW. maupun materiil. segala kritik maupun saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan dan akan kami terima dengan kerendahan hati guna memperbaiki tugas kami selanjutnya . Drs. Bapak. Imam. H. Sayarif Hidayat. 5. semoga perbuatan baik tersebut diterima Allah SWT dan mendapat balasan yang berlipat ganda. 2. Kedua Oarang Tua. Sahabat-sahabatku. Dan Adikkku. baik tekhnis maupun isi serta arahan-arahan dalam penyusunan skripsi ini. Bapak. Drs. M. atas waktu dan bimbingan.112 skripsi ini. (Bapa) Maktubillah Muhammad dan (Ibu) Supriyatni. sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. Atas dukungannya baik do'a. Untuk lebih rincinya penyusun mengucapkan banyak terima kasih kepada: 1. MA. selaku Dosen Pembimbing II. Malik Madany. Mas Arifin. A. Semua pihak yang tidak dapat disebut satu persatu atas bantuannya dan dukungannya. Penyusun menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan dan masih banyak kekurangan. Oleh karena itu. Iwan dan teman-temanku yang lain yang tidak dapat disebutkan satu-persatu atas bantuannya dan dukungannya. 4. 6. Slamet Khilmi. Drs. atas waktunya untuk membimbing dan memberi dorongan. moril.

Amin. memutuskan untuk mengakhiri kehidupannya dengan jalan euthanasia. Secara umum euthanasia dibedakan menjadi dua. yaitu tindakan terapi dengan harapan dapat mempercepat kematian pasien. Yogyakarta. baik karena sakit yang sangat akut dan menderita atau biaya yang amat terbatas. artinya membawa pasien pulang ke rumah. Euthanasia. Hidup seorang pasien pun dapat diperpanjang untuk sesuatu jangka waktu tertentu. karena makna pembunuhan itu adalah menghilangkan nyawa seseorang yang dapat menghancurkan bangunan hidup manusia. 2. Dari hal inilah kemudian banyak pasien yang karena penyakitnya yang akut. membawanya pulang. Dengan peralatan kedokteran yang modern itu. dan sebagainya. yaitu euthanasia aktif dan euthanasia pasif. diagnose mengenai penyakit dapat lebih sempurna dilakukan. bahkan perhitungan saat kematian seorang pasien dapat dilakukan secara lebih tepat. tidak kalah pesatnya perkembangan teknologi di bidang medis. Biasanya dilakukan penghentian terapi yang memperpanjang hidupnya. terutama euthanasia aktif merupakan suatu tindakan pembunuhan walaupun atas dasar persetujuan si terbunuh. menghentikan perawatan/pengobatan. Euthanasia pasif.113 Harapan kami adalah semoga skripsi ini dapat menambah wawasan keilmuan dan bermanfaat bagi kita semua. Jika pertimbangan kemampuan untuk memperoleh layanan medis yang lebih baik tidak memungkinkan lagi. Di antara sekian banyaknya penemuan-penemuan teknologi tersebut. menjadikan terjadinya perubahan-perubahan yang sangat cepat di dalam kehidupan sosial budaya manusia. Pengobatan penyakit pun dapat berlangsung secara lebih efektif. yaitu perbuatan yang membiarkan pasien meninggal. menunda operasi. rasa sakit seorang penderita dapat diperingan. 17 Jumadil Akhir 1425 H 4 Agustus 2004 Penyusun Mukhlisin NIM: 9937 3425 ABSTRAK Dengan pesatnya penemuan-penemuan teknologi modern. Dengan perkembangan teknologi di bidang kedokteran. misalnya menghentikan pemberian infus. dengan dukungan keluarga. maka dapat dilakukan dua cara: 1. khususnya bagi penyusun dan pembaca pada umumnya. . Euthanasia aktif.

114

membiarkan pasien dalam perawatan seadanya, tanpa ada maksud melalaikannya, apalagi menghendaki kematiannya. Euthanasia adalah sebagai bentuk pembunuhan yang disengaja, apapun bentuknya pembunuhan, Allah melarang melakukannya, dan Allah mengingatkannya dengan bentuk ancaman dalam al-Qur'an yaitu berupa neraka jahannam. Dalam al-Qur'an tidak ada satupun ayat yang jelas yang menyinggung masalah euthanasia ini. Dalam fiqh jinayah euthanasia termasuk ke dalam jenis pembunuhan, yaitu telah memenuhi unsur maddi, syar'i dan adabi. Dan euthanasia ini merupakan jenis pembunuhan sengaja, maka sanksi atas tindakan euthanasia ini, adalah qisas. Dokter mendapatkan sanksi berupa qisas, tetapi tindakan dokter dilakukan atas izin dari pasien dan atas persetujuan dari keluarga pasien. Maka dokter tidak dihukum qisas, karena salah satu yang menyebabkan gugurnya hukum qisas adalah adanya kerelaan atau izin dari siterbunuh. Dan juga unsur kerelaan dalam pembunuhan merupakan syubhat yang dapat menggugurkan hukuman. Tetapi mengingat masalah euthanasia ini tidak hanya berimbas bagi orang perseorangan melainkan juga bagi masyarakat sekitar maka kemudian hakim atau ulul amri berhak memberikan hukuman berupa ta'zir.

115

BAB V PENUTUP

A.

KESIMPULAN Setelah menguraikan dan menjelaskan dalam bab-bab sebelumnya mengenai "Euthanasia dalam Prespektif Fiqh Jinayah", dapat diambil kesimpulan bahwa: 1. Dalam pandangan Fiqh Jinayah, euthanasia termasuk

kedalam bentuk pembunuhan, walaupun atas permintaan si terbunuh, karena dalam masalah euthanasia ini terdapat unsur penghilangan nyawa, sedangkan makna pembunuhan tersebut adalah: "Perbuatan perampasan atau peniadaan nyawa seseorang oleh orang lain yang mengakibatkan tidak berfungsinya seluruh anggota badan disebabkan ketiadaan roh sebagai unsur utama untuk menggerakan tubuh". Dan tindakan atas euthanasia tetap dilarang, tetapi sanksi hukumnyanya adalah ta'zir, karena perbuatan euthanasia terdapat unsur syubhat yang dapat menghilangkan hukuman asli (qisas) dan juga hukuman pengganti (diyat) karena terdapat persetujuan keluarga, sedangkan fungsi diyat

116

tersebut untuk ganti rugi atas tindakan yang telah dilakukan pelaku untuk kelangsungan hidup pihak wali atau ahli waris terbunuh.

B.

SARAN-SARAN Setelah menguraikan dan menjelaskan serta menyimpulkan tentang skripsi yang berjudul tentang "Euthanasia dalam Prespektif Fiqh Jinayah", maka dapat diberi saran-saran, antara lain: 1. Jika pertimbangan kemampuan untuk memperoleh layanan medis yang lebih baik tidak memungkinkan lagi, baik karena sakit yang sangat akut dan menderita atau biaya yang amat terbatas, maka dapat dilakukan dua cara: 1) menghentikan perawatan/pengobatan, artinya membawa pasien ke rumah; 2) membiarkan pasien dalam perawatan seadanya, tanpa ada maksud melalaikannya, apalagi menghendaki kematiannya. 2. Umat Islam diharapkan tetap berpegang teguh pada kepercayaannya yang memandang segala musibah (termasuk menderita sakit) sebagai ketentuan yang datang dari Allah. Hal itu hendaknya dihadapi dengan penuh kesabaran dan tawakal. 3. Perlu kiranya dalam Fiqh Jinayah diberikan kompilasi dan kodifikasi hukum Islam atas persoalan-persoalan jinayah (pidana) kontemporer, agar masyarakat lebih tahu akan sikap yang akan dilakukan dan sebagai bahan pendidikan bagi masyarakat muslim yang mempelajarinya khususnya.

117 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful