BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Masalah Dalam abad XX ini kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi semakin pesat, karena muncul berbagai penemuan yang sangat bermanfaat bagi manusia. Khususnya di bidang kedokteran telah banyak penemuan obat-obatan, alatalat mekanik, serta cara-cara perlindungan terhadap penyakit.1 Hampir semua aspek kehidupan manusia tersentuh oleh teknologi, harus disadari bahwa teknologi telah membawa banyak manfaat untuk umat manusia.2 Di antara sekian banyak penemuan-penemuan teknologi tersebut, tidak kalah pesatnya perkembangan teknologi di bidang medis. Dengan perkembangan teknologi di bidang kedokteran ini, bukan tidak mustahil akan mengundang masalah pelik dan rumit. Melalui pengetahuan dan teknologi kedokteran yang sangat maju tersebut, diagnose mengenai suatu penyakit dapat lebih sempurna untuk dilakukan. Pengobatan penyakit pun dapat berlangsung secara lebih efektif. Dengan peralatan kedokteran yang modern itu,rasa sakit seorang penderita dapat diperingan. Hidup seorang pasien pun dapat diperpanjang untuk sesuatu jangka waktu tertentu, dengan memasang sebuah “ respirator “. Bahkan perhitungan saat kematian penderita penyakit tertentu, dapat dilakukan secara lebih tepat.

Ali Ghufron Mukti dan Adi Heru Sutomo, Abortus, Bayi Tabung, Euthanasia, Transplantasi Ginjal, Dan Operasi Kelamin dalam tinjauan Medis, hukum, dan Agama Islam, cet, ke.1 (Yogyakarta: Aditya Media,1993), hlm.28.
2

1

Thomas A Shannon, Pengantar Bioetika, terj, K. Bartens, (Jakarta: Gramedia, 1995), hlm. 7

1

2

Menyinggung masalah kematian, menurut cara terjadinya, maka ilmu pengetahuan membedakannya ke dalam tiga jenis kematian, yaitu: 1. Orthothanasia, yaitu kematian yang terjadi karena proses alamiah. 2. Dysthanasia, yaitu suatu kematian yang terjadi secara tidak wajar. 3. Euthanasia, yaitu suatu kematian yang terjadi dengan pertolongan atau tidak dengan pertolongan dokter.3 Yang menjadi persoalan ialah jenis kematian yang ketiga, yaitu kematian dalam kategori euthanasia atau biasa disebut juga mercy killing. Euthanasia biasa didefinisikan sebagai a good death atau mati dengan tenang. Hal ini dapat terjadi karena dengan pertolongan dokter atas permintaan dari pasien ataupun keluarganya, karena penderitaan yang sangat hebat dan tiada akhir, atau tindakan membiarkan saja oleh dokter kepada pasien yang sedang sakit tanpa menentu tersebut, tanpa memberikan pertolongan pengobatan seperlunya. Memberikan hak kepada individu untuk mendapatkan pertolongan dalam pengakhiran hidupnya, bagi banyak negara masih menjadi perdebatan yang sengit. Sampai sekarang ini, kaidah non hukum yang manapun (agama, moral, kesopanan), menentukan: membantu orang lain mengakhiri hidupnya, meskipun atas permintaan yang bersangkutan dengan nyata dan dengan sungguh-sungguh adalah perbuatan yuang tidak baik.4 Pada dasarnya masalah euthanasia ini timbul dari adanya suatu dilema, apakah seorang dokter mempunyai hak untuk mengakhiri hidup seorang pasien atas
Djoko Prakoso dan Djaman Andi nirwanto, Euthanasia hak asasi manusia dan hukum pidana, cet. ke-1 (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1984), hlm. 9-10
4 3

Wila Chandrawila Supriadi, Hukum Kedokteran (Bandung: Mandar Maju, 2001), hlm.106

3

permintaan pasien itu sendiri atau dari keluarganya, dengan dalih untuk menghilangkan atau mengakhiri penderitaan yang berkepanjangan, tanpa dokter itu sendiri menghadapi konsekuensi hukum. Dalam hal ini dokter tersebut menghadapi konflik bathin, dimana sebagai manusia biasa sang dokter tidak sampai hati menolak permintaan dari pasien dan keluarganya itu. Apalagi keadaan si pasien yang sekarat berbulan-bulan dan dokter tahu bahwa pengobatan yang diberikan itu maka dokter telah melanggar hukum, disamping itu juga telah pula melanggar sumpah dokter yang telah diucapkannya sebelum menjalankan profesi sebagai seorang dokter. Dalam memecahkan masalah ini, ada cara yang cukup unik yaitu bila keadaan antara hidup dan mati (maribundity), maka proses dan usaha medis jika tiada berpotensi lagi, penyembuhan harus dihentikan. Dengan perkataan lain, bahwa dalam keadaan demikian maka pembunuhan karena kasihan/karena terpaksa yang diijinkan oleh dokter diperbolehkan. Dalam hubungan itu, bahkan ada dokter yang berpendapat bahwa dokter itu boleh mengeluarkan atau mencabut alat yang diperjuangkan untuk memperpanjang hidup dari seorang pasien yang dalam keadaan expiration of the soul, yaitu apabila proses kematian sudah mulai nampak.5 Menurut dr. Kartono Muhammad (Wakil Ketua Ikatan Dokter Indonesia), seperti dikutip Akh Fauzi Aseri. Ia mengatakan seseorang dianggap mati apabila batang otak yang menggerakkan jantung dan paru-paru tidak berfungsi lagi. Tegasnya, batang otak merupakan pedoman untuk mengetahui masih hidup atau matinya seseorang yang sudah tidak sadar. Dari sini mesin-mesin pembantu seperti

5

Djoko Prakoso dan Djaman Andi Nirwanto, Euthanasia, hlm. 59

6 Lahir dan mati adalah takdir.. kecelakaan. Problematika Hukum Islam Kontemporer. (Jakarta: Pustaka Firdaus. apakah itu pengakhiran hidup dengan bunuh diri (zelfmoord) atau minta “dibunuh” (diakhiri hidupnya – selanjutnya euthanasia). Pada mati tidak secara alamiah. kelahiran selalu membawa kebahagiaan. tetapi mati tidak secara alamiah adalah mati yang tidak diharapkan. karena uzur. Pada umumnya.66 7 6 Wila Chanrawila Supriadi. Kematian secara alamiah. akan ada hubungannya dengan hak seseorang untuk mati secara tidak alamiah (selanjutnya “hak untuk mati”) dari seseorang. penyakit. 8 . (ed. dan tidak ada seorangpun yang dapat menghindari/menentukan mengenai kelahiran dan kematian. Kematian dapat terjadi baik dikehendaki.7 Banyak orang berpendapat bahwa hak untuk mati. sehingga penolakan atas pengakuan terhadap hak atas mati.102 Ibid. Hukum Pidana. hlm. bunuh diri. dan Hukum Islam. hak yang mengalir dari “hak untuk menentukan diri sendiri” (the right of selfdetermination –TROS). Hafiz Anshary AZ. sebab manusia pada saatnya akan mati. Yanggo dan HA. 2002). Hukum Kedokteran. semua menurut sebagian besar masyarakat Indonesia adalah takdir.)." dalam Chuzaimah T. hlm. dapat selalu diterima sebagai sesuatu hal yang wajar. dan kematian selalu membawa kesedihan. hlm. adalah pelanggaran terhadap hak asasi manusia. maupun tidak dikehendaki.103. Fauzi Aseri. "Euthanasia Suatu Tinjauan dari Segi Kedokteran.4 pemacu jantung dapat dicabut tanpa dituduh melakukan euthanasia terhadap penderita.8 Akh. demikianlah pendapat dari sebagian besar masyarakat Indonesia. bahkan dibunuh oleh orang lain. adalah hak asasi manusia.

maka perbuatan ini bisa dimasukan sebagai jarimah pembunuhan.5 Euthanasia dapat dikategorikan sebagai perbuatan yang menyangkut kepada suatu tindakan untuk penghentian kehidupan seseorang.(6): 151 Al-Maidah (5): 32 Al-Hajj (22): 66 10 11 12 . walaupun dengan kerelaan dan atas permintaan orang itu sendiri. Allah berfirman dalam al-Qur'an: 0 ‫ل تقتلوا أنفسكم ان ال كان بكم رحيما‬ ‫ول تقتلوا النفس التى حرم ال ال بالحق ذالكم وصاكم به‬ 0 ‫تعقلون‬ ‫لعلكم‬ ‫من قتل نفسا بغير نفس أو فساد في الرض فكانما قتل‬ 0 ‫الناس جميعا‬ ‫وهو الذي أحياكم ثم يميتكم ثم يحييكم ان النسان لكفور‬ 9 10 11 12 9 An-Nisa (4): 29 Al-An'am. termasuk di dalamnya euthanasia. karena tindakan pembunuhan secara euthanasia ini merupakan pembunuhan tanpa hak. baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain. Karena pembunuhan adalah peniadaan atau perampasan nyawa seseorang oleh orang lain yang mengakibatkan tidak berfungsinya seluruh anggota badan disebabkan ketiadaan roh sebagai unsur utama menggerakan tubuh. Jadi perbuatan-perbuatan yang mengarah kepada tindakan untuk menghentikan hidup seseorang itu merupakan perbuatan yang bertentangan dengan kehendakNYA. Allah SWT melarang perbuatan yang mengarah kepada kematian dalam bentuk apapun. Dalam Islam masalah kematian manusia merupakan hak prerogatif Allah SWT.

2. Tafsir al-Maragi. kerelaan korban untuk dibunuh bukan suatu penyebab kebolehan pembunuhan. Janda (yang pernah bersuami) secara nyata berbuat zina. Orang yang keluar dari agama Islam. XI:43. Riwayat Ibnu Masud. Jadi dalam masalah euthanasia ini merupakan tindakan pembunuhan yang disengaja dan direncanakan Di dalam hukum Islam. 1971).6 Syekh Ahmad Mustafa al-Maragi menjelaskan bahwa pembunuhan (mengakhiri hidup) seseorang bisa dilakukan apabila disebabkan oleh salah satu dari tiga sebab: 1. Karena pembunuhan oleh seseorang secara zalim. (Mesir: Musthafa al-Baby al-Halaby. Tindakan euthanasia dilakukan dengan pertimbangan yang matang dan dengan adanya unsur perencanaan.13 Jika dibandingkan dengan ketiga faktor di atas maka terjadinya tindakan euthanasia tidak ada satupun karena alasan bil haq. 3. 13 . sebagai suatu sikap menentang jamaah Islam. sekalipun ada prinsip lain bahwa korban atau keluarganya berhak memaafkan sanksi qisas atau diyat atau keduanya. karena kerelaan korban itu bukan merupakan unsur jarimah pembunuhan. walaupun ada unsur kerelaan dari pasien. Dalam unsur euthanasia terdapat tiga hal yaitu dokter sebagai pelaku euthanasia. Jadi tindakan euthanasia merupakan tindakan pembunuhan dengan unsur kesengajaan dan direncanakan. Ahmad Mustafa al-Maragi. yang diketahui oleh empat orang saksi (dengan mata kepala sendiri). keluarga sebagai pihak pemberi izin dan sisakit sebagai korban euthanasia.

yang merupakan hak Tuhan. agama. B. budaya dan lain-lain pada umumnya dan juga pada pandangan Islam dalam Fiqh Jinayah (Hukum Pidana Islam) khususnya. Untuk itu penyusun berusaha meneliti masalah Euthanasia ini dalam Prespektif Fiqh Jinayah. Pada dasarnya Allah memberikan hukuman qisas bagi pembunuhan. tetapi pihak keluarga diberikan hak atas tuntutan tindak pidana baik itu pembunuhan maupun pelukaan berupa hukuman diyat atau dimaafkan secara mutlak. dalam menentukan hukumnya. etika. Tujuan dan Kegunaan Sesuai dengan pokok masalah di atas. Karena hal ini sangat berguna untuk kelangsungan hidup pihak keluarga korban maupun pihak pelaku kejahatannya.7 Allah melarang adanya pembunuhan baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Adapun kegunaan yang diharapkan dari penyusunan karya ilmiah ini adalah : terhadap masalah . penyusunan skripsi ini bertujuan untuk: Menjelaskan bagaimana pandangan Fiqh Jinayah euthanasia. Pokok Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka dapat dirumuskan pokok masalah sebagai berikut: Apakah euthanasia merupakan tindak pidana dalam tinjauan Fiqh Jinayah? C. Permasalahan Euthanasia ini sampai sekarang masih menimbulkan pro dan kontra baik pada pandangan hukum.

buku ini menjelaskan bahwa Euthanasia atau kematian baik adalah demi kepentingan pasien semata-mata bukan untuk kenyamanan orangorang yang sehari-hari berada di sekelilingnya. Ada beberapa buku yang telah membahas tentang masalah euthanasia. etika dan ham banyak dibicarakan oleh banyak praktisi. karya Petrus Yoyo Karyadi.ke-1. Dan dari segi yuridis dalam masalah euthanasia ini. psikologi. D. diantaranya: dalam buku Euthanasia dalam Prespektif Hak Asasi Manusia. Dan juga menjelaskan bahwa dalam hak asasi manusia terdapat hak untuk hidup dan hak untuk mati. Telaah Pustaka Kajian tentang Euthanasia dalam prespektif medis. 2001)  . Jika dokter melakukan tindakan euthanasia secara non alami maka dokter bisa dituntut pasal 344 Petrus Yoyo Karyadi. ahli medis. Euthanasia harus berlangsung atas dasar suka rela. ∗ Dalam buku Mengapa Euthanasia ?: Kemajuan Medis dan Konsekuensi Yuridis. yaitu atas permintaan pasien itu sendiri tanpa adanya campur tangan dari pihak lain. Euthanasia Dalam Prespektif Hak Asasi Manusia. karya F.Tengker. cet. hukum. diantaranya mengemukakan tentang apakah tindakan euthanasia merupakan hak asasi manusia?. seperti ulama. Buku ini meninjau dan menyoroti permasalahan euthanasia dari segi HAM. psikolog. (Yogyakarta: Media Pressindo. ahli hukum.8 Skripsi ini diharapkan dapat menjadi sumbangan pemikiran di dalam menambah khasanah pengetahuan tentang hukum Islam khususnya yang berkaitan dengan permasalahan euthanasia dalam prespektif Fiqh Jinayah.

(Bandung:  Nova.9 karena bersalah menghilangkan nyawa orang atas permintaan. bagaimana kedudukan Euthanasia dalam KUHP dan juga bagaimana prospeknya di masa depan dalam KUHP.t) Djoko Prakoso dan Djaman Andi NIrwanto. ∗ Dalam buku Euthanasia Hak Asasi Manusia Dan Hukum Pidana. karya Djoko Prakoso dan Djaman Andi Nirwanto. Mengapa Euthanasia? Kemampuan Medis dan Konsekuensi Yuridis. Dalam karya tulis tersebut menekankan cara dilakukannya euthanasia yang ada unsur paksaannya dan sanksi hukum terhadap pelaku euthanasia yang dipakai. (Jakarta: Ghalia Indah. hubungannya dengan HAM. hasil karya Imawan Mukhlas Abadi. karya Anna Iffah Akmala. "Sanksi Hukum Terhadap Pelaku Euthanasia yang dipaksa menurut KUHP dan Hukum Islam". Skripsi Strata Satu Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga (1999)  . Euthanasia Hak Asasi Manusia Dan Hukum Pidana. t. yang merupakan pandangan Etika situasi terhadap Euthanasia yang meliputi manusia dalam sudut pandang Etika Situasi. dan pasal 354 karena menolong orang bunuh diri. kehidupan dan  F. yang merupakan study analisis komparatif terhadap KUHP dan hukum Islam tentang pelaku euthanasia yang dipaksa . 1984) Imawan Mukhlas Abadi. ∗ Dalam skripsi yang berjudul "Euthanasia dalam Prespektif Etika Situasi". sebagian yang kontra menganggap hak untuk hidup sebagai dasarnya. ∗ Dalam Skripsi yang berjudul "Sanksi Hukum Terhadap Pelaku Euthanasia yang dipaksa menurut KUHP dan Hukum Islam". bagi yang pro menganggap selain punya hak untuk hidup manusia juga mempunyai hak untuk mati. buku ini menjelaskan kedudukan Euthanasia dengan Hak Asasi Manusia. yang memuat tentang Hak untuk Mati seseorang dan kaitannya dengan hukuman mati. Tengker. Dan hal ini juga dilihat dari prespektif hukum pidana.

Kerangka Teoretik Euthanasia merupakan istilah untuk pertolongan medis agar kesakitan atau penderitaan yang dialami seseorang yang akan meninggal dunia diperingan. Yang membedakan antara penelitian yang peneliti lakukan dengan penelitian sebelumnya adalah dalam penelitian ini peneliti meneliti permasalahan euthanasia dalam prespektif Fiqh Jinayah. dan penelitian-penelitian di atas merupakan bentuk-bentuk macam penelitian dalam segi medis ditinjau dari berbagai aspek. Komparasi Hukum Islam dengan Hukum Pidana Positif dalam masalah euthanasia yang dipaksa. Juga terdapat perkembangan euthanasia di berbagai negara dan ethanasia dalam tinjauan berbagai agama. Juga Anna Iffah Akmala.  . Dalam Skripsi ini akan dibahas apakah tindakan euthanasia ini termasuk pembunuhan dan dapat dikenai sanksi. dalam prespektif Fiqh Jinayah. HAM.10 kematian yang manusiawi serta pandaangan Etika Situasi terhadap Euthanasia. sebagaimana tindakan pembunuhan pada umumnya. E. Konsekwensi Yuridis dan kajian Etika. yang dilakukan secara suka rela atas permintaan sendiri dikarenakan sakit. "Euthanasia Dalam Prespektif Etika Situasi". Sedangkan penelitian-penelitian sebelumnya adalah penelitian yang meninjau dari segi Hukum Pidana Positif. Skripsi Strata Satu Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga (2002). ∗ Di sekian penelitian yang ada yang membahas euthanasia ini semuanya mengacu pada permasalahan medis sebagai objek penelitian dasarnya. yang mana tindakan euthanasia yang terdapat suatu unsur tindakan pembunuhan.

Sedangkan euthanasia pasif berusaha untuk memecahkan masalah-masalah moral mengenai perawatan pasien yang tidak ada harapan lagi atau yang sudah mendekati ajalnya Ensiklopedi Indonesia (Jakarta: Ikhtiar Baru-Van Hoeve. 1990).11 berarti mempercepat kematian seseorang yang ada dalam kesakitan dan penderitaan hebat menjelang kematiannya. 16 . Definisi euthanasia aktif ialah sengaja diambil tindakan yang berakibat kematian. atas atau tanpa permintaan dan atau keluarga sendiri.16 Dalam euthanasia aktif. yakni euthanasia aktif dan euthanasia pasif. sedang euthanasia pasif ialah membiarkan perawatan yang dapat memperpanjang kehidupannya.28 Abdul Jamali. Euthanasia. seperti dosis besar obat tidur atau suntikan racun. hlm. sukarela atau tidak sukarela. demi kepentingan pasien dan atau keluarganya. Artikel Euthanasia. 15 14 Petrus Yoyo Karyadi. dimaksudkan untuk mengakhiri kehidupan pasien. euthanasia adalah dengan sengaja dokter atau bawahannya yang bertanggungjawab kepadanya atau tenaga ahli lainnya melakukan suatu tindakan medis tertentu untuk mengakhiri hidup pasien atau mempercepat proses kematian pasien atau tidak melakukan tindakan medis untuk memperpanjang hidup pasien yang menderita suatu penyakit yang menurut ilmu kedokteran sulit untuk disembuhkan kembali. hlm. Tindakan yang diambil. Vol.15 Euthanasia pada garis besarnya ada dua. kematian merupakan tujuan tindakan seseorang. dkk. 1987).2:978.132.14 Menurut Petrus Yoyo Karyadi. Tanggung Jawab Hukum Seorang Dokter dalam Menangani Pasien (Jakarta: Ikhtiar Baru.

euthanasia aktif kemudian dibagi menjadi dua golongan. (Jakarta. tidak menginginkannya. Dalam euthanasia aktif ini masih perlu dibedakan. karena kasih sayang yang dilakukan oleh dokter dengan mempergunakan instrumen (alat). 1995). Euthanasia. Euthanasia aktif tidak langsung terjadi bila dokter atau tenaga kesehatan lainnya tanpa maksud untuk memperpendek hidup pasiennya. hlm. PT. Berdasarkan akibatnya. K Bartens. Gramedia Pustaka Utama. melakukan tindakan medik untuk meringankan penderitaan pasien dengan mengetahui adanya risiko bahwa tindakan medik ini dapat mengakibatkan diperpendek/ diakhiri hidup pasiennya.18 Euthanasia aktif adalah proses kematian diringankan dengan memperpendek kehidupan secara terarah dan langsung. Menurut Yusuf Qardawi yang dimaksud euthanasia aktif (taisir maut al-faal) ialah tindakan memudahkan kematian si sakit.12 dengan menghentikan segala terapi. yaitu euthanasia aktif langsung terjadi bila dokter atau tenaga kesehatan lainnya melakukan suatu tindakan medis untuk meringankan penderitaan pasien sedemikian rupa sehingga secara logis dapat diperhitungkan bahwa hidup pasien diperpendek atau diakhiri.17 Euthanasia aktif terjadi bila dokter atau tenaga kesehatan lainnya secara sengaja melakukan suatu tindakan untuk memperpendek hidup pasien atau untuk mengakhiri hidup pasien tersebut.31 . atau tidak berada dalam keadaan di mana keinginannya dapat diketahui. hlm. terj. 69-71. sedangkan euthanasia pasif 17 Thomas A Shanon. sehingga bisa berlangsung penyelesaian secara alamiah. pengantar bio etika. 18 Petrus Yoyo Karyadi. apakah pasien menginginkannya.

seperti macam-macam perbuatan pidana dengan ancaman pidana disebut al-jinayah. yang dibebankan kepada pelaku euthansia yaitu dokter sebagai pihak pengeksekusi euthanasia. 1995). hlm. 20 . tetepi ia hanya dibiarkan tanpa diberi pengobatan untuk memperpanjang hayatnya. bahwa euthanasia khususnya euthanasia aktif. alat-alat bukti lainnya yaitu: kesaksian-kesaksian. yaitu pasien sebagai yang di euthanasia. diantaranya adalah masalah-masalah hukum yang berhubungan dengan kepidanaan. harus dibuktikan dengan adanya saksi atau pun oleh alat-alat bukti lainnya.13 (taisir maut al-munfa'il) tidak dipergunakan alat-alat atau langkah-langkah aktif untuk mengakhiri kehidupan si sakit. Dan yang diteliti dalam masalah euthansia ini adalah euthanasia aktif secara langsung yang dilakukan atas permintaan pasien.20 Hukum Islam atau Fiqh Islam. Dalam hal ini permintaan pasien harus mendapat perhatian yang tegas agar tidak disalahgunakan. Euthanasia. dan keluarga sebagi pihak penyetuju tindakan euthanasia.19 Dalam masalah euthanasia ini tidak terlepas dari beberapa pihak. dokter sebagai pelaku (pengeksekusi) euthanasia. telah mengatur perikehidupan manusia secara menyeluruh mencakup segala macam aspeknya. II:749Djoko Prakoso dan Djaman Andi Nirwanto. maka dalam menentukan benar tidaknya permintaan yang tegas dan sungguh-sungguh. pengakuan dan isyarat-isyarat. Fatwa-Fatwa Kontemporer. Sebagaimana yang telah dipaparkan di atas. itu merupakan suatu perbuatan jarimah pembunuhan karena sudah memenuhi unsur-unsur jinayah yakni: 19 Yusuf Qardawi.71-72 750. surat-surat. (Jakarta: Gema Insani Press.

artinya pelaku kejahatan tadi adalah mukallaf. dan serupa kekeliruan (ma jara majr al-khata'). kekeliruan.Syar’i) 2.9. Unsur ini dikenal dengan istilah “unsur material” (ar-Rukn al-Maddi) 3. 2. 4. Lihat juga Abd al-Qadir 'Awdah. Ulama Malikiyah mengklasifikasikan bentuk-bentuk pembunuhan menjadi dua yaitu: pembunuhan sengaja (qatl al-'amd) dan kekeliruan (qatl al khata'). maka perlu diberikan klasifikasinya agar mudah menempatkan/ memposisikan suatu tindak pidana pembunuhan menurut kadar ukurannya. 3. Kaidah Fiqh Jinayah (Asas-asas Hukum Pidana Islam). ke-2. Adanya nash yang melarang perbuatan-perbuaatan tertentu yang disertai ancaman hukuman atas perbuatan di atas. yaitu pembunuhan sengaja. Sebagian Hanafiyah mengklasifikasikannya menjadi lima (khumasi). cet. serupa kekeliruan. hlm. (Bandung: Pustaka Bani Quraisy. semi sengaja. Pelaku kejahatan adalah orang yang dapat menerima khithab atau dapat memahami taklif. yaitu: pembunuhan sengaja. baik berupa melakukaan perbuatan yang dilarang atau meninggalkan perbuatan yang diharuskan. cet. terjadi perbedaan pendapat di antara para ulama dalam mengklasifikasikan bentuk-bentuk pembunuhan. 2004). dan pembunuhan secara tidak langsung (qatl bi attasabbub). Berkenaan dengan ini.3. (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. semi sengaja (syibh al-'amd) dan kekeliruan. hlm.22 A. Jumhur mengklasifikasikannya menjadi tiga (sulasi). 21 . atTasyri' al-Jina'I al-Islami Muqaranah bi al-Qanun al-Wad'I. Perbedaan pengklasifikasian tersebut adalah: 1. ke-1.14 1. Unsur ini dikenal dengan istilah “unsur formal” (ar-Rukn asy. Djazuli. 1992). 1997). 22 Jaih Mubarok dan Enceng Arif Faizal. Berbicara tentang pembunuhan. Sebagian Hanafiyah mengklasifikasikanya menjadi empat (ruba'i). Pembunuhan adakalanya terjadi karena disengaja oleh pelaku dan adakalanya tidak disengaja. semi sengaja. kekeliruan. Adanya unsur perbuatan yang membentuk jinayah. Fiqh Jinayah (upaya menanggulangi kejahatan dalam Islam). II: 7-9. (Bayrut: Muassasat ar-Risalat. sehingga mereka dapat dituntut atas kejahatan yang mereka lakukan. Unsur ini dikenal dengan istilah “unsur moral” (ar-Rukn al-Adabi)21 Dalam konteks di atas jelas bahwa pelaku euthanasia aktif bisa dikenai sanksi pembunuhan sengaja. yaitu: pembunuhan sengaja.

pada akhirnya menyebabkan kematian orang lain. namun sama sekali tidak menhendaki kematian si korban. yaitu kesalahan dalam berbuat sesuatu yang mengakibatkan matinya seseorang. Djajuli. Lihat juga A. kaidah fiqh jinayah. 2. yaitu suatu perbuatan penganiayaan terhadap seseorang dengan maksud untuk menghilangkan nyawanya. perbuatan tersebut tidak ditujukan terhadap korban.17. Hukum Pidana Islam (Fiqih Jinayah). pembunuhan karena kesalahan (qatl al-khata'). pelaku membuat sarana yang pada awalnya tidak dimaksudkan untuk mencelakakan orang lain. hlm. cet. hlm. cet ke-1 desember 2000. hal 117. pembunuhan sengaja (qatl al-'amd). Fiqh JInayat (upaya menaggulangi Kejahatan Dalam Islam. yaitu perbuatan penganiayaan terhadap seseorang tidak dengan maksud untuk membunuhnya tetapi mengakibatkan kematian. Jadi matinya korban sama sekali tidak diniati. CV Pustaka Setia.15 Untuk mengetahui arti dari jenis-jenis pembunuhan ini maka perlu diperjelas artinya yaitu sebagai berikut: 1. Perbuatan itu sendiri sengaja dilakukan dalam objek yang dimaksud. 1997). Jadi. (Bandung. 123 24 23 Jaih Mubarok. ke-2. pembunuhan secara tidak langsung (qatl bi at-tasabbub). 2000). pembunuhan semi sengaja (qatl syibh al-'amd). . pelaku sama sekali tidak bermaksud melakukan suatu aktivitas tertentu. Walaupun disengaja. akan tetapi di luar kesadarannya menyebabkan kematian orang lain. 5.23 4. pembunuhan serupa kekeliruan (ma jara majr al-khata').24 Rahmat Hakim. (Jakarrta: PT Raja Grafindo Persada. 3. tetapi karena kelalaiannya. matinya korban merupakan bagian yang dikehendaki si pembunuh.

karena telah ada unsur perbuatannya dan unsur tujuannya yaitu agar orang tersebut mati. apalagi memusuhinya atau memisahkannya dari kehidupan. Tetapi dalam hal ini yang perlu dipertanyakan apakah unsur kerelaan atas si terbunuh termasuk ke dalam unsur pembunuhan disengaja.16 Dari jenis-jenis pembunuhan di atas. cet. Dirinya hanyalah titipan yang dititipkan Allah. Islam sangat memperhatikan keselamatan hidup dan kehidupan manusia25. terj.ke-1. 379. karena dia tidak menciptakan dirinya (jiwanya). 2000). bahwa kehidupan seseorang bukanlah miliknya sendiri. ataupun selnya. bila melihat kepada maknanya euthanasia yaitu suatu perbuatan penghilangan nyawa seseorang atas permintaan orang itu sendiri. 26 . Syaikh Muhammad Yusuf al-Qardawi mengatakan. Karena memelihara nyawa manusia merupakan salah-satu tujuan utama dari lima tujuan 25 Masjfuk Zuhdi. Karena itu ia tidak boleh mengabaikannya. Apabila euthanasia aktif itu didukung oleh kerelaan si pasien maka yang demikian disebut tindakan bunuh diri dengan meminjam tangan atau melalui orang lain. Haji Masagung.161. Masalah euthanasia merupakan masalah yang sangat sulit. hlm. berarti hal ini termasuk dalam pembunuhan disengaja.. Halal dan Haram dalam Islam. (Jakarta: Robbani Press. anggota tubuhnya. Yusuf Qardawi. dan masalah ini biasanya timbul oleh alasan bahwa pasien sudah tidak tahan lagi menanggung derita yang berkepanjangan atau tidak ingin meninggalkan beban ekonomi atau tidak punya harapan untuk sembuh. hlm. Masail Fiqhiyah (Jakarta: CV. Oleh Abu Sa’id al-Falahi dan Aunur Rafiq Shaleh Tamhid.26 Manusia dituntut untuk memelihara jiwanya (hifz an-nafs). lebih-lebih terhadap jiwa manusia. 1994).

69. Memutuskan hukum dalam masalah euthanasia ini bukan merupakan hal yang mudah. Hipotesis Euthanasia adalah istilah dalam dunia medis yang merupakan keputusan dokter terhadap keadaan penyakit yang dialami pasien. tetapi ia adalah anugerah Allah Swt. Fuzi Aseri. Oleh karenanya. Namun karena masalah euthanasia ini berhubungan masalah pembunuhan. Jiwa meskipun merupakan hak asasi manusia.27 F. hlm.17 syariat yang diturunkan oleh Allah Swt. Dan sanksi pembunuhan ini adalah hukum Qisas sesuai dengan kadar dan jenis pembunuhannya Perbuatan euthanasia sama dengan bunuh diri yang dilakukan dengan meminjam tangan orang lain. dalam al-Qur'an tidak ada ayat yang menyinggung terhadap masalah euthanasia ini secara khusus. seseorang sama sekali tidak berwenang dan tidak boleh melenyapkannya tanpa kehendak dan aturan Allah sendiri. bahwa penyakit yang diderita pasien tidak dapat disembuhkan lagi dan diberikan jalan pintas yaitu dengan jalan medis juga. 27 Akh. walaupun terdapat unsur kerelaan dari pihak siterbunuh maka perbuatan tersebut termasuk perbuatan jarimah. biasanya upaya untuk mengurangi beban pasien dalam penderitaannya melalui suntikan dengan bahan pelemah fungsi syaraf dalam dosis tertentu (neurasthenia). Euthanasia…. . dan hal ini dilarang oleh Allah dengan ancaman neraka jahannam. dan hal ini dianggap sebagai perbuatan yang menentang takdir Tuhan. Maka euthanasia ini merupakan perbuatan yang terlarang.

yang mana euthanasia yang terdapat dalam dunia medis diteliti dengan prespektif fiqh jinayah (Hukum Pidana Islam).Jenis penelitian Jenis penelitian yang digunakan ialah kepustakaan (literatur) 2. G. Penyusun menelusuri bahan penelitian yang ada hubungannya dengan permasalahan yang diteliti. Metode Penelitian 1. yaitu Allah SWT.Sifat penelitian Penelitian ini bersifat eksploratif. Artinya dalam pembahasannya melakukan pendekatan terhadap permasalahan yang dititikberatkan pada aspek-aspek hukum. Dalam rangka pengumpulan data. sesuai dengan perkembangan zaman yang disesuaikan dengan keadaan sekarang. yaitu meneliti permasalahan euthanasia sebagai suatu permasalahan baru.Teknik pengumpulan data Untuk mendapatkan data dalam penyusunan skripsi ini. 4. yaitu penyusun .Pendekatan Pendekatan yang digunakan dalam penyusunan skripsi ini. ialah pendekatan normatif.18 Sebab masalah kehidupan dan kematian seseorang itu berasal dari pencipta-Nya. penyusun menggunakan teknik dokumentasi. ialah menggunakan penelitian kepustakaan (library research). dan dalam penyelesaiannya dibantu dengan pendapat-pendapat para ahli dan para mujtahid 3. dalam hukum Islam lebih khusus dalam Fiqh Jinayah (Hukum Pidana Islam).

5. kerangka teori. yakni tentang macam-macam euthanasia. bab ini membicarakan mengenani pengertian euthanasia serta permasalahannya yang sangat erat hubungannya dengan euthanasia.19 melakukan observasi terhadap sumber-sumber data yang berupa dokumen baik primer ataupun sekunder. Setelah bab pertama merupakaan pendahuluan ialah bab kedua. dimulai dengan pendahuluan yang menjelaskan latar belakang permasalahan yang akan dicari jawabannya. sebab-sebab yang memungkinkan . Pada bab pertama. tujuan dan kegunaan penelitian. kemudian dikumpulkan dan diolah sedemikian rupa sehingga menghasilkan data yang diperlukan. serta pelaku tindakan euthanasia dan juga sanksi hukum apa yang harus diterapkan bagi perbuatan euthanasia ini. jenis euthanasia yang termasuk kedalam perbuatan jarimah. tinjauan umum dan masalah sekitar euthanasia. H. penulis membuat sistematika pembahasan yang terdiri dari bab-bab yang saling berhubungan dan saling menunjang yang satu dengan yang lainnya secara logis. kemudian ditentukan. metode penelitian dan sistematika pembahasan. Analisis Data Data yang terkumpul dianalisis secara kualitatif dengan cara berfikir deduktif. Deduktif artinya meneliti dan menganalisa macam-macam bentuk euthanasia. Sistematika Pembahasan Agar tidak terjadi tumpang tindih dan untuk konsistensi pemikiran. telaah pustaka. hipotesis.

20 dilakukannya euthanasia. Serta sanksi hukum bagi pelaku euthanasia. tujuan Fiqh Jinayah serta aspek kemanusiaan dalam Fiqh Jinayah. Kata eu berarti baik. yaitu eu dan thanatos. langkah selanjutnya adalah mengambil suatu kesimpulan dari apa yang telah menjadi pokok pembahasan dalam karya ilmiah ini. Pada bab keempat berisi tentang Praktek Euthanasia Dalam Prespektif Fiqh Jinayah yang meliputi Euthanasia aktif sebagai jarimah. Pada bab ketiga berisi tentang Prinsip-prinsip Fiqh Jinayah terhadap Euthanasia yang meliputi pengertian Hukum Pidana Islam. dan thanatos berarti mati. BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG EUTHANASIA A. Sedangkan saran-saran diajukan pula. sebagai acuan dalam meninjau permasalahan pidana khususnya dalam masalah euthanasia. dan juga beberapa tinjauan baik dari segi Medis. Setelah diuraikan secara panjang lebar dan terperinci pada bab-bab sebelumnya. Maksudnya adalah mengakhiri hidup dengan . Bab kelima. pada bab yang terakhir ini. Pengertian Euthanasia Istilah euthanasia berasal dari bahasa Yunani. jarimah Qisas-diyat. demi perbaikan dan kesempurnaan dari pengaturan masalaah euthanasia yang telah ada serta pandangan untuk masa-masa yang akan datang. memuat tentang kesimpulan dan saran-saran. HAM dan Hukum Pidana Positif (KUHP).

dalam Chuzaimah T. agama. Secara etimologis euthanasia berarti kematian dengan baik tanpa penderitaan. Bagi yang setuju menganggap euthanasia merupakan pilihan yang sangat manusiawi. "Euthanasia" beberapa soal moral berhubungan dengan quintum. Yanggo dan Hafiz Anshary AZ. (ed. Chr Purwa Widyana. buku ke-4. 64. atau enjoy death (mati dengan tenang). sulit dijawab secara tepat dan objektif. Dalam arti yang demikian itu euthanasia tidaklah bertentangan dengan panggilan manusia untuk mempertahankan dan memperkembangkan hidupnya. Problematika Hukum Islam Kontemporer. maka dari itu dalam mengadakan euthanasia arti sebenarnya bukan untuk menyebabkan kematian. (Antropologi Teologis II. Euthanasia atau hak mati bagi pasien sudah ratusan tahun dipertanyakan. Hak untuk mati ini secara diam-diam telah dilakukan yang tak kunjung habis diperdebatkan. dan Hukum Islam. sementara yang tidak setuju menganggapnya sangat bertentangan dengan nilai-nilai moral. sehingga tidak menjadi persoalan dari segi kesusilaan. Oleh karena itu euthanasia sering disebut juga dengan mercy killing. a good death. 2002). 1974). Euthanasia Suatu Tinjauan dari Segi Kedokteran. 29 J. etika dan agama. Hukum Pidana. Sejumlah pakar dari berbagai disiplin ilmu telah mencoba membahas euthanasia dari berbagai sudut pandang.21 cara yang mudah tanpa rasa sakit.29 Akh.). Fauzi Aseri. hlm. etika. sosial dan yuridis masih mengundang berbagai ketidakpuasan. namun demikian pandangan medis. (Jakarta: Pustaka Firdaus. Artinya dari segi kesusilaan dapat dipertanggungjawabkan bila orang yang bersangkutan menghendakinya. namun untuk mengurangi atau meringankan penderitaan orang yang sedang menghadapi kematiannya.28 Jadi euthanasia berarti mempermudah kematian (hak untuk mati). hlm.25 28 .

(Malang: Analekta Keuskupan Malang. 1989).30 Sejak abad ke-19. 31 30 . euthanasia dapat diterangkan sebagai pembunuhan yang sistematis karena kehidupannya merupakan suatu kesengsaraan dan penderitaan. ke-1. hlm. Masalah tersebut semakin kompleks karena definisi dari kematian itu sendiri telah menjadi kabur. Agar persoalan euthanasia ini dapat dibahas dengan sewajarnya sebaiknya arti kata-katanya diuraikan dengan lebih seksama lagi. Pemakaian terminologi euthanasia ini mencakup tiga kategori. cet. hlm. Akhirnya kata ini dipakai dalam arti yang lebih sempit sehingga makna dan artinya adalah mematikan karena belas kasihan.22 Akan tetapi dalam perkembangan istilah selanjutnya. Dewasa ini orang tidak lagi memakai arti asli. Euthanasia dalam prespektif hak asasi manusia. terminologi euthanasia dipakai untuk menyatakan penghindaran rasa sakit dan peringanan pada umumnya bagi yang sedang menghadapi kematian dengan pertolongan dokter.26-27. 5-6 Petrus Yoyo Karyadi. 2001). bahkan kadang-kadang disertai bahaya mengakhiri kehidupan sebelum waktunya. yaitu:31 1. (Yogyakarta: Media Presindo. Carm. melainkan lebih terarah pada campur tangan ilmu kedokteran yang meringankan orang sakit atau orang yang berada pada sakarotul maut. euthanasia lebih menunjukkan perbuatan yang membunuh karena belas kasihan. Secara etimologis di zaman kuno berarti kematian tenang tanpa penderitaan yang hebat. Pemakaian secara sempit Piet Go O. maka menurut pengertian umum sekarang ini. Euthanasia Beberapa Soal Etis Akhir Hidup Menurut Gereja Katolik. sehingga banyak masalah yang ditimbulkan dari euthanasia ini. Inilah konsep dasar dari euthanasia yang kini maknanya berkembang menjadi kematian atas dasar pilihan rasional seseorang.

3. Dilakukan khusus untuk kepentingan pasien itu sendiri atas permintaan atau tanpa permintaan pasien. tetapi pada hemat penulis apapun istilahnya ketiga cara tersebut adalah tindakan euthanasia. Beberapa pengertian tentang terminologi euthanasia:32 a. hlm.23 Secara sempit euthanasia dipakai untuk tindakan menghindari rasa sakit dari penderitaan dalam menghadapi kematian. hukum dan psikologi. Dengan sengaja melakukan sesuatu untuk mengakhiri hidup seorang pasien. melainkan sebagai tindakan untuk menghilangkan penderitaan pasien. euthanasia berarti memendekkan hidup yang tidak lagi dianggap sebagai side effect.. Beberapa ahli membedakan ketiga cara tersebut. Pemakaian paling luas Dalam pemakaian yang paling luas ini. Pemakaian secara luas Secara luas. .27. terminologi euthanasia dipakai untuk perawatan yang menghindarkan rasa sakit dalam penderitaan dengan resiko efek hidup diperpendek. 32 Ibid. Menurut hasil seminar aborsi dan euthanasia ditinjau dari segi medis. Dengan sengaja tidak melakukan sesuatu (palaten) untuk memperpanjang hidup pasien 3). euthanasia diartikan: 1). 2). 2.

Macam-macam Euthanasia Euthanasia bisa ditinjau dari berbagai sudut. Oemar Seno Adji. 2). sadar tidaknya pasien dan lain-lain. atau tidak memperpanjang hidup pasien. seperti cara pelaksanaanya. Berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu 2). Pasien menderita suatu penyakit yang sulit untuk disembuhkan kembali. Mengakhiri penderitaan dan hidup seorang sakit dengan sengaja atas permintaan pasien sendiri dan keluarganya.176 33 . 4). dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur euthanasia adalah sebagai berikut: 1). untuk yang beriman dengan nama Allah dibibir. (Jakarta: Erlangga. Dari beberapa kategori tersebut. Atas atau tanpa permintaan pasien atau keluarganya. Menurut kode etik kedokteran indonesia.24 b. Ketika hidup berakhir. mempercepat kematian. Berpindahnya ke alam baka dengan tenang dan aman tanpa penderitaan. dari mana datang permintaan. kata euthanasia dipergunakan dalam tiga arti:33 1). 3). 3). Mengakhiri hidup. Etika profesional dan Hukum Pertanggungjawaban Pidana Dokter. 3). diringankan penderitaan sisakit dengan memberinya obat penenang.1991). B. Demi kepentingan pasien dan keluarganya. hlm.

1997). mencabut oksigen atau alat bantu kehidupan lainnya. tetapi diketahui bahwa risiko tindakan tersebut dapat mengakhiri hidup pasien. yaitu euthanasia aktif dan euthanasia pasif Di bawah ini dikemukakan beberapa jenis euthanasia: 1. 34 Amri Amir. Misalnya dengan memberi tablet sianida atau suntikan zat yang segera mematikan.25 Secara garis besar euthanasia dikelompokan dalam dua kelompok. Misalnya. Kartono Mohamad. 3. Euthanasia aktif langsung. euthanasia aktif euthanasia pasif euthanasia volunter euthanasia involunter34 1. hlm. b. Euthanasia aktif tidak langsung. Teknologi Kedokteran dan Tantangannya terhadap Bioetika (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. 4. yaitu cara pengakhiran kehidupan melalui tindakan medis yang diperhitungkan akan langsung mengakhiri hidup pasien. yang menunjukkan bahwa tindakan medis yang dilakukan tidak akan langsung mengakhiri hidup pasien. 1992).31. Bunga Rampai Hukum Kesehatan (Jakarta: Widya Medika.66- 67. Euthanasia aktif Euthanasia aktif adalah perbuatan yang dilakukan secara aktif oleh dokter untuk mengakhiri hidup seorang (pasien) yang dilakukan secara medis. hlm. 2. 35 . Euthanasia aktif terbagi menjadi dua golongan:35 a. Biasanya dilakukan dengan penggunaan obat-obatan yang bekerja cepat dan mematikan.

Selain kategori empat macam euthanasia di atas. 2. 4. Dalam hal ini dianggap famili pasien yang bertanggung jawab atas penghentian bantuan pengobatan. 3. mereka menambahkan macam-macam euthanasia selain euthanasia secara garis besarnya. hal ini diungkapkan oleh beberapa tokoh. Perbuatan ini sulit dibedakan dengan perbuatan kriminal. sehingga pasien diperkirakan akan meninggal setelah tindakan pertolongan dihentikan. Euthanasia tidak langsung. diantaranya Frans magnis suseno dan Yezzi seperti dikutip Petrus Yoyo Karyadi. bahwa pasien mungkin mati dengan lebih cepat. Euthanasia involunter Euthanasia involunter adalah jenis euthanasia yang dilakukan pada pasien dalam keadaan tidak sadar yang tidak mungkin untuk menyampaikan keinginannya. Euthanasia volunter Euthanasia jenis ini adalah Penghentian tindakan pengobatan atau mempercepat kematian atas permintaan sendiri. yaitu usaha untuk memperingan kematian seseorang tanpa memperpendek kehidupannya. yaitu: 1. euthanasia juga mempunyai macam yang lain. Euthanasia pasif Euthanasia pasif adalah perbuatan menghentikan atau mencabut segala tindakan atau pengobatan yang perlu untuk mempertahankan hidup manusia. Euthanasia murni. .26 2. Kedalamnya termasuk semua usaha perawatan agar yang bersangkutan dapat mati dengan "baik". yaitu usaha untuk memperingan kematian dengan efek samping.

tetapi yang tidak begitu bermanfaat lagi. euthanasia dibedakan antara yang aktif dan yang pasif. yaitu mempercepat kematian atas persetujuan atau permintaan pasien. 37 . Euthanasia nonvoluntary. Keadaan-keadaan yang Memungkinkan Dilakukannya Euthanasia Euthanasia mempunyai arti yang berdekatan dengan “membiarkan datangnya kematian” (letting die). 4.67-68 Ibid. hlm.27 Di sini ke dalamnya termasuk pemberian segala macam obat narkotik. Adakalanya hal itu tidak harus dibuktikan dengan pernyataan tertulis dari pasien atau bahkan bertentangan dengan pasien. Euthanasia aktif diartikan melakukan suatu tindakan tertentu sehingga pasien meninggal. bahkan akan menambah beban penderitaan (not initiating life support treatment).37 C. Euthanasia. hlm. Misalnya tidak memberikan shock terapi dan tidak menyambung pernafasan dengan ventilator sesudah pasien manula penderita jantung kronis yang mendapat serangan 36 Petrus Yoyo Karyadi.. Dalam literatur.36 3. atau atas keputusan pemerintah. misalnya dengan mengakhiri pemberian nafas buatan melalui respirator atau mencabut ventilator dalam arti penghentian pemberian pernafasan artifisial. Euthanasia sukarela.30. hipnotik dan analgetika yang mungkin "de fakto" dapat memperpendek kehidupan walaupun hal itu tidak disengaja. yaitu mempercepat kematian sesuai dengan keinginan pasien yang disampaikan oleh atau melalui pihak ketiga (misalnya keluarga). Sedang euthanasia pasif diartikan sebagai tidak dimulainya melakukan tindakan untuk memperpanjang hidupnya.

(Jakarta: FK UI. Secara medis sekarang diketahui jika rekaman otak masih menunjukkan fungsi yang baik. dan kalau alat tersebut dicabut kemungkinan besar ia akan segera mati. Kalau dahulu mati didefinisikan sebagai berhentinya denyut jantung dan pernafasan. 2000). 38 J. artinya pasien belum meninggal. masih ada kemungkinan ditolong dengan menggunakan alat tersebut. yakni sel-sel tubuh saja yang masih menunjukkan tanda kehidupan. Kumpulan Kasus Bioethics & biolaw. Dengan demikian sekarang dikenal istilah mati otak (brain death). maka seseorang yang oleh karena suatu hal mengalami henti nafas mendadak (respiratory arrest) atau henti jantung (cardiac arrest). kemajuan dalam bidang ilmu dan tekhnologi kedokteran telah menambah beberapa konsep fundamental tentang mati. yang menunjukkan bahwa otak sudah tidak berfungsi lagi.38 Seperti telah disebutkan pada awal tulisan ini. hlm. tetapi bila otak sudah tidak berfungsi. yang jelas kehidupannya tergantung kepada alat. Keadaan semacam ini berlangsung berhari-hari. maka hampir tidak mungkin dia hidup tanpa bantuan alat tersebut. maka dengan ditemukannya alat bantu pernafasan (respirator) dan alat pacu jantung (pace maker). dengan kata lain dia hanya hidup secara vegetatif. Guwandi. maka ada harapan orang tersebut akan siuman kembali. 40 .28 jantung untuk kesekian kalinya dan sudah tidak sadarkan diri untuk waktu yang agak lama. Persoalan yang kemudian timbul adalah sampai berapa lama orang itu bertahan dengan alat bantu tersebut. berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun tanpa di ketahui kapan akan berakhir.

3-4 39 . "Euthanasia. Akan lebih rumit lagi apabila permintaan pasien (keluarganya) adalah dengan alasan sosial ekonomi (biaya) sehingga keluarga memaksa untuk membawa pulang pasien. Harus ada penderitaan fisik atau psikis yang tidak terpikulkan dan dahsyat dialami pasien. Aborsi dan Euthanasia ditinjau dari segi medis. Bagaimana sikap seorang dokter?" Makalah pada seminar sehari.39 Di Negara Belanda. Kedua. Pasien memahami betul situasinya sendiri maupun kemungkinankemungkinan alternatif yang tersedia dan mampu menimbang-nimbang antara pelbagai kemungkinan yang ada dan sesungguhnya telah pula melakukan pilihannya. seorang dokter tidak di hukum dalam melakukan euthanasia. Baik penderitaan ini maupun keinginan untuk mengakhiri kehidupan berlangsung tiada henti-hentinya. H. (Yogyakarta: FKMPY. hukum dan psikologis. Tidak ada pemecahan rasional lain yang dapat memperbaiki situasi. Siswo Sudarmo. sampai hatikah seorang dokter dengan sengaja melepas alat bantu yang nota bene akan mengakhiri kehidupan seseorang?. Pengadilan Negeri Rotterdam mempunyai kriteria bahwa seorang dokter tidak dihukum dalam melakukan euthanasia. 3. yang menjadi persoalan adalah: pertama.29 Dalam keadaan seperti ini tidak jarang keluarga pasien meminta dokter untuk segera mengakhiri penderitaan pasien dengan cara melepas semua alat bantu. 1990).R. tepatnya di daerah Rotterdam. sebagai berikut: 1. apakah dokter mempunyai hak untuk melakukan hal itu tanpa ia dikenai sanksi hukum?. hlm. 4. pada yang terakhir ini jelas yang harus mencabut segala alat bantu adalah dokter (dokter yang bertanggungjawab). 2.

the Right of man" hal mana pada prinsipnya dapat dirumuskan sebagai "hak-hak yang dimiliki manusia menurut kodratnya. Euthanasia dan Hak Asasi Manusia (HAM) Hak asasi mausia (HAM) mungkin merupakan kata yang telah ditulis dalam ratusan ribu halaman kertas. 95. Dengan kematian ini tidak ada orang lain yang dirugikan atau menderita tanpa alasan.30 5. hak asasi dapat F. 7. hlm. lawyer dan sebagainya. yang akan mengeluarkan resep mengenai obat atau bahan yang akan dipakai. 8. Pada keputusan untuk memberikan bantuan harus selalu melibatkan seorang dokter. 6. Hak-hak asasi manusia sebagaimana dikenal dewasa ini dengan nama antara lain "human rights. (Bandung: Nova. buku. yang tak dapat dipisahkan dari hakekatnya dan karena itu bersifat suci". artikel atau surat kabar dan siaran televisi maupun radio. mengarahkan perbuatan manusia dan mengatur masyarakat. Sebagai basis dari pemikiran manusia.40 D. demikian pula pada bantuan itu perlu diperhatikan kecermatan dan ketelitian yang semaksimal mungkin sesuai dengan kepatutan yang berlaku (misalnya dengan mengikutsertakan dalam perembukan beberapa teman sejawat dan ahli-ahli lainnya. juga menarik perhatian sejumlah besar ahli.t). Pada keputusan untuk memberikan bantuan. Jadi. Tengker. jurnalis. Mengapa euthanasia? Kemampuan medis & konsekuensi Yuridis. 40 . t. Keputusan untuk memberikan bantuan tidak diambil oleh satu orang saja. Ia seolah-olah menjadi "trademark" peradaban modern saat ini. politikus.

Islam mengajarkan belas kasihan sebagai suatu nilai kemanusiaan yang pokok dan satu dari kebajikan yang fundamental bagi orang yang mengaku dirinya muslim. 5. Hak-hak Asasi manusia secara umum mencakup hak pribadi. (Solo: CV. yaitu: 1. sosial dan kebudayaan. Egalite (kesamarataan). hlm. 2. Freedom of Speech (kebebasan mengutarakan pendapat). Fraternite (kerukunan atau persaudaraan). dari kedua dokumen tersebut terdapat semboyan. Imron Halimi. banyak mengajarkan tentang toleransi.31 dikatakan sebagai hak dasar yang dimiliki oleh pribadi manusia sebagai anugerah Tuhan yang dibawa sejak lahir. 1990). 41 . dan lain sebagainya. Dalam hak-hak asasi manusia. diantaranya Declarations des Droits de'l Homme et du Citoyen (1789) di Perancis dan The Four Freedoms of F.41 Sebagai contoh bahwa Nabi Musa berusaha menyelamatkan umatnya dari penindasan Fir'aun. Freedom of Religion (kebeasan beragama). tidak boleh memaksa. terdapat bermacam dokumen. Dari pemahaman yang demikian maka sebenarnya perjuangan untuk membela hak-hak kemanusiaan tersebut mungkin seumur umat manusia itu sendiri. berbuat adil. serta untuk mendapatkan perlakuan tata cara peradilan dan perlindungan hukum. menerapkan kasih sayang. Liberte (kemerdekaan). Euthanasia Cara Mati Terhormat Orang modern. 129. politik. Ramadhani. bijaksana. perlakuan yang sama dalam hukum. Nabi Muhammad dengan mu'jizatnya. 3. Roosevelt (1941) di Amerika Serikat. al-Qur'an. 4. Hak asasi itu tidak dapat dipisahkan dari eksistensi pribadi manusia itu sendiri.D.

karena tidak dicantumkan secara tegas dalam suatu deklarasi dunia. Hak kemerdekaan atas diri sendiri. Freedom from Fear (kebebasan dari ketakutan). 1984). dapat disimpulkan bahwa hak asasi manusia mencakup: a. Euthanasia. Hak menyatakan kebebasan dari rasa takut. 137 .32 6. Hak kemerdekaan berkumpul. b. terutama dalam hak kemerdekaan atas diri sendiri. Hak kemerdekaan beragama. dan 7. adalah termasuk didalamnya.42 Dari kedua dokumen tersebut. "The right to die" ini berkaitan dengan munculnya "revolusi biomedis" dan tentunya berkaitan pula dengan masalah euthanasia. Euthanasia Hak Asasi Manusia dan Hukum Pidana. hlm. maka akan terlintas dalam benak pikiran bahwa "hak untuk hidup" atau the right to life.32-33. (Jakarta: Ghalia Indah. memang telah diakui oleh dunia yaitu dengan dimasukannya dan diakuinya Universal Declaration of Human Right oleh perserikatan bangsa-bangsa tanggal 10 desember 1948. hlm. Menyinggung masalah hak-hak asasi manusia. Dan dalam hak untuk hidup ini juga tercakup pula adanya "hak untuk mati" atau the right to die. Hak kemerdekaan pikiran. 43 Petrus Yoyo Karyadi. c. maka masih merupakan perdebatan dan pembicaraan di kalangan ahli berbagai 42 Djoko Prakoso dan Djaman Andi Nirwanto. e. d. Freedom from Want (kebeasan dari kekurangan).43 Mengenai hak untuk hidup. Sedangkan mengenai "hak untuk mati".

ataupun dengan jalan meminta agar diberikan obat penenang dengan dosis yang tinggi. Ibid. hlm. dengan jalan meminta pada dokter untuk menghentikan pengobatan yang selama ini diberikan kepadanya. misalnya bagi penderita suatu penyakit yang sudah tidak dapat diharapkan lagi penyembuhannya dan pengobatan yang diberikan sudah tidak berpotensi lagi. hlm. Jadi masih terbatas dalam suatu keadaan tertentu. Dan lagi Negara yang telah mengakui adanya "hak untk mati". Kendatipun telah diakui dalam berbagai undang-undang. Euthanasia.. dan bahkan di Negara-negara bagian ada yang mengaturnya secara jelas dalam berbagai undang-undang. Dengan demikian maka penderita suatu penyakit yang tak menentu nasibnya tersebut akan segera mati dengan tenang.46 Dari uraian di atas kiranya dapat disimpulkan bahwa masalah hak-hak asasi manusia itu bukanlah semata-mata merupakan persoalan yuridis semata. 141 Ibid.33 bidang dunia. melainkan 44 Imron Halimi.44 Di Negara-negara maju seperti Amerika Serikat masalah "hak untuk mati" sudah diakui. 42 45 46 . maka perbuatan dokter yang telah memebantu untuk melaksanakan permintaan seorang pasien atau dari keluarganya seperti diuraikan di atas memounyai kekebalan terhadap "criminal liability" maupun terhadap "civil liability". seperti diperagakan dalam "peradilan semu" dalam rangka Konperensi Hukum Se-Dunia di Manila.45 Penderita suatu penyakit yang sudah demikian tersebut diakui dan diperbolehkan menggunakan "hak untuk mati"-nya. namun masih harus diakui pula bahwa "hak untuk mati" itu tidak bersifat mutlak.

hlm. Dahulu. Oleh sebab itu masalah "hak untuk mati" yang dihadapkan sebagai suatu kasus hukum. cet. etis. apa yang dimaksud dengan "mati"?. (Jakarta: Widya Medika. kondisi dan kebiasaan yang ada dalam suatu negara E. Berhentinya darah mengalir Konsep ini bertolak dari kriteria mati berupa berhentinya jantung. Kini keadaan sudah berubah. moral yang ada di suatu masyarakat tertentu. Bunga Rampai Hukum Kesehatan. Perubahan pengertian ini berkaitan dengan adanya alat-alat resusitasi.34 bersangkut paut dengan masalah nilai-nilai etis. Konsep tentang Mati Untuk dapat memahami lebih jauh timbulnya masalah euthanasia. berbagai alat atau mesinmesin penopang hidup dan kemajuan dalam perawatan intensif. ke-1. orang sudah dinyatakan mati dan tidak perlu diberi pertolongan lagi. 1997).68 . organ yang memompa darah mengalir keseluruh tubuh. Pada umumnya dikenal beberapa konsep tentang mati: a. Dari hal ini dinyatakan bahwa mati 47 Amri Amir. Penting bagi para dokter untuk memperjelas arti mati. maka pemecahannya haruslah disesuaikan dengan masalah moral.47Bila demikian. maka dari itu perlu dijelaskan arti "mati". dalam perawatan intensif (di rumah sakit yang mempunyai fasilitas dan ahlinya) jantung yang sudah berhenti dapat dipacu untuk bekerja kembali dan paru-paru dapat dipompa agar kembali kembang kempis. apabila jantung dan paru-paru sudah tidak bekerja lagi. Euthanasia dalam Ilmu Kedokteran 1. maka perlu difahami tentang konsep mati yang dianut dari dulu hingga kini.

hlm. tidak ada refleks. Kematian berarti terputusnya kesatuan tubuh dan jiwa. hlm. 1995).58-59 Electroencephalogram (EEG) adalah: pencatatan terhadap keaktivan otak. pencatat gerakan jantung dari gelombang listrik. Gramedia Pustaka Utama. rangsangan) dari luar. hlm. Pasien tidak berfungsi lagi bereaksi (unreceptive and unresponsive) terhadap stimulus (sentuhan. K. termasuk stimulus yang sangat menyakitkan.. 48 Ibid. Kematian berlangsung. Pengantar Bioetika. dan kedua jenis ini terdapat pada alat oscillograf (alat catat getaran gelombang).58. Jiwa atau bentuk menjiwai tubuh atau materi.35 adalah berhentinya fungsi jantung dan paru-paru.49 b.50 c. paling sedikit selama satu jam. 50 49 Ibid. Gramedia Pustaka Utama. tidak ada gerak sepontan atau pernafasan. Terj. Kartono Mohamad. Bartens. Kematian otak Kriteria ini adalah: tidak sanggup menerima rangsangan dari luar dan tidak ada reaksi atau rangsangan.51 Dasar untuk menetapkan bahwa otak tidak berfungsi lagi adalah:52 1). maka bila tidak terjadi lagi pernafasan dan peredaran darah. Pemisahan tubuh dan jiwa Manusia sebagai kesatuan tubuh dan jiwa atau kesatuan materi dan bentuk. jika dua unsur ini dipisahkan.1992) hlm. Teknologi Kedokteran dan Tantangannya Terhadap Bioetika.48 Karena nafas dan darah bahan yang menandakan kehidupan. (Jakarta: PT.. 2). dan situasi ini diteguhkan oleh elektroensefalogram (EEG). itu berarti bahwa kematian sudah menjadi kenyataan.11 52 51 . sehingga tersusunlah makhluk yang unik yang disebut manusia. Tidak ada tanda-tanda terjadinya pernafasan spontan. Dan juga erat kaitannya dengan Electrokardiogram. (Jakarta: PT. Shanon.69 Thomas A.

Dalam hal ini penghormatan atas hak pasien untuk penentuan nasib sendiri masih memerlukan pertimbangan dari seorang dokter terhadap pengobatannya.53 "hak pasien". sebab masih banyak negara yang tidak atau belum mengatur hal-hal yang berkaitan dengan hak pasien itu. dan Elektroensefalogram (EEG)-nya datar. karena tanpa organ ini bagi manusia tidak mungkin mempertahankan integrasi biologisnya dan karena itu juga integrasi sosialnya. Hak-Hak Pasien Berkembangnya etika pelayanan kesehatan sebagai suatu bidang khusus dan pencarian pelbagai hak melalui pengadilan telah membantu untuk menetapkan banyak hak dalam konteks pelayanan kesehatan. 1997). Hak untuk mendapatkan pemeliharaan kesehatan yang memenuhi kriteria tertentu. Berbicara tentang "hak pasien" yang dihubungkan dengan pemeliharaan kesehatan. Kematian seluruh otak (batang otak. dua buah kata bagi sebagian negara adalah kata-kata yang mewah. Bunga Rampai Hukum Kesehatan. cortex dan neo cortex) berarti kematian manusia. Tidak ada refleks.36 3). Di antaranya adalah penghormatan atas hak pasien. yaitu agar 53 Amri Amir. (Jakarta: Widya Medika. Pasien harus diberi kesempatan yang luas untuk memutuskan nasibnya tanpa adanya tekanan dari pihak manapun setelah diberi informasi yang cukup. hlm. . sehingga keputusannya diambil melalui pertimbangan yang jelas. 2. maka hak utama dari pasien tentunya adalah hak untuk mendapatkan pemeliharaan kesehatan (the right to health care).71.

setelah dokter memberikan informasi.54 Dalam pelaksanaan untuk mendapatkan pemeliharaan kesehatan. ia tidak bisa memilih. (Bandung: CV. Mandar Maju 2001). hlm. sarana kesehatan dan bantuan dari tenaga kesehatan. Thomas A. Kemungkinan untuk memperoleh informasi merupakan syarat untuk menjalankan otonomi. Pengantar Bioetika (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hukum Kedokteran. yang memenuhi standar pelayanan kesehatan yang optimal. hlm.56 54 Wila Chandrawila Supriadi. Hukum Kedokteran. dan jika pasien tidak mempunyai kemungkinan itu. Adalah hak asasi pasien untuk menerima atau menolak tindakan medik yang ditawarkan oleh dokter.18. maka hak untuk menentukan diri sendiri diformulasikan dengan apa yang dikenal dengan persetujuan atas dasar informasi (informed consent).37 pasien mendapatkan upaya kesehatan. Hak atas persetujuan Hak untuk enentukan diri sendiri (the right of self determination) juga terproses sejalan dengan perkembangan dari hak asasi manusia. Hak atas informasi Agaknya hak yang paling penting adalah hak atas informasi. pasien mempunyai hak-hak lainnya. Dihubungkan dengan tindakan medik.147-148. tidak bisa membuat rencana. ia tetap tinggal korban paternalisme. hak untuk mendapatkan pendapat kedua. . Bartens . tidak dapat menguasai situasi. Jika seseorang tidak tahu. Terj K. 56 55 Wila Chandrawila Supriadi. 1995). sebagai misal antara lain hak untuk mendapatkan informasi tentang penyakitnya. Agar lebih jelas dapat diuraikan hak-hak pasien yaitu sebagai berikut:55 a.12. hlm. Shanon.

. hal ini sebagai dasr bagi relasi antara dokter dan pasien. 20. Kerjasama ini bukan atas inisiatif dokter yang pertama. tindakandan pelayanan lain kepada pasien pada sarana pelayanan kesehatan.57 f. maka tidak bisa dihindarkan konsekuensi bahwa ia mempunyai hak juga untuk menolak pengobatan. dan dokumen tentang identitas pasien. Catatan medis di rumah sakit Rekam medik adalah berkas yang berisi catatan. . Jika konfidensialitas tidak dapat dijamin. hlm. Kebutuhan pasien atas catatan medis sebagai dasar pengetahuan untuk melaksanakan hak otonominya. tetapi atas inisiatif pasien. Hak untuk menolak pengobatan Jika seseorang mempunyai hak untuk memberi persetujuan dengan suatu pengobatan_atas dasar informasi yang diberikan sebelumnya. Hak atas pendapat kedua Yang dimaksud dengan pendapat kedua ialah adanya kerjasama antara dokter pertama dengan dokter kedua. d. pemeriksaan. maka orang akan enggan mencari bantuan medis. Penolakan seperti ini sebagai perwujudan otonomi pasien dalam hak menentukan dirinya.38 c. Dokter pertama akan memberikan seluruh hasil pekerjaannya kepada dokter kedua. pengobatan. 57 Ibid. Hak atas privacy Konfidensialitas dan perlindungan informasi yang diperoleh tenaga medis dalam hubungan dengan pasiennya adalah sangat penting.

Pandangan Kode Etik Kedokteran Tugas profesional dokter begitu mulia dalam pengabdiannya kepada sesama manusia dan tanggung jawab dokter makin tambah berat akibat kemajuan-kemajuan yang dicapai oleh ilmu kedokteran. 79. 59 . Dari pandanag Hippocrates tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa dokter tidak lagi mengobati penyakit-penyakit yang sebenarnya tidak perlu diobati atau 58 Djoko Prakoso. dan tidak mengobati kasus-kasus yang tidak memerlukan pengobatan. sehingga kemulyaan profesi dokter tersebut tetap terjaga dengan baik. umumnya semua pejabat dalam bidang kesehatan. hlm. Kalau dalam prakteknya disertai oleh norma-norma etik dan moral. Ada batas ketika penyembuhan tidakberdaya lagi. menyingkirkan penyakit. Euthanasia. Saya tidak akan memberikan obat yang mematikan kepada siapapun meskipun dimintanya. Dengan demikian. Pada umumnya kode etik tersebut didasarkan pada sumpah Hippocrates. Dokter harus mengenali dan menerima kedatangan saatsaat maut bagi pasiennya. Dan pastinya di setiap Negara mempunyai kode etik kedokteran sendiri-sendiri. Keahlian dibidang ilmu dan teknik baru dapat memberi manfaat yang sebesarbesarnya. bahkan sebagai seorang yang berpengetahuan ia harus menunjukannya dengan perbuatan.39 3. yaitu jangan berusaha untuk menyembuhkannya. Euthanasia. Petrus Yoyo Karyadi. Para dokter. karena ini berarti membohongi diri sendiri dan pasiennya……. dokter tidak dapat berharap ia akan dapat menyembuhkan setiap pasiennya. harus memenuhi segala syarat keahlian dan pengertian tentang susila jabatan. atau menganjurkan kepada mereka untuk tujuan itu. hlm. Manusia pada akhirnya akan mati.58 Di antara sumpah Hippocrates adalah sebagai berikut:59 Ilmu kedokteran adalah upaya untuk menaggulangi penderitaan si sakit. 83-84. maka setiap dokter perlu menghayati etika kedokteran . Hal tersebut diinsyafi oleh para dokter diseluruh dunia.

1980).40 tidak membohongi pasien yang sebenarnya sudah tidak memerlukan obat. maka dokterpun sudah tidak berkompeten lagi untuk melakukan medikasi terhadap pasiennya. (Jakarta: Metro Kencana. Tindakan ini diambil setelah diperhitungkan masak-masak bahwa tidak ada jalan lain untuk menyelamatkan jiwa si sakit selain pembedahan. 60 . Untuk itu manusia diberi akal. Apabila pengobatan atau perawatan sudah tidak ada gunanya. Misalnya dengan memberikan resep tetentu atau dengan memberikan medikasi lainnya.35. Hippocrates tetap menolak tindakan euthanasia aktif.). Salah satu pasal dari Kode Etik Kedokteran Indonesia yang relevan dengan masalah euthanasia. Dan berarti hippocrates tidak akan memberikan obat yang memetikan sekalipun pasien telah memeintanya. hlm. Disamping itu dokter tidak harus terus berupaya mengobati penyakit-penyakit yang tidak dapat disembuhkan kembali."60 Dalam penjelasan pasal 9 di atas. kemampuan berfikir dan mengumpulkan Ratna Suprapti Samil (ed. meskipun hal itu kadang-kadang akan terpaksa melakukan tindakan medik lain misalnya operasi yang membahayakan. Naluri terkuat dari makhluk hidup termasuk manusia adalah mempertahankan hidupnya. yang selalu mengandung resiko. adalah pasal 9 yang berbunyi: "Seorang dokter harus senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi hidup makhluk insani. Dengan sendirinya dokter harus mempertahankan dan memelihara kehidupan manusia. Kode Etik Kedokteran Indonesia. Dalam situasi apapun keadaan pasien. diuraikan bahwa segala perbuatan terhadap si sakit bertujuan memelihara kesehatan dan kebahagiaannya.

86 Ibid. apalagi dengan motif-motif tertentu. Tidak perlu mengakhiri hidupnya. Dengan kata lain. Bila dirasakan penyakit pasien sudah tidak dapat disembuhkan kembali. Akan tetapi. Hal ini. membangun dan mengembangkan ilmu untuk menghindarkan diri dari bahaya maut adalah merupakan tugas dokter. 62 . not life judgers). berarti ia juga menerima euthanasia dalam bentuk pasif. Begitu juga dengan kode etik kedokteran Indonesia. Dokter adalah orang yang menyelamatkan atau memelihara kehidupan. misalnya mencari keuntungan sebesar-besarnya di atas penderitaan orang lain.61 Sebetulnya kode etik kedokteran Indonesia sudah lama berorientasi pada pandangan-pandangan Hippocrates yang telah lama menerima euthanasia pasif. bukan orang yang menentukan kehidupan itu sendiri (life savers. Medical ethics must be pro life. Euthanasia. Dengan demikian. not pro death. maka lebih baik dokter membiarkan pasien meninggal dengan sendirinya. hlm. jelas bahwa Kode etik kedokteran Indonesia melarang tindakan euthanasia aktif. Asalkan jangan mengadaada melakukan tindakan medik (yang sebetulnya tindakan medik itu sudah tidak diperlukan lagi). dan juga tidak perlu berusaha keras untuk mempertahankan kehidupannya. walaupun menurut ilmu kedokteran dan pengalamannya pasien tidak mungkin sembuh. Ia harus berusaha memelihara dan mempertahankan hidup makhluk insani.41 pengalamannya. dokter tidak boleh bertindak sebagai Tuhan (don’t play god). perawatan (pengobatan) seperlunya masih tetap dilakukan. karena kematiannya sudah tidak dapat dihindarkan lagi.62 61 Petrus Yoyo Karyadi. Jadi. berarti doktert dilarang mengakhiri hidup pasien (euthanasia).

memang belum ada pengaturan (dalam bentuk undang-undang) yang khusus dan lengkap tentang euthanasia. adalah apa yang terdapat di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Indonesia. Tetapi bagaimanapun karena masalah euthanasia menyangkut soal keamanan dan keselamatan nyawa manusia.42 Adalah tugas ilmu kedokteran untuk memebantu meringankan penderitaan pasien. R. buku II. pada Bab XIX. yang dapat dijumpai dalam Bab XIX. Euthanasia dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) Di Indonesia dilihat dari perundang-undangan dewasa ini. dari pasal 338 sampai pasal 350 KUHP. Maka satusatunya yang dapat dipakai sebagai landasan hukum. 1996). buku II. yaitu:64 63 Imron Halimi. (Bogor: Politeia. Euthanasia. Pasien yang benar-benar menderita atas penyakitnya. sudah menjadi tugas dokter untuk ikut membantu meringankan penderitaanya. Soesilo.243 64 . maka harus dicari pengaturan atau pasal yang sekurang-kurangnya sedikit mendekati unsur-unsur euthanasia itu. walaupun kadang-kadang dari tindakan peringanan tersebut dapat mengakibatkan hidup pasien diperpendek secara perlahan-lahan (euthanasia tidak langsung). hlm. Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) serta komentar-komentarnya lengkap pasal demi pasal. 5. hlm. atau bahkan berusaha menyembuhkan penyakit selama masih dimungkinkan.149-150. khususnya pasal-pasal yang membicarakan masalah kejahatan nterhadap nyawa manusia.63 Dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) pasal yang menyinggung masalah euthanasia ini secara pasti tidak ada. tetapi satu-satunya pasal yang lebih mengena yaitu pasal 344.

71.43 Barang siapa menghilangkan jiwa orang lain atas permintaan orang itu sendiri. yang disebutkan dengan nyata dan dengan sungguh-sungguh.65 dan haruslah mendapatkan perhatian. Petrus Yoyo Karyadi. Ditinjau dari segi yuridis. euthanasia dapat diuraikan sebagai berikut:67 a. hlm. kalimat “permintaan sendiri yang dinyatakan dengan kesungguhan hati” harus disebutkan dengan nyata dan sungguh-sungguh (ernstig). jika tidak maka orang itu dikenakan pembunuhan biasa. dan unsur sungguh (ernstig). Euthanasia aktif terbagi dalam tiga kelompok. Euthanasia aktif Euthanasia aktif terjadi apabila dokter atau tenaga medis lainnya secara sengaja melakukan suatu tindakan untuk mengakhiri atau memeperpendek (mengakhiri) hidup pasien. Djoko Prakoso. karena unsur inilah yang akan menentukan apakah orang yang melakukannya dapat dipidana berdasar pasal 344 KUHP atau tidak. unsur permintaan yang tegas (unitdrukkelijk).66 Masalah euthanasia ini merupakan masalah yang kompleks dari segi sifatnya. Euthanasia. maka agar lebih mudah untuk difahami perlu diterangkan dan dibagi secara lebih terperinci. hlm. dihukum penjara selama-lamanya dua belas tahun.54-71 66 67 . Euthanasia. 344 KUHP 65 Ibid. yaitu: 1) Euthanasia aktif atas permintaan pasien Pasal. Agar unsur ini tidak disalahgunakan. Dalam pasal di atas. harus dapat dibuktikan baik dengan adanya saksi atau pun oleh alat-alat bukti lainnya. maka dalam menentukan benar tidaknya seseorang telah melakukan pembunuhan karena kasihan ini.

359 b). 359 b. Untuk dapat memudahkan euthanasia pasif ini juga dibedakan menjadi tiga. euthanasia tidak langsung terbagi kedalam tiga kelompok. yaitu: a). KUHP 4) Euthanasia tidak langsung Euthanasia tidak langsung terjadi apabila dokter atau tenaga medis lainnya tanpa maksud mengakhiri hidup pasien melakukan tindakan medis untyuk meringankan penderitaan pasien. walaupun dengan mengetahui adanya resiko bahwa dari tindakan medik tersebut dapat mengakibatkan hidup sipasien diperpendek. yaitu: . 340 KUHP 3) Euthanasia aktif tanpa sikap dari pasien Pasal. 340.44 2) Euthanasia aktif tanpa permintaan pasien Pasal. Euthanasia tidak langsung tanpa sikap pasien Pasal. 338. 344. Euthanasia tidak langsung tanpa permintaan pasien Pasal. Euthanasia tidak langsung atas permintaan pasien Pasal. 304. 340. 359 c). Seperti halnya dengan euthanasia aktif. Euthanasia pasif Euthanasia pasif terjadi terrjadi apabila dokter atau tenaga medis lainnya secara sengaja tidak memberikan bantuan medik terhadap pasien yang dapat memperpanjang hidupnya.

Euthanasia pasif atas permintaan pasien Tidak dihukum 2). dihukum penjara selama-lamanya dua belas tahun. 304 jo 306 (2) Maka agar dapat mengetahui hukuman atas tindakan tersebut perlu disebutkan pasal-pasalnya. Pasal. hlm. Euthanasia pasif tanpa sikap pasien Pasal. 304 KUHP: Barangsiapa dengan sengaja menyebabkan atau membuarkan orang dalam kesengsaraan. 344 KUHP: "Barangsiapa menghilangkan jiwa orang lain atas permintaan orang itu sendiri.500. Euthanasia pasif tanpa permintaan pasien Pasal. dengan hukumkan penjara selama-lamanya lima belas tahun. 304 jo 306 (2) 3). perawatan atau pemeliharaan pada orang itu karena hukum yang berlaku atasnya atau karena menurut operjanjian. 338 KUHP: "Barang siapa dengan sengaja menghilangkan jiwa orang lain. sedang ia wajib memberi kehidupan.223-248 . pasal-pasal tersebut adalah:68 Pasal.45 1). Soesilo. sitersalah itu dihukum penjara selam-lamanya sembilan tahun. dihukum penjara selama-lamanya dua tahun delapan bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp." Pasal." 68 R." Pasal. 4. karena makar mati. KItab undang-undang. 306 KUHP: "Kalau salah satu perbuatan ini menyebabkan orang mati. yang disebutkannya denagn nyata dan dengan sungguh-sungguh. dihukum.

Adalah suatu kenyataan sampai sekarang bahwa tanpa membedakan agama. tentang keamanan dan keselamatan nyawa manusia Indonesia dijamin oleh undang-undang." Kalau diperhatikan bunyi pasal-pasal mengenai kejahatan terhadap nyawa manusia dalam KUHP tersebut. Oleh sebab itu setiap perbuatan apapun motif dan macamnya sepanjang perbuatan tersebut mengancam keamanan dan keselamatan nyawa manusia. Demikian halnya terhadap masalah euthanasia ini. ras. maka dapatlah kita dimengerti betapa sebenarnya pembentuk undang-undang pada saat itu (zaman Hindia Belanda) telah menganggap bahwa nyawa manusia sebagai miliknya yang paling berharga. warna kulit dan ideologi. maka hal ini dianggap sebagai suatu kejahatan yang besar oleh negara. 359 KUHP: "Barangsiapa karena salahnya menyebabkan matinya orang dihukum penjara selama-lamanya lima tahun atau kurungan selama-lamanya satu tahun. .46 Pasal.

2004) hlm. as-sariqah (pencurian). bukan sekedar ancaman di akhirat.47 BAB III PRINSIP-PRINSIP FIQH JINAYAH A. (Bandung: Pustaka Bani Quraisy. al-hirabah (perampokan). Aturan-aturan tersebut dikelompokan oleh para ulama dalam bab fiqh dengan nama al-hudud. addima. Makna sempit al-Jinayat sejajar dengan makna al-qisas. Hal ini terlihat. al-qisas dan al-jarah. Kaidah Fiqh Jinayah (asas-asas hukum pidana Islam). Baik dalam alQur'an maupun as-Sunah terdapat sanksi-sanksi yang mengikat yang harus ditegakan di dunia. ar-riddah (keluar dari Islam atau murtad). melainkan juga menyediakan aturan-aturan yang bersifat imperatif. ad-dima atau Jaih Mubarok dan Enceng Arif Faizal.1. Islam tidak sekedar mengajarkan ajaran moral saja. Kata al-Jinayat memiliki makna sempit dan makna luas. aljarah (penganiayaan atau pelukaan). al-bughat (pemberontakan). syurb al-khamr (minum-minuman keras). diantaranya dari aturanaturan yang berkenaan dengan jarimah az-zina (perzinaan). Pengertian Fiqh Jinayah Salah satu kesempurnaan syariat Islam adalah adanya aturan-aturan yang berkenaan dengan hukum publik. dan al-qatl (pembunuhan).69 Istilah yang umum bagi aturan tersebut adalah al-jinayat yang sering kali diartikan dengan Hukum Pidana Islam. 69 . al-qadžaf (tuduhan zina).

12 . II:. dan agama. Walaupun demikian. 71 70 Rahmat Hakim. kedua istilah tersebut harus diperhatikan dan difahami agar penggunaannya tidak keliru. pada dasarnya kata jinayah artinya perbuatan dosa. Dengan demikian. dan harta benda. keturunan. ada dua istilah penting yang terlebih dahulu harus dipahami. Kedua istilah ini secara etimologis mempunyai arti dan arah yang sama.71 Abdul Qadir Audah dalam kitabnya at-Tasyri' al-Jina'i al-Islami menjelaskan arti kata jinayah sebagai berikut: Abd al-Qadir 'Awdah. jiwa. Jinayah adalah semua perbuatan yang diharamkan. Perbuatan yang diharamkan adalah tindakan yang dilarang atau dicegah oleh syara' (Hukum Islam). at-Tasyri' al-Jina'i al-Islami Muqaranah bi al-Qanun al-Wadh'i. yaitu setiap perbuatan yang dilarang (haram) berkenaan dengan penganiayaan terhadap tubuh dan penghilangan jiwa manusia.48 al-jarah. baik berkenaan dengan tubuh. Hukum Pidana Islam (fiqh jinayah).4. Selain itu. (Beirut: Muassasat al-Risalat. maupun dengan hal-hal lainnya seperti kehormatan. jiwa. perbuatan salah atau jahat. istilah yang satu menjadi muradif (sinonim) bagi istilah lainnya atau keduanya bermakna tunggal. (Bandung: CV. akal. harta. Apabila dilakukan perbuatan tersebut mempunyai konsekuensi membahayakan agama. 2001) hlm. Jinayah. akal. kehormatan. Sedangkan makna aljinayat secara luas sejajar dengan al-jarimat.70 Dalam mempelajari Fiqh Jinayah. Pertama adalah istilah jinayah itu sendiri dan kedua adalah jarimah. yaitu setiap perbuatan yang dilarang. Pustaka Setia. kedua istilah berbeda dalam penerapan kesehariannya. 1992).

Oleh karena itu. pencurian.74 Adapun dalam pemakaiannya kata jinayah lebih mempunyai arti lebih umum (luas). 2000). Seperti jarimah pencurian. terj. Fadhli Bakri. atau perbuatan yang berkaitan dengan politik dan sebagainya. atau ta'zir (sanksi disiplin) kepada pelakunya. II: 4 Imam al-Mawardi. jarimah pembunuhan. al-Ahkam as Sultaniyah (Prinsip-prinsip Penyelenggaraan Negara Islam. pelanggaran yang 72 Abd Qadir Audah. perkosaan. atau sifat dari perbuatan dosa tersebut.73 Jarimah bisa dipakai sebagai perbuatan dosa –bentuk. Adapun pengertian jarimah segala tindakan yang diharamkan syari'at. Semua itu disebut dengan istilah jarimah yang kemudian dirangkaikan dengan satuan sifat perbuatan tadi.15 . at-Tasyri'. Misalnya. 74 73 Rahmat Hakim. Hukum. hlm. jelek. 358. atau dosa. pembahasan fiqh yang memuat masalah-masalah kejahatan. hlm.49 ‫الجناية لغة اسم لما يجنيه المرء من شر ما اكتسب واصطلحا‬ ‫اسم لفعل محرم شرعا سواء وقع الفعل على نفس او مال او غير‬ 72 ‫ذالك‬ Kata jarimah mengandung arti perbuatan buruk. yaitu ditujukan bagi sesuatu yang ada sangkut pautnya dengan kejahatan manusia dan tidak ditujukan bagi satuan perbuatan dosa tertentu. jarimah perkosaan dan lain-lain. Jadi pengertian jarimah secara harfiyah sama halnya dengan pengertian jinayah. (Jakarta: Darul Falah. Allah ta'ala mencegah terjadinya tindak kriminal dengan menjatuhkan hudud (hukum syar'i). macam. pembunuhan.

jarimah qisas yaitu jarimah yang hukumannya telah ditetapkan oleh syara'.76 Dilihat dari sanksi yang telah ditetapkan atau tidak oleh syara'. dan hukuman yang diancamkan kepada pelaku tersebut disebut Fiqh jinayah bukan Fiqh jarimah. hlm. 110-111. Abd Qadir Audah.50 dikerjakan manusia. Unsur moral adalah orang yang melakukan perbuatan pidana tersebut terkena taklif atau orang yang telah mukallaf. Kedua. keluar dari Islam dan memberontak. yaitu unsur formal (ar-rukn asy-syar'i). Unsur material adalah adanya perbuatan pidana. Unsur formal adalah adanya nas yang melarang perbuatan-perbuatan tertentu disertai dengan ancaman hukuman atas perbuatanperbuatan tersebut. minum-minuman keras. jarimah dapat dibedakan menjadi tiga. baik melakukan perbuatan yang dilarang atau meninggalkan perbuatan yang diperintahkan. jarimah hudud yaitu jarimah yang hukumannya telah ditetapkan baik bentuk maupun jumlahnya oleh syara'. Pertama. Jarimah yang termasuk jarimah hudud adalah jarimah zina. 76 . at-Tasyri'. Ia menjadi hak Tuhan. Pada jarimah qisas. dan unsur moral (ar-rukn al-adabi). namun ada perbedaan dengan jarimah hudud dalam hal pengampunan. merampok. unsur material (ar-rukn al-madi). hakim tidak mempunyai kewenangan untuk mempertinggi atau memperendah hukuman bila si pelaku telah terbukti melakukan jarimah tersebut. menuduh zina. ada tiga unsur seseorang dianggap telah melakukan perbuatan jarimah. Perbuatan yang 75 Ibid. hukuman bisa berpindah kepada ad-diyat (denda) atau bahkan bebas dari hukuman.75 Secara umum. apabila korban atau wali korban memaafkan pelaku. mencuri.

seumpama (al-Mumasilah).51 termasuk dalam jarimah qisas adalah pembunuhan dan pelukaan. II: 7-9. jarimah ta'zir78 yaitu jarimah yang hukumannya tidak ditetapkan baik bentuk maupun jumlahnya oleh syara'. Adapun maksud yang Para ulama berbeda pendapat dalam membagi jarimah qisas. Ulama Malikiyah membaginya menjadi dua. tetapi diserahkan sepenuhnya kepada kebijaksanaan hakim/penguasa. Anwar Harjono. yaitu pelukaan sengaja dan kekeliruan. at-Tasyri'. (Jakarta: Bulan Bintang. 1968). Fiqh jinayah. yaitu: pembunuhan sengaja dan kekeliruan. (upaya menanggulangi kejahatan dalam Islam). Lihat abd alqadir 'awdah.159 A. melainkan diberikan kepada negara kewenangannya untuk menetapkannya sesuai dengan tuntutan kemaslahatan. 79 78 77 . dan kekeliruan.79 B. Sebagian Hanafiyah lainnya membaginya menjadi lima dengan menambahkan pembunuhan secara tidak langsung. yang menurut bahasa berarti mencela. Djazuli. Qisas Kata qisas kadang-kadang dalam hadis disebut dengan kata qawad.77 Ketiga. hlm. yaitu pembunuhan sengaja. semi sengaja. Jarimah Qisas-Diyat 1. sedang menurut istilah berarti peraturan larangan yang perbuatan-perbutan pidananya dan ancaman hukumannya tidak secara tegas-tegas disebutkan dalam al-Qur'an. Maksudnya adalah semisal.(Jakarta: PT. Jumhur membaginya menjadi tiga dengan menambahkan pembunuhan semi sengaja. Pembunuhan terbagi kepada tiga. dengan menambahkan pembunuhan serupa kekeliruan. Para fuqaha mengartikan ta'zir dengan hukuman yang tidak ditemukan dalam alQur'an dan al-Hadis yang berkaitan dengan kejahatan yang melanggar hak Allah dan hak hamba yang berfungsi untuk memberi pelajaran kepada si terhukum dan mencegahnya supaya tidak mengulangi kejahatan serupa. hlm.161. lihat. Raja Grafindo Persada. Hukum Islam keluasan dan keadilannya. Sedangkan pelukaan terbagi menjadi dua. Sebagian Hanafiyah membaginya menjadi empat. Ta'zir berasal dari 'azzara. 1997).

kecuali ada kerelaan dari kedua pihak. bentuk jarimah ini ada dua. Dalam ungkapan lain adalah pelaku akan menerima balasan sesuai dengan perbuatan yang dia lakukan. Abdul Qadir Audah mendefinisikan qisas sebagai keseimbangan atau pembalasan terhadap si pelaku tindak pidana dengan sesuatu yang seimbang dari apa yang telah diperbuatnya. as-Sunnah. ‫و لكم فى القصاص حياة يا اولى اللباب‬ Qisas adalah hukuman pokok bagi perbuatan pidana dengan objek sasaran jiwa atau anggota badan yang dilakukan dengan sengaja. Dia dibunuh kalau dia membunuh dan dilukai kalau dia melukai atau menghilangkan anggota badan orang lain. Al-Baqarah (2): 179 Rahmat Hakim. Hukum Pidana Islam. 125 81 82 . Hukum pidana Islam. menghilangkan anggota badan dengan sengaja.52 dikehendaki syara' adalah kesamaan akibat yang ditimpakan kepada pelaku tindak pidana yang melakukan pembunuhan atau penganiayaan terhadap korban. Hukuman ini disepakati oleh para ulama. demikian pula akal memandang bahwa disyariatkannya qisas adalah demi keadilan dan kemaslahatan. seperti membunuh. Oleh karena itu. Bahkan ulama Hanafiyah berpendapat bahwa pelaku pembunuhan sengaja harus diqisas (tidak boleh diganti dengan harta).125. melukai. Ulama 80 Rahmat Hakim. hlm. Hal ini ditegaskan dalam al-Qur'an:81 . hlm. yaitu pembunuhan sengaja dan penganiayaan sengaja.82 Sanksi pokok dalam pembunuhan sengaja yang telah di-naskan dalam alQuran dan al-Hadis adalah qisas.80 Qisas diakui keberadaannya dalam al-Qur'an.

II:173 Abu Dawud. 1988). 4539. hadis nomor. maka tempatnya juga terbatas yaitu hanya pada pembunuhan karena kesalahan. Sedangkan pembunuhan sengaja adalah neraka jahannam. Al-fiqh al-Islam wa Adillatuh. (Semarang: Maktabah Ahmad bin Said bin Nabhan. dalam al-Hadis disebutkan:87 83 Wahbah az-Zuhaili. Di dalam al-Quran sendiri tidak mewajibkan kaffarah.). 1991) VI:261 Ibid.. Pembunuh menyengaja perbuatannya.86 Begitu juga dengan orang yang tidur/ayan. (Beirut: Dar al-Fikr. Pembunuh adalah orang mukallaf (balig dan berakal).296 Wahbah az-Zuhaili. Sunan Abi Dawud. menurut jumhur ulama bahwa kaffarah dalam pembunuhan sengaja tidak wajib karena kaffarah adalah ketentuan syariah untuk beribadah. al fiqh. riwayat sufyan dari amr dan tawus 87 86 . seandainya bagi pelaku pembunuhan sengaja wajib membayar kaffarah. IV: 183. maka tidaklah qisas apabila pelakunya adalah anak kecil atau orang gila. Bab Man Qatala fi 'immiya baina qaumain (Beirut: Dar al-Fikr. 2).t. hlm. karena perbuatannya tidak dikenai taklif. Syarat-syarat bagi pembunuh Syarat-syarat bagi pembunuh ada tiga yaitu: 1). al-Muhazzab. karena mereka tidak punya niat/maksud yang sah. kitab ad-Diyah.84 Ada beberapa syarat yang diperlukan untuk dapat dilaksanakannya qisas yaitu:85 a. VI: 297 84 85 Abu Ishaq Ibrahim ibn Ali ibn Yusuf al-Fairuz Abadi asy-Syairazi.83 Ulama berbeda pendapat tentang sanksi bagi pembunuhan sengaja yang berupa kaffarah.53 Syafi'iyyah menambahkan bahwa disamping qisas pelaku pembunuhan juga wajib membayar kaffarah. t. pasti al-Quran menjelaskan secara detail.

t. 2).245. kakek/nenek yang membunuh anak/cucunya sampai derajat kebawah berdasarkan pada hadis: 88 ‫أنت ومالك لابيك‬ 89 ‫ل يقاد الوالد بالولد‬ 3). Sunan Ibn Majah. jika orang muslim atau zimmi membunuh mereka. tidak diqisas ayah/ibu. (Beirut: Dar Ihya al-Kitab al-Arabiyah. II: 769. murtad. hadis nomor 1191. Adapun yang dipandang tidak dilindungi darahnya adalah kafir harbi. Korban adalah orang yang dilindungi darahnya. Pembunuh mempunyai kebebasan bukan dipaksa.). penganut zindiq dan pemberontak. Al-Hafiz Ibnu Hajar al-'Asqalani. t.54 ‫من قتل عمدا فهو قود‬ 3). Korban sama derajatnya dengan membunuh dalam Islam dan kemerdekaannya. (Bandung: Maktabah Dahlan. Syarat-syarat bagi yang terbunuh/korban Syarat-syarat bagi yang terbunuh (korban) ada tiga. t. Korban bukan anak/cucu pembunuh (tidak ada hubungan bapak dan anak). Kitab al-Jinayah.t. pezina muhsan. maka hukum qisas tidak berlaku. Bulug al-Maram. b. statemen ini dikemukakan oleh jumhur (selain Ibn Majah. (riwayat at-Tirmidzi dan ibn Majah). artinya jika membunuhnya karena terpaksa.). tetapi menurut jumhur tetap diqisas walaupun dipaksa. yaitu: 1). maka menurut Hanafiyah tidak diqisas. hlm. Kitab at-Tijaroh. riwayat jabir ibn Abdullah. Bab ma li ar rajul min ma li waladih. 89 88 . hadis nomor: 2291.

Al-Maidah (5): 45 Jaih Mubarok.90 Ulama Hanafiyah tidak mensyaratkan persamaan dalam kemerdekaan dan agamanya. Dengan ketentuan ini maka tidak diqisas seorang Islam yang membunuh orang kafir. Hlm. Adapun hadis nabi yang menyatakan bahwa "muslim tidak diqisas karena membunuh kafir".93 Hal ini dikuatkan oleh sebuah hadis yang menyatakan bahwa Nabi pernah melaksanakan qisas terhadap muslim yang membunuh Yahudi. sebagaimana terlihat dalam hadis berikut: 90 Jaih Mubarok.55 Hanafiyah). kalimat jiwa dibalas dengan jiwa" menunjukan bahwa dasar qisas itu adalah hilangnya jiwa atau nyawa sehingga tidak ada perbedaan antara orang merdeka dengan hamba atau muslim dengan kafir. tapi cukup persamaan dalam kemanusiaannya. Kaidah Fiqh jinayah. Sebab. Al-Baqarah. kafir yang dimaksud adalah kafir harbi. hlm165. ayat di atas menunjukkan bahwa dalam qisas tidak harus ada kesetaraan. Kaidah fiqh jinayah.(2): 178. mereka berargumen dengan keumuman ayat qisas yang tidak mendiskriminasikan antara satu dengan yang lainnya. Allah berfirman: 91 ‫يا أيها الذين أمنوا كتب عليكم القصاص في القتلى‬ 92 ‫و كتبنا عليهم فيها ان النفس بالنفس‬ Menurut Hanafiyah. orang merdeka yang membunuh budak. 91 92 93 . 167. bukan kafir zimmi atau musta'min.

kaidah fiqh jinayah.Lihat Muhammad 'abd al-Hamid Abu Zayd. 1982). Kitab alHudud wa ad-Diyyat wa Gairuh. Sebab ayat tersebut dimaksudkan untuk menjawab kebiasaan jahiliyah yang menerapkan qisas secara berlebihan. 167-168. 1986). Ayat tersebut menjelaskan bahwa orang yang harus diqisas adalah pembunuhnya. (Dar al-Nahdah al-Arabi. sedangkan pembunuhnya (dari kabilah lain) adalah seorang wanita. al-Qisas wa al-Hayat: Dirasah Muqaranah bain asy-Syari'ah al-Islamiyah wa al-Qanun al-Wad'i.56 ‫أن النبي صلي ال عليه وسلم أقاد مسلما قتل يهوديا وقال‬ 94 ‫الرمادي أقاد مسلما بذمي وقال أنا أحق من وفي بذمته‬ Sedangkan ayat yang dijadikan landasan oleh jumhur yang menyatakan bahwa "orang merdeka dengan orang merdeka". Sunan ad-Daruqutni.95 Ali bin 'Amr Abu al-Husayn al-Daruqutni al-Bagdadi. Permintaan ini seringkali menimbulkan konflik (bahkan sampai terjadi peperangan) antar kabilah jika tidak dipenuhi. hanya sekedar mencontohkan pelaku dan korbannya dengan tidak menafikan kebalikannya. "hamba dengan hamba". "hamba dengan hamba". 93-94. Wali korban beserta kabilahnya meminta balasannya tidak sekedar wanita yang membunuh tetapi ditambah dengan laki-laki merdeka. Pada masa jahiliyah. (Bayrut: Alam al-Kutb. 95 Jaih mubarok. hlm. tidak menunjukkan adanya kafaah. 94 . III: 135. Kalimat "orang merdeka dengan orang merdeka". Misalnya. dan "wanita dengan wanita". h. meskipun kedudukannya lebih rendah. dan wanita dengan wanita". korban yang terbunuh dari suatu kabilah adalah laki-laki merdeka. wali korban dari suatu kabilah (terutama kabilah yang kuat) meminta balasan yang lebih dari seharusnya.

untuk dapat dikenakan qishas. tindak pidana pembunuhan yang dimaksud harus tindak pidana langsung bukan bukan karena sebab tertentu. maka hanya dikenai membayar diyat. jika tidak langsung. Kedudukan mereka setara dalam hal qisas. baik pembunuhan itu langsung atau karena sebab. Kitab aj-Jihad. Syarat-syarat bagi perbuatannya Hanafiyah mensyaratkan. at-Tasyri'. 97 96 Abddul Qadir Audah. jika tidak. wali korban yang berhak untuk mengqisas haruslah orang yang diketahui identitasnya.57 Adapun berkenaan dengan laki-laki muslim dengan perempuan muslim. riwayat Kutaibah bin Sa'id dari ibn Ishaq dan Yahya bin Sa'id. maka tidak wajib diqisas. Hal ini didasarkan atas keumuman ayat yang menyatakan bahwa "jiwa dibalas denga jiwa" dan sabda Nabi saw berikut: 96 ‫المسلمون تتكافأ دماؤهم‬ c. Syarat-syarat bagi wali korban Menurut Hanafiyah. karena tujuan dari diwajibkanya qisas adalah pengokohan dari pemenuhan Abu Dawud. Sunan Abi Dawud. Bab fi as-Sariyyah. . para fuqaha sepakat bahwa di antara mereka tidak ada perbedaan. III: 80. Tidak ada perbedaan antara tua dengan muda atau sehat dengan sakit. Sedangkan jumhur tidak mensyaratkan itu. II: 132.97 d. pelakunya wajib dikenai qishas karena keduanya berakibat sama.

bantuan. tetapi Ulama Malikiyah memberi batasan. tetap dikenai qisas jika terlibat dalam kesepakatan kejahatan itu. Dan tiga syarat lagi menurut Hanafiyah yaitu: . 2) Perbedaan derajat antara pelaku dan korban pembunuhan dalam keIslaman dan kemerdekaannya. atau ia hanya memberikan semangat. 3) Ketidakadilan membunuh sesuai dengan yang telah disepakati. tetapi ternyata tidak semua yang menyepakati ikut hadir dalam pembunuhan. dan tidak melakukan secara langsung. keberadaan pembunuh sebagai orang tua si terbunuh menghalangi dilaksanakannya qisas. apabila ada kesepakatan untuk melakukan pembunuhan. Adapun hubungan suami isteri tidak menjadi halangan dilakukannya qisas. Berbeda dengan pendapat ulama malikiyah yang menyatakan bahwa orang yang hadir atau membantu walaupun tidak melakukan secara langsung. seperti pengintai atau penjaga pintu. Ini menurut jumhur fuqaha kecuali Hanafiyah. Jika ternyata ada maksud membunuh. yaitu ada enam hal: 1) Keberadaan pembunuh sebagai orang tua korban Menurut para Fuqaha Mazhab. maka orang tua korban juga harus diqisas. Berpijak pada keterangan tentang syarat-syarat qishas ada beberapa hal yang menghalangi dilaksanakannya qisas. Ini terjadi karena adanya kemungkinan masuknya unsur syubhat sehingga qisas tidak bisa dilaksanakan. hal ini selama tidak ada maksud membunuh yang dapat dibuktikan dengan qat'i. Sedangkan pembunuhan dari orang yang tidak diketahui identitasnya akan mengalami kesulitan dalam pelaksanaanya. maka menurut jumhur ulama orang yang tidak melakukan langsung itu hanya dita'zir.58 hak.

Al-Baqarah. Para ulama madzhab sepakat bahwa sanksi yang wajib bagi pelaku pembunuhan sengaja adalah qisas. (2). yaitu: jika mereka 98 Wahbah az-Zuhaili.59 4) Pembunuhan itu terjadi secara tidak langsung (karena satu sebab tertentu) 5) Wali korban majhul (tidak diketahui identitasnya) 6) Pembunuhannya terjadi di Dar al-kuffar98 Qisas wajib dikenakan setiap pembunuh. maka tidak ada kewajiban bagi pelaku untuk membayar diyat. IV: 183 99 100 . Sunan. VI: 274-275. hendaknya membayar diyat sebagai kompensasi pemberian maafnya wali. tetapi pembunuh dengan kesadarannya. Sesuai dengan ayat: ‫يا أيها الذين أمنوا كتب عليكم القصاص في القتلى الحر بالحر و‬ 99 ‫العبد بالعبد‬ 100 ‫من قتل عمدا فهو قود‬ Kedua dalil ini dengan tegas menyatakan bahwa hukum qisas bagi pembunuh adalah tertentu/pasti. Mereka boleh mengqisas/memaafkannya secara mutlak atau memaafkan dari qisas dengan membebani diyat sebagai penggantinya. al-Fiqh. Logika dari statement ini adalah: jika wali korban memaafkan secara mutlak (tidak menuntut diyat). 178 Abu Dawud. Tetapi tidak berarti wali terbatas dalam menentukan sikapnya. kecuali jika dimaafkan oleh wali korban. Hanabilah berpendapat bahwa hukuman bagi pelaku pembunuhan sengaja tidak hanya qisas. tetapi wali korban mempunyai dua pilihan.

1981). Sahih al-Bukhari. X: 67 . wajib bagi pelaku membayar diyat. jika terjadi pembunuhan hendaklah pelakunya diselidiki. maka dilaksanakanlah hukum qisas tetapi jika menginginkan diyat maka wajiblah membayar diyat tanpa menunggu keridlaan pembunuh. 1997). Artinya. qisas. Kitab ad-Diyah. bahkan pengganti dari qisas. Seandainya Allah mewajibkan qisas saja. namun keabsahan keluarga korban untuk melaksanakan ada dibawah wewenang hakim. Kemudian dari redaksi ayat tersebut berarti Allah mewajibkan al-Itba' karena adanya pemberian maaf dari wali. tentu Allah tidak mewajibkan diyat apabila ada ampunan atau maaf wali secara mutlak. alih bahasa H. (Beirut: Dar al-Fikr. Hal ini karena mereka berpendapat bahwa diyat adalah salah satu dari kerusakan jiwa. pelaku tetap berkewajiban membayar diyat. fikih sunnah. VIII: 38.A Ali (Bandung: PT. al-Maarif. 102 103 101 Al-Baqarah (2) : 178 Sayid Sabiq. Dasar hukum yang digunakan adalah hadis rasulullah SAW: 101 ‫من قتل له قتيل فهو بخير النظرين اما ان يؤدي و اما ان يقاد‬ Dan firman Allah swt dalam al-Qur'an: 102 ‫فمن عفي له من أخيه شيئ فاتباع بالمعروف واداء اليه باحسان‬ Dari ayat ini dapat dipahami. jika wali korban mengampuni.103 Abu Abdullah Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim ibn al-Mughirah ibn Bardizbah al-Ja'fi al-Bukhari. maupun ta'zir merupakan hak hakim. Artinya tuntutannya ini harus melalui pengadilan.60 menghendaki qisas. Tuntutan hukuman qisas merupakan hak para wali (keluarga korban). Dan jika ternyata wali korban memaafkan secara mutlak. Karena dalam kaidah dasar syara' yang telah disepakati disebutkan bahwa pelaksanaan sanksi hudud.

laki-laki maupun perempuan. Tetapi jika anak perempuan kandung bersama adanya ayah. at-Tasyri'. keluarga yang dekat didahulukan dari pada keluarga yang jauh. itu dapat melaksanakan qishas. ia tidak dapat mengqisas. semua asabah bin nafsi dengan prioritas. sehingga bibi dari pihak ayah /ibu tidak boleh. II: 140 . suami atupun isteri. Derajat atau kekuatan ahli waris perempuan tadi lebih kuat dibanding para asib. Perempuan tidak boleh mengqisas karena qisas itu menghilangkan fitnah. seperti anak dan saudara kandung.61 Selanjutnya apabila pelaksanaan qisas akan dilakukan oleh para wali sendiri (bukan oleh hakim dan algojonya). Perempuan itu merupakan ahli waris terbunuh. Hanabilah dan qaul rajihnya asy-Syafi'i yang berhak mengqisas adalah setiap ahli waris yang berhak mewarisi harta si korban baik zawil furud maupun asabah.104 Sedangkan menurut ulama Malikiyah yang berhak mengqisas adalah keluarga dari pihak ayah yang laki-laki. Tetapi Malikiyah memberikan kelonggaran. b. misalnya anak perempuan kandung bersama dengan adanya paman. 104 Abd Qadir Audah. maka dikhususkan kepada asabah seperti dalam perwalian pernikahan. yaitu perempuan boleh bertindak sebagai pelaksana qisas dengan tiga persyaratan: a. maka menurut Abu Hanifah.

VI: 280.105 Jika yang mengqisas masih kecil/gila maka ditunggu sampai kesempurnaannya dan diserahkan kepada hakim. tidak usah menunggu sampai baligh/sadarnya demi kemaslahatan pelaksanaan qisas itu sendiri. b. Pendapat ini menurut Imam Ahmad serta salah satu pendapat Imam Syafii. Adanya ampunan dari seluruh atau sebagian wali korban dengan syarat pemberi maaf itu sudah balig dan tamyiz. sebab hak dari mereka (para wali) adalah jiwa. Pada saat itu diwajibkan ialah membayar diyat yang diambilkan dari harta peninggalannya. hlm. karena jiwa pelakulah yang menjadi sasarannya.106 Hukuman qisas menjadi gugur dengan sebab-sebab sebagai berikut: a. Sedangkan menurut Imam Malik dan Hanafiyah tidak wajib diyat. Matinya pelaku kejahatan Kalau orang yang akan menjalani qisas telah mati terlebih dahulu.. Perempuan itu dalam derajatnya mempunyai laki-laki yang asabah. al-Fiqh. sedangkan hal tersebut telah tiada. Dan menurut Malikiyah. lalu diberikan kepada wali si terbunuh. Dengan demikian tidak ada alasan bagi para wali menuntut diyat dari harta peninggalan si pembunuh yang kini telah menjadi milik para ahli warisnya. maka dikecualikan saudara perempuan (tidak dapat mengqisas) karena adanya ibu. maka gugurlah qisas atasnya. 105 Ibid. Wahbah az-Zuhaili. 141. 106 .62 c.

sedangkan al-Afwu terkadang pengampunan qisas secara mutlak.108 e. 109 110 . I: 777-778 dan lihat Wahbah az-Zuhaili.110 Pendapat Malikiyah yang rajih dan sebagian Syafi'iyah: ‫ل يسقط القصاص برضا المجني عليه‬ Perbedaannya dengan al-Afwu (pengampunan) adalah kalau sulh itu pengguguran qisas dengan ganti rugi (kompensasi). Selain itu. Hlm. Adanya kerelaan/ izin korban. Akan tetapi mereka berbeda pendapat tentang posisi kerelaan tersebut dengan pemaafan korban atau wali korban yang dapat menggugurkan qisas atau diyat (bila dimaafkan secara mutlak). 108 107 Abdul Qadir Audah. al-Fiqh.63 c.109 Dalam hal adanya kerelaan/izin korban. Jaih mubaraok. Perbedaan tersebut adalah sebagai berikut: Menurut Hanafiyah: ‫يسقط القصاص برضا المجني عليه‬ Gugurnya qisas disebabkan karena adanya kerelaan atau izin korban yang dapat dipersamakan dengan pemaafan. al-Tasyri'. lihat Wahbah az-Zuhaili. VI: 294. at-Tasyri'.260. pada dasarnya para fuqaha sepakat bahwa adanya kerelaan korban untuk dibunuh tidak membolehkan seseorang melakukan pembunuhan.107 d. hlm. I: 440-441. Kaidah fiqh jinayah. Adanya penuntutan qisas. seperti kasus euthanasia. Oleh karena itu. Telah terjadi sulh (rekonsiliasi) antara pembunuh dan wali korban. kerelaan itu menjadi syubhat yang dapat menggugurkan hudud. hukuman berpindah kepada diyat.171 Abd al-Qadir awdah. al-Fiqh.

Sedangkan definisi menurut syar'i ialah wajibnya membayar sejumlah harta benda yang telah ditentukan syariat karena pembunuhan jiwa atau karena pencederaan badan. Ibid. pembunuhan tersebut tetap merupakan pembunuhan sengaja yang harus dihukum dengan qisas. 113 . Pembunuhan terhadap jiwa. Oleh karena itu. Pemaafan dari korban itu lebih utama dari pada keluarga sebab pemaafan itu menjadi hak bagi korban. 112 Menurut bahasa. diyat artinya membayar tebusan dengan sejumlah harta benda karena perbuatan: 1. sedangkan pemaafan ada setelah terjadi jarimah.64 Kerelaan korban tidak dapat dipersamakan dengan pemaafan karena kerelaan itu ada sebelum terjadi jarimah pembunuhan.112 2. Diyat Diyat113 adalah: 111 Ibid. dan 2. pencederaan badan.111 Pendapat Malikiyah yang arjah (lebih kuat) dan sebagian Syafi'iyah: ‫يسقط عقوبتى القصاص والدية برضا المجني عليه‬ Kerelaan korban dapat dipersamakan dengan pemaafan baik dari hukum asli (qisas) maupun penggantinya (diyat).

perak.65 ‫العقوبة البدلية الولى لعقوبة القصاص فإذا امتناع القصاص‬ ‫لسبب من اسباب المتناع او لسباب السقوط وجبت مالم يعف‬ 114 ‫الجانى عنها أيضا‬ Dengan definisi ini berarti diyat dikhususkan sebagai pengganti jiwa atau yang semakna dengannya. yang kadar nilainya disesuaikan dengan unta. yang wajib adalah seratus ekor unta bagi pemilik unta. artinya pembayaran diyat itu terjadi karena berkenaan dengan kejahatan terhadap jiwa/nyawa seseorang. Dua ratus ekor sapi bagi pemilik sapi. II:261 An-Nisa (5): 92 115 . pakaian. dua ratus ekor domba bagi 114 Abd Qadir 'Audah. uang. Pada mulanya pembayaran diyat menggunakan unta tetapi jika sulit didapatkan maka pembayarannya dapat menggunakan barang lainnya. Menurut kesepakatan ulama. dan lain sebagainya. seperti emas. Adapun dalil disyariatkannya diyat adalah firman Allah SWT: ‫ومن قتل مؤمنا خطأ فتحرير رقبة مؤمنة و دية مسلمة الى اهله‬ 115 ‫ال ان يصد قوا‬ Walaupun ayat ini dalam konteks pembunuhan bersalah namun para ulama sepakat akan wajibkan diyat dalam pembunuhan sengaja apabila qisas gugur karena suatu sebab. at-Tasyri'.

30 ekor jad'ah (unta berumur 5 tahun) c. seribu dinar untuk pemilik emas. X: 93 Wahbah az-Zuhaili. "Bab ad-Diyat". dan dua ratus stel pakaian untuk pemilik pakaian. (Bandung: Maktabah Dahlan.2. "Kitab al-Jinayat". 40 ekor khilfah (unta yang sedang mengandung) Adapun diyat mukhafafah itu dibebankan kepada pelaku pembunuhan kesalahan. VIII: 36 diriwayatkan dari Qasim bin Rabi'ah. hadis no. Subul as-Salam Syarah Bulug al-Maram. (Mesir: al-Bab al-Halabi. Sebagaimana Nabi SAW pernah bersabda:118 ‫ال وإن قتيل الخطأ شبه العمد بالسوط و العصا و الحجر مائة من‬ ‫البل فيها اربعون شنية الى بازل عمها كلهن خلفة‬ Jadi seratus ekor unta itu bila diperinci adalah: a. fikih sunnah.66 pemilik domba.t). Adapun diyat mugalazah menurut jumhur dibebankan kepada pelaku pembunuhan sengaja dan menyerupai sengaja. hal ini berdasarkan riwayat Ibn Mas'ud. III: 248. 117 An-Nasa'i. 119 Muhammad ibn Ismail ibn Shalah al-Amir al-Kahlani al-Shan'ani. HR. 118 . dibebankan kepada pelaku pembunuhan sengaja apabila waliyuddam menerimanya dan kepada bapak yang membunuh anaknya. ad-Daruqutni dari Ibn Mas'ud. t. 1994). al-Fiqh. VI.117 Jumlah diyat mugalazah adalah seratus ekor unta. Sunan an-Nasa'i. 304. 30 ekor hiqqah (unta berumur 4 tahun) b. yaitu diyat mugalazah dan diyat mukhafafah. dua belas ribu dirham untuk pemilik perak.116 Diyat ada dua macam. yang empat puluh di antaranya sedang mengandung. Nabi bersabda:119 116 Sayyid Sabiq. Sedangkan menurut Malikiyah.

baik pembunuhan sengaja. tetapi juga pada 'aqilah (wali/keluarga pembunuh). Sedangkan diyat pembunuhan syibhu amd adalah diyat mugalazah yang pembebanannya tidak hanya pada pelaku. 20 ekor bintu ma'khad (unta betina berumur 2 tahun) b. 20 ekor binti labun (unta betina berumur 3 tahun) d. tidak sengaja.67 ‫دية الخطأ اخماس عشرون حقة وعشرون جذعة وعشرون بنات‬ ‫مخاض وعشرون بنات لبون وعشرون بني لبون‬ Jadi ketentuannya adalah sebagai berikut: a. al-Fiqh. 20 ekor ibnu ma'khad (unta jantan berumur 2 tahun) c. maupun kesalahan. Hanya 120 Wahbah az-Zuhaili. Menurut Hanafiyah. Pembunuhan itu terjadi di tanah haram Mekkah b. Muharram dan Rajab c. 20 jad'ah Selanjutnya ulama Syafi'iyyah dan Hanabilah berpendapat bahwa pembunuhan tersalah dapat dikenai diyat mugalazah apabila: a. 20 hiqqah.120 Jadi diyat pembunuhan sengaja adalah diyat mugalazah yang dikhususkan pembayarannya oleh pelaku pembunuhan. zul Qa'dah. Pembunuhan itu terjadi di bulan haram. dan dibayar secara berangsur-angsur selama tiga tahun. pembayaran diyatnya secara berangsur-angsur selama tiga tahun.VII: 305-306 . zul Hijjah. dan dibayarkan secara kontan. Pembunuhan itu terhadap mahram seperti: ibu dan saudara perempuan. dan e.

jika qisas dilakukan sekaligus maka diyat penggantinya juga harus secara kontan dan pemberian tempo pembayaran merupakan suatu keringanan. t.t). Karena keringanan (pemberian tempo) itu hanya berlaku bagi 'aqilah.123 121 Wahbah az-Zuhaili.121 Para ulama sepakat bahwa diyat pembunuhan sengaja dibebankan pada para pembunuh dengan hartanya sendiri. II. Mereka menjelaskan bahwa sengaja atau kesalahannya anak kecil itu sama dengan argumant ada orang gila menerkam seorang laki-laki dengan pisau kemudian memukulnya..: 297 123 . Bidayah alMujtahid wa Nihayah al-Muqtasid.68 bagi 'amid (pembunuh sengaja) lebih diperberat dengan kewajiban membayar diyat mughaladzah dengan hartanya sendiri. al-Fiqh. padahal 'amid pantas dan harus diperberat dengan bukti diwajibkannya 'amid membayar diyat dengan hartanya sendiri bukan dari 'aqilah. VI: 307. Sedangkan jumhur ulama berpendapat bahwa diyat pembunuhan sengaja harus dibayar kontan dengan hartanya karena diyat merupakan pengganti qisas. 122 At-Tur (52): 21. (Indonesia: Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyyah. Muhammad ibn Ahmad ibn Muhammad ibn Ahmad Ibn Rusyd al-Qurtuby. Malik dan Syafi'i menyatakan diyatnya anak kecil adalah setengah kecuali pemerintah membebankan pada aqilahnya. Hal ini berdasarkan firman Allah swt: 122 ‫كل امرئ بما كسب رهين‬ Adapun jika pembunuhan disengaja itu dilakukan oleh anak kecil atau orang gila. 'Aqilah tidak menanggungnya karena setiap manusia dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya dan tidak dapat dibebankan kepada orang lain.

mutlak perlu mengetahui apa tujuan dari ketentuan itu.130- 125 131 .124 C. Topo Santoso. Apabila kebutuhan-kebutuhan ini tidak terjamin. al-Muhazzab. Ini merupakan hal-hal di mana kehidupan manusia sangat tergantung sehingga tidak dapat dipisahkan. Para ahli hukum Islam mengklasifikasi tujuan-tujuan dari fiqh jinayah yang merupakan tujuan-tujuan yang luas dari syariah sebagai berikut:125 Tujuan pertama Menjamin keamanan dari kebutuhan-kebutuhan hidup. Kelima kebutuhan hidup yang primer ini (daruriyyat) 124 Asy-Syairazi. karena tidak ada baginya taklif secara syara'. Melainkan di sana ada tujuan tertentu yang luas. (Bandung: asy Syaamil. akan terjadi kekacauan dan dan ketidaktertiban di mana-mana. 2001).69 Menurut Syafiiyah bahwa yang jelas perbuatan anak kecil itu dianggap sengaja apabila ia telah mumayyiz. jika belum mumayyiz maka dianggap kesalahan (khata') secara pasti. hlm. Tetapi baik ia sudah mumayyiz atau belum ia tidak dapat di qisas. Menggagas Hukum Pidana Islam. Dengan demikian untuk memahami pentingnya suatu ketentuan. II:173-174. Hanya saja ia dibebankan diyat dari hartanya sendiri dan 'aqilah tidak menanggung jika ia (pada saat berbuat jahat) sudah mumayyiz.Tujuan Fiqh Jinayah Pembuat hukum tidak menyusun ketentuan-ketentuan hukum dari syariah tanpa tujuan apa-apa.

keperluan-keperluan ini terdiri dari hal-hal yang menyingkirkan kesulitan-kesulitan dari masyarakat dan membuat hidup mudah bagi mereka. Syariat telah menetapkan pemenuhan. b. c. Ini mencakup hal-hal yang penting bagi ketentuan itu dari berbagai fasilitas untuk penduduk dan memudahkan kerja keras dan beban tanggungjawab mereka. Hifz an-Nafsi (memelihara jiwa). yaitu: a. kemajuan dan perlindungan tiap-tiap kebutuhan itu dan menegaskan ketentuan-ketentuan yang yang berkaitan dengannya sebagai ketentuan yang esensial. Hifz ad-Dĩn (memelihara agama). Tujuan kedua Tujuan berikutnya adalah menjamin keperluan-keperluan hidup (keperluan sekunder) atau disebut hajiyyat. Ketiadaan fasilitas-fasilitas tersebut mungkin tidak menyebabkan kekacauan dan ketidak tertiban. akan tetapi dapat menambah kesulitan-kesulitan bagi masyarakat. Hifz al-Nasli (memelihara keturunan).70 dalam keputusan hukum Islam disebut dengan istilah al-Maqasid asy-Syari'ah alKhamsah (tujuan-tujuan syariah). Hifz al-Mãl (memelihara harta). e. Dengan kata lain. Hifz al-'Aqli (memelihara akal pikiran). d. Tujuan ketiga .

dipukul dengan menggunakan kayu (dijilid). Aspek Kemanusiaan dalam Fiqh Jinayah Salah satu kesempurnaan syari'at Islam adalah adanya aturan-aturan yang berkenaan dengan hukum publik. Sering kali bayangan tersebut terhenti di situ. Itupun baru dapat ditegakkan setelah seluruh unsur-unsur . bukan sekedar ancaman di akhirat. yaitu menjadikan hal-hal yang dapat menghiasi kehidupan sosial dan menjadikan manusia mampu berbuat dan urusan-urusan hidup secara lebih baik (keperluan sekunder) atau tahsinat. Istilah yang umum bagi aturan-aturan tersebut adalah al-Jinayat yang sering kali diartikan dengan Hukum Pidana Islam. Islam tidak sekedar mengajarkan ajaran moral saja. sehingga kesan bahwa hukum pidana Islam bersifat kejam dan bertentangan dengan hak asasi manusia. Padahal apa yang dibayangkan tersebut hanya merupakan salah satu bagian saja dari hukum pidana Islam. terdapat sanksi-sanksi yang mengikat yang harus ditegakan di dunia. D. Baik dalam alQur'an maupun dalam as-Sunnah. Ketika mendengar kata "Hukum Pidana Islam" (fiqh Jinayah). melainkan juga menyediakan aturan-aturan yang bersifat imperatif. yang langsung terbayang di benak kebanyakan orang adalah potong tangan. Ketiadaan perbaikan-perbaikan ini tidak membawa kekacauan dan anarki sebagaimana dalam ketiadaan kebutuhan-kebutuhan hidup.71 Tujuan ketiga dari perundang-undangan Islam adalah membuat perbaikanperbaikan. dilempar batu sampai meninggal (dirajam). atau dibunuh (diqisas). juga tidak mencakup apa-apa yang perlu untuk menghilangkan kesulitankesulitan dan membuat hidup mudah.

merupakan pelanggaran terhadap hak Allah. Selebihnya terdapat asas-asas serta konsepkonsep lainnya yang luput dari perhatian. Sepintas. merupakan pelanggaran terhadap hak hamba. keturunan. Karena itu Allah memperingatkan dalam al-Qur'an:126 126 Al-Baqarah (2): 179 . bahkan sangat kejam. Allah swt telah menetapkan hukum yang terdiri tiga tingkatan yaitu: qisas (balasan setimpal). atau permintaan maaf). akal dan agama. Yakni hal-hal yang berkaitan dengan kehormatan agama. yang semuanya merupakan maqasid asy-Syar'i. Inilah yang mengandung konsekuensi hukum qisas. Kejahatan-kejahatan yang oleh syariat telah ditetapkan jenis hukumannya. harta. hukum qisas nampak kejam. eksistensi kehidupan manusia akan terancam. Inilah yang disebut hududullah (batas-batas hukum Allah). Sedangkan kejahatan yang berkaitan dengan kehormatan jiwa manusia. keturunan dan ketenteraman umum. Lihatlah. jiwa maupun dengan hal-hal lainnya seperti kehormatan. Dan jika semuanya tidak terpenuhi maka ulil amri sebagai penguasa negara berhak memberikan hukuman atas pertimbangan kemaslahatan umat berupa hukuman ta'zir.72 jarimahnya (tindak pidananya) terpenuhi. Bila kejahatan ini terus dibiarkan. Memang ia hukuman yang kejam. denda-damai (diyat). karena ambruknya wibawa dan penegakan hukum. Mana pri kemanusiaan yang dipunyai manusia?. nyawa manusia jadi sangat murah. Untuk menyelesaikan problem ini. Hukum Pidana Islam (fiqh jinayat) ini mengatur setiap perbuatan manusia yang dilarang yang berkenaan dengan tubuh.

jelas tidak sepadan. hlm. Alhasil putusan hakim itu belum memenuhi rasa keadilan yang mereka tuntut. jenis hukuman dinilai tidak manusiawi. Dengan qisas.127 Abdurrahman Madjrie dan Fauzan Al-Anshari.73 ‫و لكم فى القصاص حياة يا اولى اللباب‬ Kekejaman memang harus dihentikan dengan hukuman yang setimpal agar bisa menjerakan. barbar. 2003). orang-orang yang telah menjadi korban penyesatan opini semacam ini. Anak-anakpun kehilangan sosok sang ayah yang biasa membimbing mereka sehari-hari. primitif. (Jakarta: Khairul Bayan. Qisas pembalasan yang hak. Bagi sebagian orang. Sebagai contoh kasus Tomy Suharto sebagai terpidana pembunuhan atas hakim agung Syafiuddin Kartasasmita. Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat hanya mengganjar Tomy dengan hukuman penjara 15 tahun. Dan tanggapan kedua isterinya sebagai ahli waris korban (waliyuddam) sangat kecewa karena putusan itu tidak sesuai dengan harapan. karena korban atau ahli warisnya (bila korban meninggal) berhak membalas dengan perlakuan setimpal. menjadi benci terhadap hukum Islam lalu memilih hukum lain (KUHP). sumber pemikiran Islam. yaitu dengan qisas. atau ketinggalan zaman. Padahal penyakit sosial yang bernama pembunuhan hanya efektif dicegah dengan obat yang disediakan oleh yang menciptakan nyawa manusia.2 127 . Apalagi jika dibandingkan dengan penderitaan yang mereka alami sepeninggal sang suami. Karenanya. Mereka telah kehilangan suami sekaligus pemimpin rumah tangga dan pencari nafkah bagi keluarganya. maka pelaku sebelum berbuat jahat akan pikir-pikir dahulu.

jika Tomy meminta maaf. Di sinilah aspek keadilan dan kemanusiaan dalam hukum Islam. untuk menjaga keamanan dan keselamatan jiwa dan kehidupan manusia di dunia. 3. yaitu:128 1. 4. hlm. Minimal dapat mencegah merebaknya kejahatan dan kerusakan di muka bumi. tidak ada rasa keadilan atas tindakan yang dilakukan dan juga bagi keluarga korban tidak punya hak apa-apa untuk menuntut hak mereka. Maka dapat ditarik kesimpulan dari keutamaan Hukum Pidana Islam ini sebagi hikmah yang harus disyukuri. Mengingat keduanya tidak berhak dan tidak bisa keputusan Hakim tersebut.91-92 . Bila hal ini diselesaikan denga hukum Islam maka yang akan terjadi. Untuk menegakkan hukum Allah sebagai bukti ketaatan kaum muslimin kepada hukum Allah. 128 Ibid. untuk memberikan pelajaran dan peringatan yang keras bagi orangorang yang ada niatan berbuat kejahatan agar tidak meneruskan keinginannya.74 Namun kedua isterinya hanya pasrah karena tidak bisa berbuat apa-apa selain trerpaksa menerima keputusan tersebut.. 2. dan keluarga memaafkan maka ia akan terbebas dari hukum qisas dan berganti kepada diyat sebagai ganti rugi atas tuntutan keluarga. untuk membasmi kejahatan di muka bumi dan kemaksiatan lainnya yang sering dilakukan oleh para penjahat. Dari kasus ini dapat dibandingkan bahwa ternyata KUHP kurang sesuai dengan tindakan yang diperbuat.

BAB IV PRAKTEK EUTHANASIA DALAM PRESPEKTIF FIQH JINAYAH A.75 5. sebagai mekanisme pengamanan bagi semua warga negara yang tinggal di negeri yang memberlakukan hukum Allah sebagai konstitusinya. Artinya. Sebagaimana pernah terjadi pada era kehidupan Rasulullah dan pemerintahan khalifah penggantinya. Oleh karenanya setiap orang diharuskan untuk menjalani segala perbuatan yang dapat membahayakan dirinya atau orang lain. Terlebih-lebih menjaga atau memelihara jiwa atau an-nafs. Euthanasia Aktif sebagai Jarimah Masalah menjaga kesehatan dalam Islam sangat diperhatikan. Atau dengan kata lain manusia . segala upaya diusahakan untuk memberi pelayanan kesehatan agar dapat memperhatikan kehidupan seorang manusia.

76 tidak dibolehkan untuk menghilangkan jiwanya atau jiwa orang lain. dan oleh karenanya pula hal tersebut merupakan perbuatan yang bertentangan dengan kehendak Allah swt. Sebab masalah hidup dan mati itu merupakan urusan Allah SWT. maka apabila telah datang kematiannya tidak seorangpun yang dapat mengundurkan atau memajukan walau sesaatpun. sehingga segala perbuatan yang mengarah kepada tindakan untuk menghilangkan jiwa manusia akan diancam dengan hukuman qisas-diyat atau ta'zir. Sebagai mana firman Allah: ‫و لكل أمة أجل فاذا جاء أجلهم ل يستأخرون ساعة و ل‬ 131 ‫يستقدمون‬ 132 ‫و لن يؤخر ال نفسا اذا جاء أجلها و ال خبير بما تعملون‬ 129 Al-Hijr (15): 23 An-Najm (53): 44. khususnya euthanasia aktif dapat dikategorikan sebagai perbuatan untuk menghilangkan jiwa atau penghentian kehidupan manusia. Masalah kematian setiap manusia itu sudah ditentukan batasannya oleh Allah swt. Al-A'raf (7): 34 Al-Munafiqun (63): 11 130 131 132 . Di antara firman Allah menyinggung hal jiwa atau nafs adalah sebagai berikut: 129 ‫و انا لنحن نحي و نميت و نحن الوارثون‬ 130 ‫و انه هو امات و احي‬ Begitu besarnya penghargaan Islam terhadap jiwa. Dalam hubungan ini euthanasia.

Dan bila ada terjadi seseorang berusaha untuk dirinya sendiri untuk mendapatkan kematian. Dalam konteks di atas. EEG dan lain-lain). seorang dokter berkewajiban untuk mengobati. maka perbuatan demikian bisa dikategorikan sebagai bunuh diri dengan meminjam tangan orang lain. Kemudian apakah dokter dalam memberikan tindakan medis (misal.116 133 . memasang infus.133 Akibat dari pesatnya perkembangan teknologi kedokteran modern akan dapat memberikan fasilitas dan pelayanan yang lebih baik bagi usaha perpanjangan umur pasien yang menderita sakit parah. respirator. Berbicara masalah euthanasia (qatl ar-rahmah atau taisir al-maut). sebab tindakan medis itu manifestasi dari ikhtiar untuk menolong pasien. Euthanasia cara mati terhormat orang moderen (Solo: cv. meringankan penderitaan pasien dengan segala kemampuannya. baik dengan obat-obatan atau memberikan nasihat. itu tidak berarti menghalangi hak Allah sebagai penentu kematian manusia ?. Sehingga kalau sampai terjadi seseorang lain yang mengusahakan kematian untuk orang lain. Ramadhani. Dan memang seharusnya begitu. karena kasih sayang.77 Dapat difahami dari ayat di atas bahwa urusan mati sepenuhnya merupakan hak Allah swt. Ini mengandung arti bahwa dokter atau tim medis telah dapat menunda beberapa saat waktu kematiannya. dengan tujuan Imron Halimi. tindakan dokter itu tidak berarti melangkahi hak Allah atau takdirnya. yang definisinya menurut Qardawi ialah tindakan memudahkan kematian seseorang dengan sengaja tanpa merasakan sakit. Betapapun sudah diduga umur si pasien tidak lama lagi.1990) hlm. ini bisa dikategorikan sebagai pembunuhan.

134 Khususnya lagi euthanasia aktif (taisir al-maut al-fa'al) yang definisinya ialah tindakan memudahkan kematian si sakit karena kasih sayang yang dilakukan dokter dengan menggunakan instrumen (alat). Dalam fiqh Islam suatu perbuatan barulah dikatakan sebagai jarimah apabila perbuatan tersebut telah memenuhi unsur-unsur jarimah. Unsur formal atau unsur syar'i Yang dimaksud dengan unsur formal atau unsur syar'i adalah adanya ketentuan syara' atau nash yang menyatakan bahwa perbuatan yang dilakukan yang oleh hukum dinyatakan sebagai sesuatu yang dapat dihukum atau adanya nash (ayat) yang mengancam hukuman terhadap perbuatan yang dimaksud.78 meringankan penderitaan si sakit.. cet. Unsur material atau rukun maddi Yusuf Qardawi. yakni sebagai berikut: 1. Akan tetapi karena euthanasia aktif merupakan tindakan untuk mempercepat kematian seseorang.135 Dalam Islam euthanasia aktif itu secara eksplisit dan tegas belum pernah ditemukan hukumnya.ke-2. 1996).136 Namun demikian apakah bisa begitu saja tindakan euthanasia aktif itu digolongkan sebagai jarimah pembunuhan?. alih bahasa: As'ad yasin. (Jakarta: Gema Insani Press. II:749. yakni: a.751 136 . Ibid. maka hal ini bisa diklasifikasikan kedalam jarimah pembunuhan. Dalam hal ini tentunya diperlukan beberapa tahapan untuk menjawabnya. b. hlm. 135 134 Ibid. fatwa-fatwa kontemporer.

. Tindakan euthanasia aktif itu apakah telah memenuhi unsur-unsur jarimah ataukah tidak?. Unsur moril atau Rukun Adaby Unsur ini juga disebut dengan al-mas'uliyyah al-jinayyah atau pertanggungjawaban pidana. Adapun aspek-aspek terjadinya euthanasia aktif ialah sebagai berikut: a.52-53. yakni adanya nas yang jelas-jelas melarang pembunuhan baik 137 Rahmat Hakim.137 2. ialah unsur formil (ar-rukn asysyar'i). fiqh jinayah (upaya menanggulangi kejahatan dalam Islam).2000). 1997). hlm. (Bandung: Pustaka Setia.79 Yang dimaksud dengan unsur material adalah adanya perilaku yang membentuk jarimah. Orang yang diasumsikan memiliki kriteria tersebut adalah arangorang yang mukallaf sebab hanya merekalah yang terkena khitab (panggilan) pembebanan (taklif). djajuli. ke-1. Bahwa euthanasia aktif itu merupakan tindakan pembunuhan.3. Raja Grafindo Persada.lihat juga A. cet. Hukum pidana Islam (fiqh jinayah). cet. Sehingga euthanasia aktif dilihat dari aspek definisinya sudah memenuhi unsur jarimah pertama. Oleh karena itu pembuat jarimah (tindak pidana. Jika telah memenuhi tentunya ada kesinkronan antara aspekaspek terjadinya euthanasia aktif dengan unsur-unsur jarimah. baik berupa perbuatan ataupun tidak berbuat atau adanya perbuatan yang bersifat melawan hukum. Maksudnya adalah pembuat jarimah atau pembuat tindak pidana atau delik haruslah orang yang dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya. ke-2 (Jakarta: PT. hlm. c. dan sanggup menerima isi beban tersebut. delik) haruslah orang yang dapat memahami hukum. mengerti isi beban.

yakni biasanya dengan mencabut selang respirator atau melalui suntikan dengan bahan pelemah saraf dalam dosis tertentu (neurasthenia). Dari aspek inipun telah memenuhi unsur jarimah ketiga. Dalam aspek ini juga telah memenuhi unsur jarimah kedua yakni unsur materill (ar-rukn almaddi). tindak pidana pembunuhan ini (al-qatl) disebut juga al-jinayah 'ala al-insaniyyah (kejahatan terhadap jiwa 138 An-Nisa (4): 29 Al-An'am.(6): 151 139 . yaitu dokter atau tim medis lainnya. dan sebagainya. Seperti tercantum dalam beberapa ayat al-Qur'an sebagai berikut: 0 ‫ل تقتلوا أنفسكم ان ال كان بكم رحيما‬ ‫ول تقتلوا النفس التى حرم ال ال بالحق ذالكم وصاكم به‬ 0 ‫تعقلون‬ ‫لعلكم‬ 138 139 b. Adanya tindakan atau perbuatan yang mendukung terjadinya euthanasia aktif. c. pasien. dan keluarga pasien. yakni unsur moril (ar-rukn adabi) Jadi jelas dalam konteks tersebut dapat disimpulkan bahwa euthanasia aktif itu merupakan jarimah pembunuhan. Adanya pelaku euthanasia aktif yang dapat dimintai pertanggungjawaban pidana. Dalam hukum Pidana Islam (fiqh jinayah).80 diri sendiri ataupun orang lain.

Problematika Hukum Islam 142 . Djazuli. lihat juga Abd Qadir 'Audah. 1992). Fauzi Aseri. 2004) hlm.81 manusia). yakni. Euthanasia Suatu Tinjauan dari Segi Kedokteran. Para ulama berbeda pendapat dalam mengklasifikasikan bentuk-bentuk pembunuhan. semi sengaja (syibh al-'amd) dan kekeliruan. Perbedaan tersebut adalah:140 1) Ulama Malikiyah mengklasifikasikan bentuk-bentuk pembunuhan menjadi dua yaitu: pembunuhan sengaja (qatl al-'amd) dan kekeliruan (qatl alkhata'). yaitu: pembunuhan sengaja. Hukum Pidana. Kaidah fiqh jinayah (asas-asas hukum pidana Islam) (Bandung: Pustaka Bani Quraisy. tindakan euthanasia aktif bisa digolongkan kedalam pembunuhan sengaja. yaitu pembunuhan sengaja. Terjadinya tindakan euthanasia aktif sangat dipengaruhi oleh alasan atau pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:142 Jaih Mubaraok dan Enceng Arif Faizal. 2) Jumhur mengklasifikasikannya menjadi tiga (sulasi). yaitu: pembunuhan sengaja.121 Akh. semi sengaja.141 atau sengaja melakukan perbuatan yang dilarang dan memang akibat perbuatan itu dikehendaki pula. dalam Chuzaimah T Yanggo dan Hafidz Anshary. (Beirut: Muassasat ar-Risalat. 141 140 A. at-Tasyri' al-Jina'i al-Islami Muqaranah bi al-Wad'i. kekeliruan dan serupa kekeliruan. dan serupa kekeliruan (ma jara majr al-khata'). semi sengaja.hlm. kekeliruan. dan Hukum Islam. 3) Sebagian Hanafiyah mengklasifikasikannya menjadi empat (ruba'i). Dari macam jarimah pembunuhan di atas. suatu perbuatan penganiayaan terhadap seseorang dengan maksud untuk menghilangkan nyawanya.9. 4) Sebagian Hanafiyah mengklasifikasikannya menjadi lima (khumasi). dan pembunuhan secara tidak langsung (al-qatl bi al-tasabbub). Hal ini sesuai dengan definisinya. Fiqh Jinayah. II: 7-9.

karena menginginkan harta/milik pasien dan faktor amoral lainnya. yang meminta kepada dokter karena merasa tidak tahan lagi menderita sakit. Oleh karena penyakit yang dideritanya sangat (accut). sementara harapan untuk sembuh tidak ada lagi. baik karena terlalu lama. Sanksi Hukum bagi Pelaku Euthanasia Dalam ajaran agama Islam tidak terdapat ajaran yang mutlak mengenai euthanasia. 2002). harapan sembuh terlalu jauh. bahwa pihak keluarga (tertentu) bekerjasama dengan dokter untuk mempercepat kematian pasien. namun bila ingin mempelajari dan memahami arti euthanasia secara mendalam. ataupun karena amat ganasnya jenis penyakit yang menyerangnya. paling tidak. hlm. ke-3. maka ia meminta dokter untuk melakukan euthanasia. dia meminta jalan yang lebih "nyaman". Apabila jika pasien tampaknya tidak tahan menanggung sakitnya. c) "Kemungkinan lain" bisa terjadi. . akibat biaya pengobatan yang mahal. yang merasa kasihan atas penderitaan pasien. Bisa juga euthanasia terjadi karena permintaan keluarga yang tidak sanggup lagi memikul biaya pengobatan. Atau pasien sudah tahu bahwa ajalnya sudah di ambang pintu. (Jakarta: PT. maka akan jelas hukumnya dengan berdasarkan al-Qur'an sebagai salah satu sumber hukum Islam. Cet. yaitu melalaui euthanasia.71. b) Dari pihak keluarga/wali. maka supaya matinya tidak merasa sakit. dan telah lama dialami.82 a) Dari pihak pasien. Pertimbangan lain bisa juga karena pasien tidak ingin meninggalkan beban ekonomi yang terlalu berat bagi keluarga. Euthanasia hakikinya adalah membunuh yang dilakukan Kontemporer. Pustaka Firdaus. B.

83 dalam rumah sakit oleh dokter ahli pada penderita karena penyakit tertentu seperti kanker atau kecelakaan yang merusak tubuhnya hingga berdasarkan ilmu dan teknologi kedokteran tidak mungkin sembuh. alih bahasa H. jiwa. al-Maarif.143 Allah melarang melakukan pembunuhan. akal. 143 Sayid Sabiq. perbuatan itu bisa merugikan agama. sehingga aturan diberikan secara rinci. . Agar manusia tidak memandang murah terhadap jiwa manusia. jinayat adalah setiap perbuatan yang diharamkan dan tercela yang dilarang oleh Tuhan. Euthanasia merupakan salah satu bentuk pembunuhan dan termasuk dalam kategori jinayat.A Ali (Bandung: PT. had dan diyat. 1997). maka Allah memberikan ancaman bagi mereka yang meremehkannya. 144 An-Nisa (4): 93. fikih sunnah. Dalam terminologi fiqh. Tindakan merusak ataupun menghilangkan jiwa orang lain maupun jiwa diri sendiri adalah perbuatan melawan hukum Allah. X:11 . karena pada dasarnya menghilangkan nyawa seseorang merupakan perbuatan dosa besar sebagai mana tercantum dalam al-Qur'an: ‫و من يقتل مؤمنا متعمدا فجزاؤه جهنم خالدا فيها و غضب ال‬ 144 ‫عليه و لعنه و اعدله عذابا عظيما‬ َ Secara umum hukum Islam diamalkan untuk menciptakan kemaslahatan hidup dan kehidupan manusia. Islam ditetapkan aturan yang ketat yaitu Qisas (pembunuhan). keturunan dan harta. khusus yang berkaitan dengan hukum pidana.

84

Syaikh Muhammad Yusuf al-Qardawi, sebagaimana dikutip oleh Akh. Fauzi Aseri mengaِ takan, bahwa kehidupan manusia bukan menjadi hak milik pribadi, a sebab dia tidak dapat menciptakan dirinya (jiwanya), organ tubuhnya, ataupun selselnya. Diri manusia pada hakekatnya adalah barang ciptaan yang diberikan Allah, oleh karenanya ia tidak boleh diabaikan, apalagi dilepaskan dari kehidupannya.145 Jadi jelaslah bahwa Islam tidak membenarkan seseorang yang sakit berkeinginan mempercepat kematiannya, baik dengan bunuh diri maupun dengan minta dibunuh. Bahkan berdo'a meminta dimatikanpun tidak diperbolehkan. Tetapi Allah menyuruh umatnya bila dalam keadaan sakit agar disamping berusaha juga berdoa agar diberi kesembuhan, sebagaimana firman Allah swt:
146

‫واذ مرضت فهو يشفين‬

Ahmad Mustafa al-Maragi menjelaskan, bahwa pembunuhan (mengakhiri hidup) seseorang bisa dilakukan apabila disebabkan oleh salah satu dari tiga sebab:147 1. Karena pembunuhan oleh seseorang secara zalim. 2. Janda yang pernah bersuami) secara nyata berbuat zina, yang diketahui oleh empat orang saksi. 3. Orang yang keluar dari agama Islam, sebagai suatu sikap menentang jama'ah Islam.

145

Akh. Fauzi Aseri, Euthanasia. hlm.73. As-Syu'ara' (26): 80

146

147

Ahmad Mustafa al-Maragi, Tafsir al-Maragi, (Mesir: Mustafa al-Baby al-Halaby, 1971).

XI: 43.

85

Jika dibandingkan dengan alasan-alasan yang mendorong terjadinya euthanasia seperti disebutkan terdahulu, maka tidak ada satupun yang berkaitan dengan alasan bilhaq di atas. Maka agar dapat ditentukan sanksi hukumnya dalam masalah euthanasia ini, perlu diperjelas secara terperinci karena masalah euthanasia ini merupakan masalah yang kompleks, baik dari segi sebabnya maupun pelaku terjadinya euthanasia. Karena euthanasia ini merupakan jenis pembunuhan maka kiranya perlu dijelaskan sanksi-sanksinya. Sebelum menginjak kepada sanksi-sanksi pelaku euthanasia perlu disebutkan terlebih dahulu sanksi-sanksi dalam pembunuhan. Dalam pembunuhan, ada beberapa jenis sanksi, yaitu; hukuman pokok, hukuman pengganti dan hukuman tambahan. Hukuman pokok pembunuhan adalah qisas. Bila dimaafkan oleh keluarga korban, maka hukuman penggantinya adalah diyat. Akhirnya jika sanksi qisas atau diyat dimaafkan, maka hukuman penggantinya adalah ta'zir. Menurut sebagian ulama, yakni Imam Syafi'i, ta'zir tadi ditambah kaffarah. Hukuman tambahan sehubungan dengan ini adalah pencabutan atas hak waris dan hak wasiat harta dari orang yang dibunuh, terutama jika antara pembunuh dengan yang dibunuh mempunyai hubungan kekeluargaan.148 Dokter sebagai seorang anggota masyarakat, penuh aktif, berinteraksi dan memelihara masyarakat. Tugas dokter tidak hanya melakukan pengobatan penyakit dan mencegah timbulnya penyakit. Tetapi juga sebagai seorang manusia dokter juga dituntut untuk tolong-menolong dalam hal kebaikan apapun bentuknya.149
148

A. Djazuli, Fiqh Jinayat, hlm, 135-136

Kode Etik kedokteran Islam, terj. Sudibyo Soepardi, cet.ke-4, (Jakarta: CV. Akademika Pressindo, 2001), hlm. 41.

149

86

Dalam masalah euthanasia ini, jika melihat kembali kepada fungsi dokter sebagai penolong untuk mengobati, menolong dan membantu pasien dari penyakitnya supaya sembuh, apakah secara batin dia tega melakukan euthanasia terhadap pasiennya. Pasti dia mempunyai tekanan batin dan juga menghadapi konsekuensi hukum. Dalam hal ini, jika dokter melakukan euthanasia berarti dokter telah melakukan pembunuhan, karena pembunuhan berarti menghilangkan nyawa seseorang, sepeti dikatakan oleh Wahbah az-Zuhaili:150 "Pembunuhan adalah suatu perbuatan mematikan; atau perbuatan seseorang yang dapat menghilangkan nyawa; artinya pembunuhan itu dapat menghancurkan bangunan kemanusiaan."

Allah telah memberikan hukuman terhadap pelaku pembunuhan dengan qisas. Hal ini tercantum dalam al-Qur'an:
151

‫يا أيها الذين آمنوا كتب عليكم القصاص في القتلى‬
152

‫و كتبنا عليهم فيها أن النفس بالنفس‬

Jadi berdasarkan ayat di atas dokter sebagai pelaku pembunuhan harus dihukum qisas, hal ini sebagai konsekuensi pertama yang dihadapi oleh dokter sebagai pihak pembunuh. Pada dasarnya Allah melarang pembunuhan apapun
Wahbah az-Zuhaili, al-Fiqh al-Islam wa adillatuh, cet ke-3 (Damaskus: Dar al-Fikr, 1989), VI: 217.
151 150

Al-Baqarah (2): 178. Al-Maidah (5): 45.

152

Dalam hal ini dokter mempunyai suatu dispensasi dari pihak pasien (si terbunuh) berupa (kerelaan atau izin). Fauzi Aseri. Dalam hal ini si pasien sebagai pemilik jiwa telah merelakan atau memberi izin kepada dokter. 153 Akh. atau keluarga sebagai wali ad-dam telah merelakan bahkan menganjurkannya.153 Menurut Hanafiyah: ‫يسقط القصاص برضا المجني عليه‬ Gugurnya qisas disebabkan oleh adanya kerelaan atau izin korban yang dapat dipersamakan dengan pemaafan. dan persetujuan dari pihak keluarga. sebagai unsur utama kehidupan manusia. apakah pelaku (dokter) terkena hukuman atau tidak dalam kasus euthanasia yang mana si korban sebagai pemilik jiwa. karena Allah sebagai sang khaliq menyuruh umatnya agar senantiasa memelihara jiwa. Masalah yang timbul adalah. hlm. . Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa perintah korban dapat menggugurkan qisas terhadap pelaku.74. tuntutan itu bisa berupa qisas (sebagai balasan). Oleh karena itu. tetapi Allah juga memberikan hak kepada keluarga si terbunuh dengan tuntutan. Dalam hal ini Mahmud Syaltut memberikan pembahasan yang ringkasnya bahwa para ahli fiqh berbeda pendapat mengenai suatu kejahatan atau seseorang yang disuruh sendiri oleh si korban dengan disetujui walinya. diyat (bila pembunuh dimaafkan) dan bisa juga dimaafkan secara mutlak. Euthanasia. Hal ini tergantung tuntutan apa yang akan dilakukan pihak keluarga atau ahli warisnya.87 jenisnya. hukuman berpindah kepada diyat. dan Allah memberikan hukuman berupa qisas yang merupakan hak Allah atas manusia.

Abu yusuf dan Muhammad mereka sama-sama memberikan sanksinya berupa diyat. A. At-Tasyri. Bulug al-Maram. Hadis nomer. cet.155 Pendapat ini didasarkan pada qaidah fiqhiyyah. karena adanya pemberian izin.158 Dari pendapat-pendapat di atas. 441-442 A ِ l-Hafid Ibnu Hajar al-Asqalani. hlm. 1247. Kitab al-Hudud Bab az-Zina. dan pemberian izin itu menimbulkan syubhat (kesamaran).157 Menurut ulama Syafi'iyah dan Imam Ahmad dalam kasus euthanasia ini tidak ada sanksi qisas dan diyat. yakni: 156 ‫ادرؤوا الحدود بالشبهات‬ Pendapat Malikiyah yang arjah (lebih kuat) dan sebagian Syafi'iyah: ‫يسقط عقوبتى القصاص و الدية برضا المجني عليه‬ Kerelaan korban dapat dipersamakan dengan pemaafan baik dari hukuman asli (qisas) maupun penggantinya (diyat).441-442. 191 . Karena si pasien telah memaafkan dari sanksi dan rela untuk dibunuh itu sama dengan memberi maaf. (Bandung: Maktabah Dahlan.88 Selain itu. (Jakarta: Bulan Bintang. ke-5. t. 158 hlm. meskipun tidak berarti menghapuskan hukuman ta'zir. hlm. al-tasyri' al-Jina'i al-Islami Muqaranah bi al-Qanun al-wad'i (Beirut: Muassasat ar-Risalat. kerelaan itu menjadi syubhat yang dapat menggugurkan hudud. Pemaafan dari korban itu lebih utama dari pada keluarga sebab pemaafan itu menjadi hak bagi korban.. 1993). Asas-asas Hukum Pidana Islam. Hanafi. 260. HR Baihaqi dari Ali RA 157 156 Abd Qadir 'Audah. semuanya tidak ada yang menetapkan sanksi hukum atas kerelaan atau izin ini dengan sanksi qisas (hukuman asli).154 Pendapat ini juga didukung oleh Abu Hanifah.t). hlm.1992) I: 440-441 155 154 Ibid. walaupun Abu Abdul al-Qadir Audah.

Dan jumlah dari pembayaran diyat mugalazah adalah seratus ekor unta yang empat puluh di antaranya sedang bunting. Dan pihak keluarga atau ahli warisnya juga telah memaafkan secara mutlak maka tidak ada hukuman diyat baginya. jika dia sudah tahu akan konsekuensinya.89 Hanifah (beserta pengikutnya) Abu Yusuf dan Muhammad menetapkan hukum atas adanya unsur kerelaan ini dengan diyat (hukuman pengganti). namun pihak korban atau ahli warisnya diberi hak tuntutan. karena berarti dokter sebagai pihak yang membantu malah mendapatkan kerugian. Dari hal ini. atau harta (uang atau barang ) yang senilai dengannya. Sedangkan jumlah yang harus dikeluarkan dari ketentuan diyat sendiri tidak sedikit. Menurut Malikiyah pada pembunuhan disengaja dikenakan diyat mugalazah apabila waliyuddam menerimanya. Diyat ada dua macam yaitu diyat mugalazah dan diyat mukhafafah. Pada dasarnya hukuman qisas tidak dapat diganti dengan hukuman yang dibuat oleh manusia. yaitu berupa seratus ekor unta yang empat puluh diantaranya sedang bunting. Jadi dari hal ini dokter terbebas dari hukuman qisas (sebagai hukuman asli) juga diyat (sebagai hukuman pengganti). mau menerima hukuman tersebut. jika melihat hal di atas berarti dokter yang mengeuthanasia mendapat hukuman berupa diyat mughaladzhah karena telah dimaafkan oleh pihak keluarga. Otomatis dokter tidak akan mau jika harus membayar diyat. . Sedangkan tindakan dokter telah disetujui pihak keluarga pasien. Karena fungsi diyat adalah untuk kemaslahatan keluarga si pasien (si terbunuh). tetapi dalam hal ini apakah dokter sebagai orang lain bagi pasien dan keluarga yang sudah melaksanakan euthanasia atas permintaan pasien dan persetujuan keluarga sehingga mendapat hukuman diyat.

Allah berfirman dalam al-Qur'an: ‫فمن عفي له من أخيه شيئ فاتباع بالمعروف و اداء اليه‬ 159 ‫باحسان‬ Adanya hukuman pengganti pada jarimah qisas ini disebabkan adanya pemaafan dari sikorban atau wali atau ahli warisnya. Apabila korban atau keluarganya memaafkan diyat ini. Hukum Pidana Islam. sanksi ta'zir dapat dijatuhkan terhadap pembunuh. hlm126 160 . dapat dihapus dan sebagai penggantinya hakim akan menjatuhkan hukuman ta'zir. ini sangat berarti bagi pelaku tindak pidana maupun bagi keluarga si korban. atau juga memberi maaf secara mutlak. maka sanksi qisas tidak dapat dilaksanakan karena tidak memenuhi syarat. Keterlibatan keluarga pihak korban. hukuman qisaspun menjadi gugur digantikan dengan hukuman diyat. hukum Islam memberikan kedudukan kepada keluarga korban secara bijaksana untuk turut ambil bagian di dalam menentukan kebijaksanaan hukuman terhadap pelaku pembunuhan dengan memberikan kesempatan kepada pelakunya apakah harus diqisas atau diyat. sebab jarimah qisas merupakan hak adami hak perseorangan. Oleh karena itu.160 Singkatnya. kalau sikorban (masih hidup) atau ahli waris (jika korban mati) memaafkan pembuat jarimah. karena korban (si pasien) atau walinya mempunyai hak untuk membebaskan pembunuh dari sanksi hukuman 159 Al-Baqarah (2): 178 Rahmat Hakim. Hal itu dimungkinkan. Dalam tindak pidana pembunuhan.90 oleh karena itu hak Allah yang berupa qisas dapat diganti dengan hukuman diyat yang merupakan hak manusia.

Dan ta'zir itu tergantung kepada kemaslahatan:161 ‫التعزير يدور مع المصلحة‬ Adanya kaidah ini merupakan wujud dinamisasi hukum pidana Islam dalam menjawab bentuk-bentuk kejahatan baru yang belum ada aturannya sehingga setiap bentuk kejahatan baru yang dianggap telah merusak ketenangan dan ketertiban umum dapat dituntut dan dihukum. Hukuman ta'zir yang diberikan kepada pembunuh sengaja yang dimaafkan dari qisas dan diyat adalah aturan yang baik dan membawa kemaslahatan. baik kedua-duanya atau diganti dengan sanksi lain. 162. Karena pembunuhan itu tidak hanya berurusan dengan hak perseorangan. Maka ta'zir itulah sebagai sanksi hak masyarakat. Dengan melihat bahwa izin (persetujuan) dapat menghapuskan hukuman. 161 A. Fiqh Jinayah. hlm.91 qisas dan diyat. maka izin tersebut merupakan pemaafan yang didahulukan. melainkan juga hak jamaah. . Djazuli.

92 EUTHANASIA DALAM PRESPEKTIF FIQH JINAYAH .

OMAN FATHUROHMAN SW. Abu Abdullah Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim ibn al-Mughirah ibn Bardizbah al-Ja'fi al-. Ag DRS. Beirut: Dar al-Fikr. Sunan Abi Dawud. 1981. Bandung: Maktabah Dahlan. Beirut: Dar al-Fikr. Daruquthni. M.93 SKRIPSI DIAJUKAN KEPADA FAKULTAS SYARI’AH UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA UNTUK MEMENUHI SEBAGIAN SYARAT-SYARAT MEMPEROLEH GELAR SARJANA STRATA SATU DALAM ILMU HUKUM ISLAM OLEH: MUKHLISIN 9937 3425 PEMBIMBING DRS. . Beirut: Dar al-Ma'rifah. Sahih al-Bukhari. t. 8 jilid. 1988. Sunan al-Daruqutni. Bulug al-Maram. 1996. Ibnu Hajar al-Asqalani. Bukhari. 4 jilid. H Hadis Abu Dawud.t. 1404. Ali bin 'Amr Abu al-Husyain al-. 3 jilid. Damaskus: Dar Ibn Katsir. SLAMET KHILMI JURUSAN JINAYAH SIYASAH FAKULTAS SYARI’AH UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA 2004 DAFTAR PUSTAKA Al-Qur'an Al-Qur'an Karim.

1971. Jakarta: Khairul Bayan. Anwar Harjono. Abdul Qadir. Subul as-Salam Syarah Bulug al-Maram. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Raja Grafindo Persada. Kaidah Fiqh Jinayah (Asas-asas Hukum Pidana Islam). t. 1971. 1994. Jakarta: Bulan Bintang. 2 jilid. Tafsir al-Maraghi. Masjfuk Zuhdi. 2004. al-Tasyri' al-Jina'i al-Islami Muqaranah bi al-Qanun al-Wad'i. Charis. Zubir A.t. Jakarta: PT. Fiqh Jinayah (upaya menaggulangi kejahatan dalam Islam). Hukum Pidana Syari'at Islam menurut ajaran ahlus sunnah. Ibnu Rusyd. 1994. Indonesia: Dar Ihya alKutub al-Arabiyyah. Jakarta: Darul Falah. Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtasid. Imam al-. Bandung: Maktabah Dahlan. Ahmad Hanafi.. 1993. . 2 jilid. t. Beirut: Dar Ihya al-Kitab al-Arabiyah. Sunan Ibn Majah. dan Enceng Arif Faizal. 1997.94 Ibnu Majah. t. Etika Rekayasa menurut konsep Islam. Abd ar-Rahman Ahmad ibn Suaib ibn Ali ibn Bahr an-. alih bahasa: Fadhli Bahri. Mesir: Mustafa al-Baby alHalaby. Masail Fiqhiyah. Fiqh dan Usul Fiqih Audah. Djazuli. A. Mawardi. Musthafa al-. 2003. al-Ahkam as-Sultaniyah. Muhammad ibn Ismail ibn Salah al-Amir al-Kahlani al-. Haliman. 1968. Hukum Islam (keluasan dan keadilannya). Jakarta: Bulan Bintang. 2 jilid. Qisas pembalasan yang hak. Mesir: al-Bab al-Halabi wa al-Audah. 30 jilid. Asas-asas Hukum Pidana Islam.t. Beirut: Muassasat ar-Risalat. San'ani. Jakarta: Bulan Bintang. Muhammad ibn Ahmad ibn Muhammad ibn Muhammad al-Qurtuby. 1997. Sunan an-Nasai'. Madjrie. 2000. Bandung: Pustaka Bani Quraisy.t. Maraghi. (Prinsip-prinsip penyelenggaraan Negara Islam). 1992. Abdurrahman dan Fauzan al-Anshari. Jaih mubarok. 8 jilid. Nasai'. Jakarta: CV Haji Masagung.

Yusuf al-. Mengapa Euthanasia? Kemampuan Medis & Konsekuensi Yuridis. . Abortus. Tanggung jawab Hukum Seorang Dokter dalam menangani Pasien.t. Topo Santoso. Bandung: Nova. dalam tinjauan medis. Euthanasia. 1991. Etika Profesional dan Hukum Pertanggungjawaban Pidana Dokter. al-Ma'arif. Beirut: Dar al-Fikr. Djoko Prakoso. 2001. 1997. Wila Chandrawila. alih bahasa A. 2000. Jakarta: Robbani Press. dan operasi kelamin. Adji. 2001. Abu Sa’id al-Falahi dan Aunur Rafiq Shaleh Tamhid. Jakarta: Ghalia Indonesia. 2002. Rahmat Hakim. 2000. Abi Ishaq Ibrahim ibn Ali ibn Yusuf al-Fairuz Abadi asy-. dan A. al-Muhazzab. Jakarta: Gema Insani Press. Problematika Hukum Islam Kontemporer edisi ke-4 edisi revisi. dan Djaman Andhi Nirwanto. 2000. hukum. t. dan agama Islam. Bandung: Mandar Maju. Bandung: Pustaka Setia. Fatwa-fatwa kontemporer. Jakarta: PT.95 Mukti. Pustaka Firdaus. Hukum Pidana Islam (Fiqh Jinayah). Buku lain-lain Abdul Jamali. 1984. alih bahasa As'ad Yasin. Surabaya: Maktabah Ahmad bin Said bin Nabhan. Hukum Pidana Islam (Fiqh Jinayah). Bandung: Asy-Syamil Press. Zuhaili. Supriadi. 8 jilid. Euthanasia Hak Asasi Manusia dan Hukum Pidana. Ali Ghufron dan Adi Heru Sutomo. Halal dan Haram dalam Islam. 1996. Oemar Seno. F.Tengker. al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh. …. Syairazi. t. Rahmat Hakim. Yanggo. dkk. Bunga Rampai Hukum Kesehatan. Jakarta: Widya Medika. Chuzaimah T.. Profesi Dokter. Fikih Sunnah. Yogyakarta: Aditya media.1993. Jakarta: Erlangga. Ali. Jakarta: Ikhtiar Baru. Qardhawi. Oleh Drs. Sayyid Sabiq. terj. Amri Amir. 1991. Wahbah az-. Hafiz Anshary AZ. Bandung: PT. Bandung: Pustaka Setia. hukum kedokteran. 1990. 1997.t. transplantasi ginjal. Menggagas Hukum Pidana Islam. bayi tabung.

Karyadi. Vol. 1992. Ali Akbar. Ramadhani.R. Sudarmo. Artikel Euthanasia Guwandi J. Ensiklopedi Indonesia (Jakarta: Ikhtiar Baru-Van Hoeve. Antropologi Teologis II. H. Jakarta: Gramedia. Yogyakarta: Media Pressindo.96 R. 2001. Aborsi dan Euthanasia ditinjau dari segi medis. Jakarta: Akademika Pressindo. ed. Kitab undang-undang hukum pidana ( KUHP) serta komentarnya lengkap pasal demi pasal. 1987). J. 1990. Imron Halimi. Euthanasia Beberapa Soal Etis Akhir Hidup Menurut Gereja Katolik. . Bogor: Politeia.Pengantar Bioetika. Samil. Malang: Analekta Keuskupan Malang. 1988. Teknologi Modern Dan Tantangannya Terhadap Bioetika. Kumpulan Kasus Bioethics & Biolaw. Euthanasia Bagaimana Sikap Seorang Dokter. 1995. Shannon. "Euthanasia" beberapa soal moral berhubungan dengan quantum. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Yogyakarta: FKMPY. 1996. Carm. Jakarta: Metro Kencana. Etika Kedokteran Dalam Islam. Makalah pada seminar sehari. Chr Purwa. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Euthanasia dalam Prespektif Hak Asasi Manusia. Soesilo. Kartono Mohamad. 1980. Petrus Yoyo. 1974. Sudibyo Soepardi. Ratna Suprapti. Solo: CV. K Bartens. 2001. 2000. alih bahasa. Kode Etik Kedokteran Islam (Islamic code of medical ethics). Kode Etik Kedokteran Indonesia. Piet Go O. Thomas A. Euthanasia cara mati terhormat orang modern. Jakarta: Pustaka Antara. 1990. 1989. Widyana.2 : 978. Siswo. hukum dan psikologis.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb. 3 Rajab 1425 H 19 Agustus 2004 Pembimbing I . Bersama ini kami ajukan skripsi tersebut untuk diterima selayaknya dan mengharap agar segera dimunaqosyahkan. maka menurut kami skripsi saudara: Nama NIM : Mukhlisin : 9937 3425 Judul : “Euthanasia Dalam Prespektif Fiqh Jinayah” Sudah dapat diajukan untuk memenuhi sebagian dari syarat memperoleh gelar sarjana strata satu dalam Jinayah Siyasah Fakultas Syari’ah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Untuk itu kami ucapkan terima kasih.97 Drs. Yogyakarta. Setelah membaca. Oman Fathurohman SW. mengoreksi dan menyarankan perbaikan seperlunya. Wb. M Ag Dosen Fakultas Syari’ah UIN Sunan Kalijaga NOTA DINAS Hal : Skripsi Saudara Mukhlisin Kepada Yth : Dekan fakultas Syari’ah UIN Sunan Kalijaga Di Yogyakarta Assalamu’alaikum Wr.

Oman Fathurohman SW. Setelah membaca. Untuk itu kami ucapkan terima kasih. Wb. Wassalamu’alaikum Wr. Slamet Khilmi Dosen Fakultas Syari’ah UIN Sunan Kalijaga NOTA DINAS Hal : Skripsi Saudara Mukhlisin Kepada Yth : Dekan Fakultas Syari’ah UIN Sunan kalijaga Di Yogyakarta Assalamu’alaikum Wr. Bersama ini kami ajukan skripsi tersebut untuk diterima selayaknya dan mengharap agar segera dimunaqosyahkan. maka menurut kami skripsi saudara: Nama NIM : Mukhlisin : 9937 3425 Judul : “Euthanasia Dalam Perspektif Fiqh Jinayah” Sudah dapat diajukan untuk memenuhi sebagian dari syarat memperoleh gelar sarjana strata satu dalam Jinayah Siyasah Fakultas Syari’ah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Yogyakarta. 3 Rajab 1425 H 19 Agustus 2004 Pembimbing II Drs. M. Slamet Khilmi NIP: 150 252 260 .Ag NIP: 150 222 295 Drs.98 Drs. Wb. mengoreksi dan menyarankan perbaikan seperlunya.

MA NIP: 150 182 698 Ketua Sidang Drs. Fuad Zein. MAg NIP: 150 222 295 SISTEM TRANSLITERASI ARAB-LATIN . H. Oman Fathurohman SW. Slamet Khilmi Penguji II Drs. MAg NIP: 150 222 295 NIP: 150 252 260 Sekretaris Sidang Fatma Amilia NIP: 150 277 618 Pembimbing II Drs. MA NIP: 150 228 207 Penguji I Drs. H.99 PENGESAHAN Skripsi berjudul “Euthanasia Dalam Prespektif Fiqh Jinayah” yang disusun oleh MUKHLISIN NIM: 9937 3425 Telah dimunaqosyahkan di depan sidang munaqosyah pada tanggal 25 September 2004/10 Sya'ban 1425 H dan dinyatakan telah dapat diterima sebagai salah satu syarat guna memperoleh gelar sarjana dalam Ilmu Hukum Islam. H. Yogyakarta. Malik Madany. 10 Sya'ban 1425 H 25 September 2004 Dekan Fakultas Syari’ah Drs. Oman Fathurohman SW. MA NIP: 150 228 207 Pembimbing I Drs. Fuad Zein.

100 Transliterasi kata-kata Arab yang dipakai dalam penyusunan skripsi ini berpedoman pada Surat Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor: 158/1987 dan 0543b/U/1987 Konsonan Tunggal Huruf Arab Nama ‫ا‬ ‫ب‬ ‫ت‬ ‫ث‬ ‫ج‬ ‫ح‬ ‫خ‬ ‫د‬ ‫ذ‬ ‫ر‬ ‫ز‬ ‫س‬ ‫ش‬ ‫ص‬ ‫ض‬ ‫ط‬ ‫ظ‬ ‫ع‬ ‫غ‬ ‫ف‬ ‫ق‬ ‫ك‬ ‫ل‬ ‫م‬ ‫ن‬ ‫و‬ ‫هـ‬ ‫ء‬ ‫ي‬ Alif bâ’ tâ’ s|â’ jim ha khâ’ dâl zal râ’ zai sin syin Sâd dâd tâ’ dad ‘ain gain fâ’ qâf kâf lâm mim nûn waû hâ’ hamzah yâ’ Huruf Latin N a m a tidak dilambangkan be te es (dengan titik di atas) je ha (dengan titik di bawah) ka dan ha de zet (dengan titik di atas) er zet es es dan ye es (dengan titik di bawah) de (dengan titik di bawah) te (dengan titik di bawah) zet (dengan titik di bawah) koma terbalik di atas ge ef qi ka `el `em `en w ha apostrof ye tidak dilambangkan b t S j h kh d Z r z s sy S d t Z ‘ g f q k l m n w h ` y .

‫زكاة الفطر‬ zakâh al-fitri ditulis III. kecuali bila dikehendaki lafal aslinya). zakat dan sebagainya. maka ditulis dengan h. ‫كرامة الولياء‬ karâmah al-aûliyâ` ditulis Bila ta’ marbutah hidup atau dengan harakat. Ta’ marbutah di akhir kata Bila dimatikan ditulis h ‫حكمة‬ ‫علة‬ ditulis ditulis hikmah `illah (Ketentuan ini tidak diperlukan bagi kata-kata Arab yang sudah terserap dalam bahasa Indonesia.101 I. 1. Vokal Pendek _َ _ _ ‫فعل‬ ___ fathah kasrah ditulis ditulis ditulis a fa’ala i . seperti salat. Konsonan Rangkap Karena Syaddah ditulis rangkap ‫متعددة‬ ّ ‫عدة‬ ّ ditulis ditulis muta`addidah `iddah II. 2. Bila diikuti dengan kata sandang ‘al’ serta bacaan kedua itu terpisah. kasrah dan dammah ditulis t atau h. fathah.

102 ‫ذكر‬ __ُ _ ‫يذهب‬ dammah ditulis ditulis ditulis zukira u yazhabu Vokal Panjang 1 2 3 4 fathah + alif ‫جاهلية‬ fathah + yâ’ mati ‫تنسى‬ kasrah + yâ’ mati ‫كـريم‬ dammah + waû mati ‫فروض‬ ditulis ditulis ditulis ditulis ditulis ditulis ditulis ditulis â jâhiliyyah â tansâ i karîm û furûd Vokal Rangkap 1 2 fathah + yâ’ mati ‫بينكم‬ fathah + waû mati ‫قول‬ ditulis ditulis ditulis ditulis ai bainakum aû qaûl IV. Vokal Pendek yang berurutan dalam satu kata dipisahkan dengan apostrof ‫أأنتم‬ ‫أعدت‬ ‫لئن شكرتم‬ ditulis ditulis ditulis A’antum u’iddat la’in syakartum .

‫ذوي الفروض‬ ‫أهل السنة‬ ditulis ditulis zawi al-furûd ahl as-sunnah LAMPIRAN I NO 1 HLM FOOTNOTE BAB BAB I 6 10 Janganlah kamu membunuh dirimu. Penulisan kata-kata dalam rangkaian kalimat Ditulis menurut penulisannya. 1. . Kata Sandang Alif + Lam Bila diikuti huruf Qomariyyah ditulis dengan menggunakan huruf “l”. ‫السمآء‬ ‫الشمس‬ ditulis ditulis as-Samâ` asy-Syams VI. sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. ‫القرآن‬ ‫القياس‬ 2. ditulis ditulis al-Qur`ân al-Qiyâs Bila diikuti huruf Syamsiyyah ditulis dengan menggunakan huruf Syamsiyyah yang mengikutinya.103 V. dengan menghilangkan huruf l (el) nya.

kemudian menghidupkan kamu. Barang siapa yang membunuh seorang manusia. maka baginya hukum qawad (qisas). 5 50 4 6 7 8 9 10 11 12 13 14 53 54 55 56 13 19 20 21 23 24 57 58 60 26 28 31 15 32 16 61 33 . Kamu dan hartamu milik (kepunyaan) bapakmu. Barang siapa menghukum bunuh terhadap orang yang telah membunuhnya maka baginya dua pilihan yang baik.104 2 11 3 12 4 13 Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar. Tidak diqawad (hukum qissas) bapak (karena membunuh) anak. Rasulullah Muhammad SAW mengqisas seorang muslim karena ia membunuh orang yahudi. Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar. menurut ar-Ramady diqawad muslim karena membunuh dzimmi. kemudian mematikan kamu. Dan dalam qisas itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu. BAB III Jinayah menurut bahasa merupakan nama bagi suatu perbuatan jelek seseorang. Dan Dialah (Allah) yang telah menghidupkan kamu. ada kalanya ia meminta diat dan ada kalanya ia menghukum qisas. hai orang-orang yang berakal. hamba dengan hamba. maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu qisas berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh. Dan Kami telah tetapkan kepada mereka di dalamnya (at-Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa. Barang siapa yang membunuh dengan sengaja. demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami(nya). harta benda. maupun selain jiwa dan harta benda. atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi. orang merdeka dengan orang merdeka. Orang-orang Islam terpelihara darahnya. Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu qisas berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh. baik perbuatan tersebut mengenai jiwa. Adapun menurut istilah adalah nama bagi suatu perbuatan yang diharamkan syara'. Dan Rasul bersabda Aku lebih berhak memutuskan terhadap orang (muslim) dan terhadap dzimi dalam hal ini. bukan karena orang itu (membunuh) orang lain.

Dalam pembunuhan tersalah. 20 hiqqah. 20 jadz'ah. maka apabila memperoleh pemaafan maka menjadi pembayaran diat. Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. 20 banat makhadz. . Hukuman pertama sebagai pengganti hukum qisas. Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan. diatnya adalah seratus ekor unta yang di dalamnya. dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diyat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik pula. dengan cambuk. tongkat dan batu. Dan barangsiapa yang membunuh seorang mu'min dengan sengaja. dan 20 bani labun. hai orang-orang yang berakal. maka balasannya ialah jahannam. dan mengutukinya serta menyediakannya azab yang besar baginya. baik karena sebab-sebab yang menghalangi hukum qisas ataupun sebab-sebab yang telah ditetapkan. kekal ia didalamnya dan Allah murka kepadanya. 40 syaniyah sampai tahunnya sempurna dan khalifah. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya. Diat kesalahan adalah lima bagian. 24 25 26 77 1 2 78 3 27 4 28 85 14 BAB IV Dan sesungguhnya benar-benar Kami-lah yang menghidupkan dan mematikan dan Kami (pulalah) yang mewarisi. maka apabila telah datang ajalnya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya. serupa sengaja.105 17 18 66 34 46 19 47 20 67 50 21 22 23 68 70 51 54 58 Barang siapa yang membunuh maka ia dihadapkan kepada dua pilihan adakalanya dimaafkan dan adakalanya diqawad. Maka barang siapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik. 20 banat labun. Dan bahwasanya Dialah yang mematikan dan mengidupkan. Dan dalam qisas itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu.

Hindari (penjatuhan) hukuman had (karena) adanya kesamaran (syubhat). Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu qisas berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh. Ta'zir berputar karena kemaslahatannya. Dan telah Kami tetapkan didalamnya (at-Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa. kemudian menghidupkan kamu. Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar. dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diyat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik pula. kemudian mematikan kamu.106 29 30 31 32 33 34 35 90 92 88 87 16 19 20 23 24 28 31 36 37 93 96 33 39 Dan apabila aku sakit Dialah yang menyembuhkan aku. Sesungguhnya Allah Penyayang kepadamu. Janganlah kamu membunuh dirimu (saudaramu). Maka barang siapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik. Tidak diqawad (qisas) ayah (karena membunuh) anak. LAMPIRAN II BIOGRAFI ULAMA Abd Qadir 'Audah . Dan Dialah (Allah) yang telah menghidupkan kamu.

lahir di Bukhara pada tanggal 13 Syawal 194 H/ 810 M. beliau juga seorang tokoh ulama dalam gerakan Ikhwanul Muslimin dan sebagai Hakim yang disegani rakyat. dan selesai pada tahun 1960 pada Fakultas Ushuluddin al-Azhar Mesir dan dilanjutkan pada program Doktoral dengan Disertasi berjudul Fiqhuz Zakat. Beberapa karyanya telah dipublikasikan diantaranya: al-Halal wa al-Haram fi al-Islam. Beliau meninggal ditiang gantungan sebagai akibat fitnahan dari lawan politiknya pada tanggal 8 desember 1954. Pada masa mudanya beliau telah hafal 70. dengan mendapatkan predikat Cumlaude. beliau mendapat gelar profesor dalam jurusan Ilmu Hukum Islam pada Universitas Fuad I. Mesir. alIman wa al-Hayat. karyanya yang paling terkenal adalah kitab hadis shahih al-Bukhari. dan sebagai mahasiswa terbaik. beliau turut mengambil bagian dalam memutuskan revolusi Mesir yang berhasil gemilang pada tahun 1952. setelah tamat pada tahun 1953. dengan fasih dan sempurna tajwidnya pada usia 10 tahun. Karyanya yang terkenal adalah kitab Fiqh Sunnah. Muskilat al-Fakr wa kaifa alajaha al-Islam dan Fatwa-Fatwa kontemporer. terus dilanjutkan lagi di Universitas al-Azhar Cairo. Beliau sebagai penganjur ijtihad yang mengajarkan kembali kepada al-Qur'an dan as-Sunnah. dilahirkan pada tahun 1926 di desa Sifit Turab. Yusuf melanjutkan ke Ma'had Tanta.000 hadis beserta sanadnya. Dan wafat pada tahun 256 H. Guru-guru beliau adalah: Ibrahim al-Bukhari.107 Beliau adalah seorang ulama terkenal alumnus Fakultas Hukum Universitas al-Azhar Cairo pada tahun 1930. Al-Bukhari Beliau nama lengkapnya Abu Abdullah Muhammad bin Ismail ibn Ibrahim alMughirah binj Bardzibaz al-Ja'far al-Bukhari. Setelah menamatkan sekolah Dasar. Pada tahun 1950 an M. Yusuf al-Qardawi Beliau nama lengkapnya ialah Yusuf Abdullah al-Qardawi. As-Sayid Sabiq Beliau adalah seorang ulama terkenaldari Universitas al-Azhar Cairo. beliau dilahirkan tahun 1365 H. . dipelopori oleh kolonel Gamal Abdul Nasher. sampai mendaptkan Diploma tinggi di bidang bahasa dan sastra. kemudian beliau melanjutkan lagi ke Ma'had al-Buhus wad Dirasat al-Arabiyah al-Aliyah. al-Ibadat fi al-Islam. Ali bin al-Madani dan Ibnu Ruhuwaih. Ahmad bin Hanbal. Kemudian beliau pergi ke Hijaz untuk menuntut ilmu kepada para fuqaha dan muhaddisin. Yusuf kecil sudah bisa hafal al-Qur'an 30 juz. Lalu bermukim di Madinah dan menyusun kitab at-Tarik al-Kabir. pada saat yang sama juga mengambil bidang study al-Qur'an dan as-Sunnah. Bidang study yang diambilnya adalah bidang study Agama Fakultas Ushuluddin. Banyak menulis berbagai kitab baik mengenai masalah agama ataupun politik. Diantara hasil karyanya ialah kitab at-Tasyri' al-Jina'I alIslami.

7. : Supriyatni Tempat Tanggal Lahir : Cilacap.108 LAMPIRAN III CURRICULUM VITAE 1. Wisma Gasenwa Gaten CC : Maktubillah Muhammad : PNS. 3. 8. 4. 6. 9. 2. 5. 19 Mei 1981 . Nama Jenis Kelamin Agama Alamat Asal Alamat di Yogyakarta Nama Ayah Pekerjaan Nama Ibu : Mukhlisin : Laki-laki : Islam : Suru Sunda 02/III Karang Pucung Cilacap 53255 : Jl.Manggis 64.

3. 6. masuk tahun 1992. Cilacap. H. MA Muhammadiyah Majenang. Malik Madany. MAN Cigaru Majenang. 2. Yogyakarta. lulus tahun 1999. MTs El-Bayan Bendasari Majenang. sampai tahun 1994. IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. 10 Sya'ban 1425 H 25 September 2004 Dekan Fakultas Syari’ah Drs. masuk tahun 1999. masuk tahun 1986. 5. ketiganya pada tahun yang sama (tahun 1995 sampai 1996) dan tidak lulus. Skripsi berjudul “Euthanasia Dalam Prespektif Fiqh Jinayah” yang disusun oleh MUKHLISIN NIM: 9937 3425 Telah dimunaqosyahkan di depan sidang munaqosyah pada tanggal 25 September 2004/10 Sya'ban 1425 H dan dinyatakan telah dapat diterima sebagai salah satu syarat guna memperoleh gelar sarjana dalam Ilmu Hukum Islam. masuk pada tahun 1996. 4. MA Al-Hikmah 1 Bumiayu.109 10. lulus tahun 1995. lulus tahun 1992. MA NIP: 150 182 698 . : Ibu Rumah Tangga SD Islam al-Hidayah. MA El-Bayan Majenang. Madrasah Muallimin Al-Hikmah Bumiayu. Pekerjaan Riwayat Pendidikan : 1. masuk tahun 1994.

110 Ketua Sidang Dr." "Carilah sesuatu yang baik dari apa yang engkau alami disekitarmu" "Tuangkanlah apa yang ada dihati dan difikiran dengan tanganmu lewat penamu supaya orang bisa menimba dari apa yang kamu bisa. kadang manusia ingin lebih dari apa yang ada padanya. tetapi kadang manusia lupa. rasa. dengan jiwa manusia lebih berarti bahwa dia seorang manusia. Oman Fathurohman SW. dia terlena oleh buaian duniawi. baik harta. maka Tuhan juga memberi kita fikiran agar bisa melindungi diri. MAg NIP: 150 222 295 MOTO "Tuhan berikan manusia berupa raga. Fuad Zein. MA NIP: 150 228 207 Penguji I Drs. dengan raga manusia dapat bergerak tetapi Tuhan juga memberi kita jiwa. Fuad Zein." "Dunia itu hampa tanpa ilmu. kuasa. Slamet Khilmi Penguji II Drs. MA NIP: 150 228 207 Pembimbing I Drs." . Oman Fathurohman SW. percuma apa yang ada didunia jika ilmu tak menghiasinya. MAg NIP: 150 222 295 NIP: 150 252 260 Sekretaris Sidang Fatma Amilia NIP: 150 277 618 Pembimbing II Drs. H. H.

‫اشرف النبياء والمرسلين محمد وعلى اله واصحابه اجمعين‬ :‫أمابعد‬ ّ Selesainya penyusunan skripsi ini. yang bagi penyusun merupakan beban yang sangat berat.‫الحمد ل رب العالمين. و الصلة والسلم على‬ ّ ّ . karena menguras banyak tenaga dan pikiran.111 KATA PENGANTAR ‫بسم ال الرحمن الرحيم‬ . وبه نستعين على أمور الدنيا و الدين‬ ّ ‫أشهد أن ل إله إل ال الملك الحق المبين. memberikan kebahagiaan yang tak ternilai bagi penyusun. Oleh karena itu. و أشهد أن محمدا عبده‬ ‫و رسوله المبعوث رحمة للعالمين. sebuah hal yang sangat wajar apabila penyusun mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuannya kepada penyusun sehingga penyusun dapat menyelesaikan penulisan .

Sayarif Hidayat. atas waktunya untuk membimbing dan memberi dorongan. M. (Bapa) Maktubillah Muhammad dan (Ibu) Supriyatni. 3. Oman Fathurohman SW. moril. Eggi. Bapak. Penyusun menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan dan masih banyak kekurangan. sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.112 skripsi ini. Mas Arifin. Sahabat-sahabatku. Drs. Atas dukungannya baik do'a. Semua pihak yang tidak dapat disebut satu persatu atas bantuannya dan dukungannya. selaku Dosen Pembimbing II. Oleh karena itu. segala kritik maupun saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan dan akan kami terima dengan kerendahan hati guna memperbaiki tugas kami selanjutnya . Kamilatu Syifa. Imam. Iwan dan teman-temanku yang lain yang tidak dapat disebutkan satu-persatu atas bantuannya dan dukungannya. H. Bapak. 4. Malik Madany. atas waktu dan bimbingan. 6. Slamet Khilmi. A.Ag selaku Dosen Pembimbing I. sehingga skripsi ini selesai. 5. penyusun hanya dapat membalas dengan doa. MA. Bapak. 2. semoga perbuatan baik tersebut diterima Allah SWT dan mendapat balasan yang berlipat ganda. Drs. Kedua Oarang Tua. maupun materiil. Drs. Dan Adikkku. Afiyah Solikhakh. Untuk lebih rincinya penyusun mengucapkan banyak terima kasih kepada: 1. baik tekhnis maupun isi serta arahan-arahan dalam penyusunan skripsi ini. sebagai Dekan Fakultas Syari’ah.

menghentikan perawatan/pengobatan. Biasanya dilakukan penghentian terapi yang memperpanjang hidupnya. yaitu perbuatan yang membiarkan pasien meninggal. . terutama euthanasia aktif merupakan suatu tindakan pembunuhan walaupun atas dasar persetujuan si terbunuh. Dengan peralatan kedokteran yang modern itu. karena makna pembunuhan itu adalah menghilangkan nyawa seseorang yang dapat menghancurkan bangunan hidup manusia. dengan dukungan keluarga. baik karena sakit yang sangat akut dan menderita atau biaya yang amat terbatas. Jika pertimbangan kemampuan untuk memperoleh layanan medis yang lebih baik tidak memungkinkan lagi. menunda operasi. Secara umum euthanasia dibedakan menjadi dua. Di antara sekian banyaknya penemuan-penemuan teknologi tersebut. Amin. Yogyakarta. memutuskan untuk mengakhiri kehidupannya dengan jalan euthanasia. Euthanasia pasif. khususnya bagi penyusun dan pembaca pada umumnya. tidak kalah pesatnya perkembangan teknologi di bidang medis. 2. 17 Jumadil Akhir 1425 H 4 Agustus 2004 Penyusun Mukhlisin NIM: 9937 3425 ABSTRAK Dengan pesatnya penemuan-penemuan teknologi modern. dan sebagainya. rasa sakit seorang penderita dapat diperingan. diagnose mengenai penyakit dapat lebih sempurna dilakukan. membawanya pulang. yaitu tindakan terapi dengan harapan dapat mempercepat kematian pasien. yaitu euthanasia aktif dan euthanasia pasif. Dari hal inilah kemudian banyak pasien yang karena penyakitnya yang akut. Pengobatan penyakit pun dapat berlangsung secara lebih efektif. maka dapat dilakukan dua cara: 1. Hidup seorang pasien pun dapat diperpanjang untuk sesuatu jangka waktu tertentu. Euthanasia aktif.113 Harapan kami adalah semoga skripsi ini dapat menambah wawasan keilmuan dan bermanfaat bagi kita semua. Euthanasia. artinya membawa pasien pulang ke rumah. bahkan perhitungan saat kematian seorang pasien dapat dilakukan secara lebih tepat. Dengan perkembangan teknologi di bidang kedokteran. misalnya menghentikan pemberian infus. menjadikan terjadinya perubahan-perubahan yang sangat cepat di dalam kehidupan sosial budaya manusia.

114

membiarkan pasien dalam perawatan seadanya, tanpa ada maksud melalaikannya, apalagi menghendaki kematiannya. Euthanasia adalah sebagai bentuk pembunuhan yang disengaja, apapun bentuknya pembunuhan, Allah melarang melakukannya, dan Allah mengingatkannya dengan bentuk ancaman dalam al-Qur'an yaitu berupa neraka jahannam. Dalam al-Qur'an tidak ada satupun ayat yang jelas yang menyinggung masalah euthanasia ini. Dalam fiqh jinayah euthanasia termasuk ke dalam jenis pembunuhan, yaitu telah memenuhi unsur maddi, syar'i dan adabi. Dan euthanasia ini merupakan jenis pembunuhan sengaja, maka sanksi atas tindakan euthanasia ini, adalah qisas. Dokter mendapatkan sanksi berupa qisas, tetapi tindakan dokter dilakukan atas izin dari pasien dan atas persetujuan dari keluarga pasien. Maka dokter tidak dihukum qisas, karena salah satu yang menyebabkan gugurnya hukum qisas adalah adanya kerelaan atau izin dari siterbunuh. Dan juga unsur kerelaan dalam pembunuhan merupakan syubhat yang dapat menggugurkan hukuman. Tetapi mengingat masalah euthanasia ini tidak hanya berimbas bagi orang perseorangan melainkan juga bagi masyarakat sekitar maka kemudian hakim atau ulul amri berhak memberikan hukuman berupa ta'zir.

115

BAB V PENUTUP

A.

KESIMPULAN Setelah menguraikan dan menjelaskan dalam bab-bab sebelumnya mengenai "Euthanasia dalam Prespektif Fiqh Jinayah", dapat diambil kesimpulan bahwa: 1. Dalam pandangan Fiqh Jinayah, euthanasia termasuk

kedalam bentuk pembunuhan, walaupun atas permintaan si terbunuh, karena dalam masalah euthanasia ini terdapat unsur penghilangan nyawa, sedangkan makna pembunuhan tersebut adalah: "Perbuatan perampasan atau peniadaan nyawa seseorang oleh orang lain yang mengakibatkan tidak berfungsinya seluruh anggota badan disebabkan ketiadaan roh sebagai unsur utama untuk menggerakan tubuh". Dan tindakan atas euthanasia tetap dilarang, tetapi sanksi hukumnyanya adalah ta'zir, karena perbuatan euthanasia terdapat unsur syubhat yang dapat menghilangkan hukuman asli (qisas) dan juga hukuman pengganti (diyat) karena terdapat persetujuan keluarga, sedangkan fungsi diyat

116

tersebut untuk ganti rugi atas tindakan yang telah dilakukan pelaku untuk kelangsungan hidup pihak wali atau ahli waris terbunuh.

B.

SARAN-SARAN Setelah menguraikan dan menjelaskan serta menyimpulkan tentang skripsi yang berjudul tentang "Euthanasia dalam Prespektif Fiqh Jinayah", maka dapat diberi saran-saran, antara lain: 1. Jika pertimbangan kemampuan untuk memperoleh layanan medis yang lebih baik tidak memungkinkan lagi, baik karena sakit yang sangat akut dan menderita atau biaya yang amat terbatas, maka dapat dilakukan dua cara: 1) menghentikan perawatan/pengobatan, artinya membawa pasien ke rumah; 2) membiarkan pasien dalam perawatan seadanya, tanpa ada maksud melalaikannya, apalagi menghendaki kematiannya. 2. Umat Islam diharapkan tetap berpegang teguh pada kepercayaannya yang memandang segala musibah (termasuk menderita sakit) sebagai ketentuan yang datang dari Allah. Hal itu hendaknya dihadapi dengan penuh kesabaran dan tawakal. 3. Perlu kiranya dalam Fiqh Jinayah diberikan kompilasi dan kodifikasi hukum Islam atas persoalan-persoalan jinayah (pidana) kontemporer, agar masyarakat lebih tahu akan sikap yang akan dilakukan dan sebagai bahan pendidikan bagi masyarakat muslim yang mempelajarinya khususnya.

117 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful