BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Masalah Dalam abad XX ini kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi semakin pesat, karena muncul berbagai penemuan yang sangat bermanfaat bagi manusia. Khususnya di bidang kedokteran telah banyak penemuan obat-obatan, alatalat mekanik, serta cara-cara perlindungan terhadap penyakit.1 Hampir semua aspek kehidupan manusia tersentuh oleh teknologi, harus disadari bahwa teknologi telah membawa banyak manfaat untuk umat manusia.2 Di antara sekian banyak penemuan-penemuan teknologi tersebut, tidak kalah pesatnya perkembangan teknologi di bidang medis. Dengan perkembangan teknologi di bidang kedokteran ini, bukan tidak mustahil akan mengundang masalah pelik dan rumit. Melalui pengetahuan dan teknologi kedokteran yang sangat maju tersebut, diagnose mengenai suatu penyakit dapat lebih sempurna untuk dilakukan. Pengobatan penyakit pun dapat berlangsung secara lebih efektif. Dengan peralatan kedokteran yang modern itu,rasa sakit seorang penderita dapat diperingan. Hidup seorang pasien pun dapat diperpanjang untuk sesuatu jangka waktu tertentu, dengan memasang sebuah “ respirator “. Bahkan perhitungan saat kematian penderita penyakit tertentu, dapat dilakukan secara lebih tepat.

Ali Ghufron Mukti dan Adi Heru Sutomo, Abortus, Bayi Tabung, Euthanasia, Transplantasi Ginjal, Dan Operasi Kelamin dalam tinjauan Medis, hukum, dan Agama Islam, cet, ke.1 (Yogyakarta: Aditya Media,1993), hlm.28.
2

1

Thomas A Shannon, Pengantar Bioetika, terj, K. Bartens, (Jakarta: Gramedia, 1995), hlm. 7

1

2

Menyinggung masalah kematian, menurut cara terjadinya, maka ilmu pengetahuan membedakannya ke dalam tiga jenis kematian, yaitu: 1. Orthothanasia, yaitu kematian yang terjadi karena proses alamiah. 2. Dysthanasia, yaitu suatu kematian yang terjadi secara tidak wajar. 3. Euthanasia, yaitu suatu kematian yang terjadi dengan pertolongan atau tidak dengan pertolongan dokter.3 Yang menjadi persoalan ialah jenis kematian yang ketiga, yaitu kematian dalam kategori euthanasia atau biasa disebut juga mercy killing. Euthanasia biasa didefinisikan sebagai a good death atau mati dengan tenang. Hal ini dapat terjadi karena dengan pertolongan dokter atas permintaan dari pasien ataupun keluarganya, karena penderitaan yang sangat hebat dan tiada akhir, atau tindakan membiarkan saja oleh dokter kepada pasien yang sedang sakit tanpa menentu tersebut, tanpa memberikan pertolongan pengobatan seperlunya. Memberikan hak kepada individu untuk mendapatkan pertolongan dalam pengakhiran hidupnya, bagi banyak negara masih menjadi perdebatan yang sengit. Sampai sekarang ini, kaidah non hukum yang manapun (agama, moral, kesopanan), menentukan: membantu orang lain mengakhiri hidupnya, meskipun atas permintaan yang bersangkutan dengan nyata dan dengan sungguh-sungguh adalah perbuatan yuang tidak baik.4 Pada dasarnya masalah euthanasia ini timbul dari adanya suatu dilema, apakah seorang dokter mempunyai hak untuk mengakhiri hidup seorang pasien atas
Djoko Prakoso dan Djaman Andi nirwanto, Euthanasia hak asasi manusia dan hukum pidana, cet. ke-1 (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1984), hlm. 9-10
4 3

Wila Chandrawila Supriadi, Hukum Kedokteran (Bandung: Mandar Maju, 2001), hlm.106

3

permintaan pasien itu sendiri atau dari keluarganya, dengan dalih untuk menghilangkan atau mengakhiri penderitaan yang berkepanjangan, tanpa dokter itu sendiri menghadapi konsekuensi hukum. Dalam hal ini dokter tersebut menghadapi konflik bathin, dimana sebagai manusia biasa sang dokter tidak sampai hati menolak permintaan dari pasien dan keluarganya itu. Apalagi keadaan si pasien yang sekarat berbulan-bulan dan dokter tahu bahwa pengobatan yang diberikan itu maka dokter telah melanggar hukum, disamping itu juga telah pula melanggar sumpah dokter yang telah diucapkannya sebelum menjalankan profesi sebagai seorang dokter. Dalam memecahkan masalah ini, ada cara yang cukup unik yaitu bila keadaan antara hidup dan mati (maribundity), maka proses dan usaha medis jika tiada berpotensi lagi, penyembuhan harus dihentikan. Dengan perkataan lain, bahwa dalam keadaan demikian maka pembunuhan karena kasihan/karena terpaksa yang diijinkan oleh dokter diperbolehkan. Dalam hubungan itu, bahkan ada dokter yang berpendapat bahwa dokter itu boleh mengeluarkan atau mencabut alat yang diperjuangkan untuk memperpanjang hidup dari seorang pasien yang dalam keadaan expiration of the soul, yaitu apabila proses kematian sudah mulai nampak.5 Menurut dr. Kartono Muhammad (Wakil Ketua Ikatan Dokter Indonesia), seperti dikutip Akh Fauzi Aseri. Ia mengatakan seseorang dianggap mati apabila batang otak yang menggerakkan jantung dan paru-paru tidak berfungsi lagi. Tegasnya, batang otak merupakan pedoman untuk mengetahui masih hidup atau matinya seseorang yang sudah tidak sadar. Dari sini mesin-mesin pembantu seperti

5

Djoko Prakoso dan Djaman Andi Nirwanto, Euthanasia, hlm. 59

4 pemacu jantung dapat dicabut tanpa dituduh melakukan euthanasia terhadap penderita. hak yang mengalir dari “hak untuk menentukan diri sendiri” (the right of selfdetermination –TROS). Pada mati tidak secara alamiah. tetapi mati tidak secara alamiah adalah mati yang tidak diharapkan. hlm. dapat selalu diterima sebagai sesuatu hal yang wajar. Hukum Pidana. kecelakaan.103. demikianlah pendapat dari sebagian besar masyarakat Indonesia. Hukum Kedokteran. dan tidak ada seorangpun yang dapat menghindari/menentukan mengenai kelahiran dan kematian. (ed.).66 7 6 Wila Chanrawila Supriadi. bunuh diri. 8 . dan kematian selalu membawa kesedihan. 2002). sehingga penolakan atas pengakuan terhadap hak atas mati. Pada umumnya. Hafiz Anshary AZ. (Jakarta: Pustaka Firdaus. karena uzur. adalah pelanggaran terhadap hak asasi manusia. kelahiran selalu membawa kebahagiaan. sebab manusia pada saatnya akan mati. Kematian dapat terjadi baik dikehendaki.6 Lahir dan mati adalah takdir. maupun tidak dikehendaki. Yanggo dan HA. Fauzi Aseri. apakah itu pengakhiran hidup dengan bunuh diri (zelfmoord) atau minta “dibunuh” (diakhiri hidupnya – selanjutnya euthanasia). semua menurut sebagian besar masyarakat Indonesia adalah takdir. "Euthanasia Suatu Tinjauan dari Segi Kedokteran. akan ada hubungannya dengan hak seseorang untuk mati secara tidak alamiah (selanjutnya “hak untuk mati”) dari seseorang. hlm.7 Banyak orang berpendapat bahwa hak untuk mati. Kematian secara alamiah." dalam Chuzaimah T. adalah hak asasi manusia.102 Ibid. Problematika Hukum Islam Kontemporer.8 Akh. penyakit. dan Hukum Islam. hlm. bahkan dibunuh oleh orang lain..

Allah SWT melarang perbuatan yang mengarah kepada kematian dalam bentuk apapun. termasuk di dalamnya euthanasia. Karena pembunuhan adalah peniadaan atau perampasan nyawa seseorang oleh orang lain yang mengakibatkan tidak berfungsinya seluruh anggota badan disebabkan ketiadaan roh sebagai unsur utama menggerakan tubuh. walaupun dengan kerelaan dan atas permintaan orang itu sendiri. Dalam Islam masalah kematian manusia merupakan hak prerogatif Allah SWT.5 Euthanasia dapat dikategorikan sebagai perbuatan yang menyangkut kepada suatu tindakan untuk penghentian kehidupan seseorang. Allah berfirman dalam al-Qur'an: 0 ‫ل تقتلوا أنفسكم ان ال كان بكم رحيما‬ ‫ول تقتلوا النفس التى حرم ال ال بالحق ذالكم وصاكم به‬ 0 ‫تعقلون‬ ‫لعلكم‬ ‫من قتل نفسا بغير نفس أو فساد في الرض فكانما قتل‬ 0 ‫الناس جميعا‬ ‫وهو الذي أحياكم ثم يميتكم ثم يحييكم ان النسان لكفور‬ 9 10 11 12 9 An-Nisa (4): 29 Al-An'am. karena tindakan pembunuhan secara euthanasia ini merupakan pembunuhan tanpa hak. baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain. Jadi perbuatan-perbuatan yang mengarah kepada tindakan untuk menghentikan hidup seseorang itu merupakan perbuatan yang bertentangan dengan kehendakNYA. maka perbuatan ini bisa dimasukan sebagai jarimah pembunuhan.(6): 151 Al-Maidah (5): 32 Al-Hajj (22): 66 10 11 12 .

13 . Tindakan euthanasia dilakukan dengan pertimbangan yang matang dan dengan adanya unsur perencanaan. Janda (yang pernah bersuami) secara nyata berbuat zina. keluarga sebagai pihak pemberi izin dan sisakit sebagai korban euthanasia. XI:43. Orang yang keluar dari agama Islam. Ahmad Mustafa al-Maragi. yang diketahui oleh empat orang saksi (dengan mata kepala sendiri). walaupun ada unsur kerelaan dari pasien. 2. Jadi tindakan euthanasia merupakan tindakan pembunuhan dengan unsur kesengajaan dan direncanakan. 3. karena kerelaan korban itu bukan merupakan unsur jarimah pembunuhan.13 Jika dibandingkan dengan ketiga faktor di atas maka terjadinya tindakan euthanasia tidak ada satupun karena alasan bil haq. kerelaan korban untuk dibunuh bukan suatu penyebab kebolehan pembunuhan. Karena pembunuhan oleh seseorang secara zalim. sebagai suatu sikap menentang jamaah Islam. 1971). Dalam unsur euthanasia terdapat tiga hal yaitu dokter sebagai pelaku euthanasia. Jadi dalam masalah euthanasia ini merupakan tindakan pembunuhan yang disengaja dan direncanakan Di dalam hukum Islam.6 Syekh Ahmad Mustafa al-Maragi menjelaskan bahwa pembunuhan (mengakhiri hidup) seseorang bisa dilakukan apabila disebabkan oleh salah satu dari tiga sebab: 1. sekalipun ada prinsip lain bahwa korban atau keluarganya berhak memaafkan sanksi qisas atau diyat atau keduanya. Tafsir al-Maragi. (Mesir: Musthafa al-Baby al-Halaby. Riwayat Ibnu Masud.

dalam menentukan hukumnya. Untuk itu penyusun berusaha meneliti masalah Euthanasia ini dalam Prespektif Fiqh Jinayah. Pokok Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka dapat dirumuskan pokok masalah sebagai berikut: Apakah euthanasia merupakan tindak pidana dalam tinjauan Fiqh Jinayah? C. budaya dan lain-lain pada umumnya dan juga pada pandangan Islam dalam Fiqh Jinayah (Hukum Pidana Islam) khususnya. tetapi pihak keluarga diberikan hak atas tuntutan tindak pidana baik itu pembunuhan maupun pelukaan berupa hukuman diyat atau dimaafkan secara mutlak. B. Permasalahan Euthanasia ini sampai sekarang masih menimbulkan pro dan kontra baik pada pandangan hukum. Pada dasarnya Allah memberikan hukuman qisas bagi pembunuhan. Adapun kegunaan yang diharapkan dari penyusunan karya ilmiah ini adalah : terhadap masalah . etika. yang merupakan hak Tuhan. agama.7 Allah melarang adanya pembunuhan baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. penyusunan skripsi ini bertujuan untuk: Menjelaskan bagaimana pandangan Fiqh Jinayah euthanasia. Tujuan dan Kegunaan Sesuai dengan pokok masalah di atas. Karena hal ini sangat berguna untuk kelangsungan hidup pihak keluarga korban maupun pihak pelaku kejahatannya.

ahli hukum. (Yogyakarta: Media Pressindo. buku ini menjelaskan bahwa Euthanasia atau kematian baik adalah demi kepentingan pasien semata-mata bukan untuk kenyamanan orangorang yang sehari-hari berada di sekelilingnya.Tengker. ∗ Dalam buku Mengapa Euthanasia ?: Kemajuan Medis dan Konsekuensi Yuridis. Euthanasia Dalam Prespektif Hak Asasi Manusia. yaitu atas permintaan pasien itu sendiri tanpa adanya campur tangan dari pihak lain. Dan juga menjelaskan bahwa dalam hak asasi manusia terdapat hak untuk hidup dan hak untuk mati. karya Petrus Yoyo Karyadi. Euthanasia harus berlangsung atas dasar suka rela. hukum.ke-1. D. karya F. diantaranya: dalam buku Euthanasia dalam Prespektif Hak Asasi Manusia. Ada beberapa buku yang telah membahas tentang masalah euthanasia. Buku ini meninjau dan menyoroti permasalahan euthanasia dari segi HAM. 2001)  . Telaah Pustaka Kajian tentang Euthanasia dalam prespektif medis. psikolog. cet. Jika dokter melakukan tindakan euthanasia secara non alami maka dokter bisa dituntut pasal 344 Petrus Yoyo Karyadi.8 Skripsi ini diharapkan dapat menjadi sumbangan pemikiran di dalam menambah khasanah pengetahuan tentang hukum Islam khususnya yang berkaitan dengan permasalahan euthanasia dalam prespektif Fiqh Jinayah. seperti ulama. Dan dari segi yuridis dalam masalah euthanasia ini. etika dan ham banyak dibicarakan oleh banyak praktisi. diantaranya mengemukakan tentang apakah tindakan euthanasia merupakan hak asasi manusia?. ahli medis. psikologi.

bagi yang pro menganggap selain punya hak untuk hidup manusia juga mempunyai hak untuk mati. ∗ Dalam Skripsi yang berjudul "Sanksi Hukum Terhadap Pelaku Euthanasia yang dipaksa menurut KUHP dan Hukum Islam". 1984) Imawan Mukhlas Abadi. hasil karya Imawan Mukhlas Abadi. "Sanksi Hukum Terhadap Pelaku Euthanasia yang dipaksa menurut KUHP dan Hukum Islam". ∗ Dalam skripsi yang berjudul "Euthanasia dalam Prespektif Etika Situasi". hubungannya dengan HAM. Euthanasia Hak Asasi Manusia Dan Hukum Pidana. kehidupan dan  F. karya Djoko Prakoso dan Djaman Andi Nirwanto. Dan hal ini juga dilihat dari prespektif hukum pidana. karya Anna Iffah Akmala. Dalam karya tulis tersebut menekankan cara dilakukannya euthanasia yang ada unsur paksaannya dan sanksi hukum terhadap pelaku euthanasia yang dipakai. sebagian yang kontra menganggap hak untuk hidup sebagai dasarnya. bagaimana kedudukan Euthanasia dalam KUHP dan juga bagaimana prospeknya di masa depan dalam KUHP.9 karena bersalah menghilangkan nyawa orang atas permintaan. yang merupakan study analisis komparatif terhadap KUHP dan hukum Islam tentang pelaku euthanasia yang dipaksa . dan pasal 354 karena menolong orang bunuh diri. t.t) Djoko Prakoso dan Djaman Andi NIrwanto. (Bandung:  Nova. Skripsi Strata Satu Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga (1999)  . ∗ Dalam buku Euthanasia Hak Asasi Manusia Dan Hukum Pidana. Tengker. (Jakarta: Ghalia Indah. Mengapa Euthanasia? Kemampuan Medis dan Konsekuensi Yuridis. buku ini menjelaskan kedudukan Euthanasia dengan Hak Asasi Manusia. yang merupakan pandangan Etika situasi terhadap Euthanasia yang meliputi manusia dalam sudut pandang Etika Situasi. yang memuat tentang Hak untuk Mati seseorang dan kaitannya dengan hukuman mati.

 . HAM. dalam prespektif Fiqh Jinayah. Juga Anna Iffah Akmala. ∗ Di sekian penelitian yang ada yang membahas euthanasia ini semuanya mengacu pada permasalahan medis sebagai objek penelitian dasarnya. Yang membedakan antara penelitian yang peneliti lakukan dengan penelitian sebelumnya adalah dalam penelitian ini peneliti meneliti permasalahan euthanasia dalam prespektif Fiqh Jinayah. Juga terdapat perkembangan euthanasia di berbagai negara dan ethanasia dalam tinjauan berbagai agama.10 kematian yang manusiawi serta pandaangan Etika Situasi terhadap Euthanasia. Dalam Skripsi ini akan dibahas apakah tindakan euthanasia ini termasuk pembunuhan dan dapat dikenai sanksi. Komparasi Hukum Islam dengan Hukum Pidana Positif dalam masalah euthanasia yang dipaksa. Sedangkan penelitian-penelitian sebelumnya adalah penelitian yang meninjau dari segi Hukum Pidana Positif. yang dilakukan secara suka rela atas permintaan sendiri dikarenakan sakit. dan penelitian-penelitian di atas merupakan bentuk-bentuk macam penelitian dalam segi medis ditinjau dari berbagai aspek. E. yang mana tindakan euthanasia yang terdapat suatu unsur tindakan pembunuhan. Kerangka Teoretik Euthanasia merupakan istilah untuk pertolongan medis agar kesakitan atau penderitaan yang dialami seseorang yang akan meninggal dunia diperingan. Konsekwensi Yuridis dan kajian Etika. sebagaimana tindakan pembunuhan pada umumnya. Skripsi Strata Satu Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga (2002). "Euthanasia Dalam Prespektif Etika Situasi".

sukarela atau tidak sukarela. yakni euthanasia aktif dan euthanasia pasif. Euthanasia. 1990). 15 14 Petrus Yoyo Karyadi.14 Menurut Petrus Yoyo Karyadi.11 berarti mempercepat kematian seseorang yang ada dalam kesakitan dan penderitaan hebat menjelang kematiannya. dkk. seperti dosis besar obat tidur atau suntikan racun. kematian merupakan tujuan tindakan seseorang. dimaksudkan untuk mengakhiri kehidupan pasien. hlm.132. Tindakan yang diambil.15 Euthanasia pada garis besarnya ada dua. Tanggung Jawab Hukum Seorang Dokter dalam Menangani Pasien (Jakarta: Ikhtiar Baru. 1987).28 Abdul Jamali. 16 . atas atau tanpa permintaan dan atau keluarga sendiri. sedang euthanasia pasif ialah membiarkan perawatan yang dapat memperpanjang kehidupannya. Sedangkan euthanasia pasif berusaha untuk memecahkan masalah-masalah moral mengenai perawatan pasien yang tidak ada harapan lagi atau yang sudah mendekati ajalnya Ensiklopedi Indonesia (Jakarta: Ikhtiar Baru-Van Hoeve. demi kepentingan pasien dan atau keluarganya. euthanasia adalah dengan sengaja dokter atau bawahannya yang bertanggungjawab kepadanya atau tenaga ahli lainnya melakukan suatu tindakan medis tertentu untuk mengakhiri hidup pasien atau mempercepat proses kematian pasien atau tidak melakukan tindakan medis untuk memperpanjang hidup pasien yang menderita suatu penyakit yang menurut ilmu kedokteran sulit untuk disembuhkan kembali. Vol.16 Dalam euthanasia aktif. hlm. Definisi euthanasia aktif ialah sengaja diambil tindakan yang berakibat kematian. Artikel Euthanasia.2:978.

terj. apakah pasien menginginkannya. euthanasia aktif kemudian dibagi menjadi dua golongan. Berdasarkan akibatnya. Gramedia Pustaka Utama.12 dengan menghentikan segala terapi. yaitu euthanasia aktif langsung terjadi bila dokter atau tenaga kesehatan lainnya melakukan suatu tindakan medis untuk meringankan penderitaan pasien sedemikian rupa sehingga secara logis dapat diperhitungkan bahwa hidup pasien diperpendek atau diakhiri.17 Euthanasia aktif terjadi bila dokter atau tenaga kesehatan lainnya secara sengaja melakukan suatu tindakan untuk memperpendek hidup pasien atau untuk mengakhiri hidup pasien tersebut. K Bartens. Euthanasia aktif tidak langsung terjadi bila dokter atau tenaga kesehatan lainnya tanpa maksud untuk memperpendek hidup pasiennya. sedangkan euthanasia pasif 17 Thomas A Shanon.18 Euthanasia aktif adalah proses kematian diringankan dengan memperpendek kehidupan secara terarah dan langsung. sehingga bisa berlangsung penyelesaian secara alamiah. Dalam euthanasia aktif ini masih perlu dibedakan.31 . atau tidak berada dalam keadaan di mana keinginannya dapat diketahui. melakukan tindakan medik untuk meringankan penderitaan pasien dengan mengetahui adanya risiko bahwa tindakan medik ini dapat mengakibatkan diperpendek/ diakhiri hidup pasiennya. hlm. Euthanasia. karena kasih sayang yang dilakukan oleh dokter dengan mempergunakan instrumen (alat). Menurut Yusuf Qardawi yang dimaksud euthanasia aktif (taisir maut al-faal) ialah tindakan memudahkan kematian si sakit. 18 Petrus Yoyo Karyadi. (Jakarta. PT. 1995). pengantar bio etika. hlm. tidak menginginkannya. 69-71.

hlm. Dan yang diteliti dalam masalah euthansia ini adalah euthanasia aktif secara langsung yang dilakukan atas permintaan pasien. dokter sebagai pelaku (pengeksekusi) euthanasia. II:749Djoko Prakoso dan Djaman Andi Nirwanto.19 Dalam masalah euthanasia ini tidak terlepas dari beberapa pihak.13 (taisir maut al-munfa'il) tidak dipergunakan alat-alat atau langkah-langkah aktif untuk mengakhiri kehidupan si sakit. alat-alat bukti lainnya yaitu: kesaksian-kesaksian. 20 . bahwa euthanasia khususnya euthanasia aktif. Fatwa-Fatwa Kontemporer. Dalam hal ini permintaan pasien harus mendapat perhatian yang tegas agar tidak disalahgunakan. pengakuan dan isyarat-isyarat. seperti macam-macam perbuatan pidana dengan ancaman pidana disebut al-jinayah.20 Hukum Islam atau Fiqh Islam. surat-surat. dan keluarga sebagi pihak penyetuju tindakan euthanasia. tetepi ia hanya dibiarkan tanpa diberi pengobatan untuk memperpanjang hayatnya. maka dalam menentukan benar tidaknya permintaan yang tegas dan sungguh-sungguh. telah mengatur perikehidupan manusia secara menyeluruh mencakup segala macam aspeknya. 1995).71-72 750. diantaranya adalah masalah-masalah hukum yang berhubungan dengan kepidanaan. yaitu pasien sebagai yang di euthanasia. (Jakarta: Gema Insani Press. Sebagaimana yang telah dipaparkan di atas. harus dibuktikan dengan adanya saksi atau pun oleh alat-alat bukti lainnya. yang dibebankan kepada pelaku euthansia yaitu dokter sebagai pihak pengeksekusi euthanasia. itu merupakan suatu perbuatan jarimah pembunuhan karena sudah memenuhi unsur-unsur jinayah yakni: 19 Yusuf Qardawi. Euthanasia.

2. serupa kekeliruan. Perbedaan pengklasifikasian tersebut adalah: 1. Unsur ini dikenal dengan istilah “unsur formal” (ar-Rukn asy. Djazuli. Pembunuhan adakalanya terjadi karena disengaja oleh pelaku dan adakalanya tidak disengaja. Kaidah Fiqh Jinayah (Asas-asas Hukum Pidana Islam). II: 7-9.3. Pelaku kejahatan adalah orang yang dapat menerima khithab atau dapat memahami taklif. yaitu: pembunuhan sengaja. yaitu pembunuhan sengaja. Jumhur mengklasifikasikannya menjadi tiga (sulasi). Adanya unsur perbuatan yang membentuk jinayah. semi sengaja. semi sengaja (syibh al-'amd) dan kekeliruan. 3. Unsur ini dikenal dengan istilah “unsur moral” (ar-Rukn al-Adabi)21 Dalam konteks di atas jelas bahwa pelaku euthanasia aktif bisa dikenai sanksi pembunuhan sengaja.Syar’i) 2. Adanya nash yang melarang perbuatan-perbuaatan tertentu yang disertai ancaman hukuman atas perbuatan di atas. dan pembunuhan secara tidak langsung (qatl bi attasabbub). kekeliruan. atTasyri' al-Jina'I al-Islami Muqaranah bi al-Qanun al-Wad'I. Sebagian Hanafiyah mengklasifikasikanya menjadi empat (ruba'i). 1997). 21 . (Bandung: Pustaka Bani Quraisy.14 1. semi sengaja. Unsur ini dikenal dengan istilah “unsur material” (ar-Rukn al-Maddi) 3. Ulama Malikiyah mengklasifikasikan bentuk-bentuk pembunuhan menjadi dua yaitu: pembunuhan sengaja (qatl al-'amd) dan kekeliruan (qatl al khata'). yaitu: pembunuhan sengaja. 1992). (Bayrut: Muassasat ar-Risalat. baik berupa melakukaan perbuatan yang dilarang atau meninggalkan perbuatan yang diharuskan. ke-2. Fiqh Jinayah (upaya menanggulangi kejahatan dalam Islam). kekeliruan. 2004). dan serupa kekeliruan (ma jara majr al-khata'). Sebagian Hanafiyah mengklasifikasikannya menjadi lima (khumasi). sehingga mereka dapat dituntut atas kejahatan yang mereka lakukan.22 A. ke-1. 22 Jaih Mubarok dan Enceng Arif Faizal. cet. artinya pelaku kejahatan tadi adalah mukallaf. terjadi perbedaan pendapat di antara para ulama dalam mengklasifikasikan bentuk-bentuk pembunuhan. Berkenaan dengan ini. maka perlu diberikan klasifikasinya agar mudah menempatkan/ memposisikan suatu tindak pidana pembunuhan menurut kadar ukurannya. (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Berbicara tentang pembunuhan. cet. hlm.9. 4. hlm. Lihat juga Abd al-Qadir 'Awdah.

matinya korban merupakan bagian yang dikehendaki si pembunuh. hlm. hlm. hal 117. 3. CV Pustaka Setia.23 4. pelaku sama sekali tidak bermaksud melakukan suatu aktivitas tertentu. namun sama sekali tidak menhendaki kematian si korban. yaitu kesalahan dalam berbuat sesuatu yang mengakibatkan matinya seseorang. Fiqh JInayat (upaya menaggulangi Kejahatan Dalam Islam. 2.24 Rahmat Hakim. akan tetapi di luar kesadarannya menyebabkan kematian orang lain. pembunuhan serupa kekeliruan (ma jara majr al-khata'). Perbuatan itu sendiri sengaja dilakukan dalam objek yang dimaksud. Walaupun disengaja. pembunuhan sengaja (qatl al-'amd). cet ke-1 desember 2000. pembunuhan karena kesalahan (qatl al-khata'). (Jakarrta: PT Raja Grafindo Persada. pembunuhan secara tidak langsung (qatl bi at-tasabbub). pelaku membuat sarana yang pada awalnya tidak dimaksudkan untuk mencelakakan orang lain.17. 123 24 23 Jaih Mubarok.15 Untuk mengetahui arti dari jenis-jenis pembunuhan ini maka perlu diperjelas artinya yaitu sebagai berikut: 1. kaidah fiqh jinayah. yaitu perbuatan penganiayaan terhadap seseorang tidak dengan maksud untuk membunuhnya tetapi mengakibatkan kematian. . 2000). tetapi karena kelalaiannya. 5. pembunuhan semi sengaja (qatl syibh al-'amd). ke-2. Jadi matinya korban sama sekali tidak diniati. (Bandung. Lihat juga A. Djajuli. Hukum Pidana Islam (Fiqih Jinayah). Jadi. pada akhirnya menyebabkan kematian orang lain. perbuatan tersebut tidak ditujukan terhadap korban. yaitu suatu perbuatan penganiayaan terhadap seseorang dengan maksud untuk menghilangkan nyawanya. 1997). cet.

Islam sangat memperhatikan keselamatan hidup dan kehidupan manusia25. apalagi memusuhinya atau memisahkannya dari kehidupan. hlm. berarti hal ini termasuk dalam pembunuhan disengaja. Apabila euthanasia aktif itu didukung oleh kerelaan si pasien maka yang demikian disebut tindakan bunuh diri dengan meminjam tangan atau melalui orang lain. karena dia tidak menciptakan dirinya (jiwanya). terj. Yusuf Qardawi. 2000). (Jakarta: Robbani Press. ataupun selnya. 379. Halal dan Haram dalam Islam.16 Dari jenis-jenis pembunuhan di atas. lebih-lebih terhadap jiwa manusia. dan masalah ini biasanya timbul oleh alasan bahwa pasien sudah tidak tahan lagi menanggung derita yang berkepanjangan atau tidak ingin meninggalkan beban ekonomi atau tidak punya harapan untuk sembuh. Dirinya hanyalah titipan yang dititipkan Allah. Haji Masagung. 26 . hlm. bahwa kehidupan seseorang bukanlah miliknya sendiri. karena telah ada unsur perbuatannya dan unsur tujuannya yaitu agar orang tersebut mati.ke-1. 1994). Karena itu ia tidak boleh mengabaikannya. cet. bila melihat kepada maknanya euthanasia yaitu suatu perbuatan penghilangan nyawa seseorang atas permintaan orang itu sendiri. Karena memelihara nyawa manusia merupakan salah-satu tujuan utama dari lima tujuan 25 Masjfuk Zuhdi.26 Manusia dituntut untuk memelihara jiwanya (hifz an-nafs). Masalah euthanasia merupakan masalah yang sangat sulit. Tetapi dalam hal ini yang perlu dipertanyakan apakah unsur kerelaan atas si terbunuh termasuk ke dalam unsur pembunuhan disengaja.. Masail Fiqhiyah (Jakarta: CV. Syaikh Muhammad Yusuf al-Qardawi mengatakan.161. Oleh Abu Sa’id al-Falahi dan Aunur Rafiq Shaleh Tamhid. anggota tubuhnya.

Maka euthanasia ini merupakan perbuatan yang terlarang. biasanya upaya untuk mengurangi beban pasien dalam penderitaannya melalui suntikan dengan bahan pelemah fungsi syaraf dalam dosis tertentu (neurasthenia). walaupun terdapat unsur kerelaan dari pihak siterbunuh maka perbuatan tersebut termasuk perbuatan jarimah. Oleh karenanya.27 F. Euthanasia…. dan hal ini dilarang oleh Allah dengan ancaman neraka jahannam. dalam al-Qur'an tidak ada ayat yang menyinggung terhadap masalah euthanasia ini secara khusus. bahwa penyakit yang diderita pasien tidak dapat disembuhkan lagi dan diberikan jalan pintas yaitu dengan jalan medis juga. Dan sanksi pembunuhan ini adalah hukum Qisas sesuai dengan kadar dan jenis pembunuhannya Perbuatan euthanasia sama dengan bunuh diri yang dilakukan dengan meminjam tangan orang lain. Jiwa meskipun merupakan hak asasi manusia. Hipotesis Euthanasia adalah istilah dalam dunia medis yang merupakan keputusan dokter terhadap keadaan penyakit yang dialami pasien. . dan hal ini dianggap sebagai perbuatan yang menentang takdir Tuhan. 27 Akh. seseorang sama sekali tidak berwenang dan tidak boleh melenyapkannya tanpa kehendak dan aturan Allah sendiri. tetapi ia adalah anugerah Allah Swt. hlm. Fuzi Aseri. Memutuskan hukum dalam masalah euthanasia ini bukan merupakan hal yang mudah.69. Namun karena masalah euthanasia ini berhubungan masalah pembunuhan.17 syariat yang diturunkan oleh Allah Swt.

Dalam rangka pengumpulan data.Jenis penelitian Jenis penelitian yang digunakan ialah kepustakaan (literatur) 2. G. dalam hukum Islam lebih khusus dalam Fiqh Jinayah (Hukum Pidana Islam). Metode Penelitian 1. penyusun menggunakan teknik dokumentasi. dan dalam penyelesaiannya dibantu dengan pendapat-pendapat para ahli dan para mujtahid 3.Pendekatan Pendekatan yang digunakan dalam penyusunan skripsi ini. yaitu Allah SWT.18 Sebab masalah kehidupan dan kematian seseorang itu berasal dari pencipta-Nya. 4. yaitu penyusun . yaitu meneliti permasalahan euthanasia sebagai suatu permasalahan baru.Sifat penelitian Penelitian ini bersifat eksploratif. ialah menggunakan penelitian kepustakaan (library research). sesuai dengan perkembangan zaman yang disesuaikan dengan keadaan sekarang. ialah pendekatan normatif. yang mana euthanasia yang terdapat dalam dunia medis diteliti dengan prespektif fiqh jinayah (Hukum Pidana Islam). Artinya dalam pembahasannya melakukan pendekatan terhadap permasalahan yang dititikberatkan pada aspek-aspek hukum. Penyusun menelusuri bahan penelitian yang ada hubungannya dengan permasalahan yang diteliti.Teknik pengumpulan data Untuk mendapatkan data dalam penyusunan skripsi ini.

Sistematika Pembahasan Agar tidak terjadi tumpang tindih dan untuk konsistensi pemikiran. yakni tentang macam-macam euthanasia. 5. jenis euthanasia yang termasuk kedalam perbuatan jarimah.19 melakukan observasi terhadap sumber-sumber data yang berupa dokumen baik primer ataupun sekunder. serta pelaku tindakan euthanasia dan juga sanksi hukum apa yang harus diterapkan bagi perbuatan euthanasia ini. metode penelitian dan sistematika pembahasan. tujuan dan kegunaan penelitian. hipotesis. Deduktif artinya meneliti dan menganalisa macam-macam bentuk euthanasia. Analisis Data Data yang terkumpul dianalisis secara kualitatif dengan cara berfikir deduktif. bab ini membicarakan mengenani pengertian euthanasia serta permasalahannya yang sangat erat hubungannya dengan euthanasia. kerangka teori. kemudian ditentukan. dimulai dengan pendahuluan yang menjelaskan latar belakang permasalahan yang akan dicari jawabannya. H. Pada bab pertama. Setelah bab pertama merupakaan pendahuluan ialah bab kedua. tinjauan umum dan masalah sekitar euthanasia. sebab-sebab yang memungkinkan . telaah pustaka. penulis membuat sistematika pembahasan yang terdiri dari bab-bab yang saling berhubungan dan saling menunjang yang satu dengan yang lainnya secara logis. kemudian dikumpulkan dan diolah sedemikian rupa sehingga menghasilkan data yang diperlukan.

Pada bab ketiga berisi tentang Prinsip-prinsip Fiqh Jinayah terhadap Euthanasia yang meliputi pengertian Hukum Pidana Islam. yaitu eu dan thanatos. Serta sanksi hukum bagi pelaku euthanasia. Pengertian Euthanasia Istilah euthanasia berasal dari bahasa Yunani. Setelah diuraikan secara panjang lebar dan terperinci pada bab-bab sebelumnya. BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG EUTHANASIA A. Bab kelima. HAM dan Hukum Pidana Positif (KUHP). sebagai acuan dalam meninjau permasalahan pidana khususnya dalam masalah euthanasia. langkah selanjutnya adalah mengambil suatu kesimpulan dari apa yang telah menjadi pokok pembahasan dalam karya ilmiah ini. Pada bab keempat berisi tentang Praktek Euthanasia Dalam Prespektif Fiqh Jinayah yang meliputi Euthanasia aktif sebagai jarimah. tujuan Fiqh Jinayah serta aspek kemanusiaan dalam Fiqh Jinayah. memuat tentang kesimpulan dan saran-saran. Kata eu berarti baik. dan juga beberapa tinjauan baik dari segi Medis. Sedangkan saran-saran diajukan pula. jarimah Qisas-diyat.20 dilakukannya euthanasia. dan thanatos berarti mati. demi perbaikan dan kesempurnaan dari pengaturan masalaah euthanasia yang telah ada serta pandangan untuk masa-masa yang akan datang. pada bab yang terakhir ini. Maksudnya adalah mengakhiri hidup dengan .

etika. hlm. (Jakarta: Pustaka Firdaus. Sejumlah pakar dari berbagai disiplin ilmu telah mencoba membahas euthanasia dari berbagai sudut pandang. 29 J.).25 28 . "Euthanasia" beberapa soal moral berhubungan dengan quintum. buku ke-4. Chr Purwa Widyana. 2002). namun untuk mengurangi atau meringankan penderitaan orang yang sedang menghadapi kematiannya. 1974). Yanggo dan Hafiz Anshary AZ.28 Jadi euthanasia berarti mempermudah kematian (hak untuk mati). Hukum Pidana. sosial dan yuridis masih mengundang berbagai ketidakpuasan. sulit dijawab secara tepat dan objektif. hlm. Problematika Hukum Islam Kontemporer.21 cara yang mudah tanpa rasa sakit. (ed.29 Akh. agama. Dalam arti yang demikian itu euthanasia tidaklah bertentangan dengan panggilan manusia untuk mempertahankan dan memperkembangkan hidupnya. a good death. Bagi yang setuju menganggap euthanasia merupakan pilihan yang sangat manusiawi. Euthanasia Suatu Tinjauan dari Segi Kedokteran. Secara etimologis euthanasia berarti kematian dengan baik tanpa penderitaan. maka dari itu dalam mengadakan euthanasia arti sebenarnya bukan untuk menyebabkan kematian. Fauzi Aseri. (Antropologi Teologis II. dan Hukum Islam. dalam Chuzaimah T. Artinya dari segi kesusilaan dapat dipertanggungjawabkan bila orang yang bersangkutan menghendakinya. namun demikian pandangan medis. Hak untuk mati ini secara diam-diam telah dilakukan yang tak kunjung habis diperdebatkan. 64. sehingga tidak menjadi persoalan dari segi kesusilaan. sementara yang tidak setuju menganggapnya sangat bertentangan dengan nilai-nilai moral. atau enjoy death (mati dengan tenang). etika dan agama. Euthanasia atau hak mati bagi pasien sudah ratusan tahun dipertanyakan. Oleh karena itu euthanasia sering disebut juga dengan mercy killing.

maka menurut pengertian umum sekarang ini. euthanasia dapat diterangkan sebagai pembunuhan yang sistematis karena kehidupannya merupakan suatu kesengsaraan dan penderitaan. (Malang: Analekta Keuskupan Malang. Euthanasia Beberapa Soal Etis Akhir Hidup Menurut Gereja Katolik. Agar persoalan euthanasia ini dapat dibahas dengan sewajarnya sebaiknya arti kata-katanya diuraikan dengan lebih seksama lagi. Carm. (Yogyakarta: Media Presindo.30 Sejak abad ke-19. Pemakaian terminologi euthanasia ini mencakup tiga kategori.22 Akan tetapi dalam perkembangan istilah selanjutnya. hlm. Pemakaian secara sempit Piet Go O. 1989).26-27. Masalah tersebut semakin kompleks karena definisi dari kematian itu sendiri telah menjadi kabur. Secara etimologis di zaman kuno berarti kematian tenang tanpa penderitaan yang hebat. ke-1. Inilah konsep dasar dari euthanasia yang kini maknanya berkembang menjadi kematian atas dasar pilihan rasional seseorang. 31 30 . Euthanasia dalam prespektif hak asasi manusia. bahkan kadang-kadang disertai bahaya mengakhiri kehidupan sebelum waktunya. Dewasa ini orang tidak lagi memakai arti asli. yaitu:31 1. terminologi euthanasia dipakai untuk menyatakan penghindaran rasa sakit dan peringanan pada umumnya bagi yang sedang menghadapi kematian dengan pertolongan dokter. sehingga banyak masalah yang ditimbulkan dari euthanasia ini. 2001). cet. melainkan lebih terarah pada campur tangan ilmu kedokteran yang meringankan orang sakit atau orang yang berada pada sakarotul maut. hlm. Akhirnya kata ini dipakai dalam arti yang lebih sempit sehingga makna dan artinya adalah mematikan karena belas kasihan. euthanasia lebih menunjukkan perbuatan yang membunuh karena belas kasihan. 5-6 Petrus Yoyo Karyadi.

Beberapa ahli membedakan ketiga cara tersebut. Pemakaian secara luas Secara luas. Dengan sengaja melakukan sesuatu untuk mengakhiri hidup seorang pasien.. Pemakaian paling luas Dalam pemakaian yang paling luas ini. euthanasia diartikan: 1). 2. hukum dan psikologi. 32 Ibid. Beberapa pengertian tentang terminologi euthanasia:32 a. tetapi pada hemat penulis apapun istilahnya ketiga cara tersebut adalah tindakan euthanasia. Menurut hasil seminar aborsi dan euthanasia ditinjau dari segi medis. 2).23 Secara sempit euthanasia dipakai untuk tindakan menghindari rasa sakit dari penderitaan dalam menghadapi kematian. melainkan sebagai tindakan untuk menghilangkan penderitaan pasien. .27. Dengan sengaja tidak melakukan sesuatu (palaten) untuk memperpanjang hidup pasien 3). euthanasia berarti memendekkan hidup yang tidak lagi dianggap sebagai side effect. hlm. 3. Dilakukan khusus untuk kepentingan pasien itu sendiri atas permintaan atau tanpa permintaan pasien. terminologi euthanasia dipakai untuk perawatan yang menghindarkan rasa sakit dalam penderitaan dengan resiko efek hidup diperpendek.

4). atau tidak memperpanjang hidup pasien. dari mana datang permintaan. Dari beberapa kategori tersebut. Etika profesional dan Hukum Pertanggungjawaban Pidana Dokter. Macam-macam Euthanasia Euthanasia bisa ditinjau dari berbagai sudut. (Jakarta: Erlangga. Ketika hidup berakhir. hlm. Pasien menderita suatu penyakit yang sulit untuk disembuhkan kembali. Oemar Seno Adji. Mengakhiri hidup. mempercepat kematian.176 33 . Berpindahnya ke alam baka dengan tenang dan aman tanpa penderitaan. sadar tidaknya pasien dan lain-lain. untuk yang beriman dengan nama Allah dibibir. seperti cara pelaksanaanya. dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur euthanasia adalah sebagai berikut: 1).24 b. 2). Berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu 2). kata euthanasia dipergunakan dalam tiga arti:33 1). diringankan penderitaan sisakit dengan memberinya obat penenang. Atas atau tanpa permintaan pasien atau keluarganya. B. Menurut kode etik kedokteran indonesia. 3). Demi kepentingan pasien dan keluarganya. 3). Mengakhiri penderitaan dan hidup seorang sakit dengan sengaja atas permintaan pasien sendiri dan keluarganya. 3).1991).

3. hlm. Biasanya dilakukan dengan penggunaan obat-obatan yang bekerja cepat dan mematikan. Euthanasia aktif terbagi menjadi dua golongan:35 a. mencabut oksigen atau alat bantu kehidupan lainnya.31. tetapi diketahui bahwa risiko tindakan tersebut dapat mengakhiri hidup pasien. yang menunjukkan bahwa tindakan medis yang dilakukan tidak akan langsung mengakhiri hidup pasien. Euthanasia aktif Euthanasia aktif adalah perbuatan yang dilakukan secara aktif oleh dokter untuk mengakhiri hidup seorang (pasien) yang dilakukan secara medis. 34 Amri Amir. 35 . Bunga Rampai Hukum Kesehatan (Jakarta: Widya Medika. hlm. euthanasia aktif euthanasia pasif euthanasia volunter euthanasia involunter34 1. Teknologi Kedokteran dan Tantangannya terhadap Bioetika (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Euthanasia aktif langsung. 4. Kartono Mohamad.25 Secara garis besar euthanasia dikelompokan dalam dua kelompok.66- 67. b. yaitu cara pengakhiran kehidupan melalui tindakan medis yang diperhitungkan akan langsung mengakhiri hidup pasien. Misalnya.1997). yaitu euthanasia aktif dan euthanasia pasif Di bawah ini dikemukakan beberapa jenis euthanasia: 1. 1992). 2. Misalnya dengan memberi tablet sianida atau suntikan zat yang segera mematikan. Euthanasia aktif tidak langsung.

hal ini diungkapkan oleh beberapa tokoh. Perbuatan ini sulit dibedakan dengan perbuatan kriminal. mereka menambahkan macam-macam euthanasia selain euthanasia secara garis besarnya. Euthanasia involunter Euthanasia involunter adalah jenis euthanasia yang dilakukan pada pasien dalam keadaan tidak sadar yang tidak mungkin untuk menyampaikan keinginannya. . 3. diantaranya Frans magnis suseno dan Yezzi seperti dikutip Petrus Yoyo Karyadi. 4. Euthanasia tidak langsung. bahwa pasien mungkin mati dengan lebih cepat. yaitu usaha untuk memperingan kematian dengan efek samping. sehingga pasien diperkirakan akan meninggal setelah tindakan pertolongan dihentikan. Kedalamnya termasuk semua usaha perawatan agar yang bersangkutan dapat mati dengan "baik". yaitu: 1.26 2. yaitu usaha untuk memperingan kematian seseorang tanpa memperpendek kehidupannya. Selain kategori empat macam euthanasia di atas. Dalam hal ini dianggap famili pasien yang bertanggung jawab atas penghentian bantuan pengobatan. Euthanasia murni. Euthanasia volunter Euthanasia jenis ini adalah Penghentian tindakan pengobatan atau mempercepat kematian atas permintaan sendiri. 2. Euthanasia pasif Euthanasia pasif adalah perbuatan menghentikan atau mencabut segala tindakan atau pengobatan yang perlu untuk mempertahankan hidup manusia. euthanasia juga mempunyai macam yang lain.

bahkan akan menambah beban penderitaan (not initiating life support treatment). yaitu mempercepat kematian sesuai dengan keinginan pasien yang disampaikan oleh atau melalui pihak ketiga (misalnya keluarga). tetapi yang tidak begitu bermanfaat lagi. hlm.37 C.67-68 Ibid. Euthanasia sukarela. Sedang euthanasia pasif diartikan sebagai tidak dimulainya melakukan tindakan untuk memperpanjang hidupnya. Euthanasia..36 3. Adakalanya hal itu tidak harus dibuktikan dengan pernyataan tertulis dari pasien atau bahkan bertentangan dengan pasien. Euthanasia nonvoluntary. Misalnya tidak memberikan shock terapi dan tidak menyambung pernafasan dengan ventilator sesudah pasien manula penderita jantung kronis yang mendapat serangan 36 Petrus Yoyo Karyadi. Dalam literatur. 37 . hipnotik dan analgetika yang mungkin "de fakto" dapat memperpendek kehidupan walaupun hal itu tidak disengaja. euthanasia dibedakan antara yang aktif dan yang pasif. Euthanasia aktif diartikan melakukan suatu tindakan tertentu sehingga pasien meninggal.30. atau atas keputusan pemerintah. 4. Keadaan-keadaan yang Memungkinkan Dilakukannya Euthanasia Euthanasia mempunyai arti yang berdekatan dengan “membiarkan datangnya kematian” (letting die). yaitu mempercepat kematian atas persetujuan atau permintaan pasien. misalnya dengan mengakhiri pemberian nafas buatan melalui respirator atau mencabut ventilator dalam arti penghentian pemberian pernafasan artifisial.27 Di sini ke dalamnya termasuk pemberian segala macam obat narkotik. hlm.

yang menunjukkan bahwa otak sudah tidak berfungsi lagi. Kalau dahulu mati didefinisikan sebagai berhentinya denyut jantung dan pernafasan. yakni sel-sel tubuh saja yang masih menunjukkan tanda kehidupan. yang jelas kehidupannya tergantung kepada alat. Dengan demikian sekarang dikenal istilah mati otak (brain death). tetapi bila otak sudah tidak berfungsi. Guwandi. Persoalan yang kemudian timbul adalah sampai berapa lama orang itu bertahan dengan alat bantu tersebut. dengan kata lain dia hanya hidup secara vegetatif. artinya pasien belum meninggal. Secara medis sekarang diketahui jika rekaman otak masih menunjukkan fungsi yang baik. 38 J. 2000). hlm. maka dengan ditemukannya alat bantu pernafasan (respirator) dan alat pacu jantung (pace maker). masih ada kemungkinan ditolong dengan menggunakan alat tersebut.38 Seperti telah disebutkan pada awal tulisan ini. berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun tanpa di ketahui kapan akan berakhir. (Jakarta: FK UI. maka ada harapan orang tersebut akan siuman kembali. dan kalau alat tersebut dicabut kemungkinan besar ia akan segera mati. maka seseorang yang oleh karena suatu hal mengalami henti nafas mendadak (respiratory arrest) atau henti jantung (cardiac arrest). 40 . kemajuan dalam bidang ilmu dan tekhnologi kedokteran telah menambah beberapa konsep fundamental tentang mati. Kumpulan Kasus Bioethics & biolaw.28 jantung untuk kesekian kalinya dan sudah tidak sadarkan diri untuk waktu yang agak lama. Keadaan semacam ini berlangsung berhari-hari. maka hampir tidak mungkin dia hidup tanpa bantuan alat tersebut.

R. Siswo Sudarmo. 2. 3. Baik penderitaan ini maupun keinginan untuk mengakhiri kehidupan berlangsung tiada henti-hentinya.29 Dalam keadaan seperti ini tidak jarang keluarga pasien meminta dokter untuk segera mengakhiri penderitaan pasien dengan cara melepas semua alat bantu. Harus ada penderitaan fisik atau psikis yang tidak terpikulkan dan dahsyat dialami pasien. Tidak ada pemecahan rasional lain yang dapat memperbaiki situasi. 4. sampai hatikah seorang dokter dengan sengaja melepas alat bantu yang nota bene akan mengakhiri kehidupan seseorang?. hukum dan psikologis. "Euthanasia. hlm. pada yang terakhir ini jelas yang harus mencabut segala alat bantu adalah dokter (dokter yang bertanggungjawab). 1990). apakah dokter mempunyai hak untuk melakukan hal itu tanpa ia dikenai sanksi hukum?. Bagaimana sikap seorang dokter?" Makalah pada seminar sehari. (Yogyakarta: FKMPY. seorang dokter tidak di hukum dalam melakukan euthanasia. sebagai berikut: 1.3-4 39 . tepatnya di daerah Rotterdam. Pasien memahami betul situasinya sendiri maupun kemungkinankemungkinan alternatif yang tersedia dan mampu menimbang-nimbang antara pelbagai kemungkinan yang ada dan sesungguhnya telah pula melakukan pilihannya. Aborsi dan Euthanasia ditinjau dari segi medis. yang menjadi persoalan adalah: pertama. Pengadilan Negeri Rotterdam mempunyai kriteria bahwa seorang dokter tidak dihukum dalam melakukan euthanasia. H. Akan lebih rumit lagi apabila permintaan pasien (keluarganya) adalah dengan alasan sosial ekonomi (biaya) sehingga keluarga memaksa untuk membawa pulang pasien.39 Di Negara Belanda. Kedua.

politikus. 8. lawyer dan sebagainya. mengarahkan perbuatan manusia dan mengatur masyarakat. Pada keputusan untuk memberikan bantuan. Dengan kematian ini tidak ada orang lain yang dirugikan atau menderita tanpa alasan. buku. Ia seolah-olah menjadi "trademark" peradaban modern saat ini. 40 . 6.40 D. jurnalis. 7. demikian pula pada bantuan itu perlu diperhatikan kecermatan dan ketelitian yang semaksimal mungkin sesuai dengan kepatutan yang berlaku (misalnya dengan mengikutsertakan dalam perembukan beberapa teman sejawat dan ahli-ahli lainnya. 95. (Bandung: Nova. hlm. Tengker. yang tak dapat dipisahkan dari hakekatnya dan karena itu bersifat suci". Euthanasia dan Hak Asasi Manusia (HAM) Hak asasi mausia (HAM) mungkin merupakan kata yang telah ditulis dalam ratusan ribu halaman kertas. the Right of man" hal mana pada prinsipnya dapat dirumuskan sebagai "hak-hak yang dimiliki manusia menurut kodratnya. yang akan mengeluarkan resep mengenai obat atau bahan yang akan dipakai. juga menarik perhatian sejumlah besar ahli. Pada keputusan untuk memberikan bantuan harus selalu melibatkan seorang dokter.t). Sebagai basis dari pemikiran manusia. Keputusan untuk memberikan bantuan tidak diambil oleh satu orang saja. Hak-hak asasi manusia sebagaimana dikenal dewasa ini dengan nama antara lain "human rights. artikel atau surat kabar dan siaran televisi maupun radio. hak asasi dapat F. Jadi. t. Mengapa euthanasia? Kemampuan medis & konsekuensi Yuridis.30 5.

hlm. Hak asasi itu tidak dapat dipisahkan dari eksistensi pribadi manusia itu sendiri. 1990). Ramadhani. Egalite (kesamarataan). banyak mengajarkan tentang toleransi. berbuat adil. Freedom of Religion (kebeasan beragama). terdapat bermacam dokumen. 129. dan lain sebagainya. Islam mengajarkan belas kasihan sebagai suatu nilai kemanusiaan yang pokok dan satu dari kebajikan yang fundamental bagi orang yang mengaku dirinya muslim. 2. Liberte (kemerdekaan). perlakuan yang sama dalam hukum.D. 4. sosial dan kebudayaan. Freedom of Speech (kebebasan mengutarakan pendapat). Dari pemahaman yang demikian maka sebenarnya perjuangan untuk membela hak-hak kemanusiaan tersebut mungkin seumur umat manusia itu sendiri. 5. Euthanasia Cara Mati Terhormat Orang modern. Dalam hak-hak asasi manusia. dari kedua dokumen tersebut terdapat semboyan. 3.41 Sebagai contoh bahwa Nabi Musa berusaha menyelamatkan umatnya dari penindasan Fir'aun. diantaranya Declarations des Droits de'l Homme et du Citoyen (1789) di Perancis dan The Four Freedoms of F. politik. Nabi Muhammad dengan mu'jizatnya. yaitu: 1. Hak-hak Asasi manusia secara umum mencakup hak pribadi.31 dikatakan sebagai hak dasar yang dimiliki oleh pribadi manusia sebagai anugerah Tuhan yang dibawa sejak lahir. al-Qur'an. serta untuk mendapatkan perlakuan tata cara peradilan dan perlindungan hukum. Roosevelt (1941) di Amerika Serikat. Imron Halimi. (Solo: CV. menerapkan kasih sayang. 41 . tidak boleh memaksa. Fraternite (kerukunan atau persaudaraan). bijaksana.

"The right to die" ini berkaitan dengan munculnya "revolusi biomedis" dan tentunya berkaitan pula dengan masalah euthanasia. Freedom from Fear (kebebasan dari ketakutan). memang telah diakui oleh dunia yaitu dengan dimasukannya dan diakuinya Universal Declaration of Human Right oleh perserikatan bangsa-bangsa tanggal 10 desember 1948. adalah termasuk didalamnya. Hak kemerdekaan pikiran. maka akan terlintas dalam benak pikiran bahwa "hak untuk hidup" atau the right to life. Freedom from Want (kebeasan dari kekurangan). Hak kemerdekaan beragama. Hak kemerdekaan atas diri sendiri.32 6. terutama dalam hak kemerdekaan atas diri sendiri. Euthanasia Hak Asasi Manusia dan Hukum Pidana.32-33. d. c. 1984). 137 .43 Mengenai hak untuk hidup. b. Sedangkan mengenai "hak untuk mati". Hak menyatakan kebebasan dari rasa takut. maka masih merupakan perdebatan dan pembicaraan di kalangan ahli berbagai 42 Djoko Prakoso dan Djaman Andi Nirwanto. Menyinggung masalah hak-hak asasi manusia. karena tidak dicantumkan secara tegas dalam suatu deklarasi dunia. dan 7. e. (Jakarta: Ghalia Indah. 43 Petrus Yoyo Karyadi. Hak kemerdekaan berkumpul.42 Dari kedua dokumen tersebut. Dan dalam hak untuk hidup ini juga tercakup pula adanya "hak untuk mati" atau the right to die. hlm. Euthanasia. dapat disimpulkan bahwa hak asasi manusia mencakup: a. hlm.

maka perbuatan dokter yang telah memebantu untuk melaksanakan permintaan seorang pasien atau dari keluarganya seperti diuraikan di atas memounyai kekebalan terhadap "criminal liability" maupun terhadap "civil liability". misalnya bagi penderita suatu penyakit yang sudah tidak dapat diharapkan lagi penyembuhannya dan pengobatan yang diberikan sudah tidak berpotensi lagi. Ibid. dan bahkan di Negara-negara bagian ada yang mengaturnya secara jelas dalam berbagai undang-undang. Dengan demikian maka penderita suatu penyakit yang tak menentu nasibnya tersebut akan segera mati dengan tenang. Euthanasia. Kendatipun telah diakui dalam berbagai undang-undang. namun masih harus diakui pula bahwa "hak untuk mati" itu tidak bersifat mutlak. hlm. Jadi masih terbatas dalam suatu keadaan tertentu.33 bidang dunia. 42 45 46 . hlm. seperti diperagakan dalam "peradilan semu" dalam rangka Konperensi Hukum Se-Dunia di Manila.44 Di Negara-negara maju seperti Amerika Serikat masalah "hak untuk mati" sudah diakui. dengan jalan meminta pada dokter untuk menghentikan pengobatan yang selama ini diberikan kepadanya. 141 Ibid. melainkan 44 Imron Halimi. ataupun dengan jalan meminta agar diberikan obat penenang dengan dosis yang tinggi.46 Dari uraian di atas kiranya dapat disimpulkan bahwa masalah hak-hak asasi manusia itu bukanlah semata-mata merupakan persoalan yuridis semata. Dan lagi Negara yang telah mengakui adanya "hak untk mati"..45 Penderita suatu penyakit yang sudah demikian tersebut diakui dan diperbolehkan menggunakan "hak untuk mati"-nya.

apabila jantung dan paru-paru sudah tidak bekerja lagi. dalam perawatan intensif (di rumah sakit yang mempunyai fasilitas dan ahlinya) jantung yang sudah berhenti dapat dipacu untuk bekerja kembali dan paru-paru dapat dipompa agar kembali kembang kempis. (Jakarta: Widya Medika. maka pemecahannya haruslah disesuaikan dengan masalah moral. maka dari itu perlu dijelaskan arti "mati". maka perlu difahami tentang konsep mati yang dianut dari dulu hingga kini. orang sudah dinyatakan mati dan tidak perlu diberi pertolongan lagi. hlm. Bunga Rampai Hukum Kesehatan. moral yang ada di suatu masyarakat tertentu. cet. Dari hal ini dinyatakan bahwa mati 47 Amri Amir.34 bersangkut paut dengan masalah nilai-nilai etis. apa yang dimaksud dengan "mati"?. Perubahan pengertian ini berkaitan dengan adanya alat-alat resusitasi.47Bila demikian. organ yang memompa darah mengalir keseluruh tubuh. Berhentinya darah mengalir Konsep ini bertolak dari kriteria mati berupa berhentinya jantung. Dahulu. 1997). etis. kondisi dan kebiasaan yang ada dalam suatu negara E.68 . Konsep tentang Mati Untuk dapat memahami lebih jauh timbulnya masalah euthanasia. Oleh sebab itu masalah "hak untuk mati" yang dihadapkan sebagai suatu kasus hukum. Pada umumnya dikenal beberapa konsep tentang mati: a. ke-1. Penting bagi para dokter untuk memperjelas arti mati. Kini keadaan sudah berubah. berbagai alat atau mesinmesin penopang hidup dan kemajuan dalam perawatan intensif. Euthanasia dalam Ilmu Kedokteran 1.

Kematian berlangsung. maka bila tidak terjadi lagi pernafasan dan peredaran darah. rangsangan) dari luar.35 adalah berhentinya fungsi jantung dan paru-paru.50 c. Kematian otak Kriteria ini adalah: tidak sanggup menerima rangsangan dari luar dan tidak ada reaksi atau rangsangan. itu berarti bahwa kematian sudah menjadi kenyataan. Dan juga erat kaitannya dengan Electrokardiogram. Teknologi Kedokteran dan Tantangannya Terhadap Bioetika. dan situasi ini diteguhkan oleh elektroensefalogram (EEG). Kartono Mohamad. Tidak ada tanda-tanda terjadinya pernafasan spontan. pencatat gerakan jantung dari gelombang listrik. 2). dan kedua jenis ini terdapat pada alat oscillograf (alat catat getaran gelombang). Pengantar Bioetika. Shanon. Kematian berarti terputusnya kesatuan tubuh dan jiwa. K. Gramedia Pustaka Utama..69 Thomas A. 1995). Terj.58. hlm. paling sedikit selama satu jam. Pemisahan tubuh dan jiwa Manusia sebagai kesatuan tubuh dan jiwa atau kesatuan materi dan bentuk. hlm. tidak ada refleks.48 Karena nafas dan darah bahan yang menandakan kehidupan.51 Dasar untuk menetapkan bahwa otak tidak berfungsi lagi adalah:52 1).. (Jakarta: PT. jika dua unsur ini dipisahkan. 50 49 Ibid. Gramedia Pustaka Utama. Jiwa atau bentuk menjiwai tubuh atau materi. hlm. Pasien tidak berfungsi lagi bereaksi (unreceptive and unresponsive) terhadap stimulus (sentuhan. termasuk stimulus yang sangat menyakitkan. 48 Ibid. Bartens.58-59 Electroencephalogram (EEG) adalah: pencatatan terhadap keaktivan otak.1992) hlm.11 52 51 . tidak ada gerak sepontan atau pernafasan. sehingga tersusunlah makhluk yang unik yang disebut manusia. (Jakarta: PT.49 b.

Di antaranya adalah penghormatan atas hak pasien. dua buah kata bagi sebagian negara adalah kata-kata yang mewah. sehingga keputusannya diambil melalui pertimbangan yang jelas. yaitu agar 53 Amri Amir. sebab masih banyak negara yang tidak atau belum mengatur hal-hal yang berkaitan dengan hak pasien itu. Berbicara tentang "hak pasien" yang dihubungkan dengan pemeliharaan kesehatan. Tidak ada refleks. maka hak utama dari pasien tentunya adalah hak untuk mendapatkan pemeliharaan kesehatan (the right to health care). .71. karena tanpa organ ini bagi manusia tidak mungkin mempertahankan integrasi biologisnya dan karena itu juga integrasi sosialnya. Dalam hal ini penghormatan atas hak pasien untuk penentuan nasib sendiri masih memerlukan pertimbangan dari seorang dokter terhadap pengobatannya. cortex dan neo cortex) berarti kematian manusia. Hak-Hak Pasien Berkembangnya etika pelayanan kesehatan sebagai suatu bidang khusus dan pencarian pelbagai hak melalui pengadilan telah membantu untuk menetapkan banyak hak dalam konteks pelayanan kesehatan. dan Elektroensefalogram (EEG)-nya datar.36 3). 1997). Kematian seluruh otak (batang otak. Pasien harus diberi kesempatan yang luas untuk memutuskan nasibnya tanpa adanya tekanan dari pihak manapun setelah diberi informasi yang cukup. hlm. (Jakarta: Widya Medika.53 "hak pasien". Hak untuk mendapatkan pemeliharaan kesehatan yang memenuhi kriteria tertentu. Bunga Rampai Hukum Kesehatan. 2.

Agar lebih jelas dapat diuraikan hak-hak pasien yaitu sebagai berikut:55 a. setelah dokter memberikan informasi. sarana kesehatan dan bantuan dari tenaga kesehatan. tidak dapat menguasai situasi. Shanon. .54 Dalam pelaksanaan untuk mendapatkan pemeliharaan kesehatan. (Bandung: CV.147-148. Pengantar Bioetika (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Jika seseorang tidak tahu. ia tetap tinggal korban paternalisme. maka hak untuk menentukan diri sendiri diformulasikan dengan apa yang dikenal dengan persetujuan atas dasar informasi (informed consent). dan jika pasien tidak mempunyai kemungkinan itu. yang memenuhi standar pelayanan kesehatan yang optimal. 1995). sebagai misal antara lain hak untuk mendapatkan informasi tentang penyakitnya. Mandar Maju 2001). Bartens . hlm.37 pasien mendapatkan upaya kesehatan. 56 55 Wila Chandrawila Supriadi. hak untuk mendapatkan pendapat kedua. Dihubungkan dengan tindakan medik. pasien mempunyai hak-hak lainnya. tidak bisa membuat rencana. Kemungkinan untuk memperoleh informasi merupakan syarat untuk menjalankan otonomi.56 54 Wila Chandrawila Supriadi. Hak atas persetujuan Hak untuk enentukan diri sendiri (the right of self determination) juga terproses sejalan dengan perkembangan dari hak asasi manusia.12. Thomas A. hlm. Terj K. Hukum Kedokteran. Adalah hak asasi pasien untuk menerima atau menolak tindakan medik yang ditawarkan oleh dokter. ia tidak bisa memilih. Hak atas informasi Agaknya hak yang paling penting adalah hak atas informasi.18. Hukum Kedokteran. hlm.

20. Hak untuk menolak pengobatan Jika seseorang mempunyai hak untuk memberi persetujuan dengan suatu pengobatan_atas dasar informasi yang diberikan sebelumnya. Hak atas pendapat kedua Yang dimaksud dengan pendapat kedua ialah adanya kerjasama antara dokter pertama dengan dokter kedua. tindakandan pelayanan lain kepada pasien pada sarana pelayanan kesehatan. Kebutuhan pasien atas catatan medis sebagai dasar pengetahuan untuk melaksanakan hak otonominya. d. Hak atas privacy Konfidensialitas dan perlindungan informasi yang diperoleh tenaga medis dalam hubungan dengan pasiennya adalah sangat penting. dan dokumen tentang identitas pasien.57 f. maka tidak bisa dihindarkan konsekuensi bahwa ia mempunyai hak juga untuk menolak pengobatan. Catatan medis di rumah sakit Rekam medik adalah berkas yang berisi catatan. pengobatan. Kerjasama ini bukan atas inisiatif dokter yang pertama. tetapi atas inisiatif pasien. 57 Ibid.. . Jika konfidensialitas tidak dapat dijamin. pemeriksaan. maka orang akan enggan mencari bantuan medis. hlm. Penolakan seperti ini sebagai perwujudan otonomi pasien dalam hak menentukan dirinya. hal ini sebagai dasr bagi relasi antara dokter dan pasien. Dokter pertama akan memberikan seluruh hasil pekerjaannya kepada dokter kedua.38 c.

Hal tersebut diinsyafi oleh para dokter diseluruh dunia. umumnya semua pejabat dalam bidang kesehatan. 59 . Dan pastinya di setiap Negara mempunyai kode etik kedokteran sendiri-sendiri. atau menganjurkan kepada mereka untuk tujuan itu. Kalau dalam prakteknya disertai oleh norma-norma etik dan moral. hlm. Manusia pada akhirnya akan mati. Ada batas ketika penyembuhan tidakberdaya lagi. Saya tidak akan memberikan obat yang mematikan kepada siapapun meskipun dimintanya. Pandangan Kode Etik Kedokteran Tugas profesional dokter begitu mulia dalam pengabdiannya kepada sesama manusia dan tanggung jawab dokter makin tambah berat akibat kemajuan-kemajuan yang dicapai oleh ilmu kedokteran. Dengan demikian. bahkan sebagai seorang yang berpengetahuan ia harus menunjukannya dengan perbuatan. Euthanasia. maka setiap dokter perlu menghayati etika kedokteran . 79. Petrus Yoyo Karyadi. hlm. yaitu jangan berusaha untuk menyembuhkannya. Dari pandanag Hippocrates tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa dokter tidak lagi mengobati penyakit-penyakit yang sebenarnya tidak perlu diobati atau 58 Djoko Prakoso. dokter tidak dapat berharap ia akan dapat menyembuhkan setiap pasiennya. menyingkirkan penyakit. Dokter harus mengenali dan menerima kedatangan saatsaat maut bagi pasiennya. Pada umumnya kode etik tersebut didasarkan pada sumpah Hippocrates.58 Di antara sumpah Hippocrates adalah sebagai berikut:59 Ilmu kedokteran adalah upaya untuk menaggulangi penderitaan si sakit. 83-84. dan tidak mengobati kasus-kasus yang tidak memerlukan pengobatan. Keahlian dibidang ilmu dan teknik baru dapat memberi manfaat yang sebesarbesarnya. Para dokter.39 3. harus memenuhi segala syarat keahlian dan pengertian tentang susila jabatan. sehingga kemulyaan profesi dokter tersebut tetap terjaga dengan baik. Euthanasia. karena ini berarti membohongi diri sendiri dan pasiennya…….

). 60 . Salah satu pasal dari Kode Etik Kedokteran Indonesia yang relevan dengan masalah euthanasia. Apabila pengobatan atau perawatan sudah tidak ada gunanya. Dalam situasi apapun keadaan pasien. meskipun hal itu kadang-kadang akan terpaksa melakukan tindakan medik lain misalnya operasi yang membahayakan.40 tidak membohongi pasien yang sebenarnya sudah tidak memerlukan obat. Misalnya dengan memberikan resep tetentu atau dengan memberikan medikasi lainnya. yang selalu mengandung resiko. Tindakan ini diambil setelah diperhitungkan masak-masak bahwa tidak ada jalan lain untuk menyelamatkan jiwa si sakit selain pembedahan. kemampuan berfikir dan mengumpulkan Ratna Suprapti Samil (ed. Naluri terkuat dari makhluk hidup termasuk manusia adalah mempertahankan hidupnya. diuraikan bahwa segala perbuatan terhadap si sakit bertujuan memelihara kesehatan dan kebahagiaannya. Disamping itu dokter tidak harus terus berupaya mengobati penyakit-penyakit yang tidak dapat disembuhkan kembali. Dengan sendirinya dokter harus mempertahankan dan memelihara kehidupan manusia. hlm. Untuk itu manusia diberi akal. adalah pasal 9 yang berbunyi: "Seorang dokter harus senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi hidup makhluk insani. 1980)."60 Dalam penjelasan pasal 9 di atas. Dan berarti hippocrates tidak akan memberikan obat yang memetikan sekalipun pasien telah memeintanya. maka dokterpun sudah tidak berkompeten lagi untuk melakukan medikasi terhadap pasiennya. Hippocrates tetap menolak tindakan euthanasia aktif.35. (Jakarta: Metro Kencana. Kode Etik Kedokteran Indonesia.

dan juga tidak perlu berusaha keras untuk mempertahankan kehidupannya.86 Ibid. maka lebih baik dokter membiarkan pasien meninggal dengan sendirinya.62 61 Petrus Yoyo Karyadi. Dengan demikian. Ia harus berusaha memelihara dan mempertahankan hidup makhluk insani. Akan tetapi. bukan orang yang menentukan kehidupan itu sendiri (life savers. hlm. perawatan (pengobatan) seperlunya masih tetap dilakukan. berarti ia juga menerima euthanasia dalam bentuk pasif. Medical ethics must be pro life. Jadi. walaupun menurut ilmu kedokteran dan pengalamannya pasien tidak mungkin sembuh. Bila dirasakan penyakit pasien sudah tidak dapat disembuhkan kembali. Dengan kata lain. berarti doktert dilarang mengakhiri hidup pasien (euthanasia). Dokter adalah orang yang menyelamatkan atau memelihara kehidupan. misalnya mencari keuntungan sebesar-besarnya di atas penderitaan orang lain.61 Sebetulnya kode etik kedokteran Indonesia sudah lama berorientasi pada pandangan-pandangan Hippocrates yang telah lama menerima euthanasia pasif. Begitu juga dengan kode etik kedokteran Indonesia. Tidak perlu mengakhiri hidupnya. 62 . apalagi dengan motif-motif tertentu. not pro death. dokter tidak boleh bertindak sebagai Tuhan (don’t play god). karena kematiannya sudah tidak dapat dihindarkan lagi. jelas bahwa Kode etik kedokteran Indonesia melarang tindakan euthanasia aktif. membangun dan mengembangkan ilmu untuk menghindarkan diri dari bahaya maut adalah merupakan tugas dokter.41 pengalamannya. Euthanasia. Hal ini. not life judgers). Asalkan jangan mengadaada melakukan tindakan medik (yang sebetulnya tindakan medik itu sudah tidak diperlukan lagi).

pada Bab XIX. Soesilo. buku II. (Bogor: Politeia. 1996). khususnya pasal-pasal yang membicarakan masalah kejahatan nterhadap nyawa manusia. walaupun kadang-kadang dari tindakan peringanan tersebut dapat mengakibatkan hidup pasien diperpendek secara perlahan-lahan (euthanasia tidak langsung). Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) serta komentar-komentarnya lengkap pasal demi pasal. R. Maka satusatunya yang dapat dipakai sebagai landasan hukum. tetapi satu-satunya pasal yang lebih mengena yaitu pasal 344. yang dapat dijumpai dalam Bab XIX.243 64 . sudah menjadi tugas dokter untuk ikut membantu meringankan penderitaanya.149-150.42 Adalah tugas ilmu kedokteran untuk memebantu meringankan penderitaan pasien. buku II. hlm. yaitu:64 63 Imron Halimi. hlm. Euthanasia dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) Di Indonesia dilihat dari perundang-undangan dewasa ini. dari pasal 338 sampai pasal 350 KUHP. memang belum ada pengaturan (dalam bentuk undang-undang) yang khusus dan lengkap tentang euthanasia. adalah apa yang terdapat di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Indonesia. maka harus dicari pengaturan atau pasal yang sekurang-kurangnya sedikit mendekati unsur-unsur euthanasia itu. Euthanasia. 5.63 Dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) pasal yang menyinggung masalah euthanasia ini secara pasti tidak ada. atau bahkan berusaha menyembuhkan penyakit selama masih dimungkinkan. Pasien yang benar-benar menderita atas penyakitnya. Tetapi bagaimanapun karena masalah euthanasia menyangkut soal keamanan dan keselamatan nyawa manusia.

344 KUHP 65 Ibid. yaitu: 1) Euthanasia aktif atas permintaan pasien Pasal.65 dan haruslah mendapatkan perhatian. kalimat “permintaan sendiri yang dinyatakan dengan kesungguhan hati” harus disebutkan dengan nyata dan sungguh-sungguh (ernstig). karena unsur inilah yang akan menentukan apakah orang yang melakukannya dapat dipidana berdasar pasal 344 KUHP atau tidak. Euthanasia. yang disebutkan dengan nyata dan dengan sungguh-sungguh.71. maka agar lebih mudah untuk difahami perlu diterangkan dan dibagi secara lebih terperinci. Petrus Yoyo Karyadi. hlm. Agar unsur ini tidak disalahgunakan. dan unsur sungguh (ernstig). Dalam pasal di atas. hlm.66 Masalah euthanasia ini merupakan masalah yang kompleks dari segi sifatnya. Euthanasia aktif terbagi dalam tiga kelompok. euthanasia dapat diuraikan sebagai berikut:67 a. harus dapat dibuktikan baik dengan adanya saksi atau pun oleh alat-alat bukti lainnya.54-71 66 67 . jika tidak maka orang itu dikenakan pembunuhan biasa. unsur permintaan yang tegas (unitdrukkelijk). maka dalam menentukan benar tidaknya seseorang telah melakukan pembunuhan karena kasihan ini. Djoko Prakoso. Euthanasia aktif Euthanasia aktif terjadi apabila dokter atau tenaga medis lainnya secara sengaja melakukan suatu tindakan untuk mengakhiri atau memeperpendek (mengakhiri) hidup pasien. Euthanasia. dihukum penjara selama-lamanya dua belas tahun.43 Barang siapa menghilangkan jiwa orang lain atas permintaan orang itu sendiri. Ditinjau dari segi yuridis.

Euthanasia tidak langsung tanpa sikap pasien Pasal. 359 b. yaitu: a). Seperti halnya dengan euthanasia aktif. 340 KUHP 3) Euthanasia aktif tanpa sikap dari pasien Pasal. 340. 359 c). 338. KUHP 4) Euthanasia tidak langsung Euthanasia tidak langsung terjadi apabila dokter atau tenaga medis lainnya tanpa maksud mengakhiri hidup pasien melakukan tindakan medis untyuk meringankan penderitaan pasien. 344. Euthanasia tidak langsung tanpa permintaan pasien Pasal. 359 b). Untuk dapat memudahkan euthanasia pasif ini juga dibedakan menjadi tiga. walaupun dengan mengetahui adanya resiko bahwa dari tindakan medik tersebut dapat mengakibatkan hidup sipasien diperpendek. Euthanasia pasif Euthanasia pasif terjadi terrjadi apabila dokter atau tenaga medis lainnya secara sengaja tidak memberikan bantuan medik terhadap pasien yang dapat memperpanjang hidupnya. euthanasia tidak langsung terbagi kedalam tiga kelompok. Euthanasia tidak langsung atas permintaan pasien Pasal. 340. 304.44 2) Euthanasia aktif tanpa permintaan pasien Pasal. yaitu: .

4. 338 KUHP: "Barang siapa dengan sengaja menghilangkan jiwa orang lain. yang disebutkannya denagn nyata dan dengan sungguh-sungguh. pasal-pasal tersebut adalah:68 Pasal.45 1). karena makar mati. 304 KUHP: Barangsiapa dengan sengaja menyebabkan atau membuarkan orang dalam kesengsaraan. Euthanasia pasif tanpa sikap pasien Pasal. hlm." 68 R. 304 jo 306 (2) Maka agar dapat mengetahui hukuman atas tindakan tersebut perlu disebutkan pasal-pasalnya. 304 jo 306 (2) 3). Euthanasia pasif atas permintaan pasien Tidak dihukum 2). dihukum. sedang ia wajib memberi kehidupan. Pasal.223-248 . KItab undang-undang. 306 KUHP: "Kalau salah satu perbuatan ini menyebabkan orang mati.500. dengan hukumkan penjara selama-lamanya lima belas tahun." Pasal. perawatan atau pemeliharaan pada orang itu karena hukum yang berlaku atasnya atau karena menurut operjanjian." Pasal. Soesilo. dihukum penjara selama-lamanya dua tahun delapan bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp. sitersalah itu dihukum penjara selam-lamanya sembilan tahun. 344 KUHP: "Barangsiapa menghilangkan jiwa orang lain atas permintaan orang itu sendiri. Euthanasia pasif tanpa permintaan pasien Pasal. dihukum penjara selama-lamanya dua belas tahun.

Oleh sebab itu setiap perbuatan apapun motif dan macamnya sepanjang perbuatan tersebut mengancam keamanan dan keselamatan nyawa manusia. ras. tentang keamanan dan keselamatan nyawa manusia Indonesia dijamin oleh undang-undang." Kalau diperhatikan bunyi pasal-pasal mengenai kejahatan terhadap nyawa manusia dalam KUHP tersebut. 359 KUHP: "Barangsiapa karena salahnya menyebabkan matinya orang dihukum penjara selama-lamanya lima tahun atau kurungan selama-lamanya satu tahun.46 Pasal. . Demikian halnya terhadap masalah euthanasia ini. warna kulit dan ideologi. Adalah suatu kenyataan sampai sekarang bahwa tanpa membedakan agama. maka hal ini dianggap sebagai suatu kejahatan yang besar oleh negara. maka dapatlah kita dimengerti betapa sebenarnya pembentuk undang-undang pada saat itu (zaman Hindia Belanda) telah menganggap bahwa nyawa manusia sebagai miliknya yang paling berharga.

al-qisas dan al-jarah.69 Istilah yang umum bagi aturan tersebut adalah al-jinayat yang sering kali diartikan dengan Hukum Pidana Islam. (Bandung: Pustaka Bani Quraisy. aljarah (penganiayaan atau pelukaan). Kata al-Jinayat memiliki makna sempit dan makna luas. al-hirabah (perampokan). syurb al-khamr (minum-minuman keras). al-qadžaf (tuduhan zina). 2004) hlm.1. 69 . Aturan-aturan tersebut dikelompokan oleh para ulama dalam bab fiqh dengan nama al-hudud. dan al-qatl (pembunuhan). Baik dalam alQur'an maupun as-Sunah terdapat sanksi-sanksi yang mengikat yang harus ditegakan di dunia. addima. melainkan juga menyediakan aturan-aturan yang bersifat imperatif. diantaranya dari aturanaturan yang berkenaan dengan jarimah az-zina (perzinaan). ar-riddah (keluar dari Islam atau murtad). Makna sempit al-Jinayat sejajar dengan makna al-qisas. ad-dima atau Jaih Mubarok dan Enceng Arif Faizal. Pengertian Fiqh Jinayah Salah satu kesempurnaan syariat Islam adalah adanya aturan-aturan yang berkenaan dengan hukum publik. Kaidah Fiqh Jinayah (asas-asas hukum pidana Islam). al-bughat (pemberontakan). Islam tidak sekedar mengajarkan ajaran moral saja.47 BAB III PRINSIP-PRINSIP FIQH JINAYAH A. bukan sekedar ancaman di akhirat. Hal ini terlihat. as-sariqah (pencurian).

Jinayah adalah semua perbuatan yang diharamkan. maupun dengan hal-hal lainnya seperti kehormatan. II:. yaitu setiap perbuatan yang dilarang (haram) berkenaan dengan penganiayaan terhadap tubuh dan penghilangan jiwa manusia. kehormatan. ada dua istilah penting yang terlebih dahulu harus dipahami. 1992).4. Selain itu. Sedangkan makna aljinayat secara luas sejajar dengan al-jarimat. baik berkenaan dengan tubuh. keturunan. kedua istilah tersebut harus diperhatikan dan difahami agar penggunaannya tidak keliru. Dengan demikian.71 Abdul Qadir Audah dalam kitabnya at-Tasyri' al-Jina'i al-Islami menjelaskan arti kata jinayah sebagai berikut: Abd al-Qadir 'Awdah. at-Tasyri' al-Jina'i al-Islami Muqaranah bi al-Qanun al-Wadh'i. 2001) hlm. istilah yang satu menjadi muradif (sinonim) bagi istilah lainnya atau keduanya bermakna tunggal. Walaupun demikian. Hukum Pidana Islam (fiqh jinayah). Perbuatan yang diharamkan adalah tindakan yang dilarang atau dicegah oleh syara' (Hukum Islam).70 Dalam mempelajari Fiqh Jinayah.48 al-jarah. harta. Jinayah. kedua istilah berbeda dalam penerapan kesehariannya. Pustaka Setia. dan agama. Pertama adalah istilah jinayah itu sendiri dan kedua adalah jarimah. akal. pada dasarnya kata jinayah artinya perbuatan dosa. perbuatan salah atau jahat. akal. jiwa. yaitu setiap perbuatan yang dilarang. Apabila dilakukan perbuatan tersebut mempunyai konsekuensi membahayakan agama. (Bandung: CV. (Beirut: Muassasat al-Risalat.12 . dan harta benda. 71 70 Rahmat Hakim. jiwa. Kedua istilah ini secara etimologis mempunyai arti dan arah yang sama.

pencurian. jelek. jarimah pembunuhan.73 Jarimah bisa dipakai sebagai perbuatan dosa –bentuk. Seperti jarimah pencurian. pembunuhan.15 . 74 73 Rahmat Hakim. atau sifat dari perbuatan dosa tersebut. II: 4 Imam al-Mawardi. Hukum. atau dosa. perkosaan. 2000). at-Tasyri'. 358. Semua itu disebut dengan istilah jarimah yang kemudian dirangkaikan dengan satuan sifat perbuatan tadi. al-Ahkam as Sultaniyah (Prinsip-prinsip Penyelenggaraan Negara Islam. pelanggaran yang 72 Abd Qadir Audah.49 ‫الجناية لغة اسم لما يجنيه المرء من شر ما اكتسب واصطلحا‬ ‫اسم لفعل محرم شرعا سواء وقع الفعل على نفس او مال او غير‬ 72 ‫ذالك‬ Kata jarimah mengandung arti perbuatan buruk. hlm. atau perbuatan yang berkaitan dengan politik dan sebagainya. atau ta'zir (sanksi disiplin) kepada pelakunya. Jadi pengertian jarimah secara harfiyah sama halnya dengan pengertian jinayah. jarimah perkosaan dan lain-lain. Fadhli Bakri. (Jakarta: Darul Falah. hlm.74 Adapun dalam pemakaiannya kata jinayah lebih mempunyai arti lebih umum (luas). Allah ta'ala mencegah terjadinya tindak kriminal dengan menjatuhkan hudud (hukum syar'i). pembahasan fiqh yang memuat masalah-masalah kejahatan. Misalnya. terj. yaitu ditujukan bagi sesuatu yang ada sangkut pautnya dengan kejahatan manusia dan tidak ditujukan bagi satuan perbuatan dosa tertentu. macam. Adapun pengertian jarimah segala tindakan yang diharamkan syari'at. Oleh karena itu.

merampok. apabila korban atau wali korban memaafkan pelaku. ada tiga unsur seseorang dianggap telah melakukan perbuatan jarimah.76 Dilihat dari sanksi yang telah ditetapkan atau tidak oleh syara'. 76 . 110-111. Ia menjadi hak Tuhan. keluar dari Islam dan memberontak.75 Secara umum. menuduh zina. mencuri. Unsur formal adalah adanya nas yang melarang perbuatan-perbuatan tertentu disertai dengan ancaman hukuman atas perbuatanperbuatan tersebut. at-Tasyri'. Unsur moral adalah orang yang melakukan perbuatan pidana tersebut terkena taklif atau orang yang telah mukallaf. hakim tidak mempunyai kewenangan untuk mempertinggi atau memperendah hukuman bila si pelaku telah terbukti melakukan jarimah tersebut. jarimah qisas yaitu jarimah yang hukumannya telah ditetapkan oleh syara'. hukuman bisa berpindah kepada ad-diyat (denda) atau bahkan bebas dari hukuman. jarimah hudud yaitu jarimah yang hukumannya telah ditetapkan baik bentuk maupun jumlahnya oleh syara'. Pertama.50 dikerjakan manusia. Unsur material adalah adanya perbuatan pidana. minum-minuman keras. Perbuatan yang 75 Ibid. Kedua. jarimah dapat dibedakan menjadi tiga. dan unsur moral (ar-rukn al-adabi). baik melakukan perbuatan yang dilarang atau meninggalkan perbuatan yang diperintahkan. yaitu unsur formal (ar-rukn asy-syar'i). Pada jarimah qisas. Abd Qadir Audah. Jarimah yang termasuk jarimah hudud adalah jarimah zina. unsur material (ar-rukn al-madi). namun ada perbedaan dengan jarimah hudud dalam hal pengampunan. hlm. dan hukuman yang diancamkan kepada pelaku tersebut disebut Fiqh jinayah bukan Fiqh jarimah.

Sebagian Hanafiyah lainnya membaginya menjadi lima dengan menambahkan pembunuhan secara tidak langsung.77 Ketiga. lihat. dan kekeliruan. Maksudnya adalah semisal. semi sengaja. Para fuqaha mengartikan ta'zir dengan hukuman yang tidak ditemukan dalam alQur'an dan al-Hadis yang berkaitan dengan kejahatan yang melanggar hak Allah dan hak hamba yang berfungsi untuk memberi pelajaran kepada si terhukum dan mencegahnya supaya tidak mengulangi kejahatan serupa.79 B. Jarimah Qisas-Diyat 1. II: 7-9.51 termasuk dalam jarimah qisas adalah pembunuhan dan pelukaan. tetapi diserahkan sepenuhnya kepada kebijaksanaan hakim/penguasa. sedang menurut istilah berarti peraturan larangan yang perbuatan-perbutan pidananya dan ancaman hukumannya tidak secara tegas-tegas disebutkan dalam al-Qur'an. Adapun maksud yang Para ulama berbeda pendapat dalam membagi jarimah qisas. yaitu pembunuhan sengaja. hlm. Ulama Malikiyah membaginya menjadi dua. melainkan diberikan kepada negara kewenangannya untuk menetapkannya sesuai dengan tuntutan kemaslahatan. 1968). at-Tasyri'. hlm. Anwar Harjono. Raja Grafindo Persada. Lihat abd alqadir 'awdah. (Jakarta: Bulan Bintang.161. Hukum Islam keluasan dan keadilannya. 1997).(Jakarta: PT. Jumhur membaginya menjadi tiga dengan menambahkan pembunuhan semi sengaja. Ta'zir berasal dari 'azzara. yaitu: pembunuhan sengaja dan kekeliruan. Fiqh jinayah. yang menurut bahasa berarti mencela. dengan menambahkan pembunuhan serupa kekeliruan. jarimah ta'zir78 yaitu jarimah yang hukumannya tidak ditetapkan baik bentuk maupun jumlahnya oleh syara'.159 A. Qisas Kata qisas kadang-kadang dalam hadis disebut dengan kata qawad. (upaya menanggulangi kejahatan dalam Islam). Pembunuhan terbagi kepada tiga. yaitu pelukaan sengaja dan kekeliruan. Djazuli. seumpama (al-Mumasilah). Sebagian Hanafiyah membaginya menjadi empat. 79 78 77 . Sedangkan pelukaan terbagi menjadi dua.

Dia dibunuh kalau dia membunuh dan dilukai kalau dia melukai atau menghilangkan anggota badan orang lain. Hukum Pidana Islam. ‫و لكم فى القصاص حياة يا اولى اللباب‬ Qisas adalah hukuman pokok bagi perbuatan pidana dengan objek sasaran jiwa atau anggota badan yang dilakukan dengan sengaja. hlm. Hal ini ditegaskan dalam al-Qur'an:81 .125. Dalam ungkapan lain adalah pelaku akan menerima balasan sesuai dengan perbuatan yang dia lakukan. kecuali ada kerelaan dari kedua pihak. Ulama 80 Rahmat Hakim. demikian pula akal memandang bahwa disyariatkannya qisas adalah demi keadilan dan kemaslahatan. Bahkan ulama Hanafiyah berpendapat bahwa pelaku pembunuhan sengaja harus diqisas (tidak boleh diganti dengan harta). Oleh karena itu. menghilangkan anggota badan dengan sengaja. melukai.80 Qisas diakui keberadaannya dalam al-Qur'an. hlm. Hukuman ini disepakati oleh para ulama.82 Sanksi pokok dalam pembunuhan sengaja yang telah di-naskan dalam alQuran dan al-Hadis adalah qisas. bentuk jarimah ini ada dua. seperti membunuh. Al-Baqarah (2): 179 Rahmat Hakim.52 dikehendaki syara' adalah kesamaan akibat yang ditimpakan kepada pelaku tindak pidana yang melakukan pembunuhan atau penganiayaan terhadap korban. 125 81 82 . Hukum pidana Islam. Abdul Qadir Audah mendefinisikan qisas sebagai keseimbangan atau pembalasan terhadap si pelaku tindak pidana dengan sesuatu yang seimbang dari apa yang telah diperbuatnya. yaitu pembunuhan sengaja dan penganiayaan sengaja. as-Sunnah.

86 Begitu juga dengan orang yang tidur/ayan. IV: 183. al fiqh. 1991) VI:261 Ibid.. 4539.). t. maka tidaklah qisas apabila pelakunya adalah anak kecil atau orang gila. Pembunuh menyengaja perbuatannya. Al-fiqh al-Islam wa Adillatuh. Sunan Abi Dawud. karena perbuatannya tidak dikenai taklif. (Beirut: Dar al-Fikr. dalam al-Hadis disebutkan:87 83 Wahbah az-Zuhaili. 2). al-Muhazzab. menurut jumhur ulama bahwa kaffarah dalam pembunuhan sengaja tidak wajib karena kaffarah adalah ketentuan syariah untuk beribadah. maka tempatnya juga terbatas yaitu hanya pada pembunuhan karena kesalahan. Syarat-syarat bagi pembunuh Syarat-syarat bagi pembunuh ada tiga yaitu: 1). hadis nomor.t. pasti al-Quran menjelaskan secara detail. Bab Man Qatala fi 'immiya baina qaumain (Beirut: Dar al-Fikr. hlm. kitab ad-Diyah.296 Wahbah az-Zuhaili. 1988). Sedangkan pembunuhan sengaja adalah neraka jahannam.53 Syafi'iyyah menambahkan bahwa disamping qisas pelaku pembunuhan juga wajib membayar kaffarah. seandainya bagi pelaku pembunuhan sengaja wajib membayar kaffarah. Pembunuh adalah orang mukallaf (balig dan berakal).83 Ulama berbeda pendapat tentang sanksi bagi pembunuhan sengaja yang berupa kaffarah. VI: 297 84 85 Abu Ishaq Ibrahim ibn Ali ibn Yusuf al-Fairuz Abadi asy-Syairazi. riwayat sufyan dari amr dan tawus 87 86 . Di dalam al-Quran sendiri tidak mewajibkan kaffarah. II:173 Abu Dawud. (Semarang: Maktabah Ahmad bin Said bin Nabhan.84 Ada beberapa syarat yang diperlukan untuk dapat dilaksanakannya qisas yaitu:85 a. karena mereka tidak punya niat/maksud yang sah.

b. Syarat-syarat bagi yang terbunuh/korban Syarat-syarat bagi yang terbunuh (korban) ada tiga. maka hukum qisas tidak berlaku. (riwayat at-Tirmidzi dan ibn Majah).). yaitu: 1). II: 769. t. hlm. hadis nomor: 2291. Adapun yang dipandang tidak dilindungi darahnya adalah kafir harbi. tetapi menurut jumhur tetap diqisas walaupun dipaksa. statemen ini dikemukakan oleh jumhur (selain Ibn Majah. 2). kakek/nenek yang membunuh anak/cucunya sampai derajat kebawah berdasarkan pada hadis: 88 ‫أنت ومالك لابيك‬ 89 ‫ل يقاد الوالد بالولد‬ 3).54 ‫من قتل عمدا فهو قود‬ 3). murtad. tidak diqisas ayah/ibu. hadis nomor 1191. Al-Hafiz Ibnu Hajar al-'Asqalani. t. Kitab al-Jinayah. Korban adalah orang yang dilindungi darahnya. Korban sama derajatnya dengan membunuh dalam Islam dan kemerdekaannya. penganut zindiq dan pemberontak.).t. 89 88 .t. Korban bukan anak/cucu pembunuh (tidak ada hubungan bapak dan anak). maka menurut Hanafiyah tidak diqisas. Sunan Ibn Majah. jika orang muslim atau zimmi membunuh mereka. (Bandung: Maktabah Dahlan. riwayat jabir ibn Abdullah. Bulug al-Maram.245. (Beirut: Dar Ihya al-Kitab al-Arabiyah. Bab ma li ar rajul min ma li waladih. artinya jika membunuhnya karena terpaksa. pezina muhsan. Kitab at-Tijaroh. Pembunuh mempunyai kebebasan bukan dipaksa.

mereka berargumen dengan keumuman ayat qisas yang tidak mendiskriminasikan antara satu dengan yang lainnya.93 Hal ini dikuatkan oleh sebuah hadis yang menyatakan bahwa Nabi pernah melaksanakan qisas terhadap muslim yang membunuh Yahudi. ayat di atas menunjukkan bahwa dalam qisas tidak harus ada kesetaraan.(2): 178.55 Hanafiyah). bukan kafir zimmi atau musta'min. hlm165. Al-Maidah (5): 45 Jaih Mubarok. orang merdeka yang membunuh budak. Adapun hadis nabi yang menyatakan bahwa "muslim tidak diqisas karena membunuh kafir". 91 92 93 . Al-Baqarah. sebagaimana terlihat dalam hadis berikut: 90 Jaih Mubarok. kalimat jiwa dibalas dengan jiwa" menunjukan bahwa dasar qisas itu adalah hilangnya jiwa atau nyawa sehingga tidak ada perbedaan antara orang merdeka dengan hamba atau muslim dengan kafir. Kaidah fiqh jinayah. kafir yang dimaksud adalah kafir harbi. Sebab. tapi cukup persamaan dalam kemanusiaannya. 167.90 Ulama Hanafiyah tidak mensyaratkan persamaan dalam kemerdekaan dan agamanya. Kaidah Fiqh jinayah. Hlm. Dengan ketentuan ini maka tidak diqisas seorang Islam yang membunuh orang kafir. Allah berfirman: 91 ‫يا أيها الذين أمنوا كتب عليكم القصاص في القتلى‬ 92 ‫و كتبنا عليهم فيها ان النفس بالنفس‬ Menurut Hanafiyah.

korban yang terbunuh dari suatu kabilah adalah laki-laki merdeka. Kitab alHudud wa ad-Diyyat wa Gairuh. "hamba dengan hamba". hanya sekedar mencontohkan pelaku dan korbannya dengan tidak menafikan kebalikannya. kaidah fiqh jinayah. Sebab ayat tersebut dimaksudkan untuk menjawab kebiasaan jahiliyah yang menerapkan qisas secara berlebihan. tidak menunjukkan adanya kafaah. dan wanita dengan wanita". Misalnya. 1982). Pada masa jahiliyah. 93-94. 1986). meskipun kedudukannya lebih rendah.95 Ali bin 'Amr Abu al-Husayn al-Daruqutni al-Bagdadi. 167-168.56 ‫أن النبي صلي ال عليه وسلم أقاد مسلما قتل يهوديا وقال‬ 94 ‫الرمادي أقاد مسلما بذمي وقال أنا أحق من وفي بذمته‬ Sedangkan ayat yang dijadikan landasan oleh jumhur yang menyatakan bahwa "orang merdeka dengan orang merdeka". III: 135. "hamba dengan hamba". hlm. h. Ayat tersebut menjelaskan bahwa orang yang harus diqisas adalah pembunuhnya. Permintaan ini seringkali menimbulkan konflik (bahkan sampai terjadi peperangan) antar kabilah jika tidak dipenuhi. Kalimat "orang merdeka dengan orang merdeka". 94 . (Dar al-Nahdah al-Arabi. al-Qisas wa al-Hayat: Dirasah Muqaranah bain asy-Syari'ah al-Islamiyah wa al-Qanun al-Wad'i. (Bayrut: Alam al-Kutb. sedangkan pembunuhnya (dari kabilah lain) adalah seorang wanita. 95 Jaih mubarok.Lihat Muhammad 'abd al-Hamid Abu Zayd. Sunan ad-Daruqutni. dan "wanita dengan wanita". wali korban dari suatu kabilah (terutama kabilah yang kuat) meminta balasan yang lebih dari seharusnya. Wali korban beserta kabilahnya meminta balasannya tidak sekedar wanita yang membunuh tetapi ditambah dengan laki-laki merdeka.

Bab fi as-Sariyyah. Syarat-syarat bagi perbuatannya Hanafiyah mensyaratkan. III: 80. . Sunan Abi Dawud. karena tujuan dari diwajibkanya qisas adalah pengokohan dari pemenuhan Abu Dawud. at-Tasyri'. untuk dapat dikenakan qishas. wali korban yang berhak untuk mengqisas haruslah orang yang diketahui identitasnya. tindak pidana pembunuhan yang dimaksud harus tindak pidana langsung bukan bukan karena sebab tertentu. jika tidak langsung. Sedangkan jumhur tidak mensyaratkan itu. pelakunya wajib dikenai qishas karena keduanya berakibat sama. baik pembunuhan itu langsung atau karena sebab. Kedudukan mereka setara dalam hal qisas. II: 132. maka tidak wajib diqisas. Hal ini didasarkan atas keumuman ayat yang menyatakan bahwa "jiwa dibalas denga jiwa" dan sabda Nabi saw berikut: 96 ‫المسلمون تتكافأ دماؤهم‬ c. maka hanya dikenai membayar diyat.57 Adapun berkenaan dengan laki-laki muslim dengan perempuan muslim. 97 96 Abddul Qadir Audah. Tidak ada perbedaan antara tua dengan muda atau sehat dengan sakit. jika tidak. Syarat-syarat bagi wali korban Menurut Hanafiyah. para fuqaha sepakat bahwa di antara mereka tidak ada perbedaan. Kitab aj-Jihad. riwayat Kutaibah bin Sa'id dari ibn Ishaq dan Yahya bin Sa'id.97 d.

2) Perbedaan derajat antara pelaku dan korban pembunuhan dalam keIslaman dan kemerdekaannya. tetapi ternyata tidak semua yang menyepakati ikut hadir dalam pembunuhan. Berbeda dengan pendapat ulama malikiyah yang menyatakan bahwa orang yang hadir atau membantu walaupun tidak melakukan secara langsung. maka orang tua korban juga harus diqisas. hal ini selama tidak ada maksud membunuh yang dapat dibuktikan dengan qat'i.58 hak. Adapun hubungan suami isteri tidak menjadi halangan dilakukannya qisas. Ini terjadi karena adanya kemungkinan masuknya unsur syubhat sehingga qisas tidak bisa dilaksanakan. Dan tiga syarat lagi menurut Hanafiyah yaitu: . Ini menurut jumhur fuqaha kecuali Hanafiyah. 3) Ketidakadilan membunuh sesuai dengan yang telah disepakati. maka menurut jumhur ulama orang yang tidak melakukan langsung itu hanya dita'zir. yaitu ada enam hal: 1) Keberadaan pembunuh sebagai orang tua korban Menurut para Fuqaha Mazhab. seperti pengintai atau penjaga pintu. Jika ternyata ada maksud membunuh. tetapi Ulama Malikiyah memberi batasan. Berpijak pada keterangan tentang syarat-syarat qishas ada beberapa hal yang menghalangi dilaksanakannya qisas. tetap dikenai qisas jika terlibat dalam kesepakatan kejahatan itu. apabila ada kesepakatan untuk melakukan pembunuhan. atau ia hanya memberikan semangat. keberadaan pembunuh sebagai orang tua si terbunuh menghalangi dilaksanakannya qisas. Sedangkan pembunuhan dari orang yang tidak diketahui identitasnya akan mengalami kesulitan dalam pelaksanaanya. bantuan. dan tidak melakukan secara langsung.

59 4) Pembunuhan itu terjadi secara tidak langsung (karena satu sebab tertentu) 5) Wali korban majhul (tidak diketahui identitasnya) 6) Pembunuhannya terjadi di Dar al-kuffar98 Qisas wajib dikenakan setiap pembunuh. Mereka boleh mengqisas/memaafkannya secara mutlak atau memaafkan dari qisas dengan membebani diyat sebagai penggantinya. VI: 274-275. yaitu: jika mereka 98 Wahbah az-Zuhaili. Para ulama madzhab sepakat bahwa sanksi yang wajib bagi pelaku pembunuhan sengaja adalah qisas. tetapi pembunuh dengan kesadarannya. maka tidak ada kewajiban bagi pelaku untuk membayar diyat. IV: 183 99 100 . Logika dari statement ini adalah: jika wali korban memaafkan secara mutlak (tidak menuntut diyat). al-Fiqh. Al-Baqarah. Hanabilah berpendapat bahwa hukuman bagi pelaku pembunuhan sengaja tidak hanya qisas. hendaknya membayar diyat sebagai kompensasi pemberian maafnya wali. Tetapi tidak berarti wali terbatas dalam menentukan sikapnya. (2). tetapi wali korban mempunyai dua pilihan. kecuali jika dimaafkan oleh wali korban. 178 Abu Dawud. Sesuai dengan ayat: ‫يا أيها الذين أمنوا كتب عليكم القصاص في القتلى الحر بالحر و‬ 99 ‫العبد بالعبد‬ 100 ‫من قتل عمدا فهو قود‬ Kedua dalil ini dengan tegas menyatakan bahwa hukum qisas bagi pembunuh adalah tertentu/pasti. Sunan.

wajib bagi pelaku membayar diyat. maka dilaksanakanlah hukum qisas tetapi jika menginginkan diyat maka wajiblah membayar diyat tanpa menunggu keridlaan pembunuh. al-Maarif. Artinya. X: 67 . 1997). 102 103 101 Al-Baqarah (2) : 178 Sayid Sabiq. (Beirut: Dar al-Fikr.103 Abu Abdullah Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim ibn al-Mughirah ibn Bardizbah al-Ja'fi al-Bukhari. jika terjadi pembunuhan hendaklah pelakunya diselidiki. pelaku tetap berkewajiban membayar diyat.A Ali (Bandung: PT. jika wali korban mengampuni. maupun ta'zir merupakan hak hakim. Karena dalam kaidah dasar syara' yang telah disepakati disebutkan bahwa pelaksanaan sanksi hudud. Artinya tuntutannya ini harus melalui pengadilan. tentu Allah tidak mewajibkan diyat apabila ada ampunan atau maaf wali secara mutlak. Seandainya Allah mewajibkan qisas saja. 1981). fikih sunnah. qisas. namun keabsahan keluarga korban untuk melaksanakan ada dibawah wewenang hakim. Kemudian dari redaksi ayat tersebut berarti Allah mewajibkan al-Itba' karena adanya pemberian maaf dari wali.60 menghendaki qisas. Sahih al-Bukhari. Hal ini karena mereka berpendapat bahwa diyat adalah salah satu dari kerusakan jiwa. Dan jika ternyata wali korban memaafkan secara mutlak. Dasar hukum yang digunakan adalah hadis rasulullah SAW: 101 ‫من قتل له قتيل فهو بخير النظرين اما ان يؤدي و اما ان يقاد‬ Dan firman Allah swt dalam al-Qur'an: 102 ‫فمن عفي له من أخيه شيئ فاتباع بالمعروف واداء اليه باحسان‬ Dari ayat ini dapat dipahami. bahkan pengganti dari qisas. alih bahasa H. VIII: 38. Tuntutan hukuman qisas merupakan hak para wali (keluarga korban). Kitab ad-Diyah.

seperti anak dan saudara kandung. maka dikhususkan kepada asabah seperti dalam perwalian pernikahan. Perempuan itu merupakan ahli waris terbunuh. II: 140 . Perempuan tidak boleh mengqisas karena qisas itu menghilangkan fitnah. ia tidak dapat mengqisas.61 Selanjutnya apabila pelaksanaan qisas akan dilakukan oleh para wali sendiri (bukan oleh hakim dan algojonya). 104 Abd Qadir Audah. Tetapi jika anak perempuan kandung bersama adanya ayah. keluarga yang dekat didahulukan dari pada keluarga yang jauh. misalnya anak perempuan kandung bersama dengan adanya paman. yaitu perempuan boleh bertindak sebagai pelaksana qisas dengan tiga persyaratan: a. semua asabah bin nafsi dengan prioritas. laki-laki maupun perempuan. suami atupun isteri. at-Tasyri'. Tetapi Malikiyah memberikan kelonggaran. b. sehingga bibi dari pihak ayah /ibu tidak boleh.104 Sedangkan menurut ulama Malikiyah yang berhak mengqisas adalah keluarga dari pihak ayah yang laki-laki. maka menurut Abu Hanifah. Hanabilah dan qaul rajihnya asy-Syafi'i yang berhak mengqisas adalah setiap ahli waris yang berhak mewarisi harta si korban baik zawil furud maupun asabah. itu dapat melaksanakan qishas. Derajat atau kekuatan ahli waris perempuan tadi lebih kuat dibanding para asib.

Dan menurut Malikiyah. maka gugurlah qisas atasnya.106 Hukuman qisas menjadi gugur dengan sebab-sebab sebagai berikut: a. 106 . maka dikecualikan saudara perempuan (tidak dapat mengqisas) karena adanya ibu.. karena jiwa pelakulah yang menjadi sasarannya. Adanya ampunan dari seluruh atau sebagian wali korban dengan syarat pemberi maaf itu sudah balig dan tamyiz. Perempuan itu dalam derajatnya mempunyai laki-laki yang asabah. al-Fiqh. lalu diberikan kepada wali si terbunuh. tidak usah menunggu sampai baligh/sadarnya demi kemaslahatan pelaksanaan qisas itu sendiri. VI: 280. 141. 105 Ibid. Pada saat itu diwajibkan ialah membayar diyat yang diambilkan dari harta peninggalannya. sedangkan hal tersebut telah tiada. Pendapat ini menurut Imam Ahmad serta salah satu pendapat Imam Syafii. Sedangkan menurut Imam Malik dan Hanafiyah tidak wajib diyat. Dengan demikian tidak ada alasan bagi para wali menuntut diyat dari harta peninggalan si pembunuh yang kini telah menjadi milik para ahli warisnya. Wahbah az-Zuhaili. sebab hak dari mereka (para wali) adalah jiwa. Matinya pelaku kejahatan Kalau orang yang akan menjalani qisas telah mati terlebih dahulu. hlm.62 c. b.105 Jika yang mengqisas masih kecil/gila maka ditunggu sampai kesempurnaannya dan diserahkan kepada hakim.

I: 777-778 dan lihat Wahbah az-Zuhaili.110 Pendapat Malikiyah yang rajih dan sebagian Syafi'iyah: ‫ل يسقط القصاص برضا المجني عليه‬ Perbedaannya dengan al-Afwu (pengampunan) adalah kalau sulh itu pengguguran qisas dengan ganti rugi (kompensasi).171 Abd al-Qadir awdah. kerelaan itu menjadi syubhat yang dapat menggugurkan hudud. Telah terjadi sulh (rekonsiliasi) antara pembunuh dan wali korban. Adanya penuntutan qisas. al-Fiqh. lihat Wahbah az-Zuhaili.109 Dalam hal adanya kerelaan/izin korban. Perbedaan tersebut adalah sebagai berikut: Menurut Hanafiyah: ‫يسقط القصاص برضا المجني عليه‬ Gugurnya qisas disebabkan karena adanya kerelaan atau izin korban yang dapat dipersamakan dengan pemaafan. at-Tasyri'. Akan tetapi mereka berbeda pendapat tentang posisi kerelaan tersebut dengan pemaafan korban atau wali korban yang dapat menggugurkan qisas atau diyat (bila dimaafkan secara mutlak). al-Tasyri'.108 e. Kaidah fiqh jinayah. Oleh karena itu. 108 107 Abdul Qadir Audah. seperti kasus euthanasia. hlm. I: 440-441. 109 110 . VI: 294.63 c.260.107 d. Selain itu. Hlm. Adanya kerelaan/ izin korban. pada dasarnya para fuqaha sepakat bahwa adanya kerelaan korban untuk dibunuh tidak membolehkan seseorang melakukan pembunuhan. hukuman berpindah kepada diyat. Jaih mubaraok. sedangkan al-Afwu terkadang pengampunan qisas secara mutlak. al-Fiqh.

64 Kerelaan korban tidak dapat dipersamakan dengan pemaafan karena kerelaan itu ada sebelum terjadi jarimah pembunuhan. Diyat Diyat113 adalah: 111 Ibid. 113 . pencederaan badan.111 Pendapat Malikiyah yang arjah (lebih kuat) dan sebagian Syafi'iyah: ‫يسقط عقوبتى القصاص والدية برضا المجني عليه‬ Kerelaan korban dapat dipersamakan dengan pemaafan baik dari hukum asli (qisas) maupun penggantinya (diyat). diyat artinya membayar tebusan dengan sejumlah harta benda karena perbuatan: 1. Ibid. 112 Menurut bahasa.112 2. Oleh karena itu. Sedangkan definisi menurut syar'i ialah wajibnya membayar sejumlah harta benda yang telah ditentukan syariat karena pembunuhan jiwa atau karena pencederaan badan. Pembunuhan terhadap jiwa. dan 2. Pemaafan dari korban itu lebih utama dari pada keluarga sebab pemaafan itu menjadi hak bagi korban. sedangkan pemaafan ada setelah terjadi jarimah. pembunuhan tersebut tetap merupakan pembunuhan sengaja yang harus dihukum dengan qisas.

perak. pakaian. Pada mulanya pembayaran diyat menggunakan unta tetapi jika sulit didapatkan maka pembayarannya dapat menggunakan barang lainnya. dua ratus ekor domba bagi 114 Abd Qadir 'Audah. II:261 An-Nisa (5): 92 115 . yang kadar nilainya disesuaikan dengan unta. yang wajib adalah seratus ekor unta bagi pemilik unta. dan lain sebagainya.65 ‫العقوبة البدلية الولى لعقوبة القصاص فإذا امتناع القصاص‬ ‫لسبب من اسباب المتناع او لسباب السقوط وجبت مالم يعف‬ 114 ‫الجانى عنها أيضا‬ Dengan definisi ini berarti diyat dikhususkan sebagai pengganti jiwa atau yang semakna dengannya. Adapun dalil disyariatkannya diyat adalah firman Allah SWT: ‫ومن قتل مؤمنا خطأ فتحرير رقبة مؤمنة و دية مسلمة الى اهله‬ 115 ‫ال ان يصد قوا‬ Walaupun ayat ini dalam konteks pembunuhan bersalah namun para ulama sepakat akan wajibkan diyat dalam pembunuhan sengaja apabila qisas gugur karena suatu sebab. Dua ratus ekor sapi bagi pemilik sapi. at-Tasyri'. Menurut kesepakatan ulama. seperti emas. artinya pembayaran diyat itu terjadi karena berkenaan dengan kejahatan terhadap jiwa/nyawa seseorang. uang.

dan dua ratus stel pakaian untuk pemilik pakaian. HR. yang empat puluh di antaranya sedang mengandung. 1994). (Bandung: Maktabah Dahlan. Subul as-Salam Syarah Bulug al-Maram. Nabi bersabda:119 116 Sayyid Sabiq. Adapun diyat mugalazah menurut jumhur dibebankan kepada pelaku pembunuhan sengaja dan menyerupai sengaja. "Bab ad-Diyat".66 pemilik domba. 304. dibebankan kepada pelaku pembunuhan sengaja apabila waliyuddam menerimanya dan kepada bapak yang membunuh anaknya. 40 ekor khilfah (unta yang sedang mengandung) Adapun diyat mukhafafah itu dibebankan kepada pelaku pembunuhan kesalahan. Sunan an-Nasa'i. hadis no. ad-Daruqutni dari Ibn Mas'ud. yaitu diyat mugalazah dan diyat mukhafafah. "Kitab al-Jinayat".2. VIII: 36 diriwayatkan dari Qasim bin Rabi'ah. 30 ekor jad'ah (unta berumur 5 tahun) c.117 Jumlah diyat mugalazah adalah seratus ekor unta. VI. (Mesir: al-Bab al-Halabi. 117 An-Nasa'i. 118 .t). seribu dinar untuk pemilik emas.116 Diyat ada dua macam. X: 93 Wahbah az-Zuhaili. 119 Muhammad ibn Ismail ibn Shalah al-Amir al-Kahlani al-Shan'ani. 30 ekor hiqqah (unta berumur 4 tahun) b. III: 248. fikih sunnah. t. Sebagaimana Nabi SAW pernah bersabda:118 ‫ال وإن قتيل الخطأ شبه العمد بالسوط و العصا و الحجر مائة من‬ ‫البل فيها اربعون شنية الى بازل عمها كلهن خلفة‬ Jadi seratus ekor unta itu bila diperinci adalah: a. Sedangkan menurut Malikiyah. dua belas ribu dirham untuk pemilik perak. al-Fiqh. hal ini berdasarkan riwayat Ibn Mas'ud.

Muharram dan Rajab c. zul Hijjah. 20 ekor binti labun (unta betina berumur 3 tahun) d. al-Fiqh.120 Jadi diyat pembunuhan sengaja adalah diyat mugalazah yang dikhususkan pembayarannya oleh pelaku pembunuhan. Pembunuhan itu terjadi di bulan haram. tetapi juga pada 'aqilah (wali/keluarga pembunuh). Sedangkan diyat pembunuhan syibhu amd adalah diyat mugalazah yang pembebanannya tidak hanya pada pelaku.VII: 305-306 . 20 ekor ibnu ma'khad (unta jantan berumur 2 tahun) c. zul Qa'dah. Hanya 120 Wahbah az-Zuhaili. baik pembunuhan sengaja. dan dibayar secara berangsur-angsur selama tiga tahun.67 ‫دية الخطأ اخماس عشرون حقة وعشرون جذعة وعشرون بنات‬ ‫مخاض وعشرون بنات لبون وعشرون بني لبون‬ Jadi ketentuannya adalah sebagai berikut: a. Pembunuhan itu terhadap mahram seperti: ibu dan saudara perempuan. 20 ekor bintu ma'khad (unta betina berumur 2 tahun) b. Pembunuhan itu terjadi di tanah haram Mekkah b. dan dibayarkan secara kontan. 20 hiqqah. 20 jad'ah Selanjutnya ulama Syafi'iyyah dan Hanabilah berpendapat bahwa pembunuhan tersalah dapat dikenai diyat mugalazah apabila: a. maupun kesalahan. pembayaran diyatnya secara berangsur-angsur selama tiga tahun. Menurut Hanafiyah. tidak sengaja. dan e.

al-Fiqh. 122 At-Tur (52): 21. (Indonesia: Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyyah. Sedangkan jumhur ulama berpendapat bahwa diyat pembunuhan sengaja harus dibayar kontan dengan hartanya karena diyat merupakan pengganti qisas.123 121 Wahbah az-Zuhaili.68 bagi 'amid (pembunuh sengaja) lebih diperberat dengan kewajiban membayar diyat mughaladzah dengan hartanya sendiri.: 297 123 . Bidayah alMujtahid wa Nihayah al-Muqtasid. Hal ini berdasarkan firman Allah swt: 122 ‫كل امرئ بما كسب رهين‬ Adapun jika pembunuhan disengaja itu dilakukan oleh anak kecil atau orang gila. 'Aqilah tidak menanggungnya karena setiap manusia dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya dan tidak dapat dibebankan kepada orang lain. Malik dan Syafi'i menyatakan diyatnya anak kecil adalah setengah kecuali pemerintah membebankan pada aqilahnya. Karena keringanan (pemberian tempo) itu hanya berlaku bagi 'aqilah. VI: 307. Muhammad ibn Ahmad ibn Muhammad ibn Ahmad Ibn Rusyd al-Qurtuby.t). t. jika qisas dilakukan sekaligus maka diyat penggantinya juga harus secara kontan dan pemberian tempo pembayaran merupakan suatu keringanan. Mereka menjelaskan bahwa sengaja atau kesalahannya anak kecil itu sama dengan argumant ada orang gila menerkam seorang laki-laki dengan pisau kemudian memukulnya.. padahal 'amid pantas dan harus diperberat dengan bukti diwajibkannya 'amid membayar diyat dengan hartanya sendiri bukan dari 'aqilah.121 Para ulama sepakat bahwa diyat pembunuhan sengaja dibebankan pada para pembunuh dengan hartanya sendiri. II.

Dengan demikian untuk memahami pentingnya suatu ketentuan. karena tidak ada baginya taklif secara syara'. Apabila kebutuhan-kebutuhan ini tidak terjamin.69 Menurut Syafiiyah bahwa yang jelas perbuatan anak kecil itu dianggap sengaja apabila ia telah mumayyiz. Topo Santoso. Hanya saja ia dibebankan diyat dari hartanya sendiri dan 'aqilah tidak menanggung jika ia (pada saat berbuat jahat) sudah mumayyiz. Kelima kebutuhan hidup yang primer ini (daruriyyat) 124 Asy-Syairazi. hlm. Para ahli hukum Islam mengklasifikasi tujuan-tujuan dari fiqh jinayah yang merupakan tujuan-tujuan yang luas dari syariah sebagai berikut:125 Tujuan pertama Menjamin keamanan dari kebutuhan-kebutuhan hidup. al-Muhazzab. jika belum mumayyiz maka dianggap kesalahan (khata') secara pasti. Melainkan di sana ada tujuan tertentu yang luas. Menggagas Hukum Pidana Islam. Tetapi baik ia sudah mumayyiz atau belum ia tidak dapat di qisas. akan terjadi kekacauan dan dan ketidaktertiban di mana-mana. II:173-174.130- 125 131 . mutlak perlu mengetahui apa tujuan dari ketentuan itu. Ini merupakan hal-hal di mana kehidupan manusia sangat tergantung sehingga tidak dapat dipisahkan.Tujuan Fiqh Jinayah Pembuat hukum tidak menyusun ketentuan-ketentuan hukum dari syariah tanpa tujuan apa-apa.124 C. 2001). (Bandung: asy Syaamil.

b. akan tetapi dapat menambah kesulitan-kesulitan bagi masyarakat. Tujuan ketiga . Hifz al-Nasli (memelihara keturunan). d. Ini mencakup hal-hal yang penting bagi ketentuan itu dari berbagai fasilitas untuk penduduk dan memudahkan kerja keras dan beban tanggungjawab mereka. kemajuan dan perlindungan tiap-tiap kebutuhan itu dan menegaskan ketentuan-ketentuan yang yang berkaitan dengannya sebagai ketentuan yang esensial. Ketiadaan fasilitas-fasilitas tersebut mungkin tidak menyebabkan kekacauan dan ketidak tertiban. Hifz al-'Aqli (memelihara akal pikiran). Hifz an-Nafsi (memelihara jiwa). keperluan-keperluan ini terdiri dari hal-hal yang menyingkirkan kesulitan-kesulitan dari masyarakat dan membuat hidup mudah bagi mereka. Syariat telah menetapkan pemenuhan. Hifz al-Mãl (memelihara harta). e. Tujuan kedua Tujuan berikutnya adalah menjamin keperluan-keperluan hidup (keperluan sekunder) atau disebut hajiyyat.70 dalam keputusan hukum Islam disebut dengan istilah al-Maqasid asy-Syari'ah alKhamsah (tujuan-tujuan syariah). yaitu: a. Dengan kata lain. c. Hifz ad-Dĩn (memelihara agama).

juga tidak mencakup apa-apa yang perlu untuk menghilangkan kesulitankesulitan dan membuat hidup mudah. yaitu menjadikan hal-hal yang dapat menghiasi kehidupan sosial dan menjadikan manusia mampu berbuat dan urusan-urusan hidup secara lebih baik (keperluan sekunder) atau tahsinat. melainkan juga menyediakan aturan-aturan yang bersifat imperatif. Itupun baru dapat ditegakkan setelah seluruh unsur-unsur . Aspek Kemanusiaan dalam Fiqh Jinayah Salah satu kesempurnaan syari'at Islam adalah adanya aturan-aturan yang berkenaan dengan hukum publik. D. terdapat sanksi-sanksi yang mengikat yang harus ditegakan di dunia. bukan sekedar ancaman di akhirat. sehingga kesan bahwa hukum pidana Islam bersifat kejam dan bertentangan dengan hak asasi manusia. Padahal apa yang dibayangkan tersebut hanya merupakan salah satu bagian saja dari hukum pidana Islam. Baik dalam alQur'an maupun dalam as-Sunnah.71 Tujuan ketiga dari perundang-undangan Islam adalah membuat perbaikanperbaikan. atau dibunuh (diqisas). dilempar batu sampai meninggal (dirajam). Islam tidak sekedar mengajarkan ajaran moral saja. Ketiadaan perbaikan-perbaikan ini tidak membawa kekacauan dan anarki sebagaimana dalam ketiadaan kebutuhan-kebutuhan hidup. Istilah yang umum bagi aturan-aturan tersebut adalah al-Jinayat yang sering kali diartikan dengan Hukum Pidana Islam. yang langsung terbayang di benak kebanyakan orang adalah potong tangan. Ketika mendengar kata "Hukum Pidana Islam" (fiqh Jinayah). dipukul dengan menggunakan kayu (dijilid). Sering kali bayangan tersebut terhenti di situ.

akal dan agama. eksistensi kehidupan manusia akan terancam. Mana pri kemanusiaan yang dipunyai manusia?. atau permintaan maaf). karena ambruknya wibawa dan penegakan hukum. hukum qisas nampak kejam. bahkan sangat kejam. Sepintas.72 jarimahnya (tindak pidananya) terpenuhi. keturunan. Yakni hal-hal yang berkaitan dengan kehormatan agama. Karena itu Allah memperingatkan dalam al-Qur'an:126 126 Al-Baqarah (2): 179 . Inilah yang disebut hududullah (batas-batas hukum Allah). merupakan pelanggaran terhadap hak hamba. Bila kejahatan ini terus dibiarkan. yang semuanya merupakan maqasid asy-Syar'i. nyawa manusia jadi sangat murah. denda-damai (diyat). Sedangkan kejahatan yang berkaitan dengan kehormatan jiwa manusia. jiwa maupun dengan hal-hal lainnya seperti kehormatan. Allah swt telah menetapkan hukum yang terdiri tiga tingkatan yaitu: qisas (balasan setimpal). Selebihnya terdapat asas-asas serta konsepkonsep lainnya yang luput dari perhatian. keturunan dan ketenteraman umum. Hukum Pidana Islam (fiqh jinayat) ini mengatur setiap perbuatan manusia yang dilarang yang berkenaan dengan tubuh. Inilah yang mengandung konsekuensi hukum qisas. Untuk menyelesaikan problem ini. Kejahatan-kejahatan yang oleh syariat telah ditetapkan jenis hukumannya. harta. Lihatlah. Memang ia hukuman yang kejam. merupakan pelanggaran terhadap hak Allah. Dan jika semuanya tidak terpenuhi maka ulil amri sebagai penguasa negara berhak memberikan hukuman atas pertimbangan kemaslahatan umat berupa hukuman ta'zir.

Mereka telah kehilangan suami sekaligus pemimpin rumah tangga dan pencari nafkah bagi keluarganya. Karenanya. atau ketinggalan zaman. Anak-anakpun kehilangan sosok sang ayah yang biasa membimbing mereka sehari-hari. Bagi sebagian orang. Dengan qisas. karena korban atau ahli warisnya (bila korban meninggal) berhak membalas dengan perlakuan setimpal. Qisas pembalasan yang hak. jelas tidak sepadan. Apalagi jika dibandingkan dengan penderitaan yang mereka alami sepeninggal sang suami. primitif. sumber pemikiran Islam. Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat hanya mengganjar Tomy dengan hukuman penjara 15 tahun. hlm.2 127 . jenis hukuman dinilai tidak manusiawi. barbar. menjadi benci terhadap hukum Islam lalu memilih hukum lain (KUHP). 2003).127 Abdurrahman Madjrie dan Fauzan Al-Anshari. Dan tanggapan kedua isterinya sebagai ahli waris korban (waliyuddam) sangat kecewa karena putusan itu tidak sesuai dengan harapan.73 ‫و لكم فى القصاص حياة يا اولى اللباب‬ Kekejaman memang harus dihentikan dengan hukuman yang setimpal agar bisa menjerakan. (Jakarta: Khairul Bayan. orang-orang yang telah menjadi korban penyesatan opini semacam ini. maka pelaku sebelum berbuat jahat akan pikir-pikir dahulu. Padahal penyakit sosial yang bernama pembunuhan hanya efektif dicegah dengan obat yang disediakan oleh yang menciptakan nyawa manusia. yaitu dengan qisas. Sebagai contoh kasus Tomy Suharto sebagai terpidana pembunuhan atas hakim agung Syafiuddin Kartasasmita. Alhasil putusan hakim itu belum memenuhi rasa keadilan yang mereka tuntut.

74 Namun kedua isterinya hanya pasrah karena tidak bisa berbuat apa-apa selain trerpaksa menerima keputusan tersebut. untuk membasmi kejahatan di muka bumi dan kemaksiatan lainnya yang sering dilakukan oleh para penjahat. untuk menjaga keamanan dan keselamatan jiwa dan kehidupan manusia di dunia.91-92 . untuk memberikan pelajaran dan peringatan yang keras bagi orangorang yang ada niatan berbuat kejahatan agar tidak meneruskan keinginannya. Untuk menegakkan hukum Allah sebagai bukti ketaatan kaum muslimin kepada hukum Allah. hlm. tidak ada rasa keadilan atas tindakan yang dilakukan dan juga bagi keluarga korban tidak punya hak apa-apa untuk menuntut hak mereka. Maka dapat ditarik kesimpulan dari keutamaan Hukum Pidana Islam ini sebagi hikmah yang harus disyukuri. yaitu:128 1. Minimal dapat mencegah merebaknya kejahatan dan kerusakan di muka bumi. 4. 3. Dari kasus ini dapat dibandingkan bahwa ternyata KUHP kurang sesuai dengan tindakan yang diperbuat.. Mengingat keduanya tidak berhak dan tidak bisa keputusan Hakim tersebut. 128 Ibid. dan keluarga memaafkan maka ia akan terbebas dari hukum qisas dan berganti kepada diyat sebagai ganti rugi atas tuntutan keluarga. jika Tomy meminta maaf. 2. Di sinilah aspek keadilan dan kemanusiaan dalam hukum Islam. Bila hal ini diselesaikan denga hukum Islam maka yang akan terjadi.

Euthanasia Aktif sebagai Jarimah Masalah menjaga kesehatan dalam Islam sangat diperhatikan. BAB IV PRAKTEK EUTHANASIA DALAM PRESPEKTIF FIQH JINAYAH A. sebagai mekanisme pengamanan bagi semua warga negara yang tinggal di negeri yang memberlakukan hukum Allah sebagai konstitusinya. Artinya. Sebagaimana pernah terjadi pada era kehidupan Rasulullah dan pemerintahan khalifah penggantinya.75 5. Terlebih-lebih menjaga atau memelihara jiwa atau an-nafs. segala upaya diusahakan untuk memberi pelayanan kesehatan agar dapat memperhatikan kehidupan seorang manusia. Atau dengan kata lain manusia . Oleh karenanya setiap orang diharuskan untuk menjalani segala perbuatan yang dapat membahayakan dirinya atau orang lain.

maka apabila telah datang kematiannya tidak seorangpun yang dapat mengundurkan atau memajukan walau sesaatpun. Sebagai mana firman Allah: ‫و لكل أمة أجل فاذا جاء أجلهم ل يستأخرون ساعة و ل‬ 131 ‫يستقدمون‬ 132 ‫و لن يؤخر ال نفسا اذا جاء أجلها و ال خبير بما تعملون‬ 129 Al-Hijr (15): 23 An-Najm (53): 44. Di antara firman Allah menyinggung hal jiwa atau nafs adalah sebagai berikut: 129 ‫و انا لنحن نحي و نميت و نحن الوارثون‬ 130 ‫و انه هو امات و احي‬ Begitu besarnya penghargaan Islam terhadap jiwa.76 tidak dibolehkan untuk menghilangkan jiwanya atau jiwa orang lain. Dalam hubungan ini euthanasia. dan oleh karenanya pula hal tersebut merupakan perbuatan yang bertentangan dengan kehendak Allah swt. sehingga segala perbuatan yang mengarah kepada tindakan untuk menghilangkan jiwa manusia akan diancam dengan hukuman qisas-diyat atau ta'zir. Masalah kematian setiap manusia itu sudah ditentukan batasannya oleh Allah swt. Sebab masalah hidup dan mati itu merupakan urusan Allah SWT. khususnya euthanasia aktif dapat dikategorikan sebagai perbuatan untuk menghilangkan jiwa atau penghentian kehidupan manusia. Al-A'raf (7): 34 Al-Munafiqun (63): 11 130 131 132 .

Dalam konteks di atas. yang definisinya menurut Qardawi ialah tindakan memudahkan kematian seseorang dengan sengaja tanpa merasakan sakit. Euthanasia cara mati terhormat orang moderen (Solo: cv.1990) hlm. Kemudian apakah dokter dalam memberikan tindakan medis (misal.77 Dapat difahami dari ayat di atas bahwa urusan mati sepenuhnya merupakan hak Allah swt. seorang dokter berkewajiban untuk mengobati.133 Akibat dari pesatnya perkembangan teknologi kedokteran modern akan dapat memberikan fasilitas dan pelayanan yang lebih baik bagi usaha perpanjangan umur pasien yang menderita sakit parah. itu tidak berarti menghalangi hak Allah sebagai penentu kematian manusia ?. Dan memang seharusnya begitu. dengan tujuan Imron Halimi. Betapapun sudah diduga umur si pasien tidak lama lagi. Dan bila ada terjadi seseorang berusaha untuk dirinya sendiri untuk mendapatkan kematian. ini bisa dikategorikan sebagai pembunuhan. baik dengan obat-obatan atau memberikan nasihat. EEG dan lain-lain). meringankan penderitaan pasien dengan segala kemampuannya. Ramadhani. tindakan dokter itu tidak berarti melangkahi hak Allah atau takdirnya. respirator. sebab tindakan medis itu manifestasi dari ikhtiar untuk menolong pasien. Ini mengandung arti bahwa dokter atau tim medis telah dapat menunda beberapa saat waktu kematiannya. karena kasih sayang. maka perbuatan demikian bisa dikategorikan sebagai bunuh diri dengan meminjam tangan orang lain. Berbicara masalah euthanasia (qatl ar-rahmah atau taisir al-maut). memasang infus. Sehingga kalau sampai terjadi seseorang lain yang mengusahakan kematian untuk orang lain.116 133 .

1996). b.136 Namun demikian apakah bisa begitu saja tindakan euthanasia aktif itu digolongkan sebagai jarimah pembunuhan?. Unsur formal atau unsur syar'i Yang dimaksud dengan unsur formal atau unsur syar'i adalah adanya ketentuan syara' atau nash yang menyatakan bahwa perbuatan yang dilakukan yang oleh hukum dinyatakan sebagai sesuatu yang dapat dihukum atau adanya nash (ayat) yang mengancam hukuman terhadap perbuatan yang dimaksud. Dalam fiqh Islam suatu perbuatan barulah dikatakan sebagai jarimah apabila perbuatan tersebut telah memenuhi unsur-unsur jarimah.ke-2. Ibid. II:749. Dalam hal ini tentunya diperlukan beberapa tahapan untuk menjawabnya. hlm. maka hal ini bisa diklasifikasikan kedalam jarimah pembunuhan. Unsur material atau rukun maddi Yusuf Qardawi. 135 134 Ibid.78 meringankan penderitaan si sakit. alih bahasa: As'ad yasin.134 Khususnya lagi euthanasia aktif (taisir al-maut al-fa'al) yang definisinya ialah tindakan memudahkan kematian si sakit karena kasih sayang yang dilakukan dokter dengan menggunakan instrumen (alat). (Jakarta: Gema Insani Press.135 Dalam Islam euthanasia aktif itu secara eksplisit dan tegas belum pernah ditemukan hukumnya.. cet. fatwa-fatwa kontemporer.751 136 . yakni: a. Akan tetapi karena euthanasia aktif merupakan tindakan untuk mempercepat kematian seseorang. yakni sebagai berikut: 1.

79 Yang dimaksud dengan unsur material adalah adanya perilaku yang membentuk jarimah. 1997). Bahwa euthanasia aktif itu merupakan tindakan pembunuhan.137 2. hlm.lihat juga A. . Oleh karena itu pembuat jarimah (tindak pidana. Tindakan euthanasia aktif itu apakah telah memenuhi unsur-unsur jarimah ataukah tidak?. fiqh jinayah (upaya menanggulangi kejahatan dalam Islam). baik berupa perbuatan ataupun tidak berbuat atau adanya perbuatan yang bersifat melawan hukum. djajuli. Orang yang diasumsikan memiliki kriteria tersebut adalah arangorang yang mukallaf sebab hanya merekalah yang terkena khitab (panggilan) pembebanan (taklif). yakni adanya nas yang jelas-jelas melarang pembunuhan baik 137 Rahmat Hakim. Hukum pidana Islam (fiqh jinayah).52-53. c. ke-1. Raja Grafindo Persada. Jika telah memenuhi tentunya ada kesinkronan antara aspekaspek terjadinya euthanasia aktif dengan unsur-unsur jarimah. ialah unsur formil (ar-rukn asysyar'i). Sehingga euthanasia aktif dilihat dari aspek definisinya sudah memenuhi unsur jarimah pertama. delik) haruslah orang yang dapat memahami hukum. ke-2 (Jakarta: PT. hlm. Maksudnya adalah pembuat jarimah atau pembuat tindak pidana atau delik haruslah orang yang dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya. (Bandung: Pustaka Setia.3. cet. dan sanggup menerima isi beban tersebut. mengerti isi beban.2000). Adapun aspek-aspek terjadinya euthanasia aktif ialah sebagai berikut: a. cet. Unsur moril atau Rukun Adaby Unsur ini juga disebut dengan al-mas'uliyyah al-jinayyah atau pertanggungjawaban pidana.

Seperti tercantum dalam beberapa ayat al-Qur'an sebagai berikut: 0 ‫ل تقتلوا أنفسكم ان ال كان بكم رحيما‬ ‫ول تقتلوا النفس التى حرم ال ال بالحق ذالكم وصاكم به‬ 0 ‫تعقلون‬ ‫لعلكم‬ 138 139 b.80 diri sendiri ataupun orang lain. Dalam hukum Pidana Islam (fiqh jinayah). tindak pidana pembunuhan ini (al-qatl) disebut juga al-jinayah 'ala al-insaniyyah (kejahatan terhadap jiwa 138 An-Nisa (4): 29 Al-An'am. dan keluarga pasien. Adanya pelaku euthanasia aktif yang dapat dimintai pertanggungjawaban pidana. c. dan sebagainya. yaitu dokter atau tim medis lainnya. Adanya tindakan atau perbuatan yang mendukung terjadinya euthanasia aktif. pasien. Dalam aspek ini juga telah memenuhi unsur jarimah kedua yakni unsur materill (ar-rukn almaddi). Dari aspek inipun telah memenuhi unsur jarimah ketiga. yakni unsur moril (ar-rukn adabi) Jadi jelas dalam konteks tersebut dapat disimpulkan bahwa euthanasia aktif itu merupakan jarimah pembunuhan.(6): 151 139 . yakni biasanya dengan mencabut selang respirator atau melalui suntikan dengan bahan pelemah saraf dalam dosis tertentu (neurasthenia).

1992). 141 140 A. Hukum Pidana. suatu perbuatan penganiayaan terhadap seseorang dengan maksud untuk menghilangkan nyawanya. Perbedaan tersebut adalah:140 1) Ulama Malikiyah mengklasifikasikan bentuk-bentuk pembunuhan menjadi dua yaitu: pembunuhan sengaja (qatl al-'amd) dan kekeliruan (qatl alkhata'). Terjadinya tindakan euthanasia aktif sangat dipengaruhi oleh alasan atau pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:142 Jaih Mubaraok dan Enceng Arif Faizal. 2004) hlm. kekeliruan. Para ulama berbeda pendapat dalam mengklasifikasikan bentuk-bentuk pembunuhan. Dari macam jarimah pembunuhan di atas. yaitu pembunuhan sengaja.121 Akh. Euthanasia Suatu Tinjauan dari Segi Kedokteran. Hal ini sesuai dengan definisinya. Kaidah fiqh jinayah (asas-asas hukum pidana Islam) (Bandung: Pustaka Bani Quraisy. Problematika Hukum Islam 142 . Djazuli. 4) Sebagian Hanafiyah mengklasifikasikannya menjadi lima (khumasi). lihat juga Abd Qadir 'Audah. yakni. dalam Chuzaimah T Yanggo dan Hafidz Anshary.81 manusia). dan Hukum Islam.hlm.9. Fauzi Aseri. (Beirut: Muassasat ar-Risalat. 2) Jumhur mengklasifikasikannya menjadi tiga (sulasi). semi sengaja. semi sengaja. Fiqh Jinayah. II: 7-9. dan serupa kekeliruan (ma jara majr al-khata'). yaitu: pembunuhan sengaja. yaitu: pembunuhan sengaja. semi sengaja (syibh al-'amd) dan kekeliruan. kekeliruan dan serupa kekeliruan. at-Tasyri' al-Jina'i al-Islami Muqaranah bi al-Wad'i. tindakan euthanasia aktif bisa digolongkan kedalam pembunuhan sengaja. 3) Sebagian Hanafiyah mengklasifikasikannya menjadi empat (ruba'i).141 atau sengaja melakukan perbuatan yang dilarang dan memang akibat perbuatan itu dikehendaki pula. dan pembunuhan secara tidak langsung (al-qatl bi al-tasabbub).

b) Dari pihak keluarga/wali. paling tidak. Pustaka Firdaus. B. 2002). ke-3. Atau pasien sudah tahu bahwa ajalnya sudah di ambang pintu. Oleh karena penyakit yang dideritanya sangat (accut). c) "Kemungkinan lain" bisa terjadi. Cet. Bisa juga euthanasia terjadi karena permintaan keluarga yang tidak sanggup lagi memikul biaya pengobatan. Apabila jika pasien tampaknya tidak tahan menanggung sakitnya. Sanksi Hukum bagi Pelaku Euthanasia Dalam ajaran agama Islam tidak terdapat ajaran yang mutlak mengenai euthanasia.71. baik karena terlalu lama. harapan sembuh terlalu jauh. namun bila ingin mempelajari dan memahami arti euthanasia secara mendalam. Pertimbangan lain bisa juga karena pasien tidak ingin meninggalkan beban ekonomi yang terlalu berat bagi keluarga. Euthanasia hakikinya adalah membunuh yang dilakukan Kontemporer. (Jakarta: PT. bahwa pihak keluarga (tertentu) bekerjasama dengan dokter untuk mempercepat kematian pasien. dia meminta jalan yang lebih "nyaman".82 a) Dari pihak pasien. sementara harapan untuk sembuh tidak ada lagi. yang merasa kasihan atas penderitaan pasien. yaitu melalaui euthanasia. maka supaya matinya tidak merasa sakit. hlm. yang meminta kepada dokter karena merasa tidak tahan lagi menderita sakit. karena menginginkan harta/milik pasien dan faktor amoral lainnya. . akibat biaya pengobatan yang mahal. ataupun karena amat ganasnya jenis penyakit yang menyerangnya. dan telah lama dialami. maka ia meminta dokter untuk melakukan euthanasia. maka akan jelas hukumnya dengan berdasarkan al-Qur'an sebagai salah satu sumber hukum Islam.

khusus yang berkaitan dengan hukum pidana. keturunan dan harta. perbuatan itu bisa merugikan agama. karena pada dasarnya menghilangkan nyawa seseorang merupakan perbuatan dosa besar sebagai mana tercantum dalam al-Qur'an: ‫و من يقتل مؤمنا متعمدا فجزاؤه جهنم خالدا فيها و غضب ال‬ 144 ‫عليه و لعنه و اعدله عذابا عظيما‬ َ Secara umum hukum Islam diamalkan untuk menciptakan kemaslahatan hidup dan kehidupan manusia. . X:11 . maka Allah memberikan ancaman bagi mereka yang meremehkannya. Dalam terminologi fiqh. Islam ditetapkan aturan yang ketat yaitu Qisas (pembunuhan). Tindakan merusak ataupun menghilangkan jiwa orang lain maupun jiwa diri sendiri adalah perbuatan melawan hukum Allah. had dan diyat. jinayat adalah setiap perbuatan yang diharamkan dan tercela yang dilarang oleh Tuhan. Agar manusia tidak memandang murah terhadap jiwa manusia.143 Allah melarang melakukan pembunuhan. alih bahasa H.83 dalam rumah sakit oleh dokter ahli pada penderita karena penyakit tertentu seperti kanker atau kecelakaan yang merusak tubuhnya hingga berdasarkan ilmu dan teknologi kedokteran tidak mungkin sembuh. akal. sehingga aturan diberikan secara rinci. 144 An-Nisa (4): 93. Euthanasia merupakan salah satu bentuk pembunuhan dan termasuk dalam kategori jinayat. 143 Sayid Sabiq. al-Maarif.A Ali (Bandung: PT. jiwa. fikih sunnah. 1997).

84

Syaikh Muhammad Yusuf al-Qardawi, sebagaimana dikutip oleh Akh. Fauzi Aseri mengaِ takan, bahwa kehidupan manusia bukan menjadi hak milik pribadi, a sebab dia tidak dapat menciptakan dirinya (jiwanya), organ tubuhnya, ataupun selselnya. Diri manusia pada hakekatnya adalah barang ciptaan yang diberikan Allah, oleh karenanya ia tidak boleh diabaikan, apalagi dilepaskan dari kehidupannya.145 Jadi jelaslah bahwa Islam tidak membenarkan seseorang yang sakit berkeinginan mempercepat kematiannya, baik dengan bunuh diri maupun dengan minta dibunuh. Bahkan berdo'a meminta dimatikanpun tidak diperbolehkan. Tetapi Allah menyuruh umatnya bila dalam keadaan sakit agar disamping berusaha juga berdoa agar diberi kesembuhan, sebagaimana firman Allah swt:
146

‫واذ مرضت فهو يشفين‬

Ahmad Mustafa al-Maragi menjelaskan, bahwa pembunuhan (mengakhiri hidup) seseorang bisa dilakukan apabila disebabkan oleh salah satu dari tiga sebab:147 1. Karena pembunuhan oleh seseorang secara zalim. 2. Janda yang pernah bersuami) secara nyata berbuat zina, yang diketahui oleh empat orang saksi. 3. Orang yang keluar dari agama Islam, sebagai suatu sikap menentang jama'ah Islam.

145

Akh. Fauzi Aseri, Euthanasia. hlm.73. As-Syu'ara' (26): 80

146

147

Ahmad Mustafa al-Maragi, Tafsir al-Maragi, (Mesir: Mustafa al-Baby al-Halaby, 1971).

XI: 43.

85

Jika dibandingkan dengan alasan-alasan yang mendorong terjadinya euthanasia seperti disebutkan terdahulu, maka tidak ada satupun yang berkaitan dengan alasan bilhaq di atas. Maka agar dapat ditentukan sanksi hukumnya dalam masalah euthanasia ini, perlu diperjelas secara terperinci karena masalah euthanasia ini merupakan masalah yang kompleks, baik dari segi sebabnya maupun pelaku terjadinya euthanasia. Karena euthanasia ini merupakan jenis pembunuhan maka kiranya perlu dijelaskan sanksi-sanksinya. Sebelum menginjak kepada sanksi-sanksi pelaku euthanasia perlu disebutkan terlebih dahulu sanksi-sanksi dalam pembunuhan. Dalam pembunuhan, ada beberapa jenis sanksi, yaitu; hukuman pokok, hukuman pengganti dan hukuman tambahan. Hukuman pokok pembunuhan adalah qisas. Bila dimaafkan oleh keluarga korban, maka hukuman penggantinya adalah diyat. Akhirnya jika sanksi qisas atau diyat dimaafkan, maka hukuman penggantinya adalah ta'zir. Menurut sebagian ulama, yakni Imam Syafi'i, ta'zir tadi ditambah kaffarah. Hukuman tambahan sehubungan dengan ini adalah pencabutan atas hak waris dan hak wasiat harta dari orang yang dibunuh, terutama jika antara pembunuh dengan yang dibunuh mempunyai hubungan kekeluargaan.148 Dokter sebagai seorang anggota masyarakat, penuh aktif, berinteraksi dan memelihara masyarakat. Tugas dokter tidak hanya melakukan pengobatan penyakit dan mencegah timbulnya penyakit. Tetapi juga sebagai seorang manusia dokter juga dituntut untuk tolong-menolong dalam hal kebaikan apapun bentuknya.149
148

A. Djazuli, Fiqh Jinayat, hlm, 135-136

Kode Etik kedokteran Islam, terj. Sudibyo Soepardi, cet.ke-4, (Jakarta: CV. Akademika Pressindo, 2001), hlm. 41.

149

86

Dalam masalah euthanasia ini, jika melihat kembali kepada fungsi dokter sebagai penolong untuk mengobati, menolong dan membantu pasien dari penyakitnya supaya sembuh, apakah secara batin dia tega melakukan euthanasia terhadap pasiennya. Pasti dia mempunyai tekanan batin dan juga menghadapi konsekuensi hukum. Dalam hal ini, jika dokter melakukan euthanasia berarti dokter telah melakukan pembunuhan, karena pembunuhan berarti menghilangkan nyawa seseorang, sepeti dikatakan oleh Wahbah az-Zuhaili:150 "Pembunuhan adalah suatu perbuatan mematikan; atau perbuatan seseorang yang dapat menghilangkan nyawa; artinya pembunuhan itu dapat menghancurkan bangunan kemanusiaan."

Allah telah memberikan hukuman terhadap pelaku pembunuhan dengan qisas. Hal ini tercantum dalam al-Qur'an:
151

‫يا أيها الذين آمنوا كتب عليكم القصاص في القتلى‬
152

‫و كتبنا عليهم فيها أن النفس بالنفس‬

Jadi berdasarkan ayat di atas dokter sebagai pelaku pembunuhan harus dihukum qisas, hal ini sebagai konsekuensi pertama yang dihadapi oleh dokter sebagai pihak pembunuh. Pada dasarnya Allah melarang pembunuhan apapun
Wahbah az-Zuhaili, al-Fiqh al-Islam wa adillatuh, cet ke-3 (Damaskus: Dar al-Fikr, 1989), VI: 217.
151 150

Al-Baqarah (2): 178. Al-Maidah (5): 45.

152

Dalam hal ini Mahmud Syaltut memberikan pembahasan yang ringkasnya bahwa para ahli fiqh berbeda pendapat mengenai suatu kejahatan atau seseorang yang disuruh sendiri oleh si korban dengan disetujui walinya. 153 Akh. hlm. dan Allah memberikan hukuman berupa qisas yang merupakan hak Allah atas manusia. diyat (bila pembunuh dimaafkan) dan bisa juga dimaafkan secara mutlak. Hal ini tergantung tuntutan apa yang akan dilakukan pihak keluarga atau ahli warisnya. atau keluarga sebagai wali ad-dam telah merelakan bahkan menganjurkannya. dan persetujuan dari pihak keluarga. tetapi Allah juga memberikan hak kepada keluarga si terbunuh dengan tuntutan. karena Allah sebagai sang khaliq menyuruh umatnya agar senantiasa memelihara jiwa. . Fauzi Aseri. hukuman berpindah kepada diyat. Dalam hal ini dokter mempunyai suatu dispensasi dari pihak pasien (si terbunuh) berupa (kerelaan atau izin). apakah pelaku (dokter) terkena hukuman atau tidak dalam kasus euthanasia yang mana si korban sebagai pemilik jiwa.74. Dalam hal ini si pasien sebagai pemilik jiwa telah merelakan atau memberi izin kepada dokter. Masalah yang timbul adalah.153 Menurut Hanafiyah: ‫يسقط القصاص برضا المجني عليه‬ Gugurnya qisas disebabkan oleh adanya kerelaan atau izin korban yang dapat dipersamakan dengan pemaafan. Oleh karena itu. Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa perintah korban dapat menggugurkan qisas terhadap pelaku. sebagai unsur utama kehidupan manusia. tuntutan itu bisa berupa qisas (sebagai balasan). Euthanasia.87 jenisnya.

Pemaafan dari korban itu lebih utama dari pada keluarga sebab pemaafan itu menjadi hak bagi korban. 260. (Jakarta: Bulan Bintang. 441-442 A ِ l-Hafid Ibnu Hajar al-Asqalani. At-Tasyri.154 Pendapat ini juga didukung oleh Abu Hanifah. hlm. 1247. Bulug al-Maram. Hadis nomer. hlm. karena adanya pemberian izin. 158 hlm.441-442. walaupun Abu Abdul al-Qadir Audah. semuanya tidak ada yang menetapkan sanksi hukum atas kerelaan atau izin ini dengan sanksi qisas (hukuman asli). meskipun tidak berarti menghapuskan hukuman ta'zir. HR Baihaqi dari Ali RA 157 156 Abd Qadir 'Audah.1992) I: 440-441 155 154 Ibid.. A. t. ke-5. (Bandung: Maktabah Dahlan.155 Pendapat ini didasarkan pada qaidah fiqhiyyah.158 Dari pendapat-pendapat di atas. Kitab al-Hudud Bab az-Zina. 191 . dan pemberian izin itu menimbulkan syubhat (kesamaran). yakni: 156 ‫ادرؤوا الحدود بالشبهات‬ Pendapat Malikiyah yang arjah (lebih kuat) dan sebagian Syafi'iyah: ‫يسقط عقوبتى القصاص و الدية برضا المجني عليه‬ Kerelaan korban dapat dipersamakan dengan pemaafan baik dari hukuman asli (qisas) maupun penggantinya (diyat). al-tasyri' al-Jina'i al-Islami Muqaranah bi al-Qanun al-wad'i (Beirut: Muassasat ar-Risalat.157 Menurut ulama Syafi'iyah dan Imam Ahmad dalam kasus euthanasia ini tidak ada sanksi qisas dan diyat. hlm.t). 1993). cet. Abu yusuf dan Muhammad mereka sama-sama memberikan sanksinya berupa diyat. Karena si pasien telah memaafkan dari sanksi dan rela untuk dibunuh itu sama dengan memberi maaf. Asas-asas Hukum Pidana Islam. Hanafi. kerelaan itu menjadi syubhat yang dapat menggugurkan hudud.88 Selain itu.

. Dan jumlah dari pembayaran diyat mugalazah adalah seratus ekor unta yang empat puluh di antaranya sedang bunting. Otomatis dokter tidak akan mau jika harus membayar diyat. Sedangkan tindakan dokter telah disetujui pihak keluarga pasien. karena berarti dokter sebagai pihak yang membantu malah mendapatkan kerugian. Diyat ada dua macam yaitu diyat mugalazah dan diyat mukhafafah.89 Hanifah (beserta pengikutnya) Abu Yusuf dan Muhammad menetapkan hukum atas adanya unsur kerelaan ini dengan diyat (hukuman pengganti). Dan pihak keluarga atau ahli warisnya juga telah memaafkan secara mutlak maka tidak ada hukuman diyat baginya. atau harta (uang atau barang ) yang senilai dengannya. yaitu berupa seratus ekor unta yang empat puluh diantaranya sedang bunting. Menurut Malikiyah pada pembunuhan disengaja dikenakan diyat mugalazah apabila waliyuddam menerimanya. Pada dasarnya hukuman qisas tidak dapat diganti dengan hukuman yang dibuat oleh manusia. jika melihat hal di atas berarti dokter yang mengeuthanasia mendapat hukuman berupa diyat mughaladzhah karena telah dimaafkan oleh pihak keluarga. Karena fungsi diyat adalah untuk kemaslahatan keluarga si pasien (si terbunuh). jika dia sudah tahu akan konsekuensinya. Dari hal ini. mau menerima hukuman tersebut. namun pihak korban atau ahli warisnya diberi hak tuntutan. Jadi dari hal ini dokter terbebas dari hukuman qisas (sebagai hukuman asli) juga diyat (sebagai hukuman pengganti). Sedangkan jumlah yang harus dikeluarkan dari ketentuan diyat sendiri tidak sedikit. tetapi dalam hal ini apakah dokter sebagai orang lain bagi pasien dan keluarga yang sudah melaksanakan euthanasia atas permintaan pasien dan persetujuan keluarga sehingga mendapat hukuman diyat.

Hukum Pidana Islam. karena korban (si pasien) atau walinya mempunyai hak untuk membebaskan pembunuh dari sanksi hukuman 159 Al-Baqarah (2): 178 Rahmat Hakim. hukuman qisaspun menjadi gugur digantikan dengan hukuman diyat. Hal itu dimungkinkan. Keterlibatan keluarga pihak korban.160 Singkatnya. hlm126 160 . Apabila korban atau keluarganya memaafkan diyat ini. hukum Islam memberikan kedudukan kepada keluarga korban secara bijaksana untuk turut ambil bagian di dalam menentukan kebijaksanaan hukuman terhadap pelaku pembunuhan dengan memberikan kesempatan kepada pelakunya apakah harus diqisas atau diyat. kalau sikorban (masih hidup) atau ahli waris (jika korban mati) memaafkan pembuat jarimah. Oleh karena itu.90 oleh karena itu hak Allah yang berupa qisas dapat diganti dengan hukuman diyat yang merupakan hak manusia. maka sanksi qisas tidak dapat dilaksanakan karena tidak memenuhi syarat. dapat dihapus dan sebagai penggantinya hakim akan menjatuhkan hukuman ta'zir. atau juga memberi maaf secara mutlak. ini sangat berarti bagi pelaku tindak pidana maupun bagi keluarga si korban. sanksi ta'zir dapat dijatuhkan terhadap pembunuh. Allah berfirman dalam al-Qur'an: ‫فمن عفي له من أخيه شيئ فاتباع بالمعروف و اداء اليه‬ 159 ‫باحسان‬ Adanya hukuman pengganti pada jarimah qisas ini disebabkan adanya pemaafan dari sikorban atau wali atau ahli warisnya. Dalam tindak pidana pembunuhan. sebab jarimah qisas merupakan hak adami hak perseorangan.

hlm. Dengan melihat bahwa izin (persetujuan) dapat menghapuskan hukuman. 162. Djazuli. Maka ta'zir itulah sebagai sanksi hak masyarakat. melainkan juga hak jamaah. . baik kedua-duanya atau diganti dengan sanksi lain. Karena pembunuhan itu tidak hanya berurusan dengan hak perseorangan. Fiqh Jinayah. Hukuman ta'zir yang diberikan kepada pembunuh sengaja yang dimaafkan dari qisas dan diyat adalah aturan yang baik dan membawa kemaslahatan.91 qisas dan diyat. maka izin tersebut merupakan pemaafan yang didahulukan. 161 A. Dan ta'zir itu tergantung kepada kemaslahatan:161 ‫التعزير يدور مع المصلحة‬ Adanya kaidah ini merupakan wujud dinamisasi hukum pidana Islam dalam menjawab bentuk-bentuk kejahatan baru yang belum ada aturannya sehingga setiap bentuk kejahatan baru yang dianggap telah merusak ketenangan dan ketertiban umum dapat dituntut dan dihukum.

92 EUTHANASIA DALAM PRESPEKTIF FIQH JINAYAH .

Ag DRS. Daruquthni. 8 jilid. OMAN FATHUROHMAN SW. 1981. Bulug al-Maram. 4 jilid. Bandung: Maktabah Dahlan. M. t. Ali bin 'Amr Abu al-Husyain al-. Beirut: Dar al-Fikr. . Sunan al-Daruqutni.t. 3 jilid. Bukhari. Sahih al-Bukhari.93 SKRIPSI DIAJUKAN KEPADA FAKULTAS SYARI’AH UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA UNTUK MEMENUHI SEBAGIAN SYARAT-SYARAT MEMPEROLEH GELAR SARJANA STRATA SATU DALAM ILMU HUKUM ISLAM OLEH: MUKHLISIN 9937 3425 PEMBIMBING DRS. SLAMET KHILMI JURUSAN JINAYAH SIYASAH FAKULTAS SYARI’AH UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA 2004 DAFTAR PUSTAKA Al-Qur'an Al-Qur'an Karim. Beirut: Dar al-Fikr. 1988. 1996. Ibnu Hajar al-Asqalani. Sunan Abi Dawud. Damaskus: Dar Ibn Katsir. 1404. Beirut: Dar al-Ma'rifah. H Hadis Abu Dawud. Abu Abdullah Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim ibn al-Mughirah ibn Bardizbah al-Ja'fi al-.

1968. Abdul Qadir. Zubir A. Sunan an-Nasai'. Jakarta: Darul Falah. 1997. Maraghi. Etika Rekayasa menurut konsep Islam. Fiqh dan Usul Fiqih Audah. Madjrie. Tafsir al-Maraghi. Jakarta: Khairul Bayan.. Subul as-Salam Syarah Bulug al-Maram. Jakarta: PT. t. Abdurrahman dan Fauzan al-Anshari. 2004. Kaidah Fiqh Jinayah (Asas-asas Hukum Pidana Islam).94 Ibnu Majah. alih bahasa: Fadhli Bahri. Jaih mubarok. Mawardi. Bandung: Maktabah Dahlan. al-Ahkam as-Sultaniyah. Raja Grafindo Persada. Mesir: Mustafa al-Baby alHalaby. 1997. Muhammad ibn Ahmad ibn Muhammad ibn Muhammad al-Qurtuby. Ahmad Hanafi. Beirut: Dar Ihya al-Kitab al-Arabiyah. 2 jilid. Masail Fiqhiyah. Abd ar-Rahman Ahmad ibn Suaib ibn Ali ibn Bahr an-. Fiqh Jinayah (upaya menaggulangi kejahatan dalam Islam). Ibnu Rusyd. Charis.t. A. 2000. Jakarta: Bulan Bintang. Djazuli. 1994. Imam al-. Bandung: Pustaka Bani Quraisy. al-Tasyri' al-Jina'i al-Islami Muqaranah bi al-Qanun al-Wad'i. 2 jilid. t. Qisas pembalasan yang hak. Hukum Pidana Syari'at Islam menurut ajaran ahlus sunnah. San'ani. 2003. Muhammad ibn Ismail ibn Salah al-Amir al-Kahlani al-. 1971. 2 jilid. 30 jilid. 1992. Jakarta: Bulan Bintang. 1971. 8 jilid. Anwar Harjono. Jakarta: CV Haji Masagung. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. t. 1993. Haliman. dan Enceng Arif Faizal. 1994. Jakarta: Bulan Bintang. Hukum Islam (keluasan dan keadilannya). Sunan Ibn Majah. Beirut: Muassasat ar-Risalat. Indonesia: Dar Ihya alKutub al-Arabiyyah. Mesir: al-Bab al-Halabi wa al-Audah. (Prinsip-prinsip penyelenggaraan Negara Islam). Nasai'. Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtasid.t. . Asas-asas Hukum Pidana Islam. Masjfuk Zuhdi. Musthafa al-.t.

Buku lain-lain Abdul Jamali.95 Mukti. Fikih Sunnah. 1991. Bandung: Pustaka Setia. Fatwa-fatwa kontemporer. 1984. Rahmat Hakim. Pustaka Firdaus. Qardhawi. Jakarta: Ghalia Indonesia. Jakarta: Gema Insani Press. Halal dan Haram dalam Islam. Menggagas Hukum Pidana Islam. Profesi Dokter. Supriadi. Tanggung jawab Hukum Seorang Dokter dalam menangani Pasien.. Sayyid Sabiq. Wahbah az-. Beirut: Dar al-Fikr. 2001. terj. t. Hafiz Anshary AZ. Rahmat Hakim. Jakarta: PT. 2000. Bandung: Nova. Yusuf al-. Jakarta: Robbani Press. Jakarta: Ikhtiar Baru. transplantasi ginjal. al-Ma'arif. Bunga Rampai Hukum Kesehatan. . dalam tinjauan medis. 1996. hukum. Djoko Prakoso. dan operasi kelamin. …. dan Djaman Andhi Nirwanto. 1997. Topo Santoso. Euthanasia Hak Asasi Manusia dan Hukum Pidana. Adji. al-Muhazzab. Etika Profesional dan Hukum Pertanggungjawaban Pidana Dokter. Surabaya: Maktabah Ahmad bin Said bin Nabhan. 2001. Wila Chandrawila.t. Abortus. 1997.t. 8 jilid. Yogyakarta: Aditya media. alih bahasa A. Jakarta: Erlangga. Bandung: Asy-Syamil Press. F. hukum kedokteran.Tengker. Zuhaili. Oleh Drs. 2000. Ali. Hukum Pidana Islam (Fiqh Jinayah). Bandung: Pustaka Setia. Chuzaimah T. 1990.1993. Problematika Hukum Islam Kontemporer edisi ke-4 edisi revisi. al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh. Syairazi. dan agama Islam. Abu Sa’id al-Falahi dan Aunur Rafiq Shaleh Tamhid. Oemar Seno. Bandung: Mandar Maju. Yanggo. Jakarta: Widya Medika. Ali Ghufron dan Adi Heru Sutomo. Mengapa Euthanasia? Kemampuan Medis & Konsekuensi Yuridis. dan A. alih bahasa As'ad Yasin. 1991. 2002. Euthanasia. t. Hukum Pidana Islam (Fiqh Jinayah). Abi Ishaq Ibrahim ibn Ali ibn Yusuf al-Fairuz Abadi asy-. dkk. bayi tabung. Amri Amir. 2000. Bandung: PT.

K Bartens. Yogyakarta: FKMPY. 1992. 1980. Yogyakarta: Media Pressindo. Antropologi Teologis II. 1990. Thomas A. Widyana. 2000. Siswo. 1996. Carm. Petrus Yoyo. Jakarta: Pustaka Antara. Euthanasia Beberapa Soal Etis Akhir Hidup Menurut Gereja Katolik.Pengantar Bioetika. Vol. 2001. Ensiklopedi Indonesia (Jakarta: Ikhtiar Baru-Van Hoeve. 1987). Sudibyo Soepardi. 2001. Shannon. Ratna Suprapti. hukum dan psikologis. Solo: CV. 1974. Samil. 1990. Etika Kedokteran Dalam Islam. Malang: Analekta Keuskupan Malang. Kitab undang-undang hukum pidana ( KUHP) serta komentarnya lengkap pasal demi pasal. H.96 R. Euthanasia dalam Prespektif Hak Asasi Manusia. Euthanasia cara mati terhormat orang modern.2 : 978. Jakarta: Gramedia. . Bogor: Politeia. Chr Purwa. Makalah pada seminar sehari. J. Piet Go O. Artikel Euthanasia Guwandi J. Teknologi Modern Dan Tantangannya Terhadap Bioetika. Imron Halimi. Kode Etik Kedokteran Indonesia. ed. Jakarta: Metro Kencana. "Euthanasia" beberapa soal moral berhubungan dengan quantum. Euthanasia Bagaimana Sikap Seorang Dokter. Ali Akbar. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. alih bahasa. Sudarmo. 1988.R. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 1989. Ramadhani. Aborsi dan Euthanasia ditinjau dari segi medis. Kumpulan Kasus Bioethics & Biolaw. Soesilo. Karyadi. Kartono Mohamad. 1995. Jakarta: Akademika Pressindo. Kode Etik Kedokteran Islam (Islamic code of medical ethics).

Setelah membaca. Wb. Bersama ini kami ajukan skripsi tersebut untuk diterima selayaknya dan mengharap agar segera dimunaqosyahkan. maka menurut kami skripsi saudara: Nama NIM : Mukhlisin : 9937 3425 Judul : “Euthanasia Dalam Prespektif Fiqh Jinayah” Sudah dapat diajukan untuk memenuhi sebagian dari syarat memperoleh gelar sarjana strata satu dalam Jinayah Siyasah Fakultas Syari’ah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Yogyakarta. mengoreksi dan menyarankan perbaikan seperlunya. Untuk itu kami ucapkan terima kasih. 3 Rajab 1425 H 19 Agustus 2004 Pembimbing I . M Ag Dosen Fakultas Syari’ah UIN Sunan Kalijaga NOTA DINAS Hal : Skripsi Saudara Mukhlisin Kepada Yth : Dekan fakultas Syari’ah UIN Sunan Kalijaga Di Yogyakarta Assalamu’alaikum Wr. Oman Fathurohman SW.97 Drs. Wb. Wassalamu’alaikum Wr.

maka menurut kami skripsi saudara: Nama NIM : Mukhlisin : 9937 3425 Judul : “Euthanasia Dalam Perspektif Fiqh Jinayah” Sudah dapat diajukan untuk memenuhi sebagian dari syarat memperoleh gelar sarjana strata satu dalam Jinayah Siyasah Fakultas Syari’ah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Wassalamu’alaikum Wr. Yogyakarta. mengoreksi dan menyarankan perbaikan seperlunya. Slamet Khilmi Dosen Fakultas Syari’ah UIN Sunan Kalijaga NOTA DINAS Hal : Skripsi Saudara Mukhlisin Kepada Yth : Dekan Fakultas Syari’ah UIN Sunan kalijaga Di Yogyakarta Assalamu’alaikum Wr. M. Wb. Slamet Khilmi NIP: 150 252 260 . Oman Fathurohman SW. Bersama ini kami ajukan skripsi tersebut untuk diterima selayaknya dan mengharap agar segera dimunaqosyahkan.Ag NIP: 150 222 295 Drs. Untuk itu kami ucapkan terima kasih. Setelah membaca. 3 Rajab 1425 H 19 Agustus 2004 Pembimbing II Drs. Wb.98 Drs.

H. MA NIP: 150 182 698 Ketua Sidang Drs. MAg NIP: 150 222 295 SISTEM TRANSLITERASI ARAB-LATIN . MA NIP: 150 228 207 Penguji I Drs. Yogyakarta. Oman Fathurohman SW. MAg NIP: 150 222 295 NIP: 150 252 260 Sekretaris Sidang Fatma Amilia NIP: 150 277 618 Pembimbing II Drs. Fuad Zein. 10 Sya'ban 1425 H 25 September 2004 Dekan Fakultas Syari’ah Drs.99 PENGESAHAN Skripsi berjudul “Euthanasia Dalam Prespektif Fiqh Jinayah” yang disusun oleh MUKHLISIN NIM: 9937 3425 Telah dimunaqosyahkan di depan sidang munaqosyah pada tanggal 25 September 2004/10 Sya'ban 1425 H dan dinyatakan telah dapat diterima sebagai salah satu syarat guna memperoleh gelar sarjana dalam Ilmu Hukum Islam. Slamet Khilmi Penguji II Drs. MA NIP: 150 228 207 Pembimbing I Drs. H. Oman Fathurohman SW. Fuad Zein. Malik Madany. H.

100 Transliterasi kata-kata Arab yang dipakai dalam penyusunan skripsi ini berpedoman pada Surat Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor: 158/1987 dan 0543b/U/1987 Konsonan Tunggal Huruf Arab Nama ‫ا‬ ‫ب‬ ‫ت‬ ‫ث‬ ‫ج‬ ‫ح‬ ‫خ‬ ‫د‬ ‫ذ‬ ‫ر‬ ‫ز‬ ‫س‬ ‫ش‬ ‫ص‬ ‫ض‬ ‫ط‬ ‫ظ‬ ‫ع‬ ‫غ‬ ‫ف‬ ‫ق‬ ‫ك‬ ‫ل‬ ‫م‬ ‫ن‬ ‫و‬ ‫هـ‬ ‫ء‬ ‫ي‬ Alif bâ’ tâ’ s|â’ jim ha khâ’ dâl zal râ’ zai sin syin Sâd dâd tâ’ dad ‘ain gain fâ’ qâf kâf lâm mim nûn waû hâ’ hamzah yâ’ Huruf Latin N a m a tidak dilambangkan be te es (dengan titik di atas) je ha (dengan titik di bawah) ka dan ha de zet (dengan titik di atas) er zet es es dan ye es (dengan titik di bawah) de (dengan titik di bawah) te (dengan titik di bawah) zet (dengan titik di bawah) koma terbalik di atas ge ef qi ka `el `em `en w ha apostrof ye tidak dilambangkan b t S j h kh d Z r z s sy S d t Z ‘ g f q k l m n w h ` y .

kasrah dan dammah ditulis t atau h. fathah. seperti salat. ‫زكاة الفطر‬ zakâh al-fitri ditulis III. ‫كرامة الولياء‬ karâmah al-aûliyâ` ditulis Bila ta’ marbutah hidup atau dengan harakat. Ta’ marbutah di akhir kata Bila dimatikan ditulis h ‫حكمة‬ ‫علة‬ ditulis ditulis hikmah `illah (Ketentuan ini tidak diperlukan bagi kata-kata Arab yang sudah terserap dalam bahasa Indonesia. zakat dan sebagainya. Bila diikuti dengan kata sandang ‘al’ serta bacaan kedua itu terpisah.101 I. maka ditulis dengan h. kecuali bila dikehendaki lafal aslinya). Konsonan Rangkap Karena Syaddah ditulis rangkap ‫متعددة‬ ّ ‫عدة‬ ّ ditulis ditulis muta`addidah `iddah II. Vokal Pendek _َ _ _ ‫فعل‬ ___ fathah kasrah ditulis ditulis ditulis a fa’ala i . 2. 1.

Vokal Pendek yang berurutan dalam satu kata dipisahkan dengan apostrof ‫أأنتم‬ ‫أعدت‬ ‫لئن شكرتم‬ ditulis ditulis ditulis A’antum u’iddat la’in syakartum .102 ‫ذكر‬ __ُ _ ‫يذهب‬ dammah ditulis ditulis ditulis zukira u yazhabu Vokal Panjang 1 2 3 4 fathah + alif ‫جاهلية‬ fathah + yâ’ mati ‫تنسى‬ kasrah + yâ’ mati ‫كـريم‬ dammah + waû mati ‫فروض‬ ditulis ditulis ditulis ditulis ditulis ditulis ditulis ditulis â jâhiliyyah â tansâ i karîm û furûd Vokal Rangkap 1 2 fathah + yâ’ mati ‫بينكم‬ fathah + waû mati ‫قول‬ ditulis ditulis ditulis ditulis ai bainakum aû qaûl IV.

dengan menghilangkan huruf l (el) nya. ‫السمآء‬ ‫الشمس‬ ditulis ditulis as-Samâ` asy-Syams VI. sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. ‫القرآن‬ ‫القياس‬ 2. ‫ذوي الفروض‬ ‫أهل السنة‬ ditulis ditulis zawi al-furûd ahl as-sunnah LAMPIRAN I NO 1 HLM FOOTNOTE BAB BAB I 6 10 Janganlah kamu membunuh dirimu. Penulisan kata-kata dalam rangkaian kalimat Ditulis menurut penulisannya. ditulis ditulis al-Qur`ân al-Qiyâs Bila diikuti huruf Syamsiyyah ditulis dengan menggunakan huruf Syamsiyyah yang mengikutinya. 1.103 V. Kata Sandang Alif + Lam Bila diikuti huruf Qomariyyah ditulis dengan menggunakan huruf “l”. .

Orang-orang Islam terpelihara darahnya. orang merdeka dengan orang merdeka. Rasulullah Muhammad SAW mengqisas seorang muslim karena ia membunuh orang yahudi. Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu qisas berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh. Dan dalam qisas itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu. maupun selain jiwa dan harta benda. maka baginya hukum qawad (qisas). BAB III Jinayah menurut bahasa merupakan nama bagi suatu perbuatan jelek seseorang. baik perbuatan tersebut mengenai jiwa.104 2 11 3 12 4 13 Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar. kemudian mematikan kamu. Barang siapa yang membunuh seorang manusia. maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. hamba dengan hamba. Dan Dialah (Allah) yang telah menghidupkan kamu. Adapun menurut istilah adalah nama bagi suatu perbuatan yang diharamkan syara'. kemudian menghidupkan kamu. Dan Kami telah tetapkan kepada mereka di dalamnya (at-Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa. 5 50 4 6 7 8 9 10 11 12 13 14 53 54 55 56 13 19 20 21 23 24 57 58 60 26 28 31 15 32 16 61 33 . demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami(nya). Barang siapa menghukum bunuh terhadap orang yang telah membunuhnya maka baginya dua pilihan yang baik. Kamu dan hartamu milik (kepunyaan) bapakmu. Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar. atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi. ada kalanya ia meminta diat dan ada kalanya ia menghukum qisas. Barang siapa yang membunuh dengan sengaja. Dan Rasul bersabda Aku lebih berhak memutuskan terhadap orang (muslim) dan terhadap dzimi dalam hal ini. hai orang-orang yang berakal. Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu qisas berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh. Tidak diqawad (hukum qissas) bapak (karena membunuh) anak. menurut ar-Ramady diqawad muslim karena membunuh dzimmi. harta benda. bukan karena orang itu (membunuh) orang lain.

24 25 26 77 1 2 78 3 27 4 28 85 14 BAB IV Dan sesungguhnya benar-benar Kami-lah yang menghidupkan dan mematikan dan Kami (pulalah) yang mewarisi. Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. hai orang-orang yang berakal. dan 20 bani labun. dengan cambuk. diatnya adalah seratus ekor unta yang di dalamnya. 40 syaniyah sampai tahunnya sempurna dan khalifah. . Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Maka barang siapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik. 20 banat makhadz. Dan barangsiapa yang membunuh seorang mu'min dengan sengaja. dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diyat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik pula. maka apabila memperoleh pemaafan maka menjadi pembayaran diat. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan. dan mengutukinya serta menyediakannya azab yang besar baginya.105 17 18 66 34 46 19 47 20 67 50 21 22 23 68 70 51 54 58 Barang siapa yang membunuh maka ia dihadapkan kepada dua pilihan adakalanya dimaafkan dan adakalanya diqawad. tongkat dan batu. 20 hiqqah. serupa sengaja. maka balasannya ialah jahannam. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya. Dan bahwasanya Dialah yang mematikan dan mengidupkan. Dan dalam qisas itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu. Dalam pembunuhan tersalah. Hukuman pertama sebagai pengganti hukum qisas. baik karena sebab-sebab yang menghalangi hukum qisas ataupun sebab-sebab yang telah ditetapkan. maka apabila telah datang ajalnya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya. 20 banat labun. 20 jadz'ah. kekal ia didalamnya dan Allah murka kepadanya. Diat kesalahan adalah lima bagian.

Hindari (penjatuhan) hukuman had (karena) adanya kesamaran (syubhat). Dan telah Kami tetapkan didalamnya (at-Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa. Tidak diqawad (qisas) ayah (karena membunuh) anak.106 29 30 31 32 33 34 35 90 92 88 87 16 19 20 23 24 28 31 36 37 93 96 33 39 Dan apabila aku sakit Dialah yang menyembuhkan aku. Dan Dialah (Allah) yang telah menghidupkan kamu. LAMPIRAN II BIOGRAFI ULAMA Abd Qadir 'Audah . Ta'zir berputar karena kemaslahatannya. Janganlah kamu membunuh dirimu (saudaramu). Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu qisas berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh. dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diyat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik pula. kemudian mematikan kamu. Sesungguhnya Allah Penyayang kepadamu. Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar. Maka barang siapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik. kemudian menghidupkan kamu.

beliau turut mengambil bagian dalam memutuskan revolusi Mesir yang berhasil gemilang pada tahun 1952. beliau mendapat gelar profesor dalam jurusan Ilmu Hukum Islam pada Universitas Fuad I. Bidang study yang diambilnya adalah bidang study Agama Fakultas Ushuluddin. Setelah menamatkan sekolah Dasar. al-Ibadat fi al-Islam. Lalu bermukim di Madinah dan menyusun kitab at-Tarik al-Kabir. Yusuf melanjutkan ke Ma'had Tanta. Karyanya yang terkenal adalah kitab Fiqh Sunnah. Diantara hasil karyanya ialah kitab at-Tasyri' al-Jina'I alIslami. pada saat yang sama juga mengambil bidang study al-Qur'an dan as-Sunnah. dan sebagai mahasiswa terbaik. Beliau sebagai penganjur ijtihad yang mengajarkan kembali kepada al-Qur'an dan as-Sunnah.107 Beliau adalah seorang ulama terkenal alumnus Fakultas Hukum Universitas al-Azhar Cairo pada tahun 1930. sampai mendaptkan Diploma tinggi di bidang bahasa dan sastra. dengan mendapatkan predikat Cumlaude. dipelopori oleh kolonel Gamal Abdul Nasher. Guru-guru beliau adalah: Ibrahim al-Bukhari. Dan wafat pada tahun 256 H. Beberapa karyanya telah dipublikasikan diantaranya: al-Halal wa al-Haram fi al-Islam. kemudian beliau melanjutkan lagi ke Ma'had al-Buhus wad Dirasat al-Arabiyah al-Aliyah. Yusuf al-Qardawi Beliau nama lengkapnya ialah Yusuf Abdullah al-Qardawi. Muskilat al-Fakr wa kaifa alajaha al-Islam dan Fatwa-Fatwa kontemporer. dengan fasih dan sempurna tajwidnya pada usia 10 tahun. Banyak menulis berbagai kitab baik mengenai masalah agama ataupun politik.000 hadis beserta sanadnya. beliau juga seorang tokoh ulama dalam gerakan Ikhwanul Muslimin dan sebagai Hakim yang disegani rakyat. Pada masa mudanya beliau telah hafal 70. As-Sayid Sabiq Beliau adalah seorang ulama terkenaldari Universitas al-Azhar Cairo. dilahirkan pada tahun 1926 di desa Sifit Turab. Mesir. setelah tamat pada tahun 1953. Yusuf kecil sudah bisa hafal al-Qur'an 30 juz. Al-Bukhari Beliau nama lengkapnya Abu Abdullah Muhammad bin Ismail ibn Ibrahim alMughirah binj Bardzibaz al-Ja'far al-Bukhari. . karyanya yang paling terkenal adalah kitab hadis shahih al-Bukhari. Pada tahun 1950 an M. lahir di Bukhara pada tanggal 13 Syawal 194 H/ 810 M. alIman wa al-Hayat. Ali bin al-Madani dan Ibnu Ruhuwaih. Beliau meninggal ditiang gantungan sebagai akibat fitnahan dari lawan politiknya pada tanggal 8 desember 1954. dan selesai pada tahun 1960 pada Fakultas Ushuluddin al-Azhar Mesir dan dilanjutkan pada program Doktoral dengan Disertasi berjudul Fiqhuz Zakat. Kemudian beliau pergi ke Hijaz untuk menuntut ilmu kepada para fuqaha dan muhaddisin. terus dilanjutkan lagi di Universitas al-Azhar Cairo. beliau dilahirkan tahun 1365 H. Ahmad bin Hanbal.

Manggis 64.108 LAMPIRAN III CURRICULUM VITAE 1. 3. 7. Nama Jenis Kelamin Agama Alamat Asal Alamat di Yogyakarta Nama Ayah Pekerjaan Nama Ibu : Mukhlisin : Laki-laki : Islam : Suru Sunda 02/III Karang Pucung Cilacap 53255 : Jl. 4. 2. : Supriyatni Tempat Tanggal Lahir : Cilacap. Wisma Gasenwa Gaten CC : Maktubillah Muhammad : PNS. 8. 5. 19 Mei 1981 . 9. 6.

Madrasah Muallimin Al-Hikmah Bumiayu.109 10. lulus tahun 1992. 6. MA El-Bayan Majenang. Pekerjaan Riwayat Pendidikan : 1. MTs El-Bayan Bendasari Majenang. 5. : Ibu Rumah Tangga SD Islam al-Hidayah. 4. MA Al-Hikmah 1 Bumiayu. Malik Madany. masuk tahun 1986. IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Cilacap. lulus tahun 1999. masuk tahun 1999. 3. H. masuk tahun 1992. lulus tahun 1995. masuk tahun 1994. masuk pada tahun 1996. Yogyakarta. ketiganya pada tahun yang sama (tahun 1995 sampai 1996) dan tidak lulus. 10 Sya'ban 1425 H 25 September 2004 Dekan Fakultas Syari’ah Drs. 2. MA NIP: 150 182 698 . sampai tahun 1994. MAN Cigaru Majenang. MA Muhammadiyah Majenang. Skripsi berjudul “Euthanasia Dalam Prespektif Fiqh Jinayah” yang disusun oleh MUKHLISIN NIM: 9937 3425 Telah dimunaqosyahkan di depan sidang munaqosyah pada tanggal 25 September 2004/10 Sya'ban 1425 H dan dinyatakan telah dapat diterima sebagai salah satu syarat guna memperoleh gelar sarjana dalam Ilmu Hukum Islam.

kadang manusia ingin lebih dari apa yang ada padanya. Oman Fathurohman SW. MAg NIP: 150 222 295 MOTO "Tuhan berikan manusia berupa raga. rasa. MA NIP: 150 228 207 Pembimbing I Drs. kuasa." "Dunia itu hampa tanpa ilmu." . Oman Fathurohman SW." "Carilah sesuatu yang baik dari apa yang engkau alami disekitarmu" "Tuangkanlah apa yang ada dihati dan difikiran dengan tanganmu lewat penamu supaya orang bisa menimba dari apa yang kamu bisa. dia terlena oleh buaian duniawi. MAg NIP: 150 222 295 NIP: 150 252 260 Sekretaris Sidang Fatma Amilia NIP: 150 277 618 Pembimbing II Drs. H. H. tetapi kadang manusia lupa. MA NIP: 150 228 207 Penguji I Drs. Fuad Zein. baik harta. maka Tuhan juga memberi kita fikiran agar bisa melindungi diri. Slamet Khilmi Penguji II Drs. dengan jiwa manusia lebih berarti bahwa dia seorang manusia. percuma apa yang ada didunia jika ilmu tak menghiasinya. Fuad Zein. dengan raga manusia dapat bergerak tetapi Tuhan juga memberi kita jiwa.110 Ketua Sidang Dr.

Oleh karena itu. memberikan kebahagiaan yang tak ternilai bagi penyusun. yang bagi penyusun merupakan beban yang sangat berat. وبه نستعين على أمور الدنيا و الدين‬ ّ ‫أشهد أن ل إله إل ال الملك الحق المبين.‫اشرف النبياء والمرسلين محمد وعلى اله واصحابه اجمعين‬ :‫أمابعد‬ ّ Selesainya penyusunan skripsi ini. و الصلة والسلم على‬ ّ ّ .‫الحمد ل رب العالمين. karena menguras banyak tenaga dan pikiran.111 KATA PENGANTAR ‫بسم ال الرحمن الرحيم‬ . sebuah hal yang sangat wajar apabila penyusun mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuannya kepada penyusun sehingga penyusun dapat menyelesaikan penulisan . و أشهد أن محمدا عبده‬ ‫و رسوله المبعوث رحمة للعالمين.

baik tekhnis maupun isi serta arahan-arahan dalam penyusunan skripsi ini. Sahabat-sahabatku. Sayarif Hidayat. A. atas waktunya untuk membimbing dan memberi dorongan. Bapak. sebagai Dekan Fakultas Syari’ah. (Bapa) Maktubillah Muhammad dan (Ibu) Supriyatni. Slamet Khilmi. H. Atas dukungannya baik do'a. 6. Dan Adikkku. segala kritik maupun saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan dan akan kami terima dengan kerendahan hati guna memperbaiki tugas kami selanjutnya . Mas Arifin. Iwan dan teman-temanku yang lain yang tidak dapat disebutkan satu-persatu atas bantuannya dan dukungannya. 2. semoga perbuatan baik tersebut diterima Allah SWT dan mendapat balasan yang berlipat ganda. Untuk lebih rincinya penyusun mengucapkan banyak terima kasih kepada: 1. Malik Madany. moril. sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. Afiyah Solikhakh. 5. maupun materiil. Semua pihak yang tidak dapat disebut satu persatu atas bantuannya dan dukungannya. Oleh karena itu. 4. selaku Dosen Pembimbing II. M. Penyusun menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan dan masih banyak kekurangan. Drs. penyusun hanya dapat membalas dengan doa.112 skripsi ini. Drs. MA. Kamilatu Syifa. Bapak. sehingga skripsi ini selesai. Drs. Bapak. Eggi. Oman Fathurohman SW. Kedua Oarang Tua.Ag selaku Dosen Pembimbing I. atas waktu dan bimbingan. Imam. 3.

menunda operasi. tidak kalah pesatnya perkembangan teknologi di bidang medis. menjadikan terjadinya perubahan-perubahan yang sangat cepat di dalam kehidupan sosial budaya manusia. rasa sakit seorang penderita dapat diperingan. karena makna pembunuhan itu adalah menghilangkan nyawa seseorang yang dapat menghancurkan bangunan hidup manusia. 2. Euthanasia pasif. memutuskan untuk mengakhiri kehidupannya dengan jalan euthanasia. Euthanasia. Amin. . Euthanasia aktif.113 Harapan kami adalah semoga skripsi ini dapat menambah wawasan keilmuan dan bermanfaat bagi kita semua. Jika pertimbangan kemampuan untuk memperoleh layanan medis yang lebih baik tidak memungkinkan lagi. Dengan peralatan kedokteran yang modern itu. Di antara sekian banyaknya penemuan-penemuan teknologi tersebut. diagnose mengenai penyakit dapat lebih sempurna dilakukan. dengan dukungan keluarga. menghentikan perawatan/pengobatan. baik karena sakit yang sangat akut dan menderita atau biaya yang amat terbatas. membawanya pulang. Dengan perkembangan teknologi di bidang kedokteran. Biasanya dilakukan penghentian terapi yang memperpanjang hidupnya. yaitu perbuatan yang membiarkan pasien meninggal. 17 Jumadil Akhir 1425 H 4 Agustus 2004 Penyusun Mukhlisin NIM: 9937 3425 ABSTRAK Dengan pesatnya penemuan-penemuan teknologi modern. Hidup seorang pasien pun dapat diperpanjang untuk sesuatu jangka waktu tertentu. Dari hal inilah kemudian banyak pasien yang karena penyakitnya yang akut. Secara umum euthanasia dibedakan menjadi dua. Pengobatan penyakit pun dapat berlangsung secara lebih efektif. yaitu euthanasia aktif dan euthanasia pasif. misalnya menghentikan pemberian infus. maka dapat dilakukan dua cara: 1. khususnya bagi penyusun dan pembaca pada umumnya. yaitu tindakan terapi dengan harapan dapat mempercepat kematian pasien. dan sebagainya. bahkan perhitungan saat kematian seorang pasien dapat dilakukan secara lebih tepat. Yogyakarta. terutama euthanasia aktif merupakan suatu tindakan pembunuhan walaupun atas dasar persetujuan si terbunuh. artinya membawa pasien pulang ke rumah.

114

membiarkan pasien dalam perawatan seadanya, tanpa ada maksud melalaikannya, apalagi menghendaki kematiannya. Euthanasia adalah sebagai bentuk pembunuhan yang disengaja, apapun bentuknya pembunuhan, Allah melarang melakukannya, dan Allah mengingatkannya dengan bentuk ancaman dalam al-Qur'an yaitu berupa neraka jahannam. Dalam al-Qur'an tidak ada satupun ayat yang jelas yang menyinggung masalah euthanasia ini. Dalam fiqh jinayah euthanasia termasuk ke dalam jenis pembunuhan, yaitu telah memenuhi unsur maddi, syar'i dan adabi. Dan euthanasia ini merupakan jenis pembunuhan sengaja, maka sanksi atas tindakan euthanasia ini, adalah qisas. Dokter mendapatkan sanksi berupa qisas, tetapi tindakan dokter dilakukan atas izin dari pasien dan atas persetujuan dari keluarga pasien. Maka dokter tidak dihukum qisas, karena salah satu yang menyebabkan gugurnya hukum qisas adalah adanya kerelaan atau izin dari siterbunuh. Dan juga unsur kerelaan dalam pembunuhan merupakan syubhat yang dapat menggugurkan hukuman. Tetapi mengingat masalah euthanasia ini tidak hanya berimbas bagi orang perseorangan melainkan juga bagi masyarakat sekitar maka kemudian hakim atau ulul amri berhak memberikan hukuman berupa ta'zir.

115

BAB V PENUTUP

A.

KESIMPULAN Setelah menguraikan dan menjelaskan dalam bab-bab sebelumnya mengenai "Euthanasia dalam Prespektif Fiqh Jinayah", dapat diambil kesimpulan bahwa: 1. Dalam pandangan Fiqh Jinayah, euthanasia termasuk

kedalam bentuk pembunuhan, walaupun atas permintaan si terbunuh, karena dalam masalah euthanasia ini terdapat unsur penghilangan nyawa, sedangkan makna pembunuhan tersebut adalah: "Perbuatan perampasan atau peniadaan nyawa seseorang oleh orang lain yang mengakibatkan tidak berfungsinya seluruh anggota badan disebabkan ketiadaan roh sebagai unsur utama untuk menggerakan tubuh". Dan tindakan atas euthanasia tetap dilarang, tetapi sanksi hukumnyanya adalah ta'zir, karena perbuatan euthanasia terdapat unsur syubhat yang dapat menghilangkan hukuman asli (qisas) dan juga hukuman pengganti (diyat) karena terdapat persetujuan keluarga, sedangkan fungsi diyat

116

tersebut untuk ganti rugi atas tindakan yang telah dilakukan pelaku untuk kelangsungan hidup pihak wali atau ahli waris terbunuh.

B.

SARAN-SARAN Setelah menguraikan dan menjelaskan serta menyimpulkan tentang skripsi yang berjudul tentang "Euthanasia dalam Prespektif Fiqh Jinayah", maka dapat diberi saran-saran, antara lain: 1. Jika pertimbangan kemampuan untuk memperoleh layanan medis yang lebih baik tidak memungkinkan lagi, baik karena sakit yang sangat akut dan menderita atau biaya yang amat terbatas, maka dapat dilakukan dua cara: 1) menghentikan perawatan/pengobatan, artinya membawa pasien ke rumah; 2) membiarkan pasien dalam perawatan seadanya, tanpa ada maksud melalaikannya, apalagi menghendaki kematiannya. 2. Umat Islam diharapkan tetap berpegang teguh pada kepercayaannya yang memandang segala musibah (termasuk menderita sakit) sebagai ketentuan yang datang dari Allah. Hal itu hendaknya dihadapi dengan penuh kesabaran dan tawakal. 3. Perlu kiranya dalam Fiqh Jinayah diberikan kompilasi dan kodifikasi hukum Islam atas persoalan-persoalan jinayah (pidana) kontemporer, agar masyarakat lebih tahu akan sikap yang akan dilakukan dan sebagai bahan pendidikan bagi masyarakat muslim yang mempelajarinya khususnya.

117 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful