BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Masalah Dalam abad XX ini kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi semakin pesat, karena muncul berbagai penemuan yang sangat bermanfaat bagi manusia. Khususnya di bidang kedokteran telah banyak penemuan obat-obatan, alatalat mekanik, serta cara-cara perlindungan terhadap penyakit.1 Hampir semua aspek kehidupan manusia tersentuh oleh teknologi, harus disadari bahwa teknologi telah membawa banyak manfaat untuk umat manusia.2 Di antara sekian banyak penemuan-penemuan teknologi tersebut, tidak kalah pesatnya perkembangan teknologi di bidang medis. Dengan perkembangan teknologi di bidang kedokteran ini, bukan tidak mustahil akan mengundang masalah pelik dan rumit. Melalui pengetahuan dan teknologi kedokteran yang sangat maju tersebut, diagnose mengenai suatu penyakit dapat lebih sempurna untuk dilakukan. Pengobatan penyakit pun dapat berlangsung secara lebih efektif. Dengan peralatan kedokteran yang modern itu,rasa sakit seorang penderita dapat diperingan. Hidup seorang pasien pun dapat diperpanjang untuk sesuatu jangka waktu tertentu, dengan memasang sebuah “ respirator “. Bahkan perhitungan saat kematian penderita penyakit tertentu, dapat dilakukan secara lebih tepat.

Ali Ghufron Mukti dan Adi Heru Sutomo, Abortus, Bayi Tabung, Euthanasia, Transplantasi Ginjal, Dan Operasi Kelamin dalam tinjauan Medis, hukum, dan Agama Islam, cet, ke.1 (Yogyakarta: Aditya Media,1993), hlm.28.
2

1

Thomas A Shannon, Pengantar Bioetika, terj, K. Bartens, (Jakarta: Gramedia, 1995), hlm. 7

1

2

Menyinggung masalah kematian, menurut cara terjadinya, maka ilmu pengetahuan membedakannya ke dalam tiga jenis kematian, yaitu: 1. Orthothanasia, yaitu kematian yang terjadi karena proses alamiah. 2. Dysthanasia, yaitu suatu kematian yang terjadi secara tidak wajar. 3. Euthanasia, yaitu suatu kematian yang terjadi dengan pertolongan atau tidak dengan pertolongan dokter.3 Yang menjadi persoalan ialah jenis kematian yang ketiga, yaitu kematian dalam kategori euthanasia atau biasa disebut juga mercy killing. Euthanasia biasa didefinisikan sebagai a good death atau mati dengan tenang. Hal ini dapat terjadi karena dengan pertolongan dokter atas permintaan dari pasien ataupun keluarganya, karena penderitaan yang sangat hebat dan tiada akhir, atau tindakan membiarkan saja oleh dokter kepada pasien yang sedang sakit tanpa menentu tersebut, tanpa memberikan pertolongan pengobatan seperlunya. Memberikan hak kepada individu untuk mendapatkan pertolongan dalam pengakhiran hidupnya, bagi banyak negara masih menjadi perdebatan yang sengit. Sampai sekarang ini, kaidah non hukum yang manapun (agama, moral, kesopanan), menentukan: membantu orang lain mengakhiri hidupnya, meskipun atas permintaan yang bersangkutan dengan nyata dan dengan sungguh-sungguh adalah perbuatan yuang tidak baik.4 Pada dasarnya masalah euthanasia ini timbul dari adanya suatu dilema, apakah seorang dokter mempunyai hak untuk mengakhiri hidup seorang pasien atas
Djoko Prakoso dan Djaman Andi nirwanto, Euthanasia hak asasi manusia dan hukum pidana, cet. ke-1 (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1984), hlm. 9-10
4 3

Wila Chandrawila Supriadi, Hukum Kedokteran (Bandung: Mandar Maju, 2001), hlm.106

3

permintaan pasien itu sendiri atau dari keluarganya, dengan dalih untuk menghilangkan atau mengakhiri penderitaan yang berkepanjangan, tanpa dokter itu sendiri menghadapi konsekuensi hukum. Dalam hal ini dokter tersebut menghadapi konflik bathin, dimana sebagai manusia biasa sang dokter tidak sampai hati menolak permintaan dari pasien dan keluarganya itu. Apalagi keadaan si pasien yang sekarat berbulan-bulan dan dokter tahu bahwa pengobatan yang diberikan itu maka dokter telah melanggar hukum, disamping itu juga telah pula melanggar sumpah dokter yang telah diucapkannya sebelum menjalankan profesi sebagai seorang dokter. Dalam memecahkan masalah ini, ada cara yang cukup unik yaitu bila keadaan antara hidup dan mati (maribundity), maka proses dan usaha medis jika tiada berpotensi lagi, penyembuhan harus dihentikan. Dengan perkataan lain, bahwa dalam keadaan demikian maka pembunuhan karena kasihan/karena terpaksa yang diijinkan oleh dokter diperbolehkan. Dalam hubungan itu, bahkan ada dokter yang berpendapat bahwa dokter itu boleh mengeluarkan atau mencabut alat yang diperjuangkan untuk memperpanjang hidup dari seorang pasien yang dalam keadaan expiration of the soul, yaitu apabila proses kematian sudah mulai nampak.5 Menurut dr. Kartono Muhammad (Wakil Ketua Ikatan Dokter Indonesia), seperti dikutip Akh Fauzi Aseri. Ia mengatakan seseorang dianggap mati apabila batang otak yang menggerakkan jantung dan paru-paru tidak berfungsi lagi. Tegasnya, batang otak merupakan pedoman untuk mengetahui masih hidup atau matinya seseorang yang sudah tidak sadar. Dari sini mesin-mesin pembantu seperti

5

Djoko Prakoso dan Djaman Andi Nirwanto, Euthanasia, hlm. 59

semua menurut sebagian besar masyarakat Indonesia adalah takdir. Fauzi Aseri. maupun tidak dikehendaki. Hukum Kedokteran.7 Banyak orang berpendapat bahwa hak untuk mati. hlm. (ed. demikianlah pendapat dari sebagian besar masyarakat Indonesia. dan kematian selalu membawa kesedihan. Hafiz Anshary AZ.4 pemacu jantung dapat dicabut tanpa dituduh melakukan euthanasia terhadap penderita. adalah pelanggaran terhadap hak asasi manusia. Pada umumnya. dan Hukum Islam. akan ada hubungannya dengan hak seseorang untuk mati secara tidak alamiah (selanjutnya “hak untuk mati”) dari seseorang. bunuh diri. Yanggo dan HA. (Jakarta: Pustaka Firdaus.102 Ibid.6 Lahir dan mati adalah takdir. Pada mati tidak secara alamiah. Kematian secara alamiah. apakah itu pengakhiran hidup dengan bunuh diri (zelfmoord) atau minta “dibunuh” (diakhiri hidupnya – selanjutnya euthanasia). Kematian dapat terjadi baik dikehendaki. hlm. kecelakaan. penyakit. Hukum Pidana.103. 8 . hlm.). 2002). Problematika Hukum Islam Kontemporer. dan tidak ada seorangpun yang dapat menghindari/menentukan mengenai kelahiran dan kematian.. karena uzur.8 Akh. adalah hak asasi manusia. "Euthanasia Suatu Tinjauan dari Segi Kedokteran. bahkan dibunuh oleh orang lain. tetapi mati tidak secara alamiah adalah mati yang tidak diharapkan. dapat selalu diterima sebagai sesuatu hal yang wajar." dalam Chuzaimah T.66 7 6 Wila Chanrawila Supriadi. sebab manusia pada saatnya akan mati. kelahiran selalu membawa kebahagiaan. hak yang mengalir dari “hak untuk menentukan diri sendiri” (the right of selfdetermination –TROS). sehingga penolakan atas pengakuan terhadap hak atas mati.

walaupun dengan kerelaan dan atas permintaan orang itu sendiri.5 Euthanasia dapat dikategorikan sebagai perbuatan yang menyangkut kepada suatu tindakan untuk penghentian kehidupan seseorang. maka perbuatan ini bisa dimasukan sebagai jarimah pembunuhan.(6): 151 Al-Maidah (5): 32 Al-Hajj (22): 66 10 11 12 . termasuk di dalamnya euthanasia. Dalam Islam masalah kematian manusia merupakan hak prerogatif Allah SWT. Karena pembunuhan adalah peniadaan atau perampasan nyawa seseorang oleh orang lain yang mengakibatkan tidak berfungsinya seluruh anggota badan disebabkan ketiadaan roh sebagai unsur utama menggerakan tubuh. baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain. Jadi perbuatan-perbuatan yang mengarah kepada tindakan untuk menghentikan hidup seseorang itu merupakan perbuatan yang bertentangan dengan kehendakNYA. karena tindakan pembunuhan secara euthanasia ini merupakan pembunuhan tanpa hak. Allah berfirman dalam al-Qur'an: 0 ‫ل تقتلوا أنفسكم ان ال كان بكم رحيما‬ ‫ول تقتلوا النفس التى حرم ال ال بالحق ذالكم وصاكم به‬ 0 ‫تعقلون‬ ‫لعلكم‬ ‫من قتل نفسا بغير نفس أو فساد في الرض فكانما قتل‬ 0 ‫الناس جميعا‬ ‫وهو الذي أحياكم ثم يميتكم ثم يحييكم ان النسان لكفور‬ 9 10 11 12 9 An-Nisa (4): 29 Al-An'am. Allah SWT melarang perbuatan yang mengarah kepada kematian dalam bentuk apapun.

sekalipun ada prinsip lain bahwa korban atau keluarganya berhak memaafkan sanksi qisas atau diyat atau keduanya. Janda (yang pernah bersuami) secara nyata berbuat zina. yang diketahui oleh empat orang saksi (dengan mata kepala sendiri). Karena pembunuhan oleh seseorang secara zalim. (Mesir: Musthafa al-Baby al-Halaby.6 Syekh Ahmad Mustafa al-Maragi menjelaskan bahwa pembunuhan (mengakhiri hidup) seseorang bisa dilakukan apabila disebabkan oleh salah satu dari tiga sebab: 1. walaupun ada unsur kerelaan dari pasien. 2. Tindakan euthanasia dilakukan dengan pertimbangan yang matang dan dengan adanya unsur perencanaan. 13 . keluarga sebagai pihak pemberi izin dan sisakit sebagai korban euthanasia. karena kerelaan korban itu bukan merupakan unsur jarimah pembunuhan. Jadi tindakan euthanasia merupakan tindakan pembunuhan dengan unsur kesengajaan dan direncanakan.13 Jika dibandingkan dengan ketiga faktor di atas maka terjadinya tindakan euthanasia tidak ada satupun karena alasan bil haq. Riwayat Ibnu Masud. Dalam unsur euthanasia terdapat tiga hal yaitu dokter sebagai pelaku euthanasia. sebagai suatu sikap menentang jamaah Islam. Jadi dalam masalah euthanasia ini merupakan tindakan pembunuhan yang disengaja dan direncanakan Di dalam hukum Islam. XI:43. Orang yang keluar dari agama Islam. kerelaan korban untuk dibunuh bukan suatu penyebab kebolehan pembunuhan. Tafsir al-Maragi. 3. 1971). Ahmad Mustafa al-Maragi.

etika. Pokok Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka dapat dirumuskan pokok masalah sebagai berikut: Apakah euthanasia merupakan tindak pidana dalam tinjauan Fiqh Jinayah? C. agama. Untuk itu penyusun berusaha meneliti masalah Euthanasia ini dalam Prespektif Fiqh Jinayah. penyusunan skripsi ini bertujuan untuk: Menjelaskan bagaimana pandangan Fiqh Jinayah euthanasia. Pada dasarnya Allah memberikan hukuman qisas bagi pembunuhan. budaya dan lain-lain pada umumnya dan juga pada pandangan Islam dalam Fiqh Jinayah (Hukum Pidana Islam) khususnya. dalam menentukan hukumnya. Karena hal ini sangat berguna untuk kelangsungan hidup pihak keluarga korban maupun pihak pelaku kejahatannya.7 Allah melarang adanya pembunuhan baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Permasalahan Euthanasia ini sampai sekarang masih menimbulkan pro dan kontra baik pada pandangan hukum. B. Tujuan dan Kegunaan Sesuai dengan pokok masalah di atas. yang merupakan hak Tuhan. tetapi pihak keluarga diberikan hak atas tuntutan tindak pidana baik itu pembunuhan maupun pelukaan berupa hukuman diyat atau dimaafkan secara mutlak. Adapun kegunaan yang diharapkan dari penyusunan karya ilmiah ini adalah : terhadap masalah .

psikologi. Euthanasia Dalam Prespektif Hak Asasi Manusia. (Yogyakarta: Media Pressindo. D. buku ini menjelaskan bahwa Euthanasia atau kematian baik adalah demi kepentingan pasien semata-mata bukan untuk kenyamanan orangorang yang sehari-hari berada di sekelilingnya. yaitu atas permintaan pasien itu sendiri tanpa adanya campur tangan dari pihak lain. Dan juga menjelaskan bahwa dalam hak asasi manusia terdapat hak untuk hidup dan hak untuk mati. Dan dari segi yuridis dalam masalah euthanasia ini.8 Skripsi ini diharapkan dapat menjadi sumbangan pemikiran di dalam menambah khasanah pengetahuan tentang hukum Islam khususnya yang berkaitan dengan permasalahan euthanasia dalam prespektif Fiqh Jinayah. Buku ini meninjau dan menyoroti permasalahan euthanasia dari segi HAM. Telaah Pustaka Kajian tentang Euthanasia dalam prespektif medis. 2001)  .ke-1.Tengker. etika dan ham banyak dibicarakan oleh banyak praktisi. Jika dokter melakukan tindakan euthanasia secara non alami maka dokter bisa dituntut pasal 344 Petrus Yoyo Karyadi. karya Petrus Yoyo Karyadi. Euthanasia harus berlangsung atas dasar suka rela. hukum. ahli hukum. diantaranya mengemukakan tentang apakah tindakan euthanasia merupakan hak asasi manusia?. psikolog. Ada beberapa buku yang telah membahas tentang masalah euthanasia. ahli medis. diantaranya: dalam buku Euthanasia dalam Prespektif Hak Asasi Manusia. seperti ulama. karya F. ∗ Dalam buku Mengapa Euthanasia ?: Kemajuan Medis dan Konsekuensi Yuridis. cet.

t) Djoko Prakoso dan Djaman Andi NIrwanto. yang merupakan pandangan Etika situasi terhadap Euthanasia yang meliputi manusia dalam sudut pandang Etika Situasi. Dan hal ini juga dilihat dari prespektif hukum pidana. bagaimana kedudukan Euthanasia dalam KUHP dan juga bagaimana prospeknya di masa depan dalam KUHP. Dalam karya tulis tersebut menekankan cara dilakukannya euthanasia yang ada unsur paksaannya dan sanksi hukum terhadap pelaku euthanasia yang dipakai. Euthanasia Hak Asasi Manusia Dan Hukum Pidana. 1984) Imawan Mukhlas Abadi. Skripsi Strata Satu Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga (1999)  . bagi yang pro menganggap selain punya hak untuk hidup manusia juga mempunyai hak untuk mati. yang merupakan study analisis komparatif terhadap KUHP dan hukum Islam tentang pelaku euthanasia yang dipaksa . dan pasal 354 karena menolong orang bunuh diri.9 karena bersalah menghilangkan nyawa orang atas permintaan. ∗ Dalam skripsi yang berjudul "Euthanasia dalam Prespektif Etika Situasi". hasil karya Imawan Mukhlas Abadi. sebagian yang kontra menganggap hak untuk hidup sebagai dasarnya. hubungannya dengan HAM. "Sanksi Hukum Terhadap Pelaku Euthanasia yang dipaksa menurut KUHP dan Hukum Islam". karya Djoko Prakoso dan Djaman Andi Nirwanto. kehidupan dan  F. (Jakarta: Ghalia Indah. Mengapa Euthanasia? Kemampuan Medis dan Konsekuensi Yuridis. karya Anna Iffah Akmala. (Bandung:  Nova. Tengker. yang memuat tentang Hak untuk Mati seseorang dan kaitannya dengan hukuman mati. ∗ Dalam Skripsi yang berjudul "Sanksi Hukum Terhadap Pelaku Euthanasia yang dipaksa menurut KUHP dan Hukum Islam". ∗ Dalam buku Euthanasia Hak Asasi Manusia Dan Hukum Pidana. buku ini menjelaskan kedudukan Euthanasia dengan Hak Asasi Manusia. t.

dan penelitian-penelitian di atas merupakan bentuk-bentuk macam penelitian dalam segi medis ditinjau dari berbagai aspek.  . Konsekwensi Yuridis dan kajian Etika. yang mana tindakan euthanasia yang terdapat suatu unsur tindakan pembunuhan. "Euthanasia Dalam Prespektif Etika Situasi". Kerangka Teoretik Euthanasia merupakan istilah untuk pertolongan medis agar kesakitan atau penderitaan yang dialami seseorang yang akan meninggal dunia diperingan. sebagaimana tindakan pembunuhan pada umumnya. Juga terdapat perkembangan euthanasia di berbagai negara dan ethanasia dalam tinjauan berbagai agama. Yang membedakan antara penelitian yang peneliti lakukan dengan penelitian sebelumnya adalah dalam penelitian ini peneliti meneliti permasalahan euthanasia dalam prespektif Fiqh Jinayah. yang dilakukan secara suka rela atas permintaan sendiri dikarenakan sakit. Skripsi Strata Satu Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga (2002). Komparasi Hukum Islam dengan Hukum Pidana Positif dalam masalah euthanasia yang dipaksa. Juga Anna Iffah Akmala. ∗ Di sekian penelitian yang ada yang membahas euthanasia ini semuanya mengacu pada permasalahan medis sebagai objek penelitian dasarnya. Sedangkan penelitian-penelitian sebelumnya adalah penelitian yang meninjau dari segi Hukum Pidana Positif. dalam prespektif Fiqh Jinayah. E. HAM.10 kematian yang manusiawi serta pandaangan Etika Situasi terhadap Euthanasia. Dalam Skripsi ini akan dibahas apakah tindakan euthanasia ini termasuk pembunuhan dan dapat dikenai sanksi.

Tindakan yang diambil. dimaksudkan untuk mengakhiri kehidupan pasien.28 Abdul Jamali. hlm. euthanasia adalah dengan sengaja dokter atau bawahannya yang bertanggungjawab kepadanya atau tenaga ahli lainnya melakukan suatu tindakan medis tertentu untuk mengakhiri hidup pasien atau mempercepat proses kematian pasien atau tidak melakukan tindakan medis untuk memperpanjang hidup pasien yang menderita suatu penyakit yang menurut ilmu kedokteran sulit untuk disembuhkan kembali. hlm. kematian merupakan tujuan tindakan seseorang.14 Menurut Petrus Yoyo Karyadi. sedang euthanasia pasif ialah membiarkan perawatan yang dapat memperpanjang kehidupannya. 16 . Sedangkan euthanasia pasif berusaha untuk memecahkan masalah-masalah moral mengenai perawatan pasien yang tidak ada harapan lagi atau yang sudah mendekati ajalnya Ensiklopedi Indonesia (Jakarta: Ikhtiar Baru-Van Hoeve. Euthanasia. Artikel Euthanasia. dkk. Vol. sukarela atau tidak sukarela. Definisi euthanasia aktif ialah sengaja diambil tindakan yang berakibat kematian.132. Tanggung Jawab Hukum Seorang Dokter dalam Menangani Pasien (Jakarta: Ikhtiar Baru. 1990).11 berarti mempercepat kematian seseorang yang ada dalam kesakitan dan penderitaan hebat menjelang kematiannya.2:978.16 Dalam euthanasia aktif. 1987).15 Euthanasia pada garis besarnya ada dua. yakni euthanasia aktif dan euthanasia pasif. seperti dosis besar obat tidur atau suntikan racun. 15 14 Petrus Yoyo Karyadi. atas atau tanpa permintaan dan atau keluarga sendiri. demi kepentingan pasien dan atau keluarganya.

sehingga bisa berlangsung penyelesaian secara alamiah.18 Euthanasia aktif adalah proses kematian diringankan dengan memperpendek kehidupan secara terarah dan langsung. PT. hlm. Euthanasia aktif tidak langsung terjadi bila dokter atau tenaga kesehatan lainnya tanpa maksud untuk memperpendek hidup pasiennya.17 Euthanasia aktif terjadi bila dokter atau tenaga kesehatan lainnya secara sengaja melakukan suatu tindakan untuk memperpendek hidup pasien atau untuk mengakhiri hidup pasien tersebut. atau tidak berada dalam keadaan di mana keinginannya dapat diketahui. yaitu euthanasia aktif langsung terjadi bila dokter atau tenaga kesehatan lainnya melakukan suatu tindakan medis untuk meringankan penderitaan pasien sedemikian rupa sehingga secara logis dapat diperhitungkan bahwa hidup pasien diperpendek atau diakhiri.31 . hlm. 69-71. melakukan tindakan medik untuk meringankan penderitaan pasien dengan mengetahui adanya risiko bahwa tindakan medik ini dapat mengakibatkan diperpendek/ diakhiri hidup pasiennya. tidak menginginkannya. karena kasih sayang yang dilakukan oleh dokter dengan mempergunakan instrumen (alat). 18 Petrus Yoyo Karyadi. pengantar bio etika. (Jakarta. euthanasia aktif kemudian dibagi menjadi dua golongan. Dalam euthanasia aktif ini masih perlu dibedakan. 1995). apakah pasien menginginkannya. K Bartens.12 dengan menghentikan segala terapi. Berdasarkan akibatnya. terj. Euthanasia. Gramedia Pustaka Utama. Menurut Yusuf Qardawi yang dimaksud euthanasia aktif (taisir maut al-faal) ialah tindakan memudahkan kematian si sakit. sedangkan euthanasia pasif 17 Thomas A Shanon.

71-72 750. telah mengatur perikehidupan manusia secara menyeluruh mencakup segala macam aspeknya. Dalam hal ini permintaan pasien harus mendapat perhatian yang tegas agar tidak disalahgunakan. 20 . Dan yang diteliti dalam masalah euthansia ini adalah euthanasia aktif secara langsung yang dilakukan atas permintaan pasien. hlm. Fatwa-Fatwa Kontemporer. (Jakarta: Gema Insani Press.19 Dalam masalah euthanasia ini tidak terlepas dari beberapa pihak. diantaranya adalah masalah-masalah hukum yang berhubungan dengan kepidanaan. yang dibebankan kepada pelaku euthansia yaitu dokter sebagai pihak pengeksekusi euthanasia. 1995). II:749Djoko Prakoso dan Djaman Andi Nirwanto.13 (taisir maut al-munfa'il) tidak dipergunakan alat-alat atau langkah-langkah aktif untuk mengakhiri kehidupan si sakit. yaitu pasien sebagai yang di euthanasia. seperti macam-macam perbuatan pidana dengan ancaman pidana disebut al-jinayah. itu merupakan suatu perbuatan jarimah pembunuhan karena sudah memenuhi unsur-unsur jinayah yakni: 19 Yusuf Qardawi. maka dalam menentukan benar tidaknya permintaan yang tegas dan sungguh-sungguh. Sebagaimana yang telah dipaparkan di atas. dokter sebagai pelaku (pengeksekusi) euthanasia. alat-alat bukti lainnya yaitu: kesaksian-kesaksian. pengakuan dan isyarat-isyarat. bahwa euthanasia khususnya euthanasia aktif. harus dibuktikan dengan adanya saksi atau pun oleh alat-alat bukti lainnya. tetepi ia hanya dibiarkan tanpa diberi pengobatan untuk memperpanjang hayatnya. dan keluarga sebagi pihak penyetuju tindakan euthanasia. Euthanasia.20 Hukum Islam atau Fiqh Islam. surat-surat.

Unsur ini dikenal dengan istilah “unsur formal” (ar-Rukn asy. hlm. hlm. terjadi perbedaan pendapat di antara para ulama dalam mengklasifikasikan bentuk-bentuk pembunuhan.14 1.22 A. (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. dan pembunuhan secara tidak langsung (qatl bi attasabbub).3. Unsur ini dikenal dengan istilah “unsur material” (ar-Rukn al-Maddi) 3. kekeliruan. yaitu: pembunuhan sengaja.9. semi sengaja. Adanya unsur perbuatan yang membentuk jinayah. Sebagian Hanafiyah mengklasifikasikanya menjadi empat (ruba'i). Berkenaan dengan ini. 21 . Kaidah Fiqh Jinayah (Asas-asas Hukum Pidana Islam). Adanya nash yang melarang perbuatan-perbuaatan tertentu yang disertai ancaman hukuman atas perbuatan di atas. 3. Lihat juga Abd al-Qadir 'Awdah. Sebagian Hanafiyah mengklasifikasikannya menjadi lima (khumasi). Unsur ini dikenal dengan istilah “unsur moral” (ar-Rukn al-Adabi)21 Dalam konteks di atas jelas bahwa pelaku euthanasia aktif bisa dikenai sanksi pembunuhan sengaja. II: 7-9. Berbicara tentang pembunuhan. maka perlu diberikan klasifikasinya agar mudah menempatkan/ memposisikan suatu tindak pidana pembunuhan menurut kadar ukurannya. Jumhur mengklasifikasikannya menjadi tiga (sulasi). 1992). sehingga mereka dapat dituntut atas kejahatan yang mereka lakukan. kekeliruan. 1997). dan serupa kekeliruan (ma jara majr al-khata').Syar’i) 2. semi sengaja (syibh al-'amd) dan kekeliruan. 2004). ke-2. atTasyri' al-Jina'I al-Islami Muqaranah bi al-Qanun al-Wad'I. yaitu pembunuhan sengaja. cet. (Bandung: Pustaka Bani Quraisy. Djazuli. Fiqh Jinayah (upaya menanggulangi kejahatan dalam Islam). Perbedaan pengklasifikasian tersebut adalah: 1. ke-1. cet. semi sengaja. (Bayrut: Muassasat ar-Risalat. Ulama Malikiyah mengklasifikasikan bentuk-bentuk pembunuhan menjadi dua yaitu: pembunuhan sengaja (qatl al-'amd) dan kekeliruan (qatl al khata'). baik berupa melakukaan perbuatan yang dilarang atau meninggalkan perbuatan yang diharuskan. 4. yaitu: pembunuhan sengaja. 2. serupa kekeliruan. 22 Jaih Mubarok dan Enceng Arif Faizal. Pelaku kejahatan adalah orang yang dapat menerima khithab atau dapat memahami taklif. Pembunuhan adakalanya terjadi karena disengaja oleh pelaku dan adakalanya tidak disengaja. artinya pelaku kejahatan tadi adalah mukallaf.

pelaku membuat sarana yang pada awalnya tidak dimaksudkan untuk mencelakakan orang lain. pada akhirnya menyebabkan kematian orang lain. 2. (Jakarrta: PT Raja Grafindo Persada. pembunuhan semi sengaja (qatl syibh al-'amd). Jadi. pelaku sama sekali tidak bermaksud melakukan suatu aktivitas tertentu. kaidah fiqh jinayah.15 Untuk mengetahui arti dari jenis-jenis pembunuhan ini maka perlu diperjelas artinya yaitu sebagai berikut: 1. CV Pustaka Setia. pembunuhan secara tidak langsung (qatl bi at-tasabbub). yaitu suatu perbuatan penganiayaan terhadap seseorang dengan maksud untuk menghilangkan nyawanya. ke-2. akan tetapi di luar kesadarannya menyebabkan kematian orang lain. tetapi karena kelalaiannya. 5. hlm. cet ke-1 desember 2000. 2000). namun sama sekali tidak menhendaki kematian si korban. 3. (Bandung. 123 24 23 Jaih Mubarok. Walaupun disengaja. hal 117. pembunuhan sengaja (qatl al-'amd). 1997). Lihat juga A.24 Rahmat Hakim. perbuatan tersebut tidak ditujukan terhadap korban. Hukum Pidana Islam (Fiqih Jinayah). Jadi matinya korban sama sekali tidak diniati. Perbuatan itu sendiri sengaja dilakukan dalam objek yang dimaksud. pembunuhan karena kesalahan (qatl al-khata'). cet. . Djajuli.23 4. matinya korban merupakan bagian yang dikehendaki si pembunuh. hlm. yaitu kesalahan dalam berbuat sesuatu yang mengakibatkan matinya seseorang. yaitu perbuatan penganiayaan terhadap seseorang tidak dengan maksud untuk membunuhnya tetapi mengakibatkan kematian. Fiqh JInayat (upaya menaggulangi Kejahatan Dalam Islam.17. pembunuhan serupa kekeliruan (ma jara majr al-khata').

Karena itu ia tidak boleh mengabaikannya.ke-1. apalagi memusuhinya atau memisahkannya dari kehidupan. Dirinya hanyalah titipan yang dititipkan Allah. cet. Apabila euthanasia aktif itu didukung oleh kerelaan si pasien maka yang demikian disebut tindakan bunuh diri dengan meminjam tangan atau melalui orang lain. Islam sangat memperhatikan keselamatan hidup dan kehidupan manusia25. Halal dan Haram dalam Islam. terj. (Jakarta: Robbani Press. bila melihat kepada maknanya euthanasia yaitu suatu perbuatan penghilangan nyawa seseorang atas permintaan orang itu sendiri. dan masalah ini biasanya timbul oleh alasan bahwa pasien sudah tidak tahan lagi menanggung derita yang berkepanjangan atau tidak ingin meninggalkan beban ekonomi atau tidak punya harapan untuk sembuh. Yusuf Qardawi. karena dia tidak menciptakan dirinya (jiwanya).. karena telah ada unsur perbuatannya dan unsur tujuannya yaitu agar orang tersebut mati. hlm. Syaikh Muhammad Yusuf al-Qardawi mengatakan.16 Dari jenis-jenis pembunuhan di atas. 26 . bahwa kehidupan seseorang bukanlah miliknya sendiri.26 Manusia dituntut untuk memelihara jiwanya (hifz an-nafs). Haji Masagung. 1994). Masail Fiqhiyah (Jakarta: CV. lebih-lebih terhadap jiwa manusia. 2000). hlm. Oleh Abu Sa’id al-Falahi dan Aunur Rafiq Shaleh Tamhid. Masalah euthanasia merupakan masalah yang sangat sulit. ataupun selnya. anggota tubuhnya.161. berarti hal ini termasuk dalam pembunuhan disengaja. Tetapi dalam hal ini yang perlu dipertanyakan apakah unsur kerelaan atas si terbunuh termasuk ke dalam unsur pembunuhan disengaja. Karena memelihara nyawa manusia merupakan salah-satu tujuan utama dari lima tujuan 25 Masjfuk Zuhdi. 379.

27 F. Namun karena masalah euthanasia ini berhubungan masalah pembunuhan. biasanya upaya untuk mengurangi beban pasien dalam penderitaannya melalui suntikan dengan bahan pelemah fungsi syaraf dalam dosis tertentu (neurasthenia). bahwa penyakit yang diderita pasien tidak dapat disembuhkan lagi dan diberikan jalan pintas yaitu dengan jalan medis juga. Memutuskan hukum dalam masalah euthanasia ini bukan merupakan hal yang mudah. dan hal ini dilarang oleh Allah dengan ancaman neraka jahannam. dan hal ini dianggap sebagai perbuatan yang menentang takdir Tuhan. seseorang sama sekali tidak berwenang dan tidak boleh melenyapkannya tanpa kehendak dan aturan Allah sendiri.17 syariat yang diturunkan oleh Allah Swt. Jiwa meskipun merupakan hak asasi manusia. dalam al-Qur'an tidak ada ayat yang menyinggung terhadap masalah euthanasia ini secara khusus. Fuzi Aseri. Hipotesis Euthanasia adalah istilah dalam dunia medis yang merupakan keputusan dokter terhadap keadaan penyakit yang dialami pasien. Maka euthanasia ini merupakan perbuatan yang terlarang. 27 Akh. .69. Euthanasia…. Oleh karenanya. hlm. tetapi ia adalah anugerah Allah Swt. walaupun terdapat unsur kerelaan dari pihak siterbunuh maka perbuatan tersebut termasuk perbuatan jarimah. Dan sanksi pembunuhan ini adalah hukum Qisas sesuai dengan kadar dan jenis pembunuhannya Perbuatan euthanasia sama dengan bunuh diri yang dilakukan dengan meminjam tangan orang lain.

Artinya dalam pembahasannya melakukan pendekatan terhadap permasalahan yang dititikberatkan pada aspek-aspek hukum. ialah pendekatan normatif. yaitu penyusun . G. sesuai dengan perkembangan zaman yang disesuaikan dengan keadaan sekarang. yaitu Allah SWT. dan dalam penyelesaiannya dibantu dengan pendapat-pendapat para ahli dan para mujtahid 3. 4.18 Sebab masalah kehidupan dan kematian seseorang itu berasal dari pencipta-Nya.Teknik pengumpulan data Untuk mendapatkan data dalam penyusunan skripsi ini. Metode Penelitian 1.Sifat penelitian Penelitian ini bersifat eksploratif. Penyusun menelusuri bahan penelitian yang ada hubungannya dengan permasalahan yang diteliti. yaitu meneliti permasalahan euthanasia sebagai suatu permasalahan baru. yang mana euthanasia yang terdapat dalam dunia medis diteliti dengan prespektif fiqh jinayah (Hukum Pidana Islam). dalam hukum Islam lebih khusus dalam Fiqh Jinayah (Hukum Pidana Islam).Jenis penelitian Jenis penelitian yang digunakan ialah kepustakaan (literatur) 2. penyusun menggunakan teknik dokumentasi. Dalam rangka pengumpulan data. ialah menggunakan penelitian kepustakaan (library research).Pendekatan Pendekatan yang digunakan dalam penyusunan skripsi ini.

kemudian ditentukan. Analisis Data Data yang terkumpul dianalisis secara kualitatif dengan cara berfikir deduktif. tujuan dan kegunaan penelitian. tinjauan umum dan masalah sekitar euthanasia. metode penelitian dan sistematika pembahasan. Sistematika Pembahasan Agar tidak terjadi tumpang tindih dan untuk konsistensi pemikiran. yakni tentang macam-macam euthanasia. sebab-sebab yang memungkinkan . Deduktif artinya meneliti dan menganalisa macam-macam bentuk euthanasia. dimulai dengan pendahuluan yang menjelaskan latar belakang permasalahan yang akan dicari jawabannya.19 melakukan observasi terhadap sumber-sumber data yang berupa dokumen baik primer ataupun sekunder. penulis membuat sistematika pembahasan yang terdiri dari bab-bab yang saling berhubungan dan saling menunjang yang satu dengan yang lainnya secara logis. jenis euthanasia yang termasuk kedalam perbuatan jarimah. telaah pustaka. kerangka teori. kemudian dikumpulkan dan diolah sedemikian rupa sehingga menghasilkan data yang diperlukan. H. Pada bab pertama. hipotesis. bab ini membicarakan mengenani pengertian euthanasia serta permasalahannya yang sangat erat hubungannya dengan euthanasia. 5. Setelah bab pertama merupakaan pendahuluan ialah bab kedua. serta pelaku tindakan euthanasia dan juga sanksi hukum apa yang harus diterapkan bagi perbuatan euthanasia ini.

Serta sanksi hukum bagi pelaku euthanasia. dan thanatos berarti mati. memuat tentang kesimpulan dan saran-saran. Kata eu berarti baik. HAM dan Hukum Pidana Positif (KUHP). langkah selanjutnya adalah mengambil suatu kesimpulan dari apa yang telah menjadi pokok pembahasan dalam karya ilmiah ini. Pengertian Euthanasia Istilah euthanasia berasal dari bahasa Yunani. Bab kelima. demi perbaikan dan kesempurnaan dari pengaturan masalaah euthanasia yang telah ada serta pandangan untuk masa-masa yang akan datang. dan juga beberapa tinjauan baik dari segi Medis. BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG EUTHANASIA A. pada bab yang terakhir ini. Maksudnya adalah mengakhiri hidup dengan . sebagai acuan dalam meninjau permasalahan pidana khususnya dalam masalah euthanasia. Setelah diuraikan secara panjang lebar dan terperinci pada bab-bab sebelumnya. yaitu eu dan thanatos. tujuan Fiqh Jinayah serta aspek kemanusiaan dalam Fiqh Jinayah. Pada bab keempat berisi tentang Praktek Euthanasia Dalam Prespektif Fiqh Jinayah yang meliputi Euthanasia aktif sebagai jarimah.20 dilakukannya euthanasia. jarimah Qisas-diyat. Pada bab ketiga berisi tentang Prinsip-prinsip Fiqh Jinayah terhadap Euthanasia yang meliputi pengertian Hukum Pidana Islam. Sedangkan saran-saran diajukan pula.

etika. 1974). (ed. sementara yang tidak setuju menganggapnya sangat bertentangan dengan nilai-nilai moral.21 cara yang mudah tanpa rasa sakit. dan Hukum Islam. 2002).29 Akh. Dalam arti yang demikian itu euthanasia tidaklah bertentangan dengan panggilan manusia untuk mempertahankan dan memperkembangkan hidupnya. Chr Purwa Widyana. sosial dan yuridis masih mengundang berbagai ketidakpuasan. Hukum Pidana. sulit dijawab secara tepat dan objektif. "Euthanasia" beberapa soal moral berhubungan dengan quintum.28 Jadi euthanasia berarti mempermudah kematian (hak untuk mati). namun demikian pandangan medis. Oleh karena itu euthanasia sering disebut juga dengan mercy killing. Secara etimologis euthanasia berarti kematian dengan baik tanpa penderitaan. sehingga tidak menjadi persoalan dari segi kesusilaan. Hak untuk mati ini secara diam-diam telah dilakukan yang tak kunjung habis diperdebatkan. hlm. Euthanasia atau hak mati bagi pasien sudah ratusan tahun dipertanyakan. (Antropologi Teologis II. Bagi yang setuju menganggap euthanasia merupakan pilihan yang sangat manusiawi. (Jakarta: Pustaka Firdaus.25 28 . Yanggo dan Hafiz Anshary AZ.). buku ke-4. 64. etika dan agama. hlm. atau enjoy death (mati dengan tenang). Fauzi Aseri. namun untuk mengurangi atau meringankan penderitaan orang yang sedang menghadapi kematiannya. dalam Chuzaimah T. a good death. agama. Artinya dari segi kesusilaan dapat dipertanggungjawabkan bila orang yang bersangkutan menghendakinya. Problematika Hukum Islam Kontemporer. 29 J. Sejumlah pakar dari berbagai disiplin ilmu telah mencoba membahas euthanasia dari berbagai sudut pandang. Euthanasia Suatu Tinjauan dari Segi Kedokteran. maka dari itu dalam mengadakan euthanasia arti sebenarnya bukan untuk menyebabkan kematian.

31 30 . Masalah tersebut semakin kompleks karena definisi dari kematian itu sendiri telah menjadi kabur. sehingga banyak masalah yang ditimbulkan dari euthanasia ini. euthanasia lebih menunjukkan perbuatan yang membunuh karena belas kasihan. 2001).30 Sejak abad ke-19. yaitu:31 1. euthanasia dapat diterangkan sebagai pembunuhan yang sistematis karena kehidupannya merupakan suatu kesengsaraan dan penderitaan. (Yogyakarta: Media Presindo. hlm. Euthanasia dalam prespektif hak asasi manusia. melainkan lebih terarah pada campur tangan ilmu kedokteran yang meringankan orang sakit atau orang yang berada pada sakarotul maut.26-27. maka menurut pengertian umum sekarang ini. hlm. 5-6 Petrus Yoyo Karyadi. Agar persoalan euthanasia ini dapat dibahas dengan sewajarnya sebaiknya arti kata-katanya diuraikan dengan lebih seksama lagi. Secara etimologis di zaman kuno berarti kematian tenang tanpa penderitaan yang hebat. Pemakaian terminologi euthanasia ini mencakup tiga kategori. Inilah konsep dasar dari euthanasia yang kini maknanya berkembang menjadi kematian atas dasar pilihan rasional seseorang. Pemakaian secara sempit Piet Go O. Akhirnya kata ini dipakai dalam arti yang lebih sempit sehingga makna dan artinya adalah mematikan karena belas kasihan. ke-1.22 Akan tetapi dalam perkembangan istilah selanjutnya. (Malang: Analekta Keuskupan Malang. Dewasa ini orang tidak lagi memakai arti asli. bahkan kadang-kadang disertai bahaya mengakhiri kehidupan sebelum waktunya. Euthanasia Beberapa Soal Etis Akhir Hidup Menurut Gereja Katolik. Carm. cet. terminologi euthanasia dipakai untuk menyatakan penghindaran rasa sakit dan peringanan pada umumnya bagi yang sedang menghadapi kematian dengan pertolongan dokter. 1989).

Pemakaian secara luas Secara luas. euthanasia berarti memendekkan hidup yang tidak lagi dianggap sebagai side effect. Pemakaian paling luas Dalam pemakaian yang paling luas ini. Menurut hasil seminar aborsi dan euthanasia ditinjau dari segi medis. 3. . Dengan sengaja tidak melakukan sesuatu (palaten) untuk memperpanjang hidup pasien 3). 2. Beberapa ahli membedakan ketiga cara tersebut. hukum dan psikologi. melainkan sebagai tindakan untuk menghilangkan penderitaan pasien.27.. Beberapa pengertian tentang terminologi euthanasia:32 a.23 Secara sempit euthanasia dipakai untuk tindakan menghindari rasa sakit dari penderitaan dalam menghadapi kematian. hlm. 2). euthanasia diartikan: 1). 32 Ibid. Dengan sengaja melakukan sesuatu untuk mengakhiri hidup seorang pasien. Dilakukan khusus untuk kepentingan pasien itu sendiri atas permintaan atau tanpa permintaan pasien. terminologi euthanasia dipakai untuk perawatan yang menghindarkan rasa sakit dalam penderitaan dengan resiko efek hidup diperpendek. tetapi pada hemat penulis apapun istilahnya ketiga cara tersebut adalah tindakan euthanasia.

kata euthanasia dipergunakan dalam tiga arti:33 1). Macam-macam Euthanasia Euthanasia bisa ditinjau dari berbagai sudut. untuk yang beriman dengan nama Allah dibibir. 3). diringankan penderitaan sisakit dengan memberinya obat penenang. 4). Berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu 2). 3). B. 3). 2). dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur euthanasia adalah sebagai berikut: 1). Pasien menderita suatu penyakit yang sulit untuk disembuhkan kembali. sadar tidaknya pasien dan lain-lain. Demi kepentingan pasien dan keluarganya.1991). Oemar Seno Adji. seperti cara pelaksanaanya. Atas atau tanpa permintaan pasien atau keluarganya. atau tidak memperpanjang hidup pasien. hlm. Berpindahnya ke alam baka dengan tenang dan aman tanpa penderitaan.176 33 . Etika profesional dan Hukum Pertanggungjawaban Pidana Dokter. Ketika hidup berakhir. Mengakhiri penderitaan dan hidup seorang sakit dengan sengaja atas permintaan pasien sendiri dan keluarganya. Mengakhiri hidup. dari mana datang permintaan. Dari beberapa kategori tersebut.24 b. (Jakarta: Erlangga. mempercepat kematian. Menurut kode etik kedokteran indonesia.

tetapi diketahui bahwa risiko tindakan tersebut dapat mengakhiri hidup pasien. Bunga Rampai Hukum Kesehatan (Jakarta: Widya Medika. yang menunjukkan bahwa tindakan medis yang dilakukan tidak akan langsung mengakhiri hidup pasien.1997). Euthanasia aktif langsung. Euthanasia aktif Euthanasia aktif adalah perbuatan yang dilakukan secara aktif oleh dokter untuk mengakhiri hidup seorang (pasien) yang dilakukan secara medis. hlm. yaitu cara pengakhiran kehidupan melalui tindakan medis yang diperhitungkan akan langsung mengakhiri hidup pasien. 2.25 Secara garis besar euthanasia dikelompokan dalam dua kelompok. Misalnya dengan memberi tablet sianida atau suntikan zat yang segera mematikan. Kartono Mohamad. Biasanya dilakukan dengan penggunaan obat-obatan yang bekerja cepat dan mematikan. 1992). Misalnya. Euthanasia aktif terbagi menjadi dua golongan:35 a. mencabut oksigen atau alat bantu kehidupan lainnya. yaitu euthanasia aktif dan euthanasia pasif Di bawah ini dikemukakan beberapa jenis euthanasia: 1.31. 35 . Euthanasia aktif tidak langsung. b. 4. Teknologi Kedokteran dan Tantangannya terhadap Bioetika (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. 34 Amri Amir. 3. hlm.66- 67. euthanasia aktif euthanasia pasif euthanasia volunter euthanasia involunter34 1.

Selain kategori empat macam euthanasia di atas. Euthanasia involunter Euthanasia involunter adalah jenis euthanasia yang dilakukan pada pasien dalam keadaan tidak sadar yang tidak mungkin untuk menyampaikan keinginannya. Perbuatan ini sulit dibedakan dengan perbuatan kriminal. Euthanasia tidak langsung. Kedalamnya termasuk semua usaha perawatan agar yang bersangkutan dapat mati dengan "baik". hal ini diungkapkan oleh beberapa tokoh. bahwa pasien mungkin mati dengan lebih cepat. mereka menambahkan macam-macam euthanasia selain euthanasia secara garis besarnya. diantaranya Frans magnis suseno dan Yezzi seperti dikutip Petrus Yoyo Karyadi. Dalam hal ini dianggap famili pasien yang bertanggung jawab atas penghentian bantuan pengobatan. Euthanasia volunter Euthanasia jenis ini adalah Penghentian tindakan pengobatan atau mempercepat kematian atas permintaan sendiri. 3. yaitu: 1. euthanasia juga mempunyai macam yang lain. . 4. Euthanasia pasif Euthanasia pasif adalah perbuatan menghentikan atau mencabut segala tindakan atau pengobatan yang perlu untuk mempertahankan hidup manusia.26 2. 2. Euthanasia murni. yaitu usaha untuk memperingan kematian dengan efek samping. sehingga pasien diperkirakan akan meninggal setelah tindakan pertolongan dihentikan. yaitu usaha untuk memperingan kematian seseorang tanpa memperpendek kehidupannya.

Euthanasia sukarela. misalnya dengan mengakhiri pemberian nafas buatan melalui respirator atau mencabut ventilator dalam arti penghentian pemberian pernafasan artifisial. euthanasia dibedakan antara yang aktif dan yang pasif. Dalam literatur.30. yaitu mempercepat kematian atas persetujuan atau permintaan pasien. Euthanasia. 4.27 Di sini ke dalamnya termasuk pemberian segala macam obat narkotik. tetapi yang tidak begitu bermanfaat lagi. Keadaan-keadaan yang Memungkinkan Dilakukannya Euthanasia Euthanasia mempunyai arti yang berdekatan dengan “membiarkan datangnya kematian” (letting die). yaitu mempercepat kematian sesuai dengan keinginan pasien yang disampaikan oleh atau melalui pihak ketiga (misalnya keluarga). Sedang euthanasia pasif diartikan sebagai tidak dimulainya melakukan tindakan untuk memperpanjang hidupnya. hlm. Misalnya tidak memberikan shock terapi dan tidak menyambung pernafasan dengan ventilator sesudah pasien manula penderita jantung kronis yang mendapat serangan 36 Petrus Yoyo Karyadi.67-68 Ibid.37 C. Euthanasia aktif diartikan melakukan suatu tindakan tertentu sehingga pasien meninggal. hlm. atau atas keputusan pemerintah. Euthanasia nonvoluntary. 37 . Adakalanya hal itu tidak harus dibuktikan dengan pernyataan tertulis dari pasien atau bahkan bertentangan dengan pasien. bahkan akan menambah beban penderitaan (not initiating life support treatment). hipnotik dan analgetika yang mungkin "de fakto" dapat memperpendek kehidupan walaupun hal itu tidak disengaja.36 3..

maka seseorang yang oleh karena suatu hal mengalami henti nafas mendadak (respiratory arrest) atau henti jantung (cardiac arrest). 38 J. dan kalau alat tersebut dicabut kemungkinan besar ia akan segera mati. tetapi bila otak sudah tidak berfungsi. (Jakarta: FK UI. hlm. Guwandi. dengan kata lain dia hanya hidup secara vegetatif. Secara medis sekarang diketahui jika rekaman otak masih menunjukkan fungsi yang baik.28 jantung untuk kesekian kalinya dan sudah tidak sadarkan diri untuk waktu yang agak lama. Dengan demikian sekarang dikenal istilah mati otak (brain death). Persoalan yang kemudian timbul adalah sampai berapa lama orang itu bertahan dengan alat bantu tersebut. maka ada harapan orang tersebut akan siuman kembali. masih ada kemungkinan ditolong dengan menggunakan alat tersebut. maka hampir tidak mungkin dia hidup tanpa bantuan alat tersebut. yang jelas kehidupannya tergantung kepada alat. Keadaan semacam ini berlangsung berhari-hari.38 Seperti telah disebutkan pada awal tulisan ini. yakni sel-sel tubuh saja yang masih menunjukkan tanda kehidupan. 40 . maka dengan ditemukannya alat bantu pernafasan (respirator) dan alat pacu jantung (pace maker). artinya pasien belum meninggal. Kumpulan Kasus Bioethics & biolaw. yang menunjukkan bahwa otak sudah tidak berfungsi lagi. 2000). berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun tanpa di ketahui kapan akan berakhir. Kalau dahulu mati didefinisikan sebagai berhentinya denyut jantung dan pernafasan. kemajuan dalam bidang ilmu dan tekhnologi kedokteran telah menambah beberapa konsep fundamental tentang mati.

sampai hatikah seorang dokter dengan sengaja melepas alat bantu yang nota bene akan mengakhiri kehidupan seseorang?. Tidak ada pemecahan rasional lain yang dapat memperbaiki situasi. 4. Akan lebih rumit lagi apabila permintaan pasien (keluarganya) adalah dengan alasan sosial ekonomi (biaya) sehingga keluarga memaksa untuk membawa pulang pasien. Kedua. Siswo Sudarmo.39 Di Negara Belanda.R. hlm. apakah dokter mempunyai hak untuk melakukan hal itu tanpa ia dikenai sanksi hukum?. Baik penderitaan ini maupun keinginan untuk mengakhiri kehidupan berlangsung tiada henti-hentinya. sebagai berikut: 1. yang menjadi persoalan adalah: pertama. Harus ada penderitaan fisik atau psikis yang tidak terpikulkan dan dahsyat dialami pasien. tepatnya di daerah Rotterdam. Aborsi dan Euthanasia ditinjau dari segi medis. seorang dokter tidak di hukum dalam melakukan euthanasia. hukum dan psikologis. Bagaimana sikap seorang dokter?" Makalah pada seminar sehari. pada yang terakhir ini jelas yang harus mencabut segala alat bantu adalah dokter (dokter yang bertanggungjawab). 3.29 Dalam keadaan seperti ini tidak jarang keluarga pasien meminta dokter untuk segera mengakhiri penderitaan pasien dengan cara melepas semua alat bantu. 1990).3-4 39 . Pasien memahami betul situasinya sendiri maupun kemungkinankemungkinan alternatif yang tersedia dan mampu menimbang-nimbang antara pelbagai kemungkinan yang ada dan sesungguhnya telah pula melakukan pilihannya. "Euthanasia. Pengadilan Negeri Rotterdam mempunyai kriteria bahwa seorang dokter tidak dihukum dalam melakukan euthanasia. 2. (Yogyakarta: FKMPY. H.

demikian pula pada bantuan itu perlu diperhatikan kecermatan dan ketelitian yang semaksimal mungkin sesuai dengan kepatutan yang berlaku (misalnya dengan mengikutsertakan dalam perembukan beberapa teman sejawat dan ahli-ahli lainnya. Pada keputusan untuk memberikan bantuan harus selalu melibatkan seorang dokter. Mengapa euthanasia? Kemampuan medis & konsekuensi Yuridis. 40 . t. Jadi. Keputusan untuk memberikan bantuan tidak diambil oleh satu orang saja. hak asasi dapat F. Hak-hak asasi manusia sebagaimana dikenal dewasa ini dengan nama antara lain "human rights. yang tak dapat dipisahkan dari hakekatnya dan karena itu bersifat suci". lawyer dan sebagainya. Euthanasia dan Hak Asasi Manusia (HAM) Hak asasi mausia (HAM) mungkin merupakan kata yang telah ditulis dalam ratusan ribu halaman kertas. yang akan mengeluarkan resep mengenai obat atau bahan yang akan dipakai. mengarahkan perbuatan manusia dan mengatur masyarakat. (Bandung: Nova. jurnalis. 7. artikel atau surat kabar dan siaran televisi maupun radio. politikus. Tengker. Dengan kematian ini tidak ada orang lain yang dirugikan atau menderita tanpa alasan. Sebagai basis dari pemikiran manusia. 8. hlm.30 5. the Right of man" hal mana pada prinsipnya dapat dirumuskan sebagai "hak-hak yang dimiliki manusia menurut kodratnya. 95. juga menarik perhatian sejumlah besar ahli.40 D. 6.t). Pada keputusan untuk memberikan bantuan. buku. Ia seolah-olah menjadi "trademark" peradaban modern saat ini.

menerapkan kasih sayang. berbuat adil. Islam mengajarkan belas kasihan sebagai suatu nilai kemanusiaan yang pokok dan satu dari kebajikan yang fundamental bagi orang yang mengaku dirinya muslim. 4. sosial dan kebudayaan. Imron Halimi. banyak mengajarkan tentang toleransi. tidak boleh memaksa. dari kedua dokumen tersebut terdapat semboyan. 3. 1990). 41 . Hak asasi itu tidak dapat dipisahkan dari eksistensi pribadi manusia itu sendiri. 2. bijaksana. Liberte (kemerdekaan). Freedom of Religion (kebeasan beragama). Dari pemahaman yang demikian maka sebenarnya perjuangan untuk membela hak-hak kemanusiaan tersebut mungkin seumur umat manusia itu sendiri. Euthanasia Cara Mati Terhormat Orang modern. Hak-hak Asasi manusia secara umum mencakup hak pribadi.D. (Solo: CV. hlm.41 Sebagai contoh bahwa Nabi Musa berusaha menyelamatkan umatnya dari penindasan Fir'aun. Roosevelt (1941) di Amerika Serikat.31 dikatakan sebagai hak dasar yang dimiliki oleh pribadi manusia sebagai anugerah Tuhan yang dibawa sejak lahir. 129. terdapat bermacam dokumen. serta untuk mendapatkan perlakuan tata cara peradilan dan perlindungan hukum. Fraternite (kerukunan atau persaudaraan). Freedom of Speech (kebebasan mengutarakan pendapat). al-Qur'an. perlakuan yang sama dalam hukum. diantaranya Declarations des Droits de'l Homme et du Citoyen (1789) di Perancis dan The Four Freedoms of F. yaitu: 1. dan lain sebagainya. politik. 5. Nabi Muhammad dengan mu'jizatnya. Ramadhani. Egalite (kesamarataan). Dalam hak-hak asasi manusia.

d. Euthanasia.32 6. Hak menyatakan kebebasan dari rasa takut. adalah termasuk didalamnya. hlm. dapat disimpulkan bahwa hak asasi manusia mencakup: a. 1984). Hak kemerdekaan pikiran. Freedom from Want (kebeasan dari kekurangan). Hak kemerdekaan atas diri sendiri. Euthanasia Hak Asasi Manusia dan Hukum Pidana. Hak kemerdekaan berkumpul. b. Menyinggung masalah hak-hak asasi manusia. Dan dalam hak untuk hidup ini juga tercakup pula adanya "hak untuk mati" atau the right to die. karena tidak dicantumkan secara tegas dalam suatu deklarasi dunia. Freedom from Fear (kebebasan dari ketakutan).43 Mengenai hak untuk hidup. 137 . Hak kemerdekaan beragama. hlm. terutama dalam hak kemerdekaan atas diri sendiri. "The right to die" ini berkaitan dengan munculnya "revolusi biomedis" dan tentunya berkaitan pula dengan masalah euthanasia. c. maka masih merupakan perdebatan dan pembicaraan di kalangan ahli berbagai 42 Djoko Prakoso dan Djaman Andi Nirwanto. 43 Petrus Yoyo Karyadi. e. (Jakarta: Ghalia Indah. memang telah diakui oleh dunia yaitu dengan dimasukannya dan diakuinya Universal Declaration of Human Right oleh perserikatan bangsa-bangsa tanggal 10 desember 1948.42 Dari kedua dokumen tersebut. maka akan terlintas dalam benak pikiran bahwa "hak untuk hidup" atau the right to life. Sedangkan mengenai "hak untuk mati".32-33. dan 7.

maka perbuatan dokter yang telah memebantu untuk melaksanakan permintaan seorang pasien atau dari keluarganya seperti diuraikan di atas memounyai kekebalan terhadap "criminal liability" maupun terhadap "civil liability". misalnya bagi penderita suatu penyakit yang sudah tidak dapat diharapkan lagi penyembuhannya dan pengobatan yang diberikan sudah tidak berpotensi lagi. 42 45 46 .44 Di Negara-negara maju seperti Amerika Serikat masalah "hak untuk mati" sudah diakui. melainkan 44 Imron Halimi.45 Penderita suatu penyakit yang sudah demikian tersebut diakui dan diperbolehkan menggunakan "hak untuk mati"-nya. dengan jalan meminta pada dokter untuk menghentikan pengobatan yang selama ini diberikan kepadanya.. namun masih harus diakui pula bahwa "hak untuk mati" itu tidak bersifat mutlak.46 Dari uraian di atas kiranya dapat disimpulkan bahwa masalah hak-hak asasi manusia itu bukanlah semata-mata merupakan persoalan yuridis semata. hlm. Ibid. hlm. Dengan demikian maka penderita suatu penyakit yang tak menentu nasibnya tersebut akan segera mati dengan tenang. ataupun dengan jalan meminta agar diberikan obat penenang dengan dosis yang tinggi. Euthanasia. seperti diperagakan dalam "peradilan semu" dalam rangka Konperensi Hukum Se-Dunia di Manila. Dan lagi Negara yang telah mengakui adanya "hak untk mati". Jadi masih terbatas dalam suatu keadaan tertentu. 141 Ibid. Kendatipun telah diakui dalam berbagai undang-undang. dan bahkan di Negara-negara bagian ada yang mengaturnya secara jelas dalam berbagai undang-undang.33 bidang dunia.

cet. moral yang ada di suatu masyarakat tertentu. kondisi dan kebiasaan yang ada dalam suatu negara E. orang sudah dinyatakan mati dan tidak perlu diberi pertolongan lagi. Euthanasia dalam Ilmu Kedokteran 1. Bunga Rampai Hukum Kesehatan. Dari hal ini dinyatakan bahwa mati 47 Amri Amir. maka dari itu perlu dijelaskan arti "mati". Perubahan pengertian ini berkaitan dengan adanya alat-alat resusitasi. etis. Penting bagi para dokter untuk memperjelas arti mati. Dahulu. Konsep tentang Mati Untuk dapat memahami lebih jauh timbulnya masalah euthanasia.34 bersangkut paut dengan masalah nilai-nilai etis. Kini keadaan sudah berubah. Pada umumnya dikenal beberapa konsep tentang mati: a. (Jakarta: Widya Medika. apabila jantung dan paru-paru sudah tidak bekerja lagi. 1997). Berhentinya darah mengalir Konsep ini bertolak dari kriteria mati berupa berhentinya jantung. berbagai alat atau mesinmesin penopang hidup dan kemajuan dalam perawatan intensif. dalam perawatan intensif (di rumah sakit yang mempunyai fasilitas dan ahlinya) jantung yang sudah berhenti dapat dipacu untuk bekerja kembali dan paru-paru dapat dipompa agar kembali kembang kempis. Oleh sebab itu masalah "hak untuk mati" yang dihadapkan sebagai suatu kasus hukum. maka perlu difahami tentang konsep mati yang dianut dari dulu hingga kini. maka pemecahannya haruslah disesuaikan dengan masalah moral.47Bila demikian. organ yang memompa darah mengalir keseluruh tubuh. ke-1.68 . apa yang dimaksud dengan "mati"?. hlm.

dan situasi ini diteguhkan oleh elektroensefalogram (EEG). paling sedikit selama satu jam. Gramedia Pustaka Utama. termasuk stimulus yang sangat menyakitkan. Kematian berlangsung. Teknologi Kedokteran dan Tantangannya Terhadap Bioetika.49 b.11 52 51 . Shanon. 48 Ibid.50 c. jika dua unsur ini dipisahkan.58. tidak ada gerak sepontan atau pernafasan. Terj. (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Kematian berarti terputusnya kesatuan tubuh dan jiwa. 1995). 50 49 Ibid. Kartono Mohamad.48 Karena nafas dan darah bahan yang menandakan kehidupan. sehingga tersusunlah makhluk yang unik yang disebut manusia. Pasien tidak berfungsi lagi bereaksi (unreceptive and unresponsive) terhadap stimulus (sentuhan. hlm. hlm. maka bila tidak terjadi lagi pernafasan dan peredaran darah.58-59 Electroencephalogram (EEG) adalah: pencatatan terhadap keaktivan otak. Pengantar Bioetika. dan kedua jenis ini terdapat pada alat oscillograf (alat catat getaran gelombang).51 Dasar untuk menetapkan bahwa otak tidak berfungsi lagi adalah:52 1). Tidak ada tanda-tanda terjadinya pernafasan spontan. rangsangan) dari luar.69 Thomas A. hlm. (Jakarta: PT. Kematian otak Kriteria ini adalah: tidak sanggup menerima rangsangan dari luar dan tidak ada reaksi atau rangsangan.35 adalah berhentinya fungsi jantung dan paru-paru. tidak ada refleks. pencatat gerakan jantung dari gelombang listrik. Bartens. K. Dan juga erat kaitannya dengan Electrokardiogram. Pemisahan tubuh dan jiwa Manusia sebagai kesatuan tubuh dan jiwa atau kesatuan materi dan bentuk... 2).1992) hlm. itu berarti bahwa kematian sudah menjadi kenyataan. Jiwa atau bentuk menjiwai tubuh atau materi.

Hak-Hak Pasien Berkembangnya etika pelayanan kesehatan sebagai suatu bidang khusus dan pencarian pelbagai hak melalui pengadilan telah membantu untuk menetapkan banyak hak dalam konteks pelayanan kesehatan. Bunga Rampai Hukum Kesehatan. karena tanpa organ ini bagi manusia tidak mungkin mempertahankan integrasi biologisnya dan karena itu juga integrasi sosialnya. sebab masih banyak negara yang tidak atau belum mengatur hal-hal yang berkaitan dengan hak pasien itu. dan Elektroensefalogram (EEG)-nya datar.36 3). sehingga keputusannya diambil melalui pertimbangan yang jelas. Dalam hal ini penghormatan atas hak pasien untuk penentuan nasib sendiri masih memerlukan pertimbangan dari seorang dokter terhadap pengobatannya. . yaitu agar 53 Amri Amir. Hak untuk mendapatkan pemeliharaan kesehatan yang memenuhi kriteria tertentu. cortex dan neo cortex) berarti kematian manusia. (Jakarta: Widya Medika.53 "hak pasien". Pasien harus diberi kesempatan yang luas untuk memutuskan nasibnya tanpa adanya tekanan dari pihak manapun setelah diberi informasi yang cukup. Di antaranya adalah penghormatan atas hak pasien. Kematian seluruh otak (batang otak. hlm. dua buah kata bagi sebagian negara adalah kata-kata yang mewah. maka hak utama dari pasien tentunya adalah hak untuk mendapatkan pemeliharaan kesehatan (the right to health care). 1997). 2. Berbicara tentang "hak pasien" yang dihubungkan dengan pemeliharaan kesehatan.71. Tidak ada refleks.

Mandar Maju 2001). Hak atas persetujuan Hak untuk enentukan diri sendiri (the right of self determination) juga terproses sejalan dengan perkembangan dari hak asasi manusia.147-148. Jika seseorang tidak tahu. sarana kesehatan dan bantuan dari tenaga kesehatan.12.37 pasien mendapatkan upaya kesehatan. hlm. Thomas A. sebagai misal antara lain hak untuk mendapatkan informasi tentang penyakitnya. Agar lebih jelas dapat diuraikan hak-hak pasien yaitu sebagai berikut:55 a. ia tidak bisa memilih. Shanon. hak untuk mendapatkan pendapat kedua. setelah dokter memberikan informasi. Hukum Kedokteran.18. pasien mempunyai hak-hak lainnya. hlm.56 54 Wila Chandrawila Supriadi. ia tetap tinggal korban paternalisme. Dihubungkan dengan tindakan medik. Bartens . tidak bisa membuat rencana.54 Dalam pelaksanaan untuk mendapatkan pemeliharaan kesehatan. tidak dapat menguasai situasi. maka hak untuk menentukan diri sendiri diformulasikan dengan apa yang dikenal dengan persetujuan atas dasar informasi (informed consent). 1995). Adalah hak asasi pasien untuk menerima atau menolak tindakan medik yang ditawarkan oleh dokter. yang memenuhi standar pelayanan kesehatan yang optimal. Pengantar Bioetika (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 56 55 Wila Chandrawila Supriadi. Hak atas informasi Agaknya hak yang paling penting adalah hak atas informasi. Kemungkinan untuk memperoleh informasi merupakan syarat untuk menjalankan otonomi. dan jika pasien tidak mempunyai kemungkinan itu. Terj K. (Bandung: CV. hlm. . Hukum Kedokteran.

20. maka orang akan enggan mencari bantuan medis. pengobatan. Hak atas pendapat kedua Yang dimaksud dengan pendapat kedua ialah adanya kerjasama antara dokter pertama dengan dokter kedua.38 c. Catatan medis di rumah sakit Rekam medik adalah berkas yang berisi catatan. Penolakan seperti ini sebagai perwujudan otonomi pasien dalam hak menentukan dirinya. Kebutuhan pasien atas catatan medis sebagai dasar pengetahuan untuk melaksanakan hak otonominya. tindakandan pelayanan lain kepada pasien pada sarana pelayanan kesehatan. Dokter pertama akan memberikan seluruh hasil pekerjaannya kepada dokter kedua. dan dokumen tentang identitas pasien. hal ini sebagai dasr bagi relasi antara dokter dan pasien. Kerjasama ini bukan atas inisiatif dokter yang pertama. maka tidak bisa dihindarkan konsekuensi bahwa ia mempunyai hak juga untuk menolak pengobatan. Hak untuk menolak pengobatan Jika seseorang mempunyai hak untuk memberi persetujuan dengan suatu pengobatan_atas dasar informasi yang diberikan sebelumnya. tetapi atas inisiatif pasien. .57 f. hlm.. Hak atas privacy Konfidensialitas dan perlindungan informasi yang diperoleh tenaga medis dalam hubungan dengan pasiennya adalah sangat penting. pemeriksaan. Jika konfidensialitas tidak dapat dijamin. 57 Ibid. d.

39 3. Euthanasia. sehingga kemulyaan profesi dokter tersebut tetap terjaga dengan baik. karena ini berarti membohongi diri sendiri dan pasiennya……. maka setiap dokter perlu menghayati etika kedokteran .58 Di antara sumpah Hippocrates adalah sebagai berikut:59 Ilmu kedokteran adalah upaya untuk menaggulangi penderitaan si sakit. Manusia pada akhirnya akan mati. hlm. 79. Ada batas ketika penyembuhan tidakberdaya lagi. hlm. Dengan demikian. dan tidak mengobati kasus-kasus yang tidak memerlukan pengobatan. dokter tidak dapat berharap ia akan dapat menyembuhkan setiap pasiennya. Keahlian dibidang ilmu dan teknik baru dapat memberi manfaat yang sebesarbesarnya. umumnya semua pejabat dalam bidang kesehatan. Kalau dalam prakteknya disertai oleh norma-norma etik dan moral. bahkan sebagai seorang yang berpengetahuan ia harus menunjukannya dengan perbuatan. 59 . Pada umumnya kode etik tersebut didasarkan pada sumpah Hippocrates. Dan pastinya di setiap Negara mempunyai kode etik kedokteran sendiri-sendiri. Hal tersebut diinsyafi oleh para dokter diseluruh dunia. atau menganjurkan kepada mereka untuk tujuan itu. yaitu jangan berusaha untuk menyembuhkannya. Dokter harus mengenali dan menerima kedatangan saatsaat maut bagi pasiennya. harus memenuhi segala syarat keahlian dan pengertian tentang susila jabatan. 83-84. Euthanasia. Dari pandanag Hippocrates tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa dokter tidak lagi mengobati penyakit-penyakit yang sebenarnya tidak perlu diobati atau 58 Djoko Prakoso. menyingkirkan penyakit. Pandangan Kode Etik Kedokteran Tugas profesional dokter begitu mulia dalam pengabdiannya kepada sesama manusia dan tanggung jawab dokter makin tambah berat akibat kemajuan-kemajuan yang dicapai oleh ilmu kedokteran. Petrus Yoyo Karyadi. Saya tidak akan memberikan obat yang mematikan kepada siapapun meskipun dimintanya. Para dokter.

diuraikan bahwa segala perbuatan terhadap si sakit bertujuan memelihara kesehatan dan kebahagiaannya. Dan berarti hippocrates tidak akan memberikan obat yang memetikan sekalipun pasien telah memeintanya."60 Dalam penjelasan pasal 9 di atas. hlm. Naluri terkuat dari makhluk hidup termasuk manusia adalah mempertahankan hidupnya.35. (Jakarta: Metro Kencana. Misalnya dengan memberikan resep tetentu atau dengan memberikan medikasi lainnya. Hippocrates tetap menolak tindakan euthanasia aktif. Dengan sendirinya dokter harus mempertahankan dan memelihara kehidupan manusia. Apabila pengobatan atau perawatan sudah tidak ada gunanya. Disamping itu dokter tidak harus terus berupaya mengobati penyakit-penyakit yang tidak dapat disembuhkan kembali. meskipun hal itu kadang-kadang akan terpaksa melakukan tindakan medik lain misalnya operasi yang membahayakan. 1980). Dalam situasi apapun keadaan pasien. yang selalu mengandung resiko. Untuk itu manusia diberi akal. maka dokterpun sudah tidak berkompeten lagi untuk melakukan medikasi terhadap pasiennya.40 tidak membohongi pasien yang sebenarnya sudah tidak memerlukan obat. Kode Etik Kedokteran Indonesia. kemampuan berfikir dan mengumpulkan Ratna Suprapti Samil (ed. 60 . Tindakan ini diambil setelah diperhitungkan masak-masak bahwa tidak ada jalan lain untuk menyelamatkan jiwa si sakit selain pembedahan. adalah pasal 9 yang berbunyi: "Seorang dokter harus senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi hidup makhluk insani.). Salah satu pasal dari Kode Etik Kedokteran Indonesia yang relevan dengan masalah euthanasia.

Dengan demikian.86 Ibid. hlm. apalagi dengan motif-motif tertentu. walaupun menurut ilmu kedokteran dan pengalamannya pasien tidak mungkin sembuh. jelas bahwa Kode etik kedokteran Indonesia melarang tindakan euthanasia aktif. misalnya mencari keuntungan sebesar-besarnya di atas penderitaan orang lain. Asalkan jangan mengadaada melakukan tindakan medik (yang sebetulnya tindakan medik itu sudah tidak diperlukan lagi). Ia harus berusaha memelihara dan mempertahankan hidup makhluk insani. karena kematiannya sudah tidak dapat dihindarkan lagi. maka lebih baik dokter membiarkan pasien meninggal dengan sendirinya. not life judgers). not pro death. Euthanasia. 62 . Bila dirasakan penyakit pasien sudah tidak dapat disembuhkan kembali.41 pengalamannya. Hal ini.62 61 Petrus Yoyo Karyadi. bukan orang yang menentukan kehidupan itu sendiri (life savers. Begitu juga dengan kode etik kedokteran Indonesia. dokter tidak boleh bertindak sebagai Tuhan (don’t play god). Akan tetapi. Dengan kata lain. perawatan (pengobatan) seperlunya masih tetap dilakukan. dan juga tidak perlu berusaha keras untuk mempertahankan kehidupannya. Dokter adalah orang yang menyelamatkan atau memelihara kehidupan. berarti doktert dilarang mengakhiri hidup pasien (euthanasia). Medical ethics must be pro life. berarti ia juga menerima euthanasia dalam bentuk pasif. Tidak perlu mengakhiri hidupnya.61 Sebetulnya kode etik kedokteran Indonesia sudah lama berorientasi pada pandangan-pandangan Hippocrates yang telah lama menerima euthanasia pasif. membangun dan mengembangkan ilmu untuk menghindarkan diri dari bahaya maut adalah merupakan tugas dokter. Jadi.

hlm. (Bogor: Politeia. Tetapi bagaimanapun karena masalah euthanasia menyangkut soal keamanan dan keselamatan nyawa manusia.63 Dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) pasal yang menyinggung masalah euthanasia ini secara pasti tidak ada. yang dapat dijumpai dalam Bab XIX. Euthanasia dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) Di Indonesia dilihat dari perundang-undangan dewasa ini. buku II. dari pasal 338 sampai pasal 350 KUHP. R. buku II. Soesilo. Euthanasia. Pasien yang benar-benar menderita atas penyakitnya. yaitu:64 63 Imron Halimi. hlm.42 Adalah tugas ilmu kedokteran untuk memebantu meringankan penderitaan pasien.149-150. adalah apa yang terdapat di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Indonesia. walaupun kadang-kadang dari tindakan peringanan tersebut dapat mengakibatkan hidup pasien diperpendek secara perlahan-lahan (euthanasia tidak langsung). khususnya pasal-pasal yang membicarakan masalah kejahatan nterhadap nyawa manusia. sudah menjadi tugas dokter untuk ikut membantu meringankan penderitaanya. pada Bab XIX. atau bahkan berusaha menyembuhkan penyakit selama masih dimungkinkan. memang belum ada pengaturan (dalam bentuk undang-undang) yang khusus dan lengkap tentang euthanasia. Maka satusatunya yang dapat dipakai sebagai landasan hukum. 5. Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) serta komentar-komentarnya lengkap pasal demi pasal. maka harus dicari pengaturan atau pasal yang sekurang-kurangnya sedikit mendekati unsur-unsur euthanasia itu.243 64 . 1996). tetapi satu-satunya pasal yang lebih mengena yaitu pasal 344.

yang disebutkan dengan nyata dan dengan sungguh-sungguh. Euthanasia aktif Euthanasia aktif terjadi apabila dokter atau tenaga medis lainnya secara sengaja melakukan suatu tindakan untuk mengakhiri atau memeperpendek (mengakhiri) hidup pasien. hlm. maka dalam menentukan benar tidaknya seseorang telah melakukan pembunuhan karena kasihan ini. jika tidak maka orang itu dikenakan pembunuhan biasa. Ditinjau dari segi yuridis.65 dan haruslah mendapatkan perhatian. dihukum penjara selama-lamanya dua belas tahun. hlm. dan unsur sungguh (ernstig). Agar unsur ini tidak disalahgunakan.54-71 66 67 .66 Masalah euthanasia ini merupakan masalah yang kompleks dari segi sifatnya. Djoko Prakoso. Dalam pasal di atas. Euthanasia. Euthanasia. Euthanasia aktif terbagi dalam tiga kelompok. karena unsur inilah yang akan menentukan apakah orang yang melakukannya dapat dipidana berdasar pasal 344 KUHP atau tidak. maka agar lebih mudah untuk difahami perlu diterangkan dan dibagi secara lebih terperinci. yaitu: 1) Euthanasia aktif atas permintaan pasien Pasal. 344 KUHP 65 Ibid. euthanasia dapat diuraikan sebagai berikut:67 a.71. harus dapat dibuktikan baik dengan adanya saksi atau pun oleh alat-alat bukti lainnya. unsur permintaan yang tegas (unitdrukkelijk). Petrus Yoyo Karyadi.43 Barang siapa menghilangkan jiwa orang lain atas permintaan orang itu sendiri. kalimat “permintaan sendiri yang dinyatakan dengan kesungguhan hati” harus disebutkan dengan nyata dan sungguh-sungguh (ernstig).

359 c). Untuk dapat memudahkan euthanasia pasif ini juga dibedakan menjadi tiga. Seperti halnya dengan euthanasia aktif. Euthanasia tidak langsung tanpa permintaan pasien Pasal. Euthanasia tidak langsung tanpa sikap pasien Pasal. 359 b). yaitu: a). euthanasia tidak langsung terbagi kedalam tiga kelompok. Euthanasia tidak langsung atas permintaan pasien Pasal. 340. 340. 304. yaitu: . KUHP 4) Euthanasia tidak langsung Euthanasia tidak langsung terjadi apabila dokter atau tenaga medis lainnya tanpa maksud mengakhiri hidup pasien melakukan tindakan medis untyuk meringankan penderitaan pasien. Euthanasia pasif Euthanasia pasif terjadi terrjadi apabila dokter atau tenaga medis lainnya secara sengaja tidak memberikan bantuan medik terhadap pasien yang dapat memperpanjang hidupnya. 344. 340 KUHP 3) Euthanasia aktif tanpa sikap dari pasien Pasal. 359 b. walaupun dengan mengetahui adanya resiko bahwa dari tindakan medik tersebut dapat mengakibatkan hidup sipasien diperpendek.44 2) Euthanasia aktif tanpa permintaan pasien Pasal. 338.

sedang ia wajib memberi kehidupan. sitersalah itu dihukum penjara selam-lamanya sembilan tahun. 304 jo 306 (2) 3). pasal-pasal tersebut adalah:68 Pasal. perawatan atau pemeliharaan pada orang itu karena hukum yang berlaku atasnya atau karena menurut operjanjian. 306 KUHP: "Kalau salah satu perbuatan ini menyebabkan orang mati. dengan hukumkan penjara selama-lamanya lima belas tahun." Pasal.45 1). dihukum penjara selama-lamanya dua tahun delapan bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp. Euthanasia pasif tanpa sikap pasien Pasal. KItab undang-undang. Euthanasia pasif atas permintaan pasien Tidak dihukum 2). 338 KUHP: "Barang siapa dengan sengaja menghilangkan jiwa orang lain. dihukum penjara selama-lamanya dua belas tahun.223-248 . 344 KUHP: "Barangsiapa menghilangkan jiwa orang lain atas permintaan orang itu sendiri. Pasal. 304 KUHP: Barangsiapa dengan sengaja menyebabkan atau membuarkan orang dalam kesengsaraan. dihukum. 4. Euthanasia pasif tanpa permintaan pasien Pasal. Soesilo. 304 jo 306 (2) Maka agar dapat mengetahui hukuman atas tindakan tersebut perlu disebutkan pasal-pasalnya.500. hlm." 68 R." Pasal. yang disebutkannya denagn nyata dan dengan sungguh-sungguh. karena makar mati.

maka dapatlah kita dimengerti betapa sebenarnya pembentuk undang-undang pada saat itu (zaman Hindia Belanda) telah menganggap bahwa nyawa manusia sebagai miliknya yang paling berharga. Demikian halnya terhadap masalah euthanasia ini. warna kulit dan ideologi.46 Pasal. Oleh sebab itu setiap perbuatan apapun motif dan macamnya sepanjang perbuatan tersebut mengancam keamanan dan keselamatan nyawa manusia. Adalah suatu kenyataan sampai sekarang bahwa tanpa membedakan agama. 359 KUHP: "Barangsiapa karena salahnya menyebabkan matinya orang dihukum penjara selama-lamanya lima tahun atau kurungan selama-lamanya satu tahun." Kalau diperhatikan bunyi pasal-pasal mengenai kejahatan terhadap nyawa manusia dalam KUHP tersebut. ras. maka hal ini dianggap sebagai suatu kejahatan yang besar oleh negara. . tentang keamanan dan keselamatan nyawa manusia Indonesia dijamin oleh undang-undang.

Baik dalam alQur'an maupun as-Sunah terdapat sanksi-sanksi yang mengikat yang harus ditegakan di dunia. dan al-qatl (pembunuhan). syurb al-khamr (minum-minuman keras). Aturan-aturan tersebut dikelompokan oleh para ulama dalam bab fiqh dengan nama al-hudud. addima. al-qisas dan al-jarah. Islam tidak sekedar mengajarkan ajaran moral saja. bukan sekedar ancaman di akhirat. ad-dima atau Jaih Mubarok dan Enceng Arif Faizal. (Bandung: Pustaka Bani Quraisy. 69 . diantaranya dari aturanaturan yang berkenaan dengan jarimah az-zina (perzinaan). ar-riddah (keluar dari Islam atau murtad). Makna sempit al-Jinayat sejajar dengan makna al-qisas. melainkan juga menyediakan aturan-aturan yang bersifat imperatif.47 BAB III PRINSIP-PRINSIP FIQH JINAYAH A. Kata al-Jinayat memiliki makna sempit dan makna luas. al-hirabah (perampokan). as-sariqah (pencurian). al-bughat (pemberontakan).69 Istilah yang umum bagi aturan tersebut adalah al-jinayat yang sering kali diartikan dengan Hukum Pidana Islam. Kaidah Fiqh Jinayah (asas-asas hukum pidana Islam). 2004) hlm. aljarah (penganiayaan atau pelukaan).1. Hal ini terlihat. al-qadžaf (tuduhan zina). Pengertian Fiqh Jinayah Salah satu kesempurnaan syariat Islam adalah adanya aturan-aturan yang berkenaan dengan hukum publik.

1992). Apabila dilakukan perbuatan tersebut mempunyai konsekuensi membahayakan agama. akal. dan harta benda. maupun dengan hal-hal lainnya seperti kehormatan.4. 2001) hlm. Dengan demikian. baik berkenaan dengan tubuh. Pertama adalah istilah jinayah itu sendiri dan kedua adalah jarimah.12 . Pustaka Setia. perbuatan salah atau jahat. (Beirut: Muassasat al-Risalat. kehormatan. pada dasarnya kata jinayah artinya perbuatan dosa. II:. 71 70 Rahmat Hakim. Walaupun demikian.48 al-jarah. kedua istilah berbeda dalam penerapan kesehariannya. Jinayah adalah semua perbuatan yang diharamkan. Perbuatan yang diharamkan adalah tindakan yang dilarang atau dicegah oleh syara' (Hukum Islam). istilah yang satu menjadi muradif (sinonim) bagi istilah lainnya atau keduanya bermakna tunggal. harta. jiwa. ada dua istilah penting yang terlebih dahulu harus dipahami. yaitu setiap perbuatan yang dilarang (haram) berkenaan dengan penganiayaan terhadap tubuh dan penghilangan jiwa manusia. Selain itu.70 Dalam mempelajari Fiqh Jinayah. Hukum Pidana Islam (fiqh jinayah). Kedua istilah ini secara etimologis mempunyai arti dan arah yang sama. Jinayah. Sedangkan makna aljinayat secara luas sejajar dengan al-jarimat.71 Abdul Qadir Audah dalam kitabnya at-Tasyri' al-Jina'i al-Islami menjelaskan arti kata jinayah sebagai berikut: Abd al-Qadir 'Awdah. akal. (Bandung: CV. at-Tasyri' al-Jina'i al-Islami Muqaranah bi al-Qanun al-Wadh'i. jiwa. dan agama. yaitu setiap perbuatan yang dilarang. keturunan. kedua istilah tersebut harus diperhatikan dan difahami agar penggunaannya tidak keliru.

Allah ta'ala mencegah terjadinya tindak kriminal dengan menjatuhkan hudud (hukum syar'i). atau ta'zir (sanksi disiplin) kepada pelakunya. Jadi pengertian jarimah secara harfiyah sama halnya dengan pengertian jinayah.74 Adapun dalam pemakaiannya kata jinayah lebih mempunyai arti lebih umum (luas). atau dosa. at-Tasyri'. 2000). jarimah perkosaan dan lain-lain. al-Ahkam as Sultaniyah (Prinsip-prinsip Penyelenggaraan Negara Islam.73 Jarimah bisa dipakai sebagai perbuatan dosa –bentuk. 358. pembunuhan. jarimah pembunuhan. atau perbuatan yang berkaitan dengan politik dan sebagainya. hlm. yaitu ditujukan bagi sesuatu yang ada sangkut pautnya dengan kejahatan manusia dan tidak ditujukan bagi satuan perbuatan dosa tertentu. (Jakarta: Darul Falah. II: 4 Imam al-Mawardi.15 . perkosaan. hlm. Fadhli Bakri. pelanggaran yang 72 Abd Qadir Audah. Semua itu disebut dengan istilah jarimah yang kemudian dirangkaikan dengan satuan sifat perbuatan tadi. Hukum. terj.49 ‫الجناية لغة اسم لما يجنيه المرء من شر ما اكتسب واصطلحا‬ ‫اسم لفعل محرم شرعا سواء وقع الفعل على نفس او مال او غير‬ 72 ‫ذالك‬ Kata jarimah mengandung arti perbuatan buruk. atau sifat dari perbuatan dosa tersebut. macam. pembahasan fiqh yang memuat masalah-masalah kejahatan. Oleh karena itu. 74 73 Rahmat Hakim. Seperti jarimah pencurian. jelek. pencurian. Misalnya. Adapun pengertian jarimah segala tindakan yang diharamkan syari'at.

Jarimah yang termasuk jarimah hudud adalah jarimah zina. merampok. ada tiga unsur seseorang dianggap telah melakukan perbuatan jarimah. jarimah dapat dibedakan menjadi tiga. namun ada perbedaan dengan jarimah hudud dalam hal pengampunan. Kedua.50 dikerjakan manusia.75 Secara umum. Unsur formal adalah adanya nas yang melarang perbuatan-perbuatan tertentu disertai dengan ancaman hukuman atas perbuatanperbuatan tersebut. dan hukuman yang diancamkan kepada pelaku tersebut disebut Fiqh jinayah bukan Fiqh jarimah. Unsur moral adalah orang yang melakukan perbuatan pidana tersebut terkena taklif atau orang yang telah mukallaf. minum-minuman keras. 110-111. Ia menjadi hak Tuhan.76 Dilihat dari sanksi yang telah ditetapkan atau tidak oleh syara'. at-Tasyri'. yaitu unsur formal (ar-rukn asy-syar'i). keluar dari Islam dan memberontak. Pertama. Pada jarimah qisas. Unsur material adalah adanya perbuatan pidana. hukuman bisa berpindah kepada ad-diyat (denda) atau bahkan bebas dari hukuman. unsur material (ar-rukn al-madi). mencuri. Abd Qadir Audah. jarimah hudud yaitu jarimah yang hukumannya telah ditetapkan baik bentuk maupun jumlahnya oleh syara'. hlm. baik melakukan perbuatan yang dilarang atau meninggalkan perbuatan yang diperintahkan. jarimah qisas yaitu jarimah yang hukumannya telah ditetapkan oleh syara'. dan unsur moral (ar-rukn al-adabi). menuduh zina. Perbuatan yang 75 Ibid. apabila korban atau wali korban memaafkan pelaku. 76 . hakim tidak mempunyai kewenangan untuk mempertinggi atau memperendah hukuman bila si pelaku telah terbukti melakukan jarimah tersebut.

Sebagian Hanafiyah membaginya menjadi empat. Sedangkan pelukaan terbagi menjadi dua. (Jakarta: Bulan Bintang. Raja Grafindo Persada. sedang menurut istilah berarti peraturan larangan yang perbuatan-perbutan pidananya dan ancaman hukumannya tidak secara tegas-tegas disebutkan dalam al-Qur'an. melainkan diberikan kepada negara kewenangannya untuk menetapkannya sesuai dengan tuntutan kemaslahatan. Anwar Harjono. dan kekeliruan. Djazuli. seumpama (al-Mumasilah). hlm. Jarimah Qisas-Diyat 1. (upaya menanggulangi kejahatan dalam Islam). dengan menambahkan pembunuhan serupa kekeliruan. 1997). Sebagian Hanafiyah lainnya membaginya menjadi lima dengan menambahkan pembunuhan secara tidak langsung. Qisas Kata qisas kadang-kadang dalam hadis disebut dengan kata qawad.161. 79 78 77 . Para fuqaha mengartikan ta'zir dengan hukuman yang tidak ditemukan dalam alQur'an dan al-Hadis yang berkaitan dengan kejahatan yang melanggar hak Allah dan hak hamba yang berfungsi untuk memberi pelajaran kepada si terhukum dan mencegahnya supaya tidak mengulangi kejahatan serupa. yaitu: pembunuhan sengaja dan kekeliruan.51 termasuk dalam jarimah qisas adalah pembunuhan dan pelukaan. Jumhur membaginya menjadi tiga dengan menambahkan pembunuhan semi sengaja. yaitu pelukaan sengaja dan kekeliruan. tetapi diserahkan sepenuhnya kepada kebijaksanaan hakim/penguasa. hlm.159 A. Ta'zir berasal dari 'azzara. Pembunuhan terbagi kepada tiga. Hukum Islam keluasan dan keadilannya. Fiqh jinayah. yaitu pembunuhan sengaja.77 Ketiga.(Jakarta: PT. jarimah ta'zir78 yaitu jarimah yang hukumannya tidak ditetapkan baik bentuk maupun jumlahnya oleh syara'. Lihat abd alqadir 'awdah. at-Tasyri'. Adapun maksud yang Para ulama berbeda pendapat dalam membagi jarimah qisas. Maksudnya adalah semisal. yang menurut bahasa berarti mencela. semi sengaja. 1968). Ulama Malikiyah membaginya menjadi dua. II: 7-9. lihat.79 B.

Dia dibunuh kalau dia membunuh dan dilukai kalau dia melukai atau menghilangkan anggota badan orang lain. Hukuman ini disepakati oleh para ulama. seperti membunuh. menghilangkan anggota badan dengan sengaja. as-Sunnah. hlm. bentuk jarimah ini ada dua. demikian pula akal memandang bahwa disyariatkannya qisas adalah demi keadilan dan kemaslahatan. melukai. hlm.125. Hukum Pidana Islam. Bahkan ulama Hanafiyah berpendapat bahwa pelaku pembunuhan sengaja harus diqisas (tidak boleh diganti dengan harta). Al-Baqarah (2): 179 Rahmat Hakim. Oleh karena itu. Hal ini ditegaskan dalam al-Qur'an:81 . Ulama 80 Rahmat Hakim. Hukum pidana Islam. 125 81 82 . ‫و لكم فى القصاص حياة يا اولى اللباب‬ Qisas adalah hukuman pokok bagi perbuatan pidana dengan objek sasaran jiwa atau anggota badan yang dilakukan dengan sengaja.82 Sanksi pokok dalam pembunuhan sengaja yang telah di-naskan dalam alQuran dan al-Hadis adalah qisas. kecuali ada kerelaan dari kedua pihak.80 Qisas diakui keberadaannya dalam al-Qur'an. Abdul Qadir Audah mendefinisikan qisas sebagai keseimbangan atau pembalasan terhadap si pelaku tindak pidana dengan sesuatu yang seimbang dari apa yang telah diperbuatnya. Dalam ungkapan lain adalah pelaku akan menerima balasan sesuai dengan perbuatan yang dia lakukan.52 dikehendaki syara' adalah kesamaan akibat yang ditimpakan kepada pelaku tindak pidana yang melakukan pembunuhan atau penganiayaan terhadap korban. yaitu pembunuhan sengaja dan penganiayaan sengaja.

karena mereka tidak punya niat/maksud yang sah. karena perbuatannya tidak dikenai taklif. Bab Man Qatala fi 'immiya baina qaumain (Beirut: Dar al-Fikr. (Beirut: Dar al-Fikr. 1991) VI:261 Ibid.83 Ulama berbeda pendapat tentang sanksi bagi pembunuhan sengaja yang berupa kaffarah. t. 1988).. Di dalam al-Quran sendiri tidak mewajibkan kaffarah. Pembunuh adalah orang mukallaf (balig dan berakal). dalam al-Hadis disebutkan:87 83 Wahbah az-Zuhaili. hlm. II:173 Abu Dawud. Sedangkan pembunuhan sengaja adalah neraka jahannam. maka tempatnya juga terbatas yaitu hanya pada pembunuhan karena kesalahan. menurut jumhur ulama bahwa kaffarah dalam pembunuhan sengaja tidak wajib karena kaffarah adalah ketentuan syariah untuk beribadah. (Semarang: Maktabah Ahmad bin Said bin Nabhan. al-Muhazzab. Sunan Abi Dawud. IV: 183.84 Ada beberapa syarat yang diperlukan untuk dapat dilaksanakannya qisas yaitu:85 a. al fiqh. Al-fiqh al-Islam wa Adillatuh. Pembunuh menyengaja perbuatannya. Syarat-syarat bagi pembunuh Syarat-syarat bagi pembunuh ada tiga yaitu: 1). 2). pasti al-Quran menjelaskan secara detail. hadis nomor. maka tidaklah qisas apabila pelakunya adalah anak kecil atau orang gila. riwayat sufyan dari amr dan tawus 87 86 .53 Syafi'iyyah menambahkan bahwa disamping qisas pelaku pembunuhan juga wajib membayar kaffarah. 4539. kitab ad-Diyah.296 Wahbah az-Zuhaili.t. VI: 297 84 85 Abu Ishaq Ibrahim ibn Ali ibn Yusuf al-Fairuz Abadi asy-Syairazi.).86 Begitu juga dengan orang yang tidur/ayan. seandainya bagi pelaku pembunuhan sengaja wajib membayar kaffarah.

kakek/nenek yang membunuh anak/cucunya sampai derajat kebawah berdasarkan pada hadis: 88 ‫أنت ومالك لابيك‬ 89 ‫ل يقاد الوالد بالولد‬ 3). maka hukum qisas tidak berlaku. pezina muhsan. yaitu: 1). Syarat-syarat bagi yang terbunuh/korban Syarat-syarat bagi yang terbunuh (korban) ada tiga. Kitab at-Tijaroh. tetapi menurut jumhur tetap diqisas walaupun dipaksa. Al-Hafiz Ibnu Hajar al-'Asqalani.245.t. murtad. t. Adapun yang dipandang tidak dilindungi darahnya adalah kafir harbi.). (riwayat at-Tirmidzi dan ibn Majah). Korban bukan anak/cucu pembunuh (tidak ada hubungan bapak dan anak). 2). jika orang muslim atau zimmi membunuh mereka. artinya jika membunuhnya karena terpaksa. riwayat jabir ibn Abdullah. 89 88 .). Pembunuh mempunyai kebebasan bukan dipaksa. hadis nomor 1191. b. t.t. hlm. Bab ma li ar rajul min ma li waladih. Korban adalah orang yang dilindungi darahnya. penganut zindiq dan pemberontak. hadis nomor: 2291. Korban sama derajatnya dengan membunuh dalam Islam dan kemerdekaannya. II: 769. Kitab al-Jinayah. Sunan Ibn Majah. statemen ini dikemukakan oleh jumhur (selain Ibn Majah.54 ‫من قتل عمدا فهو قود‬ 3). maka menurut Hanafiyah tidak diqisas. (Bandung: Maktabah Dahlan. tidak diqisas ayah/ibu. (Beirut: Dar Ihya al-Kitab al-Arabiyah. Bulug al-Maram.

hlm165. Al-Baqarah.55 Hanafiyah). Al-Maidah (5): 45 Jaih Mubarok. Adapun hadis nabi yang menyatakan bahwa "muslim tidak diqisas karena membunuh kafir". tapi cukup persamaan dalam kemanusiaannya. ayat di atas menunjukkan bahwa dalam qisas tidak harus ada kesetaraan.93 Hal ini dikuatkan oleh sebuah hadis yang menyatakan bahwa Nabi pernah melaksanakan qisas terhadap muslim yang membunuh Yahudi.90 Ulama Hanafiyah tidak mensyaratkan persamaan dalam kemerdekaan dan agamanya. 167. Kaidah Fiqh jinayah. bukan kafir zimmi atau musta'min. Sebab. Hlm. orang merdeka yang membunuh budak. Allah berfirman: 91 ‫يا أيها الذين أمنوا كتب عليكم القصاص في القتلى‬ 92 ‫و كتبنا عليهم فيها ان النفس بالنفس‬ Menurut Hanafiyah.(2): 178. sebagaimana terlihat dalam hadis berikut: 90 Jaih Mubarok. mereka berargumen dengan keumuman ayat qisas yang tidak mendiskriminasikan antara satu dengan yang lainnya. kafir yang dimaksud adalah kafir harbi. kalimat jiwa dibalas dengan jiwa" menunjukan bahwa dasar qisas itu adalah hilangnya jiwa atau nyawa sehingga tidak ada perbedaan antara orang merdeka dengan hamba atau muslim dengan kafir. Dengan ketentuan ini maka tidak diqisas seorang Islam yang membunuh orang kafir. 91 92 93 . Kaidah fiqh jinayah.

meskipun kedudukannya lebih rendah. h. Kalimat "orang merdeka dengan orang merdeka". wali korban dari suatu kabilah (terutama kabilah yang kuat) meminta balasan yang lebih dari seharusnya. "hamba dengan hamba". dan "wanita dengan wanita". kaidah fiqh jinayah. tidak menunjukkan adanya kafaah. 167-168. (Dar al-Nahdah al-Arabi. Ayat tersebut menjelaskan bahwa orang yang harus diqisas adalah pembunuhnya. Kitab alHudud wa ad-Diyyat wa Gairuh. sedangkan pembunuhnya (dari kabilah lain) adalah seorang wanita. Misalnya. hanya sekedar mencontohkan pelaku dan korbannya dengan tidak menafikan kebalikannya. korban yang terbunuh dari suatu kabilah adalah laki-laki merdeka. Pada masa jahiliyah. 1986). III: 135. "hamba dengan hamba". 94 . (Bayrut: Alam al-Kutb.95 Ali bin 'Amr Abu al-Husayn al-Daruqutni al-Bagdadi.56 ‫أن النبي صلي ال عليه وسلم أقاد مسلما قتل يهوديا وقال‬ 94 ‫الرمادي أقاد مسلما بذمي وقال أنا أحق من وفي بذمته‬ Sedangkan ayat yang dijadikan landasan oleh jumhur yang menyatakan bahwa "orang merdeka dengan orang merdeka". Permintaan ini seringkali menimbulkan konflik (bahkan sampai terjadi peperangan) antar kabilah jika tidak dipenuhi. dan wanita dengan wanita". 1982). Wali korban beserta kabilahnya meminta balasannya tidak sekedar wanita yang membunuh tetapi ditambah dengan laki-laki merdeka. hlm. al-Qisas wa al-Hayat: Dirasah Muqaranah bain asy-Syari'ah al-Islamiyah wa al-Qanun al-Wad'i.Lihat Muhammad 'abd al-Hamid Abu Zayd. Sunan ad-Daruqutni. Sebab ayat tersebut dimaksudkan untuk menjawab kebiasaan jahiliyah yang menerapkan qisas secara berlebihan. 93-94. 95 Jaih mubarok.

Sunan Abi Dawud. Syarat-syarat bagi perbuatannya Hanafiyah mensyaratkan. Tidak ada perbedaan antara tua dengan muda atau sehat dengan sakit. Kitab aj-Jihad. jika tidak langsung. . baik pembunuhan itu langsung atau karena sebab. riwayat Kutaibah bin Sa'id dari ibn Ishaq dan Yahya bin Sa'id. tindak pidana pembunuhan yang dimaksud harus tindak pidana langsung bukan bukan karena sebab tertentu. III: 80. para fuqaha sepakat bahwa di antara mereka tidak ada perbedaan. Bab fi as-Sariyyah. 97 96 Abddul Qadir Audah.57 Adapun berkenaan dengan laki-laki muslim dengan perempuan muslim. pelakunya wajib dikenai qishas karena keduanya berakibat sama. II: 132. maka tidak wajib diqisas. at-Tasyri'. maka hanya dikenai membayar diyat. karena tujuan dari diwajibkanya qisas adalah pengokohan dari pemenuhan Abu Dawud. Syarat-syarat bagi wali korban Menurut Hanafiyah. Hal ini didasarkan atas keumuman ayat yang menyatakan bahwa "jiwa dibalas denga jiwa" dan sabda Nabi saw berikut: 96 ‫المسلمون تتكافأ دماؤهم‬ c. wali korban yang berhak untuk mengqisas haruslah orang yang diketahui identitasnya. Sedangkan jumhur tidak mensyaratkan itu. Kedudukan mereka setara dalam hal qisas.97 d. jika tidak. untuk dapat dikenakan qishas.

3) Ketidakadilan membunuh sesuai dengan yang telah disepakati. Jika ternyata ada maksud membunuh. Adapun hubungan suami isteri tidak menjadi halangan dilakukannya qisas.58 hak. Berpijak pada keterangan tentang syarat-syarat qishas ada beberapa hal yang menghalangi dilaksanakannya qisas. hal ini selama tidak ada maksud membunuh yang dapat dibuktikan dengan qat'i. Ini terjadi karena adanya kemungkinan masuknya unsur syubhat sehingga qisas tidak bisa dilaksanakan. tetap dikenai qisas jika terlibat dalam kesepakatan kejahatan itu. Berbeda dengan pendapat ulama malikiyah yang menyatakan bahwa orang yang hadir atau membantu walaupun tidak melakukan secara langsung. atau ia hanya memberikan semangat. yaitu ada enam hal: 1) Keberadaan pembunuh sebagai orang tua korban Menurut para Fuqaha Mazhab. keberadaan pembunuh sebagai orang tua si terbunuh menghalangi dilaksanakannya qisas. bantuan. seperti pengintai atau penjaga pintu. 2) Perbedaan derajat antara pelaku dan korban pembunuhan dalam keIslaman dan kemerdekaannya. Sedangkan pembunuhan dari orang yang tidak diketahui identitasnya akan mengalami kesulitan dalam pelaksanaanya. Dan tiga syarat lagi menurut Hanafiyah yaitu: . maka orang tua korban juga harus diqisas. dan tidak melakukan secara langsung. tetapi Ulama Malikiyah memberi batasan. apabila ada kesepakatan untuk melakukan pembunuhan. tetapi ternyata tidak semua yang menyepakati ikut hadir dalam pembunuhan. Ini menurut jumhur fuqaha kecuali Hanafiyah. maka menurut jumhur ulama orang yang tidak melakukan langsung itu hanya dita'zir.

maka tidak ada kewajiban bagi pelaku untuk membayar diyat. al-Fiqh. Sunan. (2). tetapi pembunuh dengan kesadarannya. Mereka boleh mengqisas/memaafkannya secara mutlak atau memaafkan dari qisas dengan membebani diyat sebagai penggantinya. yaitu: jika mereka 98 Wahbah az-Zuhaili.59 4) Pembunuhan itu terjadi secara tidak langsung (karena satu sebab tertentu) 5) Wali korban majhul (tidak diketahui identitasnya) 6) Pembunuhannya terjadi di Dar al-kuffar98 Qisas wajib dikenakan setiap pembunuh. Sesuai dengan ayat: ‫يا أيها الذين أمنوا كتب عليكم القصاص في القتلى الحر بالحر و‬ 99 ‫العبد بالعبد‬ 100 ‫من قتل عمدا فهو قود‬ Kedua dalil ini dengan tegas menyatakan bahwa hukum qisas bagi pembunuh adalah tertentu/pasti. Tetapi tidak berarti wali terbatas dalam menentukan sikapnya. 178 Abu Dawud. tetapi wali korban mempunyai dua pilihan. Hanabilah berpendapat bahwa hukuman bagi pelaku pembunuhan sengaja tidak hanya qisas. kecuali jika dimaafkan oleh wali korban. Al-Baqarah. VI: 274-275. Para ulama madzhab sepakat bahwa sanksi yang wajib bagi pelaku pembunuhan sengaja adalah qisas. IV: 183 99 100 . Logika dari statement ini adalah: jika wali korban memaafkan secara mutlak (tidak menuntut diyat). hendaknya membayar diyat sebagai kompensasi pemberian maafnya wali.

102 103 101 Al-Baqarah (2) : 178 Sayid Sabiq. alih bahasa H. maupun ta'zir merupakan hak hakim. Kitab ad-Diyah. (Beirut: Dar al-Fikr. maka dilaksanakanlah hukum qisas tetapi jika menginginkan diyat maka wajiblah membayar diyat tanpa menunggu keridlaan pembunuh. namun keabsahan keluarga korban untuk melaksanakan ada dibawah wewenang hakim. 1981). Artinya. Tuntutan hukuman qisas merupakan hak para wali (keluarga korban). 1997). qisas. bahkan pengganti dari qisas. jika wali korban mengampuni. Karena dalam kaidah dasar syara' yang telah disepakati disebutkan bahwa pelaksanaan sanksi hudud. Sahih al-Bukhari. Dan jika ternyata wali korban memaafkan secara mutlak.A Ali (Bandung: PT. pelaku tetap berkewajiban membayar diyat. wajib bagi pelaku membayar diyat.60 menghendaki qisas. Seandainya Allah mewajibkan qisas saja. fikih sunnah. al-Maarif. Kemudian dari redaksi ayat tersebut berarti Allah mewajibkan al-Itba' karena adanya pemberian maaf dari wali. X: 67 . VIII: 38. tentu Allah tidak mewajibkan diyat apabila ada ampunan atau maaf wali secara mutlak. Hal ini karena mereka berpendapat bahwa diyat adalah salah satu dari kerusakan jiwa. Dasar hukum yang digunakan adalah hadis rasulullah SAW: 101 ‫من قتل له قتيل فهو بخير النظرين اما ان يؤدي و اما ان يقاد‬ Dan firman Allah swt dalam al-Qur'an: 102 ‫فمن عفي له من أخيه شيئ فاتباع بالمعروف واداء اليه باحسان‬ Dari ayat ini dapat dipahami. jika terjadi pembunuhan hendaklah pelakunya diselidiki.103 Abu Abdullah Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim ibn al-Mughirah ibn Bardizbah al-Ja'fi al-Bukhari. Artinya tuntutannya ini harus melalui pengadilan.

suami atupun isteri. semua asabah bin nafsi dengan prioritas. maka dikhususkan kepada asabah seperti dalam perwalian pernikahan. seperti anak dan saudara kandung. maka menurut Abu Hanifah. 104 Abd Qadir Audah. II: 140 . Tetapi jika anak perempuan kandung bersama adanya ayah. Hanabilah dan qaul rajihnya asy-Syafi'i yang berhak mengqisas adalah setiap ahli waris yang berhak mewarisi harta si korban baik zawil furud maupun asabah.61 Selanjutnya apabila pelaksanaan qisas akan dilakukan oleh para wali sendiri (bukan oleh hakim dan algojonya). Derajat atau kekuatan ahli waris perempuan tadi lebih kuat dibanding para asib. sehingga bibi dari pihak ayah /ibu tidak boleh. keluarga yang dekat didahulukan dari pada keluarga yang jauh. yaitu perempuan boleh bertindak sebagai pelaksana qisas dengan tiga persyaratan: a.104 Sedangkan menurut ulama Malikiyah yang berhak mengqisas adalah keluarga dari pihak ayah yang laki-laki. misalnya anak perempuan kandung bersama dengan adanya paman. ia tidak dapat mengqisas. itu dapat melaksanakan qishas. Perempuan itu merupakan ahli waris terbunuh. b. at-Tasyri'. laki-laki maupun perempuan. Perempuan tidak boleh mengqisas karena qisas itu menghilangkan fitnah. Tetapi Malikiyah memberikan kelonggaran.

Perempuan itu dalam derajatnya mempunyai laki-laki yang asabah. lalu diberikan kepada wali si terbunuh. Dengan demikian tidak ada alasan bagi para wali menuntut diyat dari harta peninggalan si pembunuh yang kini telah menjadi milik para ahli warisnya. sedangkan hal tersebut telah tiada.105 Jika yang mengqisas masih kecil/gila maka ditunggu sampai kesempurnaannya dan diserahkan kepada hakim.. Adanya ampunan dari seluruh atau sebagian wali korban dengan syarat pemberi maaf itu sudah balig dan tamyiz. Pendapat ini menurut Imam Ahmad serta salah satu pendapat Imam Syafii.106 Hukuman qisas menjadi gugur dengan sebab-sebab sebagai berikut: a. 106 . Wahbah az-Zuhaili. hlm. maka dikecualikan saudara perempuan (tidak dapat mengqisas) karena adanya ibu. VI: 280. Sedangkan menurut Imam Malik dan Hanafiyah tidak wajib diyat. al-Fiqh. karena jiwa pelakulah yang menjadi sasarannya. Matinya pelaku kejahatan Kalau orang yang akan menjalani qisas telah mati terlebih dahulu.62 c. sebab hak dari mereka (para wali) adalah jiwa. tidak usah menunggu sampai baligh/sadarnya demi kemaslahatan pelaksanaan qisas itu sendiri. maka gugurlah qisas atasnya. 105 Ibid. Dan menurut Malikiyah. b. 141. Pada saat itu diwajibkan ialah membayar diyat yang diambilkan dari harta peninggalannya.

Perbedaan tersebut adalah sebagai berikut: Menurut Hanafiyah: ‫يسقط القصاص برضا المجني عليه‬ Gugurnya qisas disebabkan karena adanya kerelaan atau izin korban yang dapat dipersamakan dengan pemaafan. 109 110 .108 e. al-Tasyri'. seperti kasus euthanasia.107 d. Kaidah fiqh jinayah.110 Pendapat Malikiyah yang rajih dan sebagian Syafi'iyah: ‫ل يسقط القصاص برضا المجني عليه‬ Perbedaannya dengan al-Afwu (pengampunan) adalah kalau sulh itu pengguguran qisas dengan ganti rugi (kompensasi). Selain itu. Hlm. Akan tetapi mereka berbeda pendapat tentang posisi kerelaan tersebut dengan pemaafan korban atau wali korban yang dapat menggugurkan qisas atau diyat (bila dimaafkan secara mutlak). lihat Wahbah az-Zuhaili. Adanya kerelaan/ izin korban. Adanya penuntutan qisas.63 c. al-Fiqh. I: 777-778 dan lihat Wahbah az-Zuhaili. at-Tasyri'. VI: 294. Telah terjadi sulh (rekonsiliasi) antara pembunuh dan wali korban.260. 108 107 Abdul Qadir Audah. hlm. pada dasarnya para fuqaha sepakat bahwa adanya kerelaan korban untuk dibunuh tidak membolehkan seseorang melakukan pembunuhan.109 Dalam hal adanya kerelaan/izin korban. kerelaan itu menjadi syubhat yang dapat menggugurkan hudud. hukuman berpindah kepada diyat. al-Fiqh. sedangkan al-Afwu terkadang pengampunan qisas secara mutlak. I: 440-441.171 Abd al-Qadir awdah. Jaih mubaraok. Oleh karena itu.

112 2. Pemaafan dari korban itu lebih utama dari pada keluarga sebab pemaafan itu menjadi hak bagi korban. Oleh karena itu. Sedangkan definisi menurut syar'i ialah wajibnya membayar sejumlah harta benda yang telah ditentukan syariat karena pembunuhan jiwa atau karena pencederaan badan.64 Kerelaan korban tidak dapat dipersamakan dengan pemaafan karena kerelaan itu ada sebelum terjadi jarimah pembunuhan. Pembunuhan terhadap jiwa. pembunuhan tersebut tetap merupakan pembunuhan sengaja yang harus dihukum dengan qisas. 112 Menurut bahasa. sedangkan pemaafan ada setelah terjadi jarimah. Ibid. dan 2. 113 . pencederaan badan.111 Pendapat Malikiyah yang arjah (lebih kuat) dan sebagian Syafi'iyah: ‫يسقط عقوبتى القصاص والدية برضا المجني عليه‬ Kerelaan korban dapat dipersamakan dengan pemaafan baik dari hukum asli (qisas) maupun penggantinya (diyat). Diyat Diyat113 adalah: 111 Ibid. diyat artinya membayar tebusan dengan sejumlah harta benda karena perbuatan: 1.

dua ratus ekor domba bagi 114 Abd Qadir 'Audah. Menurut kesepakatan ulama. Adapun dalil disyariatkannya diyat adalah firman Allah SWT: ‫ومن قتل مؤمنا خطأ فتحرير رقبة مؤمنة و دية مسلمة الى اهله‬ 115 ‫ال ان يصد قوا‬ Walaupun ayat ini dalam konteks pembunuhan bersalah namun para ulama sepakat akan wajibkan diyat dalam pembunuhan sengaja apabila qisas gugur karena suatu sebab. dan lain sebagainya. artinya pembayaran diyat itu terjadi karena berkenaan dengan kejahatan terhadap jiwa/nyawa seseorang. Dua ratus ekor sapi bagi pemilik sapi. yang kadar nilainya disesuaikan dengan unta. yang wajib adalah seratus ekor unta bagi pemilik unta. uang. perak. seperti emas. Pada mulanya pembayaran diyat menggunakan unta tetapi jika sulit didapatkan maka pembayarannya dapat menggunakan barang lainnya. pakaian. at-Tasyri'.65 ‫العقوبة البدلية الولى لعقوبة القصاص فإذا امتناع القصاص‬ ‫لسبب من اسباب المتناع او لسباب السقوط وجبت مالم يعف‬ 114 ‫الجانى عنها أيضا‬ Dengan definisi ini berarti diyat dikhususkan sebagai pengganti jiwa atau yang semakna dengannya. II:261 An-Nisa (5): 92 115 .

ad-Daruqutni dari Ibn Mas'ud. 1994). 30 ekor jad'ah (unta berumur 5 tahun) c. HR. fikih sunnah.2. III: 248. hadis no. VI. Sebagaimana Nabi SAW pernah bersabda:118 ‫ال وإن قتيل الخطأ شبه العمد بالسوط و العصا و الحجر مائة من‬ ‫البل فيها اربعون شنية الى بازل عمها كلهن خلفة‬ Jadi seratus ekor unta itu bila diperinci adalah: a. 40 ekor khilfah (unta yang sedang mengandung) Adapun diyat mukhafafah itu dibebankan kepada pelaku pembunuhan kesalahan. dua belas ribu dirham untuk pemilik perak. 30 ekor hiqqah (unta berumur 4 tahun) b. Adapun diyat mugalazah menurut jumhur dibebankan kepada pelaku pembunuhan sengaja dan menyerupai sengaja. X: 93 Wahbah az-Zuhaili. "Kitab al-Jinayat".t). Sunan an-Nasa'i. (Mesir: al-Bab al-Halabi.116 Diyat ada dua macam. (Bandung: Maktabah Dahlan. hal ini berdasarkan riwayat Ibn Mas'ud.66 pemilik domba. "Bab ad-Diyat". Sedangkan menurut Malikiyah. dan dua ratus stel pakaian untuk pemilik pakaian.117 Jumlah diyat mugalazah adalah seratus ekor unta. 118 . seribu dinar untuk pemilik emas. 119 Muhammad ibn Ismail ibn Shalah al-Amir al-Kahlani al-Shan'ani. 304. Nabi bersabda:119 116 Sayyid Sabiq. yang empat puluh di antaranya sedang mengandung. yaitu diyat mugalazah dan diyat mukhafafah. Subul as-Salam Syarah Bulug al-Maram. al-Fiqh. dibebankan kepada pelaku pembunuhan sengaja apabila waliyuddam menerimanya dan kepada bapak yang membunuh anaknya. VIII: 36 diriwayatkan dari Qasim bin Rabi'ah. 117 An-Nasa'i. t.

tetapi juga pada 'aqilah (wali/keluarga pembunuh). Pembunuhan itu terhadap mahram seperti: ibu dan saudara perempuan. zul Hijjah. dan dibayarkan secara kontan. Muharram dan Rajab c. 20 ekor bintu ma'khad (unta betina berumur 2 tahun) b.VII: 305-306 . zul Qa'dah. Menurut Hanafiyah. 20 hiqqah. dan e. tidak sengaja. Hanya 120 Wahbah az-Zuhaili. pembayaran diyatnya secara berangsur-angsur selama tiga tahun. 20 ekor ibnu ma'khad (unta jantan berumur 2 tahun) c. 20 ekor binti labun (unta betina berumur 3 tahun) d. Pembunuhan itu terjadi di tanah haram Mekkah b. maupun kesalahan. dan dibayar secara berangsur-angsur selama tiga tahun. Pembunuhan itu terjadi di bulan haram. Sedangkan diyat pembunuhan syibhu amd adalah diyat mugalazah yang pembebanannya tidak hanya pada pelaku. 20 jad'ah Selanjutnya ulama Syafi'iyyah dan Hanabilah berpendapat bahwa pembunuhan tersalah dapat dikenai diyat mugalazah apabila: a. baik pembunuhan sengaja.120 Jadi diyat pembunuhan sengaja adalah diyat mugalazah yang dikhususkan pembayarannya oleh pelaku pembunuhan.67 ‫دية الخطأ اخماس عشرون حقة وعشرون جذعة وعشرون بنات‬ ‫مخاض وعشرون بنات لبون وعشرون بني لبون‬ Jadi ketentuannya adalah sebagai berikut: a. al-Fiqh.

123 121 Wahbah az-Zuhaili. Bidayah alMujtahid wa Nihayah al-Muqtasid. Hal ini berdasarkan firman Allah swt: 122 ‫كل امرئ بما كسب رهين‬ Adapun jika pembunuhan disengaja itu dilakukan oleh anak kecil atau orang gila. Karena keringanan (pemberian tempo) itu hanya berlaku bagi 'aqilah. t. Muhammad ibn Ahmad ibn Muhammad ibn Ahmad Ibn Rusyd al-Qurtuby. (Indonesia: Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyyah. II. 'Aqilah tidak menanggungnya karena setiap manusia dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya dan tidak dapat dibebankan kepada orang lain. jika qisas dilakukan sekaligus maka diyat penggantinya juga harus secara kontan dan pemberian tempo pembayaran merupakan suatu keringanan. Mereka menjelaskan bahwa sengaja atau kesalahannya anak kecil itu sama dengan argumant ada orang gila menerkam seorang laki-laki dengan pisau kemudian memukulnya.: 297 123 . padahal 'amid pantas dan harus diperberat dengan bukti diwajibkannya 'amid membayar diyat dengan hartanya sendiri bukan dari 'aqilah. 122 At-Tur (52): 21. Sedangkan jumhur ulama berpendapat bahwa diyat pembunuhan sengaja harus dibayar kontan dengan hartanya karena diyat merupakan pengganti qisas.68 bagi 'amid (pembunuh sengaja) lebih diperberat dengan kewajiban membayar diyat mughaladzah dengan hartanya sendiri.. Malik dan Syafi'i menyatakan diyatnya anak kecil adalah setengah kecuali pemerintah membebankan pada aqilahnya. VI: 307.121 Para ulama sepakat bahwa diyat pembunuhan sengaja dibebankan pada para pembunuh dengan hartanya sendiri. al-Fiqh.t).

Tetapi baik ia sudah mumayyiz atau belum ia tidak dapat di qisas.130- 125 131 . Kelima kebutuhan hidup yang primer ini (daruriyyat) 124 Asy-Syairazi. jika belum mumayyiz maka dianggap kesalahan (khata') secara pasti.124 C. Hanya saja ia dibebankan diyat dari hartanya sendiri dan 'aqilah tidak menanggung jika ia (pada saat berbuat jahat) sudah mumayyiz. 2001). II:173-174. Topo Santoso. Menggagas Hukum Pidana Islam. hlm.Tujuan Fiqh Jinayah Pembuat hukum tidak menyusun ketentuan-ketentuan hukum dari syariah tanpa tujuan apa-apa. (Bandung: asy Syaamil. Ini merupakan hal-hal di mana kehidupan manusia sangat tergantung sehingga tidak dapat dipisahkan. Apabila kebutuhan-kebutuhan ini tidak terjamin. karena tidak ada baginya taklif secara syara'. Dengan demikian untuk memahami pentingnya suatu ketentuan.69 Menurut Syafiiyah bahwa yang jelas perbuatan anak kecil itu dianggap sengaja apabila ia telah mumayyiz. Para ahli hukum Islam mengklasifikasi tujuan-tujuan dari fiqh jinayah yang merupakan tujuan-tujuan yang luas dari syariah sebagai berikut:125 Tujuan pertama Menjamin keamanan dari kebutuhan-kebutuhan hidup. Melainkan di sana ada tujuan tertentu yang luas. mutlak perlu mengetahui apa tujuan dari ketentuan itu. al-Muhazzab. akan terjadi kekacauan dan dan ketidaktertiban di mana-mana.

Tujuan kedua Tujuan berikutnya adalah menjamin keperluan-keperluan hidup (keperluan sekunder) atau disebut hajiyyat. Tujuan ketiga . e. Hifz ad-Dĩn (memelihara agama). Hifz al-Nasli (memelihara keturunan). Hifz al-Mãl (memelihara harta). Hifz al-'Aqli (memelihara akal pikiran). Hifz an-Nafsi (memelihara jiwa). Dengan kata lain. keperluan-keperluan ini terdiri dari hal-hal yang menyingkirkan kesulitan-kesulitan dari masyarakat dan membuat hidup mudah bagi mereka. Ketiadaan fasilitas-fasilitas tersebut mungkin tidak menyebabkan kekacauan dan ketidak tertiban. Ini mencakup hal-hal yang penting bagi ketentuan itu dari berbagai fasilitas untuk penduduk dan memudahkan kerja keras dan beban tanggungjawab mereka. Syariat telah menetapkan pemenuhan. akan tetapi dapat menambah kesulitan-kesulitan bagi masyarakat. b. kemajuan dan perlindungan tiap-tiap kebutuhan itu dan menegaskan ketentuan-ketentuan yang yang berkaitan dengannya sebagai ketentuan yang esensial. d. yaitu: a.70 dalam keputusan hukum Islam disebut dengan istilah al-Maqasid asy-Syari'ah alKhamsah (tujuan-tujuan syariah). c.

Itupun baru dapat ditegakkan setelah seluruh unsur-unsur .71 Tujuan ketiga dari perundang-undangan Islam adalah membuat perbaikanperbaikan. Aspek Kemanusiaan dalam Fiqh Jinayah Salah satu kesempurnaan syari'at Islam adalah adanya aturan-aturan yang berkenaan dengan hukum publik. sehingga kesan bahwa hukum pidana Islam bersifat kejam dan bertentangan dengan hak asasi manusia. atau dibunuh (diqisas). melainkan juga menyediakan aturan-aturan yang bersifat imperatif. yaitu menjadikan hal-hal yang dapat menghiasi kehidupan sosial dan menjadikan manusia mampu berbuat dan urusan-urusan hidup secara lebih baik (keperluan sekunder) atau tahsinat. Baik dalam alQur'an maupun dalam as-Sunnah. dipukul dengan menggunakan kayu (dijilid). Ketika mendengar kata "Hukum Pidana Islam" (fiqh Jinayah). Islam tidak sekedar mengajarkan ajaran moral saja. dilempar batu sampai meninggal (dirajam). Ketiadaan perbaikan-perbaikan ini tidak membawa kekacauan dan anarki sebagaimana dalam ketiadaan kebutuhan-kebutuhan hidup. Padahal apa yang dibayangkan tersebut hanya merupakan salah satu bagian saja dari hukum pidana Islam. juga tidak mencakup apa-apa yang perlu untuk menghilangkan kesulitankesulitan dan membuat hidup mudah. Istilah yang umum bagi aturan-aturan tersebut adalah al-Jinayat yang sering kali diartikan dengan Hukum Pidana Islam. Sering kali bayangan tersebut terhenti di situ. yang langsung terbayang di benak kebanyakan orang adalah potong tangan. D. terdapat sanksi-sanksi yang mengikat yang harus ditegakan di dunia. bukan sekedar ancaman di akhirat.

Bila kejahatan ini terus dibiarkan. akal dan agama. merupakan pelanggaran terhadap hak hamba. Allah swt telah menetapkan hukum yang terdiri tiga tingkatan yaitu: qisas (balasan setimpal). nyawa manusia jadi sangat murah. keturunan. bahkan sangat kejam. Karena itu Allah memperingatkan dalam al-Qur'an:126 126 Al-Baqarah (2): 179 . merupakan pelanggaran terhadap hak Allah. Untuk menyelesaikan problem ini. Sepintas. Memang ia hukuman yang kejam. atau permintaan maaf). harta. Hukum Pidana Islam (fiqh jinayat) ini mengatur setiap perbuatan manusia yang dilarang yang berkenaan dengan tubuh. karena ambruknya wibawa dan penegakan hukum. Mana pri kemanusiaan yang dipunyai manusia?. Selebihnya terdapat asas-asas serta konsepkonsep lainnya yang luput dari perhatian. Yakni hal-hal yang berkaitan dengan kehormatan agama. Sedangkan kejahatan yang berkaitan dengan kehormatan jiwa manusia.72 jarimahnya (tindak pidananya) terpenuhi. jiwa maupun dengan hal-hal lainnya seperti kehormatan. Inilah yang disebut hududullah (batas-batas hukum Allah). Kejahatan-kejahatan yang oleh syariat telah ditetapkan jenis hukumannya. Dan jika semuanya tidak terpenuhi maka ulil amri sebagai penguasa negara berhak memberikan hukuman atas pertimbangan kemaslahatan umat berupa hukuman ta'zir. denda-damai (diyat). Lihatlah. Inilah yang mengandung konsekuensi hukum qisas. eksistensi kehidupan manusia akan terancam. keturunan dan ketenteraman umum. yang semuanya merupakan maqasid asy-Syar'i. hukum qisas nampak kejam.

Bagi sebagian orang. sumber pemikiran Islam. karena korban atau ahli warisnya (bila korban meninggal) berhak membalas dengan perlakuan setimpal.2 127 . Dan tanggapan kedua isterinya sebagai ahli waris korban (waliyuddam) sangat kecewa karena putusan itu tidak sesuai dengan harapan. jenis hukuman dinilai tidak manusiawi. Qisas pembalasan yang hak. Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat hanya mengganjar Tomy dengan hukuman penjara 15 tahun. menjadi benci terhadap hukum Islam lalu memilih hukum lain (KUHP). Dengan qisas.73 ‫و لكم فى القصاص حياة يا اولى اللباب‬ Kekejaman memang harus dihentikan dengan hukuman yang setimpal agar bisa menjerakan. hlm. Anak-anakpun kehilangan sosok sang ayah yang biasa membimbing mereka sehari-hari. primitif. maka pelaku sebelum berbuat jahat akan pikir-pikir dahulu. jelas tidak sepadan. 2003).127 Abdurrahman Madjrie dan Fauzan Al-Anshari. Padahal penyakit sosial yang bernama pembunuhan hanya efektif dicegah dengan obat yang disediakan oleh yang menciptakan nyawa manusia. atau ketinggalan zaman. Mereka telah kehilangan suami sekaligus pemimpin rumah tangga dan pencari nafkah bagi keluarganya. Sebagai contoh kasus Tomy Suharto sebagai terpidana pembunuhan atas hakim agung Syafiuddin Kartasasmita. barbar. yaitu dengan qisas. Karenanya. (Jakarta: Khairul Bayan. orang-orang yang telah menjadi korban penyesatan opini semacam ini. Apalagi jika dibandingkan dengan penderitaan yang mereka alami sepeninggal sang suami. Alhasil putusan hakim itu belum memenuhi rasa keadilan yang mereka tuntut.

4. untuk menjaga keamanan dan keselamatan jiwa dan kehidupan manusia di dunia.91-92 . 128 Ibid. yaitu:128 1. dan keluarga memaafkan maka ia akan terbebas dari hukum qisas dan berganti kepada diyat sebagai ganti rugi atas tuntutan keluarga. Dari kasus ini dapat dibandingkan bahwa ternyata KUHP kurang sesuai dengan tindakan yang diperbuat. Bila hal ini diselesaikan denga hukum Islam maka yang akan terjadi.74 Namun kedua isterinya hanya pasrah karena tidak bisa berbuat apa-apa selain trerpaksa menerima keputusan tersebut. Mengingat keduanya tidak berhak dan tidak bisa keputusan Hakim tersebut. untuk membasmi kejahatan di muka bumi dan kemaksiatan lainnya yang sering dilakukan oleh para penjahat. 3. Untuk menegakkan hukum Allah sebagai bukti ketaatan kaum muslimin kepada hukum Allah. Minimal dapat mencegah merebaknya kejahatan dan kerusakan di muka bumi. Di sinilah aspek keadilan dan kemanusiaan dalam hukum Islam. hlm. untuk memberikan pelajaran dan peringatan yang keras bagi orangorang yang ada niatan berbuat kejahatan agar tidak meneruskan keinginannya. Maka dapat ditarik kesimpulan dari keutamaan Hukum Pidana Islam ini sebagi hikmah yang harus disyukuri.. 2. tidak ada rasa keadilan atas tindakan yang dilakukan dan juga bagi keluarga korban tidak punya hak apa-apa untuk menuntut hak mereka. jika Tomy meminta maaf.

BAB IV PRAKTEK EUTHANASIA DALAM PRESPEKTIF FIQH JINAYAH A. Terlebih-lebih menjaga atau memelihara jiwa atau an-nafs. Atau dengan kata lain manusia . Oleh karenanya setiap orang diharuskan untuk menjalani segala perbuatan yang dapat membahayakan dirinya atau orang lain. Sebagaimana pernah terjadi pada era kehidupan Rasulullah dan pemerintahan khalifah penggantinya.75 5. Euthanasia Aktif sebagai Jarimah Masalah menjaga kesehatan dalam Islam sangat diperhatikan. Artinya. sebagai mekanisme pengamanan bagi semua warga negara yang tinggal di negeri yang memberlakukan hukum Allah sebagai konstitusinya. segala upaya diusahakan untuk memberi pelayanan kesehatan agar dapat memperhatikan kehidupan seorang manusia.

Dalam hubungan ini euthanasia. Di antara firman Allah menyinggung hal jiwa atau nafs adalah sebagai berikut: 129 ‫و انا لنحن نحي و نميت و نحن الوارثون‬ 130 ‫و انه هو امات و احي‬ Begitu besarnya penghargaan Islam terhadap jiwa. Sebagai mana firman Allah: ‫و لكل أمة أجل فاذا جاء أجلهم ل يستأخرون ساعة و ل‬ 131 ‫يستقدمون‬ 132 ‫و لن يؤخر ال نفسا اذا جاء أجلها و ال خبير بما تعملون‬ 129 Al-Hijr (15): 23 An-Najm (53): 44. Masalah kematian setiap manusia itu sudah ditentukan batasannya oleh Allah swt. khususnya euthanasia aktif dapat dikategorikan sebagai perbuatan untuk menghilangkan jiwa atau penghentian kehidupan manusia. sehingga segala perbuatan yang mengarah kepada tindakan untuk menghilangkan jiwa manusia akan diancam dengan hukuman qisas-diyat atau ta'zir. Sebab masalah hidup dan mati itu merupakan urusan Allah SWT. Al-A'raf (7): 34 Al-Munafiqun (63): 11 130 131 132 . maka apabila telah datang kematiannya tidak seorangpun yang dapat mengundurkan atau memajukan walau sesaatpun. dan oleh karenanya pula hal tersebut merupakan perbuatan yang bertentangan dengan kehendak Allah swt.76 tidak dibolehkan untuk menghilangkan jiwanya atau jiwa orang lain.

seorang dokter berkewajiban untuk mengobati. EEG dan lain-lain). tindakan dokter itu tidak berarti melangkahi hak Allah atau takdirnya. yang definisinya menurut Qardawi ialah tindakan memudahkan kematian seseorang dengan sengaja tanpa merasakan sakit. Sehingga kalau sampai terjadi seseorang lain yang mengusahakan kematian untuk orang lain.133 Akibat dari pesatnya perkembangan teknologi kedokteran modern akan dapat memberikan fasilitas dan pelayanan yang lebih baik bagi usaha perpanjangan umur pasien yang menderita sakit parah. respirator. maka perbuatan demikian bisa dikategorikan sebagai bunuh diri dengan meminjam tangan orang lain.1990) hlm. Ini mengandung arti bahwa dokter atau tim medis telah dapat menunda beberapa saat waktu kematiannya. meringankan penderitaan pasien dengan segala kemampuannya.116 133 . baik dengan obat-obatan atau memberikan nasihat. Dalam konteks di atas. sebab tindakan medis itu manifestasi dari ikhtiar untuk menolong pasien. Betapapun sudah diduga umur si pasien tidak lama lagi. itu tidak berarti menghalangi hak Allah sebagai penentu kematian manusia ?. Dan memang seharusnya begitu. dengan tujuan Imron Halimi. memasang infus. Berbicara masalah euthanasia (qatl ar-rahmah atau taisir al-maut). ini bisa dikategorikan sebagai pembunuhan. Ramadhani.77 Dapat difahami dari ayat di atas bahwa urusan mati sepenuhnya merupakan hak Allah swt. Kemudian apakah dokter dalam memberikan tindakan medis (misal. karena kasih sayang. Dan bila ada terjadi seseorang berusaha untuk dirinya sendiri untuk mendapatkan kematian. Euthanasia cara mati terhormat orang moderen (Solo: cv.

Unsur formal atau unsur syar'i Yang dimaksud dengan unsur formal atau unsur syar'i adalah adanya ketentuan syara' atau nash yang menyatakan bahwa perbuatan yang dilakukan yang oleh hukum dinyatakan sebagai sesuatu yang dapat dihukum atau adanya nash (ayat) yang mengancam hukuman terhadap perbuatan yang dimaksud. Unsur material atau rukun maddi Yusuf Qardawi. 1996).. II:749. Ibid. fatwa-fatwa kontemporer.134 Khususnya lagi euthanasia aktif (taisir al-maut al-fa'al) yang definisinya ialah tindakan memudahkan kematian si sakit karena kasih sayang yang dilakukan dokter dengan menggunakan instrumen (alat).78 meringankan penderitaan si sakit.751 136 . Dalam hal ini tentunya diperlukan beberapa tahapan untuk menjawabnya. yakni sebagai berikut: 1. (Jakarta: Gema Insani Press. cet. hlm.135 Dalam Islam euthanasia aktif itu secara eksplisit dan tegas belum pernah ditemukan hukumnya. maka hal ini bisa diklasifikasikan kedalam jarimah pembunuhan.136 Namun demikian apakah bisa begitu saja tindakan euthanasia aktif itu digolongkan sebagai jarimah pembunuhan?. yakni: a.ke-2. 135 134 Ibid. b. Dalam fiqh Islam suatu perbuatan barulah dikatakan sebagai jarimah apabila perbuatan tersebut telah memenuhi unsur-unsur jarimah. Akan tetapi karena euthanasia aktif merupakan tindakan untuk mempercepat kematian seseorang. alih bahasa: As'ad yasin.

ke-1. delik) haruslah orang yang dapat memahami hukum. Unsur moril atau Rukun Adaby Unsur ini juga disebut dengan al-mas'uliyyah al-jinayyah atau pertanggungjawaban pidana. mengerti isi beban. (Bandung: Pustaka Setia.3.137 2. c.52-53. Jika telah memenuhi tentunya ada kesinkronan antara aspekaspek terjadinya euthanasia aktif dengan unsur-unsur jarimah. Oleh karena itu pembuat jarimah (tindak pidana. cet. ialah unsur formil (ar-rukn asysyar'i). Sehingga euthanasia aktif dilihat dari aspek definisinya sudah memenuhi unsur jarimah pertama. 1997).79 Yang dimaksud dengan unsur material adalah adanya perilaku yang membentuk jarimah. Adapun aspek-aspek terjadinya euthanasia aktif ialah sebagai berikut: a. dan sanggup menerima isi beban tersebut. Tindakan euthanasia aktif itu apakah telah memenuhi unsur-unsur jarimah ataukah tidak?. Maksudnya adalah pembuat jarimah atau pembuat tindak pidana atau delik haruslah orang yang dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya. Bahwa euthanasia aktif itu merupakan tindakan pembunuhan.2000). Hukum pidana Islam (fiqh jinayah).lihat juga A. fiqh jinayah (upaya menanggulangi kejahatan dalam Islam). hlm. baik berupa perbuatan ataupun tidak berbuat atau adanya perbuatan yang bersifat melawan hukum. ke-2 (Jakarta: PT. djajuli. yakni adanya nas yang jelas-jelas melarang pembunuhan baik 137 Rahmat Hakim. cet. Raja Grafindo Persada. Orang yang diasumsikan memiliki kriteria tersebut adalah arangorang yang mukallaf sebab hanya merekalah yang terkena khitab (panggilan) pembebanan (taklif). . hlm.

Dalam hukum Pidana Islam (fiqh jinayah). yakni unsur moril (ar-rukn adabi) Jadi jelas dalam konteks tersebut dapat disimpulkan bahwa euthanasia aktif itu merupakan jarimah pembunuhan. dan keluarga pasien.80 diri sendiri ataupun orang lain. dan sebagainya. tindak pidana pembunuhan ini (al-qatl) disebut juga al-jinayah 'ala al-insaniyyah (kejahatan terhadap jiwa 138 An-Nisa (4): 29 Al-An'am. Dari aspek inipun telah memenuhi unsur jarimah ketiga. Seperti tercantum dalam beberapa ayat al-Qur'an sebagai berikut: 0 ‫ل تقتلوا أنفسكم ان ال كان بكم رحيما‬ ‫ول تقتلوا النفس التى حرم ال ال بالحق ذالكم وصاكم به‬ 0 ‫تعقلون‬ ‫لعلكم‬ 138 139 b. yaitu dokter atau tim medis lainnya. pasien. Adanya pelaku euthanasia aktif yang dapat dimintai pertanggungjawaban pidana. Adanya tindakan atau perbuatan yang mendukung terjadinya euthanasia aktif. yakni biasanya dengan mencabut selang respirator atau melalui suntikan dengan bahan pelemah saraf dalam dosis tertentu (neurasthenia). Dalam aspek ini juga telah memenuhi unsur jarimah kedua yakni unsur materill (ar-rukn almaddi).(6): 151 139 . c.

yakni. Hal ini sesuai dengan definisinya.81 manusia). yaitu: pembunuhan sengaja. tindakan euthanasia aktif bisa digolongkan kedalam pembunuhan sengaja.9. suatu perbuatan penganiayaan terhadap seseorang dengan maksud untuk menghilangkan nyawanya. dan serupa kekeliruan (ma jara majr al-khata'). semi sengaja. Djazuli.141 atau sengaja melakukan perbuatan yang dilarang dan memang akibat perbuatan itu dikehendaki pula. (Beirut: Muassasat ar-Risalat. yaitu pembunuhan sengaja. Fiqh Jinayah. 1992). Euthanasia Suatu Tinjauan dari Segi Kedokteran. Kaidah fiqh jinayah (asas-asas hukum pidana Islam) (Bandung: Pustaka Bani Quraisy. 4) Sebagian Hanafiyah mengklasifikasikannya menjadi lima (khumasi). yaitu: pembunuhan sengaja. lihat juga Abd Qadir 'Audah. Para ulama berbeda pendapat dalam mengklasifikasikan bentuk-bentuk pembunuhan. Problematika Hukum Islam 142 . kekeliruan dan serupa kekeliruan. dan pembunuhan secara tidak langsung (al-qatl bi al-tasabbub). 3) Sebagian Hanafiyah mengklasifikasikannya menjadi empat (ruba'i). Perbedaan tersebut adalah:140 1) Ulama Malikiyah mengklasifikasikan bentuk-bentuk pembunuhan menjadi dua yaitu: pembunuhan sengaja (qatl al-'amd) dan kekeliruan (qatl alkhata'). at-Tasyri' al-Jina'i al-Islami Muqaranah bi al-Wad'i. 2004) hlm. Dari macam jarimah pembunuhan di atas. dan Hukum Islam. Terjadinya tindakan euthanasia aktif sangat dipengaruhi oleh alasan atau pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:142 Jaih Mubaraok dan Enceng Arif Faizal. 141 140 A. semi sengaja (syibh al-'amd) dan kekeliruan. Fauzi Aseri. dalam Chuzaimah T Yanggo dan Hafidz Anshary.hlm. II: 7-9. Hukum Pidana. 2) Jumhur mengklasifikasikannya menjadi tiga (sulasi). kekeliruan.121 Akh. semi sengaja.

Oleh karena penyakit yang dideritanya sangat (accut). yang merasa kasihan atas penderitaan pasien. hlm. maka supaya matinya tidak merasa sakit. yaitu melalaui euthanasia. b) Dari pihak keluarga/wali. Cet. Sanksi Hukum bagi Pelaku Euthanasia Dalam ajaran agama Islam tidak terdapat ajaran yang mutlak mengenai euthanasia. maka ia meminta dokter untuk melakukan euthanasia. ataupun karena amat ganasnya jenis penyakit yang menyerangnya. B. bahwa pihak keluarga (tertentu) bekerjasama dengan dokter untuk mempercepat kematian pasien. 2002). dia meminta jalan yang lebih "nyaman". (Jakarta: PT. yang meminta kepada dokter karena merasa tidak tahan lagi menderita sakit. Apabila jika pasien tampaknya tidak tahan menanggung sakitnya. Euthanasia hakikinya adalah membunuh yang dilakukan Kontemporer. akibat biaya pengobatan yang mahal. paling tidak. karena menginginkan harta/milik pasien dan faktor amoral lainnya. Atau pasien sudah tahu bahwa ajalnya sudah di ambang pintu. dan telah lama dialami. Pustaka Firdaus. c) "Kemungkinan lain" bisa terjadi. maka akan jelas hukumnya dengan berdasarkan al-Qur'an sebagai salah satu sumber hukum Islam.71. ke-3.82 a) Dari pihak pasien. Pertimbangan lain bisa juga karena pasien tidak ingin meninggalkan beban ekonomi yang terlalu berat bagi keluarga. sementara harapan untuk sembuh tidak ada lagi. . namun bila ingin mempelajari dan memahami arti euthanasia secara mendalam. harapan sembuh terlalu jauh. baik karena terlalu lama. Bisa juga euthanasia terjadi karena permintaan keluarga yang tidak sanggup lagi memikul biaya pengobatan.

Islam ditetapkan aturan yang ketat yaitu Qisas (pembunuhan). maka Allah memberikan ancaman bagi mereka yang meremehkannya. al-Maarif. Euthanasia merupakan salah satu bentuk pembunuhan dan termasuk dalam kategori jinayat. Dalam terminologi fiqh. 144 An-Nisa (4): 93. jinayat adalah setiap perbuatan yang diharamkan dan tercela yang dilarang oleh Tuhan.143 Allah melarang melakukan pembunuhan.83 dalam rumah sakit oleh dokter ahli pada penderita karena penyakit tertentu seperti kanker atau kecelakaan yang merusak tubuhnya hingga berdasarkan ilmu dan teknologi kedokteran tidak mungkin sembuh. khusus yang berkaitan dengan hukum pidana. 1997). alih bahasa H. sehingga aturan diberikan secara rinci. jiwa. 143 Sayid Sabiq. had dan diyat. fikih sunnah.A Ali (Bandung: PT. akal. . Agar manusia tidak memandang murah terhadap jiwa manusia. keturunan dan harta. perbuatan itu bisa merugikan agama. karena pada dasarnya menghilangkan nyawa seseorang merupakan perbuatan dosa besar sebagai mana tercantum dalam al-Qur'an: ‫و من يقتل مؤمنا متعمدا فجزاؤه جهنم خالدا فيها و غضب ال‬ 144 ‫عليه و لعنه و اعدله عذابا عظيما‬ َ Secara umum hukum Islam diamalkan untuk menciptakan kemaslahatan hidup dan kehidupan manusia. Tindakan merusak ataupun menghilangkan jiwa orang lain maupun jiwa diri sendiri adalah perbuatan melawan hukum Allah. X:11 .

84

Syaikh Muhammad Yusuf al-Qardawi, sebagaimana dikutip oleh Akh. Fauzi Aseri mengaِ takan, bahwa kehidupan manusia bukan menjadi hak milik pribadi, a sebab dia tidak dapat menciptakan dirinya (jiwanya), organ tubuhnya, ataupun selselnya. Diri manusia pada hakekatnya adalah barang ciptaan yang diberikan Allah, oleh karenanya ia tidak boleh diabaikan, apalagi dilepaskan dari kehidupannya.145 Jadi jelaslah bahwa Islam tidak membenarkan seseorang yang sakit berkeinginan mempercepat kematiannya, baik dengan bunuh diri maupun dengan minta dibunuh. Bahkan berdo'a meminta dimatikanpun tidak diperbolehkan. Tetapi Allah menyuruh umatnya bila dalam keadaan sakit agar disamping berusaha juga berdoa agar diberi kesembuhan, sebagaimana firman Allah swt:
146

‫واذ مرضت فهو يشفين‬

Ahmad Mustafa al-Maragi menjelaskan, bahwa pembunuhan (mengakhiri hidup) seseorang bisa dilakukan apabila disebabkan oleh salah satu dari tiga sebab:147 1. Karena pembunuhan oleh seseorang secara zalim. 2. Janda yang pernah bersuami) secara nyata berbuat zina, yang diketahui oleh empat orang saksi. 3. Orang yang keluar dari agama Islam, sebagai suatu sikap menentang jama'ah Islam.

145

Akh. Fauzi Aseri, Euthanasia. hlm.73. As-Syu'ara' (26): 80

146

147

Ahmad Mustafa al-Maragi, Tafsir al-Maragi, (Mesir: Mustafa al-Baby al-Halaby, 1971).

XI: 43.

85

Jika dibandingkan dengan alasan-alasan yang mendorong terjadinya euthanasia seperti disebutkan terdahulu, maka tidak ada satupun yang berkaitan dengan alasan bilhaq di atas. Maka agar dapat ditentukan sanksi hukumnya dalam masalah euthanasia ini, perlu diperjelas secara terperinci karena masalah euthanasia ini merupakan masalah yang kompleks, baik dari segi sebabnya maupun pelaku terjadinya euthanasia. Karena euthanasia ini merupakan jenis pembunuhan maka kiranya perlu dijelaskan sanksi-sanksinya. Sebelum menginjak kepada sanksi-sanksi pelaku euthanasia perlu disebutkan terlebih dahulu sanksi-sanksi dalam pembunuhan. Dalam pembunuhan, ada beberapa jenis sanksi, yaitu; hukuman pokok, hukuman pengganti dan hukuman tambahan. Hukuman pokok pembunuhan adalah qisas. Bila dimaafkan oleh keluarga korban, maka hukuman penggantinya adalah diyat. Akhirnya jika sanksi qisas atau diyat dimaafkan, maka hukuman penggantinya adalah ta'zir. Menurut sebagian ulama, yakni Imam Syafi'i, ta'zir tadi ditambah kaffarah. Hukuman tambahan sehubungan dengan ini adalah pencabutan atas hak waris dan hak wasiat harta dari orang yang dibunuh, terutama jika antara pembunuh dengan yang dibunuh mempunyai hubungan kekeluargaan.148 Dokter sebagai seorang anggota masyarakat, penuh aktif, berinteraksi dan memelihara masyarakat. Tugas dokter tidak hanya melakukan pengobatan penyakit dan mencegah timbulnya penyakit. Tetapi juga sebagai seorang manusia dokter juga dituntut untuk tolong-menolong dalam hal kebaikan apapun bentuknya.149
148

A. Djazuli, Fiqh Jinayat, hlm, 135-136

Kode Etik kedokteran Islam, terj. Sudibyo Soepardi, cet.ke-4, (Jakarta: CV. Akademika Pressindo, 2001), hlm. 41.

149

86

Dalam masalah euthanasia ini, jika melihat kembali kepada fungsi dokter sebagai penolong untuk mengobati, menolong dan membantu pasien dari penyakitnya supaya sembuh, apakah secara batin dia tega melakukan euthanasia terhadap pasiennya. Pasti dia mempunyai tekanan batin dan juga menghadapi konsekuensi hukum. Dalam hal ini, jika dokter melakukan euthanasia berarti dokter telah melakukan pembunuhan, karena pembunuhan berarti menghilangkan nyawa seseorang, sepeti dikatakan oleh Wahbah az-Zuhaili:150 "Pembunuhan adalah suatu perbuatan mematikan; atau perbuatan seseorang yang dapat menghilangkan nyawa; artinya pembunuhan itu dapat menghancurkan bangunan kemanusiaan."

Allah telah memberikan hukuman terhadap pelaku pembunuhan dengan qisas. Hal ini tercantum dalam al-Qur'an:
151

‫يا أيها الذين آمنوا كتب عليكم القصاص في القتلى‬
152

‫و كتبنا عليهم فيها أن النفس بالنفس‬

Jadi berdasarkan ayat di atas dokter sebagai pelaku pembunuhan harus dihukum qisas, hal ini sebagai konsekuensi pertama yang dihadapi oleh dokter sebagai pihak pembunuh. Pada dasarnya Allah melarang pembunuhan apapun
Wahbah az-Zuhaili, al-Fiqh al-Islam wa adillatuh, cet ke-3 (Damaskus: Dar al-Fikr, 1989), VI: 217.
151 150

Al-Baqarah (2): 178. Al-Maidah (5): 45.

152

Dalam hal ini si pasien sebagai pemilik jiwa telah merelakan atau memberi izin kepada dokter. . tetapi Allah juga memberikan hak kepada keluarga si terbunuh dengan tuntutan. Masalah yang timbul adalah. atau keluarga sebagai wali ad-dam telah merelakan bahkan menganjurkannya. hlm. Euthanasia. dan Allah memberikan hukuman berupa qisas yang merupakan hak Allah atas manusia. dan persetujuan dari pihak keluarga. Fauzi Aseri. Dalam hal ini Mahmud Syaltut memberikan pembahasan yang ringkasnya bahwa para ahli fiqh berbeda pendapat mengenai suatu kejahatan atau seseorang yang disuruh sendiri oleh si korban dengan disetujui walinya. sebagai unsur utama kehidupan manusia. Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa perintah korban dapat menggugurkan qisas terhadap pelaku. diyat (bila pembunuh dimaafkan) dan bisa juga dimaafkan secara mutlak. karena Allah sebagai sang khaliq menyuruh umatnya agar senantiasa memelihara jiwa. 153 Akh. apakah pelaku (dokter) terkena hukuman atau tidak dalam kasus euthanasia yang mana si korban sebagai pemilik jiwa.87 jenisnya. Hal ini tergantung tuntutan apa yang akan dilakukan pihak keluarga atau ahli warisnya. Dalam hal ini dokter mempunyai suatu dispensasi dari pihak pasien (si terbunuh) berupa (kerelaan atau izin). Oleh karena itu.74. hukuman berpindah kepada diyat.153 Menurut Hanafiyah: ‫يسقط القصاص برضا المجني عليه‬ Gugurnya qisas disebabkan oleh adanya kerelaan atau izin korban yang dapat dipersamakan dengan pemaafan. tuntutan itu bisa berupa qisas (sebagai balasan).

cet. (Jakarta: Bulan Bintang. ke-5. walaupun Abu Abdul al-Qadir Audah. 191 . hlm.155 Pendapat ini didasarkan pada qaidah fiqhiyyah. Abu yusuf dan Muhammad mereka sama-sama memberikan sanksinya berupa diyat. 1247.441-442. Karena si pasien telah memaafkan dari sanksi dan rela untuk dibunuh itu sama dengan memberi maaf. 441-442 A ِ l-Hafid Ibnu Hajar al-Asqalani. At-Tasyri. 158 hlm. al-tasyri' al-Jina'i al-Islami Muqaranah bi al-Qanun al-wad'i (Beirut: Muassasat ar-Risalat.. dan pemberian izin itu menimbulkan syubhat (kesamaran). 1993).157 Menurut ulama Syafi'iyah dan Imam Ahmad dalam kasus euthanasia ini tidak ada sanksi qisas dan diyat.t). Bulug al-Maram. HR Baihaqi dari Ali RA 157 156 Abd Qadir 'Audah. A. 260.1992) I: 440-441 155 154 Ibid. yakni: 156 ‫ادرؤوا الحدود بالشبهات‬ Pendapat Malikiyah yang arjah (lebih kuat) dan sebagian Syafi'iyah: ‫يسقط عقوبتى القصاص و الدية برضا المجني عليه‬ Kerelaan korban dapat dipersamakan dengan pemaafan baik dari hukuman asli (qisas) maupun penggantinya (diyat). (Bandung: Maktabah Dahlan.88 Selain itu.158 Dari pendapat-pendapat di atas. t. Pemaafan dari korban itu lebih utama dari pada keluarga sebab pemaafan itu menjadi hak bagi korban.154 Pendapat ini juga didukung oleh Abu Hanifah. hlm. semuanya tidak ada yang menetapkan sanksi hukum atas kerelaan atau izin ini dengan sanksi qisas (hukuman asli). meskipun tidak berarti menghapuskan hukuman ta'zir. kerelaan itu menjadi syubhat yang dapat menggugurkan hudud. Asas-asas Hukum Pidana Islam. Hanafi. karena adanya pemberian izin. Hadis nomer. Kitab al-Hudud Bab az-Zina. hlm.

Sedangkan tindakan dokter telah disetujui pihak keluarga pasien. Menurut Malikiyah pada pembunuhan disengaja dikenakan diyat mugalazah apabila waliyuddam menerimanya. Dan pihak keluarga atau ahli warisnya juga telah memaafkan secara mutlak maka tidak ada hukuman diyat baginya. karena berarti dokter sebagai pihak yang membantu malah mendapatkan kerugian. yaitu berupa seratus ekor unta yang empat puluh diantaranya sedang bunting. Otomatis dokter tidak akan mau jika harus membayar diyat. Jadi dari hal ini dokter terbebas dari hukuman qisas (sebagai hukuman asli) juga diyat (sebagai hukuman pengganti). Diyat ada dua macam yaitu diyat mugalazah dan diyat mukhafafah. Sedangkan jumlah yang harus dikeluarkan dari ketentuan diyat sendiri tidak sedikit. Karena fungsi diyat adalah untuk kemaslahatan keluarga si pasien (si terbunuh). Dari hal ini. Pada dasarnya hukuman qisas tidak dapat diganti dengan hukuman yang dibuat oleh manusia.89 Hanifah (beserta pengikutnya) Abu Yusuf dan Muhammad menetapkan hukum atas adanya unsur kerelaan ini dengan diyat (hukuman pengganti). jika melihat hal di atas berarti dokter yang mengeuthanasia mendapat hukuman berupa diyat mughaladzhah karena telah dimaafkan oleh pihak keluarga. . Dan jumlah dari pembayaran diyat mugalazah adalah seratus ekor unta yang empat puluh di antaranya sedang bunting. jika dia sudah tahu akan konsekuensinya. namun pihak korban atau ahli warisnya diberi hak tuntutan. mau menerima hukuman tersebut. tetapi dalam hal ini apakah dokter sebagai orang lain bagi pasien dan keluarga yang sudah melaksanakan euthanasia atas permintaan pasien dan persetujuan keluarga sehingga mendapat hukuman diyat. atau harta (uang atau barang ) yang senilai dengannya.

sanksi ta'zir dapat dijatuhkan terhadap pembunuh. dapat dihapus dan sebagai penggantinya hakim akan menjatuhkan hukuman ta'zir. sebab jarimah qisas merupakan hak adami hak perseorangan. Dalam tindak pidana pembunuhan. atau juga memberi maaf secara mutlak.90 oleh karena itu hak Allah yang berupa qisas dapat diganti dengan hukuman diyat yang merupakan hak manusia. Oleh karena itu. kalau sikorban (masih hidup) atau ahli waris (jika korban mati) memaafkan pembuat jarimah. hukum Islam memberikan kedudukan kepada keluarga korban secara bijaksana untuk turut ambil bagian di dalam menentukan kebijaksanaan hukuman terhadap pelaku pembunuhan dengan memberikan kesempatan kepada pelakunya apakah harus diqisas atau diyat. hukuman qisaspun menjadi gugur digantikan dengan hukuman diyat. ini sangat berarti bagi pelaku tindak pidana maupun bagi keluarga si korban. hlm126 160 . Hal itu dimungkinkan. Allah berfirman dalam al-Qur'an: ‫فمن عفي له من أخيه شيئ فاتباع بالمعروف و اداء اليه‬ 159 ‫باحسان‬ Adanya hukuman pengganti pada jarimah qisas ini disebabkan adanya pemaafan dari sikorban atau wali atau ahli warisnya. Apabila korban atau keluarganya memaafkan diyat ini. maka sanksi qisas tidak dapat dilaksanakan karena tidak memenuhi syarat. karena korban (si pasien) atau walinya mempunyai hak untuk membebaskan pembunuh dari sanksi hukuman 159 Al-Baqarah (2): 178 Rahmat Hakim.160 Singkatnya. Keterlibatan keluarga pihak korban. Hukum Pidana Islam.

162. 161 A. hlm. Karena pembunuhan itu tidak hanya berurusan dengan hak perseorangan. Hukuman ta'zir yang diberikan kepada pembunuh sengaja yang dimaafkan dari qisas dan diyat adalah aturan yang baik dan membawa kemaslahatan. baik kedua-duanya atau diganti dengan sanksi lain. . Dan ta'zir itu tergantung kepada kemaslahatan:161 ‫التعزير يدور مع المصلحة‬ Adanya kaidah ini merupakan wujud dinamisasi hukum pidana Islam dalam menjawab bentuk-bentuk kejahatan baru yang belum ada aturannya sehingga setiap bentuk kejahatan baru yang dianggap telah merusak ketenangan dan ketertiban umum dapat dituntut dan dihukum.91 qisas dan diyat. Fiqh Jinayah. Dengan melihat bahwa izin (persetujuan) dapat menghapuskan hukuman. maka izin tersebut merupakan pemaafan yang didahulukan. Djazuli. melainkan juga hak jamaah. Maka ta'zir itulah sebagai sanksi hak masyarakat.

92 EUTHANASIA DALAM PRESPEKTIF FIQH JINAYAH .

Bandung: Maktabah Dahlan. 8 jilid. Ali bin 'Amr Abu al-Husyain al-. OMAN FATHUROHMAN SW. Bukhari. Beirut: Dar al-Ma'rifah. 1988. Beirut: Dar al-Fikr.t. Abu Abdullah Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim ibn al-Mughirah ibn Bardizbah al-Ja'fi al-. H Hadis Abu Dawud. Bulug al-Maram. 3 jilid. t. SLAMET KHILMI JURUSAN JINAYAH SIYASAH FAKULTAS SYARI’AH UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA 2004 DAFTAR PUSTAKA Al-Qur'an Al-Qur'an Karim. Sunan al-Daruqutni. M. Sunan Abi Dawud.93 SKRIPSI DIAJUKAN KEPADA FAKULTAS SYARI’AH UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA UNTUK MEMENUHI SEBAGIAN SYARAT-SYARAT MEMPEROLEH GELAR SARJANA STRATA SATU DALAM ILMU HUKUM ISLAM OLEH: MUKHLISIN 9937 3425 PEMBIMBING DRS. Ag DRS. Ibnu Hajar al-Asqalani. 4 jilid. 1404. . 1981. Damaskus: Dar Ibn Katsir. Beirut: Dar al-Fikr. Sahih al-Bukhari. 1996. Daruquthni.

Sunan an-Nasai'. San'ani. Jaih mubarok. Jakarta: Bulan Bintang. Kaidah Fiqh Jinayah (Asas-asas Hukum Pidana Islam). 1968. Masail Fiqhiyah. Jakarta: Darul Falah. Charis. 2 jilid. 1994.t. t. Ibnu Rusyd. Etika Rekayasa menurut konsep Islam. Abdurrahman dan Fauzan al-Anshari. Jakarta: Bulan Bintang. 1971. 1997. Beirut: Muassasat ar-Risalat. Asas-asas Hukum Pidana Islam. Jakarta: Bulan Bintang. Nasai'. Mesir: Mustafa al-Baby alHalaby. Sunan Ibn Majah. Muhammad ibn Ismail ibn Salah al-Amir al-Kahlani al-. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Masjfuk Zuhdi. 1971. Jakarta: PT. 2 jilid. Jakarta: Khairul Bayan. Tafsir al-Maraghi.94 Ibnu Majah. Jakarta: CV Haji Masagung. alih bahasa: Fadhli Bahri. 30 jilid. 1997. 8 jilid. dan Enceng Arif Faizal. Ahmad Hanafi. al-Ahkam as-Sultaniyah. (Prinsip-prinsip penyelenggaraan Negara Islam). Indonesia: Dar Ihya alKutub al-Arabiyyah. t. A. Madjrie. Anwar Harjono. Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtasid. Mawardi. Abd ar-Rahman Ahmad ibn Suaib ibn Ali ibn Bahr an-. Imam al-. Hukum Pidana Syari'at Islam menurut ajaran ahlus sunnah. Hukum Islam (keluasan dan keadilannya). Fiqh Jinayah (upaya menaggulangi kejahatan dalam Islam). Qisas pembalasan yang hak. Zubir A. 2 jilid. Djazuli. Bandung: Pustaka Bani Quraisy. Bandung: Maktabah Dahlan. 2003. Muhammad ibn Ahmad ibn Muhammad ibn Muhammad al-Qurtuby. 1992.t. Mesir: al-Bab al-Halabi wa al-Audah. Abdul Qadir. 1993. Maraghi. 2000. 2004. t. Haliman. Beirut: Dar Ihya al-Kitab al-Arabiyah. Raja Grafindo Persada. . Subul as-Salam Syarah Bulug al-Maram.t. 1994.. Fiqh dan Usul Fiqih Audah. al-Tasyri' al-Jina'i al-Islami Muqaranah bi al-Qanun al-Wad'i. Musthafa al-.

Jakarta: Erlangga. Hafiz Anshary AZ. Jakarta: Ghalia Indonesia. 1984. Tanggung jawab Hukum Seorang Dokter dalam menangani Pasien. 1997. Topo Santoso. al-Ma'arif. Jakarta: Ikhtiar Baru. hukum. Abortus. 2000. Djoko Prakoso. Rahmat Hakim. Menggagas Hukum Pidana Islam. Zuhaili. Hukum Pidana Islam (Fiqh Jinayah). 1990. alih bahasa As'ad Yasin.. Etika Profesional dan Hukum Pertanggungjawaban Pidana Dokter. 2002. Jakarta: Widya Medika. Bandung: Asy-Syamil Press. Mengapa Euthanasia? Kemampuan Medis & Konsekuensi Yuridis. t. Chuzaimah T. Euthanasia Hak Asasi Manusia dan Hukum Pidana. 2001. Bandung: Nova. Rahmat Hakim. Surabaya: Maktabah Ahmad bin Said bin Nabhan. 8 jilid. Euthanasia. 1996. Supriadi. dan agama Islam. 2000. dan Djaman Andhi Nirwanto.t. transplantasi ginjal. Halal dan Haram dalam Islam. 1997. Oleh Drs. al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh. dan A. Jakarta: Robbani Press. Yusuf al-. Profesi Dokter. Wahbah az-. t. Bandung: Mandar Maju.t. Jakarta: Gema Insani Press. Yanggo. al-Muhazzab. 2001. bayi tabung. Wila Chandrawila. Ali Ghufron dan Adi Heru Sutomo.Tengker. Pustaka Firdaus. dan operasi kelamin. Hukum Pidana Islam (Fiqh Jinayah). Jakarta: PT. …. F. Fikih Sunnah. Bandung: Pustaka Setia. Abi Ishaq Ibrahim ibn Ali ibn Yusuf al-Fairuz Abadi asy-. Bunga Rampai Hukum Kesehatan. alih bahasa A. dalam tinjauan medis. 1991. Oemar Seno. 2000. Yogyakarta: Aditya media. Ali. Qardhawi. Amri Amir. Fatwa-fatwa kontemporer. . Beirut: Dar al-Fikr. dkk. Sayyid Sabiq. Bandung: Pustaka Setia. Problematika Hukum Islam Kontemporer edisi ke-4 edisi revisi.95 Mukti. Abu Sa’id al-Falahi dan Aunur Rafiq Shaleh Tamhid.1993. terj. Bandung: PT. Buku lain-lain Abdul Jamali. 1991. Syairazi. hukum kedokteran. Adji.

Ratna Suprapti. Bogor: Politeia. 1996. K Bartens. Widyana. Makalah pada seminar sehari. Vol. Kode Etik Kedokteran Islam (Islamic code of medical ethics). Malang: Analekta Keuskupan Malang. 1989. Imron Halimi. Sudibyo Soepardi. Kitab undang-undang hukum pidana ( KUHP) serta komentarnya lengkap pasal demi pasal. 1995. H. Kode Etik Kedokteran Indonesia. "Euthanasia" beberapa soal moral berhubungan dengan quantum. Thomas A. Euthanasia cara mati terhormat orang modern. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta: Akademika Pressindo. Euthanasia dalam Prespektif Hak Asasi Manusia. 1990. Ramadhani. 1974. Aborsi dan Euthanasia ditinjau dari segi medis. 1980. . Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Kartono Mohamad. Soesilo.Pengantar Bioetika. Solo: CV. Piet Go O. Jakarta: Pustaka Antara. Antropologi Teologis II. 1988. Samil. 2001. Euthanasia Bagaimana Sikap Seorang Dokter. Sudarmo.R. Chr Purwa. alih bahasa. ed. Kumpulan Kasus Bioethics & Biolaw. Artikel Euthanasia Guwandi J. J. Siswo. Shannon. Jakarta: Metro Kencana. Ensiklopedi Indonesia (Jakarta: Ikhtiar Baru-Van Hoeve.96 R. Karyadi. hukum dan psikologis. Teknologi Modern Dan Tantangannya Terhadap Bioetika. Carm. 1990. Yogyakarta: Media Pressindo. 1987). Euthanasia Beberapa Soal Etis Akhir Hidup Menurut Gereja Katolik. Etika Kedokteran Dalam Islam. 1992. 2001. Jakarta: Gramedia. 2000. Yogyakarta: FKMPY.2 : 978. Ali Akbar. Petrus Yoyo.

mengoreksi dan menyarankan perbaikan seperlunya. Bersama ini kami ajukan skripsi tersebut untuk diterima selayaknya dan mengharap agar segera dimunaqosyahkan. Wassalamu’alaikum Wr. M Ag Dosen Fakultas Syari’ah UIN Sunan Kalijaga NOTA DINAS Hal : Skripsi Saudara Mukhlisin Kepada Yth : Dekan fakultas Syari’ah UIN Sunan Kalijaga Di Yogyakarta Assalamu’alaikum Wr. maka menurut kami skripsi saudara: Nama NIM : Mukhlisin : 9937 3425 Judul : “Euthanasia Dalam Prespektif Fiqh Jinayah” Sudah dapat diajukan untuk memenuhi sebagian dari syarat memperoleh gelar sarjana strata satu dalam Jinayah Siyasah Fakultas Syari’ah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Oman Fathurohman SW. Wb. Yogyakarta. Untuk itu kami ucapkan terima kasih. Setelah membaca. Wb.97 Drs. 3 Rajab 1425 H 19 Agustus 2004 Pembimbing I .

3 Rajab 1425 H 19 Agustus 2004 Pembimbing II Drs. Oman Fathurohman SW. Untuk itu kami ucapkan terima kasih. Bersama ini kami ajukan skripsi tersebut untuk diterima selayaknya dan mengharap agar segera dimunaqosyahkan.Ag NIP: 150 222 295 Drs. Yogyakarta. M. Setelah membaca. mengoreksi dan menyarankan perbaikan seperlunya. Wb.98 Drs. Wb. Slamet Khilmi Dosen Fakultas Syari’ah UIN Sunan Kalijaga NOTA DINAS Hal : Skripsi Saudara Mukhlisin Kepada Yth : Dekan Fakultas Syari’ah UIN Sunan kalijaga Di Yogyakarta Assalamu’alaikum Wr. Wassalamu’alaikum Wr. Slamet Khilmi NIP: 150 252 260 . maka menurut kami skripsi saudara: Nama NIM : Mukhlisin : 9937 3425 Judul : “Euthanasia Dalam Perspektif Fiqh Jinayah” Sudah dapat diajukan untuk memenuhi sebagian dari syarat memperoleh gelar sarjana strata satu dalam Jinayah Siyasah Fakultas Syari’ah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

99 PENGESAHAN Skripsi berjudul “Euthanasia Dalam Prespektif Fiqh Jinayah” yang disusun oleh MUKHLISIN NIM: 9937 3425 Telah dimunaqosyahkan di depan sidang munaqosyah pada tanggal 25 September 2004/10 Sya'ban 1425 H dan dinyatakan telah dapat diterima sebagai salah satu syarat guna memperoleh gelar sarjana dalam Ilmu Hukum Islam. MA NIP: 150 228 207 Pembimbing I Drs. H. MAg NIP: 150 222 295 SISTEM TRANSLITERASI ARAB-LATIN . Yogyakarta. Malik Madany. Slamet Khilmi Penguji II Drs. Fuad Zein. Oman Fathurohman SW. H. H. 10 Sya'ban 1425 H 25 September 2004 Dekan Fakultas Syari’ah Drs. MA NIP: 150 182 698 Ketua Sidang Drs. MAg NIP: 150 222 295 NIP: 150 252 260 Sekretaris Sidang Fatma Amilia NIP: 150 277 618 Pembimbing II Drs. Oman Fathurohman SW. MA NIP: 150 228 207 Penguji I Drs. Fuad Zein.

100 Transliterasi kata-kata Arab yang dipakai dalam penyusunan skripsi ini berpedoman pada Surat Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor: 158/1987 dan 0543b/U/1987 Konsonan Tunggal Huruf Arab Nama ‫ا‬ ‫ب‬ ‫ت‬ ‫ث‬ ‫ج‬ ‫ح‬ ‫خ‬ ‫د‬ ‫ذ‬ ‫ر‬ ‫ز‬ ‫س‬ ‫ش‬ ‫ص‬ ‫ض‬ ‫ط‬ ‫ظ‬ ‫ع‬ ‫غ‬ ‫ف‬ ‫ق‬ ‫ك‬ ‫ل‬ ‫م‬ ‫ن‬ ‫و‬ ‫هـ‬ ‫ء‬ ‫ي‬ Alif bâ’ tâ’ s|â’ jim ha khâ’ dâl zal râ’ zai sin syin Sâd dâd tâ’ dad ‘ain gain fâ’ qâf kâf lâm mim nûn waû hâ’ hamzah yâ’ Huruf Latin N a m a tidak dilambangkan be te es (dengan titik di atas) je ha (dengan titik di bawah) ka dan ha de zet (dengan titik di atas) er zet es es dan ye es (dengan titik di bawah) de (dengan titik di bawah) te (dengan titik di bawah) zet (dengan titik di bawah) koma terbalik di atas ge ef qi ka `el `em `en w ha apostrof ye tidak dilambangkan b t S j h kh d Z r z s sy S d t Z ‘ g f q k l m n w h ` y .

fathah. Vokal Pendek _َ _ _ ‫فعل‬ ___ fathah kasrah ditulis ditulis ditulis a fa’ala i . 2. 1. seperti salat. ‫زكاة الفطر‬ zakâh al-fitri ditulis III. ‫كرامة الولياء‬ karâmah al-aûliyâ` ditulis Bila ta’ marbutah hidup atau dengan harakat. Konsonan Rangkap Karena Syaddah ditulis rangkap ‫متعددة‬ ّ ‫عدة‬ ّ ditulis ditulis muta`addidah `iddah II. Ta’ marbutah di akhir kata Bila dimatikan ditulis h ‫حكمة‬ ‫علة‬ ditulis ditulis hikmah `illah (Ketentuan ini tidak diperlukan bagi kata-kata Arab yang sudah terserap dalam bahasa Indonesia. zakat dan sebagainya. Bila diikuti dengan kata sandang ‘al’ serta bacaan kedua itu terpisah.101 I. kasrah dan dammah ditulis t atau h. kecuali bila dikehendaki lafal aslinya). maka ditulis dengan h.

Vokal Pendek yang berurutan dalam satu kata dipisahkan dengan apostrof ‫أأنتم‬ ‫أعدت‬ ‫لئن شكرتم‬ ditulis ditulis ditulis A’antum u’iddat la’in syakartum .102 ‫ذكر‬ __ُ _ ‫يذهب‬ dammah ditulis ditulis ditulis zukira u yazhabu Vokal Panjang 1 2 3 4 fathah + alif ‫جاهلية‬ fathah + yâ’ mati ‫تنسى‬ kasrah + yâ’ mati ‫كـريم‬ dammah + waû mati ‫فروض‬ ditulis ditulis ditulis ditulis ditulis ditulis ditulis ditulis â jâhiliyyah â tansâ i karîm û furûd Vokal Rangkap 1 2 fathah + yâ’ mati ‫بينكم‬ fathah + waû mati ‫قول‬ ditulis ditulis ditulis ditulis ai bainakum aû qaûl IV.

1. ‫السمآء‬ ‫الشمس‬ ditulis ditulis as-Samâ` asy-Syams VI. Penulisan kata-kata dalam rangkaian kalimat Ditulis menurut penulisannya. Kata Sandang Alif + Lam Bila diikuti huruf Qomariyyah ditulis dengan menggunakan huruf “l”. ditulis ditulis al-Qur`ân al-Qiyâs Bila diikuti huruf Syamsiyyah ditulis dengan menggunakan huruf Syamsiyyah yang mengikutinya. sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. ‫القرآن‬ ‫القياس‬ 2. dengan menghilangkan huruf l (el) nya. .103 V. ‫ذوي الفروض‬ ‫أهل السنة‬ ditulis ditulis zawi al-furûd ahl as-sunnah LAMPIRAN I NO 1 HLM FOOTNOTE BAB BAB I 6 10 Janganlah kamu membunuh dirimu.

maupun selain jiwa dan harta benda. ada kalanya ia meminta diat dan ada kalanya ia menghukum qisas. baik perbuatan tersebut mengenai jiwa. Dan Kami telah tetapkan kepada mereka di dalamnya (at-Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa. maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. hai orang-orang yang berakal. maka baginya hukum qawad (qisas). Adapun menurut istilah adalah nama bagi suatu perbuatan yang diharamkan syara'. Dan Dialah (Allah) yang telah menghidupkan kamu. Dan Rasul bersabda Aku lebih berhak memutuskan terhadap orang (muslim) dan terhadap dzimi dalam hal ini. Barang siapa yang membunuh dengan sengaja. hamba dengan hamba. harta benda. Dan dalam qisas itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu. Tidak diqawad (hukum qissas) bapak (karena membunuh) anak. demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami(nya). Barang siapa yang membunuh seorang manusia. Barang siapa menghukum bunuh terhadap orang yang telah membunuhnya maka baginya dua pilihan yang baik. kemudian menghidupkan kamu. kemudian mematikan kamu. Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu qisas berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh. menurut ar-Ramady diqawad muslim karena membunuh dzimmi. bukan karena orang itu (membunuh) orang lain. atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi. Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu qisas berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh. Rasulullah Muhammad SAW mengqisas seorang muslim karena ia membunuh orang yahudi. BAB III Jinayah menurut bahasa merupakan nama bagi suatu perbuatan jelek seseorang. orang merdeka dengan orang merdeka. Kamu dan hartamu milik (kepunyaan) bapakmu. Orang-orang Islam terpelihara darahnya. 5 50 4 6 7 8 9 10 11 12 13 14 53 54 55 56 13 19 20 21 23 24 57 58 60 26 28 31 15 32 16 61 33 .104 2 11 3 12 4 13 Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar. Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar.

Dan bahwasanya Dialah yang mematikan dan mengidupkan. maka apabila memperoleh pemaafan maka menjadi pembayaran diat. serupa sengaja. 20 hiqqah. 20 banat makhadz. Maka barang siapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik. 20 jadz'ah. tongkat dan batu. dan 20 bani labun. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan. Hukuman pertama sebagai pengganti hukum qisas. Diat kesalahan adalah lima bagian. baik karena sebab-sebab yang menghalangi hukum qisas ataupun sebab-sebab yang telah ditetapkan. Tiap-tiap umat mempunyai ajal. maka balasannya ialah jahannam. dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diyat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik pula. dan mengutukinya serta menyediakannya azab yang besar baginya. Dan dalam qisas itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu. 40 syaniyah sampai tahunnya sempurna dan khalifah. Dalam pembunuhan tersalah. maka apabila telah datang ajalnya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya. dengan cambuk. 20 banat labun. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.105 17 18 66 34 46 19 47 20 67 50 21 22 23 68 70 51 54 58 Barang siapa yang membunuh maka ia dihadapkan kepada dua pilihan adakalanya dimaafkan dan adakalanya diqawad. . Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan barangsiapa yang membunuh seorang mu'min dengan sengaja. kekal ia didalamnya dan Allah murka kepadanya. 24 25 26 77 1 2 78 3 27 4 28 85 14 BAB IV Dan sesungguhnya benar-benar Kami-lah yang menghidupkan dan mematikan dan Kami (pulalah) yang mewarisi. hai orang-orang yang berakal. diatnya adalah seratus ekor unta yang di dalamnya.

kemudian mematikan kamu.106 29 30 31 32 33 34 35 90 92 88 87 16 19 20 23 24 28 31 36 37 93 96 33 39 Dan apabila aku sakit Dialah yang menyembuhkan aku. Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar. Dan telah Kami tetapkan didalamnya (at-Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa. dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diyat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik pula. Janganlah kamu membunuh dirimu (saudaramu). Ta'zir berputar karena kemaslahatannya. Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu qisas berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh. Tidak diqawad (qisas) ayah (karena membunuh) anak. Sesungguhnya Allah Penyayang kepadamu. LAMPIRAN II BIOGRAFI ULAMA Abd Qadir 'Audah . Hindari (penjatuhan) hukuman had (karena) adanya kesamaran (syubhat). Maka barang siapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik. kemudian menghidupkan kamu. Dan Dialah (Allah) yang telah menghidupkan kamu.

dengan mendapatkan predikat Cumlaude. alIman wa al-Hayat. setelah tamat pada tahun 1953. beliau dilahirkan tahun 1365 H. As-Sayid Sabiq Beliau adalah seorang ulama terkenaldari Universitas al-Azhar Cairo.107 Beliau adalah seorang ulama terkenal alumnus Fakultas Hukum Universitas al-Azhar Cairo pada tahun 1930. Beliau sebagai penganjur ijtihad yang mengajarkan kembali kepada al-Qur'an dan as-Sunnah. Yusuf kecil sudah bisa hafal al-Qur'an 30 juz. Guru-guru beliau adalah: Ibrahim al-Bukhari. Beliau meninggal ditiang gantungan sebagai akibat fitnahan dari lawan politiknya pada tanggal 8 desember 1954. lahir di Bukhara pada tanggal 13 Syawal 194 H/ 810 M. Diantara hasil karyanya ialah kitab at-Tasyri' al-Jina'I alIslami.000 hadis beserta sanadnya. Yusuf melanjutkan ke Ma'had Tanta. Kemudian beliau pergi ke Hijaz untuk menuntut ilmu kepada para fuqaha dan muhaddisin. beliau turut mengambil bagian dalam memutuskan revolusi Mesir yang berhasil gemilang pada tahun 1952. beliau juga seorang tokoh ulama dalam gerakan Ikhwanul Muslimin dan sebagai Hakim yang disegani rakyat. sampai mendaptkan Diploma tinggi di bidang bahasa dan sastra. dengan fasih dan sempurna tajwidnya pada usia 10 tahun. dipelopori oleh kolonel Gamal Abdul Nasher. . Ali bin al-Madani dan Ibnu Ruhuwaih. karyanya yang paling terkenal adalah kitab hadis shahih al-Bukhari. pada saat yang sama juga mengambil bidang study al-Qur'an dan as-Sunnah. Bidang study yang diambilnya adalah bidang study Agama Fakultas Ushuluddin. dan sebagai mahasiswa terbaik. terus dilanjutkan lagi di Universitas al-Azhar Cairo. dilahirkan pada tahun 1926 di desa Sifit Turab. Banyak menulis berbagai kitab baik mengenai masalah agama ataupun politik. Al-Bukhari Beliau nama lengkapnya Abu Abdullah Muhammad bin Ismail ibn Ibrahim alMughirah binj Bardzibaz al-Ja'far al-Bukhari. Dan wafat pada tahun 256 H. Setelah menamatkan sekolah Dasar. beliau mendapat gelar profesor dalam jurusan Ilmu Hukum Islam pada Universitas Fuad I. Pada tahun 1950 an M. Ahmad bin Hanbal. Karyanya yang terkenal adalah kitab Fiqh Sunnah. Mesir. kemudian beliau melanjutkan lagi ke Ma'had al-Buhus wad Dirasat al-Arabiyah al-Aliyah. Pada masa mudanya beliau telah hafal 70. dan selesai pada tahun 1960 pada Fakultas Ushuluddin al-Azhar Mesir dan dilanjutkan pada program Doktoral dengan Disertasi berjudul Fiqhuz Zakat. Lalu bermukim di Madinah dan menyusun kitab at-Tarik al-Kabir. Beberapa karyanya telah dipublikasikan diantaranya: al-Halal wa al-Haram fi al-Islam. Muskilat al-Fakr wa kaifa alajaha al-Islam dan Fatwa-Fatwa kontemporer. Yusuf al-Qardawi Beliau nama lengkapnya ialah Yusuf Abdullah al-Qardawi. al-Ibadat fi al-Islam.

8. 4. Wisma Gasenwa Gaten CC : Maktubillah Muhammad : PNS. 3.Manggis 64. 6. 2.108 LAMPIRAN III CURRICULUM VITAE 1. Nama Jenis Kelamin Agama Alamat Asal Alamat di Yogyakarta Nama Ayah Pekerjaan Nama Ibu : Mukhlisin : Laki-laki : Islam : Suru Sunda 02/III Karang Pucung Cilacap 53255 : Jl. 19 Mei 1981 . 7. 5. : Supriyatni Tempat Tanggal Lahir : Cilacap. 9.

masuk tahun 1994. MA El-Bayan Majenang. MAN Cigaru Majenang. 2. 5. lulus tahun 1992. : Ibu Rumah Tangga SD Islam al-Hidayah. ketiganya pada tahun yang sama (tahun 1995 sampai 1996) dan tidak lulus. MTs El-Bayan Bendasari Majenang. masuk tahun 1992. Malik Madany. Yogyakarta. Madrasah Muallimin Al-Hikmah Bumiayu. 10 Sya'ban 1425 H 25 September 2004 Dekan Fakultas Syari’ah Drs. lulus tahun 1999. Cilacap. Skripsi berjudul “Euthanasia Dalam Prespektif Fiqh Jinayah” yang disusun oleh MUKHLISIN NIM: 9937 3425 Telah dimunaqosyahkan di depan sidang munaqosyah pada tanggal 25 September 2004/10 Sya'ban 1425 H dan dinyatakan telah dapat diterima sebagai salah satu syarat guna memperoleh gelar sarjana dalam Ilmu Hukum Islam. 3. IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. MA Muhammadiyah Majenang. MA NIP: 150 182 698 . 4. 6. H. lulus tahun 1995.109 10. masuk tahun 1986. sampai tahun 1994. MA Al-Hikmah 1 Bumiayu. masuk pada tahun 1996. Pekerjaan Riwayat Pendidikan : 1. masuk tahun 1999.

dengan jiwa manusia lebih berarti bahwa dia seorang manusia. percuma apa yang ada didunia jika ilmu tak menghiasinya." "Carilah sesuatu yang baik dari apa yang engkau alami disekitarmu" "Tuangkanlah apa yang ada dihati dan difikiran dengan tanganmu lewat penamu supaya orang bisa menimba dari apa yang kamu bisa.110 Ketua Sidang Dr." . Fuad Zein. kadang manusia ingin lebih dari apa yang ada padanya." "Dunia itu hampa tanpa ilmu. MA NIP: 150 228 207 Pembimbing I Drs. dia terlena oleh buaian duniawi. Oman Fathurohman SW. MA NIP: 150 228 207 Penguji I Drs. Fuad Zein. maka Tuhan juga memberi kita fikiran agar bisa melindungi diri. tetapi kadang manusia lupa. Slamet Khilmi Penguji II Drs. dengan raga manusia dapat bergerak tetapi Tuhan juga memberi kita jiwa. MAg NIP: 150 222 295 MOTO "Tuhan berikan manusia berupa raga. H. MAg NIP: 150 222 295 NIP: 150 252 260 Sekretaris Sidang Fatma Amilia NIP: 150 277 618 Pembimbing II Drs. rasa. H. kuasa. Oman Fathurohman SW. baik harta.

‫اشرف النبياء والمرسلين محمد وعلى اله واصحابه اجمعين‬ :‫أمابعد‬ ّ Selesainya penyusunan skripsi ini. و أشهد أن محمدا عبده‬ ‫و رسوله المبعوث رحمة للعالمين. وبه نستعين على أمور الدنيا و الدين‬ ّ ‫أشهد أن ل إله إل ال الملك الحق المبين. karena menguras banyak tenaga dan pikiran. Oleh karena itu.111 KATA PENGANTAR ‫بسم ال الرحمن الرحيم‬ .‫الحمد ل رب العالمين. memberikan kebahagiaan yang tak ternilai bagi penyusun. و الصلة والسلم على‬ ّ ّ . yang bagi penyusun merupakan beban yang sangat berat. sebuah hal yang sangat wajar apabila penyusun mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuannya kepada penyusun sehingga penyusun dapat menyelesaikan penulisan .

112 skripsi ini. maupun materiil. Atas dukungannya baik do'a. Malik Madany. 6. Oman Fathurohman SW. Imam. Bapak. MA. Penyusun menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan dan masih banyak kekurangan. Kedua Oarang Tua. Iwan dan teman-temanku yang lain yang tidak dapat disebutkan satu-persatu atas bantuannya dan dukungannya. Eggi. Kamilatu Syifa. atas waktunya untuk membimbing dan memberi dorongan. 3. Slamet Khilmi. Untuk lebih rincinya penyusun mengucapkan banyak terima kasih kepada: 1. 4. moril. A. baik tekhnis maupun isi serta arahan-arahan dalam penyusunan skripsi ini. Mas Arifin. M. selaku Dosen Pembimbing II. Bapak. Sahabat-sahabatku. Bapak. penyusun hanya dapat membalas dengan doa. (Bapa) Maktubillah Muhammad dan (Ibu) Supriyatni.Ag selaku Dosen Pembimbing I. Dan Adikkku. segala kritik maupun saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan dan akan kami terima dengan kerendahan hati guna memperbaiki tugas kami selanjutnya . sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. Oleh karena itu. 5. Semua pihak yang tidak dapat disebut satu persatu atas bantuannya dan dukungannya. atas waktu dan bimbingan. Drs. 2. semoga perbuatan baik tersebut diterima Allah SWT dan mendapat balasan yang berlipat ganda. sehingga skripsi ini selesai. Afiyah Solikhakh. H. Drs. sebagai Dekan Fakultas Syari’ah. Sayarif Hidayat. Drs.

Dengan perkembangan teknologi di bidang kedokteran. menjadikan terjadinya perubahan-perubahan yang sangat cepat di dalam kehidupan sosial budaya manusia. Biasanya dilakukan penghentian terapi yang memperpanjang hidupnya. Pengobatan penyakit pun dapat berlangsung secara lebih efektif. memutuskan untuk mengakhiri kehidupannya dengan jalan euthanasia. Jika pertimbangan kemampuan untuk memperoleh layanan medis yang lebih baik tidak memungkinkan lagi. tidak kalah pesatnya perkembangan teknologi di bidang medis. yaitu perbuatan yang membiarkan pasien meninggal. dan sebagainya. 17 Jumadil Akhir 1425 H 4 Agustus 2004 Penyusun Mukhlisin NIM: 9937 3425 ABSTRAK Dengan pesatnya penemuan-penemuan teknologi modern. Secara umum euthanasia dibedakan menjadi dua. Dengan peralatan kedokteran yang modern itu. karena makna pembunuhan itu adalah menghilangkan nyawa seseorang yang dapat menghancurkan bangunan hidup manusia. Yogyakarta. Amin. artinya membawa pasien pulang ke rumah. rasa sakit seorang penderita dapat diperingan. diagnose mengenai penyakit dapat lebih sempurna dilakukan. 2. Di antara sekian banyaknya penemuan-penemuan teknologi tersebut. yaitu euthanasia aktif dan euthanasia pasif. menghentikan perawatan/pengobatan. misalnya menghentikan pemberian infus. menunda operasi. Dari hal inilah kemudian banyak pasien yang karena penyakitnya yang akut. Euthanasia pasif. terutama euthanasia aktif merupakan suatu tindakan pembunuhan walaupun atas dasar persetujuan si terbunuh. yaitu tindakan terapi dengan harapan dapat mempercepat kematian pasien. . baik karena sakit yang sangat akut dan menderita atau biaya yang amat terbatas. membawanya pulang. khususnya bagi penyusun dan pembaca pada umumnya.113 Harapan kami adalah semoga skripsi ini dapat menambah wawasan keilmuan dan bermanfaat bagi kita semua. Hidup seorang pasien pun dapat diperpanjang untuk sesuatu jangka waktu tertentu. dengan dukungan keluarga. Euthanasia. bahkan perhitungan saat kematian seorang pasien dapat dilakukan secara lebih tepat. Euthanasia aktif. maka dapat dilakukan dua cara: 1.

114

membiarkan pasien dalam perawatan seadanya, tanpa ada maksud melalaikannya, apalagi menghendaki kematiannya. Euthanasia adalah sebagai bentuk pembunuhan yang disengaja, apapun bentuknya pembunuhan, Allah melarang melakukannya, dan Allah mengingatkannya dengan bentuk ancaman dalam al-Qur'an yaitu berupa neraka jahannam. Dalam al-Qur'an tidak ada satupun ayat yang jelas yang menyinggung masalah euthanasia ini. Dalam fiqh jinayah euthanasia termasuk ke dalam jenis pembunuhan, yaitu telah memenuhi unsur maddi, syar'i dan adabi. Dan euthanasia ini merupakan jenis pembunuhan sengaja, maka sanksi atas tindakan euthanasia ini, adalah qisas. Dokter mendapatkan sanksi berupa qisas, tetapi tindakan dokter dilakukan atas izin dari pasien dan atas persetujuan dari keluarga pasien. Maka dokter tidak dihukum qisas, karena salah satu yang menyebabkan gugurnya hukum qisas adalah adanya kerelaan atau izin dari siterbunuh. Dan juga unsur kerelaan dalam pembunuhan merupakan syubhat yang dapat menggugurkan hukuman. Tetapi mengingat masalah euthanasia ini tidak hanya berimbas bagi orang perseorangan melainkan juga bagi masyarakat sekitar maka kemudian hakim atau ulul amri berhak memberikan hukuman berupa ta'zir.

115

BAB V PENUTUP

A.

KESIMPULAN Setelah menguraikan dan menjelaskan dalam bab-bab sebelumnya mengenai "Euthanasia dalam Prespektif Fiqh Jinayah", dapat diambil kesimpulan bahwa: 1. Dalam pandangan Fiqh Jinayah, euthanasia termasuk

kedalam bentuk pembunuhan, walaupun atas permintaan si terbunuh, karena dalam masalah euthanasia ini terdapat unsur penghilangan nyawa, sedangkan makna pembunuhan tersebut adalah: "Perbuatan perampasan atau peniadaan nyawa seseorang oleh orang lain yang mengakibatkan tidak berfungsinya seluruh anggota badan disebabkan ketiadaan roh sebagai unsur utama untuk menggerakan tubuh". Dan tindakan atas euthanasia tetap dilarang, tetapi sanksi hukumnyanya adalah ta'zir, karena perbuatan euthanasia terdapat unsur syubhat yang dapat menghilangkan hukuman asli (qisas) dan juga hukuman pengganti (diyat) karena terdapat persetujuan keluarga, sedangkan fungsi diyat

116

tersebut untuk ganti rugi atas tindakan yang telah dilakukan pelaku untuk kelangsungan hidup pihak wali atau ahli waris terbunuh.

B.

SARAN-SARAN Setelah menguraikan dan menjelaskan serta menyimpulkan tentang skripsi yang berjudul tentang "Euthanasia dalam Prespektif Fiqh Jinayah", maka dapat diberi saran-saran, antara lain: 1. Jika pertimbangan kemampuan untuk memperoleh layanan medis yang lebih baik tidak memungkinkan lagi, baik karena sakit yang sangat akut dan menderita atau biaya yang amat terbatas, maka dapat dilakukan dua cara: 1) menghentikan perawatan/pengobatan, artinya membawa pasien ke rumah; 2) membiarkan pasien dalam perawatan seadanya, tanpa ada maksud melalaikannya, apalagi menghendaki kematiannya. 2. Umat Islam diharapkan tetap berpegang teguh pada kepercayaannya yang memandang segala musibah (termasuk menderita sakit) sebagai ketentuan yang datang dari Allah. Hal itu hendaknya dihadapi dengan penuh kesabaran dan tawakal. 3. Perlu kiranya dalam Fiqh Jinayah diberikan kompilasi dan kodifikasi hukum Islam atas persoalan-persoalan jinayah (pidana) kontemporer, agar masyarakat lebih tahu akan sikap yang akan dilakukan dan sebagai bahan pendidikan bagi masyarakat muslim yang mempelajarinya khususnya.

117 .