DR. Ainur Rofiq, M.

Ag Dosen Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga NOTA DINAS Hal : Skripsi Saudara Ahmad Anfasul Marom

Kepada Yth: Dekan Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga Di Yogyakarta

As-salamu‟alaikum Wr.Wb. Setelah membaca, mengoreksi dan menyarankan perbaikan seperlunya, maka menurut kami skripsi saudara: Nama : Ahmad Anfasul Marom NIM : 99363504 Judul : “DISKURSUS PEMIKIRAN POLITIK ISLAM DI INDONESIA (Studi Pemikiran M. Natsir dan Abdurrahman Wahid tentang Relasi Islam dan Negara),” Sudah dapat diajukan untuk memenuhi sebagian dari syarat memperoleh gelar sarjana strata satu dalam Perbandingan Mazhab dan Hukum pada Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Bersama ini kami ajukan skripsi tersebut untuk diterima selayaknya dan mengharap agar segera dimunaqasyahkan, untuk itu kami ucapkan terima kasih. Was-salamu‟alaikum Wr.Wb.

Yogyakarta, 29 Syawal 1424 H 23 Desember 2003 M

Pembimbing I

DR. Ainur Rofiq, M.Ag. NIP: 150289213

ii

M. Nur, S.Ag, M.Ag Dosen Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga NOTA DINAS Hal : Skripsi Saudara Ahmad Anfasul Marom

Kepada Yth: Dekan Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga Di Yogyakarta

As-salamu‟alaikum Wr.Wb. Setelah membaca, mengoreksi dan menyarankan perbaikan seperlunya, maka menurut kami skripsi saudara: Nama : Ahmad Anfasul Marom NIM : 99363504 Judul : “DISKURSUS PEMIKIRAN POLITIK ISLAM DI INDONESIA (Studi Pemikiran M. Natsir dan Abdurrahman Wahid tentang Relasi Islam dan Negara)”. Sudah dapat diajukan untuk memenuhi sebagian dari syarat memperoleh gelar sarjana strata satu dalam perbandingan Mazhab dan Hukum pada Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Bersama ini kami ajukan skripsi tersebut untuk diterima selayaknya dan mengharap agar segera dimunaqasyahkan, untuk itu kami ucapkan terima kasih. Was-salamu‟alaikum Wr.Wb.

Yogyakarta, 29 Syawal 1424 H 23 Desember 2003 M

Pembimbing II

M. Nur, S.Ag, M.Ag. NIP: 150282522

iii

PENGESAHAN Skripsi berjudul DISKURSUS PEMIKIRAN POLITIK ISLAM DI INDONESIA (STUDI PEMIKIRAN M. NATSIR DAN ABDURRAHMAN WAHID TENTANG RELASI ISLAM DAN NEGARA) Yang disusun oleh: Ahmad Anfasul Marom NIM: 99363504 Telah dimunaqasyahkan di depan sidang munaqasyah pada tanggal 10 Februari 2004 M / 19 Dzulhijjah 1424 H. Dan dinyatakan telah dapat diterima sebagai salah satu syarat guna memperoleh gelar sarjana dalam Hukum Islam.

Yogyakarta, 1 Muharram 1425 H 22 Februari 2004 M DEKAN FAKULTAS SYARI‟AH IAIN SUNAN KALIJAGA

Drs. Malik Madany, M.Ag. NIP: 150182698 Panitia Munaqasyah Ketua Sidang Sekretaris Sidang

Drs. Kholid Zulfa, M.Si NIP: 150266740 Pembimbing I

Drs. Slamet Khilmi NIP:150252260 Pembimbing II

DR. Ainur Rofiq, M.Ag. NIP: 150289213 Penguji I

M. Nur, S.Ag, M.Ag. NIP: 150282522 Penguji II

DR. Ainur Rofiq, M.Ag. NIP: 150289213

A. Yani Anshori, S.Ag, M,Ag NIP: 150276308

iv

Kupersembahkan. Mbak Arin. serta Ponakan-ponakanku Guru-Guruku Yang Penuh Ikhlas Mendidikku Dan Yang Tak Sekedar Hasrat Perjuangan Yakni Sang Waktu Yang Setia Mengiringi Pengembaraan Intelektualku v . Mas Asfan. Adikku Azim. Untuk Kampus Putih IAIN Ibu (Almarhumah) dan Bapak Mbak Luluk.

(QS. Alam Nasyrah : 1-8) vi .Motto: ‫اىرٙ أّقغ ظٖـسك‬ ●‫أىٌ ّشـسذ ىل طد زك● ٗٗػؼـْاػْل ٗشزك‬ ّ ّ ‫ٗزفؼْا ىل ذمسك● فئُ ٍغ اىؼعسٝعـسا● إُ ٍغ اىؼعسٝعـسا● فئذا‬ ● ‫فسغد فاّظـة● ٗإىٚ زتّل فازغـة‬ Artinya: Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? (1) Dan kami telah menghilangkan beban darimu (2) Yang memberatkan punggungmu (3) Dan kami tinggikan sebutan (nama) mu (4) Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (5) Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (6) Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan). kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain (7) Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap (8) .

Konsonan Tunggal Huruf Arab ‫ا‬ ‫ب‬ ‫خ‬ ‫ز‬ ‫ج‬ ‫ذ‬ ‫ش‬ ‫د‬ ‫ذ‬ ‫ز‬ ‫ش‬ ‫ض‬ ‫غ‬ ‫ص‬ Nama Alif Ba‟ Ta‟ Sa‟ Jim H{a Kha Dal Z|al Ra‟ Zai Sin Syin S{ad Huruf Latin Tidak dilambangkan B T S| J H{ Kh D Z| R Z S Sy S{ Keterangan Tidak dilambangkan Be Te Es (titik di atas) Je Ha (titik di bawah) Ka dan ha De Zet (titik di atas) Er Zet Es Es dan Ye Es (titik di bawah) vii . 158 dan no. 0543 b/U/1987.PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB LATIN Penulisan transliterasi Arab-Latin dalam penyusunan skripsi ini menggunakan pedoman transliterasi dari keputusan bersama Menteri Agama RI dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI no. Secara garis besar uraiannya adalah sebagai berikut: A.

viii . Vokal Pendek Fathah ( _َ_ ) ditulis a.‫ع‬ ‫ؽ‬ ‫ظ‬ ‫ع‬ ‫ؽ‬ ‫ف‬ ‫ق‬ ‫ك‬ ‫ه‬ ً ُ ٗ ‫ٕـ‬ ‫ء‬ ٛ D{ad T{a Z{a „Ain Gain Fa‟ Qaf Kaf Lam Mim Nun Wau Ha‟ Hamzah Ya D{ T{ Z{ „G F Q K L M N W H ‟Y De (titik di bawah) Te (titik di bawah) Zet (titik di bawah) Koma terbalik (di atas) Ge Ef Qi Ka El Em En We Ha Apostrof Ye B. Kasrah ( _َ_ ) ditulis I. ّ ِٖ‫ت‬ C. Konsonan Rangkap Konsonan rangkap yang disebabkan Syaddah ditulis rangkap. Contoh : ّ ‫ ّص ه‬ditulis nazzala. ditulis bihinna. dan Dammah ( _َ_ ) ditulis u.

Contoh : ‫تداٝح اىَدرٖد‬ ditulis Bida>yah al-Mujtahid.Contoh : ‫ أزَد‬ditulis ah}mada. Fathah + Alif ditulis a ‫فال‬ ditulis fala> 2. Ta’ Marbutah di Akhir Kata Bila dimatikan ditulis h. D. Kasrah + Ya‟ mati ditulis i ‫ٍٞثاق‬ ditulis mi>s}aq 3. Kata ini tidak berlaku terhadap kata „Arab yang sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia seperti: salat. Dammah + Wawu mati ditulis u ‫أط٘ه‬ ditulis us}u>l E.) di atasnya. Fathah + Wawu mati ditulis au ‫ؽ٘ق‬ ditulis t}auq F. Vokal Panjang Bunyi a panjang ditulis a. ‫ زفك‬ditulis rafiqa. zakat dan sebagainya kecuali bila dikehendaki lafaz aslinya. 1. Fathah + Ya‟ mati ditulis ai ٜ‫ اىصزٞي‬ditulis az-Zuh}aili> 2. masing-masing dengan tanda hubung ( . ‫ طير‬ditulis s}aluha. ix . bunyi I panjang ditulis I dan bunyi u panjang ditulis u. Vokal Rangkap 1.

‫اىْعاء‬ ditulis an-Nisa‟. maka ditulis sesuai dengan bunyi vokalnya. x .G. Kata Sandang Alif + Lam 1. ‫زتائة‬ ditulis raba>‟ib 4. 2. Bila terletak di akhir kata. Bila terletak di tengah kata dan dimatikan. ‫اىثقسج‬ ditulis al-Baqarah. ‫ٗؽء‬ ditulis wat}‟un 3. Hamzah 1. maka ditulis berdasarkan bunyi vokal yang mengiringinya. Bila diikuti huruf qamariyah ditulis al. ُ‫إ‬ ditulis inna 2. Bila diikuti huruf syamsiyah. maka ditulis dengan lambang apostrof ( ‟ ). Bila terletak di awal kata. ُٗ‫ ذؤخر‬ditulis ta‟khużu>na. Bila terletak di tengah kata dan berada setelah vokal hidup. huruf ‫ ا‬diganti dengan huruf syamsiyah yang bersangkutan. H. maka ditulis dengan lambang apostrof ( ‟ ).

t. Dengan tetap mengharapkan pertolongan. dengan judul : Diskursus Pemikiran Politik Islam di Indonesia: Studi Pemikiran M. Penyusun menyadari. Rasul pembawa misi pembebasan dari pemujaan terhadap berhala.W. Semoga kesejahteraan senantiasa menyelimuti keluarga dan sahabat Nabi beserta seluruh ummat Islam. Yang telah menganugerahkan nikmat Islam dan Iman.KATA PENGANTAR ‫بسم اهلل الرحمن الرحيم‬ ‫اىسَد هلل زب اىؼاىَِٞ ، أشٖد أُ ال إىٔ إال هللا ٗأشٖد أُ ٍسَدا‬ ‫زظ٘ه هللا ، ظثساُ اىرٙ ٕداّا تقظض اىغاتسِٝ ، ٗخؼيٖا ػثسج‬ ‫ىيراتؼِٞ إىٚ ًٝ٘ اىدِٝ ، ٗاىظالج ٗاىعالً ػيٚ ظٞدّا ٍسَد زظ٘ه هللا‬ ِ‫طيٚ هللا ػيٞٔ ٗظيٌ ، اىرٙ ماّد زٞاذٔ ٍَيؤج تَنازً األخالق ٍٗساظ‬ ‫اىظفاخ ، ٗػيٚ أىٔ ٗأطساتٔ أخَؼِٞ ، أٍا تؼد‬ Puji syukur saya haturkan ke Hadirat Allah s. Natsir dan Abdurrahman Wahid tentang Relasi Islam dan Negara. Namun. karunia dan hidayah-Nya. Shalawat dan salam semoga senantiasa dicurahkan kepada Nabi Muhammad S. alhamdulillah penyusun mampu menyelesaikan penulisan skripsi ini untuk melengkapi salah satu syarat memperolah gelar sarjana dalam Fakultas Syari‟ah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. berkat pertolongan Allah xi .w.A. Rasul dengan misi suci untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. penyusunan skripsi ini tentunya tidak bisa lepas dari kelemahan dan kekurangan serta menjadi pekerjaan yang berat bagi penyusun yang jauh dari kesempurnaan intelektual.

Bapak dan Ibu Dosen beserta seluruh civitas akademika Fakultas Syari‟ah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. S.Ag. di antaranya seluruh pegawai UPT dan perpustakaan Pasca Sarjana IAIN Sunan Kalijaga. yang dengan sabar bersedia membimbing kesulitan penyusun di tengah kesibukan waktunya. 2. dan sekaligus sahabat diskusi dalam penyusunan skripsi ini. 3. penyusun ucapkan terima kasih atas semua pengetahuan yang telah diberikan. selaku pembimbing II yang telah banyak memberikan masukan dan arahannya yang sangat berharga dalam membantu penyempurnaan skripsi ini. Ignatius. M. selaku pembimbing I. M. 5. Agus Nadjib. penyusun ucapkan terima-kasih pula pada pihak-pihak yang banyak membantu proses akumulasi data. M.Ag. M. Dan bantuan dari berbagai pihak. Ainur Rofiq.T. 4. Dr. Karena itu. Nur. selaku Ketua Jurusan dan Sekretaris Jurusan PMH. M. MA dan Moh. xii . Drs.Ag. Selaku Dekan Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. akhirnya skripsi ini dapat diselesaikan. Abdul Halim. dan Perpustakaan LKiS. Malik Madany. Selain itu.W.Ag. yang semuanya ada di Yogyakarta.Ag. dalam kesempatan ini penyusun ingin mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya kepada: 1. perpustakaan ST.S.

teman-teman kelas PMH-2 ‟99 xiii . Aliya. 8. adinda Azim. Mas Udin. Najib. S. Nadim. demi proses pengembaraan intelektual ananda. 7. Seluruh keluarga yang berkat kasih-sayangnya benar-benar memahami kemauan saya. Mbak Arin-Mas Jun. melalui perbincangan ringan yang selalu menyegarkan. Untuk kakak-kakak dan adikku: Mbak Luluk-Mas Sohib. dan harapan pada diri penyusun. Rekan-rekan “Senat Mahasiswa” di Lembaga S M I (Senat Mahasiswa Institut) IAIN Sunan Kalijaga.Ag. Arul. 9. yang senantiasa melantunkan do‟a di sela-sela waktunya dengan tulus dan ikhlas. dan Mas Atho‟ yang ikut memperkaya wawasan saya mengenai sejarah dan perkembangan politik di Tanah Air ini. sahabat-sahabat diskusi di pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). terkhusus Ayahanda dan Ibunda tercinta (almarhumah). Mas Isfah (Alex). serta untuk seluruh komunitas “Griya Natural” 45i Sapen yang hampir setiap hari selalu bersama dalam menjalani proses belajar. Mas Umarrudin Masdar. Humaida. yang telah banyak menaruh perhatian. Bank Indonesia (BI). Tak lupa juga penyusun ucapkan terima-kasih kepada semua keluarga terkait yang mendukung studi saya di Yogyakarta. dan Ainul Yaqin. yaitu Bahru. serta keponakankeponakanku. Saudara Ahmad Sahidah. M.Ed. Mas Asfan-Mbak Anis.6.Ag. sehingga meringankan penyusun dalam memperoleh data buku atau karya ilmiah yang berkaitan. M. yang telah memberikan bantuan beasiswa atas penulisan skripsi ini.

T. Semoga mereka semua selalu mendapatkan rahmat.yang sedikit banyak turut membantu proses pendewasaan berfikir. Yang tidak sekedar indah. Tatinia. yang terakhir dan yang telah memberikan arti dalam diri penyusun. hidayah dan ma‟unah dari Allah S. Yogyakarta. Amin. dan mereka yang tidak bisa penyusun sebut satu persatu di sini.W. 23 Desember 2003 Penyusun Ahmad Anfasul Marom xiv . 10.

.................................................................. 19 G........................................................... HALAMAN MOTTO ..... 22 BAB II : ASAL ................... Sistematika Pembahasan .....................USUL DAN TIPOLOGI PEMIKIRAN TENTANG RELASI ISLAM DAN NEGARA ................................ C......... xv BAB I : PENDAHULUAN ............................ F.......................... Tujuan Dan Kegunaan ..............................................................................................................................................................................................................................................................DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ......... E............................................... Latar Belakang Masalah ...............…......................................................... Pokok Masalah .......................................................................... vii KATA PENGANTAR ..................................................... B.......................................... Kerangka Teoretis ............................................................... HALAMAN NOTA DINAS ........... HALAMAN PENGESAHAN .... A..............................................................… 24 xv ............................... 1 1 7 7 8 11 Metode Penelitian ............................ HALAMAN PERSEMBAHAN ............…............... D............................................... xi DAFTAR ISI ............... i ii iv v vi PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB LATIN .......................................... Telaah Pustaka .

................................................................................................. 96 BAB IV : ANALISIS TERHADAP PEMIKIRAN M............ 57 1............. Latar belakang Sosial Politik .. 111 A................ Tipologi Pemikiran Islam dan Negara ..................... Natsir tentang Relasi Islam dan Negara ............... Pemikiran Gus Dur tentang Relasi Islam dan Negara ................................. 85 1........ 57 2................... Perspektif Modernisme .............................. 68 B...........A....................... 1............ 111 B............ 148 A.......................... NATSIR DAN ABDURRAHMAN WAHID...... Sketsa Biografi M..........................…................................................................... Perbedaan ................................................................ NATSIR DAN ABDURRAHMAN WAHID TENTANG RELASI ISLAM DAN NEGARA ....................................... Implikasi .......................................... Latar belakang Sosial Politik ................................... BAB III : POKOK-POKOK PEMIKIRAN M....................................……….............. Perspektif Neo-Modernisme .......... Pemikiran M........................…...................................Natsir ............ 148 xvi ........................................... Awal Perdebatan Islam dan Negara di Indonesia 24 45 48 51 ....... 57 A................ 85 2.. Sketsa Biografi Abdurrahman Wahid ........................................ 2........... B............................................................. 117 C................. 129 BAB V : PENUTUP ....................................................... Persamaan .. Kesimpulan ....................

............................. Saran-Saran ........................... III Lampiran III............................................ Terjemahan ........................................ Lampiran I......... 150 BIBLIOGRAFI .................... Curiculum Vitae ... VII Lampiran IV............................. Biografi Ulama ....B..................................... 151 LAMPIRAN-LAMPIRAN: .................................................................. Daftar Istilah .................. IX xvii ........................................................................... I I Lampiran II...............................................

Hal yang sama terjadi pada 1999 tahun lalu yang menggunakan sistem multipartai dan lagi-lagi Islam belum cukup kuat untuk meletakkan ideologi Islam sebagai dasar negara. khususnya Islam. akan tetapi wacana ini selalu survive pada momen-momen tertentu. maupun Islam. 2002). 2 1 xviii . ke-1(Jogjakarta: Mata Bangsa. Percaturan Politik di Indonesia: Demokrasi. Latar Belakang Masalah.BAB I PENDAHULUAN A. tidak menutup kemungkinan bahwa Douglas E. cet. Gagasan tentang relasi Islam dan Negara selalu menjadi wacana aktual di Indonesia meskipun telah diperdebatkan beberapa tahun yang lalu. 1 Pada tahun 1950-1955 melahirkan sistem multipartai. Berhubung partai politik merupakan salah satu alat untuk mewujudkan cita-cita gagasan. Ramage. ini merupakan kesempatan besar bagi Partai Islam untuk memperjuangkan Islam sebagai asas Negara. pancasila menjadi bagian perdebatan politik yang tak terelakan oleh Politikus dan Agamawan. Sejak pancasila dijadikan dasar ideologi formal Republik Indonesia pada tahun 1945 oleh Soekarno. akan tetapi apa yang dicita-citakannya masih belum bisa dicapai sampai sekarang. alih bahasa Hartono Hadikusumo. baik itu yang berideologikan nasionalis. Hampir bisa dipastikan ketegangan dan perdebatan ini muncul menjelang pemilu karena momen ini merupakan kesempatan besar bagi semua golongan yang ingin memperjuangkan aspirasi politiknya. hlm. Islam. dan Ideologi Toleransi. dan mengalami fluctuative discourse dalam percaturan politik di Indonesia.

Di antara para tokoh aliran ini ialah Rasyid Ridha dan Al-Maududi. oleh sebab itu tidak ada alasan memisahkan keduanya. aliran integratif modernis. 19. Natsir dan Abdurrahman Wahid3 tentang Relasi Islam dan Negara). Sebenarnya sumber perdebatan itu adalah relasi Islam dan negara. Untuk penulisan selanjutnya Penyusun akan mengganti nama Abdurrahman Wahid menjadi Gus Dur yang telah akrab dikalangan masyarakat luas. Pertama. Menurut Munawir Sjadzali ada tiga kategori dalam memandang hubungan Islam dan negara di kalangan tokoh Islam.. 3 xix . Sebelumnya pada tahun 1978-1985 telah terjadi ideologisasi pancasila yang diinstruksikan oleh Soeharto." penyusun lebih memfokuskan pada dua tokoh ini yang tentunya telah banyak mewarnai wacana perdebatan Islam dan Negara sepanjang lahirnya kemerdekaan bangsa Indonesia sampai saat ini. apakah berasaskan Islam atau sekuler ? Penelitian ini mengambil judul "Diskursus Pemikiran Politik Islam di Indonesia (Studi Pemikiran M. yakni mengenai perdebatan ideologi. dan kemudian menimbulkan perdebatan yang luar biasa di kalangan tokoh dan gerakan ideologi Islam. aliran konservatif tradisionalis.pemilu 2004 yang akan datang juga muncul polemik sistem negara apalagi Islam formalis masih berada di ujung kekakalahan. hlm. yang berpendapat bahwa Islam tidak mempunyai sistem negara yang detail 2 Ibid. Insiden politik semacam itu sempat terulang kembali pada tahun 1990 di negeri ini. yang berpendapat Islam adalah agama yang sempurna dalam mengatur aspek kehidupan manusia termasuk kehidupan bernegara. Kedua.2 khususnya mengenai sistem negara apa yang akan dipakai untuk membangun Indonesia.

khususnya azas negara. sedangkan Gus Dur sebagai tokoh neo-modernis (meminjam istilah Greg Barton). Dan yang Ketiga. dalam hal ini penyusun lebih suka memposisikan M. Islam tidak ada hubunganya dengan negara karena menurut aliran ini Muhammad tidak pernah mengepalai dan mendirikan negara. Pertama. Natsir dan Gus Dur memang masuk dalam kategori aliran integratif modernis yang sebenarnya dalam klasifikasinya Munawir Sjadzali merupakan terma dari modernis. 1999). edisi ke-5 (Jakarta: UI Press. 1-2. Gagasan Islam Liberal di Indonesia: Pemikiran Neo-Modernisme Nurcholish Madjid. apalagi kelompok (background) yang diwakilinya sangat kontradiktif dengan gagasan dan prilaku politik tokoh tersebut. M. Sejarah dan Pemikiran. ini karena pemikirannya yang liberal dan rasional tentang isu kontemporer (baik itu politik. Islam dan Tata Negara: Ajaran. Ahmad Wahib dan Abdurrahman Wahid.4 Dari ketiga aliran tersebut.tetapi di dalamnya terdapat nilai etika kehidupan bernegara. Djohan Effendi. Tokoh utama aliran ini ialah Ali Abd al-Raziq dan Thaha Husein. secara umum keduanya masuk dalam kategori aliran yang sama yaitu integratif modernis tetapi beda pendapat mengenai relasi Islam dan negara. 518. Gus Dur yang dibesarkan dalam lingkungan Baca. ke-1 (Jakarta: Paramadina. hlm. Husein Haikal. Tokoh yang terkemuka yaitu M.5 Kedua tokoh ini menarik untuk dikaji. cet. budaya dan agama) dengan tetap setia pada posisi konservatif- tradisional bahwa kejujuran dan kebenaran al-Qur'an tidak perlu diganggu gugat. 5 4 xx . Natsir sebagai tokoh modernis. alih bahasa Nanang Tahqiq. Munawir Sjadzali. Greg Barton. aliran nasionalis sekuler. 1993). hlm.

kaum tradisionalis,6 yaitu NU yang nota bene orientasi politiknya berkiblat pada ulama klasik seperti Al-Mawardi dan Al-Ghazali ternyata mampu mengapresiasikan pemikiran liberal yang cenderung ala Ali Abd al-Raziq,7 sedangkan M. Natsir yang dibesarkan dalam lingkungan modernis justru lebih akrab dengan pemikiran politik Islam fundamentalis seperti al-Maududi yang sangat menginginkan Islam dijadikan sebuah dasar negara karena menurut M. Natsir sendiri meniru sistem pemerintahan Barat adalah tindakan sekuler yang bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam.8 Kedua, wacana ini selalu aktual di Indonesia apalagi ketika mendekati pemilu. Dan tentunya gagasan kedua tokoh tersebut juga masih banyak mempengaruhi wacana perdebatan Islam dan negara di Indonesia. Setidaknya kedua alasan inilah yang menyebabkan penelitian ini dilakukan. M. Natsir menawarkan Islam sebagai azas negara bukanlah aksi pembangkangan negara (makar), akan tetapi lebih pada penghidupan demokrasi. Oleh sebab itu dalam pidatonya pada sidang pleno konstituante (12 November 1957) ia menghendaki negara Indonesia ini berazaskan ideologi Islam. "Negara demokrasi berdasarkan Islam".9 Keinginannya ini Bukan semata-mata karena Islam agama mayoritas di Indonesia melainkan ajaran

Laode Ida dan A. Thantowi Jauhari, Gus Dur di antara Keberhasilan dan Kenestapaan, (Jakarta: Rajawali Press, 1999), hlm. 39. Andrée Feillard, NU vis-a-vis NEGARA: Pencarian Isi, Bentuk dan Makna, (Yogyakarta: LkiS, 1999), hlm. 380. M. Natsir, Agama dan Negara dalam Perspektif Islam, cet. ke-1 (Jakarta: Media Dakwah, 2001), hlm. 200.
9 8 7

6

Ibid.

xxi

Islam mengenai ketatanegaraan dan kehidupan bermasyarakat itu mempunyai sifat yang sempurna dalam menjamin kerukunan beragama dan bernegara.10 Sementara mengenai sistem pemerintahan suatu negara, M. Natsir berpendapat boleh meniru pemerintahan Barat asalkan tidak melanggar nilainilai dasar Islam. Karena baginya Islam memang tidak mempunyai sistem ketatanegaraan yang sempurna.11 Ini menarik untuk dicermati satu sisi M. Natsir terbuka untuk memakai sistem apa yang akan dipakai di Indonesia sisi lain dia bersikeras memperjuangkan Islam sebagai azas ideologi negara.12 Sedangkan menurut Gus Dur apabila politik, budaya dan agama diideologikan fungsinya bisa terdistorsi karena yang muncul bukanlah struktur yang lebih baik melainkan konflik horizontal.13 Hal yang senada diungkapkan oleh Cak Nur bahwa Islam bukanlah sebuah ideologi, sebab pendapat Islam sebagai ideologi hanya akan menyamakan agama itu setaraf dengan ideologiideologi yang ada di dunia.14 Dalam memandang relasi Islam dan negara, masalah ketatanegaraan merupakan hal yang tak bisa ditinggalkan, sebab faktor inilah yang kemudian seringkali memunculkan perdebatan antara kelompok muslim idealis dan
10

Ibid., hlm. 203.

Kamaruzzaman, Relasi Islam dan Negara: Perspektif Modernis dan Fundamentalis. (Magelang: IndonesiaTera, 2001), hlm. 70. Natsir berpendapat bahwa Islam bukan hanya suatu agama tapi juga sebuah ideologi karena di dalamnya mengandung dua unsur yaitu Mu„ammalah ma„a Allah dan Mu„a,,alah ma„a an-Nas. baca M. Natsir, Agama dan Negara, 219. Dedy Djamaluddin Malik dan Idy Subandy Ibrahim, Zaman Baru Islam Indonesia: Pemikiran dan Aksi Politik Abdurrahman Wahid, M. Amien Rais, Nurcholis Madjid, dan Jalaluddin Rakhmat, (Bandung: Zaman Wacana Mulia, 1998), hlm. 77.
14 13 12

11

Ibid. hlm. 169.

xxii

realis di negara kita. Adanya “Sistem Kekhalifahan” di masa Rasulullah S.A.W. dan Sahabat membuat sebagian masyarakat muslim dunia semakin menyakini bahwa jauh sebelum sistem demokrasi muncul, sebenarnya Islam telah mempunyai sistem Tata Negara sendiri. Dalam perspektif Ahl as-Sunnah wa al-Jama>„ah pemerintahan dinilai dari segi fungsionalnya bukan pada formalitas bentuknya, apakah negara Islam atau bukan. Disamping itu, menurut Gus Dur Islam tidak mempunyai konsep pemerintahan yang definitif, misalnya tentang suksesi kepemimpinan terkadang memakai istikhla>f, bay„ah, dan ahl al-H{alli wa al-Aqdi (sistem formatur). Hal ini menunjukkan Islam inkonsisten dan tidak mempunyai konsep yang baku.15 Atas dasar pemikiran inilah, Gus Dur menerima ideologi pancasila sebagai azas negara, dan yang terpenting baginya adalah umat Islam bisa melaksanakan kehidupan beragama secara penuh dan tetap berpegang pada etika sosial (social ethic). Berbeda dengan M. Natsir yang menolak secara tegas ideologi pancasila sebagai dasar negara Indonesia. Tetapi bukan berarti jalannya pemerintahan terlepas dan terpisah dari keagamaan begitu saja karena baginya Islam sendiri tidak asing dengan nilai-nilai demokrasi dan kemajemukan. Menurut penyusun "posisi Gus Dur yang menempatkan pancasila sebagai pra-syarat

15

Ibid.

xxiii

1994). Islam dan nasionalisme inilah yang secara intelektual politis melatarbelakangi keikutsertaan Islam dalam diskursus politik dan ideologi negara di Indonesia selama ini. Tujuan dan Kegunaan. (Yogyakarta: LKiS. demokrasi. Apa implikasi tesis mereka terhadap pemikiran politik Islam di Indonesia? Tiga pokok masalah di atas diharapkan dapat mewakili (cover) dari beberapa masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini. Dari uraian di atas dipaparkan bahwa ada persamaan dan perbedaan pemikiran di antara M. xxiv .demokratisasi dan pembangunan keIslaman yang sehat di Indonesia nampaknya harus dilihat dari perspektif neo-modernisme. Pokok Masalah. Di samping itu juga berguna untuk memperjelas arah penelitian yang dimaksud. 104. Mengapa kedua tokoh itu mengajukan tesis yang berbeda? 3. hlm. Oleh sebab itu perlu penyusun tegaskan bahwa fokus dari permasalahan ini yaitu: 1. B. Natsir dan Gus Dur mengenai hubungan Islam dan negara. C.. Bagaimanakah pemikiran kedua tokoh tersebut mengenai relasi Islam dan negara? 2."16 Integrasi antara kemajemukan. keduanya sama-sama menjunjung nilai demokrasi tetapi berbeda dalam gagasan dan prilaku politiknya Hal ini bisa disebabkan latar belakang sosiohistoris yang berbeda. 16 Andrrée Fillard dkk. Gus Dur NU dan Masyarakat Sipil.

Natsir dan Gus Dur mengenai wacana Islam dan negara. Sebagai prediksi. Mengidentifikasi asal-usul gagasan kedua tokoh tersebut dalam perspektif perbandingan. Untuk mendapatkan penjelasan (explanation) yang lebih tajam tentang karakteristik pemikiran antara M.Skripsi ini dibuat sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana dalam bidang Perbandingan Madzhab Dan Hukum di Fakultas Syari'ah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Mendapatkan deskripsi yang jelas mengenai implikasi kedua gagasan tersebut dalam konteks perkembangan Islam dan politik Indonesia saat ini. Bisa dijadikan salah satu sumber diskusi dalam mengkaji relasi Islam dan negara di Indonesia. 3. khususnya dalam perspektif Islam modernis dan neomodernis. Selain itu juga ada tujuan yang lain yaitu: 1. baik itu latar belakang sosial. Dapat diketahuinya faktor-faktor yang mempengaruhi secara signifikan terhadap karakteristik pemikiran kedua tokoh tersebut dalam mengkaji azas negara (Pancasila). khususnya azas negara Indonesia. 2. 2. pendidikan dan politik. Telaah Pustaka. 3. Adapun dari penulisan ini diharapkan dapat diambil beberapa manfaat atau kegunaan. D. di antaranya: 1. xxv . sejauh mana implikasi kedua pemikiran itu dalam perubahan dan perkembangan politik Islam di Indonesia saat ini.

Natsir namun tidak lengkap karena lebih memfokuskan pada gerakan partai politiknya. Karya ini meneliti tentang relasi Islam dan politik yang kemudian menggambarkan prilaku partai-partai Islam dalam menghadapi kebijakan politik Soekarno saat itu. Natsir dan Gus Dur sekaligus. Syafi'i Maarif yang dibukukan dengan judul Islam dan Politik: Teori Belah Bambu Masa Demokrasi Terpimpin (1959-1965). pemikiran M. Natsir dan Gus Dur mengenai Relasi Islam dan Negara di Indonesia. Penelitian ini mempunyai Dua variabel. Natsir dan Gus Dur. maka penyusun merasa perlu menelaah buku-buku yang berkaitan dengan variabel tersebut. Kedua. Akan tetapi pembahasan itu sering kali tidak dilakukan secara bersamaan hanya difokuskan pada satu tokoh saja kalau memang ada yang mengkaji perbandingan itu juga tidak membahas M. khususnya partai Masyumi yang dibubarkannya. Banyak buku atau karya ilmiah yang membahas M. Natsir dan Gus Dur adalah tokoh pemikir dan sekaligus seorang politikus yang sangat dikenal oleh masyarakat luas. Dalam tesisnya A. meskipun keduanya hidup pada masa yang berlainan. Pertama. Modernisme dan Fundamentalisme dalam Politik Islam: Perbandingan Partai Masyumi (Indonesia) dan Partai Jama'at Islami xxvi .M. namun gagasannya selalu aktual bahkan sering dijadikan rujukan dalam diskusi dan aksi politik. baik itu biografi. prilaku politik maupun gagasannya. Disamping itu. mengenai diskursus pemikiran politik Islam di Indonesia. Di sini penyusun sempat membahas M. Karena penulisan ini meliputi dua variabel di atas.

(Pakistan) karya Yusril Ihza Mahendra. Buku politics in Indonesia: Democracy. Natsir dibanding Natsir yang mewakili tokoh modernisme Islam. Sementara itu. Buku ini merupakan hasil penelitian yang banyak didasarkan pada wawancara personal xxvii . Sedangkan Ahmad Suhelmi dalam bukunya Soekarno Versus Natsir: Kemenangan Barisan Megawati Reinkarnasi Nasionalis Sekuler (1999) juga mengkaji pemikiran kenegaraan dalam perspektif M. buku ini lebih menitik beratkan pada partai-partai di atas meskipun ada tokoh yang dilibatkan seperti M. Di samping itu penulis juga menyinggung sedikit polemik M. khususnya mengenai ideologi pancasila dalam relevansinya dengan persoalan dekonfensionalisasi politik Islam di Indonesia. Natsir. Dengan kesimpulan bahwa buku ini hanya menyoroti keterwakilan kaum muslim secara proporsional dalam lembaga-lembaga negara dan dipertahankannya komitmen bahwa Indonesia bukanlah negara sekuler. Natsir dan Maududi sebagai representasi dari modernisme dan fundamentalisme akan tetapi kedua tokoh itu tidak menjadi fokus kajiannya karena lebih pada partai tempat tokoh ini berpolitik. khususnya pandangan M. Natsir dengan Soekarno mengenai azas negara. Ramage membahas Islam dan demokrasi. Natsir vis-a-vis Soekarno. Islam and Ideology of Tolerance yang ditulis Douglas E. Buku ini lebih melihat sosok pemikir M. Bahtiar Effendy dalam bukunya Islam dan Negara: Transformasi Pemikiran dan Praktik Politik Islam di Indonesia (1998) yang menjelaskan relasi Islam dan negara di Indonesia.

untuk melihat pola pemikirannya Abdurrrahman Wahid dalam mengakaji pancasila sebagai asas negara. Skrpisi yang dibukukan dengan judul Membaca Pikiran Gus Dur dan Amin Rais tentang Demokrasi. Karya Umaruddin Masdar, berusaha melacak pola pemikiran kedua tokoh tersebut dalam mempertemukan Islam dan demokrasi. Dalam hal ini penulis lebih memfokuskan pada konsep demokrasi dengan menggunakan teori politik sunni sebagai rujukan utama untuk meneliti gagasan kedua tokoh tersebut. Sedangkan buku Islam Demokrasi Atas Bawah: Polemik Perjuangan Umat Model Gus Dur dan Amien Rais yang disunting oleh Arief Affandi merupakan buku yang lebih menyoroti tentang strategi perjuangan kedua tokoh tersebut dalam menyikapi gerakan demokratisasi di Indonesia. Dan yang terakhir tesis yang berjudul Menyingkap Pemikiran Politik Gus Dur Dan Amien Rais Tentang Negara karya Ma'mun Murod al-Brebesy, tesis ini telah dibukukan dengan fokus kajian membandingkan pemikiran kedua tokoh tersebut mengenai relasi Islam dan negara, civil society dan demokratisasi. Selain buku-buku di atas penyusun juga menelaah karya asli dari kedua tokoh tersebut yang banyak berupa tulisan lepas dan artikel media. E. Kerangka Teoretis. Lahirnya kemerdekaan Indonesia membuat para tokoh nasional, baik paham nasionalis, sekuler maupun Islam untuk berfikir serius dalam meletakan dasar filosofis negara, terlepas itu perjuangan atau kepentingan

xxviii

golongan yang jelas Indonesia saat itu memerlukan konsep dasar negara yang kuat sehingga terjamin kemaslahatannya dan terhindar dari segala

kemudlaratan . Lebih lanjut, karena penelitian ini mengkaji masalah Islam dan negara maka penyusun mengkategorikannya dalam perspektif Fiqih as-Siyya>syah atau Siyya>syah as-Syar„iyyah. Menurut Abdul Wahab Khallaf definisi Siyya>syah as-Syar„iyyah ialah wewenang seorang penguasa atau pemimpin dalam mengatur kepentingan umum demi terciptanya kemaslahatan dan terhindar dari kemudaratan.17 Dengan demikian siapapun yang ingin membangun pemerintahan yang baik harus berlandaskan pada Mas}lah}ah alMursalah (kepentingan umum). Menurut Imam Malik Mas}lah}ah al-Mursalah itu merupakan salah satu dari epistimologi syari'ah. Dengan syarat bahwa: 1) kepentingan umum itu bukanlah suatu hal yang berkaitan dengan ibadat (transeden). 2) kepentingan umum itu selaras dan tidak bertentangan dengan nilai dasar Syari„ah (Alqur'an dan Sunnah).3) kemaslahatan umum itu haruslah merupakan kepentingan esensial yang sangat diperlukan.18 Setidaknya kepentingan esensial yang diperlukan di atas sejalan dengan dirumuskannya lima tujuan syari'ah meskipun tidak tercover secara Ka>ffah, lima tujuan tersebut yaitu: memelihara kemaslahatan agama, memelihara jiwa,

Abdul Aziz Dahlan (ed), dkk., Ensiklopedi Hukum Islam, (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1996)V: 1626, artikel "Siyasyah as-Syar'iyyah". Dikutip dari, Muhammad Tahir Azhary, Negara Hukum: Suatu Studi tentang PrinsipPrinsipnya Dilihat dari Segi Hukum Islam, Implementasinya pada Periode Madinah dan Masa Kini, (Jakarta: Bulan Bintang, 1992), hlm. 7
18

17

xxix

memelihara akal, memelihara keturunan, dan memelihara harta dan kehormatan.19 Objek kajian fiqih siyasah atau Siya>syah as-Syari„yyah menurut Abdul Wahab Khallaf adalah membuat peraturan dan perundang-undangan yang dibutuhkan untuk mengurus negara sesuai dengan dasar ajaran agama yang bertujuan merealisasikan kemaslahatan manusia untuk kebutuhan mereka.20 Dengan demikian secara garis besar bahasan Fiqih as-Siya>syah meliputi tiga aspek utama di antaranya: 1) Peraturan dan Perundang-Undangan Negara sebagai pedoman dan landasaan idiil dalam mewujudkan kemaslahatan umat. 2) Pengorganisasian untuk mewujudkan kemaslahatan. 3) Mengatur hubungan antara penguasa dan rakyat serta hak dan kewajiban masing-masing dalam usaha mencapai negara.21 Untuk mengkaji pemikiran politik Islam memang tidak lepas dari Fiqih asSiya>syah dan hukum Islam. Hukum Islam dibagi menjadi dua yaitu hukum yang bersifat Qat}„i (Syari'ah) dan yang bersifat Z}anni (fiqih), karena politik seringkali mengalami perubahan sesuai dengan situasi maka penyusun memasukkanya dalam kategori fiqih. Dimana fiqih siyasah mempunyai

19

Ismail Muhammad Syah dkk., Filsafat Hukum Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1992), Abdul Wahab Khallaf, Al-Siyasat al-Syari'at, (AL-Qahirat: Dār al-Anshār, 1977), hlm.

hlm. 67.
20

4. J. Suyuthi Pulungan, Fiqih Siyasah: Ajaran, Sejarah dan Pemikiran, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1997), hlm. 28.
21

xxx

hlm. musyawarah. hlm. perdamaian. penyusun meminjam istilah Munawir Sjadzali dalam mengkategorikan aliran yang concern terhadap relasi Islam dan negara. tokoh aliran ini ialah Rasyid Ridha dan Al-Maududi. keadilan. Kedua. meskipun berbeda dalam menggunakan terma aliran ini akan tetapi substansinya sama. Jurnal Ulumul Qur'an. Dalam diskursus pemikiran politik Islam dewasa ini. yang berpendapat Islam adalah agama yang sempurna dalam mengatur aspek kehidupan manusia termasuk kehidupan bernegara karena menurutnya Islam adalah ad-Din wa ad-Daulah. Negara Hukum. Ketiga. lebih khusus lagi dalam menentukan sistem dasar ketatanegaraan. Tokoh aliran ini ialah Muhammad Abduh dan Muhammad Husein Haikal. aliran konservatif tradisionalis. Ada tiga aliran dalam hal ini. kebebasan. 58.23 sehingga terciptalah kemaslahatan umum sesuai dengan kebutuhan zaman. K. Filsafat Politik Perbandingan Antara Islam Dan Barat. 15.H. “Fiqih Siyasi dalam Tradisi Pemikiran Islamik Klasik”. Pertama. Apakah berideologikan Islam atau sekuler? Karena yang terpenting bukanlah formalitas bentuk pemerintahan tetapi esensi nilai dasar al-Qur'an dan Sunnah tetap berjalan (tidak kontradiktif). No. Lihat. keadilan dan kestabilan. (Jakarta: Raja Grafindo Persada. 1997).22 Dengan demikian al-Mas}lahah al-Mursalah menempati posisi yang sangat penting dalam mengkaji diskursus relasi Islam dan negara. Nilai dasar al-Qur‟an dalam hal ini ialah amanah. lihat. 23 22 xxxi . kesejahteraan dan ketaatan rakyat.2 Vol. M. Tahir Azhary. aliran integratif modernis. IV (1993).dimensi yang sangat luas dalam mengimplementasikan kehidupan bernegara seperti menjamin kemaslahatan. Ibrahim Hoesen. yang berpendapat bahwa Islam tidak mempunyai sistem negara yang detail tetapi di dalamnya terdapat nilai etika kehidupan bernegara. hlm. 79. Muhammad Azhar.

(Yogyakarta: Tiara Wacana. Jamaluddin al-Afghani. yang tidak jauh berbeda visi dan misinya. 28 27 26 25 24 Munawir Sjadzali. Islam dan Tata Negara. dengan menganjurkan pembentukan Jam„iyah Isla>miyah yang biasa disebut Pan-Islamisme. 2) menentang kolonialisme atas dominasi barat. Ia dilahirkan pada tahun 1838 di As'adabad. xxxii . M. baca. wilayah Kabul. 126. Ibid. Filsafat Politik. hlm. 117. M.25 Tokoh-tokoh ini dikaji guna membidik kerangka teoritis pemikiran M.aliran nasionalis sekuler. M. Untuk memastikan tokoh-tokoh tersebut adalah kelompok pemikir kontemporer. lihat juga Masykuri Abdillah. Lihat. 14. yang mengatakan Islam tidak ada hubungannya dengan negara karena menurut aliran ini Muhammad tidak pernah mengepalai dan mendirikan negara. diantaranya Jamaluddin al-Afghani. Islam dan Tata Negara. Azhar. hlm. hlm. 57. hlm. 1-2. 1999). Islam dan Tata Negara. 107. Tokoh aliran ini ialah Ali Abd al-Raziq dan Thaha Husein.28 Munawir Sjadzali. Abdul Raziq dan Fazlur Rahman. Filsafat Politik. hlm. Azhar. hlm. Natsir dan Gus Dur. Filsafat Politik. hlm. hlm. yang kemudian saat ini berembrio menjadi OKI. Dikutip dari Munawir Sjadzali. 142. 26 Pemikiran politiknya besifat reaktif terhadap kondisi kemunduran umat Islam saat itu. Pan-Islamisme yaitu suatu ikatan politik yang bertujuan mempersatukan seluruh ummat Islam di dunia. Azhar.27 ikatan ini didasarkan pada akidah Islam yang bertujuan 1) menentang sistem pemerintahan yang despotik (sewenang-wenang) dan diganti dengan sistem pemerintahan yang berdasarkan musyawarah seperti yang diajarkan Islam. dekat Kanar. Munawir Sjadzali.24 Dalam paragraf ini penyusun mencoba memaparkan beberapa tokoh politik sunni kontemporer sebagai landasan teoritis penelitian ini. 111. Afganistan. Demokrasi di Persimpangan Makna: Respons Intelektual Muslim Indonesia terhadap Konsep Demokrasi 1966-1993.

hlm. India. Inggris. Disamping itu dia cukup reseptif dan akomodaif terhadap peradaban Barat yang kemudian membawanya pada semangat nasionalisme dan paham sekulerisme di kalangan cendikiawan Islam Mesir. Lahir pada tahun 1888 dan wafat 1966 M. Dikutip dari Munawir Sjadzali.. karena menurutnya tidak ada ayat ataupun hadis yang bisa dijadikan dasar kuat untuk mendirikan khilafah. Teheran. Ali Abdul Raziq. 142. ia penganut Abduh meskipun secara langsung tidak sempat belajar banyak darinya.29 Hal inilah yang sering kali mengakibatkan pengusiran atas dirinya dari negara yang ia kunjungi.. selain itu dia juga menganjurkan kepada rakyat untuk merebut kebebasan dan kemerdekaannya melalui revolusi kalau perlu dengan pertumpahan darah. Karyanya yang terkenal yaitu Islam wa Usul al-Hukm. lebih lanjut ia menolak adanya keharusan sistem khilafah dalam pengertian pemimpin negara. Islam dan Tata Negara. al-Raziq memang mengakui perlunya pemerintahan untuk mengatur negara 29 Ibid. dan Persia. Negara-negara tersebut yaitu: Afganistan. 117.Dalam perjalanan politiknya ia selalu memunculkan gagasan revolusioner.32 Dia sama seperti nabinabi sebelumnya bukan nabi atau pendiri negara yang diutus mendirikan kerajaan dalam arti politik. Mesir. seperti pembentukan pemerintah dan dewan melalui partisipasi rakyat.30 Oleh sebab itu Afghani lebih cocok diposisikan sebagai tokoh aktivis dan agitator politik daripada pemikir politik. 32 31 30 Ibid. untuk itu tidak ada maksud dalam misinya mendirikan sebuah negara Islam (Khilafah). xxxiii .. hlm. Baca. Ibid. hlm.128-129.31 menurutnya nabi Muhammad hanyalah seorang utusan Allah yang ditugaskan syiar agama Islam. hlm. Prancis. 139.

republik atau totaliter.tapi bukan berarti harus bentuk khilafah boleh konstitusional. Azhar. Munawir Sjadzali. 36 35 M. Ali „Imran (4 ) : 110. alasannya sejak sistem khilafah dibentuk sampai sekarang selalu saja ada pihak oposisi yang tidak setuju dan seringkali menimbulkan bencana bagi Islam dan umatnya. Islam dan Tantangan Modernitas: Studi atas Pemikiran Hukum Fazlur Rahman.34 Fazlur Rahman. hlm. menurut Rahman.38 33 M. Azhar. Dalam al-Qur'an.33 Meskipun ia mengakui Ijma„ sebagai H{ujjah Syar„iyyah akan tetapi dalam hal ini ia tidak mengakuinya sebagai ijma' yang shahih. terkecuali Abu Bakar.35 pada hakikatnya Pemikiran politik Rahman didasarkan pada konsepsi al-Qur'an.37 Sebagaimana yang tertulis dalam al-Qur‟an. Filsafat Politik. 34 Dikutip dari Taufiq Adnan Amal. 141. Umar dan Usman.36 "Tugas umat adalah menciptakan ketertiban di muka bumi di mana tata tertib itu merupakan sosiopolitis yang harus ditegakkan atas dasar etika yang sah dan viable. umat merupakan suatu "penengah" sehingga menjadi saksi terhadap umat manusia.1989). 79. (Bandung: Mizan. dan al-Hajj (17): 40. 155. diktator. Ibid. hlm. hlm. 116. 37 38 xxxiv . hlm. Umat Islam diharapkan mampu menengahi antara sikap kekakuan ideologi komunisme dan kapitalisme atau sikap ekstrem yang lain. Filsafat Politik. Islam dan Tata Negara..

selain itu penolakannya terhadap potensi kekayaan pemikiran Islam tradisional. Demokrasi di Persimpangan. Masykuri Abdillah. Rahman dikenal sebagai pemikir kontemporer yang menggagas aliran neo-modernisme Islam. Dikatakan demikian karena pemikirannya yang selalu berusaha menemukan titik temu antara kaum Islam modernis dengan kaum Islam tradisionalis. 12. 40 xxxv . menurut hemat penyusun sikap ini muncul sebagai respon terhadap tantangan modernitas yang tak terelakan. bagi Rahman meskipun modernisme memberikan sumbangan positif pada era kebangkitan Islam tetapi tetap memperlihatkan kelemahan dan kekurangan tertentu. hlm. "Salah satu kelemahan tersebut ialah kurangnya sistematika dan metodologi yang komprehensif untuk menafsirkan al-Qur'an dan Sunnah.39 Rahman memang liberal dan radikal dalam gagasannya. 156. hlm. menurut Rahman Istilah syura yang merupakan nilai dasar al-Qur'an bisa dikembangkan menjadi sebuah institusi yang efektif dan permanen seperti halnya di Barat."Baca. akan tetapi apabila secara formal institusional proses dan bentuk demokrasi „ala Barat itu tetap sejalan dengan orientasi nilai dasar Islam maka sistem ini bisa diterapkan di dunia Islam..40 39 Ibid.ِ‫مْرٌ خٞس أٍـﺔ أخسخد ىيْـاض ذؤٍسُٗ تاىَؼسٗف ٗذـُْٖ٘ ػ‬ ٌٍْٖ ٌٖ‫اىَْنسٗذؤٍُْ٘ تاهلل ٗى٘أٍِ إٔو اىنـراب ىناُ خٞساى‬ )١١۰ :ُ‫ (اه ػَسا‬ ُ٘‫اىَؤٍُْ٘ ٗأمثسٌٕ اىفاظقـ‬ ‫اىرِٝ أخسخ٘اٍِ دٝازٌٕ تغـٞسزك إالاُ ٝق٘ى٘ازتْـاهللا ٗى٘دفغ هللا‬ ‫اىْاض تؼؼٌٖ تثؼغ ىٖدٍد ط٘اٍغ ٗتٞغ ٗطي٘اخ‬ ٙ٘‫ٍٗعاخدٝرمسفٖٞااظٌ هللا مثٞـساٗىْٞظسُ هللا ٍِ ْٝظسٓ إُ هللا ىق‬ )٤۰:‫ (اىسح‬‫ػصٝص‬ Lebih lanjut.

Hal yang sama terjadi pada M. pendekatan-pendekatannyadan analisa data. tehnik pengumpulan data. yang mana lebih mengutamakan bahan perpustakaan sebagai sumber utamanya. penelitian pikiran dan keyakinan kedua tokoh tersebut. Kedua. F. 34.Demikianlah sepintas gambaran mengenai tokoh-tokoh Islam kontempoer yang nantinya diharapkan banyak membantu penyusun dalam membuat kerangka teoritis. Mukti Ali. Kajian ini merupakan penelitian pustaka (library research). 1991). Pertama. (Jakarta: Bulan Bintang.41 2. Metode Memahami Agama Islam. sekilas pemikiran Natsir tampak maududian akan tetapi banyak juga diwarnai paham Abduhis. xxxvi . Antara lain meliputi jenis penelitian. sifat penelitian. menurut penyusun tidak ada seorang tokohpun yang bisa dibidik Pemikirannya menganut satu paham tokoh sebelumnya karena dalam kenyataannya banyak tokoh yang mengadopsi suatu paham tertentu untuk masalah tertentu dan paham lain untuk masalah yang lain pula. Sifat Penelitian. penelitian tentang biografinya sejak dari permulaan sampai akhir pemikiran politiknya. Metode Penelitian. 41 H. Karena ini studi tokoh maka ada dua metode pokok untuk memperoleh pemikiran tokoh tersebut. Dalam sub bab ini perlu penyusun paparkan tentang metode penelitian yang digunakan. hlm. 1. Jenis penelitian. A. Natsir dan Gus Dur.

Sedangkan komparatif berarti membandingkan pemikiran kedua tokoh tersebut dalam proses penelitiannya.Studi yang merupakan penelitian pustaka ini lebih bersifat deskriptifanalisis dan komparatif. Yang dimaksud pendekatan normatif ialah suatu xxxvii . dalam hal ini penyusun lebih memfokuskan pada dua aliran pemikiran Islam kontemporer yakni modernis dan neo-modernis yang penyusun anggap sebagai representasi dari kedua tokoh tersebut. Pendekatan. Karya-karya asli dari kedua tokoh tersebut baik buku. pendekatan yang digunakan adalah pendekatan normatif dan sosio-historis. Tehnik Pengumpulan Data. supaya mendapatkan letak persamaan dan perbedaan yang tepat. artikel dan kumpulan tulisan yang dibukukan dianggap sebagai data primer. Dalam penelitian ini. Adapun analisis disini adalah analisis dalam pengertian historis. Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi dua macam yaitu: data primer dan data sekunder. Dengan kata lain karakter dan fenomena yang dikaji dalam penelitian ini ialah karakter dari kedua tokoh tersebut dan fenomena yang mempengaruhi pemikiran mereka. Sedangkan karya yang mengkaji tentang gagasan kedua tokoh tersebut dan hasil-hasil penelitian yang relevan dengan kajian ini dimasukkan sebagai data sekunder. 4. 3. yakni meneliti akar sejarah yang melatarbelakangi gagasan mereka. Yang dimaksud dengan deskriptif adalah menggambarkan karakteristik dan fenomena yang terdapat dalam masyarakat atau literatur.

hlm. 5. Sementara komparasi dimaksudkan M. 42. 43 42 xxxviii . (Yogyakarta: Ranggon Studi. 1983). Membaca Gelombang Ijtihad: Antara Tradisi dan Liberasi. Atho' Mudzhar. 1998). Hal ini penting untuk dilakukan karena diskursus Islam dan negara merupakan bagian dari kajian hukum Islam. Adapun pendekatan sosio-historis yaitu pendekatan yang menyatakan bahwa setiap produk pemikiran itu merupakan hasil interaksi pemikir dengan lingkungan sosio-kultural dan sosio-politik yang mengitarinya. Peneliti dan Peteliti. hlm. khususnya mengenai asas negara akan dipersempit dalam paradigma modernisme dan neo-modernisme Islam. Baca. Analisa Data Setelah data terkumpul penyusun akan menganalisa dengan metode kualitatif analisis deduksi dan komparasi.43 Dalam hal ini analisa dari kedua tokoh tersebut tentang Islam dan negara di Indonesia. Deduksi yaitu metode yang berawal dari pengetahuan umum ditarik ke pengetahuan khusus. Di samping itu penelitian ini berupa telaah pustaka maka metode yang dipakai adalah deduksi sebab metode ini memang tidak menuntut penelitiaan lapangan.pendekatan untuk menjelaskan masalah yang dikaji dengan norma atau hukum (fiqih) yang berlaku sebagai upaya penegasan. (Yogyakarta: Titian Ilahi Press. Soenjoto. Metodologi Reseach. khususnya fiqih siya>sah. 8. (Yogyakarta:Andi Offset. 1989). 105.42 Berkaitan dengan penelitian ini sudah barang tentu sosial politik dan kultur yang melatarbelakangi metode pemikiran M. Sutrisno Hadi. hlm. Natsir dan Gus Dur akan dikaji sepanjang peristiwa tersebut mempengaruhi pemikiran mereka dalam masalah ini.

1999). Bab ini juga menyinggung sedikit cita-cita ideologi negara yang mereka perjuangkan sebagai repesentasi tokoh muslim yang peduli terhadap bangsa. Bab pertama memuat pendahuluan yang berisi latar belakang masalah. Penelaahan ini meliputi latar belakang sosial dan prilaku politik kedua tokoh tersebut dalam menggagas relasi Islam dan negara di Indonesia. Dalam pembahasan ini penyusun membagi menjadi lima bab. demokrasi dan dasar negara. telaah pustaka.untuk membandingkan pemikiran kedua tokoh tersebut apakah terdapat persamaan dan perbedaan yang tajam dan signifikan di antara keduanya. yaitu modernisme dan neo-modernisme. metodologi penelitian. 51. Selain itu karakteristik pemikiran ini kemudian dibagi pada dua perspektif. rumusan masalah. Anton Bakker dan Achmad Charris Zubair. hlm. (Yogyakarta: Kanisius. Bab ketiga memaparkan biografi M. di antaranya yang berkaitan dengan Islam. Bab kedua melacak asal-usul dan tipologi relasi agama dan negara dalam sejarah politik Islam. 44 xxxix . Yang dalam pembahasannya kedua perspektif tersebut akan dihadapkan pada dua tokoh yang dikaji. tujuan dan kegunaan. Sistematika Pembahasan.44 G. Natsir dan Gus Dur. Metodologi Penelitian Filsafat. kerangka teoritis. yang tentunya berimplikasi terhadap pemikiran tokoh politik Islam Indonesia dalam mengkaji hubungan Islam dan negara di Indonesia. dan yang terakhir sistematika pembahasan.

Bab keempat menganalisa pemikiran kedua tokoh tersebut tentang relasi Islam dan negara, khususnya tentang demokrasi dan ideologi pancasila, yaitu dengan membandingkan gagasan kedua tokoh di atas, apakah dalam penelitian ini terdapat persamaan dan perbedaan yang signifikan. Selain itu, bab ini juga berusaha menjelaskan implikasi gagasan kedua tokoh tersebut terhadap tokoh politisi muslim Indonesia dan pemikiran politik Islam generasi saat ini. Bab kelima penutup, berisi kesimpulan dan saran-saran. Kesimpulan dimaksudkan untuk memperlihatkan letak signifikansi penelitian ini dengan penelitian sebelumnya, dengan memberikan konklusi pemikiran M. Natsir dan Gus Dur tentang hubungan Islam dan negara di Indonesia, sedangkan saransaran ditujukan bagi para penyusun atau peneliti yang akan mengkaji masalahmasalah yang berkaitan dengan variabel skripsi ini lebih lanjut.

xl

BAB II ASAL-USUL DAN TIPOLOGI PEMIKIRAN TENTANG RELASI ISLAM DAN NEGARA A. Awal Perdebatan Islam dan Negara di Indonesia. Wacana tentang makna, penafsiran dan fungsi pancasila telah menjadi perdebatan sepanjang sejarah perpolitikan Indonesia, setidaknya sejak bangsa ini merdeka, perdebatan ini selalu menjadi aktual di kalangan akademisi dan politisi Indonesia sampai saat ini. Apalagi didorong dengan lahirnya beberapa Partai Islam, permintaan diberlakukannya syariat Islam di Aceh (NAD), munculnya teroris-teroris yang berkedok Islam, laskar serta organisasi yang bernafaskan Islam kanan, di antaranya Laskar Jihad, Hizbu Tahrer, Jaringan Islamiyah dan Front Pembela Islam (FPI). Selain itu yang paling jelas menjadi indikator perlunya kejelasan relasi Islam dan negara dalam kehidupan berbangsa terlihat pada menguatnya ide-ide pencantuman Syari„at Isla>m dalam amandemen UUD 45 setiap ST MPR hasil pemilu 1999.45 Hal ini juga sering terjadi dalam wacana politik Indonesia di penghujung tahun 1990-an yang juga sibuk memperdebatkan ideologi dan peristiwaperistiwa politik yang pernah terjadi dalam sejarah bangsa ini, di antaranya mengenai hubungan Islam dan negara, peran ABRI dalam politik, dan bentuk demokrasi yang sesuai dengan negara ini.46 Dalam skripsi ini penyusun

Ahmad Suhelmi, Polemik Negara Islam: Soekarno Versus Natsir, cet. ke-1 (Bandung: Teraju, 2002), hlm. xi
46

45

Douglas E. Ramage, Percaturan Politik, hlm. 16.

xli

menitikberatkan pada masalah yang pertama yaitu mengenai hubungan Islam dan negara. Untuk memperjelas tahap-tahap perjuangan umat Islam Indonesia dalam merespon perdebatan Islam dan negara. M. Rusli Karim membagi menjadi empat tahap. Tahap pertama, 1912 hinggga proklamasi kemerdekaan, tahap kedua 1945-1955, tahap ketiga, 1955-1965 dan tahap keempat 1965 sampai sekarang.47 Akan tetapi dalam bab ini penyusun akan memfokuskan asal-usul lahirnya perdebatan Islam dan negara sepanjang sejarah perpolitikkan Indonesia secara global. Perdebatan ini mulai aktual sejak dibentuknya Badan Penyelidik UsahaUsaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) sebagai upaya persiapan kemerdekaan yang diharapkan,48 dan telah disetujui oleh pemerintahan Jepang. Hal ini juga dinyatakan dalam pidato Perdana Menteri Kuniaki Koiso kepada Parlemen Jepang pada tahun 1944 yang menjanjikan kemerdekaan Indonesia dalam "waktu dekat".49 Akan tetapi kalau kita teliti lebih dalam bahwa persinggungan antara Islam dan negara di Nusantara ini sudah berlangsung lama sebelum Indonesia merdeka yakni di bawah tekanan kolonial Belanda dan Jepang, namun
Tahap keempat ini masih dibagi lagi menjadi empat era: 1965-1972 sebagai era mencari bentuk, 1973-1985 sebagai era partai tunggal, 1985 1989 sebagai era transisi rekonsiliasi, dan 1990 sampai sekarang sebagai era akomodasi, baca M. Rusli Karim, Negara dan Peminggiran Islam Politik, cet. ke-1 (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 1999), hlm. 21. Badan Penyelidik Usaha-Usaha kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) di bentuk pada tanggal 7 Desember 1945 yang terdiri dari tokoh-tokoh kelompok sosial, etnis, regional dan politisi di Hindia Belanda yang diduduki Jepang. Lihat, Douglas E Ramage, ibid, hlm. 18. Deliar Noer, Partai Partai Islam di Pentas Nasional 1945-1965, (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1987), hlm. 30. Lihat juga Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia, vol. VI (Jakarta: Departemen P&K, 1984), hlm. 66.
49 48 47

xlii

di antaranya. Pertama. Ibid. mereka yang menganjurkan negara integralistik. Sukiman Wirjosandjojo yang telah mewacanakan suatu kekuasaan atau pemerintahan Islam di akhir tahun 1920-an. Yang paling emosional dan 50 Ahmad Suhelmi. hlm. Kedua. sehingga dalam sidang BPUPKI pada 1945 wacana ini terkesan begitu aktual diperdebatkan karena secara resmi peristiwa ini muncul pertama kalinya dalam panggung politik Indonesia.50 Saat itu Surjopronoto menggunakan tema een Islamietsche regeering (Suatu Pemerintahan Islam) sementara Sukiman memakai istilah een eigen Islamietisch bestuur onder een eigen vlag (Suatu kekuassan Islam di bawah benderanya sendiri) semua ini digunakan untuk menciptakan kekuasaan Islam di Indonesia yang substansinya sebagai alat mencapai kemerdekaan.demikian untuk melacak isu tentang istilah negara Islam di Indonesia bukanlah suatu pekerjaan mudah. karena sejauh ini yang diketahui hanyalah pemimpin-pemimpin Sarekat Islam (SI) seperti Surjopronoto dan Dr. 51 xliii . Viii. Anggota BPUPKI ini terdiri dari berbagai macam kelompok ideologi yang akhirnya mengalami kesulitan dalam mencari titik temu (Kalimah as-Sawa‟) posisi masing-masing anggota tersebut. Polemik Negara Islam. mereka yang ingin menegakkan demokrasi konstitusional sekuler.51 Barangkali wacana dan teori tentang Negara Islam ini belum banyak ditulis secara terperinci oleh pemimpin Islam pada saat itu. dan ketiga.

10-14 Juni 1945 membahas tentang isi konstitusi negara yang akan dibentuk.52 Badan penyelidik ini mengadakan dua kali sidang. Ramage. Departemen Penerangan. 87-21. hlm. yaitu: peri kebangsaan. dalam sidang ini Soekarno membuat pidato yang sangat berpengaruh tentang dasar negara dan kemudian dikenal dengan Lahirnya Pancasila. 1959). peri kerakyatan . hlm. dari 29 Mei . Ideologi Hegemoni dan Otoritas Agama: Wacana Ketegangan Kreatif Islam dan Pancasila. Naskah Persiapan Undang-Undang Dasar 1945.konfrontasional adalah mereka yang menginginkan Islam dijadikan dasar negara. hlm. dikutip dari karyanya Faisal Ismail. peri ke-Tuhanan. Masalah yang sangat krusial dan mengundang perdebatan dalam sidang ini adalah tentang “peletakkan dasar negara” sebab masalah ini berkaitan dengan integritas agama. Mengenai sidang BPUPKI terdapat perbedaan dalam tenggang waktunya. peri kemanusiaan. dalam bukunya Deliar Noer sidang pertama berlangsung dari 29-Mei-2 Juni 1945 dan sidang kedua dari 10-14 Juni 1945. cet. Lahirnya Pancasila. peri kesejahteraan rakyat yang juga meliputi keadilan sosial. budaya dan bangsa yang plural. 1999). 17.54 Dalam kedua pembahasan sidang ini menimbulkan perdebatan keras di antara para anggota penyelidik terutama kalangan Islam yang diwakili Abdoel Kahar Moezakkir dengan cita-cita ideologi Islamnya dan kalangan nasionalis diwakili oleh Soekarno yang cenderung netral terhadap agama. 19. 54 53 xliv . Karena khawatir akan kegagalan Badan Penyelidik yang terus-menerus semakin memanas maka para 52 Douglas E. lihat. Muhamad Yamin. kalau memang tulisan Yamin tentang perdebatan sidang BPUPKI dapat dipercaya maka lahirnya pancasila itu belum tentu gagasan Soekarno murni karena sebelum Soekarno melahirkan konsep Pancasila .53 Sedangkan pada sidang kedua. sedangkan menurut Yamin sidang pertama berlangsung dari 29 Mei-1 Juni dan sidang keduanya berlangsung dari 10-16 Juli 1945. (Jakarta: Yayasan Prapanca. pada sidang pertama. Yamin telah mengemukakan kelima sila tesebut dalam pidatonya di depan sidang Badan Penyelidik. Percaturan Politik.2 Juni 1945 membahas masalah umum. (Jakarta:). ke-1 (Yogyakarta: Tiara Wacana.

Soekarno. A. Abdul Halim. 1970). hlm. K. Buntaran Martoatmojo dan Muhammad Yamin. P. 60-61. dari 68 anggota BPUPKI. xlv . Dr. P. Prawoto Mangkusasmito. Sanusi. Prof. 57 55 Deliar Noer.H. Sartono.H.56 Statistik ini menunjukkan betapa tidak seimbangnya representasi dari masing-masing kelompok itu. K.H. Masykur. Parta-Partai Islam. K. Sukiman Wiryosanjoyo.55 Semula anggota BPUPKI ini berjumlah 62 orang. Abikusno Cokrosujoso. A. sedangkan wakil dari kelompok nasionalis. hanya 15 orang (+ 20%) yang menyuarakan aspirasi politik Islam yakni berasal dari nasionalisme-Islam. 60-61. antara lain. 57 56 Muhamad Yamin. Soepomo. R. Wongsonegoro. Wahid Hasyim. 34-35. Naskah Persiapan. Soeroso. Abdul Kahar Muzakkir. Mohammad Hatta. lalu ditambah enam orang yang kebanyakan berasal dari Jawa dan satu orang lagi dari Jepang yakni Ichibangase yang menjabat sebagai ketua yunior dan anggota luar biasa. sedangkan 80 %-nya berasal dari kelompok nasionalis-sekuler. Agus Salim. untuk Ketua dan wakil ketua BPUPKI dijabat oleh Rajiman Widiodiningrat dan R. untuk mengamati secara lebih detail keanggotaan Badan Penyelidik ini maka penyusun paparkan pendapat Prawoto Mangkusasmito. (Jakarta: Hudaya. Pertumbuhan Historis Rumus Dasar Negara dan Sebuah Refleksi. hlm. Ki Bagus Hadikusumo. hlm. dan K.H. H. ini menunjukkan bahwa kepemimpinan BPUPKI berada di tangan kelompok nasionalis. Rajiman Widiodiningrat. K.anggota mengambil iniasiatif dengan membentuk panitia BPUPKI yang terdiri dari 9 orang. H. Mas Mansur. Di antara wakil dari kelompok Islam yaitu. Soeroso.

Agus salim. A. ternyata telah 58 Deliar Noer. hlm. 59 xlvi . 170. dan M. Achmad Subarjo. K. Kepentingan tersebut menimbulkan reaksi keras dari kelompok nasionalis sekuler yang memang secara kuantitatif anggota mereka dalam badan ini merupakan mayoritas. Pada tanggal 21 Juni 1945 BPUPKI menyetujui Piagam Jakarta yang rumusan sila pertamanya adalah Ketuhanan Yang Maha Esa dengan kewajiban menjalankan Syari„at Isla>m bagi pemeluk-pemeluknya”. Partai-Partai Islam. Rusli Karim. hlm. Abikusno.58 Dalam panitia ini. Islam politik mempunyai kepentingan untuk menjadikan Islam sebagai dasar negara. sebab menurutnya yang paling banyak berkorban dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia adalah kelompok Islam. 35.Akan tetapi karena banyaknya anggota Badan Penyelidik yang malah dikhawatirkan akan membawa kegagalan Badan Penyelidik itu sendiri (atas perdebatan yang semakin memanas) maka dibentuklah Panitia Kecil BPUPKI yang hanya terdiri dari 9 orang itu. Mohammad Hatta. Negara dan Peminggiran. yaitu: empat orang dari kalangan Islam (H. M.59 kesepakatan ini merupakan hasil perjuangan Islam politik dalam kepentingannya saat itu. sebagai jalan tengah akhirnya Jepang membentuk “Panitia Sembilan” di atas.H. akan tetapi umat Islam terpaksa harus kecewa karena dalam UUD 1945 yang disahkan pada 18 Agustus 1945 itu. Wahid Hasyim. A. dan Abdul Kahar Muzakkir) dan lima orang dari kalangan Naionalis (Soekarno. Maramis. Yamin).

Pertama. (Jakarta: yayasan perkhidmatan.60 Ini merupakan kekecewaan Islam politik yang pertama dalam perjuangan politiknya. selain sebagai pejuang mayoritas kemerdekaan. hlm. tentang kandungan pancasila itu sendiri. xlvii . 1983). Deliar Noer. Peristiwa ini dikenal sebagai sidang PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) yang merupakan pengganti dari BPUPKI yang telah dibubarkan. hlm. hlm.menghapuskan Piagam Jakarta tersebut. (Jakarta: Tintamas. 1978). tentang makna penting pancasila jika dibanding dengan agama.. Islam. ini dikarenakan pengiring redaksi sila pertama yang mewajibkan umat Islam menjalankan Syari„at Isla>m dirasakan oleh kawasan Timur Indonesia sebagai sikap diskriminatif terhadap pemeluk agama lain. 23. Diterimanya pancasila sebagai asas dan ideologi negara merupakan puncak dari pertentangan dan sekaligus menunjukkan kekalahan kelompok Islam yang harus berkompromi dengan kepentingan lain. 60 Ibid.61 Kompromi politik dalam bentuk Piagam Jakarta rupanya hanya mampu bertahan selama 57 hari. Umat Islam yang sebelumnya memperjuangkan ideologi Islam sebagai dasar negara dalam mukadimah UUD 1945 harus mengalah dengan pancasila. Memoir. Pancasila dan Asas Tunggal. 62 61 Hatta.458. Keinginan keras umat Islam saat itu bisa dimaklumi. pancasila sendiri menyimpan dua faktor yang sangat debatable. 452.62 Maka demi persatuan bangsa akhirnya para pemimpin politik Islam terpaksa menelan kekecewaan cita-cita politiknya pada 18 Agustus 1945 dengan menghilangkan anak kalimat tersebut dari pembukaan UUD 1945.108. Kedua.

maka melalui Hatta yang memanfaatkan Teuku Moehammad Hassan anggota PPKI dari Sumatera berhasil melunakan sikap keras Ki Bagus dan dalam waktu 15 menit anak kalimat pada sila Ketuhanan itu diganti dengan Yang Maha Esa. cet. Secara kultural Soekarno mewakili kultur Jawa sedangkan Hatta dari kultur Minang/Sumatera.64 Akar perdebatan ini tidak lepas dari letupan pertarungan ideologi saat itu. Baca 65 xlviii . Akan tetapi apabila diteliti lebih jauh pertarungan ideologi yang menjadi pertimbangan dalam peletakkan dasar negara saat itu bukan hanya ideologi nasionalis dan Islam. yaitu Nasionalis dan Islam.63 Betapa ironisnya umat Islam sebagai mayoritas populasi dan penggerak melawan penjajah di negeri ini hanya diwakili oleh tiga anggota.H. Memoir. kebetulan presiden yang dipilih adalah ketua dan wakil PPKI saat itu yaitu Soekarno dan Hatta. Wahid Hasyim dan Kasman Singodimedjo. K. Islam dan Politik: Teori Belah Bambu Masa Demokrasi Terpimpin 1959-1965. ke-1 (Jakarta: Gema Insani Press.65 Golongan nasionalis adalah kelompok yang Ahmad Syafi‟i Ma‟arif. Hatta. dan yang menarik dicermati dari total jumlah ini ternyata hanya tiga anggota dari organisasi Islam. terang saja latar belakang Hatta ini bisa dijadikan pelebur sikap keras Ki Bagus yang selalu bersekukuh mempertahankan rumusan Piagam Jakarta. hlm 21-22. 29. Sidang PPKI pada 18 Agustus 1945 bertujuan menetapkan UUD dan memilih presiden dan wakilnya. kemudian atas usul Soekarno akhirnya ditambah menjadi 27 orang. yaitu Ki Bagus Hadikusumo. hlm 457- 458. hlm. 1996). tetapi lebih besar dari itu yaitu pertarungan dua ideologi besar dunia antara kapitalis dan komunis. Soekarno sebenarnya sangat kewalahan menghadapi konsistensi Ki Bagus yang tetap bertahan dengan Piagam tersebut. Perumusan Historis.Jumlah anggota PPKI semula sebanyak 21 orang. 64 63 Prawoto Mangkusasmito.

66 Ahmad Suhelmi. 4. Yang dimaksud nasionalis sekuler adalah kelompok pemimpin politik Indonesia yang menolak secara tegas agama sebagai dasar negara. karena Islam menurut mereka tidak hanya mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan saja. Ahmad Suhelmi. 1981).. Ahmad Hassan dan M. kasus Jawi Hisworo. hlm. hlm 4 dan 54-55. hlm.berprinsip bahwa ad-Din wa ad-Daulah (agama dan negara) harus dipisahkan secara tegas dan proporsional. melainkan juga hubungan sesama manusia. Telikungan Kapitalisme Global dalam Sejarah Kebangkitan Indonesia. 8. Sebaliknya apa yang dimaksud nasionalis muslim adalah kelompok pemimpin muslim yang menginginkan Islam harus dijadikan dasar negara. 1999). katolik. Soekarno dan lain-lain.67 Indikasi pertarungan ideologi ini bisa dilihat sejak tahun 1920-1930-an dari kasus retaknya hubungan Sarekat Islam (SI) dengan Partai Nasionalis Indonesia (PNI). Polemik Negara Islam. hlm. cet. Polemik inilah yang kemudian berlanjut sampai sekarang. kelompok ini terdiri dari muslim. Meskipun secara personal mereka bukan kaum sukularis dan kelompok yang tidak lepas dari sentimen. 68 Hasyim Wahid dkk. seperti Tjokroaminoto. Sedangkan negara memang merupakan masalah politik yang berurusan dengan duniawi.17-24. Natsir dengan tokohtokoh Nasionalis-sekuler yang diwakili Tjipto Mangunkusumo. ke-1 (Yogyakarta: LKiS. protestan. Mereka tetap memilih untuk tidak menggunakan agama sebagai ideologi politik. Polemik Negara Islam. Endang Saefuddin Anshary.66 Sementara itu golongan Islam saat itu berprinsip bahwa agama (dalam hal ini Islam) tidak dapat dipisahkan dari urusan kenegaraan. lingkungan dan alam semesta. tentang Dasar Negara Republik Indonesia 1949-1959. Hindu dll. Swara Oemoem dan peristiwa itu perdebatan sengit antara tokoh Nasionalis-Muslim. majalah Timboel. (Bandung: Pustaka Salman. dengan keyakinan bahwa fungsi agama hanya mengurusi ajaran-ajaran yang berkaitan dengan kehidupan akhirat dan urusan pribadi saja. tendensi dan afiliasi keagamaan. Agus Salim. karena bagi mereka agama dan politik 68 67 xlix . Ibid. lihat juga. Piagam Jakarta 22 Juni 1945 dan Sejarah Konsensus Nasional antara Nasionalis Islami dan Nasionalis Sekuler.

untuk memaparkan secara lebih jelas pemikiran politik tokoh Islam dan keterkaitan mereka dalam memperjuangkan negara berdasarkan Islam di Indonesia.70 Pemikiran pertama berpendapat bahwa negara dan agama tidak harus dipisahkan. hlm. 69 l . Filsafat Politik Perbandingan Antara Islam dan Barat. Selain itu praktik pemerintahan Negara Turki yang memisahkan negara dan agama juga ikut mewarnai perdebatan ini. 57. hlm. Baca. tidak bisa dipisahkan. lihat juga Masykuri Abdillah.69 Jadi. Soekarno. Ahmad Suhelmi. hlm. Ideologi Hegemoni. M. 1-2. hlm. 5. hlm. 1994).Di sisi lain. konsep “Piagam Madinah” dan praktek pemerintahan Islam pada zaman Rasulullah. di Bawah Bendera Revolusi (Jakarta:Panitia di bawah bendera revolusi. Demokrasi di Persimpangan Makna. (Jakarta: Raja Grafindo Persada. sebab munculnya terma Piagam Jakarta di Indonesia sedikit banyak terinspirasi dari konsep Piagam Madinah yang pasti tidak bisa lepas dari persinggungan wacana politik Islam yang telah berlaku di bangsa Arab itu. 5. karena Islam merupakan agama yang integral dan komprehensif dalam mengatur kehidupan baik urusan duniawi maupun ukhrawi. hlm. 1997). Secara umum pemikiran politik Muslim bisa diklasifikasikan menjadi tiga teori. Islam dan Tata Negara. 369402. jelasnya bahwa tidak ada pemisahan antara persoalan duniawi dan ukhrawi dalam ajaran Islam. 14. 70 Munawir Sjadzali. Azhar. Polemik Negara Islam. Memudahkan Pengertian Islam. sahabat dan komunitas muslim lainnya juga ikut mempengaruhi lahirnya perdebatan Islam dan negara di Indonesia. oleh sebab itu menurut pandangan ini konstitusi negara harus didasarkan pada Islam. perlu penyusun bahas secara singkat tentang teori-teori yang diajukan para intelektual muslim. Faisal Ismail.

agama dan negara harus dipisahkan. Oleh sebab itu konstitusi negara dalam pandangan ini tidak harus didasarkan pada Islam. (Kairo: Dar al-Qalam. 1962). 75 li . Hadha al-Din. (Oxford: Oxford University Press. salah satu karyanya yaitu. 1969). Ideologi Hegemoni. urusan agama sebatas pada urusan pibadi dan ukhrawi tidak perlu mencampuri urusan politik. Mitcell. namun pada nilai sekuler. hlm. Teori ketiga. Sayyid Qutb72 (1906-1966) dan para ideolog lain Ikhwan al-Muslimin73 dari Mesir. Maududi adalah seorang politikus dan pengarang yang terkenal dalam Islam. Baik Jam„iyah al-Isla>m maupun Ikhwan al-Muslimin dikenal sebagai gerakan Fundamentalis di Iran.Tokoh teori ini antara lain . edisi ke-10 (Lahore: Islamic Publication. sepakat dengan adanya pemisahan antara agama dan negara dalam arti konstitusi negara tidak harus didasarkan Maududi .ِٞ‫إّّٔ ىنٌ ػدٗ ٍث‬ ّ ّ Menurut teori yang kedua. Sayyid Qutb dan beberapa pemimpin Ikhwan al-Muslimun lainya ditangkap dan diadili. Islamic Law and Constitution. Pakistan dan Saudi Arabia.74 Pandangan komprehensif ini dikutip dari nash al-Qur‟an75: ِ‫ٝاأٖٝااىر ِٝ أٍْ٘ا ادخي٘ا فىاىعيٌ مآّفح ٗال ذرثؼ٘ا خط٘اخ اىشٞطـ‬ )٢۰٨: ‫ (اىثقسج‬. al-Baqarah (2): 208. dia pernah akan dijatuhi hukuman mati oleh penguasa karena aktivitas politiknya pada tahun 1953. 203. Abu A‟la Maududi71 (1903-1979) dari Pakistan yang memimpin Jamiy„ah al-Isla>m. 74 73 72 71 Faisal Ismail. 1962). hal ini bisa dilihat dari jargon politiknya bahwa ad-Din wa ad-Daulah (agama dan Negara) tidak bisa dipisahkan. namun hukuman tersebut dibatalkan atas desakan pemimpin dunia muslim pada Pemerintahan Pakistan. hlm. The Society of Muslim Brothers. contoh konkret teori ini adalah negara Turki Modern. setelah Nasser mengetahui rencana makar mereka dalam menjatuhkan rezim. Tentang Ikwan al-Muslimun. 37. alih bahasa Khursihid Ahmad. bisa dibaca dalam karyanya. 1990). Richard P. Pada tahun 1966. Khas}ais} at-Tas}awwuri al-Isla>mi wa Muqawwamatuhu (Kairo: Issa al-Babi al-Halabi wa Shuraka‟uhu.

karena dalam sidang BPUPKI 1945 maupun konstituante (1956-1959) para pemimpin muslim berjuang keras agar Islam dijadikan dasar negara. Vol. dipengaruhi oleh Kemal Attaturk ataupun Ali Abd alRaziq (1888-1966) yang berpendapat bahwa Nabi tidak pernah berupaya membangun sebuah negara. Ibid. 76 Ketiga teori ini mewakili pilihan-pillihan yang dapat menentukan karakteristik struktur sosial dan politik negara-negara muslim dunia dalam menghadapi tantangan modernitas. Naskah Persiapan. Yamin. beliau hanyalah seorang utusan yang dikirim oleh Tuhan semata. 77 78 hlm.Islam. 456-458. akan tetapi nilai agama harus menjadi ruh kehidupan masyarakat bernegara. Terutama teori pertama ini sangat kuat mewarnai pemikiran politik muslim Indonesia tahun 1940-an dan 1950-an. Dengan mempertimbangkan faktor-faktor di atas. Memoir. konflik ideologi antara kaum nasionalis-sekuler dan nasionalis-muslim bisa diperkirakan sejak menjelang kemerdekaan (Sidang BPUPKI). 38. Faisal Ismail. Lihat Muhammad Hatta. yakni memisahkan negara dari persoalan agama. hlm. M. 77 Selain itu tidak ada indikasi yang tampak bahwa pemikiran politik nasionalis-muslim Indonesia saat itu. pada tanggal 31-Mei 1945 Soepomo lebih mendukung gagasan Hatta yang mengusulkan bentuk Indonesia sebagai negara kesatuan daripada keinginan umat Islam dalam meletakkan dasar negara .78 76 Faisal Ismail. 115. hlm. Melengkapi data sebelumnya. lii . I. Ideologi Hegemoni.

40. apabila umat Islam Indonesia tetap memaksakan kehendaknya (negara Islam). Ramage. jika negara Islam diciptakan di Indonesia maka sudah pasti persoalan minoritas.81 Melihat keberatan kelompok nasionalis-muslim terhadap Negara Sekuler mengharuskan kita meninjau kembali sejarah Islam yang menyatukan pemahaman antara agama (di>n) dan negara (daulah). Istilah “negara” dalam bahasa Indonesia mempunyai arti. hlm. Ibid. kelompok sosial yang menduduki wilayah atau daerah tertentu yang 79 Dikutip dari Faisal Ismail. 29.79 Pada tahun 1953 Soekarno juga mengungkapkan kekhawatirannya secara terbuka tentang implikasi-implikasi negatif yang muncul. 80 81 liii . organisasi di suatu wilayah yang mempunyai kekuasaan tertinggi yang sah dan ditaati oleh rakyat. persoalan kelompok-kelompok kecil agama dan yang lainnya akan muncul. Soekarno mengatakan bahwa ia cemas. pertama. Percaturan Politik. yakni pengakuan Islam secara legal formal di negara ini. atau negara bekas jajahan Hindia Belanda seperti Irian Barat juga tidak ikut menggabungkan diri dengan Indonesia yang ber-ruh Islami ini. Ideologi Hegemoni. karena cita-cita negara Islam tidak sesuai dengan cita-cita negara kesatuan yang diharapkan bersama. Meskipun Islam menjamin kelompok agama lain sebaik mungkin. kalau banyak bagian negara Republik Indonesia memisahkan diri. Dikutip dari. hlm. kelompok kecil ini tidak akan merasakan keterlibatannya dalam negara. Douglas E.Menurut Soepomo sendiri. Kedua.80 Dengan mengingat kekhawatiran yang diungkapkan Hatta pada tahun 1945.

mempunyai kesatuan politik. Daulah. edisi ke-2. Sebenarnya yang dimaksud bergilir. alernate. No. ke-3 (Jakarta: Balai Pustaka. Vol I (Jakarta : Paramadina. cet.85 Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Ibid. Ibid. Lihat Olaf Schumann. hlm. 685.diorganisasi di bawah lembaga politik dan pemerintahan yang efektif. hlm.82 Dalam Bab ini penyusun merasa perlu mengkaji pula istilah-istilah dalam kajian politik Islam seperti daulah. 59. Di samping itu teori-teori tersebut paling tidak ikut mempengaruhi pemikiran politik Islam di Indonesia. “Dilema Islam Kontemporer antara Masyarakat Modern dan Negara Islam. khalifah.84 Jadi dalam konteks sekarang istilah tersebut bisa diartikan negara.. hlm. a. beredar dan berputar adalah perputaran (legitimasi) kekuasaan dari yang lama (demisioner) kepada yang baru diamanati oleh kekuasaan lama tersebut. 57. beredar dan berputar (rotate.” Jurnal Pemikiran Islam Paramadina. 2. 85 liv . imamah dan kesultanan yang seringkali dikonotasikan dengan istilah negara. 1999). berdaulat sehingga berhak menentukan tujuan nasionalnya. selain itu Paham ini juga erat dengan paham Da>r alIsla>m yang bermakna bahwa kekuasaan tertinggi terletak di tangan seorang penguasa muslim yang memberlakukan Hukum Islam sebagai hukum utama di dalam wilayahnya. Kamus Besar Bahasa Indonesia. 84 83 82 Olaf Schumann. take turns or Occur priodically). Istilah daulah berasal dari bahasa Arab yang bermakna bergilir. 1994).83 menurut Olaf Schuman istilah “daulah” sama dengan “dinasti atau wangsa” yang berarti sistem kekuasaan yang berpuncak pada seorang pribadi dan didukung oleh keluarganya atau clanya.

1994). cet.Menurut sejarah istilah ini pertama kali digunakan dalam politik Islam ketika masa kemenangan kekhalifahan dinasti Abbasiyyah pada pertengahan abad delapan. Din Syamsuddin. khilafah didasarkan pada dua rukun. 78. ke-5 (Jakarta: UI Press. Khilafah. menurut Harun Nasution sistem ini menyerupai dengan sistem republik daripada sistem kerajaan.88 Oleh sebab itu sudah menjadi hal yang lazim dalam pemilihan pemimpin Islam bahwa pemilihan pemimpin ditetapkan oleh elit politik melalu ijma„ kemudian baru di Bay„ah . alih bahasa Ihsan Ali Fausi.89 Sistem khilafah ini pertama kali digunakan dalam politik Islam setelah Nabi Muhammad wafat. yaitu: konsensus elit politik (ijma„) dan pemberian legitimasi (Bay„ah). M. hlm. 50. I: 95. Reaksi Politik Sunni dan Syi‟ah: Pemikiran Politik Islam Modern Menghadapi Abad ke 20. Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya. Dalam perspektif politik sunni. Harun Nasution. Hamid Enayat. Istilah “Khila>fah” berasal dari bahasa arab yang bermakna perwakilan atau pergantian. berarti masa itu terdapat pada daullah Umayyah yang kemudian begilir pada keluarga Bani Abbas (Daulah Abbasiyyah). karena pemimpin dalam hal ini dipilih bukan merupakan sistem monarkhi yang bersifat turun-temurun. yaitu pada masa khalifah Abu Bakar.86 Kalau memang istilah ini pernah ada. 2000). alih bahasa Asep Hikmat. hlm. Bahasa Politik Islam. (Bandung: Pustaka. 1998).87 b. (Jakarta: Logos. 89 88 87 86 lv . Etika Agama dalam Membangun Masyarakat Madani. (Jakarta: Gramedia. hlm. dalam pidato inagurasinya Abu Bakar menyatakan dirinya sebagai Khalifah Rasul Allah Bernard Lewis. 8. 1985).

Bahasa Politik Islam. raja. sultan atau kepala negara. Sejarah Empirik.94 d. Mawardi memberikan ruang bagi agama suatu jabatan politik yaitu kepala negara. M. hlm. hlm.93 Pada dasarnya teori imamah lebih banyak berkembang di aliran syi‟ah daripada aliran sunni. Munawir Sjadzali. 39. hlm. dengan demikian menurut Munawir Sjadzali.90 Sedangkan menurut Bernard Lewis istilah khalifah muncul pertama kali pada masa pra-Islam abad ke-6 Masehi dalam suatu prasasti Islam di Arabia. baca juga karya asli. 79.dalam artian sebagai “Pengganti Rasulullah” yang bertugas meneruskan misimisinya. 63.91 c. imamah dan khilafah merupakan dua istilah yang sama maknanya. Imamah. hlm. Etika Agama. Islam dan Tata Negara. Sistem Pemerintahan dan Realitas Doktrin. 32. alih bahasa Moh. Reaksi Politik Sunni. Kesultanan. hlm. Menurut Mawardi. Etika Agama.1996). “imamah” dalam kajian Islam juga sering digunakan sebagai teori yang menyerupai makna negara. 61. Sejarah dan Doktrin. 80. Bernard Lewis. hlm. Relasi Islam dan Negara. Selain kedua istilah di atas.92 Sementara menurut Taqiyuddin anNabhani. 9. imam bisa dimaknai khalifah. lvi . Din Syamsuddin. 94 93 Hamid Enayat. Taqiyuddin an-Nabhani. karena khilafah adalah suatu kepemimpinan yang berlaku secara umum bagi seluruh kaum muslimin di dunia untuk menegakkan hukum-hukum syari‟at dan mensyiarkan Islam ke seluruh penjuru dunia. hlm. Din Syamsuddin. yaitu kekuasaan imam (wilayah) dan kesucian Imam („ismah). (Bangil: Al-Izzah. dalam aliran Syi‟ah Imama>h menekankan dua rukun. 90 M. Magfur Wachid. 91 92 Dikutip dari Kamaruzzaman.

hlm. karena secara de facto ternyata Islam mempraktekkan beberapa istilah yang bersinonom dengan konsep negara. 49. oleh sebab itu merupakan hal yang lazim kalau wacana Negara Islam selalu hangat untuk diperdebatkan. sedangkan secara konseptual atau de jure Islam memang tidak mengenal konsep negara yang detail. Bahasa Politik. yang hidup pada awal abad kedelapan. menurut Lewis ada seorang penulis dari kelompok scribal. sejak pra-kemerdekaan sampai sekarang. yaitu karena mereka bertujuan menerapkan Syari„at secara efektif di seluruh penjuru wilayah negara. Abd Hamid. Namun demikian patut diteliti apakah teori-teori tersebut untuk konteks modern saat ini bisa dikategorikan sebuah konsep negara. secara umum menggunakan istilah sultan untuk pemerintah.Adapun istilah kesultanan seringkali diartikan kekuasaan dalam kitab alQur‟an. lvii . Ima>mah dan S{ult}aniyyah.95 Dari uraian di atas. Natsir salah satu tokoh Islam yang kontra dengan gagasan Soekarno mengklaim bahwa kemerdekaan Indonesia merupakan salah satu cita-cita Islam oleh sebab itu 95 Bernard Lewis. M. tampak bahwa istilah negara dalam Islam memiliki beberapa sinonim di antaranya Daulah. Patut dicari apa sebenarnya yang membuat tokoh muslim berkeinginan keras meletakkan Islam sebagai dasar negara Indonesia? Salah satu jawaban atas pertanyaan ini. Khila>fah. Mengingat wacana negara Islam di Indonesia selalu menjadi perdebatan panjang dalam sejarah didirikannya negara ini.

bahwa umat Islam Indonesia sebagai kelompok mayoritas mempunyai peran yang sangat besar dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini. 26.98 Menurut hemat penyusun organisasi ini merupakan alat konsolidasi yang sangat efektif saat itu. gerakan Modernis Muhammadiyah (yang juga didirikan tahun 1912. Imam Bonjol (pemimpin Perang Padri 1921-1937). Sultan Hasanuddin dari Makassar. 1900-1942 (Singapura: Oxford University Press. Tjut Nya‟Dien dan Tengku Tjhik di Tiro (pemimpin Perang Aceh tahun 18721912). Ibid.97 Di samping itu terdapat juga ulama-ulama Jawa. Untuk mendukung opini ini bisa dilihat dari semangat jihad Islam yang terukir dalam sejarah tanah air ini.pencapaian kemerdekaan Indonesia merupakan bagian integral dari perjuangan Islam untuk menerapkan Syari„at. hlm. 96 Dikutip dari Faisal Ismail. 1973). Selain alasan di atas. dan organisasi Tradisionalis NU (didirikan 1926). salah satunya Syekh Hayim Asy‟ari yang terkenal dengan “Resolusi Jihadnya”. hlm.96 Tampaknya klaim ini didasarkan pada kenyataan saat itu. apalagi organisasi tersebut banyak memberi konstribusi dalam kemerdekaan ini. Ramage. seperti Sultan Babullah dari Ternate. kekecewaan umat Islam atas dihapuskannya “Piagam Jakarta” bisa juga dipahami melalui berbagai organisasi kultural dan ekonomis Islam yang telah didirikan jauh sebelum Indonesia merdeka. Teuku Umar. Percaturan Politik. 97 Deliar Noer. Pangeran Diponegoro (pemimpin Perang Diponegoro 1825-1830. The Modernist Muslim Movement in Indonesia. Ideologi Hegemoni. 98 lviii . Lihat juga Douglas E. 41. misalnya Sarekat Islam (didirikan tahun 1912).

menurut Fred von den Mehden "Indonesia sebagai satu bangsa Islam tidak seluruhnya sepakat dengan apa yang harus dilakukan sebagai pemeluk Islam”. Aliran santri menunjuk pada pemeluk Islam yang taat dan setiap harinya dekat dengan prilaku spritual atau sosial yang didasarkan pada al-Qur‟an. Ibid. hlm.100 Perbedaan relegius dan politik dalam komunitas Muslim tampak jelas dalam wacana pancasila. Douglas E. yaitu Priyayi. 27. tuntutan-tuntutan Islam politik atas negara sangat tampak dalam pemberontakkan Darul Islam melawan Pemerintahan Pusat Fred von den Mehden. Ramage.99 Hal ini mungkin disebabkan karena adanya perbedaan penafsiran dan praktik agama yang dikerjakan. 27. Dalam catatan sejarah. dan kejawen. Dengan demikian suatu dinamika “Islam versus Pancasila” telah mempengaruhi sebagian besar perdebatan dan wacana pemikiran politik Indonesia sepanjang tahun 1980-an sampai 1990-an. hlm. Religion and Modernization in South East Asia Syracuse: Syracause University Press. Ramage. Percaturan Politik. hlm. Seperti halnya yang penyusun bahas di atas. Ibid. 28. 101 100 99 Douglas E. hlm. 1986).Meski dalam kenyataanya umat Islam merupakan mayoritas dalam bangsa ini dan organisasi Islam memainkan peran penting pada masa kemerdekaan. yang bagi mereka Islam adalah lapisan terakhir yang menyelubungi kepercayaankepercaaan relegius Hindu. Baca. Sementara Abangan adalah pemeluk Islam nominal. sebagaimana yang dinyatakan Cliford Geertz bahwa rakyat Indonesia terbagi menjadi tiga aliran atau trikotomi. Ramage. lix . dinamika ini memiliki implikasi-implikasi penting bagi perpolitikan nasional. Douglas E. 184. Budha. Santri dan Abangan.101 Sebagaimana yang akan dibahas dalam bab-bab berikut.

Dalam kasus ini gerakan Kartosuwiryo tidak berkesempatan mengembangkan pemikiran substansi tujuannya karena terburu menggunakan kekerasan. 1971 dan 1982). Boland.103 Deliar Noer.antara tahun 1948-1962. 31. lx . Djohan Effendi menambahkan bahwa Darul Islam mempertinggi kecurigaan militer bahwa tidak ada perbedaan mendasar antara partai-partai Islam dengan pemberontak Darul Islam. hlm.104 Peristiwa ini sedikit banyak menumbuhkan citra negatif pada sebagian kalangan bangsa kita dalam merespon hubungan Islam dan negara. The contribution of the Islamic Parties to the Decline of Democracy in the 1950s. Monash University.102 Akibat serangan pemberontakan ini. sedangkan yang kedua dengan kekuatan illegal. The Struggle of Islam in Modern Indonesia. (The Hague: Martinus Nijhoff. hlm. makalah Confrence on Indonesia Democracy. hlm. Jadi tentu berbeda dengan gerakan Darul Islam yang dipimpin oleh S.J. Partai-Partai Islam. Satu-satunya perbedaan. Sedangkan partai Islam lebih pada substansi tujuan. Kartosuwiryo. menurut pihak militer adalah bahwa yang pertama memperjuangkan negara Islam dengan jalan legal. 104 103 102 Deliar Noer. 430. gerakan ini menggunakan kekerasan dan mementingkan simbol-simbol. yang kemudian berdampak negatif pula terhadap cita-cita dan perjuangan partai-partai Islam selama ini. 18 Desember 1992. Ramage. istilah Imam untuk Kepala negara dan lain sebagainya. Mengenai pemberontakan Darul Islam bisa dilihat B. 54-74. baginya citacita partai Islam ini dilakukan secara demokratis.M. Dikutip dari Douglas E. Djohan Effendi. tidak sepakat dengan cara pandang militer ini. Percaturan Politik. bentuk konkret ancaman “ekstrem kanan” (istilah yang secara resmi dipakai untuk menunjuk fundamentalisme Islam di era Orde Baru) semakin jelas. seperti nama Darul Islam.

Semoga prawacana ini 105 NU saat itu masih bergabung dalam partai tersebut.108 Demikian pembahasan asal-usul perdebatan Islam dan negara di Indonesia.Dan saat itu.106 Posisi Islam semakin mengkhawatirkan ketika Soekarno membubarkan partai Islam terbesar. 106 NASAKOM. nasionalisme. hlm. Padahal dalam kasus DI ini secara perlahan-lahan juga ditunggangi oleh golongan yang tidak bersimpati terhadap RI. lxi . Masyumi. Konsep ini dimunculkan Soekarno pada masa demokrasi terpimpin. walupun banyak orang Kristen yang terlibat di dalamnya karena tokoh-tokoh cabang Parkindo dan komandan daerah yang beragama Kristen jelas-jelas menyokong pemberontakan ini. citra negatif ini digunakan untuk mendeskriditkan kedudukan partai Masyumi105 dan umat Islam secara umum. dan Van Kleef. di antaranya orang-orang Belanda seperti Jungschlager. dan komunisme Soekarno tidak hanya menganjurkan konsep Pancasila. 108 107 Douglas E. Selain itu masalah pemberontakan PRRI/Permesta (19581961) juga sering dihubungkan dengan cita-cita Islam sehingga membuat partai Masyumi dibubarkan (tahun 1960). melainkan juga sebuah konsep NASAKOM. berarti persatuan antara nasionalisme. Ramage. Percaturan Politik. Ibid.107 yang akhirnya malah menimbulkan struktur politis dan ideologis yang labil pada awal tahun 1960-an karena masing-masing kepentingan politisnya jelas saling berlawanan. Schmidt. 34. agama dan komunisme. karena dituduh terlibat dalam pemberontakan regional berideologi Islam. Dalam usaha menyeimbangkan kekuatan-kekuatan ideologis antara Islam.

B. Menurut Moslem Abdurrahman “Islam” adalah wahyu. penyusun ingin mempertegas antara Islam dan pemikiran Islam. Islam di Indonesia dewasa ini tidak lepas dari dinamika pemikiran dan gerakan pembaharuan. Dengan adanya dialektika modernis versus tradisionalis inilah yang akhirnya melahirkan pemikiran neo-modernisme Islam Indonesia. di antaranya dipengaruhi ide-ide pembaharuan Abduh yang dianggap rasional-liberal. lxii . Suatu hal yang wajar sepanjang sejarah kemerdekaan Indonesia wacana relasi Islam dan negara mendapatkan komentar.109 Di sisi lain. Tipologi Pemikiran Relasi Islam dan Negara. sedangkan “pemikiran Islam” adalah kebenaran subjektif yang dihasilkan dari penangkapan seseorang terhadap pesan obyektif Tuhan. 1995). 67. Oleh sebab itu untuk memamahami tokoh pemikir Islam harus diletakkan pada kerangka Ijtiha>d. cet.. masih terdapat kuatnya madzhab yang dilestarikan oleh para kyai melalui pesantren. 110 109 Ibid.akan lebih memudahkan kita dalam memahami babbab berikutnya. 66.110 Sebagai kebenaran subjektif pemikiran Islam bisa berubah-rubah sesuai dengan konteks dan perkembangan pemahaman seseorang tersebut terhadap pesan Tuhan. hlm. yang dianggap sebagai basis kelompok tradisionalis Islam. dan kemudian di Indonesia berpadu dengan faham Wahabiyyah yang skriptural-formal. hlm. Sebelum membahas lebih jauh. ke-2 (Jakarta: Pustaka Firdaus. kritik dan debat yang tajam Moslem Abdurrahman. Islam Transformatif.

yang kemudian sering disebut sebagai kelompok “Islam kultural”. Padahal perdebatan ini sudah pernah menemukan titik temunya. hlm. Seperti yang penyusun bahas sebelumnya. dengan Bahtiar Effendy. (RE) Politisasi Islam. Upaya penyelesaian masalah tersebut pada sidang konstituante kandas di tengah jalan karena dipotong oleh Soekarno melalui Dekrit 1959. Pernahkah Islam Berhenti Berpolitik?. langkah-langkah ini telah menempatkan Islam dalam posisi antagonistik vis-a-vis negara dengan seluruh implikasinya. yang kemudian dianulir sehari setelah kemerdekaan. baik dari pihak Islam politik maupun negara. Untuk itu generasi kedua ini tidak menginginkan Islam dijadikan sebuah ideologi. 191. yaitu dalam konsep “Piagam Jakarta”.111 Akhirnya. Demikian pula yang terjadi pada masa pemerintahan Orde Baru. yang sengaja menutupi kemungkinan-kemungkinan tersebut. 2000). akhirnya Islam mencari jalannya sendiri dalam kehidupan sosial politiknya dengan cara yang bisa dibilang formalistik. situasi inilah yang mendorong pemikir Islam Indonesia generasi kedua (sejak tahun 1970-an). ke1 (Bandung: Mizan.karena masalah ini termasuk kategori Ijtiha>d seseorang dalam memahami teks Tuhan. agar kehadirannya tidak hanya dirasakan tapi juga diakui. Diawali perdebatan antara Natsir dan Soekarno. cet. 111 pembicaraan mengenai persoalan lxiii . Dalam pandangan umum. Dalam pandangan ini Islam politik merupakan sesuatu yang sulit untuk dijual karena trauma politik yang membekas para aktivis politik saat itu. Pada tahun 1940-an sampai 1990-an sering terjadi perdebatan hangat mengenai masalah tersebut.

1989).113 Sebenarnya kalau dilihat dari aspek politik.112 Dawam Rahardjo yang menggeluti Masyarakat pedesaan melalui pesantren. tanpa mengubah hukum itu sendiri. yang berpendapat bahwa Islam tidak mempunyai sistem negara yang detail tetapi di dalamnya terdapat nilai etika kehidupan bernegara. (RE) Politisasi Islam. aliran konservatif. dan egalitarianisme yang disesuaikan dengan spirit Islam. (Jakarta: P3M. Tokoh yang terkemuka yaitu M. 191. lxiv . Munawir Sjadzali mengklasifikasikan relasi Islam dan negara menjadi tiga kategori. akan tetapi agar norma-norma itu menampung kebutuhan-kebutuhan budaya dengan mempergunakan pemahaman nash. Di antara para tokoh aliran ini ialah Rasyid Ridha dan Al-Maududi.memfokuskan pada bidang garapan “transformasi sosial” yang disesuaikan dengan kebutuhan tertentu. “Pribumisasi Islam” dalam Islam Indonesia Menatap Masa Depan. yang berpendapat Islam adalah agama yang sempurna dalam mengatur aspek kehidupan manusia termasuk kehidupan bernegara. Husein Haikal. 113 112 Bahtiar Effendy. Di antaranya pandangan dasar Nurcholish Madjid yang mengemukakan desakralisasi. Lebih spesifik dalam pembahasan ini. oleh sebab itu tidak ada alasan memisahkan keduanya. Pertama. aliran modernis. yaitu fiqih dan qaidah fiqih. karena kalangan inilah yang meletakkan dasar-dasar kehidupan politik yang demokratis. Kedua. 83. hlm. Islam tidak Yang dimaksud Pribumisasi Islam adalah bagaimana mempertimbangkan kebutuhankebutuhan lokal dalam merumuskan hukum-hukum agama. Lihat Abdurrahman Wahid. Jadi bukan meninggalkan norma demi budaya. aliran sekuler. aktivitas Islam kultural dan Islam politik mempunyai persamaan. Abdurrahman Wahid dengan gagasan Pribumisasi Islam. dengan menonjolkan aspekaspek keadilan. musyawarah. dan Munawir Sjadzali yang menyatakan perlunya melihat Islam dalam konteks Indonesia. Ketiga. hlm.

62-114. Demokrasi di Persimpangan. yakni sebuah organisasi politik Islam modern pertama kali di Indonesia yang didasarkan pada sebuah prinsip antipenjajahan.115 yang akhirnya melahirkan neomodernisme tersebut. Perspektif Modernisme. Untuk lebih lengkapnya baca. Islam dan Tata Negara. dalam karyannya. Tokoh utama aliran ini ialah Ali Abd al-Raziq dan Thaha Husein114 Akan tetapi dalam tipologi ini. Moslem Abdurrahman. 227. bahwa pemikiran politik Islam di Indonesia memang tidak lepas dari hubungan dialektis antara aliran tradisionalis dan modernis. 1-2.ada hubunganya dengan negara karena menurut aliran ini Muhammad tidak pernah mengepalai dan mendirikan negara. hlm. Menyimak Pemikiran Islam. Islam Transformatif. Pemikiran modernisme Islam sudah dimulai sejak abad ke 20-an sebelum Indonesia merdeka. Pada tahun 1912 didirikan sarekat Islam. 116 115 Masykuri Abdillah. Pemetaan ini didasarkan pada analisa pemikiran yang telah bekembang. sementara kelompok neo-modernis menggunakan pendekatan kultural yang biasa disebut kaum realistis atau akomodasionis. yakni aliran Modernis. 114 Munawir Sjadzali. yang kemudian penyusun klasifikasikan kembali menjadi dua aliran: modernis dan neo-modernis. kelompok modernis biasanya menggunakan pendekatan struktural yang dapat juga disebut sebagai kaum idealis. Dalam pandangan politik Islam. hlm. penyusun akan mengkaji pada kategori kedua.116 1.117 Di bawah pengaruh modernisme Islam. hlm. lxv .

Konfigurasi Politik dan Hukum pada Era Orde Lama Dan Orde Baru. Wacana Politik Hukum dan Demokrasi Indonesia. Mahfud MD. 1999). Pengantar ke pemikiran politik. wajar apabila kalangan modernisme mengagendakan sebuah apologia melalui “ideologisasi Islam” bahwa Islam adalah agama yang Ka>ffah. perspektif ini dihadapkan penyusun pada pemikiran M. 1983). 120 lxvi . 1998). alih Bahasa Rofik Suhud. dalam. Moh. penulis katakan rasionalfundamental karena satu sisi Natsir mengakui bahwa di dalam Islam juga mengandung unsur-unsur demokrasi. Oleh sebab itu kalangan modernisme seringkali menyerukan umat Islam untuk “kembali kepada al-Qur‟an dan sunnah secara murni”. munculnya Modernisme karena didorong kesadaran akan kemunduran umat Islam yang disebabkan telah meninggalkan sumber ajaran al-Qur‟an yang asli. hlm. AS.dkk. M. (Yogyakarta: Pustaka pelajar. Tokoh ini dikategorikan dalam perspektif modernis karena gagasannya yang rasional-fundamental. Moslem Abdurrahman. cet. Rajawali. Islam Transformatif. dalam artian demokrasi adalah sistem pemerintahan yang bermanfaat bagi rakyat atau dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat.nilai-nilai demokrasi menjadi suatu yang lazim di kalangan intelektual muslim prakemerdekaan.118 Menurut Mukti Ali. 119 Dikutip dari. Dalam konteks pembahasan. Natsir bersikap keras meletakkan Islam Anders Uhlin. M. (Jakarta: CV. 215- 216. Oposisi Berserak. 32 118 117 Deliar Noer. hlm.119 Sebagai reaksi terhadap Barat. ke-2 (Bandung: Mizan. hlm.. Arus Deras Demokratisasi Gelombang Ketiga di Indonesia. Hikam.120 sisi fundamentalnya. Natsir. 20. hlm. 28.

dengan tetap menerima sistem Barat asalkan tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam.(Bandung:Mizan.123 sedangkan dalam pandangan Liddle istilah modernisme dalam politik mempunyai dua corak. pemurnian dan “skripturalistik”. Bahtiar Effendy dan Fachry Ali. lxvii . 211. M.122 Di Indonesia sendiri menurut Dawam Rahardjo ciri yang menonjol dari kalangan modernisme adalah “apologik”. hlm.125 Kedua organisasi ini mempunyai pemikiran yang sama dalam memandang konsep negara. Baca juga. 211. liberal dan demokratis sosial. 77. lihat juga. hlm. Islam dan 121 Kamaruzzaman. menurut tokoh-tokoh modernis. 171. hlm. Anders Uhlin. Relasi Islam dan Negara. Rusli Karim. Intelektual Intelegensia dan Prilaku Politik Bangsa: Risalah Cendekiawan Muslim. Negara dan Peminggiran. Media Dakwah Scripturalism: One Form of Islamic Political Thought and Action in New Order Indonesia. Merambah Jalan Baru Islam. 125 124 123 122 Ibid. hlm. 1993). (Bandung: Mizan. lihat karya asli William Liddle. Dawam Rahardjo. 284. pertama. M. yaitu Masyumi dan Muhammadiyah. 98. “substansialis”-kelompok ini lebih mengedepankan pada isi daripada bentuk.121 Ide-ide pemikiran modernisme tentang Islam dan negara cenderung bercirikan konservatif. kertas kerja belum diterbitkan. perlu penyusun tegaskan bahwa yang dimaksud modernisme di sini adalah aliran pemikiran yang selalu mengidealkan pemerintahan Islam. Dikutip dari. 1986). Negara dan Peminggiran. Rusli Karim. “skripturalistis”-yang masih menginginkan bentuk negara Islam dan berlakunya undang-undang Islam.sebagai dasar negara. kedua. dengan tujuan supaya ajaran Islam bisa laksanakan secara utuh dan konsekuen dalam kehidupan bernegara.124 Untuk memperjelas pada pembahasan lebih lanjut. Sebenarnya secara genetik kelompok ini sudah ada sebelum Orde Baru lahir. M. Oposisi Berserak. hlm. hlm.

Pola pemikiran neo-modernisme sangat identik dengan Fazlur Rahman..128 126 Kamaruzzaman. menurutnya meskipun di era modern pemikiran modernisme memberikan sumbangan positif terhadap kebangkitan Islam. Ibid. Natsir sendiri Islam memang tidak mempunyai sistem ketatanegaraan yang sempurna. mengapa tokoh modernisme seperti M. 12. 127 128 lxviii . Demokrasi di Persimpangan. di antaranya adalah kurangnya metodologi dalam menafsirkan al-Qur‟an dan Sunnah. tetapi bukan berarti menolak sistem Barat secara totalitas. tetapi aliran ini masih menunjukkan kelemahan-kelemahan tertentu. Dikutip dari.negara mempunyai hubungan integral. hlm. Relasi Islam dan Negara.126 Pada intinya aliran modernisme semacam ini mendukung negara Islam secara ideologis. masih ada alasan-alasan lain yang akan dibahas dalam bab selanjutnya. 70-72.127 Selain itu. Perspektif Neo-Modernisme. Natsir ingin menjadikan Indonesia sebagai negara Islam. 2. Untuk lebih lengkapnya akan penyusun bahas dalam bab selanjutnya. al-Qur‟an dan Sunnah telah menunjukkan perangkat dasar negara yang dapat diterapkan di zamannya. hlm. dan terlalu apriori terhadap kekayaan potensi pemikiran Islam tradisional. Masykuri Abdillah. hlm. 73. karena baginya secara tekstual. Karena menurut M. maka dari itu apabila negara Islam nanti didirikan boleh mengadopsi sistem Barat asal tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

129 dengan meminjam istilah H. Zaman Baru Islam. Nurcholis Madjid menyatakan bahwa meninggalkan tradisi lama akan menimbulkan jump to conslusion (kesimpulan yang melompat). kemudian pada tahun 1980-an generasi kedua ini dikenal dengan sebutan Islam kultural.132 Menurut Greg Barton. Ibid.R. akan terancam intellectual impoverisment (pemiskinan intelektual). Ketiga. Demokrasi di Persimpangan. Pertama. karena pemikiran-pemikirannya seringkali terjebak pada proses pengambilalihan konsep-konsep Barat. dan Idy Subandy Ibrahim. Kedua. 130 131 132 lxix . neo-modernisme Islam mengarfimasi 129 Dedy Djamaluddin Malik. hlm. hlm. sebagai pemikiran generasi kedua setelah modernisme yang mengarah pada Islam politik. Oleh sebab itu kaum neo-modernisme menggunakan kaidah Islam klasik berikut ini. 191. Masykuri Abdillah. Gibb. Bahtiar Effendy. Yaitu:  ‫اىَسافظـﺔ ػيٚ اىقدٌٝ اىظاىر ٗاألخر تاىددٝد األطير‬ Neo-Modernisme adalah aliran pemikiran yang melakukan usaha-usaha untuk menemukan titik temu antara kaum Islam tradisionalis dengan kaum Islam modernis.A. aliran ini sangat berbeda dengan fundamentalisme yang menganggap Barat sebagai ancaman bagi umat Islam.Lebih lanjut. Neo-modernis justru membela ide-ide liberal Barat. 178. tetapi juga mengajukan argumentasi bahwa Islam juga mempunyai kepedulian yang sama terhadap ide-ide Barat seperti demokrasi dan hak-hak asasi manusia. artinya mengambil pokoknya saja tanpa memahami latar belakangnya. 11. dia mengkritik kaum modernisme Islam bahwa kalangan ini menurutnya. hlm. perubahan dan pembangunan. (RE) Politisasi Islam. 130 sebagai prinsip pengembangan pemikirannya.131 Di Indonesia sendiri gagasan neo-modernisme Islam dimulai sejak tahun 1970-an. neo modernisme adalah gerakan pemikiran progresif yang mempunyai sikap positif terhadap modernitas. ada lima ciri yang menonjol dari aliran neo modernisme.

politik. Keempat. 18. ia seorang neo-modernis yang latar belakang sosialnya berasal dari golongan tradisionalis. 135 lxx . 134 Dalam pembahasan ini.135 Dalam memandang relasi Islam dan negara. karena menurutnya alQur‟an dan Sunnah tidak pernah menyuruh mendirikan negara Islam. kalangan ini lebih suka menggunakan pendekatan kultural. Abdurrahman Wahid. (RE) Politisasi Islam. yakni dengan memerankan Islam sebagai “faktor komplementer” untuk mengembangkan sosio-ekonomi. seperti Nurcholish Madjid. hlm. 134 133 Bahtiar Effendy. Kelima. 122. khususnya dalam merespon pluralisme masyarakat. 191. Membaca Pikiran Gus Dur dan Amien Rais tentang Demokrasi. hlm. di antaranya. dan moralitas bangsa. Dawam Rahardjo. corak pemikiran neo-modernisme akan penyusun hadapkan dengan pemikiran Abdurrahman Wahid.semangat sekularisasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. meskipun mereka tidak sepenuhnya sama dalam Dikutip dari. Di antara kalangan neo-modernis yang paling utama mendukung pendekatan kultural ini adalah Nurcholis Madjid dan Abdurrahman Wahid. neomodernisme sangat mengedepankan pemahaman Islam yang terbuka. Masykuri Abdillah. neo-modernisme selalu berijtihad dalam membuat sintesis antara khazanah pemikiran Islam tradisional dengan 133 gagasan-gagasan Barat mengenai ilmu-ilmu sosial dan humoniora. 1999). hlm. meskipun Abdurrahman Wahid sangat kritis terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah di tahun 1990-an. tetapi dia tergolong akomodasionis terhadap sistem sosial yang berlaku di Indonesia. Demokrasi di Persimpangan. Banyak penulis yang mengkategorikan tokoh-tokoh muslim Indonesia. inklusif dan liberal. dan Munawir Sjadzali masuk dalam aliran ini. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Umaruddin Masdar.

Zaman Baru Islam. dan Idy Subandy Ibrahim. 138 137 Dedy Djamaluddin M.berpendapat.137 hal yang senada diungkapkan oleh Nurcholish Madjid bahwa Islam bukanlah sebuah ideologi. hlm. Zaman Baru Islam. tetapi mereka menyadari bahwa secara historis ekspresi Islam ideologis tidak pernah berhasil. hlm. Polemik Negara Islam. Ahmad Suhelmi. 139 lxxi . dan Idy Subandy Ibrahim. menurut Abdurrahman Wahid kalau Islam di Indonesia dijadikan faktor alternatif. baca juga..138 Meskipun demikian. baik modernisme maupun neo-modernisme dalam memandang agama dan negara sudah tentu berbeda. bukan berarti pemikir neo-modernisme ini mengabaikan aspek agama dalam politik. sebab pendapat Islam sebagai ideologi hanya akan menyamakan agama itu setaraf dengan ideologi-ideologi yang ada di dunia. 170. yakni diideologikan. karena dalam pemikirannya selalu mempertimbangkan aspek fiqih. dalam kaidah fiqihnya "Tas}araf al Ima>m manu>t}un bi al-Mas}lahah" (kebijaksanaan kepala pemerintah harus mengikuti kesejahteraan rakyat)”. 77. hlm. Ibid.136 Selain itu. karena secara teoritis dalam konteks agama dan negara kedua pemikiran tersebut memang 136 Ibid.. maka fungsinya bisa terdistorsi karena yang muncul bukanlah struktur yang lebih baik melainkan konflik horizontal dan ancaman disintegrasi bangsa. Dedy Djamaluddin M. 116.139 Pokok pikiran kedua aliran ini. hlm. 169. Hal ini terlihat dalam pemikiran Abdurrahman Wahid yang mengajukan dalil agar kebijaksanaan pemerintah harus senantiasa disesuaikan dengan ketentuan-ketentuan fiqih. 239. hlm.

yang menempatkan syari‟ah sebagai tata nilai masyarkat dalam kehidupan bernegara. 1987). (Bandung: Mizan. bisa dimengerti mengapa persoalan agama dan negara di Indonesia selalu menjadi pembicaraan hangat di kalangan intelektual muslim kita. 141 lxxii . Amien Rais. yakni idealistik dan realistik. karena pada dasarnya agama adalah urusan pribadi yang tidak bisa diintervensi siapapun.terbagi dua. 41. hlm. Cakrawala Islam.141 Sementara generasi kedua. Kelompok modernis lebih suka menggunakan pendekatan Islam politik dalam kehidupan bernegara. akan tetapi dalam aksi politiknya masing-masing berbeda. 140 Ibid. neo-modernisme tidak tertarik dengan pendekatan Islam politik tetapi lebih pada Islam kultural. sedangkan negara dalam pandangan mereka adalah penjaga syari‟ah. Kelompok inilah yang kemudian menggunakan Islam sebagai “tawaran alternatif” dan selanjutnya penyusun kategorikan dalam “kelompok modernis”. baik itu faktor organisasi ataupun studi yang dijalaninya. Dalam kerangka pemikiran idealistik dirumuskan sebuah sistem negara yang sepenuhnya berdasarkan wawasan Islam. Sebenarnya kedua kelompok di atas sama-sama menyadari bahwa di dalam al-Qur‟an maupun Sunnah memang tidak ada yang menyatakan untuk mendirikan negara Islam. 140 dan kemudian penyusun kategorikan sebagai kelompok neo-modernisme. yang menekankan pada substansi bukan sebuah bentuk formal. Sementara pemikiran realistik lebih tertarik menempatkan Islam sebagai “faktor komplementer”. Ini tidak lain karena pengaruh geneologi pemikiran yang melatarbelakangi keduanya. Dari uraian di atas. karena untuk memberlakukan syari‟ah pasti membutuhkan kekuatan politik dan yang memiliki kekuatan itu adalah negara.

NATSIR DAN ABDURRAHMAN WAHID lxxiii .BAB III POKOK-POKOK PEMIKIRAN M.

maupun keagamaan. masyarakat Minangkabau telah akrab dengan dunia politik. baik dalam bidang politik. dan dibentuk sesuai tradisi kepala kelompok suku keluarga yang didasarkan pada suatu sistem Anwar Harjono. Indonesia terpecah-belah menjadi 17 negara bagian.10. pendidikan. (Jakarta: Gema Insani Press. Natsir tidak pernah luput dari pembahasan. Muhammad Hatta.TENTANG RELASI ISLAM DAN NEGARA Sketsa Biografi M. hlm. Selain seorang tokoh yang gigih memperjuangkan cita-cita Islam. Diantaranya: Imam Bonjol. HAMKA. hlm. budaya dan agama. M. Natsir: Dakwah dan Pemikirannya. Keadaan inilah yang akhirnya menggigihkan semangat M. yang kemudian dikenal dengan Mosi Integral Nastir. cet. Thohir Luth. 21. ke-3 (Jakarta: Pustaka Firdaus. Pemikiran dan Perjuangan Mohammad Natsir.143 Secara tidak langsung. 1999). Latar Belakang Sosial Politik Dalam sejarah perpolitikan Indonesia. Hal ini bisa dilihat dari masyarakatnya sendiri yang terdiri dari sejumlah republik (negeri-negeri). dkk. Nastir untuk meyakinkan masyarakat bahwa ada kemungkinan RI bisa bersatu kembali. daerah yang memang banyak memunculkan tokoh-tokoh pembaharu nasional. Selama pemerintahan RIS (Republik Indonesia Serikat).142 M. Haji Agus Salim. 143 142 lxxiv . 2001). nama M. Natsir berasal dari Sumatera Barat. Natsir 1. dan Sutan Sjahrir. dia juga dikenal sebagai bapak pemersatu bangsa karena mosi yang dilontarkannya dalam Sidang Parlemen RIS 3 April 1950.

Ahmad Suhelmi. Indonesian Sociological Studies: Selected Writing. 91. (Jakarta: Hidayat Agung. suku juga sangat dipertahankan.144 Di sisi lain adat-istiadat. Mahmud Yunus.Matriarchat. Vol. selain dua masalah di atas Syeikh Ahmad Khatib selaku penulis buku tersebut. lxxv . hlm. 1955). hlm. (Jakarta: LP3ES. 1982). 29. Gerakan Modern Islam Indonesia 1900-1942. 29. Bahkkan di antara mereka itu ada yang berguru secara langsung kepada tokoh-tokoh Wahabi.147 Dikutip dari. 95. hlm. 147 146 Deliar Noer. I. hlm. (Amsterdam: W Van Hoeve ltd. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. mereka adalah ulama muda yang dipengaruhi oleh gerakan Wahabi di Arab Saudi dan gerakan pembaharuan Islam Mesir. Rasyid Ridha dan Muhammad Abduh. 91. Polemik Negara Islam.145 Salah satu tuntutan gerakan ini adalah pemurnian ajaran Islam (purifikasi). Padahal kedua praktik itu telah menjadi tradisi masyarakat setempat. Ahmad Suhelmi. juga menentang keras praktik T{ariqah Naqsabandiyyah dan peraturan-peraturan adat tentang warisan. awal timbulnya aliran pembaharuan Islam ini disebabkan beredarnya buku yang mengecam ulama dengan melarang berdiri waktu membaca “Maulid Nabi” (waktu Marh}aban) dan melafalkan Us}alli ketika niat sholat. Menurut Mahmud Yunus. dan dipengaruhi kuat dengan gagasan-gagasannya M. Schrieke. 1982). hlm. 145 144 Ibid.146 Deliar Noer menambahkan. Akibat tradisi keagamaan yang berlangsung di daerah itu. B. Polemik Negara Islam. lihat juga. terutama oleh golongan adat atau kaum tradisionalis. melahirkan para gerakan pembaharu Islam.

dan mencari dalil untuk memperkuat fakta masing-masing. Kabupaten Solok. Sejarah Pendidikan Islam. Pertama. membahas.Gerakan pembaharuan ini. Natsir lahir pada tgl 17 Jumadil Akhir 1326 H. sedangkan dari kalangan tradisional ada Tarbiyah Islamiyah dan majalah al-Mizan. Kedua golongan itu juga berlomba-lomba menyelidiki. al-Imam al-Basyir dan al-Ittiqan. sekolah ini didirikan oleh almarhum Abdullah Ahmad pada 1909. sehingga mengkondisikan lahirnya institusi keagamaan. bertepatan dengan tanggal 17 Juli 1908 di Jembatan Berukir Alahan Panjang.149 pola pemikirannya sedikit banyak dipengaruhi dengan kondisi sosiologis di mana ia tumbuh. 1990). al-Bayan.”148 M. mendalami ilmu-ilmu agama.I. 150 lxxvi . yakni saat masyarakat Minangkabau bersemangat bangkit melawan politik kolonial dan mengadakan perubahan doktrin keagamaan. Sebuah Biografi. M. Ia merupakan anak ketiga dari pasangan Idris Sutan Saripado Dan Khadijah. (Jakarta: Girimurti Pustaka. akibatnya ilmu agama semakin berkembang di Minangkabau dan melahirkan banyak madrasah agama. 145- 149 152. Pendidikan formalnya ditempuh di HIS (Holland Inlandische School) Adabiyah150 dan Madrasah 148 Mahmud Yunus. Natsir. H. Akibatnya masyarakat terpolarisasi menjadi kaum adat dan puritan. (Hollands Inlandsche School) Adabiyah adalah madrasah sekolah agama yang pertama di Minangkabau. gerakan ini membawa perubahan-perubahan positif bagi kehidupan keagamaan masyarakat Minangkabau. Seperti yang di tulis Mahmud Yunus bahwa ada sisi positif dari dealektika dikotomi di atas. gerakan ini menimbulkan reaksi keras dari kalangan tradisionalis dan Kepala suku. Kedua. majalah al-Munir. hlm.S. menurut penyusun membawa implikasi besar dalam kehidupan masyarakat. antara lain: “Dari kalangan pembaharu melahirkan Sumatera Thawalib. 92 Ajib Rosidi.

Sejarah Pendidikan Islam. politik dan orientalisme. no 13. awalnya ia masuk Jong Sumatranen Bond di Padang. Di dalamnya terdiri 4 program bahasa.154 Selain itu. Setengah waktu digunakan untuk pelajaran bahasa. dan Jermaan. hlm. sepertiga untuk matematika dan ilmu pengetahuan sosial. Prancis. hlm. yang kemudian berubah menjadi H. Inggris dan sebagainya memang banyak membantu kecerdasan bangsa Indonesia. Natsir tampak menguasai bahasa-bahasa Eropa tersebut. lxxvii . cet. 63. Inggris. Sejarah Pendidikan Indonesia. setelah lulus dari HIS ia melanjutkan ke MULO151 (Meer Uitgerbreid Lager Onderswij) Padang. filsafat.” Jurnal ISLAMIKA. 122 dan 128. AMS adalah sekolah lanjutan MULO dan sebagai persiapan untuk Universitas di Nederland. (Jakarta: Bumi Aksara. 132. Yusril Ihza Mahendra. hlm. 65. 55. Mahmud Yunus. 137141. Pada Juli 1927 ia tamat dari MULO dan melanjutkan ke AMS152 (Algemene Middelbare School) dengan jurusan sastra Barat (Eropa) klasik di Bandung. ke-3 (Jakarta: Bulan Bintang. 154 155 153 152 151 Kamaruzzaman. M. 1995). sekolah kejuruan.155 Adabiyah ini berlangsung sebagai sekolah agama sampai tahun 1914. Capita Selecta. Belanda. 1973). M. Nasution. dengan demikian bisa dipastikan kalau ia tidak banyak mengalami kesulitan dalam memahami karya-karya bangsa Eropa.Diniyah Solok pada tahun 1916-1923. yaitu: Belanda. M. sastra. hlm. (1994). Ibid. Natsir mulai terlibat organisasi sejak di MULO. Relasi Islam Dan Negara. Natsir sendiri mengakui bahwa bahasa-bahasa Eropa. Baca. Sekolah ini berfungsi sebagai subkultur AMS. MULO adalah sekolah rendah dengan program yang diperluas. oleh sebab itu bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa belanda. “Modernisme Islam dan Demokrasi: Pandangan Politik Natsir. M.S pada tahun 1915. di antaranya sejarah.I. 153 Jika dilihat dari jenjang pendidikannya. hlm. hlm. dan sekolah terminal bagi mereka yang tidak melanjutkan studinya. dan kemudian beralih ke Jong Islameten Bond (JIB). kedua organisasi tersebut diketuai oleh Sanusi Pane. Natsir. S.

hlm. Tuanku Mudo Amid. Lihat juga.Namun demikian. Mohammad Natsir Pemadu Politik dan Dakwah. Natsir telah mengenal ajaranajaran Islam yang bercorak pembaharuan sejak usia muda. 55. bukan satu dialek atau salah satu bahasa propinsi. 1998). hlm. Kamaruzzaman. M. Ahmad Khan. 158 lxxviii .157 Di samping itu ia juga tertarik dengan pemikiran-pemikiran keagamaan para tokoh modernis. seperti Muhammad Abduh. ia juga mempunyai kepedulian khusus terhadap karya-karya klasik ulama Islam yang berbahasa Arab. Selain itu. dalam Azyumardi Azra dan Saiful Umam (ed. Baginya bahasa Arab bukanlah bahasa agama semata. Relasi Islam dan Negara.. oleh sebab itu baginya bahasa Arab lebih kaya dari bahasa Eropa manapun juga. Hlm. Tokoh dan Pimpinan Agama: Biografi Sosial-Intelektual. malainkan suatu bahasa dunia yang merupakan kunci dari berbagai pengetahuan yang kaya raya untuk mengutarakan suatu pengertian. Natsir sangat tertarik dengan karya Ibnu Taimiyah dan Ibn Qayyim. seorang pengikut gerakan pembaharuan Islam yang juga merupakan kawan dekat Haji Rasul yakni seorang tokoh pembaharu pemikiran di Minangkabau. Kamarruzaman. hal ini bisa dilihat dari pengaruh gurunya. Rasyid Ridha. dari yang mudah sampai yang sesulit-sulitnya atau dari yang bersifat Maddah (konkrit) sampai yang bersifat Ma„nawi (abstrak). Natsir mengikuti pelajaran-pelajaran yang diberikan Haji 156 Ibid. 133. hlm.158 Pada dasarnya M. Dikutip dari.156 Melalui bahasa arab tersebut. (Jakarta: Badan Litbang Agama Depag RI dan PPIM. dan Syed Amir Ali di Asia Selatan. 227. tidak heran juga kalau M.). 55. Relasi Islam dan Negara. 157 Ali Nuhannif.

. hlm. Kedua. tetapi kemudian meluas pada diskusi pergerakan dan wacana pembaharuan Islam.Abdullah Ahmad secara teratur. Lihat Howard Fidersfield. hal ini terlihat bagaimana Hassan mampu menghadapi persoalan masyarakat muslim yang berkembang saat itu. (Yogyakarta: Kurnia Kalam Semesta. 36. hlm.162 159 Kamarruzaman. Ahmad Hassan. 2001). seorang tokoh pembaharu di Padang. 162 lxxix . 1970). 11. hlm. Deliar Noer. Relasi Islam dan Negara. Relasi Islam dan Negara. namun organisasi ini memang baru terlihat karakternya sebagai kubu gerakan muslim modernis pada waktu dipimpin oleh Ahmad Hassan. Kamarruzaman. 56. selain Ahmad Hassan ada juga Haji Zamzam dan Haji Muhammad Yunus yang ikut mendirikan organisasi tersebut.161 Menurut M. (Ithacha: Cornell University Press. 56. Baca juga. Akhmad Minhaji. hlm. pendekatan Hassan terhadap kajian Islam sangatlah menarik bagi generasi muda muslim karena cara yang digunakan sangat berbeda dengan para ulama lainnya. 95. tanpa bermaksud memperkecil peranan Haji Zamzam dan Haji Muhammad Yunus sebagai pelopor pendiri Persis. Gerakan Modern Islam. salah seorang pendiri organisasi Persis. hlm. 340. Hlm. Persis resmi dibentuk pada tanggal 12 September 1923 oleh sekelompok Muslim yang pada dasarnya menaruh perhatian pada kajian dan kegiatan keagamaan. Pertama. 161 160 Ahmad Suhelmi. Hassan sangat menguasai berbagai ajaran Islam.159 Pemikiran Natsir semakin berkembang ketika ia belajar pada tokoh utama Persis (Persatuan Islam) di Bandung160. Ahmad Hassan and Islamic Legal Reform in Indonesia (1887-1958). Persatuan Islam: Islamic Reform in Twentith Century Indonesia. Natsir ada dua alasan mengapa ia tertarik berguru pada Ahmad Hassan. Polemik Negara Islam.

(Jakarta: Gramedia. organisasi ini merupakan perkumpulan generasi muda muslim yang didirikan di Jakarta dan kemudian membuka cabang di daerah-daerah. darmawisata dan olah raga dengan menggunakan label Islam. Natsir menjadi anggota JIB cabang Bandung. Diplomasi: Ujung Tombak Perjuangan RI. Pada tahun 1929 M. Relasi Islam dan Negara. JIB berdiri pada tanggal 1 Januari 1925. dalam Kustiniyati Mochtar (peny). yaitu pertentangan antara kaum adat dengan kaum muslim puritan. 57.Selain pengaruh dari tokoh-tokoh di atas. seni. Natsir. di antaranya Jong Islamieten Bond 163(the Association of Muslim Youth) dan Persis (The Unity of Islam). Untuk lebih detailnya baca. ia telah menyaksikan pertentangan antara kaum adat dan agamawan di daerahnya. lxxx . Oleh sebab itu tidak menutup kemungkinan kalau pandangan Natsir tentang keagamaan nanti sedikit banyak terpengaruh dengan fenomena yang ia lihat sewaktu kecil.164 Dan kemudian ia mengajar Islam di Hollands Inlandse Kweekkschool (HIK) atau sekolah guru dan MULO di kota ini juga. Karena pada masa kecil. menumbuhkan rasa simpati dan toleran antar sesama muslim atau dengan golongan yang lain. hlm 129. menyelenggarakan kursus agama. 163 JIB merupakan organisasi yang bertujuan untuk mempelajari dan memotivasi hidupnya agama Islam. selain itu orgainasasi ini juga meningkatkan kemajuan jasmani dan rohani anggotanya dengan cara menahan diri dan sabar. di mana ia banyak terlibat dalam organisasi. kondisi sosial masyarakat Minangkabau juga ikut mempengaruhi corak pemikiran M. Pola pemikiran politik Natsir mulai terlihat khas ketika ia berdomisili di Bandung. 164 Kamarruzaman. Sejarah Berdirinya Jong Islamieten Bond. 1989). yang kemudian ikut membentuk pemikirannya dalam menentang paham sekulerisme. Mohammad Roem. hlm.

adanya majalah Persis Pembela Islam 167 yang memberinya kesempatan untuk menuangkan pendapat-pendapatnya dalam bentuk tulisan. buku.166 Ditambah lagi. Ibid. selain itu yang menarik bagi Natsir adalah perhatian besarnya Persis pada kegiatan-kegiatan pendidikan.165 M. 58.Namun demikian. Natsir: Dakwah dan Pemikirannya. terutama yang sedang belajar di sekolah menengah Belanda. karena melalui kegiatan yang dipelopori Persis seperti tablig. dan kemudian majalah ini dilarang penguasa karena dianggap menyerang misi Kristen. 168 167 Ibid. khususnya dalam bidang politik dan agama.169 Oleh sebab itu. penerbitan majalah. Gerakan Modern Islam. Relasi Islam dan Negara. Thoir Luth. 169 lxxxi . Natsir mempunyai hubungan yang dekat dengan tokoh-tokoh Persis. M. negarawan. Karena dalam Persis M. hlm. 100. Kamaruzaman. dan agamawan di negara Republik Indonesia ini. bisa dikatakan bahwa Persis merupakan wahana awal yang menjadikannya sebagai tokoh nasional. pengaruh Persis terhadap dirinya lebih dominan ketimbang JIB. dan 165 Deliar Noer. Natsir merasa lebih banyak mendapatkan teman yang dapat memecahkan masalah yang sedang berkembang dalam pemikirannya. apalagi ia juga sangat tekun dalam mengikuti kelas khusus yang memang diperuntukkan anggota muda Persis oleh Hassan. hlm 29. tabligh dan publikasi.168 Yang semuanya itu mengantarkannya sebagai pejuang. 166 Pembela Islam adalah Majalah tengah bulanan yang diterbitkan tokoh-tokoh Persis di Bandung (1929-1935). hlm.

mulai terlihat saat ia mengkritik pandangan guru Belandanya yang menganggap bahwa sistem kerja kolonial di pabrik-pabrik gula di Jawa telah banyak memberi keuntungan kepada petani. Inggris. Pemerintah Belanda sempat menawarkan sebuah beasiswa untuk mengantarkannya ke Sekolah Tinggi Hukum di Jakarta atau Sekolah Tinggi Ekonomi di Rotterdam Belanda. hlm. dan team redaksi Pembela Islam. Prancis. di sekolahan ini ia telah banyak mempelajari berbagai aspek sejarah peradaban Islam. hlm. 33. hlm. Polemik Negara Islam.170 Selain pengalaman organisasi di atas. 172 lxxxii . Melihat kecerdasan yang dimiliki Natsir. Ibid. dan Yunani dengan menggunakan literatur yang berbahasa Arab. Arab. Deliar Noer. Gerakan Modern Islam.pendidikan itulah ia berkesempatan terjun langsung sebagai juru bicara. Prancis dan Latin. Romawi. secara akademis ia juga terlihat lebih serius dalam mempelajari ilmu pengetahuan Barat di AMS Bandung daripada sebelumnya. dan Latin). 100. Dikutip dari Ahmad Suhelmi. dengan demikian tidak heran apabila ia dengan mudah menjelajahi dunia intelektual. 37. Menurut 170 171 Ahmad Suhelmi.171 Jadi bisa dikatakan bahwa dalam usia yang relatif muda (21 tahun) Natsir telah menguasai lima bahasa asing (Belanda. tetapi ia menolak tawaran beasiswa tersebut karena kecintaannya terhadap studi keislaman saat itu. pendidik.172 Kesadaran Natsir untuk menentang sistem kolonial Belanda.

Polemik Negara Islam.M. Natsir yang mendapat keuntungan bukanlah petani melainkan para pemilik modal dan bupati yang memaksa rakyatnya untuk menyewakan tanah mereka dengan sewa rendah. ia mulai berontak akan penindasan yang dilakukan Belanda atas bangsanya. cet. hlm 49. hlm. Polemik Negara Islam. Tjipto Mangunkusumo dan lain-lain. 174 Deliar Noer. ia sadar bahwa untuk melawan tirani kolonialisme sangat ditentukan oleh perjuangan politik rakyat. 34. Natsir 173 Ahmad Suhelmi. Sedangkan Peristiwa lain yang juga memperkuat cita-cita politik keislaman Natsir pada periode ini adalah responnya terhadap kalangan nasionalis netral agama atau yang biasa dikenal dengan sebutan kalangan sekuler. yang dipelopori oleh PNI dengan tokoh utamanya Ir. 175 lxxxiii .173 Inilah awal perlawanan Natsir terhadap kolonial Belanda. Ahmad Suhelmi. tempat di mana Natsir mengembangkan pemikiran politik dan agamanya. Dan justru sistem inilah menurutnya yang membuat petani semakin menderita karena tidak pernah bebas dari beban-beban hutang. Partai Islam di Pentas Nasional: Kisah dan Analisis Perkembangan Politik Indonesia 1945-1965.174 Oleh sebab itu bisa dimungkinkan bahwa pemikiran politik Natsir pasca kemerdekaan juga dipengaruhi atas perjuangan politiknya ketika memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini melawan bangsa kolonial. Soekarno. 38. 2000). M. Lihat juga.175 Organisasi ini berbasiskan anggota di Bandung. ia terdorong untuk mempelajari politik lebih dalam. Sebagai aktivis Persis yang bermukim di kota tersebut. hlm. ke-2 (Bandung: Mizan. Dari peristiwa tersebut. Ibid.

lxxxiv . Abdul Kahar Muzakkir. ia menyampaikan bahwa Masyumi didirikan Ahmad Suhelmi. Partai ini didirikan pada tanggal 7 Novemper 1945 dalam kondisi revolusi yang bergolak untuk menentang tentara kolonial yang hendak kembali lagi ke Indonesia. 62. Yusril Ihza Mahendra. hlm. 177 178 176 Ibid. Dr. Ki Bagus Hadikusumo. dan Dr. (Jakarta: Paramadina. Mohammad Mawardi. Mohammad Roem. yang kemudian mempengaruhi perdebatan keras di antara keduanya dalam menentukan bentuk dan dasar negara. yang perlu dicermati setelah kondisi di atas adalah keterlibatan Natsir dalam mendirikan partai Islam di Indonesia yaitu Masyumi.178 M. Modernisme dan Fundamentalisme dalam Politik Islam: Perbandingan Partai Masyumi (Indonesia dan Partai Jama‟at I-islami (Pakistan). hanya saja ia tidak suka ketika kampanye PNI merendahkan aturanaturan agama. Mohammad Natsir. Di antaranya adalah Haji Agus Salim. Polemik Negara Islam. 1999). setelah kemerdekaan Indonesia ini tercapai. Prof. dalam pidatonya yang disampaikan pada hari jadinya Masyumi yang kesebelas (7 november 1956). 39.tertarik dan seringkali mengujungi propoganda PNI yang dikampanyekan Soekarno.176 Perbedaan ideologi politik itulah. Dan selanjutnya. Prawoto Mangkusasmito.177 Menurut Yusril Ihza Mahendra. Abu Hanifah. Sukiman Wiryosajoyo. Natsir sendiri pernah memimpin partai ini selama beberapa periode. hlm. Abdul Wahid Hasyim. ide pembentukan partai ini datang dari sejumlah tokoh politik dan pergerakan sosial keagamaan Islam Indonesia yang telah aktif sejak zaman Belanda.

179 Dalam organisasi partai tersebut. akhirnya memisahkan diri dari keanggotaan partai tersebut dan kemudian mendirikan partai politik sendiri. Hlm. pada bulan April 1952 Nahdlatul Ulama sebagai Organisasi Masyarakat terbesar di nusantara ini. Partai Islam. 1952. 60. 1999). 1954.184 Dengan berdasarkan H{ujjah nas} al-Qur‟a>n yang dianggapnya mendukung pendapatnya tentang Islam sebagai dasar negara. Muchlis. bahkan lebih dari itu persoalan kenegaraan di Indonesia tidak bisa dipisahkan dari agama. 128. Baginya secara de facto sudah pasti menunjukkan bahwa Islam diakui sebagai agama dan anutan jiwa bangsa Indonesia. hlm. meskipun tidak disebutkan dalam konstitusi. yang sekaligus menjadi salah satu anggota Partai Masyumi sebelumnya.182 2. Relasi Islam dan Negara. 180 181 Andrée Feillard. Natsir menyebutkan185: 179 Kamarruzaman. Pemikiran M. Natsir menyatakan dengan tegas bahwa Indonesia merupakan negara Islam. 184 185 lxxxv . Natsir. M. Natsir tentang Relasi Islam dan Negara.59. Natsir beranggapan bahwa urusan kenegaraan pada dasarnya merupakan bagian integral Islam. Yogyakarta. pada tahun 1945. dan persatuan Umat Islam Indonesia. hlm. Nahdlatul Ulama. 107-111. Lihat data lengkap Deliar Noer.atas hasrat umat Islam yang diwakili oleh para tokoh Ulama dan Zuama dari seluruh kepulauan Indonesia di ibukota Republik Indonesia. 87.181 Namun demikian. Relasi Islam dan Negara. 183 182 M. Fasis Atau Komunisme. Islam adalah agama negara. Natsir masih menjadi anggota. (Yogyakarta: LkiS. yaitu Muhammadiyah. Agama dan Negara. M. dan 1956. Ahmad Suhelmi. 45. hlm.180 Masyumi merupakan partai Islam yang asalnya terdiri dari empat macam organisasi masyarakat yang bernafaskan Islam.183 Menurut A. Dalam pidatonya di Pakistan. Bentuk dan Makna. selanjutnya pada tahun 1945 ia dipilih sebagi ketua sampai lima kali berturut-turut dari tahun 1951. NU Vis-à-Vis Negara: Pencariaan isi. yang di dalamnya mengandung falsafah hidup atau ideologi seperti kalangan Kristen. Polemik Negara Islam. Kamarruzaman. ََaż-ża>riya>t (27) : 56. Perikatan Umat Islam. hlm. M.

lihat Juga. Soekarno Versus Natsir. 61. ia berkesimpulan bahwa cita-cita hidup seorang muslim di dunia ini hanyalah ingin menjadi hamba Allah dengan arti yang sepenuhnya. yang saat ini diistilahkan dengan urusan kenegaraan. hlm. faktor emosional Natsir selaku tokoh negarawan muslim saat itu. hlm. yakni : Aturan atau cara kita berlaku berhubungan dengan Tuhan yang menjadikan kita. Di antaranya aturan-aturan yang berhubungan dengan sesama manusia.)٥٦:‫(اىرازٝاخ‬  ُٗ ‫ٗ ٍاخيقـد اىدِ ٗ اإلّط إال ىٞؼثـد‬ Jadi. 187 Ahmad Suhelmi. 187 Untuk melacak pemikiran M. Kamaruzaman. Natsir tentang negara. Gerakan Modern Islam. lxxxvi . baca Deliar Noer. menurut Ahmad Suhelmi ada dua faktor yang perlu diperhatikan. Deliar Noer juga berpendapat bahwa pandangan mereka ( Soekarno dan Natsir) mewakili pandangan dua golongan besar di Indonesia.188 Sedangkan dalam konteks eforia politik Islam saat itu. dan cara kita berhubungan dengan sesama manusia. Relasi Islam dan Negara. akhirnya melahirkan gagasan-gagasan yang cukup reaksioner terhadap pemikiran Soekarno yang cenderung sekuler. Capita Selecta.186 Namun demikian. wacana tersebut juga sedang hangat diperdebatkan di Timur Tengah karena isu tentang sekulerisme juga sangat kuat di sana. untuk mencapai kejayaan tersebut. Natsir.73.189 186 M. Yakni pemisahan antara agama dan negara seperti halnya yang diterapkan Kemal Fasya di Turki. menurut M. diberikan garis-garis besarnya seseorang terhadap masyarakat. yang kemudian di antara aturan-aturan yang berhubungan dengan muamalah sesama makhluk itu. faktor sosial politik pada tahun 1940-an yang memunculkan polemik dan pertarungan ideologi antara kaum nasionalis Islam dengan nasionalis sekuler. Natsir Allah telah memberikan aturan-aturan kepada manusia. 436. hlm. hlm. Kedua. 189 188 Kamarruzaman. dan hak serta kewajiban masyarakat terhadap diri seseorang. Relasi Islam dan Negara. 61. agar mendapat kejayaan dunia dan akhirat kelak. Pertama. Ibid. yakni golongan nasionalis Islam dan nasionalis netral agama. 315.

banyaknya ide pembaharuan dari tokoh-tokoh Indonesia dan Timur Tengah yang melekat dalam jiwa Natsir. Natsir telah memberikan dua pilihan tersebut sebagai respon atas menguatnya dualisme pemikiran Islam saat itu antara yang menginginkan dasar negara Islam dan sekular. dan di sisi lain.191 Dari pernyataan tegas Natsir tersebut bisa disimpulkan bahwa M. tidak menutup kemungkinan bahwa pemikiran-pemikiran Soekarno banyak dipengaruhi oleh sekularisasi yang sedang terjadi di Turki. juga telah ikut mempengaruhi pemikirannya dalam menggagas kenegaraan dalam Islam. meskipun dengan cara memperkenalkan Pancasila yang sebelumnya ia tentang sendiri. M. yakni gampang terserang belum 190 Ibid. M. Natsir juga berkeinginan memposisikan Indonesia seperti Pakistan yang telah menjadi Republik Islam. karena paham ini akan menagakibatkan manusia kehilangan pegangan hidup yang asasnya kokoh. Natsir pernah menegaskan dalam pidatonya dalam sidang Pleno Konstituante 12 November 1957 bahwa mengenai dasar negara Indonesia hanya mempunyai dua pilihan. Natsir. Paham sekulerisme menurutnya sangat berbahaya dalam membentuk masyarakat ke depan. 204. 191 lxxxvii . Padahal saat itu Indonesia merdeka. tanpa agama (La> diniyyah) dan paham agama (Dini>).Oleh sebab itu. hlm. Khususnya dalam menyumbangkan pemikirannya tentang bentuk negara Indonesia yang ideal menurut Islam.190 Di samping itu. Agama dan Negara. M. yaitu Sekulerisme.

193 194 lxxxviii . Dengan memperjuangkan Islam sebagai dasar negara. Dikutip dari Kamarruzaman. mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim. hlm. adanya fakta normatif yang jauh sebelum Pancasila lahir. umat Islam di Indonesia telah menjadikan dan mengamalkan Islam dalam kehidupan sehari-harinya. seorang sekulerisme memang beranggapan bahwa konsep tentang Tuhan adalah relatif. adanya fakta sosiologis.penyakit syaraf dan rohani. karena “menurunkan nilai-nilai hidup manusia dari taraf kehidupan kepada taraf kemasyarakatan semata-mata”. hlm. 206 Ibid. Relasi Islam dan Negara. sebagai pemikir Islam. Kedua. yakni mayoritas masyarakat Indonesia adalah muslim. Ketiga.194 Adapun Thohir Luth. Pertama.. yakni ditentukan oleh keadaan masyarakat sendiri. dan masyarakat muslimlah yang mempunyai andil besar dalam mengusir penjajah dari bumi nusantara ini. bukan oleh Wahyu.193 Paham inilah yang kemudian menjadi salah satu faktor yang menggerakkan fikiran Natsir. memandang bahwa alasan Natsir bersama-sama partai-partai Islam lainnya mengusulkan Islam sebagai dasar negara karena tiga hal. di samping itu baginya ajaran Islam mempunyai sifat yang sempurna bagi kehidupan negara dalam menjamin keragaman hidup antar berbagai golongan. adanya komitmen yang sangat 192 Ibid. 62.192 Sebagaimana yang ia katakan bahwa ajaran sekulerisme. selalu memandang remeh kehidupan agama. Selain itu berdasarkan atas alasan bahwa secara sosiologis.

198 195 Thohir Luth. Natsir. Gibb. it is a complete civilization. (Jakarta: Paramadina. kata Natsir. 437.R. Islam dan Negara: Transformasi Pemikiran dan Praktik Politik Islam di Indonesia. hlm. Bukan hanya itu. Yang dimaksud teman-teman Natsir adalah Kasman Singodimedjo. dan K. 198 lxxxix . 1998). menurut garis yang telah ditetapkan oleh Islam. Zaenal Abidin. hlm. hudud-hudud (batas-batas) dalam muamalah (pergaulan) masyarakat. hukum dan pendidikan. hal ini terbukti dalam pernyataannya yang memperjuangkan Islam sebagai pedoman kehidupan bernegara dan bermasyarakat. ia merupakan suatu kebudayaan yang lengkap dan sempurna. kedua. Islam itu lebih dari sebuah sistem peribadatan.Masjkur. H. Natsir juga menyebutkan bahwa agama Islam adalah agama yang meliputi semua kaedah-kaedah. 199. 105.A. Natsir: Dakwah dan Pemikirannya. Watak holistik Islam.196 Artinya Islam tidak hanya membicarakan persoalan keakhiratan unsich. seperti masalah sosial politik. Natsir dan teman-temannya mengusulkan agar Islam dijadikan ideologi bangsa Indonesia. melainkan juga masalah keduniawiaan. Anwar Harjono. hlm. 107. hlm.H. dan ketiga. Isa Anshari.195 Kalau kita meminjam perkataan seorang orientalis. dkk. kenyataaan bahwa Islam dipeluk oleh mayoritas masyarakat Indonesia. Pemikiran dan Perjuangan. M. 196 197 Bahtiar Efendy. keunggulan Islam atas ideologi dunia lain. Capita Selecta.197 Dengan demikian bisa dikatakan bahwa berdasarkan : pertama. maka kita dapat simpulkan bahwa Islam is much more than a religious system.kuat tentang Islam dalam diri Natsir.

Islam dan Masalah Kenegaraan: Studi tentang Percaturan dalam Konstituante.199 Dari pandangan-pandangan tokoh dan pendapat Natsir sendiri. agama memberi kemungkinan lebih banyak kepada pemeluknya untuk mencari ilmu pengetahuan dan kebenaran. Relasi Islam dan Negara. Pertama. 1994).Sedangkan menurut Ahmad Syafi‟i Ma‟arif menyatakan bahwa ketika Mohammad Natsir berbicara tentang kelebihan agama. mengemukakan dua premis pokok. oleh sebab. cet. 200 Dikutip dari Kamarruzaman. yaitu empirisme. (Bandung: Mizan. yang menyebutkan alasan historis sosiologis di atas. 23-58. hlm. apalagi dalam sejarah dinyatakan bahwa sejak Islam masuk di Indonesia telah menjadi salah satu sumber kekuatan politik di nusantara ini. Jaringan Ulama Timur Tengah Abad XVII dan XVIII: Melcak Akar-Akar Pembaharuan Pemikiran Islam di Indonesia. yang terkesan tidak konsisten dalam menyatakan alasan. Azyumardi Azra. ke-3 (Jakarta:LP3ES. jangkauan agama meliputi seluruh aspek kehidupan. 65. ini terbukti dengan banyaknya kerajaan-kerajaan Islam yang hampir semuanya menjadikan Islam sebagai dasar ideologi kerajaan tersebut. 1996) hlm.200 Menarik untuk dicermati kembali isi pidato Natsir. 199 xc . hlm. untuk lebih lengkapnya mengenai kedatangan Islam dan perkembangannya di Indonesia. Islam perlu dijadikan dasar negara. Sebelumnya ia berpendapat bahwa sudah sewajarnya Islam dijadikan dasar negara karena secara sosiologis umat Islam Ahmad Syafi‟i Maarif. 164. Baca. rasionalisme dan intusionisme. sedangkan dalam filsafat hanya mengakui tiga dasar berpikir tidak mengakui adanya wahyu. itu untuk memperkuat ajaran Islam dalam jiwa masyarakat muslim Indonesia. maka sangat ironis jika agama Islam menjadi minoritas di negara ini. Kedua. mayoritas penduduk Indonesia adalah beragama Islam.

yang diperkuat dengan hasil wawancara antara Yusril dan M.203 Dan mengenai dasar negara menurut Natsir dapat dirumuskan dalam klausul-klausul yang bersifat umum sepanjang mencerminkan kehendak-kehendak Islam. 204 xci . menurut Natsir tidak perlu memberi definisi panjang karena malah tidak akan menjelaskan pengertian apa-apa tentang negara ini. Machiavely. 205. Yusril Ihza Mahendra mengatakan. kalupun tinggi malah akan melindungi”. baik dalam teori maupun praktiknya. Agama dan Negara. Yusril Ihza Mahendra. Ibid.202 Sedangkan dalam sisi lain. Natsir. sedangkan dalam kesempatan lain ia menyatakan: “bukan semata-mata umat Islam adalah golongan terbanyak di kalangan rakyat Indonesia seluruhnya. bahwa pernyataan Natsir sebagai salah satu anggota Masyumi tentang maksud suatu negara akan bersifat Islam bukan berarti secara formal harus dinamakan negara Islam ataupun berdasarkan Islam.. M. hlm. 202 203 Ibid. Natsir juga menyatakan dalam pidatonya. 201 M. hlm. serta dapat menjamin hidup keagaman atas saling harga menghargai antara berbagai golongan di dalam negara ini”. Modernisme dan Fundamentalisme. tetapi negara disusun sesuai dengan ajaran-ajaran Islam. Marx. tetapi berdasarkan pada keyakinan kami bahwa ajaran-ajaran Islam yang mengenai ketatanegaraan dan masyarakat hidup itu mempunyai sifat-sifat yang sempurna bagi kehidupan negara dan masyarakat. “kalau pun besar tidak akan melanda. Ibnu Khaldun. Hegel. 203. kami memajukan Islam sebagai dasar negara kita.di Indonesia memang mayoritas jumlahnya. 201 Dengan usaha meyakinkan pada seluruh lapisan bangsa Indonesia.204 Untuk menjelaskan sebuah negara. apalagi sudah terdapat banyak pandangan tokoh yang berlainan dalam hal ini di antaranya. Natsir pada 24 Oktober 1988.

b) Rakyat.Adam Smith. Mempunyai daerah berlakunya. 198. Rosseau dan lain sebagainya. Natsir menambahkan bahwa untuk sesuatu dinamakan institusi apabila207 : a. E) Undang-undang Dasar. h. D) Kedaulatan. Diakui oleh masyarakat. tugas dan tujuan khusus. Agustinus. Robert Owen. Ibid. Agama dan Negara. Mempunyai alat untuk melaksanakan tujuan. Institusi secara umum adalah suatu badan atau organisasi yang mempunyai tujuan khusus dan dilengkapi oleh alat-alat material. Natsir. c. peraturan-peraturan sendiri dan diakui oleh umum. Mempunyai peraturan-peraturan. i.206 Lebih dari itu. maka bisa dikatakan bahwa konsep negara yang dinyatakan termasuk syarat-syarat negara modern. Maka negara sebagai suatu institutsi. c) Pemerintah. Bertujuan untuk mencukupi kebutuhan masyarakat di lapangan jasmani maupun rohani. b. 206 207 208 xcii . d. . norma-norma dan nilai-nilai tertentu. hlm 199. Berdasarkan atas paham hidup. menurutnya harus mempunyai: a) wilayah. e. Ibid. Ibid. Hobbes. g. f. atau suatu sumber hukum dan kekuasaan lain yang tidak tertulis. 205 M.205 Negara menurut Natsir adalah suatu institusi yang mempunyai hak. Mempunyai keanggotaan. Plato. hlm.. Mempunyai kedaulatan atas anggotanya. 208 Melihat dari karakteristik yang disampaikan Natsir di atas. Memberikan hukuman terhadap pelanggaran atas peraturan-peraturan dan normanormanya.

Capita Selecta. 89. 447. karena ia berpandangan bahwa negara bisa menjadi alat yang kokoh bagi berlakunya hukum-hukum Islam.210 Dengan demikian negara hanyalah sebuah alat untuk mencapai tujuan. Ibid. seperti halnya kepentingan dan keperluan masyarakat manusia yang tidak berubah-ubah selama manusia masih bersifat manusia.. Ahmad Suhelmi.209 Mengenai bersikerasnya M. Capita Selecta. manusia zaman kapal terbang dan lain sebagainya. yakni mewujudkan ajaran-ajaran Islam. Natsir menegaskan bahwa negara bukanlah tujuan akhir Islam. Natsir. 210 211 212 xciii .(sebagai individu) ataupun sebagai anggota masyarakat”. pemberantasan perzinaan dan lain-lain. dalam kenegaraan Islam memang hanya mengatur dasar dan pokok-pokoknya saja. Sebagaimana di atas. Natsir dalam memperjuangkan Islam sebagai dasar negara republik ini. 442. Polemik Negara Islam. hlm.Menurutnya.baik yang berkenaan dengan kehidupan manusia sendiri. 452. baik itu manusia zaman unta. hlm. hlm. melainkan hanya alat untuk merealisasikan aturan-aturan Islam yang terdapat dalam al-Qur‟an dan sunnah.211 Menurutnya negara di sini berfungsi sebagai alat untuk mencapai tujuan “kesempurnaan berlakunya undangundang Ilahi. kewajiban zakat. hlm.212 209 Natsir. ia menyebutkan bahwa di antara aturan-aturan tersebut yaitu kewajiban belajar.

hlm.213 Menurut Natsir. karena kenyataannya negara ini diakui sebagai agama rakyat. Capita Selecta. Tetapi Indonesia tidak mengeluarkan agama dari sistem kenegaraan. M. menurutnya negara ini juga negeri Islam. 214 xciv . Natsir.442-443. Polemik Negara Islam. padahal dalam pidatonya di depan Pakistan Institute of World Affairs pada 1952. eksistensi negara nerupakan keharusan di dunia ini dan di zaman apapun. sikapnya yang anti Pancasila berubah. Jadi dengan Islam atau tidak tetap saja merupakan sebuah negara. menimbulkan kesan bahwa Natsir selama perjuangannya adalah anti Pancasila. 89. eksistensi negara telah ada sebelum dan sesudah Islam. hlm. bahwa tidak ada ijma„ ulama yang memerintahkan membentuk negara dibantah oleh Natsir.214 Melihat pemikiran Natsir tentang dasar negara Indonesia di atas. Ia menyatakan bahwa: Tidak diragukan lagi Pakistan adalah sebuah negeri Islam karena telah menyatakan Islam sebagai agama negara.Menanggapi statemen tentang tidak adanya doktrin agama yang menyuruh dan mendirikan negara sebagaimana dinyatakan oleh Soekarno. meskipun dalam konstitusi kami tidak dinyatakan tegas sebagai agama negara. menurutnya pengutipan ijma„ oleh hanya mempersulit persoalan. ada atau tidak adanya Islam. bahkan kepercayaan tauhid (monothestic belief) telah Soekarno tentang masalah ini 213 Ahmad Suhelmi. begitu pula Indonesia. mendirikan negara tidak perlu disuruh Rasulullah lagi.

Relasi Islam dan Negara. hlm. yang berfungsi sebagai dasar etik. rumusan Pancasila tidak memperlihatkan sesuatu yang asing dalam ajaran al-Qur‟an. hlm. 66. karena ideologi ini dianggap sebagai hasil ciptaan manusia dan tergolong sekuler. Oleh sebab itu ia beranggapan bahwa kesempatan inilah yang tepat untuk menolak Pancasila . Natsir terlihat inkonsisten dengan pendiriaannya.216 Namun kemudian.ditempatkan pada tempat teratas dari sila Pancasila . Natsir mengatakan: “Pancasila adalah formulasi lima cita-cita kebaikan sebagai hasil dari konsensus para pemimpin kita pada tahap perjuangan sembilan tahun yang lalu. Dikutip dari. Islam dan Masalah Kenegaraan. 72 216 217 Ahmad Syafi‟i Maarif. dan meskipun tidak identik dengan Islam itu sendiri. pada 1957 di sidang konstituante ia kembali menolak Pancasila sebagai dasar negara. Pancasila telah mencakup cita-cita islam. Dan sebagai lima dasar kebaikan tidaklah bertentangan dengan al-Qur‟an. Deliar Noer. hlm. Partai Islam. jujur. Dalam pandangan umat Islam. Dan kemudian ia menambahkan. dan mencerminkan pemikiran yang hidup di masyarakat.217 Bahkan dalam sidang konstituante tersebut. Dalan hal ini Syafi‟i Ma‟arif memandang bahwa mungkin Natsir mengambil sikap keras dalam majelis karena telah terjadi pengaburan interprestai Pancasila yang dibuat-buat oleh masyarakat kita. terang-terangan ia menyatakan bahwa sidang konstituante adalah forum tempat mengemukakan pendapat dan pikiran anggota secara lurus. Ideologi Hegemoni. Faisal Ismail.215 Dalam tulisannya yang berjudul “Apakah Islam bertolak belakang dengan doktrin al-Qur‟an ?”. 155. 141.218 215 Kamarruzaman. moral dan spritual bangsa dan negara kita. Pancasila adalah manifestasi dari maksud dan cita-cita tentang kebaikan dimana kita akan melakukan setiap usaha untuk meletakannya ke dalam praktik negara kita. kecuali apabila dimasuki oleh sesuatu yang tidak sesuai dengan al-Qur‟an. hlm. 218 xcv .

karena pada saat itu majelis belum menetapkan dasar negara baru yang permanen. 220 221 xcvi . Njoto menyerang pandangan Natsir di atas. karena dalam majelis tersebut.220 Sebagai seorang demokrat sejati Natsir harus menerima Pancasila sebagai dasar negara. Ibid. Ideologi Hegemoni.219 Dan lebih keras lagi. ia sepenuhnya menolak Pancasila .. 72 Ibid. dengan menyebutnya tidak berdasar. apakah Natsir pada tahun 1954 atau Natsir pada tahun 1957? Atau malah tidak kedua-duanya. 74. dengan mempertanyakan memperlihatkan mengapa sikap-sikap Natsir “kejam” dalam terhadap sidang-sidang Pancasila majelis..221 219 Faisal Ismail. Dan sebagaimana tokoh politik yang lain. Njoto kemudian mengajukan pertanyaan: Natsir yang mana yang harus diikuti. Namun perlu diketahui bahwa apa yang dilakukan Natsir dalam sidang konstituante tersebut secara konstitusional adalah sah. mengatakan bahwa penerimaan Natsir terhadap Pancasila selama 12 tahun sebagai dasar dan ideologi negara sekedar “di bibir saja”. salah satu tokoh komunis. hlm. yang telah diberlakukan sejak 1945 sampai tejadinya perdebatan ideologis di majelis konstituante 1957. 73. Natsir sebagai representasi dari pihak muslim berhak mengajukan Islam sebagai dasar negara melawan pendukung Pancasila dalam momen itu. dan streril yang sepenuhnya menolak Pancasila.Menurut Njoto. hlm. dan bahkan mengusulkan Islam sebagai dasar dan ideologi negara. netral.

447. hlm. hlm. menurut Deliar Noer dipicu oleh tiga alasan. menurutnya boleh saja bernama khalifah. Ibid. Lihat juga. presiden dan lain sebagainya. Faisal. hlm. sebab dari syarat-sayarat negara yang ia sebut di atas adalah tidak sepenuhnya sistem negara Islam. Natsir juga tidak bersikeras menggunakan istilahistilah penguasa Islam. Kedua. Natsir mengatakan boleh saja meniru negara non Islam asalkan tidak menyalahi ajaran-ajaran Islam. Natsir dan teman-temanya memikul tanggung jawab agama dan politik dalam memperjuangkan aspirasi politik umat Islam. bukan conditio sine qua non. 74. 223 xcvii . yang terpenting adalah seorang kepala negara tersebut sanggup bertindak bijaksana dan menerapkan peraturan-peraturan Islam dengan semestinya dalam susunan kenegaraan baik 222 Deliar Noer. Kemudian menyinggung soal nama penguasa negara. yang menginginkan Islam sebagai dasar negara.Perubahan sikap Natsir dalam sidang konstituante saat itu.222 Sementara mengenai sistem pemerintahan suatu negara. 284-285. Natsir juga menjelaskan usulannya secara argumentatif pula. Ketiga. Partai Islam..223 Selain itu titel “kholifah” menurutnya tidak menjadi syarat mutlak dalam pemerintahan Islam. Amir alMu„minin. Natsir. majelis konstituante merupakan forum tertinggi bagi para anggotanya untuk mengusulkan ideologi negara yang mereka yakini dan cocok untuk negara Indonesia. Pertama. Capita Selecta. dalam majelis. sebagaimana wakil-wakil non muslim yang menjelaskan argumentasi usulan mereka.

dalam hal ini ia menuliskan: Bila sudah ada sistem yang dikehendaki itu terdapat di negara-negara lain. 224 Ibid. Relasi Islam dan Negara. Baca juga Ahmad Suhelmi. hlm. hlm. Natsir membolehkan umat Islam untuk mencontoh sistem negara lain. Jepang. wajib bermusyawarah dengan orang-orang yang layak diajaknya dalam mengatur umat. sifat dan tabi‟atnya. seorang kepala negara menurut Natsir.. 225 226 227 xcviii . Rusia. dari Inggris. hlm. Jadi. bisa dikatakan bahwa Natsir menganggap Islam tidak mempunyai sistem negara yang lengkap sehingga ia harus mencontoh Barat. hlm. dengan cara-cara yang Muna>sabah.226 Oleh sebab itu. bukanlah monopoli salah satu bangsa atau salah satu negara saja. Natsir menilai dari sisi: agamanya. bukan dari bangsa dan keturunannya atau semata-mata keintelekannya saja. akhlak dan kecakapannya dalam menjalankan kekuasaan yang diberikan kepadanya.443.dalam kaidah maupun praktiknya.225 Dalam menjalankan roda pemerintahan. atau dari Finlandia umpamanya.224 Dan untuk syarat sebagai kepala negara Islam.227 Dengan demikian Natsir mengakui sistem pemerintahan sekular. hlm. dan lebih spesifik. sebab dari negara-negara yang ia sebut di atas adalah negara yang memisahkan agama dan negara. 69. dan tidak melanggar hukum-hukum yang telah ditetapkan.. Sebab tiap-tiap hasil kebudayaan. Ibid.. semua boleh diatur menurut keadaan zaman. 90 Kamarruzaman. kita orang Islam ada hak mencontoh negara itu selama tidak berlawanan atau bertentangan dengan aturan-aturan yang diadakan Islam. Polemik Negara Islam. 448. 450. Natsir. Kita ada hak mengambil peraturanperaturan yang baik. yang tidak berlawanan dengan agama kita. Capita Selecta. Adapun untuk urusan-urusan yang di luar ketetapan agama.

sengaja ditunjukkan oleh Natsir. hlm. Yusril Ihza Mahendra juga mengatakan hal yang sama. Ahmad Suhelmi. Contoh-contoh itu lanjut Yusril. Capita Selecta. yakni contoh negara-negara yang disebutkan Natsir di atas sangatlah liberal. 91 M.228 Namun demikian. 229 230 xcix . Relasi Islam dan Negara. 452. apalagi Rusia adalah sebuah negara komunis.229 Bukan berarti bahwa dalam pemerintahan Islam semua urusan diserahkan kepada keputusan majelis Syura. perlu dicermati lebih lanjut. sebab dalam pandangannya prinsip musyawarah dalam Islam tidak selalu identik dengan azas demokrasi. semata-mata ingin memeperlihatkan bahwa doktrin politik Islam itu bersifat terbuka untuk beradaptasi dengan sistem-sistem pemerintahan yang telah ada di dunia ini. Polemik Negara Islam. 70.230 Dalam Islam pengertian demokrasi diartikannya suatu aturan yang memberikan hak kepada rakyat untuk mengkritik dan membetulkan 228 Dikutip dari. hlm. Kamarruzaman. karena Jepang di masa itu adalah sebuah negara totaliter yang berhaluan fasis. bukan dasar negaranya. meskipun ia mengemukakan bahwa Islam anti Istiibdad (despostisme).Lebih lanjut. anti absolutisme dan kesewenang-wenangan. hlm. sebab Dalam parlemen negara Islam yang boleh dimusyawarahkan hanyalah masalah tata cara pelaksanaan hukum Islam (syari‟at Islam). ketika Natsir berbicara tentang sistem pemerintahan demokrasi. Natsir.

Ia menyatakan bahwa perjalanan demokrasi dari abad ke abad telah memperlihatkan beberapa sifatnya yang baik. 79. 453.233 Hal ini disebabkan karena politik tidaklah semata-mata harus didasarkan kepada kemauan mayoritas anggota parlemen. hlm. baca juga. suatu begrip sendiri. 439. Intinya “Islam tak usah demokrasi 100%. hlm.234 Dari uraian di atas. Islam itu…yah Islam”. 452. hlm. bukan pula otokrasi 100%. hlm.pemerintahan yang zalim.. akan tetapi sistem kenegaraan Islam tidaklah menggantungkan semua urusannya kepada instrumen demokrasi. Namun kemudian dalam sidang konstituante 1957 ia memperkenalkan konsep demokrasi yang ia maksudkan. hlm.232 Dengan tegas ia mengatakan bahwa Islam adalah suatu pengertian. Ibid. kalau perlu menggunakan kekuatan dan kekerasan untuk menghilangkannya. Yusril Ihza Mahendra. Natsir tidak menjelaskan bagaimana sesungguhnya demokrasi dalam Islam. Ibid. suatu paham.235 Maksudnya keputusan mayoritas yang berpedoman kepada 231 Ibid. yaitu demokrasi yang dilandasakan pada “Thestic nilai-nilai ketuhanan.. Relasi Islam dan Negara. 232 233 234 235 c .. Modernisme Islam. Kamarruzaman. Ibid. 71. Democracy”.231 Natsir mengakui bahwa demokrasi itu baik. yang juga mempunyai sifat-sifat sendiri. Keputusan itu tidak dapat melampaui H{udud (batas-batas) yang telah ditetapkan Tuhan.. menurutnya demokrasi tidak kosong dari berbagai bahaya yang terkandung di dalamnya. Akan tetapi bukan berarti ia lepas sama sekali dari pelbagai sifat-sifat bahaya.

hubungan agama dan negara dalam politik Islam tidak dapat dipisahkan satu sama lain. yang kemudian ia anggap sebagai ijma‟ yang mengikat untuk tempat dan zaman tertentu.nilai-nilai ketuhanan. sistem ketatanegaraan dalam pandangan Natsir boleh meniru bentuk mana saja (Barat). Dan pada intinya. 442. sebab Islam tidak seperti agama yang lain. ataupun sebagai masyarakat236. Kedua. Ketiga. baik yang berkenaan dengan perikehidupan manusia sendiri (individu). Bagi kita kaum muslimin negara bukanlah suatu badan tersendiri yang menjadi tujuan. berangkat dari pandangan-pandangan Natsir di atas dapat ditarik kesimpulan sementara bahwa hubungan Islam dan negara tidak dapat dipisahkan. Pertama. Yang menjadi tujuan adalah kesempurnaan berlakunya undang-undang Ilahi. Natsir sebagai tokoh muslim tampak ingin sekali menjadikan Islam sebagai dasar negara Indonesia. Capita Selecta. bukan begitu! Dan urusan kenegaraan pada dasarnya adalah satu bagian yang tak dapat dipisahkan. 236 Natsir. kesimpulan tersebut bisa dilihat dari pernyataannya bahwa: Fungsi agama dalam negara sangatlah penting dan tidak boleh diabaikan sama sekali. asalkan tidak bertentangan dengan ajaran Islam. melainkan sebuah alat. Islam baginya telah menyediakan perangkat dasar yang dapat diterapkan sesuai zamannya. Oleh sebab itu. Persatuan tersebut bukanlah dimaksudkan bahwa agama itu cukup dimasuk-masukkan saja di sana sini kepada negara. ci . lebih lanjut ia mendefiniskan persatuan agama dan negara. menurutnya. berdasarkan fakta di atas. satu “intergreerend deel” dari Islam. dan secara tersurat ia mendukung Islam dijadikan ideologi negara.

dan Idy Subandy Ibrahim. tetapi ikut bersama kakeknya. Natsir juga menghimbau kepada kaum muslimin agar dalam masalah persatuan atau pemisahan agama dan negara ini tidak menjadikan “sejarah sebagai ukuran” kebenaran terakhir. Gus Dur tidak memilih tinggal bersama ayahnya. Abdurrahman Wahid lahir dari latar belakang kalangan tradisional. Pada saat usia kanak-kanak ia tidak seperti kebanyakan anak-anak seusianya. 79. ia semakin akrab dengan dunia politik yang ia dengar dari rekan-rekan ayahnya saat bincang-bincang di 237 Ibid. Dan saat tinggal serumah dengan kakeknya itulah. Sehingga mengharuskannya bermukim di Jakarta. Jombang dan sekaligus pendiri Nahdlatul Ulama (NU). Latar Belakang Sosial Politik Berbeda dengan Natsir. Kakeknya adalah seorang pelopor pesantren Tebuireng. Karena kedudukan bapaknya ini pulalah. Hadratus Syeikh Hasyim Asy‟ari.. 238 cii . ia mulai mengenal politik dari orang-orang yang tiap hari hilir mudik di rumah kakeknya. Zaman Baru Islam. hlm. hlm.238 Tahun 1950.Kemudian. sejak kecil ia dididik dan dibesarkan dalam naungan keluarga ulama. Dedy Djamaluddin Malik.237 Sketsa Biografi Abdurrahman Wahid 1. 489. sebab saat itu bapaknya dilantik menjadi menteri agama Republik Indonesia. Keluarga Gus Dur tinggal di Hotel Des Indes yang sekarang menjadi pusat pertokoan Duta Merlin. Gus Dur dan saudara-saudaranya harus pindah ke Jakarta.

yaitu: main bola. hlm. Gus Dur mempunyai hobi lain. sejarah. 40. dan fiksi cerita. The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid. dan gurunya saat itu adalah bapaknya sendiri”.. teman baik bapaknya yang telah berpindah ke agama Islam dan dipanggil dengan nama Williem Iskandar Bueller. Lagi pula. dan nonton film. hlm. Ibid. perkenalannya dengan musik dimulai lewat pertemuannya dengan seorang pria Jerman. 240 Greg Barton. buku.rumahnya itu. bahkan sampai membuatnya tidak naik kelas di sekolah menengah ekonomi pertama (SMEP). 2003).239 Selain membaca buku.241 Sementara itu. dia sudah lancar membaca. Di usia yang masih belasan tahun ia sudah banyak menghabiskan segala macam majalah. “sejak usia lima tahun. membuat sekolah formalnya terganggu. agama. baik buku yang diterbitkan oleh orang-orang katolik atau non muslim lainnya.242 Kegemaran Gus Dur terhadap berbagai hal tersebut.240 Buku-buku itu bisa ia dapatkan dari perpustakaan pribadi bapaknya. 242 241 Ibid. Mulai dari filsafat. musik. Gus Dur termasuk anak yang sangat peka mengamati dunia sekelilingnya. surat kabar. Biografi Gus Dur. catur. 39. yang memang terdapat berbagai macam buku yang dikoleksinya. cerita silat. Ini disebabkan sangat gandrungnya ia 239 Ibid. Maka tak heran menurut pengakuan ibunya. Dan dari sinilah pertama kali Gus Dur tertarik dan mencintai musik klasik. khususnya karya Bethoven. (Yogyakarta: LkiS. ciii .

27.H. Siti Salekhah yang merupakan anak dari K. Bisri Syamsuri. pendiri pesantren Denanyar. Abdul Wahid Hasyim. Jombang. yang kemudian bertepatan dengan tanggal 7 September 1940 M. hlm. Wahab Hasbullah. pada tanggal 4 sya‟ban menurut penanggalan Islam. Namun demikian perayaan hari kelahirannya selalu diadakan pada tanggal 4 Agustus. bernama Nyai Hj. Mengurai Hubungan Agama dan Negara. sebagaimana terlihat dalam aspek kepribadiannya yang nyleneh pula. seringkali mengundang kontroversial.244 hal ini memang aneh. Memang dalam kebanyakan penulis yang menulis biografi Gus Dur selalu menganggapnya tanggal 4 bulan Agustus sebagai hari kelahirannya. pendiri pesantren Tebuireng. Jombang. Ia merupakan anak dari K. 25.H. Abdurrahman Wahid. Dan kedua kakeknya itu dikenal sebagai Founding Father NU di samping K. hlm. Ditilik dari geneologi keluarganya. dan Idy Subandy Ibrahim. (Jakarta: Grasindo. hlm. 1999).245 Walupun bapaknya seorang menteri dan terkenal di lingkungan Jakarta.dalam menonton sepak bola dan membaca buku. Biografi Gus Dur. di samping itu juga karena ia masih dalam keadaan sedih karena kehilangan bapaknya saat kecelakaan mobil tanggal 18 April 1953. Gus Dur tidak ingin sekolah di sekolahan elit yang biasanya dimasuki anak- 243 Dedy Djamaluddin Malik.H. 80. 245 244 civ . yang ia sendiri merupakan anak dari Hadratu al-Syaikh Hasyim Asy‟ari. Zaman Baru Islam. Jombang. Gus Dur termasuk dari golongan “darah biru” pesantren. Greg Barton. Sementara ibunya.243 Gus Dur dilahirkan di Denanyar.

tentang Biorafi Gus Dur. yang pada saat itu jelas sekali tidak ada pertautan antara organisasi modernis Muhammadiyah dengan kaum tradisionalis NU. hlm. Selain itu. pada tahun 1954 ia melanjutkan ke Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP) di Yogyakarta dan berhasil menamatkannya pada tahun 1956. hlm. Ia hanya mengikuti kelas tiga dan empat di sekolahan ini. Hartono Ahmad Jaiz. akan tetapi menurut tulisannya Greg Barton. Biografi Gus Dur. Gus Dur Menjual Bapaknya.246 Pada tahun 1953. Kiai Junaidi. ia tamat dari SMEP pada tahun 1957. Namun ketika ia belajar di kota 246 Greg Barton. karena Gus Dur lahir dari latar belakang NU. Jakarta Pusat. Baca Greg Barton. (Jakarta: Darul Falah. Bantahan Pengantar Buku: Aku Bangga Jadi Anak PKI. 248 247 cv . ia lebih menyukai sekolah-sekolah biasa. Ali Maksum.247 Di kota ini persisnya di desa Kauman. yang terletak di dekat rumah keluarganya yang baru di Matraman. di bawah asuhan K. Gus Dur tamat dari sekolah dasarnya di Jakarta. Gus Dur juga mengaji tiga kali seminggu di pesantren Al-Munawwir Krapyak. 2003). 40. 248 Ketika di Jakarta. Gus Dur memulai pendidikan formalnya di Sekolah Rakyat (SD) KRIS. Biografi Gus Dur. hlm. hlm. 49. Gus Dur bermukim di rumah salah seorang teman ayahnya. Yogyakarta. Bahkan Lebih dari itu. Ini sangat menarik untuk dicermati. serta sudah mengerti bahasa Arab tetapi masih pasif. Gus Dur sudah mampu berbicara bahasa Inggris dengan baik dan bisa membaca tulisan dalam bahasa Prancis dan Belanda. menurutnya sekolahan elit membuatnya tidak betah. 30. karena kemudian ia pindah ke Sekolah Dasar Matraman Perwari. Lalu setahun setelah tamat SD. Lihat.anak pejabat pemerintah. 47-49.H. di Jakarta Pusat. ia juga termasuk anggota Majelis Tarjih (Dewan Penasihat Agama Muhammadiyah). baik dalam aspek pendekatan maupun penafsiran agama. seoarang ulama kecil yang terlibat dalam gerakan organisasi Muhammadiyah.

yang dalam proses pertumbuhan dari kanak-kanak menjadi remaja.251 Pada masa-masa itulah (sejak akhir 1950-an sampai 1963) Gus Dur mengalami konsolidasi dalam studi formalnya tentang Islam dan sastra Arab klasik. Di sini ia sempat mengajar dan menjadi kepala sekolah. Karena kebanyakan para santri di sini menghabiskan waktu studinya selama empat tahun sedangkan Gus Dur cuma dua tahu.Yogyakarta. 119. cvi . selain di pesantren Gus Dur juga menghabiskan sebagaian besar waktunya di luar kelas dengan membaca buku-buku Barat. Jogja merupakan kota pembawa berkah bagi perkembangannya. Di bawah bimbingan Kiai Wahab Chasbullah. Gus Dur termasuk santri yang cerdas dan berbakat. salah satu pemuka NU. Di bawah asuhan Kiai Khudori. sampai pada tahun 1963. Ibid. perpindahannya dari Yogyakarta ke Magelang dan kemudian ke Jombang. tepatnya di pesantren Tegalrejo Magelang. menjadikannya mulai serius memasuki dunia bacaan: tokohtokoh teori sosial Eropa dan novel-novel besar Inggris. Lihat Greg Barton. 49. 249 Greg Barton. 251 250 Umaruddin Masdar. hlm. namun kemudian Gus Dur pindah lagi ke pesantren Krapyak Yogyakarta dan tinggal di rumah Kiai Ali Ma‟shum. Gus Dur pindah ke pesantren Tambak beras Jombang. hlm. yang terletak di sebelah utara kota Yogyakarta.249 Bagi Gus Dur yang suka membaca buku. Ia belajar di pesantren ini dari tahun 1957-1959 pada Kiai Khudori. Membaca Pikiran Gus Dur. Di samping itu. hlm. Gus Dur mulai mengikuti pelajaran pesantren secara penuh. Ibid. Setelah tamat dari SMEP di Yogyakarta pada tahun 1957. 50. Parancis dan Rusia.250 Kemudian pada tahun 1959. perkembangan bahasanya berkembang cepat.

karena saat itu partai komunis Indonesia membuat kemajuan besar. seperti dalam Infantile Communism (kekiri-kirian Penyakit Kekanak-kanakan) dan dalam Little Res Book-Mao (kutipan kata-kata ketua Mao). di Mesir Gus Dur lebih memilih aktif di organisasi Perhimpunan Mahasiswa Indonesia daripada menekuni belajarnya. Di samping itu ia juga tertarik pada ide Lenin tentang ketelibatan sosial secara radikal. Zaman Baru Islam. Kedua buku itu menurutnya gampang diperoleh. 53. Saat itu ia sedang berumur 23 tahun. hlm. Gus Dur mengambil spesialisasi bidang Syari‟ah. Di negeri ini. cvii . 83. pada tahun 1964 Gus Dur memperoleh kesempatan belajar ke Universitas al-Azhar Kairo Mesir. dan telah menyelesaikan gramatika bahasa Arab sebanyak 1000 bait (Alfiah) di luar kepala. Dengan demikian.252 Setelah menimba ilmu dari pesantren-pesantren di atas. Namun. ia merasa tidak betah belajar di sini karena materi yang diajarkannya tidak jauh berbeda dengan apa yang ia dapatkan di pesantren dulu. hlm. Dedy Djamaluddin Malik.Sebagai seorang remaja ia mulai mencoba memahami tulisan-tulisan Plato dan Aristoteles. American University Library. Pada saat yang sama ia juga tertarik menggeluti karya Das Kapital yang ditulis oleh Marx dan What is Tobe Done nya Lenin. sebuah perpustakaan 252 253 Greg Barton.253 Oleh sebab itu. dua pemikir penting bagi sarjana-sarjana mengenai Islam zaman pertengahan. Biografi Gus Dur. sebagian waktunya ia habiskan untuk membaca di perpustakaan terkenal di kota itu. melalui beasiswa Departemen Agama. dan Idy Subandy Ibrahim.

255 Dari Kairo Gus Dur pindah ke Irak. 256 257 255 Ibid. dan Idy Subandy Ibrahim.254 Namun demikian bukan berarti Gus Dur kecewa sepenuhnya kepada institusi al-Azhar. untuk mengikuti kuliah di Universitas Baghdad. 164. hlm. 1997). Tradisionalisme Radikal. 83. Minatnya tentang Indonesia juga mulai tumbuh di Universitas tersebut. lingkungan baru ini juga membantunya banyak membaca karya-karya pemikiran seperti pemikiran Emile Durkhim. hlm. karena di kota ini ia juga banyak memanfaatkan kelompok diskusi dengan para intelektual muda Mesir untuk bertukar fikiran.. Dedy Djamaluddin Malik. 83. Biografi Gus Dur.256 Di negeri inilah bakat empirismenya tumbuh pesat.257 254 Greg Barton. Di sini ia banyak belajar tentang sastra dan kebudayaan Arab. sebab referensi buku tentang Indonesia cukup banyak tersedia di sana. di samping menonton kegemarannya film-film Prancis dan sepak bola. filsafat Eropa dan teori sosial. hlm.terlengkap di kota Kairo dan waktu lebihnya ia manfaatkan menonton film. hlm. Menurut pengakuannya ia sangat senang dengan sistem Universitas Baghdad ini karena kampus tersebut jauh lebih mirip Eropa daripada al-Azhar Kairo. Zaman Baru Islam. 165. (Yogyakarta: LkiS. Persinggungan Nahdlatul Ulama-Negara. Greg Barton dan Greg Fealy. Fakultas Sastra. selama empat tahun. cviii . Dan akhirnya di univesitas Baghdad ini pulalah ia diminta untuk meneliti asal-usul historis Islam di Indonesia. selain itu Gus Dur juga pernah menjadi ketua Perhimpunan Mahasiswa Indonesia Timur Tengah dari tahun 1964 sampai 1970.

Jombang. yang sekarang menjadi Institut Keislaman Hasyim Asy‟ari (IKAHA). 259 cix . ia menjadi sekretaris umum pondok pesantren Tebuireng. Mengurai Hubungan Agama.260 Selama periode ini. hlm. Sampai akhirnya pada tahun 1979 ia hijrah ke Jakarta. 260 Greg Barton dan Greg Fealy.Lalu pada tahun 1971. Prancis. Baca. dan menjadi dosen IAIN Syarif Hidayatullah. empat bulan di Jerman. kemudian ia memutuskan untuk tetap tinggal di Indonesia saja. Kemudian dari tahun 1975-1979. dan mengawali kariernya di PB NU sebagai katib awal Syuriah NU. dan dua bulan di Prancis. 33. tetapi harapan ini sukar terwujud. Akan tetapi dalam wawancaranya Ma‟mun Murod dengan Gus Dur. karena background studinya di Kairo dan Baghdad tidak diakui di Eropa. ia menjadi dosen dan dekan Fakultas Ushuluddin di Universitas Hasyim Asy‟ari (UNHASY).259 Setelah itu. Gus Dur melanjutkan petualangannya ke negeri Eropa dengan harapan bisa belajar di salah satu universitas di sana. dinyatakan bahwa petualangan Gus Dur ke Eropa yang menghabiskan waktu selama satu tahun itu. hlm. Abdurrahman Wahid. sebagian karena diilhami oleh berita-berita perkembangan baru dunia pesantren yang menggembirakan. akhirnya Gus Dur kembali lagi ke Indonesia dan kehidupan pesantren. yaitu setengah tahun di Belanda. Tapi tidak kesampaian karena ia lebih memilih balik ke Indonesia. Jombang. 165. 258 Tetapi. sebelum akhirnya mendirikan Pesantren 258 Greg Barton dan Greg Fealy. Gus Dur juga banyak terlibat dalam kepemimpinan nasional NU. untuk belajar program studi Islam yang sangat diseganinya. 165. Ia juga sempat bermaksud pergi ke McGill Univesity di Kanada. Tradisionalisme Radikal. Sempat mengantarkannya menjadi kandidat Master (S2) di Sorbone University. Tradisionalisme Radikal. hlm. Pada tahun 1972-1974.

Ibid. longgar dan moderat. 262 263 264 cx .261 Selain itu. Bahkan menurut Greg Barton. pendidikan Islam dan masyarakat muslim.. hlm. 165. meskipun Gus Dur tidak pernah menempuh pendidikan formalnya di Barat. Mengurai Hubungan Agama. kemudian ia diberi kepercayaan untuk menjabat sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada tahun 1982-1985. Meskipun latar belakang pendidikannya berbeda. studinya di Baghdad juga banyak memberikan dasar-dasar yang baik mengenai wacana liberal yang bercorak Barat dan sekular.264 Karena sikap liberal.Ciganjur. Selain belajar secara otodidak. seperti Nurcholish Madjid dan Djohan Effendi untuk ikut bergabung dalam forum diskusi dan lingkaran studi mereka. Ibid. hlm. progresif dan inklusif inilah. 33 Greg Barton dan Greg Fealy. secara teratur ia melakukan kontak dengan intelektual muslim progresif di Jakarta. akan tetapi Gus Dur jauh lebih siap untuk menggagas wacana agama yang bercorak liberal. 166.263 Rentetan petualangan pendidikannya di atas. di Jakarta Selatan.262 Setelah menetap di Jakarta. Tradisionalisme Radikal. hlm. Ia juga pernah menjadi juri pada Festifal Film 261 Abdurrahman Wahid. telah menjadikannya sebagai tokoh intelektual yang berfikiran liberal. akan tetapi sikap dan pemikirannya jauh lebih siap untuk berpartisipasi dalam wacana-wacana besar mengenai pemikiran Barat. ia juga banyak terlibat dalam berbagai proyek dan aktivitas di Jakarta termasuk mengajar di dalam program pelatihan bulanan kependetaan Protestan.

1994 dan 1999.270 Bersamaan pada periode itu. 166. Kemudian Rukun tetangga.268 Kemudian dari tahun 1985 hingga 1990 ia berkhidmat dalam Majelis Ulama Indonesia (MUI). Banoo Coyaji (India). di Den Haag. ke-1 (Surabaya: Jawa Pos. Membaca Pikiran Gus Dur. Baca Douglas E. Gus Dur dinobatkan sebagai seorang yang layak menerima piagam “Ramon Magsasay” dan hadiah senilai 50.Indonesia. K. Berangkat dari usaha menjembatani persoalan antara kehidupan muslim yang baik tapi a-sosial dengan muslim yang begitu sosial tapi tanpa keimanan. 93. Baca. 265 Sikap dan pemikiran Gus Dur semakin liberal dan progresif ketika dipercaya menjabat ketua PBNU pada tahun 1984. hlm. orang-orang non muslim menjadi presiden Indonesia. Zaman Baru Islam. cet. Tradisionalisme Radikal. tokoh tokoh Asia tersebut ialah Noboru Iwamura (Jepang). hlm. Percaturan Politik. 270 269 cxi .269 Namun sebelumnya dalam periode yang sama tahun 1993. di antaranya pada tahun 1984. Maksud Pribumisasi Islam ialah mengokohkan kembali akar budaya kita dengan tetap berusaha menciptakan masyarakat yang taat beragama. rukun tetangga (sosial). Imron Hamzah dan Drs. hlm. Mengurai Hubungan Agama. sebuah penghargaan bergengsi yang diberikan pada tokoh Asia karena dinilai telah memberi kemajuan yang khas bagi bangsanya.267 seperti Pribumisasi Islam. Choirul Anam.H. Dedy Djamaluddin Malik. Gus Dur Diadili Kiai-Kiai. yang saat itu masih dianggap tabu oleh kaum santri (NU). sebuah istilah yang memandang dimensi pribadi menjadi dimensi sosial. dan lain sebagainya. 1989). 83. hlm. Sebuah Dialog Mencari Kejelasan.000 dollar AS. 30 268 267 266 Abdurrahman Wahid. dan Bievendido Lumbrera (Filiphina). hlm. dan sejak tahun 1994 ia menjadi penasehat International Dialogue Foundation on Perspective Studies of Syari‟ah and Secular Law. Ramage. hlm. Gus Dur juga terlibat dalam 265 Umaruddin Masdar. Vo-Tong Xuan (Vietnam). Gus Dur telah terpilih empat kali menjabat ketua PBNU. 1989.266 hal ini bisa dilihat dari gagasangagasannya. 33 Greg Barton dan Greg Fealy. 120. dan Idy Subandy Ibrahim.

khususnya pamannya sendiri. kebebasan berpendapat. 147 Dikutip dari karyanya Bahrul Ulum. Yusuf Hasyim. telah berhasil mengantarkannya pada kursi kepresidenan pada tahun 1999 di masa reformasi ini. seperti LSM Fodem (Forum Demokrasi). pada tanggal 23 Juli 1998. hlm. Arief Hakim. Akhirnya pada tahun 1998 pasca reformasi. dengan cara yang sangat demokratis telah mengangkat citra kelompok santri dalam percaturan politik nasional. Jejak Langkah NU Era Reformasi: Menguji Khittah Meneropong Paradigma Politik.aktivitas-aktivitas sosial. dan pribumisasi Islam. ia dijuluki sebagai salah satu tokoh pembawa gerbong reformasi. (Yogyakarta: Ar-Ruzz: 2002). oleh sebab itu menimbulkan kritik keras di kalangan NU. ini menunjukkan bahwa Gus Dur sebenarnya seorang demokrat.H. yang sebelumnya seringkali dimarginalkan. 135-136. M.271 Karena kritik politiknya terhadap kediktatoran negara dan gagasangagasannya yang berkaitan dengan demokrasi. K. maka tidak aneh saat reformasi 1998 terjadi. Namun sayang masa pemerintahan Gus Dur harus berhenti di tengah jalan pada tanggal 23 Juli Jabatannya di Fodem bersamaan dengan masa jabatannya sebagai ketua PBNU. 272 271 cxii . Titian Ilahi Press). pluralisme agama. Gus Dur yang saat itu masih aktif menjabat ketua umum PBNU mendirikan sebuah Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). dalam Membangun Budaya Kerakyatan: Kepemimpinan Gus Dur Dan Gerakan Sosial NU. hlm.272 Dengan dukungan PKB dan Partai-Partai Islam yang dinamakan “poros tengah” saat itu. Gus Dur dan Demokrasi. di sini ia menjabat sebagai ketuanya. (Yogyakarta. Bodohnya NU Apa NU Dibodohi?. telah mendapat respon dari kalangan luas (sejak tahun 1980-an sampai 1990-an). dengan menyatakan bahwa PKB bukanlah Partai Islam dan merupakan partai yang menginginkan negara sekuler. Terpilihnya Gus Dur sebagai Presiden. bahkan sempat menyatakan akan memilih Fodem daripada NU. Namun Gus Dur tetap tabah.

32. politik dan budaya diideologikan fungsinya akan terdistorsi dan 273 Hartono Ahmad Jaiz. Natsir dengan berbagai alasannya di atas. Berbeda dengan M. Namun yang menjadi cukup menarik setelah ia dijatuhkan dari kepresidenan. yang sejalan dengan pemikiran Ali Abd al-Raziq. Sulawesi Utara. Gus Dur sebaliknya.2001 secara inkonstitusional karena sikap politiknya yang mengundang banyak kritik. ia masih menjabat sebagai ketua Dewan Syura partai tersebut. Cara pemberhentian ini benar-benar menyakiti kalangan santri. ia menolak Islam dijadikan ideologi. hlm. oleh sebab itu banyak orang yang melakukan review terhadap pemikirannya ini. Gus Dur Menjual Bapaknya. Pemikiran Abdurrahman Wahid tentang Relasi Islam dan Negara. dari pengamat dan lawan politik yang mengantarkannya dulu. yaitu pemisahan antara agama dan negara. yang kemudian membuat mereka terpaksa kembali menelan kepahitan politik di awal sejarah reformasi ini. Gus Dur kembali membuat geger masyarakat muslim dengan menerima penobatan sebagai anggota kehormatan Legium Kristus pada 28 Januari 2002 di Tataaran Tonando. yang menginginkan Islam dijadikan kekuatan ideologi dan dasar negara ini.273 Dan mengenai peran Gus Dur di PKB saat ini (tahun 2003-2004). karena menurutnya kalau agama. Minahasa. Masalah relasi Islam dan negara merupakan salah satu hal yang penting dalam pemikiran Gus Dur. 2. cxiii . Secara garis besar bisa dikatakan bahwa arus pemikiran Gus Dur mengenai relasi Islam dan negara dapat dikategorikan sebagai pemikiran yang sekularistik.

122-123. dan Tata Negara. dan Idy Subandy Ibrahim. Atas dasar inilah Islam tidak memberi konsep yang jelas. (Jakarta: Lakpesdam. Islam. menjadikan Islam atau agama apapun sebagai ideologi negara hanya akan memicu disintegrasi bangsa.275 Pertama. yang menyebutkan bahwa Daulah Isla>miyyah (Islamic State) tidak pernah disebutkan secara eksplisit dalam al-Qur‟an. melainkan justru akan memicu disintegrasi yang berbasis sekretarian dan konflik horizontal. sebuah ayat yang lebih pada konteks sosiologis. yaitu berkaitan dengan fakta bahwa dalam sejarah Islam tidak pernah menunjukan adanya mekanisme baku bagaimana suksesi dalam Islam. hlm. Kedua. 2002). 21-33. Neraca Gus Dur di Panggung Kekuasaan.276 padahal pengangkatan seorang kepala negara merupakan kunci utama untuk mengetahui sistem kenegaraan. semuanya diangkat melalui mekanisme yang berbeda satu sama lain. Selain itu. hlm.bukan malah mendapatkan struktur yang lebih baik. 276 Mengenai hal ini bisa dibaca lebih jauh dalam karyanya. hlm. 78. argumentasi normatif-teologis. ada dua alasan mengapa ia menolak didirikannya negara Islam. 275 cxiv . argumentasi historis.274 Menurutnya. Zaman Baru Islam. yaitu negara yang baik. Ini bisa dilihat dari keempat khalifah pertama sepeninggalnya Rasulullah. Munawir Sjadzali. dalam konteks negara pluralistik seperti Indonesia. Dikutip dari. karena menurutnya sangat tidak mungkin memberlakukan formalisme agama tertentu dalam komunitas agama masyarakat yang sangat 274 Dedy Djamaluddin Malik. Khamami Zada. Memang dalam al-Qur‟an ada ayat yang berbunyi Baldatun T{ayibatun wa rabbun Gafur. penuh pengampunan Tuhan. melainkan hanya memberi nilai etik bagi kehidupan bangsa dan negara.

hlm.beragam. baginya pluralitas merupakan hukum alam atau Sunnatullah di negeri ini.277 Apabila Islam dijadikan ideologi negara. 278 279 cxv . 129. padahal dalam negara demokrasi nilai egalitarianisme sangatlah 277 Umaruddin Masdar. Khamami Zada. yang berjalan di kalangan masyarakat melalui persuasif. padahal ajaran-ajaran agama itu sendiri bersifat privat. yang berarti Islam berfungsi komplementer dalam kehidupan negara. 125. Membaca Pikiran Gus Dur. Selanjutnya. hlm. toleran dan keadilan. Membaca Pikiran Gus Dur. berarti akan membuka peluang intervensi negara terhadap agama dan politisasi agama. bagi Gus Dur. persamaan dan keadilan. 127. dan seharusnya Islam dijadikan sebuah nilai etik sosial (social ethics). yang lahir dalam konteks protes terhadap ketidakadilan di tengah komersial Arab dengan nilai-nilai dasarnya.279 Pemaksaan formalisasi hukum Islam melalui struktur negara. Neraca Gus Dur. merupakan pengingkaran terhadap demokrasi yang ingin ditegakkan di negeri ini. Untuk itu Gus Dur sepakat dengan aksioma bahwa Islam adalah agama pembebasan (a liberating religion). Oleh sebab itu. Umaruddin Masdar. bukan melalui perundangan negara yang bersifat kohesif. hlm.278 Baginya Islam adalah agama yang penuh dengan kasih sayang. Gus Dur menyatakan bahwa agama merupakan dimensi privat yang paling independen dari manusia dan tidak boleh diintervensi oleh negara yang bersifat publik. seperti musyawarah.

169.280 Dalam pandangan Greg Barton. Baca. 1990). yaitu dengan menghasilkan sebuah formulasi mendasar bahwa Pancasila dijadikan asas dasar dan ideologi setiap organisasi. yang ia sampaikan dalam sambutannya saat menerima penghargaan Magsaysay. hlm.282 Lebih dari itu. pertentangan itu tercermin dalam kemacetan sidang konstituante pada tahun 1959. Sisi lain. hlm. Berkaitan dengan ideologi Pancasila. Fachry Ali.dijunjung tinggi. di satu sisi adalah pemberontakan kelompok militan muslim yang dikenal pada tahun 1950-an sebagai Darul Islam. yang ditugaskan menetapkan sebuah konstitusi bagi republik ini. Gus Dur dikategorikan dalam aliran neo-modernis. Mengurai Hubungan Agama. Zaman Baru Islam. 282 Dikutip dari. 93. Merambah Jalan Baru Islam: Rekonstruksi Pemikian Islam Indonesia Masa Orde Baru. Dedy Djamaluddin Malik. bukan malah menjadikan pemeluk agama lain menjadi warga negara kelas dua. Gus Dur juga menyatakan bahwa tanpa Pancasila negara Indonesia akan bubar. ke-2 (Bandung: Mizan. Indonesia mampu menyelesaikan masalah itu secara pasti. Hlm. ideologi ini merupakan asas negara yang harus kita miliki dan perjuangkan. dan Idy Subandy Ibrahim.281 Ini dikarenakan gagasangagasannya yang liberal dan tetap menggunakan esensi khazanah pemikiran tradisional (legacy of past). Gus Dur menunjukkan pemikirannya dengan berkomentar mengenai prestasi umat Islam Indonesia: “Pada mulanya ada semacam pertentangan antara Islam. dan Bachtiar Effendi. yang saat itu ditawarkan dalam bentuk ideologi melawan Pancasila . sementara agama tetap dijadikan landasan kepercayaan. Sebagai sebuah bangsa. Fachry Ali dan Bachtiar Effendi. cet. Pengakuan atas berbagai ragam agama dan ideologi nasional itu memberi jaminan kebebasan bagi setiap pemeluk agama untuk menjalankan kepercayaannya masingmasing”. Dan Pancasila ini akan saya pertahankan dengan 280 Abdurrahman Wahid. 29-81. 281 cxvi .

283 Ini merupakan pernyataan yang penuh resiko pada tahun 1990-an. berupaya untuk mencairkan ketegangan tersebut. Ibid. bahkan sepak bola Pancasila . dengan menyatakan bahwa Islam sebagai agama memberlakukan nilai-nilai normatif dalam kehidupan perorangan maupun kolektif. Ideologi dan Etos Kerja di Indonesia. 1995). dimanipulasi umat Islam.nyawa saya sendiri. Gus Dur menginginkan adanya pemisahan wewenang fungsional agama dan negara yang berbau sekularistik. sedangkan negara tidak mungkin memberlakukan nilai-nilai yang tidak diterima oleh masyarakat yang berbedabeda agama dan pandangan hidupnya. tidak peduli apakah ia dikebiri angkatan bersenjata. hlm. hlm. Seolah-olah Pancasila saat itu telah menjadi mantra pemerintahan dalam menjalankan kebijakan. 85. dan sempat menjadi ejekan karena semua kegiatan harus berlabelkan Pancasila . ekonomi Pancasila . Ramage. 124. hlm.H. seperti pers Pancasila . mengenai relasi antara agama dan negara yang selalu menimbulkan ketegangan sejak periode awal Indonesia merdeka. Doktrin Islam Dalam Sejarah. dalam Budhy Munawar Rahman.285 Singkatnya. Lalu bagaimana ia 283 Dikutip dari pernyataan Gus Dur dalam. lihat juga Khamami Zada. Neraca Gus Dur. Gus Dur sebagaimana K. karena pada saat itu rakyat Indonesia sudah sangat bosan dan jenuh mendengar Pancasila yang selalu disebut oleh pejabat-pejabat dan hampir setiap hari dipropogandakan dalam media massa..284 Selanjutnya. atau malah disalahgunakan oleh keduanya. (Jakarta: Paramadina. Percaturan Politik. hlm. Islam. 80. Achmad Siddiq. antara kaum nasionalis dan kaum muslim. 583. Douglas E. 285 284 cxvii . Abdurrahman Wahid.

hlm. di antaranya sistem Istikhlaf. mengikat dengan sendirinya (Mulzimun binafsihi). yang terpenting bagi umat Islam menurut Gus Dur adalah pengaturannya (al-H{ukmu) bukan alQur‟an. bahwa rumusan Pancasila sebagai ideologi negara harus kita pegang teguh. yang telah banyak merumuskan konsepsi kenegaraan. meskipun berbeda agama.menanggapi tuntutan sebagian masyarakat yang selalu mendesak penerapan syari‟at Islam dengan mengundangkan secara positif dalam hukum negara? Untuk menjawab ini. 286 Sebagaimana yang ia katakan di atas. 124. Ahl H{alli wa al-„Aqdi. Choirul Anam. Imron Hamzah dan Drs. seperti yang dikatakan negara bangsa (nation state) saat ini. Neraca Gus Dur. Ibnu Taimiyah dan Ibnu Khaldun (Muqadimah). Dan 286 287 Khamami Zada. tetapi ini hanya terjadi dalam tempo 13 tahun. hlm. Dan menurutnya. Ibnu Abi „Arabi. Gus Dur berbicara tentang “hukum Islam” yang dalam kenyataannya hanya berlaku sebagai panduan moral yang dilakukan atas kesadaran masyarakat. bukan karena dipaksa negara. memang pernah ada tiga sistem yang dipakai dalam Islam. Sebuah Dialog Mencari Kejelasan. K. Dalam Islam sendiri tidak mengenal sistem pemerintahan yang definitif. 55. Di samping itu. (Wad„u al-Ah}kam fi H{alati Imka>niyyah Wad„ihi). Bay„ah.H.287 Ada beberapa teoritisi Islam seperti al-Mawardi (al-Ah}ka>m asS}ultaniyyah). cxviii . sebuah hukum agama dapat diundangkan negara apabila hal itu dapat berlaku untuk seluruh komponen masyarakat.

hlm. menurut Gus Dur pernah digali oleh pikiran cemerlang Ibnu Khaldun. Metamorfosis NU dan Politisasai Islam Indonesia. menjadikan Islam sebagai etika sosial dalam 288 Ibid. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. sebab Islam politik dianggap sebagai pesaing yang mengusik basis kebangsaan.ternyata paham kebangsaan ini. setidaknya secara de jure. Ketegangan itu bisa dikatakan relatif berhenti. Gus Dur setuju dengan pendapat Ibnu Khaldun yang menyatakan.105. Membaca Pikiran Gus Dur. hlm.290 Di Indonesia.291 Ada dua hal yang ditawarkan Gus Dur dalam menetralisasi ketegangan kedua pihak tersebut. 132. alasan berdirinya sebuah negara karena adanya perasaan kebangsaan.289 Dan yang tak kalah penting menurutnya adalah fungsi negara sebagai penyerap heterogenitas dan kepentingan masyarakat. A. hubungan Islam dan negara pernah mengalami ketegangan politik yang tajam. Gaffar Karim.288 Dalam konteks ini. Umaruddin Masdar. semua ormas Islam menerima Pancasila sebagai satu-satunya asas organisasi pada tahun 1980-an yang lalu. menurut Ibnu Khaldun. cxix . Pertama. Pembentukan negara. disamping paham keagamaan juga diperlukan rasa „As}h}abiyyah (perasaan keterikatan) untuk membentuk ikatan sosial kemasyarakatan. sekalipun agama itu merupakan anutan mayoritas penduduk di negara ini. oleh sebab itu tidak aneh kalau Gus Dur menolak Islam sebagai ideologi negara di Indonesia. 290 291 289 Ibid. bahwa agama saja tidak cukup untuk dapat membentuk negara. Sebab. 1995).

no. negara Islam atau bukan. hlm. Zaman Baru Islam. bukan dari norma formal eksistensinya. Abdurrahman Wahid.294 Pendapat-pendapat Gus Dur tersebut merupakan konsekuensinya dalam memperjuangkan demokrasi dan semangat pluralisme di negeri ini. 75. Gus Dur menegaskan bahwa Islam bertugas melestarikan sejumlah nilai dan prilaku sosial yang mengaitkan pencapaian tujuan dengan kemulian cara yang digunakan. dan Idy Subandy Ibrahim. hlm 132-133. Mengurai Hubungan Agama. “Nahdlatul Ulama dan Islam di Indonesia. menurutnya selama tujuan masih tetap. pemerintahan ditilik dan dinilai dari segi fungsionalnya. 4 (April 1984)..292 Dengan berprinsip al-Gayah wa al-Wasa>il (tujuan dan cara penyampaiannya).” Prisma. 292 Ibid. Kedua.293 Jelaslah dengan demikian. Ibid. Oleh sebab itu. 293 294 Abdurrahman Wahid. dan yang dimaksud nilai dan prilaku tersebut adalah Ah}laq al-Karimah. lihat juga. maka bentuk pemerintahannya tidak lagi menjadi pusat pemikirannya. Di samping itu. mengembangkan Islam sesuai dengan konteks setempat atau yang biasa dikenal pribumisasi Islam. hlm 35. Dedy Djamaluddin Malik.295 Selama kaum muslim dapat menyelenggarakan kehidupan beragama mereka secara penuh.kehidupan berbangsa dan bernegara. 169. hlm. maka cara penyampaian menjadi masalah sekunder. Islam berfungsi sebagai etika sosial yang memandu jalannya kehidupan bernegara bukan sebagai bentuk kenegaraan tertentu. 295 cxx . Dan kedua tawaran itu kemudian mengarah pada penempatan Islam sebagai faktor komplementer dalam kehidupan sosio-kultural dan politik di Indonesia. menurutnya dalam prespektif Ahl as-Sunnah wa alJama„ah.

dan Idy Subandy Ibrahim. dan tentunya dengan mendapat persetujuan para ulama organisasi tersebut. Gus Dur juga mengakui bahwa pemikiran negara dalam Islam telah terbagi menjadi dua arus.Dan atas dasar kerangka berfikir inilah. 297 298 cxxi . karena bagi NU. NU di bawah aksi politik yang dimotori Gus Dur secara sadar menerima asas tunggal Pancasila. Lebih lanjut.297 Secara teoritis. Ibid. Da>ru al-H{arbi dan Da>ru as-S}ulh}. yang dalam sejarah politik Indonesia acapkali menunjukkan sikap akrab dengan negara. bisa dikategorikan dalam negara damai (Da>ru as-S}ulh) yang harus dipertahankan.296 Dan Gus Dur sendiri dengan penuh keyakinan menyatakan bahwa pemerintahan yang berideologikan Pancasila ini. Zaman Baru Islam. melainkan keabsahan di mata hukum fiqih. Melihat kebijakan NU. pedomannya bukanlah strategi perjuangan politik atau ideologi Islam dalam artian yang abstrak. yang kemudian arus ini dinamakan Gus Dur sebagai kelompok alternatif. hlm 170. Namun Gus Dur membantah itu. 296 Dedy Djamaluddin Malik. Ibid. yakni idealistik dan realistik. tak heran kalau banyak orang yang menuduh NU sebagai organisasi opurtunistik.298 Dalam pemikiran idealistik menginginkan sebuah konsep kenegaraan yang sepenuhnya berwawasan Islam. Pancasila dalam pandangan NU merupakan ideologi bangsa yang sejalan dengan visi Imam Syafi‟i tentang tiga jenis negara: Da>ru al-Isla>m.

Emha Ainun Nadjib. yang radikal. Karena semuanya itu terletak pada grand theory yang tidak sukar dipahami. yakni dengan menomorsatukan apa pun yang indikatif terhadap primordialisme dan anti-nasionalisme.Sementara pandangan realistik. Dikutip dari.300 Sedangkan meminjam analisis Cak Nun.” Yogya Post. Gaffar Karim. agen Zionis dan berbagai tuduhan minor lainnya. 301 299 A. “Gus Dur Pelindung Minoritas. menurutnya kita bisa melihat sepak terjang Gus Dur. di antara para tokoh tradisionalis. dan Idy Subandy Ibrahim. ia kerap memperoleh serangan sebagai pro-Kristen. 95. maupun yang membingungkan. yang kemudian dalam konteks ini Islam dijadikan sebagai faktor komplementer bagi ideologi negara. baik dari sikapnya yang biasa-biasa saja. Oleh sebab itu. khusus kaitannya dengan Islam. dalam perspektif universal ia bermaksud menumbuhkan demokrasi setelanjangtelanjangnya. 108.299 Ini dikarenakan sepak terjangnya yang terkesan tidak membela Islam. dalam konstelasi keindonesiaan ia bermaksud menerapkan suatu ideologi nasionalisme habis-habisan. Pertama. (12 April 1991). Ibid. Bahkan menurut Liddle. lebih tertarik pada pemecahan masalah bagaimana perkembangan historis yang berkaitan dengan negara dapat ditampung dalam pandangan Islam. hlm. yang gendheng.. hlm. Gus Dur adalah seorang tokoh yang paling unik. Gus Dur seringkali memunculkan gagasan kontroversial di mata masyarakat. Ketiga. Zaman Baru Islam. Metamorfosis NU. 301 cxxii . yang kontroversial. Kedua. baik ketika di NU. Gus Dur dengan segala resikonya berkehendak melakukan domestikasi atau pembumian nilai-nilai Islam dalam kerangka nuansa kultural yang tak bersedia ditawar oleh segala “kegamangan teologis” apapun. 94. karena sering memimpin ke mana para pengikutnya tidak mau ikut. Untuk lebih jelasnya baca. 300 hlm. PKB maupun di Pemerintahan. Dedy Djamaluddin Malik.

302 cxxiii . retorika Gus Dur semakin bernada liberal dan progresif. sekular dan nasionalis. seorang pemimpin NU pada tahun 1945 juga sepakat mendukung sebuah negara nasional non Islam. Wahid Hasyim. dikutip dari. hlm. Tradisionalisme Radikal. Demokrasi.303 Douglas E. Ia kemudian menunjukkan bahwa ayahnya. keulamaan dan kebudayaan tradisional. hlm 196. Toleransi Agama Dan Pancasila : Pemikiran Politik Abdurrahman Wahid. 303 Pernyataan Wahid Hasyim. Ibid.302 Bagi Gus Dur Pancasila adalah ideologi nasional yang esensial untuk mempertahankan kesatuan nasional. baca juga. dalam Greg Barton dan Greg Fealy. ia banyak bersikap positif dan fleksibel dalam merespon modernitas.Sejak dipilih sebagai pemimpin NU pada tahun 1984. Douglas E.. Pandangan ini menurutnya penting untuk disampaikan karena beberapa muslim memandang Pancasila sebagai ideologi sekular yang tidak sesuai dengan Islam. ia mengkombinasikan antara apa yang baik dalam nilai-nilai modernitas dengan komitmen terhadap rasionalitas. Ramage. Ramage. Gus Dur lebih sering menggunakan ideologi Pancasila daripada Islam dalam melegitimasi partisipasinya dalam wacana politik dan pengekspresian gagasan kunci politiknya.93. 194. Untuk mendukung tujuan-tujuan demokratis dan sosialnya. dan menegaskan bahwa watak pluralistik dan multi komunal masyarakat Indonesia harus dipertahankan dari kecenderungan-kecenderungan sektarianistik. Berkaitan dengan sumbersumber pemikiran Islam. Dari sini bisa dilihat bahwa pemikiran politiknya didasarkan pada visi politik yang demokratis. hlm. Percaturan Politik.

hlm. Neraca Gus Dur. menurut Gus Dur. pendidikan dan keagamaan. 6 tahun 2000. NU ingin tetap menjaga independensi politiknya dan menghindari intervensi serta manipulasi pemerintah. tetapi juga sebagai respons terhadap depolitisasi orde baru. NU adalah ormas Islam yang pertama kali menyetujui asas tunggal.305 304 305 Ibid. kepercayaan dan adat istiadat cina. 14 tahun 1967 itu dicabut dengan Kepres No.304 Selanjutnya. cxxiv . Dalam Inpres ini. Keputusan untuk keluar dari politik atau yang dikenal dengan kembali ke khittah 1926. 14 tahun 1967 tentang agama. 200. Khamami Zada. Singkatnya. Visi demokrasi. karena saat itu pemerintah terus-terusan menekan politik Islam dengan menggunakan Pancasila untuk membatasi kegiatan partai politik yang legal pada tahun 1970-an dan awal tahun 1980-an. terlihat tidak adanya pengakuan hak-hak penganut Konghucu sehingga mereka terpaksa harus pindah ke agama lain.Untuk memahami sepenuhnya politik Abdurrahman Wahid dan penggunaannya terhadap Pancasila dalam mengembangkan demokratisasi. humanisme dan toleransi agama yang Gus Dur perjuangkan semakin kuat. hlm. Namun pada masa Pemerintahan Gus Dur Inpres No.. bukan hanya karena adanya keinginan untuk memusatkan perhatian pada tujuan-tujuan sosial. Padahal pada tahun 1983. ini terlihat dalam upaya pencabutan Inpres No. 142. berkaitan dengan perannya sebagai Kepala Presiden yang relatif singkat. perlu ditinjau terlebih dahulu “keluarnya NU” dari panggung politik formal pada tahun 1984.

dapat disimpulkan beberapa hal pemikirannya mengenai hubungan Islam dan negara. 308 Ibid.308 Berdasarkan uraian panjang lebar di atas. hlm. 145. 62. karena banyaknya kalangan yang khawatir akan campur tangan negara terhadap agama dan politisasi agama. Gus Dur juga harus menghadapi sebuah cita-cita politik yang bertolak belakang dengan trade mark pemikirannya. 307 cxxv .. Leninisme dan Komunisme. yang menurutnya telah mendiskriminasikan sebagian warga dalam kehidupan publik dan negara. sebagai seorang demokrat Gus Dur tidak memangkas keinginan itu melalui kekuasaannya. yakni pencabutan Tap MPRS XXV/1966 tentang pembubaran PKI dan pelarangan penyebaran Marxisme. dua partai politik Islam (PPP dan PBB) mengusulkan kembali “Tujuh Kata Piagam Jakarta”307 untuk dimasukkan dalam pasal yang mengatur bab agama dalam proses amandemen 1945.306 Di luar masalah tersebut. Tetapi hasrat kedua parpol tersebut gagal..Selain itu. Gus Dur selalu ingin menjaga independensi keberagamaan masyarakat dalam 306 Ibid. Pertama. Akan tetapi ide pencabutan kemudian memunculkan gelombang demonstran selama kurun masa kekuasaannya dan akhirnya di tolak oleh MPR. pada Sidang Tahunan Agustus 2000. ada ide yang lebih kontroversial. melainkan membiarkan rakyat untuk menguji wacana tersebut. Akhirnya. yakni adanya masyarakat muslim yang ingin menghidupkan kembali “Piagam Jakarta” dan mengharapakan penerapan Syari„ah Islam melalui power negara. Tujuh kata itu berbunyi: …dan kewajiban menjalankan Syari„ah Isla>m bagi para pemeluknya. sebagaimana yang pernah diungkapkan Gus Dur.

Karena pengistimewaan agama tertentu dalam negara yang plural ini. Hal ini juga bisa dilihat dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang dideklarasikannya. karena ketaatan seseorang harus muncul dari kesadaran pribadi. Begitu juga sebaliknya agama tidak perlu mengemis legitimasi kepada negara karena hal tersebut bukan menguatkan eksistensi agama sebagai kepercayaan.menghadapi negara. yaitu bagaimana membangun independensi agama dan para pemeluknya vis a vis negara. yakni menempatkan masyarakat secara egaliter di hadapan negara. partai mayoritas muslim yang tidak melabelkan Islam. baik sebagai kehendak masyarakat maupun sebagai kehendak negara. Yang mana agama sebagai wilayah privat manusia seharusnya tidak boleh dicampuri oleh siapapun. baik melalui tulisantulisan maupun ceramahnya. penolakan Gus Dur terhadap sebagian masyarakat muslim yang ingin menjadikan Islam sebagai ideologi negara. sebuah refleksi pemikirannya dalam membangun relasi Islam dan negara. yang menunjukkan bahwa ia menolak bentuk formalisme agama dalam kehidupan politik. berarti pengingkaran nilai-nilai demokrasi. Sikap itu begitu tegas disampaikan oleh Gus Dur. Ketiga. negara tidak boleh mengintervensi urusan-urusan agama masyarakat. Kedua. sikap dan gagasan Gus Dur mengenai relasi Islam dan negara sebenarnya cukup jelas. Sebagai seorang pemikir dan aktivis Islam. melainkan justru merendahkan. cxxvi . bukan dari paksaan negara. merupakan konsekuensi dari pemahaman demokrasi yang ia perjuangakan.

cxxvii . dan organisasi yang menjadi dapur pertama pemikiran politiknya. Selain itu ulasan tersebut. NATSIR DAN ABDURRAHMAN WAHID A. Sebagaimana yang telah diuraikan pada Bab III. karier politik. bahwa gambaran kedua tokoh di atas sangat diperlukan untuk menganalisa pemikiran keduanya.BAB IV ANALISIS TERHADAP PEMIKIRAN M. Di antaranya mengenai latar belakang kehidupan. Persamaan.

309 Situasi inilah yang mendorong aktivis dan pemikir Islam generasi kedua pada tahun 1970-an. yang kemudian dalam situasi itulah Islam menapaki langkah-langkah yang boleh dibilang idealistik atau formalistik. Yang kemudian terpolarisasi pada kelompok modernis dan neo-modernis. Dalam pandangan kelompok ini. 190. Ibid. Natsir sebagai Prototype modernisme Islam dan Gus Dur sebagai neo-modernisme Islam. dengan menawarkan Islam yang sesuai dengan konteks Indonesia dan tidak begitu ideologis. Oleh sebab itu kalangan ini lebih memilih garapan transformasi sosial. Islam politik merupakan sesuatu yang sulit dijual.setidaknya dapat dijadikan pertimbangan sebelum menempatkan atau mengklaim kedua tokoh tersebut dalam kategori aliran tertentu. Terlepas dari itu. (RE) Politisasi Islam. cxxviii . hlm. Singkatnya.310 Meskipun keduanya hidup pada masa yang tidak bersamaan. gerakan ini ingin menjadikan Islam sebagai ideologi negara. telah banyak mewarnai sejarah perpolitikan Indonesia. 309 310 Bahtiar Effendy. Pada bab-bab sebelumnya telah dijelaskan bahwa M. perlu diakui bahwa perdebatan Islam dan negara sudah lama terjadi. karena masih kuatnya trauma politik yang membekas antara aktivis politik Islam dengan negara. sejak dasawarsa 1930-an antara M. Natsir dan Soekarno. tetapi pemikiran politik kedua tokoh tersebut masih tetap mewarnai panggung politik Indonesia sampai saat ini. yang kemudian dinamakan Islam kultural.

oleh sebab itu pembaharuan doktrin Islam sangat diperlukan. ada dua faktor yang telah disepakati sebagai penyebab kemunduran dunia Islam. Pada dasarnya doktrin kembali ke al-Qur‟an dan Hadis di atas. secara internal. 160. yang kemudian menyebabkan umat Islam mengalami kemunduran. Kedua. Dengan demikian pemikiran-pemikiran politik kaum modernis Islam banyak diwarnai oleh idiom-idiom al-Qur‟an dan Hadis. yang menurutnya sebagai sumber ilmu yang otentik. al-Qur‟an dan Hadits. hlm. Pertama. Membaca Pikiran Gus Dur dan Amin Rais. peradaban Barat sekular yang mulai masuk dalam percaturan peradaban Islam. (S{a>lih} Likulli Zama>nin wa Maka>nin). seperti Muhammadiyah.Dalam diskursus kaum modernis. cxxix . 311 Umaruddin Masdar. abadi dan akan tetap relevan dengan perubahan zaman dan tempat. hanya saja doktrin tersebut kemudian terkontaminasi dengan sikap anti Barat yang rigid dan akhirnya melahirkan pemikiran normatif dan cenderung apologetik. misalnya dengan menawarkan sistem ekonomi Islam dan negara Islam sebagai alternatif menghadapi Barat. al-Irsyad dan Sarekat Islam. Persis. praktikpraktik keagamaan umat Islam telah banyak yang menyimpang dari ajaran Islam yang asli. merupakan rintisan yang tepat dengan realitas politik Islam saat itu. dianggap sebagai faktor lain (eksternal) yang dominan menyebabkan kemuduran dunia Islam. sebuah organisasi yang mengedepankan motif gerakan kembali ke al-Qur‟an dan Hadis.311 Di Indonesia Gerakan modernis ini termanifestasikan dalam beberapa organisasi.

As-Sulam. Ada beberapa persamaan dari kedua tokoh tersebut dalam merespon hubungan Islam dan negara. maslahah itu bersifat essensial.). Natsir dan Gus Dur dalam memecahkan persoalan hubungan Islam dan negara. II: 65. Dan untuk mengetahui persamaan dan perbedaan pemikiran kedua tokoh tersebut.313 Teori kemaslahatan inilah yang kemudian dijadikan pisau analisis oleh M. Kedua. Ketiga. maslahah itu tidak bertentangan dengan ketetentuan atau dalil-dalil umum nash. memang perlu diawali dari teori ini. hlm. apabila memenuhi tiga kriteria berikut ini. bukan individu. upaya untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat dirumuskan dalam suatu kaidah312:  ‫ذظسف اإلٍاً ػيٚ اىسػـٞح ٍْ٘ؽ تاىَظيسـﺔ‬ Menurut Abd al-Wahab Khalaf.t.Dalam diskursus politik Islam (al-Fiqh as-Siya>syi). (Jakarta: Sa‟adiyah Putra. 1977). „Ilm Usūl al-Fiqh. Dan yang pasti secara esensial kedua tokoh tersebut sepakat bahwa tujuan diterapkannya demokrasi di negeri ini adalah untuk mencapai kemaslahatan bersama dan keadilan yang merata bagi umat manusia. cet. t. Pertama. 312 Abd al-Hamid Hakim. maslahah itu ditujukan pada kepentingan rakyat banyak. ke-11 (Kairo: Dar al-Qalam. Abd al-Wahab Khalaf. cxxx . yakni kepentingan yang secara praksis dapat mewujudkan kesejahteraan umum dan mencegah timbulnya kerusakan. 313 86-87. kaidah di atas dapat dijadikan sebagai landasan teori hukum atau referensi untuk pengambilan keputusan hukum aktual.

Kedaulatan. Secara historis juga telah terbukti bahwa dari keempat khalifah sepeninggalnya Rasulullah. Capita Selecta. Menurut Natsir. di antaranya harus mempunyai wilayah. Undang-Undang Dasar atau sumber hukum atau kekuasaan lain yang tidak tertulis. persamaan. 199. keduanya sama-sama mempunyai komitmen untuk menjadikan Islam sebagai agama pembebas yang membebaskan manusia dari segala bentuk eksploitasi dan diskriminasi Sedangkan sisi persamaan yang dominan antara M. Pemerintah.314 Masih dalam konteks yang sama. melainkan hanya memberi nilai etik bagi kehidupan bangsa dan negara. Natsir dan Gus Dur dikenal sebagai pemikir muslim yang sekaligus praktisi politik terkemuka di negeri ini. Islam hanyalah mengatur dasar dan pokok-pokokmya saja seperti yang dinyatakan di atas. Natsir banyak menggunakan syarat-syarat sebuah negara modern. cxxxi . hlm. keadilan.Dalam sejarah politik Indonesia. semuanya diangkat melalui mekanisme yang 314 Natsir. seperti musyawarah. Gus Dur juga menyatakan secara tegas bahwa Islam tidak memberi konsep yang jelas untuk membangun sebuah negara. dan bagi mereka yang ada dalam Islam hanyalah prinsip dasar berbangsa dan bernegara. dan kebersamaan. dalam kenegaraan. kebebasan. Natsir dengan Gus Dur dalam membangun relasi Islam dan negara adalah pengakuan mereka tentang tidak adanya sistem politik yang rigid dalam Islam sebagaimana yang telah ada dewasa ini. M. rakyat. maka dari itu dalam membangun sebuah negara M.

21-33.berbeda satu sama lain. sebab walaupun Yusril mengkategorikan Natsir sebagai kalangan modernis.315 ini menunjukkan bahwa Islam memang tidak mempunyai mekanisme baku sebuah suksesi. M. Natsir menganggap sumber kekuasaan bagi pemerintahan adalah rakyat. sistem demokrasi menurut kedua tokoh tersebut merupakan sistem yang paling realistik untuk mewujudkan terbentuknya suatu masyarakat yang adil. akan tetapi tidak jarang pendapat-pendapat Natsir yang mengarah pada faham fundamentalisme. Munawir Sjadzali. 315 cxxxii . Mengenai tipologi pemikiran kedua tokoh tersebut. egaliter dan manusiawi sebagaimana yang dicitacitakan Islam. Islam dan Tata Negara. memang tidak sepenuhnya murni sebagaimana yang telah penyusun tempatkan. menentang pemisahan agama dan negara. Oleh sebab itu. demokrasi yang berdasarkan doktrin kedaulatan rakyat diterima secara terbuka. hlm. padahal pengangkatan seorang kepala negara merupakan kunci utama untuk mengetahui sistem kenegaraan. Karena itu. namun juga terkadang terlihat konservatif dalam wacana keislaman yang lain. yang menurut Greg Barton seringkali terkesan sekuler . Sebagaimana Abduh. Karena dengan adanya nilai-nilai dasar di atas Islam bisa dikatakan sebagai agama pembebas sepenuhnya kompatibel dengan aturan demokrasi. Begitu juga dengan pemikiran Gus Dur. akan tetapi bukan berarti ia menerima konsep sekulerisme sebagaimana yang inheren dalam sistem Mengenai hal ini bisa dibaca lebih jauh dalam karyanya.

Syari„ah sebagai suatu sistem hukum terpadu dan lengkap hanya bisa dilaksanakan apabila ada suatu otoritas yang melakasanakan penerapan (law enforcement). Sedangkan Gus Dur ingin menegakkan demokrasi yang seutuhnya. cxxxiii . Dengan demikian ada perbedaan yang sangat konsep mendasar demokrasi. Terlepas bagaimana cara kedua tokoh itu dalam memperjuangkannya. yaitu demokrasi yang sesuai dengan prinsip tauhid. sehingga pelaksanaan Syari„ah memerlukan dukungan kekuasaan politik. Dengan demikian tujuan pertama didirikannya negara demokrasi adalah untuk menjaga Syari„at itu sendiri.demokrasi Barat. Oleh sebab itu ia menawarkan sebuah konsep thestic democracy. dan sistem yang ada harus mampu menegakkan keadilan. mengenai meskipun paradigma keduanya dalam dan melindungi memperjuangkan sama-sama menerima demokrasi secara terbuka. Dan sebenarnya sikap ini sudah jelas terlihat di atas. maka keduanya sepakat untuk menjadikan demokrasi sebagai sistem yang paling rasional untuk negara republik ini. ia menjelaskan bahwa konsep demokrasi ini ditujukan untuk menetapkan hak-hak dan kewajiban timbal balik antara rakyat dengan penguasa. Islam mempunyai prinsip-prinsip dasar dalam berbangsa dan bernegara. Lebih lanjut. Menurutnya. artinya tidak ada tendensi agama yang melekat pada konsep ini. kebebasan. bagaimana reaksi dan sikap keduanya dalam memandang Pancasila di negeri ini. persamaan sebagaimana yang dituntut oleh Islam secara radikal. Atas dasar pemahaman. yaitu negara.

Baginya dengan adanya konsep Pancasila berarti telah terbukti bahwa negara Indonesia telah terjangkit penyakit sekularisme.B. tapi dalam kehidupan sehari-harinya tidak menganggap perlu adanya hubungan jiwa dengan Tuhan. dan sikap yang hanya sebatas keduniawian saja. hlm.316 Dilihat dari beberapa pernyataan Natsir pada bab-bab sebelumnya. simbiosis 316 Ahmad Syafi‟i Maarif. bisa dikatakan bahwa hubungan Islam dan negara. Kedua. Perbedaan. Natsir ingin membuktikan bahwa Indonesia telah terkontaminasi dengan paham ini. karena keduanya mempunyai fungsi timbal balik. karena konsep ini jelas bercorak La>-diniyyah yang tidak mau mengakui wahyu sebagai sumbernya. Natsir dengan tegas menolak negara yang berdasarkan sekularisme. yang memisahkan antara agama dan negara. tingkah laku. Ditarik dalam konteks Indonesia. menurutnya tidak dapat dipisahkan. Islam dan Masalah Kenegaraan. baik dalam sikap. tujuan. M. ibadah dan tindakan sehari-harinya. pemikiran politik mereka dalam menyikapi demokrasi dan ideologi Pancasila sebagai dasar negara di Indonesia ini. Pertama. Walaupun para sekularis mengakui adanya Tuhan. tampaknya M. Berangkat dari wacana relasi Islam dan negara di atas. menurutnya sekularisme adalah suatu cara hidup yang mengandung paham. Natsir dan Gus Dur dalam memandang relasi Islam dan negara yang paling fundamental terdapat dua hal. cxxxiv . di samping itu Pancasila adalah hasil penggalian dari masyarakat. Sedangkan sisi perbedaan antara pemikiran M. respon mereka terhadap paham sekuler. 127.

92. Jadi. maupun masyarakat secara kolektif. hlm. yang berkenaan dengan kehidupan manusia sebagai individu. hlm. seperti tuntutan diberlakuannya syariah oleh negara. lebih mengasumsikan agama sebagai sumber motivasi pandangan hidup bangsa atau ideologi negara (Pancasila). bagi Gus Dur.318 Jadi agama di sini hanyalah bersifat dialogis bukan simbiosis. karena telah mengabaikan prinsip-prinsip pluralisme agama.mutualisme. Pancasila sebagai ideologi negara sudah sesuai dengan konteks demokrasi dan tidak 317 Natsir. mengingat gagasan yang ia hasilkan selalu mengesampingkan simbolisasi agama terhadap negara atau sebaliknya. Mengurai Hubungan Agama dan Negara. Dan tentunya. karena menurutnya hanya akan menciptakan diskriminasi agama. 318 cxxxv . Ia tidak pernah berkeinginan untuk memanfaatkan negara sebagai alat pemberlakuan hukum agama tertentu. Maksudnya agama berperan mendorong kegiatan individu melalui nilai-nilai yang diserap Pancasila dengan menjadikannya sebagai bentuk pandangan hidup bangsa.317 Sedangkan Gus Dur. kalau kebijakan tersebut sampai diterapkan di negara yang sangat heterogen ini. Pola pemikiran Gus Dur ini bisa dikategorikan cukup sekuler. Baginya. negara adalah sebuah alat bukan tujuan. berarti negara di sini selain merupakan institusi pemerintahan. berarti kita telah melakukan pengingkarana terhadap nilai-nilai demokrasi. juga mempunyai kekuatan penuh untuk menjaga dan memberlakuan undang-undang Syari„ah. 442. Abdurrahman Wahid. persamaan hak dan kemaslahatan umat. Capita Selecta.

Baginya demokrasi adalah urusan manusia yang diberi kebebasan untuk mengatur dunia. hlm. 319 cxxxvi . “Modernisme Islam dan Demokrasi: Pandangan Politik M. M. sosial.perlu lagi diperdebatkan.” Jurnal Islamika. Natsir. hlm. dan konsep demokrasi yang cocok bagi Indonesia adalah demokrasi yang tidak meninggalkan nilainilai ketuhanan. Gus Dur menilai demokrasi sebagai suatu kedaulatan rakyat sepenuhnya. Natsir mewajibkan seoarang muslim untuk berpolitik sebagai sarana dakwah Islam. 85. sedangkan kedaulatan Yusril Ihza Mahendra. Relasi Islam dan Negara. Selain itu. Natsir Dakwah dan Pemikirannya. Natsir mempunyai pandangan untuk berusaha menerapkan ajaran dan nilai-nilai. Meskipun ia merupakan hasil ijtihad manusia. dan politik Islam yang terkandung di dalam al-Qur‟an dan sunnah dengan menyesuaikan terhadap perkembangan zaman. hlm. maksudnya. No. demokrasi yang menurut Natsir dan Gus Dur merupakan konsep paling rasional untuk sistem negara. 79. apalagi diganti. thestic democracy. 3. kerohanian. ia tidak sepakat kalau urusan Tuhan dicampuradukkan dalam kepentingan ini. Selanjutnya. Islam tetap tidak perlu menganut demokrasi 100%.320 Berbeda dengan Natsir. Dalam modernisasi politik Islam. keputusan mayoritas yang berpedoman pada ketuhanan. Secara tegas dikatakan Natsir. baca juga Kamaruzaman.319 Ini menunjukkan bahwa Natsir selaku tokoh modernis muslim sangat selektif dalam menerapkan filterisasi (saringan) terhadap Barat. 320 Thoir Luth. 71. (1994).

322 323 cxxxvii . yaitu: 1) Ta„a>ruf (saling mengenal). Natsir masuk dalam birokrasi pemerintahan berharap akan bisa memperjuangkan pemeberlakuan syari‟ah Islam melalui otoritas negara. akan tetapi keduanya mempunyai tujuan politik yang berbeda.323 Natsir dan Gus Dur sama-sama terlibat dalam pemerintahan. hlm. ia malah berkeinginan untuk meminimalisir intervensi negara terhadap agama. Untuk merealisasikan demokrasi tersebut. 176. Menurut terori klasik. termasuk penolakannya terhadap pemberlakuan syari‟ah di negara ini. hlm. apabila hukum Islam atau hukum gereja harus diberlakukan oleh negara melalui (taqnin. 3) Ta„a>wun (kerja sama). Berbicara mengenai Syari„ah. terdapat berbagai macam pemahaman. 91-105. 2) Syu>ra (musyawarah). 1999). Identitas Politik Umat Islam. 4) Mas}lah}ah (menguntungkan masyarakat). Syari„ah merupakan kehendak Ilahi yang suci dan 321 Umaruddin Masdar. hlm. Mengurai Hubungan Agama. legislasi) ajaran agama tersebut pada hakikatnya merupakan pengingkaran hakikat demokrasi yang ingin kita tegakkan di negeri ini.321 Terlebih lagi. Membaca Pikiran Gus Dur dan Amien.322 karena akan menjadikan mereka yang tidak memeluk agama mayoritas menjadi warga negara kelas dua dan kehilangan haknya dalam memperoleh keadilan sesama dalam bernegara. Sedangkan Gus Dur justru sebaliknya. dan 6) Tagyir (perubahan). Kuntowijoyo. (Bandung: Mizan.Tuhan (Syari„ah) merupakan prinsip-prinsip universal yang menjadi patokan etik moral bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Abdurrahman Wahid. 169. 5) „Adl (adil). ada enam kaidah demokrasi dalam Islam.

ulama fiqih dan usul fiqih menyatakan bahwa Syari„ah merupakan sumber fiqih. Ketika nabi Muhammad S.326 Ini menunjukkan bahwa secara terminologis. ibadah.A.324 Sedangkan dalam alQur‟an kata Syir„ah atau Syari„ah dimaknai agama. Berdasarkan definisi Syari„ah di atas.W. Lebih lanjut. puasa. Surat 5: 51: 17. beliau menjelaskan tentang sholat. ke-2 (Surabaya: Risalah Gusti. dan tata kehidupan umat manusia untuk mencapai kebahagian mereka di dunia dan akhirat.W. Syari„ah pada masa nabi Muhammad S. Sirry.325 baik sebagai jalan lurus (T{ariq Mustaqi>mah) yang ditentukan oleh Allah untuk manusia atau suatu ketentuan yang harus dilaksanakan. Manna al-Qattan (ahli fiqh) mendefiniskan Syari„ah sebagai segala ketentuan Allah bagi hambanya yang meliputi masalah akidah. Sejarah Fiqih Islam. 325 324 Al-Qur‟an.. Sebuah Pengantar. hlm. zakat. Imam Abu Hanifah yang mendefinisikan fiqih dengan Ma„rifat al-Nafsi ma>laha wa ma> „alaiha (pengetahuan seseorang tentang hak-hak dan Mun‟im A. Sirry. Ada beberapa definisi fiqih yang kemudian dikemukakan oleh ulama. 16. dan haji.A. 326 cxxxviii . Dinyatakan demikian. Ibid. Mun‟im A. digunakan untuk menyebut masalah essensial dalam ajaran Islam yang terdapat dalam al-Qur‟an dan sunnah yang telah diyakini kesahihannya. 1996).bertujuan mengatur kehidupan masyarakat muslim. karena fiqih merupakan hasil ijtihad atau pemahaman ulama terhadap ayatayat suci al-Qur‟an tersebut. cet. ditanya tentang syari‟at Islam.

sehingga masuk dalam wilayah fiqih. Paradigma di ataslah. baik dari akidah. hlm. Al-Amidi.327 Sedangkan al. sebenarnya merupakan konsekuensi logis dari pemikiran politik yang didasarkan pada konsep tauhid.328 selain itu. Walaupun pada masalah-masalah tertentu mereka juga mempunyai persamaan pendapat. 13. kreativitas itu harus mengacu pada kemaslahatan rakyat. Ibid. definisi ini memberi gambaran bahwa fiqih meliputi aspek kehidupan.kewajibannya). fiqih adalah ilmu tentang perintah-perintah syari‟ah dalam masalah khusus yang diperoleh dari aplikasi teori Istidla>l atau pencarian hukum dengan dalil (process of reasoning). 14. yang kemudian secara teoritis membedakan gagasan kedua tokoh tersebut. seorang ulama Syafi‟iyyah terkemuka dalam bukunya al-Ih}kam fi us}uli al-Ah}ka>m. sebagaimana dalam kaidah fiqihnya bahwa “seluruh kebijakan penguasa harus sesuai dengan kepentingan seluruh warga negara”. I: 5. didasarkan pada pertimbangan fiqih bahwa urusan politik atau negara lebih pada kepentingan dan kreativitas manusia. Pola pemikiran Natsir yang cenderung idealistik dalam memahami ad-Din wa ad-Daulah. hlm. 328 cxxxix . Namun demikian. Tampaknya. hukum sampai pada tingkah laku kehidupan. pola pemikiran Gus Dur di atas. mendefinisikan fiqih sebagai ilmu tentang hukum-hukum syari‟ah amaliah dari dalil-dalilnya yang terperinci („adilah tafs}iliyyah). al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam...Amidi. 327 Ibid. Dan sebagai wilayah fiqih. menurut fuqaha Malikiyyah. setiap apa yang dirumuskan dan diinterpretasikan merupakan produk ijtihad yang bebas.

faktor perbedaan masa kehidupan juga cukup mempengaruhi pola pemikiran keduanya. selain itu Natsir juga lebih suka mendasarkan gagasannya pada dua sumber utama Syari„ah. Secara cxl . Modernisme Islam mempunyai kecenderungan kuat untuk mengembalikan kejayaan dan keunggulan Islam atas partai atau peradaban yang lain. daripada menggunakan metodologi khazanah intelektual sunni klasik. Sedangkan gagasan dan perjuangan Gus Dur dihadapkan pada masa 1980-an. antara modernisme dan neo-modernisme. di mana Natsir hidup pada masa kolonial dan pasca kolonial yang selalu berjuang memerdekakan bangsa ini melalui jargon Islam. Us}ul al-Fiqh ataupun Qawa>„id al-Fiqhiyyah. pasca kolonial. Gerakan modernisme di Indonesia lahir sejak tahun 1912-an. alQur‟an dan sunnah. sebagai salah satu respon intelektual terhadap berbagai persoalan aktual modern yang secara umum menempatkan Islam pada posisi dilematis. Perbedaan paradigma dan masa itulah yang kemudian melahirkan polarisasi aliran. antara keharusan menyesuaikan diri dengan perubahan arus modernitas atau menegaskan diri sebagai agama secara eksklusif. apa yang dihadapi Gus Dur tentang wacana keislaman sebenarnya juga masih banyak diwarnai wacana-wacana keislaman di masa Natsir hidup. seperti fiqih.Konsep tauhid menderivasikan prinsip-prinsip universal yang kemudian menjadi sumber etik-moral bagi sebuah negara demokrasi. Di samping paradigma. Namun demikian. dengan cara memperbaharui doktrin-doktrin sesuai dengan tuntutan zaman.

melainkan bahwa antara tradisi dan modernitas harus dilihat sebagai proses kontinuitas. sikap modernitas seharusnya tidak menggantikan sama sekali nulai-nilai lama dengan nilai-nilai baru. Ibid. Kalangan ini cenderung akomodasionis dalam merespon tradisionalisme dan modernisme. seperti apa yang tertulis dalam Qawa>„id al-Fiqh. cxli . II: 65. bagi mereka penggunaan metodologi fiqh atau Qawa>„id al-Fiqh transformatif lebih cocok daripada memakai konsep tauhid yang cenderung dogmatis. masih banyak kaidah lain yang digunakan sebagai upaya melaksanakan transformasi gagasan. Menurutnya. yang baru lahir pada masa 1970-an. al-Qur‟an dan sunnah.teoritis gerakan ini cenderung eksklusif karena dasar argumentasinya lebih ditekankan pada sumber Syari„ah yang absolut. Lain halnya. seperti legalisme (pemikiran keislaman yang telah dibakukan lewat 329 Abd al-Hamid Hakim.329 yaitu:  ‫دزء اىَفا ظد ٍقدً ػيٚ خية اىَظاىر‬  ‫اىساخـﺔ ذـْصه ٍْصه اىؼسٗزج‬  ‫اىؼسٗزج ذثٞر اىَسظ٘زج‬ Selanjutnya. Gus Dur menjelaskan bahwa apa yang ditawarkan kelompok modernis. bisa dikatakan bahwa gagasan modern yang mereka tawarkan bukan berarti anti tradisionalisme sama-sekali.  ‫اىَسافظـﺔ ػيٚ اىقدٌٝ اىظاىر ٗاألخر تاىددٝد األطير‬ Selain kaidah di atas. seperti apa yang diungkapkan oleh mayoritas kalangan modernis Islam saat ini. dengan pemikiran neo-modernisme Islam. Oleh sebab itu. Di antaranya. Sedangkan untuk mengelaborasi wacana pemikiran Islam semacam ini.

6) asas kesejarahan 7) asas pluralitas. maupun melalui pembaharuan (pemurnian) ternyata malah tidak mampu menjawab tantangan zaman. hlm. 4) asas deinstitusionalisasi Islam. Zaman Baru Islam. Ditambah lagi. 3) asas kontinuitas sejarah. over idealissasi Islam sebagai sistem kehidupan alternatif tidak menunjukkan prospek yang baik.mazhab yang empat) baik dalam kerangka mazhab fiqih. Bagi Gus Dur. memisahkan agama dan negara. 5) asas depoloitisasi Islam. akan tetapi konsep ini harus tetap dipertahankan demi kemaslahatan bangsa Indonesia yang plural ini.330 Beradasarkan uraian di atas dan bab-bab sebelumnya. yang kemudian mempengaruhi sikap mereka dalam menerima ideologi Pancasila. ia lebih mengarah pada paham sekular. 8) dan asas konvergensi. sedangkan Natsir lebih memilih Islam sebagai ideologi negara 330 Dedy Djamaluddin Malik. Untuk itu. tetapi dengan tetap menjadikan nilai-nilai agama sebagai motivasi bukan formalisasi dalam berbangsa dan bernegara. 182. Natsir dan Gus Dur sangat berbeda dalam memandang relasi Islam dan negara. meskipun Pancasila merupakan hasil ijtihad manusia yang ditentukan oleh kondisi sosialnya. Natsir beranggapan bahwa agama dan negara tidak dapat dipisahkan sebagai konsekuensi dari penolakannya atas paham sekular. dan Idy Subandy Ibrahim. bisa disimpulkan bahwa antara M. sebaliknya dengan Gus Dur. cxlii . Dan pandangan inilah. menurutnya perlu dibuat kerangka pemahaman kontekstualisasi ajaran Islam dengan berdasarkan asas-asas sebagai berikut: 1) asas menyeluruh. bahkan menjurus ke situasi traumatik di masa depan. 2) asas keterbukaan.

Dan dari sisi inilah. PERSAMAAN PEMIKIRAN M. Sebenarnya apa yang ingin penyusun tegaskan di sini adalah bahwa pemikiran kedua tokoh di atas.331 Demikianlah persamaan dan perbedaan antara pemikiran M. Natsir dan Gus Dur. Untuk lebih singkatnya bisa dilihat dalam tabel berikut ini. karena dengan ideologi ini masyarakat akan terjamin kehidupan beragama dan bernegaranya. sangat dipengaruhi oleh realitas sosial politik di saat mereka hidup. yang kemudian melahirkan klasifikasi pemikiran. Polemik Negara Islam. hlm. yakni modernisme dan neo-modernisme.daripada Pancasila. NATSIR DAN ABDURRAHMAN WAHID 331 Ahmad Suhelmi. 114 cxliii .

Penggagas dan pendiri partai politik. Sebagai agama pembebasan Islam sepenuhnya kompatibel dengan demokrasi. 5. NATSIR DAN ABDURRAHMAN WAHID Perbedaan tentang M. egaliter. 3. Seorang pemikir dan praktisi politik yang terlibat langsung dalam lembaga kenegaraan. 4. Islam adalah agama pembebasan (a liberating religion) yang membebaskan manusia dari segala bentuk eskploitasi dan diskriminasi. 2. dan manusiawi sebagaimana yang diidealkan Islam. PERBEDAAN PEMIKIRAN M. Demokrasi diterima sebagai sistem yang paling rasional dan realistik untuk mewujudkan masyarakat yang adil. Natsir Gus Dur cxliv .1.

Pluralisme yang diterima 10. Implikasi.1. Sifat pemikiran 4. Pemikiran-pemikiran M. Sikap terhadap sekularisasi 7. Natsir dan Gus Dur yang berkaitan dengan wacana relasi Islam dan negara di atas. Negara demokrasi yang dicita-citakan Negatif (menolak dengan tegas) Thestic Democracy (Demokrasi yang tidak meninggalkan nilai-nilai ketuhanan) Untuk melindungi Syari‟ah Pluralisme eksklusif Negara demokrasi yang utuh dan tidak ada unsur fundamentalismenya 8. sudah pasti semakin menambah cxlv . Partai yang diperjuangkan 12. Pesantren tradisional Konsep Fiqih Transformatif Islam kultural Neo-modernisme Islam ideologis Modernisme Islam sebagai sumber hukum yang lengkap Islam hanya salah satu unsur dalam bangunan kebangsaan yang ada Afirmatif 6. Basis pendidikan 2. Tujuan membela demokrasi 9. Fungsi politik Untuk melindungi pluralitas Pluralisme inklusif Menerima secara terbuka Menolak Partai sekular Partai Islam Gerakan moral Gerakan dakwah C. Tipologi aliran pemikiran 5. Penerapan ideologi Pancasila 11. Dasar paradigma pemikiran 3. Pandangan terhadap sistem nilai Islam Pendidikan modern Al-qur‟an dan Hadits.

Dan tentunya. Kedua. implikasi personal. implikasi institusional. Masyumi. khususnya bagi generasi muslim selanjutnya. Manuver dan pemikiran politiknya sampai saat ini masih tetap mendapat tempat istimewa di kalangan generasi muslim modernis abad 20-an ini. Peran politik Natsir mulai diperhitungkan oleh khalayak umum. Pertama. Kegigihannya dalam memperjuangkan Islam melalui dakwah politiknya. yang berarti pemikiran mereka tidak hanya berimplikasi pada sebuah partai saja. sejak keterlibatannya dalam pembentukan partai Islam yang pertama kali di Indonesia. bahkan lebih dari itu. tidak hanya cxlvi . keaktifan Natsir di partai ini sudah jelas menunjukkan bahwa manuver dan pemikirannya memang bersifat idealistik. banyak mengundang simpati para kalangan modernis Islam Indonesia. tetapi juga terhadap praktik dan pemahaman masyarakat dalam bernegara. Khususnya bagi generasi pemikir politik masa sekarang. Untuk lebih jelasnya. Sebenarnya. penyusun akan membagi implikasi pimikiran kedua tokoh tersebut menjadi dua aspek. yaitu implikasi yang bersifat institusional (Institusional Implication) dan implikasi personal (Personal Implication). aspek ini lebih mengarah pada pemikiran suatu lembaga organisasi atau partai politik saja. tampaknya generasi yang terinspirasi ini. sebuah partai Islam yang berhasil mengantarkannya ke kursi birokrasi negara. baik itu partai yang mereka pimpin sendiri atau bukan. pemikiranpemikiran tersebut membawa implikasi besar terhadap kehidupan politik masyarakat Indonesia.khazanah pemikiran politik Islam di negara kita.

ide-pemikiran M. yakni dengan cara menerapkan pembaharuan pemikiran-pemikiran Islam klasik dan kemudian dipadukan dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern. di antaranya Masyumi. Dalam pandangan Natsir dakwah merupakan sarana yang cukup efektif dalam memperjuangkan ajaran dan kepentingan politik umat Islam Indonesia. cxlvii . Parmusi (Partai Muslim Indonesia). sebab spirit pesan yang disampaikannya sama-sama bertujuan mengembalikan kejayaan Islam. pemikiran Natsir banyak mempengaruhi visi dan strategi partai politik Masyumi yang dibubarkan Soekarno. Implikasi Pemikiran M. selain disebabkan keterlibatannya sebagai pendiri yang sekaligus pemimpin partai selama 5 kali berturut-turut. Dan salah satu cita-cita partai yang sesuai dengan ide pemikirannya yaitu mentransformasikan hukum Islam menjadi hukum nasional. bahkan ia menganjurkan umat Islam untuk menggunakan politik sebagai media dakwah umat.mengaguminya namun juga mengembangkan ide dan perjuangan politiknya melalui gerakan dan partai Islam yang sama sekali baru. Natsir Dari sisi institusional. Ia juga tertarik lantaran platform partai ini sangat cocok dengan ide perjuangannya yang menurutnya sebagai representasi kelompok Islam. Pada zaman orde lama. PBB dan DDII. Natsir ini sangat mempengaruhi karakter partai dan organisasi muslim modernis Indonesia. Pemikiran-pemikiran Natsir disambut baik oleh kalangan modernis muslim Indonesia.

Meskipun partai Masyumi sebelumnya merupakan partai Islam yang terdiri dari berbagai aliran Islam (fundamentalis. bahwa cita-cita dan pemikiran Natsir mempunyai pengaruh yang besar terhadap misi perjuangan partai Islam ini. tradisionalis dan modernis). Keinginannya untuk memasukkan nilai-nilai dasar Islam dalam institusi negara inilah yang kemudian menggerakkannya untuk tetap konsisten mempertahankan dan memperjuangkan misi partai Islam yang bercorak modern di atas (Masyumi).Sebagai tokoh politisi Islam modernis. ia juga ditempatkan sebagai kelompok yang berhaluan ekstrem kanan333 serta dinilai berpotensi melahirkan kekacauan nasional karena berupaya mendirikan negara Islam di tengah masyarakat yang plural. Modernisme dan Fundamentalisme. Istilah ekstrem merupakan stigma politik yang dilontarkan negara terhadap kelompok tertentu. Selain dibatasi ruang geraknya. Untuk mengetahui visi dan misi partai Masyumi bisa dilihat dalam karyanya Yusril Ihza Mahendra.332 Tampak jelas. Selanjutnya pada masa orde baru. namun pada perkembangan selanjutnya partai ini lebih didominasi oleh pemkiran-pemikiran kelompok Islam modernis. 333 332 cxlviii . politik Islam masih saja menemui jalan buntu. ia mencoba memadukan ilmu pengetahuan modern dengan ajaran-ajaran Islam yang kemudian diaplikasikannya sesuai dengan keadaan masyarakat setempat. ektsrem kanan untuk partai Islam (Masyumi) dan ekstrem kiri untuk partai komunis (PKI). sehingga pada proses selanjutnya politik Islam seringkali menerima intimidasi. pengekangan dan pengkebirian hak politiknya oleh negara.

akan tetapi juga mempunyai perjalanan sejarah yang lebih panjang. seperti Dr. Rosjidi yang sebelumnya bergerak dalam satu wadah yang dinamai dengan Forum Ukhuwah Islamiyyah (FUI). 113-115. asalkan pemimpin dan penggiat partai Masyumi dicoret dari daftar kepemimpin. Masykur. hlm. Partai ini bukan hanya lahir karena dorongan eforia politik pasca reformasi 1998.M. Sejatinya secara historis.H. sehingga pada tanggal 20 Februari 1968 lahir “Partai Muslimin Indonesia” (Parmusi) di bawah pimpinan Djarnawi Hadikusumo dan Lukman Harun. M. dua pegiat terkemuka dari Muhammadiyah. FUI didirikan pada tanggal 17 Agustus 1989.334 Selain di Masyumi dan Parmusi. pemikiran M. Dr. Natsir juga masih banyak mempengaruhi peta politik Islam saat ini. embrio lahirnya partai ini telah dirintis oleh tokoh-tokoh Islam terkenal. Rusli Abdul Wahid dan Prof. Natsir. tampaknya membuat mantan aktivis Masyumi harus memilih jalan lain. orde baru dan sampai sekarang masa reformasi. H. atas gencarnya gerakan 334 Bahtiar Efendy.Sikap negara yang memusuhi politik Islam ini. cxlix . K. khususnya PBB (Partai Bulan Bintang). pendiriannya dilatarbelakangi oleh keprihatinan para pemuka muslim tersebut. yakni dengan membentuk sebuah partai politik yang sama sekali baru. tetapi idealisme dan semangat Masyumi diharapkan tetap mengalir di dalamnya. Islam dan Negara (Jakarta: Paramadina. K. H. Akhirnya dengan jalan penuh liku negara mengizinkan pembentukan partai ini. yakni dari masa politik orde lama. 1999).H.

336 Dari uraian-uraian tersebut bisa dipahami. Persis dan lain sebagainya. Namun keinginan itu diurungkan karena beberapa alasan. Meskipun masih banyak organisasi lain yang juga terpengaruh oleh pemikirannya. dan PBB.tans}iriyyah (kristenisasi) dalam merongrong akidah umat Islam Indonesia selama rezim Orde Baru berkuasa. ketimpangan sosial ekonomi. untuk lebih lengkapnya mengenai proses pembentukan PBB didasarkan pada buku Hasil Mukernas I Partai Bulan Bintang (Jakarta: DPP PBB. 2003). tokoh-tokoh Masyumi di masa lalu dikenal integritas pribadinya yang tak tebantahkan. Parmusi.. Di antara implikasi yang sangat menonjol dari partai-partai Islam itu adalah semangat juangnya yang selalu menjadikan prinsip-prinsip Universal Islam itu sebagai rujukan dalam memecahkan masalah-masalah masyarakat dan negara seperti kemiskinan. FUI. dan simbiosisme antara agama dan negara dan seterusnya. Pertama. hlm. bahwa pemikiran M. 61 Ibid.335 Pada mulanya Partai Bulan Bintang akan diberi nama “Partai Politik Islam Masyumi” oleh tim perumus partai ini. sehingga generasi baru yang akan memimpin partai ini dikhawatirkan akan sangat berat menanggung beban moral apabila tidak mampu menjaganya. selama ini penyebutan keluarga besar Bulan Bintang pun identik dengan keluarga Masyumi. cet. sistem kenegaraan. Peta Islam Politik: Pasca-Soeharto. hlm. Natsir secara institusional mempunyai implikasi besar terhadap pembentukan partaipartai Islam di atas. 1999) 336 335 cl . 65. di antaranya Masyumi. Selain itu labelisasi Islam sebagai asas partai ini tidak pernah mereka tinggalkan. Zainal Abidin Amir. dan akibatnya akan mencoreng nama baik Masyumi. Kedua. seperti DDII. ke-1 (Jakarta: Pustaka LP3ES.

melakukan proses peng-alienasian masyarakat Islam dari agamanya dan meracuninya dengan pemikiran-pemikaran Barat (Westoxication). Lebih khusus. Zaman Baru Islam. umat Islam dunia sengaja dipisahkan dari ajaran-ajarannya oleh hegemoni Barat. Meskipun tidak sepenuhnya mereka sama dalam memahami relasi Islam dan negara. pemikiran Natsir ini juga cukup berpengaruh pada generasi intelektual muslim Indonesia zaman sekarang. cli . hlm. Ini terlihat dalam pemikiran-pemikiran tokoh muslim modernis seperti Amien Rais.Sehingga tidak aneh kalau kelompok ini sangat kritis dan selektif terhadap pemikiran Barat. Apalagi mengingat figur tokoh Islam Indonesia yang sangat dikagumi Amien ketika muda adalah M.337 Ini terlihat dari sikap kritisnya terhadap Barat dan kecintaannya terhadap umat Islam. oleh sebab itu tidaklah berlebihan kalau Cak Nur mengatakan : “Dia itu sangat Natsiris”. yang 337 Dedy Djamaluddin Malik dan Idy Subandy Ibrahim. Amien cenderung anti terhadap Orientalisme dan sekularisme. dan Yusril Ihza Mahendra. akan tetapi ada masalah-masalah tertentu yang membuat mereka terkesan Natsiris dalam mengkomunikasikan gagasan-gagasannya. Dalam analisanya. 112. baik itu yang berkaitan dengan masalah kenegaraan maupun keagamaan. Amien Rais sangat apresiatif dengan pemikiran-pemikiran Natsir sepanjang sejarah perpolitikan bangsa ini. Nurcholish Madjid. Natsir. Sedangkan dari aspek personal. sebagaimana yang ditunjukkan Natsir sebelumnya. yakni dengan cara imprerialisme baru. Sebagai tokoh pembaharu Muhammadiyah.

clii . Islam dan Modernitas. sewaktu muda Cak Nur juga pernah menyandang gelar sebagai “Natsir Muda”..338 Selanjutnya. Biografi Gus Dur. 113. Hal ini disebabkan inovasi pemikirannya yang dirasa sesuai oleh kaum Islam modernis yang lebih tua saat itu. Akan tetapi harapan kalangan Modernis untuk menjadikan Cak Nur sebagai generasi penerus M. oleh sebab itu ia dengan tegas menolak ide sekularisme. baik itu sekulerisme moderat ataupun radikal. ia berpendapat bahwa antara agama dan negara adalah saling bersatu yang berarti satu sama lainnya tak bisa dipisahkan. Natsir kemudian pupus.mengakibatkan umat Islam terjangkit penyakit Westomania. sekuler dan bahaya (tidak berdasarkan informasi yang cukup). hlm. dalam Cakrawala Islam. hlm. sejenis penyakit jiwa yang menganggap Barat adalah segala-galanya. Dedy Djamaluddin Malik dan Idy Subandy Ibrahim. hlm. 137. 341 340 339 338 Greg Barton.339 Berbeda dengan Nurcholis Madjid. 123. yang justu menggagas wacana sekularisme di tahun 1980-an.341 Selain Amien Rais dan Nurcholis. “Beberapa Catatan Kecil tentang Pemerintahan Islam”. Secara pribadi M. Natsir. karena pemikiran Cak Nur yang saat itu dianggap mereka kelewat liberal. Namun demikian. 36 Ibid. baca juga. Zaman Baru Islam. Dari uraian-uraian tersebut tampak jelas bahwa pengaruh Natsir dalam pemikiran Amien sangatlah besar. Natsir. dalam tulisannya. Ini terlihat bagaimana ia memperjuangkan aspirasi partai yang dipimpinnya.340 bahkan selama masih menjadi mahasiswa Cak Nur secara luas dianggap sebagai generasi penerus spritual M. Yusril Ihza Mahendara juga sangat dikenal sebagai kader penerus gagasan-gagasan M. hlm. Natsir merasa kecewa dan marah terhadap Cak Nur yang sudah dianggap sebagai anak asuhnya sendiri itu. yakni PBB Amien Rais.

pemikiran Abdurrahman Wahid cukup mewarnai manuver politik NU. Lebih lanjut. Implikasi Pemikiran Gus Dur Secara institusional. Hal ini bisa dilihat dari sejarah perjuangannya. ia mengingatkan “walk out” (walau tidak menyebut NU) sebagaimana yang dilakukan ketika pembahasan masalah 342 Douglas E. Percaturan Politik. 56. dituduh oleh rezim Orde Baru sebagai embrio gerakan anti Pancasila. ditegaskan dalam pidato presiden Soeharto pada Rapim ABRI 1980 di Pekanbaru. Meskipun secara lahiriyah NU merupakan organisasi sosial akan tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa sense natural politiknya selalu muncul di tengah-tengah kemelut politik bangsa ini. kemudian pada tahun 1981 NU juga menolak mendukung Soeharto untuk menjabat kembali atau memberinya gelar “Bapak Pembangunan”. Soeharto memperingatkan untuk tidak mencoba mengubah Pancasila atau UUD 1945. cliii . Dan pada tahun 1971 ia menolak untuk mematuhi pedoman-pedoman Orde Baru tentang prilaku Politik. hlm.(Partai Bulan Bintang) yang sampai saat ini masih eksis mempertahankan Islam sebagai asas dasar partainya. Ramage.342 Prilaku inilah yang membuat NU menjadi sasaran tuduhan anti Pancasila oleh rezim Soeharto. Menurut Sidney Jones NU adalah Organisasi Sosial terbesar di negara ini yang masih memiliki aspirasi-aspirasi politis. Tuduhan itu diangkat dari tindakan protes dan walk out para tokoh NU dari sidang MPR yang membahas tentang rancangan ketetapan P4. pada tahun 1978-an NU yang saat itu masih berafiliasi dengan PPP.

Untuk itu. mempunyai akar fondasi nasionalis yang kuat sebagaimana yang telah dikatakan bapaknya (Wahid Hasyim) bahwa ia bersedia mendukung suatu negara nasionalis nonIslami. Selain itu. Yusuf Hasyim. Lebih dari itu. NU menurut Gus Dur. karena Islam tetap bisa 343 Ibid. Gus Dur juga sering menekankan aspek-aspek nasionalis NU. di antaranya para Kyai dan tokoh senior NU. ia menjadi aktor politik “nonpolitis” yang paling penting atau yang biasa disebut dengan istilah NU kembali ke khittah 1926. ia mengingatkan bahwa penerimaan NU kepada Pancasila bisa diterima karena beberapa alasan. dalam sebuah pidato penting kepada anggota-anggota NU pada tahun 1992. meskipun ada juga beberapa pemimpin NU terkemuka yang tidak sepakat dengan pemikirannya. 58.343 Ini menunjukkan kecemasan Soeharto terhadap gerakan politik Islam. cliv . Misalnya. hlm. Dia menjelaskan bahwa pada tahun 1945 Soekarno meminta nasihat para pemimpin NU. Gus Dur menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada kontradiksi antara Islam dan nasionalisme. NU yang saat itu sedang dipimpin Gus Dur semakin dinamis dan akomodatif dalam merespon kebijakan pemerintahan. implikasi pemikiran Gus Dur terhadap NU ini tampaknya harus dilihat dari aspek nasionalisme dan Islam. Pemikiran liberal Gus Dur sangat berpengaruh dalam menentukan kebijakan Ormas Islam ini..P4 pada tahun 1978 adalah salah satu contoh gerakan anti-Pancasila yang harus diwaspadai. termasuk bapaknya untuk membantu Soekarno merumuskan lima asas Pancasila. dan tentu saja inisiatif ini dimaksudkan untuk menjaga independensi politik NU dari intervensi Soeharto. yang seringkali menentang inisiatif dan pernyataan-pernyataannya. termasuk pamannya. Dalam perkembangan politik selanjutnya.

Ibid. yang kemudian dipertegas kembali pada Muktamar ke 27-1984 di Situbondo Jawa-Timur bahwa Indonesia adalah negara yang didasarkan Pancasila. Akhirnya pada tahun 1983 Nahdlatul Ulama menjadi Ormas Islam besar pertama yang menerima Pancasila dalam Anggaran Dasarnya.345 pasca peristiwa Tanjungpriok dan Sebenarnya yang mengeluarkan inisiatif kompromi Pancasila di atas adalah Kyai Ahmad Shidiq346 (almh) dan Gus Dur sendiri dalam membentuk dwitunggal yang bertangung jawab bagi transformasi dan revitalisasi NU sebagai basis kekuatan Islam yang pluralis dan neomodernis. yakni pengeboman di Jakarta.344 Akibat dari pemikirannya yang bisa dikatakan nasionalis-Islam. 346 clv ..berkembang dalam suatu negara nasionalisme yang tidak didasarkan pada Islam resmi. sementara Islam merupakan wahyu Tuhan. hlm.. 94-95. Sebelumnya Ahmad Shidiq pernah menjelaskan bahwa NU menerima Pancasila sebagai asas tunggal karena merupakan hasil filsafat manusia. 344 Ibid. dan UUD 1945 adalah merupakan “Bentuk Final dari Negara” yang akan memerintah kepulauan Indonesia. sikap dan manuver politiknya membuat NU yang sebelumnya sering dicurigai menjadi lebih bisa diterima oleh negara. hlm. Dan yang perlu diingat bahwa Pernyataan tersebut ditegaskan di tengah-tengah iklim politis yang saat itu benar-benar dalam keadaan memanas antara Islam dan negara. 97. 345 Kyai Ahmad Shidiq adalah sosok Kyai kharismatik yang sangat dihormati di kalangan NU.

clvi . pemikiran Gus Dur juga banyak mempengaruhi visi dan misi PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) yang ia pelopori sendiri. Ilyas Ruchiyat. K. Kekonsistenan pemikiran para tokoh NU. Peta Islam Politik. bahwa PKB 347 Zainal Abidin Amir. masih tetap bertahan dalam memberlakukan Pancasila sebagai asas tunggal di era reformasi ini.347 Melihat komposisi dari para pelopor di atas. Abdurrahman Wahid. Munasir Ali. ditambah lagi Gus Dur yang saat itu sebagai Ketua Umum PB NU.H. dan K. Di lain kesempatan. K. Maka tidaklah mustahil kalau PKB selama ini tetap menempatkannya sebagai Dewan Pertimbangan Penting di partai ini. termasuk Gus Dur.H.H. K. Muchit Muzadi.H. Gus Dur yang saat itu didampingi oleh Matori Abdul Djalil pernah menyatakan. meskipun masih juga terdapat pro-kontra dalam pembentukannya. sebab sebagian besar yang membidani pembentukan partai ini adalah dari kalangan Kyai NU. 113. dengan seraya melakukan gerakan kultural melalui NU yang tetap dipertahankan sebagai organisasi sosial keagamaan (Jam„iyah Diniyyah) seiring dengan perubahan yang terjadi di pentas nasional. sangatlah absurd kalau PKB tidak terkait sama sekali dari kepentingan NU.Selain berimplikasi di NU. hlm. Pembentukan PKB merupakan upaya jalan tengah warga NU untuk berjuang di garis struktural politik. meskipun saat itu rezim Orde Baru telah jatuh dan eforia politik Islam sedang mendapatkan kebebasannya.H. Mustofa Bisri. PKB dipelopori oleh K.

Banyak partai yang berasaskan Islam. Sebagaimana uraian di atas bahwa implikasi pemikiran Gus Dur ini tidak lepas dari aspek nasionalisme dan Islam. 114. bagi Gus Dur bukan berarti karena PKB tidak mengusung simbol-simbol Islam kemudian dikatakan partai yang tidak Islami. tapi isinya. “Syariah dan Negara Sekuler”. main curang dan tidak berakhlak Islami. Yang penting PKB adalah Partai Islam. 136. Lihat.. 27 Mei 1999. Islam hanya dijadikan mereknya saja. Jadi. hlm. hlm.351 Sedangkan dari sisi Islamnya.bukanlah partai Islam dan merupakan partai yang menginginkan negara sekuler. 140. dalam tulisannya. hlm. karena Republik Indonesia adalah sebuah negara dengan kepentingan-kepentingan nasional dan bukan sebuah negara agama. 349 350 Abdurrahma Wahid. 352 351 Republika. tapi mereka main tipu. Dalam kaitan ini Gus Dur mengatakan: “Tidak penting bagi PKB berasaskan Islam.348 Dari sini bisa dilihat seberapa jauh implikasi pemikiran Gus Dur terhadap strategi perjuangan partai ini. hlm. dkk. Bodohnya NU Apa NU Dibodohi. Bodohnya NU Apa NU Dibodohi. baca juga. Peta Politik Islam. Gus Dur mengatakan bahwa PKB mengutamakan kepentingan nasional.350 PKB senantiasa mengutamakan substansi Hukum Islam melalui Hukum Nasional dan bukan mengutamakan simbol-simbol formal keagamaan. 352-353. parpol berasaskan Islam tidak bisa dibuat jaminan.349 Mengenai dipilihnya nasionalisme dan demokrasi yang dijadikan landasan dasar PKB daripada dasar agama. Mengurai Agama dan Negara.. Anggaran Dasar PKB BAB III pasal 3 Bahrul Ulum. Dan PKB tidak mementingkan mereknya. PKB. 352 348 Bahrul Ulum. clvii . dkk. Zainal Abidin Amir. yang keduanya itu tampak dalam AD/ART PKB yang menjadikan Pancasila sebagai asas partai.

353 Penegasan bahwa PKB merupakan Partai Islam dengan corak keislaman yang substantif dapat ditemukan pula dalam Prinsip Perjuangan Partai yang menyatakan: kebenaran.W. 29 Mei 1999. di mana sebuah partai yang nota bene berbasiskan muslim santri pedesaan ternyata mampu membuat mereka (konstituennya) menerima pendekatan partai yang bersifat nasionalis atau Islam-kultural dibanding Islam-formal. menumbuhkan persaudaraan dan kebersamaan sesuai dengan nilai-nilai Islam Ahl as-Sunnah wa al-Jama„ah”. Pemakaian Pancasila sebagai asas partai dilandasi oleh cara pandang tokoh PKB dalam melihat Islam. Zainal Abidin Amir. Allah S. Pemikiran-pemikiran Gus Dur tampaknya banyak mewarnai perjuangan PKB. tetapi yang penting adalah nilai ajaran Islam harus tercermin dalam kehidupan sehari-hari. hlm.. Peta Politik Islam. akan tetapi dalam kenyataannya tetap tidak membuat partai ini tergoda untuk menegaskan dirinya sebagai partai Islam. 354 355 clviii . asas bukan Islam. Daripada parpol yang berasas Islam tapi tidak Islami.T. maka lebih baik seperti PKB.“Akhlak dari Tauhid PKB adalah Islam.354 Walaupun kekentalan PKB dengan aspek Islam sedemikan rupa. Anggaran Dasar PKB BAB III pasal 4. pemikiran Gus Dur juga mempunyai implikasi yang bersifat personal terhadap tokoh-tokoh politik dan pemikir 353 Jawa Pos.355 Selain dari aspek institusional di atas. mereka meyakini bahwa Islam tidak perlu dilembagakan secara formal. menjunjung tinggi menjaga persatuan. tetapi kelakuan dan tauhidnya orang Islam. 114. “pengabdian menegakkan kepada keadilan.

cet ke-1 (Yogyakarta: Wahyu Pustaka. Bukan bentuk.359 Lebih lanjut. bukan membentuk sebuah negara yang berdasarkan Syari„at Isla>m. 4 Februari 1999. hlm. PKB Rekrut Nur Mahmudi juga Tokoh-tokoh Muhammadiyah. ia menyatakan bahwa partai ini merupakan partai terbuka dan inklusif yang bercita-cita mewujudkan masyarakat bermoral. Selasa. sehingga banyak kalangan yang menganggap kedua tokoh ini merupakan duet yang ideal. 60. Alwi juga menandaskan agama idealnya dapat mendorong proses demokratisasi bukan malah menjadi alat legitimasi politik. 359 clix .358 Menurutnya. Ibid. 60. tetapi yang terpenting adalah usaha untuk menanamkan substansi dan essensi Islam dalam menciptakan masyarakat yang beradab. Alwi mengatakan bahwa agama dan demokrasi Alwi Shihab. 2000). sistem atau asas yang diutamakannya. hlm. Kompas Harian Amanat Rakyat.357 Di samping itu. Mengenai visi dan misinya dalam PKB. Mengemban Tuntutan. 358 357 356 Alwi Shihab. Mengemban Tuntutan Jaman.356 Dan istimewanya lagi ia dinilai mampu menerjemahkan pola pemikiran Gus Dur. apabila Masyarakat telah menerapkan moralitas tentunya akan membentuk negara yang bermoral pula. sebagaimana yang sering dikatakan Gus Dur mengenai demokrasi. Alwi Shibab merupakan salah satu politisi sekaligus akademisi yang sedikit banyak mempunyai persamaan visi dan misi dengan Gus Dur dalam memandang “relasi agama dan negara”.Indonesia. ia juga dikenal sebagai politisi yang mengedepankan etika dan moralitas.

361 clx . bahkan karena kedekatannya ia diangap sebagai loyalis Gus Dur. Persamaan visi dan misi membuatnya dekat dengan Gus Dur. ia menegaskan bahwa tujuan Islam adalah menciptakan masyarakat yang bermoral bukan menciptakan negara agama karena hanya akan memecah belah keutuhan bangsa saja. Maka tak heran kalau dia kelihatan cukup fasih dalam membahasakan kebijakan Gus Dur seperti hubungan dagang dengan Israil. maka ide semacam itu harus ditinggalkan.360 Saat ini Alwi Shihab menjabat sebagai Ketua Umum PKB.361 Sebenarnya Karier politik Alwi lebih dilatarbelakangi dari jalur akademisi daripada organisasi. sebelum mejabat Ketua Umum PKB Alwi juga sempat menjadi Menteri Luar Negeri Indonesia di era kepresidenan Gus Dur. 11 Desember 2003. Sekali lagi.juga sangat berkaitan. kehadirannya dalam dunia politik patut diperhitungkan oleh kawan dan lawan politiknya. Di samping itu.com. Namun demikian bukan berarti pembelaannya ini hanya disebabkan kedekatannya dengan Gus Dur semata. hlm. sebab sebelum terjun di dunia politik praktis. Alwi Shihab Kandidat Wakil Presiden 2004. Alwi adalah seorang pengajar Islamic Studies di Harvard Divity School dan di Auburn Theological 360 Ibid. karena nilai-nilai substansi tersebut telah mendukung proses demokrasi. tetapi karena secara argumentatif memang ada nilainilai positif baginya.. pemerataan. dan persamaan. Dr. 62 http://www. di antaranya yaitu keadilan.tokohindonesia.

Dalam acara silaturrahmi warga NU dan PKB di Jember. Lalu apakah harus dipaksa? Padahal Islam dalam mensyiarkan Syari„ah-nya itu 362 Ibid.362 Untuk itu. sikap dan pemikiran politisnya yang elegan tersebut membuatnya bisa diterima oleh kalangan organisatoris tokoh NU dan PKB dan terpilih sebagai Ketua Umum PKB. Mengenai eksistensi agama di Indonesia. seperti yang dilakukan kalangan Islam Radikal. karena hanya akan memicu disintegrasi bangsa yang plural ini. Namun demikian. meskipun Islamlah yang mayoritas di negara ini. Baginya Islam adalah agama rah}matan li al-„alami>n. namun dalam kenyataannya tidak semua orang Islam Indonesia mengerti dan menjalankan „Aqidah dan Syari„ah-nya. Alwi Shihab meminta pada seluruh umat Islam Ahl asSunnah wa al-Jama„ah untuk berhati-hati terhadap berkembangnya Islam radikal. clxi . jadi tidak perlu menggunakan kekerasan dalam mendakwahkan ajaran. tidak jauh berbeda dengan pemikiran Gus Dur. menyusul banyaknya pengeboman yang dilakukan Islam radikal itu. Selain itu. penulis buku inclusive Islam (1997) ini. kita adalah satu-satunya partai yang memiliki otoritas keagamaan yang dapat menkounter radikalisme ini.Seminary of New York. Dan katanya. ia juga sepakat kalau Syari„at Isla>m tidak perlu diundang-undangkan di negara ini.

Pemikirannya sempat mengundang reaksi keras para tokoh Islam Indonesia yang tergabung dalam FUI. ke-2 (Yogyakarta: eLSAQ. 364 clxii . Kedua. baik dalam memahami agama maupun negara (politik). Sebenarnya ada beberapa pokok pikiran Ulil yang secara essensial sama dengan pemikiran Gus Dur. Salah satunya adalah Ulil Abshar Abdalllah. di antaranya yaitu:364 Pertama. 2003).selalu bertahap dan disesuaikan dengan kemampuan manusia itu sendiri. penafsiran Islam yang non literal. hlm. Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam. ia dikenal sebagai intelektual muda yang sangat kontroversial di kalangan NU.363 Selain Alwi Shihab. Saat ini Ulil menjabat sebagai Direktur JIL (Jaringan Islam Liberal) di Jakarta. seperti Pribumisasi Islam. substansial dan sesuai dengan peradaban manusia yang selalu berubah. banyak generasi muda NU yang saat ini masih terus mencoba mengembangkan pemikiran-pemikiran Gus Dur.. pemisahan 363 Ibid. yang sampai mengeluarkan fatwa hukuman mati untuknya. Islam Liberal dan Fundamental: Sebuah Pertarungan Wacana. meskipun ia tidak akrab dengan dunia politik praktis tetapi kekritisannya mengenai intervensi negara terhadap agama menyegarkan kembali pemahaman wacana Islam di negara kita yang cenderung membeku baginya. cet. dalam tulisannya. Islam kontekstual. 2. dan Islam Universal. Ulil Abshar Abdalla. Beberapa pemahaman yang menurut Ulil perlu disegarkan kembali. sebelumnya ia aktif di LAKPESDAM NU. dkk.

dan kemungkinan yang lebih parah lagi adalah terjadinya penyempitan pemahaman dan penyeragaman umat Islam dalam beragama. potong tangan. padahal perbedaan itu sendiri adalah sunnatullah. Misalnya. Tafsir Agama Pemicu Fatwa. Jubbah dan ekspresi budaya arab lainnya.unsur-unsur budaya lokal dan nilai fundamental dalam ajaran Islam. artinya kita harus membedakan mana ajaran dalam Islam yang merupakan pengaruh kultur Arab dan yang bukan. kepemilikan. kehormatan dan lain sebagainya. jenggot. 206. rajam. Yang dimaksud nilai-nilai universal agama adalah prinsip-prinsip umum universal yang dalam tradisi pengkajian hukum Islam klasik disebut Maqa>s}id al-Syari‟ah atau tujuan umum syari‟at Islam. 05. dkk. masalah jilbab. Majalah GATRA. Islam tidak perlu memformalkan Syari„at Isla>m karena hanya akan melibatkan peran negara (publik) secara penuh terhadap kehidupan beragama kita (privat). Bagi Ulil agama adalah urusan pribadi. Baca juga Ulil Abshar Abdalla. no.366 Oleh sebab itu menurutnya.. Di antaranya yaitu perlindungan atas kebebasan beragama. sedangkan pengaturan kehidupan publik adalah sepenuhnya hasil konsesi masyarakat melalui prosedur demokrasi. karena itu hanyalah ekspresi lokal partikular Islam Arab saja. keluarga/keturunan. Bagi Ulil budaya semacam itu tidak wajib diikuti. Meskipun demikian nilai-nilai universal agama365 tetap diharapkan partisipasinya dalam membentuk nilai-nilai publik. Ketiga. Ulil mengatakan bahwa Islam sebagai agama adalah masalah privat. Dalam wawancara yang dilakukan majalah Gatra. 16 Desember 2002. justru yang wajib diikuti adalah nilai universal yang melandasi praktik-praktik itu. Ibid. mengenai tuntutan pemberlakuan syariat Islam oleh negara. perlu adanya pemisahan yang jelas antara kekuasaan politik dan agama. akal. 366 365 clxiii ..

Selanjutnya ia mengkritik secara tegas terhadap cara pandang yang menyebutkan Islam adalah agama dan negara.367 Hal ini sesuai dengan apa yang Gus Dur citacitakan selama ini bahwa umat Islam tidak harus menjadikan Islam sebagai merk atau label belaka. 367 Majalah TEMPO. clxiv . akan tetapi lebih ditekankan pada nilai-nilai substansinya karena kita hidup di negara yang sangat plural agama dan budayanya. Fatwa Itu Lemah Tapi Menghawatirkan. agar kesucian agama tetap terjaga. 42. baginya agama haruslah dipisahkan dari peran negara sebagaimana yang ia uraikan di atas. no. 22 Desember 2002. dan tentunya sangat berbeda dengan tradisi Arab di sana.

Mengenai relasi Islam dan negara.BAB V PENUTUP A. bisa dipahami bahwa secara historis kondisi sosial politiknya M. antara agama dan negara harus dipisahkan secara jelas fungsi wewenangnya (sekular). Secara normatif paradigma M. Natsir. Dari uraian di atas. Natsir mengenai relasi Islam dan negara di atas didasarkan pada salah satu ayat al-Qur‟an yang berbunyi: clxv . Dan seharusnya Islam hanya dijadikan sebagai etika sosial saja dalam kehidupan bernegara. penyusun simpulkan sebagai berikut: 1. Hal ini bisa dilihat dari implikasi pemikiran dan cita-cita mereka terhadap pemikiran politik Islam yang sedang berkembang kini. 2. Natsir dan Gus Dur memang berbeda. meskipun secara teoritis keduanya sepakat bahwa Islam tidak mempunyai sistem kenegaraan yang baku. Islam dan negara adalah dua entitas yang tidak bisa dipisahkan (integratif). Akan tetapi secara ideologis perjuangan dan cita-cita politik mereka masih terus mewarnai panggung politik Indonesia hingga saat ini. bukan sebagai landasan ideologi. ia beranggapan bahwa urusan kenegaraan pada dasarnya merupakan bagian integral Islam yang di dalamnya mengandung ideologi atau falsafah hidup. Menurut M. akan tetapi secara praksis aksi politik mereka berbeda. Kesimpulan. Sementara menurut Gus Dur. supaya tidak terjadi pendistorsian. Dan untuk lebih jelasnya.

pemikiran semacam ini banyak berimplikasi pada tokoh Islam modernis. aspek sosio-historis juga sangat mempengaruhi cita-cita politik mereka baik dari setting sosial maupun aktivitas organisasinya. Corak pemikiran politik M. yang memegang teguh doktrin Islam klasik dengan mengkontekskan pada tradisi atau budaya setempat. yang sudah banyak melakukan pembaharuan dan pemurnian ajaran Islam. akan tetapi pemikirannya cukup mewarnai di kalangan Islam neo-modernis. sebuah kelompok yang afirmatif dalam merespon sekulerisme. dan secara tegas menolak formalisasi agama. M. Natsir dibesarkan di lingkungan Islam modernis. Natsir dikategorikan sebagai kelompok idealis dalam wacana politik Islam. clxvi . Sedangkan pemikiran politik Gus Dur dikategorikan sebagai kelompok realis. Meskipun berlatar belakang tradisionalis. akan tetapi tetap menolak keras paham sekular. 3. ) ٥٦: ‫(اىرازٝاخ‬ ُٗ ‫ٗ ٍاخيقـد اىدِ ٗ اإلّط إال ىٞؼثـد‬ Sedangkan paradigma Gus Dur didasarkan pada salah satu kaidah Usul Fiqih yang berbunyi:  ‫ذظسف اإلٍاً ػيٚ اىسػـٞح ٍْ٘ؽ تاىَظيسـﺔ‬ Selain dari aspek normatif tersebut. yang cenderung moderat dalam merespon realitas sosial. Dan sebagai konsekuensinya. yang mereformasi doktrin-doktrin lama dengan tetap berlandaskan al-Qur‟an. Sedangkan Gus Dur tumbuh besar di lingkungan Islam tradisionalis.

berkaitan dengan skripsi ini penyusun mengharapkan saran dan kritik para pembaca guna memperbaiki kesalahan atau kekurangan yang ada. sehingga masih sangat dimungkinkan jauh dari kesempurnaan. apalagi menjelang Pemilu baik di era orde lama ataupun orde baru. Di antaranya mengenai demokrasi. Akan tetapi ketegangan itu telah mengalami metamorfosis di era reformasi ini. Selain itu penyusun sendiri sadar bahwa karya ini merupakan buah pertama dari proses panjang pendewasaan intelektual penyusun. Relasi Islam dan negara selalu mengalami ketegangan. eksistensi partai Islam di Indonesia dan pandangan mereka terhadap pemberlakuan Syari„at Isla>m. Dan lebih menitik beratkan pada perbedaan cita-cita ideologi negara yang kemudian penyusun hadapkan pada dua tokoh. Dan tentunya. Selanjutnya. sistem tata negara Islam. karena aspirasi politik Islam sudah tidak dipasung lagi dalam berpolitik praktis seperti mendirikan partai Islam.B. Saran-saran. Natsir dan Gus Dur. Untuk itu masih banyak aspek lain yang bisa diteliti oleh penyusun selanjutnya mengingat baru sebagian masalah yang saat ini penyusun kaji dari pemikiran kedua tokoh tersebut. clxvii . dalam kehidupan politik Indonesia. skripsi ini hanyalah salah satu cara bagaimana menyikapi relasi Islam dan negara di Indonesia. M.

Jakarta. Khallaf. 1992. 1977. Abd. „Ilm Usul al-Fiqh. Muhammad Husein. AL-Qahirat: Dār al-Anshār. ---------------------------. al-Hukumat al-Islamiyyat. 1977.an dan Terjemahnya. Pulungan. Ahmad. Kelompok Buku Lain Abdillah. 26 Rajab 1415 H II. III. Kelompok Al-Qur‟an/Tafsir Departemen Agama RI (pengawas). Dar al-Ma'arif. Suyuthi. Dar al-Qolam. 1996. Sirry. Muhammad Tahir. Pustaka Firdaus. A Mun‟im. 1999. Yogyakarta. Demokrasi di Persimpangan Makna: Respons Intelektual Muslim Indonesia terhadap Konsep Demokrasi 1966-1993. Tiara Wacana. Abdul Wahab. Mesir. Surabaya. Al-Siyasat as-Syari'at. Bulan Bintang. al-Maiat al-Mishriyyat al-'Ammat li al-Kitab. Negara Hukum: Suatu Studi Tentang PrinsipPrinsipnya Dilihat Dari Segi Hukum Islam. Dkk. Haikal. Mesir. 1978. Ensiklopedi Hukum Islam. sejarah dan pemikiran. Islam Transformatif. Abdul Aziz Dahlan (ed). Raja Grafindo Persada. Fiqih Siyasah: ajaran. Al-'Athi Muhammad. Jakarta. al-Fikr al-Siyasi Li al-Imam Muhammad Abduh. Risalah Gusti.BIBLIOGRAFI I. Jakarta. Kelompok Fiqih/Usul Fiqih Azhary. (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve. 1995. Masykuri. 1996. Madinah: tp. Al-Qur. clxviii . Implementasinya Pada Periode Madinah Dan Masa Kini. 1983. Abdurrahman. 1997. Moslem. Sejarah Fiqih Islam: Sebuah Pengantar. Anggaran Dasar PKB. J. Kairo.

2003. Greg. 1998. Merambah Jalan Baru Islam: Rekonstruksi Pemikiran Islam Indonesia Masa Orde Baru. Djohan Effendi. A. Bakker. Sejarah dan Doktrin. Azhar. 1999. LKiS. Muhammad. Bandung. Pergolakan Politik Islam Fundamentalisme. 1. Pustaka Salman. Metodologi Penelitian Filsafat. Badan Litbang DEPAG RI dan PPM. Mizan. Mukti. Filsafat Politik Perbandingan Antara Islam dan Barat. 1991. 2003. 1996. Anshari. Azra. Kanisius. Anton & Achmad Charris Zubair. Endang Saefuddin. 1981. Metode Memahami Agama Islam.Ali. Azyumardi. alih bahasa Nanang Tahqiq. Bandung. Jaringan Ulama Timur Tengah Abad XVII dan XVIII: Melacak Akar-Akar Pembaharuan Pemikiran Islam di Indonesia. Bandung. Mizan. 1999. ---------------------. Peta Islam Politik: Pasca-Soeharto. Mizan. 1999. Jakarta. Pustaka LP3ES. tentang Dasar Negara Republik Indonesia 1949-1959. Bulan Bintang. Jakarta. Modernisme dan Post Paramadina. Yogyakarta. Jakarta. Amir. Bandung. Jakarta. 1990. 1997. Fachry & Bahtiar Effendi. Gagasan Islam Liberal Di Indonesia: Pemikiran NeoModernisme Nurcholish Madjid. Paramadina. 1994. Piagam Jakarta 22 Juni 1945 dan Sejarah Konsensus Nasional antara Nasionalis Islam dan Nasionalis Sekuler. Amal. Yogyakarta. Sejarah Empirik. Barton. clxix . Bangil. Merambah Jalan Baru Islam: Rekonstruksi Pemikiran Islam Di Indonesia Masa Orde Baru. The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid. Raja Grafindo Persada. Jakarta. ---------------------. Tokoh dan Pimpinan Agama: Biografi Sosial Intelektual. dan Saiful Umam (ed). Islam dan Tantangan Modernitas: Studi atas Pemikiran Hukum Fazlur Rahman. Zainal Abidin. cet. Biografi Gus Dur. Mizan 1989. ----------------------------------------. Ali. 1995. ----------------. An-Nabhani. di Indonesia dari Modernisme. al-Izzah. Bandung. Taqiyuddin. Jakarta. Taufiq Adnan. Ahmad Wahib dan Abdurrahman Wahid. Sistem Pemerintahan dan Realitas Doktrin.

J. Yogyakarta. Martinus Nijhoff. clxx . 2002. Yogyakarta. dan Greg Fealy.. (RE) Politisasi Islam. Greg. Mizan. LKiS. Yogyakarta. Hasyim Wahid. LKiS. Mizan. Yogyakarta. Abd al-Hamid. --------------------. Hakim. 1994. The Contribution of The Islamic Parties to The Decline of Democracy in the 1950. Dkk. Yogyakarta. Pustaka Firdaus. Islam Liberal dan Fundamental: sebuah Pertarungan Wacana. Bandung. Bandung. 1999. 1992. Andrrée Fillard. Tradisionalisme Radikal. Anwar Haryono. Jakarta. Hgue. 2003. 16 Desesmber. makalah Confrense on Indonesia Democrasy. eLSAQ. Bandung. Hamid. 15. Dkk. Effendy. as-Sulam. Bahtiar. 2001. Ulil Abshar Abdalla. Filsafat Hukum Islam. Reaksi Politik Sunni dan Syi‟ah: Pemikiran Politik Islam Modern Menghadapi Abad ke 20. 1999. 18 Desember 1992. Dkk. Metodologi Reseach. --------------------. Yogyakarta. Islam dan Negara: Transformasi Pemikiran dan Praktik Politik Islam di Indonesia. Dkk. Andrée. Sutrisno. Islam dan Negara. B. 1989. Djohan. Effendy. dan Fachry Ali. Boland. Bumi Aksara. 1999. 1986. Gus Dur NU dan Masyarakat Sipil. LKiS. Telikungan Kapitalisme Global dalam Sejarah Kebangkitan Indonesia. Jakarta. Ismail Muhammad Syah. 1997. Effendy. No. Gatra. Sa‟adiyah Putra. Merambah Jalan Baru Islam. 1998. Jakarta. Bahtiar. 2000. Bentuk dan Makna. Monash University. Hadi. Dkk. 1998. Persinggungan Nahdlatul Ulama Negara. Enayat. Pemikiran dan Perjuangan Mohammad Natsir. NU vis-a-vis NEGARA: Pencarian Isi. Jakarta. Feillard. Jakarta. Pustaka. 1971 dan 1982.Barton. Andi Offset. Paramadina. LkiS. Pernahkah Islam Berhenti Berpolitik?. tt. The Struggle of Islam in Modern Indonesia. Paramadina.

Jakarta. Jakarta. dan Choirul Anam. A. Tiara Wacana Yogya. 4 Februari 1999. 1999. Sebuah Dialog Mencari Kejelasan. Jawa Pos. Yogyakarta. Karim. Faisal. Hatta. M. 29 Mei 1999. K. Relasi Islam Dan Negara: Perspektif Modernis Dan Fundamentalis. Yogyakarta. Laode dan & Thantowi Jauhari. Hoesen. Ida. Memoir. Tintamas. 2001. Surabaya. Titian Ilahi Press.H. DPP PBB. Ulumul Qur'an. 1999. 1995. Tiara Wacana. clxxi . Jawa Pos.tokohindonesia. Alwi Shihab Kandidat Wakil Presiden 2004. Gus Dur diadili Kiai-kiai. Yogyakarta.2 Vol. Negara dan Peminggiran Islam Politik. Jakarta. Magelang. Bantahan Pengantar Buku: Aku Bangga Jadi Anak PKI. Jakarta. Hasil Mukernas I Partai Bulan Bintang.Hakim. Dr.com. Gus Dur Menjual Bapaknya. Karim. Gaffar. 1999. Metamorfosis NU dan Politisasi Islam Indonesia. Tiara Wacana. Ibrahim. 11 Desember 2003. Gus Dur di antara Keberhasilan dan Kenestapaan. No. Rajawali Press. Fiqih Siyasi Dalam Tradisi Pemikiran Islamik Klasik. Muhammad Rusli. Membangun Budaya Kerakyatan: Kepemimpinan Gus Dur dan Gerakan Sosial NU. 1989. Ismail.IV/1993. K. Darul Falah. Arief. 1999. Hamzah. IndonesiaTera. http://www. Selasa. Surabaya. PKB Rekrut Nur Mahmudi juga Tokoh-tokoh Muhammadiyah. Hartono Ahmad. Imron. 1999. Ideologi Hegemoni dan Otoritas Agama: Wacana Ketegangan Kreatif Islam dan Pancasila. Yogyakarta.H. 2003. 1978. Kamaruzzaman. Jaiz. Kreatif Islam dan Pancasila . Kompas Harian Amanat Rakyat. Yogyakarta. Pustaka Pelajar.

1999. Zaman Baru Islam Indonesia: Pemikiran dan Aksi Politik Abdurrahman Wahid. Ma'arif. Pustaka Pelajar. Nurcholis Madjid. clxxii . Fred Den. Bandung. Media Dakwah Scripturalism: One Form of Islamic Political Thougt and Action in New Order Indonesia. Gema Insani Press. Pustaka Pelajar.Kuntowijoyo. Liddle. Lewis. No 13. 1996. Mahendra. Yogyakarta. Thoir. Jakarta. 1999. M. dan Jalaluddin Rakhmat. William. M. 1990. Jakarta. Gramedia. Yusril Ihza. 1986. 1995. 1970. Mangkusasmito. Islamic Publication. Maududi. Yusril Ihza. Islamic Law and Constitution. Bandung. Konfigurasi Politik dan Hukum pada Era Orde Lama dan Orde Baru. Hudaya. Mahfud. ---------------------------. 1999. 1999. Natsir: Dakwah dan Pemikirannya. Syracuse University Press. Mizan. Jurnal ISLAMIKA. Jakarta. 994. Jakarta. Yogyakarta. Mehden. Ahmad Syafi'i. LP3ES. Peta Bumi Intelektualisme Islam Indonesia. 1998. Mahendra. Dedy Djamaluddin & Idy Subandy Ibrahim. Amien Rais. Gema Insani Press. Masdar. Umaruddin. Luth. Membaca Pikiran Gus Dur dan Amien Rais tentang Demokrasi. 1994. Modernisme dan Fundamentalisme dalam Politik Islam: Perbandingan Partai Masyumi (Indonesia) dan Partai Jama‟at IIslami (Pakistan). Jakarta. Moh. Prawoto. 1996. MD. ---------------------------. Bernard. Pertumbuhan Historis Rumus Dasar Negara dan Sebuah Refleksi. Lahore. kertas kerja tidak diterbitkan. Mizan. Modernisme Islam dan Demokrasi: Pandangan Politik Natsir. Malik. Religion and Modernization in South East Asia Syracuse. Zaman Wacana Mulia. Islam dan Politik: Teori Belah Bambu Masa Demokrasi terpimpin 1959-1965. Islam dan Masalah kenegaraan: Studi tentang Percaturan dalam Konstituante. Paramadina. Bandung. 1999. Jakarta. Identitas Politik Umat Islam. Bahasa Politik Islam.

Gerakan Modern. Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya. 1973. Sejarah Nasional Indonesia. 1995. 1973. Kurnia Kalam Semesta. 1983. Departemen P&K. Oxford. Jakarta. dan Asas tunggal. Oxford University Press. Media Dakwah. ----------------. M. Jakarta. clxxiii . Pustaka Utama Grafiti. ----------------. Atho'. Jakarta. Jakarta. Jakarta. Singapura. 1993. Oxford Universuty Press. Bandung. 2001. 1984. M. Mitchel. Islam. Poesponegoro. Sayyid. 1969. Marwati Djoenod. -----------. Qutb. Mudzhar. Pancasila Perkhidmatan. 1982. S. Bumi Aksara. Ahmad Hassan and Islamic Legal Reform in Indonesia (1887-1958). Harun. LP3ES. 1998. Deliar. M. Jakarta.. Jakarta. Membaca Gelombang Ijtihad: Antara Tradisi dan Liberasi. ----------------. Capita Selecta. Intelektual Intelegensia dan Prilaku Politik Bangsa: Risalah Cendikiawan Muslim. Khas}ais} al-Tasawwur al-Isla>mi wa Muqawwamatuhu. Ahmad. Mochtar. Dawam. ----------------. 2000. The Society of Muslim Brother. Gerakan Modern. Mizan. dan Nugroho Notosusanto. Mizan. Yogyakarta. 2001. Nasution. Partai Islam di Pentas Nasional: Kisah dan Analisis Perkembangan Politik Indonesia 1945-1965. Jakarta. Richard P. Islam Di Indonesia 1900-1942. Jakarta. Agama Dan Negara Dalam Perspektif Islam. LP3ES. cet 1. Yogyakarta. 1962 Rahardjo. Partai-Partai Islam di Pentas Nasional 1945-1965. Gramedia. Kairo: Issa al-Babi al-Halabi wa Shuraka‟uhu. Noer. 1987. The Modernist Muslim Movement in Indonesia 1900-1942. 1989. 1966. Jakarta. Sejarah Pendidikan Indonesia. Nasution. Diplomasi: Ujung Tombak Perjuangan RI.Minhaji. Natsir. 1985. Titian Ilahi Press. Bandung. Kustiniyati (peny). Yayasan ----------------. Bulan Bintang. Islam Di Indonesia 1900-1942.

Tempo. Jakarta. Syamsuddin. Islam dan Tata Negara: Ajaran. Jakarta. No. Douglas Edward. “Dilema Islam Kontemporer antara Masyarakat Modern dan Negara Islam”. Vol I. 1993. I. edisi V. Paramadina. Yogyakarta. Wahyu Pustaka. 2000. Sitompul. 1990. Ranggon Studi. 42. Olaf. 2002. Bodohnya NU apa NU Dibodohi?. 27 Mei 1999. Peneliti dan peteliti. Alwi. Jakarta. NU dan Pancasila. Girimurti Pustaka. Pustaka Sinar Harapan. Memudahkan Pengertian Islam. 2000. Suhelmi. Panitia di Bawah bendera Revolusi. Schuman. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Sebuah Biografi. M. Ramage. Mengemban Tuntutan Jaman. Ulum. 1998. Natsir. 22 Desember 2002. Mata Bangsa. Teraju.Rahman. 1983. Yogyakarta. Ajib. Republika. 2002. 1995. Jurnal Paramadina. Sjadzali. 2002. Jakarta. clxxiv . Din. Anders. Jakarta. Balai Pustaka. Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Uhlin. Mizan. di Bawah Bendera Revolusi. Einar M. No. Doktrin Islam dalam Sejarah. Paramadina. 1994. Ahmad. Etika Agama dalam Membangun Masyarakat Madani. Bahrul. Polemik Negara Islam: Soekarno Versus Natsir. Logos. 1999 Shihab. Soenjoto. dan Ideologi Toleransi. Jejak Langkah NU Era Reformasi: Menguji Khittah Meneropong Paradigma Politik. Yogyakarta. Jakarta. Munawir. cet.. Arus Deras Demokratisasi Glombong Ketiga di Indonesia. Jakarta. Jogjakarta. Rosidi. Percaturan Politik Di Indonesia: Demokrasi. Bandung. Budhy Munawar. 1994. M. 3. Sejarah dan Pemikiran. Bandung. Jakarta. 1989. UI Press. Soekarno. hlm. 2. Oposisi berserak. Islam.

Prisma Pemikiran Gus Dur. rumahrumah ibadah orang Yahudi dan masjid-masjid. 2. yogyakarta. Grasindo. di antara mereka ada yang beriman. P3M. April 1984. Lampiran I. dan beriman kepada Allah.N. No. Muhammad. 12 April 1991. dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. hlm. Abdurrahman. ---------------------------. ---------------------------. 18 38 18 38 (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar. Terjemahan Bab I Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia. Yayasan Prapanca. Jakarta. tentulah itu lebih baik bagi mereka. gereja-gereja. Yamin. Naskah Persiapan Undang-Undang Dasar 1945. kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah”. 1999. 4. ---------------------------. Jakarta. Mengurai Hubungan Agama dan Negara.Wahid. 1959. Prisma. Jakarta. Yogya Post. TERJEMAHAN Hlm F. Nahdlatul Ulama dan Islam Indonesia. 1999. Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain. yang di clxxv . Sekiranya Ahli Kitab beriman. menyuruh pada yang ma‟ruf dan mencegah dari yang mungkar. 1989. LkiS. Islam Indonesia Menatap Masa Depan. tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani.

34 75 Bab II 52 130 Hai orang-orang beriman. Keadaan darurat kemungkinan dihalalkannya yang dilarang. 69 185 Bab III Tidaklah aku jadikan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Menutup kemungkinan bahaya harus didahulukan sebelum melakukan kemaslahatan. 113 312 Bab IV 125 329 Kebijakan penguasa yang diberlakukan untuk warga negara harus didasarkan pada pertimbangan kesejahteraan. masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya. 125 125 329 329 clxxvi . Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Memelihara nilai-nilai lama yang baik dan mengembangkan nilainilai baru yang lebih baik.dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Kebutuhan setara dengan keadaan darurat. sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.

clxxvii . Melalui Jema‟at Islam Maududi banyak berkiprah dalam perpolitikan Pakistan. dan berasal dari keluarga syarif (keluarga tokoh muslim India Utara) dari Delhi yang bermukim di Deskan. New York. Ia sempat berkiprah di Dar al-Islam. sebuah proyek pendidikan di Punjab yang semula diprakarsai oleh M. Momentum dari aksi politik Maududi adalah berdirinya Jema‟at Islam pada 1941. sejak pemerintahan Ayub Khan sampai Ziaul Haq. Iqbal.Lampiran II. Abu al-A’la al-Maududi. Lahir pada 25 September 1903 M (3 Rajab 1321 H) di Aurangabad India Selatan. namun ketertarikannya pada politik memalingkannya dari Dar al-Islam. Ahmad Syafi’i Ma’arif. Maududi meninggal di Bufallo. pada 22 September 1979 dan dimakamkan di Lahore. BIOGRAFI TOKOH-ULAMA 1. Ketika India pecah. Maududi bersama 385 anggota Jema‟at Islam memilih Pakistan dan mendirikan markas di Lahore. 2.

Mesir. Muhammadiyah Movement and Controversy With Christian Mission (1998). Dan sejak 1996 ia tercatat sebagai pengajar agama Islam di Hartford Seminary. Lalu pada tahun 1972 Amien melanjutkan pendidikannya di Universitas Notre Dame.D. Antara 19951996. Amerika. Georgia. Yogyakarta. Pada tahun 1980 ia meraih gelar Doktornya yang pertama dari Universitas „Ain Syam. belajar sejarah pada Nothern Illionis University (1973) dan memperoleh gelar MA dalam ilmu sejarah pada OHIO University. Selain menjadi Dosen di UGM. karena belum merasa cukup. Athens Amerika Serikat (1980) dan meraih gelar ph. AS. Alwi Shihab. FKIP Universitas Cokroaminoto Surakarta sampai sarjana Muda (1941). clxxviii . Sejak jenjang TK hingga SMA seluruh pendidikannya dihabiskan di sekolah-sekolah Muhammadiyah. Karya-karyanya yang telah diterbitkan yaitu : Inclusive Islam (1997). Setamat dari SMA Muhammadiyah Solo. Kemudian menjadi dosen FKIS IKIP Yogyakarta. kemudian pada tahun 1975 ia berangkat ke Universitas Chichago. dalam bidang yang sama. Lahir pada 26 April 1944 di Solo. Amerika Serikat (1982). selanjutnya ia juga sempat tercatat sebagai mahasiswa luar biasa di Universitas al-Azhar. dan tamat FKIS IKIP Yogyakarta (1968). IAIN Sunan Kalijaga dan UII Yogyakarta. selain itu ia masih tercatat sebagai anggota International Connection Commite. pada 1962. kemudian ia hijrah ke Universitas Temple. Mesir dalam bidang Filasafat. Amien melanjutkan kuliah di Fisipol UGM. akhirnya pada tahun 1981 ia berhasil meraih gelar ph. ayah dan ibunya adalah aktivis Muhammadiyah. Pada tahun 1974 ia berhasil meraih gelar Master of Art (MA). sebuah organisasi sosial keagamaan kalangan modernis Islam yang bergerak di bidang dakwah dan pendidikan. Indiana. untuk melanjutkan studi Doktornya di Ilmu Politik. untuk meneruskan studinya di bidang Agama. dan saat ini ia memegang jabatan penting di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sebagai Ketua Umum. ia juga tercatat sebagai mahasiswa Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga. Alwi mendapat gelar sarjana di bidang Akidah Filsafat di IAIN Alaudin Ujung Pandang pada 1986. Lahir pada 19 Agustus 1946 di Rappang Sulawesi Selatan. Kemudian pada tahun 1999-2000 ia menjabat sebagai Menteri Luar Negeri RI. Sembari meluangkan waktu untuk mengajar studi agama Islam di almamaternya tersebut. American Academy of Relegion. Kairo (1978-1979). sebelum terjun di politik ia dikenal sebagai seorang akademisi dan pengusaha. 4.P Muhammadiyah sampai sekarang. 3. ketika itu ia sudah meraih gelar Master dari Universitas al-Azhar. Atlanta.D dalam bidang pemikiran Islam diperoleh dari the University of Chichago. Ia pernah belajar di Madrasah Mu‟alimin Muhammadiyah Lintau (1953) dan Yogyakarta (1956). Amien Rais. dan pada tahun 1999 ia menjabat sebagai Ketua Umum P. di Universitas Harvard. Alwi mengikuti Program Pasca Doktoralnya di Pusat Studi AgamaAgama Dunia (The Centre for Studi of World Relegion).Lahir pada tanggal 31 Mei 1935 di Sumpurkudus Sumatera Barat. Sufistic Islam (2001) dan Teaching Islam in the West (segera). AS.

pada 1995 Amien juga sempat menjabat sebagai ketua umum P.P Muhammadiyah. Selain itu. Ia juga dikenal sebagai seorang politisi, tepat pasca Reformasi 1998 ia mempelopori berdirinya Partai Amanat Nasional (PAN) dan diketuainya. sehingga pada tahun 1999-sekarang ia menjabat di birokrasi pemerintahan sebagai Ketua Umum MPR RI. 5. Azyumardi Azra. Lahir pada Maret 1955 di Lubuk Aling, Sumatera Barat. Pada tahun 1982 ia menyelesaikan sarjana strata 1 di Fakultas Tarbiyyah IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dan pada tahun 1986 ia memperoleh beasiswa Fullbright untuk melanjutkan studi di Columbia University, saat ini ia menjabat sebagai Rektor IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, karya tulisnya antara lain: Islam dan Masalah-masalah Kemasyarakatan, Perkembangan Modern dalam Islam, Perspektif Islam di Asia Tenggara dan Jaringan Ulama Timur Tengah Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII. 6. Fazlur Rahman. Lahir pada tahun 1919 M di Barat Laut Pakistan, ia termasuk salah satu pemikir pembaharuan Islam yang liberal dan radikal. Rahman dibesarkan di keluarga yang memiliki tradisi Madzhab Hanafi yang dikenal lebih rasionalis dibanding dengan madzhab lainnya. Pada tahun 1942 ia berhasil meraih gelar MA dalam bidang Sastra Arab dari Universitas Punjab. Sebelumnya ia pernah diajak bergabung oleh Maududi dalam Jama'at al-Islami, seraya berkata "semakin engkau (Rahman) banyak belajar maka semakin beku kemampuan praktismu" akan tetapi Rahman lebih memilih meneruskan studinya, bahkan menjadi seorang kritikus yang tangguh terhadap pemikiran keagamaan Maududi. Pada tahun 1950 ia berhasil meraih gelar Doktor dari Universitas Oxford Inggris dengan desertasi tentang Ibnu Sina, setelah menyelesaikan studinya Rahman lebih memilih untuk tetap tinggal di Inggris sambil mengajar di berbagai perguruan tinggi seperti Durham University, Inggris. Dan Institute of Islamic Studies, McGill Kanada. Pada tahun 1962 Rahman kembali ke Pakistan dan mendapat banyak jabatan di negerinya, akan tetapi ia merasa lingkungannya tidak mendukung pengembangan intelektualnya, akhirnya ia pindah ke Chichago, Amerika Serikat Departement of Near Eastern Languages and Civilization. Rahman sudah banyak menghasilkan karya ilmiah, di antaranya adalah Islam and Modernity: Transformation of Intellectual Tradition, Islamic Methodology in History, Major Themes of The Qur‟an dll. 7. Kuntowijoyo. Seorang dosen Universitas Gajah Mada Yogyakarta, Lahir di Yogyakarta pada 18 September 1938. Ia memperoleh gelar MA dari Universitas Connecticat, Amerika Serikat dan ph.D pada 1980 dari Colombia University, selain menerbitkan banyak karya tulis yang terhimpun dalam beberapa buku, Kunto juga dikenal sebagai budayawan yang banyak menghasilkan karangankarangan fiksi, di antara tulisan-tulisannya yang sudah diterbitkan yaitu:

clxxix

Paradigma Islam, Interprestasi untuk Aksi (1991), Identitas Politik Umat Islam (1997) dan Muslim tanpa Masjid, Esai-esai Agama Budaya dan Politik dalam Bingkai Strukturalisme Trasendental (2001). 8. M. Din Syamsuddin. Seorang guru besar pemikiran politik Islam IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, lahir di Sumbawa Besar, 31 Agustus 1958. Ia pernah nyantri di Gontor sampai tahun 1975, lalu melanjutkan di IAIN Jakarta sampai tahun 1982. Dan meraih gelar Master (1988) dan Doktor (1991) dari University of Califonia Los Angeles (UCLA). Selain seorang akademisi, ia juga aktif di banyak organisasi seperti Muhammadiyah, ICMI, MUI, bahkan sempat menjadi aktivis Golkar, dan saat ini menjabat sebagai Sekretaris Umum MUI Pusat dan menjadi Pengurus Pusat Muhammadiyah. 9. Munawir Sjadzali. Lahir di Klaten 7 November 1925, ia seorang intelektual, pernah belajar di University of Exeter, Inggris (1953-1954) dan memperoleh gelar MA dari Georgetown University, Washington DC, Amerika Serikat. Setelah menyelesaikan tesisnya yang berjudul Indonesian‟s Muslim Parties and Their Political Concept (1959). Selain seorang intelektual ia juga dikenal sebagai seorang diplomat dan pernah menjabat berbagai posisi penting di Pemerintahan, antara lain: Dubes untuk beberapa negara Timur Tengah seperti Kuwait, Bahrain, Qatar, dan Perserikatan Keamiran Arab (1976-19800), menjadi Menteri Agama selama dua periode yaitu Kabinet Pembangunan IV (1983-1988) dan Kabinet Pembangunan V (1988-1993).

10. Nurcholish Madjid. Lahir 17 Maret 1939 di Mojoanyar, Jombang Jawa Timur, Ia dikenal sebagai tokoh pembaharu pemikiran Islam di Indonesia. Cak Nur menyelesaikan pendidikannya dengan meraih gelar ph.D dari University of Chichago dengan desertasi yang berjudul Pimikiran Filsafat dan Kalam Ibnu Taimiyyah. Semasa mahasiswa Cak Nur aktif di organisasi, HMI dan IFSO (International Islamic Federation of Students Organizations). Saat ini, ia menjabat sebagai rektor Universitas Paramadina Mulya Jakarta. Selain itu menjelang pemilu 2004 ini, Cak Nur juga sedang sibuk dicalonkan menjadi calon Presiden RI ke-6. Karya-karyanya banyak yang telah diterbitkan. Di antaranya Islam Kemodernan dan Keindonesiaan (1988), Islam, Doktrin dan Peradaban, Sebuah Telaah Kritis Terhadap Masalah Keimanan, Kemanusiaan dan Kemodernan (1992).

clxxx

Lampiran III.

DAFTAR ISTILAH
Ahl al-H{all wa al-Aqdi: Kelompok sahabat-sahabat utama Nabi Muhammad yang senantiasa diajak bermusyawarah dalam mengambil keputusan yang behubungan dengan kepentingan umum, semacam parlemen di dalam konsepsi fiqih abad pertengahan. Ahl as-Sunnah wa al-Jama>„ ah: Madzhab yang mengikuti tradisi Nabi Muhammad dan merupakan menempati posisi mayoritas secara nominal. „Ash}abiyah: Sentimen etnik, chauvinism Asas Tunggal: Prinsip yang terdapat dalam ideologi nasional, Pancasila, yang diberlakukan sebagai asas tunggal bagi semua partai politik dan organisasi pada masa tahun 1985.

clxxxi

kemudian melalui Parmusi. Doktrin: Ajaran agama. PKI: Partai Komunis Indonesia clxxxii . Sebagai perluasan makna digunakan juga untuk menyebut pemberontakan. Masyumi: Singkatan dari Majelis syura Muslimin Indonesia. Nahdlatul Ulama (NU): Kebangkitan kembali para ulama. teks-teks keagamaan. konsep yang diajukan oleh Soekarno. Ijtiha>d: Dalam hukum Islam adalah upaya untuk menetapkan hukum melalui penalaran bebas berdasarkan ayat-ayat al-Qur‟an. Natsir hingga wafatnya tahun 1993. Mu„ammalah: Amalan-amalan yang bersifat kemasyarakatan dan keduniaan. kelompok pro-demokrasi yang diketuai oleh Abdurrahman Wahid. Dalam arti yang lebih sempit adalah upaya untuk menggunakan metode pemikiran melalui analogi. Darul Islam: Nama yang diberikan untuk negara Islam yang diproklamasikan oleh Kartosoewiryo di Jawa Barat tangal 7 Agustus 1949. didirikan pada tahun 1943. Nasakom: Singkatan yang menunjukkan persekutuan antara nasionalisme. DI-TII: Singkatan dari Darul Islam-Tentara Islam Indonesia. Fodem: Forum Demokrasi. perkumpulan alim ulama yang didirikan pada tahun 1936. DDII: Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia. agama dan komunisme. lalu ke PPP di bawah Orde Baru. Muhammadiyah merupakan gerakan reformis yang lebih luwes dibanding Persis dan al-Irsyad. ia menjadi partai politik muslim modernis yang kemudian dilarang oleh Soekarno tahun 1960. Secara politis ia menyalurkan aspirasi politiknya melalui Masyumi. Dipimpin oleh M. Muhammadiyah: Gerakan reformis dan modernis yang didirikan pada tahun 1912 di Yogyakarta. dibentuk pada tahun 1991. untuk menyebut pemberontakan Kartosoewiryo dan tentaranya yang memberontak. namun juga dapat ditemukan di Golkar. badan dakwah kaum modernis radikal. menjadi partai politik pada tahun 1952 kemudian kembali menjadi organisasi sosial pada tahun 1984.Bay„ah: Sumpah setia kepada seorang khalifah atau pemimpin BPUPKI: Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia.

: Jl. : Bojonegoro. Sekularisme: Paham yang memisahkan urusan keagamaan dengan urusan keduniaan. Tradisionalisme: Paham yang mempertahankan pandangan-pandangan keagamaan yang diwariskan oleh tradisi Islam zaman abad pertengahan. Pesantren: Sekolah agama yang didirikan oleh para kyai. Alamat di Yogyakarta : Komplek IAIN “Griya Natural” CT XI 45i Sapen Yogyakarta 55281. Kanor 504 RT 16 RW 9 Pasinan-Baureno. Lampiran IV. penekanan identitas muslim khas Indonesia. Wahhabi>: Paham pembaharuan keagamaan Islam yang dibawa oleh Muhammad bin Abdul Wahab di tanah Hijaz. Ahwan Affandi. Tanfidziah: Badan eksekutif NU. didirikan pada tahun 1958 di Sumatera Barat dan dihancurkan dalam beberapa bulan saja. Siti Azah (Almarhumah).PRRI: Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia. kabupaten Bojonegoro Jawa-Timur 62192. pemerintahan ini dibentuk untuk menentang Soekarno dan partai komunis yang sedang menanjak. clxxxiii . Pribumisasi: Kata baru yang dibentuk dari “pribumi”. 7 November 1981. Syari„ah: Peraturan-peraturan hukum dalam al-Qur‟an dan as-Sunnah. Nama Ayah Nama Ibu Pendidikan Formal: : H. : Hj. Islam tanpa arabisasi. Nasionalis sekular: golongan yang menganut paham kebangsaan yang menghendaki agama dipisahkan dari kehidupan negara. juga berarti dominasi penduduk asli di bidang ekonomi Indonesia. murid dari sekolahan ini biasa disebut santri. CURRICULUM VITAE Nama Tempat/Tgl Lahir Alamat Asal : Ahmad Anfasul Marom.

English Extension Sanata Dharma Yogyakarta. Sekjend Senat Mahasiswa Institut (SMI) 2003-2004 IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. (1996-1999). 3. Pondok Pesantren “Tebuireng” Jombang Jawa-Timur. MAK (Madrasah Aliyah Keagamaan) Tebuireng . 5. 2. MI Darul Ulum Baureno . Pendidikan Informal: 1. Kursus Bahasa Inggris di “Wisma Bahasa” Yogyakarta.1. Ketua Ospek 2001 Syari‟ah IAIN Sunan Kalijaga-Yogyakarta. clxxxiv . 4. Pengalaman Organisasi : 1. (1999 Sekarang). 2. 6. Masuk 2001 Sekarang.1993). Pondok Pesantren “at-Tanwir” Sumberjo Bojonegoro Jawa-Timur. Anggota Divisi Lembaga Kajian eLSIP (Lingkar Studi Islam Pembebasan) 2000-2001 Kordiska IAIN Sunan Kalijaga.Bojonegoro (1993 .Bojonegoro (1987 . 4. 3. 3. MTs Islamiyyah at-Tanwir Sumberjo .1996). IAIN Sunan kaliga Yogyakarta. 5.Jombang. 4. Sekretaris Organisasi Daerah CSPB (Collega Siswa Pesantren Bojonegoro) 1997-1998 di Pesantren Tebuireng Jombang. Fakultas Syari‟ah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. 2. Sekjend PMII Rayon Faklutas Syari‟ah 2000-2001 IAIN Sunankalijaga Yogyakarta. Kursus Komputer di Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Yogyakarta. Departemen Kajian dan Intelektual BEMJ PMH 2000-2002.

clxxxv .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful