P. 1
Perkawinan Dalam Islam

Perkawinan Dalam Islam

|Views: 51|Likes:

More info:

Published by: Adithya Wirawan Putra on Dec 25, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/19/2013

pdf

text

original

Pernikahan/Perkawinan dalam Islam

BAB I PENDAHULUAN Perjanjian perkawinan adalah persetujuan yang dibuat oleh calon mempelai pada waktu atau sebelum perkawinan dilangsungkan, apa yang dan masing-masing berjanji akan menaati disebut dalam persetujuan itu, yang disahkan

oleh pencatat nikah. Perjanjian nikah tersebut mempunyai syarat-syarat dan hukum tertentu. Dalam perkawinan dikenal adanya perjanjian

perkawinan yang sering kali dibacakan oleh calon suami setelah akad nikah, yakni adanya perjanjian ta’lik talak. Perjanjian lainnya yang sering dilakukan adalah perjanjian tentang harta bersama. Isi perjanjian tidak boleh bertentangan dengan alQur’an, batal. halal. Berdasarkan hukum Islam pergaulan laki-laki dan karena Hal ini perjanjian juga yang bertentangan perjanjian yang dengan tidak ketentuan hukum al-Qur’an, bagaimanapun hukumnya menjadi mencakupi bertujuan menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang

perempuan melakukan pergaulan suami istri sebelum nikah itu dilarang, kecuali sesudah melakukan akad nikah, ijab dan kabul. Maka karena hal itu semata-mata perjanjian laki-laki dan perempuan istri atau seperti dapat perkawinan bergaulan tinggal antara antara

pertunangan antara pemuda dan pemudi, belum membolehkan keduanya sebagai suami dan satu kamar. Pergaulan suami istri

dilakukan sesudah akad nikah, ijab dan kabul. Walaupun

belum

mengadakan hanya

pesta sunat

perkawinan,

karena jadi

pesta syarat

perkawinan

semata-mata,

bukan

untuk sahnya perkawinan. BAB II PEMBAHASAN PERJANJIAN PERKAWINAN 1. Pengertian, Syarat, dan Hukum Perjanjian Perkawinan. Perjanjian perkawinan yaitu “persetujuan yang dibuat oleh kedua apa calon yang mempelai pada waktu atau sebelum perkawinan dilangsungkan, dan masing-masing berjanji akan menaati tersebut dalam persetujuan itu, yang (mithaq az-zauziyyah) dalam atdisahkan oleh pegawai pencatat nikah. Perjanjian perkawinan tanjil al-hakim terdapat dalam firman Allah SWT: “Dan jika kamu ingin mengganti istrimu dengan istri yang lain, sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali dari padanya barang sedikit pun. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan menanggung dosa yang nyata? Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian telah bergaul dengan yang lain sebagai suami-istri. Dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat”(QS. An-nisa [4]: 20-21). Dari ayat tersebut dapat dilihat, dalam perkawinan terdapat sebuah perjanjian yang kuat dan jelas yang diambil oleh para istri dari para suami mereka. Isi dari perjanjian tidak boleh bertentangan dengan ketentuan alQur’an, karena perjanjian yang bertentangan dengan

ketentuan hukum al-Qur’an, meskipun seratus syarat, pasti batal dan memang sudah hukumnya menjadi batal. Demikian juga perjanjian yang tidak bertujuan menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal. Perjanjian yang dibuat ketentuan Islam perkawinan atau memiliki syarat, perjanjian dan syarat

tidak

bertentangan hakikat

dengan

syari’at “Jika

perkawinan.

perjanjian yang dibuat bertentangan dengan syari’at Islam atau hakikat perkawinan apapun bentuk perjanjian itu maka perjanjian itu tidak sah, tidak perlu diikuti, sedangkan akad nikahnya sendiri sah”. hakikat perkawinan, maka Apabila syarat perjanjian boleh (sah), tetapi perkawinan yang dibuat sejalan dengan syari’at Islam atau hukumnya jika syarat itu bertentangan dengan syari’at Islam atau hakikat perkawinan maka hukum perjanjian itu tidak boleh (tidak sah). Contoh syarat yang tidak sesuai dengan syari’at

Islam, misalnya, dalam perkawinan itu si istri tidak akan kawin lagi. Perkawianan yang dilakukan itu sendiri sah, tetapi syaratnya tidaklah sah. Berdasarkan sabda Nabi SAW yang artinya :“Segala syarat yang tidak terdapat dalam Kitabullah adalah Islam batal, itu sekalipun 100 kali mereka, syarat”. kecuali Sabdanya lagi dengan artinya : “Orang-orang menurut syarat apabila berupa syarat yang menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal.” Tentang perjanjian yang tidak ini, Kholil Rahman menyebutkan seperti

macam-macam sifat perjanjian : a. Syarat-syarat syarat untuk menguntungkan istri, dicampuri. Para ulama berbeda

pendapat dalam masalah ini, ada yang mengatakan sah,

dan

ada

yang

mengatakan si

tidak istri sesuai itu

sah.

Sayid

Sabiq fasakh yang

misalnya,

membolehkan yang

menuntut dengan sendiri.

apabila suami melanggar perjanjian tersebut. b. Syarat-syarat dimaksud oleh tidak apa maksud akad Seperti,

tidak boleh mengadakan hubungan intim suami-istri, tidak ada hak waris-mewarisi di antara suami dan istri, tidak boleh berkunjung kepada kedua orang tua, dan lain-lain. Syarat-syarat semacam ini tidak sah, dan tidak mengikat. c. Syarat-syarat agar yang bertentangan dengan ketentuan mau makan syara’ seperti jika akad nikah sudah dilangsungkan, masing-masing pindah agama, harus daging babi, dan sebagainya. Perjanjian semacam ini tidak sah, dan bahkan akad nikahnya juga tidak sah. Dalam perjanjian perkawinan terdapat beberapa pembagian jenis harta-harta yang didapatkan oleh pihak-pihak yaitu: a. Harta Bersama adalah harta kekayaan yang diperoleh masing-masing pihak pertama dan pihak kedua selama berlangsungnya perkawinan; b. Harta Asal adalah harta kekayaan yang diperoleh masing-masing pihak pertama dan pihak kedua sebelum perkawinan; c. Hadiah adalah harta kekayaan yang diperoleh masingmasing pihak pertama dan pihak kedua selama berlangsungnya perkawinan yang berasal dari hadiah; d. Waris adalah harta kekayaan yang diperoleh masingmasing warisan; e. Hibah adalah adalah harta kekayaan yang diperoleh masing-masing pihak pertama dan pihak kedua selama berlangsungnya perkawinan yang berasal dari hibah. pihak pertama dan pihak yang kedua berasal selama dari berlangsungnya perkawinan

2. Bentuk-Bentuk Perjanjian Perkawinan Bentuk-bentuk perjanjian perkawinan adalah: 1. Ta’lik talak. 2. Perjanjian lain yang tidak bertentangan dengan hukum Islam. 3. Hukum Perjanjian Perkawinan Dalam perkawinan Undang-undang diatur masalah nomor 1 tahun 1974 tentang dalam

perjanjian

perkawinan

pasal 29. Bunyi selengkapnya adalah sebagai berikut: 1. Pada waktu atau sebelum atas perkawinan dilangsungkan, bersama masa dapat isinya

kedua pegawai

pihak

persetujuan

mengadakan perjanjian tertulis yang disahkan oleh pencatat perkawina. Setelah berlaku juga terhadap pihak ketiga sepanjang pihak ketiga tersangkut. 2. Perjanjian 3. Perjanjian 4. Selama tersebut tidak dapat disahkan sejak bilamana melanggar batas-batas hukum, agama, dan kesusilaan. tersebuat berlaku perkawinan tersebut dilangsungkan. perkawinan berlangsung perjanjian tidak dapat diubah, kecuali bila dari kedua belah pihak ada persetujuan untuk mengubah dan perubahan tidak merugika pihak ketiga. Penjelasan pasal 29 tersebut menyatakan bahwa

perjanjian dalam pasal ini tidak termasuk taklik talak. Namun dalam Peraturan Menteri Agama Nomor 3 Tahun 1975 pasal 11 menyebutkan satu aturan yang bertolak belakang. 1. Calon suami istri dapat mengadakan perjanjian

sepanjang tidak bertentangan dengan hukum Islam.

2.

Perjanjian yang berupa taklik talak dianggap sah kalau perjanjian itu diucapkan dan ditandatangani suami setelah akad nikah dilangsungkan.

3.

Sighat ta’lik talak ditentukan oleh Menteri Agama.

Yang menarik adalah kompilasi menggaris bawahi pasal 11 Peraturan Menteri Agama tersebut. Kompilasi sendiri memuat 8 pasal tentang perjanjian perkawinan yaitu pasal 45 sampai dengan pasal 52. Kedua calon mempelai dapat mengadakan perjanjian

perkawinan dalam bentuk: 1. Ta’lik talak, dan 2. Perjanjian lain yang tidak bertentangan dengan hukum Islam. Jadi praktis perjanjian perkawinan seperti dijelaskan dalam penjelasan pasal 29 Undang-undang No. 1 tahun 1974, telah diubah atau setidaknya diterapkan bahwa taklik talak termasuk salah satu macam perjanjian perkawinan, dalam kompilasi dan detail-detailnya dikemukakan. Pasal 46 kompilasi lebih jauh mengatur: 1. Isi taklik talak tidak boleh bertentangan dengan hukum Islam. 2. Apabila keadaan yang disyaratkan dalam taklik talak betul terjadi kemudian tidak dengan sendirinya talak jatuh. Supaya talak sungguh-sungguh jatuh, istri harus mengjukan persoalannya ke Pengadilan Agama. 3. Perjanjian taklik talak bukan perjanjian yang wajib diadakan pada setiap perkawinan, akan tetapi sekali talak talik sudah diperjanjikan tidak dapat dicabut kembali.

Ayat 3 diatas sepintas bertentangan dengan pasal 29 Undang-undang selama diubah kecuali perkawinan ada ayat 4 yang mengatur tidak bahwa dapat perkawinan berlangsung perjanjian

persetujuan kedua belah pihak, dan tidak termasuk talak talik suami. sekali talak. Oleh sudah

tidak merugikan penjelasannya Karena karena naskah itu

pihak ketiga. Dari sinilah maka dalam yang sudah ditandatangani talik

disebutkan

pula,

perjanjian

diperjanjikan tidak dapat dicabut kembali. Karena itu sebslum akad nikah dilakakukan Pegawai

Pencatat perlu meneliti betul perjanjian perkawinan yang dibuat oleh kedua calon mempelai, baik secara material atau isi perjanjian itu telah itu, maupun teknis bagai mana perjanjian disepakati oleh mereka bersama.

Sejauh perjanjian itu berupa taklik talak. Menteri agama telah mengaturnya. Adapun teks (sighat) taklik talak yang diucapkan suami sesudah dilangsungkan akad nikah adalah sebagai berikut: Sesudah akad nikah, saya…..bin….berjanji dengan sesunguh hati, bahwa seorng saya akan menepati kewajiban saya sebagai akan pergauli istri bil saya baik (mu’asyarah ma’ruf) suami, dan saya

bernama….binti….dengan

menurut ajarn syari’at Islam. Selanjutnya saya mengucapkan sighat tklik talak atas istri saya itu seperti berkut: Sewaktu-waktu saya: 1. meninggalkan istri saya tersebut dua tahun berturutturut, 2. atau saya tidak memberi nafkah wajib kepadanya tiga bulan lamanya,

3. atau saya mengikuti badan/jasmani istri saya itu, 4. atau saya membiarkan (tidak memperdulikan) istri saya itu enam bulan lamanya. Kemudian hak mengurus istri saya tidak dan ridha dan mengadukan dibenarkan

halnya kepada Pengadilan Agama atau petugas yang diberi pengaduan itu, pengaduan serta diterima oleh pengadilan atau petugas tersebut, dan istri saya itu membayar uang sebesar Rp. 1.000,- (seribu rupiah) jatuhlah uang sebagai talak iwadl saya (pengganti) kepadanya. dan kepada Kepada saya, maka satu pengadilan

atau petugas tersebut tadi saya kuasakan untuk menerima iwadl (pengganti) itu kemudian memberikanya untuk ibadah sosial. Demikian juga menjadi tugas Pengadilan Agama ketika menerima alasan tidak, gugatan perceraian perjanjian benar-benar mengusapkan talak dari dalam meneliti sighat pihak istri si dengan atau suami atau pelanggaran haruslah dan taklik apakah taklik talak talak

menyetujui sighat meski

tidak. Secara yuridis formal, persetujuan dan pembacaan taklik atau dapat dilihat pada Akta Nikahnya, sepenuhnya suami dapat dijamin di bawah si menandatangani belum

kebenarannya.apabila

sight taklik talak, ia dianggap menyatujui dan membaca sight tersebut, kecuali ada keterangan lain. Apabila melihat muatan sighat taklik talak tersebut, kandungan dari sebagai meskipun agar maksudnya hak-hak positif, yaitu melindungi diterima si peremuan istri, berupa kewenangan suami yang dalam memenuhi telah kewajibannya,

seharusnya istri,

sesungguhnya terjadi

mendapatkan dan

khulu’ (gugat cerai) maupun hak fasakh. Maka karena itu, tidak kekeliruan mempermudah

menyelesaikan persoalan yang timbul di masa mendatang, pencatatan menyetujui tersebut. Persoalan harta benda dapat menjadi dasar yang dapat menimbulkan tangga keharmonisan undang-undang berbagai di perselisihan menghilangkan oleh maka memberi dan masalah dari rumah dan itu, sehingga ketentraman karena petunjuk tentang dan persetujuan suami sighat dengan membaca, talak menandatangani taklik

dalamnya, Perkawinan

mengenai

perbuatan perjanjian untk pengaturan hak atas harta benda bersama antara suami dan istri, terdapat didalam pasal 35 sampai dengan pasal 37. Isi ketentuan dari pasal-pasal ini ada kaitan atau pengaruh dari prinsip mengenai kecakapan wanita yang telah nikah yang dianut oleh kitab Undang-undang Hukum Perdata. Terdapat perbedaan antara kedua sumber hukum itu dan lebih jelasnya bisa dibandingkan dua pasal berikut ini. Pasal 119 Kitab Undang-undang Hukum Perdata berbunyi : Mulai saat perkawinan dilangsungkan, demi hukum berlakulah persatuan bulat antara harta kekayaan suami dan istri, sekedar mengenai itu dengan perjanjian kawin tidak diadakan ketentuan lain. Persatuan itu sepanjang perkawinan tidak boleh ditiadakan atau diubah dengan sesuatu persetujuan antara suami dan istri. Sedangkan pasal 35 Undang-undang Perkawinan berbunyi : Harta bawaan dari masing-masing suami dan istri dan harta benda yang diperoleh masing-masing sebagai hadiah atau warisan, Jadi adalah di bawah yang penguasaan tampak masing-masing dua pasal sepanjamg tidak menentukan lain. bertolak belakang dari tersebut mengenai keadaan bila akad nikah tidak diikuti

dengan perjanjian harta benda bersama, yakni pasal awal dikutip menentukan harta di bawah penguasaan bulat dalam satu kesatuan demi hukum, sedangkan pasal berikutnya harta benda tetap di bawah penguasaan masing-masing. Kompilasi yang mengatur perjanjian harta bersama dan

perjanjian yang berkaitan dengan masalah poligami : Pasal 47 1. Pada kedua waktu atau yang sebelum disahkan pada perkawinan dapat Pegawai ayat (1) dan dilangsungkan perjanjian Nikah calon mempelai membuat

tertulis 2. Perjanjan pencarian

Pencatat dapat hal

mengenai kedudukan harta dalam perkawinan. tersebut harta meliputi harta tidak pencampuran pribadi pemisahan itu

masing-masing

sepanjang

bertentangan dengan hukum Islam. 3. Disamping ketentuan dalam ayat (1) dan (2) diatas, boleh juga isi perjanjian itu menetapkan kewenangan masing-masing untuk mengadakan ikatan hipotek atas harta pribadi dan harta bersama atau harta syarikat. Pasal 48 2. Apabila dibuat perjanjian atau perkawinan harta mengenai maka pemisahan harta bersama syarikat,

perjanjian tersebut tidak boleh menghilangkan kewajiban suami untuk memenuhi kewajiban rumah tangga. 3. Apabila dibuat perjanjian perkawinan tidak memenuhi kebutuhan tersebut pada ayat (1) dianggap tetap terjadi pemisahan harta bersama atau harkat syarikat dengan kewajiban suami menanggung kebutuhan rumah tangga.

Pasal 49 1. Perjanjian pencampuran harta pribadi dapat meliputi semua dalam harta, baik yang maupun dibawa yang masing-masing diperoleh ke perkawinan masing-

masing selama perkawinan. 2. Dengan tidak mengurangi ketentuan tersebut pada ayat (1) dapat juga diperjanjikan bahwa pencmpuran harta pribadi hanya terbatas pada harta pribadi yang dibawa pada saat perkawinan dilangsungkan, sehingga pecampuran itu tidak meliputi harta pribadi yang diperoleh selama perkawinan atau sebaliknya. Pasal 50 1. Perjanjian perkawinan mengenai harta mengikat kepada para pihak dan pihak ketiga terhitung mulai tanggal dilangsungkan Pencatat Nikah. 2. Sejak ketiga pendaftaran pencabutan itu tersebut, baru pencabutan sejak telah tanggal dalam meningkat kepada suami istri, tetapi terhadap pihak meningkat oleh pendaftaran diumumkan suami isri perkawinan di hadapan Pegawai

suatu surat kabar setempat. 3. Apabila dalm tempo 6 (enam) bulan pengumuman tidak dilakukan sendirinya ketiga. 4. Pencabutan tidak perjanjian perkawinan mengenai yang harta telah boleh merugikan perjanjian bersangkutan, gugur dan tidak pencabutan mengikat pada dengan pihak

diperbuat sebelumnya dengan pihak ketiga. Pasal 51 Pelanggaran memberikan nikah hak atau terhadap kepada istri perjanjian untuk sebagai meminta alasan perkawinan pembatalan gugatan

mengajukannya

perceraian ke Pengadilan Agama. Pasal 52 Pada tempat saat dilangsungkan perkawinan dengan istri kedua, ketiga atau keempat, boleh diperjanjikan mengenai kediaman, waktu giliran dan biaya rumah tangga bagi istri yang akan dinikahinya itu. Akan halnya mengenai perjanjian perkawinan, apabila telah disepakati oleh kedua mempelai, maka masing-masing wajib memenuhinya. Sepanjang dalam perjanjian tersebut tidak ada pihakpihak lain yang memaksa. Ini pada sejalan dirinya dengan sendiri hadist untuk riwayat al-Bukhori yang artinya : “Barangsiapa mensyaratkan maksud taat (kepada Allah dan Rosul-Nya), dalam keadaan tidak terpaksa, maka ia wajib memenuhinya” (Riwayat alBukhori) Kata Umar bin al-Khattab : “Sesunguhnya keputusan hak terletak pada syarat-syarat yang ditetapkan, dan pada kamu apa yang kamu syaratkan” (Riwayat al-Bukhori). Apabila perjanjian yang telah disepakati bersama

antara suami dan istri, tidak dipenuhi oleh salah satu pihak, maka pihak lain berhak mengajukan persoalannya ke Pengadilan Agama untuk menyelesaikannya. Dalam hal pelanggaran dilakukan suami misalnya,

istri berhak meminta pembatalan nikah atau sebagai alasan perceraian dalam gugatan. Demikian juga sebaliknya, jika istri yang melanggar perjanjian di luar taklik talak, suami berhak mengajukan perkaranya ke Pengadilan Agama.

Contoh Surat Perjanjian Perkawinan PERJANJIAN PERKAWINAN Pada hari ini, _____ tanggal _____ bulan _____ tahun

_____ . Menghadap kepada saya, _____ , Sarjana Hukum, Notaris di _____ , dengan dihadiri oleh para saksi yang dikenal oleh saya, Notaris dan akan disebutkan pada akhir akta ini: 1. Nama Pekerjaan Alamat Bertindak untuk : : dan atas diri sendiri, yang :

selanjutnya disebut PIHAK PERTAMA. 2. Nama Pekerjaan Alamat Bertindak untuk : : dan atas dirinya sendiri,yang :

selanjutnya disebut PIHAK KEDUA. Penghadap telah dikenal oleh saya; Notaris. Para penghadap menerangkan kepada saya, Notaris: Bahwa antara Para Pihak telah terdapat kesepakatan untuk melangsungkan perkawin-an, dan untuk itu Para Pihak telah setuju dan mufakat untuk membuat Perjanjian Kawin dengan memakai berikut: Pasal 1 PISAH HARTA Antara suami dan istri tidak akan ada persekutuan hartabenda dengan nama atau sebutan menurut apa pun atau juga, baik persekutuan harta-benda hukum persekutuan syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan sebagai

untung dan rugi maupun persekutuan hasil dan pendapatan. Pasal 2 HARTA Semua harta benda yang bersifat apa pun yang dibawa oleh Para Pihak dalam perkawinan, atau yang diperolehnya selama perkawinan, karena pembelian, waris-an, hibah, dan atau dengan cara apa pun juga tetap menjadi milik dari Para Pihak yang membawa dan atau yang memperolehnya. Pasal 3 BUKTI PEMILIKAN 1. dari Barang-barang bergerak yang oleh Para Pihak didapat dan oleh tidak sebab apa pun hak juga sesudah perkawinan untuk

dilangsungkan, wajib dibuktikan dengan bukti pemilikan, dengan mengurangi adanya PIHAK KEDUA, atau membuktikan barang-barang harganya,

sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 166 Kitab UndangUndang Hukum Perdata. 2. lainnya Barang-barang dengan salah oleh tidak bukti satu bergerak, pemilikan pihak, yang atau tidak dapat kedibuktikan surat-surat sebagai

dianggap

punyaan Para Pihak, masing-masing untuk 1/2 (setengah) bagian yang sama besar. Pasal 4 HAK-HAK PARA PIHAK 1. sebelum 2. Kekayaan dan utang dari Para Pihak yang terjadi atau PIHAK sesudah KEDUA perkawinan dilangsungkan, dan tetap

menjadi hak atau kewajiban masing-masing. dapat mengurus mempertahankan

haknya, tindakan

baik

dalam baik

tindakan untuk

pengurusan

maupun

dalam sendiri

pemilikan

mengurus,

menguasai

harta bendanya, 3. Untuk

yang bergerak, maupun yang tidak tersebut di atas, sepanjang

bergerak, dan penikmatan secara bebas dari penghasilannya hal-hal diperlukan dengan ini PIHAK KEDUA telah diberi kuasa dan persetujuan oleh PIHAK PERTAMA. Pasal 5 BIAYA-BIAYA 1. Biaya-biaya untuk keperluan rumah tangga, untuk

mendidik dan memelihara anak-anak yang dilahirkan dari perkawinan mereka dipikul oleh PIHAK PERTAMA. 2. atas 3. yang Pengeluaran-pengeluaran untuk keperluan tersebut di yang dilakukan oleh PIHAK KEDUA, dianggap telah

dilakukan dengan persetujuan dari PIHAK PERTAMA. Utang-utang maupun tagihan-tagihan dari pihak lain timbul dari dan biaya-biaya dibayar tersebut oleh di atas, harus dan wajib PIHAK PERTAMA,

ditanggung tersebut.

PIHAK KEDUA tidak dapat ditagih atau digugat mengenai hal

Pasal 6 BERAKHIR/PERHITUNGAN MENURUT HUKUM 1. Pakaian-pakaian dan perhiasan-perhiasan yang ada

pada Para Pihak, pada saat berakhirnya perkawinan atau pada waktu diadakan perhitungan menurut hukum, dianggap sebagai sehingga 2. milik pihak yang memakainya atau dianggap akan dimiliki oleh yang biasa memakai barang-barang tersebut, terhadap barang-barang tersebut tidak diadakan perhitungan. Segala macam barang-barang untuk keperluan rumah

tangga termasuk pula perabot-perabot makan, minum, tidur yang ada di dalam rumah kedua atau belah pada pihak saat pada saat berakhirnya sehingga perkawinan diadakan tidak akan

perhitungan menurut hukum, dianggap miliknya PIHAK KEDUA, terhadap barang-barang tersebut, diadakan perhitungan. Pasal 7 LAIN-LAIN Bahwa selain daripada pakaian dan barang-barang

perhiasan, mereka masing-masing (yang menurut keterangan Para Pihak tidak perlu diuraikan lebih lanjut dalam akta ini), tidak membawa sesuatu apa pun dalam perkawinan yang harus ditulis dalam akta ini. Pasal 8 DOMISILI Untuk akta ini dan segala akibatnya serta pelaksanaannya, memilih tempat tinggal yang umum dan tetap di kantor Panitera Pengadilan Negeri _____ di _____ . DEMIKIANLAH AKTA INI Dibuat dan diselesaikan di _____ , pada hari, tanggal, bulan, dan tahun seperti tersebut pada awal akta ini, dengan dihadiri oleh: _____ , _____ . Keduanya karyawan kantor Notaris, dan bertempat tinggal di _____, sebagai para saksi. Setelah akta ini selesai dibacakan oleh saya, Notaris, kepada para penghadap dan para saksi, maka segera para penghadap, para saksi dan saya, Notaris, menandatangani

akta ini. Dilangsungkan penambahan. PIHAK PERTAMA _____________ ______________ PIHAK KEDUA dengan tanpa perubahan, penggantian, dan

SAKSI1 ____________ NOTARIS _________________

SAKSI 2 ____________

BAB III

PENUTUP Perjanjian perkawinan adalah persetujuan yang dibuat oleh calon mempelai pada dan waktu atau sebelum perkawinan menaati dilangsungkan, masing-masing berjanji akan

apa yang tersebut dalam persetujuan itu, yang disahkan oleh pencatat nikah. perjanjian nikah tersebut mempunyai syarat dan hukum. Bentuk perjanjian ada dua yaitu Ta’lik talak dan perjanjian lain yang tidak bertentangan dengan hukum Islam. Hukum mengenai perjanjian di tulis dalam kompilasi hukum Islam .

Reference:

http://contohsuratindo.blogspot.com/2011/04/suratperjanjian-perkawinan.html http://www.lbh-apik.or.id/fact%20-%20perjanjian %20perkawinan.html http://legalakses.com/contoh-perjanjian-perkawinan/ http://kuliahade.wordpress.com/2010/04/01/hukum-perdataperjanjian-perkawinan/ Kompilasi Hukum Islam UU no 1 tahun 1974

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->