Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja

9:49 AM Posted by Irga

Dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, Pasal 23 dinyatakan bahwa upaya Kesehatan dan Keselamatan Kerja harus diselenggarakan di semua tempat kerja, khususnya tempat kerja yang mempunyai risiko bahaya kesehatan, mudah terjangkit penyakit atau mempunyai karyawan paling sedikit 10 orang. Jika memperhatikan isi dari pasal di atas maka jelaslah bahwa Rumah Sakit (RS) termasuk ke dalam kriteria tempat kerja dengan berbagai ancaman bahaya yang dapat menimbulkan dampak kesehatan, tidak hanya terhadap para pelaku lansung yang bekerja d RS, tapi juga terhadap pasien maupun pengunjung RS. Sehingga sudah seharusnya pihak pengelola RS menerapkan upaya-upaya K3 di RS. (1) Rumah sakit adalah sarana upaya kesehatan yang menyelenggarakan kegiatan pelayanan kesehatan serta dapat berfungsi sebagai tempat pendidikan tenaga kesehatan dan penelitian. Rumah sakit merupakan salah satu tempat bagi masyarakat untuk mendapatkan pengobatan dan pemeliharaan kesehatan dengan berbagai fasilitas dan peralatan kesehatannya. Rumah sakit sebagai tempat kerja yang unik dan kompleks tidak saja menyediakan pelayanan kesehatan bagi masyarakat, tetapi juga merupakan tempat pendidikan dan penelitian kedokteran. Semakin luas pelayanan kesehatan dan fungsi suatu rumah sakit maka semakin kompleks peralatan dan fasilitasnya.(2) Potensi bahaya di rumah sakit, selain penyakit-penyakit infeksi juga ada potensi bahayabahaya lain yang mempengaruhi situasi dan kondisi di rumah sakit, yaitu kecelakaan (peledakan, kebakaran, kecelakaan yang berhubungan dengan instalasi listrik, dan sumber-sumber cedera lainnya), radiasi, bahan-bahan kimia yang berbahaya, gas-gas anestesi, gangguan psikososial, dan ergonomi. Semua potensi-potensi bahaya tersebut jelas mengancam jiwa bagi kehidupan bagi para karyawan di rumah sakit, para pasien maupun para pengunjung yang ada di lingkungan rumah sakit.(1) Hasil laporan National Safety Council (NSC) tahun 1988 menunjukkan bahwa terjadinya

crushing. sakit kepala.9%. abrasions: 1.6%. kelelahan.4% (US Departement of Laboratorium. Mencegah luka dan paparan (agen yang menyebabkan infeksi) pada kondisi ini sesungguhnya suatu yang menantang (Advanced Precaution for Today’s OR). anemia (kebanyakan wanita).1%. dermatitis : 1. cuts. jari jemari acap kali menjadi tempat goresan kecil dan luka. multiple injuries: 2. bruising: 11%.2%. efesien dan terpadu diperlukan sebuah manajemen K3 di rumah sakit baik bagi pengelola maupun karyawan rumah sakit. meningkatkan risiko infeksi terhadap patogen yang ditularkan lewat darah. frustasi dan kadang-kadang bahkan kemarahan. luka bakar. gangguan saluran kemih. 87% pernah low back pain. Pada kenyataannya. terkilir.8%. dan keluhan lain seperti sakit telinga. fractures: 5. yaitu hipertensi. Khusus di Indonesia. Kondisi gawat darurat dapat terjadi setiap waktu dan mengganggu kegiatan rutin. Ditambahkan juga bahwa terdapat beberapa kasus penyakit akut yanng diderita petugas rumah sakit lebih besar 1. contussion. Bureau of Laboratorium Statistics. serta nyeri tulang belakang dan pergeseran discus intervertebrae. meminimalisasi dan bila mungkin meniadakannya. scratches. sehubungan dengan bahaya-bahaya yang ada di rumah sakit. Ruang kerja yang terbatas dan kemampuan melihat apa yang sedang terjadi di area operasi bagi sejumlah anggota tim (perawat instrumen atau asisten) dapat menjadi buruk. Di Australia. biasanya tidak diketahui hingga sarung tangan dilepaskan pada akhir prosedur yang memperpanjang durasi paparan. yaitu lebih dari satu miliar dollar pertahun. gangguan pada saat kehamilan. dll. data penelitian sehubungan dengan bahaya-bahaya di rumah sakit belum terganbar dengan jelas namun diyakini bahwa banyak keluhan-keluhan dari para petugas di rumah sakit. varises.kecelakaan di rumah sakit 41% lebih besar dari pekerja di industri lain. Agar penyelenggaraan K3 rumah sakit lebih efektif. saluran cerna. Cedera punggung menghabiskan biaya kompensasi terbesar. puncture: 10. tergores/terpotong.(1) Selain itu. dermatitis dan urtikaria (57% wanita). petugas acapkali menggunakan dan menyerahkan instrumen benda-benda tajam tanpa melihat atau membiarkan orang lain tahu apa yang sedang mereka lakukan.8%) dibandingkan pekerja di sektor industri lain.62/100 perawat pertahun. diantara 813 perawat. yaitu penyakit infeksi dan parasit. masalah kelahiran anak. Gun (1983) memberikan catatan bahwa terdapat beberapa kasus penyakit kronis yang diderita petugas rumah sakit. Sejumlah kasus dilaporkan mendapatkan kompensasi pada pekerja rumah sakit yaitu sprains. maka perlu upaya untuk mengendalikan. 1983).(1) Laporan lainnya yakni di Israel. Pedoman Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja menurut Peraturan Menteri Kesehatan 2007 terdiri atas meliputi langkah-langkah sebagai berikut : 1. prevalensi 42% dan di AS insiden cedera muskuloskeletal 4.(2) Dari berbagai potensi bahaya tersebut. strains: 52%.5 kali dari petugas atau pekerja lain. angka prevalensi cedera punggung tertingga pada perawat (16. laceration. Tahap persiapan (komitmen dan kebijakan) . penyakit kulit dan sistem otot dan tulang rangka. sakit pinggang.3%.(1) Rumah sakit mempunyai karakteristik khusus yang dapat meningkatkan peluang kecelakaan. dan penyakit infeksi. oleh karena itu K3 rumah sakit perlu dikelola dengan baik. infections: 1. thermal burns: 2%. Kasus yang sering terjadi adalah tertusuk jarum. Misalnya. Pada akhirnya. penyakit ginjal dan saluran kemih (69% wanita). paparan atas darah acapkali terjadi tanpa sepengetahuan orang tersebut. Hal ini dapat mempercepat dan menambah stres kecemasan. dan lain-lain: 12. saluran pernapasan.

pengkajian. 3. Keselamatan kerja merupakan sarana utama untuk pencegahan kecelakaan. perencanaan.2. pencapaian.(3) Kesehatan kerja menurut WHO / ILO (1995) bertujuan untuk peningkatan dan pemeliharaan kesehatan fisik. pencegahan terhadap gangguan kesehatan pekerja yang . Menjamin setiap keselamatan setiap orang lain yang berada di tempat kerja. dan dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan karyawan RS. Keadaan ini merubah pandangan masyarakat industri terhadap pentingnya penerapan K3 secara sungguhsungguh dalam kegiatannya. mental. efisien dan produktif. Sedangkan sistem manajemen merupakan rangkaian proses kegiatan manajemen yang teratur dan integrasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. agar masyarakat pekerja memperoleh derajat kesehatan setinggi-tingginya. bergerak atau tetap. dimana tenaga kerja bekerja atau yang sering dimasuki tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha dan dimana terdapat pasal-pasal undang-undang keselamatan kerja.(4) Menurut undang-undang kesehatan No. dan sosial yang setinggi-tingginya bagi pekerja disemua jenis pekerjaan. Tahap penerapan/pelaksanaan 4. (3) Kesehatan kerja menurut Suma’mur didefinisikan sebagai spesialisasi dalam ilmu kesehatan/kedokteran beserta prakteknya. Tahap Pengukuran dan evaluasi 5. yang dimaksud dengan tempat bekerja adalah tiap ruangan atau lapangan. Melindungi tenaga kerja atas hak keselamatannya dalam melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan hidup dan untuk meningkatkan produksi serta produktivitas nasional. penggerakan dan pengendalian kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh orang-orang yang tergabung dalam suatu bentuk kerja. Manajemen merupakan suatu proses pencapaian tujuan secara efisien dan efektif. menurut peraturan Menkes diatas adalah terciptanya cara kerja. melalui pengarahan. Masalah keselamatan dan kesehatan kerja akhir-akhir ini terus berkembang seiring dengan kemajuan sains dan teknologi dalam bidang industri. Sumber produksi dipelihara dan dipergunakan secara aman dan efisien. Tahap perencanaan 3. lingkungan Kerja yang sehat. cacat dan kematian sebagai akibat kecelakaan kerja. Defenisi Dari uraian diatas maka sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja dapat diberikan batasan sebagai berikut: SMK3 adalah merupakan bagian dari sistem manajemen secara keseluruhan meliputi struktur organisasi. Tahap peninjauan ulang dan peningkatan Tujuan dari diterapkannya Sistem Manajemen K3 ini pada Rumah Sakit . tanggung jawab pelaksanaan prosedur. baik fisik atau mental maupun sosial dengan usaha-usaha preventif dan kuratif terhadap penyakit-penyakit/gangguan-gangguan kesehatan yang diakibatkan faktor-faktor pekerjaan dan lingkungan kerja serta terhadap penyakitpenyakit umum. tertutup atau terbuka. Tinjauan Umum Tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) tidak terlepas dari pembahasan manajemen secara keseluruhan. 1 tahun 1970. nyaman. 2. proses dan sumberdaya yang dibutuhkan bagi pengembangan penerapan. dan pemeliharaan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja dalam rangka pengendalian resiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya kerja yang aman. aman.(5) Adapun tujuan keselamatan kerja menurut Suma’mur (1987) adalah sebagai berikut : (4) 1.

jelas dan mudah dimengerti serta diketahui oleh seluruh karyawan rumah sakit. Maka dari itu pekerjaan atau tugas apapun tidak dapat diselesaikan secara efisien kecuali jika si pekerja telah mengikuti setiap tindak pencegahan dan peratuan K3 untuk melindungi dirinya dan kawan kerjanya. Menetapkan tujuan yang jelas 3. perlindungan bagi pekerja dalam pekerjaannya dari resiko akibat faktor yang merugikan kesehatan.(1) Untuk melaksanakan komitmen dan kebijakan K3 rumah sakit. pengorganisasian. Organisasi dan penugasan yang jelas 4.disebabkan oleh kondisi pekerjaan. Kebijakan K3 di rumah sakit diwujudkan dalam bentuk wadah K3RS dalam struktur organisasi rumah sakit. perlu disusun strategi antara lain: (1) 1. Sumber daya yang harus didukung oleh manajemen puncak 6. Kajian resiko secara kualitatif dan kuantitatif 7. Monitoring dan evaluasi secara internal dan eksternal secara berkala Perencanaan Rumah sakit harus membuat perencanaan yang efektif agar tercapai keberhasilan penerapan sistem manajemen K3 dengan sasaran yang jelas dan dapat diukur. Rumah sakit harus melakukan kajian dan identifikasi sumber bahaya. pengobatan dan rehabilitasi. Manajemen rumah sakit mengidentifikasi dan menyediakan semua sumber daya esensial seperti pendanaan. Sesuai dengan konsep sebab akibat kecelakaan serta prinsip pencegahan kecelakaan. Membuat program kerja K3 rumah sakit yang mengutamakan upaya peningkatan dan pencegahan 8. Meningkatkan SDM profesional di bidang K3 rumah sakit pada setiap unit kerja di lingkungan rumah sakit 5.(3) Komitmen dan Kebijakan Komitmen diwujudkan dalam bentuk kebijakan (policy) tertulis. . penilaian dan pengendalian faktor resiko. Perencanaan K3 di rumah sakit dapat mengacu pada standar sistem manajemen K3RS diantaranya self assesment akreditasi K3 rumah sakit dan SMK3. (1) Perencanaan meliputi: (1) 1. Pelaksanaan K3 harus merupakan bagian dari semua kegiatan operasional. penilaian serta pengendalian faktor resiko. pengendalian bahaya di tempat kerja. pelaksanaan dan pengendalian yang bertujuan untuk memberdayakan K3 di rumah sakit. Secara ringkas merupakan penyesuaian pekerjaan kepada manusia dan setiap manusia kepada pekerjaan atau jabatannya (1) Kesehatan dan keselamatan kerja di rumah sakit merupakan upaya untuk memberikan jaminan kesehatan dan meningkatkan derajat kesehatan para pekerja/buruh dengan cara pencegahan kecelakaan dan penyakit akibat kerja. maka pengelompokan unsur K3 diarahkan kepada pengendalian sebab dan pengurangan akibat terjadinya kecelakaan. Advokasi sosialisasi program K3 rumah sakit 2. Identifikasi sumber bahaya. promosi kesehatan. tenaga K3 dan sarana untuk terlaksananya program K3 di rumah sakit. dan penempatan serta pemeliharaan pekerja dalam suatu lingkungan kerja yang disesuaikan dengan kondisi fisiologi dan psikologisnya. Manajemen K3 di rumah sakit adalah suatu proses kegiatan yang dimulai dengan tahap perencanaan.

diperbaharui dan harus dikomunikasikan serta disosialisasikan pada karyawan dan pihak yang terkait. sasaran pencapaian dan jangka waktu pencapaian (SMART) 4. 5. Pengendalian faktor risiko Dilakukan melalui empat tingkatan pengendalian risiko yaitu menghilangkan bahaya. Tujuan dan sasaran Rumah sakit harus mempertimbangkan peraturan perundang-undangan. kemudian mencari jalan pemecahannya dan mengkomunikasikannya kepada unit-unit kerja. Membuat peraturan Rumah sakit harus membuat. perundangan dan ketentuan mengenai K3 lainnya yang berlaku. Selanjutnya memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan program. peraturan. SOP ini harus dievaluasi. Ketua organisasi/satuan pelaksana K3 rumah sakit secara spesifik harus mempersiapkan data dan informasi pelaksanaan K3 di semua tempat kerja. (1) 1. bahaya potensial. evaluasi dan dicatat serta dilaporkan. menetapkan dan melaksanakan standar operasional prosedur (SOP) sesuai dengan peraturan. satuan/indikator pengukuran. pedoman. Tanggung jawab ini harus ditanamkan melalui adanya aturan yang jelas. untuk mencapai sasaran harus ada monitoring. Identifikasi sumber bahaya Dapat dilakukan dengan mempertimbangkan: • Kondisi dan kejadian yang dapat menimbulkan potensi bahaya • Jenis kecelakaan dan PAK yang mungkin dapat terjadi b. Tugas dan fungsi organisasi/unit pelaksana K3 rumah sakit (1) a. Penilaian faktor resiko Adalah proses untuk menentukan ada tidaknya resiko dengan jalan melakukan penilaian bahaya potensial yang menimbulkan risiko kesehatan dan keselamatan kerja. sehingga dapat dilaksanakan dengan baik. administrasi dan alat pelindung pribadi (APP) 2. bimbingan dan latihan serta penegakan disiplin. Kalau masih terdapat kekurangan. Pengorganisasian Pelaksanaan K3 di rumah sakit sangat tergantung dari rasa tanggung jawab manajemen dan petugas terhadap tugas dan kewajiban masing-masing serta kerja sama dalam pelaksanaan K3. 3. Program kerja Rumah sakit harus menetapkan dan melaksanakan proram K3 rumah sakit. c. meruuskan permasalahan serta menganalisis penyebab timbulnya masalah bersama unit-unit kerja. petunjuk pelaksanaan dan prosedur . untuk menilai sejauh mana program yang dilaksanakan telah berhasil. Tugas pokok : • Memberi rekomendasi dan pertimbangan kepada direktur rumah sakit mengenai masalah-masalah yang berkaitan dengan K3 • Merumuskan kebijakan. Indikator kinerja Indikator harus dapat diukur sebagai dasar penilaian kinerja K3 yang sekaligus merupakan informasi mengenai keberhasilan pencapaian SMK3 rumah sakit. dan risiko K3 yang bisa diukur. maka perlu diidentifikasi penyimpangannya serta dicari pemecahannya. penyuluhan kepada semua petugas. menggantikan sumber risiko dengan sarana/peralatan lain yang tingkat risikonya lebih rendah /tidak ada (engneering/rekayasa).a. Pola pembagian tanggung jawab.

Struktur organisasi K3 di rumah sakit(1) Organisasi K3 berada satu tingkat di bawah direktur dan bukan merupakan kerja rangkap. Organisasi/unit pelaksana K3 dipimpin oleh ketua. yang dibantu oleh unit K3 yang beranggotakan seluruh unit kerja di rumah sakit. Mekanisme kerja Ketua organisasi/unit pelaksana K3 rumah sakit memimpin dan mengkoordinasikan kegiatan organisasi/unit pelaksana K3 rumah sakit Sekretaris organisasi/unit pelaksana K3 rumah sakit memimpin dan mengkoordinasikan tugas-tugas kesekretariatan dan melaksanakan keputusan organisasi/unit pelaksana K3 rumah sakit. Bentuk organisasi K3 di rumah sakit merupakan organisasi struktural yang terintegrasi ke dalam komite yang ada di rumah sakit dan disesuaikan dengan kondisi/kelas masing-masing rumah sakit. mengeluarkan peraturan dan inisiatif pencegahan • Investigasi dan melaporkan kecelakaan. • Pelaksanaan tugas ketua dibantu oleh wakil ketua dan sekretaris serta anggota • Ketua organisasi/unit pelalsana K3 RS sebaiknya adalah salah satu manajemen tertinggi di rumah sakit atau sekurang-kurangnya manajemen dibawah langsung direktur rumah sakit. sekretaris. pembangunan gedung dan proses 2. bertanggung jawab langsung ke direktur rumah sakit. Fungsi • Mengumpulkan dan mengolah seluruh data dan informasi serta permasalahan yang berhubungan dengan K3 • Membantu direktur rumah sakit mengadakan dan meningkatkan upaya promosi K3.• Membuat program K3 rumah sakit b. Anggota organisasi/unit pelaksana K3 RS mengikuti rapat organisasi/unit pelaksana K3 RS dan melakukan pembahasan atas persoalan yang diajukan dalam rapat. kontrol bahaya. Keanggotaan : (1) • Organisasi/unit pelaksana K3 rumah sakit beranggotakan unsur-unsur dari petugas dan jajaran direksi rumah sakit • Organisasi/unit pelaksana K3 rumah sakit terdiri dari sekurang-kurangnya ketua.dan anggota. • Sedang sekretaris organisasi/unit pelaksana K3 rumah sakit adalah seorang tenaga profesional K3 rumah sakit. organisasi/unit pelaksana K3 RS . misalnya komite medis/nosokomial Model 2 : Merupakan unit organisasi fungsional (non struktural). dan merekomendasikan sesuai kegiatannya • Berpartisipasi dalam perencanaan pembelian peralatan baru. Untuk dapat melaksanakan tugas pokok dan fungsinya. serta melaksanakan tugas-tugas yang diberikan organisasi. Model 1 : Merupakan organisasi yang terstruktur dan bertanggung jawab kepada direktur rumah sakit. Nama organisasinya adalah unit pelaksana K3 RS. pelatihan dan penelitian K3 di rumah sakit • Pengawasan terhadap pelaksanaan program K3 • Memberikan saran dan pertimbangan berkaitan dengan tindakan korektif • Koordinasi dengan unit-unit lain yang menjadi anggota K3 rumah sakit • Memberi nasehat tentang manajemen K3 di tempat kerja. yaitu manajer K3 rumah sakit atau ahli K3 3.

5 Pelaksanaan Pelaksanaan K3 dapat meliputi : (1) 1. dan yang terbaik atau terbagus adalah pelaksanaan dan penerapan K3 nya mendapat reward dari direktur rumah sakit(1). Data dan informasi dibahas dalam organisasi/unit pelaksana K3 rumah sakit untuk menemukan penyebab masalah dan merumuskan tindakan korektif maupun tindakan preventif. Penyuluhan K3 ke semua petugas RS 2. rujukan ke rumah sakit bila perlu pengobatan lanjutan dan lama perawatan serta lama berobat. berkala dan khusus) • Penyediaan alat pelindung diri dan keselamatan kerja • Penyiapan pedoman pencegahan dan penanggulangan keadaan darurat • Penempatan pekerja pada pekerjaan yang sesuai kondisi kesehatan • Pengobatan pekerja yang menderita sakit • Menciptakan lingkungan kerja yang higienis secara teratur melalui monitoring lingkungan kerja dari hazard yang ada • Melakukan biological monitoring • Melaksanakan surveilans kesehatan pekerja Pemantauan dan Evaluasi Pada dasarnya pemantauan dan evaluasi K3 di rumah sakit adalah salah satu fungsi manajemen K3 rumah sakit yang berupa suatu langkah yang diambil untuk mengetahui dan menilai sampai sejauh mana proses kegiatan K3 rumah sakit itu berjalan dan mempertanyakan efektivitas dan efisiensi pelaksanaan dari suatu kegiatan K3 rumah sakit dalam mencapai tujuan yang ditetapkan. maupun pengunjung yaitu mengenai segala upaya pencegahan KAK dan PAK di rumah sakit. Hasil rumusan disampaikan dalam bentuk rekomendasi kepada direktur rumah sakit. catatan lama sakit dan perawatan rumah sakit khususnya yang berkaitan dengan akibat kecelakaan. Dari bagian teknik bisa didapat data kerusakan akibat kecelakaan dan biaya perbaikan. (1) . Melaksanakan program K3 sesuai peraturan yang berlaku. Dan sumber yang lain bisa dari tempat pengobatan rumah sakit sendiri antara lain jumlah kunjungan. Sumber data antara lain dari bagian personalia meliputi angka sakit. 2.1. diantaranya : • Pemeriksaan kesehatan petugas (prakarya. angka kecelakaan.mengumpulkan data dan informasi mengenai pelaksanaan K3 di rumah sakit. pasien. Juga bisa diadakan lomba pelaksanaan K3 antar bagian atau unit kerja yang ada di lingkungan kerja rumah sakit. Organisasi/unit pelaksana K3 rumah sakit membantu melakukan upaya promosi di lingkungan rumah sakit baik pada petugas. P3K dan tindakan medik karena kecelakaan. tidak hadir tanpa keterangan. Informasi juga dikumpulkan dari hasil monitoring tempat kerja dan lingkungan kerja rumah sakit terutama yang berkaitan dengan sumber bahaya potensial baik yang berasal dari kondisi berbahaya maupun tindakan berbahaya serta data dari bagian K3 berupa laporan pelaksanaan K3 dan analisisnya. Pelatihan K3 yang disesuaikan dengan kebutuhan individu dengan perilaku tertentu agar berperilaku sesuai dengan yang telah ditentukan sebelumnya sebagai produk akhir dari pelatihan 3. Rekomendasi berisi saran tindak lanjut dari organisasi/unit pelaksana K3 RS serta alternatif-alternatif pilihan serta perkiraan hasil/konsekuensi setiap pilihan.

fasilitas dan peralatan.1.1 tahun 1970 Tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja • UU No.Pemantauan dan evaluasi meliputi : (1) 1. evaluasi dan pengendalian. terutama oleh petugas K3 rumah sakit sehingga kejadian PAK dan KAK dapat dicegah sedini mungkin.3. administrasi dan pengelolaan.7 Dasar Hukum Terkait dengan SMK3 Adapun dasar hukum yang terkait dengan pelaksanaan Sistem Manajemen K3 antara lain(1. Inspeksi K3 di rumah sakit dilakukan secara berkala. gangguan kesehatan dan keselamatan • Memastikan dan menilai pengelolaan K3 telah dilaksanakan sesuai ketentuan • Menentukan langkah untuk mengendalikan bahaya potensial serta pengembangan mutu Perbaikan dan pencegahan didasarkan atas hasil temuan dari audit. kebijakan dan prosedur.05/MEN/1996 Tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja • Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 1993 tentang Penyakit yang Timbul Akibat Hubungan Kerja • Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 876/Menkes/SK/VIII/2001 tentang Pedoman Teknis Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan • Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1217/Menkes/SK/IX/2001 tentang Pedoman Penanganan Dampak Radiasi • Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1335/Menkes/SK/X/2002 tentang Standar Operasional Pengambilan dan Pengukuran Kualitas Udara Rumah Sakit . Tujuan audit K3 : • Untuk menilai potensi bahaya.7) • UU No. • Pencatatan dan pelaporan K3 • Pencatatan semua kegiatan K3 • Pencatatan dan pelaporan KAK • Pencatatan dan pelaporan PAK 2. Inspeksi dan pengujian Inspeksi K3 merupakan suatu kegiatan untuk menilai keadaan K3 secara umum dan tidak terlalu mendalam. identifikasi. karyawan dan pimpinan. Kegiatan lain adalah pengujian baik terhadap lingkungan maupun pemeriksaan terhadap pekerja berisiko seperti biological monitoring (pemantauan secara biologis) 3. Melaksanakan audit K3 Audit K3 meliputi falsafah dan tujuan. penilaian risiko direkomendasikan kepada manajemen puncak. Pencatatan dan pelaporan K3 terintegrasi ke dalam sistem pelaporan RS (SPRS).: PER.6. pengembangan karyawan dan program pendidikan. (1) 2. (1) Tinjauan ulang dan peningkatan oleh pihak manajemen secara berkesinambungan untuk menjamin kesesuaian dan keefektivan dalam pencapaian kebijakan dan tujuan K3.23 tahun 1992 Tentang Kesehatan • Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan • Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah • Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1998 tentang Pengamanan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan • Peraturan Pemerintah nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan • Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 2000 tentang Keselamatan dan Kesehatan Terhadap Pemanfaatan Radiasi Pengion • Peraturan Menteri Tenaga Kerja No.

dimana kesehatan kerja merupakan salah satu program utamanya. Keselamatan kerja merupakan sarana utama untuk pencegahan kecelakaan.(9) Adapun tujuan keselamatan kerja menurut Suma’mur (1987) adalah sebagai berikut: (8) 1. Melindungi tenaga kerja atas hak keselamatannya dalam melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan hidup dan untuk meningkatkan produksi serta produktivitas nasional.2 Tinjauan Umum Tentang Kesehatan Kerja Kesehatan kerja merupakan bagian dari kesehatan masyarakat di dalam suatu masyarakat pekerja dan masyarakat lingkungannya.(6) Upaya Kesehatan Kerja adalah penyerasian antara kapasitas kerja. agar masyarakat pekerja memperoleh derajat kesehatan setinggi-tingginya. dimana tenaga kerja bekerja atau yang sering dimasuki tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha dan dimana terdapat pasal-pasal undang-undang keselamatan kerja.(8) Tujuan utama program kesehatan kerja adalah mendapatkan pegawai yang sehat dan produktif dengan pokok kegiatan yang bersifat preventif dan promotif disamping kuratif dan rehabilitatif.432/MENKES/SK/IV/2007 Tentang Pedoman Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Rumah Sakit 2. Kesehatan kerja. penyesuaian faktor manusia terhadap pekerjaannya dan sebagainya. tertutup atau terbuka. Sumber produksi dipelihara dan dipergunakan secara aman dan efisien. dan lingkungan kerja agar setiap pegawai dapat bekerja secara sehat tanpa membahayakan dirinya sendiri maupun masyarakat disekelilingnya. Menyeluruh dalam arti usaha-usaha promotif. bergerak atau tetap. agar diperoleh produktivitas kerja yang optimal (UU Kesehatan Tahun 1992 Pasal 23) (7) Kesehatan kerja menurut Suma’mur didefinisikan sebagai spesialisasi dalam ilmu kesehatan/kedokteran beserta prakteknya. yang dimaksud dengan tempat bekerja adalah tiap ruangan atau lapangan. Rencana upaya tindakan pengendalian untuk memperbaiki kondisi kerja terdiri atas beberapa hal berikut ini: (10) . 2. cacat dan kematian sebagai akibat kecelakaan kerja. baik fisik atau mental maupun sosial dengan usaha-usaha preventif dan kuratif terhadap penyakit-penyakit/gangguan-gangguan kesehatan yang diakibatkan faktor-faktor pekerjaan dan lingkungan kerja serta terhadap penyakitpenyakit umum. 3. Menjamin setiap keselamatan setiap orang lain yang berada di tempat kerja. kuratif dan rehabilitatif. Hal ini sejalan dengan paradigma baru dalam kesehatan yang sedang digalakkan pemerintah Indonesia.• Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1439/Menkes/SK/XI/2002 tentang Penggunaan Gas Medis pada Sarana Pelayanan Kesehatan • Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 351/Menkes/SK/III/2003 tentang Komite Kesehatan dan Keselamatan Kerja Sektor Kesehatan • Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1204/Menkes/SK/X/2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit • Peraturan Menteri Kesehatan Nomor1575/Menkes/Per/XI/2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan • Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.(7) Menurut undang-undang kesehatan No. cenderung diartikan sebagai lapangan kesehatan yang mengurusi masalah-masalah kesehatan secara menyeluruh bagi masyarakat pekerja. beban kerja. yang merupakan terjemahan dari occupational health. preventif. khususnya untuk mencapai Indonesia Sehat 2010. higiene. 1 tahun 1970.

untuk kelistrikan. luka bakar.12) Pelaksanaan kesehatan dan keselamata kerja adalah salah satu bentuk upaya untuk menciptakan tempat kerja yang aman. kelengkapan peralatan P3K. Peraturan Menteri Kesehatan RI dan Keputusan Direktur Jenderal PPM & PLP Tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit.1-15 2. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 432/MENKES/SK/IV/2007 Tentang Pedoman Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Rumah Sakit.• Rancang ulang proses dan prosedur kerja • Ganti dengan bahan yang kurang berbahaya • Mengurangi intensitas bahaya • Melindungi dan menyeleksi pekerja terhadap bahaya • Membuat sistem ventilasi untuk membuang atau mengencerkan racun di udara • Menyesuaikan tempat kerja • Mengatur waktu kerja dan istirahat atau rotasi kerja untuk mengurangi pemajanan pekerja. Penataan tempat kerja yang baik dan aman d. 1998. : PER. meliputi latihan. Jakarta: DEPKES RI. bahan dan proses pengolahannya.11. Menteri Kesehatan Republik Indonesia. perizinan untuk penggalian. (13) Adapun beberapa hal strategis yang harus diperhatikan dan dilaksanakan dalam kebijakan keselamatan kerja tersebut. cedera otot dan persendian. Supari S F. h. Departemen Kesehatan RI Direktorat Jenderal PPM & PLP. Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 2007. Syamsudin M S. antara lain :(13. tempat kerja dan lingkungannya serta cara-cara melakukan pekerjaan. DAFTAR PUSTAKA 1. sehat. Departemen Tenaga Kerja R. h : 3 – 5 3. Penggunaan alat pelindung diri c. yaitu perizinan untuk kegiatan yang dapat menimbulkan sumber nyala api. menjamin keselamatan setiap orang lain yang berada di tempat kerja. Perizinan. kasus cedera mata e. memelihara produktivitas dan mempergunakannya secara aman dan efisien. Pencegahan kebakaran f. bebas dari kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang pada akhirnya dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja. Orientasi karyawan. terkilir. dan • Menyediakan pakaian pelindung Tinjauan Umum Tentang Keselamatan Kerja Keselamatan kerja adalah keselamatan yang berkaitan dengan alat kerja. Tujuan dari keselamatan kerja adalah melindungi tenaga kerja atas hak keselamatannya dalam melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan hidup dan meningkatkan produksi serta produktivitas nasional. pada kasus patah tulang.05/MEN/1996 Tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.15) a. Pertolongan pertama pada kecelakaan.(7.I . untuk meningkatkan pengetahuan keselamatan kerja karyawan tersebut b. pertolongan pada kasus luka dan mengatasi perdarahan.

dalam: Pengantar Hukum Ketenagakerjaan Indonesia. 8. DR Wahidin Sudirohusodo. 13-72 11. 1998. Jakarta: CV Haji Masagung. Husni L.nakertrans.id 14. (Online). Tresnaningsih E. Harrington J.1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja.id/regulasi/kepmenkes MENKES-SK-V-2005. 98-108 12. Pedoman Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) RSUP. 3/E. p. (Online).Edisi1. RajaGrafindo Persada. Alamsyah. 1987.Derektorat Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Pengawasan Ketenagakerjaan. Peraturan menteri kesehatan RI dan keputusan direktur jenderal PPM & PLP Tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit. 13. Kesehatan dan keselamatan Kerja Laboratorium Kesehatan. Keselamatan kerja dan pencegahan kecelakaan. 5. Departemen Kesehatan RI Direktorat Jenderal PPM & PLP. 1998. New York: Blackwell Science Limited. in: Pocket Consultant Occupational Health. p.. Zubeidi F & Putri D R. 1992. Rahma AS & Yahya W. Makassar : RSUP.depkes.id 7.S. 2007. 2001. 2007. Available from URL: www. Gambaran Pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja Pada Pekerja Bagian Produksi di PT. 2004. Makassar: Bagian IKM-IKK Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 361/Menkes/SK/IV/2005 Tentang Pedoman Peraturan Internal Staf Medis (Medical Staff Bylaws) Di Rumah Sakit. Jakarta. 2005. h. Laporan Pelaksanaan K3 RSWS 2006 dan Program Kerja K3 RSWS 2007. Makassar: Bagian IKM-IKK Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. 10. 2007. Suma’mur. 2004 Available from URL: www. DR. Available at: http://www. Studi Pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Di RSUP Dr. Aspek-Aspek Hukum Ketenagakerjaan Indonesia. 15. DR Wahidin Sudirohusodo. Jakarta: PT.M&Gill F. Makassar: RSUP. Laporan Pelaksanaan K3 RSWS 2006 dan Program Kerja K3 RSWS 2007.depkes. Wahidin Sudirohusodo Makassar.153-194 4. Buraena S. Buraena S.go. Health Service. Wahidin Sudirohusodo. 65-72 9. Jakarta: DEPKES RI. Makassar. DR Wahidin Sudirohusodo. Buraena S. Berdikari Sari Utama Flour Mills.go. .go. 2005. p.pdf. Undang-Undang Republik Indonesia No. Accessed on 02 August 2007 6. Makassar : RSUP.