P. 1
Pembentukan Akhlakul Karimah Bangsa

Pembentukan Akhlakul Karimah Bangsa

|Views: 169|Likes:

More info:

Published by: Eka Pratama Kurniawan on Dec 25, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/11/2013

pdf

text

original

TUGAS HUMANIORA (AGAMA ISLAM

)
“Pembentukan Akhlakul Karimah Bangsa”

Oleh : Eka Pratama Kurniawan (D14112026) Dosen : Zulkifli, MA

PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS TANJUNGPURA PONTIANAK 2012/2013

PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

Melihat kondisi saat ini, banyak sekali pengaruh budaya luar yang mempengaruhi budaya yang ada di sekitar kita khususnya bangsa ini. Globalisasi dan modernisasi merupakan beberapa penyebab maraknya budayabudaya dari luar masuk dengan mudahnya ke suatu wilayah. Hal tersebut membawa dampak positif maupun negatif, karena tidak semua budaya dari luar dapat disaring dan sesuai dengan budaya suatu wilayah. Salah satu dampak yang terlihat jelas di sekitar kita yaitu perubahan akhlak serta budaya suatu bangsa. Saat ini sering kita lihat anak-anak yang berperilaku/berakhlak buruk baik terhadap dirinya sendiri maupun orang lain. Banyak sekali saat ini kita lihat anak-anak SD yang merokok, remaja yang meminum minuman keras tawuran atau berkelahi antar pelajar, demo yang berujung bentrok dengan aparat, menggunakan narkoba bahkan melakukan seks bebas. Hal ini merupakan masalah yang kompleks dan perlu penanganan yang serius oleh semua pihak. Orang tua, guru, teman serta masyarakat di lingkungan sekitarnya memiliki pengaruh yang besar terhadap akhlak atau perilaku seseorang. Berdasarkan data penelitian kehidupan remaja pada saat ini yaitu mengkonsumsi minuman keras (83,3%), begadang malam (93,3%), berbohong (100%), hubungan seks diluar nikah (40%), mencuri (46,7%), penyalahgunaan narkoba (73,3%), berjudi (33,3%), kumpul kebo (16,7%), melihat gambar porno (23,3%), membunuh (3,3%), dan sejumlah data kerusakan akhlak di berbagai sisi kehidupan (Hasil penelitian Puslitbang Departemen Sosial RI). Jika kita perhatikan, sungguh miris melihat keadaan remaja saat ini. Remaja merupakan penerus bangsa tetapi apabila akhlak mereka saat ini buruk maka bagaimana keadaan bangsa ini kedepannya. Remaja sebagai tonggak perubahan seharusnya dapat berperilaku dan berakhlak baik serta menghasilkan

karya dan prestasi yang membanggakan. Inilah yang diharapkan dengan adanya akhlakul karimah. Berbicara tentang akhlak mulia di era yang serba modern saat ini menjadi sesuatu yang sangat menarik. Akhlak senatiasa menjadi aspek yang sangat fundamental dalam hidup dan kehidupan manusi dalam menjalankan tugastugas kehambaan dan kekhalifahan di muka bumi. Oleh karena itu, Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi terakhir, diutus tidak lain untuk

menyempurnakan atau memperbaiki akhlak manusia agar menjadi insan-insan yang berakhlak mulia. Islam telah memberikan segalanya termasuk panutan yang seharusnya menjadi acuan dalam berakhlak mulia yaitu Nabi Muhammad SAW. “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu uswatun hasanah (suri teladan yang baik) bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” [QS. Al-Ahzaab: 21] Dalam sebuah hadist dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda : “Sesesungguhnya aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”. (HR. Ahmad) Jika seluruh umat muslim memahami dan menjalankan apa yang dijelaskan dalam QS. Al-Ahzaab : 21 dan HR. Ahmad di atas, insyaAllah seluruh umat muslim pasti akan memiliki akhlak yang mulia dan tidak ada lagi kasus-kasus yang membuat luka serta noda bagi umat muslim. Bimbingan dari para tokoh agama sangat perlu untuk membentuk akhlakul karimah dan karakter bangsa. Jika para tokoh agama atau ulama dapat membaca masalah yang dihadapi umat saat ini niscaya hal ini dapat dijadikan solusi setidaknya untuk mengurangi penurunan akhlak umat atau degradasi moral saat ini. Tentunya semua pihak memiliki peranannya masing-masing agar akhlakul karimah bangsa dapat dibentuk.

Dengan akhlak mulia, setiap manusia dapat menjalani hidupnya dengan harmonis, efektif dan bermakna baik bagi dirinya sendiri, orang lain dan di hadapan Allah SWT yang memiliki segala yang ada di muka bumi ini. Dengan akhlak mulia juga akan terwujud kesuksesan pembangunan suatu bangsa sebagai bangsa yang religius. Sebagaimana kita ketahui di dalam pembangunan bidang pendidikan dijelaskan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan juga bertujuan untuk

mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, kreatif, mandiri serta menjadi manusia yang bertanggung jawab. Hal ini memberikan petunjuk bahwa tujuan pendidikan nasional menyangkut aspekaspek yang penting atau substansial. Hal-hal di atas sebenarnya erat kaitannya dengan pembangunan karakter atau akhlak bangsa agar menjadi bangsa yang harmonis, damai dan sejahtera. Tapi pada kenyataannya, kehidupan bangsa yang harmonis, damai dan sejahtera tersebut tampaknya masih jauh dari yang diharapkan. Ini bisa dilihat dari kasus-kasus yang telah dibahas sebelumnya. Hal ini membuktikan bahwa pendidikan bangsa masih belum bisa menjangkau dan mengatasi masalah tersebut.

2. Rumusan Masalah a. b. c. d. Apa yang dimaksud dengan akhlakul karimah ? Apa saja yang termasuk akhlakul karimah ? Mengapa banyak umat muslim yang tidak memilki akhlakul karimah ? Bagaimana solusi untuk mengatasi penurunan akhlak bangsa saat ini ?

ISI

1. Pengertian akhlakul karimah

Secara etimologis, kata akhlak berasal dari bahasa arab alakhlaq yang merupakan bentuk jamak dari kata khuluq yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku, atau tabiat (Hamzah Ya’qub, 1988 : 11). Sinonim dari kata akhlak ini adalah etika dan moral. Sedangkan secara terminologis, akhlak berarti keadaan gerak jiwa yang mendorong ke arah melakukan perbuatan dengan tidak menghajatkan pikiran. Inilah pendapat yang dikemukakan oleh Ibnu Maskawaih. Sedangkan al-Ghazali mendefinisikan akhlak sebagai suatu sifat yang tetap pada jiwa yang daripadanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah, dengan tidak membutuhkan kepada pikiran (Rahmat Djatnika, 1996 : 27). Adapun ilmu akhlak oleh Dr. Ahmad Amin didefinisikan suatu ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh sebagian manusia kepada sebagian lainnya, menyatakan tujuan yang harus dituju oleh manusia dalam perbuatan mereka dan menunjukkan jalan untuk melakukan apa yang harus diperbuat (Hamzah Ya’qub, 1988 : 12). Dari pengertian di atas jelaslah bahwa kajian akhlak adalah tingkah laku manusia atau tepatnya nilai dari tingkah lakunya yang bisa bernilai baik (mulia) atau sebaliknya bernilai buruk (tercela). Akhlakul karimah adalah perilaku manusia yang mulia atau perbuatanperbuatan yang dipandang baik serta sesuai dengan ajaran Islam (syara) yang bersumber dari Al- Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad saw. Akhlak ini disebut akhlak mahmudah atau hasanah, yakni akhlak yang bagus atau yang baik.

2. Macam-macam Akhlakul Karimah

2.1 Akhlak Terhadap Allah A. Qana’ah Qana’ah dalam kacamata ilmu akhlak memiliki arti menerima segala anugerah yang diberikan Allah SWT serta bersabar atas ketentuannya dan tidak meninggalkan usaha dan ikhtiar lahiriyah. Orang mempunyai sifat qana’ah akan memiliki pendirian apa yang diperoleh atau apa yang ada pada dirinya adalah sesuai dengan Qadar ketentuan Allah SWT sebagai firman-Nya. Orang-orang yang bersifat qana’ah ialah mereka yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut : a. Ia menerima anugerah yang diberikan Allah SWT dan sabar atas ketentuan (ujian, cobaan) yang menimpanya. b. Ia meminta tambahan yang layak, berusaha dan tawakal. c. Hatinya tidak tertarik (terpedaya) dengan kekayaan duniawi.

B. Tawakkal Tawakkal dalam bahasa arab atau tawakkul berarti mewakilkan atau menyerahkan. Dalam agama Islam, tawakkal berarti berserah diri sepenuhnya kepada Allah dalam menghadapi atau menunggu hasil suatu pekerjaan, atau menanti akibat dari suatu keadaan. Imam al-Ghazali merumuskan definisi tawakkal sebagai berikut, "Tawakkal ialah menyandarkan kepada Allah swt tatkala menghadapi suatu kepentingan, bersandar kepadaNya dalam waktu kesukaran, teguh hati tatkala ditimpa bencana disertai jiwa yang tenang dan hati yang tenteram. Menurut Abu Zakaria Ansari, tawakkal ialah "keteguhan hati dalam menyerahkan urusan kepada orang lain". Sifat yang demikian itu terjadi sesudah timbul rasa percaya kepada orang yang diserahi urusan tadi. Artinya, ia betul-betul mempunyai sifat amanah (tepercaya) terhadap apa yang diamanatkan dan ia dapat memberikan rasa aman terhadap orang yang memberikan amanat tersebut.

Tawakkal adalah suatu sikap mental seorang yang merupakan hasil dari keyakinannya yang bulat kepada Allah, karena di dalam tauhid ia diajari agar meyakini bahwa hanya Allah yang menciptakan segala-galanya, pengetahuanNya Maha Luas, Dia yang menguasai dan mengatur alam semesta ini. Keyakinan inilah yang mendorongnya untuk menyerahkan segala persoalannya kepada Allah. Hatinya tenang dan tenteram serta tidak ada rasa curiga, karena Allah Maha Tahu dan Maha Bijaksana. Menurut ajaran Islam, tawakkal itu adalah tumpuan terakhir dalam suatu usaha atau perjuangan. Jadi arti tawakkal yang sebenarnya menurut ajaran Islam ialah menyerah diri kepada Allah swt setelah berusaha keras dalam berikhtiar dan bekerja sesuai dengan kemampuan dalam mengikuti sunnah Allah yang Dia tetapkan. Berikut ayat al-Quran yang menjelaskan tentang tawakkal : “Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang

(dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiaptiap sesuatu”. (QS. At-Talaq : 3)

C. Syukur Kata syukur diambil dari kata syakara, syukuran, wa syukuran, dan wa syukuran yang berarti berterima kasih kepada-Nya. Menurut istilah syukur adalah memberikan pujian kepada yang memberi kenikmatan dengan sesuatu yang telah diberikan kepada kita berupa perbuatan ma'ruf, dalam pengertian tunduk dan berserah diri kepada-Nya. Cara bersyukur kepada Allah ada tiga, yaitu : (1) Bersyukur dengan hati (Syukru Qalbiy), yaitu mengakui dan menyadari sepenuhnya bahwa segala nikmat yang diperoleh berasal dari Allah SWT dan tiada seseorang pun selain Allah SWT yang dapat memberikan nikmat itu;

(2) Bersyukur dengan lidah (Syukru Lisan), yaitu mengucapkan secara jelas ungkapan rasa syukur itu dengan kalimah alhamdulillah (segala puji bagi Allah); dan (3) Bersyukur dengan amal perbuatan (Syukru Jawarih), yaitu mengamalkan anggota tubuh untuk hal-hal yang baik dan memanfaatkan nikmat itu sesuai dengan ajaran agama. Yang dimaksud dengan mengamalkan anggota tubuh ialah menggunakan anggota tubuh itu untuk melakukan hal-hal yang positif dan diridai Allah SWT, sebagai perwujudan dari rasa syukur tersebut.

D. Ikhlas Secara bahasa, Ikhlas artinya membersihkan (bersih, jernih, suci dari campuran dan pencemaran, baik berupa materi ataupun immateri). Adapun secara istilah yaitu membersihkan hati supaya menuju kepada Allah semata, dengan kata lain dalam beribadah, hati tidak boleh menuju kepada selain Allah. Dari definisi diatas, ikhlas merupakan kesucian hati dalam beribadah atau beramal untuk menuju kepada Allah. Ikhlas adalah suasana kewajiban yang mencerminkan motivasi bathin kearah beribadah kepada Allah dan kearah membersihkan hati dari kecenderungan untuk melakukan perbuatan yang tidak menuju kepada Allah. Dengan satu pengertian, ikhlas berarti ketulusan niat untuk berbuat hanya karena Allah. Seseorang dikatakan memiliki sifat ikhlas apabila dalam melakukan perbuatan ia selalu didorong oleh niat untuk berbakti kepada Allah dan bentuk perbuatan itu sendiri dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya menurut hukum syariah. Sifat seperti ini senantiasa terwujud baik dalam dimensi fikiran ataupun perbuatan. Imam Al-Ghazali mengatakan: ”Setiap manusia akan binasa kecuali orang yang berilmu, dan orang yang berilmu akan binasa kecuali yang beramal (dengan ilmunya), dan orang yang beramal juga binasa kecuali yang ikhlas (dalam

amalnya). Akan tetapi, orang yang ikhlas juga tetap harus waspada dan berhatihati dalam beramal. E. Taubat Taubat ialah kembali taat kepada Allah s.w.t dan menyesal dengan bersungguh-sungguh terhadap dosa yang telah dilakukan selama ada dosa besar maupun dosa kecil serta memohon ampunan dari Allah. Dalam bahasa Arab dikatakan "tâba ilâ Allâhi yatûbu tauban wa taubatan wa matâban" yang artinya kembali kepada Allah dari berbuat maksiat. Dikatakan dalam bahasa Arab "tâba al-‘abdu" yang artinya kembali kepada Allah dengan bertaubat. Dan, "tâba Allâhu ‘alaihi” yang artinya Allah memberi ampunan kepada hamba-Nya. Allah berfirman dalam surat an-Nûr ayat 31: "Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah." (Q.S. an-Nûr : 31) Maksudnya adalah kembalilah kepada-Nya dengan ketaatan. Dan, di antara asma Allah Yang Mulia adalah At-Tawwâb atau Maha Pengampun. Kata "taub" dan "taubah" mempunyai satu makna, yaitu meninggalkan dosa dengan sebaik-baik cara. Taubat inilah sebaik-baik cara meminta ampun. Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullâh mendefinisikan taubat seraya berkata, "Taubat nasuha adalah menyesal dalam hati, meminta ampun dengan lisan, meninggalkan dengan perilaku dan berniat untuk tidak mengulanginya." F. Husnuzhan kepada Allah Husnuzhan kepada Allah adalah kita memiliki keyakinan yang kuat bahwa Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang senantiasa berbuat dan menentukan yang terbaik untuk kehidupan manusia. Husnuzhan kepada Allah SWT mengandung arti selalu berprasangka baik kepada Allah SWT, karena Allah SWT terhadap hambanya seperti yang hambanya sangkakan kepadanya, kalau seorang hamba berprasangka buruk

kepada Allah SWT maka buruklah prasangka Allah kepada orang tersebut, jika baik prasangka hamban kepadanya maka baik pulalah prasangka Allah kepada orang tersebut. Rasulullah SAW bersabda : Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Nabi saw. bersabda : “Allah Ta’ala berfirman : “Aku menurut sangkaan hambaKu kepadaKu, dan Aku bersamanya apabila ia ingat kepadaKu. Jika ia ingat kepadaKu dalam dirinya maka Aku mengingatnya dalam diriKu. Jika ia ingat kepadaKu dalam kelompok orang-orang yang lebih baik dari kelompok mereka. Jika ia mendekat kepadaKu sejengkal maka Aku mendekat kepadanya sehasta. jika ia mendekat kepadaKu sehasta maka Aku mendekat kepadanya sedepak. Jika ia datang kepadaKu dengan berjalan maka Aku datang kepadanya dengan berlari-lari kecil“. (HR. Bukhari).

2.2 Akhlak Terhadap Diri Sendiri

A. Istiqomah Kata Istiqomah secara bahasa berarti tegak dan lurus. Secara istilah Istiqomah adalah menetapi jalan agama Allah. Menurut sebagian ulama, istiqomah selalu melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, menetapi keimanan dan keyakinan terhadap ajaran dan nilai-nilai Islam. Orang yang berlaku istiqomah disebut juga orang yang mempunyai resiko yang tidak kecil seperti mendapat celaan. Dalam hal ini orang yang istiqomah tidak pernah ragu, walalupun ia menghadapi kesulitan dalam perjuangannya. Seorang Muslim, kapanpun dan di manapun, dituntut untuk beristiqamah dalam mencari ilmu sebagai landasan perkataan dan perbuatan kita. Artinya, orang yang istiqamah tidak akan melakukan dan melepas suatu ucapan seleum diketahui sumber ilmu guna menegaskan kebenaran dari perbuatan dan ucapannya.

B. Shiddiq Shiddiq artinya benar. Bukan hanya perkataannya yang benar, tapi juga perbuatannya juga benar, sejalan dengan ucapannya. Sifat shiddiq atau jujur sangatlah diperlukan dalam segala aspek kehidupan agar kita semua merasa tenang dan tidak ada yang merasa disakiti.

C. Amanah Amanah artinya benar-benar bisa dipercaya. Jika satu urusan diserahkan kepadanya, niscaya orang percaya bahwa urusan itu akan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Amanah menurut pengertian terminologi (istilah) terdapat beberapa pendapat, diantaranya menurut Ahmad Musthafa Al-Maraghi, Amanah adalah sesuatu yang harus dipelihara dan dijaga agar sampai kepada yang berhak memilikinya. Amanah manusia terhadap dirinya sendiri, yaitu berbuat sesuatu yang terbaik dan bermanfaat bagi dirinya baik dalam urusan agama maupun dunia, tidak pernah melakukan yang membahayakan dirinya di dunia dan akhirat.

D. Sabar Sabar berasal dari kata “sobaro-yasbiru” yang artinya menahan. Dan menurut istilah, sabar adalah menahan diri dari kesusahan dan menyikapinya sesuai syariah dan akal, menjaga lisan dari celaan, dan menahan anggota badan dari berbuat dosa dan sebagainya. Sabar artinya tahan uji, tahan menderita, menerima apa yang diberikan Allah baik yang berupa nikmat maupun berupa penderitaan. Orang yang sabar adalah orang yang memiliki keteguhan dan ketabahan hati dalam usaha mencapai cita-cita. Pantang menyerah terhadap segala rintangan yang menghadangnya dan selalu sabar bahwa setiap cita-cita luhur memerlukan kesabaran (ketabahan). Sabar bukan berarti menyerah ketika mengalami kegagalan tanpa usaha yang maksimal. Akan tetapi ulet dan tahan banting di dalam menghadapi segala rintangan.

E. Ikhtiar Ikhtiar adalah usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan dalam hidupnya, baik material, spiritual, kesehatan, dan masa depannya agar tujuan hidupnya selamat sejahtera dunia dan akhirat terpenuhi. Ikhtiar juga dilakukan dengan sungguh-sungguh, sepenuh hati, dan semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan dan keterampilannya.

2.3 Akhlak Terhadap Orang Lain

A. Tasammuh Dalam bahasa Indonesia, kata tasammuh dapat diartikan dengan tenggang rasa, lapang dada atau toleransi yaitu sabar menghadapi keyakinan-keyakinan orang lain, pendapat-pendapat mereka dan amal-amal mereka walaupun bertentangan dengan keyakinan dan batil menurut pandangan, dan tidak boleh menyerang dan mencela dengan celaan yang membuat orang tersebut sakit dan tersiksa perasaannya. Oleh karena itu orang yang bersifat tasammuh berarti memiliki kelapangan dada, menghormati orang yang berpendapat atau berpendirian lain, tidak mau mengganggu kebebasan berfikir dan orang berkeyakinan lain. B. Ta’awun Ta’awun artinya sikap tolong menolong, bantu-membantu, dan bahumembahu antara satu dengan yang lain. Ta’awun juga dapat diartikan sebagai sikap kebersamaan dan rasa saling memiliki dan saling membutuhkan antara satu dengan yang lainnya, sehingga dapat mewujudkan suatu pergaulan yang harmonis dan rukun. " Dan tolong-menolonglah kamu dalam hal mengerjakan kebaikan dan takwa, dan janganlah kamu tolong-menolong dalam hal perbuatan dosa dan permusuhan." (QS. Al Maidah: 2)

Hikmah Sikap Taawun:  Dapat memiliki banyak teman dan saudara.  Dapat menjalin kebersamaan dan kekeluargaan  Mendapat pahala dari Allah.  Tercipta kehidupan yang harmonis didalam masyarakat.

C. Silaturrahim Silaturahim atau yang lebih dikenal dalam bahasa Arab yaitu Silat berarti menyambungkan yang putus atau menyatukan yang berserakan, sedangkan rahim yaitu kasih sayang atau kerabat dekat. Jadi silaturahim dapat diartikan sebagai upaya menjaga dan menyambung hubungan kasih sayang serta hubungan kekerabatan. Sebagaimana firman Allah dalam surat An Nisa ayat 1 yang artinya : ”Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”.

PENUTUP

3. Kesimpulan

Akhlakul Karimah adalah perilaku manusia yang mulia atau perbuatanperbuatan yang dipandang baik serta sesuai dengan ajaran Islam (syara) yang bersumber dari Al- Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad saw. Adapun akhlakul karimah dapat dibagi menjadi 3, yaitu akhlak terhadap Allah, akhlak terhadap diri sendiri dan akhlak terhadap orang lain. Akhlak terhadap Allah : 1. Qana’ah yaitu menerima segala pemberian Allah SWT. 2. Tawakkal yaitu berserah diri sepenuhnya kepada Allah SWT. 3. Syukur yaitu berterima kasih kepada Allah SWT. 4. Ikhlas yaitu melaksanakan sesuatu perbuatan yang baik hanya karena Allah SWT. 5. Taubat yaitu kembali kepada Allah SWT dengan ketaatan. 6. Husnuzhan kepada Allah yaitu berprasangka baik kepada Allah SWT.

Akhlak terhadap diri sendiri : 1. Istiqomah yaitu menetapi jalan agama Allah. 2. Shiddiq yaitu jujur atau benar. 3. Amanah yaitu benar-benar bisa dipercaya. 4. Sabar yaitu menahan diri dari kesusahan maupun kesenangan. 5. Ikhtiar yaitu berusaha atau kerja keras untuk mencapai tujuan.

Akhlak terhadap orang lain :

1. Tasammuh yaitu memiliki sifat tenggang rasa, lapang dada, dan memiliki
sifat toleransi. 2. Ta’awun yaitu mau tolong-menolong dalam hal kebaikan. 3. Silaturrahim yaitu menyambung tali persaudaraan dengan rasa kasih sayang.

Melihat kondisi umat Islam saat ini, banyaknya kasus yang terjadi di dalam kehidupan masyarakat seperti maraknya korupsi yang dilakukan pemimpin Islam, tawuran antar pelajar, kasus pembunuhan yang dilakukan umat muslim, para pelajar yang mencontek saat ujian, para remaja yang melakukan seks bebas dan menggunakan narkoba dan lain sebagainya membuat kita semua miris dan prihatin. Kasus-kasus tersebut disebabkan karena umat muslim sendiri kurang begitu paham dan tidak melaksanakan apa yang telah Islam ajarkan. Jika semua umat muslim memahami dan melaksanakan perintah Allah dan Rasul niscaya kasus-kasus tersebut dapat berkurang. Kurangnya perhatian dari orang tua selaku pelaku pendidikan pertama terhadap anak khususnya remaja menjadi satu hal yang penting karena disinilah akhlak seorang anak dapat dibentuk. Selanjutnya peran serta masyarakat dan lingkungan juga sangat berpengaruh terhadap tingkah laku dan kepribadian seseorang. Dan yang tak kalah pentingnya yaitu program pemerintah dalam menanggulangi masalah-masalah tersebut. Pemerintah harus memiliki terobosan agar masalah tersebut dapat dikurangi dan diselesaikan. Pendidikan agama yang kurang merupakan masalah utama seseorang berprilaku buruk. Padahal agama mengajarkan kita tentang kehidupan yang harmonis, tentram dan damai.

4. Rekomendasi (Saran) : 1. Perlu adanya peningkatan penanaman nilai-nilai pendidikan agama Islam agar umat muslim dapat memahami secara menyeluruh tentang tuntunan kehidupan yang telah diajarkan Rasulullah SAW. 2. Perlu adanya pengawasan dari orang tua, guru serta orang-orang terdekat agar saling mengingatkan satu sama lain jika terjadi hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT dan Rasul-Nya. 3. Pemerintah harus memilki andil yang besar terutama dalam membuat program kebijakan pendidikan yang sehat dan tidak hanya mengejar nilai untuk proses pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA

Faisal Ismail. 1988. Paradigma Kebudayaan Islam. Yogyakarta : Titihan Ilahi Press. Izutsu, Toshihiko. 1993. Konsep-konsep Etika Religius dalam Qur’an. Terj. oleh Agus Fahri Husein dkk. Yogyakarta : Tiawa Wacana.

Majid Fakhry. 1996. Etika dalam Islam. Terj. oleh Zakiyuddin Baidhawi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Yunahar Ilyas. 2004. Kuliah Akhlaq. Yogyakarta : LPPI UMY. Cet.IV.

Muslim Nurdin. 1995. Moral & Kognisi Islam. Bandung : Alfabeta.

Rachmat Djatnika. 1996. Sistem Etika Islami (Akhlak Mulia). Jakarta : Pustaka Panjimas.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->