I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sumberdaya alam merupakan faktor yang sangat menentukan bagi kehidupan manusia.

Hal ini dikarenakan dalam kehidupannya, manusia tidak dapat hidup tanpa adanya sumberdaya alam. Ketergantungan manusia akan sumberdaya alam tersebut berpengaruh terhadap pola pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya alam yang ada. Di Indonesia, sebagai negara sedang berkembang peningkatan jumlah penduduk yang terus terjadi mengakibatkan semakin meningkatnya jumlah permintaan akan pemenuhan kebutuhan hidup dari sumberdaya alam, sehingga berkorelasi terhadap semakin eksploitatifnya pemanfaatan sumberdaya alam yang ada. Hal ini nyata dari adanya peningkatan jumlah permintaan pasokan akan sumberdaya alam mineral bagi pemenuhan kebutuhan manusia dalam jumlah yang besar, namun seringkali tidak dapat terpenuhi karena terbatasnya persediaan sumberdaya alam mineral yang ada. Sehingga untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan adanya pengelolaan dan pemanfaatan yang baik terhadap sumberdaya alam mineral. Pengelolaan dan pemanfaatan yang baik terhadap sumberdaya alam mineral menjadi faktor penentu keberlanjutan dari lingkungan hidup dan aktivitas kehidupan manusia ke depannya. Di Indonesia, pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya alam sangat tergantung pada kebijakan pemerintahan pada masanya. Pada era desentralisasi saat ini, pemberian wewenang dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah dalam pengelolaan sumberdaya alam memberikan dampak yang sangat berbeda dibandingkan di era sentralisasi. Pemerintah daerah yang memiliki kekuasaan untuk memanfaatkan segala potensi sumberdaya alam di daerahnya, dapat mengalihkan haknya dengan memberikan izin kepada pihak

swasta atau industri yang bergerak di bidang pertambangan untuk mengelola dan memanfaatkan sumberdaya alam mineral. Menurut Smelter sebagaimana dikutip Budimanta (2007) selama ini kegiatan pembangunan dan pembuatan kebijakan harus berasal dari pusat (sentralistik), akan tetapi dengan adanya otonomi daerah, pemerintah daerah sejak era reformasi diberikan ruang untuk mengelola sumberdaya alam secara otonom. 2 Kondisi ini oleh pemerintah daerah dimanfaatkan untuk mengeluarkan kebijakan mengenai pertambangan daerah, sedangkan di tingkat kota dimanfaatkan untuk mengembangkan industri barang mineral. Pengelolaan sumberdaya mineral oleh industri pertambangan dilakukan karena dipandang dapat memberikan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang lebih tinggi sehingga dapat meningkatkan perekonomian dan pembangunan Negara, serta terciptanya lapangan pekerjaan bagi masyarakat lokal maupun masyarakat di luar lokasi penambangan. Selain itu, karena pihak industri sebagai pihak yang memiliki modal berupa teknologi yang tinggi diharapkan mampu mengelola sumberdaya mineral secara baik dan efisien. Namun pada pelaksanaannya, pengelolaan sumberdaya mineral oleh industri tidak selamanya berjalan seperti apa yang diharapkan. Hal ini dikarenakan aktivitas pertambangan tersebut merupakan aktivitas pengerukan terhadap sumberdaya alam yang terkandung di tempat terbuka maupun bawah tanah, sedangkan pemanfaatan dengan penggunaan teknologinya seringkali berlebihan dalam mengeruk sumberdaya mineral yang ada sehingga pengelolaan sumberdaya alam tambang oleh industri pertambangan memberikan dampak terhadap perubahan ekosistem lokal. Perubahan pada ekosistem lokal meliputi perubahan pada tataran sosial, ekonomi maupun lingkungan. Perubahan yang terjadi pada tataran sosial ekonomi diantaranya terjadinya perubahan sistem mata pencaharian masyarakat lokal yang awalnya bergerak di sektor pertanian sebagai sektor utama masyarakat, berubah

menjadi masyarakat non pertanian seperti buruh pabrik, pedagang maupun kegiatan non pertanian lainnya. Hal ini disebabkan menurunnya produktivitas lahan akibat rusaknya lahan pertanian yang ada dan berdampak terhadap penurunan pendapatan masyarakat. Sementara itu pada tataran lingkungan, terjadinya kerusakan ekologi seperti pencemaran air dan udara akibat limbah industri, serta kekeringan air yang kemudian berimplikasi pada penurunan produktivitas lahan pertanian. Menurut Noor (2006) lubang-lubang bekas penambangan serta pembukaan lapisan tanah yang subur pada saat penambangan dapat mengakibatkan daerah yang semula subur menjadi daerah yang tandus dan akan memerlukan waktu yang sangat lama untuk kembali ke dalam kondisi semula. Polusi dan degradasi 3 lingkungan akan terjadi pada semua tahap dalam aktivitas pertambangan, mulai dari tahap prosesing mineral serta semua aktivitas yang menyertainya dalam seluruh tahap tersebut seperti penggunaan peralatan survei, bahan peledak, alatalat berat, limbah mineral padat yang tidak dibutuhkan. Pada dasarnya kegiatan suatu industri adalah mengolah masukan (input) menjadi keluaran (output). Pengamatan terhadap sumber pencemar sektor industri dapat dilaksanakan pada masukan, proses maupun pada keluarannya dengan melihat spesifikasi dan jenis limbah yang diproduksi. Pencemaran yang ditimbulkan oleh industri diakibatkan adanya limbah yang keluar dari pabrikpabrik dan mengandung Bahan Beracun dan Berbahaya (B-3). Bahan pencemar keluar bersama-sama dengan bahan buangan (limbah) melalui media udara, air dan tanah yang merupakan komponen ekosistem alam. Bahkan buangan yang keluar dari pabrik dan masuk ke lingkungan dapat diidentifikasikan sebagai sumber pencemaran, dan sebagai sumber pencemaran perlu diketahui jenis bahan pencemar yang dikeluarkan, kuantitas dan jangkauan pemaparannya (Kristanto, 2004). Proses dalam menghasilkan produk sumberdaya mineral mempunyai

Di satu sisi untuk menutup suatu tambang atau industri pertambangan yang menghasilkan mineral-mineral yang dibutuhkan oleh manusia adalah sesuatu hal yang tidak bijaksana.konstribusi yang besar terhadap pencemaran lingkungan dan hal ini telah dikritisi oleh para pemerhati lingkungan. Desa Cipinang sebagai salah satu desa bagian Kecamatan Rumpin Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat. Banyaknya jumlah industri pertambangan mengakibatkan semakin tingginya aktivitas blasting sehingga menyebabkan perubahan struktur sosial ekonomi dan ekologi. dampak yang ditimbulkan akibat pertumbuhan industri pertambangan harus disikapi dengan cara mencegah agar dampak yang ditimbulkannya dapat diminimalkan (Noor. 32 Tahun 2004 dimana pemerintah pusat menyerahkan wewenang kepada pemerintah daerah untuk memanfaatkan segala potensi atas sumberdaya alam yang ada di daerahnya masing-masing. Salah satunya adalah dengan mengalihkan hak izin pengelolaan sumberdaya alam tambang kepada badan usaha. 2006). Berbagai perubahan yang terjadi 4 pada aspek sosio-ekonomi dan ekologi tersebut merupakan dampak aktivitas pertambangan yang penting untuk dilakukan pengkajian. merupakan salah satu daerah yang memiliki potensi sumberdaya alam tambang jenis bahan galian golongan C dengan tekstur tanah pertanian. Di sisi lain. Adanya pengalihan hak atas izin usaha tambang ini menjadikan badan usaha . Kebijakan yang timbul dari adanya era desentralisasi ini memberikan kesempatan bagi pemerintah daerah untuk meningkatkan PAD melalui pemanfaatan atas segala potensi sumberdaya alam yang ada. Adanya aktivitas pertambangan di daerah tersebut mengakibatkan perubahan struktur sosial yang pada awalnya bergerak di sektor pertanian menjadi non pertanian. 1.2 Rumusan Masalah Era otonomi daerah. yang mengacu pada UU No.

ekonomi dan 5 ekologi yang ada mendorong terjadinya perubahan kualitas hidup masyarakat lokal dan ketidakadilan pada kualitas lingkungan hidup. Hal ini dikarenakan masyarakat lokal merupakan pihak yang tidak memiliki kuasa dan tidak memiliki akses atas sumberdaya alam. Dominasi ini pada akhirnya dapat menimbulkan marjinalisasi bagi kaum minoritas terutama dalam hal akses atas sumberdaya alam dan ketidaksetaraan posisi atau status atas kepemilikan lahan yang terdapat di sekitar wilayah pertambangan. sebagaimana penelitian Antoro (2010) di Kabupaten Kulon Progo Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sebagai daerah yang potensial dengan penambangan pasir. maka rumusan masalah yang akan dikaji dalam bentuk pertanyaan penelitian adalah: 1. Berdasarkan paparan mengenai aktivitas pertambangan di atas. Bagaimana dampak aktivitas pertambangan pada aspek sosio-ekonomi terhadap masyarakat lokal? 2. Fakta dari beberapa penelitian yang telah dilakukan di beberapa daerah di Indonesia. sama halnya dengan penelitian Qomariah (2002) di Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan menyatakan bahwa mayoritas posisi marjinal di sekitar wilayah pertambangan ditempati oleh masyarakat lokal. sehingga dapat leluasa untuk mengelola dan memanfaatkan sumberdaya alam tambang yang ada. Badan usaha menjadi pihak yang mendominasi atas pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam tambang. Dampak negatif yang ditimbulkan pun tidak hanya terjadi pada tataran sosial dan ekonomi saja melainkan juga pada tataran ekologi. Bagaimana dampak aktivitas pertambangan pada aspek sosio-ekologi terhadap masyarakat lokal? . Sehingga perubahan sosial.sebagai pihak yang memiliki kuasa. masyarakat lokal sebagai pihak termarjinalkan menjadi pihak penerima berbagai dampak negatif yang ditimbulkan oleh adanya aktivitas pertambangan. Selain itu.

Bagi kalangan akademik.1 Tinjauan Pustaka 2.6 BAB II PENDEKATAN TEORITIS 2. penelitian ini diharapkan dapat menjadi proses pembelajaran dalam memahami fenomena kerusakan lingkungan akibat aktivitas pertambangan dan mempelajari kondisi masyarakat sekitar pertambangan. untuk menambah literatur dalam mengkaji masalah perubahan sosio-ekonomi dan sosio-ekologi di pedesaan akibat adanya aktivitas pertambangan bahan galian golongan C. 2. 5. sebagai acuan dalam melakukan kebijakan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam tambang bahan galian golongan C. Bagi masyarakat. 1.1 Pengertian Ekologi Ekologi didefinisikan sebagai ilmu tentang hubungan timbal-balik antara . 2. Menjelaskan dampak aktivitas pertambangan pada aspek sosio-ekologi terhadap masyarakat lokal.3 Tujuan Penelitian Berdasarkan pemaparan rumusan masalah di atas. Bagi penulis. terutama masyarakat lokal di sekitar wilayah pertambangan untuk menambah pengetahuan mengenai situasi dan kondisi sosio-ekonomi dan sosio-ekologi. sebagai acuan dalam mengelola dan memanfaatkan sumberdaya alam tambang yang berkelanjutan. Menjelaskan dampak aktivitas pertambangan pada aspek sosio-ekonomi terhadap masyarakat lokal. maka tujuan penulisan ini adalah untuk: 1.4 Kegunaan Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi beberapa pihak.1. 3. 4. diantaranya: 1. Bagi perusahaan.1. Bagi pemerintah.

Ekosistem terbentuk oleh komponen hidup (biotic) dan tak hidup (abiotic) di suatu tempat yang berinteraksi membentuk suatu kesatuan yang teratur. 2004). Keseimbangan ini bukan statis melainkan dinamis. karena berubah-ubah. sehingga terbentuk suatu jaring-jaring sistem kehidupan pada berbagai tingkatan organisasi. semua komponen bekerja secara teratur sebagai suatu kesatuan. hewan. seorang ahli biologi.1. proses untuk mendapatkan mineral-mineral yang ekonomis . sehingga secara harfiah ekologi berarti ilmu tentang rumahtangga makhluk hidup (Kristanto. 2. Perubahan ini dapat besar atau kecil. Keteraturan terjadi disebabkan oleh adanya arus materi dan energi yang terkendalikan oleh arus informasi antara komponen dalam ekosistem itu. dan logos yang berarti ilmu. Istilah ekologi pertama kali diperkenalkan oleh Haeckel. Dalam sistem ini. Di dalam ekosistem. Ekologi berasal dari bahasa yunani yaitu oikos yang berarti rumah tangga.makhluk hidup dengan lingkungannya. Ekosistem ialah suatu ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya. tumbuhan. Dalam 7 industri mineral. pada pertengahan dasawarsa 1860-an. Menurut Silalahi (2001) hal yang paling penting dari ekologi ialah konsep ekosistem. dilakukan baik oleh manusia maupun secara alami. Ketentuan ekosistem menunjukkan adanya suatu keseimbangan tertentu dari ekosistem. dan mikro organisme saling berinteraksi melakukan transaksi materi dan energi membentuk satu kesatuan sistem kehidupan. Sama halnya dengan Adiwibowo (2007) yang menyatakan bahwa dalam ekologi dipelajari bagaimana makhluk hidup berinteraksi timbal balik dengan lingkungan hidupnya baik yang bersifat hidup (biotic) maupun tak hidup (abiotic) sedemikian rupa.2 Pengertian Pertambangan Industri pertambangan adalah suatu industri dimana bahan galian mineral diproses dan dipisahkan dari material pengikut yang tidak diperlukan.

Salim (2007) menyatakan bahwa usaha pertambangan terdiri atas usaha penyelidikan umum. kegiatan penambangan terdiri atas dua macam yaitu kegiatan penambangan yang dilakukan oleh badan usaha yang .biasanya menggunakan metode ekstraksi. Usaha pengangkutan adalah segala usaha pemindahan bahan galian dan hasil pengolahan serta pemurnian bahan galian dari daerah eksplorasi atau tempat pengolahan/pemurnian. 2006). 5. yaitu proses pemisahan mineral-mineral dari batuan terhadap mineral pengikut yang tidak diperlukan. segala sesuatu dengan maksud untuk membuat peta geologi umum atau untuk menetapkan tandatanda adanya bahan galian pada umumnya. pengolahan dan penjualan. 3. di daratan perairan dan dari udara. 4. eksplorasi. Usaha eksploitasi adalah usaha pertambangan dengan maksud untuk menghasilkan bahan galian dan memanfaatkannya. eksploitasi. Usaha pengolahan dan pemurnian adalah pengerjaan untuk mempertinggi mutu bahan galian serta untuk memanfaatkan dan memperoleh unsur-unsur yang terdapat pada bahan galian. 6. Penyelidikan umum merupakan usaha untuk menyelidiki secara geologi umum atau fisika. Berdasarkan jenis pengelolaannya. 1. Mineral-mineral yang tidak diperlukan akan menjadi limbah industri pertambangan dan mempunyai kontribusi yang cukup signifikan pada pencemaran dan degradasi lingkungan. Usaha penjualan adalah segala sesuatu usaha penjualan bahan galian dan hasil pengolahan/pemurnian bahan galian. Usaha eksplorasi adalah segala penyelidikan geologi pertambangan untuk menetapkan lebih teliti/seksama adanya sifat letakan bahan galian. 2. Industri pertambangan sebagai industri hulu yang menghasilkan sumberdaya mineral dan merupakan sumber bahan baku bagi industri hilir yang diperlukan oleh umat manusia di dunia (Noor.

sebagaimana terlihat pada Tabel 1 di bawah ini. Kegiatan eksploitasi oleh industri pertambangan terus dilakukan demi pengejaran pembangunan melalui penghasilan devisa negara. segala bentuk kegiatan industri pada sektor pertambangan diharapkan mampu menyumbang pada peningkatan ekonomi dan pembangunan negara.ditunjuk secara langsung oleh negara melalui Kuasa Pertambangan (KP) maupun Kontrak Karya (KK). Hal ini dilakukan seiring dengan meningkatnya jumlah permintaan akan sumberdaya alam mineral akibat meningkatnya jumlah penduduk dari tahun ke tahun. Kegiatan penambangan oleh badan usaha biasanya dilakukan dengan menggunakan teknologi yang lebih canggih sehingga hasil yang diharapkan lebih 8 banyak dengan alokasi waktu yang lebih efisien. dan penambangan yang dilakukan oleh rakyat secara manual. Jumlah Produksi Barang Tambang (Ton) menurut Jenis Tambang dari Tahun 1996-2008 di Indonesia. Tabel 1. Di Indonesia. Tahun Batu Bara (ton) Bauksit (ton) Nikel (ton) Emas (ton) Perak (ton) Granit (ton) . sedangkan penambangan rakyat merupakan aktivitas penambangan dengan menggunakan alat-alat sederhana.

237.302.322 6.862 383.855 255. perizinan pengelolaan sumberdaya alam tambang saat ini berada di bawah wewenang pemerintah daerah.116.1.047 841.058 425.662.239 1.827.993 4.525.635 2005 149.101 1997 55.051 2.430 5.976.434 190.903 3.539. .332.941. 2.108.000 445.883 138.323 2.894 326.370 420.331.896 142. Perizinan usaha pertambangan ini meliputi pelimpahan Kuasa Pertambangan dan Kontrak Karya (KK).191 9.648 2002 105.776 2.954 2007 188.Bijih Besi (ton) 1996 50.928 249. 32 Tahun 2009).377 8.150.728 138.705 2.946 2003 113.654 84.936 86.585 109.418 2001 71. Dengan adanya otonomi daerah.849 87.790.640 123.525.519 2.932 Sumber: Data Badan Pusat Statistika.040 79.072.040 808.528 333.612 310.301 1.479.749 2.514.120.050 3.978 1999 62.105.246 281.035.449 127.657 2.233 1.675 1.957 86.982. berdasarkan potensi sumberdaya mineral yang ada di Indonesia.441.630 3.152.473.504.262.720.571.434.899 3.940 2006 162.976 3.582 140.869.867 83.068 1 251 147 7 112 870 117 854 268 967 1 793 440 84 371 2008 178 930 188 1.649 509.561 3.624 4.764 64. 20099 Tabel 1 menjelaskan jumlah produksi tambang dari tahun ke tahun.813 1.499.663.426.475 272.485 2.564 255.665.829.105.825 148.155 502.915 245. Peningkatan jumlah penduduk berimplikasi terhadap peningkatan jumlah permintaan sumberdaya mineral.006 2.117.911 2004 128.768 361.707 1.798.055.403 1998 58.647 2.975.390 226.404 4.736.294.660 1.088 516.053 4.992 270.824.938.961 1.3 Kebijakan Perizinan Usaha Pertambangan Izin usaha dan atau kegiatan adalah izin yang diterbitkan oleh instansi teknis untuk melakukan izin usaha dan atau kegiatan (UU No.198 2000 67.274 440. Hal ini mendorong semakin dilakukannya eksploitasi sumberdaya alam tambang yang ada.283.050.392 8.

Kuasa pertambangan merupakan kuasa yang diberikan oleh pemerintah sebagai pihak yang berwenang kepada pihak-pihak yang akan melakukan usaha penambangan. 5. Kuasa pertambangan ini juga meliputi kuasa pertambangan dalam penyelidikan umum. 8. Ketentuan mengenai Kuasa Pertambangan dan Kontrak Karya ini di atur dalam Undang-Undang Pokok Pertambangan Nomor 11 Tahun 1967. perjanjian karya pengusahaan pertambangan. Perusahaan dengan modal bersama antara negara dan daerah. Instansi pemerintah yang di tunjuk oleh menteri. 10 pengolahan/pemurnian dan pengangkutan atau penjualan. 6. Sedangkan kontrak karya adalah perjanjian yang berisi kesepakatan bersama antara pemerintah dengan pihak usaha penambangan. dan kontrak production sharing. eksploitasi. dan Menteri. 3. Perusahaan daerah. dalam jangka waktu yang telah ditentukan. Koperasi. eksplorasi. Menurut Salim (2007) perusahaan tambang yang diberikan izin untuk mengusahakan bahan tambang terdiri dari: 1. 4. Menurut Salim (2007) setiap perusahaan pertambangan yang ingin . Badan atau perseorangan swasta. Pemerintah yang berwenang dalam penerbitan kuasa pertambangan ini adalah Bupati/Walikota. kedudukan pemerintah adalah memberikan izin kepada kontraktor yang bersangkutan. Gubernur. Izin yang diberikan oleh pemerintah berupa kuasa pertambangan. kontrak karya. Pertambangan rakyat. 7. Perusahaan dengan modal bersama antara negara dan atau daerah dengan koperasi dan atau badan/ perorangan swasta.Salim (2007) menyatakan bahwa apabila usaha pertambangan dilaksanakan oleh kontraktor. 2. Perusahaan negara.

tetapi apabila wilayah pertambangan yang di mohon berada dalam dua kebupaten/kota. maupun golongan C. 2. Apabila wilayah kontrak karya yang di mohon berada dalam wilayah kebupaten. pejabat yang berwenang menandatangani adalah Menteri Energi Sumber Daya Mineral dengan pemohon. golongan B. Menurut Ngadiran et al (2002) izin usaha pertambangan meliputi izin untuk memanfaatkan bahan galian tambang yang bersifat ekstraktif seperti bahan galian tambang golongan A. Gubernur dan Menteri Energi Sumber Daya Mineral. harus mengajukan permohonan kontrak karya dalam rangka penanaman modal asing (PMA)/PMDN kepada pejabat yang berwenang. 2006).1. Sementara itu. Jangka waktu berlakunya kontrak karya tergantung kepada jenis kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan pertambangan. Ada banyak jenis sumberdaya alam bahan tambang yang terdapat di bumi indonesia. pejabat yang berwenang untuk menandatangani kontrak karya itu adalah Gubernur. sedangkan kedua kabupaten/kota itu tidak menandatangani kerja sama. Penandatanganan kontrak karya oleh pejabat ini disesuaikan dengan kewenangannya. jangka waktu berlakunya kegiatan eksploitasi adalah tiga puluh tahun. yaitu: (1) bahan . Adapun jenis dan manfaat sumberdaya mineral bagi kehidupan manusia modern semakin tinggi dan semakin meningkat sesuai dengan tingkat kemakmuran dan kesejahteraan suatu negara (Noor. Pejabat berwenang menandatangi kontrak karya adalah Bupati/Walikota.4 Penggolongan Sumberdaya Alam Tambang Sumberdaya mineral adalah sumberdaya yang diperoleh dari hasil ekstraksi batuan-batuan yang ada di bumi. apabila wilayah pertambangan yang di mohon berada pada dua daerah provinsi. pejabat yang menandatangi kontrak karya itu adalah Bupati/walikota. Dari sekian 11 jenis bahan tambang yang ada itu di bagi menjadi tiga golongan. 2007). Jangka waktu itu juga dapat diperpanjang (Salim.memperoleh kontrak karya.

batu bara. dan (3) bahan galian golongan C. emas. Bahan ini merupakan bahan tambang yang tersebar di berbagai daerah yang ada di Indonesia. plastik. dan zirkom). wolfram.galian strategis golongan A. Berdasarkan tipe bahan galian. brom. dan batu kerikil. uranium. (2) bahan galian vital golongan B. Hal ini sebagaimana terjadi di daerah Bangka. Hal ini juga menimbulkan terhadap semakin meningkatnya jumlah Tambang Inkonvensional (TI) di daerah Bangka. timbal. khrom. berrilium. tanah uruk. aklor. bauksit. kristal. (2) Bahan Galian Strategis. kreolin. intan. dan bahan-bahan logam langka lainnya (antara lain barit. thorium. terdiri atas. dimana sebelum adanya otonomi daerah timah dijadikan sebagai komoditas vital yang pengelolaannya dilakukan oleh negara. kriolit. kwarsa. batu bara tua. terdiri atas: minyak bumi. rhutenium. gas alam. BUMN. arsin. perak. besi. koundum. dan bahan-bahan galian radio aktif lainnya (antara lain kobalt. pengelolaannya tidak lagi dilakukan oleh negara sehingga semua pihak seperti swasta. batu bara muda. yang menjadikan timah sebagai komoditas strategis. fluorspar. Adanya kebijakan pemerintah yang mengeluarkan peraturan dengan merubah status komoditas tambang berdasarkan penggolongannya. aspal. yaitu: (1) Bahan Galian Vital. mangan. vanadium. radium. cerium. yodium. bismut. antimon. nikel dan timah). Penggolongan jenis mineral yang terdiri atas bahan . tembaga. bitumen padat. dapat memicu terhadap semakin bebasnya akses bagi setiap orang untuk mengeksploitasi sumberdaya alam tambang yang ada. dan (3) Bahan Galian Industri. belerang. maupun masyarakat dapat leluasa untuk melakukan eksploitasi terhadap timah yang ada. antrasit. bitumen cair. bitumen. pasir. lilin bumi. sumberdaya mineral dapat digolongkan menjadi tiga golongan. titan/titanium. Namun setelah adanya Surat Keputusan (SK) Menteri Perindustrian dan Perdagangan (Menperindag) Nomor 146/MPP/4/1999 mengenai otonomi daerah. seng. terdiri atas: air raksa.

Hal ini sebagaimana terlihat pada Tabel 2 di bawah ini. dll Perhiasan. dll Energi listrik. dll Energi nuklir. industri. sedangkan bahan galian industri merupakan bahan galian golongan C. dan golongan C. Penggolongan Sumberdaya Mineral Berdasarkan Jenis Mineral Bahan Galian Jenis Mineral Kegunaan Vital Uranium (U) Thorium (Th) Minyak/Gas Bumi Emas (Au) Perak (Ag) Energi nuklir. senjata pemusnah. Pada bahan galian vital disebut juga bahan galian golongan A. senjata pemusnah. dan industri merupakan bentuk lain dari bahan galian golongan A. golongan B. dll Perhiasan. Tabel 2. BBM. industri elektronika.galian vital. Bahan galian strategis merupakan bahan galian 12 golongan B. strategis. dll Strategis Besi (Fe) Tembaga (Cu) Nikel (Ni) Timah (Sn) Seng (Zn) Aluminium (Al) Muscovite . petrokimia. industri elektronik.

dll Industri baja. dll Kabel listrik. dll Industri. manufaktur.Industri baja. metalurgi. dll Industri Batu gamping Batu lempung Batu pasir Batuan beku Gypsum Industri cement Bahan bangunan. dll Bahan bangunan Bahan bangunan Campuran cement. dll Industri manufaktur. manufaktur. bahan bangunan. 2006 Jenis sumberdaya alam tambang yang terdapat pada Tabel 2 di atas merupakan jenis sumberdaya alam tambang yang tersebar di beberapa wilayah 13 Indonesia. dll Industri electronics. manufaktur. dll Sumber: Noor . bangunan. Pemanfaatan terhadap berbagai jenis sumberdaya alam tambang . dll Industri. manufaktur. batu bara. genteng. manufaktur. konstruksi. industri.

5 Definisi Masyarakat Desa Masyarakat desa didefinisikan sebagai sekumpulan orang yang hidup dan bertempat tinggal di wilyah pedesaan. adat istiadat dan hubungan yang terjalin menganut sistem kekeluargaan sehingga cenderung tanpa pamrih. selain karena faktor iklim dan faktor pasar. Masyarakat desa dicirikan sebagai masyarakat yang memiliki ikatan yang relatif kuat karena adanya rasa memiliki satu sama lain. mencuat (emerging).tersebut terus dilakukan untuk dijadikan sebagai sumber energi pemenuhan kebutuhan hidup manusia. dan kelangkaan sumberdaya (Fuad dan Maskanah. terdiri dari petani yang memiliki atau menguasai tanah yang luasnya atau kualitasnya marginal. agama. Konflik dapat berwujud konflik tertutup (latent).1.6 Pengertian Konflik Konflik adalah benturan yang terjadi antara dua pihak atau lebih yang disebabkan adanya perbedaan nilai. kekuasaan. Golongan pertama adalah mereka yang memiliki tanah cukup besar untuk kehidupan yang cukup bagi keluarganya. Golongan ketiga. khususnya di jawa dapat digolongkan menjadi tiga golongan.1. pada umumnya ialah mereka yang sama sekali tidak mempunyai tanah. 3. status. 2000). yaitu: 1. yang makin lama makin besar jumlahnya baik di Indonesia maupun di Asia. Menurut Soedjatmoko sebagaimana dikutip Sudarmanto (1996) struktur masyarakat pedesaan. dan terbuka (manifest). Konflik tertutup (latent) dicirikan dengan adanya tekanan-tekanan yang tidak tampak. 2. Golongan kedua. tidak sepenuhnya . sehingga kehidupan keluarganya sangat tergantung pada kesempatan kerja sampingan. 2. Pada umumnya masyarakat desa memiliki karakteristik sebagai masyarakat yang homogen dari segi pekerjaan. 2.

Konflik mencuat (emerging) adalah perselisihan dimana pihak-pihak yang berselisih telah teridentifikasi. Seringkali salah satu atau kedua pihak belum menyadari adanya konflik. dan belum terangkat ke puncak kutub-kutub konflik. tetapi proses penyelesaian masalahnya sendiri belum berkembang. atau tingkah laku negatif yang berulang (repetitif). 14 kebanyakan permasalahannya jelas. Menurut level permasalahannya. Menurut Fuad dan Maskanah (2000) pemetaan konflik dilakukan dengan mengelompokkan konflik ke dalam ruang-ruang konflik menggunakan kriteria-kriteria di bawah ini: 1. Konflik hubungan antar manusia. atau menterjemahkan informasi dengan cara yang berbeda. atau tidak sepakat mengenai apa saja data yang relevan. konflik dibedakan menjadi konflik vertikal dan konflik horizontal.berkembang. terjadi karena adanya emosi-emosi negatif yang kuat. entah itu . Konflik terbuka (manifest) merupakan konflik dimana pihakpihak yang berselisih terlibat secara aktif dalam perselisihan yang terjadi. atau memakai tata cara pengkajian yang berbeda. 2. 4. disebabkan oleh persaingan kepentingan yang dirasakan atau yang secara nyata memang tidak bersesuaian. mungkin pula telah mencapai jalan buntu. Konflik nilai. terjadi ketika orang mengalami kekurangan informasi yang dibutuhkan untuk mengambil keputusan yang bijaksana atau mendapat informasi yang salah. 3. Sedangkan konflik horizontal terjadi antara masyarakat dengan anggota masyarakat lainnya. diperlukan adanya pemetaan konflik. mungkin sudah memulai untuk bernegosiasi. disebabkan oleh sistem kepercayaan yang tidak sesuai. Untuk mengetahui penyebab terjadinya konflik. Konflik kepentingan. Konflik data. Konflik vertikal yaitu apabila pihak yang di lawan oleh pihak lainnya berada pada level yang berbeda. salah komunikasi. bahkan yang paling potensial sekalipun. diakui adanya perselisihan. salah persepsi atau stereotipe.

dapat diolah secara rasional dan bijaksana dengan memperhatikan keberlanjutannya. Pembangunan akan memungkinkan generasi sekarang meningkatkan kesejahteraannya.hanya dirasakan atau memang ada. Untuk itu. kesejahteraan. hutan pelestarian alam. diperlukan keterpaduan antara pembangunan dan pengelolaan lingkungan hidup. 5.1. terjadi ketika adanya ketimpangan untuk melakukan akses dan kontrol terhadap sumberdaya. kemampuan. 32 Tahun 2009). biasanya lebih memiliki peluang untuk meraih akses dan melakukan kontrol sepihak terhadap pihak lain. seperti sumberdaya alam pertambangan. tanpa mengurangi kemungkinan bagi generasi masa depan untuk meningkatkan . Konflik struktural. pihak yang berkuasa dan memiliki wewenang formal untuk menetapkan kebijakan umum. sosial. serta kemampuan biosfer dalam menyerap berbagai pengaruh aktivitas manusia. Menurut Sugandhy dan Hakim (2009) pola pembangunan berkelanjutan mengharuskan pengelolaan sumberdaya alam dilakukan secara rasional dan bijaksana. hutan lindung dan hutan produksi. Konsep pembangunan berkelanjutan memberikan implikasi adanya batasan yang ditentukan oleh tingkat masyarakat dan organisasi sosial mengenai sumberdaya alam.7 Pembangunan Berkelanjutan Pembangunan berkelanjutan adalah upaya sadar dan terencana yang memadukan aspek lingkungan hidup. dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan (UU No. Proses pembangunan berlangsung secara berlanjut dan didukung sumberdaya alam yang ada dengan kualitas lingkungan dan manusia yang semakin berkembang dalam batas daya dukung lingkupannya. 2. dan ekonomi ke dalam strategi 15 pembangunan untuk menjamin keutuhan lingkungan hidup serta keselamatan. Hal ini berarti bahwa pengelolaan sumberdaya alam.

pembangunan. Menurut Sugandhy dan Hakim (2009) setiap keputusan pembangunan harus memasukkan berbagai pertimbangan yang menyangkut aspek lingkungan.kesejahteraannya (Sugandhy dan Hakim. di samping pengentasan kemiskinan dan pola konsumsi sehingga hasil pembangunan benar-benar akan memberikan hasil yang baik bagi peningkatan kualitas hidup manusia. tata ruang. keterpaduan antar 16 sektor. yang dianalisis bukan hanya dampak negatifnya saja melainkan juga dampak positifnya dan dengan bobot analisis yang sama.8 Dampak Aktivitas Pertambangan Menurut Kristanto (2004) dampak diartikan sebagai adanya suatu benturan antara dua kepentingan yang berbeda. Tiga pilar pembangunan berkelanjutan sejak deklarasi Stockholm 1972 menuju Rio de Janeiro. Pertimbangan lingkungan yang menyangkut ekonomi lingkungan. dan lingkungan (Sugandhy dan Hakim. 2009). Dampak yang diartikan dari benturan antara dua kepentingan itupun masih kurang tepat karena yang tercermin dari benturan tersebut hanyalah kegiatan yang menimbulkan dampak negatif.1. antar wilayah dan daerah dengan melibatkan semua stakeholders. dan lingkungan sampai dengan integrasi aspek sosial. ekonomi. maka dampak adalah setiap perubahan yang . Apabila didefinisikan lebih lanjut. Perkembangan selanjutnya. dan sumberdaya buatan dalam setiap pembangunan nasional. AMDAL dan social cost harus diinternalisasi dalam setiap pembuatan keputusan pembangunan untuk dapat mewujudkan hal ini. yaitu kepentingan pembangunan dengan kepentingan usaha melestarikan kualitas lingkungan yang baik. sampai dengan Rio + 10 di Johanesburg 2002 ditekankan perlunya koordinasi dan integrasi sumberdaya alam. menjadi suatu keharusan sehingga diperlukan koordinasi yang mantap. Pengertian ini pula yang dahulunya banyak di tentang oleh para pemilik atau pengusul proyek. 2. dengan pendekatan kependudukan. sumberdaya manusia. 2009).

Menurunnya kualitas hidup penduduk lokal. terutama masyarakat lingkar tambang. Meningkatnya kekerasan terhadap perempuan. 5. Kehancuran ekologi pulau-pulau. Dampak positif dari kegiatan pembangunan di bidang pertambangan adalah: 1. Meningkatkan ekonomi masyarakat lingkar tambang. Terjadi pelanggaran HAM pada kuasa pertambangan Meningkatnya kebutuhan sumberdaya mineral di dunia telah memacu kegiatan eksplorasi dan eksploitasi sumberdaya mineral serta untuk mendapatkan lokasi-lokasi sumberdaya mineral yang baru. 4. Konsekuensi dari meningkatnya . Dampak negatif dari pembangunan di bidang pertambangan adalah: 1. sedangkan banyak proyek yang bangunan fisiknya relatif kecil atau tidak ada. Menurut Salim (2007) setiap kegiatan pembangunan di bidang pertambangan pasti menimbulkan dampak positif maupun dampak negatif. Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat lingkar tambang. 6. 2. Disini tidak disebutkan karena adanya proyek. Meningkatkan usaha mikro masyarakat lingkar tambang. 3.17 2. Meningkatkan kualitas SDM masyarakat lingkar tambang.terjadi dalam lingkungan akibat adanya aktivitas manusia. 3. dan 6. tetapi dampaknya besar. 5. Menampung tenaga kerja. 4. 2004). Kehancuran lingkungan hidup. Jadi yang menjadi objek pembahasan bukan saja dampak proyek terhadap lingkungan. Penderitaan masyarakat adat. melainkan juga dampak lingkungan terhadap proyek (Kristanto. Meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) . karena proyek sering diartikan sebagai bangunan fisik saja. dan 7. Memberikan nilai tambah secara nyata kepada pertumbuhan ekonomi nasional.

2. Hasil penelitian Budimanta (2007) menunjukkan bahwa aktivitas penambangan di daerah Bangka Belitung memberikan berbagai dampak positif dan negatif pada kehidupan warga.eksplorasi dan eksploitasi sumberdaya mineral harus diikuti dengan usaha-usaha dalam pencegahan terhadap dampak yang ditimbulkan sebagai akibat dari eksplorasi dan eksploitasi sumberdaya mineral tersebut (Noor. dan peningkatan ekonomi bagi masyarakat di sekitar wilayah pertambangan sedangkan dampak negatif dari adanya aktivitas pertambangan adalah terjadinya penurunan pendapatan bagi masyarakat yang bergerak di sektor pertanian.2 Dampak Aspek Sosio-Ekologi Perubahan ekologi di wilayah pertambangan terjadi karena adanya aktivitas eksploitasi terhadap sumberdaya alam tambang. 2006).1 Dampak Aspek Sosio-Ekonomi Dampak sosial ekonomi merupakan dampak aktivitas pertambangan pada aspek sosial ekonomi yang dapat bersifat positif dan negatif. terciptanya lapangan pekerjaan.1. Waktu tempuh menjadi semakin efisien dibandingkan sebelumnya yang membutuhkan waktu hingga dua hari bagi para pejalan kaki. 18 2. Selain itu. Hal ini terlihat dari adanya kemampuan warga untuk mendirikan rumah permanen yang terbuat dari bahan bata dan semen. pendapatan yang diperoleh warga menjadi semakin meningkat. karena menurunnya kualitas lahan yang digunakan. adanya perbaikan infrastruktur seperti akses jalan ke Penagan dari Pangkal Pinang menjadi semakin mudah dan kondisi jalanan semakin baik. dibandingkan kondisi sebelumnya yang hanya terbuat dari kayu penyangga.8. Dampak positif akibat aktivitas pertambangan diantaranya adalah terjadinya peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). terciptanya lapangan pekerjaan.1.8. Pada aspek ekonomi. Dampak positif akibat aktivitas penambangan diantaranya adalah meningkatnya penghasilan devisa bagi Negara. Perubahan ekologi ini .

dapat mengakibatkan daerah yang semula subur menjadi daerah yang tandus. polusi udara dan kekeringan air. Pada saat musim hujan. Menurut Noor (2006) permasalahan yang ditimbulkan dalam penggunaan batu bara adalah pencemaran udara berupa kandungan belerang yang dilepaskan oleh hasil pembakaran batu bara pada pembangkit listrik. Tahap tersebut dimulai pada tahap prosesing mineral dan semua aktivitas yang menyertainya seperti penggunaan peralatan survei.mengakibatkan perubahan sosial di sekitar wilayah pertambangan. alat-alat berat. udara. Diperlukan waktu yang sangat lama untuk kembali ke dalam kondisi semula. mampu mengubah sistem mata pencaharian masyarakat desa yang awalnya bergerak di sektor pertanian menjadi sektor non pertanian. melainkan juga timbulnya cekungan besar yang dikelilingi tumpukan tanah bekas galian yang telah bercampur dengan sisa-sisa bahan tambang (tailing). Di indonesia dapat kita jumpai beberapa contoh lokasi tambang yang telah mengalami penurunan kualitas lingkungan. tambang batu bara di Kalimantan Timur dan tambang tembaga di Papua. limbah mineral padat yang tidak dibutuhkan (Noor. Menurut Noor (2006) permasalahan yang sering muncul dari kegiatan eksplorasi dan eksploitasi sumberdaya mineral adalah terjadinya penurunan kualitas lingkungan hidup seperti pencemaran pada tanah. dan hidrologi air. antara lain tambang timah di Pulau Bangka. bahan peledak. . 2006). dan debu batu bara (partikel-partikel halus) hasil pembakaran yang masuk ke udara. Lubang-lubang bekas penambangan dan pembukaan lapisan tanah yang subur pada saat penambangan. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Qomariah (2002) dampak akibat aktivitas pertambangan batu bara bukan hanya menimbulkan pencemaran udara yang mengakibatkan penurunan kesehatan saja. Kerusakan lingkungan seperti pencemaran air. Polusi dan degradasi lingkungan akan terjadi pada semua tahap dalam aktivitas pertambangan.

membersihkan makanan. Sementara itu di daerah bagian hilir pasca tambang. menurunnya produktivitas lahan pertanian. Di beberapa daerah yang memiliki potensi penambangan pasir seperti Kabupaten Magelang dan Kabupaten Temanggung. Hal ini mengakibatkan semakin tingginya tingkat erosi di daerah pertambangan. serta timbulnya polusi udara. berkurangnya debit air permukaan atau mata air. Selain itu. Kabupaten Sumbawa Provinsi NTB dan Kabupaten Landak Provinsi Kalimantan. terjadinya kekeringan air sumur milik warga akibat adanya aktivitas pengeboran. di beberapa daerah lain di Indonesia seperti Bangka Belitung.cekungan tersebut dialiri air dan berubah menjadi danau. mencuci. Pemerintah sebagai institusi yang berperan sebagai pemberi kebijakan dalam pengelolaan sumberdaya . Sementara itu. pihak-pihak berkepentingan yang ada meliputi pemerintah seperti pemerintah pusat dan pemerintah daerah. aktivitas pertambangan mengakibatkan terjadinya pencemaran air dan degradasi lahan. Sungai tercemar oleh limbah yang berasal dari konsentrator aktivitas limbah dan pembukaan hutan di bagian hulu. dan tingginya lalu lintas kendaraan drum truk di jalan desa yang kemudian membuat rusaknya jalan. Sisa-sisa bahan tambang mengalir ke sungai-sungai dan menutupi lahan pertanian serta areal perkebunan. masyarakat lokal. minum ternak. aktivitas penambangan mengakibatkan timbulnya tebing-tebing bukit yang rawan longsor akibat penambangan yang tidak memakai sistem berteras. dan swasta. mandi. Hilangnya fungsi atas sungai bagi masyarakat seperti air sungai Tongo-Sejorong yang pada awalnya digunakan warga untuk minum. 2. rawan terjadinya bencana erosi akibat sedimentasi tanah.2 Kerangka Konseptual Gambar 1 di bawah ini menjelaskan tentang adanya pihak-pihak berkepentingan dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam tambang. 19 Hal ini mengakibatkan hilangnya vegetasi (tanaman) populasi satwa liar dan menurunnya kualitas air.

alam tambang.Perubahan Udara .. . 20 Keterangan: = saling mempengaruhi.= fokus penelitian = hubungan akibat.. Kerangka Konseptual Dampak Aktivitas Pertambangan pada Aspek Sosio-Ekonomi dan Sosio-Ekologi Masyarakat Lokal Pemerintah (Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah) Swasta/Perusahaan Pertambangan Sosio-Ekonomi .Pendapatan .Konflik di Masyarakat Sosio-Ekologi .Terganggunya Sumber Air . Pada awalnya.Perubahan Pola Pekerjaan . serta masyarakat lokal sebagai sekumpulan orang yang berada di sekitar lokasi penambangan dan sebagai pihak penerima dampak langsung maupun tidak langsung dari adanya aktivitas pertambangan. menjadikan swasta sebagai pihak yang memiliki akses lebih tinggi..Kesempatan Kerja . = akses Gambar 1. ketiga pihak yang ada memiliki akses terhadap sumberdaya alam tambang. swasta sebagai pengelola dan pemanfaat langsung dari kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Namun dengan adanya izin usaha tambang yang diberikan oleh pemerintah..

Kesehatan Pembangunan Berkelanjutan Sumberdaya Alam Tambang Aktivitas Pertambangan .3 Kerangka Pemikiran Keterangan: = hubungan langsung (kuantitatif) = hubungan tidak langsung (kualitatif) = awal hipotesis (kualitatif) Gambar 2. Aktivitas pembangunan terus dilakukan namun tidak mengurangi kualitas hidup manusia dan lingkungan di masa yang akan datang.Ledakan (Blasting)21 Aktivitas pertambangan yang dilakukan oleh swasta menimbulkan berbagai dampak negatif dan positif pada aspek sosio-ekonomi dan ekologi. Kerangka Pemikiran Dampak aktivitas Pertambangan pada Aspek Sosio-Ekonomi dan Sosio-Ekologi Masyarakat Desa Frekuensi Blasting Sosial Tingkat Konflik . Berbagai dampak yang ditimbulkan mendorong dilakukannya paradigma pembangunan berkelanjutan. 2.Pabrik Industri Pertambangan . maupun upaya reklamasi lahan pasca tambang.Polusi Suara .. Pembangunan tidak hanya mengejar pada peningkatan perekonomian negara saja melainkan juga melihat pada aspek Analisis Manajemen dan Dampak Lingkungan (AMDAL) sebelum dilakukannya aktivitas pertambangan.

di Masyarakat Ekonomi Ekologi Tingkat Gangguan Terhadap Sumber Air Tingkat Polusi Suara Tingkat Perubahan Udara Tingkat Polusi Suara Tingkat Kesehatan Masyarakat Tingkat Kesempatan Kerja Pertanian Tingkat Kesempatan Kerja Non Pertanian Jumlah Pabrik Industri Pertambangan22 2.4 Hipotesis Penelitian Dari kerangka pemikiran di atas, maka hipotesis penelitian ini adalah: 1. Terdapat hubungan perubahan pola kehidupan sosio-ekonomi masyarakat lokal akibat aktivitas pertambangan. Jika semakin banyak jumlah pabrik industri pertambangan, maka:

semakin tinggi tingkat kesempatan kerja sektor non pertanian di kawasan yang sama menyebabkan semakin tinggi tingkat persaingan sehingga semakin tinggi tingkat konflik yang terjadi di masyarakat.

2. Terdapat hubungan perubahan sosio-ekologi masyarakat lokal akibat aktivitas pertambangan. Jika semakin tinggi tingkat frekuensi blasting, maka: angguan terhadap air, perubahan udara, dan polusi suara sehingga mengakibatkan tingkat kesehatan semakin buruk dan semakin tinggi konflik yang terjadi di masyarakat. 2.5 Definisi Konseptual 1. Aktivitas pertambangan merupakan aktivitas pengerukan terhadap sumberdaya mineral yang terdapat di dalam tanah. 2. Pabrik industri pertambangan adalah tempat pengolahan bahan tambang setelah sebelumnya dilakukan aktivitas pengerukan tanah. 3. Blasting merupakan aktivitas peledakan dan pengeboran bawah tanah dengan menggunakan dinamit. 4. Dampak sosio-ekonomi merupakan dampak yang ditimbulkan oleh adanya aktivitas pertambangan pada pola dan struktur ekonomi masyarakat serta hubungan sosial antar masyarakat.23 5. Dampak sosio-ekologi merupakan dampak yang ditimbulkan oleh adanya aktivitas pertambangan pada aspek lingkungan di sekitar wilayah pertambangan. 6. Sumber air adalah tempat dimana air tersedia, yang digunakan untuk kehidupan sehari-hari. 7. Perubahan udara merupakan peristiwa terjadinya perubahan kondisi udara akibat debu sebagai buangan limbah di sekitar wilayah penambangan. 8. Polusi suara adalah bunyi atau suara berupa kebisingan yang ditimbulkan oleh adanya aktivitas blasting ataupun kendaraan truk pengangkut barang

tambang. 9. Kesehatan adalah kondisi fisik atau tubuh seseorang yang memiliki kondisi sehat dan terbebas dari penyakit. 10. Pekerjaan adalah kegiatan yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. 11. Pendapatan adalah jumlah uang yang diterima oleh seseorang sebagai imbalan atas pekerjaan yang telah dilakukan. 12. Kesempatan kerja adalah peluang seseorang untuk memperoleh pekerjaan. 13. Konflik merupakan hubungan pertentangan antara satu orang atau lebih karena adanya perbedaan tujuan. 14. Bahan galian golongan C merupakan jenis bahan galian tambang yang dipergunakan sebagai bahan bangunan industri seperti andesit, pasir, dsb. 2.6 Definisi Operasional 1. Jumlah pabrik industri pertambangan adalah banyaknya pabrik industri pertambangan yang melakukan aktivitas pengerukan bahan tambang di sekitar wilayah pertambangan. Sedikit : jumlah pabrik industri pertambangan = 1 buah, skor 1 Banyak : jumlah pabrik industri pertambangan ≥ 2 buah, skor 2 24 2. Frekuensi blasting adalah frekuensi pengeboran bawah tanah dengan menggunakan dinamit. Pengukuran dilakukan mulai dari skor terburuk berdasarkan frekuensi paling rendah aktivitas blasting dalam waktu satu hari. a. Rendah : aktivitas blasting = 1 kali, skor 1 b. Sedang : aktivitas blasting = 2 kali, skor 2 c. Tinggi : aktivitas blasting > 2 kali, skor 3 3. Tingkat pendidikan adalah tingkat pendidikan terakhir yang ditempuh

skor 125 b. skor 1 b. skor 2 c. Sangat rendah : tidak sekolah. Pengukuran didasarkan pada rata-rata pendapatan rumahtangga dengan skor terendah pada pendapatan paling kecil. Tingkat pendidikan responden diukur dari tingkat pendidikan yang paling rendah sampai yang paling tinggi. skor 3 5. skor 1 b.117 ≤ pendapatan < Rp 16. Sedang : Rp 8. Struktur pendapatan adalah jumlah pemasukan yang diperoleh oleh responden sebagai imbalan atas pekerjaan yang telah dilakukan dalam kurun waktu satu tahun. skor 4 e.964. skor 5 4. a. Pengukuran dilakukan mulai dengan skor terendah dari luas lahan yang paling sempit.oleh responden. a. Tinggi : memiliki lahan pertanian. Pengukuran dilakukan mulai pada skor terendah dari kepemilikan lahan paling rendah hingga paling tinggi. Rendah : pendapatan < Rp 8.787. skor 2 (iii) Luas lahan pertanian adalah jumlah luas lahan pertanian yang dimiliki oleh setiap rumahtangga responden setelah adanya aktivitas pertambangan.964. Tinggi : pendapatan ≥ Rp 16. skor 2 c.607. Rendah : tidak memiliki lahan pertanian.117. a.607. Sangat tinggi : tamat perguruan tinggi.787. Rendah : tamat SD/sedejarat. Pengukuran dilakukan pada dua bagian yaitu: (i) Kepemilikan lahan pertanian adalah banyaknya jumlah anggota dalam keluarga responden yang memiliki lahan pertanian. Kepemilikan lahan pertanian adalah banyaknya lahan pertanian yang dimiliki oleh rumahtangga responden. Sedang : tamat SMP/sederajat. skor 3 d. . Tinggi : tamat SMA/sederajat.

Layak skor 4 e.skor 4 e. skor 1 .1 hektar ≤ lahan < 0. Sedang tanah. Pengukuran dimulai dari skor terendah pada status tempat tinggal yang paling buruk. : bangunan permanen. dinding dan alas dari tanah atau kayu. Sedang : 0.001 hektar. alas luas bangunan memadai untuk seluruh anggota keluarga. Sangat tidak layak : bangunan non bangunan non permanen.1 hektar. dinding semen. skor 5 (ii) Status tempat tinggal adalah status kepemilikan rumah yang ditempati oleh responden. skor 3 d. : bangunan permanen.a.001 hektar ≤ lahan < 0.5 hektar. dinding dan alas semen. a.5 hektar. dinding dan alas semen. Tidak layak : bangunan non permanen. Pengukuran dimulai dari skor terendah pada kapasitas rumah dan kekuatan bangunan yang paling rentan roboh.26 a. Pengukuran dibagi menjadi dua bagian yaitu: (i) Kondisi fisik tempat tinggal adalah keadaan fisik tempat tinggal yang dihuni oleh anggota keluarga. Buruk : menumpang pada orang lain. Sangat rendah : lahan < 0. Sangat layak : bangunan permanen.01 hektar.skor 5 6. skor 2 c. Rendah : 0. Kondisi tempat tinggal adalah kondisi tempat tinggal yang dihuni oleh anggota keluarga responden. dinding dan alas dari tanah atau kayu. Sangat tinggi : lahan ≥ 0. skor 1 b. skor 2 c. Tinggi : 0.01 hektar ≤ lahan < 0. skor 3 d. luas bangunan tidak memadai untuk seluruh anggota keluarga. skor 1 b.

skor 1 b. Tingkat gangguan terhadap sumber air adalah tingkat gangguan pada kondisi sumberdaya air meliputi kuantitas maupun kualitas air yang tersedia. skor 2 c. Pengukuran dimulai dari skor terendah dengan kondisi sumber air yang paling buruk. skor 2 8. skor 2 c. a. Sedang : suhu udara panas.b. Sedang : sebagai penyewa. Tidak nyaman : suhu udara panas. a. skor 1 b. Buruk : air tidak tersedia. Persepsi tingkat polusi suara adalah pandangan responden terhadap . skor 2 c. Baik : air jernih. Persepsi tingkat perubahan udara adalah pandangan responden terhadap tingkat perubahan kondisi udara akibat adanya limbah buangan industri pertambangan yang dapat mencemari udara. (i) Kondisi sumber air adalah kondisi sumberdaya air yang digunakan untuk kehidupan sehari-hari. Baik : sebagai pemilik. skor 3 7. Pengukuran dilakukan mulai dari skor terendah dari keadaan air yang buruk. skor 3 (ii) Kualitas air minum adalah kondisi air minum secara fisik dilihat dari bersih atau kotornya air minum tersebut. terlihat gersang. Pengukuran dimulai dari skor terendah pada kondisi udara yang dirasakan sangat tidak nyaman oleh responden. Baik : air tersedia dimana-mana. Nyaman : suhu udara sejuk dan tidak berdebu. tidak berdebu. skor 3 9. Pengukuran ditentukan berdasarkan pada kondisi sumber air dan kualitas air minum responden. Buruk : air berwarna. berdebu. a. yang digunakan untuk kehidupan sehari-hari. Sedang : air tersedia namun terbatas. skor 1 b.

yang disebabkan oleh limbah atau buangan bahan tambang seperti debu. skor 3 10. Pengukuran tingkat kebisingan dilakukan pada dua bagian yaitu: (i) Persepsi tingkat kebisingan aktivitas blasting adalah pandangan responden terhadap tingkat kebisingan yang disebabkan oleh adanya bunyi atau getaran ledakan pengeboran tanah oleh dinamit. skor 2 c. Sedang : biasa saja. skor 1 b. a. Rendah : tidak mengganggu sama sekali. Pengukuran dimulai pada skor terendah untuk aktivitas tidak mengganggu menurut persepsi responden. Pengukuran dimulai pada skor terendah untuk aktivitas paling mengganggu.tingkat kebisingan karena adanya bunyi atau suara yang ditimbulkan oleh 27 blasting dan kendaraan truk. Tinggi : sangat mengganggu. Sedang : biasa saja. Tingkat kesehatan masyarakat adalah tingkat terjadinya gangguan kesehatan akibat adanya beberapa penyakit yang diderita dalam kurun waktu satu tahun terakhir. suasana nyaman. Rendah : tidak mengganggu sama sekali. a. tidak terlalu mengganggu. Pengukuran dimulai dari skor terendah apabila ada . suasana nyaman. pencemaran air dan lain-lain. skor 2 c. Pengukuran dilakukan berdasarkan pada dua bagian yaitu: (i) Jumlah rumahtangga yang menderita penyakit adalah jumlah atau banyak anggota keluarga responden yang menderita penyakit selam kurun waktu satu tahun terakhir dan disebabkan oleh aktivitas pertambangan. tidak terlalu menganggu. Tinggi : sangat mengganggu. skor 3 (ii) Persepsi tingkat kebisingan kendaraan truk adalah pandangan responden terhadap tingkat kebisingan yang disebabkan oleh adanya aktivitas kendaraan truk pengangkut barang tambang. skor 1 b.

skor 2 c. Persepsi tingkat kesempatan kerja pertanian adalah persepsi responden terhadap tingkat kemudahan dalam mendapatkan pekerjaan di sektor pertanian. Sulit : kesempatan kerja terbatas. a. Pengukuran dilakukan dari skor paling terendah dari yang paling sulit hingga paling tinggi. skor 3 11. skor 5 12. a. Sangat sulit : tidak ada kesempatan kerja. skor 1 b. Netral : sama saja. a. Tinggi : sering melakukan pengobatan (> 3 kali). skor 3 d. skor 2 c. skor 1 b. Sangat sulit : tidak ada kesempatan kerja. skor 1 . Persepsi tingkat kesempatan kerja non pertanian adalah persepsi responden terhadap tingkat kemudahan dalam mendapatkan pekerjaan di sektor non pertanian.anggota keluarga responden yang mengalami sakit. Pengukuran dimulai dari skor terendah dari frekuensi pengobatan paling rendah yaitu tidak pernah. a. skor 4 e. Mudah : kesempatan kerja terbuka luas. Buruk : ada anggota keluarga yang sakit. skor 228 (ii) Frekuensi pengobatan adalah sering atau tidaknya anggota kelurga responden memberikan obat yang diperoleh dari warung maupun melakukan pemeriksaan ke rumah sakit. Sedang : hanya beberapa kali saja (1-3 kali). Pengukuran dilakukan berdasarkan skor terendah untuk tingkat paling sulit hingga tertinggi sesuai kondisi sebelum dan setelah adanya aktivitas pertambangan. tidak ada perubahan. Rendah : tidak pernah melakukan pengobatan. Baik : tidak ada anggota keluarga yang sakit. Sangat mudah : kesempatan kerja pertanian paling banyak daripada pekerjaan yang lainnya. skor 1 b.

dan hubungan yang terjadi antara masyarakat lokal dengan pihak pendatang. skor 2 c. skor 529 13. Skor terendah dimulai pada hubungan paling dalam seperti gotong royong.b. a. Tinggi : peduli dan masih suka saling membantu. Rendah c. a. skor 4 e. Sangat rendah : biasa saja. Sedang d. skor 1 b. skor 2 : masih terjalin kontak dan komunikasi. Netral : sama saja. Sulit : kesempatan kerja terbatas. skor 1 b. Rendah : resah. skor 4 e. Sangat rendah : pekerjaan dilakukan secara bersama-sama dengan sistem gotong royong yang masih terjalin erat. Mudah : kesempatan kerja terbuka luas. Sangat tinggi : terjadi pertengkaran dengan penduduk. Sangat mudah : kesempatan kerja non pertanian paling banyak dari pada pertanian. skor 3 d. kebisingan. skor 5 (ii) Tingkat Kedalaman konflik sebagai akibat dari perubahan ekologi yang mencakup perubahan udara. skor 3 : tidak peduli dengan keadaan penduduk sekitar. Sedang : mengeluh. skor 3 . tidak ada perubahan. Pengukuran dilakukan dimulai dengan skor terendah pada derajat kedalaman konflik paling ringan. skor c. Tingkat konflik di masyarakat adalah tingkat terjadinya hubungan pertentangan yang terjadi antara satu orang atau lebih. gangguan sumber air. Pengukuran dilakukan menjadi dua bagian yaitu: (i) Hubungan yang terjadi antar sesama masyarakat lokal.

Sedangkan data sekunder diperoleh melalui dokumentasi dan studi literatur yang berkaitan dengan tujuan penelitian seperti buku.2 Jenis dan Sumber Data Jenis data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. potensi desa dan lainnya. Sedangkan dalam metode penelitian kualitatif menggunakan metode wawancara. pengamatan. Data primer diperoleh melalui wawancara langsung dengan menggunakan kuesioner yang disebarkan. . Kemudian setelah dilakukan test akan dilakukan editing kuesioner sebagai penelitian sesungguhnya yang disesuaikan dengan karakteristik masyarakat dan daerah lokasi penelitian. kemudian diisi oleh responden. Tahap pertama adalah pengambilan data melalui kuesioner yang dibagikan kepada responden dan informan untuk melakukan test sebagai preliminary research.1 Metode Penelitian Metode dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif yang didukung oleh pendekatan kualitatif. penelitian ini menggunakan metode penelitian survei. skor 5 30 BAB III PENDEKATAN LAPANG 3. Pengambilan data dilakukan melalui dua tahap. data potensi pertambangan. 2009).d. 3. Tinggi : ketegangan/stres. skor 4 e. Sangat tinggi : bentrok. dan studi literatur. baik realibilitas maupun validitasnya. Penelitian survei adalah penelitian dengan mengumpulkan informasi dari suatu sampel dengan menanyakan melalui angket atau interview supaya menggambarkan berbagai aspek dari populasi (Fraenkel dan Wallen sebagaimana dikutip Wahyuni dan Muljono. Hal ini dilakukan agar data yang diperoleh dapat terjamin. Pada pendekatan kuantitatif.

Secara lebih rinci teknik pengambilan sampel diilustrasikan sebagai berikut. yaitu kampung dengan jumlah pabrik industri pertambangan banyak dengan sektor non pertanian yang lebih dominan. dan lingkungannya. Metode pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik simple cluster random sampling. pihak lain. Pemilihan informan dilakukan dengan teknik snowball sampling (teknik bola salju). Dari Desa Cipinang diambil secara purposif dua kampung sebagai perbandingan yang didasari pada banyaknya jumlah pabrik industri pertambangan. Teknik Kerangka Sampling dalam Pengambilan Responden Desa Cipinang Kampung dengan jumlah pabrik industri pertambangan banyak: Kampung Joglo (RT 01/05) Penentuan secara purposif .3 Teknik Penentuan Responden Pada penelitian ini. Informan adalah pihak-pihak yang berpotensi untuk memberikan informasi mengenai diri sendiri.3. terdapat dua subjek penelitian yang terdiri dari informan dan responden. Teknik ini juga digunakan untuk menentukan daftar populasi yang 31 karakteristiknya sesuai dengan masalah yang akan diteliti (kerangka sampling). Kemudian kampung yang sedikit jumlah pabrik industri pertambangan dengan sektor pertanian yang lebih dominan. Gambar 3. dengan tiga responden cadangan sehingga jumlah total responden adalah sebanyak 60 rumahtangga (sebagaimana pada lampiran 1). keluarga. Kedua kampung tersebut diambil masingmasing satu RT/RW untuk menjadi sampel kedua. Responden dipilih secara acak sebanyak 30 responden untuk masing-masing RT/RW yang dijadikan sampel penelitian.

atau bagan. pengkodean data. memasukkan data ke dalam program microsoft excel. 3. Kemudian data tersebut digabungkan dengan hasil wawancara mendalam dan observasi berupa kutipan untuk kemudian penarikan kesimpulan dari semua data yang telah diolah sebelumnya. menggunakan analisis deskriptif dengan menggunakan tabulasi silang dan tabel frekuensi.5 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Desa Cipinang. Kecamatan Rumpin. matriks. seperti besarnya bantuan pendapatan yang diberikan anggota keluarga maupun aspek-aspek lain yang mempengaruhi keadaan sosial ekonomi. Data yang ditampilkan berupa grafik. .Kampung dengan jumlah pabrik industri pertambangan sedikit: Kampung Gunung Cabe (RT 05/04) Penentuan secara purposif Jumlah total kampung: 21 kampung Jumlah KK sebanyak 126 KK Jumlah KK sebanyak 139 KK Secara acak dipilih 30 responden Secara acak dipilih 30 responden Jumlah total: 60 responden 32 Unit analisis dalam penelitian ini adalah rumahtangga. Dalam melakukan analisis data kuantitatif. pemindahan data ke lembar penyimpanan data. 3.4 Pengolahan dan Analisis Data Pengolahan dan analisis data menggunakan kuesioner yang dibagikan kepada responden dengan diolah melalui beberapa langkah yaitu editing kuesioner. Hal ini dikarenakan rumahtangga merupakan unit terkecil dari masyarakat dalam hal pengambilan keputusan keluarga.

Mayoritas penduduk Desa Cipinang beragama Islam yaitu sebanyak 12. Jawa Barat yaitu di daerah sekitar wilayah pertambangan yang terdapat bahan galian golongan C. Adapun pelaksanaan waktu penelitian dilakukan selama satu bulan yang dimulai pada pertengahan bulan Maret hingga April 2011. sebelah timur dibatasi oleh Desa . Kabupaten Bogor. Provinsi Jawa Barat. Desa Cipinang dikenal sebagai salah satu daerah bagian Kabupaten Bogor yang memiliki potensi sumberdaya alam tambang yang sangat melimpah.1. 33 BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4. Desa ini memiliki luas lahan sebesar 996.007 jiwa.046 jiwa dari jumlah total penduduknya sebanyak 13.625 Ha dengan tekstur lahan pertanian sawah dan lahan kering. yang tersebar di beberapa daerah bagian dan terbagi menjadi tiga dusun sebagai batas wilayah. merupakan salah satu pembahasan penting dari pokok penelitian yang dilakukan.1 Kondisi Geografis dan Infrastruktur Desa Cipinang Secara geografis Desa Cipinang dibatasi oleh beberapa wilayah yaitu sebelah utara dibatasi oleh Desa Sukasari. dimana Desa Cipinang merupakan desa yang mayoritas penduduknya bermatapencaharian sebagai petani. 4.1 Gambaran Umum Desa Cipinang Desa Cipinang merupakan salah satu desa yang terdapat di daerah Kecamatan Rumpin. pasir teras dan sumberdaya alam tambang lainnya. Terjadinya peralihan atau transformasi pekerjaan dari sektor pertanian menjadi sektor non pertanian sebagai akibat adanya aktivitas pertambangan.Kabupaten Bogor. Lokasi ini dipilih secara sengaja dikarenakan karakteristik dari desa tersebut sangat sesuai dengan penelitian yang dilakukan. Adapun jumlah kampung yang terdapat di Desa Cipinang adalah sebanyak 21 kampung. Sumberdaya alam tambang yang ada meliputi bahan galian golongan C seperti batu.

276 10. Akses menuju Desa Cipinang hanya dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan motor melalui jasa tukang ojeg. Jarak pemerintahan Desa Cipinang dengan ibu kota kecamatan ditempuh dengan jarak tiga kilometer. Hal ini dikarenakan kondisi jalan yang rusak dan sarana transportasi seperti kendaraan umum masih jarang melintas di sekitar jalan raya menuju Desa Cipinang.390 11. Areal Pemukiman Desa Cipinang terbagi menjadi delapan Rukun Warga (RW) dan 42 Rukun Tetangga (RT). Akses jalan menuju Desa Cipinang masih tergolong sulit.322 10. Hal ini terlihat dari besarnya jumlah penduduk yang sudah mencapai 13. Suhu rata-rata harian Desa Cipinang mencapai 25 o C dengan tinggi tempat dari permukaan laut mencapai 132 mdpl. No Umur (Tahun) Jumlah (Jiwa) Persentase (%) 1 0-4 1.1.42 2 5-9 1. 2010. Jumlah dan Persentase Penduduk Berdasarkan Kategori Umur di Desa Cipinang.2 Kondisi Sosial dan Ekonomi Penduduk Jumlah penduduk Desa Cipinang tergolong padat. 34 4. Tabel 3. sedangkan di sebelah selatan dibatasi oleh Desa Kampung Sawah dan sebelah barat dibatasi oleh Desa Tegal Lega. sebagaimana Tabel 3 di bawah ini.79 4 15-19 1.00 .007 jiwa.35 3 10-14 1. Adapun kendaraan yang melaju setiap hari adalah kendaraan truk pengangkut barang tambang dan kendaraan umum yang hanya digunakan untuk menjemput anakanak ketika pulang sekolah.347 11.Rumpin. sementara jarak pemerintahan desa dengan ibu kota kabupaten ditempuh dengan jarak 42 km.

66 persen.007 100 Sumber : Data Kependudukan Kantor Desa Cipinang.708 jiwa atau sebesar 20.41 8 35-39 851 6. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk di Desa Cipinang telah memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. 2010 Data pada Tabel 3 di atas menunjukkan jumlah penduduk Desa Cipinang berdasarkan kategori umur.98 6 25-29 1.77 persen.117 9.222 9.29 Jumlah 13. etnis Banjar sebanyak . jumlah penduduk etnis Sunda lebih banyak daripada etnis lainnya.741 jiwa sedangkan jumlah penduduk perempuan sebanyak 6.266 jiwa.12 7 30-34 907 7.38 12 55+ 1.993 jiwa atau sebesar 53. Berdasarkan etnis.79 10 45-49 553 4.82 persen.5 20-24 1. etnis Jawa sebanyak 2. Etnis Sunda berjumlah total 6. Jumlah penduduk usia produktif sebanyak 9.95 9 40-44 587 4.019 jiwa atau sebesar 69. Jumlah penduduk pria adalah sebanyak 6.34 persen.260 10. Hal ini menunjukan bahwa penduduk pria lebih dapat bertahan hidup di wilayah pertambangan dibandingkan penduduk perempuan. Sementara itu berdasarkan rasio 35 jenis kelamin. jumlah penduduk laki-laki lebih banyak dibandingkan jumlah penduduk perempuan.988 jiwa atau sebesar 30. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa penduduk usia produktif yang berkisar antara 15 tahun hingga 64 tahun memiliki jumlah yang lebih banyak daripada jumlah penduduk lainnya.52 11 50-54 414 3. sedangkan jumlah penduduk usia belum produktif yaitu penduduk dengan usia 15 tahun ke bawah hanya berjumlah 3.

lima jiwa atau sebesar 0. yaitu dengan bekerja di sektor pertambangan.05 persen. jadinya mereka derajatnya lebih rendah dibanding karyawan PT lainnya (Bapak Skd. menjadikan masyarakat lokal belum mampu bersaing untuk mendapatkan pekerjaan yang layak di sektor pertambangan. tokoh masyarakat berusia 33 tahun).898 jiwa atau.008 persen.04 persen. Tingkat pendidikan di Desa Cipinang masih tergolong rendah. Kehadiran penduduk pendatang ini disebabkan oleh adanya keinginan untuk bertahan hidup. etnis Makassar sebanyak satu jiwa atau sebesar 0.366 jiwa. etnis Betawi sebanyak 3052 jiwa atau sebesar 23. Sebenarnya. Namun rendahnya pendidikan. etnis Melayu sebanyak 240 jiwa atau sebesar 1. Meskipun etnis Sunda lebih banyak daripada etnis lainnya di Desa Cipinang. Kemudian pada urutan ketiga adalah penduduk yang sedang menjalani 36 sekolah dengan sebesar 18.85 persen.61 persen atau sebanyak sebesar 2. Tabel 4.420 jiwa.47 persen. yang terjadi antara masyarakat lokal dan pendatang. Hal ini terlihat dari rendahnya tingkat pendidikan yang ditempuh oleh masyarakat Desa Cipinang. Di urutan kedua terbesar tingkat pendidikan yang ditempuh masyarakat Desa Cipinang adalah tidak tamat sekolah dengan persentase sebesar 25. Ada juga karyawan PT tapi karena pendidikannya rendah. Hal ini akan memberikan dampak terhadap semakin tingginya tingkat persaingan kerja di sektor pertambangan. namun berdasarkan data tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa hampir setengah penduduk yang berada di Desa Cipinang merupakan penduduk pendatang. etnis Batak tujuh jiwa atau sebesar 0. dimana mayoritas pendidikan yang ditempuh hanya tamat SD/sederajat dengan persentase sebesar 29. Hal tersebut sebagaimana terlihat pada Tabel 4 di bawah ini. disini itu penduduknya paling banyak jadi petani pisang.97 persen atau sebanyak 3.88 persen atau sebanyak 3. Jumlah dan Persentase Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan di .

02 persen.06 persen. Rendahnya pendidikan akan mempengaruhi tingkat kesejahteraan penduduk setempat. tamat perguruan tinggi sebanyak delapan jiwa atau sebesar 0. pertukangan sebanyak 29 jiwa atau sebesar 0.33 5 Tamat SMA/Sederajat 406 3.02 persen.071 jiwa dengan persentase 10.344 10. tamat SMP/sederajat sebanyak 406 jiwa atau sebesar 3. No Tingkat Pendidikan Jumlah (Jiwa) Persentase (%) 1 Belum sekolah 1.007 100 Sumber: Data Kependudukan Kantor Desa Cipinang.366 25. pengrajin sebanyak 415 jiwa atau 37 sebesar 4.61 2 Tidak tamat sekolah 3. .420 18.56 persen.02 2 Sedang sekolah 2.563 12. Masyarakat yang bermatapencaharian sebagai petani berjumlah 1. rendahnya pendidikan juga akan mempengaruhi tingkat kesulitan akan akses terhadap sektor pekerjaan yang mengharuskan tingginya tingkat pendidikan formal yang ditempuh dan tingkat keterampilan yang dimiliki.47 persen sedangkan masyarakat yang bermatapencaharian sebagai pengusaha berjumlah 57 jiwa atau sebesar 0. Selain itu.08 persen.898 29.Desa Cipinang.83 persen.234 jiwa.563 jiwa atau sebesar 12.88 3 Tamat SD/Sederajat 3. 2010 Pada Tabel 4 di atas terlihat bahwa jumlah penduduk Desa Cipinang yang belum sekolah sebanyak 1.97 4 Tamat SMP/Sederajat 1.08 Jumlah 13. 2010.83 6 Tamat Akademi 2 0.02 7 Tamat Perguruan Tinggi 8 0.28 persen. Terdapat beragam jenis mata pencaharian masyarakat Desa Cipinang sesuai dengan jumlah keseluruhan penduduk sebanyak 10. dan tamat akademi sebanyak dua jiwa atau sebesar 0.

perkebunan seluas 231 atau sebesar 23.20 persen. PNS sebanyak 23 jiwa atau sebesar 0. Tabel 5.01 persen. paling banyak dibandingkan dengan sektor pertanian yang hanya berjumlah sepuluh persen atau sebanyak 1.14 persen.1.29 persen atau seluas 411 hektar. 2010 Berdasarkan data pada Gambar 4 di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa saat ini sektor pekerjaan non pertanian di Desa Cipinang. Sementara itu peruntukkan lahan lainnya digunakan sebagai lahan pemukiman dengan luas 274. lahan ladang/huma seluas 51. Luas Lahan dan Persentasinya menurut Penggunaan Lahan di Desa Cipinang.77 persen. lahan pemakaman seluas 14 hektar atau sebesar 1.68 persen. TNI/POLRI sebanyak 14 jiwa atau sebesar 0. No Penggunaan Lahan Luas Lahan (Hektar) Persentase (%) 1 Pemukiman 274.131 jiwa atau sebesar 69.20 persen.11 hektar atau sebesar 0.41 persen.40 persen.58 . sopir truk dan sebagainya sebanyak 7.14 hektar atau sebesar 0. Hal tersebut sebagaimana terlihat pada Tabel 5 di bawah ini.071 jiwa dari total keseluruhan jenis mata pencaharian. Gambar 4.61 27. Mata Pencaharian Masyarakat Desa Cipinang.20 persen. pedagang sebanyak 976 jiwa atau sebesar 9. pensiunan sebanyak 79 jiwa atau sebesar 0. 61 hektar atau sebesar 27.09 persen.3 Tata Guna Tanah di Desa Cipinang Tata guna tanah di Desa Cipinang sebagian besar digunakan sebagai lahan sawah dengan persentase sebesar 41. jalan seluas 5. situ seluas dua hektar 38 atau sebesar 0. dan sektor pekerjaan lainnya yang meliputi buruh tambang. Hal tersebut sebagaimana terlihat pada Gambar 4 di bawah ini. 2010. 4. kuli bangunan. sungai dua hektar atau sebesar 0.22 persen. pengemudi/jasa 327 jiwa atau sebesar 3. kolam seluas empat hektar atau sebesar 0.52 persen.54 persen.58 persen.19 persen. perkantoran seluas 0.buruh perkebunan sebanyak 112 jiwa atau sebesar 1.685 hektar atau sebesar 5.19 persen.

dapat disimpulkan bahwa saat ini masih banyak masyarakat Desa Cipinang yang bergerak di sektor pertanian.41 10 Perkantoran 0. Hal ini terlihat dari adanya latar belakang pemberian nama Kampung Gunung Cabe.29 3 Ladang/huma 51.19 4 Perkebunan 231 23. Kata para orang tua zaman dulu disini (Kampung Gunung Cabe) itu merupakan bukit. Ceritanya. Hal ini terlihat dari masih luasnya lahan sawah yang mencapai 411 hektar dari jumlah total keseluruhan tata guna lahan.14 0.40 6 Sungai 2 0. Kedua kampung tersebut merupakan kampung bagian Desa Cipinang yang memiliki keunikan dan sejarah masing-masing. ada orang yang mendaki gunung.2 Gambaran Umum Kampung Joglo dan Kampung Gunung Cabe Kampung Joglo dan Kampung Gunung Cabe merupakan kampung yang jaraknya berdekatan dengan aktivitas pertambangan.20 9 Pemakaman 14 1. Namun ketika hendak mau .2 Sawah 411 41. yang berawal dari sebuah cerita masyarakat lokal pada 39 zaman dulu.545 100 Sumber: Data Kependudukan Kantor Desa Cipinang.685 5. 2010 Berdasarkan data pada Tabel 5 di atas. bisa disebut sebagai pengembara.52 8 Situ 2 0. 4.20 5 Kolam 4 0. Dia melihat ada cabai berwarna kuning sebesar drum yang dia kira adalah emas karena ukurannya besar.11 0.01 Jumlah 995. Kampung Gunung Cabe berasal dari areal perbukitan yang memiliki tanaman cabai.20 7 Jalan 5.

diantaranya yaitu sebagai petani. Secara subsisten. mayoritas pendidikan responden di Kampung Joglo dan Kampung Gunung Cabe adalah tidak tamat SD atau tidak sekolah. terdapat satu pabrik industri pertambangan lainnya yang akan segera melakukan aktivitas pertambangan. Hal ini dikarenakan sempitnya luas lahan sawah yang dimiliki oleh perorangan dan banyaknya jumlah anggota dalam keluarga. hanya terdapat satu pabrik industri pertambangan jenis batu milik perusahaan yang dikuasai oleh PT K. dan pedagang.diambil. Sementara itu berdasarkan tingkat pendidikan. Sebesar 50 persen atau sebanyak 15 responden di Kampung Joglo tidak tamat SD. sehingga hasil dari pertanian hanya mencukupi konsumsi anggota keluarga petani saja. Sedangkan di Kampung Joglo terdapat tiga pabrik industri pertambangan jenis batu dan pasir teras milik perusahaan yang dikuasai oleh PT L dan PT M yang kini masih produktif. Kampung Gunung Cabe dan Kampung Joglo memiliki karakteristik yang berbeda. 4. hasil pertanian untuk jenis komoditas tersebut hanya cukup untuk makan anggota keluarga petani itu sendiri. Si pendaki menjadi ketakutan dan tidak berani mengambil cabai tersebut. Akhirnya dia pergi kemudian yang dulu sebuah bukit kini menjadi kampung bernama Kampung Gunung Cabe (Bapak Skd.3 Karakteristik Responden Rata-rata umur responden dalam penelitian ini adalah 37 tahun. Sementara itu. sopir truk pengangkut barang tambang. buruh tambang. tokoh masyarakat berusia 33 tahun). Salah satu perbedaan tersebut terlihat pada banyaknya jumlah pabrik industri pertambangan yang terdapat di masing-masing kampung. . Rata-rata hasil dari pertanian untuk jenis komoditas padi tidak dijual ke orang lain. Di Kampung Gunung Cabe. ternyata disekelilingnya ada harimau dan babi yang sedang menunggu cabai tersebut. Jenis mata pencaharian masyarakat Kampung Gunung Cabe dan Kampung Joglo sangat beragam.

Kalau misalnya nebeng. takutnya terjadi apa-apa gitu. dimana lebih dari 50 persen yakni sebesar 57 persen atau sebanyak 17 responden tidak tamat SD. Disini penduduknya kebanyakan hanya berpendidikan SD. sebesar 44 persen atau sebanyak 13 responden tamat SD. Tingkat Pendidikan Responden Desa Cipinang. ya sekitar 7000 meter persegi-an lah (Bapak Skd. 2011 Rendahnya pendidikan rumahtangga responden ini diikuti pula dengan rendahnya tingkat pendidikan anak. Sekarang sih saya sedang mengajukan pendirian sekolah karena kebetulan disini ada tanah milik bersama. tapi tempatnya jauh. Ada sih. mayoritas responden di masing-masing kampung bergerak di sektor non pertanian.Sama halnya dengan responden di Kampung Gunung Cabe. Hal ini dikarenakan minimnya sarana dan prasarana pendidikan sekolah. 40 sebanyak 40 persen atau 12 responden tamat SD. Jumlah responden yang bergerak di sektor non pertanian sebanyak 25 responden atau sebesar 83 persen dari Kampung Persentase responden (%)41 . Hal tersebut sebagaimana terlihat pada Gambar 5 di bawah ini. dan tiga persen atau satu responden tamat SMP. Berdasarkan sektor pekerjaan. dan hanya sebesar tiga persen atau satu responden yang dapat tamat SMA dan tamat perguruan tinggi. Anak-anak juga tidak diijinkan sekolah sama orang tuanya karena pada was-was. Yah. Sementara itu responden di Kampung Joglo lainnya. yang namanya anak kecil kan suka bandel. tokoh masyarakat berusia 33 tahun). Keterangan: n Kampung Joglo = 30 rumahtangga n Kampung Gunung Cabe = 30 rumahtangga Gambar 5. yang kemudian di perparah dengan letak dan jarak sekolah yang sangat jauh. soalnya disini hanya ada truk yang suka gangkut-ngangkut barang tambang sebagai kendaraannya. tidak sekolah malah karena di kampung ini kan tidak ada sekolahan.

Joglo. sebanyak 25 responden atau sebesar 83 persen merupakan masyarakat asli. Keterangan: n Kampung Joglo = 30 rumahtangga n Kampung Gunung Cabe = 30 rumahtangga Gambar 6. Hal tersebut sebagaimana terlihat pada Gambar 6 di bawah ini. yaitu dua responden atau tujuh persen dari Kampung joglo dan tujuh responden atau 23 persen dari Kampung Gunung Cabe bergerak di dua sektor sekaligus. Sebanyak 22 responden atau sebesar 73 persen responden di Kampung Joglo adalah masyarakat asli. yaitu penduduk asli dan penduduk pendatang. Rumahtangga Desa Cipinang berdasarkan asal kependudukan pada penelitian ini dibedakan menjadi dua kategori. Sementara itu. sedangkan penduduk pendatang merupakan setiap orang yang lahir di luar lokasi penelitian. Sisanya yaitu sebanyak lima responden atau sebesar 17 persen merupakan Persentase responden (%)42 masyarakat pendatang. Jumlah Responden Berdasarkan Sektor Pekerjaan Berdasarkan data pada Gambar 6 di atas. Sisanya. Keterangan: n Kampung Joglo = 30 rumahtangga n Kampung Gunung Cabe = 30 rumahtangga . yaitu sektor pertanian dan non pertanian. sebanyak tiga responden atau sepuluh persen dari Kampung Joglo dan tujuh responden atau 23 persen dari Kampung Gunung Cabe bergerak di sektor pertanian. dan 16 responden atau sebesar 54 persen dari Kampung Gunung Cabe. dapat ditarik kesimpulan bahwa perekonomian Desa Cipinang saat ini sudah didominasi oleh sektor non pertanian. Sementara itu di Kampung Gunung Cabe. Penduduk asli dalam hal ini didefinisikan sebagai setiap orang yang telah lahir dan bertempat tinggal di daerah atau lokasi penelitian. yaitu 27 persen atau sebanyak delapan responden merupakan masyarakat pendatang. Sisanya. Persentase responden berdasarkan asal kependudukan terlihat pada Gambar 7 di bawah ini.

PT M. Mulai pada awal tahun 1980-an. Kedua perusahaan tersebut merupakan perusahaan . Kekayaan sumberdaya alam tersebut menjadi faktor penarik bagi para investor dari dalam dan luar negeri untuk melakukan investasi di sektor pertambangan. Hal ini terlihat dari banyaknya aktivitas industri pertambangan yang tersebar di beberapa kawasan Desa Cipinang. PT N. Tujuh perusahaan pertambangan yang berada dalam wilayah Desa Cipinang tersebut diantaranya yaitu PT B. dan menyebabkan para pendatang semakin terdorong untuk bekerja di sektor pertambangan yang terdapat di Kampung Joglo. Hal ini dikarenakan jumlah pabrik industri pertambangan di Kampung Joglo lebih banyak sehingga kesempatan kerja lebih luas. Jumlah total perusahaan yang melakukan aktivitas pertambangan di Desa Cipinang sebanyak tujuh perusahaan. Kelompok Responden Berdasarkan Asal Kependudukan Jumlah penduduk pendatang di Kampung Joglo lebih banyak dibandingkan dengan jumlah pendatang di Kampung Gunung Cabe. PT L.4 Gambaran Umum Industri Pertambangan di Desa Cipinang Desa Cipinang merupakan salah satu desa yang dialiri oleh Daerah Aliran Sungai (DAS) Cisadane dan memiliki kekayaan sumberdaya alam tambang yang sangat melimpah. banyak perusahaan pertambangan yang memasuki wilayah Desa Cipinang. PT K. Perusahaan tersebut merupakan perusahaan yang telah mendapatkan izin langsung dari pemerintah sehingga bersifat legal.Gambar 7. dan PT R. PT H. Adapun jenis bahan tambang yang dikeruk adalah jenis bahan galian golongan C Persentase responden (%)43 seperti batu. PT B dan PT H merupakan perusahaan pertambangan yang jaraknya sangat dekat dengan Kampung Ciater. pasir teras dan jenis bahan tambang lainnya yang akan digunakan sebagai bahan bangunan atau pemukiman. Perusahaan pertambangan tersebut telah ada sejak tahun 1976-an. 4. PT H merupakan perusahaan pertambangan pertama yang ada di wilayah Desa Cipinang.

Hal ini dikarenakan tingkat kedalaman lahan yang dikeruk dianggap sudah berada pada tingkat ambang batas dan dirasakan sangat membahayakan kondisi lingkungan dan masyarakat sekitar wilayah pertambangan. Namun karena tidak ada tanggapan dari perusahaan. hingga menghancurkan setiap kaca rumah milik warga Kampung Gunung Cabe. Namun. PT K merupakan perusahaan pertambangan yang terdapat di Kampung Gunung Cabe. terbang menuju arah rumah. Seiring dengan adanya aktivitas pertambangan yang dilakukan. menimbulkan pertentangan dari masyarakat lokal. Akhirnya masyarakat Kampung Gunung Cabe melakukan aksi demontrasi ke pihak perusahaan. Kehadiran PT K di Kampung Gunung Cabe pernah mendapatkan pertentangan dari masyarakat lokal. Penyebab terjadinya konflik karena dilatarbelakangi oleh adanya aktivitas peledakan batu yang berdampak terhadap 44 hancurnya kaca-kaca yang terdapat di setiap rumah milik warga. Perusahaan tersebut saat ini dikuasai oleh pengusaha luar negeri yang berasal dari etnis Tiong Hoa. maka masyarakat terpaksa menghentikan upaya tersebut. Perusahaan ini bergerak di bidang pertambangan batu/andesit yang sudah berdiri sejak tahun 1981. Konflik yang terjadi sekitar empat tahun yang lalu tersebut merupakan konflik yang melibatkan masyarakat lokal dan perusahaan. wilayah pertambangan yang dikeruk oleh perusahaan merupakan wilayah pegunungan bernama Gunung Eundeur. . Gunung tersebut di kelilingi oleh wilayah persawahan pada bagian bawah gunung. Serpihan batu yang dihasilkan saat proses peledakan. Awalnya.yang sudah berdiri paling awal dan paling lama dibandingkan dengan perusahaan pertambangan lainnya di wilayah Desa Cipinang. Pertentangan tersebut tumbuh menjadi konflik terbuka seiring dengan adanya aktivitas blasting yang dilakukan. saat ini wilayah pegunungan tersebut telah berubah menjadi wilayah pertambangan karena sebagian warga telah menjual lahan sawahnya kepada pihak perusahaan.

PT L merupakan perusahaan pertambangan yang sudah berdiri sejak satu tahun yang lalu dan bergerak di bidang pertambangan batu dan pasir teras. 45 . Perusahaan lainnya yaitu PT M merupakan perusahaan pertambangan yang sudah berdiri sejak 15 tahun yang lalu. Cuma bisa pasrah aja gitu (Bapak Skd. PT H merupakan perusahaan yang baru berdiri sejak satu tahun yang lalu dan bergerak di bidang pasir teras. yaa akhirnya kaca-kaca rumah warga pada pecah. Selain aktivitas blasting yang mengganggu pendengaran masyarakat. Sementara itu. gangguan terhadap sumber air seperti kekeringan di musim kamarau pun menjadi permasalahan yang paling dikeluhkan oleh masyarakat. terus batu batu yang hancur itu pada terbang ke rumah-rumah warga. Di Kampung Joglo. namun saat ini gunung tersebut telah berubah menjadi area pertambangan yang terus menerus dikeruk dan tengah dikuasai oleh pengusaha asal Cina.Dulu sekitar empat tahun yang lalu semua warga Gunung Cabe pada demo ke proyek soal ledakan. pihak perusahaan menyediakan selang air bersih yang dapat digunakan oleh semua warga sedangkan pada saat musim kemarau. tokoh masyarakat berusia 33 tahun). Perusahaan ini bergerak di bidang batu dan pasir teras dengan nama gunung yang dikeruk adalah Gunung Cirante. saat ini telah ada upaya dari pihak perusahaan maupun pemerintah untuk mengatasi permasalahan kekeringan tersebut. Awalnya daerah pertambangan tersebut merupakan area pegunungan bernama Gunung Sariin. Di Kampung Gunung Cabe. pihak pemerintah memberikan bantuan air lewat tangki-tangki yang diisikan ke bak-bak penampungan air milik warga. Padahal udah di laporin juga ke pemerintah tapi karena tidak ada tanggapan sama sekali dari proyek akhirnya ya sudah warga nggak bisa berbuat apa-apa lagi. Soalnya waktu itu kan ada ledakan batu. PT K merupakan perusahaan pertambangan yang jaraknya paling dekat dengan Kampung Gunung Cabe. Namun.

Di Kampung Gunung Cabe terdapat satu perusahaan yang dikuasai oleh PT K. Rp 300.1 Pabrik Industri Pertambangan di Desa Cipinang Pada penelitian ini. karena kegiatan pemberdayaan masyarakat masih belum dilakukan. studi perbandingan dilakukan berdasarkan pada banyaknya jumlah pabrik industri pertambangan untuk mengetahui dampaknya pada sektor pertanian. 4. Keberadaan perusahaan-perusahaan tersebut memberikan dampak pada sektor perekonomian warga yang kini lebih dominan sebagai buruh harian lepas. Hal tersebut sebagaimana terlihat oleh adanya pemberian uang tunai yang diberikan oleh perusahaan sebesar Rp 400. sedangkan PT N merupakan perusahaan pertambangan yang dulu telah bangkrut namun dalam waktu yang dekat akan segera melakukan aktivitas pertambangan kembali. Dua perusahaan skala besar dikuasai oleh PT L dan PT M yang hingga kini masih produktif dan dua perusahaan lainnya yaitu PT H sebagai perusahaan skala kecil yang hanya dikuasai oleh beberapa orang saja. yang memanfaatkan sisa-sisa tambang hasil galian perusahaan tersebut.4. jumlah total pabrik industri pertambangan sebanyak empat perusahaan.000 untuk . Bentuk kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) yang dilakukan oleh perusahaan pertambangan di kedua kampung tersebut masih tergolong charity. Dari Desa Cipinang dilakukan pengklasteran menjadi dua kampung yaitu Kampung yang memiliki jumlah pabrik industri pertambangan sedikit dengan sektor pertanian masih banyak yaitu Kampung Gunung Cabe sedangkan kampung yang memiliki jumlah pabrik industri pertambangan banyak dengan sektor pertanian sedikit yaitu Kampung Joglo. Sementara itu di Kampung Joglo.000 untuk pengelolaan masjid. Kontur wilayah Desa Cipinang yang dikelilingi bukit membuat kondisi tanahnya cukup subur dan sangat potensial dalam pengembangan sektor pertanian.Perusahaan ini merupakan perusahaan skala kecil yang mengeruk area pegunungan bernama Gunung Cabe.

sedangkan PT 46 M membuat sumur sebanyak tiga buah yang dapat dipergunakan oleh masyarakat Kampung Joglo. sedangkan PT R memberikan uang setiap satu bulan sekali sebesar Rp 200. Aktivitas blasting oleh PT M dilakukan sebanyak dua kali dalam waktu satu hari. aktivitas blasting tergolong sedang apabila blasting dilakukan sebanyak dua kali.000 untuk kegiatan kepemudaan. dan Rp 600. Aktivitas blasting tergolong rendah apabila blasting dilakukan sebanyak satu kali. Aktivitas blasting oleh PT K yang terdapat di Kampung Gunung Cabe dilaksanakan sebanyak dua kali dalam waktu satu hari yaitu pada saat siang dan sore hari pukul 12.000 perbulan untuk lingkungan dan Rp 150.2 Aktivitas Blasting Aktivitas blasting atau peledakan bahan tambang yang terdapat di Kampung Joglo dan Kampung Gunung Cabe dilakukan setiap hari pada saat siang dan sore hari. 4. sedangkan aktivitas blasting tergolong tinggi apabila dilakukan sebanyak lebih . Sementara itu Aktivitas blasting oleh PT L yang terdapat di Kampung Joglo dilakukan sebanyak satu kali pada siang hari. Hal ini sebagaimana terlihat pada Gambar 8 di bawah ini. Tingkat Frekuensi Blasting Gambar 8 di atas menunjukkan tingkat frekuensi blasting di Kampung Joglo dan Kampung Gunung Cabe.000 untuk lingkungan. Keterangan: n Kampung Joglo = 30 rumahtangga n Kampung Gunung Cabe = 30 rumahtangga Gambar 8.kegiatan kepemudaan.00 WIB. sehingga jumlah total aktivitas blasting yang dilakukan di Kampung Joglo adalah sebanyak tiga kali dalam kurun waktu satu hari. Selain itu.4. Pada penelitian ini penggolongan aktivitas blasting dibagi menjadi tiga bagian yaitu golongan tinggi.00 WIB dan pukul 17. pihak PT L juga membuat sumur sebanyak empat buah untuk dipergunakan oleh masyarakat.000 untuk lingkungan. Sementara itu PT M memberikan uang sebesar Rp 500. sedang dan rendah.

Hal ini dikarenakan jumlah pabrik industri pertambangan di Kampung Joglo lebih banyak dibandingkan frekuensi blasting di Kampung Gunung Cabe sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa semakin banyak jumlah pabrik industri pertambangan. Data tersebut menunjukkan bahwa frekuensi blasting yang dilakukan di Kampung Joglo lebih tinggi dibandingkan di Kampung Gunung Cabe. jumlah pabrik industri pertambangan dan frekuensi blasting terangkum sebagaimana Tabel 6 di bawah ini. Karakteristik Responden di Desa Cipinang. 2011.Persentase responden (%)47 dari dua kali dalam jangka waktu satu hari. Tabel 6. sektor pekerjaan. maka semakin tinggi tingkat frekuensi blasting. 4. sehingga aktivitas blasting di Kampung Joglo tergolong tinggi. asal kependudukan. Aspek Penelitian Kampung Joglo Kampung Gunung Cabe Tingkat Pendidikan Sangat rendah Sangat rendah Sektor Pekerjaan Non pertanian Non pertanian Asal Kependudukan Asli Asli Jumlah Pabrik Industri Pertambangan Banyak Sedikit .5 Ikhtisar Karakteristik responden dengan jumlah total 60 rumahtangga berdasarkan pada tingkat pendidikan yang di tempuh. Sementara itu di Kampung Gunung Cabe sebesar seratus persen atau sebanyak 30 rumahtangga di menyatakan bahwa aktivitas blasting dilakukan sebanyak dua kali dalam sehari. sehingga aktivitas blasting di Kampung Gunung Cabe tergolong sedang. Di Kampung Joglo sebesar seratus persen atau sebanyak 30 rumahtangga menyatakan blasting dilakukan sebanyak tiga kali sehari. Hal tersebut merupakan akumulasi dari aktivitas blasting yang dilakukan oleh PT L dan PT M.

Frekuensi Blasting Tinggi Sedang Sumber: hasil pengolahan data primer. mayoritas masyarakat bergerak di sektor non pertanian yaitu dengan bekerja di sektor pertambangan sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa saat ini perekonomian Desa Cipinang telah di dominasi oleh sektor non pertanian. Sementara itu frekuensi blasting di Kampung Gunung Cabe tergolong sedang. memberikan berbagai dampak terhadap struktur sosial masyarakat Desa Cipinang. Berdasarkan sektor 48 pekerjaan. Mayoritas penduduk Kampung Joglo dan Kampung Gunung Cabe merupakan warga negara asli yang berasal dari daerah itu sendiri. 49 BAB V DAMPAK SOSIO-EKONOMI AKTIVITAS PERTAMBANGAN Pelaksanaan pembangunan di Indonesia dengan melakukan transformasi sektor tradisional menjadi sektor industri. Sementara itu. tingkat frekuensi blasting tergolong tinggi. Di Kampung Joglo. Hal ini dikarenakan minimnya sarana pendidikan yang ada di Desa Cipinang. Mayoritas penduduk Desa Cipinang yang pada awalnya bergerak di sektor pertanian kini mulai beralih meninggalkan sektor tradisional tersebut dengan menjadi pekerja di sektor industri . Hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak jumlah pabrik industri pertambangan. Jumlah pabrik industri pertambangan di Kampung Joglo tergolong banyak karena memiliki jumlah total sebanyak empat perusahaan pertambangan. 2011 Berdasarkan data pada Tabel 6 di atas terlihat bahwa tingkat pendidikan di Kampung Joglo dan Kampung tergolong sangat rendah. jumlah pabrik industri pertambangan di Kampung Gunung Cabe tergolong sedikit karena hanya memiliki jumlah total sebanyak satu perusahaan pertambangan. maka semakin tinggi tingkat frekuensi blasting. Banyaknya jumlah pabrik industri pertambangan akan mempengaruhi tingkat frekuensi blasting yang dilakukan.

787. Selain itu. Berbagai dampak positif dan negatif aktivitas pertambangan dirasakan berbeda bagi setiap lapisan sosial yang terdapat di Desa Cipinang. studi perbandingan juga dilakukan pada persepsi masyarakat mengenai kondisi sosial ekonomi dan lingkungan pada saat sebelum dan sesudah adanya aktivitas pertambangan.607. sistem pelapisan sosial yang ada berdasarkan pada struktur pendapatan yang diperoleh masyarakat. kesempatan kerja sektor pertanian dan non pertanian. pelapisan sosial.117. melainkan juga pada aspek sosial dan ekonomi yang meliputi tingkat pendapatan masyarakat. 5. yang dilakukan dalam kurun waktu satu . untuk melihat pengaruhnya pada sektor pertanian. Struktur pendapatan ini diperoleh dengan menggunakan rumus sebaran normal pada rataan pendapatan berdasarkan jumlah pendapatan dari aktivitas pekerjaan. Studi perbandingan ini berdasarkan pada banyaknya jumlah pabrik industri pertambangan. Pada penelitian ini.1 Struktur Pendapatan Struktur pendapatan masyarakat pada penelitian digolongkan menjadi tiga kategori yaitu kategori rendah apabila pendapatan yang diperoleh lebih kecil dari Rp 8. Hal ini dikarenakan sistem pelapisan sosial di Kampung Joglo dan Kampung Gunung Cabe masih tergolong rendah dan masih bersifat egaliter. Dampak kehadiran industri pertambangan bagi masyarakat Desa Cipinang tidak hanya terlihat pada perubahan struktur mata pencaharian saja. Pada penelitian ini juga akan dilakukan studi perbandingan pada dua kampung yang berbeda yaitu Kampung Joglo dan Kampung Gunung Cabe. tingkat pendapatan sedang apabila pendapatan yang diperoleh antara Rp 8.787.964.607.pertambangan.964. sedangkan tingkat pendapatan tergolong tinggi apabila pendapatan yang diperoleh lebih besar atau 50 sama dengan Rp 16. serta tingkat konflik yang terjadi di masyarakat sebagai akibat adanya perubahan kondisi lingkungan.117 hingga lebih kecil dari Rp 16.

Adapun pada penelitian ini. mayoritas masyarakat pada kategori lapisan menengah dan lapisan bawah diduduki oleh anggota masyarakat yang hanya bekerja sebagai petani. Keterangan: n Kampung Joglo = 30 rumahtangga n Kampung Gunung Cabe = 30 rumahtangga Gambar 9. 2011 Gambar 9 di atas menunjukkan perbandingan struktur pendapatan masyarakat di Kampung Joglo dan Kampung Gunung Cabe. istri atau anak dengan bertani dan melakukan pekerjaan lain seperti berdagang atau bekerja di perusahaan pertambangan.607 adalah sebesar 20 persen atau sebanyak enam rumahtangga. sedangkan mayoritas masyarakat di Kampung Gunung Cabe memiliki pendapatan sedang dengan Persentase responden (%) Kampung Joglo (Jumlah pertambangan banyak)51 persentase sebesar 60 persen atau sebanyak 18 rumahtangga. Pada umumnya. pedagang atau pekerja perusahaan pertambangan. Struktur Pendapatan Rumahtangga Desa Cipinang. masyarakat pada lapisan atas merupakan anggota masyarakat yang melakukan sistem atau pola nafkah ganda yang dilakukan oleh suami. Hanya sebesar 27 persen atau sebanyak delapan rumahtangga saja yang memiliki tingkat pendapatan rendah. Sementara itu. Dari Gambar 9 tersebut terlihat bahwa mayoritas penduduk di Kampung Joglo berada pada tingkat pendapatan sedang dan rendah dengan persentase sebesar 40 persen atau sebanyak 12 rumahtangga untuk masing-masing golongan.tahun selama bulan Januari hingga Desember 2010.964. masyarakat di Kampung Joglo yang memiliki pendapatan tinggi dengan pendapatan di atas Rp 16. Jumah tersebut lebih banyak dibandingkan dengan jumlah masyarakat di Kampung Gunung Cabe yang hanya berjumlah sebanyak . Sementara itu. sektor pekerjaan tersebut dibedakan menjadi dua kategori yaitu sektor pertanian dan sektor non pertanian.

empat rumahtangga atau sebesar 13 persen saja.2 Kategori Lapisan Sosial Berdasarkan Struktur Pendapatan Berdasarkan data struktur pendapatan yang diperoleh dari masyarakat Kampung Joglo dan Kampung Gunung Cabe. Data pada Gambar 10 menunjukkan bahwa mayoritas lapisan sosial di kedua kampung ditempati oleh . Keterangan: n Kampung Joglo = 30 rumahtangga n Kampung Gunung Cabe = 30 rumahtangga Gambar 10. sedangkan penggolongan lapisan sosial bawah berdasarkan pada struktur pendapatan rendah. Berdasarkan data tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa banyaknya jumlah pabrik industri pertambangan belum dapat memberikan pengaruh pada kemajuan perekonomian masyarakat lokal dan cenderung menimbulkan rantai kemiskinan karena pendapatan yang diperoleh masyarakat masih berada di bawah garis kemiskinan. berdasarkan pada masyarakat yang menduduki struktur pendapatan tinggi. Penggolongan lapisan menengah berdasarkan pada masyarakat yang menduduki struktur pendapatan rata-rata. Dampak negatif berupa penurunan kualitas lingkungan hidup dan masih rendahnya tingkat perekonomian masyarakat lokal menimbulkan ketidakadilan dari hasil pembangunan yang telah dilakukan. Pemerataan pembangunan melalui sektor pertambangan masih belum dirasakan oleh masyarakat lokal. 5. maka terbentuk pelapisan sosial di kedua kampung tersebut. Lapisan Sosial Desa Cipinang Berdasarkan Struktur Pendapatan Persentase responden (%) Kampung Joglo (Jumlah pertambangan banyak) Kampung Gunung Cabe (Jumlah pertambangan sedikit)52 Penggolongan lapisan atas pada masyarakat di Kampung Joglo dan Kampung Gunung Cabe.

belum dapat memberikan kestabilan pada pelapisan sosial berdasarkan struktur pendapatan. masyarakat pada lapisan atas menduduki peringkat paling rendah dengan masing-masing persentase 20 persen atau sebanyak enam rumahtangga di Kampung Joglo dan 13 persen atau sebanyak empat rumahtangga di Kampung Gunung Cabe. Dari data tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa kehadiran industri pertambangan belum mampu memberikan pemerataan pada sistem lapisan sosial dan justru menambah jumlah lapisan sosial bawah yang mayoritas ditempati oleh rumahtangga miskin di wilayah pedesaan. Anggota keluarga tersebut bekerja di perusahaan pertambangan yang jaraknya dekat dengan lokasi tempat tinggal dan seringkali memberikan bantuan dalam pembiayaan kebutuhan hidup rumahtangga sehari-hari. Di Kampung Gunung Cabe. sehingga mayoritas masyarakat menduduki lapisan sosial menengah. Hal ini terlihat dari masih banyaknya jumlah masyarakat yang menduduki lapisan sosial bawah dan lapisan sosial menengah dibandingkan dengan masyarakat di Kampung Gunung Cabe sebagai kampung yang memiliki jumlah pertambangan sedikit. dengan masing-masing persentase sebesar 40 persen atau sebanyak 12 rumahtangga di Kampung Joglo dan 60 persen atau sebanyak 18 rumahtangga di Kampung Gunung Cabe. Hal tersebut yang menjadikan pendapatan rumahtangga di Kampung Gunung Cabe semakin bertambah. Bentuk strategi nafkah yang 53 dilakukan rumahtangga di Kampung Gunung Cabe tergolong lebih adaptif . pada umumnya jumlah anggota keluarga yang sudah bekerja masih bertempat tinggal bersama orang tuanya. Berdasarkan data di atas terlihat bahwa pelapisan sosial di masyarakat Kampung Joglo sebagai kampung yang memiliki jumlah pabrik industri pertambangan banyak.lapisan menengah. Sementara itu. Kemudian golongan kedua terbesarnya adalah lapisan bawah yaitu sebesar 40 persen atau 12 rumahtangga di Kampung Joglo dan 27 persen atau sebanyak delapan rumahtangga di Kampung Gunung Cabe.

mayoritas kondisi fisik tempat tinggal untuk kategori sangat layak diduduki oleh lapisan atas dan bawah.3. hasil penjualan lahan pertanian sebagian besar digunakan untuk biaya renovasi rumah. Hal tersebut sebagaimana terlihat pada Gambar 11 di bawah ini. Keterangan: n Kampung Joglo = 30 rumahtangga n Kampung Gunung Cabe = 30 rumahtangga Gambar 11. 5. pada masyarakat lapisan bawah. Satu rumah dihuni oleh lebih dari dua kepala keluarga. sehingga kondisi tempat tinggal menjadi sangat layak untuk dihuni. Kondisi Fisik Tempat Tinggal Berdasarkan Lapisan Sosial Mayoritas masyarakat lapisan menengah di Kampung Joglo dan Kampung Gunung Cabe dengan masing-masing persentase sebesar 50 persen. sehingga meskipun kondisi bangunan bersifat permanen. Hal tersebut terlihat oleh adanya beberapa anggota rumahtangga di Kampung Joglo yang lebih memilih untuk bekerja di luar kampung dengan mengikuti saudaranya. dinding dan alas terbuat dari .1 Kondisi Fisik Tempat Tinggal Salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui tingkat kesejahteraan masyarakat adalah dengan melihat kondisi fisik tempat tinggal masyarakat tersebut. Tingginya pendapatan yang diperoleh masyarakat lapisan atas memberikan kemampuan untuk melakukan perawatan dan renovasi rumah.dibandingkan dengan rumahtangga di Kampung Joglo. Sementara itu. memiliki Persentase responden (%) Kampung Joglo (Jumlah pertambangan banyak)54 kondisi fisik tempat tinggal dengan kategori layak. Di Kampung Joglo dan Kampung Gunung Cabe. Hal ini dikarenakan masyarakat pada lapisan menengah memiliki jumlah anggota keluarga yang sangat banyak.3 Kondisi Tempat Tinggal 5.

Meskipun satu rumah dapat di huni oleh lebih dari dua kepala keluarga. hanya sebesar delapan persen atau sebanyak satu rumahtangga saja pada lapisan menengah di Kampung Joglo yang memiliki status tempat tinggal sebagai penyewa. Hal ini terlihat dari banyaknya jumlah kepala keluarga yang tinggal dalam satu rumah bersama tanggungan anggota keluarganya yang lain.semen namun luas bangunan tidak memadai untuk seluruh anggota keluarga. namun status kepemilikan tempat tinggal adalah milik pribadi. Keterangan: n Kampung Joglo = 30 rumahtangga n Kampung Gunung Cabe = 30 rumahtangga Gambar 12. sebesar 25 persen atau sebanyak dua rumahtangga pada lapisan bawah di Persentase responden (%) Kampung Joglo (Jumlah pertambangan banyak) Kampung Gunung Cabe (Jumlah pertambangan sedikit)55 Kampung Gunung Cabe memiliki status sebagai penumpang pada rumah milik orang lain. sehingga terpaksa menumpang di rumah milik saudaranya.2 Status Tempat Tinggal Masyarakat Kampung Joglo dan Kampung Gunung Cabe memiliki jumlah penduduk yang sangat padat. . Hal ini dikarenakan status tempat tinggal tersebut merupakan hasil warisan dari orang tua. Sementara itu. Hal ini dikarenakan rumahtangga tersebut belum memiliki uang yang cukup untuk mendirikan rumah sendiri. 5. Hal ini dikarenakan rumahtangga tersebut merupakan warga pendatang yang berstatus sebagai pasangan baru menikah. sehingga belum memiliki tempat tinggal secara pribadi.3. Status Tempat Tinggal Berdasarkan Lapisan Sosial Berdasarkan Gambar 12 di atas.

4. Lahan pertanian yang dimiliki digunakan sebagai lahan sawah untuk jenis komoditas padi dan pisang.4 Kepemilikan Lahan Pertanian 5. lahan pertanian yang dimiliki terpaksa dijual kepada pihak perusahaan pertambangan untuk digunakan sebagai biaya pengobatan anggota keluarga yang sakit dan renovasi rumah. Lahan ini dikelola oleh orang lain sebagai buruh tani dengan sistem bagi hasil. Keterangan: n Kampung Joglo = 30 rumahtangga n Kampung Gunung Cabe = 30 rumahtangga Gambar 13. Sementara itu di Kampung Gunung Cabe sebagai kampung yang memiliki kondisi pertanian lebih banyak dibandingkan dengan Kampung Joglo.5. Persentase responden (%) Kampung Joglo (Jumlah pertambangan banyak) Kampung Gunung Cabe (Jumlah pertambangan sedikit)56 Pada umumnya masyarakat lapisan atas di Kampung Joglo memiliki sistem pola nafkah ganda atau bekerja pada dua sektor sekaligus yaitu sebagai petani dan pedagang atau pekerja di perusahaaan pertambangan. Kepemilikan Lahan Pertanian Berdasarkan Lapisan Sosial Mayoritas lapisan menengah dan lapisan bawah masyarakat Kampung Joglo yaitu sebesar 92 persen untuk masing-masing kategori lapisan. mayoritas lahan . tidak memiliki lahan pertanian. Hanya sebesar 67 persen atau sebanyak empat rumahtangga pada lapisan atas saja yang memiliki lahan pertanian. Hal ini sebagaimana terlihat pada Gambar 13 di bawah ini. Hal ini dikarenakan pada lapisan tersebut.1 Rumahtangga yang Memiliki Lahan Pertanian Kepemilikan lahan pertanian pada rumahtangga masyarakat Kampung Joglo dan Kampung Gunung Cabe tergolong sangat rendah.

Sebagian masyarakat masih tetap mempertahankan lahan pertanian sebagai sumber nafkah keluarga. luasnya ya sekitar 5000 meter persegi buat biaya berobat istri Bapak yang sedang sakit. jumlah rumahtangga yang masih memiliki lahan pertanian. Mayoritas masyarakat pada lapisan atas dan lapisan menengah di kampung tersebut tidak memiliki lahan. Harga lahan yang semakin mahal yang dijanjikan pihak perusahaan pertambangan menjadi faktor penarik bagi masyarakat untuk menjual lahan pertaniannya. Rjk. Di Kampung Gunung Cabe. Semakin banyak jumlah pabrik industri pertambangan maka semakin tinggi tingkat terjadinya transformasi sektor pertanian menuju sektor non57 pertanian. tokoh agama berusia 57 tahun). jumlah pertambangan di Kampung Gunung Cabe masih tergolong sedikit. Uang hasil penjualan lahan pertanian digunakan untuk biaya renovasi rumah dan modal usaha dengan membuka warung. menjadikan peluang dan daya tarik bagi masyarakat untuk menjual lahannya kepada pihak perusahaan pertambangan. Hal ini dikarenakan lahan pertanian yang dimiliki oleh lapisan atas dan menengah terpaksa dijual ke pihak perusahaan. Bapak pernah sih menjual lahan sawah Bapak ke Proyek. Dulu harganya itu murah. Hal tersebut yang mengakibatkan lahan pertanian di Kampung Joglo menjadi semakin berkurang. Namun sebagian lainnya lebih memilih untuk menjual lahannya kepada pihak perusahaan pertambangan.pertanian dimiliki oleh lapisan bawah dengan persentase sebesar 50 persen. . lebih banyak dibandingkan dengan Kampung Joglo. Nyesel sih sekarang kenapa waktu dulu di jual ke proyek (Bapak Hj. Sementara itu. sehingga berpeluang terhadap semakin sempitnya pekerjaan di sektor pertanian akibatnya semakin sempitnya luas lahan yang dimiliki. Banyaknya jumlah pabrik industri pertambangan di Kampung Joglo. Berdasarkan data tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa kehadiran industri pertambangan menyebabkan semakin berkurangnya jumlah lahan pertanian.

4. sehingga banyak masyarakat yang menjual lahannya ke pihak perusahaan untuk dijadikan sebagai area pertambangan. jumlah masyarakat lapisan bawah yang .2 Luas Lahan yang dimiliki Rendahnya kepemilikan lahan masyarakat di Desa Cipinang. Keterangan: n Kampung Joglo = 30 rumah tangga n Kampung Gunung Cabe = 30 rumah tangga Gambar 14. akan mempengaruhi rendahnya luas lahan yang dimiliki. Hal tersebut sebagaimana terlihat pada Gambar 15 di bawah ini. Sebesar 50 persen atau sebanyak empat rumahtangga pada kategori lapisan atas masyarakat Kampung Joglo memiliki luas lahan antara 100 hingga 1000 meter persegi. Sementara itu jumlah pabrik industri pertambangan di Kampung Gunung Cabe tergolong sedikit. sedangkan hasil pertanian hanya digunakan untuk konsumsi keluarga saja atau subsisten. Di Kampung Gunung Cabe. sehingga jumlah anggota masyarakat yang menjual lahan pertaniannya kepada pihak perusahaan pun masih sedikit. Luas Kepemilikan Lahan Pertanian Berdasarkan Lapisan Sosial Gambar 14 di atas menunjukkan bahwa luas lahan pertanian di Kampung Gunung Cabe lebih banyak dibandingkan Kampung Joglo. sehingga memiliki kemampuan keuangan yang lebih tinggi dalam menopang kebutuhan hidup. Hal ini dikarenakan jumlah pabrik industri pertambangan di Kampung Joglo tergolong banyak. Hal ini dikarenakan masyarakat pada lapisan atas di Persentase responden (%) Kampung Joglo (Jumlah pertambangan banyak)58 Kampung Joglo merupakan masyarakat yang bergerak di dua sektor pekerjaan sekaligus yaitu sebagai petani dan pekerja perusahaan atau berdagang. Kebutuhan hidup utama ditopang dari hasil berdagang atau bekerja di perusahaan pertambangan.5.

menjadikan masyarakat lokal tidak mampu bersaing untuk menduduki posisi layak di sektor pertambangan. sedangkan hanya sebesar 25 persen atau sebanyak satu rumahtangga saja pada lapisan atas yang memiliki luas lahan antara 100 hingga 1000 meter persegi. Namun rendahnya pendidikan dan keterampilan yang dimiliki. Hal ini dikarenakan sektor pertanian yang pada awalnya menjadi . Hal ini dikarenakan mayoritas masyarakat pada lapisan bawah di Kampung Gunung Cabe hanya bergerak di sektor pertanian. Pemenuhan kebutuhan hidup sangat bergantung pada sektor pertanian sehingga rumahtangga tersebut lebih memilih untuk tidak menjual lahan yang dimiliki. Mayoritas masyarakat yang pada awalnya bermatapencaharian sebagai petani saat ini dituntut untuk melakukan strategi bertahan hidup yaitu dengan bekerja di sektor non pertanian. lebih banyak dibandingkan dengan lapisan atas. Kondisi tersebut akan mempengaruhi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Desa Cipinang. Terdapat 24 persen atau sebanyak dua rumahtangga yang memiliki luas lahan pertanian antara 100 hingga 1000 meter persegi. Hal ini akan menimbulkan dampak pada semakin sempitnya kesempatan kerja sektor pertanian.memiliki luas lahan pertanian tinggi. Sebesar 13 persen pada lapisan atas memiliki lahan dengan luas antara 1000 hingga 5000 meter persegi. Tingginya tingkat persaingan antara masyarakat lokal dengan masyarakat pendatang untuk dapat 59 bekerja di sektor pertambangan menjadi pemicu terjadinya konflik antara kedua pihak tersebut. mayoritas masyarakat di Kampung Joglo dan Kampung Gunung Cabe berstatus tidak memiliki lahan pertanian. 5. Namun secara agregat. Hal ini kemudian akan berdampak terhadap semakin menurunnya kesempatan kerja sektor pertanian.5 Rumahtangga yang Menjual Lahan Pertanian Proses transformasi sektor pertanian menuju sektor non pertanian atau sektor pertambangan di Desa Cipinang terlihat dengan semakin rendahnya jumlah luas lahan pertanian yang dimiliki oleh masyarakat.

Pada umumnya hasil penjualan lahan pertanian tersebut digunakan masyarakat untuk membiayai pengobatan anggota keluarga yang sakit. renovasi rumah dan membeli sawah di tempat yang berbeda. enam persen lapisan menengah dan 14 persen lapisan bawah menyatakan pernah menjual lahan pertanian kepada pihak perusahaan pertambangan dengan jumlah total lahan yang dijual adalah seluas 2. Sementara itu di Kampung Gunung terdapat sebesar 33 persen pada lapisan atas.6 Persepsi Kesempatan Kerja 5.6. Keterangan: n Kampung Joglo = 30 rumahtangga n Kampung Gunung Cabe = 30 rumahtangga Gambar 15.35 hektar.1 Persepsi Kesempatan Kerja Sektor Pertanian . Kampung Joglo (Jumlah pertambangan banyak) Kampung Gunung Cabe (Jumlah pertambangan sedikit) Persentase responden (%)60 5.41 hektar. Jumlah total luas lahan yang dijual oleh ketiga rumahtangga tersebut adalah seluas 0. sehingga hanya lapisan atas di kampung tersebut saja yang dapat menjual lahan pertaniannya kepada pihak perusahaan pertambangan. Pada umumnya mayoritas lahan pertanian di Kampung Joglo dimiliki oleh lapisan atas. Jumlah Rumahtangga yang Menjual Lahan Pertanian Berdasarkan Lapisan Sosial Berdasarkan Gambar 15 di atas terlihat bahwa sebesar 50 persen atau sebanyak tiga rumahtangga pada lapisan atas di Kampung Joglo pernah menjual lahan pertaniannya kepada perusahaan pertambangan.sumber matapencaharian utama masyarakat lokal mengalami penurunan seiring dengan adanya keputusan dari masyarakat lokal untuk menjual lahan pertanian yang dimiliki kepada pihak industri pertambangan.

Pada awalnya. Keterangan: n Kampung Joglo = 30 rumahtangga n Kampung Gunung Cabe = 30 rumahtangga Gambar 16. Sebelum adanya industri pertambangan. sebesar 50 persen atau sebanyak enam rumahtangga pada lapisan menengah dan sebesar 33 persen atau sebanyak empat rumahtangga pada lapisan bawah yang menyatakan kesempatan kerja sektor pertanian paling banyak dibandingkan yang lainnya. mayoritas masyarakat Desa Cipinang bergerak di sektor pertanian. Hal tersebut juga Persentase responden (%) Kampung Joglo (Jumlah pertambangan banyak) Kampung Gunung Cabe (Jumlah pertambangan sedikit)61 dirasakan oleh lapisan sosial menengah dan bawah di Kampung Gunung Cabe. Sebesar 67 persen atau sebanyak empat rumahtangga pada lapisan atas. Kesempatan kerja pertanian terbuka luas karena lahan pertanian masih sangat luas. Di bawah pegunungan tersebut terdapat area persawahan yang dipergunakan oleh masyarakat sebagai sumber utama pemenuhan kebutuhan hidup. mayoritas masyarakat Kampung Joglo disetiap kategori lapisan sosial menyatakan bahwa kesempatan kerja sektor pertanian paling banyak dibandingkan sektor pekerjaan lainnya. Persepsi Responden terhadap Kesempatan Kerja Sektor Pertanian Sebelum Ada Aktivitas Pertambangan Berdasarkan Lapisan Sosial Pada kondisi sebelum ada pertambangan. Terdapat 50 persen atau sebanyak dua rumahtangga pada lapisan sosial atas di Kampung Gunung Cabe yang menyatakan bahwa kesempatan kerja pertanian . wilayah Desa Cipinang dikelilingi oleh area pegunungan. dimana mayoritas masyarakat menyatakan bahwa kesempatan kerja pertanian paling banyak dibandingkan sektor pekerjaan lainnya.

Kalau sekarang pertanian sudah jadi sedikit. di bawahnya lahan sawah. semakin tinggi status rumahtangga pada maka semakin banyak yang menyatakan kesempatan Persentase responden (%) Kampung Joglo (Jumlah pertambangan banyak) Kampung Gunung Cabe (Jumlah pertambangan sedikit)62 kerja pertanian terbatas. Kalau disini. Di Kampung Joglo pada kondisi setelah ada pertambangan. tokoh masyarakat berusia 45 tahun). sehingga tidak mengetahui secara jelas kondisi pertanian sebelum ada pertambangan. Hal tersebut dikarenakan rumahtangga lapisan atas di Kampung Joglo merupakan rumahtangga yang paling akses terhadap pertanian. Persepsi Responden terhadap Kesempatan Kerja Sektor Pertanian Setelah Ada Aktivitas Pertambangan Berdasarkan Lapisan Sosial Kondisi kesempatan kerja di sektor pertanian mengalami perubahan seiring dengan banyaknya lahan pertanian yang dijual oleh masyarakat kepada pihak perusahaan. yaitu pada kondisi setelah adanya pertambangan. dulu itu hampir semuanya jadi petani. Hal ini dikarenakan sebagian rumahtangga pada lapisan atas tersebut tidak pernah bekerja secara langsung di sektor pertanian. Keterangan: n Kampung Joglo = 30 rumahtangga n Kampung Gunung Cabe = 30 rumahtangga Gambar 17.terbatas. palingan yang jadi petani ya cuma yang punya lahan saja (Bapak Sf. Sementara itu rumahtangga lapisan bawah di Kampung Gunung Cabe merupakan rumahtangga yang paling akses terhadap pertanian. Berdasarkan data tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa kehadiran industri pertambangan memberikan . Soalnya pada saat dulu gunung yang sekarang jadi proyek itu namanya Gunung Eundeur.

dampak berupa transformasi lahan pertanian menjadi lahan pertambangan. Hal tersebut menjadi salah satu faktor penyebab menurunnya kesempatan kerja sektor pertanian. 5.6.2 Persepsi Kesempatan Kerja Sektor Non Pertanian Kesempatan kerja sektor non pertanian mengalami peningkatan seiring dengan adanya aktivitas pertambangan. Mayoritas masyarakat di Kampung Joglo, dengan persentase sebesar 50 persen atau sebanyak tiga rumahtangga pada lapisan atas dan 58 persen atau sebanyak tujuh rumahtangga lapisan bawah menyatakan bahwa, tidak ada kesempatan kerja non pertanian pada saat sebelum ada pertambangan. Sementara itu sebesar 58 persen atau sebanyak tujuh rumahtangga menyatakan kesempatan kerja terbatas. Hal ini dikarenakan kesempatan kerja di bidang non pertanian masih sangat terbatas. Keterangan: n Kampung Joglo = 30 rumahtangga n Kampung Gunung Cabe = 30 rumahtangga Gambar 18. Persepsi Responden terhadap Kesempatan Kerja Sektor Non Pertanian Sebelum Ada Pertambangan Berdasarkan Lapisan Sosial Persentase responden (%) Kampung Joglo (Jumlah pertambangan banyak)63 Mayoritas masyarakat Kampung Gunung Cabe pada setiap kategori lapisan sosial yaitu sebesar 100 persen atau sebanyak empat rumahtangga pada lapisan atas, sebesar 78 persen atau sebanyak 14 rumahtangga pada lapisan menengah, dan sebesar 87 persen atau sebanyak tujuh rumahtangga pada lapisan bawah menyatakan bahwa pada saat kondisi sebelum ada pertambangan, kesempatan kerja non pertanian terbatas. Hal ini dikarenakan sebelum adanya pertambangan, mayoritas aktivitas kehidupan masyarakat bertumpu pada sektor pertanian. Kesempatan kerja non pertanian sangat sulit di jangkau. Usaha non

pertanian seperti membuka warung, membutuhkan biaya atau modal yang tidak sedikit. Selain itu, faktor pendidikan yang rendah menjadikan masyarakat tidak memiliki keterampilan lain selain di bidang pertanian. Akibatnya masyarakat tidak mampu bersaing dengan pihak lainnya untuk bekerja di sektor non pertanian. Namun kondisi tersebut berubah setelah adanya kehadiran industri pertambangan. Kehadiran industri pertambangan mampu memberikan kesempatan kerja bagi masyarakat. Keterangan: n Kampung Joglo = 30 rumahtangga n Kampung Gunung Cabe = 30 rumahtangga Gambar 19. Persepsi Responden terhadap Kesempatan Kerja Sektor Non Pertanian Setelah Ada Pertambangan Berdasarkan Lapisan Sosial Persentase responden (%) Kampung Joglo (Jumlah pertambangan banyak) Kampung Gunung Cabe (Jumlah pertambangan sedikit)64 Mayoritas masyarakat pada setiap kategori lapisan sosial di Kampung Joglo yaitu sebesar 50 persen atau sebanyak tiga rumahtangga pada lapisan sosial atas, sebesar 42 persen atau sebanyak lima rumahtangga, dan sebesar 50 persen atau sebanyak enam rumahtangga pada kategori lapisan bawah menyatakan bahwa kesempatan kerja non pertanian setelah adanya industri pertambangan tergolong terbuka luas. Hal yang sama dirasakan oleh masyarakat di Kampung Gunung Cabe. Sebesar 50 persen atau sebanyak dua rumahtangga pada lapisan atas dan sebesar 50 persen atau sebanyak empat rumahtangga pada lapisan bawah menyatakan kesempatan kerja terbuka luas. Sementara itu sebanyak delapan rumahtangga atau sebesar 44 persen menyatakan kesempatan kerja pada kondisi sebelum dan setelah

ada pertambangan tergolong sama saja. Hal ini dikarenakan masyarakat pada lapisan tersebut menyatakan sangat sulit untuk menjadi pekerja di pertambangan. Sebagian masyarakat dapat bekerja di perusahaan pertambangan. Namun karena rendahnya pendidikan yang ditempuh, mayoritas warga bekerja sebagai buruh kasar seperti supir truk pengangkut barang tambang dan buruh pengangkut bahan tambang. Adanya standar perusahaan yang menetapkan bahwa setiap orang yang ingin menjadi karyawan tetap, minimal pendidikan yang ditempuh adalah lulusan SMA atau STM. Hal tersebut masih sangat sulit terjangkau, mengingat pendidikan masyarakat lokal yang masih tergolong rendah. Namun hadirnya perusahaan memberikan keuntungan bagi penduduk pendatang. Hal tersebut terlihat dengan banyaknya jumlah penduduk pendatang yang bekerja di perusahaan pertambangan dan berstatus sebagai karyawan tetap. Selain memberikan kesempatan kerja, dampak positif kehadiran perusahaan pertambangan juga dirasakan oleh para pedagang di sekitar pertambangan. Peningkatan ekonomi dirasakan oleh para pedagang setelah hadirnya perusahaan pertambangan. Banyak para pekerja yang ketika beristirahat makan di warung milik pedagang, karena tidak sempat untuk pulang ke rumah. 5.7 Tingkat Kedalaman Konflik 5.7.1 Tingkat Kedalaman Konflik Akibat Perubahan Udara Dampak aktivitas pertambangan pada aspek sosial terlihat dengan adanya konflik sebagai akibat terjadinya perubahan lingkungan. Kondisi suhu udara yang 65 panas, berdebu dan terlihat gersang mengganggu kenyamanan hidup masyarakat di sekitar wilayah pertambangan. Konflik yang terjadi di Kampung Joglo dan Kampung Gunung Cabe merupakan konflik terbuka (manifest), dimana pihak yang berselisih saling melakukan negosiasi terkait permasalahan kerusakan lingkungan. Hal ini terlihat dengan adanya masalah perubahan udara seperti kondisi suhu udara yang panas

Tingkat Kedalaman Konflik Akibat Perubahan Udara Berdasarkan Lapisan Sosial Persentase responden (%) Kampung Joglo (Jumlah pertambangan banyak)66 Sebesar 50 persen atau sebanyak tiga rumahtangga pada lapisan atas masyarakat Kampung Joglo menyatakan perubahan udara tergolong biasa saja. Selain itu anggota keluarga pada masyarakat lapisan atas. sekertaris Desa Cipinang berusia 30 tahun). Hal tersebut dilakukan agar kapasitas debu menjadi semakin berkurang. Masalah yang sering dikeluhkan oleh masyarakat disini itu adalah masalah kebisingan dan debu.dan berdebu mendapatkan perhatian lebih dari pihak perusahaan dengan melakukan upaya penyiraman sebanyak tiga kali dalam satu hari. Pihak perusahaan selalu memberikan kompensasi berupa uang tunai yang diberikan setiap bulan melalui tokoh masyarakat. Uang tunai tersebut merupakan biaya ganti rugi atas kerusakan lingkungan dan berbagai dampak negatif dari usaha pertambangan. Keterangan: n Kampung Joglo = 30 rumahtangga n Kampung Gunung Cabe = 30 rumahtangga Gambar 20. sekarang sudah tidak lagi karena suka ada penyiraman air sehari tiga kali oleh PT (Bapak Sop. Adapun konflik yang terjadi merupakan konflik yang melibatkan masyarakat lokal dengan pihak perusahaan pertambangan. Namun untuk debu. Hal tersebut sebagaimana terlihat pada Gambar 20 di bawah ini. . Hal tersebut dikarenakan pada lapisan atas umumnya ditempati oleh tokoh masyarakat. banyak yang bekerja di perusahaan pertambangan. Tingkat konflik yang terjadi di Kampung Joglo dan Kampung Gunung Cabe masih berada pada level sedang karena umumnya masyarakat hanya mengeluh pada perusahaan.

Selain itu.2 Tingkat Kedalaman Konflik Akibat Polusi Suara Aktivitas pertambangan memberikan dampak negatif berupa polusi suara . hal tersebut menyebabkan kenyamanan hidup masyarakat menjadi sangat terganggu. masyarakat di Kampung Gunung Cabe juga tidak merasakan adanya bentuk kompensasi atau biaya ganti rugi akibat terjadinya perubahan udara seperti apa yang dilakukan oleh pihak perusahaan pertambangan di Kampung Joglo.Rjk.7. Hal tersebut dikarenakan adanya perubahan signifikan yang dirasakan oleh masyarakat pada kondisi awal dimana suhu udara masih terasa sejuk dan tidak berdebu namun kini berubah menjadi panas. Termasuk Bapak gitu hehehe (Bapak Hj. berdebu dan terlihat gersang. masyarakat pada lapisan menengah dan bawah juga tidak merasakan adanya kompensasi seperti yang diberikan oleh pihak perusahaan kepada lapisan atas. Semua kategori lapisan sosial masyarakat di Kampung Gunung Cabe yaitu sebesar 100 persen atau sebanyak empat rumahtangga pada lapisan atas. Selain itu. sebesar 94 persen atau sebanyak 17 rumahtangga pada lapisan menengah.Kalau Bapak sih nggak bisa ngomong secara gamblang gitu untuk ngomongin apa yang Bapak keluhkan ke proyek soalnya kan anak Bapak ada yang kerja disana. Terus dari proyek juga suka ngasih uang untuk tokoh masyarakat disini. tokoh agama berusia 57 tahun). Sementara itu. dan sebesar 100 persen atau sebanyak delapan rumahtangga pada lapisan bawah menyatakan mengeluh akibat perubahan udara. Terjadi perbedaan tingkat kedalaman konflik antara masyarakat Kampung Joglo dan masyarakat Kampung Gunung Cabe.67 5. Hal ini dikarenakan debu sebagai limbah buangan pabrik industri pertambangan dirasakan sangat mengganggu masyarakat. sebesar 93 persen atau sebanyak delapan rumahtangga pada lapisan menengah dan sebesar 50 persen atau sebanyak enam rumahtangga pada lapisan bawah di Kampung Joglo menyatakan mengeluh akibat perubahan udara yang terjadi.

atau kebisingan yang berasal dari aktivitas blasting dan kendaraan truk pengangkut bahan tambang. sebesar 67 persen atau sebanyak delapan rumahtangga pada kategori lapisan menengah dan sebesar 50 persen atau sebanyak enam rumahtangga pada kategori lapisan bawah menyatakan mengeluh akibat polusi suara. Mayoritas masyarakat pada setiap kategori lapisan sosial di Kampung Joglo dan Kampung Gunung Cabe menyatakan mengeluh akibat polusi suara. Sebesar 75 persen atau sebanyak tiga rumahtangga lapisan atas. dan retakan pada rumah warga. Keterangan: n Kampung Joglo = 30 rumahtangga n Kampung Gunung Cabe = 30 rumahtangga Gambar 21. lebih banyak dibandingkan dengan lapisan menengah dan lapisan bawah. Jumlah persentase lapisan atas yang menyatakan mengeluh. Di Kampung Joglo sebesar 100 persen atau sebanyak enam rumahtangga pada kategori lapisan atas. aktivitas tidur. Tingkat Kedalaman Konflik Akibat Polusi Suara Berdasarkan Lapisan Sosial Persentase responden (%) Kampung Joglo (Jumlah pertambangan banyak) Kampung Gunung Cabe (Jumlah pertambangan sedikit)68 Hal yang sama terjadi pada masyarakat Kampung Gunung Cabe. Hal ini dikarenakan tingkat kebisingan yang dirasakan oleh masyarakat pada lapisan atas. Kebisingan yang terjadi menimbulkan gangguan pada pendengaran. Mayoritas setiap kategori lapisan sosial di Kampung Gunung Cabe menyatakan mengeluh akibat terjadinya polusi suara. lebih tinggi akibat jarak rumah yang lebih dekat dengan lokasi blasting dan jalan raya sebagai tempat melajunya kendaraan truk pengangkut bahan tambang. . sebesar 83 persen atau sebanyak 15 rumahtangga lapisan menengah. proses komunikasi.

Berdasarkan data tersebut terlihat bahwa sensitivitas kebisingan lapisan atas di Kampung Joglo lebih tinggi dibandingkan dengan lapisan menengah dan bawah. semakin tinggi status sosial masyarakat maka semakin tinggi tingkat keluhan terhadap kebisingan.7.3 Tingkat Kedalaman Konflik Akibat Gangguan Sumber Air Masyarakat Kampung Joglo dan Kampung Gunung Cabe pada umumnya menggunakan air sumur sebagai sumber air. Hanya sebagian kecil dari masyarakat yang menggunakan sungai sebagai sumber air. Hal ini dikarenakan tingkat kebisingan yang dirasakan oleh lapisan bawah lebih tinggi dibandingkan dengan lapisan atas dan lapisan menengah akibat jarak rumah yang lebih dekat dengan lokasi blasting dan jalan raya sebagai tempat melajunya kendaraan truk. 5. Pada kategori lapisan sosial di Kampung Joglo. Di Kampung Joglo sebesar seratus persen atau sebanyak enam rumahtangga pada . Permasalahan ini. semakin rendah status sosial di masyarakat maka semakin tinggi tingkat keluhan terhadap kebisingan. sehingga jumlah masyarakat yang mengeluh pada lapisan bawah lebih banyak dibandingkan dengan lapisan menengah dan atas. tingkat sensitivitas kebisingan lapisan bawah di Kampung Gunung Cabe lebih tinggi dibandingkan dengan lapisan atas dan menengah. menjadi salah satu masalah yang paling dikeluhkan oleh masyarakat Kampung Joglo dan Kampung Gunung Cabe. Jumlah persentase yang mengeluh pada lapisan bawah lebih besar dibandingkan dengan lapisan menengah dan lapisan bawah. Data pada Gambar 22 menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat pada setiap kategori lapisan sosial menyatakan mengeluh akibat gangguan sumber air.dan sebesar 100 persen atau sebanyak delapan rumahtangga pada lapisan bawah menyatakan mengeluh akibat polusi suara. Permasalahan yang ditimbulkan oleh adanya aktivitas pertambangan pada sumber air tersebut adalah terjadinya kekeringan pada saat musim kemarau. Sebaliknya. Sementara itu pada kategori lapisan sosial di Kampung Gunung Cabe.

sebesar 75 persen atau sebanyak 15 rumahtangga lapisan menengah. sebesar 75 persen atau sebanyak sembilan rumahtangga lapisan 69 menengah. Sebesar 100 persen atau sebanyak empat rumahtangga pada lapisan atas. Hal yang sama juga terjadi di Kampung Gunung Cabe. Sebagian masyarakat di Kampung Joglo menyatakan masih dapat mengambil air dari sumur yang disediakan oleh perusahaan jika terjadi kekeringan.lapisan atas. dimana mayoritas masyarakat pada setiap kategori lapisan sosial menyatakan mengeluh akibat gangguan sumber air. dan sebesar 100 persen atau sebanyak delapan rumahtangga pada lapisan bawah menyatakan mengeluh akibat gangguan sumber air. sedangkan yang lainnya lebih memilih untuk pergi ke kampung terdekat yang masih terdapat air. maka semakin tinggi tingkat persentase rumah tangga yang mengeluh. Hal ini menunjukkan tingkat sensitivitas lapisan atas terhadap gangguan sumber air lebih tinggi dibandingkan lapisan menengah dan bawah. Sementara itu. masyarakat di Kampung Gunung Cabe masih dapat memperoleh air bersih yang berasal dari selang milik Persentase responden (%) Kampung Joglo (Jumlah pertambangan banyak)70 perusahaan dan air yang disediakan oleh pemerintah melalui tangki-tangki jika terjadi kekeringan saat musim kemarau. dan sebesar 58 persen atau sebanyak tujuh rumahtangga pada lapisan bawah menyatakan mengeluh akibat adanya gangguan sumber air Keterangan: n Kampung Joglo = 30 rumahtangga n Kampung Gunung Cabe = 30 rumahtangga Gambar 22. . Tingkat Kedalaman Konflik Akibat Gangguan Sumber Air Berdasarkan Lapisan Sosial Data pada Gambar 22 di atas menunjukkan bahwa semakin tinggi lapisan sosial di Kampung Joglo.

Keterangan: n Kampung Joglo = 30 rumahtangga n Kampung Gunung Cabe = 30 rumahtangga Gambar 23. pengajian juga dijadikan warga sebagai tempat sharing dan pencarian solusi atas masalah yang dihadapi secara bersama-sama. Selain sebagai tempat berkomunikasi. Selain itu. Kegiatan pengajian ini dilaksanakan setiap hari namun dibedakan berdasarkan lapisan umur di masyarakat seperti orang tua. Melalui kegiatan pengajian tersebut. masyarakat bisa bersilaturahmi dan menjalin komunikasi secara intens dengan masyarakat lainnya.1 Hubungan Antar Masyarakat Lokal Masyarakat Desa Cipinang dikenal sebagai masyarakat yang masih sangat kental unsur keagamaannya. Hal tersebut yang menjadikan hubungan antar sesama masyarakat masih terjalin dengan baik. dan anak-anak. . Kegiatan kerohanian seperti pengajian masih sering dilakukan di daerah tersebut. Sebesar 83 persen atau sebanyak lima rumahtangga lapisan atas. Hubungan Sesama Masyarakat Lokal Berdasarkan Lapisan Sosial Persentase responden (%) Kampung Joglo (Jumlah pertambangan banyak)71 Mayoritas masyarakat pada setiap lapisan sosial di Kampung Joglo menyatakan masih peduli dan suka membantu.8 Hubungan Antar Warga 5.8. Berdasarkan data pada Gambar 23 terlihat perbedaan antara hubungan yang terjadi antar masyarakat lokal di Kampung Gunung Cabe dan Kampung Joglo. sebesar 84 persen atau sebanyak sepuluh rumahtangga lapisan menengah dan 67 persen atau sebanyak delapan rumahtangga lapisan bawah di Kampung Joglo menyatakan masih peduli dan suka membantu. jarak rumah yang berdekatan dan berdempetan pun memudahkan terjadinya proses komunikasi antar warga. remaja.5.

Hal ini dikarenakan pada masyarakat Kampung Gunung Cabe. Ya kalau dulu sih disini warganya pada masih suka gotong royong. Melalui pengajian tersebut. kegiatan pengajian masih sangat sering dilakukan. Sementara itu . masyarakat masih sering melakukan komunikasi. Dana pembangunannya aja dikumpulin dari semua masyarakat. sehingga hubungan masih terjalin dengan erat. Kegiatan seperti perbaikan mesjid pun masih sering dilakukan secara bersama-sama. Kegiatan gotong royong di Kampung Joglo sudah jarang dilakukan. sebesar 72 persen atau sebanyak 13 rumahtangga lapisan menengah dan sebesar 74 persen atau sebanyak enam rumahtangga pada lapisan bawah menyatakan masih peduli dan saling membantu. Hal ini dikarenakan para warga sudah sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Sementara itu sebesar 100 persen atau sebanyak empat rumahtangga pada lapisan atas. Itu untuk ngebangun mesjid yang disebelah situ tuh. tokoh agama berusia 57 tahun).2 Hubungan Antara Masyarakat Lokal dengan Pendatang Pada umumnya. Sebesar 50 persen atau sebanyak tiga rumahtangga lapisan atas di Kampung Joglo menyatakan masih peduli dan suka membantu.Sistem gotong royong masih terdapat di Kampung Gunung Cabe dengan persentase sebesar 11 persen pada lapisan menengah dan 13 persen pada masyarakat lapisan bawah. Rjk. semua masyarakat pada ikut bantu-bantu. hubungan yang terjadi antara masyarakat lokal dengan masyarakat pendatang masih tergolong baik.8. karena mayoritas masyarakat menyatakan peduli dan suka membantu. 5. Pada umumnya. Sebesar 67 persen atau sebanyak delapan rumahtangga lapisan 72 menengah menyatakan masih terjalin kontak dan komunikasi. Mungkin karena pada sibuk kali ya (Bapak Hj. Tapi sekarang sih gotong royong sudah jarang sekali. hubungan yang terjalin antar sesama masyarakat lokal di Kampung Joglo dan Kampung Gunung Cabe masih tergolong baik dan bersifat kolektivis. Kayak untuk pembangunan mesjid begitu.

Terdapat beberapa rumahtangga di Kampung Joglo dan Kampung Gunung Cabe yaitu sebesar 17 persen pada lapisan atas. hubungan yang terjadi antar sesama masyarakat lokal dengan hubungan yang terjadi antara masyarakat lokal dengan pendatang maka hubungan yang terjadi antara masyarakat lokal dengan pendatang tergolong lebih rendah. Hal tersebut tidak jauh berbeda dengan hubungan yang terjadi antara masyarakat lokal dengan pendatang di Kampung Gunung Cabe. Hubungan Antara Masyarakat Lokal dengan Pendatang Berdasarkan Lapisan Sosial Berdasarkan perbandingan. Persentase responden (%) Kampung Joglo (Jumlah pertambangan banyak)73 Sementara itu. Hal ini dikarenakan adanya tingkat persaingan kerja di sektor pertambangan. Keterangan: n Kampung Joglo = 30 rumahtangga n Kampung Gunung Cabe = 30 rumahtangga Gambar 24. terdapat 23 persen lapisan menengah dan 12 persen pada lapisan bawah di Kampung Gunung Cabe yang menyatakan sudah tidak peduli dengan keadaan penduduk pendatang lagi.sebanyak 42 persen atau sebanyak lima rumahtangga lapisan bawah menyatakan masih peduli dan suka membantu. dan sebesar 16 persen pada lapisan bawah di Kampung Joglo menyatakan sudah tidak peduli dengan keadaan penduduk pendatang lagi. Sebesar 50 persen atau sebanyak dua rumahtangga lapisan atas menyatakan masih peduli dan suka membantu. Sementara itu sebesar 63 persen atau sebanyak lima rumahtangga pada lapisan bawah menyatakan masih peduli dan suka membantu. Hal dikarenakan adanya anggota keluarga yang tidak mampu bersaing untuk bekerja di sektor pertambangan sehingga masyarakat . sebesar 25 persen pada lapisan menengah. Sebesar 44 persen atau sebanyak delapan rumahtangga lapisan menengah menyatakan masih terjalin kontak dan komunikasi.

kesempatan kerja sektor pertanian dan . Kepemilikan lahan pertanian tergolong rendah karena banyak dari anggota masyarakat yang menjual lahannya kepada pihak perusahaan. Adanya tingkat persaingan antara masyarakat lokal dengan pendatang ini berpeluang menimbulkan konflik. Selain itu. Terjadi perubahan kesempatan kerja pertanian pada kondisi sebelum dan setelah ada pertambangan. Tapi giliran penduduk pendatang aja langsung diterima. 5. Kesempatan kerja sektor pertanian pada kondisi sebelum ada pertambangan tergolong sangat mudah.9 Ikhtisar Kehadiran industri pertambangan memberikan dampak positif dan negatif pada aspek sosio-ekonomi masyarakat Desa Cipinang. menjadikan masyarakat lokal tidak mampu bersaing dengan masyarakat pendatang untuk bekerja dan menduduki posisi yang layak di perusahaan pertambangan. Soalnya anak Ibu yang sudah susah payah melamar kerja di pertambangan tidak diterima. akibat dominasi perekonomian oleh masyarakat pendatang terhadap masyarakat lokal. Rendahnya pendidikan yang di tempuh dan minimnya keterampilan yang dimiliki. dampak pada aspek sosioekonomi seperti struktur pendapatan.tersebut sulit menjangkau perusahaan. namun menjadi sulit setelah ada pertambangan. Ibu sudah tidak peduli lagi sama penduduk pendatang. pedagang dan Ibu rumahtangga berusia 60 tahun). Di Kampung Joglo dan Kampung Gunung Cabe. Tingkat pendapatan yang diperoleh masyarakat di Kampung Joglo dan Kampung Gunung Cabe selama kurun waktu satu tahun terakhir tergolong sedang. Rendahnya kepemilikan lahan pertanian berkorelasi terhadap semakin rendahnya luasnya lahan yang dimiliki. dengan kondisi fisik tempat tinggal sangat layak. Nggak tau ibu juga kenapa bisa kayak gitu (Ibu Mae. rendahnya kepemilikan lahan juga menyebabkan sulitnya kesempatan kerja sektor pertanian.

Aspek Penelitian Kampung Joglo (Jumlah pertambangan banyak) Kampung Gunung Cabe (Jumlah pertambangan sedikit) Tingkat Pendapatan Sedang. Dampak Aktivitas Pertambangan pada Aspek Sosio-Ekonomi Terhadap Masyarakat Lokal Desa Cipinang.001 hektar) Luas Lahan yang dimiliki Sangat rendah (lahan < 0.001 hektar Sangat rendah (lahan < 0.001 hektar) Rendah (lahan < 0. rendah Sedang Kondisi Fisik Tempat Tinggal Sangat layak Sangat layak Status Tempat Tinggal Milik pribadi Milik pribadi Kepemilikan Lahan Pertanian Rendah (lahan < 0. 2011.kesempatan kerja sektor non pertanian. 74 Tabel 7. serta tingkat konflik yang terjadi di masyarakat terangkum sebagaimana Tabel 7.001 hektar) Kesempatan Kerja Pertanian Sebelum Ada .

Pertambangan Sangat mudah Sangat mudah Kesempatan Kerja Pertanian Setelah Ada Pertambangan Sulit Sulit Kesempatan Kerja Non Pertanian Sebelum Ada Pertambangan Sangat sulit Sulit Kesempatan Kerja Non Pertanian Setelah Ada Pertambangan Mudah Mudah Tingkat Kedalaman Konflik Akibat Perubahan Udara Sedang Sedang Tingkat Kedalaman Konflik Akibat Polusi Suara Sedang Sedang Tingkat Kedalaman Konflik Akibat Gangguan Sumber Air Sedang Sedang Hubungan Antar Sesama .

Hubungan yang terjalin antara masyarakat lokal dengan pendatang di Kampung Gunung Cabe tergolong masih tinggi. Hubungan yang terjadi antar masyarakat lokal di Kampung Joglo Kampung Gunung Cabe tergolong tinggi. Kehadiran industri pertambangan memberikan peluang kerja bagi masyarakat. dan gangguan sumber air di Kampung Joglo dan Kampung Gunung Cabe masih tergolong sedang karena mayoritas masyarakat hanya mengeluh. polusi suara. Konflik yang terjadi antara masyarakat dengan perusahaan serta pemerintah akibat perubahan lingkungan seperti perubahan udara. sehingga mayoritas masyarakat tersebut menyatakan bahwa kesempatan kerja di sektor non pertanian tergolong mudah. mayoritas masyarakat bekerja di sektor 75 pertanian.Masyarakat Lokal Tinggi Tinggi Hubungan Antara Masyarakat Lokal dengan Pendatang Sedang Tinggi Sumber: hasil pengolahan data primer. dan upaya penyiraman air untuk mengurangi kapasitas debu menyebabkan konflik semakin teratasi. Hal ini dikarenakan adanya persaingan antara masyarakat lokal dengan pendatang untuk bekerja di sektor pertambangan. Sementara itu. Adanya penanganan dari pihak perusahaan dengan membuka air sumur yang dapat digunakan saat musim kemarau. 2011 Berdasarkan data pada Tabel 7 terlihat bahwa kesempatan kerja sektor non pertanian sebelum ada pertambangan di Kampung Joglo tergolong sangat sulit dan tergolong sulit menurut masyarakat di Kampung Gunung Cabe. sedangkan di Kampung Joglo tergolong sedang. 76 BAB VI . Hal ini dikarenakan sebelum ada pertambangan.

Namun saat ini seiring dengan adanya eksploitasi terhadap sumberdaya alam tambang. Sebelum ada pertambangan masyarakat lokal memanfaatkan lahan di sekitar pegunungan untuk menanam pisang dan padi. menjadikan Desa Cipinang sebagai daerah yang potensial bagi berkembangnya sektor pertanian. terjadi seiring dengan semakin banyaknya jumlah masyarakat lokal yang menjual lahan pertanian yang dimiliki kepada pihak perusahaan pertambangan untuk dijadikan sebagai lahan tambang. jumlah lahan pertanian menjadi semakin menyempit karena . Selain itu. Desa Cipinang dikelilingi oleh wilayah pegunungan dan terdapat lahan sawah pada bagian bawah gunung. masyarakat juga memanfaatkan lahan di beberapa bagian pegunungan sebagai lahan pertanian untuk jenis komoditas pisang. Kondisi lahan yang sangat subur. kondisi lingkungan hidup berada pada fase kritis dan sangat mengkhawatirkan. melainkan juga bagi ekosistem yang berada disekitarnya. Kekayaan sumberdaya alam tersebut bukan hanya memberikan kenyamanan hidup bagi masyarakat. Kekayaan sumberdaya alam yang ada. Banyaknya cadangan air di pegunungan tersebut menjadikan kondisi lahan sangat subur dan potensial bagi sektor pertanian karena banyaknya saluran irigasi.DAMPAK SOSIO-EKOLOGI AKTIVITAS PERTAMBANGAN Kondisi geografis Desa Cipinang yang dikelilingi oleh wilayah pegunungan menunjukkan kekayaan sumberdaya alam yang sangat melimpah didalamnya. tidak hanya terlihat pada potensi yang tinggi bagi sektor pertanian saja melainkan juga bagi sektor pertambangan. Namun seiring dengan masuknya perusahaan pertambangan.1 Konversi Lahan Pertanian Peralihan sektor pertanian menjadi sektor non pertanian atau sektor pertambangan di Desa Cipinang. Di pegunungan tersebut terdapat mata air yang dijadikan sebagai sumber air utama oleh setiap masyarakat Desa Cipinang. 6. Pada awalnya.

masyarakat lokal menggunakan mata air pegunungan sebagai sumber air utama. 6. namun sebagian lainnya lebih memilih mengkonsumsi air minum yang berasal dari air galon atau air minum isi ulang. namun Mayoritas masyarakat Desa Cipinang menjadikan air sumur sebagai sumber air. Mata air yang . dan kakus atau MCK. Aktivitas blasting dan pengerukan bahan tambang mengakibatkan penurunan kualitas lahan pertanian. Sebelum akses pada sumur. mencuci.terkonversi menjadi area pertambangan. Dulu sih sempet kekeringan tapi sekarang sudah ada penanganan dari PT. Disini kebanyakan warga memperoleh air dari sumur soalnya kalau ke sungai kan jauh. Namun di sisi lain kesempatan kerja sektor 77 pertambangan mengalami peningkatan sehingga memberikan kesempatan kerja bagi masyarakat di sekitar dan di luar wilayah pertambangan. tuh yang deket jalan kan ada selang air bersih yang bisa dipergunakan oleh siapapun warga disini (Bapak Skd. mata air pegunungan tersebut mengalami kekeringan. Di satu sisi. Sebagian masyarakat juga menjadikan air sumur sebagai air minum. konversi lahan pertanian menjadi pertambangan memberikan dampak negatif berupa semakin menurunnya kesempatan kerja sektor pertanian. Masyarakat menggunakan air sumur sebagai air untuk mandi. tokoh masyarakat berusia 33 tahun).2 Sumber Air yang digunakan Masyarakat Desa Cipinang merupakan salah satu kawasan yang dikelilingi oleh pegunungan dan dialiri Sungai Cisadane. Meskipun wilayah tersebut merupakan wilayah yang dialiri Sungai Cisadane. Konversi lahan pertanian menjadi pertambangan juga menimbulkan dampak negatif pada aspek sosio-ekologi seperti terjadinya gangguan resapan air berupa kekeringan. Namun seiring dengan dilakukannya aktivitas pengerukan pertambangan. Hal ini dikarenakan jarak tempat tinggal menuju sungai sangat jauh sehingga mayoritas rumahtangga lebih memilih air sumur sebagai sumber air.

Selain itu. Sumber Air yang digunakan Masyarakat Berdasarkan Lapisan Sosial Berdasarkan data pada Gambar 25 di atas terlihat bahwa sebesar 100 persen rumahtangga pada setiap lapisan sosial di Kampung Joglo dan Kampung Gunung Cabe menggunakan air sumur sebagai sumber air. Upaya tersebut berupa pengadaan air bersih yang berasal dari selang maupun membuat air sumur yang dapat dipergunakan oleh setiap masyarakat di Desa Cipinang. Hal ini dikarenakan . Sementara itu terdapat satu rumahtangga atau sebesar delapan persen pada lapisan bawah di Kampung Joglo yang menggunakan sungai sebagai sumber air. air sumur yang dimiliki oleh masyarakat selalu mengalami kekeringan.berasal dari gunung menjadi kering dan menghilang seiring dengan eksploitasi sumberdaya alam tambang yang terus dilakukan. Hal ini dikarenakan pada saat musim kemarau. masalah kekeringan air merupakan salah satu masalah yang paling dikeluhkan oleh masyarakat Desa Cipinang. Saat ini. 6. guncangan blasting menyebabkan penurunan kualitas air yang berasal dari sumur karena air menjadi semakin keruh. Berbagai upaya terus dilakukan 78 oleh pemerintah dan perusahaan pertambangan. mayoritas masyarakat di Kampung Joglo dan Kampung Gunung Cabe menjadikan mata air pegunungan sebagai sumber air utama. sehingga lebih memilih untuk beralih menggunakan air sungai sebagai sumber air.3 Kondisi Sumber Air Sebelum masyarakat akses pada air sumur dengan menjadikannya sebagai sumber air. Hal ini dikarenakan air sumur yang dimiliki oleh rumahtangga tersebut mengalami gangguan berupa kekeringan dan diperparah dengan kondisi air yang sangat kotor. Guncangan blasting menyebabkan penurunan kualitas air yang berasal dari sumur dan semakin berkurangnya saluran irigasi. Keterangan: n Kampung Joglo = 30 rumahtangga n Kampung Gunung Cabe = 30 rumahtangga Gambar 25.

Sementara itu terdapat satu rumahtangga dengan persentase sebesar 17 persen pada lapisan atas di Kampung Joglo yang menyatakan kondisi sumber air sebelum ada . Tapi setelah ada pertambangan tanahnya dikeruk dan sekarang sudah di urug (timbun) jadinya agak susah air sekarang itu. Mayoritas masyarakat pada setiap kategori lapisan sosial di Desa Cipinang menyatakan bahwa kondisi air pada saat sebelum ada pertambangan adalah tersedia dimana-mana. Air melimpah bersih lagi semua warga ngambilnya dari situ. tokoh masyarakat berusia 33 tahun). Kondisi mata Persentase responden (%) Kampung Joglo (Jumlah pertambangan banyak) Kampung Gunung Cabe (Jumlah pertambangan sedikiti)79 air pegunungan sangat melimpah karena dikelilingi oleh banyak pohon sehingga menyimpan banyak cadangan air. Apalagi kalau musim kemarau dua minggu saja sudah kering disini gak ada air (Bapak Skd. sangat melimpah dan tersedia dimana-mana. Kondisi sumber air berubah setelah adanya aktivitas pertambangan. Hal ini sebagaimana terlihat pada Gambar 26 di bawah ini. Dulu disini itu ada banyak mata air di dekat gunung. Keterangan: n Kampung Joglo = 30 rumahtangga n Kampung Gunung Cabe = 30 rumahtangga Gambar 26. Persepsi Kondisi Sumber Air Sebelum Ada Pertambangan Berdasarkan Lapisan Sosial Sebesar 100 persen pada setiap kategori lapisan sosial di Kampung Joglo dan Kampung Gunung Cabe menyatakan bahwa kondisi sumber air sebelum ada pertambangan.Kondisi mata air pegunungan memiliki kualitas yang sangat jernih.

air sudah sangat terbatas soalnya kan gunung di keruk. Dulu. Hal ini dikarenakan rumahtangga tersebut merupakan penduduk pendatang asal Garut yang baru Persentase responden (%) Kampung Joglo (Jumlah pertambangan banyak) Kampung Gunung Cabe (Jumlah pertambangan sedikit)80 tinggal sekitar sepuluh tahun yang lalu sehingga tidak mengetahui dengan jelas kondisi sumber air sebelum ada pertambangan di Kampung Joglo. namun saat ini kondisi sumber air berubah menjadi tersedia namun jumlahnya sangat terbatas. Tapi kalau sudah kayak gitu. tokoh masyarakat berusia 45 tahun).pertambangan masih air tersedia namun terbatas. Tapi sekarang. pohonnya jadi nggak ada. Perubahan terjadi pada kondisi awal sumber air yang sangat melimpah dan tersedia dimana-mana. Persepsi masyarakat mengenai kondisi sumber air sebelum dan setelah ada pertambangan dirasakan sangat berbeda oleh masyarakat Kampung Joglo dan Kampung Gunung Cabe. Hal tersebut sebagaimana terlihat pada Gambar 27 di bawah ini. Persepsi Kondisi Sumber Air Setelah Ada Pertambangan Berdasarkan Lapisan Sosial . Apalagi saat musim kemarau. baru satu bulan saja disini suka kekeringan. biasanya pemerintah suka ngasih air lewat tangki terus di isi ke bak-bak warga (Bapak Sf. Para warga bisa memperoleh air dengan mudah karena sumber airnya itu kan dari gunung. disini yang namanya air itu sangat melimpah dan jernih. Keterangan: n Kampung Joglo = 30 rumahtangga n Kampung Gunung Cabe = 30 rumahtangga Gambar 27.

Persentase responden (%) Kampung Joglo (Jumlah pertambangan banyak) Kampung Gunung Cabe (jumlah pertambangan sedikit)81 Terdapat satu rumahtangga pada lapisan menengah di Kampung Joglo yang menyatakan bahwa kondisi air sebelum dan setelah ada pertambangan. sama saja yaitu kondisi sumber air masih tersedia dimana-mana. apabila kondisi air yang di konsumsi tidak berwarna sama sekali.Sebesar 100 persen pada setiap kategori lapisan sosial di Kampung Joglo dan Kampung Gunung Cabe menyatakan bahwa. 6. Hanya terdapat dua rumahtangga atau sebesar 33 persen saja pada kategori lapisan atas di Kampung Joglo menyatakan bahwa kualitas air . kondisi sumber air setelah ada pertambangan masih tersedia namun terbatas.4 Kualitas Air Minum Masyarakat di Kampung Gunung Cabe dan Kampung joglo memiliki persepsi bahwa kondisi air minum tergolong jernih. Keterangan: n Kampung Joglo = 30 rumahtangga n Kampung Gunung Cabe = 30 rumahtangga Gambar 28. Hal ini dikarenakan rumahtangga tersebut masih dapat akses pada air sumur yang telah disediakan oleh perusahaan jika terjadi kekeringan. Hal ini dikarenakan pada musim kemarau semua sumber air yang digunakan warga mengalami kekeringan. Kualitas Air Minum Responden Berdasarkan Lapisan Sosial Gambar 28 di atas menunjukkan bahwa mayoritas kualitas air minum yang di konsumsi oleh masyarakat Kampung Joglo dan Kampung Gunung Cabe masih tergolong jernih. Berdasarkan data tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa kehadiran industri pertambangan memberikan dampak yang sangat negatif terhadap kondisi sumber air.

dan kondisi udara baik jika suhu udara terasa sejuk dan tidak berdebu. sama-sama dirasakan oleh masyarakat Kampung Joglo dan Kampung Gunung Cabe terutama oleh masyarakat lapisan atas. Hal ini dikarenakan jarak tempat tinggal masyarakat pada lapisan atas tersebut berdekatan dengan lokasi aktivitas penambangan. Di bilang bersih ya bersih tapi airnya tetep saja suka agak kotor gitu (Bapak Skd. Kondisi udara sedang jika suhu udara panas namun tidak berdebu. dua rumahtangga pada lapisan menengah di Kampung Joglo dan masing-masing satu rumahtangga pada semua kategori lapisan sosial yang ada di Kampung Gunung Cabe menyatakan bahwa kualitas air minum yang di konsumsi berwarna agak kecokelatan.minum yang di konsumsi berwarna agak kecokelatan.5 Persepsi Kondisi Udara Persepsi kondisi udara sebelum ada pertambangan pada penelitian ini dibagi menjadi tiga kategori yaitu buruk apabila suhu udara panas. Gangguan terhadap kualitas air minum. Keterangan: n Kampung Joglo = 30 rumahtangga . Hal ini menunjukkan bahwa sensitivitas masyarakat lapisan atas lebih tinggi daripada lapisan sosial menengah dan bawah. Sementara itu. Hal tersebut dikarenakan air minum yang digunakan berasal dari air sumur yang memiliki kondisi agak berwarna. berdebu dan terlihat gersang. tokoh masyarakat berusia 33 tahun). sehingga goncangan aktivitas blasting berpengaruh Persentase responden (%) Kampung Joglo (Jumlah pertambangan banyak) Kampung Gunung Cabe (Jumlah pertambangan sedikit)82 terhadap kualitas air minum yang diperoleh dari sumur. 6. Ya sebersih bersihnya air sumur gimana ya.

dirasakan sangat berbeda oleh masyarakat Kampung Joglo dan Kampung Gunung Cabe. Keterangan: n Kampung Joglo = 30 rumahtangga . Hal ini dikarenakan sebelum ada pertambangan. Hanya terdapat 39 persen atau sebanyak tujuh rumahtangga pada lapisan menengah saja yang menyatakan suhu udara panas namun tidak berdebu. Periode lamanya waktu kehadiran perusahaan pertambangan tersebut akan mempengaruhi kondisi lingkungan di setiap kawasan yang ada di Desa Cipinang. Hal ini dikarenakan perusahaan pertambangan yang terdapat di Kampung Joglo masih tergolong baru. dampak perubahan kondisi lingkungan sudah terasa akibat aktivitas pertambangan yang dilakukan di kampung lainnya yang masih terdapat di Desa Cipinang. kondisi kampung tersebut dikelilingi oleh wilayah pegunungan dan pepohonan. Kampung Joglo sebagai kampung yang memiliki jumlah pabrik industri pertambangan paling banyak namun tergolong baru.n Kampung Gunung Cabe = 30 rumahtangga Gambar 29. Sementara itu. mayoritas masyarakat pada setiap kategori lapisan sosial di Kampung Gunung Cabe menyatakan bahwa kondisi udara sebelum ada pertambangan masih tergolong sejuk dan tidak berdebu. masyarakat pada kategori lapisan sosial yang ada di Kampung Joglo menyatakan bahwa kondisi udara sebelum ada pertambangan terasa panas dan tidak berdebu. Persepsi Responden terhadap Kondisi Udara Sebelum Ada Pertambangan Berdasarkan Lapisan Sosial Persentase responden (%) Kampung Joglo (Jumlah pertambangan banyak) Kampung Gunung Cabe (Jumlah pertambangan sedikit)83 Kondisi udara pada saat sebelum dan setelah ada pertambangan.

6 Persepsi Rumahtangga terhadap Tingkat Kebisingan 6. tingkat kebisingan akibat blasting dibagi menjadi tiga golongan yaitu tinggi. sehingga meningkatkan kadar polusi udara. Keterangan: n Kampung Joglo = 30 rumahtangga . kini jumlahnya semakin berkurang. Hal ini dikarenakan aktivitas pertambangan merupakan aktivitas pengerukan bawah tanah yang mengganggu ekosistem dan zat-zat yang terkandung didalamnya.n Kampung Gunung Cabe = 30 rumahtangga Gambar 30. sedang dan rendah. aktivitas blasting dilakukan sebanyak tiga kali dalam satu hari sebagai akumulasi dari aktivitas blasting oleh PT L sebanyak satu kali dan oleh PT M sebanyak dua kali. Area pegunungan yang sebelumnya menjadi penyejuk udara karena menyimpan banyak pepohonan. Pada penelitian ini.1 Tingkat Kebisingan Blasting Aktivitas blasting merupakan aktivitas peledakan dan pengeboran bawah tanah dengan menggunakan dinamit. Persepsi Responden terhadap Kondisi Udara Setelah Ada Pertambangan Berdasarkan Lapisan Sosial Persentase responden (%) Kampung Joglo (Jumlah pertambangan banyak) Kampung Gunung Cabe (Jumlah pertambangan sedikit)84 Sebanyak 100 persen masyarakat Kampung Joglo dan Kampung Gunung Cabe menyatakan bahwa kondisi udara setelah ada pertambangan terasa panas. 6. aktivitas blasting dilakukan sebanyak dua kali dalam satu hari. Sementara itu di Kampung Gunung Cabe. Di Kampung Joglo. berdebu dan terlihat gersang.6. Aktivitas peledakan dan penggilingan bahan tambang serta kendaraan truk yang melaju setiap hari menghasilkan limbah berupa debu dan asap.

Sebanyak 100 persen masyarakat pada lapisan atas di Kampung Joglo menyatakan tingkat kebisingan blasting tinggi. Sebagian rumahtangga sangat terganggu sedangkan sebagian yang lainnya menyatakan sudah terbiasa dengan kebisingan akibat aktivitas blasting. Lain halnya dengan masyarakat pada lapisan menengah. Tingkat kebisingan tergolong sedang jika masyarakat merasa biasa saja atau tidak terlalu terganggu. Mayoritas masyarakat di Kampung Gunung Cabe yaitu sebesar 63 persen atau sebanyak lima rumahtangga pada . Hal ini dikarenakan jarak tempat tinggal masyarakat lapisan atas dengan lokasi peledakan sangat dekat sehingga tingkat kebisingan blasting terasa sangat mengganggu. dan kebisingan tergolong rendah jika kebisingan tidak mengganggu sama sekali atau kondisi masih nyaman. Sementara itu. Kondisi masyarakat di Kampung Joglo berbanding terbalik dengan kondisi masyarakat di Kampung Gunung Cabe.n Kampung Gunung Cabe = 30 rumahtangga Gambar 31. Tingkat Kebisingan Blasting Berdasarkan Lapisan Sosial Persentase responden (%) Kampung Joglo (Jumlah pertambangan banyak) Kampung Gunung Cabe (Jumlah pertambangan sedikit)85 Aktivitas blasting tergolong tinggi jika aktivitas tersebut sangat mengganggu masyarakat. sebanyak tujuh rumahtangga atau sebesar 58 persen masyarakat pada lapisan bawah menyatakan bahwa aktivitas blasting di kampung tersebut tergolong sedang. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat sensitivitas masyarakat terhadap kebisingan blasting pada lapisan atas di Kampung Joglo lebih tinggi dibandingkan dengan lapisan sosial menengah dan lapisan sosial bawah. sebanyak tujuh rumahtangga menyatakan tinggi sedangkan sisanya yaitu sebanyak lima rumahtangga menyatakan sedang.

lapisan bawah dan sebesar 61 persen atau sebanyak 11 rumahtangga lapisan menengah menyatakan tinggi. tokoh masyarakat berusia 45 tahun). Hal ini dikarenakan kondisi masyarakat pada lapisan atas menyatakan sudah terbiasa dengan kebisingan yang terjadi.00 WIB hingga pagi hari pada pukul 02. jumlah persentase masyarakat yang memiliki persepsi tingkat kebisingan blasting tinggi. Hal ini dikarenakan jarak tempat tinggal masyarakat lapisan atas berdekatan dengan jalan raya sehingga aktivitas tersebut tergolong tinggi.00 WIB. 6. lebih banyak di Kampung 86 Joglo dibandingkan Kampung Gunung Cabe.2 Persepsi Tingkat Kebisingan Kendaraan Truk Aktivitas kendaraan truk pengangkut barang tambang di Desa Cipinang melaju setiap hari pada pukul 08. Hal ini dikarenakan jumlah pabrik industri pertambangan yang terdapat di Kampung Joglo lebih banyak daripada Kampung Gunung Cabe sehingga semakin banyak jumlah pabrik industri pertambangan maka semakin tinggi frekuensi blasting dan semakin tinggi tingkat kebisingan yang dirasakan. Sementara itu mayoritas masyarakat pada lapisan atas menyatakan bahwa tingkat kebisingan akibat aktivitas blasting masih tergolong sedang.6. tapi ya karena sudah terbiasa jadinya ya biasa saja begitu (Bapak Sf. Hal ini dikarenakan jarak tempat tinggal masyarakat lapisan bawah dan lapisan menengah sangat dekat dengan lokasi peledakan. Kalau ledakan sih emang suka kedengaran dan mengganggu. Keterangan: n Kampung Joglo = 30 rumahtangga . Gambar 33 di bawah ini menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat pada lapisan atas di Kampung Joglo yaitu sebesar 100 persen menyatakan aktivitas kendaraan truk dirasakan sangat mengganggu. Berdasarkan data pada Gambar 31. sehingga aktivitas tersebut terasa sangat mengganggu.

sedangkan sebagian masyarakat lainnya menyatakan sudah terbiasa dengan kebisingan truk. Lain halnya dengan . sehingga aktivitas tersebut tergolong sedang. Kondisi kebisingan akibat kendaraan truk di Kampung Joglo berbanding terbalik dengan kondisi masyarakat di Kampung Gunung Cabe. Hal ini dikarenakan sebagian masyarakat sangat terganggu oleh kebisingan truk. Tingkat Kebisingan Kendaraan Truk Berdasarkan Lapisan Sosial Sementara itu. Persentase responden (%) Kampung Joglo (Jumlah pertambangan banyak) Kampung Gunung Cabe (Jumlah pertambangan sedikit)87 Lain halnya dengan masyarakat pada lapisan menengah. Hal tersebut dikarenakan sebagian masyarakat pada lapisan menengah menyatakan bahwa mereka sudah terbiasa dengan aktivitas kendaraan truk. Hal ini dikarenakan jarak tempat tinggal yang berjauhan dengan jalan raya sebagai tempat melajunya kendaraan truk. sebesar 50 persen atau sebanyak enam rumahtangga menyatakan tinggi sedangkan 50 persen lainnya menyatakan sedang. Sementara itu sebanyak tujuh rumahtangga pada lapisan menengah menyatakan tinggi sedangkan sebanyak enam atau sebesar 33 persen menyatakan rendah.n Kampung Gunung Cabe = 30 rumahtangga Gambar 32. mayoritas masyarakat pada lapisan bawah menyatakan bahwa aktivitas kendaraan truk dikampung tersebut biasa saja atau tidak terlalu mengganggu. Hal ini dikarenakan jarak tempat tinggal masyarakat lapisan bawah berdekatan dengan jalan raya. Mayoritas masyarakat lapisan bawah di Kampung Gunung Cabe menyatakan bahwa aktivitas truk sangat mengganggu. sehingga aktivitas tersebut tergolong tinggi.

Kondisi udara yang berdebu dan kualitas air yang 88 kotor menimbulkan indikasi mengenai tingginya tingkat penyakit pada saluran pernafasan dan pencernaan masyarakat di Desa Cipinang. Berisik juga.masyarakat pada lapisan atas di Kampung Gunung Cabe. soalnya dari pagi-pagi terus menerus hingga pagi lagi jam 2-an setiap hari pula. Kalau disini.1 Rumahtangga yang Mengidap Penyakit Terjadinya berbagai perubahan lingkungan mengakibatkan rentannya kondisi kesehatan masyarakat. Ini rumah Bapak retak-retak akibat truk sama blasting (Bapak Hj. Sementara itu. Adapun jenis penyakit dalam penelitian ini adalah jenis penyakit yang berhubungan dengan aktivitas pertambangan seperti penyakit pada saluran . karena Kampung Joglo merupakan kampung yang memiliki jumlah pabrik industri pertambangan sangat banyak sehingga jumlah truk yang melaju lebih banyak. Tingkat gangguan kebisingan truk yang dirasakan oleh masyarakat Kampung Joglo lebih tinggi dibandingkan Kampung Gunung Cabe. Hal ini dikarenakan jarak tempat tinggal dengan lokasi jalan raya yang berjauhan. tokoh agama berusia 70 tahun). gangguan aktivitas tidur dan timbulnya retakan rumah warga akibat getaran yang dihasilkan. truk itu jumlahnya ratusan. Aktivitas blasting dan kendaraan truk pengangkut bahan tambang bukan hanya menimbulkan efek kebisingan bagi masyarakat Desa Cipinang saja melainkan juga gangguan pada proses komunikasi.7. Usn. kesehatan masyarakat tergolong baik apabila tidak ada anggota keluarga yang mengidap penyakit. tingkat kesehatan masyarakat digolongkan menjadi dua bagian yaitu tergolong buruk apabila terdapat anggota rumahtangga di Kampung Joglo dan Kampung Gunung Cabe yang terkena penyakit.7 Tingkat Kesehatan Masyarakat 6. Tapi ya kalau Bapak sih sudah biasa jadinya ya biasa saja begitu. sebesar 50 persen menyatakan kebisingan yang ditimbulkan kendaraan truk tergolong rendah. Pada penelitian ini. 6.

akibat jarak tempat tinggal rumahtangga lapisan atas yang berdekatan dengan aktivitas blasting maupun jalan raya. Hal tersebut juga yang menyebabkan banyaknya jumlah pengidap penyakit pada masyarakat di Kampung Joglo. jumlah kapasitas limbah yang dihasilkan pun sangat banyak. Sebesar 37 persen atau sebanyak tiga rumahtangga yang mengidap penyakit.pernafasan dan diare. Sementara itu di Kampung Gunung Cabe. Asap dan debu memasuki rumah warga serta kondisi air minum yang berkualitas rendah. Hal ini dikarenakan pada lapisan bawah tersebut. Berdasarkan kategori lapisan sosial. Jumlah Rumahtangga Pengidap Penyakit Berdasarkan Lapisan Sosial Gambar 33 di atas menunjukkan bahwa masyarakat di Kampung Joglo lebih banyak mengidap penyakit dibandingkan dengan masyarakat Kampung Gunung Cabe. Kampung Joglo sebagai kampung yang memiliki jumlah pabrik industri pertambangan sangat banyak. Hal ini berkenaan dengan banyaknya debu dan asap truk yang dihirup. mayoritas pengidap penyakit di Kampung Joglo diduduki oleh Persentase responden (%) Kampung Joglo (Jumlah pertambangan banyak) Kampung Gunung Cabe (Jumlah pertambangan sedikit)89 masyarakat pada lapisan atas dengan persentase sebesar 67 persen atau sebanyak empat rumahtangga. lapisan bawah menjadi lapisan sosial yang paling banyak mengidap penyakit dibandingkan dengan lapisan atas ataupun lapisan menengah. Hal ini sangat rentan menimbulkan penyakit yang dapat mengganggu kesehatan masyarakat. jarak . Keterangan: n Kampung Joglo = 30 rumahtangga n Kampung Gunung Cabe = 30 rumahtangga Gambar 33.

diare. Namun sekarang sudah tidak ada kayaknya. baik yang berasal dari warung maupun .7. Jenis penyakit dalam penelitian ini merupakan jenis penyakit yang berhubungan dengan aktivitas pertambangan. Saat ini jumlah masyarakat yang mengidap penyakit saluran pernafasan dan diare lebih sedikit karena adanya penanganan pemerintah yang bekerja sama dengan pihak rumah sakit. Pengontrolan kesehatan tersebut dilakukan.2 Pengobatan terhadap Penyakit Jenis pengobatan yang dilakukan oleh masyarakat Desa Cipinang adalah dengan membeli obat ke warung ataupun dengan membawa anggota keluarga yang mengidap penyakit ke rumah sakit atau bidan desa.tempat berdekatan dengan aktivitas blasting dan jalan raya sehingga banyak masyarakat yang menghirup debu dan asap kendaraan truk. sebagai bentuk perhatian lebih dari pemerintah karena sebelumnya. Jenis penyakit tersebut disebabkan oleh kondisi air yang kotor dan 90 kondisi udara yang berdebu seperti batuk pilek. Berdasarkan perbandingan di dua kampung. 6. dan sesak nafas. jumlah rumahtangga di Kampung Joglo yang mengidap penyakit saluran pernafasan dan diare lebih banyak dibandingkan dengan masyarakat di Kampung Gunung Cabe. kawasan Desa Cipinang dikenal sebagai salah satu daerah yang paling banyak mengidap penyakit ISPA dan diare di Kabupaten Bogor. Kan disini banyak debu begitu. kebanyakan sih masalah pernafasan. karena ada pengontrolan setiap sebulan sekali dari Puskesmas. Hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak jumlah pabrik industri pertambangan maka semakin rendah tingkat kesehatan masyarakat. Adapun frekuensi pengobatan dalam penelitian ini merupakan akumulasi penggunaan obat dalam waktu satu tahun terakhir. Untuk masalah kesehatan. ada bidan yang berkeliling ke rumah-rumah juga (Bapak Skd. tokoh masyarakat berusia 33 tahun).

seluruhnya adalah penyakit batuk pilek dengan jumlah total sebanyak sembilan rumahtangga. Sementara itu jenis penyakit yang diderita masyarakat Kampung Gunung Cabe. Frekuensi pengobatan tergolong tinggi apabila pengobatan dilakukan dengan frekuensi sering yaitu lebih dari tiga kali.pengobatan yang membutuhkan penanganan khusus dari rumah sakit. frekuensi pengobatan tergolong sedang apabila pengobatan dilakukan hanya beberapa kali saja yaitu antara satu hingga tiga kali. Sisanya adalah jenis penyakit sesak nafas yaitu sebanyak satu rumahtangga dan penyakit diare sebanyak tiga rumahtangga. Hal tersebut dikarenakan jenis penyakit yang diderita merupakan jenis penyakit berat yaitu sesak nafas. sementara itu. Frekuensi Pengobatan Penyakit Berdasarkan Lapisan Sosial Persentase responden (%) Kampung Gunung Cabe (Jumlah pertambangan sedikit) Kampung Joglo (Jumlah pertambangan banyak)91 Berdasarkan data pada Gambar 34 di atas. Keterangan: n Kampung Joglo = 30 rumahtangga n Kampung Gunung Cabe = 30 rumahtangga Gambar 34. sehingga membutuhkan perawatan dalam proses penyembuhannya. . Jumlah total rumahtangga pada seluruh lapisan sosial di Kampung Joglo yang menderita penyakit batuk pilek adalah sebanyak sepuluh rumahtangga. sebanyak 50 persen atau sebanyak satu rumahtangga masyarakat pada lapisan atas di Kampung Joglo melakukan pengobatan dengan kategori sering. Saat ini jenis penyakit yang banyak diderita masyarakat Kampung Joglo dan Kampung Gunung Cabe adalah batuk pilek. sedangkan frekuensi pengobatan tergolong rendah apabila pengobatan tidak pernah dilakukan sama sekali.

8 Ikhtisar Kehadiran industri pertambangan memberikan dampak negatif pada aspek sosio-ekologi masyarakat Desa Cipinang. Sementara itu pada masyarakat lapisan menengah dan lapisan bawah. Hal tersebut dikarenakan frekuensi penyakit batuk pilek masih sering dirasakan dalam kurun waktu satu tahun terakhir sehingga pengobatan sering dilakukan. Berbeda dengan kondisi masyarakat di Kampung Gunung Cabe. terjadinya perubahan kondisi udara. kalau berobat sih sering. Sempat dirawat inap juga malahan. Lain halnya pada lapisan menengah. 6. Sesak nafas udah dua tahun. Hal ini dikarenakan jenis penyakit yang diderita masih tergolong ringan yaitu batuk pilek dan diare. Biasanya kalau anak saya sakit saya bawa ke bidan. serta tingkat kesehatan masyarakat yang terangkum sebagaimana Tabel 8 di bawah ini. Ini anak saya baru saja sembuh dari sakit batuk pilek. kebisingan akibat aktivitas blasting dan kendaraan truk. Saya bawa ke bidan eh langsung sembuh padahal diperiksanya cuma satu kali (Ibu Wwi. . Studi perbandingan yang dilakukan di Kampung Joglo dan Kampung Gunung Cabe menunjukkan bahwa terjadi perubahan pada kondisi lingkungan seperti terganggunya kualitas air minum. Ibu rumahtangga berusia 20 tahun).Kalau di rumah yang sakit sih cuma saya saja. frekuensi pengobatan masih tergolong sedang karena pengobatan hanya dilakukan beberapa kali saja. PNS asal Garut berusia 47 tahun). Sekarang masih harus sering melakukan pemeriksaan ke dokter setiap satu bulan sekali (Bapak Ttg. frekuensi pengobatan masih tergolong sedang karena pengobatan yang dilakukan hanya beberapa kali saja. sebesar 67 persen atau sebanyak dua orang pada lapisan bawah dan sebesar 100 persen atau sebanyak satu rumahtangga lapisan atas menyatakan sering melakukan pengobatan.

Sebelum ada pertambangan masyarakat menyatakan mudah mendapatkan air karena air tersedia dimana-mana. Aspek Penelitian Kampung Joglo (Jumlah pertambangan banyak) Kampung Gunung Cabe (Jumlah pertambangan sedikit) Sumber Air yang digunakan Sumur Sumur Kondisi Sumber Air Sebelum Ada Pertambangan Baik Baik Kondisi Sumber Air Setelah Ada Pertambangan Sedang Sedang Kualitas Air Minum Baik Baik Kondisi Udara Sebelum Ada Pertambangan Sedang Nyaman .Pada Tabel 8 tersebut terlihat bahwa mayoritas masyarakat di Kampung Joglo dan Kampung Gunung Cabe menggunakan air sumur sebagai sumber air. Dampak Aktivitas Pertambangan pada Aspek Sosio-Ekologi Terhadap Masyarakat Lokal Desa Cipinang. sedangkan setelah ada pertambangan kondisi air masih tersedia namun terbatas sehingga akses masyarakat terhadap sumber air tergolong sedang. 92 Terjadi perubahan kondisi sumber air pada saat sebelum dan setelah ada pertambangan. 2011. Tabel 8.

kondisi udara di Kampung 93 Gunung Cabe pada saat sebelum ada pertambangan terasa nyaman karena kondisi udara yang sejuk dan tidak berdebu. dimana kondisi udara menjadi tidak nyaman karena udara terasa panas. Sementara itu. Perubahan lingkungan juga terjadi pada kondisi udara. Namun dampak yang sama dirasakan oleh masyarakat Kampung Joglo dan Kampung Gunung Cabe.Kondisi Udara Setelah Ada Pertambangan Tidak nyaman Tidak nyaman Tingkat Kebisingan Blasting Tinggi Tinggi Tingkat Kebisingan Kendaraan Truk Tinggi Rendah Tingkat Kesehatan Masyarakat Baik Baik Frekuensi Pengobatan Sedang Tinggi Sumber: hasil pengolahan data primer. Hal ini dikarenakan perusahaan yang terdapat di Kampung Joglo tergolong baru sehingga kondisi udara panas sudah terasa akibat dampak aktivitas pertambangan yang dilakukan di kampung lainnya di Desa Cipinang. dimana sebelum ada pertambangan masyarakat Kampung Joglo menyatakan kondisi suhu udara panas dan tidak berdebu. Sebagian masyarakat menggunakan air minum yang berasal dari sumur dan sebagian lainnya menggunakan air galon. berdebu. 2011 Kualitas air minum yang dikonsumsi masyarakat masih tergolong baik. Tingkat kebisingan akibat blasting tergolong tinggi karena masyarakat menyatakan sangat terganggu dengan adanya blasting tersebut. Tingkat . dan terlihat gersang setelah ada aktivitas pertambangan.

Frekuensi pengobatan yang dilakukan masyarakat Kampung Joglo tergolong sedang karena penyakit yang diderita masyarakat dalam kurun waktu satu tahun terakhir hanya dirasakan beberapa kali saja. 94 BAB VII PENUTUP 7. sedangkan di Kampung Joglo kebisingan truk tersebut tergolong rendah. . frekuensi penyakit di Kampung Gunung Cabe tergolong tinggi karena frekuensi penyakit yang dirasakan sangat sering terjadi pada kurun waktu satu tahun terakhir. Hal tersebut yang menjadikan masyarakat di Kampung Gunung Cabe merasa tidak terganggu dengan adanya kebisingan akibat kendaraan truk. Pada aspek sosio-ekonomi.1 Kesimpulan Kehadiran industri pertambangan pada umumnya memberikan dampak negatif pada aspek sosio-ekonomi dan ekologi. Namun kesempatan kerja di bidang pertambangan belum mampu dijangkau oleh masyarakat lokal karena rendahnya pendidikan. tingkat kesempatan kerja pertanian mengalami penurunan seiring dengan semakin menurunnya luas lahan pertanian yang dimiliki oleh masyarakat.kebisingan akibat kendaraan truk pengangkut bahan tambang tergolong tinggi di Kampung Joglo. sedangkan kesempatan kerja non pertanian mengalami peningkatan seiring dengan terbukanya lapangan pekerjaan yang disediakan oleh pihak industri pertambangan. Hal ini dikarenakan jumlah pabrik industri pertambangan di Kampung Gunung Cabe lebih sedikit dibandingkan Kampung Joglo. Sementara itu. Tingkat kesehatan mayarakat di Kampung Joglo dan Kampung Gunung Cabe masih tergolong baik karena saat ini sudah ada penanganan dari pihak puskesmas yang berkeliling ke rumah-rumah milik warga dan dilakukan sebanyak satu bulan sekali. sehingga jumlah kendaraan truk yang melaju lebih sedikit. Mayoritas masyarakat lokal hanya bekerja sebagai buruh kasar di perusahaan pertambangan.

kondisi air minum yang kotor dan kualitas makanan yang kurang higienis.sementara posisi karyawan swasta ditempati oleh penduduk pendatang. Sumber air mengalami kekeringan pada saat musim kemarau. 3. berdebu dan terlihat gersang. Pada aspek sosio-ekologi. diantaranya adalah. Aktivitas blasting dan kendaraan truk menimbulkan kebisingan yang mengganggu aktivitas pendengaran. Rusaknya kondisi lingkungan akibat aktivitas pertambangan dapat menurunkan kualitas lingkungan hidup dan kualitas hidup masyarakat di sekitar wilayah 95 pertambangan. Selain itu terjadinya perubahan kondisi lingkungan hidup sebagai akibat aktivitas pertambangan. tidur dan retakan pada rumah. batuk pilek. Keberlanjutan hidup masyarakat lokal tergantung pada kemampuannya dalam memanfaatkan sumberdaya yang ada secara mandiri. diare akibat banyaknya kapasitas debu yang terhirup. memicu terjadinya konflik antara pihak masyarakat dengan perusahaan pertambangan. sehingga diperlukan adanya pengontrolan oleh pemerintah terhadap setiap aktivitas pertambangan yang dilakukan seperti upaya reklamasi lahan pasca tambang oleh pihak perusahaan pertambangan. Hal ini menimbulkan tingkat persaingan. sehingga memicu terjadinya konflik antara masyarakat lokal dengan masyarakat pendatang. Selain itu. aktivitas pertambangan menyebabkan penurunan kualitas lingkungan hidup seperti terjadinya perubahan pada kondisi udara menjadi terasa panas. masih adanya anggota masyarakat yang mengalami sakit pada saluran pernafasan seperti sesak nafas. Kondisi infrastruktur yang rusak akibat kendaraan truk pengangkut bahan .2 Saran Terdapat beberapa saran terkait dengan hasil penelitian yang telah dilakukan. 7. komunikasi. 2. sehingga kegiatan pemberdayaan mutlak dilakukan oleh perusahaan terhadap masyarakat lokal agar terciptanya masyarakat yang mandiri. 1.

Bogor: Pustaka LATIN. Maskanah. D. 2004. 2007. Jakarta: Indonesia center for sustainable development. R.go.H. 2002. Budimanta. No.1.48 WIB. Yogyakarta: Andi Yogyakarta. masyarakat dan perusahaan untuk melakukan perbaikan terhadap infrastruktur yang ada 4. Kekuasaan dan Penguasaan Sumberdaya Alam Studi Kasus Penambangan Timah di Bangka. Dampak Sosial Budaya Penambangan Emas di Kecamatan Mandor Kabupaten Landak Provinsi Kalimantan Barat. Ekologi Manusia. Bogor: Institut Pertanian Bogor. A. Geologi Lingkungan. Januari 2002. 2007. P. 96 DAFTAR PUSTAKA Adiwibowo. Fuad. Tahun 1996-2008.id/tab_sub/view. 2006. S (Editor). Noor.tambang menjadi salah satu faktor penghambat berkembangnya suatu desa sehingga diperlukan adanya kerjasama antara pemerintah. sehingga diperlukan adanya dukungan dari masyarakat terutama para orang tua dan perhatian lebih dari pemerintah untuk melakukan perbaikan sumberdaya manusia melalui pengadaan bangunan dan sarana prasarana sekolah yang lebih baik. Badan Pusat Statistika. F. Rendahnya kualitas sumberdaya manusia disebabkan rendahnya pendidikan yang ditempuh. Volume 15. Bogor: Institut Pertanian Bogor. Ekologi Industri. 27 Nopember 2010 pukul 09. Produksi Barang Tambang Mineral di Indonesia. Hal. 2000. Kristanto. Dampak Pertambangan Tanpa Izin Batu Bara Terhadap Kualitas Sumberdaya Lahan dan Sosial Ekonomi Masyarakat [Tesis]. Ngadiran et al. Yogyakarta: Graha Ilmu. Inovasi Penyelesaian Sengketa Pengelolaan Sumberdaya Hutan. 2002.php?tabel=1&daftar=1&id_subyek=10& notab=3 di unduh pada hari Sabtu.bps. Qomariah. . Dalam Sosiohumanika. http://www. 135. 2009. dan S.

Analisis Aspek Sosial Ekonomi Masyarakat Desa di Sekitar Hutan dalam Pemanfaatan Hasil Hutan dan Prospek Pengembangannya (Studi Kasus Pengembangan Desa Hutan di Sekitar Wilayah HPH PT. Alumni. E. Hakim. Bogor: Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat.Salim. H. IPB . Sugandhy. Jakarta: Bumi Aksara. A dan R.S dan Muljono. Bandung: PT. Bogor: Institut Pertanian Bogor. M. Sudarmanto.D. 2009. P. Silalahi. Kecamatan Bayung Lencir. Hukum Lingkungan dalam Sistem Penegakan Hukum Lingkungan Indonesia. Wahyuni.S. 2007. 1996. Metode Penelitian Sosial. 2009. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Kabupaten Dati II Musi Banyuasin Provinsi Dati I Sumatera Selatan) [Tesis]. 2001. Fakultas Ekologi Manusia. Hukum Pertambangan di Indonesia. INHUTANI V. Prinsip Dasar Kebijakan Pembangunan Berkelanjutan Berwawasan Lingkungan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful