P. 1
Fistula Ani

Fistula Ani

|Views: 32|Likes:
Published by Ikaa Paramitha

More info:

Published by: Ikaa Paramitha on Dec 26, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/26/2012

pdf

text

original

Fistula Ani, Proses Defekasi Posted on 19 February 2011 by ArtikelBedah PENDAHULUAN Fistula adalah hubungan yang abnormal antara

suatu saluran dengan saluran lain, atau antara suatu saluran dengan dunia luar melalui kulit. Yang pertama disebut fistula interen dan yang kedua fistula eksteren. Fistula anorektal atau fistula ani adalah terowongan abnormal dari anus atau rektum, biasanya menuju ke kulit di dekat anus, tapi bisa juga ke organ lainnya seperti vagina. PATOGENESIS Ruang supralevator berada diatas levator ani dan di sisi rektum ,dimana ruang ini menghubungkan bagian posterior yang lainnya. Mayoritas penyakit supurativ anorektal terjadi karena infeksi dari kelenjar anus (cyptoglandular). Kelenjar ini terdapat melintang di dalam ruang intersphinteric, dan tidak terdapat pada kripte anal yang berada pada kanalis anal pada daerah garis dentata. Diawali kelenjar anus terinfeksi, sebuah abses kecil terbentuk di daerah intersfincter. Abses ini kemudian membengkak dan fibrosis, termasuk di bagian luar kelenjar anus di garis kripte. Ketidakmampuan abses untuk keluar dari kelenjar tersebut → proses purulen → meluas sampai perineum, anus atau seluruhnya → abses perianal atau fistula. Sebagian besar fistula terbentuk dari sebuah abses, tapi tidak semua abses menjadi fistula. Lubang primer atau interna biasanya ditemukan dalam salah satu sinus analis. Kebanyakan terletak pada satu sisi garis tengah posterior. Jika muara kulitnya anterior terhadap garis transversa yang ditarik melalui anus, maka muara interna adalah pada garis radial langsung ke dalam anal rektum. Jika muara kulit posterior terhadap garis transversa, muara interna mungkin berada pada garis tengah posterior (hukum Goodsall). Penyebab di posterior merupakan hasi dari defek fusi pada muskulus longitudinal dan sfingter eksternal pada garis tengah posterior, oleh karena itu, fistula transfingter lebih mudah terjadi pada posisi ini, dimana saluran dapat diseksi ke dalam satu atau kedua-dua fossa ischiorektal. DIAGNOSIS Gejala Klinis, Pasien biasanya mengeluhkan beberapa gejala yaitu : • Nyeri pada saat bergerak, defekasi, dan batuk,Ulkus, Keluar cairan purulen Benjolan (Massa fluktuan), Pruritus ani, Demam, Kemerahan dan iritasi kulit di sekitar anus, General malaise.

disertai pengeluaran nanah sedikit –sedikit. ● MRI → MRI dipilih apabila ingin mengevaluasi fistula kompleks.Injeksi kontras melalui pembukaan internal.Scan → CT Scan memerlukan administrasi kontras oral dan rectal ● Barium Enema → u/ fistula multiple dapat mendeteksi penyakit inflamasi usus. Anamnesis Dari anamnesis biasanya ada riwayat abses perianal residif dengan selang waktu di antaranya. Transduser water-filled ballon membantu evaluasi dinding rectal dari beberapa ekstensi suprasfingter. Pemeriksaan Penunjang. 3. Pemeriksaan Fisis Di daerah anus. diikuti dengan anteroposterior. ● Fistulografi . untuk memperbaiki rekurensi. • Riwayat trauma obstetric • Fistula transfingterik/ suprasfingterik tinggi (jka diketahui) Jika menurun. 2. • Transphinteric fistula . ● Anal Manometri : Evaluasi tekanan pada mekanisme sfingter berguna pada pasien tertentu. ● CT. lateral dan gambaran X-ray oblik untuk melihat jalur fistula.Menggunakan transduser 7 atau 10 MHz ke dalam kanalis ani untuk membantu melihat differensiasi muskulus intersfingter dari lesi transfingter. • Menurunkan observasi nada sewaktu evaluasi preoperative • Riwayat fistulotomi sebelumnya. ● Ultrasound endoanal/ endorektal . Modalitas ini tidak digunakan secara luas untuk evaluasi klinis fistula. ditemukan 1/lebih fistula atau teraba fistula di bawah permukaan. Pada colok dubur bidigital fistel dapat diraba antara jari telunjuk di anus (bukan di rectum) & ibu jari di kulit perineum seperti tali setebal ± 3 mm . bagian operasi pada beberapa portio sfingter harus dielakkan.1. Sistem Klasifikasi Parks → Parks membagi fistula ani menjadi 4 type: • Intersphinteric fistula Berawal dalam ruang diantara muskulus sfingter eksterna dan interna dan bermuara berdekatan dengan lubang anus.

perianal. Terapi pembedahan → Fistulotomi atau Fistulektomi. dan divertikulitis. dengan lubang eksternal berada di kedua belah lubang anus (fistula horseshoe).→ Terdapat di lipatan sakrokoksigeal.Berawal dalam ruang diantara muskulus sfingter eksterna dan interna. Predileksi di perineum. Dianjurkan sedapat mungkin dilakukan fistulotomi. * Fistulektomi → Jaringan granulasi harus di eksisi keseluruhannya untuk menyembuhkan fistula. dibiarkan terbuka → sembuh per sekundam intentionem. membentuk huruf “U” dalam tubuh. atau Crohn’s Disease. Terapi terbaik pada fistula ani adalah membiarkannya terbuka. berasal dari rambut dorsal tulang koksigeus/ujung os sacrum. infeksi jamur. . Gesekan rambut • Fistel proktitis → Fistel proktitis dapat terjadi pada morbus Crohn. abses diverticular. amubiasis. PENATALAKSANAAN Terapi Konservatif Medikamentosa dengan pemberian analgetik. ketiak dan tidak meluas ke struktur yang lebih dalam. * Fistulotomi → Fistel di insisi dari lobang asalnya sampai ke lubang kulit. sfingter eksterna dan interna dan membelah ke atas muskulus pubrektalis & m. • Sinus pilonidalis peradangan dan infeksi akut sampai abses dan terbentuk fistel setelah abses pecah. • Suprasphinteric fistula lalu turun diantara puborektalBerawal dari ruangan diantara m.levator ani lalu muncul 1 atau 2 inchi diluar anus. antipiretik serta profilaksis antibiotik jangka panjang untuk mencegah fistula rekuren. kemudian melewati muskulus sfingter eksterna dan bermuara sepanjang 1 atau 2 inchi di luar lubang anus. melewati muskulus levator ani dan berakhir di sekitar anus. DIAGNOSIS BANDING • Hidranitis supurativa → Merupakan radang kelenjar keringat apokrin yang membentuk fistula multiple subkutan. • Ekstrasphinteric fistula Berawal dari rektum atau colon sigmoid dan memanjang ke bawah. tbc. Kadang disebabkan oleh benda asing atau trauma. Fistula ini biasa disebabkan oleh abses appendiceal.

kolon sigmoid dan rectum sehingga feses terdorong ke anus. sehingga ani eksterna berada di bawah pengaruh kesadaran kita (volunter). terjadi peningkatan tekanan intraabdominal oleh kontraksi otot–otot kuadratus lumborum. maupun tidak disadari (involunter) atau refleks. . Studi statistika tentang fisiologi rectum ini mendeskripsikan tiga tipe dari kontraksi rectum yaitu : (1) Simple contraction yang terjadi sebanyak 5 – 10 siklus/menit . lantai pelvis dan kanalis analis. Pudendus yang merupakan bagian dari saraf somatik. muskulus rectus abdominis. muskulus obliqus interna dan eksterna. sfingter ani interna mengalami relaksasi oleh adanya sinyal yang menghambat dari pleksus mienterikus. Distensi dari rectum menstimulasi reseptor regang pada dinding rectum. * Fibrin Glue → Menyuntikkan perekat khusus (Anal Fistula Plug/AFP) ke dalam saluran fistula yang merangsang jaringan alamiah dan diserap oleh tubuh. (2) Slower contractions sebanyak 3 siklus/menit dengan amplitudo diatas 100 cmH2O . PROSES DEFEKASI Proses defekasi terjadi baik secara disadari (volunter).terjadilah defekasi.Pada permulaan defekasi. dan sfingter ani eksterna pada saat tersebut mengalami relaksasi secara volunter. Setelah gelombang peristaltik mencapai anus. serabut saraf akan memicu kontraksi dengan mengosongkan isinya ke dalam rectum. Sensasi rectum ini berperan penting pada mekanisme continence dan juga sensasi pengisian rectum merupakan bagian integral penting pada defekasi normal. Bila feses memasuki rektum. Sfingter ani eksterna diatur oleh N. muskulus transversus abdominis dan diafraghma. Gerakan yang mendorong feses ke arah anus terhambat oleh adanya kontraksi tonik dari sfingter ani interna yang terdiri dari otot polos dan sfingter ani eksterna yang terdiri dari otot rangka. tetapi keberhasilannya tidak terlalu besar. Proses defekasi diawali oleh terjadi refleks defekasi akibat ujung – ujung serabut saraf rectum terangsang ketika dinding rectum teregang oleh massa feses.* Seton → Seutas benang atau karet diikatkan malalui saluran fistula dan ditinggalkan untuk beberapa bulan sehingga terlepas sendiiri. distensi dinding rectum mengirim signal aferent yang menyebar melalui pleksus mienterikus yang merangsang terjadinya gelombang peristaltik pada kolon desenden. * Advancement Flapi → Menutup lubang dengan dinding usus. Hal ini dapat digambarkan sebagai berikut : pada saat volume kolon sigmoid menjadi besar. dan (3) Slow Propagated Contractions dengan frekuensi amplitudo tinggi.

sfingter ani interna akan tertutup. Defekasi dapat dihambat oleh kontraksi sfingter ani eksterna yang berada di bawah pengaruh kesadaran ( volunteer ). Muskulus sfingter ani interna dan muskulus puborektalis akan berkontraksi dan sudut anorektal akan kembali ke posisi sebelumnya. Muskulus sfingter ani eksterna kemudian akan berkonstriksi dan memanjang ke kanalis analis.Muskulus puborektalis yang mengelilingi anorectal junction kemudian akan relaksasi sehingga sudut anorektal akan menjadi lurus. terjadi Closing Reflexes. Perlu diingat bahwa area anorektal membuat sudut 900 antara ampulla rekti dan kanalis analis sehingga akan tertutup. . Bila defekasi ditahan. Jadi pada saat lurus. Ini memungkinkan muskulus sfingter ani interna untuk memulihkan tonus ototnya dan menutup kanalis analis. sudut ini akan meningkat sekitar 1300 – 1400 sehingga kanalis analis akan menjadi lurus dan feses akan dievakuasi. Mekanisme volunter dari proses defekasi ini nampaknya diatur oleh susunan saraf pusat. Setelah proses evakuasi feses selesai. rectum akan mengadakan relaksasi untuk mengakomodasi feses yang terdapat di dalamnya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->