P. 1
Metode Ijtihad

Metode Ijtihad

|Views: 1,360|Likes:
Published by Annisa Rofie'ah
Ijtihad merupakan salah satu cara berfikir secara mendalam dengan segenap kemampuan yang dimiliki untuk menginterpretasikan ayat-ayat Al-Qur’an yang bersifat Dzanni, dengan menggunakan beberapa metode yang telah ditetapkan sebagai suatu problem solving atas suatu kasus yang belum terdapat dalam nash al-qur’an ataupun as-sunnah, kemudian dilegitimasi lewat ijma’ para ulama, bila dianalogikan mungkin ijtihad ini bisa disebut pula filsafat, dengan sebuah indicator yang bersifat prinsipil dari segi paradigma berfikir sehingga terbentuklah suatu konklusi dalam sebuah kasus.
Iijtihad dimulai sejak zaman Rasullah SAW terbukti dari beberapa hadits – hadits dan beberapa pendapat para Ulama, memang dalam hal ini terdapat suatu ikhtilaf antar ulama, bahkan bukan hanya itu saja, dalam hal pintu ijtihad tertutup pun menjadi perdebatan hingga saat ini, karena bukti rill mengungkapkan sebagaian ulama menyepakati bahwa tidak ada kata tutup dalam hal berijtihad, ada pula yang berpendapat bahwa pintu ijtihad tertutup tetapi bila kita kritisi bukti konkrit yang menjelaskannya bisa dikatakan kurang valid. Kapan mulai ditutupnya ataupun dibukanya pintu ijtihad ini masih bias.akan tetapi konon katanya Ibnu taimiyah adalah orang yang pertama kali menggembar gemborkan bahwa pintu ijtihad telah dibuka. Apakah mungkin semua itu hanya suatu manajemen konfik semata?yang pasti dalam hal ini hanya bersifat dzanni. Peranan ijtihad bersifat urgen melihat perkembangan zaman yang begitu cepat dari hasil karya fikirr seorang manusia dalam dinamika kehidupan, sehingga tidak menutup kemungkinan hal-hal yang baru akan muncul sebagai imbas dari modernisasi. Wallahu a’lam Bisshawwab
Ijtihad merupakan salah satu cara berfikir secara mendalam dengan segenap kemampuan yang dimiliki untuk menginterpretasikan ayat-ayat Al-Qur’an yang bersifat Dzanni, dengan menggunakan beberapa metode yang telah ditetapkan sebagai suatu problem solving atas suatu kasus yang belum terdapat dalam nash al-qur’an ataupun as-sunnah, kemudian dilegitimasi lewat ijma’ para ulama, bila dianalogikan mungkin ijtihad ini bisa disebut pula filsafat, dengan sebuah indicator yang bersifat prinsipil dari segi paradigma berfikir sehingga terbentuklah suatu konklusi dalam sebuah kasus.
Iijtihad dimulai sejak zaman Rasullah SAW terbukti dari beberapa hadits – hadits dan beberapa pendapat para Ulama, memang dalam hal ini terdapat suatu ikhtilaf antar ulama, bahkan bukan hanya itu saja, dalam hal pintu ijtihad tertutup pun menjadi perdebatan hingga saat ini, karena bukti rill mengungkapkan sebagaian ulama menyepakati bahwa tidak ada kata tutup dalam hal berijtihad, ada pula yang berpendapat bahwa pintu ijtihad tertutup tetapi bila kita kritisi bukti konkrit yang menjelaskannya bisa dikatakan kurang valid. Kapan mulai ditutupnya ataupun dibukanya pintu ijtihad ini masih bias.akan tetapi konon katanya Ibnu taimiyah adalah orang yang pertama kali menggembar gemborkan bahwa pintu ijtihad telah dibuka. Apakah mungkin semua itu hanya suatu manajemen konfik semata?yang pasti dalam hal ini hanya bersifat dzanni. Peranan ijtihad bersifat urgen melihat perkembangan zaman yang begitu cepat dari hasil karya fikirr seorang manusia dalam dinamika kehidupan, sehingga tidak menutup kemungkinan hal-hal yang baru akan muncul sebagai imbas dari modernisasi. Wallahu a’lam Bisshawwab

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Annisa Rofie'ah on Dec 26, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/09/2013

pdf

text

original

Makalah Ushul Fiqh (Ijtihad) Page 1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG MASALAH

Konstruksi dasar pembinaan hukum Islam telah diletakkan oleh Rasulullah SAW
yang bentuk-bentuk cakupan hukum yang diformulasikannya dapat berupa; pertama,
penjelasan yang berkaitan dengan arti dan maksud al-Qur’an yang kemudian dijelaskan oleh
Nabi dalam contoh dan perbuatan. Kedua, penjelasan yang berkaitan dengan perluasan dasar-
dasar yang dinyatakan oleh al-Qur’an yang kelihatannya menambah hukum yang dinyatakan
al-Qur’an itu sendiri, dan ketiga, penjelasan yang berkaitan dengan pembatasan/pengurangan
kandungan al-Qur’an.
Dari konstruksi Nabi tersebut, kemudian para teoritisi hukum Islam mulai menyusun
konstruksi metodologi untuk menafsirkan ayat-ayat dan hadis dalam usaha untuk
mendekatkan pemahaman kepada maksud dan tujuan syari’at serta berusaha untuk
mendekatkan hasil penalaran/pemahaman tersebut dengan realitas sosial yang berkembang
ditengah-tengah masyarakat.
Para mujtahid tidak membuat, tetapi hanya menemukan hukum. Hal itu adalah karena
keyakinan dalam Islam bahwa hukum dibuat oleh Tuhan sebagai asy-Syari’ (pembuat
hukum). Manusia hanyalah memahami (fiqh) hukum Ilahi tersebut. Proses pemahaman
terhadap hukum itu disebut istinbaht al-hukm melalui kegiatan intelektual yang disebut
ijtihad. Hasil-hasil hukum yang diistinbat melalui kegiatan ijtihad itu dinamakan fiqih.
Penemuan hukum dimaksudkan sebagai suatu proses individualisasi dan konkretisasi
peraturan-peraturan umum dengan mengaitkannya kepada peristiwa/kasus khusus. Penemuan
hukum berbeda dengan penelitian hokum yang lebih luas sifatnya. Penemuan hukum bersifat
klinis yang bertujuan untuk menjawab pertanyaan apa hukum suatu kasus konkret tertentu.
Penelitian hukum menyelidiki hukum sebagai sebuah fenomena sosial dengan mempelajari
hubungannya dengan fenomena sosial lainnya. Juga melakukan penyelidikan normatif
terhadap hukum untuk melakukan inventarisasi peraturan hukum, menemukan asas/doktrin
hukum, meneliti taraf sinkronisasi dan sistematik hukum serta menemukan hukum untuk
menyelesaikan suatu perkara. Dengan demikian sesungguhnya penemuan hukum hanyalah
sebagian dari penelitian hukum
Makalah Ushul Fiqh (Ijtihad) Page 2

Tujuan penemuan hukum haruslah dipahami oleh mujtahid dalam rangka
mengembangkan pemikiran hukum dalam Islam secara umum dan menjawab persoalan-
persoalan hukum kontemporer yang kasusnya tidak diatur secara eksplisit oleh Al Quran dan
Hadis. Oleh karenanya dengan berbagai macam metode yang diterapkan diharapakan akan
dapat menemukan hukum-hukum dalam memecahkan berbagai persoalan yang muncul,
makalah ini akan mencoba menguraikan mengenai IJTIHAD .

1.2 RUMUSAN MASALAH
Dalam penuluisan makalah ini, penulis merumuskan beberapa masalah diantaranya
sebagai berikut:
1. Pengertian Ijtihad
2. Dasar-dasar Ijtihad
3. Kedudukan hukum dari hasil Ijtihad
4. Macam-macam Ijtihad
5. Ijtihad dalam Tinjauan Sejarah
6. Urgensi Ijtihad
7. Syarat-syarat Mujtahid
8. Tingkatan Mujtahid
9. Wilayah Ijtihad

1.3 TUJUAN PENULISAN
1. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Ushul Fiqh
2. Menambah wawasan penulis dan pembacanya mengenai Ijtihad







Makalah Ushul Fiqh (Ijtihad) Page 3

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. DEFINISI IJTIHAD
Ijtihad berasal dari kata Jahadah (Mencurahkan segala kemampuan atau memikul
beban) Usaha sungguh-sungguh yang dilakukan oleh seorang Mujtadid untuk mencapai suatu
putusan syarak (hukum islam) tentang kasus yang penyelesaiannya belum tertera dalam Al-
qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW.
Adapula ulama yang merumuskan pengertian Ijtihad adalah Mencurahkan segala
tenaga (fikiran) untuk menemukan hukum agama (syara’).melalui salah satu dalili syara’
dengan cara tertentu. Menurut Abu Zahrah, Ijtihad bermakna Pengerahan kemampuan
seorang ahli fiqh akan upaya kemampuannya dalam upayamengistinbathkan hokum yang
berhubungan dengan amal perbuatan dari satu persatu dalilnya. Bila penelusuran itu tanpa
diiringi oleh dalil syara’ maka itu bukanlah suatu ijtihad. Ulama-ulama terdahulu bila
memecahkan suatu pokok permasalaah yang tidak mendapatkan rujukan dalam Al-Qur’an
ataupun Asunnah, maka mereka akan menggunkan ijtihad dengan metode yang berbeda, ada
yangmenggunkaan qiyas atau istihsan, maslahah mursalah. Akan tetapi para ulama
memandang ijtihad dan qiyas ada yang berpendapat bahwa ijtihad lebih luas dari pada qiyas,
setiap ada qiyas tentu terdapat ijtihad, tetapi belum tentu setiap ada ijtihad terdapat qiyas.
Berbeda dengan pendapat Imanm syafi’I yang mengatakan bahwa keduanya tidak terdapat
perbedaan yang signifikan

2.2. DASAR-DASAR IJTIHAD
Landasan dasar dilakukannya ijtihad adalah :
a. Al-Qur’an
Surat An-Nisa’ ayat 59 :
Og¬³Ò^4C 4ׯg~-.- W-EON44`-47
W-ON¬OgCÒ¡ -.- W-ON¬OgCÒ¡4Ò 4·O÷c·O¯-
Oj¯Òq¡4Ò jO¯··- ¯¦7¯Lg` W p)¯··
u®7+;N4O4L·> O)× ¡7¯/E* +ÞÒ·1NO·· OÞ¯)³ *.-
Makalah Ushul Fiqh (Ijtihad) Page 4

´·O÷c·O¯-4Ò p)³ u®7+47 4pONLg`u·¬>
*.) g¬¯O4O^¯-4Ò @O´=E- _ Elg¯·O
¬O¯OE= ÷}=O;OÒ¡4Ò ECjÒ··> ^)_÷

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di
antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah
ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada
Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

Perintah mengembalikan sesuatu yang diperbedakan kepada Al-qur’an dan sunah,
menurut Ali Hasaballah, adalah peringatan agar orang tidak mengikuti hawa nafsunya, dan
mewajibkan untuk kembali kepada Allah dan Rasul-Nya dengan jalan ijtihad dalam
membahas kandungan ayat atau hadits yang baragkali tidak mudah untuk dijangkau begitu
saja, atau berijtihad dengan menerapkan kaidah-kaidah umum yang disimpulkan dari Al-
qur’an dan Sunnah Rasulullah.
b. As-Shunnah
As-Shunnah merupakan proses pengambila hukum setelah Al-Qur’an, seperti halnya
dialog yang terjadi antara sahabat Mu’adz bin Jabal dengan nabi tantang proses pengambilan
hukum yang tidak terdapat
dalam nash al-qur’an maupun as-shunnah.
c. Dalil Aqly (Rasio)
Sebagaimana yang diketahui bahwa Al-qur’an yang diturunkan itu hanya sebatas
kepada Nabi, sehingga setelah beliau wafat, tapi atas peristiwa yang pernah terjadi kepada
Mu’adz bin Jabal dan kemudian dilegitimasi oleh nabi mengisyaratkan bahwa peranan rasio
dalam ijtihad sangat urgen. Dengan catatan tetap berpegang teguh pada Al-qur’an dan as-
shunnah.

2.3. PERKEMBANGAN IJTIHAD
Makalah Ushul Fiqh (Ijtihad) Page 5

Permulaan diberlakukannya ijtihad ini menjadi sebuah ikhtilaf dikalangan ulama,
apakah ijtihad itu dimulai pada masa Nabi masih hidup ataukan pada masa sahabat? bila kita
menganalisis beberapa pendapat para ulama :
1. Menurut Jumhurul Ulama ; ijtihad dimulai pada masa Nabi dengan argumen pada
firman Allah SWT dalam Q.S. Al-Hasr : 2

4O¬- -Og~-.- E¤4Ou=Ò¡ 4ׯg~-.-
W-ÒNOE¼E ;}g` ÷u-Ò¡ ´U4-´¯^¯- }g`
¯ªg-@O4Cg1 ´·EÒ®· )O;¯O4^¯- _ 4` ¯¦+[E4·÷
pÒ¡ W-ON_NO^C·© W W-EOOL·÷4Ò ¦÷_^^Ò¡
¯¦÷_+-E¬g^E` ª×g++OONO =}g)` *.-
Nª÷_¯·>Ò·· +.- ;}g` ÷+^OEO ¯¦·¯
W-O+l´O4-^4·© W 4EO·~4Ò O)× Nªjgj±O¬U¬~
=U;NOO¯- _ 4pO+@O^C7© ª×g·¯ONO+
¯ªjg³g³uCÒ) Og³uCÒ¡4Ò 4×-gLg`u·÷©^¯-
W-Ò+O´¯4;N·· Oj¯Òq^4C @O=¯·-
^g÷

“Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli kitab dari kampung-
kampung mereka pada saat pengusiran yang pertama[1463]. kamu tidak menyangka, bahwa
mereka akan keluar dan merekapun yakin, bahwa benteng-benteng mereka dapat
mempertahankan mereka dari (siksa) Allah; Maka Allah mendatangkan kepada mereka
(hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. dan Allah melemparkan ketakutan
dalam hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka
sendiri dan tangan orang-orang mukmin. Maka ambillah (Kejadian itu) untuk menjadi
pelajaran, Hai orang-orang yang mempunyai wawasan.” (Q.S. Al-Hasr ; 2).

dan cukup banyak pula dari hadits Nabi yang mengatakan Nabi pernah berijtihad dalam kasus
strategi perang, hukum mencium isteri pada saat berpuasa diqiyaskan kepada hukum
berkumur-kumur pada saat berpuasa(studi kasus Umar Bin Khattab).

2. Golongan aliran kalam Asyariah dan Mu'tazilah mengatakan bahwa Nabi tidak pernah
melakukan Ijtihad dan semua pernyataanya itu sesuai dengan wahyu dengan argumen :
Makalah Ushul Fiqh (Ijtihad) Page 6

a. Firman Allah Q.S.An-najm ; 3-4
4`4Ò ÷-gCL4C ^}4N -O4OE¤·±- ^@÷ up)³ 4O¬-
·º)³ E/¯Ò4Ò _/EÒONC ^j÷
3. dan Tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya.
4. ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).
b. Nabi selalu menemukan ketentuan suatu hukum dari wahyu Allah jika sudah turun,
dan jika belum turun, beliau tidak berani untuk memutuskan suatu masalah hingga
wahyu diturunkan.
c. Nabi tidak memberi jawaban ketika pertanyaan itu ayatnya belum turun.
d. Ijtihad adalh buah karya akal yang kemungkinan sekali untuk menemui kesalahan,
sedangkannabi sendiri memiliki sifat ma'shum.
e. Ijtihad boleh berlaku jika nash-nya tidak ada dalam al-qur'an maupun as-shunnah,
selagi Nabimasih hidup maka semua problematika bisa ditanyakan kepadanya, dan
hukum ijtihad di sini dilarang selama nabi masih hidup.
f. Sebagian ulama berpendapat menengahi kedua pendapat diatas dengan pernyataan
bahwa
nabi hanya berijtihad dalam masalah duniawi saja, tidak kepada hukum syara'

2.4. HUKUM BERIJTIHAD
Orang yang berhak melakukan ijtihad adalah orang yang mencapai tingkat faqih
(orang yang mencapai derajat terutama dibidang keilmuan).adapun sebagian ulama
mengatakan bahwa hukum ijtihad adalah wajib artinya seorang mujtahid wajib melakukan
ijtihad untuk menggali dan merumuskan hukum syara' ketika hal-hal yang berkaitan dengan
syara' tidak menetapkannya secara jelas dan pasti.maka disini peranan ijtihad dihukumi wajib,
sebagaimana yang tersurat dalam Al-Qur'an :
Maka ambil i'tibarlah hai orang-orang yang mempunyai pandangan (Q.S. Al-Hasr;2).
dalam ayat ini mengandung makna perintah untuk mengambil sebuh ibarat, berarti
konsekuensi logisnya Allah memerintahkan kita untuk berijtihad.

2.5. UNSUR POKOK DALAM IJTIHAD
Makalah Ushul Fiqh (Ijtihad) Page 7

I. Syarat Menjadi Mujtahid
a. Syarat yang berhubungan dengan kepribadian
o Syarat umum bagi Mujtahid adalah baligh dan berakal
o Syarat khusus bagi Mujtahid adalah keimanan kepada Allah SWT .
b. Syarat yang berhubungan dengan kemampuan syarat secara kumulatif bagi Mujtahid :
1. Menguasai bahasa Arab dan ilmu bantu yang berhubungan denganya (Ilmu alat ; nahwu,
sharaf, bayan, ma'ani, badi'), mengingat Al-qur'an dan as-sunnah ini menggunakan teks
bahasa Arab, kriteria menguasai bahasa arab menurut para ulama sbb:
- Menurut Ibnu Subki cukup pada tingkatan pertengahan saja.
- Menurut Imam Al-Ghazali ; mampu memahami ucapan orang arab dan kebiasaan
kebiasaan yang berlaku dan pemakaian bahasa arab dikalangan mereka(bias
membedakan ucapan sharih, zhahir, mujmal) yang khusus (Muhkam,Mutasyabihat,
Muthlaq, Muqayyad).
2. Pengetahuan tentang Al-qur'an, mengetahui isi al-qur'an yang berkenana dengan hukum,
menurut imam Al-ghazali minimal seorang mujtahid harus hafal 500 ayat tentang ayat-
ayat hukum.namun pendapat Iama Al-Ghazali ini tidak disepakati oleh Muhammad bin
Ali As-Syaukani, bahwa hukum islam bisa saja berlipat ganda, orang yang
berpemahaman mendalam tentang al-qur'an bisa saja mengistinbathkan ayat-ayat
tentang kisah umat terdahulu sebagai suatu hukum.
3. Mengetahui Hadits-Hadits Nabi, dan untuk menentukan shahih tidaknya hadits pun
menurut Al-Ramahurmuzi, Al-Baghdadi, Ibnu Asir, dan Ibnu Taimiyah itu diperlukan
yang namanya Ijtihad.
4. Memiiki pengatahuan tentang Ijma' Ulama, agar ijtihadnya tidak menyalahi
kesepakatan ulama yang sudah ditetapkan, dan bukti kehujjahan ulama ini sesuai
dengan Firman Allah : " Haiorang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul-Nya,
dan ulil amri di antara kamu..(Q.S.An-Nisa; 59)
Maksud dari ulil amri menjadikan multiinterpretasi di kalangan ulama, ada yang
menafsirkannya, Ulama, Penguasa, Ijma' suatau hukum ,maka wajib diikuti dan dilaksanakan
hukumnya berdasarkan Al-qur'an, akan tetapi tentang Ijma' disini Ulama Syi'ah tidak
melegitimasi kehujjahan Ijma' karena pembuat hukum adalah imam yang dianggap mereka
ma'shum.
Makalah Ushul Fiqh (Ijtihad) Page 8

5. Menguasai Ilmu Ushul Fiqh,Menurut Al-Ghazali bahwa seorang Mujtahid harus
mengasai tiga ilmu diantaranya ushul fiqh, dan menurut Abu ishak Al-Asfarini
menuqil pendapat Al-Razi bahwa Ushul Fiqh adalah ilmu yang penting dimiliki oleh
seorang Mujtahid.
6. Mengetahui seluk beluk Qiyas, karena qiyas merupakan hujjah syar'iyyah terhadap
hukum-hukum syara' mengenai tindakan manusia. akan tetapi ada saja yang
berpendapat bahwa Qiyas tidak bisa dipakai sebagai hujjah syar'iyyah menurut
Madzhab Nazhamiyyah dan sebagaian kaum Syi'ah, sehingga mereka disebut sebagai
Nafatu'i qiyas (yang menafikan Qiyas).
7. Mampu menangkap tujuan Syari'at, bahwa setiap hukum yang ditetapkan oleh Allah
sebagai hakim pasti mengandung suatu tujuan, meskipun dalam beberapa tempat kita
tidak mengetahuinya.
8. Mengetahui tentang nasikh Mansukh.Syarat ini ditentukan oleh Imam Syafi'i dalam
kitabnya Al-Risalah.
II. Pembagian Ijtihad
a. Ijtihad fardhli
Menurut pendapat At-Thayyib Khudari As-Sayyid Bahwa Ijtihad Fardhli adal ijtidhad
yang dilakukan oleh peseorangan atau beberapa orang Mujtahid. ijtihad ini dibagi menjadi 2
bagian :
1. Ijtihad Muthlaq adalah ijtihad yang melingkupi semua masalah hukum, tidak memilah
milah dalam masalah hukum tertentu, dan Mujtahid disini disebut sebagai Mujtahid
Muthlaq, yaitu Mujtahid yang mempunyai kemampuan mengistinbathkan seluruh hukum
dari dalil-dalilnya(secara Syar'i atau 'Aqli).
2. Ijtihad Juz'i (Parsial), Ijtihad tentang aturan hukum tertentu saja, atau bisa disebut
Mujtahid Spesialis yang hanya mengistinbathkan sebagian tertentu dari hukum syara'.

Sedangkan Muhammad Abu zahrah dalam bukunya, Ushul Fiqh membagi Ijtihad dari
segi bentuk karya ijtihadnya kepada dua bagian :
a. Ijtihad Istinbathi adalah ijtihad yang berusaha menggali dan menemukan hukum dari
dalil-dalil yang telah ditentukan.
b. Ijtihad Tathbiqi ;Ijtihad yang bukan untuk menemukan dan menghasilkan hukum, tetapi
menerapkan hukum hasil temuan Mujtahid terdahulu kepada kejadian yang mencul kemudian.

Makalah Ushul Fiqh (Ijtihad) Page 9

Menurut Ibnu Subkhi Ijtihad Tathbiqi (menerapkan hukum hasil temuan Mujtahid
terdahulu ) terbagai menjadi :
1. Takhrij al-ahkam yaitu menetapkan suatu hukum terhadap suatu kejadian yang baru
dengan cara menghubungkannya kepada hukum yang pernah ditetapkan oleh imam mujtahid
terdahulu.
2. Tarjih yaitu usaha untuk menemukan kejelasan sebagai pegangan dikemudian hari bagi
para pengikut seorang imam Mujtahid dengan memilih dan memilah pendapat mana yang
terkuat dikalangan ulama mujtahid untuk didikuti.

III. Macam-macam Ijtihad
Ijtihad dilihat dari aspek dalil yang dijadikan pedoman.
1. Ijtihad Bayani yaitu Ijtihad yang digunakan untuk menemukan hukum yang terkandung
dalam Nash Al-qur'an, namun sifatnya dhanni.
2. Ijtihad Qiyas, Qiyas menyamakan suatu kejiadian yang tidak ada nashnya dengan kejadian
yang lain yang ada nash nya dengan meliah
3. Ijtihad istilahi Ijtihad dilihat dari aspek pelaksananya :
a. Ijtihad Fardhi (individu)
b. Ijtihad jama'i (Kolektif) bukan berarti Ijma', karena dalam ijtihad kolektif ini bukan
hanya dilakukan oleh ulama yang telah memenuhi syarat untuk melakukan suatu ijma'.
IV. Peringkat Mujtahid
1. Beberapa tingkatan Mujtahid menurut Abu Zahrah dalam kitabnya Tarikh :
Mujtahid dalam hukum syara' Mujtahid pada urutan pertama ini mampu menggali,
menemukan dan mengeluarkan hukum langsung dari sumbernya (AL-qur'an dan As-
Sunnah) dengan menggunakan beberapa metode ijtihad (Mujtahid Muthlaq) seperti :
Istinbath,Qiyas,Maslahah Mursalah,dll. contohnya seperti ke-4 Imam Fiqh,Said Ibnu
Musayyab, Al-Auza dll.
2. Mujtahid Muntasib adalah Ijtihadnya dihubungkan dengan ijtihad yang lain. dengan
konsekuensi logis ada keterkaitan hubungan antara murid dam guru, ia hanya mengambil
metode yang telah digunakan gurunya, meskipun nantinya akan terjadi kesamaan atau
perbedaan yang prinsipil dalam segi hasil ijtihad. contoh : Abu Yusuf, Muhammad Ibnu
hasan yang menghubungkan dirinya dengan Abu hanifah(madzhab hanafi), Al-Muzanni
yang berguru cukup lama pada Imam Syafi'i.dll
3. Mujtahid Madzhab Mujtahid yang mengikuti madzhab tempat ia bernaung(taklid
terhadap suatu madzhab), ia tidak hanya mencari hal-hal yang belum diterangkan oleh
Makalah Ushul Fiqh (Ijtihad) Page 10

madzhabnya, Contoh Imam Abu Al-hasan. Peranan mereka terbatas melakukan istinbath
hukum tentang masalah-masalah yang belum diriwayatkan oleh imamnya, menurut Imam
Maliki Mujtahid Madzhab ini selalu mengisi setiap ruang waktu /perkembangan zaman.
Fungsinya sebagai :
a. Mengambil kaedah-kaedah yang fiqhiyyah yang bersifat umum yang termasuk
dari illat qiyas yang telah diambil oelh ualam-ulama besar.
b. Menggali hukum yang belum ada ketetapannya berdasarkan kaedah-kaedah
tersebut.
4. Mujtahid Fi At-Tarjrih
Mujtahid yang hanya membandingkan pendapat beberapa madzhab. dengan menganalisis
kelemahan dan keunggulan dalil yang digunakan.
5. Mujtahid Mawazin
Menurut Ibnu Abidin tingkatanini identik dengan membandingkan antara pendapat-
pendapat dengan riwayat-riwayat.mereka lebih mengkritisi pada wilayah qiyasnya.
6. Mujtahid Muhafidz
7. Mujtahid ini hanya bisa hujjah untuk membedakan pendapat mana yang terkuat dan
terlemah (analisis)
8. Mujtahid Muqallid
Ulama yang mampu memahami kitab-kitab tetapi tidak mempu menganalisis pendapat dan
riwayat dengan keterbatasan kemampuan yang dimiliki.

2.6. BEBERAPA PERSOALAN IJTIHAD
1. Kekosongan Mujtahid
Al-Zarkasy berpendapat dalam kitabnya Al-Bahr ; bahwa ada suatu masa kekosongan
Mujtahid(Mujtahid Muthlaq sekaliber Imam Madzhab) karena setiap zaman tidak memilki
kualitas Mujtahid sekaliber beliau. Namun Golongan ulama Hanabilah berpendapat bahwa
tidak boleh ada masa kekosongan Mujtahid, karena ijtihad sendiri hukumnya fardhu kifayah
dan secara tidak langsung kita sudah tidak menegakan hukum termaksud. Namun sering
diperbincangkna masalah Ijtihad, apakah mungkin ijtihad muthlaq masih terbuka? dalam hal
ini banyak terjadi ikhtilaf dikalangan ulama, menurut Madzhab Syafi' dan sebagian Madzhab
Hanafy mengatakan bahwa Ijtihad mutklaq masih terbuka, argumen beliau bahwa ijtihad
untuk semua tingkatan Mujtahid masedangkan sebagian ulama yang lainyya menutup keras
pintu ijtihad muthlaq.

Makalah Ushul Fiqh (Ijtihad) Page 11

2. Metode Ijtihad Beberapa metode Ijtihad :
a. Istihsan
b. Maslahah Mursalah
c. Istishhsab
d. 'Adat/U'rf
e. Madzhab Shahabi (Fatwa sahabat secara perorangan)
f. Syar'u Man Qoblina (Syari'at sebelum kita) Metode Ijtihad yang ditempuh
oleh Imam madzhab; :
a. Imam Abu Hanifah, metode Ijtihadnya ; Al-Qur'an, As-Sunnah, Qiyas, dan Istihsan,
Menurut beliau " Seandainya tidak ada riwayat, niscaya saya berbicara dengan qiyas"
b. Imam Malik, metode Ijtihadnya ; Al-Qur'an, As-Sunnah,Amal Ahli Madinah (Ijma' dalam
artian umum), Maslahat Mursalah, Qiyas dan Syaddu Al-Zari'ah.Syar'u Manqoblana.
c. Imam Syafi'i, metode Ijtihadnya ; Al-Qur'an, As-Sunnah,Ijma' dan Qiyas, Istihsab. menurut
beliau Ijtihad yang menggunakan metode Qiyas, kalau sudah benar maka bisa dijadikan
sebagai hujjah (dalil) yang sah.
d. Imam Hanbali , metode Ijtihadnya ; Al-Qur'an, As-Sunnah,Fatwa sahabat (Ijma), hadits
mursal, Qiyas, Syaddu' adzdzara'i.
3. Fungsi dan Lapangan Ijtihad
Imam Syafi'i penyusun pertama Ushul Fiqh dalam kitabnya Al-Risalah ketika
menggambarkan betapa sempurnanya Al-qur'an, dan beliau yakin bahwa semua
permasalahan yang terjadi itu dapat di jawab oleh al-qur'an, dan dalam hal ini diperlukan
peranan ijtihad untuk memahaminya. dan dalam dunia hadits menurut beliau disini peranan
ijtihad di perlukan pula, mengingat tingkatan-tingkatan hadits yang berbeda. Yang jelas
bahwa lapangan ijtihad adalah problematika yang hukum tidak dijelaskan dalam Al-qur'an
ataupun adanya ketidak pastian(dilalah)
Masalah dalam lapangan ijtihad :
a. Masalah Aqliyyah atau Nazhariyyah (Aqidah)
b. Masalah Syar'iyyah.
4. Kebenaran hasil Ijtihad
Ketetapan hukum yang daimbil oleh mujtahid semata-mata adalah hukum Allah.
sesuai dengan Q.S.Al-An'am ; 57, bahwa hukum yang dapat dicapai oleh mujtahid adalah
hukum Allah dalam lisan mujtahid.karena mujtahid menginterpretasiakan ayat-ayat yang
Makalah Ushul Fiqh (Ijtihad) Page 12

dinggap memilki sifat multi interpretasi. Menurut Al-Anbari bahwa yang betul dalam hasil
ijtihad itu hanya satu, sedangkan yang lainnya salah. menurutnya bahwa yang melakuka
ijtihadnya salah itu terbebaskan dari dosa. sesuai dengan Firman Allah :
Allah tidak membebani seseorang kecuali dalam batas uasahanya(Q.S.Al-Baqarah ; 286)

5. Kekuatan Hasil Ijtihad
Hasil yang dapat dicapai oleh seorang Mujtahid bersifat Zhanni, hanya merupakan
dugaan yang kuat yang dicapai dari hasl ijtihadnya. Menurut Salam Madzkur bahwa hasil
dari Mujtahid itu mengikat pada dirinya serta orang yang meminta fatwa kepadnya.
Menurut Ibnu Subki Bagi orang awam/ belum mencapai tingkatan mujtahid, ia harus
mengikuti pendapat mujtahid sesuai dengan tempat ia meminta fatwa.
Setelah periode ijtihad dan masa keemasan fiqh islam berakhir dunia ijtihad
mengalami kemunduran yang disebabkan masing-masing madzhab yang sudah terbentuk
melegitimasi pendapatnya, dan mengklaim bahwa pendapatnyalah yang paling benar.
Sehingga memunculkan suatu perpecahan dan hambarnya rasa toleransi sesamanya. Sehingga
lambat laun perjalanan waktu pintu ijtihad di tutup. Dalam literature fiqh tidak menjelaskan
siapa ulama yang menutup pintu ijtihad itu sendiri, dan masa seperti ini berlangsung hingga
abad ke- 13 H, dan pada fase ini disebut sebagai Periode taklid dan tertutupnya pintu Ijtihad.
Sebab – sebab pintu ijtihad ditutup :
a. Truth Claim yang terjadi dikalangan mujtahid pada masa itu yang melegitimasi
konklusi yang dikeluarkan adalah yang paling benar
b. Ijtihad yang dilakukan terhegemoni oleh buku-buku filsafat Yunani yang lebih
mengedepankan rasio, sedangkan yang namnya ijtihad itu harus diimbangi oleh literature Al-
qur’an dan As-shunnah( ketakutan para mujtahid keluar dari jalur Al-qur’an dan As-Shunnah
dalam mencari problem solver)









Makalah Ushul Fiqh (Ijtihad) Page 13




BAB III
PENUTUP
3.1. KESIMPULAN
Ijtihad merupakan salah satu cara berfikir secara mendalam dengan segenap
kemampuan yang dimiliki untuk menginterpretasikan ayat-ayat Al-Qur’an yang bersifat
Dzanni, dengan menggunakan beberapa metode yang telah ditetapkan sebagai suatu problem
solving atas suatu kasus yang belum terdapat dalam nash al-qur’an ataupun as-sunnah,
kemudian dilegitimasi lewat ijma’ para ulama, bila dianalogikan mungkin ijtihad ini bisa
disebut pula filsafat, dengan sebuah indicator yang bersifat prinsipil dari segi paradigma
berfikir sehingga terbentuklah suatu konklusi dalam sebuah kasus.
Iijtihad dimulai sejak zaman Rasullah SAW terbukti dari beberapa hadits – hadits dan
beberapa pendapat para Ulama, memang dalam hal ini terdapat suatu ikhtilaf antar ulama,
bahkan bukan hanya itu saja, dalam hal pintu ijtihad tertutup pun menjadi perdebatan hingga
saat ini, karena bukti rill mengungkapkan sebagaian ulama menyepakati bahwa tidak ada kata
tutup dalam hal berijtihad, ada pula yang berpendapat bahwa pintu ijtihad tertutup tetapi bila
kita kritisi bukti konkrit yang menjelaskannya bisa dikatakan kurang valid. Kapan mulai
ditutupnya ataupun dibukanya pintu ijtihad ini masih bias.akan tetapi konon katanya Ibnu
taimiyah adalah orang yang pertama kali menggembar gemborkan bahwa pintu ijtihad telah
dibuka. Apakah mungkin semua itu hanya suatu manajemen konfik semata?yang pasti dalam
hal ini hanya bersifat dzanni. Peranan ijtihad bersifat urgen melihat perkembangan zaman
yang begitu cepat dari hasil karya fikirr seorang manusia dalam dinamika kehidupan,
sehingga tidak menutup kemungkinan hal-hal yang baru akan muncul sebagai imbas dari
modernisasi. Wallahu a’lam Bisshawwab








Makalah Ushul Fiqh (Ijtihad) Page 14




DAFTAR PUSTAKA



1. Prof.DR.Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh Jilid 2, Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 1999
2. M.Ali Hasan, Perbandingan Mazhab, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1995
3 R.H.Nasrun Haroen, MA, Ushul Fiqh 1, Logos Wacana Ilmu, jakarta, 1997
4. DR.M.Abdurrahman, Pergeseran Pemikiran Hadits, Paramadina,Jakarta, 1999
5. Prof.M. Abu Zahrah, Ushul Fiqh, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1994
6. Thaha Jabir, Adabul Ikhtilaf Fil Islam, dalam terjemah Abd.Fahmi, Gema Insani Press,
Jakarta, 1991.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->