P. 1
Makalah Kurikulum

Makalah Kurikulum

|Views: 101|Likes:
Published by Megayana Wayan
Kurikulum
Kurikulum

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Megayana Wayan on Dec 27, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/23/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Percepatan arus informasi dalam era globalisasi dewasa ini menuntut semua bidang kehidupan untuk menyesuaikan diri agar sesuai dengan kebutuhan dan tidak ketinggalan zaman. Penyesuaian tersebut secara langsung mengubah tatanan dalam sistem pendidikan. Sistem pendidikan nasional senantiasa harus dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan yang terjadi baik di tingkat lokal, nasional, maupun global. Salah satu komponen penting dari sistem pendidikan tersebut adalah kurikulum, karena kurikulum merupakan komponen pendidikan yang dijadikan acuan oleh setiap satuan pendidikan, baik oleh pengelola maupun penyelenggara khususnya oleh guru dan kepala sekolah. Kurikulum mengarahkan segala bentuk aktivitas pendidikan demi terciptanya tujuan-tujuan pendidikan. Kurikulum juga merupakan suatu rencana pendidikan, memberikan pedoman dan pegangan tentang jenis, lingkup, dan urutan isi, serta proses pendidikan. Pendidikan di Indonesia mengacu pada kurikulum yang dibuat oleh pemerintah pusat secara sentralistik dan diberlakukan bagi seluruh anak bangsa di seluruh tanah air Indonesia. Kurikulum dibuat sentralistik, sehingga setiap satuan pendidikan diharuskan untuk melaksanakan dan mengimplementasikannya sesuai dengan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis yang disusun oleh pemerintah pusat menyertai kurikulum tersebut. Namun, dalam perkembangannya kurikulum yang bersifat sentralistik banyak mengalami kendala dan masalah. Salah satunya tidak meratanya proses pembelajaran karena tidak sesuai dengan potensi dan kebutuhan masing-masing tingkat satuan pendidikan, dimana setiap satuan pendidikan memiliki potensi dan kebutuhan yang berbeda-beda. Dengan demikian, terjadi pergeseran manajemen pendidikan dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah kota dan kabupaten dengan paradigma buttom-up atau desentralistik. Pemindahan kewenangan dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah yang dikenal dengan istilah desentralisasi, merupakan perwujudan Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 yang mengakibatkan adanya otonomi daerah (Mohammad 1 Syaifuddin, dkk, 2008). Adanya

desentralisasi

ini,

mengharapkan

masyarakatnya

untuk

lebih

terpacu

mengembangkan daerah masing-masing, agar dapat bersaing dengan daerah lainnya. Pengembangan tersebut mencakup berbagai bidang, salah satunya adalah bidang pendidikan. Sekolah sebagai salah satu lembaga formal di bidang pendidikan, kini diberikan kewenangan untuk mengelola segala potensi dan sumber daya yang ada di masing-masing sekolah untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Peningkatan kualitas pendidikan, harus dipandu dengan kurikulum yang baik, adaptif, dan mampu menghasilkan output yang siap menghadapi tantangan internal dan eksternal di era globalisasi ini. Menurut Sudjana (dalam Susilo, 2008), bahwa pelaksanaan pendidikan formal diatur dalam tahapan-tahapan. Setiap tahapan memiliki tujuan tersendiri yang merupakan penjabaran dari tujuan umum nasional. Tujuan setiap tingkat pendidikan dinamakan tujuan institusional. Untuk mencapai tujuan institusional, diperlukan alat dan sarana pendidikan, salah satunya adalah kurikulum untuk setiap lembaga pendidikan. Kurikulum merupakan seperangkat rencana yang mengatur isi dan bahan pembelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran. Kurikulum ini selalu mengalami pembaharuan dan perubahan setiap kurun waktu tertentu. Muhadi (dalam Susilo, 2008) menyatakan, perubahan dan pembaharuan kurikulum terjadi karena adanya perkembangan dan pembaharuan dalam kehidupan masyarakat, berbangsa, dan bernegara. Hal ini dikarenakan, kurikulum harus selalu mampu mengikuti perkembangan dan menyesuaikan kebutuhan masyarakat dalam menghadapi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kurikulum yang berlaku saat ini, adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang merupakan pengembangan dari kurikulum sebelumnya yaitu Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Melalui KTSP, peningkatan kualitas sekolah benar-benar tergantung pada kemandirian setiap sekolah dalam menggali dan memanfaatkan potensi dan sumber daya yang dimilikinya. KTSP memberikan kesempatan kepada setiap sekolah untuk mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan daerahnya dan sesuai dengan karakteristik sekolah itu sendiri. Sekolah dituntut 2

melakukan inisiatif dalam menggali secara mandiri berbagai potensi dan sumber daya untuk mendukung programnya termasuk kurikulum yang dikembangkannya. Oleh karena itu, setiap komponen sekolah dari kepala sekolah hingga guru-guru dituntut untuk lebih aktif dan kreatif melakukan berbagai upaya agar semua kebutuhan sekolah terpenuhi. Sebagai kurikulum operasional KTSP menuntut keterlibatan masyarakat secara penuh, sebab tanggungjawab pengembangan kurikulum tidak lagi berada di pemerintah, akan tetapi berada di tangan sekolah. Disamping itu pula, berkembangnya sekolah itu sendiri sangat bergantung pada seberapa besar keterlibatan masyarakat terhadap sekolah. Keterlibatan kepala sekolah, guru, dan masyarakat dalam pengambilan kebijakan-kebijakan sekolah juga mendorong rasa kepemilikian yang lebih tinggi terhadap sekolah. Kebijakan yang diambil pastinya mengacu kepada pengembangan kompetensi yang akan disampaikan kepada peserta didik, dengan menggunakan sumber daya yang ada seefisien mungkin untuk mencapai hasil yang optimal. Selain itu, dengan KTSP sekolah diharapkan berlomba satu dengan yang lain dalam menyusun program kurikulum sekaligus berlomba dalam implementasinya, sehingga tercipta persaingan antar sekolah menuju pencapaian pendidikan yang lebih bermutu. Begitu besarnya peran kurikulum dalam meningkatkan kualitas pendidikan, maka dipandang perlu untuk meningkatkan pemahaman dan kreativitas dalam pelaksanaannya. Oleh karena itu, dalam makalah ini akan dibahas secara mendalam mengenai komponen-komponen KTSP. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas, dapat dirumuskan beberapa masalah antara lain: 1. 2. 3. 4. 5. Apakah yang menjadi tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan? Bagaimana struktur dan muatan KTSP? Apakah kalender pendidikan itu? Bagaimana pelaksanaan penyusunan KTSP? Bagaimana format KTSP?

3

1.3 Tujuan Adapun tujuan penulis di dalam membuat makalah ini, yaitu sebagai berikut. 1. 2. 3. 4. 5. Untuk mengetahui tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan. Untuk mengetahui struktur dan muatan KTSP. Untuk mengetahui kalender pendidikan. Untuk mengetahui pelaksanaan penyusunan KTSP. Untuk mengetahui format KTSP.

1.4 Manfaat Adapun manfaat yang dapat dicapai dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut: 1. Bagi penulis yaitu memberikan pengetahuan dan pemahaman lebih dalam tentang tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan KTSP, kalender pendidikan, pelaksanaan penyusunan KTSP, format KTSP. 2. Bagi pembaca yaitu memberikan informasi tentang tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan KTSP, kalender pendidikan, pelaksanaan penyusunan KTSP, format KTSP.

4

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Tujuan Pendidikan pada Tingkat Sekolah Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) harus menyusun program peningkatan mutu yang mencakup: tujuan, sasaran, dan target yang akan dicapai, untuk program jangka pendek maupun program jangka panjang. Perumusan program peningkatan mutu hendaknya dirumuskan secara tertulis dengan jelas, mudah dipahami oleh semua pihak yang terlibat dalam satuan pendidikan sehingga mereka tahu untuk apa mereka semua bekerja keras, kemudian setiap pihak yang terlibat disatuan pendidikan memahami apa kaitan yang dilakukan dengan pencapaian tujuan yang telah ditentukan, serta kemajuan satuan pendidikan harus dapat dirasakan oleh semua pihak yang terlibat. Tujuan pendidikan satuan pendidikan merupakan acuan dalam pengembangan KTSP. Adapun tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah dirumuskan mengacu kepada tujuan umum pendidikan berikut. 1. Pendidikan dasar, yang meliputi SD/MI/SDLB/Paket A dan SMP/MTs./SMPLB/Paket B bertujuan meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. 2. Pendidikan menengah, yang meliputi SMA/MA/SMALB/Paket C bertujuan meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. 3. Pendidikan menengah kejuruan, yang meliputi SMK/MAK bertujuan meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya (Saleh, 2010). Berdasarkan penjabaran tujuan KTSP yang dikemukakan diatas dapat disimpulkan bahwa ada dua tujuan diterapkannya KTSP yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum diterapkannya KTSP adalah untuk memandirikan dan memberdayakan satuan pendidikan melalui pemberian kewenangan (otonomi) 5

kepada lembaga pendidikan dan mendorong sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara patisipatif dalam pengembangan kurikulum. Tujuan khusus diterapkannya KTSP adalah untuk: (1) meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengembangkan kurikulum, mengelola dan memberdayakan sumberdaya yang tersedia, (2) meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam pengembangan kurikulum melalui pengambilan keputusan bersama, (3) meningkatkan kompetisi yang sehat antar satuan pendidikan tentang kualitas pendidikan yang akan dicapai. 2.2 Struktur dan Muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Struktur kurikulum tingkat satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah dalam Standar Isi, yang dikembangkan dari kelompok mata pelajaran sebagai berikut. a. Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, bertujuan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia. Tujuan tersebut dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan agama, kewarganegaraan, kepribadian, ilmu pengetahuan dan teknologi, estetika, jasmani, olahraga, dan kesehatan. b. Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, bertujuan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air. Tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan agama, akhlak mulia, kewarganegaraan, bahasa, seni dan budaya, dan pendidikan jasmani. c. Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi, bertujuan mengembangkan logika, kemampuan berpikir dan analisis peserta didik. Pada satuan pendidikan SD/MI/SDLB/Paket A, tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa, matematika, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, keterampilan/kejuruan, dan muatan lokal yang relevan. Pada satuan pendidikan SMP/MTs/SMPLB/Paket B, tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa, matematika, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, keterampilan/kejuruan, 6

dan/atau teknologi informasi dan komunikasi, serta muatan lokal yang relevan. Pada satuan pendidikan SMA/MA/SMALB/Paket C, tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa, matematika, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, keterampilan/kejuruan, teknologi informasi dan komunikasi, serta muatan lokal yang relevan. Pada satuan pendidikan SMK/MAK, tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa, matematika, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, keterampilan, kejuruan, teknologi informasi dan komunikasi, serta muatan lokal yang relevan. d. Kelompok mata pelajaran estetika, bertujuan untuk membentuk karakter peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa seni dan pemahaman budaya. Tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa, seni dan budaya, keterampilan, dan muatan lokal yang relevan. e. Kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan, bertujuan untuk membentuk karakter peserta didik agar sehat jasmani dan rohani, dan menumbuhkan rasa sportivitas. Tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan pendidikan jasmani, olahraga, pendidikan kesehatan, ilmu pengetahuan alam, dan muatan lokal yang relevan (Anonim, 2012). Kelompok mata pelajaran tersebut dilaksanakan melalui muatan dan/atau kegiatan pembelajaran sebagaimana diuraikan dalam PP 19/2005 pasal 7 (Koyan, 2007), yang menyatakan bahwa: Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia pada SD/MI/SDLB/Paket A, SMP/MTs/SMPLB/Paket B, SMA/MA/ SMALB/Paket C, SMK/MAK, atau bentuk lain yang sederajat dilaksanakan melalui muatan dan/atau kegiatan agama, kewarganegaraan, kepribadian, ilmu pengetahuan dan teknologi, estetika, jasmani, olahraga, dan kesehatan. Adapun Standar Kompetensi Kelompok Mata Pelajaran (SK-KMP) untuk masing masing satuan pendidikan selengkapnya adalah sebagai berikut.

7

1. Agama dan Akhlak Mulia a. SD/MI/SDLB/Paket A. 1) Menjalankan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan anak. 2) Menunjukkan sikap jujur dan adil. 3) Mengenal keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi di lingkungan sekitarnya. 4) Berkomunikasi secara santun yang mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan. 5) Menunjukkan kebiasaan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang sesuai dengan tuntunan agamanya. 6) Menunjukkan kecintaan dan kepedulian terhadap sesama manusia dan lingkungan sebagai makhluk ciptaan Tuhan b. SMP/MTs/SMPLB/Paket B 1) Mengamalkan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan remaja. 2) Menerapkan nilai-nilai kejujuran dan keadilan 3) Memahami keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi. 4) Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun yang mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan. 5) Menerapkan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang sesuai dengan tuntunan agamanya. 6) Memanfaatkan lingkungan sebagai makhluk ciptaan Tuhan secara bertanggung jawab. 7) Menghargai perbedaan pendapat dalam menjalankan ajaran agama. c. SMA/MA/SMALB/Paket C 1) Berperilaku sesuai dengan ajaran agama yang dianut sesuai dengan perkembangan remaja. 2) Menghargai keberagaman agama, bangsa, suku, ras, golongan sosial ekonomi, dan budaya dalam tatanan global. 3) Berpartisipasi dalam penegakan aturan-aturan sosial. 8

4) Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di masyarakat. 5) Menghargai adanya perbedaan pendapat dan berempati terhadap orang lain. 6) Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun melalui berbagai cara termasuk pemanfaatan teknologi informasi yang mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan. 7) Menjaga kebersihan, kesehatan, ketahanan dan kebugaran jasmani dalam kehidupan sesuai dengan tuntunan agama. 8) Memanfaatkan lingkungan sebagai makhluk ciptaan Tuhan secara bertanggung jawab. d. SMK/MAK 1) Berperilaku sesuai dengan ajaran agama yang dianut sesuai dengan perkembangan remaja. 2) Menghargai keberagaman agama, bangsa, suku, ras, golongan sosial ekonomi, dan budaya dalam tatanan global. 3) Berpartisipasi dalam penegakan aturan-aturan sosial. 4) Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di masyarakat. 5) Menghargai adanya perbedaan pendapat dan berempati terhadap orang lain. 6) Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun melalui berbagai cara termasuk pemanfaatan teknologi informasi yang mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan. 7) Menjaga kebersihan, kesehatan, ketahanan dan kebugaran jasmani dalam kehidupan sesuai dengan tuntunan agama. 8) Memanfaatkan lingkungan sebagai makhluk ciptaan Tuhan secara bertanggung jawab. 2. Kewarganegaraan dan Kepribadian a. SD/MI/SDLB/Paket A 1) Menunjukkan kecintaan dan kebanggaan terhadap bangsa, negara, dan tanah air Indonesia. 9

2) Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungannya. 3) Menghargai keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi di lingkungan sekitarnya. 4) Menunjukkan kecintaan dan kepedulian terhadap lingkungan. 5) Mengenal kekurangan dan kelebihan diri sendiri. 6) Menunjukkan rasa keingintahuan yang tinggi dan menyadari potensinya. 7) Berkomunikasi secara santun. 8) Menunjukkan kegemaran membaca. 9) Menunjukkan kebiasaan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang. 10) Bekerja sama dalam kelompok, tolong-menolong, dan menjaga diri sendiri dalam lingkungan keluarga dan teman sebaya. 11) Menunjukkan kemampuan mengekspresikan diri melalui kegiatan seni dan budaya lokal. b. SMP/MTs/SMPLB/Paket B 1) Menerapkan kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara demi terwujudnya persatuan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. 2) Mematuhi aturan-aturan sosial, hukum dan perundangan. 3) Menghargai keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi dalam lingkup nasional. 4) Memanfaatkan lingkungan secara bertanggung jawab. 5) Memahami kekurangan dan kelebihan diri sendiri. 6) Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun. 7) Menunjukkan sikap percaya diri. 8) Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis. 9) Menunjukkan kemampuan belajar secara mandiri sesuai dengan potensi yang dimilikinya. 10) Menghargai tugas pekerjaan dan memiliki kemampuan untuk berkarya 11) Menunjukkan kebiasaan hidup bersih, sehat, bugar, dan aman dalam kehidupan sehari-hari. 10

12) Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan dimasyarakat. 13) Menghargai adanya perbedaan pendapat. 14) Menghargai karya seni dan budaya nasional Indonesia. c. SMA/MA/SMALB/Paket C 1) Berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara secara demokratis dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia. 2) Berpartisipasi dalam penegakan aturan-aturan sosial, hukum dan perundangan. 3) Menghargai keberagaman agama, bangsa, suku, ras, golongan sosial ekonomi, dan budaya dalam tatanan global. 4) Memanfaatkan lingkungan secara produktif dan bertanggung jawab. 5) Mengembangkan diri secara optimal dengan memanfaatkan kelebihan diri serta memperbaiki kekurangannya. 6) Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun melalui berbagai cara termasuk pemanfaatan teknologi informasi. 7) Menunjukkan sikap percaya diri dan bertanggung jawab atas perilaku, perbuatan, dan pekerjaannya. 8) Menunjukkan kemampuan mengembangkan budaya belajar untuk pemberdayaan diri. 9) Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis. 10) Berkarya secara kreatif, baik individual maupun kelompok. 11) Menjaga kesehatan, ketahanan, dan kebugaran jasmani. 12) Menunjukkan sikap kompetitif dan sportif untuk meningkatkan ketaqwaan dan memperkuat kepribadian. 13) Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan dimasyarakat. 14) Menghargai adanya perbedaan pendapat dan berempati terhadap orang lain. 15) Menunjukkan apresiasi terhadap karya estetika.

11

d. SMK/MAK 1) Berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara secara demokratis dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia. 2) Berpartisipasi dalam penegakan aturan-aturan sosial, hukum dan perundangan. 3) Menghargai keberagaman agama, bangsa, suku, ras, golongan sosial ekonomi, dan budaya dalam tatanan global. 4) Memanfaatkan lingkungan secara produktif dan bertanggung jawab. 5) Mengembangkan diri secara optimal dengan memanfaatkan kelebihan diri serta memperbaiki kekurangannya. 6) Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun melalui berbagai cara termasuk pemanfaatan teknologi informasi. 7) Menunjukkan sikap percaya diri dan bertanggung jawab atas perilaku, perbuatan, dan pekerjaannya. 8) Menunjukkan kemampuan mengembangkan budaya belajar untuk pemberdayaan diri. 9) Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis 10) 11) 12) 13) 14) 15) Berkarya secara kreatif, baik individual maupun kelompok Menjaga kesehatan, ketahanan, dan kebugaran jasmani Menunjukkan sikap kompetitif dan sportif untuk

meningkatkan ketaqwaan dan memperkuat kepribadian. Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam Menghargai adanya perbedaan pendapat dan berempati Menunjukkan apresiasi terhadap karya estetika. pergaulan dimasyarakat. terhadap orang lain. 3. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi a. SD/MI/SDLB/Paket A 1) Mengenal dan menggunakan berbagai informasi tentang lingkungan sekitar secara logis, kritis, dan kreatif. 12

2) 3) 4) 5) 6) 7)

Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, dan kreatif dengan Menunjukkan rasa keingintahuan yang tinggi. Menunjukkan kemampuan memecahkan masalah sederhana dalam Menunjukkan kemampuan mengenali gejala alam dan sosial di Menunjukkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca, Menunjukkan kebiasaan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan

bimbingan guru/pendidik.

kehidupan sehari-hari. lingkungan sekitar. menulis, dan berhitung. memanfaatkan waktu luang. b. SMP/MTs/SMPLB/Paket B 1) Mencari dan menerapkan informasi secara logis, kritis, dan kreatif. 2) Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, dan kreatif. 3) Menunjukkan kemampuan belajar secara mandiri sesuai dengan potensi yang dimilikinya. 4) Menunjukkan kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. 5) Mendeskripsi gejala alam dan sosial. 6) Memanfaatkan lingkungan secara bertanggung jawab. 7) Menghargai tugas pekerjaan dan memiliki kemampuan untuk berkarya. 8) Menerapkan hidup bersih, sehat bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang. 9) Memiliki keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris sederhana. 10) Menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan menengah c. SMA/MA/SMALB/Paket C 1) 2) Membangun dan menerapkan informasi, pengetahuan, dan Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan teknologi secara logis, kritis, kreatif, dan inovatif. inovatif secara mandiri. 13

3) 4) 5) 6) 7) 8) 9)

Menunjukkan kemampuan mengembangkan budaya belajar untuk Menunjukkan sikap kompetitif, sportif, dan etos kerja untuk Menunjukkan kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah Menunjukkan kemampuan menganalisis fenomena alam dan sosial Memanfaatkan lingkungan secara produktif dan bertanggung Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun melalui Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis.

pemberdayaan diri. mendapatkan hasil yang terbaik dalam bidang iptek. kompleks. sesuai dengan kekhasan daerah masing-masing. jawab. berbagai cara termasuk pemanfaatan teknologi informasi. 10) Menunjukkan keterampilan menyimak, membaca, menulis, dan berbicara dalam bahasa Indonesia dan Inggris. 11) Menguasai pendidikan tinggi. d. SMK/MAK 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) Membangun dan menerapkan informasi, pengetahuan, dan Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan Menunjukkan kemampuan mengembangkan budaya belajar untuk Menunjukkan sikap kompetitif, sportif, dan etos kerja untuk Menunjukkan kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah Menunjukkan kemampuan menganalisis fenomena alam dan sosial Memanfaatkan lingkungan secara produktif dan bertanggung teknologi secara logis, kritis, kreatif, dan inovatif. inovatif secara mandiri. pemberdayaan diri. mendapatkan hasil yang terbaik dalam bidang iptek. kompleks. sesuai dengan kekhasan daerah masing-masing. jawab. 14 pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti

8) 9)

Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun melalui Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis.

berbagai cara termasuk pemanfaatan teknologi informasi. 10) Menunjukkan keterampilan menyimak, membaca, menulis, dan berbicara dalam bahasa Indonesia dan Inggris. 11) Menguasai kompetensi program keahlian dan kewirausahaan baik untuk memenuhi tuntutan dunia kerja maupun untuk mengikuti pendidikan tinggi sesuai dengan kejuruannya. 4. Estetika a. SD/MI/SDLB/Paket A 1) Menunjukkan kemampuan untuk melakukan kegiatan seni dan budaya lokal. b. SMP/MTs/SMPLB/Paket B 1) 2) 3) 1) seni. 2) 3) 4) 1) seni. 2) 3) 4) Menunjukkan apresiasi terhadap karya seni. Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis karya seni. Menghasilkan karya kreatif, baik individual maupun kelompok. Menunjukkan apresiasi terhadap karya seni. Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis karya seni. Menghasilkan karya kreatif, baik individual maupun kelompok. Memanfaatkan lingkungan untuk kegiatan apresiasi dan kreasi Memanfaatkan lingkungan untuk kegiatan apresiasi seni Menghargai karya seni, budaya, dan keterampilan sesuai dengan Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis karya seni. Memanfaatkan lingkungan untuk kegiatan apresiasi dan kreasi

kekhasan lokal. c. SMA/MA/SMALB/Paket C

d. SMK/MAK

5. Jasmani, Olah Raga, dan Kesehatan a. SD/MI/SDLB/Paket A

15

1) 2)

Menunjukkan kebiasaan hidup bersih, sehat, bugar, aman dan Mengenal berbagai informasi tentang potensi sumber daya lokal

memanfaatkan waktu luang untuk menunjang hidup bersih, sehat, bugar, aman dan memanfaatkan waktu luang. b. SMP/MTs/SMPLB/Paket B 1) Menunjukkan kebiasaan hidup bersih, sehat, bugar, aman dan memanfaatkan waktu luang dengan memanfaatkan lingkungan secara bertanggung jawab. 2) Mencari dan menerapkan berbagai informasi tentang potensi sumber daya lokal untuk menunjang hidup bersih, sehat, bugar, aman dan memanfaatkan waktu luang. c. SMA/MA/SMALB/Paket C 1) 2) 3) Menjaga kesehatan, ketahanan, dan kebugaran jasmani. Membangun dan menerapkan informasi dan pengetahuan potensi Menunjukkan sikap kompetitif dan sportif untuk mendapatkan

lokal untuk menunjang kesehatan, ketahanan, dan kebugaran jasmani. hasil yang terbaik dalam bidang pendidikan jasmani, olah raga, dan kesehatan. d. SMK/MAK 1) 2) 3) Menjaga kesehatan, ketahanan, dan kebugaran jasmani Membangun dan menerapkan informasi dan pengetahuan potensi Menunjukkan sikap kompetitif dan sportif untuk mendapatkan

lokal untuk menunjang kesehatan, ketahanan, dan kebugaran jasmani. hasil yang terbaik dalam bidang pendidikan jasmani, olah raga, dan kesehatan (Anonim, 2012). Muatan KTSP meliputi sejumlah mata pelajaran yang keluasan dan kedalamannya merupakan beban belajar bagi peserta didik pada satuan pendidikan. Disamping itu, materi muatan lokal dan kegiatan pengembangan diri termasuk kedalam isi kurikulum. a. Mata pelajaran

16

Mata pelajaran beserta alokasi waktu untuk masing-masing tingkat satuan pendidikan berpedoman pada struktur kurikulum yang tercantum dalam Standar Isi (SI). b. Muatan lokal Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah, termasuk keunggulan daerah, yang materinya tidak sesuai menjadi bagian dari mata pelajaran lain dan atau terlalu banyak sehingga harus menjadi mata pelajaran tersendiri (Muslich, 2007a). Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan, tidak terbatas pada mata pelajaran keterampilan. Muatan lokal merupakan mata pelajaran, sehingga satuan pendidikan harus mengembangkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk setiap jenis muatan lokal yang diselenggarakan. Satuan pendidikan dapat menyelenggarakan satu mata pelajaran muatan lokal setiap semester. Ini berarti bahwa dalam satu tahun satuan pendidikan dapat menyelenggarakan dua mata pelajaran muatan lokal. c. Kegiatan pengembangan diri Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, minat, setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan/atau dibimbing oleh konselor, guru, atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial, belajar, dan pengembangan karier peserta didik. Khusus untuk sekolah menengah kejuruan, pengembangan diri terutama ditujukan untuk pengembangan kreativitas dan bimbingan karier. Sedangkan pengembangan diri untuk satuan pendidikan khusus menekankan pada peningkatan kecakapan hidup dan kemandirian sesuai dengan kebutuhan 17

khusus peserta didik (Muslich, 2007b). Penilaian kegiatan pengembangan diri dilakukan secara kualitatif bukan kuantitatif seperti mata pelajaran. d. Pengaturan beban belajar Beban belajar dan sistem paket digunakan oleh tingkat satuan pendidikan SD/MI/SDLB, SMP/MTs/SMPLB baik kategori standar maupun mandiri, SMA/MA/SMALB/SMK/MAK kategori standar. Beban belajar dalam kredit semester (SKS) dapat digunakan oleh SMP/MTs/SMPLB kategori mandiri, dan oleh SMA/MA/SMALB/SMK/ MAK kategori mandiri. Jam pembelajaran untuk setiap mata pelajaran pada sistem paket dialokasikan sebagaimana tertera dalam struktur kurikulum. Pengaturan alokasi waktu untuk setiap mata pelajaran yang terdapat pada semester ganjil dan genap dalam satu tahun ajaran dapat dilakukan secara fleksibel dengan jumlah beban belajar yang tetap. Satuan pendidikan dimungkinkan menambah maksimum empat jam pembelajaran per minggu secara keseluruhan. Pemanfaatan jam pembelajaran tambahan mempertimbangkan kebutuhan peserta didik dalam mencapai kompetensi, disamping dimanfaatkan untuk mata pelajaran lain yang dianggap penting dan tidak terdapat di dalam struktur kurikulum yang tercantum di dalam Standar Isi. Alokasi waktu untuk penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur dalam sistem paket untuk SD/MI/SDLB 0%-40%, SMP/ MTs/SMPLB 0%-50%, dan SMA/MA/SMALB/SMK/MAK 0%-60 % dari waktu kegiatan tatap muka mata pelajaran yang bersangkutan. Pemanfaatan alokasi waktu tersebut mempertimbangkan potensi dan kebutuhan peserta didik dalam mencapai kompetensi. Alokasi waktu untuk praktek, dua jam kegiatan praktek disekolah setara dengan satu jam tatap muka. Empat jam praktek di luar sekolah setara dengan satu jam tatap muka. Alokasi waktu untuk tatap muka, penugasan terstruktur, dan kegiatan mandiri tidak terstruktur untuk SMP/MTs dan SMA/MA/SMK/MAK yang menggunakan sistem SKS mengikuti aturan sebagai berikut. 18

1. Satu SKS pada SMP/MTs terdiri atas: 40 menit tatap muka, 20 menit kegiatan terstruktur, dan kegiatan mandiri tidak terstruktur. 2. Satu SKS pada SMA/MA/SMK/MAK terdiri atas: 45 menit tatap muka, 25 menit kegiatan terstruktur, dan kegiatan mandiri tidak terstruktur. Ketentuan mengenai beban mengajar, jam pelajaran, waktu efektif dan tatap muka, serta persentase beban mengajar ini sudah ditetapkan dengan peraturan Menteri berdasarkan usulan BSNP (Mulyasa, 2009). e. Ketuntasan belajar Ketuntasan belajar adalah kriteria dan mekanisme penetapan ketuntasan minimal per mata pelajaran yang ditetapkan oleh sekolah dengan mempertimbangkan hal-hal berikut. 1. Ketuntasan belajar setiap indikator yang telah ditetapkan dalam suatu kompetensi dasar bekisar antara 0%-100%. Kriteria ideal ketuntasan untuk masing-masing indikator 75%. 2. Satuan pendidikan harus menentukan kriteria ketuntasan minimal (KKM) dengan mempertimbangkan tingkat kemampuan rata-rata peserta didik serta kemampuan sumber daya pendukung dalam penyelenggaraan pembelajaran. 3. Satuan pendidikan diharapkan meningkatkan kriteria ketuntasan belajar secara terus menerus untuk mencapai kriteria ketuntasan ideal. f. Kenaikan kelas dan kelulusan Kenaikan kelas dan kelulusan berisi kriteria dan mekanisme kenaikan kelas dan kelulusan serta strategi penanganan siswa yang tidak naik atau tidak lulus yang diberlakukan sekolah. Kenaikan kelas dilaksanakan pada setiap tahun ajaran. Kriteria kenaikan kelas diatur oleh masing-masing direktorat teknis terkait. Sesuai dengan ketentuan PP 19/2005 pasal 72 ayat (1), peserta didik diyatakan lulus dari satuan pendidikan pada pendidikan dasar dan menengah setelah: 1. Menyelesaikan seluruh program pembelajaran. 2. Memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok kewarganegaraan 19 dan kepribadian, kelompok mata

pelajaran estetika, dan kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan. 3. Lulusan ujian sekolah/madrasah untuk kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi. 4. Lulus Ujian Nasional. g. Penjurusan Penjurusan berisi kriteria dan mekanisme penjurusan serta strategi/kegiatan penelusuran bakat, minat dan prestasi yang diberlakukan sekolah. Penjurusan dilakukan pada kelas XI dan XII di SMA/MA. Kriteria penjurusan diatur oleh direktorat teknis terkait. h. Pendidikan kecakapan hidup 1. Kurikulum untuk SD/MI/SDLB, SMP/MTs/SMPLB, SMA/MA/ SMALB, SMK/MAK dapat memasukkan pendidikan kecakapan hidup, yang mencakup kecakapan pribadi, kecakapan sosial, kecakapan akademik dan/atau kecakapan vokasional. 2. Pendidikan kecakapan hidup merupakan bagian integral dari pendidikan semua mata pelajaran dan/atau berupa paket/modul yang direncanakan secara khusus. 3. Pendidikan kecakapan hidup dapat diperoleh peserta didik dari satuan pendidikan yang bersangkutan dan/atau dari satuan pendidikan formal lain dan/atau nonformal. i. Pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global 1. Pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global adalah pendidikan yang memanfaatkan keunggulan lokal dan kebutuhan daya saing global dalam aspek ekonomi, budaya, bahasa, teknologi informasi dan komunikasi, ekologi, dan lain-lain, yang semuanya bermanfaat bagi pengembangan kompetensi peserta didik. 2. Kurikulum untuk semua tingkat satuan pendidikan dapat memasukan pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global. 3. Pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global dapat merupakan bagian dari semua mata pelajaran dan juga dapat menjadi mata pelajaran muatan lokal. 20

4. Pendidikan berbasis keunggulan lokal dapat diperolah peserta didik dari satuan pendidikan formal lain dan/atau nonformal yang sudah memperolah akreditasi (Saivul’s, 2010). 2.3 Kalender Pendidikan Kalender pendidikan adalah pengaturan waktu untuk kegiatan pembelajaran peserta didik selama satu tahun pelajaran yang mencakup permulaan tahun pelajaran, minggu efektif belajar, waktu pembelajaran efektif, dan hari libur. Permulaan tahun pelajaran adalah waktu dimulainya kegiatan pembelajaran pada awal tahun pelajaran. Sedangkan minggu efektif belajar adalah jumlah minggu kegiatan pembelajaran untuk setiap tahun pelajaran. Waktu pembelajaran efektif merupakan jumlah jam pembelajaran setiap minggu, meliputi jumlah jam pembelajaran untuk setiap mata pelajaran termasuk muatan lokal, ditambah jumlah jam untuk kegiatan pengembangan diri, dan waktu libur merupakan waktu yang ditetapkan untuk tidak diadakannya kegiatan pembelajaran. Hari libur ini dapat berbentuk jeda tengah semester selama-lamanya satu minggu, dan jeda antarsemester. Selain itu, kalender pendidikan/kalender akademik untuk setiap satuan pendidikan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri (Mulyasa, 2009). Satuan pendidikan dasar dan menengah dapat menyusun kalender pendidikan sesuai dengan kebutuhan daerah, karakteristik sekolah, kebutuhan peserta didik dan masyarakat, dengan memperhatikan kalender pendidikan sebagaimana dimuat dalam standar isi (Koyan, 2007). Pengembangan kurikulum dalam penyusunan kalender pendidikan harus mampu menghitung jam belajar efektif untuk pembentukan kompetensi peserta didik, dan menyesuaikannya dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh peserta didik setelah menyelesaikan pendidikan pada satuan pendidikan tertentu. Penyusunan kalender pendidikan selama satu tahun pelajaran mengacu pada efisiensi, efektifitas, dan hak-hak peserta didik. Dalam kalender pendidikan dapat dilihat berapa jam waktu efektif yang dapat digunakan untuk kegiatan pembelajaran, termasuk waktu libur (Mulyasa, 2008). Adapun kalender pendidikan tahun 2011/2012 yang digunakan sebagai acuan dalam kegiatan pembelajaran di Sekolah/Madrasah di Provinsi Bali yaitu: 21

22

Tabel 1. Uraian Kegiatan Kalender Pendidikan tahun Pelajaran 2011/2012 Sumber: Disdikpora (2011)
No. Kegiatan 1. Permulaan tahun pelajaran 2. Permulaan kegiatan belajar belajar mengajar TK, SD/MI, SMP/MTs, SMPLB, SMA/MA, SMALB, SMK Hari belajar sekolah efektif Semester I Kegiatan Tengah Semester I Penyerahan buku raportan semester I Libur semester I Hari belajar sekolah efektif semester II Kegiatan Tengah Semester II Penyerahan buku raportan semester II Libur Semester II Libur Akhir Tahun Pelajaran Ujian Nasional a. SD/MI, SDLB b. SMP/MTs, SMPLB c. SMA/MA, SMALB, SMK d. SMK (Komponen Produktif) Sosialisasi penerimaan peserta didik baru Pendaftaran calon peserta didik baru Pengumuman penerimaan peserta didik baru Akhir Tahun Pelajaran 2011/2012 Permulaan tahun pelajaran 2011/2012 Lain – lain Waktu 18-20 Juli 2011 21 Juli 2011 Keterangan Masa Orientasi Sekolah (MOS) dilaksanakan 3 hari. Dilaksanakan setelah masa orientasi. Hari belajar efektif 119 hari Diisi kegiatan porsari, karya wisata, lomba kreatifitas, pengembangan bakat dan prestasi. Dilaksanakan pada hari kerja satu hari sebelum libur semester 14 (empat belas) hari kalender Hari belajar efektif 121 hari Diisi kegiatan porseni, karya wisata, lomba kreatifitas, pengembangan bakat dan prestasi siswa Dilaksanakan pada hari kerja satu hari sebelum libur semester 14 hari kalender

3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12.

21 Juli september s/d 1Oktober 2011 28-30 September dan 19 Desember 2011 17 Desember 2011 18 s/d 31 Desember 2011 2 Januari s/d 14 Juni 2012 28-31 Maret 2012 15 Juni 2012

17 s/d 30 Juni 2012 1 s/d 14 Juli 2010 14 hari kalender

Antara bulan Maret dan Mei 2012

UN untuk seluruh jenjang pendidikan mengacu kepada Kepmendiknas, Keputusan BNSP, dan SK. Dinas Pendidikan Provinsi Bali serta Kabupaten/Kota

13. 14. 15. 16. 17. 18.

Awal Juli 2012

Mengikuti SK Kep. Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kab./Kota Akhir Juni s/d Juli Mengikuti SK Kepala Dinas 2012 Pendidikan Pemuda dan Olahraga Prov. Bali Minggu pertama dan kedua bulan Juli 2012 14 Julii 2012 Akhir minggu ketiga 16 Juli 2012 Awal minggu kedua Kelebihan hari belajar efektif agar dimanfaatkan untuk kegiatan pembelajaran dalam upaya peningkatan mutu pendidikan

23

Contoh Kalender Pendidikan Penulis mengambil contoh kalender pendidikan yang digunakan di SDN 1 Tegalbadeng Barat, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana. Kalender pendidikan yang digunakan pada SDN 1 Tegalbadeng Barat ini sesuai dengan kalender pendidikan yang dikeluarkan oleh Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Provinsi Bali. Kalender pendidikan di SDN 1 Tegalbadeng Barat ini dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 2. Kalender Pendidikan Tahun Pelajaran 2011/2012
BULAN HARI / TANGGAL Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jum'at 1 JULI 2011 3 10 17 24 4 11 18 25 2 1 1 8 15 22 29 5 5 4 11 18 25 5 12 19 26 4 4 3 10 17 24 31 5 12 19 26 2 1 2 9 16 23 30 4 4 6 13 20 27 4 4 4 11 18 25 6 13 20 27 2 2 3 10 17 24 31 3 3 7 14 21 28 4 3 5 12 19 26 7 14 21 28 2 2 4 11 18 25 4 4 1 8 15 22 29 5 4 6 13 20 27 8 15 22 29 2 2 5 12 19 26 4 4 2 9 16 23 30 5 3 7 14 21 28 Sabtu 2 9 16 23 30 2 1 6 13 20 27 4 3 3 10 17 24 4 4 1 8 15 22 29 26 23 1 Jeda Semester 22 Rapat rutin 24 23 9 Rapat Rutin 28 - 30 Jeda semester jml KETERANGAN 18-19 Masa Orientasi Siswa (MOS) 23 Rapat Rutin

HES HEB 7 14 21 28

12 9 13 rapat rutin 17 HUT RI 30–31 Idul Fitri

AGUSTUS 2011

HES HEB

SEPTEMBER 2011

HES HEB 2 9 16 23 30

OKTOBER 2011

24

HES HEB

5 5

4 4 1

4 4 2 9 16 23 30 4 4 7 14 21 28 2 2 4 11 18 25 4 4 1

4 4 3 10 17 24 4 4 1 8 15 22 29 3 3 5 12 19 26 4 4 2 9 16 23 2 2 1 8 15 22 29 4 3 5 12

4 4 4 11 18 25 4 4 2 9 16 23 30 3 3 6 13 20 27 4 4 3 10 17 24 2 2 2 9 16 23 30 4 3 6 13

5 3 5 12 19 26 3 2 3 10 17 24 31 3 2 7 14 21 28 4 3 4 11 18 25 2 2 3 10 17 24 31 4 3 7 14

26 24 19 Hari Raya Saraswati 23 Hari Raya Pagerwesi 26 Rapat Rutin

NOVEMBER 2011

6 13 20 27

HES HEB 4 11 18 25

7 14 21 28 4 4 5 12 19 26 2 2 2 9 16 23 30 4 4

8 15 22 29 5 5 6 13 20 27 2 2 3 10 17 24 31 4 4

20 19 19-31 Libur Semester I 15 Rapat Rutin 17 Pembagian Raport

DESEMBER 2011 HES HEB

JANUARI 2012

1 8 15 22 29

23 Maulud Nabi 31 Libur Galungan

HES HEB

24 23 1-11 Februari Hari Raya Galungan Dan Kuningan 29 Rapat Rutin

FEBRUARI 2012

5 12 19 26

HES HEB 4 11 18 25 HES HEB APRIL 2012 1 8

6 13 20 27 3 3 5 12 19 26 4 4 2 9

7 14 21 28 3 3 6 13 20 27 4 3 3 10

8 15 22 29 3 2 7 14 21 28 4 3 4 11

15 14 20 Rapat rutin 22 Pengerupukan 23 Hari Raya Pagerwesi 24 Hari Ngembak Geni 28-31 Kegiatan Jeda Semester II 24 19 6 Isa AL - Masih 28 Rapat Rutin

MARET 2011

25

15 22 29 HES HEB

16 23 30 5 5

17 24 4 4 1 8 15 22 29 5 5 5 12 19 26 2 2

18 25 4 4 2 9 16 23 30 5 5 6 13 20 27 2 1

19 26 4 4 3 10 17 24 31 4 4 7 14 21 28 2 2

20 27 3 3 4 11 18 25 4 4 1 8 15 22 29 3 1

21 28 4 3 5 12 19 26 4 3 2 9 16 23 30 2 2 26 25 13 Rapat Rutin 15 Pembagian Raport 16 Isra Miraj 18-30 Libur Semester II 13 10 24 23 17 Isa Al-Masih Rapat Rutin

MEI 2012

6 13 20 27

HES HEB 3 10 17 24

7 14 21 28 4 4 4 11 18 25 2 2

JUNI 2012

HES HEB

Sumber: SDN 1 Tegalbadeng Barat (2011) 2.4 Pelaksanaan Penyusunan KTSP KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan. Penyusunan KTSP dilakukan oleh satuan pendidikan dengan memperhatikan dan berdasarkan standar kompetensi serta kompetensi dasar yang dikembangkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Adapun langkah-langkah dalam pelaksanaan penyusunan KTSP sebagai berikut. 1. Analisis Konteks a. Mengidentifikasi SI dan SKL sebagai acuan dalam penyusunan KTSP. b. Menganalisis kondisi yang ada di satuan pendidikan yang meliputi peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana prasarana, biaya, dan program-program. c. Menganalisis peluang dan tantangan yang ada di masyarakat dan lingkungan sekitar: komite sekolah, dewan pendidikan, dinas pendidikan, asosiasi profesi, dunia industri dan dunia kerja, sumber daya alam dan sosial budaya. 26

2.

Mekanisme Penyusunan a. Tim Penyusun Tim penyusun KTSP pada SD, SMP, SMA dan SMK terdiri atas guru, konselor, dan kepala sekolah sebagai ketua merangkap anggota. Didalam kegiatan tim penyusun melibatkan komite sekolah, dan nara sumber, serta pihak lain yang terkait. Di Supervisi dilakukan oleh dinas yang bertanggung jawab di bidang pendidikan tingkat kabupaten/kota untuk SD dan SMP dan tingkat provinsi untuk SMA dan SMK. Tim penyusun kurikulum tingkat satuan pendidikan MI, MTs, MA dan MAK terdiri atas guru, konselor, dan kepala madrasah sebagai ketua merangkap anggota. Didalam kegiatan tim penyusun melibatkan komite sekolah, dan narasumber, serta pihak lain yang terkait. Supervisi dilakukan oleh departemen yang menangani urusan pemerintahan di bidang agama. Tim penyusun kurikulum tingkat satuan pendidikan khusus (SDLB, SMPLB, dan SMALB) terdiri atas guru, konselor, kepala sekolah sebagai ketua merangkap anggota. Didalam kegiatan tim penyusun melibatkan komite sekolah, dan narasumber, serta pihak lain yang terkait. Supervisi dilakukan oleh dinas provinsi yang bertanggungjawab dibidang pendidikan. b. Kegiatan Penyusunan KTSP merupakan bagian dari kegiatan perencanaan sekolah/ madrasah. Kegiatan ini dapat berbentuk rapat kerja dan/atau lokakarya sekolah/madrasah dan/atau kelompok sekolah/madrasah yang diselenggarakan dalam jangka waktu sebelum tahun pelajaran baru. Tahap kegiatan penyusunan KTSP secara garis besar meliputi: penyiapan dan penyusunan draf, reviu dan revisi, serta finalisasi, pemantapan dan penilaian. Langkah yang lebih rinci dari masing-masing kegiatan diatur dan diselenggarakan oleh tim penyusun. c. Pemberlakuan Dokumen KTSP pada SD, SMP, SMA, dan SMK dinyatakan berlaku oleh kepala sekolah setelah mendapat pertimbangan dari komite sekolah dan diketahui oleh dinas tingkat kabupaten/kota yang bertanggung 27

jawab dibidang pendidikan untuk SD dan SMP, dan tingkat propinsi untuk SMA dan SMK. Dokumen KTSP pada MI, MTs, MA, dan MAK dinyatakan berlaku oleh kepala madrasah setelah mendapat pertimbangan dari komite madrasah dan diketahui oleh departemen yang menangani urusan pemerintahan dibidang agama. Dokumen kurikulum tingkat satuan pendidikan SDLB, SMPLB, dan SMALB dinyatakan berlaku oleh kepala sekolah serta mendapat pertimbangan dari komite sekolah dan diketahui dinas provinsi yang bertanggungjawab dibidang pendidikan (Zain, 2011). 2.5 Format KTSP Secara dokumentatif, komponen KTSP dikemas dalam dua dokumen, yaitu dokumen I memuat acuan pengembangan KTSP, tujuan pendidikan, struktur dan muatan KTSP, dan kalender pendidikan. Dokumen II memuat silabus dari SK/KD yang dikembangkan pusat dan silabus dari SK/KD yang dikembangkan sekolah (muatan lokal, mata pelajaran tambahan) serta SKL. Secara garis besar, struktur kedua dokumen KTSP tersebut terlihat sebagai berikut. KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Landasan C. Pengertian D. Tujuan Pendidikan E. Prinsip Pengembangan KTSP 1. Prinsip Pengembangan Kurikulum 2. Prinsip Pelaksanaan Kurikulum 3. Acuan Operasional BAB II. VISI, MISI, DAN TUJUAN SEKOLAH A. Visi sekolah B. Misi sekolah 28

C. Tujuan sekolah BAB III. STRUKTUR DAN MUATAN KURIKULUM A. Struktur Kurikulum B. Muatan Kurikulum 1. Mata pelajaran dan alokasi waktu 2. Muatan lokal 3. Kegiatan pengembangan diri 4. Pengaturan beban belajar 5. Ketuntasan belajar 6. Kenaikan kelas dan kelulusan 7. Pendidikan kecakapan hidup 8. Kalender pendidikan BAB IV. STANDAR KOMPETENSI LULUSAN A. B. C. Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Standar Kompetensi Lulusan

BAB V. PENGEMBANGAN SILABUS A. Pengertian Silabus B. Prinsip Pengembangan Silabus C. Unit waktu silabus D. Pengembangan silabus E. Langkah-langkah pengembangan silabus F. Contoh model silabus G. Pengembangan silabus berkelanjutan

29

BAB III PENUTUP 3.1 Simpulan KTSP memiliki dua tujuan yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum diterapkannya KTSP adalah untuk memandirikan dan memberdayakan satuan pendidikan melalui pemberian kewenangan (otonomi) kepada lembaga pendidikan dan mendorong sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara patisipatif dalam pengembangan kurikulum. Tujuan khusus diterapkannya KTSP adalah untuk: (1) meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengembangkan kurikulum, mengelola dan memberdayakan sumberdaya yang tersedia, (2) meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam pengembangan kurikulum melalui pengambilan keputusan bersama, (3) meningkatkan kompetisi yang sehat antar satuan pendidikan tentang kualitas pendidikan yang akan dicapai. Struktur kurikulum tingkat satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah dalam Standar Isi, yang dikembangkan dari kelompok mata pelajaran yaitu kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi, kelompok mata pelajaran estetika, kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan. Muatan KTSP meliputi sejumlah mata pelajaran yang keluasan dan kedalamannya merupakan beban belajar bagi peserta didik pada satuan pendidikan, antara lain mata pelajaran, kegiatan pengembangan diri, pengaturan beban belajar, ketuntasan belajar, kenaikan kelas dan kelulusan, penjurusan, pendidikan kecakapan hidup, pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global. Kalender pendidikan adalah pengaturan waktu untuk kegiatan pembelajaran peserta didik selama satu tahun pelajaran yang mencakup permulaan tahun pelajaran, minggu efektif belajar, waktu pembelajaran efektif, dan hari libur. Pelaksanaan penyusunan KTSP, harus mengikuti langkah-langkah sebagai berikut, yaitu (1) analisis konteks dan (2) mekanisme penyusunan.

30

Struktur kerangka penyusunan KTSP antara lain: kata pengantar, daftar isi, bab I, bab II, bab III, bab IV, dan bab V. Bab I pendahuluan yang terdiri dari latar belakang, landasan, pengertian, tujuan pendidikan, prinsip pengembangan KTSP (terdiri dari prinsip pengembangan kurikulum, prinsip pelaksanaan kurikulum, dan acuan operasional). Bab II tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan yang berisi visi, misi dan tujuan sekolah. Bab III Struktur dan Muatan Kurikulum (mata pelajaran dan alokasi waktu, muatan lokal, kegiatan pengembangan diri, pengaturan beban belajar, ketuntasan belajar, kenaikan kelas dan kelulusan, pendidikan kecakapan hidup, kalender pendidikan. Bab IV standar kompetensi lulusan terdiri dari SK, KD, dan SKL. Bab V tentang pengembangan silabus yang terdiri dari pengertian silabus, prinsip pengembangan silabus, unit waktu silabus, pengembangan silabus, langkah-langkah pengembangan silabus, contoh model silabus, dan pengembangan silabus berkelanjutan. 3.2 Saran Adapun saran yang dapat penulis sampaikan dari pembuatan makalah ini yakni sebagai berikut. 1. Bagi pembaca, yaitu pahamilah komponen-komponen KTSP (tujuan, struktur dan muatan, kalender, serta struktur kerangka penyusunan) sehingga nantinya jika ingin menerapkannya dapat berlangsung sesuai dengan apa yang diharapkan oleh kurikulum. 2. Bagi mahasiswa, yaitu sebagai seorang calon guru sudah seharusnyalah paham mengenai komponen-komponen KTSP (tujuan, struktur dan muatan, kalender, serta strukutur kerangka penyusunan) agar dalam pelaksanaannya akan berlangsung secara efektif dan efisien, sehingga mampu meningkatkan minat serta kreatifitas siswa dalam proses pembelajaran. 3. Bagi pemerintah, sebelum sebuah kurikulum diberlakukan secara nasional berikanlah terlebih dahulu para pendidik yang dalam hal ini yaitu guru pembekalan berupa seminar maupun penataran, sehingga guru mampu menerapkan kurikulum yang baru dengan semaksimal mungkin.

31

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->