KOMITE FARMASI dan TERAPI

ISTILAH

Komite Farmasi dan

Drug and Therapeutics

Terapi ( KFT )

Committee ( DTC )

Panitia Farmasi dan Terapi ( PFT ) Panitia Medik Farmasi dan Terapi ( PMFT )

Pharmacy and Therapeutics Committee ( PTC )

The Pharmacy and Therapeutics Committee ( TPTC )

Definisi Komite Farmasi dan Terapi
Adalah kelompok penasehat bagi staf medik yang secara organisasi bertindak sebagai

garis komunikasi atau penghubung
antara staf medik dan instalasi farmasi rumah sakit.
(pustaka)

Komite Farmasi dan Terapi
Adalah
Suatu Tim yang beranggotakan para dokter dan

sarjana farmasi yang berfungsi dalam membantu
pimpinan Rumah Sakit untuk menentukan kebijaksanaan penggunaan obat dan pengobatan.

(Permenkes 085/89,Bab I, Pasal1)

Tugas utama Komite Farmasi dan Terapi
1. Pengembangan kebijakan
memberi rekomendasi/ membantu perumusan kebijakankebijakan yang berkaitan dengan evaluasi, pemilihan, penggunaan terapi obat dan kebijakan lain berkaitan dengan obat di rumah sakit.

2. Pendidikan
memberi rekomendasi/ membantu dalam merumuskan rancangan program-program pendidikan yang diperlukan oleh staf profesional, meliputi dokter, perawat, apoteker dan praktisi kesehatan lainnya, terhadap pengetahuan mutakhir yang berkaitan dengan obat dan penggunaannya. (pustaka)

Tugas KFT :

(Juklak Dirjen Yanmed 0428/89) Rekomendasi pemilihan penggunaan obatobatan. Menyusun Formularium, apabila perlu dapat diadakan perubahan berkala. Menyusun Standar Terapi. Evaluasi penulisan resep dan penggunaan obat generik.

 

Fungsi dan Ruang Lingkup Komite Farmasi dan Terapi
1.

Memberikan nasehat bagi staf medik & pimpinan rumah sakit berkaitan dengan penggunaan obat termasuk obat yang sedang diteliti. Mengembangkan formularium obat untuk digunakan di RS serta melakukan revisi terhadap isinya. Pemilihan jenis obat dalam formularium harus berdasarkan evaluasi yang obyektif terhadap kemanfaatan, keamanan, dan harga serta harus meminimalkan adanya penggandaan obat. Mengadakan program dan prosedur yang membantu menjamin manfaat - biaya terapi obat. Mengadakan/ merencanakan program pendidikan yang sesuai bagi staf profesional rumah sakit berkaitan dengan penggunaan obat

2.

3. 4.

Fungsi dan Ruang Lingkup Komite Farmasi dan Terapi
5. 6. 7.

Berpartisipasi dalam kegiatan jaminan mutu berkaitan dengan distribusi, pemberian, dan penggunaan obat. Mengevaluasi reaksi obat yang merugikan di RS. Memulai atau mengarahkan program evaluasi penggunaan obat dan kegiatan penelitian berkaitan dengan obat serta mengkaji hasil-hasil dari kegiatan tersebut. Memberikan nasehat kepada instalasi farmasi rumah sakit dalam penerapan distribusi obat dan prosedur pengendaliannya yang efektif. Membuat rekomendasi berkaitan dengan obat yang disimpan di ruang penderita di rumah sakit.

8.

9.

Organisasi dan Pelaksanaan Komite Farmasi dan Terapi
KEANGGOTAAN :  Paling sedikit beranggotakan tiga orang dokter dan seorang apoteker  RS yang semakin besar, KFT beranggotakan dokter, apoteker dan profesional kesehatan lain yang dipilih dari anggota staf medik :
 staf

medik klinik;  departemen lain yang menggunakan obat atau berhubungan dengan obat seperti perawatan gigi, laboratorium klinik dan perawat;  pimpinan rumah sakit;  koordinator jaminan mutu;  apoteker spesialis informasi obat jika ada

Ketua KFT dipilih dari anggota staf medik dan apoteker ditunjuk sebagai sekretaris.

Ketua KFT harus seseorang yang dihormati oleh staf medik, yang mengerti dan mendukung pelayanan farmasi yang progresif. Sekretaris KFT adalah seorang apoteker kepala instalasi farmasi atau apoteker lain yang ditunjuk oleh kepala instalasi farmasi rumah sakit. KFT dapat mengundang tamu atau narasumber yaitu seorang pakar dalam ilmu / bidang tertentu yang dapat memberikan sumbangan pendapat, keterampilan dan pengetahuan khusus.

Sub-sub komite farmasi dan terapi
Komite farmasi dan terapi memimpin 6 subkomite :
1. 2.

subkomite obat anti kanker subkomite obat kardiovaskular

3.
4. 5. 6.

subkomite obat anti infeksi
subkomite obat untuk sistem saraf pusat subkomite obat untuk saluran pencernaan subkomite obat untuk kelenjar endokrin

Pelaksanaan

 

  

 

KFT mengadakan pertemuan teratur, minimal 6 x/tahun. Mengundang pakar untuk memberikan pengetahuan, kemampuan & pertimbangan khusus dari dalam maupun luar RS. Agenda & bahan rapat (dokumen, informasi pendukung & notulen rapat sebelumnya) disiapkan oleh sekretaris & dibagikan kepada anggota dalam waktu yang cukup sebelum rapat. Notulen dari tiap pertemuan didokumentasikan. Rekomendasi KFT harus disajikan kepada staf medik atau komitekomite lain yang berkaitan dengan penggunaan obat. Tindakan-tindakan KFT harus secara rutin dikomunikasikan kepada personil pelayanan kesehatan yang terlibat dalam perawatan penderita. KFT diorganisasikan & dioperasikan dengan baik sehingga menjamin obyektivitas & kredibilitas dari rekomendasinya. Komite harus mengadakan suatu kebijakan yang meniadakan atau memperkecil persaingan kepentingan yang berkaitan dengan rekomendasinya.

Struktur Organisasi
Staf Medik Instalasi Farmasi

Komite Farmasi dan Terapi

Sub Komite Obat Antineoplastik

Sub Komite Obat Susunan Saraf Pusat : - Analgetik & Antipiretik - Psikoterapi - Stimulan per nafasan dan otak - Hipnotika & sedativa

Sub Komite Obat Antiinfeksi

Sub Komite Obat Kardiovaskular : - Diuretik - Glikosida jantung - Hipotensi - Vasodilator - Spasmolitik - Antikoagulan

Sub Komite Obat Gastrointestinal : - Antasida - Obat otonom - Laksatif

Sub Komite Obat Endokrinologi : - Antidiabetik - Antiinflamasi - Hormon - Tiroid

Sistem Formularium
Sistem formularium dalam rumah sakit sangat diperlukan untuk membantu staf medik melakukan seleksi terapi bagi penderita dengan tepat.  Sistem formularium merupakan sarana penting untuk menjamin mutu penggunaan obat dan pengendalian harga terapi obat

Definisi Sistem Formularium
Adalah metode bagi staf medik, yang bekerja melalui KFT dalam mengevaluasi, menilai

dan memilih dari sejumlah obat dan bahan
obat yang tersedia yang dipertimbangkan paling berguna dalam pengobatan penderita

Keuntungan Sistem Formularium

ASPEK TERAPI dari sistem formularium memberikan keuntungan yang besar pada penderita dan dokter karena hanya sediaan obat yang tertera dalam formularium dan tersedia di instalasi farmasi rumah sakit yang paling efisien. ASPEK EKONOMI, ada 2 yaitu dengan adanya sistem formularium ini dapat meniadakan penggandaan obat yang berarti mengurangi penyimpanan ganda dan merupakan suatu kesempatan untuk memberikan harga yang terjangkau bagi penderita. ASPEK PENDIDIKAN, berhubungan dengan staf residen, perawat, dan mahasiswa kedokteran karena formularium yang baik berisi beberapa petunjuk praktis dan informasi tambahan mengenai obat yang memiliki nilai pendidikan.

Prinsip Pengelolaan Formularium
1.

EVALUASI PENGGUNAAN OBAT PEMELIHARAAN FORMULARIUM SELEKSI PRODUK OBAT

2.

3.

1. Evaluasi penggunaan obat
EPO adalah suatu proses jaminan mutu yang terstruktur yang dilaksanakan secara terus menerus dan secara organisatoris diakui dan ditujukan untuk menjamin agar obat yang digunakan tepat, aman dan efektif. EPO yang efektif dimulai dengan pedoman pengobatan (PDT) atau kriteria penggunaan obat (KPO) yang diakui oleh KFT. KPO yang diakui sebagai pedoman sehubungan dengan kondisi obat tersebut digunakan, secara umum terdapat tiga jenis, yaitu :

kriteria diagnosis : untuk mengetahui penulis resep yang diakui untuk menggunakan obat-obat formularium kriteria penulisan resep : spesialis yang boleh meresepkan kriteria obat spesifik :untuk mengetahui dosis, frekuensi pemberian, durasi terapi yang disetujui atau aspek lain yang spesifik dalam menggunakan formularium.

2. Pemeliharaan formularium
Teknik pemeliharaan formularium :
a. Pengkajian golongan terapi obat Pengkajian penggunaan dan efek terapi golongan obat didasarkan pada kriteria yang ditetapkan seperti laporan ROM, informasi obat baru dan penghapusan golongan obat. Tujuan pengkajian : menetapkan obat terpilih berdasarkan efektivitas, toksisitas dan perbedaan harga dari golongan obat yang sama. Hasil pengkajian golongan terapi obat memberikan masukan dalam pembuatan KPO baru, panduan pengobatan baru dan perubahan formularium. b. Penambahan/penghapusan produk obat dari formularium Proses ini pada umumnya diajukan oleh apoteker atau staf medik kepada KFT. Pertimbangan penambahan obat dalam formularium harus mencakup pengkajian laporan evaluasi yang disiapkan oleh apoteker dengan tambahan informasi monografi, juga harus ada data pengaruh obat yang diusulkan terhadap mutu dan biaya perawatan penderita. c. Penggunaan obat non formularium Kebijakan dan prosedur penggunaan obat non formularium dapat digunakan oleh KFT sebagai bahan pengkajian kecenderungan penggunaan obat non formularium di rumah sakit dan dapat mempengaruhi keputusan penambahan atau penghapusan obat dari formularium.

3. Seleksi produk obat

Apoteker & penulis resep memahami konsep kesetaraan terapetik untuk menjamin penerapan prinsip substitusi generik dan penukaran terapetik. Evaluasi dan penilaian ini mengandung data bioekivalen keamanan, penyerahan obat dan karakteristik pemberian obat, harga dan informasi produk yang relevan. Pada penerapan substitusi generik dan pertukaran terapetik, produk obat yang diserahkan pada penderita boleh berbeda dari produk yang asli dituliskan pada resep. Pemakaian produk ekivalen terapetik dapat membantu meningkatkan pemakaian obat dengan memelihara kualitas terapi obat yang tinggi dalam biaya yang efektif. Substitusi generik adalah substitusi produk obat yang mengandung bahan-bahan aktif yang sama dan sifat kimia seperti kekuatan, konsentrasi, bentuk sediaan dan rute pemberian yang sama dengan produk obat yang diresepkan.

Prinsip Petunjuk Penggunaan Formularium

 

Staf medik membentuk KFT yang anggotanya berasal dari berbagai disiplin ilmu untuk merumuskan tujuan, organisasi, fungsi dan ruang lingkupnya. Sistem formularium didukung oleh staf medik berdasarkan rekomendasi KFT. Staf medik mengadopsi kebijakan dan prosedur tertulis yang tercantum pada sistem formularium seperti yang telah dikembangkan oleh KFT. Kebijakan-kebijakan dan prosedur harus memberikan petunjuk dalam mengevaluasi atau menilai, memilih, mengadakan, menyimpan, mendistribusikan, menggunakan secara aman dan hal-hal lain berkaitan dengan obat dan harus diterbitkan dari formularium atau media lain yang tersedia bagi staf medik. Obat-obat dalam formularium ditulis dengan nama generik, walaupun nama dagang masih sering digunakan. Dianjurkan dalam penulisan resep dengan menggunakan nama generik.

 

Pembatasan jumlah obat atau bahan obat atau produk obat yang secara rutin tersedia dari instalasi farmasi rumah sakit akan menghasilkan keuntungan finansial dan perawatan bagi penderita. Keuntungan meningkat melalui penggunaan kesetaraan generik (obat-obat dengan zat aktif yang sama tapi dikeluarkan oleh industri yang berbeda) dan kesetaraan terapetik (obat-obat yang mengandung zat aktif yang berbeda tapi memiliki kerja farmakologi dan terapi yang mirip). Rumah sakit harus menginformasikan kepada staf medik dan perawat tentang keberadaan sistem formularium dan prosedur pelaksanaannya. Salinan formularium harus tersedia dan dapat difungsikan setiap waktu. Kebijakan harus dibuat untuk menilai dan menetapkan penggunaan obat-obatan non formularium. Apoteker rumah sakit harus bertanggung jawab untuk mengadakan spesifikasi mutu, jumlah, sumber (pemasok) dari semua obat, bahan kimia, bahan biologis dan obat yang digunakan untuk diagnosis dan pengobatan.

Formularium
merupakan hasil dari pelaksanaan sistem formularium dan merupakan hasil dari KFT yang disetujui dan diterima untuk digunakan di rumah sakit

LATAR BELAKANG
OBAT :  Komponen penting pelayanan kesehatan  Menyerap 40-60 % anggaran  Kebutuhan makin meningkat  Jenis dan jumlah makin banyak  Sumber informasi berbeda  “Pengguna-salahan” meningkat

Obat perlu dikelola dengan baik agar penggunaan efektif, efisien dan rasional

STANDAR BAKU PELAYANAN RUMAH SAKIT
  

Formularium Rumah Sakit Pedoman Diagnosis dan Terapi Pedoman lain yang terkait penggunaan obat

Formularium Rumah Sakit
Adalah

Daftar obat baku yang dipakai oleh Rumah Sakit dipilih secara rasional dan dilengkapi dengan penjelasan, sehingga merupakan informasi yang lengkap untuk pelayanan medik di RS, terdiri dari obat-obat yang tercantum dalam DOEN dan beberapa obat yang diperlukan oleh RS serta dapat ditinjau kembali sesuai perkembangan.
(Juklak Dirjen Yanmed 0428/89)

Tugas dan Kewajiban Instalasi Farmasi

Mengelola obat secara berdaya guna dan berhasil guna. Membuat prosedur perencanaan , pengadaan, penyimpanan, pendistribusian, dan pemantauan obat di Rumah Sakit. Melaporkan kepada Direktur RS atas penyimpangan penulisan resep.

(Permenkes 085/89, Bab II, Pasal 6)

Dampak Formularium
   

Pengendalian mutu obat Pengendalian administrasi

Pendayagunaan anggaran secara optimal
Pemilihan obat EARMU (efektif, aman, rasional dan bermutu)

Panitia Pemilihan Obat
KEAHLIAN  Administrasi  Pengobatan

   

Farmakologi Klinik Perawatan Farmasi Pengadaan
Penasehat

PROFESI / POSISI  Direktur RS  Spesialis 4 Dasar + spesialis lain  Ahli farmakologi klinik  Kepala perawatan  Ahli Farmasi  Petugas pengadaan obat  Spesialis menurut kebutuhan

TUGAS PANITIA PEMILIHAN OBAT
     

Data kesakitan dan kematian Informasi obat Analisa biaya- manfaat obat Pembakuan peresepan (jumlah obat) Pengaturan pembelian obat Penelitian obat-obat baru

KEGIATAN
Tahap 1. Dibentuk KFT/PFT/PMFT

Anggota :
Dokter ahli : mewakili bid.keahlian yang ada  Instalasi Farmasi RS  Bagian Farmakologi  Bagian Keperawatan  Fakultas Farmasi

Tujuan : Menyusun formularium

Tahap 2. Seminar Formularium Rumah Sakit
Peserta :  Semua staf  Semua PPDS I (RS Pendidikan)

Tujuan :  Memasyarakatkan formularium RS  Penjelasan : Latar belakang dan proses terbentuknya formularium

Tahap 3 : Pelaksanaan & Penggunaan Formularium
Ditujukan :
 

Staf : edukatif dan non edukatif PPDS I

Tujuan :
Menggunakan buku tersebut dalam :
 

Pelayanan Pendidikan

Penelitian

PROSES
 Pedoman
 Bentuk

pemilihan

dan isi

 Peraturan

PEDOMAN PEMILIHAN OBAT
Efek dan resikonya sudah diketahui luas  Hindari obat duplikasi  Obat baru hanya yang lebih baik dan kurang toksik  Obat kombinasi hanya bila : * khasiat lebih baik * meningkatnya kepatuhan penderita * harga lebih menguntungkan  Stratifikasi obat

STRATIFIKASI OBAT

Esensial untuk penyakit yang banyak

 dimasukkan

Efektif dan berguna , tapi tidak esensial  dipertimbangkan Khasiat diragukan  tidak dimasukkan

Khasiat tidak ada atau berbahaya
 tidak dimasukkan

STRATA PEMBAGIAN OBAT
Strata 1 Contoh obat Aspirin, antasida,antihistamin Petugas Kesehatan Petugas Puskesmas Fasilitas Posyandu ? Puskesmas

2
3 4 5

Insulin, Antihipertensi, antibiotika
Anestetika, diuretika,p.e,antiaritmia Anti cancer, anti psikotika Obat mahal, obat baru

Perawat, GP
Dokter RS Spesial terbatas

Puskesmas plus
RS tipe C RS tipe B, A RS rujukan

BENTUK DAN ISI
BENTUK : 1. Ukuran saku 2. Huruf mudah dibaca

ISI : 1. Kelas terapi : DOEN 2. Nama obat : generik 3. Bentuk sediaan : caps, tab, syrup, ointment, supp. 4. Kekuatan : 500 mg,125 mg/cc 5. Dosis 6. MESO 7. Harga

EVALUASI
 

Frekuensi obat tidak tersedia Frekuensi pengobatan penyakit serupa

„turn over‟ obat : fast moving, slow
moving, dead moving


frekuensi penulisan resep non formularium
dsb

SUSUNAN DAFTAR OBAT
Kolom I : Nomor kelas, sub kelas, sub - sub kelas Kolom II : Nomor urut obat Kolom III : Kelas terapi, nama obat, bentuk sediaan, kekuatan sediaan, kemasan Kolom IV : Tanda pemakaian atas indikasi khusus Kolom V : Dosis Kolom VI : Catatan penting : indikasi, kontra indikasi, efek samping, dsb.

DUKUNGAN PERATURAN
  

Panitia : tugas dan wewenang Fungsi administrasi formularium

Pembatasan obat non formularium
kecuali darurat Aturan penyimpangan (penggunaan obat non formularium)

Obat yang telah tercantum dalam formularium :
Nomor No.Urut Obat Kelas Terapi, Nama Obat, Bentuk Sediaan, Kekuatan Sediaan, Kemasan
III

Khusus

Nama Dagang

Harga Rp

Dosis Regimen

Catatan

I

II

IV

V

VI

VII

VIII

FORMULIR 01
 

Untuk meminta obat non formularium Perlu data lengkap : Identitas dokter yang meminta

Data penderita
Data penyakit Data obat yang pernah diberikan Data obat yang diminta, alasannya ?

FORMULIR LAIN
Formulir 02 / 04 Untuk usulan penambahan / penghapusan obat Perlu disertai naskah ilmiah yang relevan dan sahih Formulir 03 Untuk melapor efek samping

Ringkasan:
Formularium adalah Standar obat di RS.  Mendukung pedoman terapi  Proses penyusunan melibatkan semua unit terkait (koordinasi oleh KFT/PFT/PMFT)  Daftar adalah DOEN+khusus RS  Dilengkapi dengan peraturan (tegas tapi tidak kaku)

Terima Kasih

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful