P. 1
piston

piston

|Views: 162|Likes:
Published by Nurul Imam M
otomotif
otomotif

More info:

Categories:Types, Research
Published by: Nurul Imam M on Dec 27, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/15/2015

pdf

text

original

MELAKUKAN PEKERJAAN DENGAN MESIN FRAIS

Kode Kompetensi Unit M 7.7A

Untuk

Peserta Pendidikan dan Latihan

Bidang Keahlian Teknik Mesin Program Keahlian Teknik Pemeliharaan Mekanik Mesin Industri

DIREKTORAT PENDIDIKAN MENENGAH KEJURUAN
DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2004

MODUL BAHAN AJAR

MELAKUKAN PEKERJAAN DENGAN MESIN FRAIS
UNTUK PESERTA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN BIDANG KEAHLIAN TEKNIK MESIN PROGRAM KEAHLIAN TEKNIK PEMELIHARAAN MEKANIK MESIN INDUSTRI

PENYUSUN TIM LPPM ITB

EDITOR 1. Drs. SISJONO. 2. IWAN KOSWARA, S.Pd. 3. HARDI SUJANA 4. V.A. SUSANTO

DIREKTORAT PENDIDIKAN MENENGAH KEJURUAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

Teknik Pemeliharaan Mekanik Mesin Industri Melakukan Pekerjaan dengan Mesin Frais

i

MODUL BAHAN AJAR

KATA PENGANTAR

Buku modul ini dimaksudkan untuk memandu peserta pendidikan dan pelatihan kompetensi untuk melaksanakan tugas kegiatan belajar di tempat masing-ma-sing. Dengan demikian diharapkan setiap peserta diklat akan berusaha untuk melatih diri dalam memecahkan berbagai

persoalan sesuai dengan tuntutan kom-petensi yang akan dipilih.

Dalam buku modul ini diberikan kegiatan belajar, tugas-tugas dan tes formatif dimana seluruh kegiatan tersebut diharapkan dikerjakan/dilakukan secara mandiri/kelompok oleh setiap peserta diklat untuk melatih kemampuan dirinya dalam memecahkan berbagai persoalan. Dalam pelaksanaannya seluruh kegiatan ini dilakukan oleh setiap peserta/peserta diklat dengan arahan pembimbing/instruktur yang ditugaskan, dan pada akhir diklat seluruh materi dari modul ini akan diujikan secara mandiri untuk memenuhi tuntutan kompetensi dan standar pekerjaan /perusahaan. Materi pemelajaran atau bahan dari modul dan tugas-tugas ini diambil dari beberapa buku referensi yang dipilih sebagai bahan bacaan yang dianjurkan untuk memperkaya penguasaan kompetensi peserta diklat. Diharapkan setiap peserta pelatihan setelah mempelajari dan

melaksanakan semua petunjuk dari modul ini secara tuntas akan mempunyai kompetensi sesuai dengan tuntutan pekerjaan sebagai tenaga pelaksana pemeliharaan mekanik mesin industri. Penyusun

Teknik Pemeliharaan Mekanik Mesin Industri Melakukan Pekerjaan dengan Mesin Frais

ii

MODUL BAHAN AJAR

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR …………………………………………………………………………. DAFTAR ISI …………………………………………………………………………………… PETA KEDUDUKAN MODUL ….…………………………………………………………. GLOSARIUM .…………………………………………………………………………………. BAB I. PENDAHULUAN .……………………………………………………………………
A.

i ii iv v 1 2 KEM 2 PET 2 TUJ 6

DESKRIPSI PEMBELAJARAN .

……………………………………………… B. AMPUAN AWAL/PRASYARAT .…….………………………………… C. UNJUK PENGGUNAAN MODUL ………………………………………. D. UAN AKHIR ………………………………………………………………….

E. UNIT KOMPETENSI ……………………………………………………………. 8

BAB II. PEMELAJARAN …………………………………………………………………….
A.

11 REN 11 KEG 16 16 34 36 37 68 71 72 74 88

CANA BELAJAR PESERTA DIKLAT ………………………………….
B.

IATAN BELAJAR …………………………………………………………… 1. Kegiatan Belajar 1: Mesin Frais …..….………………………………… Tes Formatif 1 ………………………………………………………………. Kunci Jawaban Tes Formatif 1 ……………………………………….. 2. Kegiatan Belajar 2: Pengefraisan……..………………………………. Tugas kegiatan Belajar 2 ……………………………………………….. Tes Formatif 2 ………………………………………………………………. Kunci Jawaban Tes Formatif 2 ………………………………………… 3. Kegiatan Belajar 3: Kepala Pembagi …….……………………………. Tugas Kegiatan belajar 3 …………………………………………………

Teknik Pemeliharaan Mekanik Mesin Industri Melakukan Pekerjaan dengan Mesin Frais

iii

MODUL BAHAN AJAR

Tes Formatif 3 ……………………………………………………………….. Kunci Jawaban tes Formatif 3 …………………………………………..

88 90

4. Kegiatan Belajar 4: Pengefraisan Alur Spiral ……………………….. 92 Tes Formatif 4 ………………………………………………………………… 106 Kunci Jawaban Tes Formatif 4 ………………………………………….. 106 5. Kegiatan Belajar 5: Roda Gigi dan Pengefraisan Roda Gigi……. Tugas kegiatan Belajar 5 ……………………………………………….. Tes Formatif 5 ………………………………………………………………. Kunci Jawaban Tes Formatif 5 ………………………………………... 6. Kegiatan Belajar 6: Pembuatan Roda Gigi dengan Generating Process …………………………..…………………………………………….. Tugas Kegiatan belajar 6 ………………………………………………… Tes Formatif 6 ……………………………………………………………….. Kunci Jawaban tes Formatif 6 ………………………………………….. 139 153 154 154 108 137 135 138

BAB III. EVALUASI …………………………………………………………………………….. 156 Tertulis …………………. 156
1. Tes Praktik (Performance Test) ………………………………………… 162 2. Kunci Jawaban Evaluasi Akhir …………………………………………… 163

BAB IV. PENUTUP ………………………………………………………………………. 167 DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………………… 168

Teknik Pemeliharaan Mekanik Mesin Industri Melakukan Pekerjaan dengan Mesin Frais

iv

MODUL BAHAN AJAR

PETA KEDUDUKAN MODUL
Diagram ini menunjukkan tahapan atau tata urutan modul-modull unit kompetensi yang akan dipergunakan dalam pelatihan para peserta didik dalam kurun waktu 3 tahun dan kemungkinan multi exit-entry yang dapat diterapkan.
MODUL UNIT KOMPETENSI

M 18.20A M 18.55A

M 18.21 A

OPKR 20-017-3 M 18.6A M. 7.7A

SERTIFIKAT II

SMK

M. 7.8A M. 9.3A M. 9.1A M.18.3A M. 7.6A M.9.2A M.18.2A

M. 7.5A M.25C11 M.18.1A

SERTIFIKAT I

Kedudukan Modul Unit kompetensi prasyarat

Teknik Pemeliharaan Mekanik Mesin Melakukan Pekerjaan Dengan Mesin Frais

iv

MODUL BAHAN AJAR

NAMA DAN KODE UNIT KOMPETENSI.

NO

KODE MODUL

NAMA UNIT KOMPETENSI

KODE KOMPETEN SI M.18.1A M.18.2A M.18.3A M..25C11 M. 9.1A M. 7.5A M. 9.3A M. 7.5A M. 7.6A M. 7.7A

1. 1 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10 . 11 . 12 . 13 . 14 . 15

M.18.1A M.18.2A M.18.3A M.25C11A M.9.1A M.9.2A M.9.3A M.7.5A M. 7.6A M. 7.7A

Menggunakan Perkakas Tangan. Menggunakan Perkakas Tangan Bertenaga. Menggunakan Perkakas Untuk Pekerjaan Presisi. Mengukur Menggunakan Alat Ukur. Menggambar dan Membaca Sketsa Membaca Gambar teknik. Mempersiapkan Gambar Teknik Dasar. Bekerja dengan Mesin Umum. Melakukan Pekerjaan dengan Mesin Bubut. Melakukan Pekerjaan dengan Mesin Frais.

M.7.8A

Melakukan Pekerjaan dengan Mesin Gerinda.

M.7.8A

M.18.55A

Membongkar, Mengganti, dan Merakit Komponen Mesin.

M.18.55A

M.18.6A

Membongkar/Memperbaiki/Mengganti/Mer akit dan Memasang Komponen.

M.18.6A

M.18.20A

Memelihara Komponen Sistem Hidrolik.

M.18.20A

M.8.21A

Pemeliharaan dan Perbaikan Sistem

M.18.21A
v

Teknik Pemeliharaan Mekanik Mesin Melakukan Pekerjaan Dengan Mesin Frais

MODUL BAHAN AJAR

NO

KODE MODUL

NAMA UNIT KOMPETENSI

KODE KOMPETEN SI

16 .

OPKR 20017-3

Hidrolik. Pemeliharaan Servis Sistim Bahan Bakar Diesel.

OPKR 20-017-3

DIAGRAM PRASYARAT DAN ALUR PENCAPAIAN KOMPETENSI

M18.1A

M18.55A

M18.2A M1.3FA M18.3A M1.2FA M9.1A M1.3FA M9.2A M1.4FA M2.5C11 A M9.3A M7.5A

M7.6A

M18.6A

M7.7A

M.18.20A

M7.8A

M18.21A

OPKR20-17B

Teknik Pemeliharaan Mekanik Mesin Melakukan Pekerjaan Dengan Mesin Frais

vi

MODUL BAHAN AJAR

GLOSARIUM Kompetensi: Kemampuan seseorang yang dapat diobservasi yang mencakup atas penge-tahuan, keterampilan dan sikap dalam menyelesaikan suatu pekerjaan atau tugas sesuai dengan standar kinerja yang ditetapkan. Standar Kompetensi: Kesepakatan tentang kompetensi yang

diperlukan pada suatu bi-dang pekerjaan oleh seluruh stake holder di bidangnya, atau perumusan tentang kemampu-an yang harus dimiliki seseorang untuk melakukan tugas atau pekerjaan yang didasari atas pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja sesuai dengan unjuk kerja yang dipersyaratkan. Unit Kompetensi: Uraian fungsi dan tugas atau pekerjaan yang mendukung tercapainya standar Kompetensi. Sub Kompetensi: Sejumlah fungsi tugas atau pekerjaan yang mendukung ketercapaian unit Kompetensi dan merupakan aktifitas yang dapat diamati. Kriteria unjuk kerja: Pernyataan sejauh mana sub kompetensi yang dipersyaratkan ter-sebut terukur berdasarkan pada tingkat yang diinginkan. Acuan penilaian: Pernyataan kondisi dan konteks sebagai acuan dalam melaksanakan pe-nilaian. Kompetensi kunci: Kemampuan kunci atau generic yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu tugas atau pekerjaan.

Teknik Pemeliharaan Mekanik Mesin Melakukan Pekerjaan dengan Mesin Frais

1

MODUL BAHAN AJAR

Keselamatan

dan

Kesehatan

Kerja

dan

Lingkungan

(K3L):

Peraturan-peraturan yang berlaku berdasarkan pada landasan hukum yang berkaitan dengan aktifitas di lingkungan kerja, bengkel, dan industri secara spesifik maupun umum: o UU Ketenagakerjaan No.13/2003 Ps.87: “Setiap perusahaan wajib menerapkan Sis-tem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) yang terintegrasi dengan sistem manajemen perusahaan secara keseluruhan“. o o UU Keselamatan Kerja No. 1/1970. Kepmennakertrans 05/Men/1996 tentang standar Sistem

Manajemen K3 (SMK3): “Setiap perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja 100 orang atau lebih mem-punyai bahaya yang ditimbulkan dari karateristik process produksinya, wajib mene-rapkan K3”. o o o o o o Kepmennakertrans No. 51/1999 tentang Nilai Ambang Batas Surat edaran Mennakertrans No.1/97 tentang Nilai Ambang Konsensus WTO: Pengelolaan K3 harus memenuhi Standar UU Kesehatan No.23/1992 Ps.22 tentang kesehatan Faktor Fisika di tempat kerja. Batas Faktor Kimia di udara lingkungan kerja. global (ISO). lingkungan dan Ps.23 tentang kesehatan kerja. Peraturan Menteri Perburuhan No.7/64 tentang Standar Standar Potensi Bahaya Faktor biologi di udara tempat kerja Sanitasi Industri. (adopsi Standar Inter-nasional).

Teknik Pemeliharaan Mekanik Mesin Melakukan Pekerjaan dengan Mesin Frais

2

MODUL BAHAN AJAR

BAB I
PENDAHULUAN

A. DESKRIPSI Modul yang berjudul “Melakukan Pekerjaan Dengan Mesin Frais“ ini berisikan hal-hal sebagai berikut (1) (2) (3) (4) (5) (6) Konsep dasar tentang mesin frais, konstruksi dan fungsinya. Bagian-bagian utama mesin frais beserta fungsinya masingKonstruksi, fungsi, dan cara kerja masing-masing komponen Macam-macam pisau frais. Pembuatan benda kerja atau komponen untuk keperluan Pembuatan roda gigi.

masing. mesin frais.

perbaikan. Setelah selesai mempelajari modul ini, peserta didik/peserta latih akan mengua-sai konsep tentang pemesinan frais sehingga mereka dapat melakukan pekerja-an-pekerjaan dengan mesin frais untuk mendukung tugasnya sebagai teknisi pe-meliharaan mekanik mesin industri. Dalam pelaksanaan pemelajaran, setiap peserta akan diberi beberapa dokumen di antaranya Buku Pedoman Belajar, Modul Unit Kompetensi dan Buku Referensi.

Teknik Pemeliharaan Mekanik Mesin Melakukan Pekerjaan dengan Mesin Frais

3

MODUL BAHAN AJAR

1. Judul Modul Unit Kompentensi : “Melakukan pekerjaan Dengan Mesin Frais”. 2. Waktu Pembelajaran : 200 JAM. 3. Deskripsi Modul Unit Kompentensi. Modul Unit Kompetensi ini merupakan modul pemelajaran dengan tujuan mem-persiapkan seorang teknisi tenaga pelaksana pemeliharaan mekanik mesin Industri yang memiliki keterampilan melakukan pekerjaan dengan mesin frais untuk membuat komponen-komponen pengganti atau penunjang dalam melak-sanakan pekerjaannya. B. KEMAMPUAN AWAL Prasyarat atau kemampuan awal yang harus dimiliki oleh peserta pendidikan dan pelatihan sebelum mempelajari modul ini ialah peserta diklat sudah mempunyai modul-modul berikut. (1) (2) (3) (4) (5) Modul “Menggunakan perkakas tangan”. Modul “Menggunakan perkakas tangan bertenaga”. Modul “Mengukur dengan menggunakan alat ukur”. Modul “Menggambar dan membaca sket”. Modul “Bekerja dengan mesin umum”.

C. PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL 1. Metode Penyampaian Terdapat tiga metode penyampaian yang dapat digunakan dan hal

tersebut dijelaskan di bawah ini. Dalam beberapa kasus, kombinasi metode mungkin dapat digunakan. Modul Unit Konmpetensi ini disusun sebagai sumber belajar utama dalam ketiga situasi.

Teknik Pemeliharaan Mekanik Mesin Melakukan Pekerjaan dengan Mesin Frais

4

MODUL BAHAN AJAR

1.1 Belajar secara mandiri Belajar secara mandiri membolehkan setiap peserta untuk belajar secara individu, sesuai dengan kecepatan belajarnya masingmasing. Meskipun proses belajar dilaksanakan secara bebas, disarankan untuk menemui pela-tih untuk mengkonfirmasikan kemajuan dan mengatasi kesulitan belajar. 1.2 Belajar Berkelompok Belajar berkelompok memungkinkan setiap peserta untuk datang bersama secara teratur dan berpartisipasi dalam sesi belajar berkelompok. Walau-pun proes belajar memiliki prinsip sesuai dengan kecepatan belajar ma-sing-masing, sesi kelompok memberikan interaksi antara peserta, pelatih dan pakar/ahli dari tempat kerja. 1.3 Belajar Terstruktur Belajar terstruktur meliputi sesi pertemuan kelas secara formal yang dilak-sanakan oleh pelatih atau ahli lainnya. Sesi belajar ini umumnya mencakup topik tertentu. 2. Tugas-Tugas Belajar untuk Peserta Pelatihan Selesaikan seluruh tugas belajar setiap kegiatan belajar pada modul ini dengan mengikuti petunjuk di bawah ini 1. 2. 3. 4. 5. Baca dan pahami setiap tugas Dapatkan sumber-sumber yang diperlukan. Baca secara sekilas setiap referensi untuk memperoleh Pelajari referensi dan catat hal-hal yang penting. Kerjakan tugas-tugas praktik.

tinjauan umum isi referensi tersebut.

Teknik Pemeliharaan Mekanik Mesin Melakukan Pekerjaan dengan Mesin Frais

5

MODUL BAHAN AJAR

6.

Apabila telah menyelesaikan setiap Tahapan Belajar, beri akan memiliki

tanda ceklis () pada kolom ‘selesai’. Anda catatan tentang ke-majuan belajar.

3.

Skenario Pemecahan Masalah

Skenario 1: Seandainya Anda melakukan pembongkaran suatu komponen-kom-ponen engineering dan pada saat Anda mau merakit kembali tiba-tiba ada satu komponen yang hilang atau lebih. • Untuk mengatasi masalah tersebut apa yang akan anda lakukan? Skenario 2: Setelah komponen-komponen yang telah dibongkar dirakit kembali dan sudah dianalisis kerusakannya bahkan sudah dilakukan penggantian kom-ponen baru, tetapi setelah dilakukan pegujian dari hasil rakitan tersebut ternyata masih ada kelainan. • Kalau Anda mengalami hal tersebut, apa yang akan anda lakukan?

4. Peran Guru/Instruktor/Pembimbing Semua orang yang terlibat secara langsung dalam kegiatan

pelaksanaan modul ini, dan dapat membantu setiap peserta/peserta diklat untuk pencapaian unit kompetensi ini, Tantera Lain ialah: (1) pelatihan (2) (3) penilai, dan Teman kerja/sesama peserta pelatihan

Di dalam pedoman belajar dari modul ini, istilah yang akan digunakan adalah sebagai berikut. (1) ‘ pelatih’ dapat mencakup instruktur/fasilitator/monitor/guru suverisor

Teknik Pemeliharaan Mekanik Mesin Melakukan Pekerjaan dengan Mesin Frais

6

MODUL BAHAN AJAR

Pelatih berperan sebagai pihak yang

(2) “ peserta pelatihan “ dapat didik/pegawai/karyawan/peserta diklat

mencakup

peserta

(a). Membantu peserta diklat untuk merencanakan proses belajar. (b). Membimbing peserta diklat melalui tugas-tugas dan pelatihan yang diberikan dalam tahap belajar. (c). Membantu peserta diklat untuk memahami konsep dan praktik baru dan untuk men-jawab pertanyaan peserta diklat mengenai proses belajar peserta. (d). Membantu peserta diklat untuk menentukan dan mengakses sumber tambahan lain yang Anda perlukan untuk belajar peserta diklat. (e). (f). Mengorganisasikan kegiatan belajar kelompok jika diperlukan. Merencanakan seorang ahli dari tempat kerja untuk membantu jika diperlu-kan.
Penilai Penilai akan melaksanakan program pelatihan terstruktur untuk penilaian di tempat kerja. Penilai akan

(a).

melaksanakan penilaian apabila peserta diklat telah siap dan

merencanakan proses belajar dan penilaian selanjutnya bersama dengan peserta diklat. (b). menjelaskan kepada peserta diklat mengenai bagian yang perlu untuk diperbaiki dan merundingkan rencana pelatihan selanjutnya bersama dengan peserta diklat.
(c).

mencatat pencapaian/perolehan kemajuan peserta diklat.

Teman kerja/sesama peserta pelatihan Teman kerja dari peserta diklat/sesama peserta pelatihan juga

merupakan sumber dukungan dan bantuan atau mendiskusikan proses

Teknik Pemeliharaan Mekanik Mesin Melakukan Pekerjaan dengan Mesin Frais

7

MODUL BAHAN AJAR

belajar dengan mereka. Pendekatan ini dapat menjadi suatu yang berharga diklat.
D.TUJUAN AKHIR Untuk mencapai tujuan akhir dalam pelaksanaan pelatihan menggunakan modul ini, setiap peserta diharuskan melalui beberapa ketentuan, di antaranya adalah Seperti berikut.
1. Prasyarat –

dalam

membangun

semangat

tim

dalam

lingkungan

belajar/kerja serta dapat meningkatkan pengalaman belajar peserta

2. Unit Standar Kompetensi

pengetahuan dan keterampilan minimum yang harus peserta miliki sebelum memulai unit ini.

3. Elemen Kompetensi – merupakan dasar yang

membangun unit kompetensi, yang menjelaskan tindakan atau hasil yang dapat diperagakan. Elemen kompetensi menjelaskan logika terendah, dapat diidentifikasi dalam sub kelompok tindakan yang berbeda dan pengetahuan yang mendukung dan membangun unit kompetensi.

4. Kriteria Unjuk Kerja – unjuk kerja

menentukan kegiatan, keterampilan, pengetahuan dan pemahaman yang memberikan bukti unjuk kerja yang kompeten untuk setiap elemen kompetensi.
5. Penjelasan Ruang Lingkup – menjelaskan

rentang konteks dimana unjuk kerja dapat dilaksanakan. Rentang membantu penilai untuk mengidentifikasi penerapan/aplikasi industri atau perusahaan tertentu terhadap unit kompetensi

6. Pedoman Penilaian – menunjukkan apa yang

akan diamati penilai dan mengkonfirmasikan selama process penilaian.
Teknik Pemeliharaan Mekanik Mesin Melakukan Pekerjaan dengan Mesin Frais

8

MODUL BAHAN AJAR

TUJUAN AKHIR Sebagai tenaga pelaksana pemeliharaan mekanik mesin Industri atau semua jenis pekerjaan/kegiatan yang tercakup di dalamnya baik di bengkel maupun di industri

Teknik Pemeliharaan Mekanik Mesin Melakukan Pekerjaan dengan Mesin Frais

9

MODUL BAHAN AJAR

E . UNIT KOMPETENSI:
Unit M7.7A Melakukan Pekerjaan dengan Mesin Frais Kelompok – Spesialisasi kelompok A Catatan Unit prasyarat – Jalur 1 7.5A Bekerja dengan mesin umum 9.2A Membaca gambar teknik 18.1A Menggunakan perkakas tangan Bidang – Operasi Mesin dan Proses

Elemen 7.7A.1 Memperhatikan aspek keselamatan kerja Kriteria 7.7A.1.1 Prosedur keselamatan kerja yang benar diketahui dan baju pelindung dan kaca mata pengaman dipakai. Pedoman penilai: amati bahwa – kaca mata keselamatan kerja dan baju pelindung selalu dipakai. Prosedur kesela-matan kerja selalu diikuti. Pedoman penilai: pastikan bahwa pengawasan terhadap hal yang berbahaya pada saat menggunakan mesin frais dapat diidentifikasi.

Elemen 7.7A.2 Menentukan persyaratan kerja Kriteria 7.7A.2.1 Memahami gambar teknik, menentukan bagian dari process dan memilih alat potong untuk menghasilkan komponen sesuai dengan spesifikasi. Pedoman penilai: amati bahwa – gambar dan instruksi kerja sesuai dengan spesifikasi dicapai sesuai dengan prosedur ditempat kerja. Pedoman penilai: pastikan bahwa persyaratan kerja dapat diidentifikasi, urutan pekerjaan untuk mencapai spesifikasi yang diinginkan dapat diidentifikasi. Pengaruh jenis alat potong dan geometrinya terhadap benda kerja dapat diidentifikasi. Pengaruh tipe dan geometri cutter

Teknik Pemeliharaan Mekanik Mesin Melakukan Pekerjaan dengan Mesin Frais

10

MODUL BAHAN AJAR

terhadap bahan yang berbeda dapat diberikan.

Kriteria 7.7A.2.2. Parameter-parameter pemotong (penyayatan) ditentukan.

Pedoman penilai: amati bahwa kecepatan potong dan pemakanan yang tepat pada pekerjaan digunakan.

Pedoman penilai: pastikan bahwa kecepatan potong dan pemakanan yang sesuai telah dihitung. Akibat dari variasi kecepatan potong dan pemakanan dari rata-rata perhitungan dapat diberikan. Akibat dari macam-macam bahan pada kecepatan potong dapat diidentifikasi.

Elemen 7.7A.3

Melakukan pekerjaan dengan mesin frais Pedoman penilai: amati bahwa operasi di mesin frais dilakukan untuk memproduksi komponen-komponen sesuai spesifikasi. Petunjuk penilai: amati bahwa pisau-pisau frais ini digunakan dalam hu-bungannya dengan teknik memfrais se-cara manual atau memfrais menanjak un-tuk menghasilkan benda-benda spesifik : -slab–gang–shell–slot–form–slitting. Pedoman penilai: amati bahwa bila diperlukan masing-masing aksesoris Pedoman penilai: pastikan bahwa macam-macam komponen yang dapat diproduksi dapat diidentifikasi. Pedoman penilai: pastikan bahwa teknik memfrais secara manual atau memfrais menanjak dan aplikasinya dapat terbayang. Aplikasi dari tiap-tiap tipe pisau frais berikut dapat diberikan : - slab, –gang, –end, -slot, -form, -slitting. Pedoman penilai: pastikan bahwa prosedur penggunaan kepala pembagi

Kriteria 7.7A.3.1 Operasi mesin frais dilakukan untuk memproduksi komponen-komponen sesuai spesialisasi. Kriteria 7.7A.3.2 Operasi-operasi dilaksanakan menggunakan teknik konvensional dan atau memfrais menanjak serta variasi dari pisau frais termasuk slab, gang, end, shell slot, form, slitting. Kriteria 7.7A.3.3 Seluruh aksesoris standar digunakan ter-

Teknik Pemeliharaan Mekanik Mesin Melakukan Pekerjaan dengan Mesin Frais

11

MODUL BAHAN AJAR

masuk kepala pembagi dan rotary table (meja putar).

mesin frais ini digunakan menurut prosedur kerja yang standar pada mesin frais: - kepala pembagi dan rotary table (meja putar).

dan rotary table (meja putar) dapat diberikan. Aplikasi penggunaan kepala pembagi dan rotary table (meja putar) ketika memfrais komponen dapat diidentifikasi.

Elemen 7.7A.4

Pemeriksaan komponen untuk kesesuaian terhadap spesifikasi Pedoman penilai: amati bahwa – komponen-komponen diperiksa secara visual dan dimensinya sesuai spesifikasi me-nurut prosedur kerja yang tepat. Alat ukur, teknik dan peralatan yang sesuai digunakan untuk memeriksa kesesuaian komponen dengan spesifikasi. Pedoman penilai: pastikan bahwa – teknik, alat-alat dan peralatan yang sesuai untuk mengukur benda hasil frais dapat diidentifikasi.

Kriteria 7.7A.4.1 Komponen diperiksa kesesuaiannya terhadap spesifikasi menggunakan teknik, alat-alat, dan peralatan yang tepat.

Penjelasan ruang lingkup Kerja dilakukan untuk melahirkan suatu process, praktik dan spesifikasi. Pekerjaan diaplikasikan pada jangkauan-jangkauan mesin frais termasuk tipe vertikal, horizontal dan universal, peralatan pengukuran presisi, perkakas potong dan bahan standar engineering. Alat potong dipilih menggunakan standar organisasi internasional “International Standard Organisation (ISO)” atau menurut prosedur operasi yang sesuai. Pekerjaan dilakukan sesuai gambar kerja, sket, spesifikasinya serta instruksi-instruksinya secara tepat. Pekerjaan dilakukan sendiri untuk menentukan standar kualitas dan keselamatan kerjanya.

Teknik Pemeliharaan Mekanik Mesin Melakukan Pekerjaan dengan Mesin Frais

12

MODUL BAHAN AJAR

BAB II

PEMELAJARAN
A. RENCANA BELAJAR PESERTA DIKLAT Rencana belajar ini disusun oleh peserta diklat dan

guru/instruktor/pembimbing bersama-sama, meliputi penentuan jenis kegiatan, tanggal, waktu dan tempat pelatihan. Apabila semuanya sudah sesuai dengan tuntutan Unit Kompetensi yang harus ditempuh maka bila ada perubahan harus terlebih dahulu disetujui oleh guru/instruktur/pembimbing . Contoh Format Rencana Belajar Peserta Diklat
JENIS KEGIATAN TANGGAL WAKTU TEMPAT BELAJAR ALASAN PERUBAHAN TANDA TANGAN GURU

Teknik Pemeliharaan Mekanik Mesin Melakukan Pekerjaan dengan Mesin Frais

13

MODUL BAHAN AJAR

Rencana Materi Catatan: 1). Penyajian bahan berikut pengajar, peserta dan penilai harus yakin dapat memenuhi seluruh rincian yang tertuang dalam standar kompetensi 2). Isi perencanaan merupakan kaitan antara kriteria unjuk kerja dengan pokok ketrampilan dan pengetahuan Unit Kompetensi : Melakukan Pekerjaan dengan Mesin Frais Nomor Unit Kompetensi : M 7.7.A Waktu : 200 jam pelajaran Tingkat : 2 (dua) Elemen Unit Kompetensi 7.7A.1 Memperhatika n tindakan kesela-matan kerja Kriteria Unjuk Kerja 7.7A.1.1 Prosedur keselamatan kerja yang benar diketahui dan baju pelindung dan kaca mata pengaman yang dipakai. a. Prosedur keselamatan kerja 1) Penggunaan 1) Memahami alat keselaprosedur matan kerja keselamatan kerja 1) Menggunakan alat keselamatan kerja Lingkup Belajar Materi Utama Pemelajaran Pengetahuan Keterampilan

Sikap

b. Alat keselamatan kerja yang digunakan.

Teknik Pemeliharaan Mekanik Mesin Melakukan Pekerjaan dengan Mesin Frais

14

MODUL BAHAN AJAR

Elemen Unit Kompetensi 7.7A.2 Menentukan per-syaratan kerja

Kriteria Unjuk Kerja 7.7A.2.1 Gambar kan memilih guna komponen spesifikasi 7.7A.2.2 Parameter-parameter pemotong ditentukan. teknik proses alat

Lingkup Belajar

Sikap

Materi Utama Pemelajaran Pengetahuan Keterampilan 1).Memahami gambar pekerjaan 2).Memahami petunjuk pengerjaan

dipa- a. Gambar kerja dan pengerjaan bantu sesuai

hami untuk

menentu- b. Petunjuk

menghasilkan

a). Kecepatan putaran mesin b). Kecepatan potong c). Kecepatan pemakanan

1).Kecepatan putaran mesin 2).Kecepatan potong 3).Kecepatan pemakanan

Teknik Pemeliharaan Mekanik Mesin Melakukan Pekerjaan dengan Mesin Frais

15

MODUL BAHAN AJAR

Elemen Unit Kompetensi 7.7A.3 Melakukan peker-jaan dengan mesin frais

Kriteria Unjuk Kerja

Lingkup Belajar

Sikap

Materi Utama Pemelajaran Pengetahuan Keterampilan 1). Mengopersikan mesin frais

7.7A.3.1 Operasi mesin frais di- a. Mengopersikan lakukan untuk memmesin frais produksi komponenkomponen sesuai spesifikasi. 7.7A.3.2 Operasi-operasi dilaka. Identifikasi pisau 1).Sikap 1) Memahami sanakan menggunakan frais menge-frais macam-mateknik konvensional b. Penggunaan pisau rata, alur, cam pisau dan atau mengefrais frais dan frais menanjak serta variasi c. Mengefrais rata, bertingkat 2) Memahami dari pisau frais termaalur, dan sesuai prosepemilihan suk slab, gang, end, bertingkat. dur. pisau frais shell slot, form, slitting.

1) Mengefrais rata, alur, dan ber-tingkat.

Teknik Pemeliharaan Mekanik Mesin Melakukan Pekerjaan dengan Mesin Frais

16

MODUL BAHAN AJAR

Elemen Unit Kompetensi

Kriteria Unjuk Kerja 7.7A.3.3 Seluruh aksesoris standar digunakan termasuk kepala pembagi dan rotary table (meja putar).

Lingkup Belajar a. Alat bantu pengefrais-an b. Alat pencekam benda kerja c. Alat pembagian ben-da kerja

Sikap

Materi Utama Pemelajaran Pengetahuan Keterampilan 1) Memahami alat bantu pengefraisan 2) Memahami alat pencekam benda 3) Memahami alat pembagian benda 1) Menggunakan alat bantu pengefraisan 2) Menggunakan alat pencekam benda kerja 3) Menggunakan alat pembagian benda kerja 1) Memeriksa komponen dan dimensi benda kerja secara visual 2) Memeriksa komponen/ben -da kerja.

7.7A.4 Memeriksa komponen untuk kesesuaian terhadap spesifikasi

7.7A.4.1 Komponen diperiksa kesesuaiannya terhadap spesifikasi menggunakan teknik dan alat-alat, dan peralatan yang tepat.

a. Memeriksa 1) komponen dan Menggunak dimensi benda kerja an alat ukur secara visual untuk b. Menggunakan alat memeriksa ukur untuk komponen/ memerik-sa benda komponen/benda kerja. kerja.

Teknik Pemeliharaan Mekanik Mesin Melakukan Pekerjaan dengan Mesin Frais

17

MODUL BAHAN AJAR

KEGIATAN BELAJAR 1. Kegiatan Belajar 1: Mesin Frais
1.1. Pengertian Umum Mesin frais adalah mesin suatu perkakas benda kerja untuk dengan

mengerjakan/menyelesaikan

mempergunakan pisau frais sebagai alatnya. Ditinjau dari kerjanya, mesin frais termasuk mesin perkakas yang mem-punyai gerak utama berputar. Pisau dipasang pada sumbu/arbor mesin yang didukung dengan alat pendukung arbor. Jika arbor mesin diputar oleh motor, maka pisau frais ikut berputar. Arbor mesin dapat berputar ke kanan atau ke kiri, sedangkan banyaknya putaran diatur sesuai dengan kebutuhan. Tipe mesin frais Tipe mesin frais dapat dibedakan menjadi beberapa jenis (kebanyakan yang terdapat dalam bengkel-bengkel lembaga pendidikan) yaitu (1) mesin frais mendatar (2) mesin frais tegak (3) mesin frais universal Tipe mesin frais yang lain (1) Mesin frais taret
(2) (3)

Mesin frais copy Mesin frais tusuk/stick

Standard ukuran mesin frais Ukuran suatu mesin frais ditentukan oleh: (1) Panjang meja mesin frais

Teknik Pemeliharaan Mekanik Mesin Melakukan Pekerjaan dengan Mesin Frais

18

MODUL BAHAN AJAR

(2) Jarak spindel sampai permukaan meja pada kedudukan paling bawah. (3) Jarak ke arah melintang maximum yang dapat dicapai oleh meja mesin terhadap kolomnya. 1.2. Mesin Frais Mendatar Mesin frais mendatar dapat digunakan untuk mengerjakan pekerjaan (1) mengefrais rata (2) mengefrais alur (3) mengefrais roda gigi lurus (4) mengefrais bentuk (5) membelah atau memotong Mesin frais mendatar adalah suatu mesin frais yang arbornya mendatar seperti gambar, sedang mejanya dapat bergerak ke arah (1) memanjang/langitudinal
(2)

melintang /cross slide dan naik turun

Teknik Pemeliharaan Mekanik Mesin Melakukan Pekerjaan dengan Mesin Frais

19

MODUL BAHAN AJAR

Gb. 2.1. Mesin Frais Mendatar Adapun nama bagian-bagiannya adalah sebagai berikut A Lengan B Penyokong arbor C Tuas otomatis D Nak pembatas E Meja mesin F Engkol ke arah memanjang G Tuas pengunci H Baut penyetel I Engkol ke arah melintang J Engkol untuk ke arah naik turun K Tuas pengunci meja L Tabung pendukung M Lutut (knee)
20

N Tuas pengunci sadel O Alas meja P Tuas perubah kecepatan motor listrik Q Alas meja R Tuas S Tuas pengatur penunjuk kecepatan kecepatan putaran mesin putaran mesin T Tiang (colom) U Spindel mesin V Tuas spind untuk menjalankan

Teknik Pemeliharaan Mekanik Mesin Melakukan Pekerjaan dengan Mesin Frais

MODUL BAHAN AJAR

1.3. Mesin Frais Tegak Mesin frais tegak adalah suatu mesin frais dimana arbornya dipasang tegak sedang gerakan mejanya dapat ke arah
(1)

melintang (cross slide)

(2) memanjang (Longitudinal) (3) naik-turun. Adapun nama bagian-bagian mesin ini ialah A Spindel B Kepala C Kolom D Meja E F H Engkol ke arah memanjang Engkol ke arah naik dan turun Handel ke arah melintang

G Alas mesin

Gb. 2.2. Mesin Frais Tegak
21

Teknik Pemeliharaan Mekanik Mesin Melakukan Pekerjaan dengan Mesin Frais

MODUL BAHAN AJAR

1.4. Mesin Frais Universal Mesin frais universal adalah suatu mesin frais dengan kedudukan arbornya mendatar dan gerakan mejanya dapat kearah memanjang/longitudinal, melintang/cross slide, naik turun dan dapat diputar membuat sudut tertentu terhadap body mesin. Adapun nama bagian-bagian dari mesin frais ini ialah Alengan Bpenyokong arbor Ctuas otomatis Dnok pembatas meja Emeja mesin F engkol G tuas pengunci meja H baut penyetel I engkol arah melin - tang J engkol arah naik turun Ktuas pengunci L tabung pendukung dengan batang ulir M lutur tempat dudukan alas mesin Ntuas pengunci sadel O engkol meja listrik Rtuas pengatur putaran Stuas pengatur angka puratan T tiang Uspindel VTuas penjalan spindel XMur pengunci gerakan meja Ptuas untuk merubah kecepatan motor

Teknik Pemeliharaan Mekanik Mesin Melakukan Pekerjaan dengan Mesin Frais

22

MODUL BAHAN AJAR

Gb.2.3. Mesin Frais Universal

1.5. Penjagaan Mesin Frais Tiap operator mesin frais harus bertanggung jawab tentang kelancaran mesin untuk dapat bekerja dengan hasil yang baik. Oleh karena itu operator perlu mengikuti petunjuk seperti di bawah in 1. 2. mesin. Sebelum mulai menjalankan mesin, lumasilah bagian-bagian Bersihkan bagian-bagian alas meja sebelum mulai mesin yang berputar/bergerak. memasang catok/benda kerja, dan juga sebelum menjalankan meja

MODUL BAHAN AJAR

3. atau

Jaga agar bagian geser meja mesin tidak kemasukan geram air pen-dingin, karena dapat merusak dan dapat

menyebabkan macetnya meja. Jangan menggunakan meja mesin untuk menaruh alat-alat yang berat seperti palu, kunci-kunci pengikat alat dan lain-lain, dan jangan memukul benda pada alas meja mesin frais. 1.6. Macam-Macam Pisau Frais Hasil pengefraisan ditentukan oleh macam pisau frais yang digunakan. Adapun macam-macam pisau frais adalah sebagai berikut: a. Pisau Frais Mantel Pisau frais mantel ada 3 jenis 1. Tipe H (keras) digunakan untuk penyayatan ringan. 2. Tipe N (normal) digunakan untuk penyayatan normal atau sedang. 3. Tipe W (lunak) digunakan untuk penyayatan berat.
Tipe W Tipe N Tipe H

b. Pisau Frais Sudut

Gb. 2.4 Pisau Frais Mantel

Gb. 2.5. Pisau Frais Sudut

MODUL BAHAN AJAR

Pisau ini digunakan untuk mengefrais sudut, umumnya 30o, 45o dan 60o. c. Pisau Frais Ekor Burung

Gb. 2.6. Pisau Frais Ekor Burung

Pisau frais ini digunakan untuk mengefrais alur ekor burung, pada umumnya sudut ekor burung yang dapat dibuat besarnya : 30o, 45o dan 60o. d. Pisau frais Alur Melingkar Pisau frais ini digunakan untuk mengefrais alur pasak yang terkurung.

Gb. 2.7. Pisau Frais Alur Melingkar

e. Pisau Frais Gigi Silang (Straggered Tooth Mill) Pisau frais ini alur
Gb. 2.8. Pisau Frais Gigi Silang

diguna-kan untuk mengefrais ja. f. Pisau frais sudut ganda pada benda ker-

Pisau ini digunakan untuk mengefrais alur V.

MODUL BAHAN AJAR

Sudut V yang terjadi besarnya 30o, 45o dan 60o.

Gb. g. Pisau frais radius 2.9. Pisau frais sudut ganda

konvex h. Pisau Frais Alur T

konkav

Gb. 2.10. Pisau Frais Radius

Pisau alur T digunakan untuk mengefrais alur T seperti halnya alur T pada meja mesin frais dan skrap.

Gb. 2.11. Pisau Frais Alur T

i. Pisau Frais Jari 1. Digunakan untuk baja normal, sudut helik dan alur giginya tidak terlalu besar. 2. Digunakan untuk baja yang keras dan ulet sudut helik kecil, gigi lebih banyak.

MODUL BAHAN AJAR

3. Pisau dengan sudut helik dan alur gigi besar digunakan untuk baja lunak 4. Digunakan untuk pemakanan kasar
Gb. 2.12. Pisau Frais Jari

j. Pisau Frais Roda Gigi Pisau ini dunakan untuk pembuatan roda gigi.

Gb. 2.13. Pisau Frais Roda Gigi k. Pisau Frais Hobbing

Digunakan untuk menbuat gigi pada roda gigi yang dilaksanakan pada mesin hobbing.

Gb. 2.14. Pisau Frais Hobbing

l. Pisau Muka (Face Mill)

Pisau

muka

yang

di-

tempel dan terbuat dari bahan sementit carbide Pisau ini digunakan untuk mengefrais permukaan yang rata dan luas.
Gb. 2.15. L. Pisau muka

MODUL BAHAN AJAR

m. Shell End-Mill Pisau frais ini dapat makan pada bagian samping dan muka sehingga dapat digunakan untuk mengefrais bidang siku

n. Side dan Face mill Pisau frais ini digunakan untuk pemakanan kasar pada permukaan-permukaan rata dan siku.

Gb. 2.16. m. Shell end-mill

1.6.Penggunaan Pisau Frais Pisau (1) (2) (3)

Gb. 2.17 Side and face mill

mantel

digunakan

untuk

mengefrais : permukaan datar alur lebar tapi dangkal,dan permukaan bertingkat

1..Pisau frais mantel beralur lurus digunakan untuk memfrais dengan pemakanan tipis. 2. Pisau frais yang beralur spiral digunakan untuk memfrais dengan

MODUL BAHAN AJAR

pemakanan tebal pada benda kerja yang besar.
Gb. 2.18. Penggunaan Pisau Frais

Cara memilih pisau mantel ialah (1) (2) pilih diameter pisau frais sekecil mungkin. untuk mengefrais bidang lebar, pilih diameter pisau yang sama dengan alur yang berlawanan. Pemasangan pisau ini harus diusahakan sedekat mungkin dengan badan mesin dan harus selalu menggunakan pasak. Pisau frais sisi dan muka digunakan untuk (1) memfrais bidang vertikal. (2) memfrais bertangga. (3) memfrais alur. (4) memfrais bidang sejajar. (5)memfrais bidang bawah pada mesin frais tegak. Cara memilih pisau frais sisi dan muka (1) Pilih diameter pisau yang terkecil. (2)Pilih jenis pisau biasa jika dibutuhkan penatalan tipis. (3)Untuk pemakanan tebal, pilih
Gb. 2.19. Pisau Frais Sisi dan Muka

pisau sisi zig zag dengan diameter yang besar.

MODUL BAHAN AJAR

(4) Jika digunakan berpasangan, pilih sudut gigi yang berlawanan.

Pisau frais gergaji digunakan untuk (1) (2) (3) (4) memotong membelah membuat alur sempit, dan membuat alur pada sudut

Cara memilih pisau frais gergaji: (1) Pilih diameter pisau sekecil mungkin. (2) Pilih gergaji sisi untuk pemotongan yang (3) dalam. (4) Periksa ketajaman mata gergaji. (1) (2) (3)
Gb. 2.20. Pisau Frais Gergaji

Pisau frais alur digunakan untuk: mengefrais alur; mengefrais alur pasak; mengefrais bidang rata

yang sempit. Cara memilih pisau frais alurialah pilih tebal pisau yang sama dengan lebar alur yang dibuat. Pisau untuk (1) Meratakan bidang atas benda kerja pada mesin vertikal.
Gb. 2.21. Pisau frais alur

frais

muka

digunakan

MODUL BAHAN AJAR

Meratakan ujung atau tei horizontal.

(2) benda kerja pada mesin (3)Mengefrais alur dangkal pada benda kerja. (4)Mengefrais bertangga.

Cara memilih pisau frais muka 1. Pilih diameter pisau yang lebih besar dari bidang benda kerja pada keduduk-an kira-kira di pertengahan bidang benda kerja. 2. Untuk pemakanan bertangga pilih diameter pisau yang lebih kecil. 3. Pilih jumlah gigi pisau yang sesuai dengan bahan yang dipotong.

Gb. 2.22. Pisau Frais Muka

Pisau jari digunakan untuk (1)Mengefrais alur (2)Mengefrais alur pasak (3)Mengefrais bidang rata pada bidang miring atau permukaan lengkung (4)Mengefrais dudukan baut (5) Memperbaiki letak lubang-lubang yang salah

MODUL BAHAN AJAR

Gb. 2.23 Pisau Jari

Memilih pisau jari Ukuran pisau ditentukan oleh lebar alur atau diameter lubang yang dikerjakan.

Gb. 2.24 Memilih Pisau Jari

Untuk memfrais suatu alur yang berpinggir (bagian tepinya tidak difrais) sebaiknya pada batas jalur benda tersebut dibor terlebih dahulu.

MODUL BAHAN AJAR

1.7 Arah Penyayatan

Pemakanan ke atas (berlawanan) Pemakanan pemakanan ke pada atas mesin adalah frais

dengan arah putaran pisau frais berlawanan dengan gerakan meja. Keuntungan dari arah pemakanan ini ialah seperti berikut (1) Tidak (2) Gaya
Gb. 2.25. Arah pemakanan keatas

terjadi penyayatan

kejutan dapat

penyayatan terbagi an-tara pekerjaan dan pisau hingga operasi lebih aman. (3) Tekanan terhadap yang ulir ringan pembawa

meja juga terhadap bautbaut penahan. (4) Meja bergeser terpengaruh dapat dan akibat mudah tak dari

penyayatan pisau. (5) Geram mudah keluar (6) Ketajaman tahan lama (7) Penyayatan tebal dapat lebih pisau lebih

MODUL BAHAN AJAR

Contoh pemakanan berlawanan arah

Gb. 2.26. Contoh pemakanan ke atas

Pemakanan ke bawah (searah) Pemakanan pemakan-an ke bawah mesin adalah frais pada

dimana gerakan meja frais searah dengan putaran pisau frais. Kekurangan dari cara ini ialah: (1) Kemungkinan pengefraisan
Gb. 2.27. Arah pemakanan kebawah

mudah di bagianyang dan

tercekam dan sukar untuk bagian perkerjaan. (2) Hasil rata pisau pengefraisan sukar didapat mudah

selip/tidak

menyatat. (3) Hanya untuk pengefraisan ringan.Pengefraisan untuk menghalus de-ngan cara ini tak dapat dilaksana-kan. (4) Agak baik jika pisau frais dari baja karbon. (5) Tak mungkin dapat dipakai pada pengefraisan dengan feed dan speed tinggi. (6) Hasil pengefraisan lambat.

MODUL BAHAN AJAR

Contoh pemakanan searah

1.8. Kecepatan Potong dan Pemakanan Kecepatan potong (Cs). Kecepatan potong mesin frais berkaitan dengan jalan keliling pisaunya yang dinyatakan dalam feet/menit atau meter/menit. Kecepatan potong yang ditempuh pisau frais tergantung pada beberapa faktor antara lainm (1) macam bahan yang dikerjakan; (2) bahan pisau frais; (3) ketahanan pisau di antara mata pengasahan. Faktor-faktor lain yang penting adalah pergantian kecepatan pisau berbanding dengan pemakanan yang diperlukan, hubungan perbandingan pemakanan dan dalamnya pemakanan juga keadaan mesin itu sendiri. TABEL2.1 KECEPATAN POTONG (CS). Mat Process CUTTING SPEED - H S S mild steel steel stee Roughin g C.I M l T stee l M BRONZ E C.I S steel M C.I M F.C Bras s
Gb. 2.28 Contoh pemakanan ke bawah

mild steel Bronze C.I (S) stee l F.C Brass AL

Finishing

stee l A

stee l T

MODUL BAHAN AJAR

m/menit 12 75

15

18

21

24

30

45

60

Materia l Processes

CUTTING SPEED – CEMENTIT CARBIDES Stee l M C.I C.I Brass

Roughing Finishing

m/menit Keterangan :

M S Mild Stee Bronze AL Stee l l F.C Stee Stee C.I C.I Brass l l M S Bronze T M Mild Steel AL F.C Stee l 60 90 120 150 180 300 M = Baja lunak S = Lunak = Fre-Carbon/Carbon Rendah = Ulet

A = Liat C.I = Besi tuang F.C T

Menentukan kecepatan putaran mesin frais Kecepatan putaran mesin frais ditentukan oleh (1) dikerjakan; (2) (3) digunakan. Besarnya putaran mesin frais dapat kita tentukan dengan rumus Cs Cs = π D n sehingga n = πD bahan pisau; diameter pisau frais yang kekerasan bahan yang

MODUL BAHAN AJAR

Dalam hal ini n = putaran mesin dalam putaran/ menit Cs = Kecepatan potong dalam m/ menit D = diameter pisau dalam meter Contoh: Pisau frais HSS dengan diameter 100 mm, dipakai untuk mengerjakan bahan dari besi tuang dengan kecepatan potong 24 m/menit. Hitung besarnya putaran mesin yang digunakan. Penyelesaian : Cs n = πD 24 n = 3,14. 100 1000 = 3,14.0,1 24 = 76 Rpm

Jadi putaran mesin frais, n = 76 Rpm Rangkuman Kegiatan Belajar 1 Mesin frais yang berfungsi untuk membuat benda-benda kerja yang umumnya berbertuk kotak dapat juga digunakan untuk pembuatan benda kerja yang lain seperti pembuatan roda gigi dan lain-lainnya. Untuk lain. Dalam bekerja dengan menggunakan mesin frais, kita harus menerapkan prosedur keselamatan kerja dan pemeliharaan mesin secara benar. Tugas kegiatan belajar 1 1) Coba identifikasi mesin frais yang ada di bengkel Anda kemudian buatkan laporan yang berisi hal-hal berikut dapat melaksanakan pekerjaan tersebut, mesin frais dilengkapi dengan bermacam-macam pisau frais dan kelengkapan

MODUL BAHAN AJAR

a. mesin frais b. c. d.

Nama-nama bagian dari setiap jenis Jenis kelengkapan yang ada Jenis pisau frais yang ada Ukuran mesin frais

2)Operasikan setiap mesin frais di bawah bimbingan guru Anda, tentu saja termasuk mengoperasikan semua fungsi dari mesin tersebut.

Tes Formatif Kegiatan Belajar 1 Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan mengisi titik-titik yang tersedia 1) Mesin frais berfungsi untuk ……………………………………………… 2) Mesin frais dapat dibedakan menjadi (1) (2) (3) ………………………………….. ………………………………….. …………………………………….

3) Ukuran mesin frais ditentukan oleh…….…………………………. ……………………………………………………………………………… …………………… 4) Pisau frais yang digunakan untuk penyayatan bidang yang lebar digunakan jenis……………………………………………..atau…………………… …………………………… 5) Pisau frais yang dapat digunakan untuk pemakanan kedalaman ialah pisau ………..…………… frais ………………………………………………………………………………

MODUL BAHAN AJAR

6) Untuk mengefrais bentuk cembung digunakan ………………………… ……………………………………………………………………………… ……………………………. 7) Arti dari cutting speed pisau = 35 m/menit ialah …... ………………………………… ……………………………………………………………………………… ……………………………. 8) Arti dari kecepatan pemakanan 100 mm/menit ialah ………………………………… ……………………………………………………………………………… ……………………………. 9) Besar kecilnya kecepatan potong atau cutting speed suatu pisau tergantung ari………………………………………………………………………. …………………………….. 10) Bila pisau frais berdiameter 40 mm dan cutting speed (Cs) dari pisau tersebut adalah : 30 m/menit, maka putaran pisau seharusnya adalah ……………………………………………………………………………… ……………………………..

MODUL BAHAN AJAR

Kunci Jawaban Tes Formatif 1 1) Untuk mengefrais benda kerja yang berbentuk kotak dan bentuk lain yang sesuai dengan bentuk pisau yang ada. 2) Mesin frais dibedakan menjadi (1) mesin frais horizonta; (2) mesin frais tegak; (3) mesin frais universa. 3) Ukuran mesin frais ditentukan oleh (1) panjang langkah memanjang; (2) panjang langkah melintang; (3) panjang langkah naik-turun. 4) Pisau frais mantel atau pisau frais muka (face mill) 5) Slot mill 6) Pisau frais konkaf 7) Artinya: kemampuan pisau frais menyayat sepanjang 35 m setiap menit. 8) Artinya: pisau frais melakukan penyayatan 100 mm setiap menitnya. 9) Tergantung dari jenis bahan yang disayat. 10) Besar putaran mesin n = 239 rpm

MODUL BAHAN AJAR

2. Kegiatan Belajar 2 : Pengefraisan Benda Kerja
Untuk Melakukan pengefraisan benda kerja, perlu perlengkapan lain yang menunjang sehingga mesin frais dapat berfungsi. Perlengkapan tersebut seperti pemegang benda kerja, untuk pemasangan pisau frais dan lain sebagainya. 2.1 Arbor Arbor adalah alat tempat memasang/meme-gang pisau frais. 1 = penyangga 2, 3, 4, 6, 7 = kerah (arbor colar) 5 = pisau frais 8 = badan mesin Pada setiap mesin disediakan bermacamma-cam arbor dengan penggunaan yang tertentu, antara lain (1) Arbor jenis A digunakan untuk pemakanan ringan dan juga untuk benda kerja yang panjang. (2) Arbor (3) jenis B digunakan untuk pemakanan berat/tebal. Benda kerja tidak boleh terlalu se-hingga dengan melebihi badan jarak mesin. panjang penyangga
Gb. 2.29. Contoh –contoh arbor

MODUL BAHAN AJAR

Pemasangan penyangga arbor sedapat mungkin dekat dengan pisau frais

2.2 Macam-Macam Arbor a. Arbor Baut Batang tirus 1 harus pada lubang ketirusan spindel mesin. Pisau frais dipasang pada ba-gian yang bulat dan dijepit dengan baut 3. Pasak 2 mencegah supaya pisau tidak selip. Arbor ini digunakan untuk memegang pisau frais sisi dan pisau frais muka.

b. Arbor Tirus Arbor tirus digunakan untuk memegang pisau frais bertangkai tirus misalnya pisau frais jari, pisau frais ekor burung dan bor-bor. Pisau frais dimasukkan ke dalam
Abor chuck Gb. 2.2 Macam-macam Arbor

lubang

chuck

1,

lalu

dikencangkan dengan mur 2 sehingga cakar 3 menjepit batang pisau. Chuck ini dikuncikan ke spindel dengan baut batang.

MODUL BAHAN AJAR

2.3 Pemasangan Arbor Arbor yang akan digunakan untuk pemasangan pisau frais harus dipasang pada spindel mesin frais dengan tepat agar putaran pisau dapat stabil dan sentris. Berikut ini dijelaskan cara pemasangan arbor. Cara memasang arbor pada spindel mesin (1) (2) (3) (4) Stel spindel mesin pada putaran rendah. Bersihkan lubang tirus spindel dan batang tirus arbor. Pegang arbor kira-kira sejajar ke permukaan. Pasang arbor ke spindel mesin, putar arbor untuk kelurusan pasak pembawa ke alur arbor. Cara mengunci arbor pada spindel mesin: (1) Pegang
Gb. 2.31a Memasang arbor

batang

arbor

pada

dudukan spindel (A). (2) Sekrupkan batang baut pengunci secara baik ke dalam arbor (B).

MODUL BAHAN AJAR

(3) Kemudian keraskan dengan kunci yang pas (C). Pada waktu mengeraskan baut pengunci arbor, atur putaran mesin pada kedudukan yang rendah. Cara menentukan kedudukan pisau (1) Gerakkan meja mesin ke arah melintang sampai mendekati kolom mesin. (2) Periksa apakah pemegang benda kerja bebas terhadap arbor atau plen arbor.
(3)

Bersihkan muka kerak (colar) dan dorong sampai rapat ke plen arbor.

Gb. 2.31b Menentukan Kedudukan Pisau

(4)

Periksa secara visual dengan melihat tonjolan bidang terluar kerak dari bidang yang dikerjakan.

Cara memasang pasak pada arbor (1) Periksa kerah terluar dari arbor (2) Pasang pasak pada alur arbor
(3)

Periksa apakah pasak akan menonjol

(4) ke dalam kerah pada tiap sisi pisau. (5) Pasang lagi kerah pada arbor untuk sambil memutar alur
Gb. 2.32 Memasang Pasak

melu-ruskan

kerah ke pasak.

MODUL BAHAN AJAR

Cara arbor: (1)

memasang

pisau

pada

Periksa apakah sisi potong pisau frais menghadap ke arah putaran spindel.

(2) (3)

Dorongkan pisau ke arbor mesin. Putar pisau frais sampai tepat ke lubang pasak.

Gb. 2.33 Memasang Pisau

(4) Doronglah pisau sampai rapat dengan bidang kerah. (5) Lindungi tangan dengan kain pada sisi potong pisau. (6) Jika memasang pisau gergaji, lepaslah pasaknya, agar pisau dapat selip pada waktu mendapat benturan-benturan. Cara memasang lengan mesin : (1) Longgarkan lengan mesin. (2) Dorong lengan mesin keluar, periksa secara visual apakah penonjolan sudah sampai ujung terluar bantalan luncur. mur pengunci

MODUL BAHAN AJAR

(3) Bersihkan bagian-bagian lengan mesin dan penyangga. (4) Periksa kelurusan penyangga dan lengan mesin. (5) Pasang penyangga pada lengan mesin, geserkan sampai bidang luar penyangga rata dengan ujung lengan mesin. (6) Kencangkan (7) Geserkan dalam
Gb. 2.34 Memasang Lengan Mesin

mur

penyangga mesin ke

pada lengan mesin. lengan kedudukan sekrup lengan tengahmesin

tengah bantalan luncur. (8) Kunci dengan kuat. (9)Tempatkan kunci pas pada mur dengan handel mendekati vertikal dan keraskan per-lahan-lahan.
(10)

2.4. Memasang Arbor Tirus Ke Spindel Mesin i. mungkin. (2) Keterangannya harus sama. (3) Usahakan (gunakan) sedikit mungkin sarung pengurang. ii. Cara memasang pisau di arbor Cara memilih arbor : arbor sependek

(1) Gunakan

Gb. 2.35. Memasang arbor tirus ke spindel

MODUL BAHAN AJAR

(1) Bersihkan ketirusan arbor dan batang pisau.
(2)

Luruskan ujung pasak pisau pada di dalam lubang tirus da

alur pelan.
(3)

masukan dengan didorong pelanKetok pisau ke dalam dengan Cara spindel mesin: (1) (2) arbor.
(3)

palu lunak iii. memasang arbor di

Bersihkan kedua ketirusan. Pasang pasak pembawa pada alur Pegang pisau pada kedudukannya dan garah ke atas. Sekrupkan baut batang tepat ke dalam Keraskan baut batang dengan pengunci. Putar spindel pada putaran rendah

berikan tekanan men (4) arbor. (5) (6)

untuk mengecek kedudukan pisau. (11) 2.5. Memasang dan Melepas Pisau Jari 1. (1) cakar (2) Cara memasang

pisau jari : Pasang pisau jari pada (colet) dengan jalan

menyekrupkannya. Masukkan colet yang ada pisau jarinya kedalam mur arbor.

Gb. 2.36. Memasang

MODUL BAHAN AJAR

(3) (4) (5)

Pasang Keraskan

mur mur

arbor arbor

perlahan-lahan sambil diputar. dengan kunci yang baik. Pada waktu mengeraskan mur arbor, putaran mesin disetel pada kecepatan rendah. (6) sudah Yakinkan cukup bahwa keras pisau sebelum

dipergunakan untuk penyayatan.

Cara melepas pisau jari : (1) Atur handel pemilih putaran untuk putaran yang paling rendah. (2) (3) arbor. (4) (5) Buka pisau frais dari cakarnya. Bersihkan pisau dan cakar sebelum disimpan. Lepaskan mur penahan dari arbor dengan kunci khusus. Tarik pisau keluar dengan melepaskan sarung dan cakar dari

Cara

memasang

cakar

(kolet) pada arbor : (1) Pilih cakar yang ukurannya sesuai dengan batang pisau.
Gb. 2.37. Melepas pisau jari

MODUL BAHAN AJAR

(2) Bersihkan (3) Tempatkan ukurannya (4) Bersihkan (5) Tempatkan arbor. batang pisau.

lubang cakar

arbor yang dengan arbor pada

pada bagian luar cakar. sesuai lubang cakar

pada bagian luar cakar.

(6) Sekrupkan mur pada arbor sampai terasa sentuhan ringan mur pada muka cakar.

Cara arbor: (1) (2)

memasang

pisau

pada

Masukkan batang pisau Geserkan batang pisau rapat pada pisau dan bagian pada

ke dalam cakar. kedalam cakar sampai ujung batang (3) belakang arbor. Pegang kedudukannya kuncikan
Gb. 2.38. Memasng pisau pada arbor

mur sekeras mungkin dengan menggunakan kunci khusus.

MODUL BAHAN AJAR

2.6. Memasang Pisau Muka Cara memasang pisau muka pada arbor: (1) Pasang mesin. (2) Lepaskan sekrup pengunci dari arbor. (3) Bersihkan bagian-bagian pisau dan arbor. (4) Geserkan pisau ke spigot arbor dan putar pisau untuk memasukkan pasak pembawa ke alur pisau. arbor pada spindel

Gb. 2.39. Memasang pisau muka

MODUL BAHAN AJAR

(5) Rasakan apakah pasak pembawa telah masuk ke alur pisau dan menjadi satu kesatuan.

Cara mengencangkan pisau pada arbor: (1) Pegang pisau pada kedudukannya dan pasang sekrup pengunci ke dalam arbor, kuncikan dengan tangan. (2) Periksa baik. (3) Pasang kunci sekrup pada alur sekrup pengunci. (4) Berikan tekanan ke atas untuk mempertahankan kunci supaya tidak lepas dari alur sekrup pengunci atau kencangkan penguncinya. (5) Pada waktu mengeraskan pisau frais, atur putaran spindel pada kedudukan terendah. 2.7. Macam-Macam Ragum Mesin Frais dan Pemasangannya Macam-macam ragum mesin frais yaitu: (1) (2)
Gb. 2.40. Ragum mesin

apakah

alur

sekrup

pengunci dan pena pengunci masih

Ragum biasa/tetap Ragum yang dapat Ragum universal

diputar (3)

MODUL BAHAN AJAR

Ragum biasa/tetap digunakan untuk menjepit benda kerja yang bentuknya sederhana. Ragum ini hanya dapat dipasang sejajar atau membuat sudut 90o terhadap spindel.

Ragum yang dapat diputar digunakan benda
Gb. 2.41. Ragum putar

untuk yang sudut

menjepit dapat terhadap

kerja

membuat spindel.

Catok dua

universal sumbu

mempunyai perputaran

sehingga dapat diatur letaknya secara datar dan tegak.

Gb.2.42. Ragum universal

Cara memasang catok biasa:
(1)

Periksalah bahwa catok

itu baik dan bersih.

Gb. 2.43. Memasang catok biasa

MODUL BAHAN AJAR

(2) catok mesin,

Usahakan agar kedudukan di tengah-tengah sehingga meja mendapat

keleluasan bergerak yang sebesar mungkin. (3) baut Luruskan pengikat lubang agar untuk bertepatan

dengan alur-alur meja mesin. Cara mengeraskan catok pada meja: (1) Setelah catok itu lurus, maka masukkanlah baut pengikat ke dalam alur meja dan geser sehingga masuk ke dalam lubang pada catok. (2) Keraskan kedua baut itu dengan hati-hati supaya kedudukan catok tidak berubah lagi

Gb. 2.44. Memasang catok pada mesin

Cara memasang catok dengan membuat sudut: (1) catok (2) (3) (4) Usahakan agar kedudukan tidak mengganggu

kebebasan gerak meja mesin. Atur letak catok sehingga Pasang baut A pada membuat sudut yang diperlukan. lubang catok. Keraskan baut A dengan Baut B yang tidak hati-hati.
Gb. 2.45. Memasang catok dengan sudut

MODUL BAHAN AJAR

bertepatan dengan lubang catok dapat diganjal. dikeraskan pelat dengan yang mempergunakan

Cara menggunakan catok berputar: (1) Bersihkan bagian bawah dari sadel catok itu, kemudian letakkan pada meja mesin sehingga lubanglubang sadel bertepatan dengan alur pada meja mesin. (2) Pasang kedua baut sehingga catok terletak baik di atas meja mesin, kemudian baut dikeraskan. (3) Catok diputar pada angka nol yang
Gb. 2.46. Menggunakan catok berputar

menunjukkan

bahwa

catok

sejajar dengan meja.

Catok disetel membuat sudut: (1) Putar dan longgarkan mur A dan catok di atas sadelnya sehingga membuat sudut yang diperlukan. (2) Keraskan mur A dengan hati-hati secukupnya sambil menjaga agar kedudukan catok tidak berubah lagi.

Gb. 2.47. Penyetelan catok

MODUL BAHAN AJAR

Cara memeriksa kesejajaran catok: (1) (2) (3) (4) Letakkan blok magnit pada Bersihkan paralel yang badan mesin. dipasang pada catok. Kenakan pen penggerak Gerakan meja mesin jarum jam pada sisi paralel. sejalan dengan sisi paralel yang dipasang pada catok. (5) Pukullah catok dengan palu lunak sedikit demi sedikit, bila jarum pada jam penunjuk bergerak. (6) Gerakkan meja mesin berulang kali dan bila dari ujung ke ujung paralel jarum menunjukkan angka yang sama, maka barulah kedua baut dikeraskan dengan hati-hati agar kedudukan catok tidak berubah lagi. (7) Lepaskan blok magnet sebelum memasang benda kerja.

Gb. 2.48. Memeriksa catok

MODUL BAHAN AJAR

2.8. Cara Memasang Benda Kerja Pada Catok Mesin Frais

Cara memasang benda kerja pada catok mesin frais: (1) Pada waktu mengefrais, mulut tetap sedapat mungkin catok yang

diusahakan untuk menahan tekanan dari pisau frais. (2) Gambar-gambar A, B, C, dan D memperlihatkan bagaimana cara-cara memasang (menjepit) benda kerja pada catok mesin frais dengan baik. A. Penjepitan benda belum kerja yang permukaan-nya rata/miring,

perlu diganjal dengan besi bulat. B. Penjepitan benda kerja yang perlu

permukaan-nya

melengkung

diganjal dengan besi bulat. C. Penjepitan benda kerja yang belum rata, juga harus menggunakan ganjal besi bulat. D. Penjepitan benda kerja yang sudah rata dapat langsung pada ragum mesin frais.

MODUL BAHAN AJAR

2.9. Memfrais Balok Siku

1. Menyetel Benda Kerja Pada Ragum a. Pilih pasangan balok jajar yang cukup tinggi, sehingga pisau frais tidak me-nyentuh rahang ragum, tapi ragum cukup kuat menjepit benda kerja. b. Bersihkan rahang ragum. c. Tempatkan sisi terlicin blok pada ra-hang tetap ragum. d. Tempatkan balok jajar kira-kira di
Gb. 2.50. Penyetelan benda kerja

per-tengahan ragum. e. Pasang batang bulat sepanjang rahang dan diameternya kira-kira ¾”, diantara rahang gerak dan balok balok. f. Kencangkan ragum dan ketok benda kerja untuk merapatkan blok terhadap balok jajar. g. Kencangkan ragum sambil mengetok benda kerja. kira-kira di-tengah-tengah

Gb. 2.51. Penatalan

2. Memulai Penatalan a. Tempatkan balok jajar pada rumah ra-gum untuk mengarahkan air pendingin mengalir ke meja.

MODUL BAHAN AJAR

b. Adakan

penatalan

secukupnya

untuk memperoleh bidang yang baik, guna-kan pendingin. c. Bersihkan geram dari ragum. d. Periksa permukaan akhir. 3. Membalikkan Balok Pada Ragum a. Lepaskan balok dari ragum. b. Bersihkan ragum dan balok jajar dan bersihkan geram dari balok. c. Tempatkan sisi balok yang sudah dikerjakan ke rahang tetap ragum. d. Beri ganjal dengan besi bulat pada rahang gerak dan kencangkan seperti di atas tadi. Keselamatan Kerja - Tangan harus hati-hati bila memegang balok. (3) Pasang pelindung mesin sebelum masin dihidupkan. 4. Penatalan bidang kedua Lakukan penatalan/penyayatan bidang kedua sampai selesai. Lakukan pemeriksaan permukaan dengan langkah seperti berikut: a. Bersihkan tatal dan keluarkan balok dari ragum. b. Buang bagian-bagian pinggir yang ta-jam dan bersihkan bidang yang sudah dikerjakan. c. Periksa kedua bidang yang sudah dikerjakan itu dengan siku. 5. Menatal bidang ketiga a. Pasang kembali blok pada ragum, satu sisi yang sudah dikerjakan menghadap kesisi rahang tetap,

Gb. 2.52. Penatalan

MODUL BAHAN AJAR

bidang lainnya yang sudah selesai dikerjakan jajar. b. Selipkan batang bulat dan kencangkan ragum. c. Ketok blok sampai rapat pada kedua balok jajar. d. Adakan penatalan sampai mencapai ukuran blok. menghadap ke balok

6. Menatal bidang keempat a. Bersihkan sisa tatal/geram, lepaskan dari ragum dan bersihkan. b. Bersihkan ragum dan balok jajar. c. Jepit kembali balok pada ragum, sisi keempat menghadap ke pisau. d. Kencangkan ragum, serta ketok benda kerja sehingga rapat ke blok jajar. e. Lakukan penatalan sampai mencapai ukuran akhir. Catatan: Batang bulat tidak digunakan pada penatalan akhir. Apabila menatal bahan seperti pospor, perunggu, dan lain-lain, maka keempat sisinya harus ditatal secara kasar dengan menyisakan pada tiap sisi kira-kira 0,2 mm untuk penatalan akhir.

2.10. Menjepit Benda Kerja dengan Klem

MODUL BAHAN AJAR

Ada beberapa cara penjepitan dengan klem, antara lain: 1. Menggunakan alur meja untuk menahan poros, caranya: a. Bersihkan sudut-sudut atas alur meja. b. Tempatkan poros pada alur meja c. Jepit poros sepanjang alur. 2. Menggunakan a. Tempatkan tengah meja. b. Pasang balok penahan pada alur meja sedekat mungkin pada sisi benda kerja. c. Periksa apakah sisi balok penahan sudah rapat, tidak ada ruang main. d. Dorong benda kerja rapat ke balok penahan dan periksa apakah bidang bawah benda kerja rapat ke meja kerja. e. Jepit benda kerja dengan kuat f. Periksa
Gb. 2.53. Penjepitan dengan klem

alur

meja

untuk di

menyetel benda kerja, caranya: benda kerja

dengan

bilah

ukur,

apakah benda kerja rapat ke balok pena-han. 3. Menggunakan alur meja untuk menyetel kesikuan, caranya: a. Pasang balok penahan serapat mungkin pada alur meja kerja. Yakinkan bahwa balok terpasang dengan baik.

MODUL BAHAN AJAR

b. Adakan penyikuan benda kerja terhadap sisi balok penahan. 2.11. Memfrais Slots dan Key Ways Slots dan key ways adalah alur atau celah pada suatu benda kerja yang mempunyai fungsi atau kegunaan masing-masing. Misalnya slot pada meja mesin frais, mesin skrap yang berupa T slot, berfungsi untuk pengikatan ragum mesin, atau pengekliman dan lain sebagainya dengan pertolongan baut T. Key ways atau alur pasak, juga key seat atau alur pasak yang berbentuk setengah lingkaran, berfungsi untuk menempatkan pasak. Pembuatan slots dan key ways dapat dilakukan dengan bermacammacam cara, tergantung dari ukuran benda kerja dan alat/mesin yang ada. 1. Memfrais slots Cara pemegangan benda kerja dan pemilihan cutter tergantung dari jenis material, ukuran-ukuran benda kerja dan ukuran slot itu sendiri. a. Bermacam-macam cara menjepit atau memegang benda kerja, antara lain: (4) dengan ragum mesin (5) dengan klem (6) dengan V bloks klem (7) dengan pemegang yang spesial (8) dengan kepala pembagi dan kelengkapannya b. Cutter yang digunakan antara lain: (9) slitting saw = pisau frais celah = pisau frais gergaji (10) (11) (12) (13) slotting cutter = pisau frais alur end mills = pisau frais jari side milling cutters = pisau frais sisi dan lain sebagainya.

MODUL BAHAN AJAR

Slitting saw terdapat bermacam-macam bentuknya seperti gambar di bawah ini.

Slitting saw seperti gambar di samping merupakan standard, mempunyai ukuran tebal antara 0,75 s/d 4,5 mm diameter antara 65 s/d 200 mm. Slitting saw tersebut digunakan untuk membuat alur yang dalam dan sempit. Gambar di samping adalah slitting saw dengan sudut slot sudut pada (alur) buang ini waktu yang samping, pemotongan dalam. buang

memudahkan

Gb. 2.54. Slitting saw dan slotting

Gambar di samping adalah slitting saw untuk benda-benda kerja yang lunak.

Gambar di samping adalah screw slotting cutter, mempunyai gigi yang lebih halus dan tebal. Cutter antara 0,15 mm s/d 45 mm.

MODUL BAHAN AJAR

Cutter ini hanya digunakan untuk alur yang dangkal yang tidak lebih dari 1,5 mm. c. Cara memasang cutter Cutter tersebut pada di atas dapat dipasang arbor horizontal

maupun pada head vertikal. Kelurusan putaran dari pada cutter dapat dicek dengan dial indicator
Gb. 2.55. Memasang cutter

seperti

terlihat

pada

gambar

di

samping.

d. Menyetel benda kerja Benda kerja harus distel terhadap cutter Caranya
Gb. 2.56. Menyetel benda kerja

setepat seperti

mungkin pada

sesuai gambar.

dengan ukuran yang ditentukan. Sebaiknya kerja setelah distel dengan maka akan

mistar baja, cutter diputar dan benda disinggungkan, terdapat goresan. Besar goresan ini diukur apakah sudah tepat atau belum. e. Mengukur kedalaman alur Hal ini dapat dilakukan dengan meng-gunakan jangka sorong atau dengan mikrometer kedalaman.

MODUL BAHAN AJAR

Gb. 2.57. Ukur kedalaman alur

2. Membuat alur dengan end mill (pisau frais jari) Cutter biasanya dipasang pada kepala vertikal. Benda kerja dapat dipasang dengan bermacam-macam cara sesuai dengan kondisi benda itu sendiri. Yang perlu diperhatikan adalah bila mengefrais alur yang lebih besar daripada diameter cutter yakni putaran dari cutter harus berlawanan arah dengan arah pemakanan (feeding). Bila membuat alur sebaiknya pakailah pisau frais jari dengan gigi tiga buah atau dua buah karena pisau frais ini mempunyai sebuah gigi yang menjorok ke dalam. Bila menggunakan cutter biasa maka buatlah lubang terlebih dahulu dengan menggunakan bor.

3. Memfrais T slots (alur bentuk T) Untuk mengefrais alur T, mula-mula dibuat alur dengan end mill sesuai dengan ukuran yang dikehendaki,
Gb. 2.58. Mengefrais TSlots

kemudian

alur

T

diselesaikan

dengan menggunakan pisau frais alur T yang khusus. Pisau frais alur T atau Tee-slot cutters, adalah seolah-olah kombinasi antara side milling cutters dan end mills.Tee slot cutter ini tersedia

Gb. 2.59. Mengefrais key

MODUL BAHAN AJAR

dengan diameter berukuran antara 6 mm sampai 40 mm. Cara pemasangan cutter ini sama dengan cara memasang pisau frais. 4. Mengefrais key ways Biasanya key ways (alur pasak) ini terdapat pada poros seperti pada arbor, adapter, poros engkol dsb. a..Cara memasang benda (menjepit) kerja, yakni benda kerja tergantung pada keadaan dengan: - ragum mesin - klem dan U blok di antara dua center pada kepala pembagi

Gb. 2.60. Cara memasang penjepit

MODUL BAHAN AJAR

b. Cara menempatkan cutter tepat di atas garis sumbu benda kerja: - Pasang benda kerja tepat pada T slot. - Klem dengan kuat - Gunakan mistar baja. - Kedudukan b. c. Cutter yang dipakai
Gb.2.61. Penempatan cutter

penyiku cutter

dan harus

se-perti gambar, yakni a =

- plain milling cutter - end mill - woodruff key seat cuter

d..Menyetel

depth

of

cut(kedalaman pemakanan) Kedalaman dari pada alur pasak biasanya diukur pada bagian tepi sedangkan pada
Gb. 2.62. Mengukur depth of cut

waktu

menyetel

(setting)

cutter terhadap benda kerja, pertama cutter dising-gungkan pada benda kerja de-ngan

MODUL BAHAN AJAR

demikian depth of cut dapat dihitung sbb: Depth of cut (T) = t + a a = r - √r² - w² / 4 t = dalamnya alur a = tinggi r = jari-jari poros w = lebar cutter Contoh : Akan difrais alur pasak yang mempunyai lebar 12 mm dan kedalaman 6 mm pada poros dengan diameter 50 mm. Hitung kedalaman pemakanan (depth of cut)! Jawab: a = r - √r² - w²/ 4 = 25 - √25² - 12² / 4 = 25 - √625 – 144 / 4 = 25 - √589 = 25 - 24,27 = 0,73 mm depth of cut (T) = t + a = 6 + 0,73 = 6,73 mm Jadi kedalaman pemakanan = 6,73 mm Setelah semuanya disetel menurut ketentuan, maka prosedur pemotongan adalah seperti biasa dan kerjakan dengan menggunakan cara otomatis. 5. Mengefrais key seat Pada pembuatan ini alur pasak setengah lingkaran (key-seat) digunakan

Gb. 2.63. mengefrais key set

MODUL BAHAN AJAR

wood-ruff key seat cutter yang bentuknya seperti pada gambar. Cutter ini tersedia dengan ukuran: - diameter : 6 s/d 40 mm - tebal : 1,5 s/d 6 mm

Cutter tersebut merupakan cutter cutter lebih bertongkat dengan dari 50 seperti diameter mm tapi yang end mill. Ada juga woodruff

merupakan samping.

cutter

berlubang.Lihat gambar di

Dalam hal ini, cara operasinya sama saja dengan pembuatan alur, baik pemasangan benda kerja maupun pemasangan cutter dan cara settingnya. Yang perlu diperhatikan disini adalah: Karena key seat ini biasanya tidak dimulai dari ujung, maka cara untuk mendapatkan kedalaman yang dikehendaki ialah, cutter langsung melakukan pemakanan, dan ini dilakukan dengan vertikal feed (penggeseran vertikal). Untuk menjaga keselamatan maka process tidak boleh dijalankan secara otomatis. 6. Perawatan cutter Perawatan cutter perlu dilakukan untuk memperpanjang umur cutter baik umur ekonomis maupun umur teknologi. Caranya antara lain:

MODUL BAHAN AJAR

(1)Putaran cutter sesuai dengan ketentuan. (2)Pendinginan harus cukup dan dilakukan dengan menggunakan bahan pendingin yang cocok. (3)Pembersihan harus sempurna, jangan sampai chip ikut tersimpan. (4)Penyimpanan harus baik, cutter dalam keadaan dilumas dengan oli, jangan lembab, dan sisi-sisi potong tidak boleh bertabrakan.

2.12. Slotting Attachment Sloting dipasang attachment pasang pada adalah coloumn perlengkapan pada mesin frais yang mesin, seperti halnya head vertikal. Dengan alat ini, mesin frais dapat berfungsi sebagai mesin tusuk (mesin stick) sehingga kita dapat
Gb.2.64. Slotting attachment

menusuk (membuat) alur terutama alur pasuk (alur dalam) seperti alur pasak pada roda gigi, roda puli dan sejenisnya. Sloting attachment seperti terlihat pada gambar disamping mengubah gerak putar menjadi gerak lurus (naik turun) dengan perantaraan blok geser (blok luncur) seperti pada mesin skrap, hanya saja langkah geser di sini cukup pendek yakni maksimum 100 mm. Langkah geser ini dapat diatur menurut kebutuhan.

Gb. 2.65. Beberapa bentuk pahat slotting

MODUL BAHAN AJAR

Pahat Tool post terletak pada ujung bawah ram, dan inilah yang bergerak naik turun membawa pahat dan melakukan penyayatan. Pahat dipasang langsung pada tool post atau dipasang pada tool holder (pemegang pahat) kemudian tool holder dipasang pada tool post. Bentuk pahat disesuaikan dengan bentuk alur yang akan di buat begitu pula ukuran-ukurannya. Sudut potong, sudut baji dan sudut bebas dibuat sedemikian rupa sesuai dengan pahat yang digunakan dan material yang akan dipotong. Dalam proses pemotongan alur (slotting) ini, kecepatan potong pahat (C s) diambil ±1/3 dari kecepatan potong biasa, karena di sini garis kontak lebih panjang, di samping itu pahatnya kecil. Penjepit Benda Kerja Benda kerja dapat dijepit dengan beberapa cara sesuai dengan kondisi benda kerja itu sendiri. Hal-hal yang perlu diperhatikan pada waktu penjepitan benda kerja antara lain: (1) Cukup kuat. Agar pada waktu proses pegerjaan tidak berubah/bergeser. (2) Lurus. Sumbu benda kerja sejajar dengan coloum mesin (tidak miring) agar slot yang dibentuk tetap lurus. (3) Usahakan ketika pahat mencapai titik mati bawah tidak menabrak pada meja mesin. Setelah penyetelan-penyetelan selesai, maka mulailah pemotongan. Namun, dalam bekerja keselamatan mesin yakni: (4) Lumasilah bagian–bagian yang bergerak/bergeser. (5) Pakailah alat pelindung diri seperti kacamata dan alat pelindung lainnya. harus diingat tentang keselamatan kerja dan

MODUL BAHAN AJAR

(6) Bekerja dengan cermat, teliti, dan hati hati.

Mengukur kedalaman slot Biasanya dalam gambar kerja, dicantumkan ukuran seperti terlihat pada gambar di-samping. mengukur-nya dengan yakni cara diameter Jadi cara sesuai memberi ditambah

ukuran pada gambar kerja kedalaman alur.
36

Gb. 2.66. Ukuran kedalaman slot
100

20

Tugas Kegiatan Belajar 2 1. Buatlah benda kerja seperti pada job sheet berikut!

MODUL BAHAN AJAR

B1 C1 R6,25 Ø10,5 C2

36

B2

20 10

2. Buatlah benda kerja seperti job sheet berikut!

MODUL BAHAN AJAR

3. Buatlah benda kerja seperti job sheet berikut!

MODUL BAHAN AJAR

Tes Formatif Kegiatan Belajar 2 Jawablah soal-soal berikut dengan singkat dan jelas! 1. Sebutkan macam-macam arbor!
2.

Pisau

frais frais

muka jari

dipasang

pada

arbor pada

…….. arbor

……………………………. 3. Pisau dipasang ……………………………………… 4. Jelaskan cara memasang arbor panjang! 5. Jelaskan pula cara memasang pisau frais mantel pada arbornya! 6. Mengapa memasang pisau frais harus sedekat mungkin dengan spindel nose?

MODUL BAHAN AJAR

7. Pada waktu memasang pisau, anda harus menggunakan majun. Apa alasannya? 8. Apa fungsi penyangga arbor? 9. Apa tujuannya memasang benda kerja menggunakan parallel pad? 10. Sebutkan macam-macam ragum yang digunakan pada mesin frais! 11. Kapan anda menggunakan ragum universal?
12.

Apa tujuannya menggunakan dial indicator pada waktu anda memasang ragum? waktu memasang benda kerja yang bagaimana anda

13. Pada

menggunakan alat bantu besi bulat? 14. Palu dari bahan apakah yang biasa dipakai untuk pemasangan benda kerja? 15. Cairan pendingin pada process pemesinan menggunakan campuran cutting oil dan air. Berapa perbandingan campuran antara cutting oil dan air tersebut?

MODUL BAHAN AJAR

Kunci Jawaban Tes Formatif Kegiatan belajar 2 1. Arbor panjang jenis A, jenis B, arbor baut, arbor tirus. 2. Pada arbor baut. 3. Pada arbor tirus. 4. Cara memasang arbor panjang: a. dibersihkan. b. c. pasak spindel nose.
d.

Bagian tirus arbor dan lubang spindel Bagian tirus arbor dipasang pada spindel. Alur pada kerah arbor dipaskan pada Baut penarik arbor dipasang dari belakang spindel dan dikencangkan. e. f. dipasang. Kolar dipasang secukupnya. Penyangga dipasang setelah pisau frais

5. Cara memasang pisau frais mantel: a. b. c. d. e. tersebut. f. penyangga. g. h. kencangkan secukupnya. 6. Agar pisau tidak bergetar pada waktu proses penyayatan. Pasang penyangga arbor. Pasang baut pengencang dan Pasang kolar secukupnya. Pasang kolar Arbor telah terpasang. Pegang pisau frais dengan majun (diameter lubang pisau sesuai dengan diameter arbor) Pasang kolar secukupnya, usahakan agar nantinya pisau bias dekat dengan spindel nose. Masukkan pisau frais ke arbor. Pasang pasak pada pisau dan arbor

MODUL BAHAN AJAR

7. Karena pisau frais itu tajam dan dapat melukai tangan, maka tangan perlu dilindungi dengan majun. 8. Untuk menyangga arbor agar putaran arbor pada process penyayatan stabil dan tidak bergetar. 9. Untuk mendapatkan kedataran dan untuk benda yang kecil agar menonjol di atas ragum. 10. Ragum mesin, ragum putar, ragum universal. 11. Bila benda kerja harus difrais miring menyudut kanan atau kiri dan harus sekali jepit. 12. Untuk mendapatkan kelurusan, kesejajaran dan ketegaklurusan. 13. Benda kerja yang bentuknya tidak simetris atau tidak beraturan. 14. Palu tembaga atau palu plastik. 15. Perbandingannya ialah dari 1 : 20 sampai 1 : 40.

MODUL BAHAN AJAR

3). Kegiatan Belajar 3 : Kepala Pembagi Di dalam mesin frais atau milling machine, selain mengerjakan pekerjaanpekerjaan pengefraisan rata, menyudut, membelok, mengatur dsb, dapat pula mengerjakan benda kerja yang berbidang-bidang atau bersudutsudut. Yang dimaksud benda kerja yang berbidang-bidang ialah benda kerja yang mempunyai beberapa bidang atau sudut atau alur beraturan misalnya segi banyak beraturan, batang beralur, roda gigi, roda gigi cacing, dan sebagainya. Untuk dapat mengerjakan benda-benda kerja tersebut di atas, mesin frais dileng-kapi dengan kepala pembagi dan kelengkapannya. Kepala pembagi ini berfungsi untuk membuat pembagian atau mengerjakan benda kerja yang berbidang-bidang tadi dalam sekali pencekaman. Dalam pelaksanaannya, operasi tersebut di atas ada 4 (empat) cara, yang merupakan tingkatan, yaitu: (7) pembagian langsung (direct indexing) (8) pembagian sederhana (simple indexing) (9) pembagian sudut (angel indexing) (10) pembagian differensial (differential indexing) Keempat cara tersebut memang merupakan tingkatan-tingkatan cara pengerjaan, artinya cara yang kedua lebih sukar dari pada cara yang pertama, demikian pula cara yang ketiga adalah cara yang lebih sukar dari cara yang kedua. Cara keempat adalah cara yang paling sukar dan digunakan apabila ketiga cara yang lainnya tidak dapat dilaksanakan.

MODUL BAHAN AJAR

3.1. Pembagian Langsung Yang dimaksud dengan pembagian langsung ialah cara mengerjakan benda kerja yang berbidang yang sudah pembagiannya dan cara kerjanya (cara membaginya) langsung dilakukan dengan memutar spindel nose. Untuk itu mesin frais dilengkapi dengan langsung. kepala (lihat pembagi gambar).

Kepala pembagi ini mempunyai plat pembagi yang berlubanglubang yang dapat diganti dan di-pasang spindel.
Gb. 2.67 Kepala pembagi

langsung

pada

a. Plat pembagi dengan alur V Plat pembagi ini ada yang beralur 24 ada yang 60 dan mungkin ada yang lain. Untuk plat pembagi beralur 24 dapat dipergunakan untuk pemba-gian : 2, 3, 4, 5, 6, 10, 12, 15, 20, 30 dan 60.

Gb.2.68 Plat pembagi alur V

MODUL BAHAN AJAR

Untuk menempat-kan

mempermudah posisi yang

baru, plat pembagi mempunyai angka jumlah pemba-gian yang dapat dibuat b..Plat pembagi dengan lubanglubang.

Plat pembagi ini mempunyai satu yang lingkaran pula lubang dan nomor terdapat lubang itu. Cara kerjanya sama dengan plat pembagi beralur V, hanya saja fungsi pengunci indeks
Gb.2.69 Plat pembagi berlubang

angka-angka

menyatakan

diganti dengan pen indeks.

Contoh I: Bagaimana cara mengerjakan benda kerja yang mempunyai 6 bidang beraturan (segi 6 beraturan) bila plat pembagi mempunyai alur 24. Jawab: Jumlah alur V pada plat pembagi Jumlah alur = Pembagian yang dibuat 24 Jumlah alur = 6 = 4 alur

MODUL BAHAN AJAR

Jadi untuk mengerjakan setiap bidang, maka spindel mase (benda kerja) diputar sebanyak 4 alur, dan pengunci indeks dimasukkan pada alur kelima bila dihitung dari tempat semula. Atau sebaiknya, pengunci indeks ditempatkan pada angka yang sesuai dengan pembagian yang dikehendaki. Contoh II: Buatlah sebuah batang dengan penampang berbentuk segi tiga beraturan. Plat pembagi dengan lubang 36. Jawab: Jumlah lubang pada plat pembagi Jumlah lubang = Pembagian yang dibuat 36 Jumlah alur = 3 3.2. Pembagian Sederhana Dengan kepala pembagi langsung, jumlah pembagian dan sudut putarnya sangat terbatas. Untuk jumlah pembagian dan sudut putar banyak, digunakan kepala pembagi universal. Kepala pembagi universal Pada kepala pembagi ini, pembagi-an, atau sudut putar spindel dile-watkan melalui roda gigi cacing oleh ulir cacing tunggal. Pada umumnya, ratio roda gigi cacing dan batang ulir cacing ini ialah 1 : 40 = 12 lubang

Gb.2.70 Kepala &

MODUL BAHAN AJAR

Artinya, satu putaran roda gigi cacing memerlukan 40 putaran ulir cacing. Engkol pembagi (Indeks Crank) gunanya untuk memutar batang ulir cacing. Lengan penempat gunanya untuk menempatkan pen indeks. Pada beberapa kepala pembagi, ulir cacing dapat diputar lepas dari roda gigi cacing. Pada posisi ini dipakailah sistem pembagian langsung. Indeksing plate (piring pembagi) ialah sebuah plat baja yang mem-punyai beberapa lingkaran lubang-lubang, pada suatu lingkaran lubang-lubang dalam sama. Fungsi dari indeksing plate ini adalah untuk menempatkan pemutaran/pembagian benda kerja yang diinginkan. Dengan lubang-lubang yang ada pada indeksing plate itulah kita dapat menempatkan pembagian benda kerja sesuai dengan yang kita inginkan, makin banyak lingkaran lubang yang ada, makin banyak pula kemungkinan benda kerja yang kita bagi (kita kerjakan). Pembuatan/pembagian benda kerja yang cukup/dapat dilaksanakan dengan lubang-lubang yang ada, inilah yang disebut pembagian sederhana. Kepala pembagi universal biasanya dilengkapi dengan 3 buah plat pembagi, tetapi ada juga yang hanya mempunyai 2 buah. Jumlah lubang setiap lingkaran harus dipilih untuk pembagian yang mungkin dibuat dalam hubungannya dengan ulir cacing pada kepala pembagi. Contoh beberapa set indercing plate Mesin frais Keping I : : Accera 15; 18; 21; 29; 37; 43

MODUL BAHAN AJAR

Keping II Keping III Mesin frais Keping I Keping II Keping III Mesin frais Keping I Keping II Mesin frais Keping I Keping II

: : : : : : : : :

16; 19; 23; 31; 39; 47 17; 20; 27; 33; 41; 49 Brown & Sharpe 15; 16; 17; 18; 19; 20 21; 23; 27; 29; 31; 33 37; 39; 41; 43; 47; 49 Hero 20; 27; 31; 37; 41; 43; 49; 53. 23; 29; 33; 39; 42; 47; 51; 57.

: Vilh Pedersen : : 30; 41; 43; 48; 51; 57; 69; 81; 91; 99; 117. 38; 42; 47; 49; 53; 59; 77; 87; 93; 111; 119.

Bila diketahui angka pemindahan (ratio = 40 : 1) atau I = 40 : 1, berarti 40 putaran ulir cacing atau putaran engkol pembagi, membuat satu putaran roda gigi cacing atau benda kerja. Untuk T pembagian yang sama dari benda kerja, setiap satu bagian memerlukan: i i:T = T Ulir cacing/engkol pembagi harus diputar sebanyak: 40 nc =
T

ratio =
T

i =
T n putaran c = putaran indeks crank i = angka pemindahan (ratio)

T = pembagian benda kerja Ingat, bila pembagian yang dikehendaki lebih dari 40, ulir cacing diputar kurang dari satu putaran, dan bila pembagian kurang dari 40, ulir cacing diputar lebih dari satu putaran.

MODUL BAHAN AJAR

Kurang dan lebih dari satu putaran ini akan menimbulkan angka pecahan. Maka angka pecahan ini harus diubah hingga penyebutnya merupakan bilangan yang sama dengan salah satu jumlah lubang pada plat indeks. Contoh : Sebuah benda kerja akan dibagi menjadi 16 bagian yang sama. Hitung nc bila i = 40 : 1 Jawab: i nc =
T

40 =
16

8 =2
16

putaran

Jadi engkol pembagi diputar dua indeks putaran di penuh, pen atas lingkaran

lubang yang jumlahnya 16 dan ditambah 8 lubang, untuk setiap bagian benda kerja.
Gb. 2.71 Engkol pembagi

3.3. Lengan Penepat Memasang lengan penepat menurut jumlah lubang yang harus diputar Bila pen indeks telah dimasukkan pada lubang yang dikehendaki, lenganlengan penepat harus dipasang sejarak lubang-lubang yang akan diputar dan searah dengan putaran. (11) Masukkan pen indeks pada salah satu lubang dari lingkaran lubang yang dike-hendaki dan pasang lengan penepat yang kiri sampai menyentuh pen indeks. (12) Hitunglah berikutnya yang jumlah dikehendaki, lubang searah

MODUL BAHAN AJAR

jarum jam dan pasang lengan penepat berikutnya pada lubang tersebut, sehingga lengan-lengan penepat terpasang sejarak lubang yang dikehendaki. Kuatkan lengan-lengan penepat tadi dengan baut. (13) Putar engkol pembagi searah dengan ja-rum jam sampai lubang yang berikutnya yang dikehendaki dengan pen indeks pada lubang yang telah dibatas tadi. (14) Sebelum mengerjakan pengefraisan di mulai, pindahkan lengan penepat untuk mempersiapkan lubang yang berikutnya.

Catatan: Jika putaran ulir cacing/engkol pembagi, lebih atau melewati lubang yang dikehendaki, maka engkol pembagi harus diputar kembali + ½ putaran, baru diputar maju menuju lubang yang dikehendaki. Bila ini tidak dilakukan, maka backlash/spelling dari ulir cacing dan roda gigi cacing akan membuat kesalahan. 3.4. Pembagian Sudut
Gb.2.72 Lengan penepat

Pembagian sudut ialah pembagian benda kerja yang ditentukan oleh sudut dari pusat lingkaran sampai sudut yang dikehendaki, misalnya pada pembuatan celah atau slot pada mesin yang berhubungan satu dengan yang lainnya. Untuk kepala pembagi dengan i = 40 : 1, maka setiap putaran ulir cacing memutar benda kerja 1/40 putaran. 360o atau 1 nc = 60 = 6o

MODUL BAHAN AJAR

Rumus Umum : sudut yang diminta x ratio nc = 1 putaran benda kerja dalam derajat nc = Crank turns = putaran engkol pembagi
o

Nc =

α. i
360

i

=

ratio worm gear (angka α =angle required (sudut yang

pemindahan) dikehendaki) Untuk memperoleh sudut 360o, dengan I = 40 : 1, ulir cacing atau engkol pembagi harus diputar sebanyak. α .i 360o 36o . 40 = 360o = 4 putaran

nc =

Untuk memperoleh sudut 38o, maka : α .i 36o . 40 = 360
o

38 9 =4 9

2 putaran

nc = = o 360 2 nc = 4

4 = 4 4 putaran

Gb. 2.73 Engkol pembagi

9 10 Jadi 4 putaran di tambah 4 lubang pada plat indeks yang berlubang 18. Bila sudut yang diminta dalam derajat dan menit,maka sudut tersebut dijadikan menit semua. Untuk ratio (i) = 40 : I Contoh: nc = α 9o = α (menit) 540’

MODUL BAHAN AJAR

Diketahui: α = 61o . 20’ . Berapa nc ? (61.60’) + 20 ‘ nc = = 540 ‘ α nc = 9o 3080 =6 540 440 =6 540 22 =6 27 22 atau 27 putaran

61 .20o 61 .1/3 184 = = = 9o 9o 9,3

Jadi 6 putaran penuh ditambah 22 lubang pada plat pembagi dengan lubang 27.

3.5. Pembagian Deferensial Cara pembagian diferensial ini dilakukan bila pembagian dengan caracara yang sudah dibicarakan tidak bias dilakukan, sehingga dengan cara ini kita mampu mengerjakan pembagian. Pada cara ini, plat indeks tidak dimatikan pada waktu memutar engkol pembagi. Plat indeks bergerak/ berputar, melalui roda gigi pengganti (koreksi). Gerakan tambahan ini akan dipindahkan dari poros utama melalui roda gigi pengganti dan roda gigi paying atau roda gigi heliks ke plat indeks. Posisi vertikal dan pembuatan spiral (heliks) tidak dapat dilaksanakan dengan cara pembagian diferensial.

Gb.2.74 Plat indeks

MODUL BAHAN AJAR

Metoda pembagian diferensial menggunakan angka pembagi yang dapat dibagi dengan lubang-lubang yang ada pada indeksing plate. Menentukan angka pembagi (T) ini tidak dapat lebih kecil dari 13 % dan tidak lebih besar dari 17 % terhadap pembagian (T) yang dikehendaki. Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam cara pembagian diferensial adalah sebagai berikut: 1. Menentukan angka pembagi (T’). 2. Menghitung putaran engkol pembagi i nc = T’ 3. Menghitung roda gigi pengganti (R). 4. Menentukan arah putaran dari plat indeks. Untuk menghitung/mencari roda gigi pengganti digunakan rumus: i.ik R = T’ i = perhitungan antara gigi cacing dan ulir cacing perbandingan putaran roda gigi paying (T’ – T)

ik =

T’ = angka pembagi (perumpamaan) T = pembagian yang dikehendaki

MODUL BAHAN AJAR

Putaran plat indeks ditentukan oleh hasil perhitungan (T’ – T). Bila T’ > T, maka Bila T’ < T, maka T’ – T berharga positif (+), maka putaran plat indeks T’ – T berharga negatif ( - ), maka putaran engkol searah dengan putaran engkol pembagi. pembagi. Untuk mendapatkan putaran yang berlawanan ini harus ada roda gigi antara sebagai pembalik arah. Alasan apa dan mengapa plat indeks harus ikut berputar. dijelaskan sebagai berikut. Bila engkol makin jauh diputar maka pembagian yang dibuat makin sedikit. Sebaliknya bila engkol diputar dekat, maka pembagian yang dibuat berarti makin banyak. Dengan ikut berputarnya piring pembagi berarti akan menambah atau mengurangi sudut putar engkol pembagi, yang berarti juga akan menambah atau mengurangi pembagian. Contoh: Akan dibuat roda gigi dengan jumlah gigi (T) = 49. Mesin frais diketahui : i = 40 : 1, ik = 1 : 1 Roda gigi yang ada : 24, 28, 32, 36, 40, 44, 48, 56, 64, 72, 86, 100, 127. Plat indeks : 43, 37, 29, 21, 18, 15, 47, 39, 31, 23, 19, 47, 41, 33, 27, 20, 17. Langkah 1: Menentukan angka pembagi (T’). Diambil T’ = 48. Langkah 2: Menghitung putaran engkol pembagi i Nc = T’ = 48 40 = 5 = 6 15 18 Hal ini dapat

Jadi Nc = 15 lubang pada lingkaran dengan lubang 18.

MODUL BAHAN AJAR

Langkah 3: Mencari roda gigi pengganti i.ik R = T 40.1 = 48 Jadi: driver : Z1 = 40 Driver : Z2 = 48 (48 – 49) = 6 -5 = 48 dipasang pada poros yang satu sumbu dengan benda kerja. dipasang pada poros yang satu sumbu dengan roda gigi paying. -40 (T’ – T)

Langkah 4: Menentukan arah putaran plat pembagi Jika T’ < T, maka T’ – T negatif sehingga putaran plat pembagi Jadi antara Z1 dan Z2 berlawanan dengan putaran engkol pembagi.

harus dipasang roda gigi antara untuk membalik arah. Dalam hal ini, jika engkol diputar dan plat tidak berputar maka gigi yang akan terjadi adalah 48 buah. Bila plat indeks berputar berlawanan arah berarti menam-bah sudut putar sebesar 1/48 putaran, sehingga gigi yang akan terjadi ialah 1 48 + 48 X 48 = 48 + 1 = 49 buah.

MODUL BAHAN AJAR

3.6. Pembagian diferensial sudut. Hal ini dilakukan bila dengan cara pembagian sudut biasa tidak dapat . Contoh: Sebuah benda kerja akan dibagi hingga setiap bagian membentuk sudut = 32o . 20’. 360 360 360 360.6 Disini berarti : T = = = = 32o 50 32 5 197 197 6 6 2.160 Jadi T = 197 1960 Diambil T’ = 197 i nc = T’ = 1960 40 = 1960 197.40 = 49 197

197 nc = 4 putaran + 1 lubang pada lubang 49.

MODUL BAHAN AJAR

i nc = T’ i.ik R = T’ =

40 = 1960 197

197.40 = 1960

197 49 1960 = 197 197 197 2160

40.1 = (T’ – T) = 1960

40.197 i = 1960 200 R = 49 64 • 100 28 • 56 = •(

- 200 197 ) =

- 200 49 100 • 28 7

2 • 100 = 7• 7

8

R =

Jadi roda gigi pengganti yang digunakan Z1 = 64 dan 100 Z2 = 28 dan 56 Karena T’ < T maka putaran piring pembagi berlawanan dengan putaran engkol pembagi. Tugas kegiatan belajar 3 Buatlah benda kerja segi delapan seperti job sheet berikut!

MODUL BAHAN AJAR

Tes Formatif Kegiatan Belajar 3 Selesaikanlah soal-soal berikut: 1. Akan dibuat sebuah balok persegi enam beraturan menggunakan mesin frais yang dilengkapi dengan kepala pembagi universal. Kepala pembagi dilengkapi piring pembagi dengan lubang-lubang sebagai berikut :   15, 16, 17, 19, 21, 24, 27, 30, 33, 36 16, 20, 23, 26, 29, 32, 35, 39, 42, 45

Perbandingan antara roda cacing dan batang cacing 1 : 40. Tentukan putaran engkol pembagi untuk setiap bagian segi enam tersebut.

MODUL BAHAN AJAR

2. Akan dibuat roda gigi dengan jumlah gigi T = 49. Mesin frais diketahui: i = 40 : 1 dan ik = 1 : 1 Roda gigi yang ada: 24, 28, 32, 40, 44, 48, 56, 64, 72, 86, 100, 127. Lubang pada pelat indeks: I : 43, 37, 29, 21, 18, 15. II: 47, 39, 31, 23, 19, 17. Tentukan langkah–langkah pengerjaanya! 3. Untuk membuat alur yang membentuk sudut = 36o, dengan i = 40 : 1, maka ulir cacing atau engkol pembagi harus diputar berapa putaran? (lakukan perhitungan) 4. Untuk membuat alur yang membentuk sudut = 38o, dengan i = 40 : 1, maka ulir cacing atau engkol pembagi harus diputar berapa putaran? (lakukan perhitungan) 5. Untuk membuat sudut:  = 61o.20’, maka engkol pembagi harus diputar pada plat indeks, sebanyak berapa putaran? Kunci Jawaban Tes Formatif Kegiatan belajar 3 1. nc = 40 / 6 = 6 2/3. Jadi engkol pembagi diputar 6 putaran ditambah 14 bagian (lubang) pada deretan lubang 21 atau 6 putaran ditambah 18 bagian (lubang) pada deretan lubang 27. 2. Jawab: a. Diambil T’ = 48 b. nc = T’ i = 40 = 5 = 15 48 6 18 Engkol pembagi diputar 15 lubang pada lingkaran dengan lubang 18.

MODUL BAHAN AJAR

c. R = i.ik . (T’- T) = 40 . 1 (48 – 49) T’ = 5 ( -1) = 6 48 -40 48 Driver : Z1 = 40 Driver : Z2 = 48 d. T’ < T T’ – T = ( - ) Putaran engkol pembagi berlawanan arah dengan putaran pelat pembagi, jadi harus dengan roda gigi antara. 3. Untuk membuat alur yang membentuk sudut = 36 o, dengan i = 40 : 1, maka maka ulir cacing atau engkol pembagi harus diputar:  . i = 36 . 40 = 4 putaran 360o 360o 4. Untuk membuat alur yang membentuk sudut = 38 o, dengan i = 40 : 1, maka maka ulir cacing atau engkol pembagi harus diputar: nc =. i = 38 . 40 = 38/9 = 4 2/9 = 4 4/18 putaran 360o 360o 5. Untuk membuat sudut:  = 61o.20’, maka: nc = (61o.60’) + 20’ = 3680 = 6 540’ atau nc =  / 9 = 61o.20’ = 61.1/3o = 184 = 6 22/27 putaran 9 9 9 Jadi engkol pembagi diputar 6 putaran penuh ditambah 22 lubang pada plat indeks dengan lubang 27. 540’ 44/54 = 6 22/27 putaran

MODUL BAHAN AJAR

4. Kegiatan Belajar 4 : Alur Spiral dan Cara Memfraisnya
Gb.2.75. Garis alur

4.1.

Pengertian dan Prinsip Pengefraisan Alur Spiral (Heliks) Helik atau alur spiral ialah sua-tu alur atau garis yang melilit maju pada sebuah poros atau bidang. Bentuk helik ada beberapa ma-cam, antara lain:

Gb. 2.76 Segi tiga heliks

MODUL BAHAN AJAR

1. Helik pada satu bidang seperti pegas arloji. 2. Helik pada conis (tirus) se-perti remer tirus. 3. Helik pada poros silindris seperti end mill- roda gigi helik dsb. Pertama-tama silindris. - Panjang kisar ialah jarak antara dua titik puncak apabila garis spiral melilit satu putaran penuh, diukur sejajar garis sumbu.
-

akan

kita

bicarakan helik pada poros

Sudut helik (sudut spiral = β) ialah sudut yang dibentuk oleh kerja garis sumbu benda

dengan garis spiral (lihat gambar 2.75 & 2.76), sehingga: keliling benda kerja tan β = panjang kisar π.D LW Keliling lingkaran tusuk Panjang kisar = Tangent sudut heliks π.D

tan β =

MODUL BAHAN AJAR

LW = tan β LW =

mm

panjang kisar Untuk alur spiral seperti end mill, D = diameter luar dikurangi depth of cut. Untuk roda gigi helik, D adalah diameter tusuk .

D = diameter tusuk

β = Sudut helik (sudut spiral) sudut helik adalah penyiku sudut kisar. Prinsip pengefraisan helik adalah sebagai berikut: Dalam proses pemotongan, benda kerja bergerak maju sambil berputar, sehingga terjadilah alur yang melilit pada blank. 1..Gerak maju oleh meja mesin frais. 2..Gerak berputar oleh kepala pembagi, gerak ulir meja mesin frais yang dipindahkan oleh roda-roda gigi pemindah (pengganti).

Gb.2.77a. Pengefraisan alur spiral Gb.2.77b. Pemasangan 4.2. Mencari/Menghitung Roda-Roda Gigi Pengganti roda gigi pengganti

Apabila batang ulir meja berputar satu kali, maka meja bergeser sejauh kisar batang ulir (L1). Bila benda kerja berputar satu kali, maka meja mesin (benda kerja) harus bergeser sejauh kisar yang akan dibuat (Lw), agar terjadi heliks yang dimaksud. Untuk ini batang ulir meja harus berputar sebanyak: L2 Putaran L1

MODUL BAHAN AJAR

Dengan kata lain, setiap putaran batang ulir meja mesin, benda kerja membuat putaran: 1 = L2 /L1 L2 Bila kepala pembagi mempunyai = 40 : 1 dan ik = 1 : 1 Maka batang cacing akan berputar sebanyak: L1 x 40 x 1= L2 L2 L2 x i x ik putaran L1

Biasanya: L x i x ik disebut kisar mesin (LM). Jadi LM = L x i x ik mm Roda-roda gigi pengganti dapat kita cari dengan rumus sebagai berikut : Driver Driven DR = DN LW Driver dipasang pada batang ulir meja mesin, sedangkan driven dipasang pada poros roda gigi payung. Contoh: 1 Akan dipotong alur spiral dengan D = 80 mm, sudut heliks (β) = 16. Kisar batang ulir meja L, = 10 mm, sedangkan angka pemindahan batang cacing dan roda cacing i =40, ik =1:1 Tentukan roda-roda gigi pengganti. LM

Penyelesaian: driver = driven LM = LW πD tan β DR 10.40.1 4.40.1 LW 3,14.80 = tan 16o 400 16 = 0,287 3,14.80 = 875 mm

L1 = 10 mm ------- LM = 10.40.1 = 400 L2 = LW =

MODUL BAHAN AJAR

= DN DR = DN 7.5 875 4.4 =

= 875 32 . 56

= 35 80 100

Jadi Driver = 32 dan 80 Driven = 56 dan 100 Contoh 2: Hitung roda-roda gigi pengganti untuk membuat alur spiral (end mill), dengan diameter rata-rata 50 mm, sudut spiral 10o. Meja mesin mempunyai batang ulir meja dengan kisar 6 mm, kepala pembagi dengan Z = 40. Jawab. LW = π.D tan β = 880 mm LM = L. 40 = 6 x 40 = 240 mm DN = DR LM LW = 880 = 240 88 24 3,14.50 = tan 10o 3,14.50 = 0,176 155 = 0,176

Bila roda gigi pengganti yang tersedia adalah: 24 (2), 28, 32, 36, 40, 44, 48, 56, 64, 72, 86, 100 Maka roda-roda gigi pengganti dapat dicari: DN 88 44 x 2 44 56 = = = : DR 24 24 x 1 24 28 Jadi: Driven = 44 dan 56 Driver = 24 dan 28

Dalam praktek:roda gigi 24 dipasang pada batang ulir meja mesin roda gigi 44 dikopel satu as dengan roda gigi 28 roda gigi 56 dipasang pada poros roda gigi payung

MODUL BAHAN AJAR

Gb. 2.78. Pemasangan roda gigi pengganti

4.3. Pemasangan Roda Gigi a. Pemindahan tunggal (single gear train) Roda gigi penggerak (driver – driving gear) diikatkan (dipasang dengan pasak) pada batang ulir meja mesin.

MODUL BAHAN AJAR

Roda gigi yang digerakkan (driven) dipasang pada auxiliary spindel (poros roda gigi payung). Karena kedua poros dimana roda gigi tersebut diatas dipasang, mempunyai jarak yang tertentu, maka kedua roda gigi ini belum tentu dapat berhubungan. Untuk ini perlu ada roda gigi perantara (idler gear) yang dipasang pada quadrant (gunting). b. Pemindahan majemuk (compound gear trains) Pemindahan majemuk seperti : DR 1 . DN 1 DN 2 Roda gigi penggerak pertama (first driver = DR 1) dipasang pada batang ulir meja. Roda gigi yang digerakkan terakhir (DN 2) dipasang pada auxiliary spindel (poros roda gigi payung). Roda gigi penggerak kedua (second driving gear) dan roda gigi yang digerakkan pertama (first driven) dipasang satu as dan dikopel agar dapat berputar bersama-sama. As tersebut dipasang pada quadrant (gunting). Roda gigi perantara (idler) mungkin diperlukan atau mungkin tidak. Perlu diingat bahwa roda gigi perantara tidak menentukan/mempengaruhi perbandingan (ratio). DR 2

MODUL BAHAN AJAR

Gb. 2.79a. Pemasangan roda gigi single train

Gb.2.80b. Compound train

c. Roda gigi perantara (idler gear) Fungsi: 1. Sebagai penghubung 2. Sebagai pembalik arah putaran Bila pengefraisan menggunakan rangkaian tunggal: Driver = Driven DN Untuk heliks/spiral miring ke kanan, tidak digunakan roda gigi antara atau menggunakan roda gigi perantara genap. Untuk heliks (spiral) miring ke kiri, digunakan sebuah roda gigi antara atau dengan perantara ganjil. Bila menggunakan rangkaian majemuk: Driver = Driven DR 1 . DN 1 DR 2 DN 2 DR

Dalam hal ini, bila digunakan roda gigi perantara (idler gear), hasilnya adalah kebalikan dari rangkaian tunggal. Catatan:

MODUL BAHAN AJAR

Aturan penggunaan roda gigi perantara tersebut berlaku untuk mesin/kepala pembagi pada umumnya. Sedang kepala pembagi sering mempunyai variasi yang berbedabeda sehingga kita tidak memerlukan idler gear walaupun dalam keadaan biasa kita gunakan. 4.4. Mengatur Kemiringan Meja Mesin Untuk mendapatkan sudut/kemiringan alur spiral, maka meja mesin harus dimiringkan terhadap garis sumbunya. Cara memiringkan: Bila benda kerja yang dibuat mempunyai sudut heliks (sudut spiral) miring ke kanan, maka berdirilah berhadapan dengan mesin, tekan (dorong) meja mesin dengan tangan kanan hingga kedudukan meja meeting sesuai dengan sudut heliksnya. Bila benda kerja mempunyai sudut spiral miring ke kiri, maka berdirilah ber-hadapan dengan mesin, tekan (dorong) meja mesin dengan tangan kiri hingga kedudukan meja miring sesuai dengan sudut heliksnya. Jadi derajat kemiringan meja sama dengan derajat sudut heliks.

Gb. 2.81 Pengaturan kemiringan meja mesin

4.5. Pemilihan Cutter Cutter yang digunakan dalam pengefraisan heliks, tergantung pada bentuk alur yang akan dibuat. Lihat gambar berikut.

MODUL BAHAN AJAR

Gb. 2.82 Pemilihan cutter

Pisau frais mantel (plain cutter) dan single angle cutter Lihat gambar di bawah :

Gb. 2.83 Beberapa pisau frais

4.6 Penyetelan Cutter Untuk menyetel cutter-cutter end mill, side and face mill, pisau frais bentuk ataupun, gear cutter, kita cukup menepatkan garis senter cutter dengan

MODUL BAHAN AJAR

garis senter (sumbu) benda kerja (lihat hand out sin ). Untuk menyetel double angle cutter yang kebanyakan digunakan untuk mengefrais alur heliks, kita harus hati-hati untuk mendapatkan sudut potong dan sudut total yang baik. a. Menyetel cutter untuk mendapatkan sudut total yang netral. Double angle cutter yang digunakan kebanyakan mempunyai sudut 48 o s/d 12o. Untuk ini penyetelannya ialah sebagai berikut: 1. Siapkan permukaan ujung blank untuk digambari (terpasang pada kepala pembagi) dan dilabur. 2. Setel high gauge setinggi senter kepala pembagi. 3. Goreskan garis horisontal, garis no. 1 (gambar a).

Gb. 2.84 Penyetelan cutter

4. Kemudian putar engkol pembagi untuk mendapatkan jarak satu gigi, kemudian goreskan garis no. 2 (gambar b). 5. Untuk alur spiral kanan (RH heliks), gunakan cutter kiri (LH-Cutter) Putarlah benda kerja dengan engkol pembagi hingga garis no. 2 membentuk sudut 78o dengan garis horisontal (90o - 12o = 78o). Lihat gambar c. Untuk alur spiral kiri (LH heliks), gunakan cutter kanan (RH heliks).

MODUL BAHAN AJAR

Putar kembali garis no. 1 hingga kedudukan menjadi seperti semula (horizontal), kemudian putar hingga mencapai sudut 90 + 12o = 102o.

Lihat gambar d. 6. Geserlah meja hingga ujung benda kerja di bawah cutter dan segaris dengan sumbu vertikal cutter (lihat gambar).

Gb. 2.85 Penyetelan cutter

7. Putarlah cutter (hidupkan mesin) dan naikkan meja (benda kerja), hingga cutter menyinggung benda kerja. Ingat posisi pada no. 6 ialah tetap. Catatan: a. Selama penyetelan ini roda-roda gigi pengganti dalam keadaan lepas, tidak dihubungkan satu sama lain. b. terkunci, mengapa demikian ? c. Meja telah disetel kemiringannya sesuai dengan sudut heliks. Plat indeks

MODUL BAHAN AJAR

8. Hubungkan

roda-roda

gigi

pengganti

dan

lepaskan

pengunci plat indeks. 9. Lakukan proses pemotongan. b. Menyetel cutter untuk mendapatkan sudut total positif atau negatif Untuk mendapatkan sudut total positif atau negatif, pada waktu mengefrais alur heliks dengan double angle cutter (misalnya kita membuat pisau frais jari), kita harus meng-offset (memindahkan) bidang sudut cutter yang kecil kedepan atau kebelakang garis radial (garis menuju pusat). Besar penggeseran (pengofsetan) adalah : radius benda kerja dinaikkan dengan sinus sudut total yang dikehendaki. OC = R x sin γ Contoh: Hitung besar ofset cutter untuk mendapatkan sudut total (γ) = 5o positif pada diameter blank 80 mm Jawab: OC = R. sin γ = 40. 20,287 = 3,5 mm 1. Menyetel cutter untuk mendapatkan sudut total positif i. Labur permukaan ujung blank. ii. Atur surface gauge/high gauge setinggi senter kepala pembagi. iii. Goreskan garis horizontal/garis pendek (gambar : a).

Gb. 2.86 Penyetelan cutter untuk sudut +

MODUL BAHAN AJAR

iv. Turunkan penggores sebesar offset (3,5 mm, pada contoh di atas) kemudian goreskan untuk (gambar b.). v. Putar engkol pembagi hingga mendapat satu gigi dan gores hingga mendapat garis no. 2 (gambar c).
vi.

mendapat garis no. 1

Untuk alur kanan, putar kembali garis No. 1 hingga horizontal, kemudian putar hingga membentuk sudut 102o dengan garis horizontal.

vii.Setelah selesai penyetelan seperti tersebut di atas, posisi cutter seperti step 6 s/d 9 bagian A. 2. Menyetel cutter untuk mendapatkan sudut tatal negatif caranya sama dengan prosedur di atas, yaitu hanya menggoreskan garis no. 1 di atas garis pendek (lihat gambar).

Gb. 2.87 Penyetelan cutter untuk sudut

4.7 Pelaksanaan Pengefraisan Alur Setelah persiapan dan penyetelan seperti tersebut pada bagian-bagian terdahulu, barulah kita mulai pemotongan. 1. Atur putaran mesin (cutter) sesuai dengan cutting speed (Cs) dan ma-terial yang dipotong. Ambil sedikit lebih rendah untuk menjaga keawetan. 2. Atur feeding (kecepatan pemakanan) sesuai dengan perhitungan.

MODUL BAHAN AJAR

Ambil pemakanan tiap gigi antara; 0,05 – 0,08 mm, kemudian hitung kecepatan pemakanan. F = f.n.Z mm/ menit F = kecepatan pemakanan f = kecepatan pemakanan tiap gigi n = putaran cutter Z = jumlah gigi cutter 3. Kuncilah bagian-bagian yang perlu dikunci. Potonglah alur ke 1 kemudian keraskan stopper (mur/baut pembatas) setelah sampai pada kepanjangan yang dikehendaki. 4. Potonglah alur ke 1 kemudian keraskan stopper (mur /baut pembatas) setelah sampai pada kepanjangan yang dikehendaki. 5. Matikan putaran cutter, turunkan meja, baru kembalikan ke posisi semula. Hal ini dilakukan agar alur yang baru saja dibuat tidak rusak ketabrak cutter ketika ditarik kembali, karena adanya backlash pada roda gigi. Catatan: Tandai pada skala, agar pada waktu akan menaikkan meja tidak mendapat kesulitan. 6. Putar engkol pembagi untuk pemotongan gigi yang kedua. Naikkan lagi meja sedemikian rupa, sehingga kedalaman pemakanan tercapai. 7. Lakukan hal tersebut di atas hingga selesai.

MODUL BAHAN AJAR

Tes Formatif Kegiatan Belajar 4 Selesaikanlah soal-soal berikut : 1. Hitung roda – roda gigi pengganti untuk membuat alur spiral dengan diameter rata – rata 50 mm, sudut spiral = 10 dengan i : 40. 2. Akan dipotong alur heliks: D = 80 mm  = 16o L1 = 10 mm 2 = 40 : 1 ik = 1 : 1
o

. Meja mesin

mempunyai batang ulir meja dengan kisa 6 mm kepala pembagi

Tentukan roda-roda gigi pengganti ! Kunci Jawaban Tes Formatif Kegiatan belajar 4 1. Jawab: Lw = .D tan = 880 mm Lm = Li.i.ik = 6.40.1 = 240 DN = Lw = 880 = 88 DR LM 240 24 Bila roda gigi pengganti ada : 24, 24, 28, 32, 36, 40, 44, 48, 56, 64, 72, 86, 100. Maka roda gigi pengganti dapat dicari: DN = DR 24 88 = 44.2 = 24.1 44 . 24 56 28 = 3,14.50 = 155 tan 10o 0,176o

Driver = 44 dan 56 Driven = 24 dan 28

MODUL BAHAN AJAR

24

Batang ulir meja mesin

44

28
Poros pada gunting (Quadran )

Poros roda gigi payung ( Kepala pembagi)

56

2. Penyelesaian : LM = L1.i.ik = 10.40.1 = 400 LW = L2 = 3,14.D = 3,14.80 = 3,14.80 tanβ tan 16 .8 8 0,287

DR = 2.8 = 2 = 20 . 8 DN 5.7 7 20 7 DR = 40 . 64 DN 100 56 Driver = 32 dan 80 Driven = 56 dan 100

Driver dipasang pada batang ulir meja. Driven dipasang pada kepala pembagi.

MODUL BAHAN AJAR

5. Kegiatan Belajar 5 : Roda Gigi dan Pengefraisan Roda Gigi
Pada hakekatnya, profil-profil gigi dapat dibentuk dengan bermacam3macam cara, antara lain : Dipotong - milling (15) (16) (17) (18) (19) shaping planning hobbing Dicetak - dituang kemudian disempurnakan dengan

pemotongan Diroll - semacam proses kartel (knuerling).

Pengerjaan akhir (finishing) dapat dilakukan dengan digerinda, lapping, bila dikehendaki. Cara-cara tersebut digunakan atau dipilih sesuai dengan faktor-faktor yang ada. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut: (20) (21) (22) (23) (24) (25) (26) tipe mesin yang tersedia kemampuan skill yang ada pada operator ketelitian yang dikehendaki kekuatan roda gigi yang dikehendaki jumlah roda gigi yang dikehendaki kecepatan produksi yang dikehendaki biaya/harga

Di sini hanya akan dibicarakan tentang pengefraisan roda gigi lurus (milling of spur gear).

MODUL BAHAN AJAR

5.1 Penentuan Besaran-Besaran Roda Gigi Roda gigi dibuat berdasarkan dimensi dan parameter-parameter yang distandarkan. Penentuan besaran dan parameter tersebut dilakukan menurut beberapa sistem yakni: (27) (28) (29) Sistem modul. Sistem diametral pitch. Sistem circular pitch.

a. Sistem modul (M) Sistem ini digunakan untuk satuan metris dan untuk satuan modul (mm) yang biasanya tidak ditentukan. Modul adalah perbandingan antara diameter jarak antara dengan jumlah gigi. D Jadi M = Z b. Sistem diametral pitch dan circular pitch Sistem ini digunakan hampir semua roda gigi dengan satuan inchi. Diametral pitch (DP) ialah perbandingan antara banyaknya gigi dengan diameter jarak antara dalam inchi. D" Jadi M = Z D" = DP Z mm

- Circular pitch (CP) ialah panjang busur lingkaran jarak antara pada dua buah gigi yang berdekatan dalam satuan inchi. CP . D" Jadi M = Z inchi

MODUL BAHAN AJAR

D" Bila : Z = M" CP = π . M" inchi

Persamaan dimetral pitch dengan module CP : π . D" Z Z sedang D" DP

Z π. CP : Z DP CP π DP π DP

π . M" =

1 Maka : M" = DP sama. c. Istilah-istilah pada roda gigi 1. atau

25,4 M = DP

Catatan: Gigi yang berbeda sistem besarannya tidak dapat bekerja

Pitch circle = lingkaran tusuk = lingkaran jarak

antara : ialah merupakan garis lingkaran bayangan yang harus bertemu/ber- singgungan untuk sepasang roda gigi. 2. tusuk Pitch diameter : diameter jarak antara : diameter

MODUL BAHAN AJAR

3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Circular pitch = tusuk : panjang busur lingkaran jarak Addendum = tinggi kepala gigi. Dedendum = tinggi kaki gigi. Clearance : kelonggaran antara tinggi kaki gigi dengan Backlash : perbedaan antara lebar gigi yang saling Sudut tekan : sudut antara garis singgung jarak antara Garis tekan : garis yang dihasilkan dari hubungan

antara pada dua gigi yang berdekatan.

tinggi kepala gigi yang saling menangkap. menangkap pada lingkaran jarak antara. dengan garis tekan. titik-titik tekan dan melalui titik singgung lingkaran jarak antara, dua roda gigi.

Gb. 2.88. Istilah pada roda gigi

MODUL BAHAN AJAR

MODUL BAHAN AJAR

d. Untuk mencari ukuran-ukuran roda gigi sistem module
NAMA SIMBO L a = D1 + D2 = Z Circular pitch Diameter jarak antara Diameter puncak/kepala Diameter alas/kaki Tinggi gigi seluruhnya Tinggi kepala gigi/addendum Tinggi kaki/addendum Banyak gigi Modul Tebal gigi Sudut tekan CP = r.M D = Z.M Da = D + 2.M Df = D – (2,2 : 2,6) M h = Da – Df = ha + hf ha = hf = Z = Z I.M (1,1 : 1,3).M D M D Z (6 : 8).M automotif (8 : 12).M penggerak umum 20o evolvente Z1 Z2 Z RUMUS

Jarak sumbu antara roda gigi

M (Z1 + Z2)

M = b =

α = i =

Perbandingan transmisi

MODUL BAHAN AJAR

e. Untuk mencari ukuran roda gigi sistem diametral pitch NAMA Diametral pitch diukur pada lingkaran tusuk Addendum Add = ha = P Deddendum Ded = hf = Whole depth Clearence Tebal gigi pada lingkaran tusuk Diameter lingkaran tusuk Diameter lingkaran luar D= Diameter lingkaran alas P Z+2 Da = P Z - 20,5 Df = P WD=H= P 0,25 C1 = P 1,5706 th = P Z P 2,25 1,25 π D.P = P = CP 1 RUMUS

5.2 Gears Cutters (Pisau Frais Roda Gigi) Pisau frais roda gigi dibuat dari bahan baja carbon (carbon steel) atau baja kecepatan potong tinggi (high speed steel = H.S.S). Ada dua tipe cutter, yaitu: a. Tipe plain Bentuknya sedemikian rupa sehingga hasil pemotongannya membentuk profil gigi.

MODUL BAHAN AJAR

Cutter tipe ini dipergunakan untuk pemotongan, pengasaran, maupun untuk penyelesaian (finishing) roda gigi dengan profil gigi kecil (modul kecil). b. Tipe stocking Gigi pemotongannya mempunyai alur yang selang-seling (lihat gambar). Clip (tatal) akan terbuang sebagian dari mulai alur-alur. Karena alurnya berselang-seling maka pada benda kerja tidak akan terjadi garis-garis. Cutter tipe ini digunakan untuk pengefraisan, pengasaran, dan untuk roda gigi dengan profil gigi besar. (M : 20 : 12). Untuk finishing digunakan cutter tipe plain.

Gb. 2.89. Pisau frais roda gigi

Hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain: 1. Meja harus benar-benar sejajar dengan column dan sedekat mungkin dengan column. 2. Dividing head dan tailstock dipasang ditengah-tengah meja, dan garis senter harus sejajar column.

MODUL BAHAN AJAR

3. Pasang benda kerja (bahan) dengan mandrel yang cocok dan dengan pembawa yang baik, di antara dan senter dan dichuk kelurusan dan kesikuannya. 4. Setel engkol pembagi dan masukkan pen indeks pada lubang yang dikehendaki. cermat. 5. Pemasangan cutter pada arbor harus benar cutter tidak boleh goyang (oleng) sebab bila demikian roda gigi yang dipotong hasilnya menjadi tidak baik yakni giginya menjadi kecil. 6. Cutter harus tepat pada pertengahan benda kerja atau di atas garis senter. 7. Putaran mesin (cutter) harus sesuai dengan ketentuan, demikian pula feedingnya. 5.3. Beberapa Cara Menyetel Cutter Berapa cara menyetel cutter agar benar-benar tepat di atas garis senter. a. Menggunakan siku dan inside caliper (30) (31) (32) Letakkan siku pada meja dan singgungkan pada benda kerja. Ukur tebal cutter. Jarak antara siku dengan bagi-an cutter yang paling tebal Ini dapat diukur dengan inside caliper. D = diameter benda kerja. (33) (34)
Gb. 2.90 Menggunakan siku dan inside caliper (35)

Pemutaran engkol pembagi harus dilakukan dengan

adalah ½ D s/d ½ tebal cutter.

Siku dapat pula di singgungkan pada mandrel.

b. Dengan cara spotting the work

MODUL BAHAN AJAR

(36)

Putarlah mesin, perkiraan cutter di atas benda kerja.

Gb.2.91. Penyetelan dg spotting the work

(37) Taruh selembar kertas pada benda kerja, naikkan meja hingga cutter menyinggung kertas tersebut dan setel nomor vertikal pada angka nol. (38) Naikkan meja kira-kira 0,1 mm, hingga cutter me-nyinggung benda kerja. Gerakkan meja dengan cross feed screw secara balok-balik hingga cutter akan menggores benda kerja dan membentuk oval spot. (39) Oval spot itu menyatakan bahwa di tempat itulah posisi cutter yang benar.

MODUL BAHAN AJAR

5.4. Pemasangan Benda Kerja Harus diingat bahwa dalam

proses pemotongan roda gigi, benda kerja telah dibubut dahulu sesuai mesin dengan frais, ukuran-ukuran kita tinggal yang dikehendaki. Jadi dalam memotong profil gigi saja. Cara pemasangan benda kerja ini ada bermacam-macam sesuai dengan besar kecilnya bahan, antara lain yaitu: a..Pemasangan benda kerja dengan mandrel.
Gb. 2.92. Pemasangan benda kerja dg mandrel

Ini biasa dilakukan untuk roda gigi yang jari-jarinya tidak melebihi tinggi senter.

Mandrel sedikit tirus, benda kerja dipasang pada mandrel dengan pres fitch, kemudian dipasang di antara dua senter kepala pembagi dengan diperkuat oleh pembawa (lead dog). b. Pemasangan dengan kepala pembagi vertikal Ini dilakukan untuk roda gigi yang sangat besar (lebar). Benda kerja dipasang pada mandrel dengan cara dibaut. Untuk
Gb. 2.94. Pemasangan dg kepala pembagi diputarvertikal

yang

diputar

cara

ini

diperlukan Cara

pendukung (steady rest) pada waktu pengefraisan.

MODUL BAHAN AJAR

pemakanan vertikal feed. c.

menggunakan

.Pemasangan circular putar) attachment

dengan (meja

Pada cara ini benda kerja lebih tegak dan stabil serta tidak steadyrest. pembagiannya
Gb. 2.95. Pemasangan dg circular attacment

memerlukan Cara

menggunakan putaran meja.

Pisau frais digunakan untuk pemotongan roda gigi menurut sistem diametral pitch. Untuk inipun, setiap ukuran gigi juga mempunyai 8 buah cutter (satu set). Misalnya untuk roda gigi dengan ukuran 10P, cutter terdiri dari 8 nomor.

No. Untuk gigi

1 135 – gigi rack

2 55– 134

3 35– 54

4 26– 34

5 21– 25

6

7

8

17–20 14–16 12–13

5.4. Perawatan Cutter : Perawatan ini dimaksudkan untuk memperpanjang umur ekonomi maupun umur teknologi dari pada cutter. Cara-caranya antara lain adalah sebagai berikut: 1. Memasang cutter dengan cara-cara yang benar, yakni menggunakan pasak dan sebagainya.

MODUL BAHAN AJAR

2. Memberikan putaran dan feeding (pemakanan) sesuai dengan ketentuan. Hal ini supaya digunakan tabel berikut. TABEL 2.2 Cutting Speed
Material Cutting speed [m/minute] ??? ???? 18 – 20 10 – 12 40 – 50 25 – 40 20 – 30 50 – 80

Cast iron Mild steel Bross

Feed untuk H S S dalam m/menit
Diametral pitch (P) Metric modul (M) Cost iron Mild steel 2 2½ 3 4 6 80 35 80 35 100 50 110 60 5 5 6 4 125 75 150 100 7 8 3 150 110 10 2,5 175 100 12 2 200 125 16 1,5 225 150

62

3. Pendinginan yang cukup, yang cocok dengan bahan. Besi tuang tidak didinginkan dengan cairan pendingin. 4. Pembersihan cutter yang sempurna. 5. Penyimpanan cutter dengan baik, yaitu cutter diberi minyak lumas dan sisi-sisi potong jangan sampai bertabrakan. Cutter dibuat untuk setiap ukuran, yakni untuk diametral pitch maupun un-tuk sistem modul. Setiap ukuran terdiri dari satu set yang mempunyai 8 buah cutter atau 15 buah. Tiap nomor cutter hanya dipakai untuk memotong roda gigi dengan jumlah gigi tertentu. Hal ini dibuat, mengingat bahwa roda gigi dengan jumlah gigi sedikit, profil giginya akan sedikit berbeda dengan profil gigi dari roda gigi dengan jumlah gigi banyak.

Satu set cutter modul dengan 8 nomor

MODUL BAHAN AJAR

No. Cutter Untuk gigi

1 12–13

2 14–16

3 17–20

4 21–25

5 26–34

6 35–54

7 55–134

8 135 rack

Satu set cutter modul dengan 15 nomor
No. Cutter Untuk gigi 1 1½ 2 2½ 1516 3 17 18 3 ½ 19 20 4 21 22 4½ 2325 5 26 29 5½ 3034 6 35 41 6½ 4254 7 55 80 7 ½ 80 13 4 8 135 rac k

12

13

1 4

Cutter yang lebih besar dari modul 10 biasanya terdiri dari 14 buah untuk tiap setnya dan tidak diberi nomor dengan angka akan tetapi dengan huruf.
No. Cutter Untuk gigi A 12 B 13 C 14 D 15 16 E 17 18 F 19 20 G 21 24 H 25 28 I 29 33 K 34 41 L 4252 M 5380 N 8113 4 O 135 rac k

Modul-modul yang biasa dipakai dalam pembuatan roda gigi antara lain: 0,5 2,5 5 11 - 0,75 - 2,75 - 5,5 12 1 -3 6 13 - 1,25 3,25 6,5 14 1,5 3,5 7 15 1,75 3,75 8 16 -2 4 9 18 2,25 4,5 10 20

MODUL BAHAN AJAR

1.5

Prosedur Pemotongan

Prosedur pemotongan adalah sebagai berikut: 1. Setelah yakin benar bahwa posisi cutter di tengah-tengah benda kerja, geserlah meja longitudinal, naikkan meja setinggi depth of cut, yakni sebesar tinggi gigi = addendum + dedendum dan mulailah pemakanan. 2. Putarlah engkol pembagi satu putaran penuh untuk menghilangkan backlash. 3. Putarlah mesin, sentuhkan benda kerja pada cutter hingga terjadi goresan dan jauhkan kembali. 4. Putarlah engkol pembagi untuk mendapatkan satu gigi, kemudian sentuhkan lagi benda kerja pada cutter hingga terjadi goresan. Lakukan hal ini hingga benda kerja tergores sejumlah gigi yang dikehendaki. Hal ini dilakukan untuk menghindari kesalahan. Bila ternyata jumlah goresan tidak sesuai yang berarti salah, namun benda kerja belum terlanjur rusak, maka benda kerja tersebut masih dapat dibetulkan. 5. Potonglah hingga selesai satu gigi, ukurlah tebal gigi gear tooth vernier. Bila ternyata ada kekurangan, aturlah kembali depth of cut. 6. Potonglah hingga selesai secara otomatis. Catatan: Matikan mesin (putaran cutter) dihentikan bila akan menarik kembali benda kerja. Hal ini dilakukan agar cutter tidak merusak permukaan gigi yang baru saja dipotong.

MODUL BAHAN AJAR

5.6. Mengefrais Gigi Rack Rack adalah suatu batang bergerigi yang berguna untuk memindahkan gerak putar menjadi gerak lurus, biasanya pada kecepatan yang lambat atau kecepatan putaran tangan. Gerak putar dari engkol menggerakkan roda gigi pinion, dan roda gigi pinion menggerakkan batang bergerigi. ini terdapat, misalnya pada mesin bor, press dsb. ????????Kal induk a. Ukuran gigi rack Standard ukuran gigi rack sama dengan standard ukuran roda gigi karena rack selalu bekerjasama dengan roda gigi pusat
Gb. 2.96. Mengefrais gig rack

gigi, dengan dua

atau radius gigi

dapat tak yang

dikatakan rack adalah roda terhingga. Disini jarak antara berdekatan pada garis tusuk aksial sama dengan axial pitch (Pz). Bila tusuk pada roda gigi pinion (Pt) = transverse pitch maka Pz= Pt=Z.m. Contoh: Berapa besar radial pitch (Pz) bila rack dengan modul (m) = 3 Jawab: Pz = Pt = π.Z.m = 3,142.3 = 9,426 mm Dengan mengetahui axial pitch (Pz) ini, kita dapat memfrais gigi rack.

MODUL BAHAN AJAR

b..Mengefrais batang bergerigi yang pendek. Bila batang bergerigi lebih pendek daripada pergeseran meja dapat melintang dipasang (cross (dijepit) digunakan slide ), maka benda kerja dengan ragum mesin. Untuk pembagianya skala pada cross slide dan apabila menghendaki lebih
Gb. 2.97. Mengefrais batang bergerigi yg pendek

teliti lagi dapat digunakan dial indicator. c..Mengefrais batang

bergerigi yang panjang. Bila batang bergerigi lebih panjang benda kerja daripada dipasang pergeseran melintang, maka memanjang sepanjang meja frais dan dilklem. Pisau frais dipasang pada rack milling attacment. Disini pembagiannya dengan pergeseran
Gb. 2.98. Mengefrais batang bergerigi yg panjang

dilakukan menggunakan memanjang

(longitudinal slide).

MODUL BAHAN AJAR

d. Rack index attachment Di meja samping mesin kita untuk menggunakan pergeseran

pembagian batang bergerig, pada mesin frais tertentu dilengkapi dengan alat pembagi khusus. Alat ini terdiri dari satu set roda
Gb. 2.99. Rack index attacment

gigi,

plat

pembagi

(indeksing plate) pen indeks dan penyokong (pemegang). Alat ini dipasang pada ujung meja.

e. Prosedur pemotongan (40) Pilihlah cutter yang sesuai dengan ukuran gigi yang dikehendaki. Untuk sistem modul, ambil cutter no. 8 dan utuk sistem diametral pitch ambil no. 1. (41) (42) (43) (44) Pasanglah cutter dengan posisi yang benar. Pasang/jepit benda kerja pada kedudukan yang benar dan Tandai benda kerja dengan dengan penggores di mana Tepatkan cutter pada garis tersebut dan singgungkan cutter

chek kesejajarannya dengan menggunakan dial indikator. pengefraisan akan dimulai. pada benda kerja, kemudian tepatkan skala longitudinal slide pada angka/skala nol bila rack panjang dan setel skala nol pada cross slide bila rack pendek. (45) Jauhkan benda kerja dari cutter dengan memakai handel yang belum disetel.

MODUL BAHAN AJAR

(46) (47) (48)

Naikkan meja setinggi depth of cut dari pada gigi kemudian Mulailah pemotongan hingga mendapat satu gigi atau dua alur Bila sudah benar lanjutkan hingga selesai.

kuncilah pergeseran meja ke arah atas. dan ceklah tebal gigi dengan gear tooth wernier.

5.7. Roda Gigi Helik dan Cara Mengefraisnya

1. Roda gigi helik ialah roda gigi yang profil giginya dipotong (dibuat) mem-bentuk sudut dengan sumbu aksial roda gigi. Sudut itu disebut sudut helik. 2. Penggunaan: a. Memindahkan putaran/gaya dari poros yang sejajar a. Memindahkan gaya/beban yang berat Contoh: - Gear box mobil - Roda gigi penggerak katup-katup pada mesin motor - Roda gigi pengganti kecepatan tinggi dan beban berat pada mesin-mesin perkakas. c. Memindahkan putaran/gaya dari dua poros yang membentuk sudut tetapi terletak pada dua bidang yang sejajar. Sudut yang terbentuk tergantung dan sudut heliks masing-masing roda gigi, misalnya sudut heliks pertama 60 kekanan dan sudut heliks kedua 20 kekiri, maka sudut poros 60 – 20 = 40 Contoh penggunaannya antara lain pada roda gigi pengatur saat pengapian (ignition timing gears).

3. Keuntungan heliks gear dibanding dengan spur gear (roda gigi lurus) ialah: a. Heliks gears dapat bekerja pada kecepatan tinggi.

MODUL BAHAN AJAR

b. Heliks gears lebih tenang dari pada spur gear. b. Jarak senter (sumbu) heliks gear dapat bervariasi, karena tergantung pada sudut heliks. d. Heliks gear relatif lebih kuat dari pada spur gears dari ukuran yang sama. 4. Kerugian yang dimiliki pleh heliks gear ialah: a. Heliks gears lebih mahal dari pada spur gears karena biaya produksinya lebih besar. b. Heliks gears memberikan gaya aksial (mendorong) pada bantalan.

5. Double heliks gears : Sebuah roda gigi heliks disebut sebagai double heliks gears apabila mempunyai dua arah kemiringan gigi yang berlawanan satu sama lain.

Penggunaan double heliks gears antara lain untuk: a. Pemindahan putaran pada poros parallel. b. Pemindahan benda yang berat dan memiliki beban kejut.
Gb. 2.100 . Roda helic dobel

c. Pemindahan benda kecepatan tinggi.

pada

Contoh aplikasi double heliks gears antara lain: - Roda gigi reduksi turbin pada kapal dan generator. - Roda gigi penggerak rol pada steel mills.

MODUL BAHAN AJAR

6. Pengukuran roda gigi heliks: Rumus-rumus pada roda gigi lurus berlaku juga pada roda gigi heliks, hanya saja ada beberapa perubahan dan istilah-istilah baru. a. Kisar (lead) atau panjang kisar ialah jarak antara dua titik pun-cak apabila garis spiral itu me-lilit satu putaran, diukur sejajar garis sumbu (aksial).Dari gambar terlihat bahwa: π.D LW = Tan.β b. Sudut heliks (sudut spiral) ialah sudut antara sumbu aksial roda gigi dengan garis spiral (β).

c. Sudut kisar (lead engel) ialah sudut antara garis spiral dengan garis yang tegak lurus sumbu aksial. Sudut kisar merupakan komplemen dari sudut spiral. d. Normal pitch (NP) ialah jarak antara dua gigi yang berdekatan yang diukur tegak lurus garis kemiringan gigi. e. Transverse pitch (TP) ialah jarak antara dua gigi yang ber-dekatan, diukur pada garis lingkaran tusuk (pitch circle). Dari gambar, dapat kita ketahui bahwa: NP NP

Gb. 2.101. Grafik rumus roda gigi helix

MODUL BAHAN AJAR

Cos β = TP atau TP Secant β = 1 Secant = Cos β NP

TP = Cos β

TP = NB secant β

Dalam mengukur jarak antara gigi, kita selalu mengukur garis tegak lurus kemiringan gigi. Jadi selalu normal pitch (NP). Tetapi untuk menentukan ukuran roda gigi kita menggunakan jarak antara gigi yang diukur pada pitch circle (lingkaran tusuk), sehinga rumusnya menjadi: NP = π . M π .M TP =

cos β Keliling lingkaran tusuk = π . D Juga keliling lingkaran tusuk = Z . TP. Maka : D = Z . TP D = Z. π.M cos β Z.M cos β Kemudian ukuran lain dicari seperti pada spur gears sistem modul. Untuk sistem diametral pitch (DP): NP Cos β = TP NP = π DP TP = Cos β π TP = DP . Cos β NP D = π mm Rumus untuk sistem sudut

MODUL BAHAN AJAR

Keliling lingkaran tusuk = π D Juga keliling lingkaran tusuk

πD =

Z.π Z . TP = DP Cos β Z.π DP Cos β Z π Jadi: D = DP.Cos β inch

Ukuran-ukuran yang lain seperti addendum, dedendum, tinggi gigi dan sebagainya dicari seperti pada roda gigi lurus sistem diameter pitch. 7. Pemilihan Cutter Menurut rumus di atas, ternyata untuk roda gigi heliks dengan jumlah gigi yang sama dan satuan yang sama (modul atau diametral pitch yang sama) mempunyai diameter lingkaran tusuk (pitch diameter) lebih besar. Profil gigi adalah lengkung evolvente, sedang bentuk lengkung evolvente sesuai dengan besar kecilnya lingkaran dasar. Bila lingkaran tusuk berubah, lingkaran dasar juga berubah, sehingga evolvente juga berubah. Setiap nomer dari tiap set cutter menunjukkan/memberikan profil yang berbeda sesuai dengan uraian di atas, maka cutter untuk memotong roda gigi heliks untuk jumlah gigi yang sama dengan roda gigi lurus memerlukan nomer cutter yang berbeda. Rumus di bawah inilah yang digunakan untuk mencari cutter yang sesuai.

MODUL BAHAN AJAR

Z Ze = Cos3 β Z. = Jumlah gigi yang akan dipotong Ze = Jumlah gigi equivalent untuk memilih cutter

7. Menentukan roda gigi pengganti: Untuk ini dipakai juga rumus-rumus yang berlaku pada heliks Driver DR LM = = Driven DN LW atau dibalik : Driven DN LW = = Driver DR LW 9. Contoh soal: Roda gigi heliks, modul 4 mempunyai gigi Z = 15 buah dengan sudut heliks 24o kiri. Buatlah perhitungan-perhitungan pokok untuk memotong roda gigi tersebut - Diameter tusuk (Pitch diameter) Z.M D = Cos β 15 . 4 = Cos 24 15 . 4 = 0,9135 D = 65,68 mm - Diameter lingkaran puncak (Tip diamater) Untuk ini diambil addendum = 1.M.

MODUL BAHAN AJAR

Da = D + 2 . M = 65,68 + 2.4 = 73,68 mm - Kisar benda kerja (lead to be cut) π.D LW = tan β 3,142 . 65,68 = 0,445 = 463,74 mm - Kisar mesin Batang ulir meja mesin : 6 mm i = 40 : 1 dan ik = 1 : 1 LM = 6 . 40 = 240 mm - Roda gigi pengganti: Driven gear Lead of work = Driver gear Lead of machine DN LW = DR LM 436,74 = 240 43674 = 24 000 7729 = 4000 Untuk mencari roda gigi pengganti digunakan cara continued fraction. 4000 7729  1 4000 3729 4000  1 3729 271 3729  13 3523 206  271 1

MODUL BAHAN AJAR

206 65 206  3 195 11  5 10 11  1 10 1 10 10 0 1 0 1 1 1 0 1 1 2 1 13 27 14 1 29 15 3 114 59 5 589 310 1 713 369 10 772 9 400 0

55

Kita ambil perbandingan : DN = DR = (7 . 4) x (2 . 16) 36 x 48 = 28 x 32 DN 1 . DN 2 Jadi: = DR 1 . DR 2 28 x 32 36 x 48 14 27 = 7x2 (9 . 4) x (3 . 16) 9x3

27 Bila kita menggunakan roda gigi pengganti dengan ratio maka LW 14 yang terjadi: Contoh:

MODUL BAHAN AJAR

LW = LM LW =

27 14 27. 240 = 462,86 14

terdapat kesalahan = 463,74 - 462,86 = 0,88 mm 0,88 Kesalahan ini kira-kira = 463,74 = 0,0019

Batas kesalahan maksimum adalah 0,0020 Jadilah hal tersebut diperbolehkan. Memilih Cutter z Ze = Cos3 β 15 = Cos3 24o 15 = (0,913)3 = 19,7 ≈ 20 gigi Jadi kita memilih cutter seakan-akan kita akan memotong roda gigi lurus dengan jumlah gigi 20 buah. Jadi kita pilih cutter Modul M4, no. 3. - Menentukan kedalaman pemakanan (depth of cut) Disini kita ambil tinggi gigi 2,25.M jadi Depth of cut = 2,25. M = 2,25 4 = 9 mm i 40 - Menentukan putaran engkol pembagi : Nc = = Z 15 2 - Engkol pembagi diputar 2 putaran lebih = 3

2 =2 3

MODUL BAHAN AJAR

10. Langkah kerja a. Siapkan alat-alat yang diperlukan, periksa keadaan mesin dan minyaki bagian-bagian yang perlu. b. Benda kerja (blank) dipasang pada mandrel dengan pengepresan, kemudian pasang diantara dua senter. Periksa kelurusan/ketegaklurusannya. c. Memasang roda gigi pengganti

Pasang roda gigi pengganti seperti gambar. Penggunaan perantara roda (idler gigi gear)

tergantung pada arah heliks (spiral) dan tergantung jenis mesin.

Gb.2.102. Pemasangan roda gigi pengganti

Setelah dipasang, Lakukan beberapa hal berikut: - Periksa bahwa plat indeks dalam keadaan terlepas. - Periksa putaran benda kerja dan pergeseran meja, sudah sesuai dengan yang dikehendaki ataukah belum. - Periksa kisar (lead) yang terjadi dengan cara memutar benda kerja (blank) satu putaran (dengan perantaraan memutar

MODUL BAHAN AJAR

engkol pembagi), tandai dengan kapur atau yang lain, berapa mm perpin-dahan meja. Inilah kisar yang akan terjadi. d. Menyetel cutter Menyetel cutter dapat di atas garis senter benda kerja dengan cara se-perti mengefrais spur gear. sebelum meja dimiringkan. e. Mengatur meja mesin Miringkan meja mesin sesuai dengan sudut heliks yang dikehendaki. Untuk heliks kanan, dorong ujung meja sebelah kanan dengan tangan kanan. Untuk heliks kiri, dorong ujung meja sebelah kiri dengan tangan kiri f. Menyetel depth of cut Gunakan kertas tipis, tempelkan di atas benda kerja, putar cutter, naikkan meja, singgungkan cutter hingga kertas tergeser. Putar skala handel pada angka nol. Geser benda kerja longitudinal, naikkan meja setinggi whole depth (misal: 2,25 x M). g. Proses pemotongan Atur putaran materialnya. Atur kecepatan pemakanan (feeding), dengan pemakanan tiap gigi cutter tiap putaran diambil lebih kurang 0,02 mm. Setel pengatur stop otomatis. Lakukan pemotongan dengan hati-hati. Bila tiap selesai satu kali pemotongan dan akan kembali, maka mati-kan putaran cutter turunkan benda kerja, untuk menghindari cutter menabrak alur yang baru saja dipotong. Hal ini terjadi karena adanya backlash pada roda-roda gigi. cutter sesuai dengan diameter cutter dan Penyetelan cutter ini dilakukan

MODUL BAHAN AJAR

-

Demikianlah seterusnya.

5. 8. Mengefrais Heliks Rack Process pengefraisan batang bergerigi heliks sama saja dengan process pengefraisan batang bergerigi lurus (spur rack gear). Hanya saja ada sedikit beberapa perubahan, antaralain: 1. Pemasangan benda kerja Benda kerja diatur (dimiringkan) sesuai dengan sudut heliks. gambar di samping. Lihat

Gb. 2.103. Pengefraisan heliks rack

2. Pemilihan Cutter Cutter yang digunakan sama dengan cutter yang digunakan pada pemo-tongan spur reach gear. Yakni No. 8 atau No. 15 untuk sistem modul dan No. 1 untuk sistem diameter pitch. Depth of cut disetel sesuai dengan tinggi gigi. 3. Pembagian gigi. Pembagian dibuat oleh crossslide untuk heliks rack pendek

Gb. 2.104. Pembagian gigi

MODUL BAHAN AJAR

dan dengan longitudinal slide untuk heliks rack panjang. Yang harus diperhatikan ialah pemindahannya normal pitch (NP). sebesar

Sistem Modul: NP = π . M mm π Sistem diametral Pitch: Contoh: Hitunglah penggeseran cross – slide untuk memotong heliks rack dengan sudut heliks 24, dan dengan modul 4. Jawab: NP = π . M mm = 3,1416.4 = 12,566 mm Jadi penggeseran cross-slide untuk tiap kali pemotongan ialah: 12,566 mm 4. Pemotongan gigi a. Pasang benda kerja dengan kemiringan sebasar sudut heliks. b. Stel cutter untuk mendapatkan whole depth. c. Potong alur gigi yang pertama. d. Geser meja dengan menggunakan scala pada cross – slide atau dengan yang kedua. e. Teruskan dengan cara yang sama. menggunakan dial indikator, untuk memotong alur gigi NP = DP inch

MODUL BAHAN AJAR

5). Tugas kegiatan Belajar 5 Buatlah roda gigi seperti job sheet berikut!

MODUL BAHAN AJAR

Tes Formatif Kegiatan Belajar 5 Selesaikanlah soal-soal berikut! 1. Apakah fungsi roda gigi di dalam suatu mesin? 2. Sebutkan macam-macam cara untuk membuat roda gigi! 3. Untuk menyelesaikan sejumlah gigi dalam pembuatan roda gigi pada mesin frais diperlukan alat bantu ………………………………………………………………. 4. Besaran gigi yang menggunakan satuan ukuran mm disebut sistem ………………….sedangkan yang menggunakan satuan inci disebut sistem ……………………………………………… 5. Ditinjau dari konstruksinya, pisau frais dibedakan menjadi dua tipe yaitu:  Tipe  Tipe …………………………………..untuk …………………………………..untuk …………………………………………. ………………………………………… 6. Apakah yang dimaksud dengan gigi rack? 7. Akan dibuat roda gigi dengan sistem modul M 2 dengan jumlah gigi 32, menggunakan mesin frais dengan angka pemindahan 40:1 yang dilengkapi kepala pembagi dengan lubang-lubang piring pembagi sebagai berikut:   Keping I : 20, 27, 31, 37, 41, 43, 49, 53. Keping II: 23, 29, 33, 39, 42, 47, 51, 57

Tentukan ukuran roda gigi dan cara indeksing-nya serta cutter yang digunakan.

MODUL BAHAN AJAR

8. Seperti soal No: 7, tetapi roda gigi yang akan dibuat adalah sistem diametral pitch DP 20, dan jumlah gigi 24. Ketentuan lain seperti soal No. 7. Tentukan ukuran roda gigi dan cara indeksing-nya serta cutter yang digunakan.

Kunci Jawaban Tes Formatif Kegiatan Belajar 5 1. Roda gigi berfungsi sebagai pemindah tenaga. 2. Macam-macam cara membuat roda gigi: a. Denagan pemesinan b. Dengan pengecoran c. Dengan pengerolan 3. Kepala pembagi. 4. sistem modul dan sistem diametral pitch/circular pitch 5. Tipe pisau pemotong gigi: a. Tipe plain untuk pemotongan, pengasaran, dan finishing gigi-gigi kecil. b. Tipe stocking untuk pengasaran dan untuk gigi yang relatif besar. 6. Gigi rack ialah gigi-gigi pada batang tetapi gigi-giginya tersebut merupakan profil gigi. 7. Jawab Ukuran roda gigi: D = Z . M = 32.2 = 64 mm Da = D + 2M = 64 + 4 = 68 mm H = 2,16 . M = 2,16 . 2 = 4,32 mm Df = Da – 2 . H = 68 – 8,64 = 59,36 mm Tebal roda (b) = 10 . M = 20 mm ( b = 8 . M - 12 . M ) Putaran engkol pembagi : Nc = 40 / 32 = 1 ¼ put. Jadi engkol pembagi diputar 1 putaran ditambah 5 bagian. Pada deretan lubang 20. Cutter yang digunakan ialah cutter modul 2 No: 5.

MODUL BAHAN AJAR

8. Jawab: D = Z / P = 24 / 20 = 1 1/5 inc Da = Z + 2 = 1 3/10 inc. P H = 2,25 / P = 2,25 / 20 = 0,1125 inc Putaran engkol pembagi Nc = 40/24 = 1 2/3 put. Jadi engkol pembagi diputar satu putaran ditambah 18 bagian. Pada deretan lubang 27. Cutter yang digunakan ialah cutter DP 20, No. 5.

MODUL BAHAN AJAR

6. Kegiatan Belajar 6 : Memotong Roda Gigi dengan “Generating Process”
6.1. Pengertian Pada masa modern ini, hampir semua pembuatan roda gigi dilaksanakan dengan cara generating process, karena dengan cara ini hasilnya lebih tepat, cepat, teliti dan murah. Prinsip dari mesin perkakas pembuat roda gigi duplicating, copying dan generating. a. Duplicating Roda gigi yang dihasilkan merupakan duplikat dari pisau frais roda gigi pe-motong. Jadi untuk setiap jenis/ukuran roda gigi harus ada pisau sebagai pemotongnya. Cara ini lambat, tidak ekonomis dan kurang teliti, dan biasa digunakan untuk pekerjaan repairing. b. Copying Cara ini biasa digunakan untuk membuat roda gigi payung (bevel gears) yang besar. c. Generating Profil gigi terbentuk dengan cara memutar gear blank sambil menggerakkan cutter (gerak lurus). Gerakan cutter inilah yang melakukan pemotongan. Jadi generating process ialah pemotongan gigi secara bekelanjutan, artinya dari start hingga jadi roda gigi, pemotongan berjalan kontinyu. Keuntungan cara ini ialah: - Hanya sebuah cutter yang digunakan untuk memotong bermacammacam ukuran roda gigi. - Karena ketelitian/kepresisian yang dihasilkan, cocok untuk putaran tinggi. - Pembagian (indeksing) otomatis.

MODUL BAHAN AJAR

- Biaya produksi lebih murah. Di dalam kegiatan belajar 6 ini akan dibahas: I. Generating process II. Tipe dari mesin Hobing III. Hobing spur gears (roda gigi lurus). 6.2. Cara Generating Process Ada tiga macam cara pemotongan roda gigi dengan generating process: 1. Rack cutter process Cutter Bentuk cutter seperti rack gear. lihat gambar 2.105 Cara kerja :
Gb. 2.105 Rack cutter

a. Cutter bergerak naik turun (panah a), gerak turun b. Cutter adalah naik gerak sambil pema-kanan. bergeser sedikit (panah

b), demikian pula blank berputar (panah c). c. Pergeseran
Gb. 2.106 Process pemotongan gigi

cutter itu

terbatas,

setelah

kembali lagi (panah d).

MODUL BAHAN AJAR

Dengan demikian berlangsung sedikit-demi sedikit hingga akhirnya kedalaman pemakanan (whole depth) tercapai.

Gb. 2.107a. Process pemotongan gigi

Gb. 2.107b. Gerakan dan benda kerja

Keuntungan dari cara ini antara lain adalah: a. Sederhana b. Cukup teliti c. Alat potong (cutter) murah, karena cutter dapat digerinda setiap kali tumpul. Dapat digunakan untuk memotong roda gigi dengan jumlah gigi yang bermacam-macam dan juga dapat untuk memotong gigi heliks.

MODUL BAHAN AJAR

2. Pinion cutter process. Cutter Bentuk cutter seperti pada gambar 6.4. Profil gigi pemotongnya mengecil
Gb. 2.108 Cutter pinion

di

bagian

belakang untuk memberi sudut bebas. Cara kerja: a. Cutter naik panah adalah pemakanan, blank berhenti. turun c) bergerak (arah seperti gerak jadi

slotting. Gerak turun

b. Pada waktu gerak
Gb. 2.109 Process pemotongan dengan gerakan cutter dan blank

naik, cutter berputar satu gigi (panah B), demikian pula blank juga ber-putar satu gigi (panah A).

c. Pada langkah naik, cutter sedikit menjauh supaya tidak mendobrak benda kerja, untuk ini cutter dilengkapi clapper box.

MODUL BAHAN AJAR

Gb. 2.110 Gerak pemakanan pinion cutter membentuk involut

Demikianlah gerakan pinion cutter dan benda kerja (blank roda gigi) berlangsung berulang-ulang hingga selesai. Keuntungan dari cara ini antara lain adalah: a. (linier). b. dalam. c. Untuk memotong gigi heliks diperlukan cutter dengan heliks yang ber-lawanan. Dapat untuk memotong gigi luar maupun Lebih sederhana, karena cutter bergeser

3. Hobbing process Cutter Bentuk seper-ti cacing, untuk cutter ulir yang adalah ulir dipotong untuk atau

ulirannya

membentuk sisi po-tong.

MODUL BAHAN AJAR

Ada
Gb. 2.111 Hobbing cutter (potongan)

yang

mempunyai

ulir tunggal (single start) atau majemuk (multiple starts). Sudut kisar ditentukan pula. Cara kerja: a. Hobbing cutter memberikan jalan seperti umumnya. b. Benda kerja juga berputar tetapi diatur sedemikian sehingga
Gb.2.112 Hobbing cutter

aksi berpu-tar, cutter pada

pemotong-an dengan

rupa terjadi bentuk

pemotongan gigi.

Hal ini diatur oleh roda gigi pengganti di dalam indexing gear bor. c. Hobbing cutter berputar kontinyu dan memberikan feeding ke bawah (searah dengan poros roda gigi yang dibuat) dan diatur, sesuai dengan kebutuhan. d. Poros hobbing cutter dimiringkan sedemikian rupa sesuai dengan kebutuhan. Kemiringan tergantung:   Sudut kisar hobbing Sudut kisar roda gigi yang akan dibuat

MODUL BAHAN AJAR

Gb. 2.113 Gerakan hobbing cutter terhadap blank roda gigi

Keuntungan dari cara ini adalah: a. Pemotongan berlangsung terus-menerus, tidak ada waktu yang hilang seperti waktu naik pada rack cutter process dan pinion cutter process. b. Dapat digunakan dalam pemotongan roda gigi lurus, heliks, roda cacing, cacing, dan lain-lain lagi seperti sprockets dan splints. c. Panas yang timbul cukup merata. 6.3. Tipe Mesin Hobbing Ada dua tipe mesin hobbing, yaitu: a. Tipe vertikal b. Tipe horizontal Tiap-tiap tipe ini mempunyai jenis yaitu:  Plain machine  Universal machine

MODUL BAHAN AJAR

Apabila gerak pemakanan searah atau menuju sumbu benda kerja, maka mesin tersebut dikatakan sebagai plain mesin. Disebut universal mesin, bila dapat digunakan untuk memotong spur gear, worm wheel dan sebagainya dengan arah pemakanan universal. a. Mesin hobbing tipe vertikal Mesin ini mempunyai head cutter (pemegang pisau frais) dengan gerak feding (pemakanan) vertikal, demikian pula sumbu benda kerjanya juga vertikal. Bagian-bagian utamanya ialah: - Head cutter (pemegang cutter) - Meja (work table) - Kotak roda gigi pengganti Lihat gambar berikut ini:

Gb. 2.114. Mesin hobbing vertikal

-

Head cutter dipasang pada column mesin, dapat bergerak vertikal secara otomatis. Kedudukan cutter (porosnya) dapat diatur menurut sudut yang diperlukan, demikian juga dapat digeser horizontal untuk memudahkan penyetelan terhadap benda kerja.

-

Meja kerja dipasang pada bed horizontal dan dapat digerakkan maju mundur untuk penyetelan depth of cut.

MODUL BAHAN AJAR

Arbor benda kerja mempunyai beberapa ukuran, dapat berputar (di-putar otomatis oleh roda gigi pengganti) dan didukung oleh bantalan (penyangga). Penyangga ini dipasang pada column, sehingga dapat diatur pula kedudukannya. Indeks change gear box Kotak roda gigi ini berisi roda gigi yang berfungsi untuk mengatur putaran benda kerja dan putaran cutter sedemikian rupa hingga terjadi pembagian yang tepat. Dengan demikian akan ada perbandingan antara penggerak cutter dan penggerak benda kerja. Prinsipnya, bila benda kerja (blank roda gigi) bergerak satu gigi (satu tusuk), maka hobbing cutter juga berputar satu tusuk (satu axial pitch). Untuk hobbing ulir tunggal, satu putaran berarti satu tusuk (satu aksial pitch). Dalam hal ini setiap mesin mempunyai angka pemindahan (machine constant) yang berbeda-beda. Ada yang 15 : 1; 20 : 1 dan 24 : 1. Machine constant 20 : 1 artinya, apabila cutter berputar 20 putaran, benda kerja berputar 1 putaran. yang dapat dicari dengan rumus: DR = DN Jumlah gigi yang dipotong Machine constant x jumlah jalan hobbing Supaya pembuatan (pembagian) gigi dapat tepat, diperlukan roda-roda gigi pengganti

C x S NP = Z

MODUL BAHAN AJAR

b. Mesin hobbing tipe horizontal Perbedaan tipe ini dengan tipe vertikal terletak pada kedudukan kepala pemegang pisau hobbing (cutter head) dan arbor benda kerja. Disini sumbu cutter head dan sumbu arbor benda kerja terletak pada posisi horizontal. Gerak pemakanan (feding) juga horizontal.

Gb. 2.115. Mesin hobbing horizontal

6.4. Memotong Roda Gigi Lurus dengan Mesin Hobbing 1. Menyetel hobbing cutter Pilih dulu cutter yang sesuai (cocok) dengan roda gigi yang akan dibuat. Misalnya sudut tekan, standard dan sebagainya. a. Cutter dimiringkan sesuai (sebesar) sudut kisar (head angel) dan searah dengan arah putaran alur hobbing. Lihat gambar berikut ini.

Gb. 2.116 Penyetelan hobbing cutter menurut sudut tekan

MODUL BAHAN AJAR

b. Menyetel hobbing agar setiap garis sumbu gigi hobbing tegak lurus pada benda kerja.

Gb. 2.117. Penyetelan hobbing cutter standar

2. Mempersiapkan dan memasang benda kerja (blank). a. Untuk menentukan ukuran-ukuran blank, gunakan rumus yang dari sin 3. b. Membuat blank harus teliti, termasuk membuat lubang. Bila tidak teliti kemungkinan blank akan berputar eksentrik sehingga hasil roda gigi pun akan tidak simetris. Apa akibatnya jika/bila gigi tidak simetris? c. Pemasangan blank (blanks) pada arbor harus seteliti mungkin. Bila blank terlalu lebar maka harus diberi penyangga (lihat gambar). d.Sebelum proses dimulai, coba dulu putarannya.

MODUL BAHAN AJAR

3. Roda gigi pengganti Contoh: Hitung roda gigi pengganti untuk membuat roda gigi Z = 20 buah gigi.
Gb. 2.118a. Pemasangan bakalan roda gigi

Constant mesin C = 24 : 1 dan
Gb. 2.118b. Menyangga blank yang besar

hobbing dengan single start ( S = 1 ). 24 x 1 = 20 atau 48 20 atau 96 24

Jawab: DR = DN

C x S = z DR = 24 atau 80

Jadi 40

DN = 20

atau

Roda gigi perantara perlu dipasang apabila diperlukan.
Single Compound

Gb. 2.119. Pemasangan roda gigi perantara bila diperlukan

MODUL BAHAN AJAR

Process pemotongan a. Metoda pemakanan Ada dua cara yakni: 1. Normal atau pemakanan berlawanan arah 2. Climb atau searah b. Untuk metoda yang kedua ini, dilakukan bila mesin dilengkapi dengan alat pengatur pemakuan searah. Keuntungan climb metode yaitu: 1. Hasil akhir lebih baik 2. Cutter lebih awet
3. Gaya penetrasi lebih kecil

Gb.2.120a. Metode normal

Gb.2.120b. Metode climb

Kecepatan putaran dan kecepatan pemakuan - Kecepatan putaran hobbing seperti halnya cutter-cutter yang lain. Jadi juga dihitung dengan rumus berikut: 1000 . Cs n = π.D putaran/menit

MODUL BAHAN AJAR

- Putaran benda kerja (blank) Putaran ini secara otomatis sesuai dengan yang dibutuhkan karena kita sudah mengatur roda gigi pengganti. Putaran hobbing x jumlah jalan Putaran blank = jumlah gigi yang akan dipotong

nh x S nb = Z

put/menit nb = putaran blank nh = putaran hobbing S = jumlah jalan Z = jumlah gigi

- Kecepatan pemakanan (feeding) Kecepatan pemakanan tergantung pada bahan cutter dan material yang dipotong. Tabel di bawah ini dapat memberikan petunjuk. TABEL 2.3 Kecepatan Pemakanan Feed dalam : mm/put benda kerja Roughing 1,20 1,20 1,00 2,00 2,00 Finishing 1,00 1,00 0,60 1,20 1,20

Mild steels Tough steels Alloy steels Cast Iron Bronne

MODUL BAHAN AJAR

Untuk mendapatkan ketelitian yang lebih tinggi, feeding diambil lebih rendah dari tabel di atas. c. Menyetel Depth of Cut Kedalaman pemakanan dicari sesuai dengan tinggi gigi. Depth of cut sebaiknya jangan disetel sekali pemakanan, sisakan sedikit untuk pengecekan. Lakukan pemotongan, kemudian ukur tebal gigi Bila ukuran belum tercapai, majukan dengan gear tooth vernier.

blank dan sempurnakan pemotongan.

MODUL BAHAN AJAR

6).Tugas Kegiatan Belajar 6 Buatlah roda gigi pada gambar berikut!

MODUL BAHAN AJAR

Tes Formatif Kegiatan Belajar 6 Selesaikanlah soal-soal berikut: 1. Prinsip pembuatan roda gigi dengan mesin khusus pembuat roda gigi ada tiga, sebutkan:    …………………………………… ………………………………….. ………………………………….. process adalah

2. Generating 3. Keuntungan

……………………………………………………………. pembuatan roda gigi dengan cara generating process

antara lain : 1) ……………………………2). ………………………….3) …………………..… 4. Ada tiga macam cara pemotongan gigi dengan generating process, yaitu:  …………………………………………..  ……………………………………………  …………………………………………….. 5. Cara pemotongan yang dapat digunakan untuk pemotongan gigi luar maupun 6. Ada gigi beberapa macam dalam mesin ialah hobbing, cara yaitu ……………………………………………………. ………………………………… ………………………………………………………………………………… ……………… 7. Apa arti konstanta mesin C = 24 : 1 8. Diketahui: Roda gigi lurus Z = 20 Mesin dengan c = 15 : 1

MODUL BAHAN AJAR

Hobbing single start ( S = 1) Tentukan roda–roda gigi pengganti! Kunci Jawaban Tes Formatif Kegiatan Belajar 6. 1. Tiga prinsip adalah: a. b. c. Duplicating Copying Generating

2. Generating process ialah pemotongan gigi secara berkelanjutan dengan sekali process hingga selesai. 3. Keuntungannya antara lain: a. b. c. a. b. c. Hanya menggunakan satu cutter untuk berbagai ukuran gigi. Lebih cepat dan presisi. Biaya produksi lebih murah. Rack cutter process Pinion cutter process Hobbing cutter process

4. Tiga cara pemotongan yaitu:

5. Dengan cara pinion cutter process. 6. Ada 2 tipe mesin hobbing, yaitu: a. b. Tipe horizontal, terdiri atas plain machine dan Tipe vertikal, terdiri atas plain machine dan universal machine. universal machine 7. Constanta mesin 24 : 1 artinya cutter berputar 24 putaran sedangkan benda kerja berputar 1 putaran. 8. Jawab: DR = C . S = 24 .1 = 24 DN Z 20 20

MODUL BAHAN AJAR

DR = 24 atau 48 atau 26 DN = 20 atau 40 atau 80 Atau dapat dibuat kerja ganda

BAB III

EVALUASI
SOAL TES AKHIR

PRGRAM KEAHLIAN : TEKNIK PEMELIHARAAN MEKANIK MESIN INDUSTRI UNIT KOMPETENSI : MELAKUKAN PEKERJAAN DENGAN MESIN FRAIR WAKTU : TES TEORI : 120 menit

TES PRAKTIK : 200 menit

A. Jawablah soal-soal berikut dengan memberi tanda silang (x) pada jawaban yang anda anggap paling benar! 1. Mesin frais digunakan untuk proses pemesinan seperti a. pemotongan ulir b. pengeboran c. pemotongan roda gigi d. perimeran

MODUL BAHAN AJAR

2. Yang menunjukkan ukuran mesin frais, salah satunya adalah a. panjang langkah memanjang b. tinggi mesin 3. Pisau frais mantel digunakan untuk pengefraisan : a. alur b. rata dan lebar c. pemotongan d. grouve c. besar head d. lebar landasan

4. Kecepatan potong pisau frais HSS terhadap mild steel adalah : a. 5 m/menit b.25 m/menit c. 75 m/menit d.150 m/menit

5. Berikut ini berfungsi untuk menjepit benda kerja yang persegi. a. klem bulat b.baut penjepitt c .ragum mesin d. indipenden chuck

6. Untuk membuat alur T pada benda kerja digunakan : a.pisau frais jari b.pisau frais alur c.slot mill d. T slot

7. Berikut ini adalah pisau yang dapat digunakan untuk mengebor a.end mill b.sliting saw c.slot mill d. T slot

8. Untuk membuat alur pasak yang terkurung digunakan a.face mill b.shell end mill c.pisau radius d.pisau frais alur melingkar

9. Pekerjaan berikut ini menggunakan sliting saw kecuali : a.memotong b.membelah c.meratakan d.mengalur sempit

MODUL BAHAN AJAR

10. Pisau frais mantel dipasang pada : a.arbor panjang b.arbor baut c.arbor tirus d.adaptor

11. Berikut ini adalah alatkeselamatan kerja pada pengefraisan, kecuali a.kaca mata b.apron kulit c.baju kerja d.safety shoes

12. Untuk mengefrais bidang siku dengan sekali makan digunakan a.plain mill b.gear cutter c.face mill d.sloting cutter

13. Pisau frais yang ada di lapangan pada umumnya dioperasikan dengan a. putar kanan b. putar kiri c. putar bolak -balik d. asal berputar

14. Berikut ini adalah cara-cara pembuatan roda gigi kecuali a. pemesinan b. pengecoran c. pengerolan d. penempaan

15. Di dalam konstruksi suatu mesin, roda gigi berfungsi sebagai : a. penggerak mula b. pemindah daya c. actuator d. regulator

16. Yang memberikan pelumasan pada proses penyayatan adalah: a. air b. oli c. lubricator d. cutting oil

MODUL BAHAN AJAR

17. Pisau frais roda gigi tipe plain digunakan untuk pengefraisan berikut kecuali a. pemotongan b. pengasaran c. finishing d. pengefraisan gigi yang besar

18. Roda gigi modul 4 dengan jumlah gigi 36 dipotong dengan pisau : a. pisau frais M 4, No. 4 b. pisau frais M4, No 6 c. pisau frais M6, No 6 19. Untuk membuat alur melingkar dengan sudut tertentu indeksingnya menggunakan cara a. pembagian langsung b. pembagian sederhana c. pembagian diferensial d. pembagian sudut d. pisau frais M36, No 4

20. Untuk mengatur/mengecek kelurusan dan kesejajaran waktu memasang ragum pada meja mesin frais , digunakan : a. vernier caliper b. high gauge c. dial indikator d. parallel pada

21. Alur pasak di dalam roda gigi dibuat dengan menggunakan a. sloting atachment b. sloting cutter c. T slot d. slot mill

22. Berikut ini adalah cara-cara merawat cutter, kecuali :

MODUL BAHAN AJAR

a. memasang cutter cukup kuat dan dengan pasak

b. pendinginan cukup dan cocok c. putaran yang tinggi d. pembersihan yang baik

23. Sudut yang dibentuk oleh garis sumbu benda kerja dengan garis spiral disebut : a. sudut kisar b. sudut pendakian c. sudut uliran d. sudut spiral

24. Bila dibanding dengan spur gear, heliks gear mempunyai keuntungan sebagai berikut, kecuali a. dapat Bekerja pada kecepatan tinggi b. lebih tenang c. lebih kuat d. lebih murah 25. Profil gigi terbentuk dengan memutar gear blank dan menggerakkan cutter lurus dan kontinyu disebut process : a. duplicating b. copying c. generating d. machining

B. Selesaikanlah soal-soal berikut ini dengan memberikan jawaban pada lembar jawaban yang tersedia! 1. Benda kerja berupa balok segi empat dari bahan ST-42 difrais menggunakan pisau frais mantel HSS. Kecepatan potong pisau diketahui Cs = 15 m/menit. Pisau frais yang digunakan berdiameter 60 mm. Tentukan berapa putaran mesin/pisau yang seharusnya!

MODUL BAHAN AJAR

2. Akan dibuat alur spiral yang melilit pada sebuah silider dengan diameter rata-rata D = 80 mm, dan sudut spiral lilitannya adalah β = 160. Diketahui kepala pembagi pada mesin frais dengan i = 40 : 1 sedangkan ik = 1 : 1 dan kisar batang ulir transporter meja Li = 10 mm. Tentukanlah roda gigi pengganti untuk membuat alur tersebut! 3. Sebuah roda gigi dengan jumlah gigi Z = 59, sistem modul dengan modul M = 2, tinggi gigi H = 2,16 M dan tebal roda gigi ditentukan b = 10 M, akan diproduksi pada mesin frais yang dilengkapi dengan kepala pembagi universal dengan angka pemindahan i = 40 : 1 dan ik = 1:1, sedangkan plat indeks ada dengan lubang-lubang 15, 18, 21, 29, 37, 43, 19, 23, 31, 39, 47, 17, 20, 27, 33, 41, dan 47. Roda pengganti yang tersedia antara lain 24, 28, 32, 36, 40, 44, 48, 56, 64, 72, 86, 100, dan 127 . Tentukan ukuran roda gigi dan langkahlangkah pembuatan roda gigi tersebut! 4. Akan dibuat sebuah roda gigi pada mesin hobbing. Roda gigi tersebut dengan modul M 3 dan jumlah gigi Z = 36. Sedangkan mesin hobbing diketahui dengan konstanta C = 20 : 1 single start S = 1. Roda gigi pengganti yang tersedia adalah 16, 20, 24, 28, 32, 36, 40, 44, 48, 56, 60, 64, 72, 80, 86, 90, 96, dan 100. Tentukan pasangan roda gigi yang diperlukan! Berapa putaran hobbing cutter bila diameternya 80 mm dan cutting speed = 35 m/menit?

MODUL BAHAN AJAR

C. Tes praktik (Perfomance Test) Buatlah roda gigi seperti job sheet berikut. Blank roda gigi sudah dipersiapkan dengan ukuran sesuai dengan job sheet.

MODUL BAHAN AJAR

KUNCI JAWABAN EVALUASI AKHIR

A. Multiple choice 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. a a a a a a a a a b b b b b b b b b c c c c c c c c c d d d d d d d d d 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. a a a a a a a a a b b b b b b b b b c c c c c c c c c d d d d d d d d d 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. a a a a a a a b b b b b b b c c c c c c c d d d d d d d

B. Essay 1 . n = π.D Jadi n = 79,6 Cs . 1000 = 3,14 . 60 15.000

2. Penyelesaian: LM = L1.i.ik = 10.40.1 = 400 LW = L2 = π .D = tan β 3,14.80 = 3,14.80 = tan 16 0,287 875 mm

DR = LM = 400 = 16 =. 4 . 4 DN LW 875 35 7 . 5 DR = 32 . 80 DN 56 100 Driver = 32 dan 80 Driven = 56 dan 100 Driver dipasang pada batang ulir meja. Driven dipasang pada kepala pembagi. 3. Penyelesaian: Ukuran pokok roda gigi D = Z . M = 59 . 2 = 118 mm Da = D + 2.M = 118 + 2 . 2 = 122 mm H = 2,16 . M = 2,16 . 2 = 4,32 mm b = 10 . M = 20 mm Langkah 1.

Angka pembagi pendekatan T ‘ = 60 Langkah 2. Putaran engkol pembagi Nc = I / T ‘ = 40 / 60 = 2/3 Engkol pembagi dapat diputar 22 lubang pada deretan lubang 33 Langkah 3 . Menentukan roda gigi pengganti i . ik R = T‘ (T‘ - T) = 60 40 . 1 ( 60 – 59 )

R = 40 / 60 = 2 / 3 = 24 / 36 = 48 / 72

Jadi driver Z1 = 24 gigi atau 36 gigi Driven Z2 = 36 gigi atau 72 gigi 4. Roda gigi pengganti DR = DN Z C.S = 36 20 . 1

Jadi Driver 20 gigi 40 gigi Driven 36 gigi atau 72 gigi Putaran hobbing cutter Cs . 1000 N = π.D = 139 atau 140 rpm

C. Penilaian Praktik Untuk melaksanakan penilaian praktik digunakan lembar penilaian berikut:

LEMBAR PENILAIAN KETERAMPILAN
Program Keahlian: Teknik Pemeliharaan Mekanik Mesin Industri Mata Ujian Praktik: Melakukan Pekerjaan dengan Mesin Frais

No 1

Aspek yang dinilai Persiapan • Alat-alat kerja • Bahan yang akan dikerjakan Langkah kerja • Warming mesin • Memasang cutter • Memasang benda kerja (blank) • Mengindeksing Ukuran Produk • Diameter kaki (Dk) • Tinggi gigi H ( 33 gigi ) • Lebar gigi (33 gigi) harus sama

Aspek kritis …………… ……………

Hasil yang dicapai Ya Tidak ………. . ………. . ………. . ………. ………. . ……… ………. . ………. . ………. . ……… ……… ……… ………

…………. …………..

2

……… k………… …k….. ……… k…… ………k….. ………k….. ………k….. ………k…..

…………. ………….. …………. …………..

3

…………. …………. ………..

4

Penggunaan alat dan bahan • Ketepatan penggunaan alat • Ketepatan penggunaan bahan • Metoda penggunaan alat • Kehematan penggunan bahan Sikap kerja • Menggunakan alat keselamatan kerja • Bekerja dengan aman • Memelihara alat-alat kerja • Menjaga lingkungan bersih, tertib, aman, dan sehat

……… k………… …………… … k………… …….. ……… k………… … k………… …………… ………

………… ………… ………… …………..

5

……… ……… ……… ……..

………… ………… ………… …………

Catatan :

Aspek kritis harus lulus (ya), total pencapaian minimum

BAB IV PENUTUP

Upaya

menyiapkan

tenaga

menengah

kejuruan

untuk

memenuhi

kebutuhan akan tenaga pelaksana di bengkel atau di industri, dalam kenyataannya sekarang ini sangat dipengaruhi oleh persaingan yang sangat ketat baik di dalam negeri maupun di luar negeri karena setiap pengusaha akan bersaing dalam kualitas produksinya yang dilaksanakan sehingga menghasilkan barang berdasarkan kebutuhan pasar dengan harga yang bersaing. Dalam hal ini, maka untuk menjawab tantangan tersebut setiap orang yang akan terlibat dalam proses produksi harus mampu dan mempunyai KOMPETENSI yang dikuasai dan diakui, sedangkan kompetensi tersebut harus diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan di institusi /sekolah kejuruan/lembaga pelatihan. Salah satu perangkat pembelajaran diklat kompetensi adalah buku MODUL, yang diharapkan dengan mempelajari buku modul ini peserta /peserta diklat akan dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan dasar yang harus dikuasai untuk mengikuti UJI KOMPETENSI NASIONAL. Modul Unit Kompetensi ini dimaksudkan untuk membantu/memandu para peserta diklat/peserta diklat dalam pembelajaran untuk mencapai kompetensi MELAKUKAN PEKERJAAN DENGAN MESIN FRAIS.

Diharapkan peserta diklat/peserta diklat nantinya akan menjadi Tenaga Pelaksana di bidang Teknik Pemeliharan Mekanik Mesin Industri atau yang berhubungan dengan pekerjaan–pekerjaan tersebut diatas. Semoga buku modul ini bermanfaat bagi yang memerlukanya untuk mencapai kompetensi seperti yang tertera dalam tujuan pembelajaran modul ini.

DAFTAR PUSTAKA
1. Tim KBKN Mesin MPKN. Standar Kompetensi Industri Logam dan

Mesin, Kamar Dagang dan Industri Indonesia, Jakarta, 2002. 2. B.H. Amstead, Philip F. Ostwald, Myron L. Begeman, Sriati

Djaprie, Ir. Teknologi Mekanik, Erlangga, Jakarta, 1995. 3. D. West. Fitting and Machining Course Trade

Technology, Government Printer, New South Wales, 1979. 4. Education Departement Victoria. Fitting and Machining

(Volume 2), Wilke and Company Limited, Victoria, 1981. 5. Education departement Victoria. Fitting and Machining

(Volume 3), Wilke and Company Limited, Victoria, 1982.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->