P. 1
Adab Berbicara

Adab Berbicara

4.75

|Views: 1,884|Likes:
Published by damionz

More info:

Published by: damionz on Feb 07, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX or read online from Scribd
See more
See less

12/06/2012

Bab.

Adab-Adab Berbicara
Allah ta’ala berfirman : “ Dan janganlah kalian mengikuti apa-apa yang kalian tidak mempunyai ilmu tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan diminta pertanggung jawabannya “ (Al-Israa` : 36 ) Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Barang siapa yang dapat memberi jaminan atas apa yang ada antara jenggotnya dan yang berada diantara kedua kakinya, maka saya akan menjaminnya surga “1

Diantara adab-adab berbicara : 1. Menjaga Lisan Yang sepatutnya bagi seorang muslim adalah memperhatikan lisannya dengan baik. Menghindari perkataan yang batil, perkataan dusta, ghibah, adu domba, perkataan yang keji, secara ringkas dari semua itu adalah menjaga lisannya dari segala yang Allah dan Rasul-Nya haramkan. Seseorang mungkin mengucapkan suatu kalimat yang akan mencelakakan

kehidupan dunianya dan juga akhiratnya. Dan bisa pula mengucapkan suatu kalimat dimana dengan kalimat tersebut Allah akan mengangkatnya beberapa derajatnya. Yang menunjukkan hal itu adalah sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “ Sesungguhnya seorang hamba akan berbicara dengan suatu ucapan yang sama sekali dia memperoleh kejelasannya,maka diapun dijerumuskan diapi neraka lebih jauh dari pada arah timur “ Dan pada riwayat Muslim dan Ahmad : “ Lebih jauh melebihi jarak antara timur dan barat “2

1 2

Takrijnya akan disebutkan nanti

HR. Al-Bukhari ( 6477 ), dan lafazh diatas adlah lafazh riwayat beliau, Muslim ( 2988 ) dan Ahmad ( 8703 )

Dan juga pada riwayat Ahmad : “ Sesungguhnya seseorang akan berbicara dengan suatu ucapan untuk membuat orang-orang yang duduk menyertainya tertawa, maka dia dicampakkan melebihi jauhnya bintang tsurayya “3 Dan sebagaimana suatu kalimat akan dapat menjadi penyebab kemurkaan Allah, juga suatu kalimat dapat menjadi sebab pengangkatan derajat dan kebahagiaan. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Sesunguhnya seorang hamba akan mengucapkan suatu kalimat dari keridhaan Allah dimana dia sama sekali tidak memperhatikannya, maka Allah mengangkatnya beberapa derajatkarena kalimat tersebut. Dan sesungguhnya seorang hamba akan mengucapkan suatu kalimatdari kemurkaan Allah yang dia sama sekali tidak menyadarinya, hingga dia dicampakkan ke neraka jahannam “4 Dan pada pertanyaan Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang amalan yang akan memasukkan kedalam surga dan menjauhkan dari api neraka, kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan rukun-rukun Islam, dan beberapa pintu kebaikan. Kemudian beliau bersabda: “ Maukah saya beritahukan kepadamu yang mengumpulkan semuanya itu ? Beliau menjawab : Tentulah wahai Nabi Allah. Maka beliau 3 lantas mengeluarkan lidahnya dan mengatakan: Jagala ini. Saya berkata : Wahai Nabi Allah, akankah kami disiksa karena apa yang kami ucapkan? Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Celakalah engkau wahai Mu’adz.

Apakah kaum manusia akan ditelungkupkan wajah-wajah mereka kedalam api neraka atau kerongkongan mereka kecuali karena hasil dari lisan mereka ? “5
3 4

Al-Musnad ( 8967 )

HR. Al-Bukhari ( 6478 ) dan lafazh diatas adalah lafazh beliau, Ahmad ( 8206 ), Malik ( 1849 ) dengan lafazh yang berbeda dengan lafzahAl-Bukhari dan Ahmad. HR. At-Tirmidzi ( 2616 ), dan beliau berkata : hadits hasan shahih, Ahmad ( 21511 ), Ibnu Majah ( 3973 )
5

Bahkan perkara ini tidak hanya sebatas ini saja. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan jaminan surga bagi yang menjaga lisannya dan juga kemaluannya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Barang siapa yang dapat memberi jaminan atas apa yang ada antara jenggotnya dan yang berada diantara kedua kakinya, maka saya akan menjaminnya surga “6 Jadi wajib bagi seorang muslim untuk menjaga lisan dan kemaluannya dari hal-hal yang Allah haramkan, untuk mengharapkan keridhaan-Nya, dan berharap meraih ganjaran pahala dari-Nya. Dan hal itu suatu yang mudah bagi yang Allah mudahkan baginya.

Faedah : Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu [ Hammad bin Zaid mengatakan ] Saya tidak mengetahui kecuali hadits ini beliau riwayatkan secara marfu’ , beliau berkata : “ Apabila bani Adam bangun pada pagi hari, maka seluruh anggota tubuhnya menegur lisan, dan mengatakan : Takwalah engaku kepada Allah, karena apabila engkau lurus maka kamipun akan lurus, dan apabila engkau menyimpang maka kamipun akan menyimpang “7 Dan sabda beliau: “ Anggota tubuhnya menegur lisannya”, maknanya bahwa seluruh anggota tubuhnya tunduk dan merendah dihadapan lisan, taat kepadanya. Apabila engkau wahai lisan, lurus maka kamipun kaan lurus, dan apabila engkau menyelisihi dan menyimpang dari jalan yang lurus, maka kami akan mengikutimu, maka bertakwlaah engkau kepada Allah bagi kami8. Dan hadits ini tidaklah kontradiktif dengan saba beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam - dari hadits An-Nu’man bin Basyir - : “ Ketahuilah bahwa pada jasad seseorang erdapat segumpal daging, apabila daging tersebut baik, maka seluruh jasad akan
6

HR. Al-Bukhari dari hadits Sahl bin Sa’ad ( 6474 ),Ahmad ( 22316 ) an At-Tirmidzi ( 2408 ) dengan perbedaan pada lafazh-lafazhnya.
7

HR. Ahmad ( 11498 ) dan lafazh diatas adalah lafazh beliau, berkata pen-tahqiq AlMusnad : Sanadnya hasan ( 18 / 402 ), ( 11908 ) dan At-tirmidzi ( 2407 )
8

Lisan Al-‘Arab ( 5 / 150 ), bahasan: ‫كفر‬

menjadi baik, dan apabila segumpal daging tersebut rusak maka akan rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati “9 At-Thibi mengatakan10 : Lisan merupaka penerjemah hati dan penggantinya pada bagian zhahir tubuh. Apabila suatu perkara disandarkan kepadanya maka itu berupa majaz dalam hukum. Seperti perkataan anda : Dokter menyembuhka seorang yang sakit. Al-Maidani mengatakan tentang sabda beliau : Seseorang bergantung dengan dua hal yang kecil pada dirinya, kedua hal tersebut adalah hati dan lisan. Maknanya seseorang akan benar dan menjadi sempurna kepribadiannya dengan dua hal tersebut. Zuhair menggubah sbeuah sya’ir: Dan selamanya anda akan menyaksikan seorang yang diam akan kagum Bertmabah dan berkurangnya dia pada ucapannya Lisan seorang setengah dan setengah lagi hati sanubarinya Maka tidak lagi tersisa selain bentuk daging dan darah.

2. Ucapkan perkataan yang baik atau diamlah Adab Nabawi pada perkataan bagi orang-orang yang ingin berbicara supaya berbicara dengan pelan dan memikirkan perkataannya yang ingin dia katakan dengannya, jika perkataan itu baik maka bagus untuk dikatakan dan hendaklah dia mengatakannya, jika perkataan itu buruk maka hendaklah dia berhenti darinya maka hal itu baik bagi dirinya. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu beliau berkata : “ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka janganlah dia menyakiti tetangganya, Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya, Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir hendaklah dia berkata yang baik atau diam”.11
9

Hr. Al-Bukhari ( 52 ) dan Muslim ( 1599 ) Tuhfah Al-Ahwadzi ( 7 / 75 ) dengan sedikit perubahan.

10 11

HR. Al-Bukhari ( 6018 ), dan lafazh diatas adalah lafazh beliau, Muslim ( 47 ), dan Ahmad ( 75751 ).

Sabda beliau : “hendaklah dia berkata yang baik atau diam”. Berkata Ibnu Hajar : “ Perkataan ini adalah Jawami’ul kalam dikarenakan semua perkataan bisa dia berupa kebaikan, bisa berupa keburukan dan bisa juga bermuara kepada salah satu dari keduanya. Termasuk dalam cakupan kebaikan semua yang dituntut dari perkataanperkataan yang wajib ataupun yang sunnah, diperbolehkan padanya tentang perbedaan jenisnya, dan masuk padanya segala perkataan yang bermuara kepadanya. Adapun selainnya maka hal tersebut adalah keburukan atau yang bermuara kepada hal yang buruk, maka disaat hendak memperdebatkannya diperintahkan untuk berdiam diri ”.12

3. Kalimat yang baik adalah shadaqah Hadist Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu yang telah lalu pembahasannya menunjukkan kepada kita bahwa seseorang diperintahkan untuk bicara yang baik-baik atau diam, kemudian syariat menyukai dalam berbicara yang baik dikarenakan padanya ada dzikir kepada Allah, kebaikan pada agama dan dunia mereka, dan kebaikan diantara mereka… serta selainnya hal-hal tersebut dari tinjauan yang bermanfaat. Ganjaran yang diberikan atas hal itu adalah mendapatkan pahala. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Setiap ruas dari manusia atasnya terdapat shadaqah, setiap hari yang terbit padanya matahari : dengan dia berbuat adil diantara dua orang adalah shadaqah, seorang lelaki pada peliharaannya dan membawakannya atau mengangkatkan barangnya adalah shadaqah, kalimat yang baik adalah shadaqah, dan setiap langkah yang dia langkahkan untuk shalat adalah shadaqah, serta menyingkirkan gangguan dari jalan adalah shadaqah”.13 Terkadang suatu kalimat yang baik akan menjauhkan pembicaranya dari api neraka. Dari ‘Adi bin Hatim radhiallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
12 13

Kitab Fathul Baari ( 10 / 461 ).

HR. Al-Bukhari ( 2989 ), dan lafazh diatas adalah lafazh beliau, Muslim ( 1009 ), dan Ahmad ( 27400 ).

sallammenyebut perihal api neraka neraka lalu beliau memalingkan wajahnya dan berlindung darinya, kemudian beliau berkata : “ Takutlah bertakwalah kepada neraka walau dengan sebutir kurma, barang siapa yang tidak mendapatinya maka dengan kalimat yang baik”.14

4. Keutamaan sedikit berbicara dan makruhnya banyak berbicara Telah diterangkan lebih dari sebuah hadits tentang anjuran untuk sedikit berbicara. Karena banyak berbicara dapat menjadi sebabtergelincirnya seseorang dalam dosa. Jadi seseorang yang banyak berbicara tidaklah berasa aman dari lisannya yang lepas dan kekeliruannya. Oleh karena itulah, ada anjuran untuk sedikit berbicara dan larangan banyak berbicara. Al-Mughirah bin Syubah radhiallahu ‘anhu meriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , bahwa beliau bersabda: “ Sesungguhnya Allah telah mengharamkan bagi kalian perbuatan durhaka kepada ibu, sebagai larangan yang keras. Dan mengubur hidup-hidup anak wanita, dan membenci jika kalian mengutip perkataan, banyak birtanya dan menghamburhamburkan harta “ Sabda beliau : “ Dan membenci jika kalian mengutip perkataan “, yaitu menceburkan diri pada kabar dan cerita-cerita orang tentang keadaan dan perbuatan mereka yang tidak mendatangkan manfaat. Demikian yang dikatakan oleh An-Nawawi15. Banyak berbicara adalah suatu yang tercela dalam syariat. Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhuma meriwayatkan, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Sesunggunya oang yang paling saya cintai diantara kalian dan yang paling dekat majlisnya kepadaku pada hari kiamat adalah yang paling terpuji akhlaknya. Dan sesungguhnya yang paling saya benci dan paling jauh majlisnya dariku pada hari
HR. Al-Bukhari ( 6563 ), dan lafazh diatas adalah lafazh riwayat beliau, Muslim ( 1016 ), dan Ahmad ( 17782 ) tanpa menyebutkan penggalan hadits yang terakhir dan An-Nasa’I ( 2553 ).
14

15

Muslim, Syarh An-Nawawi jilid 6 ( 12 / 10 )

kiamat adalah orang-orang yang banyak cakap, oang-orang yang memfasihkan bicaranya serta al-mutafaihiquun. Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah kami telah mengetahui apa itu ats-tsatsaaruun16 – yang banyak cakap – dan juga al-mutasyaddiquun, namun apakah itu al-mutaaihiquun ? Beliau menjawab: Yakni orang-orang yang angkuh “17 Faedah: Abu Hurairah berkata : “ Tidak ada kebaikan pada perkataan yang berlebihan ”. Umar bin Al-Khaththab mengatakan: berbicara maka akan sering tergelincir “ Ibnu Al-Qasim mengatakan: “ Saya telah mendengar dari Malik, beliau berkata: “ Tidak ada kebaikan pada banyak berbicara, dan hal itu meruapkan tingkah kaum wanita dan anak-anak. Tingkah laku mereka selamanya adalah berbicara dan tidak diam … Lainnya mengatakan: Seseorang meninggal karena kesalahan lisannya Dan seseorang tidaklah meningal karena kesalahan kakinya Tergelincirnya dia dari mulutnya yang akan menghempaskan kepalanya Sementara tergelincirnya dia dengan kakinya akan bersih perlahan-lahan18 “Barang siapa yang banyak

5. Peringatan akan ghibah dan an-namimah adu domba19

16

Didalam Al-LisanL ats-tsartsaar al-mutasyaddiq adalah yang banyak bicara ... atstsartsarah min al-kalam: adalah banyak bicara dan sering diulang-ulangi ... Dikatakan: Laki-laki tsartsaar, wanita tsartsaarah, dan suatu kaum tsatsaaruun. Diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: Yang paling saya benci diantara kalian adalah ats-tsartsaaruun dan al-mutafaiqihuun. Yaitu mereka yang banyak berbicara dan berlebihan dalam berbicara hingga menyimpang dari kebenaran. ( 4 / 102 ). Bahasan: ‫ثرر‬
17

HR. At-Tirmidzi dari hadits Jabir ( 2018 )dan lafazh diatas adalah lafazh beliau. AtTirmidzi mengatakan: Hadist hasan gharib, Ahmad dari hadits Abu Tsa’labah alKhusyani ( 17278 )
18

Kutipan-kutipan terdahulu dari Al-Adab Asy-Syar’iyah karya Ibnu Muflih ( 1 / 66 – 67 ) dengan sedikit perubahan.

Sangat banyak kutipan dari Al-Qur`an ataupun As-Sunnah yang menunjukkan larangan melakukan ghibah dan namimah. Dengan konsukuensi ancaman yang sangat berat. Larangan terhadap kedua perbuatan tersebut juga telah maklum adanya ditengah-tengah kaum muslimin seluruhnya. Akan tetapi, kita masih akan menjumpai sangat banyak orang yang tidak berhati-hati dalam mempergunakan lisaannya berbicara menyangkut kehormatan dan daging orang-orang. Akan tetapi inilah hiasan syaithan bagi mereka, untuk mencerai beraikan persatuan mereka dan mengobarkan kemarahan didalam hati sebagian dari mereka atas sebagian lainnya. Sementara syariat didatangkan untuk menyatukan kalimat, menyatukan hati, berbaik sangka kepada orang lain dan mengatakan perkataan yang benar dan yang baik … Sedangkan syaithan selalu berusaha untuk mencerai beraikan persatuan, memisahkan hati sebagian orang dengan sebagian lainnya, bebruruk sangka kepada orang lain dan mengucapkan perkataann yang batil dan yang buruk. Dari Jabir radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata: Saya telah mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Sesungguhnya syaithan telah putus asa untuk disembah
Ghibah: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan didalam sabda beliau: “ Menyebutkan perihal saudaramu dengan suatu yang dibencinya. Disbeutkan dalam hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tahukah kalian apakah ghibah itu ? Para sahabat mengatakan: Allah dan Rasulunya yng lebih mengetahui. Beliau bersabda: Anda menyebutkan perihal saudara anda yang dibencinya.
19

Ada yang berkata: Bagaimanakah jika yang dikatakan tersebut benar ada pada saudaraku seperti yang saya ucapkan? Beliau bersabda: apabila benar ada padanya seperti yang engkau katakan, maka sungguh anda telah mengghibahnya. Dan apabila tidak seperti yang anda katakan maka sungguh anda telah berdusta terhadapnya “ HR. Muslim ( 2589 ), Ahmad ( 7106 ), At-Tirmidzi ( 1934 ), Abu Daud ( 4874 ) dan Ad-Darimi ( 2714 ) dengan pebedaan sedikit pada lafazh-lafazhnya. Dan karakteristik ghibah adalah: Setiap yang anda sampaikan kepada orang lain perihal kekurangan seorang muslim maka termasuk perkara ghibah yang diharamkan. ( Al-Adzkar karya An-Nawawi hal. 486 ). Adapun an-namimah/mengadu domba : Para ulama mengatakan: an-namimah adalah mengutip perkataan sebagian orang lalu disampaikan kepada sebagian lainnya dengan tujuan mendatangkan kerusakan diantara mereeka ( An-Nawawi syarh Muslim jilid 1 ( 2 / 93 ) )

oleh orang-orang yang mendirikan shalat dijazirah Arab, akan tetapi syaithan tidak berputus asa untuk menghasut diantara mereka “20 Makna hadits diatas : bahwa sesungguhnya syaithan telah berputus asa menggoda para penduduk jazirah Arab untuk menyembahnya, akan tetapi syaithan senantiasa berusaha menghasut mereka untuk saling bermusuhan, kebencian, peperangan, menyebar fitnah dan lain sebagainya. Demikian yang dikatakan oleh An-Nawawi21. Ghibah dan namiman adalah salah satu benih lebencian dan permusuhan yang ditanamkan diengah-tengah menusia. Dan Allah telah mengabarkan perihal syaithan bahwa dia adalah musuh kita. Dan seorang musuh tidak akan emnghendaki kebaikan pada diri kita – dan hal itu tidak kita sangsikan lagi – dan Allah telah memerintahkan kita untuk memusuhinya dan memeranginya “Sesunggunya syaithan adala musuh bagi kalian, maka jadikanlah dia sebagai musuh, sesungguhnya syaithan akan mengajak kepada golongannya agar mereka semuatermasuk penghuni neraka sa’iir “ (Fathir : 6) Ghibah dan namimah, termasuk salah satu senjata Iblis dan kelompoknya, untuk mencerai beraikan kaum manusia. Menanamkan kebencian dihati sbeagian kaum manusia kepada sebagian lainnya. Dan kedua hal tersebut termasuk diantara penyakit yang akan membinasakan individu serta mencerai beraikan jama’ah. Penyakit tersebut akan menyebabkan indibidu masyarakan berada dalam bahaya dengan mendapatkan ancaman Allah akibat orang yan dighibahinya atau namimah yang diucapkannya. Dan penyakit ini akan menimbulkan pemutusan silaturrahim antara sesama keluarga dan kerabat dan sesama kaum manusia. Ada baiknya kita akan sebutkan sebagian yang berkaitan dengan kedua hal tersebut. Dan seorang yang mendapatkan taufik adalah yng menundukkan hatinya kepada kebenaran sertamenjaga lisannya terhadap makhluk Allah. Allah ta’ala berfirman :
20 21

HR. Muslim ( 2812 ), Ahmad ( 13957 ) dan At-Tirmidzi ( 1937 ) Muslm,bi-syarh An-Nawawi jilid. 9 ( 17 / 131 )

“Dan janganlah sebagian dari kalian menghibah sebagian lainnya. Apakah salah seorang diantara kalian akan memakan daging bangkai saudaranya, maka kalian tentunya merasa jijik. Maka bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat dan Maha Pengasih “ (Al-Hujurat : 12 ) Dan dari hadits Abu Barzah Al-Aslami, beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam muslimin bersabda: “ Wahai segenap orang yang merasa amandenganlisannya namun belumlah iman masuk kedalam hatinya. Janganlah kalian mengghibah kaum dan janganlah kalian mencari-cari aurat mereka. Karena sesungguhnya seseorang yang mencari-cari aurat mereka maka Allah akan mencari-cari auratnya. Dan barang siapa yang Alah mencari-cari auratnya niscaya Allah akan mempermalukannya dirumahnya “22 Dari Abu Wail dari Hudzaifah beliau menyampaikan bahwa seseorang

menyampaikan berita untuk tujuan namimah. Maka Hudzaifah mengatakan: Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Tidak akan masuk surga seseorang yang melakukan namimah “, pada riwayat lainnya : “ pengadu domba “23 Dan keduanya semakna. Faedah : Ghibah diperbolehkan pada enam tempat : Pertama : Ketidak adilan, maka diperbolehkan bagi yang didhalimi untuk mengadukan ketidak adilan yang dia alami kepada penguasa atau halim dan selain keduanya yang mana padanya punya pemerintahan, atau berkehendak untuk berlaku adil pada orang yang mendhaliminya. Kedua : Meminta pertolongan agar merubah kemungkaran, dan mengembalikan kemaksiatan kepada kebenaran. Hendaklah dia berkata kepada orang yang dia harapkan kekuasaannya uantuk menghilangkan kemungkaran dengan : Si fulan berbuat demikian, maka diapun mengasingkannya darinya dan sejenisnya, dengan
HR. Abu Daud ( 4880 ) dan lafazh diatas adalah lafazh riwayat beliau. Al-Albani mengatakan : hasan shahih. Ahmad ( 19277 )
22

HR. Al-Bukhari ( 6056 ), Muslim ( 105 ) dan lafazh diatas adalah lafazh riwayat beliau, Ahmad ( 22814 ), At-Tirmidzi ( 2026 ) dan Abu Daud ( 4879 )
23

maksud sebagai perantara untuk menghilangkan kemungkaran, akan tetapi kalau maksudnya tidak demikian maka hal itu adalah keharaman. Ketiga: Meredakan masalah, maka dia berkata kepada mufti / yang memberi fatwa : Ayahku telah mendhalimiku , atau saudaraku…dan semisal hal tersebut, maka hal ini diperbolehkan sesuai keperluan, akan agar lebih berhati-hati agar dia berkata : Apakah engkau mengatakan kepada laki-laki atau seseorang siapa saja yang menyuruhnya berbuat demikian? Yang mana dia akan tercapai dengannya tujuan tanpa adanya ketentuan yang pasti, dengan demikian maka penentuan tersebut diperbolehkan. Keempat: Peringatan kepada kaum muslimin dari kejelekan dan menasehati mereka … termasuk pula men-jarh kaum yang cacat sifatnya baik para perawi hadits atukah para saksi. Diantaranya pula musyawarah untuk menjalin kekerabatan dengan seseorang … dengan syarat tujuan dari itu smeua adalah untuk nasihat. Dan hal ini yang sering terjadi kesalah pahaman. Seorang pembcara terkadang terbawa rasa dengki pada halhal itu, dan syaithan mengaburkannya. Dan syaithan menampakkan seolah-olah hal tersebut suatu nasihat, maka mestilah hal itu lebih dicermati. Kelima : Apabila yang dibicarakan adalah seseorang yang menampakkan perbuatan fasiknya atau bid’ahnya seperti seseorang yang terang-terangan meminum khamar, menyakiti orang banyak, memungut rente, mengambil pajak dari harta orang, melakukan perkara-perkara yang batil maka diperbolehkan untuk menyebutkan karena perbuatan yang dilakukannya terang-terangan. Namun haram menyebut aib-aibnya yang lain kecuali karena lain sebab yang diperbolehkan sebagaimana yang telah kami sebutkan. Keenam : Untuk tujuan identifikasi. Apabila seseorang lebih terkenal dengan suatu julukan, seperti Al-A’masy – yang penglihatannya kabur - , Al-A’raj – yang pincang kakinya -, Al-Asham – yang tuli -, Al-A’maa – yang buta -, Al-Ahwal – yang matanya juling – dan lain sebagainya. Diperbolehkan mengidentifikasi mereka dengan julukan itu. Dan diharamkan penggunaan julukan itu secara mutlak untuk tujuan penghinaan.

Dan sekiranya memungkinkan mengidentifikasinya selain dengan julukan itu, hal tersebut lebih utama. Inilah enam perkara yangdisebutkan oleh par aulama, dan sebagian besarnya adalah perkara-perkara yang disepakati oleh mereka. Dan argumentasinya berupa hadits-hadits yang shahih sangatlah populer, demikian yang dikatakan oleh AnNawawi24.

Faedah lainnya : Tindakan yang sepatutnya bagi seseorang yang mengetahui namimah: Pertama : Tidaklah membenarkannya karena seorang pembawa namimah adalah seorang yang fasik. Kedua : Melarangnya dari perbuatan itu dan menasihatinya dan mencela perbuatan yang dilakukannya tersebut. Ketiga : Membencinnya karena Allah, disebabkan pelaku perbuatan namimah adalah perbuatan yang dibenci Allah ta’ala. Dan wajib membenci seseorang yang Allah benci. Keempat : Tidak berprasangka buruk terhadap saudaranya yang tidak berada dihadapannya. Kelima : Segala cerita yang sampai kepadanya tidak mendorongnya untuk mencari-cari dan menilik informasi tentang kabar itu. Keenam : Tidak meridhai bagi dirinya sendiri apa yang dilarangnya bagi pelaku namimah. Tidaklah dia menceritakan suatu namimah darinya dengan mengatakan : Fulan menceritakan demikian, hingga diapun menjadi pelaku namimah. Dengan begitu dia melakukan suatu yang dia telah larang. Inilah akhir perkataan Abu Hamid Al-Ghazali rahimahullah. Semua yang berkaitan dengan namimah ini apabila tidak terdapat mashlaha syar’iyah. Namun apabila suatu

24

Riyadh Ash-Shalihin 450 -451

kebutuhan mengharuskan hal tersebut, maka tidaklah mengapa untuk disampaikan. Demikian yang dikatakan oleh An-Nawawi25.

6. Larang menceritakan semua yang didengarkan Hal itu disebabkan karena perkataan yang didengar dari orang-orang ada yang benar dan ada juga yang dusta. Apabila seseorang menceritakan segala yang didengarnya, maka pastilah akan mencritakan suatu yang dusta. Dengan inilah seorang yang menceritakan segala yang didengarnya diaktegorikan seorang yang menyampaikan kedustaan. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Cukuplah seorang berdosa, ketika menceritakan segala yang didengarnya “ Pada riwayat lainnya : “ Termasuk kedustaan seseorang apabila dia menceritakan segala yang didengarnya “26

7. Peringatan terhadap Kedustaan Kedustaan adalah penyampaian kabar yang menyalahi keadaan yang sebenarnya. Dan perbuatan tersebut termasuk perbuatan yang dialrang oleh Allah didalam KitabNya dan melalui lisan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah ta’ala befirman : “ Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan jadilah kalian orang-orang yang benar “27 Makna yang tersirat pada ayat diatas adalah : janganlah kalian menjadi kelompok orang-orang yang berdusta.

25 26

Syarh Shahih Muslim jilid 1 ( 2 / 92 – 94 )

HR. Muslim ( 5 ) didalam Al-Muqaddimah, dan lafazh diatas adalah lafazh beliau dan Abu Daud ( 4992 )
27

QS. At-Taubah : 119

Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, beliau berkata: Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Sesungguhnya kejujuran akan menuntun kepada perbuatan baik dan perbuatan yang baik akan menuntun kepada surga. Dan seseorang akan berkata jujur hingga dia tetulis disisi allah sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya kedustaan akan menuntun kepad perbuatan fajir. Dan perbuatan fajir akan menuntun kepada neraka. Dan seseorang akan berdusta hingga akan tertulis disisi Allah bahwa dia adalah seorang pendusta “28 Ibnu Hajar mengatakan : “ Ar-Raghib mengatakan asal kata al-fajru berarti suatu yang pecah. Berarti al-fujur memecahkan/menyingkap penutup keagamaan seseorang. Dan kalimat ini juga dipergunakan untuk menunjukkan makan kecenderungan kepada perbuatan fasad dan terbawa kepada perbuatan maksiat. Dan merupakan kalimat yang menyatukan segala bentuk keburukan29. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu beliau berkata : Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :Tnda seorang munafik ada tiga: Apabila berbicar adia berdusta, apabila berjanji dia menyalahi, dan apabila diberi kepercayaan dia berkhianat “30 Barang siapa yang memiliki sifat dusta maka pada dirinya ada ciri orang-orang munafik. Dari Samurah bin Jundub radhiallahu ‘anhu pada hadits Ru’ya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , bahwa beliau bersabda : “ … Akan tetapi malam itu saya melihat dua orang yangmendatangiku lalu keduanya menggandeng tanganku dan mengeluarkanku dari tanah Maqdis. Dan seseorang sedang duduk dan seseorangsedang berdiri dan pada tangannya penjepit-penjepit dari besi – sebagian pengikut Musa berkata dari Musa - : Bahwa dia memasukkan penjepit
28

HR. Al-Bukhari ( 6094 ) dan lafazh diatas adalah lafazh Al-Bukhari, Muslim ( 2607 ), Ahmad ( 3631 ), at-Tirmidzi ( 1971 ) Abu Daud ( 4989 ), Ibnu Majah ( 46 )dan AdDarimi ( 2715 )
29 30

Fathul Bari ( 10 / 524 )

HR. Al-Bukhari ( 6095 ), Muslim ( 59 ), Ahmad ( 8470 ), At-Tirmidzi ( 2631 ) dan AnNasaa`I ( 5021 )

itu didalam rahangnya hingga sampai kedalam tengkuknya, lalu tengkuk yang satnya juga diperbuat hal yang serupa dengan itu. Kemudian rahangnya dikembalikan seperti sedia kalam, lalu diperbuat lagi yang semisalnya. Saya berkata : Apakah ini ? Keduanya mengatakan : Berlalulah dairnya … “ Dan pada akhir hadits beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada kedua orang tersebut : Kalian berdua telah mengajakku berkeliling pada malam ini, maka beritahukanlah semua yang telah aku lihat. Keduanya mengatakan : Adapun seseorang yang anda lihat, yang rahangnya dijepit maka dia adalah seorang pendusta , menceritakan cerita yang dusta hingga cerita itu dibawanya hingga menyebar keseluruh pelosok, maka pad ahari kiamat dilakukan hal tersebut baginya … al-hadits “31 Faedah : Kedustaan yang paling besar adalah kedustaan kepada Allah dan kedustaan kepada Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan bersumpah kepada Allah dengan sumpah yang dusta untuk menguasai harta seorang muslim. Adapun kedustaan kepada Allah, dapat dengan mentakwilkan dan menafsirkan kalam Allah tanpa dasar ilmu. Diantara hal itu adalah mendudukkan beberapa nash-nash AlQur`an dengan sejumlah kejadian yang bermunculan. Para ulama As-Salaf, telah merasa berat untuk menafsirkan kalam Allah subhanahu wata’ala tanpa dasa rilmu, dan ada banyak perkataan dari mereka tentang hal itu : Abu Bakar Ash-Shiddiq mengatakan: “ Demi Tanah yang aku pijak dan langit yang menaungiku , apabila aku mengatakan sesuatu didalam Kitabullah yang tidak kau ketahui … “ Dari Ibnu Abbas, beliau ditanya tentang sebuah ayat , apabila ayat tersebut ditanyakan kepada sebagian dari kalian, maka dia akan mengatakan/menafsirkan ayat tersebut, lalu beliau enggan untuk mengatakan/menafsirkan ayat tersebut …

31

HR. Al-Bukhari ( 1386 ) dan Ahmad ( 19652 )

Masruq mengatakan : Berhati-hatilah dalam menafsirkan karena tafsir adalah meriwayatkan dari Allah. Ibnu Taimiyah mengatakan : Inilah beberapa atsar dan atsar-atsar lain yang semisalnya dari para Imam As-Salaf yang mengindikasikan keengganan mereka berbicara dalam masalah tafsir tanpa dasar ilmu pada mereka. Adapun perkataan yang diektahui baik dari tinjauan etimloginya maupun secara syara’ maka hal tersebut tidak mengapa32. Adapun kedustaan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dapat berupa pemalsuan hadits, danmenyangka bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapatkan ancaman berupa api neraka. Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu mengatakan : Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :” janganlah kalian berdusta kepadaku, karena barang siapa yang berdusta kepadaku maka pastilah dia akan disengat dengan api neraka “ pada riwayat lainnya : “ akan disengat dengan api neraka “33 Adapun bersumpah atas nama Allah untuk mengambil harta seorang muslim, telah diriwayatkan oleh Abduyllah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, beliau berkata: Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Barang siapa yang bersumpah dengan sumpah yang dusta untuk merampas harta seorang muslim atau mengatakannya kepada saudaranya, maka dia akan menjumpai Allah , sementara Allah sangat murka kepadanya … “34 telah mengatakannya, melakukannya atai membenarkannya. Dan berdusta kepada Nabi

32 33

Beberapa kutipan dari Al-Fatawa ( 13 / 371 – 374 )

HR. Al-Bukhari ( 106 ), dan lafazh diatas adalah lafazh beliau, ( Muslim ( 1 ), ahmad ( 630 ), At-Tirmidzi ( 2660 ) dan Ibnu Majah ( 31 )
34

Hr. Al-Bukhari ( 6659 ) dan lafazh diatas adalah lafazh beliau, Muslim ( 138 ), ahmad ( 3566 ),At-Tirmidzi ( 1269 ), Abu Daud ( 3243 ) dan Ibnu Majah ( 2323 ).

Dari Abdullah bin Amru radhiallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda : Termasuk dosa-dosa besar : Berbuat syirik kepada Allah , durhaka kepada kedua orang tua, membunuh seorang muslim dan sumpah yang dusta35 “36 Dan Dari Ibnu Mas’ud beliau mengatakan : “ kami mengkategorikan termasuk dosa yang tidak ada kaffarahnya diatnaranya adalah sumpah yang dusta, yaitu seseorang yang bersumpah – pengakuan - terhadap harta saudaranya dengan sumpah yang dusta untuk menguasai harta tersebut “37 Faedah lainnya : kedustaan diperbolehkan ada tiga hal : Pertama : Untuk mengadakan perdamaian di antara kaum manusia. Kedua : Didalam berperang. Ketiga : Seorang suami yang berbincang kepada Istrinya dan istri kepada suaminya. Dalil hal itu adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Kultsum binti Kultsum bin Abi Mu’ith radhiallahu ‘anha, beliau berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Bukanlah dikatakan seorang pendusta yang bertujuan mengadakan perbaikan ditangah-tengah kaum manusia, hingga memberi hasil kebaikan ataukah mengatakan suatu kebaikan “38 Dan pada riwayat Abu Daud: Beliau mengatakan : “ Tidaklah saya mendengar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membolehkan sedikitpun juga kedustaan kecuali pada tiga perkara yang pernah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan : “ Tidaklah saya mengkategorikan seseorang sebagai pendusta apabila dia mendamaikan antara kaum mausia. Dia mengatakan suatu perkataan yang tidak ingin dia ucapkan kecuali untuk tujuan mendamaikan, dan seseorang yang berbicara disaat
35

Diaktakan sebagai al-ghamuuus, karena sumpah yang dusta akan menjerumuskan pelakunya kepada dosa dan api neraka. ( Al-Fath 11 / 564 )
36

HR. Al-Bukhari ( 6675 ), dan lafazh diatas adalah lafazh beliau,Ahmad ( 6845 ), AtTirmidzi ( 3021 ), An-Nasaa`I ( 4011 ) dan Ad-Darimi ( 2360 )
37

Ibnu Hajar mengatakan : Hadist diatas diriwayatkan oleh Abi bin Iyas didalam Musnad Syu’bah dan Isma’il Al-Qadhi didalam Al-Ahkam dari hadits Ibnu Mas’ud ( Fathul Bari 11 / 566 )
38

HR. Al-Bukhari ( 2692 )

peperangan dan seseorang yang berbicara kepada istrinya dan seorang wanita yang berbicara kepada suaminya “39 Para ulama berbeda pendapat dalam menganalisa makna hadits ini. Mayoritas ulama berpendapat bolehnya berdusta pada tiga hal yang disebutkan diatas. Dan sebagian lainnya mengatakan bahwa yang dimaksud dengan hadits diatas bukanlah dusta yang sebenarnya, melainkan hanya sebatas at-tauriyah40 dan al-ma’aaridh41 42. Dan kemungkinan sebab dari perbedaan pendapat mereka karena memandang lafazh tambahan yang ada pada hadits diatas, apakah lafazh tersebut lafazh yang mudraj atau diriwayatkan secara marfu’ dan shahih. Lafazh diatas lafazh yang shahih secara marfu’ – sebagaimana yang telah kami terangkan – dengan begitu jelaslah pendapat bolehnya berdusta pada tiga perkara yang telah disebutkan sebelumnya. Dan hadits ini ada beberapa syahid penguat lainnya :
HR. Abu Daud ( 4921 ), dan lafazh diatas adalah lafazh beliau. Al-Albani menshahihkannya. Dan asal hadits ini terdapat didalam Ash-Shahihain. Al-Bukhari meriwayatkannya ( 2692 ) dengan lafazh : “ Bukanlah dikatakan seorang pendusta yang bertujuan mendamaikan antara kaum manusia, maka dia akan menghasilkan kebaikan ataukah mengatakan suatukebaikan “. Dan Muslim ( 2605 ) dengan kedua lafazh tersebut semuanya. Akan tetapi beliau menambahkan tambahan dari eprkataan Az-Zuhri : “ Ibnu Syihab mengatakan : Dan saya tidak mendengarkan sedikitpun juga dari beliau, bahwa beliau membolehkan sedikitpun dari perkataan manusia yang berupa kedustaan ... “.
39

Dan Ibnu Hajar berpendapat seperti itu, dan mengatakan bahwa lafazh tambahan tersebut adalah lafazh yang mudraj ( lihat Al-Fath 5 / 353 ) Al-Albani mengkritik hal itu didalam Ash-Shahihah ( 545 ) dan beliau menerangkan bahwa lafazh tmabahan tersebut diriwayatkan secara marfu’ dan shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Silahkan anda melihatnya kembali jika berkenan. Dan diantara yang juga meriwayatkan hadits ini adalah Ahmad ( 26731 ) dan At-Tirmidzi ( 1938 )
40 41 42

Yakni menampakkan sesuatu yang menyalahi maksud yang sebenarnya, penj Yakni sindiran dengan perkataan, penj

Lihat Muslim bi-syarh An-Nawawi jilid 8 ( 16 / 135 ), Fathul Bari ( 5 / 353 ) dan Syrh Riyadh Ash-Shalihih karya Ibnu ‘Utsiamin ( 1 / 272 )

Adapun riwayat syahid untuk mendamaikan antara kaum manusia, adalah hadits yang telah dikemukakan sebelumnya. Syahid riwayat berdusta ketika berperang, adalah hadits Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata: bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Siapakah yang akan menuntaskan Ka’ab bin Al-`Asyraf ? karena sesungguhnya dia telah menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Muhammad bin Maslamah mengatakan : Apakah anda menyukai jika saya membunuhnya , wahai Rasulullah ? Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : Benar. Maslamah mengatkaan : Izinkanlah aku akan berdua bersamanya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Silahkan engkau berdua bersamanya. Maslamah lalu mendatanginya dan berkata kepadanya: “ Dan menyebutkan perbincangan antara mereka berdua. Dan beliau berkata : Sesunguhnya orang ini telah menekan kami dengan shadaqah dan sungguh dia telah menyulitkan kami. Dan ketika dia mendengarnya, dia mengatakan : Dan demi Allah dia juga telah menjemukan kami dengannya … al-hadits “43 Yang dijadikan argumen pada hadits diatas adalah Abda beliau : “ Izinkanlah saya akan berdua dengannya “, “ Sungguh dia telah menekan kami dengan shadaqah “, yaitu : Meminta kami untuk menempatkan shadaqah pada masing-masing tempatnya. Dan : “ Dan sungguh dia telah menyulitkan kami “, yakni : Membebani kami dengan segala macam perintah dan larangan44. Adapun syahid pembolehan berdusta kepada istri untuk menyenangkan hatinya : Hadist yang diriwayatkan oleh Atha’ bin Yasaar, bahwa beliau berkata: Seseorang
43

HR. Al-Bukhari ( 3031 ), dan beliau menjadikannya pada bab yang beliau beri judul: Bab. Al-Kadzib fi Al-Harb, dan Muslim ( 1801 ) dan lafazh diatas adalah lafaz beliau, dan Abu Daud ( 2768 )
44

Fathul Bari ( 1 / 184 )

menjumpai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bolehkan aku berdusta kepada istriku ? Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam kedustaan.

, dan berkata : Wahai Rasulullah,

bersabda: “ Tidak, Allah tidaklah menyukai

Orang tersebut berkata: “ Wahai Rasulullah, - perbuatan itu – untuk mendamaikannya dan menyenangkan hatinya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Tidak mengapa bagimu “45 An-Nawawi mengatakan: “ Adapun dusta kepada istri dan dusta seorang istri kepada suaminya. Yang dimaksud dengan dusta ini adalah dengan manampakkan kasih sayang dan janji yang bukan suatu keharusan sertalain sebagainya. Adapun memperdayai hingga menghalangi haknya atau mengambil yang bukan haknya baik suami atau istri,maka hal tersebut haram sesuai dengan ijma’ kaum muslimin , wallahu a’lam46. Al-Albani mengatakan : Tidak termasuk dusta yang diperbolehkan dengan

menjanjikan sesuatu kepada istri yang sebenarnya dia tidak berkeinginan untuk menepatinya, atau memintanya memilih , bahwa dia akan membeli suatu kebutuhannya – istri – tertentu dengan harga demikian, melebihi harga yang sebenarnya hanya untuk menjadikannya ridha. Karena hal itu akan dapat terungkap sehingga menjadi sebab istri berburuk sangka kepada suaminya. Dan hal itu akan mendatangkan kerusakan bukan perbaikan47.

8. Larangan berbuat keji dan mengatakan perkataan yang keji48
Al-Albani mengatakan didalam Ash-Shahihah : Diriwayatkan oleh Al-Humaidi didalam Musnadnya ( no. 329 ). As-Silsilah ( 1 / 817 ) no. ( 498 ). Dan hadits seperti yang anda lihat adalah hadits yang mursal. Akan tetapi silahkan lihat didalam AsSilsilah pada tempat yang
45

46 47

Syarh Shahih Muslm jilid 8 ( 16 / 135 ) As-Silsilah Ash-Shahihah ( 1 / 818 )

Didalam Al-Lisan : Seseorang berlaku fahisy, apabila dia mengatakan perkatan yang fahisy / keji. Seperti dikatakan: Seseorang telah mengatakan perkataan yang
48

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

merupakan manusia yang paling sempurna

kahlaknya. Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat jauh dari sifat seorang yang berkata buruk dan rendahan. Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang dari perkataan yang keji, melaknat, perkataan yang kotor dan perkataan-perkataan batil lainnya. Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu meriwayatkan, beliau berkata: Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Bukan seorang mukmin apabila dia senang menghujat49, senang melaknat, seorang yang berkata keji dan berkata buruk “50 Perkataan yang keji, dapat berarti beberapa makna. Terkadang bermakna makian dan celaan dan perkataan dusta, sebagaimana didalam hadits Abdullah bin Amru radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata : Tidaklah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seorang yang berkata keji dan sering berkata kotor. Dan beliau seringkali mengatakan: Sesungguhnya sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya “51 Dan terkadang bermakna : Berlebihan dalam berkata dan menjawab perkataan52. Sebagaimana didalam hadits Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau berkata: Sekelompok Yahudi datang dan mengatakan : As-saamu ‘alaika wahai Abul Qasim. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : wa’alaika.
keji, dia seorang yang berkata keji, ucapannya keji ... Dan al-faahisy adalah seroang yang berkata keji dan kotor demikian juga perbuatannya. Dan al-mutafahhisy adalah seseorang yang berlebihan dalam mencaci orang dan bersengaja melakukannya. ( 6 / 325 – 326 ) bahasan : ‫فحش‬ Didalam Al-Lisan: Dan pada sebuah hadits: Tidaklah seorang mukmin seorang yang senang menghujat. Yakni sering melanggar kehormatan orang lain dengan mencela, ghibah dan semisalnya. Dan kaliamt tersebut berasal dari kalimat : tha’ana ( menghujat ) dengan wazan/timbangan : Fa’aalun.. Dan dari sinilah perkataan yang menghujat, dapat dengan harakat al-fathah dan adh-dhammah, apabila orang tersebut mencelanya. Diantaranya juga mencela nasab. ( 12 / 266 ) bahasan: ‫طعن‬
49

HR. Ahmad ( 3938 ), al-Bukhari didalam Al-Adab Al-Mufrad ( 312 ) dan lafazh diatas adalah lafazh beliau. Al-Albani menshahihkannya, dan At-Tirmidzi ( 1977 )
50

51 52

HR. Al-Bukhari ( 3559 ), Muslim ( 2321 ), Ahmad ( 6468 ) dan At-Tirmidzi ( 1975 ) Lihat : Lisan Al-‘Arab ( 6 / 325 )

Aisyah berkata : Saya mengatakan : bahkan jawablah: As-saamu wa adz-dzaamu – kematian dan celaan bagi kalian - 53. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Wahai Aisyah janganlah engkau menjadi seorang yang berkata keji “ Aisyah berkata : Tidakkah anda mendengar apa yang mereka katakan ? Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tidakkah hal tersebut telah terjadi pada mereka apa yang mereka katakan. Saya berkata : Dan bagi kalian. “54 Peringatan : Seorang yang sering melaknat tidak menjadi seorang yang jujur. Dia akan diharamkan dari syafa’at dan perskasian pada hari kiamat. Dan barang siapa yang melaknat sesuatu namun sesuatu itu tidak pantas dilaknat, maka laknatnya akan kembali kepadanya. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Tidaklah pantas bagi seorang yang jujur untuk sering melaknat “55 Dari Abu Ad-Darda`, beliau berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Sesungguhnya orang-orang yang sering melaknat tidak akanmenjadi saksi dan pemberi syafa’at pada hari kiamat “56 Dan dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata: Bahwa seseorang

melaknat angin disisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

53

Adz-Dzaamu : aib/celaan ( lihat Lisan Al-‘Arab ( 12 / 219 ) bahasan: ‫ذام‬

54

HR. Al-Bukhari ( 6024 ), Muslim ( 2165 ) dan lafazh diatas adalah lafazh beliau, Ahmad ( 242330 ), At-Tirmidzi ( 2701 ) dan Ibnu Majah ( 3690 )
55

HR. Muslim ( 2597 ), Ahmad ( 8242 ) dan Al-Bukhri didalam Al-Adab Al-Mufrad ( 317 )
56

HR. Muslim ( 2598 ), dan lafazh diatas adalah lafazh beliau, Ahmad ( 26981 ), AlBukhari didalam Al-Adab Al-Mufrad ( 316 ) danAbu Daud ( 4907 )

“ Janganlah engkau melaknat angin , karena angin hanyalah suatu yang mendapat perintah. Dan sesungguhnya siapa saja yang melaknat sesuatu yang tidak sepantasnya dilaknat maka laknat tersebut akan kembali kepadanya “57 An-Nawawi mengatakan: “ Pada hadits diatas terdpat larangan melaknat dan siapa saja yang berakhlak demikian tidak akan tterdapat pada dirinya sifat-sifat terpuji. Dikarenakan laknat adalah doa yang dimaksudkan untuk menjauhkan seseorang dari rahmat Allah ta’ala. Dan doa seperti ini bukanlah akhlak kaum mukminin yang Allah sifati mereka sebagai kaum yang saling menebar rahmat, tolong menolong dalam kebaikan dan takwa, menjadikan mereka layaknya suatu bangunan yang saling menguatkan sebagian dengan sebagian lainnya, bagaikan sebuah tubuh yang satu, dan seorang mukmin mencintai segala sesuatu untuk saudaranya sebagaimana dia mencintai sesuatu untuk dirinya. Maka siapa saja yang mendoakan laknat saudaranya sesama muslim yakni menjauhkannya dari rahmat Allah ta’ala, berarti dia telah berada pada puncak pemutusan silaturrahim dan saling berjauhan. Dan ini tujuan yang seorang muslim disukai untuk menerapkannya kepada seorang kafir dan mendoakan laknat baginya. Dari sinilah pada sebuah hadits yang shahih disebutkan : “ Melaknat seorang mukmi bagaikan membunuhnya “58 Dikarenakan seorang yang membunuh akan memutuskan saudaanya dari segala manfaat dniawiyah, sementara ini – laknat – akan memutuskannya dari nikmat akhirat dan rahmat Allah ta’ala59. Peringatan lainnya : Termasuk dosa yang paling besa bahkan tergolong dosa-dosa besar, jikalau seseorang melaknat kedua orang tuanya. Dari Abdullah bin ‘Amru radhiallahu ‘anhu beliau berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda : “ Sesungguhnya tergolong dosa-dosa besar seseorang

57 58

HR. At-Tirmidzi ( 1978 ), Abu Daud ( 4908 ) dan Al-Albani menshahihkannya.

Penggalan hadits diatas, diriwayatkan oleh Al-Bukhari ( 6047 ), Muslim ( 110 ) dan Ahmad ( 15950 )
59

Shahih Muslim bi-syarh An-Nawawi jilid 8 ( 16 / 127 )

melaknat kedua orang tuanya.

Ada yang mengatakan : Wahai Rasulullah,

bagaimanakah seseorang akan melaknat kedua orang tuanya ? Beliau menjawab : Orang tersebut mencaci bapak orang lain, lalu orang tersebut mencaci bapaknya dan mencaci ibunya.” Pada lafazh Muslim : “ Beliau bersabda : Temasuk dosa-dosa besar seseorang menghujat kedua orang tuanya. Para sahabat mengatakan: Wahai Rasulullah : Apakah mungkin seseorang menghujat kedua orang tuanya ? Beliau bersabda: “ Benar. Dia mencaci bapak orang lain lalu orang tersebut mencaci bapaknya dan mencaci ibu orang lain lalu orang tersebut mencaci ibunya “60

9. Keutamaan seseorang meninggalkan perdebatan walau dia dalam keadaan benar Al-Miraa`udalam arti etimologinya bermakna : Bersengketa dan berdebat. … Asalnya dari bahasa adalah al-jidaal, dan seseorang mengindikasikan dalam perdebatannya suatu perkataan dan sikap-sikap mental yang mengindikasikan permusuhan dan selainnya. Berasal dari kalimat: mariyat asy-syaah, Apabila anda memeras dan mengeluarkan susunya61. Dari Abu Umamah radhiallahu ‘anhu beliau berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
60

bersabda : “ Saya adalah pemuka dihamparan62 surga bagi siapa saja

yangmeninggalkan perdebatan walau dia dalam keadaan beanr. Dan di pertengahan
HR. Al-Bukhari ( 5973 ),Muslim ( 90 ), ahmad ( 6493 ), At-Tirmidzi ( 1902 ) dan Abu Daud ( 5141 )
61

Lisan Al-‘Arab ( 15 / 278 ), bahasan: ‫مرا‬

Didalam Al-Lisan ( 7 / 152 ), bahasan ‫ : ربض‬Ibnu Khalwaih mengatakan : rubudh al-madinah, dengan harakat adh-dhammah pada huruf ar-raa` huruf al-baa, berarti pondasinya, dan dengan harakat al-fathah, berarti yang berada disekitarnya.
62

Dan pada hadits disebutkan: Saya adalah pemuka di rabadh al-jannah, yakni degan harakat fathah pada al-baa, maknanya yang disekitarnya diluar darinya. Penyerupaan dengan bangunan yang berada di sekitar kota dan berada dibawah benteng.

surga bagi seseorang yang meninggalkan kedustaan walau dlam keadaan bercanda, dan dibagian surga yang tertinggi bagi yang terpuji akhlaknya “63 Pada hadits tersebut diterangkan bahwa siapa saja yang meninggalkan perdebatan walau dia dalam keadaan jujur dan benar maka dia akan diberi janji melalui lisan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebuah rumah dihalaman surga. Didalam A-Tuhfah : “ Hal itu dikarenakan dia telah berpaling dari perusakan hati orang yang diajaknya berdebat dan mengahalunya merupakan keluhuran jiwa dan penampakan kemuliaan keutamaan dirinya64. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda: memperdebatkan Al-Qur`an adalah kekufuran “65 Yakni memperdebatkan segala yang ada di dalam Al-Qur`an. Dari Jundub bin Abdillah radhiallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda : “ Kalian bacalah Al-Qur`an atas apa yang dapat menyatukan hati-hati kalian, dan apabila kalian bersengketa maka berdirilah “66 Perengketaan yang dimaksud didalam hadits diatas adalah perbedaan dalam memahami maknanya. Dan mungkin juga yang dimaksud adalah perbedaan dalam tata cara pelaksanaannya. Dan ketika terjadi perbedaan pendapat yang akan menyebabkan keburukan terhadap Al-Qur`an, seorang muslim diperintahkan untuk menghentikan hal itu hingga tidak terjadi keburukan dan perdebatan tidak mencuat semakin membesar. An-Nawawi mengatakan : Perintah untuk meninggalkan perbedaan tentang AlQur`an oleh para ulama dipahami pada perbedaan yang tidak diperbolehkan ataukah
HR. Abu Daud ( 4800 ).Al-Albani menghasankannya, lihat Ash-Shahihah ( 273 ). Dan dari hadits Anas bin Malik, diriwayatkan At-Tirmidzi ( 1993 ), Ibnu Majah ( 51 ), dengan mengganti lafazh hamparan surga dengan pertengahan surga.
63

64 65

Tuhfah Al-Ahwadzi ( 6 / 109 )

HR. Ahmad ( 7789 ), Abu Daud ( 4603 ). Ibnul Qayyim mengatakan : Hasan. Lihat ‘Aun Al-Ma’bud jilid 6 ( 12 / 230 ). Al-Albani mengatakan : Hasan shahih.
66

HR. Al-BUkhari ( 5060 )Muslim ( 2667 ), Ahmad ( 18337 ), Ad-Darimi ( 3359 )

perbedaan yang akan menimbulkan sesuaut yang tidak diperbolehkan. Seperti perbedaan tentang Al-Qur`an itu sendiri atau pada salah satu kandungan maknanya yang tidak ditoleransi adanya ijtihad, ataukah perbedaan yang akan menyebabkan keraguan dalam masalah-masalah furu’ agama. Adapun diskusi para ulama berkaitan dengan hal itu untuk mendapatkan faedah dan menampilkan kebenaran, dan perbedaan mereka dalam hal itu bukan suatu yang terlarang, melainkan suatu yang diperintahkan dan keutamaannya nampak jelas. Kaum muslimin telas sepakat akan hal ini dizaman sahabat hingga sekarang wallahu a’lam67. Pada hadits diatas juga berisikan sugesti untuk membentuk jama’ah/persatuan dan kesatuan. Serta peringatan dari perpecahandan perselishan, larangan memperdebatkan Al-Qur`n tanpa alasan yang benar. Dan diantara hal buruk dari perkara itu , jikalah nampak suatu argumentasi ayat kepada suatu permasalahan yang menyelisihi pendapat nalar, maka dengan segala bantuan nalar , analisa yang mendalam untuk mentakwilkan ayat itu agar sesuai dengan nalar tersebut dan terjadi kesimpang siuran dalam pertentangan itu. Sebagaimana disebutkan didalam Al-Fath68. Faedah: As-Sa’di rahimahullah didalam menafsirkan firman Allah ta’ala : “ Dan janganlah engkau mendebat mereka kecuali dengan perdebatan yang zhahir “ ( QS. AlKahfi : 22 ) Beliau berkata: “ Dan janganlah engkau mendebat “ yakni bersengketa dan menyampaikan argumentasi bagi mereka. “ Kecuali dengan perdebatan yang zhahir “ yakni yang didasari dengan ilmu dan keyakinan, dan juga terkandung faedah. Adapun perdebatan yang didasari dengan kejahilan dan mereka-reka suatu yang tidak diketahui, ataukah perdebatan yang tidak mendatangkan faedah, tidak terdapat faedah agama dengan mengetahuinya , seperti – memperdebatkan – jumlah Ashhabul kahfi, dan lain sebagainya, maka hal itu pada banyaknya perdebatan dan analisa yang
67 68

Syarh Shahih Muslim jilid 8 ( 16 / 188 ) Fathul Bari ( 8 / 721 )

berkelanjutan tiada henti hanya melalaikan waktu dan memberi pengaruh pada kecenderungan hati tanpa faedah “69

10. Larangan membuat suatu kaum tertawa dengan perkataan dusta Sebagian manusia terlihat cenderung untuk mengada-adakan dan membuat suatu perkataan dusta lalu disandarkan kepada dirinya atau kepada orang lain dengan tujuan menjadikannya sebagai anekdot lucu bagi yang ada dimajlis. Dan orang yang memprihaitnkan itu tidaklah mengetahui bahwa dia telah tergelincir pada suatu perkara yang amat berat. Mu’awiyah bin Haidah radhiallahu ‘anhu berkata: Sya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Celakalah bagi yang menceritakan sesuatu kemudian dia berusta pada ceritanya dengan tujuan membuat kaum yang mendengarnya tertawa. Celakalah dia celakalah dia “70

11. Apabila seseoang menceritakan sesuatu kepada saudaranya lalu dia berpaling maka yang diceritakannya adalah suatu amanah Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Apabila seseorang menceritakan suatu cerita kepada saudaranya lalu dia berpaling menengok maka cerita tersebut adalah suatu amanah “71 Beliau –semoga Allah mengampuninyamenerangkan hadits di atas, dengan

mengatakan: “ Ini adalah adab nabawiyah yang sangat agung. Dimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkategorikan seseorang yang menengok kekanan dan kekiri sewaktu menceritakan sesuatu sebagai suatu penyampaian rahasia untuk dijaga
69 70

Taisiir Al-Kariim Ar-Rahman ( 5 / 24 ), surah Al-Kahfi : 22

HR. Abu Daud ( 4990 ), al-albani menghasankannya, Ahmad ( 19519 ), At-Tirmidzi ( 2315 ), Ad-Darimi ( 2702 ) dan Al-Baghawi didalam Syarh As-Sunnah ( 4131 ) HR. Abu Daud ( 4868 ), Al-Albani menghasankannya, Ahmad ( 14644 ) dan AtTirmidzi ( 1959 )
71

dan tidak disebar luaskan. Ibnu Raslan mengatakan: Dikarenakanmenengoknya dia adalah pemberitahuan kepada orang yang diajaknya berbicara bahwa dia khawatir orang lain akan mendengar ucapakannya, dan dia telah mengkhususkan dirinya dengan rahasianya tersebut. Jadi menengoknya dia sama dengan ucapan: Simpanlah ini dariku baik-baik, yakni dengarlah dariku lalu simpanlah dan ini merupakan amanah bagimu72.

12. Mendahulukan yang lebih tua dalam berbicara Dalil akan hal itu adalah hadits yang diriwayatkan oleh Rafi’ bin Khudaij dan Shal bin Abu Hatsmah, keduanya mengatakan: Bahwa Abdullah bin Sahl dan Muhaishah bin Mas’ud keduanya mendatangi Khaibar maka keduanya terpisah dalam peperangan, kemudian Abdullah bin Sahl terbunuh, datanglah Abdurrahman bin Sahl, Huwaishah dan Muhaishah keduanya anak Mas’ud kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , kemudian mereka membicarakan perkara sahabat mereka, mulailah dengan Abdurrahman dan dia adalah orang yang paling kecil pada kaum tersebut, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya : “ Agungkanlah orang tua”.-Berkata Yahya ( Ibnu Mas’ud ) yakni diharapkan pembicaraan dari yang lebih tua …al-hadits.73 Dan pula dikecualikan berdasarkan dengan perbuatan Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, dimana beliau tidaklah mengedepankan dirinya dihadapan yang lebih tua dari beliau. Beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Kabarkan

kepadaku suatu pohon, dimana perumpamaan pohon tersebut laksana seorang muslim yang selalu memberi makan kapan saja seizin Rabb-Nya dan daun-daunnya tidak berguguran.

72 73

‘Aun Al-Ma’bud jilid 7 ( 13148 )

HR Al-Bukhari ( 6142 ), dan lafazh diatas adalah lafazh beliau, Muslim ( 1669 ), AtTirmidzi ( 1422 ), An-Nasa’I ( 4713 ), Abu Daud ( 4521 ), Ibnu Majah ( 2677 ). Dan lafazh dari Ahmad ( 15664 ), Malik ( 1630 ), dan Ad-Darimi ( 2353 ).

Maka terbersit didalam hatiku bahwa pohon tersebut juga adalah pohon korma. Namun saya tidak menyukai berbicara sementara ada Abu Bakar dan Umar. Namun tatkala keduanya tidak memberi tanggapan bicara, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Pohon tersebut adalah pohon kurma. Kemudian tatkala saya keluar bersama bapakku, saya berkata : Wahai ayah, sesungguhnya telah terbersit didalam hatiku bahwa ohon tersebut adalah pohon kurma. Beliau – Umar – berkata: Lalu apakah yang menghalangi engkau sehingga tidak mengatakannya, seandainya engkau mengatakannya, maka engkau lebih saya sengangi dari pada ini dan ini. Ibnu Umar mengatakan : Tiada yang menghalangiku, selain saya melihat anda dan abu Bakar tidak berbicara.” Pada riwayat Muslim : “ Saya lalu berniat untuk mengatakannya, akan tetapi dikaum tersebut ada orang-orang yang dituakan, hingga saya segan untuk berbicara “. Pada riwayat Ahmad : “ Lalu saya memperhatikan, ternyata saya adalah yang termuda dari kaum yang ada, maka sayapun terdiam “74 Saya katakan : Atsar-atsar dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk

mengedepankan yang lebih tua atsar-atsar yang populer, sebagaimana beliau mengedepankan yang lebih tua ketika bersiwak, sebagaimana telah disebutkan didalam adab-adab bertamu.

13. Tidak memotong pembicaraan Diantara adab berbicara, adalah tidak memotong pembicaraan orang lain. Dikarenakan mereka terkadang senang dalam melanjutkan perkataannya, apabila sebagian diantara mereka berbicara dan memotong perkataan pembicara, hal itu akan menjadikan pendengar sulit memahami dan menjadi marah kepada yang memotong pembicaraan mereka.
74

HR. Al-Bukhari ( 6044 ) dan lafazh diatas adalah lafazh beliau, Muslim ( 2811 ), Ahmad ( 4585 ), At-Tirmidzi ( 2867 ) dan Ad-Darimi ( 282 )

Hal tersebut juga dikuatkan dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, beliau berkata : Ketika kami bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam didalam suatu majlis, dan beliau lagi berbicara kepada suatu kaum, seorang Arab badui datang dan bertanya : Kapankah daangnya hari kiamat. Namun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan pembicaraannya.

Sebagian kaumm tersebut mengatakan: beliau mendengar ucpan orang itu namun tidak menyukainya. Sebagian lainnya mengatakan : Bahkan beliau tidaklah mendengarnya. Hingga beliau menyelesaikan pembicaraannya,beliau berkata : Dimanakan yang menanyakan waktu terjadinya hari kiamat ? Orang tersebut mengatakan : Saya berada disini wahai Rasulullah . Beliau bersabda : “ Apabila amanah telah diabaikan, maka nantikanlah datangnya hari kiamat “ Orang itu bertanya : Bagaimanakah amanah diabaikan ? Beliau bersabda: “ Apabila suatu perkara diserahkan kepada bukan ahlinya maka nantikanlah datangnya hari kiamat “75 Yang menjadi acuan pada hadits diatas adalah sabda beliau: “ Namun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan pembicaraannya “, yakni beliau tidak memutuskan pembicaraan beliau. Hal itu dikarenakan yang berhak adalah yang membuka majlis bukan sipenanya ini. Maka sepantasnyalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memotong pembicaraan beliau hingga menyelesiakannya. Namun dikecualikan juga dengan perkataan penerjemah Al-Qur`an, Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, beliau mengatakan kepada ‘Ikrimah : “ Berbicaralah kepada kaum muslimin pada setiap jum’at sekali. Apabila anda mengabaikannya maka jadikanlah dua kali, dan apabila mesti diperbanyak maka tiga kali. Dan janganlah engkau menjadikan kaum muslimin menjadi bosa dengan Al-Qur`an ini. Dan janganlah engkau menjumpai suatu kaum yang tengah memperbincangkan sesuatu kemudian engkau menceritakannya kepada mereka hingga memotong percakapan mereka dan
75

HR. Al-Bukhari ( 59 ) dan Ahmad ( 8512 )

menjadikan mereka bosan. Akan tetapi diamlah engkau, apabila mereka memintamu untuk menceritakan kepaa mereka maka beritahukanlah kepada mereka, disaat mereka berkemauan untuk mendengarnya …al-hadits76 Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma telah menerangkan bahwa sebab dari larangan memotong pembicaraan, karena hal tersebut akan menyebabkan kejenuhan dan kebisanan pada diri mereka. Kemudian beliau mengarahkannya untuk duduk mendengarkan dengan baik. Apabila mereka meminta anda untuk menceritakan – yakni hadits dan selainnya, penj- maka beritahukanlah kepada mereka, karena hal tersebut akan lebih menjadikan penyampaian anda diterima.

14. Tenang dalam berbicara dan tidak tergesa-gesa. Tergesa-gesa dalam bebricara akan menjadi sebab utama tidak terpahaminya suatu penyampaian dengan baik oleh pendengar. Olehnya itu perkataan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah tergesa-gesa yang akan menjadikan setiap yang duduk menyimaknya akan memahami yang beliau katakan. Pada sebuah hadits, dari Aisyah – ummul mukminin radhiallahu ‘anha – berkata : “ Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila menyampaikan suatu hadits, jikalau ada yang berkehendak untuk menghitungnya niscaya dia akan dapat menghitungnya “. Pada riwayat Muslim : “ Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah menyampaikan suatu hadits dengan cepat sebagaimana kalian menyampaikannya dengan cepat “ Pada riwayat Ahmad : “ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pemisah yan akan dapat dihafalkan oleh yang mendengarnya “77 tidaklah berbicara

dengan cepat sebgaimana kalian berbicara dengan cepat. Beliau berbicara dengan tanda

76 77

HR. Al-BUkhari ( 6327 )

HR. Al-Bukhari ( 3568 ), Muslim ( 2493 ), Ahmad ( 25677 ), At-Tirmidzi ( 3639 ) dan Abu Daud ( 3654 )

Perkataan Aisyah : “ Bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam

tidaklah

menyampaikan hadits dengan cepat sebagaimana kaliam menyampakannya dengan cepat “. An-Nawawi mengatakan : “ Memperbanyak dan saling menyambungnya “78 Ibnu Hajar mengatakan : “ Maksudnya bahwa menyembung penyampaian suatu hadits dengan tergesa-gesa , sebagiannya disampaikan setelah sebagian lainnya agar yang mendengarkannya tidak tersamar “79

15. Merendahkan suara di saat berbicara Allah ta’ala berfirman: “Dan pelankanlah suaramu, karena sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai “ ( QS. Lukman : 19 ) Firman Allah ta’ala : “ Dan pelankanlah suaramu “, suatu adab bersama kaum manusia dan juga kepada Allah. “ Dan sesungguhnya seburuk-buruk suara “ yakni yang paling jelek dan paling hina , “ adalah suara keledai “. Seandainya mengeraskan suara mengandung suatu faedah dan mashlahat, tidaklah menjadi ciri khusus keledai yang anda telah ketahui kehinaan dan kebodohannya. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Sa’di80. Tidak disangsikan lagi jikalau mengeraskan suara kepada dorang lain merupakan adab yang buruk, dan menunjukkan ketidak hormatan kepada orang lain. Asy-Syaikh Taqiyuddin mengatakan : “ Barang siapa yangmengangkat suaranya kepada orang lain, setiap yang berakal sehat akanmengetahui bahwa dia memiliki sikap kurang hormat kepada orang lain … Ibnu Zaid emngatakan : seandainya mengangkat suara suatu yang baik tidaklah Allah menjadikannya bagi seekor keledai81.
78 79 80 81

Syarh Muslim ilid 8 ( 16 / 45 ) Fathul Bari ( 6 / 669 ) Taisiir Al-Kariim Ar-Rahman fii Tafsiir Kalaam Al-Mannan ( 6 / 160 ) Al-Adab Asy-Syar’iyah ( 2 / 26 )

16. Beberapa lafazh dan kalimat yang harus dihindari Dari lisan-lisan sebagian pembicara, terlepas beberapa ungkapan dan lafazh-lafazh yang dilarang oleh syara’. Sebagian besar diantara mereka tidaklah mengetahui hukumnya. Dan sebagian mengetahui hukumnya akan tetapi mengucapkannya karena lupa. Dan yang paling buruk adalah yang mengucapkannya dengan sengaja sementara dia mengetahuinya. Pada kesempatan ini tidaklah memungkinkan bagi kita untuk mencakup semua lafazh-lafazh tersebut, akan tetapi cukuplah bagi kita untuk menyebutkan sebagiannya secara ringkas, karena sesuatu yang tidak dapat dijangkau seluruhnya tidaklah lantas ditinggalkan sebagian besarnya. Masalah: Sebagian kaum muslimin mengatakan bahwa membenarkan lafazh bukan suatu yang urgen jikalau hati yang mengucapkannya selamat. Jawab : Apabila yang dimaksud adalh membenarkan lafazh-lafazh tersebut disesuaikan dengan bahasa Arab, maka perkataan ini benar adanya. Karena bukanlah suatu yang urgen – dari tinjauan aqidah yang selamat – jikalau lafazh-lafazh tersebut tidak selaras dengan bahasa Arab, selama maknanya dapat dipahami dan selamat. Namun jikalau yang dimaksudkan disini dengan memperbaiki lafazh-lafazh pembicaraan, adalah meninggalkan lafazh-lafazh yang menunjukkan kekufuran dan kesyirkan, maka perkataan tersebut tidaklah benar, bahkan membenarkan lafazh-lafazh tersebut suatu yang urgen. Dan tidak mungkin diaktakan kepada seseorang : silahkan lisan anda bebas mengucapkan apapun juga selama niat anda benar, melainkan kita katakan: dengan perkataan-perkataan tertentu yang telah disampaikan oleh syariat Islam. Demikian yang dikatakan oleh Ibnu ‘Utsaimin82.

a. Lafazh-ladazh pengkafiran, tabdi’ – tuduhan sebagai pelaku bid’ah – dan tafsiq – tuduhan sebagai seorang fasik –
82

Fatawa Al-‘Aqidah ( Daar Al-Jiil, Maktabah As-Sunnah ) cet. 2 1414 H ( hal. 730 )

Telah diketahui sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

: Siapa saja yang

mengatakan kepada saudaranya wahai kafir, maka sungguh kalimat itu tertuju kepada salahsatu dari keduanya “ Dan pada riwayat Abu Daud : “ Siapa saja seorang muslim yang mengkafirkan seorang muslim lainnya, maka apabila dia memang seorang yang kafir, apabila tidak maka yang menuding itulah yang kafir “83 Sekelompok manusia yang Allah butakan mata hati mereka dan melanggar kehormatan orang lain dengan ucapan takfir, tabdi’ dan tafsiq. Seolah-olah Allah mereka smebah dengan perkataan itu. Diantara mereka ada yang menggunakan ungkapan takfir, tabdi’ atau tafsiq secara mutlak dengan hati yang lapang, sementara para ulama as-salaf dari generasi sahabat dan para Imam Islam yang meniti jalanpetunjuk mereka – seperti Abu Hanifah, Malik,Asy-Syafi’I dan Ahmad – mereka demikian berhati-hati dengan ibarat itu. Terlebih dalam ungkapan takfir. Dimana mereka tidaklah mengucapkan sedikitpun dari lafazh itu kecuali setelah ada pada mereka dalil-dalil yang tidak ada keraguan lagi padanya. Dan juga telah tertiadakan pada diri seseorang yang dituju segala penghalang, dan argumen telah tersampaikan kepadanya. Dari Abu Bakrah radhiallahu ‘anhu, beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam khuthbah beliau pada hari ‘Iedul Adha mengatakan: “ … Sesungguhnya darah kalian, harta benda kalian dan kehormatan kalian haram atas diri sesama kalian.Sebagaimana haramnya hari ini bagi kalian , pada bulan ini, dan dinegeri ini. Dan yang hadir seharusnya menyampaikan kepada yang tidak hadir, dan karena yang hadir bisa jadi menyampaikannya kepada yang lebih memahaminya “84

83

HR. Al-BUkhari ( 6104 ) dan lafazh diatas adalah lafazh beliau, Muslim ( 60 ), Ahmad ( 4673 ), At-Tirmidzi ( 2637 ), Abu Daud ( 4687 ) dan Malik ( 1844 )
84

HR. Al-Bukhari ( 67 ) dan lafazh diatas adalah lafazh beliau, Muslim ( 1679 ), ahmad ( 19873 ), Ad-Darimi ( 1916 )

b. Perkataan seseorang: Bahwa celakalah kaum manusia. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu beliau berkata: bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Apabila seseorang mengatakan bahwa kaum manusia telah celaka, maka dialah yang paling celaka diantara mereka “85 Sabda beliau : “ Maka dialah yang paling celaka diantara mereka “, dengan hukum rafa’ – sebagai khabar mubtada`, penj - dan juga diriwayatkan dengan fathah – yakni fi’il madhi wazan af’ala,penj – yakni dialah yang menyebabkan mereka celaka, bukan mereka yang binasa secara hakikatnya “86 An-Nawawi mengatakan: “ Para ulama sepakat atas celaan ini, sesungguhnya dia bagi orang yang mengatakannya adalah untuk meremehkan orang lain, menyombongkan diri dihadapan mereka, mengutamakan dirinya atas mereka dan menjelekkan keadaan- keadaan mereka dikerenakan dia tidak mengetahui rahasia Allah pada ciptaan-Nya, mereka berkata : Adapun yang mengatakan demikian dalam keadaan sedih ketika dia melihat pada dirinya dan pada orang lain ada kekurangan dalam perkara agama maka hal tersebut tidak mengapa. Sebagaimana dia berkata : Saya tidak mengetahui ummat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali mereka semuanya mendirikan shalat. Demikianlah penafsiran Imam Malik dan diikuti oleh kaum muslimin. Al-Khaththabi mengatakan : “ Maknanya bahwa seseorang akan selalu mencela kaum muslimin dan menyebutkan keburukan mereka dan mengatakan kaum manusia telah rusak dan semsial perkataan itu. Apabila dia melakukan hal itu maka dialah orang yang paling binasa dan paling buruk keadaannya diantara mereka. Karena dosa yang menyertainya karena mencela dan melecehkan mereka. Dan terkadang hal tersebut akan mengakibatkan sifat ‘ujub – kekaguman pada diri

85

HR. Muslim ( 2623), Ahmad ( 9678 ), Abu Daud ( 4983 ), Malik ( 1845 ), Al-Bukhari didalam Al-Adab Al-Mufrad ( 759 )
86

Lihat Syarh Shahih Muslim jilid 8 ( 16 / 150 )

sendiri – dan memandang bahwa dirinyalah yang paling baik diantara mereka. Wallahu a’lam87.

c. Bersumpah kepada selain Allah Hanya Allah subhanahu wata’ala semata yang boleh bersumpah dengan nama makhluk-Nya yang dikehendaki-Nya. Karena Dialah Al-Khalik yang dapat berbuat sekehendaknya pada kerajaan-Nya. Sementara kaum manusia, jin, pepohonan, gunung, langit dan bumi adalah makhluk ciptaan-Nya, maka Allah dapat bersumpah dengan segala yang Dia kehendaki. Adapun makhluk, tidaklah diperbolehkan bersumpah dengan selain penguasa mereka dan yang menciptakan mereka. Al-Hafidz mengatakan: “ para ulama berpendapat , hikmah dari larangan bersumpah kepada selain Allah karena bersumpah kepada sesuatu menunjukkan pengagungan kepada sesuatu tersebut. Sedangkan keagungan yang sebenarnya hanya teruntuk kepada Allah semata88. Sumpah yang dilakukan oleh makhluk dapat dengan salah satud ari tiga huruf sumpah , yaitu: al-wawu, al-baa`, at-taa`. Anda mengatakan: Tallahi, Billahu dan Wallahi. Ataukah bersumpah dengan ‘izzah Allah, sifat-sifat-Nya, kalimant-kalimat-Nya. Al-Bukhari mengatakan : Bab. Al-Halaf bi-‘izzatillahi wa shifatihi wa kalimaatihi – Bab. Bersumpah dengan ‘izzah/kemuliaan Allah, sifat-sifat-Nya dan kalimatkalimat-Nya -, kemudian beliau mengatakan : … Abu Hurairah mengatakan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : Seseorang akan berada diantara surga dan neraka, lalu dia berkata: Wahai Rabb-ku, palingkanlah wjaahku dari api neraka , Demi kemuliaan-Mu saya tidaklah memohon kepada selain Engkau.”89

87

Syarh Muslim jilid 8 ( 16 / 150 )

88

Fathul Baari ( 11 / 540 ) Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Aiman wa An-Nudzur

89

Dan sumpah juga dapat dengan meniyandarkan salah satu makhluk ciptaan Allah kepada-Nya, seperti menyandarkan ka’bah, langi dan bumi kepada Allah subhanahu wata’ala. Sebagaiman perkataan anda:” Demi Rabb ka’bah, demi Rabb langit dan lain sebagainya, dengan mensucikan Allah jalla wa ‘ala dari penyandaran makhluk-makhluk Allah yang dianggap buruk penyebutannya. Walaupun Allah yang menciptakannya, akan tetapi adab berasama allah mengharuskan seperti itu. Sebagaimana doa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terkenal : “ Dan segala keburukan tidaklah disandarkan kepada Engkau “90 Sedangkan Allah adalah oencipta segala kebaikan dan keburukan. Dan ada beberapa lafazh yang telah didengarkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , yang temasuk kedalam tiga lafazh sumpah sebelumnya. Seperti sabda beliau :Ayyamillah, sabda beliau : Demi Zat yang jiwaku berada ditangan-Nya. Dan sabda beliau : Tidaklah Demi Zat yang membolak-balikkan hati “91 Dan barang siapa yang bersumpah kepada selain Allah, maka dia telah kafir atau telah berbuat syirik, sebagaimana yang diterangkan didalam hadits Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma. At-Tirmidzi meriwayatkan : “ Bahwa Ibnu Umar telah mendengar seseoran mengatakan : Tidaklah demi Ka’bah. Maka Ibnu Umar mengatakan : Janganlah bersumpah kepada selain Allah karena saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Barang siapa yang bersumpah kepada selain Allah maka dia telah kafir atau berbuat syirik “92 Hadist tersebut sebagaimana yang anda lihat berlaku umum pada larangan bersumpah kepada segala sesuatu selain Allah. Dan beberapa hadits lainnya dalam lafazh yang lebih spesifik. Seperti larangan bersumpahdengannenek moyang. Dari
90

HR. Muslim ( 771 ), Ahmad ( 805 ), At-Tirmidzi ( 3422 ), An-Nasaa`I ( 897 ), Abu Daud ( 760 ) dan Ad-Darimi ( 1314 )
91 92

HR. Al-Bukhari ( 6627 ), ( 6628 ) dan ( 6629 )

HR. At-Tirmidzi ( 1535 ), dan beliau mengatakan : Hadist hasan, Ahmad ( 6036 ), Abu Daud ( 3251 ) dan Al-Albani menshahihkannya.

Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata : “ Bahwa beliau menjaumpai Umar bin Al-Khathtba diatas kendaraan sementara Umar bersumpah dengan nama bapaknya. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyeru kepadanya : “ Ketahuilah sesungguhnya Allah telah melarang kalian atas nama Allah dan jika tidak maka diamlah “93 Dan diantaranya bersumpah dengan amanah. Dari Buraidah radhiallahu ‘anhu beliau berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Barang siapa yang bersumpah dengan amanah maka dia bukan bagian dari kami “94 Dan juga termasuk dari hal itu , adalah larangan bersumpah dengan Nabi, bersumpah dengan kehidupan,denganmengatakan : Demi kehidupanku ataukah demi kehidupan si fulan dan lains ebagainya yang berupa sumpah kepada selain Allah. bersumpah atas naman nenek moyang kalian, barang siapa yang bersumpah hendaknya dia bersumpah

d. Bersumpah dengan kalimat talak. Telah tersebar disebagian kaum manusia yang jahil sumpah dengan talak. Dengan mengatakan : Bagiku talak, untuk melakukan hal ini , ataukah mengatakan: Bagiku – berlaku – talak tiga , saya tidak akan melakukannya dan lain sebagainya. Orang yang jahil ini bisa menyebabkan kehancuran rumah tnagganya, kezhaliman kepada keluarganya yang sama sekali tidak berdosa. Namun dosa adalah dosa yang diperbuatsi pandir ini yang mempergunakan lisannya tanpa memperhatikan dan melihat akibat dari semua perkara tersebut. Bisa jadi perkara yang dia hendak sumpahkan tersebut adalah sesuatu yang tidak bernila, semisal seseorang bersumpah bagi seseorang lainnya agr dia masuk kedalam rumahnya.
93

HR. Al-Bukhari ( 6646 ), Muslim ( 1646 ), Ahmad ( 4534 ), At-Tirmidzi ( 1533 ), anNasaa`I ( 3766 ), Abu Daud ( 3249 ), Ibnu Majah ( 2094 ), Malik ( 1027 ) dan AdDarimi ( 2341 )
94

HR. Abu Daud ( 3253 ), dan lafazh diatas adalah lafazh beliau, al-albani menshahihkannya, Ahmad ( 22471 )

Bersumpah dengan talak ini, perkara yang diperselisihkan oleh para ulama, ketika yang terjadi adalah melanggar sumpahnya. Mayoritas ulama berpendapat bahwa seseorang yang melanggar sumpahnya wajib jatuh talak. Dan sebagian ulama berpendapat disamakan dengan sumpah al-yamiin, dan harus baginya untuk membayar kaffarah sumpah tersebut ketika dia melanggarnya. Ibnu ‘Utsaimin mengatakan dalam salah satu jawaban beliau : “ Adapun mereka yang bersumpah dengan talak untuk melakukan hal demikian, atau mengharuskan talak jika tidak melakukan hal demikian, ataukah jika engkau melakukan hal demikian maka istriku tertalak, ataukah jika engkau tidak melakukan hal meikian akan istrikau tertalak dan yang serupa dengan sighat-sighat itu, maka perbuatan ini adalah perbuatan yang menyalahi tuntunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Sebagian besar ulama bahkan ini pendapat mayoritas ulama : Bahwa apabila dia melanggar sumpahnya maka wajib jatuh talak darinya kepada istrinya. Walau pendapat yang terpilih , apabila kalimat talak dipergunakan dalam pemakaian sumpah al-yamiin, yaitu ketika diniatkan hanya untuk mendorong dilakukannya sesuatu, menolak sesuatu, untuk membenarkan Berdasarkan firman Allah ta’ala : “ Wahai Nabi mengapakah engkau mengharamkan apa yang Allah telah halalkan bagimu, hanya untuk mendapatkan keridhaan istri-istrimu. Dan Allah adalah Zat yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih. Sesungguhnya Allah telah mewajibkan atas kalian semua untuk berlepas dari sumpah kalian “ (QS. At-Tahrim : 1 – 2 ) Allah menjadikan pengharaman – istri – sebagai suatu sumpah yamiin. Dan juga berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : Sesunguhnya semua maal berdasarkan niatnya, dan masing-masing orang disesuaikan dengan niatnya “ Dan orang ini tidaklah meniatkan talak, melainkan hanya meniatkan sumpah biasa ataukah hanya meniatka suatu yang semakna dengan sumpah yamiin. Apabila dia atau mendustakan atau mempertegas pernyataan, maka hukumnya adalah huku sumpah al-yamin.

melanggar sumpahnya maka

cukup baginya untuk membayarkan kaffarah

sumpahnya. Inilah pendapat yang terpilih95

e. Perkataan seseorang kepada seorang munafik : tuan atau wahai tuanku Diteangkan didalam hadits Buraidah radhiallahu ‘anhu, beliau berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Janganlah kalian mengatakan kepada seorang munafik tuan. Karena apabila dia seorang tuan maka sesungguhnya kalian telah membuat Rabb kalian ‘azza wajalla murka kepada kalian “96 Sabda beliau : “ Apabila dia seorang tuan “ yakni yang dipertuan suatu kaum atau yang mempunyai hamba sahaya laki-laki dan wanita dan harta yang melimpah ,” Maka sesungguhnya kalian telah membuat murka Rabb kalian ‘azza wajalla “, maknanya kalian telah menjadikannya murka karena telah mengagungkan orang tersebut, sedangkan dia tidak selayaknya berhak dengan pengagungan. Bagaimana pula jikalau dia bukan seorang tuan dari salah satu dari makna tersebut, dan dia bersamaandenganitu hal tersebut adalah suatu kedustaan dan kemunafikan … Ibnu al-Atsir mengatakan : “ Janganlah kalian mengatakan kepada seorang munafik tuan, karena jikalau dia seorang tuan bagi kalian maka dia adalah seorang mnafik, dimana keberadaan kalian lebih rendah dari keadaannya. Dan Allah tidaklah meridhai hal itu bagi kalian. Demikian disebutkan didalam ‘Aun Al-Ma’bud97 Catatan penting: Sebagian besar kaum muslimin yang mempelajari percakapan bahasa Inggris tersebar meluas penggunaan kalimat : Mister, dalam percakapan mereka mengikuti kebiasaan orang-orang Inggris. Yang semakna dengan kalimat tuan atau tuanku. Dan larangan berlaku pada seorang munafik, maka lebih utama tentunya terlarang dalam menyapa seorang kafir dan memanggilnyadenganlafazh
95 96

Fatawa Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al –‘Utsaimin ( 2 / 796 )

HR. Abu Daud ( 4977 ),dan lafazh diatas adlah lafazh beliau. Al-Albani menshahihkannya, Ahmad ( 22430 )dan Al-Bukhari didalam Al-Adab Al-Mufrad ( 760 )
97

Syarh Sunan Abu Daud jilid 7 ( 13 / 221 )

ini. Dan ibrah adalah mengikuti makna bukan dengan bentukan katanya. Wallahu a’lam. Ibnul Qayyim mengatakan didalam Ahkam Ahlu Adz-Dzimmah : Pasal. Menyapa ahlul kitab dengan tuanku dan maula-ku. Dan adapun menyapa dengan kalimat tuan kami dan maula kami dan semisalnya adlah perbuatan yang pasti haram98.

f. Mencela masa/zaman Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Allah ‘azza wajalla berfirman : “ Adam Adam telah menyakitiku, dia menghina masa sedangkan Aku adalah masa. Ditanganku segala perkara, Aku membolak-balikkan malam dan siang “99 Pada riwayat Ahmad : “ Janganlah kalian mencela masa, karena sesungguhnya Allah ‘azza wajalla berfirman : Akulah masa, hari demi hari dan malam demi malam milik-Ku,Aku memperbaruinya dan mensilihgantikannya dan Aku mendatangkan kekuasaan setelah kekuasaan – yang pertama “100 Termasuk kebiasaan dizaman Jahiliyah bahwa mereka apabila ditimpakan bencana atau musibah mereka mencela masa. Dan sebagian ummat ini – walau mereka minoritas – yang memangdianggap sebagai orang-orang jahil, anda akan menjumpainya menceritakan hal itu dari mereka ketika ditimpa musibah. Dan pada hadits diatas berisikan larangan mencela masa. Hal itu disebabkan karena mencela masa tiada lain adalah mencela Sang Pencipta masa, Yang mengaturnya dan Yang membolak-balikkannya. Maka mereka dilarang untuk mencela masa agar mereka tidak terperosok dalam mencela Sang Pencipta masa101.
98 99

( 3 / 1322 )

HR. Al-Bukhari ( 4826 ), Muslim ( 2246 ), Ahmad ( 7204 ), Abu Daud ( 5274 ) dan Malik ( 1846 ) HR. Ahmad ( 10061 ). Ibnu Hajar mengatakan : Sanadnya shahih. Lihat Fathul Bari ( 10 / 581 )
100

101

Lihat Fathul Bari ( 8 / 438 ) dan Syarh Shahih Muslim jilid 8 ( 15 / 4 )

Masalah :Apakah dikatakan ini “ zaman tandus/gersang “ ditempat tersebut ?

atau zaman

pengkhianatan atau wahai zaman yang mengecewakan yang saya telah melihatmu

Jawab : Ibnu ‘Utsaimin – hafidzahullah – mengatakan: Ungkapan-ungkapan ini yang disebutkan pada soal ditinjau dari dua sisi : Pertama : Jika ungkapan-ungkapan tersebut berupa celaan yang hinaan pda zaman, maka ini suatu yang haram, tidak dipebolekan. Dikarenakan apapun yang terjadi pada suatu zaman, maka datangnya dari Allah ‘azza wajalla. Barang siapa yang mencelanya berarti mencela Allah. Dari sinilah Allah ta’ala berfirman didalam hadits qudsi : “ Anak Adam telah menyakiti-Ku dengan mencela masa, sedangkan Akulah masa, Ditangan-Ku segala perkara, Aku membolak-balikkan siang dan malam “ Tinjauan yang kedua : Mengatakannya sebagai pemberitahuan , dan ini suatu yang diperbolehkan. Diantaranya firman Allah ta’ala berkenaan dengan Luth ‘alaihis salam : “ Dan beliau berkata inilah hari yang amat sulit “ Yakni hari yang keras . Dan semua orang mengatakan : Ini adalah hari yang sangat keras/sulit. Hari ini terdapat perkara ini dan ini, dan ini perkataan yang tidak mengapa. Adapun perkataan : “ Ini zaman pengkhianatan “, adalah ungkapan celaan karena sifat khianat/menipu adalah sifat tercela dan tidak diperbolehkan. Sedangkan perkataan : “ Wahai zaman yang mengecewakan yang mana saya melihatmu berada dizaman tersebut “ Apabila yang dimaksud yakni wahai kekecewaanku/kegagalanku, maka ini tidaklah mengapa. Dan bukan tergolong celaan kepada masa. Dan apabila yang dimaksud adalah zaman atau hari maka ini termasuk celaan dan tidak diperbolehkan “102

g. Perkataan : Haram bagimu atau haram bagimu melakukan hal demikian
102

Fatawa Al-‘Aqidah ( hal. 614 – 615 )

Tidak diperbolehkan menyifati sesuatu dengan pegharaman kecuali sesuatu tersebut telah diharamkan oleh Allah atau Rasul-Nya. Hal itu adalah menyifati sesuatu yang bukan suatu yang haram dengan pengharaman – walaupun niatnya selamat -. Pada hal tersebut mengandung unsur melampaui batas pada sisi Rububiyah Allah. Dan mempersangkakan seolah-olah hal tersebut sesuatu yang haram, padahal tidak demikian. Dan yang lebih selamat bagi seseorang pada agamanya supaya menjauhi lafazh ini.103 Dan dikhawatirkan atas orang yang mengatakannya termasuk kedalam keumuman firman Allah Ta’ala : “ Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Seseungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung “. (An-Nahl : 116 ) Berkata Asy-Syaukani : “ Dan maknanya adalah janganlah kalian mengharamkan dan mjanganlah kalian mengahalalkan, dikarenakan perkataan yang engkau ucapkan dengannnya lisan-lisan kalian tanpa adanya hujjah”.104

103

Silahkan lihat Fatawa Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Asyraf Abdul Makshud. Daar ‘Alimul Kutub, cet. Kedua 1412 H ( 1 / 200-201 )
104

Fathul Qaadir ( 3 / 227 )

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->