Sengketa Ambalat, Indonesia-Malaysia dalam Perspektif Neorealisme

REP | 16 January 2012 | 20:25 Dibaca: 289 Komentar: 1 Nihil Sengketa Ambalat dalam Perspektif Neorealisme Masalah perbatasan Ambalat telah menyita perhatian Malaysia-Indonesia sejak tahun 1967 hingga saat ini masih dalam tahap perundingan. Sengketa Ambalat kembali mengemuka ketika Malaysia melalui Petronas memberikan konsensi minyak di Ambalat kepada Shell Bv (Belanda) tahun 2005 karena Malaysia menganggap Blok Ambalat sebagai wilayah teritorialnya1[1]. Apa kontribusi serta keterbatasan Teori Neorealisme dalam menjelaskan sengketa Ambalat? Kami menganalisa kasus ini menggunakan Teori Neorealisme yang berkontribusi menjelaskan konflik Ambalat dengan asumsi dasar negara (IndonesiaMalaysia) sebagai aktor utama memperjuangkan kepentingan nasionalnya dalam anarki kemudian menciptakan distribusi kapabilitas hingga menimbulkan security dilemma. Namun keterbatasanteori ini mengesampingkan aktor non-negara (perusahaan multinasional) yang terkait dan mengacuhkan dinamika kerjasama diluar konflik Ambalat. Deskripsi Kasus

1[1] Juwana, Hikmahanto. Penyelesaian Damai Ambalat, dalam Kompas 11 April, Jakarta, 2005.

17 Tahun 1985 dan UU No.4 trilyun kaki kubik gas dari satu titik tambang saja sedangkan ada 9 titik tambang. 3[3] Dengan konvensi tersebut. Padahal. Indonesia. 4 Rahman.700 km2 yang banyak mengandung sumber daya migas yang terletak di perbatasan antara Sabah-Malaysia dan Kalimantan TimurIndonesia. Ambalat menyimpan cadangan potensial yaitu 764 juta barel minyak dan 1. dalam Kompas 12 Maret. Menurut ahli geologi dari lembaga konsultan Exploration Think Tank Indonesia. Bahkan pakar perminyakan Kurtubi menaksir. 31 (Jun. Sedangkan menurut Indonesia. hak istimewa tersebut hanya diberikan bagi negara kepulauan sedangkan Malaysia adalah negara pantai yang berhak menarik 12 mil dari daratan Sabah. 2009) . Jika klaim Ambalat 2[2] Peta buatan Malaysia tahun 1979 ini mendapat protes dari negara yang berbatasan dengan Malaysia seperti. 2005. 6 Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia. Selain itu. Jakarta. Vietnam dan Brunei Darussalam.Ambalat Ambalat merupakan ambang batas laut seluas 6. Ambalat masuk wilayah Indonesia berdasarkan batasan yang diberikan dalam Bab 4 Konvensi Hukum Laut 1982 mengenai negara kepulauan. sengketa ambalat bukan hanya konflik argumen antara Malaysia-Indonesia tapi juga konflik antara ENI-UNOCAL dan Shell Bv sebagai perusahaan multinasional. Pada kenyataannya. Malaysia dan Indonesia memiliki perbedaan persepsi mengenai batas teritorialnya masing-masing. Ibid. Ambalat Ujian Diplomasi dan Harga Diri Negara kepulauan. Peta 1979 juga tidak berpedoman dengan hukum internasional melalui perjanjian antarnegara mengenai perbatasan teritorial sehingga legalitas Peta 1979 masih dipertanyakan. 15 no. Amir. Andang Bachtiar. Sodikin. Indonesia meratifikasi Konvensi Hukum Laut 1982 dalam UU No. secara de facto kawasan Ambalat telah dikelola secara efektif oleh Indonesia sejak tahun 1967 tanpa protes dari Malaysia serta adanya ENI (perusahaan minyak dari Italia) sejak tahun 1999 dan UNOCAL (perusahaan minyak dari AS) sejak tahun 2004 yang telah mengelola sumberdaya migas di perairan Ambalat atas konsesi yang diberikan Indonesia melalui Pertamina menjadi kekuatan untuk mempertahankan perairan kaya minyak tersebut. yang mengakui Indonesia sebagai negara kepulauan yang berhak menarik sejauh 200 mil dari pulau terluar3[3]. Sengketa US$ 40 Milyar Ambalat dalam Gatra vol. Filipina. Nilai yang sangat besar dan menjadi rasional bila kedua negara menginginkan wilayah tersebut. Malaysia dengan Peta Pentas Malaysia 1979 memasukan Blok Ambalat sebagai wilayahnya secara sepihak dengan koordinat ND 6 dan ND 72[2]. Selain itu. Malaysia juga menggunakan Konvensi Hukum Laut Internasional (UNCLOS) 1982 dengan menarik sejauh 12 mil dari pulau terluar (Sipadan-Ligitan). Potensi kekayaan sumber daya migas Blok Ambalat sangat menjanjikan bagi pihak yang memilikinya. Singapura. Mujib. potensi pemasukan negara dari minyak Ambalat bisa mencapai US$ 40 milyar4[4].

1979. pp. karena selama sistem masih anarki. akan mendorong negara untuk mengerahkan segala kemampuan guna memperkuat powernya. 113 9[9] Ibid.dimenangkan Malaysia. 6[6] Waltz. Dengan demikian. semakin besar potensinya untuk memenuhi kepentingan negaranya9[9]. (atomistic-self centric. 195 . kepemilikan SDA. pp. Anarki berarti tidak adanya otoritas bertingkat dalam struktur internasional sebagai bentuk berbalik dari hierarki6[6]. 88Ibid. McGraw Hill. Konsep distribusi kapabilitas menyatakan semakin besar power negara. pp. McGraw Hill. 117 8[8] Ibid. pp. Namun mengakibatkan fenomena security dilemma diantara negara yang berkompetisi dimana masing-masing negara selalu merasa terancam dengan kekuatan negara lawan hingga terus menerus menggali power. Introduction to International Relation. New York. Selain itu. Theory of International Politics. negara akan meningkatkan powernya untuk membela kepentingan nasionalnya. Reading: Addison . pp. strategic) 5[5] Jackson. 88 7[7] Waltz. 111 6[6] Di dalam anarki diperlukan hubungan koordinasi antar unit sistem yang menggambarkan kesamaan mereka. Oleh karena itu. Kenneth. 1979. New York. Robert and George Sorensen. Deskripsi Teori : Teori Neorealisme Teori neorealisme menjelaskan sengketa Ambalat yang dilatarbelakangi adanya konsep anarki. profit seeking. Reading: Addison . Oxford University Press Inc. atau lainnya. 1990. Kenneth.Wesley.Wesley. negara sebagai aktor utama dalam teori neorealisme hanya memusatkan perhatian pada karakter negara secara universal dan konsisten tanpa melihat peranan aktor non negara7[7]. Konsep pemenuhan kepentingan nasional memotivasi negara untuk membela keamanan nasional dan kelangsungan hidupnya baik berupa kedaulatan teritorial. Perbedaan dinamika dan karakter politik tidak diperlukan dalam menentukan struktur politik internasional. pp. negara-negara tetap seperti unit. Bentuk dasar hubungan internasional yang anarki menjadikan negara sebagai aktor rasional5[5]. New York. maka ENI-UNOCAL harus hengkang dari Ambalat digantikan Shell Bv-Petronas. Struktur anarki mendorong negara sebagai aktor utama dalam teori neorealisme untuk berkompetisi bahkan berkonflik guna pemenuhan kepentingan nasionalnya8[8]. Theory of International Politics.

Hikmahanto.Kontribusi Teori Neorealisme dalam Sengketa Ambalat Teori neorealisme berkontribusi menganalisa sengketa Ambalat antara IndonesiaMalaysia dengan konsep struktur internasional yang anarki. Malaysia-RI saling berkompetisi terdorong adanya struktur anarki guna membela kepentingan nasionalnya. Jakarta. . Dari segi diplomasi. dan distribusi kapabilitas hingga security dilemma. Malaysia dengan Peta Pentas Malaysia 1979 dan UNCLOS 1982 sedangkan Indonesia dengan batasan dalam Bab 4 UNCLOS 1982 mengenai negara kepulauan. Dari segi militer. MalaysiaIndonesia saling memperkuat powernya baik dari segi militer atau diplomasi terdorong adanya konsep distribusi kapabilitas. 2005. Penyelesaian Damai Ambalat. Konsep yang digunakan teori neorealisme dalam menjelaskan sengketa Ambalat dinarasikan sebagai berikut: Malaysia dan Indonesia merasa memiliki Ambalat berusaha mempertahankannya sebagai wilayah kedaulatan teritorialnya. dalam Kompas 11 April. pemenuhan kepentingan nasional. negara sebagai aktor utama. Serta pengelolaan kawasan Ambalat secara efektif sejak tahun 1967 menjadi kekuatan RI untuk mempertahankan perairan kaya minyak tersebut10[10]. Pihak Malaysia mengirim kapal perangnya hilir mudik ke wilayah perairan di sekitar Blok Ambalat sedangkan Indonesia guna mempertahankan status quo mengerahkan 4 pesawat Hawk 100/200 dari Skadron Udara 1 Elang Pontianak dan Balikpapan dan membentuk operasi pengamanan Ambalat dengan 10[10] Juwana. maka negara yang paling besar kekuatannya paling berpotensi memiliki Ambalat. Terjadi saling unjuk kekuatan dengan mengerahkan segala bukti kepemilikan atas Ambalat oleh Indonesia-Malaysia baik melalui perjuangan diplomasi atau militer hingga menciptakan situasi security dilemma. Karena konsep kapabilitas bersandar dalam kekuatan terbesar. Malaysia dan Indonesia saling menunjukkan bukti kepemilikan untuk memperkuat powernya. RI-Malaysia saling memperkuat pertahanan dan penjagaan di titik perbatasan perairan ambalat dengan mengerahkan persenjataan. Malaysia-Indonesia sebagai aktor utama dalam neorealisme memperjuangkan kepentingan nasionalnya untuk mendapatkan hak kepemilikkan sepenuhnya atas Ambalat agar dapat menikmati segala hasil kekayaan alam perairan Ambalat. Dalam upaya memperjuangkan kepentingan nasional atas Blok Ambalat.

Empat Hawk TNI AU Jaga Ambalat dalam situs www. Hal ini dikarenakan kacamata neorealisme terlalu menspesialisasikan prilaku aktor negara (RIMalaysia) hingga mengabaikan prilaku perusahaan multinasional sebagai pelaku nyata dilapangan dan kemudian mengintervensi kebijakan aktor negara atas sengketa Ambalat. Kuala Lumpur.go.depdag. “selling mission” Indonesia di Kuala Lumpur didampingi wakil ditjen IATT Departemen Perindustrian dan KBRI Malaysia (atase Perdagangan RI).id/files/ dipublikasikan 21 Agustus 2008 13[13] Dai Bachtiar. Automotive Macthing Forum.id/modules. Indonesia-Malaysia.id/. Artikel diakses pada 5 Januari 2010 dalam situs www. Malaysia-RI mengekspor-impor barang12[12]. Hal ini dikarenakan adanya hubungan saling ketergantungan diantara Malaysia-Indonesia dalam mengelola sumber daya baik berupa jasa atau barang. 11[11] ANTARA./231 yang dipublikasikan 19 Maret 2010 . Keterbatasan Teori Neorealisme dalam Sengketa Ambalat Teori Neorealisme dalam menganalisa sengketa Ambalat tidak dapat menjelaskan peranan aktor non negara yang terlibat langsung. tetapi terdapat dinamika kerjasama dibidang lain diluar konflik Ambalat. sengketa Ambalat bukan hanya permasalahan bagi RI-Malaysia tetapi juga permasalahan bagi perusahaan multinasional pengelolaan Migas ENI-UNOCAL dan Shell Bv. 20-21 Agustus 2008.dephan.Satuan Radar 225 Tarakan11[11]. Meski konflik Ambalat terus berlanjut hingga saat ini. Misalnya dalam bidang perdagangan. Pengiriman TKI ke Malaysia akan dimulai April 2010. Kedua negara dan perusahaan multinasional bertujuan mengambil keuntungan atas SDA migas di perairan Ambalat.php diakses pada 5 Januari 2010 12[12] Kerjasama bisnis industri komponen otomotif antara perusahaan industri komponen otomotif Indonesia (GIAMM) dengan perusahaan industri komponen otomotif Malaysia (MAA).. bidang jasa ketenaga kerjaan. Indonesia mengirim TKI ke Malaysia13[13]. Fenomena security dilemma dalam sengketa Ambalat ditimbulkan adanya rasa ancaman Indonesia terhadap Malaysia atau sebaliknya hingga terus menerus menggali powernya demi mencapai persepsi bahwa dirinya memiliki power terbesar dibanding power lawan.go.go.bnp2tki. Pada kenyataannya. Artikel diakses pada 5 Januari 2010 dalam situs www. Departemen Perdagangan RI.

Petronas kepada perusahaanminyak Belanda. Sebaiknya agar masalah konflik Ambalat ini tidak semakin berlarut. maka terlihat adanya perjuangan pemenuhan kepentingan nasional dalam anarki. Shell. Namun di sisi lain. masalah utamanya terletak pada peranan perusahaan multinasional yang terjun langsung kelapangan.com Hubungan Republik Indonesia dengan Malaysia. Motivasinya untuk memperluas wilayah dan menguasai sumber daya yang terkandung di perairan Ambalat. Hal ini berawal dari penjualan hak eksplorasi blok Ambalat yangkaya minyak oleh perusahaan minyak Malaysia.org/web/index. saat ini berada dalamsituasi menghangat. Dengan menggunakan teori neorealisme dalam menganalisa sengketa Ambalat. jangan terlalu fanatisme terhadap Teori Neorealisme meskipun memiliki dampak positif untuk memacu negara memperjuangkan kepentingan nasionalnya. dan bahkan sebelumnya pemerintah RIsudah 14[14] Pembentukkan desk khusus sebagai hotline dan komunikasi kalangan pemuda di kedua negara guna membina hubungan yang lebih erat dimasa mendatang. Teori Neorealisme juga terlalu menspesialisasikan aktor negara hingga mengacuhkan prilaku aktor non negara tersebut. A. Ekonomi Univ. Yani Tromol Pos 1 Pabelan Kartasura Surakarta 57102Hp 08156718444email:agussetyawan-a@mailcity. Serta bentuk kerjasama lainnya baik bilateral atau mutilateral.Artikel diakses pada 5 Januari 2010 dalam situs www. dan distribusi kapabilitas hingga security dilemma.php yang dipublikasikan14 Juli 2010 .bidang kepemudaan dan olahraga dengan membentuk desk khusus14[14].comataurmb_anton@yahoo. negara sebagai aktor utama. Anton A Setyawan-Artikel Ekonomi-Politik KONFLIK RI-MALAYSIA DALAM KONTEKSEKONOMI-POLITIK INTERNASIONAL Anton A.MSiDosen Fak. Akan tetapi. SE. RI-Malaysia bentuk ‘Desk’ Kerjasama Kepemudaan dan Olahraga. terdapat dinamika kerjasama dibidang lain diluar konflik Ambalat serta mengabaikan prilaku aktor non-negara dalam kompetisi memperjuangkan kepentingan nasional.kbrikualalumpur. menyusul klaim Malaysia terhadap blok Ambalat di lautSulawesi. Kesimpulan Masalah perbatasan Ambalat merupakan masalah menyita perhatian antara Malaysia-RI karena perbedaan persepsi mengenai batas teritorialnya masing-masing. Setyawan. Muhammadiyah SurakartaJl. KBRI Kuala Lumpur. Indonesia merasa yakin kawasan blok Ambalat initermasuk ke dalam wilayah NKRI. Hal ini juga sebagai tindakan preventif atas keterlibatan perusahaan multinasional yang ikut campur dengan berbagai kepentingannya.

Namun. karenabeberapa masalah yang melibatkan kedua negara. Malaysiamengklaim Ambalat sebagai bagian dari wilayahnya berdasarkan peta yangmereka susun pada tahun 1979. Padamasa pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri. Motif Ekonomi-Politik Pada masa lalu. Secara diplomatic. sehingga setiap ancaman terhadapkedaulatan negara harus segera diatasi. Padahal peta itu bermasalah karena negara-negara di kawasan ASEAN.ada juga pihak yang mengkritik pemerintah Fak Ekonomi UMS-Maret 20051 Anton A Setyawan-Artikel Ekonomi-Politik terlalu reaktif bila langsung menggunakan kekuatan militer. meskipun kemudiandapat diselesaikan secara baik. masalah TKIillegal juga sempat menganggu hubungan kedua negara. Indonesiamempertahankan kawasan Ambalat berdasarkan hukum internasional.kekuatan militer kedua negara sudah mulai terlibat dalam konflik. yang agak mengkhawatirkan. pada saat KRI Rencong TNI ALterlibat manuver dengan sebuah kapal perang Malaysia. meskipun banyak diantara mereka yang tidak kembali. Saat itu.Politik Ganyang Malaysia pada tahun 60-an benar-benar dijiwai generasipada masa itu. Kenangan masa lalu itulah yangmengilhami masyarakat Indonesia sekarang bersikap lebih keras padaMalaysia. RI-Malaysia mempunyai sejarah hubungan yang tidak harmonis.Konflik yang terjadi antara RI-Malaysia bisa menjadi ganjalan dalammewujudkan ASEAN yang bersatu. sehingga banyak pemuda yang bersedia masuk wamil dandikirim di belantara Serawak untuk menyerbu Malaysia. Pemerintah RI sendiri menganggapkeutuhan NKRI merupakan harga mati. kerena hal ini menyangkutkedaulatan NKRI. Saat ini ada tujuh kapal perang TNI AL yang berpatroli dikawasan konflik dengan dukungan beberapa pesawat pengintai. Sangat beresiko untuk membiarkan konflik ini berlarut-larut karenakedua negara ini mempunyai posisi penting dalam menjaga kestabilanwilayah Asia Tenggara. Indonesia jugakehilangan Sipadan dan Ligitan yang jatuh ke tangan Malaysia. RI di masa Soekarno menganggap Malaysia sebagai antek imperialisme karena kedekatannya dengan Inggris. meskipundalam skala kecil. pemerintah belum mengoptimalkan jalur diplomatic untuk menyelesaikan masalah ini. yang salah satu isinya adalah mengganyang Malaysia. Fak Ekonomi UMS-Maret 20052 . Namun demikian. Masalah ini menjadi serius karena wilayah yangdiperebutkan adalah kawasan kaya minyak. Latar belakang militer presiden SBY membuat beliautidak ragu-ragu menggunakan kekuatan militer untuk mempertahankanwilayah RI. Vietnam.Akhir-akhir ini hubungan RI-Malaysia tidak begitu harmonis.Banyak pihak yang menyarankan pemerintah SBY agar bertindak secara tegas dalam masalah Ambalat ini. Hal inidikarenakan. Namun demikian.menjual hak eksplorasi minyak di kawasan ini kepada perusahaanminyak Unocal.sudah terjadi beberapa kali kontak senjata antara militer kedua negara. RI sudah melayangkan protes resmikepada pemerintah Malaysia. yangmenyatakan bahwa negara kepulauan memiliki batas luar wilayah sampaidengan 12 mil laut. masalah saling klaim di Ambalatakan menjurus ke konflik yang serius bila tidak segera diselesaikan. Dalam perkembangannya sempatterjadi ketegangan antara kedua pihak. Sebelum ini. Namun. yaitu Singapura.Potensi minyak mentah di kawasan Ambalat merupakan penyebablain kedua negara berusaha mempertahankan klaimnya. Muncullah saat ituDwikora.sekaligus unjuk kekuatan militer itu dilakukan menyusul adanya pesawat ALMalaysia yang berpatroli di wilayah RI. Selain itu. Filiphina danThailand juga memprotes penggunaan peta tersebut. Patroli. konflik ini juga lebihmudah diselesaikan melalui jalur diplomatic karena adanya wadah ASEANtersebut. ditambah dengan perasaan terhina karena banyak TKI (illegal)yang tertangkap di negara jiran tersebut. kedaulatan sebuahnegara dipertaruhkan dalam masalah ini.

dampak kenaikan BBM. dan Wacana Keberpihakan Media Posted on 25 January 2012 . Nasionalisme. Konflik Ambalat. kita tidak akan mampu membiayaisebuah perang dengan APBN defisit.Anton A Setyawan-Artikel Ekonomi-Politik Mengutamakan Jalur Diplomatik Penyelesaian terbaik bagi konflik Ambalat ini adalah melalui jalurdiplomatic.namun tidak perlu pemerintah membuang energi untuk membawa negara inike dalam sebuah konflik serius dengan negara lain. Semoga konflik RI-Malaysia ini bisadiselesaikan pemerintah dengan cara yang elegan.Kedaulatan NKRI adalah harga mati. Pemerintah Malaysia masih bersikap kooperatif dalammenyelesaikan masalah ini melalui perundingan. Masalah pemulihan ekonomi. Selain itu secara ekonomi. Konflik bersenjata dengan negara lain adalah hal terakhir yang kitainginkan. Masalah-masalah yangada di dalam negeri saat ini masih terlalu banyak dan memerlukanpenyelesaian segera. terbukti dari kesuksesan diplomasi pemerintah untuk membujuk GAM agar menarik tuntutan merdeka dan menerima otonomi khusus. Penggunaan kekuatanmiliter hanya akan menyebabkan kestabilan Asia Tenggara dan jugakestabilan ekonomi-politik RI menjadi terganggu. Kita sepakat untuk hal ini. termasuk saran beberapaanggota DPR untuk menggunakan kekuatan militer merupakan tindakanyang terlalu dini.Potensi ini harus dimanfaatkan. Selain itu kemampuan diplomasi pemerintah saat ini bisadiandalkan. Sikap reaktif sejumlah kalangan.pemberantasan korupsi. Penyelesaian diplomaticlebih masuk akal. penanganan illegal loging dan rehabilitasi-rekonstruksi NAD dan Sumut pasca tsunami memerlukan penyelesaiansegera.

media akan berada dalam tiga kemungkinan. Setelah kasus Ambalat. media itu telah berpihak kepada suatu nilai. Suasana panas semakin menjadi karena di sejumlah kota di Indonesia mendadak berjangkit sentimen . hal. 20 Maret 2005. konflik tersebut juga cepat menguap seiring dengan bergantinya isu-isu seksi lainnya yang menggeser perhatian media. dan yang lebih aktual adalah peta versi baru buatan Inggris. tepatnya pada tahun 2005 menjadi contoh sempurna bagaimana wacana keberpihakan media di Indonesia dalam memberitakan konflik politik antarnegara. Ketika media menyelekasi pemuatan berita. Dalam konteks ini. menjadi objek tindakan saling klaim oleh masingmasing negara. berdasarkan peta warisan kolonial. Malaysia juga tak mau kalah. Pemilihan ini jelas sangat subjektif dan bergantung pada misi. nilai.Iwan Awaluddin Yusuf[1] Media massa memiliki keterbatasan dalam menyajikan seluruh realitas sosial sehingga ada proses seleksi saat para editor sebagai gatekeeper memilih berita-berita mana saja yang akan dimuat atau tidak. Namun. Keberpihakan yang paling mendasar terhadap suatu objek adalah perasaan mendukung (favourable) maupun perasaan tidak mendukung (unfavourable). Kasus sengketa wilayah antara Indonesia dengan Malaysia atas wilayah Ambalat beberapa tahun lalu. Berbagai aksi menentang Malaysia kian ramai digelar. dengan mengatakan bahwa peta tersebut sudah tidak up to date. Ambalat pun dianggap sebagai bagian dari wilayah Malaysia (TEMPO. Dengan patokan batas maritim tersebut. yaitu wilayah perairan seluas lapangan sepakbola bernama Karang Unarang. atau ideologi yang ingin disampaikan media massa. atau negatif. Sengketa Ambalat di Media Garis depan perbatasan Indonesia dan Malaysia. memanasnya hubungan politik Indonesia-Malaysia kembali terjadi beberapa kali karena berbagai sebab. yaitu apakah media cenderung berafeksi positif. netral. visi. Munculnya kasus Ambalat ini memancing emosi bangsa Indonesia bahwa kedaulatan negara bukan hanya urusan negara. Bumbubumbu nasionalisme dan patriotisme memenuhi ruang-ruang berita media Indonesia. Indonesia mengatakan dengan tegas bahwa wilayah tersebut– juga Ambalat– merupakan bagian dari kepulauan Indonesia. 28).

Meski seringkali terdapat faktor “dorongan”–secara langsung maupun tak langsung–dari pemerintah untuk membela negara atau posisi pemerintah yang tidak tegas dalam berdiplomasi. pembentukan opini tentu terjadi di masyarakat. Perasaan memiliki (sense of belonging) bisa menjadi faktor yang cukup memengaruhi cara para jurnalis memaknai sebuah peristiwa. Di satu sisi. namun terlibatnya semangat nasionalisme seorang jurnalis sedikit banyak memengaruhi objektivitas dalam menulis berita. etnis. Kasus Ambalat seakan membuka memori warga kedua negara bahwa sebelumnya mereka pernah berseteru dan menimbulkan sentimen-sentimen sejarah. dengan tujuan menjaga citra bangsa. apalagi yang menyangkut dengan kedaulatan negara masing-masing. Peter Alter (1989: 5) . dan kelompok. sama saja mereka mengkhianati konsepsi keadilan dan keseimbangan berita dalam jurnalisme profesional yang sudah dianut sekian lama. bertebaran di ruang-ruang berita media massa cetak.” (cetak tebal oleh penulis). Begitu pula dengan para pelaku media. Sebut saja TEMPO (edisi 14-20 Maret 2005. Pada titik ini. sedikit banyak. berita tidak lagi berada di tengah-tengah dan tidak berpihak. Sejumlah posko ”Ganyang Malaysia” berdiri di berbagai daerah. Jika begitu saja membela negara dan tidak memberikan berita dengan berimbang. dengan praktik seperti itu. Sekilas praktik jurnalisme ini tidaklah menjadi masalah. dan gerakan anti-Malaysia juga lahir dengan nama yang sama. Malah. Ideologi kebangsaan atau nasionalisme. Dalam kasus peliputan berita tentang Ambalat misalnya. semakin lama wartawan ditengarai potensial untuk menyebarkan berita bohong. Sementara jika tidak. Lazimnya ketika negara sedang dilanda konflik bilateral. hal. untuk kemudian merekonstruksikannya dalam bentuk berita. Ditambah lagi dengan konteks historis Indonesia yang pernah berkonflik dengan Malaysia. ada semacam rasa bersalah karena dianggap tidak setia dan loyal pada negara. Ada semacam dilema dalam diri jurnalis Indonesia. dipengaruhi oleh hasil pemberitaan media. seluruh elemen warganegara tergerak untuk membangkitkan semangat kebangsaannya. adalah sebuah paham yang pada intinya mensyaratkan kecintaan yang besar pada tanah air. bahkan dengan mengusung yel-yel rela mati untuk Indonesia. jika istilah-istilah yang bisa menimbulkan sebuah opini bahwa ”Malaysia adalah musuh”. terdapat indikasi adanya kandungan ideologi kebangsaan dalam penulisan berita. Konteks historis ini hanya satu dari sekian banyak faktor. Maka tak heran. Tapi. jika memang perang militer harus terjadi. atau dalam konteks untuk tetap menjaga kedaulatan negara.”.anti-Malaysia. atau Suara Merdeka (edisi 14 Maret 2005) yang menulis “…Malaysia sebagai negara tetangga yang mulai menggerogoti keutuhan wilayah Republik Indonesia. terutama di Ambalat. Alasan-alasan seperti menjaga citra bangsa di dunia internasional.28) yang menuliskan ”…kapal Malaysia yang suka memancing geram. yang membuat pelaku media di Indonesia menambahkan bumbu-bumbu patriotisme ke dalam beritanya. Ihwal inilah yang memengaruhi pegiat media dalam membentuk wacana dan opini publik ketika melakukan pemberitaan. bangkitnya semangat nasionalisme dalam diri masyarakat Indonesia. Hal ini cukup menegaskan adanya “campur tangan” rasa kebangsaan individu dalam menulis sebuah berita. media berhasil mengeluarkan kekuatannya dalam memengaruhi wacana yang berkembang di ruang publik.

media mem-blow up realitas menjadi isu sehingga seluruh dimensi konflik menjadi transparan. Tanpa media massa. termasuk di kalangan jurnalis. serta mengevaluasi ulang sikap apriori yang semula terbentuk. Demikian ungkap Tichenor. Paling tidak keberadaannya akan memiliki legitimasi. fanatisme kebangsaan dalam rekonstruksi berita di media massa cetak terjadi karena berbagai faktor. untuk menyajikan berita yang mendukung Amerika. untuk menyajikan berita yang mendukung Amerika. jika diliput dan diberitakan oleh massa akan berubah menjadi konflik yang lebih besar. efek psikologis pemberitaan konflik jauh melebihi apa yang bisa dicapai oleh konflik itu sendiri. . Negara seolah mewajibkan para pelaku media untuk membela negaranya. beban psikologis sebagai pengkhianat bangsa akan membayangi begitu saja. pihak yang terlibat diharapkan memahami sudut pandang pihak lain. Maka. terdapat tekanan besar dari pemerintah. Dalam posisi ini. terdapat tekanan besar dari pemerintah. media berfungsi sebagai pengarah konflik (conflict resolution). Dan meskipun jurnalisme patriotik tersebut dimaksudkan untuk memberi pembelaan kepada negara. Kedua. Pemberitaan konflik melalui media selalu bersinggungan dengan dua sisi: mempertajam atau sebaliknya. Selain karena perasaan senasib sepenanggungan dengan para korban. yakni menjadi mediator dengan menampilkan isu dari berbagai perspektif serta mengarahkan pihak yang bertikai pada penyelesaian konflik. terutama bila menyangkut kepentingan media bersangkutan.. Menyoal Keberpihakan Media Bagaimanapun kecilnya sebuah kontroversi. dkk. bisa dibilang. mereduksi konflik. Lewat pemberitaan di media. Ada sebuah ideologi patriotis yang terkandung dalam berita-berita yang dimunculkan. konflik akan menjadi berita kecil yang terbatas daya jangkaunya.menyebut bahwa nasionalisme juga seringkali memberikan harapan tentang kebebasan dan tatanan sosial yang adil tanpa diskriminasi. Praktik jurnalisme yang demikian ini. Negara seolah mewajibkan para pelaku media untuk membela negaranya. 1980: 119). khususnya pasca peristiwa pemboman gedung World Trade Center tanggal 11 September 2001. Dan meskipun jurnalisme patriotik tersebut dimaksudkan untuk memberi pembelaan kepada negara. dalam bukunya Community Conflict and the Press (1980). sebenarnya pernah diterapkan oleh para jurnalis Amerika Serikat. media sebagai conflict diminisher. Jika tidak. Maka. Selain karena perasaan senasib sepenanggungan dengan para korban. Ketiga. yakni menenggelamkan suatu isu atau konflik. Dalam kaitan ini. Pertama. media sebagai issue intensifier: media berposisi memunculkan konflik kemudian mempertajamnya. dkk. bisa dibilang. satu sama lain anggota sebuah kelompok atau suku bangsa memiliki perasaan sama dan kesetaraan.. Saat itu. beban psikologis sebagai pengkhianat bangsa akan membayangi begitu saja. Sebab. Lebih lanjut Tichenor menilai. penggunaan kata ”kita” – yang menunjuk pada tentara AS – dan kata ”mereka” – yang merujuk pada tentara lawan sangat mudah ditemukan dalam berbagai berita di media AS. pada akhirnya prinsip-prinsip jurnalisme profesional menjadi ternegasikan. fanatisme kebangsaan dalam rekonstruksi berita di media massa cetak terjadi karena berbagai faktor. mengatasi prasangka dan kecurigaan. Jika tidak. pada akhirnya prinsip-prinsip jurnalisme profesional menjadi ternegasikan. setidaknya ada tiga posisi media dalam memberitakan konflik. Secara sengaja media meniadakan isu tersebut. dalam pemberitaan invasi AS ke Irak. entah kepentingan ideologis atau pragmatis. Media menjadi sarana percepatan sebuah topik menuju kesadaran dan kepentingan masyarakat yang lebih luas (Tichenor.

Menurut Aart van Zoest (1991. sebuah teks tak pernah lepas dari ideologi. 2002: 60). Pemahaman ini berlandaskan pada pandangan paradigma kritis. wartawan hendaknya menerapkan jurnalisme damai dalam setiap pemberitaan konflik yang ditulisnya sehingga kontroversi tidak berlangsung berlarut-larut tanpa arah penyelesaian. melainkan sangat rentan akan penguasan oleh pihak dominan. serta hubungan–hubungan apa yang terbentuk. Lalu dengan melihat perbedaan dasar paradigma dan perspektif jurnalisme. serta kepentingan bersama. Faktor-faktor itu adalah fakta. sama saja dengan memahami sebuah produk teks. nilai. serta hasil liputan – yang berkorelasi kuat dengan kemampuan kognitif wartawan menerjemahkan sebuah peristiwa. Dan bahasa. bagaimana seharusnya wartawan bersikap dan berpihak dalam meliput dan memberitakan konflik? Dimulai dari kewajiban wartawan memahami dan mempraktikkan jurnalisme profesional dengan menepati prinsip objektivitas pemberitaan. bahwa berita. adalah suatu konsep sentral dalam analisis wacana yang bersifat kritis. posisi wartawan yang meliput beritanya. melalui simbol-simbol apa media menyebarluaskan sebuah wacana kepada masyarakat. melainkan berita sesungguhnya diliputi sejumlah variabel ketika diproduksi. posisi media yang bersangkutan.Melihat isi sebuah media adalah melihat bagaimana pembentukan wacana sosial di dalamnya. Selanjutnya. yang pada akhirnya disebarluaskan kepada publik. bagaimana sebuah berita dipahami harus selalu diletakkan dalam konteks sosial yang ada. Paradigma kritis memandang berita tidak hanya serangkaian kalimat dan serentetan paragraf dalam teks. Sebuah ideologi. dan lainnya adalah bentuk dari praktik ideologi atau pencerminan dari ideologi tertentu Ini artinya. wartawan juga perlu bekerja kreatif dengan teknik peliputan ala jurnalisme investigasi. adalah sebuah wacana yang sengaja dibangun oleh media. menurut Eriyanto (2001: 13). Memahami berita. maka sama saja dengan melihat bagaimana media merepresentasikan dunia ini. Sebagai titik puncak dari “perjalanan menentukan keberpihakan” ini. Everett M. Itu semua. 2001: 23) menyebutkan bahwa dalam paradigma ini media dipandang sebagai entitas yang tidak bebas nilai. media dipengaruhi oleh seperangkat nilai dan ideologi yang dianut. Sebab. audiens dapat melihat bagaimana realitas empirik ditampilkan oleh berita. merupakan representasi dari dunia nyata. . sehingga media memiliki tendensi-tendensi tertentu. direfleksikan dalam berita yang dihasilkan oleh media tersebut. peran bahasa juga sangat penting dalam pembentukan wacana itu sendiri. ternyata juga dipengaruhi oleh pihak-pihak yang “memegang” media itu sendiri. yang menjadi media penyampaian pesan berita. yang notabene memiliki banyak dimensi wacana yang menarik untuk diteliti. dalam Sobur. Berita. Proses pembentukan wacana oleh media. Perlu diingat. teks. Ketika memahami teks ini. dan propaganda). Ketika menyajikan sebuah berita. Oleh karena itu. jurnalis berkewajiban menerapkan jurnalisme publik sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada masyarakat. terutama dalam pemberitaan mengenai kasus-kasus yang melibatkan kepentingan masyarakat luas. yang dipenuhi oleh prasangka. Ia juga memiliki kemampuan untuk memanipulasi pembaca ke arah suatu ideologi. tujuan. retorika. agar berita yang disajikan kepada pembaca mampu mengungkap realitas konflik secara komprehensif. percakapan. Kemudian setelah standar dasar jurnalisme tersebut terpenuhi. Karenanya. harus dibaca dan dipahami dalam sebuah situasi sosial yang meliputi norma. Rogers (dalam Eriyanto. suatu berita sangat mungkin merepresentasikan ideologi yang diusung serta untuk memenuhi kepentingan berbagai pihak.

1995). [Iwan Awaluddin Yusuf] [1] Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia. Beberapa pandangan meneguhkan bahwa tugas jurnalis yang utama adalah menjalankan profesi secara independen dengan mengikuti kaidah-kaidah jurnalistik. berimbang.Menurut konsepsi “baku” etika jurnalisme. peran ideal seorang jurnalis dalam memberitakan konflik adalah menjalankan tugas profesional. objektif. Karena itu jurnalis tidak boleh membawa kepentingan salah satu pihak yang bertikai. 2004: 59). Jurnalis juga tidak boleh memihak salah satu pihak atau hanya menyuarakan pihak tertentu dan menafikan keberadaan pihak lain. Artinya. Pandangan-pandangan normatif tentang “profesionalisme” wartawan kemudian dikritik oleh Kovach dan Rosenstiel (2004) dan Charity (1995). jurnalis memiliki komitmen untuk mencari berita dan menginformasikannya kepada pembaca sesuai standar teknis dan etika jurnalistik. dan benar sehingga jurnalis harus berada dalam posisi independen dan tidak memihak (Burns. Jurnalis bekerja tidak sekadar memberitakan tanpa memberi alternatif bagi penyelesaian persoalan yang terjadi di ruang publik (Charity. Kesetiaan pada warga ini disebut Kovach sebagai independensi jurnalistik yang sesungguhnya (Kovach & Rosestiel. peneliti di Pusat Kajian Media dan Budaya Populer (PKMBP) – Yogyakarta dan Pemantau Regulasi dan Regulator Media (PR2MEDIA) – Yogyakarta. Dalam ranah kesadaran moral yang lebih luas. Saat bertugas. komitmen kepada warga (citizen) yang dimiliki jurnalis seharusnya lebih besar ketimbang egoisme profesional. dalam pemberitaan konflik. jurnalis diharapkan memiliki kepekaan sosial sehingga mendorong terciptanya arah penyelesaian konflik melalui berita yang ditulisnya. 2002: 22-24). akurat. sekali lagi jurnalis harus selalu menjaga sikap netral. Kovach mengungkapkan. . media yang diwakili oleh jurnalis dituntut berada dalam “situasi tengah” antara pihak-pihak yang terlibat konflik. tugas utama seorang jurnalis adalah bertanggung jawab kepada kepentingan warga. Semua pihak memiliki hak yang sama atas akses informasi. Pendek kata. Untuk memenuhi tuntutan profesionalisme itu.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful