ASUHAN KEPERAWATAN STROKE

A. Pengertian Stroke atau cedera cerebrovaskular (CVA) adalah kehilangan fungsi otak yang diakibatkan oleh berhentinya suplai darah ke bagian otak (Smeltzer & Bare, 2002). Stroke adalah sindrom klinis yang awal timbulnya mendadak, progesi cepat, berupa defisit neurologis fokal dan/ atau global, yang berlangsung 24 jam atau lebih atau langsung menimbulkan kematian, dan semata–mata disebabkan oleh gangguan peredaran darah otak non traumatik (Mansjoer, 2000). Menurut Price & Wilson (2006) pengertian dari stroke adalah setiap gangguan neurologik mendadak yang terjadi akibat pembatasan atau terhentinya aliran darah melalui sistem suplai arteri otak. Dari beberapa uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian stroke adalah gangguan sirkulasi serebral yang disebabkan oleh sumbatan atau penyempitan pembuluh darah oleh karena emboli, trombosis atau perdarahan serebral sehingga terjadi penurunan aliran darah ke otak yang timbulnya secara mendadak. Stroke diklasifikasikan menjadi dua : 1. Stroke Non Hemoragik Suatu gangguan peredaran darah otak tanpa terjadi suatu perdarahan yang ditandai dengan kelemahan pada satu atau keempat anggota gerak atau hemiparese, nyeri kepala, mual, muntah, pandangan kabur dan dysfhagia (kesulitan menelan). Stroke non haemoragik dibagi lagi menjadi dua yaitu stroke embolik dan stroke trombotik (Wanhari, 2008). 2. Stroke Hemoragik Suatu gangguan peredaran darah otak yang ditandai dengan adanya perdarahan intra serebral atau perdarahan subarakhnoid. Tanda yang terjadi adalah penurunan kesadaran, pernapasan cepat, nadi cepat, gejala fokal berupa hemiplegi, pupil mengecil, kaku kuduk (Wanhari, 2008). B. Etiologi Menurut Smeltzer & Bare (2002) stroke biasanya diakibatkan dari salah satu empat kejadian yaitu: 1. Thrombosis yaitu bekuan darah di dalam pembuluh darah otak atau leher. 2. Embolisme serebral yaitu bekuan darah atau material lain yang di bawa ke otak dari bagian tubuh yang lain. 3. Iskemia yaitu penurunan aliran darah ke area otak 4. Hemoragi serebral yaitu pecahnya pembuluh darah serebral dengan perdarahan ke dalam jaringan otak atau ruang sekitar otak. Akibat dari keempat kejadian diatas maka terjadi penghentian suplai darah ke otak, yang menyebabkan kehilangan sementara atau permanen gerakan, berpikir, memori, bicara, atau sensasi. Faktor resiko terjadinya stroke menurut Mansjoer (2000) adalah: 1. Yang tidak dapat diubah: usia, jenis kelamin, ras, riwayat keluarga, riwayat stroke, penyakit jantung koroner, dan fibrilasi atrium. 2. Yang dapat diubah: hipertensi, diabetes mellitus, merokok, penyalahgunaan alkohol dan obat, kontrasepsi oral, dan hematokrit meningkat. C. Patofisiologi Otak sangat tergantung kepada oksigen, bila terjadi anoksia seperti yang terjadi pada stroke di otak mengalami perubahan metabolik, kematian sel dan kerusakan permanen yang terjadi dalam 3 sampai dengan 10 menit (non aktif total). Pembuluh darah yang paling sering terkena ialah arteri serebral dan arteri karotis Interna. Adanya gangguan peredaran darah otak dapat menimbulkan jejas atau cedera pada otak melalui empat mekanisme, yaitu : 1. Penebalan dinding arteri serebral yang menimbulkan penyempitan sehingga aliran darah dan suplainya ke sebagian otak tidak adekuat, selanjutnya akan mengakibatkan perubahan-perubahan iskemik otak. 2. Pecahnya dinding arteri serebral akan menyebabkan bocornya darah ke kejaringan (hemorrhage). 3. Pembesaran sebuah atau sekelompok pembuluh darah yang menekan jaringan otak. 4. Edema serebri yang merupakan pengumpulan cairan di ruang interstitial jaringan otak. Konstriksi lokal sebuah arteri mula-mula menyebabkan sedikit perubahan pada aliran darah dan baru setelah stenosis cukup hebat dan melampaui batas kritis terjadi pengurangan darah secara drastis dan cepat. Oklusi suatu arteri otak akan menimbulkan reduksi suatu area dimana jaringan otak normal sekitarnya yang masih mempunyai pendarahan yang baik berusaha membantu suplai darah melalui jalurjalur anastomosis yang ada. Perubahan awal yang terjadi pada korteks akibat oklusi pembuluh darah

Skema Patofisiologi Sumber : Satyanegara. otoregulasi sudah tidak berfungsi sehingga aliran darah mengikuti secara pasif segala perubahan tekanan darah arteri. Komplikasi Komplikasi yang dapat terjadi pada penyakit stroke menurut Smeltzer & Bare (2002) adalah: 1. Pemberian oksigen suplemen dan mempertahankan hemoglobin serta hematokrit pada tingkat dapat diterima akan membantu dalam mempertahankan oksigenasi jaringan. 3. 1998 (Wanhari. sulit memikirkan atau mengucapkan kata-kata yang tepat. tidak mampu mengenali bagian dari tubuh. D. . Berkurangnya aliran darah serebral sampai ambang tertentu akan memulai serangkaian gangguan fungsi neural dan terjadi kerusakan jaringan secara permanen. Selanjutnya akan terjadi edema pada daerah ini.adalah gelapnya warna darah vena. Hipoksia serebral. 2008). bicara tidak jelas (pelo). penurunan kecepatan aliran darah dan sedikit dilatasi arteri serta arteriole. nyeri kepala mendadak tanpa kausa yang jelas. F. diminimalkan dengan memberi oksigenasi darah adekuat ke otak. Fungsi otak bergantung pada ketersediaan oksigen yang dikirimkan ke jaringan. ketidakseimbangan dan terjatuh dan hilangnya pengendalian terhadap kandung kemih. Selama berlangsungnya perisriwa ini. Diuretik untuk menurunkan edema serebral yang mencapai tingkat maksimum 3 sampai 5 hari setelah infark serebral. Antitrombosit karena trombosit memainkan peran sangat penting dalam pembentukan thrombus dan embolisasi. Penatalaksanaan Medis Penatalaksaan medis menurut menurut Smeltzer & Bare (2002) meliputi: 1. 2. Antikoagulan untuk mencegah terjadinya thrombosis atau embolisasi dari tempat lain dalam sistem kardiovaskuler. penglihatan ganda atau kesulitan melihat pada satu atau kedua mata. E.. pusing dan pingsan. hilangnya sebagian penglihatan atau pendengaran. Tanda dan Gejala Menurut Smeltzer & Bare (2002) dan Price & Wilson (2006) tanda dan gejala penyakit stroke adalah kelemahan atau kelumpuhan lengan atau tungkai atau salah satu sisi tubuh.

Embolisme akan menurunkan aliran darah ke otak dan selanjutnya akan menurunkan aliran darah serebral. d. Angiografi serebral: membantu menentukan penyebab stroke secara spesifik seperti perdarahan. Hidrasi adekuat (cairan intrvena) harus menjamin penurunan viskositas darah dan memperbaiki aliran darah serebral. Ultrasonografi Doppler: mengidentifikasi penyakit arteriovena. 2. MRI (Magnetic Resonance Imaging): menunjukkan daerah yang mengalami infark. Pengkajian Pengkajian adalah langkah awal dan dasar bagi seorang perawat dalam melakukan pendekatan secara sistematis untuk mengumpulkan data dan menganalisa. Integritas Ego Gejala: perasaan tidak berdaya. bergantung pada tekanan darah. Tanda: hipertensi arterial sehubungan dengan adanya embolisme/ malformasi vaskuler. kehilangan sensasi atau paralisis (hemiplegia). Disritmia dapat mengakibatkan curah jantung tidak konsisten dan penghentian trombus lokal. Embolisme serebral.2. susah untuk beristirahat (nyeri/ kejang otot). 4. perasaan putus asa Tanda: emosi yang labil dan ketidaksiapan untuk marah. Selain itu. kemudian ditetapkan suatu rencana tindakan perawatan untuk menuntun tindakan perawatan. EEG (Electroencephalography): mengidentifikasi penyakit didasarkan pada gelombang otak dan mungkin memperlihatkan daerah lesi yang spesifik. merasa mudah lelah. Sinar X: menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal daerah yang berlawanan dari massa yang meluas. G. 1999) adalah : a. Dengan demikian pola asuhan keperawatan yang tepat adalah melalui proses perawatan yang dimulai dari pengkajian yang diambil adalah merupakan respon klien. baik respon biopsikososial maupun spiritual. 7. Kadar protein total meningkat pada kasus thrombosis sehubungan dengan adanya proses inflamasi. CT-scan: memperhatikan adanya edema. sehingga dapat diketahui kebutuhan klien tersebut. gangguan tingkat kesadaran. 3. Dan untuk menilai keadaan klien. 1. 1999) pemeriksaan diagnostik yang dapat dilakukan pada penyakit stroke adalah: 1. frekuensi nadi bervariasi. Pengumpulan data yang akurat dan sistematis akan membantu menentukan status kesehatan dan pola pertahanan klien serta memudahkan menentukan status kesehatan dan pola pertahanan klien serta memudahkan dalam perumusan diagnosa keperawatan (Doenges dkk. obstruksi arteri atau adanya titik oklusi/ ruptur. Tanda: gangguan tonus otot. 3. Sirkulasi Gejala: adanya penyakit jantung. hemoragik. dan TIA (Transient Ischaemia Attack) atau serangan iskemia otak sepintas. 5. Penurunan aliran darah serebral. Eliminasi . Pemeriksaan Diagnostik Menurut (Doenges dkk. emboli serebral. kesulitan untuk mengekspresikan diri. 1999). maka diperlukan suatu asuhan keperawatan yang komprehensif. sedih. gangguan penglihatan. iskemia. Pungsi lumbal: menunjukkan adanya tekanan normal dan biasanya ada thrombosis. dan adanya infark. 6. paralitik (hemiplegia). hematoma. dan malformasi arteriovena. dan integritas pembuluh darah serebral. Hipertensi dan hipotensi ekstrim perlu dihindari untuk mencegah perubahan pada aliran darah serebral dan potensi meluasnya area cedera. dapat terjadi setelah infark miokard atau fibrilasi atrium atau dapat berasal dari katup jantung prostetik. riwayat hipotensi postural. dan terjadi kelemahan umum. c. diperlukan suatu evaluasi yang merujuk pada tujuan rencana perawatan klien dengan stroke non hemoragik. dan disritmia. Adapun pengkajian pada klien dengan stroke (Doenges dkk. kalsifikasi karotis interna terdapat pada thrombosis serebral. Asuhan Keperawatan Dari seluruh dampak masalah di atas. H. disritmia dapat menyebabkan embolus serebral dan harus diperbaiki. dan gembira. Aktivitas/ Istirahat Gejala: merasa kesulitan untuk melakukan aktivitas karena kelemahan. polisitemia. b. curah jantung. Tekanan meningkat dan cairan yang mengandung darah menunjukkan adanya hemoragik subarakhnoid atau perdarahan intra kranial.

Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan 1) Kerusakan sirkulasi serebral 2) Kerusakan neuromuskuler 3) Kehilangan tonus otot/ kontrol otot fasial 4) Kelemahan/ kelelahan d. Neurosensori Gejala: sakit kepala. dan mengatasi kebutuhan spesifik pasien serta respons terhadap masalah aktual dan resiko tinggi (Doenges dkk. kecanduan alkohol. obesitas. perawat harus mampu melakukan hal berikut yaitu mengumpulkan data yang valid dan berkaitan. 2. Keamanan Tanda: masalah dengan penglihatan. kehilangan sensasi pada lidah. adanya riwayat diabetes. pemakaian kontrasepsi oral. kelemahan/ kesemutan. gangguan fungsi kognitif. e.perubahan pola berkemih distensi abdomen dan kandung kemih. bising usus negatif. Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan: 1) Interupsi aliran darah 2) Gangguan oklusif. penurunan kekuatan dan ketahanan. Makanan/ Cairan Gejala: nafsu makan hilang. gelisah. stroke. kejang. afasia. hilangnya rangsang sensorik kontralateral pada ekstremitas. Untuk membuat diagnosis keperawatan yang akurat. Kenyamanan / Nyeri Gejala: sakit kepala dengan intensitas yang berbeda-beda Tanda: tingkah laku yang tidak stabil. ukuran/ reaksi pupil tidak sama. ketidakmampuan untuk berkomunikasi k. dan tenggorokan. gangguan berespons terhadap panas dan dingin. Diagnosa keperawatan pada klien dengan Stroke (Doenges dkk. gangguan dalam memutuskan. Pernapasan Gejala: merokok Tanda: ketidakmampuan menelan/ batuk/ hambatan jalan nafas. Perubahan sensori persepsi berhubungan dengan: 1) Perubahan resepsi sensori. pada wajah terjadi paralisis. penglihatan menurun. mual muntah selama fase akut. 2007). kemudian dilanjutkan dengan perumusan diagnosa. Diagnosa Keperawatan Setelah data-data dikelompokkan. integrasi (trauma neurologis atau defisit) 2) Stress psikologis (penyempitan lapang perseptual yang disebabkan oleh ansietas) e. i. gangguan rasa pengecapan dan penciuman. parestesia 3) Paralisis spastis 4) Kerusakan perseptual/ kognitif c. suara nafas terdengar ronchi. Penyuluhan/ Pembelajaran Gejala: adanya riwayat hipertensi pada keluarga. peningkatan lemak dalam darah. Interaksi Sosial Tanda: masalah bicara. disfagia. timbulnya pernafasan sulit. f. 1999) meliputi : a. Kurang perawatan diri berhubungan dengan: 1) Kerusakan neuromuskuler. 1999). Tanda: status mental/ tingkat kesadaran biasanya terjadi koma pada tahap awal hemoragis. j. merumuskan diagnosis keperawatan dengan tepat. kekakuan. kesulitan dalam menelan. tidak mampu mengenal objek. g. Tanda: kesulitan menelan. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan: 1) Kerusakan neuromuskuler 2) Kelemahan. ketegangan pada otot h. hemoragi 3) Vasospasme serebral 4) Edema serebral b. dan memilih diagnosis prioritas (Carpenito & Moyet. mengelompokkan data. memfokuskan. perubahan sensori persepsi terhadap orientasi tempat tubuh. membedakan diagnosis keperawatan dari masalah kolaboratif. kehilangan kontrol/ koordinasi otot 2) Kerusakan perseptual/ kognitif Gejala: Tanda: . Diagnosa keperawatan adalah cara mengidentifikasi. transmisi.

Perencanaan Perencanaan adalah kategori dari perilaku keperawatan dimana tujuan yang berpusat pada klien dan hasil yang diperkirakan ditetapkan dan intervensi keperawatan dipilih untuk mencapai tujuan tersebut (Potter & Perry. membantu mencegah kontraktur. miring) Rasional: menurunkan resiko terjadinya trauma/ iskemia jaringan. koordinasi. dan kekuatan. b. Diagnosa keperawatan kedua: kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan. 3) Intervensi. 1999) adalah sebagai berikut : a. c) Mulailah melakukan latihan rentang gerak aktif dan pasif pada semua ekstremitas Rasional: meminimalkan atrofi otot. b) Pantau tanda-tanda vital terutama tekanan darah. mendemonstrasikan perilaku yang memungkinkan aktivitas. Rasional: menurunkan tekanan arteri dengan meningkatkan drainase dan meningkatkan sirkulasi/ perfusi serebral. a) Kaji kemampuan klien dalam melakukan aktifitas Rasional: mengidentifikasi kelemahan/ kekuatan dan dapat memberikan informasi bagi pemulihan b) Ubah posisi minimal setiap 2 jam (telentang. messeurable (dapat diukur). a) Pantau/catat status neurologis secara teratur dengan skala koma glascow Rasional: Mengkaji adanya kecenderungan pada tingkat kesadaran. kesadaran penuh. e) Konsultasikan dengan ahli fisioterapi secara aktif. 1) Tujuan. reality(nyata) dan time (terdapat kriteria waktu). Perencanaan merupakan langkah awal dalam menentukan apa yang dilakukan untuk membantu klien dalam memenuhi serta mengatasi masalah keperawatan yang telah ditentukan. meningkatkan sirkulasi. Resiko tinggi kerusakan menelan berhubungan dengan: 1) Kerusakan neuromuskuler/ perceptual h. kesalahan interprestasi informasi. e) Berikan obat sesuai indikasi: contohnya antikoagulan (heparin) Rasional: meningkatkan/ memperbaiki aliran darah serebral dan selanjutnya dapat mencegah pembekuan. d) Letakkan kepala dengan posisi agak ditinggikkan dan dalam posisi anatomis (netral). 3) Intervensi. Diagnosa keperawatan pertama: perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan oedema serebral. psikososial. tanda-tanda vital stabil tidak ada tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial. 1) Tujuan. perseptual kognitif g. dapat melakukan aktivitas secara minimum 2) Kriteria hasil mempertahankan posisi yang optimal. Tahap perencanaan keperawatan adalah menentukan prioritas diagnosa keperawatan. c) Pertahankan keadaan tirah baring. d) Anjurkan pasien untuk membantu pergerakan dan latihan dengan menggunakan ekstremitas yang tidak sakit. Kriteria hasil merupakan tujuan ke arah mana perawatan kesehatan diarahkan dan merupakan dasar untuk memberikan asuhan keperawatan komponen pernyataan kriteria hasil. acceptable (dapat diterima). kurang mengingat 3) Tidak mengenal sumber-sumber informasi 3. Rasional: dapat berespons dengan baik jika daerah yang sakit tidak menjadi lebih terganggu.3) Nyeri/ ketidaknyamanan 4) Depresi f. 2005). penetapan kriteria evaluasi dan merumuskan intervensi keperawatan. Rasional: aktivitas/ stimulasi yang kontinu dapat meningkatkan Tekanan Intra Kranial (TIK).. meningkatkan kekuatan dan fungsi bagian tubuh yang terkena. Tujuan yang ditetapkan harus sesuai dengan SMART. Kurang pengetahuan tentang kondisi dan pengobatan berhubungan dengan: 1) Kurang pemajanan 2) Keterbatasan kognitif. Rasional: program khusus dapat dikembangkan untuk menemukan kebutuhan yang berarti/ menjaga kekurangan tersebut dalam keseimbangan. latihan resistif. dan ambulasi pasien. yaitu spesific(khusus). Gangguan harga diri berhubungan dengan: 1) Perubahan biofisik. Rencana tindakan keperawatan yang disusun pada klien dengan Stroke ( Doenges dkk. tidak gelisah 2) Kriteria hasil tingkat kesadaran membaik. . Rasional: autoregulasi mempertahankan aliran darah otak yang konstan.

Klien dapat mengemukakan bahasa isyarat dengan tepat. a) Kaji tingkat kemampuan klien dalam berkomunikasi Rasional: Perubahan dalam isi kognitif dan bicara merupakan indikator dari derajat gangguan serebral b) Minta klien untuk mengikuti perintah sederhana Rasional: melakukan penilaian terhadap adanya kerusakan sensorik c) Tunjukkan objek dan minta pasien menyebutkan nama benda tersebut Rasional: Melakukan penilaian terhadap adanya kerusakan motorik d) Ajarkan klien tekhnik berkomunikasi non verbal (bahasa isyarat) Rasional: bahasa isyarat dapat membantu untuk menyampaikan isi pesan yang dimaksud e) Konsultasikan dengan/ rujuk kepada ahli terapi wicara. e. tidak terjadi gangguan harga diri 2) Kriteria hasil mau berkomunikasi dengan orang terdekat tentang situasi dan perubahan yang terjadi. atau sensasi yang lain) c) Berikan stimulasi terhadap rasa sentuhan seperti berikan pasien suatu benda untuk menyentuh dan meraba. tajam/ tumpul. Rasional: penurunan kesadaran terhadap sensorik dan kerusakan perasaan kinetic berpengaruh buruk terhadap keseimbangan. Tujuan. Rasional: Klien terlihat bersih dan rapi dan memberi rasa nyaman pada klien c) Rapikan klien jika klien terlihat berantakan dan ganti pakaian klien setiap hari Rasional: Memberi kesan yang indah dan klien tetap terlihat rapi Libatkan keluarga dalam melakukan personal hygiene Rasional: ukungan keluarga sangat dibutuhkan dalam program peningkatan aktivitas klien Konsultasikan dengan ahli fisioterapi/ ahli terapi okupasi Rasional: memberikan bantuan yang mantap untuk mengembangkan rencana terapi dan f. dapat berkomunikasi sesuai dengan keadaannya. 3) Intervensi. 1) Tujuan. penglihatan. 1) Tujuan. terjadi kesapahaman bahasa antara klien. Rasional: Jika klien tidak mampu perawatan diri perawat dan keluarga membantu dalam perawatan diri Bantu klien dalam personal hygiene. 2) Kriteria hasil. kebutuhan perawatan diri klien terpenuhi 2) Kriteria hasil klien bersih dan klien dapat melakukan kegiatan personal hygiene secara minimal 3) Intervensi. Diagnosa keperawatan keempat: perubahan sensori persepsi berhubungan dengan stress psikologis. mengakui perubahan dalam kemampuan. d. Diagnosa keperawatan keenam: gangguan harga diri berhubungan dengan perubahan biofisik.Diagnosa keperawatan ketiga: kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan kerusakan neuromuskuler. Rasional: membantu melatih kembali jaras sensorik untuk mengintegrasikan persepsi dan interprestasi stimulasi. . c. Rasional: penggunaan stimulasi penglihatan dan sentuhan membantu dalam mengintergrasikan kembali sisi yang sakit. 2) Kriteria hasil mempertahankan tingkat kesadarann dan fungsi perseptual. Diagnosa keperawatan kelima: kurang perawatan diri berhubungan dengan kerusakan neuromuskuler. Rasional: pasien mungkin mengalami keterbatasan dalam rentang perhatian atau masalah pemahaman. b) Catat terhadap tidak adanya perhatian pada bagian tubuh Rasional: adanya agnosia (kehilangan pemahaman terhadap pendengaran. tidak ada perubahan perubahan persepsi. d) Anjurkan pasien untuk mengamati kakinya bila perlu dan menyadari posisi bagian tubuh tertentu. perseptual kognitif. a) Kaji kemampuan klien dan keluarga dalam perawatan diri. Rasional: untuk mengidentifikasi kekurangan/ kebutuhan terapi. a) Kaji kesadaran sensorik seperti membedakan panas/ dingin. psikososial. penurunan kekuatan dan ketahanan. mengungkapkan penerimaan pada diri sendiri dalam situasi. e) Bicara dengan tenang dan perlahan dengan menggunakan kalimat yang pendek. perawat dan keluarga 3) Intervensi. rasa persendian. kehilangan kontrol/ koordinasi otot 1) Tujuan.

d) Dorong orang terdekat agar member kesempatan pada melakukan sebanyak mungkin untuk dirinya sendiri. Rasional: membangun kembali rasa kemandirian dan menerima kebanggan diri dan meningkatkan proses rehabilitasi. atau mengarahkan kinerja aktivitas kehidupan sehari-hari. mempertahankan berat badan yang diinginkan. a) Tinjau ulang patologi/ kemampuan menelan pasien secara individual. Pelaksanaan Tindakan keperawatan (implementasi) adalah kategori dari perilaku keperawatan dimana tindakan yang diperlukan untuk mencapai tujuan dan hasil yang diperkirakan dari asuhan keperawatan dilakukan dan diselesaikan. 3) Intervensi. kurang mengingat 1) Tujuan. c) Anjurkan pasien menggunakan sedotan untuk meminum cairan. kerusakan dalam menelan tidak terjadi. Rasional: menguatkan otot fasiel dan otot menelan dan menurunkan resiko terjadinya aspirasi. Rasional: memberikan cairan pengganti dan juga makanan jika pasien tidak mampu untuk memasukkan segala sesuatu melalui mulut. b) Bantu dan dorong kebiasaan berpakaian dan berdandan yang baik. Rasional: untuk mendorong kepatuhan terhadap program teraupetik dan meningkatkan pengetahuan keluarga klien c) Beri kesempatan kepada klien dan keluarga untuk menanyakan hal. Diagnosa keperawatan ketujuh: kurang pengetahuan tentang kondisi dan pengobatan berhubungan dengan Keterbatasan kognitif. Rasional: memberi kesempatan kepada orang tua dalam perawatan anaknya d) Beri feed back/ umpan balik terhadap pertanyaan yang diajukan oleh keluarga atau klien. h. a) Kaji luasnya gangguan persepsi dan hubungkan dengan derajat ketidakmampuannya. kesalahan interprestasi informasi. Rasional: meningkatkan pelepasan endorphin dalam otak yang meningkatkan perasaan senang dan meningkatkan nafsu makan. e) Rujuk pada evaluasi neuropsikologis dan/ atau konseling sesuai kebutuhan. c) Berikan dukungan terhadap perilaku/ usaha seperti peningkatan minat/ partisipasi dalam kegiatan rehabilitasi. Rasional: penentuan faktor-faktor secara individu membantu dalam mengembankan perencanaan asuhan/ pilihan intervensi. 1) Tujuan. Diagnosa keperawatan ketujuh: resiko tinggi kerusakan menelan berhubungan dengan kerusakan neuromuskuler/ perseptual. Implementasi mencakup melakukan. 4. 2) Kriteria hasil mendemonstrasikan metode makan tepat untuk situasi individual dengan aspirasi tercegah.3) Intervensi. membantu. g. Rasional: dapat memudahkan adaptasi terhadap perubahan peran yang perlu untuk perasaan/ merasa menjadi orang yang produktif. a) Kaji tingkat pengetahuan keluarga klien Rasional: untuk mengetahui tingkat pengetahuan klien b) Berikan informasi terhadap pencegahan.hal yang belum jelas. Rasional: mengetahui tingkat pengetahuan dan pemahaman klien atau keluarga e) Sarankan pasien menurunkan/ membatasi stimulasi lingkungan terutama selama kegiatan berfikir Rasional: stimulasi yang beragam dapat memperbesar gangguan proses berfikir. Rasional: intervensi nutrisi/ pilihan rute makan ditentukan oleh faktor-faktor ini. d) Anjurkan untuk berpartisipasi dalam program latihan/ kegiatan. klien mengerti dan paham tentang penyakitnya 2) Kriteria hasil berpartisipasi dalam proses belajar 3) Intervensi. memberikan asuhan perawatan untuk tujuan yang berpusat pada klien (Potter & . faktor penyebab. Rasional: mengisyaratkan kemampuan adaptasi untuk mengubah dan memahami tentang peran diri sendiri dalam kehidupan selanjutnya. Rasional: membantu peningkatan rasa harga diri dan kontrol atas salah satu bagian kehidupan. serta perawatan. e) Berikan cairan melalui intra vena dan/ atau makanan melalui selang. b) Letakkan pasien pada posisi duduk/ tegak selama dan setelah makan Rasional: menggunakan gravitasi untuk memudahkan proses menelan dan menurunkan resiko terjadinya aspirasi.

Evaluasi Evaluasi adalah respons pasien terhadap terapi dan kemajuan mengarah pencapaian hasil yang diharapkan. observasi. Format Dokumentasi Aziz Alimul (2001) mengemukakan ada lima bentuk format yang lazim digunakan: mat naratif Format yang dipakai untuk mencatat perkembangan pasien dari hari ke hari dalam bentuk narasi. 1999). perawatan dan pengobatan stroke. 6. Dokumentasi Keperawatan Dokumentasi keperawatan merupakan aspek penting dari praktik keperawatan yaitu sebagai segala sesuatu yang tertulis atau tercetak yang dapat diandalkan sebagai catatan tentang bukti bagi individu yang berwenang. dan klien dapat memahami tentang kondisi dan cara pengobatannya. Dokumentasi keperawatan juga mendeskripsikan tentang status dan kebutuhan klien yang komprehensif. 3) POR (Problem Oriented Record) POR merupakan teknik efektif untuk mendokumentasikan system pelayanan keperawatan yang berorientasi pada masalah klien. pemeriksaan fisik dan pemeriksaan diagnostic laboratorium. mat Soapier Format ini dapat digunakan pada catatan medic yang berorientasi pada masalah (problem oriented medical record) yang mencerminkan masalah yang di identifikasi oleh semua anggota tim perawat. . 5. Aktivitas ini berfungsi sebagai umpan balik dan bagian kontrol proses keperawatan. Format dukumentasi keperawatan: Teknik Dokumentasi Teknik dokumentasi keperawatan merupakan cara menggunakan dokumentasi keperawatan dalam penerapan proses keperawatan.Perry. c) A = Pengkajian (Assesment) Analisis data subjektif dan objektif dalam menentukan masalah pasien. Evaluasi ini bersifat sumatif. Catatan ini cocok untuk pasien rawat inap. Format soapier terdiri dari: a) S = Data Subjektif Masalah yang dikemukakan dan dikeluhkan atau yang dirasakan sendiri oleh pasien. klien dapat mengungkapakan penerimaaan atas kondisinya.Dalam melaksanakan tindakan mereka tidak tergantung dengan tim lainnya. dilanjutkan. Pelaksanaan keperawatan pada Stroke dikembangkan untuk memantau tanda-tanda vital. memberikan stimulus terhadap sentuhan. 2005). 2005). dapat berkomunikasi sesuai dengan kondisinya.Pelaksanaan keperawatan merupakan tahapan pemberian tindakan keperawatan untuk mengatasi permasalahan penderita secara terarah dan komprehensif. juga layanan yang diberikan untuk perawatan klien (Potter & Perry. kekuatan otot bertambah dan dapat beraktivitas secara minimal. berdasarkan rencana tindakan yang telah ditetapkan sebelumnya. meminta klien untuk mengikuti perintah sederhana. membantu klien dalam personal hygiene. dan menjelaskan tentang penyakit. Data info dapat diperoleh melalui wawancara. Evaluasi asuhan keperawatan sebagai tahap akhir dari proses keperawatan yang bertujuan untuk menilai hasil akhir dan seluruh tindakan keperawatan yang telah dilakukan. 2) Kardex Teknik dokumentasi ini menggunakan serangkaian kartu dan membuat data penting tentang klien dengan menggunakan ringkasan problem dan terapi klien yang digunakan pada pasien rawat jalan. yaitu evaluasi yang dilakukan sekaligus pada akhir dari semua tindakan keperawatan yang telah dilakukan dan telah disebut juga evaluasi pencapaian jangka panjang. Kriteria hasil dari tindakan keperawatan yang di harapkan pada pasien stroke adalah mempertahankan tingkat kesadaran dan tanda-tanda vital stabil. b) O = Data Objektif Tanda-tanda klinik dan fakta yang berhubungan dengan diagnose keperawatan meliputi data fisiologis dan informasi dari pemeriksaan. Ada tiga teknik dokumentasi yang sering digunakan: 1) SOR (Source Oriented Record) Teknik dokumentasi yang dibuat oleh setiap anggota tim kesehatan. dapat melakukan aktivitas perawatan diri secara mandiri. melalui mana status pernyataan diagnostik pasien secara individual dinilai untuk diselesaikan. b. Teknik ini dapat digunakan untuk mengaplikasikan pendekatan pemecahan masalah. atau memerlukan perbaikan (Doenges dkk. mengarahkan ide pemikiran anggota tim mengenai problem klien secara jelas. mempertahankan fungsi perseptual. melakukan latihan rentang pergerakan sendi aktif dan pasif.

2008). perubahan rencana keperawatan. Kolom focus dapat berisi : masalah pasien (data). stroke non hemoragik Dapat berupa iskemia.d) P = Perencanaan Pengembangan rencana segera atau untuk yang akan dating dari intervensi tindakan untuk mencapai status kesehatan optimal. stroke hemoragik Terjadi perdarahan cerebral dan mungkin juga perdarahan subarachnoid yeng disebabkan pecahnya pembuluh darah otak. . Umumnya terjadi setelah beristirahat cukup lama atau angun tidur. pemecahan masalah lama. Pengertian Stroke adalah deficit neurologist akut yang disebabkan oleh gangguan aliran darah yang timbul secara mendadak dengan tanda dan gejala sesuai dengan daerah fokal otak yang terkena (WHO. 2. f) E = Evaluasi Merupakan analisis respon pasien terhadap intervensi yang diberikan. mat fokus/DAR Semua masalah pasien diidentifikasi dalam catatan keperawatan dan terlihat pada rencana keperawatan. emboli. kesediaan pasien untuk belajar. e) I = Intervensi Tindakan yang dilakukan oleh perawat. Umumnya terjadi pada saat melakukan aktifitas. spasme ataupun thrombus pembuluh darah otak. namun juga dapat terjadi pada saat istirahat. g) R = Revisi Data pasien yang mengalami perubahan berdasarkan adanya respon pasien terhadap tindakan keperawatan merupakan acuan perawat dalam melakukan revisi atau modifikasi rencana asuhan kepeawatan. A. Klasifikasi stroke Berdasarkan proses patologi dan gejala klinisnya stroke dapat diklasifikasikan menjadi : 1. kesediaan pasien terhadap tindakan. Tidak terjadi perdarahan. 1989). B. 5) Catatan perkembangan ringkas Dalam menuliskan catatan perkembangan diperlukan beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain adanya perubahan kondisi pasien. Kesadaran umumnya menurun dan penyebab yang paling banyak adalah akibat hipertensi yang tidak terkontrol. kesadaran umumnya baik dan terjadi proses edema otak oleh karena hipoksia jaringan otak. tindakan (action) dan respon (R) mat DAE Sistem dokumentasi dengan konstruksi data tindakan dan evaluasi dimana setiap diagnose keperawatan diidentifikasi dalam catatan perawatan. terkait pada rencana keprawatan atau setiap daftar masalah dari setiap catatan perawat dengan suau diagnosa keperawatan. berkembangnya masalah baru. respon pasien terhadap tindakan. adanya abnormalitas atau kejadian yang tidak diharapkan (Harnawatiaj.

Polocitemia . 1. Pada daerah penipisan dengan maneuver tertentu dapat menimbulkan perdarahan. dapat disebabkan oleh aterosklerosis atau sebaliknya. yaitu . 6. Aneurisma pembuluh darah cerebral Adanya kelainan pembuluh darah yakni berupa penebalan pada satu tempat yang diikuti oleh penipisan di tempat lain. stroke in Volution Stroke yang terjadi masih terus berkembang dimana gangguan yang muncul semakin berat dan bertambah buruk. Proses ini dapat menimbulkan pecahnya pembuluh darah atau timbulnya thrombus sehingga dapat mengganggu aliran darah cerebral. 1. 1. Kerusakan kerja jantung akan menurunkan kardiak output dan menurunkan aliran darah ke otak. yeitu terjadinya peningkatan viskositas darah sehingga memperlambat aliran darah khususnya serebral dan adanya kelainan microvaskuler sehingga berdampak juga terhadap kelainan yang terjadi pada pembuluh darah serebral. Diabetes mellitus (DM) Penderita DM berpotensi mengalami stroke karena 2 alasan. Rind (Reversible Ischemic Neurologis Defict) Gangguan neurologist setempat yang akan hilang secara sempurna dalam waktu 1 minggu dan maksimal 3 minggu. 2. 4. Stroke Komplit Gangguan neurologist yang timbul bersifat menetap atau permanent.Stroke non hemoragik dapat juga diklasifikasikan berdasarkan perjalanan penyakitnya. 1. Usia lanjut Pada usia lanjut terjadi proses kalsifikasi pembuluh darah. Ddisamping itu dapat terjadi proses embolisasi yang bersumber pada kelainan jantung dan pembuluh darah. Kelainan jantung / penyakit jantung Paling banyak dijumpai pada pasien post MCI. C. Proses ini biasanya berjalan dalam beberapa jam atau beberapa hari. Etiologi Ada beberapa factor risiko stroke yang sering teridentifikasi. 3. beberapa menit atau beberapa jam saja dan gejala akan hilang sempurna dalam waktu kurang dari 24 jam. termasuk pembuluh darah otak. atrial fibrilasi dan endokarditis.. Hipertensi. TIA’S (Trans Ischemic Attack) Yaitu gangguan neurologist sesaat. yaitu : 1. 5.

Di samping itu. Stroke non hemoragik Iskemia disebabkan oleh adanya penyumbatan aliran darah otak oleh thrombus atau embolus. aliran darah ke area thrombus menjadi berkurang.Pada policitemia viskositas darah meningkat dan aliran darah menjadi lambat sehingga perfusi otak menurun. 8. Pengaruh terhadap status mental  Tidak sadar : 30% – 40%  Konfuse : 45% dari pasien biasanya sadar . salah satunya pembuluh drah otak. sehingga arteri menjadi tersumbat. 7. Peningkatan kolesterol (lipid total) Kolesterol tubuh yang tinggi dapat menyebabkan aterosklerosis dan terbentuknya embolus dari lemak. kurang aktivitas fisik Kurang aktivitas fisik dapat juga mengurangi kelenturan fisik termasuk kelenturan pembuluh darah (embuluh darah menjadi kaku). salah satunya pembuluh darah otak. E. Tanda dan gejala Tanda dan gejala yang muncul sangat tergantung pada daerah dan luasnya daerah otak yang terkena. Emboli disebabkan oleh embolus yang berjalan menuju arteri serebral melalui arteri karotis. 10. Trombus umumnya terjadi karena berkembangnya aterosklerosis pada dinding pembuluh darah. 2. D. 9. Obesitas Pada obesitas dapat terjadi hipertensi dan peningkatan kadar kolesterol sehingga dapat mengakibatkan gangguan pada pembuluh darah. Stroke hemoragik Pembuluh darah otak yang pecah menyebabkan darah mengalir ke substansi atau ruangan subarachnoid yang menimbulkan perubahan komponen intracranial yang seharusnya konstan. Perokok Pada perokok akan timbul plaque pada pembuluh darah oleh nikotin sehingga terjadi aterosklerosis. darah yang mengalir ke substansi otak atau ruang subarachnoid dapat menyebabkan edema. Adanya perubahan komponen intracranial yang tidak dapat dikompensasi tubuh akan menimbulkan peningkatan TIK yang bila berlanjut akan menyebabkan herniasi otak sehingga timbul kematian. Patofisiologi 1. spasme pembuluh darah otak dan penekanan pada daerah tersebut menimbulkan aliran darah berkurang atau tidak ada sehingga terjadi nekrosis jaringan otak. Terjadinya blok pada arteri tersebut menyebabkan iskemia yang tiba-tiba berkembang cepat dan terjadi gangguan neurologist fokal. Perdarahan otak dapat ddisebabkan oleh pecahnya dinding pembuluh darah oleh emboli. 1. menyebabkan iskemia kemudian menjadi kompleks iskemia akhirnya terjadi infark pada jaringan otak.

Daerah arteri serebri media. arteri karotis interna akan menimbulkan:  Hemiplegia kontralateral yang disertai hemianesthesia (30%-80%)  Afasia bila mengenai hemisfer dominant (35%-50%)  Apraksia bila mengenai hemisfer non dominant(30%) 1. Daerah arteri serebri posterior  Nyeri spontan pada kepala  Afasia bila mengenai hemisfer dominant (35-50%) 1. Daerah vertebra basiler akan menimbulkan:  Sering fatal karena mengenai pusat-pusat vital di batang otak  Hemiplegia alternans atau tetraplegia  Kelumpuhan pseudobulbar (kelumpuhan otot mata. Daerah arteri serebri anterior akan menimbulkan gejala:  hemiplegia dan hemianesthesia kontralateral terutama tungkai (30%-80%)  inkontinensia urin. atau apraksia tergantung hemisfer mana yang terkena 1. stroke hemisfer kiri  mengalami hemiparese kanan  perilaku lambat dan sangat berhati-hati  . Stroke hemisfer kanan  Hemiparese sebelah kiri tubuh  Penilaian buruk  Mempunyai kerentanan terhadap sisi kontralateral sebagai kemungkinan terjatuh ke sisi yang berlawanan 1.1. emosi labil) Apabila dilihat bagian hemisfer mana yang terkena. kesulitan menelan. afasia. gejala dapat berupa: 1.

6. elektrolit. kelainan bidang pandang sebelah kanan  disfagia global  afasia  mudah frustasi F. 4. kolesterol. Bebaskan jalan nafas dan pertahankan ventilasi yang adekuat. gula darah dsb. 9. 5. 8. laboratorium: mengarah pada pemeriksaan darah lengkap. hematom dan bergesernya struktur otak angiografi untuk mengetahui penyebab dan gambaran yang jelas mengenai pembuluh darah yang terganggu G. bila perlu lakukan kateterisasi Pemberian cairan intravena berupa kristaloid atau koloid dan hindari penggunaan glukosa murni atau cairan hipotonik Hindari kenaikan suhu. 3. 3. posisi miring jika muntah dan boleh dimulai mobilisasi bertahap jika hemodinamika stabil 2. penatalaksanaan pada pasien stroke adalah: 1. konstipasi. 7. Penatalaksanaan medis Secara umum. Posisi kepala dan badan atas 20-30 derajat. 4. CT scan kepala untuk mengetahui lokasi dan luasnya perdarahan atau infark MRI untuk mengetahui adanya edema. Pemeriksaan diagnostik Pemeriksaan penunjang disgnostik yang dapat dilakukan adalah : 1. atau suction berlebih yang dapat meningkatkan TIK . bila perlu diberikan ogsigen sesuai kebutuhan Tanda-tanda vital diusahakan stabil Bed rest Koreksi adanya hiperglikemia atau hipoglikemia Pertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit Kandung kemih yang penuh dikosongkan. dan bila perlu analisa gas darah. batuk. infark. 2.

Nutrisi per oral hanya diberikan jika fungsi menelan baik. Jika kesadaran menurun atau ada gangguan menelan sebaiknya dipasang NGT 11. Auskultasi bunyi nafas 2. Penatalaksanaan spesifik berupa:  Stroke non hemoragik: asetosal.10. RR normal c. Kolaborasi:  Pemberian ogsigen  Laboratorium: Analisa gas darah. Ukur tandatanda vital 3. penumpukan sputum (karena kelemahan. hilangnya refleks batuk) TUJUAN DAN KRITERIA HASIL Pasien mampu mempertahankan jalan nafas yang paten. Berikan posisi semi fowler sesuai dengan kebutuhan (tidak bertentangan dgn masalah keperawatan lain) 4. bahasa respon pupil dll . darah lengkap dll  Pemberian obat sesuai kebutuhan Kriteria hasil : a. Tidak ada sputum 2. edema atau oklusi pembuluh Perfusi serebral membaik Kriteria hasil : 1. neuroprotektor. antikoagulan. Bunyi nafas vesikuler b. Penurunan perfusi serebral b. Tidak ada tanda-tanda sianosis dan pucat d. obat hemoragik  Stroke hemoragik: mengobati penyebabnya. Pantau adanya tanda-tanda penurunan perfusi serebral :GCS. trombolisis. Bila sudah memungkinkan lakukan fisioterapi dada dan latihan nafas dalam 6. neuroprotektor. tindakan pembedahan. adanya perdarahan. Lakukan penghisapan lender dan pasang OPA jika kesadaran menurun 5.d. menurunkan TIK yang tinggi RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN STROKE NO 1. memori. INTERVENSI 1.d. DIAGNOSA KEPERAWATAN Bersihan jalan nafas tidak efektif b.

hemiparese Pasien mendemonstrasikan mobilisasi aktif Kriteria hasil : a. gula darah dll  Penberian terapi sesuai advis  CT scan kepala untuk diagnosa dan monitoring 3. Pantau tingkat kemampuan mobilisasi klien 2. kontraksi otot membaik c. Pertahankan ligkungan yang nyaman 7. Pantau intake-output cairan. kelemahan.darah serebral a. Pasang trochanter roll pada daerah yang lemah 5. Rubah posisi tiap 2 jan 4. mengejan dsb 6. balance tiap 24 jam 4. Tidak ada tanda perburukan neurologis f. Pertahankan posisi tirah baring pada posisi anatomis atau posisi kepala tempat tidur 15-30 derajat 5. kerusakan neuromuskuler. mobilisasi bertahap 1.d. tidak ada kontraktur atau foot drop b. Kolaborasi:  Beri ogsigen sesuai indikasi  Laboratorium: AGD. Observasi tanda-tanda vital (tiap jam sesuai kondisi pasien) 3. Hindari valsava maneuver seperti batuk. Hindari fleksi leher untuk mengurangi resiko jugular 8. 2. memori dan motorik membaik c. Gangguan mobilitas fisik b. Tanda-tanda vital stabil e. TIK normal d. Tingkat kesadaran membaik (GCS meningkat) b. fungsi kognitif. Lakukan ROM pasif atau aktif sesuai kemampuan dan jika TTV stabil . Pantau kekuatan otot 3.

intake nutrisi tidak adekuat Kebutuhan nutrisi terpenuhi Kriteria hasil : a. Tonus otot baik e. Klien dapat mengekspresikan perasaan b. Gangguan komunikasi verbal b. Kolaborasi: fisioterapi 4. bahasa jelas. dengarkan dengan tekun jika pasien mulai berbicara 4. Observasi tanda-tanda vital 4.6. Lab: albumin. Berdiri di dalam lapang pandang pasien pada saat bicara 5. kerusakan sentral bicara Komunikasi dapat berjalan dengan baik Kriteria hasil : a. jika berat hindari memberi isyarat non verbal . Timbang berat badan secara berkala 6. Conjungtiva ananemis d. Hitung kebutuhan nutrisi perhari 3. BUN dalam batas normal 5. Beri makan via NGT 1. Lakukan komunikasi dengan wajar. Hb. kerusakan neuromuscular. Kaji factor penyebab yang mempengaruhi kemampuan menerima makan/minum 2. Berat badan dalam batas normal c. Evaluasi sifat dan beratnya afasia pasien. (Risiko) gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan b. Kolaborasi dengan ahli terapi wicara 5. Pembicaraan pasien dapat dipahami 2.d. Catat intake makanan 1. sederhana dan bila perlu diulang 3. Beri latihan menelan 7. Libatkan keluarga dalam memobilisasi klien 7. Latih otot bicara secara optimal 6. Memahami maksud dan pembicaraan orang lain c. Libatkan keluarga dalam melatih komunikasi verbal pada pasien 7. Tidak ada tanda-tanda malnutrisi b.d.

konsul ahli gizi 6. penurunan koordinasi otot.8. nyeri. Pantau tingkat kemampuan klien dalam merawat diri 2. integrasi. Buat lingkungan yang memungkinkan klien untuk melakukan ADL mandiri 4. Evaluasi adanya gangguan persepsi: penglihatan. kelemahan. Mengidentifikasi dan memanfaatkan sumber bantuan 1. Ciptakn suasana lingkungan yang nyaman 4. Perubahan persepsisensori b. Evaluasi kemampuan membedakan panas-dingin. taktil 3. Cari tahu proses patogenesis yang mendasari 2. Melakukan perawatan diri sesuai kemampuan c. Albumin. posisi dan proprioseptik 5. BUN). Ingatkan untuk menggunakan sisi tubuh yang terlupakan 7. Catat adanya proses hilang perhatian terhadap salah satu sisi tubuh dan libatkan keluarga untuk membantu mengingatkan 6. perubahan psikologi Persepsi dan kesadaran akan lingkungan dapat dipertahankan 1. depresi. Libatkan keluarga dalam membantu klien 5. Lakukan validasi terhadap persepsi klien dan lakukan orientasi kembali 7. kekuatan otot menurun.d. Kurang kemampuan merawat diri b. Bicara dengan tenang dan perlahan 8. Motivasi klien untuk . Kolaborasi : Pemeriksaan lab(Hb. pemasangan NGT.d. gangguan neuromuscular. perubahan transmisi saraf sensori. mendemonstrasikan perubahan pola hidup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari b. Berikan bantuan terhadap kebutuhan yang benar-benar diperlukan saja 3. kerusakan persepsi Kemampuan merawat diri meningkat Kriteria hasil : a.

konsultasi dengan ahli okupasi atau fisioterapi 8.melakukan ADL sesuai kemampuan 6. Beri pengaman pada daerah yang sehat. kurang informasi. Risiko cedera b. Klien tidak terjatuh b. Diskusikan proses patogenesis dan pengobatan dengan klien dan keluarga 3. dilantin dll) 1. Klien dan keluarga berpartisipasi dalam proses belajar b. Hindari restrain kecuali terpaksa 4. Mengungkapkan pemahaman tentang penyakit. Tidak ada trauma dan komplikasi lain 3. Pantau tingkat kesadaran dan kegelisahan klien 2. Evaluasi derajat gangguan persepsi sensuri 2. Sediakan alat Bantu diri bila mungkin 7. Beri pengaman di samping tempat tidur 6. Pertahankan bedrest selama fase akut 5. dan perubahan pola hidup yang diperlukan . Identifikasi cara dan kemampuan untuk meneruskan progranm perawatan di rumah 4.d. tidak mengenal sumber Pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakit dan perawatan meningkat. Kolaborasi: pasang DC jika perlu. Kurang pengetahuan (klien dan keluarga) tentang penyakit dan perawatan b. Kriteria hasil : a. pengobatan. Kolaborasi: pemberian obat sesuai indikasi (diazepam. Identifikasi factor risiko secara individual dal lakukan perubahan pola hidup 5. beri bantalan lunak 9. Buat daftar perencanaan 1. Libatkan keluarga dalam perawatan 7. gerakan yang tidak terkontrol selama penurunan kesadaran Klien terhindar dari cedera selama perawatan Kriteria hasil : a.d. keterbatasan kognitif.

pulang .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful