1.

PENGARUH MILITER DALAM SISTEM POLITIK INDONESIA
Sejak awal kemerdekaan Indonesia TNI/militer merasa punya andil yang sangat besar terhadap kemerdekaan Indonesia. Jasa yang besar yang diberikan itu sehingga TNI merasa berhak untuk ikut terlibat dalam memperoleh kue politik. Meskipun TNI merasa punya andil besar namun pada mulanmya timbul pertentangan antara para pendiri RI dengan TNI. Karena para pendiri republic Indonesia merasa kurang yakin bahwa kemerdekaan ini diperoleh dengan mengandalkan tentara. Karena itu pada awal kemerdekaan, militer jalan sendiri dan pemerintah jalan sendiri. Namun pada saat revolusi fisik terjadi di era 1945-1949 peran TNI(setelah disahkan oleh pemerintah dengan Jenderal Soedirman)sangatlah besar dengan memukul mundur Belanda yang ingin menginjakkan kakinya kembali di Indonesia. Di era gerakan reformasi sebagai proses menata kembali kehidupan bernegara dan bermasyarakat yang mengacu kepada nilai-nilai demokrasi dan hak asasi telah menghadapkan Tentara Nasional Indonesia (TNI) pada berbagai tantangan. Tantangan terberat, antara lain, adalah penataan kembali peran TNI dalam konteks hubungan sipil-militer yang demokratis. Terkait dengan persoalan ini, masalah redefinisi peran dan keterlibatan TNI dalam konteks transisi demokrasi menjadi isu besar, yang dapat mempengaruhi berhasil atau gagalnya proses demokratisasi itu sendiri. Pengalaman beberapa negara di Amerika Latin dan Eropa Selatan menunjukkan bahwa proses transisi demokrasi tidak selamanya bermuara pada terciptanya konsolidasi demokrasi. Transisi demokrasi, tanpa pengelolaan secara rasional, sistematik, dan terencana, memungkinkan kembalinya intervensi militer dalam sistem politik. Intervensi militer dalam sistem politik inilah yang merupakan tema sentral buku Arif Yulianto. Dalam buku tersebut, Yulianto memodifikasi teori Alfred Stepan dan menawarkan tipologi baru bagi hibridisasi dari dimensi-dimensi kontestansi, hak istimewa, dan hubungan sipil-militer yang demokratis. Bagi Yulianto, ada lima tipe hubungan sipil-militer, yaitu: (1) posisi bagi pemimpin militer yang tidak dapat dipertahankan lagi; (2) posisi bagi para pemimpin sipil demokratis yang hampir tidak dapat dipertahankan lagi; (3) akomodasi sipil yang tidak seimbang; (4) kontrol sipil; dan (5) akomodasi sipil-militer. Untuk menentukan tipologi hubungan sipil-militer di Indonesia, Yulianto menggunakan tiga indikator bagi dimensi kontestansi militer (hlm 463-508), yaitu pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dan tindak kekerasan militer, kebijakan pemerintah sipil dalam menata struktur, peran dan kontrol atas militer, serta anggaran belanja militer. Tiga indikator ini dilengkapi dengan 11 indikator dari dimensi hak-hak istimewa militer. Kesebelas indikator tersebut adalah: (1) peranan independen militer dalam sistem politik; (2) hubungan militer dengan kepala eksekutif; (3) koordinasi sektor pertahanan; (4) partisipasi militer dinas aktif dalam kabinet; (5) peranan badan pembuat undang-undang dalam bidang pertahanan; (6) peranan pegawai negeri sipil dan pejabat politik senior dalam perumusan kebijakan bidang pertahanan; (7) peran militer dalam intelijen negara; (8) tugas bantuan militer dalam dinas kepolisian; (9) peran militer dalam promosi; (10) keterlibatan militer dalam perusahaan negara/swasta (bisnis militer); dan (11) peran militer

regulasi-regulasi politik yang mengatur TNI. partisipasi militer dinas aktif dalam kabinet. peranan badan undang-undang dalam bidang pertahanan. jika lima tipologi Yulianto dielaborasi lebih dalam akan tampak bahwa militer di Indonesia masih cenderung melakukan penentangan terhadap kebijakan pemerintah sipil yang berkenaan dengan sistem politik nasional serta tugas bantuan militer dalam dinas kepolisian. setidaknya ada lima masalah reformasi sektor keamanan yang harus ditemukan solusinya. Hasil kajian Yulianto. peranan pegawai negeri sipil dan pejabat politik senior dalam perumusan kebijakan pertahanan. Hasil kajian Yulianto secara jitu menunjukkan bahwa pekerjaan rumah terberat bagi reformasi militer di Indonesia adalah penanganan pelanggaran HAM dan tindak kekerasan militer. yaitu: militer secara sistematis mengembangkan keterkaitan yang erat dengan sejarah perkembangan bangsa serta arah evolusi negara. menunjukkan bahwa dari 11 indikator dimensi hak-hak istimewa sipil. Indonesia cenderung tidak akan mengalami transformasi militer yang drastis. serta (5) pelanggaran HAM dan tindak kekerasan militer. (4) keterlibatan militer dalam bisnis. Yulianto juga menunjukkan bahwa moderasi hubungan sipil-militer terjadi untuk enam indikator lainnya. Namun. Sebagai tentara politik. yaitu: hubungan militer dengan kepala eksekutif. Namun.dalam sistem hukum. (2) koordinasi dan kerja sama lintas institusi di sektor pertahanan-keamanan. TNI memiliki karakter inti yang dipopulerkan oleh Finer dan Janowitz. Hal ini dilakukan dengan mengombinasikan prinsip hak sejarah (birthright principle) dan prinsip kompetensi (competence principle). serta peran militer dalam promosi. Faktor utama yang mendasari penilaian ini adalah wacana tentang ketidakmampuan institusi sipil untuk mengelola . otoritas sipil telah dapat menempatkan TNI dalam tataran kewenangan yang tepat. Tentara politik ini merupakan antitesa dari konsep Huntington tentang non-political professional military. (3) peran militer dalam intelijen negara. yaitu: karakter politik TNI. Prinsip hak sejarah didasarkan pada suatu interpretasi sejarah bahwa militer berperan besar dalam sejarah pembentukan bangsa dan telah melakukan pengorbanan tidak terhingga untuk membentuk dan mempertahankan negara. dan kapasitas ekonomi Indonesia. Penentangan ini diuraikan terjadi karena belum adanya independensi partai-partai politik dalam kegiatan politik nasional. hubungan sipil-militer berada di kotak merah yang menunjukkan militer masih otonom dan independen dari pengawasan dan kendali otoritas politik sipil. Untuk empat indikator ini. Sedangkan prinsip kompetensi didasarkan pada ide bahwa militer merupakan institusi terbaik yang dimiliki negara untuk mempertahankan dan mencapai kepentingan nasional bangsa. yang sangat terbuka untuk diperdebatkan. dan belum jelasnya tataran kewenangan antara TNI dan Polri. Di indikator ini. dalam jangka pendek. Jika kajian Yulianto ini dijadikan landasan bagi transformasi militer Indonesia. Ada tiga faktor yang ingin disorot di tulisan ini. kecuali indikator peran militer dalam sistem hukum. yaitu: (1) posisi militer dalam sistem dan kegiatan politik nasional. Reformasi internal TNI yang digulirkan sejak tahun 1998 belum sepenuhnya melepaskan TNI dari karakter tentara politik. Penyelesaian lima masalah ini menjadi kunci bagi terciptanya TNI yang profesional dalam suatu sistem politik yang demokratis. Indonesia telah berada di tipe ideal untuk empat indikator.

Penempatan ini mulai dirintis oleh Nasution melalui perumusan doktrin dwifungsi di tahun 1950-an dan mendapat kulminasinya dalam penumpasan pemberontakan PKI 1965. Reformasi internal TNI yang cenderung condong ke pergeseran peran sosial-politik TNI diharapkan dapat segera diselesaikan sehingga TNI tidak lagi memiliki karakter tentara politik dan proses reformasi TNI bisa dilanjutkan dengan melakukan transformasi dan modernisasi pertahanan Indonesia. Proses reformasi internal TNI yang telah dilakukan sejak tahun 1998 telah berhasil melaksanakan beberapa agenda penting. Di tahap pertama. ditandai dengan merebaknya berbagai krisis nasional. validasi organisasi TNI. Di tahun 2003-2004. Wacana ini digulirkan untuk membentuk pemahaman bahwa ABRI merupakan suatu entitas yang lahir dengan sendirinya (self-creating entity) dan memiliki kemanunggalan dengan rakyat. Perpaduan ini dilakukan dengan memperkenalkan strategi pembangunan politik-ekonomi yang menggabungkan tahapan pertumbuhan lima tahunan yang diperkenalkan oleh Rostow dengan strategi stabilisasi politikkeamanan yang diungkapkan oleh Huntington. Di tahap ketiga. tampaknya TNI menjelma menjadi tentara politik dengan mengombinasikan hak sejarah dan kompetensi. militer Indonesia berkonsentrasi untuk mengedepankan prinsip hak sejarah. Perpaduan dua prinsip tersebut dilakukan sepanjang sejarah perkembangan militer Indonesia. terutama dengan mengidentifikasi diri sebagai aktor yang berperan penting dalam perjuangan kemerdekaan dan mendukung penuh kebijakan nasionalistik pemerintah untuk meredam gerakan-gerakan separatis serta upaya untuk mewujudkan kedaulatan teritorial Indonesia. mulai dari masa perjuangan kemerdekaan hingga pasca-Orde Baru. Hal ini dilakukan dengan menempatkan militer Indonesia sebagai pelindung Pancasila.negara. dan Badan Pembinaan Kekaryaan (Babinkar) ABRI. Di tahap pertama ini perjuangan merebut kemerdekaan serta integrasi nasional merupakan dua konstruksi wacana yang dipergunakan untuk memperkuat prinsip hak sejarah. perkembangan sejarah militer Indonesia yang berkaitan dengan perpaduan prinsip hak sejarah dan prinsip kompetensi disajikan dalam tiga tahap. Kombinasi model Rostow-Huntington ini menghasilkan strategi pembangunan terencana jangka panjang yang menempatkan stabilitas politik keamanan sebagai prasyarat utama pembangunan ekonomi. prinsip hak sejarah dipadukan dengan prinsip kompetensi dengan menempatkan militer Indonesia sebagai satu-satunya aktor yang mampu menegakkan integritas bangsa sekaligus menjadi motor pembangunan nasional. TNI tetap menunjukkan komitmen untuk melanjutkan reformasi internal TNI antara lain dengan menegaskan netralitas TNI dalam proses pemilu legislatif. . Strategi ini menempatkan militer di titik sentral pembangunan nasional. Di dua bab tersebut Yulianto melakukan suatu kajian kepustakaan tanpa berupaya untuk melakukan interpretasi ulang sejarah yang diperlukan untuk melakukan dekonstruksi dan rekonstruksi wacana evolusi militer di Indonesia. militer Indonesia menjelma menjadi penjaga. Kepala Staf Sosial Politik ABRI. Di tahap kedua. antara lain: pemisahan Polri dari TNI. serta likuidasi Kepala Staf Teritorial TNI. Di tulisan ini. Perkembangan kronologis tentang persoalan ini dijelaskan secara rinci oleh Yulianto di bab 4 dan bab 5. Untuk Indonesia. sekaligus penyelamat bangsa (the guardian and the savior of the nation).

maka selama Indonesia tetap berlandaskan pada sistem presidensiil. yaitu belum lengkapnya regulasi politik yang mengatur posisi TNI dalam sistem politik Indonesia. regulasi tentang sumber daya pertahanan. Tap MPR No VI dan VII (2002). karena selama berlangsungnya demokrasi parlementer. keikutsertaan militer dalam penyelenggaraan negara hanya sebatas pada alat negara yang mengurusi bidang pertahanan-keamanan saja. Indikator-indikator tersebut. serta UU No 3/2002 tentang Pertahanan Negara. Faktor terakhir yang menghambat transformasi militer di Indonesia adalah tidak adanya kapasitas ekonomi yang memadai untuk meluncurkan program modernisasi pertahanan. Yulianto memberikan suatu interpretasi unik tentang UUD 1945. sinkronisasi regulasi politik bisa dilakukan dengan merumuskan suatu cetak biru regulasi-regulasi politik di bidang pertahanan. Cetak biru ini harus memuat seluruh regulasi yang relevan dan diajukan ke DPR secara bersamaan. antara lain. yaitu: regulasi tentang kebijakan pertahanan nasional. Implementasi prinsip-prinsip good-governance ini dapat dijadikan titik awal untuk menciptakan tentara profesional dalam sistem pemerintahan yang demokratis. Namun. Keberadaan regulasiregulasi politik ini diharapkan dapat memperkuat upaya untuk menularkan prinsip-prinsip good governance ke sektor pertahanan. sistem politik Indonesia akan terusmenerus mendapat intervensi dari TNI. Ide tersebut adalah pola hubungan sipil-militer di Indonesia akan sangat tergantung dari kualitas regulasiregulasi politik tentang institusi militer yang dirumuskan oleh otoritas politik sipil. dan regulasi tentang prosedur pengerahan TNI. namun juga dalam bidang-bidang lainnya.Untuk merombak total karakter TNI sebagai tentara politik. regulasi tentang institusi dan prajurit TNI. fluktuasi anggaran belanja militer Indonesia di . Jika diinventarisasi regulasi-regulasi politik tersebut adalah UUD 1945 (Pembukaan UUD 1945 dan Bab Pertahanan Keamanan Negara). Yulianto (hlm 7) menyatakan bahwa: "Berlakunya kembali UUD 1945 ini membawa keuntungan sendiri bagi militer Indonesia. Telaah-telaah teoretik cenderung tidak meletakkan sistem parlementer atau presidensiil sebagai variabel penjelas hubungan sipil-militer. Militer mulai mendapatkan kesempatan untuk ikut serta dalam percaturan politik. Oleh karena itu berlakunya UUD 1945 membawa peluang militer untuk ikut serta dalam penyelenggaraan negara tidak hanya sebatas bidang pertahanan keamanan. Jika dikaji." Interpretasi ini tentunya perlu dikaji ulang. minimal ada empat kelompok regulasi politik yang perlu dibuat. otoritas-otoritas politik sipil dihadapkan pada hambatan kedua dari transformasi militer di Indonesia. proses perumusan regulasi-regulasi politik tentang pertahanan nasional tampaknya seperti jalan di tempat lantaran adanya ketidakjelasan dan ketidakkonsistenan regulasi-regulasi politik yang ada dalam sistem ketatanegaraan Indonesia. ide besar Yulianto tetap dapat diterima dan menuntut elaborasi lebih dalam. Namun. Sebenarnya. Yulianto (hlm 500-507) menjabarkan berbagai indikator ekonomi untuk menunjukkan kapasitas ekonomi tersebut. Jika interpretasi Yulianto diterima. telaah sederhana terhadap negara-negara demokrasi Barat yang menerapkan sistem presidensiil segera menunjukkan bahwa interpretasi Yulianto sulit diterima. UU No 2/2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia. Saat ini. Saat Yulianto membandingkan pola hubungan sipil-militer masa sistem parlementer (1954-1959) dengan sistem presidensiil pasca-Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Berkaitan dengan regulasi politik di bidang pertahanan negara.

terutama sejak digulirkannya reformasi tahun 1998 yang berakhir dengan jatuhnya pemerintahan Presiden Soeharto pada tanggal 21 Mei 1998 perbincangan mengenai peran militer (TNI) khususnya peran Tentara Nasional Indonesia- . PENDAHULUAN Dalam dekade beberapa tahun belakangan ini. tentara telah berbenah diri secara interen diikuti dengan Polri. Hal ini diakibatkan karena sejak reformasi 1998. hingga perencanaan pengadaan alat utama sistem pertahanan Indonesia yang tertuang di Rencana Strategis Pertahanan Negara 1999-2004. Banyak pihak yang menyayangkan sikap Gusdur yang keras kepala. Peristiwa pengepungan Istana Negara pada 17 Oktober 1952 oleh TNI AD seolah segar kembali dlam ingatan. terjadi kekerasan politik oleh militer terhadap mahasiswa di tahun 1998 sebagai akibat dari ketidakinginan Soeharto melepaskan tahta kekuasaannya. 2. apapun resikonya.APBN. Misalnya saja. Sedangkan dimasa reformasi peranan militer telah menjadi mitra sipil dalam membangun demokrasi dan tidak lagi sebagai alat politik yang bernuansa pelanggeng kekuasaan. Dalam hal ini Gusdur tidak ingin mundur dari jabatannya sebelum 2004. sehingga para elite politik yang berseberangan dengannya berketatapan hati untuk menghentikan kekuasaannya. mungkin tidak sepanik saat ini. militer berperan sebagai alat politik. Namun. baik dari sisi proporsi ke PDB maupun ke APBN. sebagai peringatan kepada militer bahwa ia tidak takut sejarah akan berulang. proporsi anggaran pertahanan Indonesia ke produk domestik bruto (PDB). Terlebih lagi. Hal ini sejalan di masa orde baru. Hal inilah yang membuat Gusdur sangat gusar. Seandainya saja ia segera berkompromi setelah keluarnya memorandum pertama. Jadi kesimpulan saya mengenai peranan militer dalam system politik di Indonesia adalah peranan militer dalam politik di Indonesia sebelum reformasi sangatlah bertolak belakang dengan peranan militer setelah masa reformasi. Karena itu ditatalah hubungan sipil-militer yang seharusnya melalui reformasi internal TNI dan Paradigma barunya. Cara-cara politik kekerasan tidak dapat dilakukan tanpa dukungan tentara. Alasannya cukup jelas. tentara telah mengecewakannya. Dimana sebelum reformasi. Indikator-indikator tersebut mendukung pendapat konservatif yang menyatakan bahwa untuk 10-15 tahun ke depan. anggaran pertahanan Indonesia akan tetap kecil. Tentara adalah harapannya yang terakhir bila semua jalan kompromi telah buntu. Gusdur berulang-ulang mengulas peristiwa ini di berbagai kesempatan. Peran tentara mulai kembali pada jati dirinya sebagai militer yang professional. tentara sebagai senjata pamungkas pelanggeng kekuasaan kini tidak dapat diandalkan. Selanjutnya kita menilik peranan militer di era Presiden Gusdur. Perilaku politik Presiden Wahid sangat arogan. setidaknya hingga hari ini. MILITER DALAM SISTEM POLITIK INDONESIA: I. presiden Gusdur tidak berhasil mendapatkan simpati kekuatan-kekuatan politik besar yang ada. presiden soeharo kala itu menggunakan militer sebagai alat politik. Hal yang melatarbelakangi pengungkapan sejarah perlawanan tentara kepada pemerintah adalah agenda pelaksanaan SI-MPR yang segera dilaksanakan. Dalam situasi kritis dan kemelut politik yang sedang berlansung.

kehidupan politik bangsa Indonesia diwarnai pelaksanaan demokrasi liberal dengan sistem multi-partai. orientasi TNI adalah melaui pendekatan keamanan. Orientasi . ketika para wakil rakyat sedang bersidang untuk memilih presiden untuk periode berikutnya dan menjelang pemilihan ketua umum Golkar saat itu. tanggal 11 November 1958. Menghangatnya perbincangan back to basics ini terjadi lebih-lebih setahun setelah berlangsungnya pemilu 1992. Di awal tahun 1950-an hingga menjelang berakhirnya dekade 1950-an. Dalam paradigma lama. yang karena kesadarannya mengangkat senjata berupaya untuk mengusir penjajah dan memerdekakan bangsa Indonesia. Peran sosial-politik TNI/ABRI secara formal dalam periode ini adalah sejak TNI mendapatkan kesempatan untuk menjadi Dewan Nasional yang dibentuk oleh Presiden Soekarno.Angkatan Darat (TNI-AD) semakin banyak diperbincangkan serta melahirkan banyak istilah mengenai peran TNI. Pada periode berikutnya. Reformasi hubungan sipil-militer mutlak menjadi salah satu bagian dari proses demokratisasi di Indonesia. Peran ini bahkan menjadi lebih besar terutama sejak pertengahan tahun 1960-an. Pada tahun 1998 menjelang peringatan HUT TNI/ABRI ke-53 militer (tentara) merespon perubahan lewat Paradigma Baru TNI dan adanya reposisi peran POLRI dengan dipisahkannya dari institusi militer (TNI/ABRI) yang berdiri sendiri dan posisinya langsung di bawah presiden. Tentara dalam sejarah kelahirannya berperan aktif dalam kehidupan politik bangsa dan merupakan salah satu kekuatan dalam perjuangan bangsa. yaitu dengan dibentuknya Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sek-Ber Golkar) pada tanggal 20 Oktober 1964 dan mencapai puncak pada masa kekuasaan Orde Baru (ORBA). Kembali ke barak adalah sebagian dari banyak istilah yang muncul tersebut. Nasution. 1995: 140) Peran dan posisi militer (TNI) dalam percaturan dan sistem politik Indonesia adalah sejarah panjang bangsa ini. pemerintahan jatuh-bangun dan hanya bertahan hingga beberapa bulan. (Santoso. peran politik tentara diwujudkan melalui kegiatan politik para laskar pejuang. Namun begitu panjangnya sejarah keikutsertaan TNI/ABRI dalam bidang sosialpolitik bangsa membuat sebagian para petinggi TNI/ABRI saat itu (sebelum reformasi 1998) terasa enggan untuk meninggalkannya dan melakukan perubahan.H. Adanya keengganan sebagian para petinggi TNI/ABRI dalam rangka untuk melakukan perubahan merupakan suatu tantangan dalam mewujudkan demokratisasi dan supremasi sipil. karena masing-masing partai lebih cenderung memperjuangkan kepentingan ideologi partainya daripada kepentingan bangsa secara utuh. Dalam periode pra kemerdekaan. peran dan format politik tentara diaktualisasikan melalui upaya menegakkan dan mempertahankan kemerdekaan 17 Agustus 1945. hapuskan Dwi Fungsi ABRI. (Ginting. Back to Basics. yang selanjutnya dikenal dengan istilah Dwi Fungsi ABRI. 1997: 6) Peran TNI/ABRI dalam bidang sosial-politik tidak hanya berhenti sampai pada periode 1950-an. yaitu dengan menjadi pelopor untuk menyarankan kembali ketatanan kehidupan politik berdasarkan UUD 1945 yang berlanjut dengan adanya peristiwa 17 Oktober 1952. Kondisi kehidupan politik saat itu melahirkan ketidakstabilan pemerintahan. Peran TNI/ABRI dalam sosial-politik ini dikukuhkan secara formal melalui pidato Kasad Jenderal TNI A. Dalam dekade 1950-an ini peran sosial-politik tentara mulai tampak kepermukaan.

paradigma ini masih mengesankan sesungguhnya militer belum rela meninggalkan kancah politik. Jalan pintas yang radikal telah membuahkan cara berpikir yang pragmatis. cuma tidak di depan. Mereka telah menemukan caranya sendiri. 1999: 22-23) Namun.pendekatan keamanan yang mendorong terbangunnya persepsi diri TNI yang menempatkan TNI dalam posisi sentral dan menjadi penjuru atas keputusan yang menyangkutkehidupan bernegara dan berbangsa. Ketidak sabaran generasi muda tersebut telah mendorong terjadinya revolusi. Militer masih ingin berpolitik. Namun semenjak memasuki tahun 1940-an telah muncul generasigenaerasi yang tidak sabar terhadap cara perjuangan generasi tua yang masuk dalam generasi kebangsaan tersebut. . Pembentukn dua organisasi butan . Karena TNI berperan utama dalam fungsi keamanan ataupun karena tidak dapat dilepaskan dari kepentingan keamanan. lebih banyak menempuh jalan diplomasi dengan tekanan-tekanan intelektual guna membentuk opini massa. Banyak Putera Indonesia yang memasuki Heiho dan PETA ini. Hal ini dapat dilihat dengan banyaknya petinggi dan mantan petinggi TNI yang terjun ke politik praktis dengan ikut serta dalam pemilu legislatif (DPR dan DPD) dan eksekutif (Presiden dan Wakil Presiden). Kelahiran Tentara Nasional Indonesia tidak bersamaan dengan kelahiran Negara Republik Indonesia atau Proklamasi 17 Agustus 1945. Dalam kaitan ini cita-cita mewujudkan tujuan nasional harus dilaksanakan secara terpadu oleh segenap komponen bangsa berdasarkan satu visi nasional. MILITER DALAM SISTEM POLITIK INDONESIA Lahirnya Tentara Nasional Indonesia Membicarakan kelahiran Tentara Nasional Indonesia (TNI) tidak bis lepas dari perkembangan militer dimasa pemerintahan Jepang. tanpa diikuti oleh tekanan aksi fisik (tindakan militer). (Dydo. maka yang menjadi rumusan masalahnya adalah. daripada jalan kekerasan dan peperangan. Dalam peristiwa tersebut telah melahirkan anak-anak revolusi dan dampaknya telah berhasil mendorong secara cepat terealisasikannya konsep-konsep menuju kemerdekaan yang telah dipupuk sejak pergerakan kebangsaan. Bagaimanakah peran militer (TNI/ABRI) dalam proses demokratisasi dan mewujudkan supremasi sipil (civil society)? II. (TNI. (Karim. Sebaliknya paradigma baru adalah paradigma yang dilandasi cara berpikir yang bersifat “analitik” dan “prosfektif” ke masa depan berdasarkan pendekatan komprehenshif yang memandang TNI sebagai bagian dari sistem nasional. pendekatan tersebut lebih dikenal sebagai pendekatan keamanan. melakukan aksi perang. 1989: 26-27) Sebelum lahirnya Tentara nasional Indonesia. Maka tidak mengherankan bila militer tetap berada di DPR dan MPR setidaknya sampai dengan tahun 2004 serta mempunyai kesempatan langsung mempengaruhi proses politik pasca Orde Baru. di negara kita dikenal adanya Heiho dan PETA. 1989: 21) Dalam catatan sejarah menunjukkan bahwa model gerakan perjuangan kemerdekaan yang dilakukan oleh generasi-generasi sebelum tahun 1940-an. bahwa untuk mencapai kemerdekaan tidak mungkin hanya melalui jalan berunding dengan pengajuan petisi. Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas.

Dan pada tanggal 26 Januari 1946 keluarlah maklumat Pemerintah yang mengubah Tentara Keselamatan Rakyat (TKR) menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI). dinyatakan bahwa Tentara Republik Indonesia (TRI) bersifat nasional (kebangsaan) dan sekaligus merupakan satu-satunya organisasi militer di Indonesia. tentara Belanda. dan dipihak lain Soedirman-Oerip-Soetomo dari kalangan militer bersama lasykar-lasykar yang berorientasi pada strategi perang dalam menghadapi Belanda hampir saja membawa petaka. Atas prakarsa Markas tertinggi TKR pada tanggal 1 Januari 1946. 1989: 26) Mengingat eksistensi kemerdekaan yang semakin hari semakin terancam dengan adanya usahausaha kaum pejajah untuk kembali ke Indonesia. melainkam bersifat kerakyatan. menimbulkan keheranan dan tanda tanya besar oleh beberapa pimpinan pejuang yang bergerak dalam bidang ketentaraan. dalam tubuh barisan . Soekarno-Hatta-Sjahrir di satu pihak yang lebih menekankan pada strategi diplomasi. suatu negara zonder Tentara” (Dydo. (Karim. dikeluarkanlah Penetapan Pemerintah No. Setelah lahirnya TKR. 1989: 23) Perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesai dalam perjalanan selanjutnya juga tidak lepas dari polarisasi orientasi politik sipil-militer. 1946 yang mengubah Tentara Keamanan Rakyat menjadi “Tentara Keselamatan Rakyat” dan Kementerian Keamanan Rakyat diubah menjadi “Kementerian Pertahanan”. mengatakan “Aneh. Untuk itu pemerintah pada tanggal 5 Oktober 1945 mendirikan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dengan Oerip Soemohardjo sebagai Kepala Stafnya. Pada tanggal 22 Agustus 1945 dibentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang bukan merupakan suatu organisasi militer resin.tenta Jepang ini sudah barang tentu dilatar belakangi oleh maksud-maksud penjajahan Jepang yang berusaha mempertahankan kekuasaannya di negara kita. Adanya kenyataan yang demikian itu membuat para pemimpin pemerintahan kita saat itu menyadari betapa pentingnya sebuah angkatan perang (tentara) dalam mempertahankan kemerdekaan. Di samping itu dikenal pula KNIL. Di samping adanya polarisasi militer-sipil tersebut. dan Marsekal Terauchi diperintahkan oleh Mac Arthur untuk meampertahankan status quo di daerah pendudukannya serta mendaratnya Tentara Inggris di Jakarta pada tanggal 16 September 1945 yang dipimpin oleh Lord Louis Mounbatten yang mendesak jepang untuk mempertahankan status quo telah pula membuat anggota Badan Keamanan rakyat (BKR) semakin berani berhadapan dengan tentara Jepang. dan sehari setelah itu pemerintah mengeluarkan sebuah maklumat yang mengangkat Suprijadi sebagai menteri Keamanan Rakyat. Dan semakin bertambah panas setelah datangnya pasukan tambahan tentara Inggris pada tanggal 29 September 1945 di bawsah pimpinan Sir Philip Christison. oleh Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dikeluarkan perintah mobilisasi TKR. (Karim. KNIL. Berdasarkan maklumat ini. seorang pensiunan Mayor KNIL (Koninklijke Nederlandsche Indische Leger). Oerip Soemohardjo. 1989: 21) Tidak adanya kesatuan tentara (Angkatan Perang) permanen yang dimiliki oleh Pemerintah Indonesia sejak diproklamasikannya kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945. dan lasykar-lasykar lainnya. maka BKR. 3/SD. Heiho. yaitu rusaknya persatuan nasional yang belum lama dibangun. PETA. yaitu dengan menyatukan lembaga-lembaga yang telah ada selama ini di bawsah panji TKR.

1999: 5-6) Adapun Amien Rais dalam pengantar buku Demokrasi dan Proses Politik. Moh. menyebutkan setidaknya terdapat dua alasan mengapa demokrasi dijadikan sebagai dasat dalam penyelenggaraan negara atau pemerintahan. Mengingat kedaulatan itu melekat pada diri orang untuk mengatur dan mempertahankan dirinya. tetapi juga merupakan suatu doktrin politik luhur yang akan memberikan manfaat bagi kebanyakan negara. (Mahfud. maka Tentara Nasional Indonesia (TNI) sekarang ini terbentuk dari tiga elemen pokok yang mempunyai ciri-ciri khas tersendiri. Bertitik tolak dari uraian tersebut di atas. demokrasi sebagai asas kenegaraan yang secara esensial telah memberikan arah bagi peranan masyarakat untuk menyelenggaraakan negara sebagai organisasi tertingginya. Kedaulatan rakyat ini pun bukan untuk melindungi sebagian rakyat dan menindas sebagian yang lain. hampir semua negara di dunia ini telah menjadikan demokrasi sebagai asas yang fundamental. Tetapi untuk melindungi keseluruhan rakyat dalam wilayah kedaulatan negara. serta mengingat rakyat itu bukan pula satu atau dua orang. dan lain sebagainya. Mahfud MD. tetapi merupakan gabungan atau kumpulan dari orang-orang yang secara sadar bergabung untuk mengatur diri mereka. Panitia Pembentukan Organisasi Tentara Nasional Indonesia ini menghasilkan keputusan yang dimuat dalam Penetapan Presiden. Pertama. demokrasi dipandang sebagai sistem yang paling alamiah dan manusiawi sehingga semua rakyat dinegara manapun akan memilih demokrasi bila mereka diberi kebebasan untuk melakukan pilihannya. (Masdar.angkatan bersenjatapun masih terdapat friksi-friksi yang timbul dari lasykar-lasykar yang belum sepenuhnya mampu keluar dari bayang-bayang ideologi induknya semula. Demokrasi dan Demokratisasi Demokrasi saat ini merupakan kata yang senantiasa mengisi setiap wacana perbincangan berbagai lapisan masyarakat baik dari lapisan masyarakat kelas bawah (grass root) hingga masyarakat kelas menengah dan atas. maka kedaulatan itu pun kemudian digabung pula. Pertama. seperti: “Islam dan Demokrasi”. PETA. Dan sering sekali dikaitkan dengan berbagai persoalan yang berhubungan dengan keagamaan dan bidang keilmuan lainnya. seperti dikutip oleh Umaruddin Masdar menyebutkan ada tiga asumsi yang membuat demokrasi diterima secara luas di dunia. Guna mengatasi kemelut yang terjadi dalam tubuh militer ini maka pada tanggal 5 Mei 1947 Pemerintah mengeluarkan dekrit untuk membentuk panitia yang diketuai oleh Presiden. Penetapan yang dikeluarkan 7 Juni 1947 inilah yang membentuk organisasi “Tentara Nasional Indonesia”. “Ekonomi dan Demokrasi”. Kedua. “Hukum dan Demokrasi”. berasal dari kata demos dan cratein (bahasa Yunani) yang berarti rakyat dan kekuasaan. dengan beranggotakan 21 orang. Jadi titik sentral dari pemerintahan demokrasi adalah kedaulatan rakyat. 1999: 86) . sesuai dengan tujuan negara sebagaimana tercantum dalam konstitusi. Demokrasi sebagai salah-satu corak pemerintahan. Ketiga. dan lasykarlasykar. dsemokrasi sebagai system politik dan pemerintahan dianggap mempunyai akar sejarah yang panjang sampai ke zaman Yunani Kuno. yaitu: KNIL. sehingga ia tahan bantingan zaman dan dapat menjamin terselenggaranya suatu lingkungan politik yang stabil. demokrasi tidak saja merupakan bentuk vital dan terbaik pemerintahan yang mungkin diciptakan. Kedua.

(Ubaidillah. sedangkan Sidney Hook. “demokrasi merupakan suatu perencanaan institusional untuk mencapai suatu keputusan politik dimana individu-individu memperoleh kekuasaan untuk menentukan dan memutuskan dengan cara perjuangan kompetitif atas suara rakyat”. Schmiiter dan Terry Lynn Karl menyebutkan bahwa “demokrasi merupakan suatu sistem pemerintahan dimana pemerintah dimintai pertanggungjawaban atas tindakan-tindakan mereka di wilayah publik oleh warga negara. 2000: 162) Pendapat lain menyebutkan bahwa demokrasi bukan sebagai suatu jenis organisasi. Untuk itu perlu kita ketahui apa dan bagaimanakah demokrasi. Demokratisasi menjadi salah satu istilah yang tak dapat dipisahkan dari tuntutan penyelenggaraan pemerintahan demokrasi tersebut. Ini adalah juga konsepsi marxis-leninis dari demokrasi. sebagai suatu penentangan terhadap kepentingan perseorangan atau kelompok terpisah. masing-masing negara tidaklah sama. Government thus the rule of all over all in the common. demokratisasi dan pemerintahan demokratis tersebut. collective preference”. Indonesia merupakan negara yang mendasarkan kedaulatannya atas dasar kedaulatan rakyat disamping atas dasar kedaulatan hukum. 1988: 11) Dari pendapat para ahli di atas terdapat benang merah atau titik singgung tentang pengertian demokrasi. adapun Philippe C. Herts dalam bukunya Political Realism and Political Idealism sebagaimana dikutip oleh Soekarna dalam buku Sistem Politik. karena produksi dianggap mengabdi pada seluruh rakyat. demokrasi adalah hasil dari segala sesuatu yang diinginkan: “personal right. mempunyai hak prerogatif politik terhadap anggota (rakyat/kelompoknya) lainnya. Menurut Braybroooks. 1990: 37). has political prerogative over any other. yaitu rakyat sebagai pemegang kekuasaan. menyebutkan “demokrasi sebagai bentuk pemerintahan dimana keputusankeputusan pemerintah yang penting secara langsung atau tidak langsung didasarkan pada kesepakatan mayoritas yang diberikan secara bebas dari rakyat dewasa”. Setelah kejatuhan Soeharto (Orde Baru) tuntutan untuk penyelenggaraan pemerintahan demokrasi merebak sampai kepelosok-pelosok negeri. pembuat dan penentu keputusan dan . as opposed to the individual or separate group interest) (Soekarna. Suatu perekonomian seperti perekonomian Soviet disebut demokrasi rakyat. human welfare.Dalam menjalankan pemerintahan demokrasi. tetapi sebagi suatu hasil produksi. namun dalam pelaksanaannya kedaulatan rakyat itu tidak pernah dijalankan selama lebih kurang empat puluh tahun (5 Juli 1959-21 Mei 1998). tetapi sebagi suatu keadaan tertentu dari kemakmuran. Josefh A. Setiap negara mengklaim bahwa sistem penyelenggaraan pemerintahaan atau sistem politik yang mereka bangun adalah demokrasi. Hal ini dapat dilihat pada ketentuan Pasal 1 ayat (2) UUD 1945 Sebelum Perubahan. (Doel. menyebutkan bahwa “Democracy is a form of government in which no one member. Schmeter menyebutkan. yang bertindak secara tidak langsung melalui kompetisi dan kerjasama para wakil mereka yang telah terpilih”. Yang artinya adalah “Demokrasi adalah bentuk pemerintahan dimana tidak satu orangpun anggota (rakyat/kelompoknya). bukan sebagai cara memproduksi. “Kedaulatan ialah di tangan rakyat dan dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat” dan bandingkan dengan Pasal 1 ayat (2) UUD 1945 Setelah Perubahan “Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar”. Pemerintahan adalah dilakukan dengan aturan oleh keseluruhan anggota (rakyat/kelompoknya) untuk keseluruhan masyarakat.

Melakukan pendidikan politik g. 2. Mmbina pendapat masyarakat c. eksekutif dan yudikatif berada pada badan yang berbeda. Mempertanggumngjawabkan pemerintahan 8. Pemerintahan dengan dialog 6. Adanya dukungan rakyat terhadap pemerintah d. Mengeritik penguasa e. Memadukan pemikiran-pemikiran politik i. Menarik rakyat untuk memilih d. Melakukan sosialisasi politik j. Pers yang bebas 10. Perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia . Pemerintahan mayoritas 5. maka harus menjalankan prinsip-prinsip yang ada padanya. Pemerintahan konstitusionil 3. Memilih pemimpi-pemimpin politik h. 1999: 8) Demokrasi dalam menjalankan usahanya untuk mencapai tujuan yang dikehendaki. Pemilihan umum yang bebas 7. Partai politik lebih dari satu dan menjalankan fungsinya. dan pemerintahan untuk rakyat (government for the people). sebagai berikut: (Sukarna. Mempertanggungjawabkan pemerintah terhadap rakyat c. Ikut sertanya masyarakat dalam urusan pemerintahan b. Managemen terbuka (tranfarancy): a. Moh. Pemerintahan berdasarkan hukum 4. Adapun prinsip-prinsip yang terdapat dalam demokrasi adalah. Mempersatukan pemerintahan l. yaitu: a. (Mahfud. pemerintahan oleh rakyat (government by the people). 1990: 40-42) 1. Pada negara yang menganut asas demokrasi ini didalamnya mengandung unsur. maka kekuasaan pemerintah berada di tangan rakyat.kebijaksanaan tertinggi dalam penyelenggaran negara dan pemerintahan serta pengontrol terhadap pelaksanaan kebijakannya baik yang dilaksanakan secara lanmgsung oleh rakyat atau mewakilimya melalui lembaga perwakilan. Mencalonkan kandidat b. Pengakuan terhadap hak-hak minoritas 11. Memilih orang-oramg yang akan diangkat dalam pemerintahan f. Mahfud MD menyatakan bahwa negara yang negara yang menganut asas demokrasi. Menyelesaikan perselisihan-perselisihan k. Karena itu negara yang menganut sistem demokrasi diselengarakan berdasarkan kehendak dan kemauan rakyat mayoritas serta tidak mengesampingkan rakyat minoritas. Pembagian kekuasaan: kekuasaan legislatif. Adanya pengawasan rakyat terhadap pemerintah 9. pemerintahan dari rakyat (government of the people).

Adanya pemerintahan yang bersih (cleant and good government) 17. Pendapat lain yang menyebutkan tentang prinsip-prinsip demokrasi ini adalah Robert S. 2000: 166169) 1. Adanya pers yang bebas 9. Adanya kebijakan negara yng berkeadilan 20. Kebebasan beragama c. Kebebasan dari pada kebutuhan (bekerja/berusaha) 19. yang membedakannya adalah dalam hal penomoran dan sistematikanya. seperti: a. Adanya pemilihan uumum yang bebas (general election) 3. Jaminan terhadap kebebasan individu dalam batas-batas tertentu. Mekanisme politik yang berubah antara kehidupan politik masyarakat dan kehidupan politik pemerintah 15. Adanya persetujuan parlemen 12. Adanya pembagian kekkuasaan (sharing power) 2. Adanya perlindungan hak asasi manusia 16. Adanya mekanisme politik 19. Adanya pemerintahan yang berdasarkan hokum 8. Adanya muti partai politik 10. Adanya persaingan keahlian (profesionalitas) 18. prinsip-prinsip demokrasi adalah sebagai berikut: (Ubaidillah. Kebebasan dari rasa takut d. adanya pengawasan terhadap administrasi publik 15. Adanya musyawarah 11. Adanya ketentuan pendukung dalam system demokrasi 14. Adanya manajemen pemerintahan yang terbuka 4. Peradilan yang bebas dan tidak memihak 13. Penyelesaiaan perpecahan secara damai atau secara kompromi 18. Kebijaksanaan negara dibuat oleh badan perwakilan politik tanpa paksaan dari badan lain 16. Adanya kebebasan individu 5. Prinsip-prinsip demokrasi yang dikemukakan oleh Sukarna dan Inu pada prinsipnya hampir sama. Pengawasan terhadap adminisdtrasi negara 14. Adanya pengakuan hak minoritas 7. Adanya pemerintahan yang mengutamakan tanggung jawab. Adanya persetujuan Inu Kencana syafi’i. Adanya pemerintahan yang konstitusionil 13. Adanya peradilan yang bebas 6.12. Penempatan pejabat-pejabat dalam pemerintahan dengan merit system bukan spoil system 17. Konstitusi/Undang-Undang Dasar/Peraturan Perundang-undangan yang demokratis 20. Kebebasan berbicara atau mengemukakan pendapat dan pikiran b. Dahl .

yaitu hampir satu abad. Demokratisasi pertama kali ditiupkan di Indonesia oleh Paul Wolfowitz pada saat akan megakhiri masa jabatan duta besarnya di Indonesia pada tahun 1989.dengan tujuh prinsipnya.1997. yaitu tahun ditumbangkannya rezim diktator Portugal. ( Ginting. karena kalau prinsip-prinsip ini berjalan berjalan tanpa diikuti oleh prinsip-prinsip yamh lainnya maka demokrasi tidak akan dapat berjalan dengan baik. ketujuh. kedua. Yang menarik adalah. Demokratisasi merupakan suatu arus transformasi global yang terjadi dalam gelombang dunia ketiga yang sulit dielakkan. prinsip-prinsip demokrasi terdiri atas persamaan. yaitu: Pertama. Prinsip pluralisme memberikan penegasan dan penagkuan bahwa keragaman budaya. Indonesia memasuki masa transisi menuju demokrasi. kebebasan menyetakan pendapat tanpa ancaman. tetapi tidak diikuti oleh adanya pemerintahan berdasarkan atas hukum. kontrol atas keputusan pemerintah. yaitu suatu masa dimana telah terjadi suatu peralihan dari rezim penguasa yang otoritarian menuju suatu tatanan pemerintahan dengan kehidupan kenegaraan yang demokratis. adanya hak memilih.30S/PKI/1965 ini dua kekuasaan besar saat itu. pertama berlangsung dari tahun 1922-1942. Misalnya adalah demokrasi tidak akan dapat berjalan walaupun adanya pembagian kekuasaan. Politik dan Demokratisasi Pecahnya peristiwa pemberontakan Gerakan 30 September 1965 (G. Prinsip kebebasan menegaskan bahwa setiap individu warga negara atau rakyat memiliki kebebasan menyampaikan pendapat dan membentuk perserikatan. Kekuasaan militer (TNI-AD) menjadi semakin besar setelah dikeluarkannya Surat Perintah 11 Maret 1966 untuk “mengambil segala tindakan yang dianggap perlu untuk terjaminnya . Karena sangat sulit dikatakan demokrasi bila tidak adanya alternatif pilihan di luar partai politik yang telah ditentukan. etnis. bahasa. kebebasan dan pluralisme.: 16-17) Tentara Nasional Indonesia. Gelombang pertama berlangsung lambat dan lama. kebesasan berserikat. adanya hak untuk dipilih. mulai tahun 1823 sampai tahun 1926 dan gelombang kedua dari tahun 1943 sampai tahun 1964. keenam. keempat. kelima. pemilihan yang teliti dan jujur. bahwa setiap gelombang itu diakhiri oleh “gelombang balik”. yang bermula pada tahun 1974. dan kedua dari tahun 1961-1975. kebebasan mengakses demokrasi. Ia mendefenidsikan “gelombang demokrasi” sebagai suatu kelompok transisi dari rezim-rezin non-demokratis yang terjadi dalam suatu kurun waktu tertentu yang jumlahnya secara signifikan melebihi jumlah transisi yang terjadi sebaliknya. ketiga. yaitu jatuhnya rezim-rezim demokratik. (Ubaidillah. agama pemikiran dan sebagainya merupakan conditio sine qua non (sesuatu yang tidak bisa terelakkan). (Ubaidillah. Pasca kejatuhan Soeharto 21 Mei 1998. 2000: 169) Sedangkan menurut Masykuri Abdillah. atau tanpa diikuti oleh adanya partai politik yang lebih dari satu. yaitu kekuasaan Presiden Soekarno dan PKI menjadi lemah dan hancur.30S/PKI/1965) berdampak pula terhadap meningkatnya kekuasaan militer (TNI-AD khususnya) dalam peta perpolitikan bangsa Indonesia. 2000: 165-166) Prinsip-prinsip ini harus bersinergi antara satu dengan yang lainnya. Hal ini disebabkan karena setelah terjadinya G. Prinsip persamaan memberikan penegasan bahwa setiap warga negarabaik rakyat biasa ataupun pejabat mempunyai persamaan kesempatan dan kesamaan kedudukan dimuka hukum dan pemerintahan.

Tuntutan demokrasi dan demokratisasi juga melanda pemikiran para petinggi militer. DAFTAR PUSTAKA Santoso. 1999. ABRI Siasat Kebudayaan 1945-1995. Birokrasi.keamanan dan ketenangan serta kestabilan jalannya revolusi serta menjaminkeselamatan presiden…” dengan berkoordinasi dalam menjalankan pelaksanaan perintah bersama panglimapanglima angkatan serta melaporkan segala sesuatu yang bersangkut paut dengan tugas dan tanggung jawabnya . Muhammad Rusli. dengan mengeluarkan paradigma baru ABRI (TNI) pada HUTnya yang ke-53 pada 5 Oktober 1998 yang dilaksanakan secara bertahap. III.L Tobing. Made budisupriatna. A. Yogyakarta Karim. 1998. Endriartono Sutarto.. Partai-partai politik ini tidak lagi memiliki basis ideologi spesifik sebagaimana pada masa orde lama. Adanya niat bak TNI tersebut hendaknya pula dapat diterjemahkan dengan baik oleh para politisi sipil untuk tidak kembali membawa dan menyeret militer (TNI) ke dalam kancah polik. Tuntutan untuk tidak berpolitik praktis bagi militer (TNI) juga telah direspon dengan keluarnya paradigma baru TNI yang dicanangkan pada 5 Oktober 1998 dan diperkuat kembali dengan maklumat Panglima TNI Jenderal TNI. dan Golkar/ABG) Runtuhnya kekuasaan Soeharto (Orde Baru) berdampak pula terhadap kekuasaan militer (TNI) dalam bidang sipil dan pemerintahan. serta menguasai parelemen dan pemerintahan yang dikenal dengan istilah (ABRI.L. PENUTUP Berdasarkan uraian-uraian tersebut di atas maka dapat diambil suatu kesimpulan bahwa militer di Indonesia dalam masa Orde baru sudah terlalu jauh masuk dalam arena politik praktis yang seharusnya merupakan wilayah atau area pertempuran sipil. Seperti pengurangan TNI/Polri menjadi 38 orang serta adanya maklumat Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto untuk tidak melakukan penggunaan hak pilih anggotanya (prajurit) TNI dalam pemilu 2004. Hukum dan Pilar-pilar Demokrasi. Budi. Peranan ABRI dalam Politik dan Pengaruhnya Terhadap . Berbeda dengan Golongan Karya yang didukung oleh Birokrasi dan ABRI kelompok ini menjadi penguasa dalam menjalankan visi misi Orde Baru. Perjalanan politik tentara mencapai puncaknya pada masa Orde Baru (Seharto) yaitu dengan mengebiri partai-partai politik yang aspirasi ideologisnya digabungkan ke dalam dua partai. Moh. J. Gelora Aksara Pratama. Hal ini diharapkan dapat segera terwujudnya demokrasi dan demokratisasi yang salah satu unsurnya adalah adanya supremasi sipil atas militer. terbaik bagi TNI”. Kanisius dan Lembaga Studi Realino. Adanya momentum reformasi turut serta mengembalikan militer ke dalam posisinya semula sebagai alat pertahanan dan keamanan negara. 1989. Yogyakarta Doel. Gama Media. Jakarta Mahfud MD. 1995. pertentangan antar faksi dalam partai politik tersebut tidak dapat terelakkan dan berakibat pada lemahnya dua partai itu. van den alih Bahasa R. yaitu Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Dengan semboyan “terbaik bagi rakyat. Demokrasi dan Teori Kemakmuran.

Jakarta TNI Abad XXI: Redefenisi. Budaya politik yang baik dapat diwujudkan ketika mesin politik (partai) dapat menyentuh akar rumput dan melakukan kaderisasi politik yang baik. U. Supremasi sipil dibangun dengan sebuah budaya politik yang baik. militer berfungsi sebagai alat negara yang menjunjung tinggi supremasi sipil. Namun. Sistem Politik. PT Citra Aditya Bakti. Selamat (ed). 1990. Faktor dominan masuknya militer dalam dunia politik adalah budaya politik yang kurang dibangun dengan baik oleh partai-partai politik. • • Definisi Militer: Militer adalah kelompok yang memegang senjata. 1989. 1999. Mengasah Naluri Publik Memahami Nalar Politik. Penerbit Jasa Buma. Partai Sosialis Indonesia. dan Reaktualisasi Peran TNI dalam Kehidupan Bangsa. ABRI dan Demokratisasi. Reposisi. IAIN Jakarta Press. Jakarta 3. citra partai itu tidak menjadikan budaya politik partai itu dikatakan baik karena intelektual para pimpinan partainya tidak diiringi dengan budaya politik yang baik sehingga terbukti bahwa partai ini hanya memiliki kader-kader berkualitas di tingkat pimpinannya tetapi tidak memiliki sentuhan politik di lapisan akar rumput. Umaruddin (dkk). Jakarta Ginting. Bandung Dydo. Pergolakan Politik Tentara Sebelum dan Sesudah G30S/PKI. Bandung Sukarna. Pendidikan Kewarganegaraan: Demokrasi. Todiruan. Partai-partai politik yang ada saat itu antara lain Sarikat Islam. Jakarta Masdar. banyaknya anggota partai tersebut tidak diimbangi dengan internalisasi budaya politik yang baik ke seluruh anggotanya. Lkis. 1997. Banyaknya anggota partai itu lebih dikarenakan variabel lainnya yang berpengaruh seperti ikatan keagamaan maupun ketokohan pimpinannya terutama Hadji Oemar Said Tjokroaminoto.pendidikan Politik di Indonesia (1965-1979). Partai Sosialis Indonesia pimpinan Sjahrir memang dikenal sebagai partai kalangan intelektual. Mizan. HAM dan Masyarakat Madani. Partai-partai lain juga kurang memiliki budaya politik yang baik. Partai Nasional Mahasiswa (PNI). Militer adalah organisasi kekerasan fisik yang sah untuk mengamankan negara atau bangsa dari ancaman luar negeri maupun dalam negeri. Ketidakbecusan kalangan sipil . tidak ada partai politik yang mengakar dan memberikan budaya politik yang baik ke bawah. Akan tetapi. Budaya politik adalah suatu parameter dimana peran sipil sangat dominan dalam sebuah negara. Pada masa pergerakan nasional di Indonesia. dll. CV Haji Masagung. Dalam hal ini. Yogyakarta Ubaidillah. 1999. Begitu juga dengan partai lainnya. Golden Terayon Press. Gambaran lintasan sejarah di atas memberikan suatu analisis tentang masuknya militer dalam dunia politik. 2000. Sarikat Islam merupakan partai yang memiliki massa yang sangat besar saat itu.

dalam mengurus negara membuat kalangan militer berinisiatif untuk masuk (intervensi) ke dunia politik. Intervensi ke dalam pemerintahan dengan penguasaan otoritas pemerintah dalam bidang kebijakan militer. Perwira tinggi militer yang memiliki jaringan yang kuat dapat melakukan koordinasi bahkan bantuan dukungan jaringannya di negara lain. ada faktor-faktor lain yang juga sangat mempengaruhi kualitas seorang perwira militer yang siap memimpin negara antara lain pendidikan berkualitas yang dididik dengan orang-orang berkualitas bahkan dari kalangan sipil yang memenuhi kriteria terbaik seperti Guru Besar. faktor pendukung lainnya adalah sistem kepemimpinan yang dibangun dalam dunia militer. Indoktrinasi yang dibangun dalam dunia militer juga memberikan semangat juang yang berbeda dibandingkan kalangan sipil. Selain itu. Secara kultur yang dibangun dalam dunia milter memang menjadikan setiap perwira militer memiliki keunggulan yang dapat dikatakan melebihi kualitas sipil. Masuknya militer dalam dunia politik disebut dengan Pretorian. Pretorian adalah situasi dalam masyarakat yang kalangan militernya dominan sebagai aktor politik. dsb. Soldiers in Politics) antara lain: . pendidikan militer bersama. Selain networking. Networking itu dibangun dari berbagai momen seperti latihan militer bersama. Beberapa cara seorang perwira militer menjadi pretorian: • • Mengancam langsung pemerintah dengan kekuatan militer. Oleh karena itulah dibuat sebuah pemerintahan sipil yang bisa mengontrol militer dengan sebaik-baiknya. atau hubungan antar pimpinan militer di negara yang berbeda. Kultur itu membuat pengalaman seorang perwira militer benar-benar terlatih sejak dini. Masuknya militer masuk dalam dunia politik membuat kalangan sipil memikirkan untuk melakukan pengontrolan terhadap militer agar tidak terjadi kudeta yang bisa mengancam kekuasaan sipil. Faktor-faktor pendukung itu antara lain adalah networking yang dibangun oleh setiap perwira cukup baik. Setiap perwira militer sudah dilatih kepemimpinannya dalam suatu entitas terkecil sampai memimpin satu angkatan secara keseluruhan. Militer yang masuk ke dalam dunia politik didasari oleh banyak faktor pendukung. Tiga model kontrol sipil (Eric Nordinger.

keahlian. Model Tradisional adalah model kontrol sipil di negara monarki. Dalam model ini biasanya tidak terjadi konflik antara sipil dan militer. Model liberal ini sebenarnya memiliki banyak kelebihan. Model Panetrasi adalah suatu model kontrol sipil yang melakukan penebaran ide-ide politik terhadap perwira militer yang masuk dalam partai-partai politik. sipil dan militer adalah satu perangkat ideologi. Model Liberal dengan jelas mendasarkan pada diferensiasi tugas dan wewenang sipil dan militer. dan sosial mereka yang sangat bergantung kepada raja. dan otonomi. Tindakan menentang raja justru akan melemahkan kedudukan politik. mereka lebih memilih untuk mempertahankan statusnya sebagai sipil atau bangsawan yang memiliki previlege. Bentuk pemerintahan sipil tradisional ini sangat berpengaruh dalam sistem pemerintahan kerajaan abad ke-17 dan abad ke-18 di Eropa. Model ini mulai runtuh di Eropa Barat setelah tahun 1800-an ketika pendidikan dan kemahiran dijadikan parameter utama dibandingkan status dan kekayaan warisan. Ada beberapa etika sipil yang harus dilakukan. Dalam hal ini. Ketika terjadi konflik. sipil dituntut untuk memiliki civilian ethic. Militer hanya bertugas menjaga keamanan dan pertahanan negara. 2. Militer yang masuk dalam partai politik harus melepaskan semua aturan militernya dan masuk dalam aturan partai politik . Dalam hal ini. Hal itu terjadi karena golongan aristokrat Eropa merupakan elit sipil dan juga elit militer. Kontrol sipil terhadap militer dilakukan melalui dua struktur yaitu struktur militer itu sendiri dan struktur partai politik. Seluruh kebutuhan militer dipenuhi dengan sebaik-baiknya oleh sipil. Selain itu. model ini berupaya melakukan depolitisasi semaksimal mungkin terhadap militer. Semua hak militer yang diberikan untuk sipil bukan berarti memberikan kewenangan yang seenaknya kepada sipil untuk melakukan apapun terhadap militer. ekonomi. serta harus menunjukkan sikap netral. tetapi segalanya bisa bermasalah ketika sipil tidak konsisten dalam setiap etika yang harus dipenuhi. Dalam model ini. akan tetapi dalam kepentingan dan pandangannya hampir sama karena keduanya berasal dari golongan aristokrat. Golongan bangsawan tidak bisa memanfaatkan kedudukan militer mereka untuk menentang raja karena raja masih sangat dihormati sebagai kepala negara sekaligus kepala pemerintahan.• • • Tradisional Liberal Panetrasi 1. Model ini hanya bisa diterapkan di suatu negara yang menerapkan sistem partai tunggal. Singkat kata. sipil tidak boleh melakukan intervensi ke dalam profesi militer apalagi menyusupkan ide-ide politik bahkan menggunakan militer untuk kepentingan politik tertentu. antara lain sipil harus menghormati kehormatan militer. militer dianggap sebagai golongan amatir. militer diberikan kemampuan manajemen militer yang mumpuni. Walaupun kedua golongan elit ini berbeda. Selain itu. 3.

.sehingga semua tunduk dalam aturan partai. Kalaupun ada dominasi militer dalam partai hanya mungkin terjadi sebatas faksi. dalam model panetrasi ini akan berakibat buruk ketika setiap aksi kelompok sipil mengganggu wilayah otonom militer. Akan tetapi dalam keadaan tertentu. Apabila model ini diterapkan. Model panetrasi ini biasanya diterapkan di negara komunis. Sama seperti model liberal. ia akan sangat memperlihatkan supremasi sipil. Hal ini membuat tidak dominannya peran militer. pelaksanaan yang kurang baik akan menimbulkan resiko yang cukup tinggi.