P. 1
Ilmu Filsafat Sains

Ilmu Filsafat Sains

|Views: 114|Likes:
Published by Andry Ai Ryazen

More info:

Published by: Andry Ai Ryazen on Dec 29, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/29/2012

pdf

text

original

ii

KATA PENGANTAR

Tulisan ini disusun dengan tujuan menghasilkan bacaan yang merupakan
hasil pengumpulan informasi dari buku-buku lama, pendapat dosen senior
sebagai dosen penceramah pada kuliah Filsafat Sains dan konsep pemikiran
bagaimana sains dasar harus berfungsi yang kami olah dalam perkuliahan
Filsafat Sains Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut
Teknologi Bandung 2010. Kami mengharapkan adanya masukan
membangun dari para pembaca.
Selamat membaca.
Bandung, April 2011
Penulis,
Lilik Hendrajaya
dan
Peserta Kuliah Filsafat Sains 2010

iii

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR II
DAFTAR ISI III
BAB 1 PENDAHULUAN 1
BAB 2 PERKEMBANGAN BERNALAR DALAM SAINS 3
2.1 BERNALAR DALAM KEHIDUPAN MANUSIA 3
2.1.1 KECENDERUNGAN MANUSIA MENCARI ILMU PENGETAHUAN 3
2.1.2 MANUSIA MENCARI KEBENARAN DAN TIDAK MENYUKAI KEKELIRUAN 4
2.1.3 MANUSIA CENDERUNG MENCARI KEPASTIAN 4
2.1.4 MANUSIA ITU CENDERUNG BERAGAMA 5
2.1.5 MANUSIA BERFILSAFAT DAN BERTEKNOLOGI 5
2.2 KONTRIBUSI SAINS DALAM PERKEMBANGAN BERNALAR 7
2.2.1 PERKEMBANGAN BERNALAR DI MATEMATIKA 7
2.2.1.1 Matematika dan Filsafat 7
2.2.1.2 Pengembangan Filsafat Matematika Abad Pertengahan ke Zaman Modern 10
2.2.1.3 Prinsip Dasar Pengembangan Bernalar di Matematika 11
2.2.1.4 Peran Matematika dalam Pembangunan Ipteks 14
2.2.1.5 Perkembangan Matematika di Indonesia 16
2.2.2 PERKEMBANGAN BERNALAR DI FISIKA 17
2.2.2.1 Perkembangan Bernalar di Fisika Masa Aristoteles 17
2.2.2.2 Perkembanagan Fisika Masa Isaac Newton 19
2.2.2.3 Pengembangan Filsafat Fisika Menurut Maxwell 20
2.2.3 PERKEMBANGAN BERNALAR DI KIMIA 24
2.2.3.1 Ilmu Kimia pada Zaman Purba 24
2.2.3.2 Perkembangan Kimia Sebelum Abad Pertengahan 25
2.2.3.3 Perkembangan kimia di Eropa Zaman Pertengahan 29
2.2.3.4 Alkimia di Zaman Modern dan Renaisanse 33
2.2.3.5 Keruntuhan Alkimia Barat 35
2.2.3.6 Perkembangan Kimia Modern 36
iv

2.2.4 PERKEMBANGAN BERNALAR DALAM ILMU HAYATI/BIOLOGI 38
2.2.4.1 Awal Perkembangan Ilmu Hayati 38
2.2.4.2 Perkembangan Ilmu hayati abad ke-20 39
2.2.4.3 Arah Perkembangan Ilmu Hayati Pada Masa Depan 41
2.2.5 PERKEMBANGAN BERNALAR DI ASTRONOMI 42
2.2.6 PERKEMBANGAN BERNALAR DI ILMU-ILMU SOSIAL 44
2.2.6.1 Bernalar di Ilmu Sosial Menurut Hegel 44
2.2.6.2 Ekonomi dalam Sudut Pandang Karl Marx 46
2.3 REVITALISASI DAN SUSTAINABILITAS SAINS DASAR 49
2.3.1 REVITALISASI SAINS DASAR 49
2.3.1.1 Pemahaman sains dasar pada Masyarakat Umum 49
2.3.1.2 Produk sains dasar yang Bisa Memberikan Dampak Luas 50
2.3.1.3 Peningkatan Kemampuan Lulusan sains dasar 50
2.3.1.4 Penghiliran sains dasar 50
2.3.2 SUSTAINABILITAS SAINS DASAR 51
DAFTAR KONTRIBUTOR 53
DAFTAR BACAAN 53
BAB 3 MEMAJUKAN SAINS DASAR 54
3.1 MENUJU SINERGISME 54
3.2 DASAR KEILMUAN UNTUK MAJU 55
3.2.1 MEMAJUKAN MATEMATIKA 55
3.2.2 MEMAJUKAN FISIKA 55
3.2.3 MEMAJUKAN ASTRONOMI 56
3.2.4 MEMAJUKAN KIMIA 58
3.2.5 MEMAJUKAN ILMU HAYATI 58
3.3 TATA KERJA SISTEMIK : METODOLOGI PENELITIAN 59
3.4 MEMBANGUN TEORI 60
3.4.1 AWAL BERTEORI. 61
3.4.1.1 Ke Depan (Forward) 61
3.4.1.2 Ke Belakang (Inverse, membalik) 62
3.4.1.3 Sistem Linier 63
3.4.1.4 Teori Medan 63
v

3.4.1.5 Reaksi Kimia 64
3.4.1.6 Kemampuan Menahan 64
3.4.2 DIFERENSIAL 64
3.4.2.1 Kepekaan (Sensitivitas) 64
3.4.2.2 Elastisitas 65
3.4.2.3 Deret 65
3.4.3 OPTIMASI 66
3.4.4 ANALOGI 66
3.5 MELANJUTKAN TEORI, MELENGKAPI BUKTI KEBENARAN TEORI 67
3.5.1 KONSTRUKSI TEORI 67
3.5.1.1 Merakit Teori 67
3.5.1.2 Menggunakan/menerapkan teori 67
3.5.1.3 Penguatan sains dasar 67
3.6 MAJU : MEMBANGUN DIRI DAN BANGSA 68
3.6.1 DINAMIKA SAINS DASAR 68
3.6.2 STRUKTUR PROSES DINAMIKA SISTEM PENALARAN SAINS DASAR 69
3.6.3 KENDALA LINGKARAN KEBUNTUAN PENGAJAR SAINS DASAR 70
3.6.4 SOLUSI ITERATIF : REVITALISASI SAINS DASAR 71
3.6.5 SAINS DASAR UNTUK MEMBANGUN DIRI DAN BANGSA 73
3.6.5.1 Membangun Diri 73
3.6.5.2 Membangun Bangsa 73
3.7 PENUTUP 78
DAFTAR KONTRIBUTOR 80
DAFTAR BACAAN 80
BAB 4 MENGHILIRKAN SAINS DASAR 78
4.1 SAINS: APAKAH MENGHILIRKAN ITU SULIT? 78
4.1.1 PERKEMBANGAN SAINS DI BERBAGAI NEGARA 78
4.1.1.1 Sains di Negara Maju 79
4.1.1.2 Sains di Negara Berkembang 80
4.1.2 PERKEMBANGAN SAINS DI INDONESIA 82
4.2 PROSES MENGHILIRKAN SAINS 83
4.2.1 PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN 84
vi

4.2.2 RISET MENUJU KE KEMANDIRIAN 84
4.2.3 HASIL RISET SAINS DASAR 86
4.2.4 MENGHILIR MENGHASILKAN KOMODITAS YANG DISERAP PASAR 87
4.2.4.1 Teknologi Pengolahan Buah Kelapa Terpadu dengan Skala Rumah Tangga
(disarikan dari “Bambang Setiaji: Coco Power) 88
4.2.4.2 Pengembangan Statistika Aktuaria 95
4.2.4.3 Mempelajari Aliran Magma dan Erupsi Gunung Api 95
4.2.5 MENGHILIRKAN SAINS DASAR DALAM KURIKULUM 96
4.2.5.1 sains dasar dan Problem Solving 97
4.2.5.2 Mengundang Lulusan SMU untuk menjadi Mahasiswa Sains 102
4.2.5.3 Pengajaran sains dasar di Perguruan Tinggi 105
4.2.5.4 Skripsi Inkubator Usaha 109
4.2.5.5 Pemasaran Prodi Sarjana sains dasar 112
4.3 MENGHILIRKAN SAINS MENGUATKAN NEGARA 113
4.3.1 KERJASAMA PERGURUAN TINGGI DENGAN DUNIA INDUSTRI 114
4.4 REVITALISASI PERTANIAN MENURUT SAINS DASAR 118
4.4.1 DASAR PERTUMBUHAN ILMU DAN TEKNOLOGI 119
4.4.2 AGROTEKNOLOGI DAN AGRIBISNIS 120
4.4.3 PERTANIAN/AGROKOMPLEKS 121
4.4.4 BUDIDAYA PERTANIAN DENGAN KONSEPSI SAINS DASAR 122
4.4.5 PENDEKATAN SISTEM PADA PROSES KIMIA 123
4.4.6 REVITALISASI PENDIDIKAN SARJANA DAN PASCA SARJANA PERTANIAN 125
DAFTAR KONTRIBUTOR 127
DAFTAR BACAAN 127
BAB 5 SIKAP, PERILAKU DAN KEPEMIMPINAN SAINS DASAR 127
5.1 BERBAGAI KESULITAN 127
5.2 SIKAP UTAMA 128
5.2.1 SOFT SKILL 129
5.2.2 KEPEMIMPINAN 135
5.3 MEMBENTUK SIKAP DAN PERILAKU KEPEMIMPINAN 136
5.3.1 MEMBENTUK SIKAP DAN PERILAKU SAINS DASAR 137
5.3.1.1 Mengolah Data Secara Jujur (The Treatment of Data) 139
vii

5.3.1.2 Jujur Pada Kesalahan dan Segala Aspek yang Dilakukan dalam Penelitian 140
5.3.1.3 Menghindari Research Misconduct Ketika Melakukan Penelitian 140
5.3.1.4 Meminta Bimbingan dan Nasihat dari Pembimbing dan Mentor (Advising dan
Mentoring) 141
5.3.1.5 Membiasakan Keselamatan Bekerja di Laboratorium Saat Melakukan Riset 142
5.3.1.6 Menulis Publikasi Internasional untuk Berbagi Hasil Penelitian 143
5.3.1.7 Ilmuwan dan Masyarakat 144
5.3.2 MEMBENTUK KEPEMIMPINAN 145
5.3.2.1 Kesadaran Diri (Self Awareness) 147
5.3.2.2 Keterampilan Interpersonal (Interpersonal Skills) 147
5.3.2.3 Orientasi Belajar (learning orientation) 148
5.4 MAJU DENGAN SIKAP PARADIGMATIF 149
5.4.1 PENGERTIAN 149
5.4.2 ETOS KERJA 149
5.4.3 PARADIGMA TRIDHARMA TERPADU PRODUKTIF TERUKUR 150
5.4.4 PARADIGMA PENGEMBANGAN TENAGA AKADEMIK 152
5.4.5 PROAKTIF MENGATASI KACAUNYA BIROKRASI 153
5.4.6 PPAK (PANITIA PENILAI ANGKA KREDIT) SEBAGAI PANITIA PEMANTAU KARIR 154
DAFTAR KONTRIBUTOR 156
DAFTAR BACAAN 157
BAB 6 PENUTUP 159
BAB 7 DAFTAR NARA SUMBER 160

1

BAB 1 PENDAHULUAN

sains dasar (Basic Sciences) yang terdiri dari Matematika, Fisika, Kimia dan Biologi dipercaya di dunia
sebagai pengetahuan dasar bagi manusia untuk memahami pengetahuan lainnya, khususnya agar
manusia dapat berkemampuan dan berketerampilan untuk bekal hidupnya. Oleh karena itu,
pendidikan sains dasar dimulai dari tempat pendidikan dasar dan berlanjut ke tahap berikutnya.
Untuk menghasilkan guru atau dosen, diwajibkanlah tiap perguruan tinggi besar atau yang
diselenggarakan oleh pemerintah untuk mempunyai fakultas yang menyelenggarakan sains dasar
yang dikenal dengan FMIPA (Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam) untuk menghasilkan
calon ilmuwan, FPMIPA (Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam) untuk
menghasilkan guru, maupun PMIPA dalam FKIP (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan).
Negara maju mengutamakan pendidikan sains dasar bagi pertumbuhan bangsanya. Oleh karena itu
dukungan dana pertumbuhan bagi sains dasar amatlah penting. Di tiap perguruan tinggi besar selalu
ada Fakultas sains dasar. Atas dasar keyakinan ini, maka FMIPA, FPMIPA maupun keberadaan PMIPA
dalam FKIP di Indonesia sangat diutamakan. Hampir di tiap Ibu Kota Propinsi, universitas negeri
mempunyai FMIPA atupun FKIP dengan Pendidikan MIPA-nya. Inilah gambaran keberadaan institusi
sains dasar di Indonesia yang dimulai secara “by default” karena keyakinan tersebut.
Kemajuan perkembangan sains dasar dalam mutu pelaksannannya ataupun arah pengembangannya
sangat bergantung pada wawasan masyarakat dan dosen pengelolanya. Bahkan pada tahun 1983
telah terjadi krisis mutu hasil pendidikan sains dasar pada tingkat Sekolah Lanjutan Atas karena tidak
adanya arahan dan kendali pelaksanaan dan tidak terjadinya sinergi “pertolongan” dari institusi
pendidikan yang maju dan mapan ke institusi yang asal jalan.
Beberapa perguruan tinggi pembina yang memiliki FMIPA ditugaskan untuk menghasilkan guru
lulusan D3 MIPA. Akhirnya pada 1987 terjadilah sinergi yang diharapkan di mana dosen-dosen
lulusan sarjana (S1) PMIPA dari IKIP maupun FKIP secara terseleksi dapat melanjutkan ke program
Magister Sains di FMIPA perguruan tinggi pembina. Program sinergi berlanjut sekaligus dengan
penyamaan kurikulum tingkat sarjana dalam 6 semester. Dengan perbaikan mutu dosen dari
program sinergi ini sudah selayaknya sains dasar menunjukkan kemanfaatannya bagi pembangunan
bangsa ke bidang lain selain bidang pendidikan. Banyak bidang-bidang ilmu dasar profesi yang
belum tumbuh dan terus pertumbuhannya di sains dasar. Pengembangan ke bidang lain yang lebih
2

“menghilir” sudah cukup lama tetapi belum merata kemajuannya. Beberapa sebab yang sifatnya
teknis dan tak disadari oleh para dosen ilmuwan, antara lain adalah:
Ketika para peneliti tersebut menjalani pendidikan pascasarjana (S2, S3) di luar negeri, segera
setelah selesai dengan program tersebut, mereka diminta untuk kembali pulang, sehingga belum
sempat melihat dan mempelajari bagaimana sains dasar yang dipelajari dapat menghilir di negara
maju tersebut.
Tidak banyak, bahkan sangat langka, praktek sains dasar yang menghilir di kehidupan sehari-hari
selain lulusan sains dasar bekerja di bidang lain.Jika ada sains dasar yang menghilir, cukup keras juga
protes dari bidang lain yang biasa di bidang hilir tersebut karena merasa “pekerjaannya” direbut.
Pada era saat ini, di mana anggaran pendidikan telah mencapai 20%, tepat kiranya menjadi waktu
bagi sains dasar untuk dapat menguatkan diri dalam cakupan dasar dan mutu serta sekaligus
mengembangkan terapan menuju hilir agar warna pengajaran sains dasar lebih bermakna dan
berarah ke bidang kehidupan. Selain itu banyak bidang-bidang pekerjaan baru bisa tercipta atau
tertangani di mana “tunas-tunas”-nya adalah sains dasar. Bagi Indonesia, di sekitar ibu kota Propinsi
di luar Jawa, sumber daya manusia yang berlatar belakang sains dasar (sebagai guru) dan Ilmu
Pertanian cukup banyak, yang perlu dipertimbangkan jika ingin membangun industri atau teknologi
di daerah. Artinya, mereka yang memiliki latar belakang bidang sains dasar dan pertanian harus bisa
berkonversi ke bidang yang akan dibangun.
Berdasarkan hal-hal di atas, tulisan ini mencoba melakukan inventarisasi kekuatan sains dasar yang
menggeliat untuk menghasilkan pemikiran dan karya yang dapat menyelesaikan permasalahan
bangsa.

3

BAB 2 PERKEMBANGAN BERNALAR DALAM SAINS
2.1 Bernalar dalam Kehidupan Manusia
Ada berbagai hal yang mendasari perkembangan bernalar dalam kehidupan manusia. Sub bab-sub
bab berikut akan membahas berbagai hal tersebut secara terperinci.
2.1.1 Kecenderungan Manusia Mencari Ilmu Pengetahuan
Pada hakekatnya manusia selalu ada rasa ingin tahu. Ini muncul sejak manusia masih dalam
kandungan sang ibu hingga mereka menjalani kehidupan ini. Pengalaman menambah pengetahuan,
tetapi tidak otomatis manusia yang sudah berpengalaman memiliki persentuhan alam dengan
inderanya, otomatis dikatakan berpengetahuan. Jadi, pengalaman semata tidak otomatis
mendatangkan pengetahuan. Pengetahuan baru ada apabila demi pengalamannya manusia bisa
memberikan putusan. Ilmu adalah seperangkat pengetahuan yang diperoleh melalui prosedur
ilmiah. Ilmu harus universal, metodis, sistematis dan obyektif.
Universal, artinya berlaku kapan pun dan dimana pun.Ilmu adalah mencari sesuatu yang bersifat
umum, bukan khusus. Dari suatu ilmu yang bersifat umum ini akan terlahir apa yang kita sebut
sebagai teori. Teori masih harus diuji kebenarannya. Sebuah teori yang sudah tidak terbantahkan
kebenarannya menjadi hukum. Misalnya hukum gravitasi, hukum Newton dan sebagainya.
Metodis artinya hanya pengetahuan yang memenuhi sejumlah tatacara tertentu yang layak disebut
ilmu, karena ilmu tidak dibangun secara kebetulan:ada metode dan ada tatacaranya. Tatacara ini
ditempuh seorang ilmuwan, agar ilmunya bisa diuji dan diuji lagi oleh ilmuwan lain: diverifikasi
bukan secara kebetulan walau idenya bisa saja datang secara kebetulan yang lazim disebut inspirasi.
Tatacara ilmiah ini disebut sebagai metode ilmiah.
Sistematis, artinya ilmu bersifat sistematis, tersusun dalam satu rangkaian sebab akibat. Sistematis
dapat juga diartikan masuk akal atau logis. Dengan kata lain ilmu itu tidak acak-acakan, tidak ruwet
asal-asalan, melainkan tertib dan teratur dengan logika berpikir yang juga tertib dan teratur.
Tampaknya dapat dikatakan bahwa jika suatu kesimpulan diperoleh secara sistematis, maka hal
tersebut adalah ilmu, tetapi tidak semua yang benar diperoleh secara ilmiah misalnya kebenaran
wahyu.
Ilmu bersifat objektif, tidak subjektif. Persoalannya adalah apa itu objektif? Apa pula subjektif? Yang
dicari ilmu adalah kebenaran. Sesuatu dinyatakan objektif apabila yang menyatakan benar adalah
fakta dan data yang melekat pada objeknya. Sebaliknya, sesuatu dikatakan subjektif jika yang
4

menyatakan benar adalah subjek manusianya. Maka yang dicari ilmu adalah kebenaran objektif,
bukan subjektif.
2.1.2 Manusia Mencari Kebenaran dan Tidak Menyukai Kekeliruan
Dengan naluri ingin tahunya, manusia ingin mengetahui segala yang tersentuh inderanya, segala apa
yang ia lihat dan ia rasa, termasuk ikhwal dirinya sendiri: Siapa saya? Darimana saya? Mau ke mana
saya? Apakah/dimanakah pusat tatasurya? Mengapa air jika dipanaskan mendidih? Maka, manusia
mencari tahu, baik melalui pengalamannya sendiri maupun pengalaman orang lain yang
disampaikan kepadanya. Yang dicari manusia adalah pengetahuan yang benar. Manusia tidak suka
dengan kekeliruan dan selalu mencari kebenaran. Pada awalnya manusia meyakini bahwa bumi
adalah pusat tatasurya. Belakangan manusia menyadari bahwa pengetahuannya keliru. Manusia
tidak suka kekeliruan. Bisa jadi tadinya ia menyangka bahwa ia benar. Manakala ia tahu bahwa ia
keliru, maka tidak puaslah ia, dan mencoba mencari kebenaran. Manusia tidak akan pernah lelah
dalam mencari dan menemukan kebenaran.
Maka, apa itubenar? Apa pula keliru? Benar adalah kesesuaian antara pengetahuan/apa yang kita
ketahui dengan kenyataan objek-nya. Jika pengetahuan kita menyatakan Kutub Utara dingin dan
ternyata Kutub Utara dingin maka dikatakan bahwa pengetahuan kita benar. Sebaliknya, jika
pengetahuan kita menyatakan bahwa Kutub Utara panas, padahal kenyataannya Kutub Utara dingin,
maka dinyatakan bahwa pengetahuan kita keliru. Jadi, keliru adalah ketidaksesuaian antara
pengetahuan dengan kenyataan objeknya.
Masalahnya, satu objek bisa terdiri dari beberapa aspek. Maka, apabila kita hanya tahu sebagian
aspek dari sebuah objek, kita tidak dikatakan keliru, melainkan pngetahuannya belum lengkap.
Misalnya seseorang mengikuti ujian dengan sejumlah soal sebagai alat ukur untuk tujuan tertentu.
Ia menjawab, memberikan putusan. Atas jawabannya, penilai memberi nilai, mulai dari 10 hingga 0.
Bagi yang menjawab seluruh aspek dari objek yang ditanyakan, memperoleh nilai 10. Nilai 7 atau 6
jika hanya sebagian aspek yang yang diberikan putusannya. Nilai 0 diberikan untuk Anda yang keliru,
atau bisa juga ketidaksesuaian antara pengetahuan dengan kenyataan objeknya.
2.1.3 Manusia Cenderung Mencari Kepastian
Sebagaimana dikemukakan di atas, yang dicari manusia dalah pengetahuan yang benar.
Pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang sesuai dengan objeknya. Pengetahuan ini
didapatkannya dari pengalaman sendiri atau pengalaman orang lain. Untuk mendapatkan
pengetahuan dari orang lain, diperlukan sikap mental yang disebut percaya. Persoalannya adalah:
5

apa itu percaya? Pada hakikatnya, percaya adalah menerima benar begitu saja tanpa kita
mempersoalkan lagi kebenarannya karena otoritas atau kredibilitas orang yang menyatakan.
Percaya adalah menerima kebenaran berdasarkan orang lain di mana orang ini punya kredibilitas
tinggi. Kepercayaan berbeda dengan keyakinan. Apabila kepercayaan adalah menerima benar
berdasarkan kredibilitas orang yang menyampaikan, maka keyakinan adalah menerima benar
karena diri kita sendiri yang menyatakan benar. Selain kepercayaan dan keyakinan, masih ada
kepastian. Jika kepercayaan yang menyatakan benar adalah orang lain yang punya kredibilitas,
keyakinan adalah diri kita yang menyatakan benar, maka dalam kepastian yang menyatakan benar
adalah fakta dan data. Fakta dan data menyatakan benar, bukan diri kita atau orang lain. Itulah
kepastian.
2.1.4 Manusia itu Cenderung Beragama
Agama dibangun dengan kepercayaan dan atau keyakinan. Dari kepercayaan bisa tumbuh
keyakinan, atau sebaliknya: dari keyakinan tumbuh kepercayaan. Dalam agama, percaya adalah kata
lain dari iman. Jika Anda sudah tidak percaya, maka Anda tidak lagi beriman. Inilah yang
membedakan agama dengan ilmu. Ilmu harus dibangun dengan kepastian. Kepastian artinya yang
menyatakan benar adalah fakta dan data dari suatu objek. Masalahnya, tidak semua objek agama
bisa diverivikasi, diamati dan diuji, seperti misalnya surga dan neraka. Karenanya, agama berbeda
dengan ilmu baik dilihat dari sifat objekmya maupun dari sikap mental dan menyikapi
kebenarannya.
2.1.5 Manusia Berfilsafat dan Berteknologi
Ada sebuah ranah yang objeknya berada di antara ilmu dan agama, objeknya ada dan mungkin ada,
sekaligus tidak harus ada dalam arti bisa diuji dan diverifikasi secara empirik. Inilah area filsafat, ibu
dari segala ilmu. Jadi, filsafat adalah jenis pengetahuan manusia yang mencoba mencari sebab yang
sedalam-dalamnya dari segala sesuatu yang ada dan mungkin ada. Dalam mencari sebab yang
sedalam-dalamnya itu kita bersifat kritis. Kritis artinya tidak mudah percaya.
Dalam mempertanyakan segala sesuatunya secara mendalam, mendasar, dan kritis, maka terkadang
kita kembali kepada pertanyaan awal, titik awal dimana pertanyaan itu bermula. Berfilsafat
sesungguhnya mudah. Kita hanya harus bertanya dan bertanya, mempertanyakan segala sesuatu
secara mendasar, hingga ke akar. Awalnya seorang anak kecil yang baru bertumbuh rajin bertanya,
“Kenapa ada hujan? Kenapa ayam bertelur kucing beranak?” Si Ibu semula rajin menjawab, akhirnya
kesal juga. “Sudah jangan lagi tanya-tanya. Ibu sedang sibuk, tahu!” Maka sejak itu si anak takut dan
6

malas bertanya. Karena pengalamanmengajarkan bahwa pertanyaan akan mendatangkan
kemarahan, sejak itu pula, filsafat menjadi sulit bagi kita.
Perkembangan sains tidak terlepas dari perkembangan peradaban manusia dalam ilmu
pengetahuan dan teknologi termasuk filsafat di masyarakat. Sejarah mencatat pada abad ke dua
puluh ini terjadi perubahan besar. Semua perubahan tersebut berkembang dari filsafat yang dianut
oleh manuasia hampir di seluruh dunia di masa sebelumnya. Kehidupan sekarang diwarnai oleh
ipteks yang memaksa masyarakat banyak atau masyarakat awam belajar tata kehidupan
berteknologi.
Ilmu pengetahuan merupakan suatu proses pemikiran dan analisis yang rasional, sistematik, logis,
dan konsisten. Tujuan luhur ilmu pengetahuan adalah untuk menyejahterakan umat manusia. Ilmu
pengetahuan mendorong teknologi, teknologi mendorong penelitian, penelitian menghasilkan ilmu
pengetahuan baru. Ilmu pengetahuan baru mendorong teknologi baru. Perkembangan ilmu
pengetahuan akan mendorong kemajuan teknologi. Teknologi yang berkembang pun akhirnya dapat
digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia.
Dalam psikologi, dikenal konsep diri dari Freud yang dikenal dengan nama “id”, “ego” dan “super-
ego”. “Id” adalah bagian kepribadian yang menyimpan dorongan-dorongan biologis (hawa nafsu
dalam agama) dan hasrat-hasrat yang mengandung dua instink: libido (konstruktif) dan thanatos
(destruktif dan agresif). “Ego” adalah penyelaras antara “id” dan realitas dunia luar. “Super-ego”
adalah polisi kepribadian yang mewakili ideal, hati nurani (JRakhmat, 1985). Dalam agama, ada sisi
destruktif manusia, yaitu sisi angkara murka (hawa nafsu). Sifat-sifat dasar manusia inilah yang
mendorong manusia untuk berusaha memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Setelah satu kebutuhan
terpenuhi, muncul kebutuhan yang lain, seakan-akan kebutuhan manusia tidak pernah ada
batasnya. Manusia pun terus berusaha untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut. Saat
manusia sudah tidak mampu untuk memenuhi kebutuhannya, ilmu pengetahuan pun diperlukan.
Manusia mengembangkan ilmu pengetahuan dengan tujuan memenuhi kebutuhannya.
Perkembangan ilmu pengetahuan tersebut, berkembanglah ilmu teknik/rekayasa yang kemudian
melahirkan teknologi. Teknologi tersebutlah yang kemudian digunakan untuk memenuhi kebutuhan
manusia. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa manusia memiliki ego dan nafsu, hal
tersebut mendorong adanya kebutuhan-kebutuhan manusia yang terlampau berlebihan, seperti
rasa ingin berkuasa atas orang lain. Kebutuhan manusia ada yang sama dan ada yang berbeda satu
sama lain. Kadang-kadang kebutuhan seseorang berbenturan atau beririsan dengan orang lain,
7

sehingga dalam proses pemenuhan kebutuhan tersebut timbul persaingan satu sama lain. Teknologi
pun tidak jarang digunakan untuk hal-hal yang negatif atau destruktif. Saat ini terjadi, seharusnya
kita kembalikan lagi ilmu pengetahuan pada tujuan luhurnya, yaitu demi menyejahterakan umat
manusia.
2.2 Kontribusi Sains dalam Perkembangan Bernalar
Karena keingintahuan manusia dan setelah ditemukan dan disepakatinya sebuah kebenaran, maka
pengetahuan tersebut tersusun. Di dalam pengetahuan inilah nalar (logika) ataupun urutan nalar
(bernalar) terjadi.Proses penyelarasan untaian nalar ini selalu terkait dengan objek pengetahuan
yang sudah terjadi akan lebih terasa kemanfaatannya daripada proses bernalar pembentukannya.
Oleh karena itu, ilmu pengetahuan kemudian disebarluaskan sekaligus memperkenalkan cara
bernalarnya. Agar terjadi kemudahan dalam mengingatnya, beberapa cara bernalar khas dikaitkan
dengan ilmu pengetahuan tersebut. Dalam konteks ini matematika menjadi ilmu pengetahuan
meskipun tidak selalu dikaitkan dengan fakta, karena hanya ilmu berfikir.
2.2.1 Perkembangan Bernalar di Matematika
2.2.1.1 Matematika dan Filsafat
Salah satu tujuan dari filsafat adalah menemukan pemahaman dan tindakan yang sesuai. Filsafat
erat kaitannya dengan ilmu. Matematika dan filsafat memiliki hubungan yang lebih erat,
dibandingkan ilmu-ilmu lainnya, karena filsafat adalah pangkal untuk mempelajari ilmu dan
matematika adalah ibu dari segala ilmu. Dengan kata lain, filsafat dan matematika adalah ibu dari
segala ilmu. Keeratan keduanya menjadi lebih karena keduanya adalah apriori dan tidak
eksperimentalis. Artinya, hasil dari keduanya tidak memerlukan bukti secara fisik. Filsafat
matematika mempunyai tujuan untuk menjelaskan dan menjawab tentang kedudukan dan dasar
dari obyek dan metode matematika, yaitu menjelaskan apakah secara ontologism obyek
matematika itu ada, dan menjelaskan secara epistemologis apakah semua pernyataan matematika
mempunyai tujuan dan menentukan suatu kebenaran. Mengingat bahwa hukum-hukum alam dan
hukum-hukum matematika mempunyai kesamaan status, maka obyek-obyek pada dunia nyata
mungkin dapat menjadi pondasi matematika.Di indonesia sendiri pengamalan filsafat dalam ilmu,
khususnya matematika, masih sangat amat jarang, bahkan tidak ada.
Salah satu pencetus filsafat matematika adalah Ludwig Josef Johann Wittgenstein . Wittgenstein
lahir di Wina, Austria, 26 April 1889 – meninggal di Cambridge, 29 April 1951 pada umur 62 tahun.
Wittgenstein adalah salah satu filsuf paling berpengaruh abad kedua puluh dan memiliki kontribusi
8

yang besar dalam filsafat bahasa, filsafat matematika, dan logika. Wittgenstein merupakan filsuf
kelahiran Austria yang kemudian melanjutkan studinya di Inggris. Karya awalnya, Tractatus-Logico-
Philosophicus memiliki pengaruh yang sangat besar dalam gerakan Lingkaran Wina, terutama Ruldof
Carnap dan Moritz Schick. Hanya buku filsafat inilah yang Wittgenstein diterbitkan selama
hidupnya.Oleh beberapa orang ia diniliai sebagai filsuf yang paling penting sejak Immanuel Kant.
Wittgenstein berpendapat bahwa masalah filsafat sebenarnya adalah masalah bahasa.
Ada tiga periode pemikiran Wittgenstein, yaitu periode awal (filsafat matematika), periode
pertengahan (konsepsi kalkulus), dan periode akhir (konsepsi language game). Periode awal terjadi
sekitar tahun 1914-1916. Di dalam Tractatus dan di dalam buku catatannya, Wittgenstein
mengkritisi Russel dan Frege yang menulis tentang dasar-dasar matematika. Russel dan Frege
dikatakan sebagai aliran logis (logicism). Aliran ini berpandangan bahwa matematika bisa
direduksikan ke dalam logika. pendapat Wittgenstein yang pertama adalah bahwa proposisi
matematika adalah proposisi-proposisi yang berisi persamaan-persamaan, oleh karena itulah maka
proposisi matematika adalah proposisi yang semu. Proposisi matematika tidak menentukan apapun
tentang objek. Klaim ini secara nyata tampak dalam pembahasan semantiknya yang ruwet dan
pembahasan mengenai metafsisika yang ada di dalam Tractatus.
Periode pertengahan adalah periode konsepsi kalkulus terjadi sekitar tahun 1930. Dia mengatakan
bahwa “nama mempunyai makna”. Dia berkata bahwa sebuah proposisi mempunyai makna dalam
kalkulus yang dimilikinya. “Kalkulus itu adalah sebagai sesuatu yang otonom, bahasa harus berbicara
pada dirinya…..makna adalah aturan kata dalam kalkulus”. Dalam masa transisi ini Wittgenstein
membuktikan bahwa tiap kalkuluus secara individu adalah sesuatu yang sangat dekat.dan punya
sistem sendiri. Dan ia tidak mempunyai kritik eksternal. Aturan-aturan itu sendiri menentukan
makna. Oleh karena itu kalkulus adalah sesuatu yang final dan akhir dari pengadilan (pembuktian).
Berikut adalah beberapa kutipan filsafat matematika dan makna filosofisnya.
Alam semesta diatur secara terukur(Phytagoras). Hal yang mengagumkan dari alam adalah
disiplinnya yang patuh mengikuti hukum-hukum matematis. Misalnya saja bumi mengelilingi
matahari selama 365 hari, bulan mengelilingi bumi selama 30 hari, bumi berotasi pada sumbunya
selama 24 jam setiap harinya. Angka-angka ini tidak pernah berubah seenak hati bulan dan bumi.
Semuanya teratur mengikuti ukuran yang telah ditentukan. Dan kesadaran akan keteraturan inilah
yang merupakan hakekat mengapa perlu belajar matematika.
9

Sebuah persamaan bagiku tak lain dari ungkapan pikiran Tuhan (Srinivasa Ramanujan).Phytagoras
berbicara mengenai kepatuhan alam mengikuti hukum matematis, Sedangkan Ramanujan berbicara
bahwa angka2 yang muncul bukanlah hanya sembarang angka. Melainkan hasil dari persamaan yang
telah digariskan oleh Sang Pencipta. Dengan kata lain, dunia matematika adalah dunia tentang
perubahan kuantitas dari satu ke kuantitas yang lain, dari angka satu ke angka yang lain.
Matematika adalah sebuah bahasa (Osiah Willard Gibbs).Dunia matematika adalah dunia
bagaimana mengkomunikasikan sesuatu dengan simbol. Mengkomunikasikan bentuk-bentuk
persamaan alam ke dalam bahasa yang mudah dimengerti oleh manusia.
Salah satu tujuan utama dari penyelidikan teoritis dalam bidang pengetahuan saya adalah untuk
menemukan sudut pandang yang darinya pokok persoalannya menjadi tampak dalam
kesederhanaannya yang paling tinggi (Josiah Willard Gibbs). Kesederhanaan bahasa matematika,
memungkinkan orang memiliki satu pandangan umum untuk mengkomunikasikan pemikirannya.
sehingga bias-bias yang terjadi, dapat diminimalisir, bahkan dihilangkan.
Dalam analisis matematika, kita menyebut bagian dari garis yang belum ditentukan besarnya
sebagai ; sementara sisanya tidak kita sebut sebagai , sebagaimana kita menyebutnya dalam
kehidupan biasa, namun . Di sinilah bahasa matematika memiliki keunggulan yang besar jika
dibandingkan dengan bahasa biasa (Lichtenberg George Christoph). Bahasa matematika membuat
kita terhindar dari kebingungan fokus. Dari kutipan di atas, ketika matematika bertanya mengenai
yang berkaitan dengan , kita akan selalu fokus dengan dan dan tidak akan melenceng ke
sehingga akhirnya mempermudahkan kita untuk menyelesaikan masalah antara dan .
Proposisimatematika karenanya memiliki kepastian tak terbantahkan yang sama sebagaimana
kepastian yang khas dimiliki oleh proposisi seperti ‘semua bujang itu belum menikah’, namun
sekaligus proposisi tersebut juga tak meiliki kandungan empiris dan hal ini terkait dengan sifat
kepastiannya itu: proposisi matematika itu kosong dari segenap isi fraktual; proposisi tersebut
tidak menyampaikan informasi mengenai kedudukan perkara empiris mana pun (Carl G
Hempel).Kutipan ini menjelaskan bahwa mempelajari matematika adalah berkaitan dengan angka
atau kuantitas, bukan dengan objek yang diterangkan oleh nilai-nilai kuantitasnya.
Apakah sesuatu yang menumbuhkan rasa keanggunan dalam diri kita dari sebuah penyelesaian
perhitungan, dari sebuah pembuktian? yaitu keselarasan di antara unsur-unsur yang berbeda-
beda, kesimetrisan mereka, keseimbangan yang serasi di antara mereka; ringkasnya ialah yang
menciptakan keteraturan, yang menciptakan keutuhan, yang memungkinkan kita bisa melihat
10

dengan jernih dan memahami dengan gamblang pada saat yang bersamaan yang keseluruhan dan
yang rinci-rinci (Jules Henri Poincare).Kutipan ini menjelaskan bahwa dengan belajar matematika,
kita mampu melihat sesuatu secara lebih sistematis dan lebih luas lagi, mengenal hubungan-
hubungan detail yang bisa membawa kita memahami sesuatu secara lebih jelas dan dan dalam
konteks yang lebih besar.
Matematika sebagai ilmu tentang pola merupakan sebuah cara memandang dunia, baik dunia
fisik, biologis dan sosiologis di mana kita tinggal, dan juga cara memandang dunia batin dari
pikiran dan pemikiran-pemikiran kita (Keith Devlin). Kutipan ini hampir sama maknanya dengan
kutipan sebelumnya, bahwa matematika adalah cara untuk memandang dunia.Tidak hanya
memandang bagaimana dunia secara fisik bekerja, tapi lebih dalam lagi ke bawah alam sadar dan
pemikiran kita. Dari hubungan ini, terlihat jelas bagaimana memang matematika dan filsafat adalah
sesuatu yang bersanding secara sejajar dan saling melengkapi.
2.2.1.2 Pengembangan Filsafat Matematika Abad Pertengahan ke Zaman Modern
Immanuel Kant meletakkan dasar matematika pada kegiatan kognisi manusia, bukan pada obyek di
luar matematika. Sementara kaum empiris dan kaum rasionalis berusaha meletakkan dasar
matematika sebagai putusan epistemologis yang sah dan benar. Immanuel Kant berusaha
mengembangkan bentuk dan kategori untuk menciptakan kondisi bagi dimungkinkanya kegiatan
kognisi secara obyektif dari matematika. Perkembangan refleksi pengetahuan dan kognisi
matematika menunjukkan bahwa setiap jaman memberikan landasan bagi matematika, namun di
antara landasan-landasan tersebut tidak luput dari kritik atas kelemahan-kelemahannya. Pondasi
ideal matematika dimana pendekatan deduksi maupun induksi tidak dapat dimasukkan telah
ditinggalkan.
Kant menyarankan bahwa, sebagai ganti menganggap bahwa pikiran kita menyesuaikan dengan
obyek-obyek di luar diri kita, kita dapat berasumsi bahwa obyek-obyek di luar diri kita itulah uyang
disesuaikan dengan pikiran kita. Kant menyatakan bahwa obyek dari pengalaman manusia, yaitu
phenomena, mungkin dapat kita ketahui melalui penampakannya. Tetapi kita tidak dapat
mengetahui esensi dibalik phenomena yang disebut sebagai noumena atau yang ada di dalam
dirinya. Kant berpendapat bahwa tiga disiplin matematika yaitu logika, aritmetika, dan geometri
sebagai cabang ilmu matematika yang saling bebas dan masing-masing bersifat sintetik.
Di dalam The Critique of Pure Reason dan The Prolegomena to Any Future Metaphysics, Kant
menyatakan bahwa kebenaran geometri bersifat sintetik a priori dan bukannya analitik seperti yang
11

sekarang diyakini oleh banyak orang. Sedangkan kebenaran logika dan kebenaran yang diperoleh
hanya melalui penyebutan definisi merupakan kebenaran analitik sebab mereka tergantung kepada
kegiatan analitis dan kegiatan memecah keseluruhan menjadi bagian-bagian tanpa memerlukan
informasi tambahan dari luar. Oleh karena itu kebenaran analitik bersifat a priori. Sebaliknya,
kebenaran sintetik memerlukan kegiatan mensintesis atau mengkombinasikan dengan informasi
yang lain untuk memperoleh pengetahuan yang baru.
Filsafat modern setelah masa Immanuel Kant memberikan kriteria penting bagi pondasi
matematika. Beberapa kriteria tersebut misalnya pondasi matematika harus bersifat logis,
berdasarkan kepada filsafat matematika, bersadar pada filsafat bahasa dan merupakan epistemologi
matematika. Peranan Teori Pengetahuan dari Immanuel Kant dapat disoroti dari penerapan doktrin
Immanuel Kant bagi aljabar dan geometri dan kesimpulannya aljabar adalah ilmu tentang waktu dan
geometri adalah ilmu tentang ruang. Karena waktu dan ruang berbentuk intuisi formal maka semua
pengetahuan matematika lainnya harus dipelajari dalam ruang dan waktu.
2.2.1.3 Prinsip Dasar Pengembangan Bernalar di Matematika
Dasar bernalar di Matematika adalah logika. Logika adalah suatu metode untuk mengukur ketepatan
dalam berpikir dan membuat kesimpulan. Proses logika melalui tiga tahap, yaitu abstraksi,
pernyataan, dan penalaran.
Pertama,abstraksi adalah pengambilan informasi-informasi penting dari suatu fenomena yang
menjadi pusat perhatian. Misalkan A ingin membuat suatu program komputer, maka yang menjadi
permasalahan adalah program apa yang ingin A buat dan mengapa A ingin membuat program
tersebut. Lalu permasalahan selanjutnya muncul, bagaimana A dapat membuat program tersebut.
Bahasa pemrograman apa yang A kuasai dan bagaimana bahasa pemrograman tersebut membuat
program yang A inginkan dapat terwujud.
Kedua,pernyataanproses logika ini mengubah kalimat-kalimat pertanyaan yang muncul dalam
proses abstraksi menjadi kalimat-kalimat pernyataan. Pada masalah membuat program komputer di
atas, kalimat-kalimat pernyataan yang muncul antara lain. A ingin membuat program ploting
evolusi dinamik di sekitar titik kesetimbangan sebagai tugas dari mata kuliah yang A ikuti; A
mahir menggunakan bahasa pemrograman Maple; dan program yang A inginkan dapat terwujud
dengan adanya fasilitas odeplot 2D dan 3D pada program Maple.
Ketiga, setelah terbentuk kalimat-kalimat pernyataan, proses selanjutnya adalah penalaran. Seperti
jika kita melihat ketiga kalimat pernyataan sebelumnya, kita dapat menyimpulkan sepertinya A
12

dapat menyelesaikan tugas matakuliahnya dengan baik. Terlepas benar atau tidaknya kesimpulan
yang kita ambil, secara naluri proses penalaran berlangsung dengan sendirinya.
Cara bernalar manusia terus mengalami perkembangan seiring perubahan zaman. Logika sudah
menjadi bagian yang terintegrasi dalam diri seseorang dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam
urusan pekerjaan, belajar, bahkan sampai kepada bagaimana kita mengunyah makanan, sebenarnya
proses penalaran terus berjalan Setiap harinya ratusan penalaran kita lakukan tanpa diri kita sendiri
perlu menyadarinya. Berikut ini, prinsip dasar bernalar di Matematika yang terdiri dari logika klasik,
rasionalisme, enpirisme, modernisasi, dialektika, logika matematika, dan bernalar matematika,
membangun matematika dalam pembangunan, dan matematika dalam pembangunan nasional.
Logika klasik. Manusia yang pertama kali membakukan proses penalaran atau logika adalah
Aristoteles. Logika Aristoteles adalah suatu sistem berpikir deduktif (deductive reasoning), yang
bahkan sampai saat ini masih dianggap sebagai dasar dari setiap pelajaran tentang logika formal
(formal logic). Analytic adalah ilmu logika yang berdasarkan pada premis-premis yang diasumsikan
benar. Salah satu konsep dasar dari logika Aristoteles adalah silogisme. Pernyataan spektakuler
Aristoteles adalah "A discourse in which, certain things being stated, something other than what is
stated follows of necessity from their being so."Contoh silogisme: semua mamalia menyusui(premis
mayor), kuda adalah mamalia (premis minor), karena itu kuda menyusui (kesimpulan). Kesimpulan
dapat diambil jika subjek dari premis minor adalah bagian dari subjek premis mayor. Predikat
kalimat kesimpulan adalah predikat premis mayor.
Rasionalisme (Latin ratio, "reason") muncul dalam beberapa bentuk nyaris pada setiap tingkatan
filsafat, teologi Barat. Namun, umumnya rasionalisme ini diidentifikasi dengan tradisi yang berakar
dari abad ke-17 oleh filsuf dan cendekia Perancis, René Descartes."Aku berpikir, berarti aku
ada".(Rene Descartes (1598-1650)). Kalimat tersebut dapat diartikan, segala sesuatu dapat menjadi
benar jika dapat dibuat penalaran atau logika yang membuktikannya benar. Itu adalah ide dasar dari
paham rasionalisme. Rene Descartes adalah salah satu pelopor faham rasionalisme. Rasionalisme
menganggap ilmu yang diperoleh melalui pancaindera itu sebagai rendah martabatnya jika
dibandingkan dengan ilmu yang diperolehi melalui akal karena pengalaman dari pancaindera dapat
menipu dan tidak mempunyai kepastian.Sebelum Descartes, sebenarnya Plato sudah
mengemukakan ide rasionalisme. Menurut Plato, di atas dunia ini terdapat alam-alam ide yang
menjadi sumber pengetahuan. Plato berkeyakinan bahwa sebelum memasuki alam ini jiwa manusia
berada pada alam ide dan ia juga beranggapan bahwa pemikiran manusia berasal dari Tuhan.
13

Empirisme. Memasuki masa Rennaissanse ( abad 14-16 M), lahirlah paham empirisme. David Hume
(1611-1776) menyatakan bahwa sumber satu-satunya untuk memperoleh pengetahuan adalah
pengalaman atau dengan kata lain eksperimen. Dengan itu, pihak empirisis menafikan kewujudan
ilmu yang sedia ada secara semula jadi pada diri manusia (innate knowledge). Bagi paham
empirisme pula, ilmu yang sahih terbit dari pengalaman pancaindera dan disahkan juga melaluinya.
Empirisme memberikan cukup banyak dorongan pada perkembangan dunia sains dan juga
teknologi.
Modernisme. Perbedaan antara rasionalisme dan empirisme coba diambil jalan tengahnya oleh
Immanuel Kant. Immanuel Kant mengajukan sintesis a pripori. Menurutnya, pengetahuan yang
benar bersumber dari rasio dan empiris yang sekaligus bersifat a pripori dan a posteriori. Sebagai
gambaran, kita melihat suatu benda karena mata kita melihat ke arah benda tersebut (rasionalisme)
dan benda tersebut memantulkan sinar ke mata kita (empirisme).
Dialektika. Berbeda dengan logika klasik atau yang juga dikenal dengan istilah analitika, dialekta
berawal dari proposisi-proposisi yang masih diragukan kebenarannya.Ide dasar dialektika sudah
dicetuskan oleh Aristoteles dalam Organonnya. Ia menyebutkan sepuluh kategori yang membangun
penalaran atau logika dialektika, yaitu substansi, kuantitas, kualitas, relasi, tempat, waktu, posisi,
keadaan, aksi, dan keinginan. Sebagaimana Heraclitus mengatakan, “everything flows”.
Logika Matematika. Logika simbolik adalah ilmu tentang penyimpulan yang sah (absah), khususnya
yang dikembangkan dengan penggunaan metode-metode matematika dan dengan bantuan simbol-
simbol khusus, sehingga memungkinkan seseorang menghindarkan makna ganda dari bahasa sehari-
hari (Frederick B. Fitch dalam bukunya “Symbolic Logic”).Logika simbolis dikenal juga dengan istilah
logika matematika. Logika matematika membuat penalaran lebih terarah dan jelas tetapi secara
konsep masih mengikuti ilmu logika sudah ada sebelumnya. Sehingga walaupun logika ini lahir di
abad 19 M, konsep dasarnya masih sama dengan logika klasik Aristoteles(384-322 SM). Hanya saja,
sekali lagi, logika simbolis menerangkan logika dengan lebih rapih. Pengembangan dan diskusi yang
terus dilakukan tidak mengubah konsep dasar yang sudah ada. Sehingga wajar jika Cohen dan
Nagel, dalam buku mereka “An Introduction to Logic and the Scientific Method”, halaman vii,
menyatakan"We do not believe that there is any non-Aristotelian logic in the sense in which there is
a non-Euclidean geometry, that is, a system of logic in which the contraries of the Aristotelian
principles of contradiction and the excluded middle are assumed to be true, and valid inferences
drawn from them."Logika Hegel lebih dikenal dengan istilah formal logic. Ide dasar formal logic
14

terangkum dalam tiga hukum atau prinsip, yaituthe law of identity, the law of contradiction, dan
the law of the excluded middle.
2.2.1.4 Peran Matematika dalam Pembangunan Ipteks
Matematika adalah alat berpikir yang dibangun oleh logika. Matematika independen terhadap
realitas. Ada matematika yang sesuai realitas dan ada juga yang tidak sesuai realitas. Matematika
yang sesuai realitas inilah yang digunakan oleh sains dan sains terus mengamati perkembangan
matematika dan bila ada yang dapat diambil untuk penjelasan ilmiah, maka sains akan memakainya.
Sebagai contoh, sebelumnya orang mengira bahwa aljabar linier adalah matematika yang tidak
sesuai realitas. Namun, dengan mencobakan aljabar linier dalam teka-teki fisika kuantum, para
ilmuwan berhasil meprediksikan berbagai hal dan menunjukkan bahwa aljabar linier ternyata dapat
digunakan untuk menjelaskan realitas. Semua rumus dibangun dari definisi yang jelas. Matematika
bukanlah permainan angka seperti numerologi. Matematika adalah sistem bernalar yang melibatkan
persamaan-persamaan yang saling terikat dalam aksioma, definisi, teorema, lema, konjektur, dan
postulat. Bila kita mencoba menerapkan matematika dalam keyakinan kita, maka kita membuatnya
rentan terhadap analisis. Sedikit saja ditemukan tidak adanya konsistensi, maka keyakinan kita dapat
runtuh.
Tampak bahwa matematika bisa berperan dalam hampir seluruh aspek kehidupan karena semua hal
bisa dirancang secara matematis. Oleh karena itu, matematika dapat dikatakan sebagai dasar ilmu
pengetahuan. Matematika dapat diibaratkan sebagai bahan bakar bagi ilmu pengetahuan.
Peranannya sangat besar, meskipun sangat tersembunyi seperti bahan bakar. Namun, suatu
kendaraan tentu tidak akan bisa berjalan tanpa bahan bakar. Konkretnya, ilmu matematika bisa
digunakan dalam pembangunan. Misalnya, seorang arsitektur. Untuk membuat suatu bangunan,
tentu saja seorang arsitek harus melihat seni bangunannya, geometrinya, keindahannya, dan
sebagainya. Untuk melihat itu semua, dibutuhkan juga perhitungan secara matematis, seperti
beberapa penyangga yang harus dibangun atau bagaimana bentuk bangunan yang akan dibuat. Apa
pun yang akan terlihat pada bangunan itu nanti, pasti mengandung unsur matematika. Matematika
sebenarnya juga merupakan salah satu ilmu yang mengikuti perkembangan zaman. Akan tetapi,
bukan berarti bahwa selalu ada penemuan baru dalam matematika. Sebenarnya, dapat dikatakan
bahwa tidak pernah ada penemuan baru di bidang matematika, yang ada hanyalah perkembangan
dari satu teori menjadi beberapa teori. Perkembangan itu terus berlangsung mengikuti perubahan
pola pikir masyarakat.
15

Berdasarkan pengamatan pada sejumlah anak, para peneliti dari Universitas California
menyimpulkan bahwa belajar musik pada usia dini dapat meningkatkan kecerdasan (kemampuan
bernalar dan berpikir) dalam jangka panjang. Hasil penelitian tersebut memang pantas untuk
disimak, walaupun hal itu sebenarnya sudah lama diketahui orang. Hal pertama yang menarik untuk
dicatat adalah bahwa hasil penelitian tersebut diperoleh secara objektif oleh Gordon Shaw dan
kawan-kawan yang merupakan fisikawan, bukan oleh para musisi. Bila seorang musisi yang
menyatakan bahwa musik itu perlu dipelajari karena dapat meningkatkan kecerdasan, orang
mungkin tidak akan percaya begitu saja karena pernyataan tersebut dapat dinilai subjektif.
Demikian pula halnya bila seorang matematikawan mengatakan bahwa matematika itu penting
sehingga perlu dipelajari, orang mungkin tidak akan percaya. Namun, ketika seorang musisi
menyatakan bahwa seseorang yang bermain musik sesungguhnya sedang bermatematika dan
seluruh susunan syaraf otaknya bekerja, kita baru sadar bahwa matematika (setidaknya melalui
musik) melatih otak kita bernalar dan berpikir, dan pada akhirnya dapat meningkatkan kecerdasan.
Matematika dan musik memang sudah "bersaudara" sejak zaman Yunani Kuno. Pythagoras (580-500
SM) seorang filsuf dan matematikawan terkenal pada zaman Yunani Kuno bersama para muridnya
menemukan bahwa harmoni dalam musik berkorespondensi dengan perbandingan dua bilangan
bulat. Bila kita mempunyai dua utas kawat yang diregangkan dengan ketegangan yang sama, maka
perbandingan panjang kedua utas kawat tadi haruslah 2: 1 untuk menghasilkan nada keenam (not
yang sama pada oktaf berikutnya), 3: 2 untuk nada kelima, dan 4: 3 untuk nada keempat.
Sebagaimana dikemukan oleh Aristoteles (384-322 SM), Pythagoras, dan para muridnya
mempercayai bahwa alam semesta ini dipenuhi oleh interval musik dan sehubungan dengan itu
mereka juga mempercayai bahwa all is number. Bagi mereka, perbandingan dasar dalam musik yang
terdiri atas bilangan 1, 2, 3, 4, yang banyaknya 10 (yang merupakan basis sistem bilangan yang kita
pakai sekarang), adalah suci, dan musik serta teorinya merupakan salah satu dari empat kategori
dalam sains, yaitu aritmatika, geometri, musik, dan astronomi. Pada masa Plato (guru Aristoteles),
matematika dan musik tidak hanya menjadi kriteria bagi orang cerdas, tetapi juga bagi orang
terdidik. Satu hal yang menarik dan penting untuk dicatat mengenai kehidupan Pythagoras dan para
muridnya pada zaman itu ialah kehausan mereka untuk mempelajari matematika dan filsafat
sebagai basis moral. Pythagoras sendiri diyakini telah mengawinkan kedua kata tersebut, yaitu
filsafat (love of wisdom) dan matematika (that which is learned). Pythagoras jugalah yang telah
mentransformasikan matematika menjadi suatu bentuk pendidikan yang liberal.
16

Pada abad pertengahan dan zaman Renaisance, matematika dan musik kembali mendapat tempat
yang terhormat di sekolah-sekolah di Eropa. Pada masa itu, aritmatika, geometrika, musik,
astronomi, tata bahasa, dialektika (logika), dan retorika merupakan the seven liberal arts. Namun,
semua itu kini tinggal sejarah. Musik masih dapat dikatakan bernasib baik bila dibandingkan dengan
matematika. Setidaknya orang hampir tidak pernah bertanya kegunaan musik. Matematika,
sementara itu, lebih sering dianggap sebagai momok dan orang pun semakin sering bertanya
mengenai kegunaan matematika.
2.2.1.5 Perkembangan Matematika di Indonesia
Perkembangan matematika di Indonesia termasuk sangat lambat karena dapat dipastikan bahwa
matematika adalah hantu bagi kebanyakan siswa. Matematika dianggap sebagai ilmu yang
menakutkan, sulit dipelajari, membosankan, dan tidak berguna, padahal matematika sangat penting
dalam setiap aspek hidup manusia, sebagai contoh teori fasih yang digunakan untuk merancang
kereta api “terbang” di Jepang yang bernama Shinkansen. Jadi, dari teori yang kecil dan sederhana,
sebenarnya sangat bermanfaat untuk menciptakan sesuatu yang besar dan bermanfaat bagi orang
banyak.
Lambatnya perkembangan matematika di Indonesia lebih banyak disebabkan oleh kurangnya
sumber daya ahli. Mungkin banyak profesor yang ada di Indonesia, tetapi mereka yang sudah
disebut profesor sebenarnya hanya ahli dalam satu bidang kecil saja dalam ilmu tertentu, Dalam
bidang pembelajaran pun sumber daya yang berkualitas sangat kurang. Sebenarnya, dalam
matematika yang penting bukanlah materinya, tetapi bagaimana mengajarkannya kepada siswa dan
membuat mereka mengerti dengan benar pentingnya belajar matematika.
Perkembangan olimpiade matematika di Indonesia sudah menuju ke arah yang lebih baik karena
adanya peningkatan hasil yang menggembirakan. Akan tetapi, yang masih menjadi masalah di
Indonesia adalah siswa terbiasa mengerjakan soal matematika dengan sistem pilihan ganda
(multiple choice). Hal-hal inilah yang sebenarnya merusak penalaran kita. Matematika tidak bisa
dipaksakan dengan jawaban pilihan. Jika pilihan jawaban itu dipaksakan, ditambah budaya Indonesia
yang suka menebak-nebak, maka tidak akan dihasilkan jawaban yang benar. Hal inilah yang perlu
disadari oleh para pemerhati matematika.
Situasi di negara kita semakin parah lagi. Selain apresiasi masyarakat terhadap matematika masih
sangat rendah, pengajaran matematika di sekolah pun masih bermasalah. Padahal, pada zaman
yang semakin bergantung kepada teknologi menyongsong era globalisasi, kita tidak akan dapat
17

bersaing apabila kita tidak menguasai teknologi. Bagaimana kita dapat menciptakan teknologi
sendiri apabila kita tidak cukup menguasai matematika dan sains, yang merupakan cara bernalar,
berpikir, dan bahasa untuk memahami alam semesta ini. Revolusi pembelajaran matematika perlu
dilakukan secepat mungkin dilakukan. Revolusi pembelajaran matematika bukan berarti bongkar
pasang kurikulum
Kunci jawaban untuk semua pertanyaan ini jelas ada di sekolah. Kurikulum pendidikan musik di
negara kita harus diperbaiki, bahkan bila mungkin diubah total. Pendidikan musik bukan hanya
belajar bernyanyi. Bila hanya dipakai sebagai hiburan, musik bukannya mempercerdas, melainkan
malah dapat memperbodoh kita. Seiring dengan itu, kurikulum matematika SD, SLTP, dan SLTA, yang
selama ini sering dikeluhkan oleh para orang tua siswa dan juga guru, juga perlu ditinjau kembali
dan dibenahi. Matematika bukan sekedar berhitung secara mekanis dan prosedural (menggunakan
otak kiri), tetapi juga bernalar dan berpikir secara kreatif dan inovatif dalam upaya memecahkan
berbagai masalah dan membuat segala sesuatu lebih baik (menggunakan otak kanan).
Kurikulum yang terlalu berat ke fungsi otak kiri dan mematikan kreativitas dan daya inovasi murid
sulit diharapkan untuk meningkatkan kecerdasan mereka. Demi meningkatkan kemampuan berpikir
siswa, keseimbangan fungsi otak kiri dan otak kanan perlu mendapat perhatian yang serius dalam
penyusunan kurikulum matematika dan juga mata pelajaran lain pada masa yang akan datang.
2.2.2 Perkembangan Bernalar di Fisika
2.2.2.1 Perkembangan Bernalar di Fisika Masa Aristoteles
Aristoteles (350 SM) merupakan seorang filsuf Yunani pertama yang menyodorkan prinsip-prinsip
dasar yang abstrak berkaitan dengan alam. Ada beberapa pendapat Aristoteles yang berkaitan
dengan fisika adalah ungkapannya yang terkenal, yang pertama adalah bahwa semua gerakan
digerakkan oleh sesuatu. Gerak pada sebuah jarak tertentu adalah tidak mungkin terjadi tanpa
adanya keterkaitan yang melekat atau terikat secara terus menerus antara yang digerakkan dan
yang menggerakkan. Sehingga apabila muncul pertanyaan berikutnya, ”Bagaimana dengan benda
jatuh?” hal tersebut tidak akan dapat terjawab oleh Aristoteles.
Fisika, dengan mendasarkan pada Aristoteles bukanlah sebagai ilmu kuantitatif yang sebenarnya,
akan tetapi dia telah mempercayai logika dan observasi, ratusan tahun sebelum Francis Bacon
memperkenalkan metode ilmiah pada sebuah eksperimen yang disebut dengan vexation of nature.
Aristoteles telah melihat perbedaan antara gerak alamiah (natural motion) dan gaya alamiah (force
motion), dan dia percaya bahwa pada keadaan hampa udara tidak ada alasan sebuah benda
18

bergerak secara alamiah dari sebuah posisi sebelumnya. Kesimpulan berikutnya membawa
keyakinan padanya bahwa sebuah benda akan tetap diam atau bergerak tidak berhingga cepatnya
pada ruang hampa udara. Dalam hal ini Aristoteles merupakan orang yang pertama mendekati
hukum inersia. Namun walaupun begitu dia percaya bahwa tidak ada ruang vakum karena udara
disekitar ruang vakum akan segera mengisi kekosongan ruang tersebut.
Aristoteles juga mempercayai bahwa bintang dan planet tersusun dari materi yang berbeda dengan
materi penyusun bumi (yang disebutnya sebagai eter). Kepercayaannya tersebut merupakan
pengaruh dari pendapat Plato dalam pembahasan gerak melingkar sempurna dari langit (On the
Heavens). Pernyataan bahwa gerak sempurna tersebut menghasilkan hukum alam yang sempurna di
angkasa, berkebalikan dengan bumi yang selalu berubah elemen-elemennya sehingga setiap
individu datang atau lahir dan kemudian mati. Secara logika pendapat tersebut mendekati
kepercayaan bahwa di dunia seseorang akan dilahirkan dan kemudian mati, tetapi di akhirat atau
surga segalanya akan kekal.
Pada tahun 1632 Galileo menulis sebuah buku dengan judul Dialogue Concerning the Two Chief
World System, yang merupakan rangkuman dari perdebatan astronomi aliran Copernicus dengan
aliran Ptolemeus. Terlepas dari perdebatan kedua aliran tersebut yang mewarnai perkembangan
mekanika saat itu, Galileo memformulasikan relativitas dari gerak yang menerangkan alasan kenapa
kita tidak jatuh kebawah atau terlempar di saat yang bersamaan dengan berputarnya bumi.
Pengembangan teleskop dan hasil pengamatan Galileo pada perkembangannya memperjelas bahwa
langit atau alam semesta tidaklah bersifat tetap, dengan materi yang tidak berubah. Bersandar pada
hipotesis heliosentris Copernicus, Galileo percaya bahwa bumi sama seperti planet yang lain.
Hal menarik tentang Galileo adalah eksperimen yang telah dilakukannya di menara Pisa dengan
menjatuhkan dua bola besi (walaupun ada pendapat bahwa keabsahan telah dilakukannya
eksperimen tersebut oleh Galileo diragukan, secara teori dan percobaan telah menunjukkan bahwa
keduanya sampai di tanah pada waktu yang sama). Galileo berargumentasi bahwa dengan
mengabaikan hambatan udara, sebuah benda dengan massa berapapun yang jatuh, percepatannya
akan tetap.
Selain menghasilkan teori gerak dipercepat yang didasarkan pada hasil eksperimen kuantitatif yaitu
dengan menggelindingkan bola pada sebuah bidang miring. Galileo juga menemukan bahwa benda
yang dijatuhkan secara vertikal akan sampai ditanah pada waktu yang sama dengan bila benda
tersebut diproyeksikan secara horisontal, sehingga dangan rotasi seragam dari bumi, sebuah benda
19

yang jatuh ke tanah akan terpengruh oleh gravitasi bumi. Lebih signifikan lagi, hal tersebut dapat
menerangkan gerak tetap suatu benda yang tidak dapat dipisahkan dari keadaan diamnya, yang
merupakan dasar dari teori reltivitas (seperti yang telah disebutkan di atas).
2.2.2.2 Perkembanagan Fisika Masa Isaac Newton
Sir Isaac Newton adalah orang pertama yang menyatukan kerja Galileo dan orang-orang lain yang
tergabung dalam kelompok ”Terrestrial Mechanics” (Falling Bodies) dengan kerja dari Kepler dan
orang-orang lainnya yang tergabung dalam ”Celestial Mechanics” (Gerak Planet-planet). Bukunya
berjudul Philosophiae Naturalis Principia Mathematica, yang dipublikasikan pada tahun 1687,
memformulasikan tiga hukum dari gerak:
1. Lex I: Corpus omne perseverare in statu suo quiescendi vel movendi uniformiter in directum,
nisi quatenus a viribus impressis cogitur statum illum mutare. Setiap benda tetap dalam
keadaannya, tetap diam atau tetap bergerak lurus kedepan, kecuali ada gaya yang merubah
keadaannya.
2. Lex II: Mutationem motus proportionalem esse vi motrici impressae, et fieri secundum
lineam rectam qua vis illa imprimitur. Rata-rata perubahan momentum suatu benda
sebanding dengan resultan gaya yang bekerja pada benda dengan arah yang sama.
3. Lex III: Actioni contrariam semper et aequalem esse reactionem: sive corporum duorum
actiones in se mutuo semper esse aequales et in partes contrarias dirigi. Semua gaya terjadi
berpasangan, dan kedua gaya tersebut sama besar dan berbeda arah.
Ketiga hukum tersebut kemudian menjadi pilar dari Mekanika Klasik, yang berlaku baik pada
benda-benda di bumi maupun benda-benda angkasa. Newton dan banyak ilmuwan lainnya, kecuali
Christiaan Huygens, berharap bahwa mekanika akan dapat menjelaskan seluruh entitas, termasuk
cahaya dalam bentuk optik geometri. Newton juga mengembangkan kalkulus yang diperlukan dalam
perhitungan mekanika klasik. Terpisah dari Newton, secara mandiri Gottfried Leibniz
mengembangkan sebuah kalkulus dengan notasi turunan dan integral yang digunakan sampai saat
ini. Selanjutnya Leonard Euler mengembangkan hukum-hukum gerak Newton dari partikel ke rigid
bodies dengan menambah dua hukum lagi.
Setelah era Newton, secara progressif dilakukan re-formulasi untuk solusi-solusi masalah
yang melibatkan ekspansi numerik yang lebih tinggi. Yang pertama dilakukan oleh Joseph Louis
Lagrange (1788), matematikawan Italia-Prancis. Mekanika Lagrange adalah solusi yang
menggunakan lintasan gerak terpendek dan mengikuti kalkulus variasi. William Rowan Hamilton
memformulasikan ulang mekanika Lagrangian pada tahun 1833. Hampir keseluruhan bidang kerja
20

mekanika Hamiltonian dapat di lihat pada mekanika kuantum, walaupun arti sesungguhnya dari
bentuk Hamiltonian berbeda dengan efek-efek pada kuantum.
2.2.2.3 Pengembangan Filsafat Fisika Menurut Maxwell
James Clerk Maxwell menjadi peletak dasar teori gelombang elektromagnetik. James Clerk Maxwell
(lahir di Edinburgh, 13 Juni 1831 – meninggal di Cambridge, 15 November 1879) adalah fisikawan
Skotlandia yang pertama kali menulis hukum magnetisme dan kelistrikan dalam rumus matematis.
Pada tahun 1864, ia membuktikan bahwa gelombang elektromagnetik ialah gabungan dari osilasi
medan listrik dan magnetik. Maxwell mendapati bahwa cahaya ialah salah satu bentuk radiasi
elektromagnetik. Ia juga membuka pemahaman tentang gerak gas, dengan menunjukkan bahwa laju
molekul-molekul di dalam gas bergantung kepada suhunya masing-masing.
Meskipun jauh sebelumnya keterkaitan medan listrik dan magnet telah diselidiki, namun Maxwelllah
yang berhasil menjabarkan secara tepat mengenai perilaku dan hubungan antara medan listrik dan
magnet. Sekitar tahun 1862, di London, Maxwell menghitung bahwa kecepatan propagasi
elektromagnetik dari sebuah lapangan yang diperkirakan dari kecepatan cahaya. Dia mengusulkan
bahwa fenomena cahaya itu adalah sebuah fenomena elektromagnetik. Maxwell menulis kata-kata
yang benar-benar luar biasa:
“Kami sulit menghindari kesimpulan bahwa cahaya terdiri dari modulasi yang sama yang
merupakan penyebab fenomena listrik dan magnet”
Nilai terpenting dari pendapat Maxwell yang baru itu adalah banyak persamaan umum yang bisa
terjadi dalam semua keadaan. Semua hukum-hukum listrik dan magnet yang sudah ada sebelumnya
dapat dianggap berasal dari pendapat Maxwell, begitu pula sejumlah besar hukum lainnya, yang
dulunya merupakan teori yang tidak dikenal. Dari pendapat Maxwell ini dapat diperlihatkan betapa
pergoyangan bolak-balik bidang elektromagnetik secara periodik adalah sesuatu hal yang bisa
terjadi. Gerak bolak-balik seperti pendulum ini disebut gelombang elektromagnetik, yang bilamana
sekali digerakkan akan menyebar terus hingga angkasa luar. Dari pendapat-pendapat ini mampu
menunjukkan bahwa kecepatan gelombang elektromagnetik itu mencapai sekitar 300.000 kilometer
(186.000 mil) per detik. Maxwell mengetahui bahwa ini sama dengan ukuran kecepatan cahaya. Dari
sudut pandang ini dia dengan tepat mengambil kesimpulan bahwa cahaya itu sendiri terdiri dari
gelombang elektromagnetik.
Jadi, pendapat Maxwell bukan semata merupakan hukum dasar dari kelistrikan dan kemagnetan,
tetapi juga sekaligus merupakan hukum dasar optik. Sesungguhnya, semua hukum terdahulu yang
21

dikenal sebagai hukum optik dapat dikaitkan dengan pendapatnya, juga banyak fakta dan hubungan
dengan hal-hal yang dulunya tidak terungkapkan.
Cahaya yang tampak oleh mata bukan semata jenis yang memungkinkan radiasi elektromagnetik.
Pendapat Maxwell menunjukkan bahwa bisa saja adagelombang elektromagnetik lain, berbeda
panjang gelombang dan frekuensinyadengan cahaya yang tampak oleh mata. Kesimpulan teoritis ini
secara mengagumkan diperkuat oleh Heinrich Hertz, yang sanggup menghasilkan dan menemui
kedua gelombang yang tampak oleh mata yang diramalkan oleh Maxwell itu. Beberapa tahun
kemudian Guglielmo Marconi memperagakan bahwa gelombang yang tak terlihat mata itu dapat
digunakan buat komunikasi tanpa kawat sehingga menjelmalah apa yang dinamakan radio itu. Saat
ini, yang kita gunakan untuk televisi, sinar X, sinar gamma, sinar infra, sinar ultraviolet adalah
contoh-contoh dari radiasi elektromagnetik. Semuanya bisa dipelajari lewat hasil pemikiran
Maxwell.
Maxwell mendeskripsikan sifat-sifat medan listrik dan medan magnet, dan hubungannya dengan
sumber-sumbernya, muatan listrik dan arus listrik melalui himpunan empat persamaan diferensial
parsial menurut teori elektrodinamika klasik. Keempat persamaan ini digunakan untuk menunjukkan
bahwa cahaya adalah gelombang elektromagnetik. Secara terpisah, keempat persamaan ini masing-
masing disebut sebagai Hukum Gauss, Hukum Gauss untuk magnetisme, Hukum induksi Faraday,
dan Hukum Ampere sebagai berikut:

Nama Bentuk Diferensial Bentuk Integral
Hukum Gauss:

Hukum Gauss untuk
magnetisme:

Persamaan Maxwell-Faraday
(Hukum Induksi Faraday)

Hukum Ampere
(dengan Koreksi Maxwell)

22


Persamaan-persamaan dalam bagian ini ditulis dalam satuan SI. Tidak seperti persamaan dalam
mekanika misalnya, perumusan persamaan Maxwell berubah-ubah tergantung pada sistem satuan
yang digunakan. Meskipun bentuk umumnya tetap, berbagai definisi berubah dan tetapan yang
berbeda-beda muncul di tempat yang berbeda-beda pula. Selain satuan SI (yang umum digunakan
dalam rekayasa), sistem satuan lain yang umum digunakan adalah satuan Gauss (didasarkan pada
sistem CGS dan dianggap memiliki keuntungan teoretis dibandingkan SI (Griffiths, 1999)), satuan
Lorentz-Heaviside (biasa digunakan dalam fisika partikel) dan satuan Planck (digunakan dalam fisika
teori).Deskripsi konseptual dari keempat hukum tersebut adalah sebagai berikut:
- Hukum Gauss menerangkan bagaimana muatan listrik dapat menciptakan dan mengubah
medan listrik. Medan listrik cenderung untuk bergerak dari muatan positif ke muatan
negatif. Hukum Gauss adalah penjelasan utama mengapa muatan yang berbeda jenis saling
tarik-menarik, dan yang sama jenisnya tolak-menolak. Muatan-muatan tersebut
menciptakan medan listrik, yang ditanggapi oleh muatan lain melalui gaya listrik
- Hukum Gauss untuk magnetisme menyatakan tidak seperti listrik tidak ada partikel "kutub
utara" atau "kutub selatan". Kutub-kutub utara dan kutub-kutub selatan selalu saling
berpasangan.
- Hukum induksi Faraday mendeskripsikan bagaimana mengubah medan magnet dapat
menciptakan medan listrik. Ini merupakan prinsip operasi banyak generator listrik. Gaya
mekanik (seperti yang ditimbulkan oleh air pada bendungan) memutar sebuah magnet
besar, dan perubahan medan magnet ini menciptakan medan listrik yang mendorong arus
listrik yang kemudian disalurkan melalui jala-jala listrik.
- Hukum Ampere menyatakan bahwa medan magnet dapat ditimbulkan melalui dua cara:
yaitu lewat arus listrik (perumusan awal Hukum Ampere), dan dengan mengubah medan
listrik (tambahan Maxwell).
Ada dua perumusan umum persamaan Maxwell. Kedua-duanya ekivalen. Perumusan pertama
memisahkan muatan terikat dan arus terikat (yang muncul dalam konteks dielektrik dan/atau bahan
magnet) dari muatan bebas dan arus bebas. Pemisahan ini berguna untuk perhitungan yang
melibatkan bahan dielektrik dan magnet. Perumusan kedua memperlakukan semua muatan secara
setara, menggabungkan baik muatan bebas dan terikat ke dalam muatan total (dan hal yang sama
juga berlaku untuk arus). Ini adalah pendekatan yang lebih mendasar atau mikroskopis, dan
terutama berguna bila tidak ada bahan dielektrik atau magnetik
23

Persamaan Maxwell secara umum diterapkan pada rata-rata makroskopik dari medan, yang sangat
bervariasi pada skala mikroskopik di sekitar masing-masing atom (di tempat tersebut medan juga
mengalami efek kuantum). Hanya bila dipahami sebagai rata-rata kita dapat mendefinisikan besaran
seperti permitivitas dan permeabilitas magnet bahan. Pada aras mikroskopik, persamaan Maxwell,
dengan mengabaikan efek kuantum, mendeskripsikan medan, muatan dan arus dalam ruang
hampa, namun pada level rincian ini kita harus memperhitungkan setiap muatan, bahkan pada level
atomik, yang secara umum merupakan masalah yang tidak terpecahkan.

24

2.2.3 Perkembangan Bernalar di Kimia
2.2.3.1 Ilmu Kimia pada Zaman Purba
Ilmu kimia berkembang seiring dengan berkembangnya kehidupan manusia mulai dari zaman purba
hingga zaman modern saat ini. Peradaban manusia sendiri berkembang melalui rentang waktu yang
sangat panjang, yang diperkiran mencapai ratusan ribu tahun yang lalu (Poedjiadi & Poedjiadi,
2001). Perkembangan peradaban masyarakat pada zaman purba terjadi melalui kegiatan bercocok
tanan, berdagang, transportasi, beternak binatang, serta kegiatan dalam pembuatan peralatan yang
digunakan dalam kehidupan mereka. Peralatan yang digunakan mengalami perkembangan, mulai
dari tulang binatang, hingga peralatan yang terbuat dari logam. Penggalian terhadap bekas-bekas
kota pada zaman purba serta penelitian pada makam raja-raja pada zaman itu telah menghasilkan
penemuan adanya perhiasan dan barang-barang yang terbuat dari emas, tembaga, perunggu dan
besi. Contohnya emas telah dikenal oleh bangsa Sumeria pada thun 3000 SM, dan telah digunakan
sebagai perhiasan, dekorasi, alat minum dn lain-lain yang ditemukan pada makam raja-raja pada
zaman itu ( Poedjiadi& Poedjiadi, 2001). Begitu pula dengan bangsa Mesir, dimana pada makam raja
Tutankhamen (1340 SM) telah ditemukan perhiasan emaas yang sangat indah.
Logam lain yang telah dikenal bahkan sejak tahun 3500 SM adalah tembaga, ditemukan di daerah
Mesopotamia dan Mesir, yang dipergunakan untuk membuat barang-barang berupa senjata,
perkakas, tong, bahkan cermin. Bangsa Mesir dan Mesopotamia memperoleh tembaga dari bijih
tembaga yang kemudin diolah menjadi logam tembaga dengan memanaskan bijih tembaga dengan
arang. Logam tembaga selanjutnya dilebur dan dicetak menjadi barang-barang yang diperlukan.
Menurut Poedjiadi& Poedjiadi (2001) kegiatan ini terjadi pula di daerah lain seperti di mohenjo-
daro dan Harappa (India), serta Knossos (P. Kreta-Yunani). Temuan selanjutnya menunjukkan bahwa
selain logam-logam murni terdapat pula barang-barang pada masa itu yang terbuat dari paduan
logam/campuran beberapa jenis logam (alloy) yang memiliki siat yang berbeda dari logam asalnya,
misalnya perunggu yang merupakan paduan antara tembaga dengan timah.Logam lain yang telah
dikenal pada masa itu yakni besi. Pada pembuatan logam tembaga, tentu terdapat proses kimia
yaitu biji tembaga yang terdiri atas oksida tembaga dan tembaga karbonat direduksi oleh arang
pada suhu tinggi sehingga diperoleh logam tembaga, meskipun pada masa itu proses ini belum
dinamai reaksi reduksi. Sehingga secara filosofi dapat dikatakan bahwa kimia pada saat itu belum
merupakan sebuah ilmu melainkan baru berupa pengetahuan. Jadi proses-proses kimia tersebut
sesungguhnya telah dilakukan orang-orang pada ribuan tahun sebelum Masehi.
25

Pada perkembangannya, orang Mesir mengetahui bahwa emas dalah logam yang stabil dan
berharga, oleh karena itu mereka berpandangan bahwa emas adalah logam yang amat sempurna
atau amat mulia. Filsafat Yunani mengajarkan bahwa suatu logam tertentu seperti halnya benda-
benda lain dapat diubah menjadi logam lain. Sedangkan astrologi Babilonia menyatakan bahwa
suatu logam dapat berubah dari keadaan kurang sempurna menuju keadaan yang lebih sempurna.
Berdasarkan pandangan tersebut, para ahli pengolahan logam mencoba melakukan upaya untuk
memperoleh logam emas dengan cara mengubah logam lain. Setelah emas ditemukan dan menjadi
logam berharga, banyak orang yang tertarik menemukan metode yang dapat merubah zat lain
menjadi emas. Hal ini menciptakan suatu protosains yang disebut Alkimia. Alkimia dipraktikkan oleh
banyak kebudayaan sepanjang sejarah dan sering mengandung campuran filsafat, mistisisme, dan
protosains (Wikipedia, 2010). Alkimia menemukan banyak proses kimia yang menuntun pada
pengembangan kimia modern. Seiring berjalannya sejarah, alkimiawan-alkimiawan terkemuka
seperti Abu Musa Jabir bin Hayyan (712-815) dan Paracelsus,mengembangkan alkimia yang
menjauh dari filsafat dan mistisisme dan mengembangkan pendekatan yang lebih sistematik dan
ilmiah. Misalnya Jabir bin Hayan telah berhasil mengembangkan metode evaporasi, filtrasi,
sublimasi, pelelehan, destilasi dan kristalisasi, sehingga berhasil membuat beberapa senyawa kimia
misalnya: sinabar (merkuri sulfida), oksida arsen, dll. (Singer, 1946).
2.2.3.2 Perkembangan Kimia Sebelum Abad Pertengahan
Alkimia di Tiongkok.Sementara alkimia Barat akhirnya berpusat pada transmutasi logam biasa
menjadi logam mulia, hubungan antara alkimia Tiongkok dan obat-obatan lebih kentara. Batu filosof
milik alkimiawan Eropa dapat diperbandingkan dengan Grand Elixir of Immortality yang dicari-cari
para alkimiawan Tiongkok. Namun, dalam pandangan hermetis, kedua tujuan ini tidaklah berdiri
sendiri, dan batu filsafat sering disetarakan dengan panacea universal. Dengan demikian, kedua
tradisi ini mungkin memiliki lebih banyak kesamaan daripada yang diperkirakan semula. Bubuk
hitam mungkin merupakan ciptaan terpenting alkimiawan Tiongkok. Disebut-sebut dalam teks abad
ke-9 dan sudah digunakan dalam kembang api pada abad ke-10, bubuk ini sudah digunakan dalam
meriam pada 1290. Dari Tiongkok, penggunaan bubuk hitam yang kemudian dikenal sebagai mesiu
menyebar ke Jepang, bangsa Mongol, dunia Arab, dan Eropa. Mesiu digunakan bangsa Mongol
melawan bangsa Hongaria pada 1241, dan di Eropa dimulai pada abad ke-14. Alkimia Tiongkok
berkaitan erat dengan obat-obatan dalam bentuk Taoisme, seperti akupunktur dan moxibustion,
dan dengan bela diri seperti Tai Chi Chuan dan Kung Fu (meskipun beberapa aliran Tai Chi meyakini
bahwa ilmu mereka diturunkan dari cabang-cabang Higienis atau Filosofis Taoisme, bukan cabang
Alkimia).
26

Alkimia India. Hanya sedikit yang diketahui di Barat tentang ciri-ciri dan sejarah alkimia India.
Seorang alkimiawan Iran abad ke-11 bernama al-Biruni melaporkan bahwa mereka "memiliki ilmu
yang mirip dengan alkimia yang asing bagi mereka, yaitu ilmu yang disebut Rasavātam. Nama ini
berarti seni yang terbatas pada operasi, obat, senyawa, dan obat-obatan tertentu, yang sebagian
besar diambil dari tumbuhan. Prinsipnya adalah mengembalikan kesembuhan bagi orang yang sakit
parah, dan mengembalikan kemudaan bagi usia tua." Contoh teks terbaik yang berdasarkan pada
sains ini adalah The Vaishashik Darshana karya Kanada (+ 600 SM), yang menggambarkan teori atom
seabad sebelum Democritus.
Alkimia di Mesir Kuno. Alkimiawan Barat umumnya menelusur asal-usul seni mereka ke Mesir
Kuno. Metalurgi dan mistisisme bertautan erat di dunia kuno, karena perubahan bijih kusam
menjadi logam berkilau pasti bagi mereka serupa sihir, yang dikuasai suatu aturan misterius. Oleh
karena itu, diperkirakan alkimia di Mesir Kuno dikuasai oleh kelas pendeta. Kota Iskandariyah di
Mesir adalah pusat pengetahuan alkimia, dan tetap diagungkan hingga setelah keruntuhan budaya
Mesir Kuno sekalipun, selama masa-masa Yunani dan Romawi. Sayangnya, hampir tak ada dokumen
Mesir asli tentang alkimia yang masih tersisa sekarang. Andaikan ada, tulisan-tulisan itu
kemungkinan besar hilang ketika KaisarDiocletian memerintahkan pembakaran buku-buku alkimia
setelah meredam pemberontakan di Iskandariyah (296), yang merupakan pusat alkimia Mesir.
Alkimia Mesir sebagian besar dikenal melalui tulisan para filosof kuno (Helenisme) Yunani, yang
sekarang hanya tersisa sebagai terjemahan Islam. Menurut legenda, pendiri alkimia Mesir adalah
Dewa Thoth, yang disebut Hermes-Thoth atau Thrice-Great Hermes (Hermes Trismegistus) oleh
bangsa Yunani. Konon ia menulis sesuatu yang disebut 42 Kitab Pengetahuan, yang mencakup
semua bidang pengetahuan termasuk alkimia. Lambang Hermes adalah caduceus atau tongkat ular,
yang menjadi salah satu dari banyak lambang utama alkimia. "Tablet Emerald" atau Hermetica karya
Thrice-Greatest Hermes, yang dikenal hanya melalui terjemahan Yunani dan Arab, secara umum
diakui telah membentuk dasar praktik dan filsafat alkimia Barat, yang disebut filsafat hermetis oleh
para praktisi awalnya.
Inti pertama "Tablet Emerald" menyampaikan tujuan ilmu hermetis: "sebenar-benarnya, seyakin-
yakinnya, dan tanpa keraguan, apa-apa yang di bawah itu sama dengan apa-apa yang di atas, dan
apa-apa yang di atas sama dengan apa-apa yang di bawah, untuk menciptakan mukjizat satu hal"
(Burckhardt, h. 196-7). Ini adalah keyakinan makrokosmos-mikrokosmos inti bagi filsafat hermetis.
Dengan kata lain, tubuh manusia (mikrokosm) dipengaruhi oleh dunia luar (makrokosm), yang
mencakup langit melalui astrologi, dan bumi melalui unsur (Burckhardt, h. 34-42). Setelahnya,
27

bangsa Masedonia yang berbahasa Yunani menaklukkan Mesir dan mendirikan kota Iskandariyah
pada 331. Peristiwa ini mempertemukan mereka dengan pemikiran Mesir.
Alkimia di dunia Yunani.Bangsa Yunani mengambil keyakinan hermetis bangsa Mesir dan
memadukannya dengan filsafat Pythagoreanisme, ionianisme, dan gnostisisme. Pada intinya, Filsafat
Pythagorean adalah keyakinan bahwa bilangan mengatur alam semesta, keyakinan yang berasal dari
pengamatan bunyi, bntang, bentuk geometris seperti segitiga, atau apa pun yang perhitungannya
dapat menghasilkan angka rasio. Pemikiran Ionia didasarkan pada keyakinan bahwa alam semesta
dapat dijelaskan melalui mempelajari fenomena alam; filsafat ini diyakini diciptakan oleh Thales dan
muridnya Anaximander, dan kemudian dikembangkan oleh Plato dan Aristoteles, yang karya-
karyanya menjadi bagian alkimia. Menurut keyakinan ini, alam semesta dapat digambarkan oleh
beberapa hukum alam yang dapat diketahui melalui penjelajahan filosofis yang hati-hati, saksama,
teliti. Komponen ketiga yang dimasukkan ke filsafat hermetis oleh bangsa Yunani adalah gnotisisme,
keyakinan yang tersebar luas di Kekaisaran Romawi Kristen, bahwa dunia itu tidak sempurna karena
diciptakan dengan cara yang tercacat, dan bahwa mempelajari sifat materi spiritual akan menuntun
kita ke keselamatan. Mereka juga meyakini bahwa Tuhan tidak "menciptakan" alam semesta dalam
makna klasik, tetapi bahwa alam semesta diciptakan "dari-Nya", tetapi kemudan rusak (bukan
dirusakkan oleh pelanggaran Adam dan Hawa, yakni dosa waris).
Menurut keyakinan Gnostisisme, memuja kosmos, alam, dan makhluk dunia, itulah memuja Tuhan
Sejati. Kaum Gnostik tidak mencari keselamatan dari dosa, melainkan berupaya melepaskan diri dari
ketidaktahuan, meyakini bahwa dosa hanyalah konsekuensi dari ketidaktahuan. Teori Platonis dan
neo-Platonis tentang universal dan ke-Mahakuasa-an Tuhan juga diserap.
Sebuah konsep yang sangat penting yang diperkenalkan pada masa ini, berasal dari Empedocles dan
dikembangkan Aristoteles, adalah bahwa semua hal di alam semesta terbentuk dari hanya empat
unsur: tanah, udara, air, dan api. Menurut Aristoteles, setiap unsur memiliki lingkup asalnya,
tempatnya kembali jika tidak terganggu (Lindsay, h. 16). Keempat unsur bangsa Yunani lebih
merupakan aspek kualitatif materi, bukan kuantitatif sebagaimana unsur kimia modern. "...Alkimia
sejati tak pernah menganggap tanah, udara, air, dan api sebagai zat fisik atau kimia sebagaimana
makna katanya di masa kini. Keempat unsur ini sederhananya adalah sifat-sifat primer dan umum.
Melalui sifat-sifat ini, zat nirbentuk dan kuantitatif dari semua benda mewujudkan dirinya dalam
bentuk-bentuk yang jelas" (Hitchcock, h. 66). Para alkimiawan selanjutnya (jika Plato dan Aristoteles
boleh disebut alkimiawan) mengembangkan aspek mistis konsep ini secara luas.
28

Alkimia di Kekaisaran Romawi.Bangsa Romawi mengambil alkimia dan metafisika Yunani,
sebagaimana mereka menyerap sebagian besar pengetahuan dan filsafat Yunani. Pada akhir
Kekaisaran Romawi, filsafat alkimia Yunani telah digabungkan dengan filsafat bangsa Mesir dan
membentuk aliran Hermetisisme (Lindsay). Namun, perkembangan agama Kristen di Kekaisaran
tersebut membawa jalur pemikiran yang bertolak belakang, berakar dari Agustinus (354-430 M),
seorang filsuf Kristen awal yang menuliskan keyakinannya menjelang runtuhnya Kekaisaran Romawi.
Pada intinya, ia merasa bahwa akal dan iman dapat digunakan untuk memahami Tuhan, tetapi
filsafat eksperimental itu buruk: "Dalam jiwa juga terdapat, melalui indra badaniah ini, sejenis
keinginan dan keingintahuan hampa yang bertujuan bukan untuk menikmati tubuh, tetapi
memperoleh pengalaman melalui tubuh, dan keingintahuan hampa ini dihormati atas nama
pembelajaran dan ilmu pengetahuan" (Agustinus, h. 245). Gagasan Augustinian jelas-jelas
menentang eksperimen, tetapi ketika teknik eksperimental Aristotelian tersedia bagi dunia Barat,
teknik tersebut tidak ditolak. Namun, pemikiran Augustinian sudah mendarah daging dalam
masyarakat Zaman Pertengahan dan digunakan untuk menuding alkimia sebagai ilmu yang tidak
ilahiah. Pada akhirnya, pada akhir era pertengahan, arus pemikiran ini menciptakan celah
permanen, yang memisahkan alkimia dari agama yang justru dahulu mendorong kelahirannya.
Sebagian besar pengetahuan Romawi tentang alkimia, sebagaimana pengetahuan Yunani dan Mesir,
sekarang hilang. Di Alexandria, pusat pengkajian alkimia di Kekaisaran Roma, seni tersebut
disampaikan dari mulut ke mulut dan untuk mempertahankan kerahasiaan, hanya sedikit yang
dituliskan. (Sejak itu kata "hermetis" berarti "rahasia") (Lindsay, h. 155). Mungkin saja ada sebagian
yang ditulis di Alexandria, dan kemudian hilang atau terbakar di masa-masa kericuhan setelah itu.
Alkimia di dunia Islam.Setelah runtuhnya Kekaisaran Romawi, fokus perkembangan alkimia
berpindah ke Timur Tengah. Yang diketahui tentang alkimia Islam jauh lebih banyak karena
dokumentasinya lebih baik: malah, sebagian besar tulisan yang diturunkan selama bertahun-tahun
diabadikan dalam bentuk terjemahan Islam (Burckhardt, h. 46). Dunia Islam merupakan tempat
peleburan bagi alkimia. Pemikiran Platonis dan Aristotelian, yang sudah sedikit-banyak disisihkan
menjadi ilmu hermetis, terus diasimilasi. Alkimiawan Islam seperti Abu Bakar Muhammad bin
Zakariya al-Razi (Rasis atau Rhazes dalam Bahasa Latin) juga menyumbangkan temuan-temuan
kimiawi penting, seperti teknik penyulingan (kata alembic dan alkohol juga berasal dari Bahasa
Arab), asam klorida, asam sulfat, dan asam nitrat, al-natrun, dan alkali — yang kemudian
membentuk nama untuk unsur natrium dan kalium dan banyak lagi. Penemuan bahwa air raja atau
29

aqua regia, campuran asam nitrat dan asam klorida, dapat melarutkan logam termulia emas adalah
penemuan yang mengompori imajinasi para alkimiawan selama seribu tahun berikutnya.
Para filosuf Islam juga memberikan sumbangan besar untuk hermetisisme alkimia. Penulis yang
paling berpengaruh dalam hal ini adalah Jabir bin Hayyan (ناي حن بإر باج dalam Bahasa Arab,
Geberus dalam Bahasa Latin; Geber dalam Bahasa Inggris). Tujuan utama Jabir adalah takwin,
penciptaan buatan makhluk hidup dalam laboratorium alkimia, hingga dan termasuk manusia. Ia
menganalisis setiap unsur Aristotelian, panas, dingin, kering, dan lembap (Burkhardt, h. 29).
Menurut Jabir, dalam setiap logam, dua sifat ini berada di dalam dan dua berada di luar. Misalnya,
timah itu dingin dan kering di luar, sedangkan emas itu panas dan lembab. Maka, Jabir berteori,
dengan mengatur ulang sifat-sifat sebuah logam, bisa dihasilkan logam lain (Burckhardt, h. 29).
Dengan penalaran ini, pencarian batu filosof diperkenalkan dalam alkimia Barat. Jabir
mengembangkan numerologi yang rumit, yakni huruf-akar dari nama sebuah zat dalam Bahasa
Arab, jika ditransformasi, akan berkaitan dengan sifat fisika unsur tersebut. Sekarang sudah umum
diterima bahwa alkimia Tiongkok memengaruhi alkimiawan Arab (Edwardes hh. 33-59; Burckhardt,
h. 10-22), meskipun sejauh apa pengaruh itu masih diperdebatkan. Demikian pula, ilmu Hindu
diasimilasi ke dalam alkimia Islam, tetapi, sekali lagi, besarnya dan pengaruhnya tidak banyak
diketahui.
2.2.3.3 Perkembangan kimia di Eropa Zaman Pertengahan
Karena kuatnya hubungan dengan kebudayaan Yunani dan Romawi, alkimia diterima dengan mudah
oleh filsafat Kristen, dan para alkimiawan Eropa zaman pertengahan memperluas penyerapannya
terhadap pengetahuan alkimia Islam. Gerbert of Aurillac, yang kemudian menjadi Paus Silvester
II, (meninggal 1003) adalah salah seorang di antara yang pertama membawa ilmu pengetahuan
Islam ke Eropa dari Spanyol. Tokoh sesudahnya seperti Adelard of Bath, yang hidup pada abad 12,
membawa pengetahuan tambahan. Tetapi sampai dengan abad 13 gerakan-gerakan tersebut
terutama bersifat asimilatif. (Hollister h. 124, 294)
Pada periode ini muncul beberapa penyimpangan terhadap prinsip Augustinian dari para pemikir
Kristen awal. Saint Anselm (1033–1109) adalah seorang Benedictine (pengikut St. Benedict) yang
mempercayai bahwa keyakinan/iman harus mendahului rasionalisme, sebagaimana Augustine serta
kebanyakan teolog sebelum Anselm mempercayai, akan tetapi Anselm lebih berpendapat bahwa
iman dan rasionalisme bersifat sesuai dan ia menyemangati rasionalisme di dalam konteks Kristen.
Pandangan-pandangannya menyiapkan tempat terjadinya ledakan filsafat. Saint Abelard seorang
30

penganut karya Anselm, meletakkan dasar diterimanya pemikiran Aristotelian sebelum karya-karya
pertama Aristoteles menjangkau dunia Barat. Pengaruh besarnya pada alkimia adalah keyakinannya
bahwa alam semesta Platonis tidak memiliki eksistensi terpisah di luar kesadaran manusia. Abelard
juga men-sistematika-kan analisis kontradiksi-kontradiksi filsafat. (Hollister, p. 287-8)
Robert Grosseteste (1170–1253) adalah perintis teori ilmiah yang kemudian digunakan dan dipoles
oleh para ahli kimia. Ia mengambil metode analisis Abelard dan menambahkan penggunaan
pengamatan, eksperimentasi, dan penyimpulan dalam membuat evaluasi ilmiah. Grosseteste juga
banyak menjembatani pemikiran Platonis dan Aristotelian. (Hollister hh. 294-5)
Albertus Magnus (1193–1280) dan Thomas Aquinas (1225–1274) keduanya adalah pengikut
Dominican yang mempelajari Aristoteles dan berusaha mendamaikan kesenjangan antara filsafat
dengan agama Kristen. Aquinas banyak menyumbangkan karya dalam pengembangan metode
ilmiah. Lebih jauh lagi, ia menyatakan bahwa alam semesta bisa diketahui dengan hanya melalui
pemikiran logis: ini bertentangan dengan keyakinan Platonis yang umumnya dipegang bahwa alam
semesta hanya bisa diketahui semata-mata melalui ilham ketuhanan. Magnus dan Aquinas adalah di
antara yang pertama-tama menguji teori alkimiawi, dan mereka bisa juga dianggap sebagai
alkimiawan, dengan perkecualian bahwa mereka hanya melakukan sedikit eksperimentasi. Salah
satu sumbangan Aquinas yang utama adalah keyakinan bahwa karena akal pikiran tidak akan tidak
sejalan dengan kehendak Tuhan, maka akal pikiran pasti sesuai dengan teologi. (Hollister h. 290-4,
355)
Seorang alkimiawan sejati pertama di Eropa Zaman Pertengahan adalah Roger Bacon. Karyanya
untuk alkimia adalah sebanyak yang dihasilkan Robert Boyle untuk ilmu kimia dan Galileo Galilei
untuk astronomi dan fisika. Bacon (1214–1294) adalah Fransiskan Oxford yang menjelajahi bidang
ilmu optik dan bahasa selain alkimia. Ide pengikut Fransiskan untuk ambil bagian di dunia bukannya
menolak dunia membawanya pada keyakinan bahwa eksperimentasi lebih penting daripada
pemikiran: " Di antara tiga cara di mana manusia merasa memperoleh pengetahuan: otoritas
(karena itu adalah haknya), pemikiran, pengalaman; maka hanya yang terakhirlah yang efektif dan
mampu mendamaikan akal budi." (Bacon p. 367) "Ilmu Pengetahuan Eksperimental menguasai
kesimpulan semua bidang ilmu pengetahuan. Ia mengungkapkan kebenaran-kebenaran di mana
pembuktian dari prinsip/hukum-hukum umum tidak diketemukan sebelumnya." (Hollister h. 294-5)
Roger Bacon juga dikenal sebagai yang memulai pencarian batu filsuf serta obat mujarab untuk
kehidupan (the elixir of life): "Obat itu akan menghilangkan semua kekotoran dan sifat-sifat buruk
dari beberapa jenis logam, dalam pendapat bijaksananya, melenyapkan banyak sifat-sifat buruk
31

yeng mungkin telah berada di tubuh manusia selama berabad-abad." Ide tentang keabadian diganti
dengan gagasan tentang umur panjang; setelah itu semua, kehidupan manusia di Bumi hanya
sekedar menunggu dan menyiapkan diri untuk keabadian di dunia Tuhan. Ide tentang keabadian di
Bumi tidak berbenturan dengan teologi Kristen.(Edwardes h. 37-8)
Bacon bukan hanya dikenal sebagai seorang alkimiawan di puncak zaman pertengahan,melainkan
juga yang paling signifikan. Karya-karyanya dipakai oleh para alkimiawan yang tak terhitung
jumlahnya dari abad limabelas sampai sembilanbelas. Alkimiawan lain di masa Bacon memiliki
beberapa ciri yang sama. Pertama, dan yang paling jelas, yaitu hampir semuanya adalah anggota
kependetaan (clergy). Mudahnya hal ini disebabkan karena sedikit orang di luar sekolah parokial
mendapatkan pelajaran yang meneliti karya-karya turunan dari karya Arab. Juga, alkimia pada masa
ini disetujui oleh gereja sebagai metode yang baik untuk mengeksplorasi dan mengembangkan
teologi. Alkimia juga menarik bagi orang-orang gereja karena ia menawarkan pandangan
rasionalistik tentang alam semesta di mana saat itu manusia baru mulai belajar tentang
rasionalisme.(Edwardes h. 24-7)
Maka pada akhir abad tigabelas, alkimia berkembang menjadi sebuah sistem keyakinan yang hampir
terstruktur. Para ahli percaya pada teori makrokosmos-mikrokosmos dari Hermes, itu berarti,
mereka mempercayai bahwa proses yang berpengaruh pada mineral dan zat-zat lain juga akan
berpengaruh pada tubuh manusia (misalnya, jika seseorang bisa mempelajari rahasia pemurnian
emas, maka ia bisa menerapkan tekniknya untuk memurnikan jiwa manusia. Mereka percaya pada
empat unsur dan empat kualitas yang telah diuraikan di atas, dan mereka memiliki tradisi kuat untuk
membungkus ide-ide tulisan mereka ke dalam ruangan labirin jargon yang bersandi, penuh dengan
jebakan yang membingungkan. Akhir kata, alkimiawan mempraktekkan seni mereka: mereka
bereksperimen secara aktif dengan bahan kimiawi serta membuat observasi dan teori tentang
bagaimana cara alam semesta bekerja. Keseluruhan filsafat mereka berkisar antara keyakinan
mereka bahwa jiwa manusia terpisah di dalam diri manusia sejak jatuhnya Adam. Dengan
memurnikan dua sisi jiwa itu, manusia bisa kembali menyatu dengan Tuhan. (Burckhardt h. 149)
Pada abad empatbelas, pandangan-pandangan ini mengalami perubahan penting. William of
Ockham, seorang Fransiskan Oxford yang meninggal pada 1349, menyerang pandangan kaum
Thomist tentang kesesuaian antara iman dan pemikiran. Pandangannya, diterima secara luas
sekarang, bahwa Tuhan hanya semata-mata diterima lewat iman; Ia tidak bisa dibatasi oleh
pemikiran manusia. Tentu saja pandangan ini tidak salah apabila seseorang menerima dalil tentang
ketakterbatasan Tuhan versus keterbatasan kemampuan pemikiran manusia, tapi ini secara tidak
32

langsung menghapus praktek alkimia di abad empatbelas dan limabelas (Hollister p. 335).Paus
Yohanes XXII di awal tahun 1300 mengeluarkan fatwa menentang alkimia, di mana hasilnya adalah
membersihkan semua personinl gereja dari praktek seni (Edwardes, p.49). Iklim berubah, Black
plague, dan meningkatnya peperangan serta bencana kelaparan yang menandai abad ini, tidak
diragukan lagi juga menghambat pencarian filsafat secara umum.

Gambar 2.1. Simbol misterius alkimia yang terpahat di batu nisan Nicholas Flamel berada di dalam
Gereja Holy Innocents di Paris.
Alkimia dijaga kehidupannya oleh orang semacam Nicolas Flamel, ia patut diperhitungkan karena ia
adalah seorang di antara sedikit alkimiawan yang menulis pada saat sulit tersebut. Flamel yang
hidup dari tahun 1330 sampai 1417 merupakan pembuat pola dasar (archetype) dari alkimia tahap
selanjutnya. Dia bukan seorang dari kalangan relijius sebagaimana kebanyakan pendahulunya, dan
33

seluruh ketertarikannya pada subjek seputar pencarian batu filsuf, di mana ia dianggap telah
menemukannya; karya-karyanya banyak menghabiskan waktu dengan uraian proses dan reaksi-
reaksi, tapi tidak pernah benar-benar memberikan rumus terjadinya transmutasi. Kebanyakan karya-
karyanya bertujuan mengumpulkan pengetahuan alkimia yang telah ada sebelumnya, khususnya
yang berkaitan dengan batu filsuf (Burckhardt pp.170-181).
Selama akhir zaman pertengahan (1300-1500) para alkimiawan kebanyakan seperti Flamel: mereka
berkonsentrasi pada pencarian batu filsuf dan obat awet muda (elixir of youth), yang sekarang
dipercayai sebagai dua hal terpisah. Kiasan yang samar-samar dan simbolisme dalam tulisan
mengarah pada penafsiran yang bervariasi. Misalnya, kebanyakan alkimiawan pada periode ini
menafsirkan pemurnian jiwa untuk mengartikan transmutasi timah menjadi emas (di mana mereka
percaya bahwa air raksa elemental, atau 'quicksilver', memiliki peranan penting). Mereka ini
dianggap sebagai tukang sihir oleh kebanyakan orang, dan seringkali disiksa karena praktek-praktek
mereka. (Edwards hh. 50-75; Norton hh lxiii-lxvii)
Tycho Brahe, yang lebih dikenal dengan penyelidikannya tentang astronomi dan astrologi, juga
seorang alkimiawan. Ia memiliki laboratorium yang dibangun untuk tujuan itu di institut
observatorium/riset Uraniborg.
Salah seorang yang namanya muncul di awal abad enambelas adalah Heinrich Cornelius Agrippa.
Alkimiawan ini percaya bahwa dirinya adalah seorang ahli sihir, dalam arti sebenarnya merasa
bahwa dirinya mampu memanggil makhluk gaib. Pengaruhnya tidak begitu berarti, tetapi seperti
halnya Flamel, ia menghasilkan tulisan-tulisan yang menjadi acuan para alkimiawan tahun-tahun
sesudahnya. Sekali lagi seperti halnya Flamel, ia berbuat banyak untuk merubah alkimia dari filsafat
yang sifatnya mistis menjadi magic okultis. Ia meneruskan filosofi para alkimiawan terdahulu,
termasuk di dalamnya ilmu pengetahuan eksperimental, numerologi dsb., tapi ia menambahkan
teori magic, yang mana ini menguatkan ide alkimia sebagai keyakinan okultis. Meskipun demikian,
Agrippa adalah tetap seorang Kristen, walaupun pandangannya seringkali mengalami konflik dengan
gereja (Edwardes p56-9; Wilson p.23-9).
2.2.3.4 Alkimia di Zaman Modern dan Renaisanse
Alkimia Eropa terus berlanjut seperti ini hingga terbitnya Zaman Renaisans. Era ini juga menyaksikan
menjamurnya penipu yang menggunakan tipuan kimiawi dan sulap untuk "mendemonstrasikan"
transmutasi logam biasa menjadi emas, atau yang mengaku memiliki pengetahuan rahasia yang
dengan modal awal "sedikit" pasti akan mencapai tujuan tersebut.
34

Nama terpenting pada masa ini adalah Philippus Aureolus Paracelsus (Theophrastus Bombastus von
Hohenheim, 1493–1541) yang mencetak alkimia menjadi bentuk baru, menolak sebagian okultisme
yang telah bertimbun selama bertahun-tahun, mempromosikan penggunaan pengamatan dan
eksperimen untuk mempelajari tubuh manusia. Ia menolak tradisi Gnotisisme, tetapi
mempertahankan sebagian besar filsafat Hermetis, neo-Platonis, dan Pythagorean; namun, ilmu
Hermetis memuat begitu banyak teori Aristotelian sehingga penolakannya terhadap Gnotisisme
hampir tak ada artinya. Khususnya, Paracelsus menolak teori-teori sihir Agrippa dan Flamel. Ia tak
menganggap dirinya seorang penyihir, dan mengecam orang-orang yang mengaku demikian
(Williams hh. 239-45).
Paracelsus merintis penggunaan zat kimia dan mineral dalam bidang kedokteran, dan menulis
"Banyak orang berkata bahwa alkimia bertujuan membuat emas dan perak. Bagiku, tujuan alkimia
bukan itu, melainkan untuk mempelajari kebaikan dan kekuatan yang terkandung dalam obat"
(Edwardes, h. 47). Pandangan hermetisnya adalah bahwa penyakit dan kesehatan dalam tubuh
bergantung pada keselarasan antara manusia si mikrokosm dan Alam si makrokosm. Ia memakai
pendekatan yang berbeda dengan para pendahulunya, yakni menggunakan analogi ini bukan dalam
rangka pemurnian-jiwa, tetapi dengan maksud bahwa manusia harus memiliki keseimbangan
mineral tertentu dalam tubuhnya, dan bahwa penyakit-penyakit tubuh tertentu dapat disembuhkan
dengan obat tertentu (Debus & Multhauf, p.6-12). Meskipun upayanya mengobati penyakit dengan
obat seperti air raksa mungkin tampak keliru dari sudut pandang modern, gagasan dasarnya tentang
obat kimiawi ternyata bertahan diuji waktu.
Di Inggris, topik alkimia dalam masa ini sering dikaitkan dengan Dokter John Dee (13 Juli1527 –
Desember1608), yang lebih dikenal sebagai astrolog, kriptografer, dan "konsultan ilmiah" umum
bagi Ratu Elizabeth I. Dee dipandang sebagai ahli karya-karya Roger Bacon, dan cukup tertarik pada
alkimia sehingga menulis buku tentang topik ini (Monas Hieroglyphica, 1564) dengan pengaruh
Kabala. Teman Dee, Edward Kelley — yang mengklaim bercakap-cakap dengan malaikat melalui bola
kristal dan memiliki bubuk yang dapat mengubah air raksa menjadi emas — mungkin merupakan
asal-usul citra charlatan-alkimiawan yang banyak dikenal.
Di antara alkimiawan-alkimiawan lain pada masa ini, yang patut dicatat adalah Michał Sędziwój
(Michael Sendivogius) (1566 - 1636), seorang alkimiawan berkebangsaan Polandia, filosof dan
dokter, perintis ilmu kimia. Ia mengasumsikan bahwa udara mengandung oksigen, 170 tahun
sebelum Scheele dan Priestley, dengan menghangatkan nitre (saltpetre). Dia menganggap gas yang
dihasilkannya sebagai "minuman kehidupan".
35

2.2.3.5 Keruntuhan Alkimia Barat
Berakhirnya alkimia Barat disebabkan oleh bangkitnya sains modern, yang menekankan
eksperimentasi yang setepat-tepatnya dan menganggap remeh "kebijaksanaan kuno". Meskipun
benih peristiwa-peristiwa ini ditanam seawal abad ke-17, alkimia masih berjalan dengan baik selama
dua ratusan tahun, dalam fakta ia mungkin telah mencapai titik terjauh (apogee)-nya pada abad 18.
Akhir 1781 James Price menyatakan telah menghasilkan bubuk yang bisa men-transmutasi air raksa
menjadi perak atau emas.
Robert Boyle (1627–1691), lebih dikenal dengan studinya tentang gas (cf. hukum Boyle) merintis
metode ilmiah dalam penyelidikan kimiawi. Ia tidak memiliki asumsi apa-apa dalam eksperimennya
dan ia menghimpun tiap data yang relevan; dalam sebuah eksperimen, Boyle akan mencatat tempat
di mana eksperimen berlangsung, karakteristik angin, posisi matahari dan bulan, dan angka
barometer, siapa tahu hal-hal tersebut terbukti relevan. (Pilkington h.11) Pendekatan ini suatu saat
membawa pada pembentukan ilmu kimia modern pada abad 18 dan abad 19,berdasarkan
penemuan revolusioner dari Lavoisier dan John Dalton — yang pada akhirnya menyediakan
kerangka kerja yang logis, kuantitatif dan dapat diandalkan untuk memahami transmutasi materi,
serta mengungkapkan kegagalan tujuan alkimia yang telah berlangsung lama seperti misalnya batu
fisuf.
Sementara itu, alkimia Paracelsian menuntun pada pengembangan ilmu obat-obatan modern. Para
eksperimentalis secara berangsur-angsur menemukan cara kerja tubuh manusia, seperti peredaran
darah (Harvey, 1616), dan pada suatu saat mengetahui bahwa banyak penyakit disebabkan oleh
infeksi kuman (Koch and Pasteur, abad 19) atau kekurangan vitamin dan zat gizi alami (Lind,
Eijkman, Funk, et al.). Didukung oleh perkembangan paralel dalam ilmu kimia organik, ilmu
pengetahuan baru itu dengan mudahnya menggeser alkimia dari perannya di bidang medis,
interpretif dan preskriptif, sekaligus mengurangi harapan terhadap obat/ramuan ajaib dan
membeberkan ketidakefektifan dan bahkan kadar racun yang dimiliki obat semacam itu. Ketika ilmu
pengetahuan dengan mantap berlanjut menguak tabir dan merasionalkan mesin waktu alam
semesta, yang dibangun pada metafisika materialistik-nya sendiri,Alkimia dicabut dari hubungannya
dengan kimia dan medis — tapi masih terbebani olehnya. Alkimia berkurang menjadi sebuah sistem
filsafat yang dianggap sulit dimengerti, lemah hubungannya dengan dunia material, ia mengalami
nasib yang serupa dengan disiplin ilmu esoteris lainnya seperti Astrologi dan Kabbalah: dikeluarkan
dari kurikulum, dihindari oleh para pendukung sebelumnya, diasingkan oleh para ilmuwan, dan pada
umumnya dipandang sebagai lambang charlatanism dan takhayul.
36

Perkembangan ini bisa ditafsirkan sebagai bagian dari reaksi yang lebih luas di dalam intelektualisme
Eropa melawan gerakan Romantik dari abad sebelumnya. Mungkin akan bijaksana untuk meneliti
bagaimana sebuah disiplin ilmu yang pernah mendapat martabat intelektual dan material, lebih dari
dua ribu tahun, dapat dengan mudahnya lenyap dari alam pemikiran Barat. Perkembangan
selanjutnya setelah zaman renaisans, alkimia telah bergeser menjadi ilmu kimia yang berdasarkan
bukti-bukti empiris dari hasil-hasil penyelidikan para ilmuwan terutama dari Eropa ( Inggris, Perancis
Jermn, Austria, dll). Dimulai dengan penyelidikan terhadap proses pembakaran hingga muncul teori
flogiston dari Stahl (1660-1734). Teori ini dapat digunakn untuk menerangkan beberapa fakta,
namun demikian pada penerapannya menemui kesulitan sehingga menimbulkan masalah dan
terjadi ketidak cocokan pada tahapan berikutnya. Hal ini selanjutnya mendorong para ahli
diantaranya Jean Rey (1630) mengemukakan pendapat lain yang sesuai dengan teori pembakaran
yang saat ini dikenal.
Eksperimen-eksperimen selanjutnya amat berharga dalam perkembangan ilmu kimia antara lain
penemuan gas-gas yang dilakukan oleh Stephen Hales, Joseph Black, Hendry Cavendish, Scheele dan
Joseph Priestley (Poedjiadi & Poedjiadi, 2001).
Sumbangan pemikiran yang paling berharga dan menjadi peletak dasar ilmu kimia modern yaitu
dihasilkan dari ekperimen Antoine Laurent Lavoisier (1743-1794), dimana ia menyempurnakan
eksperimen yang dilakukan oleh Black dan membuat suatu dalil bahwa pada setiap proses kimia,
kuntitas zat-zat, sebelum dan setelah terjadinya proses tersebut tetap sama. Dalil ini dikenal sebagai
Hukum Kekekalan Zat atau Hukum Kekekalan Massa (Poedjiadi & Poedjiadi, 2001).
2.2.3.6 Perkembangan Kimia Modern
Penghargaan Nobel dalam Kimia yang diciptakan pada tahun 1901 memberikan gambaran bagus
mengenai penemuan kimia selama 100 tahun terakhir. Pada bagian awal abad ke-20, sifat
subatomik atom diungkapkan dan ilmu mekanika kuantum mulai menjelaskan sifat fisik ikatan kimia.
Pada pertengahan abad ke-20, kimia telah berkembang sampai dapat memahami dan memprediksi
aspek-aspek biologi yang melebar ke bidang biokimia.
Kimiapun berkembang dan kimiawan mulai terfokus pada bagian-bagian kimia seperti Kimia
analitikyang merupakan analisis cuplikan bahan untuk memperoleh pemahaman tentang susunan
kimia dan strukturnya. Kimia analitik melibatkan metode eksperimen standar dalam kimia. Metode-
metode ini dapat digunakan dalam semua subdisiplin lain dari kimia, kecuali untuk kimia teori
murni. Biokimia mempelajari senyawa kimia, reaksi kimia, dan interaksi kimia yang terjadi dalam
37

organisme hidup. Biokimia dan kimia organik berhubungan sangat erat, seperti dalam kimia
medisinal atau neurokimia. Biokimia juga berhubungan dengan biologi molekular, fisiologi, dan
genetika.
Kimia anorganik mengkaji sifat-sifat dan reaksi senyawa anorganik. Perbedaan antara bidang organik
dan anorganik tidaklah mutlak dan banyak terdapat tumpang tindih, khususnya dalam bidang kimia
organologam. Kimia organik mengkaji struktur, sifat, komposisi, mekanisme, dan reaksisenyawa
organik. Suatu senyawa organik didefinisikan sebagai segala senyawa yang berdasarkan rantai
karbon.
Kimia fisik mengkaji dasar fisik sistem dan proses kimia, khususnya energitika dan dinamika sistem
dan proses tersebut. Bidang-bidang penting dalam kajian ini di antaranya termodinamika kimia,
kinetika kimia, elektrokimia, mekanika statistika, dan spektroskopi. Kimia fisik memiliki banyak
tumpang tindih dengan fisika molekular. Kimia fisik melibatkan penggunaan kalkulus untuk
menurunkan persamaan, dan biasanya berhubungan dengan kimia kuantum serta kimia teori.
Kimia teori adalah studi kimia melalui penjabaran teori dasar (biasanya dalam matematika atau
fisika). Secara spesifik, penerapan mekanika kuantum dalam kimia disebut kimia kuantum. Sejak
akhir Perang Dunia II, perkembangan komputer telah memfasilitasi pengembangan sistematik kimia
komputasi, yang merupakan seni pengembangan dan penerapan program komputer untuk
menyelesaikan permasalahan kimia. Kimia teori memiliki banyak tumpang tindih (secara teori dan
eksperimen) dengan fisika benda kondensi dan fisika molekular. Kimia nuklir mengkaji bagaimana
partikel subatom bergabung dan membentuk inti. Transmutasi modern adalah bagian terbesar dari
kimia nuklir dan tabel nuklida merupakan hasil sekaligus perangkat untuk bidang ini.
Industri kimia mewakili suatu aktivitas ekonomi yang penting. Pada tahun 2004, produsen bahan
kimia 50 teratas global memiliki penjualan mencapai 587 bilyun dolar AS dengan margin keuntungan
8,1% dan pengeluaran riset dan pengembangan 2,1% dari total penjualan. Namun dalam
perkembangannya kimia dipuja sekaligus dilaknati. Keterbatasan sumber daya alam yang diiringi
peningkatan kebutuhan membutuhkan kimia sebagai altenatif penyesaian masalah. Dari obat-
obatan sampai senjata tetap menjadikan kimia sebagai pusat keilmuannnya. Tapi kimia jugalah yang
menyebabkan segala kerusakan dari mulai pestisida yang melahirkan berbagai penyakit baru
sampai lapisan ozon.
Dalam perkembangannya ilmu kimiadimulai dari mengangkat fenomena alam dalam suatu falsafah,
melakukan eksperimen, pembuktian hasil secara teoritis dan empiris, dan itu terus menerus
38

dilakukan. Sudah seharusnya kimia juga mampu menyelesaikan permasalahan sampai ke akarnya.
Teori dan eksperimen adalah satu sisi yang mampu memecahkan sisi lain seperti lingkungan alam
dan kemanusian. Kimia dan ilmu-ilmu lain tak akan berhenti, dan dalam perkembangannya akan
menimbulkan aspek positif dan aspek negatif. Seorang kimiawan sejati seharusnya membangun
teori dan melakukan eksperimen dengan mempertimbangkan minimalisa/pencegahan terhadap
timbulnya aspek negatif dan memperbesar aspek positif. Green Chemistry yang paling banyak dan
harus dikembangkan saaat ini. Ilmu yang berangkat dari fenomena alam harus dikembalikan
kemashlahatan alam itu sendiri, kebutuhan pada satu sisi tidak harus menghancurkan kebutuhan
lain.
Filsafat ilmu merupakan telaahan secara filsafat yang ingin menjawab beberapa pertanyaan
mengenai hakikat ilmu antar lain “apa” (ontologi), “bagaimana” (epistimolog) dan “untuk apa”
(aksiologi).Maka untuk setiap aspek jawaban tersebut seorang “green chemist” harus mampu
menunjukan kehijauannya. Keilmuan boleh terfokus pada pada satu bidang kimia, tapi bahasa kimia
tidak berhenti pada bahasa reaksi, bahasa struktur teoritis, bahasa ekperimen intrumentasi tapi juga
bahasa ekosistem. Membaca dan menterjemahkan alam boleh berbeda tapi tujuan adalah sama
yaitu untuk kemashlahatan alam itu sendiri.
Materi dengan segala perubahannya dan gelombang beserta seluruh gejalanya adalah bagian dari
instrumen mencapai suau tujuan hakiki yaitu, memahami alam itu sendiri untuk kemudahan dan
kebahagiaan dunia dan akherat. Air, Tanah, Api dan Udara bisa jadi sahabat bisa juga jadi laknat.
Maka mengenali dan memahami sahabat dari hulu ke hilir, dari kaki bumi ke ujung langit, dari kecil
sampai besar dan dari setiap bagiannya maka ia akan tetap menjadi sahabat.
2.2.4 Perkembangan Bernalar dalam Ilmu Hayati/Biologi
Ilmu hayati (biosciences) mencakup semua disiplin ilmu yang mempelajari aspek kehidupan
organisme dan mahluk suborganisme (virus, viroid, dan prion) yangsemula dipelajari sebagai satu
bidang yaitu biologi. Semenjak akhir abad ke-19 hingga sekarang berbagai ilmu telah berkembang
menuju ke arah kekhususan atau menggunakan alat-alat dari cabang utama ilmu pengetahuan
lainnya sehingga menjadi disiplin yang cukup berbeda, sehingga saat ini, ilmu-ilmu hayati berjumlah
ratusan (Wikipedia,2010).
2.2.4.1 Awal Perkembangan Ilmu Hayati
Biologi semula merupakan bagian dari ilmu pengetahuan alam (natural sciences) yang dipelajari
oleh para naturalis (ahli ilmu-ilmu alamiah). Biologi sebagai ilmu yang mandiri, dalam arti memiliki
39

perangkat analisis dan konsep-konsep ilmiah yang kokoh, baru terbentuk pada abad ke-18, setelah
penemuan mikroskop dan tumbangnya dogma generatio spontanea oleh konsep omne vivum ex
vivo. Konsep evolusi, pewarisan sifat (hereditas), dan penemuan DNA sebagai bahan genetik
memacu perkembangan biologi secara pesat.
2.2.4.2 Perkembangan Ilmu hayati abad ke-20
Meskipun pada abad ke dua puluh usaha-usaha ilmiah dalam bidang biologi lebih kecil daripada
fisika (Bernald 1981:867), tetapi penemuan-penemuannya jauh lebih penting, tidak hanya karena
berpengaruh terhadap kehidupan manusia dengan ditemukannya pengobatan baru dan nutrisi
tetapi juga dalam hal pengetahuan kita tentang kehidupan alam. Situasi biologi abad ke–20 analog
dengan situasi kimia pada abad ke–19. Di bawah kenaikan permintaan industri terutama industri
tekstil,kimia berubah dari ringkasan resep tradisional, dan teori flogiston yang berbau mistik ke
disiplin praktis kuantitatif yang didukung oleh paduan teori matematika atomik. Akibatnya aktivitas
kimia ini berpengaruh terhadap lingkungan hidup. Sehingga dari pengalaman ini masalah lingkungan
hidup dianggap sebagai masalah utama sains baik dalam teori maupun praktek. Akibat menyebarnya
pertumbuhan imperialisme, industri baru yang dihubungkan dengan agrikultur, makanan dan obat-
obatan berkembang. Hal inilah yang mendorong perkembangan biologi abad ke-20.
Karena biologi diperlukan untuk kontrol efisiensi tindakan yang dapat direproduksi dari proses dan
produk biologis, biokimia jauh lebih aplikatif terhadap masalah biologi daripada kimia. Biokimia
berkembang menjadi disiplin ilmu tersendiri bukan hanya karena ruang lingkup pelaksanaannya
berbeda, tetapi juga karena perbedaan metode kerjanya. Objek kajiannya tidak hanya untuk
memeriksa struktur molekul yang ditemukan dalam struktur hidup tetapi juga termasuk seluruh
bentuk reaksi baik reaksi pemisahan maupun reaksi penggabungan. Untuk tujuan ini
dikembangkanlah sejumlah besar metode berbeda untuk mempelajari seluruh organisme atau
seluruh organ baik utuh atau yang sudah diurai. Dalam kenyataannya dilibatkan metode-metode
pengukuran yang diperbaiki terus, metode fisika, metode kimia seperti berbagai teknik pemisahan
molekul dan metode biologi murni seperti genetika dan analisis imunologis.
Adapun perkembangan biologi pada abad ke-20 menurut Nuraeni (2010) meliputi:
1. Biologi Sel dan embriologi
2. Mikrobiologi
3. Genetika dan Hereditas
40

4. Teori Evolusi
5. Bioteknologi
Bioteknologi sebenarnya bukan hal yang baru, meskipun telah mendapat perhatian yang jauh lebih
besar pada masa-masa sekarang. Menurut para ahli purbakala, industri bioteknologi di Inggris
dikenal sejak 400 tahun SM sampai akhir zaman neolitik ketika proses fermentasi yang
memanfaatkan sel ragi untuk menghasilkan bir dan minuman keras pertama kali diperkenalkan.
Selanjutnya sejak Gregor Mendel merumuskan aturan-aturan yang menerangkan pewarisan sifat-
sifat biologi (gen) yang menandai lahirnya genetika lebih dari seabad lalu, ilmu pengetahuan yang
baru ini berkembang sangat pesat. Diawali oleh W. Sutton dan TH Morgan secara eksperimental
mengembangkan teknik pemetaan gen dan menghasilkan analisis menyeluruh mengenai posisi
relative lebih dari 2000 gen. Selanjutnya pada tahun 1944 oleh Avery, Mac Leod dan McCarthy serta
Hershey dan Chase tahun 1952 melakukan eksperimen-eksperimen yang menghasilkan DNA sebagai
material genetik. Dalam waktu empat belas tahun antara 1952 sampai 1966 struktur DNA telah
diketahui, kode genetik dipecahkan, serta proses-proses transkripsi dan translasi dapat dijabarkan.
Kemudian tahun 1971-1973 disebut sebagai revolusi dalam biologi modern dengan ditemukannya
metode yang dikenal sebagai teknologi DNA rekombinan atau rekayasa genetik. Inti dari proses
rekayasa genetik ini adalah kloning gen dan menjadi sangat penting karena member kunci dalam
memecahkan kode kehidupan. Melalui rekayasa genetik, para ilmuwan dan peneliti akan terbiasa
mengutak atik sebuah gen kemudian dikembangkan lebih jauh di dalam media (tanaman dan
hewan) untuk menghasilkan suatu hasil penelitian umat manusia.
Dalam perkembangannza, ilmu genetika kemudian digabungkan dengan berbagai disiplin ilmu
seperti mikrobiologi, biokimia, teknik kimia dan proses rekayasa menjadi satu hingga melahirkan
ilmu pengetahuan yang sangat beraneka ragam dan dikenal sebagai bioteknologi. Dua dasawarsa
terakhir abad 20 lalu berbagai kemajuan pesat biologi telah membawa dunia menuju kemajuan yang
sangat berarti di bidang bioteknologi di abad 21. Hal inilah yang disebut-sebut sebagai kelahiran
zaman kebesaran bioteknologi di milenium ketiga saat sekarang ini.
Manipulasi genetik pada hewan telah mencapai babak baru perkembangannya. Pada tahun 1988 di
sebuah lahan pertanian di Wheelock, Texas, USA, tujuh ekor sapi jantan keturunan murni yang
identik secara genetis dihasilkan dari embrio buatan manusia. Embrio tiruan (yang disalin secara
identik) dari sapi jantan pilihan dapat membuahi dan menyebabkan kebuntingan pada sapi betina.
Secara teoritis, ribuan hewan yang identik dapat dihasilkan melalui kloning yaitu suatu teknik untuk
41

menghasilkan duplikat suatu organism yang identik secara genetik dengan menggantikan inti dari
ovum yang belum dibuahi dengan inti sel tubuh organisme yang bersangkutan (Yudi,2009).
2.2.4.3 Arah Perkembangan Ilmu Hayati Pada Masa Depan
Naisbitt & Aburdene (1990) telah meramalkan akan terjadi pergeseran kecenderungan pada abad
XXI, sebagai abad biologi yang menggantikan abad fisika. Pada abad ini biologi berkembang dari dari
biofungsi, bioperkembangan, biolingkungan, bioteknologi, biomanajmen, hingga bioetika
(Rustaman, 2002).
Di era abad 21 bioteknologi seperti perkiraan sebelumnya akan sama pentingnya dengan komputer.
Bioteknologi menjadi booming, setidaknya arah pertama bioteknologi yang sudah banyak
dikembangkan adalah dalam bidang pertanian dan peternakan, industri makanan, sampai pada
industry pakaian dan kesehatan. Perusahaan-perusahaan bioteknologi saat ini berpacu dengan
penemuan obat baru dan pengembangan obat mencapai lebih dari 300 produk obat dan 200 vaksin
penyakit di dunia diantaranya kanker, Alzheimer, penyakit jantung, AIDS, arthritis dan berbagai
penyakit infeksi di negara berkembang.
Perkembangan bioteknologi lain yang dewasa ini mengalami kemajuan pesat adalah manipulasi
genetik pada tanaman dan hewan. Melalui rekayasa genetik dapat menghasilkan tanaman
transgenik dan member suatu terobosan untuk mengembangkan tanaman yang mempunyai kualitas
super dan mampu berproduksi banyak dan mempunyai daya tahan terhadap penyakit baik yang
disebabkan oleh virus, parasit, herbisida serta mempunyai ketahanan terhadap penyimpanan
pascapanen.
Berbagai jenis produk pertanaian transgeni mewakili perkembangan bioteknologi di bidang
pertanian antara lain kapas Bt, kedelai Bt, padi pro vitamin A, jagung Bt (Attribute ™ Bt-sweetcorn),
kacang tanah Bt (High Oleic Peanut), dan lain sebagainya. Tak ketinggalan pula industri makanan
telah mengembangkan produk-produk yang dibuat atas dasar bioteknologi.
Namun demikian perkembangan bioteknologi yang begitu pesat bukan tanpa tantangan. Pengujian
lapangan rekayasa genetik terhadap organisme yang direkayasa telah menimbulkan kritikan-kritikan
dari berbagai golongan masyarakat, pencinta lingkungan, aktivis hak hewan, petani, kaum
cendekiawan, agamawan sehingga muncul berbagai pertanyaan yang mereka khawatirkan; apakah
etis untuk memanipulasi alam? Apakah binatang boleh diperlakukan sewenang-wenang? Apakah
dengan rekayasa genetik tidak melangkahi kodrat alam (kekuasaan Tuhan)? Apakah industri farmasi
dan pertanian melakukannya hanya untuk mendapat keuntungan bisnis semata? Secara umum
42

apakah implikasi etis, legal, dan sosial dari bioteknologi? Para pencinta lingkungan khawatir bahaya
teknologi akan mengubah alam itu sendiri. Kaum agamawan berpendapat bahwa apa yang
dilakukan para ilmuwan itu menyalahi kodrat alam dan kekuasaan Tuhan.
Beredarnya berbagai macam produk transgenic sekarang ini membuat konsumen tidak mau
menerima begitu saja. Konsumen harus lebih waspada terhadap kemungkinan dampak yang
ditimbulkan oleh produk bioteknologi hasil rekayasa genetik, seperti efek bagi kesehatan,
kelestarian lingkungan, dan lain-lain sehingga peranan pemerintah di dalam regulasi produk-produk
transgenik menjadi sangat penting. Namun demikian, masalah etika yang berkaitan dengan
kemungkinan hasil penelitian harus dipertimbangkan walaupun banyak eksperimen yang berguna
dapat diciptakan, tetapi penggunaannya yang lebih meragukan untuk masa datang juga masih dalam
pertimbangan. Rekayasa genetik melalui kloning merupakan alat yang ampuh sebagai salah satu
terobosan yang selama ini dicari-cari para ahli di dunia, tetapi harus digunakan secara bijaksana.
Kontroversi kehadiran rekayasa genetik sebagai hasil kemajuan teknologi merupakan satu hal yang
harus dijadikan sebagai asumsi adalah bahwa teknologi khususnya bioteknologi tidak bersifat jahat
tetapi selalu netral. Hal inilah yang memunculkan pemikiran tentang pentingnya bioetika.
Bagaimanapun ilmu pengetahuan dan teknologi termasuk produk bioteknologi akan sia-sia apabila
digunakan untuk tujuan yang kurang bijaksana. Tetapi dengan pemanfaatan kemajuan bioteknologi
secara benar, tepat akan memberikan manfaat yang besar bagi kehidupan manusia di muka bumi
serta kelestarian alam sekelilingnya.
2.2.5 Perkembangan Bernalar di Astronomi
Astronomi merupakan ilmu yang mempelajari tentang berbagai benda langit seperti bintang-bintang
dan planet-planet serta kejadian yang terjadi di luar atmosfer bumi seperti supernova atau ledakan
bintang. Astronomi tumbuh secara alami ketika umat manusia mulai belajar tentang musim, waktu
dan penanggalan. Pada awal pertumbuhannya, seperti juga ilmu kimia, ilmu astronomi sangat
dipengaruhi oleh kegiatan mistis. Karena langit dapat dilihat dari seluruh penjuru dunia, ilmu
astronomi berkembang dari berbagai kebudayaan manusia, mulai dari bangsa Maya di Amerika,
bangsa Cina dan India di Asia, bangsa Mesir di Afrika sampai bangsa Yunani di Eropa. Namun, bangsa
pertama yang mengembangkan astronomi secara sistematis dan logis adalah bangsa Yunani.
Pada sekitar abad ke-7 sebelum Masehi, pandangan bangsa Yunani secara umum tentang alam
semesta adalah suatu tempat yang memenuhi hukum-hukum universal dan hukum-hukum alam.
Salah satu pemikiran yang muncul pada masa ini adalah Paradigma Pythagoras:
43

1. Planet-planet, matahari, bintang dan bulan memiliki orbit lingkaran sempurna
2. Kecepatan planet-planet, matahari, bintang dan bulan pada orbit lingkarannya selalu tetap
3. Bumi adalah pusat alam semesta
Poin ketiga dari paradigma tersebut merupakan kesimpulan dari pemikiran bahwa langit yang
terlihat di atas adalah surga sehingga bumi bukan bagian dari surga, surga selalu terlihat sama
karena bintang-bintang terlihat sama setiap malamnya, selain itu bintang-bintang tersebut hanyalah
berupa cahaya sementara bumi merupakan benda padat yang tidak hanya dapat dilihat tetapi juga
dipegang dan dirasakan.
Bertentangan dengan kesimpulan itu, Plato berpikir bahwa banyak sekali teori yang dapat
dikembangkan dari pengamatan sehingga dia menyimpulkan bahwa tidak mungkin kita mengetahui
seperti apa alam semesta itu sebenarnya. Karena itu, dia mengatakan sebaiknya kita mengikuti
pandangan seorang instrumentalis: bahwa ilmu-ilmu alam dan hukumnya hanyalah alat bantu
hitung dan tidak untuk diinterpretasikan menjadi kenyataan. Setiap hukum yang kita buat dapat
dibantah di masa depan tetapi juga dapat bekerja dengan baik untuk menjelaskan beberapa
kejadian nyata. Hal tersebut pernah dinyatakan juga oleh Socrates, bahwa kita tidak akan mengerti
sepenuhnya tentang segala sesuatu yang ada di alam semesta, oleh karena itu proses dalam
mencari pengertian suatu kejadian menjadi lebih penting daripada mendapatkan jawaban yang
sebenarnya.
Beberapa contoh tentang teori yang dibantah beberapa abad ke depan adalah pendapat tentang
bumi sebagai pusat alam semesta. Pendapat tentang bumi yang berbentuk lempengan besar juga
merupakan teori yang dibantah beberapa abad kemudian. Hal yang menarik terjadi di luar
penemuan itu, yaitu dihukum matinya dua pencetus ide yang ternyata dianggap benar di kemudian
hari oleh badan agama karena dianggap bertentangan dengan dogma yang diajarkan. Galileo,
sebagai salah satu penentang gereja yang frontal merupakan salah satu yang dihukum mati. Galileo
menyimpulkan bahwa matahari sebagai pusat dan bumi berputar mengelilinginya tidak hanya
sekedar alat tetapi kenyataan. Apa yang Galileo simpulkan dari pengamatannya dianggap terlalu
jauh jika kita lihat dari kacamata instrumentalisme Plato. Kesimpulan dari pengamatan tidak bisa
dibuktikan benar, tetapi dapat dibantah. Kesimpulan dari pengamatan yang selalu benar setelah
dites berulang kali hanyalah kesimpulan yang konsisten dengan data yang ada.
Dapat kita lihat bahwa Galileo mendapatkan idenya tidak hanya dari pemikiran dan logika saja
melainkan juga dari percobaan atau pengamatan. Perumusan ide yang melibatkan pengamatan
44

merupakan suatu revolusi dalam perkembangan ilmu alam. Pengalaman dari pengamatan menjadi
kunci pada penemuan hukum-hukum alam berikutnya. Pengamatan alam yang objektif merupakan
hal yang paling penting dalam ilmu alam. Perlawanan Galileo terhadap Gereja bukan perang antara
ilmu alam dan agama tetapi lebih merupakan pertentangan besar antara perbedaan pandangan
untuk mempelajari Tuhan, pengetahuan dan dunia. Galileo berdebat untuk memperbaiki pandangan
Gereja tentang cara kerja Tuhan kepada dunia fisik sehingga apa yang diajarkan Gereja dapat
diterima masyarakat yang lebih luas. Karena itulah, Galileo menulis rincian debatnya dalam bahasa
Itali, bukan bahasa Latin yang pada masa tersebut merupakan bahasa kaum terpelajar.
Astronomi sebagai ilmu alam merupakan ilmu yang paling dekat metode penelitiannya dengan
instrumentalisme yang dikembangkan Plato. Karena astronomi mempelajari benda-benda yang ada
di langit, sangat kecil kemungkinan untuk mempelajari secara langsung apa yang terjadi sebenarnya
di luar sana. Karena itu, metode yang digunakan oleh Galileo merupakan dasar dari ilmu astronomi.
2.2.6 Perkembangan Bernalar di Ilmu-ilmu Sosial
2.2.6.1 Bernalar di Ilmu Sosial Menurut Hegel
Georg Wilhelm Friedrich Hegel (lahir 27 Agustus 1770 – meninggal 14 November 1831 pada umur
61 tahun) adalah seorang filsuf idealis Jerman yang lahir di Stuttgart, Württemberg, kini di Jerman
barat daya. Pengaruhnya sangat luas terhadap para penulis dari berbagai posisi, termasuk para
pengagumnya (F. H. Bradley, Sartre, Hans Küng, Bruno Bauer, Max Stirner, Karl Marx), dan mereka
yang menentangnya (Kierkegaard, Schopenhauer, Nietzsche, Heidegger, Schelling). Hegel
merupakan filsuf yang pertama kali memperkenalkan gagasan bahwa sejarah dan hal yang konkret
adalah penting untuk bisa keluar dari lingkaran philosophia perennis, yakni, masalah-masalah abadi
dalam filsafat. Ia juga menekankan pentingnya Yang Lain dalam proses pencapaian kesadaran diri.
Di tahun 1821, ketika berada Berlin, Hegel mempublikasikan karya utamanya dalam bidang filsafat
politik, Elements of the Philosophy of Right, berdasarkan materi kuliah yang ia berikan di Heidelberg.
Namun akhirnya nampak begitu jelas, dasar argumentasi dalam karya ini berasal dari objective spirit
karya Encyclopaedia Philosophy of Spirit. Selepas 10 tahun menetap di Berlin, hingga meninggal
pada 14 November 1831, manuskrip berikutnya dari karya Encyclopaedia, diterbitkan. Selepas
kematiannya, kumpulan materi kuliah Hegel tentang philosophy of history, philosophy of religion,
aesthetics, dan history of philosophy, juga turut dipublikasikan.
Hegel dikenal sebagai filsuf yang menggunakan dialektika sebagai metode berfilsafat. Dialektika
menurut Hegel adalah dua hal yang dipertentangkan lalu didamaikan, atau biasa dikenal dengan
45

tesis (pengiyaan), antitesis (pengingkaran) dan sintesis (kesatuan kontradiksi). Tesis merupakan
perwujudan atas pandangan tertentu,antitesis menempatkan dirinya sebagai opisisi, serta sintesis
merupakan hasil rekonsiliasi atas pertentangan sebelumnya yang kemudian akan menjadi sebuah
tesis baru. Dan begitu seterusnya. Sehingga ketiganya merupakan pertentangan yang kelak menjadi
kesatuan utuh dalam realitas.
Sebagai sebuah analogi sederhana ada ’telur’ sebagai thesis, yang kemudian muncul ’ayam’ sebagai
sebuah sinthesis, yang antithesisnya ’bukan-telur’. Dalam dilektika ini, bukan berarti ’ayam’ telah
menghancurkan ’telur’ namun dalam hal ini sebenarnya ’telur’ telah melampaui dirinya sehingga
menjadi ’ayam’ dengan sebuah proses, yang kemudian akan kembali menjadi telur, dan terus seperti
itu. Sehingga dialektika merupakan proses pergerakan yang dinamis menuju perubahan.
Di dalam Philosophy of History, Hegel mencoba membuat suatu metode sejarah menjadi 3 seperti
yang dijabarkan dalam uraian berikut.
1. Sejarah Asli. Metode ini memiliki warna yang khas, yang perajalanannya berkisar pada
perbuatan, peristiwa, dan keadaan. Fase ini diawali dengan kemunculan filsuf era Yunani
kuno, yakni; Herodotus, Thucydides, Xenophone, dll.
2. Sejarah Reflektif, merupakan sejarah yang cara penyajiannya tidak dibatasi oleh waktu yang
berhubungan, melainkan yang ruhnya melampaui batas;
3. Sejarah Filsafati.
Hegel menyatakan bahwa sejarah merupakan konsepsi sederhana Rasio. Hegel pun
mengungkapkan bahwa “Semua yang real bersifat rasional dan semua yang rasional bersifat real”.
Pernyataan ini cukup beralasan karena Hegel memulai pandangan metafisiknya dari rasio. “Ide yang
bisa dimengerti” itu setali tiga uang dengan “kenyataan”. Selalu mengalami proses dialektika.
Namun, perlu diuraikan, bahwa rasio disini bukan bermakna rasio manusia perseorangan,
sebagaimana mengemuka dalam pandangan kita selama ini, melainkan rasio subyek absolute yang
menerima kesetaraan ideal seluruh realitas dengan subyek. Kesetaraan antara “rasio” atau “ide”
dengan “realitas” atau “ada”. Dan realitas utuh, sebagaimana dikehendaki Hegel, adalah proses
pemikiran (idea) yang terus menerus memikirkan, dan sadar akan dirinya sendiri.
Apa yang benar, bagi Hegel adalah perubahan itu sendiri. Oleh karena itu, konsep filsafatnya
menjadi amat relatif dan bersifat historis. Mulai dari sinilah lalu istilah “sejarah” begitu populer
dalam filsafat Hegel. Hegel percaya bahwa sejarah adalah kepastian absolute yang akan diperoleh
dengan mengkompromikan perbedaan-perbedaan ke dalam satu sistem integral yang dapat
46

mewadahi segala-galanya. Hegel ingin meleburkan berbagai perbedaan dalam sistem metafisiknya
ke dalam satu sintesis universal, yakni Aufhebung. Aufhebung ini dapat berupa apa saja: Negara,
Masyarakat, Pasar, atau institusi apa pun yang merupakan kompromi dari perbedaan-perbedaan.
Hegel membayangkan adanya suatu sistem yang secara metafisik dapat memayungi segala anasir
yang berbeda dan merangkulnya menjadi satu. Penalaran dialektis Hegel ini melihat perbedaan
sebagai ancaman yang harus ditanggulangi dengan mengintegrasikannya ke dalam suatu pola yang
koheren dan stabil. Dalam pandangan Hegel, kemungkinan-kemungkinan direpresi sedemikian rupa
dengan menyajikan gambaran yang sepenuhnya pasti tentang masa depan. Hegel sendiri
memandang filsafat dan metafisika haruslah memberi kepastian kepada manusia modern. Kepastian
ini diperlukan agar mereka dapat melangkah menuju masa depan dengan langkah yang tepat dan
terukur.
Pusat filsafat sejarah Hegel ialah konsep Geist, bermakna “roh” atau “spirit”. Roh dalam pandangan
Hegel adalah sesuatu yang real, konkret, kekuatan yang obyektif, menjelma dalam berbagai bentuk
sebagai world of spirit (dunia roh), dan yang terdapat pada obyek-obyek khusus. Dalam kesadaran
diri, roh itu merupakan esensi manusia dan esensi sejarah manusia. Perkembangan Roh bisa
dipetakan menjadi tiga, pertama, roh subyektif, menjelaskan bahwa setiap orang masih bertaut erat
dengan alam. Pada masa ini, roh mulai bergeser dari “berada-di-luar-dirinya” menuju “berada-bagi-
dirinya”. Namun, karena ia belum benar-benar berpindah “bagi-dirinya”, karenanya ia tidak dapat
ditukar dengan yang lain. Maksudnya, manusia masih sebagai bagian dari alam karena ia hanya
menampakkan drinya sebagian, belum sepenuhnya.
Kedua, roh obyektif, menjelaskan bahwa bentuk-bentuk alamiah yang terkandung dalam roh
subyektif diperluas, atau lebih tepatnya direalisasikan, ke dalam wilayah yang lebih konkret.
Kehendak rasional yang tadinya besifat individual dibahasakan secara obyektif ke dalam bentuk
yang lebih universal. Karena sebab inilah, roh obyektif lebih dominan mengandung unsur-unsur
etika, misalnya kesusilaan, moralitas, dan hukum. Unsur-unsur etika dari roh obyektif tadi semakin
menemukan tempatnya ketika terjadi pertemuan roh subyektif menuju tingkat yang lebih dewasa
dalam keluarga, masyarakat, dan Negara, serta tentu saja sejarah; tempat ketiganya berkembang
sebagai proses pertemuan antara idealitas dan realitas.
2.2.6.2 Ekonomi dalam Sudut Pandang Karl Marx
Secara spesifik Karl Marx memiliki pandangan bahwa upah adalah sebagian dari barang-barang
dagangan yang telah ada, dengan mana si kapitalis membeli untuk dirinya sendiri sejumlah tertentu
tenaga kerja yang produktif. Oleh karena itu upah adalah jumlah uang yang dibayar oleh kapitalis
47

untuk waktu kerja yang tertentu atau untuk hasil kerja tertentu. Sehingga si kapitalis tampaknya
membeli kerja mereka dengan uang. Mereka menjual kerjanya kepada kapitalis untuk uang. Tapi ini
hanya nampaknya saja. Dalam kenyataannya apa yang mereka jual kepada si kapitalis untuk uang
adalah tenagakerja mereka. Kapitalis membeli tenaga kerja ini untuk sehari, seminggu, sebulan dst.
Dengan kata lain upah adalah harga suatu barang-dagangan tertentu, yaitu tenaga kerja. Dan upah
ditentukan oleh hukum-hukum yang sama dengan yang menentukan harga setiap barang dagangan
lainnya. Maka masalahnya ialah, bagaimana harga suatu barang-dagangan ditentukan?
Harga suatu barang-dagangan ditentukan oleh persaingan antara pembeli dan penjual, oleh
hubungan permintaan dengan persediaan, tuntutan dengan penawaran. Turun naiknya harga
ditentukan oleh hubungan yang berubah-ubah dari penawaran dan permintaan. Jika harga suatu
barang dagangan naik banyak karena penawaran tidak cukup atau karena permintaan bertambah
dengan tidak sepadan, maka harga salah suatu barang-dagangan lain harus turun secara sebanding,
sebab harga barang-dagangan hanya menyatakan dalam uang perbandingan pertukaran barang-
dagangan lain dengan barang dagangan itu.
Para ahli ekonomi mengatakan bahwa harga rata-rata barang dagangan-barang dagangan sama
dengan biaya produksi; bahwa ini adalah hukum. Biaya produksi terdiri dari 1) bahan-bahan mentah
dan penyusutan-harga perkakas-perkakas, yaitu, terdiri dari barang hasil-barang hasil industri yang
pembuatannya telah makan sejumlah hari kerja tertentu dan yang karena itu, mewakili sejumlah
waktu kerja tertentu, dan 2) dari kerja langsung, yang ukurannya justru waktu.
Hukum-hukum umum yang sama yang mengatur harga barang dagangan-barang dagangan pada
umumnya, sudah tentu mengatur juga upah, harga kerja.
Upah akan naik dan turun sesuai dengan hubungan penawaran dan permintaan. Turun-naiknya
upah pada umumnya bersesuaian dengan turun-naiknya harga-harga barang-dagangan yang
ditentukan oleh biaya produksi tenagakerja. Biaya produksi tenagakerja. adalah biaya yang
diperlukan untuk memelihara buruh sebagai seorang buruh dan memajukannya menjadi seorang
buruh. Oleh sebab itu, biaya produksi tenaga kerja yang sederhana, adalah sebesar biaya hidup dan
reproduksi dari buruh. Harga biaya hidup dan reproduksi ini membentuk upah. Upah yang
ditentukan demikian ini dinamakan upah minimum. Upah minimum ini tidak berlaku bagi orang
seorang sendiri-sendiri, tetapi bagi seluruh jenisnya. Buruh seorang-seorang, jutaan buruh, tidak
mendapat cukup untuk dapat hidup dan membiakkan diri; tetapiupah segenap klas buruh, di dalam
turun-naiknya, menyamaratakan diri ke taraf minimum ini.
48

Mengenai kapital, Karl Marx berpendapat bahwa kapital terdiri dari segala macam bahan-bahan
mentah, perkakas-perkakas kerja dan bahan-bahan keperluan hidup yang digunakan untuk
menghasilkan bahan mentah yang baru, perkakas kerja baru dan bahan-bahan keperluan hidup yang
baru. Semua bagian susunan dari kapital ini adalah ciptaan kerja, barang hasil-barang hasil kerja,
kerja yang telah diakumulasi. Kerja yang telah diakumulasi yang menjadi alat untuk produksi baru
adalah kapital.
Kapital adalah juga suatu hubungan produksi sosial yang merupakan suatu hubungan produksi
darimasyarakat borjuis. Oleh karena itu, kapital tidak hanya jumlah dari barang hasil material; ia
adalah jumlah dari barang dagangan-barang dagangan, dari nilai-nilai tukar, dari besaran-besaran
sosial.
Kapital tetap sama, meskipun wol diganti dengan kapas, gandum dengan beras atau kereta-api
dengan kapal-uap, asal saja tubuh kapital yaitu kapas, beras, kapal-uap, mempunyai nilai-tukar yang
sama, harga yang sama dengan wol, gandum, kereta-api, yang tadinya menjelmakan kapital itu.
Tubuh kapital dapat berubah terus-menerus sedangkan kapital itu tidak mengalami perubahan
sedikitpun.
Kapital hanya dapat bertambah dengan menukarkan dirinya dengan tenagakerja, dengan
menghidupkan kerja-upahan. Tenaga kerja buruh-upahan hanya dapat ditukar dengan kapital
dengan jalan menambah kapital, dengan memperkokoh kekuasaan yang memperbudak dia.
Karenanya, bertambahnya kapital adalahbertambahnya proletariat, yaitu bertambahnya klas buruh.
Oleh karena itu, syarat perlu untuk keadaan buruh yang agak baik ialah pertumbuhan kapital
produktif yang secepat-cepatnya. Pertumbuhan kapital produktif adalah pertumbuhan kekuasaan
kerja yang telah diakumulasi atas kerja hidup. Pertumbuhan penguasaan borjuasi atas kelas buruh.
Mengatakan bahwa kepentingan kapital dan kepentingan buruh adalah satu dan sama, hanya
berarti mengatakan bahwa kapital dan kerja-upahan adalah dua segi dari hubungan yang satu dan
sama. Yang satu mensyaratkan yang lain tepat sebagaimana lintah-darat dan pemboros saling
mensyaratkan satu sama lain.
Maka, apakah hukum umum yang menentukan naik-turunnya upah dan laba dalam hubungan
timbal-baliknya? Upah dan laba berbanding balik satu sama lain. Andil kapital, laba, naik dalam
perbandingan yang sama dengan turunnya andil kerja, upah, dan sebaliknya. Laba naik sebanyak
turunnya upah; laba turun sebanyak naiknya upah. Karena itu, tampaklah bahwa sekalipun kita
tetap di dalam hubungan kapital dengan kerja-upahan, kepentingan kapital dan kepentingan kerja-
49

upahan secara langsung bertentangan. Bahkan keadaan yang paling menguntungkan pun bagi klas
buruh, pertumbuhan secepat-cepatnya dari kapital, biar bagaimana pun juga keadaan itu dapat
memperbaiki kehidupan material buruh, ia tidak menghilangkan antagonisme antara kepentingan
buruh dengan kepentingan borjuasi, kepentingan kaum kapitalis. Laba dan upah tetap berbanding
balik sebagai sediakala.
2.3 Revitalisasi dan Sustainabilitas sains dasar
Perkembangan sains dasar di Indonesia sangat terbatas, terutama secara materi. Hal ini bisa
disebabkan oleh karen penelitian sains dasar bagi pemerintah tidak menjadi prioritas utama
sehingga sokongan dari pemerintah tidak terlalu kuat. Selain itu, orang-orang yang terlibat langsung
dan yang terjun langsung pada sains dasar itu sendiri yang terkadang mengeksklusifkan diri sehingga
bahasa yang dipakai di sains dasar kurang bias dipahami oleh orang-orang di luar bidang tersebut.
Penguatan mengenai sains dasar baik ke dalam maupun keluar dan juga keberlangsungannya
menjadi sangat penting. Berikut adalah pandangan dari penulis mengenai beberapa hal yang dapat
dikembangkan untuk tujuan tersebut.
2.3.1 Revitalisasi sains dasar
Revitalisasi sains dasar adalah upaya penguatan sains dasar dengan melihat bagian mana dan
dengan cara seperti apa sains dasar harus tumbuh semakin kuat. Beberapa hal yang perlu dikuatkan
pada sains dasar di Indonesia diuraikan dalam subbab-subbab berikut.
2.3.1.1 Pemahaman sains dasar pada Masyarakat Umum
Sudah menjadi kebiasaan yang melekat pada masyarakat bahwa sains dasar adalah subjek yang sulit
dipahami. Secara kolektif, pendapat ini diterapkan bahkan sejak anak-anak duduk di sekolah dasar.
Salah satu penyebab utama adalah masalah bahasa dan penyampaian. Beberapa pengajar tidak
mengemas apa yang diajarkannya menarik atau bahkan sengaja dibuat membosankan. Beberapa
formula yang diajarkan hanya menjadi hafalan tanpa dimengerti dan dipahami dengan baik dari
mana dan bagaimana menggunakannya dan tanpa melalui penalaran yang lengkap. Salah satu
akibat lain dari penghafalan hukum-hukum sains dasar adalah kekurangmampuan kita untuk
memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.
Beberapa hal yang bisa dilaksanakan untuk menghindari hal tersebut adalah membuat bahasa yang
lebih dimengerti dan lebih aplikatif pada kehidupan sehari-hari. Contoh yang sederhana adalah
menjelaskan limit deret takhingga dengan cerita paradoks Zeno atau menggunakan integral lipat
dua untuk menghitung luas bukit.Contoh-contoh kecil tersebut dapat dikembangakn lebih jauh dan
50

lebih sederhana sehingga sains dasar mudah dipahami dan si pemaham dapat menggunakan cara
penalaran sains dasar untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Salah satu pepatah yang
baik tentang pembahasan ini adala, “Seorang ilmuwan baru bisa dikatakan memahami dengan baik
bidang keilmuannya jika dia bisa menjelaskan dan membuat mengerti orang yang pertama dia temui
di pinggir jalan.”
2.3.1.2 Produk sains dasar yang Bisa Memberikan Dampak Luas
Kelemahan banyak penelitian dari sains dasar adalah hasil dari penelitian tersebut tidak atau sulit
untuk dilempar ke masyarakat yang lebih luas, baik masih dalam satu bidang ilmu, atau di luar
bidang ilmu. Padahal seharusnya sains dasar memberikan kemampuan dan keterampilan bagi orang-
orang yang mempelajarinya sehingga produktif menghasilkan karya dan komoditas yang terserap
pasar.
Pasar dalam hal ini bisa berarti bidang ilmu terkait ataupun industri. Yang dimaksud dengan bidang
ilmu terkait adalah hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi bidang ilmu lain,
misalnya sifat-sifat matriks dalam aljabar linier dapat memberikan kontribusi padabidang statistika.
Untuk pasar industri, sudah jelas artinya bahwa penelitian-penelitian sains dasar diharapkan dapat
menyokong industri yang sudah ada atau pun memberikan peluang dibukanya industri baru.
2.3.1.3 Peningkatan Kemampuan Lulusan sains dasar
Sarjana sains dasar haruslah mampu melakukan penelitian baik di bidang teori, terapan maupun
menguatkan industri. Sebagai akibat langsung dari ini sarjana sains dasar mampu menulis karya
ilmiah untuk dipublikasikan. Karya ilmiah ini adalah salah satu faktor yang dapat menjaga
keberlangsungan penelitian-penelitian sains dasar. Pemberian kuliah yang merata antara teori sains
dasar dan terapannya menjadi sangat penting untuk menguatkan faktor ini.
2.3.1.4 Penghiliran sains dasar
Sains dasar adalah ilmu mentah yang harus diolah sehingga dapat digunakan dengan baik pada
kehidupan sehari-hari. Sudah menjadi keharusan bahwa orang-orang yang bekerja di bidang sains
dasar memiliki kemampuan yang lebih cepat untuk beradaptasi dengan bidang-bidang lain yang
merupakan turunan dari sains dasar (lihat pertumbuhan ilmu pengetahuan di bab 3). Sifat sains
dasar ini seharusnya memberikan peluang yang sangat luas agar sains dasar berkembang secara
pesat. Tetapi terkadang jembatan antara sains dasar dan ilmu-ilmu turunannya tidak terbangun
secara baik. Penelitian-penelitian bersama antara kedua kelompok ilmu ini sangat penting untuk
51

dilaksanakan. Contoh penelitian bersama yang sudah dilakukan adalah penelitian penyebaran
penyakit HIV/AIDS yang dilakukan oleh Matematika ITB dan Kedokteran UI.
Selain penelitian bersama, pemberian kesempatan bagi para mahasiswa sains dasar untuk mengikuti
kuliah di luar bidangnya merupakan salah satu langkah yang baik. Dengan langkah ini, para
mahasiswa memiliki kesempatan melebarkan pemahaman yang didapat dari sains dasar dan juga
kesempatan untuk dapat menerapkan langsung pemahaman sains dasarnya pada ilmu-ilmu
turunannya. Dengan memperhatikan faktor-faktor di atas, diharapkan revitalisasi sains dasar dapat
diupayakan dengan baik sehingga tidak hanya orang-orang yang bekerja di sains dasar yang
mendapatkan keuntungan, tetapi juga pemerintah, pengusaha dan masyarakat secara umum.
2.3.2 Sustainabilitas sains dasar
Seperti yang telah kita ketahui, pertanyaan yang seringkali sulit dijawab mengenai suatu penelitian
sains dasar adalah untuk apa hasil dari penelitian ini. Banyak dari penelitian sains dasar tidak
memiliki terapan langsung pada bidang ilmu lain. Hal ini memang masih menjadi salah satu faktor
pengganjal untuk memajukan penelitian sains dasar. Pemberian dana penelitian yang minim adalah
akibat langsung dari ketidakpraktisan penelitian-penelitian sains dasar. Karena itu, harus dilakukan
perluasan bidang dan cakupan penelitian yangdilakukan di bidang sains dasar.
Sustainabilitas adalah kemampuan sains dasar menghasilkan karya yang dapat
ditransaksikan/dipasarkan, sehingga dari apresiasi transaksi tersebut sains dasar dapat membiayai
pertumbuhannya. Menghilirkan sains dasar adalah upaya untuk menghasilkan sustainabilitas. Karya
yang dapat ditransaksikan/dipasarkan tidak hanya berarti karya tersebut menghasilkan barang,
metode atau algoritma, tetapi juga karya tersebut dapat mengeluarkan impact yang besar, baik di
bidangnya atau pun di luar bidangnya.
Selain memperbanyak penelitian-penelitian besar dalam arti akibat yang dihasilkan, sudut pandang
kita tentang penelitian sains dasar juga harus sedikit diubah. Menurut penulis, banyak penelitian
sains dasar hanya merupakan ekor dari penelitian-penelitian sebelumnya, atau juga hanya
penelitian tersebut dilakukan tanpa mengetahui apakah ada kegunaannya untuk ilmu lain.
Beberapa penelitian mengangkat langsung masalah nyata ke masalah yang lebih abstrak sehingga
dapat dikaji dalam ilmu sains dasar. Salah satu contohnya adalah mengangkat permasalahan
penyebaran suatu virus ke dalam permasalahan mencari solusi dari persamaan diferensial. Tetapi
setelah didapatkan hasil yang diperlukan, biasanya penelitian tersebut langsung diturunkan kembali
ke permasalahan awal. Hal ini memang baik, tetapi akan lebih baik apabila hasil yang sudah
52

didapatkan pada ranah persamaan diferensial dilanjutkan juga di ranah persamaan diferensialnya
sendiri.
Topologi merupakan salah satu contoh ilmu yang berkembang dengan sangat baik padahal awalnya
merupakan versi abstrak dari suatu permasalahan fungsi peubah banyak. Pengembangan penelitian
yang tidak hanya mencari terapan dari penelitian sains dasar yang sudah ada ke dalam ilmu-ilmu
turunannya tetapi juga mengangkat hasil-hasil penelitian dari ilmu-ilmu terapan ke dalam ranah
sains dasar juga dapat menguatkan sustainabilitas dari sains dasar.
Kedua hal di atas,yaitu revitalisasi dan sustainabilitas sains dasar adalah upaya yang harus
dilaksanakan sampai berhasil, kemudian memelihara keberhasilan tersebut. Dengan demikian,
diharapkan sains dasar menjadi ilmu yang berguna secara menyeluruh dan disadari kegunaannya
oleh masyarakat luas. Dengan kata lain matematika adalah bahan bakar pengembangan IPTEKS.

53

DAFTAR KONTRIBUTOR
NARA SUMBER (PEMBERI CERAMAH)
 Prof. Lilik Hendrajaya
 Prof. Surna tjahjadjajadiningrat (Gurubesar Teknik Industri)
 Prof.Sofjan tsauri (Gurubesar Riset Kimia, Mantan Kepala LIPI)
PESERTA FILSAFAT SAINS
 Atthar Luqman Ivansyah
 Citra dan Arrie Hardian
 Ikah Ning P. P
 Junios
 Moh. Rosyid Mahmudi
PENYELIA (EDITOR)
 Ikah Ning P. P
 Lilik hendrajaya
 Fourier Dzar Eljabbar Latief
DAFTAR BACAAN
Griffiths D. J., (1999) : Introduction to Electrodynamics (Third Edition). Prentice Hall.
54

BAB 3 MEMAJUKAN SAINS DASAR
3.1 Menuju Sinergisme
sains dasar merupakan induk ilmu pengetahuan yang dapat digunakan manusia memenuhi
kebutuhan melalui rekayasa dan teknologi. Salah satu fungsi sains dasar dalam pendidikan dasar,
menengah dan tinggi adalah membentuk kemampuan dan pola bernalar yang sistematis, koheren
dan konsisten. Kemampuan bernalar yang terasah baik akan menghasilkan generasi muda bangsa
yang kreatif dan inovatif.
Upaya memajukan Sains (Dasar) yang sangat utama adalah menghasilkan pengajar sains dasar pada
tingkat pendidikan menengah (guru) dan pendidikan tinggi (dosen) dengan pemahaman dan
penyusunan bahan ajar yang baik. Bahan ajar ini haruslah mengandung kekuatan bernalar dan
kemajuan Sains terakhir.
Pada tingkat pendidikan menengah, upaya tersebut tercatat telah dilakukan pada awal tahun 1970-
an dengan program dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud) yang dikenal dengan
PKG (Pemantapan Kerja Guru) yaitu PKG IPA (Pemantapan Kerja Guru Ilmu Pengetahuan Alam)
dimana program tersebut dilakukan dengan bekerja sama dengan FMIPA ITB dan PKG Matematika
dilakukan dengan bekerja sama dengan FMIPA UGM. Program tersebut berjalan selama kurang lebih
sepuluh tahun. Fenomena yang terpantau adalah bahwa kualitas guru yang telah dibina menjadi
lebih baik (meningkat) sedangkan guru yang baru lulus dari IKIP (Pendidikan MIPA), pengetahuan
bidang ilmunya sangat rendah. Dengan demikia yang harus diperbaiki adalah “pabrik” gurunya.
Sedangkan pada tingkat perguruan tinggi, yang perlu didorong adalah melaksanakan penelitian
(riset) secara benar, tepat topik dan tepat sasaran, sekaligus mendorong dosen-dosen untuk
mengikuti program S3 (Doktor). Inilah gerakan baru, Revitalisasi Sains, yang dijalankan oleh
pendidikan tinggi sains dasar (MIPA) dan Dewan Riset Nasional (Komisi Teknik sains dasar) pada
dekade awal abad 21 ini.
sains dasar harus merupakan ilmu yang benar, kuat dan maju. sains dasar sebagai ilmu mampu eksis
karena kegunaannya yang nyata dan praktis dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat memahami
sains dasar dan dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari. Masyarakat memahami prinsip
dasar sains dalam berbagai bentuk peralatan teknik dan teknologi.
55

Memajukan sains dasar merupakan kunci penting memajukan peradaban. Berbagai persoalan yang
dihadapi manusia dapat diatasi dengan memanfaatkan keilmuan sains dasar dan aplikasinya.
Bagaimana memajukan sains dasar dan dinamika kemajuan seperti apa yang diharapkan yang sesuai
dengan kondisi dan kebutuhan bangsa kita? Pokok-pokok pikiran inilah yang akan dibahas dalam
bab ini.
3.2 Dasar Keilmuan untuk Maju
3.2.1 Memajukan Matematika
Matematika sebagai alat berpikir, mempunyai peran sentral dalam manusia terpelajar berpikir,
merancang tindakan dan bertindak menuju tujuan dan sasaran kemajuan untuk menghasilkan
kehidupan yang lebih baik.
Menurut Prof. Hendra Gunawan (2010, dalam ceramahnya) filsafat Matematika (ilmu/cara berpikir)
adalah kebenaran yang dicapai secara terus menerus dan taat asas dengan menerapkan kebenaran
aksiomatis dan asumsi-asumsi dasar untuk menghasilkan teorema/dalil yang berisi kebenaran yang
telah dibuktikan. Pengkajian yang berkaitan dengan kebenaran yang dikenal sebagai epistemologi
akan menjadi dasar proses penelitian. Adanya keyakinan akan imortalitas (keabadian) merupakan
dasar bagi pengembangan ilmu pengetahuan.
Walaupun manusia sebagai penggerak matematika mengalami kematian, tetapi pengetahuan yang
dimilikinya dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Melalui generasi penerus ini,
maka ilmu pengetahuan yang membawa kebenaran dan kesejahteraan duniawi dapat diteruskan
untuk membawa kehidupan yang damai dan beradab. Komoditas matematika yang dihasilkan dan
diwariskan akan dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarak alat baik secara langsung
ataupun sebagai penunjang keilmuan yang lain.
3.2.2 Memajukan Fisika
Fisika dibangun melalui dua metoda pendekatan yaitu induksi dan deduksi. Pendekatan induksi yaitu
suatu pendekatan yang sangat membutuhkan kemampuan intuitif yang tinggi. Suatu lompatan
pikiran (frog jump) perlu dilakukan untuk membangun suatu postulat atau aksioma. Sejarah
keilmuan Fisika memberi contoh bagaimana terobosan pemikiran dilakukan oleh Planck dan Einstein
telah menjadi fondasi munculnya Fisika Kuantum. Teori Kuantum menjadi dasar berkembangnya
teknologi semikonduktor, superkonduktor, fotonik, teknologi nano dan teknologi komputer.
Lompatan pikiran dilakukan pula oleh Maxwell sehingga kelistrikan dan kemagnetan dapat
digayutkan dalam satu teori elektromagnetik. Teori elektromagnetik telah mendorong kemajuan
56

pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi. Teori relativitas Einstein telah memberi
pemahaman baru tentang ruang dan waktu yang melengkung yang teraplikasi dalam penentuan
posisi di bumi maupun posisi benda langit. Masih banyak lagi teori Fisika yang memberi kontribusi
besar bagi kemajuan peradaban manusia.
Pendekatan deduksi dilakukan dengan menurunkan atau mengaplikasikan teori atau model untuk
mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Eksperimen merupakan jalur deduksi untuk membuktikan
teori, menguji model dan memperoleh pengetahuan baru serta mengembangkan teknologi.
Kesabaran, ketelitian, dan inovasi sangat dibutuhkan dalam proses eksperimen. Kerja eksperimental
telah membawa kemajuan di bidang Fisika dan teknologi.
Fisika dalam tataran teori sekalipun sangat bermanfaat dalam kehidupan manusia. Sains Fisika selain
dikembangkan untuk memajukan ilmu itu sendiri, harus ada manfaat praktisnya dalam memajukan
bangsa dan kemanusiaan (human purpose).
Fisika dalam tataran teori sekalipun sangat bermanfaat dalam kehidupan manusia. Sains Fisika selain
dikembangkan untuk memajukan ilmu itu sendiri, harus ada manfaat praktisnya dalam memajukan
bangsa dan kemanusiaan (human purpose). Menurut Prof. Freddy P. Zen (2010, dalam ceramahnya)
Indonesia dapat berkembang apabila sains dasar (Fisika) kuat dan maju. Aspek kebijakan anggaran
juga menentukan pengembangan teknologi sebagai penerapan fisika. Para fisikawan harus bekerja
keras, mandiri, inovatif dan memiliki nasionalisme yang tinggi. Pemerintah dan masyarakat pun
harus memiliki kepercayaan terhadap produksi/teknologi karya anak bangsa.
3.2.3 Memajukan Astronomi
Perkembangan Astronomi yang semakin pesat di Indonesia dimulai pada tahun 1948, yaitu ketika
Dekan Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam (FIPIA) Universitas Indonesia, Prof. M. Th. Leeman
mengatur timbang terima sebuah observatorium. Observatorium itu dibangun tahun pada 1920
oleh institusi swasta, yaitu Perhimpunan Ilmu Bintang Hindia Belanda (Dutch East Indies
Astronomical Association).
Pada bulan Oktober 1951, observatorium yang dikenal dengan sebutan observatorium Bosscha yang
telah beroperasi sejak tahun 1928 ini secara resmi diserahkan kepada FIPIA (yang kemudian menjadi
FMIPA, Institut Teknologi Bandung), dan G.B. van Albada diangkat sebagai Professor pertama pada
Departemen Astronomi saat itu.
57

Dengan adanya asosiasi observatorium Bosscha dengan universitas, tidak hanya menjamin pasokan
astronom pada saat itu, tetapi juga memungkinkan dimasukkannya astronomi ke dalam kurikulum
Fisika di universitas. Apalagi fasilitas pengamatan, instrumen pembantu, serta perpustakaan yang
lengkap dan mutakhir di observatorium Bosscha pada saat itu semakin mendukung berkembangnya
Astronomi pada saat itu. Teleskop pertamanya pada saat itu adalah sebuah Double Refractor Zeiss
berdiameter 60 cm yang mulai beroperasi pada tahun 1928, kemudian disusul dengan Refractor
Bamberg berdiameter 37 cm, dan Refractor Unitron yang berdiameter 102 mm, teleskop Schmidt
Bimasakti dengan diameter lensa 51 cm, Reflector GAO-ITB, teleskop Hilal yang berdiameter 6 cm, 2
buah teleskop radio, dan teleskop-teleskop kecil lainnya.
Dalam Astronomi, setiap posisi geografis berpotensi untuk berkontribusi, karena pengamatan pada
berbagai posisi geografis yang berbeda akan menghasilkan pengamatan yang juga berbeda. Secara
khusus, Indonesia memiliki posisi geografis yang menguntungkan yang mengakibatkan Indonesia
dilibatkan dalam pengamatan oposisi Mars pada tahun 1954, 1956, dan pada tahun 1970 bersama
astronom dari The Lunar Planetary Laboratory, Arizona, Amerika Serikat.
Namun demikian, hingga pada tahun 1980-an, jumlah astronom di Indonesia masih sangat sedikit,
dapat dihitung dengan jari, sehingga spesialisasi dalam cabang Astronomi juga sangat terbatas.
Padahal, pengembaraan dan penyelidikan luar angkasa serta penelitian matahari yang terus
berkembang memerlukan astronom yang spesialis dalam jumlah yang tidak sedikit. Pendidikan
formal Astronomi pun di Indonesia hingga saat ini hanya ada di ITB.
Menurut Prof. Suhardja D. Wiramihardja, cara untuk memajukan sains di bidang Astronomi adalah
mendorong lahirnya sentra-sentra pendidikan astronomi di tempat-tempat lain di Indonesia,
mengadakan kerjasama Internasional (saat ini kerjasama yang telah dilakukan adalah dengan
Belanda (Indonesia-Netherland Association) dan Jepang (Japan Society for Promotion of Sciences),
dan SEAAN (South East Asean Astronomical Network)), menarik sumber daya manusia yang
berkualitas tinggi melalui olimpiade Astronomi (yang telah mulai dilakukan) dan pembangunan
fasilitas-fasilitas pendukung untuk perkembangan Astronomi. Sebagai contoh adalah teleskop yang
merupakan salah satu pendukung utama perkembangan astronomi. Teknologi Indonesia sangatlah
tertinggal. Indonesia memiliki teleskop terbesar dengan diameter 0,7 m. Bandingkan dengan
Thailand yang tahun depan akan memiliki teleskop dengan diameter 2,4 m, atau dengan masyarakat
Eropa yang akan membangun teleskop dengan diameter 42 m.
58

3.2.4 Memajukan Kimia
Di Indonesia, seperti yang kita ketahui, keterbatasan dana dan peralatan penunjang penelitian
merupakan masalah utama. Hal ini sangat ironis karena Indonesia memiliki kekayaan yang melimpah
ruah yaitu sumber daya manusia dan alam. Sebagai contoh, penduduk Indonesia menempati
peringkat ke 5 dunia, keanekaragaman hayati hutan nomor 2 dunia dan kepulauan terbanyak di
dunia yang secara tidak langsung menunjukkan kekayaan hayati laut di dalamnya. Ini semua
menyimpan potensi untuk diteliti, dikelola dan dimanfaatkan untuk kemajuan, kesejahteraan dan
kebanggaan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, kita sebagai generasi penerus bangsa Indonesia
harus memiliki keyakinan yang kuat untuk maju. Maju dalam hal ini bukan hanya maju sendiri tetapi
maju bersama.
Menurut Prof. Dr. Euis Holisotan Hakim kekayaan alam yang melimpah ruah di Indonesia merupakan
aset yang berharga untuk dikembangkan. Penelitian akan kekayaan alam Indonesia akan
menghasilan karya yang orisinil dan dapat digunakan untuk membanggakan bangsa Indonesia.
Sebagai contoh senyawa baru dari pohon nangka yang merupakan salah satu kekayaan alam
Indonesia dinamai artoindonesianin oleh grup beliau.
Selain penelitian, menghilirkan penelitian juga merupakan hal yang penting. Prof. Bambang Setiaji
merupakan salah satu orang yang mampu menghilirkan pengetahuannya. Beliau memiliki
perusahaan yang bergerak dalam industri kelapa. Tercatat setidaknya 23 orang mahasiswa doktor
yang bekerja untuk pemanfaatan kelapa yang kemudian dikembangkan untuk skala industri.
3.2.5 Memajukan Ilmu Hayati
Ilmu hayati sebagai ilmu dasar dapat berdiri sendiri karena fondasinya yang kuat, yaitu pengamatan,
fakta, perilaku, dan analisis perbandingan yang diterapkan pada makhluk hidup yang lahir, tumbuh
dan kemudian mati. Teramatinya berbagai kesamaan sifat-sifat karakter yang tetap (genetik),
proses-proses kehayatan yang merupakan proses Kimia dan kebergantungan pertumbuhan
kehayatan karena temperatur, tekanan, gelombang akustik, listrik, medan magnet, dan sebagainya
mengundang cabang ilmu “mengukur” (Kimia dan Fisika) dan ilmu konstruksi (rekayasa dan
teknologi) untuk “bekerja” dimana ilmu hayati atau benda hayati (makhluk hidup) sebagai “mesin
pemroses” yang memproduksi sesuatu (daun, buah, batang, zat tertentu dan sebagainya) yang
bermanfaat bagi manusia. Dari sini berkembanglah ilmu hayati dengan sangat cepat dan maju
menghasilkan teori-teori baru dan cara pemanfaatan baru, seperti : mikrobiologi, biologi molekuler,
bioteknologi, bioengineering, biomanagement (yang sifatnya fisikal hayati pada makhluk ataupun
pengelolaannya oleh manusia).
59

3.3 Tata Kerja Sistemik : Metodologi Penelitian
Untuk menghasilkan ilmu pengetahuan yang makin maju dan bermanfaat, maka dilakukanlah
pengembangan berbagai cara kerja serta memperbanyak dan memperluas objek kajian. Cara ini
harus dilakukan dengan cara bersistem (sistemik), mudah dinalar dan dilakukan. Inlah yang disebut
sebagai Metode Penelitian. Penelitian (riset) sebagai suatu kegiatan yang dilakukan secara
bersungguh-sungguh, sistemik, cermat karena akan menghasilkan kebenaran yang nantinya akan
teruji secara nalar (runtutan nalar) dan juga teruji melalui fakta dan data ynag terukur dengan
tingkat kecermatan dan ketelitian pengukuran yang merujuk pada kebenaran baku (standar) yang
disepakati secara universal.
Suatu penelitian umumnya berawal dari pertanyaan-pertanyaan tentang:
- Fenomena yang dapat diamati tetapi belum terjelaskan benar sifat-sifatnya menurut
hukum-hukum, postulat atau aksioma dan prinsip-prinsip yang telah diakui kebenarannya
- Bagaimana penyelesaian suatu peroalan (masalah) yang ada (teramati)
- Bagaimana menghasilkan suatu rancangan terbaik (menggunakan hukum-hukum dan
prinsip-prinsip yang benar) yang akan bermanfaat bagi kehidupan
Tindakan periset menghadapi pertanyaan.pertanyaan tersebut pertamakali adalah berteori dengan
berbekal dari khasanah ilmu pengetahuan yang ia kuasai atau manfaatkan dari sumber belajar yang
ada. Dari teori yang ia anggap “paling tepat” dia kembangkan rumusan perilaku teoretik dari hal-hal
yang sedang dikaji yang diharapkan dapat diukur dengan alat ukur yang memiliki validitas
(kebenaran hasil ukuranya) tinggi. Melalui teori tersebut akan dikembangkan konsep pengukuran
berbagai sifat dan perilaku objek bahasan baik secara langsung maupun tak langsung.
Tuntutan perlunya pengukuran ini memicu dan menggerakkan insdustri produksi instrumentasi alat
ukur yang menyesuaikan dengan sifat-sifat objek yang akan diukur. Alat ukur dapat juga berbentuk
sebuah perangkat lunak yang berupa daftar pertanyaan (kuesioner) khususnya untuk riset mengenai
pendapat atau laporan orang. Data hasil pengukuran kemudian diolah menuju ke bentuk perilaku
empirik (hasil pengukuran) dari objek riset.
Pencocokan hasil empiris dengan prediksi teoretik merupakan pengujian kebenaran model teoretik
yang sudah dijelaskan di awal. Kecocokan dalam batas yang diterima berarti teori tersebut benar,
sedangkan ketidakcocokan berarti teori tersebut salah dan perlu dimodifikasi atau dicari teori lain
yang tepat.
60

Langkah-langkah dalam alur kerja riset seperti yang diuraikan di atas dapat dirangkum dalam
diagram alir yang ditunjukkan pada Gambar 3.1.

Gambar 3.1. Pilar Alur Kerja Riset Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

3.4 Membangun Teori
Teori dibangun ketika manusia menyusun suatu penjelasan tentang hal-hal yang baku untuk
kemudian disebarluaskan. Teori juga dapat dibangun keitka ada permasalahan yang perlu
diselesaikan yang menuntut adanya suatu teori yang tepat agar solusinya tepat dan kokoh, serta jika
ada permasalahan yang terjadi secara “acak” atau tak menentu, sehingga teori yang tepat dapat
digunakan untuk “prediksi”. Hal tersebut (membangun teori) dapat juga terjadi berdasarkan sebuah
kebutuhan akan melaksanakan suatu pekerjaan dimana dibutuhkan kondisi seperti: harus
aman/selamat, harus efisien karena biaya terbatas, harus cepat selesai, dan sebagainya.
Bagaimanakah proses berteori dapat terjadi? Kajian berikut akan mengulas bagaimana proses
perteori dapat berlangsung.
61

3.4.1 Awal Berteori.
Berteori dapat dimulai dengan adanya kajian mengenai sebab-akibat. Kajian sebab-akibat dapat
dilakukan dengan beberapa pendekatan yang akan dibahas pada subbab berikut.
3.4.1.1 Ke Depan (Forward)
Dilakukan berdasarkan pengetahuan tentang aksioma, postulat, teorema/dalil yang ada yang
kemudian diturunkan menjadi teori baru tentang masalah tersebut
Contoh :
Percepatan gravitasi dari suatu titik di muka bumi yang suatu datanya diubah dengan gravimeter
dengan prinsip pegas yaitu komponen vertikal g
z
. Dari contoh tersebut mekanisme adalah dari
teori medan gravitasi Newton, teori yang ada adalah percepatan gravitasi antara titik dengan titik
yang memiliki massa sangat besar. Perhatikan ilustrasi di bawah:

0
0 0
0 3
0
( )( )
( )
V
r r r
g r G dV
r r
µ
÷ ÷
÷
=
÷
}
dengan :
0 , r r
÷ ÷
= posisi titik amat dan elemen volume V
0

V
0
= volume Bumi
Dari ilustrasi dan persamaan tersebut, teori baru untuk mencari besarnya komponen vertikal
dapat disusun, yaitu :
62

0
0
0
0
0
( )( )
( )
z
V
r z z
g r G dV
r r
µ
÷
÷ ÷
÷
=
÷
}

3.4.1.2 Ke Belakang (Inverse, membalik)
Mengetahui terlebih dahulu berbagai aksioma, postulat, teorema, baru kemudian berhadapan
dengan fenomena, fakta, dan data tentang masalah itu dengan mencari teori yang tepat.
Contoh :
1. Mengingat, menggunakan teori ke depan untuk bentuk-bentuk muka (Bumi) sederhana dilihat
dari perilaku (g) teoretiknya. Cek apakah sama dengan fakta atau data.

Gambar 3.2. Metode coba-coba (trial and error).
2. Menduga secara sistematik
Dari persamaan ke depan, bila yang diketahui fakta/datanya adalah g
z
dimana bumi di
banyak titik, maka tampak bahwa yang tidak diketahui adalah bentuk V
0
, distribusi nilai
(

⃗⃗⃗). Artinya ini akan menghasilkan solusi tidak tunggal. Artinya, satu data g
z
dapat
dihasilkan oleh beberapa kombinasi distribusi (

⃗⃗⃗) dan bentuk V
0
. Cara pikir pandang
sistemik adalah :
- Membuat ruang V
0
yang terdiri dari elemen volume dalam bentuk sederhana seperti
“bola kecil” atau “balok”, sehingga masing-masing elemen punya bentuk nilai ke depan
yang dapat dihitung secara analitik (diturunkan terlebih dahulu).
- g
z
total adalah jumlah dari nilai elemen volume kecil tadi untuk berbagai posisi
63

- Bentuk V
0
ditentukan terlebih dahulu tanpa mempengaruhi keakuratan bola besar,
balok besar atau 2 dimensi (dimensi ke-3 tak hingga).
- “Ketepatan distribusi µ dengan cara optimisasi misalkan bahwa penyimpangan “total”
∑ (

̂

)

tertentu. Persamaan tersebut dapat diselesaikan secara numerik
dengan iterasi nilai
1 n n
P µ µ
+
= +A .

3.4.1.3 Sistem Linier
Jika S adalah suatu sistem pemroses,

adalah suatu masukan yang diproses serta

adalah hasil
dari proses tersebut, maka (

). S disebut linier jika
- (o

) o

o
- (

) (

) (

)

Jika t adalah variabel dari masukan f, maka () ∫ ( )()

dengan :
- Integral tersebut disebut dengan integral konvolusi
- S disebut dengan fungsi karakteristik dari sistem
- g adalah akibat.
- Jika f dan g dapat terukur, bagaimana cara menentukan S?
3.4.1.4 Teori Medan
Medan adalah sesuatu besaran yang dihasilkan oleh sumber (penyebab) dengan besaran tersebut
merupakan indikasi adanya sumber dan nilainya bergantung pada posisinya terhadap sumber.
Perhatikan ilustrasi berikut:

Contoh :
 Medan listrik adalah akibat hukum Coulomb :

1
0
1
( )
4
M Qr r
tc
=
64

 Medan gravitasi
 Medan magnetik dari arus listrik
 Medan gelombang, dsb
Bentuk medan alam adalah absolut dan dipercaya kebenarannya. Karena adanya medan alam maka
dikembangkanlah prinsip pengukuran tanpa menyentuh (tak langsung) yang biasa dikenal sebagai
“Non Destructive Test”

3.4.1.5 Reaksi Kimia
- Asam-Basa, pembentukan H
2
O (air)
NaOH + HCl  NaCl + H
2
O
- Oksidasi-Reduksi
Fe + 2HCl  Fe + Cl
2
+ H
2

- Membentuk endapan
Ba(NO
3
)
2
+ H
2
SO
4
 2HNO
3
+ BaSO
4(s)
- Reaksi Organik, pengikatan H
2
O

Esensi yang diperoleh dari reaksi-reaksi Kimia tersebut adalah suatu kondisi tertentu (kecepatan
reaksi) jika melewati batas tertentu terjadi : pengendapan, gas, atau pembentukan molekul stabil.
3.4.1.6 Kemampuan Menahan
Setiap material memiliki kekuatan terhadap tekanan, tarikan, pemanasan, aliran listrik, dan
sebagainya, yang mana jika besaran operasional > (dimensi sama), maka akan terjadi kerusakan
seperti : jebol, bocor, hancur, dan sebagainya.
3.4.2 DIFERENSIAL
3.4.2.1 Kepekaan (Sensitivitas)
Kepekaan adalah perubahan nilai suatu besaran tertentu akibat terjadi perubahan sangat kecil dari
suatu variabel atau parameter pembentuknya.
65

( , , )
, , adalah kepekaan
F x y
F F F
dF dx dy d
x y
F F F
x y
o
o
o
o
c c c
= + +
c c c
| | c c c | | | |
| | |
c c c
\ . \ .
\ .

3.4.2.2 Elastisitas
Pengertian Fisika tentang elastisitas adalah sifat elastik (linier) seperti dalam pegas:


dimana F adalah gaya yang bekerja, dan x adalah simpangan yang akan kembali ke kesetimbangan.
Jika ini dikaitkan dengan sifat elastisitas bahan padat, maka dapat dituliskan sebagai :
,
dimana stress adalah tegangan (gaya/luas) yang bekerja pada benda,dan strain adalah perubahan
relatif panjang (dy/y dari benda).
Besaran strain =dy/y adalah ukuran elastisitas.
Jika pada suatu sistem lain (non-Fisika) diduga terjadi hubungan fungsional antara F, misal fungsi
produktivitas terhadap besaran x, y, dan z, ternyata ada suatu “peristiwa” yang akan mempengaruhi
besaran F. Dari hasil pengukuran dengan mengubah-ubah x, y, dan z, ternyata terdapat hubungan
tertentu (Ax/x), (Ay/y), (Az/z) dengan (AF/F). Hubungan ini dipahami sebagai hubungan elastisitas
karena mengaitkan sifat elastic dari variable tersebut. Dari bentuk hubungan elastisitas ini, bentuk
F(x,y,z) dapat diperkirakan.

3.4.2.3 Deret
Ada banyak macam deret, salah satunya adalah deret Taylor yang memiliki persamaan sebagai
berikut :
0
0
2
2
0 0 0 2
1
( ) ( ) ( ) ( ) ...
2!
x
x
dF d F
F x F x x x x x
dx dx
| |
| |
= + ÷ + ÷ +
| |
\ .
\ .

Maka mendekati nilai nilai F(x) dari nilai F(x
0
) yang telah diketahui dengan mengamati kepekaan nilai
terhadap perubahan posisi. Deret taylor biasanya digunakan pada
66

- Pendekatan Born (Fisika)
'
0 0
( ) ( ) ( ) F x F x F x x o = +
- Uraian gerakan mekanik dalam sistem
0
0 0
( ) ( ) ( )
x
dF
F x F x x x
dx
| |
= + ÷
|
\ .
+ ….
Jika di x
0
dipaksa F(x
0
) = 0, tidak ada gerakan, maka

3.4.3 OPTIMASI
Optimasi merupakan kondisi maksimum atau minimum dengan syarat/constraints :
MAX f(x, y, z) dengan SYARAT g
1
(x, y, z) = a, g
z
(x, y, z) sb.

3.4.4 ANALOGI
Melakukan analogi (kesamaan mekanisme) suatu proses yang dibahas dengan proses alam (yang
pasti ada).
Contoh :
- Bangunlah “jiwanya”, bangunlah “badannya”
- Hubungan potensi, motivasi, dan prestasi seseorang
- Ketahanan nasional merupakan paduan antara “keuletan” dan “ketangguhan”
- Proses alam  Momentum = massa x kecepatan ( p m v = × )
- sehingga
a.
b.
Gerakan sekitar x
0
ini
“elastisitas”
0
0
( ) 0 ( )
x
dF
F x x x
dx
| |
= + ÷
|
\ .
67

c.

3.5 Melanjutkan Teori, Melengkapi Bukti Kebenaran Teori
Melanjutkan teori dapat dilakukan dengan mempelajari teori yang sedang berlaku (sudah dibuktikan
benar) dan mencari peluang ke “daerah baru” dimana teori itu perlu diuji atau diterapkan.
Sedangkan melengkapi bukti kebenaran teori dapat dilakukan dengan melakukan riset material
maju dimana riset tersebut adalah upaya untuk melengkapi bukti teori kuantum material buatan
dengan membuat material baru dan mengukur sifat-sifatnya (karakterisasi) sehingga ada harapan
menemukan sifat-sifat istimewa, dan teori akan terbukti benar dan dikembangkan lebih rinci dan
lengkap yang terdiri dari tahapan berikut:
3.5.1 Konstruksi Teori
Konstruksi teori adalah menyusun secara rinci suatu teori dari awal berpikir sampai lengkap.
Melanjutkan teori terdiri atas beberapa tahapan yang akan dibahas dalam subbab berikut.
3.5.1.1 Merakit Teori
Alur logika keberadaan suatu teorema/dalil adalah untaian kebenaran dari teorema-teorema
sebelumnya. Dalam matematika, kebenaran teorema adalah 100% dalam Fisika dan Kimia yang
perlu dibuktikan secara pengukuran dengan memperkenalkan toleransi menuju 100% di setiap
tahap kebenaran. Di akhir untaian yaitu teori baru yang lengkap harus menunjukkan secara benar
dan mantap implikasi kebenaran teori-teori awal yang dirujuk.
3.5.1.2 Menggunakan/menerapkan teori
Dalam menggunakan teori perlu diketahui persyaratan atau kondisi yang harus dipenuhi dari model
ideal yang mendasarinya. Pengkondisian ini akan menjamin berlakunya dan hasil yang diperoleh dari
bekerjanya teori dalam Fisika dan Kimia. Proses pengkondisian ini digunakan untuk menilai apakah
hasil suatu percobaan dan pengukuran dapat dipercaya. Proses pengkondisian ini dirupakan pada
teknologi canggih pada instrumentasi pengukuran seperti ESR, NMR, HRMS, XRD, mikroskop
elektron.
3.5.1.3 Penguatan sains dasar
Kebenaran teori harus diterima secara bersama, baik secara matematika dalam penalaran
kuantitatifnya (penurunan rumus atau rumusan); secara Fisika dalam penalarannya melalui proses
(mekanisme) yang terjadi dan hasil pengukurannya; secara Kimia khususnya jika terkait dengan
68

analisis dan pembuatan material; dan secara ilmu hayati (Biologi) jika terkait dengan sistem
kehayatan. Demikian pula terjadi penguatan pada hukum-hukum kuantum (mekanika, Kimia, sistem
kristal, interaksi mikro dan nano), hukum-hukum klasik termodinamika dan elektromagnetik serta
penerapannya pada sistem hayati yang menghasilkan berbagai terobosan di Biologi molekuler,
bioteknologi, dan engineering biology.
CONTOH
Pengalaman mengembangkan kecerdasan magnetik teramati dalam beberapa fenomena sebagai
berikut :
- Dalam adu “tenaga dalam” orang tidak saling bersentuhan, tetapi menyebabkan salah
seorang terdorong, tertarik, dan atau terputar.
- Seseorang bisa tahu keinginan orang lain tanpa berkomunikasi secara verbal maupun visual.
- Seseorang dapat mengobati orang lain untuk penyakit tertentu dari jauh.
Kesemua contoh tersebut merupakan fenomena tanpa kontak. Interaksi dinamik (terlibat gaya)
tanpa kontak adalah “interaksi magnetik”
Pertanyaan : adakah bagian tubuh manusia yang sifatnya magnetik?
Dari hasil pembelajaran ternyata hemoglobin (butir darah merah) mengandung ion Fe (Fe
2+
, Fe
3+
)
yang bermanfaat untuk mengikat oksigen dari paru-paru. Pembuluh darah ada di seluruh tubuh
manusia, organ internal, dan sampai ke otak. Tubuh manusia banyak mengandung H
2
O yang karena
spinnya menghasilkan sifat magnetik inti atom (nuclear magnetism). Sifat magnet ini termasuk yang
melakukan perintah pikiran. Berdasarkan hal tersebut riset dilakukan dan menemukan kemampuan
manusia yang didefinisikan sebagai “kecerdasan magnetik”, yaitu kecerdasan mendapatkan medan
biomagnetik yang dapat dikeluarkan dan mempengaruhi syaraf dan pikiran manusia.
3.6 Maju : Membangun Diri dan Bangsa
3.6.1 Dinamika sains dasar
Dinamika adalah proses gerak di mana sumber atau penyebab gerak, bagaimana gerakannya serta
ke arah mana gerakan terangkai dalam mekanisme yang ternalar. Dinamika sains dasar dapat
diartikan sebagai gerakan pertumbuhan sains dasar yang ternalar dengan maksud dan tujuan yang
terpantau dan terukur, dalam hal ini diarahkan untuk kemajuan diri (ilmuwan) dan bangsa
(masyarakat). Seperti halnya bidang ilmu yang lain, sains dasar juga mengalami perkembangan
69

(baca: dinamika) yang dari waktu ke waktu semakin luas, dan tugas seorang ilmuwan adalah untuk
terus mengawal dan memastikan keberlangsungan dinamika tersebut menuju sesuatu yang bernilai
manfaat, baik untuk dirinya sendiri, untuk perkembangan ilmu tersebut, untuk masyarakat, maupun
untuk bangsa. Indikasi dari manfaat tersebut bisa berupa kesejahteraan yang dinikmati oleh
ilmuwan itu sendiri ataupun masyarakatnya karena “berkah” dari ilmunya, atau bahkan setidaknya
dengan semakin kuatnya riset-riset dan kajian ilmu tersebut dalam komunitas mereka.
3.6.2 Struktur Proses Dinamika Sistem Penalaran sains dasar
Sebuah bangsa yang maju ditandai salah satunya dengan majunya bidang sains dasar. Dalam hierarki
keilmuan, sains dasar menduduki posisi yang sangat strategis dan vital. Ia menjadi pondasi bagi
kemajuan bidang-bidang keilmuan yang lain. Melalui sains dasar, peradaban manusia yang meliputi
peningkatan hasil karya, peningkatan kemampuan berpikir beserta pemanfaatannya untuk menuju
hidup yang damai adil dan sejahtera dibangun. Hal ini karena dengan sains dasar, segala
permasalahan kehidupan akan dapat diselesaikan, baik melaui terapan terhadap persoalan nyata
kehidupan, aplikasi di dunia industri yang sifatnya masal maupun dalam bentuk cara berpikir yang
kritis dan konstruktif dalam memecahkan persoalan kemasyarakatan.
sains dasar memiliki struktur penalaran yang sangat rigid. Matematika misalnya mengajarkan
tentang konsep benar salah, pemakaian simbol-simbol untuk menyederhanakan sebuah persoalan
fisis, mengajarkan ketrampilan dalam proses, baik proses artimatika, diferensial integral, fungsi dan
sebagainya, dan juga mengajarkan ketrampilan berpikir kritis, deduktif, induktif, analisis dan sintesis
terhadap setiap persoalan. Begitu juga Fisika yang merupakan ilmu yang mengkaji kejadian alam
lebih menekankan pada kejadian sebab akibat, baik yang dapat diukur langsung maupun tak
langsung. Bahkan, Fisika dalam keseringannya tidak dapat dilepaskan dari Matematika, utamanya
yang berkaitan dengan peringkasan suatu kejadian dalam bentuk simbol dan rumus. Selain itu,
sinergi antara Fisika dengan matematika juga banyak diperlukan pada pembahasan entitas Fisika
yang tidak dapat disentuh langsung yang kemudian disebut sebagai “medan Fisika”, seperti panas,
cahaya, listrik, gravitasi dan magnet. Sementara itu, di sisi lain Kimia sebagai bagian dari proses di
alam juga tidak dapat dilepaskan dari penalaran Matematika dan Fisika.
Keterkaitan bidang sains dasar dengan bidang ilmu yang lain secara lengkap dapat ditampilkan
seperti bagan berikut
70


Gambar 3.3. Kedudukan sains dasar terhadap bidang ilmu lain
Agar sains dasar memiliki nilai tambah yang nyata bagi peradaban umat manusia, diperlukan usaha
untuk menerapkan atau merekayasakan sains dasar tersebut dalam sebuah teknologi dan untuk
selanjutnya “dihilirkan” dalam dunia industri.
3.6.3 Kendala Lingkaran Kebuntuan Pengajar sains dasar
Selanjutnya kita akan melihat lingkaran kebuntuan yang terjadi pada pengajar sains dasar. Di
Indonesia secara khusus, sejak tahun 1970 hingga tahun 2000, institusi sains dasar hadir bukan
karena dianggap perlu atau memang seharusnya ada (exist by default). Hal ini ditambah lagi dengan
kehidupan pragmatis yang mempersepsi bahwa sains dasar tidak menghasilkan manfaat dengan
segera, maka sains dasar kurang dihargai (dibiayai) dibandingkan ilmu turunannya yang di hilir.
Kondisi inilah yang menghasilkan lingkaran kebuntuan pengajar sains dasar (lihat Gambar 3.4) pada
masa-masa itu.
Hal-hal yang dihargai adalah :
- yang menghasilkan komoditas (teknik),
- atau yang menghasilkan tatanan pengelolaan uang (ekonomi)
- atau yang menghasilkan kekuasaan (pemerintahan, politik, pertahanan, kemanan, dan
hukum)
Akibatnya, bisa kita lihat adanya beberapa hal yang tumbuh pada pengajar sains dasar, yaitu :
- perasaan “nrimo”
- perasaan termarginalkan atau terpinggirkan
- dekat dengan garis kemiskinan
71

- tidak bisa menanggapi pembaharuan
- tidak mampu mengadakan perubahan
- terbentuk lapisan komunitas “mediocre”, lapisan tidak maju dan penghalang kemajuan
- budaya iri

Gambar 3.4. Lingkaran Kebuntuan Pengajar sains dasar

3.6.4 Solusi Iteratif : Revitalisasi sains dasar
Agar intensitas dinamika sains dasar dapat terus berjalan secara sistemik, beberapa hal perlu
dilakukan, antara lain dalam bentuk perhatian dan insentif terhadap para pelaku sains dasar (baca:
ilmuwan dan mahasiswa) seperti perbaikan gaji dan tunjangan fungsional bagi para ilmuwan,
pemberian beasiswa pascasarjana, pembangunan surplus center bagi mahasiswa dan pendampingan
agar dapat bekerja secara benar. Dengan adanya perhatian khusus ini, diharapkan minat untuk
mengembangkan sains dasar pun akan meningkat yang dalam jangka panjang akan berkontribusi
positif bagi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat.
72

Selain hal di atas, solusi lain yang bisa ditawarkan untuk mengembangkan sains dasar adalah melalui
pembinaan soft skill yang meliputi pembinaan kepribadian untuk selalu berpikir, berinovasi,
berkreasi. Pengembangan dan pembinaan jiwa kepemimpinan (leadership) juga sangat positif untuk
membawa kemajuan institusi dan bidang ilmu dan keahlian. Dalam institusi perguruan tinggi,
dengan adanya kepribadian dan jiwa kepemimpinan untuk maju ini akan dihasilkan lulusan-lulusan
yang tidak hanya menguasai sains dan bidang ilmu mereka, namun juga lulusan-lulusan yang tahan
banting dalam segala keadaan yang dapat diandalkan untuk membangun diri dan masyarakatnya.
Dari sisi keilmuan, sains dasar dapat diperkuat dengan berbagai cara, antara lain dengan
menugaskan beberapa ilmuwan untuk menekuni ujung tombak pertumbuhan ilmu maju dengan
tetap memperhatikan dan mengerjakan aspek terapannya agar tetap bisa survive dalam bidang ilmu
tersebut. Sebagai contoh, seorang ilmuwan atau dosen Fisika Instrumentasi didorong untuk
melanjutkan studi lanjut doktor di bidang Fisika Instrumentasi, namun dengan orientasi untuk
menekuni dan mengaplikasikan ilmunya dalam bidang-bidang yang lebih terapan, khususnya yang
sangat memungkinkan untuk diterapkan di lingkungannya. Ini dilakukan agar kelak ketika dia pulang
ke masyarakat atau daerahnya, ilmu yang ditekuni tersebut tidak sekedar ilmu untuk ilmu, namun
ilmu untuk masyarakat, artinya keahlian yang dimiliki tersebut dapat dinikmati oleh masyarakat
sekitarnya. Dengan demikian, budaya menghilirkan ilmu (baca: sains dasar) akan menjadi lebih
mudah dilakukan. Di sinilah, perkembangan sains dasar akan berjalan semakin dinamis. Bahkan tidak
menutup kemungkinan, berkembangnya hilir-hilir dari sains dasar tersebut akan melahirkan hilir-
hilir baru.
Atensi lain yang bisa dilakukan untuk menjaga keberlangsungan perkembangan sains dasar adalah
dengan mendorong dan mewajibkan kepada para ilmuwan dan dosen di setiap perguruan tinggi
untuk melanjutkan studi ke jenjang Doktor. Riset-riset yang dilakukan dalam studi tersebut
diarahkan untuk memanfaatkan sesuatu bahan dan sumber daya yang ada sebagai keunggulan lokal.
Dengan banyaknya orang yang mengambil studi Doktor, diharapkan riset-riset akan terus
berlangsung. Dampaknya, akan banyak publikasi dan seminar yang dilakukan untuk menyebarkan
hasil-hasil penelitian tersebut. Keberlanjutan riset terjadi ketika hasilnya mendapat apresiasi dari
negara, atau instansi swasta karena kemanfaatannya.
Dengan pendekatan di atas, sains dasar sebagai rumpun ilmu pokok tidak hanya berkembang dalam
lingkup keilmuannya sendiri, akan tetapi tidak menutup kemungkinan menyentuh sendi-sendi
keilmuan yang lain, seperti ekonomi, manajemen, sosiopolitik dan lain sebagainya.
73

3.6.5 sains dasar untuk Membangun Diri dan Bangsa
Sepanjang sejarah peradaban dunia, perkembangan sains dasar menjadi tolok ukur tumbuh
kembangnya peradaban suatu bangsa. Tumbuh kembangnya peradaban suatu bangsa sangat erat
kaitannya dengan tumbuh kembang dari individu-individu yang membangun peradaban bangsa
tersebut. Subbab-subbab berikut akan menelaah bagaimana keterkaitan pembangunan diri dan
bangsa yang dipengaruhi oleh sains dasar.
3.6.5.1 Membangun Diri
Kekuatan yang mendukung seseorang agar tampil sempurna terdiri dari kekuatan berpikir yang
ditopang oleh ilmu pengetahuan,kekuatan jasmani yang sehat, dan kekuatan batin yang dilandasi
iman dan takwa. Di sinilah perlunya tekad membangun diri. Kekuatan fisik yang dimiliki oleh
seseorang tidaklah dapat dipergunakan secara maksimal apabila tidak didukung oleh pengetahuan
yang cukup serta kemampuan berpikir yang cerdas. Berikut adalah hal yang dapat dilakukan untuk
mendorong membangun diri:
- Mencapai kompetensi akademik tertinggi (Dr) guna mematangkan aspek filosofi keilmuan
terkait secara analogi yang tepat diterapkan dalam kehidupan.
- Orang yang menuntut ilmu wajib mengejar pengetahuan dan kebajikan. Komponen dosen
yang tentunya adalah ilmuwan, intelektual, dan pendidik, dituntut untuk senantiasa
menggali dan mengejar pengetahuan ilmiah yang terbarukan. Selain itu, mengejar kebajikan,
baik dalam kedudukan sebagai pendidik, penggali, maupun pengabdi ilmu kepada
masyarakat, adalah tiga dimensi fungsi kelembagaan yang dengan spirit nilai-nilai keilmuan
yang universal itu selayaknya mampu dipadukan dan diemban secara serasi pula.
- Rujukan paradigma kemandirian: Tridharma (Terpadu, produktif, terukur) sebagai
mekanisme dalam memajukan karir dan sejahtera.
3.6.5.2 Membangun Bangsa
Tridharma perguruan tinggi di Indonesia mengacu pada peran serta akademisi dalam bidang
pendidikan, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat dan lingkungan hidup. Sudah
selayaknya ketiga darma itu dapat dilaksanakan secara sinergis tanpa harus ada pembedaan dan
pemilahan. Di dalam ketiga unsur-unsur terdapat hal-hal substansial dan operasional yang dapat
dipadukan dan saling menginspirasi. Bahasan-bahasan berikut merupakan telaah bagaimana
ketiganya dapat disinergikan.
a. Mendidik generasi muda.
74

Suatu tugas utama membangun bangsa adalah mengajarkan sains dasar pada generasi muda agar
terbentuk kemampuan berpikir sistematik (analitik) melalui kekuatan esensial dari matematika,
fisika, kimia dan biologi. Bersama-sama dengan itu, dikembangan kecerdasan emosional yang lebih
mengarah ke pembentukan budi luhur, bahkan belakangan ini masalah pembentukan ”karakter
bangsa” menjadi tujuan yang bentuknya masih dalam pemantapan.
Proses pengajaran hendaklah merujuk makna filosofi dari Hukum Dinamika Newton:

dimana:
adalah gaya,yang diartikan sebagai bahan ajar yang akan disampaikan agar dapat dipahami
peserta didik, sedangkan (percepatan) menyatakan respon terkait dengan apa yang disampaikan
(dapat berupa respon motorik terhadap tugas-tugas yang diberikan). Massa sendiri diartikan
sebagai kelembaman peserta didik dalam memahami bahan ajar yang disampaikan. Kelembaman
yang dimaksud dapat berupa rasa malas, tidak suka dengan mata pelajaran tersebut, tidak suka
dengan guru pengajar, tidak dapat berkonsentrasi, dan lain sebagainya.
Yang menjadi masalah yang harus diatasi adalah guru harus memastikan bahwa tanda sama dengan
(“=”) berfungsi, artinya bahwa bahasa guru dimengerti oleh murid, kemudian guru harus mampu
memperkecil kelembaman agar menjadi besar. Oleh karena itu, keterampilan, keramahan dan
daya tarik sangat memegang peranan.
Dari uraian tentang pengajaran tersebut, dapat dimengerti jika sains dasar itu tampak dapat
dirasakan kemanfaatannya oleh peserta didik, dan lebih luas lagi oleh masyarakat, maka akan
memicu semangat belajar. Oleh karena itu guru dan dosen sains dasar harus mempelajari dan
mempunyai keterampilan yang sifatnya menghasilkan manfaat (pendapatan tambahan) sehingga
merasakan kegunaan sains dasar yang dipelajarinya.
Memahami matematika, akan juga mengasah keterampilan akuntansi, membuat simulasi dan
perangkat lunak, menyelesaikan persoalan, ataupun yang paling praktis bisa membuat bentuk-
bentuk geometri kap lampu (lampion) atau rajutan tak berbentuk geometri. Jadi seorang guru atau
dosen sains dasar harus ”menghilir” dalam proses belajar memantapkan kompetensinya.
Iklim pembelajaran dan suasana pendidikan yang fungsional dan dinamis, selain bersifat kooperatif,
aktif, dan kontekstual, harus menjadikan para peserta didik sebagai subjek, pusat, mitra belajar, dan
75

sahabat pengembangan Iptek. Dosen adalah pengelola dan pemeran utama pendidikan tinggi.
Kendati berbekalkan penguasaan bidang Iptek dengan jenjang pendidikan strata doktor (S3) dan
(minimal) magister (S2), kedudukan dan peranan dosen sebagai pengelola pembelajaran yang efektif
harus dibangun sungguh-sungguh. Hal yang dapat dilakukan untu mengembangkan pengajaran
adalah:
- Menciptakan cara pengajaran yang ilustratif dan mudah dipahami, sehingga belajar sains
dasar bukan merupakan beban tetapi suatu kesenangan
- Perlu diketahui bahwa tidak ada satu metode pun yang dianggap paling baik diantara
metode-metode yang lain. Tiap metode mempunyai karakteristik tertentu dengan segala
kelebihan dan kelemahan masing masing. Suatu metode mungkin baik untuk suatu tujuan
tertentu, pokok bahasan maupun situasi dan kondisi tertentu, tetapi mungkin tidak tepat
untuk situasi yang lain. Demikian pula suatu metode yang dianggap baik untuk suatu pokok
bahasan yang disampaikan seseorang, kadang-kadang belum tentu berhasil dibawakan oleh
orang lain.
- Adakalanya seorang guru/dosen perlu menggunakan beberapa metode dalam
menyampaikan suatu pokok bahasan tertentu. Dengan variasi beberapa metode, penyajian
pengajaran menjadi lebih hidup. Misalnya pada awal pengajaran, guru/dosen memberikan
suatu uraian dengan metode ceramah, kemudian menggunakan contoh-contoh melalui
peragaan dan diakhiri dengan diskusi atau tanya-jawab. Di sini bukan hanya guru yang aktif
berbicara, melainkan siswa pun terdorong untuk berpartisipasi.
- Seorang guru/dosen yang pandai berpidato dengan segala humor dan variasinya, mungkin
tidak mengalami kesulitan dalam berbicara, ia dapat memukau siswa dan awal sampai akhir
pengajaran. Akan tetapi bagi seorang guru yang kurang mahir berbicara, uraiannya akan
terasa kering. Untuk itu ia dapat mengatasi dengan uraian sedikit saja, diselingi tanya jawab,
pemberian tugas, kerja kelompok atau diskusi sehingga kelemahan dalam berbicara dapat
ditutup dengan metoda lain.
- Mengajarkan dan memberi contoh kreatif dengan menggunakan prinsip sains dasar.
- Belajar konsep tertentu melibatkan identifikasi keduanya yaitu contoh dan noncontoh.
Mislanya, sapi adalah contoh dari hewan tetapi itu noncontoh untuk reptil. Australia adalah
contoh dari negara di bumi bagian selatan, tetapi itu noncontoh untuk negara berkembang.
Katun dan sutera adalah contoh konsep pabrik, tetapi kulit dan baja noncontoh. Ketika akan
dideskripsikan kemudian, cara contoh dan noncontoh sangat penting diidentifikasikan dan
digunakan dalam konsep pelajaran.
76

- Memperkuat pemahaman sains dasar agar pelajar dan mahasiswa mampu bersaing dalam
lomba olimpiade sains internasional
- Prinsip-prinsip sains dasar mengajarkan kejujuran, kritis, ulet, mencari solusi, adaptif, yang
sangat baik untuk membangun karakter bangsa.
Belakangan ini, isu character building (pembangunan watak) kembali marak. Hingga Presiden SBY
merasa perlu memberikan pernyataan. “Pembangunan watak sangat penting”, ujarnya. Lebih lanjut,
presiden mengatakan: “Kita ingin membangun manusia Indonesia yang berakhlak, berbudi pekerti,
dan berperilaku baik”, “Bangsa kita ingin pula memiliki peradaban yang unggul dan mulia”,
tambahnya.
Begitu pentingnya pembangunan watak, presiden Soekarno pun berwasiat: ”Tugas berat bangsa
Indonesia dalam mengisi kemerdekaan adalah mengutamakan pelaksanaan “pembangunan karakter
dan bangsa”. Bung Karno mewanti-wanti, “Jika pembangunan karakter tidak berhasil, bangsa
Indonesia hanya akan menjadi bangsa kuli!,” demikian kutipan buku “Karakter Mengantar Bangsa
dari Gelap Menuju Terang” (2009).
Berbagai upaya pembangunan karakter terus dilakukan. Bahkan, Kementerian Pendidikan Nasional
tengah menyiapkan kurikulum nasional, yakni kurikulum pendidikan budaya dan karakter bangsa.
Dengan rencana itu justru semakin menegaskan bahwa nation and character building benar-benar
berada pada titik nadir. Setelah sekian lama Pancasila tak lagi diajarkan secara masif, bangsa ini
seakan kehilangan pegangan. Bahkan, bangsa Indonesia kian kehilangan karakter dan jati dirinya.
Lalu, apa yang dimaksud dengan character building? Karakter adalah “moral excellence’ atau akhlak
yang dibangun atas berbagai kebajikan (virtues) Karakter baru memiliki makna jika dilandasi nilai-
nilai kebudayaan. Jadi, karakter bangsa adalah karakter warga negara yang dinilai sebagai
kebajikan. Oleh karena itu, national and character building harus berorientasi pada upaya
pengembangan nilai-nilai kebajikan sehingga menghasilkan “out put” yang memiliki jati diri dan
kepribadian.
John C. Maxwell (1991) dalam bukunya ”The 21 Indispensable Qualities of a Leader” menyatakan:
“Karakter yang baik lebih dari sekedar perkataan. Karakter yang baik adalah sebuah pilihan yang
membawa kesuksesan. Ia bukan anugerah, tapi dibangun sedikit demi sedikit, dengan pikiran,
perkataan, perbuatan nyata, melalui pembiasaan, keberanian, usaha keras, dan bahkan dibentuk
dari kesulitan demi kesulitan saat menjalani kehidupan”
77

Para pakar pendidikan mengelompokkan karakter ke dalam 9 pilar, yakni; (1) cinta Tuhan dan
ciptaannya; (2) kemandirian dan tanggungjawab; (3) kejujuran, amanah, dan bijaksana; (4) hormat
dan santun; (5) dermawan, suka menolong, dan gotong royong; (6) percaya diri, kreatif, dan pekerja
keras; (7) kepemimpinan dan keadilan; (8) baik dan rendah hati; dan (9) toleransi, kedamaian dan
kesatuan.
Keterpurukan bangsa Indonesia bukanlah sebuah mata rantai kebetulan belaka. Melemahnya
karakter bangsa bisa jadi sebagai penyebab utama berbagai keterpurukan itu. Celakanya, bangsa
Indonesia memiliki “potensi” untuk berlama-lama dalam keterpurukan. Seperti yang ditulis dalam
bukunya “Manusia Indonesia-Sebuah Pertanggungan Jawab” (1997) Mochtar Lubis secara gamblang
menelanjangi karakter buruk bangsa Indonesia. Yakni, seperti hipokrit, enggan bertanggung jawab,
bermental menerabas, ingin kaya tanpa berusaha dan ingin pintar tanpa belajar.
Membangun kembali karakter bangsa ini, akan efektif jika melalui jalur pendidikan. Namun, harus
dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan. Mulai dari keluarga, sekolah dan masyarakat.
Sebab, pendidikan karakter mencakup pengenalan nilai secara kognitif, penghayatan nilai secara
afektif dan kepengamalan nilai secara nyata. Dari gnosis sampai ke praksis. Singkatnya, pendidikan
karakter adalah membimbing orang untuk secara sukarela mengikatkan diri pada nilai.
b. Riset dan Kerja Operasional
Pengembangan penelitian sangat penting baik demi pengembangan ilmu maupun demi kepentingan
pembangunan, dan secara khusus bertautan dengan dunia industri. Sumber daya peneliti (dan
sejumlah mahasiswa S1, S2, dan S3 pilihan) dengan mutu penelitian yang ditingkatkan secara terus
menerus, serta didukung dengan sumber dana dari pemerintah dan sumber dana dari pihak-pihak
sponsor dari dalam dan luar negeri, pengembangan penelitian ilmu murni dan ilmu terapan,
merupakan peluang dan potensi yang layak dikembangkan. Penelitian dimaknai sebagai sumber
daya pengembangan ilmu dan sumber dana individu dan institusi. Di bawah koordinasi Lembaga
Penelitian dan Pusat-pusat Penelitian yang ada dan yang akan dikembangkan lagi, terlebih lagi
keberadaan kelompok-kelompok peneliti (research group) para guru besar yang terus diberdayakan,
niscaya penelitian ilmu-ilmu murni dan ilmu terapan, sangat penting bagi pengembangan ilmu
pengetahuan, pemerkayaan bahan dan penyegaran proses pendidikan, dan pengabdian kepada
masyarakat. Demikian pula penelitian ilmu-ilmu interdisipliner, menjadi sangat mendesak untuk
dilakukan. Ke depan, pendekatan holistik, interdisipliner, dan multididipliner dalam memecahkan
kompleksitas persoalan-persoalan masyarakat dan lingkungan, semakin menjadi kebutuhan dan
78

kecenderungan akademis dalam dimensi pragmatisnya. Penajaman arah penelitian ilmu-ilmu murni,
yang menjadi dasar dan sumber inspirasi pengembangan ilmu-ilmu terapan, layak dirumuskan oleh
lembaga penelitian, pusat-pusat penelitian, dan kelompk-kelompok penelitian, baik pada tingkat
universitas, fakultas, maupun jurusan atau program studi. Seiring dengan pemberdayaan dosen-
dosen sebagai peneliti, khususnya para guru besar dan para doktor, sinkronisasi dan koordinasi
pengembangan penelitian itu menjadi langkah yang sangat strategis. Selain budaya didik, budaya
riset perlu ditumbuhkembangkan secara terus-menerus. Kemampuan mengidentifikasi
permasalahan dan keterampilan meneliti, jelas membangun mutu dan daya saing di sektor
penelitian baik di tingkat nasional maupun internasional seraya membangun dan memperluas
jejaring informasi akademis berskala mondial.
Sebagai penggali dan pengembang ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang ilmu pilihan individu
dan kelompok berdimensi monodisipliner dan interdisipliner, budaya penelitian yang dikembangkan
diarahkan untuk menjadikan ilmu pengetahuan sebagai proses dan masyarakat, tidak hanya sebagai
ilmu produk.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan riset dan kerja operasional adalah sebagai
berikut.
- Melakukan riset dan memajukan ilmu dengan temuan (discovery) yang universal yang akan
membawa bangsa Indonesia terperhatikan secara internasional
- Memfokuskan riset sains dasar pada sumber daya alam Indonesia selain untuk kelpentingan
kesejahteraan bangsa dapat membawa keunggulan komparatif ini menjadi keunggulan
kompetitif dunia karena temuan-temuan yang khas.
- Membangun jaringan pembelajaran, riset, dan pembangunan pusat kerja berbasis riset
(Surplus center) untuk mengalirkan hasil kerja cerdas dan bermanfaat untuk membangun
proses kebangsaan cerdas.
3.7 Penutup
Demikianlah memajukan sains dasar sangatlah erat dengan memajukan bangsa melalui peningkatan
kompetensi diri pada kekuatan dan arah pertumbuhan sains dasar, memandaikan generasi muda
dan mengolah sumber daya alam, sumber daya buatan (sistem kerja dan produksi, industri, sistem
operasional, kenegaraan) serta kekuatan sosial budaya menjadi suatu “mesin” produksi peradaban
dan kesejahteraan.
79

Pembelajaran sains dasar yang benar akan memperkuat karakter bangsa, terutama dalam daya
saing, penyelesaian masalah, serta menciptakan kegiatan produktif dan lapangan kerja.
80

DAFTAR KONTRIBUTOR
No. Nama Prodi
1 Ade Yeti N. Fisika
2 Dolfie Pandara Fisika
3 Endi Suhendi Fisika
4 Junios Fisika
5 Masturi Fisika
6 Rosyid Mahmudi Fisika
7 Atthar Kimia
8 Citra Kimia
9 Anna Eddy Persulesy Kimia
10 Handajaya R. Kimia
11 Henry Aritonang Kimia
12 Luchana L. Y. Kimia
13 Nurhasanah Kimia
14 Julia Titaley Matematika
15 Eric Matematika
16 Faisal Matematika
17 M. Ali Misri Matematika

DAFTAR BACAAN
Gunawan, Hendra, 2010, Logika, Epistemologi, Pengembangan Ilmu dan Mortalitas, disampaikan
pada Ceramah kuliah Filsafat Sains program Doktor sains dasar/MIPA
Hakim, Euis Holisotan, Filsafat Ilmu Kimia, disampaikan pada Ceramah kuliah Filsafat Sains program
Doktor sains dasar/MIPA
Hendrajaya, Lilik, 2010, Dinamika Ilmuwan sains dasar disampaikan pada Ceramah kuliah Filsafat
Sains program Doktor sains dasar/MIPA
Hendrajaya, Lilik, 2010, Membangun Teori disampaikan pada Ceramah kuliah Filsafat Sains program
Doktor sains dasar/MIPA
Iskandar, Djoko T., Filsafat Ilmu Hayati, disampaikan pada Ceramah kuliah Filsafat Sains program
Doktor sains dasar/MIPA
Wiramihardja, Suhardja, 2010, Filsafat Dasar Astronomi disampaikan pada Ceramah kuliah Filsafat
Sains program Doktor sains dasar/MIPA
Zen, Freddy P., 2010, Induksi dan Deduksi dalam Sains : Dari Jarak Angstrom sampai Tahun Cahaya,
dari Waktu Planck sampai Milyar tahun, disampaikan pada Ceramah kuliah Filsafat Sains
program Doktor sains dasar/MIPA

78

BAB 4 MENGHILIRKAN SAINS DASAR
Sebelum memulai bab ini, mari kita simak sebuah pernyataan filsafat,
Sains yang menghilir tanpa melahirkan kemanfaatan, ibarat pohon tinggi dan rindang namun tak
berbuah, tak bisa dirasakan manis dan lezatnya (tanpa nama).
Menghilirkan sains dasar adalah suatu ajaran dan suatu keharusan, karena tanpa menghilir sains
dasar itu terasa kering dan sulit. Pada kenyataannya di Indonesia hampir sebagian besar dosen atau
ilmuwan sains dasar kurang mampu menghilirkan bidangnya. Berikut akan diuraikan bagaimana
upaya menghilirkan sains dasar.
4.1 SAINS: Apakah Menghilirkan Itu Sulit?
Sains dan Teknologi merupakan ‘sepasang sejoli’ yang tidak dapat dipisahkan. Cepat lambatnya
perkembangan teknologi sangat bergantung pada seberapa cepat lambatnya penguasaan dan
pengembangan sains. Teknologi keseluruhannya adalah mengenai ilmu pengetahuan dasar (basic
science) dan aplikasinya. Tanpa fondasi ilmu pengetahuan yang cukup, maka teknologi tidak akan
untuk berkembang. Sebaliknya teknologi dapat mengkatalisasi (mempercepat) perkem-bangan sains
dan meningkatkan kemajuan industri. Sains dibangun di atas fondasi kebudayaan, sedangkan
teknologi baru dibangun di atas fondasi sains dan teknologi sebelumnya.
Melihat fenomena pengembangan riset sains dasar di berbagai negara, muncul pertanyaan apa-kah
yang dijanjikan dari suatu proses menghilirkan sains? Apakah proses menghilirkan sains dasar itu
sulit? Untuk itu mari kita lihat perkembangan sains di berbagai negara.
4.1.1 Perkembangan Sains di Berbagai Negara
Kesejahteraan masyarakat suatu negara salah satunya bergantung pada kemampuan masyarakat
tersebut dalam menguasai, menerapkan dan mengembangan sains serta teknologi. Kemajuan
terpenting dalam sejarah umat manusia adalah berkembangnya kemampuan manusia dalam
membaca, menulis dan berhitung. Kemampuan ini terus berkembang hingga ditemukannya alat-alat
bantu (teknologi) yang mampu mempermudah kerja manusia yang berasal dari sains. Setiap bangsa
beradab pernah mengalami era kemajuan dan kejayaan masing-masing.
Peradaban Barat, Islam, Konfucius, Hindu, Budha dan sebagainya, mempunyai ciri kemajuan masing-
masing. Masyarakat di belahan Asia, Eropa, Afrika, Amerika dan di berbagai belahan bumi lainnya
berkompetisi dalam memajukan peradabannya terutama dalam mengembangkan sains dan
teknologi. Dengan demikian hubungan teknologi dan sains dalam kemajuan sebuah peradaban
79

sangat erat. Pada bagian ini akan diberikan beberapa contoh hubungan perkembangan sains dan
teknologi baik di negara-negara maju seperti Amerika, Jepang, dan Inggris maupun di negara-negara
berkembang seperti India, Cina, Thailand, dan Vietnam.
4.1.1.1 Sains di Negara Maju

Negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Jepang dapat membangun fondasi sains
yang cukup kuat sehingga hasil-hasil penelitian yang dilakukan dapat segera diterap-kan menjadi
sebuah teknologi baru, karena didukung dengan pendanaan yang besar. Amerika Serikat tidak hanya
mempunyai satu rencana dan tujuan riset nasional pada satu periode tertentu. Sebagai contoh,
pernyataan periodik oleh Presiden dan kongres, terkait arahan tujuan pembangunan nasional.
Tujuan-tujuan itu dinyatakan baik secara eksplisit maupun implisit dalam alokasi anggaran utama.
Banyak tujuan dan prioritas, yang muncul dari sumber-sumber berbeda. Setiap pemerintahan
mempunyai prioritas sendiri-sendiri untuk penelitian setelah melalui proses kompleks dan penuh
negosiasi yang melibatkan sistem komite di kongres.
Untuk mendorong kolaborasi dalam peneli-tian antara sekolah dan sektor swasta, Amerika Serikat
mempunyai beragam organisasi untuk menyediakan dana-dana penelitian, termasuk Badan Sains
Nasional (National Science Founda-tion), Institut Kesehatan Nasional (National Institute of Health),
Defense Advanced Project Research Agency, dan Office of Naval Research, di samping dukungan
dana dari badan swasta seperti Ford, Rockerfeller dan MacArthur. Para penyandang dana
(pemerintah dan swasta) tidak segan-segan untuk mengucurkan dana jutaan dolar hanya untuk
membiayai satu topik penelitian (misalnya penelitian dalam bidang bioteknologi).
Di Inggris, sistem sains telah mengalami reformasi dan perubahan selama dua dekade terakhir,
sebagai bagian dari reformasi pemerintah dalam layanan-layanan publik. Intensitas riset di Inggris
yang terus menurun antara tahun 1986 dan 1997, sekarang telah hampir pulih. Tren jangka panjang
mengindikasikan bahwa pendanaan pemerintah untuk riset menurun sejak pertengahan tahun
80an. Hal ini terjadi karena adanya peningkatan pendanaan penelitian dari sektor swasta khususnya
pada sekitar akhir tahun 90an. Pemerintah Inggris menyatakan tiga elemen kebijakan riset dan
inovasi, yaitu : 1) meningkatkan keunggulan sains dengan investasi dalam riset sains dasar, dan
membawa penanaman modal dari yayasan dan perusahaan, 2) memperluas kesempatan untuk
inovasi, dengan mengoreksi kegagalan pasar dan meningkatkan partnership antara publik dan
swasta serta 3) menginspirasi kepercayaan konsumen yang lebih dan meningkatkan pengertian
publik dengan menciptakan bingkai kerja yang transparan untuk mengintegrasikan saran ilmiah
80

dalam kebijakan. Reformasi dalam kebijakan sains, teknologi dan pendanaan yang dilaksanakan di
Inggris selama dua dekade terakhir adalah sebagai bagian dari penggerak utama untuk menurunkan
peranan sektor publik, dan membuat penelitian publik berdasarkan respon terhadap kebutuhan
sosial, terutama dalam meningkatkan produktivitas dan performa ekonomi. Arah kebijakan ini
diadopsi berdasarkan asumsi bahwa keunggulan penelitian dan pengejaran agenda yang relevan
tidak akan bertentangan. Dalam merealisasikan hal-hal tersebut maka sektor riset umum, terutama
universitas, harus dilihat sebagai sumber potensi. Transfer ilmu pengetahuan akan optimal ketika
universitas-universitas mengejar riset berkualitas tinggi. Namun di sisi lain keagresifan terhadap
komersialisasi teknologi dapat menjadi kontra produktif dengan mengalihkan sumber daya
menjauhi riset.
Perkembangan Jepang diakui banyak pihak sebagai perkembangan yang luar biasa cepatnya. Dari
sebuah negara yang sangat tertutup hingga menjadi salah satu kekuatan militer terkuat di dunia.
Dari negara yang kalah perang hingga menjadi negara maju kekuatan ekonomi dan teknologinya.
Sejak restorasi Meiji(1866-1869) dan diperbolehkannya teknologi barat masuk dengan cara
mengundang para pakar barat untuk mengajarkan ilmu mereka, Jepang bergerak dengan ‘gigi
empat’. Tidak sedikit warga Jepang yang dikirim untuk belajar di luar negeri, dan kemudian pulang
ke Jepang untuk mengembangkan ilmu yang telah didapatnya. Nasionalisme dari warga Jepang yang
kembali itu dalam mengembangkan ilmunya menjadi salah satu alasan perkembangan sains dan
teknologi di Jepang sangat pesat. Budaya Jepang yang sangat disiplin menyebabkan setiap pekerjaan
atau aktivitas warganya setiap hari efektif. Meskipun Jepang tidak memiliki sumber daya alam yang
melimpah, namun tidak menjadikan negara ini tertinggal. Sumber daya manusia Jepang yang luar
biasa menyebabkan Jepang menjadi salah satu negara maju dan paling disegani di seluruh dunia.
4.1.1.2 Sains di Negara Berkembang
Sains dasar juga cukup populer di negara-negara yang sedang berkembang seperti di Cina dan
Thailand walaupun di beberapa negara ini perhatian terhadap sains dasar tidak serta merta
diterjemahkan ke dalam kehendak politik untuk mendukung penelitian di bidang sains dasar secara
finansial. Hal dilematis terjadi di negara-negara berkembang dimana para pembuat keputusan yang
berniat baik dan sadar pentingnya ilmu dasar, tetapi mempunyai kekhawatiran apakah mereka
mampu untuk berinvestasi pada penelitian sains dasar yang dapat berkontribusi terhadap kondisi
ekonomi dan sosial negara.
Di Cina misalnya, kemakmuran sangat erat dihubungkan dengan kemajuan tekno-loginya. Selama
sepuluh tahun terakhir, Cina telah menunjukkan lompatan maju yang signifikan dalam bidang
81

ekonomi, politik dan bidang-bidang lainnya. Pada saat ini dunia memberikan perhatian yang besar
terhadap perkembangan Cina, bukan hanya karena Cina merupakan pasar terbesar bagi produk-
produk mereka, tetapi juga karena pencapaian Cina dalam teknologi yang secara bertahap menjadi
dewasa. Di satu sisi Cina menguntungkan mereka dalam kolaborasi, dan di sisi lain menjadi pesaing
yang kompetitif yang melakukan satrategi-strategi tandingan.
Walaupun perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Cina sudah sangat maju dibandingkan
dengan negara-negara lain di Asia, namun masalah utama yang dihadapi Cina dalam pengembangan
sains dasar adalah masalah teknis. Di Cina hanya ada satu Yayasan Ilmu Alam (Natural Science
Foundation), dimana proses evaluasinya tidak cukup transparan karena hanya melibatkan beberapa
orang pembuat keputusan pendanaan riset. Akibatnya bagi para peneliti yang tidak mendapat
pendanaan dengan cara ini tidak mungkin untuk dapat melaksanakan proposal riset mereka. Selain
itu universitas-universitas di Cina sebagian besar adalah universitas-universitas umum yang diatur
oleh departemen pendidikan, dimana pendanaan riset diperoleh melalui departemen pendidikan
atau melalui subsidi-subsidi dari propinsi-propinsi dan kota-kota di Cina.
Sejarah panjang Cina mengajarkan bahwa ada hubungan langsung antara kemajuan iptek dengan
perhatian pemerintah terhadap pendidikan/pengembangan intelegensia. Kemajuan teknologi pada
hari ini bergantung pada bagaimana menciptakan atmosfer akademik yang bebas dan hidup.
Pemerintah Cina telah menyadari bahwa untuk mendukung kemajuan dalam bidang iptek, mereka
harus mencoba segala cara yang mungkin untuk menyediakan lingkungan kerja yang memuaskan,
memberikan kompensasi yang memuaskan pada para ilmuwan yang memungkinkan mereka untuk
sepenuh hati menciptakan, mengubah ide-ide mereka ke dalam hasil-hasil ilmiah atau produk-
produk industri.
Di Thailand, pemerintahnya melihat adanya pergeseran dari manufaktur padat karya (labour
intensive manufacturing) menuju aktivitas-aktivitas yang berdasar pada keahlian dan teknologi
sebagai dasar persaingan di masa depan. Pemerintah Thailand juga mengakui keahlian dan teknologi
yang dimiliki sekarang ini tidak mencukupi untuk mencapai tujuan tersebut. Sistem pendidikan di
Thailand telah mengalami masalah kualitas yang serius dari segi pemerataan akses dan kualitasnya.
Pada tahun 1995, Thailand hanya mempunyai 119 ilmuwan dan insinyur sepersejuta populasi,
sangat tertinggal jika dibandingkan dengan Singapura yang mempunyai lebih dari 2.500 dan Cina
mempunyai sekitar 350 ilmuwan (www.dikti.go.id). Pemerintah Thailand telah melakukan berbagai
upaya untuk meningkatkan jumlah tenaga ilmuwan untuk mendukung kemajuan ilmu pengetahuan
dan teknologi. Diantaranya adalah dengan menambah jumlah pendanaan untuk sekolah-sekolah
82

umum dan pendanaan riset di universitas. Harapannya adalah dapat menghasilkan ilmuwan-
ilmuwan yang dapat mengembangkan kemampuan teknologi lokal untuk mengurangi biaya-biaya
dalam menyerap teknologi-teknologi baru, dan untuk dapat mengadaptasikan teknologi tersebut
kepada kondisi lokal masyarakat Thailand. Walaupun jika semua penemuan dasar berasal dari luar
negeri, tetapi desain lokal dan kemampuan pengembangan dibutuhkan untuk menghasilkan produk
yang lebih khas.
Di bidang IT pemerintah Thailand menetapkan tiga tujuan yang ingin dicapai khususnya pada tahun
2010 yaitu:
- Meningkatkan kemampuan bangsa Thailand untuk melek teknologi.
- Menigkatkan sumber daya manusia terampil dari 12% menjadi 30%.
- Meningkatkan pertumbuhan industri berbasis teknologi informasi untuk mendorong
pertumbuhan ekonomi 50% sampai dengan tahun 2010.
Untuk mewujudkan ketiga tujuan di atas, pemerintah Thailand telah melakukan identifikasi
kebutuhan yang harus dikembangkan, yaitu e-Government, e-Education, e-Commerce, e-Society, dan
e-Industri.
4.1.2 Perkembangan Sains di Indonesia
Ilmu sains dasar di Indonesia merupakan ilmu yang kurang diminati. Mengapa demikian? Ada tiga
faktor utama penyebabnya yaitu anggapan bahwa sains adalah ilmu yang sulit, hasilnya apa, dan
kalau selesai kuliah sains mau bekerja dimana?
Walaupun mempunyai sumber daya manusia yang cukup potensial, Indonesia,masih cukup ter-
tinggal dari negara-negara lain di Asia khususnya dalam kemampuan menghasilkan riset yang dapat
memberikan kontribusi langsung kepada masyarakat banyak. Tidak berkembangnya sains di
Indonesia salah satunya dikarenakan tidak adanya kajian sosial untuk sains yang berkembang di
Indonesia saat ini. Hal ini penting, karena sains selama ini dianggap sebagai sesuatu yang a-historis,
a-sosial dan non-kontekstual. Akibatnya tanpa sadar hal itu membiarkan perkembangan sains
menjadi autonomus (liar), tidak tahu dan tidak sadar kemana geraknya serta apakah perkembangan
sains itu cocok dengan konteks lokal sosial-budaya Indonesia atau tidak. Selain itu jika dibandingkan
dengan negara-negara Asia lainnya, Indonesia mempunyai alokasi dana riset dan pengembangan
untuk sains dasar yang jauh lebih kecil.
Adapun masalah-masalah yang dihadapi Indonesia dalam pengembangan iptek antara lain :
83

1. Keterbatasan sumber daya iptek dan anggaran iptek yang kecil yang berakibat pada terba-
tasnya fasilitas riset dan kurangnya biaya untuk operasi dan pemeliharaan.
2. Belum berkembangnya budaya iptek, dimana masyarakat lebih suka memakai/membeli dari-
pada menciptakan sendiri.
3. Lemahnya sinergi kebijakan iptek dari pihak terkait, menyebabkan iptek belum sanggup
memberikan hasil yang signifikan.
4. Belum terkaitnya kegiatan riset dengan kebutuhan nyata akibatnya adalah terjadi in efisiensi
yang luar biasa akibat duplikasi riset dan plagiarism. Dampak lainya adalah merapuhnya
budaya riset sebagai pondasi kelembagaan riset dan teknologi, seperti yang terjadi pada
sektor pendidikan, dimana pendidikan di Indonesia dapat dikatakan kurang berhasil
membudayakan rasa ingin tahu, budaya belajar dan apresiasi yang tinggi pada pencapaian
ilmiah.
5. Masih rendahnya aktivitas riset di perguruan tinggi, dimana perguruan tinggi yang diharapkan
menjadi sebuah pusat keunggulan belum berhasil mengutamakan riset dan pengembangan
dalam Tri Dharma Perguruan Tingginya.
Masalah-masalah tersebut di atas secara langsung telah menghambat perkembangan sains dasar
dan teknologi di Indonesia serta proses penghiliran sains dasar sehingga hasil-hasil riset yang
dilakukan tidak banyak terkait dengan kehidupan nyata. Oleh karena itu pembahasan berikutnya
akan menguraikan tentang bagaimana menghilirkan sains dasar di Indonesia.
Pernyataan filsafat untuk sub bab ini:
Janganlah mencoba untuk menjadi manusia sukses, tetapi jadilah manusia yang memiliki otak yang
bernilai (Albert Einstein)
Apabila seseorang membatasi kemampuannya, pada saat yang sama ia telah membatasi hasilnya
(Charles M.Schwab)
4.2 Proses Menghilirkan Sains
Menghilirkan sains secara umum dibagi menjadi tiga kegiatan yaitu menghilirkan ilmu, menghilirkan
produk dari ilmu, dan menghilirkan manusianya. Ketiga macam proses menghilir ini mempunyai pola
sendiri-sendiri yang harus diketahui oleh pelaku proses penghiliran.
Dalam hidup kita tidak pernah lepas dari masalah-masalah yang harus kita pecahkan dan biasanya
memaksa kita untuk membuat pilihan. Kadang kita dihadapkan dengan beberapa pilihan, yang
84

masing-masing mempunyai kelemahan dan kelebihan. Hal tersebut membuat kita kesulitan dalam
mengambil keputusan. Ada beberapa pendekatan yang bisa membantu kita mengatasi masalah-
masalah yang secara umum sering kita hadapi, yaitu mendefinisikan masalah, mengarahkan
masalah, mencari solusi alternatif, membuat keputusan, serta implementasi solusi.
Elemen-elemen sains dasar seperti Matematika, Fisika, Kimia, Astronomi, dan Biologi, mem-punyai
caranya sendiri-sendiri untuk berperan sebagai problem solving dalam kehidupan manu-sia.
Pembahasan berikut akan fokus pada perkembangan ilmu pengetahuan dan perannya dalam
problem solving.
4.2.1 Perkembangan Ilmu Pengetahuan
Ilmu-ilmu yang menjadi elemen sains dasar saling melakukan ‘perkawinan’ dan menurunkan
berbagai ilmu lain yang menjawab berbagai kebutuhan hidup manusia. Ini merupakan bagian dari
proses menghilirkan sains. Perhatikan bagan yang ada pada Gambar 3.3.
Kombinasi keempat ilmu tersebut akan menghasilkan ilmu baru yang bermanfaat bagi kehidupan
manusia. Misalnya jika Matematika, Kimia, dan Fisika digabung, maka akan diperoleh ilmu
pengetahuan mengenai rekayasa dan teknologi industri. Adapun ilmu kesehatan dan kedokteran
diperoleh melalui observasi pada manusia atau Bio Proses. Tak ketinggalan di bidang pertanian,
teknologi Agro diperoleh melalui perpaduan Biologi dan Kimia. Lain lagi jika seluruh sains dasar
dipadukan dengan budaya, perilaku, dan keinginan manusia logika (kualitatif dan kuantitatif) yang
terkait dengan hasil pengamatan/observasi maka muncullah ilmu pengetahuan sosial, ekonomi, dan
kemanusiaan. Dan masih banyak lagi ilmu baru yang dapat dihasilkan dari pengembangan dan
perpaduan keempat ilmu dasar tersebut.
Riset layaknya dikembangkan berdasarkan perkembangan berbagai ilmu ini karena akan terasa
manfaatnya dan itu merupakan salah satu yang diharapkan dari menghilirkan sains dasar.
4.2.2 Riset Menuju ke Kemandirian
Sains dasar harus menghilir yang bermakna mengalir dengan lancar, diminati dan ingin terus
dipelajari teorinya, serta penerapannya dapat menghasilkan teknologi awal yang tepat untuk
menyelesaikan permasalahan yang ada dilingkungan dan akhirnya meningkatkan kesejahteraan
masayarakat.
Riset (penelitian) yang pengertiannya tidak diuraikan di Bab 3 ditinjau dari tujuannya mempunyai
dua bentuk, yaitu riset akademik dan riset membangun institusi (negara). Riset akademik dimengerti
85

sebagai riset tahapan yang dievaluasi kemajuannya untuk kepentingan kemajuan ilmu pengetahuan
dan teknologi dan pembentukan kemajuan kompetensi pelaksanaannya (“riset dari aku untuk aku”).
Hasil riset tersebut adalah publikasi dan hak atas kekayaan intelektual.
Riset membangun institusi/negara adalah riset akademik yang diarahkan untuk menghasilkan
kopmoditas yang terpasarkan untuk menjamin keberlanjutkannya (sustainabilitas). Hasil riset ini
adalah publikasi, paten dan komoditas. Deskripsi tujuan kedua jenis riset ini dapat dilihat pada
Gambar 4.1.

Gambar 4.1. Tujuan Riset. (Sumber: Slide power point “Menghilirkan Riset sains dasar. Prof. Lilik
Hendrajaya)
Riset Menuju ke Kemandirian (RMK) adalah suatu paradigma riset yang harus menghasilkan
komoditas yang (kelak) terpasarkan sehingga dapat menjamin keberlanjutannya. Peningkatan
kualitas ilmu pengetahuan dari aspek teori, terapan, dan penguatan industri akan menguatkan
kemandirian para penelitinya, dan sekaligus mengokohkan kemandirian institusinya.
Riset Menuju ke Kemandirian terdiri dari empat pilar yaitu:
1. Periset wajib bersemangat dan memilih metodologi yang tepat agar segera atau kelak
(terukur waktunya) karyanya menjadi komoditas yang terserap pasar.
2. Suatu riset harus menguatkan paling tidak salah satu dari tiga komponen hasil berikut:
86

- Teori, agar ilmu tumbuh dan berkembang
- Terapan, agar dapat menjawab persoalan nyata
- Industri, yaitu terapan yang terbukti dapat menghasilkan pendapatan yang berke-lanjutan.
3. Komoditas yang dihasilkan riset adalah:
- Khasanah iptek, bisa berupa ensiklopedia dan tulisan ilmiah; informasi ilmiah dalam CD-
ROM; komik ilmiah popular; jurnal ilmiah; buku dan buku pintar; kumpulan data.
- Jasa pendidikan dan latihan, bisa berupa pendidikan formal, pelatihan keterampilan,
maupun lokakarya ilmiah produk teknologi.
- Ceramah, seminar, simposium/kongres iptek, yang dikemas dalam bentuk temu
pakar/ilmuwan, ceramah ilmiah, dan pameran serta lomba ilmiah.
- Jasa konsultasi, bisa berupa problem solving dari berbagai bidang, survey, pengukuran,
perancangan serta kepakaran operasional.
- Produk teknologi, yang bisa dibuatkan paten, lisensi, prototip, perangkat lunak.
4. Pengembangan Sumber Daya Manusia Riset yang mendukung kepada tiga pilar di atas.
RMK adalah suatu ajaran agar riset harus belanjut menghasilkan komoditas. Jika diarahkan untuk
membangun institusi akan menjadi riset yang dapat membangun institusi. Untuk Indonesia, masalah
sumber daya alam dan jasa informatika untuk berbagai bisnis pelayanan merupakan topik yang
menghasilkan manfaat bagi kemandirian dosen dan menguatkan institusi yang beriset.
4.2.3 Hasil Riset sains dasar
Industri di negara-negara maju selalu memiliki divisi riset untuk mengembangkan teknologinya, baik
industri itu bekerja sendiri (orang yang bekerja di divisi riset merupakan alumni sains dasar) maupun
bekerjasama dengan perguruan tinggi. Namun yang terjadi di negara kita sebagain besar industri
tidak memiliki divisi riset, apalagi melakukan kerjasama dengan perguruan tinggi. Akibatnya
sebagian besar alumni sains dasar kurang terserap di dunia industri dan jika ada kebanyakan
berpindah ke ilmu terapan. Di sisi lain, temuan-temuan sains dan teknologi dari perguruan tinggi
seringkali tidak menjawab permasalahan yang dihadapi oleh dunia industri dan pemerintah.
Diperburuk lagi riset-riset di perguruan tinggi didominasi oleh riset sains untuk sains. Beranjak dari
sini, sebaiknya perguruan tinggi memulai dengan riset-riset yang difokuskan pada pemecahan
masalah bangsa, sumber daya, kehidupan lokal, dan industri. Selanjutnya, solusi permasalahan dan
hasil-hasil riset tersebut ditawarkan kepada pemerintah dan industri. Dengan harapan berujung
pada kerjasama yang saling menguatkan dan menguntungkan.
87

Di lain pihak, perguruan tinggi juga harus bisa memulai menciptakan industri di dalam perguruan
tingginya, dengan memfokuskan riset-riset untuk menghasilkan sesuatu yang nyata dari
permasalahan yang ada. Adapun bentuk dari usaha perguruan tinggi dapat berupa jasa, konsultasi
dan produk. Hal ini akan dibicarakan lebih rinci pada bagian 4.3.1. Kerjasama Perguruan Tinggi
dengan Dunia Industri.
Tabel berikut suatu contoh bagaimana bentuk hilir dan kemasan riset sains dasar.
Tabel 4.1. Bentuk dan kemasan proses menghilirkan sains
No Jenis Riset Bentuk Hilir Kemasan
1
Pengembangan teori dan
prinsip-prinsip
Pengetahuan rinci, teknis
Pengetahuan populer
Prediksi

Ditulis dalam bentuk
buku/monograf
Ceramah keliling
Pengumuman pengetahuan
melalui workshop
2 Pengembangan instrumen
Prototipe
Alat peraga moduler
Promosi penggunaan dan
manfaat yang diihasilkan
3
Pengembangan penalaran
penyelesaian masalah
Kepakaran problem
solving(jasa konsultasi)
Proposal konsultasi
4 Material maju
Prototipe laboratorium
Prototipe skala menengah
Kemasan menyakinkan agar
dapat investasi ke tahap
industri
5 Sistem kompleks
Pengetahuan pendekatan
Pola pikir analisis dan
sintesis(integratif)
Ditulis dalam media bentuk
populer
Buku pintar
Berbagai workshop
6
Energi baru dan
terbarukan
Prototipe skala
laboratorium dan
menengah
Promosi penggunaan dan
manfaat
Berbagai seminar
7
Teknologi informasi dan
komunikasi
Perangkat lunak
Yang akrab pengguna


4.2.4 Menghilir Menghasilkan Komoditas yang Diserap Pasar
Akan diberikan contoh penghiliran sains dasar dari beberapa bidang. Dimulai dari bidang Kimia,
Matematika, dan Fisika.
88

4.2.4.1 Teknologi Pengolahan Buah Kelapa Terpadu dengan Skala Rumah Tangga
(disarikan dari “Bambang Setiaji: Coco Power)
Indonesia mempunyai luas 3.712 juta Ha wilayah yang ditanami pohon kelapa. Wilayah itu 96,6%
dimiliki perkebunan rakyat, 2,7% oleh swasta, dan 0,7% milik negara (situs Dewan Kelapa Indonesia,
2009). Wilayah seluas 76,5% tersebar di Jawa, Sumatra, dan Sulawesi. Pengaktifan usaha kelapa
berarti pemberdayaan masyarakat.
Buah kelapa terdiri dari air, sabut, tempurung, dan daging kelapa. Sebagian besar masyarakat hanya
memanfaatkan air dan dagingnya. Padahal, semua bagian dari buah kelapa dapat dikembangkan
menjadi produk yang mempunyai nilai jual tinggi di pasar. Berbagai pengembangan produk dari
buah kelapa dapat dilihat pada bagan berikut.

Gambar 4.3. Buah kelapa.

Gambar 4.4. Pengembangan produk kelapa.
89

Pengolahan buah kelapa menjadi berbagai produk di atas masih terbatas karena ketidaktahuan
masyarakat terhadap teknologinya. Teknologi sederhana untuk mengolah sabut kelapa, misalnya,
menggunakan mesin pemisah sabut kelapa.

Gambar 4.5. Mesin pemisah sabut kelapa, cocodust dan serabut sabut kelapa.
Sabut kelapa dipisah menjadi serabut dan cocodust.
Serabut dari sabut kelapa dapat diolah menjadi keset, kerajinan, atau jok mobil. Sedangkan
cocodustnya menjadi pot dan papan.

Gambar 4.6. Produk sabut kelapa.
Sementara dari tempurung kelapa, selain untuk kerajinan, dapat dihasilkan arang tempurung dan
asap cair (liquid smoke). Kedua hasil olahan itu dapat diproduksi lagi sehingga mempunyai nilai jual
lebih tinggi. Arang tempurung dapat diolah menjadi briket (bahan bakar), karbon black (filter dan
karet), dan karbon aktif (filter dan absorber). Asap cair yang dihasilkan dari tempurung kelapa dapat
dipakai sebagai pengawet ikan.
90


Gambar 4.7. Kerajinan dari tempurung kelapa

Gambar 4.8. Tungku untuk tempurung kelapa
Potensi kekayaan negara Indonesia berupa kebun kelapa sangat menjanjikan bila dikelola dengan
baik. Indonesia mempunyai luas 3.712 juta Ha kebun kelapa yang 96,6 %nya berupa perkebunan
rakyat, 2,7% dikelola swasta, dan hanya sekitar 0,7% yang menjadi milik Negara. Dari keseluruhan
luas perkebunan kelapa tersebut, sebagian besarnya terhampar dan tersusun di sepanjang pulau
Jawa-Sumatra-Sulawesi yaitu sekitar 76,5%. Potensi yang sangat luar biasa ini akan dapat
memberikan dampak yang positif bagi kesejahteraan masyarakat manakala pemerintah dapat
mengaktifkan usaha kelapa dengan baik. Mengaktifkan usaha kelapa berarti pemberdayakan rakyat.
Berikut ini akan dipaparkan perkembangan teknologi pengolahan untuk keempat bagian buah
kelapa.
A. Teknologi Pengolahan Sabut
Sabut kelapa terdiri dari bagian serabut dan serbuk (cocodust). Kedua bagian sabut ini dapat
dipisahkan dengan menggunakan mesin pemisah sabut kelapa. Setelah melalui proses
bleaching dan diberi warna, serabut dapat dijadikan bahan pengisi jok mobil dicampur
91

dengan latex dan kerajinan berupa keset, kain tenun, hiasan dinding, kap lampu, tas wanita
dan sebagainya. Adapun serbuknya dapat dijadikan sebagai pot, media tanaman dan papan.
B. Teknologi Pengolahan Tempurung
Tempurung kelapa bila dipanaskan di dalam tungku hasilnya dapat berupa arang dan asap
cair (liquid smoke). Lebih jauh lagi, dengan menggunakan mesin press, arang batok kelapa
dapat dijadikan briket yang berguna sebagai bahan bakar. Bahan karbon aktifnya dapat
difungsikan sebagai filter dan absorber serta asap cairnya dapat digunakan bahan pengawet
ikan.
C. Teknologi Pengolahan Air Kelapa
Air kelapa dapat diolah menjadi nata de coco, kecap dan asam cuka/vinegar. Untuk
membuat nata de coco, air kelapa mentah di saring dan dimasukkan ke dalam panci.
Kemudian tambahkan gula pasir (100 gr/liter air kelapa) dan masak sampai mendidih agar
steril. Setelah dingin, pHnya diatur dengan menambahkan za/urea 0,5 gr (per 5 liter air
kelapa) atau asama asetat 20 ml agar pHnya kisaran 3-4. Kemudian campurkan cuka biang
(acetobacter xylinum) sebanyak 170 ml. Masukkan campuran tersebut ke dalam wadah
fermentasi (baskom berukuran 34 x 25 x 5 cm ) dan ditutup dengan kain saring serta
letakkan ditempat yang bersih dan aman. Lakukan pemeraman selama 7-14 hari hingga
lapisan mencapai ketebalan kurang lebih 1.5 cm. Nata de coco yang baik permukaannya rata
dan halus. Selanjutnya lapisan nata diangkat secara hati-hati dengan menggunakan garpu
atau penjepit yang bersih supaya cairan dibawah lapisan tidak tercemar. Cairan dibawah
nata dapat digunakan sebagai cairan bibit pada pengolahan berikutnya. Buang selaput yang
menempel pada bagian bawah nata, dicuci lalu dipotong dalam bentuk kubus dan dicuci.
Potongan nata de coco siap diolah untuk mendapatkan berbagai rasa sesuai keinginan dan
dikemas dengan bungkus atau wadah yang menarik serta siap dipasarkan.
Adapun cuka biang atau starter (biakan mikroba) merupakan suatu bahan yang paling
penting dalam pembentukan nata. Sebagai starter, digunakan biakan murni dari Acetobacter
xylinum. Bakteri ini dapat dihasilkan dari ampas nenas yang telah diinkubasi (diperam)
selama 2-3 minggu.
D. Teknologi Pengolahan Daging Kelapa bagian daging hasil olahannya dapat berupa minyak,
blondo dan ampas.
Pembuatan virgin coconut oil dan pemanfaatannya
92

Pada pembuatan virgin coconut oil, ada dua cara untuk mendapatkan minyak dari buah kelapa yaitu
cara kering dan cara basah. Minyak yang dihasilkan dari cara kering didapat melalui kopra yang telah
ditekan. Namun pembuatan minyak dari cara ini memiliki kelemahan yaitu tumbuhnya jamur pada
proses pembuatan kopra sehingga banyak kopra yang tidak terpakai. Sedangkan dengan cara basah
minyak didapat dari santan kelapa yang dipanaskan.
Sebelum membuat minyak, maka kita perlu mengetahui komposisi dari daging buah kelapa dan
komposisi santan kelapa. Daging buah kelapa terdiri dari 52% air, 34% minyak, 3% protein, 1,5%
karbohidrat, dan 1% zat abu. Ketiga komposisi terakhir terdapat dalam blondo. Sedangkan santan
buah kelapa terdiri dari 54% air, 32,2% minyak, 4,4% protein, dan 8,3% karbohidrat.
Santan kelapa terdiri dari dua lapisan, lapisan paling atas dinamakan krim kelapa dan lapisan paling
bawah adalah skim kelapa. Sistem santan terdiri dari air dan minyak, dimana molekul minyak
dikelilingi oleh molekul air. Pembuatan minyak kelapa merupakan proses emulsi minyak-minyak
yaitu perubahan medium pendispersi dari air menjadi minyak.
Percobaan pembuatan minyak yang efektif dan berkualitas dilakukan dengan menambahkan
minyak pada krim kelapa dalam air. Percobaan ini memiliki kelebihan, yaitu:
1. Waktu pembuatan minyak kelapa menjadi lebih rendah 4-5 jam
2. Minyak yang dihasilkan berkualitas baik
3. Tidak perlu mengatur pH
4. Blondo masih tetap utuh
Cara melakukan percobaan ini adalah sebagai berikut: Mulailah dengan mengambil kepala santan
(kanil) dengan mendiamkan santan.
93


Gambar 4.9. Cara kerja percobaan pembuatan VCO dengan pencairan (osmosis kontak).
Hasil dari percobaan di atas adalah virgin coconut oil seperti di bawah ini:

Gambar 4.10. Virgin coconut oil (VCO).
Produk virgin coconut oil yang dihasilkan sebelum dikemas akan disaring dahulu menggunakan
zeolit. Zeolit adalah mineral yang cukup baik untuk menangkap radikal bebas dan molekul-molekul
penganggu dalam minyak.
94


Gambar 4.11. Penyaringan dengan zeolit.
Khasiat VCO yang dihasilkan di antaranya untuk anti virus, bakteri, jamur, dan protozoa; mengatasi
kolesterol; mengatasi diabetes; mengatasi hepatitis; mencegah kanker; mencegah kelelahan dan
asthma; mengatasi penyakit jantung dan darah tinggi; sebagai oksidan; meningkatkan sistem
pertahanan tubuh; meningkatkan metabolism; mencegah kegemukan; menyuburkan rambut;
mengurangi resiko artherosclerosis (pengapuran pembuluh darah) dan penyakit yang lain yang
berhubungan; mengurangi resiko kanker dan penyakit degenratif lainnya; membantu mencegah
osteoporosis.
Beberapa contoh pengolahan VCO adalah:


95



Gambar 4.12. Hasil Pengolahan VCO.
4.2.4.2 Pengembangan Statistika Aktuaria
Aktuaria adalah bidang ilmu yang merupakan perpaduan antara Matematika, statistika, dan
ekonomi yang berperan dalam menilai atau memperkirakan resiko serta memperkirakan klaim di
kemudian hari dengan akurasi yang bisa diandalkan. Jika melihat kembali bahwa salah satu hasil dari
proses menghilirkan sains yaitu menghilirkan ilmu-ilmu dasar hingga melahirkan ilmu-ilmu baru,
maka statistika aktuaria adalah contoh yang tepat. Teori probabilitas dalam statistika menjadi dasar
untuk pengembangan ilmu ini.
Seorang ahli aktuaria disebut aktuaris, yang mempunyai keahlian di antaranya:
- Mengevaluasi kemungkinan/peluang kejadian-kejadian yang akan datang.
- Merancang cara untuk mengurangi peluang terjadinya kejadian-kejadian yang tidak
diinginkan.
- Meminimasi resiko dari kejadian yang akan terjadi.
Dengan keahlian-keahlian di atas maka seorang aktuaris bisa bekerja sebagai konsultan aktuaria, di
perusahaan asuransi, Direktorat Asuransi Departemen Keuangan, perguruan tinggi, bank serta
perusahaan penanaman modal.
4.2.4.3 Mempelajari Aliran Magma dan Erupsi Gunung Api
Contoh terakhir dari penghiliran sains diambil dari bidang Fisika yaitu tentang erupsi gunung api.
Semenjak terjadinya letusan gunung Merapi di Jogja, 26 November 2010, istilah ‘erupsi’ menjadi
akrab dengan telinga kita. Kata ini makin sering digunakan untuk menggantikan kata ‘letusan’. Istilah
‘erupsi’ diserap dari bahasa Inggris yaitu eruption yang dalam bidang geologi berarti peristiwa
keluarnya uap dan materi vulkanis secara tiba-tiba dari sebuah gunung berapi.
96

Akan kita lihat bagaimana penghiliran ilmu Fisika menjadi solusi untuk menjawab tantangan alam
sehingga bisa disinergikan dengan kehidupan manusia. Di sini ilmu Fisika digunakan untuk
memahami perilaku erupsi gunung berapi. Intinya adalah Physical Vulcanology. Ini mencakup di
antaranya konsep energi, fluida, dan instrumentasi.
Pengamatan gunung berapi, salah satunya menggunakan konsep energi. Jika energi kinetik yaitu
kecepatan partikel diketahui maka akan bisa diperkirakan energi potensial (daya letus) yang
mungkin terjadi. Perilaku magma dibagi berdasarkan letaknya yaitu magma dalam dan magma
dangkal. Magma dalam memiliki energi yang sangat besar. Namun yang berperan dalam letusan
adalah magma dangkal. Pengamatan terhadap perilaku magma menggunakan Fisika Fluida.
Dibutuhkan data tentang viskositas dan temperatur magma. Semakin tinggi beda rapat massa dari
magma, semakin tinggi kontraksinya. Ini yang akan menghasilkan letusan dahsyat.
Peran penting dalam pengamatan gunung berapi tentu saja pada Fisika Instrumentasi. Contohnya
adalah data seismik dengan memperhitungkan tremor, spektrum, dan frekuensi dominan akan
menghasilkan sinyal tak tentu. Instrumentasi juga dibutuhkan pada teknologi satelit yang bisa
mendeteksi berapa kiloton partikel yang akan dikeluarkan. Kondisi gunung berapi tidak diketahui
dari pengamatan langsung melainkan dengan bantuan satelit.
Terakhir, selain menghilirkan ilmu untuk membantu kehidupan manusia, mengamati peristiwa
erupsi gunung berapi, di sini contohnya adalah erupsi Gunung Merapi, juga memperlihatkan
menghilirnya sumber daya manusia. Biasanya Merapi meletus kemudian membentuk kubah baru.
Kubah ini akan dibongkar pada letusan selanjutnya yang biasanya berjarak sekian tahun. Letusan
Merapi tahun 2006 membentuk kubah yang hancur pada letusan tahun 2010. Namun letusan 2010
tidak membentuk kubah baru. Dengan kepekaannya sebagai seorang ilmuwan, Dr Surono
merasakan kejanggalan ini. Maka perlu dipersiapkan penelitian mendalam untuk mengetahui
mengapa fenomena ini bisa terjadi. Ini adalah bukti seorang ilmuwan, ahli sains dasar, yang sudah
menghilir.
4.2.5 Menghilirkan sains dasar dalam Kurikulum
Pembahasan sub bab ini difokuskan pada desain kurikulum yang dibutuhkan untuk menghilirkan
sains dasar. Di sini akan dibicarakan peran sains sebagai bagian dari problem solving. Tulisan ini
dimulai dengan fenomena pendidikan sains di Indonesia. Berikutnya diberikan usulan tentang desain
kurikulum yang seharusnya diberikan di pendidikan dasar, menengah dan pendidikan tinggi agar
97

teori sains diminati dan ingin dipelajari, kemudian terapannya menghasilkan problem solving yang
menjadi awal teknologi untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat.
4.2.5.1 sains dasar dan Problem Solving
Pada tatanan akademik, Matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi sering diasosiasikan dengan ilmu
dasar karena keempat ilmu tersebut mendasari pembentukan dan pengembangan ilmu-ilmu
lainnya. Jika Biologi mempelajari mengenai observasional kehayatan maka tiga ilmu dasar lainnya
mempelajari alam fiskal secara kualitatif dan kuantitatif (mikro, bumi, dan kosmos). Matematika
merupakan ilmu yang mempelajari masalah kuantitas, struktur, ruang dan perubahan. Adapun Fisika
merupakan ilmu alam yang mempelajari materi dan pergerakannya melalui ruang waktu. Yang lebih
umum lagi adalah untuk memahami bagaimana alam raya ini berperilaku. Sedangkan Kimia
merupakan ilmu material beserta perubahannya. Dan terakhir Biologi merupakan ilmu alam yang
mempelajari kehidupan dan makhluk/organisme hidup termasuk strukturnya, fungsi, pertumbuhan,
asal, evolusi, penyebaran dan taksonomi.
a. Matematika
Matematika berasal dari bahasa Yunani (mathema) yang berarti pengetahuan (learning), belajar
(study), ilmu pengetahuan (science). Ilmu ini mempelajari masalah kuantitas, struktur, ruang dan
perubahan. Matematika juga merupakan buah pikiran manusia yang kebenarannya bersifat umum
(deduktif) dan koheren yaitu kebenaran yang didasarkan pada kebenaran yang telah diterima
sebelumnya. Dengan demikian dapat dipandang sebagai produk berfikir maupun proses berfikir.
Seorang Matematikawan bidang kerjanya meliputi bagaimana mencari pola, memformulasikan
konjektur-konjektur baru, dan membangun kebenaran dengan deduksi yang tepat dari definisi dan
aksioma yang dipilih secara tepat.
Karakteristik lainnya adalah Matematika bersifat universal. Dalam kehidupan nyata, manusia tidak
menyediakan konsep Matematika tapi menemukannya. Dan paling penting bahasa Matematika
adalah bilangan dan simbol bukan bahasa Indonesia, Jerman, Inggris atau yang lainnya. Kemudian
semua hukum alam yang sudah diketahui dapat diekspresikan dalam bentuk persamaan
Matematika.
Ilmu Matematika meliputi bilangan dan operasi (teori bilangan), aljabar, geometri, pengukuran,
analisa data dan teori peluang (statistika). Ini adalah cabang-cabang dasar. Dalam
perkembangannya, cabang-cabang ini saling mengisi dan melahirkan cabang-cabang baru yang tidak
kalah manfaatnya misalnya pemodelan Matematika, komputasi,kombinatorial, dan aktuaria.
98

Perkawinan antara geometri dan kalkulus melahirkan geometri diferensial. Berikut beberapa contoh
manfaat Matematika untuk pengembangan ilmu pengetahuan yang lain dan tentunya untuk
kehidupan.
1. Teori bilangan, khususnya aritmatika, digunakan setiap hari untuk hitung menghitung.
2. Statistika, khususnya teori peluang, digunakan untuk mendeskripsikan, menganalisis, dan
membuat prediksi dari berbagai fenomena. Ini digunakan dalam seluruh ilmu.
3. Geometri digunakan pada kajian-kajian yang melibatkan konsep bangun dan keruangan,
misalnya arsitektur dan teknik sipil.
4. Aljabar digunakan untuk melakukan optimasi, misalnya dalam dunia usaha, bagaimana
memperoleh laba sebanyak mungkin dengan biaya sesedikit mungkin.
Pada tingkat lanjut, Matematika digunakan sebagai alat untuk mempelajari berbagai fenomena fisik
yang kompleks dan bisa teramati. Pengamatan ini menghasilkan pola struktur, perubahan, ruang,
dan sifat-sifat yang bisa didekati atau dibuatkan perumusan matematisnya. Hasil perumusan yang
menggambarkan perilaku fenomena fisik disebut model Matematika.
Matematika sebagai disiplin ilmu terus mengalami perkembangan yang pesat dalam bidang
cakupan, teknik dan hasil selama beberapa abad terakhir. Perkembangan teori-teori pada
Matematika murni maupun Matematika terapan terus menjadi perhatian para peneleiti di
lingkungan akademik perguruan tinggi maupun lembaga-lembaga penelitian pemerintah atau
industri. Dengan keuniversalannya, kajian teknik maupun metode Matematika terus dicoba
diaplikasikan di berbagai bidang, termasuk dunia industri dan bisnis. Dalam majalah Financial Times,
edisi February 2006 diungkapkan bagaimana pentingnya Matematika dalam dunia industri dan
bisnis:
“Mathematics offers business a formula for success. Mathematicians have come up with an
impressive multiplication formula for British commerce and industri: spend a few million pounds
promoting the use of maths as a strategic tool, and add billions of pounds of value to businesses.
That is the thinking about a new government-industri consortium, the Mathematics Knowledge
Transfer Network. The network aims to boost the use of maths throughout the economy from
grocery distribution to banking, telecoms to manufacturing. “
Oleh karena itu berbagai riset terus dilakukan baik pada internal institusi akademik maupun
berkolaborasi dengan industri. Dengan didasari oleh rasa keingintahuan (curiosity) dan sebagai
bentuk pengembangan dari sisi Matematikawannya itu sendiri, riset yang dilakukan, digunakan
99

untuk menggambarkan inovasi teknologi yang ada dan dirancang untuk menjawab pertanyaan yang
spesifik.
Problem solving merupakan salah satu bagian dari pembelajaran Matematika secara umum.
Terdapat lima aspek dasar yang harus tercakup secara integral dan komprehensif dalam suatu
proses pembelajaran Matematika yaitu problem solving, reasoning and proof, communication,
connections, dan representation (NCTM, Principles and Standars for School Mathematics, 2000).
Desain kurikulum Matematika mulai dari tingkat pendidikan dasar, menengah hingga pendidikan
tinggi haruslah memuat kelima aspek ini. Mari kita belajar dari desain kurikulum Matematika
Amerika yang memiliki standar untuk problem solving mulai dari kelas I hingga kelas XII. Anak
diharapkan mampu:
- Membangun pengertian yang baru terhadap Matematika melalui problem solving
- Menyelesaikan masalah yang muncul di bidang Matematika maupun bidang lain
- Menerapkan dan mengadaptasi berbagai cara serta strategi untuk problem solving
- Memantau dan melakukan refleksi dalam proses ketika berlangsung problem solving
Untuk meningkatkan kedayagunaan Matematika sebagai alat untuk meningkatkan kesejahteraan
umat manusia dan kemanusiaan, para pakar pendidikan tak henti-hentinya melakukan desain ulang
terhadap kurikulum Matematika yang disampaikan di sekolah-sekolah. Pendidikan Matematika
Realistik (PMR) yang dikembangkan oleh Hans Freudenthal (1905-1990, Utrecht University, Belanda)
berpendapat bahwa Matematika merupakan aktivitas insani (human activities) dan harus dikaitkan
dengan realitas (Ramadhan, 2009). Perhatikan pemilihan istilah ‘insani’ di sini, bukan digunakan
istilah ‘manusia’. Ini mencerminkan ‘berMatematika’ adalah aktivitas yang menyeluruh pada diri
manusia selain elemen raga, juga meilbatkan pikiran dan jiwa.
Pendekatan PMR memberi kesempatan kepada murid untuk menemukan kembali (reinvention) ide
dan konsep Matematika yang dimulai dari penjelajahan terhadap berbagai situasi dan persoalan
dunia nyata. Freudenthal mengembangkan suatu pendekatan teoretis terhadap pembelajaran
Matematika yang menggabungkan pandangan tentang apa itu Matematika, bagaimana belajar
Matematika dan bagaimana Matematika harus diajarkan. Murid harus diarahkan pada berbagai
situasi dimana mereka berkesempatan menemukan konsep Matematika dengan cara mereka
sendiri. Paradigma PMR telah disosialisasikan di Indonesia sejak awal tahun 2000. Sebagian besar
sekolah-sekolah di Indonesia, terutama sekolah negeri, menempatkan peserta didik sebagai objek
dan guru memegang otoritas tertinggi keilmuan. Ini mengakibatkan apa yang diajarkan di sekolah
100

kurang relevan dengan kehidupan nyata. Dengan PMR, guru berfungsi sebagai fasilitator dan harus
aktif mengaitkan kurikulum dengan dunia nyata. Guru juga tidak harus terpaku pada materi dalam
kurikulum, melainkan harus kreatif mencari hal-hal yang dekat dengan keseharian murid. Dengan
stimulus yang beragam dari guru, diharapkan murid dapat mengembangkan atau membuat model-
model yang baru dari permasalahan yang ada. Dari aspek perilaku diharapkan murid akan menjadi
anak-anak yang aktif, dalam gagasan, diskusi, maupun mencari materi pendukung untuk topik yang
mereka pelajari. Mereka juga diharapkan mampu bekerja sama dalam kelompok, bersifat
demokratis dengan berani menerima gagasan orang lain, serta memiliki rasa percaya diri yang tinggi.
b. Fisika
Untuk mengubah image ‘Fisika itu sulit’ tentunya diperlukan suatu perbaikan dan sosialisasi secara
menyeluruh di bidang Fisika. Perbaikan bisa dimulai dari sosialisasi Fisika sejak anak usia dini,
bagaimana pelajaran Fisika disampaikan dengan cara yang sederhana sehingga lebih mudah
difahami. Selanjutnya uraikan apa yang telah dihasilkan di dunia nyata sebagai sumbangsih ilmu
Fisika (seperti kata pepatah “Tak kenal maka Tak Sayang”).
Ilmu Fisika meliputi Mekanika, Listrik dan Magnet, Gelombang dan Optik, serta Termodi-namika.
Dalam perkembangannya, cabang-cabang ini saling menguatkan dan melahirkan cabang-cabang
baru seperti, Fisika Matematika, Mekanika Klasik (Analitik), Mekanika Kuantum, Fisika Modern,
Fisika Kuantum, Fisika Statistik, Mekanika Statistik, Elektrodinamika, Fisika Instrumentasi, Fisika
Bumi, Fisika Komputasi, Fisika Nuklir, Fisika Semikondukor dan Fisika Superkonduktor. Berikut
beberapa contoh manfaat Ilmu Fisika untuk pengembangan ilmu pengetahuan yang lain dan
kehidupan.
1. Fisika Bumi, digunakan untuk mendeteksi kandungan migas dan mineral yang ada di perut
bumi, juga digunakan untuk mitigasi peringatan dini yang berkaitan dengan bencana alam
(gempa bumi dan gunung berapi).
2. Fisika Nuklir, digunakan untuk pengembangan energi alternatif melalui pembangkit listrik
tenaga nuklir dan pengobatan.
3. Fisika Komputasi, digunakan untuk pembuatan Software Simulasi baik untuk model-model
maupun untuk pengajaran.
4. Fisika Instrumentasi, digunakan untuk pengembangan yang berkaitan dengan alat-alat
instrumentasi baik untuk pengukuran maupun otomatisasi di dunia industri.
101

5. Fisika Kuantum, digunakan untuk pengembangan quantum computation dengan quantum bit
(untuk rangkaian) dan quantum dot (untuk memori) dan juga untuk pembuatan kunci sandi.
6. Fisika Ekonomi dan Sosial, digunakan untuk bidang sosial dan ekonomi.
7. Fisika Optik, digunakan untuk alat-alat optik seperti kacamata, kamera dan teropong
Metode pengajaran Fisika harus tepat menghasilkan pemahaman dan peningkatan kecerdasan serta
keterampilan terkait. Oleh karena itu, pengajaran Fisika dimulai dari mahasiswa harus mengerti
hukum dan prinsip-prinsip Fisika, membangun keterampilan penerapan hukum dan prinsip tersebut,
memahami cara berpikir dan bekerja serta manfaat penerapannya dan mengkonstruksi cara
penjelasan/pengajaran agar si pembelajar jadi paham. Begitu juga dengan pengembangan penelitian
harus dimulai dengan pengembangan teori dan prinsip-prinsip Fisika, pengembangan instrumentasi,
dan pengembangan penalaran problem solving.
c. Kimia
Telah dijelaskan sebelumnya bahwa ilmu Kimia adalah ilmu yang mempelajari bahan dan material
yang ada di alam semesta, maka riset dalam bidang Kimia lebih banyak didominasi oleh eksplorasi
sumberdaya alam demi kepentingan manusia. Kimia pada dasarnya terbagi atas beberapa bidang
utama, yaitu: kimia organik, biokimia, kimia anorganik, kimia analitik, kimia fisik, kimia nuklir dan
kimia teori, dan terdapat pula beberapa bidang antar-cabang dan cabang-cabang yang lebih khusus
dalam Kimia seperti Biologi molekular, elektrokimia, fitokimia dan lain-lain. Beberapa jenis riset
Kimia yang dikembangkan saat ini meliputi:
1. Eksplorasi sumber daya alam Indonesia.
2. Penggunaan bahan alam sebagai problem solving beberapa permasalahan
3. Pengembangan teori mengenai sistem dan proses Kimia.
4. Pengembangan alat instrumentasi untuk analisis.
5. Penalaran menggunakan komputasi
Beberapa contoh riset Kimia berdasarkan bidang yang menjelaskan beberapa jenis riset Kimia
adalah sebagai berikut:
1. Riset pada bidang Kimia organik bahan alam yang menggunakan tanaman khas Indonesia
sebagai penghasil senyawa yang berguna bagi industri obat-obatan dan sekaligus riset ini
merupakan tonggak riset Kimia di Indonesia saat ini.
2. Riset pada bidang bioKimia. Riset ini menggunakan bahan yang berasal dari sumber daya
mahluk hidup baik makro atau mikro yang ada di Indonesia. Beberapa riset dibidang ini
102

adalah riset pengembangan mikroba sebagai penghasil enzim yang dapat digunakan dalam
industri.
3. Riset pada bidang Kimia analitik berkaitan erat dengan pengukuran analitik. Penggunaan
pengukuran analitik untuk menentukan jumlah senyawa dalam suatu campuran.
4. Riset Kimia fisik mengembangkan sistem dan proses Kimia khususnya energitika dan
dinamika sistem dan proses tersebut.
5. Riset Kimia anorganik mengembangkan sifat-sifat dan reaksi senyawa anorganik. Salah satu
contoh riset dalam bidang ini adalah pengembangan pembuatan katalis anorganik dari
senyawa organologam dan penelusuran senyawa-senyawa mineral dari alam.
4.2.5.2 Mengundang Lulusan SMU untuk menjadi Mahasiswa Sains
Sedikitnya jumlah peminat lulusan SMU terhadap program studi sains dasar atau MIPA disebabkan
oleh persepsi dari mereka itu sendiri. Persepsi mereka adalah sains dasar mengajarkan berpikir logis,
hukum alam, prinsip-prinsip, keterampilan, merumuskan, merakit bahasa simbol, menghitung,
mengetahui perkembangan teknologi, dan sebagainya. Oleh karena itu, mereka mengganggap
bahwa sains dasar itu merupakan pelajaran yang berat karena menuntut untuk bisa menalar dan
menghafal. Di samping itu, karena program studi untuk sains dasar bernama bidang ilmu, maka
mereka mengkhawatirkan lapangan kerja di bidang tersebut masih tidak jelas. Tidak sedikit diantara
mereka pun berpikiran bahwa hanya orang yang “idealis” yang akan memilih program studi sains
dasar, mengingat bahwa lulusannya yang akan bergelut di dunia penelitian untuk menemukan
teori–teori baru atau prinsip–prinsip baru.
Berdasarkan fakta di lapangan, lulusan MIPA seringkali bekerja di dunia kerja yang bukan
merupakan bidangnya. Sebagai contoh seorang lulusan Kimia bekerja di bank atau di bagian
administrasi suatu perusahaan yang sudah jelas tidak ada hubungannya konsep–konsep yang ia
pelajari selama kuliah. Seorang lulusan MIPA akan dihadapkan pada 3 keputusan, diantaranya:
1. Seorang lulusan MIPA akan diberi pilihan untuk bekerja di bidang yang tidak sesuai dengan
bidangnya atau melanjutkan kembali kuliahnya dengan mengambil bidang lanjutan yang
lebih spesifik atau bidang lain seperti terapan atau bisnis.
2. Jika ia memilih bekerja di luar bidangnya untuk mencapai puncak karirnya maka ia bisa
mengikuti pendidikan profesi ataupun studi lanjut S2 yang berkaitan dengan bidang dimana
tempat ia bekerja atau dengan pengalaman yang sudah diraih selama bekerja ia bisa
membuka usahanya sendiri (entrepreneurship). Sedangkan jika ia memilih untuk kuliah
103

lanjut dengan bidang lanjutan, maka kemungkinan besar ia akan menjadi seorang dosen
atau seorang ahli bidang tertentu (peneliti).
3. Jika pada keputusan kedua ia memilih untuk mengikuti pendidikan profesi, maka untuk
mencapai puncak kesuksesannya ia harus meniti karir profesi tersebut. Sedangkan jika ia
memilih untuk membuka usaha sendiri maka ia harus memasuki dunia usaha dan
mempelajari seluk beluk tentang usahanya.
Isu yang berkaitan dengan lapangan kerja untuk seorang lulusan sains dasar sering menjadi bahan
pembicaraan. Karena sifat dari sains dasar adalah berpikir dan berpengetahuan ilmiah maka
seringkali seorang lulusan sains dasar akan memasuki dunia sekolah dengan berprofesi sebagai
seorang pengajar (guru). Namun, seorang guru perlu mendapatkan kelengkapan seperti
bersertifikat, mampu membuat alat peraga, komunikatif dan kreatif, serta keterampilan untuk bekal
hidupnya jika ia ingin sukses di dunia kerjanya tersebut. Adapun bekerja di dunia terapan/industri
akan mendapatkan pendalaman materi selama kuliah seperti informatika (keterampilan komputer),
elektro (kelistrikan, elektronika, dan telekomunikasi), instumentasi, Fisika bumi (eksplorasi dan
eksploitasi ESDM), argokompleks (argoteknologi), atau pengolahan bahan/material. Beberapa
lulusan juga melanjutkan studinya dengan memilih bidang lanjutan sehingga ke depannya ia bisa
menjadi seorang dosen ataupun peneliti. Juga ada yang memilih studi lanjut di bidang terapan lain
bahkan ada pula yang memilih bidang ekonomi atau bisnis.
Salah satu upaya meningkatkan daya saing lulusan sains dasar adalah dengan cara menghilirkan
sains dasar itu sendiri. Proses menghilirkan ini dilakukan pada saat masa perkuliahan, berikut
merupakan langkah-langkah nyata dalam upaya menghilirkan sains dasar pada mahasiswa.
1. Mengutamakan memahami konsep dibanding hanya menghafal konsep. Hal inilah yang
diperlukan oleh seorang mahasiswa sains dasar, sehingga mereka dapat mengolah apa yang
telah ia peroleh selama kuliah untuk diterapkan dalam penyelesaian masalah.
2. Untuk program studi Matematika, Kimia, dan Fisika, pemahaman rumus yang disertai
dengan banyak latihan. Salah satunya adalah dengan ujian open book. Mahasiswa dituntut
untuk pandai memilih rumus dalam menyelesaikan suatu persoalan. Selain itu, upaya
lainnya adalah dengan menggunakan penilaian dengan menerapkan nilai diskrit (betul
sempurna diberi nilai 10 namun jika hanya sebagian diberikan nilai 0). Dengan demikian,
memaksa mahasiswa untuk bisa lebih rajin latihan soal, cermat dan rapih dalam mencatat.
104

3. Membiasakan menalar dalam memahami persoalan dengan menggambarkan tahap berpikir
menggunakan diagram alir. Dimana setiap alirannya memiliki alur pikir yang berlandaskan
pada teori atau prinsip dari apa yang pernah ia pelajari selama perkuliahan.
4. Memfokuskan program studi dengan mengembangkan mata kuliah pilihan yang terkait
dengan bidang pekerjaan hilir tertentu (sekitar 40 sks).
5. Mengadakan kegiatan fokus, sebagai contoh untuk Fisika optik dapat dilihat di tabel berikut.
Tabel 4.2. Contoh kegiatan fokus dalam bidang fisika optik.
Kegiatan Fisika
optik
Industri
kacamata
Industri kamera fotografi Industri teropong
Telekomunikasi
Pembuatan lensa
bahan kristal
Transmisi,
refleksi
Pengolahan citra
Potong,
gosok
Kristal
Uji
bayangan
Lensa kristal
Optoelektronik
Uji gambar
Kombinasi
PERLU
Teknik
foto cetak
PERLU
Lensa kristal
Optoelektro nik
Sistem geometri
Filter
Sistem antene
Transponder
filter

6. Kembangkan mata kuliah berbasis sains dasar ke arah bidang produksi dan bagaimana
pengetahuan wirausaha mengelolanya (inkubator usaha). Sebagai contoh:
a. Matematika
1) Matematika asuransi, perbankan, ekonomi, atau mata kuliah dari prodi lain atau
yang diciptakan sendiri.
2) Matematika terkait dengan permesinan aliran fluida (MiGas), simulasi kekuatan
konstruksi, dan sebagainya.
3) Matematika medis, membuat model–model biomedika, hitungan statistika
kependudukan, olahraga, dan sebagainya.
b. Fisika
1) Fisika komputasi dan pembuatan software simulasi
2) Fisika bumi untuk migas, mineral, energi, dan bencana alam
3) Fisika instrumentasi
4) Fisika ekonomi dan sosial
5) Fisika optik: kacamata, kamera, dan teropong
6) Fisika komunikasi seluler
c. Kimia
1) Kimia mineral dan metalurgi
105

2) Kimia sel mineral
3) Kimia bahan pangan dan obat-obatan
4) Kimia bahan serat dan plastik
5) Kimia lingkungan
d. Biologi / ilmu hayati
1) Biologi lingkungan
2) Biologi pangan
3) biomedika
Terapan tersebut tidak mesti semuanya dijalani, setiap prodi harus memilih fokus mana yang akan
mereka kuasai, sebaiknya setiap prodi hanya memfokuskan pada dua terapan saja, sehingga akan
lebih menguasai seluk beluk dunia dari ilmu terapan tersebut. Kesuksesan ini sangat ditentukan oleh
kesiapan para pengajarnya yaitu dosen. Oleh karena itu, dosen harus terlebih dahulu diperkenalkan
dengan terapan tersebut, dan diharapkan juga hendak menelusuri ilmu terapan tersebut. Faktor
eksternal lain yang mendukung kesuksesan proses penghiliran ini adalah kerja sama dengan institusi
hilir (industri) seperti kerjasama dalam hal kerja praktek atau topik skripsi. Selain itu, lulusan sains
dasar hendaklah yang berhubungan dengan dunia usaha yang terkait dengan bidangnya.
Harapannya adalah memunculkan lapangan kerja bagi para lulusan sains dasar berikutnya.
Program ini sangat membutuhkan peran dari mahasiswanya itu sendiri yaitu dalam hal pemasaran.
Dalam hal ini, mahasiswa sains dasar harus menunjukkan perilaku dan dedikasi yang baik selama
mengikuti kontrak kerjasama dalam kerja praktek ataupun topik skripsi. Dengan demikian, institusi
bersangkutan akan memberikan peluang lebih besar untuk lulusan-lulusan sains dasar berikutnya. Di
samping itu, dikembangkan pula mekanisme “share” atau berbagi pengalaman sehingga mahasiswa
yang belum lulus mengetahui kondisi lapangan kerja dimana ia nantinya akan bekerja.

4.2.5.3 Pengajaran sains dasar di Perguruan Tinggi
Untuk telaah pengajaran sains dasar di perguruan tinggi, berikut adalah contoh dari bidang
Matematika.
Metode belajar Matematika seperti PMR (Pendidikan Matematika Realistik) layak untuk diterapkan
hingga ke jenjang pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Hanya saja desain tugas dan topik-
topik bahasan harus disesuaikan dengan tahap perkembangan psikologis dan perkembangan sosial
di usia yang bersesuaian. Pengajaran Matematika di perguruan tinggi harus lebih banyak diarahkan
106

ke bidang terapan. Penguasaan materi dan keluasan wawasan dosen-dosen prodi Matematika
sangat menentukan apakah para mahasiswanya akan menjadi juru tulis yang sibuk menurunkan dan
membuktikan berbagai teorema, ataukah teorema bisa berbunyi menjadi sesuatu yang menjadi cikal
bakal teknologi. Selama ini terkesan bahwa kelompok keahlian tertentu di Matematika, hanyalah
dunia yang mengawang-awang. Berlembar-lembar pembuktian teorema dikerjakan hanya untuk
memperoleh kepuasan bahwa teorema itu bisa dibuktikan. Banyak skripsi, tesis, bahkan disertasi
yang cukup puas dengan keberhasilan pembuktian satu masalah di atas kertas. Alangkah lebih baik
jika pembuktian itu didukung dengan suatu simulasi dari dunia nyata dan menggunakan data yang
valid. Semestinya kuliah-kuliah pilihan porsinya diperbesar dan dipilihkan topik-topik yang memiliki
muatan terapan.
Program studi Matematika di ITB, sebagai contoh, mempunyai karakteristik sebagai ilmu layanan
bagi seluruh program studi di ITB kecuali Fakultas Seni Rupa dan Desain. Mulai dari semester
pertama, mahasiswa langsung berkenalan dengan mata kuliah Kalkulus. Selanjutnya setelah masuk
ke program studi, mata kuliah seperti Matematika Teknik, juga tetap dilayani oleh Prodi
Matematika. Di samping sebagai fasilitator bagi prodi lain, Prodi Matematika juga mengembangkan
diri sebagai ujung tombak problem solving masalah-masalah di dunia nyata. Salah satu Kelompok
keilmuan/keahlian (KK) yang menjalankan fungsi ini adalah KK Matematika Industri dan Keuangan
(MIK). KK ini berkecimpung dengan masalah-masalah yang berkaitan dengan dunia industri dan
keuangan. Peran ini dilakukan melalui pemodelan Matematika dan simulasi.
Sesuai dengan Tri Dharma PT, KK ini juga mengemban tiga misi yaitu pendidikan, penelitian, dan
pengabdian masyarakat. Untuk pendidikan, KK-MIK mengembangkan beberapa mata kuliah terapan
yang melayani prodi-prodi lain selain Prodi Matematika. Materi perkuliahan selalu diperbaharui
seiring perkembangan terbaru. Untuk penelitian, KK-MIK mempunyai komitmen untuk
mengembangkan bidang-bidang penelitian berikut yaitu Optimasi dan Kontrol, Dinamika Fluida,
Dinamika Populasi, dan Matematika Keuangan. Sedangkan untuk pengabdian masyarakat, KK ini
mengadakan magang perkuliahan, magang penelitian, pelatihan, seminar, konferensi, dan workshop
dengan peserta para pengguna Matematika baik yang satu prodi maupun dari dunia industri.
Dengan melihat uraian di atas, Matematika dan Industri dapat dipandang sebagai sebuah
partnership. Ada beberapa hal yang dapat dikembangkan oleh para Matematikawan terkait dengan
industri sebagai partner.
Mekanisme
107

a. Pusat riset antardisiplin ilmu. Negara seyogyanya mendirikan wadah yang menjadi
penghubung pihak akademia dan industri dimana para ilmuwan Matematika berinteraksi
langsung dengan peneliti industri untuk secara bersama-sama menghadapi masalah industri.
Jika perlu industri mendirikan kantor pusat/cabang penelitiannya di universitas-universitas
terkait agar interaksi ini lebih optimal seperti yang dilakukan di beberapa negara eropa.
Cakupan aktivitas pusat riset ini meliputi jangkauan yang luas mulai dari workshop khusus
pada bidang kontemporer dan potensial yang berdampak luar biasa, sponsorship berjangka
waktu lama untuk peneliti posdoktoral industri dan kolaborasi di dalam proyek industri.
b. Posisi tertentu untuk Matematika industri. Beberapa perguruan tinggi mungkin telah
berhasil menghasilkan guru-guru besar dalam bidang Matematika industri. Posisi ini dapat
dijadikan menjadi kolaborasi inti, terus membantu pemecahan masalah industri di dalam
lingkungan akademik dan kembali mempertajam kurikulum akademik dan kegiatan postdoc
demi kebutuhan industri. Kolaborasi ini dapat memberikan kesempatan pada
Matematikawan yang sukses dalam dunia akdemik untuk meneruskan minatnya dalam
masalah industri. Di sisi lain jabatan professor tambahan, posisi yang sama di universitas dan
industri, ditawarkan pada para ahli industri memungkinkan mentrasfer secara langsung dan
optimal antara permintaan industri dan riset serta pendidikan akademik.
c. Praktek Penelitian. Merupakan salah satu cara interaksi/kolaborasi dunia akademik –
industri dimana proyek penelitian dilakukan dalam jangka waktu pendek (4 – 6 bulan) oleh
mahasiswa sarjana atau postdoct secara paruh waktu pada perusahaan yang sudah bermitra
dengan universitas tempat dia menuntut ilmu. Pengalaman yang diperoleh ditransfer dalam
bentuk publikasi dan tesis. Dan lebih jauh dapat terus dikembangkan dalam bentuk
kolaborasi proyek penelitian yang lebih besar.
d. Kelompok bidang keahlian. Masyarakat profesional dan perwakilan pemerintah hendaknya
dapat mensponsori kelompok bidang keahlian tertentu yang terkait dengan industri.
Keduanya menyediakan suatu forum yang unggul untuk pertukaran ide/gagasan, sarana
pelatihan terbaik dan dalam rangka kerjasama penelitian. Tujuan dari kelompok bidang
keahlian ini adalah perangsangan penelitian Matematika pada masalah-masalah industri
yang menarik, mendorong proyek kerjasama antara ilmuwan dan industri, serta
mempromosikan model-model Matematika, metoda-metode numerik, dan komputasi
ilmiah di dalam industri.
e. Kolaborasi riset langsung. Untuk saat ini, kerjasama riset Matematika baru dibatasi pada
industri besar, seperti industri keuangan dan industri teknologi informasi.
108

f. Kelompok studi, yang mempertemukan Matematikawan dan peneliti industri untuk
mendiskusikan masalah-masalah terbuka yang belum dipecahkan. Biasanya peneliti industri
diundang untuk mempresentasikan masalah yang belum terpecahkan di industrinya, baik
dari sisi model Matematikanya maupun metode pemecahannya.
g. Aktivitas penelitian mahasiswa. Berkumpulnya mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu dan
dari beberapa universitas pada forum penelitian tertentu diharapkan dapat menjadi ajang
pelatihan peneliti muda yang mumpuni. Di sisi lain secara akademik forum ini dapat menjadi
laboratorium tempat mensimulasikan lingkungan industri, bekerja dalam kelompok yang
heterogen, dan pengembangan kemampuan berkomunikasi melalui presentasi hasil
kajiannya.
Untuk mensukseskan itu semua maka hendaknya pemerintah bekerjasama dengan pihak terkait
diharapkan dapat menyediakan infrastruktur akademik. Adanya Lingkungan yang mendukung
aktivitas antar disiplin ilmu, apresiasi dan penghargaan pada penelitian yang bertujuan industri,
posisi untuk peneliti dari industri di lingkungan akademik serta quality control untuk proyek
Matematika industri.
Institusi-institusi akademik hendaknya mendorong para dosen untuk meningkatkan kompetensi
risetnya melalui program pendidikan doktoral. Untuk itu bagi institusi penyelenggara (dalam negeri)
program doktoral melalui profesor-profesornya hendaknya terus menawarkan topik-topik riset yang
up to date pada para calon mahasiswa doktor di daerah-daerah. Di satu sisi, keberadaan mahasiswa
doktoral akan memberikan keuntungan dalam menguatkan grup riset dimana profesor itu
bernaung di institusi penyelenggara program. Di sisi lain peluang untuk mendapatkan dana hibah
risetpun menjadi terbuka lebar.
Namun itu semua tidak akan berhasil jika tidak ada tindakan yang sinergi pihak-pihak yang terkait.
Untuk mengikuti program pendidikan doktoral maka pemerintah melalui Dirjen DIKTI telah
menyediakan program beasiswa BPPS yang sampai sekarang kadang-kadang belum terserap secara
keseluruhan. Peluang beasiswa ini harus dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh para dosen yang
belum doktor di seluruh perguruan tinggi. Adapun mengenai masalah topik riset bisa
dikonsultasikan dengan para promotor yang ada di institusi penyelenggara program pendidikan
doktoral. Bila program pendidikan doktor berhasil dijalani, maka sekembalinya doktor baru ke
institusi asalnya masing-masing, diharapkan dapat mengaplikasikan ilmu hasil risetnya di institusinya
untuk membangun surplus center yang baru. Dengan demikian penyebaran surplus center akan
merata di seluruh negeri.
109



Gambar 4.13. Penyebaran surplus center.

Tugas akhir bagi S1 masih bergulat pada sains untuk sains yang masih jauh hasil risetnya menjadi
komoditas. Berangkat dari situ, sebaiknya ada perencanaan dan sinergi antar program studi dan juga
pimpinan fakultas dalam mengelolah Tugas Akhir dalam hal ini Skripsi (S1). Bagaimana memulainya?
Adapun dapat dimulai dengan pembentukan Tim Fakultas yang terdiri dari dosen dari perwakilan
program studi untuk mengelola jenis skripsi ini. Tim dosen tersebut menentukan bidang fokus (yang
sesuai dengan program studi masing-masing) untuk menentukan kegiatan akademik yang dapat
menjadi “komoditas” produk pengetahuan, barang dan jasa. Langkah berikutnya tim dosen
menjabarkan kegiatan yang tepat untuk skripsi yang menghasilkan komoditas tersebut. Dilanjutkan
dengan mengajak mitra untuk membicarakan kegiatan akademik yang menghailkan komoditas,
adakah nilai manfaat komoditas tersebut. Tahap terakhir mencari sponsor dari mitra atau orang tua
mahasiswa untuk membiayai inkubator tersebut.
4.2.5.4 Skripsi Inkubator Usaha
Beberapa langkah-langkah nyata dalam upaya pembuatan skripsi yang bersifat inkubator usaha
adalah sebagai berikut:
1. Pembentukan tim dosen yang akan mengelola jenis skripsi ini
2. Dari bidang fokus, tentukan kegiatan akademik yang dapat menjadi komoditas produk
pengetahuan, barang dan jasa
110

3. Jabarkan kegiatan yang tepat untuk skripsi sehingga dapat menghasilkan komoditas
4. Bicarakan dengan mitra mengenai nilai manfaat komoditas tersebut bagi usahanya, dalam
hal ini mitra perlu diyakinkan akan komoditas yang dihasilkan.
5. Mencari sponsor dari mitra atau orang tua mahasiswa untuk membiayai inkubator usaha
tersebut
Realisasi pengerjaan skripsi inkubator usaha ini adalah sebagai berikut:
a. Satu komoditas / topik dikerjakan 2 sampai 5 orang mahasiswa dengan berbeda bidang
prodi atau segi pengerjaan (metode)
b. Sebaiknya hal yang harus dikerjakan dalam skripsi tersebut adalah mengenai bagian
pekerjaan yang akan/telah mendapat kontrak kerja dari industri, PEMDA, atau swasta. Atau
berisi tentang persiapan untuk membuat suatu CV atau bahkan PT.
c. Mahasiswa mengerjakan aspek akademik atau ilmiah yang kemudian diintegrasikan atau
difokuskan oleh pembimbing menjadi komoditas atau laporan profesional
d. Dalam hal ini yang akan mendapat kontrak kerja adalah CV, PT “milik” atau “dedicated” ke
FMIPA
e. CV, PT yang dibentuk adalah “anak usaha” dari CV, PT FMIPA
f. Mahasiswa setelah lulus ditawari untuk bekerja di CV, PT FMIPA atau di usaha baru sebagai
“direksi” dan manajemen usaha tersebut atau dengan kata lain dapat dijadikan sebagai
masa transisi sambil menunggu pekerjaan lain.
g. Dalam proses ini mahasiswa mendapat berbagai pengalaman nyata seperti berproduksi dari
pemikiran dan tindakan operasionalnya, serta mengembangkan soft skill seperti pergaulan,
kepekaan pada masalah, team work, leadership, dan pemasaran.
h. Kemudian CV, PT FMIPA selanjutnya akan menjadi wahana pendidikan, riset menghilir, atau
produksi sebagai income generator.

Gambar berikut merupakan diagram alir dari skripsi inkubator usaha.
111


Gambar 4.14. Diagram alir skripsi inkubator usaha.

Contoh skripsi inkubator usaha:
1. Membuat arang (batok kelapa, kayu, atau sekam)
- Matematika:
- Geometri tungku pirolisis, tungku pengguna arang briket
- Simulasi aliran panas
- Fisika:
- Kandungan energi, adsorpsi air, sifat konduktivitas, aliran udara pada tungku dan briket
- Kimia:
- Komposisi bahan mentah, bentuk arang, kandungan asap, destilasi, dan asap cair
- Fisika Kimia:
- Manfaat arang dibanding BBM, manfaat asap cair, dan sebagainya.
Usaha yang dirintis atau dibuat
- Tim konsultasi energi biomassa, manfaat arang (karbon); energi, karbon aktif, obat-obatan,
dan sebagainya
- Produksi arang, briket dengan berbagai bentuk geometri
- Produksi asap cair dan produk yang diolah dengan asap cair
- Produksi alat pirolisis pembuat arang dan asap cair
- Produksi tungku dan alat pemasak
112

- Toko kreatifitas
2. Membuat gudang bahan pangan
- Matematika:
- Geometri layout, simulasi aliran
- Fisika:
- Akustik ruangan, sistem ventilasi, sistem cahaya, instrumentasi terkait
- Kimia-Biologi:
- Kandungan bahan pangan, sistem ferogentasi, pengawetan, kemas-bungkus
Usaha yang dirintis atau diciptakan
- Konsultasi pergudangan, pengeringan dan pengawetan bahan pangan
- Rancangan-rancangan gudang dan gudang
- Penyewaan gudang
- Angkutan ke dan dari gudang
- Perdagangan komoditas yang memerlukan gudang
4.2.5.5 Pemasaran Prodi Sarjana sains dasar
Langkah-langkah nyata dalam upaya memasarkan program studi sains dasar adalah sebagai berikut:
1. hendaknya masing-masing prodi sudah mempunyai fokus dan mitra bidang
2. leaflet program studi hendaknya baik dan menarik
3. membuat panel-panel gambar (visual) yang menarik dalam setiap acara open house
4. tidak mengapa menerima siswa pada urutan peringkat papan tengah kebawah. Namun
pembinaan harus lebih disesuaikan misalkan memberikan latihan soal yang tidak terlalu sulit
namun jumlahnya banyak. Jika perlu mahasiswa peringkat bawah dikontrak selesai S1
selama lebih dari 8 semester (9 atau 10 semester), mengingat lulusan yang dihasilkan
haruslah berkualitas.
5. Memelihara hubungan kerjasama dengan dunia kerja terkait seperti sektor kementrian,
swasta dan industri.
6. Kunjungi SMU-SMU favorit dimana siswa papan tengah kebawahnya pun masih cukup baik
7. Bina orang tua mahasiswa yang ekonominya kuat untuk kembangkan dana beasiswa ikatan
kerja dengan kegiatan produksinya atau bisnisnya
8. Kembangkan CDC (career developmnet center) atau placement center

113

Upaya nyata lainnya adalah mengadakan workshop yang berkaitan dengan menghilirkan sains dasar.
Berikut merupakan tawaran kegiatan workshop penghiliran sains dasar:
1. Persiapan pertama
Alokasi waktu kurang lebih membutuhkan 2 hari yang bertempat di fakultas Matematika
dan ilmu pengetahuan alam (FMIPA). Isi dari kegiatan ini diantaranya: sosialisasi kepada
dosen tentang penghiliran sains dasar, pelatihan soft skill yaitu mengubah pola mengajar
menuju lecturetinment dan sistem ujian berbasis kerajinan, tata asas, dan cermat. Pemilihan
fokus terapan bidang studi atau program studi masing-masing dan tindak lanjutnya. Di hari
kedua diisi dengan outbond dan tindak lanjut dari apa yang telah dibicarakan.
2. Persiapan kedua
Alokasi waktu 2 sampai 3 hari yang bertempat di program studi masing-masing. Isi dari acara
ini adalah menentukan fokus, membuat matriks atau tabel yang isinya topik, kontak mitra,
dan jenis kerjasama. Mengembangkan matakuliah pilihan yang berstruktur. Menugasi dosen
untuk mulai mengelola matakuliah pilihan tersebut dengan memulai dari tenaga ahli mitra
terkait (self learning). Oleh karena itu, dosen sangat perlu memiliki pengalaman praktek di
dunia kerja yang bersangkutan dengan fokus ini. Diadakan kegiatan berkala dari bidang
fokus ini seperti seminar, workshop, ataupun kunjungan kerja. Hendaknya bentuk skripsi
lulusan pun terkait dengan fokus ini (sebaiknya skripsi inkubator usaha). Selanjutnya hanya
tindak lanjut yang diiringi pemantauan.
3. Workshop
Peserta dari workshop ini adalah tim prodi yang dilaksanakan di fakultas dengan alokasi
waktu kurang lebih 2 sampai 3 hari.
Walaupun secara umum sains dasar ‘belum’ menghilir di Indonesia namun dengan melihat beberapa
contoh di atas kita patut optimis ke depan akan semakin terbuka kerjasama dalam menghilirkan
sains antara pelaku riset dengan dunia usaha.

Pernyataan filsafat untuk sub bab ini:
Karakter tidak dapat dibentuk dengan cara mudah dan murah. Dengan mengalami ujian dan
penderitaan jiwa karakter dikuatkan, visi dijernihkan, dan sukses diraih (Helen Keller)
4.3 Menghilirkan Sains Menguatkan Negara
Kemanfaatan terbesar yang diharapkan dari proses menghilirkan sains dasar adalah untuk kemas-
lahatan bangsa.
114

4.3.1 Kerjasama Perguruan Tinggi dengan Dunia Industri
Sebenarnya perguruan tinggi tidak perlu kesulitan untuk menyiapkan persoalan-persoalan di dunia
nyata sebagai bahan kajian di kampus. Kerjasama dengan dunia industri bisa dilakukan untuk
memperoleh berbagai topik terkini dalam perkembangan teknologi. Yang terjadi di negara kita,
industri bekerja sendiri, melakukan penelitian dan pengembangan sendiri, tanpa didukung
penguasaan teori yang baik sehingga tidak optimal. Sebaliknya teori-teori diajarkan di perguruan
tinggi, tidak di up date, seiring perkembangan teknologi sehingga mahasiswa menerima teori yang
sudah tertinggal puluhan tahun. Akibatnya begitu jadi sarjana dan masuk ke dunia kerja, seolah
tidak ada hubungannya apa yang dipelajari bertahun-tahun di bangku kuliah, dengan kenyataan di
dunia kerja. Coba saja lihat buku-buku teks yang menjadi referensi kuliah, rata-rata diterbitkan
sepuluh tahun yang lalu. Bahkan ada yang lebih tua dari itu. Padahal penemuan-penemuan
teknologi selalu diperbaharui bahkan dalam hitungan hari.
a. Matematika
Pada praktiknya, pengembangan Matematika banyak diinspirasi atau distimulasi oleh masalah-
masalah industri, diantaranya:
- Industri Kimia: Beberapa reaksi Kimia melibatkan transisi fase dan aliran multiphase. Model
Matematika terkait memuat persamaan reaksi diffusi tak linier dimana pembagian batas-batas
fase berbeda tidak diketahui dan harus ditemukan sebagai bagian dari solusi. Masalah ini telah
memotivasi untuk studi analisis numerik masalah bebas batas untuk persamaan diferensial
parsial dan telah membawa pada pengembangan teori ukuran geometri.
- Eksplorasi Minyak: semua pengetahuan kita tentang isi bumi secara tidak langsung diturunkan
dari pengukuran. Di antara teknik yang paling luas digunakan dalam eksplorasi minyak adalah
seismologi refleksi, dimana gelombang elastic dikirimkan ke dalam lapisan bumi dan pola
refleksi dianalisa untuk mendapatkan informasi struktur dasar. Ini merupakan masalah inverse
klasik (classical inverse problem): menurunkan sifat-sifat fisis lapisan kulit bumi diberikan sebuah
himpunan data yang terkumpul di dalam seismogram. Hasil penghitungan biasanya tidak
tunggal dan perubahan kecil pada data mungkin dapat disamakan dengan perubahan besar
dalam sifat yang diestimasi. Investigasi masalah balikan ini membawa pada pentingnya
pengembangan dalam analisis ill-posed problem dan kuantifikasi ketidakpastian.
- Pencitraan Pengobatan: Semua teknologi pencitraan pengobatan seperti CAT scan dan MRI,
menggunakan kesimpulan tak langsung untuk mendapatkan informasi waktu sekarang tentang
tubuh manusia. Salah satu teknik yang dipakai adalah magneto-encephalography (MEG), yaitu
115

pengukuran medan magnet ekstrakranial (extracranial magnetic fields) yang diproduksi oleh
aktivitas neuron di otak. Struktur dan fungsi otak dapat dipelajari melalui lokalisasi sumber MEG.
Teknik tersebut membawa pada penelitian dalam geometri komputasional dan masalah balikan.
(inverse problem).
- Microelectronics, Nanoelectronics : Kemajuan dalam teknologi chip dihubungkan dengan
kemampuan dalam simulasi komputasional jaringan yang terus membesar dari elemen-elemen
dasar seperti transistor, kapasitor dan resistor. Dinamika elemen-elemen dasar ini digambarkan
oleh persamaan diferensial dan yang menjadi sasaran segi syarat yang bersifat aljabar yang
ditentukan oleh keterhubungan jaringan. Kebutuhan alat-alat sirkuit simulasi yang dapat
dipercaya telah menjadikan motivasi yang kuat untuk mempelajari system persamaan
diferensial aljabar. Perancangan dan pembuatan material-material berstruktur nano akann
membutuhkan kendali dan pemahaman sifat-sifat yang semakin meningkat pada skala
nanometer. Efek mekanika kuantum menjadi penting pada skala nano dan permintaan metode-
metode Matematika dan komputasional multi-skala.
- Logistik, Transportasi : Masalah penjejakan dan optimal menggunakan sumber daya yang ada
dapat dirumuskan senbagai proses pada jaringan, yang dalam kehidupan nyata, seringkali sangat
banyak dan acak. Optimalisasi campuran diskrit-kontinu untuk proses seperti pada jaringan
merupakan tantangan yang berkelanjutan untuk teori Matematika.
- Keuangan : Teori persamaan differensial stokastik dan teori martingale menerima dorongan
yang significant dari penemuan persamaan Black-Scholes dan perumumannya untuk pemodelan
harga saham dan komoditas. Analisis resiko telah distimulasi secara cama oleh teori perubahan
ekstrim, Matematika diskrit dan teori game. Pemunculan sistem berdimensi tinggi dalam msalah
ekonomi dan keuangan merupakan tantangan baru riset numeric dan komputasional.
- Keamanan Informasi (Information Security) : mencakup jangkauan yang luas dari masalah
penyusunan dari teori koding dan kriptologi untuk autentikasi, integritas, time-stamping,
ketersedian pelayanan, dan proteksi pada sifat intellectual. Permintaan yang bertambah akan
informasi dan komunikasi membawa pada pengembangan dalan geometri aljabar dan
kriptografi.
- Communications : Bagaimana mengoptimalkan paket informasi dan schedule switching
merupakan topik yang menarik untuk diteliti pada Matematika, statistika dan ilmu komputer..
Perkembangan zaman dan teknologi yang begitu pesat menjadikan tantangan di dunia industri bagi
seorang Matematikawan semakin banyak dan kompleks. Para pelaku industri berharap para
Matematikawan dapat menjawabnya. Tantangan tersebut diantaranya:
116

1. Sistem mesin dan proses produksi menjadi bertambah kompleks; optimisasi rancangan, waktu
penjualan, dan efektivitas biaya menjadi perhatian utama.
2. Tersedianya mikroprosesor yang sangat kuat dan datangnya tempat penyimpanan data yang
murah telah membawa pada perluasan kapasitas penyimpanan data.
3. Konsep-konsep dan metode Matematika memainkan aturan pertumbuhan untuk bioteknologi
dan teknologi obat. Banyaknya data dan informasi pada level molecular dan sellular telah
meluncurkan suatu revolusi teknologi. Pemahaman kuantitatif yang lebih baik pada proses
bioKimia dan bioFisika mengilhami teknologi inovatif pada produksi minuman, material Biologi
dan jaringan buatan.
4. Urusan masyarakat telah membawa pada aksi-aksi hukum yang mencerminkan syarat-syarat
yang lebih ketat/keras untuk keamanan dan kepercayaan pada pruduk/hasil. Ini semua
menuntut validasi, verifikasi dan kuantifikasi ketidakpastian.
5. Kompleksitas: masalah industri berskala besar seringkali dimodelkan sebagai system yang besar
atau jaringan objek-objek terkait. Objek-objeknya itu sendiri mungkin berupa jaringan-jaringan
yang menggambarkan aspek teknologi, ekonomi, keuangan dan social.
6. Ketidakpastian: yaitu suatu sifat dari masalah industri. Relasi antara masing-masing komponen
sistem kadang-kadang dipahami tidak secara sempurna, sebab dan akibat tidak selalu dapat
ditentukan dengan pasti dan data yang tersedia mungkin tidak lengkap atau ada kesalahan
tujuan eksperimen.
7. Skala berlipat ganda: masalah-masalah industri biasanya tidak bermain pada satu skala waktu
atau panjang saja. Sebagai contoh, perilaku makrokospik material bergantung pada interaksi
atom dan molekul serta pada akhirnya semakin bertambah kebutuhan untuk lebih baik lagi
memahami pembentuknya.
8. Simulasi berskala besar: Ilmu komputer dan teknik telah menjadi elemen yang terintegrasi pada
proses perancangan industri. Simulasi numerik berskala besar menggantikan percobaan-
percobaan yang semakin bertambah mahal maupun tidak munkin dilakukan. Industri
penerbangan merupakan contoh untuk fenomena ini.
9. Data dan Informasi: Ketersediaan komputer-komputer berjaringan, sensor, modul-modul
komunikasi dan perangkat monitoring menghasilkan sebuah aliran data yang terus meningkat.
Bukan hanya peningkatan kuantitas data tapi juga cara data tersebut terbentuk, seringkali
berasal dari berbagai sumber dan dengan derajat ketelitian yang bervariasi.
10. Kerjasama antar disiplin ilmu : Kesuksesan solusi masalah-masalh industri memerlukan
kolaborasi para ahli dari disiplin ilmu yang berbeda. Ini diakui oleh industri secara umum bahwa
117

matematik adalah penghubung antara sains dan engineering, dan beberapa industri termasuk
Matematikawan berada dalam tim riset industri.
11. Transfer pengetahuan Matematika : Matematika telah melalui suatu periode pertumbuhan yang
hebat dan menggemparkan, dan komunitas riset Matematika telah membangun sejumlah besar
teknik yang dapat memberikan keuntungan penting untuk industri dan lingkungan masyarakat
(Beauzamy, 2002). Mentranslasikan teknik-teknik ini ke bentuk praktis dan pengimplementasian
pada model pola yang aplikatif bagaimanapun adalah suatu keharusan.

b. Fisika
Bagaimana ilmu Fisika itu bisa menguatkan atau menciptakan industri?. Untuk menjawab ini tentu
diperlukan suatu pemahaman Fisika yang lebih jauh lagi yaitu dilaksanakan di tingkat universitas.
Untuk menguatkan industri atau menyokong industri diperlukan suatu kajian ilmu Fisika yang tidak
hanya sebatas teori umum tapi materi pengajaran Fisika yang lebih mengarah langsung kepada
usaha mendukung industri, seperti masalah penanganan problem dari industri yang muncul
(khususnya yang terkait dengan ilmu Fisika) sehingga benar-benar dibutuhkan. Sementara untuk
menciptakan industri sendiri tentunya tidak hanya sebatas ilmu teori yang ada tapi harus disertai
dengan aplikasi produksi, misalnya bisa dimulai dengan menciptakan peralatan atau perangkat
untuk kebutuhan rumah tangga yang sederhana, misalnya untuk perangkat elektronik seperti
instrument untuk menghemat daya listrik, teknik pemanasan dan lain sebagainya (bisa
dikembangkan dari Praktikum di Laboratorium).
c. Kimia
Kimia adalah ilmu yang mempelajari mengenai komposisi dan sifat zat atau materi dari skala atom
hingga molekul serta perubahan atau transformasi serta interaksi mereka untuk membentuk materi
yang ditemukan sehari-hari. Kimia juga mempelajari pemahaman sifat dan interaksi atom individu
dengan tujuan untuk menerapkan pengetahuan tersebut pada tingkat makroskopik. Dengan
mempelajari ilmu Kimia maka manfaat yang dapat kita peroleh antara lain: dapat mengubah bahan
alam menjadi produk yang berguna bagi kehidupan manusia, memahami alam sekitar dan gejala
yang dijumpainya dan yang lainnya.
Perkembangan Kimia didasari oleh riset-riset yang dilakukan dari masa lampau hingga hari ini.
Secara umum riset dibagi kedalam dua jenis riset yaitu riset akademik dan riset membangun yang
dilakukan oleh institusi atau Negara. Riset akademik merupakan riset tahapan yang dievaluasi
118

kemajuannya untuk kemajuan IPTEK dan pembentukan kompetensi pelaksanaannya, hasil dari riset
akademik dapat berupa publikasi, patent, prototipe laboratorium. Riset membangun merupakan
riset akademik yang diarahkan untuk menghasilkan komoditas yang terpasarkan untuk menjamin
keberlanjutannya, hasil dari riset ini adalah hasil riset akademik dan komoditas IPTEK.
Riset-riset Kimia sebagian besar dilakukan di universitas, balai penelitian dan laboratorium swasta.
Peran serta lembaga-lembaga seperti telah disebutkan diatas dapat membangun sebuah jalinan
hubungan untuk mengembangkan Kimia, sehingga dapat diisyaratkan bahwa perkembangan Kimia
bergerak mengikuti alur dan membentuk nilai tambah (added value cycle). Bagian ini dijelaskan
panjang lebar pada sub subbab 4.2.5.1. yaitu peran Kimia dalam problem solving.
4.4 Revitalisasi Pertanian Menurut sains dasar
Pembahasan panjang lebar di atas akan ditutup dengan contoh peran sains dasar dalam revitalisasi
pertanian.
Revitalisasi pertanian di negara agraris seperti Indonesia, merupakan salah satu langkah yang sangat
tepat untuk mengokohkan perekonomian Indonesia. Revitalisasi pertanian berarti menguatkan
kondisi pertanian sebagai sektor vital dengan mempertinggi prioritas sehingga hasilnya lebih
optimal. Revitalisasi pertanian dalam arti luas dilakukan untuk mendukung pencapaian sasaran
penciptaan lapangan kerja terutama di pedesaan dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Sektor pertanian masih memiliki potensi untuk ditingkatkan apabila berhasil menangani kendala-
kendala yang meliputi produktivitas, efisiensi usaha, konversi lahan pertanian, keterbatasan sarana
dan prasarana pertanian, terbatasnya kredit dan infrastruktur pertanian serta rendahnya
penguasaan teknologi.
Sektor pertanian yang mencakup tanaman bahan makanan, peternakan, holtikultura, perkebunan,
perikanan dan kehutanan menurut Bappenas di antaranya memberikan kontribusi pada PDB
(Produk Domestik Bruto) Nasional, penyerapan tenaga kerja, serta berperan besar dalam
penyediaan pangan untuk mewujudkan ketahanan pangan dalam rangka memenuhi hak atas
pangan. Ketahanan pangan merupakan prioritas pertama dari tujuh (7) bidang fokus pembangunan
ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) seperti yang tercantum dalam RPJPN 2005-2025 dan
RPJMN 2010-2014.
Berdasarkan arahan kebijakan pembangunan iptek tersebut, Agenda Riset Nasional dijabarkan ke
dalam tema dan topik riset tujuh bidang fokus, yang secara keseluruhan dintegrasikan oleh dua
pendukung keberhasilan yaitu faktor sains dasar dan faktor sosial kemanusiaan. Dengan demikian
119

sains dasar (Matematika, Fisika, Kimia dan Biologi) sangat berperan dalam pembangunan iptek
bidang ketahanan pangan yang merupakan sasaran penting dalam revitalisasi pertanian.
4.4.1 Dasar Pertumbuhan Ilmu dan Teknologi

Keberhasilan pembangunan iptek secara keseluruhan diintegrasikan oleh dua faktor pendukung
keberhasilan yaitu faktor sains dasar dan faktor Sosial Kemanusiaan. Kedua faktor tersebut sangat
berperan untuk (1) memperkuat basis keilmuan dari setiap bidang, (2) memperkuat dimensi sosial
dan kemanusiaan dari setiap bidang dan (3) mempererat keterkaitan lintas-disiplin dan lintas-bidang
di antara bidang fokus pembangunan iptek.
Sains dasar merupakan landasan teoritik untuk perkembangan iptek, inovasi dan budaya ilmiah
suatu bangsa. Sebaliknya berbagai kegiatan pemanfaatan iptek dan inovasi dapat menjadi sumber
inspirasi bagi pengembangan sains dasar itu sendiri, yang pada akhirnya membuka jalan bagi
penemuan terapan yang lebih baru. Penguatan dan pengembangan sains dasar merupakan kunci
keberlanjutan pembangunan iptek dan daya saing industri.
Sains dasar mencakup beberapa bidang, yaitu (1) Matematika sebagai sains tentang struktur dan
pola kuantitatif yang dikembangkan melalui abstraksi mental murni dan reflexi atas fenomena alam;
(2) Fisika yang mengungkapkan tatakerja atau hukum-hukum yang mengatur alam fisis; (3) Kimia
yang mengungkapkan tataketeraturan alam, khususnya sifat dan bentuk material; (4) Biologi yang
mengungkapkan keteraturan dalam fenomena hayati; (e) Sains kebumian dan antariksa yang
mengungkapkan keteraturan alam fisis pada skala kebumian, lingkungan dan antariksa.
Peran sains dasar dalam revitalisasi pertanian sangat penting, sebagai basis keilmuan ilmu Biologi
berperan dalam proses Biologi hayati (tanaman dan hewan) sektor pertanian dan teknologi agro,
ilmu Matematika, Fisika, dan Kimia juga berperan penting dalam rekayasa dan teknologi industri
pertanian. Apabila sains dasar yang merupakan landasan ilmiah pengembangan sektor pertanian ini
diintegrasikan dengan faktor sosial ekonomi dan kemanusian akan berkembang usaha agribisnis
yang merupakan salah satu program yang mendukung revitalisasi pertanian. Sains dasar adalah
tulangpunggung (backbone) yang membuat sebuah inovasi bisa berdiri dengan kokoh, dan inovasi
adalah penerapan iptek atau aplikasi baru di masyarakat serta ada aspek pemanfaatan bagi
pembangunan.
120

4.4.2 Agroteknologi dan Agribisnis
Revitalisasi pertanian secara umum mencakup pengembangan agroteknologi, dan agribisnis.
Agroteknologi merupakan penerapan teknologi atau penerapan prinsip-prinsip Matematika dan
ilmu pengetahuan alam (Fisika, Kimia, Biologi dan astronomi) dalam rangka pendaya-gunaan
sumber daya pertanian dan sumberdaya alam secara ekonomis untuk kesejahteraan manusia.
Falsafahnya agroteknologi merupakan praktik-empirik yang bersifat pragmatik-finalistik, dilandasi
faham mekanistik-vitalistik dengan penekanan pada objek formal kerekaayasaan dalam pembuatan
dan penerapan peralatan, sarana dan prasarana, sistem produksi, lingungan, serta pengolahan dan
pengamanan hasil produksi. Objek formal dalam ilmu pertanian budidaya reproduksi berada dalam
fokus, budidaya pertanian, pemeliharaan, pemungutan hasil dari flora dan fauna, peningkatan mutu
hasil panen yang diperoleh, penanganan, pengolahan pengamanan dan pemasaran hasil. Oleh sebab
itu secara luas cakupan agroteknologi meliputi penerapan ilmu teknik dan sains dasar pada cakupan
objek formal dari budidaya sampai pemasaran.
Sebagai implikasi, budidaya pertanian sebagai bagian dari agroteknologi perlu dipelajari secara
bioproses fungsional, dimana proses-proses bioKimia terlibat di dalamnya. Proses bioKimia yang
merupakan pengetahuan dasar atau basis ilmu yang mendasari agroteknologi harus dipahami lebih
mendalam. Di samping ini karena merupakan suatu proses maka hal-hal yang sifatnya SOP (Standard
Operating Procedure) dijelaskan dalam bahasa pengetahuan yang mendasari yaitu bioKimia dan
bioFisika mekanistik. Agroteknologi adalah suatu untaian proses produksi. Suatu elemen proses
produksi dapat dilaksanakan secara terpisah untuk menghasilkan produk yang bermutu untuk
proses selanjutnya.

Gambar 4.15. Untaian proses produksi
Agroteknologi mencakup teknik pertanian (Agricultural Engineering), teknologi hasil pertanian
(teknologi pangan) dan teknologi industri pertanian (agroindustri). Teknik pertanian merupakan
pendekatan teknik secara luas di bidang pertanian untuk melakukan transformasi sumberdaya alam
121

secara efisien dan efektif untuk pemanfaatannya oleh manusia. Teknik pertanian di antaranya
mencakup alat dan mesin budidaya pertanian (ilmu Fisika), teknik tanah dan air (ilmu Kimia dan
Fisika), energi dan elektrifikasi (Fisika), pusat pengolahan dan sistem pengendalian iklim atau sistem
kontrol (ilmu Matematika, komputasi dan astronomi), kegiatan reproduksi flora dan fauna (ilmu
Biologi/hayati). Teknologi pangan merupakan penerapan sains dasar (Kimia, Fisika dan Biologi) serta
prinsip-prinsip teknik, ekonomi dan manajemen pada seluruh mata rantai penggarapan bahan
pangan dari sejak pemanenan sampai siap dikonsumsi. Sedangkan agroindustri merupakan terapan
yang menitikberatkan pada perencanaan, perancangan, pengembangan, evaluasi suatu sistem
terpadu (meliputi manusia, bahan, informasi, peralatan dan energi) untuk mencapai kinerja yang
optimal. Disiplin ini menerapkan Matematika, Fisika, Kimia/bioKimia, serta ilmu-ilmu sosial ekonomi,
dengan objek formalnya adalah pendayagunaan hasil pertanian.
Agribisnis adalah bisnis berbasis usaha pertanian atau bidang lain yang mendukung, baik di sektor
hulu maupun hilir. Agribisnis bekerja pada rantai sektor pangan (food supply chain), maka agribisnis
dengan perkataan lain adalah cara pandang ekonomi bagi usaha penyediaan pangan. Sebagai subjek
akademik agribisnis mempelajari strategi memperoleh keuntungan (laba) dengan mengelola
komoditas, aspek budidaya, penyediaan bahan baku, pasca panen, proses produksi, hingga tahap
pemasaran.
4.4.3 Pertanian/agrokompleks

Secara menyeluruh revitalisasi pertanian sebagai agrokompleks merupakan suatu kompetensi yang
memahami, memberlakukan, memanfaatkan dan menerapkan ilmu pengetahuan teknologi pada
sistem produksi hayati untuk menghasilkan produk yang kemudian diolah menjadi komoditas yang
diperlukan manusia.
Kompetensi pertanian adalah pola pelaksanaan riset yang menghilir, dengan ketentuan kebersatuan
dari hulu ke hilir tidak terpotong-potong (berkesinambungan). Pelaksanaan riset bisa saja berjalan
sendiri-sendiri tetapi tetap terpadukan dalam mengendalikannya. Misalkan pengembangan riset
agroteknologi (hulu) yang mengarah ke agrobisnis (hilir).

Agroteknologi Agrobisnis

122

4.4.4 Budidaya Pertanian dengan Konsepsi sains dasar
a. Penguatan Pertanian dengan sains dasar

Sains dasar sebagai landasan inovasi dalam teknologi pertanian, akan memberikan pondasi yang
kokoh bagi pengembangan teknologi pertanian itu sendiri.
Penguatan di berbagai sektor pertanian dengan sains dasar, di antaranya adalah :
- Prosedur dasar : pertanian dan bioproses (Biologi, bioKimia)
- Pertanian dan peralatan teknologi (biomekanika, mesin)
- Ragam budidaya : pertanian (Biologi, Kimia, Fisika)
- Interaksi : pertanian, manusia dan produktivitas pertanian (Matematika, statistika,
ekonometrika).
- Pertanian dan produksi pertanian (bisnis budidaya, bisnis perdagangan, produksi
komoditas)
- Khusus : pertanian rumput laut, kelapa, kelapa sawit, rempah-rempah.

b. Budidaya pertanian tradisional
Budidaya pertanian tradisional adalah pengembangan pertanian berdasarkan pola lama atau yang
lazim digunakan dan bergantung pada kondisi alamiah yang tersedia. Ciri pertanian tradisional
adalah ada lahan pertanian, ada tumbuhan yang ditanam, air disediakan melalui pengairan (irigasi)
secara sirkulasi alam, yaitu air dibuang/dikembalikan ke alam setelah digunakan, untuk
meningkatkan produk sebagai tambahan nutrisi pada tanaman, digunakan pupuk baik pupuk buatan
maupun pupuk organik. Proses produksi bergantung pada waktu (siang atau malam) serta iklim
(cuaca/musim) sehingga faktor-faktor yang berpengaruh pada proses maupun hasil seperti suhu,
kelembaban dan aliran udara kurang dapat dikendalikan. Kondisi alam yang kurang baik atau kurang
menguntungkan misalkan adanya bencana alam dan hama, dapat merusak proses dan hasil
produksi (pertanian). Umumnya SOP budidaya pertanian tradisional ini bersifat kaku atau sulit untuk
diubah.

c. Budidaya pertanian dengan teknologi (alternatif)
Budidaya pertanian dengan teknologi adalah pengembangan pertanian dengan menggunakan
konsep atau pemikiran lain (alternatif), dengan tujuan hasil atau produk yang diperoleh dapat
terkendali, lebih optimal dan sesuai dengan yang diharapkan. Dengan menggunakan konsep-konsep
sains dasar seperti Fisika, Kimia, Biologi (bioKimia dan bioteknologi) teknologi pertanian dalam hal
123

ini budidaya pertanian dapat dikondisikan sesuai dengan kebutuhan dan disesuaikan dengan kondisi
yang ada.
Beberapa alternatif yang bisa diterapkan dalam budidaya pertanian dengan menggunakan konsep
sains dasar di antaranya adalah ;
- Pada proses pengairan agar air tidak terbuang/mengalir begitu saja atau agar air dapat
disirkulasi, lahan pertanian yaitu tanah diganti dengan media tanam yang lain, misalkan
menanam dalam pot atau sawah dilapisi oleh plastik (konsep Fisika dan Kimia)
- Agar suhu dapat diatur, terhindar dari hama, aliran udara dan kelembaban terkendali maka
budidaya pertanian dengan metode green house/rumah kaca (konsep Fisika dan Biologi)
- Penambahan nutrisi tanaman tidak lagi dengan memberi pupuk pada tanah sebagai media
tanam, tetapi dilakukan penanaman secara hidroponik dimana nutrisi disalurkan ke media
tanam melalui pipa-pipa kecil (konsep Kimia dan Fisika)
- Perbaikan kualitas tanaman dengan memanipulasi sifat Fisika, Kimia dan Biologi tanaman
(rekayasa agen hayati) di antaranya pemberian hormon pengatur tumbuh, pemberian
katalis reaksi (misalkan enzim tertentu yang mengkatatalisi proses Biologi tanaman), dalam
rumah kaca di malam hari diterangi lampu agar reaksi fotosintesis tetap berlangsung,
penerapan kultur jaringan dan teknik transgenik. (konsep Fisika, Kimia dan Biologi).
4.4.5 Pendekatan Sistem pada Proses Kimia
Revitalisasi pertanian merupakan suatu proses pencapaian sasaran, yang secara umum
pendekatannya dapat mengacu pada proses Kimia, yaitu ada input (zat yang diproses) reaktor
(tempat terjadinya proses reaksi) yang dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kondisi lingungan,
katalis, kendala, dan peluang, serta output yang bisa memberikan umpan balik untuk proses
selanjutnya sehingga dihasilkan produk yang diharapkan sebagai hasil reaksi, seperti pada bagan di
bawah ini.
124


Gambar 4.16. Bagan proses kimia.

Proses reaksi Kimia adalah terjadi reaksi lepas dan tangkap electron di kulit terluar atom-atom yang
berinteraksi. Proses ini adalah proses reduksi-oksidasi (redoks) dengan berbagai variasinya.
Secara Fisika proses ini merupakan pergeseran ion-ion positif dan negatif yang mengurai
bertumbukkan dan membentuk molekul-molekul baru. Proses ini sangat dipengaruhi oleh variabel
Fisika seperti suhu, tekanan, cahaya matahari, medan dan aliran listrik, medan magnet (statik),
gelombang elektromagnet dan radiasi (panas, nuklir). Besaran-besaran Kimia dan Fisika yang terlibat
dalam reaksi dapat terukur dan terpantau perubahannya. Agar hasil yang diharapkan dapat terjadi
maka perlu dikendalikan melalui variabel-variabel di atas. Umpan balik merupakan ukuran apakah
hasil sesuai dengan yang diharapkan.

Contoh proses Kimia adalah proses fotosintesis pada daun, seperti pada gambar berikut ;

125

Gambar 4.17. Proses fotosintesis
Agar proses fotosintesis di atas memberikan hasil yang sesuai dengan harapan, ada beberapa
perlakuan :
- Pada malam hari, agar proses fotosintesis tetap berlangsung maka diterangi lampu
ultraviolet.
- Untuk menghasilkan glukosa yang lebih cepat (banyak) maka diberi hormon penguat
klorofil.
- Gas karbondioksida (CO
2
) apabila di udara jumlahnya melebihi ambang batas akan
menyebabkan pemanasan global (global warming), maka dicari tumbuhan atau
mikroorganisme yang mengkonsumsi CO
2
menghasilkan glukosa.
- Glukosa adalah karbohidrat yang diperlukan manusia, maka dicari tumbuhan yang
memproduksi banyak karbohidrat yaitu umbi-umbian.

Sains dasar adalah landasan inovasi teknologi dalam pertanian. Penelitian terapan yang kuat
harus didukung oleh penelitian dasar yang kuat pula, oleh karena itu perlu adanya integrasi,
sinergi dan komunikasi di antara peneliti (penelitian dasar dan penelitian terapan) maupun
dengan pihak pengguna.

4.4.6 Revitalisasi Pendidikan Sarjana dan Pasca Sarjana Pertanian

Revitalisasi pendidikan sarjana pertanian dilakukan untuk menciptakan sumber daya manusia (SDM)
yang memiliki kemampuan dan potensi yang tinggi dalam mendukung pencapaian sasaran dalam
revitalisasi pertanian. Hal –hal yang perlu diperhatikan adalah ;
- Perubahan SOP
- Perbaikan silabi dan SAP
- Revitalisasi laboratorium : laboratorium pengukuran (variabel dan parameter),
laboratorium produksi (kebun, lahan pertanian, rumah kaca, peternakan) serta
laboratorium riset.
- Skripsi (sebagai inkubator usaha)
Sama seperti yang telah dijelaskan pada bagian 4.2.5.4. maka skripsi sebagai inkubator usaha pada
bidang pertanian haruslah selaras antara materi yang telah diterima selama kuliah di program
sarjana pertanian dengan kebutuhan dan peluang di lapangan kerja.
126

Pernyataan filsafat untuk sub bab ini:
- Kita selalu tidak dapat membangun masa depan bagi generasi muda kita, tetapi kita dapat
membangun generasi muda kita untuk masa depan (Franklin D.Roosevelt)
- Apabila perjalanan menjadi sulit, orang yang ulet akan berjalan terus (Knute Rockne)


127

DAFTAR KONTRIBUTOR
NARA SUMBER (PEMBERI CERAMAH)
1. Prof. Lilik Hendrajaya, prodi Fisika ITB
2. Prof. Hendra Gunawan, prodi Matematika ITB
3. Prof. Euis Holisotan, prodi Kimia ITB
4. Prof. Joko Iskandar, prodi Biologi ITB
PESERTA KULIAH FILSAFAT SAINS
1. Asti M. 30110002
2. Aang Nuryaman 30110008
3. Gantina Rachmaputri 30110010
4. Waode Sukmawati A. 30210002
5. Ambran Hartono 30210010
6. Edi Sanjaya 30210011
7. Idha Royani 30209010
8. Hartiwi Diastuti 30510002
9. Muhammad Yusuf 30510004
10. Rina Budi Satiyarti 30510008
11. Ikah ning P. 20209015
12. Rohmat Wahyudi 20209029
13. Arie Hadian 20510023

PENYELIA (EDITOR)
1. Asti M. 30110002
2. RIna Budi 30510008
3. Aang Nuryaman 30110008
4. Prof. Lilik Hendrajaya
DAFTAR BACAAN
Agenda Riset Nasional 2010-2014: Kementerian Riset dan Teknologi. http//www. ristek.go.id/.
Diakses 17 Nopember 2010.
Beauzamy, B. (2002). Real Life Mathematics. Irish Math. Soc. Bulletin 48 43-46.
Ferenc Glatz, Miguel A. Virasoro et.al, Science in 21st Century, Forum I Keynote Speech.
Gunawan, Hendra. (2010): Logika, Epistemologi,Pengembangan Ilmudan Imortalitas, KK Analisis &
Geometri FMIPA ITB.
Habibie,B.J.(2009), Filsafat dan Teknologi untuk Pembangunan.
126

Kadiman, Kusmayanto(2008). Membangun Daya Saing Kemandirian Sains, dan Teknologi Bangsa
Mansfield, E. (1995). Academic research underlying industrial innovations: sources, characteristics,
and financing. Rev. Econ.Stat.
National Council of Teachers of Mathematics (2000). Principles and Standard for Shool Mathematics.
USA.
Ramadhan, Hammad Fithry (2009). Pendidikan Matematika Realistik (PMR) Indonesia. Artikel dari
internet, diunduh Oktober 2010.
Report on Mathematics in Industry July 2008. Organisation for Economic Co-operation and
Development Global Science Forum
Revitalisasi Pertanian : Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Pertanian (Agrokompleks) menurut
Pandangan sains dasar.ppt : http//www.fi.itb.ac.id/~lhendrajaya. Diakses 10 Nopember 2010.
Revitalisasi Pertanian: http//www. Bappenas.go.id/get.file-server/164/. Diakses 17 Nopember 2010.
RISTEK (2005), Strategis Pembangunan Nasional IPTEK 2005 – 2009.
Shing Tung Yau (2002). Science and Technology in China (Personal Recommendation for the
Advancement of Chinese Technology), Harvard Asia Pacific Review, Volume 6 No. 2.
Situs Program Studi Matematika ITB, Kelompok Keahlian Matematika Industri dan Keuangan.Cara
mengembangkan keterampilan pemecahan masalah.ehow.com
Smith, C.H. L., The use of basic science: Basic versus applied science,
http://public.web.cern.ch/public/en/About/BasicScience2-en.html
The United Nations for Development Programs, 2009, IndexHuman Development Index (HDI).
Wikipedia untuk berbagai definisi.
World Economic Forum,2010, Growth Competitive Index (GCI)
Hendrajaya,Lilik (2010). Menghilirkan Riset sains dasar.Power point slide kuliah Filsafat Sains.
Prof. Bambang Setiadji. Seluruh gambar Slide kelapa

127

BAB 5 SIKAP, PERILAKU DAN KEPEMIMPINAN SAINS DASAR
Dari berbagai uraian tentang “potensi” menguatkan bidang lain (demikian tugas sains dasar), maka
berbagai faktor pendukung (katalis positif) perlu diadakan dan dipelihara fungsi dukungannya. Dari
masalah “lingkaran kebuntuan” pertumbuhan sains dasar, tampaknya kualitas manusia dan kualitas
dari gaya kepemimpinan (leadership) dari tokoh-tokoh pemimpin (leader) maka dikondisikan
pembentukannya. Dalam banyak hal, sains dasar “dijebak” atau “terjebak” pada lingkup yang sangat
hulu, sehingga sifatnya “steril” terhadap masalah kehiliran kehidupan manusia, dan di sini tidak
cukup kuat untuk mempertahankan dan memperjuangkan sains dasar untuk tumbuh kuat dalam
pemahaman dasar dan menghilir untuk mewujudkan kemanfaatannya.
Berikut beberapa pandangan tentang perlunya kepemimpinan (leadership) yang tepat untuk
menghela pertumbuhan sains dasar, khususnya di Indonesia.
5.1 Berbagai Kesulitan
Pengertian sains dasar (Basic sciences) terutama yang terkait dengan pendidikan sangat
bergantung oleh apa yang dilakukan di negeri barat yang maju seperti Amerika Serikat dan negara-
negara di Eropa Barat. Kita sendiri kurang tahu bahwa hal atau kebiasaan lain yang dilakukan di
negara-negara tersebut sangat mendukung pendidikan dan perkembangan bagi negara kita.
Salah satunya seperti yang terjadi dengan pendidikan “soft skill” atau ilmu komunikasi antar individu
yang dapat membantu komunikasi ilmiah dan pengambilan keputusan. Di negara-negara maju
tersebut, pendidikan soft skill sudah merupakan pendidikan perorangan dan masyarakat sejak dini.
Akan tetapi, pendidikan soft skill kurang mendapat perhatian di Indonesia. Sains dasar sarat dengan
pengertian definitive dan proses-proses singkat, lurus, dan tidak banyak alternatif.
Sebagai seorang sarjana matematika yang merupakan bagian dari sains dasar, tentunya akan
mempunyai sikap dan sifat spesifik yang terkandung dalam matematika seperti berkata seperlunya,
tegas mengatakan salah atau benar dan selalu berpikiran single solution atau no solution. Akal
sehat mengatakan bahwa matematika amat diperlukan oleh seluruh warga negara Indonesia yang
berjumlah sebanyak kurang lebih 200 juta jiwa. Maka sangat layak bahwa Indonesia mempunyai
pusat nasional kegiatan matematika. Akan tetapi, hal tersebut masih belum dapat diwujudkan.
Suatu alasan lain adalah bahwa matematika bukan ilmu pengetahuan, yang dibenarkan menurut
defnisi internasional : matematika adalah alat berfikir. Demikian juga yang terjadi dengan
pengertian bahwa matematika bukan ilmu pengetahuan maka “ia” tidak memerlukan konsep
pengukuran untuk mendapatkan data dari pengamatan. Ini tercermin pada kurikulum yang
128

diajarkan di sekolah-sekolah dan bahkan matematikawan tidak perlu atau memerlukan metodologi
penelitian generik yang digunakan cabang ilmu pengetahuan lainnya.
Mereka lupa bahwa pendidikan sarjana matematika adalah pendidikan pembangunan bangsa tidak
hanya menjalankan definisi dari pengertian induk ilmu pengetahuan. Sains dasar adalah induk ilmu
pengetahuan yang menurunkan berbagai ilmu pengetahuan terapan yang terkait dengan kehidupan
manusia. Akan tetapi, hubungan tersebut tidak terjadi jika tidak terjadi persahabatan antara
ilmuwan sains dasar dan ilmuwan ilmu terapan (biomedis, agroteknologi, dan teknik). Demikian juga
keterlambatan pengembangan sains dasar ke arah hilir karena terbentur kekurangberanian mencari
jalan ke hilir karena introvert-nya merasa jalan menghilir bukan sains dasar dan takut
berargumentasi dengan pihak hilir yang tak menginginkan sains dasar menghilir. Kesulitan-kesulitan
tersebut mengharuskan adanya revitalisasi sains dasar yang akan memaksakan “ilmu perilaku” (soft
skill) untuk dipelajari dan hakekat sains dasar harus menghilir untuk membuktikan kemanfaatannya.
Institusi merupakan lembaga yang menaungi akademisi. Dalam rangka memajukan sains dasar,
diperlukan suatu wadah yang mewadahi proses penguatan dan pertumbuhan sains dasar itu sendiri.
Penumbuhan benih sains dasar dilakukan pada tingkat/jenjang pendidikan yang lebih rendah
terlebih dahulu yang akan berkembang seiring dengan peningkatan jenjang pendidikan tersebut.
Proses penumbuhan ini harus terintegrasi dan tidak dapat dipisah-pisahkan proses penguatan sains
dasar tidak terputus. Institusi berperan penting dalam melindungi dan mendukung proses
penguatan tersebut. Oleh karena itu, diperlukan pemimpin keilmuan dan juga institusional yang
memahami visi ideal tersebut.
Memajukan sains dasar dengan memupuk sikap, perilaku, dan kepemimpinan ilmuwan sains dasar
merupakan proses pemajuan berkelanjutan dari generasi ke generasi. Penanaman sikap, perilaku,
dan kepemimpinan sains dasar dilakukan sejak dini dan berkelanjutan kepada generasi muda
sebagai penerus agar perjuangan dalam memajukan sains dasar bersifat berkelanjutan dan terus
maju oleh kontribusi pada tiap generasi. Penanaman sikap, perilaku, dan kepemimpinan ilmuwan
sains dasar pada generasi muda merupakan hal yang sangat fundamental dan sangat penting.
5.2 Sikap Utama
Selama mengenyam pendidikan di bangku kuliah, mahasiswa lebih banyak dibekali dengan hard
skill. Namun, ketika masuk ke dunia kerja, tidak hanya hard skill saja yang dibutuhkan, melainkan
juga soft skill. Soft skill menjadi salah satu faktor yang menentukan kesuksesan karir seseorang dan
dapat turut meningkatkan kinerja organisasi.
129

Dunia kerja percaya bahwa sumber daya manusia yang unggul adalah mereka yang tidak hanya
memiliki kemahiran hard skill saja tetapi juga dalam aspek soft skill-nya. Berdasarkan penelitian di
Harvard University Amerika Serikat ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata
oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola
diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar
20% oleh hard skill dan sisanya 80% oleh soft skill[1].
Merupakan suatu realita bahwa pendidikan di Indonesia memberikan porsi yang lebih besar untuk
kapasitas hard skill, bahkan boleh dikatakan lebih berorientasi pada pembelajaran hard skill saja.
Lalu seberapa besar semestinya muatan soft skill dalam kurikulum pendidikan, mengingat bahwa
sebenarnya penentu kesuksesan seseorang itu lebih disebabkan oleh unsur soft skill-nya. Pendidikan
soft skill tentu menjadi kebutuhan penting dalam dunia pendidikan jika berkaca pada realita di
tersebut. Namun untuk mengubah kurikulum bukanlah hal yang mudah. Hal yang bisa dan mudah
untuk dilakukan adalah memberikan muatan-muatan pendidikan soft skill pada proses
pembelajaran di sekolah-sekolah. Sayangnya, tidak semua pendidik mampu memahami dan
menerapkannya. Lalu siapa yang harus melakukannya? Pentingnya penerapan pendidikan soft skill
idealnya bukan saja hanya untuk anak didik saja, tetapi juga bagi pendidik.
Soft skill terbagi menjadi dua jenis. Pertama adalah kualitas personal, yang meliputi: sikap dapat
bertanggung jawab, kepercayaan diri, mampu bersosialisasi, self-management (mampu mengatur
diri sendiri) dan integritas/kejujuran. Hal yang kedua adalah interpersonal skill yang terdiri dari
leadership (kepemimpinan), kemampuan bernegosiasi, mampu bekerjasama dalam tim, mau
berbagi ilmu dengan orang lain, serta dapat melayani klien/pelanggan.
5.2.1 Soft skill
Dalam menghadapi persaingan perguruan tinggi (PT) yang makin beragam, pengajaran ilmu
pengetahuan di kampus dan perguruan tinggi saja tak cukup untuk menjawab tuntutan dunia kerja
terlebih harus berkontribusi pada pembangunan nasional. Seperti halnya yang disampaikan
Koordinator Kopertis wilayah III Prof. Dr. Haryoto Kusnoputranto Skm, DrPh, perguruan tinggi
mutlak memberikan kemampuan pendukung untuk mahasiswa berupa soft skill dan leadhership
untuk bisa beradaptasi dengan dunia kerja. Apalagi pada era perdagangan dan pendidikan global,
signifikan bagi perguruan tinggi menyiapkan secara logis dan analisis semua soft skill yang ada baik
kemampuan verbal, maupun berkomunikasi dengan berbagai macam bahasa asing. Selain itu para
dosen di perguruan tinggi juga harus memberikan bekal kepada mahasiswa berupa keterampilan
130

serta sikap yang baik dan benar. Karena kemampuan iptek yang tinggi juga tak bermanfaat jika tidak
dibekali dengan sikap dan etika soft skill yang baik[2].
Soft skill ini sendiri biasanya dikaitkan dengan kecerdasan intelektual atau yang sering kita kenal
dengan IQ dan kecerdasan emosional atau EQ.Berdasarkan hasil penelitian para neurolog dan
psikolog, Daniell Golleman berkesimpulan bahwa setiap manusia memiliki dua potensi pikiran, yaitu
pikiran rasional dan pikiran emosional. Pikiran rasional digerakkan oleh kemampuan intelektual atau
IQ, sedangkan pikiran emosional digerakkan oleh emosi. Daniel Golleman dalam bukunya
EmotionalIntelligence (1994) menyatakan bahwa kontribusi IQ bagi keberhasilan seseorang hanya
sekitar 20%, dan sisanya yang 80% ditentukan oleh serumpun faktor-faktor yang disebut Kecerdasan
Emosional EQ. Dari nama teknis itu ada yang berpendapat bahwa kalau IQ mengangkat fungsi
pikiran, EQ mengangkat fungsi perasaan[3].
IQ atau singkatan dari Intelligence Quotient adalah skor yang diperoleh dari sebuah alat tes
kecerdasan.Menurut David Wechsler, inteligensi adalah kemampuan untuk bertindak secara
terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif. Inti kecerdasan
intelektual ialah aktivitas otak, yang merupakan organ luar biasa dalam diri kita yang beratnya hanya
sekitar 1,5 kg atau kurang lebih 5% dari total berat badan kita.Tingkat kecerdasan seorang anak yang
ditentukan secara metodik oleh IQ, memegang peranan penting untuk suksesnya anak dalam
belajar.
Kecerdasan emosional (EQ) dapat diartikan dengan kemampuan untuk ‘menjinakkan’ emosi dan
mengarahkannya kepada hal-hal yang lebih positif. Seorang yang mampu mensinergikan potensi
intelektual dan potensi emosionalnya berpeluang menjadi manusia-manusia utama dilihat dari
berbagai segi.Hubungan antara otak dan emosi mempunyai kaitan yang sangat erat secara
fungsional. Antara satu dengan lainnya saling menentukan. Otak berfikir harus tumbuh dari wilayah
otak emosional. Beberapa hasil penelitian membuktikan bahwa kecerdasan emosional hanya bisa
aktif di dalam diri yang memiliki kecerdasan intelektual.
Kecerdasan emosional merupakan kemampuan individu untuk mengenal emosi diri sendiri, emosi
orang lain, memotivasi diri sendiri, dan mengelola dengan baik emosi pada diri sendiri dalam
berhubungan dengan orang lain (Golleman, 1999). Manusia dengan EQ yang baik, mampu
menyelesaikan dan bertanggung jawab penuh pada pekerjaan, mudah bersosialisasi, mampu
membuat keputusan yang manusiawi, dan berpegang pada komitmen. Karena itu orang yang EQ-
nya baik, mampu mengerjakan segala sesuatunya dengan lebih baik.Kecerdasan emosional
131

mengajarkan tentang integritas, kejujuran, komitmen, visi, kreativitas, ketahanan mental,
kebijaksanaan dan penguasaan diri. Oleh karena itu EQ mengajarkan bagaimana manusia bersikap
terhadap dirinya (intra personal) seperti self awareness (percaya diri), self motivation (memotivasi
diri), self regulation (mengatur diri), dan terhadap orang lain (interpersonal), seperti emphathy,
kemampuan memahami orang lain dan social skill yang memungkinkan setiap orang dapat
mengelola konflik dengan orang lain secara baik.
Selain IQ dan EQ, di beberapa tahun terakhir juga berkembang kecerdasan spiritual (SQ = Spiritual
Quotiens). Tepatnya di tahun 2000, dalam bukunya berjudul ‘Spiritual Intelligence: The Ultimate
Intellegence’, Danah Zohar dan Ian Marshall, mengklaim bahwa SQ adalah inti dari segala
intelejensia[4]. Kecerdasan ini digunakan untuk menyelesaikan masalah kaidah dan nilai-nilai
spiritual. Kecerdasan spiritual ini adalah kecerdasan yang mengangkat fungsi jiwa sebagai perangkat
internal diri yang memiliki kemampuan dan kepekaan dalam melihat makna yang ada di balik
kenyataan. Kecerdasan spiritual bukanlah kecerdasan agama dalam versi yang dibatasi oleh
kepentingan-kepentingan manusia yang sudah menjadi “terkapling-terkapling” sedemikian rupa.
Kecerdasan spiritual lebih berurusan dengan pencerahan jiwa. Orang yang memiliki SQ tinggi
mampu memaknai penderitaan hidup dengan memberi makna positif pada setiap peristiwa,
masalah, bahkan penderitaan yang dialaminya. Dengan memberi makna yang positif itu, ia mampu
membangkitkan jiwanya dalam melakukan perbuatan dan tindakan yang positif. Menurut Patrick
O’Brien dalam bukunya “Making College Count” terdapat tujuh kelompok soft skill yaitu:
communication skill, organization skill, leadership, logic, effort, group skills dan ethics. Langkah
pertama sebelum mengasah soft skill adalah menentukan tujuan. Definisikan sukses yang ingin anda
capai, dan susun langkah-langkah apa yang harus anda lakukan untuk mencapi keinginan atau
tujuan tersebut[5].
Sekarang kita bahas kelompok soft skill yang pertama yaitu communication skill. Kemampuan
komunikasi disini meliputi kemampuan komunikasi lisan maupun tulisan. Komunikasi lisan
maksudnya adalah bahwa kita harus mampu menyampaikan kepada orang lain apa yang kita
maksud dan orang lain bisa menangkap apa yang kita maksud tersebut dengan baik. Begitu pula
sebaliknya, kita juga harus bisa memahami atau menangkap apa yang orang sampaikan pada kita.
Jadi persepsi dan asumsi bisa mempangaruhi interaksi. Maka diperlukan komunikasi efektif untuk
menghindari salah paham. Jika ada yang tidak dimengerti, ajukan pertanyaan yang tepat untuk
menghasilkan informasi yang berguna.
132

Tips saat berbicara satu lawan satu : catat pon-poin penting dan sampaikan rangkuman, gunakan
alat bantu, bertanya untuk memastikan dan jangan mengajukan pertanyaan yang ambigu. Untuk
presentasi beberapa hal yang perlu dilakukan adalah: persiapan matang, pembukaan yang menarik,
tekankan poin-poin penting, gunakan fakta, gunakan alat bantu, libatkan peserta, kontak mata,
perhatikan bahasa tubuh dan intonasi, dan yang terkhir adalah perhatikan komentar-komentar dan
pertanyaan dari peserta yang hadir. Sedangkan untuk diskusi grup, hal yang harus diperhatikan
adalah : ungkapkan ide, fokus, menghargai orang lain, catat poin penting dan ikuti hasil yang telah
disepakati bersama.
Sedangkan dalam komunikasi tulisan, tahap yang perlu dilakukan yang pertama adalah mencari dan
memahami informasi, menulis draft awal dan yang terakhir merevisi draft. Kemudian hal-hal yang
harus diperhatikan saat anda membuat tulisan diantaranya; buat tulisan yang padat dan jelas, tidak
perlu “bertele tele”, hilangkan ketidaksukaan, gunakan bentuk poin dan penekanan, jadilah editor
mandiri dan biasakanlah dengan teknologi.
Kelompok soft skill selanjutnya adalah organizational skill yang meliputi kemampuan dalam
manajeman waktu, meningkatkan motivasi serta menjaga kesehatan dan penampilan. Biasanya
orang yang melihat orang lain bekerja lembur, beranggapan bahwa orang yang bekerja lembur itu
rajin dan punya loyalitas tinggi. Belum tentu lembur bisa berarti anda tidak bisa menyelesaikan
pekerjaan sesuai waktu yang diberikan. Hal itu bisa terjadi karena dua kemungkinan, yang pertama
karena pekerjaan yang overload. Kemudian yang kedua, kerja kita kurang efisien. Jadi harus ada
penjadwalan agar kita bisa menyelesaikan tugas kita tepat waktu. Terdapat beberapa strategi
penjadwalan yaitu; buat daftar kegiatan, buat skala prioritas, perkirakan kebutuhan waktu,
alokasikan waktu dan yang terakhir lakukan evaluasi. Dalam menejemen waktu ada beberapa tips
yang bisa membantu, pertama doing tomorrow’s things; mengerjakan sesegera mungkin apa yang
bisa dikerjakan; lakukan trik lima menit, jadi saat kita malas mengerjakan pekerjaan kita, katakanlah
pada diri sendiri “kerjakan 5 menit saja”, biasanya kita akan menegerjakan dan itu lebih dari lima
menit.
Kadang kadang kita merasa tidak bersemangat atau kehilangan motivasi ketika mengerjakan
sesuatu. Hal-hal yang bisa menyebabkan kita kehilangan motivasi adalah: merasa beban terlalu
berat, telah berulang kali gagal, mengalami konflik berat yang menghilangkan konsentrasi, jenuh,
lingkungan yang pesimis dan terpengaruh lingkungan/teman. Saat kita hendak mengerjakan sesuatu
sebaiknya kita tahu apa manfaatnya jika kita melakukan pekerjaan tersebut, sehingga timbul
motivasi dalam diri kita. Motivasi penting bagi kita karena dengan adanya motivasi berarti kita
133

mempunyai emosi positif yang bisa meningkatkan kemampuan otak dan membantu kita untuk
berhasil sehingga martabat atau harga diri kita akan terangkat dengan keberhasilan kita tersebut.
Beberapa hal yang bisa membantu kita agar tetap termotivasi adalah : bagi tugas yang besar
manjadi potongan-potongan tugas agar tarasa lebih ringan, tetapkan sasaran dari setiap kegiatan,
gunakan aturan lima menit yang telah di bahas di paragraf sebelumnya, cari bantuan bila sudah
merasa kewalahan, dan yang terakhir beri penghargaan pada diri sendiri jika telah berhasil
menyelesaikan suatu pekerjaan.
Organization skill yang terakhir adalah menjaga kesehatan dan penampilan. Penampilan penting
karena pada tiga sampai tiga puluh detik pertama berjumpa, orang akan berpersepsi melalui
penampilan anda tentang status sosioekonomik anda, tingkat keterpelajaran dan menyenangkan
atau tidakkah anda. Jadi saat berpenampilan, hendaknya kita bisa menarik perhatian orang, dengan
cara memilih pakaian dan aksesoris yang tepat dan sesuai dengan kondisi.
Kelompok soft skill yang ke -3 adalah leadership. Kita tidak harus menjadi pemimpin utuk membuat
perubahan, yang terpenting adalah partisipasi aktif dimanapun kita berada. Disini kemampuan
leadership tidak diulas detail karena akan kita bahas di sub bab yang lain.
Kelompok soft skill selanjutnya adalah logic. Logic skill yang dimaksud disini adalah kemampuan
dalam menyelesaikan masalah dan berpikir kreatif. Melatih seseorang untuk menyelesaikan masalah
dengan baik dapat berpengaruh pada kemampuan mereka dalam menghadapi masalah di segala lini
kehidupan. Baik mengenai keluarga,pekerjaan dan lain sebagainya (Hasil penelitian psikolog
Thomas D’Zurilla & Arthur Nezu ). Langkah-langkah dalam memecahkan masalah : yang pertama
rumuskan masalah, kemudian cari alternatif-alternatif solusi yang bisa di lakukan dan analisa tiap
alternatif solusi tersebut, lihatlah permasalahan dari berbagai sudut pandang dan lihat
kemungkinan-kemungkinan jika kita memilih suatu solusi. Kemudian pilih salah satu alternatif yang
terbaik, laksanakan solusi yang dipilih dan yang terakhir lakukan evaluasi. Jika kita melakukan
kesalahan, belajarlah dari kesalahan tersebut, jangan hanya mengeluh dan meratapi kesalahan yang
kita lakukan.
Berpikir kreatif adalah berpikir di luar kebiasaan dalam proses menemukan jalan keluar dari suatu
masalah. Ada beberapa penghalang yang memuat kita tidak bisa berpikir kreatif diantaranya ; tidak
adanya kemauan untuk mengubah sudut pandang, enggan menerima perubahan, merasa tidak
berdaya, dan yang terakhir adalah adanya ketakutan dicemooh atau di tertawakan orang. Padahal
hasil penelitian Prof. Isaac Asimov dalam bukunya “The Brain” mengatakan bahwa otak manusia itu
134

terdiri dari 200 milyar sel yang mana dapat digunakan untuk menyimpan dan mengingat seratus
milyar bit informasi atau sama dengan lima ratus ensiklopedia. Jadi kemampuan otak kita itu sangat
luar biasa, sehingga bukan hal yang sulit apalagi mustahil bagi kita untuk berpikir kreatif.
Oleh karena itu ada beberapa metode yang bisa membantu agar kira berpikir kreatif : metode yang
pertama adalah evolusi, perlu pembaharuan sedikit demi sedikit ide yang kita miliki; metode yang ke
dua adalah sintesa, belajarlah mengkombinasikan dua atau lebih ide menjadi satu ide; metode yang
ke tiga adalah revolusi, mengemukakan ide yang benar-benar baru; metode yang keempat adalah
replikasi, yaitu melihat sesuatu yang sudah ada dengan sudut pandang baru dan berbeda; dan
metode yang terakhir adalah insight, artinya mengubah cara pandang pada masalah.
Kelompok soft skill selanjutnya adalah effort. Effort disini meliputi ketahanan menghadapi tekanan,
asertif, kemauan dan kemampuan belajar. Banyak orang yang membuat kesalahan – kesalahan yang
tidak perlu ketika dalm keadaan tegang. Hal itu tentu sangatlah merugikan. Oleh karena itu perlu
ketahanan dalam menghadapi stress, caranya adalah dengan optimisme, semangat yang tinggi
membuat kita merasa bisa menghadapi apapun. Hadapi dengan proporsional, ini bukan akhir dari
segalanya jadi saat menghadapi masalah jangan membuat masalah tersebut terasa lebih berat. Rasa
mengendalikan kedaaan, jangan menganggap diri kita adalah korban karena hidup adalah pilihan.
Hidup seimbang, jadi agar kita tidak terpusat pada satu hal saja.
Kemampuan selanjutnya dalam area soft skill “effort” yakni asertif. Pengertian dari asertif itu sendiri
adalah sikap antara pasif dan agresif, artinya tidak terlalu pasif tapi juga tidak agresif, berani
menyatakan pendapat akan tetapi masih peka terhadap lingkungan sekitar. Tujuan dari sikap asertif
ini adalah untuk mewujudkan win-win solution. Dalam sikap asertif ini terdapat tiga komponen
utama, yaitu: kemampuan dalam memgungkapkan perasaan, kemampuan mengungkapkan
pemikiran secara terbuka dan yang terakhir kemampuan untuk mempertahankan hak pribadi.
Beberapa cara agar kita bisa menjadi seorang yang asertif antara lain: kenali diri, analisis keadaan,
manfaatkan kesempatan, kendalikan emosi, dan yang terakhir berlatih.
Komponen effort yang terakhir adalah kemauan dan kemampuan belajar. Semakin kita tahu
semakin kita merasa tidak tahu apa-apa. Ada peribahasa yang menyebutkan demikian, “ya,
pengetahuan di dunia ini sangat luas, jadi jangan pernah merasa bahwa kita sudah pandai, tahu dan
bisa dalam segala hal.” Walaupun kita tidak selalu suka dengan apa yang kita pelajari, kendalikanlah
diri kita secara professional.
135

Kelompok soft skill yang ke enam adalah group skill atau kemampuan keja sama. Menurut William
G. McGowan, MCI Group, kesukaran kita bergantung pada orang lain kecuali kita bercita-cita
menjadi pemain bola tunggal. Memang banyak hambatan saat kita melakukan kerja sama atau kerja
tim diantaranya ; tidak tahu dan tidak berusaha untuk tahu, ada sebagian yang berkelompok dalam
kelompok dan tidak mau membuka diri serta adanya prasangka buruk sehingga menyebabkan kerja
sama yang dilakukan tidak sepenuh hati. Jadi dalam bekerja sam diperlukan adanya “sinergi” yaitu
memanfaatkan perbedaan, saling melengkapi dalam bekerja, keterbukaan pikiran, mengemukakan
cara-cara baru yang lebih baik dan bukan malah cuek/tidak peduli dengan perbedaan, bekerja
masing-masing secara mandiri, berpikir diri selalu benar dan pasrah menerima seadannya. Langkah-
langkah agar bisa bersinergi yaitu: definisikan masalah dan peluang, sampaikan pendapat, lalu
dengarkan saran atau pendapat orang lain, berdiskusi/ berembug dan cari solusi yang terbaik.
Kelompok soft skill yang terakhir adalah ethic atau etika kerja. Hasil studi D.P. Beach, 1982, 82 %
orang kehilangan pekerjaanya atau macet karirnya karena tidak adanya etika kerja yang baik. Etika
kerja adalah belajar membedakan yang salah dan yang benar dan kemudian melakukan yang benar.
Etika kerja mempengaruhi citra kita, yang nantinya mempengaruhi apakah orang mau bekerja sama
dengan kita atau tidak. Etika terbentuk sesaat atau sebelum bekerja. Karakter seseorang yang
dikatakan beretika adalah dapat dipercaya, hormat, bertanggung jawab, perhatian, adil dan taat
peraturan.
5.2.2 Kepemimpinan
Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin kepada
pengikutnya dalam upaya mencapai tujuan organisasi (Wikipedia)[6]. Banyak definisi kepemimpinan
yang menggambarkan asumsi bahwa kepemimpinan dihubungkan dengan proses mempengaruhi
orang baik individu maupun masyarakat, atau dengan sengaja mempengaruhi dari orang ke orang
lain dalam susunan aktivitasnya dan hubungan dalam kelompok atau organisasi. John C. Maxwell
mengatakan bahwa inti kepemimpinan adalah mempengaruhi atau mendapatkan pengikut.
Seorang pemimpin adalah seseorang yang aktif membuat rencana-rencana, mengkoordinasi,
melakukan percobaan dan memimpin pekerjaan untuk mencapai tujuan bersama-sama (Panji
Anogara, hal. 23).
Tugas seorang pemimpin adalah:
136

1. Pemimpin bekerja dengan orang lain. Seorang pemimpin bertanggung jawab untuk bekerja
dengan orang lain, atasannya, staf, teman sekerja atau atasan lain dalam organisasi sebaik
orang diluar organisasi.
2. Pemimpin adalah tanggung jawab dan mempertanggungjawabkan (akontabilitas. Seorang
pemimpin bertanggung jawab untuk menyusun tugas, menjalankan tugas, mengadakan
evaluasi, untuk mencapai outcome yang terbaik. Pemimpin bertanggung jawab untuk
kesuksesan stafnya tanpa kegagalan.
3. Pemimpin menyeimbangkan pencapaian tujuan dan prioritas. Proses kepemimpinan
dibatasi sumber, jadi pemimpin harus dapat menyusun tugas dengan mendahulukan prioritas.
Dalam upaya pencapaian tujuan pemimpin harus dapat mendelegasikan tugas-tugasnya
kepada staf. Kemudian pemimpin harus dapat mengatur waktu secara efektif dan
menyelesaikan masalah secara efektif.
4. Pemimpin harus berpikir secara analitis dan konseptual. Seorang pemimpin harus menjadi
seorang pemikir yang analitis dan konseptual, dapat mengidentifikasi masalah dengan akurat,
dapat menguraikan seluruh pekerjaan menjadi lebih jelas dan kaitannya dengan pekerjaan
lain.
5. Manajer adalah seorang mediator. Konflik selalu terjadi pada setiap tim dan organisasi. Oleh
karena itu, pemimpin harus dapat menjadi seorang mediator (penengah).
6. Pemimpin adalah politisi dan diplomat. Seorang pemimpin harus mampu mengajak dan
melakukan kompromi. Sebagai seorang diplomat, seorang pemimpin harus dapat mewakili
tim atau organisasinya.
7. Pemimpin membuat keputusan yang sulit. Seorang pemimpin harus dapat memecahkan
masalah. Lebih lengkap tentang bagaimana mengembangkan dan membangun kepemimpinan
akan dibahas pada sub bab berikunya.
5.3 Membentuk Sikap dan Perilaku Kepemimpinan
Istilah etika menurut Jan Hendrik Rapar (1996) dan Hasbullah Bakry (1970) berasal dari dua kata
dalam bahasa Yunani yaitu ethos dan ethikos[4]. Ethos berarti sifat, watak, kebiasaan, tempat yang
biasa. Sedangkan ethikos berarti susila, keadaban, atau kelakuan dan perbuatan baik. Etika sebagai
cabang filsafat membahas baik, buruk, atau benar-tidaknya tingkah laku dan tindakan manusia serta
membahas kewajiban-kewajiban manusia untuk bersikap atau berbuat baik di dalam masyarakat.
Etika mempersoalkan bagaimana manusia seharusnya berbuat atau bertindak. Istilah akademik
dapat diartikan sebagai sesuatu hal terkait dengan pengamatan, penelitian, penalaran, berpikir
rasional dan metodologik atau terkait dengan berbagai kegiatan ilmiah lainnya untuk
137

pengembangan ilmu. Orang yang berkecimpung di dalam pengembangan ilmu seringkali disebut
sebagai akademisi, peneliti, intelektual, ilmuwan atau cendekiawan. Etika Akademik adalah berbagai
kewajiban yang harus dilakukan oleh para akademisi dalam bersikap atau bertindak terkait dengan
pengembangan ilmu. Sikap atau bertindak yang bagaimana yang seharusnya dimiliki oleh seorang
akademisi di dalam pengembangan ilmu?
Menurut Simanhadi Widya Hadi Prakosa (1991), sikap yang harus dimiliki oleh seorang akademisi
(ilmuwan) dalam berbagai kegiatan ilmiah (pengembangan ilmu), senantiasa berpegang teguh pada
kode etik akademik dengan menunjukkan sikap jujur, bersedia menerima ilmu sebagaimana adanya
bukan sebagaimana baiknya, bijaksana, rasional dan metodologis, terbuka dan sanggup menerima
kritik, menjadikan ilmu sebagai kepribadian dan kehidupannya[7].
5.3.1 Membentuk Sikap dan Perilaku sains dasar
Ilmuwan dapat didefinisaikan sebaiagai seseorang yang banyak pengetahuannya mengenai suatu
ilmu, orang ahli dalam suatu bidang ilmu atau seseorang yang memiliki kepakaran dalam suatu
bidang ilmu yang diakui dalam bidang keilmuannya. Agar dapat menjadi seorang ilmuwan sains
dasar yang handal, seseorang harus memiliki ketertarikan pada research/penelitian ilmiah dan
memiliki kemauan yang keras untuk melakukan penelitian ilmiah tersebut yang didasarkan pada
rasa keingintahuan yang tinggi. Penelitian ilmiah menawarkan banyak kepuasan selain rasa
kegembiraan karena berhasil menemukan sesuatu. Kepuasan untuk bisa mengerti tentang alam
adalah salah satu kekuatan bagi para ilmuwan untuk tetap berada di laboratorium, menyusuri hutan
belantara yang ditumbuhi semak-semak belukar, atau mencari benang merah untuk menyelesaikan
permasalahan teori yang sangat rumit. Para ilmuwan berusaha untuk menjawab beberapa
pertanyaan paling mendasar yang dapat manusia tanyakan tentang alam. Penelitian yang mereka
lakukan dapat memberikan dampak secara langsung maupun tidak langsung pada kehidupan
manusia di seluruh dunia.
Akan tetapi, mendapatkan manfaat dari ilmu pengetahuan tidak mudah untuk dicapai. Pada
permulaan riset, ilmu pengetahuan-ilmu pengetahuan baru yang diperoleh masih bersifat sangat
sukar untuk dipahami. Para ilmuwan sering mendapatkan tekanan dari orang-orang “besar”. Para
ilmuwan harus dapat membuat keputusan yang sulit tentang bagaimana mendesain suatu
penelitian, kemudian bagaimana cara mempublikasikan hasil penelitian mereka, dan bagaimana
mereka berinteraksi dengan para koleganya. Kesalahan dalam pembuatan keputusan yang tepat
hanya akan membuang-buang waktu saja dan sumber daya, memperlambat kemajuan ilmu
138

pengetahuan, dan bahkan dapat merusak kepercayaan seseorang terhadap para ilmuwan sains
dasar.
Selama berabad-abad, para ilmuwan telah mengembangkan suatu standar yang professional untuk
meningkatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan mencegah atau meminimalisasi kesulitan dalam
melakukan riset. Walaupun standar-standar tersebut jarang diekspresikan dengan kode-kode yang
formal, namun para ilmuwan telah membangun prosedur melakukan riset dan cara berinteraksi
dengan orang lain yang dapat diterima secara luas (pada berbagai bidang ilmu). Para ilmuwan
berharap bahwa kolega-kolega mereka akan dapat memahami dan mempromosikan standar-
standar yang telah mereka buat. Bagi siapa yang melanggar standar tersebut akan kehilangan rasa
hormat dari para ilmuwan lainnya, bahkan dapat menghancurkan karirnya.
Para ilmuwan memiliki 3 kewajiban yang memotivasi ketaatan mereka pada standar yang telah
dibuat [8] .Pertama, para ilmuwan memiliki kewajiban untuk menjaga kepercayaan yang telah
diberikan oleh para koleganya. Ilmu pengetahuan merupakan kumpulan penelitian yang telah
dilakukan orang dimana penelitian-penelitian baru dilakukan berdasarkan hasil penelitian
sebelumnya. Apabila hasil penelitian tidak akurat, maka ilmuwan-ilmuwan lainnya hanya akan
membuang waktu dan sumber daya untuk mencoba kembali penelitian yang sama atau
memperbaiki hasil penelitian tersebut. Sikap yang tidak bertanggung jawab yang dilakukan seorang
ilmuwan ketika melakukan penelitian sehingga menghasilkan hasil penelitian yang tidak akurat
dapat merugikan berbagai bidang penelitian atau dapat mengarahkan bidang penelitian tersebut ke
arah yang salah, sehingga kemajuan dalam bidang penelitian tersebut akan lambat. Oleh karena itu,
seorang ilmuwan harus bertanggung jawab menanamkan jiwa scientist-nya kepada “generasi
selanjutnya” yang ingin melakukan penelitian pada bidang yang sama dengan ilmuwan tersebut.
Hal kedua adalah ilmuwan harus memiliki kewajiban pada dirinya sendiri. Sikap tidak bertanggung
jawab dalam melakukan penelitian dapat membuat ilmuwan tersebut tidak mungkin meraih “goal”
yang ingin dia capai. Goal/tujuan itu dapat berupa naik pangkat/jabatan, mendapatkan hibah
penelitian yang baru, atau mempertahankan reputasinya sebagai seorang ilmuwan yang jujur,
produktif, dan bertanggung jawab. Taat pada standar penelitian yang telah disepakati secara
internasional dapat membangun integritas seorang ilmuwan dalam menjalankan karir penelitiannya.
Hal ketiga adalah ilmuwan harus memiliki kewajiban untuk melayani publik. Beberapa hasil
penelitian ada yang berdampak langsung pada kehidupan manusia, ada pula yang berdampak tidak
langsung pada kehidupan manusia. Penelitian yang berdampak tidak langsung pada kehidupan
139

manusia masih dapat memberikan suatu informasi baru mengenai alam semesta atau prinsip dasar
suatu materi yang mengarah pada kemajuan pembangunan di masa yang akan datang. Hasil
penelitian yang berdampak langsung pada kehidupan manusia sering digunakan oleh para pembuat
kebijakan untuk membuat keputusan guna mengatasi suatu permasalahan serius, seperti perubahan
iklim, penyebaran wabah penyakit, pencemaran lingkungan, atau pemanfaatan energi terbarukan.
Ilmuwan yang mampu menyadari dan melaksanakan ketiga kewajiban tersebut dengan baik, maka ia
akan menjadi seorang ilmuwan yang bertanggung jawab dalam melakukan penelitiannya. Ketika
seorang ilmuwan pemula memulai belajar mengenai ketiga kewajiban tersebut dan standar
Internasional dalam melakukan penelitian, maka ia membutuhkan bimbingan dan nasihat dari
ilmuwan senior yang lebih berpengalaman. Dari ketiga hal diatas kita uraikan satu-persatu sikap-
sikap yang harus dimiliki seorang sains dasar dalam mengembangkan sikap dan perilakunya.
5.3.1.1 Mengolah Data Secara Jujur (The Treatment of Data)
Agar dapat melakukan penelitian secara bertanggung jawab, seorang ilmuwan pemula harus
memahami bagaimana cara mengolah data secara baik dan benar. Seorang ilmuwan yang
melakukan manipulasi terhadap data penelitian, berarti ia telah melanggar nilai dasar penelitian dan
standar penelitian yang telah disepakati secara Internasional. Seorang ilmuwan harus mengolah
data berdasarkan apa yang ia dapatkan ketika melakukan penelitian. Jika data yang dipalsukan
menyimpang jauh dari bukti yang diperoleh, maka ilmuwan itu telah melanggar kewajibannya
sebagai seorang ilmuwan. Ilmuwan yang melakukan manipulasi data demi kepentingan pribadinya,
ia telah “menyesatkan” koleganya atau ilmuwan lainnya dan hal tersebut akan berdampak pada
lambatnya kemajuan dalam bidang penelitian ilmuwan tersebut. Sikap ilmuwan yang tidak
bertanggung jawab tersebut juga dapat membahayakan kehidupan umat manusia. Apalagi zaman
sekarang sudah zaman internet. Dengan adanya internet, informasi apapun akan dapat menyebar
dengan cepat ke berbagai penjuru dunia. Bila data hasil penelitian yang dipalsukan ternyata berhasil
dipublikasikan di internet, maka semakin banyak jumlah ilmuwan dan masyarakat yang tertipu
dalam waktu singkat. Data yang tidak terlalu baik yang didapatkan dari hasil penelitian bisa
disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya desain penelitian yang kurang baik, metode
penelitian yang kurang baik dan kurang tepat, atau bisa saja memang seperti itu data yang
diperoleh.
Supaya dapat mengolah data secara jujur, seorang ilmuwan pemula harus membiasakan berlaku
jujur dalam segala hal, misalnya : tidak memanipulasi data yang ia dapatkan ketika melakukan
praktikum saat ia sebagai graduate student, membuat laporan secara mandiri tanpa “bergantung”
140

pada pihak lain (copy  paste  edit laporan praktikum orang lain), tidak menyalahgunakan dana
hibah penelitian yang ia dapatkan, dan masih banyak lagi hal-hal lainnya[9].
5.3.1.2 Jujur Pada Kesalahan dan Segala Aspek yang Dilakukan dalam Penelitian
Para ilmuwan adalah manusia. Mereka tidak mungkin melakukan penelitian 24 jam setiap harinya
dan mencoba seluruh material untuk melakukan penelitian. Ilmuwan yang paling bertanggung jawab
sekalipun dapat melakukan kesalahan dalam penelitiannya, baik kesalahan berupa desain penelitian,
kalibrasi instrumen, pengolahan data, interpretasi hasil penelitian, atau aspek penelitian yang
lainnya. Walaupun hal-hal tersebut dialami oleh para ilmuwan, mereka memiliki tanggung jawab
yang besar pada publik, sehingga mereka sebisa mungkin harus bekerja secara akurat, hati-hati, dan
profesional untuk mengurangi kesalahan yang terjadi. Oleh karena itu sangat penting bagi para
ilmuwan untuk menjelaskan dalam jurnal ilmiah secara detail mengenai desain penelitian yang
dilakukan (meliputi metodologi penelitian), instrumen apa yang digunakan (menjelaskan berapa
besar eror yang dihasilkan dari instrumen dan bagaimana cara mengkalibrasi instrumen tersebut),
maupun kemurnian material yang digunakan. Para ilmuwan juga harus menjelaskan setiap
“keanehan” yang terjadi pada penelitiannya dan pengabaian data penelitian dalam suatu persamaan
yang dibuat oleh mereka untuk menjelaskan hasil penelitian yang diperoleh. Semua hal tersebut
bertujuan supaya para ilmuwan selanjutnya yang melakukan sitasi pada jurnal ilmuwan-ilmuwan
sebelumnya, dapat menambahkan hal-hal yang kurang dalam penelitian-penelitian sebelumnya,
sehingga bidang penelitian yang sedang diteliti mengalami kemajuan dengan pesat[10].
5.3.1.3 Menghindari Research Misconduct Ketika Melakukan Penelitian
Menurut pernyataan yang dibuat oleh U.S. Office of Science and Technology Policy, yang termasuk
ke dalam research misconduct antara lain : fabrication (“pembuatan” data), falsification (pemalsuan
data), dan plagiarism (plagiat) (FFP) dalam mengusulkan, melakukan, ataupun meninjau kembali
suatu riset atau dalam melaporkan hasil riset. Fabrication merupakan suatu tindakan membuat data
palsu; falsification merupakan suatu tindakan manipulasi, baik itu manipulasi material untuk riset,
peralatan, atau proses, atau mengubah atau menghilangkan data atau hasil penelitian sehingga riset
yang dilakukan menjadi tidak akurat untuk direpresentasikan dalam catatan penelitian; sedangkan
plagiarism adalah menjiplak ide-ide orang lain, suatu proses, hasil penelitian, atau kata-kata tanpa
memberikan suatu kutipan yang jelas.
Dalam komunitas scientific, efek dari FFP dapat merusak hubungan personal dengan personal,
membahayakan reputasi seorang ilmuwan, kehilangan waktu yang berharga untuk melakukan
penelitian, merugikan banyak pihak (diri sendiri, orang lain, masyarakat, institusi, pemerintah).
141

Tindakan FFP juga dapat menarik perhatian para pembuat kebijakan, perhatian media, dan
masyarakat yang mana pada akhirnya mereka semua akan menjadi tidak percaya lagi dengan para
ilmuwan. Hal tersebut tentu saja akan merusak reputasi para ilmuwan.
FFP bisa terjadi karena seorang ilmuwan haus akan jabatan, penghargaan, maupun uang. Agar
seorang ilmuwan khususnya ilmuwan pemula dapat terhindar dari tindakan FFP tersebut maka perlu
dibiasakan untuk senantiasa berlaku jujur dalam segala hal baik pada diri sendiri maupun pada
orang lain[11].
5.3.1.4 Meminta Bimbingan dan Nasihat dari Pembimbing dan Mentor (Advising dan
Mentoring)
Para ilmuwan pasti memiliki pembimbing, ada juga ilmuwan yang memiliki pembimbing dan mentor.
Pembimbing dan mentor bagi seorang ilmuwan memiliki fungsi yang berbeda. Pembimbing adalah
orang yang mampu menguasai dan melihat secara keseluruhan topik penelitian yang dilakukan oleh
seorang ilmuwan. Oleh karena itu seorang pembimbing memiliki fungsi sebagai “guide” tentang
segala sesuatu yang berhubungan dengan penelitian yang dilakukan oleh seorang ilmuwan. Seorang
mentor memiliki fungsi bagi ilmuwan sebagai orang yang mampu memberikan motivasi sehingga
penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan tetap berjalan dengan baik walaupun ilmuwan sedang
mengalami kesulitan dalam penelitiannya.
Fungsi utama seorang pembimbing dan mentor adalah untuk membantu ilmuwan, khususnya
ilmuwan pemula supaya sukses dalam menjalani karir penelitiannya dan menjadi seorang ilmuwan
yang produktif. Jadi, seorang ilmuwan pemula harus mampu memanfaatkan potensi yang dimiliki
oleh pembimbing dan mentornya supaya ia nantinya menjadi seorang ilmuwan yang handal, jujur
dan bertanggung jawab dalam melakukan penelitiannya. Untuk dapat memanfaatkan potensi
pembimbing dan mentornya secara optimal, maka ilmuwan pemula tersebut terlebih dahulu harus
membangun hubungan yang baik dengan pembimbing dan mentornya. Pembimbing dan mentor
sangat berpengaruh bagi karir penelitian seorang ilmuwan
pemula. Jika seorang ilmuwan pemula tidak dapat membangun hubungan yang baik dengan
pembimbing dan mentornya, maka ia akan mengalami kesulitan ketika meminta bimbingan dan
nasihat dari pembimbing dan mentorya. Kalaupun diberikan, nasihat dan bimbingan tersebut hanya
“ala kadarnya” saja. Agar dapat membangun hubungan yang baik dengan pembimbing dan
mentornya, seorang ilmuwan pemula harus mengenal lebih dalam tentang kepribadian yang dimiliki
142

oleh pembimbing dan mentornya dan harus dapat memahami segala sesuatu yang disukai, tidak
disukai, diinginkan, atau tidak diinginkan oleh pembimbing dan mentornya [12].
5.3.1.5 Membiasakan Keselamatan Bekerja di Laboratorium Saat Melakukan Riset
Sebagai seorang ilmuwan yang bertanggung jawab harus memperhatikan keselamatan bekerja di
laboratorium ketika melakukan riset. Ilmuwan yang bertanggung jawab seharusnya melakukan
review terhadap informasi-informasi permasalahan keselamatan bekerja di laboratorium yang
terjadi satu tahun terakhir[13]. Hal tersebut bertujuan agar kesalahan yang sama ketika melakukan
penelitian di laboratorium tidak terulang lagi. Hal-hal yang perlu menjadi perhatian bagi para
ilmuwan ketika melakukan penelitian di laboratorium adalah sebagai berikut :
- Penggunaan pakaian pakaian dan perlengkapan perlindungan yang tepat (seperti : jas lab
lengan panjang, masker, sarung tangan, sepatu, kacamata google)
- Cara penanganan yang aman terhadap material yang digunakan dalam penelitian. Hal
tersebut dapat dilakukan dengan membaca MSDS (Material Safety Data Sheet) material
yang akan digunakan untuk penelitian sehingga para ilmuwan mengetahui sifat fisik dan
kimia material tersebut, bahaya material tersebut jika terjadi kontak dengan tubuh
manusia (misal : jika tersentuh, tercium, ataupun terkena mata), dan bagaimana cara
penanganannya jika sampai terjadi kontak dengan tubuh manusia. Misalnya : saat
menggunakan asam yang sangat pekat. Jika asam yang sangat pekat tersebut sampai
terkena kulit, maka kulit akan melepuh. Apabila hal tersebut terjadi, cara mengatasinya
adalah dengan mengelap asam tersebut dari kulit kita kemudian baru mencucinya.
Jangan melakukan hal yang sebaliknya karena sangat berbahaya. Apabila kita mencuci
dulu baru kemudian mengelapnya, asam tersebut akan larut melalui pori-pori kulit kita
sehingga dapat merusak organ dalam tubuh kita.
- Cara pengoperasian peralatan secara aman. Hal ini sangat penting dilakukan supaya
ketika mengoperasikan peralatan tidak sampai terjadi kecelakaan yang dapat merugikan
semua pihak, misalkan alat meledak karena dioperasikan melebih batas yang
diperbolehkan sehingga terjadi kebakaran.
- Cara penanganan yang aman terhadap limbah dan membuang limbah pada tempat yang
seharusnya supaya tidak terjadi pencemaran lingkungan.
- Manajemen laboratorium yang baik dan benar.
143

- Cara penanganan material yang berbahaya dan beracun secara aman.
- Cara pengangkutan material yang aman antara laboratorium yang satu dengan
laboratorium yang lainnya.
- Desain fasilitas untuk penelitian yang aman dan tidak membahayakan.
- Tanggap terhadap ancaman bahaya ketika melakukan penelitian.
- Pendidikan keselamatan kerja bagi para ilmuwan sebelum melakukan penelitian.
- Peraturan pemerintah yang berlaku mengenai keselamatan kerja di laboratorium.
5.3.1.6 Menulis Publikasi Internasional untuk Berbagi Hasil Penelitian
Hasil penelitian yang diperoleh oleh para ilmuwan tidak akan berarti jika tidak disampaikan kepada
orang banyak. Untuk tujuan tersebut, para ilmuwan harus mempublikasikan hasil penelitiannya.
Manfaat utama dari publikasi hasil penelitian adalah bidang penelitian yang diteliti oleh ilmuwan
tersebut dapat berkembang dengan pesat, karena para ilmuwan lainnya akan melanjutkan
penelitian pada bidang tersebut untuk mengembangkan penelitian dari ilmuwan yang sudah
mempublikasikan penelitiannya. Misalkan saja, teknologi pemurnian air melalui proses reverse
osmosis yang selalu digunakan pada saat ini adalah menggunakan membran polimer. Seorang
ilmuwan A meneliti bahwa ternyata zeolit dapat digunakan sebagai membran untuk aplikasi
pemurnian air melalui proses reverse osmosis. Zeolit yang diteliti oleh ilmuwan adalah A adalah
zeolit tipe MFI. Dari contoh tersebut, apabila ilmuwan A tidak mempublikasikan hasil penelitiannya,
maka tidak ada yang tau bahwa ternyata zeolit bisa digunakan untuk aplikasi pemurnian air melalui
proses reverse osmosis. Apabila ilmuwan A mempublikasikan penelitiannya, maka ilmuwan lainnya
(misal : ilmuwan B) dapat mengembangkan penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan A, misalnya
dengan melakukan penelitian terhadap zeolit tipe lainnya.
Untuk dapat menulis jurnal ilmiah agar dapat dipublikasikan di jurnal Internasional oleh situs
penyedia jasa publikasi ilmiah seperti www.nature.com, www.sciencedirect.com,
www.springerlink.com dan masih banyak lagi situs lainnya, harus memenuhi persyaratan yang
diminta oleh situs penyedia jasa tersebut, dan setiap situs memiliki persyaratan yang berbeda-beda.
Latihan menulis publikasi ilmiah sangat penting bagi seorang ilmuwan pemula agar penelitiannya
bisa dipublikasikan di jurnal Internasional.
144

5.3.1.7 Ilmuwan dan Masyarakat
Para ilmuwan memiliki tanggung jawab untuk menerapkan hasil penelitian mereka dan
pengetahuan mereka selama penelitian kepada masyarakat. Para ilmuwan memiliki kapasitas untuk
bertindak sebagai seorang yang profesional, yang mana masukan mereka sangat penting dalam
proses pembuatan kebijakan, karena masukan mereka didasarkan pada hasil penelitian yang mereka
peroleh. Para ilmuwan juga memiliki kapasitas untuk memberikan suatu pendapat atau nasihat yang
bersifat expert kepada lembaga-lembaga pemerintah, institusi pendidikan, perusahaan swasta, atau
organisasi-organisasi lainnya. Para ilmuwan berkontribusi pada suatu penilaian mengenai manfaat
dan bahaya dari suatu ilmu pengetahuan dan teknologi baru. Mereka seringkali mendidik murid-
murid, pembuat kebijakan, atau anggota masyarakat mengenai masalah ilmiah dan kebijakan. Para
ilmuwan harus memiliki rasa sosialisme yang tinggi agar hasil penelitiannya dapat diterima oleh
masyarakat, sehingga para ilmuwan dapat memenuhi kapasitasnya sebagai seorang ilmuwan[14].
Ketujuh sikap diatas adalah sikap ilmuwan yang harus dimiliki para ilmuwan pada umumnya, di
Indonesia khususnya terdapat kode etik yang ditetapkan oleh Lembaga Penelitian Indonesia yang
harus dimiliki oleh para ilmuwan kita. Terdapat tiga kode etik yaitu : kode etik dalam penelitian,
kode etik dalam berperilaku dan kode etik dalam kepengarangan.
Dalam point pertama mengenai kode etik dalam penelitian terdapat tiga hal yang perlu
diperhatikan. Pertama, peneliti membaktikan diri pada pencarian kebenaran ilmiah untuk
memajukan ilmu pengetahuan, menemukan teknologi dan menghasilkan inovasi bagi peningkatan
peradaban dan kesejahteraan manusia. Kedua, peneliti melakukan kegiatannya dalam cakupan dan
batasan yang diperkenankan oleh hukum yang berlaku, bertindak dengan mendahulukan
kepentingan dan keselamatan semua pihak yang terkait dengan penelitiannya, berlandaskan tujuan
mulia berupa penegakan hak-hak asasi manusia dengan kebebasan-kebebasan mendasarnya. Ketiga,
peneliti mengelola sumber daya keilmuan dengan penuh rasa tanggungjawab, terutama dalam
pemanfaatannya, dan mensyukuri nikmat anugerah tersedianya sumber daya keilmuan baginya.
Poin kedua mengenai kode etik seorang ilmuwan dalam berprilaku terdapat tiga hal pula yang
dirumuskan oleh LIPI. Pertama, peneliti mengelola jalannya penelitian secara jujur, bernurani dan
berkeadilan terhadap lingkungan penelitiannya. Kedua, peneliti menghormati obyek penelitian
manusia, sumber daya alam hayati dan non-hayati secara bermoral, berbuat seuasi dengan
perkenan kodrat dan karakter obyek penelitiannya, tanpa diskriminasi dan tanpa menimbulkan rasa
merendahkan martabat sesama ciptaan Tuhan. Ketiga, peneliti membuka diri terhadap tanggapan,
kritik, dan saran dari sesama peneliti terhadap proses dan hasil penelitian, yang diberinya
145

kesempatan dan perlakuan timbal balik yang setara dan setimpal, saling menghormati melalui
diskusi dan pertukaran pengalaman dan informasi ilmiah yang obyektif.
Yang terakhir adalah kode etik dalam kepengarangan, meliputi: pertama, peneliti mengelola,
melaksanakan, dan melaporkan hasil penelitian ilmiahnya secara bertanggung-jawab, cermat dan
seksama. Kedua, peneliti menyebarkan informasi tertulis dari hasil penelitiannya, informasi
pendalaman pemahaman ilmiah dan/atau pengetahuan baru yang terungkap dan diperolehnya,
disampaikan ke dunia ilmu pengetahuan pertama kali dan sekali, tanpa mengenal publikasi duplikasi
atau berganda atau diulang-ulang. Ketiga, peneliti memberikan pengakuan melalui: (i) penyertaan
sebagai penulis pendamping; (ii) melalui pengutipan pernyataan atau pemikiran orang lain;
dan/atau (iii) dalam bentuk ucapan terima kasih yang tulus kepada peneliti yang memberikan
sumbangan berarti dalam penelitiannya, yang secara nyata mengikuti tahapan rancangan penelitian
dimaksud, dan mengikuti dari dekat jalannya penelitian itu.[15]
Penegakan kode etika peneliti adalah upaya untuk menjaga kehormatan profesi peneliti,
meningkatkan mutu penelitian dan mempertahankan kredibilitas lembaga penelitian. Penerapan
kode etika peneliti penting untuk memelihara integritas, kejujuran dan keadilan peneliti dalam
penelitian. Penerapan kode etika peneliti bermanfaat untuk meningkatkan kesadaran tentang
rambu-rambu etika; mengurangi kemungkinan pelanggaran etika; dan mendidik peneliti mengatur
diri sendiri mematuhi etika dalam penelitian.
5.3.2 Membentuk Kepemimpinan
Kata 'kepemimpinan' seringkali diartikan sebagai citra dari 'orang yang bertanggungjawab ’atau
‘mereka yang duduk di bagian atas suatu organisasi'. Pengembangan kepemimpinan juga sering
diarahkan pada orang di tingkat senior dalam organisasi formal atau mereka sedang dipersiapkan
untuk peran-peran ini. Namun, jika kita membongkar apa pengembangan kepemimpinan itu
daripada siapa yang layak menerimanya, maka terdapat banyak relevansi untuk meningkatkan
efektivitas, kepuasan dan produktivitas setiap orang di perannya masing-masing. Semua orang
membutuhkan pengembangan sikap kepemimpinan.
Sebagian besar dari orang-orang yang tinggal di daerah pedesaan, memiliki akses terbatas terhadap
pendidikan formal, dan tidak bekerja di organisasi formal. Kesejahteraan mereka bergantung pada
kemampuan mereka sendiri untuk mencari nafkah dan mengurus keluarga mereka. Kemampuan
mereka untuk menciptakan dan memberlakukan perubahan, memotivasi diri sendiri dan orang lain,
mempengaruhi, dan menangani konflik dan perbedaan memiliki implikasi besar bagi kehidupan
146

mereka. Keterampilan dalam kepemimpinan adalah relevan. Oleh karena itu, mengembangkan
kapasitas mereka dapat memiliki dampak signifikan pada diri mereka sendiri dan masyarakat.
Kepemimpinan (leadership) merupakan suatu perilaku yang dapat dipelajari oleh setiap orang
melalui pembelajaran, lalu mengamalkannya (menurut Ir Buchori Nasution, pendidik dan Presiden
Direktur Indonesian Education Management Institute (IEMI))[16]. Setiap orang dapat menjadi
pemimpin bila disertai kemampuan dan keterampilan memimpin untuk menjadi seorang pemimpin.
Cara terbaik untuk belajar memupuk jiwa kepemimpinan adalah dengan menempatkan diri dalam
situasi yang sangat membutuhkan tindakan dari pemimpin karena pemimpin adalah seorang yang
memiliki dorongan untuk berusaha menolong orang lain, mengembangkan keterampilannya, dan
mau berbagi ilmu pengetahuan yang dimilikinya kepada orang lain. Setiap orang pada dasarnya
memiliki jiwa kepemimpinan sejak lahir, namun ini akan dipengaruhi oleh faktor lingkungan tempat
tumbuhnya. Sebelum menjadi seorang pemimpin, seseorang harus mengetahui terlebih dahulu
mengenai dirinya sendiri, mengeksplorasi diri, agar mudah membentuk konsep diri, seperti
mengetahui siapa dirinya dan apa yang ia ingin lakukan kepada lingkungannya.
Sulit untuk membayangkan bahwa program pengembangan kepemimpinan yang dibangun dengan
baik atau perkembangan kepemimpinan menuju peran kepemimpinan baru akan memiliki dampak
yang signifikan terhadap perkembangan individu jika dia tidak memiliki beberapa karakteristik kunci
dari individu seperti kemauan untuk belajar (willingness to learn), suatu keterbukaan untuk berubah
(openness to change), dan motivasi dan ambisi untuk sukses (motivation and ambition to succeed) di
masa depan. Pendekatan-pendekatan ini juga sering berasumsi bahwa apa yang ditawarkan dari
suatu perangkat, intervensi atau perspektif kurikulum secara akurat memenuhi kebutuhan
perkembangan spesifik dari pemimpin. Menarik untuk dicatat bahwa sangat sedikit perlakuan dari
pengembangan kepemimpinan berfokus pada peran penting bahwa pemimpin individu
memainkan/memimpin dirinya sendiri dalam proses ini. Self-assessment untuk pengembangan
kepemimpinan, oleh karena itu, berfungsi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas dari upaya
pembangunan kepemimpinan.
Pembangunan kepemimpinan menghasilkan kesusksesan individu dan kolektif yang lebih besar.
Peningkatan kapasitas kepemimpinan memerlukan kemampuan yang lebih besar untuk mencapai
perubahan. Pada tingkat individu, kepemimpinan ini meluas dari kesadaran diri (self awareness),
keterampilan interpersonal (interpersonal skill) dan orientasi belajar (learning orientation). Orientasi
pembelajaran adalah komitmen pribadi untuk terus menilai dan menantang diri untuk mendapatkan
147

pengetahuan dan keterampilan baru yang diperlukan, dan tentu saja melakukan koreksi yang
diperlukan.
5.3.2.1 Kesadaran Diri (Self Awareness)
Kesadaran diri (self awareness) yaitu memahami diri untuk menyadari apa yang baik dan tidak
begitu baik, apa yang nyaman dengan dan tidak nyaman. Kesadaran diri untuk mengetahui situasi
yang membawa keluar yang terbaik dari seseorang dan yang sulit untuk ditangani. Kesadaran diri
untuk mengenali ketika seseorang memiliki pengetahuan yang tepat untuk menarik dan ketika orang
perlu untuk melihat ke sumber lain. Kesadaran diri juga memerlukan pemahaman akan dampak
yang dimiliki oleh kekuatan dan kelemahan pribadi terhadap orang lain.
PRADAN (Professional Assistance for Development Action) merupakan suatu LSM di India yang yang
bekerja di beberapa desa berkembang yang terbelakang di India, di mana infrastruktur ekonomi
sangat kurang. Organisasi ini merupakan pelopor pelatihan kelompok mandiri (SHG/self help
group)yang memungkinkan wanita mendapatkan peningkatan akses dan pengendalian terhadap
sumber daya ekonomi keluarganya. SHG ini semacam koperasi yang beranggotakan ibu rumah
tangga yang mengumpulkan iuran anggota, membuka usaha, investasi, jasa peminjaman, yang dapat
menjembatani mereka menuju akses bank dan pelayanan masyarakat. Model tujuh sungai (seven
river model) diperkenalkan sebagai tingkatan keadaan kesejahteraan yang setiap wanita berusaha
agar keluarganya mencapai keadaan yang diinginkan sehingga pertumbuhan ekonomi terus tumbuh.
Contoh dari PRADAN mengilustrasikan bahwa proses dukungan-tantangan-kesadaran dapat
dituntaskan dengan sumber daya yang sederhana, seperti hal nya model tujuh sungai. Menciptakan
kesadaran diri atas perbedaan keadaan saat ini dan keadaan yang diinginkan dapat menjadi
pendorong suatu perubahan.
5.3.2.2 Keterampilan Interpersonal (Interpersonal Skills)
Keterampilan Interpersonal (interpersonal skills) yaitu dalam memberlakukan kepemimpinan, yaitu
kemampuan untuk membangun hubungan positif dengan orang lain sangat penting. Landasan
kemampuan ini adalah kemampuan untuk menghormati orang dari latar belakang yang berbeda dan
untuk memahami perspektif yang mereka bawa. Sebuah kunci keahlian interpersonal adalah
mampu mengkomunikasikan informasi dan ide-ide jelas dan bekerja untuk memahami apa yang
orang lain katakan, pikirkan dan rasakan.
Keterampilan interpersonal ini mencakup kemampuan untuk bekerja di dalam tim, kemampuan
untuk mendengar aspirasi, kemampuan untuk menyeimbangkan perbedaan pendapat, dan
148

pengetahuan bagaimana untuk menyatukan berbagai visi yang berbeda dari kelompok-kelompok
yang berbeda. Keterampilan interpersonal dapat ditingkatkan dengan interaksi satu sama lain dalam
menyelesaikan suatu permasalahan. Misalnya pada program pengabdian masyarakat, dalam upaya
mengetahui kebutuhan masyarakat, dilakukan dengan berbaur langsung dengan masyarakat untuk
meningkatkan empati dan pemahaman terhadap masyarakat.
5.3.2.3 Orientasi Belajar (learning orientation)
Orientasi Belajar (learning orientation) yaitu ketika seorang individu memiliki kecenderungan untuk
belajar, orang tersebut menyadari bahwa diperlukan perilaku, keterampilan, atau sikap yang baru,
dan penerimaan tanggung jawab untuk mengembangkan keterampilan dan pengetahuan. Individu
memahami dan mengakui kekuatan dan kelemahan pribadi, dan terlibat dalam kegiatan yang
memberikan kesempatan untuk belajar atau menguji keterampilan dan perilaku baru[17].
Ilmuwan yang memiliki jiwa kepemimpinan akan mampu memimpin dirinya sendiri sebelum
akhirnya memimpin orang lain atau kelompok riset di laboratorium. Laboratorium yang baik dan
pemimpin yang efektif memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Penuh energi, kolaborasi, keingintahuan, antusiasme, dan menyenangkan.
2. Mendorong diskusi terbuka dan tertutup di antara seluruh ilmuwan, menghargai ide baru,
menyeimbangkan tujuan saintifik individu dengan tujuan institusi.
3. Memberikan kebebasan untuk mengeksplorasi sambil menjaga upaya tetap terfokus.
4. Mempekerjakan ilmuwan kelas unggul, meminta kerja keras dan ketegasan ilmuwan, secara
jelas mendefinisikan apa yang diharapkan.
5. Menginspirasi gairah untuk pekerjaan, tantangan, dan menyatukan orang-orang,
menciptakan lingkungan untuk belajar dan penemuan dengan empati dan dukungan untuk
individu.
6. Selalu mempekerjakan yang paling berbakat dan menghindari manajemen mikro.
7. Terorganisasi dan dapat mendukung banyak proyek pada waktu yang sama.
8. Memiliki visi, mengkomunikasikannya dengan semua orang, sehingga semua orang
mengetahui apa yang terjadi dan upaya yang sesuai.
9. Produktif dan kreatif.
Pemimpin yang efektif harus memiliki sifat suportif atau dapat memotivasi kelompoknya dalam
melakukan riset, dapat berdiskusi dengan baik dan memecahkan masalah yang ditemui dalam
penelitian secara bersama-sama, menerima dan mempertimbangkan usulan dari anggotanya
149

terhadap analisis pribadi serta menentukan sikap kelompok. Pemimpin juga harus dapat memimpin
dan mengatur kelompok riset dengan baik karena merupakan orang yang akan bertanggung jawab
apabila terjadi hal yang buruk[18].
5.4 Maju Dengan Sikap Paradigmatif
5.4.1 Pengertian
Paradigma adalah sikap yang berlandaskan cara pandang dan cara kerja yang efisien, nyaman dan
efektif. Cara pandang ini sebaiknya selalu berlaku pada jenis aturan apapun. Inilah cara yang tepat
bagi ilmuwan agar tetap terjaga produktifitasnya dalam memajukan ilmu dan institusinya.
Paradigma adalah kumpulan anggapan yang disepakati bersama untuk digunakan sebagai pola pikir
dan pola kerja untuk menyusun strategi.
5.4.2 Etos Kerja
Etos sendiri berasal dari bahasa Yunani yang berarti adat dan kebiasaan. Etos merupakan kunci dan
pondasi keberhasilan suatu masyarakat atau bangsa diterima secara aklamasi. Selain itu, etos
merupakan syarat utama bagi semua upaya peningkatan kualitas tenaga kerja atau Sumber Daya
Manusia (SDM), baik pada level individual, organisasional, maupun sosial. Selain itu, metode
pembangunan integritas bangsa harus dilakukan secara fokus dan serius, membawa misi perbaikan
dalam proses berkesinambungan, serta keterlibatan total dari seluruh elemen masyarakat Indonesia
Kerja adalah anugerah, oleh karena itu anugerah yang didapatkan harusnya dapat membahagiakan
kehidupan kita dalam menjalaninya. Selanjutnya kerja itu adalah amanah, maka senantiasalah
menjaga kerja sebagai suatu titipan yang akan dipertanggungjawabkan nanti di akhirat. Oleh karena
itu menyia-nyiakan kerja adalah perbuatan dosa. Kerja adalah ibadah, maka senantiasalah
memperbanyak produktifitas agar kerja sebagai ibadah mempunyai hasil yang tinggi.
Kerja adalah nafkah, dengan bekerja sungguh-sungguh niscaya kebutuhan hidup akan terpenuhi.
Kerja adalah semangat dan keringat, tiada hasil yang baik tanpa ada ikhtiar yang sunguh-sungguh
didalamnya. Kerja adalah produktifitas, wajib ada hasil dalam setiap kerja yang dilakukan. Tanpa
hasil kerja belum bisa dikatakan selesai. Kerja adalah ketulusan, kejujuran dalam kerjasama untuk
manfaat. Kerja adalah disiplin dan martabat, kerja yang dibarengi dengan disiplin biasanya mampu
mengahasilkan produk yang tinggi dan biasanya produk itu berkualitas.
Kerja sebagai kehormatan, dan karenanya kita wajib menjaga kehormatan itu dengan menampilkan
kinerja yang unggul (excellent performance). Kehormatan itu berakar pada kualitas dan keunggulan.
Misalnya, Singapura meskipun negeri kecil dari segi ukuran, tetapi tinggi dari segi mutu birokrasi,
150

nyaris bebas KKN, dan unggul di bidang SDM dan pelayanan sehingga memperoleh status terhormat
dalam percaturan bangsa-bangsa.
Yang utama adalah keunggulan budi dan keunggulan karakter yang menghasilkan kerja dan kinerja
yang unggul pula. Tentunya, keunggulan tersebut berasal dari buah ketekunan seorang manusia
Mahakarya. Kemampuan menghayati pekerjaan menjadi sangat penting sebagai upaya menciptakan
keunggulan. Intinya, saat kita melakukan suatu pekerjaan maka hakikatnya kita sedang melakukan
suatu proses pelayanan. Menghayati pekerjaan sebagai pelayanan memerlukan kemampuan
transendensi yang bersifat melampaui ruang gerak manusia yang kecil.
5.4.3 Paradigma Tridharma Terpadu Produktif Terukur
Tridharma Perguruan Tinggi adalah Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat
adalah merupakan kegiatan pokok perguruan tinggi yang wajib dilaksanakan baik secara
institusional ataupun individual khususnya bagi tenaga akademik (dosen) yang merupakan
penggerak utama perguruan tinggi.
Tridharma jika kita jadikan paradigma harus punya fungsi sebagai generator kegiatan sekaligus
generator kemajuan tenaga akademiknya terutama dalam karir dan kesejahteraannya. Paradigma
tridharma perguruan tinggi mempunyai ciri-ciri terpadu, produktif dan terukur. Terpadu adalah
kegiatan disatu dharma memicu kegiatan baru untuk didharmakan, produktif artinya setiap kegiatan
harus menghasilkan produk (produktif), terukur merupakan produk dari kegiatan terukur dalam
angka kredit dan pendapatan
151



Gambar 5.1. Diagram Tri Dharma Perguruan Tinggi : Poin dan Coin Generator
Pada diagram diatas terlihat bahwasanya tridharma perguruan tinggi adalah sentral dari produksi
yang akan bisa dilempar ke tengah-tengah masyarakat jika memang terjadi simbiosis mutualisme
antara perguruan tinggi dengan stake holder yang ada di masyarakat. Artinya perguruan tinggi
adalah sebagai problem solving terhadap segala kegiatan yang terjadi di masyarakat. Ini merupakan
paradigma terpadu, produktif dan terukur yang mesti menjadi tujuan akhir dari perguruan tinggi di
Indonesia.
Bagaimana menjalankan paradigma tridharma terpadu, produktif, terukur tersebut? Untuk
menjawab hal ini ada beberapa hal penting yang harus dilakukan, yaitu:
1. Penting untuk individu (secara aktif, kreatif, dan inovatif) memperbanyak latihan serta
pemahaman bagaimana menghasilkan kegiatan dalam konsep terpadu. Berlatih
mengerjakan kegiatan dan produktif mencapai sasaran. Memperbanyak gaul, semakin
banyak interaksi dibentuk maka akan semakin banyak kerjasama yang bisa diaplikasikan
dalam rangka menjalankan tridharma perguruan tinggi.
2. Kelompok keahlian harus memiliki pemimpin yang baik dan dapat menjadi motivator bagi
anggotanya, dapat mengatur kerjasama antar anggota, mobilitas anggota dan pengaturan
152

pembagian tugas belajar. Strategi pertumbuhan ilmu, penerapan ilmu dan pengembangan
diklat terkait perlu menjadi perhatian agar kelompok keahlian mendapatkan pembelajaran
yang tepat untuk pengembangan ilmunya.
3. Institusi harus lebih mampu melakukan pengaturan kegiatan bagi manfaat institusional,
saling belajar dan berbagi pengalaman dan yang terpenting adalah dukungan fasilitas,
regulasi dan kesaling pengertian.
Saat kita berbicara mengenai sebuah lembaga pendidikan maka di dalamnya harus terdapat
kurikulum yang paradigmatik, staf pengajar yang amanah dan memiliki kompetensi di bidangnya,
proses belajar mengajar, lingkungan dan budaya kampus. Selain itu, terdapat ruang interaksi dan
sinergi dengan keluarga dan masyarakat. Adanya interaksi dan sinergi ini diharapkan dapat
menciptakan manusia Indonesia yang dirindukan pada abad mendatang, yaitu manusia yang
memiliki kualitas SDM-nya serta mentalitasnya.
Jika dimensi ini benar-benar tercipta sudah barang tentu ia sudah siap menghadapi bahkan siap
sebagai pelaku di era teknologi itu karena salah satu agenda penting bagi bangsa kita di abad 21
adalah mengusahakan agar kualitas tenaga kerja kita menjadi tenaga kerja bersaing dengan
kemapanannya. Sumber daya manusia bangsa ini perlu dikembangkan hingga mencapai kualitas
yang setara dengan bangsa-bangsa yang telah maju terlebih dahulu dibandingkan Indonesia. Hal ini
semakin penting, karena selain masalah ekonomi yang menjadi penyakit akut di Indonesia,
sesungguhnya kualitas SDM menjadi titik kritis sentral dalam proses tata kemajuan peradaban suatu
bangsa secara luas baik dilihat secara politik, teknologi, kultural, maupun manajerial.
5.4.4 Paradigma pengembangan tenaga akademik
Tenaga akademik menjadi pokok pada perkembangan perguruan tinggi. Untuk mengembangakan
tenaga akademik yang baik diperlukan etos kerja yang baik. Tenaga akademik yang tidak lain adalah
sumber daya utama harus mengembangkan ilmu yang dianggapnya proses menjadi hal yang
berguna. Pengembangan tersebut meliputi:Mengembangkan kemampuan abstraksi dan
menghubungkan teori dalam menyederhanakan permasalahan, mengembangkan dirinya sebagai
“server”masyarakat dan pasar , mengembangkan dirinya untuk menjadi terbaik dan
mengembangkan kemampuan manajemen kerja
Selain mampu mengembangkan diri, sebagai tenaga akademik harus mempunyai empat hal yang
baik sebagai berikut: Baik pada bidang kompetensinya dan maupun alih iptek dari dan kedirinya ,
153

baik produktivitas karyanya dan diakui oleh komunitas bidangnya, baik leadershipnya (team work)
dan baik peran sosialnya (komunikatif).
Sumber daya manusia yang baik harus memiliki dua hal yang utama yaitu:
1. Semangat
- Perguruan tinggi harus berkeinginan kuat agar staf akademiknya (terseleksi) diprogramkan
untuk mendapatkan gelar doktor (s3) melalui riset yang benar dan bermanfaat
2. Kemampuan
- Kompetensi akademik yang menajam (cone of competence)
- Seiring dengan akademik perlu mendapatkan pengetahuan dan pengalaman
manajerial yang komplementer ( spiral of management )

Gambar 5.2. Spiral of Management
Pada tingkat kedewasaan menengah, seorang staf akdemik harus mempunyai dan memahami
wawasan sosio nasionalisme yang antara lain berisi tentang pemahaman kebangsaan dan cinta
tanah air, kehidupan demokrasi dalam mengambil keputusan bagi kepentingan bangsa dan Negara
dan demokrasi dalam memilih pemimpin bangsa dan Negara, kehidupan yang berkeadilan dan
terlindungi secra hokum, peraulan antar bangsa dan masalah penjajahan dan kemerdekaan[19].
5.4.5 Proaktif mengatasi Kacaunya Birokrasi
Pelaksanaan birokrasi biasanya sangat merujuk pada regulasi (peraturan), sedangkan regulasi ini
pada umumnya diciptakan oleh ahli-ahli yang biasanya menyajikan regulasi, dalam hal ini
kementrian pendayagunaan aparatur negara. Definisi-definisi kadang kurang tepat untuk kegiatan
akademik yang harus selalu didorong maju. Banyak regulasi yang kalimatnya bersifat larangan (tidak,
jangan) yang membendung munculnya kreatifitas dan inovasi.
154

Contoh:
Selama tugas belajar di luar negeri, dosen tidak boleh dinaikkan jabatan akademiknya (juga
pangkat). Tugas belajar dalam suatu negara untuk meningkatkan kompetensi diri agar institusi
(perguruan tingginya) maju. Tugas ini penuh resiko, karena harus rajin, pandai dan cermat, karena
jika tidak, bisa mengakibatkan yang bersangkutan tidak dapat menyelesaikan studinya dengan baik.
Seharusnyalah setiap prestasi akademik selama tugas belajar perlu dihitung, baik langsung atau
disesuaikan dengan jenis pekerjaan jika tidak sedang dalam tugas belajar keluar negeri. Misalnya,
mengajar menjadi tugas Teaching Assistant dari profesor pembimbing, atau menjadi junior lecturer.
Menulis diktat masih bisa berjalan dengan membuat lecture notes versi luar negeri yang kemudian
diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
5.4.6 PPAK (Panitia Penilai Angka Kredit) Sebagai Panitia Pemantau Karir
PPAK pada umumnya bertugas memberikan angka kredit pada kegiatan dosen (dengan bukti) yang
diusulkan oleh dosen tersebut. Terjadilah proses pencoretan angka (dikurangi atau dibatalkan).
Proses itu sangat kontra produktif dan menjadi kendala silaturrahmi. Bagaimana jika dengan suatu
software sederhana database karya dosen dimasukkan dengan bukti yang ada dan PPAK ini
mengingatkan perlunya dosen berkegiatan tertentu (yang kurang) dan promosi kenaikan jabatannya
yang merencanakan adalah PPAK, di mana dosen diminta melengkapi data jauh sebelum usulan
tersebut diajukan ke sidang resmi. Jadi tidak ada pencoretan karena PPAK yang memberikan angka
dan yang mendorong dosen untuk naik jabatan akademik.
Demikianlah kebijakan-kebijakan elegan dapat dimunculkan dari seorang leader dengan tetap tidak
melanggar regulasi.







155

PERNYATAAN FILSAFAT
"Ilmuwan sains dasar adalah tonggak penentu kemajuan suatu bangsa. Bangsa yang besar adalah
bangsa yang mampu menghargai ilmuwan sains dasar yang berjuang demi bangsanya."
"Menciptakan seribu orang koruptor adalah hal yang jauh lebih mudah dibandingkan dengan
menciptakan satu orang ilmuwan sains dasar. Satu orang koruptor "mati" maka akan tumbuh seribu
orang koruptor. Akan tetapi, bila satu orang ilmuwan sains dasar "mati", maka akan sulit untuk
mendapatkan satu orang penggantinya. Oleh karena itu, bila suatu bangsa kehilangan seribu orang
koruptor belum tentu bangsa tersebut akan menjadi bangsa yang maju, karena satu juta koruptor
akan tumbuh kembali. Akan tetapi, apabila suatu bangsa kehilangan seorang ilmuwan sains dasar,
maka dapat dipastikan bangsa tersebut perlahan-lahan akan "MATI"!”
Ilmuwan tanpa etika layaknya pemburu tanpa tali.
Kekuatan alam begitu besar dan begitu luas, sedangkan prinsip-prinsip yang dimiliki demikian
sederhana dan umum, sehingga hampir-hampir tidak dapat mengamati satu akibat khusus pun
sebelum diketahui bahwa kesulitan terbesar adalah menemukan cara mana menghasilkan akibat itu.
Senyuman hanya ada ketika kita bahagia. Kebahagiaan tercapai jika kita mengetahui kehidupan.
Mengetahui kehidupan berarti mengetahui alam, alam mempunyai ilmu. Sains dasar adalah ilmu
alam makan sains dasar pasti akan membuat kita tersenyum bahagia.


156

DAFTAR KONTRIBUTOR
NARA SUMBER:
 Prof. Lilik Hendrajaya
 Prof. Surna tjahjadjajadiningrat
 Prof. Sofjan Tsauri
PESERTA FILSAFAT SAINS:
 Atthar Luqman Ivansyah ( C. Membentuk Sikap, Perilaku Dan Kepemimpinan)
 Citra dan Arrie hardian( C. Membentuk Sikap, Perilaku Dan Kepemimpinan)
 Ikah ning P. P (B. Sikap Utama(Core Atitude)& Prolog C.)
 Junios (D. Maju Dengan Sikap Paradigmatif)
 Moh rosyid mahmudi(D. Maju Dengan Sikap Paradigmatif)
PENYELIA (EDITOR):
 Ikah Ning P. P
 Lilik hendrajaya
 Fourier Dzar Eljabbar Latief

157

DAFTAR BACAAN
[1]http://sinauonline.50webs.com
[2] http://www.dikti.go.id/
[3]Goleman . Emotional Intelligence.1999
[4]Slide “Soft Skill dan leadership ”, Prof. Surna tjahjadjajadiningrat.
[5]Slide “Sukses dengan Soft Skill”, Direktorat Pendidikan ITB.
[6] http://www.wikipedia.com
[7]http://www.managementfile.com
[8] Committee on Science, Engineering, and Public Policy, National Academy of Sciences,
National Academy of Engineering, and Institute of Medicine of The National Academics. 2009.
On Being a Scientist: A Guide to Responsible Conduct in Research: Third Edition. Washington,
D.C. : The National Academic Press. Page 1-3.
[9] Committee on Science, Engineering, and Public Policy, National Academy of Sciences, National
Academy of Engineering, and Institute of Medicine of The National Academics. 2009. On Being
a Scientist: A Guide to Responsible Conduct in Research: Third Edition. Washington, D.C: The
National Academic Press. Page 8-11.
[10] Committee on Science, Engineering, and Public Policy, National Academy of Sciences, National
Academy of Engineering, and Institute of Medicine of The National Academics. 2009. On Being
a Scientist: A Guide to Responsible Conduct in Research: Third Edition. Washington, D.C. : The
National Academic Press. Page 12-14.
[11] Committee on Science, Engineering, and Public Policy, National Academy of Sciences, National
Academy of Engineering, and Institute of Medicine of The National Academics. 2009. On Being
a Scientist: A Guide to Responsible Conduct in Research: Third Edition. Washington,D.C :The
National Academic Press. Page15-18.
[12] Committee on Science, Engineering, and Public Policy, National Academy of Sciences, National
Academy of Engineering, and Institute of Medicine of The National Academics. 2009. On Being
a Scientist: A Guide to Responsible Conduct in Research: Third Edition. Washington, D.C. : The
National Academic Press. Page 4-7.
158


[13] Committee on Science, Engineering, and Public Policy, National Academy of Sciences, National
Academy of Engineering, and Institute of Medicine of The National Academics. 2009. On Being
a Scientist: A Guide to Responsible Conduct in Research: Third Edition. Washington, D.C. : The
National Academic Press. Page 28.
[14] Committee on Science, Engineering, and Public Policy, National Academy of Sciences, National
Academy of Engineering, and Institute of Medicine of The National Academics. 2009. On Being
a Scientist: A Guide to Responsible Conduct in Research: Third Edition. Washington, D.C. : The
National Academic Press. Page 48.

[15]Kode Etika Peneliti, Majelis Professor Riset – LIPI, 2007
[16]Rothstein, Mitchell G and Burke, Ronald J. 2010. Self-Management and Leadership
Development. USA: Edward Elgar Publishing, Inc. page 487-504
[17]Sapienza, Alice M. 2004. Managing Scientists: Leadership Strategies in Research and
Development. USA: Wiley-Liss, Inc. page 17.
[18]http://dikari-scout.blogspot.com/2010/03/membangun-kepemimpinan_31.html
*19+ Slide “Paradigma Kemandirian Perguruan Tinggi”, Prof. Lilik hendrajaya






159

BAB 6 PENUTUP
“Discovery” atau penemuan hukum-hukum alam merupakan bagian sains dasar telah langsung
diterapkan untuk kemanfaatan manusia (salah satu contohnya adalah Hukum Archimides). Dalam
dunia yang pendidikannya bagus (masyarakat terpelajar), mendapatkan orang-orang yang cerdas
dan berakal untuk memanfaatkan hukum-hukum alam tidaklah sulit, kreatifitas dan berpikir
bertahap secara cepat mudah terjadi, sehingga manfaat sains dasar dapat dirasakan. Hal ini
merupakan motivator kuat untuk generasi mudanya untuk belajar sains dasar, dan tidak terjadi rasa
tidak suka, bahkan ketakutan (phobia). Karena pola hidup atau budaya ini tidak “terpindahkan” ke
Indonesia secara cepat maka terlalu lama sains dasar “steril”, tanpa manfaat diajarkan (wajib) ke
generasi muda Indonesia. Karena inilah penyampai sains dasar (guru, dosen) bukan merupakan
profesi menarik, sehingga pelamarnya bukan dari lulusan tingkat atas. Dengan demikian terjadi
“lingkaran kebuntuan” di lingkungan pendidikan sains dasar. Analisis yang telah disampaikan
diharapkan dapat menjadi solusi, dengan harapan akan mempercepat pencerdasan bangsa.
Dari kisah berhasil (Success Story) yang ada, tampak bahwa solusi tepat mempunyai tiga aspek
dimensi utama yaitu:
1. Dimensi akademik. Guru dan dosen didorong bahkan dapat diharuskan untuk mencapai
pendidikan akademik tertinggi (doktor) pada bidang sains dasar yang ditekuni dalam
tugasnya (jangan dilarang untuk studi Doktor/S3!) dengan topik studi yang membumi (yang
ada dan dapat dilaksanakan di Indonesia).
2. Dimensi “Soft Skill”. Guru dan dosen agar dilengkapi dengan pengetahuan Soft Skill,
terutama agar mereka komunikatif, keceriaan, persahabatan dan adaptif, serta
berkemampuan kebenaran dan kemanfaatan sains dasar dalam bahasa masyarakat.
3. Dimensi Kepemimpinan Patriotisme. Dalam menembus “lingkaran kebuntuan” dan kalangan
“sektoral” pada dunia kerja, maka pemaju sains dasar perlu memiliki jiwa dan berani
menjalankan kepemimpinan (Leadership) yang mampu melakukan rintisan, berani
berkompetisi dan mendobrak kebiasaan dan aturan yang kontra produktif demi
membangun kekuatan bangsa dalam bernalar ilmiah dan mampu berteknologi untuk
memajukan peradaban dan kesejahteraan bersama.
Wahai guru, dosen, ilmuwan dan pemaju sains dasar, siapkan diri anda, melangkah berani berkarya
yang tepat bagi bangkitnya bangsa Indonesia.
BASIC SCIENCES … BE EXCELLENT!
160

BAB 7 DAFTAR NARA SUMBER

1. Prof. Lilik Hendrajaya
2. Prof. Hendra Gunawan
3. Prof. Freddy P. Zen
4. Prof. Euis Holisotan
5. Prof. Suhardja D. Wiramihardja
6. Prof. Djoko Iskandar
7. Prof. Surna Tjahja Djajadiningrat
8. Prof. Edy Tri Baskoro
9. Prof. Ismunandar
10. Prof. Edy Suwono
11. Prof. Suhono
12. Prof. Sofyan Tsauri

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->