P. 1
Perkembangan Pola Pikir Manusia

Perkembangan Pola Pikir Manusia

|Views: 1,306|Likes:
Published by Sunani Sunny
Filsafat IPA
Filsafat IPA

More info:

Published by: Sunani Sunny on Dec 29, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/28/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

Munculnya ilmu pengetahuan disebabkan oleh karakter unik yang dimiliki oleh manusia yaitu hasrat/keinginan untuk mengetahui atau mencari tahu. Manusia mempuyai rasa ingin tahu terhadap benda-benda di sekelilingnya, alam sekitar, matahari, bulan, tanaman, hewan dan semua makhluk hidup yang lainya. Manusia sebagai makhluk berpikir dibekali hasrat ingin tahu terhadap benda dan semua peristiwa yang terjadi disekitarnya. Pengamatan terhadap benda-benda ditangkap oleh panca indra sehingga rasa ingin tahu kembali muncul dan tentunya manusia tidak akan puas jika belum mengetahui tentang benda-benda tersebut. Tidak sampai di sini, manusia juga mempunyai hasrat untuk mengetahui tentang hakikat dirinya sendiri (antroposentris). Hal ini hanya dimiliki oleh manusia saja yang mempunyai akal untuk berpikir. Pada hakikatnya, perkembangan pikiran manusia didasaridari dorongan rasa ingin tahu dan ingin memahami serta memecahkan masalah yang dihadapi. Rasa ingin tahu pada manusia tidak sama, selalu berkembang seakan tiada batas yang menyebabkan berkembangnya ilmu pengetahuan.

1

BAB II ISI

Perkembangan Pola Pikir Manusia Berpikir adalah kemampuan penalaran manusia dengan proses yang benar. Penalaran merupakan usaha logis dan analasis untuk menmukan jawaban atas berbagai pertanyaaan. Kemampuan ini tidak didapat melalui perasaan. Namun tentu ada pengetahuan yang bersumber dari bukan penalaran, yaitu: • Pengambilan keputusan berdasarkan perasaaan • Intuisi, kegiatan berpikir yang tidak analisi. Intuisi adalah pengetahuan yang timbul dari pengetahuan-pengetahuan terdahulu, intuisi bisa saja timbul menyelesaikan permasalahan tanpa proses berpikir yang sistematis • Wahyu, merupakan sumber pengetahuan yang paling tnggi • Trial and error, mencoba dan menemukan kegagalan, mencoba lagi dan gagal lagi hingga menemukan cara yang benar-benar tepat. Macam-macam perkembangan pola pikir manusia, antara lain yaitu:
1. Rasionalisme

Rasionalisme merupakan pola pikir yang sangat mementingkan rasio. Dalam rasio terdapat ide-ide dan dengan itu orang dapat membangun suatu ilmu pengetahuan tanpa menghiraukan realitas di luar rasio. Aliran Rasionalisme berlangsung dari pertengahan abad ke XVII sampai akhir abad ke XVIII. Pada zaman ini, hal yang khas bagi ilmu pengetahuan adalah penggunaan yang eksklusif daya akal budi (rasio) untuk menemukan kebenaran. Tokoh-tokoh aliran rasionalisme, antara lain: Rene Descartes (1596 -1650), Nicholas Malerbranche (1638 -1775), B. De Spinoza (1632 -1677 M),

2

G.W.Leibniz (1946-1716), Christian Wolff (1679 -1754) dan Blaise Pascal (1623 -1662 M). 2. Empirisme Empirisme berasal dari kata Yunani yaitu emperia yang berarti pengalaman inderawi. Oleh karena itu, empirisme dinisbatkan kepada paham yang memilih pengalaman sebagai sumber utama pengenalanan dan yang dimaksudkan dengannya adalah baik pengalaman lahiriah yang menyangkut dunia maupun pengalaman batiniah yang menyangkut pribadi manusia. Pada dasarnya empirisme sangat bertentangan dengan Rasionalisme. Rasionalisme mengatakan bahwa pengenalan yang sejati berasal dari rasio, sehingga pengenalan inderawi merupakan suatu bentuk pengenalan yang kabur. Sebaliknya empirisme berpendapat bahwa pengetahuan berasal dari pengalaman sehingga pengenalan inderawi merupakan pengenalan yang paling jelas dan sempurna. Tokoh-tokoh aliran empirisme, antara lain: Francis Bacon (1210 -1292), Thomas Hobbes ( 1588 -1679), John Locke ( 1632 -1704), George Berkeley ( 1665 -1753), David Hume ( 1711 -1776), dan Roger Bacon ( 1214 -1294). 3. Kritisisme Kritisisme merupakan pola pikir yang menyelidiki batas-batas kemampuan rasio sebagai sumber pengetahuan manusia. Oleh karena itu, kritisisme sangat berbeda corak dengan rasionalisme yang mempercayai kemampuan rasio secara mutlak. Kritisisme menjebatani pandangan rasionalisme dan empirisme, yang intinya ilmu pengetahuannya berasal dari rasio dan pengalaman manusia. Tokoh aliran kritisisme, yaitu: Immanuel Kant (1724-1804). Perkembangan Peradaban Manusia a. Tahap Teologi /Fiktif

3

Manusia berusaha mencari dan menemukan sebab yang pertama dan tujuan akhir dari segala sesuatu. Mereka menyakini kekuatan hebat (gaib) di luar dirinya yang menguasai fenomena alam. b. Tahap Metafisika/Abstrak

Manusia tetap mencari sebab utama tujuan akhir, tetapi tidak dihubungkan dengan hal gaib melainkan pada akal sendiri yang mampu berpikir untuk menemukan suatu hal/hakikat sesuatu. c. Tahap Positif Riil

Manusia mampu berpikir secara positif atas dasar pengetahuan yang dicapai dan dikembangkan melalui pengamatan, percobaan, dan perbandingan. Perkembangan Fisik, Sifat, dan Pikiran Manusia Ditinjau dari 2 segi, yaitu berdasarkan waktu dan individu manusia. 1. Berdasarkan waktu Pola pikir manusia berkembang dari zaman purba sampai sekarang. Dalam perjalanan waktu pola pikir manusia berkembang sesuai zamannya hingga terkumpul pengetahuan-pengetahuan sebagai hasil bertanya, meneliti/menyelidiki, atau mencermati penelitian orang lain. 2. Berdasarkan individu manusia Pola pikir manusia berkembang dari sejak ia dilahirkan sampai akhir hayatnya. Dalam perjalanan kehidupan seseoran ia akan selalu belajar sesuai dengan tahap perkembangan mental dan fisiknya hingga diperoleh kumpulan pengetahuan, baik sebagai hasil belajar dari lingkungan dan pengalaman pribadi maupun secara formal di sekolah. Sumber-sumber Pengetahuan Pada dasarnya manusia memiliki sumber-sumber pengetahuan natara lain:

4

• Akal Kaum Rasionalis, selain alam semesta atau alam fisik, meyakini bahwa akal merupakan sumber pengetahuan yang kedua dan sekaligus juga sebagai alat pengetahuan. Mereka menganggap akal-lah yang sebenarnya menjadi alat pengetahuan sedangkan indra hanya pembantu saja. Indra hanya merekam atau memotret realita yang berkaitan dengannya, namun yang menyimpan dan mengolah adalah akal. Karena kata mereka, indra saja tanpa akal tidak ada artinya, dan untuk meng-generalisasi-kan indra juga dibutuhkan akal. Alam akal digolongkan sebagai salah satu sumber ilmu pengetahuan karena : 1. Dalam pemikiran, akal menarik kesimpulan 2. Mengetahui konsep-konsep yang general 3. Pengelompokkan Wujud 4. Akal dapat menggabungan dan dapat menyusun. Akal juga dapat memilah dan menguraikan 5. Kreativitas. Dalam hal ini, akal dapat bersifat membangun dan mengeluarkan pendapat atau pemikiran dalam mengefisiankan sesuatu.

Sebagian konsepsi-konsepsi dan pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki oleh manusia tidak mungkin bersumber dari indra dan empiris, melainkan hanya dapat diperoleh dengan perantaraan akal dan rasio, seperti konsepsikonsepsi tentang Tuhan, jiwa, dan yang sejenisnya. • Indera Pengetahuan yang bersumber dari indra-indra lahiriah seperti hasil dari melihat, mendengar, meraba, mencium, dan merasa adalah suatu jenis pengenalan dan pemahaman yang bersifat lahiriah, permukaan, dan tidak mendalam. Berhubungan dengan alat dan sumber pengetahuan ini tidak terdapat perbedaan antara manusia dan hewan, karena keduanya sama-sama dapat melihat, mencium, merasa, dan mendengar, bahkan pada sebagian binatang mempunyai indra yang sangat kuat dan tajam dibanding manusia.
5

• Hati dan intuisi Hati dapat merasakan sesuatu hal lain yang bukan bersifat materi, tetapi merasakan apa yang sebenarnya terjadi dalam dirinya sendiri seperti rasa sakit, rasa lapar, dan sebagainya. Intuisi adalah hasil dari evolusi pemahaman yang tertinggi. Kemampuan ini mirip dengan insting, tetapi berbeda dengan kesadaran dan kebebasannya. • Logika • Penalaran Kegiatan berpikir yg mempunyai karakteristik tertentu dalam menemukan kebenaran.

2.3 Pengetahuan yang Dimiliki Manusia Pengetahuan yang dimiliki manusia ada 4, yaitu: • Pengetahuan Biasa (common sense) Pengetahuan biasa Sering diartikan sebagai good sense, karena seseorang memiliki sesuatu dimana ia menerima secara baik. Harold H. Titus, mengemukakan beberapa ciri khusus dari common sense, diantaranya:
1. Common sense cenderung menjadi biasa dan tetap, atau bersifat peniruan,

serta pewarisan dari masa lampau.
2. Common sense sering kabur atau samar dan memiliki arti ganda

(ambiguous)
3. Common sense merupakan suatu kebenaran atau kepercayaan yang tidak

teruji, atau tidak pernah teruji kebenarannya. • Pengetahuan Ilmu (science)

6

Pengetahuan yang diperoleh dengan ilmu, diperolehnya melalui observasi, eksperimen, klasifikasi. Analisis ilmu itu objektif dan menyampingkan unsur pribadi, pemikiran logika diutamakan, netral, dalam arti tidak dipengaruhi oleh sesuatu yang bersifat subjektif, karena dimulai dengan fakta. Persamaan antara pengetahuan ilmu dengan pengetahuan biasa adalah keduannya sama-sama mencari kebenaran, timbul dari keinginan manusia untuk mengejar kebenaran untuk mengerti akan dirinya sendiri. sedangkan perbedaannya adalah: Pengetahuan biasa (common sense) Tidak mementingkan sebab-sebabnya Tidak mencari rumusan seobjektif-objektifnya Tidak menyelidiki objek sampai akar- Menyelidiki akarnya Tidak ada sintesis Tidak bermetode dan tidak bersistem lengkapnya Memberikan sintesis (satu pandangan yang bergandengan Bermetode dan bersistem objek selengkapPengetahuan ilmu (science) Mementingkan sebab-sebabnya

yang Mencari rumusan yang sebaik-baiknya

• Pengetahuan Filsafat Pengetahuan filsafat lebih menekankan pada universalitas dan kedalaman kajian tentang sesuatu . Kalau ilmu hanya pada satu bidang pengetahuan yang sempit dan rigid, filsafat membahas hal yang lebih luas dan mendalam. • Pengetahuan Religi Pengetahuan agama yakni pengetahuan yang hanya diperoleh dari Tuhan lewat para utusan-Nya. Pengetahuan agama bersifat mutlak dan wajib diyakini oleh para pemeluk agama. Pengetahuan agama mengandung beberapa hal yang pokok yaitu ajaran tentang cara berhubungan dengan Tuhan, yang sering juga

7

disebut dengan hubungan vertikal dan cara berhubungan dengan sesama manusia, yang sering juga disebut dengan hubungan horizontal.

Perkembangan Pengetahuan Manusia

Tingkata n Antroposentris masa manusia primitif (Bangsa Babilonia)

Pengertian

Contoh

Manusia yg menjadi pusat segala-galanya

Kelahiran, kematian org penting mempengaruhi kondisi alam (raja).

Bumi yg menjadi pusat Segala-galanya Geosentris Claudius Ptolomeus Heliosentris Nicholas Copernicus Galaktosentris Bima sakti menjadi pusat Tidak ada yg menjadi pusat, Asentris semua beredar dlm Kontelasi alamiah. Merupakan kekuasaan Tuhan. Galaksi dalam tata surya Galaksi menjadi pusat dari Sejumlah tata surya Matahari yg menjadi pusat Sistem tata surya Matahari memiliki sejumla Planet dan planet memiliki Satelit (Rotasi) Matahari, bulan, bintang Berputar mengelilingi bumi (Ptolomeus).

8

Faktor-faktor

yang

Mempengaruhi

Perkembangan

Pola

Pikir

dan

Pengetahuan Manusia 1. Cita – cita Cita dan angan merupaka awal dari suatu permasalahan yang akan dihadapi sehingga dapat membentuk karakter berpikir serta pola pikir dan pandangan hidup dari suatu permasalahan yang timbul. Karena setiap kita bercita – cita atau menginginkan sesuatu maka kita juga akan berpikir bagaimana meraih dan mewujudkannya, sehingga cita – cita dapat menjadi faktor yang sangat mempengaruhi pola pikir dan pandangan hidup seseorang. 2. Pengalaman Pengalaman merupakan guru terbaik yang dimiliki oleh setiap orang. Belajar tidak hanya membaca atau mendengar dan menulis saja, Belajar yang baik adalah memadukan ketiganya menjadi satu kesatuan yaitu melakukan dengan melakukan maka kita akan membaca karakter permasalahan, menganalisi permasalahan serta mencari solusi dari permasalahan yang dihadapai “analisis” seningga dengan melalukan maka kita telah belajar baik disengaja atau tidak. 3. Pendidikan Pendidikan merupakan faktor penunjang dari suatu pola pikir cara pandang karena pada dasarnya pendidikan dapat merubah pola pikir dan cara berpikir seeorang. Tentunya akan sangat berbeda cara berpikir dan cara menyelesaikan suatu permasalahan seorang yang mengenyam pendidikan dengan orang yang tidak mengenyam pendidikan. Meski pendidikan tidak dapat sepenuhnya menjadi jaminan pembentukan karakter seseorang tetapi minimal dari pendidikan itulah seseorang dapat menjadi sedikit dewasa dalam segala hal. 4. Pergaulan
9

Karakter manusia dapat terbentuk oleh pergaulan baik pergaulan dalam akademis “sekolah, kampus atau lembaga lainnya”, ataupun non akademis “keluarga dan masyarakat”. Pergaulan dapat membentuk kepribadian dan pola pikir seseorang. Maka dalam pembentukan pola pikir dan cara pandang pergaulan sangat mempengaruhi karena dalam pergaulan maka kita belajar melakukan “Pengalaman”.

BAB III PENUTUP

DAFTAR PUSTAKA http://sulthonkalimosodho.wordpress.com/2011/11/03/sumber-sumber-ilmupengetahuan/ http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20589/4/Chapter%20II.pdf http://blog.uin-malang.ac.id/hifniashter/ http://filsafat.kompasiana.com/2010/04/24/manusia-dan-pola-pikir-sertapandangan-hidup/ http://marausna.wordpress.com/2010/04/19/perkembangan-pola-pikir-manusiaartikel/ http://riduan-blog.blogspot.com/2012/01/rasionalisme-empirisme-kritisisme.html

10

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->