Obat Umum (Dapat dibeli bebas

)
Nama Produk : MEPRILON Farmasi : Mugi Labs Komposisi : Alpha methylprednisolone Indikasi : Insufisiensi adrenokortikoid primer & kongenital adrenal, ggn reumatik, peny kol hematologik, peny kulit, peny alergi, peny m pemafasan, peny neoplastik, edema, kolife eksaserbasi akut dr sklerosis multipel, meni dg blok subaraknoid. D: Dws 4-48 mg/hr sebagai dosis tunggal terbagi. Sklerosis 160 mg/hr selama dilanjutkan dg 64 mg/hr selama 1 bin Kontra Indikasi : TB, infeksi jamursistemik, ulkus peptik, herpes, DM & varisela Perhatian : Hipertensi, riwayat ulkus peptikum, osteoporosis, divertikulitis, anastomosis usus baru, peny jantung koroner, ggn ginjal. Hamil, laktasi. ES: Ggn elektrolit & cairan tubuh, kelemahan otot, penurunan resistensi thd infeksi, ggn penyembuhan luka, meningkatnya TD, katarak, ggn pertumbuhan pd anak, insufisiensi adrenal, sindroma Gushing, osteoporosis, tukak lambung. Efek Samping : - Interaksi Obat : - Kemasan : ab 4 mg x 5 x 10 (Rp70,000). 16 mg x 3 x 10 (Rp105,000). Dosis -Dewasa : Tab Dws Awal 4-48 mg/hr sbg dosis tunggal atau terbagi. Sklerosis multiped 60 mg/hr selama 1 minggu, kmd 64 mg tiap 2 hr 1 x dim 1 bin. Anak Insufisiensi adrenokortikal 0.117 mg/kgBB/hr atau 3.33 mg/m2 luas permukaan tubuh/hr dim dosis terbagi 3. Indikasi lain 0.417-1.67 mg/kgBB/hr atau 12.5-50 mg/m2 luas permukaan tubuh/hr dim dosis terbagi 3-4. Vial Dws 10^tO mg IM/IV. Utk dosis tinggi 30 mg/kg BB selama min 30 mnt scr IV. Dosis dpt diulangi tiap 4-6 jam. Eksaserbasi akut dr sklerosis multipel 160 mg/hr IM/I V selama 1 minggu, lalu 64 mg/hr selama 1 bin. Luka tulang punggung akut 30 mg/kg BB selama 15 mnt scr IV, lalu dilanjutkan dg 5.4 mg/kg BB/jam dim 45 mnt selama 23 jam. Sbg terapi tambahan utk AIDS yg berhubungan dg pneumosistis carinii Hr ke1 -5 30 mg 2 x/hr scr IV. Hr ke6-10 30mg1 x/hr. Hrke 11-2115mg 1 x/hr. Bay/6 anak Insufisiensi adrenokortikal 0117 mg/kg BB/hr scr IM dg interval 2 hr. Luka tulang punggung akut 30 mg/kg BB scr IV selama 15 mnt, diikuti dg 5.4 mg/kg BB/jam dim 45 mnt selama 23 jam. Indikasi lain 0.139-0.835 mg/kg BB tiap12-24 jam scr IM. Sbg terapi tambahan utk AIDS yg berhubungan dg pneumosistis carinii pd anak > 13 thn Sama dg dosis dws -Anak-anak : - -Balita : - Harga : Gambar : - Terakhir diperbaharui: * Harga dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu * Bila sakit berlanjut, harap menghubungi dokter anda secepatnya

Methylprednisolone print article Methylprednisolone Injeksi IM/IV

Komposisi
Methylprednisolone 125 mg Tiap vial mengandung: Metilprednisolon natrium suksinat setara dengan Metilprednisolon 125 mg

Methylprednisolone 500 mg Tiap vial mengandung: Metilprednisolon natrium suksinat setara dengan Metilprednisolon 500 mg

Farmakologi:
Metilprednisolon merupakan kortikosteroid dengan kerja intermediate yang termasuk kategori adrenokortikoid, antiinflamasi dan imunosupresan. Adrenokortikoid: Sebagai adrenokortikoid, metilprednisolon berdifusi melewati membran dan membentuk komplek dengan reseptor sitoplasmik spesifik. Komplek tersebut kemudian memasuki inti sel, berikatan dengan DNA, dan menstimulasi rekaman messenger RNA (mRNA) dan selanjutnya sintesis protein dari berbagai enzim akan bertanggung jawab pada efek sistemik adrenokortikoid. Bagaimanapun, obat ini dapat menekan perekaman mRNA di beberapa sel (contohnya: limfosit). Efek Glukokortikoid: Anti-inflamasi (steroidal) Glukokortikoid menurunkan atau mencegah respon jaringan terhadap proses inflamasi, karena itu menurunkan gejala inflamasi tanpa dipengaruhi penyebabnya. Glukokortikoid menghambat akumulasi sel inflamasi, termasuk makrofag dan leukosit pada lokasi inflamasi. Metilprednisolon juga menghambat fagositosis, pelepasan enzim lisosomal, sintesis dan atau pelepasan beberapa mediator kimia inflamasi. Meskipun mekanisme yang pasti belum diketahui secara lengkap, kemungkinan efeknya melalui blokade faktor penghambat makrofag (MIF), menghambat lokalisasi makrofag: reduksi atau dilatasi permeabilitas kapiler yang terinflamasi dan mengurangi lekatan

menghambat pembentukan edema dan migrasi leukosit. sehingga T-limfosit blastogenesis menurun dan mengurangi perluasan respon immun primer. atau situasi dimana dapat timbul resiko kekambuhan. Pengobatan sakit karena serum. Kerja immunosupresan juga dapat mempengaruhi efek antiinflamasi. Glukokortikoid mengurangi konsentrasi limfosit timus (T-limfosit). Rinitis alergi parennial (tahunan) atau seasonal (musiman). Penggantian sodium dan cairan juga dibutuhkan. Metilprednisolon juga menurunkan ikatan immunoglobulin ke reseptor permukaan sel dan menghambat sintesis dan atau pelepasan interleukin.    Gangguan alergi: Reaksi alergi karena obat. suatu inhibitor fosfolipase A2-mediasi pelepasan asam arakhidonat dari membran fosfolipid. Reaksi transfusi urtikaria. Immunosupresan Mekanisme kerja immunosupresan belum dimengerti secara lengkap tetapi kemungkinan dengan pencegahan atau penekanan sel mediasi (hipersensitivitas tertunda) reaksi imun seperti halnya tindakan yang lebih spesifik yang mempengaruhi respon imun.leukosit pada endotelium kapiler.       Angioderma (pengobatan tambahan) Laringeal edema akut non infeksi. konsentrasi komponen pelengkap dan immunoglobulin. Pada beberapa pasien penggantian mineralokortikoid tambahan juga mungkin diperlukan. untuk pengobatan: Insufisiensi adrenokortikal akut dan kronik primer: Hidrokortison dan kortison lebih dipilih sebagai terapi pengganti karena aktivitas mineralokortikoidnya yang berarti. Gangguan kolagen: Diindikasikan selama eksaserbasi akut atau terapi perawatan pada kasus-kasus berikut: . dan meningkatkan sintesis lipomodulin (macrocortin).  Insufisiensi adrenokortikoid sekunder: Penggantian dengan glukokortikoid umumnya mencukupi. tromboksan dan leukotrien). Glukokortikoid juga dapat menurunkan lintasan kompleks immun melalui dasar membran. dan eosinofil. mineralokortikoid tidak selalu dibutuhkan. monosit. dan hambatan selanjutnya terhadap sintesis asam arakhidonatmediator inflamasi derivat (prostaglandin. Indikasi:   Abnormalitas fungsi adrenokortikal. Reaksi anafilaktik atau anaphytold (pengobatan tambahan) Penggunaan glukokortikoid umumnya untuk reaksi lambat (yang tidak berhasil dengan tindakan lain dalam 1 jam).

Penyakit hati: Hepatitis alkoholik dengan enselofati. Gangguan darah: Anemia hemolitik yang diperoleh (oto imun) Anemia hipoplastik bawaan (eritroid) Anemia sel darah merah (eritoblastopenia) Trombositopenia sekunder (pada orang dewasa) Trombositopenia purpura idiopatik pada orang dewasa (secara oral atau i. Dermatomiositis sistemik (polimiositis): Glukokortikoid mungkin merupakan obat pilihan pada anak dengan kondisi demikian. pemberian dalam jangka waktu lama tidak direkomendasikan. Arteritis giant-cell (temporal). Penyakit jaringan ikat campuran.) Hemolisis. Phemphigus. Pemberian secara oral atau parenteral diindikasikan bila terapi sistemik dibutuhkan selama periode kritis penyakit. kontraindikasi untuk injeksi i. Sarkoid kutan lokalisasi. eksfoliatif. Hepatitis non alkoholik pada wanita. kontak. Dermatitis herpetiformis bullous. Dermatitis inflamatori berat.  Carditis rheumatik (atau non rheumatik) akut. Vaskulitis. Poliarteritis nodosa. Gangguan pada kulit: Dermatitis yang bersifat atopik. Polikondritis kambuhan. Enteritis regional (penyakit Crohn) Penyakit celiac berat. Pemphigoid. Eritema multiforma berat (sindrom Stevens-Johnson) Mikosis fungoides. Polimialgia rheumatik. Gangguan saluran pencernaan: Diindikasikan untuk pengobatan inflamasi pada usus besar seperti di bawah ini:     Inflamasi pada usus besar. Hepatitis kronis aktif.            .v. Psoriasis berat.                    Lupus eritematosus sistemik. Dermatitis seboreik berat. Saja. termasuk colitis ulceratif.m.

terapi jangka panjang mungkin diperlukan untuk mencegah kekambuhan. Hiperkalsemia yang berhubungan dengan neoplasma (atau sarkoidosis). Mieloma ganda. Neurotrauma: luka pada tulang belakang. Polip nasal. Keratis yang tidak berhubungan dengan herpes simpleks atau infeksi fungal. Gangguan pada mata: Diindikasikan untuk pengobatan alergi kronis atau akut dan kondisi inflamasi oftalmik. Injeksi lokal lebih baik dilakukan bila hanya beberapa sendi atau daerah yang terkena. Kanker payudara. Sklerosis ganda. Kanker prostat. Perikarditis: digunakan untuk menghilangkan inflamasi dan demam. Oftalmia simpatika. Bursitis akut atau sub akut. Epikondilitis. diindikasikan untuk pengobatan penyakit eksaserbasi akut. Tenosinovitis nonspesifik akut.      Penyakit neurologik: Meningitis tuberkulosa (pengobatan tambahan). Konjungtivitis alergi (yang tidak dapat diatasi secara topikal). Sindroma nefrotik: Diindikasikan untuk menginduksi diuresis atau mengurangi gejala proteinuria pada sindrom idiopatik nefrotik. diindikasikan untuk pemberian bersama dengan kemoterapi anti tuberkulosa pada pasien dengan blok subarakhnoid. . Limfoma Hodgkin atau non-Hodgkin. Inflamasi non rheumatik: Diindikasikan selama episode akut atau eksaserbasi dari gangguan-gangguan di bawah ini. Uveitis posterior difusi. untuk meringankan penyakit neoplastik berikut ini beserta problem yang berhubungan:        Leukemia akut atau limfositik kronik. Iridosiklitis. Demam yang disebabkan kanker ganas. Penyakit neoplastik (pengobatan tambahan): Diindikasikan bersama dengan terapi penyakit antineoplastik spesifik yang sesuai. Koroiditis posterior difusi. seperti:            Klorioretinitis. Herpes zoster. Neuritis optik.        Nekrosis hepatik sub akut.

Sinovitis osteoarthritis. atau i. Gangguan rheumatik: Injeksi lokal dilakukan bila hanya beberapa sendi atau area yang terlibat. sinovitis. pneumosistitis carinii. dan terapi fisik. Pengobatan shock: akibat insufisiensi adrenokortikal.v.v. atau leher untuk mencegah edema yang dapat menghambat jalan nafas. selama dan setelah pembedahan oral. Penyakit paru-paru.m. Bronkitis asmatik akut dan kronik. Penyakit deposisi kalsium pirofosfat akut (pseudogout. Arthritis psoriatik. Pneumonia aspirasi. Status asmatikus: pemberian harus secara i. Hemangioma. Arthritis reumatoid (termasuk arthritis pada anak-anak). obstruksi saluran nafas pada anak: pengobatan sebaiknya diberikan dalam injeksi i.m. obstruksi kronis (yang tidak dapat dikontrol dengan teofilin dan β-adrenergik agonis). kondrokalsinosis artikularis. facial. Pneumonia. Gangguan pernafasan: Untuk pengobatan dan profilaksis. yang disebabkan oleh kristal). yang berhubungan dengan sindrom immunodefisiensi yang diperoleh (pengobatan tambahan). Sarkoidosis simptomatik.v. Edema pulmonari nonkardiogenik (disebabkan sensitivitas protamin): pengobatan sebaiknya diberikan dalam injeksi i. Pengobatan:               Asma bronkial Berillosis Sindrom Loeffler (pneumonitis eosinofil atau sindrom hipereosinofil). Tuberkulose paru-paru yang tersebar atau fulminant (pengobatan tambahan): diberikan bersamaan dengan kemoterapi anti tuberkulosa yang sesuai. Pada penderita AIDS atau yang mengidap infeksi HIV yang terkena pneumonia pneumocystis. Untuk pasien yang tidak dapat lagi diobati dengan aspirin. Penyakit reiter. Osteoarthritis post traumatik.m. . Diindikasikan sebagai terapi tambahan selama episode akut atau eksaserbasi gangguan rheumatik seperti:    Ankilosing spondilitis. atau i. atau i. antiinflamasi non steroidal. Polimialgia rheumatik. istirahat.        Gout arthritis akut. Profilaksis: Diberikan sebelum atau selama pembedahan jantung jika pasien mempunyai gangguan pre-exiting pulmonary dan diberikan sebelum.

Untuk pengobatan luka tulang punggung akut: intravena.5 mikrogram (0.4 mg per kg berat badan per jam. Anak-anak berusia lebih dari 13 tahun: sama dengan dosis dewasa. 30 mg (base) per kg berat badan diberikan sekurangkurangnya 30 menit.11 sampai 1. Bayi dan anak:  Insufisiensi adrenokortikal: intramuskular. diulangi sesuai keperluan.16-25 mg (base) permeter persegi permukaan tubuh setiap 12 sampai 24 jam. Untuk pengobatan luka tulang punggung akut: intravena. 5. Kontraindikasi:     Infeksi jamur sistemik dan hipersensitivitas terhadap bahan obat.    . 30 mg (base) per kg berat badan diberikan selama 15 menit. 10-40 mg (base).117 mg) (base) per kg berat badan atau 3. Untuk pengobatan tambahan pada AIDS yang berhubungan dengan pneumosistis carinii: Anakanak berusia 13 tahun atau kurang: dosis belum ditentukan secara pasti.4 mg per kg berat badan per jam. Pencegahan dan pengobatan penolakan pencangkokan organ: diberikan bersamaan dengan immunosupresan lainnya seperti azathioprine atau siklosporin.0585 mg) (base) per kg berat badan atau 1. 30 mg (base) per kg berat badan diberikan selama 15 menit. Untuk eksaserbasi akut pada sklerosis ganda: intramuskular atau intravena. 30 mg sekali sehari pada hari keenam sampai kesepuluh. diikuti dengan 64 mg setiap hari selama satu bulan. atau 39 sampai 58. Pemberian jangka lama pada penderita ulkus duodenum dan peptikum. herpes.66 mg (base) permeter persegi permukaan tubuh sekali sehari. Dosis dapat diulangi setiap 4-6 jam sesuai kebutuhan.835 mg) (base) per kg berat badan atau 4. selama 23 jam. diikuti dengan 45 menit infus. Dosis: Dewasa Secara intramuskular atau intravena. Untuk pengobatan tambahan pada AIDS yang berhubungan dengan pneumosistis carinii: intravena. 117 mikrogram (0.     Untuk dosis tinggi (pulse terapi): intravena. 30 mg (base) dua kali sehari pada hari pertama sampai kelima.  Pengobatan tiroiditis non supuratif. selama 23 jam.33 mg (base) permeter persegi permukaan tubuh sehari (dalam dosis terbagi tiga) setiap hari ke tiga.039 sampai 0. 160 mg (base) perhari selama satu minggu. diikuti selama 45 menit dengan infus 5. osteoporosis berat. 15 mg sekali sehari pada hari ke sebelas sampai dua puluh satu. Pasien yang sedang diimunisasi. Bayi prematur.  Pengobatan trikinosis. 139-835 mikrogram (0. penderita dengan riwayat penyakit jiwa. Indikasi lain: intramuskular.139-0.

kocok hingga larut. Efek sistem syaraf: .9% selama sekurang-kurangnya 30 menit. nekrosis aseptik pangkal humerat atau femorat. distensi abdominal. Pemberian dengan intravena langsung dapat diberikan selama sekurang-kurangnya 1 menit. timbulnya keadaan cushingoid. dan atropi matriks protein tulang yang menyebabkan osteoporosis.9% atau dektrosa 0.  Efek pada mata: Katarak subkapsular posterior. diare atau konstipasi. atau dapat diberikan secara infus intravena dalam 5% dekstrosa.  Efek endokrin: Menstruasi yang tidak teratur. perforasi. eksoftalmus. ulceratif esofagitis. retak tulang belakang karena tekanan.5% dalam NaCl 0.  Efek muskuloskeletal: Nyeri atau lemah otot.  Efek pada saluran cerna: Mual. hipokalemik alkalosis. hambatan pertumbuhan pada anak. peningkatan selera makan yang berakibat naiknya berat badan. peningkatan tekanan intra okular. pankreatitis.Cara pemberian: Untuk intramuskular atau intravena: Rekonstitusi serbuk dengan larutan injeksi yang telah disediakan (mengandung benzyl alkohol 0. glaukoma. Larutan stabil secara fisika dan kimia selama 48 jam. anoreksia yang berakibat turunnya berat badan. hiperglikemia. bahaya diabetes mellitus.9%).  Gangguan cairan dan elektrolit: Retensi sodium yang menimbulkan edema. toleransi glukosa menurun. penyembuhan luka yang tertunda. NACl 0. perdarahan dan penyembuhan peptik ulcer yang tertunda. iritasi lambung. hipertensi. serangan jantung kongestif. Efek samping:  Insufisiensi adrenokortikal: Dosis tinggi untuk periode lama dapat terjadi penurunan sekresi endogeneous kortikosteroid dengan menekan pelepasan kortikotropin pituitary insufisiensi adrenokortikal sekunder. kekurangan kalium. muntah. atau retak patologi tulang panjang.   Juga menimbulkan reaktivasi.

vertigo. Interaksi obat: . terutama wanita postmenopausal. eritema fasial. peningkatan keringat. nyeri sendi. striae. insomnia.  Efek dermatologi: Atropi kulit. Peringatan dan perhatian:  Wanita hamil dan ibu menyusui.  Anak-anak Pemberian dosis farmakologi glukokortikoid pada anak-anak bila mungkin sebaiknya dihindari. muntah. meminimalkan hambatan pertumbuhan dan sebaiknya diganti bila terjadi hambatan pertumbuhan. Jika terapi diperlukan harus diamati pertumbuhan bayi dan anak secara seksama. Dapat terjadi hipertensi selama terapi adrenokortikoid. peningkatan aktivitas motor. Pemakaian obat ini dapat menekan gejala-gejala klinik dari suatu penyakit infeksi. Alternate-day therapy. sakit kepala. angiodema. kehilangan berat badan. abnormalitas EEG. dianjurkan tidak divaksinasi terhadap Smalpox juga imunisasi lain terutama yang mendapat dosis tinggi. untuk mencegah kemungkinan bahaya komplikasi neurologi. iskemik neuropati. hirsutisme. Pemakaian jangka panjang dapat menurunkan daya tahan tubuh terhadap penyakit infeksi. kehilangan nafsu makan. alergi dermatitis. konvulsi. letargi. akan lebih mudah terkena osteoporosis yang diinduksi glukokortikoid. Kortikosteroid dapat berdifusi ke air susu dan dapat menekan pertumbuhan atau efek samping lainnya pada bayi yang disusui.      Sementara pasien menerima terapi kortikosteroid.  Efek samping lain: Penghentian pemakaian glukokortikoid secara tiba-tiba akan menimbulkan efek mual. urtikaria. demam. Dosis tinggi glukokortikoid pada anak dapat menyebabkan pankreatitis akut yang kemudian menyebabkan kerusakan pankreas. yaitu pemberian dosis tunggal setiap pagi hari. Dapat menyebabkan kerusakan fetus bila diberikan pada wanita hamil. deskuamasi.Sakit kepala. mialgia. karena obat dapat menghambat pertumbuhan tulang. jerawat. Tidak dianjurkan pada pasien dengan ocular herpes simplex karena kemungkinan terjadi perforasi korneal. Pasien lanjut usia. Jika kortikosteroid digunakan pada pasien dengan TBC laten atau tuberculin reactivity perlu dilakukan pengawasan yang teliti sebagai pengaktifan kembali penyakit yang dapat terjadi. dan atau hipotensi.  Pasien lanjut usia.

Diuretik yang mengurangi kadar kalium (contoh: thiazida.  Vaksin dan toksoid. Aspirin harus diberikan secara hati-hati pada pasien hipotrombinernia. fenitoin dan rifampin yang menginduksi enzim hepatik dapat meningkatkan metabolisme glukokortikoid. Pemberian bersamaan dengan obat ulcerogenik seperti indometasin dapat meningkatkan resiko ulcerasi saluran pencernaan. neostigmin. Sebelum dan sesudah rekonstitusi. 1 vial @ 125 mg metilprednisolon kering dan 1 ampul @ 2 ml pelarut. Enzim penginduksi mikrosom hepatik. o Kemasan dan Nomor Registrasi: METHYLPREDNISOLONE 125 Kotak. Meskipun pemberian bersamaan dengan salisilat tidak tampak meningkatkan terjadinya ulcerasi saluran pencernaan.  Obat yang mengurangi kalium. Jika mungkin. Cara penyimpanan: Simpan ditempat kering dan sejuk. asam etakrinat) dan obat lainnya yang mengurangi kalium oleh glukokortikoid. Obat seperti barbiturat. Interaksi antara glukokortikoid dan antikolinesterase seperti ambenonium. obat dapat menyebabkan pengurangan respon toksoid dan vaksin inaktivasi atau hidup. Gunakan larutan sebelum 48 jam setelah direkonstitusi.  Bahan antikolinesterase. furosemida. pengobatan antikolinesterase harus dihentikan 24 jam sebelum pemberian awal terapi glukokortikoid. Karena kortikosteroid menghambat respon antibodi.  Anti inflamasi nonsteroidal. Serum kalium harus dimonitor secara seksama bila pasien diberikan obat bersamaan dengan obat yang mengurangi kalium. kemungkinan efek ini harus dipertimbangkan. GKL0405037244A1 . atau pyridostigmin dapat menimbulkan kelemahan pada pasien dengan myasthenia gravis. terlindung dari cahaya. simpan pada suhu antara 15-30 C. sehingga mungkin diperlukan dosis tambahan atau obat tersebut tidak diberikan bersamaan.

1 vial @ 500 mg metilprednisolon kering dan 1 ampul @ 8 ml pelarut. GKL0405037244B1 HARUS DENGAN RESEP DOKTER SIMPAN PADA SUHU KAMAR (25-30) C. TERLINDUNG DARI CAHAYA o METHYLPREDNISOLONE TABLET Komposisi: METHYLPREDNISOLONE 4 mg Tiap tablet mengandung Metilprednisolon 4 mg METHYLPREDNISOLONE 8 mg Tiap tablet mengandung Metilprednisolon 8 mg METHYLPREDNISOLONE 16 mg Tiap tablet mengandung Metilprednisolon 16 mg .METHYLPREDNISOLONE 500 Kotak.

penderita dengan riwayat penyakit jiwa. dosis tunggal atau terbagi. penyakit kolagen.67 mg per kg berat tubuh atau 12. herpes.33 mg per m luas permukaan tubuh sehari dalam dosis terbagi tiga. kemudian 64 mg setiap 2 hari sekali dalam 1 bulan. Pemberian kortikosterooid yang lama merupakan kontraindikasi pada ulkus duodenum dan peptikum. osteoporosis berat.5 mg . Metilprednisolon tidak mempunyai aktivitas retensi natrium seperti glukokortikoid yang lain. hiperkalsemia sehubungan dengan kanker. Kontraindikasi:    Infeksi jamur sistemik dan pasien yang hipersensitif. keadaan alergi dan peradangan pada kulit dan saluran pernafasan tertentu.48 mg per hari.1. Dalam multiple sklerosis: Oral 160 mg sehari selama 1 minggu.  Indikasi lain: 2 2 Oral 0. Dosis:  Dewasa: Dosis awal dari metilprednisolon dapat bermacam-macam dari 4 mg .417 mg .50 mg per m luas permukaan tubuh sehari dalam dosis terbagi 3 atau 4.Farmakologi: Metilprednisolon adalah glukokortioid turunan prednisolon yang mempunyai efek kerja dan penggunaan yang sama seperti senyawa induknya.117 mg/kg bobot tubuh atau 3.  Anak-anak: Insufisiensi . penyakit hematologik. Pasien yang sedang diimunisasi. Efek samping: . Indikasi: Abnormalitas fungsi adrenokortikal. tergantung keadaan penyakit.adrenokortikal: Oral 0.

10 blister @ 10 tablet: No. GKL0305035210C1 HARUS DENGAN RESEP DOKTER . Pemakaian jangka panjang dapat menurunkan daya tahan tubuh terhadap penyakit infeksi. Reg. Pasien yang menerima vaksinasi terhadap smallpox. karena kemungkinan terjadi perforasi corneal. kecuali memang benar-benar dibutuhkan. Ada peningkatan efek kortikosteroid pada pasien dengan hipotiroidi dari cirrhosis. Penggunaan bersama-sama dengan antiinflamasi non-steroid atau antirematik lain dapat mengakibatkan risiko gastrointestinal. osteoporosis. meningkatnya tekanan darah. Kemungkinan adanya gejala hipoadrenalism. resistensi terhadap infeksi menurun. GKL0305035210B1 METHYLPREDNISOLONE 16 mg : Kotak. GKL0305035210A1 METHYLPREDNISOLONE 8 mg : Kotak. 10 blister @ 10 tablet: No. perdarahan gastrointestinal. katarak. insufisiensi adrenal. gaangguan pertumbuhan pada anak-anak. Peringatan dan perhatian:         Tidak dianjurkan untuk wanita hamil dan menyusui. Pemakaian obat ini dapat menekan gejala-gejala klinis dari suatu penyakit infeksi. karena penggunaaan jangka panjang dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak. dan bayi yang lahir dari ibu yang ketika hamil menerima terapi kortikosteroid ini harus diperiksa. tukak lambung. cushing syndrome. Reg. juga imunisasi lain terutama yang mendapat dosis tinggi. 10 blister @ 10 tablet: No. Interaksi obat:     Berikan dengan makanan untuk meminumkan iritasi gastrointestinal. juga imunisasi lain terutama yang mendapat dosis.Efek samping biasanya terlihat pada pemberian jangka panjang atau pemberian dalam dosis besar. gangguan penyembuhan luka. Reg. kelemahan otot. Jika kortikosteroid digunakan pada pasien dengan TBC latent atau Tuber Culin Reactivity perlu dilakukan pengawasan yang teliti sebagai pengaktifan kembali penyakit yang dapat terjadi. Penggunaan bersama-sama dengan anti-diabetes harus dilakukan penyesuaian dosis. Kemasan dan Nomor Registrasi: METHYLPREDNISOLONE 4 mg : Kotak. Tidak dianjurkan untuk bayi dan anak-anak. Tidak dianjurkan penggunaan pada penderita ocular herpes simplex. Pasien yang menerima terapi kortikosteroid ini dianjurkan tidak divaksinasi terhadap smallpox. untuk mencegah kemungkinan bahaya komplikasi neurologi. misalnya gangguan elektrolit dan cairan tubuh.

Reg : GKL0508512310B1. . TERLINDUNG DARI CAHAYA o Dibuat oleh: PT DEXA MEDICA JL.   Methylprednisolone 4 mg tablet (1 box berisi 5 strip @ 10 tablet). Glukokortikoid merubah respon kekebalan tubuh terhadap berbagai rangsangan.: Kemasan & No Reg :. . Glukokortikoid menimbulkan efek metabolisme yang besar dan bervariasi.: Farmakologi :.INDONESIA Methylprednisolone . Analog sintetisnya terutama digunakan sebagai anti-inflamasi pada sistem organ yang mengalami gangguan. Methylprednisolone adalah suatu glukokortikoid alamiah (memiliki sifat menahan garam (salt retaining properties)). Methylprednisolone 16 mg tablet (1 box berisi 3 strip @ 10 tablet).SIMPAN PADA SUHU KAMAR (25-30) C. BAMBANG UTOYO 138 PALEMBANG . Reg : GKL0508512310A1. digunakan sebagai terapi pengganti pada defisiensi adrenokortikal. No. No.

dan dermatitis seboroik . tiroid non-supuratif. hipolastik anemia kongenital. dan leukemia akut pada anak. dan epikondilitis. Lain-lain : meningitis tuberkulosa. Gangguan saluran pencernaan : kolitis ulseratif dan regional enteritis. Penyakit kanker (Neoplastic disease) : untuk terapi paliatif pada leukemia dan lympoma pada orang dewasa.: Indikasi :. eritoblastopenia. eksfoliatif dermatitis. Penyakit rheumatik : sebagai terapi tambahan dengan pemberian jangka pendek pada arthritis sporiatik. non spesifik tenosynovitis akut. Sistem syaraf : eksaserbasi akut pada mulitipel sklerosis. . arthritis rheumatoid. Penyakit kulit : pemphigus. gouty arthritis akut. bullous dermatitis herpetiformis. adrenal hiperplasia kongenital. anemia hemolitik. chorioretinitis. Methylprednisolone dikontraindikasikan pada infeksi jamur sistemik dan pasien yang hipersentitif terhadap komponen obat. herpes zooster opthalmikus. dosis harus diturunkan sampai dosis efektif minimal untuk pemeliharaan.. Kelainan darah : idiopatik purpura trombositopenia.              Kelainan endokrin : insufisiensi adrenokortikal (hydrocortisone atau cortisone merupakan pilihan pertama. trombositopenia sekunder pada orang dewasa. Bila telah diperoleh efek terapi yang memuaskan. dan iridosiklitis. hiperkalemia yang berhubungan dengan penyakit kanker. Penyakit mata : corneal marginal alergi. eritema multiforme yang berat (Stevens Johnson sindrom). mikosis fungoides. . dilanjutkan menjadi 64 mg/hari selama 1 bulan . penyakit serum. karditis rheumatik akut. asma bronkhial. neuritis optik. Penyakit pernafasan : sarkoidosis simptomatik. dermatitis kontak dan dermatitis atopik. psoriaris. Edema : menginduksi diuresis atau remisi proteinuria pada syndrom nefrotik. ankylosing spondilitis. kombinasi methylprednilosolone dengan mineralokortikoid dapat digunakan). reaksi hipersensitif terhadap obat. Dosis awal bervariasi antara 4–48 mg/hari tergantung pada jenis dan beratnya penyakit. iritis.: Kontra Indikasi :. konjungtivitis alergi.: Dosis :. Alergi : seasonal atau perenial rhinitis alergi. Pada situasi klinik yang memerlukan methylprednisolone dosis tinggi termasuk multiple sklerosis : 160 mg/hari selama 1 minggu. keratitis. Penyakit kolagen : systemik lupus eritematosus. serta respon penderita. dan sistemik dermatomitosis (polymitosis). bursitis akut dan subakut. osteoarthritis post-trauma. pulmonary tuberkulosis pulminan atau diseminasi.

keadaan :”Cushingoid”. Saluran pencernaan : ulserasi peptik dengan kemungkinan perforasi dan perdarahan. Pengobatan harus dibatasi pada dosis minimum dengan periode yang pendek. keretakan pathologi. simptom penurunan kortikoid dan supresi pertumbuhan pada anak. ulserasi esofagitis. pengobatan harus diberikan dalam dosis tunggal secara ADT. terjadinya keadaan „cushingoid“.        Gangguan pada cairan dan elektrolit : Retensi sodium. Jaringan otot : steroid miopati. kehilangan kalium pada pasien yang rentan. pankretitis. perforasi pada perut. Peningkatan Alanin Transaminase (ALT. Pada penderita usia lanjut : Pengobatan pada penderita usia lanjut. . mengingat resiko yang besar dari efek samping kortikosteroid pada usia lanjut. ecchymosis. rentan terhadap infeksi dan penipisan kulit. Metabolisme : Keseimbangan nitrogen yang negatif sehubungan dengan katabolisme protein. bersifat reversibel apabila pemberian obat dihentikan. osteoporosis. lemah otot. pseudotumor cerebri. Setelah pemberian obat dalam jangka lama. Jika selama periode terapi yang dianggap wajar respon terapi yang diharapkan tidak tercapai.menunjukkan hasil yang efektif. penurunan toleransi karbohidrat. SGOT). retensi cairan. timbulnya gejala diabetes mellitus . menipiskan kulit yang rentan. tidak berhubungan dengan gejala klinis lain. hipertensi. petechiae. Urtikaria dan reaksi alergi lainnya. reaksi anafilaktik dan reaksi hipersensitif. banyak keringat. penghentian obat sebaiknya dilakukan secara bertahap. perubahan fisik. keretakan tulang belakang. dilaporkan pernah terjadi pada pemberian oral maupun parenteral. hipokalemia alkalosis. nekrosis aseptik. kembung perut.: Efek Samping :. khususnya osteoporosis. SGPT). Efek samping berikut adalah tipikal untuk semua kortikosteroid sistemik. perdarahan gastrik. dan epilepsi. supresi pada pitutary-adrenal axis. gagal jantung kongestif. Pemberian obat secara ADT (Alternate-Day Therapy) : adalah rejimen dosis untuk 2 hari diberikan langsung dalam 1 dosis tunggal pada pagi hari (obat diberikan tiap 2 hari sekali). Hal-hal yang tercantum di bawah ini tidaklah menunjukkan bahwa kejadian yang spesifik telah diteliti dengan menggunakan formula khusus. Neurologi : Peningkatan tekanan intrakranial. jika memungkinkan. hipertensi. Endokrin : Menstruasi yang tidak teratur. diabetes. eritema pada wajah. Dermatologi : mengganggu penyembuhan luka. Perubahan ini biasanya kecil. hentikan pengobatan dan ganti dengan terapi yang sesuai. Aspartat Transaminase (AST. dan Alkaline Phosphatase telah diteliti pada pengobatan dengan kortikosteroid. khususnya dengan jangka lama harus direncanakan terlebih dahulu. Pada anak-anak : Dosis umum pada anak-anak harus didasarkan pada respon klinis dan kebijaksanaan dari dokter klinis. Tujuan dari terapi ini meningkatkan farmakologi pasien terhadap pemberian dosis pengobatan jangka lama untuk mengurangi efek-efek yang tidak diharapkan termasuk supresi adrenal pituitari.

pasien harus diberi khemoprofilaksis. glaukoma dan eksophtalmus. .: Peringatan dan Perhatian :. Mata : Katarak posterior subkapsular. sekaligus menghambat klirensnya. umumya dapat menurunkan . Obat-obat yang menginduksi enzim hepatik seperti phenobarbital. Pemberian aspirin bersama kortikosteroid harus diawasi pada pasien hipoprothrombin. Vaksinasi lain hendaknya tidak diberikan terutama pada pasien yang mendapat terapi methylprednisolone dosis tinggi karena adanya kemungkinan bahaya dari komplikasi neurologik dan berkurangnya respon antibodi. akan tetapi pengukuran terhadap dosis harus dilakukan untuk menghindari toksisitas steroid. Pirimidon. . retensi garam dan air. Pemberian methylprednisolone dosis tinggi dapat menyebabkan penurunan tekanan darah. harus disertai observasi lanjutan karena kemungkinan terjadi reaktivasi dari penyakit tersebut. infeksi laten menjadi aktif. dapat menekan reaksi pada test kulit. rifabutin. menyebabkan diabetes. dan sekunder infeksi okular yang berhubungan dengan jamur dan virus. glaukoma. phenytoin.  laten. Penggunaan pada penderita sirosis dan hipotiroid dapat meningkatkan efek kortikosteroid. infeksi oportunistik. peningkatan ekskresi kalium dan kalsium. peningkatan kebutuhan insulin atau hypoglikemia oral. menghambat pertumbuhan anak. bakteri dan virus Penderita yang mendapat terapi methylprednisolone jangan diberi vaksinasi cacar. Pemberian pada wanita hamil dan menyusui harus mempertimbangkan besarnya manfaat dibandingkan resikonya. Karbamazepin. sehingga menurunkan kadar serum salisat. serta menurunkan daya tahan tubuh terhadap infeksi jamur. dan aminogluthetimid dapat meningkatkan klirens methylprednisolone sehingga untuk mendapatkan respon obat yang diharapkan diperlukan peningkatan dosis.       Pemberian obat dalam jangka lama dapat menyebabkan katarak subkapsular. Methylprednisolone dapat meningkatkan klirens kronik aspirin dosis tinggi. Pemberian obat pada pasien tuberkulosa laten atau reaktivitas tuberkulin. Trolendomycin dan ketokonazole menghambat metabolisme methylprednisolone. Sistem imun : Penutupan infeksi. Selama terapi jangka panjang.: Interaksi Obat :. tidak adanya respon adrenokortikoid sekunder dan pituitary. dan sakit karena operasi. rifampicin. Efek methylprednisolone terhadap antikoagulan bervariasi. khususnya pada saat stress atau trauma. peningkatan tekanan intrakranial.       Pemberian methylprednisolone bersama siklosporin meningkatkan efek penghambatan metabolisme dan terjadinya konvulsi pernah dilaporkan. reaksi hipersensitif termasuk anafilaksis.

Tropistan KOMPOSISI / KANDUNGAN   Asam Mefenamat 250 mg : Tiap tablet mengandung Asam Mefenamat 250 mg. Cetalmic. Datan. Penyimpanan: Simpan dalam wadah tertutup rapat. Asimat. Asam Mefenamat 500 mg : Tiap tablet mengandung Asam Mefenamat 500 mg.Rozi Abdullah Obat Generik : Mefenamic Acid / Asam Mefenamat Obat Bermerek : Analspec. Stanza. Mefix.  efek dari antikoagulan. Poncofen. pada suhu 15 . Mectan.30oC HARUS DENGAN RESEP DOKTER ASAM MEFENAMAT Nov 7 Posted by dr. Hexalgesic.: Lain-lain :. Dogesic. Mefinter. Nichostan. . Licostan. thiazide diuretic dan carbenoxolone menjadi meningkat. Fargetix. Fensik. Benostan. Mefinal. Dolos. Gitaramin. Ponsamic. Steroid dapat mengurangi efek antikolinesterase pada myasthenia gravis. Femisic. Molasic. Dystan. Opistan. Ponalar. Topgesic. Lapistan. . anti hipertensi dan diuretik antagonis dengan kortikosteroid dan efek hipokalemia dari acetazolamide. Menin. Pernah dilaporkan steroid berinteraksi dengan bloking agen neuromuskular seperti pankuronium dengan reversi parsial dari blok neuromuskular. terlindung dari cahaya. Mefast. Efek yang diharapkan dari senyawa hipoglikemik (termasuk insulin). Ponstan. Corstanal. Ponstelax. loop diuretic. Pondex.

FARMAKOLOGI Cara Kerja Asam mefenamat adalah seperti OAINS (Obat Anti-Inflamasi Non-Steroid atau NSAID) lain yaitu menghambat sintesa prostaglandin dengan menghambat kerja enzim cyclooxygenase (COX-1 & COX-2). muntah dan diare. sakit gigi. Menoragia : Asam Mefenamat 500 mg 3 kali sehari. Asam mefenamat mempunyai efek antiinflamasi. EFEK SAMPING   Gangguan saluran cerna. Jika Pasien menggunakan antikoagulan (warfarin) atau zat thrombolitik (streptokinase). waktu prothrombin harus dimonitor. pusing. dismenore primer. termasuk nyeri karena trauma. Lithium : meningkatkan toksisitas Lithium dengan menurunkan eliminasi lithium di ginjal. ringan sampai sedang sehubungan dengan sakit kepala. asam mefenamat dapat mengakibatkan agranulositosis dan anemia hemolitik. KONTRAINDIKASI   Pada penderita tukak lambung. mual. Pemakaian secara hati-hati pada penderita penyakit ginjal atau hati dan peradangan saluran cerna. sulfonylurea). INDIKASI / KEGUNAAN Indikasi Asam Mefenamat adalah untuk menghilangkan nyeri akut dan kronik. Obat lain yang juga memiliki efek samping pada lambung : kemungkinan dapat meningkatkan efek samping terhadap lambung. dispepsia. rasa mengantuk. nyeri sendi. Dismenore : Asam Mefenamat 500 mg 3 kali sehari. gangguan ginjal. nyeri sehabis operasi. sehingga dapat meningkatkan efek samping (contoh : hidantoin. DOSIS DAN ATURAN PAKAI    Dewasa dan anak di atas 14 tahun : Dosis awal yang dianjurkan 500 mg kemudian dilanjutkan 250 mg tiap 6 jam. Obat antikoagulan & antitrombosis : sedikit memperpanjang waktu prothrombin & Waktu thromboplastin parsial. penglihatan kabur. . antara lain iritasi lambung. dan nyeri pada persalinan. nyeri otot. Pada penggunaan terus-menerus dengan dosis 2000 mg atau lebih sehari. radang usus. INTERAKSI OBAT     Obat yg terikat pada protein plasma : menggeser ikatan dengan protein plasma. sakit kepala. analgetik (antinyeri) dan antipiretik. diberikan pada saat mulai menstruasi dan dilanjutkan selama 5 hari atau sampai perdarahan berhenti. kolik usus. asma dan hipersensitif terhadap asam mefenamat. diberikan pada saat mulai menstruasi ataupun sakit dan dilanjutkan selama 2-3 hari. vertigo.

10 strip x 10 tablet. KEMASAN   Asam Mefenamat 250 mg.PERINGATAN DAN PERHATIAN     Terhadap Kehamilan : Tidak direkomendasikan untuk digunakan oleh wanita hamil. Terhadap Anak-anak : Belum ada studi ttg keamanan & efikasi penggunaan asam mefenamat pada pasien anak dibawah 14 tahun. . kotak. sehingga tidak direkomendasikan untuk digunakan oleh ibu yg sedang menyusui. kotak. Terhadap Ibu Menyusui : Didistribusikan melalui air susu ibu. Terutama pada akhir masa kehamilan atau saat melahirkan karena efeknya pada sistem kardiovaskular fetus (penutupan prematur duktus arteriosus) & kontraksi uterus. Belum ada studi tentang keamanan untuk anak Terhadap Hasil Laboratorium : Dapat menyebabkan reaksi false-positif tes urin menggunakan tes tablet diazo. 10 strip x 10 tablet. Asam Mefenamat 500 mg.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful