Obat Umum (Dapat dibeli bebas

)
Nama Produk : MEPRILON Farmasi : Mugi Labs Komposisi : Alpha methylprednisolone Indikasi : Insufisiensi adrenokortikoid primer & kongenital adrenal, ggn reumatik, peny kol hematologik, peny kulit, peny alergi, peny m pemafasan, peny neoplastik, edema, kolife eksaserbasi akut dr sklerosis multipel, meni dg blok subaraknoid. D: Dws 4-48 mg/hr sebagai dosis tunggal terbagi. Sklerosis 160 mg/hr selama dilanjutkan dg 64 mg/hr selama 1 bin Kontra Indikasi : TB, infeksi jamursistemik, ulkus peptik, herpes, DM & varisela Perhatian : Hipertensi, riwayat ulkus peptikum, osteoporosis, divertikulitis, anastomosis usus baru, peny jantung koroner, ggn ginjal. Hamil, laktasi. ES: Ggn elektrolit & cairan tubuh, kelemahan otot, penurunan resistensi thd infeksi, ggn penyembuhan luka, meningkatnya TD, katarak, ggn pertumbuhan pd anak, insufisiensi adrenal, sindroma Gushing, osteoporosis, tukak lambung. Efek Samping : - Interaksi Obat : - Kemasan : ab 4 mg x 5 x 10 (Rp70,000). 16 mg x 3 x 10 (Rp105,000). Dosis -Dewasa : Tab Dws Awal 4-48 mg/hr sbg dosis tunggal atau terbagi. Sklerosis multiped 60 mg/hr selama 1 minggu, kmd 64 mg tiap 2 hr 1 x dim 1 bin. Anak Insufisiensi adrenokortikal 0.117 mg/kgBB/hr atau 3.33 mg/m2 luas permukaan tubuh/hr dim dosis terbagi 3. Indikasi lain 0.417-1.67 mg/kgBB/hr atau 12.5-50 mg/m2 luas permukaan tubuh/hr dim dosis terbagi 3-4. Vial Dws 10^tO mg IM/IV. Utk dosis tinggi 30 mg/kg BB selama min 30 mnt scr IV. Dosis dpt diulangi tiap 4-6 jam. Eksaserbasi akut dr sklerosis multipel 160 mg/hr IM/I V selama 1 minggu, lalu 64 mg/hr selama 1 bin. Luka tulang punggung akut 30 mg/kg BB selama 15 mnt scr IV, lalu dilanjutkan dg 5.4 mg/kg BB/jam dim 45 mnt selama 23 jam. Sbg terapi tambahan utk AIDS yg berhubungan dg pneumosistis carinii Hr ke1 -5 30 mg 2 x/hr scr IV. Hr ke6-10 30mg1 x/hr. Hrke 11-2115mg 1 x/hr. Bay/6 anak Insufisiensi adrenokortikal 0117 mg/kg BB/hr scr IM dg interval 2 hr. Luka tulang punggung akut 30 mg/kg BB scr IV selama 15 mnt, diikuti dg 5.4 mg/kg BB/jam dim 45 mnt selama 23 jam. Indikasi lain 0.139-0.835 mg/kg BB tiap12-24 jam scr IM. Sbg terapi tambahan utk AIDS yg berhubungan dg pneumosistis carinii pd anak > 13 thn Sama dg dosis dws -Anak-anak : - -Balita : - Harga : Gambar : - Terakhir diperbaharui: * Harga dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu * Bila sakit berlanjut, harap menghubungi dokter anda secepatnya

Methylprednisolone print article Methylprednisolone Injeksi IM/IV

Komposisi
Methylprednisolone 125 mg Tiap vial mengandung: Metilprednisolon natrium suksinat setara dengan Metilprednisolon 125 mg

Methylprednisolone 500 mg Tiap vial mengandung: Metilprednisolon natrium suksinat setara dengan Metilprednisolon 500 mg

Farmakologi:
Metilprednisolon merupakan kortikosteroid dengan kerja intermediate yang termasuk kategori adrenokortikoid, antiinflamasi dan imunosupresan. Adrenokortikoid: Sebagai adrenokortikoid, metilprednisolon berdifusi melewati membran dan membentuk komplek dengan reseptor sitoplasmik spesifik. Komplek tersebut kemudian memasuki inti sel, berikatan dengan DNA, dan menstimulasi rekaman messenger RNA (mRNA) dan selanjutnya sintesis protein dari berbagai enzim akan bertanggung jawab pada efek sistemik adrenokortikoid. Bagaimanapun, obat ini dapat menekan perekaman mRNA di beberapa sel (contohnya: limfosit). Efek Glukokortikoid: Anti-inflamasi (steroidal) Glukokortikoid menurunkan atau mencegah respon jaringan terhadap proses inflamasi, karena itu menurunkan gejala inflamasi tanpa dipengaruhi penyebabnya. Glukokortikoid menghambat akumulasi sel inflamasi, termasuk makrofag dan leukosit pada lokasi inflamasi. Metilprednisolon juga menghambat fagositosis, pelepasan enzim lisosomal, sintesis dan atau pelepasan beberapa mediator kimia inflamasi. Meskipun mekanisme yang pasti belum diketahui secara lengkap, kemungkinan efeknya melalui blokade faktor penghambat makrofag (MIF), menghambat lokalisasi makrofag: reduksi atau dilatasi permeabilitas kapiler yang terinflamasi dan mengurangi lekatan

menghambat pembentukan edema dan migrasi leukosit.    Gangguan alergi: Reaksi alergi karena obat. dan eosinofil. Kerja immunosupresan juga dapat mempengaruhi efek antiinflamasi. Reaksi anafilaktik atau anaphytold (pengobatan tambahan) Penggunaan glukokortikoid umumnya untuk reaksi lambat (yang tidak berhasil dengan tindakan lain dalam 1 jam).  Insufisiensi adrenokortikoid sekunder: Penggantian dengan glukokortikoid umumnya mencukupi. Glukokortikoid mengurangi konsentrasi limfosit timus (T-limfosit). tromboksan dan leukotrien). Metilprednisolon juga menurunkan ikatan immunoglobulin ke reseptor permukaan sel dan menghambat sintesis dan atau pelepasan interleukin. Glukokortikoid juga dapat menurunkan lintasan kompleks immun melalui dasar membran. Gangguan kolagen: Diindikasikan selama eksaserbasi akut atau terapi perawatan pada kasus-kasus berikut: . mineralokortikoid tidak selalu dibutuhkan. Rinitis alergi parennial (tahunan) atau seasonal (musiman). monosit. dan hambatan selanjutnya terhadap sintesis asam arakhidonatmediator inflamasi derivat (prostaglandin. Immunosupresan Mekanisme kerja immunosupresan belum dimengerti secara lengkap tetapi kemungkinan dengan pencegahan atau penekanan sel mediasi (hipersensitivitas tertunda) reaksi imun seperti halnya tindakan yang lebih spesifik yang mempengaruhi respon imun. Penggantian sodium dan cairan juga dibutuhkan. sehingga T-limfosit blastogenesis menurun dan mengurangi perluasan respon immun primer. Pengobatan sakit karena serum. Reaksi transfusi urtikaria. atau situasi dimana dapat timbul resiko kekambuhan.       Angioderma (pengobatan tambahan) Laringeal edema akut non infeksi.leukosit pada endotelium kapiler. konsentrasi komponen pelengkap dan immunoglobulin. Pada beberapa pasien penggantian mineralokortikoid tambahan juga mungkin diperlukan. untuk pengobatan: Insufisiensi adrenokortikal akut dan kronik primer: Hidrokortison dan kortison lebih dipilih sebagai terapi pengganti karena aktivitas mineralokortikoidnya yang berarti. suatu inhibitor fosfolipase A2-mediasi pelepasan asam arakhidonat dari membran fosfolipid. dan meningkatkan sintesis lipomodulin (macrocortin). Indikasi:   Abnormalitas fungsi adrenokortikal.

Poliarteritis nodosa. Polimialgia rheumatik.) Hemolisis. Dermatitis herpetiformis bullous. Gangguan darah: Anemia hemolitik yang diperoleh (oto imun) Anemia hipoplastik bawaan (eritroid) Anemia sel darah merah (eritoblastopenia) Trombositopenia sekunder (pada orang dewasa) Trombositopenia purpura idiopatik pada orang dewasa (secara oral atau i. Dermatomiositis sistemik (polimiositis): Glukokortikoid mungkin merupakan obat pilihan pada anak dengan kondisi demikian.            . eksfoliatif. Arteritis giant-cell (temporal). Dermatitis inflamatori berat. Penyakit hati: Hepatitis alkoholik dengan enselofati.v. Gangguan saluran pencernaan: Diindikasikan untuk pengobatan inflamasi pada usus besar seperti di bawah ini:     Inflamasi pada usus besar. Psoriasis berat. Gangguan pada kulit: Dermatitis yang bersifat atopik. Phemphigus. Hepatitis kronis aktif. Penyakit jaringan ikat campuran. Eritema multiforma berat (sindrom Stevens-Johnson) Mikosis fungoides. Sarkoid kutan lokalisasi. Dermatitis seboreik berat. Pemberian secara oral atau parenteral diindikasikan bila terapi sistemik dibutuhkan selama periode kritis penyakit. Pemphigoid. Enteritis regional (penyakit Crohn) Penyakit celiac berat. termasuk colitis ulceratif.  Carditis rheumatik (atau non rheumatik) akut. pemberian dalam jangka waktu lama tidak direkomendasikan. kontak. Hepatitis non alkoholik pada wanita.                    Lupus eritematosus sistemik.m. kontraindikasi untuk injeksi i. Polikondritis kambuhan. Saja. Vaskulitis.

Iridosiklitis. Injeksi lokal lebih baik dilakukan bila hanya beberapa sendi atau daerah yang terkena. diindikasikan untuk pemberian bersama dengan kemoterapi anti tuberkulosa pada pasien dengan blok subarakhnoid. Oftalmia simpatika. Neurotrauma: luka pada tulang belakang. Gangguan pada mata: Diindikasikan untuk pengobatan alergi kronis atau akut dan kondisi inflamasi oftalmik. Bursitis akut atau sub akut. Tenosinovitis nonspesifik akut. untuk meringankan penyakit neoplastik berikut ini beserta problem yang berhubungan:        Leukemia akut atau limfositik kronik. Neuritis optik. Perikarditis: digunakan untuk menghilangkan inflamasi dan demam. Mieloma ganda. Sindroma nefrotik: Diindikasikan untuk menginduksi diuresis atau mengurangi gejala proteinuria pada sindrom idiopatik nefrotik. seperti:            Klorioretinitis. Demam yang disebabkan kanker ganas. Keratis yang tidak berhubungan dengan herpes simpleks atau infeksi fungal. Inflamasi non rheumatik: Diindikasikan selama episode akut atau eksaserbasi dari gangguan-gangguan di bawah ini. . diindikasikan untuk pengobatan penyakit eksaserbasi akut. Hiperkalsemia yang berhubungan dengan neoplasma (atau sarkoidosis). terapi jangka panjang mungkin diperlukan untuk mencegah kekambuhan. Penyakit neoplastik (pengobatan tambahan): Diindikasikan bersama dengan terapi penyakit antineoplastik spesifik yang sesuai. Sklerosis ganda. Uveitis posterior difusi. Konjungtivitis alergi (yang tidak dapat diatasi secara topikal). Kanker payudara.        Nekrosis hepatik sub akut.      Penyakit neurologik: Meningitis tuberkulosa (pengobatan tambahan). Kanker prostat. Koroiditis posterior difusi. Herpes zoster. Limfoma Hodgkin atau non-Hodgkin. Epikondilitis. Polip nasal.

sinovitis.m. yang disebabkan oleh kristal).m. facial. Bronkitis asmatik akut dan kronik. atau i. Untuk pasien yang tidak dapat lagi diobati dengan aspirin. Penyakit deposisi kalsium pirofosfat akut (pseudogout. Sinovitis osteoarthritis. Penyakit reiter. Sarkoidosis simptomatik.v. Penyakit paru-paru. yang berhubungan dengan sindrom immunodefisiensi yang diperoleh (pengobatan tambahan). Profilaksis: Diberikan sebelum atau selama pembedahan jantung jika pasien mempunyai gangguan pre-exiting pulmonary dan diberikan sebelum. atau leher untuk mencegah edema yang dapat menghambat jalan nafas. Pneumonia aspirasi. atau i. dan terapi fisik. Status asmatikus: pemberian harus secara i. obstruksi kronis (yang tidak dapat dikontrol dengan teofilin dan β-adrenergik agonis). Pengobatan:               Asma bronkial Berillosis Sindrom Loeffler (pneumonitis eosinofil atau sindrom hipereosinofil). selama dan setelah pembedahan oral. Pneumonia. antiinflamasi non steroidal.v. Gangguan rheumatik: Injeksi lokal dilakukan bila hanya beberapa sendi atau area yang terlibat. Tuberkulose paru-paru yang tersebar atau fulminant (pengobatan tambahan): diberikan bersamaan dengan kemoterapi anti tuberkulosa yang sesuai. obstruksi saluran nafas pada anak: pengobatan sebaiknya diberikan dalam injeksi i. Pengobatan shock: akibat insufisiensi adrenokortikal. Edema pulmonari nonkardiogenik (disebabkan sensitivitas protamin): pengobatan sebaiknya diberikan dalam injeksi i. istirahat.        Gout arthritis akut. Arthritis reumatoid (termasuk arthritis pada anak-anak). Diindikasikan sebagai terapi tambahan selama episode akut atau eksaserbasi gangguan rheumatik seperti:    Ankilosing spondilitis. Gangguan pernafasan: Untuk pengobatan dan profilaksis. pneumosistitis carinii. Osteoarthritis post traumatik. Polimialgia rheumatik. kondrokalsinosis artikularis. Hemangioma. Pada penderita AIDS atau yang mengidap infeksi HIV yang terkena pneumonia pneumocystis. atau i.v. . Arthritis psoriatik.m.

Bayi prematur. Bayi dan anak:  Insufisiensi adrenokortikal: intramuskular.16-25 mg (base) permeter persegi permukaan tubuh setiap 12 sampai 24 jam. 117 mikrogram (0. 30 mg sekali sehari pada hari keenam sampai kesepuluh. 160 mg (base) perhari selama satu minggu.117 mg) (base) per kg berat badan atau 3.4 mg per kg berat badan per jam. Untuk pengobatan luka tulang punggung akut: intravena. Pencegahan dan pengobatan penolakan pencangkokan organ: diberikan bersamaan dengan immunosupresan lainnya seperti azathioprine atau siklosporin. diikuti dengan 64 mg setiap hari selama satu bulan.33 mg (base) permeter persegi permukaan tubuh sehari (dalam dosis terbagi tiga) setiap hari ke tiga. diulangi sesuai keperluan.  Pengobatan tiroiditis non supuratif. 15 mg sekali sehari pada hari ke sebelas sampai dua puluh satu. Pemberian jangka lama pada penderita ulkus duodenum dan peptikum.139-0. Indikasi lain: intramuskular.  Pengobatan trikinosis. herpes. diikuti selama 45 menit dengan infus 5. 30 mg (base) per kg berat badan diberikan selama 15 menit.11 sampai 1.0585 mg) (base) per kg berat badan atau 1. Untuk eksaserbasi akut pada sklerosis ganda: intramuskular atau intravena.    . diikuti dengan 45 menit infus. penderita dengan riwayat penyakit jiwa. Dosis dapat diulangi setiap 4-6 jam sesuai kebutuhan. Pasien yang sedang diimunisasi. Anak-anak berusia lebih dari 13 tahun: sama dengan dosis dewasa.4 mg per kg berat badan per jam. Untuk pengobatan tambahan pada AIDS yang berhubungan dengan pneumosistis carinii: intravena. 5. selama 23 jam.66 mg (base) permeter persegi permukaan tubuh sekali sehari. 139-835 mikrogram (0.     Untuk dosis tinggi (pulse terapi): intravena.039 sampai 0.835 mg) (base) per kg berat badan atau 4. Untuk pengobatan tambahan pada AIDS yang berhubungan dengan pneumosistis carinii: Anakanak berusia 13 tahun atau kurang: dosis belum ditentukan secara pasti. Kontraindikasi:     Infeksi jamur sistemik dan hipersensitivitas terhadap bahan obat. selama 23 jam. 30 mg (base) per kg berat badan diberikan sekurangkurangnya 30 menit.5 mikrogram (0. 10-40 mg (base). atau 39 sampai 58. Dosis: Dewasa Secara intramuskular atau intravena. osteoporosis berat. 30 mg (base) dua kali sehari pada hari pertama sampai kelima. Untuk pengobatan luka tulang punggung akut: intravena. 30 mg (base) per kg berat badan diberikan selama 15 menit.

  Juga menimbulkan reaktivasi. perdarahan dan penyembuhan peptik ulcer yang tertunda. toleransi glukosa menurun. hambatan pertumbuhan pada anak. anoreksia yang berakibat turunnya berat badan. atau retak patologi tulang panjang. ulceratif esofagitis.5% dalam NaCl 0. timbulnya keadaan cushingoid. pankreatitis.  Efek pada saluran cerna: Mual. peningkatan tekanan intra okular. kocok hingga larut. nekrosis aseptik pangkal humerat atau femorat. perforasi.Cara pemberian: Untuk intramuskular atau intravena: Rekonstitusi serbuk dengan larutan injeksi yang telah disediakan (mengandung benzyl alkohol 0. retak tulang belakang karena tekanan. distensi abdominal. hipokalemik alkalosis. hipertensi.  Gangguan cairan dan elektrolit: Retensi sodium yang menimbulkan edema.  Efek pada mata: Katarak subkapsular posterior. kekurangan kalium. diare atau konstipasi. bahaya diabetes mellitus. dan atropi matriks protein tulang yang menyebabkan osteoporosis. serangan jantung kongestif. Efek sistem syaraf: . glaukoma.  Efek endokrin: Menstruasi yang tidak teratur. hiperglikemia. Efek samping:  Insufisiensi adrenokortikal: Dosis tinggi untuk periode lama dapat terjadi penurunan sekresi endogeneous kortikosteroid dengan menekan pelepasan kortikotropin pituitary insufisiensi adrenokortikal sekunder.9%). atau dapat diberikan secara infus intravena dalam 5% dekstrosa. eksoftalmus. Larutan stabil secara fisika dan kimia selama 48 jam.  Efek muskuloskeletal: Nyeri atau lemah otot. peningkatan selera makan yang berakibat naiknya berat badan. iritasi lambung. NACl 0. Pemberian dengan intravena langsung dapat diberikan selama sekurang-kurangnya 1 menit. muntah. penyembuhan luka yang tertunda.9% atau dektrosa 0.9% selama sekurang-kurangnya 30 menit.

 Efek dermatologi: Atropi kulit. Pemakaian jangka panjang dapat menurunkan daya tahan tubuh terhadap penyakit infeksi. akan lebih mudah terkena osteoporosis yang diinduksi glukokortikoid. Dosis tinggi glukokortikoid pada anak dapat menyebabkan pankreatitis akut yang kemudian menyebabkan kerusakan pankreas. Pasien lanjut usia.  Pasien lanjut usia. angiodema. Jika terapi diperlukan harus diamati pertumbuhan bayi dan anak secara seksama. Peringatan dan perhatian:  Wanita hamil dan ibu menyusui. dianjurkan tidak divaksinasi terhadap Smalpox juga imunisasi lain terutama yang mendapat dosis tinggi. Jika kortikosteroid digunakan pada pasien dengan TBC laten atau tuberculin reactivity perlu dilakukan pengawasan yang teliti sebagai pengaktifan kembali penyakit yang dapat terjadi.  Efek samping lain: Penghentian pemakaian glukokortikoid secara tiba-tiba akan menimbulkan efek mual. peningkatan aktivitas motor.  Anak-anak Pemberian dosis farmakologi glukokortikoid pada anak-anak bila mungkin sebaiknya dihindari. nyeri sendi. Dapat menyebabkan kerusakan fetus bila diberikan pada wanita hamil. kehilangan nafsu makan. konvulsi. deskuamasi. demam.Sakit kepala. striae.      Sementara pasien menerima terapi kortikosteroid. Tidak dianjurkan pada pasien dengan ocular herpes simplex karena kemungkinan terjadi perforasi korneal. urtikaria. Interaksi obat: . mialgia. kehilangan berat badan. letargi. insomnia. alergi dermatitis. Kortikosteroid dapat berdifusi ke air susu dan dapat menekan pertumbuhan atau efek samping lainnya pada bayi yang disusui. Alternate-day therapy. vertigo. hirsutisme. peningkatan keringat. jerawat. Pemakaian obat ini dapat menekan gejala-gejala klinik dari suatu penyakit infeksi. karena obat dapat menghambat pertumbuhan tulang. sakit kepala. meminimalkan hambatan pertumbuhan dan sebaiknya diganti bila terjadi hambatan pertumbuhan. terutama wanita postmenopausal. yaitu pemberian dosis tunggal setiap pagi hari. abnormalitas EEG. dan atau hipotensi. muntah. eritema fasial. iskemik neuropati. Dapat terjadi hipertensi selama terapi adrenokortikoid. untuk mencegah kemungkinan bahaya komplikasi neurologi.

furosemida. atau pyridostigmin dapat menimbulkan kelemahan pada pasien dengan myasthenia gravis. Sebelum dan sesudah rekonstitusi. Obat seperti barbiturat. Enzim penginduksi mikrosom hepatik. pengobatan antikolinesterase harus dihentikan 24 jam sebelum pemberian awal terapi glukokortikoid. Serum kalium harus dimonitor secara seksama bila pasien diberikan obat bersamaan dengan obat yang mengurangi kalium.  Bahan antikolinesterase. Pemberian bersamaan dengan obat ulcerogenik seperti indometasin dapat meningkatkan resiko ulcerasi saluran pencernaan. obat dapat menyebabkan pengurangan respon toksoid dan vaksin inaktivasi atau hidup. GKL0405037244A1 . Cara penyimpanan: Simpan ditempat kering dan sejuk. Interaksi antara glukokortikoid dan antikolinesterase seperti ambenonium. 1 vial @ 125 mg metilprednisolon kering dan 1 ampul @ 2 ml pelarut. Aspirin harus diberikan secara hati-hati pada pasien hipotrombinernia.  Anti inflamasi nonsteroidal. kemungkinan efek ini harus dipertimbangkan.  Vaksin dan toksoid.  Obat yang mengurangi kalium. o Kemasan dan Nomor Registrasi: METHYLPREDNISOLONE 125 Kotak. terlindung dari cahaya. fenitoin dan rifampin yang menginduksi enzim hepatik dapat meningkatkan metabolisme glukokortikoid. simpan pada suhu antara 15-30 C. neostigmin. Jika mungkin. asam etakrinat) dan obat lainnya yang mengurangi kalium oleh glukokortikoid. Gunakan larutan sebelum 48 jam setelah direkonstitusi. Diuretik yang mengurangi kadar kalium (contoh: thiazida. Karena kortikosteroid menghambat respon antibodi. sehingga mungkin diperlukan dosis tambahan atau obat tersebut tidak diberikan bersamaan. Meskipun pemberian bersamaan dengan salisilat tidak tampak meningkatkan terjadinya ulcerasi saluran pencernaan.

1 vial @ 500 mg metilprednisolon kering dan 1 ampul @ 8 ml pelarut. GKL0405037244B1 HARUS DENGAN RESEP DOKTER SIMPAN PADA SUHU KAMAR (25-30) C.METHYLPREDNISOLONE 500 Kotak. TERLINDUNG DARI CAHAYA o METHYLPREDNISOLONE TABLET Komposisi: METHYLPREDNISOLONE 4 mg Tiap tablet mengandung Metilprednisolon 4 mg METHYLPREDNISOLONE 8 mg Tiap tablet mengandung Metilprednisolon 8 mg METHYLPREDNISOLONE 16 mg Tiap tablet mengandung Metilprednisolon 16 mg .

Efek samping: .Farmakologi: Metilprednisolon adalah glukokortioid turunan prednisolon yang mempunyai efek kerja dan penggunaan yang sama seperti senyawa induknya. Metilprednisolon tidak mempunyai aktivitas retensi natrium seperti glukokortikoid yang lain.417 mg .1. keadaan alergi dan peradangan pada kulit dan saluran pernafasan tertentu. Pemberian kortikosterooid yang lama merupakan kontraindikasi pada ulkus duodenum dan peptikum.117 mg/kg bobot tubuh atau 3.48 mg per hari. Pasien yang sedang diimunisasi.50 mg per m luas permukaan tubuh sehari dalam dosis terbagi 3 atau 4. tergantung keadaan penyakit.adrenokortikal: Oral 0.  Anak-anak: Insufisiensi . hiperkalsemia sehubungan dengan kanker. Dalam multiple sklerosis: Oral 160 mg sehari selama 1 minggu. kemudian 64 mg setiap 2 hari sekali dalam 1 bulan. Dosis:  Dewasa: Dosis awal dari metilprednisolon dapat bermacam-macam dari 4 mg .33 mg per m luas permukaan tubuh sehari dalam dosis terbagi tiga. penyakit hematologik. penderita dengan riwayat penyakit jiwa. dosis tunggal atau terbagi. osteoporosis berat. Kontraindikasi:    Infeksi jamur sistemik dan pasien yang hipersensitif.  Indikasi lain: 2 2 Oral 0.5 mg . Indikasi: Abnormalitas fungsi adrenokortikal. herpes. penyakit kolagen.67 mg per kg berat tubuh atau 12.

Efek samping biasanya terlihat pada pemberian jangka panjang atau pemberian dalam dosis besar. meningkatnya tekanan darah. Tidak dianjurkan penggunaan pada penderita ocular herpes simplex. Kemungkinan adanya gejala hipoadrenalism. Reg. Tidak dianjurkan untuk bayi dan anak-anak. kecuali memang benar-benar dibutuhkan. insufisiensi adrenal. gaangguan pertumbuhan pada anak-anak. juga imunisasi lain terutama yang mendapat dosis tinggi. GKL0305035210C1 HARUS DENGAN RESEP DOKTER . Reg. juga imunisasi lain terutama yang mendapat dosis. Jika kortikosteroid digunakan pada pasien dengan TBC latent atau Tuber Culin Reactivity perlu dilakukan pengawasan yang teliti sebagai pengaktifan kembali penyakit yang dapat terjadi. Pemakaian jangka panjang dapat menurunkan daya tahan tubuh terhadap penyakit infeksi. Penggunaan bersama-sama dengan antiinflamasi non-steroid atau antirematik lain dapat mengakibatkan risiko gastrointestinal. misalnya gangguan elektrolit dan cairan tubuh. Penggunaan bersama-sama dengan anti-diabetes harus dilakukan penyesuaian dosis. Pasien yang menerima vaksinasi terhadap smallpox. kelemahan otot. GKL0305035210B1 METHYLPREDNISOLONE 16 mg : Kotak. tukak lambung. karena penggunaaan jangka panjang dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak. Interaksi obat:     Berikan dengan makanan untuk meminumkan iritasi gastrointestinal. GKL0305035210A1 METHYLPREDNISOLONE 8 mg : Kotak. perdarahan gastrointestinal. 10 blister @ 10 tablet: No. gangguan penyembuhan luka. Reg. osteoporosis. dan bayi yang lahir dari ibu yang ketika hamil menerima terapi kortikosteroid ini harus diperiksa. Pemakaian obat ini dapat menekan gejala-gejala klinis dari suatu penyakit infeksi. resistensi terhadap infeksi menurun. Peringatan dan perhatian:         Tidak dianjurkan untuk wanita hamil dan menyusui. Ada peningkatan efek kortikosteroid pada pasien dengan hipotiroidi dari cirrhosis. 10 blister @ 10 tablet: No. karena kemungkinan terjadi perforasi corneal. Kemasan dan Nomor Registrasi: METHYLPREDNISOLONE 4 mg : Kotak. cushing syndrome. katarak. 10 blister @ 10 tablet: No. untuk mencegah kemungkinan bahaya komplikasi neurologi. Pasien yang menerima terapi kortikosteroid ini dianjurkan tidak divaksinasi terhadap smallpox.

.: Kemasan & No Reg :. . Methylprednisolone adalah suatu glukokortikoid alamiah (memiliki sifat menahan garam (salt retaining properties)). No.   Methylprednisolone 4 mg tablet (1 box berisi 5 strip @ 10 tablet). Analog sintetisnya terutama digunakan sebagai anti-inflamasi pada sistem organ yang mengalami gangguan.SIMPAN PADA SUHU KAMAR (25-30) C. TERLINDUNG DARI CAHAYA o Dibuat oleh: PT DEXA MEDICA JL.: Farmakologi :. Glukokortikoid merubah respon kekebalan tubuh terhadap berbagai rangsangan. Reg : GKL0508512310B1. Methylprednisolone 16 mg tablet (1 box berisi 3 strip @ 10 tablet). Glukokortikoid menimbulkan efek metabolisme yang besar dan bervariasi. Reg : GKL0508512310A1.INDONESIA Methylprednisolone . BAMBANG UTOYO 138 PALEMBANG . digunakan sebagai terapi pengganti pada defisiensi adrenokortikal. No.

osteoarthritis post-trauma. penyakit serum. hipolastik anemia kongenital.: Kontra Indikasi :.: Indikasi :. trombositopenia sekunder pada orang dewasa. reaksi hipersensitif terhadap obat. Kelainan darah : idiopatik purpura trombositopenia. neuritis optik. Dosis awal bervariasi antara 4–48 mg/hari tergantung pada jenis dan beratnya penyakit. gouty arthritis akut. dermatitis kontak dan dermatitis atopik. Lain-lain : meningitis tuberkulosa. ankylosing spondilitis. . Alergi : seasonal atau perenial rhinitis alergi. Penyakit kanker (Neoplastic disease) : untuk terapi paliatif pada leukemia dan lympoma pada orang dewasa. asma bronkhial. Pada situasi klinik yang memerlukan methylprednisolone dosis tinggi termasuk multiple sklerosis : 160 mg/hari selama 1 minggu. anemia hemolitik. dan iridosiklitis.: Dosis :. dan leukemia akut pada anak. Methylprednisolone dikontraindikasikan pada infeksi jamur sistemik dan pasien yang hipersentitif terhadap komponen obat. tiroid non-supuratif. dan dermatitis seboroik . Penyakit kolagen : systemik lupus eritematosus. dan sistemik dermatomitosis (polymitosis). dan epikondilitis. dilanjutkan menjadi 64 mg/hari selama 1 bulan . non spesifik tenosynovitis akut. eksfoliatif dermatitis. pulmonary tuberkulosis pulminan atau diseminasi. karditis rheumatik akut. dosis harus diturunkan sampai dosis efektif minimal untuk pemeliharaan. chorioretinitis. Bila telah diperoleh efek terapi yang memuaskan. bursitis akut dan subakut.              Kelainan endokrin : insufisiensi adrenokortikal (hydrocortisone atau cortisone merupakan pilihan pertama.. konjungtivitis alergi. eritema multiforme yang berat (Stevens Johnson sindrom). Penyakit kulit : pemphigus. Edema : menginduksi diuresis atau remisi proteinuria pada syndrom nefrotik. mikosis fungoides. iritis. Penyakit rheumatik : sebagai terapi tambahan dengan pemberian jangka pendek pada arthritis sporiatik. keratitis. adrenal hiperplasia kongenital. Sistem syaraf : eksaserbasi akut pada mulitipel sklerosis. serta respon penderita. arthritis rheumatoid. Penyakit pernafasan : sarkoidosis simptomatik. bullous dermatitis herpetiformis. Penyakit mata : corneal marginal alergi. kombinasi methylprednilosolone dengan mineralokortikoid dapat digunakan). Gangguan saluran pencernaan : kolitis ulseratif dan regional enteritis. hiperkalemia yang berhubungan dengan penyakit kanker. herpes zooster opthalmikus. eritoblastopenia. . psoriaris.

mengingat resiko yang besar dari efek samping kortikosteroid pada usia lanjut. diabetes. perdarahan gastrik. pankretitis. supresi pada pitutary-adrenal axis.: Efek Samping :. hipertensi. keadaan :”Cushingoid”. Efek samping berikut adalah tipikal untuk semua kortikosteroid sistemik. Jaringan otot : steroid miopati.        Gangguan pada cairan dan elektrolit : Retensi sodium. Hal-hal yang tercantum di bawah ini tidaklah menunjukkan bahwa kejadian yang spesifik telah diteliti dengan menggunakan formula khusus. dan epilepsi. reaksi anafilaktik dan reaksi hipersensitif. terjadinya keadaan „cushingoid“. Dermatologi : mengganggu penyembuhan luka. dan Alkaline Phosphatase telah diteliti pada pengobatan dengan kortikosteroid. perforasi pada perut. eritema pada wajah. keretakan tulang belakang. nekrosis aseptik. Metabolisme : Keseimbangan nitrogen yang negatif sehubungan dengan katabolisme protein. Saluran pencernaan : ulserasi peptik dengan kemungkinan perforasi dan perdarahan. pengobatan harus diberikan dalam dosis tunggal secara ADT. osteoporosis. kembung perut. perubahan fisik. SGPT). bersifat reversibel apabila pemberian obat dihentikan. pseudotumor cerebri. SGOT). penurunan toleransi karbohidrat. Aspartat Transaminase (AST. Endokrin : Menstruasi yang tidak teratur. Perubahan ini biasanya kecil.menunjukkan hasil yang efektif. hipokalemia alkalosis. Jika selama periode terapi yang dianggap wajar respon terapi yang diharapkan tidak tercapai. khususnya osteoporosis. Neurologi : Peningkatan tekanan intrakranial. ecchymosis. Pada anak-anak : Dosis umum pada anak-anak harus didasarkan pada respon klinis dan kebijaksanaan dari dokter klinis. retensi cairan. rentan terhadap infeksi dan penipisan kulit. . menipiskan kulit yang rentan. keretakan pathologi. jika memungkinkan. Setelah pemberian obat dalam jangka lama. Pemberian obat secara ADT (Alternate-Day Therapy) : adalah rejimen dosis untuk 2 hari diberikan langsung dalam 1 dosis tunggal pada pagi hari (obat diberikan tiap 2 hari sekali). petechiae. banyak keringat. lemah otot. gagal jantung kongestif. simptom penurunan kortikoid dan supresi pertumbuhan pada anak. timbulnya gejala diabetes mellitus . Pada penderita usia lanjut : Pengobatan pada penderita usia lanjut. tidak berhubungan dengan gejala klinis lain. hentikan pengobatan dan ganti dengan terapi yang sesuai. kehilangan kalium pada pasien yang rentan. Tujuan dari terapi ini meningkatkan farmakologi pasien terhadap pemberian dosis pengobatan jangka lama untuk mengurangi efek-efek yang tidak diharapkan termasuk supresi adrenal pituitari. Urtikaria dan reaksi alergi lainnya. hipertensi. penghentian obat sebaiknya dilakukan secara bertahap. Pengobatan harus dibatasi pada dosis minimum dengan periode yang pendek. dilaporkan pernah terjadi pada pemberian oral maupun parenteral. ulserasi esofagitis. khususnya dengan jangka lama harus direncanakan terlebih dahulu. Peningkatan Alanin Transaminase (ALT.

Pemberian aspirin bersama kortikosteroid harus diawasi pada pasien hipoprothrombin. glaukoma dan eksophtalmus. Vaksinasi lain hendaknya tidak diberikan terutama pada pasien yang mendapat terapi methylprednisolone dosis tinggi karena adanya kemungkinan bahaya dari komplikasi neurologik dan berkurangnya respon antibodi. pasien harus diberi khemoprofilaksis. . . peningkatan kebutuhan insulin atau hypoglikemia oral. sehingga menurunkan kadar serum salisat. phenytoin. reaksi hipersensitif termasuk anafilaksis. Karbamazepin. Pemberian pada wanita hamil dan menyusui harus mempertimbangkan besarnya manfaat dibandingkan resikonya. retensi garam dan air. tidak adanya respon adrenokortikoid sekunder dan pituitary. sekaligus menghambat klirensnya. dan aminogluthetimid dapat meningkatkan klirens methylprednisolone sehingga untuk mendapatkan respon obat yang diharapkan diperlukan peningkatan dosis. Pemberian methylprednisolone dosis tinggi dapat menyebabkan penurunan tekanan darah.: Interaksi Obat :.       Pemberian methylprednisolone bersama siklosporin meningkatkan efek penghambatan metabolisme dan terjadinya konvulsi pernah dilaporkan. Pirimidon. Pemberian obat pada pasien tuberkulosa laten atau reaktivitas tuberkulin. bakteri dan virus Penderita yang mendapat terapi methylprednisolone jangan diberi vaksinasi cacar. rifampicin. infeksi oportunistik. dapat menekan reaksi pada test kulit. Penggunaan pada penderita sirosis dan hipotiroid dapat meningkatkan efek kortikosteroid. dan sakit karena operasi. menghambat pertumbuhan anak. harus disertai observasi lanjutan karena kemungkinan terjadi reaktivasi dari penyakit tersebut.: Peringatan dan Perhatian :. Sistem imun : Penutupan infeksi.  laten. peningkatan ekskresi kalium dan kalsium. serta menurunkan daya tahan tubuh terhadap infeksi jamur.       Pemberian obat dalam jangka lama dapat menyebabkan katarak subkapsular. Methylprednisolone dapat meningkatkan klirens kronik aspirin dosis tinggi. Efek methylprednisolone terhadap antikoagulan bervariasi. infeksi laten menjadi aktif. menyebabkan diabetes. rifabutin. Obat-obat yang menginduksi enzim hepatik seperti phenobarbital. akan tetapi pengukuran terhadap dosis harus dilakukan untuk menghindari toksisitas steroid. peningkatan tekanan intrakranial. khususnya pada saat stress atau trauma. umumya dapat menurunkan . glaukoma. dan sekunder infeksi okular yang berhubungan dengan jamur dan virus. Selama terapi jangka panjang. Mata : Katarak posterior subkapsular. Trolendomycin dan ketokonazole menghambat metabolisme methylprednisolone.

Dolos. Dogesic. Fargetix. Mectan. Ponstan. Nichostan.: Lain-lain :. Cetalmic. Asimat. Ponalar. Femisic. Fensik. Stanza. Lapistan.Rozi Abdullah Obat Generik : Mefenamic Acid / Asam Mefenamat Obat Bermerek : Analspec. Efek yang diharapkan dari senyawa hipoglikemik (termasuk insulin). Mefinal. anti hipertensi dan diuretik antagonis dengan kortikosteroid dan efek hipokalemia dari acetazolamide. Mefinter. Penyimpanan: Simpan dalam wadah tertutup rapat. thiazide diuretic dan carbenoxolone menjadi meningkat. Ponstelax. Licostan. Gitaramin.  efek dari antikoagulan. Molasic. Mefast. Topgesic. Mefix. Hexalgesic. Poncofen. Ponsamic. pada suhu 15 . Pernah dilaporkan steroid berinteraksi dengan bloking agen neuromuskular seperti pankuronium dengan reversi parsial dari blok neuromuskular. Dystan. Menin.30oC HARUS DENGAN RESEP DOKTER ASAM MEFENAMAT Nov 7 Posted by dr. Steroid dapat mengurangi efek antikolinesterase pada myasthenia gravis. Tropistan KOMPOSISI / KANDUNGAN   Asam Mefenamat 250 mg : Tiap tablet mengandung Asam Mefenamat 250 mg. Corstanal. . Pondex. terlindung dari cahaya. . Asam Mefenamat 500 mg : Tiap tablet mengandung Asam Mefenamat 500 mg. Opistan. Datan. Benostan. loop diuretic.

sakit kepala. Obat antikoagulan & antitrombosis : sedikit memperpanjang waktu prothrombin & Waktu thromboplastin parsial. . asma dan hipersensitif terhadap asam mefenamat. nyeri sendi. Jika Pasien menggunakan antikoagulan (warfarin) atau zat thrombolitik (streptokinase). KONTRAINDIKASI   Pada penderita tukak lambung. sehingga dapat meningkatkan efek samping (contoh : hidantoin. vertigo. penglihatan kabur. Menoragia : Asam Mefenamat 500 mg 3 kali sehari. sakit gigi. gangguan ginjal. dan nyeri pada persalinan. dismenore primer. diberikan pada saat mulai menstruasi ataupun sakit dan dilanjutkan selama 2-3 hari. diberikan pada saat mulai menstruasi dan dilanjutkan selama 5 hari atau sampai perdarahan berhenti. INDIKASI / KEGUNAAN Indikasi Asam Mefenamat adalah untuk menghilangkan nyeri akut dan kronik.FARMAKOLOGI Cara Kerja Asam mefenamat adalah seperti OAINS (Obat Anti-Inflamasi Non-Steroid atau NSAID) lain yaitu menghambat sintesa prostaglandin dengan menghambat kerja enzim cyclooxygenase (COX-1 & COX-2). sulfonylurea). DOSIS DAN ATURAN PAKAI    Dewasa dan anak di atas 14 tahun : Dosis awal yang dianjurkan 500 mg kemudian dilanjutkan 250 mg tiap 6 jam. Pemakaian secara hati-hati pada penderita penyakit ginjal atau hati dan peradangan saluran cerna. nyeri sehabis operasi. pusing. INTERAKSI OBAT     Obat yg terikat pada protein plasma : menggeser ikatan dengan protein plasma. asam mefenamat dapat mengakibatkan agranulositosis dan anemia hemolitik. Obat lain yang juga memiliki efek samping pada lambung : kemungkinan dapat meningkatkan efek samping terhadap lambung. Pada penggunaan terus-menerus dengan dosis 2000 mg atau lebih sehari. waktu prothrombin harus dimonitor. mual. termasuk nyeri karena trauma. radang usus. rasa mengantuk. Lithium : meningkatkan toksisitas Lithium dengan menurunkan eliminasi lithium di ginjal. EFEK SAMPING   Gangguan saluran cerna. nyeri otot. dispepsia. analgetik (antinyeri) dan antipiretik. muntah dan diare. Asam mefenamat mempunyai efek antiinflamasi. ringan sampai sedang sehubungan dengan sakit kepala. antara lain iritasi lambung. Dismenore : Asam Mefenamat 500 mg 3 kali sehari. kolik usus.

kotak. sehingga tidak direkomendasikan untuk digunakan oleh ibu yg sedang menyusui. . 10 strip x 10 tablet. Asam Mefenamat 500 mg. Belum ada studi tentang keamanan untuk anak Terhadap Hasil Laboratorium : Dapat menyebabkan reaksi false-positif tes urin menggunakan tes tablet diazo. Terutama pada akhir masa kehamilan atau saat melahirkan karena efeknya pada sistem kardiovaskular fetus (penutupan prematur duktus arteriosus) & kontraksi uterus. Terhadap Anak-anak : Belum ada studi ttg keamanan & efikasi penggunaan asam mefenamat pada pasien anak dibawah 14 tahun. Terhadap Ibu Menyusui : Didistribusikan melalui air susu ibu.PERINGATAN DAN PERHATIAN     Terhadap Kehamilan : Tidak direkomendasikan untuk digunakan oleh wanita hamil. kotak. 10 strip x 10 tablet. KEMASAN   Asam Mefenamat 250 mg.