P. 1
eliminasi urine dan fekal

eliminasi urine dan fekal

|Views: 239|Likes:
Published by Yusi Yukiss Finie
Sistem urinaria terdiri dari dua ginjal yang memproduksi urine, dua ureter yang membawa urine ke dalam sebuah kandung kemih untuk penampungan sementara, dan uretra yang mengalirkan urine ke luar tubuh melalui orifisium uretra eksterna.
Sistem urinaria terdiri dari dua ginjal yang memproduksi urine, dua ureter yang membawa urine ke dalam sebuah kandung kemih untuk penampungan sementara, dan uretra yang mengalirkan urine ke luar tubuh melalui orifisium uretra eksterna.

More info:

Published by: Yusi Yukiss Finie on Dec 30, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/06/2015

pdf

text

original

BAB II PEMBAHASAN

1. Jelaskan anatomi fisiologi sistem urinaria ! Anatomi fisiologi system urinaria : Sistem urinaria terdiri dari dua ginjal yang memproduksi urine, dua ureter yang membawa urine ke dalam sebuah kandung kemih untuk penampungan sementara, dan uretra yang mengalirkan urine ke luar tubuh melalui orifisium uretra eksterna. i. Ginjal A. Fungsi ginjal - Pengeluaran zat sisa organic, seperti urea, asam urat, kreatinin, dan produk penguraian hemoglobin dan hormon. - Pengaturan konsentrasi ion-ion penting. Dalam hal ini ginjal mengekskresi ion Natrium, Kalium, Kalsium, Magnesium, Sulfat, dan Fosfat. Dimana ekskresi ion-ion ini seimbang dengan asupan ekskresinya melalui rute lain seperti pada saluran gastrointestinal atau kulit. - Pengaturan keseimbangan asam basa tubuh. Ginjal mengendalikan eksresi ion hydrogen (H+), bikarbonat (HCO3-), dan ammonium (NH4+), serta memproduksi urine asam atau basa tergantung kebutuhan tubuh. - Pengaturan tekanan darah. Ginjal memproduksi enzim renin yang merupakan komponen penting dalam mekanisme renin-angiotensi-aldosteron yang meningkatkan tekanan darah dan retensi air. - Pengaturan produksi sel darah merah. Ginjal melepas eritroprotein yang mengatur produksi eritrosit dalam sumsum tulang. - Pengeluaran zat beracun atau polutan, zat tambahan makanan, obat-obatan atau zat kimia asing. B. Anatomi kasar ginjal - Tampilan Ginjal berbentuk seperti kacang berwarna merah tua dengan P x L x T kurang lebih yaitu 12 cm x 7 cm x 2 cm dan berat antara 120 – 150 gram. - Lokasi Ginjal terletak pada dinding abdomen posterior yang berdekatan dengan dua pasang tulang iga terakhir yang terletak di antara otot-otot punggung dan peritoneum rongga abdomen atas serta memiliki kelenjar adrenal di atasnya.Ginjal kanan terletak agak di bawah dibandingkan ginjal kiri karena terdapat hati pada bagian kanan.

-

Jaringan ikat pembungkus  Fasia renan, adalah pembungkus terluar untuk mempertahankan posisi ginjal.  Lemak perirenal, adalah jaringan adipose.  Kapsul fibrosa, adalah membrane halus yang transparan.

C. Struktur internal ginjal - Hilus atau hilum, adalah tingkat kecekungan tepi medial ginjal. - Sinus ginjal, adalah rongga berisi lemak yang membuka pada hilus. - Pelvis ginjal, adalah perluasan ujung proksimal ureter. Ujung ini berlanjut menjadi dua sampai tiga kaliks mayor (rongga yang mencapai glandular, bagian penghasil urine pada ginjal). Setiap kaliks mayor tersebut memiliki cabang sekitar 8 sampai 18 kaliks minor. D. Struktur nefron Setiap ginjal memiliki 1 sampai 4 juta nefron yang merupakan unit pembentuk urine. - Glomerulus, merupakan gulungan kapilar yang dikelilingi oleh kapsul epitel Bowman. - Tubulus kontortusproksimal, panjangnya mencapai 15 mm dan sangat berliku. Pada permukaan yang menghadap lumen tubulus ini terdapat sel-sel epithelial kuboid yang kaya akan mikrovilus dan memperluas area permukaan lumen. - Ansa henle. Tubulus kontortus proksimal mengarah ke tungkai ansa henle yang masuk ke dalam medulla, membentuk lengkungan lepit yang tajam, dan membalik ke atas membentuk tungkai asenden ansa henle. - Tubulus kontortus distal, juga sangat berliku dengan panjang sekitar 5 mm. - Tubulus dan duktus pengumpul. Tubulus pengumpul membentuk duktus pengumpul yang berukuran besar dan lurus. Duktus pengumpul membentuk tuba yang lebih besar untuk mengalirkan urine ke dalam kaliks minor. Kaliks minor ini bermuara ke dalam pelvis ginjal melalui kaliks mayor. Dari pelvis ginjal, urine dialirkan ke ureter yang mengarah ke kandung kemih. E. Pembentukan urine - Filtrasi glomerular, merupakan perpindahan cairan dan zat terlarut dari kapiler glomerular, dalam gradient tekanan tertentu ke dalam kapsul Bowman.  Membran kapilar glomerular lebih permaebel dibandingkan kapiler lain dalam tubuh sehingga filtrasi berjalan dengan sangat cepat.  Tekanan darah dalam kapiler glomerular lebih tinggi dibandingkan tekanan darah dalam kapiler lain karena diameter arteriol eferen lebih kecil dibandingkan diameter arteriol aferen.

seperti kalium. otot polos.  Reabsorpsi ion anorganik lain. urea.Sekresi tubulus Mekanisme sekresi tubular merupakan proses aktif yang memindahkan zat untuk keluar dari darah dalam kapiler peritubular melewati sel-sel tubular menuju cairan tubular untuk dikeluarkan dalam urine. Sedangkan sel darah merah dan protein tidak difiltrasi. Zat-zat seperti ion hydrogen. ureter juga terletak pada retroperitonialis. dan jaringan fibrosa. Kandung kemih (Vesica urinaria) Aliran urine dari ginjal akan bermuara ke dalam kandung kemih (vesika urinaria). Panjang ureter kurang lebih 30 cm dan berdiameter 0.  Reabsorpsi ion klor dan ion negative melalui difusi pasif.Reabsorpsi tubulus Sebagian besar filtrate (99%) secara selektif diabsorpsi dalam tubulus ginjal. prodek akhir metabolic kreatinin dan asam fivufat serta obat-obatan tertentu (penisilin) secara aktif di ke dalam tubulus. kalium. dan kreatinin. Kandung kemih merupakan kantong yang dapat menggelembung seperti balon karet. . Uretra sebagian terletak dalam rongga perut (pars abdominalis) dan selanjutnya berjalan di dalam rongga panggul (pars pelvira). ii. kandung kemih dapat terlihat sebagian ke luar dari rongga panggul.  Reabsorpsi urea akibat difusi. fosfat. Kandung kemih .  Komposisi filtrate glomerular antara lain glukosa. klorida. iii. asam urat.  Reabsorpsi air melalui osmosis yang bergerak bersama ion natrium.  Reabsorpsi glukosa.Sehingga dapat dikatakan sekresi tubular ini merupakan suatu mekanisme yang penting untuk mengeluarkan zat-zat kimia asing yang tidak diinginkan. dan sulfat melalui transport aktif. Ureter berada pada kiri dan kanan kolumna vertebralis (tulang punggung) yang menghubungkan pelvis renalis dengan kandung kemih. kalsium. Bila terisi penuh. dan asam amino digerakkkan melalui kotranspor. Ureter Air kemih disekresi oleh ginjal. yaitu lapisan mukosa. terletak di belakang simfisis pubis. di dalam rongga panggul.5 cm. karena itu. fruktosa. Mekanisme filtrasi glomerular adalah dipengaruhi oleh tekanan hidrostatik (darah) glomerular yang mendorong cairan dan zat terlarut keluar dari darah dan masuk ke dalam kapsul Bowman. dialirkan ke vesika urinairia (kandung kemih) melalui ureter. Dinding utera terdiri atas tiga lapisan. natrium. kalium. fosfat. ammonium.  Reabsorpsi ion natrium ditranspor secara pasif melalui difusi terfasilitasi. . Otogenitis ureter termasuk berasal dari mesoderm.

Makanan tersebut kemudian bercampur dengan saliva sebelum ditelan. Proses pencernaan ini berlangsung secara mekanik dan kimiawi. fundus. Sedangkan.Pemotongan dan penggilingan makanan. reflek perkemihan terjadi saat peregangan kandung kemih sampai sekitar 300 ml sampai 400 ml urine sehingga menstimulasi reseptor peregang pada dinding kandung kemih. duktus deferens.Ingesti. hati. Fungsi system pencernaan: Fungsi utama system ini adalah untuk menyediakan makanan. . merupakan proses memasukkan makanan ke dalam mulut. impuls pada medulla spinalis dikirim ke otak yang selanjutnya menghasilkan impul parasimpatis yang menjalar melalui saraf splanknik pelvis ke kandung kemih. Kemudian.Pengeluaran urine ini membutuhkan kontraksi aktif otot detrusor.Digesti. Bagian verteks adalah bagian yang meruncing ke arah depan dan berhubungan dengan ligamentum vesiko umbilikale medius. dan korpus.berbentuk seperti kerucut.Bagian dari otot trigonum yang mengelilingi jalan keluar uretra berfungsi sebagai sflingter uretra internal yang terbentuk dari serabut otot rangka dari otot perineal transversa yang berada di bawah kendali volunter. yaitu tuba muscular panjang yang merentang dari mulut sampai anus dan organ-organ aksesoris. daerah ini disebut trigonum liestaudi.Peristaltis. dan elektrolit bagi tubuh dari nutrien yang dicerna sehingga siap untuk diabsorpsi. kelenjar saliva. air. Bagian fundus merupakan bagian yang menghadap ke arah belakang dan bawah. yaitu gelombang kontraksi otot polos involunter yang menggerakkan makanan tertelan melalui saluran pencernaan. kandung empedu. terlihat bagian yang tidak berlipat. iv. 2. vesikula seminalis. . dan melalui proses-proses berikut: . Eretra Perkemihan (urinasi) bergantung pada inervasi parasimpatis dan simaraatis juga impuls saraf volunter. Dinding kandung kemih terdiri dari tiga lapisan otot polos dan selapis mukosa yang berlipat-lipat. . . Jelaskan anatomi fisiologi sistem gastrointestinal ! System pencernaan terdiri dari saluran pencernaan (alimentar).Reflek perkemihan ini menyebabkan konstraksi otot detrusor sehingga terjadi relaksasi sflingter interbal dan eksternal yang mengakibatkan pengosongan kandung kemih. pada diding belakang lapisan mukosa. seperti gigi. Bagian fundus terpisah dari rektum oleh spasium rektovesikula yang terisi oleh jaringan ikat. merupakan hidrolisis kimia (penguraian) molekul besar menjadi molekul kecil sehingga siap untuk di absorpsi. lidah. dan pancreas. Bagian-bagiannya ialah verteks. yang dilakukan secara mekanik oleh gigi. Bagian korpus berada di antara verteks dan fundus.

satu lapisan sirkular dalam dan satu lapisan longitudinal luar. . Epitelium. adalah membran serosa terlebar dalam tubuh sebagai pembungkus organ. Lamina propria. 2. Faring. yang terdiri dari dua lapisan otot. . Serosa. yang terdiri lapisan sirkular dalam yang tipis dan lapisan otot polos longitudinal luar. adalah jalan masuk menuju system pencernaan dan berisi organ aksesori yang berfungsi dalam proses awal pencernaan.Impuls simpatis. . yang mengeluarkan efek stimulus pada tonus otot polos. 1. nodulus limfe. yaitu: a. limfatik. pembuluh limfatik. dan absorpsi.Egesti (defekasi). kecuali ujung atas dan ujung bawah yang dikendalikan secara volunter. lapisan ini terdiri dari membrane serosa. c. Kontraksi lapisan sirkular mengkonstriksi lumen saluran dan kontraksi lapisan longitudinal memperlebar dan memperpendek lumen saluran. menghambat kontraksi otot polos saluran. Gambaran garis besar saluran pencernaan .. Mukosa (membrane mukosa). . yang dibawa oleh medulla spinalis dalam saraf splanknik. berfungsi untuk perlindungan.Dinding saluran. dan menghambat sekresi cairan pencernaan. dan OmentumAbdominopelvis. juga bakteri dalam bentuk feses dari saluran pencernaan. Rongga Oral. I.Absorpsi. terdiri dari jaringan ikat areolar yang mengandung pembuluh darah. . yang dihantarkan dalam saraf vagus (CN X). Submukosa. d. mengurangi motalitas. dan beberapa jenis kelenjar. Rongga oral. beberapa kelenjar submukosal dan pleksus serabut saraf. . Muskularis eksterna. Muskularis mukosa. Masenterium. Kendali saraf pada saluran pencernaan Sistem saraf otak mengivervasi keseluruhan saluran pencernaan. yang tersusun dari empat lapisan jaringan dasar dari lumen (rongga sentral) ke arah luar. merupakan proses eliminasi zat-zat sisa yang tidak tercerna. yang tersusun dari tiga lapisan. Efek ini meliputi motilitas dan sekresi cairan pencernaan. 3.Pleksus Meissner dan Auerbach.Impuls parasimpatis. berfungsi untuk pengaturan kontraktil local dan aktifitas sekretori saluran. b.Peritoneun. dan Esofagus A. merupakan jaringan ikat areoral untuk menopang epitelium yang mengandung pembuluh darah. merupakan pergerakan produk akhir pencernaan dari lumen saluran pencernaan ke dalam sirkulasi darah dan limfatik sehingga dapat digunakan oleh sel tubuh. sekresi.

yang menbentuk dua pertiga bagian lambung. 3. . berelaksasi setelah melakukan gelombang peristaltic sehingga memungkinkan makanan terdorong ke dalam lambung. diantaranya untuk melarutkan makanan secara kimia. B.Bagian jantung lambung adalah area di sekitar pertemuan esophagus dan lambung. Lidah berfungsi untuk menggerakkan makanan saat dikunyah atau ditelan.Fundus adalah bagian yang menonjol ke sisi kiri atas mulut esophagus. suatu area sempit otot polos pada ujung bawah esophagus dalam kontraksi tonus yang konstan. Pipi. Gigi. mengurai zat tepung menjadi polisakarida dan maltose. 2. Organ ini berfungsi untuk menerima makanan dan produksi wicara. Menyimpanan makanandengan kapasitas lambung normal yang memungkinkan adanya interval waktu antara saat makan dan kemampuan untuk menyimpan makanan dalam jumlah besar sampai makanan ini dapat terakomodasi di bagian bawah saluran. mengandung otot buksinator mastikasi.Refleks yang terjadi adalah penutupan semua lubang kecuali esophagus sehingga makanan bisa masuk. mensekresikan saliva ke dalam rongga oral. serta menekskresikan zat buangan seperti asam urat dan urea. Esofagus Sfingter esophagus bawah. Lidah. Saliva mempunyai banyak fungsi. Bibir. Fungsi lambung 1. terletak pada bagian superior kiri rongga abdomen di bawah diafragma. dilekatkan pada dasar mulut oleh frenulum lingua. melembabkan dan melumasi makanan.Bagian pylorus lambung menyempit di ujung bawah lambung dan membuka ke duodenum. yaitu massa homogen setengah cair dengan kadar asam yang tinggi yang berasal dari bolus yang kemudian didorong ke dalam duodenum.tersusun dari otot rangka (orbicularis mulut) dan jaringan ikat. Memproduksi kimia. Proses menelan (deglutisi) menggerakkan makanan dari faring menuju esophagus Bolus makanan dalam faring merangsang reseptor orofaring yang mengirim impuls ke pusat menelan dalam medulla dan batang otak bagian bawah. Saliva terdiri dari cairan encer yang mengandung enzim dan cairan kental yang mengandung mucus. C. Lambung A. berfungsi untuk proses mastikasi (pengunyahan) makanan yang masuk ke dalam mulut yang kemudian dipotong-potong menjadi bagian kecil-kecil dan bercampur dengan saliva untuk membentuk bolus makanan yang dapat ditelan. Kelenjar saliva.1. 4. B.Badan lambung adalah bagian yang terdilatasi di bawah fundus. II. Anatomi Lambung adalah organ yang berbentuk J. 5. 2.

dan jenis makanan. 4. renin lambung. Enzim ini menghidrolisis protein menjadi polipeptida. C. pelepasan gastrin. lipase. D. E. Serabut aferen menjalar ke medulla melalui saraf vagus menuju kelanjar lambung untuk menstimulasi produksi HCl. 3. serta pikiran tentang makanan. Memproduksi mucus yang dihasilkan dari kelenjar yang membentuk barrier setebal 1 mm untuk melindungi lambung terhadap aksi pencernaan dari sekresinya sendiri. Asam amino dan ptotein dalam makanan yang separuh tercerna dan zat kimia (alcohol dan kafein) juga meningkatkan sekresi lambung. Enzim ini terbawa bersama bolus dan tetap bekerja dalam lambung. Sekresi lambung ini melalui tiga tahap. yaitu enzim yang mengkoagulasi protein susu. dan menguraikannya untuk membentuk dadih. yaitu: 1. terjadi saat makanan sampai ke lambung. Beberapa obat yang larut lemak (aspirin) dan alcohol diabsorpsi pada dinding lambung. Tahap sefalik. seperti pepsinogen. Karbohidrat Lambung tidak mensekresi enzim untuk mencerna karbohidrat tetapi amilase dalam saliva menghidrolisis zat tepung yang bekerja pada pH netral. dan gastrin. Digesti protein melalui sekresi tripsin dan asam klorida. Digesti protein Pepsinogen yang disekresi oleh sel chief di ubah menjadi pepsin oleh asam klorida yang disekresi oleh sel parietal. Sekresi lambung Kelenjar pada lambung mensekresikan berbagai zat dan enzim-ehonzim pencernaan. Lemak Lipase lambung yang disekresi oleh sel chief menghidrolisis lemak susu menjadi asam lemak dan gliserol. Digesti dalam lambung 1. kekentalan kimus. enzim-enzim pencernaan. Sedangkan lambung janin memproduksi renin. Tahap usus. Karbohidrat dapat . 3. Pepsin merupakan enzim yang hanya dapat bekerja dengan pH di bawah 5. Sekresi lambung distimulasi oleh sekresi gastrin duodenum sedangkan sekresi lambung dihambat oleh hormone-hormon polipeptida yang dihasilkan duodenum. 2. yaitu terjadi sebelum makanan sampai ke lambung karena sekresi lambung dapat dirangsang dengan masuknya makanan ke dalam mulut atau tambilan. Tahap lambung. Mengabsorpsi nutrient yang berlangsung dalam lambung dalam jumlah yang sedikit. terjadi setelah kimus meningggalkan lambung dan memasuki usus halus. 5. 2. bau.3. Kendali pada pengosongan lambung Pengosongan distimulasi secara reflex untuk merespon terhadap peregangan lambung. serta mukus.

dan kandung empedu 1. 2. Usus Halus A. dan lemak tetap berada dalam lambung selama 3 sampai 6 jam. dan mikrovili (lipatan-lipatan menonjol kecil pada membrane sel).5 cm dan panjangnya 3-5 m. hormone. D. Motilitas Gerakan usus halus yang mencampur isinya dengan enzim untuk pencernaan. yaitu plicae circulares (lipatan sirkular membrane mukosa yang mengitari lumen). Segmentasi irama merupakan gerakan pencampuran utama dengan melakukan gerakan secara konstriksi dan relaksasi yang bergantian sehingga dapat mendorong kimus untuk bergerak maju mundur dari satu segmen ke segmen lain.masuk dengan cepat.0 mm). protein lebih lambat. dengan panjang 2 . keduanya membuka ke dinding posterior duodenum beberapa centimeter di bawah mulut pylorus. Pankreas Sel-sel endokrin (pulau-pulau Langerhans) pancreas mensekresi hormone insulin dan glucagon. B. Gambaran umum Keseluruhan usus halus adalah tuba terlilit yang merentang dari sfingter pilorus sampai ke katup ileosekal yang tempatnya menyatu dengan usus besar. Fungsi usus halus Usus halus mengakhiri proses pencernaan makanan yang dimulai dari mulut dan lambung. Cairan pancreas sendiri mengandung enzim-enzim seperti protease (menghasilkan asam amino bebas). Divisi 1. Duktus empedu dan duktus pancreas. vili (jutaan tonjolan yang menyerupai jari dengan tinggi 0.5 meter yang merentang sampai menyatu dengan usus besar. Ileum. Yeyenum. adalah bagian yang selanjutnya dengan panjang sekitar 1 . Pankreas. E. hati. lipase (menghidrolisis lemak menjadi asam lemak .1. 3.5 m. dan mukus.2 – 1. III. C. Dalam usus halus terdapat tiga spesialisasi structural yang memperluas permukaan absorptive.Motalitas ini meliputi segmentasi irama dan peristaltis. Sedangkan peristaltis adalah konstriksi ritmik otot polos longitudinal dan sirkular yang merupakan daya dorong utama yang menggerakkna kimus kea rahbawah di sepanjang saluran. Proses ini diselesaikan oleh enzim usus dan enzim pancreas serta dibantu oleh empedu dalam hati. adalah bagian yang terpendek (25 cm -30 cm). Duodenum. Diameter usus halus kurang lebih 2. Juga terdapat kelenjar yang menghasilkan enzim.2.

serta vitamin larut lemak (A. dan rectum. laktosa. 2. yaitu lobus kanan dan lobus kiri. dan sukrosa menjadi monosakarida) melengkapi proses pencernaan kimus sehingga produk tersebut dapat langsung dan dengan mudah terserap. air. dan amylase (menghidrolisis zat tepung yang tidak tercerna oleh amylase saliva menjadi disakarida. dan laktosa). serta untuk menyimpan mineral. dan sukrase(memecah disakarida maltose. kolon transversa yang merentang menyilang abdomen di bawah hati dan lambung sampai ke tepi lateral ginjal kiri dan memutar ke bawah pada fleksura aplenik). dan K). elektrolit. 3. Hati Hati adalah organ yang terletak di bawah kerangka iga dengan berat 1. dan vitamin. Usus besar tidak memiliki vili. amylase usus (menghidrolisis zat tepung menjadi disakarida).500 g dan berwarna merah tua pada kondisi hidup karena kaya akan persediaan darah yang dibagi menjadi dua bagian. lebih pendek. IV. zat sisa organic dan anorganik dari . sukrosa. Secara umum. lactase. seperti zat besi dan tembaga. lemak. yang kemudian menguraikan protein dan peptide menjadi peptide yang lebih kecil). E. D. diameternya lebih lebar.dan gliserol). Absorpsi dalam usus halus Enzim-enzim usus. tidak memiliki lipatan-lipatan sirkular. Sepertiga meteri padatnya adalah bakteri dan sisanya yang 2% sampai 3% adalah nitrogen. meyimpan glukosa dalam bentuk glikogen dan mengubahnya kembali menjadi glukosa jika diperlukan tubuh. Kandung empedu Kandung empedu adalah kantong muskural hijau menyerupai pir dengan panjang 10 cm yang mempunyai kapasitas kurang lebih 30 ml sampai 60 ml. seperti maltose. sampai diperlukan dalam duodenum. diantaranyaenterokinase (mengaktivasi tripsinogen pancreas menjadi tripsin. ptotein. yaitu bagian saluran pencernaan selanjutnya dengan panjang 12 sampai 13 cm yang berakhir pada saluran anal dan membuka ke eksterior di anus. Usus besar terdiri atas sekum (kantong tertutup di bawah area ileosekal). kolon (kolon asenden yang merentang dari sekum sampai ke tepi bawah hati di sebelah kanan dan membalik secara horizontal pada flrksura hepatica. F. Usus Besar Begitu materi dalam saluran pencernaan masuk ke usus besar. maltase. hati memproduksi empedu yang berperan dalam emulsifikasi dan absorpsi lemak. dan daya regangnya lebih besar dibandingkan usus halus. Dalam usus juga terjadi proses absorpsi karbohidrat. sebagian besar nutrient telah dicerna dan diabsorpsi sehingga hanya menyisakan zat-zat yang tidak tercerna. Usus besar mengabsorpsi 80% sampai 90% air dan elektrolit dari kimus yang tersisa dan mengubah kimus dari cairan menjadi massa semi padat yang kemudian diekskresikan dalam bentuk feses. kandung empedu menyimpan cairan empedu yang secara terus-menerus disekresi oleh sel-sel hati.

muntah. urgensi. lemahnya otot . jalan keluar pada kandung kemih yang tidak kompeten. Klien yang mengalami perubahan kognitif mungkin telah lupa mengenai apa yang ia harus lakukan. atau mobititas.  Inkontinensia fungsional adalah involunter. Penyebab dari inkontinensia ini yaitu perubahan lingkungan. Penyebabnya dikarenakan batuk. dan disuria. kurangnya urgensi untuk berkemih. Gejalanya seperti tidak menyadari bahwa kandung kemihnya sudah terisi. Inkontinensia urine adalah kondisi ketika dorongan berkemih tidak mampu dikontrol oleh sfingter eksternal. tertawa.Warna coklatnya berasal dari pigmen empedu dan baunya berasal dari kerja bakteri. inkontinensia urgensi. 3. obesitas. retensi. frekuensi. Beberapa perubahan yang terjadi pada pola eliminasi urine akibat kondisi tersebut antara lain inkontinensia. disfungsi medulla spinalis ( baik gangguan pada kesadaran serebral atau kerusakan arkus refleks ).  Inkontinensia overflow (refleks) adalah keluarnya urine secara involunter terjadi pada jarak waktu tertentu yang telah diperkirakan jumlah urine dapat banyak atau sedikit. Overflow ini disebabkan karena terhambatnya berkemih akibat efek anestesi atau obat-obatan.  Inkontinensia stres adalah peningkatan tekanan intraabdomen yang menyebabkan merembesnya sejumlah kecil urine. ada sejumlah faktor atau kondisi yang dapat memengaruhi eliminasi urine. uterus yang penuh pada trimester ketiga. Perubahan eliminasi urine Meskipun produksi urine normal. Inkontinensia urine. defisit sensorik. Gejala yang ditimbulkan seperti mendesaknya keinginan untuk berkemih menyebabkan urine keluar sebelum mencapai tempat yang sesuai. Identifikasi gangguan atau masalah kesehatan apa yang bisa terjadi pada kebutuhan eliminasi urin dan fekal ! Masalah pada pola berkemih/eliminasi urin : 1. jalan kelua urine tidak dapat diperkirakan pada klien yang sistem saraf dan sistem perkemihannya tidak utuh. enuresis.sekresi pencernaan. Sifatnya biasa menyeluruh ( inkontinensia komplet ) atau sebagian ( inkontinensia parsial ) ada lima jenis inkontinensia. kognitif. kontraksi spasme kandung kemih yang tidak di cegah. serta mukus dan lemak. inkontinensia stres. A. Feses juga mengandung sejumlah serat dan selulosa yang tidak tercerna. atau mengangkat sesuatu saat kandung kemih penuh. dan inkontinensia total. yakni inkontinensia fungsional. inkontinensia overflow (refleks).

Retensi urine adalah kondisi tertahannya urine di kandung kemih akibat terganggunya proses pengosongan kandung kemih sehingga kandung kemih menjadi regang. konsumsi alkohol atau kafein. hipertrofi prostat).panggul. spesme kandung kemih atau kontraktur berkemih dalam jumlah kecil (kurang dari 100 ml) atau dalam jumlah besar (lebih dari 500 ml). urgensi dan sering berkemih. pembedahan. otot sfingter yang kuat. Faktor penyebabnya antara lain apasitas kandung yang kurang dari normal. Enuresis (mengompol). D. Enuresis adalah peristiwa berkemih yang tidak disadari pada anak yang usianya melampaui batas usia normal kontrol kandung kemih seharusnya tercapai. Sering berkemih (frekuensi). Kondisi ini disebabkan oleh obstruksi ( mis. trauma atau penyakit pada saraf spinalis atau sfingter uretra. Gejalanya seperti keluarnya urine pada saat tekanan inraabdomen meningkat. dan infeksi saluran kemih. Sering berkemih (frekuensi) adalah meningkatnya frekuensi berkemih tanpa disertai peningkatan asupan cairan. Retensi urine. tidak menyadari bahwa kandung kemihnya terisi atau inkontinensia B. Gejalanya urine tetap mengalir pada waktu-waktu yang tidak dapat diperkirakan.  Inkontinensia urgensi adalah pengeluaran urine yang tidak disadari setelah merasakan adanya urgensi yang kuat untuk berkemih. Penyebabnya karena daya tampung kandung kemih menurun. Kondisi ini biasanya terjadi pada wanita hamil ( tekanan rahim pada kandung kemih ). infeksi saluran kemih. dan gangguan pola miksi. fistula yang berada di antara kandung kemih dan vagina. konsumsi makanan yang banyak mengandung garam dan mineral. kondisi stres. infeksi.  Inkontinensia total adalah keluarnya urine total yang tidak terkontrol dan yang berkelanjutan. Disebabkan karena neuropati saraf sensorik. peningkatan tekanan uretra akibat otot detrusor yang lemah. sering disertai oleh tingginya frekueni berkemih (lebih sering dari dua jam sekaligus). nokturia. peningkatan asupan cairan. takut keluar malam. C. iritasi pada reseptor peregang kandung kemih. . Enuresis lebih banyak terjadi anak-anak dimalam hari (enuresis nokturnal). Gejala yang terjadi yaitu urgensi berkemih.

Disuria. Ini biasanya terjadi pada anak-anak karena kemampuan kontrol sfingter mereka yang lemah. Kurangnya olahraga yang teratur d. Oliguria dan anuria. Disuria adalah rasa nyeri dan kesulitan saat berkemih. Kondisi ini bisa disebabkan oleh asupan cairan yang sedikit atau pengeluaran cairan yang abnormal. dan terkadang ini mengindikasikan gangguan pada aliran darah menuju ginjal. Oliguria adalah produksi urine yang rendah. F. diuretik dan obat-obat antiparkinson 2. infeksi saluran kemih. diantaranya: a. 2. Pliuria dapat menyebabkan kehilangan cairan yang berlebihan yang mengarah pada dehidrasi. Poliuria adalah produksi urine yang berlebihan batas normal tanpa disertai peningkatan asupan cairan.E. ADH) dan nefritis kronik. Konstipasi Konstipasi adalah penurunan frekuensi defekasi. oliguria. Urgensi. Impaksi feses Impaksi feses adalah kumpulan feses yang mengeras. B. dan anuria. Perubahan tersebut meliputi poliuria. Defekasi hanya setiap 4 hari atau lebih dianggap tidak normal. Adanya upaya mengedan saat defekasi adalah suatu tanda yang terkait dengan konstipasi. mengendap di dalam rectum dan tidak dapat dikeluarkan. Ini biasanya terjadi pada kasus infeksi uretra. Kondisi ini dapat terjadi pada penderita diabetes. Gangguan ini biasanya muncul pada kondisi stres psikologi dan iritasi uretra. Selain itu pengeluaran feses yang kering dan keras juga dapat menimbulkan rasa nyeri pada rektum. Kebiasaan defekasi yang tidak teratur dan mengabaikan keinginan untuk defekasi b. yakni 100500 ml/ 24 jam. Impaksi feses merupakan akibat dari konstipasi yang . trauma kandung kemih. Perubahan produksi urine Selain perubahan eliminasi urine. Penggunaan obat penenang. masalah lain yang kerap dijumpai pada pola berkemih adalah perubahan produksi urine. A. yang diikuti oleh pengeluaran feses yang lama atau keras dan kering. Kebiasaan mengkonsumsi diet rendah seratdalam bentuk lemak hewani dan asupan cairan yang rendah c. Urgensi adalah perasaan yang saat kuat untuk berkemih. Gangguan kesehatan yang terjadi pada kebutuhan eliminasi fekal. adalah: 1. ketidakseimbangan hormonal (mis. Penyebab umum terjadinya konstipasi. Sedangkan anuria adalah produksi urine kurang dari 100ml/ 24 jam.

2. Selain itu. distensi dank ram abdomen serta nyeri di rectum dapat menyertai impaksi. 3. infeksi usus. Tingkat Aktivitas Eliminasi urine membutuhkan tonus otot vesika urinaria yang baik untuk fungsi sfingter. Selain itu kehilangan nafsu makan. Diare Diare adalah peningkatan jumlah feses dan peningkatan pengeluaran feses yang cair dan tidk berbentuk.Respons Keinginan Awal untuk Berkemih Kebiasaan mengabaikan keinginan awal untuk berkemih dapat menyebabkan urine banyak tertahan di dalam urinaria sehingga memengaruhi ukuran vesika urinaria dan jumlah urine. .Diet dan Asupan (intake) Jumlah dan tipe makanan merupakan faktor utama yang memengaruhi output urine (jumlah urine). Stres Psikologis Meningkatnya stres dapat mengakibatkan meningkatnya frekuensi keinginan berkemih. Inkontinensia bisa disebabkan oleh kondisi fisik yang merusak fungsi atau control sfingter anus. juga dapat meningkatkan pembentukan urine. Hal ini karena meningkatnya sensitivitas untuk keinginan berkemih dan jumlah urine yang diproduksi. Isi usus terlalu cepat keluar melalui usus sehingga absorpsi cairan menjadi tidak dapat berlangsung. diantaranya stress emosional. Protein dapat menentukan jumlah urine yang dibentuk. Jelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi eliminasi urin dan fekal ! Faktor-faktor yang memengaruhi eliminasi urin adalah : 1. 4. Banyak kondisi yang bisa menyebabkan diare. serta volumenya banyak juga bisa mengakibatkan terjadinya inkontinensia. Inkontinensia feses Inkontinensia feses adalah ketidakmampuan mengontrol keluarnya feses dan gas dari anus. Iare merupakan gejala gangguan yang mempengaruhi proses pencernaan. absorpsi dan sekresi dalam saluran gastrointestinal. 5. intoleransi makanan serta penggunaan obat-obatan.tidak diatasi. alergi makanan. Hilangnya tonus otot vesika urinaria menyebabkan kemampuan pengontrolan berkemih menurun dan kemampuan tonus otot didapatkan dengan beraktivitas. Selain itu seringnya defekasi. 3. Tanda dari impaksi yang jelas ialah ketidakmampuan untuk mengeluarkan feses selama beberapa hari. 4. Gaya Hidup Perubahan gaya hidup dapat memengaruhi pemenuhan kebutuhan eliminasi dalam kaitannya terhadap tersedianva fasilitas toilet. meskipun terdapat keinginan untuk melakukan defekasi. feses encer dan mengandung air. akibatnya feses menjadi lebih encer. 4.

10. kontrol defekasi belum berkembang dengan baik. seperti adanya kultur pada masyarakat tertentu yang melarang untuk buang air kecil di tempat tertentu. sedangkan pemberian obat antikolinergik dan antihipertensi dapat menyebabkan retensi urine. Pengobatan Pemberian tindakan pengobatan dapat berdampak pada terjadinya peningkatan atau penurunan -proses perkemihan. Misalnya pemberian diure. Pemeriksaan Diagnostik Pemeriksaan diagnostik ini juga dap'at memengaruhi kebutuhan eliminasi urine. Hal tersebut dapat ditemukan pada anak. Secara . Kebiasaan Seseorang Seseorang yang memiliki kebiasaan berkemih di mengalamikesulitan untuk berkemih dengan melalui urineal/pot urine bila dalam keadaan sakit. 13. makanan berserat akan mempercepat produksi feses. Usia Pada bayi. Sebagai contoh. khususnya prosedur-prosedur yang berhubungan dengan tindakan pemeriksaan saluran kemih seperti IVY (intra uenus pyelogram).6. Diet Ini bergantung pada kualitas. Pembedahan Efek pembedahan dapat menyebabkan penurunan pemberian obat anestesi menurunkan filtrasi glomerulus yang dapat jumlah produksi urine karena dampak dari 12. Tonus Otot Tonus otot yang memiliki peran penting dalam membantu proses berkemih adalah otot kandung kemih. seperti diabetes melitus.tik dapat meningkatkan jumlah urine. frekuensi. yang lebih memiliki mengalami kesulitan untuk mengontrol buang air kecil. otot abdomen dan pelvis. kontrol defekasi menurun seiring dengan berkurangnya kemampuan fisiologis sejumlah organ. Se. 8. Faktor-faktor yang memengaruhi eliminasi fekal adalah : 1. Namun dengan usia kemampuan dalam mengontrol buang air kecil 7.Tingkat Perkembangan Tingkat pertumbuhan dan perkembangan juga dapat memengaruhi pola berkemih. Ketiganya sangat berperan dalam kontraksi pengontirolan pengeluaran urine. Kondisi Penyakit Kondisi penyakit dapat memengaruhi produksi urine. Sosiokultural Budaya dapat memengaruhi pemenuhan kebutuhan eliminasi urine. dan jumlah makanan yang dikonsumsi. 2. 11. Sedangkan pada lansia. yang dapat membatasi jumlah asupan sehingga mengurangi produksi urine. 9.lain itu tindakan sistoskopi dapat menimbulkan edema lokal pada uretra yang dapat mengganggu pengeluaran urine.

Pengobatan Beberapa jenis obat dapat menimbulkan efek konstipasi. Akan tetapi. defekasi tidak menimbulkan nyeri. jika digunakan dalam waktu lama. klien seringkali menekan keinginannya untuk defekasi. Tonus otot Tonus otot terutama abdomen yang ditunjang dengan aktivitas yang cukup akan membantu defekasi. 4. Posisi saat defekasi Posisi jongkok merupakan posisi yang paling sesuai untuk defekasi. atau kebiasaan menahan buang air besar. melahirkan) defekasi dapat menyebabkan nyeri. Obat-obat lain yang dapat mengganggu pola defekasi antara lain analgesik narkotik. 9. Gerakan peristaltik akan memudahkan materi feses bergerak di sepanjang kolon. Akibatnya. opiat. Kehamilan Konstipasi adalah masalah yang umum ditemui pada trimester akhir kehamilan. 6. Kebanyakan individu merasa lebih mudah melakukan defekasi di kamar mandi mereka sendiri pada waktu yang paling efektif dan paling nyaman bagi mereka. Nyeri Normalnya. kedua obat tersebut dapat menurunkan tonus usus sehingga usus menjadi kurang responsif terhadap stimulus laksatif. 12. 10.fisiologis. Ini karena jumlah absorpsi cairan di kolon meningkat. Faktor psikologis Perasaan cemas atau takut akan memengaruhi peristaltik atau motilitas usus sehingga dapat menyebabkan diare. 11. banyaknya makanan yang masuk ke dalam tubuh juga berpengaruh terhadap keinginan defekasi. Kerusakan sensorik dan motorik Kerusakan pada medula spinalis dan cedera di daerah kepala akan mengakibatkan penurunan stimulus sensorik untuk defekasi. Akan tetapi. Seiring bertambahnya usia kehamilan. Posisi tersebut memungkinkan individu mengerahkan tekanan intraabdomen dan mengerutkan otot pahanya sehingga memudahkan proses defekasi. 5. bedah rektum. Laksatif dan katartik dapat melunakkan feses dan meningkatkan peristaltik. 7. kondisi ini dapat menyebabkan konstipasi. 8. dan antikolinergik. 3. pada kondisi tertentu (hemoroid. bowel training pada saat kanak-kanak. Lama kelamaan. Gaya hidup Aktivitas harian yang dilakukan. Kebiasaan pribadi Kebiasaan eliminasi pribadi memengaruhi fungsi usus. ukuran janin dapat menyebabkan obstruksi . Asupan cairan Asupan cairan yang kurang akan menyebabkan feses lebih keras.

Setelah dilakukan pemeriksaan ternyata Klien didiagnosis dengan BPH (Benigna Prostat Hiperplasia) 1. 2.septik. khususnya yang ditujukan untuk melihat struktur saluran pencernaan.yang akan menghambat pengeluaran feses. mengharuskan dilakukannya pengosongan lambung (misalnya. nadi dan suhu. Selain itu. Perkusi dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya residual urin. dengan enema atau katartik). serum elektrolit dan kadar gula digunakan untuk memperoleh data dasar keadaan umum klien. 14. Nadi dapat meningkat pada keadaan kesakitan pada retensi urin akut. Kasus A Seorang Bapak (50 tahun) datang ke Rumah Sakit dengan keluhan : kesulitan berkemih. prosedur prosedur pemeriksaan dengan menggunakan barium dapat menyebabkan masalah tambahan. • Pemeriksaan abdomen dilakukan dengan tehnik bimanual untuk mengetahui adanya hidronefrosis. 13. faal ginjal. dan pyelonefrosis. Kondisi ini umumnya berlangsung antara 24 jam dan 48 jam yang disebut dengan ileus paralitik. ibu hamil seringkali mengalami hemoroid permanen karena seringnya mengedan saat defekasi. Saat palpasi terasa adanya ballotemen dan klien akan terasa ingin miksi. Pemeriksaan diagnostik Pemeriksaan diagnostik tertentu. dehidrasi sampai syok pada retensi urin serta urosepsis sampai syok . • Pemeriksaan urin lengkap dan kultur. Akibatnya. Pada daerah supra simfiser pada keadaan retensi akan menonjol. terasa panas dan nyeri saat berkemih. • PSA (Prostatik Spesific Antigen) penting diperiksa sebagai kewaspadaan adanya keganasan . Sisa barium yang tertinggal di saluran pencernaan akan mengeras dan menyebabkan impaksi usus. Tindakan ini dapat mengganggu pola eliminasi sampai klien dapat makan dengan normal. Identifikasi pengkajian keperawatan apa saja yang perlu dilakukan pada kasus di atas ! Pengkajian: 1. Pemeriksaan Fisik • Dilakukan dengan pemeriksaan tekanan darah. Pemeriksaan Laboratorium • Pemeriksaan darah lengkap. Pembedahan dan anestesi Pemberian anestesi saat pembedahan dapat menghambat atau menghentikan aktiitas peristaltik untuk sementara waktu.

prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi Post Operasi : 1) Nyeri berhubungan dengan spasmus kandung kemih dan insisi sekunder pada TUR-P 2) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur invasif: alat selama pembedahan. 2). 3) Resiko tinggi cidera: perdarahan berhubungan dengan tindakan pembedahan 4) Resiko tinggi disfungsi seksual berhubungan dengan ketakutan akan impoten akibat dari TUR-P. kolik ginjal. Resiko tinggi kekurangan cairan berhubungan dengan pasca obstruksi diuresis. . kateter. 3). 4). Sebelum Operasi a. Masalah keperawatan apa yang mungkin muncul dari kasus di atas ! Diagnosa keperawatan Diagnosa keperawatan yang mungkin timbul adalah sebagai berikut : Pre Operasi : 1). Nyeri ( akut ) berhubungan dengan iritasi mukosa buli – buli.dekompensasi otot destrusor dan ketidakmapuan kandung kemih untuk berkontraksi secara adekuat. pembesaran prostat. pembesaran prostat. Tindakan keperawatan apa yang bisa dilakukan berdasarkan kasus di atas ! Perencanaan 1. 5) Kurang pengetahuan: tentang TUR-P berhubungan dengan kurang informasi 6) Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri sebagai efek pembedahan 3. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan atau menghadapi prosedur bedah 5). Kurang pengetahuan tentang kondisi . Obstruksi akut / kronis berhubungan dengan obstruksi mekanik.2. infeksi urinaria.dekompensasi otot destrusor dan ketidakmapuan kandung kemih unmtuk berkontraksi secara adekuat.. distensi kandung kemih. irigasi kandung kemih sering. Obstruksi akut / kronis berhubungan dengan obstruksi mekanik.

kandung kemih dari pertumbuhan bakteri 5. R/ Meminimalkan retensi urina distensi berlebihan pada kandung kemih 2. R / Nyeri tajam. intensitas ( skala 0 10 ). 2). Awasi dan catat waktu serta jumlah setiap kali berkemih R/ Retensi urine meningkatkan tekanan dalam saluran perkemihan yang dapat mempengaruhi fungsi ginjal 4. R/ Mempertahankan fungsi kateter dan drainase sistem. perhatikan lokasi. 1).buli.1) Tujuan : tidak terjadi obstruksi 3) Kriteria hasil : Berkemih dalam jumlah yang cukup. c). Pertahankan selang bebas dari lekukan dan bekuan. 3). Nyeri ( akut ) berhubungan dengan iritasi mukosa buli – buli. menunjukkan ketrampilan relaksasi dan aktivitas terapeutik sesuai indikasi untuk situasi individu. infeksi urinaria. R / Peningkatkan aliran cairan meningkatkan perfusi ginjal serta membersihkan ginjal . Pertahankan tirah baring bila diindikasikan R/ Diperlukan selama fase awal selama fase akut. kolik ginjal. b) Pertahankan patensi kateter dan sistem drainase. Dorong pasien untuk berkemih tiap 2-4 jam dan bila tibatiba dirasakan. tidak teraba distensi kandung kemih 4) Rencana tindakan dan rasional 1. menurunkan resiko distensi / spasme buli . intermitten dengan dorongan berkemih / masase urin sekitar kateter menunjukkan spasme buli-buli. yang cenderung lebih berat pada pendekatan TURP ( biasanya menurun dalam 48 jam ). Kriteria hasil Klien melaporkan nyeri hilang / terkontrol. distensi kandung kemih. Berikan cairan sampai 3000 ml sehari dalam toleransi jantung. tidur / istirahat dengan tepat. . Observasi aliran urina perhatian ukuran dan kekuatan pancaran urina R / Untuk mengevaluasi ibstruksi dan pilihan intervensi 3. Berikan obat sesuai indikasi ( antispamodik) R/ mengurangi spasme kandung kemih dan mempercepat penyembuhan b. Tujuan Nyeri hilang / terkontrol. Tampak rileks. Rencana tindakan dan rasional a) Kaji nyeri.

3). Resiko tinggi kekurangan cairan yang berhubungan dengan pasca obstruksi diuresis. memfokusksn kembali perhatian dan dapat meningkatkan kemampuan koping. Perhatikan keluaran 100-200 ml/. R / Menurunkan tegangan otot.Rencana tindakan dan rasional a). R/ Deteksi dini terhadap hipovolemik sistemik d). perubahan status kesehatan atau . R/ Diuresisi yang cepat dapat mengurangkan volume total karena ketidakl cukupan jumlah natrium diabsorbsi tubulus ginjal. b). jumlah trombosi R/ Berguna dalam evaluasi kehilangan darah / kebutuhan penggantian.Tujuan Keseimbangan cairan tubuh tetap terpelihara. 1). R/ Indikator keseimangan cairan dan kebutuhan penggantian. Serta dapat mengindikasikan terjadinya komplikasi misalnya penurunan faktor pembekuan darah. jumlah sel darah merah. Awasi keluaran tiap jam bila diindikasikan. pijatan punggung ) dan aktivitas terapeutik. b. contoh: Hb / Ht.Kriteria hasil Mempertahankan hidrasi adekuat dibuktikan dengan: tanda -tanda vital stabil. 2). Kolaborasi dalam memantau pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi. Pemeriksaan koagulasi. diaforesis. nadi perifer teraba. R/ Meningkatkan perfusi jaringan dan perbaikan edema serta meningkatkan penyembuhan ( pendekatan perineal ). pengisian perifer baik. pucat. g). pengubahan posisi. c).d) Berikan tindakan kenyamanan ( sentuhan terapeutik. Ansietas berhubungan dengan menghadapi prosedur bedah. penurunan tekanan darah. Pantau masukan dan haluaran cairan. f) Berikan rendam duduk atau lampu penghangat bila diindikasikan. Tingkatkan tirah baring dengan kepala lebih tinggi R/ Menurunkan kerja jantung memudahkan hemeostatis sirkulasi. perhatikan peningkatan nadi dan pernapasan. membran mukosa lembab dan keluaran urin tepat. f) Kolaborasi dalam pemberian antispasmodik R / Menghilangkan spasme c. Awasi tanda-tanda vital.

Nyeri berhubungan dengan spasmus kandung kemih dan insisi sekunder pada TUR-P Tujuan: Nyeri berkurang atau hilang. . . Tujuan Pasien tampak rileks. Rencana tindakan dan rasional a). Dorong pasien menyatakan rasa takut persaan dan perhatian. Dampingi klien dan bina hubungan saling percaya R/ Menunjukka perhatian dan keinginan untuk membantu b). . . 3). . Kriteria hasil : .Klien akan tidur / istirahat dengan tepat. Kriteria hasil Melakukan perubahan pola hidup atau prilasku ysng perlu. menunjukkan rentang yang yang tepat tentang perasaan dan penurunan rasa takut.Tanda – tanda vital dalam batas normal. c).Klien mengatakan nyeri berkurang / hilang. Memberikan informasi tentang prosedur tindakan yang akan dilakukan. 1. Dorong pasien atau orang terdekat untuk menyatakan masalah atau perasaan. Rencana tindakan dan rasional a). Kriteria hasil Menyatakan pengetahuan yang akurat tentang situasi.Ekspresi wajah klien tenang. R / Membantu pasien dalam memahami tujuan dari suatu tindakan. b) Kaji ulang proses penyakit. 2).Klien akan menunjukkan ketrampilan relaksasi. Sesudah operasi II. 2).1). 3). Tujuan : Menyatakan pemahaman tentang proses penyakit dan prognosisnya.pengalaman pasien R/ Memberikan dasar pengetahuan dimana pasien dapat membuat pilihan informasi terapi.prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi 1). Kurang pengetahuan tentang kondisi . R/ Memberikan kesempatan pada pasien dan konsep solusi pemecahan masalah c. berpartisipasi dalam program pengobatan. R / Membantu pasien dalam mengalami perasaan.

2. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur invasif: alat selama pembedahan. Tujuan: Klien tidak menunjukkan tanda – tanda infeksi . Jelaskan pada klien tentang gejala dini spasmus kandung kemih. Jelaskan pada klien bahwa intensitas dan frekuensi akan berkurang dalam 24 sampai 48 jam. . . Jagalah selang drainase urine tetap aman dipaha untuk mencegah peningkatan tekanan pada kandung kemih.Dapat mencapai waktu penyembuhan. R/ Memberitahu klien bahwa ketidaknyamanan hanya temporer. . memfokuskan kembali perhatian dan dapat meningkatkan kemampuan koping. R/ Sumbatan pada selang kateter oleh bekuan darah dapat menyebabkan distensi kandung kemih dengan peningkatan spasme. Rencana tindakan: 1. 9. berikan perawatan kateter dengan steril. R / Mengurangi tekanan pada luka insisi 6. visualisasi. 4. 7. Pertahankan sistem kateter steril. kateter. Pemantauan klien pada interval yang teratur selama 48 jam. R/ Kien dapat mendeteksi gajala dini spasmus kandung kemih.Tanda – tanda vital dalam batas normal dan tidak ada tanda – tanda shock.Rencana tindakan : 1. irigasi kandung kemih sering. R/ Mengurang kemungkinan spasmus.Klien tidak mengalami infeksi. Beri penyuluhan pada klien agar tidak berkemih ke seputar kateter. Anjurkan pada klien untuk tidak duduk dalam waktu yang lama sesudah tindakan TUR-P. termasuk latihan nafas dalam. Kolaborasi dengan dokter untuk memberi obat – obatan (analgesik atau anti spasmodik ) R / Menghilangkan nyeri dan mencegah spasmus kandung kemih. R / Menurunkan tegangan otot. Kriteria hasil: . R/ Menentukan terdapatnya spasmus sehingga obat – obatan bisa diberikan 3. untuk mengenal gejala – gejala dini dari spasmus kandung kemih. 5. 8. 2. Observasi tanda – tanda vital R/ Mengetahui perkembangan lebih lanjut. Irigasi kateter jika terlihat bekuan pada selang. Ajarkan penggunaan teknik relaksasi.

3.R/ Mencegah pemasukan bakteri dan infeksi 2. bau. Observasi tanda – tanda vital. laporkan tanda – tanda shock dan demam. jumlah. Kriteria hasil: Klien tidak menunjukkan tanda – tanda perdarahan . Irigasi aliran kateter jika terdeteksi gumpalan dalm saluran kateter R/ Gumpalan dapat menyumbat kateter. Jelaskan pada klien tentang sebab terjadi perdarahan setelah pembedahan dan tanda – tanda perdarahan . Tujuan: Tidak terjadi perdarahan. Rencana tindakan: 1. R/ Menghindari refleks balik urine yang dapat memasukkan bakteri ke kandung kemih. R/ Untuk mencegah infeksi dan membantu proses penyembuhan. untuk sekurang – kurangnya satu minggu . Tanda – tanda vital dalam batas normal . Anjurkan intake cairan yang cukup ( 2500 – 3000 ) sehingga dapat menurunkan potensial infeksi. Observasi urine: warna. Mencegah pemakaian termometer rektal. Pertahankan posisi urobag dibawah. R/ Dapat menimbulkan perdarahan prostat . Urine lancar lewat kateter . 3. 4. Kolaborasi dengan dokter untuk memberi obat antibiotik. 5. Sediakan diet makanan tinggi serat dan memberi obat untuk memudahkan defekasi . R/ Dengan peningkatan tekanan pada fosa prostatik yang akan mengendapkan perdarahan . R/ . R/ Menurunkan kecemasan klien dan mengetahui tanda – tanda perdarahan 2. R/ Mengidentifikasi adanya infeksi. 4. menyebabkan peregangan dan perdarahan kandung kemih 3. Resiko tinggi cidera: perdarahan berhubungan dengan tindakan pembedahan . pemeriksaan rektal atau huknah. Meningkatkan output urine sehingga resiko terjadi ISK dikurangi dan mempertahankan fungsi ginjal. 6. . R/ Mencegah sebelum terjadi shock.

Kurang pengetahuan: tentang TUR-P berhubungan dengan kurang informasi Tujuan: Klien dapat menguraikan pantangan kegiatan serta kebutuhan berobat lanjutan . Mencegah hubungan seksual 3-4 minggu setelah operasi . Klien menyatakan pemahaman situasi individual . Klien berpartisipasi dalam program pengobatan. Umumnya dilepas 3 – 6 jam setelah pembedahan . Klien menunjukkan keterampilan pemecahan masalah . R / Untuk mengklarifikasi kekhatiran dan memberikan akses kepada penjelasan yang spesifik. Observasi: Tanda – tanda vital tiap 4 jam. 2 . -Klien akan mengatakan pemahaman pada pantangan kegiatan dan kebutuhan . Dorong klien untuk menanyakan kedokter salama di rawat di rumah sakit dan kunjungan lanjutan .5. Resiko tinggi disfungsi seksual berhubungan dengan ketakutan akan impoten akibat dari TUR-P. Tujuan: Fungsi seksual dapat dipertahankan Kriteria hasil: Klien tampak rileks dan melaporkan kecemasan menurun . R/ Traksi kateter menyebabkan pengembangan balon ke sisi fosa prostatik. Klien mengerti tentang pengaruh TUR – P pada seksual.masukan dan haluaran dan warna urine R/ Deteksi awal terhadap komplikasi. Rencana tindakan : 1 . menurunkan perdarahan. 4. R/ Untuk mengetahui masalah klien . Jelaskan tentang : kemungkinan kembali ketingkat tinggi seperti semula dan kejadian ejakulasi retrograd (air kemih seperti susu) R/ Kurang pengetahuan dapat membangkitkan cemas dan berdampak disfungsi seksual 3 . Kriteria hasil: Klien akan melakukan perubahan perilaku. Pantau traksi kateter: catat waktu traksi di pasang dan kapan traksi dilepas . dengan intervensi yang tepat mencegah kerusakan jaringan yang permanen . Beri kesempatan pada klien untuk memperbincangkan tentang pengaruh TUR – P terhadap seksual . 6. R/ Bisa terjadi perdarahan dan ketidaknyamanan 4 . 5.

suasana tenang dengan mengurangi kebisingan . Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri / efek pembedahan Tujuan: Kebutuhan tidur dan istirahat terpenuhi. R/ Mengedan bisa menimbulkan perdarahan. Anjurkan untuk berobat lanjutan pada dokter. R/ Mengurangi potensial infeksi dan gumpalan darah . R/ Untuk membantu proses penyembuhan . 2. R/ meningkatkan pengetahuan klien sehingga mau kooperatif dalam tindakan perawatan . Klien mampu menjelaskan faktor penghambat tidur . pelunak tinja bisa mengurangi kebutuhan mengedan pada waktu BAB Pemasukan cairan sekurang–kurangnya 2500-3000 ml/hari. 6. 2. R/ Suasana tenang akan mendukung istirahat 3. Beri penjelasan untuk mencegah mengedan waktu BAB selama 4-6 minggu. 5. Ciptakan suasana yang mendukung. Untuk menjamin tidak ada komplikasi . Klien mengungkapan sudah bisa tidur . Kosongkan kandung kemih apabila kandung kemih sudah penuh . 3. Jelaskan pada klien dan keluarga penyebab gangguan tidur dan kemungkinan cara untuk menghindari. 4. R/ Menentukan rencana mengatasi gangguan 4. berobat lanjutan . R/. Rencana tindakan: 1. . Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan penyebab gangguan tidur. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat yang dapat mengurangi nyeri ( analgesik ). Kriteria hasil: Klien mampu beristirahat / tidur dalam waktu yang cukup. R/ Dapat menimbulkan perdarahan .1. Rencana tindakan: Beri penjelasan untuk mencegah aktifitas berat selama 3-4 minggu . R/ Mengurangi nyeri sehingga klien bisa istirahat dengan cukup . dan memakai pelumas tinja untuk laksatif sesuai kebutuhan.

BAB III KESIMPULAN .

C. M. Surabaya Soeparman.E. Airlangga University Press. 2000. .. Pedoman Diagnosis Dan Terapi. Surabaya. 1996. Fakultas Kedokteran Airlangga / RSUD..dkk. Marry.Benigna Prostat Hiperplasia.C. 2008. Doenges. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan Dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. (1990).. Perawatan Medikal Bedah : Suatu Keperawatan. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Long. Jakarta. Soetomo. F.Harrison Prinsip-prinsip of internal medicine 13/E . Fundamental Keperawatan edisi 4 volume 2. B. Hardjowidjoto S. 1999.DAFTAR PUSTAKA Guyton & Hall. Jakarta:Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jilid II. Ilmu Penyakit Dalam. 1994. Penerbit Buku Kedokteran EGC.. Jakarta. FKUI.1999. dr. Jakarta : EGC Perry & Potter. (1999). Jakarta : EGC. Jakarta. Isselbacher. Pendekatan Proses Lab / UPF Ilmu Bedah.G. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran.M and Alice.

PEMENUHAN KEBUTUHAN ELIMINASI URINE DAN FEKAL OLEH : SGD IV Ni Putu Desy Trisnasari Ni Putu Intan Nanda Rista Putri Ni Kadek Diantini Luh Amanda Titi Suryani Komang Asrini Widya Tri Lestari I Ketut Sugiarsa Komang Tatis Yunny Wulandari Ni Made Setia Dewi Si Ayu Yusi Yukisfini Anak Agung Tri Wulandari I Putu Pande Eka Krisna Yoga (1102105006) (1102105015) (1102105023) (1102105025) (1102105036) (1102105045) (1102105046) (1102105048) (1102105055) (1102105063) (1102105064) PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN .

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA 2012 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->