(1) Penilaian Risiko, Tipe-tipe risiko, Metode dalam menilai risiko, Hubungan Timbal Balik Antar Risiko Resiko

adalah segala hambatan yang mungkin terjadi dalam pencapaian suatu tujuan. Sedangkan menurut beberapa ahli arti dari resiko adalah sebagai berikut : • • • • Resiko adalah suatu variasi dari hasil-hasil yang dapat terjadi selama periode tertentu (Arthur Williams dan Richard, M.H) Resiko adalah ketidaktentuan (uncertainy) yang mungkin melahirkan peristiwa kerugian (loss) (A. Abas Salim) Resiko adalah ketidakpastian atas terjadinya suatu peristiwa (Soekarto) Resiko adalah probalitas sesuatu hasil / outcome yang berbeda dengan yang diharapkan (Herman Darmawi) Sedangkan penilaian resiko menurut Muhammad Badrus adalah sebuah aktifitas yang dilakukan untuk mendeteksi atau mengevaluasi kemungkinan adanya kesalahan atau penurunan kualitas akibat beroperasinya suatu kegiatan. Pendapat lainnya, penilaian risiko adalah mengkuantitatifkan atau menggolongkan tingkatan risiko agar mudah dikelola dan dilakukan penanganan yang tepat sesuai prinsip Cost and Benefit. Penentuan resiko (risk assessment) merupakan hal penting bagi manajemen dan auditor. Bagi manajemen penentuan resiko merupakan tanggungjawab yang tidak terpisahkan dan dilakukan secara terus menerus. Karena manajemen tidak dapat menetapkan tujuan dan dengan mudah mengasumsikan bahwa tujuan tersebut telah tercapai. Banyak hambatan yang timbul dalam pencapaian tujuan tersebut dan hambatan tersebut bisa berasal dari luar entitas maupun dari dalam entitas. Sejumlah resiko tidaklah dalam bentuk yang statis tetapi juga dinamis sesuai dengan perubahan yang terjadi sehingga selalu ada resiko-resiko baru yang muncul setiap waktu. Oleh karena itu penentuan resiko harus berjalan berkelanjutan dalam proses manajemen yang dilakukan secara terorganisir dan berurutan. Sedangkan bagi auditor, dalam kegiatan audit harus memasukan hasil penentuan resiko ke dalam program audit untuk memastikan bahwa kontrol-kontrol yang dibutuhkan memang diterapkan untuk mengurangi risiko. Resiko dalam audit atau resiko audit memperlihatkan resiko yang dihadapi auditor yang menyatakan bahwa laporan keuangan tersebut telah benar sehingga dan pendapat auditor telah diterbitkan, tetapi pada kenyataannya laporan tersebut ternyata tidak benar dan materialitasnya tinggi. hal tersebut menyebabkan pendapat auditor tersebut menjadi

” Pada proses perencanaan audit. Auditor yang efektif mengenali kehadiran sejumlah risiko serta akan bergumul dengan risiko-risiko tersebut dalam suatu cara pendekatan yang tepat.tidak bermutu bagi para penggunanya. maka dibutuhkan mekanisme untuk mengidentifikasi dan menangani resiko-resiko khusus yang berhubungan dengan perubahan. pembahasan tentang penentuan resiko adalah sebagai berikut: “Setiap entitas menghadapi berbagai resiko baik dari lua maupun dari dalam yang harus ditentukan. industri. Resiko bisnis klien adalah resiko dimana klien akan gagal dalam mencapai tujuannnya. ketidakpastian tentang efektivitas dari dari pengendalian intern yang dimiliki klien. Mayoritas risiko yang dihadapi oleh auditor sulit untuk diukur serta membutuhkan pemikiran yang cermat agar dapat direspons dengan tepat. serta ketidakpastian tentang apakah laporan keuangan telah disajikan secara wajar pada saat audit telah selesai dilakukan. Auditor menerima sejumlah tingkat resiko atau ketidakpastian dalam melaksanakan fungsi auditnya. peraturan. Persyaratan awal untuk menentukan resiko adalah adanya penetapan tujuan yang dihubungkan pada tingkat-tingkat yang berbeda dan konsisten di dalam organisasi. Hal ini bisa terjadi karena auditor hanya mampu mengumpulkan bukti berdasarkan tes transaksi dan kesalahan yang telah diatur sedemikian rupa menyebabkan menjadi sangat sulit dideteksi meskipun auditor telah bekerja sesuai dengan standar audit yang berlaku. Karena kondisi ekonomi. Penentuan resiko adalah identifikasi dan analisis resiko-resiko yang relevan untuk mencapai tujuan entitas. Perhatian utama seorang auditor adalah resiko dari salah saji material dalam laporan keuangan yang disebabkan oleh resiko bisnis klien. salah satu proses yang harus dilakukan oleh seorang auditor adalah melakukan penilaian resiko bisnis klien. yang membentuk suatu dasar untuk menentukan cara pengelolaan resiko. dan operasi akan terus menerus berubah. Auditor mempergunakan pengetahuan yang didapatkan dari pemahaman sistem strategi akan bisnis dan industri klien untuk melakukan penilaian resiko tersebut. Auditor mengenali bahwa terdapat suatu ketidakpastian tentang kompetensi bukti. . Menjawab berbagai risiko ini secara tepat merupakan suatu hal kritis dalam rangka menghasilkan suatu audit yang berkualitas tinggi. Dalam menilai resiko bisnis klien juga harus mempertimbangkan kontrol manajemen yang bisa mengurangi resiko bisnis . Menurut studi yang dilakukan oleh COSO.

Risiko ini timbul sebagian karena ketidakpastian yang ada pada waktu auditor tidak memeriksa 100% saldo akun atau golongan transaksi. atas suatu laporan keuangan yang mengandung salah saji material. Auditor menggunakan model risiko audit untuk mengidentifikasikan lebih jauh potensial untuk kesalahan saji dan dimana mereka paling mungkin terjadi. A. adalah kerentanan suatu saldo akun atau golongan transaksi terhadap suatu salah saji material. dan sebagian lagi karena ketidakpastian lain yang ada. Risiko Bawaan (Inheren Risk) Risiko Bawaan (Inherent Risk). atau menafsirkan secara keliru hasil audit. Tipe-tipe Resiko Risiko audit adalah risiko yang timbul karena auditor tanpa disadari tidak memodifikasi pendapatnya sebagaimana mestinya. perhitungan yang rumit lebih mungkin disajikan salah jika dibandingkan dengan perhitungan yang sederhana. dengan asumsi bahwa tidak terdapat pengendalian yang terkait (maksudnya bahwa risiko bawaan timbul dengan asumsi pengedalian intern dalam perusahaan tidak ada.Auditor mendapat sebuah pemahaman tentang bisnis dan industri klien dan menilai risiko bisnis klien untuk menilai kemungkinan salah saji mateial dalam laporan keuangan klien. Tipe-tipe risiko audit adalah sebagai berikut: 1. 2. adalah risiko bahwa auditor tidak dapat mendeteksi salah saji material yang terdapat dalam suatu asersi. Sebagai contoh. Ketidakpastian lain semacam itu bisa timbul karena auditor mungkin memilih suatu prosedur audit yang tidak sesuai. Risiko salah saji demikian adalah lebih besar pada saldo akun atau golongan transaksi tertentu dibandingkan dengan yang lain. walaupun saldo akun atau golongan transaksi tersebut telah diperiksa 100%. Ketidakpastian seperti ini dapat dikurangi sampai pada tingkat yang dapat diabaikan melalui perencanaan dan supervisi memadai serta pelaksanaan praktek audit yang sesuai dengan standar pengendalian mutu. Risiko Deteksi (Detection Risk) Risiko Deteksi (Detection Risk). Uang tunai dalam perusahaan lebih mudah dicuri daripada persediaan. Risiko deteksi merupakan fungsi efektivitas prosedur audit dan penerapannya oleh auditor. Jika sekiranya pengendalian intern dalam perusahaan memadai serta efektif dalam pelaksanaannya dengan sendirinya risiko bawaan akan dapat diminimalisasi). menerapkan secara keliru prosedur yang semestinya. Suatu akun dalam laporan keuangan yang berasal dari estimasi akuntansi .

tingkat resiko akseptibilitas audit sebesar 2 persen sama dengan tingkat audit assurance sebesar 98 persen. maka akan mengurangi pula resiko deteksi terencana serta bukti audit yang direncanakan akan dikumpulkan harus ditingkatkan.cenderung mengandung risiko yang lebih besar dibandingkan dengan akun yang sifatnya relatif rutin dan berisi data faktual. Beberapa risiko pengendalian akan selalu ada karena keterbatasan bawaan dalam setiap pengendalian intern. Dalam audit terdapat istilah audit assurance atau tingkat keyakinan. Dengan mempergunakan model audit. Perusahaan yang bergerak dalam bidang industri yang memproduksi barang-barang hi-tech seperti misalnya handphone akan lebih berisiko terjadinya penumpukan persediaan yang usang karena tidak sesuai lagi dengan tuntutan pasar. Sebagai contoh. Auditor pun seringkali harus menugaskan staf yang . serta hubungan yang saling berlawanan antara resiko akseptibilitas audit dan bukti audit yang direncanakan. Sebagai contoh. Resiko nol berarti yakin sekali. Risiko Pengendalian (Control Risk) Risiko Pengendalian (Control Risk). 3. 4. yaitu merupakan pelengkap dari resiko akseptibilitas audit. jika auditor memutuskan akan mengurangi nilai resiko akseptibilitas audit. Risiko ini merupakan fungsi efektivitas desain dan operasi pengendalian intern untuk mencapai tujuan entitas yang relevan dengan penyusunan laporan keuangan entitas. Audit assurance dihitung dengan perhitungan satu dikurangi resiko akseptibilitas audit. akan terlihat adanya hubungan yang searah antara resiko akseptibilitas audit dan resiko deteksi terencana. dan suatu tingkat resiko sebesar 100 persen berarti benar-benar tidak yakin. Ketika auditor memutuskan untuk menetapkan suatu tingkat resiko akseptibilitas audit yang lebih rendah. adalah risiko bahwa suatu salah saji material yang dapat terjadi dalam suatu asersi tidak dapat dicegah atau dideteksi secara tepat waktu oleh pengendalian intern entitas. hal tersbut berarti bahwa auditor ingin memperoleh tingkat keyakinan yang lebih tinggi bahwa laporan keuangan tidak mengandung salah saji yang material. Resiko akseptibilitas audit (acceptable audit risk) Resiko akseptibilitas audit (acceptable audit risk) merupakan ukuran atas tingkat kesediaan auditor untuk menerima kenyataan bahwa laporan keuangan mungkin masih mengandung salah saji yang material setelah audit selesai dilaksanakan serta suatu laporan audit wajar tanpa syarat telah diterbitkan.

Pertama. Menilai Risiko Yang Dapat Diterima ( Acceptable Audit Risk) Auditor harus memutuskan risiko audit yang dapat diterima yang tepat bagi suatu audit selama perencanaan audit. Kecurangan sendiri memiliki arti kesalahan penyajian yang dilakukan secara sengaja dalam bentuk penggelapan aktiva dan kecurangan pelaporan keuangan.lebih berpengalaman atau mereview kertas kerja dengan lebih cermat bagi klien dengan tingkat resiko akseptibilitas audit yang lebih rendah. Integritas manajemen Metode yang digunakan menilai risiko audit yang dapat diterima a. Kemungkinan klien mengalami kesulitan keuangan c. Untuk menilai risiko audit yang dapat diterima. auditor harus menilai setiap faktor yang mempengaruhi risiko audit yang dapat diterima Faktor faktor utama yang mempengaruhi resiko penugasan dan mempengaruhi resiko yang audit yang dapat diterima antara lain: a. walaupun laporan audit sudah benar. Risiko Kecurangan Resiko kecurangan merupakan resiko selain 4 resiko di atas dan resiko ini biasanya di perhitungkan di luar dari model resiko audit. Risiko penugasan (engagement risk) adalah risiko bahwa auditor atau organisasi yang membawahi auditor akan menderita kerugian setelah selesainya audit. Hal-hal yang menyebabkan timbulnya resiko kecurangan antara lain tekanan yang diterima manajemen baik kelompok maupun individual. Karena resiko kecurangan secara konsep dan praktek sangat sulit untuk dipisahkan faktor-faktornya ke dalam 4 jenis resiko di atas. dan perilaku manajemen untuk membiarkan terjadinya tindakan ketidakjujuran tersebut. Derajat ketergantungan pemakai eksternal pada laporan keuangan . Derajat ketergantungan pemakai eksternal pada laporan keuangan b. Penilaian Resiko 1. kesempatan yang tercipta. 5. Untuk menilai resiko kecurangan. B.Menelaah laporan keuangan . auditor mengumpulkan informasi untuk menentukan luasnya keberadaan kondisi kecurangan. auditor memutuskan risiko risiko penugasan.Membaca notulen rapat dewan direksi unruk menentukan rencana masa depan .

. Kemungkinan klien mengalami kesulitan . Auditor menetapkan risiko inheren yang tinggi pada tahun pertama audit dan mengurangi tinggkat risikonya pada tahun berikutnya karena telah semakin memahami klien. b. 2. c. Hasil audit sebelumnya Salah saji yang ditemukan dalam audit tahun sebelumnya dapat ditemukan lagi dalam audit tahun berjalan. Sifat bisnis klien Risiko inheren untuk akun tertentu dipengaruhi oleh sifat bisnis klien. Pemahaman auditor atas bisnis klien akan membantu menilai risiko inheren ini. Pihak pihak yang terkait . Faktor faktor yang mempengaruhi risiko inheren : a. Integritas manajemen . Auditor harus mengevaluasi informasi yang mempengaruhi risiko inheren serta memutuskan faktor risiko inheren yang tepat bagi setiap tujuan audit.Menelaah laporan arus kas historis dan proyeksi. b. untuk mempelajari arus kas masuk dan keluar d. Penugasan awal vs penugasan berulang Auditor akan memperoleh pengalaman dan pengetahuan tentang kemungkinan salah saji setelah mengaudit klien selama beberapa tahun.Membahas rencana pembiayaan dengan manajemen. Integritas manajemen . untuk mempelajari arus kas masuk dan keluar c.Menganalisa prosedur penerimaan klien dan kelanjutan klien. Menilai Resiko Bawaan (Inheren Risk) Auditor melakukan penilaian risiko inheren selama tahap perencanaan dan memperbaharui penilaian tersebut selama audit berlangsung.Menganalisa prosedur penerimaan klien dan kelanjutan klien.Menganalisis keuangan laporan keuangan dan menggunakan prosedur analitis lainnya . . Oleh karena itu auditor tidak boleh mengabaikan hasil audit tahun sebelumnya selama mengembangkan proses audit di tahun berjalan.Menelaah laporan arus kas historis dan proyeksi. d.

auditor dapat membuat penilaian pendahuluan atas risiko pengendalian sebagai bagian dari penilaian risiko secara keseluruhan. 4. serta manajemen dan entitas perusahaan. Pertimbangan yang diperlukan untuk mencatat saldo akun dan transaksi dengan tepat Auditor harus memperbesar risiko inheren karena banyak akun memerlukan estimasi dan banyak pertimbangan manajemen.Pihak yang terkait yaitu perusahaan induk dengan perusahaan anak. Jika tingkat risiko deteksi yang direncanakan rendah. Risiko inheren atas transaksi pihak yang terkait ini sangat tinggi karena kemungkinan salah saji yang lebih besar. Menilai Resiko Pengendalian (Control Risk) Auditor harus memahami perancangan dan pengimplementasian pengendalian internal untuk melakukan penilaian pendahuluan atas risiko pengendalian. Langkah langkah dalam penilaian risiko pengendalian:    Mengidentifikasi tujuan audit Mengidentifikasi pengendalian yang ada Menghubungkan pengendalian dengan tujuan audit . Menilai Risiko Deteksi (Detection Risk) Para auditor menetapkan tingkat risiko deteksi yang dapat diterima (risiko deteksi yang direncanakan) yang mempengaruhi tes-tes substantif yang mereka lakukan. Tingkat risiko deteksi yang direncanakan tinggi maka auditor mengurangi pengumpulan bukti . e. b. Tujuannya adalah menyediakan cara yang mudah untuk mengatur penilaian risiko pengendalian bagi setiap tujuan audit. Transaksi non rutin Transaksi yang tidak biasa bagi klien lebih besar resikonya dibandingkan transaksi rutin karen pengalaman untuk transaksi non rutin masih sedikit. maka auditor akan mengumpulkan bukti sebanyak mungkin untuk menurunkan risiko kesalahan saji . f. a. Penilaian ini merupakan ukuran ekspektasi auditor bahwa pengendalian internal akan mencegah salah saji material atau mendeteksi dan mengoreksinya jika terjadi. Setelah memahami pengendalian internal. Banyak auditor menggunakan matriks risiko pengendalian (control risk matrix) untuk membantu proses penilaian risiko pengendalian. 3.

bahwa tim auditor harus mempertahankan sikap dan pikiran yang selalu mempertanyakan. dan bagaimana kecurangan kecurangan itu biasanya terjadi dalam organisasi atau entitas yang diaudit. untuk dapat mengidentifikasi dan menanggapi risiko kecurangan a. sehingga terbuka kesempatan datangnya informasi yang dalam kondisi lain tidak diungkapkan oleh manajemen ataupun pihak lain dalam organisasi. d. f. Menilai risiko pengendalian untuk setiap tujuan audit. e. Skeptisisme professional Selama penugasan. Auditor harus mempertahankan sikap skeptisisme profesional ketika memepertimbangkan serangkaian informasi termasuk faktor faktor risiko kecurangan. Faktor faktor risiko . b. Evaluasi kritis atas bukti Auditor harus menyelidiki secara mendalam permasalahan dan kemungkinan kesalahan salah saji yang material karen kecurangan. Menilai Risiko Kecurangan Dalam menilai risiko kecurangan. auditor dapat menanyakan beberapa pertanyaan secara langsung kepada manajemen ataupun pihak lain dalam organisasi. Komunikasi di antara tim audit Diantara auditor dapat saling bertukar pendapat terutama dengan yang telah berpengalaman mengenai penilaian risiko kecurangan.   Mengidentifikasi dan mengevaluasi defisiensi pengendalian. Prosedur analitis Auditor harus melakukan prosedur analitis selama tahapan perencanaan audit dan penyelesaian audit untuk membantu mengidentifikasi kecurangan kecurangan. c. Mengajukan pertanyaan kepada manajemen Untuk menilai risiko kecurangan. 5. defisiensi yang signifikan dan kelemahan yang material Menghubungkan defisiensi yang signifikan dan kelemahan yang material dengan tujuan audit terkait. SAS 99 memberikan pedoman bagi auditor.

kondisi yang harus diperhatikan adalah adanya faktor faktor risiko kecurangan (segitiga kecurangan/ fraud triangle). dan rasionalisasi. Metode dalam menilai risiko Cara utama yang dipergunakan oleh auditor untuk mempertimbangkan risiko yang ada dalam merencanakan bukti audit yang akan dikumpulkan adalah melalui penerapan model risiko audit (audit risk model). C. kesempatan. Resiko merupakan suatu pengukuran atas ketidakpastian. Model resiko audit umumnya digunakan bagi berbagai tujuan perencanaan untuk memutuskan berapa banyak bukti audit yang akan dikumpulkan pada setiap siklusnya.000 (materialitas) merupakan suatu . sementara materialitas merupakan suatu pengukuran atas ukuran atau besaran.Untuk menilai resiko kecurangan. suatu pernyataan bahwa auditor berencana untuk mengumpulkan bukti audit sedemikian rupa hingga hanya terdapat suatu tingkat resiko (resiko akseptibilitas audit) sebesar 5 persen saja atas kegagalan dalam mengungkapkan suatu salah saji yang melebihi nilai salah saji yang masih dapat ditoleransi sebesar $400. Sebagai contoh. kedua hal tersebut mengukur tingkat ketidakpastian suatu nilai pada suatu besaran tertentu. Formula atas model resiko audit adalah sebagai berikut: Keterangan : DR AR IR CR : Detection Risk (rentang bukti yang harus dikumpulkan auditor) : Audit Risk (tingkatan resiko yang masih bisa diterima auditor) : Inheren Risk (keyakinan atas tidak adanya salah saji diluar SPI) : Control Risk (keyakinan atas efektifitas SPI) D. Secara bersama-sama. Hubungan Timbal Balik Antar Risiko Konsep – konsep materialitas dan resiko dalam auditing saling terkait erat dan tak terpisahkan. Sumber dari model risiko audit ini adalah literatur profesional yang terdapat dalam SAS 39 (AU350) tentang sampling audit serta dalam SAS 47 (AU 312) tentang materialitas dan risiko. yaitu adanya tekanan.

Suatu tingkat risiko sebesar 5 persen tanpa diikuti dengan suatu ukuran materialitas yang spesifik dapat menyatakan secara tidak langsung bahwa suatu salah saji yang bernilai $100 atau $1. Jika.000.000 tanpa diikuti dengan suatu tingkat risiko yang spesifik dapat menyatakan secara tidak langsung bahwa suatu tingkat risiko sebesar 1 persen atau 80 persen pun dapat diterima. dan luas nya pengujian substantif dapat dilihat pada gambar di bawah. saat. . maka pernyataan tersebut tidak akan memiliki arti apapun.pernyataan yang sangat akurat dan penuh arti. baik bagian yang menyatakan risiko atau materialitas dari pernyataan tersebut dihapuskan.000 pun dapat diterima. Matriks hubungan antar risiko dan bukti audit Situasi 1 2 3 4 5 Audit Risk Tinggi Rendah Rendah Sedang Tinggi Inheren Risk Rendah Rendah Tinggi Sedang Rendah Control Risk Rendah Rendah Tinggi Sedang Sedang Detection Risk Tinggi Sedang Rendah Sedang Sedang Jumlah Bukti yang Diperlukan Rendah Sedang Tinggi Sedang Sedang Sedangkan hubungan antara komponen risiko audit dengan sifat. Suatu overstatement sebesar $442.

Pada tahap perencanaan audit. yang berhubungan dengan saldo rekening atau jenis transaksi. perbandingan antara jumlah sesungguhnya dengan data historis atau anggaran. sebagai pengujian substantif untuk memperoleh bukti tentang asersi tertentu. Perbandingan data absolut. untuk membantu auditor dalam merencanakan sifat. atau antara data keuangan dengan data nonkeuangan. dan luas prosedur audit lainnya.(2) Prosedur Analitis DEFINISI PSA No. Meningkatkan pemahaman auditor atas usaha klien 2. Prosedur analitis menghasilkan bukti analitis. dan penggunaan model-model matematika dan statistika seperti analisa regresi. 2. Laporan keuangan ukuran umum (atau analisis vertikal). sebagai review menyeluruh informasi keuangan dalam laporan keuangan setelah diaudit. Pada tahap review akhir audit/penyelesaian audit. Prosedur ini mencakup perhitungan dan penggunaan rasio-rasio sederhana. Prosedur ini melibatkan perbandingan sederhana suatu jumlah saat ini (seperti saldo akun) dengan suatu jumlah yang diharapkan atau diprediksi. TUJUAN DAN MANFAAT PROSEDUR ANALITIS Tujuan prosedur analitis dalam auditing. Manfaat dari prosedur audit ini disebut sebagai tujuan pengarah perhatian dari prosedur analitis. prosedur analitis akan dapat membantu auditor dalam: 1. Mengidentifikasi hubungan-hubungan yang tidak biasa dan fluktuasi yang tidak diharapkan dalam data yang bisa menunjukkan bidang-bidang yang kemungkinan mencerminkan risiko salah saji. 2001:188). 2. saat. 3. Pada tahap pengujian.02) merumuskan prosedur analitis sebagai “evaluasi informasi keuangan yang dibuat dengan mempelajari hubungan yang masuk akal antara data keuangan yang satu dengan data keuangan lainnya. Prosedur analitis mencakup perbandingan yang paling sederhana hingga model yang rumit yang mengaitkan berbagai hubungan dan unsur data (Jusup. PROSEDUR ANALITIS UTAMA 1. Teknik ini melibatkan penghitungan persentase dari total yang berhubungan yang direpresentasikan oleh . analisis vertikal atau laporan perbandingan.” Prosedur analitis terdiri dari kegiatan mempelajari dan membandingkan data yang memiliki hubungan(Jusup. antara lain: 1. 2001:137). Dalam tahap perencanaan audit. 22 (SA 329.

Persentase kemudian dibandingkan dengan jumlah yang diharapkan.02). sebagaimana tersebut di atas. Kondisi tertentu yang dapat menimbulkan penyimpangan dalam hubungan ini mencakup antara lain. dan secara umum juga menuntut dimilikinya pengetahuan tentang klien dan industri yang menjadi tempat usaha klien. . 4. atau salah saji (SA 329. Contohnya : data nonkeuangan seperti jumlah karyawan mungkin berguna dalam memperkirakan saldo akun beban gaji. 5. membutuhkan pertimbangan auditor. dan profitabilitas. Hubungan antara informasi keuangan dengan nonkeuangan yang relevan. serta kesimpulan yang diambil apabila membandingkan jumlah yang tercatat dengan yang diharapkan. (SA 329. 3. Dengan demikian.komponen laporan keuangan (misalnya kas sebagai persentase dari total aktiva). PENTINGNYA PROSEDUR ANALITIS Asumsi dasar penerapan prosedur analitik adalah bahwa hubungan yang masuk akal di antara data dapat diharapkan tetap ada dan berlanjut. Sejumlah rasio yang seringkali digunakan oleh manajemen atau analis keuangan dapat dihitung dan dibandingkan dengan nilai yang diharapkan untuk rasio tersebut.03) PROSEDUR AUDIT: PERBANDINGAN DENGAN HARAPAN AUDITOR Prosedur analitik meliputi perbandingan jumlah-jumlah yang tercatat atau ratio yang dihitung dari jumlah-jumlah yang tercatat dibandingkan dengan harapan yang dikembangkan oleh auditor. PROSEDUR ANALITIS DAN PERTIMBANGAN AUDITOR Pemahaman hubungan keuangan adalah penting dalam merencanakan dan mengevaluasi hasil prosedur analitik. peristiwa atau transaksi yang tidak biasa. hasil analisis terhadap hubungan data dapat digunakan dalam tahap perencanaan audit. perubahan akuntansi. kecuali jika timbul kondisi yang sebaliknya. Oleh karena itu. dan tahap review akhir audit/penyelesaian audit. Analisis Rasio. Pemahaman atas tujuan prosedur analitik dan keterbatasannya juga penting. Jumlah dari hasil perhitungan dapat dianalisis secara individual atau dalam kelompok yang berhubungan seperti rasio solvabilitas. tahap pengujian. efisiensi. Analisis ini melibatkan perbandingan beberapa data untuk beberapa periode akuntansi untuk mengidentifikasi perubahan penting yang tidak dapat diketahui hanya dengan membandingkan data dua periode berurutan. perubahan usaha. fluktuasi acak. Analisis tren. identifikasi hubungan dan jenis data yang digunakan.

antara lain prosedur yang mana. kombinasi keduanya. 5. atau 3. pengujian rinci. prosedur analitik lebih efektif atau efisien daripada pengujian rinci untuk mencapai tujuan pengujian substantif. Dalam beberapa hal. prosedur analitik mungkin tidak seefektif atau seefisien pengujian rinci dalam memberikan tingkat keyakinan yang diinginkan. Efektivitas dan efisiensi yang diharapkan dari suatu prosedur analitik dalam mengidentifikasikan kemungkinan salah saji tergantung atas. 2. Auditor mempertimbangkan tingkat keyakinan. antara lain: . Informasi industri bidang usaha Mien. Hubungan informasi keuangan dengan informasi nonkeuangan yang relevan. misalnya anggaran atau prakiraan termasuk ekstrapolasi dari data interim atau tahunan. prosedur analitik cukup efektif dalam memberikan tingkat keyakinan memadai. Informasi keuangan periode sebelumnya yang dapat diperbandingkan dengan memperhatikan perubahan yang diketahui. Berikut ini adalah contoh sumber informasi yang digunakan dalam mengembangkan harapan: 1. pada asersi lain. Untuk asersi tertentu. 2. misalnya informasi laba bruto. yang diinginkannya dari pengujian substantif untuk suatu tujuan audit dan memutuskan. Hasil yang diantisipasikan. PROSEDUR ANALITIS DAN EFISIENSI DAN EFEKTIVITAS AUDITOR Kepercayaan auditor terhadap pengujian substantif untuk mencapai tujuan audit yang berhubungan dengan suatu asersi dapat berasal dari: 1. 3. atau kombinasi prosedur mana. yang secara pantas diharapkan terjadi berdasarkan pemahaman auditor mengenai klien dan industrinya. 4. prosedur analitik. Namun.Auditor mengembangkan harapan tersebut dengan mengidentifikasi dan menggunakan hubungan yang masuk akal. Keputusan mengenai prosedur yang digunakan untuk mencapai tujuan audit tertentu didasarkan pada pertimbangan auditor terhadap efektivitas dan efisiensi yang diharapkan dari prosedur audit yang ada. jika ada. Hubungan antara unsur-unsur informasi keuangan dalam satu periode. yang dapat memberikan tingkat keyakinan tersebut.

Kelayakan dan kemampuan untuk memprediksikan suatu hubungan. Bagi jenis usaha lain. Hubungan dalam satu lingkungan yang stabil biasanya lebih dapat diduga daripada hubungan dalam satu lingkungan yang dinamis atau tidak stabil.1. sehingga dapat mengarahkan auditor ke pengambilan kesimpulan yang salah. Di samping itu. manajemen mungkin memilih untuk mengeluarkan biaya pemeliharaan dari pada mengganti aktiva tetap atau mereka mungkin menunda suatu pengeluaran klien. Data mungkin atau tidak mungkin langsung tersedia untuk mengembangkan taksiran bagi beberapa asersi. Hubungan yang menyangkut transaksi yang tergantung pada keputusan manajemen kadang-kadang kurang dapat diduga. Karena tingkat keyakinan yang lebih tinggi diharapkan dari prosedur analitik dibutuhkan lebih banyak hubungan untuk mengembangkan harapan. Ketersediaan dan keandalan data yang digunakan untuk mengembangkan harapan. 3. perbandingan dari kumpulan gaji yang dibayar dengan jumlah karyawan mungkin menunjukkan pembayaran yang tidak sah yang mungkin tidak tampak dari pengujian transaksi individual. 2. sementara akun neraca mencerminkan saldo pada satu titik waktu. data yang relevan untuk asersi . Sebagai contoh. Sifat asersi. karena akun laba-rugi mencerminkan transaksi selama satu periode waktu. Sebagai contoh. Penting bagi auditor untuk memahami alasan yang membuat hubungan menjadi masuk akal sebab data kadang-kadang seperti berkaitan padahal kenyataannya tidak demikian. Perbedaan dari hubungan yang diharapkan dapat juga menunjukkan kemungkinan penghilangan dari catatan akuntansi bilamana bukti transaksi individual dari pihak yang independen yang seharusnya dibukukan tidak langsung tersedia. untuk menguji asersi kelengkapan. Prosedur analitik mungkin merupakan pengujian efektif dan efisien atas asersi yang kemungkinan salah sajinya tidak akan tampak dari pemeriksaan bukti rinci atau bila bukti yang rinci tidak langsung tersedia. Sebagai contoh. adanya satu hubungan yang tidak diharapkan dapat memberikan bukti yang penting jika diteliti secara memadai. penjualan yang ditaksir bagi jenis usaha tertentu mungkin dapat dikembangkan dari statistik produksi atau ukuran tempat penjualan. Hubungan yang melibatkan akun laba-rugi cenderung lebih dapat diduga dari pada hubungan yang melibatkan hanya akun neraca.

akan teridentifikasi untuk diaudit oleh auditor. Keandalan data yang digunakan untuk mengembangkan harapan harus sesuai dengan tingkat keyakinan yang diinginkan dari prosedur analitik.kelengkapan penjualan mungkin tidak langsung tersedia dan mungkin akan lebih efektif clan efisien untuk menggunakan catatan pengiriman yang rinci dalam menguji asersi tersebut. . perbedaan tersebut kemungkinan besar karena salah saji. Ketepatan harapan tergantung pada. Auditor harus menilai keandalan data dengan mempertimbangkan sumber data dan kondisi yang melingkupi pengumpulan data serta pengetahuan lain yang mungkin dimiliki auditor mengenai data itu. dengan salah saji lainnya. antara lain. b) Apakah sumber dari dalam entitas independen dari mereka yang bertanggung jawab atas jumlah yang diaudit. e) Apakah harapan dikembangkan dengan memakai data dari berbagai sumber. toleransi perbedaan yang diharapkan menjadi lebih sempit. Ketika harapan menjadi lebih tepat. identifikasi dan pertimbangan auditor terhadap faktor-faktor yang secara signifikan mempengaruhi jumlah yang diaudit dan tingkat kerincian data yang digunakan untuk mengembangkan harapan. Ketepatan harapan. Harapan auditor harus cukup tepat untuk memberikan tingkat keyakinan yang diinginkan sehingga perbedaan yang mungkin merupakan salah saji yang material. c) Apakah data dikembangkan dari sistem yang dapat diandalkan dengan pengendalian memadai. sehingga jika terjadi perbedaan yang signifikan antara hasil prosedur analitik dengan angka sesungguhnya. baik secara individu atau secara kelompok. Auditor memperoleh keyakinan dari prosedur analitik berdasarkan atas konsistensi jumlah yang tercatat dengan harapan yang dikembangkan dari data yang diperoleh dari sumber lainnya. 4. d) Apakah data menjadi sasaran pengujian dalam tahun berjalan atau tahun sebelumnya. Faktor berikut ini mempengaruhi pertimbangan auditor terhadap keandalan data untuk mencapai tujuan audit: a) Apakah diperoleh dari sumber yang independen di luar entitas atau dari sumber di dalam entitas.

Banyak faktor yang dapat mempengaruhi hubungan keuangan. volume dan campuran produk. dan lingkup prosedur audit yang akan digunakan untuk memperoleh bukti saldo akun atau golongan transaksi tertentu. Harapan yang dikembangkan pada tingkat yang rinci biasanya mempunyai kemungkinan yang lebih besar dalam mendeteksi salah saji jumlah tertentu dari pada perbandingan secara luas. masing-masing hal itu dipengaruhi oleh sejumlah faktor dan faktor yang bertentangan dapat menutupi salah saji. Umumnya risiko salah saji yang material menjadi kabur akibat meningkatnya faktor yang bertentangan karena operasi klien menjadi lebih rumit dan lebih beragam. Jumlah bulanan biasanya akan lebih efektif dari pada jumlah tahunan dan perbandingan berdasarkan lokasi atau jalur usaha biasanya akan lebih efektif dari pada membandingkan perusahaan secara keseluruhan. Penggunaan prosedur analitis dalam tahap perencanaan audit yang efektif meliputi tahapan-tahapan sistematis berikut ini: a) Mengidentifikasi perhitungan-perhitungan/perbandingan yang akan dibuat b) Mengembangkan ekspektasi c) Melakukan perhitungan-perhitungan/perbandingan-perbandingan. besarnya dan kerumitannya. Perencanaan audit Tujuan prosedur analitik dalam perencanaan audit adalah untuk membantu dalam perencanaan sifat. e) Menyelidiki perbedaan signifikan yang tak diharapkan f) Menentukan pengaruhnya terhadap perencanaan audit. Sebagai contoh. Tingkat kerincian yang cocok akan dipengaruhi oleh sifat klien. penjualan dipengaruhi oleh harga. .prosedur analitis wajib dilakukan pada tahap: 1. saat. Sebaliknya. KAPAN PROSEDUR ANALITIS DILAKUKAN Untuk semua audit laporan keuangan yang dilakukan berdasarkan standar auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia. Penguraian masalah akan membantu mengurangi risiko ini. d) Menganalisis data dan mengidentifikasi perbedaan-perbedaan yang signifikan. Identifikasi yang lebih efektif terhadap faktor yang secara signifikan mempengaruhi hubungan umumnya dibutuhkan sejalan dengan meningkatnya keyakinan yang diinginkan dari prosedur analitik.

.G. DAFTAR PUSTAKA http://dhianadhe.com/2012/04/konsep-risiko-3-habis-risikoaudit. .H. Jakarta: Penerbit Erlangga.docx http://estehmanishangatnggakpakegula. dan Kell. Johnson. Penyelesaian audit Tujuan prosedur analitik yang diterapkan dalam tahap review menyeluruh adalah untuk membantu auditor dalam menilai kesimpulan yang diperoleh dan dalam mengevaluasi penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. Auditing. dan b) Saldo atau hubungan yang tidak biasa atau tidak diharapkan yang sebelumnya tidak diidentifikasi.ua/_ld/0/15_2-Risk_Asessmen.N. W. 2001. Modern Auditing. dan Kell (2002:296) menyarankan untuk merancang prosedur analitis dalam rangka memperoleh bukti mengenai setiap saldo akun yang material atau golongan transaksi. R. Akan tetapi Boynton. Standar Profesional Akuntan Publik. yang diidentifikasi pada waktu perencanaan audit atau dalam pelaksanaan audit. 2001. Review menyeluruh umumnya meliputi pembacaan laporan keuangan dan catatannya serta mempertimbangkan: a) Kecukupan bukti yang terkumpul sebagai respon terhadap saldo yang tidak biasa atau yang tidak diharapkan. W. Hasil review menyeluruh dapat menunjukkan bahwa bukti tambahan mungkin diperlukan Prosedur analitis yang dilakukan pada tahap pengujian bersifat pilihan (opsional).at.html PSA No. A. Boynton.C. Prosedur Analitik. Berbagai macam prosedur analitik mungkin bermanfaat untuk tujuan ini. Jusup. Yogyakarta: Bagian Penerbitan Sekolah Tinggi Ilmu YKPN. 22 (SA Seksi 329). Johnson.blogspot.2.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful