P. 1
Untitled

Untitled

|Views: 3|Likes:
Published by Raymond Oyeah

More info:

Published by: Raymond Oyeah on Dec 30, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as TXT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/06/2013

pdf

text

original

BAB II KONSEP DASAR TEORI A.

Pengertian Anemia adalah berkurangnya jumlah eritrosit serta hemoglobin dalam 1 mm3 darah a tau berkurangnya volume sel yang dipadatkan (packed red cells volume) dalam 100 ml darah. Anemia aplastik merupaka keadaan yang disebabkan bekurangnya sel hematopoetik da lam darah tepi seperti eritrosit, leukosit dan trombosit sebagai akibat terhenti nya pembentukan sel hemopoetik dalam sumsum tulang. Anemia aplastik adalah anemia yang normokromik normositer yang disebabkan oleh d isfungsi sumsum tulang, sedemikian sehingga sel darah yang mati tidak diganti. Anemia aplastik adalah anemia yang disebabkan terhentinya pembuatan sel darah ol eh sumsum tulang (kerusakan susum tulang). (Ngastiyah.1997.Hal:359) Anemia aplastik merupaka keadaan yang disebabkan bekurangnya sel hematopoetik da lam darah tepi seperti eritrosit, leukosit dan trombosit sebagai akibat terhenti nya pembentukan sel hemopoetik dalam sumsum tulang. (Staf Pengajar Ilmu Kesehata n Anak FKUI.2005.Hal:451) Anemia aplastik adalah kegagalan anatomi dan fisiologi dari sumsum tulang yang m engarah pada suatu penurunan nyata atau tidak adanya unsur pembentukan darah dal am sumsum.(Sacharin.1996.Hal:412) B. Etiologi a. Faktor congenital : sindrom fanconi yang biasanya disertai kelainan bawa an lain seperti mikrosefali, strabismus, anomali jari, kelainan ginjal dan lain sebagainya. b. Faktor didapat 1. Bahan kimia : benzena, insektisida, senyawa As, Au, Pb. 2. Obat : kloramfenikol, mesantoin (antikonvulsan), piribenzamin (antihista min), santonin-kalomel, obat sitostatika (myleran, methrotrexate, TEM, vincristi ne, rubidomycine dan sebagainya), obat anti tumor (nitrogen mustard), anti micro bial. 3. Radiasi : sinar roentgen, radioaktif. 4. Faktor individu : alergi terhadap obat, bahan kimia dan lain – lain. 5. Infeksi : tuberculosis milier, hepatitis dan lain – lain. 6. Keganasan , penyakit ginjal, gangguan endokrin, dan idiopatik. 7. (Mansjoer.2005.Hal:494) C. Patofisiologi Walaupun banyak penelitian yang telah dilakukan hingga saat ini, patofisiologi a nemia aplastik belum diketahui secara tuntas. Ada 3 teori yang dapat menerangkan patofisiologi penyakit ini yaitu : 1. kerusakan sel hematopoitik 2. kerusakan lingkungan mikro sumsum tulang 3. proses imunologik yang menekan hematopoisis Keberadaan sel induk hematopoitik dapat diketahui lewat petanda sel yaitu CD 34, atau dengan biakan sel. Dalam biakan sel padanan induk hematopoitik dikenal seb agai, longterm culture-initiating cell (LTC-IC), long-term marrow culture (LTMC) , jumlah sel induk/ CD 34 sangat menurun hingga 1-10% dari normal. Demikian juga pengamatan pada cobble-stone area forming cells jumlah sel induk sangat menurun . Bukti klinis yang yang menyokong teori gangguan sel induk ini adalah keberhasi lan transplantasi sumsum tulang pada 60-80% kasus. Hal ini membuktikan bahwa den gan pemberian sel induk dari luar akan terjadi rekonstruksi sumsum tulang pada p asien anemia aplastik. Beberapa sarjana menganggap gangguan ini dapat disebabkan oleh proses imunologik. Kemampuan hidup dan daya proliferasi serta diferensiasi sel induk hematopoitik t ergantung pada lingkungan mikro sumsum tulang yang terdiri dari sel stroma yang menghasilkan berbagai sitokin perangsang seperti GM-CSF,G-CSF dan IL-6 dalam jum lah normal sedangkan sitokin penghambat seperti –? (IFN-?), tumor necrosis factor? (TNF-?), protein macrophage inflamatory 1? (MIP-1?), dan transforming growth f actor –?2 (TGF-?2) akan meningkat. Sel stroma pasien anemia aplastik dapat menunja ng pertumbuhan sel induk, tapi sel stroma normal tidak dapat menumbuhkan sel ind

melibatkan degradasi enzimatik hingga menjadi komponen elektrofili k yang sangat reaktif (yang disebut intermediate). b. Penurunan pengisian kapler j. kompleksitas dan spesifitas da ri jalur ini berperan terhadap kerentanan suatu loci dan dapat memberikan penjel asan terhadap jarangnya kejadian reaksi idiosinkronasi obat. Hindarkan pemapara n lebih lanjut terhadap agen penyebab yang tidak diketahui. 2. Lemah dan mudah lelah b. Anemia aplasia sepertinya tidak disebabkan oleh kerusakan stroma atau produksi f aktor pertumbuhan. Untuk reaksi idiosinkronasi yang paling sering pada dosis rendah obat. Hepatosplenomegali o. Usaha untuk mengatasi anemia Berikan transfusi packed red cell (PRC) jika hemoglobin < 7 gr/ atau tanda payah jantung atau anemia yang sangat simptomatik.hal ini sulit dilakukan karena etiologinya tidak jelas atau penyebabnya tidak dapat diko reksi. Adapun bentuk terapinya adalah sebagai berikut : a. Purpura m. Berdasar temuan tersebut. Anoreksia g. Granulositopenia dan leukositopenia menyebabkan lebih mudah terkena infe ksi bakteri c. Manifestasi Klinis Tanda dan gejala yang sering dialami pada anemia aplastik adalah : a.Hal:95) A. perubahan metabolisme obat kemungkina n telah memicu mekanisme kerusakan. D. Pusing f. Sebagai contoh.uk yang berasal dari pasien. Demam l. Takikardia i. teori kerusakan lingkunga n mikro sumsum tulang sebagai penyebab mendasar anemia apalstik makin banyak dit inggalkan. komponen ini bersifat toxic k arena kecenderungannya untuk berikatan dengan makromolekul seluler. Akan tetapi. Penatalaksanaan Secara garis besar terapi untuk anemia aplastik terdiri atas beberapa terapi seb agai berikut : 1. Terapi Kausal Terapi kausal adalah usaha untuk menghilangkan agen penyebab. terutama jika bersifat polar dan memiliki keterbatasan dalam daya laru t dengan air. Limfadenopati (Tierney. turunan hydroquinones dan quinolon berperan terhadap cedera jari ngan. Petekie n. Untuk mengatasi infeksi Hygiene mulut Identifikasi sumber infeksi serta pemberian antibiotik yang tepat dan adekuat/. Jalur metabolisme dari kebanyakan obat dan z at kimia. Pembentukan intermediat metabolit yang berlebihan atau kegagalan dalam det oksifikasi komponen ini kemungkinan akan secara genetic menentukan namun perubah an genetis ini hanya terlihat pada beberapa obat. Peningkatan tekanan sistolik h. Koreksi Hb sebesar 9-10 g% tidak p . Kerusakan ekstrinsik pada sumsum terjadi setelah trauma radiasi dan kimiawi sepe rti dosis tinggi pada radiasi dan zat kimia toksik. Transfusi granulosit konsertat diberikan pada sepsis berat. Pucat e. Terapi suportif Terapi suportif bermanfaat untuk mengatasi kelainan yang timbul akibat pansitope nia. Trombositopenia menimbulkan perdarahan mukosa dan kulit d. Sesak k. Kerusakan akibat Obat.2003.dkk.

register. Usaha untuk mengatasi perdarahan Berikan transfusi konsertat trombosit jika terdapat pedarahan mayor atau trombos it < 20. Sirkulasi Riwayat kehilangan darah kronis. Pemeriksaan Fisik a. 1. kelemahan otot. Infeksi organ 3. bahasa yang dipakai.7 A. jenis kelamin.6 Komplikasi 1. alamat. Perdarahan 2. tetapi biayanya mahal. no. dipsnea pada saat beraktivitas atau istirahat Letargi. pekerjaan. GM-CSF atau G-CSF dapat diberikan untuk meningkatkan jumlah neutrofil . lesu dan kurang tertarik pada sekitarnya Ataksia. serta penyaki t yang pernah diderita klien sebelumnya yang dapat memperparah keadaan klien dan menghambat proses penyembuhan. umur. asuransi. status p erkawinan. da n anemia aplastik yang cenderung diturunkan secara genetik. pendidikan. tangga l MRS.000/mm3. menarik diri. Terapi definitif untuk anemia aplastik terdiri atas dua jenis pilihan sebagai be rikut : a. malaise umum Kebutuhan untuk tidur dan istirahat lebih banyak Takikardia. Ini bisa berupa kronolo gi terjadinya penyakit. Anabolik steroid dapat diberikan oksimetolon atau stanal dengan dosis 2 -3 mg/kgBB/hari. Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Anemia Aplastik Pengkajian Anamnesa Identitas Klien Meliputi nama. mis : perdarahan GI . 2. Kortikosteroid dosis rendah sampai menengah. Transplantasi sumsum tulang Transplantasi sumsum tulang merupakan terapi definitif yang memberikan harapan k esembuhan.erlu sampai normal karena akan menekan eritropoesis internal c. berjalan lambat dan tanda – tanda lain yang menunjukkan keletihan b. apatis. diagnosa medis. yaitu pemberian metilprednison dosis tingg i b. sering terjadi pada beberapa keturunan. Terapi imunosuprersif Pemberian anti-lymphocyte globuline (ALG) atau anti-thymocyte globuli ne (ATG) dapat menekan proses imunologis Terapi imunosupresif lain. agama. Riwayat Penyakit Keluarga Penyakit keluarga yang berhubungan dengan penyakit anemia merupakan salah satu f aktor predisposisi terjadinya anemia. Terapi Definitif Terapi definitif merupakan terapi yang dapat memberikan kesembuhan jangka panjan g. Efek samping yang dialam i berupa virilisasi dan gangguan fungsi hati. 4. golongan darah. Gagal jantung 2. postur lunglai. Aktivitas / Istirahat Keletihan. tubuh tidak tegak Bahu menurun. takipnea . 2. 3. Riwayat Penyakit Dahulu Pada pengkajian ini ditemukan kemungkinan penyebab anema aplastik. Efek terapi tampak setelah 6-8 minggu. Riwayat Penyakit Sekarang Pengumpulan data yang dilakukan untuk menentukan sebab dari anemia yang nantinya membantu dalam membuat rencana tindakan terhadap klien. Terapi untuk memperbaiki fungsi sumsum tulang Obat untuk merangsang fungsi sumsum tulang adalah sebagai berikut : a.

mulut. gagal ginjal Flatulen. sindrom malabsorpsi Hematemesis. mudah putus. anoreksia Adanya penurunan berat badan Membrane mukusa kering. depresi. Eliminasi Riwayat pielonefritis. ortopnea dan dispnea i. kering. sakit kepala h. sering infeksi Demam rendah. Neurosensori Sakit kepala. berkeringat malam Limfadenopati umum Petekie dan ekimosis B.pucat Turgor kulit buruk. penurunan penglihatan dan bayangan pada mata Kelemahan. dyspepsia. Makanan / cairan Penurunan masukan diet Nyeri mulut atau lidah. vertigo. Nyeri/kenyamanan Nyeri abdomen samar. pusing. Keamanan Riwayat terpajan terhadap bahan kimia mis : benzene. Pernapasan Napas pendek pada istirahat dan aktivitas Takipnea. tidak elastic Stomatitis Inflamasi bibir dengan sudut mulut pecah f. ketidakmampuan berko nsentrasi Insomnia. naftalen Tidak toleran terhadap dingin dan / atau panas Transfusi darah sebelumnya Gangguan penglihatan Penyembuhan luka buruk. feses dengan darah segar. berbentuk seperti sendok (koilonikia) Rambut kering. faring. keseimbangan buruk. fen ilbutazon. kesulitan menelan (ulkus pada faring) Mual/muntah. Diagnosa Keperawatan . ataksia g. parestesia tangan / kaki Peka rangsang. insektisida.- Palpitasi (takikardia kompensasi) Hipotensi postural Disritmia : abnormalitas EKG mis : depresi segmen ST dan pendataran atau depresi gelombang T Bunyi jantung murmur sistolik Ekstremitas : pucat pada kulit dan membrane mukosa (konjungtiva. gelisah. menggigil. apatis Tidak mampu berespon lambat dan dangkal Hemoragis retina Epistaksis Gangguan koordinasi. tinnitus. bibir) dan dasar kuku Sclera biru atau putih seperti mutiara Pengisian kapiler melambat (penurunan aliran darah ke perifer dan vasoko nsriksi kompensasi) Kuku mudah patah. menipis c. melena Diare atau konstipasi Penurunan haluaran urine Distensi abdomen e. berdenyut. Integritas Ego Keyakinan agama / budaya mempengaruhi pilihan pengobatan mis transfusi d arah Depresi d.

Berikan sel darah mer ah lengkap/packed produk darah sesuai indikasi. perubah an proses pencernaan. Peningkatan perfusi jaringan KH : Klien menunjukkan perfusi adekuat. 6. NCP Nn0 Diagnosa Keperawatan Tujuan Intervensi Rasional 11 Perubahan perfusi jaringan b. tidak mengenal sumber informasi. auskultasi bunyi napas perhatikan bunyi adventisiu - Selidiki keluhan nyeri dada/palpitasi. 3. Iskemia seluler mempengaruhi jaringan miokardial/ potensial risiko infark. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang diperlukan untuk pengiriman oksigen/nutrient ke sel. efek samping terapi obat. Kolaborasi pengawasan hasil pemeriksaan laboraturium. . Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi. Tinggikan kepala tempat tidur sesuai toleransi. Ukur suhu air man di dengan thermometer. Catatan : kontraindikasi bila ada hipotensi. atau penurunan granulosit (resp ons inflamasi tertekan). C. 4. salah i nterpretasi informasi . Konstipasi atau Diare berhubungan dengan penurunan masukan diet. Kurang pengetahuan sehubungan dengan kurang terpajan/mengingat . Gemericik menununjukkan gangguan jajntung karena regangan jantung lama/peni ngkatan kompensasi curah jantung. Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya perta hanan sekunder (penurunan hemoglobin leucopenia. 2.d penurunan komponen seluler yang diperluka n untuk pengiriman oksigen/nutrient ke sel. Meningkatkan ekspansi paru dan memaksimalkan oksigenasi untuk kebutuhan sel uler. Memberikan informasi tentan g derajat/keadekuatan perfusi jaringan dan membantu menetukan kebutuhan interven si. misalnya tanda vital stabil. dasar kuku. warna kulit/membrane mukosa.1. Risiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan per ubahan sirkulasi dan neurologist. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagal an untuk mencerna atau ketidak mampuan mencerna makanan /absorpsi nutrient yang diperlukan untuk pembentukan sel darah merah. Awasi upaya pernapasan . Hindari penggunaan botol penghangat atau botol air panas. Termoreseptor jaringan dermal dangkal karena gangguan oksigen Mengidentifikasi defisiensi dan kebutuhan pengobatan /respons terhadap tera pi. 7. Awasi tanda vital kaji pengisian kapiler. s. 5. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen (pengiriman) dan kebutuhan.

gaya jalan dan kelemahan otot - Observasi tanda-tanda vital sebelum dan sesudah aktivitas.Memaksimalkan transport oksigen ke jaringan. Mempengaruhi pilihan intervensi/bantuan Menunjukkan perubahan neurology karena defisiensi vitamin B12 mempengaruhi keamanan pasien/risiko cedera Manifestasi kardiopulmonal dari upaya jantung dan paru untuk membawa jumlah oksigen adekuat ke jaringan Meningkatkan istirahat untuk menurunkan kebutuhan oksigen tubuh dan menurun kan regangan jantung dan paru Meningkatkan aktivitas secara bertahap sampai normal dan memperbaiki tonus otot/stamina tanpa kelemahan. Dapat mempertahankan /meningkatkan ambulasi/aktivitas. KH : melaporkan peningkatan toleransi aktivitas (termasuk aktivitas sehari-hari) menunjukkan penurunan tanda intolerasi fisiologis. Meingkatkan harga diri dan rasa terkontrol. anjurkan pasien melakukan aktivitas semampunya (tanpa mem aksakan diri). pernapasa n. sebelum dan sesudah makan. pe rtahankan tirah baring bila di indikasikan Gunakan teknik menghemat energi. 33 Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b. dan kurangi suara bising. termasuk m akan yang disukai Observasi dan catat masukkan makanan pasien Timbang berat badan setiap hari. Kolaborasi pada ahli gizi untuk rencana diet. batasi pengunjung. perubahan pola hidup untuk meningkatkan dan atau m empertahankan berat badan yang sesuai. anjurkan pasien istirahat bila terjadi ke lelahan dan kelemahan. Tidak mengalami tanda mal nutrisi.d ketidakseimbangan antara suplai oksigen (pengi riman) dan kebutuhan. 22 Intoleransi aktivitas b.d kegagalan untuk mencer na atau ketidak mampuan mencerna makanan /absorpsi nutrient yang diperlukan untu k pembentukan sel darah merah Kebutuhan nutrisi terpenuhi KH : Menunujukkan peningkatan /mempertahankan berat badan dengan nilai laborato rium normal. flatus dan dan gejala lain yan g berhubungan Berikan dan Bantu hygiene mulut yang baik . Berikan pencuci mulut yang di encerkan bila mukosa oral luka. misalnya nadi. Berikan makan sedikit dengan frekuensi sering dan atau makan diantara wa ktu makan Observasi dan catat kejadian mual/muntah. Kaji kehilangan atau gangguan keseimbangan. Menununjukkan perilaku. g unakan sikat gigi halus untuk penyikatan yang lembut. . dan tekanan darah masih dalam rentang normal Kaji kemampuan ADL pasien. Berikan lingkungan tenang. Kaji riwayat nutrisi.

Berikan isolasi bila memungkinkan Pantau suhu tubuh. Menurunkan pertumbuhan bak teri. Meningkatkan nafsu makan dan pemasukkan oral. atau penurunan granulosit tertekan). meminimalkan kemungkinan infeksi. menurunkan risiko kolonisasi/infeksi bakteri .d tidak adekuatnya (penurunan hemoglobin leucopenia. berikan obat sesuai indikasi Mengidentifikasi defisiensi. meningkatkan pemasukkan dan mencegah distensi gast er Gejala GI dapat menunjukkan efek anemia (hipoksia) pada organ. Catatan : pasien deng an anemia berat/aplastik dapat berisiko akibat flora normal kulit. perianal dan oral dengan cermat Motivasi perubahan posisi/ambulasi yang sering. dan pasien Pertahankan teknik aseptic ketat pada prosedur/perawatan luka Berikan perawatan kulit. 44 Risiko tinggi terhadap infeksi b. Catat adanya menggigil dan takikardia dengan atau tanpa dema m Amati eritema/cairan luka Ambil specimen untuk kultur/sensitivitas sesuai indikasi Berikan antiseptic topical . termasuk sumber diet nutri si yang dibutuhkan. Kebutuhan penggantian tergantung pada tipe anemia dan atau adanyan masuk kan oral yang buruk dan defisiensi yang diidentifikasi. memudahkan intervensi Mengawasi masukkan kalori atau kualitas kekurangan konsumsi makanan Mengawasi penurunan berat badan atau efektivitas intervensi nutrisi Menurunkan kelemahan. latihan batuk dan napas dalam Tingkatkan masukkan cairan adekuat Pantau/batasi pengunjung. Teknik perawatan mulut khusus mungkin di perlukan bila jaringan rapuh/luka/perdarahan dan nyeri berat. oleh pemberi perawatan pertahanan sekunder (respons inflamasi infeksi. KH : . Membantu dalam rencana diet untuk memenuhi kebutuhan individual Meningkatakan efektivitas program pengobatan. Infeksi tidak terjadi.- Kolaborasi . antibiotic sistemik mencegah kontaminasi silang/kolonisasi bacterial. pantau hasil pemeriksaan laboraturium Kolaborasi. eritema. bebas drainase purulen atau Tingkatkan cuci tangan yang baik .meningkatkan penyembuhan luka. dan demam.mengidentifikasi perilaku untuk mencegah/menurunkan risiko .

laksatif pembentuk bulk ata u enema sesuai indikasi. (kolaborasi). Membuat/kembali pola normal dari fungsi usus. indikator infeksi lokal. misalnya Metamucil. factor pemberat. membatasi pemajanan pada bakteri/infeksi. Observasi warna feses. Kolaborasi ahli gizi untuk diet siembang dengan tinggi serat dan bulk .menurunkan risiko kerusakan kulit/jaringan dan infeksi meningkatkan ventilasi semua segmen paru dan membantu memobilisasi sekresi untu k mencegah pneumonia membantu dalam pengenceran secret pernapasan untuk mempermudah pengeluaran dan mencegah stasis cairan tubuh misalnya pernapasan dan ginjal. Lakukan perawatan perianal setiap defekasi bila terjad i diare. Membantu mengidentifikasi penyebab /factor pemberat dan intervensi yang te pat. mengidentifikasi pathogen khusus dan mempengaruhi pi lihan pengobatan mungkin digunakan secara propilaktik untuk menurunkan kolonisasi atau untuk pen gobatan proses infeksi local 54 Konstipasi atau Diare berhubungan dengan penurunan masukan diet. Pantau keefektifan. adanya proses inflamasi/infeksi membutuhkan evaluasi/pengobatan. misalnya Defenoxilat Hidroklorida dengan atro pine (Lomotil) dan obat mengabsorpsi air. yang diperlukan sebagai penyebab. membedakan adanya infeksi. Berikan pelembek feses. (kolaborasi) Berikan obat antidiare. stimulant ringan. bunyi usus secara umum meningkat pada diare dan menurun pada konstipasi dapat mengidentifikasi dehidrasi. kehilangan berlebihan atau alat dalam me ngidentifikasi defisiensi diet membantu dalam memperbaiki konsistensi feses bila konstipasi. konsistensi. efek samping terapi obat. frekuensi dan jumlah Auskultasi bunyi usus Awasi intake dan output (makanan dan cairan). bila respons imun sangat terganggu. - Dorong masukkan cairan 2500-3000 ml/hari dalam toleransi jantung Hindari makanan yang membentuk gas Kaji kondisi kulit perianal dengan sering. Catatan : pembentukan pus mungkin tidak ada bila granu losit tertekan. Akan membant u memperthankan status hidrasi pada diare menurunkan distress gastric dan distensi abdomen mencegah ekskoriasi kulit dan kerusakan . catat perubahan kondisi ku lit atau mulai kerusakan. KH: Menunjukkan perubahan perilaku/pola hidup. perubah an proses pencernaan. Perlindungan isolasi dibutuhkan pada anemia aplastik.

Mengidentifikasi factor penyebab. Melakukan tiindakan yang perlu/perubahan pola hidup. prosedur diagnostic dan rencana pengobatan.serat menahan enzim pencernaan dan mengabsorpsi air dalam alirannya sepanj ang traktus intestinal dan dengan demikian menghasilkan bulk. mengetahui seberapa jauh pemahaman klien dan keluarga serta menilai keber hasilan dari tindakan yang dilakukan . Menurunkan ansietas dan dapat meningkatkan kerjasama dalam program terapi ansietas/ketakutan tentang ketidaktahuan meningkatkan stress. Pasien mengerti dan memahami tentang penyakit. mempermudah defekasi bila konstipasi terjadi. salah i nterpretasi informasi . Pengetahuan menurunkan ansietas. menurunkan motilitas usus bila diare terjadi. yang bekerja sebag ai perangsang untuk defekasi. Diskusikan kenyataan bahwa terapi tergantung p ada tipe dan beratnya anemia. tidak mengenal sumber informasi. Tinjau tujuan dan persiapan untuk pemeriksaan diagnostic Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya Berikan penjelasan pada klien tentang penyakitnya dan kondisinya sekarang . KH : Pasien menyatakan pemahamannya proses penyakit dan penatalaksanaan penya kit. Anjurkan klien dan keluarga untuk memperhatikan diet makanan nya Minta klien dan keluarga mengulangi kembali tentang materi yang telah dib erikan memberikan dasar pengetahuan sehingga pasien dapat membuat piliha n yang tepat. 65 Kurang pengetahuan sehubungan dengan kurang terpajan/mengingat . Berikan i nformasi tentang anemia spesifik. selanjutnya meningkatkan beban jantung. klien akan tenang dan mengurangi rasa cemas diet dan pola makan yang tepat membantu proses penyembuhan. megetahui seberapa jauh pengalaman dan pengetahuan klien dan keluarga ten tang penyakitnya dengan mengetahui penyakit dan kondisinya sekarang.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->