BAB II KONSEP DASAR TEORI A.

Pengertian Anemia adalah berkurangnya jumlah eritrosit serta hemoglobin dalam 1 mm3 darah a tau berkurangnya volume sel yang dipadatkan (packed red cells volume) dalam 100 ml darah. Anemia aplastik merupaka keadaan yang disebabkan bekurangnya sel hematopoetik da lam darah tepi seperti eritrosit, leukosit dan trombosit sebagai akibat terhenti nya pembentukan sel hemopoetik dalam sumsum tulang. Anemia aplastik adalah anemia yang normokromik normositer yang disebabkan oleh d isfungsi sumsum tulang, sedemikian sehingga sel darah yang mati tidak diganti. Anemia aplastik adalah anemia yang disebabkan terhentinya pembuatan sel darah ol eh sumsum tulang (kerusakan susum tulang). (Ngastiyah.1997.Hal:359) Anemia aplastik merupaka keadaan yang disebabkan bekurangnya sel hematopoetik da lam darah tepi seperti eritrosit, leukosit dan trombosit sebagai akibat terhenti nya pembentukan sel hemopoetik dalam sumsum tulang. (Staf Pengajar Ilmu Kesehata n Anak FKUI.2005.Hal:451) Anemia aplastik adalah kegagalan anatomi dan fisiologi dari sumsum tulang yang m engarah pada suatu penurunan nyata atau tidak adanya unsur pembentukan darah dal am sumsum.(Sacharin.1996.Hal:412) B. Etiologi a. Faktor congenital : sindrom fanconi yang biasanya disertai kelainan bawa an lain seperti mikrosefali, strabismus, anomali jari, kelainan ginjal dan lain sebagainya. b. Faktor didapat 1. Bahan kimia : benzena, insektisida, senyawa As, Au, Pb. 2. Obat : kloramfenikol, mesantoin (antikonvulsan), piribenzamin (antihista min), santonin-kalomel, obat sitostatika (myleran, methrotrexate, TEM, vincristi ne, rubidomycine dan sebagainya), obat anti tumor (nitrogen mustard), anti micro bial. 3. Radiasi : sinar roentgen, radioaktif. 4. Faktor individu : alergi terhadap obat, bahan kimia dan lain – lain. 5. Infeksi : tuberculosis milier, hepatitis dan lain – lain. 6. Keganasan , penyakit ginjal, gangguan endokrin, dan idiopatik. 7. (Mansjoer.2005.Hal:494) C. Patofisiologi Walaupun banyak penelitian yang telah dilakukan hingga saat ini, patofisiologi a nemia aplastik belum diketahui secara tuntas. Ada 3 teori yang dapat menerangkan patofisiologi penyakit ini yaitu : 1. kerusakan sel hematopoitik 2. kerusakan lingkungan mikro sumsum tulang 3. proses imunologik yang menekan hematopoisis Keberadaan sel induk hematopoitik dapat diketahui lewat petanda sel yaitu CD 34, atau dengan biakan sel. Dalam biakan sel padanan induk hematopoitik dikenal seb agai, longterm culture-initiating cell (LTC-IC), long-term marrow culture (LTMC) , jumlah sel induk/ CD 34 sangat menurun hingga 1-10% dari normal. Demikian juga pengamatan pada cobble-stone area forming cells jumlah sel induk sangat menurun . Bukti klinis yang yang menyokong teori gangguan sel induk ini adalah keberhasi lan transplantasi sumsum tulang pada 60-80% kasus. Hal ini membuktikan bahwa den gan pemberian sel induk dari luar akan terjadi rekonstruksi sumsum tulang pada p asien anemia aplastik. Beberapa sarjana menganggap gangguan ini dapat disebabkan oleh proses imunologik. Kemampuan hidup dan daya proliferasi serta diferensiasi sel induk hematopoitik t ergantung pada lingkungan mikro sumsum tulang yang terdiri dari sel stroma yang menghasilkan berbagai sitokin perangsang seperti GM-CSF,G-CSF dan IL-6 dalam jum lah normal sedangkan sitokin penghambat seperti –? (IFN-?), tumor necrosis factor? (TNF-?), protein macrophage inflamatory 1? (MIP-1?), dan transforming growth f actor –?2 (TGF-?2) akan meningkat. Sel stroma pasien anemia aplastik dapat menunja ng pertumbuhan sel induk, tapi sel stroma normal tidak dapat menumbuhkan sel ind

Pucat e. komponen ini bersifat toxic k arena kecenderungannya untuk berikatan dengan makromolekul seluler.2003. 2. D. Terapi Kausal Terapi kausal adalah usaha untuk menghilangkan agen penyebab. Adapun bentuk terapinya adalah sebagai berikut : a. Lemah dan mudah lelah b.dkk. Pembentukan intermediat metabolit yang berlebihan atau kegagalan dalam det oksifikasi komponen ini kemungkinan akan secara genetic menentukan namun perubah an genetis ini hanya terlihat pada beberapa obat. Limfadenopati (Tierney. Peningkatan tekanan sistolik h. Koreksi Hb sebesar 9-10 g% tidak p . Demam l. Sebagai contoh. Kerusakan ekstrinsik pada sumsum terjadi setelah trauma radiasi dan kimiawi sepe rti dosis tinggi pada radiasi dan zat kimia toksik. Penatalaksanaan Secara garis besar terapi untuk anemia aplastik terdiri atas beberapa terapi seb agai berikut : 1. Takikardia i. Pusing f. Hindarkan pemapara n lebih lanjut terhadap agen penyebab yang tidak diketahui. Purpura m. Petekie n. Usaha untuk mengatasi anemia Berikan transfusi packed red cell (PRC) jika hemoglobin < 7 gr/ atau tanda payah jantung atau anemia yang sangat simptomatik.Hal:95) A. b. Anoreksia g. Manifestasi Klinis Tanda dan gejala yang sering dialami pada anemia aplastik adalah : a. teori kerusakan lingkunga n mikro sumsum tulang sebagai penyebab mendasar anemia apalstik makin banyak dit inggalkan. Untuk mengatasi infeksi Hygiene mulut Identifikasi sumber infeksi serta pemberian antibiotik yang tepat dan adekuat/. Sesak k. Anemia aplasia sepertinya tidak disebabkan oleh kerusakan stroma atau produksi f aktor pertumbuhan. Penurunan pengisian kapler j. Akan tetapi. Berdasar temuan tersebut. terutama jika bersifat polar dan memiliki keterbatasan dalam daya laru t dengan air. Terapi suportif Terapi suportif bermanfaat untuk mengatasi kelainan yang timbul akibat pansitope nia. Jalur metabolisme dari kebanyakan obat dan z at kimia. Granulositopenia dan leukositopenia menyebabkan lebih mudah terkena infe ksi bakteri c. kompleksitas dan spesifitas da ri jalur ini berperan terhadap kerentanan suatu loci dan dapat memberikan penjel asan terhadap jarangnya kejadian reaksi idiosinkronasi obat.hal ini sulit dilakukan karena etiologinya tidak jelas atau penyebabnya tidak dapat diko reksi.uk yang berasal dari pasien. Trombositopenia menimbulkan perdarahan mukosa dan kulit d. Transfusi granulosit konsertat diberikan pada sepsis berat. Kerusakan akibat Obat. melibatkan degradasi enzimatik hingga menjadi komponen elektrofili k yang sangat reaktif (yang disebut intermediate). turunan hydroquinones dan quinolon berperan terhadap cedera jari ngan. perubahan metabolisme obat kemungkina n telah memicu mekanisme kerusakan. Untuk reaksi idiosinkronasi yang paling sering pada dosis rendah obat. Hepatosplenomegali o.

Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Anemia Aplastik Pengkajian Anamnesa Identitas Klien Meliputi nama. Efek terapi tampak setelah 6-8 minggu. Sirkulasi Riwayat kehilangan darah kronis. Terapi imunosuprersif Pemberian anti-lymphocyte globuline (ALG) atau anti-thymocyte globuli ne (ATG) dapat menekan proses imunologis Terapi imunosupresif lain. 3. asuransi. lesu dan kurang tertarik pada sekitarnya Ataksia. alamat. bahasa yang dipakai. register. diagnosa medis. menarik diri. sering terjadi pada beberapa keturunan. tetapi biayanya mahal. Infeksi organ 3. Perdarahan 2. Ini bisa berupa kronolo gi terjadinya penyakit. Terapi Definitif Terapi definitif merupakan terapi yang dapat memberikan kesembuhan jangka panjan g. kelemahan otot. da n anemia aplastik yang cenderung diturunkan secara genetik. Kortikosteroid dosis rendah sampai menengah. dipsnea pada saat beraktivitas atau istirahat Letargi.000/mm3.erlu sampai normal karena akan menekan eritropoesis internal c. 1. tubuh tidak tegak Bahu menurun. 4. Terapi definitif untuk anemia aplastik terdiri atas dua jenis pilihan sebagai be rikut : a. jenis kelamin. yaitu pemberian metilprednison dosis tingg i b. mis : perdarahan GI . golongan darah. Pemeriksaan Fisik a. Anabolik steroid dapat diberikan oksimetolon atau stanal dengan dosis 2 -3 mg/kgBB/hari. no. Efek samping yang dialam i berupa virilisasi dan gangguan fungsi hati. umur. pekerjaan. Terapi untuk memperbaiki fungsi sumsum tulang Obat untuk merangsang fungsi sumsum tulang adalah sebagai berikut : a.7 A. berjalan lambat dan tanda – tanda lain yang menunjukkan keletihan b. postur lunglai. Gagal jantung 2. GM-CSF atau G-CSF dapat diberikan untuk meningkatkan jumlah neutrofil . Aktivitas / Istirahat Keletihan. serta penyaki t yang pernah diderita klien sebelumnya yang dapat memperparah keadaan klien dan menghambat proses penyembuhan. malaise umum Kebutuhan untuk tidur dan istirahat lebih banyak Takikardia. 2. takipnea . Riwayat Penyakit Sekarang Pengumpulan data yang dilakukan untuk menentukan sebab dari anemia yang nantinya membantu dalam membuat rencana tindakan terhadap klien. tangga l MRS. Riwayat Penyakit Dahulu Pada pengkajian ini ditemukan kemungkinan penyebab anema aplastik. Riwayat Penyakit Keluarga Penyakit keluarga yang berhubungan dengan penyakit anemia merupakan salah satu f aktor predisposisi terjadinya anemia. apatis. pendidikan. 2. status p erkawinan. agama. Usaha untuk mengatasi perdarahan Berikan transfusi konsertat trombosit jika terdapat pedarahan mayor atau trombos it < 20. Transplantasi sumsum tulang Transplantasi sumsum tulang merupakan terapi definitif yang memberikan harapan k esembuhan.6 Komplikasi 1.

pucat Turgor kulit buruk. dyspepsia. insektisida. pusing. gelisah. kesulitan menelan (ulkus pada faring) Mual/muntah. menggigil. ataksia g. Eliminasi Riwayat pielonefritis. melena Diare atau konstipasi Penurunan haluaran urine Distensi abdomen e. mulut. ortopnea dan dispnea i. Makanan / cairan Penurunan masukan diet Nyeri mulut atau lidah. faring. Neurosensori Sakit kepala.- Palpitasi (takikardia kompensasi) Hipotensi postural Disritmia : abnormalitas EKG mis : depresi segmen ST dan pendataran atau depresi gelombang T Bunyi jantung murmur sistolik Ekstremitas : pucat pada kulit dan membrane mukosa (konjungtiva. anoreksia Adanya penurunan berat badan Membrane mukusa kering. berkeringat malam Limfadenopati umum Petekie dan ekimosis B. feses dengan darah segar. mudah putus. gagal ginjal Flatulen. tinnitus. Integritas Ego Keyakinan agama / budaya mempengaruhi pilihan pengobatan mis transfusi d arah Depresi d. tidak elastic Stomatitis Inflamasi bibir dengan sudut mulut pecah f. Nyeri/kenyamanan Nyeri abdomen samar. berbentuk seperti sendok (koilonikia) Rambut kering. Diagnosa Keperawatan . naftalen Tidak toleran terhadap dingin dan / atau panas Transfusi darah sebelumnya Gangguan penglihatan Penyembuhan luka buruk. ketidakmampuan berko nsentrasi Insomnia. parestesia tangan / kaki Peka rangsang. fen ilbutazon. penurunan penglihatan dan bayangan pada mata Kelemahan. Pernapasan Napas pendek pada istirahat dan aktivitas Takipnea. sering infeksi Demam rendah. apatis Tidak mampu berespon lambat dan dangkal Hemoragis retina Epistaksis Gangguan koordinasi. kering. bibir) dan dasar kuku Sclera biru atau putih seperti mutiara Pengisian kapiler melambat (penurunan aliran darah ke perifer dan vasoko nsriksi kompensasi) Kuku mudah patah. depresi. sakit kepala h. berdenyut. Keamanan Riwayat terpajan terhadap bahan kimia mis : benzene. vertigo. sindrom malabsorpsi Hematemesis. keseimbangan buruk. menipis c.

Kolaborasi pengawasan hasil pemeriksaan laboraturium. salah i nterpretasi informasi . Risiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan per ubahan sirkulasi dan neurologist. efek samping terapi obat. 6. Awasi upaya pernapasan . 5. Tinggikan kepala tempat tidur sesuai toleransi. Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi. tidak mengenal sumber informasi.1. . dasar kuku. NCP Nn0 Diagnosa Keperawatan Tujuan Intervensi Rasional 11 Perubahan perfusi jaringan b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagal an untuk mencerna atau ketidak mampuan mencerna makanan /absorpsi nutrient yang diperlukan untuk pembentukan sel darah merah. Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya perta hanan sekunder (penurunan hemoglobin leucopenia. Konstipasi atau Diare berhubungan dengan penurunan masukan diet. Berikan sel darah mer ah lengkap/packed produk darah sesuai indikasi. 4. Kurang pengetahuan sehubungan dengan kurang terpajan/mengingat . 2. Meningkatkan ekspansi paru dan memaksimalkan oksigenasi untuk kebutuhan sel uler. 3.d penurunan komponen seluler yang diperluka n untuk pengiriman oksigen/nutrient ke sel. Memberikan informasi tentan g derajat/keadekuatan perfusi jaringan dan membantu menetukan kebutuhan interven si. misalnya tanda vital stabil. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen (pengiriman) dan kebutuhan. Iskemia seluler mempengaruhi jaringan miokardial/ potensial risiko infark. perubah an proses pencernaan. Hindari penggunaan botol penghangat atau botol air panas. Catatan : kontraindikasi bila ada hipotensi. warna kulit/membrane mukosa. 7. atau penurunan granulosit (resp ons inflamasi tertekan). Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang diperlukan untuk pengiriman oksigen/nutrient ke sel. C. Gemericik menununjukkan gangguan jajntung karena regangan jantung lama/peni ngkatan kompensasi curah jantung. s. Ukur suhu air man di dengan thermometer. Peningkatan perfusi jaringan KH : Klien menunjukkan perfusi adekuat. Termoreseptor jaringan dermal dangkal karena gangguan oksigen Mengidentifikasi defisiensi dan kebutuhan pengobatan /respons terhadap tera pi. auskultasi bunyi napas perhatikan bunyi adventisiu - Selidiki keluhan nyeri dada/palpitasi. Awasi tanda vital kaji pengisian kapiler.

flatus dan dan gejala lain yan g berhubungan Berikan dan Bantu hygiene mulut yang baik . Kaji kehilangan atau gangguan keseimbangan. dan tekanan darah masih dalam rentang normal Kaji kemampuan ADL pasien. Kaji riwayat nutrisi. Tidak mengalami tanda mal nutrisi.d kegagalan untuk mencer na atau ketidak mampuan mencerna makanan /absorpsi nutrient yang diperlukan untu k pembentukan sel darah merah Kebutuhan nutrisi terpenuhi KH : Menunujukkan peningkatan /mempertahankan berat badan dengan nilai laborato rium normal. pernapasa n. 33 Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b. . Berikan lingkungan tenang. misalnya nadi. sebelum dan sesudah makan. Kolaborasi pada ahli gizi untuk rencana diet.Memaksimalkan transport oksigen ke jaringan. KH : melaporkan peningkatan toleransi aktivitas (termasuk aktivitas sehari-hari) menunjukkan penurunan tanda intolerasi fisiologis. Menununjukkan perilaku. gaya jalan dan kelemahan otot - Observasi tanda-tanda vital sebelum dan sesudah aktivitas. pe rtahankan tirah baring bila di indikasikan Gunakan teknik menghemat energi. dan kurangi suara bising. g unakan sikat gigi halus untuk penyikatan yang lembut. termasuk m akan yang disukai Observasi dan catat masukkan makanan pasien Timbang berat badan setiap hari. anjurkan pasien melakukan aktivitas semampunya (tanpa mem aksakan diri). Meingkatkan harga diri dan rasa terkontrol. Mempengaruhi pilihan intervensi/bantuan Menunjukkan perubahan neurology karena defisiensi vitamin B12 mempengaruhi keamanan pasien/risiko cedera Manifestasi kardiopulmonal dari upaya jantung dan paru untuk membawa jumlah oksigen adekuat ke jaringan Meningkatkan istirahat untuk menurunkan kebutuhan oksigen tubuh dan menurun kan regangan jantung dan paru Meningkatkan aktivitas secara bertahap sampai normal dan memperbaiki tonus otot/stamina tanpa kelemahan. Dapat mempertahankan /meningkatkan ambulasi/aktivitas. batasi pengunjung. anjurkan pasien istirahat bila terjadi ke lelahan dan kelemahan. Berikan makan sedikit dengan frekuensi sering dan atau makan diantara wa ktu makan Observasi dan catat kejadian mual/muntah. Berikan pencuci mulut yang di encerkan bila mukosa oral luka. 22 Intoleransi aktivitas b. perubahan pola hidup untuk meningkatkan dan atau m empertahankan berat badan yang sesuai.d ketidakseimbangan antara suplai oksigen (pengi riman) dan kebutuhan.

atau penurunan granulosit tertekan). dan demam. menurunkan risiko kolonisasi/infeksi bakteri . latihan batuk dan napas dalam Tingkatkan masukkan cairan adekuat Pantau/batasi pengunjung. bebas drainase purulen atau Tingkatkan cuci tangan yang baik .meningkatkan penyembuhan luka. Meningkatkan nafsu makan dan pemasukkan oral. berikan obat sesuai indikasi Mengidentifikasi defisiensi. 44 Risiko tinggi terhadap infeksi b. antibiotic sistemik mencegah kontaminasi silang/kolonisasi bacterial. pantau hasil pemeriksaan laboraturium Kolaborasi. eritema.- Kolaborasi .d tidak adekuatnya (penurunan hemoglobin leucopenia. Kebutuhan penggantian tergantung pada tipe anemia dan atau adanyan masuk kan oral yang buruk dan defisiensi yang diidentifikasi. oleh pemberi perawatan pertahanan sekunder (respons inflamasi infeksi. meningkatkan pemasukkan dan mencegah distensi gast er Gejala GI dapat menunjukkan efek anemia (hipoksia) pada organ. dan pasien Pertahankan teknik aseptic ketat pada prosedur/perawatan luka Berikan perawatan kulit. memudahkan intervensi Mengawasi masukkan kalori atau kualitas kekurangan konsumsi makanan Mengawasi penurunan berat badan atau efektivitas intervensi nutrisi Menurunkan kelemahan. meminimalkan kemungkinan infeksi.mengidentifikasi perilaku untuk mencegah/menurunkan risiko . perianal dan oral dengan cermat Motivasi perubahan posisi/ambulasi yang sering. Infeksi tidak terjadi. termasuk sumber diet nutri si yang dibutuhkan. Catatan : pasien deng an anemia berat/aplastik dapat berisiko akibat flora normal kulit. Catat adanya menggigil dan takikardia dengan atau tanpa dema m Amati eritema/cairan luka Ambil specimen untuk kultur/sensitivitas sesuai indikasi Berikan antiseptic topical . Berikan isolasi bila memungkinkan Pantau suhu tubuh. KH : . Teknik perawatan mulut khusus mungkin di perlukan bila jaringan rapuh/luka/perdarahan dan nyeri berat. Menurunkan pertumbuhan bak teri. Membantu dalam rencana diet untuk memenuhi kebutuhan individual Meningkatakan efektivitas program pengobatan.

Perlindungan isolasi dibutuhkan pada anemia aplastik. Catatan : pembentukan pus mungkin tidak ada bila granu losit tertekan. konsistensi. membatasi pemajanan pada bakteri/infeksi. Observasi warna feses. - Dorong masukkan cairan 2500-3000 ml/hari dalam toleransi jantung Hindari makanan yang membentuk gas Kaji kondisi kulit perianal dengan sering. Pantau keefektifan. misalnya Metamucil. catat perubahan kondisi ku lit atau mulai kerusakan. bila respons imun sangat terganggu. adanya proses inflamasi/infeksi membutuhkan evaluasi/pengobatan. perubah an proses pencernaan. misalnya Defenoxilat Hidroklorida dengan atro pine (Lomotil) dan obat mengabsorpsi air. Membuat/kembali pola normal dari fungsi usus. laksatif pembentuk bulk ata u enema sesuai indikasi. yang diperlukan sebagai penyebab.menurunkan risiko kerusakan kulit/jaringan dan infeksi meningkatkan ventilasi semua segmen paru dan membantu memobilisasi sekresi untu k mencegah pneumonia membantu dalam pengenceran secret pernapasan untuk mempermudah pengeluaran dan mencegah stasis cairan tubuh misalnya pernapasan dan ginjal. (kolaborasi) Berikan obat antidiare. stimulant ringan. efek samping terapi obat. kehilangan berlebihan atau alat dalam me ngidentifikasi defisiensi diet membantu dalam memperbaiki konsistensi feses bila konstipasi. KH: Menunjukkan perubahan perilaku/pola hidup. (kolaborasi). bunyi usus secara umum meningkat pada diare dan menurun pada konstipasi dapat mengidentifikasi dehidrasi. Kolaborasi ahli gizi untuk diet siembang dengan tinggi serat dan bulk . Berikan pelembek feses. membedakan adanya infeksi. Lakukan perawatan perianal setiap defekasi bila terjad i diare. mengidentifikasi pathogen khusus dan mempengaruhi pi lihan pengobatan mungkin digunakan secara propilaktik untuk menurunkan kolonisasi atau untuk pen gobatan proses infeksi local 54 Konstipasi atau Diare berhubungan dengan penurunan masukan diet. indikator infeksi lokal. frekuensi dan jumlah Auskultasi bunyi usus Awasi intake dan output (makanan dan cairan). factor pemberat. Membantu mengidentifikasi penyebab /factor pemberat dan intervensi yang te pat. Akan membant u memperthankan status hidrasi pada diare menurunkan distress gastric dan distensi abdomen mencegah ekskoriasi kulit dan kerusakan .

Melakukan tiindakan yang perlu/perubahan pola hidup. Anjurkan klien dan keluarga untuk memperhatikan diet makanan nya Minta klien dan keluarga mengulangi kembali tentang materi yang telah dib erikan memberikan dasar pengetahuan sehingga pasien dapat membuat piliha n yang tepat. prosedur diagnostic dan rencana pengobatan. Tinjau tujuan dan persiapan untuk pemeriksaan diagnostic Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya Berikan penjelasan pada klien tentang penyakitnya dan kondisinya sekarang . Berikan i nformasi tentang anemia spesifik. Mengidentifikasi factor penyebab. Pasien mengerti dan memahami tentang penyakit. mempermudah defekasi bila konstipasi terjadi. 65 Kurang pengetahuan sehubungan dengan kurang terpajan/mengingat . Pengetahuan menurunkan ansietas. megetahui seberapa jauh pengalaman dan pengetahuan klien dan keluarga ten tang penyakitnya dengan mengetahui penyakit dan kondisinya sekarang. Menurunkan ansietas dan dapat meningkatkan kerjasama dalam program terapi ansietas/ketakutan tentang ketidaktahuan meningkatkan stress. yang bekerja sebag ai perangsang untuk defekasi. Diskusikan kenyataan bahwa terapi tergantung p ada tipe dan beratnya anemia. selanjutnya meningkatkan beban jantung. klien akan tenang dan mengurangi rasa cemas diet dan pola makan yang tepat membantu proses penyembuhan. KH : Pasien menyatakan pemahamannya proses penyakit dan penatalaksanaan penya kit. menurunkan motilitas usus bila diare terjadi. mengetahui seberapa jauh pemahaman klien dan keluarga serta menilai keber hasilan dari tindakan yang dilakukan . tidak mengenal sumber informasi.serat menahan enzim pencernaan dan mengabsorpsi air dalam alirannya sepanj ang traktus intestinal dan dengan demikian menghasilkan bulk. salah i nterpretasi informasi .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful