P. 1
Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 11 Tahun 2011 Tentang Perbaikan Gizi

Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 11 Tahun 2011 Tentang Perbaikan Gizi

|Views: 61|Likes:
Published by mustamu
Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 11 Tahun 2011 Tentang Perbaikan Gizi
Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 11 Tahun 2011 Tentang Perbaikan Gizi

More info:

Published by: mustamu on Dec 31, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/18/2013

pdf

text

original

PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMUR

PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG PERBAIKAN GIZI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA TIMUR, Menimbang : a. bahwa gangguan akibat penyakit gizi serta kekurangan zat b. gizi mikro dan makro dengan gangguan pertumbuhannya masih banyak terjadi di Jawa Timur; bahwa kejadian gizi lebih pada anak usia balita yang menjadi risiko penyakit degeneratif juga mulai meningkat sehingga dapat membahayakan bagi upaya peningkatan kesehatan masyarakat dan pembangunan kualitas sumber daya manusia; c. d. bahwa masalah gizi erat kaitannya dengan rendahnya konsumsi, daya beli dan pola asuh; bahwa masyarakat sangat membutuhkan informasi untuk menjaga status gizinya dengan gizi seimbang dari sumber daya yang dikuasainya; e. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, huruf c dan huruf d perlu menetapkan Peraturan Daerah tentang Perbaikan Gizi; Mengingat : 1. 2. Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; Undang-Undang Pembentukan Nomor 2 Tahun 1950 tentang

Propinsi

Djawa

Timur

(Himpunan

Peraturan Peraturan Negara Tahun 1950) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1950 tentang Perubahan dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1950 (Himpunan Peraturan Peraturan Negara Tahun 1950); 3. Undang-Undang

-2-

3.

Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1996 Nomor 99, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3656);

4.

Undang-Undang

Nomor

8

Tahun

1999

tentang

Perlindungan Konsumen (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 42, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3821); 5. Undang-Undang Perlindungan Indonesia 6. Nomor 2002 23 Tahun 2002 tentang Republik Tambahan tentang Republik Tambahan Anak (Lembaran Nomor 32 Negara 109,

Tahun

Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4235); Undang-Undang Pemerintahan Indonesia Nomor 2004 Tahun 2004 Daerah (Lembaran Nomor Negara 125,

Tahun

Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan 7. Lembaran Nomor 2009 Negara 25 Republik 2009 Indonesia tentang Republik Tambahan tentang Indonesia Nomor 4844); Undang-Undang Pelayanan Indonesia 8. Tahun Publik Tahun (Lembaran Nomor 36 Negara 112,

Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5038); Undang-Undang Kesehatan Nomor Tahun 2009 (Lembaran Negara Republik

Tahun 2009 Nomor 1441, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5063); 9. Undang-Undang Pembentukan Nomor 12 Tahun 2011 tentang Peraturan Perundang-undangan

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5234); 10. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu dan Gizi Pangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 107, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4424);

11. Peraturan

-3-

11. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4593); 12. Peraturan Pemerintah Nomor 38 tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737); 13. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 450/Menkes/SK/IV/2004 tentang Pemberian ASI Secara Eksklusif pada Bayi di Indonesia; 14. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 9 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah Provinsi Jawa Timur (Lembaran Daerah Provinsi Jawa Timur Tahun 2008 Nomor 2 Seri D); 15. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 8 Tahun 2011 tentang Pelayanan Publik (Lembaran Daerah Provinsi Jawa Timur Tahun 2011 Nomor 7 Seri D, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 8); 16. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 2 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur (Lembaran Daerah Provinsi Jawa Timur Tahun 2011 Nomor 2 Seri D, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 2); Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR dan GUBERNUR JAWA TIMUR MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG PERBAIKAN GIZI. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan: 1. Pemerintah Daerah Provinsi adalah Pemerintah Provinsi Jawa Timur. 2. Gubernur

dan sebagainya. Penyakit ini antara lain : diabetes mellitus. kuratif maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah Provinsi dan/atau masyarakat. gagal ginjal. 4. Gubernur adalah Gubernur Jawa Timur. 3. 7. Gangguan Akibat Kekurangan Yodium yang selanjutnya disingkat GAKY adalah sekumpulan gejala yang timbul karena tubuh menderita kekurangan zat yodium secara terus menerus dalam waktu yang lama. Upaya perbaikan gizi adalah kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan yang dilakukan secara terpadu. Dinas adalah Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur. Gizi .-4- 2. preventif. mineral dan air. terintegrasi dan berkesinambungan untuk memelihara dan meningkatkan status gizi masyarakat dalam bentuk upaya promotif. Kepala Dinas adalah Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur. stroke. Gizi mikro adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh manusia dalam jumlah yang sedikit. seperti karbohidrat. 8. 6. 10. Gizi makro adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh manusia dalam jumlah yang banyak. 13. 14. seperti bermacam-macam vitamin. 9. dislipidemia. Surveilans gizi adalah pengamatan secara teratur dan terus menerus yang dilakukan oleh tenaga gizi terhadap semua aspek penyakit gizi. 5. protein dan lemak. Bupati/Walikota adalah Bupati/Walikota dalam wilayah Provinsi Jawa Timur. Penyakit degeneratif adalah istilah medis untuk menjelaskan suatu penyakit yang muncul akibat proses kemunduran fungsi sel tubuh yaitu dari keadaan normal menjadi lebih buruk. 12. Obesitas adalah suatu keadaan seseorang dimana kelebihan lemak tubuh melebihi standar normal. tetapi ditambahkan ke dalam pangan untuk mempengaruhi sifat atau bentuk pangan. jantung koroner. Bahan tambahan pangan (food additive) adalah bahan/campuran bahan yang secara alami bukan merupakan bagian dari bahan baku pangan. 11. baik keadaan maupun penyebarannya dalam suatu masyarakat tertentu untuk kepentingan pencegahan dan penanggulangan. kardiovaskuler.

Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi adalah sistem informasi yang dapat digunakan sebagai alat bagi pemerintah daerah untuk mengetahui situasi pangan dan gizi masyarakat. Posyandu . minimal lulusan Diploma III Gizi yang memiliki sertifikat pelatihan gizi tertentu. Asuhan gizi adalah salah satu pelayanan kesehatan di rumah sakit dan institusi perawatan kesehatan lain yang bertujuan memenuhi kebutuhan zat gizi pasien secara optimal. 19. 22. 23. Penyelenggaraan makanan rumah sakit adalah suatu rangkaian sampai kegiatan mulai dari perencanaan makanan menu kepada dengan pendistribusian konsumen dalam rangka pencapaian status kesehatan yang optimal melalui pemberian diet yang tepat. Organisasi profesi bidang gizi adalah organisasi / asosiasi yang bergerak pada upaya-upaya perbaikan gizi di Jawa Timur. termasuk penyelenggaraan makanan di rumah sakit. 15. Pojok Gizi adalah tempat atau ruangan di Puskesmas dan Rumah Sakit dimana dilakukan penyuluhan dan konseling gizi kepada masyarakat oleh Tenaga Gizi Terlatih. Tenaga Gizi terlatih adalah tenaga gizi lulusan pendidikan formal gizi. Masalah gizi darurat adalah keadaan gizi dimana jumlah kurang gizi pada sekelompok masyarakat pengungsi meningkat dan berakibat memburuknya kehidupan. 16.-5- 14. Petugas Gizi adalah Tenaga Gizi atau orang yang peduli gizi yang bekerja di sarana pelayanan kesehatan. Gizi institusi adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan persoalan gizi pada institusi penyelenggaraan makanan banyak. 18. Kejadian Luar Biasa Gizi selanjutnya disebut KLB gizi adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit gizi dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari pada keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka. 24. 21. 20. 25. 17. Gizi klinik adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan persoalan gizi di rumah sakit dan institusi perawatan pasien lainnya.

selingan dan minuman. Peka Budaya. c. imunoglobulin. c. khas daerah setempat. guna memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi. perbaikan pola konsumsi makanan. Berpihak kepada rakyat. Bertindak cepat dan akurat. enzim dan hormon. serta biasa dikonsumsi oleh masyarakat daerah tersebut. 26. Transparansi. Pasal 3 Perbaikan gizi dimaksudkan untuk meningkatkan status gizi. Pasal 4 Perbaikan gizi bertujuan untuk meningkatkan mutu gizi perseorangan dan masyarakat melalui: a.-6- 25. b. d. e. pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya gizi dan pengaruhnya terhadap peningkatan status gizi. MAKSUD DAN TUJUAN Pasal 2 Asas-asas perbaikan gizi masyarakat adalah: a. b. BAB II ASAS. serta protein spesifik. dan f. Makanan tradisional adalah segala jenis makanan olahan asli. mulai dari makanan lengkap. Penguatan kelembagaan dan kerja sama. peningkatan . yang cukup kandungan gizi. dan zat-zat gizi lainnya yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan anak. oleh dan untuk masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. Posyandu adalah salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat (UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan dari. Akuntabilitas. 27. Air Susu Ibu yang selanjutnya disebut ASI adalah cairan hidup yang mengandung sel-sel darah putih. perbaikan perilaku sadar gizi.

memperoleh dikuasainya. peningkatan akses dan mutu pelayanan gizi sesuai dengan kemajuan ilmu dan teknologi. b. peningkatan sistem kewaspadaan pangan dan gizi. dan d. BAB V SASARAN Pasal 8 (1) Sasaran perbaikan Gizi kepada masyarakat. dan menyediakan dan memberikan informasi gizi yang benar untuk peningkatan status gizi masyarakat. b. dan c. memperoleh c. BAB III RUANG LINGKUP Pasal 5 Ruang lingkup perbaikan gizi berkaitan dengan gizi dalam hubungannya dengan kesehatan manusia. status gizi yang baik. menjamin mempunyai c. berimbang dan informasi gizi yang benar untuk beraneka ragam. b. (2) Kelompok . Kelompok masyarakat tertentu. dan meningkatkan status gizinya dengan sumber daya yang Pasal 7 Pemerintah Daerah Provinsi wajib melakukan upaya-upaya: a.-7- c. meliputi: a. pemenuhan status gizi yang baik. Kelompok masyarakat yang memerlukan nasehat gizi. Kelompok masyarakat rawan gizi. makanan yang bergizi. BAB IV HAK DAN KEWAJIBAN Pasal 6 Setiap orang berhak atas: a. serta aman dikonsumsi. ketersediaan nilai gizi bahan tinggi makanan merata yang dan secara terjangkau.

c. e. (4) Kelompok masyarakat yang memerlukan nasehat gizi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c. c. Ibu hamil dan menyusui. (3) Kelompok masyarakat tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b. Pondok pesantren. Atlet atau olahragawan. g. h. Bagian Kesatu . g. meliputi: a. Remaja perempuan. Anak sekolah. h. Perhotelan. Panti asuhan. Pengawasan mutu makanan dan keamanan pangan.-8- (2) Kelompok masyarakat rawan gizi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. Bayi dan Balita. Pasien di rumah sakit. b. b. f. j. dan c. Asrama. dan d. Perbaikan gizi institusi. KLB Gizi dan Tata Laksana Gizi Buruk. Perbaikan gizi makro. Revitalisasi Posyandu. meliputi: a. d. meliputi: a. BAB VI UPAYA PERBAIKAN GIZI Pasal 9 Perbaikan gizi meliputi: a. Penanggulangan masalah gizi darurat. Perbaikan gizi klinik. Lembaga Pemasyarakatan. Perbaikan gizi mikro. Jemaah calon haji. Dewasa. i. Surveilans Gizi. Tenaga kerja di perusahaan. Panti wreda. b. e. dan c. f. Institusi penyelenggaraan makanan banyak lainnya. b. dan k. Usia lanjut.

(2) Kegiatan surveilans gizi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. pengolahan dan analisis data-data sekunder tentang gizi. Pondok Kesehatan Desa atau Pos pemulihan gizi berbasis masyarakat (Community Feeding Center). dan d. (2) Indikator KLB Gizi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) apabila ditemukan balita dengan tanda-tanda berat badan menurut umur atau berat badan menurut tinggi badan di bawah standar yang ditentukan. Bagian Kedua . Rumah Sakit atau Pusat Pemulihan Gizi (Terapheutic Feeding Center). Pasal 12 (1) Perawatan gizi buruk dilaksanakan dengan tatalaksana anak gizi buruk rawat inap dan rawat jalan. pengumpulan data.-9- Bagian Kesatu Surveilans Gizi. (2) Gizi buruk dengan komplikasi dilakukan rawat inap di Puskesmas Perawatan. c. (3) Gizi buruk tanpa komplikasi dilakukan rawat jalan di Puskesmas. b. (3) Kegiatan surveilans gizi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan secara periodik dan dilaporkan kepada Kepala Dinas sesuai peraturan perundangundangan yang berlaku. Pasal 11 (1) Pelacakan KLB Gizi merupakan kegiatan penelusuran secara langsung (investigasi) terhadap setiap balita dengan indikator KLB gizi untuk menentukan tindakan yang cepat dan tepat. penyelidikan epidemiologi. KLB Gizi dan Tata Laksana Gizi Buruk Pasal 10 (1) Kegiatan surveilans gizi merupakan kewenangan dan tanggung jawab Dinas dan dilakukan oleh tenaga gizi terlatih di Dinas. desiminasi informasi serta melakukan tindak lanjut.

mendorong pengembangan teknologi pengawet dan pewarna makanan yang aman dan memenuhi syarat kesehatan serta terjangkau oleh usaha kecil dan menengah produsen makanan dan jajanan.. meningkatkan kesadaran produsen. distributor dan ritel terhadap keamanan pangan. meningkatkan kesadaran konsumen terhadap keamanan pangan. importir. (5) Penanganan gizi darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. intervensi diutamakan pada kelompok masyarakat rawan gizi. Pasal 15 (1) Setiap produsen yang memproduksi makanan untuk diperdagangkan wajib menyelenggarakan sistem pengawasan mutu makanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. dan c.10 - Bagian Kedua Penanggulangan Masalah Gizi Darurat Pasal 13 (1) Penanggulangan masalah gizi darurat dilakukan dengan pemberian makanan darurat dan sistem surveilans gizi pada pengungsi. (2) Sistem . Pemerintah Daerah Provinsi menentukan arah kebijakan yang meliputi: a. Bagian Ketiga Pengawasan Mutu Makanan dan Keamanan Pangan Pasal 14 Dalam meningkatkan mutu dan keamanan pangan. b. (4) Penanggulangan masalah darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh tenaga gizi yang terlatih beserta tim penanggulangan bencana lainnya. (2) Penanggulangan masalah gizi darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan apabila Pemerintah daerah kabupaten/kota tidak mampu menangani kasus bencana (3) Sasaran alam dan/atau gizi keadaan darurat gizi darurat lain di wilayahnya.

. angka kecukupan gizi dan bahan tambahan makanan. pelaksanaan Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi. (3) komposisi zat gizi dan angka pada kecukupan ayat (2) gizi harus sebagaimana dimaksud direkomendasikan oleh tenaga gizi terlatih. Pasal 16 (1) Pengusaha dan/atau setiap orang yang memproduksi dan/atau memperdagangkan makanan dan jajanan dilarang menggunakan bahan apapun sebagai bahan tambahan pangan yang dinyatakan terlarang. ayat (2). b. peningkatan pengetahuan dan keterampilan pola pengasuhan anak. serta Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) untuk bayi di atas 6 bulan dalam jumlah dan mutu yang tepat. Pasal 18 . (3) Perbaikan gizi makro sebagaimana dimaksud pada ayat (1). peningkatan pemberian ASI terutama ASI eksklusif. dan ayat (3) diikuti dengan upaya komunikasi. (2) Bahan yang pada dinyatakan ayat (1) terlarang sesuai sebagaimana peraturan dimaksud dengan perundang-undangan. dan f. peningkatan ketahanan pangan di tingkat rumah tangga melalui upaya pemenuhan kesehatan dan gizi. e. d. informasi dan edukasi gizi menuju keluarga sadar gizi kepada masyarakat. c. (2) Perbaikan gizi makro sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dan di berbagai sarana pelayanan adanya kesehatan posyandu. penurunan kasus kejadian gizi lebih dan obesitas. Bagian Keempat Perbaikan Gizi Makro Pasal 17 (1) Perbaikan gizi makro meliputi: a. pemberian Makanan Tambahan Pemulihan bagi balita gizi buruk dan Ibu hamil yang Kurang Energi Kronis.11 - (2) Sistem pengawasan mutu makanan meliputi komposisi zat gizi. disertai dengan peningkatan upaya penyadaran gizi masyarakat.

informasi dan edukasi. Bagian Kelima . tempat-tempat umum dan perkantoran/instansi. (2) Penurunan kejadian kasus gizi lebih dan obesitas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diikuti dengan peningkatan promosi pola makan rendah lemak. penentuan tindakan. (2) Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui kegiatan analisis situasi pangan dan gizi berdasarkan data/laporan rutin yang tersedia. dan evaluasi program bidang pangan dan gizi. perencanaan. manajemen terpadu penanganan kasus gizi lebih dan obesitas. (4) Setiap sarana pelayanan kesehatan.. (3) Semua tenaga kesehatan yang bekerja di sarana pelayanan kesehatan harus menginformasikan kepada semua ibu yang baru melahirkan dan keluarganya untuk melakukan Inisiasi Menyusu Dini dan memberikan ASI Eksklusif. Pasal 19 (1) Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi sebagaimana dimaksud pada pasal 17 ayat (1) huruf e diselenggarakan secara teratur dan terus menerus untuk perumusan kebijakan.12 - Pasal 18 (1) ASI eksklusif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) huruf b diberikan bagi bayi sejak lahir sampai dengan berumur 6 (enam) bulan. baik milik Pemerintah Daerah Provinsi maupun swasta wajib menyediakan ruang laktasi guna mendukung keberhasilan Program Inisiasi Menyusu Dini dan ASI Eksklusif. (2) Guna mendapatkan status gizi yang optimal pemberian ASI dilanjutkan sampai anak berusia 2 (dua) tahun dengan pemberian makanan tambahan yang sesuai. dan peningkatan komunikasi. atau berdasar hasil survei-survei khusus. Pasal 20 (1) Penurunan kejadian kasus gizi lebih dan obesitas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) huruf f dilakukan melalui pemantauan secara berkala berat badan dan tinggi badan. garam dan gula terutama pada orang yang berisiko tinggi mengalami kejadian penyakit degeneratif.

13 - Bagian Kelima Perbaikan Gizi Mikro Pasal 21 (1) Perbaikan gizi mikro meliputi: a. diversifikasi konsumsi pangan.. b. Penanggulangan anemia gizi besi pada ibu hamil dan wanita usia subur dalam rangka menekan angka kematian ibu dan meningkatkan produktivitas kerja. Bagian Keenam . Selenium (Se) dan Magnesium (Mg). dan d. Pasal 22 Dalam hal penanggulangan GAKY sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) huruf (a) Pemerintah Daerah Provinsi melakukan upaya yang meliputi: a. Penanggulangan masalah gizi GAKY dilaksanakan melalui penguatan yang berbagai didukung upaya dengan fortifikasi. Fasilitasi c. pengembangan kemitraan dengan seluruh pemangku kepentingan dalam penanggulangan GAKY. Menyiapkan kebijakan tentang penanggulangan GAKY mulai dari aspek produksi. pembinaan. c. suplementasi dan fortifikasi yang didukung dengan upaya advokasi yang efektif. Pencegahan kekurangan Vitamin A dan munculnya kasus rabun senja (xeropthalmia) dilakukan dengan upaya penyadaran gizi kepada masyarakat. b. (2) Perbaikan gizi mikro sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui penyuluhan. pemantauan dan evaluasi pelaksanaan kegiatan penanggulangan GAKY dengan Bupati/Walikota. Koordinasi pengawasan terhadap garam yang beredar di pasar termasuk pelarangan garam tidak beryodium dan garam beryodium yang tidak memenuhi Standar Nasional Indonesia. strategi suplementasi kampanye dan monitoring garam yang efektif. distribusi dan konsumsi garam beryodium. Penanggulangan kekurangan Seng (Zn). Koordinasi penanggulangan. dan d.

Peningkatan asuhan gizi di Rumah Sakit dan Puskesmas Perawatan yang merupakan bagian dari sistem terapi kesembuhan pasien melalui kerja sama dengan asuhan medis. (2) Kebutuhan dan tersedianya Tenaga Gizi terlatih di Rumah Sakit dan Puskesmas Perawatan ditentukan berdasarkan rasio pasien rawat inap dan rawat jalan pada masing-masing rumah sakit sesuai dengan standar nasional yang ditentukan. b. informasi dan edukasi gizi.14 - Bagian Keenam Perbaikan Gizi Klinik Pasal 23 (1) Perbaikan gizi klinik meliputi: a. Penyelenggaraan penelitian aplikasi di bidang gizi dan dietetik.. asuhan kefarmasian dan asuhan keperawatan rumah sakit. (5) Perbaikan gizi klinik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diikuti dengan upaya komunikasi. Peningkatan kualitas pelayanan gizi bagi pasien rawat inap maupun pasien rawat jalan di rumah sakit dan Puskesmas Perawatan melalui pelayanan gizi rumah sakit dan Puskesmas Perawatan yang profesional serta berorientasi pada kebutuhan dan kepuasan pasien. (3) Peningkatan jenjang pendidikan bagi petugas gizi rumah sakit dan Puskesmas Perawatan perlu dilaksanakan sesuai kebutuhan dan perkembangan keilmuan yang terkait dengan peningkatan pelayanan gizi di rumah sakit dan Puskesmas Perawatan. (4) Penyelenggaraan makanan rumah sakit dan Puskesmas Perawatan dapat diselenggarakan secara swa kelola dan atau oleh pihak ketiga (outsourcing) dengan pengawasan Tenaga Gizi terlatih. dan c. (2) Perbaikan . Bagian Ketujuh Perbaikan Gizi Institusi Pasal 24 (1) Bagi institusi penyelenggaraan makanan banyak harus mendayagunakan Tenaga Gizi terlatih sesuai dengan kebutuhan berdasarkan jumlah yang dilayani sebagai konsultan.

(4) Institusi Pendidikan Gizi milik Pemerintah Daerah Provinsi diperlukan untuk mencetak tenaga gizi yang kompeten. gizi gizi dalam yang informasi dan pendidikan gizi kepada masyarakat. meningkatkan tenaga dan pemahaman memberikan berkualitas. BAB VII TENAGA GIZI DAN PENDIDIKAN GIZI Pasal 26 (1) Perencanaan.. Bagian Kedelapan Revitalisasi Posyandu Pasal 25 (1) Revitalisasi pendekatan Posyandu upaya dititikberatkan kesehatan pada strategi daya bersumber masyarakat dengan akses pada modal sosial budaya masyarakat yang didasarkan atas nilai-nilai tradisi gotong royong menuju kemandirian dan keswadayaan masyarakat. (5) Pendidikan gizi wajib diintegrasikan pada kurikulum pendidikan anak sekolah dasar dan menengah agar mengenal gizi seimbang sejak dini. (3) Penyelenggaraan Posyandu dilakukan oleh Kader yang telah dilatih di bidang kesehatan dan gizi. memenuhi kecukupan gizi. (2) Tenaga (3) Dinas gizi secara mempunyai rutin kompetensi memberikan pengetahuan. bervariasi. pengadaan dan distribusi tenaga gizi di Jawa Timur disesuaikan dengan rasio kebutuhan tenaga gizi dengan jumlah penduduk. dapat diterima dan menyenangkan konsumen/klien dengan memperhatikan standar sanitasi dan kebersihan. BAB VIII dan keterampilan pelayanan penanganan . profesional dan beretika.15 - (2) Perbaikan gizi institusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan menyediakan makanan yang berkualitas baik. (2) Pemerintah Daerah Provinsi mensosialisasikan dan mengkoordinasikan pelaksanaannya revitalisasi Posyandu dengan melibatkan peran serta masyarakat.

pemahaman dan keterampilan Petugas Gizi dalam memberikan pelayanan dan penanganan gizi yang berkualitas.. (2) Penyuluhan gizi di dalam gedung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan di Pojok Gizi Puskesmas dan Rumah Sakit sebagai bagian dari upaya kesehatan perorangan. BAB IX PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GIZI Pasal 29 (1) Penelitian dan pengembangan gizi dilakukan guna penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna di bidang gizi dalam rangka menentukan upaya perbaikan gizi.16 - BAB VIII PELATIHAN DAN PENYULUHAN GIZI Pasal 27 (1) Pelatihan gizi diselenggarakan dalam upaya peningkatan pengetahuan. BAB X . (4) Penyuluhan gizi juga dilakukan di rumah sakit dalam bentuk konseling gizi di ruang rawat inap serta penyuluhan kelompok di ruang rawat jalan. (2) Penelitian. (2) Pelatihan gizi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan secara periodik oleh Dinas. dilaksanakan pengembangan dengan dan penerapan hasil penelitian gizi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memperhatikan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. (3) Penyuluhan gizi di luar gedung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan di Posyandu dan pertemuanpertemuan kelompok-kelompok masyarakat. Pasal 28 (1) Penyuluhan gizi kepada masyarakat diselenggarakan di dalam gedung dan di luar gedung.

(3) Pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil yang kurang energi kronis dan balita gizi kurang atau buruk diutamakan berbasis makanan tradisional setempat. (3) Tim Pangan dan Gizi Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat memberikan advokasi kepada kabupaten/kota masyarakat. sehubungan dengan perbaikan gizi BAB XII . (4) Pembentukan Tim Pangan dan Gizi Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dalam Keputusan Gubernur. (4) Pemerintah Daerah Provinsi membuat program progresif yang memberikan insentif langsung kepada produsen makanan tradisional sehingga memiliki tata kelola yang baik. BAB XI TIM PANGAN DAN GIZI DAERAH Pasal 31 (1) Tim Pangan dan Gizi Daerah dibentuk sebagai wadah koordinasi lintas sektor di bidang gizi yang membantu Gubernur dalam perencanaan dan pelaksanaan usaha perbaikan gizi masyarakat. mengkaji nilai gizi dan menyebarluaskan hasil kajian terhadap berbagai jenis makanan tradisional di Jawa Timur. (2) Dinas menginventarisir.17 - BAB X MAKANAN TRADISIONAL Pasal 30 (1) Pemerintah Daerah Provinsi bersama masyarakat melakukan upaya-upaya pelestarian dan pengembangan makanan tradisional sebagai kearifan lokal yang ada di daerah masing-masing. (2) Tim Pangan dan Gizi Daerah sebagaimana dimaksud ayat (1) dikoordinasikan oleh Dinas..

(2) Apabila sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak diindahkan. (2) Dalam rangka penyempurnaan dan peningkatan status gizi masyarakat. BAB XIII PERAN SERTA MASYARAKAT Pasal 33 (1) Masyarakat memiliki kesempatan untuk berperan seluas-luasnya dalam mewujudkan peningkatan status gizi individu. sesuai dengan ketentuan peraturan daerah ini dan peraturan pelaksanaannya. (3) Setiap orang yang dengan sengaja menghalang-halangi Petugas kesehatan dalam melaksanakan kegiatan perbaikan gizi dikenakan sanksi sesuai ketentuan perundang-undangan. mendorong dan menggerakkan swadaya masyarakat di bidang gizi agar dapat lebih berdaya guna dan berhasil guna. BAB XV . BAB XIV SANKSI Pasal 34 (1) Setiap orang yang melanggar ketentuan Pasal 16 ayat (1) dan pada makanan yang dijual mengandung bahan tambahan makanan yang dilarang dikenakan sanksi sebagai berikut: a. masyarakat dapat menyampaikan permasalahan. Teguran tertulis. maka dilakukan koordinasi dengan Lembaga yang berwenang. masukan dan atau cara pemecahan masalah mengenai hal-hal di bidang pangan dan gizi. (3) Pemerintah Daerah Provinsi membina. b. Teguran lisan.. keluarga dan masyarakat.18 - BAB XII ANGGARAN Pasal 32 Anggaran untuk upaya-upaya perbaikan gizi di Jawa Timur bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi Jawa Timur dan didukung dari sumber-sumber lain yang resmi serta tidak mengikat.

19 - BAB XV KETENTUAN PENUTUP Pasal 35 (1) Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan Daerah ini sepanjang mengenai teknis pelaksanaannya diatur lebih lanjut dalam Peraturan Gubernur. SOEKARWO PENJELASAN . Pasal 36 Peraturan Agar Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. H. (2) Peraturan Gubernur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan paling lama 6 (enam) bulan sejak diundangkannya Peraturan Daerah ini. Ditetapkan di Surabaya pada tanggal 14 Nopember 2011 GUBERNUR JAWA TIMUR ttd Dr.. setiap orang mengetahuinya. memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Provinsi Jawa Timur.

MH Pembina Utama Muda NIP 19590501 198003 1 010 .Si LEMBARAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 9 TAHUN 2011 SERI D. SEKRETARIS DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR Kepala Biro Hukum ttd. SUPRIANTO. Dr. H. RASIYO.20 - Diundangkan di Surabaya Pada tanggal 30 Desember 2011 SEKRETARIS DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR ttd.n. Sesuai dengan aslinya a. M. SH..

18 target dan menegaskan 2015 setiap menurunkan kemiskinan dan kelaparan separuh dari kondisi pada tahun 1990.900 balita kita terkena gizi kurang. Salah satu sasarannya adalah menurunnya prevalensi gizi kurang menjadi setinggi-tingginya 20% (termasuk penurunan prevalensi gizi buruk menjadi 5 %) pada tahun 2014. sebanyak 34. terdapat 12. yang mencakup program-program prioritas yaitu: program Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat. Dua dari lima indikator sebagai penjabaran tujuan pertama MDGs adalah menurunnya prevalensi gizi kurang pada anak balita (indikator keempat) dan menurunnya jumlah penduduk dengan defisit energi (indikator kelima). Di Provinsi Jawa Timur. global yang bahwa dituangkan tahun dalam Millenium negara Development Goals (MDGs) yang terdiri dari 8 tujuan. PENJELASAN UMUM Kesepakatan 48 indikator. Pemerintah telah menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2009-2014 Bidang Kesehatan. berdasarkan data hasil kegiatan Pemantauan Status Gizi pada tahun 2009.9%.PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG PERBAIKAN GIZI I. dan program Perbaikan Gizi Masyarakat. Di samping .7 juta maka sekitar 469.7% angka kejadian gizi buruk dan gizi kurang. program Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit. Sejalan dengan upaya mencapai kesepakatan global tersebut dan didasari oleh perkembangan masalah dan penyebab masalah serta lingkungan strategis.2% balita mengalami status gizi pendek. akan tetapi karena jumlah balita di Jawa Timur cukup besar yaitu kurang lebih 3. Meskipun angka tersebut di bawah capaian nasional yang 17. program Lingkungan Sehat.

4%). Gambaran ditunjukkan perilaku gizi yang belum baik antara lain dengan masih rendahnya pemanfaatan fasilitas pelayanan oleh masyarakat.8%). Berdasarkan hasil pemantauan dan laporan Kejadian Luar Biasa (KLB) Gizi Buruk di Jawa Timur tahun 2009.5 juta IQ poin akibat kekurangan gizi.1%). tingginya konsumsi garam dan meningkatnya konsumsi makananan yang tinggi lemak serta berkurangnya aktifitas olah raga pada sebagian masyarakat terutama di perkotaan. 2). Kemiskinan (25. perkembangan intelektual dan produktivitas. Gaya hidup demikian akan meningkatkan gizi lebih yang merupakan faktor risiko terhadap penyakit tidak menular dan kematian. Rendahnya pola asuh ini berkaitan erat dengan masih rendahnya pengetahuan masyarakat tentang gizi serta perilaku gizi yang tidak sesuai. 3). dan mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan otak yang berpengaruh pada rendahnya tingkat kecerdasan. Di Jawa Timur telah terjadi perubahan pola makan seperti rendahnya konsumsi buah dan sayur. yang diperkirakan antara 20-30%. Faktor lainlain (5. Penyakit Penyerta (23. karena tumbuh kembang otak 80 % terjadi pada masa dalam kandungan sampai usia 2 tahun. Demikian pula dengan perilaku gizi lainnya juga masih belum baik yaitu masih rendahnya ibu yang menyusui bayi umur 0 – 6 bulan secara eksklusif baru mencapai 42%. serta masih adanya sebagian masyarakat dengan pola makan yang belum beragam. diketahui bahwa penyebab gizi buruk adalah karena faktor : 1) Pola Asuh (40. Anak yang kekurangan gizi pada usia balita akan tumbuh pendek. dan sekitar 85% rumah tangga yang menggunakan garam beryodium yang memenuhi syarat. Disadari . dan 4). Saat ini di Jawa Timur baru sekitar 73% balita yang dibawa ke Posyandu untuk ditimbang sebagai upaya deteksi dini gangguan pertumbuhan dan ibu hamil yang mengkonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) baru mencapai 73%.7%).-2Di samping dampak langsung terhadap kesakitan dan kematian. gizi kurang juga berdampak terhadap pertumbuhan. Dampak lain dari gizi kurang adalah menurunkan produktivitas. Diperkirakan bahwa Provinsi Jawa Timur kehilangan 18.

Kedua intervensi gizi terbukti dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Berbagai pihak terkait perlu memahami problem masalah gizi dan dampak yang ditimbulkan begitu juga sebaliknya. zat pemanis. Huruf b . Pasal 2 Huruf a Yang dimaksud asas berpihak kepada masyarakat adalah dalam upaya perbaikan hak setiap gizi di Jawa untuk Timur harus memperhatikan warga meningkatkan kualitas hidupnya. Upaya perbaikan gizi di Jawa Timur akan lebih efektif jika merupakan bagian dari kebijakan penanggulangan kemiskinan dan pembangunan SDM. bagaimana pembangunan berbagai sektor memberi dampak kepada perbaikan status gizi. oleh karena itu tujuan pembangunan beserta target yang ditetapkan di bidang perbaikan gizi memerlukan keterlibatan seluruh sektor terkait. contoh tingginya zat pewarna. Atas dasar itu. Membiarkan penduduk menderita masalah kurang gizi akan menghambat pencapaian tujuan pembangunan dalam hal pengurangan kemiskinan. Ketiga membantu menurunkan kemiskinan melalui perbaikan produktivitas kerja pengurangan hari sakit dan biaya pengobatan. telah dikonsumsi masyarakat terutama anak-anak sekolah dan ibu hamil.-3Disadari atau tidak. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Cukup jelas. II. zat pengawet. untuk lebih mengoptimalkan perbaikan gizi di Provinsi Jawa Timur perlu diatur dalam Peraturan Daerah. Pertama adalah karena perbaikan gizi memiliki ‘economic tingkat returns’ yang tinggi. yang pada gilirannya akan menurunkan kecerdasan anak kita. Perbaikan gizi di Jawa Timur merupakan investasi yang sangat menguntungkan. telah banyak makanan dan minuman di Jawa Timur yang jauh dari standar keamanan pangan.

Huruf e Yang dimaksud asas peka budaya adalah asas yang menentukan bahwa dalam segala hal yang berhubungan dengan perbaikan gizi harus memperhatikan sosio budaya gizi daerah setempat.-4Huruf b Yang dimaksud asas bertindak cepat dan akurat adalah dalam upaya perbaikan gizi. Pasal 4 Cukup jelas. Pasal 5 Cukup jelas. Huruf d Yang dimaksud asas transparansi adalah asas yang menentukan bahwa dalam segala hal yang berhubungan dengan perbaikan gizi harus dilakukan secara terbuka. akan tetapi membutuhkan dukungan sektor dan program lain. Huruf f Yang dengan dimaksud perbaikan asas gizi akuntabilitas harus adalah asas yang penuh menentukan bahwa dalam segala hal yang berhubungan dilakukan dengan tanggung jawab. Huruf c Yang dimaksud asas penguatan kelembagaan dan kerja sama adalah upaya perbaikan gizi tidak hanya dapat dilakukan secara sektoral. Pasal 3 Cukup jelas. tenaga gizi terlatih harus bertindak sesuai prosedur tetap pelayanan gizi dan kode etik profesi. Pasal 6 .

dan . Penanggulangan Kejadian Luar Biasa Gizi dan Tata Laksana Gizi Buruk adalah serangkaian kegiatan dalam mencegah. Ayat (4) Institusi penyelenggaraan makanan banyak adalah institusi apapun yang memberikan pelayanan gizi pada sekelompok orang.Usia bayi ( 0 – 12 bulan ). Pasal 7 Cukup jelas.Batita dibawah usia tiga tahun. Huruf b Cukup jelas.Balita dibawah usia lima tahun. Ayat (3) Cukup jelas. Huruf e Cukup jelas. Huruf f . . Pasal 8 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Yang dimaksud Balita adalah anak usia dibawah lima tahun untuk kepentingan intervensi dan perbaikan gizi dapat dibagi golongan : . Pasal 9 Huruf a Yang dimaksud Surveilans Gizi. menemukan dan menanggulangi kasus gizi buruk.Badita dibawah usia dua tahun. Huruf c Cukup jelas. .-5Pasal 6 Cukup jelas. Huruf d Cukup jelas.

. Huruf g Cukup jelas. swadana masyarakat. Pasal 12 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 11 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (3) Sumber dana untuk pos pemulihan gizi berbasis masyarakat dapat melalui anggaran resmi dari Pemerintah. CSR. Ayat (2) Yang dimaksud standar yang ditentukan adalah penilaian status gizi pada anak di bawah lima tahun berdasarkan indeks berat badan dibanding tinggi badan yang dikonversikan dengan standar tabel resmi NCHS-WHO.-6Huruf f Cukup jelas. berlaku. Ayat (2) Penanganan kasus gizi buruk dengan komplikasi dilakukan melalui mekanisme rujukan secara berjenjang mulai dari sarana pelayanan kesehatan tingkat bawah dan seterusnya. Pasal 10 Cukup jelas. Pasal 13 dan bantuan dari pihak-pihak lain yang tidak mengikat sesuai dengan peraturan perundangan yang . Huruf h Cukup jelas.

pengolahan. Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas.-7Pasal 13 Ayat (1) Surveilans Gizi pada Pengungsi adalah proses pengamatan keadaan gizi pada pengungsi secara terus menerus untuk pengambilan intervensi. penyimpanan dan pendistribusian untuk menghasilan produk makanan atau minuman yang aman dan layak dikonsumsi oleh konsumen. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (3 . keputusan dalam menentukan tindakan Pasal 14 Cukup jelas. Ayat (2) Yang dimaksud apabila bila kabupaten/kota bencana tidak mampu di menangani kasus bencana alam atau keadaan darurat lain di wilayahnya adalah yang terjadi kabupaten/kota sudah menjadi masalah Provinsi atau bila kabupaten/kota yang terkena bencana tersebut meminta bantuan Pemerintah Daerah Provinsi. Pasal 15 Ayat (1) Yang dimaksud menyelenggarakan sistem pengawasan mutu makanan adalah kegiatan yang mengawasi suatu proses dalam kegiatan pengolahan yang meliputi bahan baku.

dalam hal ini Dinas Kesehatan atau Balai Pengawasan Obat dan Makanan. Huruf f Cukup jelas. Pasal 16 Cukup jelas.5 cm. Ayat (3 . Huruf b Jumlah dan mutu yang tepat adalah pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) pada anak usia 6 – 24 bulan dengan bentuk makanan dan nilai gizi yang disesuaikan dengan kecukupan gizi anak. Huruf d Ibu hamil yang Kurang Energi Kronis (KEK) adalah keadaan status gizi dimana Lingkar Lengan Atas (LILA) ibu hamil kurang dari 23. Huruf c Cukup jelas.-8Ayat (3) Yang dimaksud direkomendasikan oleh tenaga gizi terlatih adalah temuan-temuan hasil produksi makanan atau minuman yang tidak sesuai dengan standar ilmu gizi kepada pihak yang berwenang. Ayat (2) Cukup jelas. Huruf e Cukup jelas. Pasal 17 Ayat (1) Huruf a Cukup jelas.

Pasal 21 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 22 Cukup jelas. Pasal 18 Cukup jelas. Pasal 25 . Ayat (2) Diversifikasi adalah penganekaragaman konsumsi pangan. Pasal 23 Cukup jelas. Fortifikasi adalah penambahan zat gizi esensial pada pangan tertentu yang sebelumnya tidak mengandung zat gizi yang bersangkutan dalam rangka pencegahan timbulnya gangguan gizi dan perbaikan status gizi masyarakat.-9Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 24 Cukup jelas. Pasal19 Cukup jelas. Suplementasi adalah penambahan zat gizi untuk dikonsumsi. Pasal 20 Cukup jelas.

10 Pasal 25 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 30 Cukup jelas. Lembaga Swadaya Masyarakat bidang kesehatan dan gizi atau sponsorship. funding. Pasal 29 Cukup jelas. Pasal 31 Cukup jelas. Pasal 28 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 26 Cukup jelas.. Pasal 27 Cukup jelas. Pasal 33 . Pasal 32 Yang dimaksud sumber-sumber lain yang tidak mengikat misalnya pihak swasta di bidang makanan dan minuman. Ayat (3) Kader adalah warga masyarakat setempat yang dipilih oleh masyarakat dan dapat bekerja secara sukarela untuk mengembangkan masyarakat.

POLRI dan/atau Pejabat Penerbit Izin Produksi. Pasal 36 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas.. lembaga donor. Pasal 35 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. TAMBAHAN LEMBARAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 9 . sektor swasta. Ayat (2) Yang dimaksud lembaga yang berwenang adalah BPOM. Perguruan Tinggi. dan lain-lain. dunia usaha. Pasal 34 Ayat (1) Cukup jelas.11 Pasal 33 Ayat (1) Yang dimaksud masyarakat adalah Lembaga Swadaya Masyarakat. Organisasi Massa.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->