PENGANTAR

Kebutuhan jagung terus meningkat, baik untuk pangan maupun pakan. Dewasa ini kebutuhan jagung untuk pakan sudah lebih dari 50% kebutuhan nasional. Peningkatan kebutuhan jagung terkait dengan makin berkembangnya usaha peternakan, terutama unggas. Sementara itu produksi jagung dalam negeri belum mampu memenuhi semua kebutuhan, sehingga kekurangannya dipenuhi dari jagung impor. Ditinjau dari sumber daya yang dimiliki, Indonesia mampu berswasembada jagung, dan bahkan mampu pula menjadi pemasok jagung di pasar dunia. Untuk mewujudkan hal itu diperlukan berbagai dukungan, terutama teknologi, investasi, dan kebijakan. Secara teknis, upaya peningkatan produksi jagung di dalam negeri dapat ditempuh melalui perluasan areal tanam dan peningkatan produktivitas. Salah satu cara yang dapat ditempuh untuk meningkatkan produktivitas jagung adalah menerapkan teknologi dengan pendekatan Pengeloaan Tanaman Terpadu (PTT). Dalam pengembangannya, PTT tidak menggunakan pendekatan paket teknologi, melainkan dengan pendekatan penerapan teknologi untuk memecahkan masalah usahatani di wilayah tertentu dan bersifat spesifik lokasi dengan bantuan para penyuluh dan petugas pertanian. Tujuan utama penerapan PTT adalah untuk meningkatkan produksi, pendapatan petani, dan menjaga kelestarian lingkungan. Disusun berdasarkan hasil penelitian dalam beberapa terkahir pada lahan kering dan lahan sawah di berbagai daerah, buku panduan ini diperuntukkan bagi penyuluh pertanian untuk dapat dijadikan acuan dalam pengembangan PTT jagung di wilayah kerjanya. Buku panduan ini diharapkan dapat pula digunakan sebagai acuan dalam pelatihan PTT jagung di daerah, baik yang diselenggarakan oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian maupun Dinas Pertanian dan institusi terkait lainnya. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Prof. Dr. Ir. Achmad Suryana, MS

1

TIM PENYUSUN Penanggung Jawab Ketua Anggota : Prof. Dr. Ir. Achmad Suryana, MS Kepala Badan Litbang Pertanian : Prof. Dr. Ir. Suyamto Kepala Pusalitbang Tanaman Pangan : Ir. Zubachtirodin, MS Dr. M.S. Pabbage Dr. Sania Saenong

Badan Penelitian dan Pengambangan Pertanian Jl. Ragunan No. 29 Pasarminggu, Jakarta Selatan Telp. : (021) 7806202 Faks. : (021) 7800644 Email : kabadan@litbang.deptan.go.id Pusat Penelitian dan Pengambangan Tanaman Pangan Jl. Merdeka No.147 Bogor, Jawa Barat Telp. : (0251) 334089 Faks. : (0251) 312755 Email : crifc1@indo.net.id atau crifc3@indo.net.id Balai Penelitian Tanaman Serealia Jl. Ratulangi No.274 Maros, Sulawesi Selatan Telp. : (0411) 371529 Faks. : (0411) 371961 Email : balitsereal@plasa.com

2

DAFTAR ISI PENGANTAR TIM PENYUSUN DAFTAR ISI PENDAHULUAN PENGERTIAN PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU (PTT) TAHAPAN KEGIATAN PELAKSANAAN PTT KOMPONEN TEKNOLOGI PRODUKSI Varietas unggul Benih bermutu Populasi tanaman Pemupukan dan pengelolaan air Pembuatan saluran drainase/irigasi TEKNOLOGI BUDI DAYA SPESIFIK AGROEKOLOGI Lahan Kering Varietas Benih Penyiapan lahan Penanaman Pemupukan Pembuatan saluran drainase Pengendalian hama Pengendalian penyakit Penyiangan gulma Panen dan prosesing hasil Lahan Sawah Varietas Benih Penyiapan lahan Penanaman Pemupukan Pembuatan saluran irigasi Pemberian air Pengendalian hama Pengendalian penyakit Penyiangan gulma Panen dan prosesing PENUTUP BAHAN BACAAN i ii iii 1 2 2 3 5 7 7 8 13 14 14 14 14 14 15 15 16 17 17 17 18 18 18 19 19 20 21 21 22 22 23 24 3 .

PENDAHULUAN Peningkatan produksi jagung dalam negeri masih terbuka lebar baik melalui peningkatan produktivitas maupun perluasan areal tanam utamanya di luar Jawa. 4 . dan (c) petani jagung musim kemarau memperoleh pendapatan yang lebih baik karena harga jagung yang relatif tinggi. Pengembangan jagung di lahan sawah pada musim kemarau merupakan sesuatu yang strategis. Keberhasilan perbaikan produkivitas dan pendapatan tersebut pada gilirannya akan memperlancar upaya pengembangan areal pertanaman jagung di Indonesia. tergantung pada potensi lahan dan teknologi produksinya.0 – 9. namun rata-rata tingkat produktivitas jagung nasional dari areal panen sekitar 3. Kegiatan litbang jagung dari berbagai institusi baik pemerintah maupun swasta telah mampu menyediakan teknologi produksi jagung dengan tingkat produktivitas 4. Untuk itu diperlukan penyediaan teknologi produksi jagung yang beragam dan spesifik lingkungan.40 t/ha. Budidaya jagung dengan pendekatan Pengeloaan Tanaman Terpadu (PTT) diharapkan mampu memberikan produktivitas dan pendapatan petani yang optimal karena efisiensi produksi akan meningkat. juga akan semakin berkembang industri-industri lainnya. (b) kualitas produk jagung pertanaman musim kemarau adalah tinggi. Meskipun produktivitas jagung meningkat. Upaya peningkatan produktivitas dan perluasan areal tanam akan berlangsung pada berbagai lingkungan atau agro-ekosistem beragam mulai dari lingkungan berproduktivitas tinggi (lahan subur) sampai yang berproduktivitas rendah (lahan sub-optimal dan marjinal). Memperpadukan sejumlah komponen teknologi produksi diharapkan akan meningkatkan produktivitas dan pendapatan usahatani jagung. karena: (a) dapat mengurangi/mengatasi defisit pasokan jagung yang umumnya terjadi pada musim kemarau.60 juta hektar baru mencapai 3.0 ton/ha. Industri yang membutuhkan jagung sebagai bahan baku tidak hanya terbatas pada industri unggas dan produksi ternak/daging seperti sapi. pada umumnya masih bersifat parsial khususnya bagi wilayah berproduktivitas rendah. serta penerapannya pada skala yang luas akan dapat meningkatkan produksi jagung nasional dan ekonomi masyarakat yang terkait. Penerapan teknologi budidaya jagung oleh petani yang sekarang berlaku.

5 . dan pada gilirannya dapat mempercepat peningkatan produksi dan pengembangan pertanaman jagung untuk memenuhi kebutuhan produk jagung dalam negeri (swasembada) dan mengisi peluang ekspor. dan pemasaran). akan tetapi lebih merupakan suatu pendekatan dalam budi daya jagung yang menekankan pada pengelolaan tanaman. permodalan. peluang pasar jagung yang terbuka di pasaran regional dan global dapat dimanfaatkan oleh Indonesia. maka impor jagung yang sekarang besar dapat di kurangi atau ditiadakan. sehingga penyelesaian masalah dapat sampai ke akar permasalahan. PENGERTIAN PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU (PTT) Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) bukanlah suatu paket teknologi. kemampuan. Dengan menerapkan pendekatan PTT dalam usahatani jagung. Keberlanjutan sistem produksi jagung ini akan dapat memantapkan sistem kelembagaan penunjang produksi (penyedia sarana. PRA merupakan tahapan pertama yang harus dilakukan sebelum pelaksanaan PTT di suatu wilayah pengembangan jagung. air dan organisme pengganggu secara terpadu. diharapkan produktivitas akan meningkat secara berkelanjutan dan efisiensi produksi dapat dicapai dengan memperhatikan sumber daya. Pelaksanaan PRA seyogyanya dilakukan oleh suatu tim yang terdiri atas berbagai disiplin ilmu agar dapat teridentifikasi permasalahan dan kendala yang ada secara holistik.Jika upaya peningkatan produksi jagung dalam negeri berhasil. Bahkan lebih jauh dari itu. TAHAPAN KEGIATAN PELAKSANAAN PTT Pengembangan jagung melalui pendekatan PTT harus didasarkan pada masalah dan kendala yang ada di suatu wilayah. hal ini dimaksudkan agar masalah utama yang dihadapi petani dapat diketahui dan dipahami. lahan. Pengelolaan yang diterapkan mempertimbangkan hubungan sinergis dan komplementer antar-komponen. Melalui PRA keinginan dan harapan petani dapat diketahui. dan karakteristik lingkungan biofisik. dan kemauan petani. dan dapat diketahui melalui PRA (Participatory Rural Appraisal) yang merupakan penelaahan partisipatif dalam waktu singkat.

2. diberi perlakuan benih (seed treatment) dengan metalaksil 2 g (bahan produk) per 1 kg benih. Pemupukan Nitrogen (N) berdasarkan stadia pertumbuhan tanaman dan Bagan Warna Daun (BWD). Komponen teknologi alternatif ini dipersiapkan untuk mengganti atau mensubtitusi komponen teknologi yang dinilai kurang sesuai. 6 . Benih bermutu (kemurnian/bersertifikat dan daya kecambah > 95%). budaya petani setempat dan masyarakat sekitarnya dapat dipahami. semakin kecil ukuran benih bobot 1000 biji < 200 g) semakin sedikit kebutuhan benih. 4. lingkungan. 5. Populasi tanaman sekitar 66. 3. Bersamaan dengan itu diperagakan komponen teknologi alternatif pada luasan sekitar 1 ha dalam bentuk superimpose atau petak percontohan. dan keinginan petani setempat. KOMPONEN TEKNOLOGI PRODUKSI Mengingat tanaman jagung dapat diusahakan baik pada lahan kering maupun lahan sawah (tadah hujan atau irigasi) maka komponen teknologi alternatif yang dapat diterapkan dalam produksi jagung terkait dengan pengembangan PTT terdiri atas: 1. sesuai dengan perkembangan inovasi dan masukan dari petani serta masyarakat setempat. adalah menyusun komponen teknologi yang sesuai dengan karakteristik dan diharapkan dapat menyelesaikan masalah di wilayah pengembangan. karena seiring dengan waktu akan mengalami perbaikan dan perubahan. Varietas unggul baru yang sesuai dengan karakteristik lahan.kondisi sosial-ekonomi. jarak tanam 75 cm x 40 cm 2 tanaman/lubang atau 75 cm x 20 cm 1 tanaman/lubang.600 tanaman/ha. Komponen teknologi tersebut hendaknya yang bersifat dinamis. sebagai sarana pelatihan bagi petani atau petugas lapang. Tahapan terakhir adalah menerapkan teknologi utama PTT pada hamparan yang luas (misalnya seluas ~ 100 ha). Tahapan selanjutnya yang harus dilakukan setelah mengetahui dan memahami masalah yang ada. baik jenis komposit/bersari bebas ataupun hibrida. Kebutuhan benih 15 – 20 kg/ha tergantung ukuran benih.

Pengendalian hama dan penyakit secara terpadu (PHT). Pemupukan Nitrogen (N) berdasarkan stadia pertumbuhan tanaman dan Bagan Warna Daun (BWD). 3. 9. 2. Pemupukan P dan K berdasarkan status hara tanah sesuai hasil analisis laboratorium. jarak tanam 75 cm x 40 cm 2 tanaman/lubang atau 75 cm x 20 cm 1 tanaman/lubang. Ada lima komponen teknologi yang dapat diterapkan secara bersamaan (compulsory) sebagai penciri model PTT jagung. Populasi tanaman sekitar 66. Pengendalian gulma secara terpadu. baik jenis komposit/bersari bebas ataupun hibrida. 11. Berdasarkan sifatnya. Pembuatan saluran drainase (khusus untuk pertanaman pada lahan kering saat musim hujan). Pemupukan P dan K berdasarkan status hara tanah sesuai hasil analisis laboratorium. Benih bermutu (kemurnian/bersertifikat dan daya kecambah > 95%). komponen-komponen teknologi tersebut dapat dibedakan menjadi dua bagian: (1) teknologi untuk tujuan memcahkan masalah setempat atau spesifik lokasi.6.5 – 2.0 t/ha) sebagai penutup benih pada lubang tanam. 8. lingkungan. 7 .0 t/ha) sebagai penutup benih pada lubang tanam untuk pemecahan masalah kesuburan tanah terutama pada lahan kering masam. Varietas unggul baru yang sesuai dengan karakteristik lahan. dan keinginan petani setempat. Pemberian air melalui saluran-saluran dan dilakukan sesuai kebutuhan (khusus untuk pertanaman pada lahan sawah saat musim kemarau). 10. yaitu: 1. Panen dan prosesing dengan alat pemipil. 12. Bahan organik (pupuk kandang 1. Bahan organik (pupuk kandang 1. dan (2) teknologi untuk perbaikan cara budi daya yang efisien. 4. Dalam penerapannya tidak semua komponen teknologi diterapkan sekaligus. diberi perlakuan benih (seed treatment) dengan metalaksil 2 g (bahan produk) per 1 kg benih.600 tanaman/ha. 7. terutama di lokasi yang mempunyai masalah spesifik.5 – 2.

semakin memudahkan petani mengambil keputusan untuk menentukan suatu varietas yang sesuai dengan sumber daya yang ada di lingkungannya. Semakin banyak varietas yang dilepas dan tersedia di tingkat petani dengan karakter spesifik yang sesuai dengan kondisi lingkungan setempat. karakter tanaman lain yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan varietas jagung unggul adalah kesesuaiannya dengan kondisi lingkungan (tanah dan iklim). antara lain toleran kekeringan dan tanah masam. 8 . varietas unggul (baik hibrida maupun bersari bebas) mempunyai peranan penting dalam upaya peningkatan produktivas jagung. sumbangan terhadap peningkatan produksi dan efisiensi produksi jagung cukup besar. Varietas Unggul Diantara komponen teknologi produksi jagung. Selain potensi produktivitas dan ketahanannya terhadap hama dan penyakit. Jika kelima komponen teknologi tersebut diterapkan secara bersamaan. 1. Pembuatan saluran drainase (khusus untuk pertanaman pada lahan kering saat musim hujan) atau saluran distribusi air (khusus untuk pertanaman pada lahan sawah saat musim kemarau).5. serta preferensi petani terhadap karakter lainnya seperti umur dan warna biji. Peranannya menonjol baik dalam potensi peningkatan hasil per satuan luas maupun sebagai salah satu komponen pengendalian hama dan penyakit.

1 7.0 9.5 9.0 9.0 8.0 7.0 8.9 9.0 90 82 90 95 95 105 110 110 103 Toleran Toleran kekeringan AgakToleran Umur genjah AgakToleran Umur sedang AgakToleran T.5 9.0 94 90 98 98 98 94 95 97 97 100 100 Toleran Toleran Toleran Toleran Toleran Toleran Toleran Toleran kekeringan Umur sedang Umur sedang Umur sedang Umur sedang Umur sedang Umur sedang 1996 2000 2000 2000 2003 2003 2004 2004 2006 7.0 7. Varietas unggul jagung yang telah dilepas oleh Badan Litbang Pertanian dalam kurun waktu 10 tahun terakhir (1996 – 2006).0 10. kekeringan Toleran Toleran Rendah Rendah Rendah Umur sedang T. Tabel 1.9 8. kemasaman Protein bermutu Protein bermutu Sesuai untuk pangan Potensi Tahun pelepasan hasil (t/ha) Umur panen (hari) Ketahanan penyakit bulai Keunggulan spesifik Sukamaraga Agak Toleran Biomas tinggi Agak Toleran Stay green Agak Toleran Stay green Toleran Stay green 9 .0 8.5 7.0 8. Varietas Komposit/bersari bebas Lagaligo Gumarang Kresna Lamuru Palakka Sukmaraga Srikandi Kuning-1 Srikandi Putih-1 Anoman-1 (Putih) Hibrida Semar-3 Semar-4 Semar-5 Semar-6 Semar-7 Semar-8 Semar-9 Semar-10 Bima-1 Bima-2 Bantimurung Bima-3 Bantimurung 1996 1999 1999 1999 1999 1999 1999 2001 2001 2006 2006 9.6 8.0 11.Varietas-varietas jagung unggul bersari bebas/komposit dan hibrida yang telah dihasilkan oleh Badan Litbang Pertanian selama 10 tahun terakhir disajikan dalam Tabel 1.5 8.

Hal ini penting karena dalam budidaya jagung tidak dianjurkan melakukan penyulaman tanaman yang tidak tumbuh dengan menanam ulang benih pada tempat tanaman yang tidak tumbuh. Benih Bermutu Selain varietas unggul yang mampu memberikan produktivitas tinggi. dengan penggunaan benih yang bermutu merupakan langkah awal menuju keberhasilan dalam usahatani jagung. sehingga tidak akan mampu meningkatkan hasil. Pemilihan suatu varietas unggul yang sesuai kondisi lingkungan setempat. hendaknya diberi perlakuan benih (seed treatment) dengan metalaksil (umumnya berwarna merah) sebanyak 2 g (bahan produk) per 1 kg benih yang dicampur dengan 10 ml air. jika ditanam akan tumbuh serentak pada saat 4 hari setelah tanam dalam kondisi normal. 2 tanaman/lubang). Populasi Tanaman Salah satu faktor penentu produktivitas jagung adalah populasi tanaman yang terkait erat dengan jarak tanam dan mutu benih. Bunga betina dari tanaman sulaman biasanya tidak terserbuki dengan 10 . Dalam budidaya jagung. Penggunaan benih bermutu akan lebih menghemat jumlah benih yang ditanam dan populasi tanaman yang dianjurkan dapat terpenuhi (sekitar 66. Benih jagung yang umumnya dijual dalam kemasan biasanya sudah diperlakukan dengan metalaksil (warna merah) sehingga tidak perlu lagi diberi perlakuan benih.600 tanaman/ha). Penggunaan benih bersertifikat dengan vigor tinggi sangat disarankan. Perlakuan benih ini dimaksudkan untuk mencegah serangan penyakit bulai yang merupakan penyakit utama pada jagung. Disarankan sebelum melakukan penanaman hendaknya dilakukan pengujian daya kecambah benih. Benih yang bermutu. Pertumbuhan tanaman sulaman biasanya tidak normal karena adanya persaingan untuk tumbuh. kualitas benih juga merupakan salah satu faktor penentu produktivitas. populasi tanaman yang dianjurkan untuk dipertahankan sekitar 66. Larutan tersebut dicampur dengan benih secara merata. viabilitas benih dianjurkan lebih dari 95% karena dalam budidaya jagung tidak diperkenankan melakukan penyulaman tanaman yang tidak tumbuh karena peluangnya untuk dapat tumbuh normal sangat kecil dan biasanya tongkol yang terbentuk tidak berisi biji. dan biji yang terbentuk dalam tongkol tidak penuh akibat penyerbukan tidak sempurna. Sebelum benih ditanam. 3. 1 tanaman/lubang atau 75 cm x 40 cm.2.600 tanaman/ha (jarak tanam 75 cm x 20 cm. sesaat sebelum tanam. Untuk memenuhi populasi tanaman tersebut.

Mengingat beragamnya kondisi kesuburan tanah antara lokasi satu dengan lainnya. Pemupukan dan Pengelolaan Air Tanaman jagung digolongkan sebagai salah satu tanaman indikator untuk mengetahui ketersediaan hara dalam tanah. sedangkan peluang terjadinya penyerbukan sendiri hanya sekitar 5% saja sehingga menyebabkan tongkol tidak berbiji. Penanaman dengan 1 tanaman/lubang pertumbuhan tanaman relatif lebih baik karena peluang persaingan antar tanaman lebih kecil dibandingkan 2 tanaman/lubang. Untuk itu waktu pemberian dan takaran pupuk yang diberikan hendaknya disesuaikan dengan umur tanaman/stadia pertumbuhan tanaman. artinya pemberian berdasarkan kepada keseimbangan antara hara yang dibutuhkan oleh tanaman jagung berdasarkan sasaran tingkat hasil yang ingin dicapai dengan ketersediaan hara dalam tanah. 4. dan air irigasi. Pemupukan berimbang menawarkan beberapa prinsip dan perangkat untuk mengoptimalkan penggunaan hara dari sumber-sumber alami atau lokal sesuai dengan kebutuhan tanaman jagung. 11 . Sumber hara alami dapat berasal dari tanah. Oleh karena itu. baik pupuk organik maupun anorganik pada dasarnya adalah guna memenuhi kebutuhan hara yang diperlukan untuk tumbuh dan berkembangnya tanaman. Pemberian pupuk. Sedangkan jarak tanam 75 cm x 40 cm. Jarak tanam 75 cm x 20 cm. sehingga pemupukan merupakan salah satu faktor kunci bagi keberhasilan budidaya jagung. sisa tanaman. Untuk efisiensi pemberian pupuk maka pemupukan dilakukan secara berimbang. oleh karena itu untuk dapat tumbuh dan berkembangnya tanaman jagung secara optimal relatif dibutuhkan hara yang cukup. 1 tanaman/lubang dianjurkan untuk diterapkan pada wilayah yang tenaga kerjanya cukup tersedia. 2 tanaman/lubang dianjurkan untuk diterapkan pada wilayah yang tenaga kerja menjadi masalah karena kurang atau mahal. pemupukan berimbang sering pula disebut pemupukan (atau pengelolaan hara) spesifik lokasi. maka takaran dan jenis pupuk yang diperlukan untuk lokasi-lokasi tersebut tentu akan berbeda pula. pupuk kandang.sempurna oleh tepungsari dari bunga jantan tanaman lain karena berbunganya terlambat. Pupuk kimia (anorganik) pada dasarnya hanya untuk memenuhi kekurang hara alami yang diperlukan tanaman untuk dapat tumbuh dan berkembang sampai menghasilkan biji sesuai dengan yang dikehendaki.

Gejala Kekurangan Sulfur (S): Pangkal daun berwarna kuning. Selain itu dapat pula dilakukan dengan menggunakan BWD (Bagan Warna Daun). Gejala nampak pada daun bagian bawah. Warna kuning membentuk huruf V. Dalam hal ini yang penting adalah porsi pemberian pupuk N pada setiap aplikasi harus seimbang/sesuai dengan stadia pertumbuhan tanaman. Gejala nampak pada daun bagian bawah. Takaran pupuk yang diberikan secara tepat pada waktu yang tepat. Gejala Kekurangan Kalium (K): Daun berwarna kuning. Penentuan takaran pupuk (N. Gejala nampak pada daun yang terletak dekat pucuk. Gejala nampak pada daun bagian bawah. Gejala Kekurangan Nitogen (N): Daun berwarna kuning pada ujung daun dan melebar menuju tulang daun. P. akan lebih efisien dibanding dengan takaran yang tepat tetapi saat pemberiannya tidak tepat. Gejala warna kuning membentuk huruf V terbaik. 12 . bagian pinggir biasanya berwarna coklat seperti terbakar. dan K) yang tepat untuk tanaman jagung dapat dilakukan melalui analisis tanah sebelum penanaman. tulang daun tetap hijau.Gejala-gejala kekurangan unsur hara dalam tanah yang ditunjukkan oleh tanaman jagung adalah sebagai berikut: Gejala Kekurangan Posphor (P): Pinggir daun berwarna ungu-kemerahan mulai dari ujung ke pangkal daun. seperti halnya yang biasa dilakukan pada tanaman padi. untuk itu sebagai panduan pemberian pupuk pada tanaman jagung disajikan dalam Tabel 2.

Pilih 20 tanaman secara acak pada setiap petakan lahan (+ 1.0 ha). Takaran. adalah sebagai berikut: • Awal pertanaman (+ 7 hari setelah tanam). • Pada umur 28 . P. Penggunaan BWD pada jagung diterapkan saat tanaman berumur 40 hari setelah tanam dengan catatan setelah pemupukan kedua diaplikasikan sesuai tabel tersebut di atas. Jika terjadi sesuatu hal sehingga tidak dapat dilakukan analisis tanah atau belum ada rekomendasi pupuk setempat. porsi. maka dasar takaran pupuk tersebut dapat digunakan dengan diikuti pemantauan menggunakan Bagan Warna Daun (BWD). Takaran pupuk yang diberikan ini hanya secara umum. Tahapan pemantauan kebutuhan pupuk N pada tanaman jagung dengan menggunakan Bagan Warna Daun (BWD). 13 . dan waktu pemberian pupuk anorganik pada tanaman jagung. dan dapat berubah tergantung tingkat kesuburan lahan di lokasi penanaman. tanaman dipupuk N (urea) bersamaan dengan pupuk SP36 dan KCl sesuai porsi takaran dalam Tabel 2. 2) Takaran dapat berubah disesuaikan dengan hasil analisis tanah sebelum tanam atau rekomendasi setempat. Jenis Pupuk Urea ZA1) SP36 KCl Takaran 2) Pupuk (kg/ha) 300 – 350 50 100 – 200 50 . Jika berdasarkan pemantauan daun menunjukkan unsur nitogen kurang. maka segera dilakukan penambahan nitrogen dan sebaliknya jika telah cukup maka tidak perlu ditambahkan. • Pada umur 40 . Dengan demikian maka pemberian nitrogen (urea) dapat diefisienkan sesuai dengan kebutuhan tanaman. .Cara aplikasi pupuk: pupuk diletakkan dalam lubang yang dibuat dengan tugal di samping tanaman dengan jarak 5 – 10 cm dari tanaman. dan ditutup dengan tanah. Untuk itu dianjurkan dilakukan analisis tanah sebelum tanam atau menerapkan rekomendasi setempat. Penggunaan BWD ini pada prinsipnya hanya untuk memantau keseimbangan hara yang ada dalam tanaman utamanya unsur nitrogen (N).Jika menggiunakan pupuk majemuk. dan K disetarakan dengan pupuk tunggal.200 7 – 10 hst3) 25% 100% 100% 75% Takaran Pupuk (kg/ha) 28 – 30 hst 40 – 45 hst 50% 25% 25% - Keterangan: 1) Hanya diberikan jika dari hasil analisis tanah kekurangan unsur sulfur (S). .Tabel 2. takaran unsur N. • Sampel daun yang dipantau adalah daun yang telah terbuka sempurna (daun ke 3 dari atas).30 hari dipupuk lagi sesuai porsi takaran dalam Tabel 2.25 hari setelah tanam (tergantung umur varietas) dilakukan pemantauan warna daun menggunakan BWD.

0 4.4 4.• Lindungi daun yang akan dipantau warnanya dengan cara membelakangi matahari.5. • Tambahan pupuk urea berdasarkan hasil pemantauan segera dilakukan. kemudian warna daun dibandingkan dengan warna BWD. Bagian daun yang dipantau adalah sekitar 1/3 dari ujung daun. 14 .1 4.6 Takaran Pupuk Urea (kg/ha) Hibrida Komposit 158 56 142 49 124 41 102 28 76 8 31 0 0 0 Jika pupuk organik (pupuk kandang) direkomendasikan untuk suatu wilayah.5. Jika warna daun berada di antara skala 2 dan 3 gunakan nilai 2. Tabel 3. Nilai rata-rata skala digunakan untuk menentukan tambahan takaran pupuk urea.5 4. Nilai skala berdasarkan pemantauan dengan BWD pada umur 40 hari setelah tanam dan takaran pupuk yang perlu ditambahkan baik untuk jagung jenis hibrida maupun komposit/ bersari bebas. dengan takaran disesuaikan seperti pada Tabel 3.3 4. skala yang paling sesuai dengan warna daun dicatat. sehingga daun atau alat BWD tidak terkena matahari langsung agar penglihatan tidak silau.2 4. BWD mempunyai nilai skala 2 5. dan di antara 4 dan 5 gunakan nilai 4. • Daun diletakkan di atas BWD. di antara 3 dan 4 gunakan nilai 3.5. Penerapan penggunaan BWD • Rata-ratakan nilai skala dari 20 daun yang diamati. SKALA 4.

ketersediaan air mutlak diperlukan. dan dianjurkan menggunakan pupuk kandang kotoran ayam ras (petelor) yang biasanya sudah mengandung kapur cukup memadai. Oleh karena itu pengaturan ketersediaan air sangat penting. maka peluang terjadinya kekeringan cukup besar. Pada pertanaman di lahan sawah yang umumnya ditanam pada akhir musim hujan. dan (c) adanya perubahan iklim yang kurang menguntungkan. 5. Oleh karena itu perlu pemberian air pada saat-saat tanaman telah menunjukkan gejala kekeringan.maka pemberiannya dilakukan pada saat tanam sebagai penutup benih pada lubang tanam. Sumber air dapat diperoleh baik dari air tanah dangkal yang didistribusikan dengan poma atau air irigasi. Sehubungan dengan itu. tidak hanya dari segi efisiensi penggunaan airnya sendiri tapi juga pertimbangan cara aplikasinya dan umur tanaman yang mampu meningkatkan efisiensi tenaga kerja/biaya. Dalam hal ini yang penting adalah pengaturan waktu dan cara pendistribusian air agar tanaman tumbuh optimal dan pemanfaatan air lebih efisiensi. (b) kerusakan tata hidrologi kawasan yang berdampak semakin rendahnya proporsi air hujan yang tersediakan bagi cadangan air. teknologi pengelolaan air harus semakin mendapat perhatian besar. 15 . Takaran pupuk cukup segenggam (25 – 50 g) untuk setiap lubang tanam atau setara dengan 1. Pendistribusian air dapat dilakukan melalui alur-alur yang dibuat saat pembumbunan. oleh karena itu untuk menghindari agar tidak terjadi kelebihan air maka perlu dibuat saluran-saluran drainase yang pengerjaannya dapat dilakukan bersamaan dengan pembumbunan tanaman. dan relatif sedikit membutuhkan air dibandingkan padi.0 t/ha. Pembuatan Saluran Drainase/Irigasi Air merupakan sumberdaya alam yang keberadaannya semakin bermasalah ke depan bagi peruntukan pertanian.5 – 3. Khusus untuk pertanaman jagung pada lahan sawah tadah hujan. karena: (a) jatah air untuk sektor pertanian relatif semakin berkurang akibat kompetisi dengan keperluan rumah tangga dan industri. Pada pertanaman di lahan kering yang umumnya ditanam saat musim hujan. Jagung merupakan tanaman yang tergolong tidak tahan kelebihan air dan kekurangan air. peluang terjadinya kelebihan air cukup besar. Pada umumnya untuk lahan masam diperlukan pupuk kandang. oleh karena itu harus ada sumber air yang dapat dimanfaatkan untuk pengairi pertanaman. Pembuatan alur dapat dilakukan pula dengan menggunakan bajak atau alat khusus pembuat alur model PAI-1RBalitsereal atau PAI-2R-Balitsereal yang ditarik hand tractor.

serta ketersediaan jasa penyewaan traktor. atau varietas yang berumur relatif genjah misalnya Gumarang. adalah sebagai berikut: Varietas Sesuai dengan kondisi lahan dan tujuan memproduksi jagung. dengan daya kecambah tidak kurang dari 95%. Untuk wilayah yang mempunyai curah hujan cukup atau periode hujan panjang. dianjurkan untuk menanam varietas jenis komposit yang toleran kekeringan misalnya Lamuru. Benih Benih bermutu dan bersertifikat. Varietas Sukmaraga adalah varietas jagung unggul bersari bebas yang toleran terhadap kemasaman tanah dan penyakit bulai. Khusus untuk lahan kering masam. TEKNOLOGI BUDI DAYA SPESIFIK AGROEKOLOGI 1.Alur-alur yang berfungsi sebagai saluran drainase ataupun pendistribusian air irigasi. selain jenis hibrida dianjurkan untuk jenis komposit unggul varietas Sukamaraga. atau Lagaligo. Jenis hibrida umumnya berumur lebih dari 100 hari sehingga berpeluang mengalami cekaman kekeringan. Untuk wilayah yang mempunyai sifat curah hujannya eratik atau periode hujan singkat dan berpeluang besar mengalami kekeringan. Kresna. dan diberi perlakuan benih yaitu dengan 2 g metalaksil (bahan produk) per 1 kg benih. dianjurkan untuk menanam jenis hibrida atau komposit unggul lain yang dikehendaki. Setiap 2 g metalaksil dicampur dengan 10 ml air kemudian dicampur 16 . Budidaya Jagung pada Lahan Kering Komponen teknologi budidaya penting yang dikelola secara terpadu pada lahan kering dengan memperhatikan karakter lahan lainnya seperti topografi dominan dan kondisi sosial ekonomi seperti luas pemilikan lahan. ketersediaan tenaga kerja. dianjurkan untuk menanam varietas jenis hibrida atau komposit unggul.

2 benih per lubang tanam. Pembersihan lahan dapat dilakukan dengan sabit/parang atau menggunakan herbisida paraquat/glyphosat (2. atau tidak tersedia jasa penyewaan traktor maupun bajak dan sapi. Pengolahan tanah dapat juga dilakukan dengan cangkul. Setelah lahan bersih dari tumbuhan pengganggu. dan menutup benih secara simultan dan otomatis sehingga penanaman dapat dilakukan dengan cepat dan efisien. Topografi datar sampai berombak. dilakukan pengolah tanah dengan bajak yang ditarik traktor/sapi dan diikuti dengan garu/sisir serta perataan sampai lahan siap ditanami. 17 . Jarak tanam 75 cm x 40 cm. Kebutuhan benih untuk 1 ha lahan berkisar antara 15 . pemilikan lahan luas. dan tersedia jasa penyewaan traktor. maka komponen alat tanam untuk penutup dapat ditiadakan. tenaga kerja terbatas. Penanaman Penanaman dilakukan secepatnya setelah penyiapan lahan selesai dan siap ditanami pada saat awal musim hujan. b. penanaman dapat dilakukan dengan sistem alur yang dibuat dengan bajak singkal yang ditarik sapi. atau pemilikan lahan sempit. 2 benih per penempatan dan benih ditutup dengan pupuk kandang. Jika untuk penutup benih dikehendaki pupuk kandang. Benih diletakkan dalam setiap alur yang jaraknya antar alur 75 cm dan dalam alur 40 cm.dengan 1 kg benih secara merata. menanam/menjatuhkan benih. Jika topografi bergelombang sampai berbukit. Benih ditutup dengan pupuk kandang. jarak tanam 75 cm x 40 cm (2 benih/lubang) dan benih ditutup pupuk kandang. Jika tidak tersedia hand tractor untuk menarik alat tanam.20 kg.0 l/ha). penanaman dapat dilakukan dengan alat tanam ATB1-2R-Balitsereal (ditarik hand tractor) yang dapat melakukan pekerjaan membuat alur. Lahan dibersihkan terlebih dahulu dari tumbuhan pengganggu perdu. Jarak tanam 75 cm x 40 cm. dengan memperhatikan hal-hal: a. Penyiapan lahan Pengolahan tanah secepatnya dilakukan setelah hujan mulai turun dengan mempertimbangkan kondisi lengas tanah yang sesuai untuk pengolahan tanah atau dapat juga dilakukan sebelum hujan turun. Penanaman dapat pula dilakukan secara konvensional dengan menggunakan tugal dari kayu untuk membuat lubang tempat benih. maka penanaman dilakukan secara konvensional dengan tugal menggunakan tenaga manusia untuk membuat lubang tanam. 2 benih per lubang tanam.

18 . Jika menggunakan pupuk majemuk. dan K disetarakan dengan pupuk tunggal. Dengan menggunakan BWD akan diketahui jumlah pupuk yang harus ditambahkan sesuai dengan kebutuhan tanaman.5 – 3. Dengan menggunakan BWD maka takaran pupuk urea dapat berkurang atau bertambah sesuai kebutuhan tanaman sehingga lebih efisien. diaplikasikan pada saat tanam sebanyak segenggam (25-50 g) per lubang penempatan benih (sebagai penutup benih). • 28-30 hst: pupuk urea + KCl diaplikasikan secara ditugal di samping tanaman berjarak 10-15 cm sedalam 5 . sedangkan jika nilai skala menunjukkan kurang. maka pemberian pupuk urea yang ketiga tidak perlu diberikan. Cara Aplikasi: • 7-10 hst: Urea + SP36 + KCl sebelum diaplikasikan dicampur merata. Pupuk anorganik semuanya bersumber dari pupuk tunggal: Hara yang ditambahkan/ pupuk Urea SP36 KCl Takaran*) (kg/ha) 300-350 100-200 50-200 Waktu aplikasi pupuk (hst)**) 7-10 25% 100% 75% 28-30 50% 25% 40-45 25% - Catatan: *) Takaran pupuk dapat diubah disesuaikan dengan ketersediaan hara dalam tanah dari hasil analisis tanah atau rekomendasi setempat **) Nilai persentase dari takaran pupuk yang harus diaplikasikan sesuai umur tanaman. setara dengan 1.Pemupukan Pupuk organik/pupuk kandang (khusus untuk lahan kering masam dianjurkan pupuk kandang yang digunakan adalah kotoran ayam ras/petelor karena cukup mengandung unsur kapur). P. dan segera diaplikasikan secara ditugal di samping tanaman berjarak 5 -10 cm sedalam 5 -10 cm dan ditutup tanah.10 cm dan ditutup tanah.0 t/ha. Jika warna daun menunjukkan pada nilai skala cukup. • 40-45 hst: sebelum pemberian pupuk urea ke tiga. maka sesuai dengan nilai skala pada Tabel 3 ditambahkan pupuk urea dengan cara ditugal di samping tanaman dengan jarak 15-20 cm sedalam 5 .10 cm dan ditutup tanah. sebaiknya dilakukan pemantauan warna daun dengan menggunakan Bagan Warna Daun (BWD). takaran unsur N.

Penyiangan gulma Penyiangan pertama dapat dilakukan dengan menggunakan bajak atau sekaligus dengan pembuatan alur drainase pada umur 14-20 hst. Untuk hama penggerek batang. Dalam kondisi curah hujan tinggi. Jika tidak tersedia hand tractor. Kegiatan ini sekaligus dilakukan untuk pembumbunan tanaman. Pembuatan saluran drainase dapat dilakukan pada setiap baris tanaman atau setiap dua baris tanaman. penggerek batang dan tongkol. air yang menggenang akan menyebabkan tanaman jagung layu dan mati.0-1.5 liter/ha tergantung kondisi gulma). Pengendalian Hama Hama yang umum menggagu pada pertanaman jagung adalah alat bibit. Untuk mengantisipasi terjadinya genangan air pada pertanaman perlu dibuat saluran drainase. Jika menggunakan herbisida sebaiknya nozzle diberi pelindung agar tidak mengenai daun dan posisi nozzle + 20 cm di atas permukaan tanah. Panen dan prosesing Daun di bawah tongkol dapat diambil/dipanen pada saat tongkol telah mulai berisi.Pembuatan saluran drainase Tanaman jagung selain peka terhadap kekeringan juga peka terhadap kelebihan air. jika mulai nampak ada gejala serangan dapat dilakukan dengan pemberian carbofuran (3-4 butir carbofuran/tanaman) melalui pucuk tanaman pada tanaman yang mulai terserang. dan brangkasannya dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak sapi. oleh karena itu pengendaliannya harus dilakukan mulai saat tanam dengan menggunakan insektisida carbofuran utamanya pada daerah-daerah endemik serangan lalat bibit. pembuatan saluran dapat dilakukan secara manual atau dengan bajak singkal yang di tarik sapi atau cangkul. Lalat bibit umumnya menggagu pada saat awal pertumbuhan tanaman. Penyiangan kedua (tergantung kondisi gulma) dapat dilakukan secara manual atau dengan herbisida kontak paraquat (1. 19 . Pembuatan saluran drainase pada setiap baris tanaman dapat dilakukan dengan alat PAI-1R-Balitsereal yang ditarik hand tractor. sedangkan untuk saluran drainase setiap dua baris tanaman digunakan alat PAI-2R-Balitsereal yang juga ditarik dengan hand tractor. Pembuatan saluran drainase sebaiknya dikerjakan bersamaan dengan penyiangan pertama (14-20 hst) untuk penghematan tenaga.

(b) kualitas produk jagung pertanaman musim kemarau akan lebih baik dibandingkan dengan musim hujan. Panen sebaiknyadilakukan dalam kondisi cuaca cerah. 2. varietas jagung unggul yang dianjurkan adalah semua jenis hibrida atau komposit/bersari bebas. maka untuk mempercepat pengeringan digunakan alsin pengering agar tidak timbul jamur/rusak. Demikian juga sebelum panen sebaiknya dilakukan pemangkasan bagian tanaman di atas tongkol pada saat biji telah mencapai masak fisiologis atau kelobot mulai mengering (berwarna coklat). karena: (a) dapat mengurangi/ mengatasi defisit pasokan jagung yang umum terjadi pada musim kemarau. Budidaya Jagung pada Lahan Sawah Tadah Hujan/Irigasi Saat ini perluasan areal pertanaman jagung pada lahan sawah tadah hujan dan sawah irigasi diperkirakan meningkat masing-masing 20-30% dan 10-15% terutama pada daerah produksi jagung komersial. Hasil brangkasan daun ini dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak sapi. dan (c) kualitas produknya tinggi. Jika kondisi cahaya matahari tidak memungkinkan untuk menurunkan kadar air biji karena cuaca mendung selama beberapa hari. dianjurkan menggunakan varietas yang toleran kekeringan atau yang berumur genjah. Pengembangan jagung di lahan sawah pada musim kemarau merupakan sesuatu langkah strategis. sebagai berikut: Varietas. (b) biaya produksinya efisien. Alsin pengering yang digunakan dapat bertipe flat bade yang berbahan bakar minyak tanah/solar.Pengambilan daun di bawah tongkol selain untuk pakan juga untuk mencegah terserangnya penyakit busuk daun. Selanjutnya tongkol dijemur sampai kadar air biji mencapai + 20% dan dipipil dengan menggunakan alat pemipil. Namun untuk efisiensi biaya produksi terkait dengan frekuensi pemberian air dan bahan bakar pompa. Sesuai dengan kondisi lingkungan setempat. dan (c) petani jagung musim kemarau memperoleh pendapatan yang meningkat Untuk itu diperlukan teknologi budidaya yang memberikan: (a) produktivitas tinggi per satuan luas lahan. kadar air biji mencapai + 30% (biji telah mengeras dan telah membentuk lapisan hitam/black layer minimal 50% di setiap barisan biji). Hasil biji pipilan dijemur lagi sampai kadar air mencapai 14% untuk siap dijual. 20 .

Penyiapan lahan tanpa pengolahan tanah dapat dilakukan dengan membersihkan lahan dari sisa-sisa jerami padi. dan diberi perlakuan benih yaitu dengan 2 g metalaksil (bahan produk) per 1 kg benih. Penanaman 21 . keberadaan sumber air harus dipertimbangkan. Pengolahan tanah secepatnya dilakukan setelah panen padi dengan mempertimbangkan kondisi lengas tanah yang sesuai untuk pengolahan tanah. Setiap 2 g metalaksil dicampur dengan 10 ml air kemudian dicampur dengan 1 kg benih secara merata.20 kg. Sebelum memutuskan untuk penanaman pada lahan sawah tadah hujan. Penyiapan lahan dengan sistem olah tanah sempurna dapat dilakukan dengan bajak yang ditarik traktor/sapi atau cangkul sampai lahan siap ditanami. Kebutuhan benih untuk 1 ha lahan berkisar antara 15 . Tanpa pengolahan tanah dapat dilakukan utamanya pada tanah yang mempunyai tekstur ringan. dan jika dinilai keberadaan gulma juga dapat mengganggu saat pertumbuhan awal tanaman maka dapat dilakukan penyemprotan dengan herbisida paraquat (1-2 l/ha) saat 1 minggu sebelum waktu tanam yang ditentukan. sumur dibuat di beberapa tempat dan pompa air dapat digunakan secara berpindah-pindah dari petakan satu petakan yang lain. Untuk hamparan yang luas. Jika debit air sumur yang tersedia terbatas maka pada setiap titik dibuat dua sumur yang berdekatan dan keduanya saling dihubungkan dengan pipa dan dipompa dengan satu mesin pompa. untuk wilayah yang mempunyai sumber air tanah dangkal dapat dibuat beberapa sumur gali atau sumur bor pada pinggir petakan sawah. dengan daya kecambah tidak kurang dari 95%. Untuk memenuhi kebutuhan air selama pertumbuhan tanaman.Benih Benih bermutu dan bersertifikat. Penyiapan lahan Penyiapan lahan dilakukan secepatnya setelah panen padi baik tanpa pengolahan tanah maupun dengan pengolahan tanah. Untuk menaikkan air dari dalam sumur digunakan mesin pompa air yang kapasitasnya disesuaikan dengan debit air yang ada. tidak dianjurkan untuk penanaman jagung pada lahan sawah tanpa ada kepastian sumber air yang dapat diakses dengan mudah.

penanaman dapat dilakukan dengan sistem alur yang dibuat dengan bajak singkal yang ditarik sapi. penanaman dapat dilakukan secepatnya setelah panen padi. Pemupukan Pupuk organik/pupuk kandang. maka penanaman dilakukan secara konvensional dengan tugal kayu menggunakan tenaga manusia. 2 benih per lubang tanam. dan tersedia jasa penyewaan traktor. Jika tidak tersedia hand tractor. Jika pada saat menjelang penanaman lahan kondisinya sudah mulai kering maka perlu diberikan air dari irigasi air tanah dangkal (sumur bor dengan pompa yang telah disiapkan sebelumnya) atau air irigasi. dan benih ditutup dengan pupuk kandang. 2 benih per lubang tanam. Jarak tanam 75 cm x 40 cm. Pupuk anorganik semuanya bersumber dari pupuk tunggal: Hara yang ditambahkan/ pupuk Takaran **) (kg/ha) Waktu aplikasi pupuk (hst)***) 7-10 28-30 40-45 22 . Pemilikan lahan sempit. penanaman dapat dilakukan secepatnya setelah pengolahan tanah selesai dan dengan mempertimbangkan kondisi lengas tanah yang cukup mampu untuk menumbuhkan benih. Bagi wilayah dengan kondisi: Pemilikan lahan luas. setara dengan 1. diaplikasikan pada saat tanam sebanyak segenggam (25 – 50 g) per lubang penempatan benih (sebagai penutup benih). 2 benih per penempatan dan benih ditutup dengan pupuk kandang. dan menutup benih secara simultan dan otomatis sehingga penanaman dapat dilakukan dengan cepat dan efisien. Pada lahan sawah yang menghendaki pengolahan tanah terlebih dahulu. dan tenaga kerja tersedia.5 – 3. dengan mempertimbangan lengas tanah yang ada. Jarak tanam 75 cm x 40 cm. Benih diletakkan dalam alur yang jaraknya antar alur 75 cm dan dalam alur 40 cm. jika memang diperlukan atau dianjurkan dan tersedia di lokasi. petakan sawah luas.Pada lahan sawah yang tanahnya bertekstur ringan.0 t/ha. penanaman dapat dilakukan dengan alat tanam ATB1-2R-BALITSEREAL (ditarik hand tractor) yang dapat menanam/menjatuhkan benih. tenaga kerja terbatas. petakan sawah sempit.

lahan diairi melalui alur irigasi yang telah dibuat pada setiap dua baris tanaman. maka pemberian pupuk urea yang ketiga tidak perlu diberikan. • 40-45 hst: sebelum pemberian pupuk urea ke tiga.200 50 – 100 50 . Setiap selesai aplikasi pupuk.0 cm dan ditutup tanah.0 cm dan ditutup tanah. efisiensi pendistribusian air mutlak diperlukan. Dengan menggunakan BWD maka takaran pupuk urea dapat berkurang atau bertambah sesuai kebutuhan tanaman sehingga lebih efisien. Pembuatan saluran irigasi dapat dilakukan pada setiap baris tanaman atau setiap dua baris tanaman. Pembuatan saluran 23 .0-10.350 100 .0-10. dan segera diaplikasikan secara ditugal di samping tanaman berjarak 5. sebaiknya dilakukan pemantauan warna daun dengan menggunakan Bagan Warna Daun (BWD). Cara Aplikasi pupuk: • 7-10 hst: Urea + SP36 + KCl + ZA (jika diperlukan) sebelum diaplikasikan dicampur merata. Pembuatan saluran irigasi Dalam kondisi keterbatasan air.Urea SP36 KCl ZA*) *) 300 . Pembuatan saluran irigasi sebaiknya dikerjakan bersamaan dengan penyiangan pertama (14-20 hst) untuk penghematan tenaga. sedangkan jika nilai skala menunjukkan kurang. maka sesuai dengan nilai skala pada Tabel 3 ditambahkan pupuk urea dengan cara ditugal di samping tanaman dengan jarak 15-20 cm sedalam 5-10 cm dan ditutup tanah. Dengan menggunakan BWD akan diketahui jumlah pupuk yang harus ditambahkan sesuai dengan kebutuhan tanaman. • 28-30 hst: pupuk urea + KCl dicampuran merata dan segera diaplikasikan secara ditugal di samping tanaman berjarak 10-15 cm sedalam 5.100 25% 100% 50% 100% 50% 50% - 25% - Catatan: Diberikan jika tanah kekurangan unsur hara sulfur (S).0 cm sedalam 5. Jika warna daun menunjukkan pada nilai skala cukup. untuk itu perlu dibuat saluran irigasi di antara baris tanaman. **) Takaran pupuk dapat diubah disesuaikan dengan ketersediaan hara dalam tanah dari hasil analisis tanah. **) Nilai persentase dari takaran pupuk yang harus diaplikasikan sesuai umur tanaman.0-10.

Jika tidak tersedia hand tractor. Jika menggunakan herbisida sebaiknya nozzle diberi pelindung agar tidak mengenai daun dan posisi nozzle + 20 cm di atas permukaan tanah. Selama pertumbuhan tanaman jagung. 24 . Indikator yang dapat digunakan perlunya pemberian air yaitu jika daun tanaman sebelum waktu tengah hari telah mulai menggulung. Penyiangan gulma Penyiangan pertama dapat dilakukan dengan menggunakan bajak atau sekaligus dengan pembuatan alur drainase pada umur 14-20 hst.irigasi dapat dilakukan dengan alat PAI-1R-Balitsereal yang ditarik dengan hand tractor yang sekaligus berfungsi untuk pembumbunan tanaman agar tumbuh lebih tegak dan tidak mudah rebah. pembuatan saluran irigasi dapat dilakukan secara manual atau dengan bajak singkal yang di tarik sapi. Penyiangan kedua (tergantung kondisi gulma) dapat dilakukan secara manual atau dengan herbisida kontak paraquat (1.5 liter/ha tergantung kondisi gulma). Hasil brangkasan daun ini dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak sapi. Pemberian air dihentikan 10 hari menjelang umur panen tanaman.0-1. dan brangkasannya dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak sapi. Pemberian air Sumber air berasal dari sumur gali atau sumur bor yang telah dibuat dan dinaikkan dengan mesin pompa. maka pemberian air perlu secepatnya dilakukan. Hal ini dimaksudkan untuk mempercepat pendistribusian air sehingga lebih efisien. Pendistribusian air ke pertanaman dilakukan melalui saluran irigasi yang telah dibuat. Pengambilan daun di bawah tongkol selain untuk pakan juga untuk mencegah terserangnya penyakit busuk daun. kadar air biji mencapai + 30% (biji telah mengeras dan telah membentuk lapisan hitam/black layer minimal 50% di setiap barisan biji). pemberian air biasanya dilakukan sebanyak 5-6 kali atau tergantung kondisi lingkungan. Panen sebaiknyadilakukan dalam kondisi cuaca cerah. Demikian juga sebelum panen sebaiknya dilakukan pemangkasan bagian tanaman di atas tongkol pada saat biji telah mencapai masak fisiologis atau kelobot mulai mengering (berwarna coklat). Panen dan prosesing Daun di bawah tongkol dapat diambil/dipanen pada saat tongkol telah mulai berisi.

lahan. Makalah disam-paikan pada Diskusi Nasional Agribisnis Jagung di Bogor. BAHAN BACAAN Akil. 67-76. Dalam: Risalah Se-minar Balai Penelitian Tanaman Pangan Sukamandi Vol. Perbaikan komponen teknologi perlu terus dilakukan dalam penerapan PTT dan menyesuaikan/menyelaraskan dengan dinamika lingkungan. melainkan suatu pendekatan dalam budi daya jagung yang menekankan pada pengelolaan tanaman.) pa-da tanah PMK Sitiung. sehingga komponen teknologi yang dipadukan dalam PTT harus disesuaikan dengan dinamika kondisi lingkungan. Muhamad. 1994. 2002. V.deptan. dan organisme pengganggu secara terpadu dalam usaha meningkatkan produktivitas dan efisiensi usahatani. Balitsereal. Kasryno. Teknologi budidaya jagung untuk pangan dan pakan yang efisien dan berke-lanjutan pada lahan marginal.go. BPS dan Ditjen Tanaman Pangan. Pengaruh inkubasi fosfat (TSP) dengan bahan organik dan kapur terhadap pertumbuhan dan produksi jagung (Zea mays L. Laporan Akhir 2003. 2003. Dalam penerapan PTT. Komponen teknologi dalam pendekatan PTT memiliki hubungan sinergestik antar komponen dan bersifat spesifik lokasi yang ditentukan berdasarkan hasil PRA. air. petani dan petugas harus bersama-sama memilih komponen teknologi yang akan diterapkan sesuai dengan keinginan petani dan sesuai dengan kondisi lingkungannya.Selanjutnya tongkol dijemur sampai kadar air biji mencapai + 20% dan dipipil dengan menggunakan alat pemipil. 25 . Bimbingan dan pendampingan secara intensif diperlukan agar petani dapat menerapkan PTT dengan benar. 24 Juni 2002. PENUTUP PTT (Pengelolaan Tanaman Terpadu) bukanlah paket teknologi. WWW. Badan Litbang Pertanian.id Erdiman dan Syafei. Jika kondisi cahaya matahari tidak memungkinkan untuk menurunkan kadar air biji karena cuaca mendung selama beberapa hari. Hasil biji pipilan dijemur lagi sampai kadar air mencapai 14% untuk siap dijual. Sifat PTT yang spesifik lokasi dan partisipatif sangat berbeda dengan pendekatan yang digunakan dalam program-program intensifikasi. F. Alsin pengering yang digunakan dapat bertipe flat bade yang berbahan bakar minyak tanah/solar. Perkembangan produksi dan kon-sumsi jagung dunia selama empat dekade yang lalu dan implikasinya bagi Indonesia. 2003. maka untuk mempercepat pengeringan digunakan alsin pengering agar tidak timbul jamur/rusak.

23 – 27 February 1998. Maidah. W. Philippines. 26 . Firmansyah. J. Fadhly. CIMMYT and Center for Agro-Socio-economic Rresearch Re-public of Indonesia. Bahan Pameran pada Festival Jagung Pangan Pokok Alternatif di Bogor. Badan Litbang Pertanian. 2002. Peningkatan Produktivitas Tanaman Jagung pada Wilayah Pengembangan melalui Pengelolaan Tanaman Terpadu. Zubachtirodin. Basir. F. Malang. Saenong. Prospek penggunaan pupuk fosfat alam untuk meningkatkan budidaya pertanian ta-naman pangan di Indonesia. I.Mink. P. D. A. Potensi Lahan Pengembangan Jagung di Indonesia. Pupuk Sriwidjaya dan PT. Balai Penelitian Tanaman Serealia. Dalam: Penggunaan Pupuk Fosfat Alam Mendorong Pembangunan Pertanian Indonesia yang Kompetitif. p. Laporan Akhir Balai Penelitian Tanaman Serealia. P.F. : CIMMYT.S.. Paper presented on the 7th Asian Regional Maize Workshop. 1987. Soeharsono. 2001. 62-87. Uddin Firmansyah dan M. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agro-klimat. Ismail. Teknologi inkubasi TSP dengan pupuk kandang untuk meningkatkan efisiensi pemupukan jagung pada ta-nah masam. STIGMA (1):129-135.G. Yasin. Laguna. 2004. S. 57 p. Petunjuk Penggunaan Bagan Warna Daun (BWD) pada Tanaman Jagung (leaflet). Fertilization and nutrient management for maize cropping in Indonesia. Sudana. Perry. Balitsereal. 1997. 1997. Subandi.H.. 25-29. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Swastika. SL. dan A. Teknologi Produksi dan Pascapanen. Corn Production Systems. Supriadi. and D. I.D. Hippi. Prospek Pertanaman Jagung dalam Produksi Biomas Hijauan Pakan. Kerjasama Departemen Pertanian RI dengan PT.F. 2001. Kasim. 31 Agustus – 1 September 2005. Margaretha. N. In Timmer (Ed. Buntan. Najamuddin. Mataram. E. k. Moersidi S. 2006. p. Zubachtirodin. 2005.U. Subandi. Kasno. al.K. Widiyati. PCARRD Los Banos.s. S. 1998. Subandi. dan Rosita. Yulnafatmawati dan N. A. Jagung. Makalah disampaikan pada Seminar Nasional dan Ekspose Inovasi Teknologi dan Kelembagaan Agribisnis. Syafruddin dan Saenong. 8 – 9 September 2004 Sri Adiningsih. Mexico. 24 p. dan Prayitno. Makalah disampaikan pada Seminar Nasional Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Nusa Tenggara Barat. Meeting World Maize Needs: Technological Opportunities and Priorities for the Public Sector.. D. Sri Rochayati. Dorosh. Subandi dan Zubachtirodin. A. 2004. CIMMYT 1999/2000 World Maize Facts and Trends. Hakim. Momuat. 2006. Wakman. Highlight Balai Penelitian Tanaman Serealia 2002. dan Hermanto. Potensi dan Pengelolaan Limbah Pertanian dalam Mendukung Ketersediaan Pakan Ternak Sepanjang Tahun di Lahan Kering. 26-27 April 2002. M. S.) The Corn Eco-nomy of Indonesia. dan W. 35 p. I. 2003.A. Pingali. A.O. Subandi . Akil. 1998. Characteristic of Maize Production System in Indonesia.

27 .