P. 1
Anomali air

Anomali air

|Views: 242|Likes:
Published by Dinar Setiawidiani
Fisika
Fisika

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Dinar Setiawidiani on Jan 01, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/14/2015

pdf

text

original

Dinar Setiawidiani (140310090028

)
Jurusan Fisika, FMIPA Universitas Padjadjaran
25 Oktober 2010

ABSTRAK
Pengertian pemuaian adalah bertambahnya ukuran suatu benda karena menerima kalor,
atau karena pengaruh perubahan suhu. Pemuaian terjadi pada 3 zat yaitu pemuaian pada zat
padat, zat cair, dan zat gas. Pada zat cair hanya terjadi pemuaian volume saja. Pemuaian pada
zat gas ada 3 jenis yaitu pemuaian panjang (untuk satu demensi), pemuaian luas (dua
dimensi) dan pemuaian volume (untuk tiga dimensi). Sedangkan pada zat cair dan zat gas
hanya terjadi pemuaian volume saja, khusus pada zat gas biasanya diambil nilai koofisien
muai volumenya sama dengan 1/273.
Pemuaian panjang adalah bertambahnya ukuran panjang suatu benda karena menerima
kalor. Pemuaian luas adalah pertambahan ukuran luas suatu benda karena menerima kalor.
Pemuaian volume adalah pertambahan ukuran suatu benda karena menerima kalor.
Air memiliki sifat khas yang tidak dimiliki oleh zat lain atau yang lebih dikenal dengan
sifat anomali air. Semua zat akan memuai jika dipanaskan. Tetapi air mempunyai keanehan
dalam hal ini. Air ternyata malah menyusut jika dipanaskan dari suhu 0 ke 4 °C.








BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Air adalah zat atau materi atau unsur yang penting bagi kehidupan manusia di
bumi, air termasuk kedalam zat cair. Sifat partikel zat cair itu sendiri adalah jarak
antar partikel tetap dan agak berjauhan, gaya tarik menarik antar partikel lemah
dibandingkan zat padat, gerakan partikel lebih lincah dari pada zat padat dan partikel
dapat berpindah tempat. Zat cair memiliki sifat-sifat yang unik berbeda dengan jenis
zat yang lain, hal tersebut dapat dijabarkan dalam Hukum Archimedes. Adapun sifat
khas air yang tidak dimiliki oleh zat lain atau yang dikenal dengan sifat anomali alir
dalam fisika. Hal tersebut terungkap ketika para ilmuan mempelajari tentang suhu dan
kalor. Mereka mengamati, bahwa semua zat akan memuat jika dipanaskan. Pengertian
pemuaian itu sendiri adalah bertambahnya ukuran suatu benda karena menerima
kalor. Pemuaian terjadi pada 3 zat yaitu pemuaian pada zat padat, pada zat cair, dan
pada zat gas. Biarpun air akan memuai jika dipanaskan tetapi air mempunyai
keanehan dalam hal ini. Ternyata air malah menyusut jika dipanaskan dari suhu 0 ke 4
derajat celcius.

1.2 Identifikasi Masalah
1. Terjadinya sifat anomali air. Sifat anomali air adalah keanehan air yang menyusut
ketika dipanaskan antara suhu 0 sampai 4 derajat. Massa jenis air terbesar
diperoleh pada suhu 4°C, karena pada suhu ini air memiliki volume yang paling
kecil.

1.3 Tujuan Percobaan
1. Mempelajari tentang anomali air.
2. Menghitung koefisien muai panjang air.

1.4 Metode Percobaan
Metode yang digunakan yaitu dengan penaikkan dan penurunan suhu air.
Penurunan suhu air dimulai dari suhu awal hingga suhu dibawah 4
0
C dimana suhu
tidak bisa lebih dingin lagi.Pada praktikum kali ini suhu awalnya adalah 16,6
0
C dan
suhu akhirnya 0
0
C. Pada Penaikkan suhu dimulai dari suhu 0
0
C sampai suhu 15,2
0
C.
Pada panaikan dann penurunan, setiap perubahan suhu 0,2
0
C catat perubahan volume
air tersebut.

1.5 Kerangka Penulisan
BAB I Pendahuluan
Berisi tentang latar belakang permasalahan, identifikasi masalah, tujuan melakukan
percobaan, metode yang digunakan dalam percobaan, serta sistematika penulisan.
BAB II Teori Dasar
Berisi tentang teori-teori yang berhubungan dengan praktikum serta rumus yang
digunakan dan hukum dasar yang terkait dengan praktikum.
BAB III Metodologi Percobaan
Berisi tentang alat-alat yang dipergunakan pada saat praktikum serta prosedur
praktikum.
BAB IV Data Pengamatan dan Analisa
Berisi tentang data pengamatan praktikum, perhitungan dan pengolahan data,
tampilan grafik, analisis data dan analisis grafik.
BAB V Kesimpulan
Berisi tentang kesimpulan praktikum.








BAB II
TEORI DASAR
Air adalah zat atau materi atau unsur yang penting bagi kehidupan manusia di
bumi, air termasuk kedalam zat cair.
Pertikel-partikel zat cair memiliki sifat sebagai berikut :
1. Jarak antar partikel tetap dan agak berjauhan.
2. Gaya tarik menarik antar partikel lemah dibandingkan zat padat.
3. Gerakan partikel lebih lincah dari pada zat padat dan partikel dapat berpindah tempat.
Jarak antar partikel yang tetap menyebabkan zat cair mempunyai volume yang
tetap Gerakan partikel yang lincah dan dapat berpindah posisi menyebabkan zat cair
dapat mengalir yang menyebabkan bentuk zat cair selalu mengikuti bentuk wadahnya.
Contoh zat cair antara lain adalah air, dan air raksa.
Sebagian besar benda biasanya akan memuai kepanasan atau menyusut jika
kedinginan. Besarnya pemuaian sangat bergantung pada sifat benda tersebut.
Walaupun panas yang dirasakan sama, pemuaian yang dialami setiap benda berbeda-
beda.
Pengertian pemuaian adalah bertambahnya ukuran suatu benda karena
menerima kalor, atau karena pengaruh perubahan suhu. Pemuaian terjadi pada 3 zat
yaitu pemuaian pada zat padat, zat cair, dan zat gas. Pada zat cair hanya terjadi
pemuaian volume saja. Pemuaian pada zat gas ada 3 jenis yaitu pemuaian panjang
(untuk satu demensi), pemuaian luas (dua dimensi) dan pemuaian volume (untuk tiga
dimensi). Sedangkan pada zat cair dan zat gas hanya terjadi pemuaian volume saja,
khusus pada zat gas biasanya diambil nilai koofisien muai volumenya sama dengan
1/273.
Pemuaian panjang adalah bertambahnya ukuran panjang suatu benda karena
menerima kalor. Pada pemuaian panjang nilai lebar dan tebal sangat kecil
dibandingkan dengan nilai panjang benda tersebut, sehingga lebar dan temperatur
yang dialaminya. Hal ini dapat dinyatakan dalam persamaan :
∆L = α.L. ∆T
Dimana, ∆L = Perubahan panjang (m)
α = Koefisien muai panjang
L = Panjang awal (m)
∆T = Perubahan temperatur (°C)
Pemuaian luas adalah pertambahan ukuran luas suatu benda karena menerima
kalor. Pemuaian luas terjadi pada benda yang mempunyai ukuran panjang dan lebar,
sedangkan tebalnya sangat kecil dan dianggap tidak ada. Contoh benda yang
mempunyai pemuaian luas adalah lempeng besi yang lebar sekali dan tipis.
Seperti halnya pada pemuian luas faktor yang mempengaruhi pemuaian luas
adalah luas awal, koefisien muai luas, dan perubahan suhu. Karena sebenarnya
pemuaian luas itu merupakan pemuian panjang yang ditinjau dari dua dimensi maka
koefisien muai luas besarnya sama dengan 2 kali koefisien muai panjang. Pada
perguruan tinggi nanti akan dibahas bagaimana perumusan sehingga diperoleh bahwa
koefisien muai luas sama dengan 2 kali koefisien muai panjang.
∆A = β.L. ∆T
Dimana, ∆A = Perubahan luas
β = Koefisien muai luas
A = Luas awal
∆T = Perubahan temperatur (°C)
Pemuaian volume adalah pertambahan ukuran suatu benda karena menerima
kalor. Pemuaian volume terjadi pada benda yang mempunyai ukuran panjang, lebar,
dan tebal, salah satunya adalah air. Volume merupakan bentuk lain dari panjang
dalam 3 dimensi, karena itu untuk menentukan koefisien muai perumusannya adalah:
∆V = γ.V. ∆T
Dimana, ∆V = Pertambahan volume (m
3
)
γ = Koefisien muai volume
V = Volume awal (m
3
)
∆T = Perubahan temperatur (°C)

L

T
4 0 20
0
Air memiliki sifat khas yang tidak dimiliki oleh zat lain atau yang lebih
dikenal dengan sifat anomali air. Semua zat akan memuai jika dipanaskan. Tetapi air
mempunyai keanehan dalam hal ini. Air ternyata malah menyusut jika dipanaskan
dari suhu 0 ke 4 °C.










Ketika air menyusut massa air tetap, sedangkan volumenya berkurang,
sehingga massa jenis air akan bertambah. Massa jenis terbesar diperoleh pada suhu
4°C, karena pada suhu air ini air memiliki volume yang paling kecil. Jika air
didinginkan dari 4°C ke 0°C maka volume air akan mengembang. Semakin menuju ke
0°C, semakin kecil massa jenis air. Hal ini pula yang menjadi alasan mengapa es
mengapung di air. Es dapat mengapung karena massa jenis air lebih besar daripada
massa jenis es.











BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat-alat dan Bahan-bahan Percobaan
a. Tabung peraga anomali air, digunakan sebagai tempat yang akan digunakan
praktikan dalam percobaan anomali air.
b. Pengaduk magnetik, digunakan sebagai pengaduk.
c. Pengukur temperature digital, sebagai alat untuk mengukur temperatur secara
digital.
d. Statip, selang plastik, dan corong, sebagai media untuk menghindari pengaruh
dari luar yang dapat mempengaruhi ketelitian percobaan..
e. Es, digunakan untuk menurunkan suhu air.
f. Air murni, digunakan sebagai zat cair yang akan digunakan untuk media
pembuktian gejala anomali air.
g. Kotak pendingin, digunakan untuk keperluan praktikum.

3.2 Prosedur Percobaan
Persiapan
1. Menyusun peralatan anomaly air seperti gambar 1.
2. Mengisi tabung peraga dengan air melalui corong hingga penuh, kemudian menutup
kunci buret.







A. Penurunan Temperatur
1. Meletakkan tabung peraga pada kotak pendingin, kemudian mengisi kotak tersebut dengan
es dan sedikit air sehingga menutupi tabung gelas.
2. Meletakkan di atas pengaduk magnetik dan mengatur perputarannya menjadi 350 putaran
per menit.
3. Menurunkan temperature sampai kira-kira 17°C, kemudian mengisi air kembali hingga
tingginya mencapai 35 cm.
4. Mencatat ketinggian permukaan air pada setiap penurunan temperature sebesar 0,2 °C
hingga temperatur air sukar menjadi lebih dingin lagi.

B. Penaikan Temperatur
1. Jika temperatur air dalam tabung gelas peraga sudah mendekati 0°C, mengeluarkan tabung
sehingga mengalami kenaikan temperatur.
2. Meletakkan di atas pengaduk magnetik.
3. Mencatat ketinggian air pada setiap kenaikan temperatur.





BAB IV
DATA PENGAMATAN DAN ANALISIS

4.1 Tabel Data
Penurunan Temperatur
Suhu Volume air
16.6 29.5
16.4 29.3
16.2 29
16 28.7
15.8 28.4
15.6 28
15.4 27.6
15.2 27
15 26.6
14.8 26.3
14.6 26
14.4 25.9
14.2 25.7
14 25.4
13.8 25.1
13.6 24.8
13.4 24.5
13.2 24.2
13 23.9
12.8 23.5
12.6 23.2
12.4 23


Suhu Volume air
12.2 22.6
12 22.4
11.8 22.1
11.6 21.8
11.4 21.5
11.2 21.3
11 21
10.8 20.7
10.6 20.5
10.4 20.2
10.2 19.9
10 19.6
9.8 19.3
9.6 18.9
9.4 18.6
9.2 18
9 17.6
8.8 17.3
8.6 16.8
8.4 16.3
8.2 15.9
8 15.4


Suhu Volume air
7.8 15
7.6 14.5
7.4 14.1
7.2 13.6
7 13.2
6.8 12.9
6.6 12.8
6.4 12.8
6.2 12.7
6 12.7
5.8 12.6
5.6 12.6
5.4 12.6
5.2 12.6
5 12.5
4.8 12.5
4.6 12.5
4.4 12.5
4.2 12.4
4 12.5
3.8 12.5
3.6 12.6


Suhu Volume air
3.4 12.6
3.2 12.7
3 12.7
2.8 12.7
2.6 12.8
2.4 12.8
2.2 12.8
2 12.8
1.8 12.9
1.6 12.9
1.4 12.9
1.2 13
1 13.1
0.8 13.2
0.6 13.3
0.4 13.4
0.2 13.5
0 13.7




Penaikan Temperatur
Suhu Volume air
0 13.7
0.2 13.6
0.4 13.6
0.6 13.5
0.8 13.4
1 13.2
1.2 13
1.4 12.9
1.6 12.8
1.8 12.6
2 12.5
2.2 12.4
2.4 12.2
2.6 12.1
2.8 12.1
3 12
3.2 11.9
3.4 11.9
3.6 11.9
3.8 11.9
4 12
4.2 12.2


Suhu Volume air
4.4 12.3
4.6 12.4
4.8 12.5
5 12.6
5.2 12.8
5.4 12.9
5.6 13
5.8 13.1
6 13.2
6.2 13.3
6.4 13.4
6.6 13.5
6.8 13.6
7 13.7
7.2 13.9
7.4 14.1
7.6 14.4
7.8 14.7
8 15
8.2 15.2
8.4 15.6
8.6 16



Suhu Volume air
8.8 16.4
9 16.6
9.2 17
9.4 17.6
9.6 18
9.8 18.6
10 19.1
10.2 19.6
10.4 19.9
10.6 20.2
10.8 20.3
11 20.4
11.2 20.5
11.4 20.6
11.6 20.7
11.8 20.8
12 21.1
12.2 21.4
12.4 21.6
12.6 21.9
12.8 22.1
13 22.4
13.2 22.7
13.4 23
13.6 23.3


Suhu Volume air
13.8 23.6
14 23.9
14.2 24.2
14.4 24.5
14.6 24.8
14.8 25.2
15 25.6
15.2 25.8

4.2 Perhitungan Data
1. Gambar kurva perubahan volume air pada percobaan penurunan temperature dan
penaikan temperatur.

 Kurva penurunan temperatur.


 Kurva penaikan temperatur


0
5
10
15
20
25
30
35
0 5 10 15 20

V
o
l
u
m
e

a
i
r

Temperatur
0
5
10
15
20
25
30
0 5 10 15 20

V
o
l
u
m
e

a
i
r

Temperatur
2. Perhitungan koefisien muai volume air pada temperature 0° - 4°C dan 17 - 4°C
pada metode penurunan dan penaikan temperatur.
Koefisien muai volume air pada temperatur 0 – 4 °C
T
o



V
V

dimana , γ : Koefisien muai volume
Vo : Volume mula-mula
T : Perubahan temperatur
 V : Perubahan volume
 Pada penurunan temperatur
Pada T = 4
0
C ,
 
371.7
17
 0.04574
Nilai γ yang lain dapat dicari dengan cara yang sama sehingga didapat
nilai γ nya yaitu :
To T ΔT Vo V ΔV V
o
ΔT γ
16.6 4 12.6 29.5 12.5 17 371.7 0.04574
16.6 3.8 12.8 29.5 12.5 17 377.6 0.04502
16.6 3.6 13 29.5 12.6 16.9 383.5 0.04407
16.6 3.4 13.2 29.5 12.6 16.9 389.4 0.0434
16.6 3.2 13.4 29.5 12.7 16.8 395.3 0.0425
16.6 3 13.6 29.5 12.7 16.8 401.2 0.04187
16.6 2.8 13.8 29.5 12.7 16.8 407.1 0.04127
16.6 2.6 14 29.5 12.8 16.7 413 0.04044
16.6 2.4 14.2 29.5 12.8 16.7 418.9 0.03987
16.6 2.2 14.4 29.5 12.8 16.7 424.8 0.03931
16.6 2 14.6 29.5 12.8 16.7 430.7 0.03877
16.6 1.8 14.8 29.5 12.9 16.6 436.6 0.03802
16.6 1.6 15 29.5 12.9 16.6 442.5 0.03751
16.6 1.4 15.2 29.5 12.9 16.6 448.4 0.03702
16.6 1.2 15.4 29.5 13 16.5 454.3 0.03632
16.6 1 15.6 29.5 13.1 16.4 460.2 0.03564
16.6 0.8 15.8 29.5 13.2 16.3 466.1 0.03497
16.6 0.6 16 29.5 13.3 16.2 472 0.03432
16.6 0.4 16.2 29.5 13.4 16.1 477.9 0.03369
16.6 0.2 16.4 29.5 13.5 16 483.8 0.03307
16.6 0 16.6 29.5 13.7 15.8 489.7 0.03226

 Pada penaikan temperatur
Pada T = 0
0
C ,
 
0
0
 tidak terdefinisi
Nilai γ yang lain dapat dicari dengan cara yang sama sehingga didapat
nilai γ nya yaitu :


To T ΔT Vo V ΔV V
o
ΔT γ
0 0 0 13.7 13.7 0 0 Tidak terdefinisi
0 0.2 0.2 13.7 13.6 0.1 2.74 0.0365
0 0.4 0.4 13.7 13.6 0.1 5.48 0.01825
0 0.6 0.6 13.7 13.5 0.2 8.22 0.02433
0 0.8 0.8 13.7 13.4 0.3 10.96 0.02737
0 1 1 13.7 13.2 0.5 13.7 0.0365
0 1.2 1.2 13.7 13 0.7 16.44 0.04258
0 1.4 1.4 13.7 12.9 0.8 19.18 0.04171
0 1.6 1.6 13.7 12.8 0.9 21.92 0.04106
0 1.8 1.8 13.7 12.6 1.1 24.66 0.04461
0 2 2 13.7 12.5 1.2 27.4 0.0438
0 2.2 2.2 13.7 12.4 1.3 30.14 0.04313
0 2.4 2.4 13.7 12.2 1.5 32.88 0.04562
0 2.6 2.6 13.7 12.1 1.6 35.62 0.04492
0 2.8 2.8 13.7 12.1 1.6 38.36 0.04171
0 3 3 13.7 12 1.7 41.1 0.04136
0 3.2 3.2 13.7 11.9 1.8 43.84 0.04106
0 3.4 3.4 13.7 11.9 1.8 46.58 0.03864
0 3.6 3.6 13.7 11.9 1.8 49.32 0.0365
0 3.8 3.8 13.7 11.9 1.8 52.06 0.03458
0 4 4 13.7 12 1.7 54.8 0.03102
Koefisien muai volume air pada temperatur 16,6 – 4,2 °C
T
o



V
V

dimana , γ : Koefisien muai volume
Vo : Volume mula-mula
T : Perubahan temperatur
 V : Perubahan volume
 Pada penurunan temperatur
Pada T = 16,6
0
C ,
 
0
0
 tidak terdefinisi
Nilai γ yang lain dapat dicari dengan cara yang sama sehingga
didapat nilai γ nya yaitu :
To T ΔT Vo V ΔV V
o
ΔT γ
16.6 16.6 0 29.5 29.5 0 0 Tidak terdefinisi
16.6 16.4 0.2 29.5 29.3 0.2 5.9 0.0339
16.6 16.2 0.4 29.5 29 0.5 11.8 0.04237
16.6 16 0.6 29.5 28.7 0.8 17.7 0.0452
16.6 15.8 0.8 29.5 28.4 1.1 23.6 0.04661
16.6 15.6 1 29.5 28 1.5 29.5 0.05085
16.6 15.4 1.2 29.5 27.6 1.9 35.4 0.05367
16.6 15.2 1.4 29.5 27 2.5 41.3 0.06053
16.6 15 1.6 29.5 26.6 2.9 47.2 0.06144
16.6 14.8 1.8 29.5 26.3 3.2 53.1 0.06026
16.6 14.6 2 29.5 26 3.5 59 0.05932
16.6 14.4 2.2 29.5 25.9 3.6 64.9 0.05547
16.6 14.2 2.4 29.5 25.7 3.8 70.8 0.05367
16.6 14 2.6 29.5 25.4 4.1 76.7 0.05346
16.6 13.8 2.8 29.5 25.1 4.4 82.6 0.05327
16.6 13.6 3 29.5 24.8 4.7 88.5 0.05311
16.6 13.4 3.2 29.5 24.5 5 94.4 0.05297
16.6 13.2 3.4 29.5 24.2 5.3 100.3 0.05284
16.6 13 3.6 29.5 23.9 5.6 106.2 0.05273
16.6 12.8 3.8 29.5 23.5 6 112.1 0.05352
16.6 12.6 4 29.5 23.2 6.3 118 0.05339
16.6 12.4 4.2 29.5 23 6.5 123.9 0.05246
16.6 12.2 4.4 29.5 22.6 6.9 129.8 0.05316
16.6 12 4.6 29.5 22.4 7.1 135.7 0.05232
16.6 11.8 4.8 29.5 22.1 7.4 141.6 0.05226
16.6 11.6 5 29.5 21.8 7.7 147.5 0.0522
16.6 11.4 5.2 29.5 21.5 8 153.4 0.05215
16.6 11.2 5.4 29.5 21.3 8.2 159.3 0.05148
16.6 11 5.6 29.5 21 8.5 165.2 0.05145
16.6 10.8 5.8 29.5 20.7 8.8 171.1 0.05143
16.6 10.6 6 29.5 20.5 9 177 0.05085
16.6 10.4 6.2 29.5 20.2 9.3 182.9 0.05085
16.6 10.2 6.4 29.5 19.9 9.6 188.8 0.05085
16.6 10 6.6 29.5 19.6 9.9 194.7 0.05085
16.6 9.8 6.8 29.5 19.3 10.2 200.6 0.05085
16.6 9.6 7 29.5 18.9 10.6 206.5 0.05133
16.6 9.4 7.2 29.5 18.6 10.9 212.4 0.05132
16.6 9.2 7.4 29.5 18 11.5 218.3 0.05268
16.6 9 7.6 29.5 17.6 11.9 224.2 0.05308
16.6 8.8 7.8 29.5 17.3 12.2 230.1 0.05302
16.6 8.6 8 29.5 16.8 12.7 236 0.05381
16.6 8.4 8.2 29.5 16.3 13.2 241.9 0.05457
16.6 8.2 8.4 29.5 15.9 13.6 247.8 0.05488
16.6 8 8.6 29.5 15.4 14.1 253.7 0.05558
16.6 7.8 8.8 29.5 15 14.5 259.6 0.05586
16.6 7.6 9 29.5 14.5 15 265.5 0.0565
16.6 7.4 9.2 29.5 14.1 15.4 271.4 0.05674
16.6 7.2 9.4 29.5 13.6 15.9 277.3 0.05734
16.6 7 9.6 29.5 13.2 16.3 283.2 0.05756
16.6 6.8 9.8 29.5 12.9 16.6 289.1 0.05742
16.6 6.6 10 29.5 12.8 16.7 295 0.05661
16.6 6.4 10.2 29.5 12.8 16.7 300.9 0.0555
16.6 6.2 10.4 29.5 12.7 16.8 306.8 0.05476
16.6 6 10.6 29.5 12.7 16.8 312.7 0.05373
16.6 5.8 10.8 29.5 12.6 16.9 318.6 0.05304
16.6 5.6 11 29.5 12.6 16.9 324.5 0.05208
16.6 5.4 11.2 29.5 12.6 16.9 330.4 0.05115
16.6 5.2 11.4 29.5 12.6 16.9 336.3 0.05025
16.6 5 11.6 29.5 12.5 17 342.2 0.04968
16.6 4.8 11.8 29.5 12.5 17 348.1 0.04884
16.6 4.6 12 29.5 12.5 17 354 0.04802
16.6 4.4 12.2 29.5 12.5 17 359.9 0.04724
16.6 4.2 12.4 29.5 12.4 17.1 365.8 0.04675

 Pada penaikan temperatur
Pada T = 0
0
C ,
 
57.54
5 . 1
 0.02607
Nilai γ yang lain dapat dicari dengan cara yang sama sehingga didapat
nilai γ nya yaitu :
To T ΔT Vo V ΔV V
o
ΔT γ
0 4.2 4.2 13.7 12.2 1.5 57.54 0.02607
0 4.4 4.4 13.7 12.3 1.4 60.28 0.02322
0 4.6 4.6 13.7 12.4 1.3 63.02 0.02063
0 4.8 4.8 13.7 12.5 1.2 65.76 0.01825
0 5 5 13.7 12.6 1.1 68.5 0.01606
0 5.2 5.2 13.7 12.8 0.9 71.24 0.01263
0 5.4 5.4 13.7 12.9 0.8 73.98 0.01081
0 5.6 5.6 13.7 13 0.7 76.72 0.00912
0 5.8 5.8 13.7 13.1 0.6 79.46 0.00755
0 6 6 13.7 13.2 0.5 82.2 0.00608
0 6.2 6.2 13.7 13.3 0.4 84.94 0.00471
0 6.4 6.4 13.7 13.4 0.3 87.68 0.00342
0 6.6 6.6 13.7 13.5 0.2 90.42 0.00221
0 6.8 6.8 13.7 13.6 0.1 93.16 0.00107
0 7 7 13.7 13.7 0 95.9 0
0 7.2 7.2 13.7 13.9 0.2 98.64 0.00203
0 7.4 7.4 13.7 14.1 0.4 101.38 0.00395
0 7.6 7.6 13.7 14.4 0.7 104.12 0.00672
0 7.8 7.8 13.7 14.7 1 106.86 0.00936
0 8 8 13.7 15 1.3 109.6 0.01186
0 8.2 8.2 13.7 15.2 1.5 112.34 0.01335
0 8.4 8.4 13.7 15.6 1.9 115.08 0.01651
0 8.6 8.6 13.7 16 2.3 117.82 0.01952
0 8.8 8.8 13.7 16.4 2.7 120.56 0.0224
0 9 9 13.7 16.6 2.9 123.3 0.02352
0 9.2 9.2 13.7 17 3.3 126.04 0.02618
0 9.4 9.4 13.7 17.6 3.9 128.78 0.03028
0 9.6 9.6 13.7 18 4.3 131.52 0.03269
0 9.8 9.8 13.7 18.6 4.9 134.26 0.0365
0 10 10 13.7 19.1 5.4 137 0.03942
0 10.2 10.2 13.7 19.6 5.9 139.74 0.04222
0 10.4 10.4 13.7 19.9 6.2 142.48 0.04351
0 10.6 10.6 13.7 20.2 6.5 145.22 0.04476
0 10.8 10.8 13.7 20.3 6.6 147.96 0.04461
0 11 11 13.7 20.4 6.7 150.7 0.04446
0 11.2 11.2 13.7 20.5 6.8 153.44 0.04432
0 11.4 11.4 13.7 20.6 6.9 156.18 0.04418
0 11.6 11.6 13.7 20.7 7 158.92 0.04405
0 11.8 11.8 13.7 20.8 7.1 161.66 0.04392
0 12 12 13.7 21.1 7.4 164.4 0.04501
0 12.2 12.2 13.7 21.4 7.7 167.14 0.04607
0 12.4 12.4 13.7 21.6 7.9 169.88 0.0465
0 12.6 12.6 13.7 21.9 8.2 172.62 0.0475
0 12.8 12.8 13.7 22.1 8.4 175.36 0.0479
0 13 13 13.7 22.4 8.7 178.1 0.04885
0 13.2 13.2 13.7 22.7 9 180.84 0.04977
0 13.4 13.4 13.7 23 9.3 183.58 0.05066
0 13.6 13.6 13.7 23.3 9.6 186.32 0.05152
0 13.8 13.8 13.7 23.6 9.9 189.06 0.05236
0 14 14 13.7 23.9 10.2 191.8 0.05318
0 14.2 14.2 13.7 24.2 10.5 194.54 0.05397
0 14.4 14.4 13.7 24.5 10.8 197.28 0.05474
0 14.6 14.6 13.7 24.8 11.1 200.02 0.05549
0 14.8 14.8 13.7 25.2 11.5 202.76 0.05672
0 15 15 13.7 25.6 11.9 205.5 0.05791
0 15.2 15.2 13.7 25.8 12.1 208.24 0.05811





3. Perhitungan massa air yang dipakai dalam percobaan.
Massa =( )

Sehingga, pada saat suhu 16,6°C massanya adalah
( )


















ANALISA

Pada penurunan suhu, semakin rendah temperaturnya maka volume air semakin
berkurang tetapi pada saat 0°C - 4°C terjadi kenaikan suhu. Pada penaikan suhu, semakin
tinggi temperaturnya maka volume air semakin bertambah tetapi pada saat 0°C - 4°C terjadi
penurunan suhu. hal tersebut sesuai dengan konsep anomali air bahwa pada 0°C - 4°C akan
terjadi penyusutan air .
Penurunan suhu dimulai dari 16,6°C hingga 0°C tetapi pada penaikan suhu dimulai
dari 0°C hingga 15,2°C hal tersebut dikarenakan waktu pada saat praktikum tidak
mencukupi. Kurva yang didapat pada penurunan dan penaikan suhu hampir sesuai dengan
kurva anomali air.
Pada praktikum kali ini hanya pemuaian volume yang dicari, karena pada zat cair
hanya berlaku pada pemuaian volume.










BAB V
KESIMPULAN

Air memiliki sifat khas yang tidak dimiliki oleh zat lain atau yang lebih dikenal dengan
sifat anomali air. Semua zat akan memuai jika dipanaskan. Tetapi air mempunyai keanehan
dalam hal ini. Air ternyata malah menyusut jika dipanaskan dari suhu 0 ke 4 °C sesuai
dengan praktikum kali ini.
Pemuaian adalah bertambahnya ukuran suatu benda karena menerima kalor, atau
karena pengaruh perubahan suhu. Pemuaian terjadi pada 3 zat yaitu pemuaian pada zat padat,
zat cair, dan zat gas. Pada zat cair hanya terjadi pemuaian volume saja. Pemuaian volume
adalah pertambahan ukuran suatu benda karena menerima kalor.












DAFTAR PUSTAKA

Sears, Zemansky. 1982. Fisika Untuk Universitas 1. Mekanika Panas Bunyi. Bandung :
Binacipta
http://www. gurumuda.com/anomaliair
http://www.anaprivat.blogspot.com/2010/03/sifat-anomali-air-pada-suhu-0-4-derajat.html
http://www.hendla.wordpress.com/2009/05/21/anomali-air/

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->