P. 1
INFEKSI-PADA-NEONATUS.doc

INFEKSI-PADA-NEONATUS.doc

|Views: 495|Likes:
Published by Janeta Satifa
INFEKSI-PADA-NEONATUS
INFEKSI-PADA-NEONATUS

More info:

Published by: Janeta Satifa on Jan 01, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/24/2015

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN 1.

Latar Belakang Infeksi merupakan salah satu penyebab terpenting morbiditas dan mortalitas pada bayi baru lahir. Sepsis berhubungan dengan angka kematian 13% - 50% dan kemungkinan morbiditas yang kuat pada bayi yang bertahan hidup. (Fanaroff & Martin, 1992). Infeksi pada neonatus di negeri kita masih merupakan masalah yang gawat. Di Jakarta terutama di RSCM, infeksi merupakan 10 – 15% dari morbidilitas perinatal. Infeksi pada neonatus lebih sering di temukan pada BBLR. Infeksi lebih sering ditemukan pada bayi yang lahir di rumah sakit dibandingkan dengan bayi yang lahir di luar rumah sakit. Dalam hal ini tidak termasuk bayi yang lahir di luar rumah sakit dengan cara septik. Sepsis neonatus, sepsis neonatorum, dan septikemia neonatus merupakan istilah yang telah digunakan untuk menggambarkan respon sistemik terhadap infeksi pada bayi baru lahir. Ada sedikit kesepakatan pada penggunaan istilah secara tepat, yaitu apakah harus dibatasi pada infeksi bakteri, biakan darah positif, atau keparahan sakit. Kini, ada pembahasan yang cukup banyak mengenai definisi sepsis yang tepat dalam kepustakaan perawatan kritis. 2. Tujuan a. Untuk mengetahui definisi tentang sepsis neonatorum. b. Untuk mengetahui perjalanan penyakit dari sepsis neonatorum sehingga dapat c. memunculkan masalah-masalah keperawatan. d. Untuk mempelajari askep sepsis neonatorum.

1

2 . prematuritas. Sepsis yang baru timbul dalam waktu 4 hari atau lebih kemungkinan disebabkan oleh infeksi nasokomial (infeksi yang didapat di rumah sakit). (Marilynn E. Sepsis terjadi pada kurang dari 1% bayi baru lahir tetapi merupakan penyebab daro 30% kematian pada bayi baru lahir. Sepsis adalah bakteri umum pada aliran darah. Sepsis neonatorum atau septikemia neonatal didefinisi sebagai infeksi bakteri pada aliran darah bayi selama empat minggu pertama kehidupan. sepsis mulai timbul dalam waktu 6 jam setelah bayi lahir. 2003). Muscari. virus. Definisi Sepsis merupakan respon tubuh terhadap infeksi yang menyebar melalui darah dan jaringan lain. Sepsis adalah infeksi bakteri generalisata yang biasanya terjadi pada bulan pertama kehidupan. Sepsis adalah sindrome yang di karakteristikan oleh tanda-tanda klinis dan gejala. Etiologi Penyebab neonatus sepsis/sepsis neonatorum adalah berbagai macam kuman seperti bakteri.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1. Wong. atau jamur. dan pajanan nosokomial terhadap patogen. 2. Antibodi dalam kolostrum sangant efeektif melawan bakteri gram negatif. parasit. prosedur invasif. penggunaan steroid untuk masalah paru kronis. Neonatus sangat rentan karena respon imun yang belum sempurna. tetapi kebanyakan muncul dalam waktu 72 jam setelah lahir. 2004). menyusui ASI memberi manfaat perlindungan terhadap infeksi. Sepsis pada bayi hampir selalu disebabkan oleh bakteri. (Mary E. Faktor resiko antara lain. Doenges.gejala infeksi yang parah. (Bobak.75 kg dan 2 kali lebih sering menyerang bayi laki-laki. Infeksi bakteri 5 kali lebih sering terjadi pada bayi baru lahir yang berat badannya kurang dari 2. Angka mortalitas telah berkurang tapi insidennya tidak. yang dapat berkembang ke arah septisemia dan syok septik. 1999). (Donna L. 2005). oleh sebab itu. Pada lebih dari 50% kasus.

a) Bakteri escherichia koli b) Streptococus group B c) Stophylococus aureus d) Enterococus e) Listeria monocytogenes f) Klepsiella g) Entererobacter sp h) Pseudemonas aeruginosa i) Proteus sp j) Organisme anaerobik Streptococcus grup B dapat masuk ke dalam tubuh bayi selama proses kelahiran. Bayi berusia 3 bulan sampai 3 tahun beresiko mengalami bakteriemia tersamar. Hampir satu per tiga dari semua bayi pada rentang usia ini mengalami demam tanpa adanya alasan yang jelas – dan penelitian menunjukkan bahwa 4% dari mereka akhirnya akan mengalami infeksi bakterial di dalam darah. Tanda paling umum terjadinya bakteriemia tersamar adalah demam. paling tidak terdapat bakteria pada vagina atau rektum pada satu dari setiap lima wanita hamil. pemasangan sejumlah kateter. tapi tidak ada sumber infeksi yang jelas. Bakteriemia tersamar artinya bahwa bakteria telah memasuki aliran darah. Streptococcus pneumoniae (pneumococcus) menyebabkan sekitar 85% dari semua kasus bakteriemia tersamar pada bayi berusia 3 bulan sampai 3 tahun 3 . dan bernafas melalui selang yang dihubungkan dengan ventilator. yang bila tidak segera dirawat. Bayi prematur yang menjalani perawatan intensif rentan terhadap sepsis karena sistem imun mereka yang belum berkembang dan mereka biasanya menjalani prosedur-prosedur invasif seperti infus jangka panjang. Menurut Centers for Diseases Control and Prevention (CDC) Amerika. Organisme yang normalnya hidup di permukaan kulit dapat masuk ke dalam tubuh kemudian ke dalam aliran darah melalui alat-alat seperti yang telah disebut di atas. kadang-kadang dapat megarah ke sepsis. yang dapat mengkontaminasi bayi selama melahirkan.

menyebabkan hipigamaglobulinemia berat. c) Laki-laki dan kehamilan kembar. b) c) d) e) Status paritas (wanita multipara atau gravida lebih dari 3) dan umur ibu (kurang dari 20 Kurangnya perawatan prenatal. Neonatus bisa mengalami kekurangan IgG spesifik. bersama dengan penurunan fibronektin. Bayi kulit hitam lebih banyak mengalami infeksi dari pada bayi berkulit putih. Dengan adanya hal tersebut. Kombinasi antara defisiensi imun dan penurunan antibodi total dan spesifik. Faktor Maternal a.laki empat kali lebih besar dari pada bayi perempuan. 4 . tahun atua lebih dari 30 tahun 2. dan latar belakang. Status sosial-ekonomi ibu. ras. menyebabkan sebagian besar penurunan aktivitas opsonisasi. Transpor imunuglobulin melalui plasenta terutama terjadi pada paruh terakhir trimester ketiga. Setelah lahir. aktifitas lintasan komplemen terlambat. konsentrasi imunoglobulin serum terus menurun. Ketuban pecah dini (KPD) Prosedur selama persalinan.Faktor. yaitu : 1. Mempengaruhi kecenderungan terjadinya infeksi dengan alasan yang tidak diketahui sepenuhnya. Ibu yang berstatus sosioekonomi rendah mungkin nutrisinya buruk dan tempat tinggalnya padat dan tidak higienis. dan C3 serta faktor B tidak diproduksi sebagai respon terhadap lipopolisakarida. Imaturitas kulit juga melemahkan pertahanan kulit. khususnya terhadap streptokokus atau Haemophilus influenza. Insidens sepsis pada bayi laki. IgG dan IgA tidak melewati plasenta dan hampir tidak terdeteksi dalam darah tali pusat.faktor yang mempengaruhi kemungkinan infeksi secara umum berasal dari tiga kelompok. Umumnya imunitas bayi kurang bulan lebih rendah dari pada bayi cukup bulan.\ b) Defisiensi imun. Faktor Neonatatal a) Prematurius Berat badan bayi kurang dari 1500 gram merupakan faktor resiko utama untuk sepsis neonatal.

antara lain malaria. influenza. b) Paparan terhadap obat-obat tertentu. Penggunaan kateter vena/ arteri maupun kateter nutrisi parenteral merupakan tempat masuk bagi mikroorganisme pada kulit yang luka. terjadi amniotis dan korionitis. Akibatnya. d) Pada bayi yang minum ASI. Mikroorganisme atau kuman penyebab infeksi dapat mencapai neonatus melalui beberapa cara. sitomegalo. bis menimbulkan resiko pada neonatus yang melebihi resiko penggunaan antibiotik spektrum luas. paling sering akibat kontak tangan. Faktor Lingkungan a) ada defisiensi imun bayi cenderung mudah sakit sehingga sering memerlukan prosedur invasif. selanjutnya kuman melalui umbilikus masuk dalam tubuh bayi. Selain cara tersebut di atas infeksi pada janin dapat terjadi melalui kulit bayi atau port de entre lain saat bayi melewati jalan lahir yang terkontaminasi oleh kuman. cairan amnion yang sudah terinfeksi akan terinhalasi oleh bayi dan masuk dan masuk ke traktus digestivus dan traktus respiratorius. dan toksoplasma. 2.3. sehingga menyebabkan resisten berlipat ganda. c) Kadang. sedangkan bayi yang minum susu formula hanya didominasi oleh E. 5 . parotitis. sehingga menyebabkan kolonisasi spektrum luas. spesies Lactbacillus dan E. Bayi juga mungkin terinfeksi akibat alat yang terkontaminasi.colli. Pada masa antenatal kuman dari ibu setelah melewati plasenta dan umbilikus masuk dalam tubuh bayi melalui sirkulasi darah janin. Cara lain. seperti steroid.colli ditemukan dalam tinjanya. koksaki. kemudian menyebabkan infeksi pada lokasi tersebut. Pada masa intranatal atau saat persalinan. herpes. Kuman penyebab infeksi adalah kuman yang dapat menembus plasenta antara lain virus rubella. yaitu saat persalinan.kadang di ruang perawatan terhadap epidemi penyebaran mikroorganisme yang berasal dari petugas ( infeksi nosokomial). dan memerlukan waktu perawatan di rumah sakit lebih lama. sipilis. hepatitis. Infeksi saat persalinan terjadi karena yang ada pada vagina dan serviks naik mencapai korion dan amnion. Pada masa antenatal atau sebelum lahir. Bakteri yang dapat melalui jalur ini. yaitu : 1.

Infeksi yang terjadi sesudah kelahiran umumnya terjadi akibat infeksi nosokomial dari lingkungan di luar rahim (misal melalui alat.gonorrea. Infeksi juga dapat terjadi melalui luka umbilikus (AsriningS. Perawat atau profesi lain yang ikut menangani bayi dapat menyebabkan terjadinya infeksi nosokomil.2003) Tanda dan Gejala Gejala infeksi sepsis pada neonatus ditandai dengan: • • • • • • • • • Bayi tampak lesu tidak kuat menghisap denyut jantung lambat dan suhu tubuhnya turun-naik gangguan pernafasan kejang jaundice (sakit kuning) muntah diare perut kembung Faktor Risiko Sepsis Dini • • • Kolonisasi maternal dalam GBS. selang endotrakhea. Infeksi paska atau sesudah persalinan. 3. infeksi fekal Malnutrisi pada ibu Prematuritas..alat : penghisap lendir. botol minuman atau dot). infus. BBLR Sepsis Nosokomial • BBLR–>berhubungan dengan pertahanan imun 6 . selang nasogastrik.Beberapa kuman yang melalui jalan lahir ini adalah Herpes genetalis. Candida albican.dan N.

atau benda – benda dilingkungan. dan telinga. kebanyakan peralatan respirasi. Wong. kulit. keterlambatan respon kemotaksis. infeksi dapat terjadi dari kontak langsung dengan organisme dari saluran gastrointestinal atau genitourinaria maternal. mesin penghisap. Proses patofisiologi sepsis dimulai dengan invasi bakteri dan kontaminasi sistemik. dengan angka kematian tinggi (50%) pada bayi yang terkena Haemophilus influenzae dan stafilokoki koagulasi negatif juga sering terlihat pada awitan awal sepsis pada bayi BBLSR. yang terdapat di vagina. Patofisiologi Neonatus sangat rentan terhadap infeksi sebagai akibat rendahnya imunitas non spesifik (inflamasi) dan spesifik (humoral). pemberian makanan melalui selang Pemberian antibiotik (superinfeksi dan infeksi organisme resisten) 3. GBS muncul sebagai mikroorganisme yang sangat virulen pada neonatus. saraf. Bakteri sering ditemukan dalam sumber air. Invasi bakterial dapat terjadi melalui tampatseperti puntung tali pusat. dan kateter vena dan arteri terpasang yang digunakan untuk infus. Sepsis lanjut (1 sampai 3 minggu setelah lahir) utamanya nosokomial. pengambilan sampel darah. dan gastrointestinal. 2009). seperti rendahnya fagositosis. Sepsis pada periode neonatal dapat diperoleh sebelum kelahiran melalui plasenta dari aliran darah maternal atau selama persalinan karena ingesti atau aspirasi cairan amnion yang terinfeksi. personel. pemantauan tanda vital. minimal atau tidak adanya imunoglobulin A dan imunoglobulin M (IgA dan IgM). Organisme yang paling sering menginfeksi adalah streptokokus group B (GBS) dan escherichia coli. Sepsis awal (kurang dari 3 hari) didapat dalam periode perinatal. dan organisme yang menyerang biasanya stafilokoki. hidung. membran mukosa mata. perkemihan. dan pseudomonas. enterokoki. faring. Infeksi pascanatal didapat dari kontaminasi silang dengan bayi lain. dan sistem internal seperti sistem respirasi.• • Nutrisi Parenteral total. dan rendahnya kadar komplemen. (Donna L. alat pelembab. pipa wastafel. klebsiella. Stafilokokus koagulasi negatif. baiasa ditemukan sebagai penyebab septikemia pada bayi BBLR dan BBLSR. Pelepasan endotoksin oleh bakteri menyebabkan perubahan fungsi miokardium 7 .

dan syok. yang mengakibatkan disseminated intravaskular coagulation (DIC) dan kematian. jamur. Syok didefinisikan dengan tekanan sistolik dibawah persentil ke-5 menurut umur atau didefinisikan dengan ekstremitas dingin. ketidakseimbangan fungsi seluler. yang dikarakteristikkan dengan perubahan hemodinamik. Manifestasi kardiopulmonal pada sepsis gram negatif dapat ditiru dengan injeksi endotoksin atau faktor nekrosis tumor (FNT). insufisiensi ventilator. 1999). complemen cascade menimbulkan banyak kematian dan kerusakan sel. Hambatan kerja FNT oleh antibodi monoklonal anti-FNT sangat memperlemah manifestasi syok septik. yang dapat mengakibatkan perubahan psikologis yang sangat besar. 2004).( Bobak. virus. asidosis metabolik. Jika perlindungan tubuh tidak efektif dalam mengontrol invasi mikroorganisme. anemia. produk-produk bakteri dan sitokin proradang memicu respon fisiologis untuk menghentikan penyerbu (invader) mikroba. Penderita dengan gangguan imun mempunyai peningkatan resiko untuk mendapatkan sepsis nosokomial yang serius. sitokin teraktivasi. dan terjadinya ketidakseimbangan antara perfusi dan kenaikan kebutuhan metabolik jaringan. Akibatnya adalah penurunan perfusi jaringan. Zat-zat patogen dapat berupa bakteri. Penyebab yang paling umum dari septisemia adalah organisme gram negatif. Tekanan vaskuler perifer pada syok septik (panas) tetapi menjadi sangat naik pada syok yang lebih lanjut (dingin).perubahan ambilan dan penggunaan oksigen terhambatnya fungsi mitokondria. (Marilynn E. maupun riketsia. Pada sepsis yang tiba-tiba dan berat. dan selanjutnya dapat menyebabkan kekacauan fisiologis lebih lanjut. Pengisian kembali kapiler yanng terlambat (>2 detik) dipandang sebagai indikator yang dapat dipercaya pada penurunan perfusi perifer. 1999). mungkin dapat terjadi syok septik. dan kegagalan sistem multipel. Pada syok septik pemakaian oksigen jaringan melebihi pasokan oksigen. depresi miokardium. dan kekacauan metabolik yang progresif. (Nelson. 8 .Baik sendirian ataupun dalam kombinasi. hipotensi. Bila komponen dinding sel bakteri dilepaskan dalam aliran darah. Ketidakseimbangan ini diakibatkan oleh vasodilatasi perifer pada awalnya. vasokonstriksi pada masa lanjut. Doenges. FNT dan mediator radang lain meningkatkan permeabilitas vaskuler. Septisemia menunjukkan munculnya infeksi sistemik pada darah yang disebabkan oleh penggandaan mikroorganisme secara cepat atau zat-zat racunnya. dan terjadinya ketidakseimbangan tonus vaskuler.

Pato flow Melalui Air Ketuban ↓ Masuk kedalam tubuh janin ↓ Terjadinya Infeksi awal . ↓ Infeksi/Kuman menyebar ↓ Keseluruh tubuh janin Hipotalamus ↓ Berespon menghasil kan panas tubuh ↓ Optimal ↓ ↓ Jaundice (ikterif) ↓ Ke Otak ↓ Enselopati ↓ Kemit ikterik(kejang) ↓ resiko cedera Hiperbilirubin ↓ ↓ Gangguan pola nafas ↓ Erirtosit banyak Dilisis ↓ Bayi akan sesak cairandan elektrolit Organ Hati ↓ G3 sirkulasi O2 CO2 ↓ Gangguan Volume Organ pernafasan ↓ Muntah.oesteomelitis → Infeksi pada Ibu Hipertermia Fungsi tidak 9 . Diare Malas menghisap SistemGastrointestinal ↓ resiko infeksi → Bakteri ↓ meningitis.

b) Bila sindroma klinis mengarah ke sepsis. nafas tidak teratur. CRP >10mg /dl atau 2 SD dari normal 10 . malas minum. Leukopenia (< 4. merintih. denyut jantung tidak beraturan. retraksi. PEMERIKSAAN PENUNJANG a) Pemeriksaan mikrokopis maupun pembiaakan terhadap contoh darah air kemih. tremor.letargi. sianosis. kulit dingin. kutis marmorata. dispneu. perlu dilakukan evaluasi sepsis secara menyeluruh. takikardia. ikterus. analisis dan kultur urin. maka dilakukan fungsi lumbal. kulit lembab.ubun membonjol. hepatomegali. Manifestasi klinis a) Umum : panas. hipotensi. muntah. fungsi lumbal. hipotermia.4. ptekie. ubun. Hal ini termasuk biakan darah. peningkatan atau penurunan tonus. diare. Perbandingan netrofil immature(stab) dibanding total (stb+segmen)atau I/T ratio >0. bradikardia. d) Sistem kardiovaskuler : pucat.2 5. g) Sistem sirkulasi : pucat.000 x 109/L) 6. Trombositopenia (< 100. jika diduga suatu meningitis. hiporefleksi. sklerema.000x 109/L) 3. 5. 2000). tampak tidak sehat. takipneu. anoreksia (nafsu makan buruk). sianosis. b) Saluran cerna : distensi abdomen. Netrofil muda 10% 4. purpura. koma. aktivitas menurun. (Kapita Selekta. 1. c) Saluran nafas : apneu. Leukositosis (>34. edema. gerakan mata abnormal. f) Hematologi : pucat. e) Sistem saraf pusat : iritabilitas.000×109/L) 2. hipotensi. sianosis. letargi. kejang. perdarahan.

v harus diencerkan dan waktu pemberian ? sampai 1 jam pelan-pelan). analisa gas darah. dan Netylmycin (Amino glikosida) dosis 7 1/2 mg/kg BB/per hari i.Factor-faktor pada masalah hematology: a) Peningkatan kerentaan kapiler b) Peningkatan kecenderungan perdarahan(kadar protrombin plasma rendah) c) Perlambatan perkembangansel-sel darah merah d) Peningkatan hemolisis e) Kehilangan darah akibat uji laboratorium yang sering dilakukan 6. pengecatan Gram). CRP tetap abnormal.m (atas indikasi khusus). kimia. f) Pengobatan suportif meliputi : 11 . d) Apabila gejala klinik dan pemeriksaan ulang tidak menunjukkan infeksi. c) Pemeriksaan lain tergantung indikasi seperti pemeriksaan bilirubin. lengkap. USG kepala dan lain-lain. pemeriksaan CRP kuantitatif). PENATALAKSANAAN a) Diberikan kombinasi antibiotika golongan Ampisilin dosis 200 mg/kg BB/24 jam i. pemeriksaan darah dan CRP normal. Pemberian antibiotika diteruskan sesuai dengan tes kepekaannya. maka diberikan Cefepim 100 mg/kg/hari diberikan 2 dosis atau Meropenem dengan dosis 30-40 mg/kg BB/per hari i. foto abdomen.v dibagi 2 dosis (hati-hati penggunaan Netylmycin dan Aminoglikosida yang lain bila diberikan i. kultur darah. feses lengkap. dan kultur darah negatif maka antibiotika diberhentikan pada hari ke-7. b) Dilakukan septic work up sebelum antibiotika diberikan (darah lengkap.v dan Amikasin dengan dosis 15 mg/kg BB/per hari i. urine.v (dibagi 2 dosis untuk neonatus umur < 7 hari. urine dan feses (atas indikasi).v i. gula darah. untuk neonatus umur > 7 hari dibagi 3 dosis). Lama pemberian antibiotika 10-14 hari. Pada kasus meningitis pemberian antibiotika minimal 21 hari.m/i. cairan serebrospinal. pungsi lumbal dengan analisa cairan serebrospinal (jumlah sel. foto polos dada. e) Apabila gejala klinik memburuk dan atau hasil laboratorium menyokong infeksi.

paru. c) Pada masa pasca Persalinan : Rawat gabung bila bayi normal. terapi syok. jaga lingkungan dan peralatan tetap bersih. KOMPLIKASI a) Kelainan bawaan jantung. b) Pada masa Persalinan :Perawatan ibu selama persalinan dilakukan secara aseptik. Rujuk ke pusat kesehatan bila diperlukan. terapi hipoglikemi/hiperglikemi. transfusi tukar. asupan gizi yang memadai. BAB III 12 . 7. transfusi darah.g) Termoregulasi. PENCEGAHAN a) Pada masa Antenatal :Perawatan antenatal meliputi pemeriksaan kesehatan ibu secara berkala. terapi kejang. penanganan segera terhadap keadaan yang dapat menurunkan kesehatan ibu dan janin. plasma. trombosit. koreksi metabolik asidosis. pemberian ASI secepatnya.dan organ-organ yang lainnya b) Sepsis berat : sepsis disertai hipotensi dan disfungsi organ tunggal c) Syok sepsis : sepsis berat disertai hipotensi\ d) Sindroma disfungsi multiorgan (MODS) e) Perdarahan f) Demam yang terjadi pada ibu g) Infeksi pada uterus atau plasenta h) Ketuban pecah dini (sebelum 37 minggu kehamilan) i) Ketuban pecah terlalu cepat saat melahirkan (18 jam atau lebih sebelum melahirkan) j) Proses kelahiran yang lama dan sulit 8. terapi oksigen/ventilasi mekanik. pengobatan terhadap penyakit infeksi yang diderita ibu. imunisasi. perawatan luka umbilikus secara steril.

Kesimpulan Sepsis neonatorum atau septikemia neonatal didefinisi sebagai infeksi bakteri pada aliran darah bayi selam empat minggu pertama kehidupan. b) Hindari infeksi nosokomial DAFTAR PUSTAKA 13 . rontgen dada dilakukan bila ada gejala respirasi. 2. Saran a) Mencegah lebih baik dari pada mengobati.PENUTUP 1. kultur urin. pungsi lumbal dan sensitivitas cairan serebrospinal (CSS). infeksi postnatal. infeksi intranatal. Penyebabnya dimulai pada infeksi antenatal. trombosit. Pemeriksaan untuk mendiagnosa adanya sepsis adalah hitung darah lengkap (HDL). kultur darah.

2. 4. Bobak (2005). pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. Buku ajar keperawatn maternitas. Jakarta: EGC. Kapita selekta kedokteran. Jakarta: EGC. Rencana asuhan keperawatan. DAFTAR ISI 14 . Doenges (2000). 3. Behrman (2000). Jakarta: EGC.1. Nelson ilmu kesehatan anak. Arif. Jakarta: EGC. mansjoer (2000).

Pengertian…………………………………………………………………………………….Patofisiologi…………………………………………………………………………………. Etiologi……………………………………………………………………………………… 3. 2.Pencegahan…………………………………………………………………………………… 15 .Komplikasi…………………………………………………………………………………… 8.Manifestasi Klinis…………………………………………………………………………… 5. 1.HALAMAN JUDUL………………………………………………………………………………………….Penatalaksanaan……………………………………………………………………………… 7. 4.Pemeriksaan Penunjang……………………………………………………………………… 6.i KATA PENGANTAR…………………………………………………………………………ii DAFTAR ISI………………………………………………………………………………………………iii BAB IPENDAHULUAN…………………………………………………………………………….

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->