BAB I PENDAHULUAN

As Sunnah (hadis Nabi saw.) merupakan penafsiran al-Quran dalam praktik atau penerapan ajaran Islam secara factual dan ideal. Hal ini mengingat bahwa pribadi Nabi saw. merupakan perwujudan dari al-Quran yang ditafsirkan untuk manusia, serta ajaran Islam yang dijabarkan dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, sejak pertengahan abad ke-19, definisi otoritas Rasulullah menjadi masalah penting bagi para pemikir Muslim. Karena abad ini merupakan periode ketika hegemoni barat yang berkaitan dengan kelemahan politik dan agama telah menciptakan dorongan kuat diadakannya reformasi. Sunnah Nabi yang suci ini telah menghadapi berbagai macam serangan dari para kaum orientalis dengan beragam aksi yang mereka lakukan untuk menghancurkan esensi hadis Nabi itu sendiri. Sejak saat itu juga, para pemikir Muslim menghadapi banyak tantangan terhadap gagasan Islam klasik tentang otoritas keagamaan (baca: hadis). Pergolakan di dunia Muslim telah mendorong meluasnya pengujian kembali sumber-sumber klasik hukum Islam karena orang Muslim telah berjuang untuk memelihara, menyesuaikan, atau mendefinisikan kembali norma-norma sosial dan hukum dalam menghadapi kondisi yang berubah. Isu sentral dalam perjuangan yang terus berlangsung ini adalah masalah hakekat, status, dan otoritas sunnah (contoh-contoh normatif Nabi Muhammad saw.). karena status Nabi Muhammad sebagai utusan Allah, perkataan dan perbuatannya diterima oleh sebagian besar Muslim sebagai sebuah sumber hukum kedua setelah al-Qur’an. Menurut al-Qardhawi as-Sunnah adalah perkataan, perbuatan dan persetujuan Nabi saw., di samping itu as-Sunnah juga merupakan sumber kedua dalam Islam di bidang tasyri’ dan dakwah (tuntunan) nya. Bersama al-Qur’an, hadis menjadi point yang sensitif dalam kesadaran spiritual maupun intelektual muslim. Tidak saja karena ia menjadi sumber pokok ajaran Islam, tetapi juga sebagai tambang informasi bagi pembentukan budaya Islam, terutama sekali historiografi Islam yang cukup banyak merujuk pada hadis-hadis. Hadis menjadi 1

semakin krusial ketika makin banyaknya masalah yang muncul, sementera Nabi dan sahabat telah banyak yang wafat. Ketika Nabi masih hidup persoalan dapat dipecahkan dengan otoritas al-Qur’an atau Nabi Muhammad sendiri. Demikian pula pada masa sahabat, masyarakat dapat melihat praktek nabi yang dijalankan para sahabat. Tetapi setelah itu berbagai informasi tentang nabi menjadi sangat penting bagi kaum muslim. Itu sebabnya belakangan sangat banyak sekali muncul literatur hadis dalam berbagai bentuk dan jenisnya dengan muatan hadis-hadis yang cukup beragam. Dengan demikian, hadis-hadis Nabi saw. haruslah dipahami secara benar dan tepat. Namun, karena banyaknya serangan-serangan yang dilakukan oleh orang-orang Barat, maka banyak dari kalangan Muslim yang mulai berbeda pendapat dalam memaknai dan memahami hadis-hadis itu sendiri. Dari uraian di atas, al-Qardhawi ingin membawa umat Islam untuk dapat memahami hadis secara benar dan tepat. Dalam makalah ini akan penulis jelaskan tentang cara-cara atau metode yang diberikan oleh al-Qardhawi dalam memahami hadis secara benar dan tepat.

2

Manhaj Fiqh Yusuf al-Qardhawi (terj) Samson Rahman (Jakarta: Pustaka al-Kautsar. Ayahnya bernama Abdullah. Hal itu didukung oleh pelajarannya di Fakultas Ushuluddin. Namun. 4. Hadis Dalam Pandangan Yusuf Qardhawi Di antara para pemikir kontemporer. yang diselesaikan pada tahun 1960. Riwayat dan Latar Belakang Pendidikan Yusuf Qardhawi Nama lengkapnya adalah Yusuf Al-Qardhawi. ia sudah hafal al-Quran dan dengan bacaan yang sangat baik. sunnah nabi mempunyai 3 karakteristik. Menurut al-Qardhawi. kecuali tingkat Aliyah. Pada usia sepuluh tahun.1 Pendidikan formalnya ditempuh di al-Azhar Mesir. Bagaimana Memahami Hadis Nabi Saw. hal.3 1 Isam Talimah. 1999). Republik Arab Mesir. Beliau dilahirkan di desa Shaft Turab di tengah Delta Sungai Nil. Ketiga karakteristik ini akan mendatangkan pemahaman yang utuh terhadap suatu hadis. sehingga mendapatkan hijaza diploma tinggi dalam bidang bahasa dan sastra Arab. al-Qardhawi memberikan penjelasan yang luas tentang bagaimana pemikirannya tentang hadis yang dikembangkan menjadi metode sistematis untuk menilai otentisitas hadis.2 B. Pelajaran yang pertama kali ditekuninya adalah al-Quran. 3 Yusuf Qardhawi. 2001). 3 . seimbang (manhaj mutawazzun). tafsir. 92. yaitu komprehensif (manhaj syumul). ia tempuh di Ma’had al-Buhus wa la-Dirasah al-Arbiyat al-‘Aliyah. 2 Ibid. pada tanggal 9 September 1926. hal. dan memudahkan (manhaj muyassar). hal. daerah Mahallah al-Kubra. Dengan keahliannya itu ia dijadikan imam salat lima waktu di desa dan pada usia yang sangat muda. dan hadis). karena ayahnya dipanggil oleh Allah. 3.BAB II PEMBAHASAN A. (Bandung: Karisma. Yusuf Qardhawi hanya dua tahun bersama ayahnya. keahliannya yang menonjol adalah dalam bidang keushuluddinan (aqidah.

baik yang berasal dari al-Quran. ataupun persetujuannya. (intihal al-mubthilin). Juga dalam kaitannya dengan nash-nash al-Quran dan Sunnah yang lain.Atas dasar inilah maka al-Qardhawi menetapkan tiga hal juga yang harus dihindari dalam berinteraksi dengan sunnah. Oleh sebab itu. Dapat memahami dengan benar nash-nash yang berasal dari Nabi saw. Dan juga antara tasyri’ yang memiliki sifat umum dan permanent. pemahaman yang tepat terhadap sunnah adalah mengambil sikap moderat (wasathiya). Semua itu. dan yang bukan untuk itu. 2. 3. Adapun prinsip-prinsip dalam berinteraksi dengan as-Sunnah. dan dalam kerangka prinsip-prinsip umum serta tujuan-tujuan universal Islam.). dengan yang bersifat khusus atau sementara. Meneliti dengan seksama tentang ke-shahih-an hadis yang dimaksud sesuai dengan acuan ilmiah yang telah ditetapkan oleh para pakar hadis yang dipercaya. dan tidak menjadi kelompok yang bodoh. yaitu pertama. dengan membuat berbagai macam bid’ah yang jelas bertentangan dengan akidah dan syari’ah. atau hadis-hadis lain yang lebih banyak jumlahnya. ketiga. perbuatannya. tanpa mengabaikan keharusan memilah antara hadis yang diucapkan demi penyampaian risalah (misi Nabi saw. Atau dengan kata lain. kedua. Sebab. yaitu tidak berlebihan atau ekstrim. penafsiran orang-orang bodoh (ta’wil al-jahilin). tidak menjadi kelompok sesat. atau 4 . yaitu pemalsuan terhadap ajaran-ajaran Islam.di antara ”penyakit” terburuk dalam pemahaman sunnah. Memastikan bahwa nash tersebut tidak bertentangan dengan nash lainnya yang lebih kuat kedudukannya. adalah sebagai berikut: 1.. sesuai dengan pengertian bahasa (Arab) dan dalam rangka konteks hadis tersebut serta sebab wurud (diucapkannya) oleh beliau. baik yang berupa ucapan Nabi saw. antara Sunnah yang dimaksudkan untuk tasyri’ (penetapan hukum agama) dan yang bukan untuk itu. adalah pencampuradukan antara bagian yang satu dengan bagian yang lainnya. penyimpangan kaum ekstrim. Yakni yang meliputi sanad dan matannya. manipulasi orang-orang sesat.

Penempatan hadis sebagai sumber hukum Islam tersebut. didasarkan pada beberapa dalil al-Quran. perbuatan. hal.4 As-Sunnah adalah sumber kedua dalam Islam di bidang tasyri’ dan dakwah (tuntunan) nya. atau pelbagai tujuan umum syariat yang dinilai telah mencapai tingkat qath’iy karena disimpulkan bukan hanya dari satu atau dua nash saja. Demikian pula untuk mencari cara-cara efektif dalam rangka menganjurkan perbuatan kebaikan dan mencegah kejahatan. 5 . produk hadis ditempatkan sebagai sumber hukum Islam setelah alQuran. atau lebih sejalan dengan ushul. nilai-nilai yang mengarahkan. Menurut ulama ushul fiqh hadis adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi saw. al-Nisa’: 59 berikut:          4                     Yusuf Qardhawi. Dan juga tidak dianggap berlawanan dengan nash yang lebih layak dengan hikmah tasyri’. tetapi dari sekumpulan nash yang setelah digabungkan satu sama lain mendatangkan keyakinan serta kepastian tentang tsubutnya (atau keberadaanynya sebagai nash). sebagai musyarri’. Dari sini dapat dilihat bahwa ulama ushul menempatkan Nabi Muhammad saw. maupun ketetapan yang dapat dijadikan dalil hukum shara’. di antaranya terdapat dalam QS.lebih shahih darinya. 26-27. Para ahli fiqh merujuk kepadanya untuk menyimpulkan hukum-hukum. serta hikmah-hikmah yang merasuk ke dalam sanubari manusia. baik ucapan. Oleh karena itu. sebagaimana para ahli dakwah dan tarbiyah merujuk kepadanya untuk menggali makna-makna yang mengilhami. Bagaimana Memahami Hadis. Berbicara mengenai hadis sebagai sumber ajaran agama (hukum) berarti kita harus meletakkan hadis dalam kerangka diskursus ushul fiqh.

setidaknya mengisyaratkan adanya perintah kepada orang-orang yang beriman. 6 . yaitu sebagai berikut:                 Artinya: ”Barangsiapa yang mentaati Rasul itu. yaitu dalam bingkai tuntunan-tuntunan Illahi yang kebenaran dan keadilannya bersifat pasti. Memahami Hadis Sesuai dengan Petunjuk al-Quran Untuk memahami sunnah dengan baik.Artinya: ”Hai orang-orang yang beriman. jika kamu benarbenar beriman kepada Allah dan hari kemudian. jauh dari penyimpangan. Sesungguhnya ia telah mentaati Allah. taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya).” (QS. seperti yang dijelaskan di dalam surat al-An’aam ayat 115. C. Al-Nisa’: 59) Dalil yang semakna juga dapat ditemukan dalam QS al-Nisa’ ayat 80. pemalsuan. dan ulil amri di antara kamu. 21. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. hal.5 Seseorang dikatakan taat kepada Allah kalau dia juga taat kepada Rasul—Nya. Metode Pemahaman Hadis Yusuf Qardhawi 1. Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya). yakni sebagai berikut:             5 ‘Abd al-Wahab Khallaf. Ushul al-Fiqh (Kairo: Maktabah al-Da’wah al-Islamiyah. 1990). kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu. untuk taat kepada Allah dan Rasul yang berarti taat kepada al-Quran dan hadis. Al-Nisa’: 80) Kedua ayat tersebut. Maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (QS. dan penakwilan yang keliru. dan demikian pula sebaliknya. dan Barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu). kita harus memahaminya sesuai dengan petunjuk al-Quran.

. (Bandung: Pustaka Setia. tetapi janganlah mengikuti [hasil musyawarahnya]). Oleh sebab itu.        ”Dan telah sempurnalah kalimat Tuhanmu. Penjelasan Nabi senantiasa berkisar pada al-Quran dan tidak pernah melampauinya. karena 6 Yusuf Al-Qardhawi. hal. Oleh karena itu. hal ini disebabkan karena hadisnya tidak shahih atau pemahaman kita yang tidak benar atau tidak sesuai dengan maksud hadits tersebut. dan pertentangan tersebut bersifat semu. Ia adalah konstitusi Illahi yang menjadi rujukan bagi setiap perundang-undangan dalam Islam. hadits ini adalah merupakan hadits palsu. Tugas seorang Rasul adalah menjelaskan kepada manusia risalah yang diturunkan untuk mereka. tidak mungkin sebuah ”penjelasan” bertentangan dengan ”apa yang hendak dijelaskan” atau sebuah ”cabang” tidak mungkin bertentangan dengan ”pokok”.6 Jika sebagian orang menganggap adanya pertentangan. Tidak ada yang dapat mengubah-ubah kalimat-Nya dan Dia-lah Yang Maha Mendengar Lagi Maha Mengetahui” (Al-An’am: 115). Adapun sunnha Nabi adalah penjelasan terinci bagi konstitusi tersebut. baik secara teoritis maupun praktis. Pengantar Studi Hadits. Sedangkan As-Sunnah adalah penjelasan terinci tentang isi konstitusi tersebut. ”menjelaskan bagi manusia apa yang diturunkan kepada mereka”. tidak ada sunnah yang shahih yang bertentangan dengan ayat-ayat al-Quran yang muhkamat keterangan-keterangannya yang jelas. Ini berarti bahwa sunnah harus dipahami dalam konteks alQuran. Itulah tugas Rasulullah saw. 2007). dalam kebenaran dan keadilannya. Al-Quran adalah roh eksistensi Islam dan asas bangunannya. baik dalam hal-hal yang bersifat teoritis ataupun penerapannya secara praktis. bukan pertentangan yang hakiki. Seperti dalam hadist : ”Syaawiruu hunna wa khaliquu hunna” (Bermusyawarahlah bersama mereka. 153 7 .

yaitu sebagai berikut:                                                                                 Artinya: ”Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh. janganlah seorang ibu menderita 8 . Yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. dan kewajiban ayah memberi Makan dan pakaian kepada Para ibu dengan cara ma'ruf.bertentangan dengan firman Allah tentang sikap kedua orangtua terhadap anaknya yang masih menyusu. seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya.

Hadis-hadis yang mutasyabih dikembalikan kepada yang muhkam. 171 9 . Dengan demikian. ketentuan-ketentuan tersebut harus diterapkan dalam memahami hadis yang satu dengan yang lainnya. kita harus menghimpun hadis-hadis yang bertema sama. Maka tidak ada dosa atas keduanya. dan membatasi yang mutlak. dan yang ’am ditafsirkan dengan yang khas. Maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Menghimpun Hadis-hadis yang Terjalin dalam Tema yang Sama Untuk memahami sunnah Nabi dengan baik.” Sudah dijelaskan di atas. 7 Sebagaimana yang sudah disepakati. Artinya. sunnah memerinci ayat-ayat yang global. menjelaskan yang masih samar. bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan. apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan. sunnah berfungsi sebagai penafsir dan penjelas al-Quran. Dengan demikian. dan nas-nas lain yang berkaitan dengan topik tertentu seringkali menjerumuskan orang ke 7 Yusuf al-Qardhawi.hal. dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain. Pengantar Studi……………………. makna yang dimaksud akan semakin jelas dan satu sama lain tidak boleh dipertentangkan. dan warispun berkewajiban demikian. Mencukupkan diri dengan pengertian lahiriah suatu hadis saja tanpa memperhatikan hadis-hadis lainnya.kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya. yang mutlaq dihubungkan dengan yang muqayyad. maka kita harus dapat memahami dengan cara yang baik dan benar adalah dengan melihat makna hadits yang didukung oleh al-Quran. karena isi hadits (cabang) sebagai penjelas al-Quran tidak akan mengandung makna yang berbeda dengan al-Quran (pokok) sebagai sesuatu yang dijelaskan. bahwa apabila dalam menghadapi perbedaan pemahaman dalam menyimpulkan makna-makna hadits. 2. mengkhususkan yang masih umum.

bahwa Nabi saw . dalam hati.dalam kesalahan. serta tidak akan mempersempit sesuatu yang sebetulnya telah dilapangkan oleh Allah SWT bagi manusia. Dan apabila menyaksikan seorang ’alim atau da’i Muslim yang tidak memendekkan tsaub—nya. pada hari Kiamat. Dan sebagai akibatnya. maka mereka akan mencibirnya. Kaifa Nata’amal Ma’a al-Sunnah Al-Nabawiyah (USA. yang mengandung ancaman cukup keras terhadap pelakunya. sesuai dengan tuntutan agama Islam kepada para pengikutnya dalam soal-soal yang menyangkut kebiasaan hidup sehari-hari. 10 . 1990). dan menjauhkannya dari kebenaran mengenai maksud sebenarnya dari konteks hadis tersebut. tidak akan diajak bicara oleh 8 Yusuf Al-Qardhawi. 113.8 Sebagai misal. Sedemikian bersemangatnya mereka. atau adakalanya menuduhnya secara terang-terangan sebagai seorang yang ”kurang beragama”! Padahal. atau kewajibannya yang mahaagung. Virgina:al-Ma’had alIslami. niscaya mereka akan mengetahui apa sebenarnya yang dimaksud oleh hadis-hadis seperti itu. seandainya mereka mau mengkaji sejumlah hadis yang berkenaan dengan masalah ini. lalu menghimpun antara yang satu dengan yang lainnya. pernah bersabda: yang artinya ”tiga jenis manusia. hadis-hadis yang berkenaan dengan larangan ”mengenakan sarung sampai di bawah mata kaki”. mereka akan mengurangi ketegangan sikap mereka dan tidak menyimpang terlalu jauh dari kebenaran. sebagai syiar Islam terpenting..a. Yaitu hadishadis yang dijadikan sandaran oleh sejumlah pemuda yang amat bersemangat. Dalam sebuah hadis yang dirawikan oleh Muslim dari Abu Dzar r. sehingga hampir-hampir menjadikan masalah memendekkan tsaub ini. seperti yang mereka sendiri melakukannya. yang kelak. untuk menunjukkan kritik yang tajam terhadap siapasiapa yang tidak memendekkan tsaub (baju gamis)—nya sehingga di atas mata kaki. hal.

dari Abu Hurairah: ”Sarung yang di bawah mata kaki. dan (3) seorang yang membiarkan sarungnya terjulur sampai di bawah kedua mata kakinya.” Dalam riwayat lainnya. Penggabungan atau Pentarjihan antara Hadis-hadis yang (Tampaknya) Bertentangang (Kompromi atau Tarjih terhadap HadisHadis yang Kontradiktif) 9 Yusuf Al-Qardhawi. Ia akan dimasukkan ke neraka.Allah: (1) seorang mannan (pemberi) yang tidak memberi sesuatu kecuali untuk diungkit-ungkit. dengan dan pedagang bohong. sehingga Abu Dzar berkata: ’Sungguh mereka itu adalah manusia-manusia gagal dan merugi! Siapa merreka itu.” Yang dimaksud dengan ”sarung” dalam hadis itu ialah ”kaki” seseorang yang sarungnya terjulur sampai di bawah mata kakinya. dan bagi mereka tersedia azab yang pedih.9 melariskan dagangannya bersumpah 3. tidak dipandang oleh—Nya. tidak diajak bicara oleh Allah.. yang artinya: ”Tiga jenis manusia. akan berada di neraka. (Bandung: Krisma. Bagaimana Memahami Hadis Nabi saw. sebagai hukuman atas perbuatannya. tidak ditazkiah oleh—Nya. mengulangi sabda beliau itu tiga kali. orang yang memberi yang sesuatu untuk kemudian diungkit-ungkit.” (Rasulullah saw . 108 11 . 1999). (2) seorang pedagang yang berusaha melariskan barang dagangannya dengan mengucapkan sumpahsumpah bohong. ya Rasulullah?’ Maka jawab beliau): ”Orang yang membiarkan sarungnya terjulur sampai ke bawah mata kaki. yang kelak pada hari Kiamat. juga dari Abu Dzar. hal.” Hadis di atas juga didukung oleh hadis yang dirawikan dalam shahih Al-Bukhari.

‫كنت نهيتكم عن زيارة القبور. فزورها او زوروا القبور فإنها تذكر الموت‬ 10 Tirmidzi dalam bab Janaiz (1056). Apabila pertentangan tersebut dapat dihilangkan dengan cara menggabungkan atau menyesuaikan antara kedua nash. Juga dirawikan oleh AlBaihaqy dalam As-Sunan (4/ 78) 12 . kebenaran tidak akan bertentangan dengan kebenaran. Sebab. Yusuf Al-Qardhawi mengambil contoh hadis tentang ziarah kubur bagi wanita. tanpa harus memaksakan atau mengada-ada sehingga keduanya dapat diamalkan. Walaupun demikian. Ibn Majah (1576) dan Ahmad (2 / 337). bahwa Rasulullah saw. Dan kewajiban kita terhadap hal tersebut adalah menghilangkan pertentangan di dalamnya. atau hanya kelihatan di luar saja bertentangan. Di antaranya.Pada prinsipnya.” (Diraawikan oleh Ahmad. maka hal itu hanyalah merupakan keadaan luarnya saja. yang kandungannya sepintas berbeda-beda. ada hadis-hadis lainnya yang isinya berlawanan dengan hadis-hadis di atas.10 Hal itu dikuatkan pula oleh beberapa hadis yang mengandung larangan terhadap kaum wanita untuk mengikuti jenazah. Ibn Majah dan Tirmidzi yang berkata: ”Hadis ini hasan sahih”. sebagaimana diriwayatkan oleh Ibn Hibban dalam shahih—nya). serta menggabungkan antara hadis yang satu dengan hadis yang lainnya. tapi makna yang terkandung adalah sama. Misalnya. Dari sana dapat disimpulkan pula larangan terhadap ziarah kubur bagi wanita. sabda Nabi saw. Kemudian meletakkan masing-masing hadis sesuai dengan tempatnya sehingga menjadi satu kesatuan dan tidak lagi kelihatan berbeda atau bertentangan karena keduanya saling melengkapi. hadis dari Abu Hurairah. Salah satu hal yang penting untuk memahami sunnah dengan baik adalah menyesuaikan hadis-hadis shahih yang ”tampak” bertentangan. bahwa kaum wanita diizinkan menziarahi kuburan. ”melaknat wanita yang sering menziarahi kuburan. nash-nash syari’at yang benar tidak mungkin bertentangan. Yakni yang dapat dipahami darinya. Dalam hal ini. Seandainya ada pertentangan. sama seperti kaum laki-laki.

kini ziarahilah kini ziarahlah” atau “ziarahilah kuburan-kuburan.. Berkata Asy-Syaukani: ”Pendapat itulah yang sepatutnya dijadikan andalan dalam upaya penggabungan antara hadis-hadis yang tampaknya saling bertentangan menurut zahirnya. Kami.”12 11 12 Ahmad dan Al-Hakim dari Anas. soal mengingat mati adalah sesuatu yang diperlukan bagi kaum laki-laki maupun wanita. Demikian pula hadis yang dirawikan oleh Muslim. Bagaimana Memahami Hadis Nabi saw. namun menggabungkan semuanya dan berupaya menyesuaikan makna kandungannya. Yaitu dengan mengartikan kata ”melaknat” yang tersebut dalam hadis—sebagaimana dinyatakan oleh Al-Qurthubiy—yang ditujukan kepada para wanita yang amat sering melakukan ziarah. yang telah mendahului maupun yang masih tertinggal. sebab hal itu akan mengingatkan kepada maut. akan menyusul kalian. insyaAllah. Mungkin dapat dikatakan pula bahwa jika semua itu dapat dihindarkan. terdapat lagi hadis Nabi tentang diperbolehkannya wanita menziarahi kubur. sebab itu akan mengingatkan kepada maut. sebagaimana disebutkan dalam Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir (4584) Yusuf Al-Qardhawi. disamping kemungkinan membawa mereka kepada tabarruj serta meratapi orang-orang yang mati dengan suara keras. (Bandung: Karisma. Menurut Al-Qurthubiy.” Meskipun hadis-hadis ini. hal. 1999). katanya: ”Apa yang harus ku ucapkan kepada mereka. dibandingkan hadis-hadis yang melarang. Sebab. dari Aisyah. Semoga Allah merahmati semua kita. yang menunjukkan diizinkannya (kaum wanita menziarahi kuburan) lebih sahih dan lebih banyak. Jawab beliau: ”Katakanlah: ’Salam sejahtera atas kaum Mukminin dan Muslimin. mungkin sebabnya ialah hal itu dapat mengakibatkan berkurangnya perhatian mereka kepada pemenuhan hak para suami. maka tak ada salahnya memberi izin kepada mereka. 13 . para penghuni rumah-rumah ini. dan lain-lainnya lagi.”11 Selain hadis tersebut di atas. An-Nasaiy dan Ahmad.122. yang berkonotasi ”amat sering”. ya Rasulullah?” (Yakni apabila menziarahi kuburan).”Aku pernah melarang kalian menziarahi kuburan. izin umum tersebut tentunya mencakup kaum wanita juga. Hal itu sesuai dengan bentuk kata zawwarat. adalah masih mungkin. Yaitu ”Ziarahilah kuburan-kuburan.” Dalam hadis-hadis di atas.

sehingga ia 14 . Sebagian ahli hadis menggunakan naskh apabila mereka mengalami kesulitan di dalam menggabungkan dua hadis yang bertentangan dan kemudian di antara keduanya diketahui mana hadis yang muncul belakangan. serta Tujuannya. yang dinyatakan dalam hadis tersebut atau disimpulkan darinya. Di antara cara-cara yang baik untuk memahami hadis Nabi saw. membuat problematika dalam hadis lebih rumit dibandingkan dengan naskh di dalam al-Quran. ataupun dapat dipahami dari kejadian yang menyertainya. Memahami Hadis dengan Mempertimbangkan Latar Belakangnya. Yaitu dengan mentarjihkan (atau ’memenangkan’) salah satu darinya. Ini berarti bahwa statu hukum yang dibawa oleh statu hadis. Banyaknya hadis yang diasumsikan sebagai mansukh. barulah diupayakan pentarjihan. dan ada pula yang dimaksudkan sebagai keringanan (rukhshah). dengan berbagi alasan pentarjih yang tentukan oleh para ulama. Situasi dan Kondisinya Ketika Diucapkan. karena alQuran bersifat umum dan universal. Karena di antara hadis-hadis itu ada yang mengandung ketetapan (’azimah). ialah dengan memperhatikan sebab-sebab khusus yang melatarbelakangi diucapkannya statu hadis. 4. setelah diadakan penelitian hadis yang dikatakan mansukh tidaklah demikian. Soal Naskh dalam Hadis Masalah yang berkaitan erat dengan kontradiksi dalam hadis adalah persoalan naskh (pengahapusan) atau yang biasa kita dengan istilah nasikh mansukh (yang menghapus dan yang dihapus) dalam hadis. namun jika diperhatikan lebih lanjut. Namun.Dan apabila tidak mungkin menggabungkan antara dua hadis atau berbagai hadis yang pada zahirnya saling bertentangan. sebab) tertentu. Dan di antara keduanya mempunyai hukum masing-masing sesuai dengan kedudukannya. atau kaitannya dengan suatu ‘illah (alasan. adakalanya tampak bersifat umum dan waktu tak terbatas. akan diketahui bahwa hukum tersebut berkaitan dengan suatu ‘illah tertentu.

Agar kita tidak terjerumus ke dalam kesalahan seperti yang terjadi atas sebagaian kaum ekstrem dari kalangan Khawarij atau yang seperti mereka. haruslah dilakukan pemilahan antara apa yang bersifat khusus dan yang umum. Kecuali untuk menyimpulkan darinya prinsip-prinsip tertentu atau menunjukkan pelajaran (‘ibrah) apa yang kiranya dapat diambil darinya. Kita mengetahui bahwa para ulama kita telah menyatakan bahwa untuk memahami al-Quran dengan benar.akan hilang dengan sendirinya jika hilang ‘illah—nya. serta antara yang particular dan yang universal. Sehingga dengan demikian maksudnya benar-benar menjadi jelas dan terhindar dari pelbagai perkiraan yang menyimpang dan (terhindar dari) diterapkan dalam pengertian yang jauh dari tujuan sebenarnya. Lain halnya dengan as-Sunnah. Demikianlah. yang mengambil ayat-ayat yang Turín berkenaan dengan kaum musyrik. sebab ia memang menangani pelbagai problem yang bersifat local (maudhi’iy). jika asbab an-nuzul perlu diketahui oleh siapa saja yang ingin memahami al-Quran atau menafsirkannya. Di dalamnya juga terdapat dalam al-Quran. ia tidak berkepentingan untuk membicarakan hal-hal yang detil atau yang hanya berkaitan dengan waktu tertentu. Untuk dapat memahami hadis dengan pemahaman yang benar dan tepat. Oleh sebab itu. Dan dengan memperhatikan konteks. haruslah diketahui tentang asbab an-nuzul (sebabsebab yang melatarbelakangi turunnya ayat-ayat al-Quran). maka asbab al-wurud (sebab atau peristiwa yang melatarbelakangi diucapkannya suatu hadis) lebih perlu lagi untuk diketahui. Semua itu mempunyai hukumnya masing-masing. bagi siapa saja yang beroleh taufik Allah SWT. haruslah diketahui kondisi yang meliputinya serta di mana dan untuk tujuan apa ia diucapkan. pasti akan lebih mudah mencapai pemahaman yang tepat dan lurus. Hal tersebut mengingat bahwa al-Quran. kondisi lingkungan serta asbab an-nuzul dan asbab al-wurud. yang sementara dan yang abadi. sesuai dengan wataknya. Karena itu. 15 . Yaitu. particular (juz’iy) dan temporal (‘aniy). lalu menerapkannya atas kaum muslim. dan tetap berlaku jika masih berlaku ‘illah—nya. adalah universal dan abadi.

orang menggunakan kendaraan unta. dan dari suatu lingkungan ke lingkungan lainnya. Dan ini tidak dapat dianggap sebagai tindak pelanggaran terhadap hadis tersebut. Mereka lebih mementingkan sarana ini. ketika perjalanan jauh ditempuh dengan menggunakan pesawat terbang yang mengangkut seratus orang penumpang atau lebih. Padahal. seringkali mengarungi padang pasir yang luas atau daerah-daerah yang jauh dari hunian manusia. Dalam kondisi seperti itu. 1999). seolah-olah itulah yang menjadi tujuan sebenarnya. penulis mengambil contoh tentang keharusan wanita disertai mahramnya ketika bepergian jauh. siapa saja yang mendalami Setiap sarana dan prasana. Karena itu. (Bandung: Karisma. tentunya dikhawatirkan keselamatan dirinya. apabila suatu hadis menunjuk kepada sesuatu yang menyangkut sarana atau prasarana tertentu. Membedakan antara Sarana yang Berubah-ubah dan Tujuan yang Tetap Di antara penyebab kekacauan dan kekeliruan dalam memahami as-Sunnah. maka tidak ada lagi alasan untuk mengkhawatirkan keselamatan wanita bepergian sendiri. seorang perempuan yang bepergian tanpa disertai suazi ataupun mahramnya. bahkan semua itu pasti mengalami perubahan. 71 16 . atau—paling sedikit—nama baiknya dapat tercemar. baghal ataupun keledai dalam perjalanan mereka. maka itu hanyalah untuk menjelaskan 13 Yusuf Qardhawi. secara marfu’: “Tidak dibolehkannya seorang perempuan bepergian jauh kecuali ada seorang mahram bersamanya. ditinjau dari segi syariat. jika kondisi seperti itu telah berubah. ialah bahwa sebagian orang mencampuradukkan antara tujuan atau sasaran yang hendak dicapai oleh as-Sunnah dengan prasarana temporer atau lokal yang kadangkala menunjang pencapaian tujuan.Dalam hal ini.”13 ‘Illah (alasan) di balik larangan ini ialah kekhawatiran akan keselamatan perempuan apabila ia bepergian jauh tanpa disertai suami atau mahram. Bagaimana Memahami Hadis Nabi Saw. seperti di masa kita Semarang. 5. jika ia melakukannya. Ini mengingat bahwa di masa itu. tidak ada salahnya. Oleh sebab itu. mungkin saja berubah dari suatu masa ke masa lanilla. Akan tetapi. dari Abdullah bin Abbas. Disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim. atau kereta api yang mengangkut ratusan musafir. hal.

aqli. Misalnya hadis tentang sifat-sifat Allah. hal itu tidak berarti bahwa kita harus berhenti padanya saja. Adapun yang termasuk majas adalah. namun sama sekali tidak dimaksudkan untuk mengikat kita dengannya. seperti disebutkan dalam hadis ”siwak menyebabkan kesucian mulut serta keridhaan Tuhan. tapi harus 17 .” Adakah penggunaan siwak itu merupakan suatu tujuan tersendiri? Ataukah ia hanya suatu alat yang cocok dan mudah diperoleh di jazirah Arab. isti’arah. menggantikannya dengan alat lainnya yang dapat diproduksi secara besar-besaran. 6. Begitulah yang telah dinyatakan oleh sejumlah fuqaha’. Terutama di rumah. Membedakan antara yang Hakekat dan Ungkapan Teks-teks hadis banyak sekali yang menggunakan majas atau metafora. ataupun membekukan diri kita disampingnya. Dengan ini. kita mengetahui bahwa sikat gigi dan pasta gigi (seperti yang digunakan sekarang) sepenuhnya dapat menggantikan kayu arak. menganjurkan penggunaannya. sekiranya al-Quran sendiri menegaskan tentang suatu sarana atau prasarana yang cocok untuk suatu tempat atau masa tertentu.tentang suatu fakta. cukup untuk digunakan oleh jutaan orang. dan tidak memikirkan tentang prasarana lainnya yang selalu berubah dengan berubahnya waktu dan tempat. Hadis semacam ini tidak bisa secara langsung dipahami. bagi masyarakat-masyarakat lainnya yang tidak mudah memperoleh kayu siwak itu. demi memanfaatkan sesuatu yang mudah didapat oleh mereka?! Oleh sebab itu. tidak ada salahnya. atau ketika hendak tidur. tujuannya adalah kebersihan mulut sehingga mendatangkan keridhaan Allah. majas lughawi. seperti sikat—gigi yang kita kenal sekarang. Bahkan. karena rasulullah adalah orang Arab yang menguasai balaghah. Rasul menggunakan majas untuk mengemukakan maksud beliau dengan cara yang sangat mengesankan. Sebuah contoh yaitu hadis tentang siwak (sepotong kayu lunak dari pohon tertentu) untuk membersihkan gigi. setelah makan. sehingga Rasulullah saw.

Sebagai misal.a. dalam surat al-Ahzab yang berbunyi:                    Artinya: ” Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit. Sesungguhnya manusia itu Amat zalim dan Amat bodoh. Atau. seperti dikatakan oleh Aisyah r. orang akan tergelincir dalam kekeliruan. mereka saling mengukur. mereka mengambil sebatang bambu untuk mengukur tangan siapakah yang paling 18 .” mereka mengira bahwa yang dimaksud oleh beliau. Bahkan. baik yang bersifat tekstual ataupun kontekstual.perhatikan berbagai indikasi yang menyertainya. Ketika Rasulullah saw. beliau: ”Yang paling cepat berkata kepada istri-istri di antara kalian – menyusulku dipikullah amanat manusia. 72) Bahkan adakalanya pemahaman berdasarkan majaz itu. adalah yang benar-benar bertangan panjang. bumi dan gunung-gunung. merupakan suatu keharusan. Karena itu. Maka semuanya enggan untuk memikul amanat dan itu dan mereka itu khawatir oleh akan mengkhianatinya.. jika tidak. panjang?! menurut beberapa riwayat.” (Al-Ahzab: sepeninggalku –adalah yang paling panjang tangannya. siapa di antara mereka yang tangannya paling panjang.

tasbih. Dari mereka terpancar dzikir. 117. Mereka juga tidak mempunyai sifat kelamin. lelaki atau perempuan.14 Juga seperti jin. di sini adalah dalam hal memaknai teks hadis. Yang dimaksud oleh beliau dengan ”tangan yang paling panjang” ialah yang paling banyak kebaikannya dan kedermawanannya. 1999). tidak minum. tercipta dari cahaya. Mereka memang diciptakan untuk taat saja kepada Allah SWT. ada beberapa hal yang berkaitan dengan alam gaib (’alam al-ghaib). hal. Mereka juga tidak dibebani kewajiban sebagaimana yang diberikan Allah kepada manusia. 7. yang sebagiannya menyangkut makhlukmakhluk yang tidak dapat dilihat di alam kita ini. nur. Makhluk-makhluk yang tidak bersifat fisik ini tidak makan.Padahal Rasulullah tidak bermaksud seperti itu. Dan di antara mereka itu adalah setan-setan. malaikat. tidak kawin dan juga tidak berketurunan. sebagaimana halnya nafas yang keluar dari seorang manusia. yang mereka itu dapat melihat kita dan kita tidak dapat melihat mereka. tentara Iblis yang pernah bersumpah di hadapan Allah SWT untuk berupaya menyesatkan kita dan memperindah kebatilan dan kejahatan dalam pandangan kita. 19 . Di antara kandungan As-Sunnah. tak dapat ditangkap dengan indera dan tidak memiliki bentuk fisik. penghuni bumi yang dibebani pula kewajibankewajiban tertentu seperti kita (manusia) juga. dan ibadah. Sebagaimana disebutkan dalam al-Quran dijelaskan:        14 Yusuf Al-Qardhawi. Membedakan antara Alam Gaib dan Alam Kasatmata (Nyata) Maksudnya membedakan antara yang gaib dan alam kasatmata (nyata). mereka adalah jenis makhluk spiritual (halus). Misalnya. As-Sunnah Sebagai Sumber IPTEK dan Peradaban (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.

Termasuk ketika manusia di dalamnya. baik yang inderawi maupun yang maknawi. demikian pula tentang kenikmatan ataupun siksaan di sebagiannya lagi berkaitan dengan kehidupan akhirat. dan tingkatan-tingkatan manusia di dalamnya. Sebab. dan juga neraka serta pelbagai siksaan di dalamnya. khususnya dari Nabi Muhammad saw. dalam pertanyaan-pertanyaan dalamnya. kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka”[Shad: 82-83] (Yang dimaksud dengan mukhlis ialah orang-orang yang telah diberi taufiq untuk mentaati segala petunjuk dan perintah Allah s. baik yang bersifat material maupun spiritual. Memastikan Makna dan Konotasi Kata-kata dalam Hadis Dalam memahami suatu hadis haruslah dapat memastikan makna dan konotasi yang dimaksud dalam hadis. shirath. penggunaan atau pemaknaan kata dan konotasi setiap masyarakat 20 . 8.). Dan malaikat berada kuburnya. peristiwa-peristiwa besar pada hari kiamat.t.) Dan sebagian lagi dari hal-hal gaib ini bersangkutan dengan kehidupan di alam barzakh. surga serta pelbagai kenikmatan di dalamnya.w. Artinya:       iblis menjawab: "Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya. dan tingkatan-tingkatan manusia di dalamnya. hisab. mizan (neraca amalan manusia). syafaat (dari para nabi. yakni kehidupan setelah mati dan sebelum kebangkitan di hari kiamat. yakni kebangkitan dan pengumpulan manusia di padang mahsyar. Begitu pula dengan ’arsh dan kursy yang tidak dapat disaksikan oleh indera penglihatan manusia.

relevan 21 .atau masing-masing orang itu berbeda-beda dalam memaknai suatu kata. D. mengingat jarak waktu yang memisahkan realitas sekarang ini dengan sejarah bagaimana sebuah hadis muncul. pentingnya memberikan corak baru dalam studi pemahaman hadis. Jika dicermati beberapa prinsip pemahaman hadis nabi yang ditawarkan oleh Yusuf Al-Qardhawi sebenarnya sangat urgen untuk menggali nilai-nilai hadis yang relevan dengan kebutuhan historis sekarang ini. Beberapa kriteria yang ditawarkan oleh Yusuf al-Qardhawi merupakan refleksi hasil dialog dan pembacaan yang dilakukan Yusuf al-Qardhawi dari realitas masyarakat dan berbagai konsep yang ditawarkan para ulama jauh hari sebelumnya. Hal ini penting mengingat pemahaman atas kedudukan hadis nabi harus relevan dengan dirinya dan pada saat yang sama menjadi relevan dengan masyarakat sekarang ini. Adakalanya suatu kelompok manusia menggunakan kata-kata tertentu untuk menunjuk kepada makna-makna tertentu pula. Secara spesifik gagasan pemikiran Yusuf al-Qardhawi bukan sesuatu yang sama sekali baru. Dan tentunya tidak ada keberatan sama sekali dalam hal ini. Akan tetapi yang ditakutkan di sini adalah apabila mereka menafsirkan kata-kata tersebut yang digunakan dalam as-Sunnah (atau juga dalam alQuran) sesuai dengan istilah mereka yang baru (atau yang hanya digunakan di kalangan mereka saja). Relevan dengan dirinya sendiri berarti kandungan maknanya terbatas pada nilai-nilai yang dikandungnya. yang pada akhirnya membuka peluang adanya upaya pengembangan dalam wawasan studi pemikiran hadis. Selain itu. Implementasi Pemahaman Yusuf Al-Qardhawi Dari pemikiran yang ditawarkan oleh Yusuf al-Qardhawi ini mengindikasikan bahwa metode yang yang ditawarkan oleh al-Qardhawi telah menimbulkan dialog yang marak baik yang pro maupun yang kontra.

Namun disisi lain harus disadari. Brown. Menyoal Relevansi Sunnah Dalam Islam Modern (Bandung: Mizan. Oleh sebab itu. sebagai penjelas dari pada al-Quran. kita sebagai umat Muhammad. maraknya berbagai pemahaman terhadap hadis nabi membuka peluang semakin melebarnya perpecahan di kalangan umat Islam. BAB III KESIMPULAN Seperti yang telah dijelaskan.16 Munculnya pemahaman hadis perspektif Yusuf Qardhawi mengarah pada upaya pengembangan pemikiran hadis sebagai sesuatu yang positif untuk ditumbuhkembangkan. aspek budaya tidak dapat diabaikan dalam kajian hadis. jika perbedaan pandangan itu tidak disikapi secara bijak. 15 16 Daniel W. haruslah bisa memahami dengan baik apa-apa saja yang terkandung di dalam al-Quran dan asSunnah. Brown. Beberapa kriteria yang ditawarkan Yusuf Qardhawi telah memberi manfaat dalam menggali nilai-nilai hadis yang relevan konteks historis saat ini. hlm. Interaksi antara budaya yang berkembang dengan ajaran Islam yang bersumber dari teks. 1996).dengan kondisi masyarakat sekarang ini berarti bahwa relevansi tersebut berlangsung pada pemahaman yang rasional. 22 . Oleh sebab itu. Menyoal Relevansi Sunnah Dalam Islam Modern (Bandung: Mizan.18-19 Daniel W. hlm.15 Bagaimanapun juga berbagai macam temuan dan teknologi yang cukup pesat mengharuskan perlunya pengkajian terhadap pemahaman hadis nabi. bahwa as-Sunnah adalah sumber hukum kedua setelah a-Quran. untuk selanjutnya dapat dipastikan akan berhadapan dengan kenyataan yang lebih berat dan kompleks. 1996). dengan menganggap produk mereka sendiri yang paling benar dan pemikiran orang/kelompok lain yang berseberangan dengan mereka adalah salah. 35.

Menghimpun Hadis-Hadis yang Setema. antara lain sebagai berikut: Memahami Hadis Sesuai dengan Petunjuk al-Qur’an.Dari sini Yusuf al-Qardhawi memberikan delapan metode dalam memahami hadis secara benar dan tepat. Membedakan antara Sarana yang Berubah-ubah dan Tujuan yang Tetap. mengingat jarak waktu yang memisahkan realitas sekarang ini dengan sejarah bagaimana sebuah hadis muncul. yang pada akhirnya membuka peluang adanya upaya pengembangan dalam wawasan studi pemikiran hadis. Memahami Hadis Sesuai dengan Latar Belakang. pentingnya memberikan corak baru dalam studi pemahaman hadis. Kompromi atau Tarjih terhadap Hadis-Hadis yang Kontradiktif. Membedakan antara yang Hakekat dan Ungkapan Membedakan antara yang Gaib dan yang Nyata. Beberapa kriteria yang ditawarkan oleh Yusuf al-Qardhawi merupakan refleksi hasil dialog dan pembacaan yang dilakukan Yusuf al-Qardhawi dari realitas masyarakat dan berbagai konsep yang ditawarkan para ulama jauh hari sebelumnya.Dari pemikiran yang ditawarkan oleh Yusuf alQardhawi ini mengindikasikan bahwa metode yang yang ditawarkan oleh al-Qardhawi telah menimbulkan dialog yang marak baik yang pro maupun yang kontra. Memastikan Makna Kata-kata dalam Hadis Poin yang selanjutnya dalam pembahasan di atas adalah mengenai Implementasi Pemahaman Yusuf Al-Qardhawi. Secara spesifik gagasan pemikiran Yusuf al-Qardhawi bukan sesuatu yang sama sekali baru. Situasi dan Kondisi serta Tujuannya. Selain itu. 23 .