P. 1
SISTEM PILKADES

SISTEM PILKADES

|Views: 80|Likes:
Published by zhakovic_666
PILKADES
PILKADES

More info:

Categories:Types, Business/Law
Published by: zhakovic_666 on Jan 01, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/31/2013

pdf

text

original

PEMBAHARUAN SISTEM PEMILIHAN KEPALA DESA DALAM KERANGKA PEMILIHAN UMUM DI INDONESIA Safi’, SH.MH.

Abstract Historically the selection of village heads (Pilkades) in Indonesia was the first general election that is directly elected by the people. But the way the election system of village chiefs and traditional running very static in comparison with other elections. This may be caused due to the current village elections have not explicitly incorporated into the electoral system. Therefore, the future would need to be renewed against the village head election system by entering it explicitly into the electoral system, of course, with due regard to specificity, origin, and local mores. Thus the election of village heads really can be a means of political education and an effective instrument of democracy. Key word : the election of village heads, general election, renewal

A. Pendahuluan Menurut United Nations Development Programme (UNDP), Good Governance memiliki karakteristik sebagai berikut ;1 Pertama, Participation. Setiap warga negara mempunyai suara dalam pembuatan keputusan, baik secara langsung maupun melalui system keterwakilan. Partisipasi seperti ini dibangun atas dasar kebebasan berasosiasi serta berpartisipasi secara konstruktif. Kedua, Rule of Law. Kerangka hukum harus adil dan dilaksanakan tanpa pandang bulu, terutama hokum untuk hak asasi manusia (HAM). Ketiga, Transparancy. Transparansi dibangun atas dasar arus informasi. Informasi harus dapat dipahami dan dapat dimonitor. Keempat, Responsiveness. Lembaga-lembaga dan proses-proses harus mencoba melayani setiap “stakeholders”. Kelima, Consensus

Orientation. Good governance menjadi perantara kepentingan yang berbeda untuk memperoleh pilihan-pilihan terbaik bagi kepentingan yang lebih luas. Keenam, Effectiveness

1

Sedarmayanti, God Governance (Kepemerintahan yang baik) dalam rangka Otonomi Daerah, Upaya Membangun Organisasi Efektif dan Efisien melalui Rekonstruksi dan Pemberdayaan, (Bandsung: CV. Mandar Maju, 2003), hlm. 7.

51

hlm. Dari delapan karakteristik diatas dapat dilihat bahwa sebenarnya tidak terlepas dari ide mendudukkan publik atau rakyat sebagai salah satu komponen yang harus diperhatikan keterlibatannya. sektor swasta dan masyarakat (civil society) bertanggungjawab kepada publik dan lembaga-lembaga stakeholders. II. 2 Sehingga. 19. Proses-proses dan lembaga-lembaga sebaik mungkin menghasilkan sesuai dengan apa yang digariskan dengan menggunakan sumber-sumber yang tersedia. Mahfud MD. Studi tentang Interaksi Politik dan Kehidupan Ketatanegaraan. 2003). Accountability.Mahfud MD. 2 Moh. ini merupakan konsekuensi logis dari negara dengan bentuk pemerintahan yang demokratis. mengatakan bahwa negara (dengan bentuk pemerintahan) demokrasi adalah negara yang diselenggarakan berdasarkan kehendak dan kemauan rakyat. Cet. atau jika ditinjau dari sudut organisasi ia (demokrasi) berarti pengorganisasian negara yang dilakukan oleh rakyat sendiri atau atas persetujuan rakyat karena kedaulatan berada ditangan rakyat.and Effeciency. (Jakarta : Rineka Cipta. 52 . Pemilu merupakan salah satu ciri dari pemerintahan yang demokratis. Strategic Vision. Ketujuh. sebagaimana dikutip oleh Moh. Menurut Amirmachmud. Para pemimpin dan publik harus mempunyai perspektif good governance dan pengembangan manusia yang luas dan jauh kedepan sejalan dengan apa yang diperlukan untuk pembangunan semacam ini. terutama pada pemerintahan tingkat paling bawah yaitu Desa. Termasuk didalamnya adalam pemilihan kepala desa secara langsung yang selanjutnya disingkat menjadi Pilkades. adalah keterlibatannya dalam Pemilihan Umum (Pemilu). Para pembuat keputusan dalam pemerintahan. tidak salah jika Indonesia menerapkan sistem pemerintahan yang desentralistik sebagai jembatan atas keterlibatan masyarakat dalam menentukan kebijakan pemerintah. Salah satu bentuk dari partisipasi masyarakat dalam suatu negara tersebut kata Samidjo. Kedelapan. Demokrasi dan Konstitusi di Indonesia.

termasuk dalam mekanisme penggunaan hak pilih. Padahal pemilihan kepala desa adalah agenda pemerintah yang seharusnya dibiaya dari anggaran negara/daerah. Bahkan dibanyak desa diberbagai daerah di Indonesia termasuk di madura. biaya pemilihan kepala desa dibebankan kepada para calon kepala desa. dan lain-lain. 72 tahun 2005 sama persis dengan Asas-asas pemilihan umum sebagaimana diatur dalam Pasal 22E ayat (1) UUD 1945 setelah amandemen. 72 tahun 2005 tentang Desa. Dari sisi persyaratan pemilih juga dapat dibilang sama anatara pemilih Pilkades. Seakan menjadi anak tiri dalam kesatuan sistem pemilihan umum di Indonesia. pelaksanaan pemilihan kepala desa dapat dibilang sama dengan pemilihan umum. persyaratan dan tata cara pencalonan. Dengan demikian. Tetapi dalam perjalanannya justru Pilkades menjadi sistem pemilihan yang paling statis dan tradisonal. Hal ini bisa jadi penyebabnya diantaranya adalah karena belum dimasukkannya pemilihan kepala desa secara langsung dalam rezim pemilihan umum.Tidak dipungkiri secara historis bahwa Pilkades merupakan prototype Pemilu langsung di Indonesia. Padahal dari berbagai instrumen pemilihan kepala desa sebagaimana diatur dalam UU No. Asas-asas pelaksanaan pilkades sebagaimana diatur dalam Pasal 46 ayat (2) PP No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah khususnya Bab XI dan dalam PP No. bertolak dari uraian diatas. dan pemilih dalam pemilu. maka rumusan masalah yang hendak dikaji melalui artikel ini yaitu sebagai berikut : Apakah Pemilihan Kepala Desa sebagaimana diatur dalam Undang-Undang nomor 32 tahun 2004 dan Peraturan Pemerintah Nomor 72 tahun 2005 dapat dikelompokkan sebagai pemilihan umum ? 53 .

Pembahasan 1.B. Ketentuan ini menunjukkan tentang asas yang dianut dalam Pemilihan Umum di Indonesia adalah asas LUBER-JURDIL. dan DPRD) yaitu UU No. yang disahkan pada tanggal 10 Nopember 2001. Pemilihan Umum pada tahun 1955 mengunakan dasar hukum Undang-undang nomor 7 tahun 1953 (Lembaran Negara 1953 no. dan adil setiap lima tahun sekali. Sementara Pemilihan Umum berikutnya sudah berlandaskan kepada Undang-undang Dasar 1945. Pemilihan Umum menurut Undang-undang Dasar 1945 Dalam sejarah Pemilihan Umum yang dilakukan di Indonesia. Pasal 22E ayat (1) Undang-undang Dasar 1945 disebutkan bahwa . pada ayat ini juga diatur tentang jenjang waktu dari Pemilihan Umum. rahasia. meskipun secara substansial mengatur hal yang sama. yakni Pemilihan Umum. (1) Pemilihan Umum dilaksanakan secara langsung. sehingga ada adagium yang berkembang di masyarakat bahwa “Pemilihan Umum merupakan pesta demokrasi lima tahunan”. Pemilihan Umum diatur dalam BAB VIIB Pasal 22E. Ayat (1) diatas kemudian lebih dibakukan lagi oleh beragai Undang-Undang Organik yang mengatur tentang Pemilihan Umum. bebas. terdapat perbedaan dasar hukum yang dipergunakan sebagai landasan yuridisnya. 29). jujur. umum. Setelah dilakukan amandemen III terhadap Undang-undang Dasar 1945. 42 54 . Undang-undang ini merujuk pada Pasal 1 ayat (2) dan Pasal 35 Undang-undang Dasar 1950 (UUDS). DPD. yakni setiap lima tahun sekali. baik pemilihan umum untuk memilih anggota Legisltif (DPR. maupun Undang-Undang yang mengatur tentang pucuk Pimpinan Pemerintahan (eksekutif) baik ditingkat pusat yakni Presiden/Wakil Presiden yaitu melalui UU No. Disamping itu. 10 Tahun 2008.

Dewan Perwakilan Daerah.tahun 2008. dan Undang-undang nomor 23 tahun 2003 yang mengatur tentang Pemilihan Umum Eksekutif /Presiden dan Wakil Presiden sekarang diganti dengan UU No. Memilih Anggota Dewan Perwakilan Daerah . Adapun ruang lingkup Pemilihan Umum dalam Undang-undang Dasar 1945 adalah sebagaimana diatur dalam Pasal 22E ayat (2) yang menyebutkan bahwa. Memilih Presiden dan Wakil Presiden. ii. Memilih Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah ( Provinsi / Kabupaten / Kota ) . dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Memilih Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia . termasuk didalamnya adalah pemilihan kepala desa sebagai diatur dalam UU No. 10 tahun 2008. Presiden dan Wakil Presiden. 72 tahun 2005 tentang Desa. dimana untuk pelaksanaan operasional dari Pemilihan Umum diatas telah dikeluarkan Undang-undang nomor 12 tahun 2003 tentang Pemilihan Umum Legislatif sekarang diganti dengan UU No.. Seperti halnya Pemilihan Kepala 55 . Dari ayat ini terlihat bahwa Pemilihan Umum yang dilaksankan lima tahunan adalah bermaksud untuk . i. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah dengan UU No. 12 tahun 2008. (2) Pemilihan Umum diselenggarakan untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Dalam beberapa Undang-undang tersebut secara tegas menyebutkan asas Pemilihan Umum adalah LUBER-JURDIL. iii. maupun pemerintahan ditingkat daerah yakni Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah yaitu melalui UU No. dan iv. atau bagian dari pemilu?. 32 tahun 2004 jo. Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah apakah diluar lingkup diatas dapat dikatakan sebagai pemilu. PP No. 42 tahun 2008.

Hanya. menurut Smita Notosusanto dan Hadar N. kali ini dilakukan ditingkat lokal.Daerah yang disebut-sebut sebagai pemilu atau bagian dari pemilu termasuk juga didalamnya adalah Pemilihan Kepala Desa. 4 Smita Notosusanto & Hadar N. hlm. 2. Makalah. 56 . Sama dengan pemilu presiden. Mereka mengatakan : “…Pemilu kepala daerah berada dalam bab Pemerintahan Daerah. Urgensi Revisi Undang-undang nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebelum Penyelenggaraan Pemilihan Kepala Daerah. “Silahkan bertanya kepada para ahli atau profesor politik manapun. Gumay. Gumay. secara implisit menganggap Pemilihan Kepala Daerah sebagai pemilu yang juga diatur dalam Undang-undang Dasar 1945. Persoalaannya baik dalam UUD 1945 maupun dalam UU no.* Hal ini pulalah yang menyebabkan pengaturan mengenai Pemilu Kepala Daerah daerah sekarang diatur dalam Undang-undang nomor 32 tahun 2004…”. mantan anggota Komisi Pemilihan Umum. 07 Februari 2005.4 Dari kedua pernyataan diatas maka sudah jelas bahwa dari segi teori dan konsep bahwa pilkada adalah termasuk pemilu. 2005. Menurut Ramlan Surbakti."3 Hampir senada dengan pernyataan Ramlan Surbakti. Sedangkan untuk pemilihan kepala desa 3 “KPU Godok Pasal Pengganti”. semua pasti menyatakan bahwa Pemilihan Kepala Daerah dengan asas luber dan jurdil adalah pemilu juga. Pendapat ini tentunya juga dapat diberlakukan terhadap pemilihan kepala desa. Jawa Post. 32 tahun 2004 tidak ada ketentuan secara tegas bahwa pilkada dan pilkades adalah termasuk dalam kategori dari pemilu. Untuk pemilihan kepala daerah dengan diterbitkannya Undang-Undang Nomor 22 tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum sudah dengan tegas dan jelas dimasukkan dalam lingkup pemilihan umum. Pemilihan Kepala Daerah sebagaimana diatur dengan Undang-undang nomor 32 tahun 2004 adalah termasuk bagian dari pemilu . mengingat dari segi azas dan beberapa instrumen lainnya juga mempunyai kesamaan.

dimana dalam BAB IV diatur tentang Penyelenggaraan Pemerintahan. Bupati. dan Presiden dan Wakil Presiden. menurut hemat saya ada dua pendektan yang dapat digunakan : a.sampai saat ini belum ada satu ketentuanpun yang secara tegas memasukkannya kedalam bagian dari pemilihan umum. DPRD. Kalimat dipilih secara demokratis mengandung pertanyaan apakah dipilih secara demokratis bisa dikatakan bagian dari Pemilihan Umum?. Jika pemilu sifatnya nasional dan untuk memilih anggota DPR. walaupun asas-asas dan beberapa instrumen lainnya terdapat kesamaan. Pasal ini kemudian diterjemahkan dengan dikeluarkannya Undang-undang nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. Pemilihan Kepala Daerah dalam Undang-undang Dasar 1945 Tentang Pemilihan Kepala Daerah. dan kota dipilih secara demokratis”. DPD. Pendektan konsep/teori Jika dari segi konsep dan teori tidak ada perbedan prinsip antara pemilu dengan pilkada. Maka untuk menjawab ini. dan pada Bagian Kedelapan Pasal 56 – 119 mengatur tentang Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah. sedangkan jika pilkada sifatnya regional/ local 57 . kabupaten. 3. dari Pasal 18 ayat (4) diatas adalah pada kalimat dipilih secara demokratis. Adapun yang perlu digaris bawahi. kedua-keduanya sama-sama dimaksudkan sebagai sarana pelaksanan kedaulatan rakyat dalam konteks negara demokrasi. dan Walikota masingmasing sebagai kepala pemerintah daerah provinsi. Yang membedakannya hanya terletak pada lingkup pemilihan dan obyek yang dipilih. Undang-undang Dasar 1945 mengaturnya dalam Pasal 18 ayat (4) yang berbunyi ”Gubernur.

Karena dalam UU No. 22 tahun 2007 tersebut khususnya dalam Pasal 1 angka 4 sudah tegas memasukkan pemilihan kepala daerah sebagai pemilihan umum. 58 . maka Pilkada tidak termasuk didalamnya. walaupun dalam UUD 1945 tidak diatur secara jelas. Bupati/wakil Bupati. Jika dilihat dari ketentuan normative UUD 1945 setelah amandemen. Jika dilihat pada Pasal 22E ayat (2) yang menyatakan bahwa Pemilu dimaksudkan untuk memilih anggota DPR. Rahasia. atau Walikota/Wakil Walikota dipilih secara berpasangan melalui pemilihan secara demokratis berdasarkan asas Langsung. Yang kemudian dipertegas kembali dengan diterbitkannya UU No. Setelah terbitnya Undang-Undang Nomor 22 tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum. Rahasia. serta Presiden dan Wakil Presiden. dan Adil. maka ada beberapa Pasal yang dapat diperhatikan. Bebas. 12 tahun 2008 tentang Perubahan Kedua UU No. DPD. dan Adil. Umum. Pendekatan normative ketentuan UUD 1945. atau Walikota/Wakil Walikota. DPRD. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.(propinsi/kabupaten/kota) yang bermaksud untuk memilih Gubernur/Wakil Gubernur. Jujur. b. Bupati/Wakil Bupati. maka perdebatan tentang Pilkada apakah masuk dalam rezim pemilu atau bukan menajdi selesai. Umum. Hal ini dadasarkan pada ketentuan UU nomor 32 Tahun 2004 Pasal 56 ayat (1) dimana diatur bahwa Gubernur/wakil Gubernur. maka Pilkada termasuk dalam kategori Pemilu. Jujur. Akan tetapi jika melihat pada ketentuan Pasal 22E ayat (1) yang mengatur tentang asas-asas pemilu yaitu Langsung. Bebas. yang dalam Pasal 236C diatur pengalihan penanganan perkara sengketa hasil pemilihan kepala daerah dari Mahkamah Agung ke Mahkamah Konstitusi.

dengan bentuk susunan pemerintahannya di tetapkan dengan undang – undang dengan memandang dan mengingati dasar permusyawaratan dalam sistem pemerintahan Negara. Dan Pasal 18 Undang – Undang Dasar 1945 penjelasan II. Dan pemerintahan desa-lah yang bersentuhan langsung dengan denyut nadi kehidupan masyarakat. walaupun sebenarnya Desa dan Sistem Pemerintahanya mempunyai peranan sangat penting dalam pembangunan NKRI. Pemilihan Kepala Desa Dalam Perundang-undangan Indonesia Dalam UUD 1945. Istilah desa dalam UUD 1945 sebelum amandemen dapat kita jumpai dalam Pasal 18 dan penjelasannya. berbunyi : “dalam territoir Negara Indonesia terdapat kurang lebih 250 “ Zelbesturendelandschappen” dan “ Volkgemenschappen “ seperti desa di Jawa dan Bali. mengingat semua masyarakat bertempat tinggal di desa atau dengan sebutan istilah lainnya.3. yang berbunyi sebagai berikut : “ Pembagian daerah Indonesia atas daerah besar dan kecil. nagari di Minangkabau. Sedangkan setelah amandemen. yang di atur dengan undang – undang” 59 . Daerah – daerah itu mempunyai susunan asli dan oleh karenanya dapat di anggap sebagai daerah yang bersifat istimewa “. dan daerah provinsi itu di bagi atas kabupaten dan kota. dusun dan marga di Palembang dan sebagainya. yang tiap tiap provinsi. dan hak asal – usul dalam daerah yang bersifat istimewa”. Pasal 18 ayat (1) UUD 1945 berbunyi : “Negara kesatuan Republik Indonesia di bagi atas daerah – daerah propinsi. Bahkan pengaturan tentang Desa-pun secara eksplisit juga tidak ditemukan dalam UUD 1945. kabupaten dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah. baik sebelum maupun setelah amandemen tidak ada satu ketentuanpun yang secara eksplisit mengatur tentang pemilihan kepala desa.

Selanjutnya dalam Peraturan Pemerintah Nomor 72 tahun 2005 tentang Desa. bebas.” Desa dan/atau Pemerintahan Desa dipimpin oleh seorang Kepala Desa yang dipilih langsung dari dan oleh penduduk desa setempat yang memenuhi persyaratan. rahasia. Dalam Pasal 46 PP No. 72 tahun 2005 tersebut diatur sebagai berikut : (1) Kepala Desa dipilih langsung oleh penduduk desa dari calon yang memenuhi syarat. yang berbunyi sebagai berikut : ” Penduduk desa Warga Negara Republik Indonesia yang pada hari pemungutan suara pemilihan kepala desa sudah berumur 17 (tujuh belas) tahun atau sudah/pernah kawin mempunyai hak memilih. umum. Hal tersebut diatur dalam Pasal 203 ayat (1) UU No. yang dalam Pasal 200 ayat (1) dibentuklah Pemerintahan Desa. maka kemudian dibentuklah Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. yang berbunyi : ” Kepala desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 202 ayat (1) dipilih langsung oleh dan dari penduduk desa warga negara Repablik Indonesia yang syarat selanjutnya dan tata cara pemilihannya diatur dengan Perda yang berpedoman kepada Peraturan Pemerintah. (3) Pemilihan Kepala Desa dilaksanakan melalui tahap pencalonan dan tahap pemilihan. yaitu mulai dari Pasal 43 s/d Pasal 54. jujur dan adil. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.Berdasarkan Pasal 18 diatas. di Bagian Keempat diatur tentang Pemilihan Kepala Desa. Sedangkan untuk pemilih diatur dalam Pasal 45.” Adapun untuk pengaturan lebih lanjut 60 . yang berbunyi : ” Dalam Pemerintahan daerah kabupaten / kota dibentuk pemerintahan desa yang terdiri dari pemerintah desa dan badan permusyawaratan desa. (2) Pemilihan Kepala Desa bersifat langsung.

b. Sebagaimana pemilihan kepala daerah/wakil kepala daerah sebelum diterbitkannya UU No. DPD. 5 Pasal 53 PP Nomor 72 tahun 2005 tentang Desa. Dengan demikian secara substansial pemilihan kepala desa sebenarnya juga termasuk kedalam lingkup pemilihan umum. asas-asas pemilihan kepala desa. misalnya : tata cara pemilihan kepala desa yang dipilih secara langsung. kedua-keduanya sama-sama dimaksudkan sebagai sarana pelaksanan kedaulatan rakyat dalam konteks negara demokrasi. tidak ada satu ketentuanpun yang secara tegas memasukkan pemilihan kepala desa sebagai bagian dari pemilihan umum. Jika dilihat dari ketentuan normative UUD 1945 setelah amandemen. kiranya demikian pula dapat digunakan untuk pemilihan kepala desa. sama persis dengan pengaturan pemilu. yaitu : a. persyaratan pemilih dan lainnya. Akan tetapi apabila melihat isi/materi dari beberapa ketentuan tersebut.tentang Tata Cara Pemilihan Kepala Desa akan diatur dengan Peraturan Daerah Kabupaten / Kota yang bersangkutan. Pendekatan normative ketentuan UUD 1945. 61 . ada dua pendektan yang dapat digunakan untuk memasukkan Pilkada kedalam kelompok (rezim) pemilu sebagaimana telah dijelaskan diatas.5 Dari beberapa ketentuan dalam peraturan perundang-undangan diatas. maka ada beberapa Pasal yang dapat diperhatikan. Yang membedakannya hanya terletak pada lingkup pemilihan dan obyek yang dipilih. Pendektan konsep/teori Jika dari segi konsep dan teori tidak ada perbedan prinsip antara pemilu dengan pilkades. 22 tahun 2007. Jika dilihat pada Pasal 22E ayat (2) yang menyatakan bahwa Pemilu dimaksudkan untuk memilih anggota DPR. pentahapan pencalonan dan pemilihan.

mulai dari asas-asasnya. dan adil dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. karena pemilihan kepala desa selain sebagai sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat yang diselenggarakan dengan asas LUBER – JURDIL dalam NKRI.” Jadi jelas dengan dasar ini Pemilihan Kepala Desa termasuk dalam lingkup pemilihan umum. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Umum. Rahasia. Terlebih lagi jika dilihat dari definisi pemilu sebagai diatur dalam Pasal 1 angka 1 UU No.DPRD. 22 tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum. yang berbunyi : “Pemilihan Umum. selanjutnya disebut Pemilu. tata cara pemilihan. juga dalam pelaksanaannya harus didasarkan pada Pancasila dan UUD 1945. Bebas. penyelanggara. Akan tetapi jika melihat pada ketentuan Pasal 22E ayat (1) yang mengatur tentang asas-asas pemilu yaitu Langsung. persyaratan calon. pembiayaan. Umum. Oleh karena itu melalui revisi UU No. adalah sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat yang diselenggarakan secara langsung. Hal ini dadasarkan pada ketentuan UU nomor 32 Tahun 2004 Pasal 203 ayat (1) dan Pasal 46 ayat (2) PP No. Jujur. dimana pengaturan tentang Desa akan diatur dengan Undang-Undang tentang Desa tersendiri. Rahasia. Sehingga pemilihan kepala desa yang 62 . maka Pilkades tidak termasuk didalamnya. maka perlu juga diatur penataan system pemilihan kepala desa dalam kerangka pemilihan umum. maka Pilkades termasuk dalam kategori Pemilu. serta Presiden dan Wakil Presiden. Bebas. dan Adil. dan penyelesaian sengketa yang terjadi. umum. rahasia. dan Adil. jujur. bebas. Jujur. 72 tahun 2005 dimana diatur bahwa Kepala Desa dipilih secara langsung dari dan oleh penduduk desa setempat melalui pemilihan berdasarkan asas Langsung. pemilihnya. pengawasan.

secara histories merupakan prototype pemilihan secara langsung di Indonesia benar-benar dihormati dan diperhatikan keberadaannya oleh Negara dengan berbagai fasilitasi terhadap seluruh kebutuhan yang dibutuhkan dalam pelaksanaannya. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. dan penyelesaian sengketa yang terjadi. Tentunya tetap memperhatikan hak-hak. pengawasan. pembiayaan. Kecamatan Kamal. Sehingga pemilihan kepala desa yang secara histories merupakan prototype pemilihan secara langsung di Indonesia benar-benar dihormati dan diperhatikan keberadaannya oleh Negara dengan berbagai fasilitasi terhadap seluruh kebutuhan yang dibutuhkan dalam pelaksanaannya. pemilihnya. kabupaten Bangkalan yang sampai saat ini belum bisa melaksanakan pemilihan kepala desa karena tidak ada seorangpun yang mendaftarkan diri sebagai calon kepala desa. 63 . mulai dari asas-asasnya. dimana pengaturan tentang Desa akan diatur melalui UndangUndang tersendiri yaitu dengan penataan sistem pemilihan kepala desa dalam kerangka pemilihan umum. D. Dengan demikian tidak perlu terjadi lagi pemilihan kepala desa tidak dapat digelar karena tidak ada yang mau mendaftarkan diri sebagai calon kepala desa. penyelanggara. maka penting untuk dipikirkan dan diperjuangkan bersama berkaitan dengan persoalan pemilihan kepala desa. melalui revisi UU No. tata cara pemilihan. dan adat istiadat desa setempat. karena harus menanggung seluruh kebutuhan biaya pelaksanaan pemilihan kepala desa. asal-usul. seperti yang terjadi di desa Banyuajuh. persyaratan calon. Penutup Untuk menghindari beragam persoalan serta pro dan kontra yang berkepanjaangan. padahal masa jabatan kepala desanya sudah berakhir pada tahun 2008.

Makalah. Demokrasi dan Konstitusi di Indonesia. Balai Pustaka Nurcholis. Jakarta. God Governance (Kepemerintahan yang baik) dalam rangka Otonomi Daerah. Jakarta. Rineka Cipta Jawa Post. 2003. Urgensi Revisi Undang-undang nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebelum Penyelenggaraan Pemilihan Kepala Daerah. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Undang-Undang Nomor 12 tahun 2008 tentang Perubahan Kedua UndangUndang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Indonesia. ”KPU Godok Pasal Pengganti”. Mandar Maju Smita Notosusanto & Hadar N. 64 . Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. 2003. CV. Sedarmayanti. Teori dan Praktik Pemerintahan dan Otonomi Daerah. Undang-Undang dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Indonesia. Undang-Undang No. Mahfud MD. Bandung. Indonesia. 1993.DAFTAR PUSTAKA Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Upaya Membangun Organisasi Efektif dan Efisien melalui Rekonstruksi dan Pemberdayaan. sebagaimana telah dirubah dengan Undang-undang Nomor 8 Tahun 2011 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. Studi tentang Interaksi Politik dan Kehidupan Ketatanegaraan. 2005. Moh. Jakarta. Undang-Undang Nomor 22 tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum Indonesia. Indonesia. Peraturan Pemerintah Nomor 72 tahun 2005 tentang Desa. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah Indonesia. Hanif. 07 Februari 2005. Gumay. Grasindo.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->