P. 1
skripsi akuntansi.pdf

skripsi akuntansi.pdf

|Views: 1,276|Likes:
Published by Opiey Rofiah

More info:

Published by: Opiey Rofiah on Jan 01, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/14/2014

pdf

text

original

Sections

  • 3.1 Pendekatan Penelitian
  • 3.2. Ruang Lingkup Penelitian
  • 3.3 Jenis dan Sumber Data
  • 3.4. Prosedur Pengumpulan Data
  • 3.5 Teknik Analisis Data
  • GAMBARAN SUBYEK PENELITIAN DAN ANALISIS DATA
  • 4.1 Gambaran Subyek Penelitian
  • 4.2 Analisis Data

i

ANALISA PROSEDUR DAN KEBIJAKAN PEMBERIAN KREDIT PADA

BANK RAKYAT INDONESIA CABANG TULUNGAGUNG

BERDASARKAN UNDANG-UNDANG PERBANKAN

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Penyelesaian

Program Pendidikan Strata Satu

Jurusan Akuntansi

Oleh :

ENGGAR ADI SUJARWO
2006310126

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI PERBANAS

SURABAYA

2010

ii

ANALISA PEOSEDUR DAN KEBIJAKAN PEMBERIAN KREDIT PADA

BANK RAKYAT INDONESIA CABANG TULUNGAGUNG

BERDASARKAN UNDANG - UNDANG PERBANKAN

Diajukan oleh :

ENGGAR ADI SUJARWO

2006310126

Skripsi ini telah dibimbing

dan dinyatakan siap diuji

Dosen Pembimbing,

Tanggal : …………

Diyah Pujiati, S.E.,M.Si

SKRIPSI

iii

ANALISA PROSEDUR DAN KEBIJAKAN PEMBERIAN KREDIT PADA

BANK RAKYAT INDONESIA CABANG TULUNGAGUNG

BERDASARKAN UNDANG-UNDANG PERBANKAN

Disusun oleh :

ENGGAR ADI SUJARWO

2006310126

Dipertahankan di depan Tim Penguji

Dan dinyatakan Lulus Ujian Skripsi

Pada tanggal 17 Januari 2010

Tim Penguji

Ketua

: Nanang Shonhadji, S.E.,Ak.,M.Si ....................................

Sekertaris

: Diyah Pujiati, S.E.,M.Si

......................................

Anggota

: Erida Herlina, SE.,M.Si ......................................

iv

PENGESAHAN SKRIPSI

Nama

: Enggar Adi Sujarwo

Tempat, Tanggal Lahir : Surabaya, 14 Juli 1988

N.I.M

: 2006310126

Jurusan

: Akuntansi

Program Pendidikan

: Strata 1

Konsentrasi

: Akuntansi Keuangan

Judul

: Analisa Prosedur dan Kebijakan Pemberian Kredit

Pada Bank Rakyat Indonesia Cabang Tulungagung

Berdasarkan Undang-Undang Perbankan.

Disetujui dan diterima baik oleh :

Dosen Pembimbing,

Tanggal :………….

Diyah Pujiati, S. E., M.Si

Ketua Jurusan Akuntansi,

Tanggal :……………….

Dra. Gunasti Hudiwinarsih, Ak., M.Si

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

v

SKRIPSI INI KUPPERSEMBAHKAN KEPADA ;

ALLAH SWT, atas rahmat-Nya untuk setiap langkah dalam penyelesaian skripsi
ini dari awal hingga akhir dengan memberikan bimbingan dan petunjuk sehingga
semuanya dapat selesai dengan baik dan lancar.

JANGAN SEPERTI ORANG PESIMIS YANG MELIHAT DURI DI
TANGKAI SEKUNTUM BUNGA MAWAR, NAMUN JADILAH
ORANG OPTIMIS YANG MELIHAT KEHIDUPAN SEINDAH
BUNGA MAWAR

TUHAN ADA UNTUK JALAN KEHIDUPAN KITA

o Keluarga, terutama kedua orang tuaku yang udah kasi
semangat, dukungan, pengertian, dan lain-lain.
o Seluruh karyawan Bank Rakyat Indonesia Cabang
Tulungagung yang peduli pengerjaan skripsi ini.
o Keluarga besar di Tulungagung yang selalu mendukung diriku
dengan usaha maupun doa.
o Hyo yeon, karna kaulah aku jadi semangat full tuntasin skripsi
ini.aku akan selalu membanggakanmu.
o Ega panda,terima kasih buat segala-galanya yang udah kamu
perjuangin untuk akuw, Tuhan akan membalas semuanya.
o Dan lain-lain termasuk : kiki ta, fery gondol, risky, handoko,
subur, hadi, hanung, yogi, arya, mbah ndaru, londa, doni, dewi,
nabila,kang hodong, gerrard, totti, ari, dies, riska, adi, iwan,
dan teman2 perbanas laennya, dosen2 perbanas, kawan2 snsd,
begitu pula seluruh rakyat Indonesia yang mengenal baik
dirikuw termasuk pak presiden sby.

vi

KATA PENGANTAR

Industri perbankan merupakan salah satu komponen sangat penting dalam

perekonomian nasional demi menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan

ekonomi nasional. Stabilitas industri perbankan dimaksud sangat mempengaruhi

stabilitas perekonomian secara keseluruhan.

Kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan nasional merupakan

salah satu kunci untuk memelihara stabilitas industri perbankan sehingga tidak

memicu timbulnya krisis kembali. Kepercayaan ini dapat diperoleh dengan

adanya kepastian hukum, prosedur dan kebijakan dalam dunia perbankan yang

jelas dalam pengaturan bank serta penjaminan simpanan nasabah untu

meningkatkan kelangsungan usaha bank secara sehat. Kelangsungan usaha bank

secara sehat dapat menjamin keamanan simpanan para nasabahnya serta

meningkatkan peran bank sebagai penyedia dana pembangunan dan pelayanan

jasa perbankan. Apabila bank kehilangan kepercayaan dari masyarakat sehingga

kelangsungan usaha bank dimaksud tidak dapat dilanjutkan, bank tersebut

menjadi bank gagal yang berakibat dicabutnya izin usahanya.

Dalam penelitian ini dijelaskan mengenai analisa prosedur dan kebijakan

yang diterapkan pada Bank Rakyat Indonesia Cabang Tulungagung yang nantinya

diharapkan dapat memelihara kepercayaan masyarakat terhadap industri

perbankan baik dari segi kepengurusan segala bentuk transaksi keuangan,

penjaminan keuangan, serta pelayanan-pelayanan lainya.

vii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL………………………………………………………………i

HALAMAN PERSETUJUAN SIAP DIUJI………………………………………ii

HALAMAN LULUS UJIAN SKRIPSI………………………………………….iii

HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI…………………………………………iv

HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN………………………………….v

KATA PENGANTAR……………………………………………………………vi

DAFTAR ISI…………………………………………………………………….vii

DAFTAR GAMBAR…………………………………………………………….ix

DAFTAR LAMPIRAN……………………………………………………….…..x

ABSTRAK/RINGKASAN……………………………………………………….xi

BAB 1

PENDAHULUAN………………………………………………..1

1.1 Latar Belakang Masalah…………………………………........1

1.2 Rumusan Masalah.…………………………………………….4

1.3 Tujuan Penelitian .…………………………………………….5

1.4 Manfaat Penelitian .…………………………………………...5

1.5 Sistematika Skripsi .…………………………………………..6

BAB II

TINJAUAN KEPUSTAKAAN……………………………….....8

2.1 Penelitian Terdahulu …………………………………………8

2.2 Landasan Teori ……………………………………………...11

viii

2.3 Kerangka Pikir……………………………………………….38

2.4 Preposisi …………………………………………………….38

BAB III

METODE PENELITIAN………………………………………..40

3.1 Pendekatan Penelitian………………………………………..40

3.2 Ruang Lingkup Penelitian……………………………………41

3.3 Jenis dan Sumber Data……………………………………….41

3.4 Prosedur Pengumpulan Data…………………………………42

3.5 Teknik Analisis Data…………………………………………42

BAB IV

GAMBARAN SUBYEK PENELITIAN DAN ANALISIS 44

DATA……………………………………………………………

4.1 Gambaran Subyek Penelitian………………………………...44

4.2 Analisa Data ………………………………………………...53

4.3 Pembahasan………………………………………………….63

BAB V

PENUTUP………………………………………………………74

5.1 Kesimpulan………………………………………………….74

5.2 Keterbatasan Penelitian……………………………………..75

5.3 Saran………………………………………………………...75

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

ix

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1 : Bagan Kerangka Pemikiran

38

Gambar 4.1 : Bagan Organisasi

51

Gambar 4.2 : Alur Proses Perkreditan

62

x

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1

:

Kuisioner Penelitian

Lampiran 2

:

Surat Keterangan Permohonan Pinjam

Lampiran 3

:

Laporan Kunjungan Nasabah

Lampiran 4

:

Putusan Penolakan Kredit

Lampiran 5

:

Instruksi Pencairan Kredit

xi

ABSTRACT

Credit as important thing in the banking activity. Therefore many banks
will be survive whenever credit services given could be managed good, and
otherwise many banks dismissed because of credit management did not performed
inappropriately.

Each bank credit policies made are compulsory made contain and clearly
determined and prudent principles firm directed on banking rules included
procedures and credit basic policies, credit quality assessment manner,
professionalism and credit officials integrity, credit application assessment,
agreement and approval of credit liquidity. This research aims to evaluating and
knowing about credit application effectiveness had decided by Bank Rakyat
Indonesia Tbk branch of Tulungagung.
This research using qualitative through study case methodology. Analysis
technique are comparative analysis, by compare what case study researched
have similarity with theoretical background.

Procedures and policy of credit application in principally in Bank Rakyat
Indonesia had suitable with Banking Act and Prudential Banking principle. Even
though there are gaps be able to cause emerging credit jammed, that is
completeness of credit application requisite document related to financial
statement because part of customer tend doesn’t have financial statement. Beside
BRI credit application analysis more emphasized on guarantee value that
guaranteed compare to customer business prospect analysis and credit saving
facilities just emphasized on customer’s will to settled his or her credit as well as
more familiarity.

Key Words : Prosedure of Credit, Policy of Credit Application, Prudential

Banking

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Bank merupakan lembaga masyarakat yang menghimpun dana dan

menggunakannya semata-mata dilandasi oleh keepercayaan bahwa uangnya akan

diperoleh kembali pada waktunya dan disertai imbalan berupa bunga. Industri

perbankan Indonesia merupakan sector yang mengalami dampak langsung krisis

moneter berkepanjangan yang menyebabkan perekonomian Indonesia pada tahun

1998 terpuruk sampai kondisi terendah, sehingga mempengaruhi keadaan makro

ekonomi nasional. Puspani (2004 : 1) menyatakan bahwa “kondisi perbankan saat ini

sudah lebih baik dibandingkan sebelum dilaksanakannya rekapitalisasi kredit yang

mulai berjalan, baik yang ditangani Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN)

maupun masing-masing bank”.

Bank sebagai salah satu badan usaha keuangan merupakan lembaga perantara

antara pihak yang kelebihan dana (deposan) dan pihak yang kekurangan dana. Pihak

yang kelebihan dana menanamkan uangnya pada bank dalam bentuk deposito,

tabungan, dan produk-produk simpanan bank lainnya, sedangkan pihak yang

kekurangan dana memperoleh bantuan keuangan dari bank dalam bentuk pinjaman.

2

Adanya rentang waktu pengembalian pinjaman menimbulkan resiko yang

sangat besar yang mungkin ditanggung bank terhadap ketidakpastian pengembalian

pinjaman dari debitur. Timbulnya kredit bermasalah selanjutnya dapat

mengakibatkan kesulitan dari bank tersebut untuk memenuhi kewajibannya kepada

para deposan.

Seperti yang telah terjadi sebelumnya, tidak sedikit bank-bank yang telah

berdiri menjadi bangkrut dikarenakan gagalnya pengembalian kredit yang telah

dipinjamkan. Banyak pula yang melakukan marger untuk mengatasi masalah-

masalah tersebut. Bank Rakyat Indonesia Cabang Tulungagung merupakan salah

satu bank pemerintah yang mungkin saja terdampak oleh masalah perkreditan karena

kurang baiknya penerapan prosedur dan kebijakan pemberian kredit modal kerja

yang telah dilakukannya selama ini yang mungkin kurang mengacu terhadap

Undang-Undang Perbankan. Hal ini bisa saja terjadi pada Bank Rakyat Indonesia

dikarenakan letak lokasinya yang terdapat pada kota kecil Tulungagung yang mana

kebanyakan para nasabahnya adalah para petani ataupun masyarakat perdesaan

sekitar yang mungkin kurang memahami secara mendalam tentang segala

sesuatunya tentang perkreditan, sehingga apa yang dilakukan dalam pemberian

kredit tidak mengacu pada prosedur dan kebijakan yang telah ditetapkan. Puspani

berpendapat, banyak factor yang dapat menyebabkan kesulitan debitur

melaksanakan kewajibannya kepada bank ataupun bank kesulitan menagih kreditnya

kepada para debitur, seperti menurunnya pendapatan debitur, timbulnya kerugian

usaha debitur, atau larinya debitur (Puspani 2004 : 2).

3

Sudah seharusnya menjadi tugas dari jajaran perkreditan bank untuk tetap

mengingat bahwa setiap pemberian kredit (dalam kasus ini pemberian kredit modal

kerja) dan monitoring harus dilaksanakan secara hati-hati dan ketat tanpa

mengabaikan target pemberian kredit yang harus dicapai sesuai dengan kebijakan

perkreditan yang ditetapkan bank. Untuk menyakinkan kesesuaian praktek

perkreditan dengan kebijakan perkreditan bank, diperlukan suatu prosedur

pemberian kredit yang baik. Dengan adanya prosedur pemberian kredit yang baik

diharapkan terjadinya praktek-praktek perkreditan yang tidak sehat dapat dihindari.

Kebijakan dan prosedur kredit diterapkan untuk mengarahkan pada

tercapainya tujuan-tujuan suatu usaha. Setiap tahapan proses pemberian kredit harus

senantiasa dilaksanakan dengan menerapkan prinsip kehati-hatian. Prinsip kehati-

hatian tersebut tercermin dalam kebijakan pokok perkreditan, tata cara penilaian

kualitas kredit, profesionalisme dan integritas pejabat perkreditan. Kebijakan pokok

pemberian kredit meliputi pokok-pokok pengaturan tata cara pemberian kredit yang

sehat.

Prosedur dalam perkreditan dimulai dari adanya pengajuan permohonan kredit

dari masyarakat, proses analisis kredit, proses pencairan kredit, sampai dengan

proses umpan balik pelaksanaan kredit, Konsep prosedur dan kebijakan kredit ini

mengikuti alur proses kredit itu sendiri maka harus didukung dengan prinsip kehati-

hatian (prudential Banking) dalam penyaluran kredit kepada masyarakat dan

diharapkan tidak menimbulkan kredit bermasalah dikemudian hari dengan baik.

4

Bank Rakyat Indonesia Cabang Tulungagung, sebagai salah satu bank

pemerintah yang berfungsi sebagai penghimpun dana masyarakat dan

menyalurkannya kembali dalam bentuk kredit, turut andil dalam perbaikan sector riil

ekonomi Indonesia. Dengan penyaluran kredit modal kerja kepada masyarakat

diharapkan dunia usaha dapat bergerak dan tercipta lapangan kerja. Untuk menjaga

kredit agar tidak terjadi kebocoran, pemborosan, ataupun penyelewengan diperlukan

suatu pengendalian kredit yang cukup kuat. Dengan pengendalian kredit yang cukup

kuat kemungkinan terjadinga kredit bermasalah dapat diminimalisasi. Hal ini berarti

pendapatan bank dapat diterima dengan lancar dan akhirnya tercipta kondisi bank

yang sehat.

Berdasarkan latar belakang tersebut, dirasa perlu untuk dilakukan penelitian

tentang prosedur pemberian kredit yang memadai pada Bank Rakyat Indonesia

Cabang Tulungagung sebagai salah satu bank yang menghimpun dana dan

menyalurkannya kembali dalam bentuk kredit.

1.1. Rumusan Masalah

Suatu prosedur pemberian kredit yang baik dapat mencegah timbulnya kredit

bermasalah. Dimana kredit bermasalah tentunya dapat mempengaruhi kesehatan

suatu bank.

Dari fakta tersebut diatas dan memperhatikan pentingnya pemberian kredit

kepada masyarakat, maka dapat dirumuskan permasalahan yang perlu untuk diketahui

jawabannya, yaitu : Bagaimana prosedur pemberian kredit yang sesuai dengan prinsip

5

kehati-hatian (Prudential Banking) diterapkan pada Bank Rakyat Indonesia (BRI)

Cabang Tulungagung dan kebijakan- kebijakan pemberian kredit sesuai dengan

undang-undang perbankan ?

1.3. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai dan mengetahui

gambaran mengenai berjalannya proses perkreditan beserta personel-personel yang

bertanggung jawab pada setiap prosesnya serta mengetahui prosedur pemberian kredit

yang sesuai dengan prinsip kehati-hatian (Prudential Banking) dalam perkreditan

dalam mendukung terciptanya praktek-praktek perkreditan yang sehat.

1.4. Manfaat Penelitian

Dengan dilaksanakannya penelitian ini, diharapkan dapat diperoleh

manfaat-manfaat penelitian seperti tersebut di bawah ini, yakni :

1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi para praktisi,

pengajar dosen, mahasiswa, dan peneliti selanjutnya yang ingin mengembangkan

penelitian ini.

2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi para investor

dalam menanamkan dananya pada bank.

3. Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat bagi manajemen

bank dalam mengelola resiko perusahaannya untuk mangharapkan keuntungan

yang ingin dicapai.

6

1.5. Sistematika Skripsi

Pembahasan skripsi ini dapat dibagi menjadi 5 bab dengan sistematika sebagai

berikut :

BAB I : Pendahuluan

Dalam bab ini akan diuraikan tentang apa yang menjadi pokok

permasalahan secara umum yang meliputi latar belakang

masalah

perumusan masalah, tujuan penelitian dan sistematika skripsi.

BAB II : Tinjauan Pustaka

Dalam bab ini akan dibahas mengenai landasan teori dan

penelitian

Sebelumnya yang berkaitan erat dengan rumusan masalah

sebagai

petunjuk untuk mencari jalan terbaik dari permasalahan yang

ada.

BAB III : Metode Penelitian

Bab ini menjelaskan mengenai metode penelitian yang

digunakan

7

oleh penulis yang di dalamnya membahas mengenai pendekatan

penelitian batasan, jenis dan sumber data, desain penelitian,

teknik pengumpulan data, dan teknik analisis data yang akan

digunakan oleh penulis.

BAB IV : Hasil dan pembahasan

Bab ini menguraikan tentang gambaran umum perusahaan yang

merupakan obyek penelitian dan pembahasan masalah yang

dihadapi oleh perusahaan sebagai dasar untuk menarik

simpulan

dan memberikan saran yang diperlukan.

BAB V : Simpulan dan saran

Merupakan bab yang penting dalam skripsi ini, yang berisi

tentang simpulan dan saran yang berkenaan dengan hasil

pembahasan skripsi.

8

BAB II

TINJAUAN KEPUSTAKAAN

2.1 Penelitian Terdahulu

Pembahasan yang dilakukan pada penelitian ini merujuk pada penelitian-

penelitian sebelumnya. Berikut ini akan diuraikan beberapa penelitian terdahulu yang

mendukung penelitian ini :

1. Budi Prijanto dan Dessy Puspitasari (2005)

Budi Prijatno dan Dessy Puspitasari melakukan penelitian tentang struktur

pengendalian intern terhadap prosedur pemberian kredit investasi. Penelitian ini

berjudul “Evaluasi Efektifitas Struktur Pengendalian Internal Terhadap Prosedur

Pemberian Kredit Investasi (studi kasus pada PT. Bank Eksekutif Internasional

TBK Cabang Kelapa Gading)”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk

mengevaluasi dan mengetahui efektifitas pengendalian intern pada prosedur

pemberian kredit investasi yang telah diterapkan oleh Bank Eksekutif

Internasional TBK Cabang Kelapa Gading, Jakarta Timur. Pada penelitian ini

metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif. Hal ini dilakukan

dengan cara mempelajari sistem dan prosedur pemberian kredit investasi yang

telah ditetapkan dan melakukan evaluasi kualitatif terhadap proses pemberian

kredit.

9

Hasil penelitian menyimpulkan bahwa pengendalian intern terhadap

prosedur pemberian kredit investari pada Bank Eksekutife Internasional cabang

Kelapa Gading, Jakarta Timur dinilai baik untuk dapat menyediakan informasi

yang penting untuk memahami lebih lanjut tentang dinamika prosedur pemberian

kredit.

Persamaan penelitian ini dengan yang dilakukan oleh Budi Prijatno dan

Dessy Puspitasari adalah sama-sama menganalisis prosedur dan kebijakan

mengenai pemberian kredit pada suatu bank .

Sedangkan perbedaannya adalah pada penelitian sebelumnya menggunakan

asas kepatuhan dalam prosedur dan pengendalian intern pemberian kredit.

Penelitian ini menggunakan dasar Undang-Undang perbankan RI sebagai bahan

pertimbangan dalam menerapkan prosedur dan kebijakan pemberian kredit.

Peneliti terdahulu menganalisis studi kasus pada PT. Bank Eksekutif

Internasional. Penelitian sekarang menganalis studi kasus pada PT. Bank Rakyat

Indonesia.

2. Luh Gede Meydianawathi (2007)

Luh Gede Meydianawathi melakukan penelitian tantang prilaku penawaran

kredit. Penelitian ini berjudul “ Analisis Prilaku Penawaran Kredit Perbankan

Kepada Sektor UMKM di Indonesia”. Tujuan penelitian ini adalah untuk

mengetahui pengaruh beberapa variable terhadap penawaran kredit investasi dan

10

modal kerja bank secara parsial dan serempak kepada sector UMKM di Indonesia.

Metode analisis yang digunakan adalah ordinary least square, dilanjutkan dengan

uji signifikansi secara parsial dan serempak melalui uji t dan uji F.

Hasil penelitian dalam kurun waktu Januari 2002 – Februari 2006

memperoleh kesimpulan adanya kepercayaan terhadap system perbankan dengan

adanya program penjaminan pemerintah telah mendorong kenaikan Dana Pihak

Ketiga (DPK). Selain itu, program rekapitalisasi perbankan mampu mengatasi

masalah modal dan rentabilitas bank ( yang tercermin dalam rasio CAR dan ROA)

serta non performing loan (NPLs) yang berhasil ditekan telah meningkatkan

kemampuan bank umum dalam menyalurkan kredit investasi dan modal kerja pada

sector UMKM di Indonesia.

Persamaan penelitian ini dengan yang dilakukan oleh Luh Gede

Meydianawathi adalah sama-sama menganalisis prosedur dan kebijakan mengenai

pemberian kredit pada suatu bank .

Sedangkan perbedaannya adalah metode analisis yang digunakan pada

penelitian Luh Gede Meydianawathi adalah ordinary least square, sedangkan metode

analisis yang digunakan pada penelitian ini mengarah pada penggunaan pendekatan

kualitatif melalui metode studi kasus.

11

2.1 Landasan Teori

2.1.1 Pengertian Bank

Pengertian bank menurut UU No. 7/1992 jo UU No. 10/1998 Pasal 1 butir 2,

tentang perbankan adalah “ badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat

dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk

simpanan dan menyalurkan kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-

bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.”

Sedangkan menurut ikatan Akuntansi Indonesia, dalam PSAK

No. 31 menyatakan bahwa bank adalah “suatu lembaga yang berperan sebagai

perantara keuangan (financial intermeduary) antara pihak-pihak yang memiliki

kelebihan dana (surplus unit) dengan pihak-pihak, yang memerlukan dana (deficit

unit), serta sebagai lembaga yang berfungsi memperlancar lalu lintas

pembayarannya”.

2.1.2 Jenis Bank Ditinjau dari Segi Fungsi

Menurut UU pokok Perbankan Nomor 10 Pasal 5 ayat (1) tahun 1998

disebutkan, bank menurut jenisnya dibagi 2 yakni :

1. Bank umum

Bank umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara

konvensioanal dan atau berdasarkan Prinsip Syariah yang dalam kegiatannya

memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Sedangkan usaha Bank umum

meliputi :

12

a. Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan berupa giro,

deposito berjangka, sertifikat deposito, tabungan, dan/ bentuk lainnya yang

dipersamakan dengan itu.

b. Memberikan kredit.

c. Menerbitkan surat pengakuan hutang.

d. Membeli, menjual atau menjamin atas resiko sendiri maupun untuk

kepentingan sendiri maupun untuk kepentingan dan atas perintah nasabahnya.

e. Memindahkan uang baik kepentingan sendiri maupun untuk kepentingan

nasabah.

f. Memindahkan dana pada, menjamin dana dari atau meminjam dana bank lain,

baik dengan menggunakan surat, sarana telekomunikasi maupun dengan wesel

unjuk, cek atau sarana lainnya.

g. Menerima pembayaran dari tagihan atas surat berharga dan melakukan

perhitungan dengan atau antara pihak ketiga.

h. Menyediakan tempat untuk menyimpan barang dan surat berharga.

i. Melakukan kegiatan penitian untuk kepentingan pihak lain berdasarkan

montrak.

j. Melakukan penempatan dana dari nasabah kepada nasabah lainnya dalam

bentuk surat berharga yang tidak tercatat di bursa efek.

k. Melakukan kegiatan anjak piutang, usaha kartu kredit dan kegiatan wali

amanat.

13

l. Menyediakan pembiayaan dan atau melakukan kegiatan lain berdasarkan

prinsip syariah sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh bank Indonesia.

m. Melakukan kegiatan lain yang lazim dilakukan oleh bank sepanjang tidak

bertentangan dengan UU ini dan jperaturan perundang-undangan yang

berlaku.

2. Bank Perkreditan Rakyat (BPR)

Bank Perkrediatan Rakyat (BPR) adalah bank yang melaksanakan kegiatan

usaha secara konvensional atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya

tidak memberikan jasa dalam lintas pembayaran.

Sedangkan usaha Bank Perkreditan Rakyat dijabarkan dalam pasal 13, yakni

meliputi:

a. Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan berupa deposito

berjangka, tabungan, dan atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu.

b. Memberikan kredit.

c. Menyediakan pembiayaan dan penempatan dana berdasarkan prinsip syariah

sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh bank Indonesia.

d. Menempatkan dananya dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia (SBI),

deposito berjangka, sertifikat deposito, dan/atau tabungan pada bank lain.

Selanjutnya dalam pasal 4 dikemukakan Bank Perkreditan Rakyat dilarang:

14

a. Menerima simpanan berupa giro dan ikut dan ikut serta dalam lalu lintas

pembayaran.

b. Melakukan kegiatan usaha dalam valuta asing.

c. Melakukan penyertaan modal.

d. Melakukan usaha perasuransian

2.1.3 Kredit.

1. Definisi Kredit

Menurut pengertian nasional UU No. 7 tahun 1992 tentang perbankan. Kredit

adalah : “Penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu,

berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan

pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka

waktu tertentu dengan jumlah bunga, imbalan atau pembagian hasil keuntungan”.

Istilah kredit berasal dari bahasa Yunani yaitu credere yang berarti kepercayaan

(truth atau faith), oleh karena itu dasar dari kredit adalah kepercayaan, seseorang atau

suatu badan yang memberikan kredit (kreditur) percaya bahwa penerima kredit

(debitur) di masa mendatang akan sanggup memenuhi segala sesuatu yang telah

dijanjikan.

Adapun unsur-unsur yang terkandung dalam pemberian suatu fasilitas kredit

menurut Suyanto (1993:14) adalah sebagai berikut :

15

1. Kepercayaan, yaitu keyakinan dari pemberi kredit bahwa prestasi yang

diberikannya baik dalam bentuk uang, barang, atau jasa, akan benar-benar

diterimanya kembali dalam jangka waktu tertentu dimasa yang akan datang.

2. Waktu, yaitu suatu masa yang memisahkan antara pemberian prestasi dengan

kontrapertasi yang akan diterima pada masa yang akan datang.

3. Degree Of Risk, yaitu suatu tingkat resiko yang akan dihadapi sebagai akibat dari

adanya jangka waktu yang memisahkan antara pemberian prestasi dengan

kontraprestasi yang akan diterima kemudian hari. Sebagai upaya mengurangi

resiko diperlukan strategi dengan syarat adanya jaminan pokok maupun

tambahan.

4. Prestasi, atau objek kredit itu tidak saja diberikan dalam bentuk uang. Tetapi juga

dapat bentuk batang atau jasa. Namun karena kehidupan modern sekrang ini

didasarkan kepada uang, maka transaksi-transaksi kredit yang menyangkut

uanglah yang sering dijumpai dalam praktek perkreditan.

2. Jenis Kredit

Menurut Hasanuddin Rahman (1995:108), secara umum jenis kredit yang

disalurkan oleh bank dan dilihat dari berbagai segi yang dijelaskan sebagai berikut :

1. Berdasarkan penggunaannya

a. Commercial Loan

Merupakan kredit yang diberikan kepada seseorang atau badan usaha,

sehingga kredit ini mampu memperbaiki atau mengembangkan kinerja

16

(performance) usaha debitur, bahkan jika mungkin dapat membawa efek

berganda yang sifatnya positif (multiplier effect). Penggunaan jenis kredit ini

adalah untuk usaha-usaha produktif (kredit investasi dan kredit modal kerja),

yang dapat mendukung sector riil dalam kehidupan perekonomian masyarakat

b. Consummer’s Loan

Merupakan kredit yang diberikan bukan untuk kegiatan usaha yang

produktif, tetapi untuk penggunaan yang bersifat konsumtif, namun mampu

meningkatkan taraf hidup dan memperkuat daya beli si peminjam, yang secara

tidak langsung mendorong pertumbuhan dan perkembangan sektor riil.

2. Berdasarkan Jangka Waktu

a. Kredit jangka pendek

Kredit ini merupakan yang memiliki jangka waktu kurang dari satu

tahun dan biasanya digunakan untuk keperluan modal kerja.

b. Kredit jangka menengah

Jangka waktu kreditnya berkisar antara satu tahun sampai dengan tiga

tahun, kredit jenis ini dapat diberikan untuk modal kerja.

c. Kredit Jangka Panjang

Kredit yang masa pengembaliannya paling panjang yaitu diatas tiga

tahun. Biasanya kredit ini digunakan untuk investasi jangka panjang.

17

3. Berdasarkan sifatnya

a. Revolving, merupakan kredit yang dananya dapat ditarik dan disetor sesuai

kebutuhan dan digunakan secara berulang-ulang sepanjang masih tersedia

kelonggaran tarik (plafon) serta jangka waktu kredit

b. Non-Revolving, merupakan kredit yang dananya dapat ditarik secara sekaligus

atau bertahap sesuai kebutuhan, namun untuk dana yang telah disetorkan

(diangsur) tidak dapat digunakan/ditarik kembali secara berulang walaupun

jangka waktu kredit masih berlaku.

2.1.4 Penggolongan Kolektibilitas Kredit

Menurut Surat Keputusan Direktur Bank Indonesia No.30/267/KEP/DIR,

seluruh kredit diklasifikasikan berdasarkan lama jangka waktu pemenuhan ketepatan

pembayaran kembali pokok menjadi lima golongan, yaitu :

1. Kredit lancar adalah kredit yang tidak mengalami penunggakan pengembangan

pokok pinjaman dan pembayaran bunga.

2. Kredit dalam perhatian khusus yaitu kredit yang mengalami penunggakan

pengembalian pokok pinjaman dan pembayaran bunganya selama 1 hari sampai

dengan kurang dari 90 hari jadwal yang diperjanjikan

3. Kredit diragukan yaitu kredit yang mengalami penunggakan pengembalian pokok

pinjaman dan pembayaran bunganya selama > 90 hari sampai dengan kurang dari

180 hari sampai dengan kurang dari 180 hari dari jadwal yang diperjanjikan.

18

4. Kredit diragukan yaitu kredit yang mengalami penunggakan pengembalian pokok

pinjaman dan pembayaran bunganya selama > 180 hari sampai dengan kurang

dari 270 hari jadwal yang telah diperjanjikan.

5. Kredit macet adalah kredit yang mengalami penunggakan pengembalian pokok

pinjaman dan pembayaran bunganya selama lebih dari 270 hari dari jadwal yang

telah diperjanjikan bunganya selama lebih dari 270 hari dari jadwal yang telah

diperjanjikan.

2.1.5 Jaminan Kredit

Menurut Muljono ( 1996:295), secara umum jaminan kredit diartikan sebagai

penyerahan kekayaan atau pernyataan kesanggupan seseorang untuk menanggung

pembayaran kembali suatu utang. Jaminan pemberian kredit diperoleh melalui

penilaian yang seksama terhadap watak, kemampuan membayar, modal, dan prospek

usaha debitur.

Sedangkan menurut UU No. 14 tahun 1967 tentang pokok perbankan pasal 24

(1) menyebutkan bahwa “bank umum tidak memberi kredit tanpa jaminan kepada

siapapun “. Berdasarkan pengertian tersebut, nilai dan legalitas jaminan yang dikuasai

oleh bank atau yang disediakan oleh debitur barus untuk menjamin fasilitas kredit

yang diterima nasabah atau debitur.

19

Bagi bank, jaminan berguna untuk :

1. Memberikan hak dan kekuasaan kepada Bank untuk mendapatkan

pelunasan dengan barang-barang jaminan bila nasabah melakukan

kecurangan.

2. Menjamin agar nasabah berperan serta dalam transaksi untuk membiayai

usahanya.

3. Memberi dorongan kepada debitur untuk memenuhi syarat-syarat yang

telah disetujui.

Menurut Muljono (1996:295), syarat jaminan perkreditan adalah :

1. Syarat Ekonomis :

a. Mempunyai nilai ekonomis secara umum dan bebas.

b. Nilai jaminan lebih besar dari jumlah kredit dan harus konstan dan akan

lebih baik kalau nilainnya mengalami pertambahan di kemudian hari.

c. Kondisi dan lokasi barang jaminan tersebut cukup strategis.

d. Barang jaminan harus mudah dipasarkan tanpa harus mengeluarkan biaya

pemasaran.

e. Secara fisik barang jaminan tidak cepat rusak, busuk dan lain-lain sebab

akan mengurangi nilai ekonomisnya.

f. Nilai jaminan tersebut mempunyai manfaat ekonomis dalam jangka waktu

relatif lebih lama dari jangka waktu yang akan dijaminnya.

20

2. Syarat Yuridis :

a. Memiliki calon debitor yang bersangkutan.

b. Ada dalam kekuasaan calon debitur yang bersangkutan yang masih

berlaku.

c. Bukti-bukti pemilikan yang ada memenuhi syarat untuk diadakan

pengikatan bank secara hipotik, over dracht, kuasa menjual dan lain-lain

ketentuan pengikatan yang telah ditetapkan secara yuridis/perundang-

undangan yang berlaku.

2.1.6 Kebijakan Pemberian Kredit Bank

Puspani berpendapat, bahwa Setiap KPB (Kebijakan Perkreditan Bank) yang

dibuat bank wajib memuat dan menetapkan dengan jelas dan tegas prinsip kehati-

hatian (prudent approach) yang minimal harus meliputi kebijakan pokok perkreditan.

Pokok-pokok pengaturan pemberian kredit, sektor pasar, kredit yang perlu dihindari,

tatacara penilaian mutu kredit serta professionalisme dan integritas pejabat

perkreditan (Puspani, 2004:17).

1. Kebijakan Pokok Perkreditan (KPP) yang harus memuat pokok-pokok pengaturan

mengenai :

a. Sistem dan prosedur perkreditan yang sehat, prosedur persetujuan pemberian

kredit, administrasi dan dokumentasi kredit, serta sistem dan prosedur

pengawasan kredit.

21

b. Sistem dan prosedur kredit-kredit yang harus mendapatkan perhatiankhuus

dan pencadangan kredit.

c. Sistem dan prosedur kredit yang bunganya dikapitalisir (plafondering.

d. Sistem dan prosedur penyelamatan dan penyelesaian kredit bermasalah dan

penghapusbukuan (Write-off) kredit macet.

e. Tara cara penyelesaian barang-barang bangunan kredit yang dikuasai bank.

2. Pokok-pokok pengaturan pemberian kredit yang menerapkan :

a. Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK) dan jumlah modal bank.

b. Tara cara penyediaan kredit yang dikonsorsiumkan, disindikasikan dan risk

sharing dengan bank-bank lain.

c. Persyaratan kredit (bunga jenis bentuk kredit, angsuran dan jaminan).

Kebijakan bank dalam kredit, khusus tentang BMPK, bilamana

melampauinya.

3. kredit yang perlu dihindari antara lain :

a. kredit untuk tujuan spekulasi.

b. Kredit untuk usaha tana informasi keuangan.

c. Kredit untuk usaha yang perlu keahliah khusus, dimana bank tidak punya.

d. Kredit untuk usaha yang telah bermasalah/macet/planfondering.

4. Tatacara penilaian mutu kredit

Menurut Sutejo (2000 : 15) tentang mutu kredit adalah:

22

“Salah satu syarat bank dapat menjaga mutu kredit yang akan dan telah

mereka salurkan, adalah memiliki kebijakansanaan kredit tertulis (written loan

policy) yang disusun secara professional, dan selalu disesuaikan dengan

perkembangan situasi bisnis dan ekonomi moneter negara”.

Bank harus membuat sistem dan prosedur atau tatacara penilaian

kolektibilitas kredit yang harus dimuat dalam KPP setiap bank dan harus sesuai

dengan ketentuan BI dalam SE No. 23/12/BPPP tanggal 28 Februari 1991 yang

menetapkan kolektibilitas kredit sebagai keadaan pembayaran pokok/angsuran

pokok, bunga, biaya-biaya dan kemungkinan diterima kembali dana yang

ditanamkan dalam surat-surat berharga atau penanaman lainnya.

5. Professionalism dan Intregitgas Pejabat Kredit

Para pejabat kredit bank harus menyadari dan memahami Bab VIII pasal

46 s/d 53 UU No. 7 tahun 1992 sebagai dasar etika perkreditan bank yang

mengharuskan pejabat perkreditan, wewenang dan tanggungjawab setiap orang

atau unit kerja yang terlibat dalam proses kegiatan perkreditan (KPP), Komite

Kredit (KK), Dewan Komisaris (DK), Direksi Bank dan satuan kerja perkerditan

(SKP) dan lain-lainnya.

2.1.7 Pedoman Pemberian Kredit

Prosedur pemberian kredit dimulai saat debitur/calon debitur mengajukan

permohonan kredit hingga akhirnya disetujui, dipantau pembayaran kewajibannya

23

beserta bunganya dan penyelamatan kredit dilakukan bila pemberian kredit debitur

tersebut. termasuk kredit bermasalah. Pedoman pemberian kredit dapat dijelaskan

sebagai berikut :

1. Permohonan Kredit

Setiap pemberian kredit baru harus berdasarkan adanya suatu permohonan

tertulis yang ditandatangani oleh pemohon (calon debitur).

Menurut Tjoekam (1999 : 100), “Permohonan kredit suatu bank harus di

back-up oleh unsur yuridis dan ekonomis, agar hak dan tanggung jawab kedua belah

pihak jelas dan pasti”.

Permohonan tertulis tersebut dituangkan dalam formulir permohonan kredit

harus memuat informasi yang lengkap mengenai :

a. Data non-financial yang meliputi nama dan alamat calon debitur

(perorangan/perusahaan), susunan pemilik dan pengurus, bidang usaha,

riwayat perusahaan, hubungan dengan bank, kelompok perusahaan dan

sebagainya.

b. Data financial yang meliputi perkembangan keuangan dan proyeksi keuangan,

jumlah permohonan, rencana penggunaan dan rencana pelunasan.

c. Data jaminan yang diserahkan.

Permohonan kredit selanjutnya dicatat didalam buku register permohonan

kredit. Guna melengkapi dokumen-dokumen antara lain :

24

1. Fotocopy KTP.

2. Fotocopy Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)

3. Fotocopy SPT tahunan PPh pasal 21 yang bertanda terima dari kantor

pelayanan pajak setempat.

4. Fotocopy Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP)

5. Fotocopy Surat Ijin Tempat Usaha (SITU)

6. Fotocopy surat ijin Undang-Undang Gangguan (SIUUG HO)

7. Fotocopy Tanda Daftar Perusahaan (TDP)

8. Analisis Dampak lingkungan (AMDAL)

9. Legalitas usaha lainnya.

Bagi debitur/calon debitur perusahaan harus melengkapi dokumen-

dokumen antara lain :

1. Akte pendirian berikut perubahannya yang terbaru.

2. Fotocopy KTP.

3. Fotocopy Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)

4. Fotocopy SPT tahunan PPh pasal 21 yang bertanda terima dari Kantor

Pelayanan Pajak setempat.

5. Fotocopy Surat Ijin Usaha Perdagangan (SITU)

6. Fotocopy surat ijin usaha jasa konstruksi (SIUJK)

7. Fotocopy Surat Ijin Undang-Undang Gangguan (SIUUG)

8. Fotocopy Surat Ijin Usaha Jasa Konstruksi (SIUJK)

25

9. Fotocopy Tanda Daftar Perusahaan (TDP)

10. Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL)

11. Legalitas Usaha lainnya.

Permohonan kredit beserta lampiran-lampiran tersebut merupakan sumber

informasi untuk melakukan analisis.

2.1.8 Analisis Kredit

Maksud analisis permohonan kredit dan/atau perubahan-perubahannya

menurut Siswanto sutojo (2000:51) adalah untuk menganalisa semua faktor resiko

yang berkaitan dengan permohonan kredit dan untuk menilai sejauh mana hal tersebut

beralasan/layak dibiayai, memiliki keabsahan hukum dan sesuai dengan praktek

perbankan yang sehat.

Analisis kredit dikelompokkan menjadi dua, yakni :

a. Analisis kualitatif

Merupakan analisis terhadap kondisi-kondisi non angka yang tidak tercermin

dalam laporan keuangan, meliputi analisis terhadap aspek manajemen, teknis,

pemasaran, hukum jaminan dan sosial ekonomi.

b. Analisis Kuantitaf

Merupakan analisis terhadap kondisi keuangan. Debitur, yang bertujuan agar

bank mendapat gambaran secara kuantitatif mengenai kondisi keuangan debitur

dimasa lalu, saat ini dan proyeksinya dimasa yang akan datang, sehingga dapat

26

analisis besarnya pinjaman yang diperlukan penggunaannya serta kemampuannya

membayar bunga dan pokok pinjaman. Analisis kuantitatif meliputi analisis ratio

keuangan, analisis laba rugi,analisis arus kas dan analisis rekening.

Kredit yang diberikan oleh bank mengandung resiko, sehingga dalam

pelaksanaannya bank harus memperhatikan kebijakan dan prosedur perkreditan yang

telah ditetapkan oleh perusahaan. Faktor penting yang harus diperhatikan oleh bank

untuk melunasi utangnya sesuai dengan yang diperjanjikan.

Untuk memperoleh keyakinan tersebut tersebut sebelum memberikan kredit,

bank hatus melakukan penilaian yang seksama menurut Undang-Undang no. 10

Tahun 1998 Pasal 8 Ayat (1) dan (2) terhadap :

a. Character merupakan sifat atau watak seseorang yang akan diberikan kredit.

Dilihat dari latar belakang pekerjaannya maupun sifat pribadinya. Hal inilah

yang akan dijadikan ukuran tentang kemauan debitur untuk membayar.

b. Capacity merupakan analisis untuk mengetahui kemampuan debitur dalam

membayar kredit dilihat dari mengelola bisnisnya.

c. Capital merupakan analisis dari sumber mana saja modal yang digunakan

untuk membiayai proyek yang akan dijalankan, berupa modal yang digunakan

untuk membiayai proyek yang akan dijalankan, berupa modal sendiri dan

berapa modal pinjam.

27

d. Condition of economy merupakan analisis yang dinilai dari kondisi ekonomi

sosial dan politik yang ada sekarang dan prediksi untuk masa yang akan

datang.

e. Collateral merupakan nilai jaminan yang diberikan calon debitur baik yang

bersifat fisik maupun non fisik. Jaminan hendaknya melebihi jumlah kredit

yang diberikan dan diteliti keabsahan dan kesempurnaannya serta secara

yuridis tidak bermasalah.

Tujuan dari analisis kredit adalah menganalisis kredit yang akan diberikan

kepada debitur itu dapat dinilai layak ataupun tidak diberikan. Pedoman pemberian

kredit dalam analisis kredit adalah :

a. Pengumpulan Data harus diarahkan dengan pengumpulan informasi yang

lengkap, akurat dan up-to-date untuk mengetahui maksud dan tujuan

penggunaan kredit dilakukan secara langsung dan aktif dari debitur, pihak ke-

tiga dan sumber data lainnya. Pengumpulan data ini meliputi pengumpulan

informasi dari debitur dengan mengumpulkan serta menyeleksi data yang

perlu atau tidak diperlukan. Untuk pengumpulan data dari pihak ke-3 yaitu

dengan cara kunjungan setempat, call, surat, dan pengumpulan data dari

sumber lainnya yaitu perpustakaan, publikasi, majalah, surat kabar, dan

sebagainya.

b. Verifikasi Data bertujuan untuk menjamin kebenaran dan keakuratan data

yang telah dikumpulkan.. verifikasi dara meliputi verifikasi pada Bank

28

Indonesia/ Bank lainnya yang mempunyai hubungan dengan debitur/calon

debitur, kantor/pabrik/toko/tempat usaha, pada pembeli/pemasok/penjual

maupun lokasi jaminan.

c. Analisis Laporan Keuangan dan Aspek-Aspek Lainnya, Meliputi :

1. Analisis Trend Ratio dan Interprestasinya

Bertujuan meneliti apakah trend ratio keuangan debitur/calon

debitur selama periode laporan keuangan yang dianalisis tersebut wajar

atau tidak wajar dibandingkan dengan usaha sejenis lainnya.

2. Analisis Resiko

Adalah mengidentifikasi dan menganalisis dampak dari sebelum

resiko debitur terjadi sehingga keputusan kredit yang diambil sudah

memperhitungkan resiko yang ada. Penilaian resiko mencakup dua aspek

yaitu resiko umum (penjualan, konflik diantara pemegang saham pada

badan usaha debitur) dan Resiko Khusus (badan usaha tidak

memperhatikan pangsa pasar).

3. Analisis Rikonsiliasi Modal dan Harta Tetap

Untuk menilai apakah wajar atau tidak modal dan harta tetap

debitur/calon debitur harus dicek/direkonsiliasi terlebih dahulu sebelum

dilakukan analisis ratio dan analisis pengadaan kas.

29

4. Analisis Aspek-Aspek Perusahaan Lainnya

Dalam mempertimbangkan permohonan kredit, selain

menganalisis laporan keuangan juga dilakukan analisis aspek-aspek

perusahaan lainnya, yaitu :

a. Aspek Umum dan Manajemen

Adalah analisis mengenai aspek umum dan manajemen

perusahaan, dengan tujuan untuk menilai kemampuan dan kecakapan

dari manajemen Pengelola proyek dalam menjalankan bisnisnya antara

lain meliputi:

1. Apakah surat permohonan kredit, perjanjian kredit dan dokumen

lainnya telah ditandatangani oleh pejabat yang berwenang sesuai

anggaran dasar perusahaan.

2. Struktur organisasi.

3. Manajemen perusahaan.

4. Uraian tugas.

5. Sistem dan prosedur.

6. Jumlah tenaga kerja yang dimiliki.

7. Evaluasi pribadi pengusaha.

b. Aspek Hubungan Dengan Bank

30

Adalah analisis terhadap aspek-aspek hubungan debitur/calon

debitur dengan bank rakyat Indonesia maupun bank lainnya serta

penggunaan produk-produk bank Rakyat Indonesia lainnya. Analisis

hubungan dengan bank antara performance debitur/calon debitur

mengenai transaksi keuangan yang disalurkan dalam rekening giro,

Deposito, maupun tabungan. Khusus debitur dapat dilihat/dianalisa

mutasi rekening pinjamannya yang dapat diketahui kemampuan

memenuhi kewajiban bunga maupun angsuran pokok pinjaman.

c. Pemasaran

Adalah analisis mengenai kemampuan untuk meneliti

kemungkinan pangsa pasar yang dapat diraih bagi produk atau jasa

yang diproduksi dari proyek yang dibiayai dengan kredit bank dan

strategi pemasaran produk/jasa perusahaan sejenis, dan analisa siapa

pembeli dominan maupun pemasok bahan baku agar perusahaan

proyek dapat memenangkan persaingan yang cukup kompetitif.

d. Aspek Teknis dan Produksi/Pembelian

Simpulan pokok/penilaian terhadap aspek teknis dan

produksi/pembelian yang dianggap perlu, antara lain:

1. Sektor industri ditinjau dari lokasi usaha, kondisi bangunan pabrik

dan mesin yang dimiliki, kontinuitas pengadaan bahan baku,

31

jumlah tenaga kerja dan ketrampilan yang dimiliki serta realisasi

produksi.

2. Sektor perdagangan ditinjau dari lokasi usaha (kantor, toko, dan

gudang), realisasi pembelian barang dagangan, pemasok dominan,

kontinuitas pengadaan barang dagangan.

3. Sektor jasa konstruksi ditinjau dari proyek yang dikerjakan,

penyaluran pembayaran proyek, perkembangan/prestasi proyek

dibandingkan dengan jadwal penyelesaian proyek, peralatan yang

dimiliki, jumlah tenaga kerja di bidang konstruksi, kontuinitas

pengadaan bahan baku, hambatan-hambatan dalam pelaksanaan

proyek.

a. Analisis Aspek Yuridis (hukum), bertujuan untuk meneliti

ketentuan legalitas dari perusahaan untuk meneliti ketentuan-

ketentuan legalitas dari perusahaan atau badan hukum yang

akan memperoleh bantuan kredit dari bank, meliputi aspek

badan usaha, izin-izin yang harus dimiliki, dan perjanjian-

perjanjian.

b. Analisis Aspek Sosial-Ekonomis, bertujuan untuk menilai

sejauh mana proyek yang akan dibangun dan dibiayai dengan

ke bank memiliki value added yang tinggi dilihat dari sudut

pandang sosial maupun macroeconomic, terutama dilihat dari

pandangan pihak pemerintah dan masyarakat. Analisis pada

32

aspek ini meliputi kesempatan kerja, penggunaan bahan baku

lokal. Menghasilkan dan penghematan devisa, penerima pajak

bagi negara, subsidi dari negara, serta dampak lingkungan.

2.1.9 Persetujuan Kredit

Dalam jenjang manapun persetujuan pemberian kredit itu diberikan, para

pejabat mengambil keputusan untuk menyetujui pemberian kredit harus dapat

mempertanggungjawabkan kepada pihak bank (Budi Untung, 2000:148). Persetujuan

kredit harus mencerminkan suatu pernyataan dari hasil analisis, hasil penelitian dan

secara prudent principle (prinsip kehati-hatian) bahwa debitur/calon debitur yang

disetujui pemberian kreditnya adalah debitur/calon debitur yang dianggap layak,

meliputi.

1. Usaha debitur/calon debitur yang fesible dan prospek yang baik, kemampuan

memperoleh keuntungan dan memenuhi kewajiban angsuran dan bunga kepada

Bank serta bersedia menyerahkan jaminan yang menjamin kepentingan bank dari

nilai maupun status jaminan.

2. Telah sesuai dengan kebijakan dan prosedur pemberian kredit.

3. Tidak menyimpang dari ketentuan limit kredit.

4. Telah dipertimbangkan mengenai keamanan kreditnya.

5. Diputus sesuai dengan kewenangan memutus kredit.

33

2.1.10 Perjanjian Kredit

Puspani berpendapat, bahwa Perjanjian kredit bentuk dan formatnya

ditentukan oleh masing-masing bank dan dibuat secara tertulis. Pada proses ini pihak

bank dan debitur/calon debitur menandatangani suatu perjanjian yang di dalamnya

memuat persyaratan-persyaratan, klausula-klausula, serta hal-hal penting lainnya

yang dapat mengikat kedua belah pihak dan dapat dijadikan sebagai alat pembuktian

di pengadilan, apabila di kemudian hari terdapat sengketa diantara kedua belah pihak

(2004:33).

Setiap kredit yang telah disetujui dan disepakati pemohon kredit wajib

dituangkan dalam perjanjian kredit secara tertulis dan harus memperhatikan hal-hal

berikut :

a. Keabsahan dan persyaratan hukum yang dapat melindungi bank.

b. Memuat jumlah, jangka waktu, tata cara pelunasan kredit, bunga kredit dan

syarat-syarat kredit lainnya sebagaimana ditetapkan dalam keputusan persetujuan

kredit.

2.1.11 Persetujuan Pencairan Kredit

Dalam setiap pencairan kredit (disbursment) harus terjamin azas aman.

Terarah, dan produktif. Maka pencarian harus mempunyai landasan pokok berikut:

34

1. Bank hanya menyetujui pencarian kredit, bila seluruh syarat yang ditetapkan

dalam persetujuan, kemudian dituangkan dalam penjanjian ke yang talah dipenuhi

oleh pemohon kredit.

2. Bank harus telah memastikan bahwa seluruh aspek yuridis yang terkait dalam

persetujuan kredit telah dipenuhi/diselesaikan dan telah efektif memberi

perlindungan yang memadai bagi bank.

3. Landasan lainnya bila diperlukan.

2.1.12 Pemantauan Kredit

Pemantauan kredit merupakan salah satu kunci utama dari keberhasilan

pemberian kredit selain ketajaman dan ketelitian yang dilakukan sewaktu melakukan

analisa kredit. Pemantauan debitur merupakan rangkaian aktifitas untuk

memantau/memonitor/mengikuti perkembangan usaha debitur dan perkembangan

kredit sejak diberikan sampai lunas. Terjadinya kegagalan kredit terutama disebabkan

oleh kelalaian bank setiap pejabat kredit.

Secara umum prosedur pengajuan kredit untuk produktif menurut kasmir

(2000:110) adalah sebagai berikut :

1. Menilai sampai sejauh mana syarat-syarat kredit maupun kewajiban pembayaran

bunga, angsuran, dan kewajiban-kewajiban lainnya telah terpenuhi debitur

sebagaimana mestinya.

2. Menilai perkembangan usaha debitur dari waktu ke waktu yang berkaitan dengan

resiko yang dihadapi oleh bank.

35

3. Membantu bank dalam mengambil langkah-langkah preventif yang diperlukan.

Pemantauan kredit meliputi berbagai kegiatan yaitu:

1. Adanya administrasi kredit yang memadai dan menggunakan cara-cara

mutakhir, seperti komputer, on line system

2. Keharusan bagi debitur kredit untuk menyampaikan laporan secara berkala

atas jenis-jenis laporan yang telah disepakati dan dituangkan dalam perjanjian

kredit.

3. Keharusan petugas bank untuk melakukan kunjungan ke perusahaan ataupun

proyek yang dibiayai bank (on the spot)

4. Adanya konsultasi yang terstruktur antara pihak bank dengan debitur,

terutama jika debitur mulai mengalami kesulitan dalam bisnisnya atau telah

menunjukkan tanda-tanda kemungkinan terjadinya kemacetan. Seperti

masalah produksi, pemasaran, tenaga kerja, keuangan dan sebagainya.

2.1.13 Prosedur Pencairan Kredit

Dendawijaya (2001:81) menyatakan bahwa pencairan kredit yang diminta

debitur kredit hanya dapat dilakukan bank setelah debitur yang bersangkutan

memenuhi berbagai persyaratan. Adapun persyaratan untuk pencairan kredit antara

lain:

36

1. Perjanjian kredit sudah ditandatangani.

Penandatanganan dapat dilakukan antara bank dengan debitur secara langsung

atau dengan melalui notaris. Secara umum isi dari perjanjian kredit adalah

sebagai berikut:

a. Pihak pemberi kredit (bank yang bersangkutan).

b. Pihak penerima kredit (perusahaan nasabah)

c. Tujuan pemberian kredit misal untuk mendirikan pabrik baru

d. Besarnya kredit yang akan diberikan bank

e. Tingkat bunga kredit.

f. Biaya-biaya lain yang harus dibayar nasabah kredit seperti biaya provisi

kredit dan lain-lain.

g. Jadwal pembayaran angsuran kredit dan bunganya.

h. Jaminan kredit meliputi jenis jaminan, pemiliknya, jumlah dan nilainya.

i. Hak-hak yang dimilki bank selama kredit belum dilunasi misalnya

memeriksa secara fisik keadaan proyek yang dibiayai bank, memeriksa

laporan keuangan nasabah.

2. Permohonan pencairan kredit didukung oleh dokumen-dokumen yang

sesuai dengan kebutuhan pencairan kredit.

37

2.1.14 Prosedur Pelunasan Kredit

Dalam kondisi yang ideal, nasabah akan dapat selalu memenuhi

kewajbannya terhadap bank sesuai dengan kesepakatan yang dimuat dalam

perjanjian kredit. Adapun hal-hal yang menyangkut pelunasan kredit menurut

Dendawijaya (2001:83) adalah sebagai berikut :

1. Nasabah membayar angsuran pokok pinjaman beserta bunganya sesuai dengan

jadwal yang telah dibuat sehingga kredit/pinjaman bank akhirnya dinyatakan

lunas.

2. Agunan/jaminan bank yang semula dipegang dan dikuasai oleh bank,

seluruhnya harus dikembalikan kepada nasabah.

2.2 Kerangka pemikiran.

Berdasarkan landasan teori tersebut diperoleh kerangka pemikiran sebagai

berikut :

38

Gambar 2.1.

Bagan Kerangka Pikir

Pada Penelitian ini peneliti menguji analisa tentang prosedur dan kebijakan

dengan mengacu terhadap Undang-Undang Perbankan sebagai bahan pertimbangan

dalam melihat keefektivan pemberian kredit pada Bank Rakyat Indonesia. Dalam

penelitian ini akan diketahui apakah pemberian kredit telah sesuai atau tidak terhadap

prosedur dan kebijakan sesuai Undang-Undang Perbankan.

2.3 Proposisi

Penerapan prosedur dan kebijakan pemberian kredit perbankan akan lebih

baik dan terarah dengan menggunakan dasar-dasar Undang-Undang Perbankan

Analisa
prosedur

Analisa
kebijakan

Pemberian
Kredit

Undang‐
Undang
Perbankan

39

sehingga dapat memenuhi hukum perundang-undangan perbankan dibandingkan

dengan yang tidak mengacu pada Undang-Undang Perbankan.

40

BAB III

METODE PENELITIAN

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->