P. 1
Pembagian Kekuasaan

Pembagian Kekuasaan

|Views: 747|Likes:
Published by Annysa Sovia
Mata Kuliah Pengantar Ilmu Politik
Mata Kuliah Pengantar Ilmu Politik

More info:

Published by: Annysa Sovia on Jan 02, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/21/2014

pdf

text

original

PEMBAGIAN KEKUASAAN NEGARA SECARA VERTIKAL DAN HORISONTAL Annysa Sovia Ilmu Politik NPM : 1206223732 Secara visual

, kekuasaan sebuah negara dibagi menjadi dua yaitu vertikal dan horisontal. Secara vertikal, pembagian kekuasaan didasarkan pada tingkatnya atau dengan kata lain yang dimaksud adalah pembagian kekuasaan antara beberapa tingkat pemerintahan. Pembagian kekuasaan ini mencakup didalamnya berupa negara kesatuan, negara konfederasi dan negara federal (federasi). Secara horisontal, pembagian kekuasaan didasarkan pada fungsinya. Pembagian ini menunjukkan pembedaan antara fungsi-fungsi pemerintahan yang bersifat legislatif, eksekutif, dan yudikatif atau yang lebih dikenal dengan trias politika atau division of powers. Vertikal : 1. Negara Konfederasi Bagi L. Oppenheim, ”konfederasi terdiri dari beberapa negara yang berdaulat penuh yang untuk mempertahankan kedaulatan ekstern (ke luar) dan intern (ke dalam) bersatu atas dasar perjanjian internasional yang diakui dengan menyelenggarakan beberapa alat perlengkapan tersendiri yang mempunyai kekuasaan tertentu terhadap negara anggota konfederasi, tetapi tidak terhadap warga negara anggota konfederasi itu.” Sesuai dengan pendapat tokoh diatas, maka konfederasi adalah negara yang terdiri dari persatuan beberapa negara yang berdaulat. Persatuan tersebut dilakukan untuk mempertahankan kedaulatan dari negara-negara yang masuk dalam konfederasi tersebut. Sebagai contoh, pada tahun 1963 Singapura dan Malaysia membangun negara konfederasi dengan tujuan untuk mengantisipasi politik luar negeri yang agresif dari Indonesia pada masa pemerintahan Soekarno. Dalam konfederasi, aturan-aturan yang ada di dalamnya hanya berefek kepada masing-masing pemerintah (misal: pemerintah Malaysia dan Singapura) dan tidak mempengaruhi warga negara Malaysia dan Singapura. Meski terikat dalam sebuah perjanjian, pemerintahan kedua negara tersebut tetap berdaulat dan berdiri sendiri tanpa intervensi satu negara terhadap negara lainnya dalam sebuah konfederasi. Miriam Budiardjo menjelaskan bahwa konfederasi pada hakikatnya bukanlah sebuah negara, baik ditinjau dari sudut politik maupun hukum internasional. Keanggotaan suatu negara ke dalam suatu konfederasi tidaklah menghilangkan ataupun mengurangi kedaulatan setiap negara yang menjadi anggota konfederasi. KONFEDERASI

Negara A Warganegara A

Negara B Warganegara B

Negara C Warganegara C

Keuntungan negara kesatuan adalah adanya keseragaman undang-undang. sebab pengawasan dan kekuasaan tertinggi tetap berada di tangan pemerintah pusat. bukan diatur dalam konstitusi. Negara bagian suatu federasi memiliki wewenang membentuk undang-undang dasar sendiri serta wewenang untuk mengatur bentuk organisasi sendiri dalam batas-batas konstitusi federal. negara kesatuan bisa tertimpa beban berat karena penanganan setiap masalah yang muncul di daerah kemungkinan akan lama diselesaikan sebab harus menunggu instruksi dari pusat. pelimpahan wewenang ini hanya diatur oleh undang-undang yang dibuat parlemen pusat. Negara federasi juga berbeda dengan negara kesatuan. Negara Federasi Negara Federasi ditandai dengan adanya pemisahan kekuasaan negara antara pemmerintahan nasional dengan unsur kesatuannya (negara bagian. Meskipun daerah diberi kewenangan. . Negara yang menjadi anggota konfederasi sepenuhnya merdeka atau berdaulat. dan yang wilayahnya terpecah ke dalam pulau-pulau. Namun. sedangkan dalam negara kesatuan. Namun.Garis putus-putus melambangkan rantai komando dari konfederasi menuju pemerintah negara A. sedangkan negara yang tergabung dalam federasi kehilangan kedaulatannya karena kedaulatan ini hanya ada di tangan pemerintahan federasi. Dengan demikian. Sistem pemerintahan federasi sangat cocok untuk negara-negara yang memiliki kawasan geografis luas. 2. Pemerintah pusat mempunyai wewenang untuk menyerahkan sebagian kekuasaannya kepada daerah berdasarkan hak otonomi. namun bukan berarti pemerintah daerah itu berdaulat. dan C yang kurang tegas. Sedangkan garis komando langsung terhadap warga negara dilakukan oleh pemerintah masing-masing. dan ketimpangan ekonomi yang cukup tajam. kawasan atau wilayah). Negara Federasi berbeda dengan negara konfederasi. Pembagian kekuasaan ini dicantumkan dalam konstitusi (undangundang dasar). Kesediaan ketiga negara untuk bergabung dalam sebuah konfederasi lebih disebabkan oleh motivasi sukarela saja. provinsi. kedaulatan ke dalam maupun ke luar berada pada pemerintah pusat. 3. Dalam negara kesatuan. pemerintah pusat bisa melimpahkan banyak wewenang kepada kota-kota. Bentuk negara kesatuan agaknya juga tidak cocok bagi negara dengan jumlah penduduk besar. Negara Kesatuan Negara Kesatuan adalah negara dengan kedudukan tertingginya dipegang oleh pemerintah pusat (nasional) dan memiliki kekuasaan penuh dalam pemerintahan seharihari. kekuasaan tertinggi tetap berada di tangan pemerintah pusat. dan hal tersebut dijamin di dalam konstitusi. B. keragaman budaya daerah yang tinggi. kabupaten. heterogenitas budaya tinggi. organisasi pemerintah daerah secara garis besar telah ditetapkan oleh undang-undang dari pusat. Namun. atau satuan pemerintahan lokal. republik. Pemerintah pusatlah yang mengatur kehidupan setiap penduduk daerah. Miriam Budiardjo menulis bahwa yang menjadi hakikat negara kesatuan adalah kedaulatannya tidak terbagi dan tidak dibatasi.

eksekutif dan yudikatif. John Locke (1632-1704) Pemikiran John Locke mengenai Trias Politika ada di dalam karya besar yang berjudul Two Treatises of Government (1690). bukan milik negara-negara bagian. Namun. negara yang baik harus dapat melindungi manusia yang bekerja dan juga melindungi milik setiap orang. kedaulatan hanya milik pemerintah federal. Pada perkembangaannya. kekuasaan yang harus dipisah berupa legislatif. Sebagai koreksi atas kejadian tersebut pada tahun 1500 M mulai muncul semangat baru di kalangan intelektual Eropa seperti John Locke dan Montesquieu untuk mengkaji ulang filsafat politik yang berupa pemisahan kekuasaan. Pemikiran Locke kemudian disempurnakan oleh rekannya Montesquieu. dan melakukan politik luar negeri. Dalam karya tersebut disebutkan bahwa fitrah dasar manusia adalah bekerja dan mempunyai milik. pimpinan gereja dan kaum bangsawan sehingga melahirkan ketidakstabilan politik. Namun wewenang negara-negara bagian untuk mengatur penduduk di wilayahnya lebih besar dibanding pemerintah daerah di negara kesatuan. Trias Politika yang kini banyak diterapkan adalah pemisahan kekuasaan kepadaa tiga lembaga berbeda yaitu legislatif. bumi dihuni oleh suku primitif yang diketuai oleh kepala suku yang bertugas untuk memutuskan segala perkara dalam suku tersebut. Kekuasaan ini diserahkan pada raja/ratu Inggris untuk alasan kepraktisan. Horizontal : Perkembangan Konsep Trias Politika Konsep dasar Trias Politika adalah kekuasaan di sebuah negara tidak boleh dilimpahkan pada satu struktur kekuasaan politik melainkan harus terpisah di lembagalembaga negara yang berbeda. kekuasaan politik menjadi persengketaan antara monarki. Legislatif adalah lembaga untuk membuat undang-undang. demikianlah tujuan sebuah negara versi Locke. Montesquieu (1689-1755) . Menurut Locke. mencetak mata uang. Pemikiran Locke ini belum sepenuhnya sesuai dengan pengertian Trias Politika di masa kini. Pada abad pertengahan misalnya. kedaulatan tetap berada di tangan pemerintah federal yaitu dengan monopoli hak untuk mengatur angkatan bersenjata. Oleh sebab itu. Federatif adalah kekuasaan menjalin hubungan dengan negara atau kerajaan lain. eksekutif dan federatif. Dewan-dewan ini sudah menampakkan tiga kekuasaan Trias Politika. Negara ada dengan tujuan utama melindungi milik pribadi dari serangan individu lain. Sejarah Trias Politika Pada masa lalu. keberadaan kekuasaan yang terpisah mengalami pasang surut. Kekuasaan ini antara lain untuk membangun liga perang. dan Yudikatif adalah lembaga yang mengawasi jalannya pemerintahan dan negara secara keseluruhan.Di dalam negara federasi. Eksekutif adalah lembaga yang melaksanakan undang-undang. aliansi politik luar negeri. bukan negara-negara bagian. Meskipun negara bagian memiliki wewenang konstitusi yang lebih besar dibanding negara kesatuan. menyatakan perang dan damai. Untuk memenuhi tujuan tersebut. pengangkatan duta besar dan sejenisnya. suku tersebut kemudian memiliki sebuah dewan yang diisi oleh tetua masyarakat. Kedaulatan ke dalam dan ke luar tetap menjadi hak pemerintah federal. perlu ada pemisahan kekuasaan.

5. Head of government : kepala pemerintahan. Representation : mewakili pemilih. Dengan demikian. 2. 6. Education : sebagai pendidikan politik yang baik pada masyarakat. Lawmaking : membuat undang-undang. Kekuasaan legislatif dijalankan oleh Presiden bersama-sama dengan Dewan Perwakilan Rakyat. Pemikiran ini jelass dari ucapan Presiden pada masa itu yaitu Ir. 4. Criminal law : penyelesaian masalah yang dipegang oleh pengadilan pidana. 3. Chief diplomat : mengepalai duta-duta besar. 2.Montesquieu mengajukan pemikiran politiknya setelah membaca karya John Locke yang kemudian buah pemikirannya termuat dalam karya besarnya berjudul Spirit of the Laws (1748). 3.Soekarno pada 12 Desember 1963 yang menyatakan bahwa ”setelah kita kembali ke undang-undang 1945.. Akan tetapi dalam masa Demokrasi Terpimpin ada usaha untuk meninggalkan gagasan Trias Politika. Supervision and critism of government : mengawasi jalannya pelaksanaan undangundang oleh presiden atau perdana menteri. Constituency work : bekerja bagi para pemilihnya. Constitution law : penyelesaian masalah ditempati oleh Mahkamah Konstitusi. Fungsi-fungsi Kekuasaan Eksekutif : 1. 5. Fungsi-fungsi Kekuasaan Legislatif : 1. Penolakan ini selanjutnya dituang dalam bentuk resmi yaitu dalam . 2. 4. mengenai hal-hal yang berkenaan dengan hukum antara bangsa. dan kekuasaan yudikatif mengenai hal-hal yang bergantung pada hukum sipil”. Trias Politika di Indonesia Indonesia menganut system Trias Politika sebagai pembagian kekuasaan. 4. International law : atas nama PBB. Fungsi-fungsi Kekuasaan Yudikatif : 1. Administrative law : penyelesaian dilakukan di pengadilan usaha Negara. Party chief : kepala suatu partai yang memenangkan pemilu. Hal ini jelas dari pembagian bab dalam Undang-Undang Dasar 1945. Chief legislation : mempromosikan diterbitkannya suatu undang-undang. konsep trias politika yang banyak diacu di dunia saat ini adalah konsep dari Montesquieu ini. Kekuasaan eksekutif dijalankan oleh Presiden dibantu oleh menteri-menteri. Sedangkan kekuasaan yudikatif dijalankan oleh Mahkamah Agung dan lain-lain dari badan kehakiman. kekuasaan eksekutif. Trias Politika kita tinggalkan sebab asalnya datang dari sumbersumber liberalisme”. Montesquieu menulis sebagai berikut: ”Dalam tiap pemerintahan ada tiga macam kekuasaan: kekuasaan legislatif. 3. Commander in chief : fungsi mengepalai angkatan bersenjata. Dispenser of appointment : menandatangani perjanjian dengan Negara lain atau lembaga internasional.

Beberapa contoh pelaksanaan peran executive-heavy adalah ketika presiden dapat dipilih kembali tanpa batas oleh MPR. Tumbangnya Orde Baru pada tahun 1998 membawa banyak perubahan. Lembaga ini merupakan salah satu kekuasaan kehakiman di Indonesia yang berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang keputusannya bersifat final untuk menguji UU pada UUD. Sayangnya. yaitu dalam hal-hal yang tertentu”. Saat itu terjadi executive-heavy dimana peran eksekutif sangat mendominasi. yudikatif dan legislatif. Dalam masa Orde Baru kepincang-pincangan ini telah diluruskan kembali.19 Tahun 1964 dicabut dan diganti dengan Undang-undang No. Lembaga legislatif dan yudikatif tidak dapat melakukan check and balances terhadap lembaga eksekutif. Dari undang-undang tersebut. Dalam undang-undang ini istilah Trias Politika tidak disebut. Salah satu contoh meningkatnya tersebut adalah didirikannya Mahkamah Konstitusi. tetapi prinsip kebebasan hakim telah dihidupkan kembali. Dengan begitu.14 Tahun 1970. secara garis besar kita telah kembali ke asas Trias Politika. peran dan fungsi ini berakibat pada terjadinya legislative-heavy. . Setelah tahun 1970. Undang-undang No.19 Tahun 1964 tentang ketentuan-ketentuan pokok kekuasaan kehakiman. Empat amandemen UUD 1945 merupakan dasar hukum bagi pengembalian fungsi pembagian kekuasaan Trias Politika dan pelaksanaan check and balances. Meningkatnya peran DPR juga diikuti oleh meningkatnya peran lembaga yudikatif. Peran seperti ini sejalan dengan semakin otoriternya Presiden Soeharto selama 32 tahun sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan. dimana penjelasan umum berbunyi ”Trias Politika tidak mempunyai tempat sama sekali dalam hukum nasional Indonesia. pemerintahan Orde Baru menjadi semakin otoriter.Undang-undang No. kewenangan check and balances dikembalikan kepada lembaga ini. Presiden/Pemimpin Besar Revolusi harus dapat melakukan campur tangan atau turun tangan dalam pengadilan. Salah satu bentuk perubahan tersebut adalah penataan kembali peran dan fungsi lembaga eksekutif.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->