P. 1
Fenomena Sudut Kontak Dan Wetting

Fenomena Sudut Kontak Dan Wetting

|Views: 22|Likes:
Published by Teong Jawa

More info:

Published by: Teong Jawa on Jan 02, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/28/2013

pdf

text

original

FENOMENA SUDUT

KONTAK DAN WETTING
Beberapa Fenomena Wetting
 Tetes air hujan di jendela
 Dispersi serbuk coklat dalam susu
 Spreading tinta di atas kertas, pelapisan
dan cat, distribusi herbisida di permukaan
daun (complete wetting)
 Pakaian anti-hujan seharusnya tidak mudah
terbasahi oleh air, road pavement juga tidak
boleh mudah basah dan menyerap air
sehingga cepat rusak, dll (avoid wetting)
Persamaan Young – Sudut
Kontak
 Persamaan Young adalah dasar dari uraian
kuantitatif fenomena wetting
 Jika satu tetes liquid ditempatkan di permukaan
solid, akan ada 2 kemungkinan (1) liquid spreads
diatas permukaan secara sempurna (sudut
kontak O = 0
o
) atau (2) terbentuk sudut kontak
tertentu, pada kasus ini terbentuk garis kontak 3
fase disebut juga wetting line
 Pada garis kontak ini, ada 3 fase yang saling
berkontak, solid, liquid dan uap
 Persamaan Young menghubungkan sudut kontak
dengan tegangan permukaan ¸
S
, ¸
L
dan ¸
SL
SL S L
¸ ¸ ¸ ÷ = O cos .
 Jika tegangan interface permukaan solid
lebih tinggi dari interface solid-liquid (¸
S
>
¸
SL
) sisi kanan persamaan Young positif
 Sehingga cos O haruslah positif dan sudut
kontak kecil dari 90
o
, liquid membasahi solid
secara parsial
 Jika interface solid-liquid energetically less
favorable dibanding permukaan solid ((¸
S
<
¸
SL
) sudut kontak akan melebihi 90
o
karena
cos O akan bernilai negatif
Line Tension
 Spreading biasanya disertai perubahan panjang
dari wetting line
 Misalnya: jika satu tetes dengan area kontak
bundar spread, panjang garis kontak 3 fase
meningkat sebesar 2ta da.
 Seperti halnya pembentukan luas permukaan
baru, pembentukan wetting line baru juga
membutuhkan energi
 Energi per unit panjang disebut line tension k.
Untuk tetes yang jauh lebih kecil dari 1 mm, line
tension harus diperhitungkan dan suku kedua
persamaan Young menjadi:

a
SL S L
k
¸ ¸ ¸ ÷ ÷ = O cos .
Complete Wetting
 Kita bisa re-arrange persamaan Young



 Cosinus tidak bisa lebih besar dari 1, sehingga
timbul pertanyaan apa yang terjadi jika ¸
S
- ¸
SL
- ¸
L
>
0 atau ¸
S
- ¸
SL
lebih besar dari ¸
L
? apakah hal ini
tidak melanggar persamaan Young?
 Hal diatas tidak melanggar persamaan Young
karena dalam kesetimbangan termodinamika ¸
S
- ¸
SL

- ¸
L
tidak akan pernah positif
 Jika kita bisa membuat situasi ¸
S
> ¸
SL
+ ¸
L
, maka
energi bebas Gibbs sistem turun dengan
pembentukan continuous liquid film di permukaan
solid
L
SL S
¸
¸ ¸ ÷
= O cos
 At first glance ¸
S
= ¸
SL
+ ¸
L
terlihat seperti
pengecualian, namun itu tidaklah demikian
 Dalam kesetimbangan, dengan adanya uap jenuh
¸
S
tidak pernah lebih besar dari ¸
L
+ ¸
SL
 Sehingga jika sistem berada dalam
kesetimbangan dan kita mendapatkan complete
wetting maka ¸
S
= ¸
SL
+ ¸
L
 Dalam prakteknya sistem sering tidak dalam
kesetimbangan dan kita akan menemui koefisien
spreading S = ¸
S
- ¸
SL
- ¸
L
bisa bernilai positif.
 Koefisien ini mengukur sekuat apa liquid dapat
spread di atas permukaan. Untuk S < 0, sudut
kontak akan terbentuk pada nilai tertentu.
Capillary Rise
 Naiknya liquid dalam pipa kapiler adalah
contoh aplikasi persamaan Young sekaligus
salah satu cara mengukur sudut kontak
 Jika kapiler diturunkan kedalam liquid, liquid
seringkali naik hingga ketinggian tertentu
 Untuk kapiler dengan jari-jari r
C
tinggi naiknya
liquid didefinisikan dengan:
µ
¸
g r
h
C
L
O
=
cos 2
Important Wetting Geometries
Contoh
 Air dalam pohon naik melalui kapiler yang
disebut xylem, xylem memiliki jari-jari 5-
170 µm dan completely wetted (O = 0).
Berapa tinggi maksimum air dapat naik
dalam sistem kapiler demikian? Jika jari-
jari kita pilih 5 µm, maka:
m
kgm ms m x
Nm
h 9 , 2
997 . 81 , 9 . 10 5
072 , 0 . 2
3 2 6
1
= =
÷ ÷ ÷
÷
Partikel dalam Liquid-Gas
Interface
 Partikel kecil terikat pada interface liquid-gas jika
sudut kontak tidak nol
 Misalkan ada partikel kecil berbentuk bola/sphere
(kecil berarti kita bisa mengabaikan pengaruh gaya
gravitasi dan daya apung)
 Contoh diatas valid untuk partikel dengan diameter
≈100 µm
 Untuk O > 0 partikel akan stabil di permukaan
liquid, posisinya di permukaan didasarkan fakta
bahwa permukaan liquid tidak terganggu
 Permukaan liquid yahg planar juga akan planar
dengan partikel teradsorb.
 Partikel kecil spheris pada interface liquid-gas
dimana gavitasi diabaikan (kiri). Bentuk interface
tidak berubah oleh kehadiran partikel.
 untuk partikel yang lebih besar (kanan) interface
liquid berubah dan gaya kapiler bersih
menstabilkan partikel dan mencegahnya dari
tenggelam
 Kerja yang dibutuhkan untuk
memindahkan partikel dari interface liquid-
gas dapat dihitung dari perubahan energi
bebas Gibbs
 Kerja ini penting diketahui dalam aplikasi
mis: flotasi
( )
2
2
1 cos . ÷ O = A
L
R G ¸ t
Network of Fibres
 Perilaku wetting jaringan fiber penting untuk
dipelajari dalam aplikasi misal: daya tolak akain
terhadap air
 Kain kita modelkan dengan sekumpulan silinder
paralel dipisahkan oleh jarak tertentu, jarak
diasumsikan kecil dibanding konstanta kapiler
sehingga permukaan liquid ditentukan oleh
persamaan Laplace
 Untuk tekanan eksternal kecil, air tidak
dimungkinkan lewat kecuali sudut kontak nol
 Liquid membentuk sudut kontak dengan solid yang
akan menentukan sejauhmana liquid penetrasi
kedalam jarak antar serat/fiber
 Fiber silindris paralel dengan liquid
diatasnya.
 Dalam kasus pertama tidak ada tekanan
eksternal sehingga permukaan liquid planar
 Sudut kontak besar dari 90
o
dicontoh
pertama namun kecil dari 90
o
(besar dari
nol) pada kasus kedua
 pada contoh ketiga ada tekanan hidrostatik
eksternal sehingga permukaan melengkung
Pengukuran Sudut Kontak
 Metode paling umum mengukur sudut kontak adalah
dengan mengamati sessile drop menggunakan
mikroskop
 Sudut kontak ditentukan secara langsung dengan
goniometer atau image direkam dan gambar
dicocokkan dengan persamaan Laplace dengan
bantuan komputer
 Prosedur yang sama juga dapat dipakai untuk
menentukan tegangan permukaan liquid
 Untuk tetes kecil dimana efek hidrostatis diabaikan kita
dapat mengukur sudut kontak dari tinggi h tetes tsb
 Dari pengukuran tinggi dan jari-jari kontak a tetes kita
dapat menghitung
tan (O/2) = h/a
 Metode alternatif pengukuran sudut kontak adalah
dengan mengukur tepi gelembung, metode ini
disebut captive atau sessile bubble
 Pada metode ini gelembung diposisikan diatas sel
atau diisi dengan liquid
 Teknik yang umum digunakan adalah
metode Wilhelmy plate, jika sudut kontak
besar dari nol, gaya yang menarik piringan
ke liquid sebesar 2¸
L
lcos O
 Dimana l adalah lebar piringan
Sudut kontak
beberapa liquid
pada beberapa
padatan pada
25
o
C

Hysteresis dalam pengukuran
sudut kontak
 Sejauh ini kita menganggap permukaan ideal,
namun pada permukaan riil kita harus menghadapi
hysteresis
 Jika kita mengukur sudut kontak saat volume tetes
membesar, kita akan dapat sudut kontak advancing
O
adv

 Jika kemudian volume tetes kita kurangi dan sudut
kontak diukur saat itu, maka kita akan
mendapatkan sudut kontak receding O
rec
.
 Biasanya O
adv
lebih besar dari O
rec
, selisih O
adv
-
O
rec
disebut hysteresis sudut kontak dan memiliki
nilai berkisar 5-20
o

Penyebab Hysteresis
 Surface roughness
 Heterogenitas atau kontaminasi permukaan
padatan
 Adanya zat terlarut pada garis kontak tiga fasa
 Adanya gaya yang menekan permukaan pada
garis kontak 3 fasa yang menyebabkan
perubahan struktur permukaan
 Adsorpsi dan desorpsi molekul liquid saat
spreading atau receding liquid yang disertai
pelepasan energi
 Tetes advancing di permukaan
padatan dengan tonjolan mikroskopis
Dinamika Wetting
 Dalam dinamika wetting, liquid menggantikan fluida
lain (udara) dari permukaan solid, ada 2 jenis
wetting dipaksa/forced dan spontan
 Dalam forced wetting, gaya mekanis atau
hidrodinamik diberikan dan memaksa area
interfacial solid-liquid meningkat diatas kondisi
setimbang
 Forced wetting memainkan peran penting dalam
industri coating, dimana lapis tipis liquid
didepositkan secara kontinyu dipermukaan padatan
yang bergerak
 Forced wetting juga berperan dalam polymer
processing dan enhanced oil recovery
Dinamika Wetting
 Wetting spontan adalah menyebarnya
liquid pada permukaan solid sesuai
arah kesetimbangan termodinamika
 Wetting spontan berperan penting
dalam aplikasi cat, adhesive,
lubricants, detergensi dan flotasi
Dewetting
 Dalam beberapa aplikasi, lapisan di
permukaan padatan hanya stabil pada
ketebalan tertentu saja atau metastabil
 Contoh kasus ini adalah lapisan logam
yang disiapkan dengan evaporasi juga
pada film/lapisan polimer
 Ada 2 cara pelapisan polimer (1) dip
coating dan yang ke (2) spin coating
 Dip and spin coating are two common
techniques to form polymer films on solid
surfaces
Flotasi
 Flotasi adalah metode untuk memisahkan partikel
padatan satu sama lain
 Dalam prosesnya, biji material dihancurkan hingga
dibawah ukuran 0,1 mm
 Partikel2 ini dicampur dengan air membentuk sol,
sol ini dinamakan juga pulp
 Pulp dialirkan dalam kontainer dan gelembung
udara juga dimasukkan
 Partikel kaya akan mineral terikat pada gelembung
udara oleh gaya hidrofobik dan terbawa ke
permukaan kontainer
 Busa stabil yang disebut froth terbentuk dan dapat
diambil untuk dipisahkan
 Gelembung biasanya lebih besar dari partikel
sehingga interface air-udara planar terhadap
partikel
Detergensi
 Detergensi adalah terkait teori dan praktek
pemisahan material asing dari padatan dengan
bantuan zat surface active
 Partikel kotoran secara spontan akan
meninggalkan permukaan padatan jika secara
energetika memungkinkan mengganti interface
kotoran-solid (SD) oleh dua interface; kotoran-
larutan (DW) dan solid-larutan (SW), perubahan
energi bebas Gibbs haruslah negatif
 AG = A.(¸
DW
+ ¸
SW
- ¸
SD
) ≤ 0
 A adalah area kontak, kondisinya dapat
disederhanakan : ¸
SD
≥ ¸
DW
+ ¸
SW
 Surfaktan yang efektif harus mampu
menurunkan ¸
SW
dan ¸
DW
tanpa menurunkan
¸
SD
secara signifikan
 Turunnya tegangan permukaan air (dengan
terbentuknya gelembung) tidak menjadi bukti
surfaktan efektif untuk detergensi
 Karakteristik lain yang penting adalah
kemampuan surfaktan untuk menjaga partikel
kotoran dalam larutan
 Tanpa kemampuan ini, proses pencucian
hanya akan menyebabkan uniform distribution
dari partikel kotoran

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->