BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Masalah Sejarah merupakan ilmu pengetahuan, cerita pelajaran tentang kejaadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau (W.J.S. Poerwadarminta, 1982: 646). Sejarah mempunyai hubungan yang sangat erat dengan pemerintahan suatu negara, terutama dari segi politik. Perkembangan suatu negara selalu bertitik tolak dari sejarahnya dalam menentukan arah pemerintahan ke depannya. Dr. BRA Mooryati Soedibyo (2010) dalam Merajut Nusantara: Paku Buwana X dalam Pergerakan Islam dan Kebangsaan mengemukakan bahwa setiap peristiwa sejarah selalu bermakna sosial dan politis, karena suatu peristiwa akan berfungsi melegitimasi struktur budaya, ekonomi, politik, dan sosial. Bahkan peristiwa sejarah menjadi landasan untuk memperkokoh identitas bangsa. C. Charlotte van dan Haspel memberi sumbangan besar terhadap perkembangan sejarah Indonesia dalam disertasinya pada tahun 1985, tentang Reorganisasi hukum, agraria dan pemerintahan di daerah kerajaan di Jawa tahun 1880-1930. Menurutnya, “motif awal dari pemerintah untuk mengadakan reorganisasi hukum dan agraria lebih bertujuan praktis dari pada ideal”. Akibat utama dari reorganisasi tersebut adalah pengaruh Eropa menjadi semakin besar, lebih besar manfaatnya untuk kepentingan hukum dan keuangan bagi pengusaha perkebunan (Eropa), elit pribumi menjadi tidak puas dan memuncaknya ketidaksenangan di kalangan rakyat jelata pada umumnya yang mungkin dikarenakan tidak mendapat perubahan-perubahan itu. (G.D. Larson, 1989 : ix) Pemerintahan di Indonesia sangat kompleks apabila kita kaji lebih mendalam, karena mengalami perkembangan sejarah yang panjang, berawal dari masa tradisional sampai dengan masa modern seperti saat ini. Pemerintahan Indonesia saat ini, berasal dari pemerintahan yang sederhana dan bersifat kedaerahan. Hal tersebut dapat kita lihat pada masa pemerintahan kerajaan tradisional yang ditandai adanya orientasi pemerintahan yang berbeda dari setiap

1

kerajaan. Orientasi pemerintahan suatu kerajaan akan sesuai dengan keinginan raja yang berkuasa pada masanya. Pemerintahan pada masa kerajaan-kerajaan tradisional di Indonesia terutama kerajaan jawa merupakan sesuatu yang memiliki peranan sangat vital dalam sejarah dan perkembangan politik Indonesia. Dalam pengantar buku yang berjudul “Masa Menjelang Revolusi Keraton dan Kehidupan Politik di Surakarta, 1912-1942” karya George D. Larson , disebutkan bahwa kerajaan (keraton) adalah sangat vital dalam kehidupan politik dan keagamaan. Keraton adalah masyarakat/komunitas yang mempunyai kebudayaan sendiri. Di dalam masyarakat/komunitas itu terjadilah interaksi, baik secara individual, maupun secara kolektif. Dengan demikian, anggota masyarakat/komunitas itu berhubungan secara kait-mengkait satu dengan lainnya, sehingga terjadilah ketergantungan diantara mereka. Selain itu terjadi interaksi secara individual dan kolektif itu, berlangsung pula interaksi yang dilakukan lewat organisasi sosial. (Darsiti Soeratman, 2000 : 9). Organisasi sosial yang berkembang dalam kehidupan keraton pada akhirnya akan menjelma menjadi perkumpulan-perkumpulan. Dari sinilah akan terbentuk organisasi-organisasi politik dalam keraton. Organisasi politik sangat mendukung perkembangan suatu pemerintahan. Banyak oraganisasi politik lokal di indonesia yang berkembang berkat mendapat dukungan dari keraton. Oragnisasi politik banyak memberi warna dalam tata hukum dan peradilan pemerintahan keraton. Keraton Jawa yang pertama kali menerapkan tata hukum dan peradilan di bidang pemerintahan adalah mataram yaitu pada masa pemerintahan Sultan Agung yang terkenal sebagai raja yang alim dan bijaksana, meskipun tata hukum yang dipergunakan adalah tata hukum dan peradilan islam. Pengadilan pada zaman Mataram merupakan pengadilan yang didasarkan pada hukum islam yang mengambil tempat persidangan di Sittinggil atau atau di serambi masjid dalam menangani perkara kejahatan. Perkara-perkara yang menjadi urusan pengadilan dinamakan kisas. Kerajaan Mataram selalu berpindah tempat karena alasan keamanan dari

musuh. Seiring dengan perpindahan tersebut, Kerajaan Mataram selalu mengadakan perubahan tata hukum maupun peradilan dalam menjalankan pemerintahannya, bahkan sampai dengan terpecahnya kerajaan tersebut. Keraton Surakarta pada tahun 1746 mulai dibangun. Pembangunan tersebut pada masa Paku Buwana II (1726-1749) sebagai pengganti keraton kartasura yang telah hancur akibat serangan musuh (Darsiti Soeratman, 1989: 1). Dalam buku yang berjudul ”Sejarah Kerajaan Tradisional Surakarta”, Keraton Kartasura rusak akibat pemberontakan orang-orang cina di bawah pimpinan Sunan Kuning, juga oleh pasukan Madura yang dipimpin oleh Cakraningrat IV (1999: 13). Pemerintah Belanda telah lama terlibat dalam urusan intern Kerajaan Mataram, tepatnya pada masa pemerintahan Amangkurat II (Darsiti Soeratman, 1990: 17). Namun, Pemerintah Belanda benar-benar menanamkan pengaruhnya pada masa Paku Buwana II di Keraton Surakarta. Hal ini dapat kita perhatikan pada isi perjanjian 11 Desember 1749 yang sering disebut het allerbelangrijkste contract, yaitu Sunan “menyerahkan” Kerajaan Mataram kepada Pemerintah Belanda, serta menitipkan putera-puteranya, terutama Pangeran Adipati Anom untuk mendapat perlindungan (Darsiti Soeratman, 1990: 25). Situasi politik Kasunanan sangat dipengaruhi oleh sikap dari pihak Kasunanan sendiri terhadap pemerintah Belanda, Mangkunegaran, penduduk dan wilayah di luar kerajaan. Reorganisasi sistem peradilan di Kasunanan sudah terjadi sejak masa pemerintahan Paku Buwana II, dimana seluruh daerah Mataram masuk ke dalam wilayah kekuasaan pemerintah Belanda. Akibatnya, Mataram bukan hanya kehilangan wilayahnya tetapi juga harus tunduk pada peraturan-peraturan pemerintah Belanda termasuk mengenai sistem peradilan. Keraton Kasunanan Surakarta kehilangan kemerdekaanya, akan tetapi oleh belanda daerah itu dikembalikan dalam bentuk pinjaman kepada raja-rajanya. Sejak saat itu, terdapat tradisi, bahwa sesudah penobatan, raja baru harus menandatangani perjanjian, yang antara lain menyakan bahwa penobatannya sebagai raja bukan karena mewaris, melainkan karena pemberian Pemerintah Belanda. Pemerintah Belanda semakin menanamkan pengaruhnya di Keraton Surakarta, bahkan mampu menembus pada peraturan seremoni penobatan raja.

3

Pada tanggal 15 Desember 1749, Pemerintah Belanda melantik Adipati Anom di Sitihinggil menjadi raja baru dengan gelar Paku Buwana III. Campur tangan Belanda di bidang politik terlihat juga pada kerajaankerajaan lain di Indonesia, Belanda menentukan masalah penggantian raja yang dirasakan melampaui batas kekuasaan politiknya. Selain itu bidang sosial dan kebudayaan juga terpengaruh yaitu terlihat pada cara berpakaian serta adanya minuman keras. Terlihat bahwa bangsa Belanda sudah mendominasi bidang kehidupan di Indonesia (Nur Haryanti, 1993 : 13) Pemerintah Belanda juga terlibat dalam campur tangan terhadap sistem peradilan dalam praktik pemerintahan Keraton Kasunanan Surakarta. Dalam perkembangan selanjutnya, Pemerintah Belanda menunjukkan penetrasi ke dalam persoalan intern keraton yang mengakibatkan terjadinya perubahan dalam sistem tata peradilan dan tata hukum Keraton Kasunanan Surakarta. Pemerintah Belanda berupaya memaksakan rencana organisasi terhadap sistem peradilan dengan maksud agar Pemerintah Keraton Kasunanan Surakarta menyetujui perubahan baik dalam kelembagaan maupun pranata hukumnya. Dalam usaha menanamkan pengaruh kekuasaannya, Pemerintah Belanda menuntut agar pepatih dalem yang mempunyai peran ganda, yaitu mengabdi pada kerajaan dan bekerja sebagai pegawai Pemerintah Belanda, agar berpihak kepada Pemerintah Belanda serta membantu dalam menanamkan pengaruh di keraton maupun seluruh wilayahnya. Pepatih dalem mendapat status kekuasaan dan kemakmuran oleh raja. Hal ini merupakan faktor yang membuat sulit patih dalem untuk tidak tunduk pada raja. Peranan raja dalam konsep keraton adalah melindungi kerajaan dan rakyatnya dengan menjadi perantara antara dunia manusia dengan dunia dewadewa. Raja harus memiliki kekuasaan dan wibawa yang setara dengan dewa-dewa. Hubungan raja dengan rakyatnya dikenal sebagai kawula-gusti. Dalam pemikiran tradisional Jawa terdapat tiga konsep utama yang mengatur hubungan kawula-gusti tersebut yaitu: (1) suatu hubungan pribadi yang erat disertai dengan rasa saling mencintai dan menghormati yang dianggap sebagai standar komunikasi sosial; (2) nasib menentukan kedudukan seseorang dalam

Akibatnya. Hal tersebut merupakan tamparan berat bagi Sunan karena harus kehilangan daerah yaitu negara. terbukti dengan dibentuknya dan nagaragung. semakin banyak melakukan hubungan sosial ke luar setelah Susuhunan yang berkuasa mulai bersikap menerima pendidikan barat. Tidak adanya perubahan peradilan yang signifikan tersebut dikarenakan singkatnya masa pemerintahan Sunan sehingga belum sempat memikirkan perbaikan dalam pemerintahan. Paku buwana III memerintah selama 39 tahun (17491788). khususnya perbaikan sistem peradilan. Pada masa pemerintahan Paku Buwana VI. Pada masa pemerintahan Paku Buwana III. Sunan kembali kehilangan wilayahnya yaitu sebagian daerah mancanegara 1990: 30).masyarakat. Pada masa pemerintahannya. Pada masa Paku Buwana V (1820-1823) dan Paku Buwana VI (18231830) juga belum terjadi sebuah perubahan yang signifikan. Kondisi pemerintahan pada saat itu kurang mendukung untuk memperbaiki pemerintahan sebagai akibat dari pemberontakan yang terjadi di Kasunanan. dalam hal politik pemerintah. harus memperhatikan rakyatnya. Terbaginya kerajaan menjadi dua memudahkan Pemerintah Belanda untuk menguasai dan menanamkan pengaruhnya. Pemerintahan selanjutnya dipegang oleh Paku Buwana IV (1788-1820). Hal tersebut mengakibatkan diadakannya reorganisasi tanah lungguh di nagaragung yang masih ada (Darsiti Soeratman. Kerugian masih diderita Sunan dengan terbaginya Kasunanan menjadi 2 wilayah yaitu Kasunanan yang dipimpin oleh Sunan dan Mangkunegaran di bawah Raden Mas Said yang bergelar Mangkunegara I. apakah akan lahir sebagai hamba atau sebagai tuan. manusia tidak punya pilihan. nagaragung dan mancanegara. (3) raja dan pegawainya. sistem peradilan masih berjalan di bawah pemerintahan Belanda karena Sunan adalah vassal kompeni. Pada masa ini. Keraton Kasunanan Surakarta pada masa Paku Buwana VI (1823-1830). tetapi harus memikul kewajibannya seperti yang telah ditentukan oleh nasibnya. 5 . wilayah Mataram terpecah menjadi 2 yaitu Kerajaan Surakarta Hadiningrat dan Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat sesuai dengan perjanjian giyanti pada tahun 1755. Pengadilan mendapat dukungan.

martaulut dan singgasara. yaitu Paku Buwana VII sampai dengan Paku Buwana X. Selama lebih dari seratus tahun (1830-1939). salah satunya adalah lembaga peradilan. Paku Buwana VII mengeluarkan Angger Gunung yang berisi instruksiinstruksi kepada para para kepala polisi untuk bertempat tinggal di pinggir jalan besar seperti di Ampel. surambi dan kadipaten. Pada tahun 1847 dicapai suatu akta persetujuan. tetapi dalam kenyataannya pemerintah Belandalah yang berkuasa. Selain itu sistem peradilan Keraton Kasunanan Surakarta adalah sebuah .30. Kartasura. Tiap-tiap prajurit memiliki tugas tersendiri dalam melaksanakan hukuman yang disesuaikan dengan putusan pengadilan. Kemudian diikuti lagi dengan penyerahan pengadilan dan kepolisian. merupakan lembaga yang memberikan kontribusi dalam menegakkan hukum. Boyolali. raja-raja yang memerintah secara terus menerus terpaksa harus menyerahkan kekuasaannya. Hal itu dapat dilihat dalam pelaksanaan proses pengadilan sampai dengan pemberian hukuman yang hampir seluruhnya harus mendapatkan persetujuan pemerintah Belanda. serta pelepasan hak atas tanah yang dihubungkan dengan adanya reorganisasi tanah. Keraton Kasunan Surakarta diperintah oleh empat orang raja.prajurit-prajurit pelaksana hukuman. Dalam usaha membawa perbaikan bagi keamanan. ditambah negaragung Bagelen harus ikut diserahkan. diantaranya nirbaya. Pertama-tama. yang berisi penghapusan Balemangu. Lenyapnya Balemangu berakibat Angger Gunung tidak mempunyai arti bagi Kasunanan. Dalam periode tersebut. Pengadilan Keraton Kasunanan Surakarta apabila dilihat secara kelembagaan. memiliki sebuah struktur yang tersusun atas beberapa lembaga dalam pemerintahan. Pada masa Paku Buwana VII (1830-1858) baru terjadi sebuah perubahan yang cukup signifikan dalam pemerintahan. menciptakan keamanan dan ketertiban di wilayah Keraton Kasunanan Surakarta. Krapyak dan Klaten. kemudian dicantumkan dalam Indische Staatsblad 1847 No. Sebagai gantinya dibentuk lembaga-lembaga pengadilan yang disebut pradata. Keraton Surakarta sebagai bentuk kerajaan. mancanegara barat dan timur. Kekuasaan pengadilan atas orang-orang bumi putera berada di tangan Sunan.

Pengadilan pradata ini juga dibentuk di luar ibukota Kasunanan seperti di daerah Klaten. legitimasi Sunan masih tetap terjaga di mata rakyat. Reorganisasi sistem peradilan dilakukan pemeintah Belanda secara bertahap. Boyolali. Sikap kekeluargaan yang sedemikian rupa di dalam menyelesaikan perkara yang dihadapi masyarakat. Lembaga peradilan dimanfaatkan apabila suatu perkara tidak dapat diselesaikan secara kekeluargaan atau musyawarah mufakat. namun bukan berarti seluruh sistem dan tata cara peradilan mengalami perubahan total. Pengadilan ini berpedoman pada nawala pradata dan hukum islam. Sragen. bukan berarti mereka tidak membutuhkan lembaga peradilan dalam menyelesaikan suatu masalah. Masyarakat Jawa terbiasa menggunakan cara musyawarah mufakat untuk menyelesaikan perkara-perkara ringan. pengadilan pradata mendapat pelimpahan wewenng dan perkara. Pengadilan pradata sebagai pengadilan tertinggi berhak memutuskan tindak kejahatan kelas berat misalnya pembunuhan. Menurut sejarahnya. sementara pengendali kekuasaan di wilayah Kasunanan dipegang oleh pemerintah Belanda. Hal ini menyebabkan kebijaksanaan Sunan banyak dipengaruhi oleh peraturan pemerintah Belanda.lembaga hukum yang berfungsi untuk mencegah terjadinya pelanggaran dan tindak kejahatan yang dapat mengancam eksistensi raja. pemerintah Belanda mengalami kesulitan untuk menggeser kekuasaan pribumi dalam bidang kepolisian 7 . Dalam perkembangannya. Kartasura. Pengadilan pradata merupakan pengadilan tertua di Kasunanan yang dipimpin oleh seorang jaksa ditambah dengan mantra dan delapan orang nayaka. sistem peradilan di Kasunanan Surakarta banyak mengalami perubahan sejak menguatnya penetrasi dari sistem pemerintahan Belanda yang semakin intensif. Meskipun demikian. Pada masa Paku Buwana IX (1861-1893) berkuasa. Pengadilan pradata di daerah-daerah tersebut diberi otonomi oleh Sunan atas desakan residen. Ampel. Meskipun sistem peradilan di Kasunanan Surakarta harus menaati peraturan Pemerintah Belanda. Intervensi pemerintah Belanda terhadap sistem peradilan Kasunanan menjadikan Sunan hanya sebagai sebuah simbol.

pemerintah Belanda membuat peraturan yaitu peraturan yang mengatur tentang kenaikan tahta raja. Sebelum dinobatkan menjadi raja.dan pengadilan. 1990: 1). bersedia untuk tunduk sepenuhnya pada tindakan Pemerintah Belanda. Pata tanggal 30 maret 1893 dilangsungkan penobatan raja yang dilanjutkan dengan penandatanganan akta perjanjian. putra mahkota harus menandatangani suatu verklairing. Peristiwa ini merupakan tradisi baru dalam pemerintahan Kasunanan. Untuk menjamin kepentingannya. melindungi pertanian. masa pemerintahan Paku Buwana X (1893-1939). Berjanji akan setia pada perjanjian yang dibuat oleh raja-raja sebelumnya c. termasuk dalam pembuatan peraturan baru (Darsiti Soeratman. Pemungutan pajak baru e. Kerja wajib bagi penduduk yang tinggal di daerah yang disewa oleh pengusaha asing g. Perbaikan pengadilan. karena kenaikan raja-raja sebelumnya hanya menandatangani akta perjanjian dalam setiap kenaikan tahtanya. Pada masa Paku Buwana IX ini tidak ada pembaharuan pada bidang hukum. Penyewaan tanah kepada orang-orang eropa f. Daerah terselip (enclave) c. Ganti kerugian dari pemerintah d. Tidak akan melakukan hubungan politik dengan negara asing . Mengakui kedudukannya sebagai vasal yang memperoleh tanah Surakarta bukan karena kekuatan sendiri. Pemerintah Belanda berusaha agar raja baru pengganti Paku Buwana IX. kepolisian dan penyelesaiannya menurut hokum b. perdagangan dan memajukan kesejahteraan rakyat d. Putra mahkota menandatangani verklairing pada tanggal 25 maret 1893. melainkan sesuai perjanjian 1949 b. Beberapa butir dalam verklairing antara lain mencakup masalah : a. Seremoni pada pesta dan kesempatan lain Akta perjanjian pada pokoknya berisi ketentuan bahwa Sunan : a. Dengan begitu dimulailah masa baru. Akan memerintah secara adil. yang ada hanyalah perubahan pada bidang birokrasi akibat kebijakan etis. Berdasarkan pengalaman pahit tersebut.

Dalam pembahasan ini penulis melakukan pembatasan masalah pada pengambialihan sistem peradilan di Kasunanan pada masa Paku Buwana X setelah terjadi penyerahan pengadilan dari Kasunanan kepada pemerintah Belanda pada tahun 1903. Menyatakan. Pemerintah Belanda mulai melaksanakan reorganisasi pengadilan. maka penulis dalam mengkaji mengenai sistem peradilan di Kasunanan Surakarta menggunakan judul “Pengambilalihan Pradata Dalem 1903 (Studi Tentang Pengambilalihan Sistem Peradilan di Kasunanan)”. tanpa meninggalkan dasar-dasar pengadilan yang berlaku di Kasunanan. pemerintah berhak menarik kembali tanah pinjaman itu (Darsiti Soeratman. Sunan mengakui bahwa pengadilan pradata diambil oleh pemerintah Belanda atas desakan residen meskipun hubungan diantara keduanya mengalami ketegangan. terjadi pengambialihan sistem peradilan oleh Pemerintah Belanda dari Kasunan. Sunan menafsirkan hal tersebut sebagai sebuah usaha untuk membuat pengadilan menjadi lebih berfungsi. 9 . Perkembangan pengadilan pradata dan eksistensinya di Kasunanan Surakarta sangat menarik untuk diteliti. pemerintah menghendaki agar Sunan menyerahkan pengadilan kepada pemearintah Belanda. Pada tahun 1903. Pada tanggal 17 oktober 1901 Sunan terpaksa menandatangani perjanjian penyerahan pengadilan kepada pemerintah Belanda. Dengan begitu. di dalam perkembangannya terdapat perbedaan penafsiran antara Sunan dan pemerintah tentang reorganisasi hukum pradata. dimana bidang-bidang hukum di Kasunanan Surakarta mengalami perubahan seiring dengan pergantian raja-raja di Kasunanan sehingga akhir dari tatanan hukum di wilayah Kasunanan mengalami masa reorganisasi di bawah pemerintahan Belanda. Namun. Pada tahun 1901 Kasunanan harus menyerahkan pengadilan kepada pemerintah Belanda. Perkembangan pengadilan pradata mendapat perhatian pada masa pemerintahan Paku Buwana X. Dengan latar belakang yang telah diuraikan diatas. Kekuasaan Kasunanan harus mematuhi pemerintah Belanda berdasarkan hasil perjanjian antara kedua belah pihak. Sebaliknya. 1990: 55).e. jika ia tidak melaksanakan kewajibannya sesuai perjanjian.

Manfaat Penulisan 1. b) Untuk memberikan sumbangan pengetahuan ilmiah yang berguna dalam rangka pengembangan ilmu sejarah c) Dapat menambah wawasan pembaca khususnya mahasiswa tentang .B. maka didapat rumusan masalah sebagai berikut : 1) Bagaimana wewenang dan peran sistem peradilan Kasunanan sebelum terjadi pengambilalihan oleh pemerintah Belanda ? 2) Bagaimana perkembangan sistem peradilan Kasunanan sejak diberlakukannya hukum pemerintahan Belanda? 3) Bagaimana proses pengambilalihan sistem peradilan Kasunanan oleh pemerintah Belanda ? 4) Bagaimana peran sistem peradilan Kasunanan setelah pengambilalihan oleh pemerintah Belanda ? C. Manfaat Teoritis a) Menambah kajian tentang pengambilalihan sistem peradilan di kasunanan. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang diuraikan diatas. Tujuan Penulisan Tujuan dari penulisan ini adalah : 1) Untuk mengetahui wewenang dan peran pradata dalem sebelum terjadi pengambilalihan oleh pemerintah Belanda 2) Untuk mengetahui perkembangan pradata dalem sejak diberlakukannya hukum pemerintahan Belanda 3) Untuk mengetahui proses pengambilalihan pradata dalem tahun 1903 oleh pemerintah Belanda 4) Untuk mengetahui peran pradata dalem setelah pengambilalihan oleh pemerintah Belanda D.

sistem peradilan di kasunanan sehingga diharapkan nantinya ada studi lebih lanjut mengenai pengambilalihan sistem peradilan di keraton lain. Manfaat Praktis a) Menambah perbendaharaan referensi di Perpustakaan Program Sejarah FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta. c) Merupakan sumber referensi bagi mahasiswa Program Sejarah FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta. sistem memberikan motivasi kepada para sejarawan untuk selalu mengadakan penelitian 11 . b) Dapat ilmiah. d) Mencoba memberi sumbangan pemikiran bagi masyarakat mengenai pengambilalihan peradilan di kasunanan. 2. yang akan meneliti lebih lanjut mengenai pengambilalihan sistem peradilan di kasunanan.

tetapi juga memiliki fungsi sebagai pusat pemrintahan dan kebudayaan (pemrakarsa. anggun dan mempesona. kedua. Berdasarkan pengertian ini keraton tidak semata-mata tempat bersemayam atau tempat tinggal raja atau ratu. filosofi. pekarangan raja dengan alun-alun” (1989 : 1). Raja dan seluruh kerabatnya yang tinggal di dalam keraton memegang kekuasaan . Keraton merupakan inti lingkaran politik. simbolik dan sakral.1992). mulai dari nilai-nilai ketuhanan. Keraton adalah suatu komplek yang terdiri dari beberapa subsistem yang membentuk suatu kesatuan yang terkait. utuh. negara. Masing-masing subsistem itu mengandung nilai-nilai multidimensional. meliputi wilayah di dalam cempuri (tembok yang mengelilingi halaman) baluwarti. Keraton mempunyai beberapa arti: “pertama. masyrakat dan budaya dari suatu kerajan jawa sebelum intervensi kolonial terhadap kehidupan. harmonis. yang mengandung arti keagamaan. falsafah dan kebudayaan”. Bagian-bagian keraton yang terpenting terdiri dari berbagai bangunan fisik yang memiliki arti. dan yang ketiga. dalam bahasa indonesia tidak lain adalah istana. pekarangan raja. negara. berasal dari kata ka-ratu-an atau ka-datu-an. pemerintahan. kebudayaan dan nilai sejarah kemanusiaan (pemrakarsa. 1992 : 81).BAB II KAJIAN TEORI A. atau kerajaan. Tinjauan Pustaka 1. peranan dabn fuingsinya sendiri-sendiri. Keraton Pengertian keraton menurut Atmakusumah (1989 : 114) adalah “tempat bersemayamnya ratu-ratu. menunjuk pada tempat kediaman ratu (raja). Pengertian keraton menurut Darsiti Soeratman.

Pengertian hukum menurut E. Hukum adalah himpunan petunjuk hidup (perintah-larangan) yang mengatur tata tertib dalam suatu masyarakat.13). Keraton menurut Benedict Anderson yang dikutip G. S.13). oleh karena pelanggaran mana terhadap petunjuk hidup dapat menimbulkan tindakan dari pemerintah masyarakat tersebut (h. 2. Bahkan para sarjana hukum sendiri belum dapat merumuskan definisi hukum yang memuaskan semua pihak. Utrecht (1966) yang berpendapat bahwa.tertinggi. Pengertian Untuk mencari definisi tentang hukum bukanlah hal yang mudah. yang seharusnya ditaati oleh anggota masyarakat yang bersangkutan. Kekuasaan raja dibangun atas struktur teritorial yang bersifat kosmopolit dengan tatanan konsentris dan monopoli kekuasaan oleh para sentana dalem (Sartono Kartodirjo. Amin. kebudayaan dan spiritual maupun pusat makro kosmos antara jagat raya dan dunia manusia”.M. Moejanto dalam bukunya “konsep kekuasaan jawa: penerapannya oleh raja-raja mataram. Hukum a. diantaranya : a.” hukum dirumuskan sebagai berikut: “Kumpulan-kumpulan peraturan-peraturan yang tediri dari norma dan sanksi-sanksi dan tujuan hukum itu adalah mengadakan 13 . S.H. Dengan pengertian ini maka kekuasaan seorang raja adalah absolut karena mempunyai wewenang tertinggi di seluruh negeri. 1982).” adalah “pusat kekuasaan. Dalam buku beliau yang berjudul “Bertamasya Ke Alam Hukum. Pengertian hukum Menurut Ridwan Hakim dalam bukunya “Pengantar Tata Hukum Indonesia” (1985) adalah : Peraturan-peraturan baik tertulis maupun tidak tertulis yang pada dasarnya berlaku dan diakui oleh orang sebagai peraturan yang harus ditaati dalam hidup bermasyarakat (h. Beberapa sarjana hukum yang lain juga berusaha merumuskan tentang apakah hukum itu.

Sanksi terhadap pelanggaran peraturan tersebut adalah tegas. S. kita harus dapat mengenal ciri-ciri hukum. Dalam buku beliau “Pokok-Pokok Hukum Perniagaan” ditegaskan. pelanggaran mana terhadap peraturan-peraturan tadi berakibatkan diambilnya tindakan.T Simorangkir. umpamanya orang akan kehilangan kemerdekannnya. S. mengenai pergaulan tingkah laku manusia . yaitu : a. Tirtaatmidjaja. bahwa “Hukum ialah semua aturan (norma) yang harus diturut dalam tingkah laku. didenda dan sebagainya”. Peraturan dalam masyarakat b. tindakan-tindakan dalam pergaulan hidup dengan ancaman mesti mengganti kerugian jika melanggar aturan-aturan itu akan membahayakan diri sendiri atau harta. Dalam buku yang disusun bersama berjudul “Pelajaran Hukum Indonesia” telah diberikan definisi hukum seperti berikut: “Hukum itu ialah peraturan-peraturan yang bersifat memaksa. S. c.ketatatertiban dalam pergaulan manusia.H. yang menetukan tingkah laku manusia dalam lingkungan masyarakat yang dibuat oleh badan-badan resmi yang berwajib. Peraturan itu bersifat memaksa d. 1986 : 38) b. Ciri-Ciri Hukum : Untuk dapat mengenal hukum. Peraturan itu diadakan oleh badan-badan resmi yang berwajib c. c.H dan Woerjono Sastropranoto. J.C. sehingga keamanan dan ketertiban terpelihara”. M. Unsur-Unsur Hukum Dari beberapa perumusan tentang hukum diatas. yaitu dengan hukum tertentu”. dapat disimpulkan bahwa hukum meliputi beberapa unsur. ( Kansil.H.H. b.

Kebiasaan c. Sumber Hukum Sumber hukum ialah segala apa saja yang menimbulkan aturan-aturan yang mempunyai kekuatan yang bersifat memaksa. Adanya perintah dan/atau larangan b. hukum harus melayani tujuan negara dengan menyelenggarakan “keadilan” dan “ketertiban. Prof. 2. filsafat dan sebagainya. Hukum menghendaki perdamaian. e. Keputusan-keputusan hakim d. kemerdekaan. Undang-undang b.” syarat-syarat yang pokok untuk mendatangkan kemakmuran dan kebahagiaan. dapat ditinjau lagi dari pelbagai sudut.H. yakni aturan-aturan yang kalau dilanggar mengakibatkan sanksi yang tegas dan nyata. sejarah. d. harta benda terhadap pihak yang merugikannya.yaitu (Kansil. Perintah dan/atau larangan itu harus patuh ditaati setiap orang. Tujuan Hukum Dalam buku yang berjudul “Dasar-Dasar Hukum dan Pengadilan. Sumber-sumber hukum material. S. Subekti. mengtakan bahwa hukum itu mengabdi pada tujuan negara yang dalam pokoknya ialah: mendatangkan kemakmuran dan kebahagiaan pada rakyatnya. Traktat e. Sumber-sumber hukum formal antara lain : a. misalnya dari sudut ekonomi.” Prof. van Apeldoorn mengtakan bahwa tujuan hukum ialah mengatur pergaulan hidup manusia secara damai. sosiologi. Sumber hukum itu dapat kita tinjau dari segi material dan segi formal: 1. Menurutnya. kehormatan. jiwa. Perdamaian diantara manusia dipertahankan oleh hukum dengan melindungi kepentingan – kepentingan hukum manusia tertentu. 1986 : 39) : a. Pendapat sarjana hukum 15 .

Pamudji (1982 : 9) sistem adalah suatu kebulatan atau keseluruhan yang utuh. Sedangkan pemerintahan dalam arti sempit adalah perbuatan memerintah yang dilakukan oleh organ eksekutif dan jajarannya dalam rangka mencapai tujuan pemerintahan negara. sistem adalah suatu susunan atau tatanan berupa suatu struktur yang terdiri dari bagian-bagian atau komponenkomponen yang berkaitan satu dengan yang lainnya secara teratur dan terencana untuk mencapai tujuan. Sistem Pemerintahan a. 2004 : 104). tata atau norma tertentu dalam rangka mencapai suatu tujuan. Sistem merupakan suatu kesatuan yang didalamnya terdapat unsur-unsur yang saling berkaitan dan saling bergantung (Ng. Menurut Sukarna (1981 : 19) sistem adalah sesuatu yang berhubung-hubungan satu sama lain. sehingga membentuk satu kesatuan. yang pada gilirannya merupakan sistem tersendiri. S.3. arti pemerintahan ada dua. Pengertian Sistem Pemerintahan Untuk mendapatkan pengertian sistem pemerintahan. eksekutif dan yudikatif dalam rangka mencapai tujuan pemerintahan nagara (tujuan nasional). yang mempunyai fungsi masingmasing saling berhubungan satu dengan yang lain menurut pola. yaitu pemerintahan dalam arti luas dan pemerintahan dalam arti sempit. Abu Daud Busroh (1989 : 7) berpendapat. Dari definisi-definisi diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan sistem adalah suatu keseluruhan dari bagian-bagian yang saling berhubungan untuk mencapai tujuan tertentu. maka terlebih dahulu kita harus mengetahui apa arti sistem dan apa arti pemerintahan. Pemerintahan dalam arti luas adalah perbuatan memerintah yang dilakukan oleh organ-organ atau badan-badan legeslatif. Pemerintahan merupakan serangkaian kegiatan yang dilaksanakan oleh pemerintah dalam rangka melaksanakan fungsinya sebagaimana yang telah dinyatakan dalam perundangundangan negara (Dharma Setyawan Salam. Pamudji (1982 : 6) berpendapat. 2004 : 35). dimana didalamnya terdapat komponen-komponen. Menurut S. Philipus. .

baik langsung ataupun tidak langsung menurut suatu rencana atau pola untuk mencapai tujuan negara tersebut. Pembagian Sistem Pemerintahan 1) Sistem Pemerintahan Presidensial Sistem pemerintahan Presidensial adalah suatu pemerintahan dimana pertanggunganjawaban atas kebijaksanaan pemerintah dipegang oleh Presiden sendiri. T. eksekutif. Pamudji (1982 : 10) mendefinisikan sistem pemerintahan sebagai keseluruhan dari susunan atau tatanan yang diatur dari lembaga-lembaga negara yang berkaitan satu dengan yang lainnya. S. Kansil. Sedangkan komponenkomponen itu adalah legislatif. baik langsung maupun tidak langsung menurut suatu rencana atau pola untuk mencapai tujuan negara tersebut. dan biasanya hanya terjadi perubahan dalam susunan anggota kabinet (C. melainkan kepada Presiden. kebulatan atau keseluruhan yang utuh itu adalah sistem pemerintahan. Presiden merangkap memegang jabatan Perdana Menteri. oleh karena itu kedudukan menteri-menteri hanyalah sebagai pembantu Presiden saja. Para Menteri tdak bertanggung jawab langsung kepada DPR. dan yudikatif yang masing-masing mempunyai fungsi sendiri-sendiri. keadaan daripada kabinet adalah stabil. 1993 : 106). Dari pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian sistem pemerintahan adalah keseluruhan dari susunan atau tatanan yang teratur dari lembaga-lembaga negara yang berkaitan satu dengan yang lainnya. karena jatuh bangunnya kabinet bersama-sama dengan terpilihnya dan berhentinya Presiden.Menurut S. Menteri-menteri dalam menjalankan tugasnya harus bertanggung jawab kepada Presiden. Dalam pemerintahan Presidensial. Abu Daud Busroh (1989 : 14) berpendapat bahwa dalam sistem 17 . Apabila pengertian sistem dan pemerintahan digabungkan maka. b. Abu Daud Busroh (1989 : 7) berpendapat bahwa sistem pemerintahan merupakan keseluruhan dari susunan atau tatanan yang teratur dari lembagalembaga negara yang berkaitan satu dengan yang lainnya baik langsung atau tidak langsung menurut suatu rencana atau pola untuk mencapai tujuan negara tersebut.

yang merupakan pimpinan pemerintahan. S. Para menteri tersebut diangkat dan diberhentikan oleh Presiden. yaitu bertanggung jawab langsung kepada rakyat. pemisahan antara kekuasaan eksekutif dengan kekuasaan legislatif diartikan bahwa kekuasaan eksekutif itu dipegang oleh suatu badan atau organ yang didalam menjalankan tugas eksekutifnya itu tidak bertanggung jawab kepada badan perwakilan rakyat. Pimpinan badan eksekutif ini diserahkan kepada seorang yang didalam hal pertanggungjawabannya sifatnya sama dengan badan perwakilan rakyat. c) Presiden tidak bertanggung jawab kepada badan legislatif dan dalam hubungan ini Presiden tidak dapat dijatuhkan oleh badan legislatif . Pemimpin Kabinet ini disebut Perdana Menteri. Susunan badan eksekutif terdiri dari seorang Presiden sebagai kepala pemerintahan dan didampingi atau dibantu oleh seorang Wakil Presiden. Pamudji (1982 : 19) berpendapat bahwa sistem pemerintahan Presidensial. Dengan demikian kedudukan badan eksekutif adalah bebas dari badan perwakilan rakyat. Dewan Menteri tidak bertanggung jawab kepada Kepala Negara (Presiden) tetapi kepada Parlemen. Para menteri itu kedudukannya sebagai pembantu Presiden. 2) Sistem Pemerintahan Parlementer Mashuri Maschab (1983 : 20) berpendapat. Dalam sistem ini kedudukan Kabinet atau para menteri tergantung kepada parleman. maka para menteri itu didalam menjalankan tugasnya harus bertanggung jawab kepada Presiden. oleh karenanya Presiden bukan bagian dari badan legislatif seperti dalam sistem parlementer . Presiden sekaligus juga berkedudukan sebagai kepala negara . d) Sebagai imbangannya. kekuasaan eksekutif berada diluar pengawasan parlemen. Presiden didalam menjalankan tugasnya dibantu oleh para menteri. Presiden tidak dapat atau tidak mempunyai wewenang membubarkan badan legislatif. Kabinet atau salah seorang . b) Presiden tidak diplih oleh badan legislatif tetapi dipilih oleh sejumlah pemilih. bahwa dalam sistem pemerintahan Parlementer. Ciri-Ciri sistem presidensial adalah : a) Presiden adalah kepala eksekutif yang memimpin kabinetnya yang semuanya diangkat olehnya dan bertanggung jawab kepadanya.pemerintahan Presidensial.

(c) Kabinet dengan ketuanya bertanggung jawab kepada parlemen. dengan cara Perdana Menterinya mengembalikan mandatnya kepada Presiden. Apabila kabinet anggotanya mendapat mosi tidak percaya dari parlemen. maka biasanya kabinet mengajukan permintaan dibebaskan dari tugasnya. Kansil (1993 : 104) dalam sistem pemerintahan Parlementer apabila suatu Kabinet jatuh maka haruslah dibentuk Kabinet baru. T. S. 19 . Dan apabila muncul konflik antara Parlemen dan Kabinet. terrutama jika ternyata perubahan didalam pertimbangan kekuatan partai politik yang tidak dapat lagi membenarkan susunan kabinet lama.menteri dapat bubar atau berhenti dari jabatannya karena mosi tidak percaya parlemen atau atas desakan parlemen. Pembentukan Kabinet baru dilakukan sebagai berikut: a)Sesudah Pemilihan Umum. pertanggungjawaban tadi adalah pertanggungjawaban politis. (b) Para anggota kabinet mungkin seluruhnya anggota parlemen. Dalam sistem pemerintahan Parlementer. Menurut Abu Daud Busroh (1989 : 14) sistem pemerintahan Parlementer yaitu kabinet bertanggung jawab kepada parlemen atau badan perwakilan rakyat. b)Apabila kabinet yang ada tidak lagi mendapatkan dukungan yang layak dari parlemen. Menurut C. Adapun ciri-ciri sistem ini adalah sebagai berikut : (a) Kabinet yang dipimpin oleh Perdana Menteri dibentuk oleh kekuatan atau yang menguasai parlemen . mungkin pula tidak seluruhnya dan mungkin pula seluruhnya bukan anggota kabinet . maka badan perwakilan rakyat dapat menyatakan tidak percaya (mosi tidak percaya) terhadap kebijakasanaan kabinet dan sebagai akibat dari pertanggungjawaban politis tadi kabinet harus mengundurkan diri. baik mengenai rencana yang dimajukannya ataupun mengenai kebijaksanaannya. artinya kalau pertanggungjawaban kabinet itu tidak dapat diterima baik oleh badan perwakilan rakyat. kekuasaan eksekutif mendapat pengawasan langsung dari parlemen.

Birokrasi tidak lepas dari pengertian birokrat yaitu pegawai yang bertindak sebagai pemegang dan anggota birokrasi. disebutkan bahwa ”birokrasi merupakan : (1) sistem pemerintahan yang dijalankan oleh pegawai pemerintah karena telah berpegang teguh pada jenjang jabatan. 2004 : 37). Pemerintahan Presidensial yang telah ditetapkan oleh UUD 1945 hanya berlaku beberapa bulan saja karena para menterinya belum menunjukkan partai politik yang dianutnya. 1990). tata kepemerintahan telah banyak diwarnai oleh pergantian sistem pemerintahan. Kemudian beralih lagi menjadi sistem pemerintahan Presidensial pada tanggal 29 Januari 1948 (Dharma Setyawan Salam. Berdasarkan usul Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat pada tanggal 11 November 1945 yang disetujui oleh Presiden dan diumumkan pada tanggal 14 November 1945. Birokrasi mencatat sistem dimana didalamnya terdapat posisi di kementrian yang diduduki oleh pejabat-pejabat karir yang tidak mengenal dan dikenal dalam prinsip monarkhi yang bersifat turun-temurun ( David Bethan. Kemudian pengertian birokratisasi yaitu sistem pemerintahan oleh . 2004 : 116). Menurut pengertian dari pusat pembinaan dan pengembangan bahasa (1989 : 120).maka kabinet harus mengundurkan diri . 4. serta menurut tata aturan yang banyak liku-likunya”. Kabinet pertama setelah proklamasi kemerdekaan adalah Kabinet Presidensial yang dipimpin oleh Presiden Soekarno. sehingga kabinet ini belum nampak mencerminkan kekuatan-kekuatan politik yang ada (Miftah Thoha. maka kepala negara dengan saran Perdana Menteri dapat membubarkan parlemen (S. Konsep Birokrasi Birokrasi secara harfiah berarti pemerintahan untuk biro. Di Indonesia ketika baru merdeka tahun 1945. bahwa sistem pemerintahan Presidensial diganti dengan sistem pemerintahan Parlementer. (d) Sebagai imbangan dapat dijatuhkannya kabinet. Pamudji. Sejak saat itu kekuasaan pemerintahan dipegang oleh Perdana Menteri sebagai pimpinan kabinet dengan para Menteri sebagai anggota kabinet. 1982 : 19). (2) cara bekerja atau susunan pekerjaan yang serba lamban.

b. c. birokrasi adalah keseluruhan aparat pemerintah sipil dan militer yang melakukan tugas membantu pemerintahan. serasi dengan peranan-peranan yang sudah ditentukan”. Menurut Ferrel Heady yang mengutip pendapat Thomson menyatakan bahwa organisasi birokrasi disusun sebagai suatu hirarki otoritas yang begitu terperinci untuk mengatasi pembagian kerja yang terperinci juga. birokrasi sebagai tipe organisasi yang dimaksudkan untuk mencapai tugas-tugas administrasi yang besar dengan cara mengkoordinasikan secara sistematis pekerjaan banyak orang. sehingga cara pemerintahannya sangat dikuasai oleh pegawai negeri. tetapi juga dalam semua organisasi besar seperti angkatan bersenjata dan organisasi perdagangan. Menurut Max Weber yang dikutip Widjojo (1994 : 25) birokrasi adalah salah satu sistem otoritas yang diterapkan secara rasional oleh berbagai peraturan yang dimaksudkan untuk mengorganisasikan secara teratur suatu pekrjaan yang 21 . birokrasi sebagai organisasi secara hirarki dengan jalinan komando yang tegas dari atas ke bawah. (4) hubungan interpersonal antar pekerja. (2) hierarki otoritas. Pengertian birokrasi menurut berbagai pakar yang dikutip Widjojo (1994 : 50-56) sebagai berikut: a. birokrasi adalah tipe organisasi yang dipergunakan untuk pelaksanaan pemerintahan modern mengenai tugastugasnya dilaksanakan dalam administrasi dan khususnya oleh aparatur pemeraintah. karyawannya dipilih terutama didasarkan kompetisi dan keuletan. Menurut Yahya Muhaimin yang dikutip Akhmad Setiawan (1998). birokrasi adalah organisasi diangkat sepenuhnya untuk mencapai tujuan tertentu dari berbagai ragam tujuan. (3) perturan dan ketentuan yang terperinci. Menurut Peter M. Page. Menurut Frets Monsten Marx. d. peraturan umum mengenai ketentuan-ketentuan yang menetukan semua sikap dan usaha untuk mencapai tujuan. Dari pendapat Blau dan Page ini. Menurut Dennis Wrong. Blau dan Charles H. Menurut mill yang dikutip david bethan (1990 : 70) bahwa ”birokrasi adalah sistem pemerintahan yang dilakukan secara terus-menerus oleh para profesional terlatih. menerima gaji dari pemerintah karena statusnya dalam pemerintahan. Bahwa setiap organisasi birokrasi mempunyai ciri-ciri struktural sebagi berikut: (1) pembagian kerja. birokrasi tidak hanya dikenal dalam organisasi pemerintahan saja.pegawai bayaran yang tidak dipilih oleh rakyat. Birokrasi menciptakan pembagian kerja yang jelas mengenai tugas setiap organisasi dengan tujuan yang spesifik.

Perintahnya diakui secara sah selama sesuai dengan adat tradisonal. Di dalam masyarakat feodal aparaturnya adalah sekutu-sekutu yang setia (b) keuasaan kharismatis adalah keuasaan oleh seorang pemimpin yang disebut nabi. Bendoro menikmati otoritas itu karena status ahli waris. Kelompok orang atau masyrakat yang dikuasai disebut pengikut atau murid yang lebih percaya akan kekuatan-kekuatan yang luar biasa itu daripada peraturan yang dibuatnya atau tradisi yang dianutnya. Orang yang dikuasainya menjadi hamba yang mematuhi perintahperintahnya. sehingga ciri-ciri pemerintahannya sesuai dengan adat tradisional dan kehendak sendiri. yang terdiri dari para abdi penguasa (abdi dalem). Aparatur yang tepat untuk sistem ini adalah regim patrimonial.harus dilakukan banyak orang.J. Orang yang berkuasa disebut bendoro. wahyu. gaji berjenjang menurut kedudukan dalam hirarkhi (g) pos jabatan adalah lapangan kerjanya (h) terdapat suatu struktur karir dan promosi berdasarkan senioritas maupun keahlian (i) jabatan mungkin tidak sesuai dengan posnya maupun sumber-sumber yang tersedia di pos tersebut dan (j) tunduk pada sistem disipliner dan kontrol yang seragam. Suwarno (1994). Di dalam birokrasi tradisonal pendapat Max Weber yang dikutip P. hanya menjalankan tugas-tugas operasional (b) ada hirarki jabatan yang jelas (c ) fungsi-fungsi jabatan ditentukan secara tegas (d) para pejabat diangkat berdasarkan suatu kontrak (e) dipilih berdasarkan kualifikasi professional didasarkan suatu ijazah yang diperoleh melalui suatu ujian (f) memiliki gaji dan biasanya ada hak-hak pensiun. heroisme dan kekuatan-kekuatan adi kodrati yang lain. Apparatur yang digunakan untuk memerintah terdiri dari orang-oraang yang dipilih atas dasar kepercayaan atau kebaktian terhadap kharisma . tetapi juga memiliki hak prerogatif untuk mengambil keputusan sendiri secara bebas. Model birokrasi yang dikemukakan Max Weber yang dikutip dari Ahmad Setiawan (1998) mengandung karakteristik sebagai berikut : (a) para petugas staf secara pribadi bebas. terbagi sebagi berikut: (a) kekuasaan tradisional didasarkan atas kepercayaan terhadap legitimasi otoritas yang sudah ada. pahlawan karena kekuatan magis.

sehingga tingkah laku pelaku terakhir menjadi sesuai dengan keinginan dari pelaku yang mempunyai kekuasaan’’ (Harold D. Dahl (1978 : 29) bahwa ‘’kekuasaan merujuk pada adanya kemampuan untuk mempengaruhi dari seseorang kepada orang lain. 1984:9). Orang-orang yang dikuasainya adalah orang-orang yang secara yuridis mempunyai hak yang sama dengan penguasa dan kelompok orang atau masyarakat sebenarnya lebih mematuhi undang-undang daripada penguasa yang menegakkan undang-undang itu. Baik di daerah-daerah maupun pusat. walaupun resminya bersifat hierarkis. tingkah laku dan keputusan dari penguasa. sesunguhnya terdiri atas kelompok-kelompok kawula gusti yang berlapis-lapis. dinyatakan Robert A. Penguasa adalah orang-orang atasan yang ditunjuk atau dipilih berdasarkan prosedur legal dan para penguasa harus mempertahankan tertib hukum. Apparatus yang tepat untuk kekuasan ini adalah birokrasi pemerintah yang melaksanakan kekuasaan legal. mengikuti model raja sendiri. Penguasa kharismatis biasanya muncul pada saat darurat (c) kekuasaan legal ada kalau suatu sistem peraturanperaturan diterapkan secara yuridis dan administratif sesuai dengan prinsip-prinsip yang sah bagi semua kelompok kelembagaan. Para abdi dalem sebagai pembantu administrasi dan pembantu politik dan tidak mempunyai status otonom yang benarbenar. kecuali dengan otonomi yang berhubungan dengan otonomi gusti. Perintah yang dijalankan oleh apparatur itu didasarkan akan wahyu. 5. teladan. Menurut Anderson (1980) bahwa struktur administrasi kerajaan Mataram khusunya Kasunanan. setiap pejabat mengumpulkan sekelompok orang yang bergantung disekelilingnya. Sejalan dengan itu. Kekuasaan merupakan kemampuan seseorang atau sekelompok orang untuk 23 . Hakekat Kekuasaan a. Laswell.tersebut. atau dari satu pihak kepada pihak lain’’. Pengertian Pengertian kekuasaan secara umum adalah ‘’kemampuan pelaku untuk mempengaruhi tingkah laku pelaku lain sedemikian rupa.

1987 : 22). (2) Kekuasaan bukanlah atribut politik alamiah melainkan produk sumber daya material (berwujud) dan tingkah laku (yang tidak berwujud) yang masing-masing menduduki posisi khusus dalam keseluruhan kekuasaan seluruh aktor. karena pemegang kekuasaan menjalankan kontrol atas sejumlah orang lain. Jones (1993 : 3). atau lebih tepat koleksi kepemilikan untuk menciptakan suatu kepemimpinan. sehingga keputusan itu menguntungkan dirinya. sehingga pihak lain berperilaku sesuai dengan kehendak pihak yang mempengaruhi. Pemegang kekuasaan bisa jadi seseorang individu atau sekelompok orang. Menurut Miriam Budiarjo (1983 : 35) kekuasaan adalah ‘’kemampuan seseorang atau sekelompok manusia untuk mempengaruhi tingkah laku seseorang atau kelompok lain sedemikian rupa sehingga tingkah laku orang ltu menjadi sesuai dengan keinginn dan tujuan dari orang yang mempunyai kekuasaan’’. kemampuan) untuk mendapat kepatuhan dan tingkah laku menyesuaikan dari orang lain’’ (Charles F. sehingga orang yang dipengaruhi itu mau melakukan sesuatu yang sebetulnya orang itu enggan melakukannya. Bagian penting dari pengertian kekuasaan adalah syarat adanya keterpaksaan. yakni keterpaksaan pihak yang dipengaruhi untuk mengikuti pemikiran ataupun tingkah laku pihak yang mempengaruhi (Mochtar Mas’oed dan Nasikun.mempengaruhi pikiran atau tingkah laku orang atau kelompok orang lain. demikian juga obyek kekuasaan bisa satu atau lebih dari satu. Kekuasaan pada dasarnya dianggap sebagai suatu hubungan. Andrain. Dinyatakan oleh Ramlan Surbakti (1992 : 58) bahwa kekuasaan merupakan suatu kemampuan menggunakan sumber-sumber pengaruh yang dimiliki untuk mempengaruhi perilaku pihak lain. kekuasaan dapat didefinisikan sebagai berikut : (1) Kekuasaan adalah alat aktor-aktor internasional untuk berhubungan satu dengan lainnya. ‘’Kekuasaan merupakan penggunaan sejumlah besar sumber daya (aset. kelompoknya dan masyarakat pada umumnya. Menurut Walter S. Itu berarti kepemilikan. (3) Kekuasaan adalah salah satu sarana untuk . 1992 : 130). kekuasaan dapat dirumuskan sebagai kemampuan menggunakan sumber-sumber pengaruh untuk mempengaruhi proses pembuatan dan pelaksanaan keputusan. Dalam pengertian yang lebih sempit.

Jones (1993 : 6) menyatakan unsur-unsur potensi kekuasaan adalah : (1) Sumber daya alam sebagai sumber kekuasaan. yang sangat mempengaruhi konsep peran yang harus dimainkan bangsa itu. (2) Unsur psikologis dan sosiologis kekuasaan. bersifat homogen. dan (3) Unsur-unsur sintetik dari kekuasaan ketrampilan penggunaan sumber daya manusia dan sumber daya yang lain dalam rangka mengkoordinir. b. bersifat homogen. yaitu : 1) Kedudukan Dari kedudukan dapat memberikan kekuasaan kepada seseorang atau sekelompok orang karena yang bersangkutan menduduki posisi tadi. dan (4) Penggunaan kekuasaan secara rasional merupakan upaya untuk membentuk hasil dari peristiwa internasional untuk dapat mempertahankan atau menyempurnakan kepuasan aktor dalam lingkungan politik internasional. seperti halnya citra. tidak ada batasnya. yang mana dengan kekuasaan suatu kelompok dapat melakukan apa saja yang diinginkan dan dapat mempengaruhi perbuatanperbuatan kelompok lain agar taat dan patuh terhadap pemegang kekuasaan. sama halnya besarnya penduduk suatu bangsa yang mempunyai arti penting bagi kekuasaan. Lebih lanjut Walter S. 25 . dan dapat dipersoalkan keabsahannya. Menurutnya kekuasaan dalam konsep pemikiran Barat adalah abstrak. Yang paling penting adalah citra diri bangsa. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kekuasaan sangat penting kedudukannya dalam masyarakat. mengembangkan. dan harapan penduduk.menancapkan pengaruh atas aktor-aktor lainnya yang bersaing menggapai hasil yang paling sesuai dengan tujuan masing-masing. Cara memperoleh kekuasaan Menurut Haryanto (2005 : 22) kekuasaan dapat diperoleh dengan beberapa cara. menyiagakan kekuasaan negara yang paling penting adalah kapasitas industri dan kesiagaan. dalam hal ini sumber daya alam yang penting adalah sumber daya alam geografi. Semakin tinggi kedudukan maka akan semakin besar pula kekuasaan yang berada pada genggaman orang yang menduduki posisi tersebut. jumlahnya terbatas atau tetap dan tidak mempersoalkan keabsahan. yaitu konsep pemikiran barat dan konsep pemikiran Jawa. Menurut Benedict Anderson (1972 : 48) kekuasaan dapat dibedakan menjadi dua. sikap. Sedangkan kekuasaan menurut konsep Jawa adalah konkrit.

Kekuasaan yang bersumber dari kepercayaan hanya muncul di masyarakat di mana anggota-anggotanya mempunyai kepercayaan yang dimiliki pemegang kekuasaan. maka akan semakin besar pula kekuatan pemilik sumber-sumber ekonomi untuk memaksakan keinginannya kepada pihak-pihak lain. Menurut Miriam Budiardjo (1982 : 36) kekuasaan bisa diperoleh dari kekerasan fisik (misalnya. c. sekelompok orang atau suatu negara terhadap terhadap pihak lain. seorang Polisi dapat memaksa penjahat untuk mengakui kejahatannya karena dari segi persenjataan polisi lebih kuat). dan sekaligus juga merupakan masyarakat dengan tingkat kesejahteraan yang tidak merata. seorang komandan terhadap bawahannya. Semakin besar kepemilikan terhadap sumber-sumber ekonomi. Untuk itu. seseorang atau sekelompok orang dapat sedikit banyak memaksakan keinginannya kepada pihak-pihak lain agar bersedia mengikuti kehendaknya. dapat membuat penguasa tersebut berupaya untuk mencapai apa yang menjadi keinginan dan tujuannya.2) Dari kekayaan Atas dasar kekayaan yang dimilikinya. pada kedudukan (misalnya. Dalam realitas kehidupan. pada kekayaan (misalnya seorang pengusaha kaya dapat mempengaruhi seorang politikus melalui kekayaannya). apalagi kalau sumber-sumber ekonomi itu merupakan sumber yang langka dan merupakan kebutuhan primer. seorang atasan dapat memecat pegawainya). kekuasaan yang bersumberkan pada kekayaan akan lebih terasa besar pengaruhnya apabila berlangsung di masyarakat yang relatif kurang sejahtera. atau pada kepercayaan (misalnya. seorang pendeta terhadap umatnya). 3) Dari kepercayaan Seseorang atau sekelompok orang dapat memiliki kekuasaan karena yang bersangkutan memang dipercaya untuk memilikinya atas dasar kepercayaan yang dianut masyarakat. Kekayaan yang digunakan untuk memperoleh kekuasaan biasanya dikaitkan dengan pemilikan sumber-sumber ekonomi. Cara mempertahankan kekuasaan Kekuasaan yang dimiliki oleh seseorang. penguasa .

tetapi juga menyangkut pengendalian orang lain dengan tujuan untuk mempengaruhi tindakan dan aktivitas penguasa di bidang administratif. maka kekuasaan masih tetap ada. Penguasa atau kelompok yang berkuasa harus mempertahankan hubungan secara moralitas dan sifat-sifat kebaikan. antara lain dengan penindasan dan memerangi pihak yang menentang kekuasaannya. 27 . Di antara banyak bentuk kekuasaan. penguasa mencari dukungan warga masyarakat secara konseptual dan memperbesar kepercayaan warga terhadap penguasa. Selama sifat-sifat seperti itu ada. warga digiring untuk patuh pada penguasa. penguasa harus meluaskan pengaruhnya untuk meningkatkan kepercayaan dan ketaatan dari masyarakat atau warga di mana penguasa itu berkuasa. ada kecenderungan penguasa untuk masuk terlalu jauh dalam mengatur kehidupan dan kepercayaan serta pribadi warganya sesuai dengan keinginan penguasa. Dalam masyarakat yang demokrasis. Cara untuk mempertahankan kekuasaan dapat dilakukan dengan cara damai. atau dengan kekerasan. Sedang dalam masyarakat yang tidak demokratis. yang dilaluinya mulai dari kelahirannya sampai kehancurannya. Kekuasaan politik tidak hanya mencakup kekuasaan untuk mendapat ketaatan warga masyarakat. Dengan paksaan. karena dengan kekuasaan politik. Di masyarakat yang tidak demokratis. kekuasaan politik merupakan hal yang paling penting untuk dipertahankan. legislatif dan yudikatif (Miriam Budiardjo. Macluer dalam Miriam Budiardjo (1982 : 36) bahwa untuk mempertahankan kekuasaan. Dinyatakan Robert M. Menurut Haryanto (2005 : 57) tindakan penguasa untuk mempertahankan kekuasaannya berbeda-beda. Ibnu Khaldun dalam Rahman Zainudin (1992 : 125) menjelaskan kekuasaan itu mempunyai dinamika dan prosesnya sendiri. Sifat-sifat terpuji itulah yang menunjukkan adanya kekuasaan.berkeinginan mempertahankan kekuasaannya. penguasa mempertahankan kekuasaannya dengan paksaan. penguasa dapat mempengaruhi kebijakan umum (pemerintah) baik terbentuknya maupun akibat-akibatnya sesuai dengan tujuan-tujuan pemegang kekuasaan.1982 : 37). antara lain dengan demokrasi dan mencari dukungan pihak lain.

Kerangka Berpikir 0100090000032a0200000200a20100000000a201000026060f003a03574d46430100 000000000100ca140000000001000000180300000000000018030000010000006c0 0000000000000000000001a000000370000000000000000000000313700004f2500 . 2001 : 318) B. ingin lebih tinggi dari pihak lain dan menginginkan ketaatan pihak lain. antara lain karena peperangan yang melibatkan dua negara atau lebih. Selanjutnya Ibnu Khaldun menambahkan cirri sebuah kekuasaan yang mendekati kehancuran yaitu krisis ekonomi dan krisis moral. tidak mempunyai kekuatan legitimasi.Jadi dari uraian di atas dapat disimpulkan. Sehingga tinggal menantikan kehancurannya. 2) Kekuasaan yang mempunyai tata cara dan kebiasaan hidup dalam kemegahan. Hancurnya kekuasaan tidak hanya disebabkan oleh faktor internal dalam kekuasaan itu sendiri. dimana pemusatan kekuasaan dan kemegahan berada pada seorang atau sekelompok penguasa. konflik dan perang saudara. Faktor Runtuhnya Kekuasaan Dalam pemikiran Ibnu Khaldun yang dikutip A. yaitu : 1) Kekuasaan yang sentralistik. bahwa meskipun dalam mempertahankan kekuasaan ada berbagai macam cara. tetapi ada beberapa persamaannya yaitu pihak satu ingin selalu memerintah pihak lain. 3) Kekuasaan yang memiliki pertahanan lemah. akan tetapi bias dari factor eksternal. d. Rahman Zainuddin (1992 : 233) ada beberapa tahapan proses jatuhnya kekuasaan. kudeta (penggulingan kekuasaan) baik oleh militer maupun sipil dan aksi-aksi demonstrasi yang memungkinkan pergantian kekuasaan (Mukhammad Najib.

Keterangan: 29 .

Pemerintah belanda mampu bertahan dan menjaga eksistensinya dalam mencampuri pemerintahan kasunanan. Perubahan tersebut mengakibatkan munculnya beberapa pengadilan di wilayah Kasunanan termasuk adanya pengadilan pradata. Bidang-bidang hukum di Kasunanan Surakarta mengalami perubahan pada masa reorganisasi di bawah pemerintahan Belanda. ditambah lagi. Hal tersebut terlihat pada perubahan sistem pengadilan tradisional seiring dengan reorganisasi yang dilakukan pemerintah Belanda. termasuk dalam bidang peradilan. Kondisi pemerintahan pada saat itu kurang mendukung untuk memperbaiki pemerintahan sebagai akibat dari pemberontakan yang terjadi di Kasunanan. Pada tahun 1903. Namun. pemerintah belanda berhasil masuk ke kasunanan dan mencampuri urusan pemerintahan kasunanan. Sejak pemerintahan paku buwana II-VI tidak ada perubahan dalam pemerintahan. Pada masa pemerintahan paku buwana X. yang ada hanyalah perubahan pada bidang birokrasi akibat kebijakan etis. Paku buwana VIII hanya meneruskan pemerintah sebelumnya tanpa melakukan perubahan yang berarti. meskipun masih sederhana. Tidak adanya perubahan peradilan yang signifikan tersebut dikarenakan singkatnya masa pemerintahan Sunan sehingga belum sempat memikirkan perbaikan dalam pemerintahan. Pada masa Paku Buwana IX ini tidak ada pembaharuan pada bidang hukum. Keratin berfungsi sebagai tempat untuk mendapatkan keadilan bagi rakyat kasunanan. khususnya perbaikan sistem peradilan. pakubuwana X terpaksa menandatangani perjanjian penyerahan pengadilan kepada pemerintah Belanda. terjadi sebuah pengakuan bahwa pengadilan diambil oleh pemerintah Belanda atas desakan residen meskipun hubungan diantara keduanya mengalami ketegangan. Hal tersebut sangat merugikan kasunanan karena belanda dapat membuat peraturan-peraturan baru untuk kepentingannya. kasunanan harus tunduk terhadap peraturan belanda di wilayah .Keraton kasunanan sudah menerapkan system peradilan sejak pemerintahan paku buwana II. Pada masa Paku Buwana VII ( 1830-1858) baru terjadi sebuah perubahan yang cukup signifikan dalam pemerintahan. dalam perkembangannya. Pemerintah kasunanan tidak dapat berbuat banyak karena pemerintah belanda terlalu kuat untuk disingkirkan.

c. Adapun sumber.sumber tersebut diperoleh di perpustakaan: a. b. BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Perpustakaan Pusat Universitas Sebelas Maret Surakarta. Perpustakaan Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas 31 . Perpustakaan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta. Tempat Penelitian Penelitian berjudul ”Pengambilalihan Pradata Dalem 1903 (Studi Tentang Pengambilalihan Sistem Peradilan di Kasunanan)”. Peneliti dalam pengumpulan data dari sumber primer dan sekunder. Tempat dan Waktu Penelitian 1.yang secara teritorial menjadi wilayah kekuasaanya.

dan . d. Perpustakaan Universitas Gajah Mada Yogyakarta. 2. maka metode menyangkut masalah cara kerja. 1977: 16). e. Hadari Nawawi (1998: 78-79) mengemukakan bahwa metode penelitian sejarah adalah prosedur pemecahan masalah dengan menggunakan data masa lalu atau peninggalan-peninggalan baik untuk memahami kejadian atau suatu keadaan yang berlangsung pada masa lalu dan terlepas dari keadaan masa sekarang. Mengingat peristiwa yang menjadi pokok penelitian adalah peristiwa masa lampau. h. menilai secara kritis. Sehubungan dengan karya ilmiah. Garraghan yang dikutip Dudung Abdurrahman (1999: 43) mengemukakan bahwa metode penelitian sejarah adalah seperangkat aturan dan prinsip sistematis untuk mengumpulkan sumber-sumber sejarah secara efektif. Radya Pustaka Surakarta. Rekso Pustoko Mangkunegaran Surakarta. Kata metode berasal dari bahasa Yunani. maka metode yang digunakan adalah metode sejarah. Penelitian ini merupakan penelitian yang berusaha merekonstruksikan Pengambilalihan Pradata Dalem 1903 (Studi Tentang Pengambilalihan Sistem Peradilan di Kasunanan). peranan metode ilmiah sangat penting karena keberhasilan tujuan yang akan dicapai tergantung dari penggunaan metode yang tepat. Perpustakaan Keraton Kasunanan Surakarta. yaitu cara kerja untuk memahami obyek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan (Koentjaraningrat. Perpustakaan Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta. Perpustakaan Monumen Pers Surakarta. B. Waktu Penelitian Waktu penelitian yang digunakan adalah mulai dari disetujuinya judul skripsi pada bulan Januari 2011 dan direncanakan sampai bulan Januari 2012. Gilbert J. i. f. g.Sebelas Maret Surakarta. methodos yang berarti cara atau jalan. Metode penelitian Dalam suatu penelitian.

Menurut Dudung Abdurrachman (1999: 30) data sejarah merupakan bahan sejarah yang memerlukan pengolahan. yang dimaksud metode sejarah adalah proses menguji dan mengkaji kebenaran rekaman dan peninggalan-peninggalan masa lampau dengan menganalisis secara kritis bukti-bukti dan data-data yang ada sehingga menjadi penyajian dan ceritera sejarah yang dapat dipercaya. yaitu: Segala sesuatu yang langsung atau tidak langsung menceritakan kepada kita tentang sesuatu kenyataan atau kegiatan manusia pada masa lalu (past actuality). Menurut Helius Syamsuddin dan Ismaun (1996: 61) sumber sejarah ialah bahan-bahan yang dapat digunakan untuk mengumpulkan informasi tentang peristiwa yang terjadi pada masa lampau. Sumber sejarah merupakan bahan-bahan mentah (raw materials) sejarah yang mencakup segala macam evidensi (bukti) yang telah 33 . maka dapat disimpulkan bahwa metode penelitian sejarah adalah kegiatan pemecahan masalah dengan mengumpulkan sumber-sumber sejarah yang relevan dengan permasalahan yang akan dikaji untuk memahami kejadian pada masa lalu kemudian menguji dan menganalisa secara kritis dan mengajukan sintesis dari hasil yang dicapai dalam bentuk tertulis dari sumber sejarah tersebut untuk dijadikan suatu cerita sejarah yang obyektif.mengajukan sintesis dari hasil-hasil yang dicapai dalam bentuk tertulis. C. Menurut Helius Syamsuddin dan Ismaun (1996: 61). Sumber Data Sumber data sering disebut juga data sejarah. dan pengkategorian. Dari beberapa pendapat di atas. serta usaha sintesis atas data semacam itu menjadi kisah sejarah yang dapat dipercaya. penyeleksian. Menurut Kuntowijoyo (1995: 94) perkataan ”data” merupakan bentuk jamak dari kata tunggal datum (bahasa latin) yang berarti pemberitaan. Helius Syamsuddin ( 1996: 73) mengemukakan tentang pengertian sumber sejarah. Menurut Louis Gottschalk yang dikutip Dudung Abdurrahman (1999: 44) menjelaskan metode sejarah sebagai proses menguji dan menganalisis kesaksian sejarah guna menemukan data yang otentik dan dapat dipercaya. menarik dan dapat dipercaya.

ditinggalkan oleh manusia yang menunjukkan segala aktivitas mereka di masa lalu yang berupa kata-kata yang tertulis atau kata-kata yang diucapkan (lisan). Serat angger nawala pradata. Sumadi Suryabrata (1997: 17) berpendapat bahwa penelitian historis tergantung kepada dua macam data. Puspaningrat. Teknik Pengumpulan Data 1.P. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sumber data primer dan sumber data sekunder. Mengenal Sri Susuhunan Pakoe Boewono X Karaton Surakarta karya K. angger sadasa. Sumber sejarah dapat dibedakan menjadi sumber primer dan sumber sekunder. Konsep Kekuasaan Jawa karangan G.C. Moedjanto. Data primer diperoleh dari sumber primer. Yogyakarta di Bawah Sultan Mangkubumi karya M. kraton surakarta dan yogyakarta 179-1874 karya S. Data sekunder diperoleh dari sumber sekunder. sumber primer dipandang memiliki otoritas sebagai bukti tangan pertama dan diberi prioritas dalam pengumpulan data. Studi Pustaka . Ricklefs. stasblaad van Nederlandsch indie tahun 1847. undang-undang pranata perjanjian nagari surakarta. yaitu peneliti secara langsung melakukan observasi atau penyaksian yang dituliskan pada waktu peristiwa terjadi. angger gunung. 1999: 56). S.H. majalah (Dudung Abdurrahman. Rijksblaad Soerakarta tahun 1903. yaitu penulis melaporkan hasil observasi orang lain yang satu kali atau lebih lepas dari aslinya.C. artikel. Dikatakan sebagai sumber sekunder karena tidak disampaikan langsung oleh saksi mata dan bentuknya dapat berupa bukubuku. D. Ricklefs. merajut nusantara: paku buwana x dalam gerakan islam dan kebangsaan karya Hermanu Joebagio. Babad Sala. babad. yaitu data primer dan sekunder. Sumber data primer tersebut diantaranya dokumen. serat dan arsip yang meliputi: kitab-kitab hukum dalam perkaraperkara pengadilan pradata seperti. Diantara kedua sumber tersebut. Margana. Sumber primer dalam penelitian sejarah adalah sumber yang disampaikan langsung oleh saksi mata. Sumber data sekunder yang digunakan seperti buku yang berjudul kehidupan dunia keraton surakarta 1830-1939 karya Darsiti Soeratman. sejarah indonesia modern 1200-2008 karya M. koran.

Rekso Pustoko Mangkunegaran Surakarta. Perpustakaan Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta.Dalam penelitian ini. dokumen atau arsip. 35 . surat kabar atau brosur yang tersimpan di dalam perpustakaan (Koentjaraningrat. Perpustakaan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta. majalah. dokumen dan surat kabar (Kartini Kartono. Teknik pengumpulan data studi pustaka adalah suatu penelitian yang berjuang untuk mengumpulkan data dan informasi dengan menggunakan bermacam. Radya Pustaka Surakarta . 1990: 67). Perpustakaan Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Tujuannya sebagai pemahaman secara menyeluruh tentang topik permasalahan. majalah. Kegiatan studi pustaka ini dilakukan dengan sistem kartu atau menggunakan katalog dengan cara mencatat beberapa sumber tertentu mengenai masalah dengan mencantumkan keterangan mengenai identitas sumber (Louis Gottschalk. Perpustakaan Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Sebelas Maret Surakarta. Perpustakaan Keraton Kasunanan Surakarta. Kegiatan pengumpulan data dalam penelitian ini dilaksanakan sebagai berikut: 1) Pencarian dan pengumpulan sumber-sumber data yang dibutuhkan baik itu sumber primer maupun sumber sekunder yang berkaitan dengan masalah sistem peradilan Keraton Kasunanan Surakarta. Perpustakaan Monumen Pers Surakarta.sumber sejarah yang berhubungan dengan masalah yang diteliti yaitu mengadakan studi referensi yang ada di Perpustakaan Pusat Universitas Sebelas Maret Surakarta. Peneliti berusaha mengumpulkan sumber. Teknik studi pustaka adalah suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh data atau fakta sejarah. 2) Membaca dan mencatat sumber primer yang berisikan mengenai Sistem Peradilan Keraton Kasunanan Surakarta. teknik pengumpulan data ditempuh dengan studi kepustakaan. dengan cara membaca buku-buku literatur. 1986: 31). Studi pustaka penting sebagai proses bahan penelitian.macam materi yang terdapat dalam buku. 1985: 47).

Teknik Analisis Data Dalam penelitian ini. Data yang telah diperoleh diinterpretasikan. analisis sejarah bertujuan melakukan sintesis atas sejumlah fakta yang diperoleh dari sumber-sumber sejarah dan bersama-sama dengan teori-teori disusunlah fakta itu ke dalam suatu interpretasi yang menyeluruh. Menurut Helius Syamsuddin (1996: 89) teknik analisis data historis adalah analisis data sejarah yang menggunakan kritik sumber sebagai metode untuk menilai sumber-sumber yang digunakan dalam penulisan sejarah. Analisis dan sintesis. Analisis data merupakan langkah yang penting dimulai dari melakukan kegiatan mengumpulkan data kemudian melakukan kritik ekstern dan intern untuk mencari otensitas dan kredibilitas sumber yang didapatkan. Selain itu. Dari langkah ini dapat diketahui sumber yang benar-benar dibutuhkan dan relevan dengan materi penelitian. interpretasi atau penafsiran sejarah seringkali disebut dengan juga analisis sejarah. membandingkan data dari sumber sejarah tersebut dengan bantuan seperangkat kerangka teori dan metode penelitian sejarah. Menurut Berkhofer yang dikutip oleh Dudung Abdurrahman (1999: 64). E. Analisis sendiri berarti menguraikan. teknik analisis data yang dipergunakan adalah teknik analisis historis. Menurut Sartono Kartodirdjo (1992: 2) mengatakan bahwa analisis sejarah ialah menyediakan suatu kerangka pemikiran atau kerangka referensi yang mencakup berbagai konsep dan teori yang akan dipakai dalam membuat analisis itu. dianalisis isinya dan analisis data harus berpijak pada kerangka teori yang dipakai sehingga menghasilkan fakta-fakta yang relevan dengan penelitian. kemudian . dipandang sebagai metode-metode utama dalam interpretasi. Menurut Kuntowijoyo yang dikutip oleh Dudung Abdurrahman (1999: 64). majalah. yang dilakukan di perpustakaan yang dianggap penting dan relevan dengan masalah yang diteliti. artikel. dan secara terminologis berbeda dengan sintesis yang berarti menyatukan.3) Penggalian terhadap bahan-bahan pustaka lainnya seperti buku.

Dalam pengertian yang lain. Prosedur penelitian tersebut dapat digambarkan sebagai berikut: Keterangan : 1. heuristik. Sumber tertulis primer berupa dokumen. heuristik adalah kegiatan menghimpun jejak-jejak masa lampau dengan cara mengumpulkan bahan-bahan tertulis. 37 . interpretasi. stasblaad van Nederlandsch indie tahun 1847. Agar memiliki makna yang jelas dan dapat dipahami. Dalam penelitian ini digunakan sumber data tertulis. Rijksblaad Soerakarta tahun 1903. fakta tersebut ditafsirkan dengan cara merangkaikan fakta menjadi karya yang menyeluruh dan masuk akal. F. tercetak dan sumber lain yang relevan dengan penelitian. serat dan arsip yang meliputi: kitab-kitab hukum dalam perkaraperkara pengadilan pradata seperti. Serat angger nawala pradata. dan historiografi. angger gunung. Pada tahap ini diusahakan mencari dan menemukan sumber-sumber tertulis berupa buku-buku yang relevan dan surat kabar. Empat tahap yang harus dipenuhi dalam melakukan penelitian yaitu. kritik. Prosedur Penelitian Prosedur penelitian adalah langkah-langkah penelitian dari awal yaitu persiapan memmbuat proposal sampai pada penulisan hasil penelitian. Heuristik Heuristik berasal dari kata Yunani heurishein yang artinya memperoleh. undang-undang pranata perjanjian nagari surakarta. babad. angger sadasa. baik primer maupun sekunder.Heuristik Jejak / Peristiwa Sejarah Fakta Sejarah Kritik Interpretasi Historiografi menjadi fakta sejarah. Babad Sala.

Konsep Kekuasaan Jawa karangan G. Perpustakaan Monumen Pers Surakarta. Menurut Dudung Abdurrahman (1999: 58).C. kritik ekstern yaitu menguji suatu keabsahan tentang keaslian sumber (otentisitas) sedangkan kritik intern menguji keabsahan tentang kesahihan sumber (kredibilitas). sejarah indonesia modern 1200-2008 karya M. Kritik ekstern dalam penelitian ini dilakukan dengan cara melihat kapan sumber itu . Pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka dengan mengunjungi beberapa perpustakaan diantaranya Perpustakaan Pusat Universitas Sebelas Maret Surakarta. Margana.Sumber data sekunder yang digunakan seperti buku yang berjudul Kehidupan Dunia Keraton Surakarta 1830-1939 karya Darsiti Soeratman. Yogyakarta di Bawah Sultan Mangkubumi karya M. Kritik ekstern dilakukan terhadap sumber yang diperoleh berdasarkan bentuk fisik atau luarnya berupa bahan (kertas atau tinta) yang digunakan dan segi penampilan yang lain.C. Rekso Pustoko Mangkunegaran Surakarta. Perpustakaan Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta. Moedjanto. Perpustakaan Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Sebelas Maret Surakarta. Mengenal Sri Susuhunan Pakoe Boewono X Karaton Surakarta karya K. Puspaningrat. apakah sumber yang dikehendaki asli atau tidak. Merajut Nusantara: Paku Buwana X dalam Gerakan Islam Dan Kebangsaan karya Hermanu Joebagio.H. Ricklefs. Kraton Surakarta dan Yogyakarta 179-1874 karya S. Perpustakaan Keraton Kasunanan Surakarta. Pada tahap ini kritik sumber dilakukan dengan dua cara yaitu kritik ekstern dan kritik intern. Radya Pustaka Surakarta . Perpustakaan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta. Perpustakaan Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Kritik Kritik yaitu kegiatan untuk menyelidiki apakah sumber-sumber sejarah itu sejati atau otentik dan dapat dipercaya atau tidak. Ricklefs.P. 2. S. Kritik ekstern adalah kritik terhadap autentisitas sumber. utuh atau turunan (salinan).

sehingga terbentuk rangkaian yang selaras dan logis. Hal tersebut dilaksanakan agar dapat mengetahui bagaimana isi sumber sejarah dan relevansinya dengan masalah yang dikaji. fakta dan cerita dari suatu sumber sejarah dapat dipercaya dan dapat memberikan informasi yang diperlukan. Margana yang berjudul Kraton Surakarta dan Yogyakarta 179-1874. membaca buku karangan R. di mana sumber itu dibuat. siapa pengarangnya dan bagaimana latar belakang pendidikan pengarang. S.H.M. dan ide yang digunakan penulis. buku tersebut di buat tahun 1989 dari sebuah suntingan disertasi yang telah dipertahankan di depan senat Universitas Gadjah Mada yang kemudian dipadukan dengan bahan-bahan lain sebelum penyusunan buku diselesaikan oleh Darsiti Soeratman yang merupakan seorang lulusan dari Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gajah Mada. sumber data. kemudian dilakukan perbandingan antara fakta yang satu dengan fakta yang lain. Kritik intern sumber data tertulis dalam penelitian ini dilakukan dengan mengidentifikasi gaya. K.dibuat. G. tata bahasa. Misalnya dengan membaca buku karangan Hermanu Joebagio yang berjudul Merajut Nusantara: Paku Buwana X dalam Gerakan Islam Dan Kebangsaan. Kritik ini bertujuan untuk menguji apakah isi. dan permasalahannya kemudian dibandingkan dengan sumber data lainnya. S. Said yang berjudul ” Babad Sala”. Moedjanto yang berjudul Konsep Kekuasaan Jawa. Interpretasi Menurut Nugroho Notosusanto (1978 : 40). Kritik intern dilakukan dengan membandingkan antara isi sumber yang satu dengan isi sumber yang lain sehingga data yang diperoleh dapat dipercaya dan dapat memberikan sumber yang dibutuhkan.P. interpretasi adalah suatu usaha menafsirkan dan menetapkan makna serta hubungan dari fakta-fakta yang ada. 3. Puspaningrat yang berjudul Mengenal Sri Susuhunan Pakoe Boewono X Karaton Surakarta. Menurut Berkhofer yang dikutip oleh Dudung Abdurrahman (1999 : 64) bertujuan untuk melakukan sintesis 39 . Sebagai contoh kritik ekstern terhadap buku “Kehidupan Dunia Keraton Surakarta 1830-1939” karya Darsiti Soeratman. Yogyakarta.

merangkaikan data secara berkesinambungan. misalnya dengan merangkaikan periode sejarah dan menghubungkan sumber data sejarah yang ada pada tulisan Darsiti Soeratman dengan tulisan Hermanu Joebagio maupun tulisan R.M. diberi makna dan ditemukan arti yang sebenarnya. . sehingga dapat dikatakan sebagai suatu bentuk analisa. sehingga dapat dipahami makna sesuai dengan pemikiran yang relevan. 4. Dalam kegiatan interpretasi ini penelitian yang dilakukan berusaha bersikap obyektif yang disebabkan keanekaragaman data yang diperoleh. dikritik. Dari kegiatan kritik sumber dan interpretasi tersebut dihasilkan fakta sejarah.atas sejumlah fakta yang diperoleh dari sumber-sumber sejarah dan bersama-sama dengan teori-teori disusunlah fakta itu ke dalam suatu interpretasi yang menyeluruh. sehingga menjadi kesatuan yang harmonis dan masuk akal melalui interpretasi. Historiografi dalam penelitian diwujudkan dalam bentuk karya ilmiah berupa skripsi yang berjudul “Pengambilalihan Pradata Dalem 1903 (Studi Tentang Pengambilalihan Sistem Peradilan di Kasunanan)”. logis dan berdasarkan obyek penelitian yang dikaji. dan diinterpretasi. Historiografi Historigrafi merupakan langkah terakhir dari metode sejarah untuk menyampaikan fakta sejarah dalam bentuk penulisan sejarah berdasarkan bukti berupa sumber-sumber data sejarah yang dikumpulkan. Fakta-fakta yang didapat kemudian ditafsirkan. Said. Dalam penelitian ini dilakukan kegiatan menyeleksi dan menafsirkan tulisan buku dengan penentuan periodisasi.

F. 1990. Anderson. Jakarta: Sinar Harapan. Rubin. Kamus Antropologi. Tiara Wacana. Ariyono Suyono. Kehidupan Dunia Keraton Surakarta 1830-1839. Simbolisme Jawa. 1985.2007.DAFTAR PUSTAKA Ageng Pangestu Rama. Kebudayaan Jawa: Ragam Kehidupan Keraton dan Masyarakat di Jawa 1222-1998. 1989. Benedict. 2004. Yogyakarta : Taman Siswa _______________. Yogyakarta: Ombak Darsiti Soeratman. Charles. Kehidupan Politik dan Perubahan Sosial. Teori Konflik Sosial. Yogyakarta : Pt. 1972. Dean G. Yogyakarta : 41 . Gagasan Tentang Kekuasaan di dalam Kebudayaan Jawa. Yogyakarta: Disertasi Pasca Sarjana UGM. Yogyakarta: Cahaya Ningrat. Budiono Herusatoto. 1992. Kehidupan Dunia Keraton Surakarta 1830-1939. 2008. Pruit dan Jeffrey Z. Andrain. Jakarta : CV Rajawali.

1990.S. 1987. 1989. Metode Penelitian Sejarah. _____________ . Kansil. Yogyakarta: UGM Press. Konsep Kekuasaan Jawa: Penerapannya Oleh RajaRaja Mataram. Jakarta: Yayasan Penerbit Universitas Indonesia Graf. 1995. dan Pembangunan. Jakarta: Rineka Cipta . Metode-Metode Penelitian Masyarakat. C. 1986.Pustaka Pelajar. _____________. ______________. 1986. Sosiologi Sistematik. Keraton dan kompeni surakarta dan yogyakarta. politik ekspansi sultan agung. Yogyakarta: Kanisius Geertz. Pengantar Metodologi Research Sosial.J. Houben.O. Jakarta : Rajawali _____________. Yogyakarta : Ombak Helius Syamsuddin & Ismaun. Logika Hubungan Internasional 2. 1993. Kebudayaan. Pemimpin dan Kepemimpinan. Mengerti Sejarah. S. Bandung : Alumni Gramedia. Metode-Metode Penelitian Sejarah. Politik Kebudayaan. Louis. Jakarta: Logos Wacana Ilmu G. 1997. Clifford.H. Yogyakarta: bentang budaya Jones. Walter. Mentalitas. Pengantar Antropologi Pokok-pokok Etnografi II. 1985. Jakarta: PT. Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan. Vincent J.T. Jakarta: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan RI Dudung Abdurrahman. Hadari Nawawi. D. Metodologi Sejarah. _____________. Pemimpin dan Kepemimpinan. Yogyakarta : Kanisius. 1983. 1988. Jakarta : Grafiti Pers. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Hendropuspito. 1977. 1996. Bandung Koentjaraningrat. 1999. 1999. Jakarta : CV Rajawali. Pengantar Ilmu Sejarah. 1986. Jakarta: Erlangga Gramedia.2004. Helius Sjamsuddin. 2002. Jakarta: balai pustaka Kartini Kartono. 1990. Pengantar Ilmu Hukum dan tata hukum indonesia. 1992. de H. Yogyakarta : Kanisius Gottschalk. Puncak kekuasaan mataram. Gramedia Pustaka . Jakarta : Ghalia Indonesia. 2007. Jakarta : Pustaka Utama. Sejarah kerajaan tradisonal Surakarta. Moedjanto . Pengantar Metodologi Riset Sosial. Metode Penelitian Bidang Sosial.C.

Sejarah Indonesia Modern. Jakarta: PT. gramedia pustaka utama. 1982. 1990.S. 2008. Nugroho Notosusanto. Surakarta: Rekso Pustoko Mangkunegaran. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Aneka Pemikiran Tentang Kuasa dan Wibawa. 2000.M. 1972. Sejarah Indonesia Modern. Nusa Jawa Silang Budaya Jilid 3. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press _____________. 1984. Jakarta : Gramedia Maswadi Rauf. W. Jakarta: Djambatan Kuntowijoyo. 1989. 1995. Terjemahan RT. Nasikun. Dari Emporium Sampai Imperium Jilid 1. 1987. Serambi Ilmu Semesta R. 1990. Ann. Sejarah Indonesia Modern 1200-2008. Konsensus dan Konflik Politik : Sebuah Penjajakan Teoritis. Sejarah Perjuangan R. Pengantar Sejarah Indonesia Baru 1500-1900. 1984. George D. Abraham Kaplan. Ricklefs.J. Yogyakarta : UGM Press Laswell. Yogyakarta di bawah Sultan Mangkubumi 1749-1792. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press _____________. 1992. Said (KGPAA Mangkunegara).M. Sosiologi Politik. Jakarta : Diktorat Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. Solo : Rekso Pustaka Mangkunegaran. 1980. Denys. 43 . Miriam Budiardjo.2002. Larson. Sastradihardja. Jakarta : Sinar Harapan. Manusia dan kebudayaan di Indonesia. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia. Pejuang dan Prajurit: Konsepsi dan Implementasi Dwifungsi ABRI. Kumar. Dasar-Dasar Ilmu Politik. M Husodo Pringgokusumo. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Sartono Kartodirdjo. Mochtar Mas’oed. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta : Balai Pustaka. 1985. Harold. Yogyakarta : PAU-Studi Sosial UGM. 1974. Jakarta: Sinar Harapan Poerwodarminto. Masyarakat Istana Jawa dan Politik Dalam Akhir Abad 18: Catatan Prajurit Wanita. Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Metodologi Sejarah. H C. ________________. 1985. 1986. ______________. Javanese Court Society and Politics In The Late Eighteenth Century: The record of a Lady Soldier. dalam Miriam Budiarjo. D. 1992. Jakarta: pt. Masa Menjelang Revolusi Kraton Dan Kehidupan Politik di Surakarta 1912-1942. Pengantar Ilmu Sejarah. 2001. Sejarah Pembagian Jawa. Said.______________. 2002. Babad Sala. Yogyakarta: Mata Bangsa _____________. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya. Lombard.

Raja Grafindo Persada. 1997. Dalam Lembaran Sejarah Vol I. Surakarta: Muhammadiyah University Press . Jakarta: Yayasan Obor Indonesia Soerjono Soekanto. H B. Etika Jawa. Sri Winarti. 2002. UGM Weber.S Soemarsaid Moertono. Sumadi Suryabrata. Max. 1984. 1999. Daulat Raja Menuju Daulat Rakyat. Demokratisasi Pemerintahan DI Yogyakarta. 1997. Jakarta : Inti Idayu Press Suseno. Pengantar Penelitian Kualitatif : Dasar-dasar Teoritis dan Praktis. Surakarta: FKIP UNS. Wahyu Purwiyastuti. Yogyakarta : fakultas sastra. Jakarta : Gramedia. Jakarta : Rajawali Pers Zainuddin Fananie. 2004. 2000. Negara dan Usaha Bina Negara di Jawa Masa Lampau: Studi Tentang Masa Mataram II Abad XVI Sampai XIX. Pandangan Dunia KGPAA Hamengkoenagoro I Dalam Babad Tutur: Sebuah Restrukturisasi Budaya Jawa. Sutopo. Sukarno. 1985. Jakarta: PT. Suratno. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Ilmu dan Perjuangan. Skripsi: Sistem Birokrasi Dan Feodalisme Di Kerajaan Mataram Islam. Surakarta : Pusat Penelitian UNS Tri Yuniyanto. Sekilas Sejarah Keraton Surakarta. Frans Magnis. Sosiologi Suatu Pengantar. 2010. Surakarta : Cendrawasih. Solo : Cakrabooks. Reorganisasi Peradilan Di Keraton Kasunanan Surakarta 1903.Surakarta: K. 1985. Konsep-Konsep Dasar dalam Sosiologis.1994. Metodologi Penelitian. 1998.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.