P. 1
Proposal Tesis Harviyaddin Mulsa & Nitrogen Melon 2011

Proposal Tesis Harviyaddin Mulsa & Nitrogen Melon 2011

|Views: 1,523|Likes:
Published by Jumard Bio Sbk

More info:

Published by: Jumard Bio Sbk on Jan 03, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/07/2013

pdf

text

original

Mulsa mempengaruhi sifat tanah baik langsung maupun tidak langsung

seperti air tanah; kontrol limpasan, peningkatan infiltrasi, mengurangi evaporasi,

dan pengendalian gulma, pengendalian suhu tanah; melindungi dari radiasi,

perangkap dan konduksi panas, dan nutrisi tanah; penambahan bahan organik,

nitrifikasi diferensial, dan kelarutan mineral; struktur tanah; sifat biologis tanah

melalui penambahan bahan organik, populasi mikroba dan fauna tanah, dan

distribusi akar tanaman; erodibilitas tanah, dan salinitas tanah melalui pencucian

13

hara dan kontrol evaporasi (Unger, 1995). Daerah pertanian kering dengan

dominasi tanah Ultisol seperti Sulawesi Tenggara peran mulsa yang penting

seperti air, suhu, struktur, kadar air, dan salinitas tanah dalam mendukung

pertumbuhan dan produksi tanaman yang optimal.

Efektivitas mulsa alang-alang telah banyak diteliti. Pemberian mulsa

alang-alang lebih baik dibandingkan mulsa seresah jagung dan kacang tanah

dalam mendukung pertumbuhan dan produksi tanaman cabai (Muhammad Nur,

2000). Mulsa alang-alang juga dilaporkan efektif mengendalikan gulma tanaman

jagung (Nanu, 2003). Mulsa alang-alang memberikan pengaruh signifikan

terhadap land equivalen ratio (LER) tumpang sari jagung dan kacang hijau

(Diatmika, 2005). Menurut Fatmawati (2011), mikroba dan populasi fauna tanah

mengalami peningkatan dengan aplikasi mulsa dibandingkan tanpa mulsa pada

pertanaman terong (Solanum melongena L.). Berdasarkan uraian tersebut diatas,

mulsa alang-alang dapat mendukung pertumbuhan dan produksi tanaman yang

optimal.

Pengarusutamaan teknologi dan mulsa dalam bidang pertanian mendorong

para pakar pertanian mulai mengembangkan penelitian mulsa anorganik. Tahun

1985 mulsa anorganik mulai diuji dan dikembangkan seperti mulsa plastik hitam,

plastik hitam perak, plastik bening, silver, dan mulsa warna lainnya (Decoteau,

2008). Mulsa sintesis seperti mulsa plastik hitam digunakan pada tanaman

ekonomi penting (Unger, 1995) seperti mengendalikan gulma strawberry (Johnson

dan Fennimore, 2005) meningkatkan refleksi photosyntentically actiev radiation

pada strawberry (Locascio et al., 2005), efisiensi pemanfaatan pupuk N bagi

14

semangka (Goreta et al., 2005), dan melon (Kosterna et al., 2011). Mulsa plastik

warna hitam berpengaruh pada pertumbuhan dan produksi serta mengendalikan

hama dan penyakit cabai (Aripin dan Lubis, 2000). Mulsa mempertahankan suhu

tanah dan melindungi kontak langsung buah dengan tanah.

Salman (2005) melaporkan bahwa mulsa plastik hitam memberikan

kelembaban tanah dan udara masing-masing 61,59 dan 51,68%, suhu tanah dan

udara masing-masing 28,79 dan 27,79˚

C, radiasi intersep, radiasi transmisi, dan

radiasi absorpsi masing-masing 363,40, 119,62, dan 308,89 Cal cm-2

hari-1

. Mulsa

alang-alang memberikan kelembaban tanah dan udara masing-masing 49,30 dan

66,77%, suhu tanah dan udara masing-masing 27,08 dan 26,34˚

C, radiasi intersep,

radiasi transmisi, dan radiasi absorpsi masing-masing 365,79, 117,27 dan 310,89

Cal cm-2

hari-1

. Mulsa plastik hitam menghasilkan kelembaban tanah, suhu tanah,

suhu udara, dan radiasi transmisi lebih tinggi dibandikan mulsa alang-alang.

Mulsa alang-alang menghasilkan kelembaban udara, radiasi intersep, dan absorpsi

lebih tinggi dari pada mulsa plastik hitam pada budidaya jagung.

Ekenci dan Dursun (2009) melaporkan bahwa mulsa plastik bening dan

mulsa plastik hitam meningkatkan suhu tanah masing-masing 5-8 dan 1-4˚

C

dibandingkan kontrol (tanpa mulsa) pada kedalaman 10 cm. Aplikasi mulsa

mempengaruhi pertumbuhan tanaman dibandingkan aplikasi tanpa mulsa seperti

diameter buah, panjang buah, bobot kering buah, total padatan terlarut, warna,

ketebalan kulit, ketebalan buah segar, tekstur buah, pH, dan gula total dari kultivar

diselidiki. Efek dari aplikasi mulsa yang signifikan tergantung pada kultivar.

Mulsa plastik bening dan mulsa plastik hitam meningkatkan rata-rata hasil panen

15

tahunan sekitar 25-28 dan 15% dibandingkan kontrol (tanpa mulsa). penelitian

tersebut pada tanaman melon var. Galia F1, Falez F1, Kırkağaç 589, Kırkağaç

637, dan Sempati F1 pada altitude 1.950 m dpl. Hasil yang sama juga dilaporkan

pada cabai (Iqbal et al., 2009; Kandari, 2006) bahwa mulsa plastik hitam lebih

baik dibandingkan mulsa plastik bening dalam mendukung pertumbuhan dan

produksi tanaman.

Krestiani (2009) melaporkan bahwa pemulsaan berpengaruh pada

pertumbuhan dan hasil tanaman melon var. Action 4304. Kombinasi perlakuan

pemulsaan plastik hitam perak dan letak duduk buah ke-11 memberikan hasil

buah tertinggi yaitu 2,22 kg dengan kadar gula 12,61 ˚brix. Perlakuan letak duduk

buah hanya berpengaruh pada hasil tetapi tidak berpengaruh pada komponen

pertumbuhan tanaman yang diamati.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa pengaruh mulsa

tergantung pada substansi bahan mulsa. Unger (1995) mengungkapkan bahwa

hasil panen relatif tinggi diperoleh dengan kertas plastik karena banyak air tanah

yang tersimpan, namun agak mahal dan terkadang sulit mengelola, akibatnya

penggunaan terbatas pada tanaman ekonomis untuk area terbatas. Peningkatan

produksi tanaman sebagai implikasi tidak langsung dari mulsa adalah

mengkonservasi sejumlah air untuk kebutuhan tanaman dalam menghasilkan

panen ekonomi penting. Pengaruh langsung adalah menekan evapotranspirasi dan

menegarkan tanaman tumbuh serta berproduksi optimal.

Cabello et al. (2009) melaporkan bahwa cekaman air moderat tidak

mengurangi hasil dan irigation water use eficiency (IWUE) tinggi diperoleh pada

16

tanaman melon var. Sancho. Cekaman air yang parah, mengurangi hasil sebesar

22% karena penurunan berat buah. Hasil terbaik diperoleh dengan ETC 100%

pada dosis N 93 kg ha-1

. Tekstur daging dan berat biji meningkat ketika tingkat

pengairan berkurang (Etc 60%). Nitrogen aplication eficiency (NAE) tertinggi

diperoleh dengan jumlah air hampir 100 ETC%. IWUE tertinggi diperoleh

dengan aplikasi N 90 kg ha-1

. Hasil ini menunjukkan untuk menerapkan pengairan

defisit sedang, sekitar Etc 90%, dan input N 90 kg ha-1

tanpa mengurangi

produksi. Berdasarkan hal tersebut konservasi air sangat penting dalam

meningkatkan efisiensi pemupukan N.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, mulsa yang digunakan dalam

penelitian ini adalah mulsa organik dan mulsa sintesis. Mulsa organik yang

digunakan adalah mulsa alang-alang. Alang-alang merupakan tumbuhan yang

dijumpai di Sulawesi Tenggara pada areal luas. Mulsa tersebut digunakan pada

tanaman pangan seperti tanaman buah seperti cabai dan terung yang mendukung

pertumbuhan dan produksi tanaman akan tetapi belum diuji efektivitasnya pada

buah-buahan seperti tanaman melon. Mulsa sintesis yang digunakan adalah mulsa

plastik hitam perak. Mulsa ini telah diuji pada tanaman buah seperti cabai akan

tetapi belum teruji pada tanaman buah seperti tanaman melon. Kedua bahan mulsa

tersebut merupakan mulsa yang relatif lebih baik dalam mendukung pertumbuhan

dan produksi tanaman.

17

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->