P. 1
Proposal Tesis Harviyaddin Mulsa & Nitrogen Melon 2011

Proposal Tesis Harviyaddin Mulsa & Nitrogen Melon 2011

|Views: 1,521|Likes:
Published by Jumard Bio Sbk

More info:

Published by: Jumard Bio Sbk on Jan 03, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/07/2013

pdf

text

original

Pemupukan merupakan upaya menambahkan hara tanah agar tanaman

dapat memperoleh hara makro dan hara mikro dengan baik. Pemupukan pada

melon dapat berupa bahan organik, bahan anorganik, dan kombinasi keduanya.

24

Pemupukan harus tepat dosis agar keseimbangan hara terjaga dan menghindari

kelebihan serta defisiensi hara tanaman sehingga dapat mendukung pertumbuhan

dan produksi tanaman yang optimal. Ketersediaan hara melalui pemupukan N

yang tepat dosis berdasarkan teknik budidaya melon.

Saido (2008) melaporkan bahwa pemberian kotoran ayam dosis 10.000 kg

ha-1

setara dengan 450 g tanaman-1

memberikan pengaruh terbaik terhadap bobot

dan diameter buah melon var. Orlondo 47 masing-masing 2,3 kg dan 25,69 cm.

Pemberian pupuk cap rusa dengan dosis 1.500 kg ha-1

memberikan nilai produksi

tertinggi sebesar 33,51 kg ha-1

berbeda signifikan dengan perlakuan lainnya.

Pemberian urea 225 kg ha-1

setara 10,10 g tanaman-1

, SP-36 sebanyak 325 kg ha-1

setara 14,60 g tanaman-1

, KCl 400 kg ha-1

setara 18,00 g tanaman-1

, kotoran ayam

5.000 kg ha-1

setara 225,00 g tanaman-1

memberikan hasil terendah sebesar 1,8 kg

buah-1

atau 26,46 kg ha-1

dan berbeda signifikan dengan perlakuan lainnya. Hasil

tersebut diperoleh pada jarak tanam 60x75 cm. Pemberian pupuk organik

memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap pertumbuhan dan produksi melon

dibandingkan pupuk organik. Hal ini sebabkan karena pupuk organik

mengandung hara makro dan hara mikro sedangkan pupuk anorganik tersebut di

atas hanya mengandung hara makro.

Jaya (2009) mengungkapkan bahwa perlakuan berbagai jenis pupuk

bokashi berpengaruh sangat signifikan terhadap tinggi tanaman diameter batang,

jumlah daun umur 14, 28, dan 42 hst, berat buah, serta diameter buah melon var,

Sakata 144. Perlakuan pupuk bokashi krinyu

memberikan pertumbuhan dan

produksi tanaman melon yang sangat baik dari jenis bokashi lainnya dengan berat

25

buah 0,83 kg buah-1

. Hasil tersebut diperoleh dengan pemberian Urea, SP-36, dan

KCl masing-masing 2,8, 5,6, dan

4,5 g polibeg-1
.

Elmayanti (2009) melaporkan bahwa terdapat interaksi antara isi rumen

sapi dan kapur dolomit terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman melon var.

Cantika. Pemberian isi rumen sapi 20 ton ha-1

dan kapur 5 ton ha-1

memberikan

hasil tertinggi (1,5 kg tanaman-1

) akan tetapi tidak berbeda signifikan dengan

pemberian isi rumen sapi 15 ton ha-1

. Interaksi sangat signifikan pada diameter

batang umur 60 hst dan jumlah buah. Interaksi signifikan pada jumlah daun,

jumlah cabang, dan panjang ruas umur masing-masing umur 60 hst, diameter,

berat, ketebalan daging dan kulit buah.

Siswanto et al. (2010) melaporkan bahwa untuk mendapatkan kualitas

buah melon terbaik maka diberikan pengapuran, bahan organik, pupuk kalium,

dan diikuti penggunaan mulsa plastik hitam perak. Penggunaan bahan organik

pada budidaya melon yang diikuti dengan sterilisasi mampu menekan penggunaan

pupuk buatan pabrik KCl, Urea, dan SP-36 masing-masing sampai 25,0, 12,5, dan

63,6%. Penggunaan dolomit mampu meningkatkan kadar gula buah meskipun

pengaruhnya tidak signifikan akan tetapi mampu mendukung pertumbuhan dan

produksi tanaman.

Hanifia (2011) melaporkan bahwa pemberian pupuk organik cair dosis 375

l ha-1

memberikan pengaruh lebih baik terhadap ILD umur 25 dan 45 HST

masing-masing 1,02 dan 2,11, serta percepatan umur berbunga hanya 21 hari

dibandingkan kontrol. Dosis 75 l ha-1

memberikan pengaruh yang lebih baik pada

produksi melon var. Amanta F1 yaitu 1,69 kg buah-1
.

26

Imran (2011) melaporkan bahwa pemberian pupuk NPK memberikan

kadar N lebih tinggi dibandingkan dengan Ca, P, dan K pada daun namun

memberikan pengaruh tidak signifikan terhadap tinggi tanaman umur 15 dan 30

hst, jumlah daun umur 15 hst, lingkar, panjang, dan berat buah. Pemupukan

memberikan pengaruh sangat signifikan terhadap luas daun umur 15 dan 30 hst,

jumlah daun, dan diameter batang umur masing-masing umur 30 hst. Dosis pupuk

NPK 600 kg ha-1

diperoleh produksi 37,78 ton ha-1

. Hasil tersebut diperoleh

dengan jarak tanam 60x60 cm, kapur dolomit 1 ton ha-1

, dan pupuk kandang

kotoran ayam sebanyak 10 ha-1

atau 3.600 g petak-1

serta menggunakan melon var.

Amanta F1.

Pemberian pupuk N selain meningkatkan produksi buah juga

meningkatkan kadar padatan terlarut melon (Srinivas dan Prabhakar, 1994).

Cabello et al. (2006) menyatakan bahwa serapan N bervariasi selama siklus

tanaman, penyerapan N adalah linier. Melon dapat dipupuk N dengan jumlah

yang konstan sampai 2-3 minggu sebelum panen terakhir karena NH4

+

dan NO3

-

menjadi tersedia untuk tanaman antara 2 dan 2,5 minggu setelah penerapannya.

Menurut Ferrante et al. (2008), produksi buah melon dan kandungan N buah

meningkat linear dengan tingkat N mulai dari 0-165 kg ha-1

. Senyawa antioksidan

seperti karotenoid total, fenol total, dan asam askorbat (ASA) menurun setelah

penyimpanan pada suhu 10˚C selama 8 hari tetapi tidak dipengaruhi tingkat

pemupukan N. Semua parameter kualitas tampaknya tidak terpengaruh tingkat N

baik pada waktu panen atau setelah penyimpanan, oleh karena itu disarankan

27

untuk mengurangi input N untuk budidaya tanpa mengorbankan kualitas dan

hasil. Input N harus sesuai dengan kebutuhan tanaman.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut di atas maka penelitian pupuk

majemuk menjadi pintu masuk penelitian pemupukan dosis tunggal. Rosmiyani

(2010) melaporkan bahwa dosis P yang optimal adalah 114,29 kg ha-1

. Dosis

tersebut menghasilkan bobot buah segar sebesar 1,32 kg buah-1

atau 2,64 kg

pohon-1

setara 55,44 ton ha-1

. Produksi optimal apabila dilakukan dengan

pemberian bahan organik dan kapur dolomit masing-masing 10,43 dan 1 ton ha-1
,

diikuti dengan pemberian N dan K2O masing-masing 130 dan 150 kg ha-1

, jarak

tanam 50x60 cm, menyisahkan dua buah pertanaman, serta penggunaan mulsa

plastik hitam perak dan melon var. Amanta F1.

Husma (2010) melaporkan bahwa interaksi bahan organik dan pupuk

Kalium tidak memberikan pengaruh terhadap semua variabel pengamatan.

Pemberian bahan organik dosis 10-15 ton ha-1

dan K2O sebanyak 50-150 kg ha-1

dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi. Dosis bahan organik yang

optimal 12,25 ton ha-1

menghasilkan bobot buah 1,2 kg atau 2,4 kg pohon-1

setara

50,40 ton ha-1

sedangkan dosis pupuk K yang optimal adalah 150 kg ha-1
.

Dosis

tersebut menghasilkan buah segar sebesar 1,14 kg atau 2,28 kg pohon-1

atau 47,88

ton ha-1

. Hasil diperoleh dengan pemberian N dan P masing-masing 130 dan 150

kg ha-1
,

kapur dolomit 1 ton ha-1
,

jarak tanam 50x60 cm, menyisahkan dua buah

pertanaman, serta penggunaan mulsa plastik hitam perak dan melon var. Amanta

F1.

28

Pemupukan N yang melebihi kebutuhan tanaman diperoleh kualitas buah

melon yang rendah sedangkan pada pemupukan yang dibawah kebutuhan tanaman

diperoleh kualitas melon yang rendah. Pemupukan harus spesifik dosis sesuai

teknik budidaya yang diterapkan seperti pengapuran dan pemulsaan. Pemulsaan

mendukung pemupukan melalui konservasi air dan hara sehingga lebih efektif dan

efisien dalam mendukung pertumbuhan dan produksi tanaman. Pemupukan N

pada tanaman harus berdasarkan jenis mulsa yang digunakan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->