P. 1
Makalah Ilmu Produksi Aneka Ternak ( Pemlihan Bibit ) Universitas Brawijaya

Makalah Ilmu Produksi Aneka Ternak ( Pemlihan Bibit ) Universitas Brawijaya

|Views: 1,442|Likes:

More info:

Published by: Masdhuhaa Nurdiansyah D'sParow on Jan 03, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/22/2015

pdf

text

original

PAPER

“PEMILIHAN BIBIT KELINCI”
Paper ini disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Ilmu Produksi Aneka Ternak Dosen Pembimbing: Dr. Ir. Sri Minarti, MP

Oleh: 1. 2. 3. 4. 5. Faiq Rizki Amalia Masdhuhaa Nurdiansyah Shafira Qanita Khair Muhammad Nizar F Enggal Syambudi Kelas: C FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2012 (115050100111030) (115050100111039) (115050100111042) (115050100111043) (115050100111044)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, atas karuniaNYA kami dapat menyelesaikan maklah ini dengan tepat waktu . Paper yang berjudul “Pemilihan Bibit Kelinci”kami susun untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Produksi Aneka Ternak tahun ajaran 2012.Ucapan terima kasih kami sampaikan Dr. Ir. Sri Minarti, MP selaku dosen Ilmu Produksi Aneka Ternak yang telah membantu dalam dalam pembuatan paper ini sehingga paper ini dapat selesai tepat waktu. Kami menyadari bahwa paper yang kami buat jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu diharapkan kritik dan saran yang dapat dipakai sebagai bahan perbaikan pada paper berikutnya. Akhir kata semoga paper ini dapat berguna bagi diri saya sendiri khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.

Malang, Desember 2012

Penulis

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kelinci selalu memiliki pesona tersendiri bagi masyarakat. Ia bukan sekedar hewan piaraan yang menghasilkan daging atau hasil pejualannya, melainkan sebagai kesenangan “ berselera tinggi “ dengan ciri khas yang eksklusif.Hanya saja karena pemeliharaanya di masyarakat masih bersifat tradisional dan tidak mengikuti kaidah pemeliharaan kelinci secara tepat dan baik, akhirnya banyak peternak kita yang gulung tikar.

Kebanyakan peternak hanya memelihara dengan seadanya, dengan tanpa melihat bagaimana sesungguhnya kelinci tersebut. Namun seiring perkembangan zaman peternak kita mulai maju dan perlahan-lahan mulai tahu akan bagaimana beternak kelinci itu sebenarnya.

Berlatarkan masalah tersebutlah kami menulis paper ini dengan harapan agar dapat menjelaskan tentang budidaya kelinci dapat berkembang dengan baik seiring dengan pemilihan bibit dengan tingkat pengetahuan yang ada.

1.2 Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan paper ini adalah untuk menelaah lebih jauh tentang Ilmu Produksi Aneka Ternak dan mengetahui lebih spesifik cara pemilihan bibit kelinci.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Ternak Kelimci

Kelinci adalah hewan jenis purba pada mulanya kelinci digolongkan sebagai hewan jenis “ Rodentia” karena sering mengerat. Tahun 1912 katagori Rodentia digugurkan karena kelinci memiliki perbedaan tertentu dalam giginya. Istilah yang tepat ”Logomorpha’ dan spesifikasinya masuk katagori Lagormopha – Leporidae sebagaimana hewan jenis Hare. Tahun1945, Simpson seorang a hli taksonomi asal Inggris menunjukkan bahwa

perbedaan tersebut terletak pada gigi kelinci. Kalau hewan roden memiliki dua pasang gigi seri untuk mengerat, kelinci hanya satu pasang. Katagori ini membuktikan bahwa kelinci memiliki keunikan sendiri dan lebih mudah beradaptasi dengan manusia dibanding hewan lain. Klasifikasi taksonomi kelinci (Orcytolagus cuniculu)menurut sistem binomial adalah sebagai berikut: Kelas: mamalia Ordo : Lagomorpha Family : Leporidae Sub family : leporine Genus : Lepus, Oricptolagus Spesies : Lepus spp, Oricptolagus Menurut tipenya kelinci dibagia atas tiga kelas yaitu, kelinci tipe kecil ( berbobot 0,9 – 2 kg) dewasa kelamin umur 3 -4 bulan, tipe sedang ( berbobot 2 – 4 kg) dewasa kelamin 5 –

6 bulan, dan tipe berat ( berbobot 5 – 8 kg ) dewasa kelamin umur 7 – 8 bulan ( Dewi lestari s, 2008) Untuk melakukan budidaya kelinci perlu diperhatikan beberapa aspek, dimana aspek ini merupakan penentu keberhasilan dalam beternak kelinci. Aspek ini meliputi: A.Pemilihan Bibit Untuk syarat ternak tergantung dari tujuan utama pemeliharaan kelinci tersebut.Untuk tujuan jenis bulu maka jenis Angora, American Chinchilla dan Rex merupakan ternak yang cocok. Sedang untuk tujuan daging maka jenis Belgian, Californian, Flemish Giant, Havana, Himalayan dan New Zealand merupakan ternak yang cocok dipelihara (M.Yunus dan S. Minarti, 1990 ) Bila peternakan bertujuan untuk daging, dipilih jenis kelinci yang berbobot badan dan tinggi dengan perdagingan yang baik, sedangkan untuk tujuan bulu jelas memilih bibit-bibit yang punya potensi genetik pertumbuhan bulu yang baik. Secara spesifik untuk keduanya harus punya sifat fertilitas tinggi, tidak mudah nervous, tidak cacat, mata bersih dan terawat, bulu tidak kusam, lincah/aktif bergerak( B.Sarwono 1985 ).

B. Bibit yang baik untuk Reproduksi Perkawinan harus memenuhi persyaratan teknis sebagai berikut: a. umur bibit betina siap kawin 5-6 bulan; b. umur bibit pejantan 6-7 bulan; c. betina birahi ditandai dengan vulva yang berwarna merah dan bengkak, dan dapat dirangsang dengansentuhan jari pada genital betina; d. sistim perkawinan dapat dilakukan dengan Inseminasi Buatan (IB) atau kawin alam; e. kawin alam dilakukan dengan membawa kelinci betina ke kandang kelinci pejantan dengan perbandingan jantan dan betina 1 : 5;

f. IB menggunakan semen beku atau semen cair dari pejantan yang sudah teruji kualitasnya dan dinyatakan bebas dari penyakit hewan menular yang dapat ditularkan melalui semen; g. dalam pelaksanaan kawin alam maupun IB harus dilakukan pengaturan penggunaan pejantan atau semen beku/semen cair untuk menghindari terjadinya kawin sedarah (inbreeding). ( Deptan, 2011) Lama kebuntingan pada ternak kelinci berkisar antara 28 – 35 hari.

Perkembangbiakan kelinci dapat diatur dengan kelairan terencana. Kelahiran untuk kelinci biasanya terjadi 31 – 32 hari sesudah perkawinan berlangsung. Adapun rata-rata kebuntingan pada ternak kelinci adalah 31 hari, yang dipengaruhi oleh waktu kawin.pada saat bunting kebutuhan akan air sangat perlu diperhatikan ( Dewi lestari s, 2008). Kelahiran kelinci yang sering terjadi diwaktu malam hari. Setelah melahirkan anakanaknya, induk kelinci istirahat sampai pagi hari. Anak-anak kelinci yang dilahirkan dalam keadaan lemah dengan mata tertutup dan tidak berbulu itu akan tinggal di dalam sarang sampai lebih kurang 10 hari. Sumber pakannnya adalah susu induknya. Pada hari ke 11 mereka mulai membuka matanya dan mulai keluar dari sarang untuk makan dan minum pada hari ke 20. Apabila anak-anak kelinci keluar dari sarangnya sebelum hari ke 20, hal itu menendakan bahwa induk kelinci tidak mempunyai cukup air susu. Hal ini dapat menyebabkan kematian pada anak yang baru lahir apabila ditangani dengan baik. Anak-anak yang masih sangat kecil selalu didalam sarang dan mereka di susui pada malam hari atau pagi hari saja ( AAk, 1982 : kartadisastra, 1994). 2.2 Pemilihan Bibit Kelinci Pedaging dan Bibit Kelinci Hias 2.2.1 Bibit Kelinci Pedaging Dalam menentukan bibit untuk kelinci pedaging memang tidak boleh sembarangan, ada syarat-syarat yang harus dipenuhi. Syarat-syarat bibit kelinci pedaging yang baik adalah :

Mempunyai bobot dewasa minimal 4,5kg (induk)

    

Mempunyai tipe tubuh komersil (pinggul membulat dan penuh) Mempunyai minimal 6 puting susu yang tumbuh secara normal Menghasilkan banyak anak sekali kelahiran Mampu merawat anaknya minimal 5 ekor hingga lepas sapih (idealnya 7 ekor) Untuk pejantan bobot minimal 5kg

Sampai saat ini jenis kelinci yang paling banyak digunakan sebagai kelinci pedaging adalah jenis New Zealand White (bobot dewasa 5,4kg). Jenis kelinci ini sudah masuk di Indonesia, walaupun agak susah untuk mendapatkan yang masih murni. Ada lagi jenis kelinci lain yang juga terkenal sebagai kelinci pedaging yaitu jenis Californian (bobot dewasa 4,7kg) dan breed baru dari Cina yang mempunyai kualitas luar biasa sebagai kelinci pedaging yaitu Hyla (bobot dewasa 7kg). Jika kesulitan dalam mencari bibit kelinci pedaging, mulai saja dengan kelinci-kelinci silangan yang banyak beredar di pasaran. Untuk daerah Jawa Timur, kelincikelinci silangan ini umum disebut dengan kelinci Australi. Sedangkan untuk daerah Jawa Tengah dan sebagian Jawa Barat, kelinci-kelinci silangan ini disebut dengan kelinci Bligon.

2.2.2 Bibit Kelinci Hias Memilih bibit jenis kelinci yang baik sebenarnya tidaklah sulit. Biasanya, jenis kelinci hias yang sehat memiliki sifat lincah, aktif, serta gerakannya energik dan memiliki nafsu makan yang tinggi. Adapun ciri-ciri bibit kelinci hias yang baik sebagai berikut : 1. Memiliki kepala yang ukurannya sesuai dengan ukuran badan. Apabila panjang maka tipe kepalanya panjang. Demikian pula untuk jenis kelinci tubuh kecil, maka ukuran kepalanya kecil juga. 2. Matanya bulat bercahaya, selaput mata bersih, serta mempunyai pandangan yang cerah dan jernih.

3. Hidung, moncong dan mulut dalam keadaan bersih. 4. Memiliki kaki yang normal dengan ciri-ciri kuat, kokoh dan berkuku pendek. Akan tetapi lebih baik apabila kelinci memiliki kaki yang lurus dan sempurna, tidak bengkok atau cacat. Kaki yang cacat berbentuk seperti huruf O atau X. 5. Badannya bulat serta dada lebih lebar, padat dan singset. 6. Apabila diraba, kulitnya licin dan tidak berasa benjol-benjol. 7. Memiliki bulu yang bersih, licin, halus, mengkilap dan rata. 8. Dubur bersih, kering dan tidak terdapat tanda-tanda kotoran bekas mencret. 9. Ukuran ekor kecil, ekor tumbuh lurus ke atas dan tampak menempel ke punggung, serta bentuk ekor tidak miring atau rebah ke samping atau terpuntir.

BAB III

PEMBAHASAN

3.1Pemilihan Bibit

Bibit yang baik adalah salah satu sarat utama menuju tangga keberhasilan budidaya kelinci. Bibit yang baik dihasilkan oleh peternakan yang baik, dimana selama hidupnya sang induk memperoleh makanan standar, kebersihan dan air minum yang terjamin. Hal tersebut sesuai dengan pendapat B.Sarwono (1985) menyatakan bahwa bila peternakan bertujuan untuk daging, dipilih jenis kelinci yang berbobot badan dan tinggi dengan perdagingan yang baik, sedangkan untuk tujuan bulu jelas memilih bibit-bibit yang punya potensi genetik pertumbuhan bulu yang baik. Secara spesifik untuk keduanya harus punya sifat fertilitas tinggi, tidak mudah nervous, tidak cacat, mata bersih dan terawat, bulu tidak kusam, lincah/aktif bergerak. Ditambahkan oleh M.Yunus dan S. Minarti(1990) bahwa untuk syarat ternak tergantung dari tujuan utama pemeliharaan kelinci tersebut.Untuk tujuan jenis bulu maka jenis Angora, American Chinchilla dan Rex merupakan ternak yang cocok. Sedang untuk tujuan daging maka jenis Belgian, Californian, Flemish Giant, Havana, Himalayan dan New Zealand merupakan ternak yang cocok dipelihara. Bibit yang baik adalah salah satu syarat utama menuju tangga keberhasilan dalam budidaya kelinci . Untuk memilih bibit yang harus di perhatikan adalah : 1. Penampilan secara umum Nampak tegap. Gerakanya gesit dan menari perhatian, 2. Bulu halus mengkilap dan tidak rontok atau adanya parasit karena penyakit tertentu, 3. Pandangan mata tampak tajam, tidak cekung atau melelehkan cairan,

4. Nafsu makan baik, 5. Bagian kaki tidak bengkok, tampil lurus tegap dan kokoh menyangga badan, 6. Ekor naik mengikuti arus tulang punggung, jika kelinci berekor lurus tergeletak ke lantai atau menceng biasanya terkena penyakit, 7. Bagian anus dan saluran kencing tidak basah atau kotor, 8. Kelinci betina harus bebas dari cacat alat reproduksi,abnormal ambing, sifat kanibal, gejala kemandulan, dan mempunyai puting susu berjumlah minimal 8(delapan) buah; 9. Kelinci jantan harus siap sebagai pejantan serta tidak menderita cacat pada alat kelaminnya dan mempunyai libido yang tinggi(faiz manshur, 2011).

Beberapa langkah yang dilakuakan oleh peternak dalam memilih bibit antara lain: 1. Melihat umur Umur induk yang baik yang baik dalam melahirkan anak adalah 6-8 bulan. Dalam masa ini produktivitas keturunannya sedang dalam kondisi prima. Beberapa tindakan yang dilakukan oleh Mujiono Rabbit untuk mengetahui umur dari ternak adalah dengan melihat keadaan kuku jika kuku panjang dan keras menandakan bahwa kelinci tua namun patokan ini belum begitu tentu,sedangkan untuk menduga umur dari kelinci Rex peternak memegang lipatan kulit pada bagian atas kaki belakang, jika saat diraba kulit mengendur maka dapat dipastikan kelinci tersebut tua. Untuk anakan kelinci ,pastikan kelinci sudah mendapatkan susu lebih dari 35.pada Mujiono Rabbit anakan yang akan dijadikan bibit masa menyusuinya 1,5 – 2 bulan dan ini sudah baik karena menurut faiz (2011) jika anakan yang dijadikan bibit masa menyusuinya lebih dari 35 hari maka kesehatan kelinci akan baik.

2. Jenis dan silsilah Silsilah keturunan harus jelas dan memenuhi standar jenis. Biasanya induk impor langsung dikategoriakn Fo, namun hanya beberapa peternak yang mampu melakukan

perkawinan Fo dengan Fo. Hal ini juga di alami Mujiono Rabbit ,kelinci yang di jadikan bibit kebanyakan bukan asli ,melainkan sudah cross breeding. Pemilihan bibit oleh peternak hanya didasarkan pada penampilan kelinci saja. Tanpa harus mementingkan silsilah dan geneti ternak. 3. Bobot Bobot yang dimaksut adalah mencari standar keaslian berat badan kelinci. Kita ketahui bahwa setiap kelinci memiliki bobot yang berbeda seperti kelinci jenis giant dan dwarf ke dua kelinci tersebut memeiliki bobot badan yang berlainan. Jika pada dwarf bobot badannya lebih berat dari standat bobot badannya maka dapat dipastiakn bahwa dwarf tersebut merupakan hasil persilangan. Untuk bobot peternaka hanya melihat untuk menentuakan apakah kelinci tersebut kelinci potong atau hias ,untuk kelinci potong BB nya > 3 kg ,sedangkan kelinci hias BB nya BB nya < 3 kg.

4. Recording Recording induk sangat menentukan pemahaman peternak untuk mendapatkan anakanakannya sebagai calon indukyang akan di ternakkan. Hal ini sangat penting karena dengan mengetahui catatan tersebut , kita dapat mengatur segala hal yang berhubungan dengan produktifitas ternak seperti proses perkawinan. Namun dalam kenyataanya pada peternak beranggapan bahwa recoring hanya dipakai untuk para kolektor kelinci ataupun dalam penelitin saja. Yang peternak inginkan hanya bibit yang di dapat menghasilakan banyak anak.

BAB IV

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa langkah yang dilakuakan oleh peternak dalam memilih bibit antara lain:    

Melihat umur Jenis dan silsilah Bobot Recording

5.2 Saran

Dengan membaca paper ini, penulis mengharapkan semoga pembaca mampu mengembangkan paper ini lebih baik lagi dan dapat dimanfaatkan untuk kepentingan bersama. Untuk ke depannya,penulis mengharapkan banyak masukan dari pembaca demi terciptanya paper yang lebih baik lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Deptan.2011. Pedoman Pembibitan Kelinci Yang Baik.Jakarta selatan : Kantor Pusat Kementerian Pertanian. Kartadisastra. HR, 1995.Beternak Kelinci Unggul. Yogyakarta: Kanisius. Manshur ,Faiz. 2011. Kelinci.. Bandung: Nuansa Muslih dkk.2010. Tatalaksana Pemberian Pakan Untuk Menunjang Agrobisnis Kelinci. Bogor :Balai penelitian ternak. Sarwono. B, 1985.Beternak Kelinci Unggul. Jakarta : Penebar Swadaya. Sri lestari. CM dkk. 2010.Budidaya Kelinci Menggunakan Limbah Industry Pertanian Dan Inkonvensonal. Fakultas peternakan , universitas Diponegoro Yunus. M dan Minarti. S. 1990. Aneka Ternak. Universitas Brawijaya,Malang.Hal. 8/9

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->