MAKALAH

PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN TENTANG OTONOMI DAERAH

OLEH : TOMMY DWI LAKSONO 0902069

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES) BINA CIPTA HUSADA PURWOKERTO TAHUN AJARAN 2012
i

KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kepada Alloh SWT yang telah memberi rahmat serta hidayahNya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Adapun tujuan penulisan membuat makalah yang berjudul “OTONOMI DAERAH” sebagai syarat untuk memenuhi tugas PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN. Penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu menyelesaikan makalah ini, yaitu : 1. Anton Budihartono, SH, MH selaku dosen pengampu 2. Rekan-rekan Mahasiswa Tingkat I, Kesehatan Masyarakat STIKES BINA CIPTA HUSADA Purwokerto 3. Semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu per satu . Demikian makalah ini kami buat, semoga bermanfaat bagi perkembangan pendidikan kesehatan masyarakat.

Purwokerto,

15 November 2012 Penulis

Tommy Dwi Laksono

ii

.........….....Latar Belakang………………………………………….................................… 2 III.................................i KATA PENGANTAR……………………………………………...................…iii BAB I..................2 V.…18 I........................…….. Dasar Huku Otonomi........................................…iv iii ...........................……..…….... PEMBAHASAN…………………………………….....................Ruang lingkup………………………………….......................................…1 I ...........................…12 V .................................................… 7 III......................Rumusan Masalah………………………………………............................................... Implementasi Otonomi Daerah di Indonesia…………................ 2 IV.........................…13 BAB IV.. Dampak Pelaksanaan Otonomi Daerah di Indonesia…..…............................Tujuan Penulisan………………………………….………….... 18 II.......…9 IV........................................................................... Penutup……………………………………………....2 BAB II.......................................3 BAB III................ ii DAFTAR ISI………………………………………………….......................................…5 II ...........................….Saran …………………………………………………............ Prinsip dan Tujuan Otonomi Daerah………………..................................….........................................…19 DAFTAR PUSTAKA……………………………………………….... TINJAUAN PUSTAKA......... Pengertian Otonomi Daerah………………………........ 5 I ...............… 1 II ............................... Perubahan Budaya Pada Pelaksanaan Otonomi Daerah.Kesimpulan………………………………………………........................................................................... Metode Penulisan……………………………………...............DAFTAR ISI COVER HALAMAN...……......... PENDAHULUAN……………………………………..........3 I....

pemberlakuan undang-undang tersebut efektif dilaksanakan setelah dua tahun sejak ditetapkannya. kredibilitas pemimpin. 1 . maka terjadi perubahan paradigma. bahkan lebih keras dan mendesak untuk segera dilaksanakan. Setelah gerakan Reformasi berlangsung dan pemerintahan Suharto jatuh. Berdasarkan undang-undang otonomi daerah tersebut. yaitu dari pemerintahan sentralistis ke pemerintahan desentralistis. baik di tingkat elite pusat maupun daerah untuk memberlakukan otonomi daerah secara lebih luas . terjadi peristiwa besar di Indonesia mengawali abad yang dinantikan oleh seluruh masyarakat dunia. upaya menghindari disintegrasi. Otonomi daerah sebagai suatu sistim pemerintahan di Indonesia yang desentralistis bukan merupakan hal yang baru. Penyelenggaraan otonomi daerah sebenarnya sudah diatur dalam UUD 1945. Walaupun demikian dalam perkembangannya selama ini pelaksanaan otonomi daerah belum menampakkan hasil yang optimal. Dengan disahkannya kedua undang-undang tersebut. pemberantasan KKN (korupsi. Pada masa pemerintahan presiden Abdurachman Wachid Undangundang Otonomi Daerah mulai diterapkan pada tanggal 1 Januari 2001. Gerakan Reformasi yang terjadi pada pertengahan tahun 1997 demikian dahsyat sehingga mampu menggulingkan pemerintahan Orde Baru. wacana untuk mengoptimalkan pelaksanaan otonomi daerah terdengar kembali gaungnya. upaya pembentukan pemerintahan yang baik dan bersih.BAB I PENDAHULUAN I. Dengan jatuhnya pemerintahan Orde Baru semakin gencar pula tuntutan masyarakat. pembentukan otonomi daerah . Sejalan dengan terjadinya gerakan Reformasi marak pula isu-isu heroik yang berkaitan dengan penegakan demokrasi. dan masih banyak isu-isu lainnya. Latar Belakang Tiga tahun sebelum menginjak abad XXI. kolusi dan nepotisme). yang dianggap sudah tidak populer untuk memjalankan pemerintahan Indoesia. pembangunan berkelanjutan. ditambah dengan krisis ekonomi yang parah. pemberdayaan masyarakat. Gerakan Reformasi yang gencar dan luas merupakan akumulasi dari carut-marut pemerintahan yang sudah tidak sesuai dengan harapan masyarakat. Tuntutan masyarakat untuk mengoptimalkan pelaksanaan otonomi daerah disambut oleh presiden Habibie sehingga kemudian ditetapkan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undangundang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Akar kekacauan tersebut di atas adalah pemerintah Orde Baru yang dianggap melaksanakan pemerintahan sentralistik. otoriter dan korup.

Tujuan penulisan Tujuan dari penulisan karya tulis ini yaitu untuk memenuhi tugas maka kuliah Otonomi Daerah pada STIKES BINA CIPTA HUSADA PURWOKERTO dalam bentuk sebuah Makalah dan untuk menambah pengetahuan dan wawasan para pembaca. masyarakat pada umumnya dan kalangan mahasiswa khususnya agar mengetahui bagaimana perubahan budaya akibat dari pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia. mengingat keterbatasan waktu maka melalui internet data mudah didapatkan dan cepat serta efisien. 2 . penyusunan makalah ini penulis menggunakan metode kepustakaan di mana selain mendapatkan materi makalahnya dari buku-buku mengenai otonomi daerah dan UU otonomi daerah serta penulis juga menggunakan media internet untuk mendukung data-data yang sudah ada. Bagaimanakan Penerapan Otonomi Daerah di Indonesia ? 2.II. V. Bagaimana perubahan budaya dari akibat pelaksanaan otonomki daerah di Indonesia ? III. Ruang lingkup Karena keterbatasan waktu dan banyaknya tugas kuliah yang ada maka ruang lingkup makalah ini sangat singkat dan terbatas serta pembahasannya pun hanya seputar dampak dari pelaksanaan otonomi daerah terhadap budaya yang ada di Indonesia. IV. Bagaimana dampak pelaksanaan Otonomi Daerah di Indonesia ? 3. Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah yang terdapat dari latar belakang tersebut adalah : 1. Metode penulisan Dari beberapa metode penulisan yang ada .

karena dianggap tidak sesuai lagi dengan perkembangankeadaan. Desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah pusatkepada daerah otonomi untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.” Selanjutnya. Sistem otonomidaerah sendiri tertulis secara umum dalam Pasal 18 untuk diatur lebih lanjut oleh undang-undang. selanjutnya disebut daerah. “Pemerintahan daerah provinsi. daerah kabupaten. dan Pasal 18B.“Otonomi daerah adalah hak. dikenal istilah desentralisasi.” Dan ayat (6) pasal yang sama menyatakan. dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur danmengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundangundangan. yaitu Pasal 18. Presiden Megawati Soekarnoputrimengesahkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. dan tugas pembantuan. UUD 1945 pasca-amandemen itu mencantumkan permasalahan pemerintahan daerah dalam Bab VI. adalah kesatuan masyarakat hukum yangmempunyai batasbatas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahandan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasimasyarakat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. pada ayat (5) tertulis. dan tuntutan penyelenggaraan otonomi daerah. “Pemerintahan daerah berhak menetapkan peraturan daerah dan peraturanperaturan lain untuk melaksanakan otonomidan tugas pembantuan.”UU Nomor 32 Tahun 2004 juga mendefinisikan daerah otonom sebagai berikut.”Dalam sistem otonomi daerah. Pasal 18A.”Secara khusus.BAB II TINJAUAN PUSTAKA I. ketatanegaraan.Pasal 18 ayat (2) menyebutkan. maka aturan baru pundibentuk untuk menggantikannya. 3 . dekonsentrasi. Dasar Hukum Otonomi DaerahPemberlakuan sistem otonomi daerah merupakan amanat yang diberikan oleh UndangUndangDasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945) Amandemen Kedua tahun 2000untuk dilaksanakan berdasarkan undang-undang yang dibentuk khusus untuk mengatur pemerintahan daerah. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (UU Nomor 32 Tahun 2004)memberikan definisi otonomi daerah sebagai berikut. Namun. Pada 15 Oktober 2004. dan kotamengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan. “Pemerintahan daerah menjalankan otonomiseluas-luasnya kecuali urusan pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagaiurusan pemerintah pusat. pemerintahan daerah diatur dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999tentang Pemerintahan Daerah. wewenang.“Daerah otonom.

32 Tahun 2004. “Gubernur. 4437. yaitu Undang-Undang Nomor 25Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah (UU Nomor 25 Tahun 1999) yang kemudian diganti dengan UndangUndang Nomor 33 Tahun 2004tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah (UU Nomor 33 Tahun2004). dan kota dipilih secarademokratis” direalisasikan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2005 tentangPemilihan. LN No. tugas pembantuan merupakan penugasan dari pemerintah pusat kepada daerahatau desa dari pemerintah provinsi kepada kabupaten/kota atau desa serta dari pemerintah kabupaten/kota kepada desa untuk melaksanakan tugas tertentu.Selain itu. Pengangkatan.Sebagai konsekuensi pemberlakuan sistem otonomi daerah. amanat UUD 1945 yang menyebutkan bahwa. dan Walikotamasing-masing sebagai kepala pemerintah daerah provinsi.Sedangkan dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah pusat kepada gubernur sebagai wakil pemerintah pusat di daerahkepada instansi vertikal di wilayah tertentu. dibentuk pula perangkat peraturan perundang-undangan yang 5 Indonesia (b). Undang-Undang Tentang Pemerintahan Daerah. mengatur mengenai perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah. dan Pemberhentian Kepala Daerah dan Wakil KepalaDaerah (PP Nomor 6 Tahun 2005) 4 . Pengesahan. Bupati. TLN No. No.Sementara itu. kabupaten. ps. 125 tahun 2004. 1.

mengemukakan bahwa otonomi mempunyai makna kebebasan atau kemandirian tetapi bukan kemerdekaan. 3. Sedangkan Philip Mahwood (1983) mengemukakan bahwa otonomi daerah adalah suatu pemerintah daerah yang mempunyai kewenangan sendiri yang keberadaannya terpisah dengan otoritas yang diserahkan oleh pemerintah guna mengalokasikan sumber sumber material yang substansial tentang fungsi-fungsi yang berbeda. 1985). 2.BAB III PEMBAHASAN I. Pendapat lain dikemukakan oleh Benyamin Hoesein (1993) bahwa otonomi daerah adalah pemerintahan oleh dan untuk rakyat di bagian wilayah nasional suatu Negara secara informal berada di luar pemerintah pusat. Pengertian Otonomi Daerah Istilah otonomi berasal dari bahasa Yunani autos yang berarti sendiri dan namos yang berarti Undang-undang atau aturan. Syarif Saleh. Beberapa pendapat ahli yang dikutip Abdulrahman (1997) mengemukakan bahwa : 1. Adanya kebebasan untuk berinisiatif merupakan suatu dasar pemberian otonomi daerah. karena dasar pemberian otonomi daerah adalah dapat berbuat sesuai dengan kebutuhan setempat. Ateng Syarifuddin. Sugeng Istianto. mengartikan otonomi daerah sebagai hak dan wewenang untuk mengatur dan mengurus rumah tangga daerah. Dengan demikian otonomi dapat diartikan sebagai kewenangan untuk mengatur dan mengurus rumah tangga sendiri (Bayu Suryaninrat. Dengan otonomi daerah tersebut. mengelola dan mengoptimalkan sumber daya daerah. menurut Mariun (1979) bahwa dengan kebebasan yang dimiliki pemerintah daerah memungkinkan untuk membuat inisiatif sendiri. berpendapat bahwa otonomi daerah adalah hak mengatur dan memerintah daerah sendiri. Kebebasan yang terbatas atau kemandirian itu terwujud pemberian kesempatan yang harus dipertanggungjawabkan. Hak mana diperoleh dari pemerintah pusat. F. 5 .

dalam Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 dinyatakan bahwa otonomi daerah adalah kewenangan daerah untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. serta tetap berada dalam satu kerangka pemerintahan nasional. perencanaan sendiri serta mengelola keuangan sendiri. hak dan kewajiban serta kebebasan bagi daerah untuk menyelenggarakan urusan-urusannya sepanjang sanggup untuk melakukannya dan penekanannya lebih bersifat otonomi yang luas. Dengan demikian. menetapkan kebijaksanaan sendiri. ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Aspek Hak dan Kewenangan untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. juga terutama kemampuan menggali sumber pembiayaan sendiri. juga sejalan dengan yang dikemukakan Vincent Lemius (1986) bahwa otonomi daerah merupakan kebebasan untuk mengambil keputusan politik maupun administrasi. 3. Yang dimaksud dengan hak dalam pengertian otonomi adalah adanya kebebasan pemerintah daerah untuk mengatur rumah tangga. pembiyaan serta perangkat pelaksanaannnya. Pendapat tentang otonomi di atas. Aspek kewajiban untuk tetap mengikuti peraturan dan ketentuan dari pemerintahan di atasnya. Selanjutnya wewenang adalah adanya kekuasaan pemerintah daerah untuk berinisiatif sendiri.Kebebasan yang terbatas atau kemandirian tersebut adalah wujud kesempatan pemberian yang harus dipertanggungjawabkan. Sedangkan kewajban harus mendorong pelaksanaan pemerintah dan pembangunan nasional. 6 . Aspek kemandirian dalam pengelolaan keuangan baik dari biaya sebagai perlimpahan kewenangan dan pelaksanaan kewajiban. 2. tetapi dalam kebutuhan daerah senantiasa disesuaikan dengan kepentingan nasional. Meskipun dalam otonomi daerah ada kebebasan untuk menentukan apa yang menjadi kebutuhan daerah. Terlepas dari itu pendapat beberapa ahli yang telah dikemukakan di atas. seperti dalam bidang kebijaksanaan. Beranjak dari rumusan di atas. dengan tetap menghormati peraturan perundang-undangan. yaitu : 1. dapat disimpulkan bahwa otonomi daerah pada prinsipnya mempunyai tiga aspek.

pemerintah kabupaten/kota yang daerah otonomnya terbentuk hanya berdasarkan kesejahteraan pemerintahan. 4. Berinisiatif sendiri yaitu harus mampu menyusun dan melaksanakan kebijaksanaan sendiri. pemerataan dan keadilan serta mempertimbangkan potensi dan keanekaragaman daerah. Prinsip dan Tujuan Otonomi Daerah Otonomi daerah dan daerah otonom. peran serta masyarakat. maka memang masih lebih banyak ingin mengatur pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupaten/kota. jelas bahwa untuk menerapkan otonomi daerah harus memiliki wilayah dengan batas administrasi pemerintahan yang jelas. Menggali sumber-sumber keuangan sendiri. dengan tidak adanya perubahan struktur daerah otonom. maka otonomi daerah mempunyai arti bahwa daerah harus mampu : 1. Adapun daerah provinsi. 7 . jika dicermati berlakunya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004. Dengan demikian jenjang daerah otonom ada dua bagian. Padahal sebagaimana pengertian otonomi daerah di atas. Disisi lain. dikatakan bahwa dalam penyelenggaraan otonomi daerah. biasa rancu dipahami oleh masyarakat. 2. maka akan sulit untuk berotonomi secara nyata dan bertanggungjawab di masa mendatang. serta kewenangan pusat yang dilimpahkan pada provinsi. Memiliki alat pelaksana baik personil maupun sarana dan prasarananya. Daerah otonomi adalah wilayah administrasi pemerintahan dan kependudukan yang dikenal dalam Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. dipandang perlu untuk lebih menekankan pada prinsipprinsip demokrasi. walau titik berat pelaksanaan otonomi daerah dilimpahkan pada pemerintah kabupaten/kota. bila dikaji lebih jauh isi dan jiwa undang-undang Nomor 23 Tahun 2004. berotonomi secara terbatas yakni menyangkut koordinasi antar/lintas kabupaten/kota.Dengan demikian. dan kewenangan kabupaten/kota yang belum mampu dilaksanakan maka diambil alih oleh provinsi. Secara konsepsional. 3. Dalam diktum menimbang huruf (b) Undang-undang Nomor 22 tahun 1999. II. Membuat peraturan sendiri (PERDA) beserta peraturan pelaksanaannya.

8 . dikatakan bahwa yang dimaksud dengan otonomi nyata adalah keleluasaan daerah untuk menyelenggarakan kewenangan pemerintah di bidang tertentu yang secara nyata ada dan diperlukan serta tumbuh. moneter dan fiskal. pertahanan keamanan. Sedangkan yang dimaksud dengan otonomi yang bertanggung jawab adalah berupa perwujudan pertanggung jawaban sebagai konsekuensi pemberian hak dan kewenangan kepada daerah dalam wujud tugas dan kewajiban yang harus dipikul oleh daerah dalam mencapai tujuan pemberian otonomi berupa peningkatan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat yang semakin baik. agama serta kewenangan-kewenangan bidang lainnya yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. mulai dari perencanaan. c. pengendalian dan evaluasi. dan karenanya dalam daerah Kabupaten/daerah kota tidak ada lagi wilayah administrasi. pengawasan. pelaksanaan. peradilan. Dalam penjelesan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999. fungsi pengawas maupun fungsi anggaran atas penyelenggaraan pemerintah daerah. pemerataan serta potensi dan keanekaragaman daerah yang terbatas.Otonomi daerah dalam Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 adalah otonomi luas yaitu adanya kewenangan daerah untuk menyelenggarakan pemerintahan yang mencakup semua bidang pemerintahan kecuali kewenangan di bidang politik luar negeri. nyata dan bertanggung jawab. f. sedang otonomi daerah provinsi merupakan otonomi yang terbatas. keleluasaan otonomi maupun kewenangan yang utuh dan bulat dalam penyelenggaraannya. serta pemeliharaan hubungan yang serasi antara pusat dan daerah serta antar daerah dalam rangka menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. d. Di samping itu. baik fungsi legislatif. Penyelenggaraan otonomi daerah dilaksanakan dengan memperhatikan aspek demokrasi. keadilan. Pelaksanaan otonomi daerah harus sesuai dengan kontibusi negara sehingga tetap terjalin hubungan yang serasi antara pusat dan daerah serta antar daerah. hidup dan berkembang di daerah. Pelaksanaan otonomi daerah harus lebih meningkatkan peranan dan fungsi badan legislatif daerah. e. Atas dasar pemikiran di atas¸ maka prinsip-prinsip pemberian otonomi daerah dalam UndangUndang Nomor 22 tahun 1999 adalah sebagai berikut : a. b. Pelaksanaan otonomi daerah yang luas dan utuh diletakkan pada daerah Kabupaten dan daerah kota. Pelaksanaan otonomi daerah harus lebih meningkatkan kemandirian daerah otonom. Pelaksanaan otonomi daerah didasarkan pada otonomi luas.

Implementasi Otonomi Daerah Di Indonesia Otonomi yang berasal dari kata autonomos (bahasa Yunani) mempunyai pengertian mengatur diri sendiri. serta sumber daya manusia dengan kewajiban melaporkan pelaksanaan dan mempertanggung jawabkan kepada yang menugaskannya. Otonomi yang luas sebenarnya merupakan penjabaran dari desentralisasi secara utuh. b.g. h. Aspek “ prakarsa sendiri “ dalam otonomi daerah memberikan “roh” pada penyelenggaraan pembangunan daerah yang lebih participatory. keadilan. Adapun tujuan pemberian otonomi kepada daerah adalah untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna penyelenggaraan pemerintah dan pembangunan guna meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. sarana dan prasarana. Pelaksanaan azas tugas pembantuan dimungkinkan. akan kehilangan makna terpentingnya. otonomi daerah yang diharapkan dapat memberikan nuansa demokratisasi pembangunan daerah. Pada hakekatnya otonomi daerah adalah upaya untuk mensejahterakan masayarakat melalui pemberdayaan potensi daerah secara optimal. 2001 : 805). Tanpa upaya untuk menumbuh-kembangkan prakarsa setempat. Idealnya pelaksanaan otonomi yang luas harus disertai pula dengan prinsip-prinsip demokrasi. tetapi juga dari pemerintah dan daerah kepada desa yang disertai dengan pembiayaan. Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 pasal 14 menyebutkan bahwa kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan . Makna otonomi daerah adalah daerah mempunyai hak . III. Melancarkan penyerahan dana dan daya masyarakat di daerah terutama dalam bidang perekonomian. tidak hanya dari pemerintah kepada daerah. wewenang dan kewajiban untuk mengurus rumah tangganya sendiri sesuai dengan peraturan peundang-undangan yang berlaku (Pusat Bahasa . Mengemukakan kesadaran bernegara/berpemerintah yang mendalam kepada rakyat diseluruh tanah air Indonesia. 9 . Pelaksanaan azas dekonsentrasi diletakkan pada daerah provinsi dalam kedudukannya sebagai wilayah administrasi untuk melaksanakan kewenangan sebagai wakil daerah. Sejalan dengan pendapat di atas. The Liang Gie dalam Abdurrahman (1987) mengemukakan bahwa tujuan pemberian otonomi daerah adalah : a.

Hal ini menunjukkan bahwa para pemimpin negara dari jaman Orde Lama. pemberdayaan dan partisipasi masyarakat. Pada kenyataannya sangat ironis bila pelaksanaan dan penerapan otonomi daerah sejak Orde Lama. maka harapan indah untuk mewujudkan “daerah membangun“ (bukan “membangun daerah”). dari segi kemasyarakatan berorientasi pada pemberdayaan dan pelibatan masyarakat dalam pembangunan di berbagai daerah sesuai dengan kemampuan masing-masing. Ketiga. dapat segera tercapai. Pemberian otonomi kepada daerah pada dasarnya merupakan upaya pemberdayaan dalam rangka mengelola pembangunan di daerahnya. dilihat dari segi wilayah(teritorial) harus berorientasi pada pemberdayaan dan penggalian potensi daerah. Bila pelaksaan otonomi daerah sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang telah disusun. Otonomi daerah memberikan harapan cerah kepada daerah untuk lebih meningkatkan dayaguna dan hasilguna penyelenggaraan pemerintahan dalam rangka memberikan efektifitas pelayanan kepada masyarakat . Selain itu kepentingan-kepentingan politik para pemimpin negara untuk memerintah dan berkuasa secara absolut dengan mempolitisir otonomi daerah mengakibatkan otonomi daerah semakin tidak jelas tujuannya. 10 . Implementasi otonomi daerah dapat dilihat dari bebagai segi yaitu pertama. Orde Baru dan sampai saat ini tidak pernah tuntas. sehingga sasaran pembangunan diarahkan dan disesuaikan dengan kondisi dan permasalahan yang ada di daerah. Daerah diharapkan sedikit demi sedikit mampu melepaskan ketergantungannya terhadap bantuan pemerintah pusat dengan cara meningkatkan kreativitas.Hal lain yang tidak kalah penting adalah daerah dapat melaksnakan fungsi-fungsi pembangunan serta mengembangkan prakarsa masyarakat secara demokratis . Undang-undang dan peraturan tentang otonomi daerah sudah disusun sejak Indonesia merdeka .pemerataan. penggalian potensi dan keanekaragaman daerah yang difokuskan pada peningkatan ekonomi di tingkat kabupaten dan kotamadia. Kedua. dari segi struktur tata pemerintahan berorientasi pada pemberdayaan pemerintah daerah dalam mengelola sumber-sumber daya yang dimilikinya secara bertanggung jawab dan memegang prinsipprinsip kesatuan negara dan bangsa. Berbagai faktor penyebab pelaksanaan otonomi daerah yang tidak mulus adalah karena distorsi kepentngan-kepentingan politik penguasa yang menyertai penerapan otonomi daerah sehingga penguasa cenderung tetap melaksanakan pemerintahan secara sentralistik dan otoriter. Orde Baru sampai pemimpin negara saat ini sudah memikirkan betapa penting otonomi daerah mengingat wilayah Indonesia yang demikian luas yang menjadi tanggung jawab pemerintah. meningkatkan inovasi dan meningkatkan kemandiriannya.

komitmen yang tinggi dari berbagai pihak yang berkepentingan sangat dibutuhkan agar pelaksanaan otonomi daerah dapat tercapai tujuannya . Selain itu kewenangan pemerintah yang lain . Pertama. 11 . parsial. tetapi tidak ada hasilnya. pemerintah daerah dan masyarakat. karena sikap pemerintah yang masih “ mendua “. etnosentris dan sebagainya. sehingga program-program pembangunan di daerah cenderung masih bersifat top down dari pada bottom up planning. Ketiga. Otonomi daerah merupakan suatu subsistem dalam satu sistem pemerintahan yang utuh. harus disadari bahwa otonomi daerah harus selalu diletakkan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.Suatu contoh yaitu pada masa pemerintahan presiden Suharto telah ditetapkan proyek percontohan untuk menerapkan otonomi daerah di 26 daerah tingkat II berdasarkan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974. perlu kemauan politik (political will) dari semua pihak seperti pemerintah pusat. yang juga dapat mengancam pelaksanaan otonomi daerah adalah otoritas pemerintah untuk mencabut otonomi yang telah diberikan kepada daerah. Di satu pihak pemerintah sadar bahwa otonomi daerah sudah sangat mendesak untuk segera dilaksanakan secara tuntas. Hal ini terlihat pada kewenangan-kewenangan yang cukup luas yang masih ditangani pemerintah terutama yang sangat potensial sebagai sumber keuangan. Penerapan otonomi daerah melalui Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 saat ini masih mencari bentuk. Kemauan politik ini diharapkan dapat membendung pemikiran primordial. tetapi di lain pihak pemerintah juga berusaha tetap mengendalikan daerah secara kuat pula. Kemauan politik dari semua pihak dapat memperkuat tujuan untuk membangun masyarakat Indonesia secara keseluruhan melalui pembangunan-pembangunan daerah. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar otonomi daerah dapat terwujud. Selama kurang lebih empat tahun sejak dicanangkannya otonomi daerah di Indonesia. Keputusan-keputusan pemerintah serta program-program pembangunan tidak menyertakan masyarakat. Pembangunan di daerah kurang memperhatikan kebutuhan dan kepentingan masyarakat. pemberdayaan daerah yang gencar diperjuangkan pada kenyataannya belum dilaksanakan secara optimal. Kedua.

tetapi tidak menikmati hasil-hasil pembangunan selama ini. menganggap otonomi daerah memberikan harapan cerah untuk meningkatkan kehidupan mereka. Tentu saja kita belum dapat melihat dampak dan pengaruh dari pelaksanaan otonomi daerah pada kedua masa itu. Masyarakat dari daerah yang kaya sumberdaya alamnya. Pada masa Orde Lama otonomi daerah belum sepenuhnya dilaksanakan. Setelah kurang lebih 4 tahun otonomi daerah diberlakukan. otonomi daerah turut mengiringi pula perjalanan bangsa Indonesia. dampak yang terlihat adalah muncul dua kelompok masyarakat yang berbeda pandangan tentang otonomi daerah. walaupun sudah banyak Undang-undang dan peraturan yang dibuat untuk melaksanakan otonomi daerah tersebut. Kelompok masyarakat ini tidak terlalu antusias memberikan dukungan ataupun menuntut programprogram yang telah ditetapkan dalam otonomi daerah.IV. pelaksanaan pemerintahan masih cenderung bersifat sentralistis dan otoriter . Di sisi yang lain ada kelompok masyarakat yang sangat optimis terhadap keberhasilan kebijakan otonomi daerah karena kebijakan ini cukup aspiratif dan didukung oleh hampir seluruh daerah dan seluruh komponen. Dampak Pelaksanaan Otonomi Daerah Di Indonesia Selama kurang lebih 60 tahun Indonesia medeka. pada masa pemerintahan presiden Abdurachaman Wachid. Pada masa Reformasi tuntutan untuk melaksanakan otonomi daerah sangat gencar sehingga pemerintah secara serius pula menyusun kembali Undang-undang yang mengatur otonom daerah yaitu Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Demikian pula pada masa pemerintahan Orde Baru dengan demokrasi Pancasilanya. Selain itu pada kedua masa tersebut banyak terjadi distorsi kebijakan yang terkait dengan otonomi daerah.maka otonomi daerah secara resmi berlaku sejak tanggal 1 Januari 2001. karena pada kenyataannya otonomi daerah belum dilaksanakan sepenuhnya. 12 . karena pimpinan negara yang menerapkan demokrasi terpimpin cenderung bersikap otoriter dan sentralistis dalam melaksanakan pemerintahannya. Selain itu masyarakat yang masih dipengaruhi oleh euforia reformasi menganggap otonomi daerah adalah kebebasan tanpa batas untuk melaksanakan pemerintahan sesuai dengan harapan dan dambaan mereka. Di satu sisi ada masyarakat yang pasif dan pesimis terhadap keberhasilan kebijakan otonomi daerah. Antusiasme dan tuntutan untuk segera melaksanakan otonomi daerah juga berdatangan dari kelompok-kelompok yang secara ekonomis dan politis mempunyai kepentingan dengan pelaksanaan otonomi daerah. mengingat pengalaman-pengalaman pelaksanaan otonomi daerah pada masa lalu. Setelah 2 tahun memalui masa transisi dan sosialisasi untuk melaksanakan kebijakan otonomi daerah tersebut.

adat-istiadat dan kemampuan-kemampuan lain serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan manusia sebagai anggota masyarakat melalui proses belajar(Tylor dalam Soekanto . 1969 : 55). Contoh lain. parsial. Perebutan sumber pendapatan daerah sering juga terjadi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. primordial . Dalam pengertian sempit. Berbagai contoh upaya gencar daerahdaerah untuk meningkatkan PAD dengan cara yang paling mudah yaitu dengan penarikan pajak dan retrebusi secara intensif.B. pendstribusian kekuasaan sesuai dengan kompetensi . kebudayaan diartikan sebagai hasil cipta. memacu kompetisi yang sehat. 13 .Tylor adalah kompleks yang mencakup pengetahuan. V. moral. Perubahan Budaya Sebagai Akibat Pelaksanaan Otonomi Daerah Di Indonesia Pelaksanaan otonomi daerah di berbagai daerah di Indonesia telah menimbulkan dampak. seringkali mewarnai pelaksanaan otonomi daerah sehingga dikhawatirkan dapat menjadi benih disintegrasi bangsa. hukum. Selain itu otonomi daerah juga telah membawa perubahan-perubahan budaya dalam masyarakat Indonesia. etnosentris. Jadi pengertian kebudayaan dalam arti sempit adalah berupa hasil-hasil kesenian. kepercayaan. baik dampak positif maupun dampak negatif seperti beberapa contoh yang telah penulis sebutkan di atas. sekarang dapat menjadi potensi andalan dari daerah. Selain itu otonomi daerah memacu menumbuhkan demokratisasi dalam kehidupan masyarakat. tidak jarang terjadi sengketa antar daerah yang memperebutkan batas wilayah yang mempunyai potensi ekonomi yang tinggi. Suasana di daerah-daerah dewasa ini cenderung saling berpacu untuk meningkatkan potensi daerah dengan berbagai macam cara. juga ada dampak positif yang memberikaan harapan keberhasilan otonomi daerah.Harapan yang besar dalam melaksanakan otonomi daerah telah mengakibatkan daerah-daerah saling berlomba untuk menaikan pendapatan asli daerah (PAD). Selain dampak negatif dari pelaksanaan otonomi daerah seperti tersebut di atas. karya dan karsa manusia untuk mengungkapkan hasratnya akan keindahan . Pemikiran yang bersifat regional. Pengembangan dan inovsi bidang-bidang dan sumberdaya yang dahulu kurang menarik perhatian untuk dikembangkan. Seluruh komponen masyarakat mulai dari pemerintah daerah dan anggota masyarakat umumnya diharapkan dapat mengembangkan kreativitasnya dan dapat melakukan inovasi diberbagai bidang . Pengertian budaya atau kebudayaan dalam arti luas menurut E.

Perubahan kebudayaan yang akan dibahas dalam tulisan ini difokuskan pada bahasan kebudayaan dalam arti luas. yaitu antara lain : Paradigma dari sentralisasi ke desentralisasi Paradigma kebijakan tertutup ke kebijakan terbuka (transparan) Paradigma yang menjadikan masyarakat sebagai obyek pembangunan ke masyarakat yang menjadi subyek pembangunan. pelaksanaan sampai pada pengawasan program pembanguan yang dilaksanakan di daerahnya. Perubahan paradigma pemerintahan sentralisasi ke pemerintahan desentralisasi telah menyebabkan kebingungan pada aparat pemerintah daerah yang sudah terbiasa menerima program-program yang telah dirancang oleh pemerintah pusat. pemerintahan. tentu saja belum membuat para aparat pemerintah daerah dan masyarakat memahami sepenuhnya hakekat dan aturan-aturan pelaksanaan otonomi daerah. 14 Walaupun demikian sedikit demi sedikit aparat pemerintah daerah dan masyarakat mulai belajar . sosial dan sebagainya. kreatif. konsep dan kebijakan dalam rangka mencari sumber pembiayaan pembangunan tersebut. ekonomi. Paradikma dari organisasi yang tidak efisien ke organisasi yang efisien . nyata dan bertanggung jawab. Sejalan dengan tekat pemerintah untuk melaksanakan otonomi daerah. inovatif . Perubahan paradigma dalam waktu yang relatif singkat. Pemerintah Daerah dituntut untuk secara mandiri melaksanakan aktivitas perencanaan. dalam arti perubahan perilaku pemerintah dan masyarakat yang terkait dengan bidang politik. 2002 : 181). walaupun bahasannya secara umum dan tidak mengupas seluruh aspek dari bidang-bidang tersebut. yang diharapkan dapat menghasilkan pemikiran . Paradigma dari otonomi yang nyata dan bertanggungjawab ke otonomi yang luas. Perubahan paradigma ini juga merubah budaya masyarakat dalam melaksanakan kegiatannya dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah.up. Selain itu daerah dituntut kemampuannya untuk membiayai sebagian besar kegiatan pembangunannya sehingga diperlukan sumberdaya manusia yang berkualitas. Paradigma dari perencanaan dan pelaksanaan program yang bersifat top down ke paradigma sistem perencanaan campuran top down dan bottom. maka telah terjadi perubahan-perubahan paradigma (Warseno dalam Ambardi dan Prihawantoro. Sekarang mereka dituntut untuk melaksanakan pemerintahan yang efisien dan berorientasi pada kualitas pelayanan serta melibatkan partisipasi masyarakat.

Iklim keterbukaan yang mewarnai otonomi daerah telah membawa perubahan pada perilaku masyarakat yang semula tidak diberi kesempatan untuk mengetahui dan berperan dalam perencanaan. tindakan mogok kerja tersebut merupakan tindakan yang menyalahi aturan dan dapat dikenakan sanksi karena para pegawai negeri tersebut mengemban tugas pelayanan kepada masyarakat. baik formal maupun non formal. Satu contoh di beberapa daerah telah disusun hukum dan peraturan yang disesuaikan dengan kultur (budaya) masyarakat dan perjalanan sejarah daerah tersebut. Masyarakat seolah-olah sudah tidak mempunyai kepercayaan kepada lembaga yang dapat menyalurkan aspirasi mereka. Ada beberapa contoh daerah yang telah menyusun peraturan dan hukum berdasarkan syariat atau hukum Islam. Keadaan ini kemudian melahirkan sikap-sikap yang kadang-kadang sangat berlebihan. Contoh yang lain adalah pemangkasan prosedur birokrasi yang bertele-tele. inovasi dan kreativitas dalam penggalian potensi daerah mulai digiatkan. sehingga tindakan main hakim sendiiri menjadi pemandangan yang sangat umum. Tentu saja kalau kita melihat secara proporsional pada tindakan masyarakat terutama para pegawai negeri. Bahkan para pegawai negeri di Temanggung melakukan demonstrasi dan mogok kerja sebagai protes terhadap Bupati. Masyarakat yang masih awam dengan penerapan sistim demokrasi menganggap bahwa semua masalah pemerintahan juga harus dipertanggungjawabkan secara langsung kepada mereka. Otonomi daerah yang bertujuan untuk pengelola daerah atas prakarsa sendiri dalam beberpa bidang mulai menampakkan perubahan. Sebagai contoh kita dapat melihat pada peristiwa yang menimpa Bupati Temanggung yang baru-baru ini diminta oleh hampir seluruh masyarakat Temanggung untuk mengundurkan diri. 15 . pelaksanaan dan pengawasan pembangunan kemudian diberi kesempatan untuk terlibat dalam program-program pembangunan. Aktivitas yang mengarah pada efisiensi dan upaya peningkatan kualitas pelayanan. Beberapa contoh dapat disebutkan yaitu bahwa instansi-instansi pemerintah di daerah giat mendorong para pegawainya untuk meningkatkan dan mengembangkan ketrampilan dan keahliannya melalui peningkatan pendidikan.menyesuaikan diri dengan iklim otonomi daerah. karena dianggap telah melakukan korupsi. Pada awal masa reformasi kita dapat melihat maraknya demonstrasi masyarakat yang kadang-kadang sangat brutal dan kasar menuntut agar pejabat-pejabat pemerintahan yang dianggap telah menyimpang dalam melaksanakan tugas-tugas yang diamanatkan kepadanya diadili atau mengundurkan diri. dengan tujuan untuk efisiensi .

Daerah-daerah yang sangat minim sumberdaya alamnya dipacu untuk melihat lebih jeli peluang-peluang di sektor ekonomi berskala kecil atau yang sering disebut sebagai ekonomi kerakyatan (usaha kecil dan menengah). Undang-undang Nomor 18/2001 Tentang Otonomi Khusus. kultur dan pimpinan/pemegang kebijakan. yaitu judi. Daerah lain yang juga mulai menerapkan aturan berdasarkan syariat Islam adalah Cianjur. sumberdaya manusia. minum minuman keras/mabuk dan berzina (Gatra. Perilaku masyarakat yang terkait dengan penggalian dan pengembangan potensi ekonomi juga melahirkan sikap dan kultur berkreasi dan berinovasi untuk menciptakan hal-hal baru. berpasangan di tempat gelap dengan orang yang bukan muhrimnya. Dalam Peraturan Gubernur ini setidaknya ditetapkan empat kasus yang pelakunya bisa dikenai hukum cambuk. Kalau tidak. Hukum Cambuk yang dilaksanakan di Nangroe Aceh Darussalam ini sebenarnya bukan bertujuan untuk mempertontonkan kesadisan dan kekejaman dari penegak hukum di sana. persaingan antar daerah dan lain sebagainya. maka akan terjadi persaingan yang tidak sehat antara kelompok masyarakat di daerah tersebut. 2 Juli 2005). Kadang-kadang ambisi untuk meningkatkan PAD melahirkan sikap “ rakus “ pada daerah-daerah. Provinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD) telah diberlakukan hukum cambuk kepada 15 orang terpidana yang melakukan judi. dan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 5/2000 Tentang pelaksanaan Syariat Islam. melainkan untuk membuat jera para pelaku tindak kraiminal dan agar masyarakat lebih berhati-hati serta melaksanakan syariat Islam dengan baik dan benar. Nomor 33. Di sana telah disusun aturan yang menghimbau wanita muslim mengenakan jilbab serta himbauan kepada suluruh muslim meninggalkan pekerjaannya untuk segera menunaikan sholat ketika adhan berkumandang. Dari pengalaman krisis ekonomi yang dialami Indonesia pada tahun 1997. Hukum cambuk yang mengundang pro-kontra ini dilaksanakan pada tanggal 24 Juni 2005 . Pijakan hukum yang melandasi hukum cambuk adalah Undang-undang Nomor 14/1999 Tentang Pelaksanaan Keistimewaan Provinsi Nangroe Aceh Darussalam. Bahkan tidak jarang antar daerah saling berebut lahan atau sumber daya alam yang menjadi sumber ekonomi . 16 . Petunjuk teknis pelaksanaan hukum cambuk bagi yang melanggar syariat Islam dituangkan dalam Peraturan Gubernur Aceh Nomor 10/2005 sebagai pengganti Peraturan Daerah (Qanun). Pelangaran pada peraturan ini sementara berupa sanksi moral dan sanksi sosial. Dalam upaya meningkatkan daya saing ini beberapa daerah harus memperhatikan potensi sumberdaya alam.Baru-baru ini di Kabupaten Bireuen. ekonomi rakyat dan sektor informal mampu bertahan dan bahkan mampu menjadi penyangga (buffer) perekonomian daerah .

Beberapa contoh daerah yang dapat menyesuaikan diri dengan keadaan setelah krisis ekonomi dan tetap dapat bertahan dan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonominya adalah Kabupaten Sukoharjo dan Desa Banyuraden. yang semula menjadi sumber masalah lingkungan di desa tersebut. Kecamatan Gamping. Kita tidak dapat memungkiri bahwa tidak semua daerah berhasil mengatasi krisis ekonomi melalui pemberdayaan ekonomi rakyat. Berbeda dengan Kabupaten Sukoharjo. Desa Banyuraden berhasil memanfaatkan sampah menjadi sumber ekonomi masyarakat dengan cara mengolah sampah menjadi kompos atau pupuk organik dan dan barang kerajinan.sehingga mampu menyelamatkan kehidupan rakyat ( Mubyarto. Kabupaten Sleman. Desa Banyuraden Kabupaten Sleman berhasil memberdayakan ekonomi masyarakat melalui pengelolaan dan pengolahan sampah. Banyak daerah terutama di luar Jawa yang tidak memiliki sumberdaya ekonomi dan sumberdaya manusia yang memadai patut mendapatkan perhatian yang lebih besar dari Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. Kabupaten Sukoharjo selama krisis ekonomi tidak terkena dampak yang berarti karena industri kecil dan sektor informal yang dikembangkan di daerah tersebut tidak tergantung pada bahan baku import dan melayani pasar lokal yang cukup luas. 17 . 2001 : 196).

Pengalaman masa lalu yang kurang menggembirakan dalam pelaksanaan otonomi daerah diharapkan menjadi pegangan kuat untuk mewujudkan otonomi daerah sesuai dengan hakekat dan tujuannya yang mulia. Dengan demikian pelaksanaan otonomi daerah hendaknya melalui pentahapan yang disesuaikan dengan sistim sosial-budaya masyarakat daerah. 18 . sebab banyak daerah-daerah di luar Jawa terutama yang belum siap menghadapi otonomi daerah. Pemerintah Daerah dan masyarakat untuk tetap konsisten melaksanakan otonomi daerah. Melalui otonomi daerah peluang untuk melaksanakan demokrasi ekonomi terbuka lebar. primordialisme. Penerapan otonomi secara secara serentak di seluruh wilayah Indonesia hendaknya terlebih dahulu tidak menerapkan otonomi secara penuh. etnosentrisme. gotong royong . Pelaksanaan otonomi daerah bukan hal yang menakutkan bila dipahami dengan benar dan proporsional. Modal utama untuk mewujudkan terlaksananya otonomi daerah secara baik dan benar adalah rasa percaya diri yang besar dan komitmen yang tinggi dari Pemerintah Pusat.BAB IV Penutup I. Banyak daerah yang telah menunjukkan prospek yang menggembirakan. tenggang rasa dan sebagainya. harus dikendalikan dan diarahkan menjadi nilai positif yang mendukung pembangunan daerah yang berlandaskan nilai-nilai religius. Kesimpulan Menginjak abad XXI ada kebutuhan yang sangat mendesak untuk melaksanakan otonomi daerah. Budaya dan perilaku yang muncul sebagai akibat euforia reformasi yang dapat menimbulkan “kontra produktif” harus diarahkan menjadi kultur dan perilaku yang produktif dan konstruktif untuk mewujudkan otonomi daerah yang sehat dan seimbang. Demikian juga budaya-budaya yang sudah sejak lama tumbuh dalam mayarakat seperti patron client. Dalam kurun waktu yang singkat tentu saja otonomi daerah yang diberlakukan sejak awal tahun 2001 berdasarkan Undang-undang Nomor 22 /1999 masih menghadapi banyak masalah dalam pelaksanaannya. sehingga ekonomi kerakyatan yang selama ini tiak mendapat perhatian. Pertumbuhan dan perkembangan ekonomi kerakyatan harus memotivasi masyarakat untuk berkreasi dan berinovasi agar daerah mempunyai daya tahan dan daya saing di era globalisasi ini. akan mendapat perlindungan.

19 .II. Saran Dengan adanya otonomi daerah diharapkan dapat membawa pemerataan dan keadilan dalam pelaksanaan di masyarakat daerah khususnya kerana berhasil atau tidaknya otonomi daerah tergantung pada daerah itu sendiri dan diharapkan juga dengan adanya sistem desentralisasi dan otonomi daerah dapat menjamin terbukanya partisipasi masyarakat dalam pembangunan daerahnya.

.Jakarta : PT Elex Media Kompetindo 4.ac. .php? option=com_content&task=view&id=59&Itemid=1 diakses pada 15 Oktober 2012. Nugroho D.2000. Pemulihan Ekonomi Rakyat Menuju Kemandirian Masyarakat Desa. 3.blogspot. iv . Jakarta : PT Gramedia UU No.kompasiana. HAW. Mubyarto.Drs. 10. Prof. Riant. Selo (Ed. Menuju Tata Indonesia Baru.com/2010/07/26/otonomi-daerah-di-indonesia/ diakses tanggal 15 Oktober 2012.depdagri.).ditjen-otda. penyelenggaraan otonomi daerah di indonesia. http://fh.id/index.32 tahun 2004 . 2. tentang Pemerintah Daerah. 5. Soemardjan. http://www. Mubyarto. 8.com/2011/02/pengertian-prinsip-dan-tujuanotonomi. diakses pada 15 Oktober 2012.id/index.Daftar Pustaka 1. Palembang : Rajawali Pers. 2005. 9.wisnuwardhana. 7. 2000.22 tahun 1999 dan UU No. 2000. 6.go. http://politik. Widjaja. Yogyakarta : Aditya Media. Yogyakarta : BPFE. Otonomi Daerah Desentralisasi Tanpa Revolusi : Kajian dan Kritik atas Kebijakan Desentralisasi di Indonesia.php/22-isu-strategis-ruu-pemerintahandaerah diakses 15 oktober 2012. 2001. http://silahkanngintip. Prospek Otonomi Daerah dan Perekonomian Indonesia Pasca Krisis.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful