P. 1
Isi

Isi

|Views: 26|Likes:
Published by Rien WahyuPratama

More info:

Published by: Rien WahyuPratama on Jan 03, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/19/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang

Rule of Law adalah suatu doktrin hukum yang mulai muncul pada abad ke-19, bersamaan dengan kelahiran negara konstitusi dan demokrasi. Ia lahir sejalan dengan tumbuh seburnya demokrasi dan menigngkatnya peran parlemen dalam penyelenggaraan negara dan sebagai reaksi terhadap negara absolut yang berkembang sebelumnya. Rule Of Law merupakan konsep tentang common Law, dimana segenapa lapisan masyarakat dan negara beserta seluruh kelembagaanya menjunjung tinggi supermasi hukum yang dibangun diatas prinsip keadilan dan egalitarian. Rule of Law adalah rule by the law dan bukan rule by the man. Ia lahir mengambil alih dominasi yang dimiliki kaum gereja, ningrat,dan kerajaan, menggeser negara kerajaan dan memunculkan negara konstitusi yang pada gilirannya melahirkan doktrin rule of law.

Paham rule of law di inggrisdiletakan pada hubungan antara hukum dan keadilan, di Amerika diletakkan pada hak-hak asasi manusia, dan di Belanda paham rule of law lahir dari paham kedaulatan negara, melalui paham kedaulatan hukum untuk mengawasi pelaksanaan tugas ketakutan pemerintah.

Di indonesia, inti dari rule of law adalah jaminan adanya keadilan bagi masyarakatnya, khususnya keadilan sosial. Pembukaan UUD 1945 memuat perinsip-prinsip rule of law, yang pada hakikatnya merupakan jaminan secara formal terhadap “rasa keadilan” bagi rakyat indonesia. Dengan kata lain, pembukaan UUD 1945 memberi jaminan adanya rule of law dan sekaligus rule of justice. Prinsip-prinsip rule of law didalam pembukaan UUD 1945 bersifat tetap dan instruktif bagi penyelenggara negara, karena pembukaan UUD 1945 merupakan pokok kaidah fundamental Negara Kesatuan Republik Indonesia.

1

B. Tujuan 1. Untuk mengetahui pengertian rule of law. 2. Untuk mengetahui penggolongan hukum menurut : a. Bentuk b. Wilayah c. Fungsi d. Waktu e. Isi 3. Untuk mengetahui perbedaan hukum dengan keadilan. 4. Untuk mengetahui pentingnya hukum di dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. 5. Untuk mengetahui penerapan nilai dan norma dalam kehidupan sehari-hari. 6. Untuk mengetahui fungsi dan tujuan rule of law. 7. Untuk mengetahui implementasi hukum di indonesia dalam menegakan keadilan.

C. Sistematika Penulisan Sistematika penulisan makalah ini adalah sebagai berikut yaitu kata pengantar, daftar isi, bab satu pendahuluan, bab dua pembahasan, bab tiga penutup. Adapun didalam Bab satu terdiri atas sub-sub bab yaitu pendahuluan: latar belakang, tujuan penulisan dan sistemsatika penulisan. Bab dua pembahasan terdiri atas sub-sub bab yaitu: Pengertian RULE OF LAW, Perbedaan Hukun dengan Keadilan, Penggolongan Hukum , Pentingnya Hukum dalam Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara, Penerapan Nilai dan Norma dalam Kehidupan Seharihari, Fungsi dan Tujuan RULE OF LAW, Implementasi Hukum di Indonesia dalam Menegakkan Keadilan. Bab ketiga berisi kesimpulan, daftar pustaka, daftar namanama kelompok, dan daftar pertanyaan.

2

BAB II RULE OF LAW

A. Pengertian Rule of Law

Negara hukum merupakan terjemahan dari istilah Rachsstaatatau Rule of Law. Rachsstaatatau Rule of Law dapat di katakan sebagai bentuk perumusan yuridis dari gagasan konstitusionalisme.Oleh karena itu, konstitusi dan negara (hukum) merupakan dua lembaga yang tidak terpisahkan. Ada sementara pakar

mendeskripsikan bahwa pengertian negara hukum dan Rule of Law itu hampir dikatakan sama, namun terdapat pula sementara pakar menjelaskan bahwa meskipun antara negara hukum dan Rule of Law tidak dapat dipisahkan namun masing-masing memiliki penekanan masing-masing. Menurut Philipus M.Hadjon misalnya bahwa negara hukum yang menurut istilah bahasa Belanda rechtsstaat lahir dari suatu perjuangan menentang absolutisme, yaitu dari kekuasaan raja yang sewenangwenang untuk mewujudkan negara yang didasarkan pada suatu peraturan perundang-undangan oleh karena itu dalam proses perkembangannya rechtsstaat itu lebih memiliki ciri yang revolusioner. Gerakan masyarakat yang menghendaki bahwa kekuasaan raja maupun penyelenggaran, dan pelaksanaan dalam

hubungannya dengan segala peraturan perundang-undangan itulah yang sering diistilahkan dengan Rule of Law. Oleh karena itu menurut Hadjon Rule of Law lebih memiliki ciri yang evolusioner, sedangkan upaya untuk mewujudkan negara hukum atau rechtsstaat lebih memiliki ciri yang revolusioner, misalnya gerakan revolusi Prancis serta gerakan melawan absolutisme di eropa lainnya, baik dalam melawan kekuasaan raja, maupun golongan-golongan teologis. Oleh karena itu menurut friedman, antara pengertian negara hukum atau rechtsstaat dan Rule of Law sebenarnya saling mengisi. Oleh karena itu berdasarkan bentuknya sebenarnya Rule of Law adalah kekuasaan publik yang diatur secara legal. Oleh karena itu setiap organisasi atau persekutuan hidup dalam masyarakat termasuk negara mendasarkan pada Rule of Law. Berdasarkan pada pengertian

3

tersebut maka setiap negara yang legal senantiasa menegakan Rule of Law. Dalam hubungan ini pengertian Rule of Lawberdasarkan substansi atau isinya sangat berkaitan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam suatu negara. Konsekuensinya setiap negara akan mengatakan mendasarkan pada Rule of Law dalam kehidupan kenegaraanya, meskipun negara tersebut adalah negara otoriter atas dasar alasan ini maka diakui bahwa sulit menentukan pengertian Rule of Low secara Universal karena setiap masyarakat melahirkan pengertian itupun secara berbeda pula, dalam hubungan inilah maka Rule of Law dalam hal munculnya bersifat endogen, artinya muncul dan berkembang dari suatu masyarakat tertentu. Munculnya keinginan untuk melakukan pembatasan yuridis terhadap kekuasaan, pada dasarnya disebabkan politik kekuasaan cenderung korup. Hal ini dikhawatirkan akan menjauhkan fungsi dan peran dalam kehidupan individu dan masyarakat. Atas dasar pemikiran tersebut keinginan yang sangat besar untuk melakukan pembatasan terhadap kekuasaan secara normatif yuridis untuk menghindari kekuasaan yang dispotik. Dalam hubungan inilah maka kedudukan kostitusi menjadi sangat penting bagi kehidupan masyarakat. Konstitusi dalam hubungan ini dijadikan sebagai perwujudan hukum tertinggi yang harus dipatuhi oleh negara dan pejabat-pejabat pemerintah sekalipun sesuai dengan prinsip government by Law, not by man (pemerintahan berdasarkan hukum, bukan berdasarkan manusia atau penguasa). Bagi negara indonesia ditentukan secara yuridis formal bahwa negara Indonesia adalah negara berdasarkan atas hukum. Hal itu tercantum dalam pembukaan UUD 1945 alenia lV, yang secara eksplisit dijelaskan bahwa “....maka disusunlah kebangsaan indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia....” hal ini mengandung arti bahwa suatu negara yang didirikan itu berdasarkan atas Undang-Undang Dasar Negara . Secara sederhana yang di maksud Negara hokum adalah negara yang penyelenggaraan kekuasaan pemerintahannya di dasarkan atas hukum. Di dalam pemerintahan dan lembaga-lembaga lain dalam melaksan akan tindakan apapun harus di landasi oleh hokum dan dapat di pertanggungjawabkan secara hukum. Dalam Negara hukum, kekuasaan menjalan kanpemerintahan berdasarkan

4

kedaulatan hokum (supremasihukum) dan bertujuan untuk menjalankan ketertiban hukum (Mustafa Kamal Pasha,2003). Banyak peristiwa pada saat ini yang menjadi dasar perlunya Rule of Law atau pengakan hukum. Indonesia pada saat ini, mengalami permasalahan yang besar dalam hal illegal logging atau pencurian kayu dan hasil hutan. Pencurian hasil hutan ini mengakibatkan kerugian negara lebih Rp. 100 triliun dalam empat tahun terakhir. Mengapa hal ini terjadi? Lemahnya penegakan hukum menjadi jawabannya hutan memang dalam wewenang departemen kehutanan, namun luasnya hutan tidak mungkin di tanggani departemen ini sendiri, dibutuhkan bantuan kepolisiaan bahkan TNI. Pencuri hasil hutan ini karena hukuman yang ringan, atau sulitnya mencari bukti dalam hal ini peranan kejaksaan, dan lembaga peradilan menjadi penting.

Kasus lain yang menunjukan perlunya penegakan hukum adalah, kemauan pemda DKI dalam rengka membatasi ruang bagi perokok. Peraturan daerah sudah dibuat dan dinyatakan berlaku, namun banyak masyarakat yang mengabaikan. Mengapa demikin? Jawabannya adalah lemahnya penegakan hukum, terbatsnya jumlah aparat dan kordinasi antar aparat hukum, sehingga kantor yang tidak menyediakan ruang untuk merokok, atau orang yang merokok ditempat umum tidak dapat dipindah.

Penegakan hukum atau Rule of Law merupakan suatu doktrin dalam hukum yang muncul pada abad ke19, bersamaan dengan kelahiran Negara berdasarkan hokum (konstitusi) dan demokrasi. Kehadiran rule of law boleh disebutreaksi dan koreksi terhadap Negara absolute (kekuasaan di tanganpenguasa) yang telah berkembang sebelumnya.

Berdasarkan pengertiannya, Friedman (1959) membedakan pengertianRule of Law menjadi dua,yaitu pengertian secara formal (in the formal sense) dan pengertian secara hakiki atau materiil (ideological sense). Secara formal pengertian Rule of Law di artikan sebagai kekuasaan umum yang terorganisasi (organized

5

public power), ha lini dapat di artikan bahwa setiap Negara aparat penegak hukum. Sedangkan secara hakiki, pengertian Rule of Law terkait dengan penegakan hukum yang menyang kutukuran hokum yaitu baik dan buruk (just and unjust law).

Ada tidak nyapenegakan hukum, tidak cukup hanya di tentukan oleh adanya hokum saja, akan tetapi keadilan yang dapat dinikmati setiap anggota masyarakat. Rule of law tidak sejalan hanya memiliki system peradilan yang sempurna di atas kertas belaka, akan tetapi ada tidaknya rule of law di dalamsuatu Negara di tentukanoleh “kenyataan”, apakah rakyatnya benar-benar dapat menikmati keadilan, dalam arti perlakuan yang adil dan baik dari sesama warga negaranya, maupun dari pemerintahannya, sehingga inti dari rule of law adanya jaminan keadilan yang di rasakan oleh masyarakat atau bangsa. Rule of law yang

mengandung gagasan bahwa keadilan dapat di layani melalui perbuatan system peraturan dan prosedur yang yang terlibat yang bersifat objektif, tidak memihak, tidak personal dan otonom. Ciri-ciri Negara Hukum Negara hukum yang muncul pada abad ke-19 adalah negara hukum formil atau negara hukum dalam arti sempit. Pada uraian sebelumnya telah ditemukan bahwa negara hukum merupakan terjemahan dari istilah Rechtsstaat atau Rule of Law. Istilah Rechtsstaat diberikan oleh para ahli hukum Eropa kontinental sedangkan istilah Rule of Law diberikan oleh para ahli hukum Anglo Saxon memberi ciri-ciri Rule of Law sebagai berikut. a. Supermasi hukum, dalam arti tidak boleh ada kesewenang-wenangan sehingga seseorang hanya boleh dihukum jika melanggar hukum. b. Kedudukan yang sama didepan hukum, baik bagi rakyat biasa maupun bagi pejabat. c. Terjaminnya pengadilan. Ciri-ciri Rechtsstaat atau Rule of Law diata smasih dipengaruhi oleh konsep negara hukum formil atau negara hukum dalam arti sempit. Dari pencirian diatas hak-hak manusia dalam undang-undang atau keputusan

6

terlihat bahwa peranan pemerintahan hanya sedikit, karena ada dalil bahwa “Pemerintahan yang sedikit adalah pemerintahan yang baik. Dengan munculnya konsep negara hukum materil pada abad ke-20 maka perumusan ciri-ciri negara hukum sebagaimana dikemukakan oleh Stahl dan tugas pemerintahan yang tidak boleh lagi bersifat pasif.

Sebuah komisi para juris yang tergabung dalam international commission of jurits pada konferensinya di Bangkok tahun 1965 merumuskan ciri-ciri pemerintahan yang demokratis dibawah Rule of Law yang dinamis. Ciri-ciri tersebut adalah: a. Perlindungan konstitusional, dalam arti bahwa konstitusi selain menjamin hakhak individu harus menentukan pula cara prosedural untuk memperoleh perlindungan atas hak-hak yang dijamin; b. Badan Kehakiman yang bebas dan tidak memihak; c. Kebebasan untuk menyatakan pendapat; d. Pemilihan umum yang bebas; e. Kebebasan untuk berorganisasi dan beroposisi; f. Pendidikan civics (kewarganegaraan).

Dari perincian seperti itu terlihat bahwa adanya pengakuan terhadap perluasan tugas pemerintah (eksekutif) agar menjadi lebih aktif tidak hanya selaku penjaga malam. Pemerintahan diberi tugas dan tanggung jawab membangun kesejahteraan dan pemerataan yang adil bagi rakyatnya. Ciri-ciri negara hukum diatas sudah dipengaruhi oleh konsepsi negara hukum materil (modern).

Di samping perumusan ciri-ciri negara hukum seperti di atas, ada pula berbagai pendapat mengenai ciri-ciri negera hukum yang dikemukakan oleh para ahli. Menurut Montesquieu, negara yang paling baik ialah negara hukum, sebab di dalam konstitusi di banyak negara terkandung tiga inti pokok, yaitu: a. Perlindungan HAM b. Ditetapkannya ketatanegaraan suatu negara, dan c. Membatasi kekuasaan dan wewenang organ-organ negara.

7

Prof. Sudargo Gautama mengemukakan ada 3 (tiga) ciri atau unsur dari negera hukum, yakni sebagai berikut: a. Terdapat pembatasan kekuasaan negara terhadap perorangan, maksudnya negara tidak dapat bertindak sewenang-wenang. Tindakan negara dibatasi oleh hukum, individual mem[unyai hak terhadap negara atau rakyat mempunyai hak terhadap penguasa. b. Asas legalitas Setiap tindakan negara harus berdasarkan hukum yang telah diadakan terlebih dahulu yang harus ditaati juga oleh pemerintah atau aparatnya. c. Pemisahan kekuasaan Agar hak-hak asasi itu betul-betul terlindung, diadakan pemisahan kekuasaan yaitu badan yang membuat peraturan perundang-undangan, melaksanakan, dan badan yang mengadili harus terpisah satu sama lain tidak berada dalam satu tangan.

Franz Magnis Suseno (1997) mengemukakan adanya 5(lima) ciri negara hukum sebagai salah satu ciri hakiki negara demokrasi. Kelima ciri negara hukum tersebut adalah sebagi berikut: a. Fungsi kenegaraan dijalankan oleh lembaga yang bersangkutan sesuai dengan ketetapan sebuah undang-undang dasar. b. Undang-undang dasar menjamin hak asasi manusia yang paling penting. Karena tanpa jaminan tersebut, hukum akan menjadi sarana penindasan. Jaminan hak asasi manusia memastikan bahwa pemerintah tidak dapat menyalahgunakan hukum untuk tindakan yang tidak adil atau tercela. c. Badan-badan negara menjalankan kekuasaan masing-masing selalu dan hanya taat pada dasar hukum yang berlaku. d. Terhadap tindakan badan negara, masyarakat dapat memgadu ke pengadilan damn putusan pengadilan dilaksanakan oleh badan negara. e. Badan kehakiman bebas dan tidak memihak.

8

Mustafa Kamal Pasha (2003) menyatakan adanya 3(tiga) ciri khas negara hukum, yaitu: a. Pengakuan dan perlindungan terhadap hak asasi manusia Di dalam ciri ini terkandung ketentuan bahwa di dalam suatu negara hukum di jamin adanya perlindungan hak asasi manusia berdasarkan ketentuanm hukum. Jaminan itu umumnya dituangkan dalam konstitusi negara bukan pada perundang-undangan di bawah konstitusi negara. Undang-undang dasar negara berisi ketentuan-ketentuan tentang hak asasi manusia. Inilah salah satu gagasan konstitusionalisme. b. Peradilan yang bebas dari pengaruh kekuasaan yang lain dan tidak memihak Dalam ciri ini terkandung ketentuan bahwa pengadilan sebagai lembaga peradilan dan badan kehakiman harus benar-benar independen dalam membuat putusan hukum, tidak dipengaruhi oleh kekuasaan lain terutama kekuasaan eksekutif. Denagn wewenang sebagai lembaga yang mandiri terbebas dari kekuasaan lain, duharapkan negara dapat menegakkan kebenaran dan keadilan. c. Legalitas dalam arti hukum dalam segala bentuknya Bahwa segala tindakan penyelenggara negera maupun warga negara dibenarkan oleh kaidah hukum yang berlaku serta dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.

B. Penggolongan Hukum

Hukum sebagai peraturan hidup manusia banyak sekali ragamnya. Demi memudahkan pemahaman, hukum dapat digolongkan menurut beberapa aspek. Penggolongan atau klasifikasi hukum adalah sebagai berikut. 1. Hukum menurut wujud atau bentuknya dibedakan menjadi dua, yaitu: a. Hukum tertulis, yaitu hukum yang dapat kita temui tertulis dan dicantumkan dalam berbagai peraturan negara. Misalnya, undang-undang, keputusan presiden dan lain-lain.

9

b. Hukum tidak tertulis, yaitu hukum yang masih hidup dan tumbuh dalam masyarakat tertentu. Salah satu contohnya adalah hukum adat. Dalam praktik ketatanegaraan, hukum tidak tertulis disebut juga sebagai konvensi.

2. Hukum menurut wilayah berlakunya yaitu: a. Hukum nasional Hukum nasional adalah sekumpulan hukum yang sebagian besar terdiri atas prinsip-prinsip dan peraturan-peraturan yang harus ditaati oleh masyarakat dalam suatu negara, dan oleh karena itu juga harus ditaati dalam hubunganhubungan antara mereka satu dengan lainnya.

Hukum Nasional di Indonesia merupakan campuran dari sistem hukum hukum Eropa, hukum Agama dan hukum Adat. Sebagian besar sistem yang dianut, baik perdata maupun pidana, berbasis pada hukum Eropa kontinental, khususnya dari Belanda karena aspek sejarah masa lalu Indonesia yang merupakan wilayah jajahan dengan sebutan Hindia Belanda (NederlandschIndie). Hukum Agama, karena sebagian besar masyarakat Indonesia menganut Islam, maka dominasi hukum atau Syari'at Islam lebih banyak terutama di bidang perkawinan, kekeluargaan dan warisan. Selain itu, di Indonesia juga berlaku sistem hukum Adat, yang merupakan penerusan dari aturan-aturan setempat dari masyarakat dan budaya-budaya yang ada di wilayah Nusantara.

b. Hukum internasional Hukum internasional adalah bagian hukum yang mengatur aktivitas entitas berskala internasional. Pada awalnya, Hukum Internasional hanya diartikan sebagai perilaku dan hubungan antarnegara namun dalam perkembangan pola hubungan internasional yang semakin kompleks pengertian ini kemudian meluas sehingga hukum internasional juga mengurusi struktur dan perilaku organisasi internasional dan pada batas tertentu, perusahaan multinasional dan individu.

10

Hukum internasional adalah hukum bangsa-bangsa, hukum antarbangsa atau hukum antarnegara. Hukum bangsa-bangsa dipergunakan untuk menunjukkan pada kebiasaan dan aturan hukum yang berlaku dalam hubungan antara raja-raja zaman dahulu. Hukum antarbangsa atau hukum antarnegara menunjukkan pada kompleks kaedah dan asas yang mengatur hubungan antara anggota masyarakat bangsa-bangsa atau negara.

Hukum Internasional merupakan keseluruhan kaedah dan asas yang mengatur hubungan atau persoalan yang melintasi batas negara antara:
1. 2.

Negara dengan Negara Negara dengan subyek hukum lain bukan negara atau subyek hukum bukan negara satu sama lain.

c. Hukum asing Hukum asing adalah hukum yang berlaku di negara lain. d. Hukum lokal Hukum lokal adalah sistem hukum yang dikenal dalam lingkungan kehidupan sosial di Indonesia dan negara-negara Asia lainnya

seperti Jepang, India, dan Tiongkok. Hukum lokal adalah hukum asli bangsa Indonesia. Sumbernya adalah peraturan-peraturan hukum tidak

tertulis yang tumbuh dan berkembang dan dipertahankan dengan kesadaran hukum masyarakatnya. Karena peraturan-peraturan ini tidak tertulis dan tumbuh kembang, maka hukum lokal memiliki kemampuan menyesuaikan diri dan elastis. Selain itu dikenal pula masyarakat hukum adat yaitu sekelompok orang yang terikat oleh tatanan hukum adatnya sebagai warga bersama suatu persekutuan hukum karena kesamaan tempat tinggal ataupun atas dasar keturunan.

11

e. Hukum gereja Hukum Gereja adalah sebuah studi teologi yang secara sistematis mengkaji prinsip-prinsip ekklesiologis dari aturan-aturan dalam gereja.Kata hukum gereja secara langsung mengarah kepada peraturan-peraturan dalam gereja. J. L. Ch. Abineno, mengartikan hukum gereja sebagai peraturan gereja yang digunakan untuk menata dan mengatur kehidupan pelayanan dalam gereja.[1] Demikian juga dengan definisi yang diberikan oleh Dr. M. H. Bolkestein, yang menyatakan bahwa hukum gereja merupakan aturan tentang perbuatan dan kehidupan gereja untuk menyatakan gereja sebagai Tubuh Yesus. Namun sesungguhnya, hukum gereja tidak hanya sekadar mengenai peraturan. Cakupan hukum gereja lebih luas dari sekedar aturan, sebab berbicara mengenai pertanggungjawaban teologis dari aturan gereja. Keberadaan aturan dalam gereja adalah sebuah kenyataan yang tidak dapat dihindari. Setiap gereja baik yang baru dirintis maupun yang telah mapan dalam proses pelembagaan tentunya memiliki aturan untuk menata dirinya. Aturan gereja berhubungan dengan seluruh fase kehidupan setiap anggotanya. Anggota gereja terikat dengan aturan gereja. Aturan gereja menjadi hal yang tidak terhindarkan dalam gereja. Sebagai hal yang tidak terhindarkan dalam gereja, penyusunan aturan gereja dilandaskan pada hakikat gereja. Proses pelembagaan gereja adalah bagian dari usaha gereja untuk terus mengkontekstualisasikan cerita keselamatan Allah Tritunggal dan mewujudnyatakan karya keselamatan Allah Tritunggal bagi dunia. Usaha ini dilaksanakan oleh gereja hingga sampai pada eskaton. Hakikat gereja ini sekaligus menegaskan bahwa sebagai lembaga gereja tidak dapat disamakan dengan lembaga lainnya, sehingga penyusunan aturan dalam gereja disusun dengan dilandasi pada eklesiologi sebagai rumusan teologis-sistematis mengenai pemahaman gereja tentang dirinya. Pendasaran eklesiologi menjadikan peraturan-peraturan dalam gereja tidak hanya memiliki makna teologis yang baik, tetapi sekaligus mampu menjawab kebutuhan dan pergumulan hidup jemaat. Eklesiologi selalu berada dalam ruang
12

dan waktu tertentu sebab eklesiologi lahir dalam konteks pergumulan gereja tertentu. Konteks gereja yang berbeda, menghasilkan pemaknaan diri yang juga berbeda. Pemaknaan diri dapat terbentuk dengan baik bila gereja mengenal konteks pelayanannya dengan baik. Jika aturan gereja disusun dengan didasarkan pada eklesiologi, dengan sendirinya aturan gereja hadir dari kebutuhan konteks pelayanannya. Pendasaran hukum gereja pada eklesiologi berbeda dari pendekatan penataan/pemerintahan (stelsel). Pendekatan penataan memberikan penekanan pada penyusunan aturan gereja yang diteruskan karena tradisi. Sistem penataan yang terpaku pada sistem episkopal, kongregasional, dan presbiterial sinodal, dapat menjebak gereja untuk mempertahankan tradisi tanpa peka terhadap tuntutan perubahan konteks pelayanannya. Tradisi hanyalah salah satu sumber pemaknaan diri gereja (eklesiologi).

3. Hukum menurut fungsinya dibedakan menjadi dua, yaitu: a. Hukum materil adalah hukum yang berisi pengaturan tentang hal-hal yang boleh atau tidak boleh dilakukan atau bisa juga dikatakan bahwa hukum materil berisi perintah dan larangan. b. Hukum formil adalah hukum yang berisi tentang tata cara melaksanakan dan mempertahankan/menegakkan hokum materil. c. Hukum menurut Hukum yang memaksa adalah hukum yang memiliki sifat harus ditaati dan dilaksanakan oleh semua pihak. d. Hukum yang mengatur (pelengkap) adalah hokum yang dalam keadaan konkret dapat dikesampingankan atau tidak dijalankan.

4. Hukum menurut waktu berlakunya dibedakan menjadi dua, yaitu: a. Ius constitutum adalah hukum yang telah ditetapkan dan berlaku saat ini. Hukum yang telahdisahkan dan berlaku disebut juga hukum positif. b. Ius constituendum adalah hukum yang masih dicita-citakan. Hukum ini belum ditetapkan sehingga masih belum bisa diberlakukan.

13

5. Hukum menurut isinya dibedakan menjadi dua, yaitu: a. Hukum public atau hukum negara adalah hukum yang mengatur hubungan antara warga Negara dan negara dalam hal menyangkut kepentingan umum. b. Hukum privat atau hukum sipil adalah hukum yang mengatur hubungan antara dua orang atau lebih sebagai individu.

C. Perbedaan Hukum dengan Keadilan

Hukum adalah sekumpulan peraturan-peraturan atau kaidah tentang tingkah laku yang berlaku dalam kehidupan bersama. Peraturan atau tingkah laku ini dapat dipaksakan pelaksanaannya dengan ancaman suatu sanksi. Sedangkan keadilan adalah ukuran yang harus diberikan untuk mencapai keseimbangan antara kepentingan pribadi dan kepentingan bersama, penilaian dengan memberikan kepada siapapun sesuai dengan apa yang menjadi haknya, yakni dengan bertindak proposional dan tidak melanggar hukum.

Keadilan berkaitan erat dengan hak, dalam konsepsi bangsa Indonesia hak tidak dapat dipisahkan dengan kewajiban. Dalam konteks pembangunan bangsa Indonesia keadilan tidak bersifat sektoral tetapi meliputi ideologi,

EKPOLESOSBUDHANKAM. Untuk menciptakan masyarakat yang adil dan makmur. Adil dalam kemakmuran dan makmur dalam keadilan. Keadilan juga memberikann sesuatu kepada setiap anggota masyarakat sesuai dengan haknya yang harus diperolehnya tanpa diminta, tidak berat sebelah atau tidak memihak kepada salah satu pihak, mengetahui hak dan kewajiban, mengerti mana yang benar dan mana yang salah, bertindak jujur dan tetap menurut peraturan yang telah ditetapkan. Keadilan merupakan nilai-nilai kemanusiaan yang asasi dan menjadi pilar bagi berbagai aspek kehidupan, baik individual, keluarga, dan masyarakat. Keadilan tidak hanya menjadi idaman setiap insan bahkan kitab suci umat Islam menjadikan keadilan sebagai tujuan risalah samawi.

14

Ada tiga prinsip keadilan yaitu : 1. Kebebasan yang sama yang sebesar-besarnya, 2. Perbedaan, 3. Persamaan yang adil atas kesempatan. Pada kenyataannya, ketiga prinsip itu tidak dapat diwujudkan secara bersamasama karena dapat terjadi prinsip yang satu berbenturan dengan prinsip yang lain. John Raws memprioritaskan bahwa prinsip kebebasan yang sama yang sebesarbesarnya secara leksikal berlaku terlebih dahulu dari pada prinsip kedua dan ketiga.

Hukum merupakan suatu unsur

kebudayaan, maka seperti unsur-unsur

kebudayaan lain hukum mewujudkan salah satu nilai dalam kehidupan konkret manusia. Nilai itu adalah keadilan. Dari pernyataan ini dapat di simpulkan, bahwa hukum hanya berarti sebagai hukum kalau hukum itu merupakan suatau perwujudan keadilan atau sekurang-kurangnya merupakan usaha kearah itu. Pengertian hukum ini menjadi tolak ukur bagi adilnya atau tidak adilnya tatahukum yang di bentuk dalam masyarakat.Hukum itu mewajibkan. Kiranya jelas bahwa kewajiban pada hukum hanya bersifat ekstern, bila hukum di pandang secara formal belaka, yaitu tanpa diberikan perhatian bagi isinya. Tetapi bila hukum hanya mewajibkan secara ekstern, yaitu berupa sanksi. Bila hukum tidak menimbulkan suatu rasa kewajiban dalam hati, lebih tepat mengatakan bahwa hukum memaksa dari pada bahwa hukum mewajibkan.

Hukum mempunyai sifat utama yaitu keadilan dan kemanfaatan. Perbedaan mendasar antara kebijakan dan hukum adalah pada sifat hukum yaitu keadilan dan kemanfaatan yang tidak ada pada kebijakan, perbedaan ini yang kemudian membedakan.

15

D. Pentingnya Hukum dalam Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara

Dalam kehidupan sehari-hari banyak aturan dan tata tertib yang mengatur tingkah laku manusia. Misalnya, di sekolah ada tata tertib berpakaian, tata tertib mengikuti pelajaran dan atuaran kelas. Di lingkungan masyarakat terdapat juga aturan-aturan yang bertujuan menciptakan ketertiban dan keharmonisan. Misalnya, aturan dalam bertamu atau berkunjung. Di kehidupan bernegara semakin banyak lagi aturan yang mengatur kehidupan kita selaku warga negara.

Aturan dan tata tertib pada dasarnya bertujuan untuk menciptakan hubungan antar warga negara dan pemerintah yang tertib, teratur, dan harmonis. Penyelenggara negara mengeluarkan berbagai peraturan perundang-undangan sebagai hukum negara. Warga negara yang melanggar hukum tentu saja akan mendapat sanksi.

Hukum juga bertujuan menciptakan ketertiban dan keamanan dalam masyarakat. Dengan tercapainya ketertiban dalam masyarakat, di harapkan kepentingan manusia akan terlindugi. Melindungi kepentingan manusia adalah fungsi dari hukum.

Tujuan hukum dapat terwujud dengan semestinya atau sesuai dengan harapan seluruh anggota masyarakat atau negara ketika ada kepatuhan kepada hukum tersebut tidak dapat kita bayangkan bagaimana kehidupan manusia tanpa ada hukum.

Tujuan bangsa indonesia sebagai Negara hukum adalah untuk menciptakan masyarakat yang tertib dan adil dalam naungan Pancasila dan UUD 1945. Hukum tidak hanya berlaku dalam kehidupan bernegara, tetapi juga meliputi seluruh aspek kehidupan bermasyarakat.

Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang telah lebih dari enam puluh tahun merdeka, sudah sepatutnya tercipta ketertiban dan keadilan dalam kehidupan

16

bermasyarakat.ketertiban dan keadilan tidak mungkin tercipta dengan sendirinya, tetapi terbentuk oleh perilaku masyarakat yang menjunjung tinggi hukum dalam seluruh kehidupannya. Hukum dalam kehidupan bernegara di ciptakan untuk keharmonisan dan keselarasan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pancasila sebagai dasar Negara memberikan landasan bahwa kehidupan berbangsa dan bernegara di tujukan pada keselarasan hidup yang di landasi oleh nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan social. Adapun UUD 1945 sebagai hukum dasar tertulis tertinggi memberikan landasan hukum bagi arah penyelenggaraan Negara yang bertujuan untuk mewujudkan tujuan

nasional.Kehidupan berbangsa dan bernegara akan terjalin harmonis apabila seluruh komponen bangsa mendukukng secara positif.

E. Penerapan Nilai dan Norma dalam Kehidupan Sehari-hari

Setiap masyarakat akan menjungjung tinggi nilai dan norma yang berlaku dan yang telah di sepakati bersama. Nilai dan norma menjadi suatu hal yang melekat di dalam masyarakat secara turun temurun, serta di anggap sebagai kebaikan dan kebenaran itu sendiri . Nilai merupakan suat suatu u hal yang di anggap baik atau buruk bagi kehidupan. Nilai merupakan suatu bentuk abstrak dari hal-hal yang bersifat ideal dan disepakati bersama dalam masyarakat. Contohnya, orang menganggap menolong bernilai baik dan mencuri bernilai buruk.

Nilai di klasifikasikan sebagai berikut : 1. Nilai Sosial, yaitu sesuatu yang sudah melekat di masyarakat yang berhubungan dengan sikap dan tindakan manusia. Contohnya, selalu tindakan dan perilaku individu di masyarakat, selalu mendapatkan perhatian dan berbagai macam penilaian.

2. Nilai kebenaran, yaitu nilai yang bersumber pada unsur akal manusia (rasio, budi, dan cipta). Nilai ini merupakan nilai yang mutlak sebagai suatu hal yang

17

kodrati. Tuhan memberikan nilai kebenaran melalui akal pikiran manusia. Contohnya, seorang hakim yang bertugas member sangsi kepada orang yang diadili.

3. Nilai keindahan, yaitu yang bersumber pada unsure rasa manusia (estetika). Keindahan bersifat universal. Semua orang memerlukan keindahan. Namun, setiap orang berbeda-beda dalm menilai sebuah keindahan. Contohnya, sebuah karya seni tari merupakan suatu keindahan. Akan tetapi, tarian yang bersal dari suatu daerah dengan daerah lainnya memiliki keindahan yang berbeda, bergantung paa perasaan orang yang memandangnya.

4. Nilai kebaikan atau nilai moral, yaitu nilai yang bersumber pada kehendak atau kemauan. Dengan moral, manusia dapat bergaul dangan baik anatarsesamanya. Contohnya, berbicara dengan orang yang lebih tua dengan tutur bahasa yang halus, merupakan etika yang tinggi nilainya.

5. Nilai religious, yaitu nilai ketuhanan yang tingggi dan mutlak. Nilai ini bersumber pada hidayah dari Tuhan Yang Mahakuasa. Melalui nili religious, manusia mendapat petunjuk dari TUhan tentang cara menjalani kehidupan. Contohnya, untuk dapat berhubungan dengan Tuhan, seseorang harus beribadah menuruut agama masing-masing. Semiua agama menjungjung tinggi nilai religious. Namun, tata cara berbeda-beda. Hal ini karena setiap agama memililki keyakinan yang berbeda-beda.

Nilai-nilai tersebut akan menjadi kaidah atau patokan bagi mannusia dalam melakukian tindakannya. Misalnya, untuk menentukan makanan yang baik bagi kekesahtan tubuh, kita harus berdasar pada nilai gizi dan bersih dari kuman. Namun, ada nilai lain yang harus di pertimbangkan seperti halal tidaknya suatu makanantertentu. Dengan demikian, nilai berperan dalam kehidupan social seharihari. Sehingga dapat mengatur pola prilaku manusia dalam kehidupan bermasyarakat.

18

Norma lebih bersifat umum yang ada di masyarakat. Antara nilai dan norma tersebut terwujud dalam kebudayaan yang di miliki masyarakat tertentu. Norma adalah suatu tatanan yang berupa aturan-aturan dalam pergaulan pada masyarakat. Macam-macam norma : 1. Norma agama adalah serangkaian peraturan yang bersumber dari perintah Tuhan. 2. Norma kesusilaan adalah norma peraturan yang bersumber dari suara batin atau nurani manusia yang diyakini sebagai pedoman dalam hidupnya. 3. Norma kesopanan adalah peraturan yang bersumber dari pergaulan hidup dalam sekelompok manusia. 4. Norma hukum adalah peraturan yang di buat oleh negara yang tercantum secara jelas di dalam perundang-undangan. Terdapat tiga teori mengapa hukum harus dipatuhi.Teori – teori tersebut sebagai berikut : a. Juridische Geltungshele Menurut ajaran ini,hukum adalah himpunan kaidah – kaidah atau peraturan – peraturan dalam bentuk undang – undang atau bentuk perjanjian yang dibuat oleh lembaga atau orang yang mempunyai wewenang.

b. Philosophische Geltungshele Menurut ajaraan ini,hukum yang berlaku di dalam menyatakan harus mengandung filsafat hidup yang mempunyai tersebut nilai tinggi tinggi bagi nilai

kemanusiaan.Dengan kemanusiaan.

demikian,hukum

menjunjung

c. Sosiologische Geltungshele Menurut ajaran ini,peraturan perundang – undangan hanya dapat dikatakan sebagai hukum positif jika diterima dengan baik dan diikuti secara nyata menyatakan oleh orang – orang yang dikenakan kaidah – kaidah tersebut.

19

Berdasarkan teori - teori tersebut,dapat disimpulkan bahwa berlakunya hukum harus memiliki dasar - dasar yang baik. Untuk diperlukan landasan yuridis,landasan fisiologis,landasan sosiologis.Oleh karena itu, setiap peraturan perundang – undangan harus memenuhi ketiga landasan tersebut. Dalam sistem hukum yang berlaku di Indonesia,pembuatan peraturan perundang – undangan memuat ketiga macam landasan yaitu sebagai berikut : a. Landasan yuridis,yaitu berupa ketentuan hukum yang dijadikan dasar dalam pembuatan suatu peraturan. Contoh penerapan landasan yuridis, yaitu Undang – Undang Dasar 1945 merupakan landasan yuridis bagi pembentukan undang – undang organik. Undang – Undang (UU) dijadikan landasan yuridis bagi pembuatan Peraturan Pemerintah (PP).

b. Landasan Filosofis, yaitu landasan yang berisi filsafat atau ide yang dijakikan dasar dalam pembuatan suatu peraturan perundang – undangan. Pancasila merupakan dasar dalam filsafat perundang – undangan. Pancasila dijadikan sumber hukum nasional. Dengan demikian, setiap pembuatan perundang –undangan memperhatikan nilai – nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila.

c. Landasan sosiologis yaitu mencerminkan keadaan masyarakat atau kenyataan yang ada dalam pergaulan masyarakat. Dengan demikian, diharapkan peraturan akan diterima oleh masyarakat secara wjar dan memiliki daya berlaku yang efektif.

Dalam kehidupan sehari-hari, semua orang dianjurkan untuk tetap menjungjung tinggi nilai norma yang berlaku di tengah-tengah masyarakat. Contoh penerapan norma-norma dalam kehidupan sehari-hari. 1. Nilai norma agama, misalnya dengan menjalankan ajaran agama sebaik-baiknya. Contohnya, menjalankan salat lima waktu bagi umat Islam atau mengikuti kebaktian setiap Minggu bagi umat Kristiani.

20

2. Nilai norma kesopanan, seperti berlaku sopan terhadap orangtua,guru, atau teman-teman, bersikap,berbuat,berpakaian,berjalan, makan, minum, bertindaknya sesuai dengan norma – norma kesopanan yang berlaku dalam kehidupan sehari –hari di masyarakat, mengamalkan tatakrama atau etika,baik di lingkungan keluarga,sekolah,atau dimasyarakat umum.

3. Nilai norma kesusilaan, misalnya orang hendaknya menghindariperbuaatan berbohong, menghina orang lain, memfitnah, membuat orang lain malu, menipu, ataupun melakukan penyimpangan seksual.

4. Nilai norma hukum, misalnya berusaha mempelajari dan memahami normanorma hukum yang berlaku dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, seperti mempelajari Pancasila, UUD 1945, dan peraturan perundang-undangan yang berlakku di negara Indonesia.

F. Fungsi dan Tujuan Rule of Law

Fungsi Rule of law pada hakikatnya merupakan jaminan secara formal terhadap “rasa keadilan” bagi rakyat indonesia dan juga “keadilan sosial”, sehingga diatur pada permukaan UUD 1945, bersifat tetap dan instruktif bagi penyelenggara negara. Dengan demikian, Rule of Law adalah jaminan adanya keadilan bagi masyarakat, terutama keadilan sosial. Prinsip-prinsip diatas merupakan dasar hukum pengembalian kebijakan bagi penyelenggara negara atau pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah, yang berkaitan dengan jaminan atas rasa keadilan, terutama keadilan sosial.

Penjabaran prinsip-prinsip rule of law secara formal termuat dalam pasal-pasal UUD 1945, yaitu : 1. Negara di indonesia adalah negara hukum. 2. Kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdekan untuk

menyelenggarakan peradilan guna menegakan hukum dan keadilan.

21

3. Segenap warga negara bersamaan kedudukannya didalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya.

4. Dalam Hak Asasi Manusia, bahwa setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama dihadapan hukum.

5. Setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja. Tujuan Rule of Law dalam arti material untuk melindungi warga masyarakat dari tindakan sewenang-wenang dari penguasa, sehingga memungkin manusia menikmati martabatnya sebagai manusia. Penegakan Rule of Law di Indonesia berkisar pada usaha-usaha eksekutif diatur dan dibatasi oleh hokum, adanya usaha pencegahan (prevensi) dan tindakan (represi) terhadap keseweangan kekuasaan eksekutif, pengawasan terhadap kekuasaan eksekutif itu diserahkan kepada golongan dan organisasi masyarakat, sehingga kekuasaan Yudikatif merupakan kekuasaan yang merdeka atau bebas dari pengaruh pemerintah.

G. Implementasi Hukum di Indonesia dalam Menegakan Keadilan

Pancasila dalam NKRI mempunyai kedudukan sebagai yuridis, konstitusi, ideologi negara yang harus mampu memberikan orientasi, wawasan, asas, pedoman normatif dalam seluruh bidang kehidupan. Jadi,lima sila pada pancasila menjadi landasan moral bagi seluruh warga negara dalam tata hidupnya dan bagi negara dalam tata negaranya.

Moral adalah alat ukur untuk menilai baik dan buruk. Sistem hukum dan institusi sosial telah ambruk,maka diperbaiki menurut prinsip moral. Nilai - nilai

22

moral ini diwadahi dalam hukum positif yang dapat memaksa semua pihak mematuhinya .

Pada hakikatnya hukum disusun,untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat keseluruhan, yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945.Masyarakat dikatakan dalam kondisi berkeadilan dalam hubungan masyrakat dan yang diwujudkan dari atas ke bawah ,dari bawah ke atas,dan sejajar,jika mematuhi hak kewajiban sesuai dengan proporsinya.Hal ini dinamakan dengan keadilan sosial.

Tiga macam keadilan(Aristoteles) dalam hubungan antar manusia dalam masyarakat. 1. Keadilan Distributif (Distributive Justice) terwujud jika hal yang sama diperlakukan sama,bentuk konkretnya ialah sikap adil negara wajib memenuhi keadilan terhadap warganya.

2. Keadilan legal (Legal Justice) diwujudkan jika setiap anggota masyarakat melaksanakan fungsinya dengan benar sesuai dengan kemampuannya.Bentuk konkretnya ialah ketaatan warga negara terhadap negaranya sesuai dengan hukum yang berlaku.

3. Keadilan komunikatif (Communicative Justice)berlangsung antara sesama warga masyarakat dalm saling memenuhi keadilan sesuai dengan haknya masing-masing.

Operasionalisasi dari konsep negara hukum Indonesia dituangkan dalam konstitusi negara, yaitu UUD 1945. UUD 1945 merupakan hukum dasar negara yang menenpati posisi sebagai hukum negara tertinggi dalam tertib hukum (legal order)Indonesia. Di bawah UUD 1945 terdapat berbagai aturan hukum /perundang – undangan yang bersumber dan berdasarkan pada 1945. Legal order yang merupakan suatu kesatuan sistem yang tersusun secara tertib di Indonesia dituangkan dalam Ketetapan MPR No.III/MPR/2000 tentang Sumber Hukum dan Tata Urutan Peraturan Perundang – undangan.
23

Dalam ketetapan tersebut dinyatakan bahwa yang dimaksud sumber hukum adalah sumber yang dijadikan bahan untuk penyusunan peraturan perundangundangan.Sumber hukum terdiri atas sumber hukum tertulis dan tidak

tertulis.Sumber hukum dasar nasional adalah Pancasila sebgaimana yang tertulis dalam Pembukaan Undang – Undang Dasar 1945,Persatuan Indonesia,dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan atau perwakilan,serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia,dan batang tubuh Undang-Undang Dasar 1945. Adapun tata urutan perundangan adalah sebagai berikut : 1. Undang – Undang Dasar 1945 2. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia 3. Undang – Undang 4. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang(Perpu) 5. Peraturan Pemerintah; a. Keputusan Presiden b. Pertaturan Daerah

Penjelasan dari masing-masing aturan perundang-undangan tersebut adalah sebagai berikut: 1. Undang-Undang Dasar 1945 merupakan hukum dasar tertulis Negara Republik Indonesia,memuat dasar dan garis besar hukum dalam penyelenggaraan negara.

2. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia merupakan keputusan Majelis Permusyawaratan Rakyat sebagai pengemban kedaulatan rakyat yang di tetapkan dalam sidang-sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat.

3. Undang-undang di buat oleh Dewan Perwakilan Rakyat bersama Presiden untuk melaksanakan UUD 1945 serta ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia.

24

4. Peraturan pemerintah pengganti undang-undang di buat oleh Presiden dalam hal ihwal kegentingan yang memaksa, dengan ketentuan sebagai berikut. Peraturan pemerintah pengganti undang-undang harus di ajukan ke Dewan Perwakilan Rakyat dalam persidanngan yang berikutnya. Dewan Perwakilan Rakyat dapat menerima atau menolak peraturan pemerintah pengganti undangundang dengan tidak mengadakan perubahan. Jika di tolak Dewan Perwakilan Rakyat, peraturan pemerintah penganti undang-undang tersebut harus di cabut.

5. Peraturan pemerintah dibuat oleh Pemerintah untuk melaksanakan perintah undang-undang.

6. Keputusan presiden yang bersifat mengatur dibuat oleh Presiden untuk menjalankan fungsi dan tugasnya berupa pengaturan pelaksanaan administrasi negara dan administrasi pemerintah.

7. Peraturan daerah merupakan peraturan untuk melaksanakan aturan ukum diatasnya dan menampung kondisi khusus dari daerah yang bersangkutan.

Peraturan daerah provinsi di buat oleh dewan perwakilan rakyat provinsi bersama dengan gubernur.Peraturan daerah kabupaten atau kota di buat oleh dewan perwakilan rakyat daerah kabupaten atau kota bersama bupati atau

walikota.Peraturan desa atau yang setingkat, dibuat oleh badan perwakilan desa atau yang setingkat, sedangkan tatapembuatan peratuaran desa atau yang setingkat di atur oleh peraturan daerah kabupaten atau kota yang bersangkutan.

Ketetapan MPR tersebut menunjukan bahwa di negara hukum Indonesia, hukum merupakan satu kesatuan sistem hukum yang bertingkat dan hierarkis. Norma hukum di atas merupakan sumber dan dasar bagi pembuatan norma hukum di bawahnya.

Selanjutnya,jenis dan hierarki peraturan perundang-undangan dinyatakan dalam Undang-Undang No 10 tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-

25

undangan. Jenis hierarki peraturan perundang-undangan No 10 tahun 2004 tersebut adalah sebagai berikut. 1. Undang-Undang Dasar 1945 2. Undang-Undang (UU) atau Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) 3. Peraturan Pemerintah (PP) 4. Peraturan Presiden (Perpres) 5. Peraturan daerah (Perda)

Penjelasan dari masing-masing peraturan perundang-perundangan sebgaimana yang terdapat dalam Undang-Undang No.10 tahun 2004 tersebut sebagai berikut . 1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 merupakan hukum dasar dalam peraturan perundang-undangan. Sebagai hukum dasar, UUD 1945 merupakan sumber hukum bagi pembentukan peraturan perundangundangan dibawahnya.

2. Undang-Undang adalah peraturan perundang-undangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan persetujuan bersama Presiden.

3. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang adalah peraturan perundangundangan yang ditetapkan oleh presiden dalam hal ihwak kegentingan yang memaksa.

4. Peraturan Pemeritah adalah Peraturan Perundang-undangan yang ditetapkan oleh Presiden untuk menjalankan Undang-Undang sebagaimana mestinya.

5. Peraturan Presiden adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibuat oleh presiden . 6. Peraturan Daerah adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibentuk oleh dewan perwakilan rakyat daerah dengan persetujuan bersama kepala daerah.

26

Dengan keluarnya Undang-Undang No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan maka status hukum dari Ketetapan MPR No. III/MPR/2000 dapat dikatakan tidak berlaku lagi. Hal ini dikarenakan berdasarkan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara dan Ketetapan

Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Tahun 1960 Sampai dengan Tahun 2002, Ketetapan MPR No. III/MPR/2000 termasuk dalam kategori Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara dan Ketetapan Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia yang tetap berlaku sampai dengan terbentuknya undangundang. Karena sudah terbentuk Undang-Undang No. 10 Tahun 2004 yang isinya juga mengatur perihal peraturan perundang-undangan di Indonesia maka ketetapan MPR tersebut sudah tidak berlaku lagi.

Negara Hukum Indonesia menurut UUD1945 mengandung prinsip-prinsip sebagai berikut. 1. Norma hukumnya bersumber pada Pancasila sebagai hukum dasar nasional dan adanya hierarki jenjang norma hukum (stufenbouwtheorie-nya Hans Kelsen)

2. Sistemnya, yaitu sistem konstitusi. UUD 1945 sebagai naskah keseluruhan terdiri dari pembukaan, Batang tubuh dan Penjelasan sebagai hukum dasar negara. UUD 1945 hanya memuat aturanaturan pokoknya saja, sedangkan peraturan lebih lanjut dibuat oleh organ negara,sesuai dengan dinamika pembangunan dan perkembangan serta kebutuhan masyarakat. UUD1945 dan peraturan perundang-undangan

dibawahnya membentuk kesatuan sistem hukum.

3. Kedaulatan rakyat atau prinsip demokrasi Dapat dilihat dari pembukaan UUD 1945 yaitu dasar kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan dan pasal 2 ayat (2) yaitu “kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut ketentuan Undang-Undang Dasar”.

27

4. Prinsip persamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan (Pasal 27 Ayat (1) UUD1945).

5. Adanya organ pembentuk Undang-Undang (Presiden dan DPR)

6. Sistem pemerintahannya adalah presidensil

7. Kekuasaan kehakiman yang bebas dari kekuasaan lain (eksekutif).

8. Hukum bertujuan untuk melindungi segenap bangsa indonesia dan seluruh tumpah darah indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

9. Adanya jaminan akan hak asasi dan kewajiban dasar manusia (Pasal 28 A-J UUD1945).

28

BAB III PENUTUP Kesimpulan Alhamdulillahi Robbil’alamim Puji dan Syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Pada BAB 3 ini penulis akan menyampaikan beberapa kesimpulan sebagai berikut : 1. Penegakan hukum atau Rule of Law merupakan suatu doktrin dalam hukum yang muncul pada abad ke19, bersamaan dengan kelahiran Negara berdasar kanhukum (konstitusi) dan demokrasi. Kehadiran rule of law boleh disebut reaksi dan koreksi terhadap Negara absolute (kekuasaan di tangan penguasa) yang telah berkembang sebelumnya.

2. Penggolongan hukum menurut : a. Hukum menurut wujud atau bentuknya yaitu hukum tertulis dan hukum tidak tertulis, b. Hukum menurut wilayah berlakunya yaitu hukum nasional, hukum

internasional, hukum asing, hukum lokal, dan hukum gereja. c. Hukum menurut fungsinya dibedakan menjadi dua, yaitu hukum materil, hukum formil, hukum menurut hukum yang memaksa, hukum yang mengatur (pelengkap). d. Hukum menurut waktu berlakunya dibedakan menjadi dua, yaitu ius contitutum dan ius constituendum. e. Hukum menurut isinya dibedakan menjadi dua, yaitu hukum publik atau hukum negara dan hukum privat atau hukum sipil.

3. Perbedaan hukum dengan keadilan Hukum adalah sekumpulan peraturan-peraturan atau kaidah tentang tingkah laku yang berlaku dalam kehidupan bersama. Peraturan atau tingkah laku ini dapat dipaksakan pelaksanaannya dengan ancaman suatu sanksi. Sedangkan keadilan

29

adalah ukuran yang harus diberikan untuk mencapai keseimbangan antara kepentingan pribadi dan kepentingan bersama, penilaian dengan memberikan kepada siapapun sesuai dengan apa yang menjadi haknya, yakni dengan bertindak proposional dan tidak melanggar hukum.

4. Pentingnya hukum dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara Aturan dan tata tertib pada dasarnya bertujuan untuk menciptakan hubungan antar warga negara dan pemerintah yang tertib, teratur, dan harmonis. Hukum juga bertujuan menciptakan ketertiban dan keamanan dalam masyarakat. Dengan tercapainya ketertiban dalam masyarakat, di harapkan kepentingan manusia akan terlindugi. Melindungi kepentingan manusia adalah fungsi dari

hukum.Penyelenggara negara mengeluarkan berbagai peraturan perundangundangan sebagai hukum negara. Warga negara yang melanggar hukum tentu saja akan mendapat sanksi.

5. Penerapan nilai dan norma dalam kehidupan sehari-hari a. Nilai norma agama, misalnya dengan menjalankan ajaran agama sebaikbaiknya.. b. Nilai norma kesopanan, seperti berlaku sopan terhadap orangtua,guru, atau teman-teman, bersikap, berbuat, berpakaian, berjalan, makan, minum, bertindaknya sesuai dengan norma – norma kesopanan yang berlaku dalam kehidupan sehari –hari di masyarakat umum. c. Nilai norma kesusilaan, misalnya orang hendaknya menghindariperbuaatan berbohong. d. Nilai norma hukum, misalnya berusaha mempelajari dan memahami normanorma hukum yang berlaku dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, seperti mempelajari Pancasila, UUD 1945, dan peraturan perundang-undangan yang berlakku di negara Indonesia.

6. Fungsi dan tujuan Rule of Law Merupakan jaminan secara formal terhadap “rasa keadilan” bagi rakyat indonesia dan juga “keadilan sosial”, sehingga diatur pada permukaan UUD 1945, bersifat

30

tetap dan instruktif bagi penyelenggara negara. Tujuan Rule of Law dalam arti material untuk melindungi warga masyarakat dari tindakan sewenang-wenang dari penguasa, sehingga memungkin manusia menikmati martabatnya sebagai manusia.

7. Implementasi hukum di Indonesia dalam pengakan keadilan Keadilan pada hakikatnya disusun, untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat keseluruhan, yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945

31

DAFTAR PUSTAKA

Sri Jutmini & winarno (2006) Kewarganegaraan, Solo : PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandir. Nurdiaman, Aa (2007)Pendidikan kewarganegaraan kecakapan Berbangsa dan Bernegara untuk SMP kelas VII, Bandung : Pribumi Mekar. Winarno (2007)Paradigma Baru Pendidikan Kewarganegaraan untuk Perguruan Tinggi, Jakarta : Bumi Aksara. Saputra, Lukman Surya (2007)Pendidikan Kewarganegaraan Menumbuhkan

Nasionalisme dan Patriotisme untuk SMP Kelas VII,Bandung : Setia Purna Inves. Wijianto (2007) Pendidikan Kewarganegaraan untuk SMA Kelas X, Jakarta : Piranti Srijanti (2008) Pendidikan Kewarganegaraan di Perguruan Tinggi Mengembangkan Etika Berwarga Negara, Jakarta : Salemba Empat Kaelan (2010) Pendidikan Kewarganegaraan, Yogyakarta : Paradigma Eti (2006) Pendidikan Kewarganegaraan, Bekasi : Swadaya Murni http://wikipedia.com

32

DAFTAR NAMA KELOMPOK

Aprilia Ratna Sari ( 12004) Esi Indah Untari (12012) Hayati Putri (12020) Rien Wahyuni (12032)

:Operator : Pembicara 1 : Moderator : Pembicara 2

33

Daftar Nama-Nama Penanya Sesi I :    Sesi II :   

34

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->