LAPORAN

PRAKTIKUM FISIKA DASAR I

Disusun Oleh :

SYARIFUL DIDAYAT 09 4110 4230

FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 SEMARANG

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas ridho-Nya penulis dapat menyusun Laporan Praktikum Fisika Dasar I ini. Praktikum Fisika dasar I ini salah satu bagian persyaratan bagi mahasiswa Teknik Sipil Universitas 17 Agustus 1945 Semarang untuk dapat mengikuti ujian Semester terhadap mata kuliah Fisika Dasar I dan sebagai usaha pengkaji dan penghayatan terhadap mata kuliah dan berbagai penjabaran apa yang telah didapat dibangku kuliah. Terwujudnya laporan ini adalah berkat kerjasama teman-teman dan yang telah member arahan dan bimbingan. Untuk itu kami mengucapkan banyak terima kasih kepada: 1. Bapak Dekan Fakultas Teknik UNTAG Semarang. 2. Bapak Drs. Agus Supriyanto, Msi, selaku dosen pembimbing mata kuliah fisika dasar dan kepala Laboratorium Fisika, Fakultas Teknik UNTAG, Semarang. 3. Bapak Joko S, yang telah membantu kami dalam kelancaran pelaksanaan praktikum. 4. Semua pihak yang telah membantu terlaksananya praktikum hingga tersusun laporan ini yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu. Semoga Tuhan Yang Maha Esa membalas semua kebaikan yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan laporan ini. Kami menyadari sepenuhnya bahwa proposal ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu kami mengharap saran dari pembaca sekalian, untuk dapat menyempurnakan laporan ini. Dalam menyususn laporan ini semoga dapat memberikan manfaat bagi pembaca. Terima kasih

Semarang, 28 Juni 2010

Penyusun

LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Praktikum Fisika telah diperiksa dan disyahkan pada: Hari Tanggal Yang disusun oleh : Kelompok Nama : : 1. SYARIFUL HIDAYAT 09 4110 4230 : …………… : ……………

Mengetahui,

Kepala Laboratorim

Dosen

(Drs. Agus Supriyanto, Msi)

(Drs. Agus Supriyanto, Msi)

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA DASAR I ( Viskositas Cairan ) Disusun Oleh : SYARIFUL DIDAYAT 09 4110 4230 FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 SEMARANG .

Gesekan internal fluida dapat ditentukan dengan mengukur viskositas dinamik . Dengan gerak Jatuh bebas. ( 2– 1 1.I.R Bila sebuah benda jatuh vertical dalam suatu fluida. Stokes adalah: F=6 .G. Ketiga gaya tersebut memenuhi hubungan F1 + F2 = F3 Viskositas dapat ditentukan dengan mengukur laju jatuh benda v. yang dapat Dihitung dan jarak jatuh s dan waktu tempuh t -( 2 ) / g . r2 . Tujuan Percobaan • Mempelajari pemakaian viscometer bola jatuh untuk mengukur viskositas suatu cairan • Mengukur viskositas dari minyak goring sebagai fungsi dari konsentrasi II. Untuk sebuah bola dengan jari-jari r yang bergerak dengan kecepatan dalam suatu fluida dengan viskositas dinamik sebesar Gaya gesek menurut G. 1.t / S . G kerapatan bola dan g percepatan adalah kerapatan fluida. Dasar Teori Percobaan Sebuah benda yang bergerak dalam suatu fluida akan mendapatkan gaya gesek yang berlawanan arah dengan kecepatan benda. ). Besar gaya ini tergantung dari bentuk geometri benda dan gesekan internal dari fluida tersebut. . akan bergerak dengan kecepatan v konstan pada waktu tertentu sehingga kesetimbangan gaya gesek yang bekerja pada bola. Pelaksanaan Percobaan A. Gaya gesek F1 dengan arah ke atas dan gaya buoyancy F2 = (4 ) / 3 r3 . r3 . F2 = (4 ) / 3. g Dengan arah keatas juga. G. sedangkan pada arah kebawah bekerja gaya gravitasi.

Catat waktu yang diperlukan oleh benda jatuh dalam cairan untuk menempuh jarak tertentu. d. untuk cairan yang kental. Bersihkan tabung viskositas dengan aquades atau alcohol dan keringkan dengan tisu. gunakan bola dengan berat yang lebih besar. Tuangkan zat cair yang akan diukur kedalam tabung e. Jaga temperature konstan selama pengukuran h. . Prosedur Pelaksanaan Percobaan a. Catat kerapatan zat cair c.B. Alat dan Bahan 1 viskometer benda jatuh after hoppler 1 set bola 1 timbangan 2 gelas ukur C. Masukkan bola dengan pinset kedalam tabung. g. Timbang masing-masing bola b. Gambar Alat D. f. Jaga jarak agar tidak ada gelembung yang ikut bersama bola dalam tabung viscometer.

12 10 4. Benda Gelas kosong V air Bola Massa / gr 26. W = B + R 4/3 4/3 r3 b = (4/3 b b r3 c) c +6 rv r v ). 2. G r3 G ( - =6 (2/9 r2 G ( ((2/9 r2 G ( b c) = )/v t)/s = - c) Semakin besar viskositas ( ) maka semakin besar harga waktu (t) ( = t) .43 0. Bola Benda 8. Volum Bola (v) = 4/3 Massa Bola (m) = 4/3 Massa Fluida (m) = 4/3 Maka.098 Waktu Lintasan Dalam Air B. Perhitungan R=6 ∑ rv =W–B–R r3 r3 r3 b c W–B–R=0 Dengan nilai. Data Hasil Percobaan Panjang lintasan bola dalam viscometer = 10 cm Suhu = 280 C No 1. Hasil Percobaan A.III.78 Diameter No 1. 3.

3. kita dapat mengukur angka kental dinamis dari suatu cairan. . Rapat jnis dipengaruhi oleh kadar suatu larutan. 2. maka waktu alir semakin cepat. Semakin kecil kadar suatu larutan . 4. Semakin kecil kadar suatu larutan . maka kental dinamisnya semakin kecil. Dengan melakukan percobaan viscositas. Kesimpulan 1.IV.

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA DASAR I ( Lenturan Batang ) Disusun Oleh : SYARIFUL DIDAYAT 09 4110 4230 FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 SEMARANG .

Tujuan Percobaan: 1. Karena itu modulus elastisitas juga dapat ditentukan dengan percobaan-percobaan lenturan batang. maka E terapat dalam Kg m s. Dapat menentukan modulus elastisitas batang. maka bagian cembungnya mengalami suatu pemuaian. Bila Karen gaya beban sebesar F. Bila kita ingin menentukan modulus elastisitas dari suatu logam dengan cara tersebut diatas.I. Memahami lenturan suatu batang 2. Dibuat grafik hubungan antar h dan F. II. atau Newton/m2. dan ukuran-ukuran panjang dinyatakan dengan mm. F diketahui dan h juga diketahui maka modulis elastisitas E dapat dihitung dari rumus diatas. maka titik batang tempat beban digantungkan akan turun. Pelaksanaan Percobaan A. Pengamatan h dengan metode kathetometer. Batang ini ditempatkan diatas dua buah titik tumpuan berjarak ± 1 m ditengah batang diantara kedua titik tumpuan disediakan tempat untuk menggantung beban. maka: h = ¼ l/a3b F/E Dimana: l = Jarak kedua titik tumpuan a= Tebal batang b= Lebar batang E= Modulus elastisitas dari logam batang Bila I. sedang bagian cekungnya mengalami tekanan. Dasar Teori: Bila sebuah batang dilenturkan. lebih dahulu logam tersebut dibuat bentuk batang dengan penampang empat persegi panjang. titik penggantung turun sebesar h. . a dan b di ukur. Untuk ini berlaku pula hukum Hooke. Bila F dinyatakan dengan Kg. dengan adanya Beban.

Prosedur Pelaksanaan Percobaan o Pasang batang pada tiang penempa. Tiang penempa 6. Arahkan teropong kathetometer garis pada penggantung. Beban berupa anak timbangan 5. catat baik-baik. 4 untuk beban yang makin mengecil mulai 700-0 gram kembali . Alat dan Bahan 1.B. kemudian baca juga untuk beban-beban berturut-turut: • 100 – 700 gram o Kerjakan juga no. Mikrometerskrup 4. kemudian atur sehinggateropong kathetometer horizontal dan mengarah ditengah –tengah batang o o Pasang penggantung beban kira-kira ditengah-tengah batang. Batang kuningan 3. Gantungan beban C. sehingga ditengah-tengah o silang nampah berimpit dengan titik-titik tumpuan penggantung beban Bacalah sikap kathetometer mula-mula untuk beban 0 kg. Batang besi 2.

000/0.22)3x2.36 11. Batang kuningan Penambahan Massa Massa 0 g 12.19 8.087 x 1010 .98 2.82 11.19 6.78 Skala Pengurangan Massa Massa 700 g 600 g 500 g 400 g 300 g 200 g 100 g 0 g 0. 0.19 3.30 10.41 4. Hasil Percobaan A.98 4.78 2.68 10.41 7. Perhitungan * Batang Besi 1.1 = 1/4 ((50)3 10x100)/((0.62 11.69 8.34 8.7x E) = E = ¼ x 125.34 Skala 700 g 600 g 500 g 400 g 300 g 200 g 100 g 0 g Pengurangan Massa Massa 8.68 9.62 12.66 6.93 9.27 Skala 100 g 200 g 300 g 400 g 500 g 600 g 700 g C.66 3.69 Skala 100 g 200 g 300 g 400 g 500 g 600 g 700 g B.000.III.27 11.30 8.36 10.93 8.01149984 = 1.93 7.93 9.82 10.19 0. Batang besi Penambahan Massa Massa 0 g 9.

000/0.7x E) = E = 1/4 x 812.413 x 1010 1.086 x 1010 * Batang Kuningan E = 1/4 x 187.500. 0.000.7x E) = .4 = 1/4 ((50)3 10x525)/((0.000.0071874 = 8.000/0.000/0.4 = 1/4 ((50)3 10x400)/((0.22)3x2.426 x 1010 5.0143748 = 1.086 x 1010 5.000/0.000. 0.000.22)3x2.695 x 1010 3.000/0. 0.1 = 1/4 ((50)3 10x150)/((0.7x E) = E = 1/4 x 500.22)3x2.5 = 1/4 ((50)3 10x650)/((0.000. 0.00862488 = 1.7x E) = E = 1/4 x 375.2.7x E) = E = 1/4 x 750.01724976 = 1.0862488 = 1.2 = 1/4 ((50)3 10x275)/((0.6 = 1/4 ((50)3 10x600)/((0.2 = 1/4 ((50)3 10x200) / ((0.000/0.22)3x2.000/0.7x E) = E = 1/4 x 250.086 x 1010 7.22)3x2.000/0.000.22)3x2.22)3x2.7 = 1/4 ((50)3 10x700)/((0. 0.5 = 1/4 ((50)3 10x500)/((0.0143748 = 1. 0.7x E) = E = 1/4 x 875.630 x 1010 2.00574992 = 1.000.22)3x2.086 x 1010 6.22)3x2.01149984 = 1.3 = 1/4 ((50)3 10x300)/((0.000.01149984 = 1.22)3x2. 0.22)3x2.445 x 1010 4.000.086 x 1010 4.7x E) = E = 1/4 x 500.000.7x E) = E = 1/4 x 875.494 x 1010 3.7x E) = E = 1/4 x 343.02012472 = 1. 0.000/0.3 = 1/4 ((50)3 10x400)/((0. 0.000/0. 0.7x E) = E = 1/4 x 625. 0.00287496 = 1.000/0.

000/0.397 x 1010 .750. 0.000/0.22)3x2.6.000.22)3x2.7x E) = E = 1/4 x 968.6 = 1/4 ((50)3 10x525)/((0. 0.7 = 1/4 ((50)3 10x525)/((0.404 x 1010 7.01724976 = 1.02112472 = 1.7x E) = E = 1/4 x 1.125.

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA DASAR I ( Energi dan Momentum pada Peristiwa Tumbukan ) Disusun Oleh : SYARIFUL DIDAYAT 09 4110 4230 FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 SEMARANG .

m1 . v1 + m2 .I. Perinsip dasar Hokum Newton ketiga menyatakan “Aksi yang dihasilkan dari dua massa Satu sama lain ( missal gaya dan momentum gaya ) selalu memiliki besar Yang sama dan berlawanan arah ( aki dan reaksi )”. m1. v2 = p1’ + p2’ Pada tumbukan elastic. v12 = 1/2 . v2’ = E’1 + E’2 . Membuktikan hokum ketiga Newton 2. Jika benda kedua dalam keadaan diam ( v2 = 0 ) sebelum tumbukan maka : P1 = m1 . Pelaksanaan percobaan 1. V1’2 + 1/2m2 . V1 m1 A V1’ V2 m2 B V2’ m1 A m2 B Pada peristiwa ini terbukti hokum kekalan momentum. Tujuan Percobaan 1. jumlah energy kinetic sebelum dan sesudah akan sama E1 = 1/2 . Membuktikan hokum kekekalan dan momentum dan kekekalan energy pada peristiwa tumbukan II. Inilah dengan mudah Dapat dibuktikan pada peristiwa sentral satu dimensi dari dua benda (m1 dan m2 ) yang sama atau berbeda massa.

m2 .m2)2 E1) / ((m1 + m2)2) m2 ) dan E1 = (4 . v1) / (m1 + m2) 2.Dari persamaan 1 dan 2 dapat ditentukan persamaan berikut kecepatan sesudah tumbukan. m1. m2 .m2 . p1) / (m1 + m2) dan V’2 = (2. Alat dan Bahan 1 trak udara 1 penyembur udara untuk air trak 2 pemutus cahaya 1 kontrol power 1 kabel koneksi 1. p1) / (m1 + m2)2 Energi kinetic sesudah tumbukan E1 = ((m1 .5 m 1 sesor cassy 1 pencatat waktu PC dengan windows 3.m1 . E1) / (m1 + dan P2 = (2. Prosedur percobaan Lihat pada program cassy . V’1 = (m1 – m2 . v1) / (m1 + m2) Momentum sesudah tumbukan P1 = (m1 .

Data Hasil Percobaan 1.032 Percobaan 1 3.417 V1’ = -0.000 V1’ = -0.000 V2’= 0.340 m2 = 100 g V2 = -0.000 V2’= 0.000 V1’ = -0.139 V2’= 0.532 V2 = 0.4.134 V2 = 0. Benda I diam dan benda II bergerak mendekati benda I m1 = 100 g V1 = 0.617 4.366 V2’= -0.396 Percobaan 1 2. Benda II diam dan benda I bergerak mendekati benda II m1 = 100 g m2 = 100 g V1 = 0. Benda I dan bergerak II bergerak saling mendekati m1 = 100 g V1 = 0. Hasil Percobaan A.137 . Benda I dan benda II bergerak menjauh m1 = 100 g m2 = 100 g Percobaan 1 V1 = 0.015 V1’ = 0.130 m2 = 100 g V2 = -0.

Kesimpulan Kekekalan momentum atau momentum konstan apabila didalam system tidak ada gaya luar yang bekerja Perbedaan nilai P sebelum dan sesudah terjadi tumbukan diakibatkan karena terjadi kehilangan energy selama bekerja Energi yang hilang dapat berupa terjadinnya gesekan benda dengan dasar plat. timbulnya panas dibidang gesek. hambatan angina yang mempengaruhi system Dari hasil percobaan dapat disimpulkan kekekalan momentum dan kekekalan energy tidak bekerja atau tidak terbukti Dari percobaan yang dilakukan besar momentum sebelum dan sesudah terjadi tumbukan tidak sama akibat adanya pengaruh gaya luar yang bekerja pada system. .III.

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA DASAR I ( Kalor Lebur ) Disusun Oleh : SYARIFUL DIDAYAT 09 4110 4230 FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 SEMARANG .

Banyaknya kalor Q yang dibutuhkan untuk meleburkan massa m pada temperatur konstan adalah: Q = m L Dengan L menyatakan kalor lebur zat Untuk menentukan kalor lebur zat (es dapat) digunakan metode ke dalam tanpa perubahan temperature didefinisikan sebagai calorimeter. yaitu padat. Peralatan dan Bahan 1. tercapai. Air hangat III. proses ini. Yaitu dengan memasukkan es ( massa me ) calorimeter berisi air (massa mw). besar panas yang diberikan air. Bila calorimeter dilengkapi dengan pengaduk. Zat-zat itu pada kondisi suhu dan tekanan tertentu mengalami ketiga fase tersebut. Transisi dari fase satu ke fase yang lain disertai dengan pelepasan panas atau penyerapan panas dan seringkali disertai perubahan volume. Teori Dasar Keadaan fase zat di alam ada 3. thermometer dan mempunyai harga air mkCk.I. Dengan mk : massa calorimeter beserta pengaduk dan thermometer Ck : kapasitas panas jenis calorimeter Maka temperature air dalam calorimeter akan turun sampai harga Setelah nilai tf terakhirya Tf derajat ( setelah semua wa mencair). Panas yang diserap oleh suatu massa benda dalam bentuk padat untuk melebur (mencair) “kalor lebur”. Tujuan Percobaan Menentukan kalor lebur es II. Neraca 4. sedikit demi sedikit temperature akan naik kembali. Termometer 3. cair dan gas. Pada calorimeter dan pengaduknya adalah: Q1 = (mw + mkCk) (ti – tf) . Kalorrimeter dan pengaduk 2.

Cara Kerja a. sehingga dipenuhi syarat tk – tf = ti – tk d.22 kal / gr : 28 : 31 ( 3 diatas suhu . Lanjutkan pengamatan tiap 15 detik sampai beberapa menit setelah tremometer minimum dicapai. Panaskanlah tremometer yang berisi air dan pengaduknya sampai beberapa derajat di atas suhu kamar tk ( bias ditambah air hangat ). Timbanglah calorimeter + pengaduk + tremometer + air c. Data Hasil Percobaan Data hasil percobaan terjadi sebagai berikut : a. Suhu akhir ( tf ) d. e. Sedang panas yang diserap/diterima oleh es untuk berubah wujud dari padat menjadi cair dan Untuk menaikkan temperature air (yang berasal dari es) dari 00 samoai tf0 adalah : Q2 = meL + meCwtr Menurut azas Black. V. maka diperoleh: (mw = mkCk)(tf –tf) = mcCwtf Dari persamaan (4) dapat dihitung nilai lebur es dan satuannya kalori/gram IV. Kapasitas panas jenis calorimeter ( Ck ) : 26 : 0. f. Sambil mengaduk amatilah suhu pada temperature tiap 15 detik sampai es melebur. Timbanglah massa calorimeter kosong (calorimeter + pengaduk + tremometer ). maka akan tercapai suatu suhu minimum.Dengan ti menyatakan suhu awal dari calorimeter. dan tremometer minimum ini adalah tremometer akhir tf. Bila tremometer sama dengan tremometer es yang sedang melebur. Suhu kamar ( tk ) b. b. Q1 = Q2. Masukkan es dalam calorimeter yang berisi air + pengaduk. Suhu mula – mula ( ti ) kamar ) c.

.e.8 25.22 Kal/gr Cw 1 Calorimeter Calorimeter kamar Awal Akhir + air . Pengukuran suhu Waktu ( 15 detik ke. Massa calorimeter + tremometer + air + es : 204 gram h.9 ( tk 28 ) ( ti 31 ) ( tf 26 ) (gr) mw+mk+me 204 Kal/gr Ck 0. ) Detik 15 30 45 60 75 90 105 120 135 150 165 180 29 27.8 25. Perhitungan Massa Massa Suhu Suhu Suhu Massa Calorimeter + air + es Kalor jenis kalorimeter Kalor Jenis air Pada suhu kamar (gr) mk 108.5 26.8 25.8 25.4 (gr) mk + m w 186.8 25.8 25.……….5 26 25.9 gram g. Massa calorimeter + tremometer f.3 gram : 186.8 26 Suhu i. Massa calorimeter + tremometer + air : 126.

5 x 1)) (31 – 26) – (17. 4 . Energi yang berpindah inilah yang disebut dengan kalor. 0. dalam perhitungan nilai kalor lebur zat. Analisa dan Pembahasan Dari data hasil percobaan. sehingga dapat didefinisikan bahwa: “ Kalor adalah bentuk energy yang berpindah dari benda yang bersuhu lebih tinggi ke benda yang bersuhu lebih rendah jika kedua benda bersentuhan”. Besarnya kalor dapat dirumuskan sebagai berikut. maka didapat suatu rumusan bahwa definisi dari kalor lebur zat yaitu kalor yang dipergunakan untuk mengubah wujud 1 kg zat padat menjadi cair.Catatan: Panas jenis calorimetr (Cc) untuk bahan alumunium = 0. Q=mL Sehingga dapat menghasilkan suatu kesimpulan bahwa pada “Pencampuran dua zat.Cw ) ( ti – tf ) – ( ms. tr )) / ms L = ((( 108. maka dapat dirumuskan bahwa kalor merupakan salah satu bentuk energy yang dapat berpindah dari benda yang bersuhu tinggi Ke benda yang bersuhu rendah. 26)) / ms L = 66. Cw . banyaknya kalor yang dilepas zat bersuhu tinggi sama dengan banyaknya kalor yang dilepas zat bersuhu rendah” atau dapat ditulis dengan persamaan.22 kal/gr Panas jenis air (Cw) : 1 Kal/gr Maka harga kalor lebur es: L = (( mk .1 .7 kalori VI.22 kal/gr Panas jenis calorimetr (Cc) untuk bahan alumunium = 0.22 ) + ( 78. Q=mc t Selain itu. Qserap = Qlepas Atau bias disebut sebagai hokum kekekalan energy kalor. ck + mw . (Azas Black) . 1.

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA DASAR I ( Resonansi Bunyi ) Disusun Oleh : SYARIFUL DIDAYAT 09 4110 4230 FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 SEMARANG .

Alat dan Bahan a. Contoh peristiwa resosnansi diantaranya: . II. Misalnya dua gelombang masing-masing memiliki Persamaan: Y1 = A1 Sin ( t ) Y2 = A2 Sin ( t ) Kedua gelombang tersebut jika di superposisikan didapat persamaan: Y1 .I. atau panjang gelombang bunyi jika salah satu sumber diketahui. terowongan. Peristiwa resonansi terjadi pada gelombang mekanik maupun elektromagnetik. Dasar Teori Percobaan Definisi sederhana dari resonansi adalah peristiwa bergetarnya suatu sumber benda akibat bergetarnya benda lain. Tabung kaca b. seruling.Resonansi spin inti atom dengan gelombang radio pada pesawat Magnetcs Resonance Imaging ( MRI ). Air/cairan III. Penggaris c. telepon seluler. satelit Komunikasi . .Resonansi antar osilator pada pesawat radio. Secara empiris. stetoskop. Y2 = ( A1 + A2 ) sin ( t ) Maka resonansi terjadi jika kedua sumber getaran memiliki frekuensi sama dan akan ditandai dengan penambahan amplitude getaran dari hasil penjumlahan gelombang tersebut seperti ditunjukkan gambar 1. frekuensi sumber. Audio generator d. sebenarnya resonansi adalah peristiwa penjumlahan dua buah gelombang atau lebih yang memiliki fase getaran yang sama.Resonansi partikel udara pada gitar. Tujuan Percobaan Menentukan besarnya kecepatan bunyi. .

maka v = 4 . v = 4/5 I3 f Begitu seterusnya resonansi pada kolom udara tersebut merupakan suatu deret matematis. maka dilanjutkan didapatkan: I3 = 5/4 dan. Suatu sumber bunyi dengan frekuensi tetap sebesar f (Hz) diletakkan pada mulut tabung kolom udara. Dari gambar tersebut didapat : I1 – 1/4 . Pada gambar I1. v = 4/3 I2 f maka akan ditentukan titik resonansi I3.. maka sumber bunyi akan masuk ke dalam udara dengan beda fase 180 seperti ditunjukkan pada gambar 2. I3 ……. f maka akan ditentukan titik resonansi I2. I2.adalah titik-titik resonansi yang ditandai dengan menguatnya sumber bunyi. Ii . atau I1 – 1/4v/f Maka secara experiment didapatkan kecepatan bunyi di udara melalui experiment I1 : Jika dilanjutkan didapatkan : I2 = 3/4 Jika dan.Peristiwa resonansi dapat diamati dengan experiment menggunakan kolom udara. .

Pada percobaan ini dapat digunakan garputala atau perangkat elektronik generator bunyi (audio generator). Mula-mula ujung tabung disambungkan dengan selang lentur dan ujungnya diberi corong air.IV. Cara Kerja Untuk dapat mengamati terjadinya resonansi bunyi.2/4 = 23.4 Frekuensi penala diketahui (f) Suhu kamar terbaca Maka kecepatan bunyi di udara (v) Rums yang digunakan adalah: = 340 hertz = 27 .8 |2 = ∑ |2 total = 2 |2 76 74. (saat mendengung) Panjang lajur udara Pada kenaikan Pada penurunan Rata-rata ( cm ) = ∑|1 = 95.. Berikutnya membunyikan sumber getaran bunyi pada mulut tabung. urutan percobaan ini adalah sebagai berikut: a.8 = 301.Kemudian air diisikan kedalam tabung melalui corong tersebut hingga penuh.8 1 total |1 = 95. V.8 76 74. b.8 23. Penggunaan generator bunyi elektronik akan banyak membantu dalam percobaan ini karena tidak terjadi perejaman yang menyebabkan amplitude getaran mengecil kemudian diam.6 = 75.8 ( cm ) 23. Paling mudah digunakan tabung kaca yang diisi dengan air seperti ditunjukkan gambar 3. Data Hasil Percobaan Titik resonansi yang Ke……. c.8 23. kemudian corong diletakkan sejajar dengan mulut tabung.2 |1 ( cm ) 23.

Syarat resonansi I = (2h-1) 1/4 Dengan (2n-1) adalah bilangan ganjil Pada dasar I = 1 /4 Nada Dasar 1 I = 3 /4 Nada Dasar 2 I = 5/4 f2 = v/ = 5v/4L F0 : f1 : f2 ………… = 1 : 3 : 5 f1 = v/ = 3v/4L f0 = v/ = v/4L . frekuensi sumber dan panjang gelombang bunyi.8 x 340 = 323.88 m/s VI.4 – 23.68 m/s atau v = 4/3 x 75. maka dengan percobaan tersebut dapat diperoleh besarnya kecepatan bunyi. Analisa dan Pembahasan Dengan menentukan titik resonansi bunyi yang diamati.4 x 340 = 341. Kesimpulan ini dapat diperjelas dengan rumus sebagai berikut.8) x 340 = 350.813 m/s atau v = 2 x (75.V = 4 I1 f V = 4/3 I2 f V = 2 (I2-I1) f atau atau Maka harga v. kecepatan bunyi di udara adalah V = 4 x 23.

. sehingga menentukan suatu besaran dapat diketahui jika besaran lainnya pun diketahui. Dengan melihat berbagai rumusan yang digunakan dalam membuktikan suatu kebenaran. maka didapat hasil-hasil yang sesuai dengan yang telah dirumuskan sebelumnya. ternyata adanya saling keterkaitan antar rumus. ternyata dengan melakukan perhitungan dan perlakuan terhadap objek yang benar dan sesuai tata cara.KESIMPULAN Setelah melakukan praktikum terhadap 5 teori yang akan dibuktikan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful