P. 1
Skripsi Rasmini Nim 4105066

Skripsi Rasmini Nim 4105066

|Views: 72|Likes:
Published by Yelius Jeye Wardane

More info:

Published by: Yelius Jeye Wardane on Jan 04, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/08/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Dalam era globalisasi dituntut tenaga kerja yang terampil dan bermutu tinggi. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat berperan. Salah satu ilmu yang mendukung kemajuan teknologi adalah ilmu fisika. Fisika adalah ilmu yang mempelajari kejadian-kejadian alam, atau yang berhubungan dengan alam, baik secara nyata maupun abstrak. Untuk mendapatkan pengetahuan tentang ilmu fisika, maka siswa harus menempuh proses belajar mengajar yang baik. Belajar akan lebih berhasil bila telah diketahui tujuan yang ingin dicapai. Salah satu cara untuk memperoleh pengetahuan fisika yang baik dan untuk mengatasi berbagai kelemahan dalam proses belajar mengajar adalah menerapkan pembelajaran dengan pendekatan dan metode mengajar yang berbeda. Untuk mencapai suatu hasil belajar yang maksimal, banyak aspek yang mempengaruhinya, di antaranya aspek guru, siswa, metode pembelajaran dan lain-lain. Pelajaran fisika adalah pelajaran yang mengajarkan berbagai pengetahuan yang dapat mengembangkan daya nalar, analisa, sehingga hampir semua persoalan yang berkaitan dengan alam dapat dimengerti. Untuk dapat mengerti fisika secara luas, maka harus dimulai dengan kemampuan pemahaman konsep dasar yang ada pada pelajaran fisika. Berhasil atau tidaknya seorang siswa dalam memahami pelajaran fisika sangat ditentukan oleh pemahaman konseptual. Pelajaran fisika menurut sebagian pelajar, merupakan pelajaran yang sulit dipahami dan tidak menarik sehingga hasil

2

belajar fisika siswa menjadi kurang baik. 1 Hal ini dapat dilihat dari masih rendahnya hasil belajar fisika siswa di SMP Negeri 2 Lubuklinggau kelas VIII pada semester II 2009/2010. Di kelas VIII 3 yang mendapat nilai < 6,5 sebanyak 30 siswa dan yang mendapat nilai ≥ 6,5 sebanyak 10 siswa, sedangkan dikelas VIII 4 yang mendapatkan nilai < 6,5 sebanyak 25 siswa dan yang mendapat nilai ≥ 6,5 sebanyak 15 siswa (Sumber: Guru Mata Pelajaran Fisika SMP Negeri 2 Lubuklinggau, tahun 2009/2010). Dari data tersebut siswa yang mendapat nilai ≥ 6,5 kurang dari 50 %. Hal ini berarti bahwa ketuntasan belajar belum tercapai, karena siswa dikatakan tuntas perorangan apabila mendapat nilai 6,5 keatas. Secara klasikal ketuntasan belajar secara perorangan mencapai 85 % seluruh siswa kelas tersebut (Depdikbud, 1994 : 37). Rendahnya tingkat pemahaman siswa terhadap pembelajaran sangat tergantung oleh banyak hal, secara umum dapat dikatakan kesulitan dalam memahami suatu pelajaran dapat ditinjau dari beberapa hal yaitu dari segi materi, guru, siswa, dan strategi pengajaran. Sedangkan rendahnya hasil tes dapat disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya yaitu kurangnya sarana dan prasarana belajar mengajar, kurangnya kreatifitas siswa dalam belajar serta tidak adanya variasi dalam penggunaan metode pendekatan lebih dari jumlah

pembelajaran. Sesuai dengan penyataan Hudoyo (dalam Rena, 2004:1) : “Guru seharusnya memilih pendekatan mengajar yang sesuai dengan pokok bahasan yang diajarkan. Karena apabila guru tidak tepat memilih pendekatan mengajar dengan pokok bahasan yang diajarkan dapat menimbulkan kesulitan siswa dalam memahami pengajaran. Selain memilih pendekatan mengajar yang sesuai dengan pokok bahasan yang diajarkan, guru harus mempertimbangkan perkembangan intelektual siswa serta kemampuan dan kesiapan siswa tersebut ”.

3

Pendekatan mengajar yang akan digunakan adalah pendekatan formal dan informal. Melalui pendekatan formal, pembahasan pelajaran fisika dalam mengenal suatu rumus dengan membahas turunannya atau membuktikan terlebih dahulu kebenarannya dengan menggunakan definisi-definisi atau rumus-rumus dan sifat-sifatnya. Dan pendekatan informal, pembahasan pelajaran fisika dalam mengenalkan suatu rumus atau definisi-definisi tanpa membahas penurunannya atau membuktikan terlebih dahulu kebenarannya. Kelebihan dari pendekatan formal adalah siswa dapat memahami darimana dan bagaimana rumus itu diperoleh sehingga pembelajaran akan lebih

bermakna. Sedangkan kelebihan dari pendekatan informal adalah tidak banyak menghabiskan waktu. Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti menetapkan dan memilih judul penelitian : “ Perbandingan Hasil Belajar Fisika Antara Penggunaan Pendekatan Formal dan Informal Pada Materi Tekanan Kelas VIII Di

Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Lubuklinggau Tahun Pelajaran 2009/2010”.

B.

Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang, yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah : “Adakah perbedaan dari perbandingan hasil belajar siswa antara penggunaan pendekatan formal dan pendekatan informal pada kelas VIII di Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Lubuklinggau ?”

C.

Ruang Lingkup Penelitian Agar permasalahan tidak terlalu luas dan tidak menyimpang dari

4

sasaran yang sebenarnya, maka masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah : 1. Penelitian ini dilakukan di SMP N 2 Lubuklinggau pada kelas VIII semester dua tahun pelajaran 2009/2010 2. Materi yang diajarkan adalah tekanan 3. Hasil belajar fisika yang dimaksud dalam penelitian ini hanya dibatasi pada aspek kognitif siswa yang dapat dilihat dari nilai yang diperoleh dari tes hasil belajar.

D. Tujuan Penelitian Sejalan dengan latar belakang dan masalah maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan hasil belajar siswa yang diajarkan dengan menggunakan pendekatan formal dan informal.

E. Manfaat Penelitian Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah 1. Bagi siswa, dapat meningkatkan keaktifan siswa, menumbuhkan

rasa kebersamaan siswa, dan tentunya peningkatan hasil belajar dan keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar. 2. Bagi guru, sebagai informasi bagi guru, khususnya guru fisika

mengenai pembelajaran dengan menggunakan metode pendekatan formal dan informal. 3. Bagi penulis, menambah pengalaman dan wawasan berpikir bagi

penulis terutama tentang penelitian ilmiah.

5

4.

Bagi sekolah, menjadi bahan acuan dalam meningkatkan mutu

pendidikan sekolah. F. Penjelasan Istilah 1. Pendekatan pembelajaran adalah arah atau kebijaksanaan yang ditempuh oleh guru atau siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran dilihat dari materi itu disajikan. 2. Pendekatan berdasarkan cara menjelaskannya adalah pendekatan

formal dan pendekatan informal (Suyitno dkk, 1997:23-25).

6

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Deskripsi Teoretik 1. Belajar dan Pembelajaran Ausubel (dalam Nasution, 2005:158) menyatakan bahwa belajar dapat diklasifikasikan ke dalam dua dimensi, yaitu dimensi yang berhubungan dengan penyajian informasi atau materi pelajaran kepada siswa dan dimensi yang menyangkut bagaimana para siswa

menghubungkan informasi yang diperoleh dengan struktur kognitif yang telah ada. Usaha untuk mencapai perubahan-perubahan tingkah laku dinamakan belajar. Hal ini sesuai dengan pernyataan Slameto ( 2003:2) bahwa : “Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”. Dalam pembelajaran fisika dikenal istilah-istilah pendekatan, metode, teknik dan strategi pembelajaran. Untuk membedakan istilahistilah tersebut, Suyitno dkk (1997:22) menjelaskan : a. Pendekatan pembelajaran adalah arah atau kebijaksanaan yang ditempuh oleh guru atau siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran dilihat dari materi itu disajikan. b. Metode mengajar adalah cara megajar yang digunakan untuk mengajarkan semua materi pembelajaran misalnya : metode ceramah, inquiry, tanya jawab dan sebagainya. c. Teknik mengajar adalah cara mengajar yang memerlukan bakat khusus (keahlian khusus) 6

7

d. Strategi pembelajaran adalah siasat yang dipandang tepat dalam pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Untuk memilih strategi dalam proses belajar mengajar yang melingkupi pemilihan metode, teknik, dan pendekatan mengajar fisika, guru harus menguasai teori belajar fisika. Hal ini sesuai dengan pernyataan Hudoyo (dalam Rena, 2004:8) bahwa : “Teori belajar dapat membantu guru dalam menyampaikan bahan pengajaran pada siswa, dengan memahami teori guru akan memahami proses terjadinya belajar manusia, guru mengerti bagaimana memberikan stimulasi sehingga siswa menyukai belajar, guru dapat memprediksi secara jitu tentang keberhasilan siswa”. Agar siswa lebih memahami konsep maka pembelajaran dibantu dengan alat peraga yang berfungsi untuk lebih mengefektifkan komunikasi antara guru dengan siswa dalam proses pembelajaran di sekolah. Dalam proses pembelajaran guru mempunyai peranan yang sangat menentukan karena dalam proses terjadinya hubungan timbal balik antara guru dengan siswa. Walau bagaimanapun baiknya sistem pendidikan di sekolah, alat apapun yang digunakan dan bagaimanapun anak didiknya, pada akhirnya tergantung pada guru dan pemanfaatan semua komponen yang ada (tujuan, bahan, metode, dan alat penilaian). Dalam pembelajaran fisika, ketika guru melakukan demonstrasi suatu eksperimen yang memberikan hasil yang tidak terduga, hal ini akan menimbulkan perbedaan konseptual dalam diri siswa, dan ini akan memotivasi siswa untuk mengerti mengapa hasil eksperimen tersebut berbeda dengan apa yang dipikirkannya. Dengan demikian, keadaan ketidakpastian yang diciptakan oleh guru telah menimbulkan rasa ingin tahu siswa, dan siswa akan termotivasi untuk mengurangi ketidakpastian

8

dalam dirinya tersebut. 2. Mengajar Fisika Mengajar adalah tugas yang berat, karena guru harus berhadapan dengan sekelompok siswa yang memiliki karakter serta daya tangkap yang berbeda-beda, yang masing-masingnya memerlukan bimbingan dan pembinaan untuk mencapai tahap kedewasaan. Setelah terjadinya pendidikan dan pengajaran diharapkan para siswa dapat menjadi manusia yang sadar akan tanggungjawabnya. Hal yang perlu diperhatikan oleh guru adalah tidak setiap materi pelajaran merupakan hal menarik bagi para siswa dan juga setiap siswa tidak memiliki perhatian yang sama pada mata pelajaran yang sama pula. Oleh karena itu, guru diharuskan untuk memberikan motivasi dalam membangkitkan bakat, minat dan perhatian siswa terhadap materi pelajaran yang sedang diajarkan. Selain itu, adanya pemusatan kepada materi pelajaran juga sangat diperlukan. Untuk mencapai tujuan tersebut, seorang guru dapat melakukan berbagai cara, antara lain: a. Mengadakan selingan yang menarik, namun tetap sesuai dengan etika mengajar. b. Menggunakan alat peraga yang tepat guna. c. Memaparkan tujuan dan manfaat yang akan dicapai dalam mempelajari materi tersebut. d. Mengaplikasikannya dengan contoh yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan lain sebagainya. Usaha dalam memberikan variasi mengajar dengan mewujudkan bahan yang diajarkan secara nyata, baik dalam bentuk benda aslinya maupun benda tiruan berupa model. Diharapkan dengan peragaan para

9

siswa dapat mengamati dengan jelas dan pengajaran pun lebih tertuju pada tercapainya hasil yang diinginkan. Upaya untuk mewujudkan dan menggunakan alat-alat peraga siswa harus aktif memperhatikan, mengamati, mencatat, mengatur dan mencoba. Sehingga kekhawatiran akan sifat yang cenderung hanya verbalistis dapat dihindari. Dalam pengetahuan, mempelajari siswa semua bidang pelajaran untuk atau ilmu

sebaiknya

dibiasakan

berkonsentrasi.

Konsentrasi adalah menentukan suatu pokok tertentu dari keseluruhan bahan pelajaran dalam rangka melaksanakan tujuan sekolah serta memperhatikan kebutuhan siswa dalam lingkungan tersebut. Konsentrasi sebagai usaha pemusatan perhatian dan kegiatan siswa dalam mencari jawaban serta menemukan cara pemecahan masalah yang dihadapi, dapat mendorong pemusatan perhatian siswa serta kesediaan mereka dalam melakukan penyelidikan dan menemukan sesuatu yang mempunyai arti dan nilai bagi kehidupannya kelak. Untuk

pelaksanaannya, siswa dihadapkan pada suatu pemusatan perhatian yang merupakan suatu unit yang pemecahannya melibatkan beberapa pelajaran. Dengan begitu, siswa akan dapat mengetahui keterkaitan yang erat di antara mata pelajaran yang satu dengan mata pelajaran yang lain. Setiap siswa merupakan individu yang berbeda-beda, hal tersebut terlihat dari perbedaan jasmani, karakter, intelegensi, bakat, minat, hobi, daya tangkap dalam menerima materi pelajaran,kecepatan dan ketepatan dalam menganalisa. Pengembangan hal-hal tesebut sangat memerlukan adanya

dukungan dari guru, sehingga semua hal tersebut mencapai arah perkembangan yang diharapkan. Harapan itu dapat ditunjang melalui

10

rencana pengajaran individu di samping yang utama (yaitu perencanaan pengajaran yang bersifat klasikal). Maka diperlukan pengelompokan siswa dengan kriteria kemampuan masing-masing individu. Evaluasi juga diperlukan yang bertujuan untuk mengukur sejauh mana perkembangan siswa dalam materi pada mata pelajaran yang dimaksud. Selain dari hal tersebut, evaluasi memiliki arti penting dalam dunia pendidikan, yaitu untuk memperoleh data pembuktian yang akan menunjukkan tingkat kemampuan dan keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan instruksional dan kurikuler. Hasil evaluasi tersebut juga dapat dijadikan untuk mengukur ataupun menilai sejauh mana efektivitas dan efisiensi kegiatan belajar mengajar dengan metode yang dilaksanakan.

3. Pendekatan dalam Pembelajaran Fisika Pelajaran fisika adalah pelajaran yang mengajarkan berbagai pengetahuan yang dapat mengembangkan daya nalar, analisa, sehingga hampir semua persoalan yang berkaitan dengan alam dapat dimengerti. Untuk dapat mengerti fisika secara luas, maka harus dimulai dengan kemampuan pemahaman konsep dasar yang ada pada pelajaran fisika. Berhasil atau tidaknya seorang siswa dalam memahami tentang pelajaran fisika sangat ditentukan oleh pemahaman konsep. Untuk mendapatkan pengetahuan tentang ilmu fisika, maka siswa harus menempuh proses belajar mengajar yang baik. Belajar akan lebih berhasil bila telah diketahui tujuan yang ingin dicapai. Salah satu cara untuk memperoleh pengetahuan fisika yang baik dan untuk mengatasi berbagai kelemahan dalam proses belajar mengajar adalah menerapkan pembelajaran dengan pendekatan yang berbeda. Disini penulis

11

memaparkan 2 pendekatan yang berbeda yaitu pendekatan formal dan informal. Kata Pendekatan secara harfiah berarti hampiran, jalan, tindakan mendekati. Menurut Suyitno dkk (1997:23-25) : “ Pendekatan berdasarkan cara berpikirnya yaitu pendekatan deduktif dan induktif. Pendekatan berdasarkan kedalaman materinya yaitu pendekatan spiral dan pendekatan non spiral. Pendekatan berdasarkan cara menjelaskannya yaitu pendekatan formal dan pendekatan informal. Pendekatan berdasarkan teknik pemecahan soalnya yaitu pendekatan sintetik dan pendekatan analitik”.

4. Pendekatan formal dan informal Menurut Sudjana (dalam Rena, 2004:10) “Pendekatan formal adalah pembahasan pelajaran fisika yang berdasarkan sistem aksioma unsur dan istilah yang didefinisikan, serta sifat-sifat yang sudah dibuktikan kebenarannya”. Sedangkan menurut Suyitno dkk (1997:27)” Pendekatan formal adalah pembahasan pelajaran fisika yang diberi secara urut dan rinci atau lengkap, terstruktur serta bukti yang lengkap dijiwai oleh kebenaran konsisten”. Pendekatan formal / khusus adalah pelaksanaan latihan artikulasi secara khusus atau formal serta memiliki program untuk masing-masing anak. Program tersebut didasarkan pada hasil asesmen pengucapan bunyi bahasa masing-masing anak (Hernawati, 2010:1). Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan, pendekatan formal adalah cara pembahasan pelajaran fisika secara khusus dalam mengenalkan suatu rumus dengan membahas penurunannya atau membuktikan terlebih dahulu kebenarannya dengan menggunakan

12

definisi-definisi atau rumus-rumus atau sifat-sifat terdahulu yang susah terbukti kebenarannya. Sedangkan pendekatan informal adalah cara pembahasan pelajaran fisika dalam mengenal suatu rumus atau definisi-definisi atau sifat-sifat tanpa membahas penurunannya atau membuktikan terlebih dahulu kebenarannya (Suyitno dkk, 1997:30). Sedangkan menurut Hernawati (2010:1) bahwa pendekatan informal atau umum, merupakan pelaksanaan latihan artikulasi yang tidak diprogramkan secara khusus, namun terintegrasi dalam pembelajaran mata pelajaran lainnya dan dilaksanakan oleh guru kelas/bidang studi. Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan, pendekatan informal adalah cara pembahasan pelajaran fisika secara umum dalam mengenalkan suatu rumus tanpa membahas penurunannya atau

membuktikan terlebih dahulu kebenarannya.

5. Langkah-langkah pembelajaran dengan pendekatan formal dan informal a. Langkah-langkah pembelajaran dengan pendekatan formal Berdasarkan pengertian pendekatan formal diatas diatas, maka langkah-langkah pembelajaran dengan pendekatan formal adalah : 1. Prainstruksional Sebagai bahan apersepsi dengan menggunakan metode

ekspositori, siswa diingatkan tentang definisi-definisi atau rumus-rumus yang telah dipelajari siswa sebelumnya sebagai bahan guru dan siswa untuk membahas penurunan rumus yang baru dikenal siswa 2. Intruksional

13

Kegiatan belajar mengajar yang harus ditempuh dalam proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan formal adalah a. Dengan menggunakan metode ekspositori, guru dan siswa harus membahas terlebih dahulu penurunan rumus atau membuktikan rumus-rumus yang baru dikenal siswa dengan menggunakan definisi-definisi atau rumus-rumus atau sifat-sifat terdahulu yang telah terbukti kebenarannya. b. Setelah guru dan siswa membahas penurunan rumus yang baru dikenal siswa, guru langsung memberikan contoh penyelesaian soalsoal yang berkaitan dengan rumus yang dibahas c. Guru memberikan soal-soal latihan kepada seluruh siswa, dan siswa yang mengerjakan soal-soal yang diberikan guru. 3. Evaluasi atau Tindak lanjut a. Penilaian proses belajar mengajar b. Guru melakukan pemantauan dan penilaian proses belajar mengajar melalui pengamatan c. Penilaian hasil belajar Untuk memeriksa pekerjaan siswa dalam mengerjakan soal-soal latihan yang diberkan guru, guru menunjuk beberapa siswa untuk mengemukakan hasil pekerjaannya secara tertulis dipapan tulis, dengan cara setiap siswa mengerjakan satu soal. d. Guru dan siswa menarik kesimpulan dari proses pembelajaran yang dilakukan. e. Jika penilaian hasil belajar belum berhasil, guru hendaknya memberikan pekerjaan rumah. Jika penilaian hasil belajar berhasil,

14

guru perlu memberikan PR, agar penguasaan siswa terhadap bahan pengajaran lebih dalam dan lebih luas. b. Langkah-langkah pembelajaran dengan pendekatan informal Berdasarkan pengertian pendekatan informal maka langkah-langkah pembelajaran dengan pendekatan informal adalah : 1. Instruksional Kegiatan belajar mengajar yang harus ditempuh dalam proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan informal adalah : a. Dengan metode ekspositori, guru dan siswa membahas rumus yang baru dikenal siswa, guru langsung memberikan contoh penyelesaian soal-soal yang berkaitan dengan rumus yang dibahas. b. Guru memberikan soal-soal latihan kepada seluruh siswa,

dan siswa mengerjakan soal-soal yang diberikan guru. 2. Evaluasi atau Tindak lanjut a. b. Penilaian proses belajar mengajar Guru melakukan pemantauan dan penilaian proses belajar

mengajar melalui pengamatan c. Penilaian hasil belajar Untuk memeriksa pekerjaan siswa dalam mengerjakan

soal-soal latihan yang diberkan guru, guru menunjuk beberapa siswa untuk mengemukakan hasil pekerjaannya secara tertulis

dipapan tulis, dengan cara setiap siswa mengerjakan satu soal. d. Guru dan siswa menarik kesimpulan dari proses pembelajaran

yang dilakukan. Jika penilaian hasil belajar belum berhasil, guru hendaknya memberikan pekerjaan rumah. Jika penilaian hasil belajar berhasil,

15

guru perlu memberikan PR,

agar penguasaan

siswa

terhadap

bahan pengajaran lebih dalam dan lebih luas.

6. Kelebihan dan kelemahan pendekatan formal dan informal Menurut Sudjana (1996:27) kelebihan pendekatan formal yaitu siswa dapat memahami darimana dan bagaimana rumus itu diperoleh sehingga pembelajaran akan lebih bermakna, pembelajaran dengan pendekatan formal sesuai dengan ciri-ciri dan karakteristik pengajaran fisika modern, sedangkan pada pendekatan informal tidak banyak menghabiskan waktu. Adapun kelemahan pendekatan formal dan informal, yaitu pada pendekatan formal lebih banyak menghabiskan waktu dan sulit diikuti oleh siswa yang kurang atau tidak menguasai pengetahuan prasyarat, sehingga pembelajaran kurang bermakna. Sedangkan kelemahan

pendekatan informal yaitu tidak sesuai dengan sifat fisika sebagai sistem deduktif, siswa kurang memahami dari mana dan bagaimana rumus itu diperoleh sehingga pembelajaran kurang bermakna dan pembelajaran dengan pendekatan informal tidak sesuai dengan ciri-ciri dan karakteristik pengajaran fisika yang modern.

7. Materi Pokok Tekanan a. Pengertian Tekanan Tekanan adalah besarnya gaya yang bekerja pada benda tiap satuan luas permukaan bidang tekan. Bidang atau permukaan yang dikenai gaya disebut bidang tekan, sedangkan gaya yang diberikan pada bidang tekan disebut gaya tekan.

16

b. Tekanan pada zat padat Besarnya suatu tekanan pada suatu benda tergantung pada besarnya gaya tekan yang kita berikan terhadap benda tersebut, namun semakin besar luas bidang tekan suatu benda maka semakin kecil tekanan yang terjadi. Dengan demikian, tekanan berbanding lurus dengan gaya tekan dan berbanding terbalik dengan luas bidang tekan. Secara matematis, besaran tekanan dapat dituliskan dalam persamaan sebagai berikut : p= Keterangan : P = tekanan (N/m2) F = gaya tekanan ( N) A = luas bidang (m2) Satuan tekanan dalam Sistem International (SI) adalah N/m2. Satuan ini juga disebut pascal (Pa).1 Pa = 1 N/m2. c. Tekanan pada zat cair Tekanan Hidrostatis adalah tekanan yang terjadi di bawah air. Tekanan ini terjadi karena adanya berat air yang membuat cairan tersebut mengeluarkan tekanan. Tekanan di dalam zat cair bergantung pada kedalamannya, semakin dalam maka semakin besar tekanannya. Tekanan juga bergantung pada kepekatan zat cairnya, semakin besar massa jenis suatu zat cair, semakin besar pula tekanan pada kedalaman tertentu. Dengan kata lain tekanan suatu zat cair sebanding dengan besarnya massa jenis. Zat cair massa jenisnya lebih besar akan memberikan tekanan hidrostatis yang lebih besar pula. Selain kedalaman atau ketinggian dari F A (Subiyanto, 1991:73-74)

17

permukaan dan massa jenis, tekanan hidrostatis juga

dipengaruhi

oleh percepatan gravitasi bumi sehingga tekanan hidrostatis juga dipengaruhi oleh percepatan gravitasi bumi sehingga tekanan hidrostatis dirumuskan: P = ρ.g.h Keterangan : p = tekanan (N/m2) massa jenis zat cair (kg / m 3 ) (Nurgana, 2006:185)

ρ =
g h

= percepatan gravitasi (m/s2) = tinggi zat cair (m) Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa tekanan berbanding lurus

dengan massa jenis zat cair dan kedalaman di dalam zat cair. Pada umumnya tekanan pada kedalaman yang sama dalam zat cair yang serba sama adalah sama. 1. Hukum Pascal Hukum pascal menyatakan bahwa tekanan yang diberikan pada zat cair di ruang tertutup akan diteruskan ke segala arah dengan sama rata. Sehingga dapat ditulis persamaan sebagai berikut: P1 = P2 F1 F2 = A1 A2 F2 = F1 2. Bejana berhubungan Bentuk permukaan dasar atau bentuk tabung yang saling berhubungan tidak mempengaruhi permukaan air. A2 A1 (Nurgana, 2006:186)

18

Adapun alat-alat yang menggunakan prinsip bejana berhubungan di antaranya adalah sebagai berikut: a. Cerek Cerek adalah alat untuk memudahkan ketika menumpahkan air minum pada gelas. Ketika cerek dimiringkan permukaan air di dalam cerek selalu rata sehingga memudahkan air keluar dari corong sesuai dengan kemiringannya. b. Penyimpat Datar Penyimpat datar adalah alat yang terbuat dari selang plastik yang diisi air. Alat ini digunakan oleh tukang bangunan untuk mengukur ketinggian suatu tempat pada permukaan tanah yang tidak rata. Penyimpat datar yang dibuat pabrik disebut water pass. c. Sumur Keberadaan air di dalam sumur pompa ataupun sumur tradisional disebabkan oleh berlakunya prinsip bejana berhubungan. Oleh karena itu, sumur harus berada di bawah permukaan air tanah supaya airnya tidak pernah kering. 3. Hukum Archimedes Berdasarkan percobaan seorang ahli fisika yang bernama

Archimedes, yakni berat benda ketika di dalam air menjadi lebih ringan. Gaya ini disebut gaya apung atau gaya ke atas (F A). Jadi gaya apung sama dengan berat benda di udara di kurangi dengan berat benda di dalam air. FA = wu-wa Keterangan : FA = gaya apung atau gaya ke atas (N) (Subiyanto, 1991:94)

19

wu wa

= gaya berat benda di udara (N) = gaya berat benda di dalam air (N) Besarnya gaya apung ini bergantung pada banyaknya air yang

didesak oleh benda tersebut. Semakin besar air yang didesak maka semakin besar pula gaya apungnya. Hukum Archimedes yang menyatakan bahwa apabila suatu benda dicelupkan ke dalam zat cair, baik sebagian atau seluruhnya, benda akan mendapat gaya apung (gaya ke atas) yang besarnya sama dengan berat zat cair yang didesaknya (dipindahkan) oleh benda tersebut. Secara matematis ditulis sebagai berikut: FA = w f Karena dan maka wf = mf.g m f = ρ f .V w f = ρ f .V .g (Subiyanto, 1991:94)

Keterangan: FA ρf V g = gaya apung (N) = massa jenis zat cair (kg/m3) = volume zat cair didesak atau volume benda yang tercelup (m3) = konstanta gravitasi atu percepatan gravitasi (m/s2) Massa jenis suatu benda adalah massa persatuan volume. Massa jenis benda yang terapung di permukaan air lebih kecil dari pada massa jenis air. Keadaan benda di dalam air dapat disimpulkan sebagai berikut: a. Benda terapung jika massa jenis benda lebih kecil dari pada massa jenis zat cair. ρ b < ρ a b. Benda melayang jika massa jenis benda sama besar dengan massa jenis zat cair. ρ b = ρ a

20

c. Benda tenggelam jika massa jenis benda lebih besar dari massa jenis zat cair. ρ b > ρ a d. Tekanan Udara Tekanan udara sangat mempengaruhi cuaca. Terjadinya angin merupakan salah satu hal yang disebabkan oleh perbedaan tekanan udara. Semakin besar perbedaan tekanan udaranya, semakin kencang angin yang berhembus sehingga terjadi keseimbangan tekanan. Perbedaan tekan ini dipicu oleh perbedaan suhu akibat pemanasan sinar matahari. 1. Ketinggian Mempengaruhi Tekanan Atmosfer. Tekanan udara (tekanan atmosfer) disebabkan oleh berat udara yang menekan lapisan atmosfer bagian bawah sampai ke ketinggian tertentu. Tekanan atmosfer dapat dimisalkan sebagai tekanan zat cair. Semakin dalam suatu zat cair maka semakin besar tekanannya, begitu pula tekanan atmosfer. Mulai dari bagian atas atmosfer bumi hingga ke bawah akan semakin besar sehingga beratnya semakin besar. Dengan kata lain semakin rendah permukaannya semakin besar tekanan udaranya. Sebaliknya semakin tinggi permukaannya bumi semakin akan semakin rendah tekanan udaranya. Tekanan udara dipermukaan laut sama dengan satu atmosfer (1 atm = 76cmHg), setiap kenaikan 100 m, tekanan udara berkurang sebesar 1 cmHg. 2. Alat Ukur Tekanan

a. Barometer fortin Barometer raksa disebut barometer fortin karena yang pertama membuatnya adalah seorang ahli fisika berkebangsaan Prancis Nicolas Fortin. Barometer ini dapat mengukur dengan teliti

21

karena dilengkapi engan skala nonius atau skala vernier seperti halnya dalam jangka sorong. b. Barometer logam Barometer logam disebut barometer aneroid. Barometer ini banyak digunakan di badan meteorologi dan geofisika untuk memperkirakan cuaca dengan mengukur tekanan udaranya.

Barometer logam bisa juga disebut barometer kering, barometer ini lebih praktis untuk dibawa dan skalanya mudah dibaca karena berbentuk lingkaran.

8. Hasil Belajar Hasil belajar adalah produk tingkah laku siswa yang dikehendaki yang benar-benar terjadi. Menurut Abdurrahman (dalam Rena, 2004:5), hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai dari yang

dikerjakan dan diusahakan sedangkan belajar adalah kegiatan manusia yang bersifat manusiawi. Berdasarkan pengertian ini dapat diartikan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai oleh siswa dalam proses belajar. Menurut Slameto (2003:11) yaitu: “ Belajar merupakan interaksi antara “keadaan internal dan proses kognitif siswa” dengan “stimulus dari lingkungan”, proses kognitif tersebut menghasilkan suatu hasil belajar. Hasil belajar tersebut terdiri dari informasi verbal, keterampilan intelek, keterampilan motorik, sikap, dan siasat kognitif. ” Dari kutipan di atas dapat dinyatakan bahwa proses pembelajaran sangat berpengaruh terhadap hasil belajar, sehingga guru dituntut untuk

22

dapat menggunakan strategi yang tepat dalam proses pembelajaran. Strategi yang digunakan diharapkan guru selama proses belajar mengajar

mampu meningkatkan hasil belajar siswa.

Hasil belajar adalah suatu yang diperoleh siswa setelah melakukan kegiatan belajar. Hasil belajar meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Pada penelitian ini peneliti hanya mengamati aspek kognitif. Hasil belajar dari aspek kognitif merupakan kemampuan siswa dalam bidang pengetahuan, pengalaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi, baik secara proses maupun di akhir pembelajaran. Hasil akhir dapat diketahui dengan menggunakan salah satu indikator yaitu tes. Hasil tes ini kemudian dianalisis oleh peneliti dan diberi penilaian. Slameto (2003:55) menyatakan bahwa '”berhasil atau tidaknya seseorang dalam belajar disebabkan beberapa faktor yang mempengaruhi pencapaian hasil belajar yaitu berasal dari dalam diri orang yang belajar dan ada pula dari luar dirinya”. Faktor yang berasal dari dalam diri orang yang belajar disebut faktor internal, yang tergolong faktor internal antara lain: a) faktor kesehatan, meliputi faktor kesehatan jasamani dan rohani, b) faktor intelegensi dan bakat, c) faktor minat dan motivasi, d) cara belajar. Sedangkan faktor yang berasal dari luar diri orang yang belajar disebut faktor eksternal, yang tergolong faktor eksternal antara lain: a) keluarga, meliputi ayah, ibu dan anak-anak serta famili yang menjadi penghuni rumah; b) sekolah, meliputi keadaan sekolah tempat belajar;

23

c) masyarakat, meliputi keadaan masyarakat di sekitar tempat tinggal; d) lingkungan sekitar, meliputi keadaan lingkungan, bangunan rumah, suasana sekitar, keadaan lalu lintas, iklim dan sebagainya.

B. Hipotesis dan Kriteria Pengujian Hipotesis Hipotesis adalah suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap suatu permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul (Arikunto, 2002:64). Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah : “ ada perbedaan dari perbandingan hasil belajar fisika antara penggunaan pendekatan formal dan informal. pada kelas VIII Pertama Negeri 2 Lubuklinggau ”. Untuk menguji hipotesis tersebut digunakan hipotesis sebagai berikut : Ho = Tidak ada perbedaan yang signifikan dari perbandingan hasil belajar siswa yang diajarkan dengan pendekatan formal dan informal di kelas VIII Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Lubuklinggau Tahun ajaran 2009/2010. Ha = Ada perbedaan dari perbandingan hasil belajar siswa yang diajarkan dengan pendekatan formal dan informal di kelas VIII Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Lubuklinggau Tahun ajaran 2009/2010. Dalam penelitian ini menggunakan uji t dengan derajat kebebasan 5%, dengan kriteria pengujian terima Ha jika thitung > t tabel dan Ho ditolak. di Sekolah Menengah

24

BAB III METODE PENELITIAN

A.

Desain Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen, dimana

siswa dikelompokkan menjadi dua kelas, yaitu

kelas yang diberi

pembelajaran dengan pendekatan formal dan kelas yang diberi pembelajaran dengan pendekatan informal. Metode eksperimen merupakan metode yang digunakan untuk mengetahui ada tidaknya akibat dari perlakuan yang diberikan pada subjek selidik (Arikunto, 2002:272). Didalam suatu eksperimen ilmiah dituntut sedikitnya dua grup, yang satu ditugaskan sebagai grup pembanding, sedangkan grup yang satu lagi sebagai grup yang dibandingkan (Supardi, 2007:3-4). Pada penelitian ini dilaksanakan pretest-posttest dengan melibatkan dua kelompok yang membandingkan antara pendekatan formal dengan pendekatan informal. Desain penelitian menunjukkan kerangka konseptual yang akan dilakukan dalam penelitian. Desain penelitian yang digunakan adalah control group pretest-posttest design secara umum menurut Supardi (2007:4) Tabel 3.1 Desain Penelitian Group E1 E2 pretest T1 T1 Treatment Xf Xi posttest T2 T2

24

25

Keterangan : E1 E2 T1 T2 Xf Xi : : : : : : Eksperimen dengan menggunakan pendekatan formal Eksperimen dengan menggunakan pendekatan informal Pretest Posttest Pembelajaran dengan pendekatan formal Pembelajaran dengan pendekatan infomal

B.

Variabel Penelitian Variabel penelitian adalah gejala yang bervariasi, yang menjadi objek

penelitian (Arikunto,2002:104). Variabel eksperimental adalah kondisi yang hendak diteliti bagaimana pengaruhnya terhadap suatu gejala. Maka variabel penelitian ini adalah : 1. Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi. Variabel bebas dalam penelitian ini yaitu pendekatan formal dan pendekatan informal. 2. Variabel terikat adalah variabel yang

terpengaruh. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar fisika setelah diberi perlakuan.

C. Populasi dan Sampel 1. Populasi Populasi adalah totalitas semua nilai yang mungkin, baik hasil menghitung maupun penghitung pengukuran kuantitatif maupun kualitatif mengenai karakteristik tertentu dari semua anggota kumpulan yang lengkap dan jelas yang ingin dipelajari sifat-sifatnya (Sudjana,1996:6). Adapun populasi dalam penelitian ini seluruh siswa kelas VIII SMP N 2 Lubuklinggau tahun Pelajaran 2009/2010.

26

Tabel 3.2 Populasi Penelitian Kelas VIII.1 VIII.2 VIII.3 VIII.4 VIII.5 VIII.6 VIII.7 VIII.8 VIII.9 Laki-laki 20 21 22 22 22 20 20 21 21 Perempuan 20 19 20 19 20 20 20 20 19 Jumlah 40 40 42 41 42 40 40 41 40

Sumber : TU SMP Negeri 2 Lubuklinggau, Tahun pelajaran 2009/2010

2. Sampel Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang dipilih

(Arikunto, 2001:104) dari seluruh siswa kelas VIII secara acak untuk dijadikan sebagai sampel penelitian. Digunakan teknik ini karena setiap kelas dari seluruh subjek mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai sampel (Arikunto, 2002:120). Kemudian dari dua kelas yang dipilih dan diundi secara acak untuk menentukan kelas yang diberi

27

pembelajaran dengan

pendekatan formal, dan kelas yang diberi

pembelajaran dengan pendekatan informal. Tabel. 3.3 Jumlah Sampel Kelas Jumlah Pendekatan Formal VIII.3 42 Pendekatan Informal VIII.4 41 Jumlah 3 Sumber : TU SMP Negeri 2 Lubuklinggau, Tahun pelajaran 2009/2010

D. Teknik Pengumpulan Data Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data menggunakan instrumen berupa lembar tes. Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan yang digunakan untuk mengukur ketrampilan, pengetahuan, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu (Arikunto,2002:103). Metode ini diberikan pada siswa sampel setelah pembelajaran pokok bahasan tekanan dilakukan. Tes ini disusun dalam bentuk soal-soal essai yang terdiri dari 5 butir soal dan dilaksanakan pada jam pelajaran fisika, sehingga tidak mengganggu jam pelajaran lain. Penilaian diberikan berdasarkan skor yang telah ditentukan oleh penulis.

E. Teknik Analisis Data Setelah data terkumpul, maka data tersebut diolah sehingga dari hasil pengolahan tersebut nantinya dapat diambil suatu kesimpulan untuk membuktikan kebenaran hipotesis yang telah dirumuskan. Penelitian ini menggunakan teknik analisis data hasil belajar siswa sebagai berikut :

28

1. Mencari rata-rata hitung yang disusun dalam daftar distribusi frekuensi, dengan menggunakan rumus: x=

∑fx ∑f
i i

i

(Sudjana, 1996:67)

Keterangan : x fi xi = Nilai rata-rata sampel = Frekuensi = Titik tengah nilai tes Berdasarkan daftar distribusi frekuensi pada Lampiran B, maka

didapat nilai rata-rata kemampuan awal kelas yang diberi pembelajaran dengan pendekatan formal dan kelas yang diberi pembelajaran

dengan pendekatan informal adalah 8,4 dan 8,175. Sedangkan nilai rata-rata dengan kemampuan pendekatan akhir untuk kelas yang diberi pembelajaran

formal dan kelas yang diberi pembelajaran

dengan pendekatan informal adalah 38,5 dan 32,4. 2. Menghitung simpangan baku, dengan rumus:
S=

∑f x

2

i

( n −1)

− ( ∑ f xi )

2

(Sudjana, 1996:93)

Keterangan : S xi x n fi = Simpangan baku = Titik tengah nilai tes = Nilai rata-rata sampel = Banyaknya siswa dalam sampel = Frekuensi Berdasarkan data pada Lampiran B, didapat simpangan baku untuk kemampuan awal kelas yang diberi pembelajaran dengan formal dan kelas yang pendekatan

diberi pembelajaran dengan pendekatan

informal adalah 3,58 dan 3,84. Sedangkan untuk kemampuan akhir kelas yang diberi pembelajaran dengan pendekatan formal dan kelas

29

yang

diberi

pembelajaran dengan pendekatan informal

dengan

simpangan baku 7,05 dan 6,09. 3. Menentukan Uji Normalitas Data ( χ 2 ) Uji normalitas ini digunakan untuk mengetahui kenormalan data. Rumus yang digunakan dalam uji normalitas adalah uji kecocokan chikuadrat ( χ 2 ) yaitu:

χ =∑
2 i =1

k

( f0 − f h ) 2
fh :

(Arikunto, 2002: 290)

Keterangan

χ2 fo fe

= Harga chi-kuadrat yang dicari = Frekuensi dari hasil observasi = Frekuensi dari hasil estimasi Selanjutnya χ 2 hitung dibandingkan dengan χ 2 tabel dengan derajat

kebebasan (dk) = k - 1. Dimana k adalah banyaknya kelas interval. Adapun kriteria pengujiannya : jika χ 2 hitung < χ 2 tabel, maka dapat dinyatakan bahwa data berdistribusi normal. Dari data yang didapat pada Lampiran B
2 menunjukkan bahwa nilai χ hitung data tes awal maupun tes akhir untuk

kelas yang diberi pembelajaran

dengan

pendekatan

formal

dan

kelas yang diberi pembelajaran dengan pendekatan informal lebih kecil daripada χ tabel , maka data terdistribusi normal.
2

4.

Uji Homogenitas S12 F= 2 S2 Keterangan : S12 = Varians Terbesar 2 S 2 = Varians Terkecil (Sudjana, 1996:249)

30

Kriteria pengujiannya adalah F data mempunyai varians sama.

hitung

< Ftabel , maka kedua kelompok

Dari data yang didapat pada Lampiran B menunjukkan bahwa varians kedua kelompok yang dibandingkan pada tes awal dan tes akhir pada taraf kepercayaan α = 5% adalah homogen karena Fhitung < Ftabel.

5.

Uji t

t' =

X1 - X 2 S12 S 22 + n1 n2

(Sudjana, 1992:241)

Keterangan : t = Perbedaan rata-rata kedua sampel Χ 1 = Nilai rata-rata hasil belajar siswa yang diajarkan dengan pendekatan formal Χ 2 = Nilai rata-rata hasil belajar siswa yang diajarkan dengan pendekatan informal 2 S1 = Simpangan baku hasil belajar siswa yang diajarkan dengan S 22 n1 n2 pendekatan formal = Simpangan baku hasil belajar siswa yang diajarkan dengan pendekatan informal = Jumlah sampel hasil belajar siswa yang diajarkan dengan pendekatan formal = Jumlah sampel hasil belajar siswa yang diajarkan dengan pendekatan informal Sesuai dengan kriteria pengujian Jika t hitung < t tabel maka tidak berbeda secara signifikan, artinya tidak ada perbedaan yang berarti atau hipotesis ditolak dan Ho diterima, jika t hitung > t tabel atau t tabel < t hitung maka terdapat perbedaan sehingga Ha diterima dan Ho ditolak. Berdasarkan hasil perhitungan data pada Lampiran B, harga thitung lebih besar dibandingkan dari t
tabel

didapat

( 4,122 > 1,66) sehingga Ha

31

diterima dan Ho ditolak. Jadi hipotesis yang menyatakan ada perbedaan hasil belajar fisika antara penggunaan pendekatan formal dan informal pada kelas VIII di Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Lubuklinggau dan dapat diterima kebenarannya.

F. Uji Validitas dan Reliabelitas Instrumen Untuk mendapatkan alat evaluasi yang kualitasnya baik Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes hasil belajar. Tes tersebut digunakan untuk mengetahui pemahaman siswa mengenai tekanan. Sebelum instrumen digunakan dalam penelitian instrumen tersebut di uji coba terlebih dahulu pada siswa soal tes yang diambil dari materi tekanan. Uji coba instrumen dilaksanakan dikelas X SMA Bakti Keluarga Lubuklinggau yang diikuti 30 siswa. Uji coba ini dimaksudkan untuk mengetahui validitas, reliabilitas, daya pembeda, dan tingkat kesukaran soal. Dengan demikian instrumen yang digunakan dalam penelitian ini telah diketahui validitas, reliabilitas, daya pembeda, dan tingkat kesukaran soal. 1. Uji Validitas Tes Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukan tingkat-tingkat kevalidan suatu instrument. Dengan demikian uji validitas bertujuan

untuk mengukur valid tidaknya suatu instrument. Rumus yang digunakan dalam uji validitas ini adalah rumus koefisien Produk Moment yaitu : rxy =

{N (∑X

N ∑XY − (∑X ∑Y )
2

) − (∑X ) 2 }{ N (∑Y 2 ) −(∑Y ) 2 }

(Arikunto, 2002:225)

Keterangan :

32

rxy N X Y

= = = =

Koefisien korelasi Jumlah sampel Skor untuk tiap butir soal Skor total

Interprestasi yang lebih rinci mengenai nilai dalam kategori sebagai berikut : rXY = 0,00 tidak valid 0,00 ≤ rXY ≤ 0,20 validitas sangat rendah 0,20 ≤ rXY ≤ 0,40 validitas rendah 0,40 ≤ rXY ≤ 0,60 validitas sedang 0,60 ≤ rXY ≤ 0,80 validitas tinggi 0,80 ≤ rXY ≤ 1,00 validitas sangat tinggi

rX Y

tersebut terbagi

Hasil perhitungan uji validitas dapat dilihat pada Tabel berikut : Tabel 3.4 Hasil Analisis Validitas No Soal 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 rxy 0,40 0,51 0,50 0,58 0,33 0,55 0,54 0,65 0,44 0,54 Ket Tidak Valid Valid Valid Valid Tidak Valid Valid Valid Valid Valid Valid thitung 1,85 3,77 3,06 3,77 1,85 3,48 3,32 4,53 2,60 3,40 ttabel 2,05 2,05 2,05 2,05 2,05 2,05 2,05 2,05 2,05 2,05 Ket Tidak Signifikan Signifikan Signifikan Signifikan Tidak Signifikan Signifikan Signifikan Signifikan Signifikan Signifikan

Berdasarkan analisis hasil uji coba tes hasil belajar, nilai r product moment untuk N = 30 dengan derajat kepercayaan ( α = 5 % ) diperoleh rtabel = 0,312 ternyata rhitung > rtabel maka korelasi tersebut adalah signifikan dalam arti soal yang digunakan merupakan alat ukur yang sudah valid.

2. Uji Reliabilitas 1) Menghitung jumlah varians tiap butir soal dengan rumus:

33

α =
2

(∑ ) Χ X ∑ - N
2

2

Suherman dan Sukjaya (1990:193) soal dapat dilihat pada

N

Hasil perhitungan varians butir-butir Tabel 3.5 sebagai berikut :

Tabel 3.5 Perhitungan Varians Dari Data Hasil Uji Coba Tes

No Soal 1 2 3 4 5

∑Χ
57 48 43 42 30 220

∑ Χ2
93 68 57 58 38 314

(∑ Χ)
N

2

α2
0,394 0,360 0,323 0,386 0,386 1,809

81,225 57,600 46,225 44,100 22,500 251,65

Untuk mengetahui reliabilitas tes berbentuk uraian digunakan rumus Alpa, yang dikemukakan oleh Suherman dan Sukjaya (1990:194) sebagai berikut :
2  k   Σσ 2  r11 =  1 − 2  σ1   k − 1  

Keterangan : r11 = k = 2 Σσ 1 = σ 12 = Reliabilitas instrument Banyak butir soal Jumlah varians skor tiap butir soal Jumlah varians skor total Interpretasi mengenai nilai r11 dibagi ke dalam kategori-kategori sebagai berikut: ( dalam Sukjaya dan Suherman, 1990:177)

34

0,20 < 0,40 < 0,60 < 0,80 <

r11 = 0,20 r11 < 0,40 r11 < 0,60 r11 < 0,80 r11 < 1,00

Reliabilitas sangat rendah Reliabilitas rendah Reliabilitas sedang Reliabilitas tinggi Reliabilitas Sangat baik

Setelah hasil data uji coba dianalisis dengan menggunakan rumus Alpa diatas (Lampiran A) diperoleh koefisien reliabelitas sebesar 0,58. Ini berarti soal tes tersebut mempunyai derajat reliabelitas yang sedang, sehingga dipercaya sebagai alat ukur.

3. Tingkat Kesukaran Tingkat kesukaran adalah kemampuan tes tersebut dalam menjaring banyaknya subjek peserta tes yang dapat mengerjakan dengan betul. Jika banyak subjek peserta tes yang dapat menjawab dengan benar maka taraf kesukaran tes tersebut tinggi. Sebaliknya jika hanya sedikit dari subjek yang dapat menjawab dengan benar maka taraf kesukarannya rendah. Karena jumlah data lebih dari 30, maka untuk keperluan perhitungan tingkat kesukaran (IK) butir soal tersebut diambil 27% kelompok atas dan 27% kelompok bawah. Untuk taraf kesukaran dinyatakan dengan IK dan dicari dengan rumus:
IK = JS A + JS B SI A + SI B

(Sukjaya dan Suherman, 1990:213)

Keterangan : IK JSA JSB SIA SIB : Indeks kesukaran : Jumlah skor kelompok atas : Jumlah skor kelompok bawah : Jumlah skor ideal kelompok atas : Jumlah skor ideal kelompok bawah

Klasifikasi Interpretasi untuk indeks kesukaran adalah sebagai berikut: (Sukjaya dan Suherman, 1990:213)

35

IK = 0,00 0,00 < IK < 0,30 0,30 < IK < 0,70 0,70 < IK < 1,00 IK < 1,00

Soal terlalu sukar Soal sukar Soal sedang Soal mudah Soal terlalu mudah dapat dikemukakan

Dari hasil perhitungan (Lampiran A)

rekapitulasi hasil analisis tingkat kesukaran tes seperti pada Tabel 3.5 berikut : Tabel 3.6 Tingkat Kesukaran No Soal
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

JSA 32
37 63 52 49 71 54 40 57 60

JSB
28 26 38 35 32 50 39 31 42 33

SIA
120 120 150 150 150 180 150 150 150 180

SIB
120 120 150 150 150 180 150 150 150 180

IK 0.5 0.53 0.70 0.58 0.54 0.70 0.71 0.47 0.76 0.20

Kriteria Sedang Sedang Mudah Sedang Sedang Mudah Mudah Sedang Mudah Sukar

4. Daya Pembeda Daya pembeda adalah kemampuan tes tersebut dalam memisahkan antara subjek yang pandai dengan subjek yang kurang pandai. Rumus yang digunakan untuk mengetahui daya pembeda setiap butir tes adalah

36

DP =

JS A − JS B SI A

(Sukjaya dan Suherman, 1990:201)

Keterangan : DP : Daya pembeda JSA : Jumlah skor kelompok atas JSB : Jumlah skor kelompok atas SIA : Jumlah skor ideal kelompok atas Klasifikasi interpretasi untuk daya pembeda adalah: (Sukjaya dan Suherman, 1990:202) 0,00 < 0,20 < 0,40 < 0,70 < Dari DP = 0,00 DP < 0,20 DP < 0,40 DP < 0,70 DP < 1,00 hasil Sangat jelek Jelek Cukup Baik Sangat baik (Lampiran A) dapat dikemukakan

perhitungan

rekapitulasi hasil analisis daya pembeda tes seperti pada Tabel 3.6 Tabel 3.7 Daya Pembeda No Soal 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Daya Pembeda 0,18 0,35 0,27 0,20 0,18 0,22 0,23 0,24 0,32 0,38 Kriteria Jelek Cukup Cukup Jelek Jelek Cukup Cukup Cukup Cukup Cukup

Dari hasil perhitungan di atas ternyata rhitung > rtabel dimana rtabel = 0,312 dengan N = 30 derajat kepercayaan α = 5% hal ini berarti bahwa korelasi tersebut adalah signifikan. Dalam arti bahwa alat ukur yang

37

digunakan untuk mengumpulkan data reliabel dengan kata lain alat ukur tersebut dapat digunakan untuk mendapatkan data penelitian.

38

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Data Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Lubuklinggau kelas VIII yaitu kelas VIII.3 sebagai kelas yang diberi

pembelajaran dengan pendekatan formal dan kelas VIII.4 sebagai kelas yang diberi pembelajaran dengan pendekatan informal. Pelaksanaan tes awal kelas yang diberi pembelajaran dengan pendekatan formal diikuti oleh semua siswa dan kelas yang diberi pembelajaran dengan pendekatan informal juga diikuti oleh semua siswa. Sebelum dilaksanakan tes akhir terlebih dahulu dilaksanakan pre-test yang berfungsi untuk mengetahui kemampuan awal siswa tentang materi tekanan dari masing-masing siswa sebelum dilakukan kegiatan pembelajaran. Data tersebut digunakan untuk menentukan perbedaan hasil belajar antara kedua kelas. Dari data hasil tes akhir, peneliti dapatkan setelah kedua kelas mendapat perlakuan yang berbeda dalam pembelajaran fisika pada materi tekanan. B. Analisis Data 1. Kemampuan Awal Siswa Kemampuan awal siswa sebelum mengikuti pembelajaran materi tekanan merupakan data penelitian yang diperoleh dari tes awal. Tes awal berfungsi untuk mengetahui kemampuan awal siswa pada suatu materi tekanan. Soal tes awal menggunakan lima buah soal berbentuk essay. Dari hasil tes awal diperoleh nilai rata-rata untuk kelas yang diberi pembelajaran dengan pendekatan formal dengan nilai rata-rata 8,4

37

39

dan simpangan baku 3,58. Sedangkan untuk kelas yang diberi pembelajaran dengan pendekatan informal dengan nilai rata-rata 8,175 dan simpangan baku 3,84. Untuk lebih jelasnya nilai rata-rata dan simpangan baku hasil tes awal ditunjukkan pada Tabel 4.1 berikut : Tabel 4.1 Rata-Rata ( X ) Dan Simpangan Baku (S) Hasil Pretes Siswa

Kelas Pembelajaran dengan pendekatan formal Pembelajaran dengan pendekatan informal

Rata-rata (X ) 8,4 8,175

Simpangan Baku (S) 3,58 3,84

2. Kemampuan Akhir Siswa Kemampuan siswa dalam penguasaan materi tekanan merupakan hasil belajar setelah mengikuti proses pembelajaran. Dibandingkan dengan kemampuan awal siswa maka terdapat peningkatan pada kemampuan akhir. Dari perhitungan pada lampiran B, diperoleh hasil rekapitulasi dari hasil tes akhir dengan nilai rata-rata dan simpangan baku kelas yang diberi pembelajaran dengan pendekatan formal masing-masing 38,5 dan 7,05 sedangkan nilai rata-rata dan simpangan baku kelas yang diberi pembelajaran dengan pendekatan informal 32,4 dan 6,09. Untuk lebih jelasnya nilai rata-rata dan simpangan baku hasil tes akhir ditunjukkan pada Tabel 4.2 berikut :

40

Tabel 4.2 Rata-Rata ( X ) dan Simpangan Baku (S) Hasil Post-test Kemampuan Akhir Siswa Kelas Pembelajaran dengan pendekatan formal Pembelajaran dengan pendekatan informal Rata-rata ( X ) 38,5 32,4 Simpangan Baku (S) 7,05 6,09

3. Perbandingan Hasil Tes Awal dan Tes Akhir Berdasarkan data hasil tes awal diketahui bahwa perbandingan hasil tes awal antara kelas pembelajaran dengan pendekatan formal dan kelas pembelajaran dengan pendekatan informal adalah 1:1 dengan masing-masing simpangan baku untuk kelas pembelajaran dengan pendekatan formal dan kelas pembelajaran dengan pendekatan informal : 3,58 dan 3,84. Dari hasil analisis data didapat bahwa perbandingan hasil belajar fisika antara kelas pembelajaran dengan pendekatan formal dan kelas pembelajaran dengan pendekatan informal adalah 38 : 32. Hal ini ditinjau dari nilai rata-rata kelas pembelajaran dengan pendekatan formal adalah 38,5 dan nilai rata-rata kelas pembelajaran dengan pendekatan informal adalah 32,4 dengan masing-masing simpangan baku untuk kelas

pembelajaran dengan pendekatan formal dan kelas pembelajaran dengan pendekatan informal 7,05 dan 6,09. Untuk lebih jelasnya, perbandingan hasil belajar fisika antara kelas pembelajaran dengan pendekatan formal dan kelas pembelajaran dengan pendekatan informal ditunjukkan pada Grafik 4.1 berikut :

41

40 35 30 25 20 15 10 5 0
Tes Awal Formal Tes Awal Informal
8,4 8,175

38,5

32,4

Nilai Rata-rata Simpangan Baku

7,05 3,58 3,84

6,09

Tes Akhir Formal

Tes Akhir Informal

Grafik 4.1 : Perbandingan hasil belajar fisika antara pendekatan formal dan pendekatan informal 4. Pengujian Hipotesis Hipotesis yang diuji dalam penelitian ini adalah ” ada perbedaan dari perbandingan antara hasil belajar fisika dengan menggunakan pendekatan formal dan informal pada kelas VIII di Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Lubuklinggau”. Untuk menguji hipotesis tersebut maka dilakukan pengujian hipotesis secara statistik sebagai berikut : a. Uji Normalitas Uji Normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah data hasil tes berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas adalah uji kecocokan chi-

42

kuadrat ( χ 2 ) dan berdasarkan ketentuan perhitungan statistik mengenai uji normalitas data dengan taraf kepercayaan α = 5 %, jika

2 2 χhitung < χtabel , maka masing-masing data berdistribusi normal, di

luar itu maka data tidak berdistribusi normal. Tabel 4.3 Uji Normalitas Tes Awal Dan Tes Akhir Kelas Pembelajaran dengan pendekatan informal 1. Tes Awal Tes Akhir Pembelajaran dengan pendekatan formal Tes Awal Tes Akhir 2,23446 8 7,84168 Berdasakan Tabel 4.3, dapat dikemukakan bahwa untuk kelas pembelajaran dengan pendekatan informal χ 2 hitung data tes awal yaitu 4,1493 dan tes akhir yaitu 4,13945, sedangkan untuk kelas 4 4 9,49 9,49 Normal Normal 4,1493 4,13945 4 4 9,49 9,49 Normal Normal
2 χ hitung

dk

2 χ tabel

Kesimpulan

pembelajaran dengan pendekatan formal χ 2 hitung data tes awal yaitu 2,234468 dan tes akhir yaitu 7,84168. Sesuai ketentuan pengujian normalitas dengan menggunakan uji χ 2 (Chi Kuadrad) bahwa pada taraf kepercayaan α = 0,05 dan derajat kebebasan (dk) = 4, untuk tes awal dan tes akhir kelas pembelajaran dengan pendekatan informal sedangkan untuk kelas pembelajaran dengan pendekatan formal masing masing tes awal dan akhir mempunyai (dk) = 4, dengan χ 2 tabel untuk

43

kelas pembelajaran dengan pendekatan informal 9,49 dan 9,49. Dari data yang terdapat pada Tabel menunjukkan bahwa nilai
2 χ hitung data tes awal maupun tes akhir untuk kelas yang diberi

pembelajaran dengan

pendekatan formal dan kelas yang diberi

2 pembelajaran dengan pendekatan informal lebih kecil daripada χ tabel

sehingga tes awal dan tes akhir berdistribusi normal.

b.

Uji Homogenitas Uji homogenitas dilakukan bertujuan untuk menguji tentang kesamaan varians dan varians yang sama menunjukan varians yang homogen. Berdasarkan ketentuan perhitungan statistik tentang

homogenitas varians dengan taraf kepercayaan α = 0,05 jika Fhitung < Ftabel, maka varians kedua kelompok homogen. Hasil uji homogenitas varians tes awal dan akhir kedua kelompok dapat dilihat pada Tabel 4.4 Tabel 4.4 Hasil Uji Homogenitas Skor Tes Awal dan Tes Akhir F hitung Tes Awal Tes Akhir 1,02 1,344 dk (40;40) (40;40) Ftabel 1,69 1,69 Kesimpulan Homogen Homogen

Dari Tabel 4.4, dapat dikemukakan bahwa varians kedua kelompok yang dibandingkan pada tes awal Fhitung = 1,02 dan tes akhir Fhitung = 1,344 dengan taraf kepercayaan α = 0,05 dan Ftabel = 1,69. Karena Fhitung < Ftabel , maka kedua varians tersebut dinyatakan homogen.

44

c.

Uji Kesamaan Dua Rata-rata Berdasarkan uji normalitas dan homogenitas, maka kedua kelompok data tes awal adalah normal dan homogen begitu juga hasil tes akhir adalah normal dan homogen. Dengan demikian uji kesamaan dua rata-rata antara kelas yang diberi pembelajaran dengan pendekatan formal dan kelas yang diberi pembelajaran dengan pendekatan

informal untuk data tes awal dan tes akhir dapat dilihat pada Tabel 4.5 Pada Tabel 4.5 menunjukkan bahwa hasil analisis uji t mengenai kemampuan awal siswa menunjukkan bahwa hasil belajar siswa kelas yang diberi pembelajaran dengan pendekatan formal dan kelas yang diberi pembelajaran dengan pendekatan informal tidak mempunyai perbedaan karena thitung < ttabel dengan kepercayaan α = 0,05. Tabel 4.5 Uji Kesamaan Rata-Rata Tes Awal Dan Tes Akhir thitung Tes Awal Tes Akhir 0,263 4,122 dk 78 78 ttabel 1,66 1,66 Kesimpulan thitung < ttabel Ho diterima thitung > ttabel Ho ditolak

Setelah diberikan pembelajaran yang berbeda untuk kelas yang diberi pembelajaran dengan pendekatan formal dan kelas yang diberi pembelajaran dengan pendekatan informal terdapat peningkatan skor hasil belajar. Peningkatan hasil belajar tersebut dianggap sebagai hasil belajar siswa untuk kelas yang diberi pembelajaran dengan pendekatan

45

formal dan kelas yang diberi informal.

pembelajaran dengan

pendekatan

Dari hasil uji normalitas tes awal dan tes akhir kemudian data dianalisis dengan menggunakan uji-t. Dalam penelitian ini

menggunakan hipotesis komparatif yang ditentukan berdasarkan bunyi kalimat hipotesis itu sendiri. Hipotesis yang diuji dalam penelitian ini adalah ” Ada perbedaan dari perbandingan hasil belajar siswa antara penggunaan pendekatan formal dan informal”. Dengan kriteria pengujian hipotesis diperlakukan hipotesis nol (Ho) dan hipotesis kerja (Ha) yaitu : Ho = Tidak ada perbedaan yang signifikan dari perbandingan hasil belajar antara penggunaan pendekatan formal dan informal. Ha = Ada perbedaan yang signifikan dari perbandingan hasil belajar antara penggunaan pendekatan formal dan informal. Dari Tabel 4.5, dapat dikemukakan bahwa thitung pada tes awal adalah 0,263 dengan ttabel = 1,66 dan dk = 78, sesuai dengan kriteria dapat disimpulkan bahwa thitung < ttabel, maka Ho diterima sedangkan pada tes akhir dengan thitung = 4,122 dan dk = 78, karena t hitung > ttabel maka Ho ditolak. Maka dari hasil pengujian hipotesis dapat dikatakan bahwa hipotesis yang menyatakan ada perbedaan dari perbandingan hasil belajar fisika antara penggunaan pendekatan formal dan informal dan dapat diterima kebenarannya.

46

C. Pembahasan Berdasarkan data tes kemampuan awal siswa didapat nilai rata-rata kelas yang diberi pembelajaran dengan pendekatan formal dan kelas yang diberi pembelajaran dengan pendekatan informal yaitu 8,4 dan 8,175. Hal ini berarti hasil tes awal siswa antara kelas yang diberi pembelajaran dengan pendekatan formal dan kelas yang diberi pembelajaran dengan pendekatan informal relatif sama. Demikian juga dengan data tes kemampuan akhir siswa yaitu nilai rata-rata kelas yang diberi pembelajaran dengan pendekatan

formal dan kelas yang diberi pembelajaran dengan pendekatan informal yaitu 38,5 dan 32,4, perbedaan yang sangat signifikan ini dapat ditunjukkan pada Lampiran B. Dari hasil analisis data tes akhir diketahui bahwa perbandingan hasil belajar fisika antara kelas pembelajaran dengan pendekatan formal dan kelas pembelajaran dengan pendekatan informal adalah 38 : 32. Hal ini ditinjau dari nilai rata-rata kelas pembelajaran dengan pendekatan formal adalah 38,5 dan nilai rata-rata kelas pembelajaran dengan pendekatan informal adalah 32,4 dengan masing-masing simpangan baku untuk kelas pembelajaran dengan pendekatan formal dan kelas pembelajaran dengan pendekatan informal 7,05 dan 6,09. Hal ini berarti bahwa ada perbedaan dari perbandingan hasil belajar fisika antara penggunaan pendekatan formal dan informal dan dapat diterima kebenarannya. Dan berdasarkan Tabel Chi Kuadrad ( χ 2 ) yang ada pada Lampiran B, dapat diketahui bahwa bila dk = 4 dan kesalahan 5%, maka harga Chi Kuadrad

47

tabel ( χ tabel ) adalah 9,49. Dari hasil uji normalitas tes awal kelas yang diberi
2

pembelajaran dengan pendekatan formal didapat nilai Chi Kuadrad hitung (
2 2 χ hitung ) adalah 2,234468. Karena χ hitung (2,234468) lebih kecil dibandingkan

2 harga χ tabel (9,49) maka data tes awal kelas yang diberi pembelajaran dengan

pendekatan formal dinyatakan akhir kelas yang diberi

berdistribusi normal. Sedangkan untuk tes pendekatan formal sesuai

pembelajaran dengan

dengan Tabel Chi Kuadrad χ 2 yang ada pada Lampiran B, dapat diketahui
2 bahwa bila dk = 4 dan kesalahan 5%, maka harga Chi Kuadrad tabel ( χ tabel )

adalah 9,49. Dari hasil uji normalitas tes akhir kelas yang diberi pembelajaran dengan pendekatan formal didapat nilai Chi Kuadrad hitung ( χ hitung ) adalah
2 2 2 7,84168. Karena χhitung (7,84168) lebih kecil dibandingkan harga χ tabel

(9,49) maka data tes akhir

kelas yang diberi pembelajaran dengan

pendekatan formal dinyatakan berdistribusi normal. Untuk hasil tes awal dan akhir kelas yang diberi pembelajaran dengan pendekatan informal berdasarkan Tabel Chi Kuadrad pada Lampiran B, diketahui bahwa bila dk = 4 dan kesalahan 5%, maka harga Chi Kuadrad tabel ( χ tabel ) adalah 9,49. Dari hasil uji normalitas tes awal kelas yang diberi
2

pembelajaran dengan pendekatan informal didapat nilai Chi Kuadrad hitung (
2 2 χ hitung ) adalah 4,1493. Karena χ hitung (4,1493) lebih kecil dibandingkan harga

2 χ tabel (9,49) maka data tes awal kelas yang diberi pembelajaran dengan

pendekatan informal dinyatakan

berdistribusi normal sedangkan tes akhir

kelas yang diberi pembelajaran dengan pendekatan informal mempunyai dk

48

= 4 dan kesalahan 5%, maka harga Chi Kuadrad tabel ( χ tabel ) adalah 9,49.
2

Dari hasil uji normalitas tes akhir kelas yang diberi pembelajaran dengan pendekatan informal didapat nilai Chi Kuadrad hitung ( χ hitung )
2

adalah

2 2 4,13945. Karena χhitung (4,13945) lebih kecil dibandingkan harga χ tabel

(9,49) maka data tes akhir

kelas yang diberi pembelajaran dengan

pendekatan informal dinyatakan berdistribusi normal. Dari hasil uji homogenitas varians dengan taraf kepercayaan α = 0,05 Fhitung < Ftabel , maka varians kedua kelompok homogen. Hasil uji

homogenitas varians tes awal Fhitung = 1,02 dan Ftabel = 1,69 dan varians tes akhir Fhitung = 1,344 dan Ftabel = 1,69 maka karena Fhitung < Ftabel , maka kedua varians tersebut dinyatakan homogen. Berdasarkan hasil analisis data dari dua kelas, terdapat perbedaan hasil belajar antara kelas yang diberi pembelajaran dengan pendekatan formal dan kelas yang diberi pembelajaran dengan pendekatan informal. Dengan

menggunakan uji t didapat thitung pada tes awal adalah 0,263 dengan ttabel = 1,66 dan dk = 78, sesuai dengan kriteria jika t hitung < ttabel, maka Ho diterima sedangkan pada tes akhir dengan thitung = 4,122 dan dk = 78, karena t hitung > ttabel maka Ho ditolak. Maka dari hasil pengujian hipotesis dapat dikatakan bahwa hipotesis yang menyatakan ada perbedaan dari perbandingan hasil belajar fisika antara penggunaan pendekatan formal dan informal dapat diterima.

49

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan dari perbandingan hasil belajar fisika antara yang diajarkan dengan pendekatan formal dan hasil belajar fisika yang diajarkan dengan pendekatan informal di kelas VIII Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Lubuklinggau tahun ajaran 2009/2010 pada pokok bahasan tekanan.

B. Saran Sehubungan dengan hasil penelitian ini, maka peneliti

mengemukakan saran sebagai berikut : 1. Dalam menyampaikan materi guru hendaknya dapat menentukan pendekatan yang tepat agar dapat mengetahui pengetahuan prasyarat yang dimiliki oleh siswa. 2. Sebelum membahas pelajaran yang baru, hendaknya guru menjelaskan terlebih dahulu pelajaran sebelumnya yang ada kaitannya dengan pelajaran yang akan dibahas agar guru mengetahui apakah pelajaran tersebut bisa dilanjutkan.

48

50

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi.2001. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara. Arikunto, Suharsimi.2002. Penelitian Tidakan Kelas. Jakarta : Bumi Aksara Depdikbud. 1994. GBPP (Garis-garis Besar Program Pengajaran) SMU, Jakarta: Depdikbud. Hernawati Tati. 2010. Pendekatan dan Metode Pembelajaran Artikulasi dan Optimalisasi Fungsi Pendengaran.online. Karnoto .1996. Mengenal Analisis Tes (ANATES). Bandung : FIP IKIP Bandung. Karnoto. 1991. Buku Fisika Kelas II SMP. Jakarta : Erlangga. Nurgana, Endi. 2006. Buku Fisika SMA Kelas X. Bandung: Yudistira. Nasution, 2005. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara. Pepi Rena, 2004. Studi Perbandingan Hasil Belajar Menggunakan Pendekatan Formal dan Informal Di SMA Swasta Lubuklinggau. Skripsi tidak diterbitkan. Palembang: Jurusan MIPA Universitas PGRI Palembang. Slameto, 2003. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Belajar. Jakarta : Rineka Cipta. Sudjana. 1996. Metode Statistika. Bandung: Tarsito. Sudjana. 1992. Metode Statistika. Bandung: Tarsito. Sugiyono. 2007. Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta. Suherman dan Sukjaya.1990. Penunjuk Praktik Untuk Melaksanakan Evaluasi Pendidikan Matematika. Bandung: Wijaya Kusuma. Supardi. 2007. Penelitian Eksperimen Di Bidang Pendidikan. Online. Suyitno, dkk.1997. Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar. Malang : IKIP Malang

51

PERHITUNGAN VALIDITAS TES UJI COBA
N (Σ ) − (Σ )( ΣY ) XY X
2 2

rXY =

{N (∑X ) − (∑X ) }{N (∑Y ) −(∑Y ) }
2 2

dan t hitung = rXY

n−2 2 1 − rxy

Validitas soal butir 1

rXY =

{ 30( 83) − ( 45) }{30( 20311) − ( 747) }
2 2

30(1187) − (45)(747)

t hitung = 0,41

30 − 2 2 1 − ( 0,41)

=

{

35610 − 33615 2490 − ( 2025) { 609330 − 558009 }

t hitung = 0,41

28 1 - 0,1681

=

1995 465 .51321

t hitung = 0,41

28 0,8319

=

1995 4885,11

t hitung = 0,41 33,66 t hitung = 5,8

= 0,40 Validitas rendah

Validitas soal butir 2

rXY =

{ 30(162) − ( 64) }{30( 20311) − ( 747) }
2 2

30(1702) − (64)(747)

thitung = 0,51

30 − 2 1 − 0,512 28 1 − 0,2601 28 0,7399

=

51060 − 47808 ( 4860) − ( 4096)( 51321)

thitung = 0,51

=

3252 39209244
3252 6261,73

thitung = 0,51

=

t hitung = 0,61 .6,15

52

= 0,51 Validitas Sedang

thitung = 3,75

Validitas soal butir 3

rXY =

{ 30( 339) − ( 93) }{30( 20311) − ( 747) }
2 2

30(2553) − (93)(747)

t hitung = 0,80

30 − 2 1 − 0,802 28 1 − 0,2

rXY = rXY rXY rXY

76590 − 69471 { 10170 − 8649}{ 51321} 7119 = 78059241 7119 = 8835,11 = 0,80 Validitas tinggi

t hitung = 0,80

t hitung = 0,80 35
t hitung = 0,80.5,91 thitung = 4,728

Validitas soal butir 4

rXY =

{ 30( 262) − ( 78) }{30( 20311) − ( 747) }
2 2

30(2166) − (78)(747)

thitung = 0,70

30 − 2 1 − 0,702 28 1 − 0,49

rXY = rXY rXY rXY

64980 − 58266 {1776}{ 51321} 6714 = 91146096 6714 = 9547 = 0,70

t hitung = 0,70

thitung = 0,70 54,9
thitung = 0,70.7,4

t hitung = 5,18

Validitas soal butir 5

rXY =

{ 30( 219) − ( 75) }{30( 20311) − ( 747) }
2 2

30(1989) − (75)(747)

thitung = 0,49

30 − 2 1 − 0,492

53

rXY = rXY rXY rXY

59470 − 56025 { 945}{ 51321} 3445 = 48498345 3445 = 6964 = 0,49 Validitas Sedang

t hitung = 0,49

28 1 − 0,2401

t hitung = 0,49 36,84
thitung = 0,43 . 6 t hitung = 2,58

Validitas soal butir 6

rXY =

{ 30(338) − ( 75) }{30( 20311) − ( 747) }
2 2

30(2518) − (90)(747)

thitung = 0,55

30 − 2 1 − 0,552
28 1 − 0,3025

rXY = rXY rXY rXY rXY

75540− 67230 { (10140)- (5625) (609330 − (558009} }{ ) ) 8310 = { (4515)}{ (51321)} 8310 = 231714315 8310 = 15222,17 = 0, 55 Validitas Sedang

t hitung = 0,55

t hitung = 0,55

28 0,6975

thitung = 0,55 40,14
thitung = (0,55) (6,336) t hitung = 3,48

Validitas soal butir 7

rXY =

{ 30(270) − ( 82) }{30( 20311) − ( 747) }
2 2

30(2172) − (82)(747)

thitung = 0,46

30 − 2 1 − 0,462
28 1 − 0,2116
28 0,7884

rXY = rXY = rXY rXY

{ (8100)- (6724) (609330 − (558009} }{ ) )

65160− 61254

t hitung = 0,46
t hitung = 0,46

3906 { (1376)}{ (51321)} 3906 = 70617696 3906 = 8403,434

thitung = 0,46 35,515
thitung = (0,46) (5,960)

54

rXY = 0, 46 Validitas Sedang
Validitas soal butir 8

t hitung = 2,74

rXY =

{ 30(189) − ( 67) }{30( 20311) − ( 747) }
2 2

30(1820) − (67)(747)

thitung = 0,46

30 − 2 1 − 0,462
28 1 − 0,2116
28 0,7884

rXY = rXY = rXY rXY rXY

{ (5670)- (4489) (609330 − (558009} }{ ) )

54600− 50049

t hitung = 0,46
t hitung = 0,46

4551 { (1181)}{ (51321)} 4551 = 96534801 4551 = 9825,21 = 0, 46 Validitas Sedang

thitung = 0,46 35,515
thitung = (0,46) (5,960)

t hitung = 2,74

Validitas soal butir 9

rXY =

{ 30(243) − ( 67) }{30( 20311) − ( 747) }
2 2

30(2120) − (79)(747)

thitung = 0,40

30 − 2 1 − 0,402
28 1 − 0,16

rXY = rXY = rXY rXY rXY

{ (7020)- (4489) (609330 − (558009} }{ ) )

63600− 59013

t hitung = 0,40

4587 { (2531)}{ (51321)} 4578 = 129893451 4578 = 11397,08 = 0, 40 Validitas Sedang

t hitung = 0,40

28 0,84

thitung = 0,40 33,33
thitung = (0,40) (5,774) t hitung = 2,31

55

Validitas soal butir 10

rXY =

{ 30(246) − ( 74) }{30( 20311) − ( 747) }
2 2

30(2084) − (74)(747)

t hitung = 0,73

30 − 2 1 − 0,732
28 1 − 0,5329
28 0,4671

rXY = rXY = rXY rXY rXY

{ (7380)- (5476) (609330 − (558009} }{ ) )

62520− 55278

t hitung = 0,73
t hitung = 0,73

7242 { (1904)}{ (51321)} 7242 = 97715184 7242 = 9885,10 = 0, 73 Validitas Sedang

thitung = 0,73 59,944
thitung = (0,73) (7,742)

t hitung = 5,65

56

PERHITUNGAN RELIABILITAS TES UJI COBA
2  k   Σσ b  r11 =   1 − σ 2   k − 1  i 

dengan

∑σ

2 b

=

∑ Xn −
2

(∑ X ) 2 n

n 64 2 30 30 4096 30 30

∑σ

2 1

=

83 −

452 30 30 2025 30 30

∑σ

2 2

=

162 −

= = =

83 −

= = =

162 −

83 − 67,5 30 15,5 30

162 − 136,53 30 25,47 30

= 0,52 339 − 30 339 − 8649 30 30 932 30

= 0,85 262 − 30 262 − 6084 30 30 782 30

∑σ

2 3

=

∑σ

2 4

=

= =

= =

339 − 288,3 30 50,7 = 30 = 1,7

262 − 202,8 30 59,2 = 30 = 1,97

57

∑σ

2 5

=

219 −

75 2 30 30 5625 30 30

∑σ

2 6

=

338 −

90 2 30 30 8100 30 30

= = =

219 −

= = =

338 −

219 − 187,5 30 31,5 30

338 − 270 30 68 30

= 1,05 270 − 82 2 30 30 6724 30 30

= 2,27 189 − 67 2 30 30 4489 30 30

∑σ

2 7

=

∑σ

2 8

=

= = =

270 −

= = =

189 −

270 − 224,13 30 45,87 30

189 − 149,63 30 39,37 30

= 1,53 243 − 79 2 30 30 6241 30 30

= 1,31 246 − 74 2 30 30 5476 30 30

∑σ

2 9

=

∑σ

2 5

=

= =

243 −

= =

246 −

243 − 208,03 30

246 − 182,53 30

58

=

34,97 30

=

63,47 30

= 1,17

= 2,12

∑σ
σ i2 =

2 b

= 0,52 + 0,85 + 1,7 + 1,98 + 1,05 + 2,27 + 1,53 + 1,31 + 1,17 + 2,12
= 13,18 747 2 30

20311 − 30 20311 −

=

558009 30 30

=

20311 − 18600,3 30

1710,7 30 = 57,02 = Masukkan ke rumus Alpha :
2  k   Σσ b  r11 =  1 − 2  σi   k − 1  

 10   13,18  =   1 − 10 − 1  57,02  10 (1 − 0,23 ) = 9 10 = ( 0,77 ) 9 7,7 = 9 = 0,85

59

DAYA PEMBEDA

DP =
1. DP = 32 − 28 60 49 60 (Jelek)

SA − SB Ii
2. DP = 37 − 26 60 11 60 (Jelek)

=

=

=0,06 3. DP =

= 0,18 4. DP = 52 − 35 75 17 75

63 − 38 75 25 75

=

=

= 0,33 (Cukup) 5. DP = 49 − 32 75

= 0,22 6. DP = 71 − 50 90 21 90

(Cukup)

=

17 75

=

= 0,22 (Cukup) 7. DP = = 54 − 39 75

= 0,23 8. DP = = 40 − 31 75

(Cukup)

15 75

9 75
(Jelek)

= 0,20 (Cukup) 9. DP = 57 − 42 75 15 = 75 = 0,20 (Cukup)

= 0,12 10. DP = 60 − 33 90 27 = 90 = 0,30

(Cukup)

60

TINGKAT KESUKARAN IK = 32 + 28 120 60 = 120 = 0,5 63 + 38 150 101 150 (Mudah) JS A + JS B SI A + SI B 2. IK = 37 + 26 120 63 = 120 = 0,525 52 + 35 150 87 150 (Sedang)

1. IK =

(Sedang)

(Sedang)

3. IK =

4. IK =

=

=

= 0,67 5. IK = 49 + 32 150 81 150

= 0,58 6. IK = 71+ 50 180 121 180

=

= (Sedang)

= 0,54 7. IK = 54 + 39 150 93 150

= 0,67 8. IK = 40 + 31 150
71 150

(Sedang)

=

= (Sedang)

= 0,62 9. IK = 57 + 42 150 99 150

= 0,47 10. IK = 60 + 33 150 93 180

(Sedang)

=

= (Sedang)

= 0,66

= 0,52

(Sedang)

61

Panjang Kelas

Data tertinggi = 16 dan data terendah = 3 Rentang = data tertinggi – data terendah = 16 - 3 = 13 Banyak kelas ditentukan dengan rumus sturges, yaitu: K = 1+ 3,3 log n = 1+ 3,3 (log 40) = 1+(3,3) (1,602599) = 1+ 5,286797971 = 6,286797971 (dibulatkan menjadi 6) Dengan demikian banyak kelas ada 9, selanjutnya penulis menentukaan panjang kelas interval dengan rumus sebagai berikut: Panjang kelas (P) = Rentang Kelas 13 6

=

= 2,2 (dibulatkan menjadi 2)

62

Tabel 4.1 Perhitungan Rata-rata dan Simpangan Baku Tes Awal Kelas Pendekatan Formal Kelas Interval 2-4 5-7 8 - 10 11 - 13 14 - 16 Jumlah fi 7 8 14 8 3 40 xi 3 6 9 12 15 45 fi . xi 21 48 126 96 45 336 xi - x - 5,4 - 2,4 0,6 3,6 6,6 3,25 (xi - x )2 29,16 5,76 0,36 12,96 43,56 91,18 fi (xi - x )2 204,12 46,08 5,04 103,68 130,68 489,6

Rata-rata ( x ) = 8,4 Simpangan Baku (s) = 3,58
x=

∑f
n

1

xi

=

336 40

= 8,4 Harga varians ( S1 ) adalah sebagai berikut :
2

Σ fi( xi − x) 2 S1 = n −1
=

498 ,6 (40 − 1)
498,6 39 12,78

= =

= 3,58 Jadi dari pengolahan diatas didapat harga varians (S 1 )= 3,58
2

63

Panjang Kelas
Data tertinggi = 48 dan data terendah = 30 Rentang = data tertinggi – data terendah = 48 - 30 = 18 Banyak kelas ditentukan dengan rumus sturges, yaitu: K = 1+ 3,3 log n = 1+ 3,3 (log 40) = 1+(3,3) (1,602599) = 1+ 5,286797971 = 6,286797971 (dibulatkan menjadi 6) Dengan demikian banyak kelas ada 9, selanjutnya penulis menentukaan panjang kelas interval dengan rumus sebagai berikut: Panjang kelas (P) = = Rentang Kelas 18 6

= 3 Tabel 4.3 Perhitungan rata-rata dan simpangan baku Tes akhir kelas pendekatan formal fi xi fi . xi xi - x (xi - x )2 5 15 10 5 5 40 31,5 35,5 39,5 43,5 47,5 201,5 = 38,5 157,5 532,5 395 217,5 237,5 1540 -7 - 8,04 - 4,04 -0,04 3,96 - 20,2 49 64,64 16,32 0,0016 15,68 241,60

Kelas Interval 30 - 33 34 - 37 38 – 41 42 - 45 46 - 49 Jumlah Rata-rata ( x )

fi (xi - x )2 245 969,6 163,2 0,008 78,4 1456,208

Simpangan Baku (s) = 7,05

64

x=

∑f
n

1

xi

1540 40 = 38,5 = Harga varians ( S1 ) adalah sebagai berikut :
2

Σfi ( xi − x) 2 S1 = n −1 = 1456,208 (40 − 1) 1456,208 39 37,34

= =

= 7,05

65

Panjang Kelas
Data tertinggi = 15 dan data terendah = 3 Rentang = data tertinggi – data terendah = 15 - 3 = 12 Banyak kelas ditentukan dengan rumus sturges, yaitu: K = 1+ 3,3 log n = 1+ 3,3 (log 40) = 1+(3,3) (1,602599) = 1+ 5,286797971 = 6,286797971 (dibulatkan menjadi 6) Dengan demikian banyak kelas ada 9, selanjutnya penulis menentukaan panjang kelas interval dengan rumus sebagai berikut: Panjang kelas (P) = = Rentang Kelas 12 6

= 2 Tabel 4.4 Perhitungan rata-rata dan simpangan baku Tes awal pendekatan informal Kelas Interval 2-4 5-7 8 – 10 11 - 13 14 - 16 Jumlah fi 8 10 12 5 5 40 xi 3 6 9 12 15 60 fi . xi 24 60 108 60 75 327 xi - x -5,175 - 2,175 0,825 3,825 6,825 4,225 (xi - x )2 26,78 4,73 0,68 14,63 46,58 93,4 fi (xi - x )2 214,24 47,3 8,16 73,15 232,9 575,75

Rata-rata ( x ) = 8,175 Simpangan Baku (s) = 3,84

66

x=

∑f x ∑f
i i

i

=

327 40

= 8,175 Jadi nilai rata-rata kelas VIII 4 (X2) = 8,175 Harga varians ( S 2 ) adalah sebagai berikut : 2 S2 = = = = Σfi ( xi − x) 2 n −1 575,75 (40 − 1) 575,75 39 14,76

= 3,84 Berdasarkan pengelolaan diatas didapat harga varians ( S 2 ) = 3,84
2

67

Panjang Kelas
Data tertinggi = 42 dan data terendah = 22 Rentang = data tertinggi – data terendah = 43 - 22 = 21 Banyak kelas ditentukan dengan rumus sturges, yaitu: K = 1+ 3,3 log n = 1+ 3,3 (log 40) = 1+(3,3) (1,602599) = 1+ 5,286797971 = 6,286797971 (dibulatkan menjadi 6) Dengan demikian banyak kelas ada 9, selanjutnya penulis menentukaan panjang kelas interval dengan rumus sebagai berikut: Panjang kelas (P) = = Rentang Kelas 21 6

= 3,5 (Dibulatkan menjadi 4) Tabel 4.5 Perhitungan rata-rata dan simpangan baku Tes akhir kelas pendekatan informal 7 23 9 28 9 33 12 38 3 43 40 167,5 Rata-rata ( x ) = 32,4 Simpangan Baku (s) = 6,09 Kelas Interval 21 - 25 26 - 30 31 - 35 36 - 40 41 - 45 Jumlah fi xi fi . xi 161 252 297 456 129 1295 xi - x - 9,4 - 4,4 0,6 5,6 10,6 3 (xi - x )2 88,36 19,36 0,36 31,36 112,36 251,8 fi (xi - x )2 618,52 112,36 3,24 376,32 337,08 1447,52

68

x=

∑f
n

1

xi

=

1295 40

= 32,4 Harga varians ( S2 ) adalah sebagai berikut : 2 S2 = = = = Σfi ( xi − x) 2 n −1 1447,52 (40 − 1) 1447,52 39 37,12

= 6,09 Berdasarkan pengelolaan diatas didapat harga varians ( S 2 ) = 6,09
2

69

70

UJI NORMALITAS TES AWAL KELAS FORMAL Kelas Interval 2-4 4,5 5-7 ssss 8 - 10 11 - 13 13,5 14 - 16 16,5 Jumlah 8,1 2,26 0,4881 40 2,234468 5,1 1,42 0,4222 0,0659 3 2,636 0,364 0,1325 0,05026 7,5 10,5 - 3,9 - 0,9 2,1 - 1,09 - 0,25 0,59 0,3621 0,2634 0,0987 0,3211 0,2224 0,1998 8 7,992 0,008 0,000064 0,000008 14 12,844 1,156 1,336 0,104 8 10,536 - 2,536 6,43 0,6102 Batas Kelas 1,5 xi - x - 6,9 x −x Z= i s - 1,93 Z tabel 0,4732 0,1111 7 4,444 2,556 6,533 1,470 L f0 fe f0 − fe ( f 0 − f e )2 ( f 0 − f e )2 fe

χ 2 Tabel = χ 2 (1 − 0,05)(5 − 1) χ 2 Tabel = χ 2 (0,95)(4) χ 2 Tabel = 9,49
2 2 χhitung < χtabel

2,234468 < 9,49 Kesimpulan : Data berdistribusi Normal

71

UJI NORMALITAS TES AKHIR KELAS FORMAL Kelas Interval 30 - 33 33,5 34 - 37 37,5 38 – 41 41,5 42 - 45 45,5 46 - 49 49,5 Jumlah 11 1,56 0,4406 40 7,84168 7 0,99 0,3385 0,1021 5 4,084 0,916 0,839 0,20544 3 0,42 0,1628 0,1757 5 7,028 - 2,028 4,113 0,5852 -1 - 0,14 0,0557 0,2185 10 8,74 1,26 1,5876 0,1816 -5 - 0,70 0,2580 0,2023 15 8,092 6,908 47,720 5,8972 Batas Kelas 29,5 xi - x -9 x −x Z= i s - 1,27 Z tabel 0,3980 0,14 5 5,6 - 0,6 0,36 0,0643 L f0 fe f0 − fe ( f 0 − f e )2 ( f 0 − f e )2 fe

χ 2 Tabel = χ 2 (1 − 0,05)(5 − 1) χ 2 Tabel = χ 2 (0,95)(4) χ 2 Tabel = 9,49
2 2 χhitung < χtabel

7,84168 < 9,49 Kesimpulan : Data berdistribusi Normal

72

UJI NORMALITAS TES AWAL KELAS INFORMAL Kelas Interval 2-4 4,5 5-7 7,5 8 – 10 10,5 11 - 13 13,5 14 - 16 16,5 Jumlah 8,325 2,16 0,4846 40 4,1493 5,325 1, 38 0,4162 0,068 5 2,736 2,264 5,126 1,8734 2,325 0,60 0,2258 0,1904 5 7,616 - 2,264 5,1256 0,673 - 0,675 - 0,17 0,0675 0,2933 12 11,732 0,268 0,0718 0,006 - 3,675 - 0,95 0,3289 0,2614 10 10,456 - 0,456 0,2079 0,0198 Batas Kelas 1,5 xi - x - 6,675 x −x Z= i s - 1,73 Z tabel 0,4582 0,1293 8 5,172 2,825 8,1567 1,5771 L f0 fe f0 − fe ( f 0 − f e )2 ( f 0 − f e )2 fe

χ 2 Tabel = χ 2 (1 − 0,05)(5 − 1) χ 2 Tabel = χ 2 (0,95)(4) χ 2 Tabel = 9,49
2 2 χhitung < χtabel

4,1493 < 9,49 Kesimpulan : Data berdistribusi Normal

73

UJI NORMALITAS TES AKHIR KELAS INFORMAL Kelas Interval 21 - 25 25,5 26 - 30 30,5 31 - 35 35,5 36 - 40 40,5 41 - 45 45,5 Jumlah 13,1 2,15 0,4842 40 4,13945 8,1 1,33 0,4082 0,076 3 3,04 - 0,04 0,0016 0,0005 3 0,49 0,1879 0,2203 12 8,812 3,188 10,1633 1,1533 - 1,9 - 0,31 0,1217 0,3096 9 12,384 - 3,384 11,451 0,9246 - 6,9 - 1,13 0,3708 0,2491 9 9,964 - 0,964 0,9292 0,0932 Batas Kelas 20,5 xi - x - 11,9 x −x Z= i s - 1,95 Z tabel 0,4744 0,1036 7 4,144 2,856 8,1567 1,9683 L f0 fe f0 − fe ( f 0 − f e )2 ( f 0 − f e )2 fe

χ 2 Tabel = χ 2 (1 − 0,05)(5 − 1) χ 2 Tabel = χ 2 (0,95)(4) χ 2 Tabel = 9,49
2 2 χhitung < χtabel

4,13945 < 9,49 Kesimpulan : Data berdistribusi Normal

74

75

UJI HOMOGENITAS

F=

S12 Varians Terbesar = 2 Varians Terkecil S2

1. Skor Tes Awal Kelas pendekatan formal dan Kelas pendekatan Informal a. Data : S e = 3,8 S k = 3,84 b. Hipotesis yang diuji

Ho = Hipotesis pembanding, kedua Varians sama/homogen Ha = Hipotesis kerja, kedua varians tidak sama/tidak homogen c. Nilai Fhitung

Simpangan baku pendekatan Informal lebih besar dari pada simpangan baku kelas pendekatan formal maka : S k2 ( 3,84 ) 2 F= 2 = Se ( 3,8) 2 = 14,7456 14,44

= 1,02 d. Nilai F tabel

Nilai F tabel dengan derajat kebebasan (dk) = 40 – 1 = 39 dan 40 - 1 = 39 dan

α = 0,05. Nilai F dengan dk = (39;39) tersebut tidak terdapat didalam tabel,
maka nilai Ftabel ditentukan dengan menggunakan harga F yang lain yang ber-dk = (40;40). Jadi nilai Ftabel = 1,69

76

e.

Uji Hipotesis

F hitung = 1,02 dan Ftabel = 1,69 karena F hitung < Ftabel, maka Ho diterima. Dengan demikian kedua varians skor tes awal adalah sama (homogen)

2. Skor Tes Akhir Kelas pendekatan formal dan Kelas pendekatan Informal a. Data : S e = 7,05 S k = 6,09 b. Hipotesis yang diuji

Ho = Hipotesis pembanding, kedua varians sama/homogen Ha = Hipotesis kerja, kedua varians tidak sama/tidak homogen c. Nilai Fhitung

Simpangan baku kelas pendekatan Informal lebih besar dari pada simpangan baku kelas pendekatan formal maka : F= S k2 ( 7,05) 2 = S e2 ( 6,09 ) 2 49,8436 37,09

=

= 1,344 d. Nilai F tabel

Nilai F tabel dengan derajat kebebasan (dk) = 40 – 1 = 39 dan 40 - 1 = 39 dan

α = 0,05. Nilai F dengan dk = (39;39) tersebut tidak terdapat didalam tabel,
maka nilai Ftabel ditentukan dengan menggunakan harga F yang lain yang ber-dk = (40;40). Jadi nilai Ftabel = 1,69

77

e. F
hitung

Uji Hipotesis = 1,344 dan Ftabel = 1,69 karena F
hitung

< Ftabel, maka Ho diterima.

Dengan demikian kedua varians skor tes akhir adalah sama (homogen)

78

UJI KESAMAAN DUA RATA-RATA

1.

Uji kesamaan rata-rata skor tes awal Hipotesis yang akan diuji adalah : Ho = Hipotesis pembanding, rata-rata skor tes awal kelas pendekatan formal dan kelas pendekatan Informal adalah sama. Ha = Hipotesis kerja, rata-rata skor tes akhir kelas pendekatan formal lebih besar dari skor tes kelas pendekatan Informal. a. Data: xe = 8,4 x k = 8,175 S e = 3,8 S k = 3,84

Indeks e untuk kelas pendekatan formal dan indeks k untuk kelas pendekatan Informal. b. Nilai thitung Berdasarkan hasil analisis untuk skor tes awal maka: t=
s

X1 − X 2 1 1 + n1 n2 dengan s =
2

( n1 −1) S12 + ( n2 −1) S 22
n1 + n2 − 2

Terlebih dahulu dicari simpangan baku gabungan antara dua kelompok yaitu : s2 =

( n1 −1) S12 + ( n2 −1) S 22
n1 + n2 − 2

=

( 40 − 1) 3,8 2 + ( 40 − 1) 3,842
40 + 40 − 2

79

=

563,16 + 575,074 78 1138,2384 78

=

s = 14,5928 s = 3,82 t=
s

X1 − X 2 1 1 + n1 n2

8,4 − 8,175 = 3,82 1 1 + 40 40 = 0,225
3,82

0,05

=

0,225 3,82(0,224)

= 0,263 2. Uji kesamaan rata-rata skor tes akhir Hipotesis yang akan diuji adalah : Ho = Hipotesis pembanding, rata-rata skor tes awal kelas pendekatan formal kurang dari atau sama dengan rata-rata kelas pendekatan Informal. Ha = Hipotesis kerja, rata-rata skor tes akhir kelas pendekatan formal lebih besar dari skor tes kelas pendekatan Informal. a. Data: xe = 38,5 x k = 32,4 S e = 7,05 S k = 6,09

80

Indeks e untuk kelas pendekatan formal dan indeks k untuk kelas pendekatan Informal . b. Nilai thitung Berdasarkan hasil analisis untuk skor tes awal maka: t=
s

X1 − X 2 1 1 + n1 n2 dengan s =
2

( n1 −1) S12 + ( n2 −1) S 22
n1 + n2 − 2

Terlebih dahulu dicari simpangan baku gabungan antara dua kelompok yaitu : s =
2

( n1 −1) S12 + ( n2 −1) S 22
n1 + n2 − 2

= = =

( 40 − 1) 7,052 + ( 40 − 1) 6,092
40 + 40 − 2

1938,3 + 1446,51 78 3384,81 78

s = 43,395 s = 6,59 t=
s

X1 − X 2 1 1 + n1 n2

38,5 − 32,4 1 = 6,59 1 + 40 40 = = 6,1
6 , 59

0,05

6,1 6,59(0,224)

= 4,122

81

Lampiran 1 DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Rasmini dilahirkan di lubuklinggau, propinsi Sumatera Selatan pada tanggal 6 juli 1986. Dia putrid dari keempat dari enam bersaudara dari pasangan Sulaiman dan Hadida. Pada tahun 1992 Sekolah Dasar Negeri 1 lubuklinggau,tamat tahun 1998. Kemudian meneruskan studinya di Sekolah Menengah Pertama BK

Lubuklinggau, tamat tahun 2000. Kemudian melanjutkan studinya di Sekalah Menengah Umum BK Lubuklinggau, tamat tahun 2004. Selanjutnya ia mengikuti studi program S1 pada STKIP-PGRI Lubuklinggau, Jurusan MIPA, Program studi Pendidikan FISIKA.

Sedangkan menurut djamarah (2000: ) : “Biasanya orang menginginkan pendekatan yang lebih formal”. Pendekatan yang ditempuh oleh guru atau siswa dalam memahami dan memperjelas materi untuk mencapai tujuan pembelajaran secara sungguh-sungguh (Nasution, 2005:139)

82

Berdasarkan analisis hasil uji coba tes hasil belajar, maka rekapitulasi hasilnya sebagai berikut : Tabel 3.4 Rekapitulasi Hasil Uji Coba Tes Hasil Belajar No Soal 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Validitas 0,40 0,51 0,80 0,70 0,49 0,55 0,46 0,46 0,40 0,73 Rendah Sedang Tinggi Tinggi Sedang Sedang Sedang Sedang Rendah Tinggi Tingkat Kesukaran 0,5 Mudah 0,53 0,67 0,58 0,54 0,67 0,62 0,47 0,66 0,52 Sedang Sedang Sedang Mudah Mudah Sedang Mudah Sedang Sedang Daya Pembeda 0,18 0,35 0,27 0,20 0,18 0,22 0,23 0,24 0,32 0,38 Jelek Cukup Cukup Jelek Jelek Cukup Cukup Cukup Cukup Cukup Keterangan Tidak Dipakai Dipakai Dipakai Dipakai Tidak Dipakai Dipakai Dipakai Dipakai Dipakai Dipakai

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->