Daftar Isi

1. Daftar Isi ...............................................................................................1 2. infeksi saluran kemih ............................................................................5 3. batu saluran kemih ................................................................................14 4. Benign Prostat Hipertrofi ......................................................................33 5. Trauma Urogenital ................................................................................38 6. Hidrokel ................................................................................................45 7. Varikokel...............................................................................................48 8. Torsio Testis..........................................................................................56 9. Strikture Uretra .....................................................................................59 10. Tumor Urogenital..................................................................................68 11. Hematuria ..............................................................................................82 12. Retensi Urin Akut .................................................................................85 13. Infertilitas ..............................................................................................91

0

INFEKSI SALURAN KEMIH
ISK adalah merupakan reaksi inflamasi sel-sel urotelium melapisi saluran kemih. Cara penanggulangannya kadang-kadang cukup dengan pemberian antibiotika yang sederhana, atau bahkan tidak perlu diberi antibiotika. Namun pada infeksi yang berat dan sudah menimbulkan kerusakan pada berbagai macam organ, membutuhkan terapi suportif dan antibiotika yang cukup adekuat. Tujuan terapi pada infeksi organ urogenitalia adalah mencegah atau menghentikan diseminasi kuman dan produk yang dihasilkan oleh kuman pada sirkulasi sistemik dan mencegah kerusakan terjadinya kerusakan organ urogenitalia.

Insiden Pada umumnya wanita lebih sering mengalami episode ISK daripada pria; hal ini karena uretra wanita lebih pendek daripada pria.

Patogenesis ISK terjadi pada saat mikroorganisme masuk ke dalam saluran kemih dan berbiak di dalam media urine. Mikroorganisme memasuki saluran kemih melalui cara : (1) ascending, (2) hematogen seperti pada penularan M tuberculosis atau S aureus, (3) limfogen, dan (4) langsung dari organ sekitarnya yang sebelumnya teah terinfeksi. Kuman penyebab ISK pada umnya berasal dari flora normal usus dan hidup secara komensal didalam intoitus vagina, prepusium penis, kulit perineum, dan disekitar anus. Mikroorganisme memasuki saluran kemih melalui uretra – prostat – vas deferns – testis (pada pria) – buli-buli – ureter, dan sampai ke ginjal. Terjadinya ISK karena adanya gangguan keseimbangan antara

mikroorganisme penyebab infeksi (uropatogen) sebagai agent dan epitel saluran kemih sebagai host. Gangguan keseimbangan ini disebabkan oleh karena pertahanan tubuh dari host yang menurun atau karena virulensi agent meningkat.

Faktor dari host

1

Kemampuan host untuk menahan mikroorganisme masuk kedalam saluran kemih disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain adalah ; (1) pertahanan lokal dari host, dan (2) peranan dari sistem kekebalan tubuh yang terdiri atas imunitas humoral maupun imunitas seluler. Sebenarnya pertahanan sistem saluran kemih yang paling baik adalah mekanisme wash out urine yang mampu membersihkan kuman-kuman yang ada di dalam urine. Supaya aliran urin adekuat dan mampu menjamin mekanisme wash out adalah jika (1) jimlah urin cukup dan (2) tidak ada hambatan di dalam saluran kemih. Keadaan lain yang bisa mempengaruhi aliran urin dan menghalangi mekanisme wash out adalah adanya (1) stagnasi atau stasis urine dan (2) didapatkannya benda asing di dalam saluran kemih yang dipakai sebagai tempat persembunyian oleh kuman. Stagnasi urin bisa terjadi pada keadaan (1) miksi yang tidak teratur atau sering menahan kencing, (2) obstruksi saluran kemih seperti pada BPH, striktura uretra, batu saluran kemih, atau obstruksi karena sebab lain, (3) adanya kantong-kantong didalam saluran kemih yang tidak dapat mengalir dengan baik, dan (4) adanya dilatasi atau refluks sistem urinaria.

Faktor dari mikroorganisme Bakteri dilengkapi dengan pili atau fimbriae yang terdapat dipermukaannya. Pili berfungsi untuk menemel pada urotelium melalui reseptor yang ada dipermukaan urotelium. Ditinjau dari jenis pilinya, terdapat 2 jenis bakteri yang mempunyai virulensi berbeda, yaitu bakteri tipe pili 1 (yang banyak menimbulkan infeksi pada sistitis) dan tipe pili P (yang sering menimbulkan infeksi berat pielonefritis akut).

Diagnosis Pada umumnya infeksi akut yang mengenai organ padat (ginjal, prostat, epididimis, dan testis) memberikan keluhan yang hebat sedangkan infeksi pada organorgan berongga (buli-buli, ureter, dan pielum) memberikan keluhan yang lebih ringan.

Pemeriksaan urin Pemeriksaan urin merupakan salah satu pemeriksaan yang sangat penting pada infeksi saluran kemih. Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan urinalisis dan pemeriksaan kultur urin. 2

Pemeriksaan darah Pemeriksaan darah lengkap diperlukan untuk mengungkapkan adanya proses inflamasi atau infeksi. Penyulit 1. Foto polos abdomen berguna untuk mengetahui adanya batu radio-opak pada saluran kemih atau adanya distribusi gas yang abnormal pada pielonefritis akuta. Granuloma. Terbentuknya batu saluran kemih. ataupun abses pada perirenal/ginjal terutama pada gagal ginjal. 4. Supurasi atau pembentukan abses. 5. 3. Nekrosis papilla ginjal. tetapi pada ISK complicated (yang rumit) perlu dilakukan pemeriksaan pencitraan untuk mencari penyeab/sumber terjadinya infeksi. Voiding sistouretrografi diperlukan untuk mengungkapkan adanya refluks vesiko ureter. pionefrosis. CT scan lebih sensitif dalam mendeteksi penyebab ISK daripada PIV atau USG. USG untuk mengungkapkan adanya hidronefrosis. 2. Gagal ginjal akut. PIV adalah pemeriksaan rutin untuk mengevaluasi pasien yang menderita ISK compilcated. atau divertikulum uretra pada wanita yang sering menyebabkan infeksi yang sering kambuh. dan 6. 3 . Urosepsis. Pencitraan Pada ISK uncomplicated (sederhana) tidak diperlukan pemeriksaan pencitraan. buli-buli neurogenik.

sedangkan di seluruh dunia rata-rata terdapat 1-12% penduduk yang menderita batu saluran kemih. jenis kelamin: jumlah pasien laki-laki tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan pasien perempuan. Penyakit ini merupakan tiga penyakit terbanyak di bidang urologi disamping infeksi saluran kemih dan pembesaran prostate benigna. Angka kejadian penyakit ini tidak sama di berbagai belahan bumi. Di Amerika Serikat 5-10% penduduknya menderita penyakit ini. Di Negara maju lebih banyak dijumpai penyakit batu saluran kemih atas. Beberapa factor ekstrinsik adalah: 1. 3. Sebagai salah satu buktinya adalah diketemukan batu pada kandung kemih seorang mumi. Penyakit ini dapat menyerang penduduk di seluruh dunia tidak terkecuali penduduk di Indonesia. hal ini karena adanya pengaruh status gizi dan aktivitas pasien sehari-hari. Secara epidemiologis terdapat beberapa factor yang mempermudah terjadinya batu saluran kemih pada seseorang. 2. herediter (keturunan): penyakit ini diduga diturunkan dari orang tuanya. geografi: pada beberapa daerah menunjukkan angka kejadian batu saluran kemih yang lebih tinggi daripada daerah lain sehingga dikenal sebagai daerah stone belt (sabuk batu). umur: penyakit inipaling sering didapatkan pada usia 30-50 tahun. Etiologi Terbentuknya batu saluran kemih diduga ada hubungannya dengan gangguan aliran urine. dehidrasi.Batu Saluran Kemih Latar belakang Penyakit batu saluran kemih sudah dikenal sejak zaman babilonia dan zaman mesir kuno. Factor intrinsic itu antara lain adalah: 1. gangguan metabolic. Factor-faktor itu adalah factor intrinsic yaitu keadaan yang berasal dari tubuh seseorang dan factor ekstrinsik yang berasal dari lingkungan disekitarnya. sedangkan daerah bantu di Afrika Selatan hamper tidak dijumpai penyakit batu saluran kemih. infeksi saluran kemih. dan keadaankeadaan lain yang masih belum terungkap (idiopatik). 4 .

sistin. pekerjaan: penyakit ini sering dijumpai pada orang yang pekerjaannya banyak duduk atau kurang aktifitas atau sedentary life. Cara lain ialah cara optic dengan diseksi mikroskopik binokuler dengan mikroskop petrografik. oksalat. asupan air: kurangnya asupan air dan tingginya kadar mineral kalsium pada air yang dikonsumsi. dapat meningkatkan insiden batu saluran kemih. Analisa batu dapat dilakukan secara kimiawi. statis. Batu urat pada anak terbentuk karena pH urin rendah. 5 . Demikian pula telor sistoma kadang merupakan nidus batu. Jaringan abnormal atau mati pada nefrosis papilla di ginjal dan benda asing mudah menjadi nidus dan inti batu. diet: diet banyak purin. dan mikroskop electron. 4. dan benda asing. Infeksi. Batu asam urat disebabkan oleh hiperuremia pada arthritis urika. Batu campuran oksalat kalsium dan fosfat biasanya juga idiopatik. fosfat. diantaranya berkaitan dengan sindroma alkali atau kelebihan vitamin D. Batu oksalat kalsium kebanyakan merupakan batu idiopatik. dan xantin. dankalsium mempermudah terjadinya penyakit batu saluran kemih. Komposisi batu saluran kemih yang dapat ditemukan adalah jenis urat. dan litiasis merupakan factor yang saling memperkuat sehingga terbentuk lingkaran setan atau circulus visiosus. infeksi. batu fosfat dan kalsium (hidroksiapatit) kadang disebabkan hiperkalsiuria (tanpa hiperkalsemia). yaitu dengan cara kualitatif dan cara kuantitatif dengan metode kromatografik dan autoanalisis. Factor predisposisi berupa stasis. Kristalografi radiografik merupakan cara yang dianggap paling baik ditinjau dari segi kesederhanaan dan ketepatannya. iklim dan temperature 3. Batu fosfat ammonium magnesium didapatkan pada infeksi kronik yang disebabkanoleh bacteria yang menghasilkan urease sehingga urin menjadi alkali karena pemecahan ureum. asam urat. oksalat. spektroskopi inframerah. Komposisi dan pembentukan batu Komposisi batu diketemukan pada seseorang perlu ditentukan karena komposisi batu dipakai sebagai landasan untuk menyelusuri etiologi penyakit batu saluran kemih. Pada kebanyakan penderita batu kemih tidak ditemukan penyebab yang jelas. termoanalitik.2. 5.

Nyeri di pinggang dapat dalam bentuk pegal hingga kolik atau nyeri yang terus-menerus dan hebat karena adanya pielonefrosis. Kadang batu hanya terdapat pada suatu kaliks. atau sama sekali tidak ada keluhan dan gejala. besarnya. kronik. dan sistinuria. Umumnya gejala batu saluran kemih merupakan ostruksi aliran kemih dan infeksi. Factor ini mengakibatkan oliguria dengan urinyang mengandung asam tinggi urin dan ikatan kimia lain. Tanda dan Gejala Klinis Tanda dan gejala penyakit batu saluran kemih ditentukan oleh letaknya. Batu pelvis ginjal Batu pielum didapatkan dalam bentuk yang sederhana sehingga hanya menempati bagian pelvis. tetapi dapat tumbuh mengikuti bentuk susunan pelviokaliks sehingga bercabang seperti tanduk rusa. bahkan mungkin demam atau tanda sistemik lain. arthritis urika. Factor yang memegang peranan kausal adalah dehidrasi dan gastroenteritis. sedangkan batu kaliks pada umumnya tidak memberikan kelainan fisik. Misalnya batu urat pada anak di Negara yang sedang berkembang. Walaupun demikian. Nyeri dapat berupa nyeri tekan atau ketok pada daerah arkus kosta pada sisi ginjal yang terkena. dan morfologinya. Factor lain adalah imobilisasi lama pada penderita cedera dengan fraktur multiple atau paraplegia yang menyebabkan dekalsifikasi tulang dengan peningkatan ekskresi kalsium dan statis sehingga presipitasi batu mudah terjadi. penyakit ini mempunyai tanda umum. sampai terabanya ginjal yang membesar akibat adanya hidronefrosis. Selain itu bila disertai infeksi saluran kemih dapat juga ditemukan endapan urin.Batu idiopatik disebabkan oleh pengaruh berbagai factor. baik hematuria nyata maupun mikroskopik. Pada sebagian kecil penderita batu didapatkan kelainan kausal yang menyebabkan ekskresi kelebihan bahan dasar batu seperti pada hiperparatiroidisme. batu ginjal yang terletak di pelvis dapat menyebabkan terjadinya hidronefrosis. Batu pelvis ginjal dapat bermanifestasi tanpa gejala sampai gejala yang berat. Pada pemeriksaan fisik mungkin kelainan sama sekali tidak ada. 6 . Batu saluran kemih dapat mengakibatkan kelainan patologik yang menunjukkan gejala dan tanda akut. Sesuai dengan gangguan yang terjadi. hiperoksaluria. yaitu hematuria.

Batu ureter Anatomi ureter mempunyai beberapa tempat penyempitan yang

memungkinkanbatu ureter terhenti. Karena peristaltic, akan terjadi gejala kolik, yakni nyeri yang hilang timbul disertai perasaan mual dengan atau tanpa muntah dengan nyeri alih. Selama batu bertahan di tempat menyumbat, selama itu kolik akan berulang-ulang sampai batu bergeser dan memberi kesempatan pada air kemih untuk lewat. Batu ureter mungkin dapat lewat sampai kandung kemih dan kemudian keluar bersama kemih. Batu ureter juga bisa sampai ke kandung kemih dan kemudian berupa nidus menjadi batu kandung kemih besar. Batu juga bisa tetap tinggal di ureter sambil menyumbat dan menyebabkan obstruksi kronik dengan hidroureter yang mungkin asimptomatik. Tidak jarang terjadi hematuria yang didahului oleh serangan kolik. Bila keadaan obstruksi terus berlangsung, lanjutan dari kelainan yang terjadi dapat berupa hidronefrosis dengan atau tanpa pielonefritis sehingga menimbulkan gambaran infeksi umum.

Batu kandung kemih Karena batu menghalangi aliran kemih akibat penutupan leher kandung kemih, aliran yang mula-mula lancar secara tiba-tiba akan terhenti dan menetes disertai dengan nyeri. Pada anak, nyeri menyebabkan anak yang bersangkutan menarik penisnya sehingga tidak jarang dilihat penis yang panjang. Bila pada saat sakit tersebut penderita berubah posisi, suatu saat air kemih akan dapat keluar karena letak batu yang berpindah. Bila selanjutnya terjadi infeksi yang sekunder, selain nyeri, sewaktu miksi juga akan terdapat nyeri menetap suprapubik.

Batu prostat Pada umumnya batu prostat juga berasal dari kemih yang secara retrograde terdorong kedalam saluran prostat dan mengendap, yang akhirnya menjadi batu yang kecil. Pada umumnya batu ini tidak memberikan gejala sama sekali karena tidak menyebabkan gangguan pasase kemih.

Batu uretra 7

Batu uretra merupakan batu yang berasal dari ureter atau kandung kemih yang oleh aliran kemih sewaktu miksi terbawa uretra, tetapi menyangkut di tempat yang agak lebar. Tempat uretra yang agak lebar ini adalah di pars prostatika, bagian permulaan pars bulbosa, dan di fosa navikular. Bukan tidak mungkin dapat ditemukan di tempat lain. Gejala yang ditimbulkan umumnya miksi tiba-tiba terhenti, menjadi menetes dan nyeri. Penyulitnya dapat berupa terjadinya divertikulum, abses, fistel proksimal, dan uremia karena obstruksi urin

Diagnosis Selain pemeriksaan melalui anamnesis dan jasmani untuk menegakkan diagnosis, penyakit batu perlu ditunjang dengan pemeriksaan radiologic, laboratorium, dan penunjang lain untuk menetukan kemungkinan adanya obstruksi saluran kemih, infeksi, dan gangguan faal ginjal. Secara radiologik, batu dapat radioopak atau radiolusen. Sifat radiopak ini berbeda untuk berbagai jenis batu sehingga dari sifat ini dapat diduga jenis batu yang dihadapi. Yang radiolusen umumnya adalah dari jenis asam urat murni. Pada radiopak pemeriksaan dengan foto polos sudah cukup untuk menduga adanya batu saluran kemih bila diambil foto 2 arah. Pada keadaan istimewa tidak jarang batu terletak di depan bayangan tulang, sehingga dapat luput dari pengamatan. Pada batu radiolusen, foto dengan bantuan kontras akan menyebabkan filing defek pada tempat batu sehingga memberikan gambaran pada daerah yang kosong. Yang menyulitkan adalah bila ginjal mengandung batu tidak berfungsi lagi sehingga kontras ini tidak muncul. Dalam hal seperti ini, perlu dilanjutkan dengan pielografi retrograde yang dilaksanakan pemasangan kateter ureter melalui sistikop pada ureter ginjal yang tidak dapat berfungsi untuk memasukkan kontras. Pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk mencari kelainan kemih yang dapat menunjang adanya batu di saluran kemih, menentukan fungsi ginjal, dan menetukan sebab terjadinya batu. Pemeriksaan renogram berguna untuk menetukan faal kedua ginjal secara terpisah pada batu bilateral atau bila kedua ureter tersumbat total. Cara ini dipakai untuk memastikan ginjal yang masih mempunyai sisa faal yang cukup sebagai dasar untuk melakukan tindak bedah pada ginjal yang sakit. Pemeriksaan USG dapat untuk 8

melihat semua jenis batu, baik radiolusen maupun radiopak. Selain itu dapat ditentukan ruang dan lumen saluran kemih. Pemeriksaan ini juga dipakai untuk menentukan batu selama tindakan pembedahan untuk mencegah tertingganya batu.

Diagnosis banding Kolik ginjal dan ureter dapat disertai dengan akibat yang lebih lanjut, misalnya distensi usus dan pielonefrosis dengan demam. Oleh karena itu, jika dicurigai terjadi kolik ureter maupun ginjal, khususnya yang kanan, perlu dipertimbangkan kemungkinan kolik saluran cerna, kandung empedu, atau appendicitis akut. Selain itu perempuan juga dipertimbangkan adneksitis. Bila terjadi hematuria, perlu dipertimbangkan kemungkinan keganasan apalagi bila hematuria terjadi tanpa nyeri. Selain itu, juga diingat bahwa batu saluran kemih yang terjadi bertahun-tahun dapat menyebabkan tumor umunya karsinoma epidermoid, akibat rangsangan dan inflamasi. Khusus batu ginjal dengan hidronefrosis peril dipertimbangkan kemungkinan tumor ginjal mulai dari jenis ginjal polikistik hingga tumor Grawitz. Pada batu ureter, terutama dari jenis radiolusen, apalagi bila disertai dengan hematuria yang tidak disertai kolik, perlu dipertmbangkan tumor ureter walaupun tumor ini jarang ditemukan. Dugaan batu kandung kemih jga perlu dipertimbangkan tumor kandung kemih terutama jenis batu radiolusen. Batu prostat biasanya tidak sukar terdiagnosis karena gambaran radiologic yang khas, yang kecil seperti kumpulan pasir di daerah prostate. Akan tetapi, pemeriksaan colok dubur dapat memberi kesan adanya keganasan, teritama bila terdapat batu cukup banyak sehingga teraba seperti karsinoma prostat. Dalam keadaan yang tidak pasti seperti itu dilakukan biopsy prostat.

Tata laksana Piñatalaksanaan batu saluran kemih harus tuntas sehingga bukan hanya mengeluarkan batu saja, tetapi harus disertai dengan terapi penyembuhan penyakit batu atau paling sedikit disertai dengan terapi pencegahan. Hal ini karena batu sendiri hanya merupakan gejala penyakit batu sehingga pengeluaran batu dengan cara apapun bukanlah merupakan terapi yang sempurna. Selanjutnya perlu juga diketahui bahwa pengerluaran batu menyebabkan gangguan pada slauran kemih. Bila batu tersebut 9

10 . Batu ureter ini adalah batu yang tidak menganggu saluran kemih termasuk ginjal dan ukurannya kurang dari setengah centimeter. Akan tetapi pemberian antibiotic sukar membasmi kuman karena kuman didalam batu susah dicapai oleh antibiotic. Penanganannya dapat berupa terapi medis dan simptomatik atau dengan bahan pelarut. Pelarutan Jenis batu yang memang dapat dilarutkan adalah dari batu asam urat. Batu pun dipecah menjadi fragmen-fragmen kecil sehingga mudah dikeluarkan melalui saluran kemih.tidak memberi gangguan fungsi ginjal makabatu tersebut tidak perlu diangkat diharapkan batu tersebut keluar dengan sendirinya. Tidak jarang pecahan-pecahan batu yang sedang keluar menimbulkan perasaan nyeri kolik dan menyebabkan hematuria. khususnya kolik yang terjadi menghilang dengan pemberian simpatolitik. Terapi medis dan simptomatik Pengelolaan simptomatik mengusahakan agar nyeri. Hasil lebih baik dilaporkan dengan pemberian alopurinol dan usaha menurunkan kadar asam urat. ESWL (Extracorporeal Shockwave Lithotripsy) Alat ESWl adalah pemecah batu yang diperkenalkan pertama kali oleh Caussy pada tahun 1980. Bila terdapat kuman harus dibasmi. Dengan produksi air kemih yang banyak diharapkan dapat mendorong batu. atau batu buli tanpa melalui tindakan invasive dan tanpa pembiusan. Selain itu terutama untuk batu ureter yang dapat diharapkan keluar dengan sendirinya. batu ureter proksimal.2) sehingga dengan pemberian bikarbonas natrikus disertai makanan alkalis. Dapat pula dengan pembedahan atau dengan tindakan yang kurang invasive misalnya nefrostomi perkutan. Batu struvit tidak dapat dilarutkan tetapi dapat dicegah dengan pengasaman urin dan pemberian antiurease. dapat diberikan minum berlebihan disertai diuretic. Batu ini terjadi bila pH urin asam (pH: 6. alat ini dapat memecah batu ginjal. batu asam urat diharapkan larut.

Alat itu dimasukkan melalui uretra atau melalui insisi kecil pada kulit (perkutan). Probe pemecahan batu dapat dilakukan secara mekanik. 2. 11 . uretroskopi atau uretro-renoskopi: yaitu memasukkan alat uretroskopi peruretram guna melihat keadaan ureter atau system pielo-kalises ginjal. dengan memakai energi hiraulik. Batu kemudian dikeluarkan atau dipecah terlebih dahulu menjadi fragmen-fragmen kecil. Dengan memakai energi tertentu. litotripsi: yaitu memecah batu buli-buli atau batu uretra dengan memasukkan alat pemecah batu (litotriptor) kedalam buli-buli. 3. energi gelombang suara. atau dengan energi laser. Pecahan batu dikeluarkan dengan evakuator Ellik. batu yang berada didalam ureter maupun system pelvikalises dapat dipecah melalui tuntunan uretroskopi/uretreorenoskopi ini. Beberapa tindakan endourologi itu adalah: 1. dan kemudian mengeluarkanya dari saluran kemih melalui alat yang dimasukkan langsung kedalam saluran kemih.Endourologi Tindakan endourologi adalah tindakan invasive minimal untuk mengeluarkan batu saluran kemih yang terdiri atas memecah batu. PNL( Percutaneus Nephro Litholapaxy): yaitu mengeluarkan batu yang berada didalam saluran ginjal dengan cara memasukkan alat endoskopi ke system kalises melalui insisi pada kulit.

pemberian medikamentosa. Sjamsuhidajat R. rendah oksalat. 2nd ed. Healthy wise. Purnomo B Basuki. diet mengurangi kadar zat-zat pembentuk batu.Brawijaya. ekstraksi Dormia: yaitu mengeluarkan batu ureter dengan menjaringnya melalui alat keranjang dormia. Extracorporeal shock wave lithotripsy (ESWL). Edisi revisi. in : dasar-dasar urologi FK univ. Diet rendah kalsium tidak dianjurkan kecuali pada pasien yang menderita hiperalsiuri absortif tipe II. 2007. atau mengalamu pengkerutan akibat batu yang menimbulkan obstruksi dan infeksi menahun. Jakarta. Daftar pustaka 1. 12 . laparoskopi. Pencegahan Setelah batu dikeluarkan dari saluran kemih. Bedah terbuka Di klinik-klinik yang belum mempunyai fasilitas yang memadai untuk tindakantindakan endourologi.com. Buku Ajar Ilmu Bedah. 57-67 3. tindakan selanjutnya yang penting adalah upaya mengindari timbulnya kekambuhan. 2003. rendah garam karena natriuresis akan memacu timbulnya hiperkalsiuri. 756-764 2. CV. Jakarta. dan uretrolitotomi untuk batu di ureter. Available at: http://myhealth. Last update: May 30. korteksnya sudah sangat tipis. Cara ini banyak dipakai untuk mengambil batu ureter. maupun ESWL. Sagung seto. Pembedahan terbuka itu antara lain: pielolitotomi atau nefrolitotomi untuk mengambil batu pada saluran ginjal. aktivitas harian yang cukup. hal.centrahealth. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Tidak jarang pasien harus menjalani nefrektomi atau pemgambilan ginjal karena ginjalnya tidak berfungsi lagi dan berisi nanak (pionefrosis). pengambilan batu masih dilakukan melalui pembedahan terbuka. rendah purin. Angka kekambuhan batu rata-rata 7% per tahun atau kurang lebih 50% dalam 10 tahun. Diet yang dianjurkan adalah diet rendah protein karena protein memacu ekskresi kalsium urine yang dapat membuat urine menjadi asam. Bedah laparoskopi Pembedahan laparoskopi untuk mengambil batu saluran kemih saat ini sedang berkembang. Jong Wim de. Pada umumnya pencegahan itu berupa menghindari dehidrasi dengan minum air 2-3 liter per hari.4. hal. 1997.

Kelenjar ini terdiri atas jaringan fibromuskular dan glandular yang terbagi dalam beberapa daerah atau zona. Menurut penelitian diketahui pula karena perbedaan ras. Faktor resiko BPH masih belum jelas. yaitu zona perifer. Sifat ini diturunkan secara dominan autosomal.BENIGN PROSTAT HIPERPLASI (BPH) DEFINISI BPH adalah hiperplasi kelenjar periuretral (sel-sel glanduler dan intersisial) dari prostat. ±50% pada pria dibawah 60 tahun terkena BPH karena mempunyai sifat diturunkan. organ ini membuntu uretra pars prostatika dan menyebabkan terhambatnya aliran urine keluar dari buli-buli. Sebagian besar hiperplasia prostat terdapat pada zona transisional. Bila pengalami pembesaran.5 cm dan beratnya 20 gram. zona 13 . zona sentral. Pada usia 75 tahun ±50% pada pria mengeluhkan gejala pancaran urin yang lemah pada waktu miksi. ANATOMI Kelenjar Prostat Prostat adalah organ genitalia pria yang terletak di sebelah inferior buli-buli. di depan rectum dan membungkus uretra posterior. jarang ditemukan pada usia di bawah 40 tahun. INSIDENSI Pada usia 55 tahun ±25% dari pria ditemukan gejala obstruktif. BPH merupakan tumor jinak yang paling sering terjadi pada laki-laki dan berhubungan dengan usia. Bentuknya seperti buah kenari dengan ukuran 4 x 3 x 2.

dan leher buli-buli. dan zona periuretra.transisional. Komponen stroma ini terdiri atas otot polos. zona fibromuskuler anterior. Rangsangan simpatik menyebabkan dipertahankannya tonus otot polos tersebut. Sebagian besar hiperplasia prostat terdapat pada zona transisional. Cairan ini dialirkan melalui duktus sekretorius dan bermuara di uretra posterior untuk kemudian di keluarkan bersama cairan semen lain pada saat ejakulasi. Prostat mendapat inervasi otonomik simpatik dan parasimpatik dari pleksus prostatikus. Volume cairan prostat merupakan ±25% dari seluruh volume ejakulat. Pleksus prostatikus ( pleksus pelvikus ) menerima masukan serabut parasimpatik dari korda spinalis S2-4 dan simpatik dari nervus hipogastrikus (T10-L2). Prostat menghasilkan suatu cairan yang merupakan salah satu komponen dari cairan ejakulat. Secara histopatologik kelenjar prostat terdiri atas komponen kelenjar dan stroma. sedangkan rangsangan simpatik menyebabkan pengeluaran cairan prostat ke dalam uretra posterior. kapsula prostat. Stimulasi parasimpatik meningkatkan sekresi kelenjar pada epitel prostat. dan jaringan penyanggah yang lain. Ditempat itu banyak terdapat reseptor adrenegika. fibroblas. 14 . seperti pada saat ejakulasi. pembuluh darah. sedangkan pertumbuhan karsinoma prostat berasal dari zona perifer. Sistem simpatik memberikan inervasi pada otot polos prostat. saraf.

Kelenjar prostat terdiri atas elemen stromal dan epitel. Pada BPH kadar DHT tidak jauh berbeda dengan kadarnya pada prostat normal. 2. 15 . tapi sel-sel prostat yang telah ada mempunyai umur lebih panjang sehingga massa prostat jadi lebih besar. dan menurunkan jumlah sel-sel prostat (apoptosis). Hanya saja pada BPH. Teori dihidrotestosteron DHT adalah metabolit androgen yang sangat penting pada pertumbuhan sel-sel kelenjar prostat. DHT yang telah terbentuk berkaitan dengan reseptor androgen (RA) membentuk kompleks DHT-RA pada inti sel dan selanjutnya terjadi sintesis protein growth factor yang menstimulasi pertumbuhan sel prostat. meningkatkan jumlah reseptor androgen. Beberapa hipotesis yang di duga sebagai penyebab timbulnya hiperplasia prostat adalah: 1. tetapi kemungkinan berhubungan dengan multifaktor dan endokrin. Hal ini menyebabkan sel-sel prostat pada BPH lebih sensitif terhadap DHT sehingga replikasi sel lebih banyak dibandingkan dengan prostat normal. Estrogen di dalam prostat berperan dalam terjadinya proliferasi sel-sel kelenjar prostat dengan cara meningkatkan sensitifitas sel-sel prostat terhadap rangsangan hormon androgen. Hingga sekarang masih belum diketahui secara pasti penyebab terjadinya hiperplasia prostat. aktivitas enzim 5a-reduktase dan jumlah reseptor androgen lebih banyak. Masing-masing atau bahkan keduanya dapat berkembang menjadi nodul-nodul hiperplastik dan gejala-gejala yang ada dapat diartikan sebagai suatu BPH.ETIOLOGI Etiologi BPH belum pasti. Ketidakseimbangan antara estrogen-testosteron Pada usia semakin tua kadar testosteron samakin menurun. sedangkan kadar estrogen relatif tetap sehingga perbandingan antara estrogen: testostron relatif meningkat. Dibentuk dari testosteron yang sangat penting pada pertumbuhan sel-sel kelenjar prostat oleh enzim 5a-reduktase dengan bantuan koenzim NADPH. Jadi meskipun rangsangan terbentuknya sel-sel baru akibat rangsangan testosteron menurun. tetapi beberapa hipotesis menyebutkan bahwa hiperplasia prostat erat kaitannya dengan peningkatan kadar dihidrotestosteron (DHT) dan proses aging.

Kontraksi yang terus menerus ini menyebabkan perubahan anatomic buli-buli berupa hipertrofi otot detrusor. Teori sel stem Sel stem adalah sel yang mempunyai kemampuan berproliferasi secara ekstensif. sedangkan yang besar disebut divertikel. Stroma prostat. buli-buli harus berkontraksi lebih kuat guna melawan tahanan itu. Saat prostat membesar terjadi proses penyempitan lumen uretra prostatika dan menghambat aliran urin. Untuk dapat mengeluarkan urin. Fase penebalan detrusor ini disebut fase kompensasi otot dinding. obstruksi mekanis terjadi dari adanya gangguan didalam lumen uretra atau leher kandung kencing. Penonjolan serat detrusor ke dalam kandung kemih dengan sistokopi akan terlihat seperti balok yang disebut trabekulasi (buli-buli).3. yang terdiri dari otot polos dan 16 . oleh pasien dirasakan sebagai keluhan pada saluran kemih sebelah bawah atau lower urinary tract symptom (LUTS). Mukosa dapat menerobos keluar di antara serat detrusor. Terjadinya BPH dipostulasikan sebagai ketidaktepatnya aktivitas sel stem sehingga terjadi produksi yang berlebihan sel stroma maupun epitel. Perubahan struktur pada buli-buli tersebut. Komponen obstruksi dapat menjadi komponen obstruksi dinamis atau komponen mekanis. Interaksi stroma-epitel Cunha (1973) membuktikan bahwa diferensiasi dan pertumbuhan sel epitel prostat secara tidak langsung di kontrol oleh sel-sel stroma melalui suatu mediator (growth factor) yang selanjutnya mempengaruhi sel-sel stroma sehingga menyebabkan terjadinya proliferasi sel-sel epitel maupun sel-sel stroma. Tonjolan mukosa yang kecil dinamakan sakula. PATOFISIOLOGI Suatu hubungan gejala dapat dikaitkan antara BPH dengan obstruksi dari prostat atau terjadinya respon sekunder pada kandung kencing saat berkemih. 4. Komponen dinamis dalam obstruksi prostat menerangkan variasi natural dalam gejala yang terjadi pada pasien. Saat pembesaran prostat timbul. sedangkan faktor pertumbuhan TGFB berperan pada proses apoptosis. menyebabkan kesulitan yang tinggi dalam berkemih. 5. Berkurangnya kematian sel prostat Estrogen di duga mampu memperpanjang usia sel-sel prostat. Keadaan ini menyebabkan peningkatan tekanan intravesika.

herniasi mucosal antara otot detrusor terjadi divertikula (disebut juga Divertikula vera yang hanya terdiri mukosa dan serosa) Tekanan intravesika yang tinggi diteruskan ke seluruh buli-buli tidak terkecuali pada kedua ureter. Pada pemeriksaan inspeksi. dan otot polos pada leher buli-buli. Keluhan iritatif berkemih yang kosong pada BPH berasal dari respon sekunder dari kandung kencing untuk meningkatkan pengeluaran isi kandung kencing. penebalan otot detrusor pada serabut otot terlihat sebagai trabekula pada pemeriksaan cystocospic. tetapi juga disebabkan oleh tonus otot polos yang ada pada stroma prostat. Pengeluaran ini terhambat karena otot detrusor hipertrofi dan hyperplasia dikarenakan terjadinya deposisi kolagen. GEJALA KLINIS 1. kaya akan suplai persarafan adrenergik. Keadaan ini jika berlangsung terus akan mengakibatkan hidroureter. hal ini menyebabkan pada BPH terjadi peningkatan tonus otot polos prostat dibandingkan dengan prostat normal. Jika terlewat pada pemeriksaan. Pada BPH terjadi rasio peningkatan komponen stroma terhadap epitel. sehingga resitensi saat berkemih berkurang. Gejala obstruksi dapat berupa hesitansi (menunggu lama pada permulaan buang air kecil). Kalau pada prostat normal rasio stroma dibanding dengan epitel adalah 2:1. pancaran urin yang lemah pengosongan buli-buli yang kurang 17 . Obstruksi yang diakibatkan oleh hiperplasia prostat benigna tidak hanya disebabkan oleh adanya massa prostat yang menyumbat uretra posterior. Gejala pada saluran kemih bagian bawah (LUTS) Gejala-gejala pada BPH dapat dibagi menjadi 2. Dalam hal ini massa prostat yang menyebabkan obstruksi komponen statik sedangkan tonus otot polos yang merupakan komponen dinamik sebagai penyebab obstruksi prostat. hidronefrosis. kapsul prostat. Tingkat stimulasi otonom diatur oleh uretra prostatika. pada BPH. yaitu : gejala obstruksi dan gejala iritasi. Otot polos itu dipersarafi oleh serabut simpatis yang berasal dari nervus pudendus.kolagen. bahkan akhirnya dapat jatuh kedalam gagal ginjal. Tekanan pada kedua muara ureter ini dapat menimbulkan aliran balik urin dari buli-buli ke ureter atau terjadi refluks vesikoureter. rasionya meningkat menjadi 4:1. Meskipun selanjutnya keluhan ini akan berkurang tidak stabilnya otot detrusor juga menjadi factor. Penggunaan terapi α-blocker menurunkan tonus.

atau demam yang merupakan tanda dari infeksi/ urosepsis. Penilaian ini terfokus pada 7 pertanyaan yang di ajukan terhadap pasien-pasien untuk mengetahui seberapa sering timbul gejala iritasi dan obstruksi. Dimana score 0-7 ringan. Gejala iritatif berupa urgensi (tergesa-gesa buang air kecil). double voiding (miksi untuk kedua kalinya dalam 2 jam dari yang sebelumnya. 2. 8-19 sedang. sedangkan keluhan yang menyangkut kualitas hidup pasien diberi nilai 1-7. SKOR INTERNASIONAL GEJALA PROSTAT (I-PSS) Untuk pertanyaan nomer 1 hingga 6. mengedan bila miksi. Urin yang selalu menetes tanpa disadari oleh pasien yang merupakan tanda inkontinensia paradoksa. Merasakan masih terdapat sisa urine sehabis kencing ? 18 . frekuensi (sering buang air kecil). benjolan di pinggang (yang merupakan tanda dari hidronefrosis). dan nokturia (buang air kecil malam hari lebih dari 1 kali). air kencing menetes). Gejala di luar saluran kemih Hernia inguinalis. Gejala pada saluran kemih bagian atas Nyeri pinggang. 3. nyeri bila miksi.puas. ANAMNESIS American Urological Association (AUA) telah mengembangkan suatu standar daftar pertanyaan yang berlaku dan dapat dipercaya dalam identifikasi kebutuhan akan perawatan terhadap pasien-pasien dan dalam memonitoring terhadap terapi yang dilakukan. hemoroid karena peningkatan tekanan intraabdominal. dan 20-35 berat. disuria. jawaban dapat diberikan skor sebagai berikut: 0 = Tidak pemah 1 = Kurang dari sekali dari 5 kali kejadian 2 = Kurang dari separuh kejadian 3 = Kurang lebih separuh dari kejadian 4 = Lebih dari separuh dari kejadian 5 = Hampir selalu Dalam satu bulan terakhir ini berapa seringkah anda: 1. MENEGAKKAN DIAGNOSA 1. Setiap pertanyaan yang berhubungan dengan keluhan miksi diberi nilai 0-5.

Harus mengejan dalam memulai kencing ? Untuk pertanyaan nomer 7.. Dalam hal ini dapat ditemukan adanya suatu gejala obstrutif: (1) adanya penurunan berat badan atau udem pada wajah dan kedua tangan.. Merasakan pancaran urine yang lemah ? 6. Dengan keluhan seperti ini bagaimanakah anda menikmati hidup ini? Kesimpulan: S__. pemeriksa harus menilai proses pengosongan urin pasien sebagai hal utama dalam pemeriksaan. (3) kardiomegali atau udem pulmonal.V_I (S:Skor I-PSS. Sangat tidak puas 7. Puas 5.. jawablah dengan skor seperti di bawah ini: 0 = Tidak pernah 3 = Tiga kali 1 = Satu kali 2 . (2) pucat atau anemia.. Pertanyaan nomer 8 adalah mengenai kualitas hidup sehubungan dengan gejala di atas. Campuran antara puas dan tidak puas 6. Senang 4. Buruk sekali 8.. PEMERIKSAAN FISIK Untuk mengetahui adanya penurunan kekuatan pancaran aliran urin. Q: pancara urine dalam ml/detik. Q_... L_I . R _ . Sangat senang 3. (4) ada massa yang teraba di abdomen bagian bawah. Tidak bahagia 2.. L:Kualitas hidup.. Pada pemeriksaan rectal toucher kelenjar prostat diperiksa dengan memperhatikan dari segi bentuk dan ukuran serta konsistensi.Dua kali 4 = Empat kali 5 = Lima kali 7.. Harus berhenti pada saat kencing dan segera mulai kencing lagi dan hal ini dilakukan berkali-kali? 4. Pada suatu keadaan hiperplasia 19 .. jawablah dengan: 1. V: volume prostat) 2.2. Harus kencing lagi padahal belum ada setengah jam yang lalu anda baru saja kencing ? 3. R: sisa urine. Dalam satu bulan terakhir ini berapa kali anda terbangun dari tidur malam untuk kencing ? Total Skor (S) = . Tidak dapat menahan keinginan untuk kencing ? 5.

Dengan kateter di ukur sisa urin dalam buli-buli. berat 25-60 gram : prostat teraba 3-4 cm. Pemeriksaan Bimanual Dengan melakukan Rectal-toucher dan penekanan pada supra-pubik. a. Jika teraba pembesaran prostat maka dapat diperkirakan besar prostat > 50 gram. berat 20-25 gram : prostat teraba 2-3 cm. Intra-Uretral Grading Dilakukan pemeriksaan dengan endoskopi untuk melihat seberapa penonjolan kedalam lumen uretra. keras dan elastis. lobus kanan dan kiri simetris. Pasien dengan pembesaran prostat mungkin tidak ditemukan gejala obstruksi traktus urinarius. berat < 10 gram : prostat teraba 1-2 cm. Sebagai tambahan dalam menilai kelenjar prostat. sedangkan pada pasien dengan pembesaran lobus medial dapat ditemukan dengan jelas suatu adanya gejala obstruktif dan retensi urin tanpa adanya suatu pembesaran prostat yang teraba. barat 60-100 gram : prostate teraba > 4 cm. Normal Grade 1 Grade 2 Grade 3 Grade 4 : sisa urin tidak ada : sisa urin 0-50cc : sisa urin 50-150 cc : sisa urin > 150 cc : retentio urin total d. Rectal Grading Dengan Rectal-toucher: Stage 0 Stage 1 Stage 2 Stage 3 Stage 4 : prostat teraba < 1 cm. berat > 100 gram Pada BPH Rectal-toucher menunjukan konsistensi prostat kenyal. c. dan tidak didapatkan nodul-nodul. pasien disuruh BAK sampai habis. Intra-Vesikal Grading Dengan pemeriksaan Cystogram 20 .biasanya di dapatkan suatu prostat dengan keadaan licin. e. Clinical Grading Pada pagi hari atau setelah diberi minum yang banyak. yang secara tidak langsung juga memberikan gambaran keadaan dari persarafan vesika urinaria. pada pemeriksaan rectal toucher dapat memberikan keuntungan bagi pemeriksa dalam menilai kekuatan tonus dari spingter ani. b.

yang merupakan tanda dari suatu retensi urine. Pembesaran prostat dapat pula dilakukan dengan ultrasonografi suprapubik. ureum kreatinin. Faal ginjal. (2) volume urin yang keluar (voided volume). Kultur urine untuk mencari jenis kuman dan menentukan sensitifitas. c. Jika dicurigai adanya keganasan prostat perlu di periksa kadar penanda tumor PSA. PEMERIKSAAN PENUNJANG a. (3) lama waktu miksi. adanya batu/kalkulosa prostat dan kadangkala dapat menunjukan bayangan buli-buli yang penuh terisi urine. b. Gambaran Radiologis Foto polos perut berguna untuk mencari adanya batu opak di saluran kemih. Pemeriksaan sistografi dilakukan bila pada anamnesis ditemukan hematuria atau pada pemeriksaan urin ditemukan mikrohematuria. Uroflowmetri Dengan uroflowmetri dapat diukur: (1) pancaran urin maksimal (maximal flow rate-Qmax). selain itu untuk mengetahui besar prostat dengan mengukur panjang uretra pars prostatika dan penonjolan prostat ke dalam uretra. menentukan jumlah residual urine. sebagai petunjuk untuk melakukan biopsi aspirasi prostat. Ultrasonografi transrektal atau TRUS. dimaksudkan untuk mengetahui besar atau volume kelenjar prostat. Disamping itu ultrasonografi transabdominal mampu untuk mendeteksi adanya hidronefrosis ataupun kerusakan ginjal akibat obstruksi BPH yang lama.3. Pengukuran sisa urin yang tertinggal dalam buli-buli 21 . pemeriksaan ini untuk mengetahui asal dari perdarahan yang ada. Pemeriksaan gula darah dimaksudkan untuk mencari kemungkinan adanya diabetes melitus yang dapat menimbulkan kelainan persarafan pada buli-buli (buli-buli neurogenik). Laboratorium Sedimen urin diperiksa untuk menandakan infeksi/hematuri. adanya kemungkinan pembesaran prostat maligna. mengetahui adanya penyulit pada saluran kemih bagian atas.

yaitu terjadi penebalan serat-serat detrusor akibat tekanan intra vesika yang selalu tinggi akibat obstruksi. bila sakulasi menjadi besar dapat menjadi divertikel. Suatu infeksi pada traktus urinarius dapat memberikan gambaran gejala iritasi BPH. infeksi traktus urinarius berulang. KOMPLIKASI Komplikasi yang dapat terjadi pada pasien yang dibiarkan tanpa pengobatan: Pertama. sedang pancaran maksimal menjadi 15 ml/detik atau kurang. Komplikasi lain adalah pembentukan batu vesika akibat selalu terdapat sisa urin setelah buang air kecil. dapat terjadi sakulasi. Disamping itu terapi spesifik lainnya berupa adanya indikasi untuk tindakan operasi termasuk retensio urine kronik (sedikitnya 1 kali percobaan menggunakan kateter yang gagal).setelah buang air kecil diukur dengan memasang kateter setelah buang air kecil. kontraktur leher buli-buli. gross hematuri 22 . DIAGNOSA BANDING Kondisi obstruksi lainnya dari traktus urinarius bagian bawah adalah striktur uretra.ca prostat dapat diketahui pada DRE atau kenaikan serum PSA. Yang harus diketahui dalam menilai pria dengan dugaan BPH yaitu adanya riwayat urethritis atau trauma untuk menyingkirkan adanya striktur uretra atau kontraktur leher buli-buli. Bila tekanan intra vesika yang selalu tinggi tersebut diteruskan ke ureter dan ginjal. sehingga terjadi pengendapan batu. batu buli-buli atau ca prostat. trabekulasi. yaitu mukosa buli-buli menerobos di antara serat-serat detrusor. akan terjadi hidroureter dan hidronefrosis yang akan mengakibatkan penurunan fungsi ginjal TERAPI Untuk BPH dengan gejala ringan (score 0-7) terapi hanya berupa ”Watchful Waiting”. Hematuri dan nyeri biasanya merupakan gejala adanya batu buli-buli. Ketiga. Kedua. Angka normal pancaran kemih rata-rata 10-12 ml/ detik dan pancaran maksimal sampai sekitar 20 ml/detik. untuk mengetahui adanya infeksi maka dilakukan kultur urine dan urinalisis. Pada obstruksi ringan pancaran menurun antara 6-8 ml/detik.

Obat ini 23 . II. Watchful Waiting Pilihan terapi ini hanya untuk pasien BPH dengan gejala ringan(score 0-7). diantaranya adalah hipotensi postural dan kelainan kardiovaskuler lain.insufisiensi ginjal dari buli-buli atau divertikula buli-buli yang besar. Sayangnya obat ini tidak disenangi oleh pasien karena menyebabkan komplikasi sistemik yang tidak diharapkan. Ditemukannya obat penghambat adrenegik-a1 adalah : Prazosin dua kali sehari. seperti:      Jangan mengkonsumsi alkohol atau rokok setelah makan malam Kurangi makanan atau minuman yang mengiritasi buli-buli Batasi penggunaan obat-obat influenza yang mengandung fenilpropanolamin Kurangi makanan pedas atau asin Jangan menahan kencing terlalu lama 2. Alpha Bloker Caine adalah yang pertama kali melaporkan penggunaan obat penghambat adrenergik alpha sebagai salah satu terapi BPH.berulang. afluzosin. dan doksazosin yang diberikan sehari sekali. Inhibitor 5 alpha-reduktase Finasteride adalah merupakan inhibitor 5 alpha-reduktase yang memblok perubahan hormon testosteron menjadi dihydrotestosteron. terazosin. Obat-obat ini dilaporkan dapat memperbaiki keluhan miksi dan laju pancaran urin. Akhir-akhir ini telah ditemukan pula golongan penghambat adrenegik-a1A. Pasien dengan gejala sedang dapat dilakukan terapi ini jika pasien menginginkan. Pasien tidak mendapatkan terapi apapun dan hanya diberi penjelasan mengenai sesuatu hal yang mungkin dapat memperburuk keluhannya. yaitu tamsulosin yang sangat selektif terhadap otot polos prostat. Terapi Medis I. batu buli-buli. Pada saat itu dipakai fenoksibenzamin. Dilaporkan bahwa obat ini mampu memperbaiki pancaran miksi tanpa menimbulkan efek terhadap tekanan darah maupun denyut jantung. 1. yaitu penghambat alpha yang tidak selektif yang ternyata mampu memperbaiki laju pancaran miksi dan mengurangi keluhan miksi.

III. tetapi data-data farmologik tentang kandungan zat aktif yang mendukung mekanisme kerja obat fitoterapi sampai saat ini belum diketahui dengan pasti. Keuntungan dari TURP tidak dilakukan sayatan sehingga mengurangi terjadinya infeksi.Resiko pada TURP termasuk didalamnya berupa ejakulasi retrograd. Hypoxis rooperi. Kemungkinan fitoterapi bekerja sebagai : anti-androgen. dan terdapat bradikardi. Cairan yang sering dipakai yaitu H2O steril (aquades). efek anti inflamasi. Radix urtica dan masih banyak lainnya. impoten. Sindroma ini ditandai dengan pasien yang mulai gelisah. menurunkan kadar sex hormon binding globulin (SHBG). Reseksi kelenjar prostat dilakukan transuretra dengan mempergunakan cairan irigasi (pembilas) agar daerah yang akan direseksi tetap terang dan tidak tertutup oleh darah. tekanan darah meningkat . serena repens. Fitofarmaka Beberapa ekstrak tumbuhan-tumbuhan tertentu dapat dipakai untuk memperbaiki gejala-gejala akibat obstruksi prostat. dan inkontinensia. Jika tidak segera diatasi.mempengaruhi komponen epitel dari kelenjar prostat yang mengakibatkan pengurangan ukuran dari kelenjar dan memberikan perbaikan gejala. Terapi Operasi Konvesional I. Kebanyakan dari prosedur ini memerlukan pemakaian anestesi spinal serta membutuhkan 1-2 hari perawatan di RS. Salah satu kerugian dari aquades adalah sifatnya yang hipotonik sehingga cairan ini dapat masuk ke saluran sistemik melalui pembuluh darah vena yang terbuka pada saat reseksi. 3. kesadaran somnolen. Cairan yang dipergunakan adalah berupa larutan non ionik. yang jika berlebih dapat menyebabkan terjadinya hiponatremia relatif atau gejala intoksikasi air atau dikenal dengan sindroma TURP. dan memperkecil volume prostat. menurunkan outflow resistance. inhibisi basic fibroblast growth factor (BFGF) dan epidermal growth factor (EGF). 24 . yang dimaksudkan agar tidak terjadi hantaran listrik pada saat operasi. 6 bulan terapi diperlukan untuk mengetahui efek maximum dari ukuran prostat. Transurethral Resection Of The Prostat (TURP) 95% dari simple prostatektomi dapat dilakukan secara endoskopi yang di masukan melalui penis atau uretra. Di antara fitoterapi yang banyak dipasarkan adalah : Pygeum africanum. mengacaukan metabolisme prostaglandin.

melakukan USG Transrektal. Untuk mengurangi resiko timbulnya sindroma TURP. Pada pasien-pasien ini akan sangat bermanfaat. harus disingkirkan kemungkinan adanya Ca prostate dengan melakukan colok dubur.pasien akan mengalami edema otak yang akhirnya jatuh kedalam koma dan meninggal. dan pengukuran kadar PSA. dan impontensi. kedua potongan ini dimulai dari arah distal sampai mulut uretra dan meluas keluar sampai ke verumontirium. Transurethral Inscision Of The Prostat (TUIP) Sering pada pria dengan gejala BPH sedang sampai berat serta kelenjar prostat yang kecil. cara ini lebih cepat dan sedikit mengalami kesalahan daripada TURP. Pada cara ini melibatkan 2 potongan menggunakan pisau Colinns pada arah jam 5 dan jam 7. Komplikasi yang terjadi perdarahan. infeksi. sering mempunyai hyperplasia pada komisura posterior (leher bulibuli terangkat). Terapi standar sindrom ini terdiri dari pemberian diuretik dan penggunaan salin hipotonik intravena II. 25 . Sebelum melakukan ini. dipakai cairan isotonik yaitu glisin dan harus membatasi untuk tidak melakukan reseksi lebih dari satu jam. penyempitan uretra.

Pada open prostatektomi dapat dilakukan 2 cara yaitu: suprapubik dan retropubik. Simple suprapubik prostatektomi dilakukan secara transvesical dan merupakan operasi pilihan dalam menangani masalah kelainan dalam buli-buli. maka diperlukan suatu enukleasi terbuka. residual urin 4. perdarahan dari hipertrofi benigna Indikasi relatif prostatektomi : 1. batu buli-buli dengan obstruksi kronik 4. Setelah 26 . kerusakan pada buli-buli dan traktus urinarius bagian atas dari obstruksi 5. Indikasi absolut prostatektomi : 1. infeksi traktus urinarius berulang dari obstruksi 6. retensi akut 2. frekuensi BAK yang mengganggu tidur atau kerja perubahan obstruksi awal pada buli-buli serta traktus urinarius bagian atas 3.III. batu buli-buli 5. obstruksi kronik dengan eksaserbasi akut 3. kronik obstruktif dengan azotemia 2. BPH dengan komplikasi Pembesaran kelenjar prostat bukan indikasi prostatektomi. prostatitis berulang 6. Open prostatektomi mungkin dapat pula berguna. Open Simple Prostatektomi Jika ukuran prostat terlalu besar untuk dipindahkan secara endoskopi. Kelenjar prostate lebih dari 100 g biasanya dilakukan suatu enukleasi terbuka. yaitu dengan seiring adanya divertikula buli-buli atau batu buli-buli atau jika posisi litotomi tidak memungkinkan untuk dilakukan operasi.

dimana sebelumnya telah dipasang kateter uretra dan suprapubik sebelum di lakukan penutupan. Pemotongan pada bidang datar harus sangat tajam. interstitial fibre. Kemudian insisi pada daerah kapsul prostate yang akan di operasi. KTP YAG. lalu adenomanya di enukleasi. 4. distal dari trigonum. Untuk mengetahui kedalamannya dapat dilihat melalui USG. right angle fibre. perlahan mungkin ditarik dari leher buli-buli sampai ke apex. dan diode yang dipancarkan melalui bare fibre. Terapi Laser Ada 4 sumber tenaga yang digunakan pada terapi ini yaitu : Nd YAG. setelah hemostasis dicapai dengan melakukan penjahitan. Pada simple retropubik hanya digunakan 1 kateter.buli-buli di buka kemudian dibuat satu potongan semisirkuler pada mukosa buli-buli. Terapi Invasif Minimal I. Beberapa perbedaan tehnik Necro coagulation telah diketahui :  Transurethral Laser Induced Prostatectomy (TULIP) Dilakukan dengan cara menggunakan panduan memakai USG Transurethral. Pada potongan apical juga dibuat setajam mungkin untuk menghindari injuri terhadap distal spingter mekanisme. Pada simple retropubik prostatektomi buli-buli tidak di masuki. 27 . Alat-alat pada TULIP diletakkan di dalam uretra dan USG Transurethral digunakan untuk menuntun alat TULIP. Holmium YAG. kemudian pada potongan tumpul dengan menggunakan jari dibuat untuk memindahkan adenoma. Setelah adenoma di angkat.

Elektrovaporasi Prostat Sama dengan TURP. sehingga mengakibatkan lapisan submukosanya mengalami nekrosis koagulasi. karena mukosa dari uretera berbeda dan sisa dari jaringan prostatnya dipisahkan serta jaringan dari prostatnya diresobpsi.pasien rawat jalan. sehingga mampu membuat vaporisasi kelenjar prostat.  Terapi Laser Intersitiel Pada cara ini seratnya diletakkan langsung pada prostat. III. karena di lakukan dengan cara meletakkan serat dari lasernya langsung berada didalam jaringan prostat yang dapat menguap. hanya teknik ini memakai roller ball yang spesifik dan dengan mesin diatermi yang cukup kuat. Kerugiannya adalah : (1) kurangnya jaringan patologik yang tersedia. Visual Contact Ablative Cara ini merupakan cara yang membutuhkan waktu yang lama. (2) membutuhkan waktu saat kateterisasi post operasi. (3) bertambahnya gejala iritasi. masa rawat di RS lebih singkat. Namun hanya dapat dilakukan pada prostat yang tidak terlalu besar (<50 gram) dan butuh waktu operasi lebih lama. II. Pada setiap penusukan. Termoterapi 28 . lasernya ditembakan langsung. (2) gejalanya jarang timbul lagi. dan biasanya dibawah kendali cytoskopi. Keuntungan dari penggunaan bedah laser adalah (1) perdarahannya minimal. perdarahan minimal. Penggunaan cara ini hanya dapat mengurangi sedikit gejala iritasinya saja. Teknik ini cukup aman. (4) dapat dilakukan pada pasien. (3) berguna pada pasien – pasien yang menggunakan terapi antikoagulan.

Morbiditas rendah. High – intensity focused ultrasound (HIFU) Metode ini merupakan bentuk lain dari ablasi thermal jaringan. dapat dilakukan tanpa anestesi. V. Metode ini memerlukan anestesi umum. pasien seringkali masih mengeluh hematuria.Energi panas bersamaan gelombang mikro dipancarkan melalui kateter transuretra. Pada pembesaran lobus medial dan leher buli – buli tidak dapat menggunakan metode ini. Probenya dapat digunakan untuk memberikan gambaran prostat dan juga dapat menghantarkan ledakan kecil dari energi USG yang terfokus dengan kekuatan tinggi yang mana dapat mengakibatkan panasnya jaringan prostat dan dapat mengakibatkan suatu nekrosis koagulasi. IV. dapat dijalani oleh pasien dengan kondisi kurang baik jika menjalani pembedahan. sehingga menyebabkan nekrosis jaringan prostat. Metode ini tidak dapat digunakan pada terapi pembesaran lobus medial dan leher buli – buli . kadang retensi urine dan epididimo-orkitis. 29 . disuria. Alat ini didesain khusus sebagai USG dengan dual fungsi yang diletakkan direktum. Besar dan arah pancaran energi diatur sehingga dapat melunakkan jaringan prostat yang membuntu uretra. Sistem ini terdiri dari kateter TUNA yang dihubungkan dengan generator. Direkomendasikan bagi prostat yang ukurannya kecil. Transurethral needle ablation of the prostate (TUNA) Metode ini memakai energi dari frekuensi radio yang menimbulkan panas sampai 100o.

Alat ini dibuat secara khusus digunakan pada pasien pasien dengan angka harapan hidup terbatas dan bukan pada pasien – pasien dengan indikasi operasi.Transurethral balloon dilatation of the prostate Dilatasi balon dari kelenjar prostat dibentuk secara khusus dengan suatu kateter yang mampu mendilatasi fossa prostatika saja atau fossa prosatika dan leher buli –buli. rasa tidak enak di daerah penis. pasien masih merasakan keluhan miksi berupa gejala iritatif.VI. perdarahan uretra. VII. Metode ini sangat efektif pada prostat – prostat dengan ukuran kecil ( < 40 cm3 ). Intrauretrhal stenting Intrauretrhal stenting merupakan suatu alat yang secara endoskopi diletakkan didalam fossa prostatika dan dibuat untuk menahan bentuk dari uretrha pars prostatika. 30 . Namun setelah pemasangan kateter ini.

Jakarta: EGC. David C. hospitalisasi yang minimal.de.prostata-therapie.uk www. Jakarta: EGC. editor. alih bahasa. sejauh ini tidak menimbulkan impotent. Buku Ajar Bedah bagian 2: (Sabiston’s Essentials Surgery). Sabiston. R Sjamsihidajat (ed). De Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah edisi 2. Ronardy.Keuntungannya : mudah digunakan. www.co.co. Wim.uk 31 .prostateinformation.1994 3. 2003 2. aman. Basuki B. 2004 4. Devi H. DAFTAR PUSTAKA 1. Dasar-dasar Urologi. Petrus Andrianto. Purnomo.

mungkin terdapat thrombosis arteri segmentalis Derajat IV Laserasi sampai mengenai system kalises ginjal 32 . Robekan ini akan memacu terbentuknya bekuan-bekuan darah yang selanjutnya dapat menimbulkan thrombosis arteri renalis beserta cabang-cabangnya. dan terlindung oleh otot-otot dan organorgan lain. trauma ginjal dibedakan menjadi : Table 1. Cedera ginjal dapat terjadi secara: (1) langsung akibat benturan yang mengenai daerah pinggan atau (2) tidak langsung yaitu merupakan cedera deselerasi akibat pergerakan ginjal secara tiba-tiba didalam rongga retroperitoneum. karena itu cedera ginjal tidak jarang diikuti oleh cedera organ-organ yang mengitarinya. dan cedera iatrogenic.TRAUMA UROGENITALIA Secara anatomis sebagian besar organ urogenitalia terletak di rongga ekstraperitoneal (kecuali genitalia eksterna). Penderajatan Trauma Ginjal Menurut derajat berat ringannya kerusakan ginjal. Goncangan ginjal didalam rongga retroperitoneum menyebabkan regangan pedikel ginjal sehingga menimbulkan robekan tunika intima arteri renalis. TRAUMA GINJAL Ginjal terletak dirongga retroperitoneum dan terlindung oleh otot-otot punggung sebelah posterior dan oleh organ-organ intraperitoneal di sebelah anteriornya. penderajatan Trauma Ginjal Derajat Jenis kerusakan Derajat I Derajat II Derajat III Kontusio ginjal/hematoma perirenal Laserasi ginjal terbatas pada korteks Laserasi ginjal sampai pada medulla ginjal. Cedera yang mengenai organ urogenitalia bias merupakan cedera dari luar berupa trauma tumpul maupun trauma tajam.

dan terdapat hematuria makroskopik ataupun mikroskopik. punggung. Kadang kala 33 . Jika PIV belum dapat menerangkan keadaan ginjal perlu dilakukan pemeriksaan CT scan atau arteriografi. Pemeriksaan PIV pada kontusio renis sering menunjukkan gambaran system pelvikalises normal. Pada trauma derajat ringan mungkin hanya didapatkan nyeri didaerah pinggang terlihat jejas berupa ekimosis. Cedera deselerasi yang berat akibat jatuh dari ketinggian atau kecelakaan lalu lintas. Pencitraan Pemeriksaan pencitraan dimulai dari PIV guna menilai tingkat kerusakan ginjal dan melihat keadaan ginjal kontralateral. Trauma didaerah pinggang. Hematuria 3. Pada trauma major atau rupture pedikel seringkali pasien dating dalam keadaan syok berat dan terdapat hematoma didaerah pinggang yang makin lama makin membesar. mungkin terjadi thrombosis arteri renalis o Ginjal terbelah (shatered) Diagnosis Patut dicurigai adanya cedera pada ginjal jika terdapat : 1. Fraktur kosta sebelah bawah (T8-12) atau fraktur prosesus spinosus vertebra 4. dada sebelah bawah. Pembuatan PIV dikerjakan jika diduga ada (1) luka tusuk atau luka tembak yang mengenai ginjal.Derajat V o Avulse pedikel ginjal. Trauma tembus pada daerah abdomen atau pinggang 5. dan perut bagian atas dengan disertai nyeri atau didapatkan adanya jejas pada daerah itu. Dalam keadaan ini pemeriksaan ultrasonografi abdomen dapat menunjukkan adanya hematoma parenkim ginjal yang terbatas pada subkapsuler dan dengan kapsul ginjal yang masih utuh. dan (3) cedera tumpul ginjal yang menberikan tanda-tanda hematuria mikroskopik dengan disertai syok. 2. (2) cedera tumpul ginjal yang memberikan tanda-tanda hematuria makroskopik.

Operasi Operasi ditujukan pada trauma ginjal major dengan tujuan untuk segera menghentikan perdarahan. trauma major dan trauma pedikel sering menimbulkan perdarahan yang hebat dan berakhir dengan 34 . 2. kemungkinan adanya penambahan massa dipinggang. Konservatif Tindakan konservatif ditujukan pada trauma minor. nadi dan suhu tubuh). Penyulit Jika tidak mendapatkan perawatan yang cepat dan tepat. reparasi ginjal (berupa renorafi atau penyambungan vaskuler) atau tidak jarang harus dilakukan nefrektomi parsial bahkan nefrektomi total karena kerusakan ginjal yang sangat berat. Selanjutnya mungkin perlu dilakukan debridement. Pada derajat PIV tampak adanya ekstravasasi kontras. penurunan kadar hemoglobin darah. Pada keadaan ini dilakukan observasi tanda-tanda vital (tensi. System pelvikalises yang tak nampak pada PIV dapat pula terjadi pada rupture pedikel atau pasien yang berada dalam keadaan syok berat pada saat menjalani pemeriksaan PIV. hal ini karena terobeknya system pelvikalises ginjal. Ekstravasasi ini akan tampak semakin luas pada ginjal yang mengalami fragmentasi (terbelah) pada cedera derajat V. adanya pembesaran lingkaran perut.kontusio renis yang cukup luas menyebabkan hematoma dan edema yang hebat sehingga memberikan gambaran system pelvikalises yang spstik atau bahkan tak tampak (non visualized). dan perubahan warna urine pada pemeriksaan urine serial. Pengelolaan Terapi yang dikaerjakan pada trauma ginjal adalah : 1.

atau bedah vaskuler) dapat menyebabkan terjadinya cedera ureter iatrogenic. Diagnosis Kecurigaan adanya cedera ureter pada trauma dari luar adalah hematuria pasca trauma.kematian. crushing karena terjepit oleh klem. abses perirenal. putus (robek). Table 2. urosepsis. ekstraksi batu dengan Dormia. kecurigaan Cedera Ureter Iatrogenik 35 . Selain itu kebocoran system kaliks dapat menimbulkan ekstravasasi urin hingga menimbulkan urinoma. Dikemudian hari pasca cedera ginjal dapat menimbulkan penyulit berupa hipertensi. atau trauma iatrogenic. Operasi endourologi transureter (ureteroskopi atau uterorenoskopi. dan kadang menimbulkan fistula renokutan. TRAUMA URETER Cedera ini dapat terjadi karena trauma dari luar yaitu trauma tumpul maupun trauma tajam. hidronefrosis. Cedera yang terjadi pada ureter akibat tindakan operasi terbuka dapat berupa: ureter terikat. bedah digestif. sedangkan kecurigaan adanya cedera ureter iatrogenic bias diketemukan pada saat operasi atau setelah pembedahan (lihat table 2). urolitiasis atau pielonefritis kronis. atau devaskularisasi karena banyak jaringan vaskuler yang dibersihkan. atau litotripsi batu ureter) dan perasi didaerah pelvis (diantaranya adalah operasi ginekologi.

Uretero-kutaneostomi 4. Ureter saling disambungkan (anastomosis end to end) 2. flap Boari. 36 . Inplantasi ureter ke buli-buli (neoimplantasi ureter pada buli-buli. Tindakan yang dikerjakan mungkin : 1.Saat operasi Pasca bedah Lapangan operasi banyak cairan Hematuria Anuri/oliguri jika cedera bilateral Demam Ileus Nyeri pinggang akibat obstrusi Luka operasi selalu basah Sampai beberapa hari cairan drainase jernih dan banyak Hematuria persisten dan hematoma/urinoma di abdomen Fistula uterokutan/fistula uterovagina Tindakan Tindakan yang dilakukan terhadap cedera ureter tergantung pada saat cedera ureter terdiagnosis. atau Psoas hitch) 3. dan letak serta derajat lesi ureter. keadaan umum pasien. Transuretero-ureterotomi (menyambung ureter dengan ureter pada sisi yang lain) 5. Nefrostomi sebagai tindakan diversi atau nefrektomi.

buli-buli terletak di rongga abdomen. Etiologi Kurang lebih 90% trauma tumpul buli-buli adalah akibat fraktur pelvis. cedera buli-buli ekstraperitoneal. Buli-buli akan robek pada daerah fundus dan menyebabkan ekstravasasi uri ke rongga intraperitoneum. tempatnya turun dan terlindung di dalam kavum pelvis. Fiksasi buli-buli pada tulang pelvis oleh fasia endopelvik dan diafragma pelvis sangat kuat sehingga cedera deselerasi terutama jika titik fiksasi fasia bergerak pada arah berlawanan (seperti pada fraktur pelvis). dapat merobek buli-buli. Robeknya buli-buli karena fraktur pelvis bisa pula terjadi akibat fragmen tulang pelvis merobek dindingnya. Dalam keadaan penuh terisi urin. buli-buli mudah sekali robek jiak mendapatkan tekanan dari luar berupa benturan pada perut sebelah bawah. cedera intraperitoneal. adanya organ lain yang 37 . miksi bercampur darah atau mungkin pasien tidak dapat miksi. Gambaran klinis yang lain tergantung pada etiologi trauma. Klasifikasi Secara klinis cedera buli-buli dibedakan menjadi kontusio buli-buli. bagian buli-buli yang mengalami cedera yaitu intra/ekstraperitoneal. Namun semakin bertambahnya usia. pasien mengeluh nyeri didaerah suprasimfisis. Tindakan endourologi dapat menyebabkan trauma buli-buli iatrogenic antara lain pada reseksi buli-buli transurethral (TUR buli-buli) atau pada litotripsi. sehingga kemungkinan mendapatkan trauma dari luar jarang terjadi.TRAUMA BULI-BULI Pada waktu lahir hingga usia anak. Diagnosis Setelah mengalami cedera pada abdomen sebelah bawah. Demikian pula partus kasep atau tindakan operasi di daerah pelvis dapat menyebabkan trauma iatrogenic pada buli-buli.

terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan sistografi guna melihat kemungkinan masih adanya ekstravasasi urin. Untuk memastikan bahwa buli-buli telah sembuh. Jika tidak dioperasi ekstravasasi urin ke rongga intraperitoneum dapat menyebabkan peritonitis.mengalami cedera. sebelum melepas kateter uretra atau kateter sistostomi. sebaiknya dilakukan penjahitan buli-buli dan pemasangan kateter sistostomi. robekan pada buli-buli dijahit 2 lapis. dan (3) wash out film yaitu foto setelah kontras dikeluarkan dari buli-buli. Pada cedera ekstraperitoneal. 38 . Terapi Pada kontusio buli-buli. tetapi sebagian ahli lain menganjurkan untuk melakukan penjahitan buli-buli denagn pemasangan kateter sistostomi. kemudian dipasang kateter sistostomi yang dilewatkan di luar sayatan laparatomi. Oleh karena itu jika bersamaan dengan rupture buli-buli terdapat cedera organ lain yang membutuhkan operasi. Rongga intraperitoneum dicuci. Pada cedera intraperitoneal harus dilakukan eksplorasi laparatomi untuk mencari robekan pada buli-buli serta kemungkinan cedera pada organ lain. Kemudian dibuat beberapa foto. Sistografi dibuat pada hari ke 10-14 pasca trauma. Pemeriksaan pencitraan berupa sistografi yaitu dengan memasukkan kontras kedalam buli-buli sebanyak 300-400 ml secara gravitasi (tanpa tekanan) melalui kateter per-uretram. Jika masih ada ekstravasasi kateter sistostomi dipertahankan sampai 3 minggu. (2) pada posisi oblik. hematoma perivesika. Namun tanpa tindakan pembedahan kejadian kegagalan penyembuhan luka ± 15%. serta penyulit yang terjadi akibat trauma. syok. dan kemungkinan untuk terjadinya infeksi pada rongga perivesika sebesar 12%. Dalam hal ini mungkin didapatkan tanda fraktur pelvis. Dengan cara ini diharapkan buli-buli sembuh setelah 7-10 hari. robekan yang sederhana (ekstravasasi minimal) dianjurkan untuk memasang kateter selama 7-10 hari. cukup dilakukan pemasangan kateter dengan tujuan untuk memberikan instirahat pada buli-buli. yaitu (1) foto pada saat buli-buli terisi kontras dalam posisi anterior-posterior (AP). atau tanpa tanda sepsis dari suatu peritonitis atau abses perivesika.

Trauma tumpul tang menimbulkan fraktur tulang pelvis menyebabkan rupture uretra pars membranasea. Yang lebih berat lagi adalah robekan buli-buli intraperitoneal. Kedua keadaan itu dapat menyebabkan sepsis yang dapat mengancam jiwa. 39 . Gambaran klinis Kecurigaan adanya trauma uretra adalah jika didapatkan perdarahan peruretram yaitu terdapat darah yang keluar dari meatus uretra eksternum setelah mengalami trauma. guna mengetahui adanya rupture uretra. dapat menimbulkan peritonitis akibat dari ekstravasasi urin pada rongga intraperitoneum. hal ini karena keduanya menunjukkan perbedaan dalam hal etiologi trauma. Pada trauma uretra yang berat. sedangkan trauma tumpul pada selangkangan atau straddle injury dapat menyebabkan rupture uretra pars bulbosa. Diagnosis ditegakkan melalui foto uretrografi dengan memasukkan kontras melalui uretra. ekstravasasi urin ke rongga pelvis yang dibiarkan dalam waktu lama dapat menyebabkan infeksi dan abses pelvis. pengelolaan. tanda klinis. seringkali pasien mengalami retensi urin. Pada keadaan ini tidak diperbolehkan melakukan pemasangan kateter. Etiologi Trauma uretra terjadi akibat cedera yang berasal dari luar (eksternal) dan cedera iatrogenic akibat instrumentasi pada uretra. jika tidak segera dilakukan operasi.Penyulit Pada cedera buli-buli ekstraperitoneal. serta prognosisnya. TRAUMA URETRA Secara klinis trauma uretra dibedakan menjadi trauma uretra anterior dan trauma uretra posterior. karena dapat menyebabkan kerusakan uretra yang lebih parah.

Ruptura Uretra Posterior Rupture uretra posterior paling sering disebabkan oleh fraktur tulang pelvis. Fraktur yang mengenai ramus atau simfisis pubis dan menimbulkan kerusakan pada cincin pelvis, menyebabkan robekan uretra pars prostate-membranasea. Klasifikasi Colapinto dan McCollum (1976) membagi derjat cedera uretra dalam 3 jenis : 1. Uretra posterior masih utuh dan hanya mengalami stretching (peregangan). 2. Uretra posterior terputus pada perbatasan prostate-membranasea, selanjutnya diafragma urogenitalia masih utuh. 3. Uretra posterior, diafragma urogenitalis, dan uretra pars bulbosa sebelah proksimal ikut rusak. Diagnosis Rupture uretra posterior seringkali memberikan gambaran yang khas berupa: (1) perdarahan per-uretram, (2) retensi urin, dan (3) pada pemeriksaan colok dubur didapatkan adanya floating prostate (prostat melayang) di dalam suatu hematom. Pada pemeriksaan uretrografi retrigrad mungkin terdapat elongasi uretra atau ekstravasasi kontra pada pars prostate-membranasea. Tindakan Pada keadaan akut tindakan yang dilakukan adalah melakukan sistostomi untuk diversi urin. Setelah keadaan stabil sebagian ahli urologi melakukan primary endoscopic realignment yaitu melakukan pemasangan kateter uretra sebagai splint melalui tuntunan uretroskopi. Dengan cara ini diharapkan kedua ujung uretra yang terpisah dapat saling didekatkan. Tindakan ini dilakukan sebelum 1 minggu pasca rupture dan kateter uretra dipertahankan selama 14 hari. Penyulit Penyulit yang terjadi pada rupture uretra adalah striktura uretra yang seringkali kambuh, disfungsi ereksi, dan inkontinensia urin. 40

Rupture Uretra Anterior Cedera dari luar yang sering menyebabkan kerusakan uretra anterior adalah straddle injury (cedera selangkangan) yaitu uretra terjepit diantara tulang pelvis dan benda tumpul. Jenis kerusakan urerta yang terjadi berupa: kontusio dinding uretra, rupture parsial, atau rupture total dinding uretra. Patologi Jika terjadi rupture uretra beserta korpus spongiosum, darah dan urin keluar dari uretra tetapi masih terbatas pada fasia Buck, dan secara klinis terlihat hematoma yang terbatas pada penis. Namun jika fasia Buck ikut robek, ekstravasasi urin dan darah hanya dibatasi oleh fasia Colles sehingga darah dapat menjalar hingga skrotum atau ke dinding abdomen. Oleh karena itu robekan ini memberikan gambaran seperti kupu-kupu sehingga disebut butterfly hematoma atau hematoma kupu-kupu. Diagnosis Pada kontusio uretra, pasien mengeluh adanya perdarahan per-uretram atau hematuria. Jika terdapat robekan pada korpus spongiosum, terlihat adanya hematom pada penis atau hematoma kupu-kupu. Pada keadaan ini seringkali pasien tidak dapat miksi.

Tindakan Kontusio uretra tidak memerlukan terapi khusus, tetapi mengingat cedera ini dapat menimbulkan penyulit striktura uretra dikemudian hari, maka setelah 4 – 6 bulan perlu dilakukan pemeriksaan uretrografi ulangan. Pada rupture uretra parsial dengan ekstravasasi ringan, cukup dilakukan sistostomi untuk mengalihkan aliran urin. Kateter sistostomi dipertahankan sampai 2 minggu, dan dilepas setelah diyakinkan melalui pemeriksaan uretrografi bahwa sudah tidak ada ekstravasasi

kontras atau tidak timbul striktura uretra. Namun jika timbul striktura uretra, dilakukan reparasi uretra atau stachse.

41

TRAUMA PENIS
Trauma yang mencederai penis dapat berupa trauma tumpul, truma tajam, terkena mesin pabrik, rupture tunika albuginea, atau strangulasi penis. Pada trauma tumpul atau terkena mesin, jika tidak terjadi amputasi total, penis cukup dibersihkan dan dilakukan penjahitan primer. Jika terjadi amputasi penis total dan bagian distal dapat diidentifikasi, dianjurkan dicuci dengan larutan faram fisiologis kemudian disimpan didalam kantung es, dan dikirim ke pusat rujukan. Jika masih mungkin dilakukan replantasi (penyambungan) secara mikroskopik. Fraktur Penis Fraktur penis adalah rupture tunika albuenia korpus kavernosum penis yang terjadi pada saat penis dalam keadan ereksi. Rupture ini dapat disebabkan karena dibengkokkan sendiri oleh pasien pada saat masturbasi, dibengkokkan oleh pasangannya, atau tertekuk secara tidak sengaja pada saat hubungan seksual. Akibat tertekuk ini, penis menjadi bengkok (angulasi) dan timbul hematoma pada penis dengan disertai nyeri. Untuk mengetahui letak rupture, pasien perlu menjalani pemeriksaan foto kavernosografi yaitu memasukkan kontras kedalam korpus kavernosum dan kemudian diperhatikan adanya ekstravasasi kontras keluar dari tunika albugenia. Tindakan Eksplorasi rupture dengan sayatan sirkuminisi, kemudian dilakukan evakuasi hematoma. Selanjutnya dilakukan penjahitan pada robekan tunika albugenia. Strangulasi Penis Strangulasi penis adalah jeratan pada pangkal penis yang menyebabkan gangguan aliran darah pada penis. Gangguan aliran darah ini mengakibatkan penis menjadi iskemia dan edema yang jika dibiarkan akan menjadi nekrosis. Jeratan pada penis harus segera ditanggulangi dengan melepaskan cincin atau penjerat yang melingkar pada penis.

42

sedative. (2) melingkarkan tali pada penis pada sebelah distal logam dan kemudian melepaskannya perlahan-lahan. Kemudian dilakukan pencucian luka dari debris dan rambut yang menempel dengan melakukan irigasi memakai air bersi dan kalau tersedia dengan garam fisiologis. Pertolongan pertama adalah memberikan analgetika. dianjrkan membuat kantong dip aha atau di inguinal guna meletakkan testis. atau luka bakar. Jika kulit skrotum yang tersisa tidak cukup untuk membungkus testis. Dilakukan debridement jaringan yang mengalami nekrosis. luka tumpul. luka tajam. tetapi diusahakan sedapat mungkin jangan terlalu banyak membuang kulit skrotum yang masih hidup karena skrotum penting untuk membungkus testis. atau (3) melakukan insisi pada penis yang telah mengalami edema dengan tujuan membuang cairan (edema0 sehingga logam dapat dikeluarkan. Trauma genitalia eksterna Trauma yang dapat terjadi pada trauma genitalia eksterna adalah avulsi. crushing. 43 . serta transquiliser untuk menenangkan pasien. Avulsi Avulse adalah kehilangan sebagian atau seluruh dinding skrotum.Beberapa cara untuk melepaskan cincin yang menjerat batang penis adalah (1) memotong logam itu dengan gerinda atau gergaji listrik.

Pada orang dewasa. Dalam keadaan normal. infeksi. sehingga harus dibantu dengan pemeriksaan ultrasonografi. Pada hirokel yang terinfeksi atau kulit skrotm yang sangat tebal kadang-kadang sulit melakukan pemeriksaan ini. hidrokel funikulus 3. atau trama pada tstis/epididimis. 44 . hidrokel testis 2. belum sempurnanya prosesus vaginalis 2. Pada anamnesis. belum sempurnanya system limfatik di daerah skrotum dalam melakukan reabsorbsi cairan hidrokel. Gambaran Klinis Pasien mengeluh adanya benjolan di kantong skrotum yang tidak nyeri. secara klinis dibedakan beberapa macam hidrokel yaitu: 1. Pada pemeriksaan fisis didapatkan adanya benjolan di kantong skrotum dengan konsistensi kistus dan pada pemeriksaan penerawangan menunjukkan adanya transiluminasi. cairan yang berada di dalam rongga memang ada dan berada dalam keseimbangan antara produksi dan reabsorpsi oleh system limfatik disekitarnya.Hidrokel Testis Definisi Hidrokel adalah penumpukan cairan yang berlebihan diantara lapisan parietalis dan viseralis tunika vaginalis. hidrokel komunikan Pada hidrokel testis. Etiologi Hidrokel yang terjadi pada bayi baru lahir dapat disebabkan karena: 1. kantong hidrokel seolah-olah mengelilingi testis sehingga testis tak dapat diraba. besarnya kanting hidrokel tidak berubah sepanjang hari. Kelainan pada testis itu mungkin suatu tumor. Peyebab sekunder terjadi karena didapatkan kelainan pada testis atau epididimitis yang menyebabkan terganggunya system sekresi atau reabsorbsi cairan di kantong hidrokel. Menurut letak kantong hidrokel terhadap testis. hidrokel dapat terjadi secara idiopatik (primer) dan sekunder.

kantong hidrokel terpisah dari testis dan dapat dimasukkan kedalam rongga abdomen. kadang kala dapat menimbulkan penyulit berupa infeksi.Pada hidrokel funikulus. Tindakan untuk megatasi cairan hidrokel adalah dengan aspirasi dan operasi. Terapi Hidrokel pada bayi biasanya ditunggu hingga anak mencapai usia 2 tahun dengan harapan setelah prosesus vaginalis menutup. kantong hidrokel besarnya dapat berubah-ubah yaitu bertambah besar pada saat anak menangis. Pada anamnesis. Pada palpasi. tetapi jika hidrokel masih tetap ada atau bertambah besar perlu dipikirkan untuk dilakukan koreksi. Pada anamnesis kantong hidrokel besarnya tetap sepanjang hari. testis dapat diraba dan berada di luar kantong hidrokel. Pada hirokel komunikan terdapat hubungan antara prosesus vaginalis dengan rongga peritoneum sehingga prosesus vaginalis dapat terisi cairan peritoneum. Aspirasi cairan hidrokel tidak dianjurkan karena angka kekambuhan tinggi. kantong hidrokel berada di funikulus yaitu terletak disebelah cranial dari testis. indikasi kosmetik 3. hidrokel permagna yang dirasakan terlalu berat dan menganggu pasien dalam melakukan aktivitasnya sehari-hari. sehingga pada palpasi. Pada hidrokel congenital dilakukan pendekatan inguinal karena seringkali hidrokel ini disertai dengan hernia inguinalis sehingga pada saat operasi hidrokel. hidrokel akan sembuh sendiri. hidrokel yang besar sehingga dapat menekan pembuluh darah 2. Beberapa indikasi untuk melakukan operasi pada hidrokel adalah: 1. sekaligus 45 .

hal. Sagung seto. CV. 1997. 140-142 46 .melakukan herniorafi. Jong Wim de. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Edisi revisi. Jakarta. 797 2. 2003. Penyulit Jika dibiarkan. Sjamsuhidajat R. Buku Ajar Ilmu Bedah. in : dasar-dasar urologi FK univ. 2nd ed. hidrokel yang cukup besar mudah mengalami trauma dan hidrokel permagna bisa menekan pembuluh darah yang menuju ke testis sehingga menimbulkan atrofi testis. Purnomo B Basuki. Jakarta. Daftar pustaka 1. Pada hidrokel testis dewasa dilakukan tindakan pendekatan scrotal dengan melakukan eksisi dan marsupialisasi kantong hidrokel dengan cara Winkelman atau plikasi kantong hidrokel sesuai dengan cara Lord. hal. Pada hidrokel funikulus dilakukan ekstirpasi hidrokel secara in toto.Brawijaya.

Kadang varikokel merupakan faktor kausal gangguan fertilitas sehingga merupakan indikasi ligasi v. Diameter normal pleksus pampiniformis > 2 mm.VARIKOKEL PENDAHULUAN Varikokel dapat menyebabkan keluhan testis terasa berat. DEFINISI Varikokel adalah dilatasi abnormal vena pada pleksus pampiniformis akibat gangguan aliran darah balik vena spermatika interna. dan ini terjadi akibat tekanan meninggi di dalam vena testis yang tidak berkatup dari muara di vena kava inferior atau vena renalis sampai di testis.testis. Peninggian tekanan di dalam pleksus pampiniformis dapat diraba sebagai struktur yang terdiri atas varises pleksus pampiniformis yang memberikan kesan raba seperti kumpulan cacing. 47 . varikokel merupakan penyebab penting rendahnya produksi sperma dan menurunnya kualitas sperma. Permukaan testis normal licin tanpa tonjolan dan konsistensi elastis. walaupun tidak semua varikokel mempengaruhi produksi sperma. Normalnya aliran balik vena memiliki satu arah katup yang berfungsi mencegah terjadinya turbulensi.

ETIOLOGI DAN ANATOMI Hingga sekarang belum diketahui secara pasti penyebab varikokel. sedang yang kanan bermuara pada vena kava dengan arah miring. Banyak kasus varikokel yang berlangsung asimptomatis atau tanpa gejala. tetapi dari pengamatan membuktikan bahwa varikokel sebelah kiri lebih sering dijumpai ( 7093 % ). Hal ini disebabkan karena vena spermatika interna kiri bermuara pada vena renalis kiri dengan arah tegak lurus. Varikokel sering ditemukan pada usia 15-25 tahun dan jarang ditemukan pada pria diatas 40 tahun. Jika terdapat varikokel di sebelah kanan atau varikokel bilateral patut dicurigai adanya : Kelainan rongga retroperitoneal ( obstruksi vena karena tumor ) Muara vena spermatika kanan pada vena renalis kanan Adanya situs inversus. Disamping itu vena spermatika interna kiri lebih panjang daripada yang kanan dan katupnya lebih sedikit dan inkompeten. KLASIFIKASI 48 . Kelainan ini terdapat pada 15 % pria dan didapatkan 21-41 % pria yang mandul menderita varikokel.INSIDENS Varikokel merupakan salah satu penyebab yang menyebabkan buruknya produksi sperma dan berkurangnya kualitas semen.

saat baring varikokel tidak nampak Derajat 3 : varikokel teraba dan terlihat jelas saat pasien berdiri tanpa maneuver valsava. besar varikokel dibagi 4 derajat sesuai anjuran Glezerman : Derajat 1 : varikokel teraba saat pasien berdiri dan lakukan maneuver valsava berulang kali Derajat 2 : varikokel terlihat saat pasien berdiri dan maneuver valsava sekali. Terjadi stagnasi darah balik pada sirkulasi testis sehingga testis mengalami hipoksia karena kekurangan oksigen 2. Adanya anastomosis antara pleksus pampiniformis kiri dan kanan. Semakin terasa bila penderita banyak berdiri dan cenderung lebih berat sore hari Benjolan diatas testis Nyeri daerah inguino-skrotalis ketika berdiri atau duduk lama Mengecilnya bentuk testis ( atropi testis ) 49 . GAMBARAN KLINIS Pasien datang ke dokter biasanya mengeluh belum : mempunyai anak setelah beberapa tahun menikah atau kadang mengeluh adanya benjolan di atas testis yang terasa nyeri. Saat berbaring varikokel tidak terlihat jelas Derajat 4 : varikokel terlihat jelas baik pasien berdiri maupun duduk. seringkali disertai nyeri PATOGENESIS Varikokel dapat menimbulkan gangguan proses spermatogenesis melalui beberapa cara. antara lain : 1. Peningkatan suhu testis. 4. pada akhirnya terjadi infertilitas. 3.Untuk keseragaman klinis. Gejala klinis varikokel ditandai : Rasa tidak enak/berat di daerah testis. Refluks hasil metabolit ginjal dan adrenal ( katekolamin dan prostaglandin ) melalui vena spermatika interna ke testis. memungkinkan zat-zat hasil metabolit dialirkan dari testis kiri ke testis kanan sehingga menyebabkan gangguan spermatogenesis testis kanan.

Jika diperlukan. Orkidometer Supaya lebih objektif menetukan besar/volume testis dilakukan pengapuran dengan alat ini. c.DIAGNOSIS Pemeriksaan dilakukan dalam posisi berdiri. pada inspeksi dan palpasi terdapat bentukan seperti kumpulan cacing dalam kantung sebelah cranial testis. d. Untuk itu diperlukan pemeriksaan penunjang lainnya : a. alat ini untuk mendeteksi adanya peningkatan aliran darah pada pleksus pampiniformis. Jika terdapat varikokel. b. Pemeriksaan analisis semen Untuk menentukan seberapa jauh varikokel telah menyebabkan kerusakan pada tubuli seminiferi. dengan memperhatikan keadaan skrotum kemudian dilakukan palpasi. pasien diminta untuk melakukan maneuver valsava atau mengedan. DIAGNOSIS BANDING  Hernia inguinalis 50 . Stetoskop Doppler Pemeriksaan dengan auskultasi. Kadangkala sulit untuk menemukan adanya bentukan varikokel secara klinis meskipun terdapat tanda-tanda lain yang menunjukkan adanya varikokel. USG atau CT scan USG dan CT scan bukanlah standard evaluasi kecuali pemeriksaan fisis tidak menemukan kesimpulan yang memuaskan.

Diantara mereka ada yang berpendapat bahwa varikokel yang telah menimbulkan gangguan infertilitas atau gangguan spermatogenesis merupakan indikasi mendapatkan suatu terapi. 51 . Varikokelektomi cara ivanisevich. tindakan operasi lebih dititikbertakan pada koreksi gangguan fertilitas tersebut. Perkutan dengan memasukan bahan sklerosing dalam vena spermatika interna. Setelah diketahui adanya hubungan varikokel dengan infertilitas. Hidrokel  Kista epididimis KOMPLIKASI   Atrofi testis Infertilitas TERAPI Masih terjadi silang pendapat di antara para ahli tentang perlu tidaknya melakukan operasi. Tindakan yang dikerjakan adalah : Ligasi tinggi vena spermatika interna secara palomo melalui operasi terbuka/bedah laparoskopi.

52 .

tetapi dari pengamatan membuktikan bahwa varikokel kiri lebih sering dijumpai ( 70-93 % ). dengan melihat beberapa indikator antara lain :  Bertambahnya volume testis  Perbaikan hasil analisis semen ( tiap 3 bulan )  Pasangan menjadi hamil Pada kerusakan testis yang belum parah. Belum diketahui secara pasti penyebab varikokel.EVALUSI Pasca tindakan dilakukan evaluasi keberhasilan terapi. evaluasi pasca bedah vasoligasi tinggi dari palomo didapatkan :    80 % terjadi perbaikan volume testis 60-80 % terjadi perbaikan analisis semen 50 % pasangan menjadi hamil KESIMPULAN Varikokel adalah dilatasi abnormal vena pada pleksus pampiniformis akibat gangguan aliran darah balik vena spermatika interna. Varikokel sering ditemukan pada usia 15-25 tahun dan 53 .

DAFTAR PUSTAKA 1. 2nd ed. Buku Ajar Ilmu Bedah. hal. Jong Wim de.mayoclinic. 2003. hal. 1997.com/health/Varicocele/DS00618 accessed on januari 20.2008 54 . CV. Varicocele.available from : http://www. Penerbit Buku Kedokteran EGC.Brawijaya. Merupakan slah satu penyebab yang menyebabkan buruknya produksi sperma dan berkurangnya kualitas semen. Jakarta. 797 3. 142-145 2. Sjamsuhidajat R. Sagung seto. Jakarta. Purnomo B Basuki. tindakan operasi lebih dititik beratkan pada koreksi gangguan fertilitas tersebut.jarang ditemukan pada pria diatas 40 tahun. in : dasar-dasar urologi FK univ. Edisi revisi. Setelah diketahui adanya hubungan varikokel dengan infertilitas.

latihan yang berlebihan. Keadaan ini akan memudahkan testis mengalami torsio intravaginal. Kelainan ini dikenal sebagai anomaly bell-clapper. yaitu lapisan viseralis yang langsung menempel ke testis dan di sebelah luarnya adalah lapisan parietalis yang menempel ke muskulus dartos pada dinding skrotum. ketakutan. Keadaan ini menyebabkan testis dan epididimis dengan mudahnya bergerak di kantung tunika vaginalis dan menggantung pada funikulus spermatikus. Pada permukaan anterior dan lateral. atau trauma yang mengenai skrotum. Tunika vaginalis yang seharusnya mengelilingi sebagian dari testis pada permukaan anterior dan lateral dari testis. Beberapa keadaan yang menyebabkan pergerakan yang berlebihan itu. testis dan epididimis dikelilingi oleh tunika vaginalis yang terdiri atas 2 lapis. epididmis. Terjadinya torsio testis pada masa remaja banyak dikaitkan dengan kelainan system penyanggah testis. 55 . celana yang terlalu ketat. tunika vaginalis mudah sekali bergerak dan memungkinkan untuk terpluntir pada sumbu funikulus spermatikus. pada kelainan ini tunika mengelilingi seluruh permukaan testis sehingga mencegah insersi epididimis ke dinding skrotum. defekasi. Adanya kelainan system penyanggah testis menyebabkan testis dapat mengalami torsio jika bergerak secara berlebihan. Anatomi Testis normal dibungkus oleh tunika albugenia. Pada masa janin dan neonates lapisan parietal yang menempel pada muskulus dartos masih belum banyak jaringan penyanggahnya sehingga testis. Pathogenesis Secara fisiologis otot kremaster berfungsi menggerakkan testis mendekati dan menjauhi rongga abdomen guna mempertahankan suhu ideal untuk testis. batuk. Terpluntirnya testis pada keadaan ini disebut torsio testis ekstravaginal.TORSIO TESTIS Torsio testis adalah terpluntirnya funikulus spermatikus yang berakibat terjadinya gangguan aliran darah pada testis. antara lain adalah perubahan suhu yang mendadak (seperti pada saat berenang).

dan iskemia. testis membengkak. yaitu dengan jalan memutar testis kearah berlawanan dengan arah torsio. Gambaran klinis dan diagnosis Pasien mengeluh nyeri hebat didaerah skrotum. dan sitigrafi testis yang kesemuanya bertujuan menilai adanya aliran darah ke testis. 56 . Pada bayi gejalanya tidak khas yakni gelisah. Epididimis akut 2. ultrasonografi Doppler. Pemeriksaan penunjang yang berguna untuk membedakan torsio tesris dengan keadaan akut skrotum yang lain adalah dengan memakai: stetoskop Doppler. Edema skrotum. Hernia skrotalis inkarserata 3. yang sifatnya mendadak dan diikuti pembengkakan pada testis.Terpluntirnya funikulus spermatikus menyebabkan obstrusi aliran darah testis sehingga testis mengalami hipoksia. Tumor testis 5. Operasi Tindakan operasi ini dimaksudkan untuk mengembalikan posisi testis pada arah yang benar (reposisi) dan setelah itu dilakukan penilaian apakah testis yang mengalami torsio masih viable (hidup) atau sudah mengalami nekrosis. edema testis. Pada akhirnya testis akan mengalami nekrosis. kecuali pada torsio testis yang sudah lama dan telah mengalami keradangan steril. terjadi peningkatan aliran darah ke testis. Hidrokel terinfeksi 4. rewel atau tidak mau menyusui. Pemeriksaan sedimen urin tidak menunjukkan adanya leukosit dalam urin dan pemeriksaan darah tidak menunjukkan adanya tanda inflamasi. Kadang-kadang pada torsio testis yang baru saja terjadi dapat diraba adanya lilitan atau penebalan funikulus spermatikus. Keadaan itu dikena sebagai akut skrotum. letaknya lebih tinggi dan lebih horizontal daripada testis sisi kontralateral. Diagnosis Banding 1. Pada pemeriksaan fisik. Terapi Detorsi Manual Detorsi manual adalah mengembalikan posisi testis keasalnya. Pada torsio testis tidak didapatkan adanya aliran darah ke testis sedangkan pada keradangan akut testis.

Jika testis masih hidup dilakukan orkidopeksi (fiksasi testis) pada tunika dartos kemudian disusul orkodopeksi pada testis kontralateral. 57 . sedangkan pada testis yang sudah mengalami nekrosis dilakukan pengangkatan testis (orkidektomi) dan kemudian disusul orkidopeksi pada testis kontralateral. Orkidopeksi dilakukan dengan mempergunakan benang yang tidak diserap pada 3 tempat untuk mencegah agar testis tidak terpluntir kembali.

Striktur uretra dapat berasal dari berbagai sebab. dan paling distal. Striktur uretra adalah penyempitan uretra karena berkurangnya diameter dan atau elastisitas uretra akibat digantinya jaringan uretra dengan jaringan ikat yang kemudian mengerut. 1. 58 . vesica urinaria dan uretra. merupakan bagian uretra yang melewati bulbus penis. berada dalam vestibulum vagina.STRIKTUR URETRA Pendahuluan Penyakit striktur uretra telah ditemukan sejak dahulu. yang disebut straddle injury. menembus korpus kavernosum. di ventralis dari ostium vagina. Uretra anterior merupakan bagian uretra pria yang memanjang dari bulbus ke meatus di puncak glans penis. Uretra merupakan suatu saluran fibromuscular yang dilalui oleh urin yang mengalir keluar dari vesica urinaria. bagian glandular. Berjalan melalui diafragma pelvis dan diafragma urogenital. Uretra pada wanita adalah suatu saluran yang pendek dari vesica urinaria ke ostium uretra eksternum. diafragma urogenital. terbagi atas uretra anterior dan uretra posterior. Saluran ini menutup apabila kosong. di antara kedua ujung anterior labia minora. dan dapat tanpa gejala atau muncul dengan ketidaknyamanan yang berat sebagai efek sekunder dari retensi urin. sejak Yunani Kuno menulis tentang pembuatan drainase vesica urinaria dengan berbagai kateter. Panjang 4 cm. terletak di bagian anterior vagina. Mempunyai ukuran sepanjang 20 cm. ureter. pendulous. Bagian ini terdiri dari tiga bagian yaitu bagian bulbus. Anatomi Traktus urinarius terdiri atas kaliks mayor dan minor. Pars bulbaris: terletak di proksimal. Uretra pada pria termasuk kelenjar prostat. Muaranya disebut ostium uretra eksternum. pelvis renalis. korpus kavernosum uretra sampai bagian akhir glans penis. Striktura uretra sering terjadi di pars bulbaris karena sebagian besar striktur uretra terjadi karena trauma di daerah perineal.

serta kurang mampu berdilatasi. Pars kavernous berada di dalam korpus kavernosum penis. Memiliki panjang kira-kira 1-2 cm. Misalnya: 59 . Pars pendulan/cavernosa/spongiosa: bagian uretra yang melewati corpus spongiosum penis. Kongenital Hal ini jarang terjadi. Uretra posterior merupakan bagian uretra yang berjalan dari vesica urinaria ke bulbus. korpus penis sampai ke glans penis panjang kira-kira 15 cm.2. berjalan di dalam bulbus penis. 3. Bagian distal dari uretra pars prostatika sedikit lebih lebar daripada proksimal. Merupakan bagian yang terpendek dan tersempit. Pars membranous berada di antara lapisan diafragma urogenital. Pars glandis: bagian uretra di glans penis. Uretra ini sangat pendek dan epitelnya sudah berupa epitel squamosa (squamous compleks noncornificatum). dan terdiri dari: 1. 3. Pars prostatika berjalan menembusi prostat. Kalau bagian uretra yang lain dilapisi oleh epitel kolumner berlapis. mulai dari basis prostat sampai apeks prostat dengan panjang kira-kira 3 cm. Etiologi Keadaan-keadaan yang dapat menyebabkan striktur uretra : 1. 2.

ligamentum tertarik. terjadi dibagian-bagian yang terfiksir seperti bulbus dan prostat. fibrous. Meatus kecil pada meatus ektopik pada pasien hipospodia. Pembedahan terbuka atau endoskopik 60 . sehingga menimbulkan trauma uretra pars bulbaris. prostatektomi. 2. Infeksi gonorrhea pada uretra biasa menjadi penyebab utama striktur uretra. uretritisnya bisa menjadi kronik. Trauma uretra anterior. Trauma Merupakan penyebab terbesar striktura (fraktur pelvis. puboprostaticum. yaitu proses penyembuhan tumor yang menyebabkan striktura uretra. Pada straddle injury. setelah penyembuhan. sebabnya pasien harus benar-benar diberi tahu agar menuntaskan pengobatan. Kalau pada uretritis kronik. Divertikula kongenital -> penyebab proses striktura uretra. 3. misalnya sadle sepeda. katerisasi). Tumor Tumor bisa menyebabkan striktura melalui dua cara. b. Akibatnya Itulah dan elastisitas ureter menghilang. misalnya karena straddle injury. baik spesifik maupun non spesifik (GO. Fraktur/trauma pada pelvis dapat menyebabkan cedera pada uretra posterior. Di dalam bedah urologi dikatakan bahwa sekali striktur maka selamanya striktur. jaringan penggantinya juga epitel squamous. 4. Pada uretritis akut.a. Jadi memang sebagian besar striktura uretra Di pars Trauma uretra posterior bisa sobek. jaringan penggantinya adalah jarinqan lumen uretra menjadi sempit. perineal terkena benda keras. Jadi seperti kita ketahui. pasien harus diberi tahu bahwa pengobatannya harus sempurna. Infeksi Seperti uretritis. Namun kini perkembangan antibiotik telah menyebabkan penurunan komplikasi infeksi gonorrhea. Jadi kalau asalnya epitel squamous. pendulan jarang terjadi cedera karena sifatnya yang mobile. Sehingga kalau ada trauma disini. trauma uretra anterior. ataupun tumornya itu sendiri yang mengakibatkan sumbatan uretra 5. Kalau kita menemukan pasien dengan urteritis akut. a. b. setelah sembuh jaringan penggantinya sama dengan iarinqan asal. antara prostat dan os pubis dihubungkan oleh lig. tindakan sistoskopi. merupakan penyebab tersering striktur uretra. TBC). Kalau pengobatannya tidak tuntas.

maka pancarannya akan jadi turbulen. Sedang : jika terdapat oklusi 1/3 sampai ½ diameter lumen uretra. Normalnya. Pada penyempitan derajat berat kadang kala teraba jaringan keras di korpus spongiosum yang dikenal dengan spongiofibrosis. Aliran urine yang terhambat mencari jalan keluar di tempat lain (proksimal dari striktur) dan akhirnya mengumpul di rongga periuretra. Pancaran air kencing bercabang Pada pemeriksaan sangat penting untuk ditanyakan bagaimana pancaran urinnya. 2. Bila terjadi abses multiple atau berulang sehingga terbentuk beberapa fistel yang disebut fistel seruling. Frekuensi Disebut frekuensi apabila kencing lebih sering dari normal. Jika terinfeksi dapat terjadi abses periuretra. Mirip seperti pancaran keran di westafel kalau ditutup sebagian. Striktur uretra terjadi setelah perlukaan pada urotelium atau korpus spongiosum yang menyebabkan pembentukan jaringan parut. 3. yang merupakan keluhan paling sering. Ringan : jika oklusi yang terjadi kurang dari 1/3 diameter lumen uretra. Derajat Penyempitan Uretra 1. pancaran urin jauh dan diameternya besar. Apabila sering kencing di malam hari disebut nocturia. pemasangan kateter juga dapat menyebabkan striktur. yaitu lebih dari tuiuh kali. Pancaran air kencing lemah. Berat : jika terdapat oklusi lebih besar dari ½ diameter lumen uretra. Fase dekompensasi yang timbul pada saat vesica urinaria berkontraksi menimbulkan residu urin yang memudahkan terjadinya infeksi. Dikatakan nocturia 61 .Prosedur bedah yang melibatkan uretra dapat menghasilkan striktur. Jaringan sikatrik pada lumen menimbulkan hambatan aliran urine sehingga terjadi retensi urine. Walaupun jarang. Tapi kalau terjadi penyempitan karena striktur. 2. Gejala Klinis Gejala striktur uretra meliputi : 1. yang akan pecah membentuk fistula uretrokutan. 3. Patofisiologi Proses radang akibat trauma atau infeksi pada uretra akan menyebabkan terbentuknya jaringan sikatrik pada uretra.

karena memang letaknya di uretra. kencing lebih dari satu kali. Akibatnya urin dapat keluar sendiri tanpa terkontrol. Vesika urinaria dapat teraba karena ada retensio urine. Radiologi a. 5. Pada flow incontinenntia. bila terdapat darah dalam urin serta dicurigai terjadi fraktur pelvis. Kalau pada overflow incontinence. urin keluar tanpa adanya keinginan untuk kencing. pasien merasa ingin kencing (karena vesicanya penuh). Uretrosistografi Pemeriksaan urethrocystography ini diindikasikan setelah terjadi trauma. Pemeriksaan tidak dilakukan bila terdapat infeksi uretra yang akut. Pemeriksaan 1. Tekanan di vesica menjadi lebih tinggi daripada tekanan di uretra. Fisik : a.apabila di malam hari. kecuali bila ada fistula uretrocutaneus. misalnya akibat paralisis musculus sphincter uretra. 62 . diisi sampai kontras masuk ke vesica urinaria. 2. Tidak jelas. Meatus kecil c. namun urin keluar tanpa bisa dikontrol. Vesika terlihat menonjol di atas simfisis pubis. Keadaan umum pasien baik 7. Dysuria dan hematuria 6. dan keinginan kencingnya itu sampai membangunkannya dari tidur sehingga mengganggu tidurnya. Overflow incontinence (inkontinensia paradoxal) Terjadi karena meningkatnya tekanan di vesica akibat penumpukan urin yang terus menerus. Jadi disini terlihat adanya perbedaan antara overflow inkontinensia (inkontinesia paradoksal) dengan flow incontinentia. Keadaan umum pasien jelek bila telah lama akibat adanya perubahan pada faal ginjal (infeksi -> striktur -> refluks -> hidroureter -> hidronefrosis -> faal ginjal turun). 4. Pada urethrocystography bahan kontras dimasukkan dengan semprit yang ujungnya sesuai dengan meatus uretra eksterna. Itulah sebabnya disebut inkontinensia paradoxal. b.

Biasanya juga terlihat ekstravasasi kontras. si pemeriksa harus memakai apron dan sarung tangan Pb. Pada orang dewasa. Jika mungkin. Vesica urinaria perlu diperiksa dari posisi anterior. vesica urinaria diisi dari botol yang diangkat setinggi 1 m di atas meja pemeriksaan dan pengisian dilanjutkan sampai penderita merasakan keinginan kuat untuk miksi. divertikel atau ruptur. serta total tidaknya striktur). Uretrosistografi bipolar (untuk mengetahui panjang. Foto diambil pada waktu pengisian kontras dengan posisi antero-posterior. Pasien wanita dapat duduk. Pemeriksaan dengan cara memasukkan kateter. Kontras bisa di atas (pool atas lewat vesika urinaria) ataupun di bawah (pool bawah lewat uretra). Kontras dimasukkan setelah balon dikembangkan. lateral dan oblik untuk menemukan adanya fistula. Pengambilan foto radiografi selama miksi termasuk posisi oblik ureter distal. striktur uretra menyebabkan dilatasi uretra bagian distal dari obstruksi. pemeriksaan juga dapat dilakukan dengan cara menggunakan klem atau dengan cara memasukkan kateter kecil ke distal penis.Selain itu. sebelumnya harus memasukkan anestetik lokal ke dalam uretra. vesica urinaria dan uretra. Keuntungan Uretrosistografi bipolar : Mengetahui persis panjang striktur Mengetahui total penyempitan Mengetahui persis lokasinya c. posisi miksi pada pasien pria yang paling mudah adalah posisi berdiri. Dikatakan striktur total bila sampai tidak ada kontras yang tersisa pada striktur. Pemasukan medium kontras diatur dengan fluoroskopi intermitten. oblik kanan dan kiri. dan setelah beberapa menit kateter Foley dimasukkan sampai balonnya terletak lebih kurang 1 cm dari lubang uretra. Pada gambaran urethrocystography. sehingga panjang dan juga ketebalan striktur dapat diketahui. Vesica urinaria diisi melalui kateter (alternatif lain melalui pungsi vesica suprapubik) dengan medium kontras yang dapat larut dalam air dan telah dihangatkan sesuai dengan suhu tubuh sebanyak 200 ml. Oleh karena itu. Micturating Cystourethrography Pemeriksaan radiografi vesica urinaria dan uretra setelah pengisian medium kontras dan selama miksi. 63 . b.

Hb. Melihat tulang pelvis (post trauma). c. dimana kadar ureum/kreatinin naik menunjukkan adanya kerusakan fungsi ginjal. 64 . Laboratorium Pemeriksaan darah menilai faal ginjal. IVP IVP dilakukan untuk: a. Konservatif: bouginasi (logam. Diagnosis pasti pada wanita adalah dengan bougie a boule. dengan melihat ada tidaknya tulang pelvis yang retak. Diagnosis pasti dibuat dengan pemeriksaan yang dikenal dengan uretrografi retrograde atau urethrocystography. Selain itu juga dilakukan pemeriksaan darah rutin. Melihat anatomi saluran kencing bagian atas . Striktur dapat juga dicurigai berdasarkan gejala dan riwayat medik seseorang. 3. plastik) Yaitu dengan memasukkan bahan dari logam atau plastik untuk memperlebar saluran yang mengalami penyempitan tadi. BPH Terapi 1. Melihat sisa urin (Post Voiding/ PV) pada striktur parsial yang biasanya disertai BPH (Benign Prostate Hyperplasy). Kadang tidak terlihat. Diagnosa Banding Ruptura Uretra Gambaran ekstravasasi kontras.Selama micturating cystourethrography. tetapi karakteristik uretra posterior adalah gambaran suatu balon. dengan tanda khas berupa hambatan pada waktu lepas. uretra posterior terlihat dilatasi. b. Diagnosis Diagnosis pertama kali ditegakkan ketika pemasangan kateter melalui uretra tidak dapat dilakukan.

ada 2 cara. dibuat hipospodia (muara uretra terletak di ventral proksimal dari penis) Tahap II. sehingga bahan tadi bisa tembus ke rektum. yaitu uretroplasti berupa menutup uretra yang terbuka dengan mengambil dari preputium. atau dari belakang daun telinga. yaitu: Jika pendek (0. Untuk striktur yang panjang ini operasi dilakukan dalam dua tahap menurut Johansen. Infeksi traktus urinarius 2.5-1 cm) -> reseksi anastomose end to end. Terutama sekali di daerah pars bulbaris. Jika panjang. Tertutup (uretrotomi interna). Bentuk uretra seperti huruf S.Hal ini harus dilakukan dengan hati-hati. Dapat terjadi cedera di bagian belokan. Maksudnya untuk membuat uretra menjadi berbentuk L atau U itu tadi. akibat tingkat residifnya tinggi. tapi di Indonesia teknik ini dilakukan juga pada striktura yang panjangnya 1-2 cm (asal partial). Operatif a. dapat berupa otis (tanpa lensa) dan dengan sache (dengan lensa). 2. Panjangnya < 0. Itulah sebabnya pada pemasangan kateter. Terbentuknya divertikel uretra/ buli-buli 5. b. yaitu: Tahap I. fiksasi dilakukan di bagian depan paha atau di abdomen bagian bawah. yaitu hipospodia artifisial. Terbuka. maka tidak dianastomose lagi karena bentuknya bisa seperti belut ketika ereksi. Striktur uretra rekuren 4. Komplikasi 1. mukosa buccal. bentuk uretra diubah dulu menjadi bentuk huruf L atau U.5 cm. Indikasi Sache adalah: Struktur lumen masih berlubang (incomplete) Striktur pendek. Abses periuretra 65 . Oleh karena itulah sewaktu dilakukan tindakan. Prosedur sache ini yang paling sering digunakan. Fistula uretrokutan 3. Tindakan ini dapat dilakukan untuk pasien pasca prostatektomi dan striktura yang parsial. karena yang melakukan harus tahu betul bentuk uretra.

medicastore.html http://www.kalbefarma.com/2005/11/striktur-uretra.blogspot.html http://agusjati.com http://www.com/2006/05/striktura-uretra.com 66 . DAFTAR PUSTAKA http://medika.6. Karsinoma uretra Pencegahan Tindakan pencegahan yang paling penting adalah berhati-hati terutama dalam pemasangan kateter.blogspot. Batu uretra 7.

stadium dan penyulit yang disebabkan oleh tumor tersebut. prostat. T adalah tingkat pertumbuhan tumor di dalam organ atau tingkat penyebaran tumor ke organ sekitarnya. Sedangkan penulisan derajat diferensiasi sel berdasarkan atas pemeriksaan histopatologi dengan : G1 : diferensiasi baik G2 : diferensiasi sedang G3 : diferensiasi buruk Untuk mengetahui apakah sel-sel telah menjadi ganas dpat dilakukan pemeriksaan patologi yaitu sitopatologi melalui pemeriksaan sitologi urine dan 67 . N diberi tanda N0 – N3.T4. Manifestasi klinis tergantung dari letak tumor. N adalah penyebaran tumor secara limfogen. uretra.TUMOR UROGENITAL Pendahuluan Tumor traktus urogenitalia merupakan keganasan yang sering ditemukan pada tempat praktek sehari hari yang mungkin terlewatkan karena kurang kewaspadaan dokter mengenali penyakit ini. Diberi tanda M0 . Keganasan urogenital dapat terjadi mulai dari ginjal. T diberi tanda T0 . dinilai dengan adanya pembesaran limfonoduli yang mengandung sel-sel ganas. buli-buli. Metastasis pada organ lain juga dapat terjadi dan dapat mengakibatkan gangguan organ tersebut dan memberikan manifestasi klinis pada organ yang terkena. Gejala yang penting dan sering dianggap remeh adalah adanya hematuri yang berulang. tingkat tumor dinyatakan dengan system TNM atau Tomor Nodul Metastasis.M1. M adalah penyebaran secara hematogen ke organ-organ lain yang letaknya berjauhan dari tumor primer. Hematuri ini sering sembuh sendiri sehingga pasien tidak datang untuk berobat dan tumor tetap tumbuh dan membesar serta mengadakan penyebaran terus sehingga pasien biasanya datang dengan stadium yang sudah lanjut. testis dan penis. ureter. Stadium Pengukuran derajat penyebaran tumor diukur dalam stadium tumor menurut UICC ( union International Centre Le Cancere ) atau perhimpunan kanker internasional.

lipoma. Namun sering banyaknya penggunaan USG abdomen sebagai screening di klinik-klinik rawat jalan makin banyak ditemukan tumor ginjal yang masih dalam stadium jinak. TUMOR GINJAL Di rumah sakit merupakan tumor saluran kemih ketiga terbanyak yang ditemukan setelah tumor prostat dan tumor buli-buli. Tumor jinak kortex adalah adenoma. Tumor pada saluran ginjal juga dibagi menjadi jinak dan ganas. Gejala klinisyang mungkin dikeluhkan adalah nyeri pinggang. Tumor ginjal berdasarkan letak dibagi menjadi dua : tumor pada kortex ginjal dan tumor pada system saluran ginjal. epilepsy. Tumor ini sering terjadi pada pasien dengan tuberous sklerosis atau penyakit boumeville yaitu kelainan bawaan yang ditandai dengan retardasi mental. Tumor saluran ginjal jinak adalah pailoma. Untuk mengetahui ganas tidaknya suatu jaringan yang diperiksa. Tumor ini banyak menyerang wanita dewasa daripada pria dengan ratio 4 : 1. Sedangkan tumor ganas saluran ginjal adalah tumor pelvis renalis. Hamartoma ginjal Hamartoma atau angiomiolipoma merupakan tumor yang terdiri dari komponen lemak. Tumor ganas kortex adalah adenokarsinoma dan nefroblastoma. stadium patologi dan derajat diferensiasi tumor untuk menegakkan diagnosis suatu keganasan menggunakan suatu pemeriksaan histopatologis dengan bahan pemeriksaan yang didapat dari biopsy jaringan atau specimen lengkap hasil operasi. Gambaran klinis Pada hamartoma sering tanpa gejala biasanya ditemukan tidak sengaja pada pemeriksaan USG. adenoma sebaseum dan hamartoma. 68 .sitologi yang diperoleh dari FNAB ( Fine Nedlee Aspiration Biopsy ) atau BJAH ( Biopsi Aspirasi Jarum Halus ). onkositoma. hamartoma. Tumor pada kortex ginjal dibagi menjadi jinak dan ganas. jenis histopatologinya. Tumor ginjal jinak lebih jarang ditemukan daripada tumor ganas. pembuluh darah dan otot polos.

hematogen. struma dan epitel. melalui vena kava atau vena renalis atau secara limfogen. Gambaran klinis Biasanya tumor tidak bergejala atau biasanya pasien dibawa ke dokter karena perutnya membuncit karena teraba adanya massa. Diagnosis Hamartoma dapat ditentukan dengan USG yang memberikan gambaran hiperekoik dan dapat pula dikonfirmasi dengan CT scan ampak area dengan densitas negative.5 tahun. Biasanya terjadi unilateral tetapi dapat juga terjadi bilateral. Penyebaran tumor ini dapat terajdi secara ekspansi lokal dengan simpai. Gambaran ini patognomonis untuk hamartoma. Atau dapat pula bersamaan dengan penyakit tuberous sklerosis.gejal obstruksi saluran kemih bagian atas dan kadang terdapat perdarahan retroperitoneal. Biasanya terjadi pada anak-anak dibawah umur 10 tahun dan paling sering terjadi pada anak umur 3. Penatalaksanaan Jika tumor kecil dan tidak mengganggu tidak perlu diobati tetapi jika tumor besar dan mengganggu dilakukan nefrektomi. Nefroblastoma Tumor ini dikenal dengan tumor Wilms yang berasal blastema metanefrik dan terdiri dari blastema. Kadang juga ditemukan hematuri dan hipertensi.hematuri. Tumor terdapat pada ginjal dan dapat di eksisi dengan sempurna 69 . Stadium NWTS ( Natinal Wilm’s Tumor Study ) membagi tingkat penyebaran tumor ( setelah dilakukan nefrektomi ) dalam 5 stadium : I.

Adenokarsinoma ginjal Tumor ini dikenal dengan nama tumor grawitz dan merupakan tumor ganas parenkim ginjal yang berasal dari tubulus proksimal ginjal. V. III. Atau dapat juga foto thoraks untuk mengetahui adanya metastasis karena 85 % metastasis ke paru. Tumor meluas keluar ginkal dan dapat dieksisi sempurna. Pada pemeriksaan dengan IVP tampak adanya gambaran distorsi system pelvikokalises atau mungkin terdapat ginjal non-visualized. Dan teratoma peritoneum. mungkin telah mengadakan penetrasi ke jaringan lemak perirenal. Diagnosis Metastasis hematogen Tumor bilateral Dengan USG ditemukan massa padat pada perut ( retroperitoneal ) sebelah atas. limfonoduli para aorta atau vasa renalis. Biasanya terjadi unilateral.II. Diagnosis banding Hidronefrosis atau kista ginjal yang merupakan benjolan dengan konsistensi kistik. CT scan juga dapat memberi gambaran pembesaran ginjal dan sekaligus menunjukkan pembesaran kelenjar regional atau infiltrasi tumor ke jaringan sekitarnya. Kadang kala diawali dengan pemberian sitostatika dengan kombinasi Actinomycin D dengan Vincristine dan radiasi eksterna karena tumor Wilm’s bersifat radiosensitive. Factor resiko yang paling dekat menyebabkan tumor ini adalah merokok. Tumor ini banyak didapatkan pada pria daripada wanita dengan ratio 2 : 1 dan juga banyak didapatkan pada usia diatas 40 tahun. 70 . Ada sisa sel tumor di abdomen yang mungkin berasal dari : biopsy atau rupture yang terjadi sebelum atau selama operasi IV. Penatalaksanaan Bila tumor masih dalam stadium dini dan ginjal di sebelah kontralateral masih normal dapat dilakukan nefrektomi radikal. Pada neuroblastoma biasanya keadaan pasien lebih buruk dan pada pemeriksaan IVP terjadi pendesakan system kaliks gnjal ke kaudolateral serta kadar VMA dalam urin meningkat sedangkan pada tumor Wilm’s kadar VMA normal. Dan dipastikan dengan pemeriksaan histopatologik.

Stadium III : tumor invasi ke vasa renalis/ v. Gambaran klinis Didapatkan trias klasik yaitu hematuri makroskopik. Penyebaran tumor ini bisa secara langsung menembus simpai ginjal ke jaringan sekitarnay dan melalui pembuuh limfe atau v. kava atau limfonoduli regional. CT scan merupakan pemeriksaan yang mempunyai akurasi tinggi pada karsinoma ginjal dan juga untuk mengetahui penyebaran tumor. Diagnosis Diagnosis ditegakkkan dengan ditemukannya gejala klinis. : Tumor masih terbatas dalam ginjal dengan fasia Gerota masih 71 . anemia karena perdarahan intratumoral. Diagnosis banding Hidronefrosis. Sitostatika juga tidak banyak memberikan manfaat. polikistik ginjal dan tuberculosis ginjal. hiperkalsemia dan gangguan fungsi hati yang non metastatic. pencitraan dengan USG hanya untuk mengetahui massa solid atau tidak. Hormonal dengan memberikan progestagen tetapi efeknya belum diketahui. Radiasi eksterna. nyeri pinggang dan massa di daerah ginjal merupakan tanda tumor dalam stadium lanjut. MRI dan arteriografi selektif juga merupakan pilihan untuk menegakkan diagnosis.Biasanya tumor ini disertai dengan pseudo kapsul yang terdiri atas parenkim ginjal yang tertekan oleh jaringan tumor dan jaringan fibrosa. Stadium II : Tumor ke jaringan lemak perirenal dengan fasia Gerota masih utuh. Stadium Stadium I utuh. dan dengan pemerikasaan histopatologis. hasilnya tidak memuaskan hanya untuk mencegah metastasis karena tumor ini bersifat radioresisten. Penatalaksanaan Nefrektomi radikal yaitu mengangkat ginjal dengan kapsula Gerota.renalis. Kadang ditemukan juga tanda sindroma paraneoplastik seperti polisitemia. Stadium IV : tumor menjalar ke organ sekitarnya / metastasis jauh. Fasia gerota merupakan barier yang menahan penyebaran tumor ke organ sekitarnya. Gejala lain yang Nampak adalah febris. hipertensi. Imunoterapi dengan mengguankan Interferon atau dikombinasi dengan interleukin tetapi hasilnya juga belum diketahui.

2. Menurut jenis histopatologisnya tumor ini dibedakan menjadi dua jenis : 1. Melalui alat uretrorenografi dapat dilihat langsung keadaan pielum. tuberkuloma atau hemangioma pada pielum ginjal. Tumor ini biasanya terdapat pada ureter distal. IVP berguna untuk menemukan tumor ini dengan terlihat adanya filling defect dan tampak gambaran massa radiolusen. Angka kejadian tumor ini sangat jarang sekitar 1 % dari seluruh tumor urogenitalia. Gambaran klinis Yang sering dikeluhkan pasien adalah kencing darah ( 80 % ). Penatalaksanaan Nefrouretrektomi dilakukan dengan mengangkat sebagian dinding buli-buli sekitar muara ureter yang bersnagkutan. Lebih dari 10 % pasien ini tidak pernah 72 . Karsinoma sel trantitional. Pemeriksaan sitologi urin dengan mengambil urin melalui kateter ureter. Gambaran klinis Gejala yang sering dikeluhkan adalah nyeri pinggang. lalu dapat menggunakan USG dan CT scan untuk dapat membedakan apakah massa tersebut batu. buli-buli. yang juga dapat menyerang ureter. Untuk tumor yang sudah menyebar.Tumor pelvis renalis Tumor ini sangat jarang ditemukan. uretra proksimal karena pada organ tersebut juga terdapat sel transtitional. kemoterapi dengan cisplastin merupakan cara pengobatan yang dianjurkan. Kadang disertai juga nyeri pinggang dan teraba massa di pinggang. Jika dicurigai ada massa maka dilakukan pemeriksaan histopatologi. hematuri kambuhan atau gejala dari obstruksi oleh tumor. TUMOR URETER Hampir semua tumor ureter adalah karsinoma sel transtitional. Karsinoma sel skuamosa. biasanya merupakan metaplasia sel-sel pelvis renalis karena adanya batu yang menahun pada pelvis. Tumor ini kurang memberikan respon dengan pemberian sitostatika dan dengan radiasi eksterna. Diagnosis Diagnosis dapat ditegakkkan dengan ditemukannya gejala klinis. Keadaan tersebut akibat adanya bendungan akibat tumor sehingga menjadi hidronefrosis.

( resiko meningkat 2-6 kali dari yang tidak merokok ). Pada daerah industry tingkat kejadian meningkat tajam. Bentuk tumor buli-buli : papiller. Tumor ini dua kali lebih banyak pada pria daripada wanita. pabrik kulit. pemanis buatan. tekstil. perokok. Menghasilkan zat nitrosamine yang karsinogenik ). fenasetin. ISK ( E. IVP berguna untuk menemukan tumor ini dengan terlihat adanya filling defect di dalam lumen ureter. penggunaan obat seperti siklofosfamid. Untuk tumor yang terdapt pada distal ureter dapat dilakukan reseksi parsial ureter dan muaranya di kandung kemih serta neoureterovesikostomi. makanan dan obat-obatan ( kebiasaan mengkonsumsi kopi. laboratorium.coli dan proteus sp. ureter berada di cuff buli-buli sebanyak 2 cm di sekeliling muara ureter. Penatalaksanaan Nefroureterektomi dengan mengangkat ginjal. salon sering terpapar bahan karsinogen berupa senyawa amin aromatic ). Pada kelainan jinak sel epitel atipik atau dysplasia mengalami hiperplasi tanpa perubahan 73 .mengeluh dan tumor diketemukan secara tidak sengaja pada saat screening dengan USG atau pada pemeriksaan IVP. Fktor resiko yang mempermudah terjadinya karsinoma buli-buli adalah : pekerjaan ( pekerja di pabrik kimia. Sitologi urin diambil urine dengan memakai kateter uretre dan kadang dilakukan biopsy dengan alat brush biopsy. Diagnosis Diagnosis dapat ditegakkan dengan ditemukannya gejala klinis. Pemakaian uretroskopi lebih dianjurkan untuk melihat langsung tumor dan sekaligus melakukan biopsy. TUMOR BULI-BULI Tumor ini merupakan keganasan kedua terbanayk pada system urogenital setelah karsinoma prostat. kadang terdapat hidronefrosis atau ginjal non visualized dan dalam keadaan ini dilakukan pemeriksaan pielografi retrograde. otot. lemak perivesika lalu kemudian menyebar langsung ke jaringan sekitar dengan limfogen atau hematogen. non-invasive ( in-situ ). opium dan INH dalam jangka lama juga meningkatkan resiko ).tumor ganas ini berkembang dari epitel yang atipik atau dysplasia yang berupa lesi yang mengalami proliferasi dan mengalamai infiltrasi ke lamina propria. noduler ( infiltrative ) atau campuran ( papiller dan infiltrative ).

sel atau inti. Pada sistography dan IVP tampak filling defect dalam kandung kemih. Diagnosis Selain melihat dari gambaran klinisnya pemeriksaan bimanual sangat berguna untuk menentukan infiltrasi. membuat anastomosis kedua ureter kedalam sigmoid. parsial atau total bila penyebaran karsinoma telah sampai otot vesika. Penatalaksanaan Tindakan endoskopik merupakan terapi baku karsinoma bili-buli melalui reseksi transurethral ( TUR buli-buli ). Jika dilakukan sistektomi radikal maka selanjutnya aliran urin dari ureter dilakukan melalui beberapa cara diversi urin. 5 FU. Cara ini tidak banyak dipakai lagi karena menimbulkan bnayak penyulit. Pemeriksaan sitologi urin untuk memeriksa sel-sel urotelium yang terlepas bersama urin. sedangkan jenis lainnya karsinoma sel skuamosa ( 10 % ) dan adenokarsinoma ( 2 % ). Dilakukan juga terapi adjuvant dengan kemoterapi sistemik. Pemeriksaan antigen permukaan sel dan flow cytometri berguna untuk mendeteksi adanya kelainan kromoso sel-sel uretelium. tidak dapat menahan kemih dan polakisuri pada karsinoma in situ yang sudah mengadakan infiltrasi luas. BCG. Kadang terdapat gejala iritasi seperti disuria. Lalu dilakukan kemoterapi secara intravesikal dengan memberikan obat-obat Mitomisin C. Gambaran klinis Perlu diwaspadai jika pasien datang dengan mengeluh hematuri yang bersifat tanpa rasa nyeri ( painless ). Siklofosfamid. CT scan dan MRI berguna untuk menentukan ekstensi tumor ke organ sekitarnay dan dipastikan dengan pemeriksaan histopatologi untuk jaringan tumor. 74 . Doksorubisin atau dengan interferon. kambuhan ( intermiten ) dan terjadi pada seluruh miksi ( hematuri total ). Keluhan akibat penyakit yang lanjut seperti obstruksi saluran kemih karena retensi bekuan darah atau edema tungkai karena adanya penekanan kelenjat limfe oleh massa tumor. Secara histopatologis sebagian besar tumor ini adalah karsinoma sel transisional ( 90 % ). Dilakukan pembedahan dengan cara sistektomi radikal. Jika didapatkan hidroureter dan hidronefrosis merupakan salah satu tanda adanya infiltrasi tumor ke ureter atau muara ureter. antara lain : 1. Uretrosigmoidostomi. Radiasi eksterna dilakukan setelah TUR buli-buli atau setelah sistektomi.

daging merah dan hati diduga meningkatkan kejadian kanker prostat. Beberapa faktor yang diduga sebagai penyebab timbulnya karsinoma prostat adalah predisposisis genetika. Tumor ini menyerang pada usiadiatas usia 50 tahun. urin lalu dikeluarkan dengan melakukan kateterisasi mandiri melalui stoma secara berkala. Kanker ini jarang menyerang pada usia dibawah 45 tahun. betakaroten. membuat neoblader dari segmen usus halus yang kemudian dilakukan anastomosis dengan uretra. karena berkemih tetap melalui uretra dan tidak melalyui stoma yang dipasang di abdomen. penegakkan diagnosis yang lebih baik dan kewaspadaan tiap-tiap individu mengenai keganasan ini menjadi meningkat karena adanya informasi mengenai di berbagai media. selenium ( yang terdapat pada ikan laut. Diversi urin orthotopic. 3. Karsinoma prostat sering terjadi pada zona perifer ( 75 % ) dan pada zona sentral dan transtitional ( 20 % ). Derajat keganasan pada 75 . sitologi urin dan sistoskopi. mengganti buli-buli dengan ileum sebagai penampang urin. Conduit usus. TUMOR PROSTAT Merupakan keganasan urogenital yang terbanyak. Cara ini kurang praktis jadi saat ini jarang digunakan. pengaruh kebiasaan hidup sehari hari. Kemungkinan menderita karsinoma prostat meningkat jika dalam keluarganya ada yang menderita tumor ini. 4.2. mengganti buli-buli dengan segmen ileum dengan membuat stoma yang kontinen ( dapt menahan urin pada volume tertentu ). hormonal. Sedangkan vitamin A. Diversi urin kontinen. susu binatang. isoflavon atau fitosterol pada kedelai. Insidens ini akhir-akhir ini meningkat karena meningkatnya umur harapan hidup. Teknik ini dirasa lebih fisiologis untuk pasien. daging dan biji-bijian ) dan vitamin E di duga dapat menurunkan insidens kanker prostat. lingkungan dan infeksi. Biasanya karsinoma ini berupa lesi multisentrik. Semua pasien buli-buli harus melakukan pemeriksaan secara berkala dan secara rutin dilakukan pemeriksaan klinis. sedangkan untuk mengeluarkan urin dipasang kateter menetap melalui sebuah stoma. Diet yang mengandung banyak lemak. likofen pada tomat. Keganasan prostat ini biasanya merupakan adenokarsinoma yang berasal dari kelenjar prostat yang hipotrofik pada usia decade kelima sampai ketujuh. diet.

Untuk keganasan prostat dikenal dengan petanda tumor fosfatase asam prostat ( PAP ) dan Antigen khas prostat ( Prostate Spesific Antigen ) yang sensitivitasnya 76 .tumor ini berdasarkan atas diferensiasi sel. Jika dicurigai ada daerah hipoekoik selanjutnya dilakukan biopsy transrectal pada area tersebut dengan bimbingan TRUS. Diagnosis pasti hanya dengan pemeriksaan patologik. pemeriksan fisik yang penting adalah colok dubur. Walaupun jarng. atipik sel dan kelainan inti sel. Sediaan biopsy dapat diperoleh dengan menggunakan jarum biopsy besar secara transrectal atau transperineal. Penyebaran secara limfogen melalui kelenjar limfe melalui kelnjar limfe daerah pelvis menuju kelenjar limfe retroperitoneal. Lebih dari 10 % pasien mengeluh adanya gangguan saluran kemih berupa kesulitan miksi. G II yang berdiferensiasi sedang dan G III yang berdiferensiasi buruk. CT scan dapat untuk mengetahui adanya metastasis. Kanker prostat yang sudah metastasis ke tulang menyebabkan nyeri pada tulang. kanker juga dapat menekan rectum sehingga mengeluh kesulitan BAB. Tumor yang berada pada kelenjar prostat tumbuh menembus kapsul prostat dan mengadakan infiltrasi ke organ sekitarnya. dan otak. Pembagian derajat keganasan ini merupakan indicator pertumbuhan daan progesifitas tumor. Metastasis ke tulang umumnya bersifat osteoblastik. Kebanyakan penderita datang pada stadium lamjut dengan tanda obstruksi atau tanda metastasis ke organ lain. kosta. Pada stadium dini sulit dideteksi sengan colok dubur sehingga untuk mendiagnosa dibantu dengan ultrasonography transrectal ( TRUS ).lumbalis. MRI lebih akurat dalam menentukan ekstensi tumor ke ekstrakapsuler atau ke vesikula seminalis. disuri atau hematuri yang menunjukkan bahwa kankaer telah menekan uretra. Diagnosis Selain melihat dari gejala klinisnya. Derajat G I yaitu berdiferensiasi baik. fraktur pada tempat metastasis atau kelainan neurologic jika metastasis ke tulang vertebra. v. Gambaran klinis Pada kanker prostat dini biasanya belum menunjukkan gejala apa-apa. hepar. Cara lain untuk mendapatkan bahan pemeriksaan adalah dengan aspirasi jarum halus ( fine needle aspiration = FNA ). Kanker pada stadium dini biasanya diketahui pada saat colok dubur berupa nodul keras pada prostat atau secara kebetulan diketemukan adanya peningkatan PSA ( Prostate Specific Antigen ) pada saat pemeriksaan laboratorium. paru.

trauma testis. Radiasi dilakukan untuk pasien tua dan tumor yang telah mengadakan metastasis. tetapi terdapat beberapa factor yang meningkatkan insidens terjadinya tumor ini. Pada stadium yang masih dini dilakukan observasi seumur hidup.tinggi dan spesifisitasnya tidak terlalu tinggi. Selain untuk keperluan diagnosis. derajat diferensiasinya dan umur harapan hidup. Pemberian radiasi biasanya didahului dengan limfadektomi dan dengan cara terapi hormonal. 77 . Sifat seminoma berbeda dengan non seminoma antara lain derajat keganasannya. hanya pada operasi ini dapat terjadi penyulit seperti perdarahan. yaitu : maldesensus testis. sel sertoli dan gonadoblastoma. tetap lebih tinggi dibandingkan PAP. Tumor non germinal diantaranya adalah tumor sel leydig. PSA kadang juga meninggi pada hipertrofi prostat dan peninggian ini proporsional dengan berat jaringan prostat. Jadi pada terapi ini dilakukan dengan pemberian obat untuk melakukan blockade androgen total. Prostatektomi radikal dilakukan pada stadium T1-2N0M0 dengan mengangkat seluruh prostat dan vesikula seminalis. TUMOR TESTIS Tumor ini merupakan keganasan terbanyak pada pria yang berusia 15-35 tahun dan merupakan 1-2 % semua neoplasma pada pria. respons terhadap radiasi dan prognosisnya. Pada metastasis tulang kadar PSA darah meningkat. disfungsi ereksi dan inkontinensia. Tetapi dengan tekhnik nerve sparring dapat dicegah terjadinya penyulit. Penatalaksanaan Tindakan yang dilakukan tergantung daripada stsium. tetapi berdasarkan teori dari hugin’s yaitu : “ sel epitel prostat akan mengalami atrofi jika sumber androgen ditiadakan. Penyebab tumor belum diketahui pasti. Perbaikan pada pasien ini sekarang menjadi lebih baik karena etrdapat sarana diagnosis yang lebih baik karena terdapat sarana diagmosis yang lebih baik dan diketemukan patanda tumor serta tekhnik pembedahan yang lebih baik. atrofi atau infeksi testis dan pengaruh hormone. PSA dapat digunakan untuk mengikuti perkembangan penyakit atau hasil pengobatan. Sebagian bear tumor ini berasal dari sel germinal ( 95 % ) yang terdiri atas seminoma dan non seminoma sedangkan isinya berasal dari non germinal.

CT scan digunakan untuk menentukan ada tidaknya metastase pada retroperitoneum. tidak nyeri pada palpasi dan tidak menunjukkan tanda transiluminasi. Gambaran klinis Pasien biasanya mengeluh adanya pembesaran pada testis yang biasanya tidak nyeri. Pada pemeriksaan fisik testis terdapat benjolan keras. penentuan stadium tumor. Pemberian sitostatika terlebih dahulu diharapkan terjadi downstaging dan ukuran tumor akan mengecil. Biopsy atau pendekatan trans-skrotal tidak diperbolehkan karena bisa sel-sel tumor bisa menyebar. teratokarsinoma atau tumor yolk sack tetapi tidak pada tumor karsinoma murni dan seminoma murni. karena itu bahan untuk pemeriksaan di ambil dengan orkidektomi dengan pendekatan inguinal.Tumor testis pada mulanya berupa lesi intratestikular yang akhirnya mengenai seluruh parenkim testis dan kemudian menyebar ke rete testis. monitoring respon pengobatan dan sebagai indicator prognosis tumor testis. Sehingga jika tunika ini rusak peluang sel-sel tumor untuk menyebar lebih besar. epididimis. Dari hasil pemeriksaan patologi dapat dibedakan jenis seminoma atau nonseminoma. Perhatikan adnya infiltrasi tumor pada funikulus atau epididimis. Diagnosis USG dapat membedakan lesi intra testikular atau ekstra testikuler dan massa padat atau kistik. penatalaksanaan pada dugaan tumor testis tidak boleh dilakukan biopsy testis. 78 . MRI digunakan untuk mnegetahui luas ekstensi tumor testis. pasien karsinoma embrional dan seminoma murni. Penanda tumor juga berguna untuk membantu diagnosis. Tunika albugenia merupakan barier bagi perjalanan tumor ke organ lain. funikulus spermatikus atau bahkan ke kulit skrotum. Penanda yang paling sering diperiksa adalah AFP ( alfa feto protein ) biasa meningkat pada karsinoma embrional. Pada jenis seminoma responnya sangat baik terhadap radiasi sedangkan jenis non-seminoma tidak sensitive sehingga dilakukan pembersihan kelenjar retroperitoneal atau retroperitoneal lymphonode dissection ( RPLND ). HCG ( Hman Chorionic Gonadotropin ) biasa meningkat pada semua pasien koriokarsinoma. padat.

takut dan merasa berdosa karena mengalami penyakit seperti itu. Diagnosis Tidak ada pemeriksaan laboratorium yang khas. Gambaran klinis Biasanya pasien datng terlambat karena malu. berbau dan serimg mengalami infeksi. mencegah kekambuhan dan mempertahankan penis agar dapat miksi dengan berdiri atau dapat melakukan senggama.TUMOR PENIS Tumor ganas ini terdiri dari karsinoma sel basal. lesi eksofitik. dengan kemoterapi dengan krim 5 FU ( untuk tumor in-situ atau eritroplasia Queryat ) dan dengan radiasi eksterna. Penatalaksanaan Pengelolaan tumor ini dibagi menjadi dua tahap. terapi laser dengan Nd : YAG. lesi datar atau lesi ulseratif. Kadang didapatkan pembesaran kelenjat limfe inguinal yang nyeri karena infeksi atau pembesaran kelenjar limfe subklavia. Tumor kemudian mengadakan invasi limfogen ke kelenjar limfe inguinal dan selanjutnya menyebar ke kelenjar limfe di daerah pelvis hingga subklavia. tumor mesenkim dan yang paling sering adalah karsinoma sel skuamosa. Karsinoma sel skuamosa ini berasal dari kulit preputium. Tindakan yang dapat dilakukan adalah sirkumsisi ( jika tomor terbatas pad preputium ). Diagnosis ditegakkan melalui pemeriksaan patologi dan biopsy pada lesi primer. Karsinoma penis pada stadium awal berupa bentukan tumor papiler. penektomi total dan uretrostoi perineal ( untuk tumor batang sebelah proksimal ). yang pertama ditujukan pada tumor primer yang bertujuan menghilangkan tumor secara paripurna. pemeriksaan pencitraan dibutuhkan untuk menentukan penyebaran ke organ lain. melanoma. ulserasi serta perdarahan. Fasia Buck berfungsi sebagai barier dan jika fasia ini telah terinfiltrasi oleh tumor sel kanker menjadi lebih mudah mengadakan invasi hematogen. FaKtor penyebab utama adalah rangsangan lama seperti balanoprostitis kronik pada fimosis. Lesi primer berupa tumor yang kotor. glans dan batang penis. Sirkumsisi pada masa anak dapat memperkecil terjadinya karsinoma pada kemudian hari. penektomi parsial ( jika tumor terbatas pada glans atau batang sebelah distal ). Tahap yang kedua ditujukan terhadap metastasis pada kelenjar limfe inguinal dengan cara pemberian antibiotic setelah operasi pada lesi primer jika klenjar masih tetap ada 79 .

hal. Penerbit Buku Kedokteran EGC.186 5. 161 .Brawijaya. CV. in : dasar-dasar urologi FK univ.dilakukan diseksi kelenjar. Jong Wim de. Jakarta. Sagung seto. Jakarta. Purnomo B Basuki. Bila kelenjar terlalu besar sehingga inoperable ( tidak bisa diangkat ) maka dapat dicoba pemberia sitostatika atau radiasi paliatif dengan harapan ukurannya mengecil. DAFTAR PUSTAKA 4. 2nd ed. Sjamsuhidajat R. Edisi revisi. Buku Ajar Ilmu Bedah. 774 – 790 80 . 2003. hal. 1997.

5% sampai dengan 21% dari populasi. Penelitian menunjukkan bahwa sekitar 9% sampai 18% dari individu normal dapat mempunyai gejala hematuria dalam tingkat tertentu.HEMATURIA Hematuria adalah suatu keadaan dimana terdapat sel darah merah pada urine. Pada banyak pasien tidak ditemukan penyebab hematuria yang spesifik. ataupun keganasan pada traktus urinarius. radiasi. Hematuria dapat berasal dari bagian manapun di sepanjang traktus uriarius. Dibawah ini adalah beberapa penyebab hematuria yang tersering: ● Kanker kandung kemih ● Kanker ginjal ● Kanker prostat ● Kanker ureter ● Kanker urethra ● Batu traktus urinarius ● Infeksi traktus urinarius 81 . pemakaian obat-obat penghilang rasa sakit secara berlebihan.tersebut termasuk merokok. Microscopic hematuria biasanya secara tidak sengaja ditemukan pada saat dilakukan pemeriksaan urim rutin sedangkan gross hematuri biasanya membawa pasien datang berobat. Hematuria dapat dibagi menjadi dua yaitu “gross” ( dimana jumlah sel darah merah yang terdapat di urine berjumlah banyak dan dapat terlihat dengan mata telanjang) dan “microscopic” ( dimana jumlah sel darah merah yang terdapat di urine sedikit dan hanya dapat dilihat dengan mikroskop. Diperkirakan hematuria timbul pada 2. kandung kencing. dan urethra. prostat. Faktorfaktor resiko yang dapat meyebabkan timbulnya penyakit. Etiologi Adanya sel darah merah dala urine tidak selalu merupakan tanda dari adanya penyakit yang serius. dan terpapar dengan zat kimia tertentu. hematuria dapat menjadi tanda untuk infeksi. batu. walaupun begitu. Tetapi hematuria dapat menjadi tanda dari kondisi medis yang sangat penting yang memerlukan penaganan segera. termasuk ginjal. ureter.

Pemeriksaan radiologi ginjal dan ureter perlu dilakukan untuk mendeteksi adanya massa pada ginjal. Pasien-pasien dengan jumlah protein yang bermakna dalam urine. atau hasil pemeriksaan kreatinin yang tidak normal harus menjalani pemeriksaan penyakit ginjal yang lebih lanjut. Jumlah sel darah merah dalam lapang pandang besar dan bentuk sel darah merah harus diperhatikan. Kelemahan IVP adalah sering tidak dapat mendeteksi massa ginjal yang kecil. Pemeriksaan laboratorium yang dianjurkan adalah urinalisa dan pemeriksaan sedimen urin. Hal ini dapat membantu untuk memperkirakan asal perdarahan. Pemeriksaan ureum kreatinin darah juga perlu dilakukan untuk menilai fungsi ginjal. Untuk pasien dengan lekosit pada urine nya harus dilakukan kultur urin. Pemeriksaan sitologi pada urine juga perlu dilakukan untuk mencari adanya sel-sel abnormal pada urine. Untuk pasien dengan peningkatan kadar kreatinin dalam darah atau pasien yang alergi terhadap kontras dapat dilakukan pemeriksaan MRI atau pielografi retrograd untuk menilai traktus urinarius bagian atas. Harus dicari tanda-tanda penyakit ginjal (salah satunya proteinuria) Dan tanda-tanda infeksi saluran kemih. Pemeriksaan radiologi yang paling sering dilakukan adalh IVP. bentuk sel darah merah yang abnormal. tumor ureter dan batu pada traktus urinarius. Pemeriksaan ini biasanya digabung dengan USG ginjal.● Pielonefritis ● Benign Prostatic Hypertrophy ● Penyakit ginjal ● Radiasi atau cystitis yang di induksi oleh zat kimia ● Trauma traktus urinarius ● Prostatitis Diagnosis Setiap pasien dengan gross hematuria atau mikroskopik hematuria yang bermakna harus di evaluasi lebih lanjut. Langkah pertama dalah anannesa riwayat perjalanan penyakit dan pemeriksaan fisik yang teliti. Yang dilakukan dengan menyuntikkan kontras pada pembuluh darah kemudian dilakukan beberapa kali foto Rontgen selama ginjal mengeksresikan kontras tersebut. Cara lain yang lebih baik untuk mendeteksi massa pada ginjal atau batu pada traktus urinarius adalah menggunakan CT scan. 82 .

83 .Kelemahan dari pemerikasaan-pemeriksaan di atas adalah ketidakmampuan untuk secara teliti memeriksa kandung kencing. Melalui cytoscopy dokter dapat memeriksa keadaan bagian dalam urethra dan kandung kencing. Dalam ha ini perlu dilakukan cytoscopy.

Anatomi Saluran kemih Pada wanita Pada Pria 84 .Retensi urin bisa disebabkan oleh berbagai macam penyebab sehingga ini bukan merupakan suatu diagnosa pasti melaikan hanya gejala.kesembuhan hanya bisa didapat dengan menghilangkan penyebab utamanya.Sehingga menimbulkan keadaan yang tidak nyaman dari pasien dan ini merupakan suatu kegawat daruratan yang sering terjadi.RETENSI URIN Definisi Retensio urine adalah suatu sindroma klinis urologi dimana trejadi penumpukan urine didalam kandung kemih karena tidak dapat berkemih sehingga kapasitas maksimal buli terlampaui.Pertolongan diberikan hanya bersifat sementara.

Pengosongan terjadi melalui kontraksi otot-otot ding-ding kantung kemih yang terjadi melalui refleks berkemih. Urin diproduksi pada ginjal dan dialirkan melalui ureter kedalam kantung kemih sebagai tempat penampungan sementara sebelum diekskresi keluar tubuh.Disebelah depan dari rectum. Etiologi Retensi urin 85 .Ketika rangsang regang telah menurun otot-otot mengalami relaksasi kembali Pada wanita urin langsung dikeluarkan melalui uretra menuju orificium uretra eksternum .hal ini memicu refleks spinal (refleks miksi )yang berkerja secara parasimpatis.5-1ml/KgBB/Jam sehingga jika berat badan orang dewasa 70 diakan menghasilkan urin minimal 840-1680ml dan mengakibakan dalam keadaan normal miksi sekitar 3 s/d 4 x/hari.kapasitasnya 300-400ml. Kantung kemih merupakan kantung berselimut otot-otot yang terdapat pada rongga pelvis dibelakang simpisis pubis.Impuls yang dihasilkan menghantarkan balik respon kepada otot-otot dingding luar yang membungkus kantung kemih sehingga berkontraksi untuk mengosongkan kantung kemih.pars spongiosa baru mencapai orificium uretra eksternum.rangsang ini dikirim sebagai impuls saraf kesaraf sepinal dan mencapai pusat dari miksi yang terdapat pada segmen S2 dan S3 .Pertama-tama tekanan yang dihasilkan oleh urin menyebabkan aktivasi reseptor regangan pada ding-ding dalam kantung kemih .Sedangkan pada pria uretra sendiri terbagi atas uretra pars prostatika .Sedangkan produksi urin oleh ginjal sekitar 0.Anatomi dan Fisiologi Kantung kemih.pars membrabnasea.pada wanita terdapat didepan dari vagina dan dibelakang dari uterus.Impuls ini juga menuju otot-otot dingding luar uretra sehingga relaksasi agar urin dapat keluar.Kantung kemih meregang jika telah terisi urin dari ginjal.

Dari mekanisme kerja kantung kemih serta perjalanan system ekskresi baik pada wanita maupun pria ini dapat menimbulkan kelainan/sumbatan yang menghambat terjadinya pengeluaran urin. Fibrosis Infeksi saluran kemih Pada pria bisa disebabkan karena : Kelaina Intra Vesika Sumbatan akibat batu intra vesika Sumbatan akibat tumor intra vesika Sumbatan akibat gumpalan darah Kontraktur bladder neck Hipertrofi bladder neck Kelainan Neurogenik Kerusakan pusat miksi S2-S4 setinggi T12-L1 Kelainan jaras serabut sensoris parasimpatis kepusat miksi dan penghantaran serpon impuls ke otot detunsor Kelainan Miogenik Kelemahan otot-otot detunsor sehingga kontraksi tidak 86 . Inkoordinasi antara otot detunsor dengan otot uretra pada pasien cidera kauda ekuina Kelainan Uretra Striktura Trauma.Sehingga menyebabkan keadaan yang disebut retensi urin. Fistula. Ruptura. Pada wanita bisa disebabkan karena : Kelainan Intra Vesika Sumbatan akibat batu intra vesika Sumbatan akibat tumor intra vesika Sumbatan akibat gumpalan darah Kontraktur bladder neck Hipertrofi bladder neck Kelainan Neurogenik Kerusakan pusat miksi S2-S4 setinggi T12-L1 Kelainan jaras serabut sensoris parasimpatis kepusat miksi dan penghantaran serpon impuls ke otot detunsor Kelainan Miogenik Kelemahan otot-otot detunsor sehingga kontraksi tidak adekuat.

Perubahan vesica. Back pressure berserta relux menyebabkan kerusakan ginjal menjadi lebih cepat. Keadaan tersebut menyebabkan mekanisme back pressure terhadap kedua ginjal.adekuat. 2. Inkoordinasi antara otot detunsor dengan otot uretra pada pasien cidera kauda ekuina Kelainan Uretra Pembesaran portat sehingga menghambat aliran diuretra pars prosstatika (BPH/Ca-prostat/Kista) Striktura Trauma. 4. Pada kompensasi akan menyebabkan hipertrofi otot detrusor dan hipertofi otot trigonum. Hidronefrosis ada tiga tingkat. Perubahan pelviocalices. dan terjadi peregangan yang menyebab kan retensio urine. sehingga vasa arcuata terjepit dan akan menjadi atrofi iskemik. Pada dekompensasi terjadi melemahnya otot detrusor yang akan menjadi atoni sehingga terjadi retensio urine ( parsial atau total ). dapat terjadi kompensasi dan dekompensasi. namun nantinya akan terjadi dekompensasi. 5. Merupakan akibat dari distensi peliviocalices. Pada hipertrofi trigonum terjadi obstruksi sekunder ureter intravesical. keadaan diatas akan berlanjut menjadi hidronefrosis. 3. yaitu dilatasi pelviocalices. papilae mendatar. Perubahan ureter. Infeksi saluran kemih Batu uretra Divertikulum Fimosis/Parafimosis Kelainan muara uretra Ulkus/Tumor penis Patogenesa dan Komplikasi 1. Perubahan parenkim ginjal. 87 . ureter akan melebar dan memanjang. Fistula. calices minor melembung. pada mulanya ureter masih dapat mengadakan kompensasi. Ruptura. Jika retensio tersebut berlangsung dalam jangka waktu yang lama maka akan terjadi dekompensasi U-V junction dan menyebabkan reflux. yang nantinya akan manjadi atonia. Perubahan urethra karena adanya lesi proximal yang menyebabkan dilatasi. yang akan menyebabkan fungsi ginjal berkurang.

Penyebab harus diketahui dengan cepat agar keadaan cepat ditangan. 88 .Jika kateter tidak berhasil dapat dilakukan cystostomia dengan abocath sampai vesica kosong.Gejala Klinis Retensi Totalis  Sama sekali tidak dapat miksi  Gelisah  Sakit suprasimfisis  Mengejan  Overflow inkontinentia.Pengosongan dilakukan dengan pemasangan kateter sebagai pertolongan pertama kepada pasien agar tidak menimbulkan gejala komplikasi lainya.musti melakukan pemeriksaan secara menyeluruh.incontinentia paradoxal Diagnosis  Pada pemeriksaan fisik : VU mengembang (dengan palpasi disekitar pubikum)  Balottemen positif pada VU  Dapat dilakukan Rektal Taucher untuk menggetahui apakah ada pembesara prostat Pemeriksaan penujang Rontgen:Photo BNO-IVU USG buli-buli USG Prostat Sistografi Uretrografi Terapi Untuk penanganan setelah diagnosa retensio urine total maka harus dilakukan drainage dengan pemasangan kateter untuk mengosongkan kandung kemih dan mencari causanya secara pasti.

1. Kateter Foley. Purnomo. Dasar dasar Urologi. C.emedicine. E.BB. Editor.com 89 . 479-481. Retensio Urin. Penerbit EGC. 2. Lumen. B.Gambar diatas menunjukkan berbagai macam kateter. Balon. 4. Jakarta.R. Sabiston. Buku Ajar Bedah Bagian 2. D. alih bahasa: Andrianto. Editor Ronardy DH. Kateter Tienmann. Edisi Kedua. De Jong. Jakarta. Sjamsuhidajat. Saluran untuk mengisi balon. Kateter Malecot. Edisi Revisi. Cetakan Pertama. 69-85.W.1997. 3. 1058-1064. 3.P. Kateter de Pezzer. A. DC. Ukuran Cahrriere DAFTAR PUSTAKA 1. 2. Pererbit CV Sagung Seto. Jakarta 2003. Penerbit EGC.1994. Buku Ajar Ilmu Bedah.

Infertilitas pada Pria Etiologi Pre Testikuler Kelainan pada hipotalamus o Defisiensi hormon gondotropin yaitu LH. gangguan emisi dan gangguan ejakulasi kelainan fungsi dan motilitas sperma o kelainan bawaan ekor sperma o gangguan maturasi sperma o kelainan imunologik o infeksi 90 . radiasi o Orkitis o Trauma testis o Penyakit sistemik : gagal ginjal. dan FSH Kelainan pada hipofisis o Insufisiensi hipofisis oleh karena tumor. radiasi atau operasi o Hiperprolaktinemia o Hemokromatosis o Substitusi/terapi hormone yang berlebihan Testikuler o Anomaly kromososm o Anorkhismus bilateral o Gonadoktosin : obat-obatan. anemi bulan sabit o Kriptorkismus o varikokel Pasca Testikuler Gangguan transportasi sperma o congenital bilateral absent of the vas deferens (CBAVD) o obstruksi vas deferens/epididimis akibat infeksi atau vasektomi o disfungsi ereksi. gagal hepar.

penyakit sistemik (DM. dan reflex bulbokavernosus Pemeriksaan penunjang: 1. fungsi tiroid). riwayat operasi: pasca herniorafi. sering menderita episode febris. pekerjaan dan kebiasaan: perokok. keadaan testis (jumlah. mump. colok dubur: menilai pembesaran/nyeri prostat. anosmia. Anamnesis: 1. penyempitan lapang pandang (visual field) 2. epididimitis. riwayat seksual  libido/potensi seksual. penggunaan lubrikan pada saat senggama 2. analisis semen 2. ukuran. orkidopeksi.Evaluasi dan Diagnosis Evaluasi dari pihak pria meliputi anamnesis. trauma. frekuensi senggama. keadaan versikula seminalis. pemeriksaan fisik. ISK. vas deferens menebal atau tak teraba. torsio testis b. gangguan faal ginjal. riwayat penyakit dahulu a. alkohol. hipospadi atau pemnyempitan muara uretra 3. pemeriksaan genitalia jaringan parut (bekas herniotomi atau bekas orkidopeksi/orkidodektomi). pembedahan pada retroperitoneal d. uji fungsi sperma 91 . pemeriksaan fisik umum: fisik tubuh kekar. varikokel. galaktore. faal liver. dan pemeriksaan penunjang. terpapar oleh radiasi. riwayat reproduksi pasangannya (fertil) Pemeriksaan fisik 1. biopsi testis 5. ginekomasti. laboratorium. pestisida 3. dan konsistensi). pemeriksaan imunologik 4. pemeriksaan hormon 3. riwayat pemakaian obat-obatan jangka lama: marijuana dan steroid c.

koreksi terhadap penyebab kerusakan testis. adenomektomi hipofisis pada adenoma hipofisis 2. kemudian diberikan hormon Human Chorionic Gonadotropin (HCG). infeksi. reaksi imunologik antibody antisperma. Adanya antibodi antisperma yag didapatkan pada pemeriksaan imunologik dapat dicoba dengan pemberian kortikosteroid. Melalui teknik bedah mikroskopik angka keberhasilan penyambungan vas deferens (yang ditandai dengan terdapatnya sperna pada ejakulat) ± 80-90 % sedangkan angka keberhasilan fungsional (pasangan menjadi hamil) ± 50-60% 4. Sedangkan pada pembuntuan yang lebih proximal yaitu pada epididimis dilakukan penyambungan epididimo-vasostomi yaitu penyambungan epididimis dengan vas deferens. dan koreksi saluran yang membuntu penyaluran sperma. jika terdapat pembutuan pada vas deferens karena infeksi atau setelah menjalani vasektomi dilakukan penyambungan kembali vas deferens atau vaso vasostomi. Tindakan itu dapat berupa: 1. Ejakulasi retrograd dapat diberikan golongan adrenergik alfa atau trisiklik antidepresan (imipramin) yang dapat menyebabkan kontraksi leher ke buli pada saat emisi sperma pada uretra posterior. 92 . Pada hipogonadotropik-hipogonadismus (hipogonadismus sekunder) dapat dicoba diberikan LH untuk merangsang sel Leydig memproduksi testosteron. dan ejakulasi retrograde. pembuntuan pada duktus ejakulatorius dilakukan reseksi transuretral. Pembedahan Usaha pembedahan yang dilakukan ditujukan pada tempat kelainan penyebab infertilitas yaitu operasi pada organ pre testikulaer.Terapi Medikamentosa Kelainan-kelainan yang mungkin masih dapat dikoreksi secara medikamentosa adalah : defisiensi hormone. varikokel yang dapat menyebabkan terjadinya kerusakan pada spermatogonium dilakukan operasi vasoligasi tinggi atau varikokelektomi 3.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful