Daftar Isi

1. Daftar Isi ...............................................................................................1 2. infeksi saluran kemih ............................................................................5 3. batu saluran kemih ................................................................................14 4. Benign Prostat Hipertrofi ......................................................................33 5. Trauma Urogenital ................................................................................38 6. Hidrokel ................................................................................................45 7. Varikokel...............................................................................................48 8. Torsio Testis..........................................................................................56 9. Strikture Uretra .....................................................................................59 10. Tumor Urogenital..................................................................................68 11. Hematuria ..............................................................................................82 12. Retensi Urin Akut .................................................................................85 13. Infertilitas ..............................................................................................91

0

INFEKSI SALURAN KEMIH
ISK adalah merupakan reaksi inflamasi sel-sel urotelium melapisi saluran kemih. Cara penanggulangannya kadang-kadang cukup dengan pemberian antibiotika yang sederhana, atau bahkan tidak perlu diberi antibiotika. Namun pada infeksi yang berat dan sudah menimbulkan kerusakan pada berbagai macam organ, membutuhkan terapi suportif dan antibiotika yang cukup adekuat. Tujuan terapi pada infeksi organ urogenitalia adalah mencegah atau menghentikan diseminasi kuman dan produk yang dihasilkan oleh kuman pada sirkulasi sistemik dan mencegah kerusakan terjadinya kerusakan organ urogenitalia.

Insiden Pada umumnya wanita lebih sering mengalami episode ISK daripada pria; hal ini karena uretra wanita lebih pendek daripada pria.

Patogenesis ISK terjadi pada saat mikroorganisme masuk ke dalam saluran kemih dan berbiak di dalam media urine. Mikroorganisme memasuki saluran kemih melalui cara : (1) ascending, (2) hematogen seperti pada penularan M tuberculosis atau S aureus, (3) limfogen, dan (4) langsung dari organ sekitarnya yang sebelumnya teah terinfeksi. Kuman penyebab ISK pada umnya berasal dari flora normal usus dan hidup secara komensal didalam intoitus vagina, prepusium penis, kulit perineum, dan disekitar anus. Mikroorganisme memasuki saluran kemih melalui uretra – prostat – vas deferns – testis (pada pria) – buli-buli – ureter, dan sampai ke ginjal. Terjadinya ISK karena adanya gangguan keseimbangan antara

mikroorganisme penyebab infeksi (uropatogen) sebagai agent dan epitel saluran kemih sebagai host. Gangguan keseimbangan ini disebabkan oleh karena pertahanan tubuh dari host yang menurun atau karena virulensi agent meningkat.

Faktor dari host

1

Kemampuan host untuk menahan mikroorganisme masuk kedalam saluran kemih disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain adalah ; (1) pertahanan lokal dari host, dan (2) peranan dari sistem kekebalan tubuh yang terdiri atas imunitas humoral maupun imunitas seluler. Sebenarnya pertahanan sistem saluran kemih yang paling baik adalah mekanisme wash out urine yang mampu membersihkan kuman-kuman yang ada di dalam urine. Supaya aliran urin adekuat dan mampu menjamin mekanisme wash out adalah jika (1) jimlah urin cukup dan (2) tidak ada hambatan di dalam saluran kemih. Keadaan lain yang bisa mempengaruhi aliran urin dan menghalangi mekanisme wash out adalah adanya (1) stagnasi atau stasis urine dan (2) didapatkannya benda asing di dalam saluran kemih yang dipakai sebagai tempat persembunyian oleh kuman. Stagnasi urin bisa terjadi pada keadaan (1) miksi yang tidak teratur atau sering menahan kencing, (2) obstruksi saluran kemih seperti pada BPH, striktura uretra, batu saluran kemih, atau obstruksi karena sebab lain, (3) adanya kantong-kantong didalam saluran kemih yang tidak dapat mengalir dengan baik, dan (4) adanya dilatasi atau refluks sistem urinaria.

Faktor dari mikroorganisme Bakteri dilengkapi dengan pili atau fimbriae yang terdapat dipermukaannya. Pili berfungsi untuk menemel pada urotelium melalui reseptor yang ada dipermukaan urotelium. Ditinjau dari jenis pilinya, terdapat 2 jenis bakteri yang mempunyai virulensi berbeda, yaitu bakteri tipe pili 1 (yang banyak menimbulkan infeksi pada sistitis) dan tipe pili P (yang sering menimbulkan infeksi berat pielonefritis akut).

Diagnosis Pada umumnya infeksi akut yang mengenai organ padat (ginjal, prostat, epididimis, dan testis) memberikan keluhan yang hebat sedangkan infeksi pada organorgan berongga (buli-buli, ureter, dan pielum) memberikan keluhan yang lebih ringan.

Pemeriksaan urin Pemeriksaan urin merupakan salah satu pemeriksaan yang sangat penting pada infeksi saluran kemih. Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan urinalisis dan pemeriksaan kultur urin. 2

Terbentuknya batu saluran kemih. 4. Foto polos abdomen berguna untuk mengetahui adanya batu radio-opak pada saluran kemih atau adanya distribusi gas yang abnormal pada pielonefritis akuta. Urosepsis. Nekrosis papilla ginjal. Voiding sistouretrografi diperlukan untuk mengungkapkan adanya refluks vesiko ureter. Supurasi atau pembentukan abses. 3. pionefrosis. Pencitraan Pada ISK uncomplicated (sederhana) tidak diperlukan pemeriksaan pencitraan. Gagal ginjal akut. CT scan lebih sensitif dalam mendeteksi penyebab ISK daripada PIV atau USG. ataupun abses pada perirenal/ginjal terutama pada gagal ginjal. Penyulit 1. 3 . 5.Pemeriksaan darah Pemeriksaan darah lengkap diperlukan untuk mengungkapkan adanya proses inflamasi atau infeksi. PIV adalah pemeriksaan rutin untuk mengevaluasi pasien yang menderita ISK compilcated. Granuloma. atau divertikulum uretra pada wanita yang sering menyebabkan infeksi yang sering kambuh. buli-buli neurogenik. 2. tetapi pada ISK complicated (yang rumit) perlu dilakukan pemeriksaan pencitraan untuk mencari penyeab/sumber terjadinya infeksi. USG untuk mengungkapkan adanya hidronefrosis. dan 6.

geografi: pada beberapa daerah menunjukkan angka kejadian batu saluran kemih yang lebih tinggi daripada daerah lain sehingga dikenal sebagai daerah stone belt (sabuk batu). 3. gangguan metabolic. Di Amerika Serikat 5-10% penduduknya menderita penyakit ini. Factor-faktor itu adalah factor intrinsic yaitu keadaan yang berasal dari tubuh seseorang dan factor ekstrinsik yang berasal dari lingkungan disekitarnya. Etiologi Terbentuknya batu saluran kemih diduga ada hubungannya dengan gangguan aliran urine. dehidrasi. Sebagai salah satu buktinya adalah diketemukan batu pada kandung kemih seorang mumi. Penyakit ini merupakan tiga penyakit terbanyak di bidang urologi disamping infeksi saluran kemih dan pembesaran prostate benigna. sedangkan daerah bantu di Afrika Selatan hamper tidak dijumpai penyakit batu saluran kemih. dan keadaankeadaan lain yang masih belum terungkap (idiopatik). umur: penyakit inipaling sering didapatkan pada usia 30-50 tahun. hal ini karena adanya pengaruh status gizi dan aktivitas pasien sehari-hari. herediter (keturunan): penyakit ini diduga diturunkan dari orang tuanya. Penyakit ini dapat menyerang penduduk di seluruh dunia tidak terkecuali penduduk di Indonesia. Factor intrinsic itu antara lain adalah: 1. 2. sedangkan di seluruh dunia rata-rata terdapat 1-12% penduduk yang menderita batu saluran kemih. Secara epidemiologis terdapat beberapa factor yang mempermudah terjadinya batu saluran kemih pada seseorang. Di Negara maju lebih banyak dijumpai penyakit batu saluran kemih atas. 4 .Batu Saluran Kemih Latar belakang Penyakit batu saluran kemih sudah dikenal sejak zaman babilonia dan zaman mesir kuno. Angka kejadian penyakit ini tidak sama di berbagai belahan bumi. Beberapa factor ekstrinsik adalah: 1. jenis kelamin: jumlah pasien laki-laki tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan pasien perempuan. infeksi saluran kemih.

Kristalografi radiografik merupakan cara yang dianggap paling baik ditinjau dari segi kesederhanaan dan ketepatannya. dan benda asing. asam urat. dapat meningkatkan insiden batu saluran kemih. asupan air: kurangnya asupan air dan tingginya kadar mineral kalsium pada air yang dikonsumsi. Pada kebanyakan penderita batu kemih tidak ditemukan penyebab yang jelas. yaitu dengan cara kualitatif dan cara kuantitatif dengan metode kromatografik dan autoanalisis. oksalat. 5 . Demikian pula telor sistoma kadang merupakan nidus batu. sistin. Cara lain ialah cara optic dengan diseksi mikroskopik binokuler dengan mikroskop petrografik. Analisa batu dapat dilakukan secara kimiawi. Batu urat pada anak terbentuk karena pH urin rendah. 4. oksalat. batu fosfat dan kalsium (hidroksiapatit) kadang disebabkan hiperkalsiuria (tanpa hiperkalsemia). Komposisi dan pembentukan batu Komposisi batu diketemukan pada seseorang perlu ditentukan karena komposisi batu dipakai sebagai landasan untuk menyelusuri etiologi penyakit batu saluran kemih. Batu fosfat ammonium magnesium didapatkan pada infeksi kronik yang disebabkanoleh bacteria yang menghasilkan urease sehingga urin menjadi alkali karena pemecahan ureum. Infeksi. diantaranya berkaitan dengan sindroma alkali atau kelebihan vitamin D. infeksi. Jaringan abnormal atau mati pada nefrosis papilla di ginjal dan benda asing mudah menjadi nidus dan inti batu. Komposisi batu saluran kemih yang dapat ditemukan adalah jenis urat. termoanalitik. dan xantin. pekerjaan: penyakit ini sering dijumpai pada orang yang pekerjaannya banyak duduk atau kurang aktifitas atau sedentary life. Factor predisposisi berupa stasis. Batu oksalat kalsium kebanyakan merupakan batu idiopatik. Batu asam urat disebabkan oleh hiperuremia pada arthritis urika. Batu campuran oksalat kalsium dan fosfat biasanya juga idiopatik.2. diet: diet banyak purin. fosfat. statis. dankalsium mempermudah terjadinya penyakit batu saluran kemih. dan litiasis merupakan factor yang saling memperkuat sehingga terbentuk lingkaran setan atau circulus visiosus. 5. dan mikroskop electron. iklim dan temperature 3. spektroskopi inframerah.

6 . sedangkan batu kaliks pada umumnya tidak memberikan kelainan fisik. atau sama sekali tidak ada keluhan dan gejala. kronik. Batu saluran kemih dapat mengakibatkan kelainan patologik yang menunjukkan gejala dan tanda akut. Misalnya batu urat pada anak di Negara yang sedang berkembang. Batu pelvis ginjal Batu pielum didapatkan dalam bentuk yang sederhana sehingga hanya menempati bagian pelvis. tetapi dapat tumbuh mengikuti bentuk susunan pelviokaliks sehingga bercabang seperti tanduk rusa. Selain itu bila disertai infeksi saluran kemih dapat juga ditemukan endapan urin. Factor lain adalah imobilisasi lama pada penderita cedera dengan fraktur multiple atau paraplegia yang menyebabkan dekalsifikasi tulang dengan peningkatan ekskresi kalsium dan statis sehingga presipitasi batu mudah terjadi. sampai terabanya ginjal yang membesar akibat adanya hidronefrosis. Umumnya gejala batu saluran kemih merupakan ostruksi aliran kemih dan infeksi. Pada sebagian kecil penderita batu didapatkan kelainan kausal yang menyebabkan ekskresi kelebihan bahan dasar batu seperti pada hiperparatiroidisme. penyakit ini mempunyai tanda umum. Nyeri di pinggang dapat dalam bentuk pegal hingga kolik atau nyeri yang terus-menerus dan hebat karena adanya pielonefrosis. baik hematuria nyata maupun mikroskopik. besarnya. Sesuai dengan gangguan yang terjadi. Pada pemeriksaan fisik mungkin kelainan sama sekali tidak ada. bahkan mungkin demam atau tanda sistemik lain. dan morfologinya. dan sistinuria. yaitu hematuria. arthritis urika. Batu pelvis ginjal dapat bermanifestasi tanpa gejala sampai gejala yang berat. Tanda dan Gejala Klinis Tanda dan gejala penyakit batu saluran kemih ditentukan oleh letaknya. Factor ini mengakibatkan oliguria dengan urinyang mengandung asam tinggi urin dan ikatan kimia lain. Walaupun demikian. Nyeri dapat berupa nyeri tekan atau ketok pada daerah arkus kosta pada sisi ginjal yang terkena. hiperoksaluria. batu ginjal yang terletak di pelvis dapat menyebabkan terjadinya hidronefrosis. Factor yang memegang peranan kausal adalah dehidrasi dan gastroenteritis.Batu idiopatik disebabkan oleh pengaruh berbagai factor. Kadang batu hanya terdapat pada suatu kaliks.

Batu ureter Anatomi ureter mempunyai beberapa tempat penyempitan yang

memungkinkanbatu ureter terhenti. Karena peristaltic, akan terjadi gejala kolik, yakni nyeri yang hilang timbul disertai perasaan mual dengan atau tanpa muntah dengan nyeri alih. Selama batu bertahan di tempat menyumbat, selama itu kolik akan berulang-ulang sampai batu bergeser dan memberi kesempatan pada air kemih untuk lewat. Batu ureter mungkin dapat lewat sampai kandung kemih dan kemudian keluar bersama kemih. Batu ureter juga bisa sampai ke kandung kemih dan kemudian berupa nidus menjadi batu kandung kemih besar. Batu juga bisa tetap tinggal di ureter sambil menyumbat dan menyebabkan obstruksi kronik dengan hidroureter yang mungkin asimptomatik. Tidak jarang terjadi hematuria yang didahului oleh serangan kolik. Bila keadaan obstruksi terus berlangsung, lanjutan dari kelainan yang terjadi dapat berupa hidronefrosis dengan atau tanpa pielonefritis sehingga menimbulkan gambaran infeksi umum.

Batu kandung kemih Karena batu menghalangi aliran kemih akibat penutupan leher kandung kemih, aliran yang mula-mula lancar secara tiba-tiba akan terhenti dan menetes disertai dengan nyeri. Pada anak, nyeri menyebabkan anak yang bersangkutan menarik penisnya sehingga tidak jarang dilihat penis yang panjang. Bila pada saat sakit tersebut penderita berubah posisi, suatu saat air kemih akan dapat keluar karena letak batu yang berpindah. Bila selanjutnya terjadi infeksi yang sekunder, selain nyeri, sewaktu miksi juga akan terdapat nyeri menetap suprapubik.

Batu prostat Pada umumnya batu prostat juga berasal dari kemih yang secara retrograde terdorong kedalam saluran prostat dan mengendap, yang akhirnya menjadi batu yang kecil. Pada umumnya batu ini tidak memberikan gejala sama sekali karena tidak menyebabkan gangguan pasase kemih.

Batu uretra 7

Batu uretra merupakan batu yang berasal dari ureter atau kandung kemih yang oleh aliran kemih sewaktu miksi terbawa uretra, tetapi menyangkut di tempat yang agak lebar. Tempat uretra yang agak lebar ini adalah di pars prostatika, bagian permulaan pars bulbosa, dan di fosa navikular. Bukan tidak mungkin dapat ditemukan di tempat lain. Gejala yang ditimbulkan umumnya miksi tiba-tiba terhenti, menjadi menetes dan nyeri. Penyulitnya dapat berupa terjadinya divertikulum, abses, fistel proksimal, dan uremia karena obstruksi urin

Diagnosis Selain pemeriksaan melalui anamnesis dan jasmani untuk menegakkan diagnosis, penyakit batu perlu ditunjang dengan pemeriksaan radiologic, laboratorium, dan penunjang lain untuk menetukan kemungkinan adanya obstruksi saluran kemih, infeksi, dan gangguan faal ginjal. Secara radiologik, batu dapat radioopak atau radiolusen. Sifat radiopak ini berbeda untuk berbagai jenis batu sehingga dari sifat ini dapat diduga jenis batu yang dihadapi. Yang radiolusen umumnya adalah dari jenis asam urat murni. Pada radiopak pemeriksaan dengan foto polos sudah cukup untuk menduga adanya batu saluran kemih bila diambil foto 2 arah. Pada keadaan istimewa tidak jarang batu terletak di depan bayangan tulang, sehingga dapat luput dari pengamatan. Pada batu radiolusen, foto dengan bantuan kontras akan menyebabkan filing defek pada tempat batu sehingga memberikan gambaran pada daerah yang kosong. Yang menyulitkan adalah bila ginjal mengandung batu tidak berfungsi lagi sehingga kontras ini tidak muncul. Dalam hal seperti ini, perlu dilanjutkan dengan pielografi retrograde yang dilaksanakan pemasangan kateter ureter melalui sistikop pada ureter ginjal yang tidak dapat berfungsi untuk memasukkan kontras. Pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk mencari kelainan kemih yang dapat menunjang adanya batu di saluran kemih, menentukan fungsi ginjal, dan menetukan sebab terjadinya batu. Pemeriksaan renogram berguna untuk menetukan faal kedua ginjal secara terpisah pada batu bilateral atau bila kedua ureter tersumbat total. Cara ini dipakai untuk memastikan ginjal yang masih mempunyai sisa faal yang cukup sebagai dasar untuk melakukan tindak bedah pada ginjal yang sakit. Pemeriksaan USG dapat untuk 8

melihat semua jenis batu, baik radiolusen maupun radiopak. Selain itu dapat ditentukan ruang dan lumen saluran kemih. Pemeriksaan ini juga dipakai untuk menentukan batu selama tindakan pembedahan untuk mencegah tertingganya batu.

Diagnosis banding Kolik ginjal dan ureter dapat disertai dengan akibat yang lebih lanjut, misalnya distensi usus dan pielonefrosis dengan demam. Oleh karena itu, jika dicurigai terjadi kolik ureter maupun ginjal, khususnya yang kanan, perlu dipertimbangkan kemungkinan kolik saluran cerna, kandung empedu, atau appendicitis akut. Selain itu perempuan juga dipertimbangkan adneksitis. Bila terjadi hematuria, perlu dipertimbangkan kemungkinan keganasan apalagi bila hematuria terjadi tanpa nyeri. Selain itu, juga diingat bahwa batu saluran kemih yang terjadi bertahun-tahun dapat menyebabkan tumor umunya karsinoma epidermoid, akibat rangsangan dan inflamasi. Khusus batu ginjal dengan hidronefrosis peril dipertimbangkan kemungkinan tumor ginjal mulai dari jenis ginjal polikistik hingga tumor Grawitz. Pada batu ureter, terutama dari jenis radiolusen, apalagi bila disertai dengan hematuria yang tidak disertai kolik, perlu dipertmbangkan tumor ureter walaupun tumor ini jarang ditemukan. Dugaan batu kandung kemih jga perlu dipertimbangkan tumor kandung kemih terutama jenis batu radiolusen. Batu prostat biasanya tidak sukar terdiagnosis karena gambaran radiologic yang khas, yang kecil seperti kumpulan pasir di daerah prostate. Akan tetapi, pemeriksaan colok dubur dapat memberi kesan adanya keganasan, teritama bila terdapat batu cukup banyak sehingga teraba seperti karsinoma prostat. Dalam keadaan yang tidak pasti seperti itu dilakukan biopsy prostat.

Tata laksana Piñatalaksanaan batu saluran kemih harus tuntas sehingga bukan hanya mengeluarkan batu saja, tetapi harus disertai dengan terapi penyembuhan penyakit batu atau paling sedikit disertai dengan terapi pencegahan. Hal ini karena batu sendiri hanya merupakan gejala penyakit batu sehingga pengeluaran batu dengan cara apapun bukanlah merupakan terapi yang sempurna. Selanjutnya perlu juga diketahui bahwa pengerluaran batu menyebabkan gangguan pada slauran kemih. Bila batu tersebut 9

10 . atau batu buli tanpa melalui tindakan invasive dan tanpa pembiusan. batu ureter proksimal.2) sehingga dengan pemberian bikarbonas natrikus disertai makanan alkalis. Pelarutan Jenis batu yang memang dapat dilarutkan adalah dari batu asam urat.tidak memberi gangguan fungsi ginjal makabatu tersebut tidak perlu diangkat diharapkan batu tersebut keluar dengan sendirinya. Batu ini terjadi bila pH urin asam (pH: 6. Hasil lebih baik dilaporkan dengan pemberian alopurinol dan usaha menurunkan kadar asam urat. Penanganannya dapat berupa terapi medis dan simptomatik atau dengan bahan pelarut. khususnya kolik yang terjadi menghilang dengan pemberian simpatolitik. Batu pun dipecah menjadi fragmen-fragmen kecil sehingga mudah dikeluarkan melalui saluran kemih. ESWL (Extracorporeal Shockwave Lithotripsy) Alat ESWl adalah pemecah batu yang diperkenalkan pertama kali oleh Caussy pada tahun 1980. Selain itu terutama untuk batu ureter yang dapat diharapkan keluar dengan sendirinya. batu asam urat diharapkan larut. Batu ureter ini adalah batu yang tidak menganggu saluran kemih termasuk ginjal dan ukurannya kurang dari setengah centimeter. Akan tetapi pemberian antibiotic sukar membasmi kuman karena kuman didalam batu susah dicapai oleh antibiotic. Batu struvit tidak dapat dilarutkan tetapi dapat dicegah dengan pengasaman urin dan pemberian antiurease. dapat diberikan minum berlebihan disertai diuretic. Terapi medis dan simptomatik Pengelolaan simptomatik mengusahakan agar nyeri. Dengan produksi air kemih yang banyak diharapkan dapat mendorong batu. Dapat pula dengan pembedahan atau dengan tindakan yang kurang invasive misalnya nefrostomi perkutan. Bila terdapat kuman harus dibasmi. alat ini dapat memecah batu ginjal. Tidak jarang pecahan-pecahan batu yang sedang keluar menimbulkan perasaan nyeri kolik dan menyebabkan hematuria.

PNL( Percutaneus Nephro Litholapaxy): yaitu mengeluarkan batu yang berada didalam saluran ginjal dengan cara memasukkan alat endoskopi ke system kalises melalui insisi pada kulit. Probe pemecahan batu dapat dilakukan secara mekanik. atau dengan energi laser. litotripsi: yaitu memecah batu buli-buli atau batu uretra dengan memasukkan alat pemecah batu (litotriptor) kedalam buli-buli. dan kemudian mengeluarkanya dari saluran kemih melalui alat yang dimasukkan langsung kedalam saluran kemih. Alat itu dimasukkan melalui uretra atau melalui insisi kecil pada kulit (perkutan). Batu kemudian dikeluarkan atau dipecah terlebih dahulu menjadi fragmen-fragmen kecil. Beberapa tindakan endourologi itu adalah: 1. 2. Pecahan batu dikeluarkan dengan evakuator Ellik. batu yang berada didalam ureter maupun system pelvikalises dapat dipecah melalui tuntunan uretroskopi/uretreorenoskopi ini. Dengan memakai energi tertentu. dengan memakai energi hiraulik. uretroskopi atau uretro-renoskopi: yaitu memasukkan alat uretroskopi peruretram guna melihat keadaan ureter atau system pielo-kalises ginjal. 11 . energi gelombang suara.Endourologi Tindakan endourologi adalah tindakan invasive minimal untuk mengeluarkan batu saluran kemih yang terdiri atas memecah batu. 3.

Purnomo B Basuki. 57-67 3. diet mengurangi kadar zat-zat pembentuk batu.Brawijaya. Tidak jarang pasien harus menjalani nefrektomi atau pemgambilan ginjal karena ginjalnya tidak berfungsi lagi dan berisi nanak (pionefrosis). 12 . Diet yang dianjurkan adalah diet rendah protein karena protein memacu ekskresi kalsium urine yang dapat membuat urine menjadi asam. hal. laparoskopi. Daftar pustaka 1. Jakarta. Pada umumnya pencegahan itu berupa menghindari dehidrasi dengan minum air 2-3 liter per hari. Healthy wise. Extracorporeal shock wave lithotripsy (ESWL). Cara ini banyak dipakai untuk mengambil batu ureter. rendah oksalat.centrahealth. Sjamsuhidajat R. hal. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jong Wim de. Bedah terbuka Di klinik-klinik yang belum mempunyai fasilitas yang memadai untuk tindakantindakan endourologi. tindakan selanjutnya yang penting adalah upaya mengindari timbulnya kekambuhan. Jakarta. korteksnya sudah sangat tipis. 2nd ed. Available at: http://myhealth. maupun ESWL. Pencegahan Setelah batu dikeluarkan dari saluran kemih. pemberian medikamentosa. dan uretrolitotomi untuk batu di ureter. Edisi revisi. CV. 756-764 2. 2007. rendah garam karena natriuresis akan memacu timbulnya hiperkalsiuri.com. in : dasar-dasar urologi FK univ. Pembedahan terbuka itu antara lain: pielolitotomi atau nefrolitotomi untuk mengambil batu pada saluran ginjal. Last update: May 30. Diet rendah kalsium tidak dianjurkan kecuali pada pasien yang menderita hiperalsiuri absortif tipe II. ekstraksi Dormia: yaitu mengeluarkan batu ureter dengan menjaringnya melalui alat keranjang dormia. aktivitas harian yang cukup. pengambilan batu masih dilakukan melalui pembedahan terbuka.4. Angka kekambuhan batu rata-rata 7% per tahun atau kurang lebih 50% dalam 10 tahun. 2003. Buku Ajar Ilmu Bedah. Sagung seto. 1997. atau mengalamu pengkerutan akibat batu yang menimbulkan obstruksi dan infeksi menahun. rendah purin. Bedah laparoskopi Pembedahan laparoskopi untuk mengambil batu saluran kemih saat ini sedang berkembang.

di depan rectum dan membungkus uretra posterior. Sifat ini diturunkan secara dominan autosomal. BPH merupakan tumor jinak yang paling sering terjadi pada laki-laki dan berhubungan dengan usia. yaitu zona perifer. ±50% pada pria dibawah 60 tahun terkena BPH karena mempunyai sifat diturunkan. INSIDENSI Pada usia 55 tahun ±25% dari pria ditemukan gejala obstruktif. organ ini membuntu uretra pars prostatika dan menyebabkan terhambatnya aliran urine keluar dari buli-buli. Faktor resiko BPH masih belum jelas. Sebagian besar hiperplasia prostat terdapat pada zona transisional.BENIGN PROSTAT HIPERPLASI (BPH) DEFINISI BPH adalah hiperplasi kelenjar periuretral (sel-sel glanduler dan intersisial) dari prostat. Pada usia 75 tahun ±50% pada pria mengeluhkan gejala pancaran urin yang lemah pada waktu miksi. Bila pengalami pembesaran. ANATOMI Kelenjar Prostat Prostat adalah organ genitalia pria yang terletak di sebelah inferior buli-buli. Bentuknya seperti buah kenari dengan ukuran 4 x 3 x 2. Kelenjar ini terdiri atas jaringan fibromuskular dan glandular yang terbagi dalam beberapa daerah atau zona. Menurut penelitian diketahui pula karena perbedaan ras.5 cm dan beratnya 20 gram. zona sentral. zona 13 . jarang ditemukan pada usia di bawah 40 tahun.

fibroblas. Prostat mendapat inervasi otonomik simpatik dan parasimpatik dari pleksus prostatikus. Pleksus prostatikus ( pleksus pelvikus ) menerima masukan serabut parasimpatik dari korda spinalis S2-4 dan simpatik dari nervus hipogastrikus (T10-L2). Stimulasi parasimpatik meningkatkan sekresi kelenjar pada epitel prostat. 14 . saraf. Secara histopatologik kelenjar prostat terdiri atas komponen kelenjar dan stroma. kapsula prostat. dan leher buli-buli. Sistem simpatik memberikan inervasi pada otot polos prostat. Prostat menghasilkan suatu cairan yang merupakan salah satu komponen dari cairan ejakulat. dan zona periuretra. Volume cairan prostat merupakan ±25% dari seluruh volume ejakulat. pembuluh darah. Rangsangan simpatik menyebabkan dipertahankannya tonus otot polos tersebut. Ditempat itu banyak terdapat reseptor adrenegika.transisional. Cairan ini dialirkan melalui duktus sekretorius dan bermuara di uretra posterior untuk kemudian di keluarkan bersama cairan semen lain pada saat ejakulasi. zona fibromuskuler anterior. dan jaringan penyanggah yang lain. sedangkan rangsangan simpatik menyebabkan pengeluaran cairan prostat ke dalam uretra posterior. Komponen stroma ini terdiri atas otot polos. Sebagian besar hiperplasia prostat terdapat pada zona transisional. sedangkan pertumbuhan karsinoma prostat berasal dari zona perifer. seperti pada saat ejakulasi.

ETIOLOGI Etiologi BPH belum pasti. tapi sel-sel prostat yang telah ada mempunyai umur lebih panjang sehingga massa prostat jadi lebih besar. Dibentuk dari testosteron yang sangat penting pada pertumbuhan sel-sel kelenjar prostat oleh enzim 5a-reduktase dengan bantuan koenzim NADPH. Masing-masing atau bahkan keduanya dapat berkembang menjadi nodul-nodul hiperplastik dan gejala-gejala yang ada dapat diartikan sebagai suatu BPH. Hingga sekarang masih belum diketahui secara pasti penyebab terjadinya hiperplasia prostat. Teori dihidrotestosteron DHT adalah metabolit androgen yang sangat penting pada pertumbuhan sel-sel kelenjar prostat. Beberapa hipotesis yang di duga sebagai penyebab timbulnya hiperplasia prostat adalah: 1. Jadi meskipun rangsangan terbentuknya sel-sel baru akibat rangsangan testosteron menurun. DHT yang telah terbentuk berkaitan dengan reseptor androgen (RA) membentuk kompleks DHT-RA pada inti sel dan selanjutnya terjadi sintesis protein growth factor yang menstimulasi pertumbuhan sel prostat. dan menurunkan jumlah sel-sel prostat (apoptosis). Pada BPH kadar DHT tidak jauh berbeda dengan kadarnya pada prostat normal. Estrogen di dalam prostat berperan dalam terjadinya proliferasi sel-sel kelenjar prostat dengan cara meningkatkan sensitifitas sel-sel prostat terhadap rangsangan hormon androgen. Kelenjar prostat terdiri atas elemen stromal dan epitel. tetapi kemungkinan berhubungan dengan multifaktor dan endokrin. tetapi beberapa hipotesis menyebutkan bahwa hiperplasia prostat erat kaitannya dengan peningkatan kadar dihidrotestosteron (DHT) dan proses aging. sedangkan kadar estrogen relatif tetap sehingga perbandingan antara estrogen: testostron relatif meningkat. 15 . meningkatkan jumlah reseptor androgen. 2. Hanya saja pada BPH. Ketidakseimbangan antara estrogen-testosteron Pada usia semakin tua kadar testosteron samakin menurun. aktivitas enzim 5a-reduktase dan jumlah reseptor androgen lebih banyak. Hal ini menyebabkan sel-sel prostat pada BPH lebih sensitif terhadap DHT sehingga replikasi sel lebih banyak dibandingkan dengan prostat normal.

Komponen dinamis dalam obstruksi prostat menerangkan variasi natural dalam gejala yang terjadi pada pasien. obstruksi mekanis terjadi dari adanya gangguan didalam lumen uretra atau leher kandung kencing. buli-buli harus berkontraksi lebih kuat guna melawan tahanan itu. 5. sedangkan yang besar disebut divertikel. PATOFISIOLOGI Suatu hubungan gejala dapat dikaitkan antara BPH dengan obstruksi dari prostat atau terjadinya respon sekunder pada kandung kencing saat berkemih. Kontraksi yang terus menerus ini menyebabkan perubahan anatomic buli-buli berupa hipertrofi otot detrusor. Keadaan ini menyebabkan peningkatan tekanan intravesika. 4.3. Saat pembesaran prostat timbul. Untuk dapat mengeluarkan urin. Terjadinya BPH dipostulasikan sebagai ketidaktepatnya aktivitas sel stem sehingga terjadi produksi yang berlebihan sel stroma maupun epitel. Teori sel stem Sel stem adalah sel yang mempunyai kemampuan berproliferasi secara ekstensif. Mukosa dapat menerobos keluar di antara serat detrusor. Tonjolan mukosa yang kecil dinamakan sakula. yang terdiri dari otot polos dan 16 . Stroma prostat. Komponen obstruksi dapat menjadi komponen obstruksi dinamis atau komponen mekanis. oleh pasien dirasakan sebagai keluhan pada saluran kemih sebelah bawah atau lower urinary tract symptom (LUTS). Interaksi stroma-epitel Cunha (1973) membuktikan bahwa diferensiasi dan pertumbuhan sel epitel prostat secara tidak langsung di kontrol oleh sel-sel stroma melalui suatu mediator (growth factor) yang selanjutnya mempengaruhi sel-sel stroma sehingga menyebabkan terjadinya proliferasi sel-sel epitel maupun sel-sel stroma. sedangkan faktor pertumbuhan TGFB berperan pada proses apoptosis. menyebabkan kesulitan yang tinggi dalam berkemih. Penonjolan serat detrusor ke dalam kandung kemih dengan sistokopi akan terlihat seperti balok yang disebut trabekulasi (buli-buli). Saat prostat membesar terjadi proses penyempitan lumen uretra prostatika dan menghambat aliran urin. Perubahan struktur pada buli-buli tersebut. Fase penebalan detrusor ini disebut fase kompensasi otot dinding. Berkurangnya kematian sel prostat Estrogen di duga mampu memperpanjang usia sel-sel prostat.

Dalam hal ini massa prostat yang menyebabkan obstruksi komponen statik sedangkan tonus otot polos yang merupakan komponen dinamik sebagai penyebab obstruksi prostat. Pada BPH terjadi rasio peningkatan komponen stroma terhadap epitel. Tekanan pada kedua muara ureter ini dapat menimbulkan aliran balik urin dari buli-buli ke ureter atau terjadi refluks vesikoureter. Otot polos itu dipersarafi oleh serabut simpatis yang berasal dari nervus pudendus. tetapi juga disebabkan oleh tonus otot polos yang ada pada stroma prostat. bahkan akhirnya dapat jatuh kedalam gagal ginjal. GEJALA KLINIS 1. kapsul prostat. Keadaan ini jika berlangsung terus akan mengakibatkan hidroureter. Pengeluaran ini terhambat karena otot detrusor hipertrofi dan hyperplasia dikarenakan terjadinya deposisi kolagen. penebalan otot detrusor pada serabut otot terlihat sebagai trabekula pada pemeriksaan cystocospic. pada BPH. Gejala obstruksi dapat berupa hesitansi (menunggu lama pada permulaan buang air kecil). sehingga resitensi saat berkemih berkurang. herniasi mucosal antara otot detrusor terjadi divertikula (disebut juga Divertikula vera yang hanya terdiri mukosa dan serosa) Tekanan intravesika yang tinggi diteruskan ke seluruh buli-buli tidak terkecuali pada kedua ureter. Kalau pada prostat normal rasio stroma dibanding dengan epitel adalah 2:1. pancaran urin yang lemah pengosongan buli-buli yang kurang 17 . hal ini menyebabkan pada BPH terjadi peningkatan tonus otot polos prostat dibandingkan dengan prostat normal. Obstruksi yang diakibatkan oleh hiperplasia prostat benigna tidak hanya disebabkan oleh adanya massa prostat yang menyumbat uretra posterior. Tingkat stimulasi otonom diatur oleh uretra prostatika. Meskipun selanjutnya keluhan ini akan berkurang tidak stabilnya otot detrusor juga menjadi factor. Pada pemeriksaan inspeksi. yaitu : gejala obstruksi dan gejala iritasi. dan otot polos pada leher buli-buli. Gejala pada saluran kemih bagian bawah (LUTS) Gejala-gejala pada BPH dapat dibagi menjadi 2. Penggunaan terapi α-blocker menurunkan tonus. Keluhan iritatif berkemih yang kosong pada BPH berasal dari respon sekunder dari kandung kencing untuk meningkatkan pengeluaran isi kandung kencing. kaya akan suplai persarafan adrenergik. Jika terlewat pada pemeriksaan.kolagen. rasionya meningkat menjadi 4:1. hidronefrosis.

mengedan bila miksi. nyeri bila miksi. MENEGAKKAN DIAGNOSA 1. Penilaian ini terfokus pada 7 pertanyaan yang di ajukan terhadap pasien-pasien untuk mengetahui seberapa sering timbul gejala iritasi dan obstruksi. 2. Gejala pada saluran kemih bagian atas Nyeri pinggang. benjolan di pinggang (yang merupakan tanda dari hidronefrosis). sedangkan keluhan yang menyangkut kualitas hidup pasien diberi nilai 1-7. air kencing menetes). Gejala di luar saluran kemih Hernia inguinalis. Merasakan masih terdapat sisa urine sehabis kencing ? 18 . Urin yang selalu menetes tanpa disadari oleh pasien yang merupakan tanda inkontinensia paradoksa.puas. 3. SKOR INTERNASIONAL GEJALA PROSTAT (I-PSS) Untuk pertanyaan nomer 1 hingga 6. double voiding (miksi untuk kedua kalinya dalam 2 jam dari yang sebelumnya. frekuensi (sering buang air kecil). dan 20-35 berat. Setiap pertanyaan yang berhubungan dengan keluhan miksi diberi nilai 0-5. Dimana score 0-7 ringan. disuria. ANAMNESIS American Urological Association (AUA) telah mengembangkan suatu standar daftar pertanyaan yang berlaku dan dapat dipercaya dalam identifikasi kebutuhan akan perawatan terhadap pasien-pasien dan dalam memonitoring terhadap terapi yang dilakukan. 8-19 sedang. Gejala iritatif berupa urgensi (tergesa-gesa buang air kecil). dan nokturia (buang air kecil malam hari lebih dari 1 kali). atau demam yang merupakan tanda dari infeksi/ urosepsis. hemoroid karena peningkatan tekanan intraabdominal. jawaban dapat diberikan skor sebagai berikut: 0 = Tidak pemah 1 = Kurang dari sekali dari 5 kali kejadian 2 = Kurang dari separuh kejadian 3 = Kurang lebih separuh dari kejadian 4 = Lebih dari separuh dari kejadian 5 = Hampir selalu Dalam satu bulan terakhir ini berapa seringkah anda: 1.

pemeriksa harus menilai proses pengosongan urin pasien sebagai hal utama dalam pemeriksaan.. (3) kardiomegali atau udem pulmonal. Harus mengejan dalam memulai kencing ? Untuk pertanyaan nomer 7. V: volume prostat) 2. PEMERIKSAAN FISIK Untuk mengetahui adanya penurunan kekuatan pancaran aliran urin.. Dalam hal ini dapat ditemukan adanya suatu gejala obstrutif: (1) adanya penurunan berat badan atau udem pada wajah dan kedua tangan. Tidak bahagia 2. R: sisa urine. Pada pemeriksaan rectal toucher kelenjar prostat diperiksa dengan memperhatikan dari segi bentuk dan ukuran serta konsistensi. Q_. Merasakan pancaran urine yang lemah ? 6. Sangat senang 3. Puas 5... jawablah dengan skor seperti di bawah ini: 0 = Tidak pernah 3 = Tiga kali 1 = Satu kali 2 .. Pada suatu keadaan hiperplasia 19 . jawablah dengan: 1. Sangat tidak puas 7. Q: pancara urine dalam ml/detik. Buruk sekali 8..V_I (S:Skor I-PSS.. Senang 4.. Dalam satu bulan terakhir ini berapa kali anda terbangun dari tidur malam untuk kencing ? Total Skor (S) = . Harus kencing lagi padahal belum ada setengah jam yang lalu anda baru saja kencing ? 3. R _ . (4) ada massa yang teraba di abdomen bagian bawah..2. Dengan keluhan seperti ini bagaimanakah anda menikmati hidup ini? Kesimpulan: S__.. (2) pucat atau anemia. L_I . L:Kualitas hidup.. Tidak dapat menahan keinginan untuk kencing ? 5. Campuran antara puas dan tidak puas 6. Harus berhenti pada saat kencing dan segera mulai kencing lagi dan hal ini dilakukan berkali-kali? 4.Dua kali 4 = Empat kali 5 = Lima kali 7. Pertanyaan nomer 8 adalah mengenai kualitas hidup sehubungan dengan gejala di atas.

keras dan elastis. barat 60-100 gram : prostate teraba > 4 cm. a. Intra-Vesikal Grading Dengan pemeriksaan Cystogram 20 . pasien disuruh BAK sampai habis. Clinical Grading Pada pagi hari atau setelah diberi minum yang banyak. Pasien dengan pembesaran prostat mungkin tidak ditemukan gejala obstruksi traktus urinarius. Dengan kateter di ukur sisa urin dalam buli-buli. pada pemeriksaan rectal toucher dapat memberikan keuntungan bagi pemeriksa dalam menilai kekuatan tonus dari spingter ani. c. Sebagai tambahan dalam menilai kelenjar prostat. Jika teraba pembesaran prostat maka dapat diperkirakan besar prostat > 50 gram. berat 20-25 gram : prostat teraba 2-3 cm. Rectal Grading Dengan Rectal-toucher: Stage 0 Stage 1 Stage 2 Stage 3 Stage 4 : prostat teraba < 1 cm. berat < 10 gram : prostat teraba 1-2 cm. b. dan tidak didapatkan nodul-nodul. Normal Grade 1 Grade 2 Grade 3 Grade 4 : sisa urin tidak ada : sisa urin 0-50cc : sisa urin 50-150 cc : sisa urin > 150 cc : retentio urin total d. berat > 100 gram Pada BPH Rectal-toucher menunjukan konsistensi prostat kenyal. Intra-Uretral Grading Dilakukan pemeriksaan dengan endoskopi untuk melihat seberapa penonjolan kedalam lumen uretra. Pemeriksaan Bimanual Dengan melakukan Rectal-toucher dan penekanan pada supra-pubik. berat 25-60 gram : prostat teraba 3-4 cm. lobus kanan dan kiri simetris. e.biasanya di dapatkan suatu prostat dengan keadaan licin. sedangkan pada pasien dengan pembesaran lobus medial dapat ditemukan dengan jelas suatu adanya gejala obstruktif dan retensi urin tanpa adanya suatu pembesaran prostat yang teraba. yang secara tidak langsung juga memberikan gambaran keadaan dari persarafan vesika urinaria.

b. adanya kemungkinan pembesaran prostat maligna. Pengukuran sisa urin yang tertinggal dalam buli-buli 21 .3. dimaksudkan untuk mengetahui besar atau volume kelenjar prostat. c. sebagai petunjuk untuk melakukan biopsi aspirasi prostat. (2) volume urin yang keluar (voided volume). Pembesaran prostat dapat pula dilakukan dengan ultrasonografi suprapubik. Jika dicurigai adanya keganasan prostat perlu di periksa kadar penanda tumor PSA. PEMERIKSAAN PENUNJANG a. selain itu untuk mengetahui besar prostat dengan mengukur panjang uretra pars prostatika dan penonjolan prostat ke dalam uretra. (3) lama waktu miksi. yang merupakan tanda dari suatu retensi urine. Faal ginjal. menentukan jumlah residual urine. Laboratorium Sedimen urin diperiksa untuk menandakan infeksi/hematuri. adanya batu/kalkulosa prostat dan kadangkala dapat menunjukan bayangan buli-buli yang penuh terisi urine. ureum kreatinin. Pemeriksaan gula darah dimaksudkan untuk mencari kemungkinan adanya diabetes melitus yang dapat menimbulkan kelainan persarafan pada buli-buli (buli-buli neurogenik). Ultrasonografi transrektal atau TRUS. Disamping itu ultrasonografi transabdominal mampu untuk mendeteksi adanya hidronefrosis ataupun kerusakan ginjal akibat obstruksi BPH yang lama. Uroflowmetri Dengan uroflowmetri dapat diukur: (1) pancaran urin maksimal (maximal flow rate-Qmax). Kultur urine untuk mencari jenis kuman dan menentukan sensitifitas. mengetahui adanya penyulit pada saluran kemih bagian atas. pemeriksaan ini untuk mengetahui asal dari perdarahan yang ada. Pemeriksaan sistografi dilakukan bila pada anamnesis ditemukan hematuria atau pada pemeriksaan urin ditemukan mikrohematuria. Gambaran Radiologis Foto polos perut berguna untuk mencari adanya batu opak di saluran kemih.

trabekulasi. Suatu infeksi pada traktus urinarius dapat memberikan gambaran gejala iritasi BPH. yaitu mukosa buli-buli menerobos di antara serat-serat detrusor. infeksi traktus urinarius berulang. Angka normal pancaran kemih rata-rata 10-12 ml/ detik dan pancaran maksimal sampai sekitar 20 ml/detik. sehingga terjadi pengendapan batu. Ketiga. Yang harus diketahui dalam menilai pria dengan dugaan BPH yaitu adanya riwayat urethritis atau trauma untuk menyingkirkan adanya striktur uretra atau kontraktur leher buli-buli. untuk mengetahui adanya infeksi maka dilakukan kultur urine dan urinalisis. sedang pancaran maksimal menjadi 15 ml/detik atau kurang. batu buli-buli atau ca prostat. Pada obstruksi ringan pancaran menurun antara 6-8 ml/detik.ca prostat dapat diketahui pada DRE atau kenaikan serum PSA. Kedua. DIAGNOSA BANDING Kondisi obstruksi lainnya dari traktus urinarius bagian bawah adalah striktur uretra. yaitu terjadi penebalan serat-serat detrusor akibat tekanan intra vesika yang selalu tinggi akibat obstruksi. bila sakulasi menjadi besar dapat menjadi divertikel. KOMPLIKASI Komplikasi yang dapat terjadi pada pasien yang dibiarkan tanpa pengobatan: Pertama.setelah buang air kecil diukur dengan memasang kateter setelah buang air kecil. Hematuri dan nyeri biasanya merupakan gejala adanya batu buli-buli. dapat terjadi sakulasi. kontraktur leher buli-buli. Bila tekanan intra vesika yang selalu tinggi tersebut diteruskan ke ureter dan ginjal. akan terjadi hidroureter dan hidronefrosis yang akan mengakibatkan penurunan fungsi ginjal TERAPI Untuk BPH dengan gejala ringan (score 0-7) terapi hanya berupa ”Watchful Waiting”. Disamping itu terapi spesifik lainnya berupa adanya indikasi untuk tindakan operasi termasuk retensio urine kronik (sedikitnya 1 kali percobaan menggunakan kateter yang gagal). gross hematuri 22 . Komplikasi lain adalah pembentukan batu vesika akibat selalu terdapat sisa urin setelah buang air kecil.

yaitu tamsulosin yang sangat selektif terhadap otot polos prostat. Alpha Bloker Caine adalah yang pertama kali melaporkan penggunaan obat penghambat adrenergik alpha sebagai salah satu terapi BPH. batu buli-buli. Terapi Medis I. Pasien tidak mendapatkan terapi apapun dan hanya diberi penjelasan mengenai sesuatu hal yang mungkin dapat memperburuk keluhannya. Obat-obat ini dilaporkan dapat memperbaiki keluhan miksi dan laju pancaran urin. dan doksazosin yang diberikan sehari sekali. Pada saat itu dipakai fenoksibenzamin. Dilaporkan bahwa obat ini mampu memperbaiki pancaran miksi tanpa menimbulkan efek terhadap tekanan darah maupun denyut jantung. Watchful Waiting Pilihan terapi ini hanya untuk pasien BPH dengan gejala ringan(score 0-7). afluzosin. diantaranya adalah hipotensi postural dan kelainan kardiovaskuler lain. terazosin. 1. Inhibitor 5 alpha-reduktase Finasteride adalah merupakan inhibitor 5 alpha-reduktase yang memblok perubahan hormon testosteron menjadi dihydrotestosteron. Akhir-akhir ini telah ditemukan pula golongan penghambat adrenegik-a1A. II. yaitu penghambat alpha yang tidak selektif yang ternyata mampu memperbaiki laju pancaran miksi dan mengurangi keluhan miksi.berulang. seperti:      Jangan mengkonsumsi alkohol atau rokok setelah makan malam Kurangi makanan atau minuman yang mengiritasi buli-buli Batasi penggunaan obat-obat influenza yang mengandung fenilpropanolamin Kurangi makanan pedas atau asin Jangan menahan kencing terlalu lama 2. Ditemukannya obat penghambat adrenegik-a1 adalah : Prazosin dua kali sehari. Sayangnya obat ini tidak disenangi oleh pasien karena menyebabkan komplikasi sistemik yang tidak diharapkan. Obat ini 23 . Pasien dengan gejala sedang dapat dilakukan terapi ini jika pasien menginginkan.insufisiensi ginjal dari buli-buli atau divertikula buli-buli yang besar.

Salah satu kerugian dari aquades adalah sifatnya yang hipotonik sehingga cairan ini dapat masuk ke saluran sistemik melalui pembuluh darah vena yang terbuka pada saat reseksi. Kebanyakan dari prosedur ini memerlukan pemakaian anestesi spinal serta membutuhkan 1-2 hari perawatan di RS. inhibisi basic fibroblast growth factor (BFGF) dan epidermal growth factor (EGF). Cairan yang dipergunakan adalah berupa larutan non ionik. yang jika berlebih dapat menyebabkan terjadinya hiponatremia relatif atau gejala intoksikasi air atau dikenal dengan sindroma TURP. mengacaukan metabolisme prostaglandin. yang dimaksudkan agar tidak terjadi hantaran listrik pada saat operasi. Transurethral Resection Of The Prostat (TURP) 95% dari simple prostatektomi dapat dilakukan secara endoskopi yang di masukan melalui penis atau uretra. Hypoxis rooperi. efek anti inflamasi. Radix urtica dan masih banyak lainnya. serena repens. Fitofarmaka Beberapa ekstrak tumbuhan-tumbuhan tertentu dapat dipakai untuk memperbaiki gejala-gejala akibat obstruksi prostat. tekanan darah meningkat . 3. impoten. dan memperkecil volume prostat. III. Reseksi kelenjar prostat dilakukan transuretra dengan mempergunakan cairan irigasi (pembilas) agar daerah yang akan direseksi tetap terang dan tidak tertutup oleh darah.Resiko pada TURP termasuk didalamnya berupa ejakulasi retrograd. kesadaran somnolen. Terapi Operasi Konvesional I. 24 . Cairan yang sering dipakai yaitu H2O steril (aquades). Sindroma ini ditandai dengan pasien yang mulai gelisah. dan inkontinensia. tetapi data-data farmologik tentang kandungan zat aktif yang mendukung mekanisme kerja obat fitoterapi sampai saat ini belum diketahui dengan pasti.mempengaruhi komponen epitel dari kelenjar prostat yang mengakibatkan pengurangan ukuran dari kelenjar dan memberikan perbaikan gejala. Kemungkinan fitoterapi bekerja sebagai : anti-androgen. dan terdapat bradikardi. menurunkan outflow resistance. 6 bulan terapi diperlukan untuk mengetahui efek maximum dari ukuran prostat. Keuntungan dari TURP tidak dilakukan sayatan sehingga mengurangi terjadinya infeksi. Jika tidak segera diatasi. menurunkan kadar sex hormon binding globulin (SHBG). Di antara fitoterapi yang banyak dipasarkan adalah : Pygeum africanum.

harus disingkirkan kemungkinan adanya Ca prostate dengan melakukan colok dubur. Pada pasien-pasien ini akan sangat bermanfaat. infeksi. kedua potongan ini dimulai dari arah distal sampai mulut uretra dan meluas keluar sampai ke verumontirium.pasien akan mengalami edema otak yang akhirnya jatuh kedalam koma dan meninggal. dipakai cairan isotonik yaitu glisin dan harus membatasi untuk tidak melakukan reseksi lebih dari satu jam. Terapi standar sindrom ini terdiri dari pemberian diuretik dan penggunaan salin hipotonik intravena II. dan pengukuran kadar PSA. melakukan USG Transrektal. dan impontensi. Transurethral Inscision Of The Prostat (TUIP) Sering pada pria dengan gejala BPH sedang sampai berat serta kelenjar prostat yang kecil. penyempitan uretra. Pada cara ini melibatkan 2 potongan menggunakan pisau Colinns pada arah jam 5 dan jam 7. Sebelum melakukan ini. cara ini lebih cepat dan sedikit mengalami kesalahan daripada TURP. sering mempunyai hyperplasia pada komisura posterior (leher bulibuli terangkat). Untuk mengurangi resiko timbulnya sindroma TURP. 25 . Komplikasi yang terjadi perdarahan.

Setelah 26 . residual urin 4. maka diperlukan suatu enukleasi terbuka. Indikasi absolut prostatektomi : 1. Open Simple Prostatektomi Jika ukuran prostat terlalu besar untuk dipindahkan secara endoskopi. yaitu dengan seiring adanya divertikula buli-buli atau batu buli-buli atau jika posisi litotomi tidak memungkinkan untuk dilakukan operasi. Open prostatektomi mungkin dapat pula berguna. Simple suprapubik prostatektomi dilakukan secara transvesical dan merupakan operasi pilihan dalam menangani masalah kelainan dalam buli-buli. Pada open prostatektomi dapat dilakukan 2 cara yaitu: suprapubik dan retropubik. prostatitis berulang 6. retensi akut 2. BPH dengan komplikasi Pembesaran kelenjar prostat bukan indikasi prostatektomi. perdarahan dari hipertrofi benigna Indikasi relatif prostatektomi : 1. Kelenjar prostate lebih dari 100 g biasanya dilakukan suatu enukleasi terbuka. batu buli-buli 5. batu buli-buli dengan obstruksi kronik 4. kerusakan pada buli-buli dan traktus urinarius bagian atas dari obstruksi 5. infeksi traktus urinarius berulang dari obstruksi 6. obstruksi kronik dengan eksaserbasi akut 3.III. kronik obstruktif dengan azotemia 2. frekuensi BAK yang mengganggu tidur atau kerja perubahan obstruksi awal pada buli-buli serta traktus urinarius bagian atas 3.

perlahan mungkin ditarik dari leher buli-buli sampai ke apex. distal dari trigonum. Pada simple retropubik hanya digunakan 1 kateter. kemudian pada potongan tumpul dengan menggunakan jari dibuat untuk memindahkan adenoma. Kemudian insisi pada daerah kapsul prostate yang akan di operasi. lalu adenomanya di enukleasi. Terapi Laser Ada 4 sumber tenaga yang digunakan pada terapi ini yaitu : Nd YAG. right angle fibre. Alat-alat pada TULIP diletakkan di dalam uretra dan USG Transurethral digunakan untuk menuntun alat TULIP. 4. Pada potongan apical juga dibuat setajam mungkin untuk menghindari injuri terhadap distal spingter mekanisme. Holmium YAG. dan diode yang dipancarkan melalui bare fibre. Terapi Invasif Minimal I. Pemotongan pada bidang datar harus sangat tajam. setelah hemostasis dicapai dengan melakukan penjahitan. 27 . Setelah adenoma di angkat.buli-buli di buka kemudian dibuat satu potongan semisirkuler pada mukosa buli-buli. interstitial fibre. Beberapa perbedaan tehnik Necro coagulation telah diketahui :  Transurethral Laser Induced Prostatectomy (TULIP) Dilakukan dengan cara menggunakan panduan memakai USG Transurethral. Pada simple retropubik prostatektomi buli-buli tidak di masuki. dimana sebelumnya telah dipasang kateter uretra dan suprapubik sebelum di lakukan penutupan. Untuk mengetahui kedalamannya dapat dilihat melalui USG. KTP YAG.

III. karena di lakukan dengan cara meletakkan serat dari lasernya langsung berada didalam jaringan prostat yang dapat menguap. sehingga mampu membuat vaporisasi kelenjar prostat. (3) berguna pada pasien – pasien yang menggunakan terapi antikoagulan. Elektrovaporasi Prostat Sama dengan TURP. Penggunaan cara ini hanya dapat mengurangi sedikit gejala iritasinya saja. Namun hanya dapat dilakukan pada prostat yang tidak terlalu besar (<50 gram) dan butuh waktu operasi lebih lama. (2) gejalanya jarang timbul lagi.pasien rawat jalan. dan biasanya dibawah kendali cytoskopi. lasernya ditembakan langsung. Pada setiap penusukan. sehingga mengakibatkan lapisan submukosanya mengalami nekrosis koagulasi. (2) membutuhkan waktu saat kateterisasi post operasi. Keuntungan dari penggunaan bedah laser adalah (1) perdarahannya minimal. (4) dapat dilakukan pada pasien. perdarahan minimal. Visual Contact Ablative Cara ini merupakan cara yang membutuhkan waktu yang lama. hanya teknik ini memakai roller ball yang spesifik dan dengan mesin diatermi yang cukup kuat. (3) bertambahnya gejala iritasi. karena mukosa dari uretera berbeda dan sisa dari jaringan prostatnya dipisahkan serta jaringan dari prostatnya diresobpsi. II. Teknik ini cukup aman. Termoterapi 28 . Kerugiannya adalah : (1) kurangnya jaringan patologik yang tersedia.  Terapi Laser Intersitiel Pada cara ini seratnya diletakkan langsung pada prostat. masa rawat di RS lebih singkat.

pasien seringkali masih mengeluh hematuria. High – intensity focused ultrasound (HIFU) Metode ini merupakan bentuk lain dari ablasi thermal jaringan. kadang retensi urine dan epididimo-orkitis. Transurethral needle ablation of the prostate (TUNA) Metode ini memakai energi dari frekuensi radio yang menimbulkan panas sampai 100o. dapat dilakukan tanpa anestesi. Morbiditas rendah. Alat ini didesain khusus sebagai USG dengan dual fungsi yang diletakkan direktum. IV.Energi panas bersamaan gelombang mikro dipancarkan melalui kateter transuretra. Besar dan arah pancaran energi diatur sehingga dapat melunakkan jaringan prostat yang membuntu uretra. sehingga menyebabkan nekrosis jaringan prostat. V. 29 . Direkomendasikan bagi prostat yang ukurannya kecil. Metode ini tidak dapat digunakan pada terapi pembesaran lobus medial dan leher buli – buli . disuria. Metode ini memerlukan anestesi umum. Pada pembesaran lobus medial dan leher buli – buli tidak dapat menggunakan metode ini. dapat dijalani oleh pasien dengan kondisi kurang baik jika menjalani pembedahan. Probenya dapat digunakan untuk memberikan gambaran prostat dan juga dapat menghantarkan ledakan kecil dari energi USG yang terfokus dengan kekuatan tinggi yang mana dapat mengakibatkan panasnya jaringan prostat dan dapat mengakibatkan suatu nekrosis koagulasi. Sistem ini terdiri dari kateter TUNA yang dihubungkan dengan generator.

rasa tidak enak di daerah penis. Metode ini sangat efektif pada prostat – prostat dengan ukuran kecil ( < 40 cm3 ).VI. Alat ini dibuat secara khusus digunakan pada pasien pasien dengan angka harapan hidup terbatas dan bukan pada pasien – pasien dengan indikasi operasi.Transurethral balloon dilatation of the prostate Dilatasi balon dari kelenjar prostat dibentuk secara khusus dengan suatu kateter yang mampu mendilatasi fossa prostatika saja atau fossa prosatika dan leher buli –buli. Namun setelah pemasangan kateter ini. Intrauretrhal stenting Intrauretrhal stenting merupakan suatu alat yang secara endoskopi diletakkan didalam fossa prostatika dan dibuat untuk menahan bentuk dari uretrha pars prostatika. VII. pasien masih merasakan keluhan miksi berupa gejala iritatif. perdarahan uretra. 30 .

David C. Buku Ajar Ilmu Bedah edisi 2. Purnomo.prostata-therapie. Dasar-dasar Urologi.de. 2004 4. editor.1994 3. Petrus Andrianto.uk www. Jakarta: EGC. sejauh ini tidak menimbulkan impotent. DAFTAR PUSTAKA 1. Sabiston. Buku Ajar Bedah bagian 2: (Sabiston’s Essentials Surgery). alih bahasa.Keuntungannya : mudah digunakan. Wim.co. aman. Jakarta: EGC. Ronardy. 2003 2. hospitalisasi yang minimal. Basuki B. De Jong. Devi H.prostateinformation. www.uk 31 .co. R Sjamsihidajat (ed).

TRAUMA UROGENITALIA Secara anatomis sebagian besar organ urogenitalia terletak di rongga ekstraperitoneal (kecuali genitalia eksterna). mungkin terdapat thrombosis arteri segmentalis Derajat IV Laserasi sampai mengenai system kalises ginjal 32 . penderajatan Trauma Ginjal Derajat Jenis kerusakan Derajat I Derajat II Derajat III Kontusio ginjal/hematoma perirenal Laserasi ginjal terbatas pada korteks Laserasi ginjal sampai pada medulla ginjal. Cedera yang mengenai organ urogenitalia bias merupakan cedera dari luar berupa trauma tumpul maupun trauma tajam. karena itu cedera ginjal tidak jarang diikuti oleh cedera organ-organ yang mengitarinya. dan terlindung oleh otot-otot dan organorgan lain. trauma ginjal dibedakan menjadi : Table 1. TRAUMA GINJAL Ginjal terletak dirongga retroperitoneum dan terlindung oleh otot-otot punggung sebelah posterior dan oleh organ-organ intraperitoneal di sebelah anteriornya. Penderajatan Trauma Ginjal Menurut derajat berat ringannya kerusakan ginjal. Robekan ini akan memacu terbentuknya bekuan-bekuan darah yang selanjutnya dapat menimbulkan thrombosis arteri renalis beserta cabang-cabangnya. Cedera ginjal dapat terjadi secara: (1) langsung akibat benturan yang mengenai daerah pinggan atau (2) tidak langsung yaitu merupakan cedera deselerasi akibat pergerakan ginjal secara tiba-tiba didalam rongga retroperitoneum. dan cedera iatrogenic. Goncangan ginjal didalam rongga retroperitoneum menyebabkan regangan pedikel ginjal sehingga menimbulkan robekan tunika intima arteri renalis.

Fraktur kosta sebelah bawah (T8-12) atau fraktur prosesus spinosus vertebra 4. Trauma didaerah pinggang. dan (3) cedera tumpul ginjal yang menberikan tanda-tanda hematuria mikroskopik dengan disertai syok. Pemeriksaan PIV pada kontusio renis sering menunjukkan gambaran system pelvikalises normal. Jika PIV belum dapat menerangkan keadaan ginjal perlu dilakukan pemeriksaan CT scan atau arteriografi. Pembuatan PIV dikerjakan jika diduga ada (1) luka tusuk atau luka tembak yang mengenai ginjal. Pencitraan Pemeriksaan pencitraan dimulai dari PIV guna menilai tingkat kerusakan ginjal dan melihat keadaan ginjal kontralateral. 2. dan terdapat hematuria makroskopik ataupun mikroskopik. Trauma tembus pada daerah abdomen atau pinggang 5. Kadang kala 33 . dada sebelah bawah. Cedera deselerasi yang berat akibat jatuh dari ketinggian atau kecelakaan lalu lintas. punggung. (2) cedera tumpul ginjal yang memberikan tanda-tanda hematuria makroskopik. Dalam keadaan ini pemeriksaan ultrasonografi abdomen dapat menunjukkan adanya hematoma parenkim ginjal yang terbatas pada subkapsuler dan dengan kapsul ginjal yang masih utuh. Pada trauma major atau rupture pedikel seringkali pasien dating dalam keadaan syok berat dan terdapat hematoma didaerah pinggang yang makin lama makin membesar. mungkin terjadi thrombosis arteri renalis o Ginjal terbelah (shatered) Diagnosis Patut dicurigai adanya cedera pada ginjal jika terdapat : 1. Pada trauma derajat ringan mungkin hanya didapatkan nyeri didaerah pinggang terlihat jejas berupa ekimosis. dan perut bagian atas dengan disertai nyeri atau didapatkan adanya jejas pada daerah itu.Derajat V o Avulse pedikel ginjal. Hematuria 3.

Ekstravasasi ini akan tampak semakin luas pada ginjal yang mengalami fragmentasi (terbelah) pada cedera derajat V.kontusio renis yang cukup luas menyebabkan hematoma dan edema yang hebat sehingga memberikan gambaran system pelvikalises yang spstik atau bahkan tak tampak (non visualized). nadi dan suhu tubuh). adanya pembesaran lingkaran perut. Konservatif Tindakan konservatif ditujukan pada trauma minor. Pada derajat PIV tampak adanya ekstravasasi kontras. Operasi Operasi ditujukan pada trauma ginjal major dengan tujuan untuk segera menghentikan perdarahan. reparasi ginjal (berupa renorafi atau penyambungan vaskuler) atau tidak jarang harus dilakukan nefrektomi parsial bahkan nefrektomi total karena kerusakan ginjal yang sangat berat. trauma major dan trauma pedikel sering menimbulkan perdarahan yang hebat dan berakhir dengan 34 . System pelvikalises yang tak nampak pada PIV dapat pula terjadi pada rupture pedikel atau pasien yang berada dalam keadaan syok berat pada saat menjalani pemeriksaan PIV. Selanjutnya mungkin perlu dilakukan debridement. Pada keadaan ini dilakukan observasi tanda-tanda vital (tensi. Penyulit Jika tidak mendapatkan perawatan yang cepat dan tepat. Pengelolaan Terapi yang dikaerjakan pada trauma ginjal adalah : 1. dan perubahan warna urine pada pemeriksaan urine serial. penurunan kadar hemoglobin darah. kemungkinan adanya penambahan massa dipinggang. hal ini karena terobeknya system pelvikalises ginjal. 2.

Diagnosis Kecurigaan adanya cedera ureter pada trauma dari luar adalah hematuria pasca trauma. Table 2. atau devaskularisasi karena banyak jaringan vaskuler yang dibersihkan. atau bedah vaskuler) dapat menyebabkan terjadinya cedera ureter iatrogenic. hidronefrosis. kecurigaan Cedera Ureter Iatrogenik 35 . sedangkan kecurigaan adanya cedera ureter iatrogenic bias diketemukan pada saat operasi atau setelah pembedahan (lihat table 2).kematian. Cedera yang terjadi pada ureter akibat tindakan operasi terbuka dapat berupa: ureter terikat. abses perirenal. putus (robek). bedah digestif. TRAUMA URETER Cedera ini dapat terjadi karena trauma dari luar yaitu trauma tumpul maupun trauma tajam. dan kadang menimbulkan fistula renokutan. urolitiasis atau pielonefritis kronis. atau trauma iatrogenic. Operasi endourologi transureter (ureteroskopi atau uterorenoskopi. crushing karena terjepit oleh klem. Selain itu kebocoran system kaliks dapat menimbulkan ekstravasasi urin hingga menimbulkan urinoma. atau litotripsi batu ureter) dan perasi didaerah pelvis (diantaranya adalah operasi ginekologi. urosepsis. Dikemudian hari pasca cedera ginjal dapat menimbulkan penyulit berupa hipertensi. ekstraksi batu dengan Dormia.

Saat operasi Pasca bedah Lapangan operasi banyak cairan Hematuria Anuri/oliguri jika cedera bilateral Demam Ileus Nyeri pinggang akibat obstrusi Luka operasi selalu basah Sampai beberapa hari cairan drainase jernih dan banyak Hematuria persisten dan hematoma/urinoma di abdomen Fistula uterokutan/fistula uterovagina Tindakan Tindakan yang dilakukan terhadap cedera ureter tergantung pada saat cedera ureter terdiagnosis. Ureter saling disambungkan (anastomosis end to end) 2. Nefrostomi sebagai tindakan diversi atau nefrektomi. flap Boari. dan letak serta derajat lesi ureter. 36 . Inplantasi ureter ke buli-buli (neoimplantasi ureter pada buli-buli. Uretero-kutaneostomi 4. keadaan umum pasien. atau Psoas hitch) 3. Transuretero-ureterotomi (menyambung ureter dengan ureter pada sisi yang lain) 5. Tindakan yang dikerjakan mungkin : 1.

Diagnosis Setelah mengalami cedera pada abdomen sebelah bawah. Klasifikasi Secara klinis cedera buli-buli dibedakan menjadi kontusio buli-buli. bagian buli-buli yang mengalami cedera yaitu intra/ekstraperitoneal. sehingga kemungkinan mendapatkan trauma dari luar jarang terjadi. Gambaran klinis yang lain tergantung pada etiologi trauma. Demikian pula partus kasep atau tindakan operasi di daerah pelvis dapat menyebabkan trauma iatrogenic pada buli-buli. pasien mengeluh nyeri didaerah suprasimfisis. Namun semakin bertambahnya usia. cedera buli-buli ekstraperitoneal. cedera intraperitoneal. Buli-buli akan robek pada daerah fundus dan menyebabkan ekstravasasi uri ke rongga intraperitoneum.TRAUMA BULI-BULI Pada waktu lahir hingga usia anak. Fiksasi buli-buli pada tulang pelvis oleh fasia endopelvik dan diafragma pelvis sangat kuat sehingga cedera deselerasi terutama jika titik fiksasi fasia bergerak pada arah berlawanan (seperti pada fraktur pelvis). buli-buli mudah sekali robek jiak mendapatkan tekanan dari luar berupa benturan pada perut sebelah bawah. adanya organ lain yang 37 . Tindakan endourologi dapat menyebabkan trauma buli-buli iatrogenic antara lain pada reseksi buli-buli transurethral (TUR buli-buli) atau pada litotripsi. miksi bercampur darah atau mungkin pasien tidak dapat miksi. Dalam keadaan penuh terisi urin. dapat merobek buli-buli. buli-buli terletak di rongga abdomen. Etiologi Kurang lebih 90% trauma tumpul buli-buli adalah akibat fraktur pelvis. tempatnya turun dan terlindung di dalam kavum pelvis. Robeknya buli-buli karena fraktur pelvis bisa pula terjadi akibat fragmen tulang pelvis merobek dindingnya.

serta penyulit yang terjadi akibat trauma. Pada cedera intraperitoneal harus dilakukan eksplorasi laparatomi untuk mencari robekan pada buli-buli serta kemungkinan cedera pada organ lain. syok. Jika tidak dioperasi ekstravasasi urin ke rongga intraperitoneum dapat menyebabkan peritonitis. Pada cedera ekstraperitoneal. Sistografi dibuat pada hari ke 10-14 pasca trauma. Terapi Pada kontusio buli-buli. Dengan cara ini diharapkan buli-buli sembuh setelah 7-10 hari. Oleh karena itu jika bersamaan dengan rupture buli-buli terdapat cedera organ lain yang membutuhkan operasi. Pemeriksaan pencitraan berupa sistografi yaitu dengan memasukkan kontras kedalam buli-buli sebanyak 300-400 ml secara gravitasi (tanpa tekanan) melalui kateter per-uretram. sebaiknya dilakukan penjahitan buli-buli dan pemasangan kateter sistostomi. Dalam hal ini mungkin didapatkan tanda fraktur pelvis. cukup dilakukan pemasangan kateter dengan tujuan untuk memberikan instirahat pada buli-buli. Kemudian dibuat beberapa foto. robekan pada buli-buli dijahit 2 lapis. dan (3) wash out film yaitu foto setelah kontras dikeluarkan dari buli-buli. yaitu (1) foto pada saat buli-buli terisi kontras dalam posisi anterior-posterior (AP). Jika masih ada ekstravasasi kateter sistostomi dipertahankan sampai 3 minggu. kemudian dipasang kateter sistostomi yang dilewatkan di luar sayatan laparatomi. robekan yang sederhana (ekstravasasi minimal) dianjurkan untuk memasang kateter selama 7-10 hari. Rongga intraperitoneum dicuci. 38 . tetapi sebagian ahli lain menganjurkan untuk melakukan penjahitan buli-buli denagn pemasangan kateter sistostomi. sebelum melepas kateter uretra atau kateter sistostomi. Untuk memastikan bahwa buli-buli telah sembuh. terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan sistografi guna melihat kemungkinan masih adanya ekstravasasi urin. dan kemungkinan untuk terjadinya infeksi pada rongga perivesika sebesar 12%.mengalami cedera. hematoma perivesika. Namun tanpa tindakan pembedahan kejadian kegagalan penyembuhan luka ± 15%. atau tanpa tanda sepsis dari suatu peritonitis atau abses perivesika. (2) pada posisi oblik.

Diagnosis ditegakkan melalui foto uretrografi dengan memasukkan kontras melalui uretra. ekstravasasi urin ke rongga pelvis yang dibiarkan dalam waktu lama dapat menyebabkan infeksi dan abses pelvis. tanda klinis. guna mengetahui adanya rupture uretra. sedangkan trauma tumpul pada selangkangan atau straddle injury dapat menyebabkan rupture uretra pars bulbosa. dapat menimbulkan peritonitis akibat dari ekstravasasi urin pada rongga intraperitoneum.Penyulit Pada cedera buli-buli ekstraperitoneal. seringkali pasien mengalami retensi urin. Trauma tumpul tang menimbulkan fraktur tulang pelvis menyebabkan rupture uretra pars membranasea. TRAUMA URETRA Secara klinis trauma uretra dibedakan menjadi trauma uretra anterior dan trauma uretra posterior. jika tidak segera dilakukan operasi. 39 . karena dapat menyebabkan kerusakan uretra yang lebih parah. Etiologi Trauma uretra terjadi akibat cedera yang berasal dari luar (eksternal) dan cedera iatrogenic akibat instrumentasi pada uretra. Pada trauma uretra yang berat. Kedua keadaan itu dapat menyebabkan sepsis yang dapat mengancam jiwa. serta prognosisnya. Gambaran klinis Kecurigaan adanya trauma uretra adalah jika didapatkan perdarahan peruretram yaitu terdapat darah yang keluar dari meatus uretra eksternum setelah mengalami trauma. Pada keadaan ini tidak diperbolehkan melakukan pemasangan kateter. hal ini karena keduanya menunjukkan perbedaan dalam hal etiologi trauma. pengelolaan. Yang lebih berat lagi adalah robekan buli-buli intraperitoneal.

Ruptura Uretra Posterior Rupture uretra posterior paling sering disebabkan oleh fraktur tulang pelvis. Fraktur yang mengenai ramus atau simfisis pubis dan menimbulkan kerusakan pada cincin pelvis, menyebabkan robekan uretra pars prostate-membranasea. Klasifikasi Colapinto dan McCollum (1976) membagi derjat cedera uretra dalam 3 jenis : 1. Uretra posterior masih utuh dan hanya mengalami stretching (peregangan). 2. Uretra posterior terputus pada perbatasan prostate-membranasea, selanjutnya diafragma urogenitalia masih utuh. 3. Uretra posterior, diafragma urogenitalis, dan uretra pars bulbosa sebelah proksimal ikut rusak. Diagnosis Rupture uretra posterior seringkali memberikan gambaran yang khas berupa: (1) perdarahan per-uretram, (2) retensi urin, dan (3) pada pemeriksaan colok dubur didapatkan adanya floating prostate (prostat melayang) di dalam suatu hematom. Pada pemeriksaan uretrografi retrigrad mungkin terdapat elongasi uretra atau ekstravasasi kontra pada pars prostate-membranasea. Tindakan Pada keadaan akut tindakan yang dilakukan adalah melakukan sistostomi untuk diversi urin. Setelah keadaan stabil sebagian ahli urologi melakukan primary endoscopic realignment yaitu melakukan pemasangan kateter uretra sebagai splint melalui tuntunan uretroskopi. Dengan cara ini diharapkan kedua ujung uretra yang terpisah dapat saling didekatkan. Tindakan ini dilakukan sebelum 1 minggu pasca rupture dan kateter uretra dipertahankan selama 14 hari. Penyulit Penyulit yang terjadi pada rupture uretra adalah striktura uretra yang seringkali kambuh, disfungsi ereksi, dan inkontinensia urin. 40

Rupture Uretra Anterior Cedera dari luar yang sering menyebabkan kerusakan uretra anterior adalah straddle injury (cedera selangkangan) yaitu uretra terjepit diantara tulang pelvis dan benda tumpul. Jenis kerusakan urerta yang terjadi berupa: kontusio dinding uretra, rupture parsial, atau rupture total dinding uretra. Patologi Jika terjadi rupture uretra beserta korpus spongiosum, darah dan urin keluar dari uretra tetapi masih terbatas pada fasia Buck, dan secara klinis terlihat hematoma yang terbatas pada penis. Namun jika fasia Buck ikut robek, ekstravasasi urin dan darah hanya dibatasi oleh fasia Colles sehingga darah dapat menjalar hingga skrotum atau ke dinding abdomen. Oleh karena itu robekan ini memberikan gambaran seperti kupu-kupu sehingga disebut butterfly hematoma atau hematoma kupu-kupu. Diagnosis Pada kontusio uretra, pasien mengeluh adanya perdarahan per-uretram atau hematuria. Jika terdapat robekan pada korpus spongiosum, terlihat adanya hematom pada penis atau hematoma kupu-kupu. Pada keadaan ini seringkali pasien tidak dapat miksi.

Tindakan Kontusio uretra tidak memerlukan terapi khusus, tetapi mengingat cedera ini dapat menimbulkan penyulit striktura uretra dikemudian hari, maka setelah 4 – 6 bulan perlu dilakukan pemeriksaan uretrografi ulangan. Pada rupture uretra parsial dengan ekstravasasi ringan, cukup dilakukan sistostomi untuk mengalihkan aliran urin. Kateter sistostomi dipertahankan sampai 2 minggu, dan dilepas setelah diyakinkan melalui pemeriksaan uretrografi bahwa sudah tidak ada ekstravasasi

kontras atau tidak timbul striktura uretra. Namun jika timbul striktura uretra, dilakukan reparasi uretra atau stachse.

41

TRAUMA PENIS
Trauma yang mencederai penis dapat berupa trauma tumpul, truma tajam, terkena mesin pabrik, rupture tunika albuginea, atau strangulasi penis. Pada trauma tumpul atau terkena mesin, jika tidak terjadi amputasi total, penis cukup dibersihkan dan dilakukan penjahitan primer. Jika terjadi amputasi penis total dan bagian distal dapat diidentifikasi, dianjurkan dicuci dengan larutan faram fisiologis kemudian disimpan didalam kantung es, dan dikirim ke pusat rujukan. Jika masih mungkin dilakukan replantasi (penyambungan) secara mikroskopik. Fraktur Penis Fraktur penis adalah rupture tunika albuenia korpus kavernosum penis yang terjadi pada saat penis dalam keadan ereksi. Rupture ini dapat disebabkan karena dibengkokkan sendiri oleh pasien pada saat masturbasi, dibengkokkan oleh pasangannya, atau tertekuk secara tidak sengaja pada saat hubungan seksual. Akibat tertekuk ini, penis menjadi bengkok (angulasi) dan timbul hematoma pada penis dengan disertai nyeri. Untuk mengetahui letak rupture, pasien perlu menjalani pemeriksaan foto kavernosografi yaitu memasukkan kontras kedalam korpus kavernosum dan kemudian diperhatikan adanya ekstravasasi kontras keluar dari tunika albugenia. Tindakan Eksplorasi rupture dengan sayatan sirkuminisi, kemudian dilakukan evakuasi hematoma. Selanjutnya dilakukan penjahitan pada robekan tunika albugenia. Strangulasi Penis Strangulasi penis adalah jeratan pada pangkal penis yang menyebabkan gangguan aliran darah pada penis. Gangguan aliran darah ini mengakibatkan penis menjadi iskemia dan edema yang jika dibiarkan akan menjadi nekrosis. Jeratan pada penis harus segera ditanggulangi dengan melepaskan cincin atau penjerat yang melingkar pada penis.

42

atau (3) melakukan insisi pada penis yang telah mengalami edema dengan tujuan membuang cairan (edema0 sehingga logam dapat dikeluarkan. Jika kulit skrotum yang tersisa tidak cukup untuk membungkus testis. sedative. luka tumpul. atau luka bakar. tetapi diusahakan sedapat mungkin jangan terlalu banyak membuang kulit skrotum yang masih hidup karena skrotum penting untuk membungkus testis. (2) melingkarkan tali pada penis pada sebelah distal logam dan kemudian melepaskannya perlahan-lahan. Pertolongan pertama adalah memberikan analgetika. Avulsi Avulse adalah kehilangan sebagian atau seluruh dinding skrotum. luka tajam. Dilakukan debridement jaringan yang mengalami nekrosis. serta transquiliser untuk menenangkan pasien. Kemudian dilakukan pencucian luka dari debris dan rambut yang menempel dengan melakukan irigasi memakai air bersi dan kalau tersedia dengan garam fisiologis. Trauma genitalia eksterna Trauma yang dapat terjadi pada trauma genitalia eksterna adalah avulsi.Beberapa cara untuk melepaskan cincin yang menjerat batang penis adalah (1) memotong logam itu dengan gerinda atau gergaji listrik. 43 . dianjrkan membuat kantong dip aha atau di inguinal guna meletakkan testis. crushing.

Peyebab sekunder terjadi karena didapatkan kelainan pada testis atau epididimitis yang menyebabkan terganggunya system sekresi atau reabsorbsi cairan di kantong hidrokel. Pada anamnesis. Pada orang dewasa. belum sempurnanya system limfatik di daerah skrotum dalam melakukan reabsorbsi cairan hidrokel. kantong hidrokel seolah-olah mengelilingi testis sehingga testis tak dapat diraba. infeksi. belum sempurnanya prosesus vaginalis 2. 44 . Menurut letak kantong hidrokel terhadap testis. sehingga harus dibantu dengan pemeriksaan ultrasonografi. secara klinis dibedakan beberapa macam hidrokel yaitu: 1. Kelainan pada testis itu mungkin suatu tumor. cairan yang berada di dalam rongga memang ada dan berada dalam keseimbangan antara produksi dan reabsorpsi oleh system limfatik disekitarnya. Etiologi Hidrokel yang terjadi pada bayi baru lahir dapat disebabkan karena: 1. besarnya kanting hidrokel tidak berubah sepanjang hari. Pada hirokel yang terinfeksi atau kulit skrotm yang sangat tebal kadang-kadang sulit melakukan pemeriksaan ini. hidrokel funikulus 3. hidrokel komunikan Pada hidrokel testis. hidrokel dapat terjadi secara idiopatik (primer) dan sekunder. hidrokel testis 2. Dalam keadaan normal. atau trama pada tstis/epididimis. Gambaran Klinis Pasien mengeluh adanya benjolan di kantong skrotum yang tidak nyeri. Pada pemeriksaan fisis didapatkan adanya benjolan di kantong skrotum dengan konsistensi kistus dan pada pemeriksaan penerawangan menunjukkan adanya transiluminasi.Hidrokel Testis Definisi Hidrokel adalah penumpukan cairan yang berlebihan diantara lapisan parietalis dan viseralis tunika vaginalis.

testis dapat diraba dan berada di luar kantong hidrokel. hidrokel akan sembuh sendiri. Pada anamnesis kantong hidrokel besarnya tetap sepanjang hari. Pada hirokel komunikan terdapat hubungan antara prosesus vaginalis dengan rongga peritoneum sehingga prosesus vaginalis dapat terisi cairan peritoneum. tetapi jika hidrokel masih tetap ada atau bertambah besar perlu dipikirkan untuk dilakukan koreksi. hidrokel permagna yang dirasakan terlalu berat dan menganggu pasien dalam melakukan aktivitasnya sehari-hari. Tindakan untuk megatasi cairan hidrokel adalah dengan aspirasi dan operasi. Pada anamnesis. Terapi Hidrokel pada bayi biasanya ditunggu hingga anak mencapai usia 2 tahun dengan harapan setelah prosesus vaginalis menutup. sekaligus 45 . Pada palpasi. Pada hidrokel congenital dilakukan pendekatan inguinal karena seringkali hidrokel ini disertai dengan hernia inguinalis sehingga pada saat operasi hidrokel. indikasi kosmetik 3. kadang kala dapat menimbulkan penyulit berupa infeksi. Aspirasi cairan hidrokel tidak dianjurkan karena angka kekambuhan tinggi. Beberapa indikasi untuk melakukan operasi pada hidrokel adalah: 1.Pada hidrokel funikulus. kantong hidrokel terpisah dari testis dan dapat dimasukkan kedalam rongga abdomen. kantong hidrokel berada di funikulus yaitu terletak disebelah cranial dari testis. hidrokel yang besar sehingga dapat menekan pembuluh darah 2. kantong hidrokel besarnya dapat berubah-ubah yaitu bertambah besar pada saat anak menangis. sehingga pada palpasi.

2nd ed. 2003. Sagung seto. Jakarta. Jong Wim de. hal. Pada hidrokel funikulus dilakukan ekstirpasi hidrokel secara in toto. 797 2. CV. 1997. Edisi revisi. Jakarta. Sjamsuhidajat R. Purnomo B Basuki. Pada hidrokel testis dewasa dilakukan tindakan pendekatan scrotal dengan melakukan eksisi dan marsupialisasi kantong hidrokel dengan cara Winkelman atau plikasi kantong hidrokel sesuai dengan cara Lord. hidrokel yang cukup besar mudah mengalami trauma dan hidrokel permagna bisa menekan pembuluh darah yang menuju ke testis sehingga menimbulkan atrofi testis.melakukan herniorafi.Brawijaya. 140-142 46 . hal. in : dasar-dasar urologi FK univ. Daftar pustaka 1. Penyulit Jika dibiarkan. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Buku Ajar Ilmu Bedah.

walaupun tidak semua varikokel mempengaruhi produksi sperma.VARIKOKEL PENDAHULUAN Varikokel dapat menyebabkan keluhan testis terasa berat. Diameter normal pleksus pampiniformis > 2 mm. 47 . Permukaan testis normal licin tanpa tonjolan dan konsistensi elastis. Peninggian tekanan di dalam pleksus pampiniformis dapat diraba sebagai struktur yang terdiri atas varises pleksus pampiniformis yang memberikan kesan raba seperti kumpulan cacing. DEFINISI Varikokel adalah dilatasi abnormal vena pada pleksus pampiniformis akibat gangguan aliran darah balik vena spermatika interna. Kadang varikokel merupakan faktor kausal gangguan fertilitas sehingga merupakan indikasi ligasi v. dan ini terjadi akibat tekanan meninggi di dalam vena testis yang tidak berkatup dari muara di vena kava inferior atau vena renalis sampai di testis. varikokel merupakan penyebab penting rendahnya produksi sperma dan menurunnya kualitas sperma. Normalnya aliran balik vena memiliki satu arah katup yang berfungsi mencegah terjadinya turbulensi.testis.

Jika terdapat varikokel di sebelah kanan atau varikokel bilateral patut dicurigai adanya : Kelainan rongga retroperitoneal ( obstruksi vena karena tumor ) Muara vena spermatika kanan pada vena renalis kanan Adanya situs inversus. tetapi dari pengamatan membuktikan bahwa varikokel sebelah kiri lebih sering dijumpai ( 7093 % ). Banyak kasus varikokel yang berlangsung asimptomatis atau tanpa gejala. ETIOLOGI DAN ANATOMI Hingga sekarang belum diketahui secara pasti penyebab varikokel. KLASIFIKASI 48 . sedang yang kanan bermuara pada vena kava dengan arah miring. Kelainan ini terdapat pada 15 % pria dan didapatkan 21-41 % pria yang mandul menderita varikokel. Disamping itu vena spermatika interna kiri lebih panjang daripada yang kanan dan katupnya lebih sedikit dan inkompeten.INSIDENS Varikokel merupakan salah satu penyebab yang menyebabkan buruknya produksi sperma dan berkurangnya kualitas semen. Varikokel sering ditemukan pada usia 15-25 tahun dan jarang ditemukan pada pria diatas 40 tahun. Hal ini disebabkan karena vena spermatika interna kiri bermuara pada vena renalis kiri dengan arah tegak lurus.

Saat berbaring varikokel tidak terlihat jelas Derajat 4 : varikokel terlihat jelas baik pasien berdiri maupun duduk. Peningkatan suhu testis. pada akhirnya terjadi infertilitas. saat baring varikokel tidak nampak Derajat 3 : varikokel teraba dan terlihat jelas saat pasien berdiri tanpa maneuver valsava. Adanya anastomosis antara pleksus pampiniformis kiri dan kanan. Terjadi stagnasi darah balik pada sirkulasi testis sehingga testis mengalami hipoksia karena kekurangan oksigen 2. Gejala klinis varikokel ditandai : Rasa tidak enak/berat di daerah testis. GAMBARAN KLINIS Pasien datang ke dokter biasanya mengeluh belum : mempunyai anak setelah beberapa tahun menikah atau kadang mengeluh adanya benjolan di atas testis yang terasa nyeri. 3. Semakin terasa bila penderita banyak berdiri dan cenderung lebih berat sore hari Benjolan diatas testis Nyeri daerah inguino-skrotalis ketika berdiri atau duduk lama Mengecilnya bentuk testis ( atropi testis ) 49 . antara lain : 1. seringkali disertai nyeri PATOGENESIS Varikokel dapat menimbulkan gangguan proses spermatogenesis melalui beberapa cara. memungkinkan zat-zat hasil metabolit dialirkan dari testis kiri ke testis kanan sehingga menyebabkan gangguan spermatogenesis testis kanan. Refluks hasil metabolit ginjal dan adrenal ( katekolamin dan prostaglandin ) melalui vena spermatika interna ke testis.Untuk keseragaman klinis. 4. besar varikokel dibagi 4 derajat sesuai anjuran Glezerman : Derajat 1 : varikokel teraba saat pasien berdiri dan lakukan maneuver valsava berulang kali Derajat 2 : varikokel terlihat saat pasien berdiri dan maneuver valsava sekali.

USG atau CT scan USG dan CT scan bukanlah standard evaluasi kecuali pemeriksaan fisis tidak menemukan kesimpulan yang memuaskan. Untuk itu diperlukan pemeriksaan penunjang lainnya : a. Stetoskop Doppler Pemeriksaan dengan auskultasi. d. Jika diperlukan. Kadangkala sulit untuk menemukan adanya bentukan varikokel secara klinis meskipun terdapat tanda-tanda lain yang menunjukkan adanya varikokel. c. Pemeriksaan analisis semen Untuk menentukan seberapa jauh varikokel telah menyebabkan kerusakan pada tubuli seminiferi. Orkidometer Supaya lebih objektif menetukan besar/volume testis dilakukan pengapuran dengan alat ini. pada inspeksi dan palpasi terdapat bentukan seperti kumpulan cacing dalam kantung sebelah cranial testis. alat ini untuk mendeteksi adanya peningkatan aliran darah pada pleksus pampiniformis. DIAGNOSIS BANDING  Hernia inguinalis 50 .DIAGNOSIS Pemeriksaan dilakukan dalam posisi berdiri. Jika terdapat varikokel. pasien diminta untuk melakukan maneuver valsava atau mengedan. dengan memperhatikan keadaan skrotum kemudian dilakukan palpasi. b.

Setelah diketahui adanya hubungan varikokel dengan infertilitas. Varikokelektomi cara ivanisevich. 51 . Tindakan yang dikerjakan adalah : Ligasi tinggi vena spermatika interna secara palomo melalui operasi terbuka/bedah laparoskopi. Hidrokel  Kista epididimis KOMPLIKASI   Atrofi testis Infertilitas TERAPI Masih terjadi silang pendapat di antara para ahli tentang perlu tidaknya melakukan operasi. Perkutan dengan memasukan bahan sklerosing dalam vena spermatika interna. Diantara mereka ada yang berpendapat bahwa varikokel yang telah menimbulkan gangguan infertilitas atau gangguan spermatogenesis merupakan indikasi mendapatkan suatu terapi. tindakan operasi lebih dititikbertakan pada koreksi gangguan fertilitas tersebut.

52 .

EVALUSI Pasca tindakan dilakukan evaluasi keberhasilan terapi. tetapi dari pengamatan membuktikan bahwa varikokel kiri lebih sering dijumpai ( 70-93 % ). Belum diketahui secara pasti penyebab varikokel. dengan melihat beberapa indikator antara lain :  Bertambahnya volume testis  Perbaikan hasil analisis semen ( tiap 3 bulan )  Pasangan menjadi hamil Pada kerusakan testis yang belum parah. Varikokel sering ditemukan pada usia 15-25 tahun dan 53 . evaluasi pasca bedah vasoligasi tinggi dari palomo didapatkan :    80 % terjadi perbaikan volume testis 60-80 % terjadi perbaikan analisis semen 50 % pasangan menjadi hamil KESIMPULAN Varikokel adalah dilatasi abnormal vena pada pleksus pampiniformis akibat gangguan aliran darah balik vena spermatika interna.

hal. 1997. hal. Jakarta. Buku Ajar Ilmu Bedah. 797 3. tindakan operasi lebih dititik beratkan pada koreksi gangguan fertilitas tersebut. DAFTAR PUSTAKA 1.available from : http://www. in : dasar-dasar urologi FK univ. Jong Wim de.Brawijaya. Edisi revisi. Purnomo B Basuki. 142-145 2.2008 54 . 2nd ed. Varicocele. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Sagung seto. Merupakan slah satu penyebab yang menyebabkan buruknya produksi sperma dan berkurangnya kualitas semen.com/health/Varicocele/DS00618 accessed on januari 20. CV.mayoclinic. Setelah diketahui adanya hubungan varikokel dengan infertilitas.jarang ditemukan pada pria diatas 40 tahun. Jakarta. 2003. Sjamsuhidajat R.

epididmis. Tunika vaginalis yang seharusnya mengelilingi sebagian dari testis pada permukaan anterior dan lateral dari testis. ketakutan. antara lain adalah perubahan suhu yang mendadak (seperti pada saat berenang). Keadaan ini menyebabkan testis dan epididimis dengan mudahnya bergerak di kantung tunika vaginalis dan menggantung pada funikulus spermatikus. Kelainan ini dikenal sebagai anomaly bell-clapper. atau trauma yang mengenai skrotum. yaitu lapisan viseralis yang langsung menempel ke testis dan di sebelah luarnya adalah lapisan parietalis yang menempel ke muskulus dartos pada dinding skrotum. Keadaan ini akan memudahkan testis mengalami torsio intravaginal. Terjadinya torsio testis pada masa remaja banyak dikaitkan dengan kelainan system penyanggah testis. Pada permukaan anterior dan lateral.TORSIO TESTIS Torsio testis adalah terpluntirnya funikulus spermatikus yang berakibat terjadinya gangguan aliran darah pada testis. testis dan epididimis dikelilingi oleh tunika vaginalis yang terdiri atas 2 lapis. tunika vaginalis mudah sekali bergerak dan memungkinkan untuk terpluntir pada sumbu funikulus spermatikus. Terpluntirnya testis pada keadaan ini disebut torsio testis ekstravaginal. Pathogenesis Secara fisiologis otot kremaster berfungsi menggerakkan testis mendekati dan menjauhi rongga abdomen guna mempertahankan suhu ideal untuk testis. Anatomi Testis normal dibungkus oleh tunika albugenia. batuk. 55 . latihan yang berlebihan. defekasi. celana yang terlalu ketat. Pada masa janin dan neonates lapisan parietal yang menempel pada muskulus dartos masih belum banyak jaringan penyanggahnya sehingga testis. pada kelainan ini tunika mengelilingi seluruh permukaan testis sehingga mencegah insersi epididimis ke dinding skrotum. Adanya kelainan system penyanggah testis menyebabkan testis dapat mengalami torsio jika bergerak secara berlebihan. Beberapa keadaan yang menyebabkan pergerakan yang berlebihan itu.

Gambaran klinis dan diagnosis Pasien mengeluh nyeri hebat didaerah skrotum. Hidrokel terinfeksi 4. Edema skrotum. Pada bayi gejalanya tidak khas yakni gelisah. edema testis. letaknya lebih tinggi dan lebih horizontal daripada testis sisi kontralateral. Tumor testis 5. Operasi Tindakan operasi ini dimaksudkan untuk mengembalikan posisi testis pada arah yang benar (reposisi) dan setelah itu dilakukan penilaian apakah testis yang mengalami torsio masih viable (hidup) atau sudah mengalami nekrosis. kecuali pada torsio testis yang sudah lama dan telah mengalami keradangan steril. Keadaan itu dikena sebagai akut skrotum. Kadang-kadang pada torsio testis yang baru saja terjadi dapat diraba adanya lilitan atau penebalan funikulus spermatikus. Epididimis akut 2. dan sitigrafi testis yang kesemuanya bertujuan menilai adanya aliran darah ke testis. yaitu dengan jalan memutar testis kearah berlawanan dengan arah torsio. Pemeriksaan sedimen urin tidak menunjukkan adanya leukosit dalam urin dan pemeriksaan darah tidak menunjukkan adanya tanda inflamasi. terjadi peningkatan aliran darah ke testis. ultrasonografi Doppler. 56 . Pada akhirnya testis akan mengalami nekrosis.Terpluntirnya funikulus spermatikus menyebabkan obstrusi aliran darah testis sehingga testis mengalami hipoksia. Diagnosis Banding 1. Pemeriksaan penunjang yang berguna untuk membedakan torsio tesris dengan keadaan akut skrotum yang lain adalah dengan memakai: stetoskop Doppler. yang sifatnya mendadak dan diikuti pembengkakan pada testis. Terapi Detorsi Manual Detorsi manual adalah mengembalikan posisi testis keasalnya. rewel atau tidak mau menyusui. Hernia skrotalis inkarserata 3. dan iskemia. testis membengkak. Pada pemeriksaan fisik. Pada torsio testis tidak didapatkan adanya aliran darah ke testis sedangkan pada keradangan akut testis.

Orkidopeksi dilakukan dengan mempergunakan benang yang tidak diserap pada 3 tempat untuk mencegah agar testis tidak terpluntir kembali.Jika testis masih hidup dilakukan orkidopeksi (fiksasi testis) pada tunika dartos kemudian disusul orkodopeksi pada testis kontralateral. 57 . sedangkan pada testis yang sudah mengalami nekrosis dilakukan pengangkatan testis (orkidektomi) dan kemudian disusul orkidopeksi pada testis kontralateral.

di antara kedua ujung anterior labia minora. 1. vesica urinaria dan uretra. Uretra pada wanita adalah suatu saluran yang pendek dari vesica urinaria ke ostium uretra eksternum. Pars bulbaris: terletak di proksimal. pelvis renalis. Uretra anterior merupakan bagian uretra pria yang memanjang dari bulbus ke meatus di puncak glans penis. Mempunyai ukuran sepanjang 20 cm. Striktura uretra sering terjadi di pars bulbaris karena sebagian besar striktur uretra terjadi karena trauma di daerah perineal. Saluran ini menutup apabila kosong. korpus kavernosum uretra sampai bagian akhir glans penis. merupakan bagian uretra yang melewati bulbus penis. menembus korpus kavernosum. Panjang 4 cm. Bagian ini terdiri dari tiga bagian yaitu bagian bulbus. Muaranya disebut ostium uretra eksternum. Uretra pada pria termasuk kelenjar prostat. dan dapat tanpa gejala atau muncul dengan ketidaknyamanan yang berat sebagai efek sekunder dari retensi urin. bagian glandular. Berjalan melalui diafragma pelvis dan diafragma urogenital. diafragma urogenital. Striktur uretra dapat berasal dari berbagai sebab. dan paling distal. Striktur uretra adalah penyempitan uretra karena berkurangnya diameter dan atau elastisitas uretra akibat digantinya jaringan uretra dengan jaringan ikat yang kemudian mengerut. terletak di bagian anterior vagina. sejak Yunani Kuno menulis tentang pembuatan drainase vesica urinaria dengan berbagai kateter. yang disebut straddle injury. Anatomi Traktus urinarius terdiri atas kaliks mayor dan minor.STRIKTUR URETRA Pendahuluan Penyakit striktur uretra telah ditemukan sejak dahulu. terbagi atas uretra anterior dan uretra posterior. 58 . ureter. Uretra merupakan suatu saluran fibromuscular yang dilalui oleh urin yang mengalir keluar dari vesica urinaria. di ventralis dari ostium vagina. pendulous. berada dalam vestibulum vagina.

Kalau bagian uretra yang lain dilapisi oleh epitel kolumner berlapis. Pars prostatika berjalan menembusi prostat. Memiliki panjang kira-kira 1-2 cm. 3. serta kurang mampu berdilatasi. Etiologi Keadaan-keadaan yang dapat menyebabkan striktur uretra : 1. korpus penis sampai ke glans penis panjang kira-kira 15 cm. Pars membranous berada di antara lapisan diafragma urogenital. dan terdiri dari: 1. Kongenital Hal ini jarang terjadi. Pars glandis: bagian uretra di glans penis. mulai dari basis prostat sampai apeks prostat dengan panjang kira-kira 3 cm.2. Pars pendulan/cavernosa/spongiosa: bagian uretra yang melewati corpus spongiosum penis. 2. 3. Pars kavernous berada di dalam korpus kavernosum penis. Misalnya: 59 . Bagian distal dari uretra pars prostatika sedikit lebih lebar daripada proksimal. Uretra ini sangat pendek dan epitelnya sudah berupa epitel squamosa (squamous compleks noncornificatum). Uretra posterior merupakan bagian uretra yang berjalan dari vesica urinaria ke bulbus. Merupakan bagian yang terpendek dan tersempit. berjalan di dalam bulbus penis.

Di dalam bedah urologi dikatakan bahwa sekali striktur maka selamanya striktur. Jadi memang sebagian besar striktura uretra Di pars Trauma uretra posterior bisa sobek. merupakan penyebab tersering striktur uretra. Jadi seperti kita ketahui. ataupun tumornya itu sendiri yang mengakibatkan sumbatan uretra 5. jaringan penggantinya juga epitel squamous. pasien harus diberi tahu bahwa pengobatannya harus sempurna.a. Akibatnya Itulah dan elastisitas ureter menghilang. TBC). perineal terkena benda keras. Kalau pada uretritis kronik. Pada uretritis akut. setelah sembuh jaringan penggantinya sama dengan iarinqan asal. b. katerisasi). yaitu proses penyembuhan tumor yang menyebabkan striktura uretra. Pembedahan terbuka atau endoskopik 60 . Namun kini perkembangan antibiotik telah menyebabkan penurunan komplikasi infeksi gonorrhea. 2. misalnya sadle sepeda. b. Divertikula kongenital -> penyebab proses striktura uretra. Kalau kita menemukan pasien dengan urteritis akut. trauma uretra anterior. 3. setelah penyembuhan. antara prostat dan os pubis dihubungkan oleh lig. Sehingga kalau ada trauma disini. Infeksi Seperti uretritis. Meatus kecil pada meatus ektopik pada pasien hipospodia. uretritisnya bisa menjadi kronik. Tumor Tumor bisa menyebabkan striktura melalui dua cara. sebabnya pasien harus benar-benar diberi tahu agar menuntaskan pengobatan. terjadi dibagian-bagian yang terfiksir seperti bulbus dan prostat. pendulan jarang terjadi cedera karena sifatnya yang mobile. Jadi kalau asalnya epitel squamous. prostatektomi. a. Trauma Merupakan penyebab terbesar striktura (fraktur pelvis. tindakan sistoskopi. ligamentum tertarik. Kalau pengobatannya tidak tuntas. Infeksi gonorrhea pada uretra biasa menjadi penyebab utama striktur uretra. fibrous. misalnya karena straddle injury. puboprostaticum. jaringan penggantinya adalah jarinqan lumen uretra menjadi sempit. Fraktur/trauma pada pelvis dapat menyebabkan cedera pada uretra posterior. 4. Trauma uretra anterior. baik spesifik maupun non spesifik (GO. Pada straddle injury. sehingga menimbulkan trauma uretra pars bulbaris.

2. Pada penyempitan derajat berat kadang kala teraba jaringan keras di korpus spongiosum yang dikenal dengan spongiofibrosis. Tapi kalau terjadi penyempitan karena striktur. 3. Mirip seperti pancaran keran di westafel kalau ditutup sebagian. Pancaran air kencing lemah. Dikatakan nocturia 61 . yang merupakan keluhan paling sering. Aliran urine yang terhambat mencari jalan keluar di tempat lain (proksimal dari striktur) dan akhirnya mengumpul di rongga periuretra. maka pancarannya akan jadi turbulen. yaitu lebih dari tuiuh kali. 2. Berat : jika terdapat oklusi lebih besar dari ½ diameter lumen uretra. Sedang : jika terdapat oklusi 1/3 sampai ½ diameter lumen uretra. Derajat Penyempitan Uretra 1. yang akan pecah membentuk fistula uretrokutan. 3. Ringan : jika oklusi yang terjadi kurang dari 1/3 diameter lumen uretra. Frekuensi Disebut frekuensi apabila kencing lebih sering dari normal. Apabila sering kencing di malam hari disebut nocturia. Pancaran air kencing bercabang Pada pemeriksaan sangat penting untuk ditanyakan bagaimana pancaran urinnya. Bila terjadi abses multiple atau berulang sehingga terbentuk beberapa fistel yang disebut fistel seruling. Striktur uretra terjadi setelah perlukaan pada urotelium atau korpus spongiosum yang menyebabkan pembentukan jaringan parut. Patofisiologi Proses radang akibat trauma atau infeksi pada uretra akan menyebabkan terbentuknya jaringan sikatrik pada uretra. pemasangan kateter juga dapat menyebabkan striktur. Normalnya. Gejala Klinis Gejala striktur uretra meliputi : 1.Prosedur bedah yang melibatkan uretra dapat menghasilkan striktur. Jika terinfeksi dapat terjadi abses periuretra. Walaupun jarang. pancaran urin jauh dan diameternya besar. Jaringan sikatrik pada lumen menimbulkan hambatan aliran urine sehingga terjadi retensi urine. Fase dekompensasi yang timbul pada saat vesica urinaria berkontraksi menimbulkan residu urin yang memudahkan terjadinya infeksi.

Uretrosistografi Pemeriksaan urethrocystography ini diindikasikan setelah terjadi trauma. Vesika urinaria dapat teraba karena ada retensio urine. Meatus kecil c. Pada urethrocystography bahan kontras dimasukkan dengan semprit yang ujungnya sesuai dengan meatus uretra eksterna. b. Pemeriksaan tidak dilakukan bila terdapat infeksi uretra yang akut. kencing lebih dari satu kali. diisi sampai kontras masuk ke vesica urinaria. 5. Tidak jelas. Keadaan umum pasien baik 7. Overflow incontinence (inkontinensia paradoxal) Terjadi karena meningkatnya tekanan di vesica akibat penumpukan urin yang terus menerus. Jadi disini terlihat adanya perbedaan antara overflow inkontinensia (inkontinesia paradoksal) dengan flow incontinentia. Vesika terlihat menonjol di atas simfisis pubis. misalnya akibat paralisis musculus sphincter uretra. urin keluar tanpa adanya keinginan untuk kencing. dan keinginan kencingnya itu sampai membangunkannya dari tidur sehingga mengganggu tidurnya. Pada flow incontinenntia.apabila di malam hari. karena memang letaknya di uretra. Keadaan umum pasien jelek bila telah lama akibat adanya perubahan pada faal ginjal (infeksi -> striktur -> refluks -> hidroureter -> hidronefrosis -> faal ginjal turun). bila terdapat darah dalam urin serta dicurigai terjadi fraktur pelvis. 2. Radiologi a. pasien merasa ingin kencing (karena vesicanya penuh). Kalau pada overflow incontinence. kecuali bila ada fistula uretrocutaneus. 4. 62 . Dysuria dan hematuria 6. Tekanan di vesica menjadi lebih tinggi daripada tekanan di uretra. Fisik : a. Itulah sebabnya disebut inkontinensia paradoxal. Pemeriksaan 1. Akibatnya urin dapat keluar sendiri tanpa terkontrol. namun urin keluar tanpa bisa dikontrol.

Foto diambil pada waktu pengisian kontras dengan posisi antero-posterior. Vesica urinaria perlu diperiksa dari posisi anterior. si pemeriksa harus memakai apron dan sarung tangan Pb. Jika mungkin. Pemeriksaan dengan cara memasukkan kateter. Micturating Cystourethrography Pemeriksaan radiografi vesica urinaria dan uretra setelah pengisian medium kontras dan selama miksi.Selain itu. Pengambilan foto radiografi selama miksi termasuk posisi oblik ureter distal. serta total tidaknya striktur). vesica urinaria dan uretra. posisi miksi pada pasien pria yang paling mudah adalah posisi berdiri. Pemasukan medium kontras diatur dengan fluoroskopi intermitten. vesica urinaria diisi dari botol yang diangkat setinggi 1 m di atas meja pemeriksaan dan pengisian dilanjutkan sampai penderita merasakan keinginan kuat untuk miksi. Vesica urinaria diisi melalui kateter (alternatif lain melalui pungsi vesica suprapubik) dengan medium kontras yang dapat larut dalam air dan telah dihangatkan sesuai dengan suhu tubuh sebanyak 200 ml. lateral dan oblik untuk menemukan adanya fistula. 63 . Uretrosistografi bipolar (untuk mengetahui panjang. pemeriksaan juga dapat dilakukan dengan cara menggunakan klem atau dengan cara memasukkan kateter kecil ke distal penis. striktur uretra menyebabkan dilatasi uretra bagian distal dari obstruksi. Pada gambaran urethrocystography. sehingga panjang dan juga ketebalan striktur dapat diketahui. Pada orang dewasa. dan setelah beberapa menit kateter Foley dimasukkan sampai balonnya terletak lebih kurang 1 cm dari lubang uretra. divertikel atau ruptur. oblik kanan dan kiri. sebelumnya harus memasukkan anestetik lokal ke dalam uretra. Biasanya juga terlihat ekstravasasi kontras. Kontras dimasukkan setelah balon dikembangkan. Pasien wanita dapat duduk. Dikatakan striktur total bila sampai tidak ada kontras yang tersisa pada striktur. Oleh karena itu. b. Keuntungan Uretrosistografi bipolar : Mengetahui persis panjang striktur Mengetahui total penyempitan Mengetahui persis lokasinya c. Kontras bisa di atas (pool atas lewat vesika urinaria) ataupun di bawah (pool bawah lewat uretra).

Diagnosa Banding Ruptura Uretra Gambaran ekstravasasi kontras. Diagnosis pasti pada wanita adalah dengan bougie a boule. dimana kadar ureum/kreatinin naik menunjukkan adanya kerusakan fungsi ginjal. 3. dengan melihat ada tidaknya tulang pelvis yang retak. uretra posterior terlihat dilatasi. Melihat sisa urin (Post Voiding/ PV) pada striktur parsial yang biasanya disertai BPH (Benign Prostate Hyperplasy).Selama micturating cystourethrography. IVP IVP dilakukan untuk: a. Striktur dapat juga dicurigai berdasarkan gejala dan riwayat medik seseorang. 64 . Hb. Diagnosis pasti dibuat dengan pemeriksaan yang dikenal dengan uretrografi retrograde atau urethrocystography. BPH Terapi 1. tetapi karakteristik uretra posterior adalah gambaran suatu balon. plastik) Yaitu dengan memasukkan bahan dari logam atau plastik untuk memperlebar saluran yang mengalami penyempitan tadi. Diagnosis Diagnosis pertama kali ditegakkan ketika pemasangan kateter melalui uretra tidak dapat dilakukan. b. Melihat anatomi saluran kencing bagian atas . Konservatif: bouginasi (logam. Melihat tulang pelvis (post trauma). c. Laboratorium Pemeriksaan darah menilai faal ginjal. Selain itu juga dilakukan pemeriksaan darah rutin. Kadang tidak terlihat. dengan tanda khas berupa hambatan pada waktu lepas.

Indikasi Sache adalah: Struktur lumen masih berlubang (incomplete) Striktur pendek. Operatif a. sehingga bahan tadi bisa tembus ke rektum. maka tidak dianastomose lagi karena bentuknya bisa seperti belut ketika ereksi. Tertutup (uretrotomi interna). yaitu: Jika pendek (0. Striktur uretra rekuren 4. Untuk striktur yang panjang ini operasi dilakukan dalam dua tahap menurut Johansen. Abses periuretra 65 . b. Itulah sebabnya pada pemasangan kateter. Terutama sekali di daerah pars bulbaris. tapi di Indonesia teknik ini dilakukan juga pada striktura yang panjangnya 1-2 cm (asal partial). Bentuk uretra seperti huruf S. Dapat terjadi cedera di bagian belokan. Terbentuknya divertikel uretra/ buli-buli 5. Infeksi traktus urinarius 2. dapat berupa otis (tanpa lensa) dan dengan sache (dengan lensa). Komplikasi 1.Hal ini harus dilakukan dengan hati-hati.5 cm. Prosedur sache ini yang paling sering digunakan. yaitu: Tahap I.5-1 cm) -> reseksi anastomose end to end. Terbuka. Jika panjang. karena yang melakukan harus tahu betul bentuk uretra. 2. ada 2 cara. dibuat hipospodia (muara uretra terletak di ventral proksimal dari penis) Tahap II. bentuk uretra diubah dulu menjadi bentuk huruf L atau U. Maksudnya untuk membuat uretra menjadi berbentuk L atau U itu tadi. Fistula uretrokutan 3. mukosa buccal. fiksasi dilakukan di bagian depan paha atau di abdomen bagian bawah. Tindakan ini dapat dilakukan untuk pasien pasca prostatektomi dan striktura yang parsial. akibat tingkat residifnya tinggi. yaitu hipospodia artifisial. yaitu uretroplasti berupa menutup uretra yang terbuka dengan mengambil dari preputium. Panjangnya < 0. Oleh karena itulah sewaktu dilakukan tindakan. atau dari belakang daun telinga.

com http://www. Karsinoma uretra Pencegahan Tindakan pencegahan yang paling penting adalah berhati-hati terutama dalam pemasangan kateter. Batu uretra 7.com/2005/11/striktur-uretra.blogspot.html http://www. DAFTAR PUSTAKA http://medika.com/2006/05/striktura-uretra.com 66 .kalbefarma.html http://agusjati.6.medicastore.blogspot.

prostat. Manifestasi klinis tergantung dari letak tumor. Metastasis pada organ lain juga dapat terjadi dan dapat mengakibatkan gangguan organ tersebut dan memberikan manifestasi klinis pada organ yang terkena. N adalah penyebaran tumor secara limfogen. Keganasan urogenital dapat terjadi mulai dari ginjal.TUMOR UROGENITAL Pendahuluan Tumor traktus urogenitalia merupakan keganasan yang sering ditemukan pada tempat praktek sehari hari yang mungkin terlewatkan karena kurang kewaspadaan dokter mengenali penyakit ini.T4. N diberi tanda N0 – N3. testis dan penis. stadium dan penyulit yang disebabkan oleh tumor tersebut. uretra. ureter. M adalah penyebaran secara hematogen ke organ-organ lain yang letaknya berjauhan dari tumor primer. Hematuri ini sering sembuh sendiri sehingga pasien tidak datang untuk berobat dan tumor tetap tumbuh dan membesar serta mengadakan penyebaran terus sehingga pasien biasanya datang dengan stadium yang sudah lanjut. Diberi tanda M0 . T adalah tingkat pertumbuhan tumor di dalam organ atau tingkat penyebaran tumor ke organ sekitarnya. T diberi tanda T0 . buli-buli. Sedangkan penulisan derajat diferensiasi sel berdasarkan atas pemeriksaan histopatologi dengan : G1 : diferensiasi baik G2 : diferensiasi sedang G3 : diferensiasi buruk Untuk mengetahui apakah sel-sel telah menjadi ganas dpat dilakukan pemeriksaan patologi yaitu sitopatologi melalui pemeriksaan sitologi urine dan 67 . tingkat tumor dinyatakan dengan system TNM atau Tomor Nodul Metastasis.M1. dinilai dengan adanya pembesaran limfonoduli yang mengandung sel-sel ganas. Stadium Pengukuran derajat penyebaran tumor diukur dalam stadium tumor menurut UICC ( union International Centre Le Cancere ) atau perhimpunan kanker internasional. Gejala yang penting dan sering dianggap remeh adalah adanya hematuri yang berulang.

Hamartoma ginjal Hamartoma atau angiomiolipoma merupakan tumor yang terdiri dari komponen lemak. Tumor ini sering terjadi pada pasien dengan tuberous sklerosis atau penyakit boumeville yaitu kelainan bawaan yang ditandai dengan retardasi mental. 68 . pembuluh darah dan otot polos. Untuk mengetahui ganas tidaknya suatu jaringan yang diperiksa. adenoma sebaseum dan hamartoma. Namun sering banyaknya penggunaan USG abdomen sebagai screening di klinik-klinik rawat jalan makin banyak ditemukan tumor ginjal yang masih dalam stadium jinak. Tumor ginjal jinak lebih jarang ditemukan daripada tumor ganas. jenis histopatologinya.sitologi yang diperoleh dari FNAB ( Fine Nedlee Aspiration Biopsy ) atau BJAH ( Biopsi Aspirasi Jarum Halus ). Tumor ini banyak menyerang wanita dewasa daripada pria dengan ratio 4 : 1. Tumor ganas kortex adalah adenokarsinoma dan nefroblastoma. Tumor jinak kortex adalah adenoma. hamartoma. Gejala klinisyang mungkin dikeluhkan adalah nyeri pinggang. Tumor saluran ginjal jinak adalah pailoma. TUMOR GINJAL Di rumah sakit merupakan tumor saluran kemih ketiga terbanyak yang ditemukan setelah tumor prostat dan tumor buli-buli. Sedangkan tumor ganas saluran ginjal adalah tumor pelvis renalis. onkositoma. Gambaran klinis Pada hamartoma sering tanpa gejala biasanya ditemukan tidak sengaja pada pemeriksaan USG. Tumor ginjal berdasarkan letak dibagi menjadi dua : tumor pada kortex ginjal dan tumor pada system saluran ginjal. Tumor pada saluran ginjal juga dibagi menjadi jinak dan ganas. epilepsy. lipoma. stadium patologi dan derajat diferensiasi tumor untuk menegakkan diagnosis suatu keganasan menggunakan suatu pemeriksaan histopatologis dengan bahan pemeriksaan yang didapat dari biopsy jaringan atau specimen lengkap hasil operasi. Tumor pada kortex ginjal dibagi menjadi jinak dan ganas.

Penyebaran tumor ini dapat terajdi secara ekspansi lokal dengan simpai. hematogen. Stadium NWTS ( Natinal Wilm’s Tumor Study ) membagi tingkat penyebaran tumor ( setelah dilakukan nefrektomi ) dalam 5 stadium : I.hematuri.gejal obstruksi saluran kemih bagian atas dan kadang terdapat perdarahan retroperitoneal. Penatalaksanaan Jika tumor kecil dan tidak mengganggu tidak perlu diobati tetapi jika tumor besar dan mengganggu dilakukan nefrektomi. Kadang juga ditemukan hematuri dan hipertensi. Gambaran ini patognomonis untuk hamartoma. Diagnosis Hamartoma dapat ditentukan dengan USG yang memberikan gambaran hiperekoik dan dapat pula dikonfirmasi dengan CT scan ampak area dengan densitas negative. Tumor terdapat pada ginjal dan dapat di eksisi dengan sempurna 69 . Biasanya terjadi unilateral tetapi dapat juga terjadi bilateral. struma dan epitel. Biasanya terjadi pada anak-anak dibawah umur 10 tahun dan paling sering terjadi pada anak umur 3. Atau dapat pula bersamaan dengan penyakit tuberous sklerosis. Gambaran klinis Biasanya tumor tidak bergejala atau biasanya pasien dibawa ke dokter karena perutnya membuncit karena teraba adanya massa. Nefroblastoma Tumor ini dikenal dengan tumor Wilms yang berasal blastema metanefrik dan terdiri dari blastema. melalui vena kava atau vena renalis atau secara limfogen.5 tahun.

CT scan juga dapat memberi gambaran pembesaran ginjal dan sekaligus menunjukkan pembesaran kelenjar regional atau infiltrasi tumor ke jaringan sekitarnya. III. Diagnosis banding Hidronefrosis atau kista ginjal yang merupakan benjolan dengan konsistensi kistik. Penatalaksanaan Bila tumor masih dalam stadium dini dan ginjal di sebelah kontralateral masih normal dapat dilakukan nefrektomi radikal. mungkin telah mengadakan penetrasi ke jaringan lemak perirenal. Ada sisa sel tumor di abdomen yang mungkin berasal dari : biopsy atau rupture yang terjadi sebelum atau selama operasi IV. Adenokarsinoma ginjal Tumor ini dikenal dengan nama tumor grawitz dan merupakan tumor ganas parenkim ginjal yang berasal dari tubulus proksimal ginjal. 70 . Tumor ini banyak didapatkan pada pria daripada wanita dengan ratio 2 : 1 dan juga banyak didapatkan pada usia diatas 40 tahun. Pada neuroblastoma biasanya keadaan pasien lebih buruk dan pada pemeriksaan IVP terjadi pendesakan system kaliks gnjal ke kaudolateral serta kadar VMA dalam urin meningkat sedangkan pada tumor Wilm’s kadar VMA normal. Diagnosis Metastasis hematogen Tumor bilateral Dengan USG ditemukan massa padat pada perut ( retroperitoneal ) sebelah atas. Biasanya terjadi unilateral. Pada pemeriksaan dengan IVP tampak adanya gambaran distorsi system pelvikokalises atau mungkin terdapat ginjal non-visualized. Tumor meluas keluar ginkal dan dapat dieksisi sempurna. Dan dipastikan dengan pemeriksaan histopatologik. V.II. Kadang kala diawali dengan pemberian sitostatika dengan kombinasi Actinomycin D dengan Vincristine dan radiasi eksterna karena tumor Wilm’s bersifat radiosensitive. Dan teratoma peritoneum. limfonoduli para aorta atau vasa renalis. Atau dapat juga foto thoraks untuk mengetahui adanya metastasis karena 85 % metastasis ke paru. Factor resiko yang paling dekat menyebabkan tumor ini adalah merokok.

dan dengan pemerikasaan histopatologis. Fasia gerota merupakan barier yang menahan penyebaran tumor ke organ sekitarnya. Hormonal dengan memberikan progestagen tetapi efeknya belum diketahui. Penyebaran tumor ini bisa secara langsung menembus simpai ginjal ke jaringan sekitarnay dan melalui pembuuh limfe atau v. polikistik ginjal dan tuberculosis ginjal. CT scan merupakan pemeriksaan yang mempunyai akurasi tinggi pada karsinoma ginjal dan juga untuk mengetahui penyebaran tumor. Kadang ditemukan juga tanda sindroma paraneoplastik seperti polisitemia. pencitraan dengan USG hanya untuk mengetahui massa solid atau tidak. Gambaran klinis Didapatkan trias klasik yaitu hematuri makroskopik. Diagnosis banding Hidronefrosis. Stadium IV : tumor menjalar ke organ sekitarnya / metastasis jauh. Penatalaksanaan Nefrektomi radikal yaitu mengangkat ginjal dengan kapsula Gerota. hasilnya tidak memuaskan hanya untuk mencegah metastasis karena tumor ini bersifat radioresisten. Gejala lain yang Nampak adalah febris. nyeri pinggang dan massa di daerah ginjal merupakan tanda tumor dalam stadium lanjut. Stadium III : tumor invasi ke vasa renalis/ v.Biasanya tumor ini disertai dengan pseudo kapsul yang terdiri atas parenkim ginjal yang tertekan oleh jaringan tumor dan jaringan fibrosa. Sitostatika juga tidak banyak memberikan manfaat. kava atau limfonoduli regional. anemia karena perdarahan intratumoral. hipertensi. Stadium II : Tumor ke jaringan lemak perirenal dengan fasia Gerota masih utuh. hiperkalsemia dan gangguan fungsi hati yang non metastatic. Stadium Stadium I utuh. Diagnosis Diagnosis ditegakkkan dengan ditemukannya gejala klinis. : Tumor masih terbatas dalam ginjal dengan fasia Gerota masih 71 . MRI dan arteriografi selektif juga merupakan pilihan untuk menegakkan diagnosis. Imunoterapi dengan mengguankan Interferon atau dikombinasi dengan interleukin tetapi hasilnya juga belum diketahui.renalis. Radiasi eksterna.

Menurut jenis histopatologisnya tumor ini dibedakan menjadi dua jenis : 1. Pemeriksaan sitologi urin dengan mengambil urin melalui kateter ureter. TUMOR URETER Hampir semua tumor ureter adalah karsinoma sel transtitional. Penatalaksanaan Nefrouretrektomi dilakukan dengan mengangkat sebagian dinding buli-buli sekitar muara ureter yang bersnagkutan. lalu dapat menggunakan USG dan CT scan untuk dapat membedakan apakah massa tersebut batu. uretra proksimal karena pada organ tersebut juga terdapat sel transtitional. 2. Gambaran klinis Yang sering dikeluhkan pasien adalah kencing darah ( 80 % ). Angka kejadian tumor ini sangat jarang sekitar 1 % dari seluruh tumor urogenitalia. Gambaran klinis Gejala yang sering dikeluhkan adalah nyeri pinggang. Lebih dari 10 % pasien ini tidak pernah 72 . Tumor ini kurang memberikan respon dengan pemberian sitostatika dan dengan radiasi eksterna. Jika dicurigai ada massa maka dilakukan pemeriksaan histopatologi. IVP berguna untuk menemukan tumor ini dengan terlihat adanya filling defect dan tampak gambaran massa radiolusen. Keadaan tersebut akibat adanya bendungan akibat tumor sehingga menjadi hidronefrosis. Kadang disertai juga nyeri pinggang dan teraba massa di pinggang.Tumor pelvis renalis Tumor ini sangat jarang ditemukan. hematuri kambuhan atau gejala dari obstruksi oleh tumor. buli-buli. Untuk tumor yang sudah menyebar. biasanya merupakan metaplasia sel-sel pelvis renalis karena adanya batu yang menahun pada pelvis. kemoterapi dengan cisplastin merupakan cara pengobatan yang dianjurkan. tuberkuloma atau hemangioma pada pielum ginjal. Karsinoma sel skuamosa. yang juga dapat menyerang ureter. Melalui alat uretrorenografi dapat dilihat langsung keadaan pielum. Diagnosis Diagnosis dapat ditegakkkan dengan ditemukannya gejala klinis. Tumor ini biasanya terdapat pada ureter distal. Karsinoma sel trantitional.

opium dan INH dalam jangka lama juga meningkatkan resiko ).tumor ganas ini berkembang dari epitel yang atipik atau dysplasia yang berupa lesi yang mengalami proliferasi dan mengalamai infiltrasi ke lamina propria. Pemakaian uretroskopi lebih dianjurkan untuk melihat langsung tumor dan sekaligus melakukan biopsy. kadang terdapat hidronefrosis atau ginjal non visualized dan dalam keadaan ini dilakukan pemeriksaan pielografi retrograde. pemanis buatan.coli dan proteus sp. Pada daerah industry tingkat kejadian meningkat tajam. Tumor ini dua kali lebih banyak pada pria daripada wanita. noduler ( infiltrative ) atau campuran ( papiller dan infiltrative ).mengeluh dan tumor diketemukan secara tidak sengaja pada saat screening dengan USG atau pada pemeriksaan IVP. makanan dan obat-obatan ( kebiasaan mengkonsumsi kopi. Pada kelainan jinak sel epitel atipik atau dysplasia mengalami hiperplasi tanpa perubahan 73 . Untuk tumor yang terdapt pada distal ureter dapat dilakukan reseksi parsial ureter dan muaranya di kandung kemih serta neoureterovesikostomi. Menghasilkan zat nitrosamine yang karsinogenik ). ISK ( E. Diagnosis Diagnosis dapat ditegakkan dengan ditemukannya gejala klinis. pabrik kulit. penggunaan obat seperti siklofosfamid. salon sering terpapar bahan karsinogen berupa senyawa amin aromatic ). non-invasive ( in-situ ). lemak perivesika lalu kemudian menyebar langsung ke jaringan sekitar dengan limfogen atau hematogen. ureter berada di cuff buli-buli sebanyak 2 cm di sekeliling muara ureter. Fktor resiko yang mempermudah terjadinya karsinoma buli-buli adalah : pekerjaan ( pekerja di pabrik kimia. perokok. IVP berguna untuk menemukan tumor ini dengan terlihat adanya filling defect di dalam lumen ureter. Bentuk tumor buli-buli : papiller. tekstil. TUMOR BULI-BULI Tumor ini merupakan keganasan kedua terbanayk pada system urogenital setelah karsinoma prostat. otot. ( resiko meningkat 2-6 kali dari yang tidak merokok ). laboratorium. Penatalaksanaan Nefroureterektomi dengan mengangkat ginjal. Sitologi urin diambil urine dengan memakai kateter uretre dan kadang dilakukan biopsy dengan alat brush biopsy. fenasetin.

Dilakukan pembedahan dengan cara sistektomi radikal. Penatalaksanaan Tindakan endoskopik merupakan terapi baku karsinoma bili-buli melalui reseksi transurethral ( TUR buli-buli ). antara lain : 1. Lalu dilakukan kemoterapi secara intravesikal dengan memberikan obat-obat Mitomisin C. Radiasi eksterna dilakukan setelah TUR buli-buli atau setelah sistektomi. kambuhan ( intermiten ) dan terjadi pada seluruh miksi ( hematuri total ). Doksorubisin atau dengan interferon. Keluhan akibat penyakit yang lanjut seperti obstruksi saluran kemih karena retensi bekuan darah atau edema tungkai karena adanya penekanan kelenjat limfe oleh massa tumor. 5 FU. Cara ini tidak banyak dipakai lagi karena menimbulkan bnayak penyulit. membuat anastomosis kedua ureter kedalam sigmoid. Diagnosis Selain melihat dari gambaran klinisnya pemeriksaan bimanual sangat berguna untuk menentukan infiltrasi. Pada sistography dan IVP tampak filling defect dalam kandung kemih. CT scan dan MRI berguna untuk menentukan ekstensi tumor ke organ sekitarnay dan dipastikan dengan pemeriksaan histopatologi untuk jaringan tumor. tidak dapat menahan kemih dan polakisuri pada karsinoma in situ yang sudah mengadakan infiltrasi luas. Dilakukan juga terapi adjuvant dengan kemoterapi sistemik. BCG. Uretrosigmoidostomi. Secara histopatologis sebagian besar tumor ini adalah karsinoma sel transisional ( 90 % ).sel atau inti. parsial atau total bila penyebaran karsinoma telah sampai otot vesika. Jika dilakukan sistektomi radikal maka selanjutnya aliran urin dari ureter dilakukan melalui beberapa cara diversi urin. Siklofosfamid. Pemeriksaan sitologi urin untuk memeriksa sel-sel urotelium yang terlepas bersama urin. 74 . sedangkan jenis lainnya karsinoma sel skuamosa ( 10 % ) dan adenokarsinoma ( 2 % ). Gambaran klinis Perlu diwaspadai jika pasien datang dengan mengeluh hematuri yang bersifat tanpa rasa nyeri ( painless ). Kadang terdapat gejala iritasi seperti disuria. Jika didapatkan hidroureter dan hidronefrosis merupakan salah satu tanda adanya infiltrasi tumor ke ureter atau muara ureter. Pemeriksaan antigen permukaan sel dan flow cytometri berguna untuk mendeteksi adanya kelainan kromoso sel-sel uretelium.

hormonal. lingkungan dan infeksi. Beberapa faktor yang diduga sebagai penyebab timbulnya karsinoma prostat adalah predisposisis genetika. Tumor ini menyerang pada usiadiatas usia 50 tahun. 3. sedangkan untuk mengeluarkan urin dipasang kateter menetap melalui sebuah stoma. TUMOR PROSTAT Merupakan keganasan urogenital yang terbanyak. penegakkan diagnosis yang lebih baik dan kewaspadaan tiap-tiap individu mengenai keganasan ini menjadi meningkat karena adanya informasi mengenai di berbagai media. Biasanya karsinoma ini berupa lesi multisentrik. mengganti buli-buli dengan ileum sebagai penampang urin. Conduit usus. Insidens ini akhir-akhir ini meningkat karena meningkatnya umur harapan hidup. Cara ini kurang praktis jadi saat ini jarang digunakan. selenium ( yang terdapat pada ikan laut. Diversi urin kontinen. daging dan biji-bijian ) dan vitamin E di duga dapat menurunkan insidens kanker prostat. 4. Karsinoma prostat sering terjadi pada zona perifer ( 75 % ) dan pada zona sentral dan transtitional ( 20 % ). pengaruh kebiasaan hidup sehari hari. Diversi urin orthotopic. urin lalu dikeluarkan dengan melakukan kateterisasi mandiri melalui stoma secara berkala. isoflavon atau fitosterol pada kedelai. daging merah dan hati diduga meningkatkan kejadian kanker prostat. mengganti buli-buli dengan segmen ileum dengan membuat stoma yang kontinen ( dapt menahan urin pada volume tertentu ). diet. betakaroten. likofen pada tomat. karena berkemih tetap melalui uretra dan tidak melalyui stoma yang dipasang di abdomen. Sedangkan vitamin A. membuat neoblader dari segmen usus halus yang kemudian dilakukan anastomosis dengan uretra. susu binatang. Kemungkinan menderita karsinoma prostat meningkat jika dalam keluarganya ada yang menderita tumor ini. sitologi urin dan sistoskopi. Diet yang mengandung banyak lemak.2. Derajat keganasan pada 75 . Semua pasien buli-buli harus melakukan pemeriksaan secara berkala dan secara rutin dilakukan pemeriksaan klinis. Kanker ini jarang menyerang pada usia dibawah 45 tahun. Keganasan prostat ini biasanya merupakan adenokarsinoma yang berasal dari kelenjar prostat yang hipotrofik pada usia decade kelima sampai ketujuh. Teknik ini dirasa lebih fisiologis untuk pasien.

lumbalis.tumor ini berdasarkan atas diferensiasi sel. Pembagian derajat keganasan ini merupakan indicator pertumbuhan daan progesifitas tumor. G II yang berdiferensiasi sedang dan G III yang berdiferensiasi buruk. Cara lain untuk mendapatkan bahan pemeriksaan adalah dengan aspirasi jarum halus ( fine needle aspiration = FNA ). Lebih dari 10 % pasien mengeluh adanya gangguan saluran kemih berupa kesulitan miksi. Tumor yang berada pada kelenjar prostat tumbuh menembus kapsul prostat dan mengadakan infiltrasi ke organ sekitarnya. Kanker pada stadium dini biasanya diketahui pada saat colok dubur berupa nodul keras pada prostat atau secara kebetulan diketemukan adanya peningkatan PSA ( Prostate Specific Antigen ) pada saat pemeriksaan laboratorium. Penyebaran secara limfogen melalui kelenjar limfe melalui kelnjar limfe daerah pelvis menuju kelenjar limfe retroperitoneal. Sediaan biopsy dapat diperoleh dengan menggunakan jarum biopsy besar secara transrectal atau transperineal. pemeriksan fisik yang penting adalah colok dubur. Walaupun jarng. paru. Kanker prostat yang sudah metastasis ke tulang menyebabkan nyeri pada tulang. dan otak. Untuk keganasan prostat dikenal dengan petanda tumor fosfatase asam prostat ( PAP ) dan Antigen khas prostat ( Prostate Spesific Antigen ) yang sensitivitasnya 76 . Gambaran klinis Pada kanker prostat dini biasanya belum menunjukkan gejala apa-apa. Pada stadium dini sulit dideteksi sengan colok dubur sehingga untuk mendiagnosa dibantu dengan ultrasonography transrectal ( TRUS ). fraktur pada tempat metastasis atau kelainan neurologic jika metastasis ke tulang vertebra. Jika dicurigai ada daerah hipoekoik selanjutnya dilakukan biopsy transrectal pada area tersebut dengan bimbingan TRUS. Metastasis ke tulang umumnya bersifat osteoblastik. Derajat G I yaitu berdiferensiasi baik. v. Kebanyakan penderita datang pada stadium lamjut dengan tanda obstruksi atau tanda metastasis ke organ lain. kanker juga dapat menekan rectum sehingga mengeluh kesulitan BAB. CT scan dapat untuk mengetahui adanya metastasis. MRI lebih akurat dalam menentukan ekstensi tumor ke ekstrakapsuler atau ke vesikula seminalis. disuri atau hematuri yang menunjukkan bahwa kankaer telah menekan uretra. Diagnosis pasti hanya dengan pemeriksaan patologik. atipik sel dan kelainan inti sel. hepar. kosta. Diagnosis Selain melihat dari gejala klinisnya.

PSA dapat digunakan untuk mengikuti perkembangan penyakit atau hasil pengobatan.tinggi dan spesifisitasnya tidak terlalu tinggi. Jadi pada terapi ini dilakukan dengan pemberian obat untuk melakukan blockade androgen total. Tumor non germinal diantaranya adalah tumor sel leydig. Penyebab tumor belum diketahui pasti. atrofi atau infeksi testis dan pengaruh hormone. disfungsi ereksi dan inkontinensia. Prostatektomi radikal dilakukan pada stadium T1-2N0M0 dengan mengangkat seluruh prostat dan vesikula seminalis. derajat diferensiasinya dan umur harapan hidup. respons terhadap radiasi dan prognosisnya. Tetapi dengan tekhnik nerve sparring dapat dicegah terjadinya penyulit. Pemberian radiasi biasanya didahului dengan limfadektomi dan dengan cara terapi hormonal. sel sertoli dan gonadoblastoma. trauma testis. Pada stadium yang masih dini dilakukan observasi seumur hidup. Selain untuk keperluan diagnosis. tetap lebih tinggi dibandingkan PAP. Radiasi dilakukan untuk pasien tua dan tumor yang telah mengadakan metastasis. yaitu : maldesensus testis. Penatalaksanaan Tindakan yang dilakukan tergantung daripada stsium. Sifat seminoma berbeda dengan non seminoma antara lain derajat keganasannya. tetapi berdasarkan teori dari hugin’s yaitu : “ sel epitel prostat akan mengalami atrofi jika sumber androgen ditiadakan. PSA kadang juga meninggi pada hipertrofi prostat dan peninggian ini proporsional dengan berat jaringan prostat. hanya pada operasi ini dapat terjadi penyulit seperti perdarahan. tetapi terdapat beberapa factor yang meningkatkan insidens terjadinya tumor ini. Sebagian bear tumor ini berasal dari sel germinal ( 95 % ) yang terdiri atas seminoma dan non seminoma sedangkan isinya berasal dari non germinal. Pada metastasis tulang kadar PSA darah meningkat. 77 . TUMOR TESTIS Tumor ini merupakan keganasan terbanyak pada pria yang berusia 15-35 tahun dan merupakan 1-2 % semua neoplasma pada pria. Perbaikan pada pasien ini sekarang menjadi lebih baik karena etrdapat sarana diagnosis yang lebih baik karena terdapat sarana diagmosis yang lebih baik dan diketemukan patanda tumor serta tekhnik pembedahan yang lebih baik.

monitoring respon pengobatan dan sebagai indicator prognosis tumor testis. CT scan digunakan untuk menentukan ada tidaknya metastase pada retroperitoneum. Gambaran klinis Pasien biasanya mengeluh adanya pembesaran pada testis yang biasanya tidak nyeri. funikulus spermatikus atau bahkan ke kulit skrotum. 78 . teratokarsinoma atau tumor yolk sack tetapi tidak pada tumor karsinoma murni dan seminoma murni. padat. Biopsy atau pendekatan trans-skrotal tidak diperbolehkan karena bisa sel-sel tumor bisa menyebar. MRI digunakan untuk mnegetahui luas ekstensi tumor testis. Tunika albugenia merupakan barier bagi perjalanan tumor ke organ lain. Dari hasil pemeriksaan patologi dapat dibedakan jenis seminoma atau nonseminoma. Perhatikan adnya infiltrasi tumor pada funikulus atau epididimis. Penanda yang paling sering diperiksa adalah AFP ( alfa feto protein ) biasa meningkat pada karsinoma embrional. pasien karsinoma embrional dan seminoma murni. Diagnosis USG dapat membedakan lesi intra testikular atau ekstra testikuler dan massa padat atau kistik. karena itu bahan untuk pemeriksaan di ambil dengan orkidektomi dengan pendekatan inguinal. penatalaksanaan pada dugaan tumor testis tidak boleh dilakukan biopsy testis. Pada jenis seminoma responnya sangat baik terhadap radiasi sedangkan jenis non-seminoma tidak sensitive sehingga dilakukan pembersihan kelenjar retroperitoneal atau retroperitoneal lymphonode dissection ( RPLND ). HCG ( Hman Chorionic Gonadotropin ) biasa meningkat pada semua pasien koriokarsinoma. Pada pemeriksaan fisik testis terdapat benjolan keras.Tumor testis pada mulanya berupa lesi intratestikular yang akhirnya mengenai seluruh parenkim testis dan kemudian menyebar ke rete testis. epididimis. tidak nyeri pada palpasi dan tidak menunjukkan tanda transiluminasi. Sehingga jika tunika ini rusak peluang sel-sel tumor untuk menyebar lebih besar. penentuan stadium tumor. Penanda tumor juga berguna untuk membantu diagnosis. Pemberian sitostatika terlebih dahulu diharapkan terjadi downstaging dan ukuran tumor akan mengecil.

Diagnosis ditegakkan melalui pemeriksaan patologi dan biopsy pada lesi primer. glans dan batang penis. ulserasi serta perdarahan. Diagnosis Tidak ada pemeriksaan laboratorium yang khas. penektomi parsial ( jika tumor terbatas pada glans atau batang sebelah distal ). Penatalaksanaan Pengelolaan tumor ini dibagi menjadi dua tahap. Karsinoma sel skuamosa ini berasal dari kulit preputium. Kadang didapatkan pembesaran kelenjat limfe inguinal yang nyeri karena infeksi atau pembesaran kelenjar limfe subklavia. lesi datar atau lesi ulseratif. FaKtor penyebab utama adalah rangsangan lama seperti balanoprostitis kronik pada fimosis. Tahap yang kedua ditujukan terhadap metastasis pada kelenjar limfe inguinal dengan cara pemberian antibiotic setelah operasi pada lesi primer jika klenjar masih tetap ada 79 . yang pertama ditujukan pada tumor primer yang bertujuan menghilangkan tumor secara paripurna. pemeriksaan pencitraan dibutuhkan untuk menentukan penyebaran ke organ lain. Karsinoma penis pada stadium awal berupa bentukan tumor papiler. terapi laser dengan Nd : YAG. lesi eksofitik. Lesi primer berupa tumor yang kotor. mencegah kekambuhan dan mempertahankan penis agar dapat miksi dengan berdiri atau dapat melakukan senggama. penektomi total dan uretrostoi perineal ( untuk tumor batang sebelah proksimal ). melanoma. Sirkumsisi pada masa anak dapat memperkecil terjadinya karsinoma pada kemudian hari. dengan kemoterapi dengan krim 5 FU ( untuk tumor in-situ atau eritroplasia Queryat ) dan dengan radiasi eksterna. takut dan merasa berdosa karena mengalami penyakit seperti itu. Fasia Buck berfungsi sebagai barier dan jika fasia ini telah terinfiltrasi oleh tumor sel kanker menjadi lebih mudah mengadakan invasi hematogen. Gambaran klinis Biasanya pasien datng terlambat karena malu. berbau dan serimg mengalami infeksi. Tindakan yang dapat dilakukan adalah sirkumsisi ( jika tomor terbatas pad preputium ).TUMOR PENIS Tumor ganas ini terdiri dari karsinoma sel basal. Tumor kemudian mengadakan invasi limfogen ke kelenjar limfe inguinal dan selanjutnya menyebar ke kelenjar limfe di daerah pelvis hingga subklavia. tumor mesenkim dan yang paling sering adalah karsinoma sel skuamosa.

Penerbit Buku Kedokteran EGC. Edisi revisi. hal.Brawijaya. Bila kelenjar terlalu besar sehingga inoperable ( tidak bisa diangkat ) maka dapat dicoba pemberia sitostatika atau radiasi paliatif dengan harapan ukurannya mengecil. 2003.186 5. 774 – 790 80 . CV. Sjamsuhidajat R. hal. Sagung seto. Jakarta. 161 . in : dasar-dasar urologi FK univ.dilakukan diseksi kelenjar. Buku Ajar Ilmu Bedah. 2nd ed. Jakarta. 1997. Purnomo B Basuki. Jong Wim de. DAFTAR PUSTAKA 4.

ataupun keganasan pada traktus urinarius. pemakaian obat-obat penghilang rasa sakit secara berlebihan. Penelitian menunjukkan bahwa sekitar 9% sampai 18% dari individu normal dapat mempunyai gejala hematuria dalam tingkat tertentu. Etiologi Adanya sel darah merah dala urine tidak selalu merupakan tanda dari adanya penyakit yang serius. walaupun begitu. Diperkirakan hematuria timbul pada 2. termasuk ginjal. batu. Pada banyak pasien tidak ditemukan penyebab hematuria yang spesifik. dan terpapar dengan zat kimia tertentu. ureter.5% sampai dengan 21% dari populasi. kandung kencing. Tetapi hematuria dapat menjadi tanda dari kondisi medis yang sangat penting yang memerlukan penaganan segera.HEMATURIA Hematuria adalah suatu keadaan dimana terdapat sel darah merah pada urine. Hematuria dapat dibagi menjadi dua yaitu “gross” ( dimana jumlah sel darah merah yang terdapat di urine berjumlah banyak dan dapat terlihat dengan mata telanjang) dan “microscopic” ( dimana jumlah sel darah merah yang terdapat di urine sedikit dan hanya dapat dilihat dengan mikroskop. prostat. radiasi. dan urethra. Hematuria dapat berasal dari bagian manapun di sepanjang traktus uriarius. Microscopic hematuria biasanya secara tidak sengaja ditemukan pada saat dilakukan pemeriksaan urim rutin sedangkan gross hematuri biasanya membawa pasien datang berobat. Dibawah ini adalah beberapa penyebab hematuria yang tersering: ● Kanker kandung kemih ● Kanker ginjal ● Kanker prostat ● Kanker ureter ● Kanker urethra ● Batu traktus urinarius ● Infeksi traktus urinarius 81 . hematuria dapat menjadi tanda untuk infeksi. Faktorfaktor resiko yang dapat meyebabkan timbulnya penyakit.tersebut termasuk merokok.

tumor ureter dan batu pada traktus urinarius. Pemeriksaan ureum kreatinin darah juga perlu dilakukan untuk menilai fungsi ginjal. Pemeriksaan radiologi ginjal dan ureter perlu dilakukan untuk mendeteksi adanya massa pada ginjal. bentuk sel darah merah yang abnormal.● Pielonefritis ● Benign Prostatic Hypertrophy ● Penyakit ginjal ● Radiasi atau cystitis yang di induksi oleh zat kimia ● Trauma traktus urinarius ● Prostatitis Diagnosis Setiap pasien dengan gross hematuria atau mikroskopik hematuria yang bermakna harus di evaluasi lebih lanjut. Hal ini dapat membantu untuk memperkirakan asal perdarahan. Kelemahan IVP adalah sering tidak dapat mendeteksi massa ginjal yang kecil. atau hasil pemeriksaan kreatinin yang tidak normal harus menjalani pemeriksaan penyakit ginjal yang lebih lanjut. Untuk pasien dengan peningkatan kadar kreatinin dalam darah atau pasien yang alergi terhadap kontras dapat dilakukan pemeriksaan MRI atau pielografi retrograd untuk menilai traktus urinarius bagian atas. Pemeriksaan sitologi pada urine juga perlu dilakukan untuk mencari adanya sel-sel abnormal pada urine. Yang dilakukan dengan menyuntikkan kontras pada pembuluh darah kemudian dilakukan beberapa kali foto Rontgen selama ginjal mengeksresikan kontras tersebut. Langkah pertama dalah anannesa riwayat perjalanan penyakit dan pemeriksaan fisik yang teliti. 82 . Pasien-pasien dengan jumlah protein yang bermakna dalam urine. Harus dicari tanda-tanda penyakit ginjal (salah satunya proteinuria) Dan tanda-tanda infeksi saluran kemih. Jumlah sel darah merah dalam lapang pandang besar dan bentuk sel darah merah harus diperhatikan. Cara lain yang lebih baik untuk mendeteksi massa pada ginjal atau batu pada traktus urinarius adalah menggunakan CT scan. Untuk pasien dengan lekosit pada urine nya harus dilakukan kultur urin. Pemeriksaan ini biasanya digabung dengan USG ginjal. Pemeriksaan radiologi yang paling sering dilakukan adalh IVP. Pemeriksaan laboratorium yang dianjurkan adalah urinalisa dan pemeriksaan sedimen urin.

Dalam ha ini perlu dilakukan cytoscopy. 83 .Kelemahan dari pemerikasaan-pemeriksaan di atas adalah ketidakmampuan untuk secara teliti memeriksa kandung kencing. Melalui cytoscopy dokter dapat memeriksa keadaan bagian dalam urethra dan kandung kencing.

Pertolongan diberikan hanya bersifat sementara.Retensi urin bisa disebabkan oleh berbagai macam penyebab sehingga ini bukan merupakan suatu diagnosa pasti melaikan hanya gejala. Anatomi Saluran kemih Pada wanita Pada Pria 84 .RETENSI URIN Definisi Retensio urine adalah suatu sindroma klinis urologi dimana trejadi penumpukan urine didalam kandung kemih karena tidak dapat berkemih sehingga kapasitas maksimal buli terlampaui.Sehingga menimbulkan keadaan yang tidak nyaman dari pasien dan ini merupakan suatu kegawat daruratan yang sering terjadi.kesembuhan hanya bisa didapat dengan menghilangkan penyebab utamanya.

Urin diproduksi pada ginjal dan dialirkan melalui ureter kedalam kantung kemih sebagai tempat penampungan sementara sebelum diekskresi keluar tubuh.Kantung kemih meregang jika telah terisi urin dari ginjal. Etiologi Retensi urin 85 .kapasitasnya 300-400ml.Ketika rangsang regang telah menurun otot-otot mengalami relaksasi kembali Pada wanita urin langsung dikeluarkan melalui uretra menuju orificium uretra eksternum .hal ini memicu refleks spinal (refleks miksi )yang berkerja secara parasimpatis.Pengosongan terjadi melalui kontraksi otot-otot ding-ding kantung kemih yang terjadi melalui refleks berkemih.Impuls ini juga menuju otot-otot dingding luar uretra sehingga relaksasi agar urin dapat keluar.5-1ml/KgBB/Jam sehingga jika berat badan orang dewasa 70 diakan menghasilkan urin minimal 840-1680ml dan mengakibakan dalam keadaan normal miksi sekitar 3 s/d 4 x/hari.Anatomi dan Fisiologi Kantung kemih.pars spongiosa baru mencapai orificium uretra eksternum.Sedangkan produksi urin oleh ginjal sekitar 0.pada wanita terdapat didepan dari vagina dan dibelakang dari uterus.Sedangkan pada pria uretra sendiri terbagi atas uretra pars prostatika .Disebelah depan dari rectum. Kantung kemih merupakan kantung berselimut otot-otot yang terdapat pada rongga pelvis dibelakang simpisis pubis.pars membrabnasea.rangsang ini dikirim sebagai impuls saraf kesaraf sepinal dan mencapai pusat dari miksi yang terdapat pada segmen S2 dan S3 .Pertama-tama tekanan yang dihasilkan oleh urin menyebabkan aktivasi reseptor regangan pada ding-ding dalam kantung kemih .Impuls yang dihasilkan menghantarkan balik respon kepada otot-otot dingding luar yang membungkus kantung kemih sehingga berkontraksi untuk mengosongkan kantung kemih.

Sehingga menyebabkan keadaan yang disebut retensi urin. Fistula. Pada wanita bisa disebabkan karena : Kelainan Intra Vesika Sumbatan akibat batu intra vesika Sumbatan akibat tumor intra vesika Sumbatan akibat gumpalan darah Kontraktur bladder neck Hipertrofi bladder neck Kelainan Neurogenik Kerusakan pusat miksi S2-S4 setinggi T12-L1 Kelainan jaras serabut sensoris parasimpatis kepusat miksi dan penghantaran serpon impuls ke otot detunsor Kelainan Miogenik Kelemahan otot-otot detunsor sehingga kontraksi tidak adekuat. Inkoordinasi antara otot detunsor dengan otot uretra pada pasien cidera kauda ekuina Kelainan Uretra Striktura Trauma.Dari mekanisme kerja kantung kemih serta perjalanan system ekskresi baik pada wanita maupun pria ini dapat menimbulkan kelainan/sumbatan yang menghambat terjadinya pengeluaran urin. Fibrosis Infeksi saluran kemih Pada pria bisa disebabkan karena : Kelaina Intra Vesika Sumbatan akibat batu intra vesika Sumbatan akibat tumor intra vesika Sumbatan akibat gumpalan darah Kontraktur bladder neck Hipertrofi bladder neck Kelainan Neurogenik Kerusakan pusat miksi S2-S4 setinggi T12-L1 Kelainan jaras serabut sensoris parasimpatis kepusat miksi dan penghantaran serpon impuls ke otot detunsor Kelainan Miogenik Kelemahan otot-otot detunsor sehingga kontraksi tidak 86 . Ruptura.

Pada hipertrofi trigonum terjadi obstruksi sekunder ureter intravesical. dapat terjadi kompensasi dan dekompensasi. Perubahan parenkim ginjal. Pada kompensasi akan menyebabkan hipertrofi otot detrusor dan hipertofi otot trigonum. yaitu dilatasi pelviocalices. 87 . yang nantinya akan manjadi atonia. Perubahan urethra karena adanya lesi proximal yang menyebabkan dilatasi. calices minor melembung. keadaan diatas akan berlanjut menjadi hidronefrosis. papilae mendatar. Hidronefrosis ada tiga tingkat. Infeksi saluran kemih Batu uretra Divertikulum Fimosis/Parafimosis Kelainan muara uretra Ulkus/Tumor penis Patogenesa dan Komplikasi 1. sehingga vasa arcuata terjepit dan akan menjadi atrofi iskemik. Inkoordinasi antara otot detunsor dengan otot uretra pada pasien cidera kauda ekuina Kelainan Uretra Pembesaran portat sehingga menghambat aliran diuretra pars prosstatika (BPH/Ca-prostat/Kista) Striktura Trauma. Back pressure berserta relux menyebabkan kerusakan ginjal menjadi lebih cepat. Fistula. Perubahan ureter. 4. Ruptura. dan terjadi peregangan yang menyebab kan retensio urine. Merupakan akibat dari distensi peliviocalices.adekuat. Keadaan tersebut menyebabkan mekanisme back pressure terhadap kedua ginjal. ureter akan melebar dan memanjang. Pada dekompensasi terjadi melemahnya otot detrusor yang akan menjadi atoni sehingga terjadi retensio urine ( parsial atau total ). 2. Perubahan pelviocalices. namun nantinya akan terjadi dekompensasi. 3. 5. Perubahan vesica. Jika retensio tersebut berlangsung dalam jangka waktu yang lama maka akan terjadi dekompensasi U-V junction dan menyebabkan reflux. pada mulanya ureter masih dapat mengadakan kompensasi. yang akan menyebabkan fungsi ginjal berkurang.

Pengosongan dilakukan dengan pemasangan kateter sebagai pertolongan pertama kepada pasien agar tidak menimbulkan gejala komplikasi lainya.incontinentia paradoxal Diagnosis  Pada pemeriksaan fisik : VU mengembang (dengan palpasi disekitar pubikum)  Balottemen positif pada VU  Dapat dilakukan Rektal Taucher untuk menggetahui apakah ada pembesara prostat Pemeriksaan penujang Rontgen:Photo BNO-IVU USG buli-buli USG Prostat Sistografi Uretrografi Terapi Untuk penanganan setelah diagnosa retensio urine total maka harus dilakukan drainage dengan pemasangan kateter untuk mengosongkan kandung kemih dan mencari causanya secara pasti.Gejala Klinis Retensi Totalis  Sama sekali tidak dapat miksi  Gelisah  Sakit suprasimfisis  Mengejan  Overflow inkontinentia.Penyebab harus diketahui dengan cepat agar keadaan cepat ditangan.musti melakukan pemeriksaan secara menyeluruh. 88 .Jika kateter tidak berhasil dapat dilakukan cystostomia dengan abocath sampai vesica kosong.

Edisi Kedua.Gambar diatas menunjukkan berbagai macam kateter. Jakarta. Cetakan Pertama. Pererbit CV Sagung Seto. Penerbit EGC. Sjamsuhidajat. Purnomo. Kateter Tienmann. Lumen.1994. 2.W. Buku Ajar Bedah Bagian 2. DC. Saluran untuk mengisi balon.P. 1. Sabiston. 69-85. Editor.com 89 .R. 479-481.emedicine.BB. 3. Dasar dasar Urologi. Kateter de Pezzer. B. 3. Balon. Jakarta. D. 2. 1058-1064. Penerbit EGC. A. E. Edisi Revisi. Kateter Malecot. Editor Ronardy DH. Buku Ajar Ilmu Bedah. Ukuran Cahrriere DAFTAR PUSTAKA 1. Jakarta 2003. alih bahasa: Andrianto. 4. Retensio Urin. De Jong. C.1997. Kateter Foley.

radiasi atau operasi o Hiperprolaktinemia o Hemokromatosis o Substitusi/terapi hormone yang berlebihan Testikuler o Anomaly kromososm o Anorkhismus bilateral o Gonadoktosin : obat-obatan. radiasi o Orkitis o Trauma testis o Penyakit sistemik : gagal ginjal. gagal hepar.Infertilitas pada Pria Etiologi Pre Testikuler Kelainan pada hipotalamus o Defisiensi hormon gondotropin yaitu LH. gangguan emisi dan gangguan ejakulasi kelainan fungsi dan motilitas sperma o kelainan bawaan ekor sperma o gangguan maturasi sperma o kelainan imunologik o infeksi 90 . anemi bulan sabit o Kriptorkismus o varikokel Pasca Testikuler Gangguan transportasi sperma o congenital bilateral absent of the vas deferens (CBAVD) o obstruksi vas deferens/epididimis akibat infeksi atau vasektomi o disfungsi ereksi. dan FSH Kelainan pada hipofisis o Insufisiensi hipofisis oleh karena tumor.

orkidopeksi. penyempitan lapang pandang (visual field) 2. riwayat operasi: pasca herniorafi. fungsi tiroid). dan konsistensi). pemeriksaan genitalia jaringan parut (bekas herniotomi atau bekas orkidopeksi/orkidodektomi). mump. terpapar oleh radiasi. dan reflex bulbokavernosus Pemeriksaan penunjang: 1. keadaan testis (jumlah. Anamnesis: 1. ukuran. pemeriksaan imunologik 4. pestisida 3. laboratorium. anosmia. faal liver. riwayat pemakaian obat-obatan jangka lama: marijuana dan steroid c. alkohol. dan pemeriksaan penunjang. penyakit sistemik (DM. ginekomasti. keadaan versikula seminalis. uji fungsi sperma 91 . biopsi testis 5. trauma. pemeriksaan fisik. riwayat reproduksi pasangannya (fertil) Pemeriksaan fisik 1. pembedahan pada retroperitoneal d. pemeriksaan fisik umum: fisik tubuh kekar. penggunaan lubrikan pada saat senggama 2. torsio testis b. hipospadi atau pemnyempitan muara uretra 3. gangguan faal ginjal. epididimitis. sering menderita episode febris. varikokel. riwayat penyakit dahulu a. riwayat seksual  libido/potensi seksual. analisis semen 2. galaktore. colok dubur: menilai pembesaran/nyeri prostat. frekuensi senggama.Evaluasi dan Diagnosis Evaluasi dari pihak pria meliputi anamnesis. pemeriksaan hormon 3. vas deferens menebal atau tak teraba. ISK. pekerjaan dan kebiasaan: perokok.

kemudian diberikan hormon Human Chorionic Gonadotropin (HCG). Ejakulasi retrograd dapat diberikan golongan adrenergik alfa atau trisiklik antidepresan (imipramin) yang dapat menyebabkan kontraksi leher ke buli pada saat emisi sperma pada uretra posterior. Sedangkan pada pembuntuan yang lebih proximal yaitu pada epididimis dilakukan penyambungan epididimo-vasostomi yaitu penyambungan epididimis dengan vas deferens. Adanya antibodi antisperma yag didapatkan pada pemeriksaan imunologik dapat dicoba dengan pemberian kortikosteroid. 92 . dan ejakulasi retrograde. infeksi.Terapi Medikamentosa Kelainan-kelainan yang mungkin masih dapat dikoreksi secara medikamentosa adalah : defisiensi hormone. jika terdapat pembutuan pada vas deferens karena infeksi atau setelah menjalani vasektomi dilakukan penyambungan kembali vas deferens atau vaso vasostomi. pembuntuan pada duktus ejakulatorius dilakukan reseksi transuretral. dan koreksi saluran yang membuntu penyaluran sperma. Pada hipogonadotropik-hipogonadismus (hipogonadismus sekunder) dapat dicoba diberikan LH untuk merangsang sel Leydig memproduksi testosteron. varikokel yang dapat menyebabkan terjadinya kerusakan pada spermatogonium dilakukan operasi vasoligasi tinggi atau varikokelektomi 3. adenomektomi hipofisis pada adenoma hipofisis 2. Melalui teknik bedah mikroskopik angka keberhasilan penyambungan vas deferens (yang ditandai dengan terdapatnya sperna pada ejakulat) ± 80-90 % sedangkan angka keberhasilan fungsional (pasangan menjadi hamil) ± 50-60% 4. Pembedahan Usaha pembedahan yang dilakukan ditujukan pada tempat kelainan penyebab infertilitas yaitu operasi pada organ pre testikulaer. reaksi imunologik antibody antisperma. Tindakan itu dapat berupa: 1. koreksi terhadap penyebab kerusakan testis.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful