Daftar Isi

1. Daftar Isi ...............................................................................................1 2. infeksi saluran kemih ............................................................................5 3. batu saluran kemih ................................................................................14 4. Benign Prostat Hipertrofi ......................................................................33 5. Trauma Urogenital ................................................................................38 6. Hidrokel ................................................................................................45 7. Varikokel...............................................................................................48 8. Torsio Testis..........................................................................................56 9. Strikture Uretra .....................................................................................59 10. Tumor Urogenital..................................................................................68 11. Hematuria ..............................................................................................82 12. Retensi Urin Akut .................................................................................85 13. Infertilitas ..............................................................................................91

0

INFEKSI SALURAN KEMIH
ISK adalah merupakan reaksi inflamasi sel-sel urotelium melapisi saluran kemih. Cara penanggulangannya kadang-kadang cukup dengan pemberian antibiotika yang sederhana, atau bahkan tidak perlu diberi antibiotika. Namun pada infeksi yang berat dan sudah menimbulkan kerusakan pada berbagai macam organ, membutuhkan terapi suportif dan antibiotika yang cukup adekuat. Tujuan terapi pada infeksi organ urogenitalia adalah mencegah atau menghentikan diseminasi kuman dan produk yang dihasilkan oleh kuman pada sirkulasi sistemik dan mencegah kerusakan terjadinya kerusakan organ urogenitalia.

Insiden Pada umumnya wanita lebih sering mengalami episode ISK daripada pria; hal ini karena uretra wanita lebih pendek daripada pria.

Patogenesis ISK terjadi pada saat mikroorganisme masuk ke dalam saluran kemih dan berbiak di dalam media urine. Mikroorganisme memasuki saluran kemih melalui cara : (1) ascending, (2) hematogen seperti pada penularan M tuberculosis atau S aureus, (3) limfogen, dan (4) langsung dari organ sekitarnya yang sebelumnya teah terinfeksi. Kuman penyebab ISK pada umnya berasal dari flora normal usus dan hidup secara komensal didalam intoitus vagina, prepusium penis, kulit perineum, dan disekitar anus. Mikroorganisme memasuki saluran kemih melalui uretra – prostat – vas deferns – testis (pada pria) – buli-buli – ureter, dan sampai ke ginjal. Terjadinya ISK karena adanya gangguan keseimbangan antara

mikroorganisme penyebab infeksi (uropatogen) sebagai agent dan epitel saluran kemih sebagai host. Gangguan keseimbangan ini disebabkan oleh karena pertahanan tubuh dari host yang menurun atau karena virulensi agent meningkat.

Faktor dari host

1

Kemampuan host untuk menahan mikroorganisme masuk kedalam saluran kemih disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain adalah ; (1) pertahanan lokal dari host, dan (2) peranan dari sistem kekebalan tubuh yang terdiri atas imunitas humoral maupun imunitas seluler. Sebenarnya pertahanan sistem saluran kemih yang paling baik adalah mekanisme wash out urine yang mampu membersihkan kuman-kuman yang ada di dalam urine. Supaya aliran urin adekuat dan mampu menjamin mekanisme wash out adalah jika (1) jimlah urin cukup dan (2) tidak ada hambatan di dalam saluran kemih. Keadaan lain yang bisa mempengaruhi aliran urin dan menghalangi mekanisme wash out adalah adanya (1) stagnasi atau stasis urine dan (2) didapatkannya benda asing di dalam saluran kemih yang dipakai sebagai tempat persembunyian oleh kuman. Stagnasi urin bisa terjadi pada keadaan (1) miksi yang tidak teratur atau sering menahan kencing, (2) obstruksi saluran kemih seperti pada BPH, striktura uretra, batu saluran kemih, atau obstruksi karena sebab lain, (3) adanya kantong-kantong didalam saluran kemih yang tidak dapat mengalir dengan baik, dan (4) adanya dilatasi atau refluks sistem urinaria.

Faktor dari mikroorganisme Bakteri dilengkapi dengan pili atau fimbriae yang terdapat dipermukaannya. Pili berfungsi untuk menemel pada urotelium melalui reseptor yang ada dipermukaan urotelium. Ditinjau dari jenis pilinya, terdapat 2 jenis bakteri yang mempunyai virulensi berbeda, yaitu bakteri tipe pili 1 (yang banyak menimbulkan infeksi pada sistitis) dan tipe pili P (yang sering menimbulkan infeksi berat pielonefritis akut).

Diagnosis Pada umumnya infeksi akut yang mengenai organ padat (ginjal, prostat, epididimis, dan testis) memberikan keluhan yang hebat sedangkan infeksi pada organorgan berongga (buli-buli, ureter, dan pielum) memberikan keluhan yang lebih ringan.

Pemeriksaan urin Pemeriksaan urin merupakan salah satu pemeriksaan yang sangat penting pada infeksi saluran kemih. Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan urinalisis dan pemeriksaan kultur urin. 2

CT scan lebih sensitif dalam mendeteksi penyebab ISK daripada PIV atau USG. Penyulit 1. ataupun abses pada perirenal/ginjal terutama pada gagal ginjal. buli-buli neurogenik. tetapi pada ISK complicated (yang rumit) perlu dilakukan pemeriksaan pencitraan untuk mencari penyeab/sumber terjadinya infeksi. Terbentuknya batu saluran kemih. atau divertikulum uretra pada wanita yang sering menyebabkan infeksi yang sering kambuh. Urosepsis. Foto polos abdomen berguna untuk mengetahui adanya batu radio-opak pada saluran kemih atau adanya distribusi gas yang abnormal pada pielonefritis akuta. pionefrosis. 3 . Granuloma. Gagal ginjal akut. Nekrosis papilla ginjal. 2. PIV adalah pemeriksaan rutin untuk mengevaluasi pasien yang menderita ISK compilcated. dan 6. USG untuk mengungkapkan adanya hidronefrosis. Voiding sistouretrografi diperlukan untuk mengungkapkan adanya refluks vesiko ureter. 5. Supurasi atau pembentukan abses. Pencitraan Pada ISK uncomplicated (sederhana) tidak diperlukan pemeriksaan pencitraan. 3. 4.Pemeriksaan darah Pemeriksaan darah lengkap diperlukan untuk mengungkapkan adanya proses inflamasi atau infeksi.

umur: penyakit inipaling sering didapatkan pada usia 30-50 tahun.Batu Saluran Kemih Latar belakang Penyakit batu saluran kemih sudah dikenal sejak zaman babilonia dan zaman mesir kuno. 4 . Sebagai salah satu buktinya adalah diketemukan batu pada kandung kemih seorang mumi. hal ini karena adanya pengaruh status gizi dan aktivitas pasien sehari-hari. Penyakit ini merupakan tiga penyakit terbanyak di bidang urologi disamping infeksi saluran kemih dan pembesaran prostate benigna. gangguan metabolic. infeksi saluran kemih. dan keadaankeadaan lain yang masih belum terungkap (idiopatik). Factor-faktor itu adalah factor intrinsic yaitu keadaan yang berasal dari tubuh seseorang dan factor ekstrinsik yang berasal dari lingkungan disekitarnya. geografi: pada beberapa daerah menunjukkan angka kejadian batu saluran kemih yang lebih tinggi daripada daerah lain sehingga dikenal sebagai daerah stone belt (sabuk batu). herediter (keturunan): penyakit ini diduga diturunkan dari orang tuanya. dehidrasi. Etiologi Terbentuknya batu saluran kemih diduga ada hubungannya dengan gangguan aliran urine. Angka kejadian penyakit ini tidak sama di berbagai belahan bumi. jenis kelamin: jumlah pasien laki-laki tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan pasien perempuan. sedangkan daerah bantu di Afrika Selatan hamper tidak dijumpai penyakit batu saluran kemih. Factor intrinsic itu antara lain adalah: 1. Secara epidemiologis terdapat beberapa factor yang mempermudah terjadinya batu saluran kemih pada seseorang. Di Negara maju lebih banyak dijumpai penyakit batu saluran kemih atas. Penyakit ini dapat menyerang penduduk di seluruh dunia tidak terkecuali penduduk di Indonesia. Beberapa factor ekstrinsik adalah: 1. sedangkan di seluruh dunia rata-rata terdapat 1-12% penduduk yang menderita batu saluran kemih. Di Amerika Serikat 5-10% penduduknya menderita penyakit ini. 2. 3.

diet: diet banyak purin. Infeksi. oksalat. oksalat. asam urat. Pada kebanyakan penderita batu kemih tidak ditemukan penyebab yang jelas. Batu fosfat ammonium magnesium didapatkan pada infeksi kronik yang disebabkanoleh bacteria yang menghasilkan urease sehingga urin menjadi alkali karena pemecahan ureum. Demikian pula telor sistoma kadang merupakan nidus batu. dankalsium mempermudah terjadinya penyakit batu saluran kemih. 4. iklim dan temperature 3. termoanalitik. dan mikroskop electron. pekerjaan: penyakit ini sering dijumpai pada orang yang pekerjaannya banyak duduk atau kurang aktifitas atau sedentary life. dan benda asing. Batu urat pada anak terbentuk karena pH urin rendah. fosfat. Cara lain ialah cara optic dengan diseksi mikroskopik binokuler dengan mikroskop petrografik.2. diantaranya berkaitan dengan sindroma alkali atau kelebihan vitamin D. Batu oksalat kalsium kebanyakan merupakan batu idiopatik. Analisa batu dapat dilakukan secara kimiawi. dan xantin. Komposisi batu saluran kemih yang dapat ditemukan adalah jenis urat. Factor predisposisi berupa stasis. Komposisi dan pembentukan batu Komposisi batu diketemukan pada seseorang perlu ditentukan karena komposisi batu dipakai sebagai landasan untuk menyelusuri etiologi penyakit batu saluran kemih. 5. batu fosfat dan kalsium (hidroksiapatit) kadang disebabkan hiperkalsiuria (tanpa hiperkalsemia). 5 . Batu asam urat disebabkan oleh hiperuremia pada arthritis urika. sistin. dan litiasis merupakan factor yang saling memperkuat sehingga terbentuk lingkaran setan atau circulus visiosus. infeksi. statis. Jaringan abnormal atau mati pada nefrosis papilla di ginjal dan benda asing mudah menjadi nidus dan inti batu. yaitu dengan cara kualitatif dan cara kuantitatif dengan metode kromatografik dan autoanalisis. asupan air: kurangnya asupan air dan tingginya kadar mineral kalsium pada air yang dikonsumsi. Batu campuran oksalat kalsium dan fosfat biasanya juga idiopatik. spektroskopi inframerah. dapat meningkatkan insiden batu saluran kemih. Kristalografi radiografik merupakan cara yang dianggap paling baik ditinjau dari segi kesederhanaan dan ketepatannya.

Umumnya gejala batu saluran kemih merupakan ostruksi aliran kemih dan infeksi. Selain itu bila disertai infeksi saluran kemih dapat juga ditemukan endapan urin. kronik. Pada pemeriksaan fisik mungkin kelainan sama sekali tidak ada. batu ginjal yang terletak di pelvis dapat menyebabkan terjadinya hidronefrosis. bahkan mungkin demam atau tanda sistemik lain. Nyeri dapat berupa nyeri tekan atau ketok pada daerah arkus kosta pada sisi ginjal yang terkena. Factor lain adalah imobilisasi lama pada penderita cedera dengan fraktur multiple atau paraplegia yang menyebabkan dekalsifikasi tulang dengan peningkatan ekskresi kalsium dan statis sehingga presipitasi batu mudah terjadi. Nyeri di pinggang dapat dalam bentuk pegal hingga kolik atau nyeri yang terus-menerus dan hebat karena adanya pielonefrosis.Batu idiopatik disebabkan oleh pengaruh berbagai factor. yaitu hematuria. Tanda dan Gejala Klinis Tanda dan gejala penyakit batu saluran kemih ditentukan oleh letaknya. penyakit ini mempunyai tanda umum. Batu saluran kemih dapat mengakibatkan kelainan patologik yang menunjukkan gejala dan tanda akut. dan sistinuria. Sesuai dengan gangguan yang terjadi. arthritis urika. hiperoksaluria. sampai terabanya ginjal yang membesar akibat adanya hidronefrosis. besarnya. baik hematuria nyata maupun mikroskopik. atau sama sekali tidak ada keluhan dan gejala. Kadang batu hanya terdapat pada suatu kaliks. tetapi dapat tumbuh mengikuti bentuk susunan pelviokaliks sehingga bercabang seperti tanduk rusa. dan morfologinya. Factor yang memegang peranan kausal adalah dehidrasi dan gastroenteritis. Factor ini mengakibatkan oliguria dengan urinyang mengandung asam tinggi urin dan ikatan kimia lain. Walaupun demikian. 6 . Misalnya batu urat pada anak di Negara yang sedang berkembang. Batu pelvis ginjal dapat bermanifestasi tanpa gejala sampai gejala yang berat. sedangkan batu kaliks pada umumnya tidak memberikan kelainan fisik. Batu pelvis ginjal Batu pielum didapatkan dalam bentuk yang sederhana sehingga hanya menempati bagian pelvis. Pada sebagian kecil penderita batu didapatkan kelainan kausal yang menyebabkan ekskresi kelebihan bahan dasar batu seperti pada hiperparatiroidisme.

Batu ureter Anatomi ureter mempunyai beberapa tempat penyempitan yang

memungkinkanbatu ureter terhenti. Karena peristaltic, akan terjadi gejala kolik, yakni nyeri yang hilang timbul disertai perasaan mual dengan atau tanpa muntah dengan nyeri alih. Selama batu bertahan di tempat menyumbat, selama itu kolik akan berulang-ulang sampai batu bergeser dan memberi kesempatan pada air kemih untuk lewat. Batu ureter mungkin dapat lewat sampai kandung kemih dan kemudian keluar bersama kemih. Batu ureter juga bisa sampai ke kandung kemih dan kemudian berupa nidus menjadi batu kandung kemih besar. Batu juga bisa tetap tinggal di ureter sambil menyumbat dan menyebabkan obstruksi kronik dengan hidroureter yang mungkin asimptomatik. Tidak jarang terjadi hematuria yang didahului oleh serangan kolik. Bila keadaan obstruksi terus berlangsung, lanjutan dari kelainan yang terjadi dapat berupa hidronefrosis dengan atau tanpa pielonefritis sehingga menimbulkan gambaran infeksi umum.

Batu kandung kemih Karena batu menghalangi aliran kemih akibat penutupan leher kandung kemih, aliran yang mula-mula lancar secara tiba-tiba akan terhenti dan menetes disertai dengan nyeri. Pada anak, nyeri menyebabkan anak yang bersangkutan menarik penisnya sehingga tidak jarang dilihat penis yang panjang. Bila pada saat sakit tersebut penderita berubah posisi, suatu saat air kemih akan dapat keluar karena letak batu yang berpindah. Bila selanjutnya terjadi infeksi yang sekunder, selain nyeri, sewaktu miksi juga akan terdapat nyeri menetap suprapubik.

Batu prostat Pada umumnya batu prostat juga berasal dari kemih yang secara retrograde terdorong kedalam saluran prostat dan mengendap, yang akhirnya menjadi batu yang kecil. Pada umumnya batu ini tidak memberikan gejala sama sekali karena tidak menyebabkan gangguan pasase kemih.

Batu uretra 7

Batu uretra merupakan batu yang berasal dari ureter atau kandung kemih yang oleh aliran kemih sewaktu miksi terbawa uretra, tetapi menyangkut di tempat yang agak lebar. Tempat uretra yang agak lebar ini adalah di pars prostatika, bagian permulaan pars bulbosa, dan di fosa navikular. Bukan tidak mungkin dapat ditemukan di tempat lain. Gejala yang ditimbulkan umumnya miksi tiba-tiba terhenti, menjadi menetes dan nyeri. Penyulitnya dapat berupa terjadinya divertikulum, abses, fistel proksimal, dan uremia karena obstruksi urin

Diagnosis Selain pemeriksaan melalui anamnesis dan jasmani untuk menegakkan diagnosis, penyakit batu perlu ditunjang dengan pemeriksaan radiologic, laboratorium, dan penunjang lain untuk menetukan kemungkinan adanya obstruksi saluran kemih, infeksi, dan gangguan faal ginjal. Secara radiologik, batu dapat radioopak atau radiolusen. Sifat radiopak ini berbeda untuk berbagai jenis batu sehingga dari sifat ini dapat diduga jenis batu yang dihadapi. Yang radiolusen umumnya adalah dari jenis asam urat murni. Pada radiopak pemeriksaan dengan foto polos sudah cukup untuk menduga adanya batu saluran kemih bila diambil foto 2 arah. Pada keadaan istimewa tidak jarang batu terletak di depan bayangan tulang, sehingga dapat luput dari pengamatan. Pada batu radiolusen, foto dengan bantuan kontras akan menyebabkan filing defek pada tempat batu sehingga memberikan gambaran pada daerah yang kosong. Yang menyulitkan adalah bila ginjal mengandung batu tidak berfungsi lagi sehingga kontras ini tidak muncul. Dalam hal seperti ini, perlu dilanjutkan dengan pielografi retrograde yang dilaksanakan pemasangan kateter ureter melalui sistikop pada ureter ginjal yang tidak dapat berfungsi untuk memasukkan kontras. Pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk mencari kelainan kemih yang dapat menunjang adanya batu di saluran kemih, menentukan fungsi ginjal, dan menetukan sebab terjadinya batu. Pemeriksaan renogram berguna untuk menetukan faal kedua ginjal secara terpisah pada batu bilateral atau bila kedua ureter tersumbat total. Cara ini dipakai untuk memastikan ginjal yang masih mempunyai sisa faal yang cukup sebagai dasar untuk melakukan tindak bedah pada ginjal yang sakit. Pemeriksaan USG dapat untuk 8

melihat semua jenis batu, baik radiolusen maupun radiopak. Selain itu dapat ditentukan ruang dan lumen saluran kemih. Pemeriksaan ini juga dipakai untuk menentukan batu selama tindakan pembedahan untuk mencegah tertingganya batu.

Diagnosis banding Kolik ginjal dan ureter dapat disertai dengan akibat yang lebih lanjut, misalnya distensi usus dan pielonefrosis dengan demam. Oleh karena itu, jika dicurigai terjadi kolik ureter maupun ginjal, khususnya yang kanan, perlu dipertimbangkan kemungkinan kolik saluran cerna, kandung empedu, atau appendicitis akut. Selain itu perempuan juga dipertimbangkan adneksitis. Bila terjadi hematuria, perlu dipertimbangkan kemungkinan keganasan apalagi bila hematuria terjadi tanpa nyeri. Selain itu, juga diingat bahwa batu saluran kemih yang terjadi bertahun-tahun dapat menyebabkan tumor umunya karsinoma epidermoid, akibat rangsangan dan inflamasi. Khusus batu ginjal dengan hidronefrosis peril dipertimbangkan kemungkinan tumor ginjal mulai dari jenis ginjal polikistik hingga tumor Grawitz. Pada batu ureter, terutama dari jenis radiolusen, apalagi bila disertai dengan hematuria yang tidak disertai kolik, perlu dipertmbangkan tumor ureter walaupun tumor ini jarang ditemukan. Dugaan batu kandung kemih jga perlu dipertimbangkan tumor kandung kemih terutama jenis batu radiolusen. Batu prostat biasanya tidak sukar terdiagnosis karena gambaran radiologic yang khas, yang kecil seperti kumpulan pasir di daerah prostate. Akan tetapi, pemeriksaan colok dubur dapat memberi kesan adanya keganasan, teritama bila terdapat batu cukup banyak sehingga teraba seperti karsinoma prostat. Dalam keadaan yang tidak pasti seperti itu dilakukan biopsy prostat.

Tata laksana Piñatalaksanaan batu saluran kemih harus tuntas sehingga bukan hanya mengeluarkan batu saja, tetapi harus disertai dengan terapi penyembuhan penyakit batu atau paling sedikit disertai dengan terapi pencegahan. Hal ini karena batu sendiri hanya merupakan gejala penyakit batu sehingga pengeluaran batu dengan cara apapun bukanlah merupakan terapi yang sempurna. Selanjutnya perlu juga diketahui bahwa pengerluaran batu menyebabkan gangguan pada slauran kemih. Bila batu tersebut 9

ESWL (Extracorporeal Shockwave Lithotripsy) Alat ESWl adalah pemecah batu yang diperkenalkan pertama kali oleh Caussy pada tahun 1980. Akan tetapi pemberian antibiotic sukar membasmi kuman karena kuman didalam batu susah dicapai oleh antibiotic. batu ureter proksimal. 10 . Batu struvit tidak dapat dilarutkan tetapi dapat dicegah dengan pengasaman urin dan pemberian antiurease. alat ini dapat memecah batu ginjal. Selain itu terutama untuk batu ureter yang dapat diharapkan keluar dengan sendirinya. dapat diberikan minum berlebihan disertai diuretic. Penanganannya dapat berupa terapi medis dan simptomatik atau dengan bahan pelarut. Tidak jarang pecahan-pecahan batu yang sedang keluar menimbulkan perasaan nyeri kolik dan menyebabkan hematuria. Batu ini terjadi bila pH urin asam (pH: 6. batu asam urat diharapkan larut. Batu ureter ini adalah batu yang tidak menganggu saluran kemih termasuk ginjal dan ukurannya kurang dari setengah centimeter. Pelarutan Jenis batu yang memang dapat dilarutkan adalah dari batu asam urat. Bila terdapat kuman harus dibasmi.tidak memberi gangguan fungsi ginjal makabatu tersebut tidak perlu diangkat diharapkan batu tersebut keluar dengan sendirinya. atau batu buli tanpa melalui tindakan invasive dan tanpa pembiusan.2) sehingga dengan pemberian bikarbonas natrikus disertai makanan alkalis. Terapi medis dan simptomatik Pengelolaan simptomatik mengusahakan agar nyeri. Dapat pula dengan pembedahan atau dengan tindakan yang kurang invasive misalnya nefrostomi perkutan. Dengan produksi air kemih yang banyak diharapkan dapat mendorong batu. Hasil lebih baik dilaporkan dengan pemberian alopurinol dan usaha menurunkan kadar asam urat. Batu pun dipecah menjadi fragmen-fragmen kecil sehingga mudah dikeluarkan melalui saluran kemih. khususnya kolik yang terjadi menghilang dengan pemberian simpatolitik.

2. 3. Probe pemecahan batu dapat dilakukan secara mekanik. PNL( Percutaneus Nephro Litholapaxy): yaitu mengeluarkan batu yang berada didalam saluran ginjal dengan cara memasukkan alat endoskopi ke system kalises melalui insisi pada kulit. Batu kemudian dikeluarkan atau dipecah terlebih dahulu menjadi fragmen-fragmen kecil. atau dengan energi laser. Pecahan batu dikeluarkan dengan evakuator Ellik. dan kemudian mengeluarkanya dari saluran kemih melalui alat yang dimasukkan langsung kedalam saluran kemih. Beberapa tindakan endourologi itu adalah: 1.Endourologi Tindakan endourologi adalah tindakan invasive minimal untuk mengeluarkan batu saluran kemih yang terdiri atas memecah batu. 11 . uretroskopi atau uretro-renoskopi: yaitu memasukkan alat uretroskopi peruretram guna melihat keadaan ureter atau system pielo-kalises ginjal. Dengan memakai energi tertentu. dengan memakai energi hiraulik. Alat itu dimasukkan melalui uretra atau melalui insisi kecil pada kulit (perkutan). litotripsi: yaitu memecah batu buli-buli atau batu uretra dengan memasukkan alat pemecah batu (litotriptor) kedalam buli-buli. energi gelombang suara. batu yang berada didalam ureter maupun system pelvikalises dapat dipecah melalui tuntunan uretroskopi/uretreorenoskopi ini.

Cara ini banyak dipakai untuk mengambil batu ureter. Diet yang dianjurkan adalah diet rendah protein karena protein memacu ekskresi kalsium urine yang dapat membuat urine menjadi asam. Edisi revisi. Jakarta. hal. 756-764 2. rendah oksalat. 2003. laparoskopi. aktivitas harian yang cukup. Daftar pustaka 1. pemberian medikamentosa. in : dasar-dasar urologi FK univ. ekstraksi Dormia: yaitu mengeluarkan batu ureter dengan menjaringnya melalui alat keranjang dormia. Bedah laparoskopi Pembedahan laparoskopi untuk mengambil batu saluran kemih saat ini sedang berkembang. diet mengurangi kadar zat-zat pembentuk batu. Sagung seto. 2nd ed. Penerbit Buku Kedokteran EGC. atau mengalamu pengkerutan akibat batu yang menimbulkan obstruksi dan infeksi menahun. 12 . tindakan selanjutnya yang penting adalah upaya mengindari timbulnya kekambuhan. Last update: May 30.com. rendah garam karena natriuresis akan memacu timbulnya hiperkalsiuri. Available at: http://myhealth. pengambilan batu masih dilakukan melalui pembedahan terbuka. hal. 2007. maupun ESWL.centrahealth. Angka kekambuhan batu rata-rata 7% per tahun atau kurang lebih 50% dalam 10 tahun. Extracorporeal shock wave lithotripsy (ESWL). Tidak jarang pasien harus menjalani nefrektomi atau pemgambilan ginjal karena ginjalnya tidak berfungsi lagi dan berisi nanak (pionefrosis). CV. Buku Ajar Ilmu Bedah. Pencegahan Setelah batu dikeluarkan dari saluran kemih. Jong Wim de.Brawijaya. rendah purin. Diet rendah kalsium tidak dianjurkan kecuali pada pasien yang menderita hiperalsiuri absortif tipe II. Healthy wise. Purnomo B Basuki. Pembedahan terbuka itu antara lain: pielolitotomi atau nefrolitotomi untuk mengambil batu pada saluran ginjal. Jakarta. Sjamsuhidajat R. korteksnya sudah sangat tipis.4. 1997. Bedah terbuka Di klinik-klinik yang belum mempunyai fasilitas yang memadai untuk tindakantindakan endourologi. Pada umumnya pencegahan itu berupa menghindari dehidrasi dengan minum air 2-3 liter per hari. 57-67 3. dan uretrolitotomi untuk batu di ureter.

5 cm dan beratnya 20 gram. ±50% pada pria dibawah 60 tahun terkena BPH karena mempunyai sifat diturunkan. Bentuknya seperti buah kenari dengan ukuran 4 x 3 x 2. zona sentral. BPH merupakan tumor jinak yang paling sering terjadi pada laki-laki dan berhubungan dengan usia. Bila pengalami pembesaran. organ ini membuntu uretra pars prostatika dan menyebabkan terhambatnya aliran urine keluar dari buli-buli. Sifat ini diturunkan secara dominan autosomal. yaitu zona perifer. ANATOMI Kelenjar Prostat Prostat adalah organ genitalia pria yang terletak di sebelah inferior buli-buli. Kelenjar ini terdiri atas jaringan fibromuskular dan glandular yang terbagi dalam beberapa daerah atau zona. jarang ditemukan pada usia di bawah 40 tahun. INSIDENSI Pada usia 55 tahun ±25% dari pria ditemukan gejala obstruktif. Sebagian besar hiperplasia prostat terdapat pada zona transisional.BENIGN PROSTAT HIPERPLASI (BPH) DEFINISI BPH adalah hiperplasi kelenjar periuretral (sel-sel glanduler dan intersisial) dari prostat. Pada usia 75 tahun ±50% pada pria mengeluhkan gejala pancaran urin yang lemah pada waktu miksi. Menurut penelitian diketahui pula karena perbedaan ras. zona 13 . Faktor resiko BPH masih belum jelas. di depan rectum dan membungkus uretra posterior.

kapsula prostat. 14 . zona fibromuskuler anterior. saraf. sedangkan pertumbuhan karsinoma prostat berasal dari zona perifer. Komponen stroma ini terdiri atas otot polos. sedangkan rangsangan simpatik menyebabkan pengeluaran cairan prostat ke dalam uretra posterior. dan leher buli-buli. seperti pada saat ejakulasi. Cairan ini dialirkan melalui duktus sekretorius dan bermuara di uretra posterior untuk kemudian di keluarkan bersama cairan semen lain pada saat ejakulasi. Sistem simpatik memberikan inervasi pada otot polos prostat. Volume cairan prostat merupakan ±25% dari seluruh volume ejakulat. Pleksus prostatikus ( pleksus pelvikus ) menerima masukan serabut parasimpatik dari korda spinalis S2-4 dan simpatik dari nervus hipogastrikus (T10-L2). fibroblas. Rangsangan simpatik menyebabkan dipertahankannya tonus otot polos tersebut. Prostat mendapat inervasi otonomik simpatik dan parasimpatik dari pleksus prostatikus. Ditempat itu banyak terdapat reseptor adrenegika. Stimulasi parasimpatik meningkatkan sekresi kelenjar pada epitel prostat. Sebagian besar hiperplasia prostat terdapat pada zona transisional.transisional. dan jaringan penyanggah yang lain. dan zona periuretra. Secara histopatologik kelenjar prostat terdiri atas komponen kelenjar dan stroma. pembuluh darah. Prostat menghasilkan suatu cairan yang merupakan salah satu komponen dari cairan ejakulat.

tetapi beberapa hipotesis menyebutkan bahwa hiperplasia prostat erat kaitannya dengan peningkatan kadar dihidrotestosteron (DHT) dan proses aging. Kelenjar prostat terdiri atas elemen stromal dan epitel. Teori dihidrotestosteron DHT adalah metabolit androgen yang sangat penting pada pertumbuhan sel-sel kelenjar prostat. Hingga sekarang masih belum diketahui secara pasti penyebab terjadinya hiperplasia prostat. Pada BPH kadar DHT tidak jauh berbeda dengan kadarnya pada prostat normal. Ketidakseimbangan antara estrogen-testosteron Pada usia semakin tua kadar testosteron samakin menurun. Estrogen di dalam prostat berperan dalam terjadinya proliferasi sel-sel kelenjar prostat dengan cara meningkatkan sensitifitas sel-sel prostat terhadap rangsangan hormon androgen. dan menurunkan jumlah sel-sel prostat (apoptosis). tapi sel-sel prostat yang telah ada mempunyai umur lebih panjang sehingga massa prostat jadi lebih besar. Masing-masing atau bahkan keduanya dapat berkembang menjadi nodul-nodul hiperplastik dan gejala-gejala yang ada dapat diartikan sebagai suatu BPH. Jadi meskipun rangsangan terbentuknya sel-sel baru akibat rangsangan testosteron menurun. Hal ini menyebabkan sel-sel prostat pada BPH lebih sensitif terhadap DHT sehingga replikasi sel lebih banyak dibandingkan dengan prostat normal. aktivitas enzim 5a-reduktase dan jumlah reseptor androgen lebih banyak. 15 . Dibentuk dari testosteron yang sangat penting pada pertumbuhan sel-sel kelenjar prostat oleh enzim 5a-reduktase dengan bantuan koenzim NADPH. Hanya saja pada BPH. sedangkan kadar estrogen relatif tetap sehingga perbandingan antara estrogen: testostron relatif meningkat. DHT yang telah terbentuk berkaitan dengan reseptor androgen (RA) membentuk kompleks DHT-RA pada inti sel dan selanjutnya terjadi sintesis protein growth factor yang menstimulasi pertumbuhan sel prostat. meningkatkan jumlah reseptor androgen. tetapi kemungkinan berhubungan dengan multifaktor dan endokrin. Beberapa hipotesis yang di duga sebagai penyebab timbulnya hiperplasia prostat adalah: 1. 2.ETIOLOGI Etiologi BPH belum pasti.

sedangkan faktor pertumbuhan TGFB berperan pada proses apoptosis. Berkurangnya kematian sel prostat Estrogen di duga mampu memperpanjang usia sel-sel prostat. PATOFISIOLOGI Suatu hubungan gejala dapat dikaitkan antara BPH dengan obstruksi dari prostat atau terjadinya respon sekunder pada kandung kencing saat berkemih. Tonjolan mukosa yang kecil dinamakan sakula. Perubahan struktur pada buli-buli tersebut. 4. oleh pasien dirasakan sebagai keluhan pada saluran kemih sebelah bawah atau lower urinary tract symptom (LUTS). Terjadinya BPH dipostulasikan sebagai ketidaktepatnya aktivitas sel stem sehingga terjadi produksi yang berlebihan sel stroma maupun epitel. Stroma prostat. Fase penebalan detrusor ini disebut fase kompensasi otot dinding. Kontraksi yang terus menerus ini menyebabkan perubahan anatomic buli-buli berupa hipertrofi otot detrusor.3. obstruksi mekanis terjadi dari adanya gangguan didalam lumen uretra atau leher kandung kencing. sedangkan yang besar disebut divertikel. Saat pembesaran prostat timbul. Komponen dinamis dalam obstruksi prostat menerangkan variasi natural dalam gejala yang terjadi pada pasien. Interaksi stroma-epitel Cunha (1973) membuktikan bahwa diferensiasi dan pertumbuhan sel epitel prostat secara tidak langsung di kontrol oleh sel-sel stroma melalui suatu mediator (growth factor) yang selanjutnya mempengaruhi sel-sel stroma sehingga menyebabkan terjadinya proliferasi sel-sel epitel maupun sel-sel stroma. Saat prostat membesar terjadi proses penyempitan lumen uretra prostatika dan menghambat aliran urin. Komponen obstruksi dapat menjadi komponen obstruksi dinamis atau komponen mekanis. menyebabkan kesulitan yang tinggi dalam berkemih. Mukosa dapat menerobos keluar di antara serat detrusor. Keadaan ini menyebabkan peningkatan tekanan intravesika. Untuk dapat mengeluarkan urin. Teori sel stem Sel stem adalah sel yang mempunyai kemampuan berproliferasi secara ekstensif. Penonjolan serat detrusor ke dalam kandung kemih dengan sistokopi akan terlihat seperti balok yang disebut trabekulasi (buli-buli). 5. yang terdiri dari otot polos dan 16 . buli-buli harus berkontraksi lebih kuat guna melawan tahanan itu.

pancaran urin yang lemah pengosongan buli-buli yang kurang 17 . Keluhan iritatif berkemih yang kosong pada BPH berasal dari respon sekunder dari kandung kencing untuk meningkatkan pengeluaran isi kandung kencing. pada BPH. Gejala pada saluran kemih bagian bawah (LUTS) Gejala-gejala pada BPH dapat dibagi menjadi 2. Obstruksi yang diakibatkan oleh hiperplasia prostat benigna tidak hanya disebabkan oleh adanya massa prostat yang menyumbat uretra posterior. Pada BPH terjadi rasio peningkatan komponen stroma terhadap epitel. Penggunaan terapi α-blocker menurunkan tonus. sehingga resitensi saat berkemih berkurang.kolagen. tetapi juga disebabkan oleh tonus otot polos yang ada pada stroma prostat. Kalau pada prostat normal rasio stroma dibanding dengan epitel adalah 2:1. kapsul prostat. Meskipun selanjutnya keluhan ini akan berkurang tidak stabilnya otot detrusor juga menjadi factor. herniasi mucosal antara otot detrusor terjadi divertikula (disebut juga Divertikula vera yang hanya terdiri mukosa dan serosa) Tekanan intravesika yang tinggi diteruskan ke seluruh buli-buli tidak terkecuali pada kedua ureter. Pengeluaran ini terhambat karena otot detrusor hipertrofi dan hyperplasia dikarenakan terjadinya deposisi kolagen. hidronefrosis. rasionya meningkat menjadi 4:1. Dalam hal ini massa prostat yang menyebabkan obstruksi komponen statik sedangkan tonus otot polos yang merupakan komponen dinamik sebagai penyebab obstruksi prostat. Gejala obstruksi dapat berupa hesitansi (menunggu lama pada permulaan buang air kecil). Jika terlewat pada pemeriksaan. Tekanan pada kedua muara ureter ini dapat menimbulkan aliran balik urin dari buli-buli ke ureter atau terjadi refluks vesikoureter. bahkan akhirnya dapat jatuh kedalam gagal ginjal. Pada pemeriksaan inspeksi. Otot polos itu dipersarafi oleh serabut simpatis yang berasal dari nervus pudendus. Keadaan ini jika berlangsung terus akan mengakibatkan hidroureter. GEJALA KLINIS 1. hal ini menyebabkan pada BPH terjadi peningkatan tonus otot polos prostat dibandingkan dengan prostat normal. Tingkat stimulasi otonom diatur oleh uretra prostatika. kaya akan suplai persarafan adrenergik. penebalan otot detrusor pada serabut otot terlihat sebagai trabekula pada pemeriksaan cystocospic. yaitu : gejala obstruksi dan gejala iritasi. dan otot polos pada leher buli-buli.

SKOR INTERNASIONAL GEJALA PROSTAT (I-PSS) Untuk pertanyaan nomer 1 hingga 6. Setiap pertanyaan yang berhubungan dengan keluhan miksi diberi nilai 0-5. hemoroid karena peningkatan tekanan intraabdominal.puas. 2. benjolan di pinggang (yang merupakan tanda dari hidronefrosis). Gejala di luar saluran kemih Hernia inguinalis. frekuensi (sering buang air kecil). Gejala iritatif berupa urgensi (tergesa-gesa buang air kecil). disuria. MENEGAKKAN DIAGNOSA 1. dan nokturia (buang air kecil malam hari lebih dari 1 kali). Dimana score 0-7 ringan. double voiding (miksi untuk kedua kalinya dalam 2 jam dari yang sebelumnya. 3. nyeri bila miksi. dan 20-35 berat. air kencing menetes). atau demam yang merupakan tanda dari infeksi/ urosepsis. Gejala pada saluran kemih bagian atas Nyeri pinggang. 8-19 sedang. mengedan bila miksi. ANAMNESIS American Urological Association (AUA) telah mengembangkan suatu standar daftar pertanyaan yang berlaku dan dapat dipercaya dalam identifikasi kebutuhan akan perawatan terhadap pasien-pasien dan dalam memonitoring terhadap terapi yang dilakukan. sedangkan keluhan yang menyangkut kualitas hidup pasien diberi nilai 1-7. Penilaian ini terfokus pada 7 pertanyaan yang di ajukan terhadap pasien-pasien untuk mengetahui seberapa sering timbul gejala iritasi dan obstruksi. jawaban dapat diberikan skor sebagai berikut: 0 = Tidak pemah 1 = Kurang dari sekali dari 5 kali kejadian 2 = Kurang dari separuh kejadian 3 = Kurang lebih separuh dari kejadian 4 = Lebih dari separuh dari kejadian 5 = Hampir selalu Dalam satu bulan terakhir ini berapa seringkah anda: 1. Merasakan masih terdapat sisa urine sehabis kencing ? 18 . Urin yang selalu menetes tanpa disadari oleh pasien yang merupakan tanda inkontinensia paradoksa.

Harus mengejan dalam memulai kencing ? Untuk pertanyaan nomer 7. Dalam hal ini dapat ditemukan adanya suatu gejala obstrutif: (1) adanya penurunan berat badan atau udem pada wajah dan kedua tangan. Q: pancara urine dalam ml/detik. Campuran antara puas dan tidak puas 6.. Harus berhenti pada saat kencing dan segera mulai kencing lagi dan hal ini dilakukan berkali-kali? 4.2. Pada suatu keadaan hiperplasia 19 . Sangat tidak puas 7.... PEMERIKSAAN FISIK Untuk mengetahui adanya penurunan kekuatan pancaran aliran urin. jawablah dengan: 1. (2) pucat atau anemia. R _ .. L_I ..V_I (S:Skor I-PSS. Q_. Puas 5. Tidak bahagia 2. Senang 4. Dalam satu bulan terakhir ini berapa kali anda terbangun dari tidur malam untuk kencing ? Total Skor (S) = . pemeriksa harus menilai proses pengosongan urin pasien sebagai hal utama dalam pemeriksaan..Dua kali 4 = Empat kali 5 = Lima kali 7. jawablah dengan skor seperti di bawah ini: 0 = Tidak pernah 3 = Tiga kali 1 = Satu kali 2 .. V: volume prostat) 2. L:Kualitas hidup. (3) kardiomegali atau udem pulmonal. Pada pemeriksaan rectal toucher kelenjar prostat diperiksa dengan memperhatikan dari segi bentuk dan ukuran serta konsistensi. Dengan keluhan seperti ini bagaimanakah anda menikmati hidup ini? Kesimpulan: S__. Pertanyaan nomer 8 adalah mengenai kualitas hidup sehubungan dengan gejala di atas. (4) ada massa yang teraba di abdomen bagian bawah. Tidak dapat menahan keinginan untuk kencing ? 5. Merasakan pancaran urine yang lemah ? 6. Buruk sekali 8.. R: sisa urine... Harus kencing lagi padahal belum ada setengah jam yang lalu anda baru saja kencing ? 3. Sangat senang 3.

Intra-Uretral Grading Dilakukan pemeriksaan dengan endoskopi untuk melihat seberapa penonjolan kedalam lumen uretra. berat > 100 gram Pada BPH Rectal-toucher menunjukan konsistensi prostat kenyal. Pemeriksaan Bimanual Dengan melakukan Rectal-toucher dan penekanan pada supra-pubik. Pasien dengan pembesaran prostat mungkin tidak ditemukan gejala obstruksi traktus urinarius. a. pasien disuruh BAK sampai habis. Jika teraba pembesaran prostat maka dapat diperkirakan besar prostat > 50 gram. berat < 10 gram : prostat teraba 1-2 cm.biasanya di dapatkan suatu prostat dengan keadaan licin. Dengan kateter di ukur sisa urin dalam buli-buli. Rectal Grading Dengan Rectal-toucher: Stage 0 Stage 1 Stage 2 Stage 3 Stage 4 : prostat teraba < 1 cm. berat 20-25 gram : prostat teraba 2-3 cm. sedangkan pada pasien dengan pembesaran lobus medial dapat ditemukan dengan jelas suatu adanya gejala obstruktif dan retensi urin tanpa adanya suatu pembesaran prostat yang teraba. berat 25-60 gram : prostat teraba 3-4 cm. yang secara tidak langsung juga memberikan gambaran keadaan dari persarafan vesika urinaria. b. keras dan elastis. pada pemeriksaan rectal toucher dapat memberikan keuntungan bagi pemeriksa dalam menilai kekuatan tonus dari spingter ani. e. Normal Grade 1 Grade 2 Grade 3 Grade 4 : sisa urin tidak ada : sisa urin 0-50cc : sisa urin 50-150 cc : sisa urin > 150 cc : retentio urin total d. Intra-Vesikal Grading Dengan pemeriksaan Cystogram 20 . lobus kanan dan kiri simetris. Sebagai tambahan dalam menilai kelenjar prostat. dan tidak didapatkan nodul-nodul. barat 60-100 gram : prostate teraba > 4 cm. Clinical Grading Pada pagi hari atau setelah diberi minum yang banyak. c.

dimaksudkan untuk mengetahui besar atau volume kelenjar prostat. adanya kemungkinan pembesaran prostat maligna. Gambaran Radiologis Foto polos perut berguna untuk mencari adanya batu opak di saluran kemih. sebagai petunjuk untuk melakukan biopsi aspirasi prostat. Uroflowmetri Dengan uroflowmetri dapat diukur: (1) pancaran urin maksimal (maximal flow rate-Qmax). Pemeriksaan sistografi dilakukan bila pada anamnesis ditemukan hematuria atau pada pemeriksaan urin ditemukan mikrohematuria. pemeriksaan ini untuk mengetahui asal dari perdarahan yang ada. (2) volume urin yang keluar (voided volume). selain itu untuk mengetahui besar prostat dengan mengukur panjang uretra pars prostatika dan penonjolan prostat ke dalam uretra. Ultrasonografi transrektal atau TRUS. Disamping itu ultrasonografi transabdominal mampu untuk mendeteksi adanya hidronefrosis ataupun kerusakan ginjal akibat obstruksi BPH yang lama. (3) lama waktu miksi. Pemeriksaan gula darah dimaksudkan untuk mencari kemungkinan adanya diabetes melitus yang dapat menimbulkan kelainan persarafan pada buli-buli (buli-buli neurogenik). b. Laboratorium Sedimen urin diperiksa untuk menandakan infeksi/hematuri. menentukan jumlah residual urine. yang merupakan tanda dari suatu retensi urine. ureum kreatinin. c. adanya batu/kalkulosa prostat dan kadangkala dapat menunjukan bayangan buli-buli yang penuh terisi urine. mengetahui adanya penyulit pada saluran kemih bagian atas. PEMERIKSAAN PENUNJANG a. Kultur urine untuk mencari jenis kuman dan menentukan sensitifitas. Faal ginjal. Pengukuran sisa urin yang tertinggal dalam buli-buli 21 . Jika dicurigai adanya keganasan prostat perlu di periksa kadar penanda tumor PSA. Pembesaran prostat dapat pula dilakukan dengan ultrasonografi suprapubik.3.

Komplikasi lain adalah pembentukan batu vesika akibat selalu terdapat sisa urin setelah buang air kecil. Yang harus diketahui dalam menilai pria dengan dugaan BPH yaitu adanya riwayat urethritis atau trauma untuk menyingkirkan adanya striktur uretra atau kontraktur leher buli-buli. Bila tekanan intra vesika yang selalu tinggi tersebut diteruskan ke ureter dan ginjal. yaitu terjadi penebalan serat-serat detrusor akibat tekanan intra vesika yang selalu tinggi akibat obstruksi. batu buli-buli atau ca prostat. Kedua. Disamping itu terapi spesifik lainnya berupa adanya indikasi untuk tindakan operasi termasuk retensio urine kronik (sedikitnya 1 kali percobaan menggunakan kateter yang gagal). Hematuri dan nyeri biasanya merupakan gejala adanya batu buli-buli. Angka normal pancaran kemih rata-rata 10-12 ml/ detik dan pancaran maksimal sampai sekitar 20 ml/detik. gross hematuri 22 . KOMPLIKASI Komplikasi yang dapat terjadi pada pasien yang dibiarkan tanpa pengobatan: Pertama. Pada obstruksi ringan pancaran menurun antara 6-8 ml/detik. yaitu mukosa buli-buli menerobos di antara serat-serat detrusor. sedang pancaran maksimal menjadi 15 ml/detik atau kurang.setelah buang air kecil diukur dengan memasang kateter setelah buang air kecil. DIAGNOSA BANDING Kondisi obstruksi lainnya dari traktus urinarius bagian bawah adalah striktur uretra. bila sakulasi menjadi besar dapat menjadi divertikel. Ketiga. trabekulasi. akan terjadi hidroureter dan hidronefrosis yang akan mengakibatkan penurunan fungsi ginjal TERAPI Untuk BPH dengan gejala ringan (score 0-7) terapi hanya berupa ”Watchful Waiting”. infeksi traktus urinarius berulang. untuk mengetahui adanya infeksi maka dilakukan kultur urine dan urinalisis. dapat terjadi sakulasi. Suatu infeksi pada traktus urinarius dapat memberikan gambaran gejala iritasi BPH. kontraktur leher buli-buli.ca prostat dapat diketahui pada DRE atau kenaikan serum PSA. sehingga terjadi pengendapan batu.

Terapi Medis I. Pasien dengan gejala sedang dapat dilakukan terapi ini jika pasien menginginkan. Alpha Bloker Caine adalah yang pertama kali melaporkan penggunaan obat penghambat adrenergik alpha sebagai salah satu terapi BPH. Sayangnya obat ini tidak disenangi oleh pasien karena menyebabkan komplikasi sistemik yang tidak diharapkan.berulang. terazosin. Dilaporkan bahwa obat ini mampu memperbaiki pancaran miksi tanpa menimbulkan efek terhadap tekanan darah maupun denyut jantung. Ditemukannya obat penghambat adrenegik-a1 adalah : Prazosin dua kali sehari. Pasien tidak mendapatkan terapi apapun dan hanya diberi penjelasan mengenai sesuatu hal yang mungkin dapat memperburuk keluhannya. Pada saat itu dipakai fenoksibenzamin. afluzosin. Inhibitor 5 alpha-reduktase Finasteride adalah merupakan inhibitor 5 alpha-reduktase yang memblok perubahan hormon testosteron menjadi dihydrotestosteron. II. yaitu penghambat alpha yang tidak selektif yang ternyata mampu memperbaiki laju pancaran miksi dan mengurangi keluhan miksi.insufisiensi ginjal dari buli-buli atau divertikula buli-buli yang besar. Akhir-akhir ini telah ditemukan pula golongan penghambat adrenegik-a1A. batu buli-buli. diantaranya adalah hipotensi postural dan kelainan kardiovaskuler lain. Watchful Waiting Pilihan terapi ini hanya untuk pasien BPH dengan gejala ringan(score 0-7). 1. seperti:      Jangan mengkonsumsi alkohol atau rokok setelah makan malam Kurangi makanan atau minuman yang mengiritasi buli-buli Batasi penggunaan obat-obat influenza yang mengandung fenilpropanolamin Kurangi makanan pedas atau asin Jangan menahan kencing terlalu lama 2. dan doksazosin yang diberikan sehari sekali. Obat ini 23 . Obat-obat ini dilaporkan dapat memperbaiki keluhan miksi dan laju pancaran urin. yaitu tamsulosin yang sangat selektif terhadap otot polos prostat.

inhibisi basic fibroblast growth factor (BFGF) dan epidermal growth factor (EGF).mempengaruhi komponen epitel dari kelenjar prostat yang mengakibatkan pengurangan ukuran dari kelenjar dan memberikan perbaikan gejala. Jika tidak segera diatasi. Salah satu kerugian dari aquades adalah sifatnya yang hipotonik sehingga cairan ini dapat masuk ke saluran sistemik melalui pembuluh darah vena yang terbuka pada saat reseksi. tetapi data-data farmologik tentang kandungan zat aktif yang mendukung mekanisme kerja obat fitoterapi sampai saat ini belum diketahui dengan pasti. efek anti inflamasi. dan inkontinensia. menurunkan kadar sex hormon binding globulin (SHBG). Radix urtica dan masih banyak lainnya. Keuntungan dari TURP tidak dilakukan sayatan sehingga mengurangi terjadinya infeksi. Terapi Operasi Konvesional I. yang dimaksudkan agar tidak terjadi hantaran listrik pada saat operasi. 24 . Hypoxis rooperi. Kemungkinan fitoterapi bekerja sebagai : anti-androgen. kesadaran somnolen. Cairan yang dipergunakan adalah berupa larutan non ionik. Kebanyakan dari prosedur ini memerlukan pemakaian anestesi spinal serta membutuhkan 1-2 hari perawatan di RS. Cairan yang sering dipakai yaitu H2O steril (aquades). dan memperkecil volume prostat. menurunkan outflow resistance. 6 bulan terapi diperlukan untuk mengetahui efek maximum dari ukuran prostat. Sindroma ini ditandai dengan pasien yang mulai gelisah. dan terdapat bradikardi. yang jika berlebih dapat menyebabkan terjadinya hiponatremia relatif atau gejala intoksikasi air atau dikenal dengan sindroma TURP. Reseksi kelenjar prostat dilakukan transuretra dengan mempergunakan cairan irigasi (pembilas) agar daerah yang akan direseksi tetap terang dan tidak tertutup oleh darah. impoten.Resiko pada TURP termasuk didalamnya berupa ejakulasi retrograd. mengacaukan metabolisme prostaglandin. Fitofarmaka Beberapa ekstrak tumbuhan-tumbuhan tertentu dapat dipakai untuk memperbaiki gejala-gejala akibat obstruksi prostat. tekanan darah meningkat . serena repens. III. 3. Di antara fitoterapi yang banyak dipasarkan adalah : Pygeum africanum. Transurethral Resection Of The Prostat (TURP) 95% dari simple prostatektomi dapat dilakukan secara endoskopi yang di masukan melalui penis atau uretra.

harus disingkirkan kemungkinan adanya Ca prostate dengan melakukan colok dubur. dan impontensi. Sebelum melakukan ini. dipakai cairan isotonik yaitu glisin dan harus membatasi untuk tidak melakukan reseksi lebih dari satu jam. Terapi standar sindrom ini terdiri dari pemberian diuretik dan penggunaan salin hipotonik intravena II. cara ini lebih cepat dan sedikit mengalami kesalahan daripada TURP. Pada cara ini melibatkan 2 potongan menggunakan pisau Colinns pada arah jam 5 dan jam 7. Pada pasien-pasien ini akan sangat bermanfaat. Transurethral Inscision Of The Prostat (TUIP) Sering pada pria dengan gejala BPH sedang sampai berat serta kelenjar prostat yang kecil. infeksi.pasien akan mengalami edema otak yang akhirnya jatuh kedalam koma dan meninggal. dan pengukuran kadar PSA. penyempitan uretra. Untuk mengurangi resiko timbulnya sindroma TURP. melakukan USG Transrektal. 25 . Komplikasi yang terjadi perdarahan. sering mempunyai hyperplasia pada komisura posterior (leher bulibuli terangkat). kedua potongan ini dimulai dari arah distal sampai mulut uretra dan meluas keluar sampai ke verumontirium.

Simple suprapubik prostatektomi dilakukan secara transvesical dan merupakan operasi pilihan dalam menangani masalah kelainan dalam buli-buli. batu buli-buli 5. BPH dengan komplikasi Pembesaran kelenjar prostat bukan indikasi prostatektomi. Open prostatektomi mungkin dapat pula berguna. Open Simple Prostatektomi Jika ukuran prostat terlalu besar untuk dipindahkan secara endoskopi. prostatitis berulang 6. maka diperlukan suatu enukleasi terbuka. retensi akut 2. obstruksi kronik dengan eksaserbasi akut 3. kronik obstruktif dengan azotemia 2. yaitu dengan seiring adanya divertikula buli-buli atau batu buli-buli atau jika posisi litotomi tidak memungkinkan untuk dilakukan operasi. Indikasi absolut prostatektomi : 1. Kelenjar prostate lebih dari 100 g biasanya dilakukan suatu enukleasi terbuka. residual urin 4. infeksi traktus urinarius berulang dari obstruksi 6. Setelah 26 . kerusakan pada buli-buli dan traktus urinarius bagian atas dari obstruksi 5.III. Pada open prostatektomi dapat dilakukan 2 cara yaitu: suprapubik dan retropubik. frekuensi BAK yang mengganggu tidur atau kerja perubahan obstruksi awal pada buli-buli serta traktus urinarius bagian atas 3. perdarahan dari hipertrofi benigna Indikasi relatif prostatektomi : 1. batu buli-buli dengan obstruksi kronik 4.

Kemudian insisi pada daerah kapsul prostate yang akan di operasi. 27 . Pada potongan apical juga dibuat setajam mungkin untuk menghindari injuri terhadap distal spingter mekanisme. lalu adenomanya di enukleasi. Pada simple retropubik hanya digunakan 1 kateter. Terapi Invasif Minimal I. dimana sebelumnya telah dipasang kateter uretra dan suprapubik sebelum di lakukan penutupan. Pada simple retropubik prostatektomi buli-buli tidak di masuki. 4. Untuk mengetahui kedalamannya dapat dilihat melalui USG. setelah hemostasis dicapai dengan melakukan penjahitan. Pemotongan pada bidang datar harus sangat tajam.buli-buli di buka kemudian dibuat satu potongan semisirkuler pada mukosa buli-buli. Beberapa perbedaan tehnik Necro coagulation telah diketahui :  Transurethral Laser Induced Prostatectomy (TULIP) Dilakukan dengan cara menggunakan panduan memakai USG Transurethral. Holmium YAG. interstitial fibre. dan diode yang dipancarkan melalui bare fibre. Terapi Laser Ada 4 sumber tenaga yang digunakan pada terapi ini yaitu : Nd YAG. kemudian pada potongan tumpul dengan menggunakan jari dibuat untuk memindahkan adenoma. right angle fibre. perlahan mungkin ditarik dari leher buli-buli sampai ke apex. Setelah adenoma di angkat. KTP YAG. distal dari trigonum. Alat-alat pada TULIP diletakkan di dalam uretra dan USG Transurethral digunakan untuk menuntun alat TULIP.

Penggunaan cara ini hanya dapat mengurangi sedikit gejala iritasinya saja. lasernya ditembakan langsung. masa rawat di RS lebih singkat. Visual Contact Ablative Cara ini merupakan cara yang membutuhkan waktu yang lama. Termoterapi 28 . (2) gejalanya jarang timbul lagi. (4) dapat dilakukan pada pasien. hanya teknik ini memakai roller ball yang spesifik dan dengan mesin diatermi yang cukup kuat. sehingga mengakibatkan lapisan submukosanya mengalami nekrosis koagulasi. Pada setiap penusukan. (3) bertambahnya gejala iritasi. (3) berguna pada pasien – pasien yang menggunakan terapi antikoagulan. perdarahan minimal. Teknik ini cukup aman. III. sehingga mampu membuat vaporisasi kelenjar prostat. II. Namun hanya dapat dilakukan pada prostat yang tidak terlalu besar (<50 gram) dan butuh waktu operasi lebih lama. karena mukosa dari uretera berbeda dan sisa dari jaringan prostatnya dipisahkan serta jaringan dari prostatnya diresobpsi. karena di lakukan dengan cara meletakkan serat dari lasernya langsung berada didalam jaringan prostat yang dapat menguap. Keuntungan dari penggunaan bedah laser adalah (1) perdarahannya minimal.pasien rawat jalan. Kerugiannya adalah : (1) kurangnya jaringan patologik yang tersedia. dan biasanya dibawah kendali cytoskopi. Elektrovaporasi Prostat Sama dengan TURP.  Terapi Laser Intersitiel Pada cara ini seratnya diletakkan langsung pada prostat. (2) membutuhkan waktu saat kateterisasi post operasi.

Sistem ini terdiri dari kateter TUNA yang dihubungkan dengan generator.Energi panas bersamaan gelombang mikro dipancarkan melalui kateter transuretra. Metode ini memerlukan anestesi umum. Alat ini didesain khusus sebagai USG dengan dual fungsi yang diletakkan direktum. sehingga menyebabkan nekrosis jaringan prostat. 29 . pasien seringkali masih mengeluh hematuria. Probenya dapat digunakan untuk memberikan gambaran prostat dan juga dapat menghantarkan ledakan kecil dari energi USG yang terfokus dengan kekuatan tinggi yang mana dapat mengakibatkan panasnya jaringan prostat dan dapat mengakibatkan suatu nekrosis koagulasi. Besar dan arah pancaran energi diatur sehingga dapat melunakkan jaringan prostat yang membuntu uretra. disuria. Direkomendasikan bagi prostat yang ukurannya kecil. Morbiditas rendah. dapat dijalani oleh pasien dengan kondisi kurang baik jika menjalani pembedahan. kadang retensi urine dan epididimo-orkitis. Pada pembesaran lobus medial dan leher buli – buli tidak dapat menggunakan metode ini. V. IV. Metode ini tidak dapat digunakan pada terapi pembesaran lobus medial dan leher buli – buli . Transurethral needle ablation of the prostate (TUNA) Metode ini memakai energi dari frekuensi radio yang menimbulkan panas sampai 100o. dapat dilakukan tanpa anestesi. High – intensity focused ultrasound (HIFU) Metode ini merupakan bentuk lain dari ablasi thermal jaringan.

rasa tidak enak di daerah penis. pasien masih merasakan keluhan miksi berupa gejala iritatif. Metode ini sangat efektif pada prostat – prostat dengan ukuran kecil ( < 40 cm3 ). Intrauretrhal stenting Intrauretrhal stenting merupakan suatu alat yang secara endoskopi diletakkan didalam fossa prostatika dan dibuat untuk menahan bentuk dari uretrha pars prostatika. 30 . VII. perdarahan uretra.VI. Namun setelah pemasangan kateter ini.Transurethral balloon dilatation of the prostate Dilatasi balon dari kelenjar prostat dibentuk secara khusus dengan suatu kateter yang mampu mendilatasi fossa prostatika saja atau fossa prosatika dan leher buli –buli. Alat ini dibuat secara khusus digunakan pada pasien pasien dengan angka harapan hidup terbatas dan bukan pada pasien – pasien dengan indikasi operasi.

Buku Ajar Ilmu Bedah edisi 2.uk www. De Jong. Jakarta: EGC. Buku Ajar Bedah bagian 2: (Sabiston’s Essentials Surgery).1994 3.prostata-therapie. Basuki B. 2003 2. editor. Sabiston. alih bahasa. 2004 4. sejauh ini tidak menimbulkan impotent.prostateinformation. Ronardy. www.Keuntungannya : mudah digunakan.de. David C. DAFTAR PUSTAKA 1. R Sjamsihidajat (ed). aman. Jakarta: EGC. Petrus Andrianto. Purnomo. Wim. hospitalisasi yang minimal.co. Dasar-dasar Urologi. Devi H.uk 31 .co.

mungkin terdapat thrombosis arteri segmentalis Derajat IV Laserasi sampai mengenai system kalises ginjal 32 . trauma ginjal dibedakan menjadi : Table 1. Goncangan ginjal didalam rongga retroperitoneum menyebabkan regangan pedikel ginjal sehingga menimbulkan robekan tunika intima arteri renalis. Cedera ginjal dapat terjadi secara: (1) langsung akibat benturan yang mengenai daerah pinggan atau (2) tidak langsung yaitu merupakan cedera deselerasi akibat pergerakan ginjal secara tiba-tiba didalam rongga retroperitoneum. penderajatan Trauma Ginjal Derajat Jenis kerusakan Derajat I Derajat II Derajat III Kontusio ginjal/hematoma perirenal Laserasi ginjal terbatas pada korteks Laserasi ginjal sampai pada medulla ginjal. TRAUMA GINJAL Ginjal terletak dirongga retroperitoneum dan terlindung oleh otot-otot punggung sebelah posterior dan oleh organ-organ intraperitoneal di sebelah anteriornya. Penderajatan Trauma Ginjal Menurut derajat berat ringannya kerusakan ginjal. dan cedera iatrogenic. Robekan ini akan memacu terbentuknya bekuan-bekuan darah yang selanjutnya dapat menimbulkan thrombosis arteri renalis beserta cabang-cabangnya.TRAUMA UROGENITALIA Secara anatomis sebagian besar organ urogenitalia terletak di rongga ekstraperitoneal (kecuali genitalia eksterna). Cedera yang mengenai organ urogenitalia bias merupakan cedera dari luar berupa trauma tumpul maupun trauma tajam. karena itu cedera ginjal tidak jarang diikuti oleh cedera organ-organ yang mengitarinya. dan terlindung oleh otot-otot dan organorgan lain.

Pembuatan PIV dikerjakan jika diduga ada (1) luka tusuk atau luka tembak yang mengenai ginjal. mungkin terjadi thrombosis arteri renalis o Ginjal terbelah (shatered) Diagnosis Patut dicurigai adanya cedera pada ginjal jika terdapat : 1. 2. punggung. Trauma didaerah pinggang. Hematuria 3. Kadang kala 33 . Pada trauma major atau rupture pedikel seringkali pasien dating dalam keadaan syok berat dan terdapat hematoma didaerah pinggang yang makin lama makin membesar. dan perut bagian atas dengan disertai nyeri atau didapatkan adanya jejas pada daerah itu. Dalam keadaan ini pemeriksaan ultrasonografi abdomen dapat menunjukkan adanya hematoma parenkim ginjal yang terbatas pada subkapsuler dan dengan kapsul ginjal yang masih utuh. Fraktur kosta sebelah bawah (T8-12) atau fraktur prosesus spinosus vertebra 4. (2) cedera tumpul ginjal yang memberikan tanda-tanda hematuria makroskopik. Pada trauma derajat ringan mungkin hanya didapatkan nyeri didaerah pinggang terlihat jejas berupa ekimosis. dada sebelah bawah. Cedera deselerasi yang berat akibat jatuh dari ketinggian atau kecelakaan lalu lintas. Trauma tembus pada daerah abdomen atau pinggang 5. dan terdapat hematuria makroskopik ataupun mikroskopik. Jika PIV belum dapat menerangkan keadaan ginjal perlu dilakukan pemeriksaan CT scan atau arteriografi. Pencitraan Pemeriksaan pencitraan dimulai dari PIV guna menilai tingkat kerusakan ginjal dan melihat keadaan ginjal kontralateral. dan (3) cedera tumpul ginjal yang menberikan tanda-tanda hematuria mikroskopik dengan disertai syok.Derajat V o Avulse pedikel ginjal. Pemeriksaan PIV pada kontusio renis sering menunjukkan gambaran system pelvikalises normal.

penurunan kadar hemoglobin darah. dan perubahan warna urine pada pemeriksaan urine serial. 2. reparasi ginjal (berupa renorafi atau penyambungan vaskuler) atau tidak jarang harus dilakukan nefrektomi parsial bahkan nefrektomi total karena kerusakan ginjal yang sangat berat. Pengelolaan Terapi yang dikaerjakan pada trauma ginjal adalah : 1. Operasi Operasi ditujukan pada trauma ginjal major dengan tujuan untuk segera menghentikan perdarahan. adanya pembesaran lingkaran perut. System pelvikalises yang tak nampak pada PIV dapat pula terjadi pada rupture pedikel atau pasien yang berada dalam keadaan syok berat pada saat menjalani pemeriksaan PIV. trauma major dan trauma pedikel sering menimbulkan perdarahan yang hebat dan berakhir dengan 34 . nadi dan suhu tubuh). Penyulit Jika tidak mendapatkan perawatan yang cepat dan tepat. Konservatif Tindakan konservatif ditujukan pada trauma minor. kemungkinan adanya penambahan massa dipinggang. hal ini karena terobeknya system pelvikalises ginjal. Selanjutnya mungkin perlu dilakukan debridement.kontusio renis yang cukup luas menyebabkan hematoma dan edema yang hebat sehingga memberikan gambaran system pelvikalises yang spstik atau bahkan tak tampak (non visualized). Ekstravasasi ini akan tampak semakin luas pada ginjal yang mengalami fragmentasi (terbelah) pada cedera derajat V. Pada derajat PIV tampak adanya ekstravasasi kontras. Pada keadaan ini dilakukan observasi tanda-tanda vital (tensi.

hidronefrosis. kecurigaan Cedera Ureter Iatrogenik 35 . putus (robek). atau devaskularisasi karena banyak jaringan vaskuler yang dibersihkan. crushing karena terjepit oleh klem. sedangkan kecurigaan adanya cedera ureter iatrogenic bias diketemukan pada saat operasi atau setelah pembedahan (lihat table 2). dan kadang menimbulkan fistula renokutan. Dikemudian hari pasca cedera ginjal dapat menimbulkan penyulit berupa hipertensi. Diagnosis Kecurigaan adanya cedera ureter pada trauma dari luar adalah hematuria pasca trauma. atau trauma iatrogenic. urosepsis. Selain itu kebocoran system kaliks dapat menimbulkan ekstravasasi urin hingga menimbulkan urinoma. TRAUMA URETER Cedera ini dapat terjadi karena trauma dari luar yaitu trauma tumpul maupun trauma tajam. ekstraksi batu dengan Dormia. atau bedah vaskuler) dapat menyebabkan terjadinya cedera ureter iatrogenic. Cedera yang terjadi pada ureter akibat tindakan operasi terbuka dapat berupa: ureter terikat. atau litotripsi batu ureter) dan perasi didaerah pelvis (diantaranya adalah operasi ginekologi. bedah digestif. Operasi endourologi transureter (ureteroskopi atau uterorenoskopi. Table 2. abses perirenal.kematian. urolitiasis atau pielonefritis kronis.

Tindakan yang dikerjakan mungkin : 1. dan letak serta derajat lesi ureter. atau Psoas hitch) 3. Ureter saling disambungkan (anastomosis end to end) 2. Nefrostomi sebagai tindakan diversi atau nefrektomi. 36 .Saat operasi Pasca bedah Lapangan operasi banyak cairan Hematuria Anuri/oliguri jika cedera bilateral Demam Ileus Nyeri pinggang akibat obstrusi Luka operasi selalu basah Sampai beberapa hari cairan drainase jernih dan banyak Hematuria persisten dan hematoma/urinoma di abdomen Fistula uterokutan/fistula uterovagina Tindakan Tindakan yang dilakukan terhadap cedera ureter tergantung pada saat cedera ureter terdiagnosis. Uretero-kutaneostomi 4. keadaan umum pasien. Inplantasi ureter ke buli-buli (neoimplantasi ureter pada buli-buli. flap Boari. Transuretero-ureterotomi (menyambung ureter dengan ureter pada sisi yang lain) 5.

tempatnya turun dan terlindung di dalam kavum pelvis. Etiologi Kurang lebih 90% trauma tumpul buli-buli adalah akibat fraktur pelvis. Tindakan endourologi dapat menyebabkan trauma buli-buli iatrogenic antara lain pada reseksi buli-buli transurethral (TUR buli-buli) atau pada litotripsi. Demikian pula partus kasep atau tindakan operasi di daerah pelvis dapat menyebabkan trauma iatrogenic pada buli-buli. Fiksasi buli-buli pada tulang pelvis oleh fasia endopelvik dan diafragma pelvis sangat kuat sehingga cedera deselerasi terutama jika titik fiksasi fasia bergerak pada arah berlawanan (seperti pada fraktur pelvis).TRAUMA BULI-BULI Pada waktu lahir hingga usia anak. Buli-buli akan robek pada daerah fundus dan menyebabkan ekstravasasi uri ke rongga intraperitoneum. dapat merobek buli-buli. adanya organ lain yang 37 . miksi bercampur darah atau mungkin pasien tidak dapat miksi. Dalam keadaan penuh terisi urin. buli-buli mudah sekali robek jiak mendapatkan tekanan dari luar berupa benturan pada perut sebelah bawah. Robeknya buli-buli karena fraktur pelvis bisa pula terjadi akibat fragmen tulang pelvis merobek dindingnya. pasien mengeluh nyeri didaerah suprasimfisis. Diagnosis Setelah mengalami cedera pada abdomen sebelah bawah. sehingga kemungkinan mendapatkan trauma dari luar jarang terjadi. bagian buli-buli yang mengalami cedera yaitu intra/ekstraperitoneal. Namun semakin bertambahnya usia. cedera intraperitoneal. Gambaran klinis yang lain tergantung pada etiologi trauma. cedera buli-buli ekstraperitoneal. buli-buli terletak di rongga abdomen. Klasifikasi Secara klinis cedera buli-buli dibedakan menjadi kontusio buli-buli.

Jika masih ada ekstravasasi kateter sistostomi dipertahankan sampai 3 minggu. dan kemungkinan untuk terjadinya infeksi pada rongga perivesika sebesar 12%. yaitu (1) foto pada saat buli-buli terisi kontras dalam posisi anterior-posterior (AP). sebaiknya dilakukan penjahitan buli-buli dan pemasangan kateter sistostomi. serta penyulit yang terjadi akibat trauma. terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan sistografi guna melihat kemungkinan masih adanya ekstravasasi urin. cukup dilakukan pemasangan kateter dengan tujuan untuk memberikan instirahat pada buli-buli. Pada cedera ekstraperitoneal. Sistografi dibuat pada hari ke 10-14 pasca trauma. (2) pada posisi oblik. hematoma perivesika. Dalam hal ini mungkin didapatkan tanda fraktur pelvis. 38 . atau tanpa tanda sepsis dari suatu peritonitis atau abses perivesika. Terapi Pada kontusio buli-buli. kemudian dipasang kateter sistostomi yang dilewatkan di luar sayatan laparatomi. Namun tanpa tindakan pembedahan kejadian kegagalan penyembuhan luka ± 15%. Oleh karena itu jika bersamaan dengan rupture buli-buli terdapat cedera organ lain yang membutuhkan operasi. Pada cedera intraperitoneal harus dilakukan eksplorasi laparatomi untuk mencari robekan pada buli-buli serta kemungkinan cedera pada organ lain. robekan pada buli-buli dijahit 2 lapis. Dengan cara ini diharapkan buli-buli sembuh setelah 7-10 hari. Untuk memastikan bahwa buli-buli telah sembuh. Rongga intraperitoneum dicuci. Kemudian dibuat beberapa foto. Pemeriksaan pencitraan berupa sistografi yaitu dengan memasukkan kontras kedalam buli-buli sebanyak 300-400 ml secara gravitasi (tanpa tekanan) melalui kateter per-uretram. sebelum melepas kateter uretra atau kateter sistostomi. dan (3) wash out film yaitu foto setelah kontras dikeluarkan dari buli-buli. Jika tidak dioperasi ekstravasasi urin ke rongga intraperitoneum dapat menyebabkan peritonitis.mengalami cedera. syok. robekan yang sederhana (ekstravasasi minimal) dianjurkan untuk memasang kateter selama 7-10 hari. tetapi sebagian ahli lain menganjurkan untuk melakukan penjahitan buli-buli denagn pemasangan kateter sistostomi.

TRAUMA URETRA Secara klinis trauma uretra dibedakan menjadi trauma uretra anterior dan trauma uretra posterior. Pada keadaan ini tidak diperbolehkan melakukan pemasangan kateter. pengelolaan. Etiologi Trauma uretra terjadi akibat cedera yang berasal dari luar (eksternal) dan cedera iatrogenic akibat instrumentasi pada uretra. tanda klinis. Pada trauma uretra yang berat. Gambaran klinis Kecurigaan adanya trauma uretra adalah jika didapatkan perdarahan peruretram yaitu terdapat darah yang keluar dari meatus uretra eksternum setelah mengalami trauma. hal ini karena keduanya menunjukkan perbedaan dalam hal etiologi trauma. karena dapat menyebabkan kerusakan uretra yang lebih parah. serta prognosisnya. sedangkan trauma tumpul pada selangkangan atau straddle injury dapat menyebabkan rupture uretra pars bulbosa. Kedua keadaan itu dapat menyebabkan sepsis yang dapat mengancam jiwa. ekstravasasi urin ke rongga pelvis yang dibiarkan dalam waktu lama dapat menyebabkan infeksi dan abses pelvis. guna mengetahui adanya rupture uretra.Penyulit Pada cedera buli-buli ekstraperitoneal. Diagnosis ditegakkan melalui foto uretrografi dengan memasukkan kontras melalui uretra. Yang lebih berat lagi adalah robekan buli-buli intraperitoneal. seringkali pasien mengalami retensi urin. dapat menimbulkan peritonitis akibat dari ekstravasasi urin pada rongga intraperitoneum. Trauma tumpul tang menimbulkan fraktur tulang pelvis menyebabkan rupture uretra pars membranasea. jika tidak segera dilakukan operasi. 39 .

Ruptura Uretra Posterior Rupture uretra posterior paling sering disebabkan oleh fraktur tulang pelvis. Fraktur yang mengenai ramus atau simfisis pubis dan menimbulkan kerusakan pada cincin pelvis, menyebabkan robekan uretra pars prostate-membranasea. Klasifikasi Colapinto dan McCollum (1976) membagi derjat cedera uretra dalam 3 jenis : 1. Uretra posterior masih utuh dan hanya mengalami stretching (peregangan). 2. Uretra posterior terputus pada perbatasan prostate-membranasea, selanjutnya diafragma urogenitalia masih utuh. 3. Uretra posterior, diafragma urogenitalis, dan uretra pars bulbosa sebelah proksimal ikut rusak. Diagnosis Rupture uretra posterior seringkali memberikan gambaran yang khas berupa: (1) perdarahan per-uretram, (2) retensi urin, dan (3) pada pemeriksaan colok dubur didapatkan adanya floating prostate (prostat melayang) di dalam suatu hematom. Pada pemeriksaan uretrografi retrigrad mungkin terdapat elongasi uretra atau ekstravasasi kontra pada pars prostate-membranasea. Tindakan Pada keadaan akut tindakan yang dilakukan adalah melakukan sistostomi untuk diversi urin. Setelah keadaan stabil sebagian ahli urologi melakukan primary endoscopic realignment yaitu melakukan pemasangan kateter uretra sebagai splint melalui tuntunan uretroskopi. Dengan cara ini diharapkan kedua ujung uretra yang terpisah dapat saling didekatkan. Tindakan ini dilakukan sebelum 1 minggu pasca rupture dan kateter uretra dipertahankan selama 14 hari. Penyulit Penyulit yang terjadi pada rupture uretra adalah striktura uretra yang seringkali kambuh, disfungsi ereksi, dan inkontinensia urin. 40

Rupture Uretra Anterior Cedera dari luar yang sering menyebabkan kerusakan uretra anterior adalah straddle injury (cedera selangkangan) yaitu uretra terjepit diantara tulang pelvis dan benda tumpul. Jenis kerusakan urerta yang terjadi berupa: kontusio dinding uretra, rupture parsial, atau rupture total dinding uretra. Patologi Jika terjadi rupture uretra beserta korpus spongiosum, darah dan urin keluar dari uretra tetapi masih terbatas pada fasia Buck, dan secara klinis terlihat hematoma yang terbatas pada penis. Namun jika fasia Buck ikut robek, ekstravasasi urin dan darah hanya dibatasi oleh fasia Colles sehingga darah dapat menjalar hingga skrotum atau ke dinding abdomen. Oleh karena itu robekan ini memberikan gambaran seperti kupu-kupu sehingga disebut butterfly hematoma atau hematoma kupu-kupu. Diagnosis Pada kontusio uretra, pasien mengeluh adanya perdarahan per-uretram atau hematuria. Jika terdapat robekan pada korpus spongiosum, terlihat adanya hematom pada penis atau hematoma kupu-kupu. Pada keadaan ini seringkali pasien tidak dapat miksi.

Tindakan Kontusio uretra tidak memerlukan terapi khusus, tetapi mengingat cedera ini dapat menimbulkan penyulit striktura uretra dikemudian hari, maka setelah 4 – 6 bulan perlu dilakukan pemeriksaan uretrografi ulangan. Pada rupture uretra parsial dengan ekstravasasi ringan, cukup dilakukan sistostomi untuk mengalihkan aliran urin. Kateter sistostomi dipertahankan sampai 2 minggu, dan dilepas setelah diyakinkan melalui pemeriksaan uretrografi bahwa sudah tidak ada ekstravasasi

kontras atau tidak timbul striktura uretra. Namun jika timbul striktura uretra, dilakukan reparasi uretra atau stachse.

41

TRAUMA PENIS
Trauma yang mencederai penis dapat berupa trauma tumpul, truma tajam, terkena mesin pabrik, rupture tunika albuginea, atau strangulasi penis. Pada trauma tumpul atau terkena mesin, jika tidak terjadi amputasi total, penis cukup dibersihkan dan dilakukan penjahitan primer. Jika terjadi amputasi penis total dan bagian distal dapat diidentifikasi, dianjurkan dicuci dengan larutan faram fisiologis kemudian disimpan didalam kantung es, dan dikirim ke pusat rujukan. Jika masih mungkin dilakukan replantasi (penyambungan) secara mikroskopik. Fraktur Penis Fraktur penis adalah rupture tunika albuenia korpus kavernosum penis yang terjadi pada saat penis dalam keadan ereksi. Rupture ini dapat disebabkan karena dibengkokkan sendiri oleh pasien pada saat masturbasi, dibengkokkan oleh pasangannya, atau tertekuk secara tidak sengaja pada saat hubungan seksual. Akibat tertekuk ini, penis menjadi bengkok (angulasi) dan timbul hematoma pada penis dengan disertai nyeri. Untuk mengetahui letak rupture, pasien perlu menjalani pemeriksaan foto kavernosografi yaitu memasukkan kontras kedalam korpus kavernosum dan kemudian diperhatikan adanya ekstravasasi kontras keluar dari tunika albugenia. Tindakan Eksplorasi rupture dengan sayatan sirkuminisi, kemudian dilakukan evakuasi hematoma. Selanjutnya dilakukan penjahitan pada robekan tunika albugenia. Strangulasi Penis Strangulasi penis adalah jeratan pada pangkal penis yang menyebabkan gangguan aliran darah pada penis. Gangguan aliran darah ini mengakibatkan penis menjadi iskemia dan edema yang jika dibiarkan akan menjadi nekrosis. Jeratan pada penis harus segera ditanggulangi dengan melepaskan cincin atau penjerat yang melingkar pada penis.

42

serta transquiliser untuk menenangkan pasien. crushing. Kemudian dilakukan pencucian luka dari debris dan rambut yang menempel dengan melakukan irigasi memakai air bersi dan kalau tersedia dengan garam fisiologis. dianjrkan membuat kantong dip aha atau di inguinal guna meletakkan testis. tetapi diusahakan sedapat mungkin jangan terlalu banyak membuang kulit skrotum yang masih hidup karena skrotum penting untuk membungkus testis. luka tajam. atau (3) melakukan insisi pada penis yang telah mengalami edema dengan tujuan membuang cairan (edema0 sehingga logam dapat dikeluarkan. luka tumpul. (2) melingkarkan tali pada penis pada sebelah distal logam dan kemudian melepaskannya perlahan-lahan. sedative. atau luka bakar. Avulsi Avulse adalah kehilangan sebagian atau seluruh dinding skrotum. 43 . Dilakukan debridement jaringan yang mengalami nekrosis. Pertolongan pertama adalah memberikan analgetika. Trauma genitalia eksterna Trauma yang dapat terjadi pada trauma genitalia eksterna adalah avulsi. Jika kulit skrotum yang tersisa tidak cukup untuk membungkus testis.Beberapa cara untuk melepaskan cincin yang menjerat batang penis adalah (1) memotong logam itu dengan gerinda atau gergaji listrik.

besarnya kanting hidrokel tidak berubah sepanjang hari. Dalam keadaan normal. atau trama pada tstis/epididimis. hidrokel dapat terjadi secara idiopatik (primer) dan sekunder. Pada hirokel yang terinfeksi atau kulit skrotm yang sangat tebal kadang-kadang sulit melakukan pemeriksaan ini. sehingga harus dibantu dengan pemeriksaan ultrasonografi. 44 . Pada pemeriksaan fisis didapatkan adanya benjolan di kantong skrotum dengan konsistensi kistus dan pada pemeriksaan penerawangan menunjukkan adanya transiluminasi.Hidrokel Testis Definisi Hidrokel adalah penumpukan cairan yang berlebihan diantara lapisan parietalis dan viseralis tunika vaginalis. Kelainan pada testis itu mungkin suatu tumor. Pada orang dewasa. infeksi. secara klinis dibedakan beberapa macam hidrokel yaitu: 1. belum sempurnanya system limfatik di daerah skrotum dalam melakukan reabsorbsi cairan hidrokel. hidrokel testis 2. hidrokel komunikan Pada hidrokel testis. belum sempurnanya prosesus vaginalis 2. Menurut letak kantong hidrokel terhadap testis. Pada anamnesis. kantong hidrokel seolah-olah mengelilingi testis sehingga testis tak dapat diraba. Etiologi Hidrokel yang terjadi pada bayi baru lahir dapat disebabkan karena: 1. Peyebab sekunder terjadi karena didapatkan kelainan pada testis atau epididimitis yang menyebabkan terganggunya system sekresi atau reabsorbsi cairan di kantong hidrokel. Gambaran Klinis Pasien mengeluh adanya benjolan di kantong skrotum yang tidak nyeri. cairan yang berada di dalam rongga memang ada dan berada dalam keseimbangan antara produksi dan reabsorpsi oleh system limfatik disekitarnya. hidrokel funikulus 3.

kantong hidrokel berada di funikulus yaitu terletak disebelah cranial dari testis. sehingga pada palpasi. tetapi jika hidrokel masih tetap ada atau bertambah besar perlu dipikirkan untuk dilakukan koreksi. sekaligus 45 . hidrokel permagna yang dirasakan terlalu berat dan menganggu pasien dalam melakukan aktivitasnya sehari-hari. kantong hidrokel terpisah dari testis dan dapat dimasukkan kedalam rongga abdomen. kantong hidrokel besarnya dapat berubah-ubah yaitu bertambah besar pada saat anak menangis. hidrokel akan sembuh sendiri. hidrokel yang besar sehingga dapat menekan pembuluh darah 2. Pada hirokel komunikan terdapat hubungan antara prosesus vaginalis dengan rongga peritoneum sehingga prosesus vaginalis dapat terisi cairan peritoneum. Terapi Hidrokel pada bayi biasanya ditunggu hingga anak mencapai usia 2 tahun dengan harapan setelah prosesus vaginalis menutup.Pada hidrokel funikulus. Beberapa indikasi untuk melakukan operasi pada hidrokel adalah: 1. Tindakan untuk megatasi cairan hidrokel adalah dengan aspirasi dan operasi. Aspirasi cairan hidrokel tidak dianjurkan karena angka kekambuhan tinggi. Pada palpasi. kadang kala dapat menimbulkan penyulit berupa infeksi. indikasi kosmetik 3. Pada anamnesis kantong hidrokel besarnya tetap sepanjang hari. Pada hidrokel congenital dilakukan pendekatan inguinal karena seringkali hidrokel ini disertai dengan hernia inguinalis sehingga pada saat operasi hidrokel. testis dapat diraba dan berada di luar kantong hidrokel. Pada anamnesis.

Purnomo B Basuki. Pada hidrokel funikulus dilakukan ekstirpasi hidrokel secara in toto. CV. Jakarta. Buku Ajar Ilmu Bedah. hal. Jong Wim de. Edisi revisi. Daftar pustaka 1. 140-142 46 . Penerbit Buku Kedokteran EGC. Sjamsuhidajat R. 2nd ed.melakukan herniorafi. Pada hidrokel testis dewasa dilakukan tindakan pendekatan scrotal dengan melakukan eksisi dan marsupialisasi kantong hidrokel dengan cara Winkelman atau plikasi kantong hidrokel sesuai dengan cara Lord. 797 2. in : dasar-dasar urologi FK univ. 2003.Brawijaya. hidrokel yang cukup besar mudah mengalami trauma dan hidrokel permagna bisa menekan pembuluh darah yang menuju ke testis sehingga menimbulkan atrofi testis. hal. Jakarta. 1997. Sagung seto. Penyulit Jika dibiarkan.

Permukaan testis normal licin tanpa tonjolan dan konsistensi elastis. walaupun tidak semua varikokel mempengaruhi produksi sperma. Peninggian tekanan di dalam pleksus pampiniformis dapat diraba sebagai struktur yang terdiri atas varises pleksus pampiniformis yang memberikan kesan raba seperti kumpulan cacing. Normalnya aliran balik vena memiliki satu arah katup yang berfungsi mencegah terjadinya turbulensi. Diameter normal pleksus pampiniformis > 2 mm.testis. varikokel merupakan penyebab penting rendahnya produksi sperma dan menurunnya kualitas sperma. Kadang varikokel merupakan faktor kausal gangguan fertilitas sehingga merupakan indikasi ligasi v. DEFINISI Varikokel adalah dilatasi abnormal vena pada pleksus pampiniformis akibat gangguan aliran darah balik vena spermatika interna. dan ini terjadi akibat tekanan meninggi di dalam vena testis yang tidak berkatup dari muara di vena kava inferior atau vena renalis sampai di testis. 47 .VARIKOKEL PENDAHULUAN Varikokel dapat menyebabkan keluhan testis terasa berat.

INSIDENS Varikokel merupakan salah satu penyebab yang menyebabkan buruknya produksi sperma dan berkurangnya kualitas semen. Banyak kasus varikokel yang berlangsung asimptomatis atau tanpa gejala. KLASIFIKASI 48 . sedang yang kanan bermuara pada vena kava dengan arah miring. Varikokel sering ditemukan pada usia 15-25 tahun dan jarang ditemukan pada pria diatas 40 tahun. tetapi dari pengamatan membuktikan bahwa varikokel sebelah kiri lebih sering dijumpai ( 7093 % ). Hal ini disebabkan karena vena spermatika interna kiri bermuara pada vena renalis kiri dengan arah tegak lurus. Disamping itu vena spermatika interna kiri lebih panjang daripada yang kanan dan katupnya lebih sedikit dan inkompeten. Kelainan ini terdapat pada 15 % pria dan didapatkan 21-41 % pria yang mandul menderita varikokel. Jika terdapat varikokel di sebelah kanan atau varikokel bilateral patut dicurigai adanya : Kelainan rongga retroperitoneal ( obstruksi vena karena tumor ) Muara vena spermatika kanan pada vena renalis kanan Adanya situs inversus. ETIOLOGI DAN ANATOMI Hingga sekarang belum diketahui secara pasti penyebab varikokel.

saat baring varikokel tidak nampak Derajat 3 : varikokel teraba dan terlihat jelas saat pasien berdiri tanpa maneuver valsava. 3. Saat berbaring varikokel tidak terlihat jelas Derajat 4 : varikokel terlihat jelas baik pasien berdiri maupun duduk. Adanya anastomosis antara pleksus pampiniformis kiri dan kanan. 4. pada akhirnya terjadi infertilitas. besar varikokel dibagi 4 derajat sesuai anjuran Glezerman : Derajat 1 : varikokel teraba saat pasien berdiri dan lakukan maneuver valsava berulang kali Derajat 2 : varikokel terlihat saat pasien berdiri dan maneuver valsava sekali.Untuk keseragaman klinis. seringkali disertai nyeri PATOGENESIS Varikokel dapat menimbulkan gangguan proses spermatogenesis melalui beberapa cara. Terjadi stagnasi darah balik pada sirkulasi testis sehingga testis mengalami hipoksia karena kekurangan oksigen 2. Refluks hasil metabolit ginjal dan adrenal ( katekolamin dan prostaglandin ) melalui vena spermatika interna ke testis. GAMBARAN KLINIS Pasien datang ke dokter biasanya mengeluh belum : mempunyai anak setelah beberapa tahun menikah atau kadang mengeluh adanya benjolan di atas testis yang terasa nyeri. memungkinkan zat-zat hasil metabolit dialirkan dari testis kiri ke testis kanan sehingga menyebabkan gangguan spermatogenesis testis kanan. Gejala klinis varikokel ditandai : Rasa tidak enak/berat di daerah testis. Peningkatan suhu testis. Semakin terasa bila penderita banyak berdiri dan cenderung lebih berat sore hari Benjolan diatas testis Nyeri daerah inguino-skrotalis ketika berdiri atau duduk lama Mengecilnya bentuk testis ( atropi testis ) 49 . antara lain : 1.

Pemeriksaan analisis semen Untuk menentukan seberapa jauh varikokel telah menyebabkan kerusakan pada tubuli seminiferi. Jika terdapat varikokel. alat ini untuk mendeteksi adanya peningkatan aliran darah pada pleksus pampiniformis. Jika diperlukan. c. DIAGNOSIS BANDING  Hernia inguinalis 50 . USG atau CT scan USG dan CT scan bukanlah standard evaluasi kecuali pemeriksaan fisis tidak menemukan kesimpulan yang memuaskan. pada inspeksi dan palpasi terdapat bentukan seperti kumpulan cacing dalam kantung sebelah cranial testis. Stetoskop Doppler Pemeriksaan dengan auskultasi. pasien diminta untuk melakukan maneuver valsava atau mengedan. dengan memperhatikan keadaan skrotum kemudian dilakukan palpasi. b. Kadangkala sulit untuk menemukan adanya bentukan varikokel secara klinis meskipun terdapat tanda-tanda lain yang menunjukkan adanya varikokel.DIAGNOSIS Pemeriksaan dilakukan dalam posisi berdiri. d. Orkidometer Supaya lebih objektif menetukan besar/volume testis dilakukan pengapuran dengan alat ini. Untuk itu diperlukan pemeriksaan penunjang lainnya : a.

tindakan operasi lebih dititikbertakan pada koreksi gangguan fertilitas tersebut. Tindakan yang dikerjakan adalah : Ligasi tinggi vena spermatika interna secara palomo melalui operasi terbuka/bedah laparoskopi. Setelah diketahui adanya hubungan varikokel dengan infertilitas. Perkutan dengan memasukan bahan sklerosing dalam vena spermatika interna. Hidrokel  Kista epididimis KOMPLIKASI   Atrofi testis Infertilitas TERAPI Masih terjadi silang pendapat di antara para ahli tentang perlu tidaknya melakukan operasi. Varikokelektomi cara ivanisevich. 51 . Diantara mereka ada yang berpendapat bahwa varikokel yang telah menimbulkan gangguan infertilitas atau gangguan spermatogenesis merupakan indikasi mendapatkan suatu terapi.

52 .

Varikokel sering ditemukan pada usia 15-25 tahun dan 53 .EVALUSI Pasca tindakan dilakukan evaluasi keberhasilan terapi. evaluasi pasca bedah vasoligasi tinggi dari palomo didapatkan :    80 % terjadi perbaikan volume testis 60-80 % terjadi perbaikan analisis semen 50 % pasangan menjadi hamil KESIMPULAN Varikokel adalah dilatasi abnormal vena pada pleksus pampiniformis akibat gangguan aliran darah balik vena spermatika interna. tetapi dari pengamatan membuktikan bahwa varikokel kiri lebih sering dijumpai ( 70-93 % ). dengan melihat beberapa indikator antara lain :  Bertambahnya volume testis  Perbaikan hasil analisis semen ( tiap 3 bulan )  Pasangan menjadi hamil Pada kerusakan testis yang belum parah. Belum diketahui secara pasti penyebab varikokel.

1997. hal. Merupakan slah satu penyebab yang menyebabkan buruknya produksi sperma dan berkurangnya kualitas semen. 797 3. Setelah diketahui adanya hubungan varikokel dengan infertilitas. Edisi revisi. hal. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Sjamsuhidajat R. Sagung seto.com/health/Varicocele/DS00618 accessed on januari 20.jarang ditemukan pada pria diatas 40 tahun.mayoclinic. in : dasar-dasar urologi FK univ. Varicocele.Brawijaya. tindakan operasi lebih dititik beratkan pada koreksi gangguan fertilitas tersebut. CV. Purnomo B Basuki. 142-145 2. Jong Wim de. Jakarta. DAFTAR PUSTAKA 1. Jakarta. Buku Ajar Ilmu Bedah. 2nd ed.available from : http://www.2008 54 . 2003.

Adanya kelainan system penyanggah testis menyebabkan testis dapat mengalami torsio jika bergerak secara berlebihan. Pada masa janin dan neonates lapisan parietal yang menempel pada muskulus dartos masih belum banyak jaringan penyanggahnya sehingga testis. atau trauma yang mengenai skrotum. tunika vaginalis mudah sekali bergerak dan memungkinkan untuk terpluntir pada sumbu funikulus spermatikus. Beberapa keadaan yang menyebabkan pergerakan yang berlebihan itu. Anatomi Testis normal dibungkus oleh tunika albugenia. batuk. pada kelainan ini tunika mengelilingi seluruh permukaan testis sehingga mencegah insersi epididimis ke dinding skrotum. epididmis. Terpluntirnya testis pada keadaan ini disebut torsio testis ekstravaginal. ketakutan.TORSIO TESTIS Torsio testis adalah terpluntirnya funikulus spermatikus yang berakibat terjadinya gangguan aliran darah pada testis. Kelainan ini dikenal sebagai anomaly bell-clapper. Tunika vaginalis yang seharusnya mengelilingi sebagian dari testis pada permukaan anterior dan lateral dari testis. testis dan epididimis dikelilingi oleh tunika vaginalis yang terdiri atas 2 lapis. Pada permukaan anterior dan lateral. Keadaan ini menyebabkan testis dan epididimis dengan mudahnya bergerak di kantung tunika vaginalis dan menggantung pada funikulus spermatikus. Terjadinya torsio testis pada masa remaja banyak dikaitkan dengan kelainan system penyanggah testis. antara lain adalah perubahan suhu yang mendadak (seperti pada saat berenang). 55 . celana yang terlalu ketat. yaitu lapisan viseralis yang langsung menempel ke testis dan di sebelah luarnya adalah lapisan parietalis yang menempel ke muskulus dartos pada dinding skrotum. Keadaan ini akan memudahkan testis mengalami torsio intravaginal. latihan yang berlebihan. defekasi. Pathogenesis Secara fisiologis otot kremaster berfungsi menggerakkan testis mendekati dan menjauhi rongga abdomen guna mempertahankan suhu ideal untuk testis.

yang sifatnya mendadak dan diikuti pembengkakan pada testis. 56 . Epididimis akut 2. Keadaan itu dikena sebagai akut skrotum. ultrasonografi Doppler. Gambaran klinis dan diagnosis Pasien mengeluh nyeri hebat didaerah skrotum. Pemeriksaan sedimen urin tidak menunjukkan adanya leukosit dalam urin dan pemeriksaan darah tidak menunjukkan adanya tanda inflamasi. rewel atau tidak mau menyusui. Terapi Detorsi Manual Detorsi manual adalah mengembalikan posisi testis keasalnya. Hernia skrotalis inkarserata 3. terjadi peningkatan aliran darah ke testis. edema testis. letaknya lebih tinggi dan lebih horizontal daripada testis sisi kontralateral. Pada pemeriksaan fisik. Kadang-kadang pada torsio testis yang baru saja terjadi dapat diraba adanya lilitan atau penebalan funikulus spermatikus. Diagnosis Banding 1. Tumor testis 5. Pemeriksaan penunjang yang berguna untuk membedakan torsio tesris dengan keadaan akut skrotum yang lain adalah dengan memakai: stetoskop Doppler. Hidrokel terinfeksi 4. Pada akhirnya testis akan mengalami nekrosis. dan iskemia. Pada bayi gejalanya tidak khas yakni gelisah. dan sitigrafi testis yang kesemuanya bertujuan menilai adanya aliran darah ke testis.Terpluntirnya funikulus spermatikus menyebabkan obstrusi aliran darah testis sehingga testis mengalami hipoksia. Edema skrotum. kecuali pada torsio testis yang sudah lama dan telah mengalami keradangan steril. yaitu dengan jalan memutar testis kearah berlawanan dengan arah torsio. testis membengkak. Pada torsio testis tidak didapatkan adanya aliran darah ke testis sedangkan pada keradangan akut testis. Operasi Tindakan operasi ini dimaksudkan untuk mengembalikan posisi testis pada arah yang benar (reposisi) dan setelah itu dilakukan penilaian apakah testis yang mengalami torsio masih viable (hidup) atau sudah mengalami nekrosis.

Orkidopeksi dilakukan dengan mempergunakan benang yang tidak diserap pada 3 tempat untuk mencegah agar testis tidak terpluntir kembali. 57 . sedangkan pada testis yang sudah mengalami nekrosis dilakukan pengangkatan testis (orkidektomi) dan kemudian disusul orkidopeksi pada testis kontralateral.Jika testis masih hidup dilakukan orkidopeksi (fiksasi testis) pada tunika dartos kemudian disusul orkodopeksi pada testis kontralateral.

terbagi atas uretra anterior dan uretra posterior. Muaranya disebut ostium uretra eksternum. vesica urinaria dan uretra. sejak Yunani Kuno menulis tentang pembuatan drainase vesica urinaria dengan berbagai kateter. terletak di bagian anterior vagina. berada dalam vestibulum vagina. ureter. Anatomi Traktus urinarius terdiri atas kaliks mayor dan minor. korpus kavernosum uretra sampai bagian akhir glans penis. Striktur uretra adalah penyempitan uretra karena berkurangnya diameter dan atau elastisitas uretra akibat digantinya jaringan uretra dengan jaringan ikat yang kemudian mengerut. Berjalan melalui diafragma pelvis dan diafragma urogenital. menembus korpus kavernosum. Uretra anterior merupakan bagian uretra pria yang memanjang dari bulbus ke meatus di puncak glans penis. pelvis renalis. Pars bulbaris: terletak di proksimal. bagian glandular. Uretra pada pria termasuk kelenjar prostat. pendulous. Striktur uretra dapat berasal dari berbagai sebab. Uretra pada wanita adalah suatu saluran yang pendek dari vesica urinaria ke ostium uretra eksternum. 58 . Saluran ini menutup apabila kosong. dan paling distal.STRIKTUR URETRA Pendahuluan Penyakit striktur uretra telah ditemukan sejak dahulu. Panjang 4 cm. 1. dan dapat tanpa gejala atau muncul dengan ketidaknyamanan yang berat sebagai efek sekunder dari retensi urin. Striktura uretra sering terjadi di pars bulbaris karena sebagian besar striktur uretra terjadi karena trauma di daerah perineal. yang disebut straddle injury. di ventralis dari ostium vagina. diafragma urogenital. merupakan bagian uretra yang melewati bulbus penis. Uretra merupakan suatu saluran fibromuscular yang dilalui oleh urin yang mengalir keluar dari vesica urinaria. Bagian ini terdiri dari tiga bagian yaitu bagian bulbus. Mempunyai ukuran sepanjang 20 cm. di antara kedua ujung anterior labia minora.

Pars kavernous berada di dalam korpus kavernosum penis. Misalnya: 59 . serta kurang mampu berdilatasi. Merupakan bagian yang terpendek dan tersempit. Uretra posterior merupakan bagian uretra yang berjalan dari vesica urinaria ke bulbus. Uretra ini sangat pendek dan epitelnya sudah berupa epitel squamosa (squamous compleks noncornificatum). Pars membranous berada di antara lapisan diafragma urogenital. berjalan di dalam bulbus penis. 3. Bagian distal dari uretra pars prostatika sedikit lebih lebar daripada proksimal. 3. Pars pendulan/cavernosa/spongiosa: bagian uretra yang melewati corpus spongiosum penis. Pars glandis: bagian uretra di glans penis. 2. Etiologi Keadaan-keadaan yang dapat menyebabkan striktur uretra : 1. dan terdiri dari: 1. mulai dari basis prostat sampai apeks prostat dengan panjang kira-kira 3 cm. Memiliki panjang kira-kira 1-2 cm. Kongenital Hal ini jarang terjadi.2. Pars prostatika berjalan menembusi prostat. korpus penis sampai ke glans penis panjang kira-kira 15 cm. Kalau bagian uretra yang lain dilapisi oleh epitel kolumner berlapis.

pasien harus diberi tahu bahwa pengobatannya harus sempurna. Sehingga kalau ada trauma disini. Trauma uretra anterior. jaringan penggantinya juga epitel squamous. 2. Akibatnya Itulah dan elastisitas ureter menghilang. Kalau kita menemukan pasien dengan urteritis akut. jaringan penggantinya adalah jarinqan lumen uretra menjadi sempit. fibrous. merupakan penyebab tersering striktur uretra. Kalau pada uretritis kronik. setelah penyembuhan. Pada uretritis akut. Pembedahan terbuka atau endoskopik 60 . Jadi seperti kita ketahui. puboprostaticum. Di dalam bedah urologi dikatakan bahwa sekali striktur maka selamanya striktur. misalnya sadle sepeda. b. sehingga menimbulkan trauma uretra pars bulbaris. uretritisnya bisa menjadi kronik. antara prostat dan os pubis dihubungkan oleh lig. Infeksi Seperti uretritis. baik spesifik maupun non spesifik (GO. sebabnya pasien harus benar-benar diberi tahu agar menuntaskan pengobatan.a. Pada straddle injury. Trauma Merupakan penyebab terbesar striktura (fraktur pelvis. b. yaitu proses penyembuhan tumor yang menyebabkan striktura uretra. misalnya karena straddle injury. a. Meatus kecil pada meatus ektopik pada pasien hipospodia. 3. Infeksi gonorrhea pada uretra biasa menjadi penyebab utama striktur uretra. Kalau pengobatannya tidak tuntas. perineal terkena benda keras. Tumor Tumor bisa menyebabkan striktura melalui dua cara. Jadi memang sebagian besar striktura uretra Di pars Trauma uretra posterior bisa sobek. terjadi dibagian-bagian yang terfiksir seperti bulbus dan prostat. ligamentum tertarik. Divertikula kongenital -> penyebab proses striktura uretra. katerisasi). Fraktur/trauma pada pelvis dapat menyebabkan cedera pada uretra posterior. TBC). trauma uretra anterior. ataupun tumornya itu sendiri yang mengakibatkan sumbatan uretra 5. pendulan jarang terjadi cedera karena sifatnya yang mobile. 4. Namun kini perkembangan antibiotik telah menyebabkan penurunan komplikasi infeksi gonorrhea. Jadi kalau asalnya epitel squamous. prostatektomi. tindakan sistoskopi. setelah sembuh jaringan penggantinya sama dengan iarinqan asal.

Bila terjadi abses multiple atau berulang sehingga terbentuk beberapa fistel yang disebut fistel seruling. Sedang : jika terdapat oklusi 1/3 sampai ½ diameter lumen uretra. Fase dekompensasi yang timbul pada saat vesica urinaria berkontraksi menimbulkan residu urin yang memudahkan terjadinya infeksi.Prosedur bedah yang melibatkan uretra dapat menghasilkan striktur. pemasangan kateter juga dapat menyebabkan striktur. yaitu lebih dari tuiuh kali. Normalnya. Striktur uretra terjadi setelah perlukaan pada urotelium atau korpus spongiosum yang menyebabkan pembentukan jaringan parut. Frekuensi Disebut frekuensi apabila kencing lebih sering dari normal. yang akan pecah membentuk fistula uretrokutan. 2. pancaran urin jauh dan diameternya besar. Jaringan sikatrik pada lumen menimbulkan hambatan aliran urine sehingga terjadi retensi urine. Patofisiologi Proses radang akibat trauma atau infeksi pada uretra akan menyebabkan terbentuknya jaringan sikatrik pada uretra. Gejala Klinis Gejala striktur uretra meliputi : 1. Apabila sering kencing di malam hari disebut nocturia. Pancaran air kencing bercabang Pada pemeriksaan sangat penting untuk ditanyakan bagaimana pancaran urinnya. 3. Derajat Penyempitan Uretra 1. 2. 3. Ringan : jika oklusi yang terjadi kurang dari 1/3 diameter lumen uretra. Tapi kalau terjadi penyempitan karena striktur. Pancaran air kencing lemah. Pada penyempitan derajat berat kadang kala teraba jaringan keras di korpus spongiosum yang dikenal dengan spongiofibrosis. Aliran urine yang terhambat mencari jalan keluar di tempat lain (proksimal dari striktur) dan akhirnya mengumpul di rongga periuretra. Walaupun jarang. Jika terinfeksi dapat terjadi abses periuretra. Dikatakan nocturia 61 . yang merupakan keluhan paling sering. maka pancarannya akan jadi turbulen. Mirip seperti pancaran keran di westafel kalau ditutup sebagian. Berat : jika terdapat oklusi lebih besar dari ½ diameter lumen uretra.

Overflow incontinence (inkontinensia paradoxal) Terjadi karena meningkatnya tekanan di vesica akibat penumpukan urin yang terus menerus. pasien merasa ingin kencing (karena vesicanya penuh). Akibatnya urin dapat keluar sendiri tanpa terkontrol. 62 . namun urin keluar tanpa bisa dikontrol. Pada flow incontinenntia. diisi sampai kontras masuk ke vesica urinaria. karena memang letaknya di uretra. kencing lebih dari satu kali. Keadaan umum pasien jelek bila telah lama akibat adanya perubahan pada faal ginjal (infeksi -> striktur -> refluks -> hidroureter -> hidronefrosis -> faal ginjal turun). bila terdapat darah dalam urin serta dicurigai terjadi fraktur pelvis. Tekanan di vesica menjadi lebih tinggi daripada tekanan di uretra. Itulah sebabnya disebut inkontinensia paradoxal. misalnya akibat paralisis musculus sphincter uretra. 4. Keadaan umum pasien baik 7. Vesika terlihat menonjol di atas simfisis pubis. 2. Meatus kecil c. Pada urethrocystography bahan kontras dimasukkan dengan semprit yang ujungnya sesuai dengan meatus uretra eksterna. Kalau pada overflow incontinence. Jadi disini terlihat adanya perbedaan antara overflow inkontinensia (inkontinesia paradoksal) dengan flow incontinentia. Tidak jelas. urin keluar tanpa adanya keinginan untuk kencing. 5. b. Uretrosistografi Pemeriksaan urethrocystography ini diindikasikan setelah terjadi trauma. Fisik : a.apabila di malam hari. Radiologi a. Pemeriksaan 1. Vesika urinaria dapat teraba karena ada retensio urine. Dysuria dan hematuria 6. dan keinginan kencingnya itu sampai membangunkannya dari tidur sehingga mengganggu tidurnya. Pemeriksaan tidak dilakukan bila terdapat infeksi uretra yang akut. kecuali bila ada fistula uretrocutaneus.

serta total tidaknya striktur). Biasanya juga terlihat ekstravasasi kontras. Pemeriksaan dengan cara memasukkan kateter. Pemasukan medium kontras diatur dengan fluoroskopi intermitten. vesica urinaria dan uretra. striktur uretra menyebabkan dilatasi uretra bagian distal dari obstruksi. posisi miksi pada pasien pria yang paling mudah adalah posisi berdiri. Pada orang dewasa. 63 . sebelumnya harus memasukkan anestetik lokal ke dalam uretra. Keuntungan Uretrosistografi bipolar : Mengetahui persis panjang striktur Mengetahui total penyempitan Mengetahui persis lokasinya c. pemeriksaan juga dapat dilakukan dengan cara menggunakan klem atau dengan cara memasukkan kateter kecil ke distal penis. Micturating Cystourethrography Pemeriksaan radiografi vesica urinaria dan uretra setelah pengisian medium kontras dan selama miksi. oblik kanan dan kiri. Vesica urinaria perlu diperiksa dari posisi anterior. Foto diambil pada waktu pengisian kontras dengan posisi antero-posterior. b. sehingga panjang dan juga ketebalan striktur dapat diketahui. Kontras dimasukkan setelah balon dikembangkan. si pemeriksa harus memakai apron dan sarung tangan Pb. lateral dan oblik untuk menemukan adanya fistula. Pada gambaran urethrocystography. Jika mungkin. Pasien wanita dapat duduk. Pengambilan foto radiografi selama miksi termasuk posisi oblik ureter distal. dan setelah beberapa menit kateter Foley dimasukkan sampai balonnya terletak lebih kurang 1 cm dari lubang uretra. vesica urinaria diisi dari botol yang diangkat setinggi 1 m di atas meja pemeriksaan dan pengisian dilanjutkan sampai penderita merasakan keinginan kuat untuk miksi. Kontras bisa di atas (pool atas lewat vesika urinaria) ataupun di bawah (pool bawah lewat uretra). Uretrosistografi bipolar (untuk mengetahui panjang. Dikatakan striktur total bila sampai tidak ada kontras yang tersisa pada striktur.Selain itu. Oleh karena itu. Vesica urinaria diisi melalui kateter (alternatif lain melalui pungsi vesica suprapubik) dengan medium kontras yang dapat larut dalam air dan telah dihangatkan sesuai dengan suhu tubuh sebanyak 200 ml. divertikel atau ruptur.

Selain itu juga dilakukan pemeriksaan darah rutin. BPH Terapi 1. Diagnosa Banding Ruptura Uretra Gambaran ekstravasasi kontras. 3. dengan tanda khas berupa hambatan pada waktu lepas. b. Melihat tulang pelvis (post trauma). Diagnosis Diagnosis pertama kali ditegakkan ketika pemasangan kateter melalui uretra tidak dapat dilakukan. 64 . Melihat sisa urin (Post Voiding/ PV) pada striktur parsial yang biasanya disertai BPH (Benign Prostate Hyperplasy). IVP IVP dilakukan untuk: a. Konservatif: bouginasi (logam. Melihat anatomi saluran kencing bagian atas . uretra posterior terlihat dilatasi. Diagnosis pasti dibuat dengan pemeriksaan yang dikenal dengan uretrografi retrograde atau urethrocystography. dengan melihat ada tidaknya tulang pelvis yang retak. tetapi karakteristik uretra posterior adalah gambaran suatu balon. c. Striktur dapat juga dicurigai berdasarkan gejala dan riwayat medik seseorang. dimana kadar ureum/kreatinin naik menunjukkan adanya kerusakan fungsi ginjal. Laboratorium Pemeriksaan darah menilai faal ginjal. Hb. Diagnosis pasti pada wanita adalah dengan bougie a boule. plastik) Yaitu dengan memasukkan bahan dari logam atau plastik untuk memperlebar saluran yang mengalami penyempitan tadi.Selama micturating cystourethrography. Kadang tidak terlihat.

b. yaitu hipospodia artifisial. Operatif a. ada 2 cara. maka tidak dianastomose lagi karena bentuknya bisa seperti belut ketika ereksi. dibuat hipospodia (muara uretra terletak di ventral proksimal dari penis) Tahap II. dapat berupa otis (tanpa lensa) dan dengan sache (dengan lensa). Tindakan ini dapat dilakukan untuk pasien pasca prostatektomi dan striktura yang parsial. Untuk striktur yang panjang ini operasi dilakukan dalam dua tahap menurut Johansen. Indikasi Sache adalah: Struktur lumen masih berlubang (incomplete) Striktur pendek. Dapat terjadi cedera di bagian belokan. Terutama sekali di daerah pars bulbaris. Infeksi traktus urinarius 2. 2.5 cm. Striktur uretra rekuren 4.5-1 cm) -> reseksi anastomose end to end. mukosa buccal. Oleh karena itulah sewaktu dilakukan tindakan. karena yang melakukan harus tahu betul bentuk uretra. Terbuka. yaitu: Tahap I. yaitu uretroplasti berupa menutup uretra yang terbuka dengan mengambil dari preputium. tapi di Indonesia teknik ini dilakukan juga pada striktura yang panjangnya 1-2 cm (asal partial). Abses periuretra 65 . yaitu: Jika pendek (0. sehingga bahan tadi bisa tembus ke rektum. atau dari belakang daun telinga. Itulah sebabnya pada pemasangan kateter. Jika panjang. bentuk uretra diubah dulu menjadi bentuk huruf L atau U. Fistula uretrokutan 3. akibat tingkat residifnya tinggi. Prosedur sache ini yang paling sering digunakan. Panjangnya < 0. Komplikasi 1. Maksudnya untuk membuat uretra menjadi berbentuk L atau U itu tadi. Bentuk uretra seperti huruf S. Tertutup (uretrotomi interna). Terbentuknya divertikel uretra/ buli-buli 5.Hal ini harus dilakukan dengan hati-hati. fiksasi dilakukan di bagian depan paha atau di abdomen bagian bawah.

Karsinoma uretra Pencegahan Tindakan pencegahan yang paling penting adalah berhati-hati terutama dalam pemasangan kateter.com/2006/05/striktura-uretra.com/2005/11/striktur-uretra.blogspot.html http://www.blogspot.com 66 . DAFTAR PUSTAKA http://medika.com http://www.html http://agusjati.kalbefarma. Batu uretra 7.medicastore.6.

N diberi tanda N0 – N3. Hematuri ini sering sembuh sendiri sehingga pasien tidak datang untuk berobat dan tumor tetap tumbuh dan membesar serta mengadakan penyebaran terus sehingga pasien biasanya datang dengan stadium yang sudah lanjut.M1. stadium dan penyulit yang disebabkan oleh tumor tersebut. Keganasan urogenital dapat terjadi mulai dari ginjal.TUMOR UROGENITAL Pendahuluan Tumor traktus urogenitalia merupakan keganasan yang sering ditemukan pada tempat praktek sehari hari yang mungkin terlewatkan karena kurang kewaspadaan dokter mengenali penyakit ini. Diberi tanda M0 . Sedangkan penulisan derajat diferensiasi sel berdasarkan atas pemeriksaan histopatologi dengan : G1 : diferensiasi baik G2 : diferensiasi sedang G3 : diferensiasi buruk Untuk mengetahui apakah sel-sel telah menjadi ganas dpat dilakukan pemeriksaan patologi yaitu sitopatologi melalui pemeriksaan sitologi urine dan 67 . T diberi tanda T0 . M adalah penyebaran secara hematogen ke organ-organ lain yang letaknya berjauhan dari tumor primer. tingkat tumor dinyatakan dengan system TNM atau Tomor Nodul Metastasis. Metastasis pada organ lain juga dapat terjadi dan dapat mengakibatkan gangguan organ tersebut dan memberikan manifestasi klinis pada organ yang terkena. prostat. Manifestasi klinis tergantung dari letak tumor.T4. ureter. testis dan penis. dinilai dengan adanya pembesaran limfonoduli yang mengandung sel-sel ganas. T adalah tingkat pertumbuhan tumor di dalam organ atau tingkat penyebaran tumor ke organ sekitarnya. Gejala yang penting dan sering dianggap remeh adalah adanya hematuri yang berulang. buli-buli. Stadium Pengukuran derajat penyebaran tumor diukur dalam stadium tumor menurut UICC ( union International Centre Le Cancere ) atau perhimpunan kanker internasional. N adalah penyebaran tumor secara limfogen. uretra.

Tumor ginjal berdasarkan letak dibagi menjadi dua : tumor pada kortex ginjal dan tumor pada system saluran ginjal. Sedangkan tumor ganas saluran ginjal adalah tumor pelvis renalis. Tumor pada kortex ginjal dibagi menjadi jinak dan ganas. Gejala klinisyang mungkin dikeluhkan adalah nyeri pinggang. lipoma. Tumor saluran ginjal jinak adalah pailoma. Tumor jinak kortex adalah adenoma. jenis histopatologinya. TUMOR GINJAL Di rumah sakit merupakan tumor saluran kemih ketiga terbanyak yang ditemukan setelah tumor prostat dan tumor buli-buli. 68 . Untuk mengetahui ganas tidaknya suatu jaringan yang diperiksa. onkositoma. Tumor ini sering terjadi pada pasien dengan tuberous sklerosis atau penyakit boumeville yaitu kelainan bawaan yang ditandai dengan retardasi mental. Namun sering banyaknya penggunaan USG abdomen sebagai screening di klinik-klinik rawat jalan makin banyak ditemukan tumor ginjal yang masih dalam stadium jinak. Hamartoma ginjal Hamartoma atau angiomiolipoma merupakan tumor yang terdiri dari komponen lemak. adenoma sebaseum dan hamartoma. Tumor ginjal jinak lebih jarang ditemukan daripada tumor ganas.sitologi yang diperoleh dari FNAB ( Fine Nedlee Aspiration Biopsy ) atau BJAH ( Biopsi Aspirasi Jarum Halus ). Tumor pada saluran ginjal juga dibagi menjadi jinak dan ganas. Tumor ini banyak menyerang wanita dewasa daripada pria dengan ratio 4 : 1. epilepsy. pembuluh darah dan otot polos. stadium patologi dan derajat diferensiasi tumor untuk menegakkan diagnosis suatu keganasan menggunakan suatu pemeriksaan histopatologis dengan bahan pemeriksaan yang didapat dari biopsy jaringan atau specimen lengkap hasil operasi. hamartoma. Gambaran klinis Pada hamartoma sering tanpa gejala biasanya ditemukan tidak sengaja pada pemeriksaan USG. Tumor ganas kortex adalah adenokarsinoma dan nefroblastoma.

Diagnosis Hamartoma dapat ditentukan dengan USG yang memberikan gambaran hiperekoik dan dapat pula dikonfirmasi dengan CT scan ampak area dengan densitas negative.5 tahun.hematuri. Nefroblastoma Tumor ini dikenal dengan tumor Wilms yang berasal blastema metanefrik dan terdiri dari blastema. Biasanya terjadi unilateral tetapi dapat juga terjadi bilateral. Penyebaran tumor ini dapat terajdi secara ekspansi lokal dengan simpai. Penatalaksanaan Jika tumor kecil dan tidak mengganggu tidak perlu diobati tetapi jika tumor besar dan mengganggu dilakukan nefrektomi. Gambaran klinis Biasanya tumor tidak bergejala atau biasanya pasien dibawa ke dokter karena perutnya membuncit karena teraba adanya massa. Tumor terdapat pada ginjal dan dapat di eksisi dengan sempurna 69 . hematogen. Gambaran ini patognomonis untuk hamartoma. Kadang juga ditemukan hematuri dan hipertensi. struma dan epitel.gejal obstruksi saluran kemih bagian atas dan kadang terdapat perdarahan retroperitoneal. Stadium NWTS ( Natinal Wilm’s Tumor Study ) membagi tingkat penyebaran tumor ( setelah dilakukan nefrektomi ) dalam 5 stadium : I. melalui vena kava atau vena renalis atau secara limfogen. Atau dapat pula bersamaan dengan penyakit tuberous sklerosis. Biasanya terjadi pada anak-anak dibawah umur 10 tahun dan paling sering terjadi pada anak umur 3.

V. Biasanya terjadi unilateral. Pada neuroblastoma biasanya keadaan pasien lebih buruk dan pada pemeriksaan IVP terjadi pendesakan system kaliks gnjal ke kaudolateral serta kadar VMA dalam urin meningkat sedangkan pada tumor Wilm’s kadar VMA normal. Penatalaksanaan Bila tumor masih dalam stadium dini dan ginjal di sebelah kontralateral masih normal dapat dilakukan nefrektomi radikal. III. 70 . Dan teratoma peritoneum. mungkin telah mengadakan penetrasi ke jaringan lemak perirenal. Tumor meluas keluar ginkal dan dapat dieksisi sempurna. limfonoduli para aorta atau vasa renalis. Ada sisa sel tumor di abdomen yang mungkin berasal dari : biopsy atau rupture yang terjadi sebelum atau selama operasi IV. CT scan juga dapat memberi gambaran pembesaran ginjal dan sekaligus menunjukkan pembesaran kelenjar regional atau infiltrasi tumor ke jaringan sekitarnya.II. Dan dipastikan dengan pemeriksaan histopatologik. Factor resiko yang paling dekat menyebabkan tumor ini adalah merokok. Diagnosis banding Hidronefrosis atau kista ginjal yang merupakan benjolan dengan konsistensi kistik. Tumor ini banyak didapatkan pada pria daripada wanita dengan ratio 2 : 1 dan juga banyak didapatkan pada usia diatas 40 tahun. Diagnosis Metastasis hematogen Tumor bilateral Dengan USG ditemukan massa padat pada perut ( retroperitoneal ) sebelah atas. Atau dapat juga foto thoraks untuk mengetahui adanya metastasis karena 85 % metastasis ke paru. Adenokarsinoma ginjal Tumor ini dikenal dengan nama tumor grawitz dan merupakan tumor ganas parenkim ginjal yang berasal dari tubulus proksimal ginjal. Pada pemeriksaan dengan IVP tampak adanya gambaran distorsi system pelvikokalises atau mungkin terdapat ginjal non-visualized. Kadang kala diawali dengan pemberian sitostatika dengan kombinasi Actinomycin D dengan Vincristine dan radiasi eksterna karena tumor Wilm’s bersifat radiosensitive.

Sitostatika juga tidak banyak memberikan manfaat. Penatalaksanaan Nefrektomi radikal yaitu mengangkat ginjal dengan kapsula Gerota. nyeri pinggang dan massa di daerah ginjal merupakan tanda tumor dalam stadium lanjut. Diagnosis banding Hidronefrosis. polikistik ginjal dan tuberculosis ginjal. Penyebaran tumor ini bisa secara langsung menembus simpai ginjal ke jaringan sekitarnay dan melalui pembuuh limfe atau v. hasilnya tidak memuaskan hanya untuk mencegah metastasis karena tumor ini bersifat radioresisten. Fasia gerota merupakan barier yang menahan penyebaran tumor ke organ sekitarnya.renalis.Biasanya tumor ini disertai dengan pseudo kapsul yang terdiri atas parenkim ginjal yang tertekan oleh jaringan tumor dan jaringan fibrosa. CT scan merupakan pemeriksaan yang mempunyai akurasi tinggi pada karsinoma ginjal dan juga untuk mengetahui penyebaran tumor. Hormonal dengan memberikan progestagen tetapi efeknya belum diketahui. kava atau limfonoduli regional. MRI dan arteriografi selektif juga merupakan pilihan untuk menegakkan diagnosis. Gambaran klinis Didapatkan trias klasik yaitu hematuri makroskopik. Stadium II : Tumor ke jaringan lemak perirenal dengan fasia Gerota masih utuh. pencitraan dengan USG hanya untuk mengetahui massa solid atau tidak. Radiasi eksterna. Kadang ditemukan juga tanda sindroma paraneoplastik seperti polisitemia. : Tumor masih terbatas dalam ginjal dengan fasia Gerota masih 71 . dan dengan pemerikasaan histopatologis. Diagnosis Diagnosis ditegakkkan dengan ditemukannya gejala klinis. Gejala lain yang Nampak adalah febris. hiperkalsemia dan gangguan fungsi hati yang non metastatic. Stadium III : tumor invasi ke vasa renalis/ v. Imunoterapi dengan mengguankan Interferon atau dikombinasi dengan interleukin tetapi hasilnya juga belum diketahui. anemia karena perdarahan intratumoral. Stadium IV : tumor menjalar ke organ sekitarnya / metastasis jauh. hipertensi. Stadium Stadium I utuh.

Pemeriksaan sitologi urin dengan mengambil urin melalui kateter ureter. Tumor ini kurang memberikan respon dengan pemberian sitostatika dan dengan radiasi eksterna. biasanya merupakan metaplasia sel-sel pelvis renalis karena adanya batu yang menahun pada pelvis. Diagnosis Diagnosis dapat ditegakkkan dengan ditemukannya gejala klinis. kemoterapi dengan cisplastin merupakan cara pengobatan yang dianjurkan. IVP berguna untuk menemukan tumor ini dengan terlihat adanya filling defect dan tampak gambaran massa radiolusen. yang juga dapat menyerang ureter. lalu dapat menggunakan USG dan CT scan untuk dapat membedakan apakah massa tersebut batu. hematuri kambuhan atau gejala dari obstruksi oleh tumor. Jika dicurigai ada massa maka dilakukan pemeriksaan histopatologi. Gambaran klinis Yang sering dikeluhkan pasien adalah kencing darah ( 80 % ). Penatalaksanaan Nefrouretrektomi dilakukan dengan mengangkat sebagian dinding buli-buli sekitar muara ureter yang bersnagkutan. Angka kejadian tumor ini sangat jarang sekitar 1 % dari seluruh tumor urogenitalia. Karsinoma sel skuamosa. Untuk tumor yang sudah menyebar. buli-buli. Keadaan tersebut akibat adanya bendungan akibat tumor sehingga menjadi hidronefrosis. Melalui alat uretrorenografi dapat dilihat langsung keadaan pielum. Gambaran klinis Gejala yang sering dikeluhkan adalah nyeri pinggang. Lebih dari 10 % pasien ini tidak pernah 72 . uretra proksimal karena pada organ tersebut juga terdapat sel transtitional. Karsinoma sel trantitional. TUMOR URETER Hampir semua tumor ureter adalah karsinoma sel transtitional. 2. Tumor ini biasanya terdapat pada ureter distal.Tumor pelvis renalis Tumor ini sangat jarang ditemukan. Kadang disertai juga nyeri pinggang dan teraba massa di pinggang. Menurut jenis histopatologisnya tumor ini dibedakan menjadi dua jenis : 1. tuberkuloma atau hemangioma pada pielum ginjal.

ISK ( E. Penatalaksanaan Nefroureterektomi dengan mengangkat ginjal. non-invasive ( in-situ ). Menghasilkan zat nitrosamine yang karsinogenik ). penggunaan obat seperti siklofosfamid. salon sering terpapar bahan karsinogen berupa senyawa amin aromatic ). Sitologi urin diambil urine dengan memakai kateter uretre dan kadang dilakukan biopsy dengan alat brush biopsy. Pada kelainan jinak sel epitel atipik atau dysplasia mengalami hiperplasi tanpa perubahan 73 .mengeluh dan tumor diketemukan secara tidak sengaja pada saat screening dengan USG atau pada pemeriksaan IVP. laboratorium. perokok. makanan dan obat-obatan ( kebiasaan mengkonsumsi kopi. TUMOR BULI-BULI Tumor ini merupakan keganasan kedua terbanayk pada system urogenital setelah karsinoma prostat. Untuk tumor yang terdapt pada distal ureter dapat dilakukan reseksi parsial ureter dan muaranya di kandung kemih serta neoureterovesikostomi.tumor ganas ini berkembang dari epitel yang atipik atau dysplasia yang berupa lesi yang mengalami proliferasi dan mengalamai infiltrasi ke lamina propria. Bentuk tumor buli-buli : papiller. fenasetin. kadang terdapat hidronefrosis atau ginjal non visualized dan dalam keadaan ini dilakukan pemeriksaan pielografi retrograde. tekstil. IVP berguna untuk menemukan tumor ini dengan terlihat adanya filling defect di dalam lumen ureter. otot. lemak perivesika lalu kemudian menyebar langsung ke jaringan sekitar dengan limfogen atau hematogen. opium dan INH dalam jangka lama juga meningkatkan resiko ). Fktor resiko yang mempermudah terjadinya karsinoma buli-buli adalah : pekerjaan ( pekerja di pabrik kimia. pemanis buatan. ( resiko meningkat 2-6 kali dari yang tidak merokok ). noduler ( infiltrative ) atau campuran ( papiller dan infiltrative ). Pada daerah industry tingkat kejadian meningkat tajam. pabrik kulit. ureter berada di cuff buli-buli sebanyak 2 cm di sekeliling muara ureter.coli dan proteus sp. Pemakaian uretroskopi lebih dianjurkan untuk melihat langsung tumor dan sekaligus melakukan biopsy. Tumor ini dua kali lebih banyak pada pria daripada wanita. Diagnosis Diagnosis dapat ditegakkan dengan ditemukannya gejala klinis.

Keluhan akibat penyakit yang lanjut seperti obstruksi saluran kemih karena retensi bekuan darah atau edema tungkai karena adanya penekanan kelenjat limfe oleh massa tumor. CT scan dan MRI berguna untuk menentukan ekstensi tumor ke organ sekitarnay dan dipastikan dengan pemeriksaan histopatologi untuk jaringan tumor. Radiasi eksterna dilakukan setelah TUR buli-buli atau setelah sistektomi. Gambaran klinis Perlu diwaspadai jika pasien datang dengan mengeluh hematuri yang bersifat tanpa rasa nyeri ( painless ). Doksorubisin atau dengan interferon. Pada sistography dan IVP tampak filling defect dalam kandung kemih. Jika dilakukan sistektomi radikal maka selanjutnya aliran urin dari ureter dilakukan melalui beberapa cara diversi urin. parsial atau total bila penyebaran karsinoma telah sampai otot vesika. Lalu dilakukan kemoterapi secara intravesikal dengan memberikan obat-obat Mitomisin C. tidak dapat menahan kemih dan polakisuri pada karsinoma in situ yang sudah mengadakan infiltrasi luas. Secara histopatologis sebagian besar tumor ini adalah karsinoma sel transisional ( 90 % ). 74 . BCG. Cara ini tidak banyak dipakai lagi karena menimbulkan bnayak penyulit. Penatalaksanaan Tindakan endoskopik merupakan terapi baku karsinoma bili-buli melalui reseksi transurethral ( TUR buli-buli ). membuat anastomosis kedua ureter kedalam sigmoid. Siklofosfamid. Kadang terdapat gejala iritasi seperti disuria. antara lain : 1. Jika didapatkan hidroureter dan hidronefrosis merupakan salah satu tanda adanya infiltrasi tumor ke ureter atau muara ureter. sedangkan jenis lainnya karsinoma sel skuamosa ( 10 % ) dan adenokarsinoma ( 2 % ). Dilakukan juga terapi adjuvant dengan kemoterapi sistemik. Pemeriksaan antigen permukaan sel dan flow cytometri berguna untuk mendeteksi adanya kelainan kromoso sel-sel uretelium. Uretrosigmoidostomi. Diagnosis Selain melihat dari gambaran klinisnya pemeriksaan bimanual sangat berguna untuk menentukan infiltrasi.sel atau inti. Pemeriksaan sitologi urin untuk memeriksa sel-sel urotelium yang terlepas bersama urin. Dilakukan pembedahan dengan cara sistektomi radikal. 5 FU. kambuhan ( intermiten ) dan terjadi pada seluruh miksi ( hematuri total ).

Semua pasien buli-buli harus melakukan pemeriksaan secara berkala dan secara rutin dilakukan pemeriksaan klinis. karena berkemih tetap melalui uretra dan tidak melalyui stoma yang dipasang di abdomen. penegakkan diagnosis yang lebih baik dan kewaspadaan tiap-tiap individu mengenai keganasan ini menjadi meningkat karena adanya informasi mengenai di berbagai media. Tumor ini menyerang pada usiadiatas usia 50 tahun. 4.2. Sedangkan vitamin A. TUMOR PROSTAT Merupakan keganasan urogenital yang terbanyak. Biasanya karsinoma ini berupa lesi multisentrik. isoflavon atau fitosterol pada kedelai. mengganti buli-buli dengan ileum sebagai penampang urin. Teknik ini dirasa lebih fisiologis untuk pasien. mengganti buli-buli dengan segmen ileum dengan membuat stoma yang kontinen ( dapt menahan urin pada volume tertentu ). Beberapa faktor yang diduga sebagai penyebab timbulnya karsinoma prostat adalah predisposisis genetika. daging merah dan hati diduga meningkatkan kejadian kanker prostat. Insidens ini akhir-akhir ini meningkat karena meningkatnya umur harapan hidup. Derajat keganasan pada 75 . Karsinoma prostat sering terjadi pada zona perifer ( 75 % ) dan pada zona sentral dan transtitional ( 20 % ). hormonal. Diversi urin kontinen. Cara ini kurang praktis jadi saat ini jarang digunakan. Diversi urin orthotopic. membuat neoblader dari segmen usus halus yang kemudian dilakukan anastomosis dengan uretra. Kanker ini jarang menyerang pada usia dibawah 45 tahun. sitologi urin dan sistoskopi. daging dan biji-bijian ) dan vitamin E di duga dapat menurunkan insidens kanker prostat. diet. selenium ( yang terdapat pada ikan laut. urin lalu dikeluarkan dengan melakukan kateterisasi mandiri melalui stoma secara berkala. sedangkan untuk mengeluarkan urin dipasang kateter menetap melalui sebuah stoma. Keganasan prostat ini biasanya merupakan adenokarsinoma yang berasal dari kelenjar prostat yang hipotrofik pada usia decade kelima sampai ketujuh. lingkungan dan infeksi. betakaroten. Conduit usus. Kemungkinan menderita karsinoma prostat meningkat jika dalam keluarganya ada yang menderita tumor ini. pengaruh kebiasaan hidup sehari hari. likofen pada tomat. susu binatang. Diet yang mengandung banyak lemak. 3.

Tumor yang berada pada kelenjar prostat tumbuh menembus kapsul prostat dan mengadakan infiltrasi ke organ sekitarnya. Kanker prostat yang sudah metastasis ke tulang menyebabkan nyeri pada tulang. dan otak. Pada stadium dini sulit dideteksi sengan colok dubur sehingga untuk mendiagnosa dibantu dengan ultrasonography transrectal ( TRUS ). Walaupun jarng. Diagnosis Selain melihat dari gejala klinisnya. kosta. disuri atau hematuri yang menunjukkan bahwa kankaer telah menekan uretra. Untuk keganasan prostat dikenal dengan petanda tumor fosfatase asam prostat ( PAP ) dan Antigen khas prostat ( Prostate Spesific Antigen ) yang sensitivitasnya 76 . MRI lebih akurat dalam menentukan ekstensi tumor ke ekstrakapsuler atau ke vesikula seminalis. G II yang berdiferensiasi sedang dan G III yang berdiferensiasi buruk. Derajat G I yaitu berdiferensiasi baik. Diagnosis pasti hanya dengan pemeriksaan patologik. fraktur pada tempat metastasis atau kelainan neurologic jika metastasis ke tulang vertebra. atipik sel dan kelainan inti sel. Kebanyakan penderita datang pada stadium lamjut dengan tanda obstruksi atau tanda metastasis ke organ lain. hepar.tumor ini berdasarkan atas diferensiasi sel. pemeriksan fisik yang penting adalah colok dubur.lumbalis. paru. v. Metastasis ke tulang umumnya bersifat osteoblastik. Sediaan biopsy dapat diperoleh dengan menggunakan jarum biopsy besar secara transrectal atau transperineal. Kanker pada stadium dini biasanya diketahui pada saat colok dubur berupa nodul keras pada prostat atau secara kebetulan diketemukan adanya peningkatan PSA ( Prostate Specific Antigen ) pada saat pemeriksaan laboratorium. Cara lain untuk mendapatkan bahan pemeriksaan adalah dengan aspirasi jarum halus ( fine needle aspiration = FNA ). Pembagian derajat keganasan ini merupakan indicator pertumbuhan daan progesifitas tumor. kanker juga dapat menekan rectum sehingga mengeluh kesulitan BAB. CT scan dapat untuk mengetahui adanya metastasis. Jika dicurigai ada daerah hipoekoik selanjutnya dilakukan biopsy transrectal pada area tersebut dengan bimbingan TRUS. Gambaran klinis Pada kanker prostat dini biasanya belum menunjukkan gejala apa-apa. Penyebaran secara limfogen melalui kelenjar limfe melalui kelnjar limfe daerah pelvis menuju kelenjar limfe retroperitoneal. Lebih dari 10 % pasien mengeluh adanya gangguan saluran kemih berupa kesulitan miksi.

Jadi pada terapi ini dilakukan dengan pemberian obat untuk melakukan blockade androgen total. Sebagian bear tumor ini berasal dari sel germinal ( 95 % ) yang terdiri atas seminoma dan non seminoma sedangkan isinya berasal dari non germinal. Pada metastasis tulang kadar PSA darah meningkat. PSA kadang juga meninggi pada hipertrofi prostat dan peninggian ini proporsional dengan berat jaringan prostat. Sifat seminoma berbeda dengan non seminoma antara lain derajat keganasannya. Prostatektomi radikal dilakukan pada stadium T1-2N0M0 dengan mengangkat seluruh prostat dan vesikula seminalis. Perbaikan pada pasien ini sekarang menjadi lebih baik karena etrdapat sarana diagnosis yang lebih baik karena terdapat sarana diagmosis yang lebih baik dan diketemukan patanda tumor serta tekhnik pembedahan yang lebih baik. tetapi terdapat beberapa factor yang meningkatkan insidens terjadinya tumor ini.tinggi dan spesifisitasnya tidak terlalu tinggi. trauma testis. atrofi atau infeksi testis dan pengaruh hormone. tetapi berdasarkan teori dari hugin’s yaitu : “ sel epitel prostat akan mengalami atrofi jika sumber androgen ditiadakan. Tumor non germinal diantaranya adalah tumor sel leydig. TUMOR TESTIS Tumor ini merupakan keganasan terbanyak pada pria yang berusia 15-35 tahun dan merupakan 1-2 % semua neoplasma pada pria. PSA dapat digunakan untuk mengikuti perkembangan penyakit atau hasil pengobatan. Pada stadium yang masih dini dilakukan observasi seumur hidup. yaitu : maldesensus testis. Penyebab tumor belum diketahui pasti. sel sertoli dan gonadoblastoma. Penatalaksanaan Tindakan yang dilakukan tergantung daripada stsium. Tetapi dengan tekhnik nerve sparring dapat dicegah terjadinya penyulit. Radiasi dilakukan untuk pasien tua dan tumor yang telah mengadakan metastasis. hanya pada operasi ini dapat terjadi penyulit seperti perdarahan. Selain untuk keperluan diagnosis. respons terhadap radiasi dan prognosisnya. disfungsi ereksi dan inkontinensia. tetap lebih tinggi dibandingkan PAP. 77 . derajat diferensiasinya dan umur harapan hidup. Pemberian radiasi biasanya didahului dengan limfadektomi dan dengan cara terapi hormonal.

Dari hasil pemeriksaan patologi dapat dibedakan jenis seminoma atau nonseminoma. Pemberian sitostatika terlebih dahulu diharapkan terjadi downstaging dan ukuran tumor akan mengecil. Biopsy atau pendekatan trans-skrotal tidak diperbolehkan karena bisa sel-sel tumor bisa menyebar. penentuan stadium tumor. karena itu bahan untuk pemeriksaan di ambil dengan orkidektomi dengan pendekatan inguinal.Tumor testis pada mulanya berupa lesi intratestikular yang akhirnya mengenai seluruh parenkim testis dan kemudian menyebar ke rete testis. tidak nyeri pada palpasi dan tidak menunjukkan tanda transiluminasi. MRI digunakan untuk mnegetahui luas ekstensi tumor testis. padat. Penanda yang paling sering diperiksa adalah AFP ( alfa feto protein ) biasa meningkat pada karsinoma embrional. Penanda tumor juga berguna untuk membantu diagnosis. pasien karsinoma embrional dan seminoma murni. teratokarsinoma atau tumor yolk sack tetapi tidak pada tumor karsinoma murni dan seminoma murni. Diagnosis USG dapat membedakan lesi intra testikular atau ekstra testikuler dan massa padat atau kistik. penatalaksanaan pada dugaan tumor testis tidak boleh dilakukan biopsy testis. Pada jenis seminoma responnya sangat baik terhadap radiasi sedangkan jenis non-seminoma tidak sensitive sehingga dilakukan pembersihan kelenjar retroperitoneal atau retroperitoneal lymphonode dissection ( RPLND ). Perhatikan adnya infiltrasi tumor pada funikulus atau epididimis. CT scan digunakan untuk menentukan ada tidaknya metastase pada retroperitoneum. 78 . HCG ( Hman Chorionic Gonadotropin ) biasa meningkat pada semua pasien koriokarsinoma. Pada pemeriksaan fisik testis terdapat benjolan keras. funikulus spermatikus atau bahkan ke kulit skrotum. Sehingga jika tunika ini rusak peluang sel-sel tumor untuk menyebar lebih besar. Tunika albugenia merupakan barier bagi perjalanan tumor ke organ lain. Gambaran klinis Pasien biasanya mengeluh adanya pembesaran pada testis yang biasanya tidak nyeri. epididimis. monitoring respon pengobatan dan sebagai indicator prognosis tumor testis.

lesi eksofitik. yang pertama ditujukan pada tumor primer yang bertujuan menghilangkan tumor secara paripurna. dengan kemoterapi dengan krim 5 FU ( untuk tumor in-situ atau eritroplasia Queryat ) dan dengan radiasi eksterna. Diagnosis ditegakkan melalui pemeriksaan patologi dan biopsy pada lesi primer. Karsinoma penis pada stadium awal berupa bentukan tumor papiler. Gambaran klinis Biasanya pasien datng terlambat karena malu. melanoma.TUMOR PENIS Tumor ganas ini terdiri dari karsinoma sel basal. tumor mesenkim dan yang paling sering adalah karsinoma sel skuamosa. Diagnosis Tidak ada pemeriksaan laboratorium yang khas. pemeriksaan pencitraan dibutuhkan untuk menentukan penyebaran ke organ lain. Sirkumsisi pada masa anak dapat memperkecil terjadinya karsinoma pada kemudian hari. penektomi total dan uretrostoi perineal ( untuk tumor batang sebelah proksimal ). Tahap yang kedua ditujukan terhadap metastasis pada kelenjar limfe inguinal dengan cara pemberian antibiotic setelah operasi pada lesi primer jika klenjar masih tetap ada 79 . glans dan batang penis. Kadang didapatkan pembesaran kelenjat limfe inguinal yang nyeri karena infeksi atau pembesaran kelenjar limfe subklavia. Penatalaksanaan Pengelolaan tumor ini dibagi menjadi dua tahap. lesi datar atau lesi ulseratif. takut dan merasa berdosa karena mengalami penyakit seperti itu. Lesi primer berupa tumor yang kotor. terapi laser dengan Nd : YAG. mencegah kekambuhan dan mempertahankan penis agar dapat miksi dengan berdiri atau dapat melakukan senggama. berbau dan serimg mengalami infeksi. Karsinoma sel skuamosa ini berasal dari kulit preputium. ulserasi serta perdarahan. FaKtor penyebab utama adalah rangsangan lama seperti balanoprostitis kronik pada fimosis. Tindakan yang dapat dilakukan adalah sirkumsisi ( jika tomor terbatas pad preputium ). Tumor kemudian mengadakan invasi limfogen ke kelenjar limfe inguinal dan selanjutnya menyebar ke kelenjar limfe di daerah pelvis hingga subklavia. penektomi parsial ( jika tumor terbatas pada glans atau batang sebelah distal ). Fasia Buck berfungsi sebagai barier dan jika fasia ini telah terinfiltrasi oleh tumor sel kanker menjadi lebih mudah mengadakan invasi hematogen.

dilakukan diseksi kelenjar.Brawijaya. in : dasar-dasar urologi FK univ. Jakarta. hal. Purnomo B Basuki. Sjamsuhidajat R. 2003. 2nd ed. 161 . Jong Wim de. 1997. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.186 5. 774 – 790 80 . hal. DAFTAR PUSTAKA 4. Bila kelenjar terlalu besar sehingga inoperable ( tidak bisa diangkat ) maka dapat dicoba pemberia sitostatika atau radiasi paliatif dengan harapan ukurannya mengecil. CV. Sagung seto. Edisi revisi. Buku Ajar Ilmu Bedah.

pemakaian obat-obat penghilang rasa sakit secara berlebihan. Diperkirakan hematuria timbul pada 2. batu. ataupun keganasan pada traktus urinarius. Penelitian menunjukkan bahwa sekitar 9% sampai 18% dari individu normal dapat mempunyai gejala hematuria dalam tingkat tertentu. walaupun begitu.tersebut termasuk merokok. Dibawah ini adalah beberapa penyebab hematuria yang tersering: ● Kanker kandung kemih ● Kanker ginjal ● Kanker prostat ● Kanker ureter ● Kanker urethra ● Batu traktus urinarius ● Infeksi traktus urinarius 81 . hematuria dapat menjadi tanda untuk infeksi. dan urethra. termasuk ginjal.HEMATURIA Hematuria adalah suatu keadaan dimana terdapat sel darah merah pada urine. Hematuria dapat berasal dari bagian manapun di sepanjang traktus uriarius. Hematuria dapat dibagi menjadi dua yaitu “gross” ( dimana jumlah sel darah merah yang terdapat di urine berjumlah banyak dan dapat terlihat dengan mata telanjang) dan “microscopic” ( dimana jumlah sel darah merah yang terdapat di urine sedikit dan hanya dapat dilihat dengan mikroskop. radiasi. Faktorfaktor resiko yang dapat meyebabkan timbulnya penyakit. kandung kencing. ureter. Tetapi hematuria dapat menjadi tanda dari kondisi medis yang sangat penting yang memerlukan penaganan segera. Pada banyak pasien tidak ditemukan penyebab hematuria yang spesifik.5% sampai dengan 21% dari populasi. Etiologi Adanya sel darah merah dala urine tidak selalu merupakan tanda dari adanya penyakit yang serius. Microscopic hematuria biasanya secara tidak sengaja ditemukan pada saat dilakukan pemeriksaan urim rutin sedangkan gross hematuri biasanya membawa pasien datang berobat. dan terpapar dengan zat kimia tertentu. prostat.

Pasien-pasien dengan jumlah protein yang bermakna dalam urine. Untuk pasien dengan lekosit pada urine nya harus dilakukan kultur urin. Pemeriksaan radiologi yang paling sering dilakukan adalh IVP. Untuk pasien dengan peningkatan kadar kreatinin dalam darah atau pasien yang alergi terhadap kontras dapat dilakukan pemeriksaan MRI atau pielografi retrograd untuk menilai traktus urinarius bagian atas. Jumlah sel darah merah dalam lapang pandang besar dan bentuk sel darah merah harus diperhatikan. Pemeriksaan radiologi ginjal dan ureter perlu dilakukan untuk mendeteksi adanya massa pada ginjal. bentuk sel darah merah yang abnormal. Cara lain yang lebih baik untuk mendeteksi massa pada ginjal atau batu pada traktus urinarius adalah menggunakan CT scan. Kelemahan IVP adalah sering tidak dapat mendeteksi massa ginjal yang kecil. Langkah pertama dalah anannesa riwayat perjalanan penyakit dan pemeriksaan fisik yang teliti. Pemeriksaan ureum kreatinin darah juga perlu dilakukan untuk menilai fungsi ginjal. tumor ureter dan batu pada traktus urinarius. Harus dicari tanda-tanda penyakit ginjal (salah satunya proteinuria) Dan tanda-tanda infeksi saluran kemih. Pemeriksaan ini biasanya digabung dengan USG ginjal. 82 . Pemeriksaan sitologi pada urine juga perlu dilakukan untuk mencari adanya sel-sel abnormal pada urine. atau hasil pemeriksaan kreatinin yang tidak normal harus menjalani pemeriksaan penyakit ginjal yang lebih lanjut. Yang dilakukan dengan menyuntikkan kontras pada pembuluh darah kemudian dilakukan beberapa kali foto Rontgen selama ginjal mengeksresikan kontras tersebut. Pemeriksaan laboratorium yang dianjurkan adalah urinalisa dan pemeriksaan sedimen urin.● Pielonefritis ● Benign Prostatic Hypertrophy ● Penyakit ginjal ● Radiasi atau cystitis yang di induksi oleh zat kimia ● Trauma traktus urinarius ● Prostatitis Diagnosis Setiap pasien dengan gross hematuria atau mikroskopik hematuria yang bermakna harus di evaluasi lebih lanjut. Hal ini dapat membantu untuk memperkirakan asal perdarahan.

Kelemahan dari pemerikasaan-pemeriksaan di atas adalah ketidakmampuan untuk secara teliti memeriksa kandung kencing. Dalam ha ini perlu dilakukan cytoscopy. 83 . Melalui cytoscopy dokter dapat memeriksa keadaan bagian dalam urethra dan kandung kencing.

Sehingga menimbulkan keadaan yang tidak nyaman dari pasien dan ini merupakan suatu kegawat daruratan yang sering terjadi.RETENSI URIN Definisi Retensio urine adalah suatu sindroma klinis urologi dimana trejadi penumpukan urine didalam kandung kemih karena tidak dapat berkemih sehingga kapasitas maksimal buli terlampaui.kesembuhan hanya bisa didapat dengan menghilangkan penyebab utamanya.Pertolongan diberikan hanya bersifat sementara.Retensi urin bisa disebabkan oleh berbagai macam penyebab sehingga ini bukan merupakan suatu diagnosa pasti melaikan hanya gejala. Anatomi Saluran kemih Pada wanita Pada Pria 84 .

Pengosongan terjadi melalui kontraksi otot-otot ding-ding kantung kemih yang terjadi melalui refleks berkemih. Kantung kemih merupakan kantung berselimut otot-otot yang terdapat pada rongga pelvis dibelakang simpisis pubis. Etiologi Retensi urin 85 .Impuls yang dihasilkan menghantarkan balik respon kepada otot-otot dingding luar yang membungkus kantung kemih sehingga berkontraksi untuk mengosongkan kantung kemih.Pertama-tama tekanan yang dihasilkan oleh urin menyebabkan aktivasi reseptor regangan pada ding-ding dalam kantung kemih . Urin diproduksi pada ginjal dan dialirkan melalui ureter kedalam kantung kemih sebagai tempat penampungan sementara sebelum diekskresi keluar tubuh.hal ini memicu refleks spinal (refleks miksi )yang berkerja secara parasimpatis.Ketika rangsang regang telah menurun otot-otot mengalami relaksasi kembali Pada wanita urin langsung dikeluarkan melalui uretra menuju orificium uretra eksternum .Kantung kemih meregang jika telah terisi urin dari ginjal.pada wanita terdapat didepan dari vagina dan dibelakang dari uterus.5-1ml/KgBB/Jam sehingga jika berat badan orang dewasa 70 diakan menghasilkan urin minimal 840-1680ml dan mengakibakan dalam keadaan normal miksi sekitar 3 s/d 4 x/hari.rangsang ini dikirim sebagai impuls saraf kesaraf sepinal dan mencapai pusat dari miksi yang terdapat pada segmen S2 dan S3 .Anatomi dan Fisiologi Kantung kemih.Sedangkan pada pria uretra sendiri terbagi atas uretra pars prostatika .pars spongiosa baru mencapai orificium uretra eksternum.pars membrabnasea.Disebelah depan dari rectum.kapasitasnya 300-400ml.Impuls ini juga menuju otot-otot dingding luar uretra sehingga relaksasi agar urin dapat keluar.Sedangkan produksi urin oleh ginjal sekitar 0.

Inkoordinasi antara otot detunsor dengan otot uretra pada pasien cidera kauda ekuina Kelainan Uretra Striktura Trauma.Dari mekanisme kerja kantung kemih serta perjalanan system ekskresi baik pada wanita maupun pria ini dapat menimbulkan kelainan/sumbatan yang menghambat terjadinya pengeluaran urin.Sehingga menyebabkan keadaan yang disebut retensi urin. Pada wanita bisa disebabkan karena : Kelainan Intra Vesika Sumbatan akibat batu intra vesika Sumbatan akibat tumor intra vesika Sumbatan akibat gumpalan darah Kontraktur bladder neck Hipertrofi bladder neck Kelainan Neurogenik Kerusakan pusat miksi S2-S4 setinggi T12-L1 Kelainan jaras serabut sensoris parasimpatis kepusat miksi dan penghantaran serpon impuls ke otot detunsor Kelainan Miogenik Kelemahan otot-otot detunsor sehingga kontraksi tidak adekuat. Fistula. Ruptura. Fibrosis Infeksi saluran kemih Pada pria bisa disebabkan karena : Kelaina Intra Vesika Sumbatan akibat batu intra vesika Sumbatan akibat tumor intra vesika Sumbatan akibat gumpalan darah Kontraktur bladder neck Hipertrofi bladder neck Kelainan Neurogenik Kerusakan pusat miksi S2-S4 setinggi T12-L1 Kelainan jaras serabut sensoris parasimpatis kepusat miksi dan penghantaran serpon impuls ke otot detunsor Kelainan Miogenik Kelemahan otot-otot detunsor sehingga kontraksi tidak 86 .

yang akan menyebabkan fungsi ginjal berkurang. Jika retensio tersebut berlangsung dalam jangka waktu yang lama maka akan terjadi dekompensasi U-V junction dan menyebabkan reflux. Infeksi saluran kemih Batu uretra Divertikulum Fimosis/Parafimosis Kelainan muara uretra Ulkus/Tumor penis Patogenesa dan Komplikasi 1. Perubahan ureter. 87 . calices minor melembung. keadaan diatas akan berlanjut menjadi hidronefrosis. Fistula. 2. 5. dapat terjadi kompensasi dan dekompensasi. Keadaan tersebut menyebabkan mekanisme back pressure terhadap kedua ginjal. Pada dekompensasi terjadi melemahnya otot detrusor yang akan menjadi atoni sehingga terjadi retensio urine ( parsial atau total ). ureter akan melebar dan memanjang. Perubahan parenkim ginjal. 4. papilae mendatar. Perubahan vesica. Perubahan urethra karena adanya lesi proximal yang menyebabkan dilatasi. Back pressure berserta relux menyebabkan kerusakan ginjal menjadi lebih cepat. namun nantinya akan terjadi dekompensasi. Perubahan pelviocalices. sehingga vasa arcuata terjepit dan akan menjadi atrofi iskemik. dan terjadi peregangan yang menyebab kan retensio urine. Merupakan akibat dari distensi peliviocalices. pada mulanya ureter masih dapat mengadakan kompensasi.adekuat. Inkoordinasi antara otot detunsor dengan otot uretra pada pasien cidera kauda ekuina Kelainan Uretra Pembesaran portat sehingga menghambat aliran diuretra pars prosstatika (BPH/Ca-prostat/Kista) Striktura Trauma. Ruptura. Hidronefrosis ada tiga tingkat. Pada hipertrofi trigonum terjadi obstruksi sekunder ureter intravesical. 3. yang nantinya akan manjadi atonia. yaitu dilatasi pelviocalices. Pada kompensasi akan menyebabkan hipertrofi otot detrusor dan hipertofi otot trigonum.

musti melakukan pemeriksaan secara menyeluruh.Gejala Klinis Retensi Totalis  Sama sekali tidak dapat miksi  Gelisah  Sakit suprasimfisis  Mengejan  Overflow inkontinentia.Penyebab harus diketahui dengan cepat agar keadaan cepat ditangan.incontinentia paradoxal Diagnosis  Pada pemeriksaan fisik : VU mengembang (dengan palpasi disekitar pubikum)  Balottemen positif pada VU  Dapat dilakukan Rektal Taucher untuk menggetahui apakah ada pembesara prostat Pemeriksaan penujang Rontgen:Photo BNO-IVU USG buli-buli USG Prostat Sistografi Uretrografi Terapi Untuk penanganan setelah diagnosa retensio urine total maka harus dilakukan drainage dengan pemasangan kateter untuk mengosongkan kandung kemih dan mencari causanya secara pasti. 88 .Pengosongan dilakukan dengan pemasangan kateter sebagai pertolongan pertama kepada pasien agar tidak menimbulkan gejala komplikasi lainya.Jika kateter tidak berhasil dapat dilakukan cystostomia dengan abocath sampai vesica kosong.

Purnomo. Saluran untuk mengisi balon. 2.1997. C. Ukuran Cahrriere DAFTAR PUSTAKA 1.emedicine. Dasar dasar Urologi. 2. Penerbit EGC. 1. 3. Buku Ajar Ilmu Bedah.1994. Editor. Kateter Foley. Balon. Kateter Malecot. Jakarta 2003. Edisi Kedua. Lumen.Gambar diatas menunjukkan berbagai macam kateter. Edisi Revisi.W. 1058-1064. Sjamsuhidajat. alih bahasa: Andrianto.R. Kateter Tienmann. B. 69-85.com 89 . Cetakan Pertama. Retensio Urin. Sabiston. 3. Buku Ajar Bedah Bagian 2. Penerbit EGC. 479-481. E. D. 4.P. Pererbit CV Sagung Seto.BB. Editor Ronardy DH. DC. Jakarta. De Jong. Jakarta. A. Kateter de Pezzer.

Infertilitas pada Pria Etiologi Pre Testikuler Kelainan pada hipotalamus o Defisiensi hormon gondotropin yaitu LH. gangguan emisi dan gangguan ejakulasi kelainan fungsi dan motilitas sperma o kelainan bawaan ekor sperma o gangguan maturasi sperma o kelainan imunologik o infeksi 90 . anemi bulan sabit o Kriptorkismus o varikokel Pasca Testikuler Gangguan transportasi sperma o congenital bilateral absent of the vas deferens (CBAVD) o obstruksi vas deferens/epididimis akibat infeksi atau vasektomi o disfungsi ereksi. gagal hepar. radiasi o Orkitis o Trauma testis o Penyakit sistemik : gagal ginjal. dan FSH Kelainan pada hipofisis o Insufisiensi hipofisis oleh karena tumor. radiasi atau operasi o Hiperprolaktinemia o Hemokromatosis o Substitusi/terapi hormone yang berlebihan Testikuler o Anomaly kromososm o Anorkhismus bilateral o Gonadoktosin : obat-obatan.

colok dubur: menilai pembesaran/nyeri prostat. biopsi testis 5. analisis semen 2. fungsi tiroid). dan reflex bulbokavernosus Pemeriksaan penunjang: 1. alkohol. mump. pekerjaan dan kebiasaan: perokok. riwayat pemakaian obat-obatan jangka lama: marijuana dan steroid c. hipospadi atau pemnyempitan muara uretra 3. ISK. faal liver. Anamnesis: 1. pembedahan pada retroperitoneal d. gangguan faal ginjal. vas deferens menebal atau tak teraba. sering menderita episode febris. dan konsistensi). pemeriksaan hormon 3. epididimitis.Evaluasi dan Diagnosis Evaluasi dari pihak pria meliputi anamnesis. laboratorium. terpapar oleh radiasi. torsio testis b. keadaan versikula seminalis. pestisida 3. pemeriksaan genitalia jaringan parut (bekas herniotomi atau bekas orkidopeksi/orkidodektomi). pemeriksaan fisik umum: fisik tubuh kekar. penyakit sistemik (DM. anosmia. penyempitan lapang pandang (visual field) 2. riwayat reproduksi pasangannya (fertil) Pemeriksaan fisik 1. ukuran. uji fungsi sperma 91 . pemeriksaan imunologik 4. riwayat operasi: pasca herniorafi. trauma. dan pemeriksaan penunjang. pemeriksaan fisik. frekuensi senggama. penggunaan lubrikan pada saat senggama 2. keadaan testis (jumlah. ginekomasti. riwayat seksual  libido/potensi seksual. varikokel. orkidopeksi. galaktore. riwayat penyakit dahulu a.

kemudian diberikan hormon Human Chorionic Gonadotropin (HCG). koreksi terhadap penyebab kerusakan testis. pembuntuan pada duktus ejakulatorius dilakukan reseksi transuretral.Terapi Medikamentosa Kelainan-kelainan yang mungkin masih dapat dikoreksi secara medikamentosa adalah : defisiensi hormone. Ejakulasi retrograd dapat diberikan golongan adrenergik alfa atau trisiklik antidepresan (imipramin) yang dapat menyebabkan kontraksi leher ke buli pada saat emisi sperma pada uretra posterior. infeksi. 92 . Adanya antibodi antisperma yag didapatkan pada pemeriksaan imunologik dapat dicoba dengan pemberian kortikosteroid. Pada hipogonadotropik-hipogonadismus (hipogonadismus sekunder) dapat dicoba diberikan LH untuk merangsang sel Leydig memproduksi testosteron. Pembedahan Usaha pembedahan yang dilakukan ditujukan pada tempat kelainan penyebab infertilitas yaitu operasi pada organ pre testikulaer. dan ejakulasi retrograde. Sedangkan pada pembuntuan yang lebih proximal yaitu pada epididimis dilakukan penyambungan epididimo-vasostomi yaitu penyambungan epididimis dengan vas deferens. reaksi imunologik antibody antisperma. Melalui teknik bedah mikroskopik angka keberhasilan penyambungan vas deferens (yang ditandai dengan terdapatnya sperna pada ejakulat) ± 80-90 % sedangkan angka keberhasilan fungsional (pasangan menjadi hamil) ± 50-60% 4. dan koreksi saluran yang membuntu penyaluran sperma. jika terdapat pembutuan pada vas deferens karena infeksi atau setelah menjalani vasektomi dilakukan penyambungan kembali vas deferens atau vaso vasostomi. varikokel yang dapat menyebabkan terjadinya kerusakan pada spermatogonium dilakukan operasi vasoligasi tinggi atau varikokelektomi 3. Tindakan itu dapat berupa: 1. adenomektomi hipofisis pada adenoma hipofisis 2.