Daftar Isi

1. Daftar Isi ...............................................................................................1 2. infeksi saluran kemih ............................................................................5 3. batu saluran kemih ................................................................................14 4. Benign Prostat Hipertrofi ......................................................................33 5. Trauma Urogenital ................................................................................38 6. Hidrokel ................................................................................................45 7. Varikokel...............................................................................................48 8. Torsio Testis..........................................................................................56 9. Strikture Uretra .....................................................................................59 10. Tumor Urogenital..................................................................................68 11. Hematuria ..............................................................................................82 12. Retensi Urin Akut .................................................................................85 13. Infertilitas ..............................................................................................91

0

INFEKSI SALURAN KEMIH
ISK adalah merupakan reaksi inflamasi sel-sel urotelium melapisi saluran kemih. Cara penanggulangannya kadang-kadang cukup dengan pemberian antibiotika yang sederhana, atau bahkan tidak perlu diberi antibiotika. Namun pada infeksi yang berat dan sudah menimbulkan kerusakan pada berbagai macam organ, membutuhkan terapi suportif dan antibiotika yang cukup adekuat. Tujuan terapi pada infeksi organ urogenitalia adalah mencegah atau menghentikan diseminasi kuman dan produk yang dihasilkan oleh kuman pada sirkulasi sistemik dan mencegah kerusakan terjadinya kerusakan organ urogenitalia.

Insiden Pada umumnya wanita lebih sering mengalami episode ISK daripada pria; hal ini karena uretra wanita lebih pendek daripada pria.

Patogenesis ISK terjadi pada saat mikroorganisme masuk ke dalam saluran kemih dan berbiak di dalam media urine. Mikroorganisme memasuki saluran kemih melalui cara : (1) ascending, (2) hematogen seperti pada penularan M tuberculosis atau S aureus, (3) limfogen, dan (4) langsung dari organ sekitarnya yang sebelumnya teah terinfeksi. Kuman penyebab ISK pada umnya berasal dari flora normal usus dan hidup secara komensal didalam intoitus vagina, prepusium penis, kulit perineum, dan disekitar anus. Mikroorganisme memasuki saluran kemih melalui uretra – prostat – vas deferns – testis (pada pria) – buli-buli – ureter, dan sampai ke ginjal. Terjadinya ISK karena adanya gangguan keseimbangan antara

mikroorganisme penyebab infeksi (uropatogen) sebagai agent dan epitel saluran kemih sebagai host. Gangguan keseimbangan ini disebabkan oleh karena pertahanan tubuh dari host yang menurun atau karena virulensi agent meningkat.

Faktor dari host

1

Kemampuan host untuk menahan mikroorganisme masuk kedalam saluran kemih disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain adalah ; (1) pertahanan lokal dari host, dan (2) peranan dari sistem kekebalan tubuh yang terdiri atas imunitas humoral maupun imunitas seluler. Sebenarnya pertahanan sistem saluran kemih yang paling baik adalah mekanisme wash out urine yang mampu membersihkan kuman-kuman yang ada di dalam urine. Supaya aliran urin adekuat dan mampu menjamin mekanisme wash out adalah jika (1) jimlah urin cukup dan (2) tidak ada hambatan di dalam saluran kemih. Keadaan lain yang bisa mempengaruhi aliran urin dan menghalangi mekanisme wash out adalah adanya (1) stagnasi atau stasis urine dan (2) didapatkannya benda asing di dalam saluran kemih yang dipakai sebagai tempat persembunyian oleh kuman. Stagnasi urin bisa terjadi pada keadaan (1) miksi yang tidak teratur atau sering menahan kencing, (2) obstruksi saluran kemih seperti pada BPH, striktura uretra, batu saluran kemih, atau obstruksi karena sebab lain, (3) adanya kantong-kantong didalam saluran kemih yang tidak dapat mengalir dengan baik, dan (4) adanya dilatasi atau refluks sistem urinaria.

Faktor dari mikroorganisme Bakteri dilengkapi dengan pili atau fimbriae yang terdapat dipermukaannya. Pili berfungsi untuk menemel pada urotelium melalui reseptor yang ada dipermukaan urotelium. Ditinjau dari jenis pilinya, terdapat 2 jenis bakteri yang mempunyai virulensi berbeda, yaitu bakteri tipe pili 1 (yang banyak menimbulkan infeksi pada sistitis) dan tipe pili P (yang sering menimbulkan infeksi berat pielonefritis akut).

Diagnosis Pada umumnya infeksi akut yang mengenai organ padat (ginjal, prostat, epididimis, dan testis) memberikan keluhan yang hebat sedangkan infeksi pada organorgan berongga (buli-buli, ureter, dan pielum) memberikan keluhan yang lebih ringan.

Pemeriksaan urin Pemeriksaan urin merupakan salah satu pemeriksaan yang sangat penting pada infeksi saluran kemih. Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan urinalisis dan pemeriksaan kultur urin. 2

Pencitraan Pada ISK uncomplicated (sederhana) tidak diperlukan pemeriksaan pencitraan. 4. atau divertikulum uretra pada wanita yang sering menyebabkan infeksi yang sering kambuh. dan 6. USG untuk mengungkapkan adanya hidronefrosis.Pemeriksaan darah Pemeriksaan darah lengkap diperlukan untuk mengungkapkan adanya proses inflamasi atau infeksi. 5. Supurasi atau pembentukan abses. 3 . Granuloma. CT scan lebih sensitif dalam mendeteksi penyebab ISK daripada PIV atau USG. PIV adalah pemeriksaan rutin untuk mengevaluasi pasien yang menderita ISK compilcated. tetapi pada ISK complicated (yang rumit) perlu dilakukan pemeriksaan pencitraan untuk mencari penyeab/sumber terjadinya infeksi. Nekrosis papilla ginjal. Gagal ginjal akut. pionefrosis. Foto polos abdomen berguna untuk mengetahui adanya batu radio-opak pada saluran kemih atau adanya distribusi gas yang abnormal pada pielonefritis akuta. Penyulit 1. 2. Terbentuknya batu saluran kemih. 3. Voiding sistouretrografi diperlukan untuk mengungkapkan adanya refluks vesiko ureter. buli-buli neurogenik. Urosepsis. ataupun abses pada perirenal/ginjal terutama pada gagal ginjal.

jenis kelamin: jumlah pasien laki-laki tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan pasien perempuan. sedangkan daerah bantu di Afrika Selatan hamper tidak dijumpai penyakit batu saluran kemih. Sebagai salah satu buktinya adalah diketemukan batu pada kandung kemih seorang mumi. 3. Di Negara maju lebih banyak dijumpai penyakit batu saluran kemih atas. Secara epidemiologis terdapat beberapa factor yang mempermudah terjadinya batu saluran kemih pada seseorang. geografi: pada beberapa daerah menunjukkan angka kejadian batu saluran kemih yang lebih tinggi daripada daerah lain sehingga dikenal sebagai daerah stone belt (sabuk batu). herediter (keturunan): penyakit ini diduga diturunkan dari orang tuanya. Factor-faktor itu adalah factor intrinsic yaitu keadaan yang berasal dari tubuh seseorang dan factor ekstrinsik yang berasal dari lingkungan disekitarnya. gangguan metabolic. Di Amerika Serikat 5-10% penduduknya menderita penyakit ini. hal ini karena adanya pengaruh status gizi dan aktivitas pasien sehari-hari. dan keadaankeadaan lain yang masih belum terungkap (idiopatik). Beberapa factor ekstrinsik adalah: 1. 4 . Penyakit ini merupakan tiga penyakit terbanyak di bidang urologi disamping infeksi saluran kemih dan pembesaran prostate benigna. sedangkan di seluruh dunia rata-rata terdapat 1-12% penduduk yang menderita batu saluran kemih. Factor intrinsic itu antara lain adalah: 1.Batu Saluran Kemih Latar belakang Penyakit batu saluran kemih sudah dikenal sejak zaman babilonia dan zaman mesir kuno. Penyakit ini dapat menyerang penduduk di seluruh dunia tidak terkecuali penduduk di Indonesia. umur: penyakit inipaling sering didapatkan pada usia 30-50 tahun. Etiologi Terbentuknya batu saluran kemih diduga ada hubungannya dengan gangguan aliran urine. infeksi saluran kemih. dehidrasi. 2. Angka kejadian penyakit ini tidak sama di berbagai belahan bumi.

oksalat.2. iklim dan temperature 3. 4. Cara lain ialah cara optic dengan diseksi mikroskopik binokuler dengan mikroskop petrografik. dan mikroskop electron. oksalat. infeksi. asam urat. Batu urat pada anak terbentuk karena pH urin rendah. Batu asam urat disebabkan oleh hiperuremia pada arthritis urika. pekerjaan: penyakit ini sering dijumpai pada orang yang pekerjaannya banyak duduk atau kurang aktifitas atau sedentary life. Kristalografi radiografik merupakan cara yang dianggap paling baik ditinjau dari segi kesederhanaan dan ketepatannya. Batu fosfat ammonium magnesium didapatkan pada infeksi kronik yang disebabkanoleh bacteria yang menghasilkan urease sehingga urin menjadi alkali karena pemecahan ureum. termoanalitik. batu fosfat dan kalsium (hidroksiapatit) kadang disebabkan hiperkalsiuria (tanpa hiperkalsemia). dan benda asing. Analisa batu dapat dilakukan secara kimiawi. Komposisi dan pembentukan batu Komposisi batu diketemukan pada seseorang perlu ditentukan karena komposisi batu dipakai sebagai landasan untuk menyelusuri etiologi penyakit batu saluran kemih. Infeksi. asupan air: kurangnya asupan air dan tingginya kadar mineral kalsium pada air yang dikonsumsi. diet: diet banyak purin. 5. Jaringan abnormal atau mati pada nefrosis papilla di ginjal dan benda asing mudah menjadi nidus dan inti batu. Batu oksalat kalsium kebanyakan merupakan batu idiopatik. dankalsium mempermudah terjadinya penyakit batu saluran kemih. dapat meningkatkan insiden batu saluran kemih. diantaranya berkaitan dengan sindroma alkali atau kelebihan vitamin D. statis. Demikian pula telor sistoma kadang merupakan nidus batu. spektroskopi inframerah. dan xantin. Pada kebanyakan penderita batu kemih tidak ditemukan penyebab yang jelas. fosfat. Batu campuran oksalat kalsium dan fosfat biasanya juga idiopatik. yaitu dengan cara kualitatif dan cara kuantitatif dengan metode kromatografik dan autoanalisis. sistin. dan litiasis merupakan factor yang saling memperkuat sehingga terbentuk lingkaran setan atau circulus visiosus. 5 . Komposisi batu saluran kemih yang dapat ditemukan adalah jenis urat. Factor predisposisi berupa stasis.

Batu idiopatik disebabkan oleh pengaruh berbagai factor. arthritis urika. Tanda dan Gejala Klinis Tanda dan gejala penyakit batu saluran kemih ditentukan oleh letaknya. baik hematuria nyata maupun mikroskopik. 6 . dan morfologinya. sedangkan batu kaliks pada umumnya tidak memberikan kelainan fisik. Umumnya gejala batu saluran kemih merupakan ostruksi aliran kemih dan infeksi. Nyeri di pinggang dapat dalam bentuk pegal hingga kolik atau nyeri yang terus-menerus dan hebat karena adanya pielonefrosis. Factor yang memegang peranan kausal adalah dehidrasi dan gastroenteritis. yaitu hematuria. Sesuai dengan gangguan yang terjadi. bahkan mungkin demam atau tanda sistemik lain. Kadang batu hanya terdapat pada suatu kaliks. penyakit ini mempunyai tanda umum. atau sama sekali tidak ada keluhan dan gejala. Nyeri dapat berupa nyeri tekan atau ketok pada daerah arkus kosta pada sisi ginjal yang terkena. Selain itu bila disertai infeksi saluran kemih dapat juga ditemukan endapan urin. besarnya. tetapi dapat tumbuh mengikuti bentuk susunan pelviokaliks sehingga bercabang seperti tanduk rusa. sampai terabanya ginjal yang membesar akibat adanya hidronefrosis. Batu pelvis ginjal Batu pielum didapatkan dalam bentuk yang sederhana sehingga hanya menempati bagian pelvis. Factor lain adalah imobilisasi lama pada penderita cedera dengan fraktur multiple atau paraplegia yang menyebabkan dekalsifikasi tulang dengan peningkatan ekskresi kalsium dan statis sehingga presipitasi batu mudah terjadi. Walaupun demikian. kronik. Pada sebagian kecil penderita batu didapatkan kelainan kausal yang menyebabkan ekskresi kelebihan bahan dasar batu seperti pada hiperparatiroidisme. batu ginjal yang terletak di pelvis dapat menyebabkan terjadinya hidronefrosis. Batu saluran kemih dapat mengakibatkan kelainan patologik yang menunjukkan gejala dan tanda akut. Pada pemeriksaan fisik mungkin kelainan sama sekali tidak ada. Batu pelvis ginjal dapat bermanifestasi tanpa gejala sampai gejala yang berat. dan sistinuria. hiperoksaluria. Misalnya batu urat pada anak di Negara yang sedang berkembang. Factor ini mengakibatkan oliguria dengan urinyang mengandung asam tinggi urin dan ikatan kimia lain.

Batu ureter Anatomi ureter mempunyai beberapa tempat penyempitan yang

memungkinkanbatu ureter terhenti. Karena peristaltic, akan terjadi gejala kolik, yakni nyeri yang hilang timbul disertai perasaan mual dengan atau tanpa muntah dengan nyeri alih. Selama batu bertahan di tempat menyumbat, selama itu kolik akan berulang-ulang sampai batu bergeser dan memberi kesempatan pada air kemih untuk lewat. Batu ureter mungkin dapat lewat sampai kandung kemih dan kemudian keluar bersama kemih. Batu ureter juga bisa sampai ke kandung kemih dan kemudian berupa nidus menjadi batu kandung kemih besar. Batu juga bisa tetap tinggal di ureter sambil menyumbat dan menyebabkan obstruksi kronik dengan hidroureter yang mungkin asimptomatik. Tidak jarang terjadi hematuria yang didahului oleh serangan kolik. Bila keadaan obstruksi terus berlangsung, lanjutan dari kelainan yang terjadi dapat berupa hidronefrosis dengan atau tanpa pielonefritis sehingga menimbulkan gambaran infeksi umum.

Batu kandung kemih Karena batu menghalangi aliran kemih akibat penutupan leher kandung kemih, aliran yang mula-mula lancar secara tiba-tiba akan terhenti dan menetes disertai dengan nyeri. Pada anak, nyeri menyebabkan anak yang bersangkutan menarik penisnya sehingga tidak jarang dilihat penis yang panjang. Bila pada saat sakit tersebut penderita berubah posisi, suatu saat air kemih akan dapat keluar karena letak batu yang berpindah. Bila selanjutnya terjadi infeksi yang sekunder, selain nyeri, sewaktu miksi juga akan terdapat nyeri menetap suprapubik.

Batu prostat Pada umumnya batu prostat juga berasal dari kemih yang secara retrograde terdorong kedalam saluran prostat dan mengendap, yang akhirnya menjadi batu yang kecil. Pada umumnya batu ini tidak memberikan gejala sama sekali karena tidak menyebabkan gangguan pasase kemih.

Batu uretra 7

Batu uretra merupakan batu yang berasal dari ureter atau kandung kemih yang oleh aliran kemih sewaktu miksi terbawa uretra, tetapi menyangkut di tempat yang agak lebar. Tempat uretra yang agak lebar ini adalah di pars prostatika, bagian permulaan pars bulbosa, dan di fosa navikular. Bukan tidak mungkin dapat ditemukan di tempat lain. Gejala yang ditimbulkan umumnya miksi tiba-tiba terhenti, menjadi menetes dan nyeri. Penyulitnya dapat berupa terjadinya divertikulum, abses, fistel proksimal, dan uremia karena obstruksi urin

Diagnosis Selain pemeriksaan melalui anamnesis dan jasmani untuk menegakkan diagnosis, penyakit batu perlu ditunjang dengan pemeriksaan radiologic, laboratorium, dan penunjang lain untuk menetukan kemungkinan adanya obstruksi saluran kemih, infeksi, dan gangguan faal ginjal. Secara radiologik, batu dapat radioopak atau radiolusen. Sifat radiopak ini berbeda untuk berbagai jenis batu sehingga dari sifat ini dapat diduga jenis batu yang dihadapi. Yang radiolusen umumnya adalah dari jenis asam urat murni. Pada radiopak pemeriksaan dengan foto polos sudah cukup untuk menduga adanya batu saluran kemih bila diambil foto 2 arah. Pada keadaan istimewa tidak jarang batu terletak di depan bayangan tulang, sehingga dapat luput dari pengamatan. Pada batu radiolusen, foto dengan bantuan kontras akan menyebabkan filing defek pada tempat batu sehingga memberikan gambaran pada daerah yang kosong. Yang menyulitkan adalah bila ginjal mengandung batu tidak berfungsi lagi sehingga kontras ini tidak muncul. Dalam hal seperti ini, perlu dilanjutkan dengan pielografi retrograde yang dilaksanakan pemasangan kateter ureter melalui sistikop pada ureter ginjal yang tidak dapat berfungsi untuk memasukkan kontras. Pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk mencari kelainan kemih yang dapat menunjang adanya batu di saluran kemih, menentukan fungsi ginjal, dan menetukan sebab terjadinya batu. Pemeriksaan renogram berguna untuk menetukan faal kedua ginjal secara terpisah pada batu bilateral atau bila kedua ureter tersumbat total. Cara ini dipakai untuk memastikan ginjal yang masih mempunyai sisa faal yang cukup sebagai dasar untuk melakukan tindak bedah pada ginjal yang sakit. Pemeriksaan USG dapat untuk 8

melihat semua jenis batu, baik radiolusen maupun radiopak. Selain itu dapat ditentukan ruang dan lumen saluran kemih. Pemeriksaan ini juga dipakai untuk menentukan batu selama tindakan pembedahan untuk mencegah tertingganya batu.

Diagnosis banding Kolik ginjal dan ureter dapat disertai dengan akibat yang lebih lanjut, misalnya distensi usus dan pielonefrosis dengan demam. Oleh karena itu, jika dicurigai terjadi kolik ureter maupun ginjal, khususnya yang kanan, perlu dipertimbangkan kemungkinan kolik saluran cerna, kandung empedu, atau appendicitis akut. Selain itu perempuan juga dipertimbangkan adneksitis. Bila terjadi hematuria, perlu dipertimbangkan kemungkinan keganasan apalagi bila hematuria terjadi tanpa nyeri. Selain itu, juga diingat bahwa batu saluran kemih yang terjadi bertahun-tahun dapat menyebabkan tumor umunya karsinoma epidermoid, akibat rangsangan dan inflamasi. Khusus batu ginjal dengan hidronefrosis peril dipertimbangkan kemungkinan tumor ginjal mulai dari jenis ginjal polikistik hingga tumor Grawitz. Pada batu ureter, terutama dari jenis radiolusen, apalagi bila disertai dengan hematuria yang tidak disertai kolik, perlu dipertmbangkan tumor ureter walaupun tumor ini jarang ditemukan. Dugaan batu kandung kemih jga perlu dipertimbangkan tumor kandung kemih terutama jenis batu radiolusen. Batu prostat biasanya tidak sukar terdiagnosis karena gambaran radiologic yang khas, yang kecil seperti kumpulan pasir di daerah prostate. Akan tetapi, pemeriksaan colok dubur dapat memberi kesan adanya keganasan, teritama bila terdapat batu cukup banyak sehingga teraba seperti karsinoma prostat. Dalam keadaan yang tidak pasti seperti itu dilakukan biopsy prostat.

Tata laksana Piñatalaksanaan batu saluran kemih harus tuntas sehingga bukan hanya mengeluarkan batu saja, tetapi harus disertai dengan terapi penyembuhan penyakit batu atau paling sedikit disertai dengan terapi pencegahan. Hal ini karena batu sendiri hanya merupakan gejala penyakit batu sehingga pengeluaran batu dengan cara apapun bukanlah merupakan terapi yang sempurna. Selanjutnya perlu juga diketahui bahwa pengerluaran batu menyebabkan gangguan pada slauran kemih. Bila batu tersebut 9

2) sehingga dengan pemberian bikarbonas natrikus disertai makanan alkalis. Batu struvit tidak dapat dilarutkan tetapi dapat dicegah dengan pengasaman urin dan pemberian antiurease. khususnya kolik yang terjadi menghilang dengan pemberian simpatolitik. Pelarutan Jenis batu yang memang dapat dilarutkan adalah dari batu asam urat. batu ureter proksimal. Terapi medis dan simptomatik Pengelolaan simptomatik mengusahakan agar nyeri. Dapat pula dengan pembedahan atau dengan tindakan yang kurang invasive misalnya nefrostomi perkutan. Tidak jarang pecahan-pecahan batu yang sedang keluar menimbulkan perasaan nyeri kolik dan menyebabkan hematuria.tidak memberi gangguan fungsi ginjal makabatu tersebut tidak perlu diangkat diharapkan batu tersebut keluar dengan sendirinya. Batu pun dipecah menjadi fragmen-fragmen kecil sehingga mudah dikeluarkan melalui saluran kemih. Batu ureter ini adalah batu yang tidak menganggu saluran kemih termasuk ginjal dan ukurannya kurang dari setengah centimeter. batu asam urat diharapkan larut. Bila terdapat kuman harus dibasmi. alat ini dapat memecah batu ginjal. Hasil lebih baik dilaporkan dengan pemberian alopurinol dan usaha menurunkan kadar asam urat. Akan tetapi pemberian antibiotic sukar membasmi kuman karena kuman didalam batu susah dicapai oleh antibiotic. dapat diberikan minum berlebihan disertai diuretic. Selain itu terutama untuk batu ureter yang dapat diharapkan keluar dengan sendirinya. ESWL (Extracorporeal Shockwave Lithotripsy) Alat ESWl adalah pemecah batu yang diperkenalkan pertama kali oleh Caussy pada tahun 1980. Batu ini terjadi bila pH urin asam (pH: 6. atau batu buli tanpa melalui tindakan invasive dan tanpa pembiusan. Dengan produksi air kemih yang banyak diharapkan dapat mendorong batu. Penanganannya dapat berupa terapi medis dan simptomatik atau dengan bahan pelarut. 10 .

atau dengan energi laser. dengan memakai energi hiraulik. uretroskopi atau uretro-renoskopi: yaitu memasukkan alat uretroskopi peruretram guna melihat keadaan ureter atau system pielo-kalises ginjal. Probe pemecahan batu dapat dilakukan secara mekanik. 2. Alat itu dimasukkan melalui uretra atau melalui insisi kecil pada kulit (perkutan). Pecahan batu dikeluarkan dengan evakuator Ellik. batu yang berada didalam ureter maupun system pelvikalises dapat dipecah melalui tuntunan uretroskopi/uretreorenoskopi ini. 11 . Dengan memakai energi tertentu. litotripsi: yaitu memecah batu buli-buli atau batu uretra dengan memasukkan alat pemecah batu (litotriptor) kedalam buli-buli. PNL( Percutaneus Nephro Litholapaxy): yaitu mengeluarkan batu yang berada didalam saluran ginjal dengan cara memasukkan alat endoskopi ke system kalises melalui insisi pada kulit. Batu kemudian dikeluarkan atau dipecah terlebih dahulu menjadi fragmen-fragmen kecil. dan kemudian mengeluarkanya dari saluran kemih melalui alat yang dimasukkan langsung kedalam saluran kemih.Endourologi Tindakan endourologi adalah tindakan invasive minimal untuk mengeluarkan batu saluran kemih yang terdiri atas memecah batu. 3. energi gelombang suara. Beberapa tindakan endourologi itu adalah: 1.

hal. 2nd ed. Sagung seto. Daftar pustaka 1. Healthy wise. CV. Pembedahan terbuka itu antara lain: pielolitotomi atau nefrolitotomi untuk mengambil batu pada saluran ginjal. pemberian medikamentosa. korteksnya sudah sangat tipis. Diet rendah kalsium tidak dianjurkan kecuali pada pasien yang menderita hiperalsiuri absortif tipe II. rendah garam karena natriuresis akan memacu timbulnya hiperkalsiuri. Bedah laparoskopi Pembedahan laparoskopi untuk mengambil batu saluran kemih saat ini sedang berkembang. Buku Ajar Ilmu Bedah. dan uretrolitotomi untuk batu di ureter. Extracorporeal shock wave lithotripsy (ESWL). 1997. tindakan selanjutnya yang penting adalah upaya mengindari timbulnya kekambuhan. rendah oksalat. 2007. Tidak jarang pasien harus menjalani nefrektomi atau pemgambilan ginjal karena ginjalnya tidak berfungsi lagi dan berisi nanak (pionefrosis). 12 . pengambilan batu masih dilakukan melalui pembedahan terbuka. Last update: May 30. Jakarta. Sjamsuhidajat R. laparoskopi. 57-67 3. in : dasar-dasar urologi FK univ. atau mengalamu pengkerutan akibat batu yang menimbulkan obstruksi dan infeksi menahun. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Cara ini banyak dipakai untuk mengambil batu ureter. rendah purin. hal. Angka kekambuhan batu rata-rata 7% per tahun atau kurang lebih 50% dalam 10 tahun. 756-764 2. 2003. Jakarta. aktivitas harian yang cukup.com. ekstraksi Dormia: yaitu mengeluarkan batu ureter dengan menjaringnya melalui alat keranjang dormia. Pada umumnya pencegahan itu berupa menghindari dehidrasi dengan minum air 2-3 liter per hari. Jong Wim de. Pencegahan Setelah batu dikeluarkan dari saluran kemih.centrahealth.4. Purnomo B Basuki. maupun ESWL. Edisi revisi. diet mengurangi kadar zat-zat pembentuk batu. Bedah terbuka Di klinik-klinik yang belum mempunyai fasilitas yang memadai untuk tindakantindakan endourologi. Diet yang dianjurkan adalah diet rendah protein karena protein memacu ekskresi kalsium urine yang dapat membuat urine menjadi asam. Available at: http://myhealth.Brawijaya.

BENIGN PROSTAT HIPERPLASI (BPH) DEFINISI BPH adalah hiperplasi kelenjar periuretral (sel-sel glanduler dan intersisial) dari prostat. Pada usia 75 tahun ±50% pada pria mengeluhkan gejala pancaran urin yang lemah pada waktu miksi. jarang ditemukan pada usia di bawah 40 tahun. zona 13 . Sifat ini diturunkan secara dominan autosomal. Menurut penelitian diketahui pula karena perbedaan ras. BPH merupakan tumor jinak yang paling sering terjadi pada laki-laki dan berhubungan dengan usia. ANATOMI Kelenjar Prostat Prostat adalah organ genitalia pria yang terletak di sebelah inferior buli-buli. Sebagian besar hiperplasia prostat terdapat pada zona transisional. Faktor resiko BPH masih belum jelas.5 cm dan beratnya 20 gram. INSIDENSI Pada usia 55 tahun ±25% dari pria ditemukan gejala obstruktif. organ ini membuntu uretra pars prostatika dan menyebabkan terhambatnya aliran urine keluar dari buli-buli. ±50% pada pria dibawah 60 tahun terkena BPH karena mempunyai sifat diturunkan. di depan rectum dan membungkus uretra posterior. zona sentral. Bila pengalami pembesaran. yaitu zona perifer. Kelenjar ini terdiri atas jaringan fibromuskular dan glandular yang terbagi dalam beberapa daerah atau zona. Bentuknya seperti buah kenari dengan ukuran 4 x 3 x 2.

Sistem simpatik memberikan inervasi pada otot polos prostat. dan jaringan penyanggah yang lain. seperti pada saat ejakulasi. kapsula prostat. sedangkan rangsangan simpatik menyebabkan pengeluaran cairan prostat ke dalam uretra posterior. dan zona periuretra. pembuluh darah. Prostat menghasilkan suatu cairan yang merupakan salah satu komponen dari cairan ejakulat. Rangsangan simpatik menyebabkan dipertahankannya tonus otot polos tersebut. Komponen stroma ini terdiri atas otot polos. fibroblas. dan leher buli-buli. Secara histopatologik kelenjar prostat terdiri atas komponen kelenjar dan stroma. saraf. Prostat mendapat inervasi otonomik simpatik dan parasimpatik dari pleksus prostatikus. zona fibromuskuler anterior.transisional. 14 . Sebagian besar hiperplasia prostat terdapat pada zona transisional. Pleksus prostatikus ( pleksus pelvikus ) menerima masukan serabut parasimpatik dari korda spinalis S2-4 dan simpatik dari nervus hipogastrikus (T10-L2). Stimulasi parasimpatik meningkatkan sekresi kelenjar pada epitel prostat. Volume cairan prostat merupakan ±25% dari seluruh volume ejakulat. sedangkan pertumbuhan karsinoma prostat berasal dari zona perifer. Cairan ini dialirkan melalui duktus sekretorius dan bermuara di uretra posterior untuk kemudian di keluarkan bersama cairan semen lain pada saat ejakulasi. Ditempat itu banyak terdapat reseptor adrenegika.

Jadi meskipun rangsangan terbentuknya sel-sel baru akibat rangsangan testosteron menurun. Beberapa hipotesis yang di duga sebagai penyebab timbulnya hiperplasia prostat adalah: 1. Estrogen di dalam prostat berperan dalam terjadinya proliferasi sel-sel kelenjar prostat dengan cara meningkatkan sensitifitas sel-sel prostat terhadap rangsangan hormon androgen. Ketidakseimbangan antara estrogen-testosteron Pada usia semakin tua kadar testosteron samakin menurun. DHT yang telah terbentuk berkaitan dengan reseptor androgen (RA) membentuk kompleks DHT-RA pada inti sel dan selanjutnya terjadi sintesis protein growth factor yang menstimulasi pertumbuhan sel prostat. tapi sel-sel prostat yang telah ada mempunyai umur lebih panjang sehingga massa prostat jadi lebih besar. meningkatkan jumlah reseptor androgen. Pada BPH kadar DHT tidak jauh berbeda dengan kadarnya pada prostat normal. Hal ini menyebabkan sel-sel prostat pada BPH lebih sensitif terhadap DHT sehingga replikasi sel lebih banyak dibandingkan dengan prostat normal. 2. tetapi kemungkinan berhubungan dengan multifaktor dan endokrin. Hanya saja pada BPH. Dibentuk dari testosteron yang sangat penting pada pertumbuhan sel-sel kelenjar prostat oleh enzim 5a-reduktase dengan bantuan koenzim NADPH. sedangkan kadar estrogen relatif tetap sehingga perbandingan antara estrogen: testostron relatif meningkat. aktivitas enzim 5a-reduktase dan jumlah reseptor androgen lebih banyak. Teori dihidrotestosteron DHT adalah metabolit androgen yang sangat penting pada pertumbuhan sel-sel kelenjar prostat. Kelenjar prostat terdiri atas elemen stromal dan epitel. tetapi beberapa hipotesis menyebutkan bahwa hiperplasia prostat erat kaitannya dengan peningkatan kadar dihidrotestosteron (DHT) dan proses aging.ETIOLOGI Etiologi BPH belum pasti. Masing-masing atau bahkan keduanya dapat berkembang menjadi nodul-nodul hiperplastik dan gejala-gejala yang ada dapat diartikan sebagai suatu BPH. 15 . Hingga sekarang masih belum diketahui secara pasti penyebab terjadinya hiperplasia prostat. dan menurunkan jumlah sel-sel prostat (apoptosis).

sedangkan faktor pertumbuhan TGFB berperan pada proses apoptosis. Saat pembesaran prostat timbul. yang terdiri dari otot polos dan 16 . obstruksi mekanis terjadi dari adanya gangguan didalam lumen uretra atau leher kandung kencing. Penonjolan serat detrusor ke dalam kandung kemih dengan sistokopi akan terlihat seperti balok yang disebut trabekulasi (buli-buli). Komponen obstruksi dapat menjadi komponen obstruksi dinamis atau komponen mekanis. Kontraksi yang terus menerus ini menyebabkan perubahan anatomic buli-buli berupa hipertrofi otot detrusor. Mukosa dapat menerobos keluar di antara serat detrusor. buli-buli harus berkontraksi lebih kuat guna melawan tahanan itu. 4. Perubahan struktur pada buli-buli tersebut. PATOFISIOLOGI Suatu hubungan gejala dapat dikaitkan antara BPH dengan obstruksi dari prostat atau terjadinya respon sekunder pada kandung kencing saat berkemih. Untuk dapat mengeluarkan urin. Berkurangnya kematian sel prostat Estrogen di duga mampu memperpanjang usia sel-sel prostat. Tonjolan mukosa yang kecil dinamakan sakula. sedangkan yang besar disebut divertikel. Teori sel stem Sel stem adalah sel yang mempunyai kemampuan berproliferasi secara ekstensif. Stroma prostat.3. menyebabkan kesulitan yang tinggi dalam berkemih. Komponen dinamis dalam obstruksi prostat menerangkan variasi natural dalam gejala yang terjadi pada pasien. oleh pasien dirasakan sebagai keluhan pada saluran kemih sebelah bawah atau lower urinary tract symptom (LUTS). Keadaan ini menyebabkan peningkatan tekanan intravesika. Saat prostat membesar terjadi proses penyempitan lumen uretra prostatika dan menghambat aliran urin. Interaksi stroma-epitel Cunha (1973) membuktikan bahwa diferensiasi dan pertumbuhan sel epitel prostat secara tidak langsung di kontrol oleh sel-sel stroma melalui suatu mediator (growth factor) yang selanjutnya mempengaruhi sel-sel stroma sehingga menyebabkan terjadinya proliferasi sel-sel epitel maupun sel-sel stroma. 5. Fase penebalan detrusor ini disebut fase kompensasi otot dinding. Terjadinya BPH dipostulasikan sebagai ketidaktepatnya aktivitas sel stem sehingga terjadi produksi yang berlebihan sel stroma maupun epitel.

Gejala obstruksi dapat berupa hesitansi (menunggu lama pada permulaan buang air kecil). Otot polos itu dipersarafi oleh serabut simpatis yang berasal dari nervus pudendus. kapsul prostat. Gejala pada saluran kemih bagian bawah (LUTS) Gejala-gejala pada BPH dapat dibagi menjadi 2. Obstruksi yang diakibatkan oleh hiperplasia prostat benigna tidak hanya disebabkan oleh adanya massa prostat yang menyumbat uretra posterior. Pengeluaran ini terhambat karena otot detrusor hipertrofi dan hyperplasia dikarenakan terjadinya deposisi kolagen. bahkan akhirnya dapat jatuh kedalam gagal ginjal. herniasi mucosal antara otot detrusor terjadi divertikula (disebut juga Divertikula vera yang hanya terdiri mukosa dan serosa) Tekanan intravesika yang tinggi diteruskan ke seluruh buli-buli tidak terkecuali pada kedua ureter. yaitu : gejala obstruksi dan gejala iritasi. Penggunaan terapi α-blocker menurunkan tonus. Jika terlewat pada pemeriksaan. sehingga resitensi saat berkemih berkurang.kolagen. pada BPH. Kalau pada prostat normal rasio stroma dibanding dengan epitel adalah 2:1. Pada BPH terjadi rasio peningkatan komponen stroma terhadap epitel. pancaran urin yang lemah pengosongan buli-buli yang kurang 17 . Tekanan pada kedua muara ureter ini dapat menimbulkan aliran balik urin dari buli-buli ke ureter atau terjadi refluks vesikoureter. kaya akan suplai persarafan adrenergik. Keluhan iritatif berkemih yang kosong pada BPH berasal dari respon sekunder dari kandung kencing untuk meningkatkan pengeluaran isi kandung kencing. Dalam hal ini massa prostat yang menyebabkan obstruksi komponen statik sedangkan tonus otot polos yang merupakan komponen dinamik sebagai penyebab obstruksi prostat. Meskipun selanjutnya keluhan ini akan berkurang tidak stabilnya otot detrusor juga menjadi factor. Keadaan ini jika berlangsung terus akan mengakibatkan hidroureter. Tingkat stimulasi otonom diatur oleh uretra prostatika. dan otot polos pada leher buli-buli. penebalan otot detrusor pada serabut otot terlihat sebagai trabekula pada pemeriksaan cystocospic. GEJALA KLINIS 1. hal ini menyebabkan pada BPH terjadi peningkatan tonus otot polos prostat dibandingkan dengan prostat normal. rasionya meningkat menjadi 4:1. hidronefrosis. Pada pemeriksaan inspeksi. tetapi juga disebabkan oleh tonus otot polos yang ada pada stroma prostat.

hemoroid karena peningkatan tekanan intraabdominal. jawaban dapat diberikan skor sebagai berikut: 0 = Tidak pemah 1 = Kurang dari sekali dari 5 kali kejadian 2 = Kurang dari separuh kejadian 3 = Kurang lebih separuh dari kejadian 4 = Lebih dari separuh dari kejadian 5 = Hampir selalu Dalam satu bulan terakhir ini berapa seringkah anda: 1. Merasakan masih terdapat sisa urine sehabis kencing ? 18 . sedangkan keluhan yang menyangkut kualitas hidup pasien diberi nilai 1-7. benjolan di pinggang (yang merupakan tanda dari hidronefrosis). Setiap pertanyaan yang berhubungan dengan keluhan miksi diberi nilai 0-5. frekuensi (sering buang air kecil). Gejala di luar saluran kemih Hernia inguinalis. nyeri bila miksi. SKOR INTERNASIONAL GEJALA PROSTAT (I-PSS) Untuk pertanyaan nomer 1 hingga 6. MENEGAKKAN DIAGNOSA 1. mengedan bila miksi. 3. 2. disuria. Penilaian ini terfokus pada 7 pertanyaan yang di ajukan terhadap pasien-pasien untuk mengetahui seberapa sering timbul gejala iritasi dan obstruksi. Dimana score 0-7 ringan. Urin yang selalu menetes tanpa disadari oleh pasien yang merupakan tanda inkontinensia paradoksa. ANAMNESIS American Urological Association (AUA) telah mengembangkan suatu standar daftar pertanyaan yang berlaku dan dapat dipercaya dalam identifikasi kebutuhan akan perawatan terhadap pasien-pasien dan dalam memonitoring terhadap terapi yang dilakukan. Gejala iritatif berupa urgensi (tergesa-gesa buang air kecil). air kencing menetes). dan 20-35 berat.puas. atau demam yang merupakan tanda dari infeksi/ urosepsis. dan nokturia (buang air kecil malam hari lebih dari 1 kali). 8-19 sedang. double voiding (miksi untuk kedua kalinya dalam 2 jam dari yang sebelumnya. Gejala pada saluran kemih bagian atas Nyeri pinggang.

R _ .2. Dalam satu bulan terakhir ini berapa kali anda terbangun dari tidur malam untuk kencing ? Total Skor (S) = . jawablah dengan skor seperti di bawah ini: 0 = Tidak pernah 3 = Tiga kali 1 = Satu kali 2 . Harus kencing lagi padahal belum ada setengah jam yang lalu anda baru saja kencing ? 3. Q_.. R: sisa urine. Harus berhenti pada saat kencing dan segera mulai kencing lagi dan hal ini dilakukan berkali-kali? 4.. Campuran antara puas dan tidak puas 6. L:Kualitas hidup. Pertanyaan nomer 8 adalah mengenai kualitas hidup sehubungan dengan gejala di atas..Dua kali 4 = Empat kali 5 = Lima kali 7. Buruk sekali 8. Dalam hal ini dapat ditemukan adanya suatu gejala obstrutif: (1) adanya penurunan berat badan atau udem pada wajah dan kedua tangan. Harus mengejan dalam memulai kencing ? Untuk pertanyaan nomer 7. Merasakan pancaran urine yang lemah ? 6. (2) pucat atau anemia. jawablah dengan: 1. pemeriksa harus menilai proses pengosongan urin pasien sebagai hal utama dalam pemeriksaan.. Puas 5.V_I (S:Skor I-PSS. Senang 4.... Tidak bahagia 2. V: volume prostat) 2. L_I . Sangat senang 3. Pada pemeriksaan rectal toucher kelenjar prostat diperiksa dengan memperhatikan dari segi bentuk dan ukuran serta konsistensi.. Dengan keluhan seperti ini bagaimanakah anda menikmati hidup ini? Kesimpulan: S__.. Sangat tidak puas 7.. (3) kardiomegali atau udem pulmonal. Tidak dapat menahan keinginan untuk kencing ? 5. Q: pancara urine dalam ml/detik. Pada suatu keadaan hiperplasia 19 .. PEMERIKSAAN FISIK Untuk mengetahui adanya penurunan kekuatan pancaran aliran urin. (4) ada massa yang teraba di abdomen bagian bawah.

b. Intra-Uretral Grading Dilakukan pemeriksaan dengan endoskopi untuk melihat seberapa penonjolan kedalam lumen uretra. pada pemeriksaan rectal toucher dapat memberikan keuntungan bagi pemeriksa dalam menilai kekuatan tonus dari spingter ani. Clinical Grading Pada pagi hari atau setelah diberi minum yang banyak. pasien disuruh BAK sampai habis. c. berat 25-60 gram : prostat teraba 3-4 cm. Sebagai tambahan dalam menilai kelenjar prostat. Intra-Vesikal Grading Dengan pemeriksaan Cystogram 20 . berat < 10 gram : prostat teraba 1-2 cm. barat 60-100 gram : prostate teraba > 4 cm. Jika teraba pembesaran prostat maka dapat diperkirakan besar prostat > 50 gram. Normal Grade 1 Grade 2 Grade 3 Grade 4 : sisa urin tidak ada : sisa urin 0-50cc : sisa urin 50-150 cc : sisa urin > 150 cc : retentio urin total d. berat 20-25 gram : prostat teraba 2-3 cm. Pasien dengan pembesaran prostat mungkin tidak ditemukan gejala obstruksi traktus urinarius. keras dan elastis. sedangkan pada pasien dengan pembesaran lobus medial dapat ditemukan dengan jelas suatu adanya gejala obstruktif dan retensi urin tanpa adanya suatu pembesaran prostat yang teraba. Pemeriksaan Bimanual Dengan melakukan Rectal-toucher dan penekanan pada supra-pubik. dan tidak didapatkan nodul-nodul. berat > 100 gram Pada BPH Rectal-toucher menunjukan konsistensi prostat kenyal. Rectal Grading Dengan Rectal-toucher: Stage 0 Stage 1 Stage 2 Stage 3 Stage 4 : prostat teraba < 1 cm. e. Dengan kateter di ukur sisa urin dalam buli-buli.biasanya di dapatkan suatu prostat dengan keadaan licin. lobus kanan dan kiri simetris. yang secara tidak langsung juga memberikan gambaran keadaan dari persarafan vesika urinaria. a.

3. pemeriksaan ini untuk mengetahui asal dari perdarahan yang ada. Jika dicurigai adanya keganasan prostat perlu di periksa kadar penanda tumor PSA. Ultrasonografi transrektal atau TRUS. Disamping itu ultrasonografi transabdominal mampu untuk mendeteksi adanya hidronefrosis ataupun kerusakan ginjal akibat obstruksi BPH yang lama. (3) lama waktu miksi. adanya kemungkinan pembesaran prostat maligna. menentukan jumlah residual urine. Uroflowmetri Dengan uroflowmetri dapat diukur: (1) pancaran urin maksimal (maximal flow rate-Qmax). Pemeriksaan gula darah dimaksudkan untuk mencari kemungkinan adanya diabetes melitus yang dapat menimbulkan kelainan persarafan pada buli-buli (buli-buli neurogenik). c. Pembesaran prostat dapat pula dilakukan dengan ultrasonografi suprapubik. PEMERIKSAAN PENUNJANG a. yang merupakan tanda dari suatu retensi urine. ureum kreatinin. Gambaran Radiologis Foto polos perut berguna untuk mencari adanya batu opak di saluran kemih. Pengukuran sisa urin yang tertinggal dalam buli-buli 21 . Laboratorium Sedimen urin diperiksa untuk menandakan infeksi/hematuri. mengetahui adanya penyulit pada saluran kemih bagian atas. selain itu untuk mengetahui besar prostat dengan mengukur panjang uretra pars prostatika dan penonjolan prostat ke dalam uretra. dimaksudkan untuk mengetahui besar atau volume kelenjar prostat. (2) volume urin yang keluar (voided volume). b. Faal ginjal. Pemeriksaan sistografi dilakukan bila pada anamnesis ditemukan hematuria atau pada pemeriksaan urin ditemukan mikrohematuria. adanya batu/kalkulosa prostat dan kadangkala dapat menunjukan bayangan buli-buli yang penuh terisi urine. sebagai petunjuk untuk melakukan biopsi aspirasi prostat. Kultur urine untuk mencari jenis kuman dan menentukan sensitifitas.

infeksi traktus urinarius berulang. dapat terjadi sakulasi.ca prostat dapat diketahui pada DRE atau kenaikan serum PSA. Hematuri dan nyeri biasanya merupakan gejala adanya batu buli-buli. sehingga terjadi pengendapan batu. DIAGNOSA BANDING Kondisi obstruksi lainnya dari traktus urinarius bagian bawah adalah striktur uretra. batu buli-buli atau ca prostat. Suatu infeksi pada traktus urinarius dapat memberikan gambaran gejala iritasi BPH. Angka normal pancaran kemih rata-rata 10-12 ml/ detik dan pancaran maksimal sampai sekitar 20 ml/detik. Disamping itu terapi spesifik lainnya berupa adanya indikasi untuk tindakan operasi termasuk retensio urine kronik (sedikitnya 1 kali percobaan menggunakan kateter yang gagal). Bila tekanan intra vesika yang selalu tinggi tersebut diteruskan ke ureter dan ginjal. Komplikasi lain adalah pembentukan batu vesika akibat selalu terdapat sisa urin setelah buang air kecil. yaitu mukosa buli-buli menerobos di antara serat-serat detrusor. Kedua. Pada obstruksi ringan pancaran menurun antara 6-8 ml/detik. akan terjadi hidroureter dan hidronefrosis yang akan mengakibatkan penurunan fungsi ginjal TERAPI Untuk BPH dengan gejala ringan (score 0-7) terapi hanya berupa ”Watchful Waiting”. Ketiga.setelah buang air kecil diukur dengan memasang kateter setelah buang air kecil. yaitu terjadi penebalan serat-serat detrusor akibat tekanan intra vesika yang selalu tinggi akibat obstruksi. kontraktur leher buli-buli. gross hematuri 22 . trabekulasi. bila sakulasi menjadi besar dapat menjadi divertikel. untuk mengetahui adanya infeksi maka dilakukan kultur urine dan urinalisis. sedang pancaran maksimal menjadi 15 ml/detik atau kurang. KOMPLIKASI Komplikasi yang dapat terjadi pada pasien yang dibiarkan tanpa pengobatan: Pertama. Yang harus diketahui dalam menilai pria dengan dugaan BPH yaitu adanya riwayat urethritis atau trauma untuk menyingkirkan adanya striktur uretra atau kontraktur leher buli-buli.

Inhibitor 5 alpha-reduktase Finasteride adalah merupakan inhibitor 5 alpha-reduktase yang memblok perubahan hormon testosteron menjadi dihydrotestosteron. diantaranya adalah hipotensi postural dan kelainan kardiovaskuler lain. Alpha Bloker Caine adalah yang pertama kali melaporkan penggunaan obat penghambat adrenergik alpha sebagai salah satu terapi BPH. afluzosin. Dilaporkan bahwa obat ini mampu memperbaiki pancaran miksi tanpa menimbulkan efek terhadap tekanan darah maupun denyut jantung. II.berulang. Pasien tidak mendapatkan terapi apapun dan hanya diberi penjelasan mengenai sesuatu hal yang mungkin dapat memperburuk keluhannya. 1. Pasien dengan gejala sedang dapat dilakukan terapi ini jika pasien menginginkan. Watchful Waiting Pilihan terapi ini hanya untuk pasien BPH dengan gejala ringan(score 0-7). Obat-obat ini dilaporkan dapat memperbaiki keluhan miksi dan laju pancaran urin. Ditemukannya obat penghambat adrenegik-a1 adalah : Prazosin dua kali sehari. dan doksazosin yang diberikan sehari sekali. seperti:      Jangan mengkonsumsi alkohol atau rokok setelah makan malam Kurangi makanan atau minuman yang mengiritasi buli-buli Batasi penggunaan obat-obat influenza yang mengandung fenilpropanolamin Kurangi makanan pedas atau asin Jangan menahan kencing terlalu lama 2. Obat ini 23 . yaitu penghambat alpha yang tidak selektif yang ternyata mampu memperbaiki laju pancaran miksi dan mengurangi keluhan miksi.insufisiensi ginjal dari buli-buli atau divertikula buli-buli yang besar. terazosin. Pada saat itu dipakai fenoksibenzamin. yaitu tamsulosin yang sangat selektif terhadap otot polos prostat. Akhir-akhir ini telah ditemukan pula golongan penghambat adrenegik-a1A. Sayangnya obat ini tidak disenangi oleh pasien karena menyebabkan komplikasi sistemik yang tidak diharapkan. Terapi Medis I. batu buli-buli.

Terapi Operasi Konvesional I. Keuntungan dari TURP tidak dilakukan sayatan sehingga mengurangi terjadinya infeksi. dan memperkecil volume prostat. 6 bulan terapi diperlukan untuk mengetahui efek maximum dari ukuran prostat. mengacaukan metabolisme prostaglandin. Kebanyakan dari prosedur ini memerlukan pemakaian anestesi spinal serta membutuhkan 1-2 hari perawatan di RS. tekanan darah meningkat . Fitofarmaka Beberapa ekstrak tumbuhan-tumbuhan tertentu dapat dipakai untuk memperbaiki gejala-gejala akibat obstruksi prostat. tetapi data-data farmologik tentang kandungan zat aktif yang mendukung mekanisme kerja obat fitoterapi sampai saat ini belum diketahui dengan pasti. yang dimaksudkan agar tidak terjadi hantaran listrik pada saat operasi. menurunkan kadar sex hormon binding globulin (SHBG). Jika tidak segera diatasi. yang jika berlebih dapat menyebabkan terjadinya hiponatremia relatif atau gejala intoksikasi air atau dikenal dengan sindroma TURP. III. kesadaran somnolen. serena repens. Cairan yang dipergunakan adalah berupa larutan non ionik. Kemungkinan fitoterapi bekerja sebagai : anti-androgen. Reseksi kelenjar prostat dilakukan transuretra dengan mempergunakan cairan irigasi (pembilas) agar daerah yang akan direseksi tetap terang dan tidak tertutup oleh darah. Radix urtica dan masih banyak lainnya. Salah satu kerugian dari aquades adalah sifatnya yang hipotonik sehingga cairan ini dapat masuk ke saluran sistemik melalui pembuluh darah vena yang terbuka pada saat reseksi.Resiko pada TURP termasuk didalamnya berupa ejakulasi retrograd. dan terdapat bradikardi. Cairan yang sering dipakai yaitu H2O steril (aquades). impoten. efek anti inflamasi.mempengaruhi komponen epitel dari kelenjar prostat yang mengakibatkan pengurangan ukuran dari kelenjar dan memberikan perbaikan gejala. inhibisi basic fibroblast growth factor (BFGF) dan epidermal growth factor (EGF). Sindroma ini ditandai dengan pasien yang mulai gelisah. Transurethral Resection Of The Prostat (TURP) 95% dari simple prostatektomi dapat dilakukan secara endoskopi yang di masukan melalui penis atau uretra. Hypoxis rooperi. menurunkan outflow resistance. dan inkontinensia. 3. Di antara fitoterapi yang banyak dipasarkan adalah : Pygeum africanum. 24 .

Transurethral Inscision Of The Prostat (TUIP) Sering pada pria dengan gejala BPH sedang sampai berat serta kelenjar prostat yang kecil. penyempitan uretra. Komplikasi yang terjadi perdarahan. Pada pasien-pasien ini akan sangat bermanfaat. Pada cara ini melibatkan 2 potongan menggunakan pisau Colinns pada arah jam 5 dan jam 7. sering mempunyai hyperplasia pada komisura posterior (leher bulibuli terangkat). Untuk mengurangi resiko timbulnya sindroma TURP. harus disingkirkan kemungkinan adanya Ca prostate dengan melakukan colok dubur. dan pengukuran kadar PSA. Sebelum melakukan ini. dan impontensi. kedua potongan ini dimulai dari arah distal sampai mulut uretra dan meluas keluar sampai ke verumontirium. cara ini lebih cepat dan sedikit mengalami kesalahan daripada TURP. 25 . infeksi. dipakai cairan isotonik yaitu glisin dan harus membatasi untuk tidak melakukan reseksi lebih dari satu jam.pasien akan mengalami edema otak yang akhirnya jatuh kedalam koma dan meninggal. melakukan USG Transrektal. Terapi standar sindrom ini terdiri dari pemberian diuretik dan penggunaan salin hipotonik intravena II.

III. prostatitis berulang 6. Simple suprapubik prostatektomi dilakukan secara transvesical dan merupakan operasi pilihan dalam menangani masalah kelainan dalam buli-buli. kronik obstruktif dengan azotemia 2. perdarahan dari hipertrofi benigna Indikasi relatif prostatektomi : 1. Pada open prostatektomi dapat dilakukan 2 cara yaitu: suprapubik dan retropubik. kerusakan pada buli-buli dan traktus urinarius bagian atas dari obstruksi 5. batu buli-buli 5. retensi akut 2. batu buli-buli dengan obstruksi kronik 4. yaitu dengan seiring adanya divertikula buli-buli atau batu buli-buli atau jika posisi litotomi tidak memungkinkan untuk dilakukan operasi. Open Simple Prostatektomi Jika ukuran prostat terlalu besar untuk dipindahkan secara endoskopi. infeksi traktus urinarius berulang dari obstruksi 6. residual urin 4. Kelenjar prostate lebih dari 100 g biasanya dilakukan suatu enukleasi terbuka. frekuensi BAK yang mengganggu tidur atau kerja perubahan obstruksi awal pada buli-buli serta traktus urinarius bagian atas 3. BPH dengan komplikasi Pembesaran kelenjar prostat bukan indikasi prostatektomi. Indikasi absolut prostatektomi : 1. maka diperlukan suatu enukleasi terbuka. Setelah 26 . obstruksi kronik dengan eksaserbasi akut 3. Open prostatektomi mungkin dapat pula berguna.

Pada simple retropubik hanya digunakan 1 kateter. Setelah adenoma di angkat. kemudian pada potongan tumpul dengan menggunakan jari dibuat untuk memindahkan adenoma. right angle fibre. dimana sebelumnya telah dipasang kateter uretra dan suprapubik sebelum di lakukan penutupan. Terapi Laser Ada 4 sumber tenaga yang digunakan pada terapi ini yaitu : Nd YAG. KTP YAG. lalu adenomanya di enukleasi. Pemotongan pada bidang datar harus sangat tajam.buli-buli di buka kemudian dibuat satu potongan semisirkuler pada mukosa buli-buli. Beberapa perbedaan tehnik Necro coagulation telah diketahui :  Transurethral Laser Induced Prostatectomy (TULIP) Dilakukan dengan cara menggunakan panduan memakai USG Transurethral. Pada simple retropubik prostatektomi buli-buli tidak di masuki. perlahan mungkin ditarik dari leher buli-buli sampai ke apex. Holmium YAG. dan diode yang dipancarkan melalui bare fibre. distal dari trigonum. Terapi Invasif Minimal I. Untuk mengetahui kedalamannya dapat dilihat melalui USG. Kemudian insisi pada daerah kapsul prostate yang akan di operasi. interstitial fibre. 27 . Alat-alat pada TULIP diletakkan di dalam uretra dan USG Transurethral digunakan untuk menuntun alat TULIP. setelah hemostasis dicapai dengan melakukan penjahitan. Pada potongan apical juga dibuat setajam mungkin untuk menghindari injuri terhadap distal spingter mekanisme. 4.

 Visual Contact Ablative Cara ini merupakan cara yang membutuhkan waktu yang lama. III. Penggunaan cara ini hanya dapat mengurangi sedikit gejala iritasinya saja. perdarahan minimal. Teknik ini cukup aman. (2) gejalanya jarang timbul lagi. lasernya ditembakan langsung. karena di lakukan dengan cara meletakkan serat dari lasernya langsung berada didalam jaringan prostat yang dapat menguap. (3) bertambahnya gejala iritasi. Kerugiannya adalah : (1) kurangnya jaringan patologik yang tersedia.  Terapi Laser Intersitiel Pada cara ini seratnya diletakkan langsung pada prostat. sehingga mengakibatkan lapisan submukosanya mengalami nekrosis koagulasi. Pada setiap penusukan. II. Keuntungan dari penggunaan bedah laser adalah (1) perdarahannya minimal. Namun hanya dapat dilakukan pada prostat yang tidak terlalu besar (<50 gram) dan butuh waktu operasi lebih lama. dan biasanya dibawah kendali cytoskopi. (2) membutuhkan waktu saat kateterisasi post operasi.pasien rawat jalan. (4) dapat dilakukan pada pasien. sehingga mampu membuat vaporisasi kelenjar prostat. Termoterapi 28 . Elektrovaporasi Prostat Sama dengan TURP. karena mukosa dari uretera berbeda dan sisa dari jaringan prostatnya dipisahkan serta jaringan dari prostatnya diresobpsi. (3) berguna pada pasien – pasien yang menggunakan terapi antikoagulan. masa rawat di RS lebih singkat. hanya teknik ini memakai roller ball yang spesifik dan dengan mesin diatermi yang cukup kuat.

sehingga menyebabkan nekrosis jaringan prostat. Pada pembesaran lobus medial dan leher buli – buli tidak dapat menggunakan metode ini. Alat ini didesain khusus sebagai USG dengan dual fungsi yang diletakkan direktum. pasien seringkali masih mengeluh hematuria. V. Morbiditas rendah. High – intensity focused ultrasound (HIFU) Metode ini merupakan bentuk lain dari ablasi thermal jaringan. disuria. kadang retensi urine dan epididimo-orkitis. Direkomendasikan bagi prostat yang ukurannya kecil. Sistem ini terdiri dari kateter TUNA yang dihubungkan dengan generator. Transurethral needle ablation of the prostate (TUNA) Metode ini memakai energi dari frekuensi radio yang menimbulkan panas sampai 100o.Energi panas bersamaan gelombang mikro dipancarkan melalui kateter transuretra. dapat dilakukan tanpa anestesi. Probenya dapat digunakan untuk memberikan gambaran prostat dan juga dapat menghantarkan ledakan kecil dari energi USG yang terfokus dengan kekuatan tinggi yang mana dapat mengakibatkan panasnya jaringan prostat dan dapat mengakibatkan suatu nekrosis koagulasi. Metode ini tidak dapat digunakan pada terapi pembesaran lobus medial dan leher buli – buli . 29 . Metode ini memerlukan anestesi umum. dapat dijalani oleh pasien dengan kondisi kurang baik jika menjalani pembedahan. Besar dan arah pancaran energi diatur sehingga dapat melunakkan jaringan prostat yang membuntu uretra. IV.

Metode ini sangat efektif pada prostat – prostat dengan ukuran kecil ( < 40 cm3 ). VII. Intrauretrhal stenting Intrauretrhal stenting merupakan suatu alat yang secara endoskopi diletakkan didalam fossa prostatika dan dibuat untuk menahan bentuk dari uretrha pars prostatika. 30 .Transurethral balloon dilatation of the prostate Dilatasi balon dari kelenjar prostat dibentuk secara khusus dengan suatu kateter yang mampu mendilatasi fossa prostatika saja atau fossa prosatika dan leher buli –buli. Alat ini dibuat secara khusus digunakan pada pasien pasien dengan angka harapan hidup terbatas dan bukan pada pasien – pasien dengan indikasi operasi. rasa tidak enak di daerah penis.VI. pasien masih merasakan keluhan miksi berupa gejala iritatif. Namun setelah pemasangan kateter ini. perdarahan uretra.

Ronardy. Sabiston.Keuntungannya : mudah digunakan.uk 31 . Wim. Buku Ajar Ilmu Bedah edisi 2. Devi H. Purnomo. David C. Jakarta: EGC. alih bahasa.uk www. Dasar-dasar Urologi. Jakarta: EGC. R Sjamsihidajat (ed).prostateinformation. 2003 2. www.de. Basuki B.1994 3. 2004 4.co. editor. De Jong. sejauh ini tidak menimbulkan impotent.prostata-therapie. DAFTAR PUSTAKA 1. hospitalisasi yang minimal.co. aman. Petrus Andrianto. Buku Ajar Bedah bagian 2: (Sabiston’s Essentials Surgery).

dan terlindung oleh otot-otot dan organorgan lain. Cedera yang mengenai organ urogenitalia bias merupakan cedera dari luar berupa trauma tumpul maupun trauma tajam. penderajatan Trauma Ginjal Derajat Jenis kerusakan Derajat I Derajat II Derajat III Kontusio ginjal/hematoma perirenal Laserasi ginjal terbatas pada korteks Laserasi ginjal sampai pada medulla ginjal. mungkin terdapat thrombosis arteri segmentalis Derajat IV Laserasi sampai mengenai system kalises ginjal 32 . Goncangan ginjal didalam rongga retroperitoneum menyebabkan regangan pedikel ginjal sehingga menimbulkan robekan tunika intima arteri renalis. trauma ginjal dibedakan menjadi : Table 1. Penderajatan Trauma Ginjal Menurut derajat berat ringannya kerusakan ginjal. Cedera ginjal dapat terjadi secara: (1) langsung akibat benturan yang mengenai daerah pinggan atau (2) tidak langsung yaitu merupakan cedera deselerasi akibat pergerakan ginjal secara tiba-tiba didalam rongga retroperitoneum. dan cedera iatrogenic. Robekan ini akan memacu terbentuknya bekuan-bekuan darah yang selanjutnya dapat menimbulkan thrombosis arteri renalis beserta cabang-cabangnya. karena itu cedera ginjal tidak jarang diikuti oleh cedera organ-organ yang mengitarinya. TRAUMA GINJAL Ginjal terletak dirongga retroperitoneum dan terlindung oleh otot-otot punggung sebelah posterior dan oleh organ-organ intraperitoneal di sebelah anteriornya.TRAUMA UROGENITALIA Secara anatomis sebagian besar organ urogenitalia terletak di rongga ekstraperitoneal (kecuali genitalia eksterna).

2. Trauma tembus pada daerah abdomen atau pinggang 5. mungkin terjadi thrombosis arteri renalis o Ginjal terbelah (shatered) Diagnosis Patut dicurigai adanya cedera pada ginjal jika terdapat : 1. dan perut bagian atas dengan disertai nyeri atau didapatkan adanya jejas pada daerah itu. Pada trauma major atau rupture pedikel seringkali pasien dating dalam keadaan syok berat dan terdapat hematoma didaerah pinggang yang makin lama makin membesar. Trauma didaerah pinggang. Pembuatan PIV dikerjakan jika diduga ada (1) luka tusuk atau luka tembak yang mengenai ginjal. punggung. Jika PIV belum dapat menerangkan keadaan ginjal perlu dilakukan pemeriksaan CT scan atau arteriografi. Pencitraan Pemeriksaan pencitraan dimulai dari PIV guna menilai tingkat kerusakan ginjal dan melihat keadaan ginjal kontralateral. dan (3) cedera tumpul ginjal yang menberikan tanda-tanda hematuria mikroskopik dengan disertai syok. Hematuria 3. (2) cedera tumpul ginjal yang memberikan tanda-tanda hematuria makroskopik. Pemeriksaan PIV pada kontusio renis sering menunjukkan gambaran system pelvikalises normal. Pada trauma derajat ringan mungkin hanya didapatkan nyeri didaerah pinggang terlihat jejas berupa ekimosis. Fraktur kosta sebelah bawah (T8-12) atau fraktur prosesus spinosus vertebra 4. Kadang kala 33 . Cedera deselerasi yang berat akibat jatuh dari ketinggian atau kecelakaan lalu lintas.Derajat V o Avulse pedikel ginjal. dada sebelah bawah. dan terdapat hematuria makroskopik ataupun mikroskopik. Dalam keadaan ini pemeriksaan ultrasonografi abdomen dapat menunjukkan adanya hematoma parenkim ginjal yang terbatas pada subkapsuler dan dengan kapsul ginjal yang masih utuh.

trauma major dan trauma pedikel sering menimbulkan perdarahan yang hebat dan berakhir dengan 34 . Operasi Operasi ditujukan pada trauma ginjal major dengan tujuan untuk segera menghentikan perdarahan.kontusio renis yang cukup luas menyebabkan hematoma dan edema yang hebat sehingga memberikan gambaran system pelvikalises yang spstik atau bahkan tak tampak (non visualized). dan perubahan warna urine pada pemeriksaan urine serial. reparasi ginjal (berupa renorafi atau penyambungan vaskuler) atau tidak jarang harus dilakukan nefrektomi parsial bahkan nefrektomi total karena kerusakan ginjal yang sangat berat. Pada keadaan ini dilakukan observasi tanda-tanda vital (tensi. Ekstravasasi ini akan tampak semakin luas pada ginjal yang mengalami fragmentasi (terbelah) pada cedera derajat V. kemungkinan adanya penambahan massa dipinggang. nadi dan suhu tubuh). 2. Penyulit Jika tidak mendapatkan perawatan yang cepat dan tepat. hal ini karena terobeknya system pelvikalises ginjal. adanya pembesaran lingkaran perut. Konservatif Tindakan konservatif ditujukan pada trauma minor. penurunan kadar hemoglobin darah. Pada derajat PIV tampak adanya ekstravasasi kontras. System pelvikalises yang tak nampak pada PIV dapat pula terjadi pada rupture pedikel atau pasien yang berada dalam keadaan syok berat pada saat menjalani pemeriksaan PIV. Pengelolaan Terapi yang dikaerjakan pada trauma ginjal adalah : 1. Selanjutnya mungkin perlu dilakukan debridement.

crushing karena terjepit oleh klem.kematian. Table 2. atau bedah vaskuler) dapat menyebabkan terjadinya cedera ureter iatrogenic. Cedera yang terjadi pada ureter akibat tindakan operasi terbuka dapat berupa: ureter terikat. Operasi endourologi transureter (ureteroskopi atau uterorenoskopi. putus (robek). bedah digestif. atau trauma iatrogenic. urolitiasis atau pielonefritis kronis. atau litotripsi batu ureter) dan perasi didaerah pelvis (diantaranya adalah operasi ginekologi. kecurigaan Cedera Ureter Iatrogenik 35 . Dikemudian hari pasca cedera ginjal dapat menimbulkan penyulit berupa hipertensi. Diagnosis Kecurigaan adanya cedera ureter pada trauma dari luar adalah hematuria pasca trauma. hidronefrosis. Selain itu kebocoran system kaliks dapat menimbulkan ekstravasasi urin hingga menimbulkan urinoma. urosepsis. atau devaskularisasi karena banyak jaringan vaskuler yang dibersihkan. dan kadang menimbulkan fistula renokutan. sedangkan kecurigaan adanya cedera ureter iatrogenic bias diketemukan pada saat operasi atau setelah pembedahan (lihat table 2). ekstraksi batu dengan Dormia. abses perirenal. TRAUMA URETER Cedera ini dapat terjadi karena trauma dari luar yaitu trauma tumpul maupun trauma tajam.

dan letak serta derajat lesi ureter. keadaan umum pasien. Inplantasi ureter ke buli-buli (neoimplantasi ureter pada buli-buli. Nefrostomi sebagai tindakan diversi atau nefrektomi. atau Psoas hitch) 3. Uretero-kutaneostomi 4. Tindakan yang dikerjakan mungkin : 1. Ureter saling disambungkan (anastomosis end to end) 2.Saat operasi Pasca bedah Lapangan operasi banyak cairan Hematuria Anuri/oliguri jika cedera bilateral Demam Ileus Nyeri pinggang akibat obstrusi Luka operasi selalu basah Sampai beberapa hari cairan drainase jernih dan banyak Hematuria persisten dan hematoma/urinoma di abdomen Fistula uterokutan/fistula uterovagina Tindakan Tindakan yang dilakukan terhadap cedera ureter tergantung pada saat cedera ureter terdiagnosis. 36 . flap Boari. Transuretero-ureterotomi (menyambung ureter dengan ureter pada sisi yang lain) 5.

TRAUMA BULI-BULI Pada waktu lahir hingga usia anak. Etiologi Kurang lebih 90% trauma tumpul buli-buli adalah akibat fraktur pelvis. adanya organ lain yang 37 . dapat merobek buli-buli. buli-buli terletak di rongga abdomen. buli-buli mudah sekali robek jiak mendapatkan tekanan dari luar berupa benturan pada perut sebelah bawah. Dalam keadaan penuh terisi urin. bagian buli-buli yang mengalami cedera yaitu intra/ekstraperitoneal. Buli-buli akan robek pada daerah fundus dan menyebabkan ekstravasasi uri ke rongga intraperitoneum. Tindakan endourologi dapat menyebabkan trauma buli-buli iatrogenic antara lain pada reseksi buli-buli transurethral (TUR buli-buli) atau pada litotripsi. Fiksasi buli-buli pada tulang pelvis oleh fasia endopelvik dan diafragma pelvis sangat kuat sehingga cedera deselerasi terutama jika titik fiksasi fasia bergerak pada arah berlawanan (seperti pada fraktur pelvis). Gambaran klinis yang lain tergantung pada etiologi trauma. cedera buli-buli ekstraperitoneal. Namun semakin bertambahnya usia. miksi bercampur darah atau mungkin pasien tidak dapat miksi. tempatnya turun dan terlindung di dalam kavum pelvis. Robeknya buli-buli karena fraktur pelvis bisa pula terjadi akibat fragmen tulang pelvis merobek dindingnya. Diagnosis Setelah mengalami cedera pada abdomen sebelah bawah. sehingga kemungkinan mendapatkan trauma dari luar jarang terjadi. Klasifikasi Secara klinis cedera buli-buli dibedakan menjadi kontusio buli-buli. pasien mengeluh nyeri didaerah suprasimfisis. Demikian pula partus kasep atau tindakan operasi di daerah pelvis dapat menyebabkan trauma iatrogenic pada buli-buli. cedera intraperitoneal.

Dalam hal ini mungkin didapatkan tanda fraktur pelvis. syok. 38 . Dengan cara ini diharapkan buli-buli sembuh setelah 7-10 hari. (2) pada posisi oblik. terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan sistografi guna melihat kemungkinan masih adanya ekstravasasi urin. atau tanpa tanda sepsis dari suatu peritonitis atau abses perivesika. serta penyulit yang terjadi akibat trauma. dan (3) wash out film yaitu foto setelah kontras dikeluarkan dari buli-buli. Jika masih ada ekstravasasi kateter sistostomi dipertahankan sampai 3 minggu. cukup dilakukan pemasangan kateter dengan tujuan untuk memberikan instirahat pada buli-buli. hematoma perivesika. Rongga intraperitoneum dicuci. yaitu (1) foto pada saat buli-buli terisi kontras dalam posisi anterior-posterior (AP). Terapi Pada kontusio buli-buli. Pemeriksaan pencitraan berupa sistografi yaitu dengan memasukkan kontras kedalam buli-buli sebanyak 300-400 ml secara gravitasi (tanpa tekanan) melalui kateter per-uretram. robekan yang sederhana (ekstravasasi minimal) dianjurkan untuk memasang kateter selama 7-10 hari. Namun tanpa tindakan pembedahan kejadian kegagalan penyembuhan luka ± 15%.mengalami cedera. Pada cedera ekstraperitoneal. Oleh karena itu jika bersamaan dengan rupture buli-buli terdapat cedera organ lain yang membutuhkan operasi. sebelum melepas kateter uretra atau kateter sistostomi. robekan pada buli-buli dijahit 2 lapis. Kemudian dibuat beberapa foto. Sistografi dibuat pada hari ke 10-14 pasca trauma. sebaiknya dilakukan penjahitan buli-buli dan pemasangan kateter sistostomi. Pada cedera intraperitoneal harus dilakukan eksplorasi laparatomi untuk mencari robekan pada buli-buli serta kemungkinan cedera pada organ lain. Jika tidak dioperasi ekstravasasi urin ke rongga intraperitoneum dapat menyebabkan peritonitis. Untuk memastikan bahwa buli-buli telah sembuh. tetapi sebagian ahli lain menganjurkan untuk melakukan penjahitan buli-buli denagn pemasangan kateter sistostomi. kemudian dipasang kateter sistostomi yang dilewatkan di luar sayatan laparatomi. dan kemungkinan untuk terjadinya infeksi pada rongga perivesika sebesar 12%.

TRAUMA URETRA Secara klinis trauma uretra dibedakan menjadi trauma uretra anterior dan trauma uretra posterior. hal ini karena keduanya menunjukkan perbedaan dalam hal etiologi trauma. seringkali pasien mengalami retensi urin. serta prognosisnya. Etiologi Trauma uretra terjadi akibat cedera yang berasal dari luar (eksternal) dan cedera iatrogenic akibat instrumentasi pada uretra. tanda klinis. Diagnosis ditegakkan melalui foto uretrografi dengan memasukkan kontras melalui uretra. guna mengetahui adanya rupture uretra. pengelolaan. Kedua keadaan itu dapat menyebabkan sepsis yang dapat mengancam jiwa. karena dapat menyebabkan kerusakan uretra yang lebih parah. Gambaran klinis Kecurigaan adanya trauma uretra adalah jika didapatkan perdarahan peruretram yaitu terdapat darah yang keluar dari meatus uretra eksternum setelah mengalami trauma.Penyulit Pada cedera buli-buli ekstraperitoneal. Pada trauma uretra yang berat. sedangkan trauma tumpul pada selangkangan atau straddle injury dapat menyebabkan rupture uretra pars bulbosa. Yang lebih berat lagi adalah robekan buli-buli intraperitoneal. Pada keadaan ini tidak diperbolehkan melakukan pemasangan kateter. 39 . dapat menimbulkan peritonitis akibat dari ekstravasasi urin pada rongga intraperitoneum. ekstravasasi urin ke rongga pelvis yang dibiarkan dalam waktu lama dapat menyebabkan infeksi dan abses pelvis. Trauma tumpul tang menimbulkan fraktur tulang pelvis menyebabkan rupture uretra pars membranasea. jika tidak segera dilakukan operasi.

Ruptura Uretra Posterior Rupture uretra posterior paling sering disebabkan oleh fraktur tulang pelvis. Fraktur yang mengenai ramus atau simfisis pubis dan menimbulkan kerusakan pada cincin pelvis, menyebabkan robekan uretra pars prostate-membranasea. Klasifikasi Colapinto dan McCollum (1976) membagi derjat cedera uretra dalam 3 jenis : 1. Uretra posterior masih utuh dan hanya mengalami stretching (peregangan). 2. Uretra posterior terputus pada perbatasan prostate-membranasea, selanjutnya diafragma urogenitalia masih utuh. 3. Uretra posterior, diafragma urogenitalis, dan uretra pars bulbosa sebelah proksimal ikut rusak. Diagnosis Rupture uretra posterior seringkali memberikan gambaran yang khas berupa: (1) perdarahan per-uretram, (2) retensi urin, dan (3) pada pemeriksaan colok dubur didapatkan adanya floating prostate (prostat melayang) di dalam suatu hematom. Pada pemeriksaan uretrografi retrigrad mungkin terdapat elongasi uretra atau ekstravasasi kontra pada pars prostate-membranasea. Tindakan Pada keadaan akut tindakan yang dilakukan adalah melakukan sistostomi untuk diversi urin. Setelah keadaan stabil sebagian ahli urologi melakukan primary endoscopic realignment yaitu melakukan pemasangan kateter uretra sebagai splint melalui tuntunan uretroskopi. Dengan cara ini diharapkan kedua ujung uretra yang terpisah dapat saling didekatkan. Tindakan ini dilakukan sebelum 1 minggu pasca rupture dan kateter uretra dipertahankan selama 14 hari. Penyulit Penyulit yang terjadi pada rupture uretra adalah striktura uretra yang seringkali kambuh, disfungsi ereksi, dan inkontinensia urin. 40

Rupture Uretra Anterior Cedera dari luar yang sering menyebabkan kerusakan uretra anterior adalah straddle injury (cedera selangkangan) yaitu uretra terjepit diantara tulang pelvis dan benda tumpul. Jenis kerusakan urerta yang terjadi berupa: kontusio dinding uretra, rupture parsial, atau rupture total dinding uretra. Patologi Jika terjadi rupture uretra beserta korpus spongiosum, darah dan urin keluar dari uretra tetapi masih terbatas pada fasia Buck, dan secara klinis terlihat hematoma yang terbatas pada penis. Namun jika fasia Buck ikut robek, ekstravasasi urin dan darah hanya dibatasi oleh fasia Colles sehingga darah dapat menjalar hingga skrotum atau ke dinding abdomen. Oleh karena itu robekan ini memberikan gambaran seperti kupu-kupu sehingga disebut butterfly hematoma atau hematoma kupu-kupu. Diagnosis Pada kontusio uretra, pasien mengeluh adanya perdarahan per-uretram atau hematuria. Jika terdapat robekan pada korpus spongiosum, terlihat adanya hematom pada penis atau hematoma kupu-kupu. Pada keadaan ini seringkali pasien tidak dapat miksi.

Tindakan Kontusio uretra tidak memerlukan terapi khusus, tetapi mengingat cedera ini dapat menimbulkan penyulit striktura uretra dikemudian hari, maka setelah 4 – 6 bulan perlu dilakukan pemeriksaan uretrografi ulangan. Pada rupture uretra parsial dengan ekstravasasi ringan, cukup dilakukan sistostomi untuk mengalihkan aliran urin. Kateter sistostomi dipertahankan sampai 2 minggu, dan dilepas setelah diyakinkan melalui pemeriksaan uretrografi bahwa sudah tidak ada ekstravasasi

kontras atau tidak timbul striktura uretra. Namun jika timbul striktura uretra, dilakukan reparasi uretra atau stachse.

41

TRAUMA PENIS
Trauma yang mencederai penis dapat berupa trauma tumpul, truma tajam, terkena mesin pabrik, rupture tunika albuginea, atau strangulasi penis. Pada trauma tumpul atau terkena mesin, jika tidak terjadi amputasi total, penis cukup dibersihkan dan dilakukan penjahitan primer. Jika terjadi amputasi penis total dan bagian distal dapat diidentifikasi, dianjurkan dicuci dengan larutan faram fisiologis kemudian disimpan didalam kantung es, dan dikirim ke pusat rujukan. Jika masih mungkin dilakukan replantasi (penyambungan) secara mikroskopik. Fraktur Penis Fraktur penis adalah rupture tunika albuenia korpus kavernosum penis yang terjadi pada saat penis dalam keadan ereksi. Rupture ini dapat disebabkan karena dibengkokkan sendiri oleh pasien pada saat masturbasi, dibengkokkan oleh pasangannya, atau tertekuk secara tidak sengaja pada saat hubungan seksual. Akibat tertekuk ini, penis menjadi bengkok (angulasi) dan timbul hematoma pada penis dengan disertai nyeri. Untuk mengetahui letak rupture, pasien perlu menjalani pemeriksaan foto kavernosografi yaitu memasukkan kontras kedalam korpus kavernosum dan kemudian diperhatikan adanya ekstravasasi kontras keluar dari tunika albugenia. Tindakan Eksplorasi rupture dengan sayatan sirkuminisi, kemudian dilakukan evakuasi hematoma. Selanjutnya dilakukan penjahitan pada robekan tunika albugenia. Strangulasi Penis Strangulasi penis adalah jeratan pada pangkal penis yang menyebabkan gangguan aliran darah pada penis. Gangguan aliran darah ini mengakibatkan penis menjadi iskemia dan edema yang jika dibiarkan akan menjadi nekrosis. Jeratan pada penis harus segera ditanggulangi dengan melepaskan cincin atau penjerat yang melingkar pada penis.

42

43 . (2) melingkarkan tali pada penis pada sebelah distal logam dan kemudian melepaskannya perlahan-lahan. sedative. luka tumpul. atau luka bakar. Pertolongan pertama adalah memberikan analgetika. dianjrkan membuat kantong dip aha atau di inguinal guna meletakkan testis.Beberapa cara untuk melepaskan cincin yang menjerat batang penis adalah (1) memotong logam itu dengan gerinda atau gergaji listrik. tetapi diusahakan sedapat mungkin jangan terlalu banyak membuang kulit skrotum yang masih hidup karena skrotum penting untuk membungkus testis. serta transquiliser untuk menenangkan pasien. atau (3) melakukan insisi pada penis yang telah mengalami edema dengan tujuan membuang cairan (edema0 sehingga logam dapat dikeluarkan. crushing. Dilakukan debridement jaringan yang mengalami nekrosis. Jika kulit skrotum yang tersisa tidak cukup untuk membungkus testis. luka tajam. Trauma genitalia eksterna Trauma yang dapat terjadi pada trauma genitalia eksterna adalah avulsi. Kemudian dilakukan pencucian luka dari debris dan rambut yang menempel dengan melakukan irigasi memakai air bersi dan kalau tersedia dengan garam fisiologis. Avulsi Avulse adalah kehilangan sebagian atau seluruh dinding skrotum.

hidrokel testis 2. hidrokel dapat terjadi secara idiopatik (primer) dan sekunder. kantong hidrokel seolah-olah mengelilingi testis sehingga testis tak dapat diraba. Gambaran Klinis Pasien mengeluh adanya benjolan di kantong skrotum yang tidak nyeri. Dalam keadaan normal. belum sempurnanya system limfatik di daerah skrotum dalam melakukan reabsorbsi cairan hidrokel. Pada hirokel yang terinfeksi atau kulit skrotm yang sangat tebal kadang-kadang sulit melakukan pemeriksaan ini. cairan yang berada di dalam rongga memang ada dan berada dalam keseimbangan antara produksi dan reabsorpsi oleh system limfatik disekitarnya. Etiologi Hidrokel yang terjadi pada bayi baru lahir dapat disebabkan karena: 1. Pada pemeriksaan fisis didapatkan adanya benjolan di kantong skrotum dengan konsistensi kistus dan pada pemeriksaan penerawangan menunjukkan adanya transiluminasi. secara klinis dibedakan beberapa macam hidrokel yaitu: 1.Hidrokel Testis Definisi Hidrokel adalah penumpukan cairan yang berlebihan diantara lapisan parietalis dan viseralis tunika vaginalis. sehingga harus dibantu dengan pemeriksaan ultrasonografi. 44 . atau trama pada tstis/epididimis. hidrokel funikulus 3. hidrokel komunikan Pada hidrokel testis. Peyebab sekunder terjadi karena didapatkan kelainan pada testis atau epididimitis yang menyebabkan terganggunya system sekresi atau reabsorbsi cairan di kantong hidrokel. besarnya kanting hidrokel tidak berubah sepanjang hari. Kelainan pada testis itu mungkin suatu tumor. Pada anamnesis. infeksi. Menurut letak kantong hidrokel terhadap testis. belum sempurnanya prosesus vaginalis 2. Pada orang dewasa.

kantong hidrokel besarnya dapat berubah-ubah yaitu bertambah besar pada saat anak menangis. sekaligus 45 . kadang kala dapat menimbulkan penyulit berupa infeksi. sehingga pada palpasi. indikasi kosmetik 3. Pada anamnesis. testis dapat diraba dan berada di luar kantong hidrokel. Pada palpasi. Tindakan untuk megatasi cairan hidrokel adalah dengan aspirasi dan operasi. hidrokel akan sembuh sendiri. Pada hidrokel congenital dilakukan pendekatan inguinal karena seringkali hidrokel ini disertai dengan hernia inguinalis sehingga pada saat operasi hidrokel. kantong hidrokel berada di funikulus yaitu terletak disebelah cranial dari testis. Beberapa indikasi untuk melakukan operasi pada hidrokel adalah: 1. Pada hirokel komunikan terdapat hubungan antara prosesus vaginalis dengan rongga peritoneum sehingga prosesus vaginalis dapat terisi cairan peritoneum. hidrokel yang besar sehingga dapat menekan pembuluh darah 2.Pada hidrokel funikulus. tetapi jika hidrokel masih tetap ada atau bertambah besar perlu dipikirkan untuk dilakukan koreksi. Aspirasi cairan hidrokel tidak dianjurkan karena angka kekambuhan tinggi. hidrokel permagna yang dirasakan terlalu berat dan menganggu pasien dalam melakukan aktivitasnya sehari-hari. kantong hidrokel terpisah dari testis dan dapat dimasukkan kedalam rongga abdomen. Terapi Hidrokel pada bayi biasanya ditunggu hingga anak mencapai usia 2 tahun dengan harapan setelah prosesus vaginalis menutup. Pada anamnesis kantong hidrokel besarnya tetap sepanjang hari.

hal. Sjamsuhidajat R. 140-142 46 . 1997. Sagung seto. Daftar pustaka 1. Penyulit Jika dibiarkan. 2003. CV. Pada hidrokel testis dewasa dilakukan tindakan pendekatan scrotal dengan melakukan eksisi dan marsupialisasi kantong hidrokel dengan cara Winkelman atau plikasi kantong hidrokel sesuai dengan cara Lord. Jakarta. 2nd ed.melakukan herniorafi. Buku Ajar Ilmu Bedah. 797 2. Purnomo B Basuki. Pada hidrokel funikulus dilakukan ekstirpasi hidrokel secara in toto.Brawijaya. hal. hidrokel yang cukup besar mudah mengalami trauma dan hidrokel permagna bisa menekan pembuluh darah yang menuju ke testis sehingga menimbulkan atrofi testis. Edisi revisi. in : dasar-dasar urologi FK univ. Jong Wim de. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

47 . Peninggian tekanan di dalam pleksus pampiniformis dapat diraba sebagai struktur yang terdiri atas varises pleksus pampiniformis yang memberikan kesan raba seperti kumpulan cacing.testis. Permukaan testis normal licin tanpa tonjolan dan konsistensi elastis. Kadang varikokel merupakan faktor kausal gangguan fertilitas sehingga merupakan indikasi ligasi v. walaupun tidak semua varikokel mempengaruhi produksi sperma. Normalnya aliran balik vena memiliki satu arah katup yang berfungsi mencegah terjadinya turbulensi. dan ini terjadi akibat tekanan meninggi di dalam vena testis yang tidak berkatup dari muara di vena kava inferior atau vena renalis sampai di testis.VARIKOKEL PENDAHULUAN Varikokel dapat menyebabkan keluhan testis terasa berat. Diameter normal pleksus pampiniformis > 2 mm. DEFINISI Varikokel adalah dilatasi abnormal vena pada pleksus pampiniformis akibat gangguan aliran darah balik vena spermatika interna. varikokel merupakan penyebab penting rendahnya produksi sperma dan menurunnya kualitas sperma.

ETIOLOGI DAN ANATOMI Hingga sekarang belum diketahui secara pasti penyebab varikokel. Hal ini disebabkan karena vena spermatika interna kiri bermuara pada vena renalis kiri dengan arah tegak lurus. Banyak kasus varikokel yang berlangsung asimptomatis atau tanpa gejala. Varikokel sering ditemukan pada usia 15-25 tahun dan jarang ditemukan pada pria diatas 40 tahun. Jika terdapat varikokel di sebelah kanan atau varikokel bilateral patut dicurigai adanya : Kelainan rongga retroperitoneal ( obstruksi vena karena tumor ) Muara vena spermatika kanan pada vena renalis kanan Adanya situs inversus.INSIDENS Varikokel merupakan salah satu penyebab yang menyebabkan buruknya produksi sperma dan berkurangnya kualitas semen. sedang yang kanan bermuara pada vena kava dengan arah miring. Disamping itu vena spermatika interna kiri lebih panjang daripada yang kanan dan katupnya lebih sedikit dan inkompeten. KLASIFIKASI 48 . tetapi dari pengamatan membuktikan bahwa varikokel sebelah kiri lebih sering dijumpai ( 7093 % ). Kelainan ini terdapat pada 15 % pria dan didapatkan 21-41 % pria yang mandul menderita varikokel.

saat baring varikokel tidak nampak Derajat 3 : varikokel teraba dan terlihat jelas saat pasien berdiri tanpa maneuver valsava. Terjadi stagnasi darah balik pada sirkulasi testis sehingga testis mengalami hipoksia karena kekurangan oksigen 2. 3. Refluks hasil metabolit ginjal dan adrenal ( katekolamin dan prostaglandin ) melalui vena spermatika interna ke testis. seringkali disertai nyeri PATOGENESIS Varikokel dapat menimbulkan gangguan proses spermatogenesis melalui beberapa cara. Peningkatan suhu testis. memungkinkan zat-zat hasil metabolit dialirkan dari testis kiri ke testis kanan sehingga menyebabkan gangguan spermatogenesis testis kanan. Gejala klinis varikokel ditandai : Rasa tidak enak/berat di daerah testis. antara lain : 1. besar varikokel dibagi 4 derajat sesuai anjuran Glezerman : Derajat 1 : varikokel teraba saat pasien berdiri dan lakukan maneuver valsava berulang kali Derajat 2 : varikokel terlihat saat pasien berdiri dan maneuver valsava sekali. 4. pada akhirnya terjadi infertilitas. GAMBARAN KLINIS Pasien datang ke dokter biasanya mengeluh belum : mempunyai anak setelah beberapa tahun menikah atau kadang mengeluh adanya benjolan di atas testis yang terasa nyeri. Adanya anastomosis antara pleksus pampiniformis kiri dan kanan.Untuk keseragaman klinis. Saat berbaring varikokel tidak terlihat jelas Derajat 4 : varikokel terlihat jelas baik pasien berdiri maupun duduk. Semakin terasa bila penderita banyak berdiri dan cenderung lebih berat sore hari Benjolan diatas testis Nyeri daerah inguino-skrotalis ketika berdiri atau duduk lama Mengecilnya bentuk testis ( atropi testis ) 49 .

d. b. alat ini untuk mendeteksi adanya peningkatan aliran darah pada pleksus pampiniformis. Untuk itu diperlukan pemeriksaan penunjang lainnya : a. Stetoskop Doppler Pemeriksaan dengan auskultasi. Jika diperlukan. USG atau CT scan USG dan CT scan bukanlah standard evaluasi kecuali pemeriksaan fisis tidak menemukan kesimpulan yang memuaskan. pada inspeksi dan palpasi terdapat bentukan seperti kumpulan cacing dalam kantung sebelah cranial testis. dengan memperhatikan keadaan skrotum kemudian dilakukan palpasi. Orkidometer Supaya lebih objektif menetukan besar/volume testis dilakukan pengapuran dengan alat ini. c. Pemeriksaan analisis semen Untuk menentukan seberapa jauh varikokel telah menyebabkan kerusakan pada tubuli seminiferi. Jika terdapat varikokel. pasien diminta untuk melakukan maneuver valsava atau mengedan. DIAGNOSIS BANDING  Hernia inguinalis 50 .DIAGNOSIS Pemeriksaan dilakukan dalam posisi berdiri. Kadangkala sulit untuk menemukan adanya bentukan varikokel secara klinis meskipun terdapat tanda-tanda lain yang menunjukkan adanya varikokel.

 Hidrokel  Kista epididimis KOMPLIKASI   Atrofi testis Infertilitas TERAPI Masih terjadi silang pendapat di antara para ahli tentang perlu tidaknya melakukan operasi. Varikokelektomi cara ivanisevich. Setelah diketahui adanya hubungan varikokel dengan infertilitas. 51 . Tindakan yang dikerjakan adalah : Ligasi tinggi vena spermatika interna secara palomo melalui operasi terbuka/bedah laparoskopi. tindakan operasi lebih dititikbertakan pada koreksi gangguan fertilitas tersebut. Diantara mereka ada yang berpendapat bahwa varikokel yang telah menimbulkan gangguan infertilitas atau gangguan spermatogenesis merupakan indikasi mendapatkan suatu terapi. Perkutan dengan memasukan bahan sklerosing dalam vena spermatika interna.

52 .

EVALUSI Pasca tindakan dilakukan evaluasi keberhasilan terapi. Belum diketahui secara pasti penyebab varikokel. Varikokel sering ditemukan pada usia 15-25 tahun dan 53 . dengan melihat beberapa indikator antara lain :  Bertambahnya volume testis  Perbaikan hasil analisis semen ( tiap 3 bulan )  Pasangan menjadi hamil Pada kerusakan testis yang belum parah. tetapi dari pengamatan membuktikan bahwa varikokel kiri lebih sering dijumpai ( 70-93 % ). evaluasi pasca bedah vasoligasi tinggi dari palomo didapatkan :    80 % terjadi perbaikan volume testis 60-80 % terjadi perbaikan analisis semen 50 % pasangan menjadi hamil KESIMPULAN Varikokel adalah dilatasi abnormal vena pada pleksus pampiniformis akibat gangguan aliran darah balik vena spermatika interna.

2nd ed. DAFTAR PUSTAKA 1. Sagung seto.Brawijaya.2008 54 . hal. Buku Ajar Ilmu Bedah. Merupakan slah satu penyebab yang menyebabkan buruknya produksi sperma dan berkurangnya kualitas semen. Setelah diketahui adanya hubungan varikokel dengan infertilitas. in : dasar-dasar urologi FK univ. 2003. Varicocele. Jakarta.mayoclinic.com/health/Varicocele/DS00618 accessed on januari 20. 142-145 2. Jong Wim de. CV.available from : http://www. Sjamsuhidajat R. Jakarta. tindakan operasi lebih dititik beratkan pada koreksi gangguan fertilitas tersebut. 1997. Edisi revisi. hal.jarang ditemukan pada pria diatas 40 tahun. Purnomo B Basuki. Penerbit Buku Kedokteran EGC. 797 3.

batuk. Terjadinya torsio testis pada masa remaja banyak dikaitkan dengan kelainan system penyanggah testis. latihan yang berlebihan. epididmis. Keadaan ini menyebabkan testis dan epididimis dengan mudahnya bergerak di kantung tunika vaginalis dan menggantung pada funikulus spermatikus. Pada permukaan anterior dan lateral. celana yang terlalu ketat. Kelainan ini dikenal sebagai anomaly bell-clapper. Keadaan ini akan memudahkan testis mengalami torsio intravaginal. ketakutan. antara lain adalah perubahan suhu yang mendadak (seperti pada saat berenang). testis dan epididimis dikelilingi oleh tunika vaginalis yang terdiri atas 2 lapis. Pada masa janin dan neonates lapisan parietal yang menempel pada muskulus dartos masih belum banyak jaringan penyanggahnya sehingga testis. Pathogenesis Secara fisiologis otot kremaster berfungsi menggerakkan testis mendekati dan menjauhi rongga abdomen guna mempertahankan suhu ideal untuk testis. Beberapa keadaan yang menyebabkan pergerakan yang berlebihan itu.TORSIO TESTIS Torsio testis adalah terpluntirnya funikulus spermatikus yang berakibat terjadinya gangguan aliran darah pada testis. atau trauma yang mengenai skrotum. 55 . Adanya kelainan system penyanggah testis menyebabkan testis dapat mengalami torsio jika bergerak secara berlebihan. yaitu lapisan viseralis yang langsung menempel ke testis dan di sebelah luarnya adalah lapisan parietalis yang menempel ke muskulus dartos pada dinding skrotum. pada kelainan ini tunika mengelilingi seluruh permukaan testis sehingga mencegah insersi epididimis ke dinding skrotum. Terpluntirnya testis pada keadaan ini disebut torsio testis ekstravaginal. tunika vaginalis mudah sekali bergerak dan memungkinkan untuk terpluntir pada sumbu funikulus spermatikus. Anatomi Testis normal dibungkus oleh tunika albugenia. defekasi. Tunika vaginalis yang seharusnya mengelilingi sebagian dari testis pada permukaan anterior dan lateral dari testis.

Terpluntirnya funikulus spermatikus menyebabkan obstrusi aliran darah testis sehingga testis mengalami hipoksia. edema testis. Operasi Tindakan operasi ini dimaksudkan untuk mengembalikan posisi testis pada arah yang benar (reposisi) dan setelah itu dilakukan penilaian apakah testis yang mengalami torsio masih viable (hidup) atau sudah mengalami nekrosis. Pada bayi gejalanya tidak khas yakni gelisah. yaitu dengan jalan memutar testis kearah berlawanan dengan arah torsio. letaknya lebih tinggi dan lebih horizontal daripada testis sisi kontralateral. Hidrokel terinfeksi 4. Gambaran klinis dan diagnosis Pasien mengeluh nyeri hebat didaerah skrotum. terjadi peningkatan aliran darah ke testis. kecuali pada torsio testis yang sudah lama dan telah mengalami keradangan steril. Kadang-kadang pada torsio testis yang baru saja terjadi dapat diraba adanya lilitan atau penebalan funikulus spermatikus. Pemeriksaan sedimen urin tidak menunjukkan adanya leukosit dalam urin dan pemeriksaan darah tidak menunjukkan adanya tanda inflamasi. yang sifatnya mendadak dan diikuti pembengkakan pada testis. ultrasonografi Doppler. Pada akhirnya testis akan mengalami nekrosis. Pada pemeriksaan fisik. Edema skrotum. Pemeriksaan penunjang yang berguna untuk membedakan torsio tesris dengan keadaan akut skrotum yang lain adalah dengan memakai: stetoskop Doppler. Tumor testis 5. testis membengkak. Epididimis akut 2. dan sitigrafi testis yang kesemuanya bertujuan menilai adanya aliran darah ke testis. rewel atau tidak mau menyusui. 56 . Diagnosis Banding 1. dan iskemia. Hernia skrotalis inkarserata 3. Terapi Detorsi Manual Detorsi manual adalah mengembalikan posisi testis keasalnya. Pada torsio testis tidak didapatkan adanya aliran darah ke testis sedangkan pada keradangan akut testis. Keadaan itu dikena sebagai akut skrotum.

sedangkan pada testis yang sudah mengalami nekrosis dilakukan pengangkatan testis (orkidektomi) dan kemudian disusul orkidopeksi pada testis kontralateral.Jika testis masih hidup dilakukan orkidopeksi (fiksasi testis) pada tunika dartos kemudian disusul orkodopeksi pada testis kontralateral. 57 . Orkidopeksi dilakukan dengan mempergunakan benang yang tidak diserap pada 3 tempat untuk mencegah agar testis tidak terpluntir kembali.

diafragma urogenital. Saluran ini menutup apabila kosong. Anatomi Traktus urinarius terdiri atas kaliks mayor dan minor. pendulous. berada dalam vestibulum vagina. di ventralis dari ostium vagina. dan paling distal. ureter. Berjalan melalui diafragma pelvis dan diafragma urogenital. Striktur uretra adalah penyempitan uretra karena berkurangnya diameter dan atau elastisitas uretra akibat digantinya jaringan uretra dengan jaringan ikat yang kemudian mengerut. pelvis renalis. vesica urinaria dan uretra. Muaranya disebut ostium uretra eksternum. korpus kavernosum uretra sampai bagian akhir glans penis. 1. 58 .STRIKTUR URETRA Pendahuluan Penyakit striktur uretra telah ditemukan sejak dahulu. Uretra anterior merupakan bagian uretra pria yang memanjang dari bulbus ke meatus di puncak glans penis. Striktur uretra dapat berasal dari berbagai sebab. sejak Yunani Kuno menulis tentang pembuatan drainase vesica urinaria dengan berbagai kateter. terbagi atas uretra anterior dan uretra posterior. Bagian ini terdiri dari tiga bagian yaitu bagian bulbus. yang disebut straddle injury. di antara kedua ujung anterior labia minora. bagian glandular. terletak di bagian anterior vagina. Uretra pada pria termasuk kelenjar prostat. Mempunyai ukuran sepanjang 20 cm. merupakan bagian uretra yang melewati bulbus penis. menembus korpus kavernosum. Pars bulbaris: terletak di proksimal. Uretra merupakan suatu saluran fibromuscular yang dilalui oleh urin yang mengalir keluar dari vesica urinaria. Panjang 4 cm. dan dapat tanpa gejala atau muncul dengan ketidaknyamanan yang berat sebagai efek sekunder dari retensi urin. Striktura uretra sering terjadi di pars bulbaris karena sebagian besar striktur uretra terjadi karena trauma di daerah perineal. Uretra pada wanita adalah suatu saluran yang pendek dari vesica urinaria ke ostium uretra eksternum.

Kalau bagian uretra yang lain dilapisi oleh epitel kolumner berlapis. Pars glandis: bagian uretra di glans penis. Merupakan bagian yang terpendek dan tersempit. Uretra posterior merupakan bagian uretra yang berjalan dari vesica urinaria ke bulbus. berjalan di dalam bulbus penis. Bagian distal dari uretra pars prostatika sedikit lebih lebar daripada proksimal. Memiliki panjang kira-kira 1-2 cm. mulai dari basis prostat sampai apeks prostat dengan panjang kira-kira 3 cm. Pars kavernous berada di dalam korpus kavernosum penis. Uretra ini sangat pendek dan epitelnya sudah berupa epitel squamosa (squamous compleks noncornificatum). Pars prostatika berjalan menembusi prostat. korpus penis sampai ke glans penis panjang kira-kira 15 cm. Misalnya: 59 . 2. Pars pendulan/cavernosa/spongiosa: bagian uretra yang melewati corpus spongiosum penis. Kongenital Hal ini jarang terjadi.2. 3. serta kurang mampu berdilatasi. Pars membranous berada di antara lapisan diafragma urogenital. Etiologi Keadaan-keadaan yang dapat menyebabkan striktur uretra : 1. 3. dan terdiri dari: 1.

antara prostat dan os pubis dihubungkan oleh lig. 2. jaringan penggantinya juga epitel squamous. baik spesifik maupun non spesifik (GO. Kalau pengobatannya tidak tuntas. 3. Kalau pada uretritis kronik. ligamentum tertarik. a. misalnya sadle sepeda. Sehingga kalau ada trauma disini. misalnya karena straddle injury. Pembedahan terbuka atau endoskopik 60 . uretritisnya bisa menjadi kronik. merupakan penyebab tersering striktur uretra. pasien harus diberi tahu bahwa pengobatannya harus sempurna. jaringan penggantinya adalah jarinqan lumen uretra menjadi sempit. Di dalam bedah urologi dikatakan bahwa sekali striktur maka selamanya striktur. ataupun tumornya itu sendiri yang mengakibatkan sumbatan uretra 5. setelah penyembuhan. trauma uretra anterior. Kalau kita menemukan pasien dengan urteritis akut. Infeksi Seperti uretritis. Jadi seperti kita ketahui. Namun kini perkembangan antibiotik telah menyebabkan penurunan komplikasi infeksi gonorrhea. terjadi dibagian-bagian yang terfiksir seperti bulbus dan prostat. b. Akibatnya Itulah dan elastisitas ureter menghilang. Pada straddle injury. katerisasi). sehingga menimbulkan trauma uretra pars bulbaris. puboprostaticum. setelah sembuh jaringan penggantinya sama dengan iarinqan asal. Jadi memang sebagian besar striktura uretra Di pars Trauma uretra posterior bisa sobek. TBC).a. prostatektomi. Trauma Merupakan penyebab terbesar striktura (fraktur pelvis. Infeksi gonorrhea pada uretra biasa menjadi penyebab utama striktur uretra. 4. Divertikula kongenital -> penyebab proses striktura uretra. yaitu proses penyembuhan tumor yang menyebabkan striktura uretra. Jadi kalau asalnya epitel squamous. Meatus kecil pada meatus ektopik pada pasien hipospodia. Fraktur/trauma pada pelvis dapat menyebabkan cedera pada uretra posterior. sebabnya pasien harus benar-benar diberi tahu agar menuntaskan pengobatan. Tumor Tumor bisa menyebabkan striktura melalui dua cara. fibrous. tindakan sistoskopi. Pada uretritis akut. perineal terkena benda keras. pendulan jarang terjadi cedera karena sifatnya yang mobile. Trauma uretra anterior. b.

2. Jaringan sikatrik pada lumen menimbulkan hambatan aliran urine sehingga terjadi retensi urine. pemasangan kateter juga dapat menyebabkan striktur. Sedang : jika terdapat oklusi 1/3 sampai ½ diameter lumen uretra. Frekuensi Disebut frekuensi apabila kencing lebih sering dari normal. Walaupun jarang. Bila terjadi abses multiple atau berulang sehingga terbentuk beberapa fistel yang disebut fistel seruling. Normalnya. yaitu lebih dari tuiuh kali. Fase dekompensasi yang timbul pada saat vesica urinaria berkontraksi menimbulkan residu urin yang memudahkan terjadinya infeksi. Striktur uretra terjadi setelah perlukaan pada urotelium atau korpus spongiosum yang menyebabkan pembentukan jaringan parut. Pada penyempitan derajat berat kadang kala teraba jaringan keras di korpus spongiosum yang dikenal dengan spongiofibrosis. pancaran urin jauh dan diameternya besar. yang akan pecah membentuk fistula uretrokutan. Derajat Penyempitan Uretra 1. Dikatakan nocturia 61 . 2. Apabila sering kencing di malam hari disebut nocturia. Jika terinfeksi dapat terjadi abses periuretra. Pancaran air kencing bercabang Pada pemeriksaan sangat penting untuk ditanyakan bagaimana pancaran urinnya. 3. Aliran urine yang terhambat mencari jalan keluar di tempat lain (proksimal dari striktur) dan akhirnya mengumpul di rongga periuretra. Pancaran air kencing lemah.Prosedur bedah yang melibatkan uretra dapat menghasilkan striktur. maka pancarannya akan jadi turbulen. 3. Patofisiologi Proses radang akibat trauma atau infeksi pada uretra akan menyebabkan terbentuknya jaringan sikatrik pada uretra. yang merupakan keluhan paling sering. Ringan : jika oklusi yang terjadi kurang dari 1/3 diameter lumen uretra. Gejala Klinis Gejala striktur uretra meliputi : 1. Mirip seperti pancaran keran di westafel kalau ditutup sebagian. Tapi kalau terjadi penyempitan karena striktur. Berat : jika terdapat oklusi lebih besar dari ½ diameter lumen uretra.

misalnya akibat paralisis musculus sphincter uretra. Fisik : a. Jadi disini terlihat adanya perbedaan antara overflow inkontinensia (inkontinesia paradoksal) dengan flow incontinentia. Tekanan di vesica menjadi lebih tinggi daripada tekanan di uretra. Meatus kecil c. urin keluar tanpa adanya keinginan untuk kencing. Radiologi a. pasien merasa ingin kencing (karena vesicanya penuh). Pemeriksaan 1. b. Kalau pada overflow incontinence. karena memang letaknya di uretra. Vesika urinaria dapat teraba karena ada retensio urine. kencing lebih dari satu kali. Keadaan umum pasien jelek bila telah lama akibat adanya perubahan pada faal ginjal (infeksi -> striktur -> refluks -> hidroureter -> hidronefrosis -> faal ginjal turun). Pemeriksaan tidak dilakukan bila terdapat infeksi uretra yang akut. 2. namun urin keluar tanpa bisa dikontrol. Tidak jelas. Uretrosistografi Pemeriksaan urethrocystography ini diindikasikan setelah terjadi trauma. Keadaan umum pasien baik 7. Vesika terlihat menonjol di atas simfisis pubis. Itulah sebabnya disebut inkontinensia paradoxal. Pada urethrocystography bahan kontras dimasukkan dengan semprit yang ujungnya sesuai dengan meatus uretra eksterna. Dysuria dan hematuria 6. bila terdapat darah dalam urin serta dicurigai terjadi fraktur pelvis. Overflow incontinence (inkontinensia paradoxal) Terjadi karena meningkatnya tekanan di vesica akibat penumpukan urin yang terus menerus. 4. diisi sampai kontras masuk ke vesica urinaria. 5.apabila di malam hari. dan keinginan kencingnya itu sampai membangunkannya dari tidur sehingga mengganggu tidurnya. 62 . Akibatnya urin dapat keluar sendiri tanpa terkontrol. Pada flow incontinenntia. kecuali bila ada fistula uretrocutaneus.

Vesica urinaria diisi melalui kateter (alternatif lain melalui pungsi vesica suprapubik) dengan medium kontras yang dapat larut dalam air dan telah dihangatkan sesuai dengan suhu tubuh sebanyak 200 ml. Jika mungkin. sebelumnya harus memasukkan anestetik lokal ke dalam uretra. Kontras bisa di atas (pool atas lewat vesika urinaria) ataupun di bawah (pool bawah lewat uretra). Vesica urinaria perlu diperiksa dari posisi anterior. lateral dan oblik untuk menemukan adanya fistula. Pemeriksaan dengan cara memasukkan kateter. b. divertikel atau ruptur. si pemeriksa harus memakai apron dan sarung tangan Pb. Pengambilan foto radiografi selama miksi termasuk posisi oblik ureter distal. Pemasukan medium kontras diatur dengan fluoroskopi intermitten. Biasanya juga terlihat ekstravasasi kontras. Kontras dimasukkan setelah balon dikembangkan. 63 . Pada orang dewasa. Uretrosistografi bipolar (untuk mengetahui panjang.Selain itu. pemeriksaan juga dapat dilakukan dengan cara menggunakan klem atau dengan cara memasukkan kateter kecil ke distal penis. dan setelah beberapa menit kateter Foley dimasukkan sampai balonnya terletak lebih kurang 1 cm dari lubang uretra. serta total tidaknya striktur). sehingga panjang dan juga ketebalan striktur dapat diketahui. Foto diambil pada waktu pengisian kontras dengan posisi antero-posterior. posisi miksi pada pasien pria yang paling mudah adalah posisi berdiri. vesica urinaria dan uretra. vesica urinaria diisi dari botol yang diangkat setinggi 1 m di atas meja pemeriksaan dan pengisian dilanjutkan sampai penderita merasakan keinginan kuat untuk miksi. striktur uretra menyebabkan dilatasi uretra bagian distal dari obstruksi. Keuntungan Uretrosistografi bipolar : Mengetahui persis panjang striktur Mengetahui total penyempitan Mengetahui persis lokasinya c. Pasien wanita dapat duduk. Pada gambaran urethrocystography. Oleh karena itu. Micturating Cystourethrography Pemeriksaan radiografi vesica urinaria dan uretra setelah pengisian medium kontras dan selama miksi. Dikatakan striktur total bila sampai tidak ada kontras yang tersisa pada striktur. oblik kanan dan kiri.

dimana kadar ureum/kreatinin naik menunjukkan adanya kerusakan fungsi ginjal. Selain itu juga dilakukan pemeriksaan darah rutin. Melihat anatomi saluran kencing bagian atas . plastik) Yaitu dengan memasukkan bahan dari logam atau plastik untuk memperlebar saluran yang mengalami penyempitan tadi. 3. Kadang tidak terlihat. dengan tanda khas berupa hambatan pada waktu lepas. Diagnosis pasti dibuat dengan pemeriksaan yang dikenal dengan uretrografi retrograde atau urethrocystography. Diagnosis Diagnosis pertama kali ditegakkan ketika pemasangan kateter melalui uretra tidak dapat dilakukan. Hb. Diagnosa Banding Ruptura Uretra Gambaran ekstravasasi kontras. Melihat sisa urin (Post Voiding/ PV) pada striktur parsial yang biasanya disertai BPH (Benign Prostate Hyperplasy). uretra posterior terlihat dilatasi. Konservatif: bouginasi (logam. 64 . dengan melihat ada tidaknya tulang pelvis yang retak. BPH Terapi 1. Melihat tulang pelvis (post trauma). b. tetapi karakteristik uretra posterior adalah gambaran suatu balon. Laboratorium Pemeriksaan darah menilai faal ginjal.Selama micturating cystourethrography. IVP IVP dilakukan untuk: a. Striktur dapat juga dicurigai berdasarkan gejala dan riwayat medik seseorang. c. Diagnosis pasti pada wanita adalah dengan bougie a boule.

sehingga bahan tadi bisa tembus ke rektum. Jika panjang. Tindakan ini dapat dilakukan untuk pasien pasca prostatektomi dan striktura yang parsial. yaitu uretroplasti berupa menutup uretra yang terbuka dengan mengambil dari preputium. Operatif a. Striktur uretra rekuren 4. Terbentuknya divertikel uretra/ buli-buli 5. ada 2 cara.Hal ini harus dilakukan dengan hati-hati. karena yang melakukan harus tahu betul bentuk uretra. dapat berupa otis (tanpa lensa) dan dengan sache (dengan lensa). bentuk uretra diubah dulu menjadi bentuk huruf L atau U. atau dari belakang daun telinga. Terbuka. Abses periuretra 65 . mukosa buccal. yaitu: Jika pendek (0. Panjangnya < 0.5 cm. Infeksi traktus urinarius 2. Oleh karena itulah sewaktu dilakukan tindakan. yaitu hipospodia artifisial. Itulah sebabnya pada pemasangan kateter. Komplikasi 1. Terutama sekali di daerah pars bulbaris.5-1 cm) -> reseksi anastomose end to end. fiksasi dilakukan di bagian depan paha atau di abdomen bagian bawah. yaitu: Tahap I. Bentuk uretra seperti huruf S. Maksudnya untuk membuat uretra menjadi berbentuk L atau U itu tadi. tapi di Indonesia teknik ini dilakukan juga pada striktura yang panjangnya 1-2 cm (asal partial). akibat tingkat residifnya tinggi. maka tidak dianastomose lagi karena bentuknya bisa seperti belut ketika ereksi. 2. Untuk striktur yang panjang ini operasi dilakukan dalam dua tahap menurut Johansen. dibuat hipospodia (muara uretra terletak di ventral proksimal dari penis) Tahap II. Indikasi Sache adalah: Struktur lumen masih berlubang (incomplete) Striktur pendek. Prosedur sache ini yang paling sering digunakan. b. Dapat terjadi cedera di bagian belokan. Fistula uretrokutan 3. Tertutup (uretrotomi interna).

blogspot. Karsinoma uretra Pencegahan Tindakan pencegahan yang paling penting adalah berhati-hati terutama dalam pemasangan kateter.kalbefarma.html http://www.6.html http://agusjati.medicastore.com/2005/11/striktur-uretra.com 66 . Batu uretra 7.com http://www.com/2006/05/striktura-uretra.blogspot. DAFTAR PUSTAKA http://medika.

uretra. Gejala yang penting dan sering dianggap remeh adalah adanya hematuri yang berulang. M adalah penyebaran secara hematogen ke organ-organ lain yang letaknya berjauhan dari tumor primer. Diberi tanda M0 . dinilai dengan adanya pembesaran limfonoduli yang mengandung sel-sel ganas. Hematuri ini sering sembuh sendiri sehingga pasien tidak datang untuk berobat dan tumor tetap tumbuh dan membesar serta mengadakan penyebaran terus sehingga pasien biasanya datang dengan stadium yang sudah lanjut. Manifestasi klinis tergantung dari letak tumor. Keganasan urogenital dapat terjadi mulai dari ginjal. T adalah tingkat pertumbuhan tumor di dalam organ atau tingkat penyebaran tumor ke organ sekitarnya. stadium dan penyulit yang disebabkan oleh tumor tersebut. N diberi tanda N0 – N3. N adalah penyebaran tumor secara limfogen. Metastasis pada organ lain juga dapat terjadi dan dapat mengakibatkan gangguan organ tersebut dan memberikan manifestasi klinis pada organ yang terkena. prostat. T diberi tanda T0 .T4.TUMOR UROGENITAL Pendahuluan Tumor traktus urogenitalia merupakan keganasan yang sering ditemukan pada tempat praktek sehari hari yang mungkin terlewatkan karena kurang kewaspadaan dokter mengenali penyakit ini. tingkat tumor dinyatakan dengan system TNM atau Tomor Nodul Metastasis. Stadium Pengukuran derajat penyebaran tumor diukur dalam stadium tumor menurut UICC ( union International Centre Le Cancere ) atau perhimpunan kanker internasional. ureter. Sedangkan penulisan derajat diferensiasi sel berdasarkan atas pemeriksaan histopatologi dengan : G1 : diferensiasi baik G2 : diferensiasi sedang G3 : diferensiasi buruk Untuk mengetahui apakah sel-sel telah menjadi ganas dpat dilakukan pemeriksaan patologi yaitu sitopatologi melalui pemeriksaan sitologi urine dan 67 . buli-buli.M1. testis dan penis.

Tumor ginjal jinak lebih jarang ditemukan daripada tumor ganas. lipoma. TUMOR GINJAL Di rumah sakit merupakan tumor saluran kemih ketiga terbanyak yang ditemukan setelah tumor prostat dan tumor buli-buli. Untuk mengetahui ganas tidaknya suatu jaringan yang diperiksa. onkositoma. 68 . Tumor pada kortex ginjal dibagi menjadi jinak dan ganas. Tumor pada saluran ginjal juga dibagi menjadi jinak dan ganas. stadium patologi dan derajat diferensiasi tumor untuk menegakkan diagnosis suatu keganasan menggunakan suatu pemeriksaan histopatologis dengan bahan pemeriksaan yang didapat dari biopsy jaringan atau specimen lengkap hasil operasi. pembuluh darah dan otot polos. Tumor ginjal berdasarkan letak dibagi menjadi dua : tumor pada kortex ginjal dan tumor pada system saluran ginjal. epilepsy. Tumor ini sering terjadi pada pasien dengan tuberous sklerosis atau penyakit boumeville yaitu kelainan bawaan yang ditandai dengan retardasi mental. Sedangkan tumor ganas saluran ginjal adalah tumor pelvis renalis. adenoma sebaseum dan hamartoma. Tumor saluran ginjal jinak adalah pailoma. Namun sering banyaknya penggunaan USG abdomen sebagai screening di klinik-klinik rawat jalan makin banyak ditemukan tumor ginjal yang masih dalam stadium jinak.sitologi yang diperoleh dari FNAB ( Fine Nedlee Aspiration Biopsy ) atau BJAH ( Biopsi Aspirasi Jarum Halus ). Tumor ganas kortex adalah adenokarsinoma dan nefroblastoma. Tumor ini banyak menyerang wanita dewasa daripada pria dengan ratio 4 : 1. jenis histopatologinya. hamartoma. Hamartoma ginjal Hamartoma atau angiomiolipoma merupakan tumor yang terdiri dari komponen lemak. Gambaran klinis Pada hamartoma sering tanpa gejala biasanya ditemukan tidak sengaja pada pemeriksaan USG. Gejala klinisyang mungkin dikeluhkan adalah nyeri pinggang. Tumor jinak kortex adalah adenoma.

Gambaran klinis Biasanya tumor tidak bergejala atau biasanya pasien dibawa ke dokter karena perutnya membuncit karena teraba adanya massa. Gambaran ini patognomonis untuk hamartoma. hematogen. Kadang juga ditemukan hematuri dan hipertensi.5 tahun. Penyebaran tumor ini dapat terajdi secara ekspansi lokal dengan simpai. struma dan epitel. Tumor terdapat pada ginjal dan dapat di eksisi dengan sempurna 69 . Diagnosis Hamartoma dapat ditentukan dengan USG yang memberikan gambaran hiperekoik dan dapat pula dikonfirmasi dengan CT scan ampak area dengan densitas negative. Atau dapat pula bersamaan dengan penyakit tuberous sklerosis. Penatalaksanaan Jika tumor kecil dan tidak mengganggu tidak perlu diobati tetapi jika tumor besar dan mengganggu dilakukan nefrektomi. melalui vena kava atau vena renalis atau secara limfogen.hematuri. Biasanya terjadi pada anak-anak dibawah umur 10 tahun dan paling sering terjadi pada anak umur 3. Biasanya terjadi unilateral tetapi dapat juga terjadi bilateral. Stadium NWTS ( Natinal Wilm’s Tumor Study ) membagi tingkat penyebaran tumor ( setelah dilakukan nefrektomi ) dalam 5 stadium : I.gejal obstruksi saluran kemih bagian atas dan kadang terdapat perdarahan retroperitoneal. Nefroblastoma Tumor ini dikenal dengan tumor Wilms yang berasal blastema metanefrik dan terdiri dari blastema.

Penatalaksanaan Bila tumor masih dalam stadium dini dan ginjal di sebelah kontralateral masih normal dapat dilakukan nefrektomi radikal. Kadang kala diawali dengan pemberian sitostatika dengan kombinasi Actinomycin D dengan Vincristine dan radiasi eksterna karena tumor Wilm’s bersifat radiosensitive. Dan dipastikan dengan pemeriksaan histopatologik. Dan teratoma peritoneum. Tumor meluas keluar ginkal dan dapat dieksisi sempurna. mungkin telah mengadakan penetrasi ke jaringan lemak perirenal. CT scan juga dapat memberi gambaran pembesaran ginjal dan sekaligus menunjukkan pembesaran kelenjar regional atau infiltrasi tumor ke jaringan sekitarnya.II. Diagnosis banding Hidronefrosis atau kista ginjal yang merupakan benjolan dengan konsistensi kistik. Pada neuroblastoma biasanya keadaan pasien lebih buruk dan pada pemeriksaan IVP terjadi pendesakan system kaliks gnjal ke kaudolateral serta kadar VMA dalam urin meningkat sedangkan pada tumor Wilm’s kadar VMA normal. limfonoduli para aorta atau vasa renalis. V. Atau dapat juga foto thoraks untuk mengetahui adanya metastasis karena 85 % metastasis ke paru. Ada sisa sel tumor di abdomen yang mungkin berasal dari : biopsy atau rupture yang terjadi sebelum atau selama operasi IV. Tumor ini banyak didapatkan pada pria daripada wanita dengan ratio 2 : 1 dan juga banyak didapatkan pada usia diatas 40 tahun. Factor resiko yang paling dekat menyebabkan tumor ini adalah merokok. Pada pemeriksaan dengan IVP tampak adanya gambaran distorsi system pelvikokalises atau mungkin terdapat ginjal non-visualized. Diagnosis Metastasis hematogen Tumor bilateral Dengan USG ditemukan massa padat pada perut ( retroperitoneal ) sebelah atas. 70 . Biasanya terjadi unilateral. Adenokarsinoma ginjal Tumor ini dikenal dengan nama tumor grawitz dan merupakan tumor ganas parenkim ginjal yang berasal dari tubulus proksimal ginjal. III.

Stadium IV : tumor menjalar ke organ sekitarnya / metastasis jauh. Penatalaksanaan Nefrektomi radikal yaitu mengangkat ginjal dengan kapsula Gerota. anemia karena perdarahan intratumoral. Diagnosis banding Hidronefrosis. Penyebaran tumor ini bisa secara langsung menembus simpai ginjal ke jaringan sekitarnay dan melalui pembuuh limfe atau v. Radiasi eksterna. Sitostatika juga tidak banyak memberikan manfaat. : Tumor masih terbatas dalam ginjal dengan fasia Gerota masih 71 . dan dengan pemerikasaan histopatologis. hiperkalsemia dan gangguan fungsi hati yang non metastatic. Gambaran klinis Didapatkan trias klasik yaitu hematuri makroskopik. Hormonal dengan memberikan progestagen tetapi efeknya belum diketahui. MRI dan arteriografi selektif juga merupakan pilihan untuk menegakkan diagnosis. Stadium III : tumor invasi ke vasa renalis/ v. Stadium Stadium I utuh. Gejala lain yang Nampak adalah febris. Diagnosis Diagnosis ditegakkkan dengan ditemukannya gejala klinis. Kadang ditemukan juga tanda sindroma paraneoplastik seperti polisitemia. pencitraan dengan USG hanya untuk mengetahui massa solid atau tidak. hipertensi. Stadium II : Tumor ke jaringan lemak perirenal dengan fasia Gerota masih utuh. polikistik ginjal dan tuberculosis ginjal. hasilnya tidak memuaskan hanya untuk mencegah metastasis karena tumor ini bersifat radioresisten. kava atau limfonoduli regional. nyeri pinggang dan massa di daerah ginjal merupakan tanda tumor dalam stadium lanjut.renalis. Fasia gerota merupakan barier yang menahan penyebaran tumor ke organ sekitarnya. CT scan merupakan pemeriksaan yang mempunyai akurasi tinggi pada karsinoma ginjal dan juga untuk mengetahui penyebaran tumor.Biasanya tumor ini disertai dengan pseudo kapsul yang terdiri atas parenkim ginjal yang tertekan oleh jaringan tumor dan jaringan fibrosa. Imunoterapi dengan mengguankan Interferon atau dikombinasi dengan interleukin tetapi hasilnya juga belum diketahui.

Karsinoma sel skuamosa. hematuri kambuhan atau gejala dari obstruksi oleh tumor. yang juga dapat menyerang ureter. Tumor ini kurang memberikan respon dengan pemberian sitostatika dan dengan radiasi eksterna. TUMOR URETER Hampir semua tumor ureter adalah karsinoma sel transtitional. Untuk tumor yang sudah menyebar. Jika dicurigai ada massa maka dilakukan pemeriksaan histopatologi. biasanya merupakan metaplasia sel-sel pelvis renalis karena adanya batu yang menahun pada pelvis. Melalui alat uretrorenografi dapat dilihat langsung keadaan pielum. lalu dapat menggunakan USG dan CT scan untuk dapat membedakan apakah massa tersebut batu. kemoterapi dengan cisplastin merupakan cara pengobatan yang dianjurkan. tuberkuloma atau hemangioma pada pielum ginjal. Penatalaksanaan Nefrouretrektomi dilakukan dengan mengangkat sebagian dinding buli-buli sekitar muara ureter yang bersnagkutan. uretra proksimal karena pada organ tersebut juga terdapat sel transtitional. Lebih dari 10 % pasien ini tidak pernah 72 .Tumor pelvis renalis Tumor ini sangat jarang ditemukan. Tumor ini biasanya terdapat pada ureter distal. Keadaan tersebut akibat adanya bendungan akibat tumor sehingga menjadi hidronefrosis. Karsinoma sel trantitional. Diagnosis Diagnosis dapat ditegakkkan dengan ditemukannya gejala klinis. IVP berguna untuk menemukan tumor ini dengan terlihat adanya filling defect dan tampak gambaran massa radiolusen. Pemeriksaan sitologi urin dengan mengambil urin melalui kateter ureter. buli-buli. Kadang disertai juga nyeri pinggang dan teraba massa di pinggang. Angka kejadian tumor ini sangat jarang sekitar 1 % dari seluruh tumor urogenitalia. 2. Gambaran klinis Gejala yang sering dikeluhkan adalah nyeri pinggang. Menurut jenis histopatologisnya tumor ini dibedakan menjadi dua jenis : 1. Gambaran klinis Yang sering dikeluhkan pasien adalah kencing darah ( 80 % ).

non-invasive ( in-situ ).coli dan proteus sp. lemak perivesika lalu kemudian menyebar langsung ke jaringan sekitar dengan limfogen atau hematogen. Pada daerah industry tingkat kejadian meningkat tajam. Pada kelainan jinak sel epitel atipik atau dysplasia mengalami hiperplasi tanpa perubahan 73 . opium dan INH dalam jangka lama juga meningkatkan resiko ). fenasetin. kadang terdapat hidronefrosis atau ginjal non visualized dan dalam keadaan ini dilakukan pemeriksaan pielografi retrograde. perokok. ureter berada di cuff buli-buli sebanyak 2 cm di sekeliling muara ureter. penggunaan obat seperti siklofosfamid. ( resiko meningkat 2-6 kali dari yang tidak merokok ). otot. pemanis buatan. Diagnosis Diagnosis dapat ditegakkan dengan ditemukannya gejala klinis. Bentuk tumor buli-buli : papiller. laboratorium. Untuk tumor yang terdapt pada distal ureter dapat dilakukan reseksi parsial ureter dan muaranya di kandung kemih serta neoureterovesikostomi. salon sering terpapar bahan karsinogen berupa senyawa amin aromatic ). Menghasilkan zat nitrosamine yang karsinogenik ). Penatalaksanaan Nefroureterektomi dengan mengangkat ginjal.mengeluh dan tumor diketemukan secara tidak sengaja pada saat screening dengan USG atau pada pemeriksaan IVP. Sitologi urin diambil urine dengan memakai kateter uretre dan kadang dilakukan biopsy dengan alat brush biopsy. ISK ( E. IVP berguna untuk menemukan tumor ini dengan terlihat adanya filling defect di dalam lumen ureter. Tumor ini dua kali lebih banyak pada pria daripada wanita. pabrik kulit. makanan dan obat-obatan ( kebiasaan mengkonsumsi kopi.tumor ganas ini berkembang dari epitel yang atipik atau dysplasia yang berupa lesi yang mengalami proliferasi dan mengalamai infiltrasi ke lamina propria. Fktor resiko yang mempermudah terjadinya karsinoma buli-buli adalah : pekerjaan ( pekerja di pabrik kimia. tekstil. TUMOR BULI-BULI Tumor ini merupakan keganasan kedua terbanayk pada system urogenital setelah karsinoma prostat. Pemakaian uretroskopi lebih dianjurkan untuk melihat langsung tumor dan sekaligus melakukan biopsy. noduler ( infiltrative ) atau campuran ( papiller dan infiltrative ).

Cara ini tidak banyak dipakai lagi karena menimbulkan bnayak penyulit. BCG. Keluhan akibat penyakit yang lanjut seperti obstruksi saluran kemih karena retensi bekuan darah atau edema tungkai karena adanya penekanan kelenjat limfe oleh massa tumor. Pemeriksaan antigen permukaan sel dan flow cytometri berguna untuk mendeteksi adanya kelainan kromoso sel-sel uretelium. parsial atau total bila penyebaran karsinoma telah sampai otot vesika. 74 . Kadang terdapat gejala iritasi seperti disuria. membuat anastomosis kedua ureter kedalam sigmoid. CT scan dan MRI berguna untuk menentukan ekstensi tumor ke organ sekitarnay dan dipastikan dengan pemeriksaan histopatologi untuk jaringan tumor. Jika dilakukan sistektomi radikal maka selanjutnya aliran urin dari ureter dilakukan melalui beberapa cara diversi urin. Gambaran klinis Perlu diwaspadai jika pasien datang dengan mengeluh hematuri yang bersifat tanpa rasa nyeri ( painless ). Doksorubisin atau dengan interferon. Dilakukan juga terapi adjuvant dengan kemoterapi sistemik. Dilakukan pembedahan dengan cara sistektomi radikal. Jika didapatkan hidroureter dan hidronefrosis merupakan salah satu tanda adanya infiltrasi tumor ke ureter atau muara ureter. Uretrosigmoidostomi. Lalu dilakukan kemoterapi secara intravesikal dengan memberikan obat-obat Mitomisin C. Pada sistography dan IVP tampak filling defect dalam kandung kemih. kambuhan ( intermiten ) dan terjadi pada seluruh miksi ( hematuri total ). Radiasi eksterna dilakukan setelah TUR buli-buli atau setelah sistektomi. Diagnosis Selain melihat dari gambaran klinisnya pemeriksaan bimanual sangat berguna untuk menentukan infiltrasi. Secara histopatologis sebagian besar tumor ini adalah karsinoma sel transisional ( 90 % ). tidak dapat menahan kemih dan polakisuri pada karsinoma in situ yang sudah mengadakan infiltrasi luas. Pemeriksaan sitologi urin untuk memeriksa sel-sel urotelium yang terlepas bersama urin. sedangkan jenis lainnya karsinoma sel skuamosa ( 10 % ) dan adenokarsinoma ( 2 % ). Siklofosfamid. antara lain : 1.sel atau inti. 5 FU. Penatalaksanaan Tindakan endoskopik merupakan terapi baku karsinoma bili-buli melalui reseksi transurethral ( TUR buli-buli ).

Cara ini kurang praktis jadi saat ini jarang digunakan. Diversi urin kontinen. Karsinoma prostat sering terjadi pada zona perifer ( 75 % ) dan pada zona sentral dan transtitional ( 20 % ). Conduit usus. sedangkan untuk mengeluarkan urin dipasang kateter menetap melalui sebuah stoma. susu binatang. 3. betakaroten. Diversi urin orthotopic. Beberapa faktor yang diduga sebagai penyebab timbulnya karsinoma prostat adalah predisposisis genetika. hormonal. mengganti buli-buli dengan ileum sebagai penampang urin. Sedangkan vitamin A. Kemungkinan menderita karsinoma prostat meningkat jika dalam keluarganya ada yang menderita tumor ini. diet. urin lalu dikeluarkan dengan melakukan kateterisasi mandiri melalui stoma secara berkala. Insidens ini akhir-akhir ini meningkat karena meningkatnya umur harapan hidup. Semua pasien buli-buli harus melakukan pemeriksaan secara berkala dan secara rutin dilakukan pemeriksaan klinis. membuat neoblader dari segmen usus halus yang kemudian dilakukan anastomosis dengan uretra. Keganasan prostat ini biasanya merupakan adenokarsinoma yang berasal dari kelenjar prostat yang hipotrofik pada usia decade kelima sampai ketujuh. mengganti buli-buli dengan segmen ileum dengan membuat stoma yang kontinen ( dapt menahan urin pada volume tertentu ). Tumor ini menyerang pada usiadiatas usia 50 tahun. Teknik ini dirasa lebih fisiologis untuk pasien. Biasanya karsinoma ini berupa lesi multisentrik. likofen pada tomat. sitologi urin dan sistoskopi. selenium ( yang terdapat pada ikan laut.2. pengaruh kebiasaan hidup sehari hari. TUMOR PROSTAT Merupakan keganasan urogenital yang terbanyak. penegakkan diagnosis yang lebih baik dan kewaspadaan tiap-tiap individu mengenai keganasan ini menjadi meningkat karena adanya informasi mengenai di berbagai media. 4. isoflavon atau fitosterol pada kedelai. daging dan biji-bijian ) dan vitamin E di duga dapat menurunkan insidens kanker prostat. Derajat keganasan pada 75 . Kanker ini jarang menyerang pada usia dibawah 45 tahun. Diet yang mengandung banyak lemak. daging merah dan hati diduga meningkatkan kejadian kanker prostat. karena berkemih tetap melalui uretra dan tidak melalyui stoma yang dipasang di abdomen. lingkungan dan infeksi.

atipik sel dan kelainan inti sel. fraktur pada tempat metastasis atau kelainan neurologic jika metastasis ke tulang vertebra. dan otak. Lebih dari 10 % pasien mengeluh adanya gangguan saluran kemih berupa kesulitan miksi. Kebanyakan penderita datang pada stadium lamjut dengan tanda obstruksi atau tanda metastasis ke organ lain. pemeriksan fisik yang penting adalah colok dubur. Diagnosis Selain melihat dari gejala klinisnya. v. Tumor yang berada pada kelenjar prostat tumbuh menembus kapsul prostat dan mengadakan infiltrasi ke organ sekitarnya. Pembagian derajat keganasan ini merupakan indicator pertumbuhan daan progesifitas tumor. Untuk keganasan prostat dikenal dengan petanda tumor fosfatase asam prostat ( PAP ) dan Antigen khas prostat ( Prostate Spesific Antigen ) yang sensitivitasnya 76 . Pada stadium dini sulit dideteksi sengan colok dubur sehingga untuk mendiagnosa dibantu dengan ultrasonography transrectal ( TRUS ). Diagnosis pasti hanya dengan pemeriksaan patologik. Metastasis ke tulang umumnya bersifat osteoblastik. Kanker pada stadium dini biasanya diketahui pada saat colok dubur berupa nodul keras pada prostat atau secara kebetulan diketemukan adanya peningkatan PSA ( Prostate Specific Antigen ) pada saat pemeriksaan laboratorium. kanker juga dapat menekan rectum sehingga mengeluh kesulitan BAB. disuri atau hematuri yang menunjukkan bahwa kankaer telah menekan uretra. Gambaran klinis Pada kanker prostat dini biasanya belum menunjukkan gejala apa-apa.lumbalis. Cara lain untuk mendapatkan bahan pemeriksaan adalah dengan aspirasi jarum halus ( fine needle aspiration = FNA ). paru. Penyebaran secara limfogen melalui kelenjar limfe melalui kelnjar limfe daerah pelvis menuju kelenjar limfe retroperitoneal. kosta.tumor ini berdasarkan atas diferensiasi sel. Kanker prostat yang sudah metastasis ke tulang menyebabkan nyeri pada tulang. Walaupun jarng. MRI lebih akurat dalam menentukan ekstensi tumor ke ekstrakapsuler atau ke vesikula seminalis. hepar. Derajat G I yaitu berdiferensiasi baik. G II yang berdiferensiasi sedang dan G III yang berdiferensiasi buruk. CT scan dapat untuk mengetahui adanya metastasis. Jika dicurigai ada daerah hipoekoik selanjutnya dilakukan biopsy transrectal pada area tersebut dengan bimbingan TRUS. Sediaan biopsy dapat diperoleh dengan menggunakan jarum biopsy besar secara transrectal atau transperineal.

atrofi atau infeksi testis dan pengaruh hormone. Sebagian bear tumor ini berasal dari sel germinal ( 95 % ) yang terdiri atas seminoma dan non seminoma sedangkan isinya berasal dari non germinal. Tetapi dengan tekhnik nerve sparring dapat dicegah terjadinya penyulit. sel sertoli dan gonadoblastoma. Pada stadium yang masih dini dilakukan observasi seumur hidup. Tumor non germinal diantaranya adalah tumor sel leydig. tetap lebih tinggi dibandingkan PAP. disfungsi ereksi dan inkontinensia. TUMOR TESTIS Tumor ini merupakan keganasan terbanyak pada pria yang berusia 15-35 tahun dan merupakan 1-2 % semua neoplasma pada pria. trauma testis. Pemberian radiasi biasanya didahului dengan limfadektomi dan dengan cara terapi hormonal. Prostatektomi radikal dilakukan pada stadium T1-2N0M0 dengan mengangkat seluruh prostat dan vesikula seminalis. Sifat seminoma berbeda dengan non seminoma antara lain derajat keganasannya. tetapi berdasarkan teori dari hugin’s yaitu : “ sel epitel prostat akan mengalami atrofi jika sumber androgen ditiadakan. Radiasi dilakukan untuk pasien tua dan tumor yang telah mengadakan metastasis. 77 . derajat diferensiasinya dan umur harapan hidup. Penyebab tumor belum diketahui pasti. PSA dapat digunakan untuk mengikuti perkembangan penyakit atau hasil pengobatan. respons terhadap radiasi dan prognosisnya. Pada metastasis tulang kadar PSA darah meningkat. Perbaikan pada pasien ini sekarang menjadi lebih baik karena etrdapat sarana diagnosis yang lebih baik karena terdapat sarana diagmosis yang lebih baik dan diketemukan patanda tumor serta tekhnik pembedahan yang lebih baik.tinggi dan spesifisitasnya tidak terlalu tinggi. Penatalaksanaan Tindakan yang dilakukan tergantung daripada stsium. Jadi pada terapi ini dilakukan dengan pemberian obat untuk melakukan blockade androgen total. PSA kadang juga meninggi pada hipertrofi prostat dan peninggian ini proporsional dengan berat jaringan prostat. Selain untuk keperluan diagnosis. tetapi terdapat beberapa factor yang meningkatkan insidens terjadinya tumor ini. yaitu : maldesensus testis. hanya pada operasi ini dapat terjadi penyulit seperti perdarahan.

teratokarsinoma atau tumor yolk sack tetapi tidak pada tumor karsinoma murni dan seminoma murni. padat. Pada pemeriksaan fisik testis terdapat benjolan keras. Penanda yang paling sering diperiksa adalah AFP ( alfa feto protein ) biasa meningkat pada karsinoma embrional. penatalaksanaan pada dugaan tumor testis tidak boleh dilakukan biopsy testis.Tumor testis pada mulanya berupa lesi intratestikular yang akhirnya mengenai seluruh parenkim testis dan kemudian menyebar ke rete testis. 78 . Pemberian sitostatika terlebih dahulu diharapkan terjadi downstaging dan ukuran tumor akan mengecil. MRI digunakan untuk mnegetahui luas ekstensi tumor testis. karena itu bahan untuk pemeriksaan di ambil dengan orkidektomi dengan pendekatan inguinal. Perhatikan adnya infiltrasi tumor pada funikulus atau epididimis. Diagnosis USG dapat membedakan lesi intra testikular atau ekstra testikuler dan massa padat atau kistik. tidak nyeri pada palpasi dan tidak menunjukkan tanda transiluminasi. Biopsy atau pendekatan trans-skrotal tidak diperbolehkan karena bisa sel-sel tumor bisa menyebar. HCG ( Hman Chorionic Gonadotropin ) biasa meningkat pada semua pasien koriokarsinoma. Pada jenis seminoma responnya sangat baik terhadap radiasi sedangkan jenis non-seminoma tidak sensitive sehingga dilakukan pembersihan kelenjar retroperitoneal atau retroperitoneal lymphonode dissection ( RPLND ). pasien karsinoma embrional dan seminoma murni. Gambaran klinis Pasien biasanya mengeluh adanya pembesaran pada testis yang biasanya tidak nyeri. Sehingga jika tunika ini rusak peluang sel-sel tumor untuk menyebar lebih besar. Dari hasil pemeriksaan patologi dapat dibedakan jenis seminoma atau nonseminoma. CT scan digunakan untuk menentukan ada tidaknya metastase pada retroperitoneum. Tunika albugenia merupakan barier bagi perjalanan tumor ke organ lain. penentuan stadium tumor. monitoring respon pengobatan dan sebagai indicator prognosis tumor testis. Penanda tumor juga berguna untuk membantu diagnosis. epididimis. funikulus spermatikus atau bahkan ke kulit skrotum.

penektomi parsial ( jika tumor terbatas pada glans atau batang sebelah distal ). dengan kemoterapi dengan krim 5 FU ( untuk tumor in-situ atau eritroplasia Queryat ) dan dengan radiasi eksterna. glans dan batang penis. lesi datar atau lesi ulseratif. Karsinoma sel skuamosa ini berasal dari kulit preputium. Tahap yang kedua ditujukan terhadap metastasis pada kelenjar limfe inguinal dengan cara pemberian antibiotic setelah operasi pada lesi primer jika klenjar masih tetap ada 79 . Diagnosis ditegakkan melalui pemeriksaan patologi dan biopsy pada lesi primer. mencegah kekambuhan dan mempertahankan penis agar dapat miksi dengan berdiri atau dapat melakukan senggama. takut dan merasa berdosa karena mengalami penyakit seperti itu. berbau dan serimg mengalami infeksi. Lesi primer berupa tumor yang kotor. Karsinoma penis pada stadium awal berupa bentukan tumor papiler. yang pertama ditujukan pada tumor primer yang bertujuan menghilangkan tumor secara paripurna. Tumor kemudian mengadakan invasi limfogen ke kelenjar limfe inguinal dan selanjutnya menyebar ke kelenjar limfe di daerah pelvis hingga subklavia. pemeriksaan pencitraan dibutuhkan untuk menentukan penyebaran ke organ lain. terapi laser dengan Nd : YAG.TUMOR PENIS Tumor ganas ini terdiri dari karsinoma sel basal. Fasia Buck berfungsi sebagai barier dan jika fasia ini telah terinfiltrasi oleh tumor sel kanker menjadi lebih mudah mengadakan invasi hematogen. Kadang didapatkan pembesaran kelenjat limfe inguinal yang nyeri karena infeksi atau pembesaran kelenjar limfe subklavia. Sirkumsisi pada masa anak dapat memperkecil terjadinya karsinoma pada kemudian hari. Penatalaksanaan Pengelolaan tumor ini dibagi menjadi dua tahap. lesi eksofitik. Diagnosis Tidak ada pemeriksaan laboratorium yang khas. melanoma. Gambaran klinis Biasanya pasien datng terlambat karena malu. ulserasi serta perdarahan. tumor mesenkim dan yang paling sering adalah karsinoma sel skuamosa. penektomi total dan uretrostoi perineal ( untuk tumor batang sebelah proksimal ). FaKtor penyebab utama adalah rangsangan lama seperti balanoprostitis kronik pada fimosis. Tindakan yang dapat dilakukan adalah sirkumsisi ( jika tomor terbatas pad preputium ).

Sjamsuhidajat R. CV. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi revisi. 2003. in : dasar-dasar urologi FK univ. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. Bila kelenjar terlalu besar sehingga inoperable ( tidak bisa diangkat ) maka dapat dicoba pemberia sitostatika atau radiasi paliatif dengan harapan ukurannya mengecil. hal. 2nd ed. Purnomo B Basuki. hal.Brawijaya.dilakukan diseksi kelenjar. 774 – 790 80 . Jong Wim de. Sagung seto. 161 .186 5. 1997. DAFTAR PUSTAKA 4. Jakarta.

Penelitian menunjukkan bahwa sekitar 9% sampai 18% dari individu normal dapat mempunyai gejala hematuria dalam tingkat tertentu. Faktorfaktor resiko yang dapat meyebabkan timbulnya penyakit.HEMATURIA Hematuria adalah suatu keadaan dimana terdapat sel darah merah pada urine. walaupun begitu. termasuk ginjal. Tetapi hematuria dapat menjadi tanda dari kondisi medis yang sangat penting yang memerlukan penaganan segera. Diperkirakan hematuria timbul pada 2. Pada banyak pasien tidak ditemukan penyebab hematuria yang spesifik. batu. radiasi. dan urethra. dan terpapar dengan zat kimia tertentu. hematuria dapat menjadi tanda untuk infeksi. kandung kencing. Etiologi Adanya sel darah merah dala urine tidak selalu merupakan tanda dari adanya penyakit yang serius. Dibawah ini adalah beberapa penyebab hematuria yang tersering: ● Kanker kandung kemih ● Kanker ginjal ● Kanker prostat ● Kanker ureter ● Kanker urethra ● Batu traktus urinarius ● Infeksi traktus urinarius 81 . Hematuria dapat berasal dari bagian manapun di sepanjang traktus uriarius. Microscopic hematuria biasanya secara tidak sengaja ditemukan pada saat dilakukan pemeriksaan urim rutin sedangkan gross hematuri biasanya membawa pasien datang berobat.tersebut termasuk merokok. prostat. pemakaian obat-obat penghilang rasa sakit secara berlebihan. Hematuria dapat dibagi menjadi dua yaitu “gross” ( dimana jumlah sel darah merah yang terdapat di urine berjumlah banyak dan dapat terlihat dengan mata telanjang) dan “microscopic” ( dimana jumlah sel darah merah yang terdapat di urine sedikit dan hanya dapat dilihat dengan mikroskop. ureter.5% sampai dengan 21% dari populasi. ataupun keganasan pada traktus urinarius.

Hal ini dapat membantu untuk memperkirakan asal perdarahan. Pemeriksaan laboratorium yang dianjurkan adalah urinalisa dan pemeriksaan sedimen urin. Langkah pertama dalah anannesa riwayat perjalanan penyakit dan pemeriksaan fisik yang teliti. Pasien-pasien dengan jumlah protein yang bermakna dalam urine. Pemeriksaan radiologi ginjal dan ureter perlu dilakukan untuk mendeteksi adanya massa pada ginjal. Cara lain yang lebih baik untuk mendeteksi massa pada ginjal atau batu pada traktus urinarius adalah menggunakan CT scan. Harus dicari tanda-tanda penyakit ginjal (salah satunya proteinuria) Dan tanda-tanda infeksi saluran kemih. Pemeriksaan radiologi yang paling sering dilakukan adalh IVP.● Pielonefritis ● Benign Prostatic Hypertrophy ● Penyakit ginjal ● Radiasi atau cystitis yang di induksi oleh zat kimia ● Trauma traktus urinarius ● Prostatitis Diagnosis Setiap pasien dengan gross hematuria atau mikroskopik hematuria yang bermakna harus di evaluasi lebih lanjut. Yang dilakukan dengan menyuntikkan kontras pada pembuluh darah kemudian dilakukan beberapa kali foto Rontgen selama ginjal mengeksresikan kontras tersebut. Untuk pasien dengan lekosit pada urine nya harus dilakukan kultur urin. Kelemahan IVP adalah sering tidak dapat mendeteksi massa ginjal yang kecil. Jumlah sel darah merah dalam lapang pandang besar dan bentuk sel darah merah harus diperhatikan. 82 . atau hasil pemeriksaan kreatinin yang tidak normal harus menjalani pemeriksaan penyakit ginjal yang lebih lanjut. tumor ureter dan batu pada traktus urinarius. Pemeriksaan sitologi pada urine juga perlu dilakukan untuk mencari adanya sel-sel abnormal pada urine. Untuk pasien dengan peningkatan kadar kreatinin dalam darah atau pasien yang alergi terhadap kontras dapat dilakukan pemeriksaan MRI atau pielografi retrograd untuk menilai traktus urinarius bagian atas. bentuk sel darah merah yang abnormal. Pemeriksaan ureum kreatinin darah juga perlu dilakukan untuk menilai fungsi ginjal. Pemeriksaan ini biasanya digabung dengan USG ginjal.

Melalui cytoscopy dokter dapat memeriksa keadaan bagian dalam urethra dan kandung kencing.Kelemahan dari pemerikasaan-pemeriksaan di atas adalah ketidakmampuan untuk secara teliti memeriksa kandung kencing. Dalam ha ini perlu dilakukan cytoscopy. 83 .

Pertolongan diberikan hanya bersifat sementara.kesembuhan hanya bisa didapat dengan menghilangkan penyebab utamanya. Anatomi Saluran kemih Pada wanita Pada Pria 84 .Retensi urin bisa disebabkan oleh berbagai macam penyebab sehingga ini bukan merupakan suatu diagnosa pasti melaikan hanya gejala.Sehingga menimbulkan keadaan yang tidak nyaman dari pasien dan ini merupakan suatu kegawat daruratan yang sering terjadi.RETENSI URIN Definisi Retensio urine adalah suatu sindroma klinis urologi dimana trejadi penumpukan urine didalam kandung kemih karena tidak dapat berkemih sehingga kapasitas maksimal buli terlampaui.

Sedangkan pada pria uretra sendiri terbagi atas uretra pars prostatika .5-1ml/KgBB/Jam sehingga jika berat badan orang dewasa 70 diakan menghasilkan urin minimal 840-1680ml dan mengakibakan dalam keadaan normal miksi sekitar 3 s/d 4 x/hari.pars membrabnasea.Disebelah depan dari rectum. Etiologi Retensi urin 85 .Pengosongan terjadi melalui kontraksi otot-otot ding-ding kantung kemih yang terjadi melalui refleks berkemih.Impuls yang dihasilkan menghantarkan balik respon kepada otot-otot dingding luar yang membungkus kantung kemih sehingga berkontraksi untuk mengosongkan kantung kemih.Kantung kemih meregang jika telah terisi urin dari ginjal. Kantung kemih merupakan kantung berselimut otot-otot yang terdapat pada rongga pelvis dibelakang simpisis pubis.pars spongiosa baru mencapai orificium uretra eksternum.pada wanita terdapat didepan dari vagina dan dibelakang dari uterus.hal ini memicu refleks spinal (refleks miksi )yang berkerja secara parasimpatis.Sedangkan produksi urin oleh ginjal sekitar 0.Anatomi dan Fisiologi Kantung kemih. Urin diproduksi pada ginjal dan dialirkan melalui ureter kedalam kantung kemih sebagai tempat penampungan sementara sebelum diekskresi keluar tubuh.Ketika rangsang regang telah menurun otot-otot mengalami relaksasi kembali Pada wanita urin langsung dikeluarkan melalui uretra menuju orificium uretra eksternum .Pertama-tama tekanan yang dihasilkan oleh urin menyebabkan aktivasi reseptor regangan pada ding-ding dalam kantung kemih .kapasitasnya 300-400ml.rangsang ini dikirim sebagai impuls saraf kesaraf sepinal dan mencapai pusat dari miksi yang terdapat pada segmen S2 dan S3 .Impuls ini juga menuju otot-otot dingding luar uretra sehingga relaksasi agar urin dapat keluar.

Fibrosis Infeksi saluran kemih Pada pria bisa disebabkan karena : Kelaina Intra Vesika Sumbatan akibat batu intra vesika Sumbatan akibat tumor intra vesika Sumbatan akibat gumpalan darah Kontraktur bladder neck Hipertrofi bladder neck Kelainan Neurogenik Kerusakan pusat miksi S2-S4 setinggi T12-L1 Kelainan jaras serabut sensoris parasimpatis kepusat miksi dan penghantaran serpon impuls ke otot detunsor Kelainan Miogenik Kelemahan otot-otot detunsor sehingga kontraksi tidak 86 . Fistula. Inkoordinasi antara otot detunsor dengan otot uretra pada pasien cidera kauda ekuina Kelainan Uretra Striktura Trauma.Sehingga menyebabkan keadaan yang disebut retensi urin.Dari mekanisme kerja kantung kemih serta perjalanan system ekskresi baik pada wanita maupun pria ini dapat menimbulkan kelainan/sumbatan yang menghambat terjadinya pengeluaran urin. Pada wanita bisa disebabkan karena : Kelainan Intra Vesika Sumbatan akibat batu intra vesika Sumbatan akibat tumor intra vesika Sumbatan akibat gumpalan darah Kontraktur bladder neck Hipertrofi bladder neck Kelainan Neurogenik Kerusakan pusat miksi S2-S4 setinggi T12-L1 Kelainan jaras serabut sensoris parasimpatis kepusat miksi dan penghantaran serpon impuls ke otot detunsor Kelainan Miogenik Kelemahan otot-otot detunsor sehingga kontraksi tidak adekuat. Ruptura.

keadaan diatas akan berlanjut menjadi hidronefrosis. sehingga vasa arcuata terjepit dan akan menjadi atrofi iskemik.adekuat. Perubahan vesica. ureter akan melebar dan memanjang. pada mulanya ureter masih dapat mengadakan kompensasi. Infeksi saluran kemih Batu uretra Divertikulum Fimosis/Parafimosis Kelainan muara uretra Ulkus/Tumor penis Patogenesa dan Komplikasi 1. Hidronefrosis ada tiga tingkat. yang akan menyebabkan fungsi ginjal berkurang. Back pressure berserta relux menyebabkan kerusakan ginjal menjadi lebih cepat. yaitu dilatasi pelviocalices. 3. yang nantinya akan manjadi atonia. Pada kompensasi akan menyebabkan hipertrofi otot detrusor dan hipertofi otot trigonum. Perubahan pelviocalices. dan terjadi peregangan yang menyebab kan retensio urine. Fistula. namun nantinya akan terjadi dekompensasi. Jika retensio tersebut berlangsung dalam jangka waktu yang lama maka akan terjadi dekompensasi U-V junction dan menyebabkan reflux. Inkoordinasi antara otot detunsor dengan otot uretra pada pasien cidera kauda ekuina Kelainan Uretra Pembesaran portat sehingga menghambat aliran diuretra pars prosstatika (BPH/Ca-prostat/Kista) Striktura Trauma. Keadaan tersebut menyebabkan mekanisme back pressure terhadap kedua ginjal. Ruptura. Pada hipertrofi trigonum terjadi obstruksi sekunder ureter intravesical. Perubahan urethra karena adanya lesi proximal yang menyebabkan dilatasi. 4. papilae mendatar. calices minor melembung. Pada dekompensasi terjadi melemahnya otot detrusor yang akan menjadi atoni sehingga terjadi retensio urine ( parsial atau total ). 87 . dapat terjadi kompensasi dan dekompensasi. Perubahan ureter. Perubahan parenkim ginjal. 5. Merupakan akibat dari distensi peliviocalices. 2.

Penyebab harus diketahui dengan cepat agar keadaan cepat ditangan.Pengosongan dilakukan dengan pemasangan kateter sebagai pertolongan pertama kepada pasien agar tidak menimbulkan gejala komplikasi lainya.Jika kateter tidak berhasil dapat dilakukan cystostomia dengan abocath sampai vesica kosong.incontinentia paradoxal Diagnosis  Pada pemeriksaan fisik : VU mengembang (dengan palpasi disekitar pubikum)  Balottemen positif pada VU  Dapat dilakukan Rektal Taucher untuk menggetahui apakah ada pembesara prostat Pemeriksaan penujang Rontgen:Photo BNO-IVU USG buli-buli USG Prostat Sistografi Uretrografi Terapi Untuk penanganan setelah diagnosa retensio urine total maka harus dilakukan drainage dengan pemasangan kateter untuk mengosongkan kandung kemih dan mencari causanya secara pasti.musti melakukan pemeriksaan secara menyeluruh. 88 .Gejala Klinis Retensi Totalis  Sama sekali tidak dapat miksi  Gelisah  Sakit suprasimfisis  Mengejan  Overflow inkontinentia.

De Jong. 69-85.Gambar diatas menunjukkan berbagai macam kateter. Cetakan Pertama. C.BB. DC. Jakarta 2003. D.1994. Penerbit EGC. Dasar dasar Urologi.W. Kateter Malecot. 4. 3. Ukuran Cahrriere DAFTAR PUSTAKA 1. Retensio Urin. Saluran untuk mengisi balon. Jakarta. B. Balon.P. 3. alih bahasa: Andrianto.R. 1058-1064. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi Kedua. 1. A. 479-481. Editor Ronardy DH. Pererbit CV Sagung Seto. Sabiston. 2.com 89 . 2. Penerbit EGC. Kateter Tienmann. Kateter Foley. Jakarta. Edisi Revisi. Buku Ajar Bedah Bagian 2.1997. Kateter de Pezzer. Purnomo. E. Sjamsuhidajat. Editor. Lumen.emedicine.

radiasi o Orkitis o Trauma testis o Penyakit sistemik : gagal ginjal. gagal hepar.Infertilitas pada Pria Etiologi Pre Testikuler Kelainan pada hipotalamus o Defisiensi hormon gondotropin yaitu LH. gangguan emisi dan gangguan ejakulasi kelainan fungsi dan motilitas sperma o kelainan bawaan ekor sperma o gangguan maturasi sperma o kelainan imunologik o infeksi 90 . radiasi atau operasi o Hiperprolaktinemia o Hemokromatosis o Substitusi/terapi hormone yang berlebihan Testikuler o Anomaly kromososm o Anorkhismus bilateral o Gonadoktosin : obat-obatan. dan FSH Kelainan pada hipofisis o Insufisiensi hipofisis oleh karena tumor. anemi bulan sabit o Kriptorkismus o varikokel Pasca Testikuler Gangguan transportasi sperma o congenital bilateral absent of the vas deferens (CBAVD) o obstruksi vas deferens/epididimis akibat infeksi atau vasektomi o disfungsi ereksi.

fungsi tiroid). riwayat reproduksi pasangannya (fertil) Pemeriksaan fisik 1. pemeriksaan fisik. Anamnesis: 1. anosmia. dan reflex bulbokavernosus Pemeriksaan penunjang: 1. vas deferens menebal atau tak teraba. riwayat operasi: pasca herniorafi. riwayat pemakaian obat-obatan jangka lama: marijuana dan steroid c. pekerjaan dan kebiasaan: perokok. sering menderita episode febris. colok dubur: menilai pembesaran/nyeri prostat. ukuran. frekuensi senggama. laboratorium. mump. epididimitis. pestisida 3.Evaluasi dan Diagnosis Evaluasi dari pihak pria meliputi anamnesis. alkohol. pembedahan pada retroperitoneal d. trauma. penyakit sistemik (DM. analisis semen 2. dan pemeriksaan penunjang. penggunaan lubrikan pada saat senggama 2. pemeriksaan imunologik 4. ginekomasti. gangguan faal ginjal. pemeriksaan fisik umum: fisik tubuh kekar. riwayat seksual  libido/potensi seksual. biopsi testis 5. pemeriksaan genitalia jaringan parut (bekas herniotomi atau bekas orkidopeksi/orkidodektomi). pemeriksaan hormon 3. keadaan versikula seminalis. keadaan testis (jumlah. orkidopeksi. penyempitan lapang pandang (visual field) 2. ISK. galaktore. riwayat penyakit dahulu a. dan konsistensi). hipospadi atau pemnyempitan muara uretra 3. varikokel. terpapar oleh radiasi. torsio testis b. uji fungsi sperma 91 . faal liver.

Ejakulasi retrograd dapat diberikan golongan adrenergik alfa atau trisiklik antidepresan (imipramin) yang dapat menyebabkan kontraksi leher ke buli pada saat emisi sperma pada uretra posterior. pembuntuan pada duktus ejakulatorius dilakukan reseksi transuretral.Terapi Medikamentosa Kelainan-kelainan yang mungkin masih dapat dikoreksi secara medikamentosa adalah : defisiensi hormone. Tindakan itu dapat berupa: 1. koreksi terhadap penyebab kerusakan testis. dan ejakulasi retrograde. Adanya antibodi antisperma yag didapatkan pada pemeriksaan imunologik dapat dicoba dengan pemberian kortikosteroid. dan koreksi saluran yang membuntu penyaluran sperma. infeksi. Pembedahan Usaha pembedahan yang dilakukan ditujukan pada tempat kelainan penyebab infertilitas yaitu operasi pada organ pre testikulaer. varikokel yang dapat menyebabkan terjadinya kerusakan pada spermatogonium dilakukan operasi vasoligasi tinggi atau varikokelektomi 3. jika terdapat pembutuan pada vas deferens karena infeksi atau setelah menjalani vasektomi dilakukan penyambungan kembali vas deferens atau vaso vasostomi. 92 . Sedangkan pada pembuntuan yang lebih proximal yaitu pada epididimis dilakukan penyambungan epididimo-vasostomi yaitu penyambungan epididimis dengan vas deferens. adenomektomi hipofisis pada adenoma hipofisis 2. Pada hipogonadotropik-hipogonadismus (hipogonadismus sekunder) dapat dicoba diberikan LH untuk merangsang sel Leydig memproduksi testosteron. Melalui teknik bedah mikroskopik angka keberhasilan penyambungan vas deferens (yang ditandai dengan terdapatnya sperna pada ejakulat) ± 80-90 % sedangkan angka keberhasilan fungsional (pasangan menjadi hamil) ± 50-60% 4. kemudian diberikan hormon Human Chorionic Gonadotropin (HCG). reaksi imunologik antibody antisperma.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful