STATIKA I

MODUL 1
PENGERTIAN DASAR STATIKA
Dosen Pengasuh : Ir. Thamrin Nasution
Materi Pembelajaran :
1. Pengertian Dasar Statika.  Gaya.  Pembagian Gaya Menurut Macamnya.  Gaya terpusat.  Gaya terbagi rata.  Gaya Momen, Torsi.  Menyusun Dan Menguraikan Gaya.  Metode Analitis.  Metode Grafis. 2. Gaya-gaya Dalam.  Pengertian.  Gaya Normal.  Gaya Lintang Geser.  Momen Lentur. 3. Perletakan/Tumpuan.  Tumpuan Sendi.  Tumpuan Rol.  Tumpuan Jepit.  Aplikasi.  Perjanjian Tanda. Tujuan Pembelajaran :  Mahasiswa memahami dan mengetahui tentang gaya-gaya, menyusun dan menguraikan gaya, gaya-gaya dalam serta perletakan. DAFTAR PUSTAKA a) Soemono, Ir., “STATIKA 1”, Edisi kedua, Cetakan ke-4, Penerbit ITB, Bandung, 1985.

UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pemilik hak cipta photo-photo, buku-buku rujukan dan artikel, yang terlampir dalam modul pembelajaran ini. Semoga modul pembelajaran ini bermanfaat. Wassalam Penulis Thamrin Nasution thamrinnst.wordpress.com thamrin_nst@hotmail.co.id

thamrinnst.wordpress.com

Modul kuliah “STATIKA 1” . ITMI. Y P1 P1 Bidang datar P2 P3 X Gaya Koplanar P2 Gaya Konkuren Z 2.Akibat berat lantai. Ir. Mempunyai besaran (kg. PEMBAGIAN GAYA MENURUT MACAMNYA. Modul 1 Sesi 1.Roda kenderaan. 1. c.Air pada bendungan. Semua gaya yang garis kerjanya terletak pada satu bidang datar disebut KOPLANAR.Momen lentur .Akibat berat orang. b.Momen Torsi (puntir). GAYA Dalam mekanika teknik. . dsb. P ton q ton/m’ 1 . . . Mempunyai titik tangkap. . Mempunyai arah. (momen = gaya x lengan gaya). ton dsb). Semua gaya yang garis kerjanya berpotongan pada satu titik disebut gaya KONKUREN (bertitik pegang tunggal). Gaya Terpusat (point load).Dll. GAYA. FTSP. b. balok pada bangunan. . Gaya Terbagi Rata (distributed load).Berat kolom. . Thamrin Nasution PENGERTIAN DASAR STATIKA A. gaya dapat diartikan sebagai muatan yang bekerja pada suatu konstruksi. a. . 2012 Departemen Teknik Sipil. c.Angin pada dinding ataupun atap bangunan. . Gaya Momen. SIFAT a.

Besar resultan gaya. Gaya Konkuren. a. ITMI. . Modul 1 Sesi 1. Rx =  Kx = K1x . Tujuan : Mencari besar.pada sumbu Y.K2 cos  . arah dan letak titik tangkap resultan gaya. Sejumlah gaya dapat digantikan oleh satu gaya yang disebut RESULTAN GAYA.K2x = K1 cos  . Thamrin Nasution Ml Momen lentur Momen torsi B. Ry =  Ky = K1y + K2y = K1 sin  + K2 sin  2 . .Modul kuliah “STATIKA 1” . METODE ANALITIS. 2012 Departemen Teknik Sipil. MENYUSUN DAN MENGURAIKAN GAYA PADA BIDANG DATAR.pada sumbu X. Ir. Y K1 sin  K2  K2 cos  K1x = K1 cos  K1y = K1 sin  O K2x = K2 cos  K2y = K2 sin  K2 sin   K1 cos  X K1 Perjanjian tanda. Perhatikan gambar kumpulan gaya berikut yang terletak pada bidang X-Y. FTSP. .arah gaya kekiri dan kebawah bertanda negatip (-). 1.arah gaya kekanan dan keatas bertanda positip (+).

Untuk mencari letak titik tangkap resultan R adalah dengan menghitung momen Mx dan My terhadap titik O (pusat sumbu X-Y). Arah resultan gaya. 3 . R  Rx 2  Ry 2 Letak titik tangkap gaya resultan.Modul kuliah “STATIKA 1” . Gaya Tidak Konkuren. Modul 1 Sesi 1. Perhatikan gambar kumpulan gaya berikut yang terletak pada bidang X-Y. K2 K2y y1 y2 2 K1 K1y 1 K1x K2x R Ry ys Rx 0 x2 xs x1 Komponen gaya pada sumbu X dan Y. dimana momen sama dengan gaya dikali lengan gaya seperti berikut. 2012 Departemen Teknik Sipil. ITMI. Ir. K1x = K1 cos 1 K1y = K1 sin 1 K2x = K2 cos 2 K2y = K2 sin 2 Rx =  Kx = K1x + K2x = K1 cos 1 + K2 cos 2 Ry =  Ky = K1y + K2y = K1 sin 1 + K2 sin 2 Resultan. Ry Y R R Ry tan γ  Ry Rx  X Rx (+) Rx  Rx Rx (-) b. FTSP. R  Rx 2  Ry 2 Resultan ini bekerja melalui titik O. Thamrin Nasution Maka resultan gaya.

. xs  Ry ... x2 =  Ky . 2012 Departemen Teknik Sipil.. x ... maka momen akibat resultan gaya. 2 = 20o dan 3 = 300o. Mx ys  Rx My = Ry .419 Diketahui : Gaya-gaya seperti tergambar. Arah masing-masing gaya 1 = 140o.... K1 = 6 ton... y xs  .. 4 .4) dan (5.. y1 + K2x ... Y R 5.....3)..... K2 = 8 ton.. (4. ys  Ry Rx Arah resultan. Mx = Rx . xs My .2).. tan γ  Ry Rx Contoh soal : 1). y2 =  Kx .... ys .. Thamrin Nasution Mx = K1x .... ITMI. K3 = 3 ton dengan koordinat titik tangkap gaya-gaya (2.... FTSP..  Ky .... y My = K1y .ys).Modul kuliah “STATIKA 1” .. Ir. Modul 1 Sesi 1.(1) Titik tangkap resultan R dinamakan titik (s) dengan koordinat (xs..740 K2 K1 300 o 20 o K3 140 o 0 X 1.. x  Kx .. x1 + K2y ..(2) Substitusikan (1) kedalam (2).

xs My 5.990 My = 5. Thamrin Nasution Ditanya : Besar resultan gaya. Ry 3.995 ton (keatas) .m’.995) 2 = 5. Ry =  Ky = K1 sin 1 + K2 sin 2 + K2 sin 2 = (6).cos 140o. Rx =  Kx = K1 cos 1 + K2 cos 2 + K3 cos 3 = (6).378 ys   = 5.500 Rx = + 4.sin 20o.945 – 12.cos 20o.422 ton (kekanan). Rx 4. 2012 Departemen Teknik Sipil.(2) + (8).070 + 4.419 m.422) 2  (3.Resultan pada sumbu X.668 xs   = 1.598 Ry = + 3.193 + 30.90344) = 42o 05’ 45” .995 5 .Letak titik tangkap gaya resultan pada sumbu X dan Y.(3) = . x2 + K3y . letak titik tangkap resultan dan arahnya.90344 Rx 4.736 – 2.4.Resultan pada sumbu Y.500 Mx = 25. y2 + K3x . y3 = (6).Modul kuliah “STATIKA 1” .740 m. ys Mx 25.Resultan total.596 + 7. My = K1y .(4) + (3). Momen terhadap sumbu X.422 My = Ry .Arah resultan.sin 300o.cos 20o + (3).(2) + (8).sin 140o + (8).(4) + (3).cos 300o. ITMI.sin 300o = 3.378 t.713 + 10. Modul 1 Sesi 1.cos 300o = . Mx = K1x . Penyelesaian : . FTSP.(5) = 7.959 ton .668 t. R Rx 2  Ry 2  (4. .sin 140o. Ry 3.sin 20o + (3).cos 140o + (8).422  = arc tan (0.518 + 1. y1 + K2x . Ir. x3 = (6).857 + 2.m’. Momen terhadap sumbu Y.995 tan γ   = 0. x1 + K2y .9. Mx = Rx .

a3 x P1  P2  P3 Apabila. a1 + P2 . Modul 1 Sesi 1. FTSP. (1 m)  (2 t) . a2  P3 .167 meter (dari sb-Y).Modul kuliah “STATIKA 1” . Tentukan besar dan letak titik tangkap gaya resultan berikut. P1 = 1 ton . a1  P2 . Y a3 a2 a1 X F1 x Ftotal = F1 + F2 + F3 F2 F3 6 . a2 = 3 meter . Ir. (3 m)  (3 t) .Besar resultan. P2 = 2 ton . Mencari letak titik berat luasan. P3 = 3 ton dan a1 = 1 meter . Y a3 a2 a1 P1 P2 R = P1 + P2 + P3 x P3 X o Penyelesaian : . (1 t) . 3). a1  P2 . 2012 Departemen Teknik Sipil. R = P1 . a3 = 6 meter maka. x . (6) x (1 t)  (2 t )  (3 t) x = 4. a3 P1. Thamrin Nasution 2). ITMI. a3 x R atau P1. a2  P3 . a2 + P3 . R = P1 + P2 + P3 .Letak titik tangkap gaya resultan.

maka resultan R dapat dicari seperti cara grafis diatas yaitu. a2  F3 . A). Ir. a1  F2 . FTSP. Gaya bersifat konkuren. kemudian ditarik garis dari titik O ketitik perpotongan kedua garis tadi. Modul 1 Sesi 1. K1 K1 // b) \ R a) \ // K2 O K2 O Maka resultan dapat dicari dengan cara. a2  F3 .Letak titik tangkap gaya resultan.. Apabila terdapat gaya seperti gambar berikut. a3 (dari sumbu Y). ITMI. a1 + F2 .Modul kuliah “STATIKA 1” . R = Ftotal = F1 + F2 + F3 . a3 x F1. 7 . Untuk mempercepat proses pekerjaan dapat digambarkan sebagai berikut. K1 K1 a) R b) O R’ = mengimbangi R R’ = -R O K2 K2 a. K3 K3 K2 K4 K3 R K2 a) K1 K4 K5 b) K2 K5 R K1 POLIGON GAYA K4 c) K1 R’ K5 Untuk menggambarkan gaya-gaya K1. x . POLIGON GAYA. Thamrin Nasution ..K5 harus dilakukan dengan skala sehingga menghasilkan gambar b) diatas yang disebut poligon gaya. Apabila terdapat dua gaya K1 dan K2 seperti gambar berikut.Besar resultan. hasil ini disebut paralelogram gaya. R = F1 . a1  F2 . a2 + F3 . METODE GRAFIS. a3 R F1. F1  F2  F3 atau x 2. 2012 Departemen Teknik Sipil. menarik garis yang paralel dengan gaya K1 dan K2.

Ir. Y R 5. Thamrin Nasution b. Sebagai contoh gaya tidak konkuren. K2 K1 K3 R’ K1 K3 R R R’ K2 cara pertama cara kedua 8 . Modul 1 Sesi 1.419 Maka penyelesaian grafis adalah sebagai berikut. Gaya tidak konkuren. 2012 Departemen Teknik Sipil.740 K2 K1 300 o 20 o K3 140 o 0 X 1. ambil contoh soal pada cara analitis sebelumnya. ITMI. FTSP.Modul kuliah “STATIKA 1” .

Titik potong ini adalah merupakan titik tangkap gaya resultan R. dan seterusnya sampai dengan garis 5. Buat titik sembarang S. besar dan letaknya sembarang. Modul 1 Sesi 1. g.. Setelah diagram kutub selesai. dinamakan garis 1. FTSP. yaitu : a. K5 K1 0 5 b) diagram kutub K2 K3 K4 0 K1 3 2 1 4 5 0 3 1 2 K2 S titik sembarang a) K3 4 R K4 R K5 5 S titik sembarang Langkah-langkah penyelesaian grafis mencari resultan R adalah dengan menggambarkan pertama kali diagram kutubnya (dengan memakai skala gaya). POLIGON BATANG. 2012 Departemen Teknik Sipil. Kemudian hubungkan pula titik S dengan ujung gaya K2. Dan seterusnya digambarkan sampai dengan garis yang sejajar garis 5 yang memotong gaya K5.Modul kuliah “STATIKA 1” . lihat contoh-contoh berikut. tarik garis sejajar (//) dengan garis 1 sampai memotong gaya K2. Perpanjanglah garis 0 dan garis 5 sampai keduanya saling berpotongan satu sama lain.K5 seperti terlihat pada gambar b). Pada cara ini resultan R dari gaya-gaya yang tidak konkuren dapat dicari beserta titik tangkapnya. Thamrin Nasution B). Ir. Pada titik perpotongan ini (yaitu pada gaya K1).. Tarik garis yang menghubungkan titik S dengan ujung atas gaya K1 dan selanjutnya dinamakan garis 0. Susunlah gaya-gaya K1. ITMI. b. c. 1). Gaya-gaya paralel secara vertikal. buat gambar a). 9 . e. f. dengan cara menarik garis yang sejajar (//) dengan garis 0 memotong gaya K1 pada titik sembarang. d.

FTSP. 3 2 1 4 5 K4 0 K5 0 K1 K3 K2 1 K1 K2 2 3 K3 4 K4 5 R K5 R 10 . ITMI. Ir. 2012 Departemen Teknik Sipil. Modul 1 Sesi 1. tidak konkuren.Modul kuliah “STATIKA 1” . Gaya-gaya tidak paralel. besar dan letaknya sembarang. Thamrin Nasution 2).

.

FTSP. Mencari letak titik berat poligon batang. ITMI.Modul kuliah “STATIKA 1” . Thamrin Nasution 3). F1 0 1 F2 F1 F2 3 2 F3 F3 0 F2 0 1 2 3 F2 1 F3 F1 F3 2 F1 F3 F2 F1 3 3 2 1 0 0 C. K4 Y K1 Gaya-gaya seimbang apabila.Gambar/lukisan tidak simetris. Ir. Modul 1 Sesi 1. Rx =  Kx = 0 Ry =  Ky = 0 R  Rx 2  Ry 2 K3 K2 X 12 . artinya gaya-gaya yang bekerja dalam keadaan seimbang statis antara gaya aksi dan reaksi. KEADAAN SEIMBANG. Contoh gaya konkuren berikut. Jika benda dibebani dengan gaya-gaya dan ternyata benda tersebut tidak bergerak maka benda tersebut dikatakan dalam keadaan seimbang statis. 2012 Departemen Teknik Sipil.

Thamrin Nasution Dalam bentuk aplikasi pada jembatan seperti berikut.Modul kuliah “STATIKA 1” . Ir. 2012 Departemen Teknik Sipil. ITMI. dalam keadaan seimbang statis terdapat gaya-gaya. Modul 1 Sesi 1. FTSP. Ra + Rb = P1 + P2 + P3 13 . P1 Ra P2 P3 Rb A B Balok diatas dua tumpuan (A dan B).

RB = gaya reaksi pada perletakan/tumpuan B. PENGERTIAN. Modul 1 Sesi 1. I A P II B I RA II RB Q+ Q- Q+ Pot. Gaya Normal. Gaya Lintang/Geser. QPot. Gaya-gaya dalam ini berupa GAYA NORMAL. Gaya normal dapat berupa tekan atau tarik seperti berikut. I Dimana. Gaya dalam ini menimbuljan perobahan bentuk (deformasi) pada bagian konstruksi. ITMI. Thamrin Nasution GAYA-GAYA DALAM 1. 2. GAYA LINTANG/GESER. yang dilawan oleh tegangan didalamnya. II 14 . Ir. Gaya yang dipikul suatu konstruksi akan disalurkan ke setiap bagian dari konstruksi.Modul kuliah “STATIKA 1” . P = gaya luar RA = gaya reaksi pada perletakan/tumpuan A. GAYA MOMEN LENTUR dan MOMEN TORSI. N N N N N N N N 3. Gaya yang disalurkan ini disebut gaya dalam. FTSP. sehingga keseimbangan dalam tercapai. 2012 Departemen Teknik Sipil. Q = gaya lintang (gaya/perlawanan dalam).

2012 Departemen Teknik Sipil. ITMI. Momen Lentur. I Momen lentur Akibat gaya luar P maka balok akan melentur. I). Potongan II. Akibat gaya reaksi RA elemen balok sebelah kiri terangkat keatas. Momen Torsi. Ir. sehingga menghasilkan gaya lintang negatip (Q-). pada keadaan ini disebut gaya lintang positip (Q+). P A Garis lentur MB A B M+ RA RB P z RA P RB 5. I A P B I RA garis lentur RB Pot. oleh gaya dalam (gaya lintang) dikembalikan kebentuk semula.z M torsi = P . Modul 1 Sesi 1. oleh gaya dalam momen lentur kondisi ini akan dilawan sehingga terdapat keseimbangan dalam.Modul kuliah “STATIKA 1” . M torsiBAB III =P. elemen sebelah kanan yang terangkat keatas. FTSP. 4. Identik dengan peristiwa diatas (pot. z 15 . Thamrin Nasution Potongan I. Pot. Tampang balok menahan momen torsi/ puntir sebesar.

karena sendi dapat perputar pada porosnya). V = gaya vertikal tidak sama dengan nol. ITMI. 1. H = gaya-gaya horisontal tidak sama dengan nol. Simbol H0 Konstruksi rol M=0 Gaya-gaya yang dapat/tidak dapat bekerja pada rol. 2. M = 0 (tidak dapat memikul momen. Jenis-Jenis Tumpuan. M = momen sama dengan nol. Thamrin Nasution PERLETAKAN / TUMPUAN Semua bangunan (konstruksi) terletak diatas tumpuan/perletakan. M = momen sama dengan nol. Tumpuan Sendi. H  0 (tidak dapat bergeser kesamping. 2012 Departemen Teknik Sipil. Konstruksi sendi Gaya-gaya yang dapat/tidak dapat bekerja pada sendi. Simbol V0 M=0 V = gaya vertikal tidak sama dengan nol. Tumpuan Rol. Sehingga terdapat reaksi-reaksi yang mengimbangi gaya-gaya luar tadi dan berat konstruksi.Modul kuliah “STATIKA 1” . karena sendi dapat perputar pada porosnya). M = 0 (tidak dapat memikul momen. V  0 (dapat memikul gaya vertikal). tidak dapat memikul gaya horisontal). H = 0 (dapat bergeser kesamping. Modul 1 Sesi 1. Fungsi tumpuan adalah menyalurkan gaya-gaya luar yang bekerja pada konstruksi dan berat konstruksi itu sendiri ke bagian bawahnya. FTSP. 16 V0 H=0 . H = gaya-gaya horisontal sama dengan nol. dapat memikul gaya horisontal). Ir. V  0 (dapat memikul gaya vertikal).

17 .  momen pada tumpuan rol = 0 (MB = 0). ITMI. 2012 Departemen Teknik Sipil. Thamrin Nasution 3.Modul kuliah “STATIKA 1” . FTSP. V  0 (dapat memikul gaya vertikal). yaitu  gaya-gaya vertikal = 0 (V = 0). Aplikasi. M  0 (dapat memikul momen) 4. Modul 1 Sesi 1. P1 RAH A B P2 RAV RBV Gaya-gaya P1 dan P2 yang bekerja pada konstruksi dan reaksi-reaksi dari tumpuan sendi (RAH. RAV) dan tumpuan rol (RBV) berada dalam keadaan seimbang statis. V = gaya vertikal tidak sama dengan nol. Tumpuan Jepit.  gaya-gaya horisontal = 0 (H = 0).  momen pada tumpuan sendi = 0 (MA = 0). balok beton Konstruksi perletakan jepit M0 H0 Simbol V0 Gaya-gaya yang bekerja Gaya-gaya yang dapat/tidak dapat bekerja pada perletakan jepit. Ir. H0 M = momen sama dengan nol. Dalam Penyelesaian digunakan syarat seimbang pada gaya koplanar. H = gaya-gaya horisontal tidak sama dengan nol.

sedangkan gaya-gaya horisontal yang arahnya menuju kekiri dianggap negatip. sebaliknya jumlah aljabar momen pada perletakan bertanda negatip bila arah putaran berlawanan jarum jam. 2012 Departemen Teknik Sipil. sedangkan momen yang menyebabkan serat balok sebelah atas tertarik dan bawah tertekan dianggap negatip. e.5 cm . Tentukanlah letak pusat pusat berat dengan cara analitis dan grafis terhadap sb-X dan sb-Y.5 cm) . struktur ini menjadi Statis tidak tertentu. ITMI. Thamrin Nasution Jadi ada empat persamaan dengan tiga variabel yang tidak diketahui. c. Jumlah aljabar momen pada tumpuan/perletakan bertanda positip apabila arah putaran momen searah jarum jam. kebalikan dari peristiwa ini gaya lintang bertanda negatip. h3 = 3.5 cm) = 4. 3 h3 b1 b2 b3 3 cm X Penyelesian : CARA ANALITIS X = -1 b1 = 9 cm .Stb. h2 = 10 cm . oleh karena itu struktur disebut Statis tertentu.Modul kuliah “STATIKA 1” .5 cm . Dalam perhitungan statika dipakai perjanjian tanda seperti berikut : a. b2 = 1. Gaya lintang bertanda positip apabila reaksi perletakan kiri menekan balok kearah atas dan gaya luar menekan balok kearah bawah. f. Momen yang menyebabkan serat sebelah atas balok tertekan dan serat bawah tertarik dianggap positip. maka variabel yang tidak diketahui menjadi 4 (empat) yaitu RAH. Perjanjian Tanda. RAV dan RBV. RAV. Apabila perletakan rol B diganti dengan sendi. 5. h1 = (9 cm) . b. 18 . Modul 1 Sesi 1. d. yaitu RAH. h1 = 0. Ir. h2 = (1. (10 cm) = 15. FTSP. RBH dan RBV dengan empat persamaan. dan gaya normal tarik bertanda positip. Gaya-gaya horisontal yang arahnya menuju kekanan dianggap positip. Gaya-gaya vertikal yang arahnya menuju keatas dianggap positip.5 cm a). b3 = 4 cm . sedangkan gayagaya vertikal yang arahnya menuju kebawah dianggap negatip. (0. Y h1 1 2 5 cm h2 b1 = 10 cm + X b2 = 2 cm + X/2 b3 = 5 cm + X h1 = 1 cm + X/2 h2 = 11 cm + X h3 = 4 cm + X/2 Catatan : X = satu angka terakhir No.5 cm . Luas. Gaya normal tekan bertanda negatip. WORKSHOP/PELATIHAN Diketahui penampang dengan ukuran-ukuran seperti tergambar.0 cm . 2 F2 = b2 . 2 F1 = b1 .

50 35. (17.5 243.000 235.5 64.0 10.50 33.250 2964.75 26.0 265.0 8.5 6.50 31. 2 b).250 500.0 9.0 77.0 15.0 7.0 10.000 187.500 728.75 21.0 90.0 4.5 Y  Kunci Jawaban No.000 cm .00 22.000 1917.0 20.0 72. 3 = 221.50 14. FTSP. Modul 1 Sesi 1.000 cm . Thamrin Nasution F3 = b3 .5 cm) = 14.0 19. ( 9.00 27.5 cm.5 156.750 192.0 17. h3 = (4 cm) .0 15.0 2.0 10.0 6.75 6.0 4.25 15.5 42. b1 b2 b3 h1 h2 h3 F1 F2 F3 Ftotal x1 x2 x3 Stb. (8 cm) 2 Mx3 = F3 .750 504.0 14.25 18.50 cm 8. y3 = (14 cm ) .0 6.0 13.0 8.0 39.0 130.0 20.75 16.0 5.00 15.50 19.0 13. x2 = (5 cm) + b1 + ½ b2 = (5 cm) + (9 cm) + 1/2 (1. 33.0 104. 3 = 66. x1 = (4.250 cm . y2 = (3 cm) + ½ h2 = (3 cm) + 1/2 (10 cm) = 8 cm.5 6.5 11. = 42.000 19 .375 cm . y3 = (3 cm) + ½ h3 = (3 cm) + 1/2 (3. y1 = (4.0 60.75 cm.0 11.75 16.75 7.0 11.000 1425.500 490.5 cm) Jumlah My 2 2 = 57.5 308.75 13.625 1152. 2012 Departemen Teknik Sipil.5 Mx1 cm 10.000 42.500 2450.5 cm) 2 My2 = F2 .5 5.0 13.0 12. (3.Modul kuliah “STATIKA 1” .000 373.0 5.0 65.0 73.5 3.50 23.000 977.0 cm .5 98.000 656. 3 3 X My Ftotal Mx Ftotal  509.25 5.000 390.5 11.000 406. Letak Pusat Berat Penampang Terhadap sb-X dan sb-Y.5 10.0 4. -1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 y1 cm 9.5 226.5 10.0 17.875 = 7.0 12.000 3692. 2 Ftotal = 33.0 14.0 19.750 1260.0 35.5 5.000 270.19 cm dari sumbu Y.5 cm ) .750 cm . Mx1 = F1 .500 3015. x2 = (15 cm ) . 3 = 120.5 cm) + 1/2 (4 cm) = 17.50 5. Ir.000 cm .000 630.5 5.500 1188.5 cm) = 12.875 cm .500 721.0 9.0 13. ITMI.000 580.5 cm .000 66.5 1.000 1997.25 cm 17.0 14.0 3. y2 = (15 cm ) .000 905.000 370.5 2. x3 = (14 cm ) .75 19.0 85.5 cm) Jumlah = 14.0 5. (4.500 100.5 4.5 My3 cm 14.0 cm 0.0 30.50 25.5 8.000 517.0 44.0 11.000 245.500 253.5 3.75 cm.0 76.0 y2 cm 1.5 y3 cm 4.000 221.0 99.0 32.25 18.75 5.0 11.5 4.875 693. 33.00 5.5 9.0 5.000 141.750 100.5 10.0 10.5 7.5 12.0 11.500 822.000 324.000 792.000 173.25 23.00 cm 3 cm 3 cm 3 cm 3 cm 3 cm 3 57.00 6.0 2.00 18.0 22.500 967.0 16.250 352.375 135. 3 = 509. y1 = (3 cm) + h2 – ½ h1 = (3 cm) + (10 cm) –1/2 (0.5 24.5 cm) = 4.75 cm) Jumlah Mx My1 = F1 .25 6.00 17.5 cm 2 cm 2 cm 2 cm 2 cm 9.000 511. (12.0 27.50 6.0 33.000 = 15.750 1260.0 353.5 12.0 6.5 cm.0 18.75 cm.75 cm) 2 My3 = F3 .0 114.000 1032.0 104.0 16.0 12.50 37. x3 = (5 cm) + b1 + b2 + ½ b3 = (5 cm) + (9 cm) + (1.0 12. 3 = 245.0 189.50 19.500 607. x1 = (5 cm) + ½ b1 = 1/2 (9 cm) + (5 cm) = 9.000 1434.0 18.0 14.0 My1 14.125 360.500 2425.0 54.0 16.0 49.50 17.28 cm dari sumbu X.5 2.50 29.000 1485.5 4.0 cm 3.250 832.50 4.5 My2 Mx2 cm 12.500 1122.250 264.0 3. 3 = 243.0 12.0 52.5 13.5 52.5 cm ) .0 125.50 21.500 cm .000 1602.000 120.375 1755. (14.50 27.0 1.0 119.0 7.0 8.5 cm 4.75 cm) 2 Mx2 = F2 .5 14.5 Mx3 15.5 90.50 24.

0 7.10 11.56 11.250 20 . Ir.45 19.125 1690.69 13.875 3908.000 1271.000 6498.875 1647.000 1254.000 3229. ITMI.000 4175.80 9.04 23.000 2463. 2012 Departemen Teknik Sipil.000 842.500 3249.42 10.750 1515.19 16.30 18.63 20.93 cm 7.12 8.83 22.000 2103.000 7916.500 Mx My X Y cm 3 cm 3 cm 15.000 4668.250 3542.70 26.64 12.00 10.28 8.500 4462.Modul kuliah “STATIKA 1” .25 24.000 862.875 509.000 646.21 243.25 13.875 923.875 422. Thamrin Nasution 20.750 5255.19 17.875 2630.47 25. FTSP. Modul 1 Sesi 1.250 1808.25 2116.17 12.000 9520.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful